Bara Maharani Jilid 28 : Menuju tamat II

  
Jilid 28 : Menuju tamat II

HOA THIAN-HONG yang ikut mendengar perkataan tersebut dalam hati ia merasa geli atas kepolosan dara muda itu di dalam berpikir, pertama belum tentu dia adalah sahabat karib dari Pek Kun-gie dan kedua belum tentu Cukat racun Yau Sut mampu membekuk dirinya, ia bermaksud untuk membantah ucapan tersebut akan tetapi ketika ucapannya hendak melontar keluar dari bibirnya mendadak ia telah kembali.

Sementara itu Cukat racun Yau Sut telah berkata, “Keponakanku, engkau tak usah kuatir! Selama paman masih berada disini, tak seoanng pun akan mampu membinasakan dirimu”

“Heeeeeh…. heeehh…. heeeehh…. Yau Sut, aku nasehati kepadamu lebih baik kurangilah pembicaraan yang tak berguna,” sela malaikat kedua Sim Ciu sambil menyeringai seram, “ketahuilah aku tak berputera ataupun berputri, selama hidup aku tak pernah menerima murid dan lagi melakukan pekerjaan tak pernah memikirkan tentang akibatnya, jika engkau tidak turun tangan lagi maka aku segera akan beradu kekuatan dengan dirimu, akan kulihat engkau lebih ‘beracun’ ataukah aku yang lebih ampuh?”

Cukat racun Yau Sut adalah seorang jago yang mempunyai kedudukan tinggi sekali dalam perkumpulan Sin-kie-pang, kecuali pangcu sendiri dia adalah orang yang memegang kekuasaan dalam perkumpulan itu, dihari-hari biasa, nama serta perkataannya disegani orang jangan dibilang ia sudah menyadari bahwa untuk menangkap Hoa Thian-hong bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, berada dihadapan orang banyak diapun tak sudi dirinya diperintah oleh malaikat kedua Sim Ciu sehingga di kemudian hari ditertawakan banyak orang. Akan tetapi keselamatan jiwa Pek Soh-gie telah berada di tangan lawan, semua kecerdikannya telah diperas untuk mencari suatu jalan keluar yang paling baik untuk menolong puteri pangcunya ini sayang usahanya selalu gagal, sebagai seorang Kun su dari perkumpulan Sin-kie- pang tentu saja ia tak dapat berpeluk tangan belaka, untuk beberapa saat lamanya ia jadi serba salah dan tak tahu apa yang musti dilakukan pada saat ini.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, bukan marah dia malah tertawa tergelak, tiba-tiba ujarnya dengan suara tegas, “Sim Ciu, engkau berkelana di dalam dunia persilatan lebih dahulu sedang aku orang she Yau punya nama belakangan, seandainya engkau masih mempunyai kegagahan sebagai seorang pria, silahkan datang kemari dan bertanding secara jantan dengan aku orang she Yau, tidak mungkin kutampik keinginanmu itu sekalian kita lihat umur siapa yang lebih panjang diantara kita, bagaimana? Bersedia bukan?”

“Bagus sekali!” bentak Hoa Thian-hong pula sambil tertawa, “Cukat racun, memandang dalam beberapa patah kata yang barusan kau ucapkan, perselisihan diantara kita dimasa lampau aku sudahi sampai disini saja!”

Kemudian pemuda itu berpaling ke arah malaikat kedua Sim Cui dan sambungnya lebih jauh.

“Sim Ciu! asal engkau berhasil menangkap Cukat racun, meskipun aku punya luka dibadan tentu akan kulayani dirimu untuk bergebrak sebanyak beberapa jurus, kalau engkau merasa punya cukup kepandaian, silahkan sekalian tangkap aku orang she Hoa!”

Sebagai seorang pemuda yang jujur dan berwatak gagah, pemuda itu merasa muak sekali menyaksikan perbuatan Sim Ciu yang rendah dan tak tahu malu itu sehingga karena pengaruh emosi, meluncurlah kata-kata tersebut.

Bagi orang lain yang mendengar, ucapan itu tidak menimbulkan reaksi apa-apa, tetapi bagi Tío Sam-koh serta Hoa In jadi kuatir se kali.

Perkataan seorang lelaki sejati berat laksana bukit, andaikata Sim Ciu benar-benar sanggup mengalahkan Cukat Racun Yau Sut, maka dengan sendirinya Hoa Thian-hong harus tampil ke depan untuk melayani tantangan dari Sim Cui, dengan dasar perjanjian yang dibuat lebih dahulu, siapakah yang mampu untuk menghalang-halangi kejadian tersebut?

Malaikat kedua Sim Cui tak kuat menahan hasutan tersebut, ia segera bersiap-siap untuk meloncat masuk ke dalam gelanggang serta melayani Cukat Racun, tetapi sebelum ia sempat melangkah ke tengah gelanggang terdengarlah malaikat pertama Sim Kian dengan suara yang dalam telah berseru, “Loo ji, julukan kita adalah sepasang malaikat, jangan kau layani hasutan dari keparat cilik itu, lakukan saja apa yang kau ingin kaulakukan, jangan sekali-kali kau termakan oleh jebakan bajingan itu.” Mendengar teguran dari saudaranya, malaikat kedua Sim Cui segera berubah pendirian kembali, ia tertawa aneh dan serunya kepada Cukat Racun Yau Sut.

“Cukat racun, ilmu silat kucing kaki tiga yang kau miliki itu sudah pernah kulihat ketika berada dipertemuan besar Pak Reng hwe tempo hari, engkau tak usah kuatir! Setelah keparat cilik she Hoa itu berhasil kau tangkap ataukah budak ingusan she Pek itu sudah keburu mampus, aku pasti akan melayani dirimu untuk bergebrak sampai puas”

“Oooh….! rupanya ketika berada dalam pertemuan besar Pak Beng Hwee engkau sudah pernah berjumpa dengan aku orang she Yau, aku masih mengira engkau benar-benar telah lupa,” ejek Cukat racun dengan nada dingin.

Berbicara sampai disini tiba-tiba ia berpaling dan ujarnya lagi, “Teng Loo huhoat, coba engkau minta petunjuk beberapa jurus lebih dahulu dari Hoa kongcu!”

Semua orang tertegun mendengar perkataan itu, secara terang dan jelas malaikat kedua Sim Ciu memerintahkan dia untuk bergebrak melawan Hoa Thian-hong, sebaliknya dia malah memerintahkan seorang pelindung hukum untuk maju bertarung, bukankah tindakannya ini sama sekali menyimpang dari maksud hati Sim Ciu yang sebenarnya?”

Terlihatlah seorang kakek berpakaian perlente meloncat maju ke tengah gelanggang, setelah memberi hormat katanya, “Aku Teng Kong Li mohon petunjuk dari Hoa kongcu, harap kongcu suka memenuhi harapanku ini!”

Sambil memegang toya bajanya Tio Sam-koh segera tampil keluar dari dalam gua, teriaknya dengan gusar, “Engkau tak perlu berkaok-kaok, aku si nenek tua akan memberi petunjuk kepadamu!”

Hawa amarah berkelebat dialas wajah Teng Kong Li namun tetap ia membungkam dalam seribu bahasa, ketika serangan toya yang di lancarkan Tio Sam-koh telah menyapu datang, buru-buru kakek tua itu meloncat mundur satu langkah ke belakang, dari balik bajunya dia ambil keluar sebatang alat penotok jalan darah yang berwarna emas.

Setelah Tio Sam-koh melancarkan serangan gencarnya, terjadilah penarungan yang amat seru antara dua orang jago lihay itu.

Mereka berdua yang menggunakan senjata berat dengan tenaga raksasa yang menimbulkan deruan angin tajam, sedang pihak lain menggunakan senjata ringan khusus melancarkan totokan dengan menggunakan peluang yang didapat, membuat suasana dalam pertarungan itu berubah jadi tegang dan ramai sekali.

Tio Sam-koh adalah seorang jago lihay yang sudah tersohor dalam dunia persilatan sejak puluhan tahun berselang, sebenarnya ia sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap seorang pelindung hukum yang tak bernama, dalam perkiraannya semula cukup beberapa gebrakan saja dia akan berhasil memukul keok Teng Kong Li.

Siapa tahu pelindung hukum yang tak ternama dan kelihatannya lemah itu ternyata mempunyai kepandaian silat yang ampuh, selama berlangsungnya pertempuran sengit ia dapat mengatur pertahanan serta serangannya secara teratur serta jitu, sedikitpun tidak nampak bodoh.

Kebagusan jurus serangan serta kecepatan perubahan gerak yang dimiliki kedua orang ini sama-sama dapat disebut sebagai ilmu silat luar biasa dalam dunia persilatan, belum lama pertarungan berlangsung semua orang sudah tertarik untuk mengikuti jalannya pertarungan tersebut.

