Bara Maharani Jilid 02: Jadi tawanan Sin Kee Pang

 
Jilid 02: Jadi tawanan Sin Kee Pang

“Ayah, apa yang perlu kau sayangkan?" tanya Chin Wan Hong sambil menyeka keringat yang membasahi wajahnya.

„Sayang bajingan cilik itu tidak berhasil kita bakar sampai mampus jadi arang !"

.,Oooh . . , aku kira ayah sedang menyayangkan gedung rumah kita", gadis itu merandek sejenak, lalu terusnya. „Entah dirumah nenek apakah akan terjadi pula sesuatu atau tidak ?"

„Aku rasa tidak mungkin. Hemmm . . . ilmu silat yang dimiliki bajingan cilik ini amat lihay, aku rasa kepandaian dari bajingan tua itu jauh akan lebih Iihay dari pada sepuluh tahun berselang !"

Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, permukaan lorong sempit itu makin lama semakin meninggi dan tiba2 sampailah pada ujungnya. Hong-po Seng segera mendongak memandang keatas, tampaklah diatas kepala terdapat sebuah jendela dan disekitar jendela itu penuh dengan debu dan sarang laba2, jelas sudah banyak tahun tak pernah dibukanya barang sekalipun.

Chin Pek Cuan tancapkan obornya keatas tanah lebih dahulu kemudian pasang telinga memperhatikan keadaan disekelilingnya beberapa saat setelah itu baru membuka santekan jendela dan mendorong jendela tadi kebawah hingga terbuka lebar, diatas jendela masih terdapat sebuah papan batu yang besar dan berat kembali ia geserkan batu tadi kesamping, selapis cahaya merah seketika memancar masuk kedalam lorong.

Setelah mematikan obor, pertama2 Chin Pek Cuan yang loncat keluar lebih dahulu dari bawah lorong diikuti Hong-po Seng dari belakangnya, mendadak pemuda itu merasakan bahu kirinya teramat sakit, kepalanya secara tiba2 jadi berat dan pusing tujuh keliling, matanya berkunang2, dan hampir saja ia roboh terjengkang keatas tanah.

Chin Giok Liong serta Chin Wan Hong yang melihat keadaan sianak muda itu buru2 maju memayang, sementara Chin Pek Cuan segera berpaling dan menegur dengan nada kuatir:

„Loo te bagaimana keadaan lukamu??".

Setelah bahu kirinya terhajar oleh sebuah pukulan Kok See Piauw hingga jatuh terjengkang kebelakang, Hong Po Seng tanpa beristirahat kerahkan segera tangannya untuk melemparkan tubuh Chin Giok Liong keatas atap rumah, waktu itu api sedang berkobar dengan ganasnya, dalam keadaan seperti itu Chin Pek Cuan sudah lupa untuk memeriksa keadaan pemuda tersebut rada payah, mereka bertiga baru merasa kuatir dan hatinya tidak tenteram.

Dengan cepat Hong Po Seng menenangkan hatinya lalu menarik napas panjang2 dan salurkan hawa murninya keseluruh tubuh, menanti rasa sakit ia derita sudah banyak berkurang barulah ujarnya sambil tertawa:

„Karena terburu2 hendak melarikan diri, lagi pula serangan dilancarkan dalam keadaan gugup, Kok See Piauw hanya menggunakan tenaga tidak sampai dua bagian, sayang waktu itu aku sudah lupa untuk mengatur pernapasan. ".

„Entah ada racunnya tidak serangan telapak dari bangsat itu !" tanya Chin wan Hong dengan wajah gelisah.

„Belum pernah aku dengar ilmu pukulan Kioe Pit Sin- ciangnya mengandung hawa racun !” jawab Hong po Seng sambil tertawa, sekali enjot ia meloncat keluar dari dalam lorong.

Kiranya jalan keluar dari lorong rahasia itu terletak dibawah tembok pekarangan halaman belakang rumah keluarga Chin, baru saja Hong-po Seng meloncat keluar dari dalam lorong, ia segera merasakan hawa panas yang amat menyengat badan memenuhi angkasa, ia lantas berpaling, terlihatlah gedung rumah keluarga Chin yang megah dan besar kini sudah tinggal puing2 yang berserakan, api besar sebagian besar sudah padam kecuali di sana sini masih terjadi kebakaran kecil. Chin Pek Cuan adalah seorang pendekar gagah yang tidak terlalu memikirkan soal harta kekayaan, begitu keluar dari tempat persembunyiannya ia lantas menutup kembali batu cadas tadi kemudian menggape kearah Hong-po Seng dan meloncat keluar dari pekarangan.

Terhadap sianak muda ini diam2 jago tua tersebut menaruh rasa kagum bercampur terima kasih, walaupun perasaannya itu tidak sampai diutarakan keluar namun sikap serta tindak-tanduknya cukup membuat pemuda kita merasakan kemesraan serta kehangatan yang luar biasa.

Diluar dinding pekarangan merupakan sebuah jalan lorong yang sempit. lebarnya tidak mencapai empat depa dan dikedua belah sisinya merupakan halaman belakang rumah orang demikianlah keempat orang itu sementara suara hiruk-pikuk penduduk menolong api masih kedengaran dari depan gedung.

Angin dan hujan salju sudah berhenti.   cahaya merah

memantul keudara membiaskan selapis pemandangan yang menyeramkan.,   tiba2 dari mulut lorong berkelebat

keluar tiga sosok bayangan manusia tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka segera menghadang jalan pergi Chin Pek Cuan sekalian.

Jago tua dari keluarga Chin ini sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan banyak pengetahuan serta pengalaman yang diperolehnya selama ini, menyaksikan kemunculan ketiga orang itu ia lantas mengerti bahwa kedatangan orang2 itu tidak bermaksud baik Dengan cepat ia hentikan langkah kakinya dan memandang wajah orang2 itu dengan sinar mata tajam.

Tampaklah orang berdiri ditengah memakai topi kulit di kepalanya, jubahnya lebar dan terbuat dari kulit, wajahnya penuh bercambang, sorot matanya dingin menyeramkan, senyuman dingin menghiasi bibirnya yang lebar.

Rupanya orang itu adalah pemimpin diantara rombongan tersebut.

Chin Pek Cuan mendeugus dingin, ia segera maju menyongsong kedatangan mereka sambil menegur :

„Siapa kalian ? apa maksud kamu sekalian menghalangi jalan pergi kami?"

Orang itu tertawa seram.

„Cayhe she Kwa bernama Thay dengan gelar 'Hiat-Sat- Tui-Hoan' atau Malaekat darah pengejar Sukma. Chin loo Wan-gwee! kau adalah seorang hartawan kaya raya, sudah tentu tidak akan kenali diriku!"

Diam2 Chin Pek Cuan terkesiap juga mendengar nama itu, tetapi diluar ia tetap berlagak tenang.

„Oooh, kiranya Kwa Toa Thong-cu!" serunya sambil tertawa. „Kalau begitu loohu benar2 punya mata tak kenali gunung Thay-san. waah. besar sekali dosaku ini

! " sepasang alisnya berkerut, dengan nada menyindir serunya kembali:

„Kwa Thongcu. apakah kau sedang menjalankan perintah dari Kok kongcu untuk menangkap diri loohu?"

Malaikat Darah Pengejar Sukma tertawa seram.

„Hemmm.... Hemmm Loo wan gwee tajam banar

mulut tuamu itu. Aku orang she Kwa adalah anak buah parkumpulan Sin Kie Pang, seorang Thongcu dari cabang kota Keng Chiu tidak akan sudi manjalankan perintah orang lain!".

Ia merandek sebentar senyuman licik terlintas diatas wajahnya dan menambahkan:

„Cuma saja ....Heeh. heeh Boe Liang Sin Koen

adalah sahabat karib Pek loo kami, sedang kota Keng Chiu adalah daerah kekuasaan dari aku orang she Kwa, maka mau tak mau urusan yang menyangkut tugas diriku tak akan kubiarkan barlalu dengan begitu saja! ".

„Aneh benar tingkah laku orang yang bernama Kwa Thay ini. Diam2 Hong PoSeng mambatin." Didalam percakapannya sorot mata orang ini berkeliaran tidak menentu, jangan2 dia sedang menjalankan satu siasat busuk dan bermaksud hendak menjebak kami sekalian?

Karena berpikir begitu tanpa sadar kewaspadannya pun segera ditingkatkan.

Dalam pada itu Chin Pek Cuan telah mendengus dingin:

„Hemm! bajingan busuk dari perkampungan Sin Kie Pang ternyata benar2 bukan manusia baik !”

„Tua bangka she Chin!" mendadak lelaki berjubah hijau yang ada disisi kiri menghardik dengan penuh kegusaran „Kau harus tahu, meskipun kolong langit sangat luas, tapi bila kau berani menyalahi atau menyinggung nama baik perkumpalan Sin Kie Pang, tidak nanti kami akan biarkan kau hidup dengan aman tenteram diatas jagad !". "Cuuh...!" Chin Pek Cuan meludah keatas tanah. „Para enghiong hoohan serta orang gagah sudah mati semua, yang tinggal saat ini hanya kalian bajingan2 tengik yang berani mengaku sebagai enghiong..Hmmm! sungguh menyebalkan !".

