Bara Maharani Jilid 20 : Mencari Giok Teng Hujien

 
Jilid 20 : Mencari Giok Teng Hujien

Hoa Thian-hong tertawa dingin. “Heeeh… heheh, baiklah, memandang di atas ucapanmu barusan kau boleh segera melancarkan serangan, bila jiwamu sudah terancam mara bahaya nanti. aku orang she-Hoa bisa melaksanakan kebijaksanaan mendiang ayahku untuk memberi satu jalan kehidupan bagimu.” Yan-san It-koay seketika itu juga naik pitam, satelah mendengar perkataan itu dia tertawa seram, dia menerjang maju kemuka, telapaknya diayun mengirim satu pukulan dahsyat ke depan.

Terdengar Hoa In membentak keras, tubuhnya bergerak maju ke depan, telapaknya berputar dan mencegah datangnya ancaman tersebut.

Gerakan tubuh kedua orang itu sama-sama enteng dan cepat laksana sambaran petir, sebaliknya gerakan dari Hoa Thian-hong tetap tenang dan mantap, tampak kaki kirinya melangkah ke samping dan bergeser ke sisi sebelah kiri manusia aneh dari gunung Yan-san itu, pedang bajanya membabat datar dan……

Sreeet! dia bacok pinggang tawan.

Terkesiap hati Yan-san It-koay menyaksikan kejadian itu, dia bukan kaget karena ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong amat lihay, juga bukan karena tenaga dalamnya yang menggetarkan hati di ujung pedang itu, melainkan caranya dia membacok yang memakai gerakan begitu sederhana serta lama sekali terbuka itu.

Haruslah diketahui enam belas jurus ilmu pedang yang diwariskan kepada si anak muda itu merupakan hasil ciptaan dari Hoa Goan-siu dengan dasar seluruh kepandaian silat yang pernah dipelajarinya sepanjang hidup perubahan yang terselip dibalik gerakan-gerakan sederhana itu demikian sulit dan kaburnya, Sehingga Hoa Thian-hong sendiripun tak mampu mengartikannya keluar.

Tetapi berhubung ilmu pedang itu dilatih setiap hari dan bertahun-tahun lamanya, maka mengikuti perkembangan tenaga dalam yang berhasil dia yakin, inti sari dari ilmu pedang itupun terbentuk dengan sendirinya mengikuti semakin sempurna dia mainkan jurus-jurus tersebut, sepintas lalu kelihatan jurus serangan itu sama sekali tak berubah namun perubahan sakti yang menyertainya ternyata jauh berbeda.

Yan-san It-koay adalah seorang jago kawakan yang sangat berpengalaman, dari gerakan jurus pedang baja itu dia sadar bahwa serangan itu sulit dipunahkan dengan mudah. Sebetulnya dia hendak menggunakan cara keras lawan keras untuk memaksa Hoa Thian-hong tarik kembali serangannya guna melindungi keselamatan sendiri, tetapi Hoa In adalah musuh tangguh yang membutuhkan delapan bagian tenaga dalamnya untuk dihadapi, kalau tidak dia akan didahului oleh lawannya dan terdesak dibawah angin.

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia gunakan serakan tubuh yang cepat hingga sukar diikuti dengan pandangan mata untuk bergeser keluar dan gencatan serangan gabungan kedua orang itu, dalam gugupnya jari tangan laksana tombak langsung menyodok iga kiri si anak muda itu.

Sejak meninggalkan markas besar perkumpulan Sin- kie-pang, Hoa Thian-hong selalu melayani musuh- musuhnya dengan serangan tangan kiri, latihannya yang tekun selama dua tahun membuat jurus ‘Kun-siu-ci-tauw’ tersebut berhasil dilatih hingga matang benar-benar, bukan saja gerakannya semakin leluasa bahkan tekanan yang dilancarkanpun jauh lebih hebat. Setiap kali ada musuh menyerang dari sebelah kiri, secara otomatis telapak kirinya bergerak untuk menyambut datangnya ancaman itu.

Baru saja totokan jari Yan-san It-koay meluncur ke depan, tiba-tiba Hoa Thian-hong mengayunkan telapaknya pula untuk membendung datangnya ancaman itu.

Serangan yang dilancarkan pada saat yang bersama ini nampaknya akan mengakibatkan kedua belah pihak sama-sama menderita luka parah. pada saat yang kritis itulah buru-buru manusia aneh dari gunung Yan-san itu tarik mundur tubuhnya ke belakang sambil menarik dada kesamping, pikirnya dalam hati, “Keparat cilik! Kau benar-benar merupakan suatu ancaman yang amat berbahaya”

Dalam hati berpikir demikian, diluar segera teriaknya, “Bocah cilik, kau memang cerdik!”

Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, baru saja tubuh mereka bertiga mengumpul jadi satu segera berpisah kembali ke arah belakang, deru angin pukulan yang santar menderu-deru dan memenuhi seluruh angkasa.

Pertempuran yang berlangsung saat ini jauh berbeda dengan pertarungan masalah belum lama berselang tampak tiga sosok bayangan manusia berkelebat bagaikan kilat, mereka saling sambar menyambar tiada hentinya, sebentar berkumpul dan sebentar terpisah kembali…hawa membunuh tersebar diseluruh angkasa. siapapun kurang waspada niscaya tubuhnya akan menggeletak di atas tanah dengan berlumuran darah.

Pada permulaan berlangsungnya pertarungan itu Hoa In masih menguatirkan keselamatan dari majikan mudanya. tetapi setelah bertempur beberapa saat lamanya dan melihat Hoa Thian-hong tetap tenang bagaikan bergerak laksana gulungan ombak di tengah samudra, bahkan kegagahan serta keangkerannya jauh melebihi dirinya, tanpa sadar rasa percayanya pada kekuatan pemuda itu semakin bertambah tebal, tanpa dibebani rasa kuatir atau sangsi lagi dia bisa melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga dan bebas leluasa.

Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertarungan yang mendebarkan hati, semua penonton disisi gelanggang tanpa terasa pada menahan napas, Thian Seng-cu serta Ho Kee-sian sekalian yang merupakan jago kawakan dengan pengalaman yang luas setelah menyaksikan beraneka ragamnya ilmu silat yang dimiliki Yan-san It-koay serta Hoa In dan menjumpai pula kemantapan serta keampuhan ilmu pedang yang dimiliki Hoa Thian-hong, diam-diam merasa terkesiap dan menghela napas tiada hentinya.

Sementara itu ketika Hoa In menyaksikan pertarungan itu makin lama berlangsung, menang kalah semakin sulit ditentukan batinya mulai jadi gelisah, ia segera teringat kembali akan kegagahan majikan tuanya dimasa lampau, darah panas segera bergolak di dalam dada menimbulkan rasa sedih, gusar serta kesal yang sudah berkecamuk sejak tadi. jurus serangan yang dilancarkan makin lama semakin ganas dan telengas dia mulai banyak menyerang dari pada melakukan pertahanan.

Yang paling penting dalam ilmu silat tingkat tinggi adalah ketenangan jiwa yang mantap. setelah pikiran Hoa In terpengaruh oleh angkara murka walaupun Yan- san It-koay seketika terjerumus dalam posisi yang kritis dan berbahaya namun dalam hati kecilnya diam-diam ia malah jadi girang, dia beranggapan justru keadaan inilah akan memberi peluang yang lebih banyak baginya untuk merebut kemenangan.

“Hoa In!” tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras, “musuh besar kita bukan hanya Yan-san It-koay seorang, kau ingin beradu jiwa dengan dirinya??”

Teguran itu bagaikan pentungan yang mendarat di atas kepala segera membuat Hoa In terkesiap hatinya, segera pikirnya, “Aku betul-betul amat tolol, sejak kematian majikan tua semua pengharapan keluarga Hoa telah terjatuh ke atas pundak Siau Koan-jin, aku mana boleh bertindak secara gegabah dengan meninggalkan dia seorang di kolong langit….”

Begitu ingatan tersebut berkelebat di dalam benaknya, dia segera mengekang nafsu angkara murkanya di dalam hati dan situasi pertempuranpun segera berubah kembali jadi mantap dan semakin kokoh. Yan-san It-koay tertawa dingin, serunya, “Hoa Thian- hong, Hoa Goan-siu bisa mempunyai seorang putera macam dirimu sekalipun mati dia bisa mati dengan mata meram!”

