Peristiwa Merah Salju Jilid 02

Mode Malam
Jilid 2

BAB 04. HIDUP MATI BERSAMA GOLOK

Syukurlah tebasan golok ini tidak diteruskan. Memangnya siapa yang tahu bagaimana akibatnya bila golok itu ditebaskan?

Yap Kay menghirup napas panjang, terunjuk senyum di kulum, dengan senyuman ini dia mengawasi Ban-be-tong-cu.

Ban-be-tong-cu juga sedang tersenyum, mulutnya menggumam, "Bagus, ternyata memang tabah, punya keberanian."

Yap Kay tertawa lebar, katanya, "Mata Cayhe ini belum buta, untunglah pandanganku kepada seseorang tidak keliru."

"Apakah dia itu Pho-kongcu yang tidak mau datang meski sudah tiga kali diundang Hoa- siangcu?"

"Itulah dia!" sahut Pho Ang-soat pula.

"Kalau Pho-kongcu sudah sudi kemari, berarti sudah memberi muka, silakan, silakan duduk!" Mendadak Kongsun Toan membalik badan, sorot matanya berkilat menatap Ban-be-tong-cu,

serunya serak, "Goloknya?"

Tersorot pandangan penuh arti yang mendalam dari Ban-be-tong-cu, katanya tertawa, "Sekarang aku hanya melihat orangnya, sudah tidak melihat lagi goloknya."

Kongsun Toan mengertak gigi, kulit daging sekujur badannya sampai berkerut-kerut mengejang, mendadak dia membanting kaki, "sreng", golok sabitnya menukik turun amblas ke dalam sarungnya.

Lama berselang baru Pho Ang-soat pelan-pelan membalik badan, dengan langkah kakinya yang berat melangkah masuk duduk di tempat kejauhan Tangannya masih erat menggenggam goloknya. Golok yang dipegang tangan ini terletak di samping pedang panjang milik Buyung Bing- cu yang tergeletak di atas meja dengan mutiaranya yang kemilau itu. Warna sarung goloknya yang kelam itu seolah-olah membuat pudar cahaya mutiara besar itu.

Demikian pula cahaya muka Buyung Bing-cu seketika itu pudar, mukanya menghijau pucat, mendadak dia berjingkrak berdiri. Sorot mata Hun Cay-thian bersinar tajam, sejak tadi dia memang sedang mengawasi orang, mukanya mengulum senyum, "Tuan....

Tak menunggu kata-kata orang, Buyung Bing-cu sudah menyela, "Kalau ada orang berani membawa golok masuk ke dalam Ban-be-tong, kenapa aku tidak boleh membawa pedang?"

"Sudah tentu boleh, cuma ... "Cuma apa?"

"Cuma apakah tuan berani juga menanggung akibatnya, beranikah? Bila pedang ada orangnya hidup, pedang tiada orangnya gugur?"

Buyung Bing-cu tertegun, sorot mata yang semula mengandung senyum mengejek, perlahan- lahan beralih ke arah telapak tangan besi Kongsun Toan yang mengeluarkan otot hijau merongkol itu, terasa bulu kuduknya berdiri, badannya semakin dingin dan giris.

Selama ini Loh Loh-san mendekam di atas meja seperti baru bangun dari mabuknya, mendadak dia menggebrak meja, serunya tertawa lebar, "Bagus, pertanyaan bagus

Mendadak badan Buyung Bing-cu berkelebat, dengan langkah sebat mendadak dia melangkah maju meraih ke arah pedangnya. Tapi sebelum jari-jarinya sempat meraih ke arah pedangnya.

"Brak-prang", suaranya amat ramai, tahu-tahu tujuh pedang sekaligus telah dilempar ke atas meja pula. Itulah tujuh pedang yang serupa dengan hiasan yang seragam pula, di gagang pedang dihiasi tujuh biji zamrud yang sewarna dan serupa pula, tampak kemilau di bawah penerangan sinar api yang terang benderang. Keruan jari-jari tangan Buyung Bing-cu seperti kaku berhenti di tengah udara, jari-jarinya benar-benar menjadi kaku.

Entah kapan Hoan Boan-thian pun sudah berada di dalam, meski ia tidak menampilkan rasa hatinya, dengan tenang dia mengawasi orang, katanya tawar, "Jika tuan ingin menyoreng pedang, silakan sekaligus bawa ketujuh pedang ini."

Mendadak Loh Loh-san bergerak tertawa pula, serunya, "Kwan tang ban be tong ternyata memang sarang harimau goa naga, agaknya orang-orang yang datang kemari malam ini takkan bisa pergi dengan leluasa.

Kedua tangan Ban-be-tong-cu tetap terpentang di atas meja, duduk tenang-tenang, tegak lurus, tidak pernah bergeming dari gayanya semula Peduli terjadi peristiwa apa pun di tempat ini seolah-olah dia boleh berpeluk tangan di luar kalangan tidak perlu turut campur. Sampai melirik pun agaknya dia tidak sudi mengawasi Buyung Bing-cu.

Raut muka Buyung Bing-cu amat jelek sekali, matanya melotot ke arah pedang di atas meja, lama juga dia menjublek di tempatnya, akhirnya dia bertanya, "Mana mereka?"

"Orangnya masih ada," sahut Hoan Boan-thian.

Hun Cay-thian segera tertawa, timbrungnya, "Di dunia ini memang jarang ada orang yang benar-benar konsekuen, berani sama-sama gugur bersama alat senjatanya."

Loh Loh-san segera menanggapi dengan tertawa, "Nah, oleh karena itulah bagi orang yang pintar dia tidak mau membawa senjata, maka dia tidak perlu menyoreng pedang." Kepalanya masih mendekam di atas meja, entah masih mabuk atau tidak, tiba-tiba tangannya menggapai- gapai di atas meja seperti sedang mencari apa-apa, mulutnya menggumam, "Mana araknya?

Kenapa di sini selalu hanya bisa menemukan pedang atau golok, sukar benar menemukan arak?"

Akhirnya Ban-be-tong-cu bergelak tertawa, serunya, "Bagus, pertanyaan bagus, hari ini aku mengundang kalian, memangnya ingin minum sepuas-puasnya bersama kalian sampai mabuk. Hayo lekas siapkan arak!"

Loh Loh-san mengangkat kepala, dengan matanya yang sipit masih mengantuk dia mengawasi orang, katanya, "Apakah kalau belum mabuk tak bisa pulang?"

"Ya, sebelum mabuk takkan pulang.”

"Tapi kalau benar-benar sudah mabuk, bagaimana? Apa bisa pulang?" "Sudah tentu bisa!"

Loh Loh-san menghela napas sambil mengelus dada, kembali dia mendekap di atas meja, mulutnya mengomel, "Kalau demikian legalah hatiku... mana arak?" Arak sudah disuguhkan, cangkirnya emas, tekonya besar terbuat dari perunggu, araknya berwarna hijau bening.

Rona muka Buyung Bing-cu mirip benar dengan arak yang menghijau ini, sikapnya menjadi kikuk dan runyam, mau duduk atau berdiri? Ataukah dia harus keluar saja?

Mendadak Yap Kay juga menggebrak meja. katanya, "Arak sebagus ini, kalau tidak dinikmati sepuasnya, bukankah menyia-nyiakan hidup? Masa muda jangan dibuang percuma? Sudah lama aku dengar Buyung-kongcu seorang pemuda serba bisa, pandai silat pintar sastra, seorang seniman yang pandai tarik suara lagi, entah sudikah tarik suara di sini untuk menghibur hati nan lara menyemarakkan suasana?"

Akhirnya Buyung Bing-cu mengalihkan sorot matanya, dengan tajam dia pandang Yap Kay seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.

Ada sementara orang setiap mengulum senyum selamanya tidak mengandung perasaan jahat, Yap Kay justru orang macam ini.

Lama juga Buyung Bing-cu mengawasinya, mendadak dia menghela napas panjang, katanya, "Baik!" Lalu ditariknya sebuah teko besar, menuang secangkir penuh terus ditenggaknya habis, dengan mengetuk cangkir emas yang berdering nyaring sebagai iringan musiknya, segera dia tarik suara mulai berdendang:

"Langit bergetar bumi bergoncang. Mata mengalirkan darah, bulan tak bersinar. Begitu masuk ke Ban-be-tong. Golok menguntungi pisau, manusia putus ususnya."

Berubah rona muka Hun Cay-thian mendengar nyanyian ini. Serempak Kongsun Toan membalik badan, sorot matanya gusar menyala-nyala, telapak besinya sudah meraih gagang goloknya pula. Cuma sikap Ban-be-tong-cu tetap tenang tak bergerak, malah rona mukanya menampilkan senyuman terang seolah-olah sedang menikmati makna lagu ini.

Kembali Buyung Bing-cu menenggak habis secangkir arak, seolah-olah dengan arak ini dia hendak membangkitkan keberaniannya, katanya keras, "Bagaimana pendapat kalian mengenai syair laguku ini?"

"Aku pernah mendengarnya," Yap Kay mendahului buka suara.

Bercahaya sorot mata Buyung Bing-cu, sahutnya, "Setelah tuan mendengarnya, bagaimana pendapat tuan?"

"Terasa olehku hanya sebaris kalimat saja yang benar-benar mengandung arti." "Hanya satu kalimat saja?"

"Ya, hanya satu saja." "Kalimat yang mana?"

Yap Kay memejamkan mata, segera dia pun tarik suara bersenandung pelan-pelan, "Golok memutus pisau, orang putus ususnya. Beruntun dia ulangi dua kali, lalu membuka kedua matanya pula mengerling ke arah Ban-be-tong-cu, katanya tersenyum, "Entah apakah Tongcu juga bisa menikmati dimana letak kebagusan dari kalimat ini?"