Lama kelamaan Malaikat darah Pengejar sukma pun jadi naik pitam juga mendengar ejekan2 tersebut, dalam waktu singkat sepasang telapaknya telah berubah jadi merah darah, rupanya orang itu sudah mempersiapkan diri untuk melancarkan serangan.

Suasana berubah semakin tegang, nampaknya sebentar lagi satu pertempuran sengit segera akan berlangsung tiba, Hong-po Seng meloncat maju kedepan sambil menarik lengan Chin Pek Cuan serunya:

„Loocianpwee, tunggu sebentar !”

„Loote, silahkan kau menyingkir, bajingan2 tengik sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, aku orang she Chin sudah tak tahan menyaksikan tingkah laku mereka...".

Tiba2 bayangan manusia berkelebat lewat, Hiat-Sat- Tui-Hoan atau Malaikat darah pengejar sukma Kwa Thay telah menyusup datang sambil melancarkan sabuah serangan.

Chin Pek Cuan segera bertindak cepat, telapaknya diayun menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

Blaaam..! ditengah bentrokan keras yang memekikkan anak telinga tubuh Chin Pek Cuan tetap tak bergelimang dari tempat samula, sebaliknya malaikat darah pengejar sukma terpukul satu langkah kearah belakang.

Chin Pek Cuan bukanlah seorang prajurit kecil yang tak bernama meskipun baru saja bergebrak mati2an melawan Kok See Piauw, namun untuk menghadapi seorang Tongcu ia masih memiliki sisa tenaga.

Setelah berhasil merebut posisi diatas angin dalam segebrakan saja, tubuhnya merangsek semakin kedepan. jurus2 maut dilancarkan bertubi2 memaksa Kwa Thay si Malaikat darah pengejar sukma terpaksa harus mundur berulang kali kebelakang.

Tanpa terasa mereka telah keluar dari gang sempit itu.

Dalam pada itu Hong Po Seng telah sembunyikan pedang bajanya dibelakang punggung, punya rencana untuk menaklukkan lebih dahulu kedua orang pria lainnya, siapa tahu kedua orang itu tiba2 putar badan dan melarikan diri, salah seorang diantaranya dangan cepat merogoh kedalam saku mengambll suatu benda yang akan dilemparkan keatas tanah.

Matanya cukup tajam dan awas, sekalipun memandang ia dapat lihat bahwa benda itu adalah sebuah bom udara, otaknya dengan cepat bekerja, serunya mendadak sambil tertawa keras :

„Eeeei.... eeei. harap kalian berdua jangan

bergebrak dulu, cayhe ada beberapa patah kata hendak diutarakan lebih dulu!".

Ditengah bergetarnya sang bahu, tahu2 ia sudah menyelinap diantara Kwe Thay serta Chin Pek Cuan. Pada dasarnya Malaikat darah pengejar sukma memang mempunyai rencana lain, ditambah pula ia sadar bahwa harapan baginya untuk rebut kemenangan amat tipis maka sambil mendorong sampan mengikuti aliran sungai katanya:

„Saudara cilik, apa yang hendak kau katakan???".

Diam2 Hong-Po Seng melirik sekejap kearah lelaki berjubah hijau tadi, melihat orang itu sudah menyimpan kembali bom udaranya kedalam saku ia lantas berpikir dalam hati:

„Pengaruh dari perkumpulan Sin-Kee Pang terlalu besar, komplotan merekapun terlalu banyak, andaikata pekerjaan kita pada malam ini kurang bersih sudah pasti keluarga Chin tak mungkin bisa hidup dalam keadaan ten tram dan aku sendiripun jangan harap bisa berkelana lagi didalam dunia persilatan!".

Pikiran tersebut dengan cepatnya berkelebat dalam benak sianak muda itu. setelab sangsi akhirnya ia berkata sambil tertawa:

„Ilmu Kiem Sah ciang dari Chin Loocian pwee dapat menghancur lumatkan batu bong pay, sedangkan ilmu pukulan Coe Sah ciang dari Kwa Tongcu dapat membinasakan orang seketika, kepandaian semacam ini boleh dibilang setali tiga uang dan sama kuatnya lebih jauh jauh. Pastilah kedua belah pihak sama2

menderita luka, siapapan tak akan memperoleh kebaikan apapun jua!".

“Haaah…haah. perkataanmu tepat sekali saudara

cilik" dengan cepat Kwa Thay si Malaikat darah pengejar nyawa menanggapi sambil tertawa tergelak." Tak kusangka usiamu meski masih muda namun ketajaman matamu benar2 luar biasa!".

Sebaliknya Chin Pek Cuan mendengus dingin, sepatah katapun tidak berbicara.

Hong Po Seng pura2berlagak pilon, katanya lagi sambil tertawa:

„Kota Keng Chia adalah daerah kekuasaan Kwa Tongcu sedang Chin Loo enghiong adalah hartawan kaya dari kota Keng chiu pula pepatah kuno mengatakan daripada perselisihan lebih baik jangan berselisih, bukankah kalian adalah tetangga baik ? kenapa harus saling bermusuhan dan mengikat tali persengketaan ini

?"

„Tepat sekali ! semula aku orang she Kwa pun mempunyai pikiran begini tapi sayang Chin Loo enghiong tak tahu diri, maka apa boleh buat aku orang she Kwa terpaksa tak dapat membantu !"

Mendengar pembicaraan itu Chin Pek Cuan segera sadar bahwa Kwa Thay jelas mengandung rencana lain, diam2 lantas ia berpikir :

.,Anjing keparat rupanya dengan menggunakan kesempatan dikala rumahku sedang kebakaran kau hendak merampok harta milik aku orang she Chin ? . . . Hmmm ! kurang ajar dia tak mau berpikir dahulu manusia macam apakah aku orang she Chin ini ? sekalipun ada emas atau perak tidak nanti kuserahkan begitu saja kepada kalian kawanan anjing-anjing geladak

!"

Berpikir sampai disini, bukannya marah ia malah tertawa. „Ooooh .. kiranya Kwa Tongcu mempunyai maksud baik . waah, kalau begitu aku Chin Pek Cuan telah bertindak terlalu sembrono !"

Setelah menjura tambahnya lagi:

„Kalau memang kau bermaksud mengikat tali persahabatan dengan diriku, nah! sampai jumpa lain kesempatan."

Dengan langkah gagah ia segera berlalu.

Mula-mula Kwa Thay Si Malaekat darah pengejar nyawa tertegun, kemudian ia tertawa seram.

„Chin wangwel" serunya „Seandainya Thay hujienmu berada didalam kota, aku harap kau suka bertindak sedikit hati2, jangan sampai diketahui oleh Kok kongcu."

Ucapan ini mengejutkan hati Chin Pek Cuan dengan cepat ia putar badan, dengan sorot mata penuh dengan napsu membunuh selangkah demi selangkah ia dekati kembali manusia she Kwa itu.

Malaikat darah pengejar nyawa sadar bahwa pihak musuhnya telah dibikin naik pitam dan segera akan turun tangan, meski hatinya kebat kebit namun sepasang telapaknya dipersiapkan juga, hawa murni disalurkan keseluruh tubuh dan slap menghadapi segala kemungkinan.

„Barusan cayhe mendapat laporan dari anak buahku, katanya Thay hujien dari keluarga Chin rupanya sudah hidup dalam dunia persilatan yang penuh dengan dosa, kini ia sudah cukur rambut jadi pendeta dikuil Pek-Im Koan..," Bicara sampai disitu mendadak ia merandek sementara senyuman yang menyeramkan menghiasi bibirnya.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya Chin Pek Cuan setelah mendengar perkataan itu, saking marahnya seluruh rambutnya pada berdiri kaku bagaikan landak, tangan dan kaki gemetar keras, sambil menggigit bibir teriaknya keras.

„Bajingan....bajingan. sungguh bagus perbuatanmu!"

Untuk sesaat ia jadi bim.bang dan tiada pemecahan, dengan sendirinya tak berani bergerak sembarangan.

Chin Giok Liong dengan wajah pucat pias bagaikan mayat segera maju selangkah kedepan serunya :

„Kwa Tongcu, kaupun terhitung seorang enghiong yang punya nama didunia persilatan masa terhadap nenekku yang telah berusia tujuh puluh tahun lebih dan tak mengerti ilmu silat kalian bertindak kasar? hai

...dimana peri kemanusiaanmu?? kau telah mengapakan dirinya?”

Malaikat darah pengejar nyawa Kwa Thay mendongak dan segera tertawa terbahak-bahak.

