Golok Kumala Hijau Bag 01 : Musim semi di wilayah Kanglam.

Bag 01 : Musim semi di wilayah Kanglam.

Toan Giok adalah seorang lelaki muda.

Kudanya pun dari jenis Giok-bin-cing-hoa-cong (Kuda mestika bulu hijau bermuka kumala) yang dilengkapi pelana baru yang indah.

Di pinggir pelana tergantung sebilah golok bertangkai putih perak, bersarung kulit ikan hiu hitam yang bertatahkan tujuh butir zamrud, sarung golok yang bersentuhan dengan tempat pijakan yang terbuat dari tembaga kuning menimbulkan suara dentingan bagai irama musik.

Pakaian yang dikenakan pun dari kain yang ringan, sangat tipis, berwarna cerah dengan jahitan yang pas dengan potongan tubuhnya, dilengkapi pula dengan sebuah cambuk kuda terbuat dari kulit kerbau lemas buatan luar perbatasan.

Cambuk kuda buatan Bi-sia-u-li di kota Un-ciu memang berkualitas tinggi, apalagi gagang pecut itu dihiasi pula dengan dua butir mutiara sebesar kelengkeng.

Saat ini tepat memasuki bulan tiga, saat pohon dan aneka bunga tumbuh subur di daerah Kanglam, burung nuri dan burung walet beterbangan kian kemari.

Segulung angin musim semi berhembus membawa bau bunga Tho yang harum semerbak, berhembus di tanah daratan, memberikan kelembutan dan kehangatan bagai napas seorang kekasih.

Ketika angin berhembus, di permukaan air nan hijau pun muncul riak melingkar bagai saling berkejaran, sepasang burung walet terbang lewat di antara pepohonan bunga Tho, hinggap di atas pagar jembatan kecil berwarna merah darah dan bercicit seolah sedang berceloteh membicarakan sesuatu.

Toan Giok mengendorkan tali les kudanya, membiarkan sang kuda perlahan-lahan menyeberangi jembatan kecil itu.

Angin hangat berhembus sepoi-sepoi, mengibarkan baju suteranya yang hijau dan tipis.

Dalam saku di sisi kiri bajunya, berjajar tumpukan uang kertas baru dan tersusun rapi. Jumlah uang yang cukup bagi seorang pemuda macam dia untuk hidup nyaman dan makmur selama tiga bulan.

Tahun ini usianya baru sembilan belas tahun, baru datang dari utara yang sepanjang tahun dilapisi salju tebal. Tak heran ia begitu terpana menyaksikan keindahan daerah Kanglam yang indah menawan.

Toan Giok menarik napas dalam-dalam, ia merasa tubuhnya seringan burung walet. Begitu ringannya hingga seolah hendak terbang di angkasa.

Tapi sayang, dia pun tidak terbebas dari masalah yang mengganjal hatinya. Tionggoan Toa-hau (Hartawan kaya dari Tionggoan) Toan Hui-him suami-istri selalu mendidik putranya dengan ketat, tak bakal melepas putra tunggalnya datang seorang diri ke wilayah Kanglam tanpa sebab yang jelas.

Tentu saja kedatangan Toan Giok pun membawa sebuah tugas berat.

Tugas yang diembannya adalah tiba di perkampungan Po-cu-san-ceng (Perkumpulan intan permata) sebelum bulan empat tanggal lima belas untuk menyambangi saudara angkat ayahnya semasa muda dulu, Kanglam Tayhiap Cu Goan, Cu-jiya dan menyampaikan ucapan panjang umur kepadanya.

Dia membawa golok kumala hijau, golok warisan keluarga Toan sebagai kado ulang tahun, kemudian membawa pulang intan permata keluarga Cu.

Perkampungan Po-cu-san-ceng memiliki sebutir mutiara paling berharga, dia adalah putri kesayangan Cu Jiya.

Tahun ini gadis itu baru berusia tujuh belas tahun, dia bernama Cu Cu.

Cu-jiya melanggar kebiasaan dalam merayakan ulang tahunnya kali ini, tak lain karena ingin memilihkan calon suami bagi putrinya.

Keluarga Cu di wilayah Kanglam sudah tersohor sebagai keluarga persilatan yang ternama. Cu- toasiocia selain terkenal sebagai gadis cantik, dia pun terhitung seorang gadis pintar.

Ketika mendengar kabar ini, para jago muda persilatan yang belum menikah berbondong- bondong mendatangi Po-cu-in Ceng, mereka harus tiba sebelum bulan empat tanggal lima.

