Bara Maharani Jilid 21 : Cinta kasih Giok Teng Hujin

  
Jilid 21 : Cinta kasih Giok Teng Hujin

AKU dengar makhluk aneh ini berasal dari wilayah See Ih, entah bagaimana caranya dia menyesuaikan diri dengan iklim di wilayah Kanglam yang hangat ini?”

“Di wilayah See Ih toh terdapat pula musim semi dan musim panas, disitu kan bukan sepanjang tahun tertutup salju melulu….”

Sementara pembicaraan masih berlangsung Pui Che- giok telah membawa kedua orang itu mendaki ke atas bukit dan tiba di depan gedung megah terbuat dari batu putih itu.

Tampaklah dua orang dayang kecil membuka pintu segera muncullah Giok Teng Hujien yang nampak agung dan cantik di balik dandanannya yang mewah.

Pui Che-giok lari masuk lebih dahulu, serunya dengan suara riang, “Hujien, Siau-ong-ya telah tiba!” Giok Teng Hujien berdiri disisi pintu, biji matanya yang jeli berputar dan menatap wajah Hoa Thian-hong dengan penuh senyuman.

Hoa Thian-hong segera melangkah masuk ke dalam ruangan, serunya kembali memberi hormat, “Kedatangan siaute gegabah dan kasar sekali, bila mengganggu ketenangan cici harap suka dimaafkan!”

Giok Teng Hujien tertawa, dia pandang sekejap wajah orang dari atas sampai ke bawah, kemudian tegurnya, “Kau telah bertempur dengan siapa?”

Sebelum Hoa Thian-hong sempat menjawab, Pui Che- giok telah berseru lebih dahulu, “Dengan Yan-san It-koay dari perkumpulan Hong-im-hwie, dia telah bertempur semalamam suntuk, hampir saja selembar jiwanya ikut melayang.

Giok Teng Hujien tertunduk sedih, bagaikan sedang menegur pemuda itu dia berkata.

“Apa gunanya sih bertarung melawan orang dengan taruhan nyawa….”

“Makhluk tua itu adalah pembunuh yang telah mencabut jiwa ayahku!, aku harus membinasakan dirinya untuk membalaskan dendam ayahku”

Ia menuding ke arah Hoa In dan memperkenalkan. “Dia adalah pembantu yang mendampingi mendiang

ayahku, dan bernama Hoa In. “Oooh…! Kiranya Lo Koan-kee, maaf… maaf…” sambung Giok Teng Hujien dengan cepat.

Dari sikap mesranya terhadap sang majikan muda, diam-diam Hoa In menggerutu di dalam hati. Tetapi menghadapi sapaan yang begitu hangat, dia merasa tidak sepantasnya kalau dia tunjukan sikap kurang sedap apalagi dari nada suaranya sama sekali tidak memandang dirinya sebagai orang bawahan.

Sambil memberi hormat sahutnya, “Tidak berani….. maaf bila aku telah mengganggu ketenangan Hujien”

Giok Teng Hujien tersenyum, dia gandeng tangan Hoa Thian-hong dan segera diajak masuk ke dalam, ujarnya, “Bukankah pasukan besar dari pihak Hong-im-hwie serta Sin-kie-pang belum tinggalkan kota Ceng kang? Apakah kau menyusul kemari secara diam-diam…..?” Hoa Thian- hong mengangguk.

“Aku sengaja datang kemari untuk menjumpai diri cici!” sahutnya.

“Apakah ada urusan penting?”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, dia merasa tidak leluasa untuk bicara terus terang karena dalam ruangan itu di samping terdapat Pui Che-giok serta dua orang dayang kecil tadi, dari dalam ruangan muncul pula dua orang gadis muda berusia tujuh enam belas tahunan. “Tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan sedang terjadi pertikaian dan tanpa sadar siau te ikut terseret di dalam kancah kekalutan ini,” katanya cepat, “karena itu aku merasa kesal sekali, sengaja aku datang kemari untuk mengunjungi cici sampai menghilangkan semua kemurungan yang memenuhi dalam benak “

Giok Teng Hujien tertawa, sinar matanya berkilat dan mengerling sekejap ke arah pemuda itu dengan pandangan mesrah.

“Dimanakah Pek Kun-gie? Bagaimana tanggung jawabmu terhadap Pek Siau-thian?” ia menggoda.

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong. “Apa yang musti aku pertanggungjawabkan?”

sahutnya sambil tertawa.

“Apa yang menjadi kesulitan siaute rasanya cici tentu memahami juga bukan?”

“Cisss…….! Kau ini makin berbicara semakin tidak genah, kenapa ngomongnya tidak karuan?”

Sementara itu semua orang sudah memasuki sebuah ruangan besar yang sama sekali tertutup, setelah menghidangkan air teh Giok Teng Hujien segera memerintahkan dayangnya untuk menyiapkan hidangan.

Beberapa saat kemudian meja perjamuan telah diatur, Hoa Thian-hong duduk di kursi utama didampingi oleh Giok Teng Hujien di sisinya, sedang Hoa In duduk di kursi sebelah bawah.

Sepanjang perjamuan berlangsung, Giok Teng Hujien turun tangan sendiri melayani kedua orang itu bersantap dan minum arak, sikap yang begitu hangat membuat suasana berjalan dengan meriah.

Setelah meneguk secawan arak, Hoa Thian-hong berkata sambil tertawa, “Gedung ini sungguh megah dan indah sekali, kecuali cici dan beberapa orang nona, apakah masih ada orang lainnya lagi?”

“Masih ada beberapa orang nenek tua!” Ia berhenti sebentar, sambil tertawa tambahnya, “Tua muda yang tinggal dalam gedung ini semuanya terdiri dari kaum wanita, tak seorangpun pria yang tinggal disini”

“Tempat ini jauh letaknya dari markas besar, apakah kau tidak merasa kerepotan kalau musti pergi datang melakukan perjalanan sejauh ini?…..”

Giok Teng Hujien tertawa.

“Meskipun aku tergabung di dalam perkumpulan Thong-thian-kauw, namun gerak-gerikku sama sekali tidak terikat oleh siapapun juga, mau dinas atau tidak siapapun tidak pernah mencampuri urusanku, kecuali menghadapi urusan yang maha penting aku baru pergi ke markas besar”

“Apakah kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw juga berdiam di dalam kuil It-goan-koan?” “Apakah kedatanganmu ke selatan kali ini tujuannya adalah mencari Thong-thian-kauwcu?” tegur Giok Teng Hujien dengan alis berkerut.

Sambil tertawa Hoa Thian-hong menggeleng.

“Aku sama sekali tidak kenal dengan dirinya, buat apa musti pergi mencari dirinya?”

Rupanya Giok Teng Hujien tidak ingin menyaksikan pemuda itu bentrok langsung dengan ketua dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu, mendengar ucapan tersebut dengan wajahnya serius dia menjawab, “Kalau memang tujuanmu bukan mencari kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw, buat apa kau musti urusi dimanakah ia berdiam”

Setelah termenung kembali beberapa saat lamanya, dia berkata lagi, “Nama besar Yan-san It-koay telah menggetarkan seluruh dunia persilatan, darimana mungkin kau bisa menandinginya?”

“Kita telah maju bersama!” sahut Hoa Thian-hong sambil, menuding ke arah Hoa In.

Pui Che-giok yang ketika itu berdiri di samping meja perjamuan segera menyela pula sambil tertawa, “Kongcu-ya galak sekali, barusan dia hendak mencabut selembar jiwaku….”

Giok Teng Hujien tertawa, dan tidak menggubris ucapan pelayannya itu, sambi1 memenuhi cawan emas Hoa Thian-hong dengan arak wangi katanya lagi, “Sudah hampir mendekati tengah hari, minumlah secawan arak lagi dan segera bersantap.

Selesai bersantap pelayan muncul menghidangkan teh wangi. Hoa Thian-hong yang melihat di sekitar sana terdapat banyak orang, mulutnya selalu bungkam terhadap tujuan yang sebenarnya, sedang Giok Teng Hujien pun tidak bertanya lagi tentang persoalan itu.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan tengah hari lewat.

“Adik Hong!”

Giok Teng Hujien segera bangkit berdiri sambil berseru, “Mari kutemani dirimu berlarian sebentar ditepi pantai, pemandangan disana indah sekali.”

Diri sikap perempuan itu, Hoa Thian-hong tahu bahwa dia tidak ingin Hoa In ikut serta dalam perjalanan itu, maka kepada pelayan tua itu segera pesannya, “Aku akan pergi sebentar ditemani oleh Hujien, kau tak usah menemani aku lagi…..setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari, ini hari kau boleh beristirahat.”