,,Heee....heee aku tidak meng-apa2kan dirinya,

berhubung aku lihat ayahmu juga terhitung seorang cakal bakal dunia persilatan, karena takut ada orang sampai melukai nenekmu, maka sengaja kuboyong dirinya untuk pindah kesuatu tempat, disamping itu mengutus pula beberapa orang saudara untuk merawat serta melayaninya setiap saat!"

“Hei..anjing busuk she Kwa!" tiba2 terdengar Chin Pek Cuan membentak keras. ,,Katakan terus terang berapa yang kau minta? Satu laksa, dua laksa? Aku orang she Chin segera penuhi permintaanmu itu, kalau lebih dari itu

...maap aku tak bisa melayani."

“0ooh, sungguh sosial Loo wangwee!” puji Kwa Thay sambil acungkan jempolnya, kepada lelaki berjubah hijau itu pesannya:

“Chin loo wangwee akan memerseni kau dan kita semua dua laksa tahil perak untuk kalian bertahun baru besok datanglah kemari untuk menerima sumbangan itu, sedang aku tak akan mengambil sepeserpun!".

„Terima kasih atas pemberian dari Loo wang Gwe” buru2 lelaki berjubah hijau itu menjura kepada Chin Pek Cuan.

Hong Po Seng yang mengikuti jalannya peristiwa itu diam2 merasa kheki bercampur mendongkol, namun berhubung persoalan itu menyangkut keselamatan dari ibu Chin Pek Cuan, sudah tentu ia tak berani menimbrung seenaknya.

Terdengar pria berjubah hijau itu berkata lagi:

,,Thay hujien amat rindu kepada cucu perempuannya ia suruh cayhe datang kemari untuk mengajak nona Wan Hong berkunjung kesitu salama beberapa hari, cayhe harap Loo wangwe suka mengabulkan perintahnya ini! sedang loo wan-gwee sendiri kali saja pergi memapak Thay hujien!”

Hong Po Seng kendati seorang pemuda yang cerdas tetapi ia belum begitu paham akan hubungan antara lelaki dan wanita, anggapannya berhubung uang belum mereka terima maka Chin wan Hong hendak dijadikan sandera.

Sebaliknya Chin Pek Cuan sendiri dapat menangkap arti lain dari ucapan tersebut, ia tahu bahwa Kwa Thay suka tertarik olah kecantikan wajah putrinya dan jelas mempunyai niat jahat terhadap putrinya, seketika itu juga seluruh badannya jadi gemetar keras saking gusarnya, gigi saling beradu gemeretakan.

„Haaah. haaah.. haaah.. Loo wangwee, kau tak usah

kuatir"seru Kwa Tay sambil tertawa tergelak. "Nona Wan Hong adalah seorang gadis perawan yang cantik dan masih suci, kami pasti akan menjaga keselamatannya baik dan tak akan melukai seujung rambutnya pun juga!".

Sembari berkata dengan lagak tengik dan senyum cengar cengir ia menoleh kearah Chin Wan Hong.

Chin Pek Cuan adalah seorang jago tua yang berwatak berangasan, walaupun ia sadar bahwa keselamatan ibunya terancam namun hawa gusar yang bergelora dalam dadanya tentu sukar dikendalikan lagi, ia lantas punya pikiran untuk melenyapkan ketiga orang itu terlebih dulu kemudian baru berusaha menolong ibunya.

Hong po Seng cukup waspada, dari tingkah laku sijago tua itu iapun lantas dapat menebak apa yang sedang dipikirkan buru2 teriaknya:

“Loo cianpwee, bukankah didalam ruang bawah tanah sana terdapat tumpukan emas perak serta berlian yang tak bernilai jumlahnya? bagi kita orang2 yang belajar silat, harta toh bukan terhitung benda yang sangat berharga. Mengapa kau tidak serahkan dahulu harta itu kepada Kwa Tongcu sedang sisa persoalan lainnya kita rundingkan lagi secara perlahan-lahan ?”

Mendengar perkataan itu Chin Pek Cuan tertegun, segara pikirnya:

“Dalam ruang bawah tanah mana terdapat emas perak dan berlian ? ngawur benar omongan bocah ini . "

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dengan cepat ia dapat menangkap mak sud hati sianak muda itu, maka seraya ulapkan tangannya ia berseru:

,.Kwa Tongcu, marl ikuailah aku orang she Chin !"

Habis berkata ia melangkah terlebih dahulu ke dalam gang sempit tadi.

Kwa Thay si Malaikat darah pengejar nyawa merasa sangsi untuk beberapa saat lamanya ia ikut Chin Pek Cuan sedang menggunakan akal bulus untuk menjebak dirinya, tapi pikiran lain segara berkelebat dalam benaknya:

,.Meskipun tua bangka she Chin ini adalah seorang manusia yang sukar dilayani, ketiga orang bocah cilik itu bukanlah manusia2 kosen yang sulit dirobohkan, sekalipun kami harus hadapi mereka berempat dengan hanya bertiga saja, kendati kemenangan belum tentu di pihak kami rasanya untuk meloloskan diri masih bukan satu masalah yang terlalu sulit . . . kenapa aku barus ragu2"

Karena dorongan napsu kemaruknya terhadap kekayaan ia sudah terlalu pandang rendah diri Hong po Seng, begitu menjumpai Chin Pek Cuan telah melangkah masuk kedalam lorong sempit, buru2 ia ulapkan tangannya, bersama dua orang lainnya dengan cepat menyusul kedalam.

Sementara itu kentongan keempat sudah lewat, seluruh gedung bangunan keluarga Chin telah hancur berantakan oleh api berkobar dengan hebatnya itu, udara ditutup oleh awan gelap sedang suasana dijalan raya sabelah depan pun telah sunyi.

Dengan hati panas, mendongkol dan penuh kegusaran Chin Pek Cuan berjalan terus kedalam lorong sempit yang suasananya paling gelap, mendadak ia tak sanggup menahan golakan hawa amarahnya lagi, sambil putar badan sebuah serangan dahsyat segera dilancarkan menghantam tubuh Kwa Thay si malaikat darah pengejar nyawa.

Melihat pihak lawan tiba2 berobah pikiran, orang she Kwa itu kontan naik pitam cepat ia mengegos kesamping kemudian balas melancarkan sebuah serangan dahsyat hardiknya,

„Tua bangka she Chin! rupanya kau sudah tidak memikirkan lagi nyawa nenek tua itu?”

Dalam pada itu Hong-go Seng begitu melihat Chin Pek Cuan telah turun tangan, tubuhnya segera berkelebat lewat menghadang jalan mundur dari musuh2nya, pedang baja dikebaskan kemuka kemudian mengirim satu sapuan kilat.

llmu pedang yang digunakan betul2 luar biasa hebatnya, ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad terdengar satu desiran tajam yang amat memekikkan telinga bergeletar membelah angkasa. Baru saja kedua orang pria itu putar badannya dalam keadaan gugup mereka jadi terkesiap dan menjerit kaget, buru-buru mereka loncat mundur kebelakang dengan sekuat tenaga.

Saking tegang dan kagetnya hampir saja tubuh mereka menumbuk diatas punggung Kwa Thay.

Hong-po Seng mengayunkan pedangnya kedepan, tiba2 bahu kirinya terasa amat sakit hingga merasuk ketulang sumsum, gerakan pedangnya kontan jadi rada lambat, menggunakan kesempatan itulah kedua orang lelaki tadi segera loncat keluar dari kepungan hawa pedang lawan.

Sianak muda itu jadi amat gusar, apalagi setelah dilihatnya mereka berdua telah menyingkap jubah meloloskan senjata tajamnya, sambil gertak gigi kembali ia lancarkan sebuah babatan kilat.

Kedua orang itu adalah anak buah dari kantor cabang perkumpulan Sin Kie Pang di kota Keng-Chiu, pada hari2 biasa belum pernah menjumpai kepandaian ilmu pedang yang begini dahsyatnya, seketika itu juga pecahlah nyali mereka, sambil menjerit kaget kembali mereka berdua mengegos kesamping.

Sebaliknya malaikat darah Pengejar nyawa sendiri, bagaimanapun juga dia adalah seorang pemimpin suatu daerah, dalam keadaan yang terkepung dan berhadapan dengan serangan2 gencar dari Chin Pek Cuan, sudah tentu tiada kesempatan lagi untuk mengurusi anak buahnya, tapi ia tahu bahwa keadaan anak buahnya amat kritis dan berbahaya. Dalam keadaan gugup dan kagetnya, cepat ia meraung gusar.

„Lepaskan tanda bahaya!!".

Sejak semula Hong-po Seng telah berjaga2 atas tindakan tersebut, ketika melihat babatan pedangnya mengenai sasaran kosong dan menjumpai pula pria berjubah hijau itu telah meluncur kearah tembok, pergelangannya segera ditekan kebawah, dengan gagang pedang bajanya ia sodok jalan darah "Tiong-Lie" di atas tubuhnya.