Tiba-tiba terdengar malaikat kedua Sim Ciu berseru kembali dengan suara lantang, “Manusia she Yau, benarkah engkau tak akan menggubris perkataan yang kuucapkan?”

Cukat racun Yau Sut segera berpaling, kemudian jawabnya dengan nada dingin dan ketus, “Engkau tak usah sombong, ini hari aku orang she Yau mengaku kalah di tanganmu….”

“Nah! begitulah sepantasnya,” tukas malaikat kedua Sim Ciu sambil tertawa bangga, “kalau sudah mengaku kalah, maka sudah sepantasnya kalau engkau segera melaksanakan perintahku”

“Oooh….! tentu saja akan kulaksanakan apa yang kau kehendaki itu,” jawab Cukat racun Yau Sut sambil memperlihatkan satu senyuman aneh di atas wajahaya, “cuma Saja, kalau aku orang she Yau membiarkan engkau hidup sampai melewati bulan tujuh tanggal limabelas dibukanya pertemuan besar Kiani Ciau tay hwe, di kolong langit tak akan muncul seorang manusia yang bernama Cukat racun lagi”

“Haaah…. haaah…. haaah…. tentu saja, tentu saja,” Malaikat kedua Sim Ciu tertawa seram, “seandainya aku harus pulang ke alam baka, masa tidak kubawa serta dirimu?”

Cukat racan Yau Sut mendengus dingin, sinar matanya berputar dan segera memberi tanda kepada seorang kakek bermuka kurus yang berada di samping tubuhnya.

Kakek bermuka kurus itu segera mencabut senjata kaitan racun berwarna kebiru-biruan yang tersoren di atas punggungnya, kemudian sekali enjot badan ia menerjang ke arah Hoa In.

Menyaksikan datangnya terjangan itu, Hoa In teramat gusar, telapak tangan segera diayun ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat, sementara dimulut ia membentak, “Siau Koan-jin, cepat mengundurkan diri kedalem gua!”

Rupanya Hoa Thian-hong sendiripun dapat merasakan gentingnya situasi yang sedang dihadapi olehnya, ia tarik napas panjang lalu mengundurkan diri ke dalam gua, ketika ia berpaling kembali maka tampaklah Hoa In serta kakek kurus bersenjata kaitan racun itu secepat kilat telah saling bergebrak sebanyak dua jurus. Setelah Tio Sam-koh serta Hoa In masing-masing menantang seorang lawan, meskipun kekuatan mereka untuk menghadapi lawannya masih le bih dari cukup namun untuk meluangkan waktu sudah tak mungkin lagi, sebab dua orang jago tua dari perkumpulan Sin-kie-pang bukan termasuk manusia-manusia sembarangan, di dalam dua tiga gebrakan tak mungkin bagi Tio Sam-koh berdua untuk merobohkannya.

Tercekatlah hati Hoa Thian-hong menyaksikan peristiwa tersebut, pikirnya di dalam hati, “Dalam barisan jago-jago lihay kalangan lurus, Tio Sam-koh maupun Hoa In merupakan manusia-manusia yang amat lihay dan disegani semua orang, tetapi dua orang pelindung hukum dari perkumpulan Sin-kie-pang ternyata sudah mampu untuk membendung kekuatan mereka, bukankah hal ini….”

Berpikir sampai disini ia tak berani melanjutkan kembali jalannya pikiran, sementara itu bentakan- bentakan keras dari Tio Sam-koh serta Hoa In berkumandang tiada hentinya dari luar gua, jelas kedua orang jago itu merasa malu untuk melakukan pertarungan selama ini tanpa berhasil merobohkan lawannya.

Terlihatlah permainan toya dari Tio Sam-koh bagaikan gulungan ombak di tengah samudra, permainan sepasang telapak Hoa In bagaikan angin puyuh dan hujan badai, dua orang itu melancarkan serangan- serangan yang ampuh secara bertubi-tubi meneter musuhnya habis-habisan. Sebaliknya, permainan senjata petotok jalan darah dari Teng Kong Li serta kaitan racun dari kakek kurus rupanya terdesak hebat sehingga harus diputar sedemikian lupa untuk mengutamakan perlindungan atas keselamatan sendiri, dalam keadaan tersebut jelas dalam umpat lima jurus pertarungan itu masih tetap belum bisa diakhiri.

Dalam kenyatan Hoa Thian-hong mana tahu kalau dua orang kakek tua yang sedang bertempur saat ini adalah jago-jago lihay sisa dari pertemuan besar pak Beng hwee dimasa lampau, kedua orang itu bukanlah manusia sembarangan yang tak bernama, cuma saja berhubung para jago yang dikumpulkan perkumpulan Seng Kie Pang tak terhingga banyaknya maka nama-nama mereka jadi tenggelam diantara para jago lainnya yang rata-rata lebih hebat ilmu silatnya dari mereka berdua.

Tib-tiba terdengar Cukat racun Yau Sut berteriak lantang, “Hoa kongcu mumpung sekarang kita tak ada urusan, bagaimana kalau kitapun beradu kepandaian untuk meluruskan otot?”

Mendengar tantangan terebut Hoa Thian-hong jadi terperanjat, dengan sorot matanya yang tajam ia menyapu sekejap disekeliling tempat itu, rupanya kakek kurus yang bersenjata kaitan racun itu berlaku cerdik, meskipun Tio Sam-koh serta Hoa In berada di depan gua, namun kakek kurus itu mundur terus kebealkang memancingg Hoa In meninggalkan mulut gua, dengan begitu terbukalah sebuah liang kosong. Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini, Cukat racun Yau Sut segera menerobos masuk ke dalam gua dan berdiri saling berhadapan dengan Thian-hong, berada dalam keadaan begini tentu saja tangannya tak dapat diabaikan dengan begitu saja.

“Bajingan yang tak tahu diri, lihat serangan!” bentak Tio Sam-koh dengan penuh kegusaran.

Weeess….! Sebuah serangan gencar dengan cepat dilancarkan ke arah juru pikir dari perkumpulan Sin-kie- pang itu.

Sementara itu Hoa In pun takut Hoa Thian-hong melayani tantangan lawan, tubuhnya segera berputar kembali ke belakang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebuah pukulan keras dilancarkan ke arah punggung Yau Sut.

Sejak Thian-hong terkena racun teratai yang tak dapat dipunahkan sehingga setiap hari harus lari racun dan tak diketahui bagaimana akrabnya, Hoa In sudah amat membenci terhadap Cukat racun yang dianggap sebagai biang keladi dalam peristiwa itu, serangan yang sepnitas lalu kelihatannya enteng sekali dalam kenyataan telah diseratai dengan sepuluh bagian hawa murni Sau yang Ceng ki, asal Yau Sut berani menangkis dengan jalan keras lawan keras maka tenaga pukulan yang maha dahsyat itu bagaikan tanggul yang jebol segera akan menghantam tubuhnya dengan luar biasa hebatnya.

Serangan telapak dan toya itu tiba pada sasaran hampir bersamaan waktunya, meskipun Cukat racun Yau Sut sudah bikin persiapan sejak semula, tak urung hatinya di bikin terperanjat juga oleh kedahsyatan mu- suhnya.

Sekuat tenaga ia enjotkan badannya meloncat mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula, sementara Teng Kong Li serta kakek bermuka kurus itu tidak menanti sampai Tio Sam-koh serta Hoa In mengejar dari belakang, mereka segera menyerang kembali musuhmusuhnya dengan gencar, Cukat racun Yau Sut menyadari apabila pertarungan ini diteruskan lebih jauh maka dua orang anak buahnya pasti akan terluka di tangan musuh, diam-diam ia segera mengulapkan tangannya ke belakang, dengan cepat muncul kembali dua orang jago lihay yang segera menerjang ke arah Hoa In serta Tio Sam-koh.

Dalam sekejap mata Tio Sam-koh harus menghadapi dua orang musuh sekaligus, dengan cepat pula situasi dalam gelanggang mengalami perubahan besar.

Terdengar Cukat racun Yau Sut telah berkata kembali, “Hoa kongcu, aku dengan ibumu telah munculkan diri kembali dalam dunia persilatan, kenapa kau tidak undang keluar untuk berjumpa dengan kami?”

Sambil berkata tubuhnya bergerak kembali mendekati mulut gua, hanya saja untuk menghindari sergapan dari Tio Sam-koh atau Hoa In kali ini ia tak berani terlalu mendekati gua tersebut.

Hoa Thian-hong sepera tertawa dingin, pikirnya di dalam hati, “Dewasa ini jumlah lawan jauh lebih banyak dari pada pihak kami, bila pertarungan dengan cara roda kereta ini dibiarkan berlarut- larut, kendatipun Tio Sam po serta Hoa In tidak sampai menderita kalah, paling sedikit mereka akan lelah dan kehabisan tenaga, selama ini Yan-san It-koay serta Liong bun siang kiat tetap terdiam diri, dalam keadaan penat serta kehabisan tenaga darimana mungkin nenek Tio serta Hoa In mampu untuk menghadapi serangan mereka?”

