Bara Maharani Jilid 01 : Membalas budi tuan penolong ayah bunda

 
Jilid 01 : Membalas budi tuan penolong ayah bunda

Malam telah kelam, suasana diseluruh jagad sunyi tak kedengaran sedikit suarapun, cahaya rembulan lapat2 muncul dari balik awan yang gelap . . . angin malam berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan daun dan ranting pepohonan disekeliling sana.

Jauh memandang kedepan yang nampak hanya hutan belantara, gonggongan srigala me nimbulkan suasana yang ngeri dimalam itu..... Sebidang tanah kecil muncul ditengah hutan belantara, sebuah gubuk reyot berdiri disisi sebuah kuburan yang usang .

Dibawah sinar purnama tampak seorang pemuda berusia enam tujuh belas tahunan berlutut didepan kuburan itu, sebuah kuburan tak bernisan, wajahnya hitam pekat dengan alis yang tebal dan badan yang kekar.

Disisi pusara terletak sebuah kursi peyot, seorang perempuan cantik berwajah agung duduk dengan penuh kewibawaan disitu.

Angin berhembus makin kencang, kerlipan kunang2 seakan2 api setan yang muncul dari neraka...kecuali isak tangis yang lirih hanya bintang nun jauh disana menemani jagad yang sunyi dan sepi. Tiba2 perempuan cantik itu menyeka air mata yang membasahi wajahnya, kemudian berkata :

„Anak Seng, waktu sudah tidak pagi lagi, tenangkanlah hatimnu dan dengarkanlah pesan ibumu baik-baik !".

“Ibu, katakanlah ! ananda akan memperhatikannya dengan seksama!" buru2 pemuda itu putar badan seraya berlutut dihadapan ibunya.

„Aaai...!" helaan napas panjang membelah kesunyian yang mencekam seluruh jagad, “Situasi dalam dunia persilatan dewasa ini tidak aman, kejahatan merajalela. suasana diliputi kegelapan bagaikan hutan belantara, kau harus ingat baik2 pesanku, setiap orang yang memiliki ilmu silat jauh lebih kuat darimu, sembilan bagian pastilah kaum durjana yang mengacau masyarakat...". Sepasang alis pemuda itu menjungkit, diatas wajahnya yang hitam itu tiba2 terlintas cahaya yang tajam, sorot mata mengerikan memancar dari-balik kelopak matanya yang basah oleh air mata.

,,Anakku kau tak boleh bekerja menuruti angkara murka" ujar perempuan cantik itu sambil membelai rambut puteranya. "Dalam pertempuran berdarah yang berlangsung dalam pertempuran Pak Beng-Hwie sepuluh tahun berselang, seluruh kekuatan inti kaum lurus dan sesat telah bertemu satu sama lainnya sayang kaum lurus berhasil ditumpas hingga ludas dan kaum sesat malah merebut kemenangan! aaai. dunia telah

berubah, badai darah melanda di-mana2".

la mendongak dan menghela napas panjang.

.,Anakku, kau harus ingat ! dalam perjalananmu didunia persilatan janganlah terlalu menuruti suara hati, jangan mendatangkan bencana bagi dirimu sehingga menyia2kan pendidikan serta pelajaranku selama sepuluh tahun".

"Ananda akan ingat selalu pesan ibu'' sahut pemuda itu sambil menyeka air mata. „Kehormatan serta martabat pribadi adalah urusan kecil, melenyapkan kaum durjana serta menolong umat manusia dalam dunia persilatan barulah pekerjaan yang maha besarl".

Perernpuan cantik itu mengangguk

.,Sebelum kau berhasil menumpas kaum durjana lenyap dari permukaan bumi, janganlah sekali menikah dan punya istri, dari pada persoalan keluarga mengacauksn pikiran serta konsentrasimu dalam usaha untuk menumpas kaum iblis dari muka bumi dan menyelamatkan umat manusia dari lembah kehancuran."

Pemuda tersebut baru berusia enam tujuh belas tahun, tentu saja ia belum sampai memikirkan soal pacar, isteri apalagi menikah dan punya anak, sekalipun begitu ia tahu pesan ibunya pasti ada maksud tertentu maka ia mengangguk berulang sebagai pernyataan bahwa dia akan mengingatnya selalu didalam hati.

Perempuan cantik tadi merandek sejenak, kemudian seraya berpaling kearah kuburan disisi tubuhnya, ia berkata lagi dengan nada sesenggukan.

„Demi keadilan dan kebenaran, kau tak boleh bersipat pengecut dan mencari keselamatan diri sendiri..." .

Teringat akan situasi yang mencekam dalam dunia persilatan dewasa ini, perempuan itu tak dapat menahan lagi dan menangis terisak!

„Ibu legakanlah hatimu" buru2 sianak muda itu menghibur ibunya dengan suara halus. „Ananda pasti akan menjunjung tinggi semangat serta kebesaran jiwa ayahku almarhum, aku pasti akan berjuang mati2an demi kebenaran dalam dunia persilatan".

Perempuan cantik itu mengangguk, demikianlah ibu dan anakpun saling berpandangan dengan air mata bercucuran, membuat hutan belantara itu seakan2 diliputi kabut hitam, menyirnakan cahaya rembulan dan menutupi seluruh jagad. Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya perempuan cantik itu berhasil menguasai diri, sambil menyeka noda air mata dipipinya ia berkata lagi.

„Anakku, dengarlah baik2 ! didalam kota Keng-Chin terdapat seorang lelaki she-Chin bernama Pek-Cuan, ia mempunyai ikatan dendam kesumat sedalam lautan dengan seorang gembong iblis yang bergelar Boe Liang sinkoen dari gunung Boe-Liang-san dalam bilangan Propinsi In-Lam, dendam ini sudah terikat banyak tahun lamanya dan Boe Liang Sinkoen pernah bersumpah akan mencabut jiwa seluruh keluarga Chin !".

Ia merandek sejenak untut tukar napas, kemudian terusnya :

"Dalam pertemuan Pak Beng Hwie yang telah berlangsung tempo dulu, ayahmu telah menantang Boe Liang Sinkoen untuk turun tangan terlebih dahulu dalam babak pertama, maksudnya ia hendak gebah pergi lebih dahulu musuh paling tangguh yang berkepandaian lihay, agar kaum pendekar bisa mendapatkan sedikit harapan untuk hidup. Aaaai ! meskipun pada akhirnya Boe Liang Sinkoen berhasil dikalahkan dan mengundurkan diri dari pertemuan tersebut namun tenaga murni ayahmu pun mengalami banyak kerusakan dalam suatu pertempuran berdarah yang kemudian berlangsung akhirnya ia menemui ajalnya dan gagal menolong kaum pendekar lolos dari bencana!"

Sembari berbicara sinar mata kedua orang itu tanpa terasa sama2 memandang kearah pekuburan disisi mereka, empat pasang mata menyorotkan cahaya redup yang diliputi kesedihan. Terdengar perempuan cantik itu berkata lebih jauh :

,.Sebelum pertarungan antara ayahmu dengan Boe Liang Sinkoen dilangsungkan, mereka telah mengadakan pertaruhan yang diliputi jangka waktu sepuluh tahun, seandainya salah satu diantara mereka menderita kalah maka sang pecundang harus mengurung diri selama sepuluh tahun. Ahirnya sebagaimana kau ketahui Boe Liang Sinkoen lah yang menderita kekalahan maka dia harus mengasingkan diri selama sepuluh tahun. Sesaat sebelum meninggalkan pertemuan tadi ia telah sesumbar dan mengatakan bahwa siapapun yang ada didunia kangouw dilarang mencabut jiwa Chin Pek Cuan kecuali dia seorang. Kaum sesat yang merajai Bu-lim sebagian besar punya hubungan erat dengan dirinya, ada pula yang jeri terhadap dirinya, maka dalam pertemuan tadi kendati ilmu silat yang dimiliki Chin Pek Cuan amat rendah tetapi dia berhasil mengundurkan diri datum keadaan selamat. Sekalipun begitu dengan kekuatan yang dimilikinya sudah tentu ia masih bukan tandingan dari Boe Liang Sinkoen, sekembalinya kerumah terpaksa ia harus lawatkan sisa hidup sepuluh tahun yang terakhir ini dengan tenang sambil setiap saat menantikan kedatangan musuhnya untuk mencabut jiwanya".

Sang pemuda yang selama ini membungkam, kini segera menimbrung dari samping :

„Ibu, waktu sepuluh tahun cukup panjang dan lama, apakah Chin Pek Cuan tak bisa menyingkir atau menyembunyikan diri disuatu tempat yang terpencil misalnya ?”

„Chin Pek Cuan adalah seorang lelaki berhati keras bagaikan baja, dia tak sudi bertekuk lutut terhadap siapapun, kalau suruh dia menyembunyikan diri sebagai kura2 hanya disebabkan untuk hidup lebih lanjut, sudah tentu tak sudi ia lakukan!”.

„Oooh, kiranya begitu!" pemuda itu manggut mendengarkan perkataan ibunya lebih lanjut.

