Bara Maharani Jilid 05 : Jurus Koen Sioe Ci Tauw untuk Hong po Seng

 
Jilid 05 : Jurus Koen Sioe Ci Tauw untuk Hong po Seng

MENDENGAR perkataan itu tanpa sadar Hong-po Seng

mendongak ke atas, ia lihat telaga kering itu mirip sekali dengan sebuah sumur kering yang besar, dirinya memang betul-betul menjadi katak dalam sumur, empat dinding merupakan tebing yang curam dan di manapun tiada tempat untuk berpijak, andaikata dari atas telaga tak ada orang yang menurunkan tali sudah pasti ia akan mati terkurung di dasar telaga tersebut.

Teringat betapa sengsaranya si kakek telaga dingin yang terkurung hampir sepuluh tahun lamanya, rasa bergidik seketika muncul dari dasar hati kecilnya.

Mendadak terdengar kakek telaga dingin berseru dengan gusar:

„Loohu hanya menciptakan satu jurus serangan saja yaitu jurus “Koen Sioe Ci Tauw” atau Pergulatan binatang-binatang terkurung. Dengan andalkan satu jurus inilah Pek loojie harus putar otak peras keringat selama lima tahun untuk melawan diriku, sekali pun begitu hingga detik ini dia masib belum sanggup menangkap diriku!”

Begitu keras ucapan ini digemborkan sampai Hong Po Seng merasakan telinganya lapat-lapat terasa amat sakit, menunggu kakek itu menyelesaikan kata-katanya dengan cepat menyambung dangan nada riku:

„Aaah. ! hanya satu jurus ilmu silat saja Pek Siauw

Thian tak bisa memecahkannya walau sudah putar otak selama lima tahun, tak usah dikatakan lagi bisa dibayangkan betapa lihaynya pukulan tersebut. “Koea Sioe Ci Sauw” atau pergulatan binatang-binatang terkurung memang tepat sekali untuk nama jurus serangan tersebut”

Si kakek telaga dingin mendengus congkak, ia mengangkat tangan kirinya yang bisa bergerak bebas untuk melakukan gerakan setengah di depan dada kemudian sambil mendorong telapak itu kearah depan serunya lantang:

„Badan terbelenggu tak bisa berkutik, segenap kepandaian silat yang kumilikipun tak dapat digunakan, dalam posisi yang terdesak dan terancam oleh bahaya maut akhirnya loo hu berhasil menciptakan jurus serangan yang amat lihay ini."

Begitu ia selesai berbicara, dari tumpukan salju kurang lebih dua tombak di hadapannya berkumandang suara gemerisik yang santar, diikuti menggulungnya pusaran argin tajam bunga salju berpusing dan berputar dengan kencangnya, dalam waktu singkat terciptalah sebeuah tiang salju setinggi satu tombak dengan badan besar tujuh depa.

Hong Po Seng merasa terkejut bercampur bergidik, pikirnya :

„Tidak aneh kalau ia sombong dan tinggi hati, ternyata kekuatan pukulannya betul-betul dahsyat hingga mencapai ke atap yang demikian tingginya!”

„Bagaimana ???” seru Si kakek telaga Dingin sambil tertawa keras, „Bagaimana kalau di bandingkan dengan Pek loo jie???”

„Sin kang yang kau miliki betul-betul terhitung dahsyat dan luar biasa sekali aku pikir Pek Siauw Thian tak nanti bisa menandingi dirimu”

„Huuuh ! kau betul-betul manusia yang punya mata yang tak berbiji” maki si kakek telaga Dingin dengan mata melotot, “kehebatan dari jurus seranganku barusan bukan terletak pada kesempurnaan tenaga lwekang yang dimili seseorang, tapi kehebatannya justru terletak pada kesaktian serta keajaiban dari perubaban jurus tersebut!”.

,,Hmmm, apa gunanya kau sombong dan berbangga diri??”, batin Hong Po Seng. ,,Sekalipun ilmu silat yang kau miliki sangat lihay, kalau tak dapat menikmati kehidupan yang wajar apa gunanya? Huh...! begitu masih bisanya berlagak sok!”

Walaupun dalam hati berpikir demikian, sudah tentu di luaran tidak berkata keras. cuma ujarnya dengan hambar:

,,Kepandaian sakti itu adalah ilmu silat andalanmu, antara kita berdua tiada ikatan sanak maupun keluarga, akupun tak bisa mengangkat dirimu sebagai guru, masa kau telah mewariskan kepadaku dengan begitu saja??”

„Tentu saja bisa!” Si kakek telaga Dingin tertawa seram. ,,Cuma aku mempunyai syarat yang harus kau kabulkan, asal kau merasa sanggup uutuk menerima dua syaratku itu maka jurus serangan “Koen Sioe Ci Tauw ini akan kupinjamkan kepadamu, di sampiug itu akan kuajarkan pula satu siasat bagus untukmu, tanggung kau berhasil membinasakan Pek Koen Gie si budak sialan itu. Asal dendammu sudah terbalas maka kau boleh kembalikan jurus ilmu pukulau itu kepadaku!”

„Jurus ilmu pukulan mana bisa dipinjam dan bagaimana pula caranya mengembalikan kepadamu ???" pikir sianak muda itu. Ia melirik sekejap kearah kakek tadi dan katanya :

,,Coba kau terangkan lebih dahulu, apakah kedua syarat yang bendak kau ajukan itu???". „Haah ... haah …. haah ... kedua syarat tersebut ???” kakek telaga dingin mendongak dan tertawa terbahak- bahak. ,,Itu urusan kecil, justru yang paling penting adalah cara meminjam jurus pukulan yang gampang tadi, cara pengembaliannya yang rada merepotkan itu”

„Bagaimana repotnya ???”

,,Loohu melatih kepandaian sakti itu dengan telapak kiri, maka untuk mengembalikan ilmu pukulan tadi kepadaku, terpaksa tangan kirimu harus kutebas dan kemudian serahkan kepada loohu”

„Sepasang kakinya kutung di ujung pedang ayahku” pikir Hong-po Seng dalam hati. „Dendam kesumat macam ini benar-benar besar dan dalam, sampai kini ia tak mau membunuh diriku adalah karna aku masih berguna baginya, andaikata aku harus kutungkan sebuah lenganku untuk dikembalikan kepadanya, kejadian ini betul-betul menarik dan aneh sekali”

ooooOoooo

BERPIKIR sampai disitu ia lantas berkata dengan suara hambar:

„Yang selalu kau pikirkan dalam hati hanyalah balas dendam balas dendam melulu, walaupun aku tahu

bahwa maksud hatimu tidak baik, tapi semangat serta cita-citanya tidak memalukan. Baiklah! ada meminjam pasti ada mengembalikan, kusempurnakan keinginan hatimu itu”

„Anjing cilik ” maki si kakek telaga dingin dengan

penuh kebencian setelah mendengar perkataan itu, giginya saling bergemerutukan hingga berbunyi nyaring. Hong-po Seng mendelik bulat-bulat, tegurnya ketus :

,,Aku minta kalau berbicara sedikitlah tahu diri, asal jangan ngerocos keluar saja!”

Meski usia sianak muda ini masih kecil tapi dia mempunyai wajah yang gagah perkasa serta semangat patriot yang hebat, baik Pek Koen Gie maupun si kakek telaga dingin yang berhadapan dengan dirinya tentu merasa hatinya sangat tidak enak, hal itu bukan lain dikarenakan rasa rendah diri serta rasa malu yang timbul dari dasar lubuk hati mereka, hanya saja kedua orang itu sama-sama tidak memahami sampai kesitu.

Si kakek telaga dingin merandek sejenak, mendadak bentaknya keras:

„Kau benar-henar tidak menyesal mengucap kan kata- kata tersebut??”

,,Hidup di dalam suasana yang kacau, nyawa masih bisa diselamatkan sudah merupakan satu peruntungan, berapa besar nilainya sebuah lengan kiri. ??? cepat kau

sebutkan syaratnya!”

Si kakek telaga dingin mendengus berat.

„Hmm... pertama, bunuh Pek Koen Gie dan kedua bunuh Pek Koen Gie!”

Mendengar perkataan itu Hong-po Seng melengak.

„Eeei. dua macam syarat yang kau ajukan barusan

bukankah berarti pula banya satu syarat belaka ???”

,,Heeeh ... heeeh.... heeeh. ” Kakek Telaga Dingin

tertawa dingin. „Sekalipun hanya satu syarat belum tentu kau bisa laksanakan dengan sempurna. Hmmm! membiarkan Pek Loo-jie merasakan siksaan serta penderitaan karena kematian putrinya jauh lebih menyenangkan dari pada membinasakan dirinya!”

,,Haaah... haaah... haaah... sungguh keji dan telengas siasat yang kau gunakan ini. setelah kubunuh Pek Koen Gie kau kira Pek Siauw Thian dapat melepaskan aku dengan begitu saja?? siasatmu sekali timpuk mendapat dua ekor burung benar-benar lihai sekali!”

,,Cissss! telaga kering ini merupakan daerah terlarang dari perkumpulan Sin-Kee Pang, kau anggap bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup-hidup???”

„Hmmm! tentang persoalan itu sudah kupikirkan sejak semulia” pemuda itu merandek sejenak dan termenung.