Berpikir sampai disini, ia tahu jika dirinya tidak segera tampil ke depan maka keadaannya akan bertambah runyam, maka sambil melangkah maju ke depan, serunya dengan suara lantang, “Aku harap saudara sekalian suka saling hentikan pertarungan, aku ada perkataan hendak disampaikan kepada kalian semua”

“Pelindung hukum sekalian harap segera mengundurkan diri!” seru Yau Sut kemudian.

Empat orang jago dari perkumpulan Sin-kie-pang dengan cepat menghentikan pertarungannya dan loncat mundur ke belakang, sedangkan Tio Sam-koh serta Hoa In pun terpaksa buyarkan serangan dan berhenti bertarung.

Tio Sam-koh segera berpaling ke arah Hoa Thian- hong, dengan mata melotot nada gusar ia menegur, “Perkataan apa yang hendak kau utarakan keluar?”

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Ini hari jumlah musuh yang harus kita hadapi jauh lebin besar daripada kita, meskipun Sam poo gagah dan hebat namun mampukah engkau hadapi musuh-musuh yang begitu banyaknya? Boanpwee memang tak becus tapi aku tak tega untuk berpeluk tangan belaka, sebab cepat atau lambat pertarungan tak bisa dihindarkan lagi, oleh karena itu ijinkanlah boanpwe untuk bertempur pada babak pertama!”

Tio Sam-koh tertegun mendengar perkataan itu, lalu serunya, “Tapi…. badanmu menderita luka, jika sampai kalah bukankah kekalahanmu itu sama sekali tak ada nilainya?”

“Aaah….! bagaimanapun toh pertarungan ini bukan adu kepandaian di atas panggung Lui thay, ada orang mencari gara-gara masa aku tak boleh memberikan perlayanan sebagaimana mestinya?” jawab Hoa Thian- hong sambil tertawa.

Habis berkata, dengan langkah lebar dia segera berjalan maju ke depan.

Hoa In tidak berusaha mencegah dengan menggunakan kata-kata, akan tetapi dengan ketat dia mengikuti terus disisi majikan mu danya, kalau dilihat dari tampangnya, barang siapa berani mengganggu Hoa Thian-hong maka pertama-tama harus berhadapan lebih dahulu dengan dirinya.

Tiba-tiba si anak muda itu berpaling, dengan pura- pura gusar bentaknya keras-keras, “Ibu paling benci kalau ada orang yang mengganggu dirinya, sana! berjagalah di depan gua dan tak usah mencampuri urusan pribadiku lagi….” Dengan amat jelas Hoa In mengetahui bahwa majikan mudanya masih bukan tandingan dari Cukat racun Yau Sut, tentu saja ia tidak membiarkan si anak muda itu menghantar kematiannya, sesudah tertegun beberapa saat lamanya, ia berseru, “Budak tua tak akan memperdulikan soal apapun lagi, bagaimanapun juga….”

Ditinjau dari kesetiaannya, mungkin langit ambrukpun dia benar- benar tak mau mengurusinya kecuali memperhatikan keselamatan dari majikan mudanya, akan tetapi ia tak berani membantah ataupun memperingatkan dengan kata-kata, oleh sebab itulah ia segera mengambil keputusan untuk berjaga-jaga di samping tubuh pemuda itu.

Sebenarnya susah bagi Hoa Thian-hong untuk menegur ataupun menyakiti hati pelayan tuanya yang amat setia serta sangat mem perhatikan keselamatan jiwanya itu, tetapi dalam situasi semacam itu tak mungkin baginya untuk bersikap ragu-ragu, sekalipun begitu setelah mengucapkan kata-kata kasar tadi, timbul rasa tak tega dalam hati kecilnya.

Tiba-tiba dari dalam gua berkumandang keluar suara dari Hoa Hujien yang berat dan rendah, “Hoa In segera mengundurkan diri, biarlah Seng ji beradu kekuatan dengan sahabat itu, bilamana diapun benar-benar tak mampu mempertahankan diri lagi rasanya belum terlambat bagimu untuk menolong dirinya!”

Meskipun ucapan tersebut diucapkan dengan suara dalam dan rendah, akan tetapi nyata, jelas dia amat bertenaga. Bagi siapa pun yang pernah mengikuti pertemuan Pak Beng Hwee, suara itu bukan nada yang terlalu asing bagi bagi mereka, dan bayangan atas seorang perempuan cantik tegas dan keras dalam pendirianpun terlintas dalam be nak mereda.

Sorot mata semua orang yang hadir dalam arena dengan cepat dialihkan ke dalam gua yang gelap gulita itu, air muka semua orang secara tiba-tiba saja berubah jadi amat serius.

Setelah hening beberapa saat lamanya, dari boalik gua tidak kedengaran suara pembicaraan lagi, Hoa In tertegun akhirnya perlahan-lahan ia mundur beberapa langkah ke belakang.

“Hoa Hujien!” terdengar malaikat kedua Sim Ciu berteriak gusar dengan sepasang alis berkernyit, “bagi setiap orang dalam dunia persilatan, siapa yang kuat di dalam pemimpin yang harus dihormati setiap orang, kami bersaudara she Sim sudah hampir beberapa jam lamanya tiba di tempat ini tapi Hujien tidak menegur ataupun menyapa, sedikitpun tidak mengindahkan tatacara dalam dunia persilatan, apakah hal ini berarti bahwa ilmu silati yang dimiliki oleh dua bersaudara she Sim masih belum mencapai taraf yang tinggi sehingga tidak pantas untuk berjumpa dengan dirimu?”

“Hmm, yang kuat dialah pemimpin? pemimpin kentut anjing yang busuk….” maki Tio Sam-koh dingin.

Tiba-tiba dari dalam gua berkumandang kembali suara dari Hoa Hujien, “Pendapat dari Sim kong tak sejalan dengan pikiran aku Bun si, tetapi ada satu yang jelas yakin ilmu cakar Tay in sin jiau yang kalian berdua miliki, sudah lama aku orang Bun si merasa sangat kagum”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Sejak perpisahan di pertemuan besar Pek Beng Hwe, dalam sekejap mata dua belas tahun sudah lewat, aku percaya ilmu silat yang kalian berdua miliki sudah mendapat kemajuan yang amat pesat, jika engkau bermaksud untuk memberi petunjuk, silahkan diperlihatkan dimulut gua, dari sini aku Bun si akan melayani!”

Malaikat kedua Sim Ciu mengerutkan dahinya, bibir bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tetapi malaikat pertama Sim Kian yang teringat kembali akan nasib nenek buta dimana baru saja tubuhnya berada dimulut gua, segulung tenaga pukulan yang amat keras telah membanting tubuhnya hingga jatuh tak sadarkan diri, buru-buru mengerdipkan matanya, lalu menjawab, “Pertemuan besar Kian ciau Tay hwee yang akan diselenggarakan oleh pihak Thong-thian-kauw, dalam waktu singkat segera akan berlangsung, pada waktu itu semua jago yang ada di kolong langit boleh mendemonstrasikan keampuhannya disana. aku rasa kalau mau bertarung itulah waktunya paling tepat karenanya pertarungan saat ini lebih baik diabaikan saja!”

Hoa Thian-hong tertawa, sambil memandang wajah Cukat racun Yau Sut dia pun berseru, “Kalau semua pertarungan diabaikan, maka akupun akan gunakan kesempatan ini untuk menyembunyikan kembali ilmu silatku” Cukat racun Yau Sut tahu bahwa Hoa Thian-hong adalah kekasih hati dari Pek Kun-gie, sebelum persoalan dibikin terang ia tak ingin turun tangan terhadap si anak muda itu, maka mendengar ucapan tadi sorot matanya segera dialihkan kepada malaikat kedua Sim Ciu, ujarnya sambil tertawa, “Sim kong, bagaimana dengan keputusan mengenai barter ini? dilanjutkan atau batal sampai disini?”

Tiba-tiba terdengar Jin Hian tertawa dingin, lalu berseru, “Hoa loo te, membicarakan tentang asal mulanya peristiwa maka persoalan ini kembali terjatuh di atas kepalamu”

“Aku bodoh dan tak dapat menangkap maksud dari ucapan Jien Tang-kee, apakah engkau bersedia untuk menerangkan lebih lanjut?”

“Hmm! putraku mati di tangan Hoa loo te engkau tentu tahu bukan bahwa kematiannya tak akan sia-sia belaka!” seru jin Hian dengan nada dingin menyeramkan.

“Ooo…. kiranya kau maksudkan tentang persoalan itu….” kata Hoa Thian-hong dengan alis mata berkenyit.

Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata- katanya, kembali Jin Hian menukas, “Pada saat peristiwa ini baru saja berlangsung, Hoa Loo te mengatakan bahwa raut wajah pembunuh itu rada mirip dengan Pek Kun-gie dan sekarang setelah persoalan berlaut-larut samnai sekarang ternyata Pek Kun-gie bukan pembunuhnya sedang Pek Soh-gie pun bukan pembunuh tersebut, sekarang aku hendak menuntut kepada Hoa Loo te, apa alasanmu menuding menjangan mengatakan kuda dan membolak balikkan duduknya persoalan sehingga menjadi tak karuan seperti ini?”

“Pembunuh yang sebenarnya pasti Pui Che-giok” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “sayang sekali raut wajahnya tidak cocok dengan apa yang kukatakan, bagaimana aku bisa menjawabnya?”

Tatkala dilihatnya pemuda itu membungkam dalam seribu buhasa, Jin Hian segera tertawa dingin dan berkata kembali, “Hoa loo te, aku Jin Hian ingin mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu, putraku pernah mengadukan hubungan kelamin dangan pembunuh tersebut, apakah kesemuanya itu kau saksikan dengan mata kepala sen diri?”

Hoa Thian-hong sama sekali tak menduga kalau ia bakal diajukan pertanyaan seperti ini, uniuk beberapa saat lamanya pemuda itu berdiri tertegun sementara dalam hati kecilnya ia berpikir, “Oooh….! rupanya ia masih tetap menaruh curiga atas diri kakak beradik she Pek!”

Dalam hati ia berpikir demikian, diluaran ia menjawab, “Aku tidak sudi mengintip urusan pribadi seseorang apalagi urusan yang mengenai permainan di atas ranjang, benarkah putera mu pernah mengadakan hubungan badaniah dengan sang pembunuh, aku tidak menyaksikan dengan kepala sendiri dan tak berani pula menegaskan secara meyakinkan, kalau Jien Tang-kee ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya, kenapa tidak kau tanyakan sendiri kepada pelayan yang melayani puteramu itu? Aku rasa mereka jauh lebih tahu”

“Hmm! Hoa loote , bukankah engkau pernah berkata bahwa pembunuh itu telah memohon kepada anakku untuk melarang semua orang bawahannya mengintip kedatangannya?” seru Jin Hian dengan nada hambar.

Tio Sam-koh yang ikut mendengarkan pembicaraan itu jadi naik pitam, dengan cepat selanya, “Sekalipun tak ada yang mengintip, diperiksa dari keadaan pembaringan masa tidak tahu?”

Jin Hian sama sekali tidak menggubris perkataan itu, kembali ia berkata dengan nada menyeramkan, “Andaikata putraku tidak pernah melakukan hubungan badaniah dengan pembunuhnya maka urusan ini akan lebih gampang untuk diselesaikan, Hoa Loo te, bagaimana pendapatmu?”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, diam-diam ia berpikir kembali di dalam hati, “Kakak beradik dari keluarga Pek adalah gadis-gadis perawan yang belum pernah dijamah kaum lelaki, jelas dalam pembicaraannya itu dia hendak menimpakan semua dosa serta kesalahan ini kepada dua orang gadis itu….”

Berpikir demikian, tanpa terasa ia menghela napas panjang dan berkata.

“Jien Tang-kee, harap engkau suka memakluminya. Tempo hari aku mengatakan bahwa raut wajah sang pembunuh agak mirip dengan nona dari keluarga Pek, apa yang kukatakan sesuai dengan apa yang kusaksikan tak sepatah katapun merupakan ucapan yang berbohong, dan sekarang akupun berani bersumpah dihadapan Thian bahwasannya pembunuh yang kumaksudkan itu bukanlah kakak beradik dari keluarga Pek….”

Tiba-tiba malaikat pertama Sim Kian berkata dengan nada yang menyeramkan, “Hmm! Kalau mau menuduh seseorang tuduhlah orang itu, kalau tak mau menuduh orang lain tak usahlah kau tuduh. Heeeh…. .heeehh…. heeehh…. menurut pendapatku, kemungkinan besar memang tiada terdapat perempuan semacam itu, pembunuh yang sebenarnya bukan lain adalah kau Hoa Thian-hong seorang!”

Sepasang mata Hoa Thian-hong kontan melotot bulat, dengan pandangan dingin ia melirik sekejap ke arahnya, kemudian menjawab.

“Hmm! aku tahu bahwa persoalan yang paling menguatirkan hatimu tidak lain adalah Pedang emas tersebut seandainya pembunuh tersebut adalah aku Hoa Thian-hong seorang, bukankah engkau segera akan menun tut kembali pedang emas tersebut dari tanganku?”

“Haah…. haaah…. haaah….” malaikat pertama Sim Kian tertawa seram, “pada waktu itu aku hendak menerima dirimu sebagai anak muridku….!”

“Aaai….! aku lihat persoalan ini harus ku ucapkan keluar secara jelas dan tanpa tedeng aling-aling, kalau tidak nona Pek Sok Gie pasti tak akan memperoleh ketenangan di dalam hidup selanjutnya,” pikir Hoa Thian- hong di dalam hati.

Berpikir sampai disini, dengan wajah serius ia segera berkata kepada diri Jin Hian, “Terus terang saja kukatakan bahwa pada saat itu dalam genggamanku telah berhasil menemukan penanda yang cukup kuat, aku telah mengetahui siapakah pembunuh yang sebenarnya telah menghabisi jiwa putramu, namun sayang sekali bukti yang kuat belum berhasil kudapatkan sehingga akupun tidak ingin mengutarakannya keluar lebih dahulu. Jin longteee! aku harap engkau bersedia untuk bersabar selama beberapa hari lagi, dalam pertemuau besar Kian ciau tay hwee aku pasti akan berhasil membuktikan kepadamu siapakah pembunuh yang sebenarnya!”

Diam-diam Jin Hian mendengus dingin, batin-nya, “Keparat cilik, ergkeu anggap aku adalah seorang manusia tolol? Berani benar engkau gunakan siasat kosong untuk mengulur waktu!”

“Hoa Thian-hong! terdengar malaikat kedua Sim Ciu menjerit dengan suaranya yang tinggi melengking, benarkah engkau mengetahui siapakah sebenarnya pembunuh itu?”

“Kalau benar ada apa?” tanya Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut dan alis mata berkenyit.

Malaikat kedua Sim Ciu tertawa. “Kalau begitu engkau sudah mengetahui bukan pedang emas tersebut pada saat ini berada di tangan siapa?” tanyanya

“Tentu saja aku tahu!”

“Coba kau katakan siapakah orang itu?” “Sekalipun aku katakan keluar belum tentu kalian

bersedia untuk mempercayainya,” jawab Hoa Thian-hong dengan nada hambar, “pedang emas itu sekarang berada di tangan Thian Ik-cu, percaya tidak?”

“Hmmm mengadu domba diantara sesama umat persilatan, engkau memang licik sekali”

“Hmmm bukan sejak tadi aku sudah berkata, kendatipun kuberitahukan kepadamu, belum tentu engkau percaya. Nah seorang lihatlah bukankah ucapanku hanya sial belaka?”

Jin Hian tertawa seram, tiba-tiba ia berseru, “Kalau tidak sakit tidak gatal, siapa yang bersedia mengaku secara terus terang?”

“Sedikitpun tidak salah” sambung malaikat kedua Sim Ciu, “Cukat racun, bagaimana kalau aku mengajak engkau untuk membicarakan soal barter….? Kau tentu bersedia bukan?”

Sambil berkata, telapak tangannya kembali ditempelkan ke atas punggung Pek Soh-gie. Cukat racun Yau Sut termasuk juga seorang jago kawakan yang punya banyak pengalaman di dalam dunia persilatan, akan tetapi berada dihadapan siluman tua yang banyak akalnya ini dia dihabiskan akal juga dibuatnya.

Andaikata Pek Soh-gie adalah putrinya sendiri, mungkin akan keraskan hati dengan tidak memperdulikan perintahnya tetapi apa daya gadis tersebut adalah putri kesayangan dari ketuanya, meskipun dalam hati kecilnya merasa tak senang hati, akan tetapi perasaan tak senang itu tak berani diuta- rakan keluar.

Terdengar Pek Soh-gie berseru dengan suara lantang, “Paman Yau, tit-li mempunyai sepucuk surat yang harus diserahkan kepada ayahku, apakah engkau bersedia menyampaikannya kepada ayahku?”

“Tentu saja akan kusampaikan kepadanya,” jawab Cukat racun Yau Sut dengan cepat tetapi engkau tak usah berpikir yang bukan-bukan lebih dahulu, putri dari ketua perkumpulan Sin-kie-pang tak akan begitu gampang menemui ajalnya!”

Sebenarnya Pek Soh-gie ada maksud untuk menyelesaikan kehidupan sendiri apabila keadaan terlalu mendesak, sehingga tidak sampai mendatangkan banyak kesulitan dan kerepotan buat orang lain, setelah rahasia hatinya ini berhasil ditebak secara jitu oleh Yau Sut tak dapat dicegah lagi air mukanya berubah jadi merah padam saking jengahnya, untuk sesaat ia tak tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Cukat racun Yau Sut sendiri rupa-rupanya juga telah menyadari bahwa pertarungannya pada hari ini melawan Hoa Thian-hong tak dapat dihindari lagi, otaknya dengan cepat berputar dan ia berhasil mendapatkan cara yang paling jitu untuk mengatasi masalah lersebut.

