Bara Maharani Jilid 09 : Teratai racun Empedu Api

 
Jilid 09 : Teratai racun Empedu Api

TATKALA dilihatnya perempuan itu berjalan

menghampiri kehadapannya seakan-akan berhadapan dengan musuh tangguh si Cukat beracun Yauw Sut segera mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam telapak untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, sepasang matanya dengan tajam mengawasi perempuan itu tanpa berkedip.

“Orang ini adalah lengan kanan dari Pek Siauw-thian,” pikir malaikat berlengan delapan Cia Kim di dalam hati “Andaikata aku berhasil melenyapkan dirinya saat ini juga, itu berarti bahwa aku berhasil menyingkirkan sabuah tiang tonggak penyanggah dari perkumpulan Sin- kie-pang, kemudian bilamana perkumpulan Hong Im Hwat serta Thong Thian Kauw biasa bekerja sama, rasanya tidak sulit untuk melenyapkan segenap kekuatan dari perkumpulan Sin-kie-pang dan membagi rata ketujuh daerah propinsi di Selatan menjadi kekuasaan dua perkumpulan.”

Berpikir demikian, ia lantas berkata dengan nada ketus, “Yauw-heng andaikata kau tidak suka menyerahkan obat penawar itu kepadaku untuk menyelamatkan selembar jiwa Hoa Thian-hong sehingga pembunuh yang sebetulnya sukar ditemukan, maka itu berarti Thong Thian Kauw pun tidak akan luput dari kecurigaan, sekalipun Giok Theng Hujien bisa mengampuni dirimu, belum tentu siauwte bisa bersikap sungkan-sungkan terhadap dirimu!”

“Ucapan dari Sam Tang-kee Sedikitpun tidak meleset,” sambung Giok Theng Hujien sambil tertawa merdu. “Yauw-heng! apabila kau tidak mau menyerahkan obat penawar itu lagi, kami segera akan turun tangan!!….”

Perempuan inipun tahu bahwa Yauw Sut tidak bakal memiliki obat penawar tersebut separti apa yang dikehendaki Cia Kim, di dalam hati kecil diapun berhasrat untuk mengajak pihak perkumpulan Hong-im-hwie untuk bekerja sama melenyapkan si Cukat beracun Yauw Sut terlebih dahulu.

Si Harimau pelariain Tiong Liauw sedang merasa sedih karena keadaan dari Hoa Thian-hong, kini setelah mendengar ada orang menantang Yauw Sut untuk menyerahkan obat penawarnya, seketika itu juga dengan langkah lebar ia maju ke depan. Serunya, “Hey orang she-Yauw, apabila hari ini kau tidak serahkan obat penawar itu, sekalipun aku Tiong Liauw tidak mampu menghajar dirimu, paling sedikit aku akan menggigit badanmu.”

Si Harimau ompong nenek tua shek-Tiong serta putranya si Harimau Bisu Tiong Long yang melihat kejadian itu segera ikut mengerubut ke depan, dalam keadaan gusar dan di liputi emosi ketiga orang itu telah melupakan kelihayan dari Si Cukat beracun Yauw Sut.

Tiong Luo-tiang! Ayoh Segera kembali terdengar Hoa Thian-hong berseru. “Apakah kalian sudah lupa akan perkataanku di saat mewariskan ilmu silat tersebut kepada kalian?”

Daya kerja racun keji yang bersarang di dalam badannya mungkin sudah bereaksi hingga sekujur tubuhnya terasa amat sakit dan tersiksa, di dalam mengutarakan kata-katanya itu terdengar suara Hoa Thian-hong sudah berubah jadi serak, lirih dan gemetar….

Cukat beracun Yauw Sut mendongak dan tertawa lantang, “Haaah…………… haaah… haaa….kalian

benar-benar tidak memahami keadaan yang benar. Hmm! Kamu anggap Hoa Hujien adalah seorang manusia yang gampang dilayani? Seandainya ia munculkan diri lagi di dalam dunia persilatan dan berseru kepada umat Bulim, maka komplotan-komplotannya di masa silam pasti akan berduyun-duyun munculkan diri. Coba bayangkan apakah manusia-manusia lihay itu bukan merupakan satu ancaman bahaya bagi kekuasaan kita semua? Kini kami dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang dengan pelbagai akal berusaha hendak menyingkirkan musuh tangguh ini dari muka bumi, sebaliknya kalian malah memaksa aku orang she-Yauw untuk menyerahkan obat penawar guna manyelamatkan jiwa putranya, bukankah tindakan kilian ini justru malah terbalik dan tidak mempertimbangkan berat entengnya persoalan? Aku takut apabila Thian Ie Kauwcu serta Jien Tang-kee mengetahui urusan ini, dalam hati kecil mereka akan merasa tidak senang hati!”

Malaikat berlengan delapan Cia Kim terkesiap sehabis mendengar ucapan itu, pikir nya, “Perkataan bangsat itu sedikitpun tidak salah, perduli dia mempunyai obat penawar atau tidak, asal Hoa Thian-hong mati maka hal ini berarti akan mendapatkan ketidak beruntungan bagi pihak Sin-kie-pang!”

Karena berpendapat demikian ia segera mengundurkan diri ke samping dan menanti tiga Hoa Thian-hong mati karema keracunan.

Giok Theng Hujien memutar biji matanya mendadak ia tertawa mengejek.

“Tok Cukat benar-benar luar biasa, hanya mengucapkan dua tiga patah kata saja telah berhasil melenyapkan ancaman kematian yang bakal menimpa dirinya. Aaaai ketajaman lidah ternyata memang jauh lebih hebat daripada kekuatan sepuluh laksa prajurit bersenjata lengkap.”

Dalam hati Cukat beracun Yauw Sut menaruh kebencian yang amat sangat, tetapi tidak ia perlihatkan di luaran, sinar matanya segera dialihkan ke arah Hoa Thian-hong.

“Sam Tang-kee” terdengar Hoa Thian-Hong berkata sambil mengangkat Teratai Racun Empedu Api itu ke atas. “Teratai racun ini kecuali mengandung racun yang amat keji sama sekali tiada kegunaan lain, aku akan memintanya kembali.”

“Hmmm! apakah kau hendak membawanya pulang ke akhirat?” pikir Cia Kim si malaikat berlengan delapan dalam hati.

Hoa Thian-hong sendiripun tidak menantikan jawabannya, ia alihkan sinar matanya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, tatkala dilihatnya Tiong-si Sam Houww serta Chin Wan Hong pada menangis terisak, ia segera menghela napas panjang.

“Aaaai….! cuwi sekalian… ”

Tiba-tiba ia merasa bahwa banyak bicara tiada kegunaannya, sebelum pemuda itu sempat berbuat sesuatu badannya terasa tak kuat menahan diri, mulutnya segera ditutup dan hawa murni diempos keluar dari pusar untuk melindungi denyutan jantung. Setelah menentukan arah ia jatuhkan diri berlutut menghadap ke Barat-laut. “Hoa kongcu……” terdengar Chin Wan Hong menjerit sambil menahan isak tangisnya. “Kau… apakah kau

ada pesan-pesan terakhir yang hendak kau sampaikan?”

Hoa Thian-hong yang berlutut di atas tanah berpikir di dalam hati.

“Sebetulnya aku hendak titip kabar kepada seseorang untuk disampaikan kepada ibuku, tapi aku takut memancing setan masuk pintu hingga rahasia tempat persembunyian ibuku ketahuan. Aaaai….! setelah aku mati ibupun tak dapat hidup lebih jauh, lebih baik kita anak dan ibu berjumpa di alam baka saja!”

Karena berpikir hegitu ia lantas gelengkan kepala dan mulai kemak-kemik mencoba doa.

Suasana di kalangan pada saat itu hening….. sunyi…… tak kedengaran seorang manusiapun yang buka suara, Tiong-si Sam Houww serta Chin Wan Hong pun hanya menangis terisak, seakan-akan semua orang tidak ingin mengganggu doanya yang terakhir.

Angin malam berhembus lewat menerbitkan bunyi lirih yang memilukan hati, perasaan sedih dan iba hampir menyelimuti sebagian orang yang hadir di situ.

Beberapa saat kemudian Hoa Thian-hong telah selesai berdoa, tampak ia menjalankan penghormatan beberapa kali kemudian memasukkan Teratai Racun Empedu api itu ke dalam mulutnya, setelah dikunyah-kunyah segera di telan ke dalam perut. Tampaklah si harimau ompong nenek tua she Tiong mendepak-depakan kakinya ke atas tanah, jeritnya keras, “Yaaan ampuh.. Oooh Thian, habis sudah.”

Ia duduk mendeprok di atas tanah dan menangis tersedu-sedu.

Beberapa saat kemudian sekujur badan Hoa Thian- hong mengejang keras, sambil berbaring di atas tanah ia berguling ke sana ke mari mulutnya merintih kesakitan dan beberapa gumpal darah kental berwarna hitam muntah keluar dari mulutnya.

