Bara Maharani Jilid 11 : Giok Teng Hujien

 
Jilid 11 : Giok Teng Hujien

BERPIKIR demikian ia lantas berteriak keras, “Eeeei, hweesio gede, kau jangan membuat malu Sam Tang-kee

….”

Telapak tangannya disertai angin pukulan yang maha hebat segera disodokkan ke arah tubuh Sam Sam Hauw. Jurus serangan “Koen-Sioe-Ci-Tauw” ini merupakan ilmu pukulan yang sangat diandalkan oleh si kakek Telaga dingin Cioe It Bong, ditambah pula hawa panas yang dihasilkan oleh Teratai racun empedu Api yang rnengeram di dalam tubuhnya, serangan itu begitu dilepaskan segera tampaklah desiran angin tajam yang menderu deru bagaikan ambruknya gunung thay-san laksana kilat menggulung ke depan.

Seng Sam Hauw terdesak hebat,- dalam posisi yang kepepet terpaksa ia harus tinggal kan Ciong Lian-Khek untuk putar badan menyambut datangnya ancaman tersebut.

“Ploook!“ kedua belah pihak telah saling beradu telapak satu kali, ditengah benturan keras badan mereka berdua sama-sama bergeser miring dari posisi semula,

Diam-diam Seng Sam Hauw merasa terperanjat juga menyaksikan kehebatan tenaga dalam lawannya, ia merasa lengannya jadi kaku dan linu sekali segera pikirnya, “Tenaga pukulan yang dimiliki keparat cilik ini benar-benar sangat dahsyat, andai kata Coe Siauw Khek sampai hilang jiwanya termakan oleh serangan bangsat ini, aku bakal malu menghadapi ayahnya.,…”

Dalam hati ia berpikir demikian Sepasang tangannya sama sekali tidak berhenti menyerang tangan kirinya mendadak menyerang kesana mendadak menyapu kemari semuanya mengenai dan membendung datangnya serangan musuh, sementara telapak kanannya dengan menggunakan ilmu ‘*Tay-Chiu Eng” sekali demi sekali mengirim pukulan-pukulan berat.

Kiranya si anak muda berbaju ringkas itu bernama Coe Siauw Khek, dia adalah putra dari Coe Goan Khek dedengkot di dalam perkumpulan Hong-im-hwie.

Coe Goan Khek sebagai seorang pemimpin yang menduduki kursi kedua di dalam perkumpulannya mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, sedikit dibawah kekuasaan Jien Hian itu ketua dari Hong-im- hwie,

Jien Hian telah kehilangan putranya yang mati secara misterius. sekarang apabila Coe Siauw Khek pun mati di tangan orang lain, orang-orang dari perkumpulan Hong- im-hwie tentu akan merasa malu dan kehilangan muka.

“Hoa Thian-hong!” tiba-tiba terdengar si Malaikat berlengan delapan Cia Kim merebentak keras. “Besar amat nyalimu, berani menangkap ikan di air keruh!”

“Hmm! apanya yang luar biasa?” jengek Hoa Thian- hong dengan suara dingin. “Setelah kubabat mati kau Cia Kim, aku orang she Hoa bisa menggabungkan diri ke pihak Tong Thian Kau!”

“Huhl pihak Tong-thian-kauw tidak bakal sudi menerima manusia macam kau!”

Hoa Thian-hong mendengus dingin. “Omong kosong! setelah perkumpulan Hong-im-hwie kehilangan Loo-sam serta Loo-ngo nya…..”

“Bajingan cilik! kau lagi bermimpi di siang hari bolong!” seru Seng Sam Hauw sambil menyeringai seram.

Secara beruntun ia lancarkan beberapa serangan berantai yang hebat dan gencar, untuk sementara Hoa Thian-hong keteter hebat dan tak sanggup mempertahankan diri, dalam keadaan begitu ia tak sempat untuk buka mulut lagi.

Dengan demikian dalam kalangan itupun terjadi dua kelompok pertempuran, disatu pihak si malaikat berlengan delapan Cia Kim bertempur seru melawan Ciong-Lian-Khek, di pihak lain Hoa Thian-hong bertempur melawan Seng Sam Hauw.

Ciong-Lian-Khek meskipun hatinya dibakar oleh rasa dendam yang menumpuk, ingin sekali ia membabat tubuh Cia Kim hingga hancur lebur untuk melampiaskan rasa sakit hatinya, apa daya kekuatan ilmu silat yang dimiliki pihak musuh tidak berada dibawah dirinya, dalam keadaan seimbang untuk beberapa waktu siapapun sukar untuk merebut kemenangan.

Dipihak lain Hoa Thian-hong yang bergebrak melawan Sang Sam Hauw keadaannya berbeda jauh, kalau si- hweesio gede menang dalam pengalaman menghadapi musuh maka Si anak muda itu telah ampuh di dalam jurus serangan yang dipergunakan olehnya, tenaga lwekangnyapun amat sempurna karena itu keadaan mereka seimbang untuk sementara juga sulit untuk menentukan siapa menang siapa kalah,

Makin bertempur semakin seru, makin bergebrak semakin cepat. Tanpa terasa keempat orang itu sudah bergebrak hampir melebihi ratusan jurus banyaknya.

Dalam pertempuran hari ini- seandainya Coe Siauw Khek belum terluka dan ia bekerja sama dengan Seng Sam Hauw: niscaya Hoa Thian-hong dalam waktu singkat bakal keok setelah si anak muda itu kalah maka gabungan tenaga kedua orang itu bisa alihkan perhatian untuk membantu Cia Kim menghadapi Ciong Lian Khek.

Menghadapi kerubutan tiga orarg jago ampuh, akhirnya si jago berewok inipun bakal menderita kekalahan bebat.

Sayang seribu kali sayang Coe Siauw Khek terlalu pandangan enteng tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong sehingga terluka parah lebih dahulu, dengan begitu maka posisipun menjadi dua lawan dua alias seimbang.

Pertempuran sengit yang berlangsung pada saat itu sungguh merupakan suatu pertarungan yang jarang ditemui pada sepuluh tahun terakhir, kendati Ciauw Khong menjabat sebagai ketua kantor cabang kota Cho- Chiu namun ilmu silat yang ia miliki masih belum sanggup untuk digunakan menghadapi manusia-manusia kosen semacam ini. Maka setelah memperhatikan jalannya pertempuran beberapa saat, ia lantas berpaling ke arah Coe Siauw Khek dan berbisik: Pertempuran yang sedang berlangsung ini terlalu sengit dan sulit diduga pihak mana yang bakal menang, bagaimana kalau cayhe lepaskan tanda bahaya untuk memanggil bala bantuan?”

Coe Siauw Khek termenung dan berpikir sejenak, kemudian jawabnya, “Mengundang bala bantuan sih boleh saja cuma kau harus ingat bahwa keparat cilik she- Hoa itu dewasa ini sudah menjadi suatu barang dagangan yang aneh, kalau sampai tanda bahayapun memancing kehadiran orang-orang dari perkumpulan

Sin-kie-pang serta Tong-thian-kauw, Waaah! kita bisa berabe menghadapi manusia-manusia itu!

“KaIaa begitu biarlah cayhe pergi sendiri ke kantor untuk cari bala bantuan!”

Selesai bicara ia putar badan dan berlalu dengan cepat dari satu. Baru saja Ciauw Khoag berlalu, situasi dikalangan pertempuran hendak mengalami perubahan besar.

Tampaklah Ciong Liam Khek mainkan lengannya yang kutung dengan hebat, diikuti pedang panjang berkilauan mencengkeram cahaya tajam, bayangan pedang menggunung dan di dalam waktu singkat seluruh tubuh. Malaikat berlengan delapan Cia Kim sudah terbelenggu di dalam kepungan musuh.

Terdengar si Malaikat Berlengan delapan Cia Kim segera membentak dan berteriak berulang kali, angin pukulan menderu bayangan telapak menyambar silih berganti, rupanya ia sedang berusaha keras untuk menerjang keluar dari kepungan musuh.

Dipihak lain Hoa Thian-hong yang menyaksikan Ciong Lian Khek telah unjukkan keampuhan, tanpa sadar semangatnya ikut berkobar. Ia segera membentak keras’ satu serangan demi satu serangan dilancarkan semakin gencar, tiap pukulan disertai deruan angin puyuh yang cukup merobohkan sebuah bukit, dalam waktu singkat empat lima belas jurus telah dilewatkan dengan cepat.

Seng Sam Hauw jadi terdesak hebat, ia kelabakan dan musti silangkan tangannya kesana kemari untuk berusaha menyelamatkan diri dari ancaman lawan.

Diteter terus menerus semacam ini, akhirnya hawa gusar yang berkobar dalam dada Seng Sam Hauw meledak juga, sambit gertak gigi teriaknya, “Manusia rendah, seandainya Hoed-ya tidak bunuh kau jadi perkedel, aku bersumpah tak akan jadi manusia!”

