Si Pisau Terbang Li Bab 33 : Percakapan yang Mengejutkan

Mode Malam
 
Bab 33. Percakapan yang Mengejutkan

Kata si gadis berkuncir, “Itu adalah kesempatan pertama yang tidak kau pergunakan untuk membunuhnya. Kau ingin aku melanjutkan lagi?”

Li Sun-Hoan hanya bisa terkekeh.”Tidak perlulah.” Si gadis berkuncir pun berkata lagi, “Orang-orang bilang kau adalah pria sejati, tapi menurutku kau sebenarnya agak feminin.”

Seumur hidupnya, Li Sun-Hoan telah mengalami berbagai macam hinaan. Namun ini adalah pertama kalinya ia dituduh sebagai seorang ‘feminin’. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya.

Si gadis berkuncir masih menatapnya dengan matanya yang besar dan jernih. “Jika kau tidak tahu harus bilang apa, mengapa kau tidak mulai batuk-batuk?”

Li Sun-Hoan mendesah. “Mata Nona Muda sangat tajam. Rasanya kau adalah seorang penting. Maafkan kalau aku tidak mengenalimu.”

Si gadis segera menyergah, “Tidak usah memuji-muji. Aku bukan siapa-siapa.”

Kini Li Sun-Hoan benar-benar mulai terbatuk-batuk.

Si gadis pun berkata dengan manis, “Aku tahu kau tidak pernah menyombongkan diri dan suka sekali memuji orang lain. Ini adalah sifatmu yang terbaik, tapi juga yang terburuk. Seseorang tidak boleh terlalu merendahkan dirinya.”

Sahut Li Sun-Hoan, “Nona Muda….”

Si gadis langsung memotongnya cepat, “Sheku bukan ‘Nona’ dan Cayhe bukan ‘Muda’. Mengapa kau terus- terusan memanggilku ‘Nona Muda’?” Li Sun-Hoan tersenyum. Kini ia merasa, gadis ini memang sungguh menarik.

Si gadis berkuncir menambahkan, “Sheku adalah Sun, dan nama lengkapku Sun Sio-ang. ‘Ang’ yang berarti warna merah.”

Kata Li Sun-Hoan, “Cayhe Li….”

Si gadis kembali memotongnya, “Aku sudah tahu namamu sejak lama. Sekarang aku menantangmu berduel!”

Li Sun-Hoan terperanjat, tanyanya, “Duel apa?”

Sun Sio-ang pun cekikikan. “Yang pasti bukan duel silat.Walaupun aku berlatih seratus tahun lagi, aku tidak akan mungkin mengalahkanmu. Aku ingin bertanding minum denganmu. Waktu aku mendengar seseorang lebih jago minum daripada aku, aku jadi jengkel.”

Li Sun-Hoan tersenyum. “Aku tahu semua peminum berpikiran seperti ini. Tak kusangka kau pun begitu.”

Kata Sun Sio-ang, “Tapi jika kita bertanding sekarang, aku sudah berada di atas angin.”

“Kenapa?”

Sahut Sun Sio-ang dengan serius, “Setelah pertempuran tadi, tubuhmu sudah lelah dan toleransimu terhadap alkohol sudah menurun. Pertandingan minum sama seperti pertandingan silat. Kau harus berada di tempat yang tepat, waktu yang tepat, dan kondisi yang prima untuk bisa menang. Jika salah satu dari faktor ini hilang, kesempatanmu akan berkurang drastis.”

Kata Li Sun-Hoan, “Dari jawabanmu ini, aku tahu pasti bahwa kau memang jago minum. Kalau bisa berduel dengan jago minum seperti itu, mabuk berat pun tidak jadi masalah.”

Mata Sun Sio-ang yang besar dan jeli itu pun makin bersinar, menyiratkan kegembiran, menggambarkan kekaguman. Namun wajahnya masih tetap serius. “Kalau begitu…. karena aku sudah mendapatkan keuntungan dari segi waktu, sekarang kau yang pilih tempatnya.”

Li Sun-Hoan tidak dapat menahan tawanya. “Kalau begitu, mari ikut aku.”

