Rahasia Mokau Kauwcu Jilid 11

Mode Malam
 
Jilid-11

Ting Hun-pin manggut-manggut, tanyanya: "Adakah dia di sini? Aku ingin bertanya beberapa patah kata kepadanya."

Tiba-tiba Toh Tong menarik muka, katanya tertawa menyeringai: "Apakah kau hendak mencari Yap Kay?"

Bersinar sorot mata Ting Hun-pin, tanyanya: "Kau juga kenal Yap Kay? Dia di sini?"

"Benar, diapun berada di sini. Dia pulang bersama Cay- cong-piau-thau. Mereka kembali naik kereta yang dibersihkan itu."

Roman mukanya mengunjuk rasa sedih dan gusar.

Sayang sekali Ting Hun-pin tidak memperhatikan sedikitpun. Bila teringat akan segera bertemu dengan Yap Kay, urusan lain boleh tidak usah dia perdulikan.

"Di mana mereka sekarang?"

ooo)dw(ooo

Ruang pendopo itu terasa dingin seram seperti berada di dalam sebuah kuburan gelap nan menakutkan, karena pendopo besar ini sekarang memang berubah sifatnya menjadi ruang kuburan. Begitu Ting Hun-pin beranjak masuk, dia lantas melihat dua peti mati. Dua peti mati yang masih baru, pliturannya belum kering, malah belum dipaku. Di dalam kedua peti masing-masing terdapat satu mayat, mayat yang tidak berkepala.

Toh Tong berkata dingin: "Mereka keluar naik kereta, pulang bersama naik kereta pula. Cuma, meskipun badan mereka kembali, namun kepalanya entah terbang kemana."

Hakikatnya Ting Hun-pin tidak mendengar apa yang dikatakan Toh Tong, perhatiannya tertuju kepada mayat yang berada di dalam peti. Satu di antaranya dia kenal betul pakaiannya.

Seketika terasa dunia seperti anjlok dan berputar. Orang-orang Hong-ping hotel dan kerabat Pat-hong Piau- kiok sama-sama mengelilingi dirinya, semuanya berputar mengelilingi dirinya, semuanya mengunjuk seringai sinis dan sikap bermusuhan kepadanya. 'Mereka tahu bahwa Yap Kay sudah mati. Apa benar Yap Kay betul-betul mati?'

Ingin Ting Hun-pin pentang mulut berteriak sekeras- kerasnya, namun dia tidak tahu apakah pekik suaranya terdengar. Mendadak dia meloso jatuh semaput.

ooo)dw(ooo

Pendopo yang dingin gelap, cahaya lampu yang remang- remang.

Waktu Ting Hun-pin siuman, didapatinya dirinya masih rebah di tempat semula di mana tadi dia jatuh semaput. Tiada orang yang menolong atau memayangnya, tiada orang yang membujuk dan menghibur dirinya. Toh Tong tetap berdiri menggendong tangan, mengawasinya dengan pandangan sinis, malah mukanya menunjukkan sikap muak dan menghina.

Pelan-pelan Ting Hun-pin meronta bangun, katanya dengan kertak gigi: "Dia mati di tangan siapa?"

"Masa kau tidak tahu?" Toh Tong balas bertanya.

"Cara bagaimana aku bisa tahu?", keras suara Ting Hun- pin, "Apa maksudmu? Siapakah sebetulnya yang membunuhnya?"

"Bukankah kau?" desis Toh Tong mengertak gigi.

Dua patah kata ini laksana godam memukul dada Ting Hun-pin, sampai kakinya hampir tak kuasa menopang badannya lagi.

"Akukah. ?"

"Kalau kau tidak menusuknya dulu, mana mungkin dia dikalahkan Lu Di. Kalau bukan hendak mengantar dia pergi mencari tabib mengobati luka-lukanya, masakah Cay-cong- piau-thau ikut mati di atas kereta." demikian seru Toh Tong penuh emosi.

Hancur redam hati Ting Hun-pin, sekujur badan seakan- akan sudah loyo dan lebur. Terbayang pula olehnya mimpi yang buruk itu, terbayang pula waktu Giok-siau menatapnya dulu, kedua sorot matanya penuh diliputi maksud jahat dan keji. 'Lekas bunuhlah Yap Kay dengan pisau ini. '

"Apakah itu bukan mimpi buruk? Apakah dirinya benar- benar melakukan perbuatan yang menakutkan itu?" Ting Hun-pin tidak percaya, matipun dia tidak mau percaya.

Dia memburu maju merenggut baju di depan dada Toh Tong, teriaknya serak beringas: "Kau bohong!"

"Apakah aku bohong, kau lebih tahu."

"Aku tahu kau sedang membual, sepatah kata lagi berani kau mengatakan, kubunuh kau!"

Toh Tong tertawa dingin. Mendadak dia turun tangan, telapak tangannya tegak menebas lurus ke pundak Ting Hun- pin. Namun sungguh tak pernah dia bayangkan bahwa ilmu silat Ting Hun-pin kenyataan jauh lebih tinggi dari apa yang pernah dia bayangkan. Baru saja telapak tangan besinya bergerak, mendadak Ting Hun-pin putar badan, dengan sikutnya dia jojoh ke tulang rusuknya. Kontan Toh Tong terpental jatuh menumbuk dinding. Saking kesakitan, dia mendekap dada sambil terbungkuk-bungkuk.

Kembali Ting Hun-pin memburu maju, menarik dia berdiri, hardiknya serak dan kalap: "Katakan! Bukankah kau sedang membual?"

Keringat dingin gemerobyos membasahi muka Toh Tong yang pucat menahan sakit, napasnya tersengal-sengal. Tiba- tiba dia tertawa dingin pula katanya: "Baik! Kau bunuhlah aku. Yap Kay pun bisa kau bunuh, manusia mana lagi yang tak bisa kau bunuh? Meski kau membunuhku, jawabanku tetap tak berubah."

Terlepas renggutan jari-jari Ting Hun-pin, tiba-tiba sekujur badannya gemetar keras, seperti kelintingan tembaga yang dihembus angin kencang. Seolah-olah ratusan pasang mata yang hadir memenuhi ruang pendopo ini, tengah menatapnya dengan penuh kebencian dan mual.

"Seharusnya kita membunuhmu untuk menuntut balas kematian Cay-cong-piau-thau dan Yap Kay, tapi perempuan macammu ini, hakikatnya tidak setimpal kita turun tangan. Pergilah....... pergilah. "

"Aku telah membunuh Yap Kay.......... aku benar-benar telah melakukan perbuatan terkutuk ini?".

Dengan menutup muka Ting Hun-pin lari gentayangan seperti orang gila keluar dari Piau-kiok, langsung menuju ke jalan raya.

Jalan raya terasa berputar, dunia seakan-akan mulai kiamat, tak tertahan akhirnya dia tersungkur jatuh di tengah jalan raya. Jalan yang becek terasa dingin bagai es, lumpur becek yang tercampur segala kotoran, namun semua ini sudah tidak dihiraukan oleh Ting Hun-pin.

Orang-orang di jalan sama mengawasinya, seolah-olah penduduk kota ini sudah tahu bahwa dialah perempuan pembunuh. Tapi diapun tak peduli. Dia ingin dirinya menjadi tanah lumpur saja, biarlah dirinya diinjak-injak orang yang berlalu-lalang menjadi debu yang beterbangan, biarlah deru angin badai nan dingin menghembus seluruh jazatnya.

Tapi tiba-tiba terasa sebuah tangan menarik dirinya. Sebuah tangan yang kokoh kuat, seraut muka yang mengunjuk rasa simpatik dan belas kasihan. Dia tetap tidak menangis, memang air matanya sudah kering. Setelah bentrok dengan muka orang ini, baru tak tertahan air matanya bercucuran seperti sumber air. Kwe Ting memapahnya bangun, langsung dia tergerung- gerung di dalam pelukannya. Kwe Ting diam saja, dia biarkan orang menangis sepuasnya, dia harap tangis ini dapat mencuci kepedihan hatinya.

