Bara Maharani Jilid 07 : Putra Ketua Hong Im Hwee terbunuh

 
Jilid 07 : Putra Ketua Hong Im Hwee terbunuh

LUAS kolam teratai itu hanya delapan depa, Teratai Racun Empedu Api tumbuh di tengah kolam, meskipun tak usah turun ke kolam, untuk menjangkau teratai tersebut dengan tangan dari tepi kolam masih sanggup dilakukan.

Hong-po Seng tegera miringkan tubuhnya ke samping dan menjulurkan lengan kirinya ke depan, sepasang jarinya mengerahkan tenaga dan menggunting batang teratai itu, seketika itu juga bunga Teratai Racun Empedu Api terjatuh ke dalam tangannya.

Sayang sekali pada waktu itu hatinya terpegaruh oleh emosi hawa murni yaug berada di dalam tububnya tak dapat tenang dan mantap seperti hari-hari biasa, dikala melakukan pemetikan itulah tanpa sadar ia telah menimbulkan sedikit suara berisik.

Mendadak terdengar gadis yang berada di dalam ruangan membentak nyaring. ,,Siapa diluar??” Hong Po Seng amat terperanjat, buru-buru ia sambar teratai racun itu dan tutulkan ujung kirinya meluncur keluar dari situ.

Terdengar desiran angin tajam menyambar datang dari arah belakang, sebuah pukulan yang tajam dan berat telah mengancam punggungnya.

,,Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu” batin Hong po Seng di dalam hati.

Dengan cepat badannya berputar ke belakang, sebuah pukulan laksana kilat dilancarkan.

Terdengar suara pengejar berseru tertahan, jurus serangannya buru-buru dibuyarkan dan berganti arah, ia melayang turun persis pada si anak-muda itu dan tanpa membuang sedikit waktu pun ia lanjutkan serangan berikutnya secara bertubi-tubi.

Suatu pertarungan sengitpun segera berkobar di tengah kalangan, angin pukulan menderu-deru bayangan telapak memenuni seruluh angkasa.

Hong po Seng melemparkan beberapa kerlingan ke arah lawannya, segera tertampak olehnya bahwa lawan yang sedang bertarung melawan dirinya sekarang bukan lain adalah pria berbaju putih itu. Meski pada saat ini ia berada dalam keadaan telanjang bulat tetapi sepasang telapaknya dimainkan sedemikian gencar, sehingga pukulan-pukulannya boleh dibilang merupakan serangan- serangan mematikan.

Dalam keadaan demikian kedua orang itu sama-sama mempunyai tujuan yang sama yaitu cepa-cepat menyelesaikan pertarungan tersebut, di salah satu pihak ingin cepat-cepat membungkamkan mulut lawannya, sedang di lain pihak cepat-cepat melepaskan diri dari kepungan lawan dengan begitu pertempuran pun berlangsung dengan serunya. Siapapun tidak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk menguasai keadaan. 

Mendadak terlihatlah dara ayu tadi munculkan diri diluar jendela, setelah terburu-buru mengenakan pakaian, matanya segera menatap keluar jendela sambil serunya dengan suara berat :

,,Engkoh Bong, jangan sekali-kali kau lepaskan orang itu dalam keadaan hidup!” ,,Jangan kuatir adik Giok” sahut pria itu dengan suara lirih. ,,Kalau orang ini berhadil lolos, siauw beng akan persembahkan batok kepalaku kepadamu”

„Engkoh Bong, dapatkah kau melakukan petarungan dengan mempergunakan tenaga dalam??”

„Apa susahnya?” sahut sang pria.

Sepasang telapaknya segera bekerja keras dan secara beruntun melancarkan beberapa buah serangan kilat.

Menggunakan kesempatan dikala Hong po Seng melakukan pembalasan itulah ia sambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

Ploook.. ! sepasang telapak segera bertemu satu lama lainnya menimbulkan suara yang nyaring.

Ternyata orang ini mempunyai pengalaman yang sangat luas di dalam melakukan pertarungan, setelah mengatakan hendak beradu tenaga dalam orang itu segera membuktikan kata-katanya. Hong po Seng yang pada dasarnya sudah kewalahan kini semakin keteter keadaannya.

Dalam pada itu sepasang telapak dari kedua orang itu saling menempel satu sama lainnya, masing-mating pihak mengerahkan segenap tenaga lweekang yang dimlikinya ke atas telapak, sebab mereka tahu menang kalah dalam pertempuran ini sangat mempengarubi mati hidupnya masing-masing pihak, karena itu siapapun tak berani bertindak gegabah.

Kurang lebih seperminum teh kemudian, di atas jidat Hong po Seng telah muncul butiran air keringat, sebaliknya sang pria berada dalam keadaan telanjang bulat itu tetap kokoh dan kuat seperti sedia kala, sedikitpun tidak nampak gejala payah atau keteter.

Tiba tiba tertihatlah dara berbaju ungu itu melayang keluar dari dalam ruangan, sambil berdiri di sisi pria itu ujarnya tertawa :

„Engkoh Bong, jangan takut! mari kubantu dirimu untuk menyelesaikan bajingan ini!".

Seraya berkata telapak kirinya segera diayun ke depan melancarkan dua serangan dahsyat ke arah Hong po Seng.

„Mati aku kali ini !” jerit si anak muda itu diam diam.

„Giok moay, menyingkirlah ke samping!” seru pria itu dengan suara berat, „Lihatlah siauw beng akan membereskan orang ini seorang diri!”

Mendengar perkataan itu, mendadak dara berbaju ungu tadi tertawa cekikikan. „Hiiih ....... hiiih ...... hiiih kalau kau tidak sudi

menerima bantuanku, lebih baik aku membantu dirinya saja!”

Begitu selesai berkata ujung bajunya segera bergetar dan tampaklah sekilat cabaya tajam berkelebat lewat tahu-tahu sebilah pisau belati telah menembusi punggung pria itu.

Hong Po Seng yang berdiri saling berhadap-hadapan muka dengan pria telanjang itu tidak sempat menyaksikan perubahan yang terjadi di belakang punggungnya, ketika mendadak menyaksikan orang itu mendengar berat dan hawa murninya seketika buyar, ia tak dapat menahan diri lagi, hawa pukulannya bagaikan gulungan ombak di tengah samudra segera memancar keluar dengan bebatnya.

Terdengar pria itu mendengus berat, darah segar segera muncerat keluar dari bibirnya, tanpa mengeluarkan suara jeritan badannya terjengkang ke atas tanah dan menemui ajalnya saat itu juga.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak, baru saja Hong Po Seng berdiri tertegun mendadak terasalah cahaya tajam yang menyilaukan mata menyambar lewat, sebilah pisau belati dengan cepatnya mengancam ulu hatinya.

Hong po Seng merasa amat terperanjat buru-buru sepasang kakinya menjejak tanah dan meloncat mundur beberapa tombak jauhnya ke belakang, nyaris sekali ia tampak oleh tusukan pisau belati tersebut. -oooOooo-

MELIHAT serangannya tidak mengenai sasaran, biji mata dara berbaju ungu itu segera berputar, lalu bentaknya dengan suara lirih:

„Bajingan cilik, kenapa kau tidak coba melarikan diri ?? rupanya kau benar-benar kepingin modar ??”

Hong-po Seng alihkan sinar matanya melirik sekejap ke arah mayat telanjang yang membujur di atas lantai, teringat akan peristiwa yang baru saja barlangsung di mana dalam pertarungannya mengadu tenaga dalam. Ternyata dara berbaju ungu itu telah melakukan tusukan maut dari arah belakang, hatinya jadi terperanjat bercampur curiga, ia jadi bergidik dan segera putar badan melarikan diri.

Perkampungan bagian belakang adalah daerah yang tidak bermanusia, Hong po Seng sambil menghindari cabaya lampu lentera dalam beberapa kali loncatan telah berhasil keluar dari perkampungan tersebut, tanpa berhenti ia segera lari menuju keluar selat.

Akhirnya dengan susah payah dia berhasil juga tiba di mulut selat, hatinya jadi lega dan sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya diam-diam ia melirik ke arah belakang.

Sreeet ! mendadak segulung angin desiran tajam

berkelebat lewat. Sebilah pisau belati yang memancarkan cahaya berkilauan tahu-tahu sudah mengancam pinggangnya.

Hong po Seng merasa terkejut bercampur gusar di saat yang amat kertis ia segera melemparkan diri kesamping dan menggelinding beberapa tombak jauhnya dari tempat semula.

Kiranya selama ini si dara berbaju ungu itu menguntil terus dari belakangnya cuma karena ilmu meringankan tubuh yang dimiliki dara tersebut sangat lihay, maka walaupun sudah diikuti setengah harian lamanya Hong po Seng sama senali tidak merasakan akan hal itu.

Melinat serangannya kembili mengemi sasaran yang kosong, dara berbaju ungu itu segera menarik pinggangnya sambil ayun pisau belatinya ke depan.

Kembali ia melakukan pengejaran.