Setelah bangkit daya tempurnya, seketika itu juga sepasang tangannya balas menyerang secepat sambaran kilat. Tangan kiri melancarkan ilmu Kim-Na-Jiu serta ilmu totokan sementara tangan kanannya mengeluarkan ilmu pukulan “Toa-Jiu-Eng” untuk balas menyerang.

Angin pukulan menderu-deru, seluruh kalangan pertempuran jadi sesak dan penuh dengan bayangan telapak. Setelah hweesio gede itu mengambil keputusan untuk merubah dari posisi bertahan jadi posisi menyerang, Hoa Thian-hong seketika terdesak hebat dan mundur berulang kali, kini ia yang dibikin kelabakan oleh teteran musuh.

Mendadak Ciong Lian Khek memperdengarkan suitan rendah yang berat tapi tajam, suatu suitan yang aneh dan tidak dimengerti apa maksudnya.

Suitan tersebut berkumandang di angkasa bagaikan jeritan setan dan lolongan srigala. begitu pedih dan menusuk pendengaran membuat siapapun yang mendengar merasakan hatinya jadi bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri.

Cia Kim si malaikat berlengan delapan jadi terkejut dan tercekat hatinya, nyalinya pecah dan tanpa berpikir panjang lagi ia jejakkan sepasang kakinya ke atas tanah dan kabur dari situ.

Cahaya tajam berkelebat lewat, ditengah jeritan kesakitan sebuah lengan kiri Cia Kim si-malaikat berlengan delapan itu terpapas putus dari tubuhnya, darah segar segera muncrat keempat penjuru dan menodai seluruh permukaan bumi.

Cia Kim bergelar malaikat berlengan delapan, kepandaian silatnya justru terletak pada sepasang telapaknya itu. Sekarang sesudah lengan kirinya terpapas kutung maka ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang sudah hilang keampuhannya. Berada dalam keadaan begini, tentu saja ia tak berani berdiam terlalu lama lagi disitu, baru saja kutungan lengannya jatuh ke atas tanah ia sudah kabur jauh dari kalangan, dalam sekejap mata tubuhnya sudah berada puluhan tombak jauhnya.

Ciong-Lian-Khek tertawa seram, pundaknya bergerak seakan-akan hendak melakukan pengejan, tiba-tiba ia urungkan niatnya tersebut dan putar badan menubruk ke arah Seng Sam Hauw.

Pecah nyali hweesio yang mempunyai tiga kesukaan ini, sepasang telapaknya dengan segenap tenaga didorong ke arah depan, kemudian dengan menggunakan kesempatan yang sangat baik itu ia loncat keluar dari kalangan dan mundur ke belakang.

Semua peristiwa itu terjadi dalam waktu yang amat singkat ketika Coe Siauw Khek menjumpai Cia Kim kabur, ia jadi gugup dan ketakutan setengah mati, tanpa berpikir panjang ia ikut loncat naik ke atas kudanya dan melarikan diri dari situ.

Dalam pada itu sambil memegang pedangnya Ciong Lian Khek berdiri angker ditengah kalangan kedua matanya yang memancarkan Cahaya tajam menatap di atas wajah Seng Sam Hauw tanpa berkedip.

Dia adalah seorang manusia yang mengalami patah hati, kemurungan dan kekesalan sudah menjadi suatu kebiasaan baginya, sekarang sambil membungkam dalam seribu bahasa ia menatap terus wajah Seng Sam Hauw membuat hweesio itu jadi mengkeret, agaknya sebelum hweesio dengan tiga kegemaran ini buka suara diapun tak akan berbicara. Diam-diam Seng Sam Hauw bergidik, ia takut pembicaraan yang salah mengakibatkan terjadinya kembali suatu pertempuran yang tidak menguntungkan’ dalam posisi dua lawan satu ia sadar bahwa kepandaiannja bukan tandingan lawan maka tanpa mengucapkan sepatah katapun ia loncat naik ke atas kudanya dan kabur ke dalam kota.

Lama sekali Ciong Lian khek berdiri termangu-mangu disitu menanti bayangan punggung musuhnya telah lenyap tak berbekas dari pandangan, ia baru melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian berjalan masuk menuju ke arah kota.

Terhadap orang ini Hoa Thian-hong mempunyai kesan yang baik, ditengah perjalanan ia segera menegur, “Sebutan apa yang harus boanpwee gunakan untuk memanggil dirimu?”

“Tak usah kau sebut apa apa!” Hoa Thian-hong tersenyum. “Sayang sekali, hari ini kita tak berhasil membasmi beberapa orang bajingan itu.”

Ciong Lian Khek alihkan sinar matanya memandang sekejap ke atas wajahnya lalu berkata, “Keadaanku tidak jauh berbeda antara hidup dan mati, usiamu masih amat muda, mengikat tali permusuhan dengan mereka hanya. akan mendatangkan marabahaya bagi dirimu saja, lebih baik kau tak usah mencampuri persoalan ini …!”

“Terima kasih atas nasehat yang cianpwee berikan kepadaku,“ sahut Hoa Thian-hong sambil tersenyum. “Maksud boanpwee hanyalah ingin membasmi kawanan durjana dari muka bumi agar umat Bulim bisa hidup dengan aman dan tentram “

“Hmmm! apa yang terjadi sekarang adalah Takdir, dengan mengandalkan kekuatanmu seorang berapa banyak durjana yang sanggup kau lenyapkan? percuma

.. akan sia sia belaka usahamu itu?”

“Boanpwee akan berusaha dengan segenap kemampuan yang kumiliki, sampai mati perjuanganku baru akan berakhir, sukses atau tidak itu bukan jadi soal.”

Jawabannya ini tenang dan sederhana tapi penuh mengandung kepercayaan pada diri sendiri, seakan-akan apa yang akan dilakukan adalah suatu kewajiban baginya.

Agaknya Ciong Lian Khek ada maksud membantah, bibirnya bergerak seperti mau bicara tapi akhirnya dia batalkan maksudnya itu. Setelah merandek beberapa saat lamanya ia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya, “Apa maksudm berdiam di kota Cho-Chiu dan setiap hari masuk keluar rumah makan sambil mempopulerkan “Lari Racun” mu itu? Apakah kau ada suatu tujuan tertentu?”

“Boanpwee sedang mencari jejak ibuku, maka kulakukan kesemuanya itu agar bisa menarik perhatian dari dia orang tua.” Air muka Ciong-Lian-Khek rada tergerak oleh perkataannya itu, ia segera bertanya: Sekarang ibumu berada dimana?” Tiba-tiba ia mendongak memandang angkasa dan menghela napas panjang, sambungnya, “Kekuatan kaum iblis dan sesat makin berkembang jadi besar, kekuasaan serta pengaruhnya jauh lebih hebat dari keadaan dulu…. sebaliknya kaum lurus dan kaum pendekar makin hari makin musnah dari pendengaran, sekalipun ada Hoa hujien yang turun tangan melakukan pimpinan, belum tentu masalah besar ini bisa diselesaikan!”

Bibir Hoa Thian-hong bergerak hendak mengatakan sesuatu. tapi dengan cepat niatnya itu dibatalkan kembali.

Rupanya ia hendak berkata bahwa tenaga lweekang yang dimiliki ibunya telah musnah dan, luka lama yang dideritanya hingga kini belum sembuh, tapi secara tiba- tiba hatinya tergerak, pikirnya, “Sekarang kaum iblis makin cemerlang dan berkuasa sementara kaum pendekar makin terjepit dan putus asa, satu-satunya harapan mereka masih tertumpuk pada pundak ibuku, lebih baik untuk sementara waktu kukelabui dahulu mereka semua daripada hati mereka semakin kecewa dan putus asa, sekali semangatnya telah punah maka sepanjang masa sulit untuk membangun kembali.”

Karena berpikir demikian, maka ia lantas tertawa paksa dan menyahut, “Ibu memerintahkan aku agar menunggu di kota Cho-Chiu, apakah cianpwee kenal dengan ayah ibuku?”

“Di kolong langit siapa yang tak kenal dengan Hoa Tayhiap serta Hoa Hujien ..?” Sembari bercakap-cakap kedua orang itu meneruskan perjalanannya, beberapa waktu kemudian merela telah masuk ke dalam kota.

Ciong-Lian Khek menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, lalu dengan nada serius ujarnya, “Setelah Cia-Kim kehilangan sebuah lengannya, kemungkinan besar rasa gusar dan dendamnya dilampiaskan ke atas

tubuhmu. apa lagi setelah mereka mengetahui akan’ asal usulmu .keadaan semakin gawat! kau musti tahu semakin besar sebuah pohon semakin sering dihembus angin, persoalan ini bukanlah permainan kanak2, aku harap kau suka berhati-hati dan waspada selalu, terutama terhadap serangan mereka atas dirimu secara mendadak.”

