Peristiwa Merah Salju Jilid 07

Mode Malam
Jilid 7

BAB 19. CABUT RUMPUT SEAKAR-AKARNYA

Biasanya Yap Kay amat senang menyelami bayangan punggung orang, terasa olehnya bayangan punggung orang ini sedikit banyak mempunyai keistimewaan sendiri, maka bukanlah soal sulit untuk mengetahui siapa sebenarnya orang itu dari bayangan punggungnya. Akan tetapi bayangan orang baju hijau ini terasa asing baginya.

Perawakannya sih tidak terlalu tinggi, namun gerak-geriknya cukup cekatan dan gesit, lekas sekali dia sudah tiba di ujung jalan raya sana. Sekonyong-konyong bayangan orang itu tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas lagi. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit, padang rumput hening lelap tak terdengar suara apa pun.

Dengan langkah lebar Yap Kay segera mengejar ke depan, mulutnya berseru perlahan, "Teman di depan itu apakah ada petunjuk? Silakan berhenti untuk bicara."

Langkah orang jubah hijau bukannya berhenti malah dipercepat, beberapa kejap kemudian setelah menempuh jarak tertentu, tiba-tiba badannya melejit terbang mengembangkan Ginkang Pat poh kan sian (delapan langkah mengejar tonggeret) dari tingkat tinggi. Bukan saja Ginkang orang ini amat tinggi, gaya gerakannya amat indah.

Tampak oleh Yap Kay jubah besarnya yang kedodoran itu melambai-lambai tertiup angin, tiba- tiba terasa pula olehnya gerak-gerik orang ini seperti sudah amat hapal dan pernah dilihatnya entah dimana. Semakin jauh mereka berlari, cuaca semakin gelap. Yap Kay sendiri juga tidak perlu tergesa-gesa untuk menyandak orang itu.

Kalau orang jubah hijau ini tidak mau menemui dirinya, kenapa tadi menarik lengan bajunya? Jika orang ini memang ingin bertemu dirinya, kenapa dirinya harus terburu-buru mengejarnya?

Angin menghembus rumput berombak, di antara sela-sela rumput yang tumbuh tinggi ternyata terdapat sebuah jalanan kecil.

Agaknya orang itu amat hapal dengan situasi dan keadaan padang rumput dan sekitarnya, di antara semak-semak rumput tinggi dia menuju ke timur lalu berbelok ke utara, kembali ke arah barat, tiba-tiba bayangannya lantas lenyap.

Ternyata Yap Kay tetap kalem dan tidak menjadi gugup karenanya, dia pun berhenti dan menunggu dengan sabar. Betul juga tak lama kemudian terdengar sebuah suara lirih di antara semak-semak rumput panjang, "Kau tahu siapa?"

Yap Kay tertawa, mulutnya segera bersenandung dengan suara rendah, "Langit bergoncang, bumi bergetar, orangnya bagai jade, batu jade berbau harum. Itulah Sim Sam-nio dari Ban be tong."

Terdengar orang tertawa dari semak-semak rumput, tawa yang lincah dan merdu serta lembut.

Terdengar seorang berkata dengan tertawa, "Pandangan yang tajam, patut diberi hadiah." "Hadiah apa?" tanya Yap Kay tertawa.

"Kau masuk kemari dan menikmati arak bersama," sahut Sim Sam-nio.

Di tengah semak belukar padang rumput ini, cara bagaimana ada tempat menyimpan arak? Setelah Yap Kay masuk ke dalam, baru dia mengerti, ternyata di tempat belukar ini Sim Sam-nio membangun sebuah bilik kecil di bawah tanah.

Jika bukan dia sendiri yang membawamu kemari, umpama ada selaksa orang yang menjelajah seluruh padang rumput ini juga jangan harap bisa menemukan bilik kecil ini. Sungguh suatu tempat yang aneh dan menakjubkan, bukan saja di dalam ada arak, malah di sini juga tersedia sebuah balai-balai yang bersih, lemari rias yang antik, di atas meja riasnya malah dipajang seonggok bunga segar.

Meja antik dimana sudah tersedia arak, terdapat pula beberapa macam sayur-mayur. Yap Kay terlongong.

Sim Sam-nio mengawasinya dengan tersenyum simpul, itulah senyuman yang menyedot sukma setiap laki-laki. Menghadapi senyuman yang menggiurkan ini, hati setiap laki-laki akan tergugah dari ketinggian terhadap perangsang yang membangkitkan daya kelakian.

Katanya tersenyum manis, "Apakah kau merasa heran?" Tiba-tiba Yap Kay pun tertawa, ujarnya, "Tidak heran." "Tidak heran?" Sim Sam-nio melengak.

"Perempuan sepertimu, peduli apa pun pekerjaan yang kau lakukan, aku tidak perlu merasa heran."

Jelalatan kerlingan biji mata Sim Sam-nio, katanya, "Agaknya kau ini memang laki-laki yang serba tahu urusan."

"Demikian pula kau ini perempuan yang serba tahu."

"Oleh karena itu kita harus benar-benar menjadi orang yang betul-betul tahu urusan, duduk dulu sambil minum arak.

"Dan selanjutnya," berkedip-kedip mata Yap Kay.

"Kalau kau toh laki-laki yang serba tahu, tidak pantas bertanya demikian di hadapan seorang perempuan."

"Sebetulnya aku hanya ingin mendengar kau bercerita saja." "Bercerita tentang apa?"

"Cerita tentang Sin to ban be."

"Darimana kau tahu bila aku bisa bercerita tentang kejadian itu?" "Bukan hanya itu saja yang kuketahui lho."

Tiba-tiba Sim Sam-nio tidak bersuara lagi. Cahaya lampu yang redup menyinari mukanya sehingga dia kelihatan lebih cantik, namun suatu kecantikan yang merawankan, cantik dingin yang harus dikasihani. Pelan-pelan dia menuang secangkir penuh terus disodorkan kepada Yap Kay. Yap Kay pun duduk.

Angin menghembus masuk dari lubang di sebelah atas, sinar lampu berkelap-kelip, seolah-olah hari sudah larut malam. Alam semesta hening lelap, memangnya siapa akan menduga di dalam bilik di bawah tanah ini dua orang sedang duduk berhadapan berdiam diri menikmati arak.

Memangnya siapa pula yang dapat meraba jalan pikiran mereka?

Kembali Sim Sam-nio memenuhi cangkirnya, pelan-pelan di tenggaknya pula, lalu katanya pelan-pelan, "Kau tahu siapa juragan Sin to tong?"

Yap Kay manggut-manggut. "Kau tahu bahwa Pek Thian-ih dan Be Khong-cun sebenarnya adalah saudara angkat seperjuangan dalam menempuh kehidupan pelik di antara mati dan hidup?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Mereka berjuang mengadu pundak, dari luar perbatasan malang melintang sampai ke Tionggoan, akhirnya Sin to tong dan Ban be tong amat tenar dan disegani di Bu-lim "

"Sudah lama aku tahu Pek-locianpwe adalah tokoh yang luar biasa."

Sim-sam-nio menghela napas, katanya rawan, "Justru karena dia seorang yang luar biasa, maka akhirnya dia mengalami kematian yang begitu mengenaskan."

"Kenapa?"

"Karena dia sehingga Sin to tong sehari demi sehari semakin besar dan jaya, bukan saja lebih unggul dari Ban be tong, di kalangan Kangouw boleh dikata tiada tokoh mana pun yang kuat mengungguli dia "

"Kukira dia pasti banyak membuat kesalahan terhadap orang banyak."

"Kebesaran tokoh Bu-lim dengan ketenarannya, memang harus diraih dengan cucuran darah."

Kata Sim Sam-nio setelah mengertak gigi, "Dia sendiri pun tahu bahwa banyak orang Kangouw yang membenci dirinya, tapi mimpi pun tak pernah terpikir olehnya bahwa orang yang paling membenci dirinya adalah saudara angkat yang amat dekat dengan dirinya."

"Be Khong-cun maksudmu?" tanya Yap Kay.

Sim Sam-nio manggut-manggut, sahutnya, "Be Khong-cun membencinya, karena dia tahu dirinya tidak unggul dibanding saudara angkatnya."

"Apa benar akhirnya dia meninggal di tangan Be Khong-cun sendiri?" "Sudah tentu ada orang lain lagi."

"Kongsun Toan?"

"Kongsun Toan hanya budak yang diperalat, hanya dengan kekuatan mereka berdua, memangnya berani mengusik Sin to tong, apalagi Pek-hujin dan Pek-jihiap merupakan tokoh-tokoh silat yang berkepandaian top pula di dunia persilatan." Terpancar kebencian yang meluap-luap dari sorot matanya, katanya pula, "Oleh karena itu, sedikitnya ada tiga puluh orang."

"Tiga puluh orang?" Yap Kay sampai mengkirik seram.

"Ketiga puluh orang itu tentunya merupakan tokoh-tokoh top dunia persilatan juga." "Kau tahu siapa mereka itu?"

"Tiada orang yang tahu ... kecuali mereka sendiri, pasti tiada orang lain yang tahu." Tidak memberi kesempatan Yap Kay bertanya, Sim Sam-nio lekas meneruskan, "Malam itu hujan salju baru saja berhenti, Be Khong-cun mengundang Pek-toako bersaudara untuk menikmati panorama salju, kitanya di Bwe hoa am di luar kota dia sudah menyiapkan sebuah perjamuan yang cukup mewah."

Yap Kay mendengarkan penuh perhatian, seolah-olah setiap bait demi bait dan setiap patah kata pun tidak ketinggalan, maka dia segera bertanya, "Bwe hoa am yang terang adalah tempat ziarah orang beragama, mana bisa di sana disediakan perjamuan dan arak?"

"Orang yang benar-benar bisa membatasi diri untuk menyempitkan kehidupannya sendiri di dunia ini ada berapa banyak?"

Yap Kay manggut-manggut ia sependapat, segera dia tuang secangkir arak pula.

Dia cukup menyelami perasaan hati orang. Perempan seperti dia ini tentu mempunyai pandangan yang eksentrik terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Setelah menghabiskan secangkir arak, Sim Sam-nio bicara lebih lanjut, "Agaknya selera tamasya Pek-toako memang amat besar, maka dia bawa seluruh keluarganya ikut serta, siapa tahu ... siapa tahu Be Khong-cun bukan ingin mereka melihat pemandangan salju yang putih, tapi adalah salju nan merah!" Tangan yang menggenggam cangkir mulai gemetar, sorot matanya yang bersinar menjadi merah dan berkaca-kaca.

Air muka Yap Kay pun prihatin, katanya, "Apakah tiga puluh orang itu sudah dipendam dulu oleh Be Khong-cun untuk menjebaknya di Bwe hoa am?"

Sim Sam-nio manggut-manggut, katanya rawan, "Pada malam itulah keluarga Pek-toako bersaudara, seluruhnya sebelas orang, semuanya gugur di luar Bwe hoa am, tiada satu pun yang ketinggalan hidup."

"Ya, membabat rumput sampai akar-akarnya, perbuatan mereka terlalu kejam!"

Dengan ujung bajunya Sim Sam-nio menyeka air mata, katanya pula, "Yang paling mengenaskan adalah Pek-toako suami istri, beliau malang melintang selama hidup, waktu ajalnya ternyata badannya tidak utuh dan batok kepalanya entah terpenggal oleh siapa, sampai pun puteranya yang berusia empat tahun pun mati di bawah tusukan pedang." Kembali dia mengisi cangkirnya, cepat sekali dia habiskan araknya ini, lalu menyambung, "Tapi tiga puluh orang yang ikut mengeroyok secara menggelap itu, ada dua puluhan lebih yang terbunuh juga olehnya."

"Empat jari di tangan kiri Be Khong-cun yang putus itu, tentunya juga terpapas kutung olehnya."

"Di waktu Pek-toako tidak menduga dan tidak siaga, dengan seluruh kekuatan Kim kong ciang lat dia memukul Pek-toako serta melukainya dengan berat, mungkin malam itu tiada satu pun di antara mereka yang bisa selamat."

"Kim kong ciang?"

"Be Khong-cun adalah seorang tokoh yang amat berbakat, tangan kanannya meyakinkan Boh san kun (pukulan memecah gunung), tangan kiri melatih Kim kong ciang, pukulan ini sudah dia yakinkan sampai ke tingkat sembilan."

"Bagaimana dengan Pek-tayhiap?"

Bersinar biji mata Sim Sam-nio. "Kepandaian silat Pek-toako tiada taranya, menjagoi dan tiada bandingannya di seluruh jagat, dinilai dari ilmu silat, kecerdikan pikiran, keberanian, pasti tiada seorang pun di dunia ini yang setanding dengannya." Asal kita melihat sorot matanya, maka kita akan mengerti betapa hormat dan kagum dirinya terhadap Pek-toako itu.

Yap Kay menghela napas, katanya, "Kenapa tokoh-tokoh perkasa sejak zaman dahulu kala, selalu berakhir dengan nasib jiwanya yang amat mengenaskan?" Dia pun menenggak habis secangkir arak baru meneruskan, "Setelah seluruh keluarga Pek-toako meninggal dengan mengerikan, sudah tentu Be Khong-cun menjatuhkan semua tanggung jawab ini kepada orang- orang yang ikut menjadi pembunuh gelap itu."

Sim Sam-nio menyeringai dingin, ujarnya, "Lebih mengenaskan lagi, malah di hadapan orang banyak dia bersumpah hendak menuntut balas bagi kematian Pek-toako."

"Di antara tiga puluh orang yang ikut bekerja itu, ada berapa orang yang masih ketinggalan hidup?"

"Tujuh orang."

"Tiada orang tahu siapa mereka?" "Tiada!"

"Sudah tentu mereka sendiri merahasiakan diri sendiri dan tidak mau memberitahukan kepada siapa pun, mungkin Be Khong-cun tidak akan menduga bahwa rahasia ini akhirnya bocor juga"

"Mimpi pun dia tidak pernah menduga." "Sebetulnya aku sendiri pun tidak mengerti, cara bagaimana rahasia ini akhirnya bisa bocor?"

Sim Sam-nio menepekur sebentar, katanya kemudian, "Satu di antara tujuh orang yang masih hidup itu, tiba-tiba tersadar lahir batinnya, maka dia memberitahukan rahasia ini kepada Pek- hujin."

"Masakah manusia macam ini punya nurani?"

"Sebetulnya dia pun sudah mampus di bawah golok Pek-toako tapi Pek-toako dapat mengenalinya dari permainan silatnya, mengingat dia masih membawa manfaat, maka goloknya tidak menghabisi jiwanya."

