Si Pisau Terbang Li Bab 73 : Kurungan dan Belenggu

Mode Malam
 
Bab 73. Kurungan dan Belenggu

Dalam rumah, hawa terasa sangat panas. Empat tiang api terbakar menjilat-jilat. Kobaran api memanasi keempat dinding rumah dan langit-langit hingga membara.

Wajah A Fei terlihat merah padam. Sekujur tubuhnya pun merah padam.

Ia berada di tengah-tengah keempat tiang api itu. Dadanya telanjang. Ia hanya mengenakan celana yang sudah lusuh.

Celananya basah kuyup oleh air.

Keringatnya mengucur keluar dengan deras dan nafasnya memburu.

Seluruh tubuhnya terlihat sangat lelah, bahkan kelihatannya ia hampir semaput.

Seorang tua berambut putih terlihat duduk di salah satu pojok rumah itu sambil mengisap pipanya.

Asap putih mengalir keluar dari lubang hidungnya dan memenuhi pojok rumah itu dengan kabut tipis.

Ia memang orang yang aneh.

Tidak ada yang tahu dari mana dia datang, tidak ada yang tahu ke mana ia akan pergi.

Sebenarnya, bahkan tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Mungkin ia hanya seorang tukang cerita yang miskin. Atau mungkin ia adalah ‘Si Bijak dari Surga’ yang tiada tandingannya!

Siapapun dia, ialah yang pertama kali terlihat saat orang memasuki pondok kecil itu.

Mata A Fei terpejam. Ia tidak menyadari ada orang yang masuk ke situ.

Sun Sio-ang terkejut melihatnya dan berseru, “Kakek, apa yang kau lakukan?”

Mata Tuan Sun pun terpejam. Ia mengisap pipanya sekali dan menghembuskan segulung uap putih dari mulutnya.
Jawabnya, “Aku sedang mengukusnya.” Mata Sun Sio-ang makin terbelalak. Katanya,
“Mengukusnya? Memangnya dia bakpao atau kepiting? Buat apa Kakek mengukusnya?”

A Fei benar-benar kelihatan seperti kepiting yang dikukus hidup-hidup.

Tuan Sun tersenyum dan berkata, “Aku mengukusnya karena aku ingin memaksa seluruh alkohol dalam tubuhnya menguap, supaya ia bisa segera sadar.”

Lalu matanya beralih pada Li Sun-Hoan dan berkata, “Aku juga sedang berusaha memompa semangat ke dalam pembuluh darahnya, supaya ia bisa menjadi manusia seutuhnya lagi.” Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, mungkin berikutnya adalah giliranku untuk dikukus. Tapi takutnya, setelah semua alkohol dalam tubuhku menguap, aku ternyata tinggal kulit saja.”

Kata Tuan Sun, “Jadi selain arak, tidak ada yang lain dalam tubuhmu itu?”

Li Sun-Hoan mendesah dan berkata, “Mungkin juga perutku ini penuh dengan kesempatan yang buruk.”

Tuan Sun tertawa dan menjawab, “Bagus. Jika perutmu itu tidak penuh dengan pengetahuan, bagaimana mungkin perkataan yang begitu dalam keluar dari mulutmu.”

Tiba-tiba ia berhenti tertawa dan berkata, “Sebenarnya sudah lama juga aku ingin mengukusmu. Aku ingin tahu, apa lagi yang ada dalam tubuhmu selain arak dan pengetahuan. Aku ingin tahu apa yang digunakan oleh Tuhan yang di Surga untuk membentuk orang seperti engkau.”

“Setelah itu mau diapakan?” tanya Sun Sio-ang.

“Setelah itu aku ingin mengumpulkan semua orang dalam dunia ini dan menjejalkannya apapun yang kutemukan dalam tubuhnya ke dalam perut mereka.”

“Maksud Kakek, supaya semua orang sedikit banyak menjadi serupa dengan dia?”

“Bukan hanya sedikit, makin banyak makin baik.” Tanya Sun Sio-ang, “Bukankah dengan demikian semua orang akan menjadi seperti dia?”

Jawab Tuan Sun, “Apa salahnya jika semua orang menjadi seperti dia?”