Dalam waktu singkat sernua orang yang hadir dibikin saling berpandangan dengan wajah muram, si harimau pelarian Tiong Liauw, si harimau bisu Tiong Long serta Chin Wan Hong sama sama jatuhkan diri berlutut di atas tanah dan menangis pilu.

Pemandangan itu benar benar menyedihkan hati setiap orang, kendati sekawanan orang orang hek-to yang biasanya membunuh orang tanpa berkedip saat itu ikut merasa beriba hati.

Pek Kun-gie pertama-tama yang putar badan masuk ke dalam ruang perahunya dengan kepala tertunduk, Giok Theng Hujien serta dara berbaju Ungu itu saling berpandangan sekejap lalu meloncat kembali ke atas perahunya, sedangkan Cukat beracun Yauw Sut yang merasa uringin segera menjura ke arah malaikat berlengan delapan Cia Kim lalu dengan membawa anak buahnya kembali ke atas perahu. Malaikat berlengan delapan Cia Kim tahu bahwa Hoa Thian-hong pasti akan menemui ajalnya, melihat pemuda itu mengerang kesakitan di atas tanah sambil berguling- gulingan dalam hati timbul perasaan tidak tega ia segera maju ke depan sambil mengirim satu pukulan.

Chin Wan Hong yang berlutut di sisinya jadi kaget dan berseru tertahan ketika menyaksikan kejadian itu, ia menubruk ke depan menutupi badan Hoa Thian-hong dengan tubuhnya lalu jeritnya keras-keras, “Jangan lukai dirinya!”

Si Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertegun, setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya ia berkata, “Aku berbuat demikian karena bermaksud baik!”

Setelah merandek ia menghela napas panjang, tambahnya, “Sayang di sini bukanlah wilayah Biauw, kalau tidak kita bisa mohon bantuan diri Kioe Tok Sian Cie ….”

Sikap serta keadaan diri Chin wan Hong sama sekali berubah, seakan-akan telah berubah jadi seseorang yang lain, ia mendongak dan bertanya dengan wajah termangu-mangu.

“Kenapa kalau ada Mioe Tok Sian cie?”

Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertawa kering. “Kioe Tok Sian Cie adalah seorang ahli di dalam

menggunakan racun, tapi kalau ia harus menjumpai korban karena makan Teratai Racun Empedu Api…. aku rasa walaupun dewa turun dari kahyanganpun tidak nanti bisa menyelamatkan jiwanya.”

Lama sekali Chin Wan Hong berdiri termangu-mangu, mendadak selintas keteguhan hati berkelebat di atas wajahnya.

“Aku akan coba pergi mencari dirinya!” ia berseru. Dengan sepasang tangannya ia membopong tubuh

Hoa Thian-hong kemudian berjalan menuju tepi sungai.

Menyaksikan tingkah laku dara ayu itu, di dalam hati kecilnya si malaikat berlengan delapan lantas berpikir, “Rupanya si gadis ini menaruh rasa cinta terhadap diri Hoa Thian-hong, cuma saja merasa pemuda itu masih dalam keadaan sehat ia tidak sampai perlihatkan perasaannya itu.”

Melihat sinar matanya kabur dan tidak tenang, dengan sikap yang limbung dara itu berjalan menuju ketepi sungai, sepasang alisnya kontan berkerut, teriaknya, “Nona, jarak dari tempat ini menuju ke wilayah Biauw amat jauh sekali, kalau aku ingin berjalan menuju ke situ sampai di tengah hutanpun belum tentu tiba di tempat tujuan, lebih baik urungkan saja niatmu itu!”

“Aku akan pergi mencobanya!” jawab Chin Wan Hong singkat. Jelas kesadaran otaknya telah kabur dan separuh hilang, tanpa memandang atau melirik ia langsung meloncat naik ke atas perahu besar di mana si Cukat beracun Yauw Sut berada. Tiong-si Sam Houww yang semalam ini selalu dirundung kesedihan dan menangis tiada hentinya kini baru mendusin dari kepedihan hatinya, mereka terperanjat dan buru-buru mengejar ke depan ikut meloncat naik ke atas perahu besar.

Tok-Cukat Yauw Sut serta Pek Kun-gie sekalian melirik sekejap ke arah Chin Wan Hong kemudian memandang pula ke arah Hoa Thian-hong yang berada di dalam bopongannya.

Tampaklah si anak muda itu berada dalam keadaan meram dan tak berkutik, darah kental berwarna hitam masih mengucur keluar tiada hentinya, sepintas lalu kelihatannya ia sudah putus nyawa.

Karena itu setelah melirik sekejap ke arah mereka, orang-orang itu segera alihkan pandangannya ke arah lain dan tidak memperdulikan keempat orang itu lagi.

Beberapa saat kemudian perahu mulai bergerak tinggalkan tepian, sementara perahu besar yang ditumpangi Giok Theng Hujien berlayar menjauhi tempat kejadian, ketiga buah perahu dari perkumpulan Sin-kie- pang bergerak menuju ke tepi seberang.

Si harimau pelarian Tiong Liauw yang menjumpai Chin Wan Hong sambil membopong tubuh Hoa Thian-hong berdiri di ujung perahu, di mana tubuhnya bergoncang dan sempoyongan tiada hentinya, seakan akan setiap saat kemungkinan besar bisa tercebur ke dalam sungai, hatinya jadi tidak tega, ia segera maju menghampiri sambil katanya.

“Nona, biarlah aku yang membopong tubuh Hoa sauw ya!”

“Tidak usah!” sahut Chin Wan Hong sambil menggeserkan tubuhnya satu langkah ke samping.

Si harimau pelarian Tiong Liauw terperanjat, karena takut gadis itu tercebur ke dalam sungai terpaksa diam- diam ia memperhatikan dan mengawasi gerak-geriknya di samping dara tersebut, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Perahu dengan cepatnya merapat di tepi pantai, semua orang telah berloncatan naik ke darat tapi Chin Wan Houg masih berdiri termangu-mangu di ujung perahu, menanti Tiong-si Sam Houw menegur dirinya ia baru membopong tubuh Hoa Thian-hong dan melangkah turun dari atas perahu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tiga ekor harimau dari keluarga Tiong jadi kelabakan dibuatnya, terpaksa mereka menguntil terus di belakangnya.

Pemuda yang dahulu bernama Hong-po Seng dan kini bernama Hoan Thian-hong itu, setelah menelan Teratai Racun Empedu Api seluruh darah segar di dalam tubuhnya telah berubah jadi cairan beracun, daya kerja racun jarum sakti penembus tulang yang dihadiahkan Pek Siauw-thian di atas bahunya sudah tidak menunjukkan arti yang dalam lagi, racun tersebut bagaikan tetesan air di tengah samudra lenyap kegunaannya.

Meski demikian jantung Hoa Thian-hong masih berdetak dan badannya masih terasa hangat, seakan- akan Thian tidak tega untuk mencabut kembali jiwanya dan memberi kesempatan kepada si anak muda ini untuk meronta dan berjuang untuk menentang maut.

Meskipun Chin Wan Hong hanya sempat bertemu sebanyak tiga kali dengan si anak muda itu dan saat berkumpul mereka hanya beberapa hari saja, tetapi berhubung watak yang sama dan di antara mereka terasa ada kecocokan, maka dalam hati kecilnya yang ramah, halus dan penuh welas itu telah tumbuh benih cinta yang mendalam, cuma saja ia tak herani mengutarakan rasa cintanya itu di luaran.

Tetapi benih cinta yang telah tumbuh dalam hatinya kian lama kian bertambah besar, ia merasa tak dapat membendung perasaan hatinya itu. Hingga akhirnya Hoa Thian-hong berada di ambang maut, dalam keadaan begini semua halangan dan rintangan yang mengganjal hatinya lenyap dan tersingkirkan dengan sendirinya, tanpa ia sadari rasa cinta yang terpendam selama inipun terutarakan keluar.

Sepanjang pejalanan Chin Wan Hong serta Tiong-si Sam Houww berada di depan sedangkan Cukat beracun Yauw Sut dengan memimpin anak buah perkumpulan Sin-kie-pangnya membuntut di belakang, memandang bayangan punggung beberapa orang itu entah bagaimana secara tiba-tiba Pek Kun-gie merasakan dirinya seolah-olah telah kehilangan sesuatu.

Sesudah termangu-mangu sesaat lamanya, mendadak Oh Sam yang mengikuti di belakangnya ia berseru, “Bawa kereta dan hantar mereka menuju ke tempat tujuan, setelah mengubur Hong-po Hoa Thian-

hong nanti, coba kau bereskan dan aturlah diri mereka sehingga beberapa orang itu terhindar dari pelbagai kesulitan!”

Oh Sam mengiakan, dengan cepat ia berlalu dari situ.