"Siapakah orang ini?"

"Pek-hujin pernah berjanji kepadanya, sekali-kali tidak akan membocorkan namanya." "Apa manfaatnya dia menjadi manusia?"

"Jika manfaatnya itu diterangkan, mungkin kaum persilatan akan banyak yang tahu siapa dia sebenarnya."

"Pek-tayhiap begitu hapal terhadap ilmu silatnya, apakah dia adalah teman baik Pek-tayhiap?" "Memangnya Be Khong-cun bukan teman baik Pek-tayhiap? Tiga puluh orang pembunuh itu

bukan mustahil semua adalah teman baik Pek-toako."

"Agaknya teman baik memang jauh lebih menakutkan dari musuh besar."

"Tapi setelah Pek-toako mengampuni jiwanya, sepulang di rumah terketuk juga nuraninya, kalau tidak, mungkin kematian dan penasaran Pek-toako bakal tenggelam ditelan masa."

"Dia tidak menerangkan siapa keenam orang yang lain?" "Tidak."

"Kenapa tidak dikatakan?"

"Karena dia sendiri pun tidak tahu," sahut Sim Sam-nio, "biasanya Be Khong-cun bekerja teramat teliti dan hati-hati, dia pilih ketiga puluh orang itu menjadi pembunuh Pek-toako secara menggelap, sudah tentu sebelumnya sudah memakan waktu cukup lama untuk merencanakan dan menyelidiki pribadi-pribadi mereka, maka dia tahu bahwa orang-orang ini terang juga mendendam dan penasaran terhadap Pek-toako secara diam-diam?"

"Tentunya memang begitu."

“Tapi ketiga puluh orang itu secara langsung dihubungi oleh Ban be Khong-cun sendiri, siapapun tiada yang tahu kedua puluh sembilan yang lain.”

“Tokoh-tokoh silat kelas tinggi dikalangan Kangouw kebanyakan memiliki ilmu tunggal, masing- masing dengan senjata atau gaman yang khas pula, paling tidak orang ini bisa mencari sumber penyelidikan.”

"Pada malam peristiwa itu, ketiga puluh orang ini bukan saja berseragam hitam dan mengenakan kedok muka, malah senjata khas milik mereka sendiri pun sudah diganti yang lain, apalagi tentunya orang itu juga mengerti betapa menakutkan ilmu silat Pek-toako, di waktu melancarkan serangan hatinya tentu teramat tegang, sudah tentu tiada pikiran dan tidak sempat lagi dia memperhatikan orang lain."

Yap Kay tertunduk diam menepekur sekian lamanya, tiba-tiba dia bertanya, "Lalu siapa pula Pek-hujin itu?"

Sim Sam-nio menghela napas, katanya masgul, "Dia ... dia adalah perempuan yang patut dipuji, seorang perempuan yang harus dikasihani, walaupun dia seorang gadis yang cantik rupawan, tapi nasibnya sungguh jauh lebih mengenaskan dari siapa pun."

"Kenapa?" "Karena laki-laki yang dia cintai bukan saja sudah punya istri dan anak, malah dia pun musuh besar perguruannya."

"Musuh besar?"

"Mulanya dia adalah putri terbesar Mo kau Kaucu" "Mo kau?"

"Sejak tiga ratus tahun yang lalu, semua golongan dan aliran persilatan di Bu-lim bila menyinggung nama Mo kau, tiada orang yang tidak geleng-geleng kepala, sebetulnya anggota Mo kau adalah manusia juga, mereka punya daging punya darah, apalagi asal kau tidak menyalahi mereka, mereka pun tidak akan menyalahi kau."

Yap Kay tertawa getir, ujarnya, "Aku sendiri justru beranggapan bahwa Mo kau sebetulnya hanya ada di dalam dongeng yang serba misteri belaka, siapa tahu di jagat ini memang kenyataan ada."

"Selama dua puluhan tahun belakangan ini, orang-orang Mo kau memangnya tiada satu pun yang pernah unjuk diri."

"Kenapa?"

"Karena Mo kau Kaucu pernah bertanding dengan Pek-toako di puncak Thian san dengan syarat-syarat yang harus dipatuhi oleh pihak yang kalah, bila mereka kalah, bersumpah sejak saat itu tidak akan memasuki daerah Tionggoan"

"Pek-tayhiap memang tokoh tertinggi di antara para tokoh, sungguh hebat dan patut dipuji." "Sayang sekali kau lahir terlambat dua puluh tahun, tidak pernah bisa melihatnya."

"Betapa gagah perwira dan kebesaran jiwanya pada masa itu, sekarang pun aku masih bisa membayangkannya."

"Karena pertempuran di puncak Thian-san itulah, maka seluruh anggota Mo kau dari atas sampai ke bawah, semua memandang Pek toako sebagai musuh besarnya."

"Agaknya jiwa orang-orang Mo kau memang terlalu sempit dan eksentrik." "Pek-hujin adalah putri tunggal Mo kau Kaucu"

"Tapi dia justru jatuh hati terhadap Pek-tayhiap."

"Justru karena Pek-toako, sampai dia tidak segan-segannya menjadi murid dan anak yang durhaka meninggalkan Mo kau dan ayah-bundanya."

"Dia sudah tahu bila Pek-tayhiap sudah punya istri?"

"Dia tahu, Pek-toako tidak pernah membohongi dia, maka dia benar-benar jatuh hati."

Yap Kay menghela napas, ujarnya, "Kalau kau ingin orang mencintaimu sesungguh hati, maka kau pun harus menghadapinya dengan cintamu yang murni."

Sorot mata Sim Sam-nio menjadi hangat dan lembut, katanya lirih, "Jelas dia mengetahui Pek- toako takkan bisa sering-sering datang menjenguk dirinya, tapi dia rela menunggu, ada kalanya dalam satu tahun dia hanya sekali melihat Pek-toako, tapi hatinya toh sudah puas."

Pandangan Yap Kay seolah-olah memandang ke tempat nan jauh. lama juga baru dia bertanya, "Tentunya istri Pek-tayhiap tidak pernah tahu akan permainan asmara kedua orang ini."

"Sampai ajalnya dia tetap tidak tahu karena meski Pek-toako seorang Enghiong, tapi terhadap istrinya yang satu ini dia rada takut juga, oleh karena itulah Pek-hujin itu yang menderita dan menjadi kambing hitamnya."

"Ya, aku mengerti," ujar Yap Kay. Memang dia mengerti. Tragedi yang paling mengenaskan bagi perempuan adalah dia mencintai laki-laki yang tidak patut dia cintai.

"Dan yang lebih mengenaskan, waktu itu perutnya sudah mengandung keturunan Pek-toako." Yap Kay ragu-ragu, akhirnya bertanya, "Anak yang kau maksudkan bukankah "

"Anak itu adalah Pho Ang-soat."

"Jadi dia kemari hendak menuntut balas kepada Ban be tong!" Sim Sam-nio manggut-manggut, matanya berkaca-kaca, katanya,

"Untuk hari ini, entah betapa derita yang dialami mereka ibu beranak." "Apakah selamanya Pek-hujin tidak memohon bantuan kepada Ayahnya?"

"Dia pun seorang perempuan yang berwatak keras, selamanya tidak suka dikasihani oleh siapa pun meski ayahnya sendiri, apalagi orang-orang Mo kau sudah membenci begitu rupa terhadap Pek-toako, memangnya mereka mau membantunya?"

"Kalau dia memang betul adalah putri Mo kau Kaucu, sudah tentu takkan punya teman lagi." "Oleh karena itu dengan sepenuh hati dan dengan segala jerih payah dia tekun mengasuh dan

mendidik putranya semoga kelak bisa menuntut balas bagi kematian Pek-toako."

"Agaknya putranya itu tidak akan membikin kecewa harapannya."

"Sekarang dia memang boleh terhitung tokoh yang tangguh sekali, malah aku berani bilang hanya beberapa orang saja yang mungkin kuasa menandingi dia di jagat ini, tapi memangnya siapa yang tahu, untuk meyakinkan ilmu silatnya itu berapa parah dan beratnya dia menderita?"

"Peduli melakukan apa saja, jika ingin menonjol dan lebih unggul dari orang lain, memang harus menderita."

Sim Sam-nio menatapnya lekat-lekat, tanyanya tiba-tiba, "Dan kau?"

"Aku? " Yap Kay tertawa, kelihatannya tawanya mengandung rasa pedih, lama juga dia diam

saja, lalu katanya dengan kalem, "Paling tidak aku lebih mending daripada dia, karena selamanya tiada orang yang mengurusi diriku "

"Tiada diurusi orang apakah merupakan nasib yang baik?" tanya Sim Sam-nio. Yap Kay tertawa pula, hanya tertawa saja tanpa berbincang apa-apa.

"Aku percaya ada kalanya aku pun akan mengurusimu," demikian ujar Sim Sam-nio, "derita bagi seseorang yang tidak pernah diurus orang serba sepi dan sunyi, aku cukup memahaminya."

Tiba-tiba Yap Kay memutar haluan, katanya, "Kira-kira aku sudah cukup mengerti semua peristiwa ini."

"Apa yang kuuraikan barusan sudah amat jelas dan terperinci." "Tapi kau masih melupakan membicarakan satu hal."

"Hal apa?"

"Mengenai dirimu sendiri."

Sim Sam-nio ditatapnya lekat-lekat, katanya kalem, "Siapakah kau sebenarnya, apa pula sangkut-pautmu dengan persoalan ini?"

Lama Sim Sam-nio berdiam diri, akhirnya baru menjawab, "Ban be tong mengira aku adalah adik Pek-hujin, sebetulnya dia salah."

"Oh! Lalu?"

Sim Sam-nio tertawa kecut, katanya, "Sebetulnya aku pun orang Mo kau, tapi tak lebih hanya seorang pembantu yang selalu melayani keperluan Pek-hujin saja."

"Pho Ang-soat mengenalmu?"

"Dia tidak mengenalku," ujar Sim Sam-nio geleng-geleng, "sejak masih kecil, aku sudah meninggalkan Pek-hujin." "Kenapa?"

"Karena aku ingin mencari kesempatan, masuk ke dalam Ban be tong untuk mencari berita." "Ingin menyelidiki siapa sebenarnya keenam orang yang lain itu?"

"Yang terpenting memang itu yang kutuju" "Kau tidak berhasil menyelidikinya?"

"Tidak!" sorot mata Sim Sam-nio mengunjuk rasa gegetun dan penasaran, katanya masgul, "Oleh karena itu selama sepuluh tahun ini hidupku teramat sia-sia."

"Kau hanya seorang pembantu dekat Pek-hujin, tapi bekerja juga karena dendam ini sehingga menyia-nyiakan masa remajamu serta jiwamu selama sepuluh tahun ini."

"Karena dia teramat baik terhadapku, selamanya dia menganggap aku sebagai adik kandungnya sendiri."

"Tiada sebab lain?"

"Sudah tentu lantaran juga Pek-toako adalah laki-laki yang menjadi pujaan hatiku." Tiba-tiba dia mengangkat kepala menatap Yap Kay, katanya pula, "Agaknya kau seperti ingin sekali menanyakan sampai jelas setiap persoalan ini baru hati merasa lega."

"Memang aku paling suka mengorek keterangan pribadi orang lain."

Mimik muka Sim Sam-nio tiba-tiba berubah sangat aneh, katanya tetap menatap orang, "Oleh karena itu maka kau pun suka mendekam di atas rumah mencuri dengar pembicaraan orang lain?"

Yap Kay tertawa, katanya, "Agaknya kau sendiri juga ingin menanyakan semua persoalan baru lega hatimu."

Sim Sam-nio menggigit bibir, katanya, "Tetapi malam itu, perempuan yang berada di dalam rumah bukan aku"

"Bukan kau?" tanya Yap Kay sambil mengedip-ngedipkan mata. "Bukan!"

Mengawasi orang, mimik muka Yap Kay juga berubah aneh, lama berselang baru pelan-pelan dia bertanya, "Siapa kalau bukan kau?"

"Cui-long!"

Mata Yap Kay tiba-tiba menyala terang, sampai sekarang baru dia paham, kenapa waktu Pho Ang-soat melihat dirinya hendak menarik Cui-long, air mukanya mengunjuk rasa marah dan naik pitam.

Pelan-pelan Sim Sam-nio mengisi cangkir sendiri dan cangkir Yap Kay, katanya, "Oleh karena itu perempuan yang bergaul dengan kau malam itu bukan Cui-long."

"Siapa kalau bukan Cui-long?"

Sim Sam-nio menenggak habis secangkir arak, kerlingan matanya seremang kabut tebal, katanya pelan-pelan, "Terserah kau anggap siapa dia, asal bukan Cui-long. "

Yap Kay menghela napas panjang, katanya, "Ya, aku sudah mengerti." "Terima kasih," suara Sim Sam-nio lembut.

"Tapi aku sedikit tidak mengerti." tiba-tiba Yap Kay bertanya, "kenapa kau berbuat demikian?"

Tertunduk dalam kepala Sim Sam-nio, seolah-olah dia malu Yap Kay melihat mimik mukanya. Lama berselang baru dia menghela napas, katanya rawan, "Untuk membalas dendam, sering aku melakukan apa saja yang tidak senang kulakukan." "Mungkin setiap orang pernah melakukan apa-apa yang tidak suka dia lakukan." "Tapi kali ini aku sungguh-sungguh tidak mau melakukannya lagi."

Terpancar rasa iba dan simpatik pada sorot mata Yap Kay, katanya, "Sudah tentu bukan demi dirimu sendiri."

"Memang aku amat takut bakal mencelakai dia, seharusnya tidak pantas dia punya hubungan dengan perempuan seperti diriku, cuma ... aku pun demi diriku sendiri."

"O!"

Dengan kencang Sim Sam-nio menggigit bibirnya, katanya, "Aku sudah bekerja sesuai dengan kemampuanku, sekarang aku tidak akan sudi menyentuh laki-laki yang tidak kusenangi."

BAB 20. MABUK UNTUK HILANGKAN MASGUL

Yap Kay mengangkat cangkir, menenggaknya sampai habis, kini terasa arak ini sudah mulai getir. Sudah tentu dia pun bisa mengerti, perempuan kalau terpaksa harus bergaul dengan laki- laki yang dibencinya, merupakan suatu hal yang amat memukul batin.

Tiba-tiba Sim Sam-nio mengangkat kepala sambil menyingkap rambutnya yang terurai, katanya, "Selama hidupku ini, belum pernah aku menaruh hati kepada laki-laki siapa pun, kau percaya tidak?" Sorot matanya mulai kabur, agaknya dia sudah dipengaruhi air kata-kata.