Pedang baja itu berwarna hitam pekat, ditambah pula sodokan itu dilancarkan dengan kecepatan yang tak terkirakan, seketika itu juga pinggang pria berjubah hijau itu termakan oleh sodokan berat tersebut, ia menjerit kesakitan dan tubuhnya segera roboh terjengkang keatas tanah.

Melihat serangannya berhasil mengenai sasaran, pedangnya dengan cepat dibabat kesebelah kiri menyerang pria lainnya.

Orang itu baru saja meloloskan ruyung baja dari pinggangnya, merasakan datangnya ancaman, dalam keadaan gugup dan tergopoh2 dengan cepat ia tangkis serangan pedang Hong po Seng dengan senjatanya.

Traaaang ! terdengar suara bentrokan nyaring

bergeletar diangkasa diiringi percikan bunga2 api.

Hong-po Seng belum lama terjun kedalam dunia persilatan, watak serta hatinya masih lembut dan penuh welas kasih, ketika pergelangannya diputar sampai ditengah jalan tiba2 ia tabok senjatanya sejajar dengan dada, meski begitu ruyung baja pria itu terbabat putus juga jadi beberapa bagian, tabokan tersebut bersarang diatas punggungnya membuat ia roboh terjengkang diatas tanah dan tak sanggup bangun kembali.

Tiga jurus dua gerakan serangan itu dilancarkan hanya dalam waktu yang amat singkat, Kwa Thay yang berlasil mengetahui keadaan itu dari suara jeritan rekan2nya jadi terkesiap dan mengucurkan keringat dingin.

Dalam posisi yang terkepung rapat oleh musuh2 tangguh ia tak berani bergebrak lebih jauh, dalam suatu kesempatan mendadak ia membentak keras, sepasang kakinya menjejak tanah dan segera meloncat keatas dinding tembok sebelah kiri.

Pada saat itulah…dari tempat kejauhan terdengar seseorang sedang berseru:

„Kwa-loo-te, "

Suaranya serak, berat dan datar dan ru¬panya

suara tadi dipancarkan dari tempat ke jauhan. Hong Po Seng jadi terkesiap, segera ia melayang kedepan, gagang pedangnya bergerak cepat menghajar jalan darah 'Kwan-Go an' ditubuh Kwa Thay, sementara mulutnya berseru dengan nada berat :

,.Orang yang bakal datang memiliki ilmu silat yang amat lihay, biar boanpwee pancing pergi orang2 itu sedang loo wan-gwee cepatlah berusaha menolong orang!?"

Sang tangan bekerja cepat, ia tangkap tubuh Kwa Thay yang sedang roboh terjengkang ke atas tanah dan melemparkannya kebelakang dinding tembok tinggi. Otaknya cerdas dan tindak tanduknya cekatan, meski usia Chin Pek Cuan telah melewati setengah abad namun tanpa sadar ia telah mendengarkan petunjuk dari sianak muda itu. Sambil mencengkeram dua orang lainnya dengan sebat ia loncat masuk kebelakang tembok tinggi.

Tatkala dilihatnya dua bersaudara Chin masih berdiri tak berkutik ditempat setnula, dengan hati gelisah Hong- po Seng kembali berseru:

„Kenapa kalian berdua belum berlalu ? ayoh cepat melarikan diri dari sini !"

Tangannya dengan cepat berkelebat mencengkeram pergelangan tangan Chin Wan Hong, gadis itu jadi gugup buru2 ia meloncat kebelakang tembok pekarangan.

Belum lama dua bersaudara Chin rnenyembunyikan diri, dari mulut lorong telah berkumandang datang suara teguran yang serak dan berat :

„Siapa disitu ?"

“0ooh... sungguh cepat gerakan tubuh mereka” pikir Hong po Seng, ketika ia berpaling tampaklah dua sosok bayangan hitam bagaikan sambaran kilat sedang meluncur datang, raut wajah mereka sukar dilihat dengan jelas.

Buru2 sianak muda itu enjotkan badannya dan lari keluar dari tempat persembunyiannya dengan langkah lebar.

Tatkala kedua orang itu baru saja melangkah masuk kedalam lorong sempit itu, mereka telah menyaksikan gerakan tubuh Hong- po Seng yang sedang lari dari sana dengan gerakan cepat bagaikan sambaran kilat, diam- diam mereka memuji atas kehebatan ilmu silatnya.

Terdengar bentakan keras bergeletar diangkasa, diiringi seruan ,Kejar ' dua sosok bayangan manusia meluncur kedepan dengan amat cepatnya mengejar diri Hong-po Seng yang sudah lari terlebih dahulu.

Tiga sosok bayangan manusia berlarian diatas permukaan salju yang putih, dalam waktu singkat mereka telah keluar dari tembok kota.

Hong-po Seng yang Iari dipaling depan, sambil berkelebat tiada hentinya ia awasi gerak gerik dibelakang tubuhnya, mendadak ia temukan kurang lebih sepuluh tombak dibelakang mereka telah menguntit pula sesosok bayangan marusia, orang itu mempunyai gerakan

tubuh yang enteng dan cekatan sedikit pun tidak kedengaran suara berisik, sedang sepaluh tombak lagi dibelakang orang tadi berkumandang suara gemerisik yang nyaring, diam2 ia lantas berpikir:

„Jelas kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu sangat lihay, kalau aku harus melawan mereka berdua sekaligus jelas kekuatanku masih belum memadahi, lebih baik kubereskan dahulu salah satu diantaranya kemudian baru mencari kesempatan untuk membereskan yang lain, kalau tidak begitu, lama kelamaan aku bisa kehabisan tenaga!”

Setelah mengambil keputusan demikan, hawa murninya segera disalurkan keseluruh badan dan berlari semakin cepat lagi kedepan.

000O000 Sedikitpun tidak salah, setelah saling berkejaran beberapa lamanya dua orang pengejar yang menyusul dari belakang mulai berpisah, yang satu didepan dan yang lain ada dibelakang.

Ketika waktu berlalu semakin lama, orang yang berada dipaling belakang ketinggaIan semakin jauh lagi, akhirnya napas orang itu tersengkal2 dan larinya makin perlahan.

Beberapa waktu kemudian bayangan tubuh Hong-po Seng sudab lenyap tak berbekas hanya meninggalkan percikan salju yang berhamburan di-mana2.

Waktu itu fajar baru saja menyingsing, suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, Hong- po Seng sambil membawa sang pengejar yang kini tinggal seorang telah meninggalkan kota Keng Chiu sejauh lima puluh lie.

Orang itu mengejar terus tiada hentinya, apa daya kekuatan mereka seimbang hingga walaupun ia tidak sampai ketinggalan namun untuk menyusul lebih cepat jelas tak mungkin, disamping itu orang tersebut pun tak sudi melepaskan mangsanya begitu saja.

Dalam keadaan pikiran yang kalut dan bingung ia mendengus gusar, segenap tenaganya segera dilenyapkan keluar.

Seketika itu juga terdengar ujung baju tertiup angin, Sreeet... sreeet tubuhnya bergerak lebih dekat lima

enam tombak lagi dari sianak muda itu.

Diam-diam Hong Po Seng merasa terperanjat, meninjau dari keadaan tersebut ia sadar bahwa sulit bagi dirinya untuk melepaskan diri dari kejaran orang itu. Terpaksa ia bulatkan tekad dan segera berhenti berlari, pedangnya dilintangkan sejajar dengan dada siap menghadapi sagala kemungkinan.

Dalam waktu singkat orang itu sudah berdiri dihadapan musuhnya, ketika menemukan bahwasanya Hong Po Seng hanya seorang bocah yang baru barusia enam tujuh belas tahun, ia merasa tercengang dan tidak habis mengerti, lama sekali ia melengak dan ragu-ragu.

Hong-po Seng sendiripun dengan menggunakan kesempatan itu memperhatikan raut wajah lawannya, dia adalah seorang kakek berjubah biru yang mempunyai potongan wajah menyeramkan, sepasang mata elangnya yang tajam menatap tubuhnya dari atas kepala hingga keujung kaki, dari ujung pedang sampai ujung baju, wajahnya berubah berulang kali, entah apa yang sedang dipikirkan.

„Sahabat !" akhirnya pemuda kita menegur sambil tertawa. „Dimalam tahun baru yang seharusnya dirayakan dengan suka ria, kenapa kau kejar terus aku sibocah rudin ?".

„Tingkah lakumu mencurigakan, melihat orang lantas melarikan diri jelas membuktikan bahwa kau telah melakukan perbuatan terkutuk yang malu dilihat orang, setelah Loo-ya mu menjumpai kejadian semacam ini tentu saja harus kuurus sampai jelas duduk perkaranya

!",

“Oooh, tadinya aku mengira saudara adalah komplotan penyamun dari perkumpulan Sin Kie-Pang, tak tahunya adalah seorang Loo-ya. maaf... maaf...". „Keparat cilik, rupanya matamu sudah buta!" terdengar kakek berjubah biru itu membentak gusar.

„Loo-ya mu she-Tio dan justru adalah orang Hoe Hoat Pelindung hukum dari perkumpulan Sin Kie Pang!".