Pemuda itu mendengus dingin, sambil pusatkan perhatiannya dia layani serangan-serangan musuh sedang otaknya berputar mencari akal untuk merebut kemenangan. pikirnya dalam hati, “Ilmu Sau-yang-ceng- kie yang diyakini Hoa In sudah mencapai delapan bagian kesempurnaan, aku harus berusaha untuk menyuruh dia bermain petak dengan lawan untuk kemudian memaksa Yan-san It-koay beradu kekerasan dengan dirinya, menggunakan kesempatan yang sangat baik ini aku bisa menghadiahkan pula sebuah tusukan dari arah belakang”

Pertarungan antara jago lihay yang terpenting adalah pusatkan pikirannya menghadapi serangan, setelah pikiran pemuda itu bercabang dalam waktu singkat berulang kali dia menghadapi mara bahaya seandainya Hoa In tidak menolong pada saat yang tepat niscaya dia sudah terluka di ujung telapak manusia aneh dari gunung Yan-san.

Dalam pada itu semangat Yan-san It-koay segera berkobar setelah menyaksikan tenaga tekanan dari pemuda itu kian lama kian merosot dan beberapa kali memperlihatkan lubang kelemahan. sambil memperketat serangan telapaknya dia berseru, “Hoa Thian-hong, benarlah kau hendak beradu tenaga sehingga salah seorang diantara kita menggeletak mati??” Hoa Thian-hong mendengus dingin, tiba-tiba bentaknya keras-keras, “Perketat posisi pertahanan, bendung empat puluh jurus serangannya!”

Sresst! Sreeet! Ia kirim dua babatan kencang dan tiba- tiba loncat keluar dari gelanggang pertarungan Yan-san It-koay jadi tertegun melihat, perbuatan lawannya itu, dia tak tahu apa sebabnya pemuda itu secara tiba-tiba meloncat keluar dari gelanggang dikala pertarungan masih berlangsung dengan serunya.

Meskipun dalam hati kecilnya timbul kecurigaan namun gerakan serangannya sama sekali tidak mengendor, sepasang telapak bagaikan gulungan ombak di tengah samudra menerjang Hoa In tiada hentinya.

Dengan mundurnya Hoa Thian-hong dari gelanggang, justru cocok dengan apa yang diharapkan oleh Hoa In, semangatnya segera berkobar dan bersama Yan-san It- koay dia berebut menyerang untuk mencari posisi yang lebih menguntungkan.

00000O00000

KEDUA orang itu sama-sama mempunyai pendapat yang berbeda yakni menggunakan kesempatan dikala Hoa Thian-hong tak ada dikalangan secepatnya membinasakan pihak musuh di ujung telapaknya, dalam waktu singkat situasi dalam kalangan pertempuran berubah makin seru dan mendebarkan hati.

Hoa Thian-hong yang menyaksikan Hoa In tak berhasil menyelami perasaan hatinya dalam, malahan menyerang dengan gencar dan begitu bernafsunya, dalam hati ia merasa gelisah sekali.

Sepasang matanya dengan tajam mengikuti terus perubahan sepasang telapak dari Yan-san It-koay, di tengah gelagapan tampaklah sepasang matanya memancarkan cahaya tajam. Dalam waktu singkat empat puluh jurus telah berlalu, pemuda itu segera berpikir di dalam hati, “Sulit rasanya untuk mencari lubang kelemahan diantara jurus serangan yang dipergunakan Yan-san It-koay jago lihay yang amat tersohor namanya di kolong langit ini, apalagi pengalaman serta kepandaian silatku masih jauh ketinggalan juga dibandingkan dengan dirinya, akupan tidak hapal dengan permainan jurusnya, untuk memancing dia masuk jebakan rasanya bukan suatu pekerjaan yang gampang”

Otaknya berputar kencang dan berusaha untuk mencari akal bagus, apa lacur tiada suatu akal baguspun berhasil didapatkan. diapun kuatir Hoa In terluka di ujung telapak musuh, akhirnya dia bernekad untuk melubangi sampan menenggelamkan perahu sambil menancapkan pedang bajanya ditanah ia maju menyerang dengan tangan kosong.

Meskipun ilmu silat yang dimiliki Yan-san It-koay amat lihay dan jauh melebihi kepandaian silat pemuda itu, namun menghadapi serangan pedang bajanya yang begitu ampuh dan luar biasa itu tak urung dirasakan payah sekali.

Kini melihat pemuda itu secara tiba-tiba membuang senjata pedangnya dan menyerang dengan tangan kosong, diam-diam dalam hati merasa girang. pikirnya, “Jurus pemuda itu semuanya mengandalkan tenaga dalam yang besar, rupanya bocah itu sudah tak mampu untuk memainkannya”

Sambil berpikir tangan kanannya segera diayun ke depan menghajar iga Hoa In, sementara kakinya melancarkan sebuah tendangan kilat menghantam pusar Hoa Thian-hong.

Hoa In mengetahui dengan jelas akan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki majikan mudanya, semakin bertempur tiga empat ratus jurus lagi dengan pedang baja itupun dia masih sanggup mempertahankan diri sekarang melihat dia membuang pedangnya, pelayan tua ini jadi tak habis mengerti, namun dalam menghadapi pertarungan sengit diapun merasa tak leluasa untuk buka mulut, terpaksa kecurigaan tadi hanya ditelan di dalam hati saja.

Sementara itu Hoa Thian-hong sudah mengigos ke samping setelah menyaksikan datangnya tendangan kilat dari Yan-san It-koay telapak kirinya segera diputar dan langsung menghajar telapak kakinya.

Jurus ‘Kun-siu-ci-tay’ dari tangan kirinya ini sudah menjadi bahan pembicaraan dalam dunia persilatan, sejak semula Yan-san It-koay sudah memperhitungkan datangnya serangan tersebut.

Dengan cepat dia geser pinggangnya ke samping untuk melepaskan diri dari ancaman Hoa In, tiba? dia berkelebat ke sisi kanannya dan mengirim satu totokan kilat ke arah jalan darah Ki bun hiat.

Criiit…….! desiran angin totokan yang tajam meluncur keluar dan menggetarkan pendengaran setiap orang yang hadir di tempat itu.

Hoa Thian-hong terkejut, di tengah keadaan yang kritis pinggangnya ditarik ke belakang sambil melompat ke depan, dia melayang sejauh delapan depa dari tempat semula.

Hoa In meskipun melihat keadaan tidak beres, namun tak sempat baginya untuk menyusul kemuka, sambil membentak keras telapaknya segera didorong ke depan melancarkan sebuah pukulan.

Yan-san It-koay begitu merasakan totokan jarinya mengenai sasaran kosong dengan cepat dia merasakan segulungan hawa tekanan tak berwujud yang sangat berat bagaikan tindihan bukit menerjang ke sisi tubuhnya, dalam hati ia merasa terperanjat, pikirnya, “Budak tua itu rupanya benar-benar telah berhasil meyakinkan ilmu silatnya….!”

Dengan cepat dia mengigos ke samping dan melayang lima depa dari sisi kalangan.

Tubuh ketiga orang itu kembali saling berpisah, untuk kemudian bertempur kembali menjadi satu, saat ini pertarungan dilangsungkan dengan beradu ilmu telapak, angin pukulan yang menderu deru tajam berseliweran silih berganti, pasir dan batu beterbangan desiran angin tajam memekikkan telinga begitu hebat jalannya pertarungan saat ini ibaratnya bumi akan kiamat dan permukaan tanah dilanda gempa dahsyat.

Di tengah berlangsungnya pertarungan itu meskipun beberapa kali Hoa Thian-hong menghadapi serangan maut, namun setiap kali ia selalu menggunakan jurus ‘Kun-siu-ci-tauw’ dari tangan kirinya untuk menolong diri, sedang tangan kanannya boleh dibilang lumpuh sama sekali sebab tak sanggup menggunakan sebuah jurus seranganpun.

Setelah bertempur sampai empat jurus lebih, hawa murni yang terpancar keluar dari telapak Hoa Thian-hong kian lama kian bertambah lemah, pemuda itu mulai kelihatan lemah dan kehabisan tenaga sehingga bisa diduga kalau dia tidak mampu mempertahankan diri lebih lama lagi, Yan-san It-koay sendiri meskipun licik dan banyak akal, dalam menghadapi pertarungan yang begitu seru tak pernah dia sangka kalau Hoa Thian-hong jauh lebih cerdas darinya dan secara diam-diam telah menyusun suatu rencana baik.

Begitu menyaksikan tekanan angin pukulannya makin lama semakin lemah, tanpa terasa dia mulai alihkan sasarannya ke arah pemuda itu. diam? dia bersiap sedia untuk melancarkan sebuah serangan bokongan.