Meskipun Hoa In tak mau tapi ia tak berani membantah perintah majikan mudanya, bibirnya bergetar seperti mau bicara namun tak sepatah katapun yang meluncur keluar. “Che-giok, siapkan tempat tinggal!” perintah Giok Teng Hujien pula, “baik-baiklah layani pengurus tua, jangan sampai bertindak ayal hingga kurang pelayanan!

“Budak terima perintah!”

Dengan membawa serta makhluk anehnya Soat-jie, berangkatlah Giok Teng Hujien serta Hoa Thian-hong tinggalkan gedung megah itu dan turun dari bukit, sambil bergandengan tangan mereka lari menuju ke tepi laut.

Beberapa saat kemudian racun teratai yang mengeram di dalam tubuh Hoa Thian-hong mulai bekerja, semakin lari semakin kencang, Giok Teng Hujien segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengiringi disisinya, sedang Soat-jie sambil menjerit kegirangan menyusul dari belakang, rupanya dia ikut bergirang hati atas kesenangan majikannya.

Setelah berlarian beberapa waktu, ditepi pantai laut muncullah pantai berpasir yang amat luas, dua manusia, seekor binatang segera berlari kencang di atas pantai berpasir itu.

Ketika Hoa Thian-hong menyaksikan di atas jidat Giok Teng Hujien telah basah bermandikan keringat, ia jadi tak tega buru-buru serunya, “Cici, beristirahatlah lebih dulu, biar siaute berlarian seorang diri!…..”

“Aaah! tak apa, merasa senang sekali untuk berlari-lari disisimu, dengan begini otot-otot tubuhku ikut jadi lemas” jawab Giok Teng Hujien sambil tertawa keras. Karena perempuan itu tetap ngotot untuk ikut lari, terpaksa Hoa Thian-hong membiarkan dia untuk tetap berlari di sisinya.

Tengah hari di musim panas yang menyengat badan, benar-benar merupakan penderitaan yang berat untuk berlari di udara terbuka, Hoa Thian-hong yang bertujuan untuk menyebarkan kadar racun di badan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

Belum jauh dia berlari sekujur badannya sudah basah kuyup oleh keringat. Giok Teng Hujien sendiri sekalipun telah lari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, namun satu jam kemudian seluruh tubuhnya telah basah pula oleh air keringat.

Beberapa Waktu kemudian kadar racun di tubuh Hoa Thian-hong telah tenggelam kembali ke dasar Tam thian (Pusar), setelah rasa sakit di tubuh berkurang, iapun menghentikan larinya sembari berkata, “Aaaah…….!

Sekarang sudah baikan, ayoh kita beristirahat!”

Sambil mengerut dada, Giok Teng Hujien menghembuskan napas panjang, tiba-tiba serunya sambil tertawa, “Ayoh kita terjun kelaut dan mandi!” Ia tarik tangan pemuda itu dan lari menuju kelautan.

“Eei…..jangan……” teriak Hoa Thian-hong sambil menghentikan langkah kakinya.

“Jangan kuatir, toh di sisi ada aku, kau tak bakal mati tenggelam……. ayolah……” “Bukan begitu, dalam sakuku terdapat beberapa lembar kertas yang berisi catatan ilmu silat, kalau kena air kertas itu bisa hancur”

Giok Teng Hujien tertawa, ia berjongkok melepaskan sepatu dan kaos kaki pemuda itu kemudian melepaskan pula ikat pinggang serta jubah luarnya……

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, dia ambil keluar catatan ilmu Ci yu ciat tersebut, ketika melihat catatan itu tidak rusak, segera dimasukkan kembali ke dalam sakunya.

“Adik Hong, aku punya kaki yang besar, engkau tak jemu bukan?” seru Giok Teng Hujien tiba-tiba sambil tertawa ringan.

Perlu diketahui pada jaman dahulu kala, di daratan Tionggoan berlaku kebiasaan dimana kaum waniia sejak kecil kakinya diikat dengan kain sehingga sewaktu menginjak dewasa, kaki mereka rata-rata kecil dan tidak normal. Air muka Hoa Thian-hong berubah semakin merah padam.

“Cici, kau pandai sekali bergurau, siaute tidak kuat menahan diri………” serunya.

Giok Teng Hujien tertawa terbahak-bahak, ia lepaskan ikat pinggangnya dan mencopot gaun panjang, Hoa Thian-hong tersipu-sipu, dengan cepat ia loncat kemuka dan terjun ke dalam air. “Adik Hong…..” tiba-tiba Giok Teng Hujien berseru dengan suara manja. Hoa Thian-hong segera berpaling, ia lihat sesosok tubuh yang putih bersih meluncur dari tengah udara dan menerjang ke arahnya, dalam gugup dan gelagapannya ia rentangkan tangan dan memeluk bayangan itu erat-erat.

Terasalah segumpal tubuh yang lunak dan halus menempel di tubuhnya, ia semakin gugup, buru-buru tubuh perempuan itu dipeluk dan dilepaskan di dalam air.

Sebagai pemuda yang dibesarkan di atas gunung, ia tak tahu ilmu dalam air, berada di air yang dangkal si anak muda itu tak tahu menyembunyikan Giok Teng Hujien disana.

Perempuan itu tertawa cekikikan, sepasang lengannya yang putih halus dan telanjang memeluk tubuh pemuda itu erat-erat, sampai matipun tak dilepaskan, memaksa Hoa Thian-hong terpaksa pejamkan mata dan buru-buru maju ke depan hingga ke dalam air yang lebih tinggi.

Ketika sampai di dasar laut yang tingginya mencapai seleher, ia baru berani membuka matanya kembali.

“Ayoh maju lagi ke depan!” seru Giok Teng Hujien sambil tertawa cekikikan, “terus maju sampai di istana Liong kiong….”

“Cici, berdirilah yang tegak, hati-hati kalau sampai digulung ombak dan tenggelam ke dasar laut!” Giok Teng Hujien tertawa semakin keras, dia gesekkan pipinya di atas wajah pemuda itu dan serunya, “Biarlah kita mati bersama agar pada penitisan yang akan datang dapat hidup sebagai suami istri, bukankah keadaan itu lebih baik?”

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya berulang kali. “Banyak urusan yang belum siaute selesaikan, aku tak

ingin putus nyawa diusia muda!”

“Seandainya persoalanmu telah beres semua?” Giok Teng Hujien balik bertanya sambil menatap wajahnya tajam-tajam.

Hoa Thian-hong menghela napas panjang. “Cici, engkau pasti tahu bukan penyakit dari

siaute……!” serunya.

Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata- katanya, Giok Teng Hujien segera menukas, “Aku tahu darahmu mengandung racun, selama hidup tak bisa punya bini…… bukankah begitu?”

Dia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar terusnya, “Aku tahu tak punya rejeki sebesar itu untuk menjadi binimu, yang kuharapkan hanya hatimu bukan badanmu!”

“Hati siaute telah kupersembahkan bagi kesejahteraan umat Bulim” bisik sang pemuda dengan kepala tertunduk. “Itu tak jadi soal” desak Giok Teng Hujien lebih jauh, “hati pendekar sudah sewajarnya dipersembahkan untuk kesejahteraan umat persilatan, yang kutanya adalah hatimu dalam soal cinta, hendak kau persembahkan kepada siapa? Chin Wan-hong? Atau Pek Kun-gie?” 

Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar teguran itu, pikirnya di dalam hati, “Seandainya ditanya cintaku yang sejati, maka harus kujawab hatiku telah kupersembahkan untuk enci Wan-hong……”

Sudah tentu perkataan semacam ini tidak sampai ia utarakan keluar.

Berbicara tentang kecantikan, raut wajah Chin Wan- hong kalah jika dibandingkan dengan Pek Kun-gie apalagi kalau dibandingkan dengan Giok Teng Hujien, dalam hal hubungan sehari-hari, daya tarik dan keluwesan, di dalam hubungan baik Chin Wan-hong mau pun Pek Kun- gie kalah kalau dibandingkan dengan Giok Teng Hujien.

Kadangkala soal cinta muda-mudi memang aneh sekali, seperti Hoa Thian-hong yang dikerumuni gadis- gadis cantik, ternyata ia lebih memandang berat diri Chin Wan-hong dari pada perempuan yang lain kendati gadis yang lain jauh lebih cantik dan menarik.

Begitulah, ketika Giok Teng Hujien melihat pemuda itu termenung dan lama sekali tidak bicara, ia segera mengguncangkan tubuhnya sambil berseru manja, “Cepat katakan, hatimu akan kau berikan kepada siapa? Kenapa sih membungkam? Apa susahnya untuk menjawab?”