Setelah Ting Hun-pin merasa puas menangis, baru dia sadar dirinya ternyata sudah kembali ke kamar gelap nan dingin di mana sebelumnya dia rebah tiga hari tanpa ingat diri.

Cahaya lampu remang-remang. Kwe Ting di bawah sinar lampu, duduk termenung mengawasi dirinya. Dia tidak mengeluarkan kata-kata hiburan, namun sorot matanya sudah cukup untuk menenteramkan hatinya.

Akhirnya Ting Hun-pin meronta bangun berduduk, dengan terlongong dia awasi sinar lampu yang kelap-kelip. Entah berapa lama berselang, akhirnya dia bersuara seraya melamun: "Aku membunuhnya. akulah yang membunuhnya."

"Bukan kau!"

Suara Kwe Ting tegas dan lembut.

"Dalam peristiwa itu kau tidak bisa disalahkan." "Kau tahu akan kejadian ini?"

"Akulah yang menolongmu bersama Yap Kay."

"Waktu aku menusuknya dengan pisau, kaupun menyaksikan dari samping?"

"Justru karena akupun menyaksikan, maka aku tahu kau tidak boleh disalahkan, karena waktu itu, hakikatnya kau bertindak bukan atas kehendakmu sendiri." Ting Hun-pin mengawasi dengan tanda tanya, lalu mengawasi jari-jari tangan sendiri. Apapun yang telah terjadi, kedua tangannya ini sudah kenyataan. Dia tahu betapa sedih dan besar tekanan batin yang mengganjel dalam sanubari, selamanya tidak akan tercuci bersih. Siapapun yang perduli dengan membujuk dan menghiburnya dengan kata-kata, apapun takkan berguna lagi.

Pelan-pelan Kwe Ting berkata pula: "Jikalau kau ingin menuntut balas sakit hati Yap Kay, maka kau tidak pantas menyiksa dirimu sendiri, tak perlu kau hidup merana dan mereras hati. Giok-siau lah musuh yang harus kita cari, demikian pula Lu Di."

"Kita? Maksudmu?" tanya Ting Hun-pin.

"Ya, kita!", sahut Kwe Ting manggut-manggut, "aku dan kau!"

"Tapi persoalan ini tidak sangkut pautnya dengan kau." "Siapa    bilang    tiada    sangkut-pautnya?    Kau   adalah

temanku, demikian pula Yap Kay adalah sahabatku. Urusan

kalian adalah urusanku pula."

Tiba-tiba Ting Hun-pin angkat kepala menatapnya bulat- bulat. Lama sekali baru dia bersuara: "Kau selalu menyembunyikan ini kepadaku, kau rela kumaki, ku hina daripada membeber persoalan yang sebenarnya. Apakah kau kuatir aku bersedih hati?"

"Aku. "

Ting   Hun-pin   tidak beri kesempatan dia bersuara, katanya lebih lanjut: "Sekarang kau ingin menuntut balas sakit hati Yap Kay, karena kau tahu bahwa aku bukan tandingan Giok-siau dan Lu Di."

Kwe Ting tunduk kepala, mengawasi tangannya, karena dia tidak berani beradu pandang dengan kerlingan mata orang yang tajam mempesonakan.

Tak lagi berlinang air mata Ting Hun-pin, katanya: "Aku sudah mengerti seluruh maksud hatimu, sekarang aku hanya ingin supaya kau memahami maksudku."

Kwe Ting diam saja.

"Kematian Yap Kay adalah tanggung-jawabku, kau tidak perlu turut campur. Walau Giok-siau dan Lu Di musuh yang menakutkan, aku tetap punya akal untuk menghadapi mereka. Tak perlu kau kuatirkan keselamatan diriku."

"Kau punya akal apa untuk menghadapi mereka?", tanya Kwe Ting.

"Aku ini perempuan, untuk menghadapi laki-laki biasanya banyak cara yang bisa digunakan perempuan," suaranya berubah dingin serta sadis dan tandas.

Semula Ting Hun-pin adalah gadis periang yang lincah dan jelita, namun sekarang seolah-olah dia sudah berubah jadi perempuan lain yang sadis dan kejam.

Mencelos dingin hati Kwe Ting, tiba-tiba timbul rasa takut yang mengerikan dalam sanubarinya. Lapat-lapat dia sudah mendapat firasat bahwa kemungkinan Ting Hun-pin hendak melakukan sesuatu yang menakutkan. Ingin dia mencegahnya, namun tidak tahu cara bagaimana dia harus mencegah tindakan nekat. Pelan-pelan Ting Hun-pin bangkit berdiri, turun dari ranjang, beranjak ke arah jendela. Dia termenung di ambang jendela, pandangannya menatap tabir malam nan pekat di luar sana.

Malam belum berlarut.

Tiba-tiba dia berpaling serta bertanya: "Kau ada membawa uang tidak?"

"Ada!", sahut Kwe Ting pendek. "Berapa yang kau miliki?" "Cukup banyak!"

Ting Hun-pin menggelung rambutnya, katanya: "Sekarang belum terlalu malam, aku ingin keluar membeli barang- barang dan makanan untuk makan malam. Maukah kau menyertai aku?"

ooo)dw(ooo

Restoran memang belum kukut, Ting Hun-pin pesan tujuh macam sayuran. Perlahan sekali dia makan, namun banyak sekali yang dia gares, arakpun tidak ketinggalan dia minum beberapa cangkir.

Setelah kenyang dia ajak Kwe Ting ngelencer di jalan raya yang paling ramai di seluruh kota Tiang-an, di toko kelontong dia membeli pupur gincu dan beberapa potong pakaian yang berwarna-warni amat menyolok, demikian pula perhiasan-perhiasan elok yang tidak terlalu mahal harganya.

Memang gadis-gadis jelita biasa suka membeli barang- barang seperti itu. Tapi di dalam keadaannya sekarang dia masih punya selera membeli barang-barang itu, rasanya rada janggal juga.

Kini dia kelihatan tenang dan pendiam, hanya seorang yang diam-diam sudah berkeputusan dengan tekadnya yang teguh, baru bisa berubah begitu tenang pendiam. Tekad apa pula yang sudah dia putuskan dalam sanubarinya?

Semakin tebal rasa kuatir dan takut dalam relung hati Kwe Ting, tapi dia bisa mengikuti langkah orang kemanapun dia pergi, sepatah katapun dia tidak bersuara. Betapapun orang belum melaksanakan apa yang sudah menjadi keputusan dalam benaknya.

Tanpa merasa karena putar kayun tanpa tujuan itu, tahu- tahu mereka menuju ke Pat-hong Piau-kiok. Tiba-tiba Ting Hun-pin serahkan buntalan besar kecil dari barang-barang keperluannya kepada Kwe Ting. Dengan langkah lebar segera dia melangkah masuk. Para piausu yang kebetulan ada di depan pintu sama mengawasinya dengan mendelong kaget, tiada orang yang berani maju merintangi dirinya, karena mereka merasakan adanya perubahan yang mendadak pada gadis satu ini, begitu cepat dan menakutkan perubahan ini.

Perempuan yang tadi baru saja dirundung sedih, haru dan emosi, kini berubah begini tenang dan pendiam, siapapun takkan bisa membayangkan keluar-biasaan ini, sampaipun Toh Tong yang melihatnya amat terperanjat, tanyanya: "Untuk apa kau datang kemari lagi?" 

"Aku minta kau suka memberitahu kepada Giok-siau dan Lu Di, jikalau mereka masih ingin mencari Siangkwan Siau- sian, jikalau masih ingin mendapatkan Pit-kip (Buku silat) dan harta terpendam itu, suruhlah besok tengah hari menunggu kedatanganku di hotel Hong-ping."

"Aku. cara bagaimana aku bisa menemukan mereka?"