Perlahan-lahan ia berjalan maju ke depan, setelah memberi hormat ujarnya, “Hoa kongco, pertarungan yang berlangsung pada hari ini sebenarnya terjadi karena keadaan yang mendesak….”

“Engkau tak perlu sungkan-sungkan,” tukas Hoa Thian-hong sambil tertawa pula, “akupun tahu bahwa keadaan yang memaksa kita harus bertempur!”

Sambil berkata pedang bajanya perlahan-lahan dicabut keluar dan dalam sarung, kemudian bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan

“Silahkan!” seru Cukat racun Yau Sut dengan wajah serius.

Dalam sekejap mata suasana dalam arena berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapuo.

Pertarungan ini merupakan suatu pertarungan yang luar biasa, orang yang hendak bergebrak yang satu merupakan jago Bulim yang sudah diketahui oleh setiap orang dalam dunia persilatan sedangkan yang lain adalah seorang keturunan jago kenamaan yang belum lama terjun dalam sungai telaga. Para penonton yang berada disisi arena semua tahu bahwa Hoa Thian-hong masih bukan tandingan dari Cukat racun Yau sut, tapi mereka tak tahu berapa banyak selisih kepandaian yang mereka miliki, semua orang ingin lahu berapa gebrakan, yang sanggup diterima oleh Hoa Thian-hong, dan berapa jurus serangan yang dibutuhkan Yau Sut Cukat racun itu untuk merobohkan lawannya.

Cukat racun Yau Sut tersohor karena kekejaman serta ketelengasannya yang melebihi ular beracun atau binatang buas, dan semua orang dalam dunia persilatan mengetahui akan hal ini.

Sebaliknya Hoa Thian-hong merupakan tulang punggung dari kawanan pendekar golongan lurus, pendekar muda yang disayang serta dikagumi olen kawan sealiran, golok tak bermata, pertarungan tak mengenal belas kasihan, seandainya Hoa Thian-hong sampai musnah di tangan Cukat racun Yau Sut niscaya peristiwa ini akan sangat menggemparkan seluruh kolong langit terutama sekali dalam kalangan kaum lurus sendiri.

Sementara itu fajar telah menyingsing diufuk sebelah timur, sinar keemas-emasan memancar keempat penjuru dan menyoroti mulut gua kuno tadi.

Kebakaran yang terjadi disekeliling gua tersebut belum padam, bahkan makin lama semakin meluas keempat penjuru, sepintas memandang ke tempat kejauhan yang terlihat hanyalah tanah hangus yang berwarna hitam, suasana benar-benar mengenaskan sekali. Tiba-tiba….”Weeess….!” desingan angin tajam menderu-deru di angkasa, dengan membawa suara pekikan tajam pedang baja Hoa Thian-hong yang besar dan berat itu meluncur ke depan.

Menyaksikan betapa dahsyat datangnya bacokan itu, tentu saja Cukat racun Yau Sut tahu lihay, dengan cepat badannya berkelit ke samping untuk meloloskan diri dari datangnya ancaman tersebut, kemudian badannya laksana kilat menerjang maju ke depan, sebuah serangan balasan ini dilancarkan dengan Kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, tak sempat lagi bagi Hoa Thian-hong merubah jurus ganti gerakan, tampaklah olehnya serangan itu meluncur seakan-akan kosong namun dalam kenyataan berisi serta terselip banyak perubahan yang tak terduga, membuat seluruh jalan mundurnya sama sekali tersumbat.

Dalam keadaan terdesak dan gugup, Hoa Thian-hong segera menekan pergelangan tangannya ke bawah, pedang baja disilangkan di depan dada sementara tubuhnya berputar kencang.

Dalam perkiraan Cukat racun Yau Sut semula, dalam satu jurus saja ia akan berhasil menguasai keadaan, siapa tahu perbuatan Hoa Thian-hong sambil menyilangkan pedangnya itu mengandung pertahanan yang sangat kuat, apabila ia tidak segera buyarkan serangan serta menarik diri niscaya separuh bagian lengannya akan terbabat sampai kutung.

Dalam keadaan begini terpaksa ia rubah gerak telapaknya, sesudah berputar membentuk gerakan setengah lingkaran ia ganti menyerang pinggang Hoa Thian-hong, sementara jari tangan dan telunjuk tangan kirinya menotok jalan darah Jit kan hiat dibadan-nya.

Dua jurus serangan itu dilancarkan cepat, ganas dan lincah, membuat semua jago yang menyaksikan jalannya pertarungan itu

diam-diam bersorak memuji, sorot mata Liong bun siang sat serta Yao San It koay pun memancarkan cahaya tajam, setelah menyaksikan betapa sempurna dan ampunnya ilmu silat yang dimiliki Yau Sut, perasaan memandang rendah lawannya seketika lenyap tak berbekas.

Hot Thian-hong segera angkat lengannya ke atas mengikuti gerakan tersebut, pedang bajanya menyapu ke depan, hawa pedang memancar ke empat penjuru dan dalam sekejap mata telah menyergap badan Yau Sut.

Diam-diam Cukat racun mengerutkan alis matanya melihat kemampuan musuhnya, terburu-buru ia rubah jurus serangannya kembali, telapak dan jari melancarkan serangan secara berbarengan, ia berusaha menyerobot posisi di atas angin.

Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertempuran yang menarik hati, dalam sekejap mata kedua orang jago itu sudah saling bertarung sebanyak dua puluh jurus lebih.

Setiap kali Hoa Thian-hong pasti berhasil meloloskan diri dari serangan lawan dengan suatu gerakan pedang yang sederhana dan mudah, gerakannya menghindar dan balas menyerang begitu leluasa permainan pedangnya itu memang khusus diciptakan untuk menahan jurus serangan lawan, kejadian ini membuat para jaro disisi arena diam-diam merasa keheranan dan tercengang.

Yan-san It-koay serta Liong bun Siang sat sekalian yang ilmu silatnya telah mencapai taraf kesempurnaan, setelah menyaksikan jalannya pertarungan itu beberapa saat lamanya mereka segera menemukan bahwa ilmu pedang yang dipergunakan pemuda itu sebetulnya cuma terdiri dari enam belas jurus belaka, hal itu membuat hati mereka jauh lebih terperanjat dari pada siapapun juga.

Bapi Cukat racun Yan Sut baru pertama kali ini ia berjumpa dengan serangkaian ilmu pedang sedemikian anehnya, semakin ber tempur hatinya merasa semakin terperanjat, makin bertarung hatinya semakin berat, ia sama sebali tidak jeri terhadap keampuhan ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong, tapi ia terperanjat oleh kesaktian serta kelihayan dari ilmu pedangnya itu.

Hoa Thian-hong sendiri diam-diampun merasa terkejut bercampur keheranan, enam belas jurus ilmu pedang ini sudah dilatihnya selama sepuluh tahun lebih, sejak pedang bajanya ditahan oleh Ciu It-bong, selama satu tahun lebih meskipun tiap hari dia menghapalkan kembali gerakan pedang itu dalam benaknya namun tidak sekalipun pernah dipraktekkan.

Siapa tahu setelah dipergunakan olehnya pada saat itu, bukan saja gerakan pedangnya sama sekali tidak kelihatan asing atau membingungkan, malahan sebaliknya bertambah hapal dan matang keampuhan yang terpancar dari ujung pedang semakin mantap dari pada keadaan dahulu.

Dahulu setiap kali ia mempergunakan ilmu pedang tersebut, sering kali terasa olehnya seakan-akan bahunya sedang memikul suatu beban yang amat berat sekali, tetapi sekarang sesudah racun teratai empedu api membaur dengan tenaga dalamnya, bukan saja pedang yang berat terasa enteng dalam penggunaan yang lebih aneh lagi ketika ia mainkan pedang itu dengan enteng dan perlahan karena kuatir mulut luka di atas dadanya merekah kembali, ternyata hasil yang diperoleh luar biasa sekali, makin enteng dan perlahan ia gunakan pedang tersebut, tenaga murni yang terpancar keluar lewat ujung pedangnya semakin lancar dan luar biasa.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertarung sebanyak limapuluh jurus lebih, Hoa Thian- hong semakin memahami rahasia serta inti dari gerakan ilmu pedangnya, makin bertempur ia semakin bersema- ngat, semakin bergebrak ia semakin menghemat dalam penggunaan tenaga.