Yap Kay menghela napas pelan-pelan, hanya menghela napas saja.

"Sebetulnya Ban-be-tong-cu teramat baik terhadapku, seharusnya dia sudah membunuhku." "Kenapa?"

"Karena dia sudah tahu siapa aku sebenarnya." "Tapi dia tidak membunuhmu."

"Maka aku harus berterima kasih kepadanya, tapi aku justru lebih membencinya." Dengan kencang ia genggam cangkir araknya, seolah-olah cangkir itu ibarat tenggorokan Ban-be-tong-cu dan ingin dicekiknya.

Poci arak sudah kosong.

Yap Kay menuang separo araknya ke cangkir orang.

Selanjutnya dia minum pula setengah cangkir arak ini, minum pelan-pelan, seolah-olah dia merasa amat sayang dengan sisa arak yang tidak banyak lagi ini.

Kata Yap Kay dengan menatapnya, "Kukira sekarang kau tentu tidak sudi untuk berhadapan pula dengan Ban-be-tong-cu untuk selamanya."

"Aku tidak bisa membunuhnya, terpaksa tidak melihatnya saja." "Tapi kau memang sudah bekerja sekuat tenagamu."

Tertunduk kepala Sim Sam-nio, matanya mengawasi cangkir di tangannya, katanya tiba-tiba, "Tahukah kau kenapa aku mau memberitahu semua ini kepadamu?"

"Karena aku adalah laki-laki yang tahu urusan."

Suara Sim Sam-nio lembut "Kau pun laki-laki yang mungil, jika aku masih muda, pasti kuusahakan untuk memeletmu."

"Sekarang kau toh belum tua," sahut Yap Kay mengawasi muka orang.

Pelan-pelan Sim Sam-nio mengangkat kepala balas mengawasinya, terkulum pula senyuman di ujung bibirnya yang manis itu, katanya, "Umpama aku belum tua, tapi sudah terlambat." Meski cantik senyumannya, tapi seperti membawa perasaan pahit getir yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Senyuman yang pilu dan menyedihkan.

Tiba-tiba dia bergegeas berdiri, putar badan, kembali dia keluarkan sebuah poci arak, katanya tertawa, "Oleh karena itu sekarang aku hanya ingin menemani kau minum sepuasnya sampai mabuk bila perlu."

"Memang sudah lama aku tidak pernah mabuk lagi."

"Tapi sebelum kau benar-benar jatuh mabuk, ingin aku minta sesuatu supaya kau berjanji kepadaku."

"Silakan berkata "

"Tentunya kau sudah tahu orang macam apa sebenarnya Pho Ang-soat itu."

Yap Kay manggut-manggut, kemudian ujarnya, "Aku pun amat menyenanginya." "Kecerdikan otaknya boleh dipuji, apa pun yang dia pelajari, pasti dapat dipelajarinya dengan

baik, tapi dia pun seorang yang lemah, meski kelihatan biasanya dia amat kokoh kuat, sebetulnya hanya sedapat mungkin mempertahankan diri belaka, kalau ada sesuatu pukulan yang benar- benar merusak batinnya, pasti dia tidak akan kuat bertahan."

Yap Kay diam saja, dia tengah mendengarkan.

"Waktu dia membunuh Kongsun Toan, aku pun berada di sana, selamanya kau tidak akan pernah membayangkan betapa derita batinnya setelah dia membunuh orang, setua ini hidupku belum pernah aku melihat ada orang muntah-muntah sehebat itu."

"Maka kau kuatir dia "

"Aku hanya menguatirkan dia tidak akan tahan mengalami penderitaan itu mungkin dia bisa

gila jadinya."

"Tapi dia memangnya terpaksa harus membunuh orang." "Tapi yang paling kukuatirkan hanya penyakitnya itu." "Penyakit apa?"

"Semacam penyakit yang aneh. di dalam ilmu pertabiban dinamakan penyakit ayan, bila panyakitnya itu kumat, seketika dia tidak akan bisa mengendalikan diri."

Terpancar semacam rona yang sedih pada raut muka Yap Kay, katanya menghela napas, "Aku sudah pernah menyaksikan sendiri betapa derita keadaannya bila penyakitnya itu kumat."

"Dan yang lebih menakutkan adalah takkan ada orang yang tahu kapan penyakitnya itu bakal kumat, sampai dia sendiri pun tidak tahu, maka dalam sanubarinya selalu dibayangi suatu ketakutan, oleh karena itu selalu dia berada dalam keadaan siap siaga, dalam keadaan tegang, selamanya dia tidak bisa mengendorkan dirinya,"

"Yang Kuasa kenapa justru memberi kesengsaraan dengan penyakit separah itu kepada orang macam dia."

"Untung belum ada orang lain yang tahu akan penyakit anehnya itu, sudah tentu Ban-be-tong- cu sendiri pun tak tahu akan hal ini."

"Kau yakin benar bahwa tiada orang lain yang tahu?"

"Pasti tiada," sahut Sim Sam-nio tegas. Memang dia punya keyakinan, karena dia belum tahu belakangan ini penyakit aneh Pho Ang-soat itu pernah kumat sekali, celakanya penyakitnya itu kumat justru di hadapan Be Hong-ling.

Yap Kay berpikir sebentar, katanya, "Jika dia merasa tegang, apakah kemungkinan kumatnya penyakit itu lebih besar?"

"Kukira demikian?" "Jadi bila dia berduel dengan Ban-be-tong-cu. Tentu hatinya teramat tegang."

"Hal inilah yang paling kukuatirkan, kalau saat itu penyakitnya itu kumat ” bibirnya tiba-tiba

jadi gemetar, sehingga kata-katanya tidak bisa dilanjutkan, bukan saja tidak berani bicara, sampai memikirkan pun tidak berani.

Lekas Yap Kay mengisi pula cangkirnya, katanya, "Maka kau mengharap aku bisa melindunginya dari samping."

"Aku bukan hanya mengharap, aku sedang memohon kepadamu." "Aku tahu."

"Kau menerima permintaanku?"

Sorot mata Yap Kay seolah-olah tertuju ke tempat nan jauh pula, lama juga baru dia buka suara, "Aku boleh melulusi, namun yang kukuatirkan sekarang bukan hal ini."

"Apa yang kau kuatirkan?"

"Tahukah kau, belum satu jam dia kembali, beruntun ada dua orang yang ingin membunuhnya."

Terkesiap darah Sim Sam-nio, tanyanya terbelalak, "Siapa mereka?"

"Tentunya kau pernah mendengar Toan-yang-ciam Toh-popo dan Bu-kut-coa Sebun Jun." Sudah tentu Sim Sam-nio pernah mendengar nama mereka. Seketika berubah rona mukanya,

gumamnya, "Aneh, kenapa kedua orang ini ingin membunuhnya?"

"Bukan hal ini yang kuherankan." "Apa pula yang kau herankan?"

"Baru saja aku menyinggung kemungkinan kehadiran mereka di tempat ini, mereka lantas muncul secara mendadak."

"Apakah kau merasa mereka muncul terlalu cepat? Secara kebetulan?"

"Bukan saja terlalu cepat mereka muncul, kematian mereka pun terlalu cepat, seolah-olah takut ada orang bakal menyelidiki sesuatu rahasia mereka, maka buru-buru diri sendiri ingin mati."

"Bukan kau yang membunuh mereka?"

"Paling tidak aku tidak perlu buru-buru ingin mereka mampus."

"Jadi kau kira ada seseorang yang membunuh mereka untuk menutup mulutnya." "Mungkin persoalan tidak begitu sederhana."

"Apa maksudmu, aku tidak mengerti "

"Kemungkinan dua orang yang mampus itu bukan Sebun Jun dan Toh-popo yang asli." "Bisakah kau bicara lebih jelas dan terperinci?"

"Sudah tentu mereka mempunyai suatu alasan yang mendesak, maka terpaksa menyembunyikan diri di sini."

"Benar, aku sependapat dengan kau."

"Sudah sekian tahun lamanya mereka menyembunyikan diri, sudah beranggapan tiada orang tahu jejak mereka."

"Memangnya kenyataan tiada orang yang tahu jejak mereka."

"Tapi hari ini mendadak aku bilang pada orang kemungkinan mereka bersembunyi di tempat ini."

"Cara bagaimana kau tahu?" Yap Kay tertawa, ujarnya, "Banyak sekali urusan yang kuketahui." "Mungkin yang kau ketahui memang terlalu banyak," kata Sim Sam-nio

"Kalau aku sudah telanjur bilang kemungkinan mereka berada di sini, sudah tentu ada orang yang lantas mencari mereka."

"Yang mereka takuti bukan orang lain, tapi kau, karena mereka tidak habis mengerti cara bagaimana kau bisa tahu bila mereka berada di sini, mereka pun takkan bisa mereka-reka apa pula yang kau ketahui."

"Mereka kuatir jejaknya bocor, maka sengaja mengatur dua orang lain muncul, malah mereka berdaya-upaya supaya aku betul-betul percaya bahwa kedua orang itu adalah Sebun Jun dan Toh- popo."

"Cara apa yang mereka gunakan?"

"Banyak sekali caranya, salah satu yang paling gampang dilaksanakan, dia menyuruh seseorang membunuh orang menggunakan Toan-yang-ciam."

"Toan-yang-ciam adalah senjata rahasia tunggal milik Toh-popo, maka kau akan menduga bila orang ini adalah Toh-popo."

"Ya begitulah," Yap Kay membenarkan.

"Jika ingin membunuh orang, sasaran yang paling baik sudah tentu adalah Pho Ang-soat." "Memang di situlah titik paling ganjil dari seluruh rencana kerja mereka."

"Kalau kedua orang ini berhasil membunuh Pho Ang-soat, sudah tentu baik sekali, umpama tidak mampu membunuh Pho Ang-soat, yang terang kegagalan itu tidak akan membawa akibat apa-apa kepada rencana mereka."

"Benar sekali," Yap Kay setuju akan analisa ini.

"Setelah mereka turun tangan, maka Toh-popo dan Sebun Jun yang asli turun tangan membunuh mereka untuk menyumbat mulutnya, supaya kau beranggapan Toh-popo dan Sebun Jun benar-benar sudah mampus."

"Siapa pun tak bakal tertarik terhadap sesosok mayat yang sudah kaku dingin, selanjutnya sudah tentu tiada orang yang akan mencari mereka."

Berkedip-kedip mata Sim Sam-nio, katanya, "Sayang sekali ada semacam orang yang selalu punya perhatian dan tertarik terhadap mayat-mayat orang."

Yap Kay tersenyum, katanya, "Memang ada manusia macam itu di dunia ini."

"Oleh karena itu mereka menganggap hanya membunuhnya saja belum cukup, maka mereka harus melenyapkan mayat-mayat itu pula."

Yap Kay menghela napas, ujarnya, "Sering aku dengar orang bilang perempuan cantik kebanyakan tidak punya pikiran, agaknya omongan orang tidak bisa dipercaya."

Sim Sam-nio tersenyum lebar, katanya, "Ada orang bilang, laki-laki yang pintar putar otak, biasanya tidak bisa memutar bacot, agaknya omongan ini tidak berlaku lagi atas dirimu."

Yap Kay tertawa. Seharusnya tidak perlu mereka tertawa saat itu Kata Sim Sam-nio, "Sebetulnya masih ada beberapa persoalan yang belum kumengerti"

"Silakan utarakan."

"Yang jadi korban kalau bukan Toh-popo dan Sebun Jun, lalu siapa mereka?"

"Aku hanya tahu satu di antaranya memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, terang bukan golongan keroco yang tidak punya nama."

"Tapi kau kan tidak tahu siapa dia sebenarnya?" "Mungkin kelak aku akan tahu." "Sesuatu yang ingin kau ketahui, akhirnya pasti bisa kau ketahui."

"Mungkin aku ini orang yang selalu dibekali akal dan selalu punya jalan untuk mencapai yang kuinginkan."

"Kalau begitu tentunya kau pun harus tahu, kenapa Toh-popo dan Sebun Jun menyembunyikan diri ke sini."

"Menurut pendapatmu?"

Sikap Sim Sam-nio tiba-tiba jadi serius, katanya, "Tujuh orang masih hidup di antara ketiga puluh orang pembunuh itu, kemungkinan sekarang kita sudah menemukan dua di antara tujuh orang itu."

Mimik muka Yap Kay pun serius, "Inilah urusan yang cukup penting dan genting, maka lebih baik kalau kau tidak terlalu cepat berkeputusan akan keyakinanmu."

Sim Sam-nio manggut-manggut, katanya pelan-pelan, "Boleh tidak kalau aku umpamakan mereka saja."

Yap Kay hanya menghela napas, menghela napas juga merupakan suatu jawaban. Maka Sim Sam-nio meneruskan, "Jika mereka belum mati, pasti masih berada di sini." "Tidak akan salah."

"Orang-orang di sini tidak banyak." "Tapi juga tidak sedikit."

"Menurut pendapatmu, siapa kiranya kemungkinan adalah Sebun Jun? Siapa pula kemungkinan besar adalah Toh-popo?"

"Tadi sudah kukatakan, persoalan ini siapa pun sulit untuk memutuskan terlalu cepat sebelum memperoleh data-data yang nyata."

"Tapi asal mereka belum mati, pasti masih berada di tempat ini." "Sudah kukatakan tidak akan salah."

"Kalau mereka sembarang waktu bisa mencari dua orang untuk menjual jiwa bagi mereka, maka boleh diduga bahwa di tempat ini pasti banyak kaki tangannya."

"Benar."

"Orang-orang itu sembarang waktu kemungkinan muncul untuk membokong Pho Ang-soat." Yap Kay manggut-manggut dengan menghela napas.

"Dan hanya hal ini satu-satunya yang amat kau kuatirkan?"

"Dengan bekal kepandaiannya, sudah tentu orang-orang itu bukan tandingannya." Sim Sam-nio juga manggut-manggut.

"Kalau dia adalah putra tunggal tuan putri Mo-kau, berbagai kepandaian silat dari aliran samping pintu itu yang amat dibanggakan orang Mo-kau tidak sedikit yang dia pelajari."

"Ya, memang tidak sedikit."

"Tapi dia masih kurang memiliki satu hal." "Hal apa?"

"Pengalaman," katanya pelan-pelan, "Dalam suasana seperti ini, hal ini merupakan titik tolak yang amat penting, celakanya siapa pun takkan bisa mengajarkannya."

