Bara Maharani Jilid 18 : Rasa Cinta Pek Kun Gie

 
Jilid 18 : Rasa Cinta Pek Kun Gie

SEMAKIN memperhatikan isi kitab itu Hoa Thian-hong semakin kesemsem hingga akhirnya ia mengulangi lagi dari permulaan, sambil mempelajari diam-diam diapun mulai meraba inti sari dari pelajaran tersebut.

Entah lewat berapa saat lamanya, Hoa In muncul kembali di dalam kamar itu, ketika melihat pemuda tersebut belum tidur ia lantas menegur, “Hari sudah pagi waktu menunjukkan kentongan kelima, apakah Siau Koan-jin belum tidur??” “Ehmmm, ayam toh belum berkokok” “Ayam telah berkokok sejak tadi…”

Hoa In dekati meja dan bertanya kembali, “Ilmu silat apakah itu? Berguna tidak bagi Siau Koan-jin….??”

“Oooh…. suatu ilmu aliran silat yang luar biasa hebatnya….“

Melihat pemuda itu sedang kesemsem Hoa In-pun tidak berani mengganggu kembali, ia sediakan air teh lalu menyingkir ke samping untuk bersemedhi.

Ketika fajar telah menyingsing, pelayan muncul menghidangkan air teh. Tetapi perhatian Hoa Thian-hong masih tetap terjerumus di dalam ilmu silat, hingga akhirnya kepada Bong Pay ia berkata. “Bong toako, bukankah gurumu telah meninggal dunia hingga toako tiada orang yang memberi petunjuk? ilmu silat yang di miliki pengurus perkampunganku ini didapati dari leluhurku, bila kau punya kegembiraan tak ada salahnya bila minta petunjuk darinya.”

“Bakatku tidak bagus, watakku berangasan. dan tidak sabaran, aku takut pengurus tua merasa tidak sabar untuk memberi petunjuk kepadaku.”

“Bocah ini jujur dan gagah,” pikir Hoa In dalam hati,” bila aku bisa mendidiknya secara baik-baik. akhirnya ia akan menjadi seorang pembantu yang baik buat Siau Koan-jin.” Agaknya semua persoalan yang ia pikirkan hanya ditujukan demi kebaikan majikan mudanya. berpikir sampai disana dengan senang hati ia lantas berkata, “Engkoh cilik. asal kau mau belajar akupun dengan senang hati akan menurunkan kepandaian silatku padamu.”

Hoa Thian-hong jadi sangat girang mendengar perkataan itu, ujarnya, “Selama berkelana di dalam dunia persilatan, ilmu silat adalah merupakan senjata yang paling ampuh, setiap saat kemungkinan besar kita bisa dikerubuti oleh musuh dalam jumlah yang lebih banyak, mari kita mulai berlatih sekarang juga, jangan sampai membuang waktu dengan percuma”

Itu hari kecuali di tengah hari pergi ‘lari racun’, sepanjang waktu Hoa Thian-hong mengurung diri di dalam kamar sambil mempelajari ketiga jurus serangan, ampuh itu, setelah dipertimbangkan berulang kali akhirnya ia ambil keputusan, ilmu tadi baru akan diwariskan kepada Bong Pay setelah ia dapat menguasai kepandaian tersebut.

Malam harinya rombongan melanjutkan perjalanan tinggalkan kota Wi-Im menuju ke selatan, seperti semula keempat puluh orang pengawal golok emas berangkat lebih duluan dan menanti di kota paling depan, sedang Jin Hian serta Hoa Thian-hong sekalian enam orang menyusul dari belakang.

Rantai besi yang didapatkan dari leher Bong Pay itu oleh Hoa In telah dibikinkan sebilah pedang raksasa yang amat besar, ketika Hoa Thian-hong menjajal senjata tersebut terasalah olehnya meski tidak seberat pedang baja miliknya yang hilang di markas besar perkumpulan Sin-kie-pang, tetapi benda itu secara paksa masih dapat menahan getaran tenaga dalamnya hingga tidak sampai patah.

Hari itu tibalah mereka di kota Ko-Yu dan bermalam disitu. Bong Pay dengan berlagak hendak membeli barang di kedai, seorang diri ternyata telah menyusup ke dalam kuil ‘Tiong-goan-koan’ milik perkumpulan Thong- thian-kauw, karena para jago lihaynya telah ditarik pulang semua ke kota Lang-An ditambah pula rasa dendamnya yang berkobar-kobar, setelah melepaskan semua perempuan yang disekap di dalam kuil itu, di tengah hari bolong ia segera melepaskan api dan membakar pula kuil itu hingga hancur sama sekali.

Menanti Hoa Thian-hong mengetahui kejadian ini, sudah tak sempat lagi baginya untuk mencegah perbuatan itu. Melihat kenyataan bahwa dendamnya dengan pihak Thong-thian-kauw kian hari kian bertambah dalam hati pemuda itu hanya bisa mengeluh sambil tertawa getir.

Suatu senja rombongan Jin Hian sekalian telah menyeberangi sungai Tiangkang dan menginjakkan kakinya di wilayah Kanglam suasanapun seketika berubah sama sekali.

Tampak Cu Goan-khek, Seng Sam Hau. Siang Kiat serta seluruh jago yang terpandang dalam perkumpulan Hong-im-hwie hadir semua jadi satu rombongan, di samping itu terdapat pula lima puluh orang jago lainnya termasuk keempat puluh pengawal golok emas maka rombongan Hong-im-hwie yang berkumpul ditepi sungai meningkat jumlahnya jadi beberapa ratus orang.

Setelah mendarat barisan berangkat memasuki kota Ceng-kang-shia, suara derap kaki kuda yang ramai bergema bagaikan guntur di tengah hari, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa seolah-olah medan pertempuran yang sedang melangsungkan pertumpahan darah. Hoa Thian-hong bertiga yang berada diantara rombongan besar itu merasakan dirinya bagaikan sebuah sampan kecil di tengah amukan ombak, sekalipun nyali pemuda itu amat besar tak urung gelisah juga dibuatnya.

Setelah masuk ke dalam kota, pasukan besar perkumpulan Hong-im-hwie itu behenti di depan sebuah bangunan rumah yang besar dan megah, semua orang loncat turun dari kuda dan mengiringi Jin Hian masuk ke dalam rumah.

Tiba-tiba Jin Hian menghentikan langkahnya, kepada para pengiring disisinya ia berseru, “Hoa kongcu akan ditempatkan dimana?”

“Lapor toako” sahut seorang pria setengah baya, “siauwte mengosongkan ruang barat tempat itu sengaja kami sediakan untuk Hoa Kongcu..”

Jin Hian mengangguk, sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong ujarnya, “Loo-te, bila pelayanan kurang memadai harap kau suka secara langsung mencari aku.” “Terima kasih atas perintahmu!”

Seorang pria baju hijau segera maju dan memberi hormat ujarnya, “Hoa kongcu, silahkan ikut diriku menuju ke ruang barat untuk beristirahat….!”

Hoa Thian-hong memberi hormat kepada Jin Hian lalu mengikuti di belakang pria tadi menuju ke ruang barat, disana empat orang pelayan perempuan telah siap menyambut kedatangannya.

“Aku bernama Lie Sim” ujar pria baju itu memperkenalkan diri, “aku mendapat tugas untuk melayani kongcu. bila kau ada permintaan harap kongcu- ya suka sampaikan kepadaku”

“Terima kasih!”

Lie Sim memberi hormat dan mengundurkan diri dari ruang barat.

Ruangan itu merupakan sebuah bangunan yang tersendiri, bangunannya luas dengan suasana yang tenang, setelah memandang sebentar sekitar tempat itu Hoa In berkata, “Rupanya Jin Hian akan berdiam agak lama ditempat ini, kalau ditinjau dari sikapnya mungkin ia tiada maksud untuk meneruskan perjalanannya menuju ke selatan”

Melihat kakek itu murung bercampur kesal, Hoa Thian- hong segera menghibur. katanya, “Persoalan ini merupakan suatu masalah besar yang akan merubah situasi di dalam dunia persilatan, banyak sekali masalah yang pelik tercakup dalam soal itu dan tidak dipahami oleh kita, tetapi toh kita sudah sampai disini, marilah kita hadapi setiap perubahan dengan sikap tenang tak perlu kita terlalu merisaukan akan soal ini”

“Aku amat merisaukan keselamatan dari Siau Koan- jin,” Hoa Thian-hong tersenyum. “Berjuang demi menegakkan keadilan ibaratnya bekerja sebagai pengawal barang kiriman. setiap hari harus bergelimpangan di ujung senjata dan adu kepalan, soal bahaya sudah bukan kejadian yang asing lagi bagi manusia macam kita ini”

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu berpaling tampaknya, “Bong toako, siaute mempunyai tiga jurus ilmu totokan, bagaimana kalau kita pelajari secara bersama?”