Hoa Thian-hong dibikin apa boleh buat, terpaksa sambil tertawa jawabnya, “Hatiku tak akan diberikan kepada siapa pun, biar kutahan untuk diriku sendiri!”

“Ciiss……”

Segulung ombak menggulung datang menenggelamkan kedua orang itu ke dasar lautan, tubuh Hoa Thian-hong keterjang hebat sampai terseret mundur beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, buru-buru ia keluarkan ilmu bobot seribu untuk menahan badannya.

Giok Teng Hujien amat bangga dan senang melihat pemuda itu gugup dan gelagapan sendiri, teriaknya.

“Ayoh cepatlah mundur kalau tidak kau akan benar- benar tenggelam di laut dan mati!”

Walaupun Hoa Thian-hong memiliki serangkai ilmu silat yang mengejutkan, namun saat itu hatinya dibikin jeri juga oleh air laut yang menggulung hebat, terutama sekali karena ia tak kenal ilmu berenang dan baru pertama kali terjun ke laut, tanpa memperdulikan tubuh telanjang yang berada di dalam pelukannya lagi ia berseru keras dan buru-buru mengundurkan diri ke atas daratan.

Setelah tiba di pantai berpasir, dengan setengah merengek Hoa Thian-hong memohon. “Oooh…! cici yang baik, cepatlah berpakaian, kalau sampai terlihat orang kita bakal malu”

“Haaah…haaah…” Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, ”Soat-jie berjaga-jaga di sekitar tempat ini, siapa yang mampu menerobos kemari…?”

Sepasang kakinya mengait, bersama tubuh Hoa Thian- hong mereka roboh terjengkang ke atas tanah.

Mereka bertindihan satu sama lainnya dan berbaring di atas pantai berpasir, ketika Hoa Thian-hong menjumpai perempuan itu tidak menunjukkan gejala untuk maju setindak lebih maju, diapun lantas membungkam dan membiarkan lawannya bertingkah sesuka hatinya.

Giok Teng Hujien memeluk tubuh Hoa Thian-hong kencang-kencang, tubuhnya yang putih, montok dan padat berisi menindih di atas tubuhnya, pipi bergeser pipi dada bergeser dada, kaki bergesek kaki menimbulkan suatu perasaan yang aneh sekali……

Lama kelamaan Hoa Thian-hong terpengaruh juga oleh nafsu birahi, jantungnya berdebar keras tapi kesadaran masih ada, cepat-cepat ia pusatkan pikiran dan membentak dengan suara lirih, “Cici, apakah kau sudah bosan hidup? ingat racun dalam tubuhku……”

“Huuh… siapa yang sungguhan? Aku toh cuma

main-main saja!” seru Giok Teng Hujien sambil meliukkan pinggangnya makin menjadi. “Cici……aku tidak tahan… kalau aku sampai berbuat

nekad….kau jangan salahkan aku loo…… apalagi kalau jiwamu sampai melayang ”

“Mati yaah biar… daripada musti menderita akibat patah cinta, hidup di kolong langit malah sengsara,” bisik Giok Teng Hujien sambil membenamkan kepalanya dalam pelukan pemuda itu.

“Bodoh…bila kau mati dalam keadaan seperti itu, orang pasti akan mentertawakan dirimu”

Setelah berhenti sebentar dia belai rambut Giok Teng Hujien yang basah kuyup lalu berbisik lagi dengan suara lirih, “Cici, kau she apa? Bolehkah aku tahu si apakah namamu?”

“Aku she Siang bernama Hoa,” jawab perempuan itu sambil tertawa cekikikan.

“Cici suka amat bergurau, atau engkau memang tak suka nama aslimu diketahui orang?”

“Kau apa tidak percaya?” seru Giok Teng Hujien sambil angkat kepala, “itulah nama asliku, Siang Hoa artinya hatiku tertuju kepadamu (Hoa atau Hoa Thian-hong)….!”

Hoa Thian-hong tahu kalau perempuan itu sengaja bergurau dan menciptakan nama palsu untuk membohongi dirinya, melihat ia bersandar di tubuhnya dengan begitu mesra dan nikmat, ia jadi serba salah. “Baik…..baiklah….kalau memang bernama Siang Hoa kuakan sebut dirimu sebagai Siang Hoa, pokoknya hatimu senang itu sudah cukup!”

“Kalau begitu panggillah aku enci Siang Hoa……” pinta perempuan itu manja.

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Enci Siang Hoa, berapa usiamu tahun ini?” tanyanya. “Lebih besar satu tahun darimu!”

“Lebih baik kita jangan membicarakan soal tetek bengek lagi, siaute ada satu urusan penting hendak dibicarakan dengan cici, apabila cici tahu maukah engkau memberi tahu dengan jujur?”

Giok Teng Hujien mengangguk.

“Nyawapun aku rela berikan kepadamu, masa menjawab saja tak mau……. cepat utarakan pertanyaanmu itu”

Jawaban itu diutarakan dengan bebas dan leluasa, membuat orang sama sekali tidak curiga.

Dengan terus terang Hoa Thian-hong berkata, “Siaute ingin mencari tahu duduk perkara yang sebenarnya tentang latar belakang pembunuh terhadap Jin Bong, siapakah pembunuhnya? Apa tujuannya? Apakah pedang emas milik Jin Hian telah hilang dan siapakah otak yang merencanakan pembunuhan tersebut?” Sepasang alis Giok Teng Hujien kontan berkerut, serunya, “Mau apa kau tanyakan masalah tentang peristiwa itu? Ketahuilah semakin banyak yang kau tahu semakin bahaya jiwamu!”

“Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie dan Teng Thian Kau tak mengijinkan siaute hidup di kolong langit, siaute sendiripun tak senang mereka tetap berdiri tegak di dalam Bulim, suatu hari mereka pasti akan bekerja sama untuk menghadapi sekelompok kekuatan pihak kami, karena itu siaute ingin menyelidiki latar belakang dari peristiwa pembunuhan itu, serta berusaha untuk mencari apakah ada kesempatan baik yang dapat kupergunakan!….”

Giok Teng Hujien segera gelengkan kepalanya, dengan suara lembut dia berkata, Lebih baik jangan mencari kerepotan buat diri sendiri, semua persoalan serahkan saja pada cici, kau hidup cicipun hidup, kau mati …”

“Cici tak akan mampu melindungi siaute” tukas Hoa Thian-hong sambil gelengkan kepalanya.

Giok Teng Hujien tertegun, lama sekali ia baru berkata dengan suara lirih, “Kejadian itu merupakan peristiwa yang paling membuat hatiku menyesal, karena persoalan itu kendati sekarang kucongkel keluar hatiku dan mempersembahkannya kepadamu, belum tentu engkau akan mengampuni jiwaku, belum tentu aku bisa menggembirakan hatimu.” “Cici, apa yang kau bicarakan? Siaute sama sekali tidak mengerti …” seru sang pemuda kebingungan.

“Aaaai……aku maksudkan peristiwa yang terjadi sewaktu di dermaga penyeberangan sungai Huang-ho, tidak sepantasnya kalau aku berpeluk tangan belaka melihat kau bunuh diri!”

Wajahnya kelihatan berubah jadi amat sedih dan murung sehingga membikin hati orang yang melihat jadi iba dan kasihan.

“Aaaai……lain dulu lain sekarang” ujar Hoa Thian-hong sambil menghela napas, “tempo dulu kita baru bertemu untuk pertama kalinya, kita berdua belum pernah kenal dan punya hubungan persahabatan, lagipula disitu hadir pula Cukat racun Yau Sut serta malaikat berlengan delapan Cia Kim, sekali pun cici bermaksud menolong aku, belum tentu situasi mengijinkan engkau berbuat begitu”

Giok Teng Hujien gelengkan kepalanya berulang kali. “Aaai…….! tidak benar……aku bernama Siang Hoa,

sudah sepantasnya kalau kutolong dirimu kendati harus

korban selembar jiwaku, bukankah aku bernama Siang Hoa (condong ke Hoa)? Aaai….! waktu itu aku telah salah berpikir, kini mau menyesalpun sudah terlambat …”

Perkataannya begitu menarik dan menawan hati seakan-akan perempuan itu benar-benar menyesal sekali, membuat Hoa Thian-hong jadi melongo dan termangu-mangu. “Kau marah kepadaku?” bisik Giok Teng Hujien lagi.

“Sejak pertama kali sampai sekarang aku tak pernah marah kepadamu, kenapa aku harus marah?”

Giok Teng Hujien tertegun, kemudian serunya kembali, “Hmm! Kau tentu marah… kau bilang sejak pertama kali itu berarti kau pernah marah kepadaku.”