Tatkala Chin Wan Hong sekalian telah melakukan perjalanan sejauh beberapa li, Oh Sam dengan keretanya telah menyusul tiba segera ujarnya, “Nona Chin! kalian mau pergi kemana? mari cayhe hantar kalian sampai di tempat tujuan.”

Kegagahan serta kehebatan yang ditinggalkan Hoa Thian-hong telah membuat orang ini bersikap sangat hormat terhadap diri Chin Wan Hong.

Terdengar Chin Wan Hong menjawab dengan sikap bimbang, “Kami akan menuju ke wilayah Biauw, perjalanan yang amat jauh sekali!”

“Aaaai… nona ini tentu sudah gila karena rasa sedih

yang kelewat batas” pikir Oh Sam dalam hati Sesudah tertegun sejenak ia lantas berseru, “Naiklah dulu ke atas kereta, setibanya di kota Keng-Chiu nanti boleh kau lanjutkan kembali perjalanan!” Pikiran Chin Wan Hong pada saat ini telah kalut dan kacau balau, ia cuma tahu secepatnya pergi ke wilayah Biauw, oleh sebab itu sehabis mendengar tawaran tadi tanpa berpikir panjang ia segera menerobos masuk ke dalam ruang kereta.

Si Harimau pelarian Tiong Liauw yang menyaksikan kejadian itu, tanpa berpikir panjangpun ikut meloncat masuk ke dalam ruang kereta. Si nenek tua she-Tiong serta putranya Tiong Long pun terpaksa ikut masuk ke dalam kereta.

Perjalanan menuju ke arah Selatan dilakukan dengan sangat cepat, sepanjang perjalanan Oh Sam selalu menyediakan makanan dan minuman yang cukup pelayanannya terhadap beberapa orang ini ternyata baik dan sangat ramah.

Setelah lewat beberapa hari rasa sedih yang mencekam Tiong-si Sam Houww mulai berkurang, kejernihan otak merekapun sudah pulih kembali seperti sedia kala, hanya Chin Wan Hong seorang yang pikirannya tetap kabur dan tidak beres, setiap hari baik siang maupun malam ia selalu mendampingi Hoa Thian- hong, tak sepatah katapun diucapkan dan sikapnya tetap termangu-mangu terus.

Dalam pikiran Oh Sam semula, setelah ia menghantar mereka sampai di kota Keng-chiu maka pikiran serta kejernihan otak Chin Wan Hong telah pulih kembali seperti sedia kala, sehabis mengubur jenazah Hoa Thian- hong maka tugasnyapun akan selesai. Siapa tahu setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari, ia temukan bahwasanya Hoa Thian-hong yang nampaknya sudah mati itu ternyata napasnya belum putus dan jantungnya masih berdetak meski amat lemah sekali, ia jadi terkejut bercampur keheranan.

Dalam keragu-raguannya kereta dilarikan semakin cepat lagi langsung menuju ke dalam wilayah Biauw.

Haruslah diketahui letak wilayah Biauw amat terpencil sekali dan berada di arah Barat daya, jaraknya dari Tionggoan kira-kira ada satu dua laksa li, begitulah dengan tanpa banyak komentar dan banyak bicara kelima orang itu sambil mengawal Hoa Thian-hong yang hampir sekarat meneruskan perjalanan siang dan malam, kurang lebih satu bulan kemudian akhirnya sampailah mereka di tempat tujuan.

Siang itu kereta memasuki wilayah Hek Hong Tong, Oh Sam pun segera menghentikan lari kudanya dan membuka pintu kereta, kepada Chin Wan Hong ujarnya, “Nona, antara perkumpulan Sin-kie-pang dengan Kioe Tok Sian Cie pernah mengadakan perjanjian bahwa orang-orang dari perkumpulan kami tidak diperkenankan melewati wilayah Hek Hong Tong, karena itu maafkanlah diri cayhe apabila tak bisa menghindar perjalanan kalian lebih lanjut!…..”

Mendengar perkataan itu Chin Wan Hong segera membopong tubuh Hoa Thian-hong dan meloncat keluar dari dalam kereta.

“Terima kasih atas pertolonganmu!” serunya dengan sinar mata liar menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tambah nya, “Di manakah Kioe Tok Sian Cie itu?”

“Aaai….. penyakit yang diderita nona ini entah bisa sembuh atau tidak?” batin Oh Sam di dalam hati.

Ia segera mjnuding ke arah gua-gua suku Siauw yang berada di bagian depan sahutnya, “Setelah melewafi gua-gua itu berangkatlah menuju ke arah Selatan dan carilah letak sebuah selat yang disebut selat Hoe-Hiang- Kok, di situlah Kioe-Tok Stan-Cie berdiam!”

“Terima kasih atas bantuanmu,” Chin Wan Hong mengangguk. “Setelah penyakit yang diderita Hoa Kongcu sembuh, aku pasti akan suruh dia mengucapkan rasa terima kasihnya kepadamu.”

Rupanya gadis ini merasa amat gelisah dan tergesa- gesa, sehabis mengucapkan kata-kata itu ia segera berjalan menuju ke daerah perumahan suku Biauw, kepala tidak di paling dan ia sama sekali tidak memperdulikan apakah Tiong-si Sam Houww mengikuti dibelakangnya atau tidak.

Nenek tua she-Tiong merasa tidak tega, cepat-cepat ia memburu ke depan dan mengikuti di belakangnya.

Oh Sam menghela napas panjang dan alihkan sinar mata ke arah si Harimau Pelarian Tiong Liauw.

Seorang tua itu segera menjura dan mengucapkan rasa terima kasihnya atas jerih payah Oh Sam dalam menghantar mereka selama ini, kemudian dengan membawa putranya mengejar sang istri serta Chin Wan Hong yang telah menjauh,

Pergaulan yang lama di antara mereka berempat ditambah pula rasa terima kasih serta hutang budi dari Tiong-si Sam Houw terhadap Hoa Thian-hong, membuat ketiga orang itu tanpa sudah telah menganggap Chin Wan Hong sebagai majikan mereka, sepanjang perjalanan si harimau ompong nenek tua she Tiong itu tak pernah berpisah sejengkalpun dari gadis tersebut, pelayanannya amat baik dan teliti.

Setelah mencari keterangan mengenai letak selat Hoe Hiang Kok, berangkatlah ke-empat orang itu menerobosi Hek Hong Tong dan menuju ke arah selatan…

Kiranya selat Hoe Hiang Kok letaknya berada di tengah-tengah wilayah Biauw, sesudah melakukan perjalanan siang malam selama tiga hari, akhirnya tempat tujuanpun berada di depan mata.

Tampaklah di hadapan mereka terbentang samudra bunga yang amat luas, bunga yang beraneka warna menyiarkan bau harum yang semerbak, di tengah tumbuhan bunga tampak sebuah jalan kecil menghubungkan tempat itu dengan selat Hoe Hiang Kok, selain itu tidak nampak jalan lain lagi.

Tiong-si Sam Houw jadi sangat kegirangan, sebaliknya Chin Wan Hong tetap bersikap kaku dan murung, perjalanan siang malam yang dilakukan dengan susah payah selama ini ditempuhnya dengan gigih tanpa melepaskan tubuh Hoa Thian-hong barang sekejappun, ia tidak membiarkan tubuh pemuda itu dibopong oleh siapapun.

Kini gadis itupun tidak berdiam terlalu lama di sana, setelah merandek sejenak ia segera lanjutkan perjalanannya memasuki hutan bunga tersebut.

Siapa tahu belum sampai beberapa ratus tombak mereka berjalan, mendadak keempat orang itu merasakan badannya jadi limbung dan tak terhindar lagi secara beruntun mereka roboh terjengkang ke atas tanah dan jatuh tak sadarkan diri.

Kiranya sepuluh li di sekitar samudra bunga ini disebut barisan Hoe-Hiang-Tin, semua jago lihay yang bagaimana dahsyatpun ilmu silatnya setelah melewati daerah tersebut pasti akan keracunan dan jatuh tidak sadarkan diri.

Chin Wan Hong sekalian berada dalam keadaan sedih dan punya pikiran yang mengganjal di dalam hati, ditambah pula tenaga lwekangnya amat cetek, hal ini tentu saja semakin memperlemah keadaan mereka, oleh sebab itu belum jauh mereka berjalan beberapa orang itu sudah roboh tak sadarkan diri.

Kurang lebih setengah jam kemudian, dari balik pepohonan yang lebat muncul beberapa orang gadis suku Biauw dengan gerakan cepat bagaikan kilat….

Sungguh cepat gerakan tubuh mereka, dalam sekejap mata mereka sudah berdiri di sisi Chin Wan Hong.

Terdengar ucapan Kukulala-kukulala yang tidak dimengerti bergema memecahkan kesunyian, diikuti orang-orang itu membopong mereka berempat dan bergerak masuk ke dalam selat.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki beberapa orang gadis muda itu sangat lihay, belum sampai seperminum teh samudra bunga sudah dilewati dan mereka langsung menuju ke dalam selat yang terkurung bukit.