Dengan cepat Bong Pay menggeleng. “Sebelum pertemuan besar Pek Beng Hwee, suhu secara terburu- buru telah turunkan ilmu kepandaian andalannya ‘Pek Lek-ciang’ kepadaku itu waktu usiaku masih terlalu kecil dan dasarku amat cetek ditambah pulu otakku bebal, sekalipun secara dipaksakan aku masih ingat permainan ilmu telapak itu namun belum pernah kepandaian tadi kupelajari secara baik. setelah mendapat petunjuk dari pengurus tua beberapa hari belakangan ini pikiranku terasa bertambah terbuka, aku ingin melatih dulu ilmu telapak milik suhuku sehingga matang, kemudian baru mempelajari ilmu silat yang lain.”

“Rangkaian ilmu telapak itu merupakan kepandaian ampuh dari Pek-lek-sian, sewaktu dia berkelana dan angkat nama di dalam dunia persilatan” sambung Hoa In cepat, “bila ilmu tersebut bisa dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan, sama saja kau bisa menjagoi kolong langit tanpa tandingan menurut penilaianku memang sudah sepantasnya kalau ilmu silat dari perguruan sendiri dilatih dulu sampai matang.”

Hoa Thian-hong mengangguk, ujarnya kemudian, “Mara bahaya setiap kali akan muncul dijalan sebelah muka, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencegah jangan sampai peristiwa dalam pertemuan Pek Beng Hwe terulang kembali, mari kita gunakan waktu sebaik-baiknya untuk menggembleng diri!”

“Tapi dengan andalkan kita beberapa orang…..” tetapi setelah dilihatnya raut wajah majikan kecilnya menunjukkan kebulatan tekadnya, ucapan yang telah meluncur keluar segera ditelan kembali.

Dalam ruang barat tersedia empat orang pelayan perempuan yang khusus untuk melayani kebutuhan beberapa orang itu, Hoa In memandang majikannya bagaikan barang mustika, semua keperluannya masih tetap dilayani sendiri olehnya, selesai bersantap Hoa Thian-hong mengunci diri kembali di dalam kamar untuk mendalami ilmu ‘Ci Yu Jit Ciat’ sedang Bong Pay di bawah mengawasi Hoa In berlatih ilmu telapak diluar halaman.

Meskipun pelayan tua itu tidak mengerti akan jurus silat dari ilmu telapak Pek-Lek-ciang, namun dengan pengetahuannya yang luas setiap kali Bong Pay mengalami kesulitan ia dapat memecahkannya secara jitu. Ketika senja telah menjelang dan ketiga orang itu sedang bersantap, tiba-tiba Lie Sim datang melapor katanya ada orang mohon bertemu.

Setelah menanyakan raut wajah tamunya, Hoa Thian- hong buru-buru munculkan diri di depan pintu untuk menyambut kedatangan tamunya. Yang datang berkunjung semuanya terdiri dari tiga orang- mereka adalah Ciong Lian-khek, Chin Giok-liong serta seorang tauto jubah putih berikat kepala perak.

Ciong Lian-khek dengan pedang tersoren di punggung ujung baju sebelah kosong kegagahannya masih nampak seperti sedia kala, Cuma sorot matanya memancarkan cahaya berapi api, seakan-akan ia sedang merasa amat gusar.

Hoa Thian-hong segera memburu maju ke depan dan memberi hormat kepada Ciong Lian-khek. Jago buntung itu menahan badannya sambil berseru, “Mari kita berbicara di dalam kamar saja”

Hoa Thian-hong mengangguk dan menoleh ke arah tauto tua berambut putih itu, sambil memberi hormat katanya, “Toa suhu, baik-baikkah kau? boanpwee mengira kau si orang tua telah meninggalkan diriku”

Tauto berambut putih itu tertawa ramah. “Akupun merupakan salah seorang rekan dari mendiang ayahmu, setelah kau punya keberanian untuk menghadapi kekacauan di depan mata, kenapa aku musti sayang dengan rongga badanku yang kosong ini??” Hoa Thian-hong tersenyum, ia gandeng tangan Chin Giok-liong dan naik ke atas undak-undakan, mereka berpandangan sambil tersenyum, semua rasa kangen seketika lenyap dalam senyuman itu.

Setelah semua orang ambil tempat duduk Hoa In mengamat amati tauto berambut putih itu beberapa kejap, tiba-tiba teriaknya dengan suara keras, “Eeei….toa suhu, bukankah kau adalah Cu In Taysu??”

“Sedikitpun tidak salah. aku adalah Cu In” sahut Tauto tua itu sambil tertawa, “Loo Koan-kee (pengurus tua) ilmu sakti Sau-yang-ceng-kiemu sudah hampir memadahi kehebatan dari Hoa Tayhiap tempo dulu, hal ini patut dibanggakan dan dipujikan.”

“Aaaat, hamba telah tua,” sambil berkata pengurus she-Hoa itu melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong, secara lapat-lapat, wajahnya terlintas rasa murung yang mendalam.

Cu In Taysu termenung beberapa saat lamanya. Tiba- tiba ia menghela napas dan berkata pula, “Melihat kau berdiri di belakang keponakan Hoa tanpa terasa terbayang kembali olehku akan Hoa Taybiap dimasa yang silam, waktu itu dimana kalian berdua muncul Hoa Tayhiap bagaikan rembulan di langit, memberikan suasana tenang dan damai bagi setiap orang, kau yang berdiri di belakangnya menunjukkan sikap yang gagah dan berwibawa. Kini justru keadaan itu malah sebaliknya, majikan mudamu ini kokoh dan kebal laksana sebuah bukit. sebaliknya kau berwajah murung, kesal dan tidak tenteram. Aaaai…”

Helaan napas itu mengandung arti yang sangat mendalam, tiba-tiba ia membungkam.

Teringat akan majikannya, Hoa In tertunduk dengan wajah sedih. sambil menghela napas katanya, “Kejadian yang telah lampau tak akan kembali lagi, meskipun Siau Koan-jin memiliki kecerdasan yang luar biasa, lapi betapa hebatnya musuh yang harus dihadapi, mungkinkah dengan tenaga kita beberapa orang keadilan bila ditegakkan kembali? dan dia,.„ ternyata tak mau mendengarkan nasehatku..”

Diam-diam Hoa Thian-hong mengamati raut wajah semua jago. Ia lihat Cu In Taysu menunjukkan raut wajah yang sedih, Ciong Lian-khek tenang bagaikan air telaga, sedikitpun tidak menunjukkan perubahan apapun. Chin Giok-liong juga tenang dan alim bahkan Bong Pay yang biasanya binalpun saat itu bungkam dalam seribu bahasa.

Tanpa terasa ia lantas berpikir di dalam hati, “Masa depan amat suram. mereka semua tidak mempunyai rasa percaya pada diri sendiri, tapi karena aku seorang meski tahu bukan tandingan mereka paksakan diri untuk muncul pula di gelanggang, sikap ini walaupun patut dihargai tetapi berjuang tanpa semangat darimana bisa menyelesaikan persoalan??”

Kendati dalam hati merasa kesal tapi perasaan itu tidak sampai diperlihatkan ditempat luaran, sambil tertawa nyaring ujarnya, “Hoa In, bukankah tempo dulu kau adalah sahabat karib dari Toa suhu ini,kenapa sewakiu berjumpa muka di tengah jalan tempo hari, kalian telah saling bertempur??”

“Dahulu kepala taysu gundul kelimis dan kini memelihara rambut, dulu senjata yang dipergunakan adalah toya Pat-Poo sian-ciang sedang kini yang dipakai adalah senjata sekop bergigi. dulu sekarang bagaikan dua orang yang berbedi, dari mana aku bisa ingat??” 

Cu In Taysu tertawa sedih. “Sejak bertempur di Pak Beng, sahabat karib dan rekan2 seperjuangan banyak yang mati binasa, aku yang berhasil melepaskan diri dari maut sungguh merasa tak punya muka untuk hidup sebagai manusia”

Mendengar pembicaraan yang berlangsung selalu gagal untuk membangkitkan semangat orang, Hoa Thian- hong segera tertawa lantang dan berkata, “Locianpwee, meskipun aku tidak becus tetapi aku rela memberikan sebutir batok kepalaku kepada kawanan manusia laknat itu bila cianpwee sekalian pada mengundurkan diri dari dunia persilatan semua hingga aku jadi sebatang kara, bukankah kawanan durjana itu akan mentertawakan kita sebagai orang-orang pengecut??”

Tertegun hati Cu In taysu mendengar perkataan ini, sambil tertawa ia lantas berkata, “Ucapan Hoa Si-heng sedikitpun tidak salah, bagaimanapun juga aku harus berbuat sesuatu hingga bisa melegakan hati para jago yang telah berpulang” Hoa Thian-hong tersenyum, sambil menuding ke arah Bong Pay dia memperkenalkan, “Bong toako ini adalah anak murid dari Pek-lek Sian cianpwee, semoga taysu serta Cing-lian cianpwee suka menyayangi dirinya dan sering memberi petunjuk yang berguna.”

“Menunggu bimbingan dari cianpwee berdua!” seru Bong Pay sambil bangkit berdiri.