"Mohon petunjukmu!" kata Ban-be-tong-cu.

"Golok memutus pisau, orang putus ususnya. Kenapa tidak dikatakan pedang memutus pisau, justru dikatakan golok memutus pisau?"

Dengan sorot matanya yang tajam berkali-kali dia pandang Buyung Bing-cu lalu berpindah kepada Pho Ang-soat, terakhir dia menatap Ban-be-tong-cu.

Tenang-tenang Pho Ang-soat duduk di tempatnya, dengan tenang mengawasi golok di tangannya, kelopak matanya seolah-olah sedang mengkeret menyipit. Sebaliknya biji mata Buyung Bing-cu memancarkan cahaya terang, tanpa sadar dia sudah duduk kembali, ujung mulutnya mengulum senyuman aneh yang penuh mengandung arti. Begitu sorot matanya bentrok dengan pandangan Yap Kay, seketika menampilkan rasa terima kasih yang tak terhingga. Mungkin Hwi-thian-ci-cu memang laki-laki yang tidak suka cerewet, maka dia pun selalu hanya menggunakan sepasang matanya. Diam-diam dalam hati dia sudah bertekad hendak mengikat persahabatan dengan Yap Kay.

"Menjadi sahabatnya agaknya jauh lebih menyenangkan daripada menjadi musuhnya, juga lebih mudah."

Melihat titik terang ini, segera Hwi-thian-ci-cu mengangkat seteko arak di depannya terus ditenggak habis, katanya dengan mengerut kening, "Memangnya kenapa harus golok memotong pisau, dimanakah letak kebagusan dari makna kata-kata ini?"

Hoa Boan-thian menarik muka, katanya dingin, "Kebagusan dan makna kata-katanya, tentu hanya bisa diutarakan oleh orang yang melagukan nyanyian ini, seharusnya kalian langsung bertanya kepadanya."

Yap Kay manggut-manggut sambil tersenyum, katanya, "Memang pantas, agaknya Cayhe salah sasaran.

Mendadak Ban-be-tong-cu tertawa lebar ujarnya, "Tuan tidak salah bertanya." Berkilat pula sorot mata Yap Kay, serunya, "Mungkin Tongcu juga......

Dengan suara berat Ban-be-tong-cu segera memutuskan kata-katanya, "Golok kuda dari Kwan- tang tiada duanya di seluruh dunia, entah pernahkah kalian dengar pameo ini?"

"Golok kuda dari Kwan-tang? Apakah di antara golok dan kuda dari Kwan-tang ini satu sama

lain mempunyai hubungan?"

"Bukan saja ada hubungan, malah sangkut-pautnya sangat erat." "Oh!" Yap Kay bersuara dalam mulut dengan manggut-manggut.

"Dua puluh tahun yang lalu, dalam Bu-lim hanya diketahui adanya To-be-bun, tiada yang tahu adanya Ban-be-tong."

"Tapi dua puluh tahun kemudian, dalam Bu-lim justru hanya dikenal adanya Ban-be-tong, tiada yang tahu adanya To-be-bun."

Seri tawa yang menghias muka Ban-be-tong-cu sudah lenyap, lama dia berdiam diri, akhirnya menarik napas, katanya sepatah demi sepatah, "Itulah karena orang-orang dari Sin-to-tong sudah mati dan tersapu bersih pada tujuh belas tahun yang lalu." Meskipun rona mukanya kelihatan tenang-tenang saja, namun kerut keriput mukanya seolah-olah menyembunyikan keinginan membunuh yang menghayati sanubarinya, siapa pun yang melihatnya pasti akan merinding dan bergidik. Siapa pun yang pernah melihatnya sekali, pasti takkan berani melihatnya untuk kedua kalinya.

Tapi Yap Kay justru masih menatap mukanya, tanyanya, "Entah cara bagaimana pula orang- orang Sin-to-tong itu sampai ajal seluruhnya?"

"Seluruhnya terbunuh di bawah golok."

Mendadak Loh Loh-san menggebrak meja pula, mulutnya mengigau, "Ahli renang akhirnya mati kelelap, ahli golok belakangan mati di bawah golok orang lain, memang omongan orang kuno tidak salah, masuk akal, masuk akal. mana arak!"

Ban-be-tong-cu mengawasi tangan kirinya yang tertabas kutung empat jarinya, setelah orang bicara habis, dengan tandas dia melanjutkan, "Setiap warga Sin-to-tong, semuanya adalah saudara dari Ban-be-tong, setiap orang terpenggal kepalanya oleh golok orang, seluruhnya mampus di bumi bersalju, hutang darah ini selama delapan belas tahun mendatang seluruh saudara-saudara dari Ban-be-tong tiada satu pun yang pernah melupakannya." Yap Kay tidak menyingkir dari tatapan sorot mata orang, sikapnya tetap wajar dan tenang, setelah merenung, akhirnya bertanya pula,

"Selama delapan belas tahun ini, apakah Tongcu belum berhasil menyelidiki, siapakah pembunuh sebenarnya?"

"Belum!"

"Tangan Tongcu ini.....

"Terpapas juga oleh golok yang sama."

"Tongcu mengenal golok itu, namun tidak mengenal siapakah orang itu?"

"Golok tidak mungkin bisa ditutupi dengan kain hitam seperti yang dipakai untuk menutupi mukanya."

"Benar, kalau golok dibungkus kain hitam maka dia tidak akan bisa membunuh orang."

Pho Ang-soat tetap menatap golok di tangannya, mendadak dia menyela dingin, "Kalau golok berada di dalam sarungnya?"

"Berada di dalam sarungnya, sudah tentu golok itupun takkan bisa membunuh orang." "Bahwa golok tetap berada di dalam sarungnya, apakah lantaran kuatir dikenali oleh orang?"

tanya Pho Ang-soat.

"Aku tidak tahu," sahut Yap Kay. "Aku hanya tahu satu hal." Pho Ang-soat sedang pasang kuping mendengarkan.

Sambil tertawa Yap Kay berkata, "Aku tahu bila aku ada sangkut-paut dengan peristiwa berdarah delapan belas tahun lalu, tentulah aku takkan membawa golok memasuki Ban-be-tong ini." Sambil tersenyum dia melanjutkan, "Kecuali aku ini seorang pikun, kalau tidak, lebih suka membawa tombak atau pedang, sekali-kali tak berani membawa golok."

Pelan-pelan Pho Ang-soat berpaling muka, sorot matanya beralih dari goloknya sendiri ke muka Yap Kay, sorot matanya memancarkan mimik yang aneh sekali. Baru pertama kali ini dia menatap muka orang begini lama, bukan mustahil merupakan yang terakhir pula.

Pandangan Buyung Bing-cu sudah pudar seperti mabuk arak, mendadak dia berseru lantang, "Untunglah peristiwa itu terjadi delapan belas tahun yang lalu, peduli membawa golok atau membawa pedang, kukira sudah tidak menjadi soal lagi."

"Kukira belum tentu," jengek Hoa Boan-thian dingin.

"Semua yang hadir di sini," kata Buyung Bing-cu lebih lanjut, "kecuali Loh-siansing, yang masih anak-anak semua, memangnya mereka waktu itu sudah pandai membunuh orang?"

Tiba-tiba Hoa Boan-thian mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya, "Entah tuan sudah pernah menikah belum?"

Agaknya Buyung Bing-cu belum menangkap juntrungan pertanyaan ini, terpaksa dia manggut- manggut.

"Sudah punya keturunan belum?"

"Satu putra satu putri," sahut Buyung Bing-cu.

"Jika tuan ada bermusuhan dengan orang, jika tuan sudah tua tak punya tenaga, lalu siapa yang harus menuntut balas sakit hati tuan?"

"Sudah tentu puteraku yang bertanggung jawab menuntut balas."

Hoa Boan-thian tertawa saja, dia tidak bertanya lebih lanjut. Memang dia tidak perlu banyak kata lagi. Lama juga Buyung Bing-cu melongo, akhirnya berkata dengan tertawa getir, "Apakah tuan mencurigai bahwa di antara kami adalah keturunan dari pembunuh itu?"

Hoa Boan-thian menolak menjawab pertanyaan ini, menolak menjawab biasanya berarti pula semacam jawaban.

Merah jengah selebar muka Buyung Bing-cu, katanya, "Kalau demikian, hari ini Kongcu mengundang kami kemari, memangnya ada maksud tertentu?"

"Ya, memang ada!" jawaban Ban-be-tong-cu tegas dan lantang. "Mohon keterangan!" seru Buyung Bing-cu.

Berkata Ban-be-tong-cu pelan-pelan, "Kalau ada manusia, tentu ada anjing ada ayam, sepanjang perjalanan kemari, adakah kalian mendengar lolong anjing dan suara ayam berkotek?"

"Tidak pernah," Buyung Bing-cu menjawab lebih dulu. "Adakah kalian tahu apa sebabnya?"

"Mungkin sekitar sini tiada orang yang memelihara anjing dan ayam," kembali buyung Bing-cu menjawab.

"Peternakan kuda di pinggir perbatasan, mana mungkin tiada orang memelihara anjing dan ayam?"

"Oh, jadi ada?" tanya Buyung Bing-cu.

"Hanya Hoa-siancu seorang saja, dia ada memelihara delapan belas ekor anjing ajak yang dibawanya dari perbatasan Tibet."

Dengan ujung matanya Buyung Bing-cu melirik ke arah Hoa Boan-thian, katanya dingin, "Mungkin anjing-anjing peliharaan Hoa-siangcu tiada satu pun yang bisa menyalak, bukankah anjing galak yang pandai menggigit orang tidak perlu menyalak?"