Di dalam selat terdapat sebuah tanah lapang yang luas, bagian yang dekat dengan pintu luar penuh ditanami bunga-bungaan yang aneh dan beraneka ragam, setelah memasuki sebuah tebing terlihatlah sebuah lapangan berbentuk lingkaran bulan yang berdempetan dengan dinding tebing yang terjal, di bawah dinding terdapat sebuah pintu gua berbentuk bulat, di sisi pintu besar tadi terdapat pula empat buah gua bulat yang jauh lebih kecil dan teratur rapi.

Sementara itu sekelompok perempuan-perempuan berwajah cantik sedang berkumpul di tengah lapangan, di tengah kebun terdapat pula sekelompok gadis sedang menyirami bunga, ketika menyaksikan ada orang asing dibawa masuk mereka segera berseru nyaring dan sama- sama meninggalkan pekerjaannya untuk berkerumun, beberapa saat kemudian mereka membawa Chin Wan Hong sekalian yang tak sadarkan diri itu masuk ke dalam gua besar.

Ruangan di dalam gua itu tinggi dan luas, udara terasa amat dingin, tepat berhadapan dengan pintu masuk terletak sebuah pembaringan terbuat dari batu pualam yang luas, di sisi pembaringan batu itu berderet dua belas buah bantalan bulat yang terbuat dari batu pualam juga.

Pada saat itu di atas pembaringan duduk seorang perempuan muda suku Biauw yang berwajah amat cantik, bertangan telanjang, berdada terbuka sehingga nampak buah dadanya dan berpakaian sangat minim, sedang di atas bantalan yang berjumlah dua betas buah itu duduk beberapa orang gadis.

Begitu tubuh Chin Wan Hong sekalian dibaringkan ke atas tanah, perempuan muda suku Biauw yang duduk di atas pembaringan itu segera membuka matanya dan menatap wajah Hoa Thian-hong tajam-tajam, kemudian ia loncat turun dari pembaringan dan mengucapkan sepatah kata bahasa Biauw.

Setelah itu dengan tangannya yang putih mulus dan halus itu ia membuka kelopak mata Hoa Thian-hong untuk diperiksa sejenak kemudian memegang pula denyutan nadi si anak muda itu.

Beberapa saat kemudian seorang gadis dengan membopong sebuah guci yang penuh berisikan cairan air obat berwarna merah tawar berjalan masuk ke dalam gua, dengan menggunakan sebuah cawan kecil dara tadi menyedu air obat kemudian diguyurkan ke dalam mulut Chin Wan Hong serta Tiong-si Sam Houw.

Suasana di dalam gua berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, berpasang-pasang biji mata yang jeli sama-sama diarahkan ke atas wajah beberapa orang yang belum sadarkan diri itu. Di antara mereka hanya sepasang mata perempuan muda itu saja yang ditujukan ke atas wajah Hoa Thian- hong, sambil memeriksa denyutan nadinya air muka perempuan itu tampak berubah hebat dan menundukkan rasa terkejut bercampur tercengang.

Lewat seperminum kemudian secara beruntun Chin Wan Hong serta Tiong-si Sam Houw telah siuman kembali, Seakan-akan otaknya secara mendadak berubah jadi tajam dan pandai, begitu membuka matanya gadis she Chin itu segera menuju sekejap sekeliling tubuhnya kemudian meloncat bangun dan jatuhnya diri berlutut di hadapan perempuan muda suku Biauw itu.

Tiong-si Sam Houw yang menyaksikan perbuatan dari iru tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka juga meloncat bangun dan jatuhnya dari berlutut di atas tanah.

Perempuan muda suku Biauw alihkan sinar matanya menyapu sekejap ke arah empat orang itu, kemudian melepaskan cekalannya pada nadi Hoa Thian-hong dan kembali duduk di atas pembaringannya.

Chin Wan Hong segera maju ke depan dan berlutut kembali di hadapan perempuan itu tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.

Mendadak tampaklah perempuan muda itu mengerutkan alisnya, lalu menegur, “Hey bocah perempuan, kenapa kau berlutut dan angguk-anggukkan kepalamu tiada hentinya?” Bahasa Han yang digunakan ternyata lancar dan amat jelas sekali untuk didengar.

Chin Wan Hong tertegun, diikuti dengan air mata bercucuran dan menahan isak tangis yang makin menjadi sahutnya, “Siauw-li bernama Chin Wan Hong, kami datang untuk menyambangi Kioe Tok Sian…… untuk menyambangi Kioe Tok Sian Nio!”

Perempuan muda suku Biauw itu tersenyum “Akulah Kioe-Tok Sian-Ci! kedatanganmu kemari apakah disebabkan karena hendak menolong jiwa bocah itu?”

Sambil berkata ia tuding ke arah tubuh Hoa Thian- hong.

Begitu mendengar bahwasanya perempuan yang berada di hadapannya adalah Kioe-Tok Sian-Cie, gadis she-Chin itu segera anggukkan kepalanya berulang kali.

“Sian-Nio! tolonglah selembar jiwanya, sekalipun siauw-li harus menyeberangi samudra api dan mendaki gunung golok, aku pasti akan membalas budi kebaikan dari Sian-Nio!”

Tiong-si Sam Houww berlutut di sisinya, si harimau pelarian Tiong Liauw serta si harimau ompong nenek tua she-Tiong mengucurkan air mata tiada hentinya, bibir mereka berkemak-kemik seperti mau ikut berbicara tapi tak sepatah katapun yang meluncur keluar kegelisahan serta kecemasan yang tertera di atas wajah mereka sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Air muka Kioe-Tok Stan-Ci berubah jadi amat murung dan membesi, seolah-olah dia pun telah menjumpai suatu masalah yang amat menyulitkan dirinya, setelah tundukan kepala termenung beberapa saat lamanya tiba- tiba ia gelengkan kepalanya berulang kali.

“Sian Niol” seru Chin Wan Hong dengan air mata bercucuran. “Ia sudah terkena ja

rum beracun pengunci sukma milik Sin-kie-pangcu, kemudian menelan pula Teratai Racun Empedu Api.

Tolonglah selembar jiwanya Sian-Nio! Berbuatlah welas dan usahakanlah penyembuhan baginya.”

“Aaah! Ternyata benar, disebabkan karena benda itu,” bisik Kioe-Tok Sian-Cie sambil alihkan sinar matanya dan melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong yang berbaring di atas tanah.

Bibirnya kembali bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi setelah lama sekali termenung akhirnya dengan wajah serius ia baru berkata, “Terus terang saja kukatakan kepadamu, dewasa ini pemuda ini masih berada dalam keadaan hidup atau telah mati, aku sendiri pun tidak jelas. Aku tak bisa menyelamatkan jiwanya, darimana bisa kukabulkan permintaanmu itu?”

“Sian-Nio! Kau pasti bisa menyelamatkan jiwanya, tolonglah……” seru Chin Wan Hong lagi dengan air mata bercucuran.

Kioe-Tok Sian-Cie segera tersenyum. “Kau si bocah perempuan benar-benar amat bodoh, andaikata suku bisa menyelamatkan jiwa rekanmu itu, maka aku tak akan disebut Kioe Tok Sian Cie si Dewi cantik sembilan Bisa!”

“Kenapa?” dara she Chin itu dengan mata melotot bulat.

“Bukankah aku lebih baik disebut Sip Tok Sian Cie si dewi cantik sepuluh Basa?”

Para gadis muda yang duduk di atas bantalan batu pualam itu kesemuanya adalah anak murid Kioe Tok Sian Cie, mereka semua mengerti akan bahasa Han karena itu sehabis mendengar perkataan gurunya tak tertahan mereka semua tertawa geli.

Tiba-tiba terdengar gadis yang duduk di atas batu- batu bantalan batu pualam dekat dengan pembaringan itu berseru, “Hay, Chin Wan Hong, apakah pemuda itu adalah kekasihmu?”

Gadis suku Biauw biasanya polos dan tidak pemandang terlalu ketat akan hubungan antara pria dan wanita, pertanyaan ini musti diutarakan amat terbuka dan bukan dibuat tapi segera membuat Chin Wan Hong jadi tersipu, wajahnya berubah jadi merah padam, kepalanya tertunduk rendah-rendah dan tak sepatah katapun yang sanggup diutarakan keluar!” “Lan Hoa! jangan banyak bicara,” tukas Kioe Tok Sian- Cie dengan cepat. “Aku tak sanggup menyelamatkan orang, banyak bertanya malah terasa rada tidak enak!”

“Suhu, tecu amat senang dengan Chin Wan Hong ini!” seru gadis yang bernama Lan Hoa itu sambil tertawa.

“Kita tak sanggup menyelamatkan jiwa orang, senangpun tak ada gunanya!”

Pembicaraan tersebut dilakukan dengan bahasa Han, dengan sendirinya Tiong-si Sam Houw dapat menangkap artinya dengan jelas.