Sementara itu kain kerudung yang menutupi wajahnya telah dikenakan kembali hingga dari luar hanya nampak sepasang biji matanya yang menonjol keluar. Di balik biji matanya yang bening secara lapat-lapat terpancar keluar napsu membunuh yang tebal, rupanya sebelum berhasil membinasakan Hong Po Seng ia merasa tidak terima.

Hong Po Seng sendiri setelah melihat dirinya dibokong sebanyak dua kali, hawa amarahnya kootan memuncak. Ia tunggu sampai senjata pisau belati orang bampir mendekati, tiba tiba badannya tergeser ke samping, telapak kirinya dengan sepuluh bagian tenaga dalam segera dihantamkan ke depan.

Pukulan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar amat dahsyat, diiringi desiran angin tajam yang memekikan telinga segera meluncur ke depan.

Air muka dara berbaju ungu itu berobah hebat, sepasang pundaknya segera bergerak dan

meloncat mundur beberapa tombak ke belakang. Melihat serangannya mengenai di sasaran yang kosong, dalam hati Hong po Seng lantas berpikir:

,,Perempuan memang tersohor akan kekejaman hatinya yang seperti ular berbisa, setelah ia membunuh kekasih gelapnva sekarang hendak melenyapkan pula diriku. Waaah ….. jelas dalam ilmu meringankan tubuh aku tidak dapat menangkan dirinya kalau aku sampai sambil langkah seribu dia pasti akan berusaba untuk membokong diriku dari belakang, lebih baik aku melakukan perlawanan saja sekuat tenaga ”

Setelah mengambil keputusan di dalam hatinya, sang badan dengan cepat menerjang maju ke muka, sebuah pukulan dahsyat dilancarkan.

Criiing dari balik punggungnya dara berbaju ungu itu meloloskan sebilah pedang baja, dengan jurus “Pat Hong Hong Yu” atau angin hujan dari delapan penjuru mengirim satu tusukan kilat ke arah Hong po Seng.

Sewaktu meninggalkan perkampungan Liok-Soat san cung tadi, di atas tubuhnva hanya terdapat sebilah pisau belati, entah sejak kapan pada punggunagnya telah tersoren sebilah pedang panjang. Saat itu gerakannya menghindar dari serangan, mencabut pedang serta melancarkan serangan balasan dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, bukan saja tusukan yang dilepaskan amat keji bahkan luar biasa mengerikannya

…………

Baru saja Hong po Seng merasakan serangannya mengenai sasaran yang kosong mendadak pandangan matanya jadi silau. Cahaya tajam segera bermunculan dari empat penjuru, seluruh angkasa dipenuhi oleh bayangan pedang yang membingungkan hati.

Dalam keadaan terkesiap sepasang kakinya segera menjejak tanah dan buru-buru melayang mundur sejauh dua tombak lebih.

Dara berbaju ungu itu tidak mengeluarksn sedikit suarapun, sambil menempel permukaan tanab ia meluncur maju ke depan, laksana kilat pedangnya dibabat keluar melakukan pengejaran.

Kegusaran Hong po Seng sudah mencapai pada puncaknya, sang telapak kiri segera dibekukan setelah membentuk gerakan setengah lingkaran busur ia membentak keras kemudian melepaskan satu pukulan dahsyat ke depan.

Jurus pukulan ,,Koen Sioe Ci Taow” benar-benar luar biasa sekali, ditambah pula Hong po Seng melancarkan serangannya dengan segenap tenaga, ujung pedang si dara berbaju ungu itu baru saja mencapai di tengah jalan segera terpental ke samping setelab termakan oleh getaran angin pukulan yang maha dahsyat itu.

Dara berbaju ungu itu segera bergeser satu langkah ke samping, dengan cepat ia mengerling sekejap ke belakang kemudian tegurnya sambil tertawa:

,,Siapakah namamu ? kalau mau berkelahi yaah berkelahi, kenapa musti berteriak-teriak dan gembar gembor seperti setan kepanasan??”

,,Aku bernama Ong Khong!” sahut Hong po Seng dengan nada ketus, telapak kirinya disilangkan di depan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. ”Setiap kali melepaskan satu pukulan harus dibarengi dengan gemboran keras, eeei siapa pula namamu???”

Sejak turun gunung walaupun ia selalu berada dalam suasana yang demikian krisisnya seperti kali ini, kendati Kok See Piauw serta Pek Koen Gie sekalian hendak mencabut jiwanya tetapi ia masih mempunyai alasan untuk mengadakan pembicaraan dengan mereka.

Sebaliknya keadaan dari dara berbaju ungu ini jauh berbeda dengan keadaan mereka, ia selalu tenang tidak bergerak sepintas lalu bagaikan permukaan samudra yang tenang serta bebas dari angin, tetapi setiap pukulan serta tusukan pedang yang dilancarkan semuanya merupakan jurus maut yang mengancam jiwanya, sedikitpun tiada keraguan-raguan atau rasa kasihan.

Dalam keadaan begini asal sekali saja ia salah perhitungan, maka niscaya jiwanya bakal melayang di tengah tusukan pedang yang masih membigungkan hatinya itu.

Tampak si dara berbaju ungu itu tersenyum biji matanya sekali lagi melirik sekejap ke sekeliling tempat itu, kemudian tegurnya:

,,Aku bernama Che Giok, apakah kau adalah anak buah dari perkumpulan Sin Kee Pang??”

Namaku Ong Khong adalah nama palsu, jelas Che Giok yang diakui sebagai namanya pun hanya cuma samaran belaka” pikir Hong po Seng di dalam hati.

Karena berpikir begitu, dengan serius dia harus menjawab: ,,Aku berasal dari perkumpulan agama Thong Thian Kauw, Nona Che Giok! Apakah kau adalah enghiong dari perkumpulan Sin Kee Pang??”

Dara berbaju ungu itu mengangguk.

„Lebih baik kita jangan membicarakan soai ini, aku libat tindakanmu rada sedikit tolol ……”

Biji matanya berkilat dan kembali ia mengerling sekejap ke sekeliling tempat itu.

„Nona Che Giok, hatimu bimbang dan kacau apakah kau takut ada orang yang berhasil menyusul dirimu ???”

,,Aku mengatakan kau tolol ternyata ucapan ini sedikitpun tidak salah, setelah kau bunuh Jien Bong kalau tidak bermaksud lari sejauh-jauhnya ke ujung langit untuk menghindarkan diri dari pengejaran, apakah kau ingin berlagak sok-sokan untuk berlagak pilon di tempat ini?? Hmm! setelah kejadian ini diketahui besok pagi, lima propinsi besar di wilayah utara pasti akan terjadi kekacauan yang hebat, akan kulihat kau hendak menyembunyikan diri di mana???”

Diam-diarn Hong-po Seng merasa terperanjat dengan ucapan itu, setelah berhasil menenteramkan hatinya ia menyahut:

„Siapakah Jien Bong itu? Bukankah sudah jelas sekali nonalah yang diam-diam menusuknya hingga mati, apa sangkut pautnya peristiwa berdarah itu dengan cayhe??”

„Huuuh sungguh suatu lelucon besar yang menggelikan hati” seru si dara berbaju ungu itu sambil mengangkat bahu, „Masa siapakah Jien Bong pun kau tidak tahu, mau apa kau menyusup ke dalam perkampungan Liok Soat san cung??” „Masalah mencuri teratai tak boleh kuutarakan kepadanya!” pikir Hong po Seng dalam hati, ia segera tertawa lantang.

,,Secara tidak sengaja cayhe telah menyusup ke dalam perkampungan Liok Soat san cung, mengenai siapakah manusia yang disebut Jien Bong itu, serta apa hubungannya dengan nona aku tidak mau tahu, pokoknya aku hanya tahu bahwa nonalah yang melancarkan serangan bokongan untuk mengabisi selembar jiwanya”

Merah padam selembar wajah dara berbaju ungu itu sehabis disindir oleh si anak muda ini, untung wajahnya tertutup oleh kain kerudung sehingga Hong po Seng tidak sempat melihat perubahan wajahnya itu.

Setelah memutar biji matanya, gadis itu tertawa dan berkata kembali:

,,Jien Bong adalah putra kesayangan dan ketua perkumpulan Hong Im Hwie, baik dia mati lantaran dibunuh olehmu atau mati di tanganku pokoknya kalau malam ini kita tak berhasil melarikan diri, maka kita berdua bakal mati konyol di tangan mereka”

,,Waaah …… rupanya kejadian ini luar biasa sekali” pikir si anak muda itu di dalam hati dengan gelisah.

,,Tetapi racun empedu api masih berada di dalam sakuku, dan benda itu merupakan bukti yang kuat untuk menunjukkan kebadiranku dalam perkampungan Liok Soat San cung pada malam peritiuwa berdarah ini. Jika benda ini sampai ketahuan orang-orang dari perkumpulan Hong Im Hwie . . . waaaah bisa berabe.