"Carilah akal dan usahakan sampai ketemu, kalau tidak ketemu, tumbukkan kepalamu ke dinding sampai pecah dan mampus." suara Ting Hun-pin tenang dan mantap, ujung mulut malah mengulum senyum. Senyum yang jauh lebih menakutkan daripada mimik muka apapun.

Sepatah katapun Toh Tong tidak berani bersuit lagi.

Ting Hun-pin melangkah keluar pula dengan langkah gemulai wajar, tak lupa dia mampir di warung makan minta semangkok mie ti-te (kaki babi) dan minum sedikit arak, katanya dengan tersenyum: "Hari ini selera makanku besar sekali, ya!"

Mengawasi senyum tawa orang, Kwe Ting hanya melongo saja, sepatah katapun dia tidak bersuara.

Tatkala itu malam sudah larut, mereka melangkah di tengah kegelapan yang sudah terasa dingin. Pelan-pelan mereka kembali ke hotel kecil itu, pulang ke kamar kecil yang lembab itu.

"Aku mau tidur!" kata Ting Hun-pin. Kwe Ting diam saja, lalu dia manggut.

Baru saja dia bergerak hendak keluar, tiba-tiba Ting Hun-pin tertawa, katanya: "Kau tidak usah keluar, ranjang ini cukup besar berkelebihan untuk tidur dua orang."

Kwe Ting tertegun. Tapi Ting Hun-pin sudah menarik kemul ke bawah, katanya: "Kau tidur di sebelah dalam, aku tidur di bagian luar." suaranya tetap tenang wajar dan halus seperti seorang ibu yang menganjurkan putranya tidur.

Bahwasanya Kwe Ting tidak bisa menolak, terpaksa dia merangkak naik dan merebahkan diri dengan badan kaku, badan mepet dinding tak berani bergerak.

Ting Hun-pin juga naik ke ranjang, katanya tersenyum: "Malam ini mungkin aku bermimpi buruk sekali, kuharap kau tidak menjadi kaget dan berjingkat kaget."

Kwe Ting menggerakkan kepala mengangguk. Kecuali mengangguk, sedikitpun dia tidak berani bergeming.

Tiba-tiba Ting Hun-pin menghela napas, mulutnya mengoceh: "Tahukah kau, selamanya belum pernah aku tidur seranjang dengan laki-laki lain, semula aku yakin selama hidupku ini takkan tidur seranjang dengan laki-laki lain." suaranya semakin rendah lirih, sesaat kemudian ternyata dia sudah pulas.

Malam sunyi dan tenang.

Pernapasan Ting Hun-pin enteng perlahan seringan hembusan angin lalu di musim semi yang sepoi-sepoi.

Kwe Ting pun amat penat, sangat mengantuk, diapun ingin tidur sebentar.

Tapi bagaimana dia bisa pulas. Selama hidup belum pernah dia mengalami kekalutan pikiran seperti saat ini, banyak persoalan yang dia pikirkan, semua gejolak di rongga dadanya sehingga hatinya tidak bisa tentram. Mimpipun tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa malam ini dirinya bakal tidur seranjang dengan Ting Hun- pin, mimpipun tak pernah terbayang olehnya di waktu dia tidur dengan seorang gadis belia, keadaannya bisa sedemikian runyam. Dia adalah laki-laki sejati, laki-laki yang baru menanjak dewasa dan besar napsu birahinya. Dia pernah main perempuan, di dalam bidang ini, sikapnya tidak begitu serius seperti lahirnya sekarang ini.

Kini perempuan yang tidur di sampingnya justru adalah gadis yang dia idam-idamkan dan selalu dia jumpai di dalam impian. Sejak pertama kali dia melihatnya, timbul suatu perasaan mendalam di relung hatinya yang tidak mungkin dia sadari dan tidak bisa dia jelaskan sendiri. Akan tetapi sekarang sedikitpun dia tidak punya angan-angan nyeleweng, tiada keinginan main, tiada napsu bergaul, hanya ketakutan dan sedih serta pilu yang menggejolak di benaknya.

Kini dia sudah tahu apa yang akan dilakukan Ting Hun-pin setelah dia bertekat dan berkeputusan. Hanya perempuan yang sudah berkeputusan dan bertekat untuk mati  saja yang bisa berubah sedemikian tenang dan pendiam.

Tapi dalam hati Kwe Ting diam-diam sudah berkeputusan. Sekali-kali dia tidak akan berpeluk tangan membiarkan Ting Hun-pin mati. Asal gadis idamannya ini tetap bertahan hidup, apapun akibatnya dan apapun yang harus dia lakukan, dia akan bekerja secara sukarela.

Malam semakin larut, deru angin malam menderu-deru di luar jendela.

Tiba-tiba didapatinya badan Ting Hun-pin mulai gemetar, tak henti-hentinya gemetar, malah semakin keras, merintih dan tersedu-sedu. Sinar bintang menyorot masuk dari lubang jendela, menyoroti mukanya, air mata sudah membasahi selebar mukanya.

Hati Kwe Ting pun seperti ditusuk sembilu, hampir tak tertahan lagi dia hendak membalik badan serta memeluknya kencang-kencang. Ingin dia bilang di dalam kehidupan dunia fana ini masih banyak sesuatu yang patut dia kenang dan senangi, betapapun berat dan parahnya luka-luka, akhirnya kan sembuh dan merapat pula walau perlahan-lahan. Akan tetapi dia tak berani berbuat demikian. Terpaksa dia hanya temani orang mengucurkan air mata. Setelah air matanya kering, baru dia tidur pulas.

Tak lama kemudian tahu-tahu sekujur badannya mulai gemetar, semakin keras dan tidak berhenti. Waktu Kwe Ting membuka kelopak matanya, tiba-tiba didapatinya Ting Hun-pin sedang mengawasi mukanya, sorot matanya diliputi kepedihan, simpati, kasihan serta rawan dan risau. Rasa terima kasih yang berkelebihan dan tidak mungkin dinyatakan dengan perkataan, atau tak mungkin di balas selama hayat masih di kandung badannya.

ooo)dw(ooo

Waktu Kwe Ting bangun, hari sudah terang tanah. Ting Hun-pin sudah ganti pakaian, mengenakan baju baru yang semalam baru dibelinya, duduk di depan kaca, orang tengah berdandan merias diri. Gerak-geriknya sedemikian gemulai dan elok mempesonakan, di tingkah sinar matahari yang menyorot masuk dari luar jendela, kelihatan wajahnya cerah cemerlang, sampaipun kamar kecil yang gelap lembab ini masanya menjadi semarak karena perubahannya ini. Hampir gila Kwe Ting dibuatnya. Jikalau ini rumahnya, jikalau Ting Hun-pin adalah bininya, begitu dia bangun, lantas melihat istrinya tercinta yang jelita sedang berdandan menyanding cermin, tentulah tiada sesuatu kehidupan di dunia ini yang lebih bahagia dari hidupnya.

Kembali dia rasakan hatinya seperti ditusuk sembilu. Dia tidak berpikir lebih lanjut. Dia tahu bahwa semua cemerlang dan semarak yang terjadi dalam sekejap ini tidak lebih hanyalah merupakan pertanda lebih mendekatnya ajal jiwanya. Kematian itu sendiri ada kalanya memang terasa indah.

"Kau sudah bangun?", tiba-tiba Ting Hun-pin berkata.

Kwe Ting manggut-manggut, dia berduduk, katanya dipaksakan tertawa: "Tidurku tentu seperti orang mati."

"Kau memang harus tidur sepuasnya." suara Ting Hun-pin halus merdu, "aku tahu sudah beberapa hari kau tidak tidur."

"Jam berapa sekarang?" tanya Kwe Ting. "Kalau tak salah sudah dekat lohor."

Seperti batu tenggelam di dalam rasa hati Kwe Ting.

Tiba-tiba Ting Hun-pin berdiri seperti peragawati saja, dia mendekat ke pinggir ranjang lalu berputar dan bergaya di depannya, katanya tersenyum: "Coba katakan,  dandananku cantik serasi tidak?" dengan dandanannya yang luar biasa ini, dia memang teramat cantik.

