Si Pisau Terbang Li Bab 85 : Salah Siapa?

Mode Malam
Bab 85. Salah Siapa?

Hujan masih turun dengan lebat di luar, namun di dalam rumah begitu kering. Ada sebuah jendela kecil di ruangan itu yang letaknya jauh di atas.

Jendela itu selalu tertutup. Cahaya matahari jarang masuk melaluinya dan hujan tidak dapat menembusnya.

Temboknya dicat begitu tebal dan putih, sampai-sampai tidak lagi dapat diketahui apakah tembok itu terbuat dari tanah, bata, ataukah besi. Namun yang pasti, tembok ini sangat sangat tebal, begitu tebal, seolah-olah ingin memisahkan orang yang di dalam dengan dunia luar. Tidak ada benda apapun dalam ruangan itu kecuali dua buah tempat tidur dan sebuah meja besar. Tidak ada kursi, tidak ada bangku, bahkan satu cawan pun tidak kelihatan.

Ruangan dan sekelilingnya tampak lebih sederhana dan menderita daripada tempat tinggal seorang pendeta miskin.

Siapa sangka, ini adalah tempat kediaman orang yang terkaya, yang paling berpengaruh, paling berkuasa di seluruh dunia persilatan, Ketua Kim-ci-pang, Siangkoan Kim-hong?

Tapi Li Sun-Hoan tidak punya gairah untuk terkejut.

Siangkoan Kim-hong berdiri tepat di sampingnya dan bertanya, “Apakah tempat ini cukup memuaskan?”

Sambil tersenyum terpaksa Li Sun-Hoan menjawab, “Paling tidak di sini kering.”

“Memang kering sekali. Aku bisa menjamin bahwa kau tidak akan menemukan setetes pun air di tempat ini,” kata Siangkoan Kim-hong. “Di sini tidak pernah disuguhkan, teh, arak, ataupun air. Bahkan setetes air mata pun tidak pernah dicucurkan.”

“Bagaimana dengan darah? Adakah yang pernah mencucurkan darah di sini?”

“Tidak pernah. Sekalipun ada orang yang ingin mati di sini, darah mereka harus habis tercurah sebelum sampai di pintu itu. Jika aku tidak menginginkan orang masuk ke sini, hidup ataupun mati, mereka tidak akan bisa masuk ke sini.”

Li Sun-Hoan tertawa kecil. Katanya, “Sejujurnya, hidup di tempat seperti ini pasti tidak nyaman. Tapi mati di sini, tidak ada masalah.”

“O ya?”

“Karena tempat ini memang terasa seperti kuburan saja,” kata Li Sun-Hoan ringan.

“Karena tampaknya kau suka mati di sini, akan kukuburkan kau di sini juga,” kata Siangkoan Kim-hong sambil tersenyum. Senyumnya terlihat sadis. Ia menunjuk lantai tempat ia berdiri dan menambahkan, “Aku akan menguburkanmu tepat di bawah sini. Jadi setiap kali aku berdiri di sini, setiap kali aku akan tahu bahwa Li Tamhoa ada di bawah kakiku, dan aku akan merasa segar kembali.”

“Segar?”

“Kalau aku tidak selalu segar, suatu hari nanti mungkin saja akulah yang akan berada di bawah kaki orang lain. Tapi kalau aku terus mengingat akan kisahmu, aku akan selalu berjaga-jaga.”

“Tapi kalau seseorang selalu segar dan berjaga-jaga setiap saat, pasti ia akan merasa menderita.” “Aku tidak pernah merasa menderita. Sekalipun tidak pernah selama hidupku ini,” kata Siangkoan Kim-hong yakin.

“Mungkin karena kau pun tidak pernah merasa bahagia selama hidupmu….. Aku sungguh ingin tahu, sebenarnya untuk apakah kau hidup?” tanya Li Sun-Hoan.

Mata Siangkoan Kim-hong berkedip. Ia terlihat seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lalu ia menjawab, “Ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa mereka hidup. Tapi yang lebih buruk lagi adalah orang-orang yang tidak pernah tahu untuk apa mereka mati.”

“Hmmm?”

Siangkoan Kim-hong menatap Li Sun-Hoan dan berkata, “Seperti kau ini. Kau tidak akan pernah tahu untuk apa kau mati.”

