Si Pisau Terbang Li Bab 71 : Adu Kecerdikan

Mode Malam
 
Bab 71. Adu Kecerdikan

Lentera yang tergantung di depan warung bakmi itu sudah menghitam akibat asap lilin.

Di bawah cahaya yang guram itu, seseorang dengan mata besar dan rambut panjang terkuncir, sedang berdiri.

Li Sun-Hoan berseru gembira, “Nona Sun!”

Kata Sun Sio-ang, “Aku biasanya tidak suka melihat wanita dipukul laki-laki. Namun kali ini aku merasa gembira melihatnya.”

Kata Lim Sian-ji, “Aku pun gembira. Aku sangat menikmati dipukul laki-laki seperti dia.” Ia merangkul lengan Li Sun-Hoan dan berkata sambil tersenyum, “Jika kau cemburu, kau boleh datang ke sini dan minum bersama dengan kami. Arak dapat mengobati rasa cemburu.”

Sun Sio-ang benar-benar datang mendekat. Ia menuang arak ke dalam cawan Li Sun-Hoan dan menghabiskannya dalam sekali teguk.

Ia meleletkan lidahnya dan mengerutkan alisnya. Lalu tersenyum dan berkata, “Walaupun arak murahan sulit dibedakan dari arak bagus jika kau minum cukup banyak, cawan pertama tetap saja sulit ditelan.”

Lim Sian-ji pun tersenyum dan menyahut, “Lain kali, kalau Nona Sun mengunjungi rumah kami, kami pasti akan menyuguhkan arak yang terlezat!”

Lalu ia memandang Li Sun-Hoan dan berkata, “Benar kan?”

Sebelum Li Sun-Hoan menjawab, Sun Sio-ang sudah berkata lagi, “Senyummu memang menawan. Walaupun aku seorang wanita, aku pun ingin memandangnya lama- lama.”

Lim Sian-ji tertawa. “Gadis kecil, kau belum menjadi seorang wanita. Kau masih anak-anak.”

Sahut Sun Sio-ang, “Boleh saja kau tertawa sekarang, karena sebentar lagi kau tidak akan bisa tertawa lagi.”

“Hmmm?” “Karena ia tidak mungkin memenuhi permintaanmu.” “Hmmm?”
“Karena apa yang dapat kau lakukan, akupun dapat melakukannya.”

Lim Sian-ji tertawa geli. Katanya, “Dan apa yang dapat kau lakukan? Bocah kecil adalah tetap bocah kecil.
Walaupun mereka tidak tahu apa-apa, tapi mereka berlaku seolah-olah serba tahu.”

Lim Sian-ji mengikik dan menambahkan, “Memang ada hal-hal yang dapat kau lakukan karena kau adalah seorang wanita. Namun bisa tidaknya kau melakukannya dengan baik, tergantung dari orangnya…. Apakah kau mengerti maksudku?”

Wajah Sun Sio-ang terlihat bersemu merah. Ia menggigit bibirnya dan berkata, “Apa yang dapat kulakukan adalah membawanya kepada A Fei.”

Tanya Lim Sian-ji, “Kau tahu ia ada di mana?” “Tentu saja. Dan aku pun tahu cara menolongnya.” “Hmmm?”
“Untuk bisa menolongnya, hanya ada satu cara.” “Dan apakah itu?” tanya Lim Sian-ji. “Dengan membunuhmu! Untuk menyelamatkannya, kami hanya perlu membunuhmu. Kalau kau tidak ada lagi dalam dunia ini, ia akan terbebas dari segala sakit dan penderitaannya.”

Li Sun-Hoan minum secawan lagi dan tertawa keras. “Bagus, benar sekali.”

Lim Sian-ji mendesah dan berkata, “Aku tidak menyangka kau pun sama seperti A Fei. Tidakkah kau tahu bahwa perkataan seorang wanita sekali-kali tidak boleh dipercaya? Kau yakin bahwa ia memang dapat membawamu kepada A Fei?”

Sahut Li Sun-Hoan, “Bahkan semua laki-laki penipu di dunia ini mengasuh anak-anak perempuan yang jujur.”

Tambah Sun Sio-ang, “Benar sekali. Jangan pikir semua wanita itu seperti dirimu.”

Kata Lim Sian-ji, “Baik, Sekarang katakan, di mana A Fei sekarang?”

“Bersama dengan kakekku. Kakekku telah melepaskan dia dari tangan Siangkoan Kim-hong.”

Lim Sian-ji tergelak dan memandang Li Sun-Hoan. “Dan kau percaya bualan anak ini? Siapakah yang bisa melepaskan A Fei dari tangan Siangkoan Kim-hong?”