Apakah Toan Giok akan terpilih sebagai menantu keluarga Cu? Apakah dia akan berhasil memboyong pulang mutiara yang tak ternilai harganya itu? Sejujurnya, pemuda ini tidak yakin.

Dan inilah ganjalan yang selalu menghantui pikirannya.

Namun berada di wilayah Kanglam yang begitu hangat, dengan aneka ragam bebungaan yang indah menawan, ganjalan hati apa yang bisa membuat murung seorang pemuda berusia sembilan belas tahun? Ganjalan mana.yang tak bisa terurai?

Memang benar masih ada satu hal yang membuatnya tak bebas bergerak. Di saat hendak meninggalkan rumah, ayahnya dengan wajah serius dan mimik kereng berulang kali berpesan kepadanya, agar jangan lupa ketujuh pantangan yang tak boleh dilanggar.

Hingga kini dia seolah masih mendengar suara ayahnya yang berpesan wanti-wanti dengan nada tegas, "Dengan kecerdasan dan ilmu silatmu, untuk berkelana dalam dunia persilatan memang sudah lebih dari cukup, tapi ada beberapa hal yang harus kau perhatikan dan jangan sekali-kali kau lakukan. Kalau tidak, aku berani jamin kau pasti akan segera menjumpai berbagai kesulitan."

"Inilah pelajaran yang bisa kuberikan berdasarkan pengalamanku selama puluhan tahun, kau harus mengingatnya dalam hati."

Sejak kecil Toan Giok memang bocah penurut. Tak satu pun dari beberapa pantangan itu berani dia lupakan. Setiap pagi setelah bangun tidur, dia akan selalu mengingatnya.

1. Dilarang mencari gara-gara atau mencampuri urusan orang lain.

2. Dilarang berkenalan dengan teman yang masih asing.

3. Dilarang bertaruh uang dengan orang asing.

4. Dilarang mengikat permusuhan dengan para pendeta, Tosu maupun pengemis.

5. Dilarang memperlihatkan uang pada orang lain.

6. Dilarang percaya begitu saja perkataan orang lain.

7. Dilarang bergaul atau berhubungan dengan wanita asing.

Toan Giok terhitung bocah yang gampang menarik perhatian orang, mudah menarik simpati orang lain. Selain tampan, gagah dan sopan, dia pun gemar tertawa, pandai bergurau dan senyumannya sangat manis. Terlebih pakaiannya indah dan mewah, kuda tunggangannya dari jenis jempolan. Aneh, bila para gadis tak suka pemuda semacam ini.

Sebenarnya hal inilah merupakan kelebihan yang seharusnya paling dibanggakan Toan Hui-him Toan-loyacu, tapi sekarang justru berubah menjadi bagian paling dikuatirkan.

"Perempuan pada dasarnya merupakan sumber bencana, apalagi dalam dunia persilatan. Tak terhitung jumlah perempuan jahat yang berkelana. Bila kau tersengat salah satu saja di antaranya, maka kesulitan yang kau hadapi tak bakal ada habisnya."

Entah sudah berapa puluh kali Toan Hui-him mengulang perkataan itu kepada putranya, lima puluh kali pun lebih. Bila kau sudah begitu sering mendengar nasehat semacam ini, aneh bila Toan Giok bisa melupakannya begitu saja.

Bukankah begitu?

Bila keindahan wilayah Kanglam diberi nilai sepuluh, maka paling tidak nilal tujuh untuk kota Hangciu.

Kalau dibilang keindahan kota Hangciu bernilai sepuluh, maka nilai tujuh berada di telaga See- ouw.

Ada orang mengatakan keindahan telaga See-ouw bagaikan sebuah lukisan, tapi lukisan manakah di dunia ini yang bisa memperlihatkan keindahan alam di telaga See-ouw?

Bila kebetulan lewat di kota Hangciu, alangkah sia-sianya hldupmu bila tidak berpesiar ke telaga See-ouw. Bila kau telah singgahi telaga See-ouw, tapi tidak mencicipi ikan "Song-so-hi" di rumah makan Sam-ya-wan, kau bakal lebih kecewa lagi.

Kini Toan Giok kebetulan melewati kota Hangciu dan mengunjungi telaga See-ouw, tentu saja dia tak ingin meninggalkan tempat itu dengan kecewa.

Yang dimaksud ikan Song-so-hi atau ikan enso Song adalah ‘ikan masak cuka.’