Hoa Boan-thian menarik muka, katanya, "Tiada anjing yang tidak bisa menyalak di dunia ini." Tiba-tiba Loh Loh-san bersuara lagi. "Hanya semacam anjing saja yang tidak bisa menyalak." "Anjing mati?" tanya Hoa Boan-thian.

"Benar," Loh Loh-san tertawa lebar "Anjing mati, hanya anjing yang sudah mati takkan bisa menyalak lagi, demikian pula hanya orang yang sudah mati takkan bisa bicara lagi.

Hoa Bian-thian mengerut kening, tanyanya, "Kalau orang mabuk?"

"Orang mabuk bukan saja pandai pentang bacot, malah dia selalu mengeluarkan kata-kata yang menyebalkan."

"Agaknya kau jujur dalam hal ini," jengek Hoa Boan-thian.

Kembali Loh Loh-san terloroh-loroh, katanya, "Memangnya omongan jujur biasanya amat menyebalkan bagi orang yang berhati jahat ... mana arak?" Gelak tawanya mendadak terputus, kembali dia jatuh pulas di atas meja.

Hoa Boan-thian mengerut kening, selebar mukanya menampilkan rasa muak.

Tiba-tiba Hun Cay-thian menyela bicara, "Di dalam Ban-be-tong semula ada dua puluh satu ekor anjing jantan, tujuh belas anjing betina, jumlah seluruhnya tiga puluh delapan ekor, ayam ada tiga ratus sembilan puluh tiga ekor, rata-rata setiap hari bertelur tiga ratus butir, yang dimakan setiap hari ada empat puluh ekor, belum masuk dalam hitungan ini." Bagai seorang koki yang biasa bekerja di dapur, dengan hapal di luar kepala satu per satu dia sebutkan data-data yang ada kepada hadirin.

Yap Kay tertawa, katanya, "Entah berapa banyak ayam jantan? Berapa ayam betina? Kalau yang betina lebih banyak dan yang jantan sedikit, terpautnya terlalu banyak lagi, maka Hoa- siangcu harus lekas-lekas tambah obat kuat, supaya ayam-ayam betina tidak terpengaruh dalam memproduksi telur."

Hun Cay-thian segera tertawa, katanya, "Tuan ternyata memang orang baik hati, sayang sekali sekarang tidak perlu susah-susah lagi."

"Kenapa?" tanya Yap Kay tidak tahu.

Mendadak Hun Cay-thian menarik muka, katanya, "Kini ketiga puluh delapan anjing, tiga ratus sembilan puluh tiga ayam seluruhnya sudah mati bersih dalam semalam suntuk."

Bertaut alis Yap Kay, tanyanya, "Cara bagaimana matinya?"

Hun Cay-thian berprihatin, sahutnya, "Terputus kepalanya dengan golok, semuanya mampus dengan kepala terpenggal."

Mendadak Buyung Bing-cu tertawa, katanya, "Jika Hun-siancu ingin menemukan jejak pembunuh anjing dan ayam itu, aku sih bisa memberi sedikit bantuan."

"Oh? Coba jelaskan."

"Pembunuh itu adalah seorang koki, kalau suruh aku sekaligus membunuh tiga ratus ekor ayam, terang aku belum becus melakukannya."

Hun Cay-thian menarik muka, katanya, "Dia bukan koki." "Darimana kau tahu?" tanya Buyung Bing-cu menahan geli.

"Sekaligus orang ini mampu membunuh empat ratusan anjing dan ayam tanpa diketahui oleh orang lain, betapa cepat gerakan goloknya itu! Golok kilat yang cepat sekali."

Yap Kay manggut-manggut, timbrungnya, "Memangnya gerakan golok yang amat cepat sekali." "Tebasan golok secepat ini, jangan kata ayam dan anjing, umpama manusia pun leluasa

dibunuhnya satu per satu."

Kata Yap Kay tertawa, "Itu tergantung orang-orang macam apa saja yang dia bunuh." Sorot mata Hun Cay-thian menatap ke arah Pho Ang-soat, katanya,

"Golok tuan ini apakah sekaligus mampu mengutungi empat ratusan kepala anjing dan ayam?"

Mimik Pho Ang-soat tidak berubah, sahutnya dingin, "Sembelih ayam memotong anjing, tidak perlu menggunakan golokku ini."

Mendadak Hun Cay-thian menepuk tangannya, serunya, "Nah, itulah betul!" "Apanya yang betul?" tanya Yap Kay.

"Seorang yang memiliki kepandaian golok selihai itu, dengan senjata setajam itu, masakah dalam semalam suntuk sengaja meluruk kemari hendak menyembelih ayam memotong anjing?"

"Jika otak orang itu sinting, tentulah dia terlalu iseng dan mencari kerja pocokan untuk melemaskan otot dan tulang."

"Masakah tuan-tuan belum bisa meraba kemana tujuan dari perbuatan pembunuh ini?" tanya Hun Cay-thian.

"Tak bisa kuraba," sahut Yap Kay.

"Umpama kalian belum bisa meraba juntrungannya, tentunya pernah juga mendengar beberapa patah kata."

"Kata-kata apa?" tanya Buyung Bing-cu.

Sorot mata Hun Cay-thian mendadak menampilkan rasa takut dan seram, katanya tandas, "Anjing ayam tidak ketinggalan hidup!" "Apa? Anjing ayam tidak ketinggalan hidup?" seru Buyung Bing-cu terkesiap kaget, "kenapa ayam anjing diberantas seluruhnya?"

"Kalau membunuh tidak beres keseluruhannya, masakah bisa tidak meninggalkan bibit bencana di kelak kemudian hari?"

"Kenapa harus memberantas sampai ke akar-akarnya? Memangnya...

para pembunuh delapan belas tahun yang menghabiskan seluruh anak murid Sin-to-bun itu, hari ini meluruk datang pula ke Ban-be-tong?" tanya Buyung Bing-cu tak mengerti.

"Tentulah mereka adanya," sahut Hun Cay-thian yakin. Meski sedapat mungkin dia kendalikan emosinya, namun rona mukanya sudah menghijau.

setelah mengatakan kata-katanya, lekas dia angkat cangkir menenggak habis araknya, lalu menyambung perlahan, "Kecuali mereka, terang tak mungkin orang lain."

"Darimana kau bisa berpendapat begitu?" tanya Buyung Bing-cu

"Kalau bukan mereka, kenapa ayam anjing dibunuhnya lebih dulu, baru dia membunuh manusia? Bukankah berarti mengusik rumput mengejutkan ular?"

"Lalu kenapa pula mereka harus berbuat demikian?" tanya Buyung Bing-cu setengah tak percaya.

Hun Cay-thian mengepal jarinya kencang-kencang, keringat dingin sudah membasahi jidatnya, katanya dengan mengertak gigi, "Karena mereka tidak ingin kami mati terlalu cepat, mati dengan gampang!"

Di tengah kegelapan malam di luar yang sepi, sayup-sayup terdengar suara ringkikan kuda, suasana di dalam Ban-be-tong menjadi tambah sunyi, tegang mencekam perasaan.

Pho Ang-soat tetap mengawasi golok di tangannya. Yap Kay sebaliknya celingukan kian kemari memperhatikan air muka setiap hadirin. Entah sejak kapan kembali Kongsun Toan sudah mencekal sebuah cangkir yang lain, dengan lahapnya dia sedang menenggak habis araknya secawan demi secawan.

Sementara Hoa Boan-thian sedang berdiri menggendong kedua tangannya, dengan enteng dia mondar-mandir di bawah dinding gambar kuda-kuda yang hidup itu, langkah kakinya berat dan berdentam laksana diganduli rantai besar ribuan kati beratnya.

Dengan muka memutih Hwi-thian-ci-cu sedang menengadah melihat langit-langit rumah dengan mendelong, entah apa yang sedang dipikirkan.

Arak yang baru masuk ke dalam perut Buyung Bing-cu lekas sekali sudah mengalir keluar menjadi keringat dingin. Peristiwa berdarah delapan belas tahun yang lalu ini, bila tiada sangkut- pautnya dengan dia, kenapa dia harus menampilkan perasaan yang begitu takut?

Walaupun Ban-be-tong-cu masih tenang-tenang dan duduk lurus tak merubah gaya duduknya, seolah-olah segala persoalan tidak menyangkut dirinya Akan tetapi kedua tangannya itu sudah amblas melesak ke permukaan meja.

Sekali mabuk menghilangkan kerisauan hati, memang orang yang mabuk lebih enak. Tapi apa benar Loh Loh-san betul-betul mabuk?

Seketika ujung mulut Yap Kay menampilkan senyuman manis, mendadak dia menyadari di antara sekian banyak hadirin, yang benar-benar tidak berubah hanyalah dirinya sendiri.

Lilin besar sudah menjadi pendek. Angin menghembus masuk dari balik pintu angin, sehingga api lilin bergoyang-gontai, sehingga roman muka orang-orang di dalam Ban-be-tong ini ikut berubah-ubah, dari hijau menjadi pucat lalu merah menyala, seolah-olah setiap hadirin mengandung maksud-maksud jahat terhadap sesama orang yang hadir dalam rumah ini.

Sesudah lama keheningan ini mencekam perasaan mereka, akhirnya Buyung Bing-cu mengunjuk tawa kecut, katanya lebih dulu, "Masih ada sebuah hal yang belum kumengerti." "Oh? Hal apa?" tanya Hun Cay-thian.

"Mereka sudah membabat habis seluruh Sin-to-tong, seharusnya kalianlah yang mencari mereka untuk menuntut balas, kenapa malah mereka yang lebih dulu meluruk ke sini mencari perkara kepada kalian?"