“Pertarungan sengit didalam pertemuan Pak Bang Hwie akhirnya selesai juga, ayahmu menemui ajalnya disaat itu juga sedang ibumu menderita luka parah, sebenarnya pada waktu itu aku ada niat untuk menyusul ayahmu, apa daya ada beban kau yang hidup didunia, maka atas bantuan serta perlindungan para Too yu, aku berhasil menerjang keluar dari kepungan dalam keadaan selamat ".

Ia mengbela napas sedih, matanya sayu dan jauh memndang kedepan....

„Ibumu dapat hidup hingga kini sebagian besar adalah berkat bantuan dari Chin Pek Cuan, dia pula yang membopong janasah ayahmu turun dari pertemuan tersebut".

„Budi pertolongan yang demikian besar sudah sewajarnya kalau kita balas, ananda berjanji pasti akan menemukan orang itu dan membalas budinya",

„Aaai. ! dewasa ini jiwa Chin Pek Cuan sekeluarga

terancam bahaya maut, sedang luka parah dari ibumu belum sembuh, keadaanku bagaikan orang cacad yang kehilangan segenap kekuatan tubuhnya, tidak mungkin aku bisa menandingi Boe-Liang Sinkoen dalam keadaan begini, darimana kita dapat membalas budi yang amat besar itu.” „Bagaimana kalau ananda yang berangkat ke kota Keng-Chiu untuk menyelamatkan jiwa keluarga Chin dari ancaman maut ???" seru si anak muda itu setelah termenung dan berpikir sejenak. „Mungkin dengan kecerdikan kita masih sanggup menggebah pergi Boe- Liang Sin Koen !".

.,Hmm ! dengan kecerdikan apakah kau hendak mengakali Boe Liang Sin-Koen, dengan kekuatan apa kau hendak mengalahkan gembong iblis itu ?” seru sang ibu sambil tertawa dingin. ,.Bukankah baru saja kukatakan kepadamu, melakukan segala persoalan janganlah mengikuti napsu serta angkara murka, kenapa kau sudah melupakan pesan ibumu ?".

Manyaksikan wajah ibunya yang keren dan penuh berwibawa, pemuda itu segera tundukkan kepalanya rendah2 dan segera mohon maaf.

Tiba2 terdengar perempuan itu menghela napas.

„Anakku! ibu selalu berharap agar kau bisa meneruskan cita-cita ayahmu almarhum yang mulia dan luhur itu ! aku harap kau bisa berjuang guna menyelamatkan seluruh umat manusia dari cengkeraman iblis dan durjana, disamping itu akupun berharap kau tidak menjumpai bencana dan bahaya maut hingga bisa hidup seratus tahun lamanya dan tidak memutuskan keturunan ayahrnu. Bagaimana kau hendak mengatur diri hal ini terpaksa harus kuserahkan pada

keputusanmu sendiri ".

„Ananda mengerti, ananda pasti tak akan menyiakan harapan ibu dan ayah !” Dalam hati perempuan cantik itu menghela napas, setelah termenung beberapa saat lamanya daridalam saku dia keluarkan sepucuk surat, katanya sambil serahkan surat tadi ketangan sianak muda itu :

„Sudah banyak tahun aku memutar otak mencari akal yang baik untuk menyelamatkan keluarga Chin dari bencana maut, namun apa daya tak sebuah carapun yang berhasil aku dapatkan maka apa boleh buat terpaksa kugunakan siasat penangguhan serangan untuk rnengundurkan persoalan ini beberapa waktu lagi".

Menyaksikan surat tersebut disegel dengan lak merah buru2 pemuda itu memasukkan ke dalam sakunya mendadak ia teringat bahwasanya udara malam sangat dingin, segera serunya sambil tertawa paksa:

„Ibu, marilah kita kembali kedalam rumah dan Ianjutkan pembicaraan disitu saja, mau bukan??".

Setelah membiarkan puteranya berlutut semalaman suntuk, perempuan cantik itu merasa tidak tega membiarkan dia tersiksa lebih jauh maka dia segera mengangguk.

Begitulah setelah berlutut dan memberi hormat dihadapan nisan ayahnya, sianak muda itu segera mengganderg tangan ibunya berjalan masuk kedalam rumah.

Sakembalinya kedalam rumah, perempuan cantik tadi berkata kembali:

„Boe Liang Sinkoen adalab seorang jagoan yang berotak cerdas, setelah batas waktu sepuluh tahun telan lewat pertama dia pasti akan mendatangi kota Keng-Chiu terlebih dahulu untuk mencabut nyawa Chin Pek Cuan sekeluarga karena itu setelah fajar menyingsing nanti kau harus segera turun gunung sebelum bulan dua belas tanggal delapan belas kau harus sudah berjaga2 diluar rumah keluarga Chin Pek Cuan, nantikanlah kedatangan Boe Liang Sinkoen disini, sebab menurut dugaanku sebelum tengah malam pembunuh itu pasti sudah datang ".

„Kalau memang kita kenal dengan Chin Pek Cuan apa lagi sahabat karib, kenapa aku tak diperkenankan mendatangi mereka ?"

„Aaaai . . ! semasa ayahmu masih hidup, dia adalah pujaan kaum pendekar dan orang gagah. S:andainya Chin Pek Cuan tahu akan asal usulmu maka ia tak nanti mengijinkan kita ibu dan anak ikut menempuh bahaya bersama dirinya, lagipula meskipun aku punya rencana, berhasil atau tidak pada detik ini masih sulit bagiku untuk meramalkannya ".

Bibir pemuda itu bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi perempuan cantik ini sudah keburu ulapkan tangannya seraya berkata :

„Tak usah kau tanyakan apa sebabnya, kau hanya perlu ingat, seandainya Boe Liang Sinkoen telah munculkan diri maka kau harus berusaha memancingnya berlalu dari situ, kemudian setelah tiba ditempat yang tak ada manusianya serahkan surat dariku itu. Kalau ia bertanya apapun juga kepadamu jangan kau jawab barang sekecappun !" Kendati didalam hati pemuda itu merasa sangsi dan tidak habis mengerti, namun ia tidak berani bertanya. Setelah berpikir sejenak tanyanya:

„Apa yang harus kulakukan setelah serahkan surat ini kepadanya-"

„Sepuluh tahun berselang ayahmu berhasil mendapatkan sebatang "Tan Hwee-Tok Lian atau Teratai beracun empedu api yang mana kemudian dipelihara dalam perkampungan Liok-Soat-San Cung kita, kau tentu masih ingat akan persoalan ini bukan?"

„Apakah teratai berbonggol hitam berdaun merah bagaikan batu bata itu?"

Perempuan cantik tersebut mengangguk, meIihat rambut putranya awut2an ia belai kepala sianak muda itu dan menyahut.

„Teratai tersebut mengandung racun yang keji, dalam kolong langit tak ada seorang manusiapun yang sanggup memunahkan daya kerja racun itu, menyusuplah kedalam perkampungan Liok-Soat-San Cung dan usahakanlah untuk mendapatkan teratai beracun itu, kemudian cepat2lah kembali kemari.`'

Bicara sampai disini ia termenung setengah harian lamanya, tiba2 ia menghela napas panjang.

„Seandainya teratai beracun itu telah hi¬lang, maka kau harus selidiki benda itu dan berusaha untuk memperolehnya kembali,”

.,Ibu, andaikata Boe Liang Sin Koen tak mau sudahi persoalan itu begitu saja, apa yang harus ananda lakukan?" Sepasang alis perempuan cantik itu berkerut kencang, beberapa saat lamanya ia berdiri termangu2

„Aku rasa dengan nama besar ayahmu serta diriku dalam dunia persilatan beberapa tahun berselang, suratku itu masih mempunyai daya pengaruh yang besar ia merandek seje¬nak dan tertawa getir. Orang bu-lim sebagian besar tahu kalau ibumu belum mati, tapi tak seorangpun yang tahu kalau ilmu silatku telah musnah, kendati Boe Liang Sin Kun jumawa dan angkuh rasanya dia masih belum berani banyak bertingkah dihadapanku."

Pemuda itu .mengangguk, teringat akan penderitaan ibunya selama ini wajahnya segera berubah jadi amat sedih.

„Setelah ananda berlalu, paling cepat tahun depan baru bisa pulang kegunung, ibu seorang diri..”

“Aaaii…bocah! apa kau anggap kehidupan kita berdua digunung yang terpencil ini adalah suatu kehidupan yang menggembirakan hati ??... " tukas perempuan itu sambil tersenyum, wajahnya tiba2 berobah jadi serius,"Perkumpulan milik kita kemungk!nan besar sudah terbengkalai tidak karuan, delapan bagian Teratai Racun Empedu Api itu sudah dicuri orang, maka dari itu kau harus bertindak menurut keadaan, bagaimanapun juga kau harus dapatkan teratai racun itu dan hantar kemari tahun depan",

„Ibu. apa gunanya Teratai Racun Empedu Api itu bagimu?? apakah penting artinya terhadap masalah yang bersangkutan dengan keluarga Chin?".