Sekalipun aku menceburkan diri ke dalam sungai Huang hoo pun belum tentu bisa mencuci bersih segala tuduhan yang dilontarkan kepadaku”

Di dalam hati ia berpikir demikian, diluaran sambil tertawa lantang sahutnya:

,,Haaah …… haah …… haaa …… kiranya Jien Bong adalah putra tunggal dan Jien Hian si ketua dari perkumpulan Hong Im Hwie. Bagus! ..... bagus! .....

daerah di sebelah utara

sungai Huang Hoo merupakan wilayah kekuaasaan orang-orang perkumpulan Hong Im Hwie, peristiwa ini pasti luar biasa jadinya. Kenapa nona sendiri tidak berusaha untuk melarikan diri??”

Sebenarnya keadaan dari dara berbaju ungu itu tidak jauh berbeda dengan keadaan dari Hong-po Seng, bukan saja hatinya merasa amat gelisah bahkan ia ingin cepat- cepat kabur dari situ. Namun diluaran ia sengaja berlagak tenang. Mendengar perkataaa itu diapun tertawa.

„Mau kabur aku masih sanggup untuk merat secepat- cepatnya justru yang paling kutakuti adalah dirimu yang tak bisa lari cepat, jangan-jangan sebelum berhasil bersembunyi telah kedahuluan di tangan orang-orang Hong Im Hwie!”

,,Soal itu nona tak usah kuatir, sekalipun cayhe ketangkap tidak nanti akan kuseret orang lain untuk ikut tercebur ke dalam air!”

„Sungguhkah ucapanmu itu?? hiiih...biiih... hiiih.. jarang sekati aku bisa menjumpai manusia yang berbaik hati seperti kau!” Sambil berkata dengan senyum dikulum dan langkah yang genit setindak demi setindak ia maju ke depan.

Hong po Seng bukanlah seorang manusia yang bodoh, begitu otaknya berputar ia segera menyadari bahwa situasi yang dihadapinya saat ini jauh lebib parah dari pada sewaktu dirinya terjerumus ke dalam kekuasaan perkumpulan Sin Kee Pang.

Ia segera mendongak dan tertawa terbabak-bahak.

,,Haaah...haaaah ..haaaah kalau nona ada maksud melenyapkan diriku dari muka bumi, maka perhitungan itu adalah salah besar …!” sembari membentak keras ia segera melancarkan babatan yang maha dahsyat.

Si dara berbaju ungu itu segera mengerutkan dahinya, melihat pemuda itu menyerang pulang pergi selalu hanya menggunakan gerakan yang sama, tapi justru di tengah persamaan tadi muncul perubahan aneh yang sulit dipatahkan olehnya, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia mundur selangkah untuk menghindar .

,,Kau benar-benar kepingin mati?” jeritnya.

,,Hmmmm marilah kita bersama-sama pergi menghadap Jien Hian, siapa salah siapa benar dia pasti akan memberi keadilan buat kita!”

Dara berbaju ungu itu segera tertawa cekikikan.

,,Hiiih …… hiiih ……hiiiih …… sungguh tidak becus!” setelah melirik lagi sekeliling tempat itu serunya, „Ayoh cepat melarikan diri, persoalan yang lain lebih baik kita bicarakan nanti saja!”

Hong-po Seng diam-diam merasa bergidik juga setelah dia harus berhadapan dengan perempuan yang menyembunyikan kekejiannya di balik senyumannya, ia segera mendengus dingin.

,,Kau berangkatlah lebih dulu, aku segera menyusul di belakang ..!”

„Eeei …..! kenapa musti begitu ???”

,,Hmm! hatimu terlalu licik, menyembunyikan golok di balik senyuman, membuat orang harus berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan, cayhe tidak berani berjalan di depanmu”

Dara berbaju ungu itu tertawa cekikikan, ia segera menyimpan kembali pedangnya ke dalamn sarung dan berangkat lebih dahulu.

Hong-po Seng tahu bahwa situasi yang dihadapinya saat ini sangat berbahaya, maka diapun tak berani berayal segera mengikuti di belakang dara tersebut.

Kali ini perjalanan dilakukan dengan cepat dan terburu-buru, hingga fajar menyingsing mereka baru berhenti berlari.

Sementara itu keadaan dari si dara berbaju ungu masih tetap seperti sedia kala, seakan-akan tak pernah melakukan suatu apapun, sebaliknya keadaan Hong-po Seng payah sekali, bukan saja keringat telah membasahi seluruh tubuhnya bahkan dengusan napas memburupun secara lapat-lapat kedengaran nyata sekali.

Mcndadak terdengar dara berbaju ungu itu berkaia:

,,Ong Khong! gertaklah gigimu raput-rapat, kita harus melanjutkan perjalanan secepatnya, dengan begitu barulah kita bisa lolos dari daerah bahaya”

,,Perkataanmu memang tidak salah, tetapi bilamana cayhe harus menuruti perkataanmu sehingga akhirnya kehabisan tenaga dan tak sanggup mempertahankan diri lagi, bukankah caybe bakal mati konyol bilamana menggunakan kesempatan itu nona melakukan serangan mematikan kepadaku??”

Pada mulanya dia masih mengikuti di belakang tubuh si dara berbaju ungu itu, tapi setelah berbicara napasnya semakin memburu dan dia pun ketinggalan sampai beberapa tombak jauhnya.

Si dara berbaju ungu itu segera memperlambat larinya, berlari di samping si anak muda itu ujarnya sambil tertawa:

„Kau sangat sigap dan cerdik, di dalam perkumpulan agama Thong Thian Kauw merupakan anak murid dan cin jien mana sih??”

Dalam keadaan demikian Hong po Seng selalu waspada dan berjaga-jaga terhadap pembokong dari nona tersebut, mendengar ia hendak mengorek keterangan dari mulutnya, segera dijawab dengan sekenanya:

,,Persoalan yang menyangkut perkumpulan agama kami tidak ingin cayhe bicarakan de¬ngan orang lain nona Che Giok memiliki ilmu silat yang lihay, entah di dalam perkumpulan Sin Kee Pang menduduki jabatan apa??”

Dara berbaju ungu itu tertawa riang.

,,Aku bekerja di ruang Thian Kie Thong! dan kau?? murid dari jago lihay mana??”

,,Tindak tanduk pertempuran ini sangat mencurigakan membuat hati orang sukar menduga” pikir Hong po Seng di dalam hati, ,,Apa yang diucapkan jelas bukan ucapan sejujurnya, dia mengakui sebagai anggota perkumpulan Sin Kee Pang, sudah jelas seratus persen bahwa dia bukanlah anggota dari perkumpulan itu!”

Berpikir demikian iapun menyahut:

,,Suhuku adalah seorang awam biasa, dia she Lie, sedang menanya aku yang menjadi muridnya tidak berani sembarangan menyebut, nona apakah she-mu??”

Jawaban yang diutarakan sekenanya ini membuat dara berbaju ungu itu tertegun, lalu sambil tertawa ia berkata.

,,Aku she Poei!”

Pergelangannya bergerak, ia segera menyalurkan telapak tangannya yang halus dan empuk bagaikan tak bertulang itu ke depan, sahutnya:

,,Mari aku ajak kau melakukan perjalanan, dengan bergandeng tangan maka kau tak usah menguatirkan dirinku akan melancarkan serangan bokongan terhadap dirimu lagi”

Ilmu pukulan yang dilatih Hong po Seng, adalah pukulan sebelah kiri, maka ia segera menggeleserkan badannya ke sebelah kiri dari gadis itu.

Poei Che Giok tersenyum, ia ganti mengulurkan tangan kirinya ke depan dan Hong po Seng pun menggenggam telapak tangannya dengan tangan kanan, dalam hati kecilnya pemuda ini sudah mengambil keputusan, asal dara berbaju ungu itu melancarkan serangan bokongan maka ia segera akan membalas dengan memakai jurus pukulan Koen Sioe Ci Tauw yang tersohor akan kedahsyatannya itu.

Begitu telapak saling menggenggam, mendadak Hong po Seng merasa agak rikuh, pertama, karena antara perempuan dan lelaki ada batasnya, terutama sekali telapak Poei Che Giok yang halus, licin dan empuk seperti tak bertulang itu mendatangkan perasaan yang tak enak dalam genggaman Hong po Seng. Kedua dirinya sebagai seorang lelaki sejati ternyata harus membutuhkan tuntunan seorang gadis untuk melakukan perjalanan, ia merasa wajahnya kehilangan cahaya, karena itu baru saja digenggam segera dilepaskan kembali.

Poei Che Giok mengencangkan kelima jarinya dan berbalik mencengkeram telapak tangannya, sambil tertawa ia berseru:

,,Bicara sesungguhnya ilmu meringankan tubuh yang kau miliki sudah termasuk lumayan, ilmu pukulan serta tenaga dalammu pun termasuk kukoay sekali, kalau dibicarakan aku hanya dengan paksakan diri menang setingkat darimu dalam hal ilmu meringankaa tubuh saja!”

,,Heeeh . . . heeeh . . . heee . . seandainya dalam semua hal kau lebih unggul dariku, mungkin sedari tadi aku sudah modar di ujung pedangmu! …….” jengek Hong po Seng sambil tertawa dingin.

Poei Che Giok segera tertawa cekikikan.

,,Kau anggap aku benar-benar tidak sanggup untuk membinasakan dirimu ?? ”

Jari tangannya ditegangkan bagaikan tombak, kemudian laksana kilat disodorkan keatas iga pemuda itu.