“Terima kasih atas petunjuk serta nasehat dari cianpwee, boanpwee selamanya tak berani bertindak secara gegabah,” jawab Hoa-Thian-hong sambil anggukkan kepalanya.

“Nah, hati-hatilah!” sekali lagi Ciong-Lian-Khek memesan wanti2, kemudian ia putar badan dan berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggungnya yang menjauh, Hoa Thian-hong merasa hatinya jadi iba dan sedih terutama setelah mengetahui pengalaman pahit yang telah dialami orang itu, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya, akhirnya iapun berlalu dari situ. Ketika kembali ke rumah penginapan fajar menyingsing, teringat akan janjinya yang disampaikan si utusan pencabut nyawa Ma Ching-san diam-diam ia merasa geli.

Dengan melewati tembok pekarangan ia loncat masuk ke dalam rumah penginapan, kemudian membuka jendela dan menerobos ke dalam kamarnya, mendadak hidungnya mendengus bau harum yang sangat aneh, hatinya jadi bergerak dan dengan cepat ia urungkan niatnya untuk masuk.

Tiba-tiba terdengar serentetan suara teguran yang lembut dan halus berkumandang datang dari arah pembaringannya, “Siauw-ya, kau tentu merasa sangat lelah bukan?”

000O000

MENDENGaR teguran itu sepasang alis Hoa Thian- hong segera berkerut tegurnya dengan suara berat:

,Jago lihay dari mana yang berada disitu?”

“Cici yang ada disini” jawab orang itu sambil perlihatkan separuh tubuhnya dari balik pembaringan. “Masuklah dengan hati lega, jangan biarkan bajumu basah oleh embun pagi!”

Hoa Thian-hong dengan sepasang matanya yang jeli sempat melihat jelas raut wajah orang itu, dia adalah seorang perempuan cantik bersanggul tinggi berhidung mancung berbibir kecil dan rasanya pernah dikenal olehnya, setelah diingat-ingat kembali ia Segera terbayang kembali akan pemandangan sewaktu berada ditepi pantai Sungai Huang-hoo tempo dulu, Kiranya perempuan Cantik itu bukan lain adalah Giok Teng Hujien dari perkumpulan Tong-thian-kauw.

Dalam hati segera pikirnya, “Seluruh tubuhku telah penuh dengan racun, badanku sudah kebal terhadap racun macam apapun. Kecuali di dalam ilmu silat kita belum pernah bergebrak untuk mengetahui siapa menang siapa kalah, rasanya dia pun tak akan sanggup mengapa-apakan diriku…….”

Karena berpikir begitu la lantas jejakkan kakinya dan menerobos masuk ke dalam kamarnya lewat jendela.

Terdengar Giok Teng Hujien berkata, “Tutuplah pintu jendela dan pasanglah lampu lentera!”

“Hmm! maaf cayhe sedang lelah. lebih baik kau turun tangan sendiri!…:” tampik Hoa Thian-hong dengan nada ketus, habis bicara ia segera duduk dikursi.

Giok Teng Hujien tertawa riang, “Eeeif bukankah kau telah masuk jadi anggota perkumpulan Tong-thian- kauw…?” tegurnya. “Bagaimanapun aku toh menjadi anggota lebih dahulu, kalau dihitung maka aku lebih punya hak dari pada dirimu bukan begitu?”

“Oooh….. Jadi ia sudah tahu akan pertarunganku melawan si hweesio gede tadi…“ pikir Hoa Thian-hong di dalam hati. Di dalam ia berpikir demikian, diluar ia menjawab dengan nada hambar, “Pek Kun-gie undang diriku untuk masuk menjadi anggota Sin-kie-pang, tapi akhirnya dia menyesal. Aku adalah seorang manusia yang membawa sial, aku takut perkumpulan Tong-thian-kauw pun tak akan mengijinkan aku menancap kaki disitu?”

Sambil berbicara ia awasi pihak lawannya lebih seksama lagi. Tampaklah pada tangan kanannya ia membawa sebuah Hud-tim sedang di tangan kirinya membopong makhluk aneh berbulu putih mulus, bermata merah serta berbentuk mirip rase itu. Sikapnya agung dan senyuman manis selalu menghiasi ujung bibirnya.

Makhluk aneh berbulu putih itu sebenarnya sedang tidur, kini ia mendusin. Sepasang matanya yang berwarna merah memandang kesana kemari dengan sikap yang aneh, membuat orang yang memandang jadi tidak tenteram dan berdebar.

Dalam hati si anak muda itu kembali berpikir, “Si Cukat beracun Yauw Sut adalah manusia licik yang sangat ditakuti oleh setiap umat Bulim, tetapi setelah ia berjumpa dengan Giok Teng Hujien sikapnya ternyata begitu hati-hati dan tak berani bertindak gegabah, dalam segala hal ia mengalah tiga bagian kepadanya. hal ini menunjukkan kalau perempuan ini seandainya tidak memiliki ilmu silat yang sangat lihay. tentulah memiliki tindakan yang paling ganas dan kejam ….”

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba terdengar Giok Teng Hujien telah berkata kembali, “Duduklah di atas pembaringan, aku hendak mengajak kau untuk melakukan pembicaraan yang seksama.”

“Hujien. kalau kau ada persoalan katakanlah, cayhe akan mendengarkan dengan serius “sahut Hoa Thian- hong dengan sepasang alis berkerut.

Giok Teng Hujien tertawa manis. “Kau adalah seorang manusia yang terhormat “ujarnya. “baik siang maupun malam selalu ada saja orang yang melindungi dirimu secara diam-diam, rahasia yang akan kita bicarakan tak boleh sampai kedengaran orang lain!”

“Selama cayhe bertindak dan berbuat secara jujur dan terbuka, entah ada rahasia apa yang hendak hujien bicarakan dengan diriku?”

“Huuuh! Kau ini memang seorang lelaki yang keras diluar lunak didalam… “ terang-terangan kau takut padaku, di mulut saja ngomongnya ketus dan gagah, apakah kau tidak takut dimalu-malui orang?” seru Giok Teng Hujien sambil cibirkan bibirnya yang kecil.

“Hujien, tak ada gunanya kau memanasi hatiku!”

Tiba-tiba ia teringat bahwa dirinya memang merasa agak jeri terhadap dirinya, maka sambil tertawa geli ia segera bangkit dan berjalan ke sisinya, kemudian duduk ditepi pembaringan sambil menuding makhluk aneh yang berada di dalam bopongannya ia bertanya, “Apakah dia juga pandai menggigit orang?” Giok Teng Hujien tertawa, “Dia bernama Soat-jia, menghadapi manusia semacam Cia Kim….Huuhl Sekalipun ditambah seorang lagipun juga percuma. dalam waktu singkat mereka bakal keok digigitnya!”

“Aaaah.. .! masa begitu lihay? waaah … waaah…. cayhe tidak berani mendekatinya…..” seru Hoa Thian- hong dengan alis berkerut, sementara dalam hati ia merasa amat terperanjat.

“Kau ini…..si.setan cilik” maki Giok Teng Hujien sambil tertawa, ia segera menoleh ke arah “Soat-Jie” dalam pengakuannya dan memerintahkan, “Soat-jie! tunggulah diluar jendela Sana, sebelum ada perintahku janganlah melukai orang!”

Rupanya makhluk aneh itu sangat memahami bahasa manusia, mendengar perintah dari majikannya tanpa ragu-ragu lagi ia segera bangkit berdiri.

Tampaklah bayangan putih berkelebat lewat melalui jendela yang terbentang lebar, dalam sekejap mata telah lenyap tak berbekas.

“Oooh … sungguh hebat!” seru Hoa Thian-hong tanpa terasa dengan hati kaget.

“Aaah konyol kau ini!” kembali Giok Teng Hujien memaki sambil tertawa, tiba-tiba ia merendahkan suaranya dan berkata lebih jauh, “Kau tentu mengetahui bukan siapa yang telah membinasakan Jien Bong, anaknya Jien Han?” Jantung Hoa Thian-hong terdengar amat keras, tadi dengan cepat ia berusaha untuk menenteramkan hatinya kembali, “Menurut apa yang kau ketahui, orang itu adalah seorang gadis yang mengaku bernama Poei Che Giok. entah benar entah tidak aku sendiripun kurang jelas!”

“Persoalan itu sih hanya suatu urusan kecil, tetapi kau musti tahu setelah dunia aman tenteram untuk beberapa waktu lamanya, dewasa ini mulai menunjukkan gejala perubahan yang besar, kau hanya kebetulan saja menjumpai kejadian itu maka alangkah baiknya kalau cepat-cepat mengambil keputusan”

“Bukankah kolong langit telah dibagi tiga dan pihak Tong-thian-kauw telah memperoleh satu bagian?apa sih gunanya membikin gara-gara lagi?….”tanya si anak muda itu dengan alis berkerut.