"Sin-to dan Ban-be semula memangnya seperguruan, sejak mula mereka sudah berjuang bersama, senasib sepenanggungan."

"Jadi kau maksudkan bahwa mereka pun bermusuhan dengan pihak Ban-be-tong kalian?" Buyung Bing-cu menegaskan.

"Malahan dendam kesumat yang tidak mungkin dilerai lagi," ujar Hun Cay-thian.

"Kalau begitu kenapa mereka harus menunggu delapan belas tahun baru meluruk kemari membuat perhitungan?"

Pandangan Hun Cay-thian seolah-olah tertuju ke tempat yang jauh, katanya pelan-pelan, "Pertempuran delapan belas tahun yang lalu, meskipun mereka memberantas habis seluruh orang- orang Sin-to-tong, namun kerugian yang mereka derita pun tidak ringan"

"Maksudmu waktu itu mereka sendiri sudah tidak punya tenaga untuk mencari perhitungan kepada kalian?"

"Ban-be-tong berdiri di Kwan-tang, pasukan kudanya sudah berderap luas memasuki Tionggoan selama tiga puluhan tahun, belum pernah ada seseorang yang berani mencari permusuhan dan mengganggu usik meski hanya sebatang rumput atau sebatang pohon milik Ban-be-tong kami."

"Umpama benar mereka harus memulihkan tenaga dan menghimpun tenaga lagi, toh tidak perlu menunggu delapan belas tahun lamanya," debat Buyung Bing-cu.

Setajam golok mata Hun Cay-thian menatap ke mukanya, katanya, "Mungkin karena mereka sendiri sudah patah semangat, banyak yang cacad dan tenaga lemah karena sudah tua, oleh karena itu mereka perlu menunggu tunas-tunas muda berkembang dan tumbuh dewasa, baru berani meluruk datang menuntut balas."

"Agaknya tuan memang ada menaruh curiga kepada kami beramai?"

"Sakit hati delapan belas tahun yang lalu masih terbenam dalam sanubari, sakit hati hari ini kembali tumbuh, ratusan saudara penghuni Ban-be-tong semua mempertaruhkan jiwanya untuk pertempuran terakhir yang menentukan ini, apakah tidak pantas kalau kami beramai harus bertindak kelewatan?"

"Tapi bukankah semalam kami baru tiba di tempat ini?" Buyung Bign-cu mendebat lagi.

Yap Kay tiba-tiba tertawa, selanya, "Justru karena kami orang-orang asing yang baru tiba kemarin malam, maka kecurigaan mereka terhadap kami lebih besar."

"Kenapa?" tanya Buyung Bing-cu pula.

"Karena kejadian itu baru kemarin malam pula terjadi."

"Memangnya begitu tiba di sini, kami lantas turun tangan, apakah tidak mungkin orang-orang yang sudah tiba tujuh delapan hari lebih dulu yang turun tangan?"

"Dendam perhitungan delapan belas tahun yang lalu, sedetik pun tidak bisa ditunda-tunda lagi, apalagi harus menunggu tujuh delapan hari?"

Buyung Bing-cu menyeka keringat di atas jidatnya, gumamnya, "Soal ini tidak boleh dicampur- aduk dalam persoalan ini."

"Bisa tidak dibicarakan bersama, yang terang kita harus berterima kasih kepadanya." "Terima kasih?" Yap Kay menenggak dulu secangkir arak, lalu katanya dengan tersenyum, "Jika bukan kecurigaan terhadap kita terlalu besar, masakah hari ini kita bisa berkumpul di sini menikmati arak simpanan bertahun-tahun dari Ban-be-tong?"

Tiba-tiba Loh Loh-san menggebrak meja pula, serunya tertawa lebar,

"Bagus, ucapan bagus, seseorang bila bisa berpikir secara terbuka menghadapi setiap persoalan, maka dia akan hidup senang bahagia menjadi manusia... arak, mana arak." Arak segera ditenggaknya habis.

Buyung Bing-cu segera mengejek dingin, "Ternyata bisa juga kau menenggak habis secangkir arak lagi."

Melotot mata Loh Loh-san, katanya, "Asal aku tidak pernah melakukan perbuatan terkutuk, peduli dia mau menganggap aku ini sebagai pembunuh ayam, pembunuh anjing, yang terang memang tiada sangkut-pautnya dengan aku, kenapa aku tidak bisa menghabiskan arak ini?... araknya? Masih ada arak tidak?" Waktu arak diangsurkan kepadanya, dia sudah roboh mendekam di atas meja lagi, segera hidungnya menggeros keras.

Dengan mendongkol Hoa Boan-thian melotot kepadanya, ingin rasanya sekali jinjing dia seret orang ini dari tempat duduknya terus dilempar keluar pintu.

Terhadap orang lain, terhadap urusan apa pun, selalu Hoa Boan-thian dapat menguasai diri dan bersabar, menguasai emosi. Kalau tidak, masakah dia sudi berdiri semalam suntuk di tengah hembusan angin badai yang dingin dan kotor itu, tapi begitu berhadapan dengan Loh Loh-san, amarahnya seketika seperti hendak meledak, rona mukanya yang dingin kaku seketika menampilkan rasa muak dan benci.

Yap Kay sebaliknya amat tertarik. Terhadap persoalan apa pun, jika ada sesuatu yang rada ganjil atau istimewa, sekali-kali dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan malah dia pasti amat ketarik untuk mencampuri atau ingin mengetahui seluk-beluknya. Di kala dia mengamat-amati orang lain, Ban-be-tong-cu pun sedang mengawasi dirinya.

Entah memang sengaja atau tidak? Sorot mata kedua orang tiba-tiba bentrok, laksana tajamnya senjata yang tiba-tiba saling bentur, seketika kedua sorot mata mereka sama-sama memuncratkan kembang api. Ban-be-tong-cu tertawa dipaksakan seolah-olah hendak mengutarakan apa-apa.

Tapi tiba-tiba Buyung Bing-cu mengejek dingin pula, "Sekarang boleh terhitung aku paham seluruhnya."

"Kau paham apa?" tanya Hun Cay-thian.

"Tentunya Sam-lopan berpendapat, di antara kami berlima, satu di antaranya pasti kemari dengan tujuan menuntut balas, bahwa hari ini kami diundang dan dikumpulkan di sini, bukan lain adalah hendak menemukan siapakah orang itu sebenarnya!"

"Apakah bisa menemukannya?" tanya Ban-be-tong-cu tawar.

"Tidak mungkin," sahut Buyung Bing-cu. "Bukan saja orang tidak memberikan tanda pengenal di raut mukanya, kalau dia diharuskan mengakui sendiri, mungkin lebih sukar dari memanjat ke langit"

Ban-be-tong-cu tersenyum, ujarnya, "Kalau tidak bisa ditemukan, buat apa Cayhe harus bersusah-payah dengan mengadakan perjamuan minum arak ini?"

Yap Kay segera menimbrung dengan tertawa, "Urusan yang susah-susah tentunya Sam-lopan tidak akan sudi melakukannya."

"Kiranya Yap-heng lebih memahami maksudku."

"Pertemuan malam ini," sela Buyung Bing-cu pula. "Apakah maksud yang sebenarnya? Apakah Sam-lopan masih ada petunjuk lainnya? Ataukah memang benar-benar hanya ingin mengundang kami minum sepuasnya belaka?" Setelah menenggak habis tiga cangkir arak, agaknya pemuda anak hartawan ini menjadi besar nyalinya, pertanyaannya selalu tajam dan mendesak keterangan tuan rumah.

Agaknya Yap Kay pun menaruh perhatian akan hal ini, seolah-olah pada diri Buyung Bing-cu dia menemukan sesuatu tanda-tanda yang luar biasa.

Ban-be-tong-cu masih menepekur, tiba-tiba dia bangkit berdiri, katanya tertawa, "Sekarang malam sudah larut, jalan kembali ke kota terlampau jauh, untuk itu Cayhe sudah menyiapkan beberapa kamar tamu untuk kalian, sukalah kalian menyesuaikan diri dengan keadaan yang serba kekurangan ini, ada omongan apa biarlah dibicarakan besok saja."

Yap Kay segera menggeliat sambit berbangkis, katanya, "Benar, ada omongan apa tidak berhalangan dibicarakan besok saja."

Hwi-thian-ci-cu baru sekarang buka suara, "Agaknya Yap-heng memang seorang yang bisa menyesuaikan diri. Sayang sekali bukan setiap orang di dunia ini bisa seperti Yap-heng, gampang mau menyesuaikan diri dengan keadaan."

Bersinar pandangan Ban-be-tong-cu, tanyanya, "Jadi tuan?"

Hwi-thian-ci-cu menghela napas, ujarnya, "Orang seperti aku ini, kalau tidak mau menyesuaikan diri juga tidak bisa lagi "

Sementara pandangan Buyung Bing-cu tertuju pada delapan pedang di atas meja itu katanya, "Apalagi tempat di sini tentunya jauh lebih aman, nyaman dan menyegarkan daripada hotel di dalam kota."

"Pho-kongcu

"Asal golokku ini boleh tinggal di sini, maka jiwa ragaku berada di sini," sahut Pho Ang-soat. "Tidak bisa," teriak Loh Loh-san.

"Aku tidak bisa tinggal di sini."

Hoa Boan-thian seketika menarik muka, katanya, "Kenapa tidak bisa tinggal di sini?" "Jika tengah malam buta rata bocah itu gentayangan main bunuh, celaka bila kesalahan

memenggal kepalaku, bukankah aku mampus dengan penasaran?"

"Jadi tuan berkukuh hendak tinggal pergi?"