Akan tetapi Cukat racun Yau Sut juga bukan seorang manusia sembarangan, meskipun ilmu pedang lawan sangat ampuh akan tetapi keyakinan dalam ilmu silatnya jauh lebih unggul daripada si anak muda itu, sete-lah lima puluh jurus lewat diapun berhasil menguasai seluruh keadaan. Permainan ilmu telapaknya tiba-tiba berubah, ia mulai melancarkan serangan secara bertubi-tubi, jurus satu dengan jurus berikutnya di lancarkan makin dahsyat, hal ini memaksa daya serangan yang terpancar keluar dari ujung pedang Hoa Thian-hong seketika terdesak balik.

Pedang baja Hoa Thian-hong dilancarkan secara bertubi-tubi, sekuat tenaga ia berusaha untuk memulihkan kembali posisinya yang terdesak, akan tetapi ilmu silat yang dimiliki Cukat racun Yau Sut beberapa kali lipat jauh lebih tinggi beberapa kali lipat, setelah saling bertahan beberapa saat lamanya, siapa yang tangguh dan siapa yang lemahpun segeia terlihat di depan mata.

Tiba-tiba terdengar Cukat racun Yau Sut membentak keras, sepasang telapaknya beterbangan di angkasa, silih berganti ia lancarkan pukulan mematikan yang memaksa Hoa Thian-hong tak mampu mempertahan-kan diri serta mundur ke belakang berulang kali.

Melihat dirinya didesak hebat, hawa amarah berkobar di dalam benak Hoa Thian-hong pikirnya dalam hati, “Ibu sedang berlatih ilmu di dalam gua, sedangkan aku bertugas mempertahankan pintu masuk ke dalam gua ini, berarti pula kesela matan jiwa ibuku berada ditanganku, kalau aku begini tak becus, bagaimana tanggung jawabku terhadap ibu nantinya?”

Begitu ingatan tersebut berkelebat di dalam benaknya, semangat bertempur segera berkobar di dalam benaknya, pedang baja diayunkan berulang kali, dalam waktu singkat tiga tusukan kilat telah dilepaskan. Meskipun tiga rangkaian serangan berantai itu dilancarkan dalam waktu yang amat singkat akan tetapi daya serangannya amat hebat bagaikan tanggul yang jebol, buru-buru Cukat racun Yau Sut ayunkan telapaknya berulang kali untuk memunahkah serangan tersebut, begitu berat daya tekanan yang datang menggulung membuat dia seakan-akan baru saja melakukan perjalanan jauh.

Sreeet….!sreeet….!sreeeet….! tiga buah serangan balasan dilancarkan dengan cepat telah membendung pula serangan gencar dari Cukat racun Yau Sut.

Diam-diam juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang ini merasa amat gusar, dia mendengus dingin dan tubuhnya tiba-tiba menerjang maju ke depan, telapak kiri melancarkan serangan dengan menyapu sedangkan telapak kanan menyerang dengan tonjokan, dengan jurus Thian kang Pat to atau bintang langit cahaya diutara, ia menyerang kemuka.

jurus serangan tersebut merupakan suatu serangan yang aneh dan jarang ditemui di kolong langit, menyaksikan datangnya serangan dari pihak lawan itu Hoa Thian-hong merasa gugup dan terkesiap, ia merasa seakan-akan semua jalan mundurnya telah tersumbat oleh pukulan lawan.

Para jago yang menonton jalannya pertarungan dari sisi arenapun nampak berubah air mukanya setelah melihat gerakan ilmu telapak itu, Tio Sam-koh serta Hoa In paling terperanjat diantara beberapa orang itu, mereka bersama-sama menunjukkan gerakan hendak menerjang ke depan.

Hoa Thian-hong sebagai keturunan seorang jago kenamaan tentu saja tak mau menyerah dengan begitu saja, tiba-tiba ia mengepos tenaga lalu membentak keras, sekuat tenaga ia lancarkan sebuah bacokan ke arah tubuh lawan.

Daya serangan yang terpancar keluar dari bacokan itu amat dahsyat bagaikan meretaknya bumi terkena gempa bumi, hawa pedang memancar keempat penjuru diantara berdesingnya pedang baja menembusi angkasa terselip suara getaran lembut yang amat lirih, meskipun lirih namun mengandung daya kekuatan yang menggetarkan hati.

Cukat racun Yau Sut merasa terkejut bercampur gusar, melihat sepasang telapaknya hampir menghajar tubuh lawan akan tetapi pedang baja lawanpun akan segera melukai tubuhnya terpaksa ia berganti jurus dan mencari jalan lain untuk menguasai musuhnya.

Kehebatan Hoa Thian-hong segera terpancar keluar keempat penjuru, secara beruntun ia lancarkan empat buah babatan dahsyat, tiba-tiba mulut luka di atas dadanya terasa amat sakit dan kedua kakinyapun ikut jadi kaku bercampur linu,

Sadarlah si anak muda itu bahwa mulut lukanya pecah kembali, diikuti diapun merasa darah segar bagaikan air marcur mengalir ke luar dengan amat derasnya. Teringat akan darah, tiba-tiba semangat pemuda itu berkobar kembali, dia membentak keras, seluruh tenaga dalamnya disalurkan ke luar dan secara tiba-tiba sebuah bacokan pedang dilepaskan ke arah depan.

Dari keganasan serta kehebatan datangnya bacokan lawan, Cukat racun Yau Sut merasa tak mampu untuk menandinginya, dengan cepat badannya berputar kencang, sebuah totokan segera dilepaskan menyergap belakang punggung Hoa Thian-hong.

Pertempuran itu benar-benar merupakan suatu pertarungan sengit yang menentukan antara mati hidup, ilmu silat yang dimiliki Yau Sut beraneka ragam dengan jurus yang aneh sebaliknya Hoa Thian-hong hanya mengerti enam belas jurns ilmu pedang yang biasa dan sederhana dalam menggunakan, walaupun begitu pertarungan tetap berjalan seru dan di dalam sepuluh jurus, menang kalah masih belum dapat ditentukan.

Sementara itu darah segar telah mengucur keluar membasahi seluruh pakaiannya, mulut luka terasa panas, linu dan sakitnya bu kan kepalang, sambil menggertak gigi menahan rasa sakit Hoa Thian-hong masih tetap berusaha mempertahankan diri, sekalipun begitu rasa sakit terpancar juga dari atas wajahnya.

00000O00000

39

KEADAAN seperti ini tentu saja tak dapat mengelabuhi pandangan mata beberapa orang tokoh persilatan yang sedang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena, Hoa In paling gelisah dan kuatir dan dialah yang pertama-tama menyadari keadaan majikan mudanya yang terdesak hebat itu.

Teng Kong Li serta kakek bermuka kurus adalah komplotan yang setia dengan Cukat racun Yau Sut, melihat Hoa In menerjang masuk ke dalam gelanggang kedua orang itu segera membentak gusar dan terjun ke dalam kalangan untuk menghalang-halangi niat lawan.

“Blaaaam….!” sebuah pukulan yang amat dahsyat dari Hoa In menghajar tubuh Teng Kong Li serta kakek bermuka kurus sehingga isi perutnya goncang dan kepalanya pusing tujuh keliling, tubuh mereka tergetar mundur sampai beberapa tombak jauhnya dari tempat semula….Sepasang mata Hoa In telah berubah jadi merah darah, sepasang telapaknya diayun berulang kali, bagaikan seekor harimau gila dia menerkam ke arah tubuh Cukat racun Yau Sut.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, anak buah dari perkumpulan Sin-kie-pang bersama-sama membentak keras dan terjun ke dalam gelanggang.

Tio Sam-koh segera putar toya bajanya menyongsong datangnya serbuan itu, dalam waktu singkat suasana jadi kacau balau, pertarungan secara massalpun segera berlangsung.

Disaat-saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar seseorang dengan suara yang nyaring bercampur gelisah berkumandang datang, “Saudara-saudara sekalian, harap tahan!”

Bersamaan dengan munculnya suara bentakan itu, terlihatlah Pek Kun-gie, Oh Sam serta tujuh delapan sosok bayangan manusia lainnya dalam waktu singkat telah menyeberangi jembatan batu dan meluncur ke arah mulut gua tersebut.

Cukat racun Yau Sut berotak cerdas dan paling cepat reaksinya, begitu mendengar suara bentakan dari Pek Kun-gie dia segera menyadari bahwa beban seberat ribuan kati yang terpikul di atas bahunya kini sudah tersingkirkan, dengan cepat ia memerintahkan anak buahnya untuk berhenti bertempur serta meloncat mundur ketepi kalang an.

Dalam waktu singkat Pek Kun-gie yang cantik jelita bagaikan bunga mawar itu sudah tiba lebih dahulu di tengah kalangan.

Pek Soh-gie jadi kegirangan setengah mati, buru-buru teriaknya dengan suara nyaring, “Moay Moay….!”

Dengan sorot mata yang tajam dan cepat Pek Kun-gie menyapu sekejap ke arah para jago yang berada disekeliling tempat itu, ke mudian tegurnya, “Cici darimana engkau bisa tiba di tempat ini?”