„Oooo!!. ternyata kau adalah Tio Loo Hoe- hoat! "seru Hong-po Seng dengan alis berkerut. "Lalu siapa yang ada dibelakangmu tadi?? mengapa sampai sekarang belum juga sampai disini?”

„Bocah keparat, kau benar2 seorang manusia yang berhati licik. Hmmm ! tiada halangan kuberitahukan

kepadarnu, orang yang ada dibelakang itu she-Liem dan rnerupakan seorang Hiang-su dari perkumpulan Sin Kie- Pang, sebentar lagi aku Tio loo-ya akan kembali ke markas untuk melewati masa Tahun Baru ini ".

Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya:

„Bocah keparat, siapa namamu dan berasal dari mana? cepat katakan yang jelas, loo-ya segera akan membawa kau pergi menjumpai pangcu kami, tanggung kau bakal jadi kaya dan hidup dalam kemakmuran!".

Sim-hoat tenaga dalam yang dilatih Hong po Seng jauh berbeda dengan simhoat tenaga lwekang partai2 lain, kini sembari mengatur pernapasan ia tersenyum dan berkata kembali:

„Aaah. jadi saudara mengejar diriku dengan susah payah tujuannya tidak lain adalah hendak mengajak aku masuk komplotan ? tapi sebelum itu aku ingin tahu lebih dulu, sebetulnya kedudukan Hiangcu serta Hoe-Hoat mana yang lebih besar ? bagaimana pula kalau dibandingkan dengan Kwa Tongcu ?". Kakek berjubah biru itu tertawa congkak.

„Dibawah Pangcu terdapat para Tongcu yang memimpin cabang2 perkumpulan Hiang-cu adalah seorang pembantu yang ditempatkan dibawah Tongcu, kedudakannya rendh dan amat kecil, ia tidak lebih seorang pelayan yang harus mondar mandir menjalankan tugas. Sebaliknya Hoe Hoat Loo ya langsung dibawah pimpinan pangcu, kedudukannya tinggi dan tidak menjalankan perintah dari siapapun. Eeei ..bocah cilik, siapa gurumu ?? aneh benar pedang baja milikmu itu !".

Hong po Seng tersenyum, bukan menjawab ia malah bertanya kembali :

„Berapa banyak sih para Hoe-hoat yang ada didalam perkumpulan Sin Kie Pang ?".

„Haah....haah....haah... tidak banyak pun tidak termasuk sedikit, semuanya berjumlah tiga puluh orang, aku orang she- Tio adalah pahlawan yang ikut memperjuangkan berdirinya perkumpulan, sudah lama mengikuti pangcu dan termasuk salah seorang kepercayaan !"

Suara orang ini serak berat dan lantang, gelak tertawa maupun pembicaraannya amat menusuk pendengaran.

Hong-po Seng yang mendengar penjelasan itu diam2 merasa terperanjat, pikirnya :

„Pengaruh serta kekuatan perkumpulan Sin Kie Pang benar2 amat luas dan besar, cukup ditinjau dari para Hoe-hoat nya saja mencapai jumlah tiga puluhan.

Ehmmm. . . orang she Tio ini mengaku sebagai salah seorang kepercayaan pangcunya, mungkin ilmu silat yang dimiliki termasuk dalam kelas utama !" Berpikir demikian ia sengaja tersenyum dan berkata.

„Tio loo-ya ! wah . . . maaf seribu kali maaf, berhubung aku masih ada urusan lain yang harus segera diselesaikan terpaksa kita berpisah sampai disini saja, bila ada jodoh kita berjumpa lagi dilain waktu ".

Kakek berjubah biru itu mendongak dan segera tertawa tergelak.

,.Heeeh .. heeh . . heeeh . . bocah cilik kita bisa saling berjumpa itu namanya jodoh kau jangan harap bisa melarikan diri lagi!"

Badannya bergerak cepat kedepan, jari tangannya segera mengirim satu totokan kilat.

Totokan itu nampaknya dilancarkan dengan gerakan yang enteng dan sederhana, padahal tempat yang diancam adalah jalan darah kematian ditubuh Hong-po Seng, sekali kena nyawa sianak muda itu pasti melayang.

Hal ini bisa menunjukan betapa keji dan telengasnya sikakek itu.

Hong po Seng merasa terkejut bercampur gusar, pedang bajanya segera diputar kencang dan mengirim serangan.

Terdengar kakek berjubah biru itu tertawa keras, badannya berkelebat mendadak dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pedang pendek, sambil melangkah kedepan memutar tubuhnya, cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, serbuan babatan kilat dilepaskan membabat pergelangan tangan Hong-po Seng.

Dalam waktu singkat cahaya tajam berkilauan diangkasa, desiran tajam menggeletar memekakan telinga, ditengah remang2nya cuaca dua sosok bayangan manusia saling menyambar kesana kemari, sebuah pertempuran sengitpun telah berlangsung.

Dilengah pertarungan itu luka diatas bahu kiri Hong-po Seng terasa sakit hingga merasuk ketulang sumsum, namun dengan wataknya yang keras hati, meski luka bahunya terasa amat sakit namun tidak sampai mengganggu jalannya pertarungan, maka sambil menahan sakit ia layani terus serangan2 gencar dari kakek berjubah biru itu.

Tapi setelah pertarungan berjalan semakin lama dilihatnya totokan jari kiri berputaran, pedang kanan dimainkan dengan begitu keji dan telengas, seolah2 antara dia dengan dirinya sudah terikat dendam sedalam lautan dan bagaimanapun juga jiwanya akan dihabiskan hari itu juga, pemuda she Hong-po ini jadi naik pitam, bentaknya penuh kegusaran.

„Hey, orang she Tio, antara kita berdua toh tak pernah terikat dendam kesumat apapun juga, kenapa kau selalu mendesak diriku sedemikian rupa?"

Diam2 kakek berjubah biru itu sendiripun merasa terperanjat, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau pemuda yang berusia enam tujuh belas tahunan ini bukan saja ilmu meringankan tubuhnya sempurna, dalam hal tenaga lweekang serta permainan pedangpun demikian lihayna, tapi ketika ia teringat kembali akan hasil latihannya selama sepuluh tahun, kendati dalam hati terkesiap ia masih yakin bahwa kemenangan pasti berada dipihaknya. Oleh karena itu setelah mendengar seruan tersebut, sambil tertawa lantang katanya:

,.Siapa yang tunduk kepadaku ia hidup, siapa yang membangkang dia harus modar bocah keparat ! mengingat usiamu masih amat muda lebih baik cepat2lah buang senjatamu dan menyerah kalah, mungkin saja selembar jiwamu masih bisa kuampuni !".

„Kurang ajar...!" pikir Hong-po Seng dalam hati.

„Rupanya kawanan manusia laknat ini sudah terbiasa menganiaya kaum lemah dengan sewenang2nya, Hmm ! membicarakan soal cengli dengan mereka sama artinya memetik gitar didepan kerbau !".

la sadar andaikata kemenangan tidak cepat2 diraih maka sulit baginya untuk meloloskan diri, maka ia mulai bersikap tenang dan makin mengendorkan serangan2nya sementara dengan tajam ia menantikan kesempatan baik untuk menghancurkan kakek tua itu dalam sebuah serangan mendadak.

Beberapa saat kemudian gelap berubah semakin gelap oleh awan hitam, salju pun turun dengan derasnya.

Tiba-tiba terdergar kakek berjubah biru itu membentak keras.

„Hey bocah keparat, kenapa dengan lengan kirimu??"

Setelah lama bartarung belum berhasil juga merebut kamenangan kakek tua ini mulai gelisah dan tidak tenteram, apa daya pertahanan dari Hong Po Seng benar2 sangat kuat, kendati serangannya ber tubi2 dan teramat gencar namun belum juga berhasil merobohkan pertahanan lawan. Karena mendapat getaran2 keras luka dibahu kiri Hong Po Seng sudah terasa amat sakit sejak tadi, karena itu selama bertarung tangan kirinya mencengkeram ikat pinggang kencang2, kini setelah mendengar suara teguran itu ia tertawa keras.

“Tangan kiriku terkenal karena ampuhnya, aku takut kalau sampai kugunakan tangan ini jiwamu lantas melayang. maka aku berusaha menahan sebisanya

.......... bukankah diantara kita tiada ikatan dendam apapun juga ? Nah, itulah dia aku jadi tak tega untuk turun tangan jahat, tapi kalau kau memang tak tahu diri, apa boleh buat !"

Kakek tua berjubah biru itu tahu kalau sianak muda she Hong-po ini sedang mengacau belo, ia mendengus dingin, serangan pedangnya diperketat dan mengurung tubuh lawannya rapat2.

Mendadak Hong- po Seng merasakan daya tekanan disekeliling tubuhnya makin berlipat ganda, diam2 ia jadi gelisah, ia takut Hiangcu she Liem itu keburu datang, andaikata sampai terjadi begitu dengan satu lawan dua jelas posisinya akan semakin terjepit dan berbahaya.