Kelihatannya tak ubah seperti burung merak yang sedang mementang sayap, bersolek di hadapan para penontonnya. Mungkin karena baru sampai detik ini, dia baru boleh di bilang sebagai perempuan yang benar-benar sudah dewasa, betul-betul masak dalam kehidupan.

Kecantikan yang luar biasa ini menambah perih dan derita batin Kwe Ting.

Ting Hun-pin menatapnya, tanyanya: "Kenapa kau tidak bersuara? Apa yang sedang kau pikirkan?"

Kwe Ting tidak menjawab pertanyaannya, lama dia mengawasinya mendelong, tanyanya tiba-tiba: "Kau mau berangkat?"

"Aku. aku hanya mau ngelencer di luar saja"

"Untuk menemui Giok-siau atau Lu Di?"

"Kau tahu, cepat atau lambat, akhirnya aku pasti akan berhadapan dengan mereka."

"Aku sendiri entah kapan pasti juga berhadapan dengan mereka."

"Kau hendak mengiringi aku?" "Kau tidak sudi kuiringi?"

"Kenapa aku tidak mau? Lebih baik kalau kau sudi mengiringi aku."

Kwe Ting melenggong. Semula tak terpikir olehnya bahwa Ting Hun-pin mau mengajak dirinya. 'Ini urusanku, kau tidak perlu ikut campur.'. Kata-kata orang masih segar dalam ingatannya, tak nyana hari ini orang sudah berubah haluan.

Ting Hun-pin tersenyum manis, katanya: "Kalau mau pergi, lekaslah bangun, cuci muka dan ganti pakaian, airnya sudah ku sediakan untukmu." Di pojok kamar memang sudah tersedia sebaskom air.

Bergegas Kwe Ting lompat turun dari ranjang, sorot matanya bercahaya terang dan senang, terasa sekujur badannya diliputi kekuatan yang berkobar-kobar.

Dia tahu Giok-siau dan Lu Di adalah musuh tangguh yang amat berbahaya, tapi dia tidak perduli lagi. Siapa yang akan menjadi korban di dalam duel yang akan datang sudah tidak menjadi perhatiannya lagi. Yang penting bagi dirinya, bahwa Ting Hun-pin sekarang sudah kembali hidup dan berjiwa.

Tiba-tiba timbul pula keyakinan dalam benaknya bahwa bukan mustahil di dalam duel nanti dia masih mempunyai setitik harapan. Kini bukan saja badannya diliputi kekuatan, diapun dilandasi keyakinan dan percaya akan kemampuan sendiri.

Kwe Ting membungkuk badan dengan kedua tangan dia mendulang air untuk mencuci muka, air yang dingin, laksana tajam pisau yang mengiris mukanya, sehingga semangatnya terbangkit, lebih sadar dan lebih gairah.

Ting Hun-pin datang mendekat di belakangnya, katanya lembut: "Kau tak perlu tergesa-gesa, mereka toh akan menunggu kita."

Kwe Ting tertawa, sahutnya: "Benar! Biar mereka menunggu sedikit lama juga tidak jadi soal, aku......." belum berakhir dia bicara, tiba-tiba terasa sesuatu memukul Hiat- to yang terletak di belakang punggungnya. Seketika dia tersungkur jatuh. Terdengar Ting Hun-pin berkata setelah menghela napas: "Tidak bisa tidak aku harus lakukan ini, aku tak bisa membiarkan kau jadi korban karena aku, kuharap kau suka memaafkan aku."

Kwe Ting bisa mendengar perkataannya, namun dia tidak bisa bicara, tidak bisa bergerak, maka dia hanya mendelong saja membiarkan Ting Hun-pin membopong badannya direbahkan di atas ranjang.

Berdiri di pinggir ranjang Ting Hun-pin mengawasinya, sorot matanya penuh iba, kasihan, haru, terima kasih dan bergairah pula.

"Maksud hatimu terhadapku, seluruhnya ku maklumi, orang macam apa kau sebenarnya, akupun sudah mengerti, sayang sekali. sayang kita bertemu setelah terlambat."

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Ting Hun-pin kepada Kwe Ting.

Mengawasi bayangan orang yang keluar pintu, sungguh remuk redam hati Kwe Ting. Dia tahu seumur hidupnya dia tidak akan bisa melihatnya lagi. Maklumlah, memang banyak cara untuk perempuan menghadapi laki-laki, namun lawan yang harus dia hadapi adalah musuh yang benar-benar lihay, berbahaya dan menakutkan.

Umpama kata dia kuasa merobohkan musuh-musuhynya, diapun sudah berkeputusan takkan kembali lagi, karena keputusannya adalah gugur di medan laga. Sejak dia membunuh Yap Kay, derita dan penyesalan hatinya hanya bisa diobati dan dibebaskan oleh kematian. Dia sudah berkeputusan menebus dosanya dengan mati, gugur di medan laga demi menuntut balas sakit hati kekasihnya.

ooo)dw(ooo

Lohor.

Hotel Hong-ping.

Waktu Ting Hun-pin melangkah masuk, cahaya matahari kebetulan sedang menyinari papan nama yang bercat kuning emas itu.

Kali ini dia tidak membawa kelinting pencabut nyawa, tidak membawa senjata apapun. Senjata yang hendak dia gunakan hari ini adalah tekad dan keputusan, keberanian serta kecerdikan dan kesucian arwahnya. Untuk semua ini dia cukup yakin dan percaya pada kemampuannya. Entah berapa banyak laki-laki yang pernah terjungkal oleh senjata ampuh kaum perempuan ini.

Dia memang perempuan belia yang cantik sekali, apalagi hari ini dia sengaja berdandan dan bersolek, sudah tentu bertambah luar biasa ayunya. Tiada mata laki-laki yang tidak melotot waktu melihat dirinya melangkah masuk. Beraneka ragam pula mimik mereka, ada yang terpesona, ada yang jalang, ada pula yang bernapsu seperti hendak menelannya bulat-bulat. Hanya Ciangkui tua itu saja yang berhati bajik dan bijaksana, mengunjuk rasa kuatir dan prihatin, seolah-olah dia sudah merasakan firasat jelek, bahwa hari ini elmaut akan menimpa diri gadis molek ini. Begitu Ting Hun-pin masuk, Ciangkui bergegas memapaknya maju, katanya dengan tertawa meringis: "Apakah ini nona Ting?"

"Ya, aku!"

"Tamu nona Ting sudah menunggu di pekarangan belakang sejak tadi."

Giok-siau dan Lu Di benar-benar datang.

Tiba-tiba terasa oleh Ting Hun-pin jantungnya mulai berdetak lebih keras. Walau dia sudah berkeputusan untuk ajal, namun dia tidak bisa mengendalikan ketegangan hatinya. Sudah tentu dia cukup mengerti, bahwa kedua orang ini terlalu bahaya dan menakutkan.

"Hanya dua orang saja yang datang?", tanyanya.

Ciangkui manggut-manggut, tiba-tiba dia merendahkan suara berbisik: "Kalau nona tiada urusan penting, kuanjurkan lebih baik nona lekas pulang saja."

"Kau sudah tahu, aku yang mengundang mereka, kenapa suruh aku pulang?"

"Karena...." tak kuasa dia utarakan kekuatiran hatinya, akhirnya dia menghela napas.

Dengan tersenyum Ting Hun-pin sudah berjalan masuk, bukannya dia tidak tahu akan maksud baik pemilik hotel, tapi tiada pilihan lain untuk dia tempuh. Umpama dia tahu ular beracun yang paling jahat tengah menunggu kedatangannya, mau tidak mau dia harus menghadapi juga. Tumpukan salju dan kotoran daun-daun di pekarangan belakang baru saja di sapu bersih, tanah kelihatan licin mengkilap.