„Ooouw...! teratai racun itu mempunyat kegunaan lain". Sebenarnya ia tak mau terangkan lebih jauh, tapi setelah dilihatnya air muka putra kesayangannya berubah jadi murung akhirnya ia tertawa. "Bila Teratai Racun itu berhbasil kau dapatkan maka luka dalam yang kuderita akan jadi sembuh dan ilmu silatku akan pulih kembali seperti sedia kala".

”Aaah. kiranya begitu, kenapa tidak kau terangkan sejak tadi?” jerit pemuda itu sambil berjingkrak2 kegirangan. Benda mustika yang demikian berharga merupakan benda impian setiap umat setelah lewat sepuluh tahun, mana mungkin masih berada ditempat semula?"

Perempuan cantik itu mengerti akan kebingungan putranva, untuk mencegah pikiran yang bukan2, dengan cepat ia berseru sambil tertawa:

„Duduknya perkara dibalik persoalan ini sukar kuterangkan dalam waktu singkat nanti saja setelah kau berhasil mendapatkan teratai racun itu barulah kuceritakan kepadamu. Fajar telah menyingsing, kau boleh segera melakukan perjalanan!".

Mendengar luka dalam ibunya bakal bisa sembuh pemuda itu tidak berpikir lebih jauh lagi, semangatnya berkobar dan segera mempersiapkan diri untuk berangkat.

Tapi sesaat kemudian ia merandek dan balik kesisi ibunya sambil berkata dengan hati berat:

„lbu, fajar baru saja menyingsing, biarkanlah ananda menemani ibu sarapan pagi lebih dahulu kemudian baru melakukan perjalanan!"

Perempuan cantik itu mengangguk, maka mereka berduapun masuk kedapur mempersiapkan sarapan pagi. ,Anakku, ilmu silat yang kau miliki amat rendah" ujar perernpuan cantik itu memecahkan kesunyian. „Aku rasa dalam perjalananmu berkelana dalam dunia persitatan, alangkah baiknya kalau ganti nama dan merahasiakan asal usulmu yang sebenarnya, dari pada memancing kaum iblis serta kaum durjana untuk menimpakan bencana kematian bagimu".

.,Ananda mengerti semakin kita simpan baik2 kerlipan cahaya pedang, makin sedikit kesulitan yang bakal ditemui" jawab pemuda ini, setelah termenung sejenak bisiknya lirih. „Ibu, siapa sih sebenarnya pembunuh dari ayahku? dan siapa pula yang melancarkan serangan berat terhadap ibu sehingga kau orang tua menderita luka dalam yang amat parah ?"

Mendengar pertanyaan itu air muka perempuan cantik itu seketika berubah jadi adem, dengan perasaan tidak senang ia menegur :

„Bukankah sudah sering kukatakan kepadamu, bahwa kau harus lebih mengutamakan keadilan serta kebenaran umat manusia daripada dendam kesumat peribadi? mengapa kau selalu saja mengingat2 dendam pribadi ?"

„Hmmm.. ! sungguh membuat hatiku jadi ke cewa..!”

Melihat ibunya marah, buru2 pemuda ini tundukkan kepalanya dan tidak berkata lagi, sementara daiam hati ia berpikir :

„Jelas orang yang telah membinasakan ayahku serta melukai ibuku adalah beberapa orang gembong iblis yang merajai dunia persilatan, aku harus berlatih ilmu silatku lebih tekun asal kaum durjana dan manusia2 sesat ini berhasil kulenyapkan dari permukaan bumi, berarti pula dendam kesumat ayahku telah berhasil kutuntut balas ". Tiba2 terdengar perempuan cantik itu berseru kembali

:

„Seng-jie, setelah turun gunung kau tidak

diperkenankan menyelidiki maupun mencari tahu persoalan yang menyangkut pertemuan Pak Beng Hwie.. " ia merandek sejenak., lalu ujarnya lagi. „Kecuali keenam belas jurus ilmu pedang itu, andaikata kau pernah mencuri belajar ilmu silatku, maka ilmu silat tersebut tak boleh kau latih apalagi mempergunakannya dihadapan orang lain !"

Tiada hentinya pemuda ini mengangguk tanda mengerti.

Beberapa saat kemudian fajar telah menyingsing, sarapan pagipun telah disiapkan, maka selesai bersantap dia pun mendengarkan kembali nasehat serta penerangan2 dari ibunya mengenai perguruan silat yang ada di Bulim, peraturan Bu-lim serta pantangan2nya.

Dengan seksama pemuda itu mencatatnya didalam hati.

Menanti sang surya telah memancarkan cahayanya menyinari seluruh jagad, ia baru berpamitan kepada ibunya, bersembahyang didepan batu nisan ayahnya kemudian berangkat turun gunung.

Kota Keng-Chiu terletak disebelah selatan jalan raya King Ouw, jaraknya dengan bukit dimana ibunya berdiam kurang lebih ada ribuan li jauhnya, untung ia masih muda, pakaian yang dikenakan sederhana terbuat dari bahan kasar, berwajah hitam pekat dan tidak terlalu menarik perhatian orang. Sepanjang perjalanan tiada gangguan apapun yang dijumpai, dan suatu hari sampai juga sianak muda itu ditempat tujuannya.

Musim dingin telah tiba, angin utara yang kencang dan berhawa dingin berhembus kencang dikota Keng-Chtu, salju turun dengan derasnya mengubah seluruh permukaan bumi bagaikan lapisan kapas.

Setibanya didalam kota, tanpa mengalami kesulitan apapun ia berhasil mendapat tahu letak gedung bangunan milik Chin Pek Cuan, diam2 ia berjaga selama beberapa hari disitu.

Selama ini diapun berhasil mengetahui bahwa keluarga Chin beserta pelayan serta pembantunya semua berjumlah tiga empat belas orang. Tahun baru telah menjelang tiba, kecuali perayaan yang agak sederhana dan sunyi rupanya pihak keluarga Chin sama sekali tidak menggubris atas bencana besar yang menimpa diri mereka.

Sebagai seorang bocah yang patuh terhadap perintah orang tuanya, sianak muda itu berjaga terus siang maupun malam disekitar gedung keluarga Chin kendati angin dan salju turun dengan derasnya.

Beberapa hari dengan cepatnya telah berlalu malam ini adalah Bulan Cia-Gwee tanggal satu, malam telah menjelang tiba, ia sambil mengenakan seperangkap baju kasar telah berdiri didepan pintu keluarga Chin, memandang dua belah pintu yang tertutup rapat perlahan2 ia naik keatas undakan dan duduk bersila di depan pintu sambil setiap saat memperhatikan gerak- gerik dalam gedung itu.

Angin berhembus semakin kencang hujan salju turun makin deras, pakaian kasar yang tipis kini sudah ternoda oleh salju, keadaan pemuda tersebut tidak lebih bagaikan pengemis yang tiada bertempat tinggal.

Mendadak... suara rentetan ledakan mercon berkumandang dari dalam gedung.

Diikuti pintu terpentang, lebar2, dari balik gedung berjalan keluar tiga orang, seorang kakek berjanggut panjang dan memakai jubah lebar berdiri ditengah sedangkan dikedua belah sisinya masing2 berdiri seorang pemuda dan seorang dara ayu.

Perlahan2 pemuda itu mendongak, dalam hati ia menduga sikakek tua itu pastilah tuan penolongnya Chin Pek Cuan, ia tak mau kehilangan adat maka buru2 bangkit berdiri seraya menjura.

„Cayhe adalah seorang gelandangan yang tak bertempat tinggal" katanya, “Bilamana cayhe harus berteduh dari serangan angin dan salju didepan gedung anda, mohon maaf yang sebesar2nya.”

Untuk menghindar pelbagai pertanyaan yang mungktn bakal diajukan secara bertubi2, selesai berkata ia segera putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

„Siauw-ko, tunggu sebentar !” mendadak kakek itu menghardik.

Mendengar teriakan itu terpaksa sianak muda tadi berhenti dan balik kembali.

“Loo Wangwee, kau ada urusan apa memanggil diriku

?” Dengan gusar kakek itu mendengus, matanya melotot wajahnya membesi. sambil melirik sekejap kearah gulungan kain dibawah ketiak pemuda itu, dia tertawa dingin.

“Hmm ! rupanya kau adalah kaki tangan anjing dari perkumpulau Sin-Kie-Pang ?”.

„Perkumpulan panji sakti ???" seru pemuda itu melengak. „Hamba bernama Hong-Po Seng dan sama sekali tiada sangkut pautnya dengan perkumpulan Sin Kie-Pang ".

„Hong-po Seng ??" Dengan pandangan yang tajam kakek itu menatap wajah pemuda tersebut tak berkedip.

„Suatu nama yang asing sekali, diantara jago2 yang ada dalam Bu-lim tiada seorangpun yang memakai she Hong¬po !"

Hong-po Seng mengerti bahwasanya sikakek tua itu telah mencurigai asal usulnya yang kurang genah, merasa sulit untuk menerangkan persoalan ini terpaksa ia menjura seraya berseru :

„Hamba masih muda dan tak tahu urusan, bila sudah mengganggu ketenteraman Loo wangwee harap suka dimaafkan!".