Otaknya segera berputar cepat, akhirnya ia ambil keputusan untuk menempuh bahaya, sebuah serangan gencar segera dilepaskan.

Sementara itu kakek berjubah biru itu secara beruntun telah melepaskan sembilan buah serangan berantai, kesembilan buah serangan itu dilancarkan dalam rangkaian satu gerakan, cepatnya lua biasa dan sukar diikuti oleh pandangan mata.

Pada dasarnya Hong-po Seng memang ada maksud memancing musuhnya masuk jebakan, ia segera membuka tubuh dan sengaja memperlihatkan sebuah titik kelemahan.

Padang bajanya mengunci kiri menangkis kekanan seolah2 sudah kehabisan tenaga untuk bertahan, sementata kakinya dengan mengikuti aliran sungai mendorong sampan, secara beruntun mundur pula sembilan langkah ke belakang,

Menyaksikan keadaan lawannya kakek berjubah biru itu jadi amat girang, pedang pendeknya mencukil keatas memancing pergi pedang baja sianak muda itu, sedang jari tangan kirinya bagaikan tombak segera disodok kedalam.

Sodokan jari ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat, arah yang dituju bukan lain adalah jalan darah lie-keng-hiat didada Hong-po Seng, andaikata serangan itu mengena sasarannya meski tubuhnya terbuat dari bajapun pasti akan roboh terjengkang.

Siapa tahu tubuh Hong-po Seng hanya bergetar sebentar saja setelah teamakan oleh sodokan jari itu, diikuti ia membentak keras, pedangnya segera membabat kemuka.

Pertarungan yang berlangsung aatara kedua orang itu telah mencapai ratusan jurus, salju berderai dengan derasnya.... angin dingin berhembus menusuk tulang....

pertarungan antara mereka berdua berjalan makin sengit dan ngeri.

Kakek berjubah biru itu ada maksud cepat2 menyelesaikan pertarungan ini, maka dalam totokannya tadi ia telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya siapa sangka bukan saja Hong-po Seng tidak roboh malahan melancarkan satu batatan kilat kearahnya, dalam keadaan gugup dan terkesiap buru2 badannya miring kesamping untuk meloloskan diri.

Serangan babatan dari Hong-po Seng barusan telah menggunakan kekuatan yang maha besar bagaikan tindihan gunung Thay-san terdengar suara bentrokan nyaring menggema diangkasa, pedang pendek sikakek berjubah biru itu segera mencelat keangkasa.

Diikuti cahaya pedang berkelebat lewat, bahu kanannya dari atas hingga kebawah seketika terbabat putus jadi dua bagian, darah segar muncrat keempat penjuru membasahi permukaan bumi yang putih oleh salju, keadaan kakek ini, benar2 mengerikan sekali.

Untuk pertama kalinya ia membunuh orang membuat Hong Po Seng tak kuat menahan emosinya, lama sekali ia berdiri termangu2 sebelum mundur bebarapa langkah kebelakang dan duduk bersila diatas tanah untuk mangatur pernapasan.

Haruslah diketahui, ayahnya adalah seorang tokoh dunia persilatan yang memiliki ilmu silat sangat lihay dan merupakan pula tulang punggung dari kalangan lurus, sebelum partemuan Pak Bang diadakan dan menyaksikan kaum iblis telah meraja lela di mana-mana, maka secara diam2 ia telah meleburkan segenap kepandaian silat yang dimilikinya kedalam sebuah rangkaian ilmu pedang yang terdiri dari enam belas jurus dan ditulis dalam sejilid kitab, kemudian bersama2 dengan pedang baja itu diserahkan ketangannya, ia berbuat demikian sebagai persiapan andaikata akhirnya ia mati, putranya masih dapat mewarisi sedikit kepandaiannya. Oleh karena itulah baik tenga dalam maupun ilmu pedangnya ia mendapat warisan langsung dari ayahnya.

Ibunya dahulu juga termasuk seorang tokoh Bu-lim yang sangat ihay, kemudian meski tenaga lweekangnya punah namun ilmu silatnya masih tetap dimiliki, sayang kepandaian silat ibunya tidak sesuai bagi kaum pria maka tak sepotongpun ilmu silat itu diwariskan kepada putranya, ia hanya khusus memerintahkan puteranya mempeIajari keenam belas jurus ilmu pedang itu.

Walau begitu semua kepandaian melatih badan jadi kuat, ilmu menyembuhkan luka dalam maupun luka racun., ilmu menggeserkan jalan darah serta ilmu2 lain untuk melindungi keselamatan putranya telah diwariskan semua kepada Hong po Seng,

Kendati begitu totokan berat dari kakek berjubah biru tadi hampir saja membuyarkan hawa murni didalam tubuhnya ditambah pula ia harus berlari jauh dan bertarung lama, luka diatas bahu kirinya menyerang pula tiada hentinya, begitu pertempuran usai cepat2 ia mengatur pernapasan diatas permukaan salju.

Hawa murni baru saja mengelilingi tubuhnya satu kali, napasnya belum sampai teratur, mendadak dari tempat kejauhan terdengar berkumandang datang suara derap kaki kuda yang nyaring.

Cepat si anak muda itu membuka matanya, tampaklah sebuah kereta kuda yang mentereng dan megah dengan empat ekor kuda penarik yang tinggi dan besar sedang berlari mendekat dengan cepatnya. Sang kusir adalah seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, memakai mantel terbuat dari kulit binatang, memakai topi bulu dan membawa cambuk kuda sepanjang satu tombak yang terbuat dari kulit kijang.

Dandanannya mewah, mentereng dan agung, seolah2 kereta dari pangeran atau bangsawan kaya.

Setelah memandang sekejap kearah kereta itu, dalam hati ia berpikir :

,,Kereta ini dari arah selatan menuju ke¬utara mungkin tempat yang dituju adalah kota Keng-chiu, entah..."

Sungguh cepat lari kuda itu, dalam sekejap mata telah berada kurang lebih puluhan tombak dihadapan sianak muda itu.

Mendadak terdengar sang kusir berseru :

„Lapor nona, ada orang disana...eei? mayat dari Tin hoe-boat menggeletak disana!”

Taaar ! kereta kuda itu bergeser tiga tombak jauhnya diatas permukaan salju dan berhenti tepat didepan Hong- po Seng.

Sianak muda itu perlahan2 mendongak memandang kearah kereta mentereng itu, mendadak ia merasa terperanjat, kiranya sepasang mata dari kusir itu amat tajam bercahaya, sepasang keningnya menonjol tinggi2 sekilas memandang siapapun tahu kalau tenaga lwekangnya amat sempurna.

„Waah....celaka...rupanya aku telah bertemu dengan jago lihay" pikir pemuda she Hong-po ini. „Kusirnya saja sudah begitu ithay, apa lagi majikannya ". Tanpa sadar matanya dialihkan keatas kereta.

Horden tersingkap kesamping, terdengar suara teguran yang merdu berkumandang keluar:

„Tio Hot-hoat mana yang kau maksudkan „Tio Cien !".

Seraut wajah gadis yang cantik dengan sanggul yang tinggi muncul dari balik horden jendela, disusul munculnya pula seorang dayang kecil berbaju merah berdiri dibelakang dara ayu tadi.

Pandangan mata Hong po Seng jadi cerah, pikirnya :

,,Oooh, ternyatahanya seorang dara ayu, ditinjau dari dandanannya yang agung dan mentereng jelas kepandaian silataya belum tentu lihay !"

Dalam pada itu gadis ayu tadi sudah melongok keluar jendela memandang sekejap kearah mayat yang terbelah jadi dua diatas permukaan salju, biji matanya berputar memandang pula sekejap kearah Hong-po Seng yang duduk bersila diatas tanah, dari perubahan wajahnya nampak jelas betapa terkejut dan kagetnya gadis itu.

„Hey, apakah kau yang bacok Hoe hoat kami jadi dua bagian ?" mendadak terdengar dayang dalam kereta menegur.

Melihat dayang itu baru berusia belasan dan sifat kekanak2annya belum hilang, timbul rasa senang dan simpatik dalam hati Hong- po Seng ia segera tersenyum dan mengangguk.

„Mengapa kau bunuh dirinya ?" kembali dayang cilik itu bertanya.

„Aku sendiripun tak tahu. ia hendak main bunuh diriku terpaksa aku dahului dirinya ?" “Oh Sam!" mendaduk terdengar gadis ayu itu berseru.

„Coba ambillah pedang antiknya itu dan perlihatkan kepadaku !"

Mendengar perintah itu sang kusir kereta tadi segera loncat turun dari tempat duduknya, sungguh hebat gerakan tubuh orang ini bukan saja enteng bahkan sama sekali tak bersuara.

Hong po Seng sudah menyadari akan kelihayan lawannya, melihat orang itu meloncat kearahnya, dengan cepat ia !oncat bangun dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

„Hey, lebih baik kau jangan melawan.." terdengar dayang cilik itu berseru lagi. „Kalau tidak maka kau bakal rugi dan menderita sakit !"

