Bara Maharani Jilid 22: Pek Soh Gie, saudara kembar Pek Kun

  
Jilid 22: Pek Soh Gie, saudara kembar Pek Kun

Gie Hoa Thian-hong memandang hingga bayangan tubuh

ketiga orang toojin itu lenyap dari pandangan, ketika menjumpai para tetamu tak berani kembali ke tempat duduknya masing-masing, ia tertawa geli dan segera serunya, “Mau apa kalian berdiri saja disitu? Masing- masing makan punya sendiri, apa yang musti ditakuti?”

Mendengar perkataan itu para tamupun segera duduk kembali ke tempat semula, suara ramai dan hiruk pikuk semua orang berebut untuk duduk lebih dahulu ditempatnya semula, seolah-olah mereka takut kalau sampai terlambat sehingga menggusarkan Hoa Thian- hong. 

Pada saat itulah dua orang kakek baju hitam serta dua orang pria berbaju ringkas itu membuang sekeping perak kemeja, kemudian diam-diam berjalan keluar dari pintu.

Dalam hati Hoa Thian-hong berpikir, “Pek Soh-gie benar-benar seorang nona yang lembut, dan kalem sekali, aku dengar ia tak pernah melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, kenapa bisa sampai disini?”

Berpikir sampai disitu timbullah rasa pendekar dalam hatinya, kepada seorang kakek baju hitam yang kebetulan lewat disisinya dia menegur, “Eeei…. .apakah kalian berempat anggota perkumpulan Sin-kie-pang?”

“Benar,” kakek baju hitam itu mengangguk dan memberi hormat, “kongcu ada urusan apa?”

“Jin Hian ada maksud mencelakai jiwa kalian, berangkatlah dari sini ke arah timur dan lebih baik jangan sampai berjumpa dengan orang-orang dari pihak Hong-im-hwie”

Air muka kakek baju hitam itu berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, tetapi dalam sekejap mata telah pulih kembali seperti sedia kala, segera sahutnya, “Terima kasih atas petunjukmu…. setelah memberi hormat iapun berlalu dari situ.

Dalam sekejap mata keempat orang tadi sudah keluar dari pintu dan lenyap dari pandangan, sebaliknya dara ayu tadi masih tetap duduk di tempat semula sambil menikmati bakmi di mangkoknya.

“Kenapa Pek Soh-gie kalau makan begitu lambat?” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “rupanya dia sengaja hendak mengulur waktu, entah apa maksudnya?”

Dengan pakaiannya yang tidak genah, pemuda itu merasa rendah diri, tanpa terasa ia putar badan dan menanti sayur dan arak sendiri.

Beberapa saat kemudian pelayan telah muncul dengan membawa sebuah nampan, di atas nampan terdapat empat macam sayur, sepoci arak wangi, satu tong kecil nasi putih dan empat perangkat cawan serta sumpit.

Pemilik rumah makan berjalan mengikuti di belakang pelayannya, setelah memberi hormat katanya tergagap, “Dua macam sayur ini merupakan makanan paling baik dari rumah makan kami, kami tak sanggup membuatkan yang lebih bagus lagi…. dan arak…. araknya adalah….”

Hoa Thian-hong geli melihat sikap orang itu, wajahnya berubah jadi hijau pucat, rupanya ia sudah ketakutan setengah mati sehingga berbicarapun terlalu dipaksakan, ia segera goyangkan tangannya sambil berseru, “Cukup…. cukup…. bukankah uangnya sudah dibayar?”

“Oh…. sudah…. sudah…. masih ada sisa!” buru-buru pemilik rumah makan itu lari ke lacinya.

Hoa Thian-hong tersenyum, sambil membawa nampan itu dia berjalan keluar dari pintu ruangan, dengan pandangan yang sengaja dia melirik sekejap ke arah gadis itu.

Ketika tiba di jalanan ia tak bisa menahan diri lagi dan segera berpaling kembali ke arah rumah makan tadi.

Sesosok bayangan manusia nampak berjalan pada jarak tiga empat tombak di belakang tubuhnya, orang itu bukan lain adalah gadis ayu tadi. sikap maupun langkahnya tenang seolah-olah seorang gadis yang mengerti ilmu silat, siapapun tak menyangka kalau dia adalah putri sulung dari ketua perkumpulan Sin-kie-pang. Ketika gadis ayu itu melihat Hoa Thian-hong berhasil menemukan jejaknya, pipi yang putih segera bersemu merah, biji matanya yang jeli berputar disekeliling tempat itu seakan-akan sedang mencari tempat persembunyian.

Hoa Thian-hong sendiripun merasa pipinya jadi panas dan jengah sekali, setelah tertegun beberapa saat dia lantas bertanya, “Nona Pek apakah engkau ada urusan yang hendak disampaikan kepadaku….?”

Perlahan-lahan dara ayu itu maju ke depan, lalu menjawab dengan suara ringan, “Koko, keempat orang yang kau jumpai tadi bukan anggota perkumpulan Sin- kie-pang”

“Oooh…. jadi mereka orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie” tanya sang pemuda setelah tertegun sebentar.

Gadis itu mengangguk.

“Mereka sudah sembilan hari lamanya membuntuti diriku, dari Keng oh sampai tempat ini, orang-orang tersebut selalu mengun til di belakang atau denganku”

“Sudah terjadi bentrokan?” tanya Hoa Thin Hong dengan alis berkerut.

Gadis ayu itu menggeleng. “Belum!” Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba sambil tertawa ujarnya, “Aku dan seorang angkatan tua yang sedang menantikan arak dan sayur, bagaimana kalau nona juga ikut kesitu?”

Gadis cantik itu mengangguk, sambil mengikuti di belakang Hoa Thian-hong, berangkatlah mereka tinggalkan dusun tersebut menuju ke tempat dimana nenek baju abu-abu menunggu.

Nenek itu masih tetap menanti di tempat semula, tongkat di tangannya masih tergenggam tapi ia sedang mengantuk, dalam hati. Hoa Thian-hong segera berpikir, “Waah…. untung dia tertidur, kalau tidak aku tentu dimarahi lagi….”

Rupanya nenek tua itu mendengar suara langkah manusia, mendadak sambil menengadah dia membuka matanya.

Buru-buru Hoa Thian-hong maju ke depan, serunya sambil tertawa paksa, “Nenek, arak dan sayur telah datang!”

Dengan mata melotot nenek tua itu menyapu sekejap sayur dan arak di atas nampan, la lu tegurnya, “Huuh…. hasil mencuri?”

“Oooh…. tidak, tidak…. toojin dari Thong-thian-kauw yang telah membayarkan rekeningku, lain kali kalau bertemu lagi pas ti akan kubayar hutang tersebut” Nenek tua itu mencibirkan bibirnya, sorot mata segera dialihkan ke arah gadis cantik yang berada di belakang pemuda itu.

“Nona ini bernama Pek Soh-gie” buru-buru Hoa Thian- hong memperkenalkan, “dia ada lah putri sulung dari ketua perkumpulan Sin-kie-pang!”

Mendengar ucapan itu dari, balik mata nenek tua itu segera memancarkan cahaya yang amat tajam, dengan cepat dia menyapu sekejap wajah gadis she Pek itu.

Pek Soh-gie buru-buru maju ke depan dan memberi hormat, katanya, “Soh-gie menyampaikan salam buat nenek”

Kalau gadis itu bersikap wajar maka Hoa Thian-hong gelisah sekali, pikirnya dengan hati cemas, “Nona ini adalah seorang gadis baik, wah…. berabe kalau nenek ini naik pitam dan mengumbar nafsunya….”

“Nona tak usah banyak adat!” terdengar nenek itu menyahut.

Pek Soh-gie mengucapkan terima kasih sambil berpaling segera tanyanya, “Toako ini siapa namanya? Siaute baru pertama kali melakukan perjalanan, darimana toako bisa tahu asal usulku?”

“Aku bernama Hoa Thian-hong….” pemuda itu memperkenalkan diri sambil tertawa. “Telur busuk cilik!” tiba-tiba suara nenek tua itu berkumandang disisi telinganya bagaikan bisikan nyamuk, baru saja aku peringatkan dirimu, Huuh…. baru berapa menit kau sudah mencari perempuan lagi!”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, dia tahu nenek tua itu memberi peringatan dengan ilmu menyampaikan suara, dengan wajah serius buru-buru sambungnya kembali, “Aku pernah mendengar nama nona dari ayahmu, maka setelah berjumpa aku segera mengenali kembali.”