„Nanti dulu, diluar dingin sedang berhembus kencang dan salju turun dengan besarnya, silahkan saudara cilik masuk kedalam ruangan untuk minum air teh dahulu".

Seraya berkata kakek itu mendadak melancarkan satu cengkeraman kilat kearah pergelangan lawan. Menyaksikan datangnya serangan yang demikian cepat, diam2 Hong po Seng merasa terperanjat, sebetulnya ia masih sanggup untuk berkelit kebelakang namun secara tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera urungkan niat untuk berkelit dan biarkan tangannya dicekal .

Ia pasti sudah menaruh curiga terhadap diriku " batinnya dalam hati." Andai kata aku melawan niscaya kesalah pahaman ini akan berlangsung makin dalam, bahkan ada kemungkinan malahan mendatangkan pelbagai kesulitan bagiku.

Dalam pada itu kelima jari tangan kekar itu berbagaikan jepitan telah mencengkeram pergelangan Hong po Seng kemudian menariknya masuk kedalam ruangan.

“Blaaam!” pintu besar kembali tertutup rapat.

Melangkah keatas undak2kan tampaklah lampu lilin menerangi seluruh ruangan, meja perjamuan telah dipersiapkan ditengah pendopo.

Kakek itu baru rnelepaskan cengkeramannya setelah tiba disisi meja perjamuan, ia ambil tempat duduk dikursi utama sedang pemuda dan gadis itu duduk dikedua belah sisinya.

Hong-po Seng lantas putar otaknya, ia merasa setelah tiba disini sepantasnya kalau ia hadapi dengan keadaan yang wajar, maka sehabis memberi hormat diapun mengambil tempat duduk dikursi bagian tamu.

Menunggu setelah pemuda itu duduk, kakek tadi baru tertawa hambar dan berkata : „Saudara cilik, dengan menempuh hembusan angin kencang dan badai salju yang deras semalam suntuk kau berjaga didepan rumah kami aku rasa dibalik tindak tandukmu ini pasti tersembunyi suatu alasan yang besar bukan ? malam ini adalah malam Tahun Baru, perduli kau musuh atau sahabat, harap kau suka memberi keterangan yang jelas kepada kami "

,.Aaah. ternyata tingkah lakuku sudah diperhatikan mereka sejak permulaan" pikir Hong po Seng. „Aaai . . . ! bagaimanapun juga orang kangouw kawakan memang jauh lebih lihay !"

Karena pihak lawan sudah mengajukan pertanyaan secara blak2an maka untuk sesaat ia jadi bingung tidak keruan, tak tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan begini, akhirnya terpaksa ia menjura dan bertanya dengan suara lirih:

„Tolong tanya siapakah nama besar loo Wangwee ??".

„Siauwko, apa gunanya sudah tahu masih pura2 bertanya ? loohu adalah Chin Pek Cuan" ia tuding pemuda serta gadis disisinya lalu menambahkan. „Dia adalah puteraku Giok Long, serta puteriku Wan Hong, ilmu silat keluarga kami biasa2 saja dan tiada yang perlu dibanggakan.”

Mengikuti arah yang ditunjuk.Hong-po Seng berpaling, tampaklah Chin Giok Long adalah seorang pemuda ganteng yang berusia dua puluh tiga empat tahunan, sedang Chin Wan Hong adalah seorang gadis ayu dan alim yang berusia tujuh delapan belas tahunan, saat itu mereka berduapun sedang memandang kearahnya dengan pandangan sangsi. Disaat yang amat singkat ituiah Hong-po Seng berhasil mendapatkan jawaban yang dirasakan tepat, ujaraya:

„Boanpwee salama berkelana dalam dunia persilatan tidak lain hanya berharap bisa memperoleh seorang guru yang pandai dan belajar sedikit ilmu silat untuk menjaga diri, dari mulut orang hamba dengar bahwa dikota Keng Chiu terdapat seorang jago she- Chin bernama Cuan, katanya ilmu telapak Kim-sah-ciang nya telah mencapai puncak kesempurnaan,..”.

„Haah.. haah..saudara cilik, kau terlalu memuji, sedikit kepandaian silat yang loohu miliki tidak pantas untuk dihargai orang".

Semenrara itu Chin Giok Liong sedang mengambil poci arak untuk memenuhi cawannya, tiba2 Chin Pek Cuan merampas poci ini kemudian didorongnya kedepan.

Hong-po Seng yang menyaksikan datangnya poci arak tadi mencurigakan, buru2 meletakkan kembali cawannya kemeja, lalu dengan sepasang tangan menekan disisi cawan ia unjukkan sikap seolah2 sedang memberi hormat.

Rupanya Chin Pek Cuan hendak meminjam penghormatan arak itu untuk menjajal tenaga lweekang dari Hong-po Seng, namun setelah menyaksikan sikap pemuda itu dalam hati segera pikirnya:

“Sunggub cerdik dan cekatan keparat cilik ini, pandai sekali dia merahasiakan diri hingga sedikit titik kelemahanpun tak nampak." Mendadak Chin Wan Hong berpaling ujarnya kepada ayahnya.

„Tia, aku lihat saudara ini sama sekali tiada maksud jahat, cepat atau lambat Boe Liang Sin-Koen bakal datang kemari, apa gunanya kau seret orang lain turun kelaut hingga membuat dia ikut merasakan penderitaan ini?"

„Haa...,haaa.,..Wan jie, kau sudah kebelinger meskipun ia berdandan bagaikan orang rudin tetapi gerak geriknya gagah dan mantap, tidak nanti seorang jagoan biasa dapat mendidik seorang murid yang begitu pandai dan luar biasa macam dia!"

Ucapan ini mendelongkan wajah Chin Giok Liong berdua, tanpa sadar mereka sama2 berpaling kearah Hong-po Seng.

Menyaksikan pemuda ini baru berusia enam tujuh belas tahunan, berbadan kekar dan berwajah hitam, wajah persegi dengan telinga lebar, hidung mancung, alis tebal, meski wajahnya gagah namun tiada keistimewaan apapun matanya bening sedikitpun tidak menyerupai seorang jagoan bertenaga dalam tinggi, tanpa sadar mereka berseru aneh dan merasa amat tercengang, masa manusia macam beginipun merupakan seorang jagoan libay yang maha hebat ?

Melihat sorot mata ketiga orang itu sama2 dialihkan kearahnya, Hong Po Seng jadi jengah dibuatnya, buru2 ia menjura.

„Loo Wan-gwee tadi kau mengungkap soal perkumpulan Sin Kie Pang, sebetulnya perkumpulan macam apakah panji sakti itu?". „Ehm! perkumpulan Sin Kie Pang?? tidak boleh suatu perkumpulan yang sering kali melakukan perbuatan2 jahat dan diluar peri kemanusiaan, kaum durjana dan iblis yang ada disekitar Ouw-Khong delapan puluh persen adalah bajingan2 dari perkumpulan Sin Kie Pang !".

„Ehmm. sedikitpun tidak salah, orang ini sangat membenci segala bentuk kejahatan" pikir Hong Po Seng, untuk menghindari perhatian orang terhadap dirinya, buru2 ia bertanya kembali:

-„Cici ini barusan mengatakan bahwa cepat atau lambat Boe-Liang Sinkoen bakal datang kemari, apakah dia juga seorang pentolan dari per:aumpulan Sin-Kie- Pang???".

Chin Pek Cuan adalab seorang jago kawakan yang mempunyai pengetahuan serta pengalaman yang amat luas, ia tahu Hong-po Seng sengaja bertanya ini itu tidak lebih hanya untuk mengulur waktu belaka, sebagai orang yang berwatak aseran mendengar orang lain mengungkap soal orang yang paling dibenci nya selama ini, hawa gusarnya segera berkobar dengan mata melotot dan wajah merah padam segera serunya:

,,Kau tanyakan soal Boe-Liang Sinkoen, bangsat tua itu?? dia adalah ".

.,Dia adalah seorang Sinkoen yang disegani orang dan seorang manusia gagah yang akan datang menuntut balas bagi sakit hatinya '. serentetan suara yang amat

dingin berkumandang datang dari luar pintu.

Sambil berseru pintu besar terpentang lebar dibawah sorot cahaya lilin yang bergoyang terhembus angin perlahan2 muncullah seorang pemuda berbaju putih yang berwajah ganteng bermata tajam dan penuh dengan napsu membunuh dimukanya, ia berdiri bertolak pinggang ditengah ruangan kurang lebih beberapa depa disisi Hong-po Seng.

Menyaksikan kehadirannya yang mendadak tanpa mengeluarkan sedikit suarapun diam2 Hong-po Seng terkesiap juga atas kelihayan orang, tapi ia mengetahui bahwa orang itu pasti bukanlah Boe-Liang Sinkoen pribadi, tanpa terasa ia mendengas dan diperhatikannya orang itu beberapa saat lamanya.

Usia pemuda berbaju putih itupun belum mencapai dua puluh tahunan, berdiri ditengah kalangan matanya dengan tajam mengerling kesana kemari dengan senyuman dingin menghiasi bibirnya, bukan saja sombong dan jumawa bahkan lagaknya tengik membikin hati jadi panas.