“Biar orang menganiaya diriku, aku tak akan menganiaya orang lain, cici! jangan kau ucapkan kata- kata yang tak ada artinya lagi, cepat ceritakan latar belakang dari peristiwa tersebut, seru Hoa Thian-hong dengan alis berkerut, “Kau ingin tahu?”

“Tentu saja, sedari dulu aku sudah tahu kau tentu terlihat dalam peristiwa ini.

Giok Teng Hujien tertawa cekikikan.

“Boleh saja kalau suruh aku bicara, tapi kita musti bermesraan dulu kalau tidak jangan harap aku mau bicara”

Hoa Thian-hong merasa amat jengah, tapi apa boleh buat? terpaksa ia peluk tubuh perempuan itu kencang- kencang kemudian mencium dan menggerayangi tubuhnya, beberapa saat kemudian pemuda baru bicara sambil tertawa, “Cici, kau terlalu romantis, sekarang tak boleh bercanda lagi…. cepat ceritakan latar belakang dari peristiwa berdarah itu” “Peristiwa berdarah apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti!”

“Sebenarnya kau ingin bicara tidak?”

“Bicara soal apa?” bisik Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, perempuan itu tetap tak bicara.

“Siapakah yang membinasakan Jin Bong tersebut?”

Giok Teng Hujien yang selamanya binal dan tak dapat disuruh tenang, saat ini berubah jadi jinak dan halus sekali, sambil bersandar di tubuh Hoa Thian-hong jawabnya dengan suara lembut, “Pui Che-giok yang melakukan pembunuhan itu!”

“Pui Che-giok yang mana?”

“Itu tuh….. budak yang ada di rumah!”

“Kau ngaco belo!” teriak Hoa Thian-hong dengan suara terperanjat.

Hubungan muda-mudi kadang kala memang aneh sekali, tiba-tiba Hoa Thian-hong bersikap seolah-olah dialah sang tuan rumah, sedang Giok Teng Hujien lebih rendah dari seorang dayang, setelah gugup sebentar ujarnya kembali dengan suara lirih, “Aku bicara sungguhan kau tidak percaya, siapa sih yang berani membohongi dirimu?”

“Ketika itu aku hadir pula di tempat tujuan, aku lihat raut wajah sang pembunuh mirip sekali dengan Pek Kun- gie kalau dibandingkan dayangmu itu wajahnya jauh lebih cantik”

“Aku toh bisa merubah-rubah wajahnya menurut kehendak hatimu, kalau tidak percaya entar malam akan kusuruh dia merubah wajah!”

Jadi orang yang mengatur semua rencana besar ini kecuali engkau apakah masih ada orang lain?” tanya sang pemuda dengan pikiran bingung bercampur ragu.

“Oooh…. kalau soal ini sih rahasia yang amat besar, tak boleh membiarkan pihak ke tiga ikut mengetahui”

“Oooh…jadi engkau seoranglah yang merencanakan permainan setan ini? Apa tujuanmu?”

Giok Teng Hujien tertawa bangga, sahutnya, “Tujuanku tentu saja pedang emas! Jin Hian telah menyembunyikan pedang emasnya di dalam perkampungan Liok Soat Sanceng dan menyimpannya di bawah tempat pembaringan dari putranya, perbuatannya itu begitu rahasia sekali sehingga Jin Bong si setan yang sudah modar itupun tak tahu”

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya berulang kali. “Sebenarnya apa sih kegunaan dari pedang emas itu?

Sampai dimana toh nilainya sehingga perlu engkau susun rencana besar untuk merampasnya dari tangan orang lain?” Mendengar pertanyaan tersebut Giok Teng Hujien segera tersenyum, jawabnya lembut, “Aku sendiripun tak tahu apa kegunaan dari pedang emas itu, tetapi aku memang punya kegunaannya yang lain”

“Apakah kegunaan itu?” tanya Hoa Thian-hong pura- pura gusar, hatinya agak tercelos.

“Hiiiih…. hiiih… hiiih…” kembali perempuan itu tertawa cekikikan, “Aaah, sekarang aku tak akan memberitahukan kepadamu, lain kali saja….. kalau waktunya sudah tiba baru kuberitahukan kepadamu!”

“Huuu….! cengar-cengir terus… ketahuilah urusan itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan situasi dalam dunia persilatan, ayoh cepat beritahu kepadaku dengan sejelas jelasnya!”

“Ayo kita bermesraan lagi toh, nanti kuberitahukan kepadamu!”

“Huuuh….kamu ini… benar-benar masih seperti anak kecil….”

Karena terpaksa maka pemuda itupun mulai bercanda dan bergurau kembali dengan perempuan tersebut, sesaat kemudian Giok Teng Hujien menengadah ke atas dan berbisik .

“Aku memerintahkan Che-giok mencuri pedang emas tersebut, tujuannya tentu saja untuk meretakkan hubungan antara perkumpulan Hong-im-hwie dengan pihak Sin-kie-pang, tetapi kalau berbicara tentang tujuan ku yang sebenarnya maka tindakanku ini bukanlah demi kebaikan serta keberuntungan bagi pihak Thong-thian- kauw!”

“Lalu demi apa kau berbuat demikian itut” tanya Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.

“Tentu saja demi engkau!”

“Sungguh membingungkan ceritamu itu,” omel sang pemuda sambil tertawa keras, “waktu itu kita toh belum pernah kenal, darimana kau bisa tahu akan diriku?”

Giok Teng Hujien tertawa cekikikan.

“Siapa yang bohong tentu dibasmi oleh Thian!……” bisiknya.

“Sudahlah, jangan bergurau terus, sekarang dimanakah pedang emas itu…..”

“Di rumah, entar kutunjukkan kepadamu sahut Giok Teng Hujien serius, setelah tertawa misterius lanjutnya, “benda itu berada pula di dalam pedang mustika milik Thong-thian-kauwcu, jika kau dapat menggetar putus pedang mustika pelindung badan milik Thong-thian- kauwcu dihadapan Jin Hian, maka pedang emas yang tersembunyi di dalam pedang itu segera akan terjatuh dan ketahuan rahasianya, waktu itu Jin Hian tentu akan mata gelap dan menyerang Thian Ik Loo-to dengan nekad!” Hoa Thian-hong semakin kebingungan dibikinnya, kembali ia bertanya, “Apa sih artinya? Masa sebilah pedang emas dapat disimpan di dua tempat yang berbeda? Kau tentu ngaco belo tak keruan…..cepat katakan yang sebenarnya atau aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu!”

“Hiiih…hiiih…siapa yang suruh kau berlaku sungkan- sungkan? Mau pukul mau maki itu hak dari sang suami, aku sang istri sih tak bisa berbuat apa-apa selain menerima….”

Ia berhenti sebentar, kemudian dengan suara lembut katanya, “Pedang emas semuanya terdiri dari dua bilah, satu pedang jantan dan yang lain pedang betina, pedang jantan terjatuh ke dalam dunia persilatan dan baru saja terjatuh kembali ke tanganku, sedang pedang betina di sembunyikan di dalam pedang mustika pelindung badan milik Thong-thian-kauwcu, persoalan ini rahasia sekali, sampai Thian Ik Lo-too sendiripun tak tahu akan rahasia ini.

“Pedang emas toh berada di dalam pedang mustika milik Thian Ik-cu, masa dia sendiri pun tak tahu?”

0000O0000

29

Giok Teng Hujien tertawa bangga, ujarnya, “Delapan tahun berselang, ketika secara kebetulan Thian Ik-cu menemukan sebilah pedang yang bernama Boan liong Poo kiam, pedang emas yang kecil itu sudah berada di dalamnya, oleh karena sejak permulaan dia sudah tak tahu, darimana ia bisa menduga kalau dibalik pedang terdapat pula pedang lain?”

“Delapan tahun berselang?” tanya Hoa Thian-hong dengan hati agak bergerak.

“Benar peristiwa ini terjadi pada delapan tahun berselang” jawab Giok Teng Hujien sambil tertawa manis.

“Aaai . .! Ketika itu aku masih muda sekali, usiaku waktu itu mungkin sebaya dengan Chin Wan-hong serta Pek Kun-gie pada saat ini”

“Apakah engkau yang menghadiahkan pedang Boan liong Poo kiam tersebut kepada Thian Ik-cu?” sela sang pemuda.

Giok Teng Hujien menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Siapa yang kesudian untuk menghadiahkan sendiri benda itu kepadanya, aku sih suruh orang lain menyampaikannya kepada dia, waktu itu dunia persilatan masih tenang dan pelbagai partai sering kali mengirim upeti baginya, maka Thian Ik-cu tak pernah memikirkan hal-hal yang jelek….”