"Kedua tamu itu menunggu di ruang dalam." pelayan yang menunjuk jalan memberitahu, lalu diam-diam dia mengundurkan diri. Agaknya dia sudah mendapat firasat juga, perempuan itu hari ini tidak main-main.

Pintu ruang belakang itu terbentang lebar, tiada orang bicara, tapi kedengaran suara orang tertawa. Memang Giok- siau dan Lu Di orang-orang yang tidak suka bicara atau berkelakar. Mereka tertawa bila mereka berkeinginan hendak membunuh orang, atau musuh sudah terkapar di bawah kaki mereka.

Sebentar Ting Hun-pin tenangkan hati, mukanya mengulum senyuman manis, lalu dengan langkah gemulai yang indah mempesonakan dia melangkah masuk. Dua orang yang menunggu dirinya di dalam rumah ternyata memang Giok- siau dan Lu Di.

Dalam rumah ada cahaya matahari, namun siapapun yang masuk kemari, seketika akan merasakan seolah-olah dirinya memasuki gudang es.

Giok-siau duduk di kursi yang dekat dengan pintu, kalau dia mau duduk, selalu memilih kursi yang paling nyaman diduduki. Pakaiannya masih begitu perlente, kelihatannya masih begitu agung, besar suci dan tiada tandingannya. Walau dalam rumah masih ada seseorang yang lain, namun seakan-akan dia tidak tahu akan kehadiran orang itu. Bahwasanya dia memang tidak pandang orang lain. Lu Di sebaliknya tengah mengawasinya, mimik mukanya seperti pelancong yang adem-ayem dan acuh tak acuh sedang berdiri di luar kerangkeng menonton seekor singa tua yang sedang unjuk tampang dan kegarangan. Muka yang pucat menampilkan sikap hina, dingin, merendahkan dan mencemooh karena dia tahu walau singa ini kelihatan gagah garang, namun giginya sudah ompong, cakar-cakarnya sudah puntul, sudah bukan ancaman serius terhadap dirinya. Pakaiannya sederhana, dalam rumah ada pula kursi-kursi lain yang enak dan nyaman diduduki, namun dia rela berdiri saja.

Ting Hun-pin berdiri di ambang pintu, satu persatu matanya mengerling kepada mereka dengan senyuman yang menggiurkan. Kedua orang yang dihadapinya ini merupakan dua tokoh silat yang berlawanan. Sekilas pandang saja Ting Hun-pin lantas merasakan kedua orang ini tak mungkin hidup berdampingan secara damai.

"Aku she Ting," ujar Ting Hun-pin tersenyum manis sembari melangkah maju, "bernama Hun-pin."

"Aku mengenalmu," dingin suara Giok-siau Tojin.

"Apakah kalian masing-masing juga sudah kenal?", tanya Ting Hun-pin tetap tersenyum.

Sombong sikap Giok-siau, katanya: "Dia harus tahu siapa aku ini!", jari-jarinya mengelus seruling pualam putih di tangannya, "dia harus kenal serulingku ini."

Ting Hun-pin tertawa pula, katanya: "Apakah setiap orang pasti kenal serulingmu ini? Kalau tidak dia harus mati?", matanya mengerling ke arah Lu Di. Muka Lu Di sedikitpun tidak menunjukkan perasaan apa- apa. Agaknya dia bukan laki-laki yang gampang tersinggung.

Berputar biji mata Ting Hun-pin, katanya berseri: "Sungguh aku tidak nyana, Lu Kongcu  pun  sudi  datang,  aku. "

"Kau harus menduganya." tukas Lu Di tiba-tiba. "Kenapa?"

"Pit-kip dan harta karun peninggalan Siangkwan Kim- hong, memangnya siapa yang tidak ingin mengangkanginya?"

"Jadi Lu Kongcu juga ingin mengangkanginya?" "Aku hanya manusia biasa."

"Sayang Lu Kongcu tidak gampang untuk mendapatkan rahasia dari harta karun itu." ujar Ting Hun-pin manggut- manggut, "tapi aku tahu, hanya aku saja yang tahu. Sebetulnya aku tidak ingin membeber rahasia ini, namun sekarang aku dipaksa untuk mengatakannya."

"Kenapa?"

Ting Hun-pin menghela napas, tawanya kelihatan rada sedih, katanya: "Karena sekarang Yap Kay sudah mati, mengandal tenagaku seorang, jelas takkan mampu melindungi harta karun itu."

"Maka kau mengundang kami kemari." ujar Lu Di. "Setelah ku timang-timang, orang-orang gagah di kolong

langit   ini,   rasanya   tiada   yang   bisa   mengungkuli kalian

berdua." Kalau Lu Di mendengarkan tanpa menunjuk perubahan sikap, Giok-siau malah tertawa dingin.

"Hari ini ku undang kalian kemari, "demikian kata Ting Hun-pin lebih lanjut, "maksudku hendak memberitahu rahasia itu kepada kalian, karena. "

"Kau tidak usah beritahu kepadaku," tiba-tiba Lu Di menukas kata-katanya.

"Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin tahu!"

Ting Hun-pin melongo, senyuman mukanya menjadi kaku. "Tapi aku tahu akan satu hal," ujar Lu Di.

"Hal apa?" tanya Ting Hun-pin.

"Jikalau ada dua orang sekaligus tahu akan rahasia ini, mungkin hanya satu saja yang bisa keluar dengan nyawa masih hidup."

Ting Hun-pin sudah tidak bisa tertawa lagi.

Kini ganti Lu Di yang tertawa, katanya: "Harta karun itu memang menarik hatiku, tapi aku tidak mau lantaran memperebutkan harta itu sampai berduel dengan Tang-hay- giok-siau."

Tiba-tiba Giok-siau manggut-manggut, ujarnya: "Agaknya kau orang pintar."

Dingin suara Lu Di, tanyanya: "Totiang juga sudah tahu akan maksudnya?"

"Dia tidak secerdik dirimu." "Tapi dia tidak bodoh, malah begini ayu jelita."

"Dia memang suka mengagulkan diri, aku justru tidak suka perempuan yang ngepinter."

"Perempuan mana dalam dunia ini yang tidak suka mengagulkan diri?"

Tiba-tiba Giok-siau menatap mukanya, tanyanya dingin: "Memangnya apa yang kau ingin tanyakan?"

"Aku hanya memberi peringatan kepada Totiang, perempuan seperti ini tidak banyak jumlahnya dalam dunia ini."

Tanpa terasa Giok-siau mengawasi Ting Hun-pin dua kali, sorot matanya menunjukkan kekagumannya, tiba-tiba dia menghela napas, mulutnya mengguman: "Sayang..........

sungguh sayang. "

"Apanya yang sayang?", tanya Lu Di.

"Sebatang pedang kalau sudah gumpil, kau bisa mengetahui tidak?"

Lu Di manggut-manggut.

"Gadis ini sudah gumpil, sudah tidak asli lagi." "Kau bisa melihatnya?"

Lu Di tahu akan maksud Giok-siau, hubungan Ting Hun-pin dengan Yap Kay memang sudah bukan rahasia lagi. Dia  sering dengar Kwe Siong-yang yang selamanya tidak mau pakai pedang yang sudah gumpil, demikian pula Giok-siau tidak mau main dengan perempuan yang sudah dikerjai laki- laki. Matanya masih mengawasi Giok-siau, namun dia tidak bertanya lagi, hanya sorot matanya masih menampilkan senyuman mencemooh.

"Kau belum mengerti?" tanya Giok-siau. "Aku hanya heran."

"Apa yang kau herankan?"

"Aku heran kenapa kau memilih kuris yang kau duduki itu?"

"Tentunya kau juga tahu, hanya kursi ini yang paling enak di duduki dalam rumah ini."

"Sudah tentu kau tahu, tapi akupun tahu, entah berapa banyak orang yang dulu pernah menduduki kursi itu."

Tiba-tiba dia mengakhiri percakapan ini, dengan langkah lebar dia beranjak keluar lewat samping Ting Hun-pin.