Sekilas memandang sebagai jago yang berpengalaman Chin Pek Cuan mengerti bahwa pihak lawan tidak bermaksud baik, perlahan2 ia bangkit berdiri dan menegur:

„Siapakah saudara ?? slapa namamu ?? apakah kedatanganmu kemari adalah sebagai utusan dari Boe- Liang Sinkoen ???".

“Hmm! aku bernarna Kok See Piauw„ Sinkoen adalah suhuku! Eeh.. eeeh...bila kalian tahu diri cepatlah siapkan senjata dan turun tangan bersama, barang siapa dapat melarikan diri dari pintu ruangan ini, kongcu-ya anggap nasibnya baik dan mujur, mulai detik itu juga aku tak akan mencari satroni dengan dirinya lagi".

,.Sombong amat orang ini !" batin Hong Po Seng, dia segera berseru dengan suara lantang :

„Sudah lama cayhe mendengar akan nama besar dan Boe Liang Sin Koen, diluar sedang turun hujan sangat lebat, karena sahabat tidak undang gurumu untuk masuk kedalam ruang?? agar dengan begitu cayhepun bisa ikut mengagumi kehebatan dari gurumu !".

Sepasang alis Kok See Piauw terkejut kencang, sepasang matanya dengan tajam menatap pemuda itu tanpa berkedip, kemudian jengeknya;

“Hmm..sungguh tak nyana kaupun seorang manusia yang lihay" ia tertawa dingin ." Sin koen jauh berada ribuan li dari sini, tak usah kuatir, kalian boleh turun tangan dengan hati lega."

Hong-po Seng tertegun. pikirnya :

„Aaah. ternyata kejadian jauh berada diluar dugaan ibuku, apa yang harus kulakukan sekarang ??".

Untuk beberapa saat lamanya ia tiada akal untuk mengatasi persoalan ini, sinar matanya lantas berputar dan sengaja dialihkan kearah Chin Pek Cuan, sedikitpun tidak salah sinar mata semua orangpun lantas beralih kearah si orang tua itu.

Sambil mengelus jenggot Chin Pek Cuan mendongak dan tertawa ter-bahak2, suaranya nyaring bagaikan genta dipalu bertalu-talu membuat seluruh ruangan bargetar dan cahaya api Jilin bergoyang kencang. „Tua bangka sialan” maki Kok See Piauw penuh kegusaran. „Kematian sudah berada di ambang pintu, kau masih juga berani berlagak ??? kurang ajar !"

Sementara itu baik Chin Giok Liong maupun Chin Wan Hoag tidak mengucapkan sepatah-katapun, dengan wajah penuh kegusaran mereka berdiri disisi ayahnya sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan. beberapa orang pelayan yang semula melayani dalam ruangan itu diam2 pada ngeloyor pergi sesudah dilihatnya situasi berubah makin buruk.

Selesai tertawa dengan wajah menampilkan suatu sikap yang aneh Chin Pek Cuan menolek kearah Kok See Piauw, lalu berkata:

„Bagaimanapun juga Thian memang mempunyai mata, akhirnya dia memberi juga kesempatan bagi loohu untuk melampiaskan rasa mangkel dan mendongkol yang kupendam selama ini. Hmmm ! kalau kau yakin mempunyai kekuatan untuk menandingi diriku, silahkan menanti sebentar !"

Berbicara sampai disitu tanpa menunggu jawaban orang, ia lantas berpaling kearah Hong-po Seng seraya menegur :

,.Engkoh cilik, Lku harap kau mengutarakan maksud tujuanmu yang sebenarnya kepada loo hu, sebenarnya ada urusan apa kau datang kemari ?"

Dalam waktu yang amat singkat, pelbagai pikiran sudah berkelebat dalam benak Hong-po Seng, menyaksikan situasi yang terbentang di depan mata saat ini, ia merasa cara yang sudah diatur ibunya tak mungkin bisa dilaksanakan lagi sebab meski usia Kok See Piauw masih muda nanun ditinjau dari gerak-geriknya ia sadar meski dirinya bergabung dengan Chin Pek Cuan sekalian bertiga belum tentu bisa menandingi kehebatannya, ia merasa bahwa dirinya harus mencari satu akal bagus untuk menghadapi keadaan ini, kalau tidak bukan saja keluarga Chin bakal musnah bahkan dia sendiripun bakal mati diujung tangan orang she Kok tersebut.

Walaupun usianya masih muda baik kecerdasan maupun keberanian Hong-po Sang tiada taranya, kalau tidak tak nanti ibunya serahkan tugas yang sangat berat ini kepada dirinya.

Oleh sebab itu ia lantas bangkit berdiri meninggalkan tempat duduknya, ambil keluar surat titipan dari ibunya dan membuka sampul surat itu kemudian dibaca isinya.

Tampaklah surat itu berbunyi demikian:

Surat ini berasal dari Hoa, perkampungan Liok-Soat- san cung dan dipersembahkan untuk Boe-Liang Sin- Koen Lie kong:

“Sejak berpisah dipuncak Pak Beng, dalam sekejap mata sepuluh tahun sudah lewat., sengketa kita waktu

ada dikota Co-Chiu tempo dulu menyangkut soal Lie kong dengan kaum pendekar tapi dalam kenyataan suamiku almarhumlah yang jadi pokok utama peristiwa tersebut, aku rasa semua orang sudah tahu akan persoalan ini. ".

Membaca sampai disini sianak muda itu merasa rada tercengang bercampur curiga, pikirnya:

„Entah dendam sakit hati apa yang dimaksudkan?? mengapa menyangkut pula diri ayahku?" Tampak surat itu berbunyi demikian:

„Dendam berlarut2 hingga kini, dan sekarang kau hendak melampiaskan hati itu terhadap orang lain, benarkah tindakan itu?? meski aku Boen-si tidak becus, tak nanti aku berpeluk tangan belaka menyaksikan orang lain yang harus memikul akibat dari persoalan itu.

Maka andaikata kau percaya dengan perkataan aku tunggulah satu tahun lagi, sampai waktunya aku pasti akan melayaninya Lie kong untuk beradu kepandaian guna menyelesaikan masalah lampau. ",

Hong Po Seug terkesiap, diam2 serunya didalam hati.

„Aaah. kiranya ibu sengaja menulis surat tantangan kepada Boe Liang Sin Koen dan ada maksud untuk menyelesaikan sendiri masalah sakit hati ini !".

Sudah tentu ia tahu dibalik persoalan ini tentu masih terkandung hal lain yang lebih mendalam, namun musuh tangguh berada didepan mata tak mungkin baginya untuk berpikir lebih jauh, sepasang tangannya segera diremas dan hancurlah surat tadi jadi ber keping2.

Tatkala Hong Po Seng mengambil keluar sepucuk surat tadi semua orang memandangnya dengan pandangan penuh curiga, tetapi setelah dilihatnya pemuda itu dengan cepat membaca isi surat tadi kemudian menghancurkan lumatkan jadi berkeping2, dari curiga mereka jadi tercengang.

Dalam pada itu Kok See Piauw tetap membungkam dalam seribu bahasa, sepatah kata pun tidak diucapkan keluar.

„Dengan susah payah ibu mendidik aku selama seputuh tahun, apakah tujuan yang sebenarnya?" pikir Hong-po Seng didalam hati. ,,Kok See Piauw tidak lebih hanya anak murid dari manusia she Lie itu, kalau aku tak sanggup menghadapi dirinya, apa gunanya aku bercita2 membalaskan dendam ayahku serta menolong umat bu- lim dari bencana?".

0000O0000

Setelah mengambil keputusan didalam hatinya, tanpa menjawab pertanyaan dari Chin Pek Cuan lagi ia berpaling kearah Kok See Piauw dan menegur dengan suara hambar:

„Sahabat Kok, seorang diri kau melakukan perjalanan sejauh ribuan lie tidak lain hanya datang kemari untuk mancari balas, aku rasa ilmu silat yang dimiliki gurumu pasti sudah berhasil kau pelajari semua bukan ? "

Sebagai murid kesayangan dari gurunya sejak kecil Kok See Piauw sudah terbiata di manja, hingga tanpa terasa terdidiklah satu watak tidak pandang sebelah matapun terhadap orang lain sekarang rnendengar ejekan tersebut kontan hawa amarahnya berkobar.

Dengan mata melotot alis menjungkit dan wajah merah padam bentaknya:

„Manusia rendah yang tak tahu diri ! ayoh cepat cabut keluar senjatamu, kalau kau sanggup menahan lima puluh jurus serangan Kok sauwya-mu, detik itu juga sauw-ya mu akan angkat kaki dan berlalu dari sini '"

“Bagus sekali !" sambut Hong-po Seng dengan suatu teriakan keras, ia segera menyambar bungkusan kain meja dan ambil keluar selatang pedang baja yang kasar dan berat.

Lebar pedang ini cuma dua coen dengan tebal delapan millimeter, warnanya hitam pekat dan sukar untuk dibedakan sebenarnya senjata itu terbuat dari besi atau baja.

