Si Pisau Terbang Li Bab 88 : Kemenangan dan Kekalahan

Mode Malam
Bab 88. Kemenangan dan Kekalahan

Kaki A Fei tertekuk saat ia tersungkur dan tubuhnya mulai mengejang. Baru ia sadar bahwa mereka tidak punya jalan keluar yang lain lagi. Perasaan itu membuatnya menjadi setengah linglung.

Namun sudah percuma untuk menangis menggerung- gerung sekalipun.

Li Sun-hoan berada di balik pintu besi ini, disiksa perlahan-lahan menantikan kematiannya.

Dan apa yang bisa dilakukan kedua sahabatnya hanyalah menunggu dengan pasrah di luar.

Tapi apakah sebenarnya yang mereka tunggu? Apakah mereka menunggu Siangkoan Kim-hong membuka pintu itu?

Jika Siangkoan Kim-hong membuka pintu, itu berarti hidup Li Sun-hoan telah berakhir.

Jadi apa yang mereka nantikan? Mereka sedang menantikan suatu kematian. Tidak mungkin Siangkoan Kim-hong akan menyayangkan nyawa mereka pula. Saat Siangkoan Kim-hong keluar dari pintu itu adalah saat mereka menandatangani surat kematian mereka.

Sun Sio-ang berlari ke arah A Fei dan berusaha menarik A Fei bangun.

“Ayo, cepatlah lari,” kata Sun Sio-ang. “Kau…..Kau menyuruh aku lari?”
“Tidak ada lagi yang dapat kau lakukan sekarang, aku…..”

Tanya A Fei, “Bagaimana dengan engkau?”

Sun Sio-ang menggigit bibirnya dan berpikir lama. Lalu ia menunduk dan berkata, “Situasiku berbeda.”

“Berbeda?”

“Aku sudah memutuskan sejak lama bahwa jika ia mati, aku pun tidak akan hidup tanpa dia. Tapi kau…..”

Kata A Fei, “Aku memang tidak bermaksud ikut mati menemani dia.”

“Oleh sebab itulah kau harus secepatnya lari.” “Aku pun tidak bermaksud untuk lari.” “Kenapa?” 
Jawab A Fei singkat, “Kau pasti tahu kenapa.”

Kata Sun Sio-ang, “Aku mengerti, kau pasti ingin membalaskan kematiannya. Tapi itu kan tidak harus sekarang. Kau bisa menunggu….”

“Aku tidak bermaksud untuk menunggu.”

“Tapi jika kau tidak menunggu, maka…..maka…..” Tanya A Fei, “Maka apa?”
Bibir Sun Sio-ang mulai berdarah.

Serunya lantang, “Maka kaulah yang akan mati!”

A Fei memandangi bekas noda darah di pedang bambunya.

Darah itu sudah kering.

Kata Sun Sio-ang, “Aku tahu, apapun yang akan terjadi, kau akan tetap mencoba. Tapi usahamu akan sia-sia belaka.”

Kata A Fei, “Dan apa gunanya juga kau menunggu di sini untuk mati bersama dengan dia?”

Sun Sio-ang tidak punya jawaban. Kata A Fei lagi, “Kau menunggu di sini karena kau tahu bahwa ada hal-hal tidak akan berhasil, namun tetap saja harus kau lakukan.”

Sun Sio-ang akhirnya mengeluh panjang dan berkata, “Makin lama perkataanmu semakin mirip dengan perkataannya.”

A Fei terdiam dan menganggukkan kepalanya.

Ia mengakuinya. Tidak mungkin ia menyangkalnya.

Setiap orang yang pernah berteman dengan Li Sun-hoan tidak mungkin tidak terimbas oleh sikapnya yang tidak pernah mementingkan diri sendiri.

Jika ia tidak pernah bertemu dengan Li Sun-hoan, mungkin A Fei telah kehilangan kepercayaan terhadap sesama manusia sejak lama.

‘Jangan percaya kepada siapapun juga, dan jangan pernah menerima kebaikan orang lain; kalau kau tidak menurutinya, hidupmu akan penuh dengan berbagai macam penderitaan.’