Hati Ting Hun-pin mencelos, darah dalam tubuhnya seakan-akan menjadi dingin, badannya kaku membesi.

Giok-siau tengah mengamati-amati dirinya, seperti seseorang yang sedang memilih sesuatu barang yang hendak dibelinya. Seolah-olah sorot mata sudah tembus pakaiannya, menikmati potongan badannya. Ting Hun-pin seperti dirinya sedang berdiri telanjang bulat di hadapan orang.

Bukan hanya kali ini dirinya pernah dipandang begitu rupa oleh laki-laki, namun kali ini sungguh tak kuat lagi dia menekan perasaannya. Tiba-tiba dia putar badan terus berlari keluar. Dia tidak takut mati, namun dia cukup tahu, banyak kejadian yang lebih menakutkan dalam dunia ini daripada mati. Tak nyana baru saja dia memutar badan, tahu-tahu daun pintu sudah tertutup, Giok-siau sudah berdiri di hadapannya, berdiri menggendong tangan menghadang jalannya, tetap dengan sorot mata yang jalang mengawasi dirinya.

Ting Hun-pin mengepal kencang jari-jari tangannya, kakinya menyurut mundur selangkah demi selangkah, mundur ke kursi yang tadi diduduki orang, lalu dia duduk, katanya tiba-tiba: "Aku...... aku tahu kau pasti tidak akan menyentuh aku. Memang aku sudah tidak asli lagi, malah sudah terlalu besar gumpilan badanku."

Giok-siau tertawa senang, katanya tersenyum: "Semula kukira kau sudah dewasa, karena apa yang ingin kau kerjakan hari ini adalah kerja orang besar, baru sekarang aku tahu, kau memang masih kanak-kanak."

Selamanya Ting Hun-pin tidak mau mengakui bahwa dirinya masih kanak-kanak, terutama di hadapan Yap Kay, dia lebih tidak mau mengakui, tapi sekarang mau tidak mau dia harus mengakui.

"Tahukah kau? Kanak-kanak hendak mengerjakan urusan besar, terlalu berbahaya." ujar Giok-siau.

Ting Hun-pin memberanikan diri, katanya: "Aku belum melihat adanya bahaya di hadapanku."

Giok-siau tertawa ujarnya: "Karena kau tahu aku tidak mau menyentuhmu?"

Ingin Ting Hun-pin tertawa paksa, namun dia tidak bisa tertawa, dengan keras dia gigit bibir dan manggut-manggut. "Sebetulnya aku memang tidak sudi menyentuh perempuan yang sudah pernah ditiduri laki-laki, tapi kepadamu aku boleh melanggar kebiasaanku ini."

Ting Hun-pin duduk kaku, ujung jari kaki dan tangan seperti tidak bisa bergerak, demikian pula lidahnya terasa kaku, seraut mukanya sudah pucat pasi.

Terasa oleh Ting Hun-pin sorot mata orang seakan-akan menampilkan daya sedot yang aneh. Bukan saja menyedot daya pandangnya, malah seluruh pikiran dan semangatnyapun tersedot kencang. Dia ingin meronta, ingin lari atau menyingkir, namun dia hanya bisa duduk mematung dan mendelong balas menatap mata orang. Biji mata orang seakan-akan berkobar seperti api setan.

Menghadapi sepasang mata ini, akhirnya Ting Hun-pin menyadari kejadian tempo hari yang menimpa dirinya. Kerja apa pula yang harus dia kerjakan menurut kemauan orang? Mungkinkah lebih menakutkan?. Dia sudah kerahkan seluruh tenaga dan semangatnya untuk meronta, keringat dingin sudah gemerobyos membasahi seluruh badannya, namun dia tidak berhasil membebaskan diri dari belenggu ini, api setan yang terpancar dari biji mata Giok-siau seakan-akan sudah membakar habis sisa tenaganya. Terpaksa dia harus menyerah dan tunduk akan segala kehendak orang. Apapun yang Giok-siau inginkan atas dirinya, dia tidak akan bisa menolak atau menentangnya.

Pada saat itulah 'Blang......!' daun pintu tiba-tiba diterjang orang, seseorang tampak berdiri tegak laksana tombak di luar pintu. Giok-siau amat kaget, bentaknya seraya membalik badan: "Siapa?"

"Siong-yang Kwe Ting!"

Kwe Ting. Akhirnya dia menyusul datang tepat pada waktunya.

Bagaimana dia bisa kemari? Siapakah yang membuka tutukan Hiat-to nya? Apakah Siangkwan Siau-sian atau Lu Di?

Sudah tentu mereka tahu, asal Kwe Ting meluruk kemari, maka di antara Giok-siau dan Kwe Ting pasti akan terjadi duel yang sengit, hanya seorang saja yang bisa hidup dan meninggalkan tempat ini.

Sang surya hanya muncul sebentar saja, kembali dia sudah menyembunyikan diri di balik gumpalan awan tebal, hawa dingin kembali mencekam alam semesta. Angin dingin setajam golok.

Kwe Ting dan Giok-siau sama-sama berdiri berhadapan dihembus angin dingin setajam golok itu. Hati mereka sama tahu, satu diantara mereka harus ada yang roboh. Siapapun yang ingin keluar dari pekarangan ini, hanya ada satu jalan, lewat melangkahi mayat lawannya.

Pedang Kwe Ting sudah berada di tangannya, pedang yang legam mulus dengan cahaya mengkilap gelap, namun membawakan hawa membunuh yang tebal dan lebih tajam dari hembusan angin dingin. Pedang itu sendiri tak ubahnya seperti badan dan jazadnya.

Giok-siau sebaliknya putih mentah mengkilap terang. Kedua orang inipun merupakan pertentangan yang menyolok. Kwe Ting mengawasi seruling di tangan Giok-siau, dia berusaha menghindari pandangan mata orang.

Bara setan dalam biji mata Giok-siau menyala lebih terang, tiba-tiba dia bertanya: "Jadi kau inilah ahli waris dari Kwe Siong-yang?"

Kwe Ting mengiyakan.

"Dua puluh tahun yang lalu, aku sudah punya maksud untuk menjajal kepandaian Kwe Siong-yang, sayang sekali dia sudah mampus."

"Aku masih hidup."

"Kau terhitung barang apa? Siong-yang-thi-kiam di dalam buku daftar senjata tercantum nomor 4, sebaliknya pedang di tanganmu ini sepeserpun tak berharga. Bahwasanya kau tidak setimpal pakai pedang ini."

Kwe Ting menutup rapat mulutnya, dia berusaha menekan hawa amarah dan emosinya. Kemarahan ada kalanya merupakan kekuatan juga, tapi duel di antara dua tokoh kosen, kemarahan bisa menjadikan bibit bencana yang jahat dan beracun, lebih jahat dari bisa yang manapun.

Giok-siau menatapnya, katanya pelan-pelan: "Khabarnya kaupun bersahabat baik dengan Yap Kay?"

Kwe Ting diam saja untuk mengakui.

Giok-siau berkata pula dingin: "Kawan macam apakah di antara kalian sebenarnya?"

"Kawan adalah kawan, kawan sejati hanya satu macam." "Tapi hubungan kawan kalian kelihatannya rada luar

biasa, rada janggal." "Apanya yang janggal?"

"Setelah Yap Kay mampus, ternyata cepat sekali kau sudah bersedia menampani bininya ini. Bukankah jarang ada teman seperti dirimu?"

Terasa bara membakar dada dan tak tertahan lagi mendadak Kwe Ting angkat kepala.

Giok-siau tengah menatapnya lekat-lekat. Sorot matanya seketika tersedot, seperti besi sembrani yang menyedot besi umumnya.