Cu In taysu menghela napas panjang. “Aaai….!

Sepasang dewa dari dunia persilatan adalah orang-orang yang penuh emosionil harap hiantit jangan memandang kami sebagai orang luar”

Ketika itulah Lie Sim muncul kembali di dalam ruangan sambil membawa sepucuk surat, sambil bongkokkan badan memberi hormat katanya, “Lapor Hoa kongcu, dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang ada sepucuk surat yang disampaikan kepadamu!”

“Oooh….perkumpulan Sin-kie-pang pun sudah kirim orang kesini??” pikir pemuda itu dengan alis berkerut.

Ketika surat itu dibuka dan dibaca isinya dengan cepat hatinya terasa tercekat, ternyata isi surat itu amat singkat sekali, yakni berbunyi demikian,

“Ditujukan kepada Hoa Kongcu pribadi Mengharapkan kedatangan saudara untuk menghadiri perjamuan kecil, sangat menantikan kedatangan saudara.

Tertanda, Pek Siau-thian”

Hoa Thian-hong serahkan itu ke tangan Cu In taysu sekalian, kemudian kepada Lie Sim ujarnya, “Beritahu kepada pengantar surat itu, aku akan tiba pada saatnya!”

Lie Sim mengiakan dan mengundurkan diri. “Aaaah, aneh sekali! Kenapa Pek Siau-thian bisa

sampai pula di tempat ini??” seru Hoa In dengan nada

tercengang.

“Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw adalah tiga kekuatan besar yang menguasai wilayah Tionggoan dewasa ini, bila Hong-im- hwie terbentur sengketa dengan pihak Thong-thian- kauw, tentu saja Pek Siau-thian juga hadir di tempat kejadian, hanya kedatangannya yang begini pagi membuat orang lantas bisa menduga bahwa latar belakangnya tidaklah sederhana”

“Bila Jin Hian tidak bersekongkol dengan Pek Siau- thian, tak mungkin ia berani membawa pasukan besarnya menyerang ke selatan” terdengar Ciong Lian- khek berseru, “Siapa tahu kalau mereka berdua telah berkomplot dan sama-sama kirim jago untuk menyapu pihak Thong-thian-kauw”

“Akupun berpendapat demikian” sambung Cu In taysu.

Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri dan memberi hormat ujarnya, “Cianpwee berdua, engkoh berdua. harap kalian suka menunggu sebentar disini dan aku akan pergi sebentar”

“Siau Koan-jin, kau benar-benar akan penuhi janji??” seru Hoa ln

“Aku bahkan ingin bertemu dengan Thian Ik-cu, sayang Ia tak mungkin akan mengundang diriku”

“Kalau mau pergi marilah kita pergi bersama-sama, daripada seandainya pembicaraan tidak cocok dan terjadi pertarungan, kita harus menelan kekalahan yang mengenaskan”

“Tak usah! Kenyataan telah menunjukkan bahwa pihak lawan lebih kuat daripada kita, seandainya benar terjadi pertarungan kita sudah pasti akan menderita kerugian, bila terlalu banyak orang yang pergi malahan suasana terasa kikuk”

Cu In taysu serta Ciong Lian-khek cuma bisa saling berpandangan dengan mulut membungkam, dalam keadaan begini mereka sendiripun tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tiba-tiba Bong Pay mendeprak meja sambil berseru dengan nada gegetun, “Aaai! ilmu silat kita tak becus. keadaan begini jauh lebih enak mati dari pada hidup”

“Aku toh pergi memenuhi janji dan bukan pergi berkelahi,” hibur Hoa Thian-hong dengan suara lembut,

..Bagaimana kalau Bong toako ikut siauwte pergi menjumpai orang itu??” “Tidak. aku tak mau pergi. daripada nantinya cuman bikin malu dirimu saja!”

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang setelah berpamitan dengan semua Hoa In ambil pedang bajanya di dalam kamar lalu mengikuti dari belakang.

Sekeluarnya dari pintu besar, tiba-tiba seseorang menyongsong ke depan sambil memberi hormat, ketika Hoa Thian-hong mengenali Orang itu sebagai Oh Sam ia segera berdiri tertegun, tegurnya, “Apakah nona kalian juga telah tiba di wilayah Kanglam??”’

Oh Sam mengangguk tidak menjawab Dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie segera muncul orang yang menyediakan kuda Hoa Thian-hong loncat naik ke atas punggung kuda dan bersama Oh Sam berlalu disitu.

Tiga ekor kuda dengan cepatnya lari menuju keluar kota dan tiba ditepi sungai, setelah berlarian beberapa saat ditepi sungai sampailah mereka di depan rombongan perahu yang berjajar2 sepanjang pantai sejauh setengah lie lebih, pada ujung seratus buah perahu itu berkibar sebuah panji kuning yang bersulamkan huruf ‘Pek’ yang amat besar.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa terperanjat. pikirnya, “Oooh … rupanya baik perkumpulan Sin-kie- pang maupun pihak Hong-im-hwie telah mengerahkan seluruh pasukannya datang kemari, ditinjau dari keadaan tersebut jelaslah sudah bahwa kedua buah perkumpulan itu telah bersatu padu untuk bekerja sama membasmi Thong-thian-kauw, tidak aneh kalau Jin Hian melakukan perjalanan tanpa menyembunyikan jejaknya, dan diapun tiada rencana untuk melakukan sergapan…”

Oh Sam membawa kedua orang itu menuju ke pantai dan naik ke atas sebuah perahu. “Hoa kongcu telah tiba!” dari ujung geladak seseorang berseru nyaring.

Suara itu dengan cepat disampaikan pula secara berantai hingga kedatangan Hoa Thian-hong telah diketahui oleh semua orang dalam waktu yang amat singkat.

“Organisasi perkumpulan Sin-kie-pang paling ketat dan peraturannya paling sempurna,” pikir Hoa Thian-hong dalam hati. “Kekuatan mereka luar biasa sekali dan tak boleh dipandang enteng”

Dalam pada itu Oh Sam telah membawa kedua orang itu melewati beberapa buah perahu perang dan naik ke atas sebuah perahu besar yang berlabuh di tengah sungai, ketika pemuda itu baru saja tiba di atas geladak tampaklah horden pintu perahu itu tersingkap dan sesosok bayangan manusia langsung menubruk ke arah Hoa Thian-hong.

Dengan ketajaman matanya pemuda itu dapat mengenali bayangan tadi sebagai Pek Kun-gie, sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya, tahu-tahu sepasang telapaknya sudah kena ditangkap oleh gadis itu. Dengan wajah bersemu merah dan memancarkan cahaya berseri-seri Pek Kun-gie berseru sambil tertawa, “Aku melihat dirimu sewaktu kau masuk ke dalam kota, tapi waktu itu aku tidak memanggil dirimu.”

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, dari balik tubuh gadis itu ia lihat seorang kakek tua berjubah ungu sambil bergendong tangan dan wajah dihiasi senyuman melangkah keluar dari ruangan.

Buru-buru ia tarik kembali tangannya sambil menjura, katanya, “Loo pengcu, sejak berpisah baik-baikkah kau?? Aku orang she Hoa menghunjuk hormat bagimu”’

Kakek tua itu bukan lain adalah Pek Siau-thian, ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang yang nama serta pengaruhnya secara lapat-lapat jauh di atas kehebatan dari Jin Hian maupun Thian Ik-cu.

Dahulu ia pernah berjumpa dengan si anak muda itu, sekarang setelah dilihatnya Hoa Thian-hong yang berdiri di hadapannya jauh berbeda dengan keadaan Hong-po Seng dahulu, bukan saja orangnya bertambah tinggi kekar terutama sekali gerak-geriknya yang begitu gagah dan mencerminkan kewibawaannya yang amat besar membuat jago tua she-Pek ini diam-diam bergetar hati kecilnya.

Dengan sorot mata yang tajam Pek Siau-thian mengamati pemuda itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian sambil tersenyum ujarnya, “Tidak leluasa bagi kita untuk bercakap-cakap disini. Hati-hati! Silahkan masuk ke dalam ruangan untuk minum air teh”.

Hoa Thian-hong adalah seorang pemuda yang berjiwa besar, walaupun mereka baru berpisah dua tahun namun terhadap peristiwa ditancapkannya jarum racun Suo-hun- tok ciam, di atas bahunya telah dilupakan sama sekali olehnya. habis memberi hormat ia segera melangkah masuk ke dalam ruang perahu.

Pek Kun-gie dengan gerak-gerik yang manja membuntuti terus di sisi tubuhnya, senyuman menghiasi wejahnya yang cantik membuat Hoa In diam-diam menggerutu terus.

Ruang perahu itu amat lebar dan luas, perabot dan perawatan yang diatur dalam ruangan itu nampak indah dan megah. sebuah meja perjamuan dengan sepoci arak dan empat lima macam sayuran telah tersedia disana, sepintas memandang keadaan mirip sekali dengan keadaan dalam rumah tangga biasa. sedikitpun tidak. menunjukkan sikap seorang tamu terhadap sesama orang kangouw.