“Ada yang salah.” “Apanya yang salah?”
Sun Sio-ang menundukkan kepalanya dan terdiam.

Kakek dan cucu ini memang selalu berbicara dalam bentuk tanya jawab. Orang akan merasa sulit untuk menyela pembicaraan mereka.

Baru sekarang Li Sun-Hoan punya kesempatan untuk berbicara.

“Cianpwe, jika kau ingin menjadikan seluruh dunia persis seperti aku, rasanya hanya ada satu jenis orang yang akan setuju.”

“Jenis orang bagaimana?” tanya Tuan Sun. “Penjual arak,” jawab Li Sun-Hoan.
Tuan Sun tersenyum dan berkata, “Dalam pandanganku, hanya ada satu jenis orang yang tidak akan setuju.”

“Siapa?” tanya Sun Sio-ang. Namun segera setelah pertanyaan itu keluar dari mulutnya, ingin sekali kata itu ditariknya kembali.

Ia sudah tahu apa jawaban kakeknya.

Kakeknya tersenyum padanya dan menyahut, “Kau.”

Wajah Sun Sio-ang langsung bersemu merah. Ia menundukkan kepalanya dan berkata dengan gugup, “Meng….Mengapa aku tidak setuju?”

Jawab kakeknya sambil tersenyum, “Jika semua orang di dunia ini menjadi persis sama dengan dia, kau jadi tidak tahu lagi siapa yang kau inginkan.”

Sun Sio-ang langsung menoleh menyembunyikan wajahnya yang merah padam bagai bara api.

Apakah hatinya pun membara bagai api?

Api yang membara dalam hati perawan muda. Tuan Sun tergelak dan kembali mengisap pipanya.

Seakan-akan ia tidak melihat Lim Sian-ji dalam ruangan itu sama sekali. Mungkin ia berusaha mengacuhkannya, sebab tidak diliriknya wanita itu sekalipun juga. Ia juga tidak menyadari bahwa pipanya sudah mati.

Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening. Satu-satunya suara yang terdengar adalah letikan bunga api pada tiang api yang berkobar di situ.

Lim Sian-ji berjalan perlahan menuju ke depan A Fei. Matanya hanya tertuju pada A Fei.

Cahaya kobaran api itu menerpa tubuhnya. Wajahnya menjadi sesaat putih, sesaat merah. Waktu wajahnya merah, ia kelihatan seperti malaikat yang nakal. Waktu wajahnya putih, ia tampak seperti hantu penasaran.

Manusia memang selalu punya dua wajah. Sesaat cantik, sesaat mengerikan.

Tapi Lim Sian-ji berbeda. Ia selalu terlihat cantik.

Jika ia adalah seorang malaikat, pasti ia adalah malaikat yang tercantik di seluruh nirwana. Jika ia adalah hantu penasaran, ia pasti adalah hantu penasaran yang tercantik di seantero neraka.

Namun kelihatannya A Fei sudah bertekad bulat. Secantik apapun dia, A Fei tidak akan memandangnya lagi.

Lim Sian-ji mendesah dan berkata, “Aku jauh-jauh datang ke sini karena aku ingin mengatakan dua hal padamu. Apakah kau mau mendengarnya atau tidak, terserah padamu.”

A Fei tampak tidak peduli.

Namun mengapa tubuhnya kini terlihat membeku seperti sepotong kayu?

“Hari itu, aku tahu aku sangat menyakiti hatimu. Namun aku tidak bisa berbuat lain. Aku tidak ingin kau mati di tangan Siangkoan Kim-hong. Itu adalah satu-satunya cara untuk membujuk Siangkoan Kim-hong supaya tidak membunuhmu.”

A Fei masih tampak acuh.

Namun mengapa tangannya kini terkepal erat?

“Hari ini aku datang bukan untuk memohon supaya kau mau mengerti, atau supaya kau mau mengampuni aku. Aku sudah tahu bahwa kita sudah selesai….”

Ia mendesah panjang sebelum meneruskan, “Aku mengatakannya karena aku ingin hatimu menjadi tenang. Selamanya, aku hanya ingin kau hidup berbahagia. Itu saja. Tentang diriku….”

“Sudah cukup,” potong Sun Sio-ang tajam.