Sejak tadi Ting Hun-pin duduk di kursi dengan napas tersengal-sengal, saat mana dia bangkit berdiri menuju ke pintu. Di lihatnya mata Giok-siau yang bentrok dengan pandangan Kwe Ting, seketika tersirap darahnya. Cepat atau lambat, kekuatan, semangat dan daya pikir Kwe Ting akan terbakar habis oleh bara api yang menyala dari biji mata Giok-siau. Sekali-kali dia tidak bisa berpeluk tangan mengikuti langkah Kwe Ting yang bakal kejeblos jurang yang dalam. Sayang hati ada maksud, apa daya tenaga tidak mencukupi.

Dalam saat-saat yang kritis ini, tidak mungkin dia memberi peringatan kepada Kwe Ting. Sekali perhatiannya terpecah, itu berarti menambah cepat kematiannya.

Angin semakin kencang dan hawa semakin dingin, di tengah-tengah kegelapan mendung ini bunga salju sebentar pasti akan bertebaran. Di kala kembang salju berjatuhan, mungkin pula darah akan muncrat. Tentunya darah Kwe Ting yang akan muncrat. Sebetulnya tidak perlu dia mengadu jiwa dengan Giok-siau, sebetulnya dia bisa hidup sehat, tentram dan senang. Kenapa sekarang dia menempuh jalan terakhir ini.

Di saat air mata Ting Hun-pin hampir menetes, tiba-tiba di dengarnya Giok-siau bersuara: "Lempar pedangmu, berlutut!", suaranya seperti mengandung daya kekuatan yang aneh sekali. Suatu perintah yang tidak mungkin ditentang.

Jari-jari tangan Kwe Ting yang memegangi pedang sudah goyah, tangannya gemetar, mengikuti gejolak perasaannya.

Berkata pula Giok-siau pelan-pelan: "Buat apa kau meronta? Kenapa harus menderita? Asal kau lepaskan tanganmu, semua deritamu akan lenyap seketika."

Orang mati sudah tentu akan merasakan derita. Asal dia lepas tangan, maka jiwanya bakal melayang. Otot hijau di punggung tangan Kwe Ting sudah merongkol keluar kini lambat-lambat mulai pudar, demikian pula tenaganya mulai mengendor.

Bercahaya terang sorot mata Giok-siau, jari-jari tangannya yang memegang serulingpun mulai mengendor. Duel ini sudah akan berakhir, dia tidak perlu turun tangan, tidak perlu pakai kekerasan. Beberapa tahun belakangan ini dia sudah jarang berduel dengan kekuatan dan bergerak sengit melawan setiap musuhnya. Dia sudah mempelajari suatu cara yang lebih mudah, tanpa banyak membuang tenaga, dengan gampang lawan dirobohkan. Hal ini membuat dia berubah semakin congkak, namun juga semakin malas. Setelah biasa lewat jalan dekat, tentu tak mau jalan jauh. Jalan dekat biasanya bukan jalan yang normal, jalan yang betul. Kali ini tanpa disadarinya akhirnya Giok-siau melangkah maju juga.

Pedang di tangan Kwe Ting kelihatannya sudah hampir jatuh, namun sekonyong-konyong pegangannya kembali mengencang, di mana sinar pedang berkelebat tahu-tahu melesat terbang ke depan.

Ilmu pedang Siong-yang-thi-kiam memang bukan mengkhususkan diri pada perubahan dan variasi, demikian pula ilmu pedang Kwe Ting. Jikalau dia tidak yakin dan percaya akan kekuatannya, dia tidak akan turun tangan. Sekali dia menusuk pedang, serangannya harus berhasil dan musuhpun harus mati. Gampang, cepat, telak dan nyata serta berhasil. Di situlah letak kemurnian dan intisari ilmu Siong-yang-thi-kiam.

Serangan pedangnya ini bukan menusuk ke tenggorokan. Luas dada jauh lebih besar dari leher, lebih gampang diincar dan lebih besar kemungkinan berhasil. Duel tokoh kosen, sekali salah langkah, meski hanya kesalahan yang tak berarti, mungkin saja merupakan kesalahan yang mengakibatkan kematian bagi jiwanya sendiri.

Seluruh kekuatan dan semangat Giok-siau, dia pusatkan pada kedua biji matanya, dia sangka dirinya sudah menguasai situasi, sayang sekali dia tidak menyadari, bahwa kedua biji matanya bukannya alat senjata yang ampuh.

Betapapun menakutkan biji mata orang, jelas takkan mungkin kuat melawan tusukan pedang yang hebat laksana sambaran kilat. Di kala dia mengayun seruling pualamnya, ujung pedang sudah menyelinap tembus dari bawah serulingnya dan menusuk amblas ke dadanya. Kembang salju mulai beterbangan di angkasa, darahpun muncrat. Tapi bukan darah Kwe Ting, tapi darah yang muncrat dari dada Giok-siau, darah yang merah, menyolok segar.

Kulit mukanya seketika meringkal, biji matanya hampir mencopot, namun bara api di dalam biji matanya sudah lenyap tak berbekas. Walau dada sudah berlubang, namun dia belum roboh, matanya masih menatap Kwe Ting, dengan beringas tiba-tiba dia bersuara, suaranya serak: "Kau bernama Kwe Ting?"

Kwe Ting manggut-manggut, sahutnya tenang: "Ya! Ting artinya tenang."

"Kau memang amat tenang, aku memandang rendah dirimu."

"Tapi aku tidak memandang rendah kau, sudah ku rencanakan cara yang baik untuk menghadapimu."

"Cara yang kau gunakanpun baik sekali!" "Cara yang kau pakai justru salah besar." Giok-siau bersuara heran tak mengerti.

"Dengan bekal ilmu silatmu, seharusnya tidak perlu kau menggunakan cara dari aliran sesat ini menghadapiku."

Pandangan Giok-siau yang kosong hampa mengawasi tempat jauh. Katanya pelan-pelan: "Memang sebetulnya aku boleh tidak usah menggunakannya, hanya seseorang, kalau berhasil mempelajari cara yang gampang untuk mencapai kemenangan, cara yang tidak membuang tenaga.......", kata- katanya kalem dan penuh penyesalan. Baru sekarang dia mengerti, kemenangan selamanya tidak pernah dicapai untung-untungan, untuk menang mempertaruhkan imbalannya.

Mendadak Giok-siau berteriak: "Cabut pedangmu! Biar aku roboh, biar aku mati!"

Ujung pedang masih menancap di dalam dadanya, dia mulai batuk-batuk semakin keras dengan napas yang tersengal-sengal. Kalau pedang belum tercabut, mungkin jiwanya masih bisa diperpanjang barang sekejap, tapi dia kini malah minta lekas mati.

Kwe Ting berkata: "Kau. masih ada pesan apa lagi?"

"Tiada, sepatah katapun tidak."

"Baik, mangkatlah dengan lega hati, aku pasti mengurus jenasahmu dengan baik.", ujar Kwe Ting menghela napas.

Akhirnya dia mencabut pedangnya. Waktu mencabut pedang, sikutnya harus tertekuk mundur, secara langsung bagian dadanya lantas terbuka tanpa penjagaan yang kuat.

Sekonyong-konyong, 'ting....' dari batang seruling pualam di tangan Giok-siau melesat keluar tiga bintik sinar terang, menancap di dada Kwe Ting.

Kontan Kwe Ting terjengkang roboh ke belakang.

Giok-siau malah masih berdiri, napasnya makin memburu, serunya gelak-gelak: "Sekarang aku boleh mati dengan lega hati, karena aku tahu sebentar kaupun akan mengikuti jejakku.", akhirnya dia roboh juga, roboh di genangan darahnya. Kembang salju tengah berjatuhan, jatuh di atas mukanya yang pucat. ooo)dw(ooo

Ting Hun-pin duduk di bawah lampu, termangu-mangu mengawasi Kwe Ting yang rebah tak bergerak di ranjang. Mata yang tajam terpejam, mukanya putih seperti kapur, kalau napas tidak berdengus pelan-pelan, kelihatannya sudah seperti orang mati.