Begitu ikan dibunuh langsung dikukus. Bila telah matang, baru dihidangkan dengan disiram bumbu. Oleh karena itu saat hidangan diantar ke meja, masakan itu masih panas mengepul. Saat itulah kau bisa merasakan daging ikan yang legar, lembut dan lezat.

Sama seperti masakan Ma-po-tou-po dari kota Seng-tok, Ikan cuka disebut ikan enso Song karena cara memasak ikan itu merupakan ciptaan seorang perempuan marga Song pada zaman Song selatan.

Sayang kedalaman air di telaga See-ouw kelewat dangkal, tiga jengkal di bawah permukaan air berupa lumpur, ikan yang hidup dalam air telaga semacam ini tak mungkin bisa tumbuh besar.

Lagi pula di wilayah telaga Se-ouw dilarang menangkap ikan, karena akan membuat air telaga yang hijau menjadi kotor dan keruh, bukankah hal ini sama seperti merusak taman dengan aneka bunga yang indah? Seperti membakar Khim untuk memasak daging bangau? Sangat merusak pemandangan.

Oleh sebab itu walaupun ikan cuka tersohor karena telaga Se-ouw, namun ikan itu bukan hasil telaga itu, melainkan didatangkan dari desa sebelah barat. Khususnya desa Thong-si, yang bukan saja bunga Bwenya indah, ikannya pun sedap.

Di tempat ini boleh dibilang dimana-mana penuh dengan kolam ikan. Dasar perahu yang memuat ikan menuju kota terbuat dari anyaman bambu, bentuknya lebih besar dari perahu pesiar di telaga See-ouw. Ikan yang berada di dasar perahu seakan sedang berenang dalam air sungai.

Perahu-perahu itu berlabuh di luar Bu-lim-bun, bersandar di tepi tanggul kecil, kemudian para penjual ikan dengan kaki telanjang memikul tong-tong berisi ikan memasuki kota. Gentong air itu dipenuhi air sungai, keranjang bambu di atas tong air dipenuhi tiram hijau yang masih segar dan hidup.

Rumah makan di sepanjang telaga pun memindahkan ikan yang baru dikirim itu ke dalam sebuah keranjang bambu besar dan dimasukkan ke dalam telaga, menunggu kedatangan para tamu yang ingin menikmati kelezatan ikan cuka.

Hampir semua rumah makan di telaga See-ouw menyediakan ikan cuka, seperti Hoa-kong- koan-hi di atas jembatan Teng-hiang-kiau, rumah makan Ngo-liu-kit di atas pintu air Lo-ko-ceng. Semuanya menjual ikan dengan cara begitu.

Hanya rumah makan Sam-ya-wan di pintu Yong-kim-bun yang lain daripada yang lain.

Yang paling menarik perhatian Toan-loyacu adalah rumah makan Sam-ya-wan. Setiap kali berkunjung ke telaga Se-ouw, dia pasti akan berkunjung ke rumah makan itu, memotong beberapa ekor ikan segar dan dikukus untuk teman minum arak.

Itulah sebabnya Toan Giok pun mendatangi rumah makan Sam-ya-wan.

Rumah makan itu terletak di tepi telaga, sejauh mata memandang telaga nampak hijau dan jernih, pagar kayu sekeliling rumah setinggi satu meter mengelilingi rumah makan

Itu.

Di sisi pagar merah tersedia puluhan meja makan yang teratur rapi, di atas setiap meja tersedia umpan dan alat pancing.

Semua ikan dilepas dalam telaga yang dikelilingi pagar bambu. Bila ingin makan ikan, maka silakan memancing sendiri.

Selain hasil tangkapan sendiri rasanya selalu lebih segar dan gurih.

Toan Giok berhasil memancing dua ekor ikan, dia minta arak hangat dan menikmatinya sambil menikmati keindahan alam telaga. Tanpa ikan pun sudah terasa nikmat, apalagi dengan ditemani hidangan ikan.

Karena itu belum habis dua poci arak, dia telah memesan lagi dua poci.

Toan Hui-him tidak pernah melarang dia minum arak, sebab setiap orang tahu, takaran minum Toakongcu keluarga Toan ini luar biasa hebatnya.

Siapa pun yang ingin melolohnya hingga mabuk, pada hakekatnya sama sulitnya seperti ingin menenggelamkan seekor ikan dalam air.

Tempat arak berupa sebuah tabung kecil terbuat dari tanah, tabung berisikan enam belas tahil arak.