Dengan tingkah mabuknya, mendadak Loh Loh-san tertawa, katanya, "Tapi jika besok pagi kalian masih bisa menyediakan arak, umpama betul-betul kepalaku terpenggal mampus juga setimpal dan pasrah nasib."

Setiap orang bangkit berdiri, tiada satu pun yang berkeputusan hendak berlalu. Mereka merasa meski malam ini sukar mereka lewatkan dengan tenang dan tenteram, namun tinggal di sini lebih baik daripada berlalu atau pulang ke kota. Apalagi seorang diri berjalan di tengah padang rumput yang belukar, bukan mustahil kemungkinan bisa mengalami sesuatu di luar dugaan.

Hanya Kongsun Toan seorang yang masih duduk angker di tempatnya, secangkir demi secangkir dia terus melalap arak dari cangkirnya.

BAB 05. MALAM DI TEPI KOTA

Angin badai mereda, malam semakin larut.

Orang yang berjalan di depan sebagai penunjuk jalan sambil menenteng sebuah lentera adalah Hun Cay-thian. Dengan langkah kakinya yang berat, pelan-pelan Pho Ang-soat mengikut di belakangnya, ada sementara orang memang selamanya tidak merelakan orang lain berjalan di belakangnya. Yap Kay justru sengaja mengendorkan langkahnya, dia ketinggalan di belakang. Terpaksa Pho Ang-soat ikut melambatkan jalannya, berjalan berjajar di sampingnya. Langkah kakinya yang berat terdengar laksana tajamnya golok sedang mengerik tulang.

Tiba-tiba Yap Kay tertawa dan katanya membuka kesunyian, "Sungguh aku tidak habis mengerti, ternyata kau pun mau tinggal di sini."

"Oh?" Pho Ang-soat bersuara dalam mulut.

"Malam ini Ban-be-tong-cu mengundang kita, kemungkinan maksudnya ingin mengetahui apakah di antara orang-orang yang diundangnya ini ada yang tak mau tinggal di sini."

"Kau bukan Ban-be-tong-cu."

"Kalau aku ini dia, aku pun akan berbuat seperti ini, siapa pun jika dia bermaksud membunuh habis keluarga musuhnya, sekali-kali dia tidak akan sudi tinggal di rumah musuhnya." Setelah berpikir sebentar, dia lantas menambahkan, "Umpama mau tinggal, tentulah dia bisa memperlihatkan gerak-gerik yang janggal dan lain daripada orang lain, malah bukan mustahil dia akan melakukan sesuatu perbuatan yang luar biasa."

"Jika kau, kau pun akan berbuat demikian?" tanya Pho Ang-soat.

Yap Kay tertawa, tiba-tiba dia mengalihkan ke soal lain, "Tahukah kau, siapakah orang yang paling dia curigai dalam benaknya?"

"Siapa?"

"Kau dan aku."

Pho Ang-soat tiba-tiba menghentikan langkahnya, dengan nanar dia mengawasi Yap Kay, tanyanya tegas, "Sebetulnya kau atau bukan?"

Yap Kay ikut berhenti dan putar badan berhadapan sahutnya kalem, "Seharusnya akulah yang mengajukan pertanyaan ini kepadamu, sebetulnya kau atau bukan?"

Keduanya sama-sama berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak, keduanya saling pandang, mendadak mereka sama-sama tertawa.

"Agaknya baru pertama kali ini aku melihat kau tertawa," kata Yap Kay. "Bukan mustahil yang terakhir kalinya pula," sahut Pho Ang-soat.

Mendadak Hoa Boan-thian muncul dari kegelapan, biji matanya memancarkan sinar terang sedang mengawasi mereka, katanya dengan tersenyum, "Kenapa kalian sama-sama tertawa riang?"

"Karena sesuatu yang tidak menggelikan."

"Ya, sedikit pun tidak menggelikan," Pho Ang-soat menambahkan.

Kongsun Toan masih sibuk menenggak araknya tak habis-habisnya. Ban-be-tong-cu mengawasi orang minum, lama berselang, akhirnya dia menghela napas, katanya, "Aku tahu kau ingin minum sampai mabuk, tapi setelah kau mabuk tidak akan bisa membereskan sesuatu." 

Mendadak dengan sekuat tenaga Kongsun Toan menggebrak meja, katanya keras, "Kalau tidak mau memangnya kenapa? Bukankah sama saja membikin jengkel orang lain?"

"Bukan dibikin jengkel, itulah bersahabat, siapa pun ada kalanya dia harus bisa menahan sedikit sabar."

Jari-jari Kongsun Toan pelan-pelan meremas kencang, sehingga arak mengalir keluar membasahi meja, Kongsun Toan mengawasi cangkir yang teremas gepeng di telapak tangannya, katanya tertawa dingin, "Tahan, sabar! Selama tiga puluh tahun aku ikut kau keluar hidup masuk mampus, mengalami seratus tujuh puluhan kali pertempuran besar kecil, darahku yang mengalir sudah cukup membuat orang kelelap mati, sekarang kau masih mau menyuruh aku bersabar, lebih celaka lagi hari ini aku harus dibuat malu dan dongkol oleh seorang bocah timpang."

Sikap Ban-be-tong-cu masih tetap tenang, katanya dengan menghela napas, "Aku tahu akan tekanan batinmu, aku pun.....

"Tak usah kau katakan lagi," mendadak Kongsun Toan menukas dengan keras. "Aku sudah tahu akan maksudmu, sekarang kau sudah punya keluarga, punya keturunan, maka setiap tindakanmu tidak boleh sembrono seperti dulu lagi." Sambil menggebrak meja, mulutnya mengomel lebih lanjut, sambil menyungging senyum sinis, "Aku tidak lebih hanya seorang pesuruh, seorang pegawai kecil dari Ban-be-tong, seumpama harus dibuat jengkel dan dipermainkan orang demi Sam-lopan, sudah merupakan suratan takdir."

Mengawasi muka orang, terpancar perasaan duka pada sorot mata Ban-be-tong-cu, lama dia termenung, baru membuka suara, "Siapakah majikan? Siapa pula pegawai? Dunia kita ini semula memangnya kita bersama yang membuka dan mendirikannya, umpama anak kandungku sendiri tidak seakrab dan sekental hubungan kita. Segala sesuatu di tempat ini, kau memiliki separo, apa pun yang kau inginkan, sembarang waktu bisa kau ambil, umpama kau ingin putriku, aku pun boleh segera memberikan kepadamu." Suaranya terdengar tawar dan datar, namun makna dan perasaan yang terkandung di dalam setiap patah katanya benar-benar cukup membuat seseorang yang berhati baja mengucurkan air mata.

Kongsun Toan tertunduk diam, matanya berkaca-kaca, tak tertahan air matanya akhirnya berketes-ketes. Untunglah saat itu Hun Cay-thian, Hoa Boan-thian berdua sudah balik kembali.

Di hadapan kedua orang ini, sikap Ban-be-tong-cu lebih keren dan tenang, katanya dengan suara berat, "Apakah mereka semua tinggal?"

Lekas Hun Cay-thian mengiakan.

Perasaan duka pada sorot mata Ban-be-tong-cu sudah sirna, kini berubah dingin kaku dan tajam, katanya setelah menepekur sebentar, "Loh Loh-san, Buyung Bing-cu dan maling terbang itu tinggal tidak perlu dibuat heran."

"Kau kira mereka tidak perlu dicurigai?" tanya Hun Cay-thian. "Paling tidak kecurigaan terhadap mereka lebih ringan." "Kukira belum tentu," sela Hoa Boan-thian.

"Belum tentu?" tanya Ban-be-tong-cu.

"Buyung Bing-cu bukan orang yang gampang diurus, sikap dan tingkah-lakunya memang sengaja dia lakukan, menurut kedudukannya, setelah dihina dan diremehkan seperti itu, tak mungkin dia ada muka masih bertingkah di sini, membual lagi."

Ban-be-tong-cu manggut-manggut, katanya, "Aku pun sudah menduga perjalanannya kali ini tentu mempunyai suatu rencana dan tujuan, tapi terang tujuannya bukan terhadap Ban-be-tong."

"Bagaimana dengan Loh Loh-san?" tanya Hoa Boan-thian. "Sastrawan palsu ini berada dimana pun selalu suka mengagulkan diri sebagai angkatan tua, kenapa dari tempat sejauh itu, susah- payah meluruk datang ke perbatasan yang serba miskin dan belukar ini?"

"Kemungkinan dia sedang menghindarkan diri dari kejaran musuhnya," ujar Ban-be-tong-cu.

Hoa Boan-thian tertawa dingin, katanya, "Anggota Bu-tong-pay banyak dan tokoh-tokoh silatnya berkepandaian tinggi, selamanya hanya orang lain yang menyembunyikan diri dari tuntutan musuh mereka, kapan mereka pernah lari dari tanggung jawab?"

Tiba-tiba Ban-be-tong-cu menghela napas, katanya, "Dua tiga tahun yang lalu, penghinaan sekali tusukan pedang di bawah bukit Bu-tong-san itu, sampai sekarang masih belum bisa kau lupakan?"

"Aku tidak pernah melupakannya," sahut Hoa Boan-thian, rona mukanya menjadi kelam. "Tapi Bu-tong kiam khek Wi hun cu yang melukai kau dulu bukankah sudah mati di bawah pedangmu?"

Kata Hoa Boan-thian sambil mengertak gigi penuh kebencian, "Sayang sekali anak murid Bu- tong-pay belum terbunuh habis seluruhnya."

Mengawasi orang, Ban-be-tong-cu menghela napas, katanya, "Kepalamu dingin, pandanganmu tajam, tiada orang bisa melawan kecekatanmu dalam menghadapi perubahan setiap kejadian, sayang sekali jiwamu terlalu sempit, kemungkinan kelak kau akan dirugikan oleh watakmu yang buruk ini."