Dia masih hidup karena senjata rahasia yang disimpan di dalam seruling Giok-siau tidak beracun. Batu pualam memang selalu putih bersih dan murni. Kalau jiwa Giok-siau sudah berubah, namun seruling pualamnya tidak pernah berubah. Pualam itu tetap abadi.

Tapi betapapun senjata rahasia itu disambitkan dari jarak yang amat dekat. Batang paku pualam itu hampir memutus urat nadi Kwe Ting yang menembus ke jantungnya. Bahwa dia masih bertahan hidup sampai sekarang memang merupakan suatu keajaiban.

Entah berapa lamanya Ting Hun-pin duduk termangu di ujung ranjang, air matanya sudah kering, entah berapa kali sudah dia bercucuran air mata.

Tiba-tiba terdengar bunyi petasan berenteng yang memecah kesunyian malam di luar. Petasan berbunyi menandakan tahun lama akan berselang, tahun baru bakal mendatangkan garapan baru. Tapi menghadapi Kwe Ting yang sekarat, harapan apa yang bisa dia peroleh?

Suara petasan mengejutkan Kwe Ting, tiba-tiba dia membuka mata, seolah-olah hendak bertanya: "Suara apakah itu?", namun bibirnya tak bisa bergerak. Ting Hun-pin bisa meraba isi hatinya. Dengan paksa dia unjuk senyum, katanya: "Besok sudah tahun baru, di luar orang lepas petasan."

Dengan mendelong Kwe Ting mengawasi tabir malam di luar jendela. Besar harapannya bisa melihat sinar surya, namun apa pula yang dapat dia lakukan? Tiba-tiba dia batuk keras tak henti-hentinya.

"Kau mau minum kuah hangat?" tanya Ting Hun-pin lembut, "malam ini mereka tentu ada sedia kuah ayam."

Sekuatnya Kwe Ting geleng-geleng, lalu dia pandang Ting Hun-pin, lekat-lekat tercetus juga suara dari mulutnya: "Kau pergilah!"

"Kau. ingin aku meninggalkan kau?"

"Aku tahu ajalku sudah dekat, buat apa kau menemaniku?" kata Kwe Ting dengan syahdu.

Ting Hun-pin gigit bibir, dia tahan air matanya supaya tidak menetes keluar, katanya: "Kalau kau kira kau sudah dekat ajal, maka kau terlalu menyia-nyiakan harapanku."

"Kenapa?"

"Karena aku.......aku sudah siap menikah dengan kau, kau tega membiarkan aku jadi janda?"

Muka Kwe Ting yang pucat bersemu merah: "Apa benar?" "Sudah tentu benar!", ujar Ting Hun-pin, "kapan saja kita

bisa menikah."

Asal dapat mempertahankan kehidupan Kwe Ting, apapun yang harus dia lakukan, dia akan bekerja suka rela. "Besok adalah hari baik, kita tidak perlu tunggu lagi." "Tapi aku. "

"Maka kau harus bertahan hidup, harus!"

Sejak hari pertama dia berkenalan dengan Yap Kay, tak pernah terpikir di dalam benak Ting Hun-pin akhir dirinya akan kawin dengan orang lain. Tapi besok malam..........

ooo)dw(ooo

Loteng itu bercat merah, jendela merah, lilin merah, kain gordyn merah, semuanya serba merah.

Siangkwan Siau-sian tertawa manis, katanya mengawasi Yap Kay: "Coba katakan, mirip tidak kamar pengantin?"

"Tidak!", sahut Yap Kay pendek.

Seketika cemberut bibir Siangkwan Siau-sian.

"Dalam hal apa tidak sama? Apa kau tidak mirip pengantin?"

Pakaiannyapun baru, merah lagi.

"Kau memang mirip pengantin, tapi aku tidak." Sebetulnya diapun mengenakan pakaian baru. "Kenapa kau tidak bercermin dahulu?"

"Tidak perlu bercermin, aku sudah bisa memandang diriku sendiri, malah jelas sekali.", ujar Yap Kay, "derita selama hidupku ini justru karena selamanya aku bisa memandang diriku sendiri dengan jelas." tiba-tiba dia berdiri mendorong jendela. Suasana di luar ramai tentram, setiap rumah bertempelan kertas warna-warni yang bertuliskan syair- syair memuji keindahan tahun baru, memujikan bahagia dan mendapat berkah, lekas kaya, banyak anak.

Anak-anak menutup kuping melepas petasan, mereka berpakaian serba baru.

Agaknya Siangkwan Siau-sian sengaja mengatur semua ini, dia harap suasana tahun baru yang ramai dan damai, dapat memberikan kesan dan kehidupan baru bagi Yap Kay. Beberapa hari ini orang selalu murung.

"Kau suka tahun baru?" tanya Siangkwan Siau-sian.

Yap Kay memandang ke tempat jauh. Suasana senja mulai gelap tak ubahnya seperti hari-hari biasa yang telah lampau.

"Agaknya selama ini aku tidak pernah bertahun baru." "Kenapa?"

Tampak hambar, mendelu dan kesunyian di sorot mata Yap Kay, lama sekali baru dia berkata pelan-pelan: "Kau harus tahu, dalam dunia ini ada semacam orang yang selamanya tidak pernah bertahun baru."

"Orang macam apa?"

"Orang yang tidak punya keluarga, tidak punya rumah." Tiba-tiba Siangkwan Siau-sian menghela napas, katanya:

"Sebetulnya aku.............. selama ini akupun tak pernah bertahun baru. Tentunya kau tahu orang macam apa ibuku sebenarnya, tapi takkan kau ketahui betapa hidupnya setelah usia tua, di kala orang lain bertahun baru, dia selalu memelukku, diam-diam menangis di dalam kemul." Tak terasa Yap Kay menghela napas panjang.

"Kau juga tahu, kita sama-sama orang senasib, kenapa sikapmu begitu dingin kepadaku?"

"Itulah lantaran kau sudah berubah."

Siangkwan Siau-sian maju mendekati, katanya menggelendot: "Menurut anggapanmu, sekarang aku berubah menjadi perempuan apa?"

Yap Kay diam saja, dia tidak memberi komentar. Selamanya dia tidak suka mengeritik orang lain dihadapannya sehingga orang sedih karenanya.

Siangkwan Siau-sian tiba-tiba tertawa dingin, katanya: "Jikalau kau kira aku berubah seperti.............. seperti dia, kau salah!"

Yap Kay tahu siapa yang dimaksud dengan dia. Memang semula dia kira Siangkwan Siau-sian sudah berubah mencontoh sepak terjang ibunya, Lim Sian-ji yang centil, cabul dan berhati keji, malah Siangkwan Siau-sian yang sekarang jauh lebih menakutkan.

Tiba-tiba Siangkwan Siau-sian menariknya serta memutar badan orang, serunya: "Pandanglah aku, ada omongan yang ingin kutanya kepadamu"

"Kau boleh tanya!"

"Kalau kukatakan bahwa selama hidupku belum pernah ada laki-laki yang menyentuhku, kau percaya tidak?"

Yap Kay tidak menjawab, tidak bisa menjawab.

"Jikalau kau menyangka terhadap laki-laki lain sikapku sama dengan terhadap sikapmu, kau semakin salah duga!" "Kau. kenapa kau bersikap demikian terhadapku?"

Siangkwan Siau-sian menggigit bibir katanya: "Memangnya hatimu belum tahu? Kenapa harus bertanya lagi?"

Tiba-tiba Yap Kay tertawa, katanya: "Malam ini hari yang baik menjelang tahun baru, kenapa kita membicarakan hal- hal yang kurang menyenangkan?"

"Karena aku bicara atau tidak terhadapmu, kau tetap murung saja." tanpa memberi kesempatan Yap Kay menyanggah, lekas dia menambahkan: "Karena aku tahu sanubarimu selalu merindukan Ting Hun-pin."

(Bersambung ke Jilid-12) 
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Rahasia Mokau Kauwcu Jilid 11"

Post a Comment

close