Si nenek tua she Tiong yang berjulukan harimau ompong adalah seorang yang berjiwa terbuka, apa yang ia pikirkan selalu diutarakan tanpa dipikir lagi. Kini ia tak kuasa menahan diri segera serunya, “Sian-Nio! kau toh belum turun tangan untuk mencoba darimana bisa tahu kalau jiwa Hoa sauw-ya tak bisa tertolong lagi? bilamana kau tak sudi untuk menolong jiwanya, kamipun tak bisa banyak bicara, sebaliknya kalau kau mengatakan tak sanggup untuk menolong…. julukan Sian-Nio sebagai Kioe Tok kenapa tidak dikurangi satu menjadi Pat-Tok Sian-cie saja?…..”

Pat-Tok Sian-Cie adalah dewi cantik delapan bisa.

Pada dasarnya nenek tua ini memang seorang yang berbuat mengikuti emosi belaka, otaknya sama sekali tak pernah digunakan. Kini setelah hatinya jadi gelisah karena jiwa Hoa Thian-hong tak tertolong, ucapan yang diutarakan keluarpun kedengarannya amat menusuk perasaan.

Chin Wan Hong jadi gelisah bercampur cemas, ia takut di dalam gusarnya Kioe-Tok Sian-Cie akan mengusir mereka keluar dari wilayahnya, karena itu dengan air mata berlinang kembali menganggukkan kepalanya berulang kali.

Sebetulnya Kioe-Tok Sian-Cie serta anak muridnya merasa amat terharu oleh kesedihan hati Chin Wan Hong, apa daya racun Teratai Empeau Api itu memang sulit di tolong, maka dalam keadaan serba salahnya iapun tak mengerti harus berbuat apa.

Mendadak terdengar si Harimau Pelarian Tiong Liauw berkata, “Sian Nio! kongcu ini bernama Hoa Thian-hong, dia adalah putra tunggal dari Hoa Goan Sioe yang amat tersohor namanya di masa lampau, memandang di atas keluhuran budi serta kegagahan perjuangan ayahnya ulmarhun sudilah kiranya Sian Nio coba-coba menolong jiwanya. Andaikata jiwanya benar-benar bisa dihidupkan, maka dalam Bulim entah ada berapa banyak orang yang akan berterima kasih kepada Sian Nio!”

Dengan sepasang alis berkerut kencang sekali lagi Kioe Tok Sian Cie melirik sekejap ke arah Hoa Thian- hong yang menggeletak di atas tanah.

“Hoa Goan Sioe orang ini aku sih tahu,” sahutnya. “Aku dengar dia adalah seorang enghiong yang bijaksana dan pemberani!” Gadis yang bernama Lan Hoa itu adalah murid pertama dari Kioe Sok Sian Cie pada saat itu ikut menimbrung, katanya, “Suhu, mari kita coba-coba berusaha untuk menolong dirinya, sekalipun usaha kita gagal juga bukan merupakan suatu kejadian yang memalukan!!…….”

“Suhu! aku juga merasa tidak puas” seorang gadis cantik yang lain ikut berseru. “Masa Teratai Racun Empedu Api adalah benda yang begitu kukoay… ”

Dalam sekejap mata suara-suara timbrungan bersahut-sahutan memenuhi seluruh ruang gua, bahasa Han bercampur-baur dengan bahasa Biauw membuat suasana jadi amat riuh.

Kiranya peraturan perguruan dari Kioe Tok Siin-Cie tidak terlalu ketat, hubungan di antara guru dan murid tidak dibatasi oleh pelbagai peraturan yang memusingkan kepala karena itu dalam pembicaraanpun anak muridnya sudah terbiasa ikut menimbrung.

Demikianlah di bawah desakan serta seruan anak muridnya, perempuan muda itu mulai tergerak hatinya, tanpa sadar semangatnya pun ikut berkobar kembali.

Tiba-tiba terdengar Lan Hoa berseru dengan suara lantang, “Chin Wan Hong, bagaimana kalau kau angkat suhu jadi gurumu dan masuk menjadi murid perguruan kami?”

Dalam keadaan seperti ini yang diharap kan oleh Chin Wan Hong hanyalah berusaha untuk menolong jiwa Hoa Thian-hong, mengenai persoalan lain ia sama sekali tidak dipikirkannya di dalam hati.

Mendengar ucapan itu, buru-buru ia jatuhkan diri berlutut di hadapan Kioe Tok Sian cie dan menyebut dirinya sebagai Suhu.

Kioe Tok Sian cie tertegun, kemudian serunya, “Cara ini tak bisa dilaksanakan, aku dengan orang-orang Bulim di daerah Tionggoan sama sekali tiada hubungan apapun juga, tiada dendam juga tak pernah menanam budi menerima seorang murid sih bukan menjadi soal, yang kutakuti justru terpancingnya banyak kesulitan dan kerepotan bagi diri kita!”

“Suhu, kau tak usah kuatir,” sela Lan-Hoa dengan cepat. “Ada baiknya kalau kita terima seorang gadis bangsa Han sebagai murid dengan begitu kamipun ada teman untuk diajak bermain. Andaikata dikemudian hari bakal terjadi kerepotan, biarlah aku yang menghadapi seorang diri.”

“Chin Wan Hong!” terdengar seorang gadis yang lain ikut menimbrung dari samping. “Setelah kau masuk jadi anggota perguruan kami dan diangkat suhu kami sebagai gurumu, maka kau harus berganti pakaian dengan dandanan suku Biauw kami.”

Buru-buru Chin Wan Hong anggukkan kepalanya.

“Siauw moay pasti akan berganti pakaian dengan dandanan suku Biauw, tapi mohonlah suhu serta cici sekalian suka menyelamatkan selembar jiwa Hoa kongcu terlebih dulu!”

Menghadapi kejadian seperti ini Kioe Tok Sian Cie merasa sedih dan serba salah, pikirnya, “Bocah perempuan ini sangat bagus dan berbakat baik, menerima dirinya sebagai anak murid memang merupakan suatu kejadian yang sangat indah, tetapi Teratai Racun Empedu Api adalah racun keji yang tak dapat dipunahkan, aku harus menyelamatkan jiwanya dengan cara apa?”

“Suhu! mari kita gunakan dulu Katak buduk kumala untuk dicobakan!” teriak Lan Hoa segera tiba-tiba, sehabis berkata dengan gerakan cepat ia lari masuk ke dalam gua.

Diam-diam Kioe Tok Sian Cie gelengkan kepalanya berulang kali, ia belum sempat mengambil sesuatu keputusan mengenai masalah ini, tetapi kepada seorang anak muridnya yang ada di sana serunya juga, “Lie Hoa, keluarkan dahulu secawan darah segar dari bocah itu!”

Dara ayu yang bernama Lie Hoa itu tertawa cekikikan, setelah mengambil sebuah cawan ia mengangkat tangan Hoa Thian-hong lalu dengan sebatang tusuk konde diguratnya urat nadi di tangan si anak muda itu, segumpal darah kental yang berwarna hitam dan amat beracun segera mengalir ke dalam cawan tersebut.

Menyaksikan darah kental itu Kioe-Tok Sian-Cie gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang. “Aaaai….! sungguh keanehan alam yang sukar diduga dengan akal manusia….aku si ahli dalam hal ilmu beracun pun rasanya harus mengundurkan diri… ”

Lan Hoa yang kebetulan berjalan menghampiri suhunya sambil membawa sebuah kotak pualampun segera menjulurkan lidahnya setelah menyaksikan darah kental berwarna hitam yang mengalir keluar dari tubuh Hoa Thian-hong itu, ujarnya, “Suhu, racun keji telah menyebar luas ke seluruh tubuh orang ini, tetapi ia tidak sampai menemui ajalnya dan tetap hidup di dunia, sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Aku sendiripun tidak mengerti, aaai! bagaimanapun juga mulai detik ini nada ucapan kalian harus sedikit diperkecil dari semula.”

Lan Hoa tertawa cekikikan, ia segera membuka kotak pualam itu dan mengambil keluar sebuah katak buduk yang terbuat dari batu pualam serta bercahaya terang.

Setelah menerima katak buduk pualam itu Kioe Tok Sian-Cie mencelupkannya ke dalam cawan dimana terdapat darah beracun yang mengalir keluar dari tubuh Hoa Thian-hong kemudian sambil berpaling ke arah Chin Wan Hong tanyanya, “Kapankah dia menelan Teratai racun empedu api itu?”

“Empat lima puluh hari berselang, selama ini ia selalu berada dalam keadaan tidak sadar dan tak pernah pula makan-makanan apapun juga, entah dia merasa lapar atau tidak?” Sementara itu semua orang telah mengerubung di sekeliling tempat itu, bisikan-bisikan lirih dan seruan keheranan berkumandang tiada hentinya di sekitar sana, hal ini membuat Chin Wan Hong serta Tiong-si Sam Houww merasa hatinya amat tegang dan tidak tenteram.