Empat tabung berarti empat kati, arak yang diteguk Toan Giok adalah arak San-liang yang harganya satu kali lipat lebih mahal dari arak wangi lain.

Arak semacam ini memang khusus disediakan untuk tamu yang datang dari jauh. Sekalipun harganya satu kali lipat lebih mahal dari arak wangi lain, belum tentu kualitasnya sebagus arak wangi itu.

Arak Tiok-yap-cing yang bagus adalah arak yang tawar rasanya. Ketika masuk mulut terasa lembut, tapi pukulan belakangnya sangat kuat, baru dua-tiga mangkuk masuk perut, kau sudah dapat merasakan keriangan yang luar biasa.

Dia amat menyukai perasaan semacam ini, dia siap menghabiskan dua tabung arak itu, kemudian memesan dua tabung lagi dan terakhir baru memesan semangkuk udang goreng cuka yang lezat sebagai penghilang rasa mabuk.

Konon bakmi yang dijual di sini pun tidak kalah dengan bakmi buatan rumah makan Gui-bu- koan di simpang Koan-keng-go. Kebanyakan orang Hangciu pandai minum arak. Mereka terbiasa minum arak memakai mangkuk, satu mangkuk berisi empat tahil, biasanya meneguk enam-tujuh mangkuk tidak terhitung sesuatu yang aneh.

Tapi kalau sekali teguk menghabiskan lima-enam kati, hal ini baru rada aneh, apalagi yang minum adalah seorang pemuda yang usianya baru delapan-sembilan belas tahun.

Sudah mulai banyak orang memperhatikan dia, salah seorang di antara mereka yang melototkan mata paling besar adalah seorang pemuda berwajah putih, berjubah panjang ungu muda yang kebetulan duduk di samping mejanya.

Usia pemuda ini sekitar dua tahun lebih tua dari Toan Giok, dia mempunyai mata besar, hidung mancung dan dandanan sangat mewah, halus dan rapi, tampaknya orang ini pun sama seperti Toan Giok, berasal dari keluarga kaya.

Yang lebih hebat lagi adalah di atas mejanya terletak juga beberapa tabung arak yang telah kosong. Jelas takaran minum pemuda ini pun sangat hebat.

Orang dengan takaran minum yang hebat biasanya menaruh simpatik pada orang lain dengan takaran minum yang hebat pula.

Tiba-tiba ia melemparkan senyuman ke arah Toan Giok. Toan Giok tidak memandangnya.

Padahal sejak semula ia sudah memperhatikan pemuda bermata besar itu, agaknya dia pun menaruh simpatik terhadap orang itu.

Walaupun Toan kongcu baru terjun ke dalam Kangouw, namun dia tidak bodoh, dia pun tidak buta. Kenyataan dia jauh lebih cerdas dari kebanyakan orang, matanya jauh lebih jeli dari mata kebanyakan orang.

Sekilas pandang ia sudah tahu pemuda bermata besar itu bukan lelaki tulen, dia adalah seorang nona yang sedang menyamar sebagai lelaki.

“Sepanjang jalan dilarang bergaul atau berhubungan dengan wanita asing".

Toan Giok tak pernah melupakan nasehat ini, dia pun tak berani melupakannya. Selama ini dia memang sangat penurut,

Sebagai anak berbakti dan menurut perkataan orang-tua.

Oleh sebab itu tatapan matanya dialihkan ke arah sebuah perahu pesiar yang berada di hadapannya.

Perahu pesiar itu baru saja meluncur keluar dari balik pohon I.iu yang rindang. Perahu dengan atap hijau pupus, pagar merah dan tirai jendela bambu Siang-hui-tiok yang tergulung letengah di depan jendela.

Seorang perempuan cantik bak bidadari sedang duduk di tepi jendela, mempermainkan seekor burung kakaktua putih dalam sangkar.

Dengan tangan sebelah menyangga dagu, pergelangan tangannya tampak bulat halus, jarinya lentik indah, tapi sayang kerutan alis matanya seakan terlapis perasaan sedih yang tipis, seolah ia sedang menguatirkan masa muda yang segera akan berlalu, seakan merasa sedih karena berpisah dengan sang kekasih.

Dia pun seorang wanita, hanya bedanya wanita itu agak jauh dari tempat duduknya, paling tidak wanita itu jauh lebih aman daripada wanita yang duduk di samping mejanya.