Sahut Sun Sio-ang, “Silakan duluan.”

Beberapa jam sebelum magrib adalah waktu yang tersepi bagi warung arak.

Si Bungkuk Sun sedang duduk di depan pintu memandangi matahari yang mulai memerah.

Saat itu, datanglah Li Sun-Hoan bersama Sun Sio-ang. Si Bungkuk Sun tak dapat mempercayai matanya.
Bagaimana kedua orang ini bisa datang bersama?

Memang aneh bahwa kedua orang ini bisa menjadi sahabat. Li Sun-Hoan tidak melihat perubahan wajah Si Bungkuk Sun, namun ia memang menganggap keadaan ini sungguh lucu.

Gadis kecil ini tidak pernah berhenti bicara. Sekali mulutnya terbuka, ia akan berkicau tak henti-hentinya. Sampai-sampai sulit untuk membalas percakapannya.

Li Sun-Hoan paling sebal dengan dua hal dalam hidup ini.

Yang pertama adalah waktu ia tahu bahwa ternyata orang yang duduk makan bersamanya, satu pun tidak ada yang minum arak.

Yang kedua adalah waktu bertemu dengan seorang wanita yang cerewet.

Ia merasa, hal yang kedua itu sepuluh kali lebih menyebalkan daripada yang pertama.

Tapi anehnya, saat menghadapi gadis ini, ia tidak merasa sakit kepala sama sekali mendengar ocehannya, bahkan merasa lebih segar.

Jika seorang wanita itu pandai, cantik, dan jago minum, walaupun ia cerewet, seorang laki-laki tentu akan suka padanya…..tapi kalau tidak, seorang wanita lebih baik bicara seperlunya saja.

Selama perjalanan, Li Sun-Hoan mendengarkan gadis ini berbicara mengenai macam-macam hal. Orang tua itu di panggil Si Rambut Putih Sun. Ia adalah kakek Sun Sio- ang. Orang tua gadis ini sudah meninggal dan ia sudah bersama dengan kakeknya sejak kecil. Mereka hampir- hampir tidak pernah berpisah.

Oleh sebab itu ia tidak bisa tidak bertanya, “Lalu mengapa sekarang kakekmu tidak bersama dengan engkau?”

Sun Sio-ang menjawab pendek, “Ia sedang ke luar kota mengantarkan seseorang.”

Li Sun-Hoan ingin mendesak, “Mengapa ia harus mengantar orang sampai ke luar kota?”

“Siapa yang diantarkannya?” “Mengapa kau tidak ikut dengannya?”
Namun Li Sun-Hoan tidak pernah banyak bicara. Lagi pula, dengan Sun Sio-ang di depannya, ia tidak akan punya kesempatan bicara.

Seakan-akan, ia memang tidak ingin membiarkan Li Sun- Hoan menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia malah balas memberondongnya dengan segudang pertanyaan.

“Bagaimana kau mempelajari ilmu pisaumu yang legendaris itu?”

“Kudengar kau pernah punya sahabat bernama A Fei. Kecepatannya bisa dibilang setanding denganmu.
Tahukah kau dimana ia sekarang berada?” “Kau menghilang selama dua tahun. Tidak seorang pun tahu bahwa kau bersembunyi di penginapan milik Si Bungkuk Sun. Mengapa kau bersembunyi di situ?”

“Sekarang, setelah semua orang tahu di mana kau berada, apa yang akan kau lakukan?”

“Siapakah sebenarnya Bwe-hoa-cat ?”

“Jika ia sudah tertangkap, apakah kau yang menangkapnya?”

Li Sun-Hoan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Sebagian karena ia tidak ingin menjawabnya, sebagian lagi karena ia tidak tahu jawabannya.

Ia tahu bahwa Lim Sian-ji adalah Bwe-hoa-cat .

Ia tahu bahwa A Fei tidak akan tega membunuh Lim Sian-ji.

Ia tahu bahwa A Fei telah membawa pergi Lim Sian-ji. Tapi ke mana?
Apakah kini Lim Sian-ji telah berubah menjadi wanita baik-baik?