„Terkurungnya kau di dasar telaga keiring ini merupakan suatu rahasia besar, seandainya ada orang yang berhasil meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, rahasia ini sudah pasti akan bocor dan tersiar di tempat luaran!”

,,Betul!” kakek telaga dingin tertawa.

"Pada saat itu beberapa orang kerabat lamanya akan berdatang kemari dan sama-sama berkumpul jadi satu. Pepatah mengatakan siapa yang melihat ikut mendapat bagian, kau mendapat semangkok bubur dan aku mendapat semangkok bubur, sekalipun loohu serahkan pedang emas itu belum tentu Pek Loo-jie bisa mengangkanginya seorang diri”

Mendadak ia tutup mulut dan memandang kearah sianak muda iru dengan mata melotot bulat.

,,Aku bukan seorang manusia yang jeri menghadapi kematian dan tidak ingin membunuh orang tanpa sebab musabab” kata Hong-po Seng seraya usapkan tangannya. ,,Coba berilah kesempatan kepadaku untuk berpikir dengan lebih seksama, seandainya aku menganggap bahwa Pek Koen Gie memang patut dijatuhi hukuman mati, kita baru mengadakan kerja sama saling bertukar syarat?".

Rupanya si Kakek Telaga Dingin takut kalau pemuda itu secara tiba-tiba berubah pikiran, begitu ia selesai berbicara segera sambungnya:

,,Walaupun kau tidak mau membunuh orang, orang lain pun akan membinasakan dirimu, ba gaimanapun juga akhirnya kau harus mati juga, kenapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk menarik balik sebagian dan modalmu???” lagipula Pek Siauw Thian banya punya satu keturunan, asal kau bunuh budak sialan itu maka setelah Pek Loo jie modar, perkumpulan Sin-Kee-Pang tanpa kendali seorang pcmimpin yang lihay pasti akan menjadi buyar dengan sendirinya”

Hong-po Seng tertawa hambar, pikirnya :

,,Apa yang diucapkan meski belum tentu seluruhnya benar, tapi memang masuk di akal juga, dalam sebuah perkumpulan yang amat besar sudah tentu bercampur baur manusia-manusia dan pelbagai lapisan, kalau tiada seorang pemimpin yang tangguh dan kosen yang mengendalikan mereka, tentu saja sulit untuk menguasai manusia-manusia itu”

Berpikir begitu ia lantas berkata :

,,Baiklah, kita tetapkan dengan sepatah kata ini, aku akan meminjam ilmu pukulan itu untuk membunuh Pek Koen Gie, seandainya beruntung aku bisa lolos dari bahaya maut, tangan kiriku segera akan kutebas untuk dikembalikan kepadamu. Nah! sekarang kau boleh terangkan siasat bagusmu itu, bagaimana caranya aku bisa mencabut selembar jiwa Pek Koen Gie dengan mengandalkan jurus ”Koen Sioe Ci Tauw” tersebut.

Si Kakek Telaga Dingin tertawa.

,,Soal siasat bagus lebih baik kita bicarakan setelah ilmu pukulan itu kuwariskan kapadamu

Haaaa …., haaaaaah inilah pekerjaan yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, Eei ?? pedang bajamu itu kukoay sekali bentuknya, coba mainkanlah beberapa jurus untuk diperlihatkan kepadaku!”

,,Orang ini terlalu serakah dan mementingkan diri sendiri” batin Hong po seng dalam hati. ,,Sedikitpun tiada perasaan kasihan atau iba kepada mereka senasibnya, aku tidak cocok untuk bergaul dengan dirinya, lebih baik sedikit menyimpan diri saja”

Maka ia lantas gelengkan kepalanya berulang kali serunya:

,,Ayahku almarhum terlalu cepat meninggalkan dunia yang fana, sedangkan ilmu silat yang dimiliki ibuku tidak cocok bagi kaum pria untuk melatihnya, maka dari itu meski sim boat tenaga dalamku memperoleh warisan dari ajaran keluarga, itupun harus digabungkan dengan ilmu pedang yang sederhana baru bisa digunakan untuk melindungi keselamatan sendiri. Ilmu yang terlalu sederhana lebih baik tak usah dipamerkan dihadapan orang lihay saja”

Si Kakek Telaga Dingin merasa setengah percaya setengah tidak, ia mendengus gusar. ,,Hmm ! omong kosong, masa ilmu silatpun kok dirahasiakan!”

Tapi ia tidak mendesak lebih jauh, tanpa menggubris apakah pemuda itu sudah mempersiapkan diri atau tidak segera mulai menerangkan rahasia ilmu pukulannya.

Mula-mula ia terangkan dahulu di manakah letak dari himpunan tenaga yang mereka miliki serta letak-letak tempat yang vital di tubuh manusia, kemudian membicarakan rahasia dari bagaimana caranya mengerahkan tenaga yang baik.

Dengan penuh perhatian dan seksama Hong po Seng pusatkan semua konsentrasinya untuk mendengarkan keterangan-keterangan orang tua itu, tanpa sadar ia sudah terserap dan terpesona oleh kesaktian serta keanehan dari kepandaian tersebut, masalah tangan kinnya yang bakal dikutungi dikemudian hari sudah jauh- jauh terlupakan dari dalam benaknya.

Dengan menghimpun segenap semangat yang dimilikinya Heng-po Seng mendengarkan penjelasan itu, ia hampir mabok dibuatnya.

Sebaliknya Si Kakek Telaga Dingin sendiri makin bicara ia merasa semakin bangga, hingga senja hari menjadi tiba ia baru menyelesaikan keterangannya.

Hong Po Seng pun segera mengundurkan diri ke sisi dinding sambil mengulangi kembali rahasia yang didapatkan, berusaha bila bertemu dengan hal-hal yang kurang jelas baginya ia segera mohon petunjuk kepada orang tua itu. Melihat betapa kesemsem dan terpesonanya si anak rnuda itu oleh kesaktian ilmu pukulan yang dimilikinya, Si Kakek Telaga Dmgin merasa bangga sekali.

Malam itu dilewatkan dengan kedua orang itu dalam suasana yang gelisah dan tidak sabar mereka berharap pagi hari tepat menjelang datang. Akhirnya setelan dinantikan dengan susah payah, fajarpun menyingsing di ufuk sebelah Timur, Si kakek Telaga Dingin segera menurunkan gerakan jurus serangan itu kepada Hong Po Seng.

Jurus “Koen Sioe Ci Tauw” ini merupakan suatu gerakan memutar setengah lingkaran terdahulu di depan dada kemudian disodok kearah depan, walau bagitu si Kakek Telaga Dingin membutuhkan waktu selama hampir setengah jam lamanya untuk membuat si anak muda itu memahaminya sungguh-sungguh, maka ia segera memerintahkannya untuk berlatih dibahapannya.

Keampuhan daripada ilmu silat Hong po Seng terletak di atas permainan pedangnya, tapi sim-boat tenaga dalam yang dimilikinya merupakan pelajaran tingkat atas, ditambab pula ia berwatak keras hati, berjiwa besar, bercita-cita luhur serta mempunyai barapan untuk membasmi kaum laknat serta menolong umat Bu-lim dari penindasan kaum iblis, maka sewaktu berlatih kepandaian tersebut ia berlatih dengan tekun, giat dan rajin, dengan sendirinya kemajuan yang diperolehpun semakin pesat.

Gerakan jurus pukulan itu sederhana sekali, tapi Hong- po Seng tidak memandangnya sebagai pelajaran rendah, selesai berlatih satu kali ia berlatih lagi satu kali hingga akhirnya badan jadi lelah dan tenaga babis, sementara malampun telah tiba.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hong-po Seng sudah berlatih ilmu pukulan itu. Selesai sarapan mendadak si Kakek Telaga Diugin menggapai ke arahnya sambil tertawa licik.

,,Hong po Seng, gunakanlah segenap kekuatan yang kau miliki dan cobalah menghantam loobu dengan jurus pululan itu”

Hong po Seng sudah mengerti akan kelihayan tenega lwekang yang dimiliki pihak lawan jelas pukulan tersebut tak nanti bisa melukai dirinya, maka ia segera mengempos tenaga berkelebat maju kedepan dan putar telapak mengirim satu pukulan gencar.

,,Haaaa,.,,,haaaa.....haaaa bocah keparat modar

kau!” bentak kakek Dingin sambil tertawa terbahak- babak.

Tangannya berputar kencang, dengan menggunakan pula jurus pukulan “Koeu Sioe Ci Tauw” ia sodok telapaknya ke muka.

Plooook! dengan telak pukulan tadi bersarang di atas dada si anak muda itu.

Hong po Seng berteriak keras badannya mencelat ke belakang dan meluncur sejauh lima enam tombak, di mana badannya terbaring keras-keras mencium tanah.

Si Kakek telaga dingin segera tertawa terbahak-bahak. ”Haaaa ......... haaaaah , tempo dulu ketika

Pek Loo jie termakan oleh pukulan loobu, keadaannya pun tidak jauh berbeda dengan keadaanmu sekarang!” Hong po Seng segera meloncat bangun dari atas tanah, diam-diam ia mengempos tenaga ketika dirasakan bahwa dirinya tidak terluka buru-buru ia maju ke depan dan menjura.