Giok Teng Hujien segera tersenyum.”Bagi suatu perkumpulan macam Sin-kie-pang ataupun Hong-im-hwie mungkin saja mereka puas dengan satu daerah tersebut, tapi bagi partai sekte agama lain keadaannya. cita-cita mereka adalah mengarungi seluruh jagad. nah. itulah dia apa sebabnya Tong-thian-kauw tidak bisa hanya bertahan pada sebagian daerah saja.”

Ia merandek sejenak, biji matannya yang jeli segera melirik sekejap ke arah wajah Hoa Thian-hong dengan kerlingan tajam kemudian terusnya, “Pek Siauw-thian terlalu kemaruk akan harta dan kekuasaan, sedang Jien Hian adalah seorang manusia licik dengan pikiran yang panjang, kedua orang itu sama-sama bertahan pada daerah kekuasaannya sekarang tanpa ada keinginan untuk meluaskan wilayahnya, waktu berlalu dengan cepat lama kelamaan apakah Tong-thian-kauwcu tidak punya keinginan untuk majukan daerah kekuasaannya? inilah kesempatan yang paling baik untuk bertindak!”

“Kalau begitu Tong-thian-kauwcu seharusnya adalah seorang manusia dengan ambisi yang amat besar dan kepandaian memimpin yang hebat?”

“Ambisi yang besar mungkin tak bakal salah, mengenai hebatnya kepandaian untuk memimpin sih sulit untuk dikatakan.”

“Hujien entah apa maksud dan tujuanmu mengucapkan kata-kata seperti ini?” tanya Hoa Thian- hong sambil tertawa hambar.

“Dunia persilatan sedang kacau, dan perhatian orang tercurahkan ke pihak kami, kenapa kau tidak memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk raembangun serta memperjuangkan cita-citamu?”

“Ooooh….! Rupanya ucapanmu mengandung maksud yang sangat dalam!” teriak Hoa Thian-hong dengan hati tercengang. ”Hujien, kau toh seorang enghiong dari pihak Tong-thian-kauw, mengapa kau ucapkan kata-kata seperti itu kepadaku?”

Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan “Hiiih…. hiiih kau betul-betul seorang manusia yang tak tahu diri!” Serunya pura-pura marah, setelah merandek sejenak sambungnya. “Angin berhembus dikala udara tenang, kematian Jien Bong telah membuat situasi dalam dunia persilatan jadi kacau dan mulai menunjukkan gejala keretakan diantara hubungan tiga kekuatan besar, usiamu pada saat ini masih muda, inilah kesempatan yang sangat baik bagimu untuk tunjukkan kelihayan dan angkat nama, apa yang harus dilakukan sepantasnya kalau kau mulai menyusun rencana sejak kini.”

“Waaah…. kalau begitu lebih baik cayhe menggabungkan diri ke dalam perkumpulan Hong-im- hwie saja!”

“Kenapa?” tanya Giok Teng Hujien dengan alis berkerut.

“Tabiat cayhe suka terus terang dan bicara seadanya, tidak suka menggunakan akal dan membantu kaum yang kuat dan kosen untuk bekerja, maka setelah kupikir pulang pergi rasanya lebih enak dan menguntungkan kalau aku menggabungkan diri dibawah panji dibawah kekuasaan Jie Hian saja.”

Giok Teng Hujien tahu kalau pemuda itu cuma bicara ngawur dan sekenanya saja, dalam kenyataan ia tidak ber-sungguh2 hati. maka sambil tertawa tanyanya, “Dimanakah ibumu?”

“Dia orang tua sedang melatih semacam kepandaian sakti yang diberi nama Thong-Mo-Sin-Kang atau ilmu sakti pembasmi iblis asal ilmu tadi telah berhasil dilatihnya maka beliau pasti akan segera turun gunung.” “Aduuuh. rupanya kau lagi menggertak cici yaah? Hmm! tak usah yaa….!” seru Giok Teng Hujien sambil tertawa. ia merandek dan alihkan pembicaraan kesoal lain

“Aku dengar setiap kali kau “Lari Racun” keadaanmu tambah payah dan serius, betulkah itu?”

“Terima kasih buat perhatian serta pertanyaanmu iiu, aku rasa dalam dua tiga bulan jiwaku belum sampai mati konyol!”

Giok Teng Hujien pun gerakkan pergelangannya mengeluarkan tiga buah jari tangan lalu digeserkan ke arah urat nadi untuk memeriksa denyutan jantung si anak muda itu.

Seolah olah menghindari pagutan ular berbisa dengan cepat Hoa Thian-hong tarik kembali tangannya ke belakang sambil berseru “Sekujur badan cayhe penuh dengan racun keji, barang siapa berani menyentuh tubuhku niscaya telapaknya bakal busuk dan keluar nanah. kau jangan dekati diriku!”

Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, kemudian katanya, “Coba menurut penglihatanmu seandainya pihak perkumpulan Tong-thian-kauw ada maksud meluaskan wilayah kekuasaannya, maka kami akan turun tangan ke pihak yang mana lebih dulu?”

“Pertanyaan yang hujien ajukan terlalu berat, darimana cayhe bisa tahu mengenai persoalan yang maha besar itu?” si anak muda itu berpikir sejenak lalu terusnya. “Agaknya pihak Hong~Im-Hwie yang paling lemah, kalau menurut penilaianku maka bila mau menyerang maka pertama-tama kita musti hancurkan pihak mereka lebih dahulu.”

Sambil tertawa Giok Teng Hujien segera gelengkan kepalanya. “Bila dua kekuatan saling bertempur maka bukan saja kita beradu perajurit, panglimapun kita adu. Pihak perkumpulan Sin-kie-pang menang karena memiliki jumlah prajurit yang banyak, sedang pihak perkumpulan Hong-im-hwie lebih menang dalam hal panglima perangnya. Seandainya kita serang perkumpulan Hong- im-hwie lebih dulu maka kerugian yang bakal kami derita akan terlalu berat, pihak Perkumpulan Sin-kie-pang yang bersembunyi dibelakang akan jauh lebih ampuh kekuatannya. Sebaliknya kalau kita pukul pihak Sin-kie- pang lebih dulu, walaupun Hong-im-hwie memiliki beberapa orang lihay, itupun belum mampu untuk menghadapi pihak Tong-thian-kauw.”

“Sungguh lihay perempuan ini “pikir Hoa Thian-hong di dalam hati. “Usianya masih begitu muda, tetapi. ia telah menguasai keadaan serta situasi dunia dengan begitu jelas, bukan saja otaknya cerdas siasat, yang dikemukakan pun tepat dan mantap, kedudukannya di dalam perkumpulan Tong Thiap Kauw pasti tidak kecil….


Dalam bati berpikir demikian, diluar ia menjawab, “Cara berpikir Hujien serta penganalisaan yang telah kau berikan sungguh hebat, cayhe merasa amat kagum” Giok Teng Hujien mendengus ringan, lalu tertawa. “Apa yang barusan kuutarakan barusan hanyalah siasat cadangan, bilamana keadaan tidak terlalu memaksa kamipun tak akan kerahkan segenap kekuatan kita untuk bertindak demikian, tahukah kau apakah siasatku. yang sebetulnya? ”

“Apanya yang susah untuk menebak persoalan itu?” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “Paling banter kau hanya berusaha menghasut dan memancing terjadinya selisih paham serta bentrokan langsung antara perkumpulan Sin-kie-pang dengan Hong-In-Hwie, sedang pihak Tong-thian-kauw duduk berpangku tangan menonton dua harimau bertarung, dan kemudian menjadi nelayan yang untung ….”

Sebenarnya apa yang mereka bicarakan hanyalah suatu kejadian yang sederhana, tapi bila sungguh2 dilaksanakan tidaklah akan segampang seperti waktu berpikir dan mengucapkannya keluar, meski si anak muda itu berpikir sampai disini tapi ia tetap berpura pura tidak tahu, katanya sambil tersenyum, “Pengetahuan cayhe amat cetek, tidak mengerti akan persoalan yang begitu besar dan berat, Hujien! apa pendapatmu? katakanlah agar cayhe bisa mendengarkan dengan seksama dan menambah pengetahuanku yang masih picik… ”

“Telur busuk cilik!” maki Giok Teng Hujien dengan wajah cemberut, tiba-tiba ia tertawa dan menepuk-nepuk bantal di sisinya sambil berseru, “Ayoh sini, berbaring! aku hendak ajak kau berbicara.” Kerlingan mata yang genit serta tingkah lakunya yang merangsang seketika membuat Hoa Thian-hong jadi ter sipu2 dengan wajah berubah jadi merah padam ia gelengkan kepalanya berulang kali.

“Lebih baik cayhe duduk saja disini!”

“Kalau begitu padamkanlah lampu lentera itu!”