Ibu A Fei harus menanggung duka dan derita seumur hidupnya. Tidak pernah sekalipun A Fei melihat ibunya tersenyum. Ia telah meninggal dalam usia muda, mungkin karena ia telah putus harapan dalam hidupnya.

‘Aku bersalah kepadamu. Seharusnya aku menunggu sampai kau dewasa, baru aku meninggalkan dunia ini. Tapi aku sungguh tidak tahan lagi, aku merasa sangat lelah…. Maafkan aku, aku tidak dapat meninggalkan apa- apa untukmu, hanya sedikit pesan ini saja. Aku harus hidup menderita seumur hidupku untuk mempelajarinya, jadi jangan pernah lupa akan pesanku ini.’

A Fei tidak pernah lupa akan pesan ibunya.

Waktu ia meninggalkan alam bebas dan masuk ke dalam kehidupan bermasyarakat, ia tidak sedang berusaha mencari penghidupan yang lebih baik. Sebaliknya, ia ingin membalas dendam terhadap umat manusia, siapa pun juga, atas penderitaan ibunya.

Tapi ironisnya, orang yang pertama ditemuinya adalah Li Sun-hoan.

Li Sun-hoan telah membuatnya sadar bahwa hidup itu tidak melulu penderitaan dan duka nestapa. Li Sun-hoan membuatnya sadar bahwa kematian bukanlah suatu hal yang buruk dan mengerikan, seperti yang dulu dipikirnya. Ia telah belajar begitu banyak dari Li Sun-hoan.

Awalnya ia sungguh yakin bahwa moralitas dan keluhuran budi itu tidak ada dalam dunia nyata.

Tapi Li Sun-hoan telah menyentuh hidupnya begitu rupa, bahkan lebih daripada ibunya sendiri.

Karena yang didengungkan Li Sun-hoan adalah ‘cinta’, bukan ‘benci’.

Cinta memang selalu lebih mudah diterima daripada benci. 
Namun kini, begitu sulitnya A Fei memadamkan api kebencian yang sedang berkobar dalam hatinya.

Kobaran kebencian ini mendorongnya untuk menghancurkan. Menghancurkan orang lain, menghancurkan diri sendiri, menghancurkan segala sesuatu.

Ia sungguh merasa bahwa hidup itu sama sekali tidak adil. Bahwa orang seperti Li Sun-hoan harus berakhir seperti ini.

Sun Sio-ang menghela nafas dengan berat. Katanya, “Jika Siangkoan Kim-hong tahu kita berdiri di sini menantikan dia, ia pasti sangat berbahagia.”

A Fei mengertakkan giginya dan berteriak, “Biar saja dia berbahagia! Hanya orang baik saja yang selalu menderita. Kebahagiaan hanya dianugerahkan kepada orang-orang jahat!”

Tiba-tiba terdengar suara berseru, “Kau salah besar!”

Walaupun pintu besi itu begitu berat, ternyata saat pintu itu dibuka, tidak kedengaran derit sedikit pun.

Oleh sebab itulah, mereka berdua tidak menyadari bahwa pintu itu telah dibuka.

Seseorang melangkah perlahan keluar dari sana…..dan ia adalah Li Sun-hoan! Ia kelihatan lelah dan letih, namun ia hidup. Yang terpenting adalah ia hidup!
A Fei dan Sun Sio-ang menoleh dan menatapnya dengan mulut ternganga. Air mata langsung mengalir membasahi wajah mereka.

Air mata bahagia. Dalam kegembiraan dan kesedihan, selain air mata, tidak ada lagi yang perlu dilakukan, tidak ada lagi yang perlu diucapkan. Tidak seorang pun bergerak.

Mata Li Sun-hoan pun telah terasa panas dan basah oleh air mata. Dengan tersenyum ia berkata, “Kau salah besar. Orang yang baik tidak akan menderita dalam keputusasaan. Dan penderitaan yang dialami orang yang jahat akan jauh lebih besar daripada kebahagiaannya.”

Sun Sio-ang memburu ke arahnya dan jatuh ke dalam pelukan Li Sun-hoan. Ia menangis tersedu-sedu.