Hoa Boan-thian menundukkan kepala, mulutnya terkancing, tapi dadanya turun naik, jelas perasaannya tidak tenang.

Hun Cay-thian ganti tampil bicara dengan persoalan lain, "Di antara kelima orang ini, walau kecurigaan terbesar tertuju kepada Pho Ang-soat, tapi seperti apa yang dikatakan Yap Kay, jika benar dia kemari ... untuk menuntut balas, buat apa dia datang ke Ban-be-tong membawa golok?"

Sorot mata Ban-be-tong-cu menaruh perhatian dan penuh arti, katanya, "Bagaimana dengan Yap Kay sendiri?"

Hun Cay-thian berpikir sebentar, katanya, "Ilmu silat orang ini amat tinggi, cerdik dan berpikiran panjang, jika benar dia adanya, jelas benar-benar merupakan musuh tangguh yang amat menakutkan."

Mendadak Kongsun Toan menimbrung dengan suara dingin, "Kalian sudah bicara panjang lebar, sudahkah kalian tahu siapa sebenarnya yang harus kalian curigai?"

"Belum ada," sahut Hun Cay-thian.

"Kalau toh belum bisa kalian tentukan kepada siapa kalian harus curiga, kenapa tidak bunuh saja kelima orang itu, kan beres."

"Jika salah membunuh bagaimana?" tanya Ban-be-tong-cu. "Salah membunuh, boleh cari yang lain dan bunuh lagi."

"Sampai kapan baru pembunuhan ini berakhir?" tanya Ban-be-tong-cu pula. Kongsun Toan mengepal erat jari-jarinya, otot hijau di jidatnya merongkol keluar.

Sekonyong-konyong sebuah suara anak kecil memanggil di luar pintu, "Su-siok (paman keempat), aku tidak bisa tidur, marilah kau mendongeng saja supaya aku lekas tidur."

Mendengar suara bocah ini, Kongsun Toan menghela napas, seolah-olah mendadak dia berubah menjadi orang lain, seluruh daging badannya yang tegang tadi seketika mengendor, pelan-pelan dia melangkah keluar.

Mengawasi bayangan punggung orang, sorot mata Ban-be-tong-cu tak ubahnya seperti sedang mengawasi putranya sendiri yang paling disayang. Pada waktu itu, di luar terdengar suara kentongan ditalu, malam semakin larut, sudah kentongan kedua.

Kata Ban-be-tong-cu pelan-pelan, "Menurut aturan, kalau toh mereka mau tinggal menginap di sini, tentu tidak akan menunjukkan sesuatu gerakan apa-apa, tapi kami tidak boleh lena dan ceroboh."

Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian mengiakan bersama. Hun Cay-thian segera menambahkan, "Aku sudah memberi petunjuk kepada saudara-saudara kita yang jaga malam ini kutambah delapan kelompok, sejak sekarang setiap setengah jam mereka harus meronda saling bertemu pada tempat tertentu sebanyak tiga kali, asal melihat orang yang patut dicurigai, segera harus membunyikan peluit atau menabuh gembreng memberi laporan."

Ban-be-tong-cu manggut-manggut, tiba-tiba seperti amat letih dia berdiri dan melangkah enteng keluar pintu, selepas mata memandang, dia mengawasi padang rumput yang sudah diselimuti tabir malam itu, perasaannya seperti gelapnya malam yang mulai diselimuti kabut tebal. Hun Cay-thian mengikut di belakangnya, katanya sambil menghela napas, "Semoga malam ini bisa damai tenteram tak terjadi apa-apa, supaya kau bisa istirahat sehari dengan baik-baik, persoalan yang harus kau hadapi besok pagi mungkin lebih banyak, lebih sulit."

Ban-be-tong-cu menepuk pundaknya, katanya setelah menghela napas dengan menengadah, "Setelah pertempuran kali ini, memang tiba waktunya kita harus istirahat.

Hembusan angin terus berlalu, sinar lampu di atas tiang bendera itu tiba-tiba terhembus padam, tinggal bulan sabit yang menyendiri tergantung di cakrawala masih memancarkan sinar redup.

Dengan mendelong Hun Cay-thian mendongak mengawasi bulan sabit ini, sorot matanya diliputi kerisauan dan kekuatiran yang tidak terhingga. Bukankah Ban-be-tong bakal mengalami nasib yang sama dengan lentera di atas tiang bendera yang tinggi itu, meski tinggi tempatnya, jauh sinar lampunya mencapai, namun siapa tahu kapan kecemerlangan sinarnya itu bakal pudar dan padam?

Malam semakin kelam, sinar rembulan sudah remang-remang, suasana sepi tak terdengar ringkik kuda. Di padang rumput belukar di luar perbatasan ini di tengah malam yang hening dingin ini, berapa orang pula yang bisa pulas?

Mata Yap Kay terbuka lebar, dengan mendelong dia mengawasi kegelapan malam di luar jendela. Kini dia tidak tertawa. Senyuman yang selalu terkulum pada mukanya, bila tiada orang senyuman mekarnya ini pasti kuncup. Dia tidak tidur.

Meski suasana di Ban-be-tong sini hening lelap, tapi pikirannya timbul tenggelam, seolah-olah pasukan perang yang sedang berderap menuju ke medan laga, sayang sekali siapa pun tiada yang tahu persoalan apa yang tengah bergejolak dalam benaknya.

Pelan-pelan dia mengelus jari-jarinya, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya terasa kasar, kasar seperti batu padas, telapak tangannya sudah kapalan, menonjolkan kulit daging yang keras. Itulah bekas-bekas peninggalan selama bertahun-tahun dia memegang pisau. Tapi dimanakah pisaunya?

Selamanya dia tidak pernah membawa pisau, apakah karena pisaunya sudah dia sembunyikan di dalam hati?

Tangan Pho Ang-soat masih menggenggam kencang golok hitamnya. Dia pun tidak tidur, sampai sepatunya pun tidak dia lepas.

Sinar rembulan yang redup dingin menyinari mukanya yang pucat kaku, menyinari golok hitam di tangannya. Pernahkah goloknya ini dia cabut?

Kentongan ketiga ... Kentongan keempat...

Sekonyong-konyong di tengah kegelapan malam nan sunyi senyap ini terdengarlah suara tambur dan gembreng ditabuh bertalu-talu dengan riuhnya.

Di bagian belakang Ban-be-tong serempak melesat keluar empat bayangan orang, bagai anak panah cepatnya mereka melesat ke arah barat dimana terdapat istal kuda.

Hembusan angin seolah-olah membawa bau amis darah yang bisa memualkan orang. Lampu di kamar Yap Kay menyala lebih dulu, sesaat kemudian baru dia berlari keluar.

Buyung Bing-cu dan Hwi-thian-ci-cu dalam waktu yang sama mendorong pintu berlari keluar. Cuma pintu kamar Loh Loh-san yang masih terkancing rapat, dari dalam terdengar suara gerosan keras seperti babi mendengkur. Sebaliknya pintu kamar Pho Ang-soat tidak bergeming, tak menunjukkan sesuatu reaksi.

"Apakah barusan ada orang memberi tanda dengan pukulan gembreng?" tanya Buyung Bing- cu.

Yap Kay manggut-manggut. "Kau tahu ada kejadian apa?" tanya Buyung Bing-cu. Yap Kay geleng-geleng kepala.

Pada saat itulah tampak dua sosok bayangan orang tengah melesat mendatangi, seorang menenteng sebilah pedang yang memancarkan sinar kemilau seperti kembang beterbangan, sebaliknya seorang yang lain bergerak lincah seperti burung bangau.

Sorot mata Hoa Boan-thian melirik ke arah tiga orang yang berdiri di luar pintu, gerak badannya tidak berhenti, langsung menerjang ke arah pintu kamar Loh Loh-san. Di depan pintu dia berhenti sejenak, didengarnya suara gerosan keras seperti babi mendengkur.

Sementara bayangan Hun Cay-thian bersalto di tengah udara, dengan ringan meluncur ke depan pintu kamar Pho Ang-soat, serempak tangannya mendorong, ternyata dengan mudah pintunya terdorong terbuka. Tampak Pho Ang-soat dengan angkernya berdiri di belakang pintu, tangannya masih mencekal golok, sorot matanya tajam bersinar menciutkan nyali orang.

Tanpa disadari Hun Cay-thian menyurut mundur dua langkah, mukanya membesi hijau, katanya, "Barusan kalian tidak pernah meninggalkan tempat ini?"

Tiada yang menjawab. Memang tidak perlu pertanyaan ini dijawab.

"Siapa di antara kalian yang mendengar sesuatu gerakan atau suara?" tanya pula Hoa Boan- thian.

Tiada yang menjawab pula. Buyung Bing-cu mendadak mengerut kening seperti hendak buka mulut, namun belum sempat suaranya keluar, tiba-tiba dia terbungkuk-bungkuk dan muntah- muntah.

Kiranya bau darah yang anyir dan amis itu terhembus angin sampai di sini. Sekonyong-konyong ribuan kuda meringkik dan gaduh laksana dunia hampir kiamat. Langit bergoncang, bumi bergetar. Mata mengalirkan darah bulan tidak bersinar....

Mata mengalirkan darah, bulan tidak bersinar. Ribuan kuda meringkik, manusia putus ususnya

....

Siapa pula yang tahu tragedi yang paling mengenaskan dan suara apa pula yang paling

menakutkan di dunia ini?

Terang sekali bukan pekik orang hutan di dalam selat sempit, bukan jerit tangis setan-setan gentayangan di tanah pekuburan, namun itulah suara paduan ringkik dan lolong laksaan kuda yang serempak menyatakan duka citanya di tengah malam kelam di padang rumput ini.