“Thian Ik-cu telah menangkap diriku kemudian Ciu It- bong membawa aku ke tempat ini dan akhirnya para enghiong hoohan dari perkumpulan Hong-im-hwie menyandera diriku serta memaksa paman Yau untuk bertempur melawan Hoa toako, katanya bilamana paman Yau tidak berhasil menangkap Hoa toako maka akupun tak akan dilepaskan”

Pek Kun-gie dengan sorot mata yang tajam dengan cepat berpaling ke arah Hoa Thian-hong.

Dibalik sorot matanya itu terselip rasa cinta yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, seakan-akan rasa hangat di tengah hujan salju bagaikan pula hujan dimusim kemarau, meskipun hanya pandangan dalam sekejap mata akan tetapi rasa cinta yang terpancar keluar dapat dirasakan pula oleh setiap jago yang hadir dalam kalangan itu.

Hoa Thian-hong jadi tersipu-sipu dibuatnya oleh pandangan yang penuh dengan perasaan cinta itu, ketika teringat kembali akan pesan ibunya yang mengharuskan dia untuk memutuskan hubungan dengan gadis ini, buru- buru wajahnya dicemberutkan dan tak berani menampilkan senyuman.

Pek Kun-gie segera alihkan sorot matanya dan menyapu ke arah para jago dari perkumpulan Hong-im- hwie, di atas wajahnya terlintas rasa muak benci dan pandangan hina yang amat tebal.

Sedari kecil gadis ini sudah terbiasa dimanja dan selalu pandang tinggi diri sendiri, apabila ia memandang hina terhadap seseorang maka di atas wajahnya segera tercerminlah rasa tak senang hatinya itu. Dan terutama sekali pandangan sinisnya yang penuh penghinaan terasa jauh lebih lihay dari pada tusukan golok, kendatipun seseorang mempunyai iman yang tebal ataupun watak yang sabar, sesudah menyaksikan sikapnya yang penuh penghinaan itu tentu akan naik pitam dan menjadi marah.

Malaikat kedua Sim Ciu yang pertama-tama tak kuat menahan diri, sorot mata tajam terpancar keluar dari balik kelopak matanya, dengan penuh kegusaran dia membentak keras, “Budak ingusan! engkaukah putri kedua dari Pek Siau-thian si tua bangka itu?”

Cukat racun Yau Sut takut gadis itu tak tahu lihay dan melakukan tindakan secara semberono, buru-buru sambil menuding ke arah orang itu dia menerangkan, “Kedua orang ini adalah dua bersaudara she Sim dari perkumpulan Hong-im-hwie, mereka berdua menetap di Liong bun dan di sebut oleh setiap orang Bulim sebagai Liong bun Siang sat sepasang malaikat dari Liong bun!”

Dari sikap malaikat kedua Sim Ciu yang berjaga-jaga di samping tubuh sucinya, Pek Kun-gie segera mengetahui apa maksud tujuan orang, tak tahan lagi ia tertawa dingin.

“Heeeh…. heeehh…. heeehh…. kalau kutinjau dari situasi yang terbentang pada saat ini, rupanya perkumpulan Hong-im-hwie sudah mengambil keputusan untuk berselisih paham dengan perkumpulan Sin-kie- pang kami?”

“Kita toh sama-sama merupakan perkumpulan besar dalam dunia persilatan, apa takutnya untuk berselisih paham? engkau anggap kami jeri terhadap perkumpulanmu itu?” ejek malaikat kedua Sim Ciu sambil tertawa seram.

Pek Kun-gie mendengus dingin.

“Hmm! perkumpulan Hong-im-hwie bukan milikmu seorang, pendapatmu apakah dapat disetujui oleh rekan- rekanmu yang lain?” serunya.

Mendengar ucapan itu malaikat kedua Sim Ciu tertegun, sesudah termenung beberapa saat lamanya ia segera berpaling ke samping kiri kanannya dan berseru, “Kami dua bersaudara she Sim adalah satu hati satu pendirian-entah bagaimana dengan pendapat kalian semua?”

Jin Hian yang sudah lama tidak buka suara ketika menyaksikan sorot mata Sim Ciu berhenti di atas wajahnya, dengan cepat ia menyambung, “Tujuanku datang kemari adalah mencari tahu siapakah pembunuh puteraku kemudian balaskan dendam bagi kematiannya, persoalan mengenai perkumpulan silahkan kalian berdua untuk memutuskannya sendiri”

Setelah berhenti sebentar, sepasang matanya yang tajam menyapu tiada hentinya di atas wajah kakak beradik she Pek itu lalu melanjutkan lebih jauh, “Selamanya pendapat dari Sim loe selalu dikagumi oleh setiap saudara yang ada dalam perkumpulan, tentu saja tak usah kau rundingkan lagi dengan diriku, kalian boleh bersikap sekehendak hatimu!” Dengan sorot mata tajam malaikat kedua Sim Ciu berpaling ke arah rekannya Yan-san It-koay, kemudian bertanya lebih jauh, “Makhluk tua, bagaimana menurut pendapatmu?”

“Buat apa musti bersilat lidah dengan kawanan manusia dari angkatan muda, mau berdua, bagaimana kita lakukan saja menurut rencana, kita cepat selesaikan masalah ini agar bisa segera berlalu pula dari tempat ini!”

Malaikat kedua Sim Ciu mengerutkan dahinya, tiba- tiba dengan ilmu menyampaikan suara ia berseru, “Aku hendak berdaya upaya untuk memaksa perempuan itu keluar dari dalam gua, ingin kulihat permainan setan apakah yang sedang ia persiapkan! bagaimana pandangan mu mengenai rencanaku ini?”

Dengan ilmu menyampaikan suara Yan-san It-koay segera menjawab pula, “Ilmu ampuh apakah yang telah berhasil kau yakinkan, berani benar mencari gara-gara, apakah engkau yakin mampu menangkan pihak lawan? janganlah dikarenakan sebilah pedang emas yang tak ada harganya, selembar jiwapun ikut lenyap”

“Makhluk tua, engkau tak usah lain dimulut lain dihati!” seru Sim Ciu dengan dingin, “kalau engkau menginginkan pedang emas tersebut silahkan tangkap dahulu keparat cilik she hoa itu, kami berdua akan berada di belakang untuk membendung datangnya para pengejar!” “Hmmm! belum tentu ada gunanya kita tangkap keparat cilik itu, lebih batk nanti saja kita bicarakan lagi persoalan ini!”

Kedua orang itu saling bercakap-cakap dengan bibir saja yang bergerak namun tak kedengaran sedikit suarapun, setelah ditunggu beberapa saat namun pihak lawan belum juga buka suara, dengan gusar Pek Kun-gie segera menegur, Bagaimana? Apakah engkau ada rahasia penting yang tak dapat diketahui oleh orang lain?”

“Heeehh…. heeehh…. heeeh….!” malaikat ke dua Sim Ciu tertawa seram, “budak ingusan besar amat nyalimu! orang sih tak akan kulepaskan engkau mau apa?”

Pek Kun-gie tertawa dingin.

“Hmm! Semula aku mengira para enghiong hoohan dari perkumpulan Hong-im-hwie adalah manusia-manusia yang luar biasa, tak tahunya keberanian kalian hanya berbuat begitu saja….Hmm! Sungguh memuakkan….”

Habis berkata selangkah demi selangkah dia maju ke depan.

“Hiantitli, engkau mau berbuat apa? tegur Cukat racun Yau Sut sambil menghalangi jalan perginya.

“Aku hendak mengajak jago lihay ini untuk membicarakan soal pertukaran ini” “Bagus sekali, sambung Sim Ciu sambil tertawa, “bagaimana caranya pertukaran ini dilangsungkan?”

“Kalau dibicarakan sesungguhnya gampang sekali, engkau boleh segera melepaskan ciciku, sedangkan aku akan menggantikan dirinya sebagai sanderamu, bagaimana? ringan sekali bukan?”

Pek Soh-gie jadi gelisah sekali mendengar perkataan itu, buru-buru teriaknya, “Adikku aku tidak takut menghadapi segala sesuatu apapun, engkau tak usah memperdulikan diriku”

Pek Kun-gie pura-pura tidak mendengar ucapan tadi, sepasang sorot matanya yang tajam dan dingin berputar di atas wajah Sim Ciu, kemudian serunya kembali, “Hanya urusan yang kecil sekali, apa yang patut kau curigai lagi? takut dengan aku?”

Sebenarnya kakak beradik itu adalah saudara kembar yang dilahirkan bersamaan waktunya, akan tetapi setelah keluarganya terjadi perpecahan mengakibatkan lingkungan hidup serta sistim pendidikan yang mereka terima berbeda antara yang satu dengan yang lain.