“Yaya… baik-baikkah kau?” seorang dayang kecil yang cantik muncul dari balik ruangan dan memberi hormat.

Melihat dayang itu adalah Siauw Leng, Hoa Thian- hong segera ulapkan tangannya sambil tertawa.

“Budak nakal, tak usah banyak adat,” Siauw Leng bangkit dan buru-buru tarikkan kursi bagi tamunya. Setelah semua orang ambil tempat duduk Pek Kun-gie baru melirik sekejap ke arah pedang baja yang tersoren di pinggang Hoa In, dengan mata terbelalak serunya, “Eeei……. kapan sih secara diam-diam kau telah menyusup ke markas besar lagi??”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Dia bernama Hoa In,” katanya, dahulu ikut kakekku dan sekarang merupakan satu-satunya sanak yang sangat menyayangi siaute, pedang baja itu adalah pemberian darinya”

“Aku ingin lihat” seru Pek Kun-gie manja.

“Siau Koan-jin benar-benar kehangatan,” pikir Hoa In di dalam hati, “katanya ia punya hubungan yang sangat akrab dengan nona Chin Wan-hong, diapun main kasak- kusuk dengan Giok Teng Hujien, sekarang kenapa diapun punya hubungan yang begitu akrab dengan puteri Pek Siau-thian?? Sungguh membingungkan sekali…….”

Dalam hati berpikir demikian, tapi diluaran ia cabut keluar pedang baja itu dan diangsurkan ke depan.

Sebetulnya ia kenal baik dengan Pek Siau-thian yang hadir disitu lagipula tingkat kedudukan mereka berbeda, maka sekalipun sudah bertemu mereka sama-sama berlagak tidak kenal, bahkan melirik sekejappun tidak..

Sementara itu Pek Kun-gie telah menerima pedang baja tadi, sesudah ditimang2 sebentar ujarnya sambil tertawa, “Oooh….. kiranya pedang ini cuma enam puluh dua kati, kalau begitu beratnya lebih ringan enam kati setengah” “Pedang baja yang kumiliki tempo dulu terbuat dari besi murni yang tak mempan dibacok golok mustika maupun pedang mustika,” ujar Hoa Thian-hong menjelaskan, “sedang pedang ini mengandung tiga bagian besi campuran, tentu saja jauh berbeda satu sama lainnya”

“Lain hari bila aku telah kembali ke markas besar, pedang bajamu itu pasti akan kuusahakan untuk merebutnya kembali”

“Ciu It-bong pikirannya terlalu picik, dia ingin mencabut jiwamu. maka lebih baik janganlah kau usik dirinya…”

“Huuuh…. akan kubikin dia mati kelaparan terlebih dulu!” seru Pek Kun-gie sambil mencibirkan bibirnya, selesai berkata ia tertawa cekikikan dan tunduk tersipu sipu.

Pek Siau-thian yang selama Ini hanya duduk membungkam di sisi meja, setelah menyaksikan keadaan putrinya itu tanpa terasa ia lantas berpikir, “Pedang besi macam itupun dipermainkan dengan begitu sayang….. rupanya budak ini sudah terpikat hatinya kepada Hoa Thian-hong”

Apa yang dipikirkan jago tua ini sedikitpun tidak salah, memang begitu hubungan cinta antara muda-mudi. Bila tidak ada rasa cinta maka sekalipun intan permata di depan mata belum tentu ia sudi memandang sekejappun, sebaliknya sudah jatuh cinta maka meskipun hanya sebiji kancing di atas bajupun akan berubah jadi amat berharga.

Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang tinggi hati, setelah mengalami pelbagai liku liku secara mendadak ia jatuh cinta terhadap diri Hoa Thian-hong, sebagai gadis yang belum pengalaman sama sekali dalam hal bercinta ia tak pernah berpikir lebih jauh lagi tentang kesulitan2 seseorang bercinta, dia anggap Hoa Thian-hong yang tidak menunjukkan sikap menampik tentulah berarti bahwa diapun sudah jatuh cinta pula terhadap dirinya urusan selanjutnya berarti tiada persoalan lagi

Karena pikiran semacam inilah membuat hubungan mereka berdua kian lama kian bertambah rapat, sikapnya terhadap Hoa Thian-hong pun semakin bebas dan terbuka, ia anggap pemuda itu sebagai sahabat kentalnya yang paling rapat.

Pek Siau-thian adalah seorang lelaki yang pernah terjungkal di dalam lautan cinta, melihat putrinya menanam bibit cinta pada pemuda tersebut hatinya jadi terkesiap, sambil tertawa paksa segera ujarnya, “Anak Gie, hormatilah secawan arak kepadanya lalu pergilah mengontrol daerah sekitar tempat ini.”

Merah jengah selembar wajah Pek Kun-gie, dia angkat cawan araknya sambil tersenyum ke arah si anak muda itu, Hoa Thian-hong buru-buru angkat cawan dan meneguk habis isinya.

Angin berrbau harum berkelebat lewat bagaikan burung walet Pek Kun-gie mengundurkan diri dan ruangan itu. Pek Siau-thian segera ulapkan tangannya ke arah Siauw Leng. dayang cilik itupun segera undurkan diri.

“Rahasia besar apa sih yang hendak ia bicarakan dengan diriku?” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati kenapa Pek Kun-gie serta Siauw Leng harus menyingkir dari sini?”

Melihat Pek Siau-thian tetap membungkam dalam seribu bahasa, terpaksa kepada Hoa In katanya. “Pergilah keujuag perahu dan berjaga disitu, sebelum mendapat ijin dari Pek pangcu siapapun dilarang masuk ke dalam ruangan”.

“Penjagaan yang diatur di tempat ini toh amat ketat, siapa yang sanggup menerjang masuk kemari?” bantah Hoa In dengan rasa tidak senang hati.

Hoa Thian-hong jadi serba salah, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dengan wajah membesi serunya. “Kenapa sih kau tak mau menuruti perkataanku? Apakah aku harus mengundang ayah dan kakekku lebih dahulu?

Hoa In tertegun, dengan sorot mata dingin ia menatap sekejap ke arah Pek Siau-thian kemudian baru selangkah demi selangkah mengundurkan diri dari ruangan itu.

Sepeninggalnya Hoa In, Pek Siau-thian baru tersenyum dan berkata, “Menurut apa yang kuketahui, ayahmu maupun kakekmu belum pernah bersikap sedemikian kasarnya terhadap pelayan tua itu.” Hoa Thian-hong menghela napas panjang. “Kecuali ibuku dia adalah satu-satunya orang yang paling erat hubungannya dengan boanpwee, rasa setianya kepadaku luar biasa dan memandang diri boanpwee lebih berharga dari jiwanya sendiri, cuma Sayang ia tak mau mendengarkan perkataanku membuat boanpwee terpaksa harus bersikap marah lebih dulu….“ Ia tertawa getir dan geleng kepala.

“Waktu selalu berubah, keadaan sekarang jauh berbeda dengan keadaan tempo dulu, hal ini membuat boanpwee merasa bersedih hati”

Pek Siau-thian angkat cawan araknya dan berkata, “Hiantit adalah seorang pemuda berbakat yang sukar dibandingkan dengan manusia biasa, persoalan yang pernah terjadi dimasa yang silam lebih baik tak usah kita ungkap kembali. Marilah aku hormati secawan arak untukmu, kemudian aku masih ada satu urusan hendak dibicarakan dengan dirimu”

“Hoa Thian-hong angkat cawannya dan menghirup habis isinya, kemudian ia menyahut, “Silahkan pangcu utarakan persoalanmu itu!”

Pek Siau-thian tarik napas panjang-panjang, dengan suara dalam ia berkata, “Isteriku adalah seorang perempuan dari keluarga Thia, baik bakat maupun budinya sangat mengagumkan. Dua puluh tahun berselang ia mempunyai nama besar yang sejajar dengan nama ibumu. orang kangouw sebut mereka berdua sebagai Bulim Ji-bi atau dua orang cantik dari dunia persilatan” “Kalau ibunya tidak cantik dari mana bisa lahir seorang putri macam Pek Kun-gie yang begitu jelita??” pikir Hoa Thian-hong dalam hati, “sekalipun tak usah dikatakan hal ini sudah bisa diduga”

Pek Siau-thian merandek sebentar. lalu sambungnya, “Keindahan dari isteriku terletak pada budi pekertinya, tentang raut wajahnya tak usah dibicarakan lagi”

“Bila ada kesempatan dan ada jodoh, boanpwee pasti akan menyambangi bibi serta mohon petunjuk darinya,” kata Hoa Thian-hong dengan sikap yang hormat.

Pek Siau-thian menghela napas panjang. “Kami suami isteri berdua mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Soh-gie dan yang bungsu bernama Kun-gie, mereka berdua adalah saudara kembar yang mempunyai wajah bagaikan pinang dibelah dua, satu sama lain sedikitpun tak ada bedanya”

“Boanpwee pernah mendengar tentang persoalan ini dari mulut Jin Hian” sela si anak muda itu.