Lewat beberapa saat kemudian, Kioe-tok Sian-Cie ambil keluar “Katak buduk pualam” nya dari dalam cawan.

“Suhu, apakah bisa ditolong?” buru-buru Chin Wan Hong bertanya.

Kioe-Tok Sian Cie menggeleng.

“Katak buduk kumala ini adalah suatu benda mustika yang sangat langka dalam dunia, asal di dalam darah mengandung racun maka ia dapat menghisapnya keluar, tetapi setelah berjumpa dengan Teratai Racun Empedu Api ternyata binatang ini sudah kehilangan daya kemampuannya yang hebat.”

000O000

13

“SUHU! di dalam katak buduk kumala itu terdapat beberapa buah garis berwarna hitam” mendadak Lie Hoa berseru. Menurut pandangan tecu, binatang ini masih ada sedikit kegunaannya!” Mengikuti pembicaraan tersebut, Chin Wan Hong ikut mengalihkan sinar matanya ke arah binatang itu.

Tampaklah “Katak buduk pualam” tersebut setelah direndam beberapa saat di dalam darah bercampur racun, tubuhnya masih putih bersih dan bercahaya, cuma di antara tubuhnya bertambah dengan beberapa buah jalur berwarna hitam, jelas garis itu semula tidak terdapat disitu.”

“Itulah racun keji dari jarum sakti pengunci sukma yang dilepaskan oleh Pek Siauw-thian,” terdengar Kioe- Tok Sian-Cie menerangkan, setelah merandek sejenak tambahnya, “Perduli bagaimanapun juga. “Katak bu duk pualam” ini ada kegunaannya dan tidak mencelakai, baiklah kita coba lebihlan jut!”

Ia segera memerintahkan anak muridnya untuk memegangi katak buduk pualam itu dan ditempelkan di atas mulut luka yang terdapat di urat nadi pergelangan tangan Hoa Thian-Hong.

Lama sekali perempuan muda suku Biauw itu termenung, kemudian ujarnya lagi, “Chin Wan Hong, apakah kau bersungguh hati hendak mengangkat diriku sebagai gurumu? apakah kau tidak merasa menyesal?”

Chin Wan Hong anggukkan kepalanya.

“Tecu sudah mengangkat suhu sebagai guruku, sampai matipun tecu tidak akan menyesal.”

“Meskipun aku mempunyai sekelompok anak murid” diam-diam Kioe-Tok Sian-Cie berpikir d idalam hati. “Tetapi tak seorangpun yang bisa menandingi kebagusan serta kebolehan dari bocah perempuan ini, menerima seorang gadis bangsa Han sebagai muridku pun tidak mengapa, bukan saja menambah jumlah muridku bahkan kemungkinan besar ia bisa mengangkat nama perguruan di kemudian hari…. hitung-hitung tindakanku ini berarti juga sekali tepuk dapat dua lalat.”

Rupanya jago lihay dari wilayah Biauw yang pandai menggunakan racun ini sudah dibuat tertarik oleh bakat bagus yang dimiliki Chin Wan Hong, di samping itu diapun mengagumi akan keteguhan hati serta kebulatan tekad sang dara itu di dalam usahanya untuk mencarikan keselamatan bagi rekannya, ditambah pula ia merasa agak kalang kabut menghadapi teratai racun empedu api, hingga menimbulkan nafsu ingin menangnya.

Karena disadari oleh pelbagai faktor dan alasan itulah, Kioe-Tok Sian-cie segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengusahakan suatu cara pertolongan yang sebaik mungkin.

Demikianlah, setelah jago lihay dari wilayah Biauw ini mengambil keputusan untuk menolong jiwa Hoa Thian- hong, maka ia mulai kuatir apabila si anak muda itu secara tiba-tiba putus nyawa, segera ujarnya, “Cie Wie! kau segera kumpulkan semua rumput serta bunga obat yang ada di kebun sebelah selatan, pilihan menurut jenis-jenisnya dan atur yang rapi di dalam ruang membuat obatku, setiap jenis yang ada kubutuhkan semua, jangan sampai ada yang tertinggal barang satupun.” Dara yang bernama Cie Wie itu segera mengiakan, dengan membawa dua orang rekannya cepat-cepat mereka berlalu.

Kioe Tok Sian cie pun memerintahkan orang untuk menyediakan tempat beristirahat bagi Tiong Sie San Hauw, setelah itu barulah ia berkata kepada Lan Hoa, “Bukankah kau merasa amat senang dengan Chin Wan Hong? nah! biarlah dia mengikuti dirimu, Hoa Thian-hong itupun aku serahkan kepadamu!”

“Suhu, aku bernama Hong jie!” terdengar Chin Wan Hong berkata.

Kioe Tok Sian cie tersenyum, sambil menuding kea rah Lan Hoa berkata pula, “Dia bernama Lan Lan, dia adalah toa si-ci mu!”

“Toasuci!” buru-buru Chin Wan Hong memanggil.

Rupanya Lan Lan merasa amat senang, segera sahutnya, “Siauw sumoay! boponglah Hoa Thian-hong dan ikutilah diriku!”

Buru-buru Chin Wan Hong membopong tubuh Hoa Thian-hong kemudian mengikuti di belakang Lan Lan berlalu dari ruangan gua.

Gadis yang memegangi katak buduk pualam itu tetap menempelkan lagi binatang tadi di atas mulut luka yang ada di urat nadi pergelangan Hoa Thian-hong, sambil berjalan katanya tertawa, “Aku bernama Lan Sien, alias Sien Kauw aku adalah Chiet suci mu! Chiet suci adalah kakak seperguruan yang ketujuh.”

Chin Wan Hong ada maksud untuk menarik simpati orang dengan nada yang manis dan merdu ia lantas memanggil, “Chiet suci!!….” setelah merandek sejenak tanyanya lebih jauh, “Berapa banyak sih anak murid suhu? apakah mereka she Lan semua?….“

Lan Shie tertawa.

“Suhu semuanya mempunyai dua belas orang murid dan sekarang ditambah kau seorang jadi tiga belas. “Lan” adalah She yang paling besar di dalam suku Biauw kami Toa suci she Lan. Ngo suci, Lak suci she-Lan, aku she-Kan, Cap-Jie su moay juga she-Lan, semuanya lima orang yang memakai she-Lan!”

“Aku bernama Beng Chen Chen!” mendadak terdengar dara ayu yang ada di sisinya menimbrung. “Aku adalah suci mu yang ke sembilan!”

“Ooooh… Kioe suci!” cepat-cepat Chin Wan

Hong memanggil.

“Kau tentu dibikin pusing kepala dan kebingungan bukan?” ujar Lan Lan Sambil tertawa. “Besok pagi catatlah dulu nama-nama mereka di atas kertas, lalu dihapalkan dulu, dengan demikian maka kau akan lebih gampang untuk mengingatnya.”

Sementara pembicaraan masih berlangsung mereka telah memasuki sebuah ruang batu. Lan Lan segera tertawa dan berkata, “Hong-jie, kemari ini khusus untukmu, aku akan berdiam di kamar sebelahmu!…..”

Chin Wan Hong menyapu sekejap ke arah ruangan itu, ia lihat di dalam kamar terdapat sebuah pembaringan terbuat batu yang dilapisi kulit binatang, cepat-cepat ia baringkan tubuh Hoa Thian-hong di situ, kemudian Lan Lan pun memperkenalkan nama dari beberapa orang gadis yang lain, ternyata mereka semua adalah kakak seperguruannya.

Tiba-tiba terdengar Beng Chen Chen berseru, “Hong- jie, apakah kau sudah menikah dengan Hoa Thian- hong?”

Merah jengah selembar wajah Chin Wang Hong mendengar perkataan itu, ia segera gelengkan kepalanya berulang kali, “Dia adalah tuan penolong dari keluarga kami!”

“Kalau begitu kau tak usah menikah untuk selamanya, tenaga dalam suhu merupakan suatu aliran yang tersendiri, asal kau tidak menikah maka wajahmu akan tetap awet muda, selamanya tidak akan jadi tua dan raut wajahmu yang sebenarnya akan dipertahankan untuk selama-lamanya.”

Sepasang mata Chin Wan Hong jadi terbelalak ia awasi wajah beberapa orang sucinya dengan seksama, terasalah olehnya bahwa usia mereka rata-rata di antara delapan sembilan belas tahunan, kecantikan mereka masih nampak segar dan menggiurkan, dalam hati segera pikirnya, “Asal Hoa Kongcu bisa hidup di kolong ia langit, meskipun selamanya aku tak boleh menikah juga tidak mengapa….”

Maka diapun bertanya.

“Toa suci, berapakah usiamu tahun ini?” “Aku berusia tiga puluh enam tihun….”