Pek Soh-gie mengangguk, biji matanya yang jeli melirik sekejap ke arah nampan di tangan Hoa Thian- hong lalu melirik pula ke arah nenek tua itu, mulutnya membungkam sedang otaknya berputar mencari penyakit diantara sikap yang tak wajar dari kedua orang itu.

Hoa Thian-hong maju kembali ke depan, sambil tertawa paksa ujarnya kepada nenek tua itu, “Nenek kau tentu lapar bukan? tempat ini tak ada meja, bagaimana?”

“Hmm! Kau tanya aku, lalu aku harus tanya siapa?” bentak sang nenek dengan mata melotot.

Hoa Thian-hong jadi gelagapan, melihat dia tak mau duduk di lantai terpaksa sambil berlutut dia angkat nampan itu ke atas, katanya lagi, “Nenek, silahkan minum arak. kalau sayurnya sudah dingin tentu tidak enak.” Rupanya Pek Soh-gie tidak tega, ia maju ke depan dan segera siapkan cawan dan sumpit untuk nenek tua itu bahkan penuhi pula cawannya dengan arak wangi.

Melihat ada arak wajah nenek itu menunjukkan rasa girang yang tak terhingga, dia angkat cawan dan menghabiskan arak terse but beberapa kali.

Pek Soh-gie penuhi kembali cawan itu de ngan arak, sang nenek segera menggerakkan sumpit menikmati sayur dimangkok, Hoa Thian-hong yang menyungging nampan seketika merasa perutnya jadi keroncongan setelah mencium bau harum yang membuat perut jadi lapar itu.

“Nona, kau sudah bersantap?” terdengar nenek tua itu menegur.

Terima kasih nenek, Pek Soh-gie baru saja bersantap!” “Mau makan sedikit lagi?”

“Soh-gie ikut ibuku bermakah pantang, aku tak berani mendekati barang-barang berjiwa!”

Sekali teguk nenek tua itu menghabiskan isi cawannya, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan berkata, “Kho Hong-bwee kawin dengan Pek Siau-thian, kejadian itu benar-benar patut disesalkan. kasihan Kho Hong-bwee yang matanya buta tak bisa milih suami yang genah, Bun Siau-ih kawin dengan Hoa Goan-siu, orang bilang mereka adalah pasangan yang setimpal dan bahagia, siapa tahu burung terbang berpisah toh hidup mereka lebih banyak sengsaranya daripada bahagia, aaai…. gadis cantik kebanyakan bernasib jelek!”

“Nenek kenal dengan ibuku?” tanya Pek Soh-gie dengan wajah sedih.

“Aku si nenek tua telah seratus tahun hidup di kolong langit, sudah banyak kejadian tragis yang kusaksikan, siapa bilang tidak kenal dengan dua wanita tercantik di dalam dunia persilatan?”

“Siapa nenek?” tiba-tiba Hos Thian-hong bertanya. “Aku adalah aku, apa itu siapa-siapa?” bentak sang

nenek dengan mata melotot.

Hoa Thian-hong yang kebentur pada batunya cuma bisa meringis tersipu-sipu, pikirnya, “Waaah…. rupanya nenek tua ini lebih suka anak perempuan daripada anak laki, tiap kali aku yang tanya tentu disemprot dengan kata tajam…. Huuh…. Sialan benar….”

Rupanya Pek Soh-gie tak menyangka kalau pemuda itupun tak kenal dengan asal usul nenek tua ini, seielab tertegun sebentar katanya, “Hoa toako, apakah kau adalah keturunan dari Hoa Tayhiap dari perkampungan Liok Soat Sanceng?”

Hoa Thian-hong mengangguk, teringat akan ayahnya yang sudah meninggal dan jejak ibunya yang tak menentu, hatinya jadi sedih dan sikappun menjadi uring- uringan. Melihat pemuda itu murung, setelah termenung sebentar Pek Soh-gie berkata lagi, “Seringkali ibu membicarakan tentang ibu mu, katanya selama hidup dialah yang paling dikagumi, apakah dia orang tua terada dalam keadaan sehat walafiat?”

Pemuda itu menggeleng.

“Kesehatan ibuku buruk sekali, karena hendak mencari, aku sekarang telah berkelana di dalam Bulim, entah kini ia berada di mana? dan bagaimana Dasibnya?”

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya kembali, “Urusan ini rahasia sekali, harap nona jangan membocorkan di tempat luaran….”

Soh-gie mengerti, tak usah toako peringatkan lagi”gadis itu menghela napas pan jang, sambungnya, akhir tahun berselang adikku telah datang dan berkumpu1 dengan kami, dia bilang sewaktu berada di tepi sungai Huang-ho telah memaksa Hoa toako sampai mati, setelah mendengar berita itu ibu amat sedih hingga muntah darah tak hen tinya, sejak itu hari kesehatan ibuku jadi melorot sampai akhirnya adikku mengirim surat lagi yang mengabarkan Hoa toako muncul kembali di kota Cho ciu, saat itulah hati ibuku jadi lega dan sakitpun berangsur-angsur pulih kembali seperti sedia kala”

“Ibumu terhitung ibu yang bijaksana, sungguh membuat aku kagum, bila di kemudian hari ada jodoh tentu akan kusambangi sendiri dia orang tua,” kata sang pemuda lirih. “Pek Soh-gie segera menyatakan rasa terima kasih.

“Setelah adikku mendapat peringatan dan teguran dari ibuku, dia mulai menyesal terhadap perbuatan yang pernah dilakukan dan bersumpah akan merubah sikapnya yang jelek, dalam surat berikutnya dia telah memuji-muji sikap Hoa toako yang gagah dan berjiwa ksatria, tulisannya penuh mengandung pujian dan rasa hormat….”

“Budak yang masih muda harus berwatak pendiam” sela nenek baju abu-abu itu dari samping” kalau binal memang sudah sewajarnya mendapat pendidikan yang ketat!”

Ucapan nenek memang benar!” kepada Hoa Thian- hong ia melanjutkan.” adikku adalah sebangsa kaum wanita, sedang Hoa toako adalah seorang lelaki sejati yang berjiwa besar, kau pasti tak akan mendendam terhadap dirinya bukan?”

“Kejadian toh sudah lewat, kenapa aku musti mendendam?”

Nenek tua baju abu-abu itu menghabiskan kembali isi cawannya, tiba-tiba ia bertanya, “Pek Soh-gie, seorang diri engkau datang ke Timur, entah ada urusan apa?”

“Ibu mengetahui bahwa badai pembunuhan bakal melanda dunia persilatan, karena kejadian itu hati beliau merasa murung dan sela lu tak tenang, beliau telah menulis sepucuk surat untuk ayahku dengan harapan ayah bisa menyadari usia tuanya serta mengundurkan diri dari masalah dunia, Soh-gie mendapat perintah untuk menyampaikannya”

Nenek tua itu segera tertawa dingin.

“Heeh…. heeh…. kau anggap Pek Siau-thian mau mendengarkan nasehat orang? ibumu memang berhati mulia, sayang dia te lah salah mencari orang!”

“Menurut apa yang kuketahui,” ujar Hoa Thian-hong pula, “Pek lo pangcu amat sayang dan menghormati istrinya, bahkan sayang sekali terhadap nona Soh-gie, cuma….”

“Cuma kenapa?” bentak nenek itu.

“Aaai….! Situasi dalam dunia persilatan dewasa ini amat kalut dan rumit sekali, sekalipun Pek Lo pangcu tidak ingin mencampuri urusan dunia persilatan pun tindakannya tak akan bisa menyelamatkan badai pembunuhan ini….”

Ia berhenti sebentar kemudian dengan wajah serius terusnya, “Walaupun urusan sudah tak bisa ditolong lagi, tapi cita-cita dan tujuan Pek Hujien serta nona Soh-gie memang patut dihormati dan dipuji setinggi langit”

“Hmm….! rupanya tidak sedikit rahasia yang kau ketahui!” seru nenek tua baju abu-abu itu dengan suara dingin, “siang tadi aku lihat kau bicara lama sekali dengan Giok Teng Hujin, ditinjau dari sikapmu yang serius dan sungguh-sungguh rupanya banyak urusan penting yang telah kalian bicarakan?”