Lim Sian-ji tersenyum pahit. Katanya, “Kau benar, aku sudah bicara terlalu banyak.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Lim Sian-ji membalikkan badannya dan berjalan keluar.

Ia tidak tergesa-gesa, namun ia juga tidak menoleh ke belakang.

A Fei masih terdiam. Matanya terpejam rapat. Mata Lim Sian-ji manatap lurus ke pintu.
Li Sun-Hoan menahan nafas. Ia tahu, jika Lim Sian-ji keluar dari pintu itu, A Fei tidak akan pernah melihatnya lagi untuk selama-lamanya.

Selama A Fei tidak melihatnya lagi, A Fei bisa mulai dengan hidup barunya.

Lim Sian-ji pun tahu dengan pasti, jika ia keluar dari pintu itu, ia sama saja dengan keluar dari dunia ini.

Langkahnya tidak menjadi lambat, namun di matanya kini tersirat rasa takut. Dalam rumah itu, suasana terang benderang bagai siang, di luar, malam gelap gulita tanpa cahaya bulan.

Walaupun bintang bersinar terang di angkasa, Lim Sian-ji tidak pernah peduli dengan langit malam.

Ia hanya menyukai gemerlap dunia materi.

Ia sangat suka pujian, kata-kata manis, tepuk tangan meriah. Ia menikmati pesta pora, kelimpahan, dan kemewahan. Ia suka dicintai, ia suka dibenci.

Ia hanya hidup untuk hal-hal ini.

Tanpa hal-hal ini, walaupun hidup, rasanya seperti hidup dalam kubur.

Kegelapan malam terasa semakin mendekat.

Rasa takut yang terbersit di matanya kini menjadi kejengkelan dan kebencian. Saat itu, rasanya ia ingin membunuh semua orang di dunia ini.

Namun saat itulah, tiba-tiba A Fei berdiri dan berseru, “Tunggu dulu.”

‘Tunggu dulu’.

Siapa sangka, dua kata ini dapat mengubah hidup begitu banyak manusia?

Saat itu, Lim Sian-ji pun berubah total.

Kini matanya penuh dengan pesona, rasa percaya diri, dan kebanggaan. Ia telah kembali berubah menjadi seorang dewi yang cantik molek.

Belum pernah ia terlihat secantik ini selama hidupnya.

Kebanggaan dan rasa percaya diri adalah riasan wanita yang paling sempurna.

Seorang wanita tanpa kebanggaan dan rasa percaya diri, betapapun cantiknya, tidak akan terlihat menarik sama sekali.

Sama halnya seperti wanita menganggap pria yang sukses adalah pria yang sangat menarik.

Kesuksesan adalah riasan pria yang paling sempurna.

Langkah Lim Sian-ji terhenti. Ia tidak menoleh, hanya mendesah halus. Desahannya sangat lembut, namun membawa nada yang begitu sedih dan berduka.

Tidak pernah ada yang mengira desahan seperti itu dapat keluar dari mulutnya, apalagi dengan kecantikannya saat itu yang tiada taranya.

Hati Li Sun-Hoan melorot.

Ia tahu bahwa tidak ada musik ataupun suara dalam dunia ini yang lebih efektif daripada desahan seorang wanita yang tidak berdaya, untuk menggerakkan hati seorang pria. Tidak juga suara daun beterbangan di musim gugur, tidak juga suara aliran air sungai yang deras, tidak juga suara harpa yang merdu di malam terang bulan, tidak juga suara suling yang merayu-rayu dalam kegelapan malam. Tidak ada yang bisa menyaingi desahannya yang putus asa.

Li Sun-Hoan berharap A Fei menoleh padanya dan mendengar penjelasannya.

Namun mata A Fei lekat pada Lim Sian-ji. Telinganya hanya bisa mendengar suaranya.

Kata Lim Sian-ji, “Aku sudah selesai berbicara. Aku tidak bisa tinggal lebih lama.”

“Mengapa?”

“Karena aku sudah berjanji, aku hanya akan mengatakan dua kalimat, sesudah itu aku akan pergi.” “Apakah kau memang ingin pergi?” tanya A Fei

“Kalau aku tidak segera pergi, mereka akan mengusirku.” “Siapa? Siapa yang akan mengusirmu?”
Tiba-tiba matanya menyala dengan semangat yang baru dan berseru lantang, “Mengapa kau membiarkan orang mengusirmu. Ini kan rumahmu.”