„Oooa! rupanya saudara masih menyembunyikan kepandaian kepadaku” serunya sambil tertawa ,,Sungguh tak nyana kalau ditenga gerakan jurus Koen Sioe Ci Tauw tersebut masih terdapat perubahan lain”

„Ebmm, sungguh tajam pandaagan mata bocah keparat ini!” diam-diam si kakek telaga dingin memuji ia segara tertawa tergelak.

,,Haaah ... haaah kau pandang Pek Loo jie sebagai

manusia macam apa?? kalau tiada perubahan mana aku sanggup mencelakai dirinya??”

Sembari bicara ia ulangi kembali juros pukulan itu dan diwariskan kepadanya.

Hong Po Seng melatih perubahan jurus tadi dengan sungguh-sungguh dan tekun, siapa tahu setiap kali si Kalsek Telaga Dingin selalu mempunyai perubahan baru.

Berhubung sepasang kakinya sudah cacad sedang tangan kanannya terikat di atas dinding maka selamanya kakek itu harus melayani serangan-serangan lawan dengan mengandalkan tangan kirinya belaka, dengan sendirinya gaya pemnukaan dari serangannya pun tak berbeda.

Tapi setelah pukulan itu tiba di tengah jalan terdapatlah pelbagai perubahan yang tak terkirakan banyaknya, jadi walaupun namanya saja hanya terdiri dari saiu jurus, dalam kenyataan gerakannya melebihi seratus buah. Perububan gerakan satu sama lain memang hanya terpaut sedikit sekali kendati begitu dalam penggunaannya ternyata memiliki keampuhan yang sukar dilukiskan, kalau tidak dengan kepandaian silat yang dimiliki Pek Siauw Thian mana bisa memaksa harus berpikir k ras dan peras otak selama lima tahun untuk memecahkan gerakan itu tanpa berbasil.

Begitulah pada hari itu ia mempelajari lima gerakan, keesokan harinya belajar tujuh buah gerakan, hingga belasan hari kemudian jurus pukulan “Koen Sioe Ci Tauw” ini akhirnya berhasil dikuasai semua.

Si Kakek Telaga Dingin merasa amat bangga, sedari pemuda itu menyelesaikan pelajarannya setiap hari mereka berdua duduk saling berhadapan sambil menggerakkan telapak kirinya saling serang menyerang dengan serunya.

Ketika untuk pertama kali diadakan pertarungan, karena Hong-po Seng belum begitu hapal dengan gerakan pukulan itu, seringkali dia barus termakan oleh bogem mentah kakek telaga dingin.

Tapi sesudah lewat tiga empat hari menanti Hong-po Seng telah hapal dengan gerakan ilmu pukulan itu, kesempatan si kakek Telaga Dingin untuk menyarangkan bogem mentahnya di tubuh pemuda itu semakin tipis, setiap kali bertarung mereka hanya bertahan dalam posisi yang seimbang, dengan sendirinya pertarunganpun berlangsung makin seru.

Suatu pagi ketika kedua orang itu melangsungkan pertarungan lagi, mendadak si kakek Telaga Dingin tertawa tergelak, telapak secara tiba tiba menerobos masuk ke dalam pertahanan lawan dan menghantatn tubun Hong-po Seng sampai mencelat sejauh beberapa tombak.

Pusing tujuh keliling pemuda itu merasakan sakit di atas kepalanya, dengan susah payah ia merangkak bangun dari atas tanah kemudian menghampiri kakek itu. Ketika menyaksikan si kakek telaga dingin masih tertawa tergelak dengan bangganya, ia segera menegur sambil tertawa pula:

,,Ooooh, rupanya kau masih menyembunyikan satu jurus serangan, selain yang diturunkan kepadaku!”

„Tidak, jurus pukulan ini adalah ciptaanku yang terakhir” sahut kakek telega Dingin sambil menarik kembali tertawanya. Hingga detik ini Pek Loo jie masih belum pernah menjumpai pukulanku ini”

,,Kalau memang begitu aku tak mau mempelajari pukulan tadi, daripada sampai ketahuan lebih dabulu oleh Pek Siauw Thian hingga ia sempat mempersiapkan diri untuk menghadapi dirimu”

,,Haaah. haaah . bocah keparat tak nyana kalau hatimu sesungguhnya jujur, baik dan menyenangkan, tapi kalau kau tidak sekalian mempelajari ilmu pukulan mi, maka tidak nanti kau akan berhasil mercabut jiwa budak sialan itu”

,,Pikirkanlah sendiri membunu Pek Koen Gie lebih penting ataukah menyelamatkan jiwamu lebih penting?? nah setelah itu tentukan pilihanmu, aku sih hanya menantikan keputusanmu yang terakhir”

Si kakek telaga dingin mendongak dan menatap wajah si anak muda itu tajam-tajam?? mendadak dengan wajah berubah jadi marah serunya: ,,Bocah cilik! loohu telah mengambil keputusan untuk mewariskan perubahan jurus yang terakhir ini kepadamu. Seandainya Pek Loo jie tidak ada maksud mencari keuntungan dengan jalan ini masih mendingan, kalau ia mau cari keuntungan dengan memikirkan gerakan pemecahan lebih dahuiu sebelum bergerak melawan loobu. Hmmm.... hmmm.... hmmm.... Pek Loo-jie Pek

Loo-jie ”

„Kenapa??” tanya Hong po Seng tercengang.

,,Kenapa? sekalipun loohu bakal mati kelaparan, paling sedikit akan kusuruh orang she Pek itu berbaring selama setahun tanpa bisa berkutik! ”

,,Aaaah, dia tentu masih mempunyai jurus ampuh yang sengaja dirahasiakan. ,,Pikir Hong-po Seng”

,,Kemudian mengatur siasat dan sengaja suruh aku membocorkan lebih dahulu gerakan terbaru tadi agar Pek Siauw Thian yang tak tahu diri terjebak ke dalam perangkapnya”

Sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, terdengar si kakek telaga Dipgin telah berkata lagi sambil tertawa panjang.

„Hmmm! andaikata aku tidak menggunakan sedikit akal dan kecerdikan, hidupku mana bisa diperpanjang sampai sepuluh tahun lamanya?? kalau kau pun tidak ingin mati konyol, lebih baik gunakanlah otakmu untuk berpikir dan berusaha."

Walaupun Hong po Seng tahu kalau tenaganya hendak dipergunakan oleh pihak lawan, dan mati hidupnya sama sekali tidak diperdulikan olehnya, namun ia tetap menjura memberi hormat serta mengucapkan terima kasih atas petunjuk yang telah diberikan kepadanya.

Hari itu si Kakek Telaga Dingin telah mewariskan jurus perubahan yang terakbir itu kepada Hong-po Sepg dan keesokan harinya mereka saling bergebrak seharian penuh.

Ketika fajar menyingsing pada hari yang ketiga, tiba- tiba si Kakek Telaga Dingin berkata :

,,Hong-po Seng, sekarang aku akan menggunakau jurus-jurus silat dari Pek Loo-jie untuk menyerang dirimu, kalau kau bertarung sampai pada posisi yang lidak tahan, pergurnakanlah perubahan gerakan yang terakhir itu.

Budak sialan anak jadah itu belum pernah menjumpai perubahan gerakanku yang terbaru, dalam keadaan begitu ia pasti akan meloncat mundur ke belakang untuk menghindar, gunakanlah kesempatan itu untuk mengatur kembali posisimu yang terdesak dan lanjutkan pertarungan”

,,Apa ?? kau bisa aenggunakan jurus-jurus serangan dari Pek Siauw Thian ?? ” tanya Hong po Seng

tercengang.

,,Heeeeh ........ heeeeh kami sudah saling

bergebrak selama sepuluh tahun lamanya, Pek Loo jie bisa hapal dengan gerakan pukulan milik loohu, kenapa loohu tidak dapat menghapalkan jurus-jurus serangan miliknya?? sekalipun gerakan itu kupelajari sesara kasar dan garis besarnya saja, namun rasanya masih cukup ampuh dan bisa digunakan setiap waktu”

Sembari berkata telapaknya didorong ke depan melancarkaa satu babatan dahsyat. Hong po Seng segera putar telapaknya menangkis dan kedua orang itupun saling bertarung lagi dengan serunya.

Kendati Si Kakek Telaga Dingin hanya memiliki sebuah lengan kiri belaka, tetapi serangannya yang sebentar ke atas sebentar ke bawah, sebentar ke kiri sebentar ke kanan cukup ampuh dan dahsyat, seringkali telapaknya mengirim babatan gencar tapi sekejap mata berubah jadi serangan totokan dengan beribu-ribu macam perubahannya, kadangkala ia menyerang tubuh bagian bawah lalu secara tiba-tiba mengirim sapuan-sapuan yang menyerupai serangan tendangan, saking cepat hebatnya desakan-desakan tadi membuat orang yang menonton jalannya pertarungan itu akan mengira ada beribu-ribu buah lengan sedang menyerang secara berbareng.

Ketika pertarungan berlangsung mencapai pada puncaknya, Hong po Seng tidak tahan dan segera mengguuakan jurus perubahan yang terakhir.

Sedikitpun tidak salah, karena gerakannya itu Si Kakek Telaga Dingin tak berani merangsek lebih lanjut dan segera tarik kembali serangannya sambil meloncat mundur ke belakang.