Yang jelas, tak mungkin perempuan itu dapat terbang melampaui permukaan telaga sejauh lima-enam tombak dan datang mencari gara-gara padanya. Berbeda dengan perempuan yang duduk di samping mejanya. Bila mau, dia bisa datang dengan mudahnya.

Dan kini, tampaknya perempuan itu memang berniat begitu. Mendadak sambil menjura, sapanya, "Heng-tay, selamat berjumpa!"

Toan Giok mencoba menengok ke belakang, lalu menengok ke samping, seolah tidak tahu orang yang disapa pemuda itu adalah dirinya.

"Yang kumaksud Heng-tay adalah kau," kembali nona kecil bermata besar itu menyapa sambil tertawa cekikikan.

Ketika hendak tertawa, hidungnya nampak berkerut lebih dulu, bagaikan riak ombak di atas permukaan telaga yang terhembus angin.

Sebelum tertawa pun nona itu sudah tampak amat menarik, apalagi setelah tertawa, kecantikannya bisa membuat kaum lelaki terjun dari loteng tanpa protes.

Dalam keadaan begini, Toan Giok mau berlagak pilon pun sudah tak mungkin, terpaksa dia ikut tertawa. Sahutnya sambil tersenyum, "Jadi kau sedang mengajakku berbicara?"

"Kalau bukan dengan kau, lalu aku sedang bicara dengan siapa?" sahut si nona sambil membelalakkan mata dan tertawa.

"Boleh tahu ada urusan apa?" tanya Toan Giok sesudah mendehem.

"Sreeet!", nona itu mementang kipas bertangkai emasnya dan menggoyangnya perlahan, katanya, "Daripada minum seorang diri, apa salahnya kita minum bersama? Apalagi hari begini indah, mengapa kau tidak pindah saja ke mejaku dan kita mabuk bersama?"

Seorang buta pun dapat melihat kalau dia adalah seorang gadis, tapi nona itu justru berlagak seolah-olah dia adalah lelaki tulen.

Toan Giok menghela napas panjang. "Sebetulnya Cayhe pun berkeinginan begitu," sahutnya, "Tapi sayang kita tak saling kenal, apalagi antara laki dan perempuan ada bedanya”

Nona itu tertegun, sepasang matanya terbelalak melotot, katanya lantang, "Kau bilang laki dan perempuan ada bedanya! Memangnya kau seorang wanita?"

Kembali Toan Giok tertawa, tak tahan serunya, "Tentu saja kau pun bisa lihat kalau aku bukan perempuan."

“Kalau kau bukan perempuan, lalu siapa yang kau maksud perempuan?" Kau!"

Nona cilik itu memandangnya beberapa saat dengan mata melotot besar sambil menggeleng gumamnya, "Wah, wah, ternyata mata orang ini penyakitan!"

Dengan tangan sebelah menggoyang kipas, tangan lain minum secawan arak, sekali tenggak ia habiskan isinya.

Nona itu minum arak, dia memang sama sekali tak mirip seorang perempuan. Toan Giok menghela napas.

Sekarang tepat musim semi, tahun ini usianya baru sembilan belas tahun. Masa yang paling gampang bagi seorang pemuda untuk tergoda hatinya.

Sejujumya dia ingin sekali pindah ke sana. Tapi sayang, bagaimana pun juga sukar baginya untuk melupakan tampang ayahnya yang sangar.

Ternyata memang tak gampang untuk menjadi seorang anak yang penurut dan berbakti.

Matahari senja menyinari seluruh langit, membuat telaga See-ouw tampak lebih indah dan menawan.

Pohon Liu nan hijau, teratai merah yang setengah mekar, pegunungan nun jauh di sana yang tampak remang. Semuanya indah di atas permukaan air telaga yang bermandikan cahaya emas

Entah siapa di kejauhan sana, membawakan lagu senandung merdu: "Nona dusun bertelanjang kaki, turun kesawah memotong padi. Baru terkumpul setumpuk rumput, berbaring nyenyak di tepi kali. Pohon Liu menutupi wajahnya, kaki putih kecil nan mungil.

Tiga penunggang kuda datang mendekat, wajah mereka penuh senyuman. Seorang penunggang kuda melompat turun, sambil termangu menatap kakinya. Seorang penunggang lain bernyali baja, ia mendekat mengecup bibirnya.

Orang ketiga bermain opera, semua lagu dicatat dalam kitab. Aduh nona cilik yang nestapa, mengapa kau tertidur nyenyak?"

Irama lagu yang indah, syair yang indah, dipenuhi nada godaan dan rayuan.