"Oleh karena itu " "Maka kau perlu memberitahu kepadanya, tempat yang benar-benar berbahaya bukan di Ban- be-tong, kota kecil inilah yang benar-benar tempat paling bahaya bagi dia, dan lagi dia tidak akan bisa melihatnya, takkan pernah terbayang dan terpikir juga olehnya."

"Kau kira Ban-be-tong-cu sudah mengatur perangkap yang terpendam di dalam kota?" "Kau pernah bilang, dia adalah seorang yang amat teliti."

"Memang begitulah kenyataannya."

"Tapi sekarang tiada seorang pun yang berada di dekatnya sudi menjual jiwa bagi kepentingannya lagi."

"Memang kematian Kongsun Toan merupakan suatu pukulan berat bagi dia."

"Seorang yang amat teliti dan hati-hati seperti dia, pasti dia pun amat besar perhatiannya bagi perlindungan diri sendiri, umpama benar Kongsun Toan adalah temannya yang paling setia, dia pasti tidak akan mempercayakan keselamatan dirinya untuk dilindungi olehnya."

"Memangnya Kongsun Toan bukan seorang yang benar-benar dapat dipercayai untuk melindungi jiwanya."

"Tentunya dia jauh lebih mengerti akan diri Kongsun Toan daripada kau." "Oleh karena itu maka kau mengira dia pasti sudah mengadakan persiapan?"

Yap Kay tertawa, ujarnya, "Kalau dia tidak punya keyakinan untuk menghadapi Pho Ang-soat, masakah sekarang dia masih tetap tinggal di sini."

"Apa kau berpendapat bahwa Pho Ang-soat sudah kehilangan kesempatan untuk menuntut balas?"

"Kalau dia hanya ingin membunuh Ban-be-tong-cu seorang saja, mungkin masih punya kesempatan."

"Jika dia pun ingin mencari keenam orang yang lain?" "Sulit sekali."

Sim Sam-nio menatapnya lekat-lekat, katanya tiba-tiba dengan menghela napas, "Sebenarnya kau sedang menguatirkan kami? Ataukah demi Ban-be-tong untuk memberi peringatan kepada kami? Sekarang aku jadi bingung dan tidak bisa membedakan lagi."

"Apa benar kau tidak bisa membedakan?"

"Walaupun kau sudah membeberkan banyak rahasia, tapi bila dipikirkan dengan seksama, hakikatnya semua rahasia itu bagi kita tiada manfaatnya sama sekali."

"O? Lalu?"

"Jika kusampaikan semua rahasia ini kepada Pho Ang-soat, dia malah akan lebih tegang, lebih kuatir, lebih gampang terbokong oleh orang."

"Kau boleh tidak usah memberitahu kepadanya."

Sim Sam-nio menatap mata orang, seolah-olah ingin meraba rahasia hati orang. Tapi dia tidak berhasil, apa pun tidak terlihat olehnya. Akhirnya dia menghela napas, katanya, "Sekarang aku hanya ingin tahu, kau ini sebetulnya siapa?"

Yap Kay tertawa pula, ujarnya tawar, "Bukan hanya kau saja yang pertama kali mengajukan pertanyaan ini kepadaku."

"Selamanya tiada orang yang tahu akan asal-usulmu?"

"Itulah karena aku sendiri pun sudah lupa akan diriku sendiri." Diangkatnya cangkir, katanya tersenyum, "Sekarang aku hanya ingat aku pernah berjanji kepadamu untuk mengiringi kau minum sampai mabuk." Mengerling biji mata Sim Sam-nio, katanya, "Kau benar-benar ingin mabuk?"

Tawa Yap Kay seperti mendelu, katanya kalem, "Tidak mabuk memangnya apa yang dapat kulakukan?"

Bila Yap Kay siuman, Sim Sam-nio pun sudah mabuk.

Di kala dia mabuk, kini hanya tinggal seorang saja. Di bawah poci yang kosong tertindih selembar kertas jambon yang ditinggalkan olehnya.

Di atas kertas jambon hanya terdapat sebaris huruf yang ditulis dengan gincu, gincu merah laksana darah, "Perempuan yang semalam menemani kau minum di sini juga bukan aku".

Gincu yang sudah dipakai masih ditinggal di samping poci kosong, maka Yap Kay lantas menambahkan beberapa huruf pula di baris sebelahnya, "Hakikatnya semalam aku tidak berada di sini".

Memangnya apa yang bisa dia lakukan bila tidak mabuk? Memang lebih baik mabuk.

0oo0

Subuh.

Kabut pagi baru saja menguap naik ke udara laksana asap dari daun-daun rerumputan, langit di ufuk timur sudah mulai bersemu kuning kemerah-merahan, bagian luarnya yang agak aneh jauh berwarna putih perak kemilau.

Rumput-rumput tumbuh tinggi dan subur menghijau.

Yap Kay melangkah keluar, dia menghirup hawa pagi, hawa terasa segar dan basah.

Alam semesta seperti masih tertidur, tidak kelihatan bayangan orang, tak terdengar suara apa pun, suatu ketenangan yang damai terasa aneh dan menyelimuti semesta alam nan besar ini.

Tentunya Be Hong-ling sekarang masih mendengkur, jarang anak muda yang berturut-turut sampai dua malam tak bisa tidur. Betapapun rasa kantuk takkan bisa mengobati kegelisahan dan kekuatiran hati.

Kalau orang tua sih jauh berlainan. Yap Kay percaya Ban-be-tong-cu pasti takkan bisa tidur meski hanya sejenak. Laki-laki seusia dia, setelah mengalami berbagai kejadian yang rumit dan menegangkan ini, kalau benar-benar dia bisa tidur sungguh kejadian luar biasa yang boleh dikata ajaib.

Lalu sedang apa dia sekarang? Sedang mengenang dan menyedihi kawannya yang pergi mendahuluinya? Ataukah sedang menguatirkan keselamatan sendiri?

Siau Piat-li mungkin juga sudah kembali ke atas lotengnya, mungkin sedang menenggak habis secangkir araknya yang penghabisan sebelum tidur.

Entah apakah Ting Kiu sedang di sana tengah menemani dia minum arak?

Lalu dimana Pho Ang-soat? Apakah dia bisa menemukan suatu tempat berteduh untuk menenteramkan diri?

Yang amat dikuatirkan dan dikenang Yap Kay mungkin adalah Sim Sam-nio. Sungguh dia tidak habis mengerti kemana dia masih bisa pergi? Tapi dia percaya perempuan seperti dia, peduli dalam keadaan dan situasi yang bagaimana pun pasti punya tempat tujuan yang sesuai. Kecuali dia sudah kehilangan harga diri dan pikiran sehatnya.

Entah darimana tiba-tiba muncul seekor burung elang yang gundul kepalanya, terbang melayang-layang di angkasa. Kelihatan amat letih dan kelaparan.

Dengan mendongak Yap Kay mengawasinya, sorot matanya menunjukkan rona yang penuh diliputi pikiran yang mendalam, mulut menggumam, "Jika kau ingin mencari orang mati, kau salah mencari sasaran, bukan di sini tiada orang mati, aku pun belum mati." Dia kedip-kedipkan matanya, tiba-tiba tertawa, sambungnya, "Untuk mencari orang mati, harus mencari tempat yang ada peti matinya, benar tidak?"

Burung elang itu berpekik rendah, seolah-olah sedang bertanya, "Mana peti matinya? Dimana peti mati itu ...?"

0oo0

BAB 21. PEDANG TANPA SARUNG

Api sudah padam.

Toko kelontong Li Ma-hou sudah tinggal tumpukan puing, toko daging yang biasanya jagal kambing, babi dan sapi itu serta warung bakmi itupun mengalami kebakaran total. Demikian pula gubuk-gubuk kayu di dalam gang kecil itu sebagian besar telah musnah.

Barang-barang perabot yang berhasil tertolong dari amukan api masih berserakan dan bertumpuk-tumpuk di pinggir jalan, beberapa ember kayu yang sudah jebol tengah menggelundung dihembus angin kencang, entah siapa sebenarnya pemiliknya?

Kayu-kayu bakar yang sudah hangus masih kelihatan basah kuyup, terang amukan api baru saja berhasil diatasi, sampai pun hembusan angin masih membawa bau hangus yang menyesakkan napas.

Penduduk kota di perbatasan biasanya bangun pagi-pagi, namun di jalan raya tak kelihatan bayangan seorang pun, mungkin karena semalam bekerja teramat berat dan keletihan menolong kebakaran, kini masih memeluk bantal mendengkur dengan nyenyak.

Kota di pinggiran yang memang sudah jauh dari keramaian ini kini kelihatan semakin sepi serta menyedihkan.

Dengan langkah pelan-pelan Yap Kay beranjak di jalan raya, dalam hati tiba-tiba merasa dibebani adanya dosa. Betapapun kalau bukan lantaran gara-garanya, api tidak akan mengamuk, seharusnya dia ikut menjinjing ember menolong kebakaran ini. Tapi semalam dia justru menjinjing poci arak.

Setelah kebakaran besar ini, entah berapa banyak penduduk di kota kecil ini yang bakal kehilangan tempat berteduh.

Yap Kay menghirup napas panjang, tiba-tiba teringat olehnya juragan Thio-losu pemilik warung bakmi itu.

Thio-losu sesuai dengan namanya, memang seorang jujur dan polos, bukan saja dia pemilik atau juragan warung bakmi ini, sekaligus dia merangkap sebagai koki dan pelayan, maka sekujur badannya selalu dibalut selembar kain putih seperti celemek besar yang sudah berlepotan minyak, sejak pagi-pagi sibuk sampai petang hari, hasil jerih payahnya sehari-hari dari keuntungan jual bakmi ini untuk mencari cewek, mengawini istri pun tidak mampu.

Tapi setiap hari dia tetap berseri tawa dan riang gembira, umpama kau hanya makan semangkuk bakmi dengan harga yang paling rendah cuma tiga ketip, dia tetap melayanimu dengan seri tawa dan memandang kau sebagai malaikat rezeki.

Oleh karena itu meski bakmi yang dia masak dan dia suguhkan kepadamu mirip lem, selamanya tiada orang yang mengomel atau menggerutu, tetap digaresnya dengan lahap.

Kini warung bakmi ini sudah tinggal tumpukan puing, orang jujur yang harus dikasihani ini bagaimana selanjutnya akan menyambung hidup?

Ting-losu di sebelahnya tukang jagal babi itu, meskipun sama-sama hidup sebatangkara dan tetap membujang, tapi keadaannya lebih mending daripada dia. Ting-losu masih mampu mogor di kedai arak Siau Piat-li, menikmati beberapa cangkir arak, ada kalanya malah bisa tidur semalam suntuk di tempat hiburan itu.

Di sebelahnya lagi yaitu toko kapuk, ternyata selamat tidak sampai terbakar, sampai pun papan namanya pun tidak kurang suatu apa, demikian juga dua toko kain dan toko kerajinan tangan yang berada di seberang jalan tetap bertengger dengan megahnya, kecuali kedai arak Siau Piat-li, dalam kota ini terhitung ketiga toko ini yang paling mampu dan berkecukupan, umpama ketiganya terbakar habis juga tidak menjadi soal bagi pemiliknya. Tapi ketiga toko yang serba kecukupan ini justru tidak kurang suatu apa.

Yap Kay tertawa getir, baru saja dia hendak mencari orang untuk tanya kabar dan dimana kiranya Thio-losu sekarang, tak nyana seseorang malah sudah mencarinya lebih dulu.

Lampion yang tergantung di atas pintu sempit itu ternyata masih menyala.

Seseorang tiba-tiba menjulurkan setengah badannya keluar, sambil melambaikan tangan tak henti-hentinya kepada Yap Kay.

Muka orang itu putih, namun bukan pucat, mukanya selalu dihiasi senyuman gembira, dia bukan lain adalah juragan atau pemilik toko kain sutra dari Hok-ciu itu, yaitu Tan-toakoan.

Di kota kecil ini tiada laki-laki lain yang bisa dibanding dia dalam kepandaian berdagang, juga tiada orang yang begitu besar rezekinya, karena dia memang seorang supel, gampang bergaul dan ramah-tamah.

Yap Kay kenal dia. Setiap orang yang membuka pintu perdagangan di sini, boleh dikata Yap Kay sudah mengenalnya semua. Bila merasa dirinya senggang tak punya kerja, maka dia sering mencari orang-orang ini untuk diajak mengobrol, selalu dia bisa memperoleh hasil yang di luar dugaan. Tapi sekarang sungguh dia tidak habis mengerti untuk keperluan apa Tan-toakoan memanggil dirinya? Tapi dia segera menghampiri, sengaja dia hiasi mukanya dengan senyuman, belum lagi dia sempat bertanya, kepala Tan-toakoan sudah menyelinap kembali ke balik pintu.

Pintu tetap terbuka. Terpaksa Yap Kay melangkah masuk, tiba-tiba dilihatnya orang-orang yang hampir seluruhnya dia kenal kini berada di sini, hanya Siau Piat-li seorang yang justru tidak hadir.

Kecuali roman muka Tan-toakoan yang selalu mengulum senyum, boleh dikata roman muka yang lain-lain merengut dan bersungut-sungut, amat prihatin, meja di hadapan mereka tiada hidangan, juga tiada arak, kosong melompong.

Jelas Yap Kay diundang bukan untuk makan minum.

Cuaca belum terang, pelita dalam rumah pun sudah dipadamkan, semua orang yang hadir menarik muka, matanya melotot dan mengawasi dengan tajam, sikap mereka sedikit pun tidak bersahabat.

"Memangnya mereka sudah tahu bahwa kebakaran ini lantaran gara-garaku?" Yap Kay tersenyum sambil membatin, hampir tak tahan ingin dia bertanya kepada mereka, apakah mengundang dirinya untuk membuat perhitungan dengan orang, namun bukan dirinya yang mereka cari, tapi adalah Pho Ang-soat.

"Sejak kedatangan bocah she Pho itu, malapetaka seolah-olah ikut melanda tempat ini." "Bukan saja dia main bunuh orang, malah main lepas api membakar rumah segala."

"Sebelum kebakaran ini terjadi, ada orang melihat dengan mata kepala sendiri dia pergi ke sana menemui Li Ma-hou."

"Dia datang kemari, seakan-akan memang hendak membawa malapetaka bagi penduduk kota ini."