Ia tidak bisa berhenti menangis saking bahagianya.

Setelah beberapa saat, akhirnya A Fei mendesah dan tidak dapat membendung pertanyaannya. “Di manakah Siangkoan Kim-hong?”

Li Sun-hoan membelai rambut Sun Sio-ang dengan lembut sambil menjawab, “Ia pasti menderita sekarang, karena ia telah membuat satu kesalahan.”

“Kesalahan apa yang diperbuatnya?” 
“Sesungguhnya ia punya begitu banyak kesempatan untuk membunuhku. Ia bisa memojokkanku sampai aku tidak bisa lagi mempertahankan diri. Tapi ia tidak menggunakan kesempatan itu.”

Bagi seseorang seperti Siangkoan Kim-hong, mengapa ia sengaja melepaskan kesempatan sebaik itu?

Sun Sio-ang pun ikut bertanya, “Kenapa bisa begitu?”

Li Sun-hoan tersenyum dan berkata, “Karena ia ingin berjudi.”

Mata Sun Sio-ang berkilat dan ia berkata, “Ia pasti tidak percaya akan perkataan ‘Pisau Terbang Li Kecil, sekali sambit tidak pernah luput’!”

“Ia tidak percaya ….. ia tidak percaya pada siapapun juga. Tidak ada satu pun dalam dunia ini yang dipercayainya,” kata Li Sun-hoan.

Tanya Sun Sio-ang, “Dan bagaimana jadinya?” “Jadinya, ia sudah kalah!”
Ia sudah kalah!

Tiga kata yang sederhana.

Kemenangan dan kekalahan ditentukan dalam sekejap saja. Tapi betapa menegangkannya, betapa menakjubkannya satu kejap itu!

Satu kilatan cahaya itu pasti begitu mengerikan. Namun juga begitu mempesona.

Satu-satunya kekecewaan Sun Sio-ang adalah bahwa ia tidak bisa menyaksikan apa yang terjadi dalam satu kejap itu.

Ia tidak perlu melihatnya dengan mata kepala sendiri. Hanya memikirkannya saja, membuat jantungnya berdegup kencang!

Meteor pun begitu indah dan menawan.

Meteor meluncur membelah langit malam dengan cahayanya yang terang berkilat, membuat siapapun yang melihatnya pasti tergugah hatinya.

Tapi meteor tidak dapat dibandingkan dengan kilatan sinar sebilah pedang.

Cahaya meteor tidak hidup lama.

Namun kegemilangan sebilah pedang akan bercahaya selama-lamanya!

Pintu itu telah terbuka.

Tidak ada yang bisa memisahkan dunia ini lagi. Jika seseorang ingin mengasingkan diri dari dunia, ia pasti telah terlebih dulu ditolak oleh dunia ini!

A Fei melangkah masuk ke dalam.

Yang pertama terlihat olehnya adalah pisau itu, pisau yang penuh misteri.

Pisau Terbang Li Kecil!

Pisau itu tidak menembus leher Siangkoan Kim-hong, namun cukup untuk mengambil nyawanya.

Pisau itu masuk tepat di pangkal lehernya, menembus tulang bahunya, dan mengarah ke atas. Pisau itu pasti dilepaskan dari tempat yang sangat rendah.

Wajah Siangkoan Kim-hong kelihatan ketakutan dan tidak percaya. Sama seperti ekspresi sebagian besar orang yang dibunuh Li Sun-hoan sebelum dia.

Semua kehidupan diciptakan sama. Terutama di hadapan kematian, kita semua sama. Tapi sayang, banyak orang menyadarinya setelah hasil akhir ditentukan.

Wajah Siangkoan Kim-hong penuh dengan rasa terkejut, ragu, dan tidak percaya.

Ia sama seperti yang lain, ia tidak percaya ada pisau yang begitu cepat. Bahkan A Fei pun sulit percaya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Li Sun-hoan menyambitkan pisau itu.

Ia ingin sekali Li Sun-hoan menceritakan segala sesuatu dengan detil, tapi ia tahu bahwa Li Sun-hoan tidak akan melakukannya.