Jurus serangan Koen “Sioe Ci Tauw” ini merupakan gerakan yang diciptakan si Kakek Telaga Dingin kbusus untuk menghadapi serangan ilmu silat milik Pek Siauw Thian, bukan saja maju dan mundur sangat beraturan bahkan ancaman-ancamanpun semuanya ditujukan ke arah titik kelemahan pihak lawan maka walau kemanapun gerakan tersebut datang menyerang selalu berhasil dibendung dan dipunahkan tanpa bekas. Begitulah setelah mundur ke belakang si Kakek Telaga Dingin menerjang maju lagi dan pertarunganpun berlangsung kembali dengan serunya.

Puluhan jurus kemudian sekali lagi Hong po Seng menggunakan gerakan yang terakhir untuk paksa si Kakek Telaga Dingin terdesak mundur kebelakang, menanti posisinya berhasil diperbaiki ia lanjutkan pula serangan-serangan berikutnya.

Makin bertarung kedua orang itu bergerak semakin cepat, beberapa gebrakan kemudian Hong po Seng terpaksa harus mengeluarkan pula gerakan terakhir untuk menolong diri.

Tapi gerakannya kali ini ketika mencapai di tengah jalan, mendadak ia berhenti dan mundur ke belakang.

Melihat tindakan si anak muda itu si Kakek Telaga Dingin melengak dan segera menegur.

,,Eeei, bocah cilik, apa kau sudah lelah?? baiklah, istirabatlah dulu beberapa saat kemudian kita bergebrak kembali”

Hong po Seng berdiri termenung tanpa mengucapkan sepatah katapun, sesudah termangu- mangu beberapa saat lamanya mendadak ia berkata :

,,Tadi dada kirimu memperlihatkan sebuah titik kelemahan, babatan yang menggunakan gerakan berputar apakah tak bisa diubah menjadi sodokan kilat yaug dibarengi dengan gerakan majunya sang badan”

Mendengar perkataan itu air muka si Kakek Telaga Dingin berubah hebat, ia tertawa paksa dan jawabnya :

„Bocah cilik kau benar-benar amat cerdik itulah siasat yang loohu siapkan untukmu guna membinasakan Pek Koen Gie, dapatkah kau laksanakan tindakan tersebut mengikuti siasat itu ???”

Hong-po Seng tidak langsung menjawab, kembali ia termenung beberapa saat lamanya dan menggeleng.

„Tidak bisa! berada dalam posisi yang demikian, kecuali memutar telapaknya menyodok dari samping, rasanya kalau menggunakan gerakan lain maka kita tak bisa menggunakan tenaga mencapai pada apa yang kita harapkan …….”

„Aaai...! bocah cilik, kalau kau suka mengangkat loohu menjadi gurumu, maka sekali pun loohu harus matipun aku mati dengan mata meram”

Hong-po Seng tertawa hambar.

,,Cinta kasih dari loocianpwee membuat boan pwee merasa amat berterima kasih, sayang tiap manusia mempunyai cita-cita serta pendapat yang berbeda ”

„Tak usah dibicarakan lagi” tukas kakek telaga dingin seraya ulapkan targannya. ,,Ayoh kita bertarung kembali, bila mencapai pada posisi seperti tadi gunakanlah kesempatan yang baik itu untuk mengubah gerakan berputar menjadi sodokan langsung disertai dengan gerakan majunya sang badan. ”

Hong po Seng menurut dan scgera mulai menyerang lagi dan pertarunganpun berlangsung dengan serunya, ketika serangan-serangan mencapai pada posisi yang dimaksudkau si anak muda itu segera merangsek maju ke depan sambil menyodokkan tangannya ke dada lawan.

Tapi sayang gerakan itu sudah melanggar pada posisi yang diharapkan seseorang untuk memukul telak, walaupun secara dipaksakan tukulan itu mengenai ditubuh musuh tetapi tenaganya lemah dan sama sekali tak berarti.

Gerakan itu diulangi kembali sampai beberapa kali, tetapi keadaan masih tetap setali tiga uang, akhirnya dengan napas terengah-engah Hong-po Seng berkata :

,,Marilah kita saling bertukar posisi, loocian pwee boleh menggunakan gerakan itu untuk diperlihatkan dulu kepada boanpwee”

Si Kakek Telaga Dingin tertawa kering.

„Loohu sendiripun belum berhasil menguasai penuh gerakan tadi” katanya, setelah merandek sejenak ia menyambung lebih jauh. ,,Asal tenaga lweekang seseorang bisa dilatih hingga mencapai kesempurnaan, bagai scbuab longkat besi yang diasah menjadi jarum kecil ukuran gerakan itu pasti mantap hasilnya. Sedikitlah berusaha yang lebib tekun, ayoh kita ulangi kembali”

Hong-po Seng mengangguk, telapaknya diputar dan melancarkan serangan kembali, dalam sekejap mata bayangan telapak, desiran angin tajam menderu-deru memenuhi angkasa.

Begitulah percobaan dilakukan hingga tiga hari lamanya, suatu senja mendadak dari atas telaga dilemparkan seekor babi kering yang wangi dan harum baunya, baru saja si kakek telaga dingin menyambutnya ditangan tiba-tiba dari tengah udara berkumandang kembali suara desiran angin yang aneh.

Cepat cepat ia menggape ke arah Hong-po Seng untuk menyambut datangnya benda itu. Pemuda Hong-po maju selangkah ke depan ketika dilihatnya sesosok bayangan hitam meluncur datang dengan kecepatan tinggi ia segera menyambutnya dengau gerakan manis.

Ternyata benda itu bukan lain adalah seguci arak wangi tanpa sadar ia tersenyum dan berkata:

„Loociampwe, rupanya sudah tiba saatnya bagi kita untuk saling berpisah”

„Haah …… haaah, benar di dalam jagad tiada pertemuan yang tidak bubar, berangkatlah lebih dahulu bertindak dan bunuhlah budak sialan anak jadah itu, Pek Loo jie pun tak akan membiarkan loobu hidup lebib jauh, kita berjumpa lagi diperjalanan menuju ke akhirat nanti”

Hong Po Seng tertawa kecil, duduklah pemuda itu dibadapannya, membuka mulut guci dan kedua orang itu mulai menikmati harumnya arak dengan pecuh keramahan.

Pergaulan selama beberapa hari telah melenyapkan rasa permusuban di antara mereka berdua, dalam pembicaraan serta guraupun tanpa sadar bubungan mereka berdua, semakin rapat seakan-akan dua orang gahabat karib saja, seguci arak wangi ini mempunyai kadar alkohol yang sangat tinggi, Hong Po Seng sebagai seorang pemuda yang jarang minum arak, serta si Kakek Telaga Dingin yang walaupun punya kekuatan minum yang bebat, tapi setelah hampir sepuluh tahun lamanya tidak minum arak, baru saja menghabiskan separuh guci, mereka berdua delapan bagian telah dipengaruhi oleb air kata-kata.

Mendadak terdengar Hong Po Ssng berkata.

,,Loocianpwee, bebicara menurut suara isi hati yang sebetulnya, Pek Koen Gie tidak lebih hanya seorang gadis muda, kalau aku Hong Po Seng barus baradu jiwa dengan dirinya setelah dipikir-pikir rasanya terlalu tidak berharga”

,,Kau tidak membunuh dirinya maka ia akan menbunuh dirimu, peristiwa ini adalah suatu kejadian yang apa boleh buat”

Hong Po Seng menghela napas panjang.

,,Aaai...! sayang Pek Siauw Thian tidak turun ke dasar telaga kalau tidak dengan tenaga gabungan kita berdua mungkin saja masih sanggup untuk mencabut selembar jiwanya”

„Kau tak usah kecewa atau menyesal” hibur kakek telaga dingin sambil tertawa. ,,Asalkan budak sialan anak jadah itu modar, Pek Loo jie tentu akan memotong- motong jenasahmu jadi beberapa bagian dan ibumu pasti akan muncul untuk membalaskan dendam sakit hatimu. Kendati perkumpulan Sie-Kee Pang punya kuku garuda yang tersebar luas di mana-mana, rasanya Pek Loo jie tak akan berhasil meloloskan diri dari ujung telapak ibumu!”

,,Orang ini selalu sombong dan pandang rendah setiap orang” pikir si anak muda itu dalam hati. ,,Tetapi setiap kali mengungkap nama ibuku, sikapnya tentu sangat menghormat serta menunjukkan rasa malu serta menyesal yang mendalam. Aaaaai..! dia mana tahu Kalau Hoa Hujien yang tempo dulu malang-melintang dalam dunia persilatan tanpa tandingan kini ilmu silatnya telah punah sama sekali!”

Berpikir sampai di situ, iapun teringat kembali akan ”Tan-Hwie Tok Lian” Teratai Racun Empedu Api. ,Hong po Seng, apa yang sedang kau pikir kan??...” tiba-tiba terdengar si Kakek Tejaga Dingin menegur.

Hong po Seng segera tarik kembali lamunannya dan menjawab :

,,Aku sedang memikirkan siasat keji berantaimu itu. Hmm .. meminjam pisau membunuh orang, betul-betul libay cara kerjamu!”

Mendengar tuduhan itu Kakek Telaga Dingin melototkan matanya bulat-bulat.

„Apa salahnya ???”