Hoa Thian-hong putar badannya dan membalik ke atas, sekarang dia menindih tubuh Giok Teng Hujien yang putih halus dan telanjang bulat itu di bawah tubuhnya, dengan suara halus gertaknya. “Ayo jawab dengan jujur, siapakah engkau? Apa menyusup ke dalam tubuh partai Thong-thian-kauw?”

“Aku benar-benar bernama Siang Hoa. siapa sih yang membohongi dirimu?” omel perempuan itu sambil memeluk leher Hoa Thian-hong kencang-kencang.

“Aku tidak percaya! Siapa orang tuamu? dan siapa pula suhumu!”

“Kecuali kau memang bersungguh hati kepadaku, kalau tidak jangan harap bisa kau selidiki asal usulku!”

“Aku memang bersungguh hati kepadamu kalau aku punya sedikit rasa cinta yang palsu maka aku akan….”

Belum habis ia berkata pemuda itu membungkam dan tidak meneruskan kata-katanya lagi.

Giok Teng Hujien mengempit sepasang kaki Hoa

Thian-hong erat-erat, serunya manja, “Kau akan kenapa? Kenapa tidak kau teruskan sumpahmu?”

“Aku bersungguh hati kepadamu, apakah kau tak tahu apa yang hendak kulakukan jika aku bersungguh hati kepadamu?”

“Kalau kau bersungguh hati kepadaku, maka selama hidup kita harus seia sekata, sampai rambut putih tak akan berpisah lagi..” Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, dengan gelagapan serunya, “Tetapi diriku sudah bukan menjadi milikku sendiri…..

Tiba-tiba terdengar seseorang mendengus dingin, disusul suara teriakan gusar dari Soat-jie si rase salju itu berkumandang di angkasa.

“Giok Teng Hujien berdua amat terperanjat mereka angkat kepala dan memandang ke arah mana berasalnya suara dengusan tadi, tampaklah sesosok bayangan tubuh dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur datang dan segera menyambar pakaian milik Hoa Thian-hong.

Soat-jie si rase Salju dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menerjang datang, namun tubrukannya mengenai sasaran kosong.

Hoa Thian-hong jadi gelisah bercampur malu, bukan saja malu karena perbuatannya yang tak senonoh ketahuan orang, yang paling menggelisahkan adalah kitab catatan Ci yu jit kiat tersebut berada di dalam saku bajunya yang disambar orang.

Dalam gugup dan cemasnya ia membentak keras, tubuhnya meloncat empat tombak ke depan dan segera menerjang ke arah bayangan manusia itu.

“Binatang…. sungguh besar nyalimu!” maki seorang perempuan tua yang serak dengan suara lantang.

Ploook….! Sebuah gaplokan nyaring bersarang telak di atas pipi Hoa Thian-hong, membuat tubuhnya terlempar sejauh delapan depa ke belakang dan jatuh berguling di atas pantai berpasir, pipi kirinya terasa panas gatal dan sakitnya bukan kepalang.

“Adik Hong…..” seru Giok Teng Hujien dengan nada kuatir.

“Cici, cepat berpakaian!” teriak Hoa Thian-hong,

Ketika ia berpaling lagi, tampaklah bayangan manusia di depan, Soat-jie di belakang dua sosok bayangan sudah berlari sejauh puluhan tombak dari tempat semula, di bawah sorot cahaya sang surya tampaklah dua sosok bayangan saling berkejaran dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Dalam pada itu Hoa Thian-hong sempat melihat orang yang memberi pesan sebuah gaplokan kepadanya adalah seorang nenek tua berbaju abu-abu yang membawa sebuah tongkat di tangan dan rambutnya telah beruban semua, tanpa berpikir panjang dia kenakan sepatunya dan segera mengejar dari belakang.

“Adik Hong, tunggu sebentar!” teriak Giok Teng Hujien.

“Aku hendak menangkap penjahat itu…..” jawab Hoa Thian-hong keras-keras.

Walaupun Giok Teng Hujien tidak ingin nenek tua itu berhasil meloloskan diri, namun diapun merasa tak leluasa untuk mengejar musuhnya dalam keadaan telanjang bulat, setelah pakaian dikenakan bayangan tubuh dua orang manusia dan seekor binatang itu sudah berada jauh sekali.

Dengan sekuat tenaga Hoa Thian-hong mengejar dari belakang, akan tetapi bukan saja ia gagal untuk menyusul orang itu bahkan jaraknya kian lama kian tertinggal makin jauh, ia jadi malu bercampur gusar dengan sekuat tenaga tubuhnya berlari makin kencang.

Pantai di sekitar propinsi Ci-tang lebih banyak pantai berkarang dari pada pantai berpasir, setelah berlarian beberapa saat lamanya tiba-tiba mereka berlari menuju ke balik punggung bukit yang ada di dekat pantai, pada saat itulah nenek tua itu telah menghentikan larinya dan sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan rase salju tersebut.

“Aaah… Soat-jie benar-benar luar biasa,” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.

Laksana kilat tubuhnya segera menerjang ke depan, teriaknya, “Soat-jie, perketat seranganmu!”

“Huuuh……. sana, perketat seranganmu di dalam laut!” bentak nenek tua itu dengan nyaring.

“Bersamaan dengan selesainya ucapan itu terdengar Soat-jie menjerit kesakitan, tubuhnya berjumpalitan di udara dan badannya segera terlempar dari atas tebing langsung tercebur ke dalam laut. Saking terperanjat, Hoa Thian-hong sampai menjerit kaget, dengan cepat dia mengerem tubuhnya dan menghentikan gerakan badannya.

Dia tahu sampai dimanakah lihainya Soat-jie makhluk aneh tersebut, kecuali menghadapi ilmu silat seperti yang dimiliki Yan-san It-koay, terhadap orang-orang yang punya kepandaian lebih cetek tentu tak akan berhasil merubuhkan binatang itu dengan gampang.

Sorot matanya segera dialihkan ke arah depan, kurang lebih dua tombak dihadapannya berdirilah satu orang, dia bukan lain adalah seorang nenek tua berambut putih dan memegang tongkat berkepala hong di tangannya.

Sambil mengetuk toyanya ke atas tanah, nenek tua berbaju abu-abu itu membentak gusar, “Telur busuk cilik, ayoh cepat menggelinding kemari!”

“Mau apa menggelinding disitu?” Hoa Thian-hong balik bertanya dengan hati mendongkol.

Sambil menjawab biji matanya berputar terus memandang sekeliling tempat itu, dia lihat Soat-jie telah berenang ke pantai dan ketika itu sedang mencari jalan untuk mendaki tebing tersebut.

Tampaklah sang nenek tua sambil mengibarkan pakaian dari Hoa Thian-hong berseru kembali, “Kenapa? Kalau tak bisa kalahkah aku, pakaian ini jangan harap bisa kau minta kembali!” Hoa Thian-hong merasa amat jengah sekali, dia sadar bahwa ilmu silatnya masih bukan tandingan lawan, pikirnya di dalam hati, “Lebih baik aku mengulur waktui beberapa saat lagi, asal cici dan Soat-jie sudah tiba semua disini rasanya waktu itu kekuatan kami cukup untuk merampas kembali pakaian tersebut, cuma…entah kitab catatan Ci yu jit ciat masih utuh atau tidak?”

Dalam hati ia berpikir, sedang diluaran pemuda itu sengaja berjongkok dan pura-pura membetulkan sepatunya, menggunakan kesempatan itu dia melirik ke belakang, serunya lantang, “Usiamu sudah amat besar, aku tak sudi berkelahi dengan dirimu”

Wajah nenek tua berbaju abu-abu itu sudah penuh berkerut, giginya telah ompong dan usianya sekitar sembilan puluh tahun lebih, namun semangatnya masih menyala dan sifat berangasannya masih berkobar.

Ia segera mendengus dingin, sambil mengetuk toyanya ke atas tanah bentaknya, “Hmm! Kalau begitu, Nih, ambillah pakaianmu di dalam lautan…” tangannya diayun dan jubah luar tersebut segera dilempar ke bawah tebing karang.

Hoa Thian-hong terkejut, dia takut kitab catatan Ci Yu jiat yang berada di sakunya basah dan hancur, tidak perduli diri lagi ia ikut meloncat dan berusaha menghalangi perbuatan nenek tua itu, teriaknya keras- keras, “Di dalam saku ada…”’ “Heeeh….heeeh…telur busuk ci1ik, aku harus baik-baik mendidik dirimu!” seru nenek baju abu-abu sambil tertawa seram.