Hong po Seng yang telah bersiap sedia sedari tadi tentu saja tak akan membiarkan dirinya tertotok, ia mendengus dingin, telapak kirinya diayunkan dan meluncurlah sebuah babatan dahsyat. Terdengar Poei Che Giok menjerit kaget, badannya buru-buru berputar satu lingkaran memindahkan diri ke sisi yang lain dari pemuda itu, kemudian teriaknya gusar

:

,,Kau benar-benar kepingin berkelahi ???”

,,Nona! kau menyembunyikan jarum dibalik selimut, cayhe sekalipun bodoh dan kasar tapi selamanya tak akan membiarkan orang lain menginjak injak kepalaku !”

Kedua orang itu saling bergenggaman tangan dan berpandangan pula tanpa bicara. kalau dipandang sepintas lalu keadaan tersebut persis seperti sepasang muda mudi yang berkasih-kasihan.

Setelah termenung beberapa waktu, akhirnya Poei Che Giok menggigit bibir dan se-gera berlarian ke depan.

Hong-po Seng membiarkan dirinya ditarik untuk berlarian ke arah depan sementara di dalam hati pikirnya:

,,Perempuan ini mempunyai tingkah laku yang tidak benar, hatinya kejam dan perbuatannya telengas, kalau aku harus melakukan perjalanan bersama-sama dirinya berarti setiap saat jiwaku bakal terancam mara bahaya. Mulai sekarang aku harus mencari akal yang bagus untuk berusaha menaklukkan dirinya, atau melarikan diri dari sisinya, ataupun membinasakan dirinya hingga menghilangkan bibit bencana dikemudian hari, setelah itu akupun harus cepat-cepat pulang ke gunung untuk menyembuhkan luka dari ibu agar tenaga dalamnya cepat pulih kembali seperti sedia kala ...”

Berpikir sampai di sini, diam-diam ia meraba teratai racun empedu api yang berada di dalam sakunya, dalam hati pemuda ini merasa bergirang hati karena perjalanannya turun gunung kali ini, kendati harus mengalami pelbagai siksaan batin, kenyang dihina dan kehilangan pedung baja pemberian ayahnya, bahkan di atas punggungnya masih menggembol tiga batang jarum racun pengunci sukma dari Pek Siauw Thian yang setiap saat dapat mencabut jiwanya, tetapi Teratai Racun Empedu Api yang dibituhkan berhasil didapatkan juga, itu berarti kesehatan ibunya ada harapan untuk pulih kembali seperti sedia kala.

Dalam pada itu ketika Poei Che Giok menyaksikan pemuda itu membungkam diri dan lama sekali tidak berbicara, mendadak memperlambat larinya. Sambil melepaskan kain kerudung yang menutupi wajahnya ia berpaling dan tertawa.

,,Ong Khong! Apakah kau kenal dengan diriku?” tegurnya.

Mendengar ucapan tersebut Hong-po Seng tertegun dan segera berpaling ke samping, begitu memperhatikaa raut wajah itu dengan cermat jantungnya segera berdebar keras.

,,Aaak., ! kenapa potongan wajahnya persis seperti raut wajah diri Pek Koen Gie ??” pikirnya.

Kiranya kemarin malam sewaktu berada di perkampungan Liok Soat san cung meskipan ia sempat melihat wajah gadis ini, tetapi disebabkan pertama, jaraknya terlalu jauh. Kedua sorot cahaya lampu yang redup, dan ketiga karena ia tak suka mengintip rahasia pribadi orang, maka dalam sekelebatan ia hanya merasa bahwa gadis itu hanya potongan wajah yang menarik, kemudian ia tidak perhatikan lebih laujut. Kini setelah berdiri saling berhadapan dengan jarak hanya beberapa jengkal, sudah tentu kendaannya jauh berbeda. Pemuda ini dapat memperhatikan setiap lekuk wajahnya dengan lebih seksama.

Terdengar Poei Che Giok tertawa dan menegur kembali:

„Kau benar-benar tidak kenal denganku???”

Sekali lagi Hong po Seng tertegun, diam-diam pikirnya:

„Ia bertanya kepadaku apakah kenal dengan dirinya sebanyak dua kali, di balik pertanyaan itu pasti terselip sebab-sebab tertentu kalau dilihat panca inderanya yang rada mirip Pek Koen Gie, jelas tak mungkin dia adalah budak sialan dari Sin Kee Pang ”

Sementara dia masih termenung, Poei Che Giok telah memutar biji matanya dan tertawa cekikikan.

„Hiiih .... hiiih ... hiiih sekarang aku sudah

mengerti!” serunya.

Mula mula Hong-po Seng rada melengak, tetapi dengan cepat iapun menyadari akan sesuatu, sambil tertawa serunya pula:

„Cayhe pun telah mengerti!”

„Apa yang kau pahami?”

„Dan nona sendiri apa yang telah kau pahami?”

Sepasang biji mata yang jeli dan penuh daya pengaruh yang kuat dengan tajam menyapu sekejap wajah pemuda itu, lalu ujarnya sambil tertawa:

,,Sekarang aku sudah mengerti, kau adalah anak buah dari perkumpulan Sin Kee Pang dan bukan anak murid dari perkumpulan agama Thong Thian Kauw!” ,,Cayhe sendiri pun sudah mengerti bahwa nona adalah jago lihay dari perkumpulan Thong Thian Kauw, dan jelas bukan enghiong dari ruang Thian Kie Thong dalam perkumpulan Sin Kee Pang!”

,,Darimana kau bisa tahu??”

,,Buat apa musti banyak bicara?? cayhe tidak kenal diri nona hal ini menyebabkan nona lantas beranggapan babwa cayhe bukanlah anak murid dari perkumpulan Thong Thian Kauw, ditinjau dari hal ini sudah jelas membuktikan bahwa nona di dalam perkumpulan Thong Thian Kauw mempunyai nama yang gemilang serta kedudukannya yang tinggi”

,,Ooo, kau sangat cerdik” seru Poei Che Giok sambil tertawa, setelah merandek sejenak sambungnya. "Aku dengar Pek Siauw Thian mempunyai seorang putri yang bernama Pek Koen Gie mempunyai potongan wajah persis seperti diriku, sungguhkah perkataan itu??”

Dengan tajam Hong Po Seng memperhatikan sekejap wajah nadis itu kemudian me-ngangguk.

,,Memang enam tujuh bagian mirip dengan wajahnya, cuma dalam hati berbicara serta tingkah lakunya jauh bertolak belakang”

„Bagaimana bertolak balakangnya??”

Hong po Seng tersenyum.

„Pek Koen Gie sombong, jumawa dan tinggi hati, sikapnya dingin bagaikan es dan ketusnya luar biasa, membuat orang yang memandang jadi benci dan anti pati!",

,,Hiih...hiih… hiih….. setan cilik, tentunya disebabkan wajahmu kurang ganteng sehingga tidak mendapat perhatian dari Pek Koen Gie maka kau lantas mengucapkan kata yang tidak enak didengar ini”

Sambil menaban gelinya ia menambahkan :

,,Bagaimana dengan aku?? Apakah akupun menimbulkan perasaan benci dan anti pati di dalam hatimu?".

,,Caybe merasa nona kalem dan mempunyai potongan yang agung serta menyenangkan hati, tetapi itu hanya termasuk kebaikan pribadi dirimu, kalau tidak melihat perbuatanmu yang licik, serta suka membokong orang di kala korbannya tidak berjaga aku tentu akan menganggap dirimu bagus seratus persen”

Merah jengah selembar wajah Poei Che Giok saking malunya, mendadak sambil menggertak gigi makinya :

,,Bajingan cilik, mati kau!”

Telapak tangannya diayun dan segera melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah lawannya.

Pukulan ini bukan saja dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat bahkan luar biasa hebatnya Hoog po Seng jengah terperanjat, ia hendak menangkis datangnya serangan itu dengan keras lawan keras tapi sudah tidak sempat lagi.

Dalam keadaan gugup dan terdesak telapak kanannya segera diangkat ke atas sambil membentak keras ia mengirim satu serangan balasan ke arah depan.

Tampaklah bayangan ungu memenuhi angkasa. Hong po Seng mencengkeram tangan kiri gadis She Poei itu dan segera diangkatnya ke atas, kemudian berada di tengah udara ia putar tangan tersebut satu lingkaran. Reaksi yang diberikan secara tiba-tiba ini sama sekali tidak memakai aturan tapi kelihayannya justru terletak pada kecepatan serta ketepatannya menggunakan tenaga.

Poei Che Giot segera merasakan tulang telapak kirinya jadi sakit bagaikan retak, ia menjerit keras dan hawa murninya seketika lenyap tak berbekas.

Diikuti Hong Po Seng ayunkan tangannya ke depan dan melemparkan tubuh gadis itu ke muka, serunya dingin:

„Andaikata aku harus melukai dirimu dalam keadaan begini sebagai seorang lelaki sejati aku merasa jadi amat malu, apalagi bukan menggunakan jurus silat yang sejati, tetapi kalau kau terus menerus tak tahu diri dan menginginkan kedua belah pihak sama-sama menderita luka, terpaksa kita harus melangsungkan pertarungan kembali!”