Teringat pemandangan ketika ia sedang bercakap- cakap dengan Giok Teng Hujin di tepi pantai ombak menggulung kencang, angin berhembus menderu-deru, lagipula ada Soat-jie berjaga di pantai, sekalipun nenek tua itu punya ketajaman telinga yang luar biasa rasanya juga tak mungkin bisa mendengar pembicaraannya, maka sambil tersenyum ia berkata, “Giok Teng Hujin membicarakan tentang asal usulnya. Aaai…. perempuan berwajah cantik seringkali bernasib jelek!”

Dari sikap pemuda itu, sang nenek tahu bahwa ia tidak bicara jujur, dengan wajah gusar segera hardiknya, “Kau berani bicara bohong?”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, pikirnya di dalam hati, “Teka teki yang menyelimuti asal usul Giok Teng Hujin, persoalan mengenai pedang emas jantan dan betina serta Pui Che-giok asli dan gadungan semuanya merupakan persoalan yang menyangkut masalah besar dalam dunia persi1atan, lagi pula diba1ik persoalan itu terdapat hal-hal yang bisa dipsrcaya dan hal-hal yang pasti dicurigai, perduli siapakah nenek tua ini rahasia besar tersebut tak boleh kubocorkan dengan begitu saja.”

Berpikir demikian, iapun lantas tertawa berhaha hihi sambil berseru, “Hiiih…. hiiih…. nenek, maaf yaah, berhubung soal ini menyangkut masalah besar dalam dunia persilatan, maka terpaksa aku tak dapat memberitahukan kepadamu” “Kau sungguh-sungguh tak mau bicara?” hardik sang nenek baju abu-abu dengan suara dingin matanya memancarkan cahaya tajam dan menatap wajah pemuda itu tak berkedip sementara tangannya diayun siap menggaplok pipinya.

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Nenek…. kalau mau pukul silahkan pukul, karena urusan ini menyangkut rahasia dunia persilatan…. maka apa boleh buat, aku tak berani banyak bicara”

Baik sang nenek baju abu-abu maupun Pek Soh-gie jadi tertegun, kalau dilihat dari sikapnya yang penurut terutama sewaktu diperintahkan untuk berlutut sambil memegang nampan, tak sangka kalau pemuda itu jadi berandal dan keras kepala sesudah berhadapan dengan urusan yang serius.

Setelah tertegun beberapa waktu, nenek baju abu-abu itu jadi marah, tegurnya, “Engkau tahu siapa aku?”

“Sekalipun aku sudah tahu siapakah nenek dalam persoalan ini akupun tak berani bicara sembarangan”

Rupanya hawa gusar yang berkobar dalam dada nenek tua itu sudah tak terbendung lagi, ia berteriak kembali.

“Kurang ajar…. dihadapan siapapun engkau sama saja tak akan bicara….?” “Benar, kecuali terhadap ibuku kepada si apapun aku tak akan menjawab….”

Dengan gusar nenek baju abu abu itu segera bangkit berdiri, ia mengetukkan toyanya ke tanah dan membanting cawan sampai hancur kemudian gembornya, “Bun Sian Ih sekarang ada dimana?”

Hoa Thian-hong jadi takut sekali, ia takut pipinya digaplok lagi oleh nenek itu, buru-buru jawabnya, “Aku sudah lama berpisah dengan ibuku sekarang aku benar- benar tak tahu beliau berada dimana?”

“Hmm! telur busuk kecil, aku akan pergi mencari ibumu, akan kulihat engkau mau bicara atau tidak?”

Sekali enjotkan badan tubuhnya sudah berada puluhan tombak jauhnya dari tempat semula.

Hoa Thian-hong jadi amat gelisah, segera teriaknya, “Eeei…. orang tua, kitab catatan Ci yu jit ciatku….”

“Nenekmu, apa itu Jit jiat pat ciat…. aku sama sekali tak tahu maki sang nenek.

Dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Hoa Thian-hong jadi melongo dan tak tahu apa yang maa dilakukan, sambil memandang ke arah tenggara pikirnya, “Kalau dia tak tahu dimanakah ibuku berada, kenapa larinya menuju ke arah sana?” Lewat beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berbisik dengan suara lirih, “Hoa toako, hari sudah hampir gelap, kau sudah makan belum?”

Hoa Thian-hong segera mendusin kembali dari lamunannya, ia lihat udara benar-benar sudah gelap gulita dan malam telah menjelang tiba, sedang ia sendiri sambil memegang nampan masih tetap berlutut di atas tanah, buru-buru si anak muda itu bangkit berdiri, katanya, “Nona, silahkan duduk di atas batu!”

Pek Soh-gie menurut dan segera duduk, Hoa Thian- hong yang sudah lapar sekali tanpa sungkan-sungkan segera menyambar semangkuk nasi dan menyikatnya dengan lahap.

Takaran perutnya tidak kecil lagi pula makannya cepat sekali, dalam waktu singkat ia sudah menyikat habis semua makanan yang ada. Setelah kenyang ia baru letakkan nampan di samping sambil ujarnya, “Nona, dewasa ini wilayah Kanglam sedang banyak persoalan, tempat itu tidak aman dan berbahaya sekali, lebih baik kau tak usah pergi kesana….!”

“Tapi aku harus bertemu dengan ayahku untuk menyampaikan surat dari ibuku!”

“Aku pernah bertemu dan berkenalan dengan ayahmu, titipkan saja surat itu kepadaku agar aku yang menyampaikan kepadanya, dengan begitu bukankah nona tak usah pergi kesitu sendiri!” “Hoa toako, dibalik perkataanmu aku dengar ada maksud tertentu, bolehkah aku tahu lebih jelas lagi?” tanya Pek Soh-gie tercengang.

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, ia menjawab, Ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie bernama Jin Hian, dia mempunyai seorang putra yang bernama Jin Hiong mati di tangan seorang perempuan, apakah nona tahu akan peristiwa ini?”

“Aku pernah dengar tentang peristiwa ini dari adikku, apakah teka teki yang menyelubungi peristiwa pembunuhan itu sudah berhasil dipecahkan….?”

“Peiistiwa itu sampai sekarang masih tertangguh dan belum berhasil dipecahkan, Jin Hian menaruh curiga bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh nona, tetapi berhubung kekuatan dan perkumpulan Sin-kie-pang dan Hong-im-hwie adalah seimbang ditambah pula masih ada perkumpulan Thong-thian-kauw di samping maka pertarungan untuk sementara waktu masih bisa dihindari. Kendati begitu situasi dalam dunia persilatan dewasa ini amat keritis dan berbahaya sekali pertarungan setiap saat bisa berlangsung. Kepergian nona menuju ke wilayah Kanglam boleh dibilang berbahaya sekali….”

000O0000

30

AKU keluar rumah baru pertama kali ini, aku tak pernah melakukan kesalahan apa pun juga!” seru Pek Soh-gie, “aku akan mengajak Jin Hian untuk membicarakan persoalan ini sebaik-baiknya sehingga urusan jadi jernih dan duduk perkara pun bisa dibikin terang, aku tak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut terus”

Hoa Thian-hong menengadah dan menghela napas panjang.

“Aaaaai dalam menghadapi persoalan dalam dunia persilatan, siapa kuat dia menang, sepatah dua patah kata tidak cocok, mayat akan bergelimpangan dimana- mana dan darah akan mengalir memenuhi sungai, menanti ceng li bisa dibikin terang saat itu semuanya sudah terlambat”

“Perkataan dari Hoa toako memang tidak salah” ujar Pek Soh-gie kemudian setelah berpikir sebentar. “Tetapi sebelum berjumpa dengan ayahku, aku tetap merasa tak lega hati, ditambah pula aku sudah rirdu sekali dengan adikku, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dirinya.

Mendengar ucapan itu, Hoa Thian-hong berpikir di dalam hatinya, “Nona ini cuma tahu soal cengli dan peraturan, tidak tahu bagaimana licik dan berbahayanya manusia di kolong langit, kalau ku biarkan ia berkelana seorang diri dalam dunia persilatan maka jiwanya setiap saat tentu akan terancam oleh mara bahaya”

Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berkata kembali. “Apa rencana Hoa toako selanjutnya? Kau adalah

keturunan dari keluarga pendekar, ilmu silat yang dimiliki sangat tinggi dan aku rasa musuh besarmu tentu tidak sedikit bukan jumlahnya?”

“Benar, musuhku terbesar dimana-mana….” ia menghela napas panjang dan melanjutkan,” aku bermaksud mengunjungi gunung Toa pa-san dan pergi ke markas besar perkumpulan Sin-kie-pang!”