Kegemilangan cahaya dalam satu kejap itu. Kecepatan sambitan pisaunya. Keduanya tidak dapat diterangkan dengan kata-kata.

‘Ia sudah kalah!’

Tangan Siangkoan Kim-hong masih terkepal erat, seolah- olah sedang berpegangan pada sesuatu. Apakah ia masih tidak mau percaya akan apa yang terjadi sampai akhirnya?

A Fei tiba-tiba merasa muram, seakan-akan ia bersimpati pada orang ini. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia merasa begitu.

Mungkin ia bukan bersimpati pada Siangkoan Kim-hong, melainkan pada dirinya sendiri.

Karena ia adalah manusia, dan Siangkoan Kim-hong pun adalah manusia. Semua manusia memiliki rasa sedih dan penderitaan yang serupa.

Walaupun bukan ia yang kalah, apakah yang ia pegang erat-erat? Apakah yang sesungguhnya telah didapatkannya? 
A Fei terpekur sekian lama, lalu menolehkan kepalanya. Yang ditemukannya adalah Hing Bu-bing.
Seolah-olah Hing Bu-bing tidak menyadari ada orang yang masuk ke situ. Walaupun selama itu ia berdiri tepat di belakang A Fei, seakan-akan ia sedang berdiri di dunia lain.

Walaupun matanya menatap lurus pada Siangkoan Kim- hong, sebenarnya ia sedang menatap dirinya sendiri.

Hidup Siangkoan Kim-hong adalah hidupnya. Ia adalah bayangan Siangkoan Kim-hong.

Ketika hidup sudah musnah, bagaimana mungkin bayangannya bisa tetap ada?

Kapan pun dan di mana pun, setiap kali Hing Bu-bing berdiri di dekatnya, orang akan merasakan aura membunuh melingkupi dirinya.

Tapi sekarang, aura itu sudah hilang lenyap.

Ketika A Fei masuk ke dalam situ, ia bahkan tidak menyadari ada jiwa lain di sana.

Walaupun Hing Bu-bing masih hidup, yang tinggal hanyalah tubuhnya yang hampa. Ia bagaikan sebilah pedang yang telah kehilangan ketajamannya. Sama sekali tidak ada fungsinya lagi. A Fei mengeluh panjang dalam hatinya. Ia sungguh mengerti perasaan Hing Bu-bing.

Karena ia pun pernah mengalami perasaan yang sama.

Setelah beberapa lama, Hing Bu-bing berjalan menuju mayat Siangkoan Kim-hong dan mengangkatnya dengan kedua tangannya.

Ia masih belum melihat ada orang lain di situ. Dengan perlahan, ia berjalan menuju ke pintu.

Tanya A Fei, “Kau tidak ingin membalas dendam?”

Hing Bu-bing tidak menoleh. Kecepatan langkahnya pun tidak berubah.

A Fei tertawa dingin. “Kau takut ya?” Hing Bu-bing tiba-tiba berhenti.
Kata A Fei, “Masih ada pedang di pinggangmu. Mengapa kau takut untuk menghunusnya? Kecuali pedang itu hanya untuk pajangan saja.”

Hing Bu-bing memutar badannya.

Mayat itu jatuh ke tanah dan pedang pun melayang keluar dari pinggangnya.

Pedang itu berkelebat maju, menyerang langsung ke arah leher A Fei! Ia memang sangat cepat, secepat biasanya. Tapi entah bagaimana, ketika pedang itu sudah sampai setengah kaki dari targetnya, pedang bambu A Fei telah tiba di lehernya!

A Fei telah membuat tiga pedang bambu. Ini adalah yang kedua.

Ia memandang Hing Bu-bing dan berkata perlahan, “Kau memang luar biasa cepat, namun kau tidak bisa lagi membunuh. Tahukah kau kenapa?”

Hing Bu-bing menurunkan pedangnya.

“Karena keinginanmu untuk mati lebih besar daripada musuhmu. Itulah sebabnya kau tidak bisa lagi membunuh.”