Dengan sepasang alis berkerut Kok See Piauw segera mendengus dingin, dadanya dibusungkan kedepan, sang telapak diputar setengah lingkaran lalu meluncur kemuka kirim satu pukulan dahsyat.

„Kurang ajar, manusia liar yang tak tahu aturan !" maki Hong-po Seng dengan hati mendongkol.

Kakinya segera melangkah kesamping untuk menghindari ancaman lawan, pedang bajanya dIsapu keluar mengirim satu babatan kilat.

Sreeet...! sepintas lalu babatan ini kelihatan sangat lambat padahal dalam kenyataan cepatnya luar biasa, tampak cahaya hitam berkelebat lewat serentetan hawa pedang yang tajam dan menggidikkan hati langsung menerjang dada Kok See Piauw.

Sungguh lihay anak muda dari Boe Liang Sin-Koen, dengan cepat badannya miring ke samping menghindarkan diri dari babatan musuh, tangan kirinya menjangkau keluar merampas gagang pedang lawan, sementara telapak kanannya laksana kilat meluncur kemuka melancarkan satu babatan dahsyat.

Bukan begitu saja, bersamaan waktunya pula ia lancarkan tendangan kilat dengan kaki kanannya menghajar pusar sianak muda itu.

Dalam satu jurus dengan tiga gerakan yang berbeda, benar2 suatu ancaman yang keji, telengas dan dahsyat. Chin Pek Cuan ayah beranak tiga orang yang menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan diam2 merasa bergidik juga setelah melihat kelihayan orang.

Ilmu silat yang dipelajari Hong po Seng istimewa sekali, ia jarang mengadakan latihan namun apa yang dipelajari amat banyak, dalam satu jurusan serangan ia sudah dapat menyaksikan kelihayan lawan, ia tahu akan kehebatan, serta kelemahan pihak musuh dan menyadari pula dalam lima puluh jurus mendatang masih sulit bagi dirinya untuk menyelesaikan pertarungan ini.

Tampak pedang bajanya menegang, badannya tiba2 berputar kencang satu lingkaran busur pedangnya dengan mengikuti gerakan tersebut bergeser pula kebelakang, gerakan yang mirip suatu serangan tapi bukan serangan, mirip namun bukan pertahanan ini seketika dengan gampangnya berhasil memunahkan ancarnan dari serangan kilat Kok See Piauw.

„Hmm ! gerakan yang manis jitu." seru Kok See Piauw tanpa sadar. “Keparat cilik rupanya kau masih memiliki sedikit ilmu hitam yang ampuh !".

Dalam pembicaraan pedangnya laksana kilat merangsek kemuka dalam sekejap mata ia telah melancarkan delapan buah serangan kilat yang kesemuanya merupakan jurus2 mematikan dan jurus2 keji.

Dengan cepat Hong po Seng putar pedangnya sedemikian rupa sehingga membentuk satu lapisan benteng tak berwujud yang sangat kuat, dengan gampang pula ia berhasil membendung kedelapan buah serangan lawan. Sreeeet ! . . Sreeeeet..! desiran tajam melanda permukaan bumi, angin puyuh menggulung kesana kemari menggidikkan hati siapa yang manyaksikan jalannya pertempuran itu.

Chin Pek Cuan yang menonton dari samping kalangan, diam2 merasa tercengang, pikirnya :

„Ilmu pedang apakah ini ? tampaknya biasa sederhana dan sama sekali tiada keajaiban atau keanehannya . . . "

Sebagai salah seorang jago tua yang pernah menghadiri pertemuan Pak Bang Hwie, boleh dikata kepandaian silat dari pelbagai partai, perguruan serta aliran yang ada dikolong langit sudah pernah dilihatnya semua, tetapi rangkaian ilmu pedang yang digunakan Hong-po Seng barusan sama sekali belum pernah dilihat ataupun didengarnya, terasa betapa dahsyatnya pengaruh serangan itu menguasai seluruh kalangan.

Pertarungan antara jago2 lihay hanya berlangsung sekejap mata, tahu2 Kok See Piauw telah melancarkan delapan buah serangan berantai lagi, dengan gampang Hong-po Seng berhasil memunahkan seluruh ancaman tersebut, namun secara lapat2 ia mulai terdesak pada posisi dibawah angin dan tak sanggup untuk melancarkan serangan balasan kembali.

„Kok See Piauw, tahan!" mendadak terdengar Chin Pek Cuan membentak keras.

”Bentakan ini amat nyaring dan keras mem¬buat seluruh bangunan gedung itu bergetar keras, begitu hebat suaranya seolah2 guntur yang membelah bumi disiang hari bolong. Dengan cepat Kok See Piauw melayang mundur kebelakang, lalu dengan nada penuh kegusaran teriaknya:

“Tua bangka sialan, bukankah sejak tadi aku sudah suruh kalian untuk turun tangan bersama2, siapa suruh kamu tolak tawaranku itu ??? Hmmm! kalau masih ada pesan terak¬hir yang hendak kau sampaikan cepat utarakan keluar, kalau tidak Kongcu ya mu tidak akan berlagak sungkan2 lagi".

Chin Pek Cuan tertawia dingin.

„Bajingan cilik, kau tak usah gelisah! malam ini loohu akan suruh kau mati disini tanpa tempat kubur !".

Kemudian ia berpaling kearah Hong Po Seng dan bentaknya:

,,Sahabat kecil, perduli darimanakah asal usulmu kalau kau hendak mencari satroni dengan bajingan ciiik she Kok ini, aku harap kau suka menunggu dahulu di luar pintu, kami keluarga Chin tidak sudi memberi kesempatan kepadamu untuk berkelahi disini !".

Begitu keras dan keren suaranya sehingga menggetarkan hati sianak muda kita. mula2 Hong Po Seng tertegun kemudian pikirnya.

„Secara terang2an aku membantu dirinya," kenapa sebaliknya dia malah memaki aku dengan kata yang begitu keras? bukankah hal ini jauh melanggar kebiasaan

?".

Berpikir demikian ia lantas mengundurkan diri kesamping kalangan dan berkata sambil tertawa:

„Loo Wan-gwee, bukankah kau hendak bunuh sauw ya itu sahingga tiada tempat kubur baginya?? kalau cahye diharuskan menunggu diluar pintu. Bukankah aku bakal menunggu dengan sia2 belaka ??".

,,Keparat cilik, tutup bacotmu yang busuk" dengan penuh kegusaran Kok See Piauw tertawa seram „Kongcu- ya akan suruh kau merasakan kelihayanku !".

Dia maju kedepan kemudian dengan gemasnya melancarkan satu babatan kearah tubuh lawan.

Chin Pek Cuan mengirim satu tendangan kilat menghancurkan meja perjamuan dihadapannya, Braaak... ! kepingan kayu bagaikan anak panah berbareng meluncur kearah tubuh Kok See Piauw.

Anak murid dari Boe-Liang Sin koen ini jadi semakin gusar, telapaknya dibabat kebawah menghantam rontok kepingan2 kayu meja yang mengancam-dirinya, angin puyuh menyapu permukaan bumi, kepingan kayu yang termakan sabetannya ini segera mencelat ke angkasa dan menyebar keempat penjuru.

Diam2 bergidik juga hati semua orang yang menyaksikan kedahsyatan serangannya itu, belum sampai pikiran kedua berkelebat dalam benak mereka, Kok See Piauw sudah rentangkan sepasang lengannya menyerang berbarengan kearah Hong po Seng serta Chin Pek Cuan.

„Akan kusaksikan dahulu kelihayan dari loo enghiong ini, biarlah untuk sementara waktu aku menyingkir dahulu kesamping kalangan" pikir Hong-po Seng.

Sepasang kakinya segera menjejak tanah, sebelum serangan musuh mengancam tiba badannya sudah melayang mundur beberapa depa kebelakang dan lolos dari ancaman tersebut. Tampaklah Chin Pek Cuan memiringkan tubuhnya kesamping, sepasang telapak laksana kilat didorong kemuka secara berbareng.

"Criiing...!" bentrokan nyaring menggema diangkasa seolah2 dua batang medali emas saling membentur satu sama lainnya.

Kok See Piauw mendengus gusar, jari telunjuk tangan kirinya bagaikan batang tombak meluncur kemuka mengancam sepasang mata Chin Pek Cuan, telapak kanan menjangkau ke bawah secara tiba2 menyerobot dadanya.

Ilmu telapak Kim Sah Ciang yang dilatih Chin Pek Cuan telah mencapai pada puncaknya, dalam pertarungan itu sepasang telapaknya berubah jadi kuning keemas2an, menyaksikan datangnya ancaman jari tangan lawan yang ampuh dan sukar diduga arah tujuannya, dengan cepat ia kaluankan jurus serangan "Long-Po-Kang-Ciauw" atau Gulungan Ombak Menghantam Karang dan secara tiba2 mem-bentur kedepan.

Jurus" Long Po Kang Ciauw " atau gulungan ombak menghantam karang ini meski hanya suatu jurus serangan yang amat sederhana, namun setelah dipergunakan Chin Pek Cuan yang disertai dengan segenap tenaga murni yang dimilikinya berubah jadi amat dahsyat.