"Kalau dia tidak meninggalkan tempat ini, boleh dikata kita bisa tidak bisa hidup tenteram lagi." Kecuali Tan-toakoan yang tarik urat mengutarakan pendapatnya, juragan Song dari toko kapuk,

demikian pula Ting-losu dan Thio-losu, orang-orang yang biasanya tidak pandai bicara ini. hari ini ternyata sempat juga memberi komentar. Setiap kali menyinggung nama Pho Ang-soat, kelihatan sikap mereka amat gegetun dan benci sampai mengertak gigi, seolah-olah ingin rasanya menggigit sekeping daging di badannya saking gemasnya.

Yap Kay diam saja mendengarkan, setelah mereka habis bicara, baru dia bertanya dengan nada tawar, "Cara bagaimana kalian siap menghadapinya?"

Tan-toakoan menghela napas, ujarnya, "Sebetulnya kami ingin menyuruhnya pergi saja, tapi kalau toh dia sudah kemari, sudah tentu tidak mau pergi begitu saja sebelum keinginannya terlaksana, oleh karena itu

"Oleh karena itu bagaimana?"

Thio-losu segera menimbrung, "Kalau dia membuat kami tidak bisa hidup tenteram., maka kami pun akan membuatnya hidup tidak tenteram atau membuatnya mampus kalau bisa."

Dengan kepalannya Ting-losu menggebrak meja, katanya keras, "Walau kita ini rakyat jelata yang suka hidup damai, tapi kalau kita dibuat kepepet dan harus mencari jalan keluar, kukira kita bukan orang yang boleh dibuat main-main."

Juragan Song mengangkat pipa airnya, katanya geleng-geleng, "Anjing saja kalau kepepet bisa melompati tembok, apalagi manusia?"

Yap Kay pelan-pelan memanggutkan kepala, seolah-olah dia anggap apa yang mereka utarakan memang masuk akal.

Setelah menghela napas, kembali Tan-toakoan buka suara, "Walau kita ada maksud menghadapinya, tapi hati ada maksud sayang tenaga tidak memadai."

Juragan Song menambahkan pula, "Orang-orang jujur seperti kami ini sudah tentu takkan unggul melawan laki-laki pembunuh."

Kata Tan-toakoan, "Untung kami kenal beberapa teman yang betul-betul mempunyai kepandaian sejati."

"Sam-lopan (juragan ketiga) maksudmu?" tanya Yap Kay.

"Sam-lopan laki-laki yang punya gengsi dan kedudukan, memangnya kami berani mengganggu dia?" sahut Tan-toakoan.

Yap Kay mengerut kening, katanya, "Kecuali Sam-lopan, aku sih tidak habis pikir siapa pula tokoh yang punya kepandaian sejati di sini?"

"Yang kumaksud adalah pemuda belia yang bernama Siau Lok." "Siau Lok? (Lok si kecil)," Yap Kay menegas dengan heran.

"Meski dia masih muda. kabarnya sudah menjadi tokoh pedang tingkatan kelas satu di kalangan Kangouw."

Juragan Song menambahkan, "Kabarnya dalam setahun pada tahun lalu, dia membunuh tiga- empat puluh orang, malah yang dibunuhnya adalah tokoh-tokoh silat dari Bu-lim."

Thio-losu mengertak gigi, katanya, "Pembunuh yang ahli membunuh orang seperti dia, maka pantas kalau kita mencari seorang yang ahli juga untuk menghadapinya."

Tan-toakoan tarik suara lagi, "Itulah yang dinamakan berani bertingkah kita gebuk, sewenang- wenang kita hajar."

Yap Kay menepekur, tiba-tiba dia bertanya, "Siau Lok yang kalian katakan, apakah Lok yang berarti jalan raya itu?"

"Tidak salah," sahut Tan-toakoan. "Apakah Lok Siau-ka adanya?" "Itulah dia." Pelan-pelan juragan Song menghela napas, ujarnya, "Yap-kongcu, apa kau pun kenal?"

Yap Kay tertawa, sahutnya, "Pernah kudengar saja, kabarnya orang ini menggunakan sebatang pedang yang teramat cepat dan keji."

Juragan Song segera tertawa lebar, katanya, "Dua tahun mendatang ini, orang-orang Bu-lim yang tidak atau belum pernah mendengar nama besarnya kukira jumlahnya bisa dihitung dengan jari."

"Ya, memang tidak banyak," Yap Kay manggut-manggut.

"Kabarnya Sin-liong-su-kiam (empat pedang naga sakti) dari Kun-lun-san dan Ciangbunjin Tiam-jong-pay juga kalah oleh pedangnya itu," juragan Song mengoceh lagi.

Yap Kay manggut-manggut, ujarnya, "Agaknya juragan Song amat hapal sekali mengenai seluk-beluk sepak terjangnya belakangan ini."

Juragan Song menyengir tawa, katanya, "Biarlah Yap-kongcu tahu, pemuda yang hebat luar biasa ini adalah putra seorang saudaraku yang lain."

"Dia sudah datang?" tanya Yap Kay.

"Agaknya dia belum lupa akan famili tua yang rudin seperti aku ini," juragan Song mengoceh lebih lanjut. "Dua hari yang lalu dia menyuruh orang memberi kabar kepadaku, maka aku tahu bahwa dia kini berada di sekitar sini."

Ting-losu cepat menambahkan, "Oleh karena itu kemarin malam kita sudah mengutus orang untuk pergi mengundangnya kemari."

"Kalau tidak terjadi sesuatu di luar dugaan”juragan Song berkata lebih lanjut "sebelum matahari terbenam nanti, dia pasti sudah tiba."

Thio-losu mengepal tinjunya, katanya gemas, "Kalau dia sudah datang, kita akan membikin Pho Ang-soat tahu rasa."

Yap Kay mendengarkan saja, kini tiba-tiba tertawa, katanya, "Hal ini kalian sudah putuskan bersama, kenapa diberitahukan kepadaku?"

Tan-toakoan tertawa, katanya mendahului yang lain, "Yap-kongcu kau seorang yang tahu diri, selama ini kami memandang Yap-kongcu sebagai teman sendiri." Seperti kuatir Yap Kay mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar, segera ia menambahkan, "Tapi kami juga tahu bahwa Yap-kongcu biasanya juga baik terhadap bocah she Pho itu."

"Apa kalian takut bila aku turut campur dalam persoalan ini?" tanya Yap Kay.

"Kami hanya mengharap sekali ini Yap-kongcu jangan lagi melindunginya," pinta Tan-toakoan. "Aku ini orang jujur," sela Thio-losu, "maka aku pun bicara sejujurnya."

"Silakan berkata," ujar Yap Kay.

Kata Thio-losu, "Lebih baik kau membantu kami membunuhnya, kilau kau tidak membantu kami. paling tidak jangan membantunya, kalau tidak. "

"Kalau tidak bagaimana " Yap Kay menegas.

Thio-losu bangkit berdiri, katanya dengan suara keras, "Kalau tidak, meski aku tidak dapat merobohkan kau, aku akan mengadu jiwa juga dengan kau."

Yap Kay tertawa lebar, serunya, "Bagus, memang omongan yang jujur, aku senang mendengar orang bicara dengan jujur."

Thio-losu senang, tanyanya, "Kau suka membantu kami?" "Paling tidak aku tidak akan membantu dia."

Tan-toakoan menghela napas lega, katanya mengunjuk tawa, "Kalau demikian, sungguh kami amat berterima kasih kepadamu." "Aku hanya mengharap bila Lok Siau-ka tiba di sini, kalian suka memberi tahu kepadaku." "Sudah tentu, akan kuberi kabar," Tan-toakoan menjanjikan.

Yap Kay menghela napas, mulutnya menggumam, "Sungguh sejak I ima aku ingin bertemu dengan orang ini, demikian pula pedangnya itu "

Tiba-tiba seseorang menyeletuk, "Kabarnya pedangnya itupun jarang diperlihatkan kepada orang." Itulah suara Siau Piat-li. Orangnya masih di atas loteng, namun suaranya sudah berkumandang di bawah.

Yap Kay mengangkat kepala, katanya sambil tertawa, "Apakah pedangnya sama dengan golok Pho Ang-soat?"

Siau Piat-li tersenyum, sahutnya, "Ada satu hal tidak sama." "Hal yang mana?"

"Golok Pho Ang-soat peranti membunuh tiga macam manusia, tapi pedangnya hanya membunuh semacam saja."

"Hanya membunuh orang macam apa?"

"Orang hidup," sahut Siau Piat-li, pelan-pelan dia turun dari loteng, kulit mukanya yang selalu pucat itu mengulum senyuman sinis, katanya lebih lanjut, "Dia tidak sama dengan Pho Ang-soat, dalam pandangannya di dunia ini hanya ada dua macam orang, yaitu manusia hidup dan mati."

"Asal manusia hidup dia ingin membunuhnya?" tanya Yap Kay.

Siau Piat-li menghela napas. "Paling tidak belum pernah kudengar ada orang hidup setelah menjadi korban kelihaian pedangnya itu."

Yap Kay juga menghela napas, ujarnya, "Sekarang aku hanya ingin tahu satu hal." "Hal apa?"

"Entah pedangnya yang cepat? Atau golok Pho Ang-soat yang lebih cepat."

0oo0

Memang siapa pun ingin tahu akan hal ini.

0oo0

Surya sudah terbit.

Tio Toa, pemimpin penjaga keamanan kota kecil ini sedang sibuk memimpin anak buahnya membersihkan puing-puing bekas kebakaran.

Orang-orang yang hadir di dalam rumah beramai-ramai keluar melihat dari kejauhan, mulut mereka sedang ribut pula saling berdebat dan berkomentar.

Siau Piat-li dan Yap Kay tetap tinggal di dalam rumah. Dari jendela Yap Kay melongok keluar mengawasi kesibukan orang-orang di luar, katanya tersenyum, "Tak nyana Tio Toa mau bekerja begitu giat."

"Sudah tentu dia harus bekerja giat." "O, kenapa?"

"Siapa yang tidak tahu bahwa Li Ma-hou sebetulnya tidak ceroboh, berdagang selama puluhan tahun, kabarnya dia sudah menabung sampai ribuan tahil perak."

"Uang perak takkan terbakar habis." "Dia pun tidak punya keturunan." "Oleh karena itu bila bisa menemukan uang-uang perak itu, bakal menjadi milik dan bagian penjaga keamanan."

"Tak heran mereka tadi bilang kau ini orang yang serba tahu." "Kau dengar pembicaraan mereka tadi?" tanya Yap Kay.

"Bila orang-orang itu mau berbincang, seperti kuatir bila percakapan mereka tidak didengar orang."

"Tak heran kau tidak bisa jatuh pulas, semula kukira ada seseorang menemani kau minum arak di atas."

Berkilat biji mata Siau Piat-li, katanya, "Kau kira Ting Kiu." Yap Kay mandah tertawa, ditariknya sebuah kursi, lalu duduk. "Kau ingin mencari dia?" tanya Siau Piat-li.

"Bicara terus terang, yang benar-benar ingin kucari adalah Pho Ang-soat." "Kau tidak tahu dimana dia berada?"

"Kau tahu?"

Berpikir sebentar, Siau Piat-li menjawab, "Yang terang dia tidak akan pergi dari sini." "Mungkin digiring dengan cambuk pun dia tidak mau diusir pergi."

"Tapi sulit dia mencari seorang penduduk yang mau menerima dirinya lagi." "Agaknya memang amat sulit."

Kata Siau Piat-li lebih lanjut seperti menepekur, "Namun ada sementara tempat yang tidak dimiliki orang, pintunya pun selalu terbuka lebar."

"Umpamanya tempat-tempat mana saja?" "Umpamanya, Koan-te-bio "

Bersinar biji mata Yap Kay, tiba-tiba dia berdiri, katanya, "Koan-hucu adalah orang yang paling kukagumi, memang sejak dulu aku sudah ingin pergi ke kuilnya memasang dupa memberi selamat kepadanya."

"Lebih baik kalau kau kurangi jumlah dupa yang kau bakar, supaya tidak membakar rumah " Yap Kay tertawa, ujarnya, "Untungnya Koan-hucu selamanya takkan buka mulut, kalau tidak,

mungkin bisa terjadi."

0oo0

Jenazah yang sudah hangus sudah diketemukan dan dikebumikan dengan baik, tapi uang perak yang dicari ubek-ubekan tak ketemu juga.

Tio Toa sementara itu sudah keletihan dan sedang beristirahat di bawah emperan, dengan sebuah cawan besar dia tengah minum air, dengan suara keras dia memerintahkan anak buahnya supaya bekerja lebih giat lagi. Kalau uang perak itu diketemukan, semua orang akan mendapat bagian yang setimpal.

Yap Kay maju menghampiri, berdiri di sampingnya, tiba-tiba dia berkata hampir berbisik, "Kabarnya ada orang yang suka menyimpan uangnya dipendam di bawah kolong tempat tidur."

Seketika tergerak hati Thio Toa, berkobar semangatnya, serunya sambil berjingkrak bangun, "Betul, sejak tadi seharusnya sudah kuduga tempat ini." Seperti baru sekarang dia sadar yang memberi bisikan adalah Yap Kay, tiba-tiba dia berpaling pula sambil berkata dengan tertawa, "Jika ketemu, rekening arak Yap-kongcu di sini boleh diteken atas namaku Tio Toa." "Kukira tidak usah, aku hanya mengharap kau suka membereskan si korban selayaknya, carikan dua peti mati yang baik "

"Peti mati sudah ada, malah tidak usah beli mengeluarkan uang segala."

"O, di sini ada peti mati yang diperoleh tanpa membeli, aku belum pernah dengar."

Tio Toa tertawa, katanya, "Yap-kongcu masa sudah lupa, beberapa hari yang lalu bukankah ada orang mengangkut peti-peti mati kemari?"

Kembali bersinar biji mata Yap Kay, tanyanya, "Bukankah peti-peti mati itu hendak diangkut ke Ban-be-tong?"

"Dua-tiga hari belakangan ini agaknya Sam-lopan selalu ketiban sial, siapa yang berani mengangkut peti mati itu ke sana?"

"Lalu dimana peti-peti mati itu sekarang?"

"Sebetulnya ditumpuk di tanah kosong di belakang sana. kemarin waktu api berkobar, lalu kusuruh orang memindahkan ke Koan-te-bio, sungguh menguntungkan orang-orang yang mati beberapa hari ini, setiap orang masih kebagian sebuah peti mati."

"Agaknya orang-orang yang mati di daerah ini memang tepat."

Tio Toa sebaliknya menghela napas, katanya, "Tapi yang tidak mati hidup di tempat miskin seperti ini, benar-benar tersiksa dalam hidupnya."