Tanpa kelihatan gerakan apakah yang telah dipergunakan, sekali sambar ia sudah tangkap pinggang Hoa Thian-hong Kemudian sambil mengempit di bawah ketiak ia kabur dari situ.

Hoa Thian-hong yang gagal menyambar pakaiannya seketika merasakan pinggangnya jadi kaku dan seluruh tenaganya musnah dan tak mampu dipergunakan lagi, dari tempat kejauhan ia masih sempat mendengar teriakan dari Giok Teng Hujien, namun pemandangan di sekelilingnya sudah tidak nampak jelas lagi sebab gerakan tubuh nenek itu cepatnya bukan kepalang.

Pemuda itu bermaksud mengerahkan hawa murninya dan coba membebaskan jalan darah yang tertotok, akan tetapi setiap saat hawa murninya gagal untuk dihimpun kembali.

Sungguh cepat perakan tubuh nenek tua itu, dia lari menuju ke arah Barat dengan kecepatan bagaikan kilat, ada jalan atau tidak, tanah berbukit atau mendatar ia melakukan perjalanannya tanpa berhenti atau lambat barang sedikitpun jua.

Kurang lebih dua jam kemudian nenek tua baju abu- abu itu baru menghentikan langkah kakinya, ia lempar tubuh Hoa Thian-hong ke atas sudut batu besar dan ia sendiripun duduk disisinya. Hoa Thian-hong merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, matanya berkunang-kunang dan dadanya sesak sekali. Setelah beristirahat sebentar ia baru mampu menenangkan diri.

Ketika tangan dan kakinya digerakkan, ternyata jalan darah yang tertotok telah bebas dengan cepat pemuda itu loncat bangun dan memandang keadaan di sekeliling tempat itu.

“Ayoh berlutut!” bentak si nenek tua dengan suara keras, kau pingin digebuk?”

Hoa Thian-hong gugup sekali, lututnya jadi lemas dan hampir saja ia jatuhkan diri berlutut, tapi semangat dan keberaniannya muncul kembali, sambil busungkan dada ia menjura, katanya sambil tertawa paksa, “Siapakah nenek? Selamanya aku tak pernah berlutut dihadapan orang jahat!”

“Setan bangor cilik!” bentak nenek tua itu dengan mata melotot dan mengetukkan tongkatnya ke atas tanah, “kau bukan orang baik-baik, kalau kau tak mau berlutut lagi jangan salahkan kalau akan kuberi persen sebuah tempelengan lagi!”

“Sekalipun Yan-san It-koay, dia tak akan memukul diriku dengan begitu saja, sungguh kukoay nenek tua itu,” batin Hoa Thian-hong di dalam hati kecilnya.

Karena keder tanpa terasa pemuda itu jatuhkan diri berlutut, serunya, “Nenek sudah lanjut usia, asal engkau bukan orang jahat hamba suka berlutut dihadapanmu!” “Huuuh…..! bermulut manis dan pandai cari muka….. kau memang hidung bangor cilik!”

Nenek itu melengos dan segera berpaling ke arah lain.

Ketika menyaksikan nenek tua itu seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, diam-diam Hoa Thian-hong merangkak bangun, tapi belum sempat pemuda itu berdiri tegak, nenek tua itu sudah berpaling sambil membentak gusar, “Hidung bangor, kau benar-benar ingin digebuk?”

“Heeh….heeeh…heeeh …orang tua….”

Bayangan manusia berkelebat lewat, nenek tua itu sudah menyambar datang sambil menghadiahkan pula sebuah tempelengan.

Buru-buru Hoa Thian-hong tarik pinggang mengegos ke samping, dengan suatu gerakan yang manis ia meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Rupanya si nenek tua itu telah memperhitungkan jalan mundur Hoa Thian-hong, telapak tangannya kembali bergerak dan tepat persis bersarang di atas pipi kanan si anak muda itu!

Ploook…..! Hoa Thian-hong merasa pandangan matanya berkunang-kunang, kepalanya pusing tujuh keliling dan mundur empat langkah ke belakang dengan sempoyongan. Sungguh cepat gerakan tubuh nenek tua itu, setelah menggaplok pemuda itu dengan cepatnya pula ia telah duduk kembali di tempat semula, sambil tertawa dingin serunya, “Telur busuk cilik, bapakmu pun akan tunduk kepala seratus persen kalau bertemu dengan aku, seberapa besar sih usiamu? Berani benar berlagak sok dihadapanku…. Hmm hayo cepat berlutut, kalau tidak jangan salahkan kalau kugebuk dirimu sampai modar”

Hoa Thian-hong tertegun, kemudian jatuhkan diri berlutut ke atas tanah, dengan wajah merengek serunya, “Sejak tadi aku sudah tahu kalau nenek adalah seorang angkatan tua yang terhormat kalau tidak jiwamu tentu sudah melayang sejak tadi!”

Dia meraba pipinya yang kena digaplok, terasa panas menyengat badan tapi untung tidak sampai membengkak.

Nenek tua baju abu-abu itu mendengus dingin. “Hmmmmm..! Hidung bangor kecil…” makinya, setelah

berhenti sebentar dengan mata melotot kembali ia berseru, “ayoh, mengaku sendiri, lain kali berani tidak main perempuan dan mencari iseng di tempat luaran lagi….?”

“Aku penasaran…..teriak Hoa Thian-hong dengan wajah merah padam karena jengah.

“Kurang ajar!” bentak nenek baju abu-abu sambil mengetukkan toyanya ke tanah, “tanpa angin tak akan timbul gelombang, kalau engkau bersikap jujur dan gagah, mana orang lain akan tebalkan muka untuk menggoda dirimu lebih dulu?”

Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong tertegun, lalu pikirnya, “Masuk diakal juga perkataan itu, benda pasti akan membusuk lebih dulu sebelum keluar ulatnya, jika aku sopan dan pakai aturan maka sekalipun orang lain ada maksud juga tak akan berani diutarakan keluar……”

Berpikir demikian ia jadi terkesiap, dengan wajah serius ujarnya, “Hamba tahu salah, lain kali aku tidak berani bermain kotor lagi dengan kaum wanita….”

“Tahu salah harus dirubah, dengan begitu kebenaran baru bisa dicapai, untuk kali ini aku ampuni kesalahanmu itu!” seru sang nenek dengan air muka yang jauh lebih lunak. “lain kali kalau kau berani melanggar lagi akan kusuruh ibumu untuk mendidik sendiri, akan kulihat apa yang akan dilakukan olehnya terhadap dirimu?”

“Oooooh……! Nenek kenal dengan ibuku? Seru Hoa Thian-hong dengan mata melotot.

“Hmmm! omong kosong….”

Ketika pertama kali kebentur batunya Hoa Thian-hong merasa mendongkol dan jengkel seka1i, tetapi sekarang setelah dia tahu kalau nenek itu adalah sahabat ibunya, ia langsung tersudut dan tak berani berkutik lagi, terpaksa dengan wajah cengar-cengir ia maju beberapa langkah ke depan berkata sambil tertawa, “Orang tua bagaimanakah sebutanmu? Beberapa waktu mendekati ini apakah engkau telah berjumpa dengan ibuku?”

Rupanya nenek tua ini lunak tak doyan keraspun tak suka, mendengar perkataan itu dengan gusar segera bentaknya, “Kau tak usah banyak cerewet, otakmu penuh dengan permainan busuk dan pikiran yang nyeleweng, kapan kau pernah ingat ibumu lagi?”

Dia angkat kepala memandang sang surya yang telah condong ke barat, tambahnya, “Ayoh cepat mencari makanan, kalau sampai terlambat hati-hati dengan kakimu, kugebuk sampai kutung!”

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan Hoa Thian- hong selalu punya hubungan luas dengan para jago Bulim terutama beberapa saat belakangan dia selalu dianggap sebagai pemimpin dari golongan kekuatan baru, ini hari setelah digampar orang tanpa sebab hatinya panas dan mendongkol sekali, tapi pemuda itu cerdik dan tahu gelagat, dia sadar bahwa nenek tua ini punya asal usul yang besar, meskipun lagaknya sok sekali akan tetapi sama sekali tiada maksud jahat terhadap dirinya.

Karena itu setelah termenung sebentar akhirnya ia menahan sabar dan segera berlalu dari situ.

Diarah sebelah Barat laut terdapat serentetan rumah penduduk, rupanya seperti sebuah dusun kecil, cepat Hoa Thian-hong lari menuju ke dusun tersebut, belum jauh dia lari tiba-tiba pemuda itu merasa dandanan sendiri lucu sekali, bukan saja pakaian luarnya tak ada sepatu yang dipakai cuma sebelah, maka dilepaskan sepatu yang tinggal satu satunya itu kemudian meneruskan perjalanan dengan kaki telanjang.