Melihat udara sudah terang dan Cahaya sang surya telah memancar masuk lewat jendela, Hoa Thian-hong pun segera ayunkan tangannya untuk memadamkan lampu lentera yang ada di atas meja, angin pukulan menyambar lewat Cahaya lentera seketika padam.

Siapa tahu dikala pikirannya bercabang itulah, Giok Teng Hujien bertindak Cepat, ia rangkul pundak si anak muda itu kemudian ditariknya ke belakang hingga roboh terjengkang di atas pembaringan dan tidur berdampingan dengan perempuan itu.

Haruslah diketahui, Giok Teng Hujien adalah seorang perempuan yang sudah tersohor akan kegenitannya, nama harumnya tersebar dimana-mana dan dikenal oleh setiap pria.

Terhadap perempuan ini sebetulnya saja Hoa Thian- hong menaruh rasa jeri dan was-was, Sekarang setelah badannya dirangkul kencang dan berbaring disisi tubuhnya yang montok, hatinya jadi kebat-kebit dan pikirannya terasa kalut. pikirnya di dalam hati “Di kolong langit hanyalah perempuan dan manusia rendah yang sulit dihadapi demikian ujar2 kuno, seandainya aku menyalahi dirinya sehingga membuat perempuan ini dari malunya jadi gusar, tentu saja ia akan mendendam diriku. Dalam keadaan serta situasi seperti ini aku tidak ingin mengikat tali permusuhan dengan siapapun apalagi musuh tangguh macam dia, sebaliknya kalau kau harus menuruti kehendaknya untuk berbuat tidak genah…. waaah entah bagaimana akhirnya?…..”

Setelah dipikir bolak-balik ia belum berhasil juga menemukan suatu cara yang dirasakan paling bagus, tanpa terasa hatinya jadi semakin tak tenteram. Bagaikan duduk di atas jarum bergeser kesini tak enak bergeser kesanapun sungkan.

Terdengar Giok Teng Hujien tertawa merdu, serunya, “Aku mengerti bahwa kau bukanlah makhluk ajaib yang berada di dalam kolam, tidak nanti kau rela masuk jadi anggota perkumpulan Tong-thian-kauw dengan tulus Hali, semakin tak masuk diakal lagi kalau kau rela menggabungkan diri dengan pihak Houg Im Hwie ataupun Sin-kie-pang, bukan begitu?”

Hoa Thian-hong hanya berharap bisa cepat-cepat melepaskan diri dari rangkulan mautnya, maka ia lantas menjawab, “Cayhe hanya sebatang kara dan kekuatannya terbatas sekali, apalagi sudah kenyang disiksa kesana kemari. Kalau pihak Tong-thian-kauw suka menerima diriku jadi anggota, Cayhe lebih balk menyerah saja!” “Eeei….Bajingan Cilik, kau jangan lain diluar lain di hati, mengerti?” maki Giok Teng Hujien sambil tertawa. “Hmm….. Hmm….. sekalipun Tong-thian-kauw suka menerima dirimu mereka juga tak ingin mengundang setan masuk pintu.”

Kalau memang begitu, silahkan hujien segera berlalu!”

Giok Teng Hujien tertawa Cekikikan. “Sudah begini saja aku akan memberi kedudukan yang terhormat sekali kepadamu” serunya. “Asal kau suka menjadi anggota perkumpulan kami maka akan kupersilahkan dirimu Untuk menduduki jabatan sebagai Kauwcu dan aku jadi wakilnya, dengan sepenuh hati dan sepenuh tenaga kubantu dan lindungi dirimu. Bagaimana? Apa kau ada, minat?

“Loo.. apa Hujien sudah tidak berada dibawah perintah Tong-thian-kauw lagi, masa di dalam sekte agama tersebut masih terdapat organisasi lain lagi?”

“Hiih….hiih..,.hiih .. kalau orang tidak serakah langit dan bumi pasti akan ambruk dan kiamat tentu saja akupun ingin mendirikan sebuah perkumpulan sendiri”

Diam-diam Hoa Thian-hong terkejut juga setelah mendengar perkataan itu, pikirnya “Ooh. ternyata di dalam tubuh perkumpulan Tong-thian-kauw-pun terdapat orang yang secara diam-diam mengandung maksud- maksud tertentu…:”

Berpikir sampai disitu, la sengaja berlagak pilon dan seolah olah tak tahu urusan apapun. katanya, “Cayhe duga sang Kauwcunya tentulah Hujien sendiri. bukan tegitu? tapi…. apasih nama perkumpulanmu itu? sudah ada berapa banyak anggota perkumpulanmu itu?”

“Andaikata kau suka menjabat sebagai kauwcuya maka aku adalah anggotamu yang pertama, kau dan aku dua orang bekerja sama bersatu hati memukul rata seluruh kotoug langit, aku tanggung banyak keuntungan yang bakal kita peroleh” Giok Teng Hujien sambil mengerdipkan biji matanya yang jeli, sinar matanya berputar lalu dengan wajah serius ia menambahkan, “Bagaimana kalau kita namakan perkumpulan Thian Te Kauw saja?”

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong. “0oooh, kiranya hujien sedang mempermainkan diriku, hampir saja cayhe kira apa yang kau katakan adalah sungguh2l”

Secara lapat2 iapun dapat menangkap arti serta makna dari ucapan itu, jelas Giok Teng Hujien telah mengutarakan perkataan tadi dengan arti rangkap. secara diam-diam ia sedang memberi kisikan kepadanya bahwa, Sejak bergaul dengan Chin Wan Hong selama beberapa waktu, pikirannya boleh dibilang sudah mulai terbuka terutama sekali mengenai soal cinta asmara, pikirannya sudah tidak sebodoh dan secupat dahulu lagi mengenai soal muda-mudi. Sekarang setelah ia berbaring berdampingan dengan Giok Teng Hujien ditambah pula dengan bau harum semerbak yang aneh berhembus masuk ke dalam lubang hidungnya membuat ia jadi mabok dan seolah olah sedang melayang menuju ke nirwana yang penuh dengan bidadari. Giok Teng Hujien meskipun telah disebut nyonya, namun usianya masih muda belia hanya saja sikapnya yang jauh lebih dewasa serta tingkah lakunya yang Hot mendatangkan daya rangsang yang lebih besar dari sekawanan gadis lain.

Hoa Thian-hong adalah seorang pemuda dengan darah panas, setelah berbaring dalam jarak yang begini dekat apalagi kulit harus bergerak dengan kulit, lama kelamaan terpengaruh juga oleh nafsunya hingga tak sanggup menguasai diri.

Tetapi… bagaimanapun ia adalah seorang pemuda luar biasa yang lain daripada yang lain, terutama sekali pendidikan moral yang tinggi dari ibunya semenjak kecil membuat dia dengan cepat menyadari akan ketidakbenarannya.

Dengan cepat pemuda itu bangkit berdiri sambil berseru, “Hujien, jauh2 datang kemari kau adalah Seorang tamu, cayhe sampai lupa untuk menghidangkan air teh”

“Kenapa sih musti bertindak macam segala tetek bengek itu?” tukas Giok Teng Hujien sambil tertawa, ia segera rangkul kembali tubuh si anak muda itu sambil ditarik untuk berbaring kembali. “Terhadap diriku, kau tak usah sungkan-sungkan!”

Wajah Hoa Thian-hong berubah semakin merah. “Hujien, racun dari Teratai empedu api masih bersarang di dalam pusarku…”serunya. “Hiiih….hiiih….hiiih…”Giok Teng Hujien kontan tertawa cekikikan, sambil mengerling tajam serunya, “Eeei. setan cilik! cici hanya ingin berbicara saja, aku tak mau minum teh juga tak mau ajak kau untuk……”

“Pada saat itulah, tiba-tiba dari halaman luar berkumandang datang suara nyanyian. nyaring yang tajam dan lantang. suara itu segera memenuhi seluruh angkasa dan berdengung tiada hentinya:

“Rambut mega Rambut embun lebih indah dari kumpulan gagak,

Memperlihatkan kaki yang indah dari balik gaun berwana merah,

Tapi lebih indah bunga liar di luar dinding jendela,

Kumaki kau bagaikan seorang penghibur lelaki yang murah,

Setengah bagian susah dilayani setengah mempermainkan.”

Baik lagu tersebut walaupun banyak orang yang bisa menyanyikan, tetapi kemunculan yang sangat kebetulan itu cukup mendatangkan suasana yang aneh bagi kedua orang muda-mudi itu.

Hoa Thian-hong segera tahu bahwa tingkah lakunya telah diketahui oleh orang lain yang mangintip dari luar jendela, air mukanya seketika itu juga berubah jadi merah padam, dengan tersipu2 ia segera loncat turun dari atas pembaringan.

Mula2 Giok Teng Hujien nampak tertegun, tapi dengan cepat ia menjadi tenang kembali. Dengan senyuman dikulum ia dengarkan nyanyian itu hingga habis kemudian. Perlahan-lahan turun dari pembaringan dan menengok keluar jendela, sikapnya aras2an seperti badannya sama sekali tak bertenaga.