“Ayah dan adikku berada di wilayah Kanglam semua, ada urusan apa Hoa toako hendak berkunjung ke gunung Toa pa san?” tanya Pek Soh-gie dengan mata terbelalak.

“Aku punya sebilah pedang baja yang tertinggal di dalam markas besar perkumpulan Sin-kie-pang, sekarang senjata itu hendak kugunakan karena itu terpaksa harus kucari kembali.”

“Perjalanan teramat jauh, menuju kesana pun membutuhkan banyak waktu, apakah tak bisa carikan gantinya dengan senjata lain?”

Hoa Thian-hong menggeleng,

“Thong-thian Kaucu menggunakan sebilah pedang ‘Boan liong poo kiam’ yang teramat tajam, aku harus menggunakan pedang baja yang berat untuk menandinginya, sebab kalau tidak maka pedangku tentu akan tergetar patah oleh pedang mustikanya!”

“Aaaah….! Thong-thian Kaucu adalah seorang tokoh silat yang amat tersohor di kolong langit, apakah Hoa toaku harus bertempur melawan dia….?” “Ehmm, meskipun tenaga dalamnya sempurna dan ilmu silatnya tinggi, seandainya senjata andalanku bisa kutemukan kembali, maka aku mampu untuk bertarung melawan dirinya”

Sambil loncat bangun sambungnya kembali, “Persoalan sudah ada di depan mata, aku tak berani membuang waktu dengan percuma lagi…. Nah selamat tinggal….”

“Eeeei…. tunggu sebentar!” seru Pek Soh-gie setelah tertegun beberapa saat lamanya, gerakan tubuh yang dimiliki nenek tadi cepat sekali, sayang toako telah menyalahi dirinya….”

“Percuma orang tua itu terlalu sombong dan tinggi hati, ia tak mampu membantu apa-apa terhadap diriku, apakah nona sudah pasti akan berangkat ke Timur?”

“Benar, aku rasa tidak baik kalau urungkan maksud di tengah jalan,” setelah berpikir sebentar, ia menambahkan, “Perjalananku lambat sekali, sekalipun ingin balik juga tak mungkin bisa mendampingi Hoa toako…. bila urusan memang sudah kritis sekali, salahkan toako berangkat lebih dahulu!”

“Keempat orang jago dari perkumpulan) Hong-im-hwie tadi tentu sudah menantikan kedatanganmu disebe1ah depan sana, nona lebih baik menyingkir saja daripada harus berjumpa dengan orang-orang itu”

“Siau li akan menuruti perkataan dari toako!” Untuk sesaat dua pasang mata saling bertemu dan memancarkan rasa berat hati untuk berpisah kemudian menunduk dan sama-sama membungkam.

Lama sekali suasana jadi hening, tiba-tiba Hoa Thian- hong menengadahkan dan berkata, “Nona, baik-baiklah jaga diri, aku mohon diri lebih dahulu”

Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, angin berhembus sepoi-sepoi mengibarkan ujung baju Pek Soh-gie yang berdiri seorang diri…. ia begitu polos dan sama sekali tak nampak genit, begitu tenang dan kalem seakan-akan tak tahu betapa licik dan berbahayanya kehidupan manusia di kolong langit….

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya ia putar badan dan berangkat menuju ke arah timur laut meskipun perjalanan dilanjutkan dengan ilmu meringankan tubuh namun sikapnya masih tetap tenang dan sama sekali tidak menunjukkan tergesa-gesa atau gelisah.

Tiba-tiba dari balik kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, muncul empat sosok bayangan manusia yang menghadang jalan perginya.

Buru-buru Pek Soh-gie menghentikan langkahnya dan memandang ke depan, setelah mengetahui bahwa keempat orang itu bukan lain adalah empat orang yang selama ini membuntuti perjalanannya, ia segera memberi hormat dan menyapa, “Saudara-saudara sekalian ada urusan apa menghalangi jalan pergiku? Kalau ada persoalan harap segera diutarakan keluar”

“Kami rasa nona sudah tahu tentang asal usul kami semua bukan?” ujar kakek baju hitam yang ada disebelah kiri.

“Jika kutinjau dari pembicaraan kalian yang seringkali mengungkap tentang Tang-kee kalian, aku juga saudara berempat tentulah para enghiong dari perkumpulan Hong-im-hwie, bukan begitu?”

Rupanya kakek baju hitam itu adalah pemimpin rombongan diantara keempat orang itu, ia segera menjawab, “Tebakan nona sedikitpun tidak salah, kami berempat memang saudara-saudara dari perkumpulan Hong-im-hwie, lalu tahukah nona apa maksud kami datang kemari?”

“Itulah yang tidak kuketahui! Sedari wilayah Kanglam sampai ke tempat ini, saudara berempat selalu mengikuti di belakang siaute, bolehkah aku tahu apa maksud kalian semua?”

“Cong Tang-keeh kami ada sedikit urusan hendak ditanyakan Kepada nona, maka dari itu kami berempat sengaja ditugaskan untuk datang mengundang kehadiran nona, tetapi berhubung nona adalah kaum wanita yang patut dihormati maka selama ini kami tak berani mengganggu secara gegabah!”

“Kalau begitu, siaute ucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati saudara berumpat” “Nona tak usah mengucapkan terima kasih kepadaku, kini situasinya agak berbeda dan terpaksa kami harus menyalahi diri nona.

“Jadi apa maksud kalian semua?” seru Pek Soh-gie dengan mata terbelalak.

Kakek baju hitam itu tertawa kering.

“Haaah…. haaah…. haaah…. dari sini menuju ke timur kita akan bertemu dengan para enghiong dari peibagai aliran, kami tahu bahwa kedudukan nona sangat terhormat, asal telah bertemu dengan anak buah dari perkumpulan Sin-kie-pang, maka dengan andalkan muka

, kami tak mungkin undangan kami bisa dipenuhi oleb nona”

“Kalau tidak kupenuhi bagaimana?”

Kakek baju hitam itu tertawa terbahak-bahak. “Haaah…. haaah…. haaaah…. kalau kami gagal untuk

mengundang kehadiran nona, terpaksa kita musti menanggung dosa dan harus menerima pancung kepala”

Tertegun hati Pek Soh-gie mendengar ucapan itu. “Kalau memang begitu, aku akan mengikuti saudara

sekalian untuk berjumpa dengan Jin Loo enghiong!” katanya. “Oooh…. nona sungguh berbesar hati, kami ucapkan banyak terima kasih lebih dahulu”

Bicara sampai disini kakek baju hitam itu segera berpaling, dan memberi tanda kepada salah seorang pria berpakaian ringkas yang ada disisinya….

Pria baju ringkas itu Segera mengangguk dan menggerakkan tubuhnya, sekali lompat ia sudah berada di samping tubuh Pek Soh-gie, jari tangannya bagaikan sebatang tombak langsung menotok jalan darah cian ji hiat di tubuh gadis itu.

Pek Soh-gie terperanjat, tubuhnya laksana kilat menyingkir ke samping, lima jari di pentang dan baru balas menyambar urat nadi dipergelangan pria baju ringkas tadi.

Kebutan lima jarinya ini sepintas lalu nampak enteng dan lambat, tetapi penggunaan waktu dan ketelitian arahnya ternyata luar biasa sekali, andaikata pria baju ringkas itu tidak segera batalkan ancaman-nya maka dia tentu akan tersambar oleh ujung jari Pek Soh-gie.

“Oooh…. kepandaian itu adalah ilmu andalan dari Kho Hong Kui tempo hari!” terdengar kakek baju hitam yang lain berseru, “ilmu silat keluarga kenamaan memang luar biasa sekali!”

Sementara itu pertarungan di tengah kalangan sudah berlangsung lima jurus banyaknya, seharusnya ilmu silat yang dimiliki pria baju ringkas itu masih bukan tandingan dari Pek Soh-gie, sayang sekali dalam setiap serangannya gadis itu hanya berusaha untuk memunahkan ancaman lawan sambil melakukan pertahnan diri belaka, tak satu jurus seranganpun yang ditujukan untuk merobohkan musuh, dalam keadaan begini walaupun pria baju ringkas tadi tak mampu merebut kemenangan namun keadaannya tetap seimbang dan siapapun tak bisa merubuhkan lawannya.

Setelah menyaksikan jalannya pertarungan beberapa saat, kakek baju hitam yang memegang komando itu mengerutkan alisnya, ia memberi tanda kepada pria baju ringkas lainnya.