Kini Lim Sian-ji menoleh dan menatap A Fei.

Matanya sudah basah oleh air mata. Mata itu begitu lembut, selembut tetesan embun di pagi hari.

Sampai lama ia hanya menatap A Fei, lalu kembali ia mendesah dan bertanya, “Apakah ini masih rumahku?”

Sahut A Fei, “Tentu saja. Selama kau mau, ini tetap adalah rumahmu.”

Hati Lim Sian-ji bergejolak. Ia sudah akan menghambur ke pelukan A Fei, namun tidak jadi dilakukannya.
Katanya, “Tentu saja aku mau, tapi aku takut yang lain tidak akan setuju.”

A Fei mengertakkan giginya. “Yang tidak setuju, boleh keluar.”

Tuan Sun sungguh berhasil membuat darah A Fei mendidih dan membangkitkan semangatnya. Bukan itu saja, namun seluruh emosi dalam hatinya pun kini terangkat ke permukaan. Jika tubuh seseorang menjadi lemah, perasaannya akan semakin meluap-luap.

Matanya tidak pernah lepas dari Lim Sian-ji. Lalu katanya, “Di rumah ini, tidak ada yang berhak mengusirmu. Engkaulah yang berhak mengusir orang lain.”

“Aku sungguh ingin hidup bersamamu, tapi mereka juga adalah teman-temanmu….” Kata Lim Sian-ji sambil tersenyum. Setetes air mata bergulir ke pipinya.

Sahut A Fei, “Siapapun yang tidak ingin bersahabat denganmu, bukan sahabatku.”

Kini dikalungkannya lengannya di leher A Fei dan berkata, “Aku sudah puas hanya mendengar engkau mengatakannya. Aku tidak peduli apa yang dipikirkan orang akan aku. Aku tidak peduli bagaimana mereka memperlakukan aku.”

Pintu masih terbuka lebar.

Perlahan Li Sun-Hoan berjalan ke arah pintu dan keluar ke kegelapan malam.

Sun Sio-ang mengikutinya. Ia menggigit bibirnya dan berkata, “Apakah kita pergi begitu saja?”

Li Sun-Hoan tidak menjawab. Kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya. Sun Sio-ang berjalan menjajarinya. Katanya dengan marah, “Aku tidak bisa percaya, ternyata dia adalah orang semacam itu! Masih juga ia memperlakukan wanita seperti itu dengan baik…. Tidak tahu terima kasih! Ia hanya peduli akan cintanya dan tanpa ragu-ragu mengkhianati sahabat-sahabatnya!”

Li Sun-Hoan mengeluh panjang. Katanya, “Kau salah menilai dia.”

“Bagaimana salahnya? Apakah menurutmu dia bukan orang seperti itu?”

“Bukan.”

“Kalau bukan, kenapa dia bertindak seperti barusan?” Suara Li Sun-Hoan tercekat, “Karena….karena….”
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tuan Sunlah yang melanjutkan kalimatnya.

“Ia berbuat begitu karena ia tidak bisa mengendalikan diri saat ini,” kata Tuan Sun sambil menghela nafas.

Tanya Sun Sio-ang, “Mengapa ia tidak bisa mengendalikan diri? Tidak ada yang mengancamnya dengan pisau. Tidak ada yang mengikatnya dengan tali.”

Sahut kakeknya, “Memang benar tidak ada yang memaksanya. Dia sendirilah yang membelenggu dirinya.” Tuan Sun kembali mendesah dan menambahkan, “Sebenarnya, setiap orang memang punya belenggu dan penjaranya masing-masing.”

Sahut Sun Sio-ang cepat, “Aku tidak punya.”

“Kau pikir kau tidak punya, karena kau masih anak-anak dan kau belum mengerti.”

Suara Sun Sio-ang meninggi karena kesal, “Kalau aku dianggap masih anak-anak, ya sudah! Bagaimana dengan dia?”

Ia menunjuk Li Sun-Hoan dan melanjutkan, “Ia bukan anak-anak, tapi dia tidak punya belenggu ataupun penjara.”