Mungkinkah seorang nona dusun yang kasmaran sedang menggunakan irama lagu untuk memberi kisikan kepada kekasihnya agar dia lebih berani?

Tak tahan sekali lagi Toan Giok menghela napas panjang. Ia semakin tak berani melirik si nona cilik di sampingnya.

Dia merasa dirinya sama sekali tak berguna. Kini dia tak ingin menikmati arak lebih lama lagi. Rencananya, begitu udang goreng dihidangkan, dia akan melahapnya kemudian mencari tempat untuk beristirahat.

Pada saat itulah tiba-tiba muncul sebuah sampan kecil menerobos ombak dan melaju mendekat dengan kecepatan tinggi.

Di atas sampan itu berdiri empat orang, empat Hwesio beralis tebal, bermata besar, bertubuh kekar dan berkepala gundul klimis.

Biarpun angin yang berhembus membuat sampan itu terombang-ambing tiada hentinya, namun keempat orang Hwesio itu seolah terpantek mati di ujung geladak, sama sekali tak bergerak.

Sekilas pandang, Toan Giok tahu mereka adalah jago-jago silat, bahkan memiliki kuda-kuda yang sangat tangguh.

Di dunia Kangouw, golongan yang paling sulit dihadapi adalah hweesio, tosu dan pengemis.

Sebab mereka memiliki ilmu silat yang tangguh atau memiliki pengaruh yang luas.

Dalam suasana yang begini indah, mau apa kawanan pendeta itu muncul disitu? Bahkan tampaknya hendak membuat huru-hara?

Toan Giok merasa heran, tapi sekarang dia putuskan untuk tidak mencampuri urusan itu. “Gara-gara biasanya timbul karena banyak mulut, kesulitan muncul karena banyak mencampuri

urusan orang. Bila ingin selamat sepanjang perjalanan, lebih baik jangan membuat gara-gara dan mengurusi masalah orang."

Ketika Toan Giok selesai meneguk mangkuk arak yang terakhir, ia tinggal menunggu pesanan bakminya, kemudian pergi dari situ.

“Blaam!", ternyata sampan cepat itu bergerak lurus ke di i in langsung menabrak perahu pesiar itu.

Begitu keras tabrakan terjadi, membuat perempuan cantik yang sedang duduk di samping jendela itu nyaris terjerembab.

Keempat Hwesio itu sudah melompat naik ke atas perahu pesiar. Dengan wajah bengis dan garang bagai malaikat jahat, menyerbu masuk ke dalam kapal, lalu sambil menuding hidung perempuan itu mereka mencaci-maki kalang-kabut, sayang tidak terdengar apa yang mereka umpatkan.

Bukan hanya kakaktua putih dalam sangkar yang melompal lompat sambil menjerit karena ketakutan, perempuan itu pun tampak begitu takut hingga sekujur badannya gemetar keras, wajahnya pucat-pias bagai mayat, keadaannya amat mengenaskan. Kawanan Hwesio itu kasar sekali, mereka seakan tak mengerti mengasihani seorang gadis lembut, malah salah seorang di antaranya telah mementang tangannya yang besar bagai kipas, seolah hendak menjambak rambutnya.

Tidak jelas darimana datangnya kawanan pendeta bengis itu, pada hakikatnya ulah mereka jauh lebih buas dari penyamun di tengah siang hari bolong. Di bawah pandangan mata banyak orang, ternyata mereka begitu berani menganiaya seorang wanita yang sendirian dan patut dikasihani itu.

Bila urusan semacam ini pun tidak dicampuri, buat apa lagi membicarakan soal membantu kaum lemah, membela yang benar dan menghancurkan yang jahat?

Toan Giok merasakan hawa panas menggelora dalam dadanya. Tanpa pikir panjang lagi, dia ambil golok di atas meja, melompat bangun dan keluar dari pagar kayu.

Di luar pagar merupakan permukaan telaga, tampaknya dia segera akan tercebur ke dalam air, si nona bermata besar itu nampak sangat terperanjat, saking kagetnya dia sampai menjerit tertahan.

Siapa tahu, biarpun Toan Giok masih muda, ilmu silatnya sangat hebat. Sejak awal, dia telah memperhitungkan tempat berpijak.

Terlihat ujung kakinya menutul di atas pagar bambu yang dipakai untuk keramba ikan, kemudian badannya melambung ke udara, ternyata ilmu meringankan tubuh yang dipergunakan adalah Yan-cu-sam-jau-sui (Burung walet mendayung air tiga kali), sejenis ilmu Ginkang tingkat tinggi.