Pria tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun segera menerjang masuk ke dalam gelanggang.

Dalam waktu singkat dua orang pria kekar itu segera mengerubuti seorang gadis yang cantik jelita dengan ketat. Pek Soh-gie yang baru pertama kali bergebrak melawan orang melayani serangan-serangan musuhnya dengan serius dan penuh ketegangan, semua serangan yang dilancarkan hanya ditujukan untuk memunahkan ancaman serta melakukan pertahanan diri, rupanya ia memang tak mampu melakukan serangan balasan.

Tiba-tiba terdengar kakek baju hitam yang lain berkata, “Ang Jit ko, tadi setelah bajingan cilik itu meringkus tiga orang toojin dari perkumpulan Thong- thian-kauw, ketiga orang hidung kerbau itu pasti tak mau sudahi persoalan itu sampai disitu saja, urusan dinas kita penting sekali, lebih baik cepat-cepat kita ringkus orang itu dan melaporkan kepada Tang-kee kita!” Benar, ayoh kita turun tangan!” jawab kakek baju hitam yang satu sambil mengangguk.

Tubuhnya segera menerjang ke depan, telapak tangannya menyambar dan membacok tubuh gadis itu.

Pek Soh-gie yang sedang bertempur dengan serunya melawan dua orang musuh, jadi amat terperanjat ketika munculnya segulung desiran angin tajam yang mengancam punggungnya.

Ia segera tekuk pinggang, bungkukkan badan lalu loncat maju ke depan, sepasang telapak disilangkan ke samping membendung datangnya ancaman itu.

Kakek baju hitam kedua selama ini hanya berdiri di sisi lapangan segera ikut menerjang pula ke depan setelah menyaksikan kelincahan dan kegesitan gerak tubuh musuhnya, telapak tangan bagaikan golok langsung membacok kemuka.

Dalam waktu singkat empat orang pria kekar bersama- sama turun tangan mengerubuti seorang gadis cantik, hal ini membuat dara ayu itu jadi kerepotan dan musti loncat ke kanan berkelit ke kiri untuk meloloskan diri dari ancaman.

Diam-diam Pek Soh-gie jadi gelisah melihat keadaan itu, cepat teriaknya dengan suara lantang, “Saudara- saudara Sekalian adalah orang gagah dari dunia persilatan, masa kalau ingin bertarung musti main kerubut? Hey…. kalian tahu akan peraturan Bulim atau tidak?” Kakek baju hitam yang memberi komando itu segera tertawa dingin.

“Ayahmu sendiri juga suka berbuat demikian, apa salahnya kalau kami pun meniru cara ayahmu itu? Kalau nona ingin bicara tentang cengli, lebih baik bicarakan saja persoalan ini dengan ayahmu di kemudian hari!”

“Hmm! Sedari tadi aku sudah tahu kalau kalian adalah manusia-manusia yang menggemaskan dan tak tahu dirif” tiba-tiba terdengar seseorang membentak dengan penuh kegusaran.

Di tengah kegelapan meloncatlah keluar sesosok bayangan manusia, dia bukan lain adalah Hoa Thian- hong, dengan serangan jari di tangan kanan serangan telapak di tangan kiri serentak dia lancarkan serangan secara berbareng.

Plooook….! telapak kirinya dengan telak bersarang di atas bahu pria baju ringkas yang berada di hadapannya membuat tulang bahu pria itu terpukul hancur dan menjerit kesakitan, tubuhnya terlempar sejauh beberapa tombak dari tempat semula.

Sebaliknya totokan tangan kanannya segera mengakibatkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema di angkasa, kakek baju hitam yang turun tangan belakangan tiba-tiba mundur sempoyongan ke belakang dengan tubuh gemetar keras, kemudian badannya roboh terjengkang ke atas tanah dan binasalah seketika itu juga. Hoa Thian-hong jadi sangat terperanjat, tiga jurus ilmu totokan ‘menyerang sampai mati’ yang dipelajari dari kitab Ci yu jit ciat itu sebenarnya hendak diturunkan kepada Bong Pay tempo hari, sewaktu bergebrak melawan Yan-san It-koay ia pernah menggunakannya satu kali, tapi karena kepandaian silat yang dimiliki Yan- san It-koay jauh lebih tinggi daripada dirinya, maka keampuhan dari tiga jurus totokan itu tidak terlihat.

Siapa tahu serangan yang dilancarkan saat ini tanpa maksud apa-apa telah mengakibatkan kematian dari musuhnya, hal ini membuat dia jadi melongo dan berdiri tertegun.

Semua kejadian berlangsung dalam sekejap mata, ketika jeritan ngeri itu berkumandang di angkasa kedua belah pihak sama-sama terperanjat dan pertempuranpun terhenti untuk sementara waktu.

Dalam hati Hoa Thian-hong segera berpikir, “Jin Hian adalah seorang manusia yang licik dan berbahaya, dengan pembunuhan yang kulakukan sekarang berarti antara kita berdua sudah terikat oleh dendam, kenapa aku tidak bunuh sekalian keempat orang ini sehingga persoalan untuk sementara waktu bisa ditutup….”

Setelah ambil keputusan di dalam hati, nafsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya, dengan ganas ia terjang kakek baju hitam yang memberi komando itu. “Hoa toako, jangan turun tangan keji!” teriak Pek Soh- gie secara tiba-tiba.

“Eeei…. aneh benar nona ini,” batin pemuda itu dalam hati, “aku bantu dirinya untuk mengusir musuh, dia malah mintakan ampun bagi musuh-musuhnya”

Tangan kanan bagaikan pagutan ular berbisa, laksana kilat segera menyeruduk ke depan.

Melihat datangnya ancaman totokan jari yang begitu aneh, kakek biju hitam itu jadi terkesiap karena dia tak tahu bagaimana caranya untuk memunahkan ancaman tersebut, dalam gugupnya pinggang segera dite-kuk dan ia jatuhkan diri berguling di atas tanah, dengan suatu gerakan yang manis kakek itu melepaskan diri dari ancaman dan menggulung sampat sejauh satu dua tombak dari tempat semula.

Tentu saja Hoa Thian-hong tidak mengijinkan lawannya kabur dengan begitu saja, kakinya segera melangkah ke depan dan dalam waktu singkat ia sudah berada di depan tubuhnya, dua jari ditekuk dan langsung menotok tubuh lawannya.

“Hoa toako….” tiba-tiba Pek Soh-gie berteriak.

Bentakan keras bergema di angkasa, pria baju ringkas yang masih segar tiba-tiba maju menyerang dari belakang.

Hoa Thian-hong sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap datangnya ancaman itu, telapak kiri diayun kemuka dan dengan jurus Kun-siu-ci-tauw, ia sambut datangnya serangan itu.

Tenaga pukulan yang dipancarkan dari telapak kirinya jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan kekuatan serangan ketiga jari tangan kanannya, serangan yang dilancarkan laksana kilat itu dengan telak bersarang di atas tengkuk pria baju ringkas itu.

“Aduuuh….!” jerit kesakitan berkumandang di angkasa, tubuh pria itu terpental ke udara dan segera roboh terjengkang di atas tanah,

Karena harus dibaginya kekuatan serangan ini, datangnya serangan jari di tangan kanannya jadi lebih terlambat dari gerakan semula, menggunakan kesempatan itulah kakek baju hitam tersebut mendorong telapak nya ke depan lalu mengundurkan diri dari sana.

“Hmmm…. mau lari kemana?” jengek Hoa Thian-hong sambil tertawa dingin, “kau tak bisa diampuni….!”

Bagaikan bayangan tubuhnya segera mengejar ke depan.

Tenaga dalam yang dimiliki si anak muda ini telah mendapat kemajuan yang amat pesat, serangan yang dilancarkan pada saat ini sukar ditandingi oleh manusia biasa.

Kakek baju hitam itu tahu bahwa dirinya bukan tandingan lawan, melihat pemuda itu mengejar terus sadarlah dia bahwa sulit bagi dirinya untuk melepaskan diri.

Dalam nekadnya ia segera membentak keras, telapak tangan didorong berbareng dan sambil mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya ia hajar si anak muda itu.

Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak kiranya diayun menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras. Blaam di tengah bentrokan nyaring kakek baju hitam itu mundur dua langkah ke belakang dengan sempoyongan, sepasang kakinya jadi lemas dan robohlah ia ke atas tanah.

Tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong sekarang amat sempurna sekali, pukulan itu menggetarkan sekujur tubuh kakek baju hitam tadi sehingga isi perutnya bergeser semua dari tempat semula, pandangan matanya jadi gelap dan tak tahan lagi ia muntah segar, jelas luka dalam yang dideritanya teramat parah.

Hoa Thian-hong maju ke depan sambil ayun tangannya, tapi tangan itu diturunkan lagi, pikirnya.

“Seharusnya aku tak boleh melepaskan mereka berempat barang seorangpun, tetap membunuh orang yang sudah tak punya kekuatan untuk melawan adalah suatu perbuatan yang melanggar semangat jantan seorang pendekar sejati….

“Hmm! apa yang musti kulakukan?” Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berkata dengan nada lembut, “Hoa toako, apakah beberapa orang ini hendak kau bunuh?”

“Siaute masih muda dan tak tahu urusan harap nona tak usah sungkan-sungkan kalau ingin bicara”

Pek Soh-gie mengerutkan dahinya lalu maju selangkah ke depan, ujarnya, “Diantara keempat orang itu ada satu sudah mati terbunuh sedang sisanya terluka parah, Hoa toako! bagaimana kalau engkau bermurah hati serta mengampuni jiwa mereka untuk kali ini saja?”

“Mereka sudah kenal siapa aku, bila kulepaskan mereka pergi maka Jin Hian pasti tak akan menyudahi persoalan ini….”

Pek Soh-gie tundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan itu, kepada kakek baju hitam itu segera tegurnya, “Kau kenal dengan kongcu ini?”

“Kakek baju hitam itu meronta bangun, sorot mata penuh kebencian memancar keluar dari balik matanya, sambil menggigit bibir dia menjawab, “Hmm! telapak kiri Hoa Thian-hong…. sampai matipun aku tetap ingat.”

Pek Soh Oie jadi tertegun mendengar perkataan itu, meskipun ia berhati Welas dan tak suka membunuh orang, tetapi diapun merasa tak leluasa untuk memaksa Hoa Thian-hong melepaskan harimau pulang gunung, apalagi kalau sampat menanam permusuhan dengan orang.  Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong berkata dengan suara hambar, “Mengingat kau tidak takut mati dari masih terhitung sebagai seorang pria sejati, ini hari aku orang she Hoa mengampuni selembar jiwamu, setelah pulang katakan kepada Jin Hian bahwa dibalik peristiwa pembunuhan itu masih terdapat hal-hal yang lain. pembunuhnya adalah orang lain yang jauh diluar dugaannya, bila kami berjumpa lagi di kemudian hari akan kujelaskan sendiri persoalan itu kepadanya”

Sementara itu dua pria baju ringkas yang terkejar oleh Hoa Thian-hong tadi, yang satu menderita patah tulang kaki sedang yang lain menderita patah tulang tangan, berhubung pemimpin mereka belum mati maka merekapun tak berani kabur lebih dahulu, kini setelah mendengar ucapan tersebut, mereka baru maju ke depan membopong tubuh kakek tadi kemudian kabur dari situ.

Menanti ketiga orang itu sudah pergi jauh, Pek Soh-gie baru maju ke depan sambil berkata, “Hoa toako, kenapa kau balik lagi setelah pergi?”

“Sejak tadi aku sudah melihat kalau keempat orang itu sedang berjaga-jaga di sekitar tempat ini, karena itu aku tidak pergi terlalu jauh”

Perlahan-lahan mereka lanjutkan perjalanan ke depan, sambil tundukan kepalanya Pek Soh-gie berkata, “Terima kasih atas pertolongan dari toako….”

Hoa Thian menghela napas panjang. “Aaaai….! Urusan sepele kenapa musti dipikirkan terus?”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Bertempur adalah suatu kejadian yang tak kenal akan belas kasihan, dalam menghadapi serangan musuh kita harus berusaha membuat posisi di atas angin, jangan hanya bertahan melulu tanpa melakukan serangan, sebab jika kau bertindak begitu maka menang tak mungkin bisa diraih, bila kau kehabisan tenaga maka saat itulah kematian akan membayangi dirimu.

“Aku hanya bisa bertahan, tak bisa melancarkan serangan balasan” sahut Pek Soh-gie dengan kepala tertunduk,

“Ilmu silat macam apapun bisa digunakan untuk bertahan maupun menyerang, asal kau punya niat untuk memukul orang maka serangan bisa kau lancarkan dengan segera”

“Tapi aku tak ingin pukul orang”

“Aaai….! Kau tak ingin pukul orang, sebaliknya orang lain ingin memukul dirimu, selama manusia masih hidup di kolong langit maka dia harus berusaha untuk mempertahankan diri, manusia itu berhati dengki dan penuh kebusukan, bila kau mudah dianiaya maka yang rugi akhirnya adalah engkau, sendiri, apakah kau ingin mati dengan penasaran?” “Aku bisa mempertahankan diri dengan sepenuh tenaga!” bisik gadis itu.

“Nona ini punya watak suka damai…. lumrahnya tabiat itu sukar dirubah….” pikir pemuda itu.

Dalam pada itu Pek Soh-gie sudah menengadah ke atas dan memandang wajah si anak muda itu dengan sepasang biji matanya yang bening, kemudian ujarnya, “Hoa toako, ada permusuhan apa antara engkau dengan Thong-thian Kaucu….?”

“Thian Ik-cu sitosu tua itu adalah salah satu diantara pembunuh ayahku….!”

Pek Soh-gie membungkam sejenak, selelah berpikir ia berkata kembali, “Daerah kekuasaan perkumpulan Thong-thian-kauw amat luas dan pengikutnya banyak sekali, dengan kekuatan Hoa toako seorang, mana kau mampu menandingi dirinya? Aku lihat lebih baik engkau cari ayahku saja serta merundingkan suatu siasat yang bagus untuk menyelesaikan persoalan ini….”

Hoa Thian-hong tertawa nyaring dan segera gelengkan kepalanya.

“Persoalan yang terjadi dalam dunia persilatan seringkali didasarkan pada budi dan dendam, bagaimanakah keadaannya sukar ditebak secara jitu, sekalipun memandang di atas wajah nona mungkin ayahmu suka menolong aku, tapi aku rasa ayahmu tak akan sudi bentrok secara langsung dengan orang-orang dari perkumpulan Thong-thian-kauw” Merah padam selembar wajah Pek Soh-gie setelah mendengar perkataan itu, bisiknya kemudian, “Adikku sangat mengagumi diri pribadi Hoa toako, dia pasti akan membantu diri toako untuk mewujudkan cita-cita tersebut, aku rasa ayah yang amat mencintai adikku pasti akan mengabulkan permintaannya…. tentang soal ini aku rasa toako tak perlu pusing kepala”

“Huuh…. mana kau tahu tentang peristiwa yang baru saja lewat, berhubung pinangan ayahmu yang kutolak, mungkin karena cinta bisa berubah jadi dendam,” pikir Hoa Thian-hong, “hal ini semakin tak mungkin terjadi lagi….”

Tiba-tiba terdengarlah suara irama musik dan tetabuhan berkumandang datang dari kejauhan, dari ujung jalan raya sebelah tenggara muncullah beberapa titik cahaya lampu.

Pek Seh Gie angkat kepala memandang sekejap ke arah pemuda itu, lalu katanya, “Toako, kalau kau ada urusan lebih baik berangkatlah lebih dahulu…. jangan karena aku urusanmu jadi berabe….”

“Hehmm…. aku akan menghantar nona beberapa jauh lagi.

“Bagaimana kalau kita bersama menemui ayah? Aku akan suruh dia orang tua untuk mengutus seseorang pulang ke markas besar serta ambilkan pedang baja milik toako?” Hoa Thian-hong tertawa.

“Pedang baja itu terjatuh ke tangan seorang manusia aneh yang bernama Ciu It-bong, orang itu ada permusuhan dengan ayahmu, aku rasa tidak gampang untuk merampas kembali pedang bajaku itu….”

Mendadak dia angkat kepala dengan wajah tertegun, kiranya dari arah depan muncullah delapan orang tosu cilik berusia dua belas tahunan yang memakai jubah warna putih, di tangan mereka masing-masing memegang sebuah lampu lentera, dibelakangnya mengikuti pula delapan orang tosu cilik berjubah kuning, di tangan mereka memegang alat musik dan sambil memainkan alat tetabuhan itu selangkah demi selangkah mereka berjalan mendekat.