“Sebenarnya, aku memang tidak pernah ingin tahu,” kata Li Sun-Hoan.

“Mengapa tidak?”

“Karena aku tidak merasa bahwa kematian adalah persoalan besar.”

Li Sun-Hoan tidak menunggu Siangkoan Kim-hong menyahut. Ia melanjutkan lagi, “Di matamu, saat inipun aku sudah mati, bukan?” “Kau memang sangat memahami dirimu,” kata Siangkoan Kim-hong.

“Karena kematianku sudah tidak dapat dihindarkan, mengapa harus pusing akan ini dan itu?”

Tiba-tiba Li Sun-Hoan duduk di lantai dan menyelonjorkan kakinya dengan nyaman. Lalu ia tersenyum dan berkata, “Kalau aku sekarang ingin duduk, aku akan duduk. Kalau aku ingin memejamkan mata, aku akan memejamkan mata. Apakah kau bisa berbuat demikian?”

Siangkoan Kim-hong mengepalkan tangannya.

Kata Li Sun-Hoan lagi, “Ah, tentu saja kau tidak bisa, karena kau masih kuatir akan begitu banyak hal. Kau masih harus waspada terhadap diriku.”

Sambungnya, “Paling tidak, saat ini aku bisa hidup lebih nyaman daripada engkau.”

Siangkoan Kim-hong tersenyum dan berkata, “Karena aku sudah berjanji aku tidak akan membiarkan engkau mati basah kuyup, tadinya aku berencana akan segera menyerang setelah pakaianmu kering. Namun sekarang aku berubah pikiran.”

“Oh?”

“Aku bukan hanya akan memberimu seperangkat pakaian kering, aku juga akan memberimu seguci arak. Karena perkataanmu itu sungguh menyenangkan bagi telingaku. Bisa mendengar perkataan seperti itu dari mulut seorang mati, benar-benar menyenangkan,” kata Siangkoan Kim- hong.

***

Liong Siau-in meringkuk di bawah selimutnya, tertidur lelap. Di lantai terlihat beberapa jejak kaki yang basah dan berlumpur.

Lilin masih menyala, namun cahayanya yang pudar membuat kamar penginapan itu tampak semakin muram dan tidak bergairah.

Perlahan-lahan Lim Si-im membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.

Langkah-langkah kaki seorang ibu memang selalu ringan. Ia lebih suka terjaga semalaman daripada membangunkan anaknya yang tercinta dari tidur lelapnya.

Namun Liong Siau-in bukan anak-anak lagi. Ia lebih dewasa daripada kebanyakan orang di dunia ini.
Walaupun begitu, dalam tidurnya ia masih terlihat seperti seorang anak kecil yang lugu.

Wajahnya masih sangat muda, begitu pucat dan kurus. Apapun yang telah dilakukannya, ia hanyalah seorang anak yang kesepian, yang tidak tahu apa-apa. Masih bingung dan tidak mengerti akan dunia di sekitarnya. Lim Si-im berjalan mendekati tempat tidur dan menatapnya. Ia merasa kepahitan dalam hatinya.

Ini adalah putra tunggalnya, darah dagingnya. Satu- satunya tambatan hatinya di dunia ini.

Dulu, ia merasa lebih baik mati daripada harus berpisah dengan anaknya.

Namun kini…..

Lim Si-im mengangkat lilin kecil itu dan masih beberapa kali menoleh melihat kepadanya sekali lagi.

‘Aku hanya ingin memandangnya sekali lagi. Sekali lagi saja. Karena di kemudian hari…..’

Ia sungguh takut berpikir akan hari depan. Ia tidak ingin berpikir tentang hari depan.

Air mata tidak terbendung lagi dari matanya.

Walaupun mata Liong Siau-in tertutup rapat, air mata pun mulai mengalir dari sana.

Badannya mulai menggigil. Apakah ia kedinginan? Ataukah ia sedang bermimpi buruk?

Lim Si-im membungkuk, hendak merapikan selimutnya.

Ia terkejut ketika menyadari bahwa selimut itu basah. Baju Liong Siau-in pun basah kuyup. Ia berusaha menenangkan dirinya. Katanya, “Jadi kau pun pergi ke luar.”