Tiba-tiba Hoa In menyusup ke arah sisi tubuhnya, sang telapak dibabat ke depan dan langsung mengancam dua buah jalan darah penting di atas dada serta lambung Yan-san It-koay. Kebetulan sekali pada waktu itu Hoa Thian-hong berada di sisi kiri manusia aneh dari gunung Yan-san itu, melihat keadaan tersebut diam-diam ia merasa bergirang hati. ia mengetahui bahwa lawannya pasti akan berputar ke samping kanan tubuhnya maka sambil membentak keras tubuhnya segera menerjang ke depan.

Ketika Yan-san It-koay menyaksikan Hoa In melancarkan serangan dengan pukulan langit bumi yang begitu dahsyat, ia benar-benar menyingkir ke samping kanan si anak muda itu, tangan kirinya menggetar ke atas menyerang bawah iga Hoa In sedang tangan kanannya laksana kilat menghantam tubuh pemuda she Hoa itu.

Hoa Thian-hong sudah menyusun rencana baiknya sejak semula sedang Yan-san It-koay merasa kesempatan baik tak boleh dibuang dengan percuma, kedua belah pihak sama-sama merasa bergirang hati menjumpai keadaan tersebut.

Dengan kecepatan tubuh yang sukar diikuti dengan pandangan kedua orang itu bersama-sama menerjang maju ke depan dan terjadilah suatu bentrokan yang cakup keras.

Dalam dugaan Yan-san It-koay, pemuda lawannya ini kecuali hanya bisa menyerang dengan sebuah jurus serangan memakai tangan kirinya belaka sama sekali tidak mempunyai ilmu silat lain yang mampu melukai tubuhnya. Dia tunggu sampai serangan lawan telah dilancarkan keluar, sepasang bahu segera bergerak dan tiba-tiba menyusup ke samping badan sambil tertawa terbahak bahak telapak tangannya laksana kilat dilancarkan ke arah muka.

Hoa In yang berada di belakang tubuh Yan-san It- koay jadi amat terkesiap menyaksikan peristiwa itu, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, sambil membentak keras sepasang telapak bekerja secara berbareng, dengan menggunakan ilmu Sau-yang-ceng-kie dengan dua belas bagian tenaga dalam dia kirim satu pukulan maut ke depan.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tiba-tiba pria kurus kecil menyerupai beruk itu menyusup ke depan, telapaknya membokong pinggang Yan-san It-koay sedang mulutnya menyumpah, “Keturunan iblis….!”

Semua kejadian itu berlangsung hampir bersamaan waktunya, Yan-san It-koay sebagai gembong iblis kenamaan dalam dunia persilatan sedan permulaan telah memperhitungkan kesemuanya itu, dia tahu asal Hoa Thian-hong terjerumus dalam posisi yang sangat berbahaya niscaya Hoa In akan berusaha menolong dengan sepenuh tenaga, hanya dia tidak mengira kalau pria kurus kecil tersebut bisa ikut campur pula dalam tindakan itu.

Meskipun demikian sama sekali tidak jeri sebab posisinya berada di atas angin, asal dia sanggup menghajar tubuh Hoa Thian-hong masih cukup banyak waktu baginya untuk berkelit ke samping dan menghindarkan diri dari serangan gabungan Hoa In serta pria kurus kecil itu.

Siapa tahu Hoa Thian-hong sendiripun sudah mempunyai perhitungan yang masak, ia berani bertindak demikian karena yakin bahwa rencananya pasti berhasil.

Meskipun mara bahaya telah berada di depan mata. pemuda itu tetap berdiri tegak bagaikan gunung Tay-san, wajahnya tidak kaget ataupun menunjukkan sikap yang gugup.

Ketika serangan lawan sudah hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba dia tekuk pinggangnya ke samping, sepasang lengan bagaikan kera bekerja cepat, jari tengah tangan kanannya meluncur ke depan dan melancarkan sebuah totokan aneh ke arah telapak tangan manusia aneh dari gunung Yan-san itu.

Totokan ini muncul dengan suatu gerakan yang aneh, tertegun hati Yan-san It-koay setelah melihat totokan jari tengah lawannya yang kaku dan berbentuk aneh itu. apa lagi setelah melihat lengannya ikut bergerak pula dengan gerakan yang menyerupai jurus ‘Tok-liong-jut-tong’ atau naga racun keluar dari gua, bergoyang dan bergeser tiada hentinya ke kiri ke kanan dengan sasaran yang tidak menentu hati terasa makin terperanjat.

Jurus serangan ilmu totokan itu bukan lain adalah jurus pertama dari ilmu ‘Ci yu-jit-ciat’ atau tujuh kapusan dari Ci-ya yang disebut menyerang sampai mati bagian pertama. Ilmu kepandaian ini merupakan ilmu silat aliran hitam yang sudah ratusan tahun lamanya lenyap dari peredaran Bu-lim, jarang sekali jago kangouw jaman itu yang mengenali kembali akan keanehan dari jurus perubahan tersebut serta sampai dimanakah kedahsyatan dari totokan tadi.

Bagaimana juga Yan-san It-koay adalah seorang jago kosen dari dunia persilatan, dalam keadaan terkejut bercampur curiga gerakannya sama sekali tidak kalut.

Setelah mengetahui bahwa serangan telapaknya bila tidak ditarik maka ujung jari Hoa Thian-hong pasti akan bersarang di atas urat nadinya buru-buru ia tarik napas dan merubah gerakannya dari serangan telapak menjadi serangan mencengkeram.

Dengan cepat ia cekal pergelangan si anak muda itu sementara tubuhnya meneruskan terjangannya ke depan memaksa Hoa Thian-hong untuk memberi jalan lewat kepadanya.

Perubahan yang terjadi diluar dugaan ini berlangsung secepat kilat. para jago yang menonton jalannya pertarungan dari samping kalanganpun hanya Thian Seng-cu serta tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian dua orang yang melihat dengan jelas. mereka tahu bahwa dibalik tangan kanan Hoa Thian-hong tersembunyi suatu serangan ilmu silat yang maha sakti, hal itu membuat mereka jadi amat terperanjat.

Sementara itu pria kurus kecil menyerupai beruk itupun sudah menyadari bahwa pemuda itu telah mempunyai rencana yang matang setelah melihat Hoa Thian-hong secara tiba-tiba menggunakan ilmu saktinya. dengan cepat ia melayang satu lingkaran busur di udara dan balik kembali ke tempat semula.

Lain halnya dengan Hoa In, walaupun dia tahu bahwa Hoa Thian-hong memiliki ilmu ‘Ci yu-jit ciat’ tujuh kupasan dari Ci-yu tetapi karena pertama kitab catatan itu tidak lengkap dan kedua masih terlalu sedikit yang berhasil dikuasai pemuda itu maka ia tak begitu yakin terhadap kemampuan majikan mudanya itu.

Melibat dia terjerumus dalam posisi yang berbahaya. sepasang telapaknya dengan cepat melancarkan serangan dahsyat„

Ilmu Sau-yang-ceng-kie adalah atas gubahan dari ilmu Tay-ceng-kie kalangan beragama, besar sekali daya tekanannya dan jauh berbeda dengan kepandaian lain.

Ketika Yan-san It-koay merubah jurus serangannya sehingga gerakan tubuh terlambat beberapa kosen, angin pukulan Sau-yang-ceng-kie yang dilancarkan Hoa In bagaikan gulungan ombak samudra telah menerjang tiba.

Yan-san It-koay jadi terkesiap, sepasang kakinya segera menjejak tanah dan buru-buru mengigos ke samping.

Terdengar Hoa Thian-hong membentak keras tubuhnya bagaikan bayangan setan mengejar ke depan, lengan kanannya disodok ke muka, sementara jari tengahnya tegang bagaikan pit, hawa murni meluncur keluar dan secara tiba-tiba menotok jalan darah Cian- hun-hiat di tubuh Yan-san It-koay.

Ilmu Silatnya dimiliki Hoa Thian-hong jika dibandingkan dengan kepandaian dari Yan-san It-koay boleh dibilang ketinggalan jauh, ketika semua orang melihat pemuda itu mencari hasil dengan menempuh bahaya jadi terkesiap, terutama sekali pria kurus kecil menyerupai beruk itu, rupanya dia menaruh perhatian yang cukup besar terhadap diri pemuda itu.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menyusup ke depan dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diijinkan.