"Siapa bilang tempat ini miskin, bukan mustahil di dalam sana ada ribuan tahil uang perak sedang menunggu kau untuk mengambilnya."

"Terima kasih atas pujian Kongcu, segera juga akan kuambil." Dengan menyingsing lengan baju segera dia memburu ke sana, tiba-tiba dia berpaling pula, katanya, "Kongcu, bila di sini kau menemui kesulitan apa-apa, aku Tio Toa pasti akan memilihkan sebuah peti mati yang paling baik untuk dirimu."

Mengawasi punggung orang yang beranjak ke sana. sungguh Yap Kay menjadi bingung sendiri, entah dongkol atau geli, lama juga baru dia mengunjuk tertawa getir, gumamnya, "Agaknya bocah ini memang teman sontoloyo."

0oo0

Jalan raya ini sudah termasuk daerah mewah di kota kecil ini, sudah tentu tidak hanya melulu terhadap sebuah jalan raya seperti ini saja.

Bila kau tiba di ujung sana, lalu belok ke kiri bangunan rumah, di sini kelihatan jauh lebih sederhana kalau tidak mau dikata sudah bobrok, orang-orang yang menetap di sini kalau bukan penggembala kambing, tentunya para kusir kereta atau tukang cuci binatang, demikian juga pegawai-pegawai dari beberapa buah toko besar di jalan raya ini kebanyakan menetap di sana.

Seorang nyonya yang sudah bunting tua tengah berjongkok membuat api. Di punggungnya menggendong seorang anak kecil, di pinggirnya masih berdiri tiga orang yang lain, roman muka mereka mirip sayur-sayur hijau yang keputihan, demikian juga dia* sendiri kelihatannya sudah kuyu, sudah tua mirip seorang nenek.

Diam-diam Yap Kay menghela napas, kenapa keluarga yang miskin, anaknya justru semakin banyak? Apakah karena mereka tidak punya uang pembeli minyak untuk menyulut dian, karena menganggur dan iseng, maka hanya begitulah kerja mereka di malam hari.

Bagaimana pun juga keluarga yang semakin miskin, anaknya semakin banyak, bila anak terlalu banyak, maka keluarga itu lebih miskin lagi, seolah-olah keadaan seperti ini sudah menjadi peraturan yang takkan berubah untuk selamanya.

Tiba-tiba Yap Kay menyadari hal ini merupakan persoalan yang amat penting, tapi tak terpikir olehnya cara bagaimana untuk membatasi kelahiran bayi-bayi dari keluarga miskin itu. Tapi dia yakin dan percaya, hal ini kelak entah kapan pasti akan bisa ditanggulangi. 0oo0

Maju lagi tidak berapa jauh dari jarak yang tidak boleh dikata dekat kau sudah akan bisa melihat Koan-te-bio yang bobrok tak terurus itu. Kuil kecil ini sudah jarang dikunjungi orang, tulisan huruf-huruf emas di atas papan pengenalnya pun sudah luntur. Pintu besarnya sudah reyot hampir roboh, peti-peti mati itu ditumpuk di pekarangan, pekarangan yang tidak begitu besar, maka peti-peti mati sekian banyaknya terpaksa harus ditumpuk.

Patung pemujaan yang terdapat di atas altar masih terpelihara baik, kalau ada orang tidur di bawah kaki patung di atas meja sembahyang jelas masih kuat. Dan yang terang saat itu memang ada seseorang sedang rebah di sana.

Seorang yang bermuka pucat, tangannya mencekal sebatang golok yang serba hitam, sepasang matanya yang jeli bersinar tengah menatap Yap Kay dengan tajam.

Yap Kay tertawa lebar.

Pho Ang-soat tidak tertawa, mengawasinya dingin, katanya, "Pernah kukatakan, kau jalan menuju ke arahmu sendiri, aku pergi ke tujuanku sendiri pula."

"Aku pernah mendengar kau berkata demikian."

"Lantas kenapa sekarang kau mencariku kemari?" tanya Pho Ang-soat. "Siapa bilang aku kemari mencari kau?"

"Aku."

Yap Kay tertawa pula.

"Tempat ini hanya ada dua orang, seorang hidup dan seorang tonggak kayu, tentunya kau bukan sedang mencari manusia kayu itu."

"Manusia kayu, maksudmu Koan-hucu?" "Aku hanya tahu dia adalah manusia kayu."

"Aku tahu selamanya kau tidak pernah menaruh hormat kepada siapa pun, tapi paling tidak kau harus menghormat kepadanya "

"Kenapa aku harus hormat kepadanya?"

"Karena ... karena beliau sudah menjadi malaikat." "Dia adalah malaikatmu, bukan malaikatku."

"Jadi kau tidak percaya akan adanya malaikat?"

"Yang kupercayai bukan orang macam dia, aku pun tidak habis mengerti perbuatan apa yang patut kau hormati."

"Paling tidak dia tidak sampai dibeli oleh Co Coh, sedikitnya tidak sudi menjual sahabatnya sendiri."

"Banyak sekali orang yang tidak sudi menjual teman sendiri." "Tapi tentunya kau pun tahu "

Pho Ang-soat segera menukas dengan suara dingin, "Aku hanya tahu bila dia tidak terlalu takabur, negeri Han tidak akan gampang dicaplok dan dimusnahkan oleh musuh."

"Aku juga tahu kenapa kau tidak menaruh hormat kepadanya." "O, apa yang kau tahu?"

"Karena orang lain banyak yang menaruh hormat kepada beliau, sebaliknya apa pun yang suka kau lakukan pasti dan harus berlainan dengan orang lain " Pho Ang-soat tiba-tiba melejit bangun sambil memutar badan, pelan-pelan dia tinggal pergi. "Kau akan pergi begini saja?"

"Hawa di sini terlalu pengap, aku sungguh tak tahan lagi" sahut Pho Ang-soat. "Seseorang bila ingin hidup di dunia ini, maka dia perlu juga merasakan kepengapan itu."

"Itu kan cara berpikirmu, terserah bagaimana kau berpikir, kan tiada sangkut-pautnya dengan diriku."

"Lalu bagaimana menurut pikiranmu?"

"Bagaimana pun pikiranku juga tiada sangkut-pautnya dengan kau." "Memangnya kau tidak ingin hidup langgeng di dunia ini?"

"Hakikatnya aku memang tidak pernah hidup di dunia ini." Tanpa berpaling dia tinggal pergi.

Yap Kay tidak melihat rona wajahnya, namun dilihatnya jari-jari tangan yang menggenggam gagang golok tiba-tiba mengencang keras. Sayang sekali, betapapun besar tenaga remasannya, derita sanubarinya takkan mungkin bisa digenggam remuk.

Mengawasi punggung orang, Yap Kay berkata, "Adapun yang kau pikirkan, akan datang suatu hari kau pasti akan putar kembali ke dunia ini, karena kau tetap harus bertahan hidup, malah tidak bisa tidak harus hidup."

Seolah-olah Pho Ang-soat sudah tidak mendengar ucapannya, kaki kirinya melangkah setapak, kaki kanannya yang kaku lalu diseretnya maju ke depan. Mengawasi kaki dan langkah orang, Yap Kay lama kelamaan melenggong, sorot matanya diliputi kekuatiran. Umpama kata goloknya memang lebih cepat dari Lok Siau-ka, tapi kakinya itu ....

0oo0

Pho Ang-soat sudah keluar dari pekarangan. Yap Kay tidak menahannya, dia pun tidak menyinggung tentang kedatangan Lok Siau-ka.

Paling cepat Lok Siau-ka akan datang tiga jam lagi, dia tidak mengharap Pho Ang-soat diliputi rasa tegang dari sekarang sampai matahari terbenam nanti. Memangnya kedatangannya ke sini bukannya ingin memberi peringatan kepada Pho Ang-soat.

Maksud kedatangannya adalah untuk melihat peti-peti mati yang bertumpuk di pekarangannya ini.

0oo0

Seluruh peti-peti mati itu serba baru, pliturnya masih mengkilap terang, tapi sekarang sudah banyak tempat yang lecet dan rusak, cuma tidak terlalu parah, ada sebagian malah sudah rada hangus.

Jika Tio Toa tiba-tiba tidak ketiban rasa bajiknya, mungkin sekian banyak peti-peti mati ini sudah hangus seluruhnya. Mungkin orang yang melepas api itu memang bermaksud membakar habis peti-peti mati ini juga.

Yap Kay meraup segenggam batu kerikil, duduk di undakan batu di depan pintu, satu per satu dia lempar batu-batu itu ke arah peti-peti mati itu.

Begitu batu mengenai peti-peti mati itu, mengeluarkan suara nyaring, maklumlah biasanya tong kosong berbunyi nyaring. Demikianlah peti itu pertanda kosong tak berisi. Seperti anak-anak bermain lempar batu Yap Kay terus melemparkan batu-batunya ke arah peti-peti mati dari satu peti ke peti yang lain, pada lemparannya yang kedelapan, waktu batu membentur peti mati lagi, suaranya justru berubah. Peti mati yang satu ini seolah-olah ada isi di dalamnya. Memangnya ada tersimpan apa dalam peti mati ini? Bahwa peti mati kosong itu ada beberapa jumlahnya, tapi peti-peti yang berisi ternyata ada beberapa buah.

Muka Yap Kay menampilkan mimik yang aneh, segera dia beranjak maju mendekati, beberapa peti yang berbunyi lain itu dia pindah dan dipisahkan.

Kenapa tiba-tiba dia jadi tertarik terhadap peti-peti mati ini? Waktu tutup peti dia buka, ternyata di dalamnya memang ada isinya. Seperti lazimnya, peti mati sudah berisi jenazah.

0oo0

Kecuali orang mati apa pula yang patut disimpan di dalam peti mati? Bahwa di dalam peti mati terdapat mayat orang, sebetulnya bukan suatu hal yang harus dibuat heran. Tapi mayat yang terdapat di dalam peti mati ini ternyata adalah Thio-losu yang belum lama ini masih bicara dengan dirinya di kedai arak Siau Piat-li.

Dia rebah tenang di dalam peti, cuma kain celemek yang berlepotan minyak biasa membungkus dada dan perutnya itu kini sudah tiada lagi. Laki-laki jujur yang berjerih payah hidup mencari uang secara sederhana, kini sudah tenang dan tenteram menuju ke alam baka.

Tapi barusan saja dia masih berada di dalam kota, kain celemek yang dekil berminyak itu masih menempel di badannya, kenapa sekarang tahu-tahu rebah di dalam peti mati ini tak bernyawa lagi. Lebih aneh lagi Tan-toakoan, Ting-losu, juragan Song dan juragan Oh yang mengusahakan hasil bumi di ujung jalan sana pun sama-sama rebah di dalam peti mati yang lain. Beberapa orang jelas belum lama ini masih berada di dalam kota dan segar-bugar, cara bagaimana mendadak bisa mati semua di sini?

Kapan mereka meninggal? Waktu dada mereka diraba, jazad mereka sudah dingin dan kaku, paling sedikit sudah sepuluh jam mereka meninggal. Jika mereka sudah mati sepuluh jam yang lalu, memangnya siapa saja yang mengajak bicara dengan Yap Kay di dalam kota tadi?

Mengawasi mayat-mayat ini sedikit pun Yap Kay tidak menampilkan rasa kaget atau keheranan, dia malah tertawa penuh arti, seolah-olah dia malah menikmati sesuatu dan merasa amat puas.

Memangnya kejadian ini sebetulnya sudah berada dalam dugaannya?

0oo0

Bahwa orang-orang ini mampus, sudah tentu ada sebab-musababnya yang membuat mereka mati. Maka dengan cermat dan seksama Yap Kay memeriksa luka-luka penyebab kematian mereka, tiba-tiba dia menyeret mayat-mayat itu dari dalam peti, terus disembunyikan ke dalam semak-semak rumput di belakang kuil bobrok ini.

Setelah itu kembali dia tumpuk peti-peti mati itu ke tempat asalnya. Tapi dia masih belum ingin berlalu, sekali enjot kaki, badannya malah melejit ke atas wuwungan, menyelinap bersembunyi di balik wuwungan dan menunggu dengan sabar.

Siapakah yang sedang ditunggu? Tidak terlalu lama dia menunggu, maka dilihatnya seekor kuda sedang mencongklang dengan pesatnya dari arah padang rumput nan luas sana, orang yang bercokol di punggung kuda mengenakan pakaian mewah menyala, punggungnya membungkuk besar tumbuh punuk, ternyata orang ini bukan lain Kim-pwe-tho-liong Ting Kiu adanya.

Sudah tentu naga bungkuk berpunggung emas Ting Kiu tidak melihat kehadiran Yap Kay, begitu kudanya dibedal ke arah kuil ini dan berhenti di depan pintu, dari pelananya langsung dia tekan tangannya melejit naik ke pagar tembok.

Peti mati itu tetap bertumpuk di dalam pekarangan, dalam posisi semula seperti tidak pernah disentuh orang. Dengan seksama Ting Kiu menjelajahkan mata ke sekelilingnya, tidak terlihat bayangan seorang pun di sekitar kuil bobrok ini. Inilah kesempatan paling baik untuk melepas api. Maka dia lantas bekerja mulai menyulut api. Menyulut api untuk membakar sesuatu juga memerlukan kepandaian khusus, agaknya Ting Kiu memang sudah cukup ahli dalam bidang ini, begitu api tersulut dan berkobar, cepat sekali menelan segala benda yang terdapat di sekelilingnya.

Dia sendiri yang membawa peti-peti mati sebanyak ini kemari, sekarang yang membakar dan memusnahkan peti-peti mati inipun dia sendiri pula.

Kenapa dia bersusah-payah mengangkut peti-peti mati ini kemari? Kenapa pula sekarang ingin membakarnya habis?

0oo0

Matahari sudah bertengger tinggi di angkasa raya, tapi masih cukup

lama untuk menunggu matahari ini terbenam ke arah barat. Yap Kay sudah kembali ke dalam kota.

Tidak bisa tidak dia harus kembali, tiba-tiba terasa perutnya sudah keroncongan dan hampir berontak, laparnya bukan main, seolah-olah ingin rasanya menelan bulat-bulat seekor kuda.

Api masih berkobar-kobar di Koan-te-bio, cuma sekarang sudah rada mengecil, asap masih membumbung tinggi ke angkasa.

"Bagaimana Koan-te-bio bisa terbakar secara mendadak?" "Tentu si pincang itu lagi yang membakarnya."

Sekelompok orang tengah ribut memperbincangkan kebakaran ini, di antara sekian banyak orang yang menonton kebakaran ini ternyata ada Tan-toakoan, Ting-losu dan Thio-losu.