Sepasang mata Pek Siau-thian segera memancarkan cahaya tajam. “Apakah Jin loo-ji menaruh curiga bahwa puteranya yang tolol itu mati ditangan puteri sulungku Soh-gie?”

Hoa Thian-hong mengangguk. “la memang mencurigai puteri sulungmu itu,” jawabnya terus terang. Sepasang gigi Pek Siau-thian seketika bergemerutukan keras, matanya melotot dan wajahnya berubah jadi merah padam. Lama sekali rasa gusar itu baru reda kembali.

“Kalau ditinjau dari sikapnya yang begitu gusar, bukankah urusan ini nampak semakin rumit??” pikir Hoa Thian-hong dengan hati terkesiap.

Terdengar Pek Siau-thian dengan suara dingin berkata kembali, “Hoa hiantit, lima belas tahun berselang istriku merasa tidak puas dengan perbuatanku, dalam keadaan sedih bercampur marah dia telah cukur rambut jadi pendeta, kedua orang putriku pun dibagi jadi dua, putri sulung, Soh-gie ikut ibunya masuk ke dalam kuil, selama lima belas tahun terakhir belum pernah ia tinggalkan pintu rumah barang selangkahpun jua.”

“Ooooh… sungguh tak nyana toa siocia begitu berbakti pada orang tua, sungguh mengagumkan” puji Hoa Thian- hong dengan hati bergetar keras.

“Aaaai…. putriku yang bungsu Kun-gie karena sedari kecil sudah terbiasa manja, sikapnya memang rada ugal2an, tapi putri sulungku Soh-gie amat alim dan soleh, tak mungkin ia bisa melakukan perbuatan tercela semacam ini”

Dengan dada berombak menahan emosi. air muka Pek Siau-thian berubah jadi dingin dan menyeramkan, sepatah demi sepatah serunya, “Hiantit, putri sulungku telah difitnah Orang secara keji hingga nama baiknya ternoda, peristiwa ini. merupakan suatu kejadian yang amat besar, mungkin saja Jin Hian sanggup membunuh diriku, tetapi akupun percaya masih memiliki kemampuan untuk membunuh dirinya. namun perduli siapapun yang bakal hidup, fitnahan ini harus diselesaikan dulu dan noda yang telah melekat pada nama baik putriku harus dicuci bersih lebih dahulu! “

Suasana seram dan penuh nafsu membunuh segera menyelimuti seluruh ruang perahu itu membuat Hoa Thian-hong merasa bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.

“Seandainya nama baik putri bungsuku Kun-gie yang ternoda, aku tak akan merasa terlalu sedih” ujar Pek Siau-thian lagi dengan suara seram, “Putri sulungku Soh- gie adalah seorang gadis yang suci dan belum pernah terjun ke dalam dunia persilatan, karena kesalahanku dia sudah harus ikut menderita”

Ia tarik napas panjang-panjang lalu melanjutkan, “Sekalipun aku harus mengikat permusuhan dengan banyak orang, meskipun aku harus bunuh mati semua orang yang ada di kolong langit, aku tak rela putri sulungku itu ternoda oleh sebutir debupun”.

Pikir Hoa Thian-hong jadi goyah, pikirnya, “Ia merasa berdosa terhadap isterinya maka seluruh rasa kasih sayangnya dicurahkan kepada putri sulungnya yang mendampingi sang istri selama ini, bila persoalan tersebut tidak dibikin jelas sehingga duduknya perkara jadi terang. dalam dunia persilatan entah bakal berubah jadi bagaimana?”

Berpikir sampai disatu, dengan wajah serius ia lantas berkata, “Persoalan tentang miripnya raut wajah pembunuh itu dengan wajah nona Kun-gie adalah berasal dari mulut boanpwee atas terjadinya persoalan ini boanpwee merasa amat menyesal”.

Pek Siau-thian ulapkan tangannya memotong ucapan tersebut. katanya. “Kalau kau mengatakan mirip, sudah pasti wajah pembunuh itu mirip sekali dengan putriku ucapan yang diutarakan anak keturunan keluarga Hoa tak mungkin salah, tentang soal itu aku sama sekali tidak menaruh curiga”

Ia berhenti sejenak, lalu dengan suara yang tenang sambungnya, “Hiantit, seluruh peristiwa itu sudah pasti diatur oleh seorang yang sangat cerdik, sekalipun Thian Ik-cu si toosu tua itupun belum tentu mempunyai kecerdikan sampai begitu tinggi. apa tujuan orang itu sukar untuk diketahui oleh siapapun. Selama ini kau toh hanya menceritakan apa yang telah kau lihat, aku sama sekali tidak mengalihkan rasa gusarku ke atas tubuhmu”

Hoa Thian-hong merasa Pek Siau-thian yang berada di hadapannya ini tiba-tiba berubah jadi amat tua, kakek itu kelihatan amat kesal dan mendongkol tapi semua perasaan itu tak tersalurkan keluar, membuat ia sedih dan amat menderita.

Dengan pihak Sin-kie-pang boleh dibilang Hoa Thian- hong mempunyai dendam dan sengketa, hubungannya dengan Pek Kun-gie pun amat kabur sebentar seperti kawan sebentar seperti lawan. Sekalipun demikian ia merasa penasaran bila melihat ada orang dibuat penasaran tanpa bisa berkutik.

Pikirannya dengan cepat berputar, “ia segera teringat kembali akan Pui Che-giok dayang kepercayaan dari Giok Teng Hujien itu, dayang tersebut memiliki sebilah pisau belati yang persis seperti alat yang digunakan untuk membunuh Jin Bong, Benarkah dayang itu yang melakukan pembunuhan?? Kalau bukan lalu siapakah pembunuhnya?? Kecuali saudara kembar, siapa pula yang memiliki raut wajah mirip Pek Kun-gie??”

Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian berkata dengan suara tegas, “Hoa-hiantit, pembunuh itu pastilah berasal dari kalangan kaum lurus dan jelas bukan hasil perbuatan dari anak murid perkumpulan Thong-thian- kauw!!….“

Mula mula Hoa Thian-hong agak tertegun kemudian dengan pikiran yang tidak tenang dan perasaan penuh curiga ia berkata, “Siapakah diantara kalangan lurus yang dapat menggunakan siasat semacam ini?? Pembunuh itu pernah mengadakan hubungan kelamin dengan Jin Bong, itu berarti urusan menyangkut nama baik seorang gadis, siapa yang kesudian melakukan perbuatan hina semacam ini??”

000O000

Pek Siau-thian mendengus dingin. “Bagi seseorang yang punya tujuan membalas dendam, sekalipun harus korbankan jiwapun rela apalagi hanya melakukan perbuatan semacam itu?? Aku rasa siapapun dapat melakukan tindakan seperti ini”

Ia berhenti sebentar, lalu sambil tertawa panjang lanjutnya, “Dalam dunia persilatan pada dasarnya memang tiada perbedaan antara yang putih dengan yang hitam, yang kumaksudkan sebagai orang dari kalangan lurus adalah orang dibalik layar yang mendalangi terjadinya peristiwa berdarah ini bukanlah seseorang yang tergabung dalam tiga besar dunia persilatan”

“Lo-pangcu, atas dasar apa kau bisa mengatakan bahwa pembunuh itu bukan berasal dari pihak Thong- thian-kauw??” seru Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.

Pek Siau-thian tertawa seram, “Aku telah mengadakan janji persahabatan dengan Jin Hian, karena persoalan itu maka perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie yang keadaannya ibarat api dan air bisa bekerja sama untuk melenyapkan Thong-thian-kauw lebih dulu, kemudian baru menentukan nasib sendiri. aku rasa tentang hal ini Thian Ik-cu pasti memahami sejelas jelasnya, sekalian dia punya ambisi untuk merajai kolong langit tapi belum memiliki kekuatan untuk melawan Sin- kie-pang dan Hong Im Hwte. maka dari itu pastilah sudah dalang di belakang layar dalam peristiwa berdarah ini bukanlah dirinya!….“

“Oooh….! Kiranya di antara tiga partai besar dalam dunia persilatan terdapat hubungan yang sensitif, lalu siapakah pembunuh itu? Kenapa alat untuk melakukan pembunuhan itu bisa berada di tangan Pui Che-giok itu mempunyai raut wajah yang mirip sekali dengan dua bersaudara she-Pek?? Sungguh aneh” pikir Hoa Thian- hong dalam hati.

Setelah berpikir pulang pergi ia tetap merasa bahwa Pui Che-giok dayang kepercayaan dari Giok Teng Hujien adalah satu-satunya yang akan ia selidiki. Maka diapun alihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.

“Kedatangan loo-pangcu ke wilayah Kanglam kali ini apakah sedang bekerja sama dengan Jin Hian untuk melenyapkan pihak Thong-thian-kauw??”

Pek Siau-thian mengangguk. “Inilah pekerjaan pertama yang dilakukan kami sejak perkumpulan Sin-kie- pang bekerja sama dengan Hong-im-hwie”.