Kalau Pek Soh-gie adalah seorang gadis yang lemah lembut dengan watak yang halus serta ramah tamah, sebaliknya Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang kasar dengan mempunyai watak yang keras, sifat maupun gerak-geriknya tentu saja berbeda satu sama lainnya.  Terdengar malaikat kedua Sim Ciu menyeringai dan tertawa seram, serunya mengejek, “Pek Kun-gie!

Ketahuilah bila engkau sampai terjatuh ketanganku, maka siksaan badaniah yang akan kau alami berat sekali, engkau harus pikirkan lebih dahulu sebelum bertindak”

“Hmmmm! banyak bicara tak ada gunanya….” dengan langkah lebar ia segera berjalan maju ke depan.

“Kun-gie….” teriak Cukat racun Yau Sut dengan perasaan hati serba salah.

Berhubung Cukat racun Yau Sut telah bertempur melawan Hoa Thian-hong, terhadap juru pikir dari perkumpulan ini Pek Kun-gie merasa amat tidak senang hati, tidak menanti ia menyelesaikan kata-katanya, dengan cepat ia menukas, “Paman Yau tak usah menghalang-halangi rencanaku lagi, dia adalah saudara kandungku, apakah titli musti berpeluk tangan belaka?”

“Adikku….” teriak Pek Soh-gie dengan amat gelisah, “engkau ataupun aku bukankah sama saja? Kenapa engkau harus bersikeras dengan pendirianmu itu?”

Pek Kuo Gie sama sekali tak menggubris ucapan encinya itu, dengan langkah lebar ia segera berjalan menuju kesisi tubuh malaikat kedua Sim Ciu.

“Berbuatlah yang cerdik!” seru Sim Ciu sambil menyeringai seram, “selama berada dalam lingkaran daya seranganku, aku harap engkau jangan bertindak secara gegabah!” Rupanya malaikat kedua dari Liong bun ini sudah cukup mengenali watak Pek Kun-gie yang tidak sehalus serta sepenurut enci nya, maka begitu gadis muda itu berjalan mendekat, beberapa totokan dengan cepat di lancarkan menotok jalan darah kaku dikedua belah tangannya, setelah itu telapak tangannya yang lain didorong dan mengirim tubuh Pek Soh-gie kehadapan Cukat racun Yau Sut.

Setelah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman musuh, air mata jatuh berlinang membasahi pipi Pek Soh-gie, dia putar badan dan berjalan kembali ke arah malaikat kedua Sim Ciu.

Dengan cepat Cukat racun Yau Sut menghalangi jalan perginya.

“Titli, engkau tak usah cemas atau gelisah” serunya, “sebentar lagi pangcu pasti akan tiba disini dan sega1a persoalan dengan cepat dapat diselesaikan!”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, kembali serombongan jago dari perkumpulan Sin-kie-pang telah tiba di tempat itu karena melihat tanda bahaya yang meledak di udara tadi.

Sekarang jumlah para jago dari perkumpulan Sin-kie- pang telah mencapai tiga puluh orang banyaknya, diantaranya tentu saja terdapat para jago yang berkepandaian agak rendah, meskipun kalau mereka disuruh bertarung satu lawan satu dengan Liong bun siang sat atau Yan-san It-koay masih belum mampu untuk mengatasinya, akan tetapi kalau sampai terjadi pertarungan secara massal maka kemungkinan besar pihak perkumpulan Sin-kie-pang masih mampu untuk merebut kemenangan.

Walaupun begitu berhubung Pek Kun-gie sudah terjatuh ke tangan lawan, dan dalam sebuah gerakan yang gampang sekali malaikat kedua Sim Ciu sudah dapat membereskan nyawa gadis tadi, maka Yau Sut serta anak buahnya tak berani bertindak secara gegabah.

Tiba-tiba terdengar Jin Hian berkata, “Hoa Thian- hong, bagaimanakah keadaan-nya sewaktu putraku dibunuh orang apakah engkau dapat memberikan keterangan yang jelas dan terang? Kalau tidak…. aku takut jiwamu akan segera berakhir pada hari ini juga”

Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar ucapan tersebut, sambil tertawa ia segera berkata, “Jien Tang- kee, secara tiba-tiba engkau mencari gara-gara dengan diriku, entah apakah alasan-nya?”

“Hmm! ombak belakang mendorong ombak di depan, manusia baru akan menggantikan manusia lama, jika ini hari aku orang she Jin tak mampu membinasakan dirimu, setelah lewat beberapa hari lagi mungkin usahaku untuk menyingkirkan engkau akan tetap tinggal sebagai keinginan belaka”

Haaahh…. haaahh…. haaahh…. kalau memang begitu, aku tak akan berbicara apa-apa lagi”

“Hmm! rupanya engkaupun mengalami kesulitan untuk menerangkan duduknya perkara kepadaku, ketahuilah bagaimanapun juga engkau tetap tersangkut dalam peristiwa terbunuhnya puteraku, pepatah kuno mengatakan, meskipun aku tidak membunuh Pak jin, akan tetapi Pak jin mati lantaran aku, aku orang she Jin mempunyai alasan yang kuat untuk membereskan jiwamu”

Makin berbicara nada suaranya berubah semakin dingin, secara tiba-tiba Hoa Thian-hong merasa bahwa situasi yang dihadapi pada sa st ini jauh berbeda dengan keadaan dimasa lain.

Apa yang diucapkan Jin Hian sebenarnya merupakan ucapan yang sejujurnya, pertarungannya melawan Yau Sut belum lama berselang meskipun tidak menimbulkan perasaan apa-apa bagi dirinya, akan tetapi para penonton yang bersda di samping lapangan rata-rata telah mempunyai satu pandangan yang sama.

Bisa dibayangkan dengan kepandaian silat yang dimiliki Yau Sut serta kedudukannya yang tinggi sekali dalam dunia persilatan, ternyata walaupun sudah bertarung sebanyak lima enam puluh jurus melawan Hoa Thian-hong ternyata memang kalah masih susah di tentukan, apabila mulut lukanya tidak pecah entah sampai kapan pertarungan itu baru akan berakhir.

Jin Hian yang menyaksikan kelihayan ilmu silat pemuda itu, tentu saja tercekat hatinya dan segera timbul niat jahat untuk secepatnya menyingkirkan pemuda itu mumpung ilmu silatnya belum keburu bertambah lihay. Terdengar Jin Hian dengan nada yang dingin menyeramkan berkata lebih jauh.

“Rencana atau rejeki datang tanpa pintu melainkan manusialah yang mancarinya, aku orang she Jin pun dapat menyadari bahwa kematian dari puteraku adalah akibat terpengaruhnya oleh rasa cinta asmara, akan tetapi dunia jagad begini luas, kemana aku harus pergi menemukan jejak dari gadis pembunuh tersebut? Asal engkau dapat memberikan penjelasan atau keterangan yang bisa dipertanggung jawabkan, aku orang she Jin pasti akan memberi satu jalan hidup bagimu”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, diam-diam ia berpikir kembali dalam hati kecil nya, “Nama yang sebenarnya dari Giok Teng Hujin adalah Siang Hoa, dialah putri dari It kiam kay tionggoan Siang Tang Lay, menurut pengakuannya Pedang emas terdiri dari pedang jantan dan pedang betina, yang jantan berada di tangan Giok Teng Hujin sedang yang betina katanya berada di dalam pedang mustika milik Thong-thian Kaucu , jelas semua rahasia ini ada sangkut pautnya dengan kematian dari Jing Bon, dan kalau aku tinjau lebih jauh maka kematian dari Jin Bong besar sekali kemungkinannya punya kaitan yang erat cengan Giok Teng Hujin, atau dengan perkataan lain gadis yang diutus untuk melaksanakan pembunuhan ini tentulah anak buah dari Giok Teng Hujin, bukankah Pui Che-giok adalah anak buahnya? Tapi…. haruskah kuungkapkan rahasia tersebut dihadapan mereka?”

Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu jadi bimbang dan tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya. “Hoa Thian-hong!” bentak Jin Hian secara tibaTiba- tiba. “Apa yang hendak kau katakan?”

“Pada saat ini aku tiada perkataan lain yang bisa diutarakan keluar” jawab Hoa Thian liong dengan alis berkernyit.

Dari balik mata Jin Hian tiba-tiba terpencar keluar nafsu membunuh yang amat tebal, ia melirikan matanya sekejap ke arah Liong bun siang sat, Yan-san It-koay, kemudian ujarnya, “Persoalan telah jadi begini, bagaimana menurut pendapat kalian bertiga….?”

“Jika Jien Tang-kee menurunkan perintah, kami semua siap menyerbu ke arah depan!” jawab malaikat pertama Sim Kian.

Sorot mata tajam memancar keluar dari balik mata Jin Hian, dia memandang sekejap ke arah dalam gua, lalu sambil ulapkan tangannya ke arah pengawal pribadi golok emas yang berkumpul di belakang tubuhnya ia membentak, “Serbu!”

Tidak menunggu yang lain, ia menerjang maju lebih dahulu ke depan.