Sudah tentu Kok See Piauw tidak sudi membiarkan tubuhnya termakan oleh pukulan maut itu, buru2 ia enjotkan badannya melayarg mundur beberapa depa kebelakang: „Ehmm…! Ilmu telapak Kim Sah Ciang nya bisa dilatih mencapai taraf sedemikian hebatnya, benar2 luar biasa

!" pikirnya Hong Po Seng didalam hati.

Mendadak terdengar Chin Pek Cuan membentak keras:

„Chin Tiong Pasang api ! Long jie, wan jie siapkan senjata tajam”

Mendengar teriakan itu baik Hong Po Seng maupun Kok See piauw yang sedang bertempur jadi amat terperanjat, sebelum mereka sempat mengartikan maksud dari teriakan tersebut, Chin Giok Liong serta Chin wan Hong telah mencabut keluar senjata tajamnya dan bersama2 menubruk kearah Kok See Piauw,

"Bluumm ! Bluumm ...!" suara ledakan keras segera menggema dari sisi kiri kanan, depan serta belakang ruang tengah itu, seketika itu juga bau belirang yang tajam dan amat menusuk penciuman menyebar keseluruhan angkasa.

„Tua bangka sialan! kau pingin modar” maki Kok See Piauw dengan hati terkejut bercampur gusar.

Sepasang telapaknya laksana kilat melancarkan serangan berantai yang hebat dan mematikan.

Menghadapi serangan2 yang gencar dan luar biasa ini Chin Giok Liong berdua keteter hebat, tidak selang beberapa jurus mereka sudah terdesak kedalam posisi yang amat kritis dan bahaya, setiap saat maut bakal mengancam keselamatan mereka.

Hong Po Seng yang menjumpai kejadian jadi terperanjat, tanpa memperdulikan situasi disekelilingnya yang keritis dan berbahaya itu, ia ayunkan pedangnya dan menerjang kedepan. Bersama dengan Chin Pek Cuan, satu dikiri yang lain dikanan berbareng membendung jalan pergi Kok See Piauw.

Blumm. . . ! Blumm . . . ! ledakan dahsyat tiada hentinya berdentuman diangkasa, jilatan api mulai membakar ruang depan dan kian lama kian membesar sehingga akhirnya terjadilah kebakaran besar dalam seluruh ruangan.

Ternyata Chin Pek Cuan yang tahu bahwa bencana besar setiap saat bakal menimpa keluarganya, ia bersumpah tak mau menyerah dan takluk dengan begitu saja, maka secara diam2 disekeliling ruang tengah telah ditanami obat2 peledak, ia akan menantikan kedatangan Boe Liang Sin-koen dalam ruangan itu kemudian baru turunkan perintah memerintahkan pembantu2nya yang telah dipersiapkan diluar ruangan menyulut api sumbu dan meledakkan obat2 peledak tersebut.

Sudah lama ia mengetahui akan kelihayan Boe Liang Sin-koen, tahu pula bahwa api sembarangan tidak nanti bisa mengurung dirinya untuk menghindari kecurigaan orang maka ia perintahkan Chin Giok Liong putranya serta Chin Wan Hong putrinya untuk ikut serta dalam usaha tersebut, mereka mengambil keputusan untuk adu jiwa bersama2 Boe Liang Sin koen.

Siapa tahu Boe Liang Sin Koen yang ditunggu2 tidak datang, sebaliknya malah dibebani dengan nyawa Hong- po Seng.

Siasat adu jiwa yang dipersiapkan ini sudah tentu lihay sekali, dalam sekejap mata seluruh ruang tengah teIah terkepung oleh jilatan api yang berkobar2 dengan hebatnya, ditambah pula hembusan angin yang kencang membuat kobaran api tadi menyebar makin cepat. Tidak selang beberapa saat kemudian seluruh gedung rumah keluarga Chin telah tertelan didalam lautan api.

Cahaya api membumbung tinggi keangkasa, asap yang tebal menutupi awan, berita kebakaran ini dengan cepat menjalar keseluruh kota, penduduk disekitar sana berbondong2 datang mengerubung sambil menolong api, sementara dalam ruang tengah masih berlangsung suatu pertempuran berdarah yang seru dan ramai.

Ditengah pertarungan sengit itu secara beruntun Kok See Piauw melancarkan serangan mematikan, ia bermaksud cepat2 menyelesaikan pertarungen itu dan segera meloloskan diri dari kepungan.

Dalam tiga lima jurus kemudian, Chin Pek Cuan bertiga segera terjebur dalam situasi yang kritis dan berbahaya, maut setiap saat mengancam keselamatan mereka.

Menjumpai situasi yang kritis dan tidak menguntungkan itu, secara mendadak Hong- po Seng membentak keras, sekuat tenaga ia lancarkan satu babatan kedepan.

Babatan ini bukan saja cepat bahkan kuat dan penuh bertenaga, laksana samberan kilat hawa pedang menyebar keempat penjuru mengiringi desiran tajam yang memekikkan anak telinga.

Kok See Piauw terperanjat, segera pikirnya :

„Sungguh hebat keparat cilik ini, tenaga lweekang yang dimilikinya tidak berada dibawah tenaga murniku !". Walaupun ia jumawa namun bukanlah manusia yang bodoh, ia tahu Hong- po Seng pun anak murid seorang jago lihay kenamaan, dengan hadirnya pemuda itu dalam pertempuran tersebut tak mungkin baginya untuk melancarkan pembasmian terhadap keluarga Chin, apalagi kobaran api sudah kian mendesak kalangan itu, ia segera ambil keputusan untuk mengundurkan diri terlebih dahulu dari sana.

Sepasang telapaknya segera melancarkan serangan memaksa keempat orang itu buru2 mengundurkan diri kebelakang.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah mendadak ia enjotkan badannya meluncur naik keatas tiang penglari.

Siapa sangka posisi Chin Pek Cuan sekarang dari tetamu jadi tuan rumah, sudah tentu ia tak sudi membiarkan musuhnya melarikan diri dengan begitu saja, dengan cepat ia loncat keatas sambil mengirim satu babatan yang dahsyat ketubuh musuhnya

Kok See Piauw teramat gusar, ditengah udara ia tarik napas panjang2 dan disimpannya didalam dada, mendadak tubuhnya berjungkir balik mengarah kebawah, tangan kanannya dengan menggurat setengah lingkaran bagaikan gunung Tay san menekan kepala ia hajar batok kepala Chin Pek Cuan.

"Sudah ! sudahlah !" diam2 Hong po Seng berseru didalam hati bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia segera meluncur kearah Kok See Piauw, dan..sreeet…! sebuah babatan dahsyat segera dilepaskan. Sementara itu hawa panas dalam ruangan semakin meningkat, asap tebal menutupi seluruh jagad, bukan saja panas dan sumpek suara gemerutukan kayu yang dimakan api lebih2 menggetarkan hati orang yang mendengar.

Berada dalam situasi yang serba sulit dan membingungkan ini Kok See Piauw tak sanggup melayang lebih jauh, akhirnya ia berhasil dipaksa turun kembali kedalam ruangan.

Dalam sekejap mata ketiga orang itu terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang maha sengit, dua bersaudara Chin segera maju membantu. siapa sangka pertarungan antara ketiga orang itu semakin seru, gagallah kedua orang bersaudara itu ikut bagian dalam pertarungan tadi.

Ilmu pedang yang dimiliki Hong-po Seng semuanya berjumlah enam belas jurus, bukan saja semuanya jurus sederhana yang umum dan biasa bahkan tiada keistimewaan apapun jua, namun kesempurnaan tenaga lweekang yang dipancarkan dalam pedang itu benar2 luar biasa sehingga membuat Kok See Piauw sama sekali tak berkutik.

Mendadak satu serangan kilat lawan memaksa Chin Pek Cuan tak sanggup mempertahankan diri, ia segera terjerumus dalam keadaan yang kritis dan berbahaya.

Serangan Kok See Piauw yang telah menggunakan ilmu "Kioe Pit Sin Ciang" ajaran perguruannya melanda datang bagaikan gulungan ombak ditengah samudra luas, begitu hebat dan dahsyat membuat permukaan bumi seakan2 bergetar. Chin Pek Cuan jadi nekad, ia kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menerjang musuh dan mengajak lawan adu jiwa . .

Ditengah suasana yang panas dan tegang inilah, satu ingatan berkelebat dalam benak Hongpo Seng, secara tiba2 ia teringat kembali akan ibunya yang mengasingkan diri ditengah pegunungan sunyi.

„Tugas pertama belum kuselesaikan, bila demikian saja jiwaku lantas melayang, bagaimana malu dan menyesalnya ibu yang sudah mendidik diriku secara susah payah" jeritnya didalam hati.

Berpikir demikian, semangatnya lantas berkobar kembali, ditengah bentakan nyaring pedangnya laksana sambaran kilat berkelebat ke depan melancarkan satu serangan mematikan, cahaya hitam berkilauan menusuk pandangan, dengan dahsyat dan hebatnya langsung menerobos pertahanan musuh dan mengancam tubuh lawan.