Sembari memegangi tangan kirinya yang sakit Poei Che Giok berseru dengan wajah gusar:

,,Orang mati, aku ingin sekali melangsungkan pertarungan sengit melawan dirimu, tapi aku takut para pengejaran dari perkumpulan Hong Im Hwie menyusul kemari”

Perempuan ini dasarnya memang berwajah cantik ditambah pula tingkah lakunya yang mempersonakan, membuat Hong po Seng kendati berjiwa besar dan tidak mempunyai ingatan sesat, dipandang terus oleh biji matanya yang jeli lama kelamaan merasa malu juga ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Setelah merandek sejenak, gadis she Poei itu maju selangkah ke depan, sambil ulurkan tangan serunya:

,,Orang tolol ayoh berangkat!”

Hong po Seng mundur satu langkah ke belakang, dengan wajah membesi hardiknya:

,,Lebih baik kau berjalan di depan sana! kau harus tahu bahwa aku tidak meagenal apa artinya kasihan terhadap kaum wanita, bila kau berani menunjukkan maksud jelek lagi terbadap diriku, jangan salahkan kalau telapakku tidak mengenal kasihan!”

„Huuh ! orang laki hatinya paling palsu” jengek

Poei Che Giok sambil mencibirkan bibirnya. ,,Semakin mengatakan tidak kenal kasihan, dia justru paling tahu kasihan ……”

Sembari berkata ia segera ulurkan tangannya untuk menarik pergelangan pemudi ter-sebut.

„Hmm! lihat saja aku benar-benar tahu kasihan atau tidak kenal kasihan!” dengus Hong-po Seng sinis, telapaknya segera diayun dan sebuah pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah samudra segera menghantam tubuh Poei Che Giok.

Setelab lama melatih kepandaiannya, jurus pukulan ”Koen-Sioe Ci-Tauw” ini boleh dibilang telah dapat dipergunakan sesuai dengan kehendak hati, bukan saja amat dahsyat serangannya babkan jauh lebih ampuh daripada sewaktu bertarung melawan Pek Koen Gie tempo dulu.

Diam-diam Poei Che Giok merasa terperanjat, ia sadar bahwa dirinya telah bertemu dengan musuh tangguh, sang badan segera berkelebat mundur beberapa tombak ke belakang kemudian setelah mengerling sekejap ke arah pemuda itu ia putar badan dan berlalu lebih dahulu.

Hong-po Seng sendiripun menyadari akan bahaya yang mecgancam dirinya, ia tak berani berayal dan segera enjotkan badannya menyusul di belakang gadis itu.

Tetapi setelah dilihatnya dara berbaju ungu itu berlari menuju ke selatan, dalam hati kecilnya segera timbul perasaan curiga.

Beberapa puluh li kembali dilewati dengan cepat, lama kelamaan akhirnya Hong-po Seng tidak kuat menahan diri, teriaknya:

„Hey, Poei Che Giok! bukankah kau hendak kembali keperkumpulanmu Thong Thian Kauw?? kenapa mengambil jalan kearah Tenggara ???”

,,Ini namanya siasat untuk mengelabuhi mata musuh!” sahut Poei Che Giok sambil tertawa. „Seandainya rahasia sampai konangan, maka biarlah pihak Hong Im Hwie mencari orang-orang dari perkumpulan Sin Kee Pang untuk dimintai pertanggungan jawab.

Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Hong po Seng mengerutkan dahinya.

„Eeei …., sekarang kita berada di mana???” kembali teriaknya, ”Kenapa sepanjang perjalanan tidak nampak seorang manusiapun yang berlalu lalang ??”

„Sebelah kiri adalah gunung Thay beng san, jalan kuno ini sudah lama dilupakan orang, tentu saja sulit untuk menjumpai ada orang yang mengambil jalan ini

......”

Belum habis ia berkata, mendadak dari arah depan meluncur datang empat sosok bayangan manusia, di antara keempat orang itu terdapat lelaki perempuan tua dan muda.

Merasakan dari depan ada orang yang muncul diri.

Hong po Seng segera pusatkan perhatiannya untuk memandang, tapi dengan cepat ia telah berpikir dengan hati tertegun.

„Eeeei ?? kenapa mereka bisa berjalan satu rombongan ??? ”

Kiranya keempat orang yang sedang berlarian mendatang itu bukan lain adalah Tiong si Sam Hauw tiga ekor harimau dari keluarga Tiong sedangkan si gadis berbaju abu-abu yang mengiringi di belakang bukanl adalah Chin Wan Hong, putri dari Chin Pek Cuan.

Mendadak terdengar Poei Che Giok berseru.

„Ong Khong! keempat orang itu harus dibasmi semua, jangan dibiarkan seorangpun di antara mereka berbasil meloloskan diri!”

Sembari berkata ia segera meloloskan pedangnya dari sarung.

Sejak pertama kali tadi Hong po Seng mengaku bermama Ong Khong, dan gadis itupun sudah terbiasa menyebut nama tersebut, maka pemuda itupun selalu berlagak pilon.

Dalam pada itu Tiong si Sam Hauw telah berajalan semakin dekat, berhubung kedua belah pihak sama-sama melakukan perjalanan dengan cepat, sedangkan Hong po Seng pun membuntuti di belakang Poei Che Giok maka ketiga orang itu sama sekeli tidak mengetahuinya. 

„Perempuan yang menyebut dirinya bernama Poei Che Giok ini bukan saja cabul dan bermoral rendah, hatinya sangat keji sekali” pikir si anak rauda itu di dalam hati ”Daripada membiarkan dirinya hidup jauh, lebih baik dibasmi saja dari muka bumi!”

Belum sempat ia mengambil sesuatu tindakan terlihatlah gadis itu sudah mempersiapkan pedangnya untuk melancarkan serangan bokongan ke arah si harimau pelarian Tiong Liauw yang berada di paling depan.

Ia jadi terperanjat bercampur gelisah segera bentaknya keras-keras:

„Poei Che Giok, lihat serangan!”

Gadis she-Poei itu terperanjat, buru-buru ia berkelit ke samping dan melayang lima depa ke depan.

Dalam pada itu si harimau pelarian Tiong Liauw telah menghentikan larinya, ketika menjumpai Hong-po Seng secara tiba-tiba munculkan diri di tempat itu ia jadi sangat kegirangan segera teriaknya :

,,Hong-po Kongcu ”

,,Harap cuwi sekalian menanti sebentar di samping!” seru pemuda itu, ia segera maju ke depan dan melancarkan sebuah pukulan lagi ke arah depan.

Poei Che Giok dari jengkelnya jadi tertawa ia putar pedangnya ke depan, bukannya mundur sebaliknya malah maju ke depan. Sahutnya :

„Keparat cilik, ternyata kau benar- benar tidak bernama Ong Khong!! ”

Sementara pembicaraan masih berlangsung dengan cepatnya kedua orang itu telah saling melancarkan tiga buah serangan. „Poei Che Giok!” teriak Hong Po Seng lagi sambil mengirim pukulan-pukulan gencar. „Kau harus mengaku terus terang Jien Bong dengan dirimu toh sepasang kekasih yang setimpal, mengapa kau melancarkan serangan keji dengan membinasakan dirinya?? sebetulnya apa tujuan mu?? …..”

Air muka Poei Che Giok seketika berubah hebat sambil menyeringai seram serunya:

„Untuk menyelamatkan jiwamu tahu bangsat!”

Pedangnya meluncur ke depan semakin cepat bagaikan biang lala yang membelah bumi ia lepaskan serangan-serangan keji yang dahsyat dan mematikan.

Mendadak terdengar suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, si Harimau pelarian Tiong Liauw sambil menubruk ke depan telapaknya segera diayun menghajar punggung Poei Che Giok.

Poei Che Giok putar pedang sambil menangkis, ia temukan ilmu pukulan yang digunakan

orang lain ternyata persis dengan ilmu pukulan yang digunakan Hong po Seng hatinya kontan jadi terkejut bercampur sangsi, dengan pandangan tercengang ditatapnya wajab lawan tanpa berkedip.

Hong po Seng sendiri diam-diam pun berpikir:

„Ilmu pukulan ini meski digunakan dengan tenaga yang jauh belum mencukupi tetapi gerkannya tepat dan sedikitpun tidak salah dengan bakatnya yang amat bagus itu, asalkan dikemudian hari dia mau berlatih rajin dan tekun rasanya tidak sulit untuk memperoleh kemajuan pesat!” Berpikir demikian ia lantas berseru lantang:

„Tiong loo enghiong, untuk sementara waktu harap mundur dulu ke belakang! ...”

Terdengar harimau pelarian Tioag Liauw dengan suara dingin berseru:

„Tiong Liauw belum pernah jadi seorang enghiong silahkan Kongcu yang menyingkir ke samping untuk beristirahat, berilah kesempatan kepada kami tiga ekor harimau dari keluarga Tiong untuk menunjukkan kebaktian kami ”

Sedari tadi si harimau ompong Liong Soe Poocu sudab gatal-gatal tangand, begitu suaminya berbicara ia segera enjotkan badannya melompat ke depan, dengan jurus Koen Sioe Ci Tiauw, ia hantam tubuh Poei Che Giok keras keras.