,,Hmm, jago lihay yang dihimpun perkumpulan Sin- Kee-Pang banyak bagaikan awan di angkasa, sekalipun ibuku berhasil membinasakan Pek Siauw Thian, apakah dia orang tua sendiri dapat lolos dalam keadaan selamat tanpa cidera ???”

„Haah... haah... haah... itu sih bukan satu urusan yang terlalu parah, semua orang toh sudah mati dan loobu pun sama saja akan mengorbankan pula selembar jiwaku”

Pengaruh alkobol dalam perut Hong po Seng semakin tebal kerjanya, ia mendengus dingin,

„Hmm, kalau kau modar lalu bagaimana dengan pedang emas itu?? siapa yang bakal beruntung ??”

Si Kakek tetaga Dingin melengak, mendadak ia pejamkan matanya dan berkata lirih:

,,Bocah keparat mengakulah terus terang! kau loncat turun ke dasar telaga ini adalah atas desakan dari Pek Koen Gie ataukah mendapat tugas dari ibumu ???”

,,Huuh ??!! kau anggap kami orang-orang dari keluarga Hoa adalah manusia macam apa??” sekalipun benda mustika yang tak ternilai harganya di kolong langit tak nanti akan membuat mata kami jadi silau. Kembali si Kakek Telaga Dingin termenung beberapa saat lamanya, ketika matanya terbuka kembali pengaruh arak yang mempengaruhi benaknya telah tersapu bersih sama sekali.

,,Bocah cilik! kau benar-benar tidak tahu duduknya perkara mengenai pedang emas itu??” tegurnya.

Hong po Seng segera menggeleng ,,Menurut Pek Koen Gie, pedang emas ini mempunyai hubungan serta pengaruh yang besar atas kehidupan mereka ayah dan anak, lainnya aku sama sekali tidak tahu”

,,Cissss ! manusia tidak tahu malu!” jengek kakek itu dengan bibir mengejek, mendadak dengan wajah serius terusnya.

,,Loohu akan memberitahukan dahulu satu persoalan kepadamu, masalah mengenai pedang emas itu sejak jaman kuno hingga kini hanya merupatan satu khayalan yang kosong”

Mendengar perkataan itu Hong-po Seng tert'egun, iapun tersadar kembali dari pengaruh arak.

„Cianpwee, maafkanlah atas kebodohan boanpwee, aku tak dapat menangkap maksud yang sebenarnya dari perkataan itu”

Si Kakek Telaga Dingin tertawa getir.

,,Berbicara yang gampangnya saja, antara sebelas dua betas tahun berselang dalam dunia persilatan secara

tiba-tiba muncul seseorang, usianya tidak begitu besar dan berdandan sebagai seorang sastrawan, ia mergaku bernama “It Kiam Kay-Tionggoan” atau Pedang Sakti Menyapu Tionggoan Siang Tang Lay…….” ,,Huuh! julukan itu terlalu latah dan jumawa, rupanya nama orang itu hanya samaran belaka” timbrung Hong- po Seng dari samping.

Kakek Telaga Dingin mengangguk.

Kemungkinan besar orang itu berasal dari wilayah See-Ih, yang dimaksudkan pedang sakti adalah sebilah pedang pendek berwarna emas yang panjangnya hanya mencapai lima coen, begitu muncul dalam dunia persilatan maka ia segera mencari satroni dengan tiga orang kakek-kakek peyot dari It-kang, It-Hoei serta It- Kauw ”

,,It Pang, It Hoei, It Kauw???” gumam Hong po Seog dengan nada tercengang.

„Kenapa??? masa terhadap pekumpulan Sin Kee-Pang, Hong Im Hoei serta Thong-Thian-Kauw pun kau tidak tahu?? kalau cuma soal ini saja tak mengerti apa gunanya kau berkelana dalam dunia persilatan???”

Hong po Seog terseryum.

,,Baiklah. boanpwee tak akan menimbrung lagi, silahkan loocianpwee lanjutkan keteranganmu”

Kakek Telaga Dingin meneguk dahulu setegukan arak kemudian melanjutkan kata-katanya:

,,Ilmu silat yang dimiliki Siang Tang Lay betul-betul hebat dan mengejutkan hati, pedang kecilnya yang sepanjang lima coen itu ketika dipergunakan seolah-olah pedang yang mencapai tiga depa. Pertama-tama dari pihak perkumpulan Sin Kee Panglah yang turun tangan lebih dahulu, Pek Loo jie telah bertarung selama hampir setengah harian lamanya dengan dia, akhimya ia tidak tahan dan keok. Jien Loo jie dari perkumpulaa Hong Im Hoei serta siluman tua dari perkumpulan agama Thong Thian Kauw yang mendapat kabar ini buru-buru melakukan perjalanan jauh dan menghindarkan diri dari perjumpaan dengan orang tadi."

"Ooooh, rupanya kedua orang itu mergerti akan kekuatan sendiri!” sela Hong po Seng tertawa.

Kakek Telaga Dingin pura-pura lidak mendengar ia melanjutkan:

,,Karena maksud hatinya tidak terpenuhi akhirnya Siang Tang Lay berdiam di kota Cho Chiu di situ ia siarkan berita yang mengatakan hendak menemui seluruh kaum enghiong hoohan dari daratan Tionggoan, kebetulan Lie Boe Liang serta loohu pun berada di situ, dalam pertarungan yang berlangsung selanjutnya kami berdua sama-sama dipukul roboh oleh dia dan mundur dengan menderita kekalahan”

,,Yang kau maksudkan sebagai Lie Boe Liang tentulah Boe Liang Sin Koen itu bukan??” kembali pemuda itu menimbrung.

,,Sedikitpun tidak salah, memang Boe Lie Liang loo jie” ia mendongak memandang keangkasa, seakan-akan sedang mengenang kembali kejadian di masa lampau beberapa saat kemudian terusnya:

,,Setelah apa yang dicita-citakan terkabulkan, Siang Tang Lay segera menantang ayahmu untuk berduel, lewat beberapa bulan kemudian ayah dan ibumu betul- betul berangkat menuju ke kota Cho Chiu tapi sayang kedatangan mereka agak terlambat, kabar berita Siang Tang Lay bagaikan batu yang tenggelam di tengah samudra, bayangan tububnya sudah lenyap tak berbekas ” „Apakah dia sudah pulang ke wilayah See Ih”

,,Hmmm! pulang ke wilayah See Ih?? kita beberapa orang kerabat tua telah merencanakan satu siasat bagus dan berhasil membekuk si jago latah dari ruas perbatasan ini”

Hong Po Seng mengerutkan dahinya mendengar perkataan itu.

„Menang atau kalah adalah suatu kejadian yang umum, kalau ilmu silat yang dimiliki tak bisa menangkar orang semestinya pulang ke gunung dan berlatih dengan lebih tekun, menggunakan siasat busuk mencelakai orang, apakah kalian tidak takut ditertawakan orang??”

,,Hmmn! pendapat bocah cilik, tujuan kami menangkap si manusia latah itu bukan lain adalah bermaksud menyelidiki sumber dari ilmu silat yang dimilikinya, siapa tahu walaupun diancam maut ia tetap tak mau mengaku, terpaksa kami gunakan alat penyiksaan yang hebat untuk memaksa dia mengaku, dikala manusia latah itu mulai tak tahan dan siap mengaku itulah mendadak ayah dan ibumu datang."

“Peristiwa itu luar biasa sekali, kenapa kalian membiarkan ayah ibuku berhasil menemukan tempat tersebut??” tanya Hong po Seng tercengang.

,,Kenapa kalau berhasil ditemukan ayah ibumu??? dengan adanya kamil lima orang kerabat tua yang berkumpul menjadi satu sekalipun raja akhirat datang sendiripun hanya bisa berdiri dengan mata terbelalak”

Ia merandek sejenak untuk tukar napas, lalu tambahnya:

,,Persoalan ini justru hancur di tangan seorang perajurit tak bernama dari dunia persilatan, bangsat itu bernama Chin Pek Cuan, dialah yang pertama-tama mengetahui akan persoalan ini, kecuali memberitahukan kepada ayah ibumu, diapun menyampaikan persoalan ini kepada dua orang toosu bidung kerbau yang mendapat kabar dan sedang berada di kota Chi Chin itu hingga mereka itu datang, persoalan itu masih terhitung masalah kecil”

Berbicara pampai di sini mendadak ia membungkam dan menuding ke atas angkasa.

Heng po Seng segera mendongkak ke atas, kecuali cahaya bintang ia tidak menemukan suatu di mulut telaga tersebut”, maka tanyanya lirih:

„Apakah Pek Siauw Thian??”

Sikakek Telaga Dingin sendiri banya mendengar sedikit suara lirih belaka, ia tak bisa meyakinkan suara apakah itu. Matanya lantas di dongakkan ke atas dan menatapnya tanpa berkedip, kemudian tertawa terbabak- bahak dan berkata:

,,Bocah keparat, bagus amat arak ini, ayoh minumlah!”

,,Baik, boanpwee akan minum dan silahkan loocianpwee melanjutkan ceritatmu!”