Kegelisahan dari Hoa In tak usah dikatakan lagi, melihat Hoa Thian-hong menempeli terus diri Yan-san It- koay, tanpa memperdulikan keselamatan sendiri lagi dia segera menerjang ke muka.

Yan-san It-koay jadi terkejut bercampur gusar waktu melihat Hoa Thian-hong menyusul dari belakang dengan cepat dia ayun telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat ke atas batok kepala lawannya.

Dalam hati Hoa Thian-hong telah mengambil keputusan untuk mencari kemenangan dengan menempuh bahaya, melihat dia lancarkan pukulan dengan cepat telapak kirinya diayun ke depan, menggunakan gerakan ‘Kun su ci-tau’ dia sambut datangnya ancaman tadi sementara tangan kanannya dengan gerakan secepat kilat melancarkan sebuah totokan ke atas jalan darah Kie-hay di tubuh manusia aneh dari gunung Yan-san.

Tiga jurus permulaan dari tujuh kupasan Ci-yu merupakan gerakan-gerakan menyerang sampai mati bagian kesatu, kedua dan ketiga, kehebatannya bisa dibayangkan dari namanya itu.

Hoa Thian-hong berbakat baik dan bertenaga dalam sempurna, walaupun kepandaian itu belum lama dilatih olehnya tetapi sewaktu dilancarkan kehebatannya betul- betul luar biasa.

Plooook….! telapak kanan Yan-san It-koay saling membentur dengan telapak kiri Hoa Thian-hong, begitu keras bentrokan tadi membuat si anak muda itu berseru tertahan dan tubuhnya mencelat ke arah belakang.

Tetapi manusia aneh dari gunung Yan-san pun tak dapat menghindarkan diri dari totokan musuhnya, ia merasa dua tiga cun di samping jalan darah Kie-nay- hiatnya tertotok telak, isi perutnya kontan terasa bergolak dan sakitnya bukan kepalang, buru-buru dia berjumpalitan dan mengundurkan diri dari gelanggang.

Jeritan kaget berkumandang dari antara para jago di samping kalangan, semua orang membelalakkan matanya lebar-lebar dan menyaksikan perubahan tersebut dengan hati tercekat.

Hoa In dengan cepat meloncat ke muka menyambar pinggang dari Thian Hong, sedangkan Yan-san It-koay sendiri setelah melayang ke atas pemukaan bumi segera berdiri kaku dengan mata terpejam, badannya tak berkutik bagaikan sebuah arca batu

Untuk beberapa saat lamanya suasana di tengah kalangan jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, begitu hening sehingga napas setiap orang dapat kedengaran dengan nyata.

Terlihatlah pria kurus kecil menyerupai beruk itu meloncat ke depan dan berdiri kurang lebih enam tujuh depa dihadapan Yan-san It-koay, sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau belati menatap wajah manusia aneh itu tanpa berkedip, jelas andai kata Hoa Thian-hong menemui celaka maka diapun tak akan melepaskan orang itu.

Chin Pek-cuan dengan wajah berkerudung kain hitam sebenarnya tidak saling menyapa dengan Hoa Thian- hong, tetapi ketika itu dia berjaga-jaga di samping tubuh Hoa In, sepasang matanya menatap wajah Hoa Thian- hong yang sedang bersemedi dengan sorot mata penuh rasa kuatir.

Keempat orang itu bukan musuh melainkan sahabat, hal ini sudah terlihat jelas sekali dari keadaan tersebut Yan-san It-koay adalah termasuk jago dari Hong-im-hwie sedang sisanya termasuk jago dari Sin-kie-pang serta Thong-thian-kauw. Dengan begitu golongan Hoa Thian- hong sekalian segera terkepung oleh musuh-musuh yang tangguh di empat penjuru.

Thian Seng-cu sendiri segera timbul rasa curiganya setelah menyaksikan Chin Pek-cuan berdiri di pihak Hoa Thian-hong berdua, pikirnya di dalam hati, “Biasanya Cukat racun Yau Sut, bekerja dengan amat cermat dan teliti sekali, tapi kenapa ia utus manusia yang berpihak kepada keparat cilik she Hoa untuk melaksanakan tugas rahasia yang amat besar ini?? jangan-jangan dibalik kesemuanya ini ada hal-hal yang kurang beres??”

Sedang Tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian berpikir pula di dalam hati, “Hoa Thian-hong mempunyai hubungan cinta dengan Pek Kun-gie. Kedua orang ini yang pria tampan, yang perempuan cantik, cepat atau lambat akhirnya pasti akan bersatu. Andaikata aku sampai melukai dirinya, dihadapan pangcu tiada kebaikan yang bakal kuperoleh ditinjau dari keadaan Yan-san It- koay rupanya tidak enteng luka dalam yang dia derita, seandainya hari ini aku sanggup melenyapkan orang ini, suatu pahala besar tentu akan kuperoleh”

Apa yang dipikirkan kedua orang ini sama-sama jalan pikiran untuk menyerang orang dikala pihak lain sedang menderita, sorot mata mereka berputar dan membentuk satu sama lainnya, terlihatlah jelas bahwa kedua orang itu sama-sama ada niat untuk turun tangan.

Pada saat itulah tiba-tiba Hoa Thian-hong membuka mata dan meronta dari cekalan Hoa In, sambil cabut pedang bajanya dari atas tanah dia menghampiri manusia aneh dari gunung Yan-san itu.

Hoa In yang menyaksikan kejadian itu buru-buru meloncat ke depan, serunya dengan nada cemas, “Siau Koan-jin!” “Aku tidak apa-apa” jawab Hoa Thian-hong dengan suara berat, dengan alis berkerut dan nada serius, lanjutnya, “Yan-san It-koay, dalam pertarungan yang berlangsung hari ini bagaimana pendapatmu mengenai siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah??”

Perlahan-lahan Yan-san It-koay membuka matanya dan menjawab dengan suara dingin, “Bukankah sudah kukatakan bahwa dalam pertarungan ini aku tidak mempunyai keyakinan untuk menang!”

Ia berhenti sebentar, kemudian sambil tertawa lanjutnya, “Nama besar Hoa Goan-siu menggetarkan seluruh dunia persilatan tetapi aku tidak puas terhadap dirinya, sedang kau masih muda namun memiliki kecerdasan yang tinggi serta keberanian yang luar biasa, tidak malu kau jadi keturunan orang terkemuka, aku bukan manusia sembarangan, bila kau ada perkataan ucapkanlah tanpa ragu-ragu”

“Bukankah kau berkata bila menang akan mendesak terus, bila kalah akan kabur?? Sekarang kau belum juga meninggalkan tempat ini. Apakah masih ada kepandaian sakti yang belum sempat kau keluarkan?? rupanya kau ingin melangsungkan pertarungan kembali!”

Sorot mata Yan-san It-koay berkilat tajam, dia melirik sekejap ke arah pria kurus kecil menyerupai beruk itu lalu tertawa dingin.

“Jika kau punya minat untuk menambah pengetahuanmu, tak ada halangannya bagiku untuk melayani kembali beberapa jurus serangan dari kamu berdua!”

“Siau Koan-jin, apa gunanya kau ribut-ribut dengan makhluk tua itu??” seru Hoa In tiba-tiba, “Dendam sakit hati atas kematian dari majikan tua harus dibalas, mari kita langsungkan pertarungan mati-matian melayan dirinya!”

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang, pikirnya, “Urusan tak akan berlangsung begitu gampang, kalau Yan-san It-koay yang mati masih mendingan. jika aku yang berumur pendek bagaimana dengan ibu…??

Kalau aku membiarkan kaum iblis dan manusia laknat tetap berkeliaran di muka Bu-lim tanpa sanggup untuk menghalanginya, sia-sia belaka hidupku di alam ini.

Hmm… Hmm… kemajuan ilmu silat yang mereka miliki berkembang lambat sekali asal aku mampu memajukan kepandaianku maka suatu ketika hutang ini pasti akan berhasil kutagih”

Berpikir sampai disitu, segera ujarnya kepada Yan-san It-koay, “Di kolong langit tidak dendam yang tak bisa diakhiri, memandang di atas wajah mendiang ayahku yang berjuang demi kebenaran kali ini aku akan memberi sebuah jalan hidup bagimu”

“Hmm!” Yan-san It-koay mendengus dengan mata melotot” kau anggap aku adalah manusia apa?? Kenapa musti menantikan balas kasihan darimu??”