Apakah Lim Sian-ji mencintai A Fei?

Waktu ia memikirkan ini, ia hanya dapat menghela nafas. Ia pun tidak tahu apa yang akan dilakukannya di kemudian hari.

Mata Sun Sio-ang tidak pernah lepas dari dirinya. Tatapan matanya bukan saja penuh dengan kekaguman, namun juga penuh pengertian.

Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya dan menyambut tatapan matanya.

Hatinya jadi berdebar-debar.

Sun Sio-ang berkata, “Kita mulai bertanding sekarang?” Sahut Li Sun-Hoan, “Mari.”
Mata Sun Sio-ang berputar. “Bagus. Mari kita bicarakan cara pertandingannya.”

Li Sun-Hoan bertanya, “Memang ada berapa cara bertanding minum arak?”

Sahut Sun Sio-ang, “Tentu saja ada banyak cara. Masa kau tidak tahu?”

Kata Li Sun-Hoan, “Aku cuma tahu satu cara, yaitu tiap- tiap orang harus minum sebanyak-banyaknya. Siapa yang muntah duluan, dia yang kalah.”

Sun Sio-ang terkekeh dan menggelengkan kepalanya. “Kelihatannya ilmu minummu masih agak rendah.”

“O ya?” Kata Sun Sio-ang, “Kalau bicara soal bertanding minum arak, secara garis besar ada dua cara. Satu: cara brutal, dua: cara terpelajar.”

Tanya Li Sun-Hoan, “Bagaimana itu cara brutal, dan bagaimana cara terpelajar?”

Sahut Sun Sio-ang, “Cara yang baru saja kau sebutkan itu adalah cara brutal. Hanya asal masuk saja.”

“Asal masuk?”

Jawab Sun Sio-ang, “Tentu saja. Bisa disebut apa lagi, jika orang hanya memasukkan arak sebanyak-banyaknya ke dalam mulutnya.”

Kata Li Sun-Hoan, “Apa lagi yang bisa dilakukan? Apa harus dimasukkan lewat telinga?”

Sun Sio-ang tersenyum manis. “Jika kau bisa minum lewat telingamu, aku mengaku kalah sekarang juga. Sudah pasti aku tidak bisa.”

Sahut Li Sun-Hoan, “Terlalu lama kalau minum lewat telinga. Aku tidak sabar.”

Kata Sun Sio-ang, “Aku kan hanya seorang gadis kecil, bagaimana mungkin aku bertanding dengan cara brutal itu? Akan tetapi, cara terpelajar pun ada beberapa jenis.”

“Bagaimana?” Sahut Sun Sio-ang, “Kau bisa menebak angka, bertepuk tangan, tapi cara-cara itu terlalu biasa. Bagaimana mungkin orang seperti kita bertanding dengan cara itu?”

Tanya Li Sun-Hoan, “Lalu bagaimana?” Jawab Sun Sio-ang, “Ada satu cara lagi.”
Li Sun-Hoan tidak bisa menahan tawa. Sun Sio-ang pun tertawa. “Akan tetapi, cara terakhir ini bukan saja sangat unik, tapi juga sangat menarik. Walaupun ada seribu satu cara, kita akan tetap menggunakan cara ini.”

Kata Li Sun-Hoan, “Arak sudah tersedia di meja, dan aku sudah tidak tahan ingin minum. Jadi, ayo pilih cara yang kau inginkan.”

Kata Sun Sio-ang, “Dengarkan baik-baik. Cara ini sebenarnya cukup mudah.”

Li Sun-Hoan hanya dapat bersabar dan mendengarkan.

Lanjut Sun Sio-ang, “Aku akan bertanya. Jika kau dapat menjawab, kau menang dan aku harus minum secawan.”

Kata Li Sun-Hoan, “Kalau aku tidak bisa menjawab? Aku kalah?”

Jawab Sun Sio-ang, “Belum tentu. Tapi jika aku dapat menjawab pertanyaanku sendiri, barulah kau kalah.”

Tanya Li Sun-Hoan, “Kalau aku kalah, lalu aku boleh bertanya, bukan?” Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya. “Tidak begitu. Yang menang boleh terus bertanya sampai dia kalah.”