Tampaklah bayangan tubuh berkelebat lewat si harimau bisu Tiong Song tahu-tahu menyerang datang dari sayap kiri. Orang ini bergelar harimau bisukarena sepanjang tahun jarang sekali mendangar ia buka suara un tuk berbicara.

Terlihatlah dengan perawakan tubuh yang gagah dan kuat karena usianya masih muda. Ia mainkan jurus pukulan itu dengan sangat hebat, angin pukulan menderu-deru hawa serangan dengan tajamnya meluncur ke depan mengurung sekujur tubuh lawan.

Poei Che Giok terkejut bercampur gusar menyaksikan tiga buah telapak kiri secara se-rentak mengerubuti dirinya dengan lihay, memaksa tubuhnya cepat-cepat harus menyingkir ke samping untuk meloloskan diri teriaknya dengan penuh kegusaran: ,,Hey manusia she Hong-po, sebenarnya kalian berasal dan aliran sesat mana???”

Hong po Seng tertawa ringan, sambil melayang mundur ke samping sahutnya:

,,Kami adalah sekelompok manusia-manusia perkumpulan Sin Kee Pang yang tertugas di ruang Thian Kie Thong ”

Berbicara sampai di situ mendadak ia merasa malu sendiri, pikirnya di dalam hati:

,,Aku mana boleh menyamar jadi manusia-manusia serigala yang bergabung dalam organisasi kaum bajingan perkumpulan Sin Kee Pang? meskipun asal-usul perempuan ini rada tidak beres, tetapi perbuatan kami yang mengerubuti dirinya dengan andalkan jumlah besar sudah merupakan suatu tindakan yang kurang terbuka dan jujur, tidak pantas sebagai tingkah laku seorang lelaki sejati”

Sementara ia masih membatin, tampaklah keempat orang itu sudah saling bergebrak beberapa jurus banyaknya, menghadapi musuh yang demikian tangguhnya ini ternyata tiga ekor harimau dari keluarga Tiong menunjukkan sikap yang gagah dan tidak jera menghadapi kematian, sekeluarga tiga orang bersatu padu maju mundur dengan teratur bagaikan satu tubuh, kendati gerakan ilmu pukulannya belum matang dan tenaga lwekang yang dimiliki masih amat cetek, tetapi untuk beberapa saat Poei Che Giok tidak sanggup pula merebut kemenangan, apalagi meneter ketiga orang itu. Maka ia segera membentak keras :

,,Cuwi sekalian harap segera berhenti bertempur!” Begitu mendengar suara bentakan dari Hong po Seng, tiga ekor harimau dari keluarga Tiong segera mengirim satu babatan secara berbareng dan meloncat mundur ke belakang, tetapi mereka tidak pergi jauh, dengan berdiri di tiga penjuru mereka kepung Poei Che Giok di tengah kalangan.

Terhadap kepungan tersebut Tosi Chee Tong pura- pura tidak melihat, sambil mencekal pedangnya ja mengerling sekejap ke arah Hong po Seng lalu ujarnya dengan nada menyindir:

,,Sedari tadi aku telah menduga bahwa kedudukanmu di dalam perkumpulan Sin Kee Pang tidak rendah, ayoh sebutkan namamu. Hong po apa ???”

Hong po Seng tersenyum diikuti wajahnya berubah serius, katanya sungguh-sungguh:

„Kami berlima tidak termasuk perkumpulan atau perkumpulan agama apapun juga! ” setelah menjura

tambahnya, ,,Tempat ini bukan merupakan suatu tempat yang aman, keadaan amat kritis dan mara bahaya setiap saat bisa mengancam tiba, silahkan nona segera berlalu dari sini”

Dengan biji matanya yang jeli Poei Che Giok menatap wajah si anak muda itu tajam-tajam, setelah mengetahui bahwa ucapannya bukan kata-kata yang bohong, dengan alis berkerut ia segera berseru :

„Sin Kee Pang, Hong Im Hwie serta Thong Thian Kauw merupakan tiga kekuatan besar yang menguasai dunia persilatan dewasa ini bila kalian tidak termasuk di dalam salah satu perkumpulan yang ada dewasa ini, kemanakah kamu semua hendak menyelamatkan diri?? Menurut pendapatku, alangkah baiknya kalian mengikuti aku menuju ke arah Tenggara saja, aku tanggung kalian akan mendapat jaminan hidup yang baik serta punya nama serta kedudukan yang terhormat”

„Terima kasih atas maksud baik dari nona” sahut Hong-po Seng seraya menjura. „Sayang cayhe masih ada tugas di badan hingga untuk saat ini tak bisa memenuhi harapanmu itu. Untuk waktu di kemudian hari masih panjang bila kita sempat berjumpa muka lagi di kemudian hari tiada halangan nona ajukan lagi tawaran tersebut”

„Justru aku takut waktu dikemudian hari tidak banyak, dan kita sukar untuk saling berjumpa kembali” kata Poei Che Giok setelah termenung sejenak.

Setelah merandek mendadak ia tertawa nyaring dan berseru:

,,Semoga cuwi sekalian diberkahi nasib yang baik, kita sampai jumpa lagi di lain kesempatan”

Habis berkata sepasang bahunya segera bergerak dan tubuhnya dengan enteng melayang ke depan.

Menyaksikan air mukanya yang menunjukkan tanda- tanda tidak beres, satu ingatan segera berkelebat di dalam benak Hong-po Seng, sedikitpun tidak salah ketika ia menyambar lewat di sisi tubuh Chin Wan Hong mendadak tangan nya menyambar ke depan, laksana kilat ia mencengkeram tubuh gadis she Chin tersebut.

Chin Wan Hong sebagai seorarg gadis yang alim dan lemah lembut sama sekali tidak pernah menyangka kalau dirinya bakal dibokong, menanti ia menyadari akan mara bahaya yang mengancam dirinya sang hati baru merasa terkesiap, seketika itu juga dara ayu ini dibikin gelagapan dan kalang kabut tidak karuan. Terdengar Hong-po Seng mendengus dingin sambil miringkan tubuhnya satu pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.

Pukulan ini meluncur ke depan laksana kilat yang menyambar di tengah angkasa, dalam waktu singkat telah mencapai pada saarannya. Baru saja jari tangan Poei Che Giok hendak menyentuh di atas urat nadi pergelangan tangan Chin Wan Hong, mendadak segulung tenaga tekanan yang berat laksana sebuah tindihan bukit telah menerjang punggungnya.

Ia terkesiap dan buru-buru menyusut mundur beberapa langkah ke belakang, teriaknya:

„Sebuah pukulan yang sangat indah!”

Sambil tertawa terkekeh-kekeh badannya meluncur ke depan, dalam waktu singkat gelak tertawanya telah berada kurang lebih ratusan tombak jauhnya dari tempat semula.

Menyaksikan gerakan tubuhnya yang begitu cepat dan sebat, semua orang jadi tertegun dan berdiri dengan mulut melongo, air muka mereka berubah hebat dan siapapun tidak percaya kalau seorang gadis yang demikian mudanya ternyata memiliki kepandaian sehebat itu.

,,Hoog po Kongcu” terdengar Chin Wan Hong buka suara memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh kalangan: ,,Siapakah gadis itu? mirip benar dengan Pek Koen Gie!”

„Dia bernama Poei Che Giok dan termasuk anggota dari sekte agama Thong Thian Kauw” Setelah merandek sejenak, tambahnya lagi:

,,Sekarang kita berada di daerah yang sangat berbabaya dan setiap saat kemungkinan besar jiwa kita terancam, bilamana tidak cepat-cepat melarikan diri niscaya kita semua bakal mati di sini, ayoh kita segera berangkat!”

Dengan langkah lebar ia segera mendahului dan berjalan duluan di paling depan.

Tadi di antara dua orang ilmu meringankan tubuh dari Hong po Seng tidak bisa melebihi kelihayan Poei Che Giok tetapi sekarang di antara kelima orang ini boleh dibilang tenaga lwee kang Hong-po Senglah yang paling tinggi.

Setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya, ia temukan Chin Wan Hong sudah mulai kepayahan, keringat mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, maka ia pun mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan dara tadi, tanyanya:

,,Nona Chin, secara bagaimana kaupun bisa datang ke Propinsi Sian-say ……???”

Chin Wan Hong tertawa jengah.

,,Selama ini aku selalu menguntil di belakang Kongcu, cuma disebabkan karena kereta itu berlari terlalu cepat ditambah pula aku tidak kenal jalan, maka ”

Diam diam Heng-po Seng merasa terharu setelah mendengar ucapan itu, pikirnya di dalam hati:

,,Dari kota Seng Chiu ia membuntuti aku sampai di sini, ooh ......, aku telah menyulitkan nona ini ”

Sebenarnya pemuda ini ada maksud hendak mengutarakan beberapa patah kata yang menyatakan rasa terima kasihnya, tetapi ia merasakan tenggorokannya seakan-akan tersumbat, tak sepatah katapun berhasil dilontarkan keluar.