Tampak suasan diluar halaman tetap sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun, kecuali Soet jie si makhluk aneh itu tetap melingkar dibawah jendela, tiada sesuatu pertanda apapun ada disitu.

Hoa Thian-hong yakin bahwa ketajaman penglihatan serta pendengarannya masih bisa dipertanggung jawabkan, maka ketika dilihatnya suasana di halaman luar sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun, ia segera sadar bahwa si penyanyi itu sudah berlalu. Dalam hati segera pikirnya, “Entah siapakah orang itu? Kecepatan geraknya benar-benar mengagumkan sekali, bukan saja menyerupai sukma gentayangan bahkan sama sekali tidak meninggalkan sedikit jejakpun!”

Dalam pada itu Giok Teng Hujien telah membopong Soat-jie makhluk anehnya sambil berbisik, “Siapa sih tadi yang ada diluar halaman? Ayoh kita kejar dirinya sampai dapat.”

Sudah dua kali Hoa Thian-hong berjumpa dengan perempuan yang menamakan dirinya Giok Teng Hujien ini, tapi baru pertama kali ini ia menjumpai perempuan itu berbicara dengan wajah kaku, sementara hatinya masih tertegun terasalah pandangan matanya jadi kabur, makhluk aneh bernama Soat-Jie itu sudah berkelebat menuju ke pintu kebun disamping kiri dan lenyap dibalik kegelapan.

Giok Teng Hujien segera menoleh dan tertawa, ketika dijumpainya Hoa Thian-hong masih berdiri dengan wajah terkejut ia lantas berseru, “Eeei .. pemuda tampan, mari ikutlah cici, aku telah memerintahkan Soat-jie untuk menangkap bajingan tersebut bagimu!”

Dalam hati Hoa Thian-hong memang berharap begitu, maka dengan senang hati ia segera menyetujui ajakan tersebut. Baru saja badannya hendak loncat keluar dari dalam kamar, tahu-tahu tangannya sudah digenggam oleh perempuan itu dan diajak melayang keluar dari kamar.

Baru saja tubuh mereka berdua melayang keluar dari pintu kebun, mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara ringkikan kuda dan teriakan manusia berkumandang datang, buru-buru mereka segera memburu kesitu.

Sebelum tubuh mereka tiba di tempat tujuan, telinga mereka telah menangkap suara desiran tajam yang menderu deru, diikuti teriakan gusar seseorang dengan suara yang serak dan nyaring berkumandang memenuhi seluruh angkasa, “Rase sialan! kuhajar kau sampai mampus! Rase terkutuk … kuhancurkan tubuhmu… ” Sejak tadi Hoa Thian-hong sudah dibikin terkejut dan diliputi keragu-raguan, sedangkan Giok Teag Hujien sewaktu mendengar dengusan-dengusan gusar dari Soat-Jie makhluk aneh itu, di dalam hati iapun merasa terkejut: cepat-cepat badannya berkelebat ke depan, dalam waktu singkat bersama Hoa Thian-hong ia sudah tiba di istal kuda.

Tampaklah beberapa orang pelayan sedang berjongkok di sudut tembok dengan badan gemetar, kuda yang berada di istal meloncat loncat dan meringkik panjang tiada hentinya.

Di sudut sebelah lain tampaklah seorang kakek tua berbadan kurus tinggi dan berwajah hijau membesi sedang mainkan sebilah pedang lemas sepanjang empat depa di tangan kanannya, lima buah roda berwarna keemas-emasan di tangan kirinya untuk melindungi seluruh tubuhnya dari sergapan maut si makhluk aneh tersebut.

Sedangkan Soat-Jie dengan menciptakan diri jadi sesosok bayangan putih yang samar melancarkan tubrukan maut tiada hentinya ke arah si kakek tua itu.

Di sudut lain, tampak seorang pria berjubah putih menggeletak di atas tanah dengan badan penuh luka berdarah, pakaiannya koyak-koyak dan raut mukanya susah dikenali lagi karena boleh dibilang sudah hancur sama sekali.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa hatinya tercekat Juga setelah menyaksikan pemandangan yang terbentang di depan matanya saat ini, bulu kuduk tanpa terasa pada bangun berdiri. pikirnya: Tidak aneh kalau perempuan itu berani bicara sesumbar dengan mengatakan bahwa dua orang jago lihay macam Cia Kim pun tak akan sanggup menandingi Soat-jie nya kalau ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki si kakek tua ini jelas jauh di atas kepandaian Cia Kim, tetapi. Haruslah diketahui si kakek kurus kering itu sekaligus telah menggunakan dua macam senjata aneh yang berbeda satu sama lainnya dimana seluruhnya berjumlah enam buah Pedang lemas adalah sebuah senjata yang sulit digunakan sementara Ngo-Heng-Loen di tangan kirinya terdiri dari lima buah roda yang beratnya rata-rata di atas enam puluh kati, bilamana seorang tidak memiliki gerakan tangan yang lincah serta tenaga lwekang yang amat sempurna

untuk mengimbangi penggunaan senjata pedang yang enteng dan senjata roda yang berat, jelas tak mungkin sanggup untuk mempergunakan senjata tersebut.

Atau dengan perkataan lain si kakek tinggi jelas memiliki kedudukan yang amat tinggi di dalam dunia persilatan

Tampaklah Giok Teng Hujien tertawa hambar lalu berseru, “Aku kira siapa yang berani ajak aku untuk bergurau, kiranya Pelindung Hukum Utama dari perkumpulan Sin-K-ie Pang yang telah tiba!”

“Giok Teng Hujien” seru si kakek kurus kering itu. “Dibalik kejadian ini sebenarnya masih terselip persoalan lain…..” Sepasang tangannya harus bekerja keras memainkan pedang serta senjata godanya, sedang sepasang matapun dengan tajam menatap terus bayangan putih yang menerjang datang tiada hentinya itu tanpa berkedip, maka untuk mengucapkan dua patah kata yang sikap ia membutuhkan waktu yang amat lama sekali,

Giok Teng Hujien tertawa dingin, ia merandek sejenak kemudian secara tiba-tiba memperdengarkan siulan nyaring yang panjang.

Begitu mendengar siulan tersebut, Soat-jie si makhluk aneh itu segera menghentikan tubrukannya dan mendekam di atas tanah tanpa bergerak barang sedikitpun jua, sepasang matanya yang berwarna merah darah menatap terus wajah si kakek kurus kering itu tanpa berkedip: seakan-akan ia takut kalau mangsanya itu kabur.

“Traaaak….!” ditengah dentingan nyaring, kelima buah senjata roda itu menumpuk menjadi satu dan melayang balik ke tangan kakek tua itu.

Walaupun begitu jelas terlihat bahwa seluruh tubuh kakek kurus itu sudah basah kuyup oleh keringat, napasnya tersengal-sengal dan dapat didengar dengan amat jelas.

“Ciat Tiang Hong!” jengek Giok Teng Hujien dengan nada ketus. “Bukankah kau mengatakan bahwa dibalik persoalan ini masih terselip masalah lain? Mengapa tidak kau ucapkan keluar?” “Orang yang menyanyikan lagu itu adalah orang lain, Makhluk aneh milik hujien ini meskipun pandai bertempur tapi belum mampu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah”

Sekalipun baru saja lolos dari bahaya maut, tapi nada ucapannya tajam dan jumawa sedikitpun tidak ada maksud untuk mengalah Tidak malu ia duduk sebagai seorang Pelindung Hukum terutama dari perkumpulan Sin-kie-pang,

Giok Teng Hujien mendengus dingin sinar matanya segera dialihkan ke arah pria berbaju putih yang menggeletak di atas tanah, setelah menarik sekejap ke arahnya ia lantas menegur:”Siapakah orang ini? apakah dia yang menyaksikan bait lagu tadi?.,..”

“Saudara ini adalah seorang sahabat dari perkumpulan Hong-im-hwie, maaf kalau loohu tidak bisa mengatakan kejelekan orang lain” jawab kakek kurus itu makin ketus.

Terdengarlah pria berbaju putih yang menggeletak di atas tanah itu merintih dan berkata; “Bait lagu itu bukan cayhe yang nyanyikan…..”

Rupanya ilmu silat yang dimiliki orang ini agak cetek maka tubuhnya tercakar oleh Soat-Jie hingga menderita luka yang amat parah, ketika itu dia sama sekali tak sanggup untuk bangkit berdiri.

Sepasang alis Giok Teng Hujien segera berkerut kencang,serunya dengan nada yang dingin, “Sekalipun bait lagu itu bukan kalian yang menyanyikan, tetapi seandainya kau tidak mengintip dan mengawasi diriku dari tempat kegelapan, Soat jie kau juga tak akan mencari kalian tanpa alasan. Hmm. kau tidak ingin dicurigai maka lebih baik segera menyingkir dari sini, jelas kalianlah yang tidak pandang sebelah matapun terhadap diriku. Soet Jie! terjang dia….!”