Setelah hampir masuk dusun, Hoa Thian-hong baru teringat kalau dalam sakunya tak ada uang sebab bajunya telah dibuang ke laut, pikirnya, “Sekarang aku tak punya uang untuk membeli makanan, apa daya?

Apakah aku musti mencuri? Atau menodong?”

Sambil berkata tanpa terasa ia telah mengelilingi dusun itu satu kali, dusun yang terdiri dari sebuah jalan raya belaka itu hanya mempunyai sebuah rumah makan saja di ujung jalan, pemuda itu segera berpikir, “Para hweesio saja dapat mencari makan dimana-mana, kenapa aku tidak berusaha mencobanya? Bagaimanapun toh aku tak boleh mati kelaparan, Yaah……. rupanya aku terpaksa tebalkan muka untuk makan gratis….”

Setelah ambil keputusan, ia segera melangkah masuk ke rumah makan itu.

Pelayan di pintu nampak tertegun dan berdiri melongo ketika menyaksikan Hoa Thian-hong dengan dandanan seperti pengemis masuk ke dalam rumah makannya, dengan suara ragu-ragu ia berseru, “Saudara adalah…….”

Orang-orang dusun seperti itu adalah orang yang menghargai pakaian tidak menghargai orangnya, melihat dandanan Hoa Thian-hong yang tidak karuan itu timbullah rasa sangsi dan curiga di dalam hatinya. “Bocah bagus… rupanya kau barusan mencari perempuan dan pulang kesiangan… haaah haaah…lain kali kau musti tahu diri,” tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dengan suara lantang.

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, gelak tertawa segera meledak memenuhi seluruh ruangan.

Hoa Thian-hong sangat gusar, dia berpaling ke arah mana berasalnya suara tertawa itu, tampaklah pada meja makan sebelah kanan duduk tiga orang toojin berusia pertengahan yang menyoren pedang di punggung, orang yang barusan bicara adalah toojin yang duduk ditengah, gelak tertawa mereka bertiga pula yang kedengaran paling keras.

Terdengar toojin yang berada di sebelah kirinya ikut menimbrung sambil tertawa.

“Ngo Seng memang hebat sekali, rupanya tebakanmu tepat, coba lihat di atas pipinya terdapat lima buah bekas cakar yang nampak jelas sekali!….”

Gelak tertawa yang amat nyaring kembali berkumandang memecahkan kesunyian.

Hoa Thian-hong merasa gelak tertawa yang muncul dari samping kiri nyaring dan amat memekikkan telinga, jelas suara tertawa itu dipancarkan oleh seseorang yang memiliki tenaga dalam sangat lihay, tampak di meja makan sebelah kiri dekat pintu, duduklah empat orang pria, dua orang kakek berjubah warna hitam dan dua orang lainnya pria kekar berpakaian ketat, keempat orang itu sama-sama menggembol senjata.

Ketika itu Sang surya telah condong ke barat dan merupakan waktu orang mencari penginapan, ruangan rumah makan boleh dibilang penuh dan sebagian besar telah terisi oleh tamu.

Kecuali dua rombongan tersebut, para tamu lainnya rata-rata berdandan pedagang atau pekerja kasar, Hoa Thian-hong dengan sorot mata yang tajam segera menyapu sekejap seluruh ruangan itu, mendadak ia tertegun dan hampir saja berseru tertahan.

Kiranya di sudut ruangan duduklah seorang dara baju kasar yang memiliki kecantikan wajah yang luar biasa, Hoa Thian-hong bukan hidung bangor tapi setelah menemui gadis cantik itu dia nampak begitu terkejut dan kaget hal ini menunjukkan bahwa gadis itu luar biasa sekali.

Tidak Salah, dari raut wajah dan potongan badannya gadis itu ternyata mirip sekali dengan Pek Kun-gie, hanya saja gadis ini jauh lebih tenang kalem, halus dan sederhana.

Waktu itu dengan kepala tertunduk dara itu sedang menikmati bakmi dihadapannya, terhadap gelak tertawa yang memenuhi seluruh ruangan bukan saja tidak ambil perduli bahkan bersikap seolah-olah tidak melihatnya. Mula-mula Hoa Thian-hong tertegun, kemudian satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera dapat menduga siapakah dara itu.

Entah apa sebabnya tiba-tiba pemuda itu merasa tersipu-sipu dan menyesal sekali mengapa masuk ke rumah makan dengan potongan badan yang tidak karuan.

Tiba-tiba terdengar toojin berusia pertengahan yang duduk di tengah itu berseru kembali, “Keparat, melihat Wanita cantik sepasang matanya langsung terbelalak lebar, rupanya dia memang benar-benar seorang manusia hidung bangor!”

Hoa Thian-hong teramat gusar sekali ketika dilihatnya orang-orang itu sebentar memandang ke arahnya sebentar lagi melirik ke arah dara cantik itu dengan wajah penuh ejekan, diam-diam dia menyumpah, “Tosu bajingan, kalian memang punya mata tak berbiji……”

Teringat akan gamparan yang diterimanya hari ini, rasa mendongkol yang selama itu masih berkecamuk di dadanya segera disalurkan ke arah toojin berusia pertengahan itu, dalam hati timbullah rencana untuk memberi ganjaran kepada tosu tadi.

Tepat di depan pintu masih ada meja kosong, setelah melirik sebentar pemuda itu segera maju ke depan dan duduk dengan membelakangi pintu.

Rupanya sang pelayan juga tak tahu diri, dengan wajah cengar-cengir penuh ejekan dia menghampiri pemuda itu sambil bertanya, Tuan, apakah engkau juga akan minum arak?”

“Bawa dulu secawan air teh!” jawab Hoa Thian-hong sambil menahan hawa marahnya.

Melihat si anak muda itu adalah sasaran bahan tertawa bagi semua orang, mendengar pula logatnya berasal dari luar daerah, timbul pula niat pelayan itu untuk menggoda, dengan suara keras sengaja ia berteriak, “Ambilkan secawan air teh, air teh itu untuk kongcu yang sedang ketimpa kesusahan, kalau bisa cari yang dingin….”

“Budak tak tahu diri!” sumpah Hoa Thian-hong di dalam hati, “kau juga berani menggoda diriku, Hmmm….tunggu saja nanti, akan kubereskan pula dirimu!”

Beberapa saat kemudian pelayan telah muncul dengan membawa sepoci air teh dingin, sambil siapkan cawan dan sumpit sambil tertawa cengar-cengir ujarnya lagi, “Kongcu ya, rupanya kau baru saja mengalami perampokan, kau hendak pesan apa?”

Sambil berkata, biji matanya dengan tajam menyapu seluruh tubuh Hoa Thian-hong, rupanya dia sedang memperingatkan kepada pemuda itu kalau di sakunya tak ada uang.

Hoa Thian-hong mendengus dingin, ia letakkan poci air teh itu di tengah meja, cawan didekatkan dengan mulut poci lalu mengambil sebatang sumpit dan ditancapkan di dalam cawan tersebut. Sungguh aneh sekali, sumpit itu seakan-akan menancap di dalam hiolo saja ternyata berdiri tegak dan sama sekali tidak goyang.

Dalam sekejap mata ketiga orang toojin berusia pertengahan maupun dua orang kakek baju hitam dan dua orang pria berpakaian ketat itu berubah air muka, suasana jadi hening dan sunyi hingga tak kedengaran sedikit suarapun.

Haruslah diketahui demonstrasi mengerahkan tenaga dalam ke tubuh sumpit itu sehingga dapat berdiri tegak di dasar cawan tak bisa dilakukan oleh setiap orang dengan mudah, namun Hoa Thian-hong bisa melakukannya dengan gampang dan tak berbekas, kejadian ini benar-benar luar biasa sekali.

Tetapi yang terutama adalah kode rahasia yang diperlihatkan si anak muda itu, membuat orang merasa tercengang dan sama sekali diluar dugaan.

Para pelancong dan pedagang yang hadir pula dalam rumah makan itu meskipun bingung dan tak habis mengerti, tetapi merekapun tahu kalau Hoa Thian-hong adalah se orang jago kangouw, untuk sesaat suasana ia di hening tak kedengaran sedikit suarapun, berpuluh- puluh pasang mata sama-sama dicurahkan ke arah pemuda itu.

Tampak Hoa Thian-hong membuka penutup poci air teh tadi kemudian mengetuk tubuh poci itu perlahan. Traaang…traang…traaang…! bunyi nyaring yang bening dan merdu berkumandang keluar dari balik poci porslen yang kecil, ketika tersebar di udara suara tersebut kedengaran bagaikan bunyi lonceng kuil tosu yang berdentang nyaring.