Sedikit pun Yap Kay tidak merasa heran, seolah-olah dia sudah menduga bakal melihat mereka di tempat ini. Tapi tidak pernah terbayang olehnya bahwa di sini pula dia bisa melihat Be Hong- ling.

Be Hong-ling sudah melihat dirinya, seketika terunjuk mimik yang aneh pada roman mukanya, seakan-akan sedang mempertimbangkan, entah apa perlu dia maju menyapa kepadanya.

Tanpa ragu-ragu Yap Kay sebaliknya menghampirinya, sapanya dengan tersenyum, "Apa kabar? Baik-baik saja selama ini?"

"Tidak baik," sahut Be Hong-ling ketus dengan menggigit bibir. Berbeda dengan kebiasaannya, hari ini dia tidak mengenakan pakaian serba merah, tapi serba putih, demikian pula air mukanya pucat, kelihatannya rada kurus. Memangnya beruntun dua malam dia tidak bisa tidur.

Yap Kay mengedip-ngedipkan mata, tanyanya, "Mana Sam-lopan?" "Untuk apa kau tanya dia?" Be Hong-ling melotot.

"Ya, bertanya sambil lalu saja." "Tidak perlu kau tanyakan." "Baiklah aku tidak akan bertanya."

Be Hong-ling masih mendelik kepadanya, katanya, "Aku malah ingin tanya kau, tadi kau pergi kemana?"

Yap Kay tertawa, ujarnya, "Kalau aku tidak boleh bertanya kepadamu, kenapa kau sendiri bertanya kepadaku?"

"Aku senang."

Berkata Yap Kay dengan tawar, "Aku pun ingin memberitahukan kepadamu, sayang sekali urusan yang harus dikerjakan laki-laki, ada kalanya tidak boleh diutarakan di hadapan perempuan."

"Jadi kau melakukan kerja yang malu dilihat orang." "Untung aku tidak bisa dan bukan ahli membakar." "Memangnya siapa yang melepas api?"

"Boleh kau terka sendiri?"

"Kau melihat bocah she Po itu?" "Sudah tentu pernah kulihat." "Kapan kau melihatnya."

"Sepertinya kemarin kalau tidak salah."

Be Hong-ling melotot gusar, dengan gemas dia membanting kaki, mukanya yang pucat berubah merah padam.

Entah apa yang dipikirkan, tiba-tiba Tan-toakoan menghampiri dan berkata, "Entah bisa tidak meluruk ke sana mencari Sam-lopan?"

"Dia tidak akan bisa menemukan," jengek Be Hong-ling. "Kenapa?" tanya Tan-toakoan.

"Karena aku sendiri pun tidak berhasil menemukan beliau." Kenapa Sam-lopan mendadak menghilang? Kemana dia pergi?

Ada orang ingin bertanya, tapi pada saat itu terdengar derap langkah kuda yang berlari mendatangi, pembicaraan mereka terputus sementara.

Seekor kuda berbulu hitam mengkilap laksana dilumuri minyak dengan badan tegap dan kaki panjang tengah mencongklang pelan-pelan memasuki kota dari ujung jalan sebelah sana. Di punggung kuda besar ini bercokol seorang laki-laki bertubuh kekar dan berotot kencang seperti manusia besi, kepalanya gundul, bertelanjang dada, mengenakan celana panjang terbuat dari sutra hitam yang tersulam kembang dengan benang emas, sepatunya lancip, sepasang tangannya tidak memegang kendali, tapi memeluk batang tiang bendera sebesar mangkuk besar.

Di ujung tiang bendera yang empat tombak panjangnya itu, ternyata berdiri pula seseorang. Seorang yang mengenakan pakaian merah kedodoran, menggendong kedua tangan, berdiri di ujung tiang, meski kuda itu berlari dengan pesat, tapi dia tetap berdiri angker dan tenang tak bergeming sedikit pun, kelihatannya seperti lebih tegak dari berdiri di tanah datar.

Hanya sekilas Yap Kay mengawasi dari kejauhan, tak tahan dia menghela napas, katanya menggumam seorang diri, "Cepat benar kedatangannya."

0oo0

Kuda gagah itu sudah mencongklang masuk kota, setiap orang di jalan raya tak tahan untuk tidak mendongak mengawasi orang yang berada di atas tiang bendera itu dengan pandangan kaget, heran dan senang seperti melihat tontonan akrobatik.

Setiap penduduk kota sudah tahu siapa sebenarnya orang di atas tiang bendera ini. Tiba-tiba kuda gagah itu meringkik panjang, lalu menghentikan langkah kakinya.

Orang serba merah di atas tiang tetap menggendong kedua tangannya di belakang, tanpa bergerak dia mendongak sambil bertanya, "Sudah sampai?"

"Ya, sudah sampai," laki-laki gundul segera menjawab. "Ada orang keluar menyambut kedatangan kami tidak?" "Agaknya ada beberapa orang."

"Orang macam apa saja mereka itu?"

"Sepintas pandang masih mirip manusia umumnya." Orang baju merah manggut-manggut, gumamnya, "Cuaca hari ini baik sekali, memang cocok hawa seperti ini untuk membunuh orang."

Yap Kay tertawa, katanya, "Sayang sekali di atas sana hanya bisa membunuh beberapa ekor burung kecil, orang mana bisa kau bunuh dari tempat ketinggian seperti ini."

Orang baju merah segera menunduk melotot kepadanya. Dilihat dari bawah, kelihatan jelas bahwa orang adalah seorang pemuda yang berwajah ganteng, sepasang biji matanya bersinar terang laksana mutiara. Dari tempatnya yang tinggi melotot kepada Yap Kay, bentaknya bengis, "Barusan dengan siapa kau bicara?"

"Kau," sahut Yap Kay pendek. "Kau tahu siapa aku ini?"

"Memangnya kau ini Lok Siau-ka, bocah yang membunuh orang tidak mengedipkan mata?" "Agaknya tajam juga pandanganmu” jengek orang baju merah sinis.

"Ah, terlalu memuji." "Siapa kau?"

"Aku she Yap."

"Mereka mengundangku kemari untuk membunuh orang, apa kau orangnya?" "Agaknya bukan!"

"Sayang sekali," ujar orang baju merah.

Yap Kay ikut menghela napas, ujarnya, "Ya, memang sayang sekali." "Kau pun merasa sayang?"

"Ya, sedikit saja."

"Setelah kubunuh orang itu, bagaimana kalau kubunuh kau juga?"

"Baik sekali”sahut Yap Kay spontan, kelihatannya dia amat senang bertanya jawab.

Orang baju merah menengadah pula, katanya dingin, "Siapa bilang dia kelihatannya mirip manusia, memang matamu buta."

"Ya, memang mata hamba buta," sahut laki-laki gundul. "Apakah di sini ada orang she Tan?" Tan-toakoan segera tampil ke depan, sahutnya dengan menjura, "Inilah Cayhe adanya." "Kau mengundangku kemari untuk membunuh orang?"

Tan-toakoan mengunjuk tawa, katanya, "Kedatangan Lok-tayhiap terlalu pagi, orang itu belum lagi tiba."

"Lekas suruh dia kemari, supaya lebih cepat aku membunuhnya, tiada tempo aku menunggu terlalu lama di sini." Dari nada ucapannya, seolah-olah kalau bisa mampus terbunuh olehnya, siapa pun akan merasakan suatu kebanggaan, maka sejak tadi seharusnya sudah menunggu kedatangannya malah.

Tan-toakoan menyengir dan kelabakan, katanya mengunjuk tawa dibuat-buat, "Lok-tayhiap sudah tiba di sini, kenapa tidak silakan duduk dulu minum secangkir dua cangkir."

"Di atas sini lebih silir dan nyaman " tukas orang baju merah kaku dingin.

Belum habis dia bicara, sekonyong-konyong "krak", tiang bendera sebesar mangkuk besar itu tiba-tiba putus tepat di tengah-tengah menjadi dua potong.

Orang baju merah seketika menggentak kedua lengannya, kelihatannya laksana kelelawar merah tengah pentang sayap, dengan berputar-putar melayang turun ke bawah. Sudah tentu semua orang yang mengawasi dengan terkesima dan terbelalak, tiba-tiba Be Hong-ling bertepuk tangan seraya berseru memuji, "Ginkang bagus "

Baru dua patah diucapkan, tukasnya dingin, "Memangnya siapa pula kau ini?" Biji matanya hitam dan bersinar.

Merah muka Be Hong-ling, sahutnya dengan menunduk, "Aku aku she Be."

"Blang", baru sekarang kutungan tiang bendera itu berdentam jatuh di atas atap rumah, jelas sekali kalau rumah itu ambruk bakal menindih kepala beberapa orang yang menonton di emperan rumah.

Tak terkira laki-laki gundul itu tiba-tiba memburu maju, dengan kepalanya yang plontos itu dia terjang tiang bendera itu, sehingga mencelat tinggi dan jatuh empat-lima tombak, terlempar ke belakang wuwungan rumah.

Tak tahan Be Hong-ling tertawa pula, katanya, "Keras benar kepala orang ini!" Orang baju merah berkata, "Lebih baik kalau kepalamu pun sekeras kepalanya."

"Kenapa?" tanya Be Hong-ling sambil mengedipkan mata. "Karena sisa tiang bendera yang lain itu, sebentar bakal mengetuk batok kepalamu," ujar orang baju merah. Be Hong-ling tertegun.

Kata orang baju merah lebih lanjut dengan muka merengut, "Cara bagaimana tiang bendera ini bisa tiba-tiba putus? Memangnya bukan kau yang cari gara-gara? Begitu melihat tampangmu, aku lantas tahu kau pasti bukan manusia baik-baik."

Merah padam pula selebar muka Be Hong-ling, tapi kali ini merah lantaran hatinya terbakar, tangannya masih mencekal cemeti, mendadak dia ayun tangan terus melecut ke muka orang baju merah. Memangnya kapan Be-toasiocia pernah dihina dan dibikin marah oleh orang.

Tak nyana sekali ulur tangan, dengan mudah ujung cemetinya telah ditangkap oleh orang baju merah, katanya tertawa dingin, "Eeh, tidak kecil ya nyalimu, berani turun tangan terhadapku." Begitu tangannya terangkat dan menarik ke belakang, tanpa kuasa Be Hong-ling terseret jatuh ke depan, baru saja tangannya hendak diulur menggampar muka orang, tahu-tahu tangannya yang sudah terulur itu tertangkap kencang oleh jari-jari orang.

Leher Be Hong-ling ikut merah, desisnya mengertak gigi, "Kau lepaskan tidak cekalanmu?"

"Tidak!"

"Apa yang kau inginkan?"

"Berlutut dulu menyembah tiga kali kepadaku, lalu merangkak pula dua putaran, baru kuampuni jiwamu!"

"Jangan kau harap," Be Hong-ling berpekik beringas.

"Kalau begitu jangan harap aku akan melepaskan tanganmu."

Be Hong-ling mengertak gigi, serunya sambil membanting kaki, "Orang she Yap, kau kau,

memangnya kau sudah mampus?"

Yap Kay menghela napas, ujarnya, "Memang di sini ada seorang mati, tapi terang bukan aku!" "Siapa bilang bukan kau?"

Yap Kay tertawa sambil menengadah memandang ke wuwungan di seberang, katanya, "Tiang bendera ini terang adalah kau yang membikin patah, kenapa kau biarkan saja orang lain terima getahnya lantaran perbuatanmu."

Tak tahan semua orang memandang ke sana, tapi wuwungan itu kosong, tiada apa-apa, jangan kata manusia, bayangan burung atau setan pun tidak terlihat. Tapi tiba-tiba dari belakang wuwungan mencelat keluar dua buah benda kecil, jatuh di jalan raya, itulah kulit kacang. Tak lama kemudian kembali sesuatu benda terlempar jatuh, itulah kulit buah jeruk yang sudah dikeringkan menjadi manisan.

Melihat kedua benda ini, seketika berubah rona muka orang baju merah, katanya dengan mengertak gigi, "Agaknya setan keparat itu sudah datang."

Laki-laki gundul manggut-manggut, mendadak dia menghardik, badannya mencelat setinggi tujuh kaki sembari mengayunkan sisa tiang bendera yang kutung di tangannya, mengemplang ke belakang wuwungan rumah. Terdengar angin menderu disusul suara gemuruh dari berhamburannya debu dan pecahan genting, seolah-olah seluruh rumah ini hendak dipukulnya ambruk.

Siapa tahu tiba-tiba dari balik rumah sebelah sana melesat selarik sinar hijau, hanya berkelebat sekali, tiang bendera itu tahu-tahu putus sejengkal pula.

Sudah tentu pukulan kepala gungul mengenai tempat kosong, sehingga badannya terjungkal roboh dan terbanting keras di atas tanah. Tiang bendera yang putus itu tiba-tiba mencelat, lalu melayang jatuh pula, dari bawah emperan rumah sana kembali sinar hijau berkelebat. Kutungan tiang bendera yang masih tiga kaki panjangnya itu sekaligus menjadi kutungan tujuh-delapan keping, semuanya berjatuhan ke atas tanah.

Pandangan mata semua orang mendelong.

Yap Kay menghela napas pula, katanya seperti menggumam, "Pedang yang cepat sekali, memang tidak bernama kosong!"

Orang baju merah sebaliknya membanting kaki dengan gemas, katanya dongkol, "Kalau sudah kemari, kenapa tidak kau turun saja."

Dari balik wuwungan sana ada seseorang menjawab, "Di atas sini lebih silir!"

Orang baju merah berjingkrak mencak-mencak, serunya keras, "Kenapa selalu bermusuhan dan mencari gara-gara kepadaku?"

Orang itu balas bertanya, "Kenapa kau selalu suka bermusuhan dengan orang lain?" "Aku bermusuhan dengan siapa?" tanya orang baju merah.

"Jelas kau tahu bahwa tiang bendera itu bukan nona Be itu yang memutuskan, kenapa kau mempersulit dirinya?"

"Aku sedang senang!" sahut orang baju merah. Yap Kay tertawa.

Biasanya Be Hong-ling binal dan tidak kenal aturan, siapa tahu hari ini dia kebentur orang yang lebih binal, lebih tidak aturan lagi.

Berkata orang baju merah, "Memangnya aku tidak suka melihat tampangnya, apa sangkut- pautnya dengan kau? Kenapa kau bicara membela dia kalau aku digoda dan dibuat marah orang lain, kenapa kau tidak bantu aku menghajarnya?"