Kata Li Sun-Hoan, “Jika kau bertanya pertanyaan pribadi yang hanya diketahui olehmu, kau pasti akan menang terus, bukan?”

Sun Sio-ang tersenyum. “Sudah pasti kita tidak boleh bertanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Jika aku bertanya siapa nama ibuku, berapakah kakak adikku, berapakah umurku….pasti kau tidak tahu.”

Tanya Li Sun-Hoan, “Jadi pertanyaan seperti apa yang akan kau tanyakan?”

Sahut Sun Sio-ang, “Kau akan tahu segera setelah kita mulai.”

Li Sun-Hoan terkekeh. “Baiklah. Aku sudah siap untuk kalah.”

Sung Sio-ang tersenyum dan berkata, “Siap? Ini pertanyaan pertama.”

Senyumnya menghilang, matanya menatap tajam pada Li Sun-Hoan. “Tahukah kau siapa penulis surat itu?”

Pertanyaan yang sungguh mengejutkan!

Mata Li Sun-Hoan berbinar. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Aku tidak tahu…. Kau tahu?” Sun Sio-ang menjawab dengan kalem, “Kalau aku tidak tahu, buat apa aku bertanya? Orang itu adalah….”

Sun Sio-ang sengaja mengulur waktu. Lalu disambungnya, “….Lim Sian-ji!”

Jawabannya ternyata lebih mengejutkan lagi! Li Sun- Hoan termasuk orang yang tenang, namun ia merinding mendengar jawaban itu. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Kata Sun Sio-ang, “Ini bukan giliranmu bertanya. Ayo minum secawan sebelum kita lanjutkan lagi.”

Segera Li Sun-Hoan menghabiskan cawan arak yang pertama.

Tanya Sun Sio-ang yang kedua kali, “Tahukah kau bagaimana keadaan A Fei?”

Li Sun-Hoan harus menjawab, “Tidak.”

Sahut Sun Sio-ang, “Walaupun ia tinggal bersama dengan Lim Sian-ji, ia tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Lim Sian-ji.”

Segera Li Sun-Hoan bertanya, “Di mana dia sekarang?”

Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya. “Mengapa kau begitu tidak sabar. Tunggu sampai kau menang, baru bertanya.”

Li Sun-Hoan hanya dapat menghabiskan cawannya yang kedua. Cawan ini lebih besar daripada mangkuk sup, namun ia menghabiskannya lebih cepat daripada biasanya. Karena ia ingin sekali mendengar pertanyaan yang ketiga.

Tanya Sun Sio-ang untuk yang ketiga kali, “Tahukah kau mengapa Lim Sian-ji menulis surat itu?”

Jawab Li Sun-Hoan, “Tidak.”

Walaupun sebenarnya ia telah menduga-duga, ia tidak tahu pasti.

Kata Sun Sio-ang, “Karena ia tahu bahwa jika ada orang yang akan mengganggu Lim Si-im, kau pasti akan muncul. Ia ingin kau muncul, sehingga ia bisa mengirim orang untuk membunuhmu. Kau adalah musuh terbesarnya di dunia ini. Ia takut setengah mati terhadapmu. Selama kau masih hidup, ia tidak akan mungkin hidup bebas.”

Li Sun-Hoan mendesah. Ia minum cawan yang ketiga.

Sun Sio-ang bertanya, “Tahukah kau siapa orang pertama yang menginginkan kematianmu?”

Jawab Li Sun-Hoan, “Aku sudah terlalu banyak membunuh dalam hidup ini. Bagaimana mungkin aku tahu yang mana yang menginginkan nyawaku?”

Sahut Sun Sio-ang, “Hanya dua atau tiga orang dalam dunia ini yang sanggup membunuhmu. Yang pertama adalah Siangkoan Kim-hong!” Li Sun-Hoan tidak kaget mendengarnya. Ia minum cawan yang keempat, namun tidak tahan untuk tidak bertanya, “Apakah ia ada di sini sekarang?”
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 33 : Percakapan yang Mengejutkan"

Post a Comment

close