Mata Hing Bu-bing yang biasanya mati, mendadak bercahaya, penuh kesedihan. Setelah lama memandang A Fei, akhirnya ia menjawab singkat, “Ya.”

Kata A Fei, “Aku bisa membunuhmu.” “Ya.”
“Tapi aku tidak akan membunuhmu.”

“Kau tidak akan membunuhku?” tanya Hing Bu-bing kaget.

“Aku tidak akan membunuhmu karena engkau adalah Hing Bu-bing!” 
Otot-otot wajah Hing Bu-bing bergerak-gerak.

Ini adalah perkataan yang tepat sama, yang diucapkannya kepada A Fei saat pertama kali mereka bertempur. Namun hari ini, perkataannya telah berbalik menjadi perkataan A Fei.

Ia memikirkan perkataan ini dengan murka. Seolah-olah api telah berkobar di matanya, bagaikan seonggok abu yang tiba-tiba tersulut lagi.

A Fei memandangnya dan berkata, “Kau boleh pergi sekarang.”

“Pergi…..?”

“Kau pernah memberikan kesempatan kedua kepadaku. Kini aku pun memberikan kesempatan kedua kepadamu….kesempatan yang terakhir.”

Ia memandangi punggung Hing Bu-bing yang melangkah keluar. Perasaan yang aneh bergelora dalam hatinya.

‘Gigi balas gigi, darah balas darah.’

Apa yang dulu diberikan Hing Bu-bing kepadanya, kini telah dibayarnya lunas.

Ketika hati manusia sudah mati, hanya dua hal yang bisa membuat orang itu terus hidup.

Yang satu adalah cinta, yang lain adalah benci. 
A Fei bisa terus hidup karena cinta. Dan kini ia ingin memperpanjang hidup Hing Bu-bing oleh kebencian.

Tapi sungguh, ia hanya ingin Hing Bu-bing terus hidup.

Jika ini adalah balas dendam, ini adalah cara membalas dendam yang tidak mementingkan diri sendiri. Kalau semua balas dendam dilakukan dengan cara ini, sejarah umat manusia akan jauh lebih cerah. Dan tidak dapat diragukan bahwa kehidupan umat manusia akan berlanjut untuk selama-lamanya.

Dalam bentuk apapun, balas dendam itu selalu memuaskan hati.

Namun apakah saat ini A Fei sungguh bergembira?

Ia hanya merasa lelah, sangat sangat lelah…..dan pedang di tangannya pun terlepas, jatuh ke tanah.

Selama itu Sun Sio-ang hanya memandangnya dari jauh. Baru saat itu, ia berani menghela nafas lega.

‘Amat mudah membunuh seseorang. Yang teramat sulit adalah meyakinkan seseorang untuk mau terus hidup.’

Ini adalah perkataan Li Sun-hoan.

Siapapun dia, apapun situasinya, metode yang digunakannya selalu sama, yaitu dengan cinta kasih, bukan kebencian. Karena Li Sun-hoan tahu, kebencian hanya akan membawa kehancuran. Namun kekuatan cinta dapat memberikan hidup yang kekal.

Cintanya hanya akan bertambah lebar seiring dengan waktu. Kepribadiannya akan selalu mengutamakan sesama manusia, untuk selama-lamanya.

Sun Sio-ang baru menyadari bahwa A Fei telah berubah menjadi sama seperti Li Sun-hoan.

Ia tidak tahan dan melirik ke arah Li Sun-hoan.

Li Sun-hoan tampak begitu letih dan lelah, sampai- sampai tidak bisa lagi berbicara.

Sun Sio-ang menatapnya sampai lama, baru akhirnya tersenyum dan berkata, “Kalian berdua baru saja mengalahkan dua pesilat yang paling tangguh di seluruh dunia. Dua kekuatan gabungan yang terbesar baru saja kalian hancurkan. Kalian berdua seharusnya bergembira, tapi tidak kulihat secercah pun cahaya kebahagiaan di wajah kalian. Seolah-olah kalian berdualah yang baru saja kalah.”
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 88 : Kemenangan dan Kekalahan"

Post a Comment

close