Hoa Thian-hong tertawa hambar. “Meskipun ilmu silatmu luar biasa namun masih terlalu sulit bagimu untuk mengalahkan kami berdua, apalagi hari ini kau berada dalam keadaan sebatang kara jika pertarungan dilanjutkan, sekalipun kau berhasil menangpun belum tentu bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. Menurut pendapatku lebih baik mengundurkan dirilah sekarang juga dan sejak kini tak usah mencampuri urusan dunia persilatan lagi, asal kau suka cuci tangan serta melanjutkan sisa hidupmu secara bebas maka keturunan keluarga Hoa kami tak akan mencari dirimu lagi untuk membuat perhitungan.”

Tiba-tiba Thian Seng-cu angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak. “Haaa… haaah… Hoa Thian-hong kau terlalu congkak dan menyombongkan diri!”

Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya dan menjawab dengan suara berat. “Aku orang she-Hoa belum pernah bertemu dengan kaucu dari perkumpulan kalian, andaikata semua tootiang yang tergabung di dalam perkumpulan Thong-thian-kauw adalah manusia-manusia bernyali tikus dan berhati cabang seperti dirimu itu, aku orang she Hoa berani jamin diantara tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan, perkumpulan Thong-thian-kauw- lah yang akan musnah lebih dahulu.

Sambil mengelus jenggotnya Thian Seng-cu segera tertawa terbahak-bahak, “Haaah… haaah… kehendak Thian sukar diduga siapa tahu justru kenyataan merupakan kebalikan dari apa yang kau katakan barusan perkumpulan Thong-thian-kauw berhasil meluaskan pengaruhnya diseluruh kolong langit dan turun-temurun sampai beratus2 tahun, bukankah semua peristiwa masih diiringi oleh kata mungkin??” Hoa Thian-hong mendengus dingin, dia malas untuk banyak bicara dengan toosu tua itu, sorot matanya segera dialihkan kembali ke arah Yan-san It-koay.

Sejak termakan oleh totokan aneh dari musuhnya, walaupun tidak sampai terkena jalan darahnya namun luka yang diderita manusia aneh dari gunung Yan-san tidak ringan, dia tahu bahwa pertarungan pada malam ini jika dilanjutkan maka lebih banyak bahayanya daripada keuntungan hanya saja ia merasa segan untuk mengaku kalah dengan begitu saja kendati diantara kedua orang lawannya ilmu silat Hoa In yang lebih hebat sebab sasaran yang sebenarnya bukan lain justru adalah Hoa Thian-hong seorang jago angkatan muda, ia merasa jika berita ini sampai tersiar di dalam dunia persilatan maka dia pasti akan kehilangan muka dan malu untuk menancapkan kaki kembali dalam Bu-lim.

Di samping itu semua diapun merasa malu untuk mengaku kalah dihadapan mata banyak orang karenanya keadaan diri Yan-san It-koay ketika itu ibaratnya anak panah di atas gendewa bagaimanapun akhirnya harus dilepaskan juga.

Demikianlah dia lantas merogoh ke dalam sakunya untuk ambil keluar sebuah senjata aneh berbentuk tangan yang berwarna hitam pekat dan memancarkan cahaya tajam sambil menimang2 senjata itu di tangan ujarnya sambil tertawa, “Sejak berlangsungnya pertemuan besar Pek beng hwee, belum pernah aku pergunakan senjataku lagi” “Ketika itu kalian andalkan jumlah banyak untuk mengerubuti satu orang, sedang kini dengan seorang diri ingin mengalahkan jumlah yang lebih banyak, sekalipun pergunakan senjata tajam juga masuk diakal dan merupakan suatu kejadian biasa” tukas Hoa Thian-hong cepat.

Yan-san It-koay tersenyum. “Sudah Tiga puluh tahun lamanya aku tak pernah menggunakan senjata tajam, rasanya permainanku jadi kaku dan asing, lebih baik kau turun tangan lebih dahulu” katanya

Pemuda itu sempat melihat keempat jari tangan kirinya dikaitkan semua di atas senjata tangan yang hitam pekat itu, dengan tangan menggenggam serta melintang di depan dada dia bersiap siaga. sedang tangan kanannya yang kosong melakukan pula gerakan yang sama, mungkin dia pergunakan untuk melancarkan serangan telapak, hal ini membuat pemuda she Hoa itu jadi tercengang bercampur keheranan, pikirnya, “Sudah sering kudengar akan bentuk senjata tajam yang aneh, tetapi belum pernah kudengar tentang senjata tangan yang digunakan untuk menghadapi musuh apalagi seorang jago lihay yang mempergunakannya”

Otaknya segera berputar dan dia ambil keputusan untuk tetap bersikap tenang walaupun menjumpai hal yang aneh, setelah memberi tanda kepada Hoa In mereka berdua segera menerjang ke muka. Dalam sekejap mata pertarungan sengit kembali berkobar.

Pertarungan kali ini jauh berbeda dari pertempuran sebelumnya, Hoa Thian Hong tahu bahwa tenaga dalam yang dimilikinya belum cukup dan ilmu Ci-yu tak mungkin bisa dipergunakan lagi.

Pemuda itu segera pusatkan seluruh perhatiannya untuk mainkan ilmu pedang dengan sehebat-hebatnya.

Senjata tangan berwarna hitam milik Yan-san It-koay benar-benar memiliki kegunaan yang luar biasa, di tengah ayunan senjata tadi cahaya hitam berkilauan membentuk selapis daya pertahanan yang kuat, jika ditinjau dari jurus serangannya mirip dengan gerakan dari ilmu gelang baja mirip pula dengan jurus gelang pelindung tangan, ada kalanya kepalan disodok ke depan seolah-olah ditangannya tiada benda apapun, tetapi setelah pedang baja Hoa Thian-hong menyerang ke depan, Yan-san It-koay segera ayun pula kepalannya untuk menumbuk pedang yang berat dan kasar itu seakan-akan menyedot udara kosong.

Dalam hati ketiga orang itu mengerti semua bahwa pertempuran yang berlangsung saat ini kemungkinan besar sulit untuk diselesaikan secara damai, karena itu semua pihak mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha mencari kemenangan.

Traaang….! terdengar suara benturan nyaring berkumandang di angkasa, pedang baja Hoa Thian-hong saling membentur dengan senjata tangan yang hitam pekat dari Yan-san It-koay sehingga menimbulkan suara benturan nyaring yang amat memekikkan telinga.

Tidak sedikit keistimewaan dari senjata aneh itu. ketika terbentur dengan senjata tajam macam apa pun senjata lawan pasti akan terpeleset ke arah samping, kedua belah pihak sama-sama tidak merasakan getaran apapun kecuali senjata yang sudah terpeleset ke samping sulit untuk melancarkan jurus serangan kembali.

Biasanya menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah dia segera melancarkan serangan kilat ke arah musuhnya hingga mengakibatkan pihak lawan sering kali terluka atau binasa.

Begitu merasa pegangnya tergelincir ke samping Hoa Thian-hong segera menyadari bahwa keadaan tidak beres sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya selapis cahaya hitam sudah meluncur ke arah pangkuannya.

Dia tahu senjata aneh lawan terbuat dari bahan emas, jika membentur telapak tangannya niscaya akan meninggalkan bekas luka, dalam gugup dan gelisahnya sepasang kaki segera menjejak tanah dan mengigos ke arah sisi tubuh Hoa In.

Budak tua itu tak berani gegabah, sejak mendengar suara benturan nyaring tubuhnya sudah menerjang ke arah depan, dia paksa Yan-san It-koay harus membuyarkan ancamannya untuk putar badan melindungi keselamatan sendiri.

Dalam waktu singkat pertarungan yang berlangsung diantara ketiga orang itu sudah berlangsung ratusan jurus banyaknya, setiap setangan kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kekuatannya untuk mengirim serangan mematikan. Ketika itu fajar telah menyingsing hembusan angin di pagi hari menimbulkan hawa dingin bagi beberapa orang itu.

Trang…..! Kembali terjadi benturan nyaring yang memekikkan telinga, diantara kilatan cahaya hitam tampaklah percikan bunga api berhamburan di empat penjuru.

Hoa Thian-hong yang menyaksikan keanehan serta keampuhan jurus serangan senjata lawan membuat dia tak mampu mempertahankan diri, diam-diam hatinya terasa jadi amat risau, pikirnya, “Aku dengar pihak perkumpulan Hong-im-hwie mempunyai tulang punggung yang sangat kuat sekali yakni Yan-san It-koay, Liong-bun Siang-sat serta seorang nenek bermata buta kalau Yan- san It-koay seorangpun sudah demikian lihaynya apalagi kalau keempat orang itu bersatu padu, apa yang bisa dilakukan lagi oleh umat Bu-lim??”