"Siapa sih kau?" tanya orang itu.

"Aku ... aku " gelagapan orang baju merah.

"Lok Siau-ka gembong iblis yang membunuh manusia tanpa berkesip itu, kapan pernah dibuat marah dan terima dihina orang!"

Tertunduk kepala orang baju merah, katanya, "Siapa bilang aku ini Lok Siau-ka?" "Bukankah kau sendiri yang bilang?"

"Orang itu yang bilang, bukan aku."

"Kau bukan Lok Siau-ka, memangnya siapa sebenarnya Lok Siau-ka?" "Kau'" "Kalau aku ini Lok Siau-ka, kenapa kau hendak menyaru jadi dia?"

Tiba-tiba orang baju merah berjingkrak pula, serunya, "Karena aku suka kepadamu, aku kemari hendak mencarimu." Semua orang melenggong dan terkesima mendengar kata-katanya yang terus terang dan blak-blakan ini, semua orang mengawasinya.

"Kenapa kalian mengawasi aku," seru orang baju merah. "Memangnya aku tidak boleh menyukai dia?" Tiba-tiba dia raih kain merah yang mengikat kepalanya, lalu katanya keras, "Mata kalian memang sudah buta, masakah tiada yang tahu bahwa aku ini perempuan!"

Memang dia perempuan tulen. Lalu orang macam apa sebenarnya Lok Siau-ka itu?

Kata orang baju merah mendongak, "Aku sudah melepaskan dia, kenapa kau tidak turun tangan juga?"

Ternyata tak terdengar lagi jawaban atau suara orang itu di balik wuwungan. "Kenapa tidak kau bicara? Memangnya mendadak kau bisu?"

Tetap tidak mendapat jawaban. Orang baju merah mengertak gigi, mendadak dia menjejakkan kaki melompat naik ke sana. Mana ada orang di belakang wuwungan? Orangnya sudah menghilang, di sana ditinggalkan setumpukan kulit kacang yang sudah kosong.

Berubah muka orang baju merah, teriaknya, "Siau Lok, orang she Lok, kau mampus dimana, hayo lekas keluar!"

Tiada orang keluar. Tiada orang menjawab.

Orang baju merah membanting kaki dengan gemas, katanya, "Akan kulihat sampai kapan kau bisa menyembunyikan diri? Umpama bersembunyi ke ujung langit, akan kutemukan kau juga."

Tampak bayangan merah berkelebat, tiba-tiba dia pun menghilang. Laki-laki gundul itu tiba-tiba mencelat bangun, melompat ke punggung kuda terus dibedal pergi.

Tan-toakoan terlongong di tempat, katanya seperti menggumam, "Agaknya perempuan itu rada sinting."

Be Hong-ling juga menjublek, tiba-tiba dia menghela napas, katanya, "Aku sebaliknya kagum kepadanya."

Tan-toakoan melenggong, tanyanya, "Kau mengaguminya?"

Be Hong-ling tertunduk, katanya perlahan, "Bila dia menyukai seseorang, berani bicara blak- blakan di hadapan orang banyak tanpa takut ditertawakan, paling tidak dia lebih berani dari aku."

0oo0

Tengah hari. Waktu hembusan angin berlalu, kulit-kulit kacang beterbangan jatuh dari atap rumah, namun bayangan gelap dalam lubuk hati Be hong-ling tidak dihembusnya menghilang

Sorot matanya seperti memandang ke tempat jauh, tapi sengaja atau tidak sengaja, tak tahan mengerling ke arah Yap Kay

Yap Kay sebaliknya sedang mengawasi kulit-kulit kacang yang beterbangan dihembus angin, seolah-olah tiada sesuatu benda di dunia ini yang jauh lebih menarik perhatiannya kecuali kulit- kulit kacang itu.

Entah karena apa tiba-tiba merah pula selebar muka Be Hong-ling, pelan-pelan dia membanting kaki, mulutnya mencibir bersuit ringan, kuda hitamnya segera berlari datang dari kejauhan. Segera dia mencemplak naik ke punggungnya, tiba-tiba cemetinya terayun balik, kulit-kulit kacang di atas wuwungan yang tidak terhembus jatuh itu seketika mencelat dan berjatuhan ke muka Yap Kay, katanya keras, "Kalau kau menyukainya, biar kuberikan semuanya kepadamu."

Waktu kulit-kulit kacang itu berjatuhan, kuda tunggangannya sudah mencongklang jauh. Seperti tertawa tidak tertawa Tan-toakoan mengawasi Yap Kay, katanya, "Sebetulnya meski sesuatu tidak diuraikan dengan kata-kata, tidak jauh berbeda dengan diucapkan. Yap-kongcu, benar tidak menurut pendapatmu?"

Yap Kay berkata tawar, "Tidak dikatakan sudah tentu jauh lebih baik daripada dikatakan!" "Kenapa?" tanya Tan-toakoan.

"Karena orang yang cerewet sering membosankan." Tan-toakoan tertawa, sudah tentu tertawa palsu.

Yap Kay berlalu dari depannya, mendorong daun pintu yang sempit itu, gumamnya, "Tidak bicara tidak menjadi soal, kalau tidak makan barulah takkan tertahan lagi, kenapa orang banyak justru sering tidak paham akan hal ini?"

Terdengar seseorang menanggapi, "Tapi asal ada kacang, tidak makan pun tidak menjadi soal." 0oo0

Orang ini duduk di dalam rumah, membelakangi pintu, di atas meja di sampingnya ada setumpuk kacang kulit. Dia membuka sebutir kacang, dilempar ke atas, lalu disambut dengan mulutnya, tinggi lemparannya, mulut pun menyambut dengan tepat.

Yap Kay tertawa, katanya tersenyum, "Belum pernah kau meleset?"

Orang ini tidak berpaling, jawabnya, "Selamanya tidak akan meleset." "Kenapa?" "Lemparan tanganku mantap, mulutku pun mengincar dengan tepat."

"Oleh karena itu orang mengundangmu kemari untuk membunuh orang, untuk membunuh orang bukan saja memerlukan gerakan tangan yang mantap, mulut pun tidak boleh cerewet, malah harus tenang dan rapat."

Berkata orang itu dengan tawar, "Sayang sekali mereka tidak mengundangku kemari untuk membunuh kau."

"Setelah kau bunuh orang itu, mau tidak kau membunuhku?" "Bagus sekali!"

Yap Kay bergelak tertawa.

Tiba-tiba orang itupun tertawa lebar.

Tan-toakoan yang baru saja masuk justru menjublek di tempatnya.

0oo0

Dengan tertawa lebar Yap Kay beranjak menghampiri, duduk di hadapan orang, tiba-tiba dia ulur tangannya menjemput sebutir kacang.

Tawa lebar orang itu tiba-tiba kuncup. Dia pun seorang pemuda. Seorang pemuda yang aneh, memiliki sepasang mata yang aneh pula, sampai pun waktu dia tertawa, sepasang matanya itu tetap dingin, seperti biji mata orang mati, tidak berperasaan, tidak beremosi. Mengawasi kacang di tangan Yap Kay, katanya, "Letakkan."

"Aku tidak boleh makan kacangmu?" tanya Yap Kay.

"Tidak boleh. Kau bisa menyuruhku membunuh, tapi jangan sekali-kali kau makan kacangku." "Kenapa?"

"Karena Lok Siau-ka bilang demikian!" "Siapa itu Lok Siau-ka?" "Aku inilah."

0oo0

Biji matanya kelabu berwarna mati, tapi menyorotkan sinar tajam setajam golok. Mengawasi kacang di tangannya, Yap Kay menggumam,

"Kelihatannya hanya sebutir kacang belaka." "Memangnya!"

"Tiada bedanya dengan kacang lainnya?" "Tiada bedanya."

"Memangnya kenapa aku harus makan kacang yang ini?" dengan tersenyum pelan-pelan dia kembalikan kacang itu.

Lok Siau-ka tertawa lagi, tapi sorot matanya tetap dingin, katanya, "Tentu kau inilah Yap Kay adanya."

"O?" Yap Kay bersuara dalam mulut.

"Kecuali Yap Kay, tak habis kupikir ada orang seperti kau ini." "Apakah ini umpakan?"

"Ada sedikit."

"Sayang sekali betapapun tinggi umpakanmu, tidak sebanding dengan sebutir kacangmu ini." Lama Lok Siau-ka mengawasinya lekat-lekat, lama juga baru dia berkata pelan-pelan,

"Selamanya kau tidak pernah membawa pisau?"

"Paling tidak belum pernah ada orang melihat aku membawa pisau?" "Kenapa?"

"Coba kau terka?"

"Karena selamanya kau tidak pernah membunuh orang? Atau karena kau membunuh orang tidak perlu pakai pisau?"

Yap Kay tertawa, namun sorot matanya sedikit pun tidak memancarkan keriangan hatinya.

Matanya sedang mengawasi pedang Lok Siau-ka.

0oo0

Sebatang pedang yang amat tipis, tipis tapi tajam luar biasa. Tidak pakai sarung pedang.

Pedang tipis ini tersoreng miring terselip di ikat pinggangnya. "Kau tidak pakai sarung pedang?"

"Paling tidak jarang orang melihat aku pakai sarung pedang." "Kenapa?"

"Coba kau terka?"

"Karena kau tidak suka sarung pedang? Atau karena pedang ini memang tidak punya sarung?" "Pedang macam apa pun, bila dia berhasil digembleng, semula tidak

pernah memakai sarung."

"O?" Yap Kay bersuara heran. "Sarung pedang dibuat belakangan." "Kenapa pedang ini tidak pakai sarung?" "Yang membunuh orang adalah pedangnya, bukan sarungnya." "Sudah tentu."

"Yang ditakuti orang juga pedang, bukan sarungnya." "Masuk akal."

"Oleh karena itu sarung benda hanya berlebihan belaka."

"Selamanya kau tidak pernah melakukan perbuatan yang berlebihan?" "Aku hanya membunuh orang yang berlebihan!"

"Orang yang berlebihan?"

"Sementara orang hidup di dunia ini, memangnya tidak berguna, berlebihan!" "Uraianmu terdengar amat mengasyikkan, cukup menarik juga."

"Sekarang kau pun sudah sependapat?"

"Aku tahu ada dua yang selalu menyoreng pedang tanpa menggunakan sarung pedang juga, tapi mereka tidak bisa membanyol dengan uraian kata-katanya yang menarik."

"Mungkin umpama kata mereka berkata, belum tentu kau bisa memahaminya." "Atau mungkin juga mereka memang tidak mau berbicara."

"O?" ganti Lok Siau-ka yang bersuara heran.

"Aku tahu mereka bukan orang yang suka cerewet, cukup asal mereka sendiri saja yang tahu akan pengertian itu, jarang mereka uraikan hal-hal itu kepada orang lain."

Lok Siau-ka menatapnya, katanya, "Betul kau tahu orang macam apa sebenarnya mereka itu?" Yap Kay manggut-manggut.

"Kalau begitu terlalu banyak apa yang kau ketahui." "Tapi aku belum tahu akan dirimu."

"Untung kalau kau belum tahu." "Untung?"

"Kalau tidak, orang yang akan mampus pertama kali di sini bukan Pho Ang-soat tapi kau!" "Sekarang bagaimana?"

"Sekarang aku belum perlu membunuh kau."

"Kau tak usah membunuhku, juga belum tentu mampu membunuhnya."

Lok Siau-ka tertawa dingin

"Kau pernah melihat ilmu silatnya?" "Belum!"

"Kalau kau belum pernah menyaksikan, bagaimana kau punya keyakinan?" "Tapi aku tahu bahwa dia seorang timpang."

"Memangnya timpang ada beberapa macam."

"Tapi ilmu silat orang timpang umumnya hanya ada satu macam." "Macam yang mana?"

"Dengan ketenangan mengatasi pergerakan, bergerak ke belakang mendahului lawan, itu berarti bahwa begitu dia turun tangan harus lebih cepat dari lawannya." Yap Kay manggut-manggut, ujarnya, "Oleh karena itu maka dia mampu bergerak menundukkan lawan lebih dulu."

Tiba-tiba Lok Siau-ka mencomot segenggam kacang terus dilempar ke atas. Sekonyong- konyong pedangnya bekerja. Dimana sinar pedang berkelebat, seolah-olah hanya sekali berkelebat saja, tahu-tahu pedang sudah terselip di pinggangnya. Sementara kacang-kacang itu berjatuhan ke telapak tangannya, kacang yang sudah terkupas kulitnya, lebih bersih dari orang mengulitinya satu per satu. Sedang kulit kacangnya sudah hancur-luluh.

Tiba-tiba seseorang bersorak memuji di luar pintu, sampai pun Yap Kay sendiri ada niat hendak bersorak memuji. Pedang yang cepat.

Lok Siau-ka menjemput sebutir kacang, diangsurkan ke mulut, katanya dingin, "Menurut penilaianmu, apakah dia bisa lebih cepat dari aku?"

Sebentar Yap Kay berdiam diri, akhirnya berkata lirih dengan menghela napas, "Aku tidak tahu

... untung aku masih belum tahu."

"Harus disayangkan kacang-kacangku ini." "Kacang itu tetap kau sendiri yang memakannya."

"Tapi kacang harus satu per satu dikuliti dan sebutir demi sebutir dimakan, baru benar-benar enak dan nikmat."

"Kalau aku malah lebih suka makan kacang yang sudah dikuliti."

"Sayang sekali kau tak bakal mencicipinya." Dimana tangannya terayun, kacang di tangannya melesat terbang sambung menyambung, ternyata semuanya melesak amblas ke dalam tonggak penyanggah rumah.

"Lebih baik kacangmu kau buang daripada dimakan orang?"

"Cewekku pun demikian, lebih baik aku membunuhnya daripada dia dipeluk orang lain." "Asal yang kau sukai, sekali-kali kau tidak akan meninggalkan untuk dimiliki orang." "Begitulah!"

"Untung yang menjadi kesukaanmu hanya kacang dan perempuan belaka." "Aku juga suka uang perak."

"O."

"Karena tanpa uang perak, takkan bisa beli kacang, takkan bisa kau mempunyai cewek." "Masuk akal, walau banyak benda di dunia ini jauh lebih berharga daripada uang, tapi ada

kalanya benda-benda itu hanya bisa dibeli dengan uang."

Lok Siau-ka tertawa. Tawa yang dingin dan aneh, katanya dingin, "Kau sudah mengoceh setengah harian, hanya sepatah katamu ini baru mirip ucapan Yap Kay tulen."
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Merah Salju Jilid 07"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close