Soet Jie benar-benar amat cerdik dan mengerti akan bahasa manusia, ketika Giok Teng suruh ia berhenti bertarung ia segera berhenti, sekarang setelah diberi perintah untuk menyerang iapun segera maju menyerang.

Begitu perintah terakhir dari perempuan itu meluncur keluar dari bibirnya, Soet jie segera menjerit aneh dan menubruk kembali ke depan.

Si-kakek kurus kering itu jadi terkejut bercampur gusar. Sreeet! Senjata Ngo Hoen-Loen nya segera direntangkan untuk melindungi tubuhnya dari ancaman lawan, sementara pedang lemasnya dimainkan dengan rapat disekeliling tubuhnya, terlihatlah bayangan pedang menggulung dan mengelilingi seluruh badannya tanpa meninggalkan sedikit peluangpun bagi lawannya untuk menyarangkan cakarnya ke atas tubuhnya.

Untung kakek kurus itu cukup cerdik dan berdiri di sudut tembok, dalam posisi yang begini ia hanya cukup berjaga jaga terhadap serangan yang datang dari depan, Meskipun tubrukan dan terjangan Soat-jie cepat laksana kilat tapi dalam keadaan begini daya kekuatannya berkurang juga, seandainya ditanah lapang yang luas, sejak tadi mungkin kakek tua itu sudah kewalahan.

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, si Utusan pencabut nyawa Mo Ching San meloncat masuk dari luar dinding pekarangan, setelah memberi hormat katanya, “Hujien jangan gusar, hamba ada urusan hendak memberi laporan!”

Giok Teng Hujien bersiul memanggil kembali makhluk aneh Soat Jie untuk mundur kesisi tubuhnya, lalu sambil tertawa dingin makinya, “Heeeh…. heeeh…. heeeeeh, bagus, kau tentu sudah lari amat .iauh bukan?”

Sekujur badan Ma Ching-san si utusan pencabut nyawa itu seketika gemetar keras buru-buru sahutnya, “Hamba tidak berani melalaikan tugas yang telah dibebankan pada pundak hamba… “ ia menghembuskan napas panjang dan meneruskan. “Hamba tidak berani berdiri di tengah halaman ..”

“Bicara sesingkatnya Saja!” tukas Giok Teng Hujien. “Ketika hamba bertugas diluar dinding tembok

mendadak kudengar ada orang sedang menyanyi di

dalam halaman. karena takut nyanyian itu mengganggu ketenangan hujien maka aku siap masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan, pada saat itulah secara tiba-tiba dari pintu belakang berjalan keluar seorang kakek tua dengan langkah yang seenaknya. Karena wajahnya terasa asing maka hamba segera melakukan pengejaran, siapa tahu kakek tua itu licik sekali setelah mengitari halaman ini dua lingkaran mendadak bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas.”

Dalam waktu singkat ia telah berbicara sampai disitu, mendadak selanjutnya ia jadi gelagapan dan tak sanggup meneruskan kembali kata-katanya.

Ma Ching-san tahu, ia pasti sudah jatuh kecundang di tangan maka tak berani meneruskan kembali kata- katanya, ditinjau dari sikapnya yang begitu ketakutan tanpa terasa pemuda itu segera berpikir, “Aku mengira Hujien ini cuma kukoay dan genit, ternyata semua anggota perkumpulan Tong-thian-kauw begitu ketakutan menghadapi dirinya, ia pastilah seorang yang lihay!”

Sementara itu Giok Teng Hujien telah bertanya, “Macam apakah si kakek tua itu? apakah kau berhasil memperhatikan raut wajah serta potongan tubuhnya?”

“Dia adalah seorang kakek yang pendek dan gemuk” jawab Ma Ching-san dengan amat hormat. “Wajahaya berwarna merah memancarkan sinar terang, kepalanya botak dan jenggotnya pendek. pakaian yang dikenakan terbuat dari kain kasar, sedangkan di tangannya membawa sebuah kipas bulat yang besar!”

Mendengar laporan itu Giok Teng Hujien tundukkan kepala dan berpikir sebentar, tiba-tiba ia mendongak dan melotot sekejap ke arah Hoa Thian-hong dengan pandangan gemas.

“Beeei…!Kenapa sih Hujien melotot wajahku? apa salahnya cayhe?” Teriak Hoa Thian-hong dengan cepat. “Huuuh! orang itu bukan anggota perkumpulan Sin- kie-pang, Hong In Hwie maupun Teng Thian Kauw!”

“Lalu kenapa?”

“Itu berarti bahwa orang itu adalah manusia dari pihakmu!”

Hoa Thian-hong melengak, tapi dengan cepat ia berseru, “Kalau memang dia adalah kawan cayhe, biarlah aku segera pergi mencari dirinya.”

Sesudah menjura ia segera putar badan dan berlalu dari situ.

Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan, lengannya diulur ke depan tahu-tahu Soat jie sudah menyusup ke dalam gendongannya. Tampaklah pinggangnya yang ramping bergerak dan di dalam waktu singkat ia sudah mengejar ke sisi si anak muda itu untuk berjalan berdampingan dengan dirinya sikap tersebut se-akan- akan menganggap di sekitar sana tak ada seorang manusiapun.

Diam-diam Hoa Thian-hong kesal juga melihat perempuan itu membuntuti terus jejaknya, dalam hati ia berpikir, “Waaduuuh….celaka nih! kalau sampai aku dilengketi terus olehnya, apa yang musti kulakukan?”

Otaknya dengan cepat bekerja keras untuk mencari akal guna melepaskan diri dari penguntitan perempuan itu, namun tak sepotong siasatpun yang berhasil didapatkan, Akhirnya dengan perasaan apa boleb buat katanya “Waktu sudah tidak dapat pagi2, siauwte siap akan pergi “Lari Racun” cici bagaimana kalau kau pulang dulu kekuil It Goan Koan? besok siauwte pasti datang berkunjung lagi.”

“Iiiiirh.,..masih benar mulutmu itu,” ejek Giok Teng Hujien sambil tertawa cekikikan. “Cici tak pernah menduga kalau kau sepandai itu untuk merayu perempuan!”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, kedua orang itu sudah berjalan keluar dari rumah penginapan dan menuju ke jalan raya.

Bergaul dengan perempuan seperti ini, Hoa Thian- hong merasakan hatinya selalu kebat-kebit diliputi rasa takut, ia takut tindakannya yang keliru akan mengakibatkan munculnya kembali seorang musuh tangguh, waktu itu baik perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw akan menjadi musuhnya membuat ia sama sekali tiada tempat untuk berpijak, keadaan seperti itu pastilah mengenaskan sekali.

Tiba-tiba terdengar Giok Teng Hujien tertawa dan berkata, “Kau sudah bergadang semalam suntuk, aku pikir perutmu tentu sudah lapar, ayoh aku undang kau pergi makan pagi!”

Hoa Thian-hong tidak tahu musti menampik atau menurut saja terhadap undangan nya itu, terpaksa dengan mengikuti disisinya mereka berangkat menuju ke pusat kota.

Sepasang muda-mudi ini berjalan berdampingan ternyata amat menyolok sekali, yang lelaki adalah seorang pria tampan berbadan tegap sedang yang perempuan cantik jelita bagaikan bidadari, sepintas lagi hubungan mereka bagaikan kakak beradik tapi kalau dipandang lebih seksama hubungan itu lebih mirip dengan sepasang kekasih.

Terlihatlah orang-orang dijalan yang bertemu dengan mereka berdua. ada yang lewat dengan kepala tunduk ada pula yang buru-buru menoleh ke arah lain pura pura tidak melihat, tak seorangpun berani menggunakan pandangan yang gamblang untuk mengawasi kedua orang itu.

Beberapa saat kemudian sampailah mereka berdua di depan sebuah rumah makan yang amat megah, Sambil menuding hurup “Cie-Eng-Loo” yang tergantung di depan rumah makan itu Giok Teng Hujien berkata sambil tertanya, “Dua kali ber-turut2 ayah ibu telah mengadakan perjamuan para enghiong di atas rumah makan ini untuk menjumpai pimpinan Hong-im-hwie serta Tong-thian-kauw dan menyelesaikan beberapa masalah Bulim yang serius, rumah makan ini semula bernama “Ka Peng-Cioe-Loo” tapi sekarang mereknya sudah diganti, itupun gara-gara disebabkan karena peristiwa itu!…..”

Waktu itu sebenarnya Hoa Thian-hong telah melangkah masuk ke dalam pintu, mendengar cerita tadi ia segera alihkan sinar matanya yang diliputi perasaan tercengang untuk memperhatikan sejenak papan merek yang luasnya dua tombak itu, kemudian sambil tertawa paksa sahutnya, “Pengetahuan cici benar-benar amat luas, waktu diutarakan keluar pun menarik sekali untuk didengar….”