Mata dan mulut Liong Siau-in terkatup rapat. Tanya Lim Si-im, “Apakah kau membuntuti aku?” Akhirnya Liong Siau-in menganggukkan kepalanya.
“Jadi kau sudah mendengar semua yang kukatakan?”

Tiba-tiba Liong Siau-in mengambil bungkusan dari bawah selimutnya dan berteriak, “Ini, ambil saja.”

Lim Si-im mengerutkan keningnya dan bertanya, “Apa ini?”

“Apa Ibu benar-benar tidak tahu apa ini? Bukankah Ibu pulang kembali hanya untuk mengambilnya?”

Kesedihan tergurat di wajah Lim Si-im. Katanya, “Aku…..Aku pulang untuk menjumpaimu.”

“Kalau bukan karena ini, apakah Ibu maih mau datang untuk menjumpaiku?” kata Liong Siau-in dengan sinis.

Tiba-tiba ia membuka matanya dan menatap ibunya lekat-lekat.

Kesedihan pun tergambar nyata di wajahnya. “Ibu sudah memutuskan untuk meninggalkan aku. Jika bukan karena ini, Ibu pasti sudah pergi sejak lama.” “Kau benar. Aku memang sudah memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh. Tapi aku….”

Liong Siau-in memotong perkataannya dengan tajam, “Ibu tidak perlu mengatakannya. Aku tahu ke mana Ibu akan pergi.”

“Kau tahu?”

“Ibu akan pergi untuk menyelamatkan Li Sun-Hoan, bukan?”

Kembali Lim Si-im terkejut mendengarnya.

“Ibu bermaksud untuk menggunakan ‘Ensiklopedi LianHua’ untuk menyelamatkan Li Sun-Hoan, bukan?” tanya Liong Siau-in menuduh.

Ia kembali menyorongkan bungkusan itu dan berkata, “Lalu mengapa tidak segera Ibu ambil saja? Mengapa Ibu masih saja di sini?”

Tubuh Lim Si-im seperti sempoyongan. Ia merasa hampir tidak bisa berdiri tegak lagi.

Liong Siau-in terus berbicara dengan ketus, “Kalau Ibu menunjukkan ‘Ensiklopedi LianHua’ ini kepada Siangkoan Kim-hong, ia pasti akan bersedia menemuimu, karena ia adalah orang yang suka belajar ilmu silat. Ia tidak akan bisa menahan rasa ingin tahunya.”

Ia mengertakkan giginya dan melanjutkan, “Ibu bermaksud menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan Li Sun-Hoan, karena Ibu tahu tidaklah mudah untuk menghadapi Siangkoan Kim-hong. Jadi Ibu ingin mengulur waktu lebih lama lagi dengan menggunakan kitab ini, supaya Li Sun-Hoan bisa hidup sedikit lebih lama, supaya A Fei punya kesempatan untuk datang dan menolongnya.”

Lim Si-im tidak bisa menjawab.

Liong Siau-in memang benar-benar cerdas. Ia seakan- akan dapat menembus pikiran ibunya.

Jadi sekarang Lim Si-im tidak bisa berkata apa-apa.

“Li Sun-Hoan selalu baik pada Ibu. Sampai-sampai sekalipun Ibu mengorbankan anakmu sendiri, bahkan mengorbankan nyawamu sendiri, tidak ada yang bisa bilang bahwa Ibu salah.”

Suara Liong Siau-in semakin bergetar saat ia melanjutkan perkataannya, “Tapi apakah Ibu pernah memikirkan orang lain? Pernahkah Ibu memikirkan diriku? ANAKMU? Aku...Aku…”

Lim Si-im merasa hatinya seperti ditusuk beribu-ribu jarum. Ia hanya bisa meraih tangan anaknya dan berkata, “Tentu saja aku memikirkanmu. Aku….”

Liong Siau-in mendorong tubuh ibunya kuat-kuat dan berteriak marah, “Tentu saja Ibu memikirkanku. Ibu pasti akan mengajakku pergi menemui mereka besok pagi, bukan? Mereka tahu Ibu mengorbankan dirimu untuk mereka, jadi pastilah mereka akan bersedia memeliharaku dan memperlakukanku dengan baik.”