“Tahu diri tahu keadaan musuh, setiap bertempur pasti menang, aku rasa apa tindakan Thong-thian-kauw ternyata pangcu sudah mengetahui bukan??….”

“Andaikata Hiantit adalah Thian Ik toosu tua itu, apa yang hendak kau lakukan untuk menghadapi situasi semacam ini?”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Siautit tak tahu bagaimana kekuatan yang sebenarnya dari pihak Thong- thian-kauw, sulit bagiku untuk menjawab pertanyaan ini”.

“Kekuatan dari Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw adalah seimbang satu sama lain, sekalipun berbeda juga sedikit sekali”. Hoa Thian-hong termenung sebentar lalu menjawab, “Kalau Thong-thian-kauw harus satu lawan dua sudah pasti mereka tak akan tahan, bila siautit yang jadi mereka maka akan kugunakan siasat menggeser pantai melompati perahu. sebelum Lo-pangcu serta Jin Hian sempat mendekati kota Leng An. di tengah jalan akan kuserang lebih dulu salah satu pihak yang terlemah agar kalang kabut dan pusing kepala..,”

Sambil tersenyum Pek Siau-thian segera gelengkan kepalanya. “Persoalan mengenai Tiga besar dunia persilatan selamanya memang tak bisa diraba oleh orang luar, tindakan yang dilakukan baik oleh Thian Ik-cu, Jin Hian maupun diriku sendiri sering kali jauh diluar dugaan orang lain!…”

“Lo-pangcu, bagaimana kalau kau terangkan cara kerja kalian hingga membuka pikiran boanpwee yang bebal” seru Hoa Thian-hong dengan sepasang alis berkerut.

Pek Siau-thian tertawa. “Tiga golongan besar berdiri saling bermusuhan, siapa yang turun tangan lebih dulu dialah yang bakal rugi, siapapun tidak ingin menguntungkan pihak yang lain sebelum tiba pada waktunya untuk adu senjata siapa yang mencari gara- gara lebih dulu dialah yang akan bertindak sebagai pelopor, keadaan ini selalu tetap dan tak akan berubah untuk selamanya”

“Bila Thian Ik-cu tidak mencari siasat bagus untuk menghadapi situasi semacam ini, dan andaikata pasukan musuh sudah berada di depan mata, bukankah waktu itu keadaan sudah terlambat??”

“Pertarungan antar perkumpulan jauh berbeda dengan pertempuran antar dua negara, sekalipun pasukan sudah berada di depan mata itu bukan berarti pertempuran segera akan berlangsung, mungkin saja ketika tiba pada waktunya keadaan sama sekali berubah karena mungkin aku akan bekerja sama dengan Thian Ik-cu untuk melenyapkan perkumpulan Hong-im-hwie, mungkin juga Jin Hian bekerja sama dengan Thian Ik si toosu tua itu untuk merontokkan perkumpulan Sin-kie-pang”

“Jika demikian keadaannya, bukankah itu berarti bahwa mereka sudah mempermainkan kesetiaan kawan serta janji yang telah diucapkan” pikir Hoa Thian-hong dalam hati. “Rupanya mereka lebih mementingkan keuntungan pribadi dari pada hubungan persahabatan!”

Terdengar Pek Siau-thian tertawa keras dan berkata lebih lanjut, “Urusan yang ada di dunia bagaikan orang bermain catur, perubahan yang kemudian terjadi sukar diduga sejak semula. mungkin saja setelah pasukan dari tiga golongan bertemu satu sama lainnya tiba-tiba tujuan berubah dan ditujukan untuk menghadapi Hiantit, siapa tahu bukan??”

Hoa Thian-hong merasa terkejut, tapi diluaran sambil tertawa paksa katanya, “Loo pangcu, kenapa kau musti menakut-nakuti diri boanpwee dengan ucapan semacam itu?? Boanpwee toh tidak lebih hanya seorang pemuda yang baru saja terjun ke dalam dunia persilatan, mana begitu tinggikah perhatian kalian pada diriku??” “Pendapat hiantit keliru besar” kata Pek Siau-thian sambil tertawa ewa, “Ibumu masih hidup di kolong langit sedang hiantit merupakan mustika dalam kolam. cukup berbicara dari keadaan sekarang sudah jelas menunjukkan bahwa pengaruhmu amat besar tiap hari pengaruhmu itu berkembang semakin luas, bila dibiarkan berlarut larut maka keadaanmu akan jadi amat berbahaya”

Peluh membasahi seluruh tubuh Hoa Thian-hong, selanya, “Ibuku tawar terhadap perebutan nama dan kedudukan, sedangkan boanpwee masih muda dan tiada berpengalaman hanya dibantu oleh seorang pelayan tua masa dikatakan pengaruhnya berkembang, pengaruh apa yang berkembang??”

Ucapan Pek Siau-thian tiba-tiba berubah jadi amat santai, ia tertawa dan berkata, “Mega membuntuti naga angin membuntuti harimau, betulkah hian-tii seorang diri??”

Dia angkat cawan araknya dan berkata lebih lanjut sambil tertawa, “Hiantit, bila tiga golongan besar mengurung kau ditempat ini maka tidak sampai tiga bulan seluruh jago lihay dari kalangan lurus baik itu kenal atau tidak mereka akan berduyun-duyun datang kemari. waktu itu tiga golongan akan bekerja sama dan membasmi mereka semua dari muka bumi, bukankah hal ini bagus sekali??”

Makin didengar Hoa Thian-hong merasa hatinya semakin terkejut, pikirnya di dalam hati, “Ucapannya memang sangat masuk diakal, Cu Tong locianpwee serta Ciong Lian-khek beberapa orang jago bukankah menguatirkan keselamatanku karena mengingat di atas nama baik ayahku?? Seandainya aku benar-benar terjatuh ke tangan pihak musuh, Para jago dari kalangan lurus sudah pasti tak akan berdiam diri belaka, bila mereka munculkan diri untuk menolong aku niscaya perbuatan mereka itu sama artinya terjerumus dalam siasat lawan, bahkan kemungkinan besar jiwa ibukupun akan terancam.”

Ia adalah seorang pemuda yang cerdas, setelah berpikir sebentar ia segera menyadari akan lihaynya kejadian itu, iapun tahu Pek Siau-thian sengaja menakut- nakuti dirinya tentulah didasari tujuan tertentu, maka sambil menenangkan hatinya ia berkata, “Terima kasih atas petunjuk yang diberikan oleh Lo-pangcu, bila aku boleh bertanya bagaimanakah pendapatmu mengenai cara untuk menghindarkan diri dari bencana ini??”

Pek Siau-thian angkat kepala dan tertawa terbahak bahak. “Haaaah….. haaaaah….. haaaah……. kalau memang hiantit bertanya secara terus terang, akupun akan beberkan pendapatku sebagaimana yang kupikirkan, satu-satunya jalan yang terbaik bagimu adalah pergi sejauh-jauhnya dari sini dan jangan mencampuri lagi urusan pertikaian ini”

“Bila perahu berada di tengah sungai, maju atau mundur adalah sama-sama jauhnya, boanpwee tak mungkin bisa lolos dari sini lagi” “Kalau memang demikian adanya maka lebih baik hiantit secepatnya menyatakan sikap dan secara resmi mengumumkan bahwa kau telah bergabung dengan salah satu kelompok diantara tiga golongan besar. Hanya berbuat demikian saja kau baru dapat menghindari gencetan dari tiga pihak”

“Kalau didengar dari pembicaraan tersebut, rupanya ia suruh aku bergabung dengan pihak Sin-kie-pang…” pikir pemuda itu.

Dalam hati berpikir demikian, diluaran ia berkata, “Dari pihak Thong-thian-kauw aku cuma kenal Giok Teng Hujien seorang, hanya perkenalan itu mendalam maka tak mungkin bagiku bergabung dengan dirinya, apa lagi Ang Yap Toojin punya permusuhan dengan diriku, bergabung dengan pihak Thong-thian-kauw sudah tak mungkin lagi bagi diriku”

Pek Siau-thian tertawa, selanya, “Hiantit telah melakukan perjalanan jauh bersama-sama Jin Hian, aku Iihat hubungan kalian bagaikan sahabat yang intim”

“Kematian Jin Bong sedikit banyak melibatkan pula diri boanpwee,” kata Hoa Thian-hong sambil tertawa ewa, “Jin Hian bukanlah seorang manusia yang berjiwa besar, dendam sakit hatinya itu suatu saat pasti akan dibalas, sekarang boanpwee sudah sadar. ia menahan diriku selama ini bukan lain adalah menggunakan aku sebagai umpan untuk memancing kedatangan para jago dari kalangan lurus hingga bisa berhubungan dengan dirinya, dan dapat dipergunakan tenaganya.” Pek Siau-thian mengangguk, ujarnya sambil tersenyum. “Termasuk aku sendiri, pemimpin dari tiga golongan besar bukanlah manusia baik-baik….”