“Idiiih….malu aah, masa memuji sambil menyindir.,..

Ogah, ogah, aku tak bicara lagi.”

Di tengah gelak tertawa kedut orang itu telah naik ke atas loteng dan mencari sebuah tempat yang tenang di dekat jendela. Setelah memesan sayur dan arak, Giok Teng Hujien berkata lagi sambil tertawa, “Maukah kau dengarkan kisah mengenai ayah ibumu dimasa yang silam?.,..,..”

“Mendengarkan saja tentu mau ..” tiba-tiba si anak muda itu teringat kembali akan pesan ibunya sesaat sebelum ia turun gunung ia dilarang menyelidiki kisah ayah ibunya.

Sebagai seorang anak berbakti dan menuruti perkataan orang tuanya, tentu saja Hoa Thian-hong tak berani melanggar pesan ibunya itu, dengan cepat ia berseru, “Seorang lelaki sejati tak akan membicarakan kejadian yang telah lampau, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan itu.”

Tertegun dan melongo Giok Teng Hujien setelah mendengar ucapan itu, sambil tertawa segera tanyanya, “Makhluk aneh cilik, lalu apa yang hendak kita bicarakan?” “Cici pernah berkata bahwa pihak perkumpulan Sin- kie-pang lebih banyak dalam prajurit sedang pihak Hong lm Hwie lebih luas dalam panglima, mengenai soal ini siauwte merasa kurang begitu jelas.”

“Bukankah persoalan itu gampang sekali untuk dijawab? kenapa kau musti suruh aku kasih penjelasan?”

“Malaikat berlengan delapan Cia Kim adalah Sam Tang-kee dari perkumpulan Hong-im-hwie, aku lihat meskipun ilmu silatnya lumayan tapi belum sampai mencapai taraf yang dikatakan betul betul hebat, aku pikir yang lainnya.”

“Jangan sembarangan menduga, makin menduga semakin keliru “tukas Giok Teng Hujien cepat, “Itulah sebabnya Siauwte mohon penjelasan..”

Persoalan ini gampang sekali untuk dijelaskan, perkumpulan Sin-kie-pang adalah suatu perkumpulan dengan mengambil struktur organisasinya menyerupai sebuah pagoda. sang Pangcu duduk jauh di paling atas sedang sisanya adalah anak buahnya semua.

“Itu memang betul,“ Hoa Thian-hong mengangguk membenarkan, ”Bila orang lain memiliki ilmu silat jauh di atas Pek Siauw-thian, tentu saja ia tak akan sudi tunduk dibawah perintah orang!”

“Sedang perkumpulan Hong-im-hwie sesuai dengan namanya adalah merupakan suatu kumpulan dari semua jago dari pelbagai lapisan masyarakat. semua anggota saling menyebut sebagai saudara. walaupun ada perbedaan dalam sebutan Loo-Toa, Loo-jie atau Loo-sam namun kedudukan serta tingkatan mereka adalah seimbang. Yang disebut sebagai Tang-kee adalah orang yang mendapat tugas untuk menyelesaikan pelbagai persoalan. mengenai hal kepandaian, ketajaman berbicara serta hak dan kewajiban tidak memiliki patokan yang khusus. pokoknya secara singkatnya saja mereka tidak membedakan tingkatan, yang ada hanya urutan dan nomor urutanpun tidak ada hubungannya dengan tinggi atau tidak ilmu silat yang mereka miliki!”

“Maksudmu para jago dalam perkumpulan Hong In Hwie, tidak sedikit yang memiliki ilmu silat yang di atas si Malaikat berlengan delapan Cia Kim? .

“Boleh dibilang banyak sekali,” sahut Giok Teng Hujien, ia merandek sejenak dan angkat teko untuk memenuhi cawan mereka- dengan arak, kemudian sambil tertawa sambungnya

Sebetulnya ilmu silat yang dimiliki Cia-Kim tidak berada dibawah kepandaian Ciong-Lian-Khek, kekalahan yang dideritanya kemarin malam sebagian besar disebabkan karena rasa menyesal yang timbul dalam hatinya setelah teringat akan kesalahan yang pernah dibuatnya membuat ia jadi tidak tenang dan pikirannya jadi kalut. kau janganlah menilai seorang enghiong dari menang kalahnya, berhubung ia kalah maka kau anggap ilmu silatnya hanya begitu-begitu saja

Si Hweesio gede yang bernama Seng Hauw itupun bukan seorang manusia sembarangan “Aku sanggup menahan dirinya, itu berarti bahwa ia belum termasuk seorang jago yang sangat lihay” seru Hoa Thian-hong dengan cepat sambil tertawa geli,

Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba dari luar rumah makan berkumandang datang suara derap kaki kuda, diikuti seseorang dengan suara pembicaraan yang berat dan penuh bertenaga sedang bercakap-cakap dengan seseorang.

Giok Teng Hujien melongok sekejap keluar jendela, air mukanya mendadak berubah, serunya sambil tertawa.”

“Waduuuih! Coe Goan Khek telah datang, dia adalah Jie Tang-kee dari perkumpulan Hong-im-hwie seorang jago lihay diantara jago lihay yang lain!:..”

Mendengar ucapan itu buru-buru Hoa Thian-hong pun melongok keluar tampak olehnya seorang kakek tua berjenggot panjang selambung berwajah model persegi, berbahu bidang dan sepasang mata memancarkan cahaya tajam sedang melangkah masuk ke dalam rumah makan diikuti tiga orang pria lainnya.

Diantara ketiga orang pengikutnya itu, dua orang mempunyai perawakan kurus kering bagaikan dua batang tongkat bambu, Sedang orang ketiga adalah seorang pemuda tampan berbadan kekar

Raut wajah pemuda itu tampan sekali, cuma sorot matanya sayu dan ke-bodoh2an, wajahnya tidak memperlihatkan perubahan perasaan dan jalannya tegak lagi lurus ke muka, keadaan itu bagaikan seseorang yang ngelindur dan berjalan di dalam impian

Begitu bertatapan muka dengan orang itu sekujur badan Hoa Thian Hong segera bergetar keras, Dalam pada itu Giok Teng Hujien telah berkata lagi sambil tertawa, “Bocah muda berdandan Boe-su yang kemarin Kau hajar sampai setengah mati itu bersama Coe Siauw Khek dia adalah putra kesayangan dart Coe Goan Khek ini….”

Mendadak ia merandek ketika dilihatnya air muka si anak muda itu berubah hebat dengan cepat ia genggam tangannya sambil menegur, “Eeeei! kenapa kau? Tengah hari belum sampai masa racun teratai dalam tubuhmu sudah kambuh?”

Tingkah lakunya yang lembut dan romantis tanpa terasa telah menghilangkan rasa permusuhan diantara Hoa Thian Hong dengan Giok Teng Hujien, seakan-akan sedang berbicara dengan encinya saja, ia lantas menjawab, “Pemuda gagah yang berada dipaling belakang itu adalah sahabatku, kenapa ia bisa melakukan perjalanan bersama sama Coe Goan khek?”

“Apa? dia adalah kawanmu?” seru Giok Teng Hujien tercengang. “Apakah tahu dengan asal usulnya?”

“Dia bernama Chin Giok Liong, putranya Chin Pek Cuan dari kota Keng-Chiu…!”

“Ooooh…! sekarang aku ingat sudah!” seru Giok Teng Hujien sambil tertawa. “Bukankah kau punya hubungan yang sangat akrab dengan encinya? dia toh adik iparmu?”

Hoa Thian-hong ulapkan tangannya dan segera berdiri menuju ke tempat luar. Giok Teng Hujien tertawa ringan, ia tarik tangan si anak muda itu sambil serunya, “Eeei, mau apa kau? marah yaah dengan cici?”

“Cici, aku tidak marah kepadamu!” jawab Hoa Thian- hong dengan alis berkerut. “Harap tunggulah sebentar disini, aku mau kesana untuk bertanya kepada Toako dari keluarga Chin itu, kenapa ia melakukan perjalanan bersama-sama Coe Goan Khek?”

“Tak usah ditanyakan lagi, Chin Toako mu itu sudah dicekoki dengan sebangsa obat pemabok, kesadarannya telah punah sama sekali. Keadaannya tidak lebih bagaikan sesosok mayat hidup.”

“Hoa Thian-hong jadi semakin gelisah. “Aku harus pergi kesana dan menanyakan, persoalan ini hingga sejelas-jelasnya!”

Ia meronta dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman si perempuan itu. Tapi genggaman Giok Teng Hujien pada tangannya sedikitpun tidak mengendor, malah sambil tertawa merdu nasehatnya.

“Persengketaanmu dengan pihak perkumpulan Hong- im-hwie tidak kecil, kalau memaksa juga untuk kesitu maka kemungkinan besar jiwamu akan terancam oleh bayangan maut.”