Kalau dia murung bercampur kesal, sebaliknya Yan- san It-koay diam-diam merasa bergirang hati, telapak kanan berputar cepat membendung setiap serangan dari Hoa In sebaliknya telapak kiri menerjang hebat mengirim pukulan-pukulan yang berat bagaikan bukit mengancam keselamatan Hoa Thian-hong,

Melihat dirinya terus menerus diteter lama kelamaan pemuda itu jadi naik pitam pedang bajanya berputar dan segera menyapu ke depan, secara beruntun dia kirim beberapa buah babatan mengancam pergelangan tangan Yan-san It-koay. Dalam sekejap mata cahaya hitam berkilauan memenuhi angkasa, angin desiran tajam menderu deru memekikkan telinga, suasana berubah jadi tegang dan penuh diliputi hawa membunuh.

Criiing! Untuk ketiga kalinya pedang dan senjata aneh itu saling membentur satu sama lainnya, pedang baja yang kasar dan besar itu seketika tergetar kutung jadi berpuluh puluh buah kutungan kecil dan tersebar di seluruh permukaan tanah.

Yan-san It-koay bersorak gembira, ia segera membentak keras dan telapaknya diayun kemuka menghantam tubuh Hoa Thian-hong.

Pukulan itu datangnya cepat dengan gerakkan yang aneh, Hoa Thian-hong kehilangan pedang bajanya seketika merasa hatinya terkesiap, menanti dia menyadari akan mara bahaya yang mengancam, senjata aneh Yan-san It-koay tahu-tahu sudah meluncur datang.

Selama ini pria kurus kecil menyerupai beruk itu selalu berjaga jaga di tepi kalangan, setelah dua kali yang pertama tidak sempat menolong pemuda itu, kali ini dia telah bersiap sedia.

Begitu menyaksikan pemuda itu terancam jiwanya, ia segera meloncat ke sisi tubuh Hoa Thian-hong, jari tangan kanannya bagaikan golok membacok pergelangan tangan Yan-san It-koay sementara sikut kirinya disodok ke belakang mementalkan tubuh Hoa Thian-hong hingga mundur lima depa dari tempat semula. Rupanya pria kurus kecil menyerupai beruk itu juga seorang jago lihay yang sangat kosen, setelah dia turun tangan tentu saja Yan-san It-koay tak mampu melukai musuhnya lagi.

Hoa In sendiri setelah melihat majikan mudanya terancam bahaya, hawa amarah seketika berkobar memenuhi benaknya, serangan yang dilancarkan seketika meluncur ke muka dengan hebatnya.

Kebetulan sekali waktu itu Yan-san It-koay sudah terhadang oleh pria kurus kecil itu, dengan datangnya serangan ini maka berarti pula iblis tua itu sekaligus harus menghadapi dua serangan dahsyat.

Keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuh manusia aneh dari gunung Yan-san, melihat datangnya ancaman itu ia merasa tak ada jalan lagi baginya untuk mengundurkan diri,

Dalam suasana yang amat kritis itulah tiba-tiba pria kurus kecil itu enjotkan badannya dan melayang ke samping dengan gerakan yang sangat enteng

Gerakan tubuh manusia ini cepat bagaikan sukma gentayangan, maju maupun mundur dilakukan dengan enteng bagaikan asap yang melayang di angkasa, Yan- san It-koay sangat kegirangan, cepat-cepat dia menyusup keluar dan loncat sejauh dua tombak dari tempat semula, di saat yang terakhir dia berhasil meloloskan diri dari mara bahaya. Suasana untuk beberapa saat lamanya jadi tenang, berpuluh puluh buah mata sama-sama dialihkan ke atas wajah Hoa Thian-hong serta Yan-san It-koay, mereka ingin tahu bagaimanakah kesudahan dari pertarungan itu.

Terdengar Yan-san It-koay dengan suara dingin berkata, “Hoa Thian-hong, apa yang hendak kau lakukan??”

“Kita masing-masing telah menangkan satu jurus, bila pertarungan dilanjutkan kembali maka menang kalah sulit untuk ditentukan, aku lihat terpaksa permusuhan diantara kita harus ditunda untuk sementara waktu”

Mendengar perkataan itu Yan-san It-koay segera tertawa seram. “Heeh… heeeh… heee, bila aku hendak mendesak terus mumpung posisi ku berada di atas angin, apa yang hendak kau lakukan?”

Thian Seng-cu takut pertarungan disudahi sampai disitu saja, mendengar perkataan itu ia segera menyambung sambil tertawa, “Bagus sekali! lebih baik ditetapkan tiga babak lagi untuk menentukan siapa menang siapa kalah, ini hari aku ingin membuka sepasang mataku lebar-lebar”

Dengan pandangan dingin Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arahnya. kemudian ulapkan tangannya ke arah Yan-san It-koay, dia berkata, “Pertarungan yang berlangsung pada hari ini lebih baik kita sudahi sampai disini saja, kalau pertarungan ingin dilanjutkan terpaksa aku orang she Hoa harus minta batuan dari sesama umat Bu-lim untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan”

“Bocah cilik yang tak tahu diri!” maki Yan-san It-koay penuh kegusaran.

Terdengar pria kurus kecil menyerupa, beruk itu mendengus dingin, tukasnya, “Makhluk tua, kau betul- betul tak tahu diri!”

“Hmm! Menyembunyikan kepala memamerkan ekor, kau termasuk manusia macam apa??” bentak Yan-san It- koay pula dengan nada penuh kemarahan.

“Bila kau mengetahui raut wajahku mungkin selembar jiwamu tak dapat dipertahankan lagi….”

Sementara itu Hoa Thian-hong lihat Hoa In telah selesai memunguti kutungan pedangnya dari atas tanah, dia tahu bertempur lebih jauh di tempat itu sama sekali tak ada manfaatnya, segera kepada Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil itu dia memberi hormat katanya, “Locianpwee berdua, fajar telah menyingsing, aku rasa kita musti berlalu dari tempat ini”

Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil itu saling bertukar pandangan sekejap. mereka berdua tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Melihat itu pemuda tersebut segera memberi hormat kepada semua orang yang hadir disisi kalangan kemudian putar badan dan berlalu. Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil itupun dengan mulut membungkam segera ikut berlalu mengikuti di belakang si anak muda itu.

Menyaksikan kepergian keempat orang itu Yan-san It- koay mengetahui bahwa kekuatannya tak mampu menandingi kepergian beberapa orang itu, diapun tak jadi bertempur melawan Thian Seng-cu serta Ho Kee- sian sekalian, tanpa banyak bicara diapun putar badan dan berlalu.

Thian Seng-cu serta Ho Kee-sian sendiri walaupun merasa amat kecewa. tetapi merekapun tak berani unjukkan diri untuk menghadang kepergian beberapa orang itu maka orang-orang itupun hanya tetap tiaggal dengan mulut tertutup.

Sepeninggalnya dari tempat kejadian Hoa Thian-hong segera melakukan perjalanan beberapa waktu lamanya, suatu ketika pemuda itu berpaling dan ujarnya kepada Chin Pek-cuan sambil tertawa, “Empek Chin, sebetulnya permainan apa yang sedang orang tua lakukan, mengapa kau malah jadi utusan dari si Cukat racun Yau Sut…..”

Agak tertegun Chin Pek-cuan mendengar perkataan itu, segera serunya, “Engkoh cilik, dari mana kau bisa mengetahui akan persoalan ini?? Siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu??”

Hoa Thian-hong tertawa. “Kemarin malam kami telah menyusup masuk ke dalam kuil It-goan-koan, sewaktu Thian Seng-cu serahkan surat tersebut kepada empek. secara diam-diam keponakan sempat mengetahuinya” “Aaaai….! engkoh cilik, kau memang betul-betul hebat” seru Chin Pek-cuan dengan nada kegirangan, “kalau kau memang keturunan dari Hoa Tayhiap. sepantasnya kalau hal ini kau jelaskan sejak tahun berselang aku mengira kau benar-benar bernama Hong- po Seng, sudah kucari jejakmu di seluruh dunia persilatan tetapi tak berhasil kutemukan, akhirnya setelah aku berhasil mengetahui jelas asal usulmu, kudengar pula kabar berita tentang kematianmu….”