Li Sun-Hoan tersenyum. Jawabnya, “Dalam dunia ini, hanya ada satu. Orang itu adalah kakeknya, Tuan Sun yang Terhormat.” Wajah Lim Sian-ji berubah. Katanya, “Baik. Jika memang demikian, akupun ingin ikut untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri.”

Sahut Sun Sio-ang, “Tidak bisa. Ia tidak ingin bertemu denganmu.”

Lalu tambahnya, “Lagi pula, kami tidak punya alasan untuk membiarkanmu tetap hidup.”

“Kau ingin aku mati?”

“Kau seharusnya mati sejak lama.”

“Tapi tidakkah kau pikirkan siapa yang tega membunuhku?”

Tanya Sun Sio-ang, “Kau pikir aku tidak bisa menemukan orang yang dapat membunuhmu?”

“Dalam dunia ini, hanya ada satu orang yang dapat membunuhku. Tapi bahkan diapun, tidak berani maju.”

Matanya lalu memandang Li Sun-Hoan dan berkata lagi, “Karena ia tahu, jika ia membunuhku, A Fei akan membencinya.”

Kata Sun Sio-ang, “Sepertinya kau lupa bahwa aku bukan laki-laki dan aku pun tidak peduli apakah A Fei akan membenciku atau tidak.” Lim Sian-ji tertawa terbahak-bahak. “Gadis kecil, jangan bilang bahwa ini adalah lokasi yang tepat untuk berduel, dan bahwa kau ingin menantangku?”

Sahut Sun Sio-ang, “Benar sekali. Kau boleh memilih tempatnya, aku memilih waktunya.”

“Lalu kapan?” “Sekarang.”
Bukan hanya para lelaki yang berduel, kaum wanita pun berduel.

Tapi apakah kaum wanita berduel dengan cara yang sama?

“Aku sudah menentukan waktunya. Sekarang kau yang menentukan tempatnya,” kata Sun Sio-ang.

Lim Sian-ji berpikir sejenak lalu berkata, “Tidak perlu pilih-pilih tempat. Di sini pun jadi. Hanya saja….”

“Hanya saja apa?”

“Bagaimana cara kita berduel?”

“Duel adalah duel. Ada berapa macam cara?”

Sahut Lim Sian-ji, “Sudah tentu ada banyak cara. Ada duel terpelajar, ada duel silat, ada duel senjata, ada duel meringankan tubuh, ada duel racun, dan masih banyak lagi. Karena kita adalah wanita, cara kita berduel pun harus lebih canggih dan anggun.”

“Lalu duel macam apa yang kau usulkan?” tanya Sun Sio- ang.

“Kau ingin aku juga yang memilih cara kita berduel?”

Kata Li Sun-Hoan tiba-tiba, “Mungkin dia akan mengusulkan duel racun.”

Sun Sio-ang tersenyum padanya dan berkata, “Duel racun pun bukan masalah. Paman Ketujuhku adalah ahli racun. Kehebatannya tidak berada di bawah Ngo-tok- tongcu. Hanya saja ia menggunakan racun untuk menyelamatkan orang, bukan untuk membunuh.”

Kata Lim Sian-ji, “Jika ia bisa menggunakan racun untuk menyelamatkan orang, sudah pasti ia cukup sakti.
Karena menggunakan racun untuk menyelamatkan orang jauh lebih sulit daripada untuk membunuh orang.”

Lim Sian-ji mendesah dan melanjutkan, “Kelihatannya aku tidak akan menang jika kita berduel racun.”
“Pilih apa maumu,” kata Sun Sio-ang mantap.  Karena ia terlihat yakin akan kemampuannya, Li Sun-
Hoan pun diam saja. Ia pun ingin menyaksikan ilmu silat seorang murid Tuan Sun yang Terhormat.

Lim Sian-ji memandang Li Sun-Hoan dan berkata, “Di hadapan seorang ahli seperti Li Tamhoa, sungguh memalukan untuk bertanding ilmu silat. Kita akan kelihatan seperti dua orang tolol.”

“Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Sun Sio-ang mulai tidak sabar.

“Karena kita adalah wanita, mari kita berduel seperti wanita.”

“Apakah ada cara khusus wanita berduel?” “Tentu saja,” sahut Lim Sian-ji.
“Seperti apa?”

“Laki-laki memang lebih kuat daripada wanita, tetapi ada hal-hal tertentu wanita lebih cakap melakukan daripada laki-laki.”

“Contohnya?”

“Contohnya, melahirkan anak….” Jawab Lim Sian-ji. Sun Sio-ang jadi bingung. “Melahirkan anak?”
“Ya, melahirkan anak adalah keahlian khusus wanita. Itu juga adalah kebanggaan wanita. Seorang wanita yang tidak dapat melahirkan anak dipandang rendah oleh semua orang. Bukankah demikian?”