Kakek Telaga Dingin mendehem ringan lalu melanjutkan:

,,Kalau dibicarakan panjang sekali ceritanya, pokoknya terakhir Siang Tang Lay berhasil diselamatkan oleh Hoa Goan Sioe, sedangkan loohu mendapatkan pedang emas milik bangsat she Siang itu, siapa sangka sebelum meninggalkan tempat itu bangsat she Siang tadi, telah meninggalkan sepatah kata, justru karena perkataannya itulah loohu jadi mengenaskan sekali keadaannya” ,,Siang Tang Lay hendak merampas kembali pedang emas itu, sudah tentu ia tak mau melepaskan loocianpwee dengan begitu saja” sambung Hong Po Seng cepat.

,,Huuh! kau anggap kami beberapa orang kerabat tua manusia macan apa?? selamanya pekerjaan yang kami kerjakan selalu dilakukan dengan sempurna dan tak sudi meninggalkan bibit bencana bagi diri sendiri dikemudian hari, walaupun Slang Tang Lay berhasil ditolong oleh ayahmu tapi keadaannya tidak jauh berbeda bagaikan sesosok mayat, ia tak bakal bisa hidup lebih jauh.

,,Aaah! sebetulnya apa yang telah dia ucapkan? dan sampai dimanakah mengenaskannya keadaan loocianpwee?”

,,Bangsat itu berkata, barang siapa yang berbasil mendapatkan pedang emasnya, dialah yang bakal punya harapan untuk memperoleh kepandaian silat yang dimiliki itu, kunci yang paling pokok untuk mendapatkan ilmu silat maha sakti itu dapat dilihat di atas pedang tersebut. Coba bayangkanlah setelah mendengar perkataan itu, beberapa orang kerabat tua yang sama-sama bukan manusia baik apakah rela membiarkan pedang emas itu berada di tangan loohu? dan loobu sendiri apakah dapat hidup dalam hari-hari yang tenang serta damai??”

Hong Po Seng tertawa hambar.

,,Asalkan loocianpwee serahkan pedang emas itu kepada mereka, bukankah persoalan jadi beres dan kau bisa bidup dalam kedamaian serta ketenangan ???” serunya. ,,Kentut busuk!” teriak Kakek Telaga Dingin dengan mata melotot besar besar, ,,Bini sih masih dapat dipakai bersama, kalau ilmu silat dimiliki bersama lalu apa gunanya memiliki kepandaian silat tersebut ??”

,,Bukankah ilmu silat yang dimiliki Siang Tang Lay cukup libay ??? sekalipun ia berhasil melatih ilmunya mencapai taraf demikian hebat, tapi apa hasilnya?? toh akhirnya dia sendiripun mendapat akibat yang tidak menguntungkan???”

„Tidak cocok ! tidak cocok !” tukas Kakek Telaga Dingin dengan cepat. „Orang she-Siang itu masih muda, tidak berpengalaman dan otaknya kurang cerdas, andaikata loohu yang memiliki ilmu silat selihay dia, dalam pertempuran besar Pak- Beng-Hwie tidak nanti kakiku bakal kutung jadi begini, dan sekarang akupun tak akan menderita siksaan seperti ini”

Hong po Seng mengangguk.

,,Loocianpwee sendiri bukankah berhasil memperoleh pedang emas itu??? Kenapa ilmu silat yang kau miliki masih tetap seperti sedia kala??”

,,Ketika loohu merasa keadaanku berada dalam mara bahaya, saat itu juga timbul pikiran dalam benakku untuk ngeloyor pergi sambil membawa pedang emas tadi.

Hmmm! Pek loo-jie paling tidak tahu malu, dialah yang pertama-tama bentrok dengan aku serta turun tangan merampas pedang tersebut, diikuti Lie Boe Liang pun ikut ribut, siluman tua dari Thong Shian Kauw ikut menimbrung dari samping membuat suasana berubah semakin panas.

Loohu jadi pusat sasaran, semua orang, rupanya kalau aku tidak serahkan pedang emas itu bakal dikerubut orang banyak. Di saat yang kritis itulah Jien loo jie dan perkumpulan Hong Im Hwie berkata ”

„Apa yang dia katakan???”

Dengan hati benci kakek telaga dingin mendengus.

,,Jien loo-jie bilang, kalian senua menggelikan sekali, orang she-Siang itu adalah manusia licik, seaudainya kalian betul-betul saling bergebrak karena persoalan ini, sekalipun manusia she Jien itu mati karena lukanya, diapun akan tertawa terbahak-hahak di dalam baka! mendengar ucapan itu loo-hu buru-buru menyambung: betul! sekali pun pedang kecil ini adalah sebilah pedang mustika, tapi mana mungkin ada sangkut pautnya dengan ilmu silat?? sudah terang ini lah siasat licik yang sengaja diatur oleh bangsat she Siang itu untuk memancing pertikaian serta perpecaban diantara kita, agar kita saling bunuh-membunuh semuanya, Jien loo jie pun segera menyambung kembali: bagaimanapun juga kita toh sahabat-sahabat yang sudah berhubungan selama banyak tahun, janganlah kita saling bertengkar hingga membiarkan Hoa Goan Sioe merasa senang dan bangga. Melihat ada orang yang membantu loohu berbicara dalam hati aku lantas berpikir: kalau tidak pergi sekarang mau tunggu sampai kapan lagi ?? maka aku segera berpamitan dengan semua orang dan segera ngeloyor pergi”

Diam-diam Hong po Seng merasa geli mendengar cerita itu, jengeknya:

,,Waaaah, rupanya manusia sbe Jien dan perkumpulan Hong Im Hwie itu punya hubungan yang tidak jelek dengan loocianpwee ???” ,,Hmmm! justru bajingan tua itulah merupakan manusia berhati serigala ….!” teriak kakek telaga dingin sambil menggertak gigi menahan rasa benci yang meluap-luap. ,,Belum sampai satu bulan ia telah memimpin jago-jago lihay anak buahnya untuk mengurung loohu serta memaki loohu untuk menyerahkan pedang emas itu kepadanya”

Hong po Seng gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.

,,Aaaai. merampas benda milik orang dengan akal

yang licik, betul-betul suatu perbuatan yang memalukan” Ia berpikir sejenak lalu tertawa”

,,Setelah loocianpwee kehilangan pedang emas itu, Pek Siauw Thian bukannya pergi mencari manusia she Jien itu untuk merampas pedang tersebut sebaliknya malah mengurung loocianpwee, apa pula sebabnya???".

„Huuuh! tak nyana otakmu terlalu sederhana sekali.

Coba pikirlah sendiri. Seandainya loohu mengatakan bahwa pedang emas itu sudah dirampas oleh Jien loo-jie sedang Jien Lo-jie tidak mau mengaku, menurut pendapatmu Pek Loo-jie bakal mempercayai perkataannya atau percaya kepadaku. ???”

,,Bukankah manusia she Jien itu adalah seorang pemimpim dari suatu perkumpulan besar, perbuatan yang sudab dilakukan sendiri apakah tidak berani untuk diaku???”

8

,,HMMM! kau mengerti apa??” seru Kakek Telaga Dingin. „Dalam pertemuan besar Pak-Beng-Hwie, dibadapan para eng-hiong hoohan dari seluruh kolong langit loohu telah menuntut kembali pedang emas itu dari tangan jien Loo-jie, tapi sampai matipun Jien Loo-jie tetap ngotot tidak mau mengaku, ditinjau dari tersohornya pedang itu dalam dunia persilatan, ditambah pula ilmu silat yang loobu miliki tidak berada di bawab kepandaian bajingan tua itu, kalau kukatakan pedang itu berhasil dirampas olehnya semua orang bukan saja tidak percaya malahan mengira loobu sengaja mengatur siatat itu guna mengacaukan serta membingungkan hati para jago di kolong langit”

,,Kalan didengar dari pembicaraan itu” kata Hong-po Seng kemudian dengan alis berkerut ,,Walaupun loocianpwee ada maksud menyerahkan pedang emas itupun tak ada benda yang sanggup diserahkan, terkurung di tempat seperti ini bukankah berarti tiada harapan untuk munculkan dia lagi dalam dunia kang-ouw

???”

„Mau apa munculkan diri ???” jengek kakek itu ketus.

,,Justru loohu akan suruh Pek Siauw Thian menanti dengan sia-sia. Haah... baab... haah... entah bajingan tua she Jien itu telah berbasil memecahkan rahasia dari pedang emas itu atau belum, dan entah a pula dengan latihan ilmu silatnya ???”

Berbicara sampai di situ mendadak ia mendongak dan memandang ke sana ke mari dengan pandangan tajam, tampaklah dinding di sekeliling tempat itu gelap gulita, tiada benda yang terlihat dan meski di angkasa ada cahaya bintang namun cahaya itu hanya sebagian yang berhasil menembusi dasar telaga itu.

Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, mendadak Kakek Telaga Dingin mendongak dan berkata: ,,Bocah kepara!, loohu telah mewariskan ilmu pukulan itu kepadamu, seandainya kau berhasil melarikan diri dari sini maka kau harus lakukan satu pekerjaan buat loobu”

,,Perintah apa yang hendak loocianpwee berikan kepadaku ???".

,,Kau harus berusaha mencuri pedang emas itu dan menyusup kembali kemari, dengan adanya pedang kecil itu loobu dapat memutuskan tali liur naga yang membelengeu lengan loohbu, dengan sendirinya loobu pun punya harapan untuk melarikan diri”

Ucapan ini disampaikan dengan nada dingin bagaikan es.