Belum habis jeritan kaget si nona kecil bermata besar itu, Toan Giok telah berjumpalitan di udara. Dengan gerakan "Dada ramping menembus awan", kemudian disusul Peng-sah-lok-eng (Manyar hinggap di pasir datar), tahu-tahu dia sudah melayang turun di atas perahu pesiar itu.

Dari empat Hwesio, salah satu di antaranya tetap tinggal di luar ruang perahu sambil berjaga- jaga. Begitu melihat ada orang mendekat, dengan wajah seram hardiknya, "Siapa kau? Mau apa datang kemari?"

Wajah Hwesio ini dipenuhi burik, sinar matanya memancarkan napsu membunuh. Sekilas pandang, dapat diketahui kalau dia bukan seorang pendeta yang saleh.

“Kau adalah seorang pendeta? Atau jangan-jangan perampok?” seru Toan Giok sambil menarik muka juga.

Seolah baru teringat akan dandanan sendiri, buru-buru pendeta itu merangkap tangan di depan dada seraya berkata,

“Omitohud, masa seorang pendeta pun jadi perampok?"

“Kalau memang bukan perampok, kenapa lebih buas dari seorang perampok, bahkan perampok benaran pun tak akan menganiaya perempuan."

Hweesio Itu jadi gusar, bentaknya, "Kurangajar, apa hubunganmu dengan perempuan itu?

Berani kau mencampuri urusan kami?”

“Urusan lain mungkin aku enggan, tapi urusan ini aku tetap akan mencampurinya, mau apa kau?" tantang Toan Giok sambil membusungkan dada.

Tiba-tiba dari balik ruangan perahu terdengar suara perempuan cantik itu menjerit, "Tolong ... tolong ... kawanan pendeta buas itu akan berbuat tak senonoh!"

Meledak hawa amarah Toan Giok setelah mendengar teriakan Itu. Sambil tertawa dingin, serunya, "Aku lihat kalian memang kawanan Hwesio bangsat! Besar amat nyali kalian." "Nyalimu pun cukup besar, berani bersikap kurangajar di hadapanku!" balas Hwesio itu gusar:

Sambil bicara, sepasang tangannya mulai beraksi, tiba-tiba ia memperkokoh kuda-kudanya, lalu sepasang kepalannya dihantamkan ke pinggang dan tulang iga Toan Giok. Jurus yang digunakan mirip Hu Hou lo-han-kun dari biara Siau-lim.

Sayang Toan Giok bukan harimau, biarpun Lo-han-kun dari biara Siau-lim, ternyata tak mampu menundukkan dirinya.

Sedikit dia miringkan badan, tangannya sudah berbalik mencengkeram urat nadi sang pendeta, lalu dengan teknik “Empat tahil menyingkirkan ribuan kati", dia menarik lalu mendorong.

Sungguh hebat teknik meminjam tenaga untuk memukul balik lawan. Memang inilah lawan tanding ilmu pukulan aliran keras, semakin besar tenaga yang digunakan Hwesio itu, semakin parah ia jatuh terjerembab.

Tenaga pukulan Hwesio itu memang luar biasa hebatnya, sayang tiba-tiba saja dia kehilangan keseimbangan, tubuh besarnya yang berbobot ratusan kati itu mendadak terbang ke udara, lalu ... "Plung", tercebur ke dalam telaga.

Terdengar suara tepuk tangan bergema dari tepi telaga, entah nona kecil bermata besar itu atau orang lain.

Toan Giok tak sempat berpaling karena sudah muncul dua orang Hwesio lagi dari dalam ruang perahu.

Gerakan tubuh kedua orang itu cekatan, gerak serangan pun amat cepat, tahu-tahu dua buah kepalan sebesar martil telah tiba di hadapan Toan Giok. Dari suara pukulannya yang menderu- deru, bisa diduga-tenaga serangan yang digunakan maha dahsyat.

Sayang musuh yang mereka hadapi adalah putra pertama Toan Hui-him, jago nomor satu di daratan Tionggoan. Bukan saja ilmu silatnya tidak lebih lemah dari ayahnya, bahkan jauh

melebihi siapa pun.

Apalagi ilmu meringankan tubuhnya, bukan cuma enteng dan lincah, bahkan tampak anggun dan indah.