Kembali wajah Sun Sio-ang merona merah. “Jangan katakan….” Kata Lim Sian-ji, “Kita bisa bertanding siapa yang bisa melahirkan lebih banyak anak, dan siapa yang lebih cepat.”

“Kau sudah gila ya? Bagaimana mungkin kita bertanding seperti itu?” teriak Sun Sio-ang.

“Siapa bilang tidak mungkin? Apakah kau tidak bisa melahirkan anak?”

Kini wajah Sun Sio-ang menjadi merah padam. Ia tidak dapat menyangkal ataupun mengiakan.

Kata Lim Sian-ji, “Jika kau merasa itu terlalu lama, kita bisa memikirkan pertandingan yang lain.”

“Sudah tentu kita harus bertanding dengan cara lain.”

“Ada sesuatu yang para lelaki tidak ragu melakukannya, namun seorang wanita yang paling hebat pun sangat sulit untuk melakukannya.”

Lim Sian-ji terkikik, lalu menambahkan, “Karena kau tidak ingin bertanding dalam hal yang dapat dilakukan setiap wanita, mari kita bertanding dalam hal yang biasanya para wanita tidak berani melakukannya.”

Kata Sun Sio-ang, “Jelaskan dulu apa itu.”

“Kita bisa membuka baju…..pertandingannya adalah siapa yang bisa menjadi telanjang bulat lebih cepat. Jika aku kalah, aku bersedia memberikan kepalaku kepadamu.” Mereka berada di tengah-tengah pasar malam. Walaupun biasanya orang-orang tidak peduli apa yang dilakukan orang lain, namun jika dua orang wanita menanggalkan pakaian mereka di situ, mereka tidak mungkin melewatkannya.

Wajah Sun Sio-ang kembali merah padam. Ia menggigit bibirnya dan berkata, “Tidak heran bahwa lelaki yang paling pandai pun tidak berani bertaruh dengan seorang wanita. Karena wanita semacam engkau selalu bisa menemukan cara untuk berkelit dari kekalahan.” 

“Mengambil keuntungan dari laki-laki adalah hak setiap wanita. Wanita yang tidak bisa mengambil keuntungan dari laki-laki adalah wanita yang sangat bodoh, atau sangat buruk rupa.”

“Aku bukan laki-laki,” tandas Sun Sio-ang.

“Dan aku tidak pernah berusaha mengambil keuntungan darimu. Kau yang bilang bahwa aku boleh menentukan cara kita berduel,” sergah Lim Sian-ji.

“Tapi bagaimana aku bisa tahu kalau kau akan memilih cara-cara yang begitu memalukan?”

“Kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri. Jika kau ingin membunuhku, mengapa tidak langsung menyerang? Siapa suruh mulutmu begitu besar dan mengusulkan untuk berduel ini dan bertanding itu?” kata Lim Sian-ji mengejek. Lalu lanjutnya, “Tapi bukan kesalahanmu sepenuhnya. Aku belum pernah bertemu dengan wanita yang tidak besar mulut.”

Jadi akhirnya berduel memang lebih cocok dilakukan oleh para pria.

Karena duel harus diselesaikan dengan tinju, bukan dengan mulut. Makin banyak orang berbicara, makin luntur rasa percaya dirinya dan makin berkurang semangat tempurnya.

Ketika dua orang yang akan berkelahi mulai adu mulut, kemungkinan besar perkelahiannya jadi batal.

Walaupun ada juga pepatah yang mengatakan bahwa pria sejati bertarung dengan kata-kata, bukan dengan tinju.

Angin musim gugur bertiup lembut dan matahari senja mulai terbenam di sebelah barat. Dua wanita berdiri berhadapan tanpa berkata-kata. Menunggu keputusan yang bisa berarti hidup atau mati.

Siapakah yang pernah melihat pemandangan seperti ini? Mendengarnya pun belum ada yang pernah.
‘Wanita memanglah wanita’.

Walaupun wanita dan pria sederajat, ada beberapa hal dalam dunia ini yang tidak pernah akan dilakukan seorang wanita. Walaupun ada juga wanita yang mungkin pernah mencobanya, hasilnya pun sia-sia belaka.

‘Wanita memanglah wanita’.

Tidak ada yang pernah mengerti pikiran mereka. Senyum di bibir Lim Sian-ji sungguh manis menggiurkan.
Melihat senyuman itu, Li Sun-Hoan jadi teringat pada Na Kiat-cu.

Walaupun banyak orang memandang rendah pada Na Kiat-cu, ada yang sangat luar biasa dalam kepribadiannya.

Li Sun-Hoan merasa sayang mengapa Na Kiat-cu harus mati.

Wajah Sun Sio-ang yang bersemu merah kini menghijau.

“Kita sudah menentukan waktu, tempat, dan metode duel ini. Jadi, apakah kau bersedia mulai atau tidak, itu terserah padamu,” kata Lim Sian-ji.

Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya.

Kata Lim Sian-ji lagi, “Kalau kau tidak mau, aku akan pergi.”

Sahut Sun Sio-ang, “Pergi saja.” Ia mendesah dan menambahkan, “Salahkan saja nasib sialmu.”

Tanya Lim Sian-ji, “Maksudmu nasib sialmu?” Jawab Sun Sio-ang, “Bukan. Nasib sialmu.”
Lim Sian-ji tidak mengerti. “Mengapa aku yang bernasib sial?”

Jawab Sun Sio-ang, “Walaupun kata-kata yang keluar dari mulutku sangat keras, seranganku tidak akan sejahat perkataanku. Aku tidak pernah bermaksud membunuhmu. Hanya ingin sedikit melukaimu untuk memberimu pelajaran.”

Tanya Lim Sian-ji lagi, “Jadi maksudmu, nasibku baik, bukan?”

Kata Sun Sio-ang, “Jika aku melukaimu dan ada orang lain yang datang membunuhmu, pasti aku tidak akan membiarkannya, bukan?”

Lalu ia tertawa dan melanjutkan, “Tapi jika sekarang ada orang yang datang dan membunuhmu, aku tidak peduli sama sekali.”

Sebelum kalimatnya selesai, Lim Sian-ji sudah menoleh cepat ke belakangnya.

Dalam situasi tertentu, reaksi Lim Sian-ji tidak lebih lambat daripada Li Sun-Hoan ataupun A Fei. Ia memandang menyelidik ke sekitarnya. Ke setiap arah, ke setiap sudut yang gelap.

Namun ia tidak melihat siapapun juga.

Sun Sio-ang meraih tangan Li Sun-Hoan dan berkata, “Ayo kita pergi. Aku tidak suka melihat orang dibunuh.”

Tanya Lim Sian-ji cepat, “Maksudmu, ada orang di sini yang ingin membunuhku?”

Sun Sio-ang balik bertanya, “Kapan aku bilang begitu?”

Lim Sian-ji terus mendesak, “Di mana orang itu? Apakah kau melihatnya?”

Sun Sio-ang tidak menghiraukannya.

Kini Lim Sian-ji mulai menjadi panik dan berkata lagi, “Aku tidak melihat orang lain di sini.”

Sahut Sun Sio-ang dingin, “Sudah tentu kau tidak melihat siapapun. Waktu kau melihatnya, itu sudah terlambat.”

Tanya Lim Sian-ji gugup, “Jika aku tidak bisa melihatnya, bagaimana kau bisa melihatnya?”

Jawab Sun Sio-ang tenang, “Karena bukan aku yang ingin dibunuhnya.”

Ia tersenyum dan menambahkan, “Sudah pasti mereka tidak ingin melihatmu jika mereka ingin membunuhmu. Karena setelah mereka melihatmu, mana mungkin mereka sanggup membunuhmu?”

“Si….Siapakah mereka itu?”

“Bagaimana aku bisa tahu siapa yang ingin membunuhmu? Seharusnya kau lebih tahu.”

Lim Sian-ji masih terus menoleh kiri kanan depan belakang. Matanya mulai memancarkan rasa ketakutan.

Padahal dia hampir-hampir tidak pernah merasa takut.

Karena ia begitu yakin, bahwa ia pasti dapat membujuk orang yang ingin membunuhnya untuk membatalkan niat mereka.

Namun kini, melihat orang yang ingin membunuhnya pun tidak bisa. Orang itu pun tidak ingin melihatnya.
Senjatanya yang satu-satunya telah dirampas.

Kata Sun Sio-ang, “Jangan bilang kau tidak tahu siapa yang ingin membunuhmu? Ataukah karena terlalu banyak orang yang menginginkan kematianmu?”

Perasaan Lim Sian-ji sangat galau dan ia mulai menyeka peluh di dahinya.

Biasanya, setiap tindakannya, setiap gerakannya, selalu menggoda dan merayu.

Namun kini, cara ia menyeka peluhnya pun terlihat sangat menggelikan. Jika kau ingin menakut-nakuti seseorang, cara yang terbaik adalah dengan membangkitkan rasa takut dalam hati mereka sendiri. Dengan begitu, tanpa kau menggerakkan seruas jaripun, mereka bisa ketakutan setengah mati.

Li Sun-Hoan memandang Sun Sio-ang, hampir tidak bisa menahan tawanya.

Saat itu, ia baru menyadari bahwa Sun Sio-ang bukan anak-anak lagi. Dalam segala hal, ia telah menjadi seorang wanita dewasa.

Hanya seorang wanita dewasa yang dapat mengatasi seorang wanita dewasa.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 71 : Adu Kecerdikan"

Post a Comment

close