Hoa Thian-hong tertegun, pikirnya, “Kau berkata demikian. bukankah itu berarti bahwa pembicaraan yang berlangsung selama ini hanya omong kosong belaka…..”

Sementara kedua orang itu masih berbincang hal yang tak berguna, tiba-tiba horden tersingkap dan muncullah Pek Kun-gie serta Hoa In.

Air muka Pek Siau-thian seketika berubah bebat, tegurnya, “Gie-ji, kenapa kau tak mau dengarkan perkataanku??”

Dengan kepala tertunduk dan nada sedih Pek Kun-gie menjawab, “Ayah, kukatakan secara terus terang kepadanya, dia bukanlah manusia yang gampang dipaksa oleh ancaman”

Hoa Thian-hong jadi sangat terkejut setelah mendengar perkataan itu, secara tiba-tiba ia merasa bahwa urusan yang dihadapinya saat ini jauh lebih serius daripada apa yang diduganya semula, rasa curiga segera muncul membuat hatinya jadi tak tenteram.

Rupanya Pek Siau-thian sedang mengalami kesulitan besar, air mukanya berubah beberapa kali, sambil mencekal cawan lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa. Setelah tertegun sesaat tiba-tiba Pek Kun-gie berjalan ke depan dan duduk disisi Hoa Thian-hong, tanyanya dengan suara lirih, “Apakah kau telah mempunyai ikatan perkawinan dengan Chin Wan-hong?”

Perkataan itu diucapkan amat lirih bagaikan bisikan- bisikan nyamuk dan dengan kepala tertunduk rendah2, tapi bagi Hoa Thian-hong bagaikan guntur membelah bumi di siang hari bolong sekujur tubuhnya bergetar keras.

Pada saat itulah Pek Siau-thian berbatuk ringan lalu berkata, “Hiat-tit, marilah kita buka kartu dan berbicara sekarang terang-terangan”

“Boanpwee akan turut perintah!”

“Perpisahanku dengan istriku sudah merupakan suatu kejadian yang tak beruntung bagi keluargaku, putri sulungku Soh-gie difitnah orang dan sekarang putriku yang bungsu Kun-gie pun menemui persoalan, aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi atas keluargaku.”

“Aku dapat memahami kesulitan yang sedang dialami oleh lo-pangcu!”

“Tapi sayang putriku Kun-gie tak tahu diri, dan ia ingin menggunakan kedudukannya, muda dan mudi memang sukar untuk dihindari hal ini harus disalahkan kepada kami yang jadi orang tuanya tak bisa mendidik secara baik-baik dimasa yang lalu hingga sekarang jadi kelabakan sendiri. Sekarang urusan sudah jadi begini, aku tak bisa menghalangi pun tak bisa memenuhi harapannya coba hiantit berpikir bila aku tak bisa selesaikan persoalan ini bukankah orang kangouw akan mentertawakan ketidakbecusanku??”

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, ia tak tahu apa yang musti dikatakan pada waktu itu.

Urusan ini menyangkut nama baik Pek Siau-thian. menyangkut pula nama baik Pek Kun-gie, bila sepatah kata saja Hoa Thian-hong salah berbicara maka dalam malunya Pek Siau-thian berdua tentu akan berubah jadi gusar dan mendendam terhadap dirinya.

Untuk beberapa saat lamanya suasana dalam ruangan itu jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, Hoa Thian-hong jadi serba salah dan tak tahu apa yang musti dikatakan, sedang Pek Kun-gie dengan sepasang matanya yang jeli menatap terus wajahnya tanpa berkedip tubuhnya nampak agak gemetar.

Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian berkata kembali, “Hiantit, urusan sudah jadi begini, bila kau tidak menampik tawaranku ini dan tidak kecewa dengan putriku yang jelek aku ingin menjodohkan dirinya kepadamu”

Agaknya untuk mengucapkan beberapa patah kata itu dia harus mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya, habis berkata ia menghembuskan napas panjang dan menyambung lebih jauh dengan suara lemah, “Semula akupun seorang manusia yang kasar. atas jerih payahku yang tak kenal lelah akhirnya aku berhasil juga membangun suatu usaha yang besar seperti hari ini. Sekarang aku merasa usiaku telah tua sedang keturunan belum ada, bila hiantit tidak menampik maka aku akan gunakan perkumpulan Sin-kie-pang ini sebagai mas kawin dari putriku. asal putriku telah kawin maka akupun akan berlega hati. Bukankah dengan demikian Hiantit pun dapat melanjutkan pula keturunan dari keluarga Hoa??”

Soal perkawinan ini kecuali didasari oleh kecantikan wajah Pek Kun-gie yang luar biasa serta rasa sayangnya terhadap putri sendiri, di samping itu disertakan pula suatu gertakan yang amat besar.

Hoa Thian-hong yang berada dalam posisi terjepit. terutama sekali menghadapi keributan dari kelompok tiga besar, sepantasnya kalau ia terima tawaran itu dengan serang hati.

Hoa In adalah pelayan tua dari tiga keturunan keluarga Hoa dia sayang majikan mudanya melebihi sayang pada jiwanya sendiri, ketika mendengar Pek Siau- thian ajukan pinangan jantungnya segera berdebar keras.

Ia merasa dengan asal usul majikan mudanya yang cemerlang, tidak pantas kalau ia kawin dengan putri seorang manusia kasar tapi iapun merasa sulit untuk menganjurkan majikannya menampik mengingat situasi yang sedang mereka hadapi berbahaya sekali.

Sebaliknya bila dia anjurkan majikannya untuk menerima pinangan itu, berarti sebuah perkumpulan besar ada harapan jatuh ke tangan majikannya, dengan kemampuan dari majikannya itu ia merasa kemungkinan besar di kemudian hari seluruh kolong langit akan menjadi milik keluarga Hoa.

Pikir bolak-balik merasa serba salah, untuk beberapa saat pelayan tua inipun tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tiba-tiba Pek Kun-gie menggenggam tangan Hoa Thian-hong, dengan suara gemetar tanyanya, “Thian Hong, apakah kau telah mempunyai janji dengan Chin Wan-hong untuk sehidup semati??”

“Sama sekali tidak……” ia berhenti sejenak, tiba-tiba sambil berpaling ke arah Pek Siau-thian lanjutnya lebih jauh, “Aku merasa amat terharu dan berterima kasih sekali atas perhatian serta kasih sayang dari lo- pangcu……”

“Sebagai seorang pria sejati hidup sebagai pendekar mati sebagai pahlawan tiada persoalan yang perlu dikuatirkan. Hiantit! Kau sebagai seorang jago yang luar biasa sepantasnya kalau menjawab secara tegas, menerima atau menampik harap dikatakan secara terus terang”

“Ketika boanpwee hendak meninggalkan rumah tempo dulu,” ujar Hoa Thian-hong dengan tenang, “ibuku telah menyampaikan beberapa buah urusan kepadaku, diantaranya adalah melarang aku kawin lebih dulu” “Kenapa?” sela Pek Kun-gie sambil membelalakkan matanya dari pihak keluarga Hoa, toh tinggal kau seorang….”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Ibu takut akan tenggelam dalam kesenangan keduniawian hingga membuka masa mudaku dengan begitu saja.”

“Aku tak pernah terikat dendam permusuhan dengan keluarga Hoa kalian,” terdengar Pek Siau-thian berkata pula, “sedang ibumu adalah seorang pendekar wanita aku percaya ibumu tak akan menampik perkawinanmu dengan putriku.

Hoa Thian-hong adalah seorang pemuda yang amat berbakti kepada orang tuanya, kata2 dari ibunya itu sudah melekat dalam2 di hati sanubarinya, sejak terjun ke dalam dunia persilatan belum pernah ia pikirkan masalah perkawinannya. Walaupun begitu diapun takut ucapannya menyakiti Pek Siau-thian berdua, maka dengan wajah tenang ia melanjutkan, “Soal perkawinan adalah urusan yang diatur oleh orang tua, biar ibuku sudah menyanggupi perkawinan ini, tentu saja boanpwee tak akan menampik!”

“Jadi kalau begitu, hiantit pribadi telah menyetujui perkawinan ini??” sambung Pek Siau-thian dengan cepat.

Melengak Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, ia segera menggeleng dan menjawab, “Boanpwee sejak terkena racun keji Teratai empedu api, selama hidup tak bisa beristri dan beranak lagi, dalam keadaan begini boanpwee tak pernah memikirkan tentang soal pernikahan, sebab aku tidak ingin merusak kehidupan gadis manapun akibat dari keadaanku ini”

Apa yang diucapkan olehnya merupakan kenyataan sekalipun Pek Siau-thian cerdas dan banyak akal tak urung dibikin gelagapan juga, ia tak tahu apa yang musti dikatakan dalam keadaan begini.