Dari nada suaranya yang gemetar Hoa Thian-hong tahu bahwa jago tua ini adalah seorang manusia yang penuh emosi, terharu sekali hatinya setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia alihkan pembicaraan ke soal lain katanya, “Enci Wan-hong, saat ini sedang belajar ilmu di wilayah Biau. Giok Liong toako sebetulnya berada bersama-sama siautit, tapi sekarang dia mengikuti Ciong Lian-khek menantikan diriku di dalam kota”

Chin Pek-cuan jadi terkejut bercampur girang. “Aaah …” serunya tertahan.

Hoa Thian-hong tersenyum ujarnya kembali, “Tentang semua persoalan itu kita bicarakan nanti saja, sekarang seharusnya sempat perkenalkan dahulu cianpwee ini kepadaku, apa yang musti kusebut terhadap dia orang tua??”

“Panggil saja sesuka hatimu” sahut pria kurus kecil tua dengan cepat, “Baik-baik berbuat dan berjuang, balaskanlah sakit hati kami sekalian mayat2 hidup yang bisa berjalan!”

“Cianpwee ini pasti pernah putus asa dan kecewa hatinya” batin Hoa Thian-hong dalam hati. Setelah bergaul agak lama dengan Ciong Lian-khek, dia tahu bagaimanakah tabiat manusia yang putus asa. maka ia tidak bertanya lebih jauh dan cuma mengangguk tanda mengerti, kepada Chin Pek-cuan katanya, “Empek, bagaimana sih kau bisa berhubungan dengan Yau Sut manusia licik itu??”

Chin Pek-cuan segera tertawa setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan suara lantang, “Aku adalah manusia macam apa? Mana aku sudi berhubungan dengan manusia-manusia rendah yang bejat, tak bermoral serta memalukan itu?? persoalan ini panjang sekali ceritanya dan tak akan habis dalam sepatah dua patah kata saja”

Ia berhenti sebentar, sambil melepaskan kain kerudung hitamnya la melanjutkan sambil tertawa, “Aku sudah mencari dirimu di empat penjuru dunia, bagaimana kau bisa bertemu dengan Giok Liong?? dan dari mana pula bisa tahu kalau Hong-ji sedang belajar ilmu di wilayah Biau?”

Kedua orang ini yang satu memikirkan keselamatan putra putrinya sedang yang lain memikirkan masalah besar dunia persilatan, pertanyaan yang saling dilontarkan ini membuat kedua orang itu untuk beberapa saat lamanya tak mampu membicarakan sesuatu. Tiba-tiba dari balik semak belukar di sisi jalan berkelebat lewat sesosok bayangan putih, seekor rase salju yang berbadan putih mulus dengan sepasang mata memancarkan cahaya merah melompat keluar.

Mencapai rase salju itu Hoa Thian-hong jadi kegirangan, ia bongkokkan tubuhnya sambil berteriak, “Soat-jie!”

Rase salju itu menyusup kehadapan Hoa Thian-hong, mengelilinginya satu lingkaran kemudian secara tiba-tiba la menuju ke alam terbuka.

Hoa Thian-hong jadi amat gelisah menyaksikan hal itu, baru saja dia hendak berteriak tiba-tiba rase salju itu berhenti dan menoleh ke belakang, seolah olah dia sedang menantikan kedatangan pemuda itu.

“Hiantit!”dengan sepasang alis berkerut Chin Pek-cuan segera berteriak. “Aku dengan Giok Teng Hujien dari perkumpulan Thong-thian-kauw memelihara seekor makhluk aneh, jangan2 makhluk ini adalah binatang peliharaannya??”

Hoa Thian-hong mengangguk. “Sedikitpun tidak salah, memang rase salju ini!” dia tertawa dan menambahkan, “Kedatangan siautit ke kota Leng An maksudnya bukan lain adalah untuk mengunjungi Giok Teng Hujien, dimanakah kau orang tua beristirahat?? Siautit sebentar lagi akan menyusul kesana”.

“Giok Teng Hujien adalah seorang perempuan beracun yang tak boleh diajak bergaul, mau apa kau berkunjung kesitu?” kembali Chin Pek-cuan menegur dengan alis berkerut.

“Siautit hendak menyelidiki duduknya perkara tentang kematian Jin Bong, di dalam persoalan ini Hoa In sudah mengetahui jelas sekali, biarlah dia yang memberitahukan hal ini kepada kau orang tua”

“Aku akan pergi ikut Siau Koan-jin” tukas Hoa In dengan cepat, “biarlah persoalan itu kubicarakan kembali dengan Chin tayhiap sekembalinya nanti”

“Tempat ini merupakan daerah kekuasaan dari perkumpulan Thong-thian-kauw, memang ada baiknya kalau Lo-koan-kee menemani disisi hiantit untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan”

“Setelah siautit menyelesaikan urusanku kemana harus pergi untuk menjumpai empek??”

Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil menyerupai beruk itu saling bertukar pandangan sekejap, setelah termenung beberapa saat kakek she-Chin itu menjawab, “Sebenarnya kami tiada suatu tempat tertentu yang digunakan untuk beristirahat, begini saja! disebelah barat daya situ terdapat sebuah dusun kecil setelah urusanmu selesai berangkatlah kesitu untuk bertemu dengan kami!”

Hoa Thian-hong mengangguk tiada hentinya, dengan membawa serta Hoa In mereka segera berangkat membuntuti di belakang rase salju itu. Setelah berlarian beberapa saat lamanya dan melihat rase salju itu masih juga berlarian tiada hentinya entah menuju kemana buru-buru Hoa Thian-hong menyusul ke depan sambil berteriak “Soat-jie, dimanakah majikanmu??” Hoa In tersenyum. “Masa makhluk itupun mengerti akan ucapan manusia??” serunya.

Rase salju itu berpaling memandang sekejap ke arah Hoa In, setelah berteriak dua kali dia lanjutkan kembali perjalanannya lari menuju ke arah depan.

Sesudah berlarian beberapa saat lamanya, tiba-tiba rase salju itu berhenti dibawah sebuah pohon kuai yang tua, buru-buru Hoa Thian-hong menyusul ke depan, tegurnya, “Soat-jie, Giok Teng hujien berdiam dimana??”

Dari balik pohon berkumandang datang suara tertawa cekikikan, mengikuti lengking suara tertawa itu muncullah seorang dara baju hijau yang memakai gaun panjang.

Begitu berjumpa dengan dara itu, Hoa Thian-hong segera mengenali sebagai dayang kepercayaan dari Giok Teng Hujien yang bernama Pui Che-giok, dalam hati ia merasa kegirangan pikirnya, “Pisau belati yang dipergunakan untuk membunuh Jin Bong berada di dalam sakunya benda itu merupakan kunci utama untuk memecahkan teka teki sekitar peristiwa pembunuhan ini, baiklah aku pura2 bertanya kepadanya agar dia masuk jebakan”

Sementara itu Pui Che-giok sambil tertawa telah memberi hormat, ujarnya dengan suara halus, “Hoa kongcu, kedatanganmu ke kota Leng An kali ini apakah hendak berjumpa dengan hujien kami?”

00000O00000

SINAR mata Hoa Thian-hong dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya sekitar sana tiada orang lain, air mukanya segera diubah jadi masam sekali, sabutnya dengan suara ketus, “Hujien mu akan kutemui, kaupun akan kutemui juga!”

Tertegun hati Pui Che-giok mendengar jawaban tersebut. menyaksikan air mukanya rada kurang beres dengan perasaan sangsi kembali dia bertanya, “Ada urusan apa kongcu-ya hendak mencari diri hamba??”

Hoa Thian-hong tertawa dingin. “Hmmm! Sewaktu masih berada di kota Cho ciu tempo dulu, kau telah meracuni arakku dan ingin mencelakai selembar jiwaku…”

“Bukan…. itu bukan racun!” sahut Pui Che-giok dengan hati amat gelisah.

“Kalau bukan racun, lalu apa yang telah kau campurkan ke dalam arakku? Bentak si anak muda itu.

Merah padam selembar wajah dayang she Pui itu setelah sangsi beberapa saat lamanya dia menjawab, “Obat… obat itu adalah obat perangsang aku… aku hanya bermaksud gurau saja” “Konyol!” hardik Hoa Thian-hong dengan gusarnya, “ini hari kita bisa saling berjumpa kembali. ayoh!

Serahkan selembar jiwamu” Sebagai penutup kata telapak tangannya segera diayun ke depan segera melancarkan satu pukulan gencar.

Pucat pias selembar wajah Pui Che-giok menyaksikan datangnya ancaman itu, tubuhnya buru-buru bergerak dan mengigos ke samping teriaknya, “Sau-ya tunggu sebentar. budak ada perkataan yang hendak disampaikan terlebih dahulu”

“Apa yang hendak kau katakan lagi??”