Semua hadirin terkesiap dan duduk dengan mata terbelalak mulut melongo, perhatian mereka semua terhisap oleh demonstrasi permainan yang aneh itu, bahkan dara cantik itupun menghentikan sumpitnya dan alihkan sepasang matanya yang bulat besar ke arah poci air teh tadi.

Hoa Thian-hong berlagak bodoh, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun, ia berpaling ke arah sang pelayan yang telah pucat pias bagaikan mayat itu sambil berseru, “Tong thian It cuhiang, kau mengerti?”

“Hamba mengerti…. hamba mengerti… Kongcu ya mau apa?” tanya pelayan dengan gemetar.

“Hmm! Siapkan empat macam sayur yang paling lezat, nasi, arak wangi dan siapkan di atas nampan”

Pelayan itu mengiyakan berulang kali, dengan badan masih gemetar buru-buru dia ngeloyor ke dapur.

Tiba-tiba ketiga orang toojin berusia pertengahan itu saling bertukar pandangan sekejap kemudian bangkit berdiri dan maju menghampiri Hoa Thian-hong.

Setelah tiba dihadapan pemuda itu, mereka berdiri berjejer dengan toojin yang disebut Ngo suheng berada ditengah, sambil silangkan telapak di dada memberi kode rahasia ia berkata, “Siapakah nama sahabat? Apakah baru saja masuk menjadi anggota perkumpulan?”

“Aku tak boleh berbuat bodoh, kalau tidak tingkah lakuku pasti akan jadi bahan tertawaan di dalam Bulim” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.

Bukan menjawab dia segera balik bertanya, “Bagaimana sebutan kalian dengan Thian Seng Tootiang?”

“Dia adalah susiok pinto bertiga!”

Dengan wajah serius Hoa Thian-hong mengangguk.

“Ehmm……. jadi kalian adalah anak murid dari kaucu?”

Toojin itu membenarkan, ia menyahut, “Pinto bertiga adalah anak murid dari kaucu, sahabat, engkau mendapat penghormatan di sektor mana?”

“Tak usah banyak bertanya,” tukas pemuda itu sambil goyangkan tangannya, “Thian Seng tootiang menyebut saudara dengan aku, bila kalian tahu salah, ayoh cepat bayar rekening kalian dan cepat pergi!”

“Ngo suheng, dia tentu orang gadungan yang mengaku-ngaku saja!” teriak Toojin di sebelah kiri mendadak.

Toojin yang ada di tengah mendengus dingin, ia memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong lalu berkata, “Sahabat, kalau engkau tak mau menerangkan asal usulmu lagi, jangan salahkan kalau pinto akan kurang sopan terhadap dirimu!”

“Huuuuh,..! Sejak tadi kau sudah tak tahu sopan, dosa kalian musti dihukum….. ayoh jalankan hukuman sendiri daripada aku musti repot!”

Criiiiing….! Ketiga orang toojin itu mencabut keluar pedangnya dan segera menyebarkan diri, dengan membentuk posisi segitiga mereka tutup jalan mundur si anak muda itu.

Suara hiruk-pikuk memecahkan kesunyian, para tamu yang sekeliling tempat itu sama-sama bangkit dari tempat duduknya dan mundur ke belakang, hanya empat pria baju hitam serta gadis cantik itu saja yang masih tetap duduk tak berkutik di tempat semula.

Sikap Hoa Thian-hong tenang sekali, ia duduk tak berkutik di tempat semula dan sama sekali tidak berpaling ke sekeliling tempat itu, ujarnya, “Aku pernah menyaksikan suatu barisan yang disebut Sam Seng Bu- kek-tin, apakah kalian juga bisa menggunakannya?” 

Barisan Sam Seng Bu-kek-tin adalah barisan yang diwariskan Kiu-tok Sianci kepada tiga harimau dari keluarga Tiong, ilmu simpanan dari wilayah Biau itu jarang ditemui dalam Bulim, tiga orang toojin tersebut segera mengira kalau mereka sedang diejek, hawa amarah kontan berkobar dan nafsu membunuh tak terkendalikan lagi, Toojin yang berdiri di depan pintu tiba-tiba membentak keras, pedangnya digetarkan ke udara menciptakan berpuluh-puluh buah titik cahaya bintang yang mana langsung menusuk tulang punggung si anak muda itu.

Hoa Thian-hong menjengek sinis, tubuhnya sama sekali tidak goyah dari tempat semula, menanti ujung pedang hampir menyentuh tulang punggungnya ia gerakkan lengan dan tiba-tiba mengirim satu pukulan ke belakang.

Selama setahun dua tahun ke belakangan ini, dia selalu tekun memperdalam jurus pukulan ‘Kun-siu-ci- tauw’ nya, terhadap penggunaan jurus pukulan tersebut boleh dibilang sudah hapal dan matang sekali, serangan yang dilancarkan barusan bukan saja hebat bahkan tepat mengarah kedada musuh.

Tatkala Toojin itu menyaksikan ujung pedangnya sudah hampir menyentuh tubuh lawan namun pihak musuh tidak menunjukkan reaksi apapun, ia merasa terkejut bercampur girang, hawa murninya segera disalurkan keluar dan sekuat tenaga dia dorong pedangnya menusuk ke depan.

Tiba-tiba segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak disamudra meluncur ke muka, pedang dalam genggamannya segera bergetar keras, bukan saja tusukannya menceng setengah depa ke samping bahkan kuda-kudanya gempur dan badan Toya terjerumus ke depan langsung menumbuk bahu kanan pemuda lawannya. Ketika pertama kali Hoa Thian-hong berjumpa dengan Ciu It-bong, kakek telaga dingin pernah menyapu salju membentuk tiang salju yang berpusing di udara sehingga mengejutkan hatinya, jurus yang pernah dipergunakan oleh Ciu It-bong itu sekarang dipergunakan olehnya, semua inti kebagusan dan kehebatan dikeluarkan membuat pukulan itu bukan saja nampak aneh dan membingungkan bahkan bila seseorang tak punya kepandaian yang lihay, tentu tak akan tahu dimana letak kelihayan dari serangan tersebut.

Bentakan keras bergema memecahkan kesunyian, cahaya kilat menyambar lewat, dua bilah pedang bersama-sama meluncur datang, satu dari kiri yang lain dari kanan.

Semangat Hoa Thian-hong berkobar, tangannya berputar mencengkeram pergelangan tangan toojin yang ada di belakang tubuhnya, sekali ayun pedang tersebut segera menangkis ancaman dari sebelah kanan, tangan kiri diayun mengirim pula satu pukulan ke depan.

Traaang…! bentrokan keras terjadi menimbulkan suara dentingan yang nyaring, percikan bunga api muncrat keempat penjuru dan kedua bilah pedang itu sama-sama tergetar patah.

Semua peristiwa terjadi dalam sekejap mata, serangan Hoa Thian-hong mencekal pergelangan musuh, dengan pedang lawan memukul kutung pedang lawan semuanya dilakukan dalam sekali gerakan, dibalik serangan membawa pula pertahanan yang kuat dan rapat, tahu- tahu telapak kirinya telah menyampok miring pedang toojin yang lain kemudian merampas gagang pedangnya dengan jitu.

Bagaikan sukmanya melayang tinggalkan, segera dengan ketakutan ketiga orang toojin itu loncat mundur ke belakang, andaikata di belakang bukan membentur dinding tembok mungkin mereka akan mundur lebih jauh lagi ke belakang….

Hoa Thian-hong tertawa dingin, cengkeramannya pada seorang toojin yang kena ditangkap makin dipererat, telapak kirinya diayun siap menampeleng orang itu, tapi ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya, ia berpikir, “Ketiga orang ini tidak lebih cuma anak murid dari Thian Ik si tosu tua itu. ilmu silat mereka tak bisa menangkan diriku, kenapa aku musti gaplok mereka?”

Sambil lepaskan celananya dia lantas membentak, “Bayar rekening kalian dan cepat enyah dari sini, lain kali kalau berani bicara sembarangan lagi…. Hmmm! lihat saja, akan kucabut jiwa kalian semua!”

Dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, ketiga orang toojin itu saling berpandangan sekejap, tiba-tiba tooin di tengah melemparkan sekeping uang perak ke atas meja kemudian putar badan dan kabur dari situ.

“Hay, masih ada uang arakku!” bentak Hoa Thian- hong.

Toojin yang mencekal pedang itu berjalan paling belakang, belum sempat tubuhnya melangkah keluar dari pintu telinganya terasa mendengung keras, dengan ketakutan dia melemparkan sekeping uang kemeja dan buru-buru ikut kabur dari situ.