Di belakang keenam belas orang tosu cilik tadi mengikuti pula delapan orang tosu berjubah merah yang pada bahunya tergantung sebilah pedang pendek, usia mereka rata-rata diantara empat lima belas tahunan, dan pada barisan paling belakang mengikuti pada sebuah tandu kecil yang digotong oleh empat orang tosu cilik berjubah kuning.

Di atas tandu duduklah seorang tosu tua yang rambutnya berwarna keperak-perakan, dua orang tosu baju merah yang berusia tanggung mengikuti di kedua belah samping tandu tersebut, di tangan mereka yang seorang memegang sebilah senjata Ji gi berwarna hijau kumala sedang yang lain membawa sebilah pedang mustika. Beberapa saat kemudian kedua bilah pihak sudah semakin mendekat, terlihatlah tosu tua yang duduk di atas tandu kecil itu punya muka yang merah segar bagaikan bayi, sepasang alisnya yang putih bergoyang dan matanya memandang ke depan dengan sorot cahaya tajam

Sekejap mata kedelapan buah lampu lentera itu telah menyebarkan diri ke kedua belah samping, permainan musikpun tiba-tiba berhenti.

Pek Soh-gie segera menggeserkan badannya mendekati Hoa Thian-hong, bisiknya lirih, “Toako, rupanya ada urusan lagi?”

“Benar!” jawab Hoa Thian-hong sambil tersenyum, “rupanya mereka sengaja datang untuk mencari gara- gara dengan kita….”

Sementara itu tanda telah berhenti, tosu tua itu menekuk pinggangnya dan bangkit berdiri, tosu cilik yang membawa senjata Ji gi serta Poo kiam tadi segera berdiri di kedua belah sisinya.

Tosu tua itu membuka matanya, sambil memandang ke arah Hoa Thian-hong dengan sorot mata tajam ia menegur, “Ooh, jadi kau adalah Hoa Thian-hong putra dari Hoa Goan-siu? Kenapa wajahmu kotor kakimu telanjang dan pakaianmu tidak genah?”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Dan kau sendiri? Apakah Thian Ik tosu tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw? Kenapa lagakmu seperti pembesar korup begitu?”

“Kurangajar!” bentak tosu cilik yang membawa senjata Ji gi di belakang tosu tua itu. “Berhadapan dengan Kaucu, kau berani kurangajar…. ayoh berlutut!”

“Oooh…. rupanya benar-benar tosu Siluman ini,” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “aku harus tetap bersikap tenang dan jangan menyebut dulu soal dendam ayahku….”

Berpikir sampai disitu dia pun tertawa, katanya, “Pangcu dari perkumpulan Sin-kie-pang serta Cong Tang- kee dari perkumpulan Hong-im-hwie sudah kutemui beberapa kali, mereka semua tak seorangpun yang bersikap lucu dan membadut seperti ketua dari perkumpulan Thong-thian-kauw ini”

“Haaah…. haaaah…. haaaah….” kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu segera tertawa terbahak-bahak, tukasnya, “perkumpulan kami adalah perhimpunan suatu agama, jauh berbeda kalau dibandingkan dengan Sin-kie-pang ataupun Hong-im- hwie, kami sengaja berbuat demikian demi laki perempuan penganut agama kami, tiupan terompet dan pukulan genderang adalah demi mengundang perhatian dari para penganut agama kami…. tentu saja keadaannya berbeda jauh sekali”

“Oooh, kiranya begitu,” ujar Hoa Thian-hong sambil tersenyum. “Kaucu tidak bersemayan dalan kuil It-goan- koan untuk menyucikan diri, mau apa engkau berkunjung kesini?”

Kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu mengelus jenggotnya dan menjawab.

“Tempat bersemayanku tidak jauh letaknya dari tempat ini, kuil It-goan-koan hanya kugunakan sebagai tempat penyebaran agama kami, tempat itu bukan tempat kediamanku….

“Kaucu,” tukas Hoa Thian-hong sebelum iman tua itu menyelesaikan kata-katanya. “pasukan musuh telah masuk ke wilayah kekuasaanmu, engkau bukannya pusing kepala menyusun siasat dan rencana untuk menghadapi serangan total itu, enaknya saja hidup senang di dalam rumah, apakah kan hendak menunggu sampai pasukan musuh telah tiba diambang pintu, kau baru buka pintu benteng untuk menyerah?”

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak. “Haaaah…. haaah. .haaaah…. bulan tujuh tanggal lima

belas nanti, pinto akan membuka suatu pertemuan besar Kian ciau tay bwee di See thian, pada waktu itu aku mengharapkan pelbagai orang gagah dari segala lapisan masyarakat bisa ikut menghadiri pertemuan tersebut.

Undangan buat saudara kecil telah kami sampaikan dan sekarang disimpan oleh Ciong Lian-khek….!”

Ia berhenti sebentar, lalu sambil tertawa tergelak lanjutnya, “Saat ini pelbagai orang gagah di kolong langit sedang siapkan kuda melatih tentara agar bisa memperlihatkan kelihaiannya dalam pertemuan besar itu, saudara cilik, kenapa kau masih berlarian di tempat luaran? Kalau sampai jiwamu melayang, pertemuan besar Kian ciau tay hwee pasti akan keku-rangan kau seorang…. waaah! Kalau sampai begitu suasana tentu kurang meriah”

“Bulan tujuh tanggal lima belas?” tanya Hoa Thian- hong dengan alis berkerut.” bukankah berarti tinggal delapan hari lagi?”

Sambil tertawa Thong-thian Kaucu mengangguk. “Betul, selama beberapa hari ini sebagai besar para

orang gagah dari kolong langit telah berdatangan semua

kemari”

“Senja tadi, aku telah menyalahi tiga orang muridmu,” ujar sang pemuda sambil tersenyum.

“Aaai…. itu bukan soal besar” tukas sang kaucu sambil tertawa. “Mereka berani mencari gara-gara dengan dirimu, itu berarti bahwa mereka tak tahu diri. Manusia yang tak tahu dari memang sudah sepantasnya kalau diberi hukuman”

Setelah tertawa tergelak, lanjutnya, “Kalau dibandingkan terhadap beberapa orang dari Hong-im- hwie, saudara cilik sudah bersiap lebih murah hati terhadap mereka, disini pinto ucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu”

Selesai berkata ia segera memberi hormat. Hoa Thian-hong balas memberi hormat, mereka berdua bicara dan bergurau dengan bebasnya seakan- akan dua sahabat lama yang saling bertemu lagi setelah lama berpisah.

Thong-thian Kaucu alihkan sorot matanya ke samping, sambil memandang wajah Pek Soh-gie dengan muka berseri-seri serunya. “Siapa nona ini? wajahnya cantik jelita bagaikan bidadari sedang pakaiannya sederhana sekali, sampai pinto sendiripun tak bisa menebak asal usulnya”

Menyaksikan tingkah laku iman tua itu sedikit kurang beres, Pek Soh-gie tak sudi menjawab. Ia segera melengos dan memandang ke arah Hoa Thian-hong yang berada di sisinya.

Hoa Thian-hong dapat menangkap maksud hati gadis itu, dengan wajah dingin jawabnya, “Dia adalah putri kesayangan dari Pek loo pangcu dari perkumpulan Sin- kie-pang, lebih baik pangcu tak usah banyak bertanya”

Kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw ini benar- benar bermuka tebal, bukan gusar malah dia tertawa.

“Sudah lama aku dengar katanya Pek Siau-thian mempunyai sepasang putri kembar yang memiliki raut wajah cantik jelita, raut wajah nona ini mirip sekali dengan wajah Pek Kun-gie yang seringkali berkelana di dalam dunia persilatan, apakah dia adalah siputri sulung nona Soh-gie?” “Hmmm…. sungguh banyak utusan yang diketahui kaucu, tidak salah nona ini memang nona Pek Soh-gie”

“Kalau memang begitu sungguh aneh sekali,” kata Thong-thian Kaucu dengan alis berkerut, “sudah lama aku dengar berita yang tersiar dalam Bulim mengatakan bahwa antara saudara cilik dengan Pek Kun-gie dari bermusuhan akhirnya berubah jadi sahabat dan kemudian jadi sahabat kental, kenapa sekarang malah melakukan perjalanan bersama dengan si sulung?”