Dari perubahan air mukanya Chin Wan Hong bisa memahami maksud hati si anak muda itu, kepalanya segera tertunduk rendah-rendah dan bisiknya lirih:

,,Demi keluarga Chin, Kongcu harus mengalami kejadian yang menyusahkan dirimu, membuat jiwamu selalu terancam bahaya dan mengalami pelbagai siksaan yang membuat kau menderita, meskipun kami orang- orang dari keluarga Chin harus mengorbankan jiwa dan tubuh bakal remuk redam, kami bersumpah akan membalas budi kebaikaamu itu …..”

„Nona kau keliru” kata Hong-po Seng. „Cayhe berbuat demikianpun tidak lain karena ingin membalas budi kebaikan yang pernah diberikan Chin Loo Enghiong kepada keluarga kami di masa yang silam”

Sepanjang perjalanan menuju ke arah Selatan, kelima orang itu selalu berada dalam keadaan aman tenteram tanpa mengalami cegatan atau halangan apapun juga, senja itu tibalah mereka di tepi sebuah sungai, sungguh tak dinyana tepi pantai sungai Huang-Hoo ternyata penuh berjubel-jubel manusia yang sedang anteri untuk menyeberang.

Semua perahu penyeberang berderet-deret merapat di tepi namun tak sebuah perahupun yang belayar menuju ke tepi seberang, sebaliknya dari pantai selatanpun tidak nampak ada perahu yang berlayar datang.

Diam-diam Hong po Seng terperanjat ia segera mengerlingkan matanya memerintahkan Chin Wan Hong serta Tiong si Sam Hauw mencampur baurkan diri dengan khalayak ramai, sedang ia sendiri duduk di atas tanah sambil bertanya kepada seorang pedagang yang berada di sisinya:

„Paman, tolong tanya kenapa begitu banyak orang yang menunggu di tepi pantai tapi tak sebuah perahupun yang menyeberang ke tepi selatan ??”

Pedagang itu memperhatikan sekejap wajah Hong Po Seng, kemudian setelah menyapu sejenak ke sekeliling tempat itu bisiknya:

,,Para yaya dari pihak perkumpulan telah menutup sungai ini dari semua penyebrangan, mungkin di dalam tubuh perkumpulan mereka telah terjadi peristiwa besar, kami sekalian sudah seharian penuh menanti di sini ....

Aai! orang muda kalau bepergian musti sabarkan diri dan jangan terburu napsu. terutama mulut jangan banyak bicara sebab salah-salah bisa mengundang datangnya mara bahaya bagi diri sendiri”

Hong-po Seng mengucapkan banyak terima kasihnya berulang kali kemudian baru alihkan sinar matanya ke arah dermaga, tampaklah serombongan jago-jago bersenjata lengkap menyebarkan diri di sekitar tepi sungai, wajah mereka semuanya menghadap ke arah sungai, seakan-akan sedang mengawasi permukaan su¬ngai itu untuk menghindari ada orang yang menyusup keluar.

Kurang lebih sepenanak nasi lamanya sudah lewat namun belum nampak suatu gerak gerik apapun juga, ratusan orang banyaknya sama-sama menunggu giliran untuk menyeberang, suasana hiruk-pikuk memenuhi angkasa namun tak seorangpun bisa meninggalkan tempat itu.

Sementara sang surya perlahan-lahan mulai condong ke arah barat, haripun mulai menjadi gelap.

Dalam hati diam-diam Hong-po Seng berpikir:

,,Kalau ditinjau keadaan ini jelas peristiwa berdarah yang terjadi di perkampungan Liok Soat San-cung sudah diketahui oleh mereka, sedang Teratai Racun Empedu Api saat ini berada di dalam sakuku, apa yang harus aku lakukan dalam keadaan begini??? ”

Si Harimau Pelarian Tiong Liauw tiba-tiba maju menghampiri sambil bisiknya lirih:

,,Kongcu-ya. Kalau harus menunggu dan menunggu terus entah sampai kapan kita baru bisa menyebrang, aku lihat lebih baik kita menyebrang dengan jalan berenang saja”

,,Setelah tempat ini ditutup bagi penyeberangan aku pikir di tempat lain pun keadaannya tidak akan jauh berbedaa, daripada bergerak lebih baik bersikap tenang daripada memancing perhatian orang terhadap kita”

Si Harimau Pelarian Tiong Liauw melirik sekejap ke arah sungai sebelah depan, kemudian ia berbisik kembali:

„Pantai seberang berada di bawah kekuasaan perkumpulan Sin Kee Pang, asal kita bisa merampas perahu ……”

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang gemuruh keras berkumandang datang, tiga puluhan ekor kuda yang tinggi besar secara serentak munculkan diri di tepi sungai, debu mengepul memenuhi angkasa begitu tiba di situ dengan sigapnya ketiga puluh orang tadi segera meloncat turun dari atas punggung tunggungannya.

Gerak getik serombongan orang ini cekatan dan gesit semua, gerakan tubuh mereka enteng dan cepat. Sekilas memandang siapapun tahu kalau mereka memiliki llmu silat yang sangat lihay.

Hong-po Seng yang dapat melihat pula kehadiran orang-orang itu, dalam hati segera merasa amat kesal, pikirnya:

,,Aliran air sungai teramat deras, permukaan sungai ini pun sangat luas, aku sama sekali buta di dalam kepandaian memegang kemudi perahu ditambah pula ilmu berenang di air tak kupahami . . . aaaai ! kalau suruh aku merampas perahu untuk menyebrangi sungai ini, jelas di dalam sepuluh ada sembilan bagian akan mengalami kegagalan total”

Berpikir demikian otaknya lantas berputar kencang untuk mencari akal yang lain, di samping itu kepada si Harimau Pelarian Tiong Liauw bisiknya pula:

,,Mari kita jalan secara terpisah, perduli peristiwa apa yang bakal terjadi dan menimpa diriku, kalian barus berlagak seolah-olah tidak pernah kenal dengan diriku, janganlah sekali kali menyapa atau menunjukkan sikap ingin menolong”

Si Harimau Pelarian Tiong Liauw merasa tertegun setelah mendengar ucapan itu, tapi ia tidak membantah, perlahan-lahan badannya meninggalkan tempat itu dan mengabarkan kepada ketiga orang lainnya. Kembali beberapa saat telah lewat, dari ujung sungai mulai terjadi kegaduhan yang sangat berisik, dalam suasana yang remang-remang karena senja telah menjelang tiba, berpuluh-puluh batang obor dipasang di sekitar dermaga tersebut.

Hong po Seng dengan cepat alihkan sinar matanya ke arah permukaan sungai, ia temukan beberapa buah perabu sudah mulai bergerak meninggalkan dermaga rupanya orang-orang yang baru datang dengan menunggang kuda tadi mulai melakukan pemeriksaan yang ketat terbadap setiap penyeberang yang melewati tempat itu.

Dengan seksama si anak muda itu memeriksa lebih jauh, atau secara mendadak ia jadi amat terperanjat sebab dilihatnya setiap orang yang mendapat pemeriksaan bukan saja harus menjawab pertanyaan- pertanyaan yang diajukan kepada mereka bahkan sekujur badannya harus di geledah dan diraba dengan teliti prosedurnya amat rumit dan sulit untuk ke atas perahu penyeberang seseorang harus melewati pemeriksaan secara berulang kali dengan ketatnya.

Diam-diam ia jadi merasa amat geilsah pikirnya:

,,Teratai Racun Empedu Api berada di dalam sakunya, seandainya sampai digeledah dan tertangkap sudah pasti aku tak bisa meloloskan diri dari tempat ini dalam keadaan selamat, padahal teratai racun ini sangat mempengaruhi sembuh atau sakitnya ibuku” dengan susah payah aku berhasil mendapatkannya dan kini akupun tak boleh membuang dengan begitu saja..!” Sementara hatinya sedang gelisab dan berusaha karena mencari akal untuk meloloskan diri dari tempat itu, mendadak dirasakannya si Hanmau Pelarian Tiong Liauw telah berjalan menghampiri dirinya lagi, tanpa terasa sepasang alisnya berkerut kencang, sembari berpaling serunya:

„Jalan mondar mandir ke sana ke mari gampang memancing kecurigaan orang ...”

„Keparat cilik, pentang matamu lebar-lebar dan libatlah siapakah aku! ....” serentetan tertawa riang berkumandang dari sisi telinganya.

Ternyata orang yang menghampiri dirinya dari belakaug itu bukanlah si Harimau Pelarian Tiong Liauw seperti apa yang diduganya semula.