Sementara seruan itu baru saja berkumandang, kusir tadi telah meluncur kehadapan Hong¬ po Seng, tangannya segera berkelebat marampas pedang baja itu.

Tentu saja sianak muda itu tak sudi menyerah dengan begitu saja, pedang bajanya diputar lalu membabat kebawah, dalam waktu singkat partarungan seru telah berkobar.

Sungguh lihay kepandaian silat yang dimiliki kusir itu, tangan kanannya menyerang kesana sebentar membabat kemari, semua sarangan tak pernah berpisah dari urat2 ini ditubuh Hong Po Seng, sementara telapak kakinya menjulur menarik tiada hentinya coba merampas pedang baja itu. Serangannya cepat, aneh dan tidak berada dibawah Kok See Piauw. Diam-diam Hong Po Seng marasa cemas bercampur gelisah, dari gerakan tubuh musuhnya yang gesit dan cepat dia tahu kepandaian orang berlipat ganda lebih tinggi dari kepandaian sendiri, ditambah pula ia baru saja menyelesaikan pertarungan sengit dan bahu kirinya telah terluka tak mungkin baginya untuk merebut kemenangan.

Mau lari? kemana dia harus pergi? mau mandah dibekuk? tentu saja ia tak sudi., . satu2nya jalan yang ia miliki hanyalah bertempur sampai titik darah penghabisan.

Meskipun kecerdasan otaknya luar biasa, apa daya kekuatan tidak memadahi, sebelum ia memperoleh satu akal bagus untuk menghindarkan dari maut, sebuah totokan kilat dari kusir itu telah menghajar diatas pinggangnya.

Totokan itu datangnya mendadak dan diluar dugaan, baik dipunahkan maupun dihindari sudah tak sempat lagi, dalam gugup kegelisahnya hawa murni diatas pusarnya ditekan kebawah jalan darah diatas pinggangpun segera bergeser setengah coen dari tempat semula.

Tatkala serangan totokan dari kusir itu mengenai tubuh Iawannya, tiba2 ia merasa ujung jarinya tergelincir kesamping lalu mental baIik tanpa terasa tegurnya sambil tertawa.

,,Bocah cilik, hebat benar kepandaianmu, rupanya ilmu tersebut bernama Hoei Si-Kang wan terbang melayang bukan:". Hong- po Seng menjerit kesakitan setelah terkena sodokan tersebut, pedang bajanya segera diperkencang dan mengirim tiga buah serangan berantai yang sangat gencar.

Menghadapi serangan2 maut semacam itu, kusir tadi tak berani gegabah, buru-buru ia mundur kebelakang berulang kali.

Haruslah diketahui ilmu pedang yang digunakan sianak muda itu paling banyak mennggunakan tenaga, setelah hawa murninya makin menipis permainan ilmu pedangnya jadi kacau, senjata berat lima puluh dua kati itupun bukan membantu malahan menjadi beban yang berat, setiap saat ada kemungkinan terlepas dari cekalannya.

Dalam hal ilmu silat segala yang dipaksakan merupakan pantangan paling besar, meski dalam hati ada niat apa daya tenaga tidak memadahi, setelah saling bergebrak dua puluhan jurus tiba2 pergelangan kanannya kena dicengkeram oleh kusir kereta itu, sekujur badannya jadi gemetar keras, hawa murni jadi buyar, ketiaknya jadi kaku dan badannya roboh terjengkang diatas permukaan salju.

Melihat musuhnya telah roboh kusir kereta itu memungut pedang baja tadi dari tangan Hong-po Seng kemudian diangsurkan kedalam kereta.

Gadis cantik itu menerima senjata tersebut kemudian dibolak balik melihatnya beberapa saat, tiba2 jarinya mengentil diatas tubuh pedang baja itu hingga berbunyi gemerencingan yang nyaring.

„Pedang itu terbuat dari baja murni yang sukar didapatkan dalam kolong langit." ujar kusir itu dari samping kereta. „Golok mustika maupun pedang mustika sukar uniuk menebas kutung senjata tersebut, benda ini terhitung salah satu benda mustika dalam dunia persilatan."

Gadis cantik itu melirik sekejap kearah Hong-po Seng yang mengeletak diatas tanah, lalu tanyanya kepada kusir itu :

,,Pernahkah kau dengar dahulu ada orang yang pernah menggunakan senjata tajam seperti ini?"

Kusir itu berpikir sebantar lalu menggeleng

„Enghiong kenamaan yang ada dalam Bu-lim tak seorangpun yang pernah menggunakan pedang baja seperti ini."

Maksud dari ucapan itu jelas sekali, manusia kenamaan yang tersohor dalam dunia kangouw tak seorangpun yang tak dikenal olehnya apa lagi senjata andalan yang yang mereka gunakan.

Gadis cantik itu mengangguk perlahan, sorot matanya dialihkan kembali kearah Hong¬po Seng, lalu tegurnya.

„Kau adalah anak murid dari partai mana"

Hong-po Seng yang menggeletak diatas tanah merasakan sesuatu siksaan yang sukar di lukiskan dengan kata2, mellhat gadis itu bertanya dengan wajah tawar, iapun menjawab dengan suara hambar :

“Ilmu silat berasal dari keluarga sendiri, aku tak pernah angkat guru!”

.,Ehmm! ilmu silatmu tidak lemah, semestinya keturunan dari keluarga kenamaan, apa she mu? dan siapa pula nama besar dari ayahmu??" Sudah tentu tak mungkin bagi Hong-po-Seng untuk menjawab sejujurnya, tapi diapun tidak ingin memalsukan nama ayahnya, segera sahutnya dengan suara melantur.

„Aku she Hong-po, ayahku telah banyak tahun tutup usia, kini setelah aku jatuh ketanganmu, rasanya lebih baik tak usah kusebut kan lagi nama ayahku almarhum!"

Sepasang alis gadis cantik itu berkerut kencang, rasa tidak senang terlintas diatas wajahnya, sesudah termenung sebentar katanya kepada Oh Sam si kusir kereta itu.

„Coba geladah sakunya, andaikata tiada hal yang mencurigakan lenyapkan saja jiwanya.”

Raut wajah gadis itu cantik jelita bagaikan bidadari, sungguh tak nyana hatinya keras dan telengas, memandang jiwa manusia bagaikan rerumputan, sungguh tidak sesuai dengan wajahnya yang cantik jelita itu.

Setelah mendapat perintah kusir itu segera mendekati tubuh Hong po Seng tanpa mengucapkan sepatah katapun, dengan cepat seluruh sianak muda itu diperiksa dengan seksama.

„Aaaai.. tak usah kau geledah lagi! "tukas Hong-po Seng sambil menghela napas panjang.

"Tiada tanda2 yang mencurigakan dalam sakuku, silahksn kau turun tangan secepatnya!".

„Hmmm, tutup mulutmu, kau tidak berhak untuk melarang diriku melakukan pemeriksaan.”

Diam2 Hong-po Seng menghela napas dan pejamkan matanya rapat2. „Aaaai .. ibu mengharapkan putranya jadi seekor naga, siapa sangka harapannya hanya sia2 belaka" ia berpikir didalam hati "Meskipun mati hidup manusia berada ditangan Thian, tapi aku mati dalam keadaan penasaran!".

Bila seseorang telah mendekati ajalnya seringkali otaknya jadi makin cerdas dari keadaan biasa, ia teringat kembali akan teratai racun "Tan-Hwee-Tok-Lian,", teringat puIa surat dari ibunya. Ia tahu ibunya hendak menggunakan kemustajaban dari teratai beracun itu untuk menyembuhkan luka dalam yarg dideritanya serta pulihkan kembali tenaga dalam yang dimilikinya, setelah itu munculi kembali didalam dunia persilatan untuk membereskan rekening lama.

Berpikir sampai kesitu ia merasa amat menyesal dan kecewa, ia merasa tidak seharusnya ia beradu jiwa dengan Hoe hoat she-Tio itu, bukan saja sama sekali tak ada hasilnya malahan hawa murni yang ia miliki jadi lemah, selembar jiwanya dikorbankan dengan percuma dan yang paling penting lagi ia bakal menyia-nyiakan harapan ibunya yang mengasingkan diri diatas gunung terpencil.

Samentara pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya dan diam2 ia merasa amat menyesal, Oh Sam sikusir kereta itu telah selesai menggeledah seluruh pakaiannya, kecuali sebuah kepingan perak tiada benda lain yang ada disitu.

Maka hawa murninya segera dikumpulkan di atas telapak kanan siap dihantamkan kebawah, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, cepat ia tarik pakaian si anak muda itu kemudian memeriksa bahu kirinya.

„Aah !" jeritan kaget bergema diangkasa. „Lapor sio- cia, orang ini telah merubah wajahnya dengan obat merubah muka !"