Tiba-tiba terlihatlah Lie Hoa dengan tangan kiri membawa mangkok pualam, tangan kanan membawa sebuah tongkat pualam sambil tertawa cekikikan lari masuk ke alam ruangan,serunya seraya mengaduk cairan obat di dalam mangkok, “Di ladang dewi merasakan seratus rumput, Hoa Thian-hong mungkin harus mencicipi beratus-ratus jenis rumput obat!”

Lan Lan segera mengintip sekejap ke dalam mangkok pualam itu, lalu serunya, “Eeei…! bukankah obat ini adalah campuran rumput Kiem Seng Cau serta rumput Pok Liong Cau yang khusus untuk memunahkan racun kabut? apakah campuran obat ini mampu untuk memunahkan daya kerja racun Teratai racun empedu api?”

Lie Hoa memperlihatkan muka setan dan tertawa. “Setiap rumput obat yang bisa digunakan untuk

memunahkan racun rumput, pohon, tumbuhan serta binatang berbisa, Hoa Thian-hong harus mencicipinya satu demi satu!” Lan Sien segera mengambil botol air dan menuangkan separuh cawan air bersih di dalam mangkok yang berisi bubuk obat itu, setelah diseduh dan diaduk Lie Hda segera membuka mulut Hoa Thian Kong dan menuangkan separuh mangkok obat itu ke dalam perutnya.

Setelah meletakkan mangkok tadi ke atas meja, ia ambil keluar segenggaman jarum emas dari sakunya dan dengan Cekatan segera ditancapkan ke atas jalan darah penting di atas dada Hoa Thian-hong.

Begitu cepat dan hebat gerakan tangannya, dalam sekejap mata puluhan batang jarum emas itu sudah tinggal kepalanya saja yang tertinggal di luar, panjangnya delapan coen dan sangat teratur.

Menyaksikan batang-batang jarum yang tersampul di luar badan dan berkilauan memancarkan cahaya keemas- emasan, Chin Wan Hong merasa jantungnya berdebar keras, sambil menghampiri tubuh Lie Hoa bisiknya lirih, “Suci, jarum-jarum emas itu apa gunanya?”

“Untuk mengetes reaksi yang ditimbulkan oleh daya kerja obat rumput itu!” sahut sang suci sambil tertawa, setelah merandek sejenak tambahnya, “Aku bernama Lie Hoa, merupakan suci mu yang kedua!”

“Jie suci disebut orang Lie Hoa Siancu!” timbrung Beng Chen Chen dari samping.

“Orang kangouw menyebut Toa suci, Jie suci serta Sam suci sebagai Biauw-Nia Sam-Sian tiga dewi dari wilayah Biauw, mereka bertiga pernah berperang melawan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang, tahukah kau akan perkumpulan Sin-kie-pang?”

Chin Wan Hong mengangguk. “Tahu dan Sam suci? siapakah dia?”

“Sam sucimu sedang pergi memetik daun obat, dia bernama Cie Wie sianou, aku serta dia tidak mempunyai she!”

Chin Wan Hong anggukkan kepalanya berulang kali. “Kalau begitu toa suci disebut orang sebagai Lan Hoa

Siancu bukan?” katanya.

“Bukan. Aku dipanggil Lan Hoa si nenek peyot!”

“Aaah. Tidak. Kau tentu bernama Lan Hoa Siancu!” Mendengar ucapan itu semua orang tertawa tergelak,

Chin Wan Hong yang sebenarnya sedang sedih dan hatinya terasa hancur karena pemuda idaman hatinya berada dalam keadaan sekarat, setelah bergaul dengan kakak-kakak seperguruannya yang lincah dan selalu beriang gembira, tidak terasa pikirannyapun rada sedikit terbuka.

Lewat beberapa saat kemudian seorang gadis dengan membawa banyak sekali botol serta guci berjalan masuk ke dalam diikuti seorang wanita suku Biauw dengan membawa sekeranjang buah-buahan segarpun ikut ma uk ke dalam ruangan.

“Coei Kauw, mau apa?” Lan Lan segera menegur. “Suhu mengutus aku untuk khusus mengurusi

makanan serta minuman dari Siauw-Long!”

“Dia bernama Lan Coei, dan merupakan Suci mu yang kedua belas!” Lan Lan segera berpaling ke arah Chin Wan Hong dan memperkenalkan.

Buru-buru gadis dari keluarga Chin ini maju menyongsong seraya menyapa:

“Suci, apakah dia bisa bersantap?, “Suhu bilang………”

Belum habis Lan Coei berkata, Kioe-Tok Sian-Cie telah berjalan masuk sambil berkata, “Hong-jie, besok pagi aku akan menyadarkan Hoa Thian-hong dari pingsannya, tetapi dengan adanya kejadian ini maka seandainya aku gagal untuk memunahkan racun teratai empedu api itu, maka ia segera akan menemui ajalnya.”

Chin Wan Hong tertegun, lama sekali ia berdiri termangu-mangu kemudian baru sahutnya dengan nada gemetar, “Tecu terserah pada kebijaksanaan suhu untuk menyelamatkan jiwanya, tecu sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

Kioe-Tok Sian-Cie menghela napas panjang. “Aai…! aku pasti akan berusaha keras dengan segenap kemampuan yang kumiliki, pokoknya tidak nanti aku berbuat sesuatu sehingga membuat hatimu jadi kecewa!”

Diambilnya “Katak buduk pualam” itu untuk diperiksa, setelah dilihatnya di atas binatang itu secara lapat-lapat terlintas warna hijau yang tebal, kepada gadis she-Chin itu ujarnya lagi, “Katak buduk pualam ini merupakan benda mustika yang sangat langka di kolong langit, meskipun tidak dapat seratus persen menandingi kehebatan racun keji Teratai empedu api itu, tapi sedikit banyak benda ini ada kemampuannya juga untuk mengurangi sedikit kadar racun tersebut. Demi kepercayaanmu, serta untuk memperlihatkan kesungguhan hati suhumu untuk menolong jiwa pemuda ini, aku akan menggiling Katak buduk Pualam ini hingga hancur jadi bubuk kemudian dicampurkan ke dalam obat dan diminumkan kepada Hoa Thian-hong.”

“Suhu! aku percaya bahwa suhu bersungguh-sungguh hati hendak menolong jiwanya dari kematian!” seru Chin Wan Hong dengan air mata bercucuran.

Terdengar Lan Lan ada di samping ikut menimbrung, “Usul dari suhu memang bagus dan tepat sekali, kalau tidak satu hari akupun bisa mencari katak buduk pualam ini untuk digiling hingga hancur dan dibuang jauh ke dalam jurang!”

“Kenapa?” tanya Wan Hong kurang paham. Kioe Tok Sian cie tersenyum. “Katak buduk pualam ini bisa memunah kan pelbagai macam racun keji, seandainya benda ini terjatuh ke tangan kawanan orang Bulim, maka kegunaannya akan luar biasa dan nilainya tak terhingga tingginya, tetapi berada di tanganku bukan saja tidak ada manfaatnya bahkan malah hanya meadatang kan kejelekan saja”

“Kenapa bisa begitu?”

“Nama besarku tersohor di kolong langit karena kehebatanku di dalam menggunakan racun serta caraku memunahkan racun, separuh hidupku telah kucurahkan di bidang penyelidikan soal sifat-sifat racun, sedang katak buduk pualam ini bisa memunahkan setiap racun, yang bisa kupunahkan pula dengan kepandaianku, karena itu benda tersebut bukan saja sama sekali tak berguna malah sebaliknya dengan adanya benda mustika ini maka kepandaianku tak bisa dikembangkan dan tak ada kehebatannya. Andaikata benda ini lenyap bukankah itu berarti bahwa di kolong langit hanya aku seorang yang mengerti akan ilmu beracun? pendapat ini kau bisa mengerti tidak?”

“Jadi keadaan itu bagaikan dua orang jago lihay yang berdiri dalam posisi saling bermusuhan begitu?” tanya Chin Wan Hong setengah mengerti setengah tidak.

“Yaah….! boleh dibilang hampir menyerupai begitu, masih ada satu hal lagi, dengan adanya Katak buduk pualam ini maka anak muridku jadi kurang bergairah untuk berlatih kepandaian, mereka tidak lagi terlalu memandang serius ilmu racun, coba pikirlah suhu terkenal di dalam jagad karena kelihayan ilmu bisanya, masa aku rela melihat anak muridku lupa akan asal usulnya?”

Berbicara sampai di sini ia lantas menyerahkan Katak buduk pualam itu ke tangan murid pertamanya Lan Lan.

“Besok pagi cucilah hingga bersih kemudian giling sampai hancur, setelah itu serahkan kepadaku untuk dibuat obat.”

Lan Lan menyambuti Katak buduk pualam tadi dan menyimpannya secara baik-baik, setelah itu katanya, “Suhu, setelah siauw long terkena racun keji selama empat lima puluh hari ia tak pernah makan dan minum, kenapa napasnya tidak putus? apa sebabnya?”