,,Boanpwee pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga, tapi aku tak berani berjanji seratus persen pasti berhasil”

„Tentu saja. Markas besar perkumpular Sin-Kee-Pang adalah telaga naga, markas besar perkumpun Jan Hong Im Hwie adalah gua harimau, tempat-tempat semacam itu bukanlah daerah yang bisa dimasuki dan ditinggalkan dengan leluasa”

Ia termenung sebentar, kemudian katanya lagi :

„Jien Loo-jie si bangsat tua itu mempunyai seorang putra, kalau kau berbasil membinasakan keparat cilik itu, berarti pula hutang- piutang di antara kita sudah impas, siapapan tidak berhutang budi kepada pihak yang lain”

„Hiiih. orang in betul-betul berhati kejam!” batin

Hong Po Seng, ia mendongak memandang sekejap tangan kanannya yang dibelenggu di atas dinding lalu berkata: ,,Apakah tali serat liur naga ini hanya bisa dipatahkan dengan pedang emas itu saja??.

Kakek Telaga Dingin mengangguk.

„Benar, hati Pek loo jie memang amat kejam bagaikan kala, bilamana liur naga itu mengering maka golok mustika atau pedang mustika biasa tak akan berbasil mematahkannya, tetapi ketajaman dari pedang kecil berwarna emas itu melampaui ketajaman dari pedang- pedang emas lain, apabila loohu ingin meloloskan diri maka aku harus menggunakan pedang emas itu untuk mematahkan serat liur naga ini. Dan di sinilah letak kekejian dari siasat Pek Loo jie”

Diam-diam Hong Po Seng menghela napas panjang, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya dan segera ujarnya:

,,Loocianpwee, menurut ucapanmu tadi persoalan mengenai pedang emas itu sejak dahulu kala hanya suatu cerita kosong belaka, apa maksudmu yang sebetuluya??”

Kakek telaga dingin memutar biji matanya melirik sekejap ke atas telaga, kemudian jawab:

,,Kapan loohu sudah mengatakan demikian? Hmmm! pedang emas itu sudah berada di tangan loohu selama sebulan lamanya tapi loohu tidak berhasil memecahkan rahasia ilmu silat seperti apa yang dimaksudkan, kalau bukan cerita kosong lalu apa artinya ???”

Berbicara sampai di situ ia lantas pejamkan matanya dan duduk bersila mengatur pernapasan, kakek itu tidak berbicara apa-apa lagi.

Hong po Seng sendiri setelah melangsungkan pertarungan seharian penuh juga mulai merasa lelah, maka diapun mengundurkan diri ke samping untuk mengatur pernapasan, tanpa sadar akhirnya ia tertidur lelap.

Bintang bergeser dari angkasa, tanpa terasa semalampun sudah lewat, mendadak terdengar si Kakek Telaga Dingin tertawa terbahak-bahak sambil berseru :

“Hong po Seng, saatmu untuk munculkan diri telah tiba”

Hong po Seng segera membuka matanya, di bawah sorot cahaya matahari pagi tampaklah seutas tali diturunkan dari atas telaga, darah panas dalam rongga dadanya kontan bergolak, buru-buru ia meloncat bangun.

„Kini aku akan melihat dirimu!” seru kekek telaga dingin sambil menuding tali tersebut.

Sesudah bergaul beberapa saat lamanya, sedikit banyak Hong Po Seng telah dapat menilai perubahan wajah kakek itu, mendengar di antara ucapannya terkandung rasa sedih tanpa terasa ia tertawa getir, ia maju ke depan lalu menjura.

,,Dengan ini boanpwee mohon diri terlebih dahulu...”, ucapan selanjutnya tak sanggup ia teruskan.

Dengan wajah penuh nada mengejek Kakek Telaga Dingin mencibirkan bibirnya dan nyahut:

,,Kau tak usah banyak adat, kita masing-masing pihak saling mempergunakan”. Tangan kirinya mendadak menyambar ke depan mencabut ke luar pedang baja milik si anak muda itu, kemudian sekali ayun pedang tadi menancap di atas tanah hingga tinggal gagangnya belaka.

,,Loocianpwee, apa yang kau lakukan?” tegur Hong Po Seng dengan wajah tercengang. „Haah...haah. memandang benda bagaikan

memandang orang, baiklah loohu ambil pedang baja itu sebagai tanda mata”

,,Tapi. pedang itu adalah senjata boanpwee untuk

menjaga diri..”

„Tidak usah pakai senjata” tukas kakek telaga dingin seraya ulapkan tanannya. ,,Satu jurus ilmu pukulan yang telah loohu wariskan kepadamu jauh lebih ampuh daripada pedang bajamu itu”

Hong-po Seng semakin gelisah, kembali serunya:

Pedang baja itu adalah hadiah dari ayahku almarhum kepada boanpwee, ketika menyerahkan pedang tersebut kepada boanpwee beliau telah berpesan: pedang utuh manusia tetap hidup, pedang hancur manusia ikut binasa.... cianpwee ”

Kakek Telaga Dingin tertawa semakin keras lama sekali ia baru tarik kembali gelak tertawanya seraya berkata:

„Kalau memang demikian malah lebih bagus lagi, berusahalah mencuri pedang emas milik loohu kalau kau telah serahkan kembali pedang tadi kepadaku maka loohu pun akan mengembalikan senjata ini kepadamu di samping memberi pula kebaikan-kebaikan lain kepadamu”

Mendengar perkataan ini Hoag-po Seng jadi naik pitam, teriaknya:

,,Kiranya apa yang kemarin kau ucapkan adalah kejadian yang sabenarnya ”

,,Yang benar lebih banyak dari pada yang bohong” tukas kakek telaga dingin. “Loohu pun tidak berani memastikan apakah Pek Loo jie telah datang kemari atau tidak, pergilah adu untung, kalau kau benar-benar bakal modar, membawa serta pedang baja ini pun tiada gunanya”

Hong-po Seng merasa amat gusar tapi dia sadar bicara banyakpun tak ada gunanya karena itu dengan perasaan apa boleh buat ia menjejakan kakinya loncat ke atas, mencekal tali tadi dan memanjat keluar.

Hampir satu bulan lamanya ia terkurung di dasar telaga, kerjanya tiap hari hanya berlatih ilmu silat dengan tekun hal ini membuat luka dalamnya bukan saja telah sembuh, ilmu silatnyapun sudah memperoleh kemajuan yang sangat pesat, saat ini memanjat naik ke atas cepat dan gesit bagaikan monyet, dalam sekejap mata ia sudah keluar dari telaga itu.

Sepasang matanya segera berputar cepat menyapu sekejap sekeliling tempat itu tampaklah seoiang kakek berjubah warna ungu berdiri kaku di sisi telaga sambil mencekal ujung tali.

Kakek itu memelihara jenggot yang panjang, wajahnya tampan tapi dingin dan hambar, sama sekali tidak menunjukkan sikap mesra, membuat orang yang memandang segera merasa bergidik dan tidak berani mendekat.

Sekali memandang orang itu, Hong-po Seng segera menduga kakek itu sebagai Pek Siauw Thian, pangcu dari perkumpulan Sin-Kee Pang, bibirnya bergerak mau mengucapkan sesuatu, tapi setelah menyaksikan sikapnya yang dingin dan hambar ia segera batalkan kembali maksudnya untuk berbicara, karena dia takut bicarapun tak ada gunanya sebab orang itu belum tentu mau memperdulikan dirinya.

Kakek berjubah warna ungu itupun hanya memandang sekejap ke arah Hong-po Seng, ke mudian menyimpan kembali tali yang dipegang dan putar badan berlalu.

Si anak muda itu tertegun, tapi dengan cepat ia menyusul dari belakang.

Dengan mulut membungkam kedua orang itu berjalan melampaui batas wilayah yang dipagar dengan panji berwarna kuning lalu putar ke samping masuk ke dalam sebuah jalan kecil. Di situ ia jumpai Pek Koen Gie diiringi seorang siucay berusia pertengahan yang bermata tajam bagaikan panah serta Siuw Leng dan seorang bocah lelaki berbaju hijau berdiri di sisi jalan.

Beberapa orang itu berdiri tenang di samping jalan dengan wajah serius, menanti kakek berjubah ungu serta Hong-po Seng sudah lewat mereka baru menyusul dari belakang.

Sekarang si anak muda itu sudah merasa makin yakin bahwasanya kakek berbaju ungu ini bukan lain adalah ketua dari perkumpulan Sin-Kee Pang yang sangat berkuasa dewasa itu, tanpa terasa semangatnya berkobar. Dengan kepala diangkat dan dada dibusungkaa ia meneruskan langkabnya ke depan, selama hidup belum pernah ia merasa segagah hari ini.

Beberapa saat kemudian mereka sudah memasuki hutan pobon Song yang lebat, setelah melewati sebuah selokan kecil sampailah beberapa orang itu di depan sebuah ruangan kecil yang mungil dan indah. Setelah masuk ke dalam ruangan, kakek berjubah ungu itu mengambil tempat duduk di sebuah kursi yang ada di tengah ruangan sedang siucay berusia pertengahan serta Pek Koen Gie duduk dikedua belah sampingnya.