Tiada orang yang bisa melukiskan dengan kata-kata suara macam apakah itu, malah mungkin juga belum pernah ada orang yang mendengarnya.

Jika tidak dunia kiamat atau terjadi bencana alam, jika tidak mengalami peristiwa tragis, masakah sekian banyak kuda di tengah malam buta rata meringkik dan melolong bersama, suaranya yang memilukan? Umpama seorang yang berhati baja, mendengar suara seperti itu, tak urung pasti berdiri bulu roma serta serasa terbang arwahnya.

Istal di bagian barat berisikan kuda-kuda jempolan dan pilihan satu di antara seribu, kuda pilihan yang takkan bisa dibeli dengan laksaan uang emas.

Darah segar masih mengalir dengan derasnya dari dalam istal, bau amis begitu tebal membuat siapa pun yang mengendusnya pasti tumpah-tumpah.

Namun Ban-be-tong-cu tidak tumpah. Dengan kaku dia berdiri di antara genangan air darah kuda-kudanya yang tersayang, seperti kehilangan semangat. Sementara dengan kedua lengannya yang kokoh kekar Kongsun Toan memeluk sebatang pohon di depan istal, begitu kencang pelukannya, namun sekujur badan masih gemetar dengan hebat sampai daun-daun pohon rontok berhamburan. Genangan darah membuat daun-daun itu terapung.

Waktu Yap Kay tiba di tempat itu, tak usah bertanya, dia pun sudah paham apa yang telah terjadi. Setiap orang yang mempunyai mata tentu sudah melihat dan mengerti. Bagi orang yang punya hati baik, pasti dia tidak akan tega melihat keadaan yang begini mengenaskan.

Boleh dikata tiada binatang di dunia ini yang mempunyai potongan badan terindah seperti kuda, tiada yang mempunyai ketahanan dan ketabahan hidup seperti kuda. Tulang-tulangnya yang kokoh kekar, tenaga hidupnya yang luar biasa, semua itu merupakan perlambang kehidupan yang paling sempurna dari kehidupan dunia binatang. Memangnya siapa yang begitu kejam dan tega membunuhnya dengan sekali bacok memenggal kepalanya? Sungguh pembunuhan yang lebih kejam dan telengas dari membunuh manusia.

Yap Kay menghela napas, waktu dia membalik badan, kebetulan dilihatnya Buyung Bing-cu di kejauhan sedang membungkuk badan tumpah-tumpah lagi. Demikian pula selebar muka Hwi- thian-ci-cu pucat lesi, keringat dingin membasahi selebar mukanya.

Jauh di sebelah sana Pho Ang-soat berdiri di tempat gelap, tabir malam menyelubungi mukanya, namun sarung golok di tangannya masih menampilkan sinar kemilau ditimpak sinar bulan sabit yang redup.

Kongsun Toan melihat golok ini, segera dia memburu ke sana seraya membentak, "Cabut golokmu!"

Pho Ang-soat menjawab tawar, "Sekarang bukan saatnya mencabut golok."

“Justru sekaranglah saatnya mencabut golok," seru Kongsun Toan beringas. "Ingin aku melihat apakah batang golokmu berlepotan darah?"

"Golokku ini bukan dipamerkan kepada orang."

"Dengan cara apa dan apa kehendakmu baru kau bisa mencabut golok?" "Aku mencabut golok hanya karena satu alasan."

“Alasan apa? Membunuh orang?"

"Itu tergantung terhadap siapa aku berhadapan, selamanya aku hanya membunuh tiga macam orang."

"Orang macam apa saja?" "Musuh, manusia rendah "Satu lagi orang macam apa?"

Dengan dingin Pho Ang-soat mengawasinya, katanya, "Yaitu orang seperti kau yang memaksa aku mencabut golok."

Kongsun Toan tergelak-gelak sambil mendongak, serunya, "Bagus, ucapan bagus. Memangnya aku sedang menunggu kata-katamu ini. Jari-jarinya sudah menekan gagang golok sabitnya. Belum lagi gelak tawanya sirna, jarinya sudah menggenggam kencang gagangnya.

Biji mata Pho Ang-soat bersinar lebih terang, agaknya dia pun sudah menantikan detik-detik yang menentukan ini. Detik-detik mencabut golok! Akan tetapi pada detik-detik ini pula, di tengah padang rumput nan luas di tengah kegelapan malam sana, mendadak berkumandang pula nyanyian lagu yang memilukan itu:

"Bangkit bergoncang, bumi bergetar,

Bumi berlepotan darah, bulan tidak bersinar. Bidan redup angin kencang malam pembunuhan.

Laksaan kuda meringkik, manusia putus ususnya." Suara nyanyian ini mengambang seolah-olah kedengaran dari tempat nan jauh, tapi setiap patah katanya dapat terdengar dengan jelas.

Seketika berubah air muka Kongsun Toan, mendadak terpentang kedua lengannya, serunya, "Kejar!" Begitu badannya melambung tinggi melesat ke sana, di tengah kegelapan sana seketika tersulut puluhan batang obor bagaikan naga panjang menggulung tiba dari berbagai penjuru.

Dalam waktu yang hampir bersamaan Hun Cay-thian pun membentak, kedua lengannya seperti burung terbang, dengan Pat-pau-kan-sian-cui-hun-sek gerakan delapan langkah mengudak tonggeret mengejar mega, seenteng asap, beruntun tiga lima kali lompatan beranting, tahu-tahu badannya sudah melesat dua puluhan tombak jauhnya.

Yap Kay menghela napas, mulutnya menggumam, "Memang tidak malu digelari Hun-tiong-wi- ho (bangau terbang di tengah mega) memang Ginkangnya hebat luar biasa." Seperti mengigau sendiri, tapi seperti juga ditujukan kepada Pho Ang-soat, tapi waktu dia berpaling lagi, Pho Ang- soat yang sejak tadi berdiri di tempat itu, ternyata sudah menghilang entah kemana.

Genangan darah membeku kering, tidak lagi mengalir. Demikian pula cahaya api semakin jauh.

Seorang diri Yap Kay berdiri di depan istal, seolah-olah di tengah alam semesta ini tinggal dia seorang diri.

Ban-be-tong-cu, Hoa Boan-thian, Pho Ang-soat, Buyung Bing-cu orang-orang ini seolah-olah

secara serempak mendadak menghilang dari kegelapan malam. Yap Kay menerawang sebentar, lambat-laun ujung mulutnya menyungging senyuman manis, mulutnya menggumam lagi, "Aneh dan amat menyenangkan, agaknya tiada seorang pun di antara mereka yang tidak menarik.

Obor terus bergerak memanjang dan bergerak di padang rumput. Sebaliknya bintang-bintang di cakrawala mulai menyembunyikan diri dan tak tampak lagi.

Di tengah malam buta rata inilah Yap Kay putar-kayun ke sana kemari, kelayapan ke timur mondar-mandir di barat, kakinya melangkah kemana saja tanpa tujuan tertentu. Seolah-olah di tengah padang rumput sekarang ini terang tiada seorang pun yang lebih iseng dari dirinya.

Lampion besar di pucuk tiang bendera itu kembali menyala. Dengan menggendong tangan, kakinya melangkah menuju ke arah lampion itu.

Sekonyong-konyong derap lari kuda membedal kencang ke arah sini, keliningan kuda pun bergoncang keras berkumandang di kesunyian malam, tahu-tahu seekor kuda mencongklang pesat dari kegelapan sana menenang datang. Penunggang kuda memiliki sepasang biji mata yang jeli bening bersinar, sekilas orang melirik ke arahnya, mendadak mulutnya menghardik lirih, serempak tangannya menarik tali kekang, kontan kuda tunggangannya meringkik sambil berdiri dengan kedua kaki belakangnya dan berhenti tepat di sampingnya.

Kuda yang bagus, tinggi pula teknik si penunggang kuda.

Dengan tersenyum Yap Kay segera menyapa lebih dulu, "Bibi aleman ini ternyata belum terbanting mampus, agaknya memang jempolan juga dia."

Seperti kelintingan, biji mata Be Hong-ling menatap kepadanya, katanya sambil tertawa, "Kau setan gentayangan ini, kenapa belum pergi juga?"

"Belum lagi berhadapan dengan kecantikan Be-siocia yang rupawan masakah rela aku tinggal pergi."

"Kau bajul rendah yang pintar putar bacot ini, coba lihat kupukul kau mampus!"

Maki Be Ho-liong sambil mengayun cemetinya, seperti ular sakti ujung cemetinya segera melecut ke muka Yap Kay.

"Bajul rendah selamanya takkan gampang kau pukul mampus," ejek Yap Kay, belum lagi kata- katanya habis diucapkan, tiba-tiba badannya sudah mencelat dan persis duduk di punggung kuda, duduk rapat berhimpitan di belakang Be Hong-ling. Kontan Be Hong-ling mengangkat tangan menyikut ke belakang dengan sekuat tenaga, makinya, "Apa yang kau inginkan?" Begitu sikutnya menyelonong ke belakang, tahu-tahu lengannya sudah disekap orang.

Berkata Yap Kay pelan-pelan di pinggir telinganya, "Bulan redup angin kencang, aku sudah kesasar sedemikian jauh tak bisa pulang, tolong Toa-siocia mengantarku pulang ya?"

Be Hong-ling mengertak gigi, makinya sengit, "Lebih baik kau mati saja." Kembali sikutnya yang lain menyodok ke belakang, tapi lengannya yang satu inipun tahu-tahu sudah ditelikung ke belakang, sampai bergerak pun tidak bisa lagi. Terendus bau badan laki-laki serta deru napasnya menghembus di pinggir lehernya, rasanya geli sampai rambut kepala terasa kaku berdiri.