Hong po Seng jadi amat terperanjat, ia merasa amat kenal dengan suara tersebut, ketika kepalanya hendak berpaling ke betakang mendadak jalan darah “Leng Sioe hiat” di atas pinggangnya jadi kaku, disusul urat nadi di atas pergelangan kirinya dicengkeram orang.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Hong po Seng untuk berkutik ataupun menunjukkan suatu reaksi, sebelum ia sempat berbuat sesuatu mendadak di hadapan wajahnya telah muncul seraut wajah putih yang halus dan sangat dikenal olehnya, sambil tetawa rendah terdengar ia menegur:

,,Hey, bangsat cilik! rupanya nasibmu masih mujur dan umurmu masih panjang, masihkah kau kenali diri kongcu-ya mu ???” Hong po Seng mempehatikan wajah orang itu lebih seksama, dan dengan cepat diapun kenali orang itu sebagai Kok See Piauw anak murid dari Boe Liang Sin Koen, mereka berdua pernah saling berjumpa muka di rumah kediaman keluarga Chin Pek Cuan di kota Keng Chiu, bahkan pernah melangsungkan pertempuran sengit pula di sana, setelah berpisah selama beberapa bulan sungguh tak nyana mereka berjumpa muka lagi di sini.

Hong po Seng pernah termakan pukulan maut Kioe Pit Sin Ciang-nya sehingga hampir saja selembar jiwa melayang, kini setelah berjumpa muka lagi dengan musuh besarnya hawa amarah kontan berkobar, sambil tertawa dingin jengeknya:

,,Membokong dari belakang, kau terhitung enghiong hoohan macam apa?? Hmm….!”

Kok See Piaow tersenyum, mendadak dengan wajah membesi hardiknya lirih terhadap orang di depan yang kebetulan sedang menoleh ke belakang:

,,Hey kalau kau pingin hidup, lebih baik jangan mencampuri urusan orang lain !”

Hong po Seng merasa amat gelisah, tiba-tiba ia teringat babwa tangan lembut halus yang mencengkram pergelangan kirinya saat ini bukanlah tangan dari Kok See Piauw, ingin sekali ia menoleh untuk melihat lebih jelas tetapi apa daya Kok See Piauw telah menotok jalan darah kakunya sehingga membuat batok kepalanya sama sekali tak mampu berputar.

Sebaliknya orang itu menyembunyikan diri di belakangnya, dengan demikian ia tak sanggup untuk melihat jelas raut wajah orang tadi.

Diam-diam pikirnya di dalam hati: ,,Nona Chin serta tiga Orang harimau ganas dari keluarga Tiong berada di sekitar sini dan hingga kini tidak nampak gerak-gerik mereka, jangan-jangan keempat orang itupun sudah tertangkap oleh pihak lawan?? ….”

Belum habis dia berpikir mendadak terasalah sebuah tangan yang kecil dan lembut menerobos masuk ke dalam sakunya lewat bawah iganya, diikuti lubang hidungnya mencium bau harum semerbak yang menyegarkan badan.

Hong Po Seng merasa makin gelisah, begitu dirasakannya sebuah tangan yang lembut halus merogoh ke dalam sakunya dan meraba Teratai Racun Empedu Api yang disimpan di sana, ia jadi kaget dan segera menegur dengan setengah merengek:

,,Siapa kau?? apa gunanya kau ambil teratai racun itu??”

0000O0000

11

TERDENGAR suara sahutan yang merdu dan enak didengar menggema masuk ke sisi telinganya :

,,Aku! kalau tahu diri tenang dan janganlah banyak berkutik!”

Dari nada suara tersebut Hong-po Seng segera kenali sebagai nada suara Pek Koen Gie yang ketus dan dingin, terpaksa ia memperendah nada suaranya seraya menjawab:

,,Teratai racun itu tiada kegunaannya sama sekali bagimu, harap nona suka mengembalikannya kepadaku!” „Hmm ! kalau memang tiada kegunaannya sama sekali, buat apa kau menyimpannya di dalam saku??”

Sembari berkata tangannya kembali menggeledah saku pemuda itu.

Selama ini Kok See Piauw selalu berada di sisi mereka, tatkala dilihatnya Pek Koen Gie dengan tangan kiri mencengkeram pergelangan kiri Hong Po Seng, sedangkan tangan kanannya sedang melewati di bawah iga pemuda itu sedang menggeledah saku Hong Po Seng sehingga tubuh kedua orang itu hampir saja menempel antara yang satu dengan lainnya, timbul rasa cemburu iri dan gusar dalam hati kecilnya.

Semenjak perkenalannya dengan diri Pek Koen Gie, anak murid dari Boe Liang Sin Koen ini selalu berusaha untuk mendekati dara tersebut, ia berdaya upaya untuk menarik perhatian gadis itu serta suka membalas cintanya, apa lacur tabiat Pek Koen Gie memang sangat kukoay, terhadap cinta kasih muda mudi seakan-akan tidak menaruh minat sama sekali, oleh sebab itu hubungan cinta di antara mereka selalu tidak memperoleh kemajuan seperti apa yang diinginkan, dan kini setelah dilihatnya sang gadis idamannya saling berdempetan begitu rapatnya dengan lelaki lain, sudah tentu hatinya jadi panas.

Tapi ia tidak berani terlalu memperlihatkan rasa cemburunya, sambil tersenyum katanya lirih.

,,Hian moay, kau tak usah repot-repot musti turun tangan sendiri biarlah Siauw-heng yang menggeledahkan saku keparat cilik ini!” ,,Terima kasih atas perhatian Kok heng kau tak usah turut campur dalam persoalan ini” tukas Pek Koen Gie ketus sambil berbicara tangan meneruskan pengeledahannya memeriksa seluruh isi saku pemuda she Hong po itu tapi dengan cepat ia jadi kecewa, sebab benda yang diharapkan ternyata tidak berbasil ditemukan.

Hong Seng sendiri setelah dilihatnya gadis itu sesudah mengambil teratai racun Empedu Api masih juga menggeledah sakunya, dalam hati segera memahami maksud hati lawannya, dalam hati iapun berpikir,

,,Pastilah ia sedang menggeledah sakuku untuk menemukan pedang Emas tersebut Kalau begitu sudah jelas sekarang perbuatan Poei Che Giok dengan kecantikan wajahnya mimikat hati Jien Bong, delapan bagian ada sangkut pautnya dengan persoalan ini.

Mendadak terdengar Pek Koen Gie membentak dengan suara lirih:

,,Cepat mengaku sejujurnya barang itu kau sembunyikan dimana ??”

„Terus terang saja kukatakan, kedatangan cayhe ke perkampungan Liok Soat San cung adalah bertujuan untuk mengambil Teratai Racun Empedu Api itu, aku sama sekali tiada bermaksud hendak mencuri pedang!”

,,Kurangajar!” maki Pek Koen Gie sambil tertawa dingin, „Kalau hanya mencuri sebatang Teratai Racun Empedu Api saja, masa keadaan bisa berubah jadi begini tegang dan pihak mereka sampai mengerahkan kekuatan intinya untuk melakukan penggeladahan? Perkumpulan Hong Im Hwie tak nanti unjukkan kerepotan dan kebingungan semacam ini” ,,Oooh ..... - kiranya kabar berita mengenai terbunuhnya Jien Bong belum sampai bocor di tempat luaran. ” pikir Hong po Seng, mendadak siatu ingatan

berkelebat di dalam benaknya.

Diam-diam ia berseru:

,,Aduuuh! Andaikata secara diam-diam ia menghancurkan Teratai Racun Empedu Api itu, apa yang harus aku lakukan??”

Saking gelisah dan gugupnya, tanpa berpikir panjang lagi segera serunya:

„Nona! Harap kau buang teratai racun itu ke dalam sungai, sedang aku akan membantumu untuk menemukan pedang emas itu kalau tidak, maafkanlah daku kalau tidak sudi memberitahukan kepadamu !"

Pek Koen Gie sendiripun telah menduga selain lenyapnya Teratai Racun Empedu Api ini pastilah sudah terjadi peristiwa lain, karena takut jejaknya ketahuan sehingga rahasianya terbongkar dia memang ada maksud hen¬dak melenyapkan teratai racun empedu api itu dari muka bumi, tetapi setelah saat ini Hong-po Seng terus terang mengancam bahkan mcnggunakan pedang emas itu sebagai ancaman, ia jadi serba salah dan untuk beberapa saat lamanya tidak tahu musti menjawab apa.

Hingga saat itu belum nampak sebuah perahupun yang membawa penumpang menyeberangi sungai tersebut, berhubung pemeriksaan dan penggeledahan dilakukan sangat lambat, sementara orang yang menunggu di tepi pantai amat banyak, terutama sekali para jago perkumpulan Hong Im Hwie yang sebagian besar telah berkumpul semua di tepi dermaga, membuat suasana di sekitar situ terasa bertambah tegang dan seram.

Di bawah sorot cahaya api, kilapan senjata bergemerlapan di tengah kegelapan, deru angin kencang serta gulungan ombak yang menghantam tepian menambah seramnya suasana di situ. Dalam ada itu ketika Kok See Piauw menyaksikan Pek Koen Gie termenung dan tidak mengucapkan sepatah katapun, seakan-akan gadis itu merasa serba salah dibuatnya segera bertindak cepat, jari tangannya berulang kali berkelebat melancarkan beberapa totokan yang kesemuanya bersarang di bawah iga Hong-po Seng, kemudian jengeknya sambil tertawa:

,,Barang itu kau sembunyikan di mana? bangsat cilik!

Kau suka mengaku tidak?"