“Teratai racun Empedu api semestinya memiliki dua belas biji teratai, kalau dibicarakan menurut keadaan pada umumnya asal seseorang makan separuh dari jumlah itu saja sudah cukup untuk memecahkan jantung serta memutuskan usus-ususnya, Hoa Thian-hong bisa mempertahankan napasnya hingga tidak putus dan isi perutnya tidak hancur, aku pikir mungkin ia sekalian menelan pula kulit serta daunnya.”

“Benar, benar, perkataan suhu sedikitpun tidak salah,” Chin Wan Hong segera anggukkan kepalanya membenarkan. “Ia memang menelan seluruh teratai tersebut Kedaun dan akarnya.”

“Sebenarnya apa yang sudah terjadi?! coba kau ceritakan kepada suhumu semua peristiwa yang telah kau alami!” Chin Wan Hong mengangguk, lalu diapun menceritakan semua kisah kejadian yang menimpa diri Hoa Thian-hong sepanjang apa yang diketahui.

Mendengar kisah ini, semua orang jadi ikut merasa kagum dan tanpa sadar rasa simpatik mereka terhadap Hoa Thian-hong pun semakin menebal beberapa bagian.

Terdengar Kioe-Tok Sian-Cie berkata, “Setiap benda yang ada di kolong langit sebagian besar mengandung daya kekuatan untuk melawan tenaga Im maupun Yang, daya racun yang terkeji dari Teratai racun empedu api terletak pada teratainya, termasuk daun dan akar teratai tadi sebenarnya bukan termasuk bagian yang beracun. Secara beruntun Hoa Thian-hong telah menghabiskan dua belas biji teratai tanpa menghembuskan napas yang terakhir, kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang tidak masuk di akal, menurut dugaanku mungkin daun serta akar teratai itu mempunyai khasiat untuk melawan daya kerja racun atau kasiat lain yang luar biasa, yang penting dewasa ini ia belum mati, sedangkan mengenai bagaimana caranya memunahkan racun teratai dan bagaimana caranya mengembalikan sukmanya yang hampir kabur, tunggulah beberapa waktu aku akan berusaha mencari akal yang baik, sebab dewasa ini aku sama sekali tidak memiliki keyakinan apapun.”

Dengan mata berubah jadi merah dan wajah mewek, buru-buru Chin Wan Hong merengek, “Oooh suhu! Kau harus carikan akal yang paling baik, kau pasti bisa menyelamatkan selembar jiwanya!” Kioe-Tok Sian-Cie menghela napas panjang, setelah membelai rambutnya yang hitam halus ia putar badan dan keluar dari kamar.

Malam itu Lie Hoa siancu mencabut keluar jarum-emas yang menancap di dada Hoa Thian-hong, kemudian meloloh pula semangkok cairan obat lain ke dalam perutnya dan menancapkan jarum emas baru di atas dadanya.

Menanti semua orang sudah berlalu, seorang diri Chin Wan Hong menjaga di tepi pembaringan Hoa Thian- hong, pikirannya terasa kalut dan semalam suntuk ia tak dapat memejamkan matanya.

Keesokan harinya ketika fajar baru menyingsing, Lie Hoa Siancu kembali mencabut keluar jarum emas itu, lewat satu dua jam kemudian Kioe-Tok Sian-cie muncul di dalam kamar dan ia turun tangan sendiri melolohkan obat yang dibuatnya semalam ke mulut Hoa Thian-hong.

Campuran obat itu ternyata mujarab sekali, tidak lama setelah diminumkan pemuda she Hoa itu mulai mendusin dan memperdengarkan suara rintihan yang amat lirih sekali, begitu lirih hingga menyerupai suara dengusan nyamuk.

Semua orang merubung di sekeliling pembaringan dan menanti dengan mulut membungkam, sementara air muka Kioe Tok Sian cie berubah jadi tegang dan serius sekali. Beberapa saat kemudian telah berlalu, tokoh sakti di dalam hal ilmu berbisa itu dengan cepat menancapkan pula sebaris jarum emas, setelah melolohkan semangkok cairan obat ke dalam Perut si anak muda itu dia baru mengundurkan diri.

Sejak itulah setiap hari Kioe Tok Sian Cie berserta keempat belas orang anak muridnya jadi sibuknya luar biasa, sedang Hoa Thian-hong sendiri telah mencicipi beratus-ratus macam jenis obat yang di taman di dalam lembah Hoe Hiang Kok itu.

Haruslah diketahui, di antara berjenis-jenis rerumputan yang sangat beracun dan bisa membinasakan seseorang manusia biasa bila diminumnya, tetapi bagi Hoa Thiat Hong yang setiap hari harus minum pelbagai macam obat yang berbeda, walau pun racun keji dari Teratai Racun Empedu Api belum punah, namun sisa napasnya yang terakhirpun tidak sampai putus.

Keadaan itu berlangsung hingga mendekati dua bulan lamanya, akhirnya suatu ketika Kioe-Tok-Sian Cie berhasil menemukan sebuah resep obat yang sangat mujarab.

Itu hari ketika obat yang dimaksudkan telah siap dan diletakkan di tepi pembaringan. Kioe-Tok- Sian-Cie berkatalah kepada diri Chin WanHong, “Hong-jie, gurumu telah berusaha dengan kemampuan yang kumiliki untuk membuat semangkok cairan obat ini. Setelah cairan obat ini diminumkan rejeki atau bencana yang terjadi pada saat ini sulit bagi kita untuk menduganya, andaikata tidak beruntung dan siauw-Loug harus mengorbankan selembar jiwanya, janganlah kau salahkan kepada gurumu yang tak mau berusaha untuk menolong!”

Mendengar perkataan itu Chin Wan Hong segera mengangguk.

“Sekalipun selembar jiwanya tak berhasil diselamatkan, budi kebaikan suhu yang berat laksana gunung Thay-san pasti akan tocu ingat terus di dalam hati.”

Kioe-Tok Sian-Cie tersenyum.

“Kau adalah anak muridku yang paling buncit, tentu saja aku berharap agar kau bisa gembira dan bersenang hati selalu, perkataan yang tak berguna lebih baik tak usah kau ucapkan lagi.”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya, “Nah! sekarang minumkanlah cairan obat di dalam mangkok itu kepada Siauw-Long!”

Setelah hidup bersama beberapa waktu, walaupun secara resmi Chin Wan Hong belum pernah memperoleh warisan ilmu kepandaian apapun, tetapi hubungan batin antara guru dan murid itu sudah mendalam sekali, hingga tanpa sadar baik dalam perkataan maupun di dalam perbuatan cinta kasih dan perasaan sayang di antara mereka tercetus ke luar juga.

Selama beberapa bulan ini Chin Wan Hong boleh dibilang tak pernah meninggalkan sisi pembaringan barang selangkahpun, ia selalu berada di sisi pemuda pujaannya untuk menjaga dan menemani dirinya, bila capai dan mengantuk ia jatuhkan diri berbaring di bawah kaki Hoa Thian-hong, setiap kali mendengar sedikit suarapun ia segera tersentak bangun.

Berhubung kekesalan serta kesedihan yang selalu mencekam hatinya ditambah pula kurang beristirahat dengan baik, saat itu wajahnya telah berubah jadi kurus dan pucat pias bagaikan mayat.

Ketika itu dengan tangan gemetar ia mengambil mangkok berisi cairan obat itu dari atas meja, kemudian dengan perlahan-lahan melolohkan cairan obat tadi ke dalam mulut Hoa Thian-hong, tapi ketika teringat kembali akan perkataan gurunya barusan ia jadi ragu- ragu dan gelisah, hampir saja cairan obat itu berhamburan membasahi tangannya.

Setelah minum obat keadaan dari Hoa Thian-hong masih tetap seperti sedia kala, sedikit tiada perubahan.

Kioe-Tok Sian-Cie sambil mencekal urat nadinya duduk bersila di sisi pembaringan, sambil pejamkan mata ia menantikan perubahan selanjutnya.

Siapa tahu cairan obat yang telah masuk ke dalam perut si anak muda itu hilang bagai kan batu tenggelam di tengah samudra, sedikitpun tiada reaksi atau pertanda apapun jua.

Kioe-Tok Sian Cie jadi terkejut bercampur sangsi, tetapi disebabkan obat itu belum menunjukkan reaksi apapun, diapun tak berani berlalu tinggalkan tempat itu. Malam yang panjang terasa berlalu dengan amat lambat bagaikan siput yang merangkak dengan susah payah akhirnya fajarpun menyingsing dan sang suryapun memancarkan cahaya keemas-emasannya keempat penjuru. Ketika sang surya sudah berada di tengah awang-awang dan tengah haripun tiba, Hoa Thian-hong Jang telah jatuh tak sadarkan diri selama beberapa bulan itu mendadak memperdengarkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati, sambil meronta keras badannya mencelat ke tengah udara.