Begitu menghimpun tenaga dalam, tiba-tiba dengan gaya "Burung belibis membalikkan badan", ia sudah melayang turun di belakang kedua Hwesio itu.

Ternyata Hwesio-hwesio itu cukup tangguh, perubahan jurus mereka pun tak lambat, cepat badannya berbalik sambil mengeluarkan gerakan Lo-han-to-ih (Lo-han melepas pakaian), kepalannya segera disodok ke muka melepaskan pukulan balasan.

Sayang gerakan mereka kelewat lambat.

Sarung golok yang berada di tangan Toan Giok sudah mampir dulu di atas jalan darah Cian- keng-hiat di bahu kirinya.

Baru saja dia membalik badan, bagian yang merupakan titik keseimbangan telah kena dihantam, kontan badannya tak dapat berdiri tegak. Dengan sempoyongan, dia mundur sejauh tujuh delapan langkah dan ..”Blaaam!” menumbuk tiang di atas perahu hingga patah jadi dua bagian.

Gerakan hweesio yang satunya lagi jauh lebih lamban dan payah.

Ketika sekali lagi Toan Giok mengulapkan tangan, maka “Plung, plung!", kedua orang Hwesio itu pun sudah tercebur ke dalam air.

Sisanya yang soorang lagi baru saja melangkah keluar dari ruang perahu, paras mukanya kontan berubah hebat. Untuk sesaat dia bengong, haruskah turun tangan? Atau lebih baik berdiam diri saja? Mimpi pun dia tak menyangka pemuda yang lemah-lembut mirip pelajar itu ternyata memiliki ilmu silat yang menakutkan.

Pada hakekatnya belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki ilmu silat sehebat itu.

Saat itu Toan Giok pun sedang mengawasinya.

Usia Hwesio itu sedikit lebih tua dibanding kawan-kawannya, tampangnya juga lebih bersih dan tahu aturan, yang paling penting adalah dia tak ikut memukul orang.

Tak aneh bila sikap Toan Giok terhadapnya cukup sopan dan sungkan, ujarnya sambil tersenyum, "Teman-temanmu sudah kabur, masa kau tidak ikut pergi?"

Hwesio Itu manggut-manggut, setelah menghela napas panjang tiba-tiba tanyanya, "Boleh tahu, Sicu she apa?"

“Aku she Toan." “Siapa namamu?” “Toan Giok!”

Sekali lagi Hwesio itu menghela napas.

“Kepandaian silat Toan -sicu memang sangat hebat," pujinya. “Ah, hanya begitu saja, tak perlu dipuji”

Mendadak hwesio itu menarik wajah dan berkata lagi dengan nada ketus, "Sayang-nya, walaupun Toan-situ memiliki kepandaian silat yang lebih hebat pun tak ada gunanya, sebab setelah mencampuri urusan ini, jangan harap kau bisa mundur dari persoalan."

"0, ya?"

"Masa Sicu tak dapat menduga berasal darimana Pinceng sekalian?" "Setahuku, Hwesio tentu keluar dari biara, kecuali kalian adalah bandit"

Dengan gemas sekali lagi Hwesio itu melotot sekejap ke arah Toan Giok, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia menceburkan diri ke dalam telaga.

Toan Giok tertawa tergelak, gumamnya, "Ada rezeki dicicipi bersama, ada masalah dipikul berbareng, tampaknya hwesio ini cukup setia kawan."

Setelah mengebaskan baju, dia hendak beranjak pergi dari situ, namun dia pun ingin menghampiri perempuan cantik berbaju putih itu, ingin bertanya apakah dia terluka.

Sementara dia masih ragu dan tak dapat mengambil keputusan, tiba-tiba dari balik ruang perahu terdengar seseorang berseru, "Toan-kongcu, harap tunggu sebentar."

Suaranya ibarat kicauan burung Hoa-bi. Begitu enteng, renyah, empuk dan manis, jauh berbeda dibandingkan saat dia berteriak minta tolong tadi.

Toan Giok segera berdehem berulang kali, tentu bukan mendehem sungguh-sungguh, memang inilah penyakit menular Toan-loyacu.

Setiap kali tenggorokan Loyacu tersumbat riak kental, apalagi hendak menyampaikan pesan penting, dia selalu mendahului dengan deheman beberapa kali.

Jadi tak aneh jika Toan-kongcu pun tertular penyakit ayahnya, dia merasa kurang puas bila tidak mendehem lebih dulu sebelum mulai bicara, sebab cara ini memang cara yang paling jitu.