Pui Che-giok ketakutan setengah mati, biji matanya yang jeli berputar dan memandang sekejap ke arah Hoa In, lalu serunya, “Lo Koan-kee, aku mohon sudilah kiranya kau memohon ampun bagiku, tolonglah jiwaku”.

Hoa In baru untuk pertama kali ini berjumpa dengan Pui Che-giok, terhadap dirinya boleh dibilang ia sama sekali tiada pikiran apapun, dan dia sendiripun tak tahu apa sebabnya Hoa Thian-hong hendak menyusahkan dirinya., setelah tertegun beberapa saat lamanya dia berkata. “Urusan dari Siau Koan-jin siapa yang mampu menghalanginya?? Aku sama sekali tak berdaya untuk mohonkan ampun bagimu lebih baik carilah jalan lain”

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Pui Che-giok berpaling kembali ke arah pemuda she Hoa itu sambil katanya, “Siau Koan-jin, ini hari bukannya waktunya bagimu untuk turun tangan, ketika budak menjumpai kehadiran Siau Koan-jin di sekitar tempat ini, sengaja kulepaskan Soat-jie untuk memimpin jalan bagi dirimu”.

Hoa Thian-hong tidak gubris perkataan orang, telapak kakinya diangkat dan siap melancarkan sebuah pukulan lagi, serunya, “Lebih baik kau tak usah banyak bicara, sebetulnya kau ingin mati atau ingin hidup?”

“Kalau budak ingin hidup?”

“Kalau ingin hidup boleh juga. tetapi setiap pertanyaan yang kuajukan harus kau jawab dengan sejujurnya!”

Pui Che-giok mengangguk tiada hentinya. “Budak pasti akan menjawab dengan sejujurnya!” dia menyahut.

Tiba-tiba sambil menutupi mulutnya sendiri dengan ujung pakaian. dia tertawa cekikikan.

“Apa yang kau tertawakan??” bentak Hoa Thian-hong dengan suara gusar.

Buru-buru Pui Che-giok mendekam mulutnya sendiri, sesaat kemudian dengan suara genit dia menjawab, “Budak sedari tadi sudah tahu kalau Siau Koan-jin adalah seorang enghiong yang berbudi luhur dan penuh kebijaksanaan, tidak mungkin kau benar-benar mencelakai jiwa budak”

“Tentang soai itu sulit untuk dikatakan” setelah berhenti sebentar tanyanya lagi, “Nyonya mu sebenarnya she apa??” Pui Che-giok tertegun mendapat pertanyaan itu, dia gelagapan untuk beberapa saat lamanya.

“Budak tidak berani menjawab!” akhirnya dia berseru, “lebih baik Siau Koan-jin tanyakan sendiri pertanyaan ini kepada hujien, budak rasa hujien pasti akan mengatakannya secara terus terang”’

Hoa Thian-hong tertawa dingin. “Heee… heee… heee… siapa yang mengajari ilmu silat kepadamu? Sudah berapa lama mengikuti hujienmu itu??”

“Sedari masih kecil budak sudah mengikuti hujien, seluruh ilmu silat yang kumiliki adalah pelajaran dari hujien sendiri, sayang sekali bakatku terlalu jelek. walaupun mendapat didikan dari guru pandai namun kemajuan ilmu silat yang berhasil kucapai terbatas sekali”

“Senjata tajam apa yang biasa kau pakai?”

Rupanya Pui Che-giok tak pernah menyangka kalau pemuda itu bakal mengajukan pertanyaan seperti ini, setelah tertegun beberapa saat ia tertawa genit. “Selama hidup budak belum pernah menggunakan senjata tajam, sebab sejak dulu sampai sekarang budak belum pernah melakukan pertarungan sengit dengan mempertaruhkan jiwaku!”

“Budak ini benar-benar licik sekali” batin Hoa Thian- hong di dalam hati kecilnya, “Rupanya dia sudah menduga kalau aku tak bakal mencelakai jiwanya kalau dia tak mau mengaku terus terang, meskipun pisau belati itu adalah benda yang dipergunakan untuk melakukan pembunuhan, tanpa bukti yang kuat tak mungkin dia bisa mengakuinya dengan begitu saja”

Setelah termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu segera merasa bahwa lebih baik untuk sementara waktu tetap menyabarkan diri daripada memukul rumput mengejutkan ular.

Dengan wajah serius segera serunya, “Ayo cepat membawa jalan, aku ada urusan hendak bertemu dengan hujienmu itu.”

Pui Che-giok tertawa. dia lantas berteriak, “Soat-jie, ayoh cepat lari!”

Sambil berseru diapun ikut putar badan dan berlalu dari sana.

Hoa Thian-hong serta Hoa In segera menyusul dari belakang. tiga orang manusia seekor binatang dengan cepatnya bergerak menuju ke arah timur.

Hoa In belum pernah berjumpa dengan Giok Teng Hujien, ketika itu hatinya terasa bergerak segera bisiknya dengan suara lirih, “Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki budak ini telah mencapai kesempurnaan, aku rasa ilmu silat yang dimiliki tentu tidak jelek juga, Budaknya saja sudah begini hebat bisa dibayangkan kepandaian silat yang dimiliki majikannya tentu luar biasa sekali, Siau Koan-jin adalah tubuh emas yang tak bernilai harganya, kenapa kau musti masuk ke dalam sarang harimau” Hoa Thian-hong menghela napas panjang setelah mendengar perkataan itu sahutnya, “Untuk mendirikan sebuah gedung besar, tak cukup kalau disanggah dengan sebatang golok saja, dewasa ini adalah masa yang bagus bagi manusia-manusia lurus dan budiman untuk melakukan perjuangan, setiap orang harus berusaha dengan segala pikiran serta kemampuan yang dimilikinya, siapapun bukan tubuh emas dan semua orang berhak untuk mempertaruhkan jiwa raganya demi tercapainya cita cita yang diharapkan”

“Hati manusia sukar diduga, andaikata Giok Teng Hujien ada maksud hendak mencelakai Siau Koan-jin, bukankah kedatangan kita kali ini hanya akan menghantarkan kematian sendiri dengan sia-sia belaka?? Kau tidak merasa terlalu penasaran?”

“Giok Teng Hujien tak mungkin bakal mencelakai jiwaku!”

“Kenapa??” tanya Hoa In dengan pikiran tak habis mengerti.

Tertegun hati si anak muda itu, setelah termenung beberapa saat lamanya ia menjawab, “Aku sendiripun tak bisa mengatakan apa sebabnya hanya aku merasa yakin bahwa Giok Teng Hujien tak mungkin akan mencelakai jiwaku”

Hoa In adalah seorang pelayan tua yang amat setia terhadap majikannya, dia pandang keselamatan pemuda itu jauh lebih penting daripada keselamatan diri sendiri, Sedangkan Giok Teng Hujien adalah seorang perempuan yang sudah tersohor namanya dalam dunia persilatan dia merupakan pula seorang perempuan misterius yang tidak diketahui asal usulnya oleh siapapun, Setelah Hoa Thian- hong tak sanggup menemukan asalnya, tentu saja pelayan tua itu merasa semakin kuatir.

Tetapi waktu Hoa Thian-hong yang gagah, bersemangat tidak jeri menghadapi ancaman bahaya membuat dia tak sanggup untuk memberi nasehat lagi, terpaksa dengan hati penuh curiga dia tetap membungkam da1am seribu bahasa.

Kurang lebih setelah melakukan perjalanan satu jam lamanya, sampailah mereka ditepi samudra bebas. ombak besar yang menggulung di tengah lautan memecah ditepian

Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, dia lihat di atas sebuah bukit kecil berdirilah sebuah gedung megah yang terbuat dari batu putih. tembok pekarangan terbuat dari batu putih pula dengan pintu besar berwarna merah, dibalik tembok

taman bunga terbentang luas dengan bunga yang beraneka ragam membuat pemandangan di sekitar situ nampak indah dan serasi.

Tiba-tiba Pui Che-giok bersuit nyaring, Soat-jie rase salju itu segera berteriak kegirangan bagaikan segulung asap dia melayang ke arah depan dan dalam sekejap mata lenyap di balik gedung megah tersebut. “Sungguh cepat larinya makhluk itu!” puji Hoa In dengan sepasang alis berkerut.

Hoa Thian-hong tertawa, “Kau belum pernah menjumpai kepandaiannya dalam bertempur melawan jago lihay asal ilmu silatnya rada cetek niscaya orang orang itu tak mampu bisa menandingi dirinya”