Lanjutnya lagi, “Tapi bagaimana Ibu bisa yakin kalau itu dapat menyelamatkan dia? Kalau Ibu mati di hadapannya, bukankah hatinya akan menjadi semakin galau? Dan sekalipun A Fei sempat datang untuk menolongnya, mungkin saja ia tidak akan sanggup bertahan.” 

Lim Si-im pun mulai gemetar.

Kata Liong Siau-in, “Dan sekalipun ia bisa selamat, dan ia bersedia untuk memeliharaku, aku tidak akan ikut dengan dia. Aku tidak ingin melihat dia sama sekali!”

“Mengapa?” tanya Lim Si-im. “Karena aku sangat membencinya!” “Tapi kau telah mempelajari…..”
Liong Siau-in memotongnya cepat, “Aku tidak membencinya karena ia telah memusnahkan ilmu silatku.”

“Lalu kenapa kau membencinya?”

“Aku benci karena bukan dia yang menjadi ayahku! Mengapa dia bukan ayahku? Mengapa aku tidak bisa menjadi anaknya? Kalau saja ia adalah ayahku, ia tidak mungkin meninggalkan aku dan segala sesuatu tidak mungkin jadi seperti ini!” Lalu ia menelungkup di tanah dan menangis menjadi- jadi.

Hati Lim Si-im hancur berkeping-keping. Seluruh tubuhnya luluh lantak.

Ia tiba-tiba merasa tidak sanggup lagi berdiri dan jatuh terduduk ke kursi di sampingnya.

‘Kalau saja anak ini adalah anaknya, kalau saja ia adalah suamiku…..”

Belum pernah sebelumnya ia berani berpikir seperti itu. Namun jauh dalam relung hatinya yang tergelap, bagaimana mungkin ia tidak diam-diam mengharapkannya?

Seorang anak dari pasangan yang tidak bahagia akan lebih lagi tidak berbahagia dan menderita lebih banyak lagi.

Kesalahannya hanya terletak pada orang tua, bukan pada anak. Namun, mengapa ia harus ikut menderita penghukuman dan ketidakbahagiaan dengan mereka?

Lim Si-im berusaha menguatkan dirinya untuk bangkit berdiri dan berjalan mendekati anaknya. Air mata telah berderai membasahi seluruh wajahnya. Katanya, “Anakku, aku telah begitu bersalah padamu…. Sungguh bersalah padamu…… Dengan orang tua seperti kami, pasti sangatlah sulit bagimu menjadi seorang anak…..” Tiba-tiba terdengar suara bergetar yang parau dari balik jendela.

“Kau tidak bersalah sama sekali. Akulah yang bersalah.” Liong Siau-hun.
Tidak akan ada yang bisa mengenalinya. Ia kelihatan begitu lusuh dan lelah.

Ia berdiri di depan pintu, takut untuk melangkah masuk.

Liong Siau-in mengangkat kepalanya. Bibirnya bergerak- gerak, seolah-olah hendak memanggil ‘Ayah’.

Namun suaranya tidak bisa keluar!

Liong Siau-hun mendesah dan berkata, “Aku tahu bahwa kau tidak lagi menginginkan aku sebagai ayahmu.”

Lalu ia menoleh pada Lim Si-im, katanya, “Dan aku tahu kau tidak lagi menginginkan aku sebagai suamimu.
Hidupku sungguh tidak berarti.” “Kau….”
Ia tidak membiarkan Lim Si-im melanjutkan. Segera ia berkata, “Tapi aku sungguh telah mencoba sekuat tenaga menjadi ayah yang baik, menjadi suami yang baik. Tetapi kelihatannya aku sudah gagal, semua yang kulakukan adalah salah besar.”

Lim Si-im hanya menatapnya. Liong Siau-hun adalah lelaki yang tenang dan tegas. Selalu penuh vitalitas dan energi.

Namun sekarang?

Rasa kasihan memenuhi hatinya. Kata Lim Si-im, “Aku pun telah bersalah kepadamu. Aku bukan istri yang baik.”

Liong Siau-hun tertawa. Tawa yang pahit. “Itu bukan kesalahanmu. Semuanya adalah kesalahanku. Jika aku tidak pernah berjumpa denganmu, jika aku tidak pernah berjumpa dengan Li Sun-Hoan, semuanya tidak akan jadi begini. Semua orang akan hidup bahagia dan sejahtera.”