Hawa amarah kontan membakar dalam dada Hoa Thian-hong sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya di dalam hati, “Thian Ik si hidung kerbau ini adalah salah seseorang diantara pembunuh ayahku, cepat atau lambat aku akan mencabut pula selembar wajahnya, kenapa aku musti memburu napas pada saat ini….?”

Ia tahu gelagat serta enteng beratnyan urusan, setelah berpikir begitu hawa amarah pun segera ditekan kembali, ujarnya dengan suara ketus.

“Urusan pribadi dari aku orang she Hoa lebih baik tak usah dicampuri oleh Kaucu, saat pertemuan pada bulan tujuh tanggal lima belas sebentar lagi sudah tiba, bila perkataan dari kaucu belum selesai maka silahkan dilanjutkan pada pertemuan Kiam ciau tay hwee nanti!”

Kepada Pek Soh-gie serunya. “Nona mari kita pergi” Gadis itu mengangguk, mereka berdua segera putar badan dan berlalu dari situ.

Tiba-tiba Thong-thian-kauw mengerdipkan matanya ke kiri dan kanan, seketika itu juga terdengarlah desiran angin tajam menderu-deru, delapan orang tosu cilik berbaju merah segera menyebarkan diri di tengah jalan dan menghadang jalan pergi kedua orang itu dengan pedang pendek terhunus ditangan.

Di bawah sorot cahaya bintang tampaklah sinar tajam yang mengilaukan mata memancar keudara, rupanya pedang pendek yang berada di dalam genggaman kedelapan orang tosu cilik jubah merah itu merupakan senjata mustika yang tajam sekali.

0000O0000

31

TERDENGARLAH Thong-thian Kaucu angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak, suaranya keras hingga menggetarkan seluruh jagad, ia berkata, “Hoa Thian- hong, kau jangan gegabah dan bertindak seenaknya sendiri, ketahuilah bahwa ilmu silat yang kau miliki sekarang masih belum mampu digunakan untuk menerobos pertahanan ilmu barisan Kan lee kiam tin dari pun kaucu ini!”

“Ilmu barisan Kan lee kiam-tin?” tanya sang pemuda dengan alis berkerut, “belum pernah kudengar nama barisan itu!” “Kalau engkau tak puas, silahkan untuk mencobanya sendiri!”

Hoa Thian-hong mendengus dingin, sorot matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, rupanya dalam waktu yang amat singkat itulah kedelapan orang tosu cilik berjubah merah itu telah menyebarkan diri ke sekeliling kalangan, setiap orang menyilangkan pedangnya di depan dada dan berdiri tegak bagaikan batu karang, dilihat dari wajah mereka yang begitu serius tampaklah bahwa barisan itu benar-benar luar biasa sekali.

Setelah seringkali mengalami bencana, pengalaman yang dimiliki Hoa Thian-hong luas sekali. Setelah mengamati sebentar situasi yang terbentang di depan mata saat ini, sadarlah pemudaitu bahwa musuh tangguh sedang dirinya lemah, kalau pertarungan dilangsungkan maka dialah yang bakal kalah atau bahkan terancam jiwanya.

Oleh sebab itu sambil menahan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, ia berkata kepada Pek Soh-gie, “Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan dengan kaucu ini, silahkan nona berangkat lebih dahulu”

Melangak hati Pek Soh-gie mendengar perkataan itu, setelah termenung sebentar katanya lirih, “Aku tidak terburu-buru ingin pergi, lebih baik kutunggu saja dirimu di tempat ini!”

Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya, ia berpikir, “Aaaai….! Nona ini benar-benar terlalu jujur, musuh berada di depan mata ia masih tak sadar, bukannya berusaha untuk mencari akal guna meloloskan diri, ia malah bersikeras untuk tinggal disini…. aaai, apa dayaku sekarang?”

Sementara itu Thong-thian Kaucu dengan sorot mata yang tajam sedang mengawasi kedua orang itu, dia merasa yang pria tinggi kekar dan berwajah tampan sedang perempuan lemah lembut berwajah cantik, bila mereka berdua berdiri berdampingan nampaklah begitu serasi dan mempersonakan hati orang.

Lama kelamaan hatinya jadi panas, dari rasa kagum ia jadi dengki dan iri, sambil mendengus berat segera ujarnya, “Hoa Thian-hong, ayah dan ibumu adalah jago- jago lihay dari kalangan lurus, sebaliknya kau rela menggabungkan diri ke dalam tubuh perkumpulan Sin- kie-pang, apakah tindakanmu ini tidak takut memalukan nama keluarga serta menurunkan derajat nenek moyangmu?”

“Hmm! Selamanya aku orang she Hoa berkelana kesana kemari seorang diri, perbuatan suci bersih dan yakin tak pernah ternoda!, sampai sekarang aku sama sekali tidak bergabung dengan pihak Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie….”

Tidak menanti sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, kaucu dari perkumpula Thong-thian-kauw itu sudah menukas, Pengaruh perkumpulan Sin-kie-pang meliputi tujuh propinsi, jago lihay yang tergabung dalam

perkumpulan itu banyak sekal sukar dihitung dengan jari, bilamana engkau memang bukan anak buah dari perkumpula Sin-kie-pang, lebih baik janganlah mencampuri urusan kami, tinggalkan Pek Soh Gi di tempat ini dan berlalulah seorang diri”

“Eeei…. ada apa? jadi engkau hendak menahan nona Pek Soh-gie di tempat ini?” seru Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.

Dia adalah enghiong sejati, dalam pemikirannya Pek Soh-gie yang mulia dan halus berbudi tak pernah bermusuhan dengan orang, tak pernah bermusuhan dengan umat Bulim, siapapun tak punya alasan untuk bermusuhan dengan dirinya, tindakan Thong-thian Kaucu yang hendak menahan dirinya benar-benar merupakan satu kejadian yang sama sekali berada diluar dugaannya.

Terdengar kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu tertawa dingin, lalu berkata, “Kau tak mau banyak bicara lagi, sekarang pun kaucu akan membuka sebuah jalan hidup bagimu, asal engkau suka berpeluk tangan dalam soal ini maka kau akan kubiarkan berlalu dari sini dalam keadaan sela-mat, sebaliknya kalau engkau membangkang maka kemungkinan besar dalam pertemuan Kiam ciau Tay hwee pada bulan tujuh tanggal lima belas nanti akan kekurangan engkau seorang”

Hoa Thian benar-benar jadi naik pitam, bentaknya, “Sungguh memalukan sekali, tak kusangka engkau sebagai ketua dari suatu perkumpulan besar ternyata bermoral sebejad itu, aku orang she Hoa….”

Tiba-tiba ia marasa bahwa sikap Thong-thian Kaucu sama sekali berdiam. ketika datang tadi ia bersikap bebas dan wajah penuh senyuman, sebaliknya sekarang nampak begitu licik dan memuakkan sekali.

Tiba-tiba Pek Soh-gie berkata, “Kaucu! aku masih ada urusan dibadan sehingga tak dapat berdiam terlalu lama di sini, bila kaucu ada urusan harap segera diutarakan sekarang juga!”

“Eeei…. bukankah barusan kau mengatakan sendiri bahwa kau tak ada urusan dan tidak ingin cepat-cepat berlalu dari sini?” seru sang kaucu dengan mata berkilat.

Merah padam selembar wajah Pek Soh-gie karena jengah, bibirnya bergerak seperti mau mengatakan sesuatu tapi akhirnya maksud itu dibatalkan, dengan wajah berubah ia bungkam dalam seribu bahasa.

Thong-thian Kaucu tertawa dingin, sorot matanya dengan pandangan tengik menyapu terus raut wajahnya yang cantik itu, ujarnya kembali, “Dewasa ini para jago sedang saling bermusuhan satu sama lainnya, masing- masing pihak berusaha agar rencana besarnya bisa dicapai dengan sukses, Jin Hian serta ayahmu juga sedang bentrok dan kini malah bermusuhan satu sama lainnya, jika mereka tahu akan jejakmu dan engkau lanjutkan kembali perjalanannya ke depan, maka orang- orang dari pihak Hong-im-hwie pasti akan berusaha menangkap dirimu” “Terima kasih atas petunjuk dari kaucu, asal aku bersiap lebih hati-hati, rasanya itu sudah lebih dari cukup”

“Pihak Hong-im-hwie sangat berhasrat menangkap dirimu, sekalipun engkau bersikap hati-hati juga tak ada gunanya, apakah kau mampu menahan serangan mereka?”