Hong-po Seng yang berdiri di tengah ruangan diam- diam berpikir dalam hati kecilnya:

„Tiga orang iblis libay masing-masing du¬duk dikursi utama sedang aku disuruh beidiri di tengah ruangan persis seperti tawanan yang sedang diadili. Hmm! seandainya ibu tidak selalu berpesan kepadaku agar jangan bertindak menuruti emosi dan darah panas, ingin sekali kumaki mereka habis-habisan kemudi-an mempertaruhkan selembar jiwaku untuk beradu jiwa dengan mereka!”

,,Hong Po Seng!” mendadak terdengar kakek berjubah ungu itu menegur dengan suara ketus, ,,Kau pingin mati atau pingin hjdup?”

Hong Po Seng tertegun, diam-diam pikirnya lagi:

,,Ucapan dan orang ini kaku dan aneh, membuat orang susah untuk menangkap maksud yang sebenarnya”

Dalam hati ia berpikir begitu, diluar dengan tenang jawabnya:

,,Seandainya cayhe pingin mati, sedari dulu-dulu sudah mati diujung telapak putrimu”

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat kakek berjubah ungu itu menyapu sekejap wajah Hong Po Seng dari atas hingga ke bawah kemudian mendengus dingin: „Hmm, terus terang kuberitabukan kepadamu, putriku serta Kok See Piauw sama sekali tidak memandang sebelah matapun kepada dirimu”

Ia merandek sejenak dan kembali memperhatikan sekejap wajah Hong po Seng kemudian melanjutkan

,,Mereka hanya mengerti tentang keadaan sendiri dan kurang pengetahuan untuk menilai orang lain, hal ini tak bisa salahkan mereka”

Hong po Seng alihkan sinar matanya ke samping, dia lihat wajah Pek Keen Gie telah berubah jadi merah padam dan tertunduk dengan rasa amat jengah, segera pikirannya:

,,Pek Siaow Thian kalau berbicara terlalu belak- belakan dan sama sekali tidak pikirkan orang lain, ditinjau dari hal ini bisa diduga bagaimana tak berbudinya orang ini dalam setiap tindakan segera wataknya …….”

Berpikir begitu ia lantas menjura dari berkata dengan nada hambar:

,,Terima kasih atas cinta kasih dari Loo pang cu, manusia hidup memang demikian keadaannya tidak terkecuali dan cayhe sendiri”

Kakek berjubah ungu itu tertawa hambar senyuman dalam sekejap telah lenyap kembali tanpa berbekas terdengar ia berkata lambat-lambat:

,,Hanya anak yang berbakti yang dapat menjadi pembantu setia, dalam kolong langit anak yang betul- betul berbakti tidak banyak jumlahnya, apalagi pembantu yang benar-benar setia lebib sedikit jumlahnya. Aku dengar kau adalah seorang anak yang berbakti, dikala keselamatan jiwa sendiri terancam bahaya masih dapat memahami maksud hati ayah dan ibumu, kaiena itu aku punya maksud untuk menarik dirimu sebagai pembantu dan bantu diriku. Tapi sebelum itu aku ingin kau suka berbicara yang sejujurnya lebih dabulu, apakah kau benar-benar suka masuk menjadi anggota perkumpulanku serta berbakti dan setia kepadaku??”

,,Sedari dulu caybe sudah masuk menjadi anggota perkumpulan Sin-Kee-Pang...!” jawab Hong po Seng.

Namun kakek berjubah ungu itu segera gelengkan kepalanya.

„Putriku bertindak menuruti emosi dan jalan pikirannya sendiri, hal itu tidak terhitung sungguh-sungguh”

Ia merandek sejeuak dan kembali menatap wajah Hong po Seng tajam-tajam, katanya lebib jauh:

„Akupun tidak ingin membohongi dirimu kalau kau tidak mau berbakti kepadaku dengan sungguh hati, untuk menghindari bibit bencana di kemudian hari terpaksa aku tak akan membiarkan kau hidup lebih lanjut”

„Apa yang harus kalakukan sehingga bisa terhitung benar-benar setia dan berbakti?? serta bagaimana pula aku harus lakukan sehingga bisa mendapat kepercayaan dari loo pangcu ???”

,,Gampang sekali, ceritakanlah asal-usulmu yang sebenarnya dan bawalah batok kepala Chin Pek Cuan untukku, maka aku segera akan mempercayai dirimu !”

Mendengar perkataan ini air muka Hong-po Seng segera berubah jadi amat sedih, katanya :

,,Cayhe mengerti loo pangcu tidak akan membiarkan cayhe hidup lebih lanjut” ia menjura kepada kakek itu dan menambabkan dengan wajah serius. ,,Semoga loo pangcu suka memberikan sebuah pukulan berat kepada cayhe, daripada cayhe harus terjun ke air membawa lumpur serta tak dapat mempertanggungjawabkan diri dihadapan leluburku”

,,Hong-po Seag” tiba-tiba Pek Koen Gie membentak dengan gusar. „Siapakah sebenarnya ayah ibumu??? sampai di manakah kehebatan mereka, sehingga kau pandang setinggi langit ?? kalau kau rela mengaku terus terang asal usulmu, mungkin jiwamu bisa diselamatkan dari kematian”

Hong-po Seng alihkan sinar matanya ke arah gadis itu, lalu menjura dan menjawab:

,,Nona tak usah banyak bertanya, cayhe bukanlah manusia pengecut yang takut menghadapi kematian, bisa mati dalam markas besar perkumpulan Sin-Kee-Pong juga terhitung-hitung sebagai balas budi atas pertolongan nona dalam menyembuhkan lukaku”

,,Kurang ajar” Pek Koen Gie semakin gusar. ,,Untuk menyembuhkan lukamu itu aku harus membuang dua butir pil mujarab, kalau kau bikin mendongkol hatiku....

Hmm ! tidak nanti kubiarkan kau mendapat kematian dengan enteng ”

„Banyak bicara tiada gunanya” tukas kakek berjubah ungu itu secara tiba-tiba sambil mengulapkan tangannya berpaling ke arah Hong-po Seng ia menambahkan:

„Memandang kematian bagaikan pulang ke rumah adalah suatu perbuatan yang terhina dalam pandangan loohu, terang-terangan kau takut mati tapi tidak ingin hidup terhina itu baru perbuatan yang patut loohu hargai serta kagumi, ambillah keputusan untuk membereskan diri sendiri daripada loohu harus repot-repot turun tangan sendiri”

Hawa amarah yang berkobaran dalam dada Pek Keen Gie benar-benar telah mencapai pada puncaknya, dengan cepat is meloncat bangun sambil berteriak:

,,Bajingan cilik yang tak tahu diri, kau anggap ayahku adalah menusia apa? untuk mencabut jiwa anjingmu, tidak perlu dia orang tua harus turun tangan sendiri”

Melihat gadis itu tambil ke depan Hong Po Seng malah jadi senang karena dia memang berharap begitu, segera katanya dengan nada hambar:

,,Dari si kakek telaga dingin cayhe telab meminjam sebuah jurus ilmu pukulan, kalau nona punya kegembiraan tiada halangannya untuk mewakili ayahmu turun tangan”

,,Gie jie ayoh duduk” kakek berjubah ungu itu berseru. "Dalam bilik kecil pendengar salju ini tidak akan memperkenankan kalian utuk turun tangan”

Bicara sampai di situ ia berpaling ke arah siucay berusia pertengahan yang duduk di sisinya dan ia menambabkan:

„Koen su, aku minta tolong kepadamu untuk sekali tabok mencabut nyawa Hong Po Seng” Siucay berusia pertengahan itu tersenyum ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati si anak muda itu, langkahnya tenang dan mantap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun, dalam anggapnya dalam sekali tabok Hoa po Seng pasti akan menemui ajalnya.

Menyaksikan siucay berusia pertengahan itu berjalan mendekati ke arahnya, jago kita segera ayunkan telapak kirinya melakukan peristiwa untuk menghadapi serangan lawan.

Sebelum pertarungan berlangsung, mendadak terdengar Pek Koen Gie bertenak :

,,Ayah orang yang Gie jie bawa pulang harus kubunuh dengan tanganku sendiri !”

Mendengar ucapan itu Pek Siauw Thian mengerutkan alisnya, sedangkan siucay berusia pertengahan yang dicebut Koen su atau penasehat itu mendadak berpaling dan tersenyum, katanya:

,,Sebelah selatan dari sungai Hoang ho merupakan daerah kekuasaan dari perkumpulan Sin Kee Pang, setelab Koen Gie berhasil melatih serangkaian ilmu silat, tiada kesempatan untuk mengujukkan kekuatan, rasanya sebagai seorang remaja yang ingin mencari menang pasti merasa tidak puas. Pangcu! apa salahnya kalau kau ijinkan Koen Gie untuk bertindak menuruti suara batinya sehingga ia jadi tidak kecewa ataupun merasa menyesal”

Pek Siauw Thian termenung sebentar akhirnya ia bangkit dan berjalan keluar.

Air muka Pek Koen Gie segera berubah jadi girang, bisiknya kepada siucay berusia pertengahan itu:

,,Bantuan dari paman Coe-kat, tit-li merasa amat berterima kasih sekali!”

Siucay berusia pertengahan itu tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berjalan keluar dari ruangan.