Sebenarnya gadis cantik itu telah menarik kembali tubuhnya kedalam kereta, ketika mendengar seruan tersebut, ia segera melongok kembali keluar jendela, sekilas memandang segera temukan meski raut wajah Hong- po Seng hitam pekat bagaikan pantat kuali, namun dari batas leher hingga kebawah berwarna putih bersih, nampak suatu perbedaan yang menyolok sekali antata warna putih dan hitam itu.

Hong-po Seng sebenarnya telah pejamkan mata menantikan kematian, ketika secara tiba2 rahasianya ketahuan orang ia segera buka mata menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

Betapa gusarnya sewaktu melihat Oh Sam sedang melepaskan pakaian yang ia kenakan, dengan rasa jengah bercampur marah bentaknya :

,,Sejak dilahirkan aku memang bertubuh belang apa salahnya kalau keadaanku begini? Hemmm buat apa kalian kaget dan menjerit-jerit seperti orang edan ?"

,,Coba singkap ujung baju orang itu!” mendadak terdengar gadis cantik itu berkata kembali.

Oh Sam segera menyingkap ujung baju Hong po Seng, tampaklah meskipun sepasang tangan pemuda itu hitam pekat tapi dari batas sikut keatas ternyata berkulit putih bersih juga, seolah2 belum pernah tetkena sorot sinar matahari. „Bekas telapak yang membekas diatas lengannya berbentuk sembilan ruas, apakah ia sudah termakan oleh pukulan sakti Kioe Pit Sin orang?” kembali gadis itu menegur.

Kiranya diatas bahu kiri sianak pemuda itu tertampak jelas telapak berwarna hijau yang terpatah patah persis berjumlah sembilan ruas.

Oh Sam segera mengangguk.

„Bagaimana menurut pendapat siocia?' tanyanya. Biji matanya yang jeli berputar kesana kemari,

sebentar memandang tubuh Hong-po Seng yang putih, sebentar memandang pula wajahnya yang hitam pekat, akhirnya timbul rasa ingin tahu dalam hati gadis itu serunya:

„Bawa kembali kedalam markas dan periksa yang seksama".

Selesai berkata tubuhnya lenyap dibalik kereta.

Oh Sam segera mengangkat tubuh Hong-po Seng dan loncat naik keatas tempat duduknya, ia letakkan tubuh sianak muda itu disisinya setelah itu cambuk kulit kijangnya diayunkan ketengah udara, diantara ledakan pecut yang nyaring kereta itu bergerak kembali kearah utara dengan cepat.

Kereta megah itu buatannya sangat kuat dan indah, ilmu mengendalikan kereta dari Oh Sam pun sangat tinggi ditambah pula keempat ekor kuda kuning itu telah mendapat pendidikan yang cukup lama, meski berlarian diatas permukaan salju namun larinya tetap tenang dan mantap. Angin dingin berhembus kencang seoIah2 golok tajam mengiris iris badan, amat tersiksa rasanya ditubuh. Jalan darah Hong po Seng tertotok membuat ia tak sanggup mengerahkan hawa murninya untuk melawan rasa dingin, beberapa saat kemudian wajahnya telah berubah jadi pucat pias begaikan mayat, ke empat anggota badannya jadi kaku dan sukar bergerak lagi.

Tapi ia tidak bicara maupun buka suara, sambil pejamkan matanya ia pura-pura mengantuk. Padahal yang benar hawa murninya per¬Iahan2 dihimpun kembali untuk membebaskan jalan darah yang tertotok.

Dibawah salju, mendadak muncul seorang pria berbaju hitam tampak dari kejauhan, ketika orang itu berjumpa dengan kereta berwarna kuning emas tersebut, dengan cepat segera menyingkir ketepi jalan seraya buru2 menjura.

„Saudara Oh Sam ! kiong hie kiong hie selamat

tahun baru. !".

Oh Sam diatas kereta tetap duduk dengan angkuhnya, sampai biji matapun tidak melirik barang sekejap kearah orang itu, sahutnya hambar:

„Liem Hiang cu, bagus.... bagus itu! Tio hoe hoat

menantikan dirimu disebelah depan sana”.

Sementara berbicara, kereta kuda telah melewati dari sisi tubuhnya dengan cepat.

Sebelum tengah hari tiba2 kereta telah masuk kedalam kota Keng Chiu, jalan darah Hong Po Seng yang tertotok pun hampir berhasil ditembusi, tiba2 terdergar Oh Sam membentak rendah, kereta kuda itu telah berhenti didepan sebuah bangunan besar, suara ucapan tahun baru segera bermunculan dari sekeliling tempat itu. Tatkala Hong-po Seng membuka matanya, ternyata kereta telah berhenti dipintu depan markas besar perkumpulan Sin Kie Pang cabang kota Keng-chiu, didepan pintu telah penuh dengan orang yang menyambut kedatangan mereka, semua orang sama2 memberi hormat kepada kusir tersebut sambil menyebut dirinya Oh Sam-ya.

Dengar sinar mata tajam Oh Sam menyapu sekejap wajah orang2 itu, tiba2 ia bertanya.

,,Kwa Hoa Tongcu kenapa tidak kelihatan"

“Lapor Sam-ya!" seorang kakek berjubah hijau segera menjawab. „Kemarin malam telah terjadi keonaran, Hoen tongcu serta dua orang pembantu telah lenyap tak berbekas, tadi sebenarnya ada seorang Tio loo hoe-hoat serta seorang Liem thangcu menjadi tamu kami, tapi entah bagaimana jejak merekapun tiba-tiba lenyap tak berbekas!"

Oh Sam dengan wajah keren mendengus dingin, ia tidak menanggapi perbuatan itu.

Kakek berjubah hijau itu segera berkata lebih jauh.

„Sebenarnya dalam markas kami telah menawan orang-orang tawanan perempuan, mereka adalah berasal dari keluarga Chin Pek Cuan, tapi setelah bentrokan kemarin malam mereka telah terlepas semua, peristiwa ini telah kami laporkan kemarkas besar harap Sam-ya suka memberi pertimbangan "

Hong-po Seng yang kebetulan mendengar pula pembicaraan itu dalam hati merasa amat girang, sekalipun ia sendiri terjatuh ditangan orang tetapi bagaimanapun juga kesulitan yang dihadapi keluarga Chin berhasil ia selesaikan dengan balk, atas perintah dari ibunya sedikit banyak diapun bisa mempertanggung jawabkan diri.

Tampak Oh Sam ulapkan tangannya melarang kakek berjubah hijau itu bicara jauh, ia berpaling dan tanyanya:

„Siocia, apakah kau hendak turun dari kereta untuk bersantap lebih dahulu?"

„Tak usah!" gadis cantik dalam kereta itu menyahut.

„Kau makanlah cepat sedikit, kemudian kita lanjutkan kembali perjalanan kita."

Oh Sam mengiakan, sebelum meninggalkan kereta tersebut, mendadak ia putar tangannya melancarkan totokan kembali keatas jalan darah ‘Tiong Khek’ ditubuh Hong-po Seng, setelah itu baru masuk kedalam ruangan.

Tindakan tersebut kontan membuat Hong-po Seng jadi meringis, pikirnya dalam hati.

,,Aai ... sudah, sudahlah,” rupanya kusir kereta itu adalah seorang jago kawakan yang sangat lihay, untuk meloloskan diri dari tangannya mungkin jauh lebih sukar daripada naik keatas langit !"

Rupanya sebelum jalan darah ‘Thian Ci" yang tertotok lebih dulu tadi sempat ditembusi. Oh Sam telah menambahi dengan sebuah totokan lagi diatas jalan darah „Tiong Khek" jelas kusir itu takut kalau pemuda itu berhasil membebaskan diri dari pengaruh totokan dan melarikan diri. Sesaat kemudian muncul tiga orang dari dalam ruangan, diatas tangan mereka masing-masing membawa sebuah nampan yang penuh berisi makanan lezat, dayang cilik tadi segera membuka pintu kereta dan menerima hidangan tersebut.

Hong- po Seng yang sudah sehari semalam tidak bersantap dengan cepat perutnya jadi keroncongan setelah mencium bau harum air liur tak tertahan mengucur keluar.

Kereta kuda itu diparkir dipinggir jalan, Hong po Seng segera alihkan sinar matanya menengok kesana menengok kemari, ia berharap bisa melihat wajah keluarga Chin sekali lagi.

Tetapi sayang sekali meski letak markas besar cabang perkumpulan Sin Kie Pang terletak ditepi jalan raya, tapi bagi orang2 yang tiada perlu kebanyakan suka berputar lewat jalan lain ditambah pula hari itu adalah hari Tahun Baru, banyak toko tutup dan banyak orang lebih suka berada dirumah, sekalipun Hong-po Seng sudah setengah harian lamanya menengok kesana menengok kemari, tak sesosok bayangan manusiapun berhasil dia jumpai.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian Oh Sam telah muncul kembali diambang pintu, ia langsung menghampiri jendela kereta dan membisikkan sesuatu kedalam.