Apakah nasibnya sungguh berubah karena satu peristiwa itu?

Jika ia tidak pernah bertemu dengan Li Sun-Hoan, apakah ia tidak akan pernah menjadi seperti ini?

Lim Si-im mulai menangis lagi. Katanya, “Apapun yang telah kau perbuat, itu adalah untuk melindungi keluargamu, untuk melindungi istri dan anakmu.
Jadi….itu bukanlah kesalahan. Aku sungguh-sungguh tidak menyalahkanmu.”

Kata Liong Siau-hun, “Kalau kita berdua tidak bersalah, lalu siapa yang salah?”

Lim Si-im memandang keluar, ke malam hujan yang gelap. “Siapa yang salah….? Siapa yang salah….?” Ia tidak menemukan jawabannya. Tidak seorang pun tahu jawabannya.
Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak akan pernah dimengerti oleh manusia. Yang tidak akan diketahui jawabannya.

Kata Liong Siau-hun, “Sebenarnya aku berencana untuk tidak menemui kalian berdua lagi. Karena kaulah yang pergi kali ini, kupikir kau akan pergi untuk selama- lamanya. Itulah sebabnya aku tidak berusaha memohon padamu untuk tetap tinggal….”

Ia mengeluh panjang dan air matanya pun mulai menetes. “Aku tahu bahwa yang telah kuperbuat telah menyakitimu, telah membuatmu sangat kecewa. Tapi aku sungguh tidak bisa untuk tinggal diam. Aku harus mengikuti kalian. Walaupun hanya bisa memandang kalian dari kejauhan, itu sudah cukup bagiku.”

Tangis Lim Si-im tidak tertahan lagi. “Jangan katakan lagi…..jangan…..”

Liong Siau-hun menganggukkan kepalanya dan berkata, “Memang aku seharusnya tidak banyak bicara lagi.
Apapun yang kukatakan, sudah terlambat.”

Kata Lim Si-im, “Kau tahu bahwa aku berhutang begitu banyak kepadanya. Aku tidak bisa membiarkannya mati begitu saja.” Kata Liong Siau-hun, “Aku pun berhutang banyak kepadanya. Oleh sebab itulah, aku minta kau menyerahkan persoalan ini kepadaku.”

Sepertinya ia telah membulatkan tekad.

“A…Apa yang akan kau perbuat? Jangan katakan….”

Tiba-tiba Liong Siau-hun menutup Hiat-to (jalan darah) Lim Si-im. “Kau tidak boleh mati, kau tidak bisa mati.
Akulah yang harus mati. Semakin lama aku hidup, semakin banyak orang yang akan menderita. Jika aku mati, semua orang akan menjadi lebih baik.”

Ia segera merebut ‘Ensiklopedi LianHua’ dan berlari keluar.

Dari kejauhan, terdengar suaranya sayup-sayup, “Anakmu, jagalah ibumu baik-baik. Tentang ayahmu yang tidak berguna ini…..terserah padamu apakah kau mau menerimanya atau tidak.”

Mata Liong Siau-in menatap nanar air hujan di luar. Ia tidak lagi menangis.
Namun sorot matanya terlihat jauh lebih menyedihkan daripada air mata.

Begitu lama ia terkesima. Lalu tiba-tiba ia berteriak keras, “Ayah, aku menerimamu! Hanya kaulah seorang yang pantas menjadi ayahku! Hanya kau seorang yang bisa kuanggap ayah! Selain engkau, tidak ada, tidak ada…..”

Ini adalah penyesalan seorang anak terhadap ayahnya. Suatu ikatan yang kuat antara ayah dengan anak, yang tidak bisa digantikan oleh apapun juga di dunia ini.

Sayang sekali, ayahnya tidak akan dapat mendengar perkataan itu.

Semua orang akan mengalami saat pencerahan yang tiba-tiba itu.

Apakah ia baru mengerti setelah terbentur oleh jalan buntu? Atau karena ia memang memiliki rasa hormat yang murni?

Darah lebih kental daripada air.

Hanya darah yang dapat menghapuskan segala kebencian dan kehinaan.

Bahkan hidup ini pun dimulai dari darah.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 85 : Salah Siapa?"

Post a Comment

close