Pek Kun-gie yang duduk disisi ayahnya jadi teramat gelisah menyaksikan hal itu, setelah ditunggunya sebentar namun tidak kedengaran ayahnya buka suara untuk menanggapi perkataan tadi, ia semakin cemas lagi sehingga tanpa sadar ia berseru, “Thian Hong, aku juga bukan seorang perempuan yang terlalu mementingkan soal-soal sepele, apalagi kita semua merupakan jago- jago yang pernah belajar silat, asal kau tidak menampik diriku serta memandang rendah aku orang she-Pek, sekali pun telah menikah suami istri, tetap masih bisa hidup rukun dan penuh kedamaian, apa sangkut pautnya keadaan itu dengan racun teratai empedu api yang mengeram dalam tubuhmu itu??”

Sebagai gadis muda sama sekali belum punya pengalaman, terhadap arti perkawinan dan hubungan kelamin pandangannya sangat jauh dan hambar apalagi api cinta yang berkobar dalam hatinya terhadap diri Hoa Thian-hong telah merasuk ke tulang sumsum, ucapan yang dia utarakan keluar semuanya muncul dari hati sanubari yang murni dan tiada maksud paksaan.

Hoa Thian-hong sendiri masih kabur pandangannya terhadap persoalan itu, bagi dirinya perkataan yang diucapkan gadis itu juga dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa dan sama sekali tidak janggal.

Lain halnya dengan Pek Siau-thian yang sudah banyak pengalaman serta mengerti mendalam akan arti cinta yang sebenarnya antara lelaki dari wanita, meskipun cintanya murni namun hubungan badaniahlah yang mempererat serta memperdalam cinta itu, tanpa berbuat demikian lama kelamaan cinta itu bakal luntur dan akhirnya patah. Tentu saja sebagai orang tua dia merasa agak canggung untuk menjelaskan soal hubungan pribadi lelaki dan wanita itu kepada putrinya.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, setelah berpikir sebentar dia lantas berkata, “Hiantit, putri dari Pek Siau-thian bukanlah gadis yang tidak laku untuk dikawinkan dengan orang lain, jawablah secara terus terang dan terbuka, andaikata kadar racun Teratai empedu api yang mengeram di dalam tubuhmu dapat dipunahkan, apa yang hendak kau lakukan?”

Ragu ragu hati Hoa Thian-hong mendapat pertanyaan itu, pikirnya di dalam hati, “Enci Wan-hong pernah melepaskan budi pertolongan terhadap diriku, walaupun diantara kami tak pernah terikat oleh suatu hubungan apapun, namun boleh dibilang hati kami sudah bersatu, andaikata aku punya kesempatan untuk mencari istri dan menikah sepantasnya kalau kupilih dirinya sebagai istriku, tapi bagaimana pula dengan tawaran Pek Siau- thian ini? Apa yang musti kau lakukan?” “Sebagai pria yang amat kuat rasa kesetiakawanannya, sulit bagi pemuda ini untuk melupakan setiap kebaikan yang pernah di berikan Chin Wan-hong terhadap dirinya, tetapi diapun mengetahui mara bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya pada saat ini, bila jawabannya tepat maka kemungkinan besar keluarga Hoa akan mengikat hubungan famili dengan keluarga Pek, sebaliknya kalau dia salah bertindak maka pertumpahan darah pasti tak akan terhindar, Pek Siau- thian tentu akan memandang dirinya sebagai musuh besar yang paling dibenci, sedang kehidupan Pek Kun-gie pun akan ikut hancur di tangannya,”

Berpikir akan seriusnya masalah ini, ia segera bangkit dan memberi hormat, ujarnya dengan wajah serius, “Racun keji Teratai empedu api adalah racun yang tak mungkin bisa dipunahkan. tiada kemungkinan bagiku untuk terbebas dari pengaruh racun ini, karenanya terhadap masalah perkawinan yang merupakan masalah besar boanpwee harap kita bisa berbicara sesuai dengan kenyataan, omong kosong hanya akan mencelakai orang lain serta mencelakai diri sendiri. Aku harap Lo-pangcu suka mempertimbangkan masak-masak tentang persoalan ini, janganlah disebabkan salah bertindak mengakibatkan semua orang ikut menderita.”

Pek Siau-thian tidak berputra dan belum pernah menerima murid, terhadap diri Hoa Thian-hong boleh dibilang dia memandang tinggi dan serius, apa daya persoalan ini menyangkut kebahagiaan hidup putrinya sepanjang masa karena itu dalam keadaan begini terpaksa ia musti lakukan segala sesuatu apapun dengan harapan bisa memaksa pemuda itu menuruti keinginannya.

“Ayah!” terdengar Pek Kun-gie berseru, “kau orang tua jangan terlalu memaksa dirinya, akupun tidak terburu nafsu untuk menikah. biarlah aku menunggu tiga sampai lima tahun lagi ….“

“Seandainya ada orang hendak mencelakai jiwanya, apakah kau dapat berpeluk tangan belaka membiarkan dia mati terbunuh??” seru Pek Siau-thian dengan suara dingin.

“Tentang soal itu aku harap Lo-pangcu tak usah merisaukan diri,” tukas Hoa Thian-hong dengan cepat, “boanpwee telah menyerahkan nasibku atas pengaturan takdir, aku tidak akan menyusahkan diri kesayanganmu”.

“Itu toh menurut jalan pemikiranmu, kalau dia akan mencampuri urusanmu itu apakah kau mampu untuk menghalangi atau mencegahnya??”

“Sekalipun putri bakal mati, tak nanti aku menyusahkan ayah!” ujar Pek Kun-gie.

Pek Siau-thian mendengus dingin.

“Hmm! pendapat seorang bocah cilik seandainya ada orang hendak membinasakan dirimu, kau anggap aku bisa berpeluk tangan belaka menyaksikan kau dijagal orang?” Dalam hati Pek Kun-gie merasa amat sedih, namun sambil menekan perasaan pedih itu di dalam hati katanya terhadap diri pemuda itu, “Thian Hong, kau harus ingat bahwa Jin Hian adalah manusia licik yang sangat berbahaya, melakukan perjalanan bersama dia cepat atau lambat pasti akan terbokong olehnya, lebih baik kau tak usah kembali kesana berdiamlah saja di tempat ini”.

“Dlsitu masih ada dua orang cianpwee yang sedang beristirahat, jika aku tidak kembali, rasanya aku akan kehilangan rasa hormatku sebagai angkatan yang lebih muda……”

Habis berkata ia putar badan dan segera mohon diri kepada diri Pek Siau-thian.

Ketua dan perkumpulan Sin-kie-pang itu sama sekali tidak menahan dirinya, ia segera mengantar tamunya keluar dari ruang perahu.

Pek Kun-gie bagaikan burung kecil yang jinak menempel terus disisi badan Hoa Thian hingga sampai ke atas daratan mereka hanya saling berpandangan belaka dengan mulut membungkam, banyak persoalan yang hendak

mereka bicarakan namun siapapun tak tahu musti berbicara dari mana lebih dahulu

Hoa Thian-hong terburu-buru hendak tinggalkan tempat itu, setelah termenung sebentar akhirnya ia berseru, “Nona Pek….“ “Apakah kau musti memanggil diriku dengan sebutan nona Pek??” sela Pek Kun-gie dengan nada yang murung bercampur sedih.

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, bisiknya lirih, “Sejak jaman dahulu orang yang terlalu romantis akan berakhir dengan rasa kebencian kau adalah manusia cerdik, janganlah di sebabkan soal sepele menyebabkan masa mudamu hilang dengan begitu saja, di kemudian hari kau akan merasa menyesal karena sikapmu itu”

Pek Kun-gie menggeleng. “Aku telah membuat jaring untuk membelenggu diriku apa daya?? Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi”

Dengan murung bercampur sedih Hoa Thian-hong menghela napas panjang ia termenung beberapa saat lamanya, akhirnya sambil mengempos semangatnya berkata, “Dewasa ini banyak masalah dunia persilatan yang sedang terjadi tiada waktu bagiku untuk mengurusi soal cinta serta hubungan pribadi antara muda dan mudi, ambillah keputusan buat dirimu sendiri! andaikata aku sampai mengecewakan dirimu janganlah salahkan kalau aku tak kenal budi…”

Bicara sampai disitu ia segera putar badan dan berlalu dari situ.

Rasa cinta yang bersemi dalam tubuh Pek Kun-gie telah berkembang biak, ia tak mungkin bisa disadarkan hanya dengan sepatah dua patah kata belaka, dengan termangu-mangu ia berdiri menjublek di tempat semula, sorot matanya memancarkan kebingungan serta kebodohan………

Oh Sam sejak semula telah menunggu disitu, ia segera menuntun kuda bagi pemuda itu Hoa Thian-hong berdua dengan cepat loncat naik ke atas punggung kuda dan melarikannya menuju ke arah kota.

Ketika hampir tiba di pintu kota, tiba-tiba tampaklah Ciong Lian-khek sambil membawa Chin Giok-liong serta Bong Pay menyongsong kedatangannya dari arah depan, Hoa Thian-hong segera meloncat turun dari kudanya sambil berkata, “Cianpwee, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, boanpwee punya rencana untuk berangkat lebih dahulu ke kota Leng An, aku ingin pulang ke rumah untuk menyampaikan hal ini kepada cianpwee sekalian”