Kok See Piauw benar2 dibikin naik pitam, hawa amarahnya sudah tak dapat dikendalikan lagi, menyaksikan api telah membakar seluruh isi ruang dalam, ia sadar bila dirinya tidak segera angkat kaki dari situ mumpung sekelilingnya belum terbakar, niscaya badan¬nya bakal terbakar dan jiwanya akan melayang ditempat itu.

Secara beruntun ia segera melancarkan serangan berantai memancing pergi pedang Hong-po Seng, sementara telapak kanannya lak sana kilat memancarkan satu tabokan maut kearah Chin Pek Cuan. Menyaksikan tindakan lawan, Hong-po Seng terperanjat, ditinjau dari datangnya serangan itu ia tahu bahwa sulit bagi Chin Pek Cuan untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut, segera pikirnya :

„Aku datang kemari adalah bermaksud untuk membalas budi kebaikan yang pernah ia lepaskan terhadap keluarga kami, mana boleh kubiarkan dia menemui ajalnya ditangan keparat tersebut ?"

lngatan itu laksana kilat berkelebat dalam benaknya, cepat2 pedangnya diputar balik dengan maksud untuk membendung serangan lawan, siapa sangka tindakannya itu sudah tak sempat lagi.

Dalam situasi yang amat kritis dan berbahaya itulah bahu kirinya segera dimiringkan ke samping kemudian bagaikan banteng terluka ia tumbuk lengan Kok See Piauw yang sedang mengirim ancaman maut itu.

Tindakan Hong-po Seng yang berani nekad beradu jiwa ini jauh diluar dugaan Kok See Piauw, dalam gugupnya ia lepaskan ancamannya terhadap Chin Pek Cuan dan putar badan sambil kirim satu babatan kebelakang.

"Bluum...!" serangan tadi dengan telak bersararg dibahu Hong-po Seng membuat sianak muda itu mendengus berat, badannya terpental delapan depa dari tempat semula dan jatuh bergelindingan diatas tanah.

Menyaksikan peristiwa itu, sepasang mata Chin Pek Cuan berubah jadi merah berapi2 dengan gusarnya ia berteriak :

„Loohu akan adu jiwa dengan dirimu !". Sepasang lengan direntangkan kemudian menubruk kedepan dengan suatu gerakan yang amat ganas.

Melihat pibak lawan bagaikan orang gila sedang melancarkan tubrukan kearahnya, Kok See Piauw terkesiap, bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Karena takut pinggangnya sampai ketubruk lawan sehingga sulit baginya untuk melepas¬kan terburu2 ia enjotkan badannya berkelit satu langkah kesamping, kemudian bersuit nyaring dan meloncat naik ketengah udara.

Dalam pada itu seluruh dinding ruangan tengah sudah berubah jadi merah membara karena termakan api, jilatan api berkobar di mana2, karena tubrukunnya mengenai sasaran yang kosong, tak tahan lagi tubuh Chin Pek Cuan terjengkang kedepan sejauh beberapa langkah. menanti ia berhasil berdiri tegak, Kok See Piauw sudah berada empat tombak dari tempat semula dan sedang melayang keatas atap rumah.

Semua kejadian ini hanya berlangsung dalam waktu yang amat singkat, baru saja Hong po Seng bangkit berdiri, ujung bajunya sudah terjilat api dan mulai terbakar, buru2 ia jatuhkan diri kembali keatas tanah dan berguling2 untuk memadamkan jilatan api tersebut, menanti ia meloncat bangun untuk kedua kalinya, suitan nyaring Kok See Piauw sudah berada ratusan tombak jauhnya.

Kecerdikan Hong po Seng melebihi orang lain, menyaksikan empat penjuru sudah terkepung oleh kobaran api yang amat dahsyat sehingga tiada jalan lain mereka untuk lolos dari ruangan itu tanpa berpikir panjang lagi ia buang pedang bajanya keatas tanah kemudian menyambar sapasang kaki Chin Giok Liong sekali diputar dengan kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya ia lemparkan tubuh sianak muda itu keatas lobang atap rumah.

Mimpipun Chin Giok Liong tidak menyangka kalau ia bakal ditangkap Hong po Seng dan dilemparkan keatap rumah, menanti ia mendusin dari kagetnya dan tubuhnya telah melayang ketengah udara buruk teriaknya:

"Hong po Siauwhiap..”

Sepasang tangannya diayun kesamping, ia segera menyambar tiang penglari rumahnya dan dipegang erat- erat.

Dalam sangkaan Hong po Seng ruang tengah itu sangat tinggi, ia duga dua bersaudara keluarga Chin tidak nanti sanggup melompatnya, maka sesudah melemparkan tubuh Chin Giok Liong keatas tiang ia segera putar badan mencengkeram sepasang kaki Chin Wan Hang „Gadis muda itu jadi ketakutan, buru2 ia kebelakang tubuh ayahnya sambl menjerit:

„Ayah !!”

Mula2 Chin Pek Cuan pada tertegun melihat tingkah laku sianak muda itu, tapi dengan cepat ia mengarti ada maksud yang sebenarnya, dengan cepat ia tarik lengan Hong po Seng lalu diajaknya lari maju kesudut ruangan itu.

„Saudara cilik, ikutilah diri loohu !"serunya.

„Tapi..tunggu dulu sebentar Loocianpwee..pedang boanpwee . ". Chin Wan Hong yang mendengar perkataan itu buru2 memungut pedang baja milik pemuda tersebut dari atas tanah, sementara Chin Giok Liongpun sudah loncat turun keatas tanah, maka mereka berduapun dengan cepat menyusul dibelakang ayah mereka.

Sebelah barat ruang besar tadi merupakan dinding tembok yang terbuat dari batu bata, kobaran api belum sampai membakar habis tempat itu. Setibanya ditepi dinding sepasang telapak Chin Pek Cuan segera mendorongnya dengan sekuat tenaga.

Gruuuduk…! dinding tersebut terhantam roboh sepuluh bagian, sambil menarik pergelangan tangan Hong po Seng, jago tua she Chin ini segera menerobos masuk kedalam sebuah mulut lorong yang sempit.

Sadarlah hati Hong po Seng sesudah menyaksikan bahwasanya dinding tembok yang dibangun disitu ternyata beriapis dua, pikirnya:

„Tidak aneh kalau mereka tetap bersikap tenang kendati empat penjuru sekeliling mereka sudah terkepung oleh jilatan api, ternyata jauh sebelumnya mereka sudah siapkan jalan keluar yang sangat rapi, Huuu„,_ hitung2 aku sudah menguatirkan keselamatan mereka dengan percuma..!”

Lorong sempit dibalik lapisan dinding ini amat panas bagaikan sebuah tungku yang di bawah onggokan api, secara beruntun keempat orang itu menerobos masuk beberapa lang kah jauhnya, keringat sebesar kacang kedelai telah membasahi seluruh tubuh mereka, udaranya sumpek dan sesak ditambah pula hawa yang panas menyengat badan mereka semua walaupun terhitung jagoan lihay, tak urung napasnya tersengkal2 juga bahkan hampir saja jatuh tak sadarkan diri,

Pertama2 Chin Wan Hong lah yang tidak tahan, tangan dan kakinya jadi lemas, senjata tajam yang dicekalnya segera terjatuh keatas tanah.

Buru2 Hong po Seng menyambar tangannya dan menyeret gadis itu meneruskan perjalanan sedang Chin Giok Liong memutar pedang baja dari atas tanah kemudian menyusulnya dari belakang.

Demikianlah dengan susah payah mereka merangkak lagi sejauh beberapa tombak dalam lorong sempit itu, tiha2 Chin Pek Cuan menghentikan langkahnya dan meraba sebuah papan batu, dengan sekuat tenaga dibukanya batu tadi.

Dibawah batu besar tersebut merupakan sebuah gua yang dalam, pertama2 Chin Pek Cuan yang meloncat turun terlebih dahulu, disana ia bikin api dan memasang obor.

Ketiga orang lainnya dengan cepat menyusul dari belakang, begitu menginjakkan kakinya didalam gua itu terasalah badan jadi nyaman dan segar kembali, dengan seksama Hong Po Seng segera mengamati daerah sekeliling tempat itu.

Kiranya dimana mereka berada saat ini merupakan sebuah ruang bawah tanah yang besar dan lebar, dihadapan ruang itu terdapat sebuah pintu dan entah menghubungkan ruangan tersebut dengan mana ?

Chin Pek Cuan dengan mulut membungkam membuka pinto tadi dan kemudian memimpinnya berjalan lebih dahulu dipaling depan, sementara ketiga orang lainnya mengintil dibelakangnya.

Diluar pintu ruang bawah tanah merupakan sebuah lorong yang sempit, tidak jauh mereka melewati lorong tadi sampailah disebuah pintu lagi, pintu itu sebenarnya terkunci tapi sekarang kuncinya telah dibuka dan dibuang ke samping.

Entah berapa lama mereka sudah berjalan, mendadak terdengar Chin Pek Cuan berseru dengan nada gemas :

„Aaai...! sayang ! sayang...".