Sahut kakeknya sabar, “Tentu saja dia punya.”

Sun Sio-ang memandang Li Sun-Hoan dengan matanya yang besar. “Benarkah?”

Li Sun-Hoan tersenyum dan menjawab, “Harus kuakui, aku memang punya.”

Kata Tuan Sun, “Ia tidak pernah menyimpan amarah dalam hatinya. Walaupun orang menghina dia, atau menyakitinya, ia tidak pernah marah. Sampai-sampai orang berpikir ia berbuat begitu karena semangat hidupnya sudah tidak ada.”

Li Sun-Hoan tersenyum. “Namun ketika ia tahu bahwa sahabatnya ada dalam bahaya, ia akan meninggalkan segala sesuatu untuk menolong mereka. Apakah itu artinya masuk ke dalam air mendidih, atau berjalan melewati bara api, atau ditusuk dengan pisau di dadanya, ia akan melakukan segalanya….”

Tuan Sun mendesah dan melanjutkan lagi, “Karena ‘persahabatan’ adalah penjaranya. Hanya penjara ini yang dapat mendorong semangatnya ke permukaan. Hanya penjara ini yang dapat membuat darahnya bergolak.”

Tanya Sun Sio-ang, “Lalu bagaimana dengan orang seperti Liong Siau-hun. Apakah ia pun mempunyai penjara?”

“Tentu saja.”

“Apa penjaranya?”
Jawab Tuan Sun, “Kekayaan dan kekuasaan!” “Namun ia ingin membunuh Li Sun-Hoan bukan demi
harta atau kekuasaan. Ia tahu pasti bahwa Li Sun-Hoan bukan orang yang akan bertempur demi harta atau kekuasaan.”

“Ia ingin membunuh Li Sun-Hoan karena belenggu dalam hatinya,” sahut kakeknya.

“Belenggu apa?” Tuan Sun menoleh pada Li Sun-Hoan dan berhenti bicara.

Wajah Li Sun-Hoan terlihat lebih muram daripada kegelapan malam.

Sun Sio-ang jadi tahu jawabannya.

Liong Siau-hun membenci Li Sun-Hoan karena ia selalu curiga, selalu cemburu.

Ia curiga Li Sun-Hoan akan membalas perbuatannya yang dulu.

Ia cemburu akan kehormatan dan kemurahan hati Li Sun-Hoan. Karena ia tidak mungkin pernah menjadi seperti itu.

Kecurigaan dan kecemburuan adalah belenggunya.

Sebagian besar orang dalam dunia juga punya belenggu ini.

Lalu apakah belenggu A Fei?

Tuan Sun menengadah, memandang bintang-bintang yang gemerlapan di langit malam. “Belenggu A Fei berbeda sama sekali dengan belenggu Liong Siau-hun. A Fei dibelenggu oleh cinta.”

Sun Sio-ang jadi bingung. “Cinta pun dapat dianggap sebagai belenggu?” “Tentu saja. Sebenarnya belenggu cinta itu lebih berat daripada belenggu apapun juga.”

“Tapi, apakah betul ia mencintai Lim Sian-ji? Sepertinya ia mencintai Lim Sian-ji hanya karena ia tidak dapat memiliki wanita itu,” kata Sun Sio-ang.

Tidak ada jawaban.

Karena memang tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan ini.

Sun Sio-ang mendesah dan memandang Li Sun-Hoan. Katanya, “Ia adalah sahabatmu. Kau harus memikirkan bagaimana caranya membebaskan dia dari belenggunya itu.”

Perlahan Li Sun-Hoan menoleh ke belakang…..

Cahaya dalam rumah itu sudah padam. Pondok kecil itu berdiri sendirian di tengah hembusan angin barat dalam kegelapan malam. Seolah-olah menjadi serupa dengan A Fei, keras kepala, tahan bantingan, kesepian.

Li Sun-Hoan membungkukkan badannya dan mulai terbatuk-batuk lagi.

Ia tahu tidak ada yang bisa membantu A Fei lepas dari belenggunya.

Hanya A Fei sendirilah yang dapat melepaskannya. 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 73 : Kurungan dan Belenggu"

Post a Comment

close