Ingin dia menarik leher dan mengangkat pundak, ingin menumbuk ke belakang sekuatnya, tapi entah kenapa, ternyata seluruh badan terasa lemas-lunglai tak mampu mengerahkan tenaga.

Kuda tunggangannya yang digelari Budak gincu ini, agaknya memang kuda betina, semula binal, kini mendadak menjadi aleman dan jinak-jinak merpati, langkahnya lari-lari kecil, lembut lambat-lambat lari ke arah depan.

Padang rumput nan luas dan serba melompong, sinar api yang kelap-kelip di kejauhan, seolah- olah sinar api para nelayan pencari ikan di tengah samudra raya.

Hembusan angin musim rontok, rasanya juga menjadi lembut laksana hembusan angin musim semi yang sepoi-sepoi. Mendadak terasa sekujur badannya panas memburu, serunya sambil mengertak gigi, "Kau ... mau tidak mau kau harus melepaskan tanganku?"

"Tidak!" sahut Yap Kay pendek.

"Kau ini bajul hidung belang, tidak lekas kau turun, biar aku berteriak," demikian ancamnya.

Sebetulnya ingin dia pentang bacot memakinya kalang-kabut, namun mendengar suaranya sendiri, terasa lembut dan mesra. Kenapa pula hal ini bisa terjadi?

Berkata Yap Kay dengan tertawa, "Kau takkan berani berteriak Apalagi umpama kau benar- benar berteriak, di tempat sejauh ini, siapa yang mendengar suaramu?"

"Kau ... kau ... apa yang kau inginkan?"

"Apa pun aku tidak ingin." Deru napasnya seolah-olah selembut hembusan angin musim semi yang sejuk dan menyegarkan, pelan-pelan dia melanjutkan, "Coba lihat, sinar bulan begini redup, malam begini sepi dan dingin, seseorang yang tumbuh dewasa dalam pengembaraan, mendadak bersua dengan gadis perawan secantik kau memangnya apa pula yang masih dia inginkan?"

Napas Be Hong-ling tiba-tiba menjadi cepat dan tersengal-sengal, jantungnya seperti hendak berontak dari rongga dadanya, ingin buka suara, kuatir suaranya terdengar gemetar.

Mendadak Yap Kay bersuara pula, "Jantungmu sedang berdebar."

Dengan kencang Be Hong-ling menggigit bibir, katanya, "Jantung tidak berdetak, bukankah menjadi orang mati?"

"Tapi jantungmu terang berdetak cepat, lebih cepat dari biasanya." "Aku "

"Sebetulnya tidak perlu kau katakan, aku pun sudah mengerti akan isi hatimu." "Oh? Apa isi hatiku?"

"Jika kau tak tertarik dan menyukai aku, kau takkan menghentikan kudamu. Sekarang kau pun tidak akan membiarkan kudamu ini jalan pelan-pelan."

"Aku apa yang harus kulakukan?"

"Cukup asal kau bersuit memberi aba-aba, maka kuda ini akan segera membantingku jatuh dari punggungnya." Mendadak Be Hong-ling tertawa, katanya, "Terima kasih kau memberi ingat kepadaku." Begitu dia bersuit, tiba-tiba kuda tunggangan ini meringkik terus angkat kaki depan berdiri dengan kaki belakang. Memang terbukti Yap Kay benar-benar terjungkal dari punggung kuda. Tapi dia sendiri pun ikut terjungkal jatuh, kebetulan jatuh ke dalam peluhan Yap Kay. Maka terdengar keliningan berbunyi nyaring, kuda itu sudah menggerakkan keempat kakinya berlari ke tempat yang jauh.

Yap Kay menghela napas, ujarnya, "Sayang sekali, barusan aku lupa memberi ingat kepadamu, kalau aku terbanting jatuh, kau pun ikut terperosok pula."

Be Hong-ling mengertak gigi, makinya marah-marah. "Kau memang bajul, kau ini hidung belang

"Tapi aku ini memang hidung belang yang lincah dan mungil, benar tidak?"

"Malah tidak tahu malu lagi," damprat Be Hong-ling. Tapi setelah mengeluarkan kata-katanya ini, tak tertahan dia sendiri tertawa geli cekikikan, seketika merah jengah selembar mukanya.

Di tengah padang rumput dan luas ini, di bawah penerangan bulan sabit yang pudar, di tengah malam nan sunyi di musim rontok ini bagaimana kau tega menyuruh seorang gadis cantik yang sedang mekar, mau mengeraskan kepala dan menebalkan muka mendorong seorang laki-laki yang memang tidak dibencinya. Seorang laki-laki yang nakal, bejat, namun serba luar biasa.

Tiba-tiba Be Hong-ling menghela napas, ujarnya, "Orang seperti kau, sungguh belum pernah aku menjumpai."

"Memangnya laki-laki seperti aku tidak banyak jumlahnya."

"Terhadap gadis lain, apa kau pun akan bersikap seperti terhadapku?"

"Jika setiap berhadapan dengan seorang gadis aku bersikap seperti ini, tentu kepalaku ini sudah digencet gepeng."

Kembali Be Hong-ling menggigit bibir, katanya, "Memangnya kau kira aku tidak bisa memukul gepeng kepalamu?"

"Kau pasti tidak akan berbuat demikian."

"Lepaskan tanganku, coba lihat kubikin gepeng tidak kepalamu."

Ternyata Yap Kay benar-benar melepaskan tangannya. Sigap sekali dia putar badan sambil mengayun tangan, kontan dia menampar ke muka orang. Tangannya terayun tinggi, tapi jatuhnya pelan-pelan saja. Yap Kay pun tidak berkelit, dia tetap duduk di atas rumput tenang-tenang, diam saja mengawasi dirinya. Tampak biji mata orang laksana bintang kejora di tengah malam buta.

Angin menghembus, sinar rembulan tampak semakin jauh. Akhirnya dia menunduk pelan-pelan, katanya, "Aku ... aku bernama Be Hong-ling."

"Aku tahu."

"Kau sudah tahu?"

"Dari Siau-toasiokmu itu aku pernah mencari tahu tentang dirimu."

Seketika mekar senyum tawa Be Hong-ling, katanya, "Aku pun pernah mencari tahu tentang dirimu, kau bernama Yap Kay."

Yap Kay menatap mata orang, katanya pelan-pelan, "Aku memang sudah tahu kau pasti pernah mencari tahu tentang diriku."

Tertunduk semakin rendah kepala Be Hong-ling, mendadak dia melompat bangun, mengawasi rembulan yang sudah mendoyong ke arah barat, katanya lembut, "Aku ... aku harus pulang!"

Yap Kay tidak bergerak, dia pun tidak menarik atau menahannya.

Be Hong-ling memutar badan, ingin pergi, namun berhenti pula, katanya, "Kapan kau hendak pergi?" Yap Kay merebahkan diri dengan tiduran telentang, lama juga baru dia menjawab pelan-pelan. "Aku tidak akan pergi, aku menunggu kau."

"Menunggu aku?"

"Berapa lama aku ingin menetap di sini, Siau-toasiokmu itu pasti tidak akan mengusirku pergi"

Be Hong-ling berpaling sambil mengunjuk senyuman mekar dan riang, seperti burung sriti selincah kecapung segera dia melayang pergi berlari pesat.

Malam yang kelam ini lama kelamaan berubah remang-remang berwarna abu-abu Bulan sabit lambat-laun hilang tertelan oleh datangnya sang fajar.

Yap Kay masih rebah tenang-tenang tak bergerak, seolah-olah dia sedang menunggu datangnya sang fajar yang sebentar bakal menyingsing Dia tahu dirinya takkan menunggu lama lagi.

BAB 06. SIAPA YANG MENGUBUR GOLOK

Fajar menyingsing, sang surya mulai menongol di ufuk timur. Bau amis semalam sudah terhembus hilang oleh angin pagi nan segar. Angin pagi yang membawa bau rumput kering yang wangi. Bendera kebesaran Ban be-tong kembali berkibar di pucuk tiang.

Dengan mulut menggigit sebatang rumput kering, pelan-pelan Yap Kay menggerakkan langkah, menuju ke arah bendera yang berkibar-kibar di tengah angkasa. Kelihatannya dia masih begitu iseng dan acuh tak acuh, malas lagi, sinar surya yang cermelang menyinari butiran pasir-pasir yang melekat di atas badannya, semua seperti memancarkan sinar kuning kemilau.

Di tengah dan tepat di bawah pintu gerbang yang besar itu, berdiri dua orang, salah seorang di antaranya begitu melihat dirinya, segera putar badan berlari masuk ke Ban-be-tong.

Yap Kay tetap melangkah menghampiri, dengan tersenyum dia menyapa lebih dulu, "Selamat pagi."

Namun rona muka Hun Cay-thian dingin dan sinis, sahutnya tawar, "Selamat pagi." "Apa Sam-lopan sudah istirahat?"

"Tidak, dia sedang menunggu kau di pendopo besar, semua orang sedang menunggumu."

Memang semua sudah berkumpul di Ban-be-tong, roman muka setiap hadirin nampak serius dan tegang. Di hadapan setiap hadirin terpampang hidangan pagi, namun tiada seorang pun yang mau menggerakkan sumpitnya lebih dulu.

Seperti keadaan sejak mula, Loh Loh-san mendekap meja seolah-olah belum sadar dari mabuknya.

Begitu melangkah masuk Yap Kay segera bersuara menyapa, "Selamat pagi para hadirin!" Tiada yang memberi jawaban, tapi setiap pasang mata hadirin menatap ke arah dirinya,

agaknya aneh dan lucu benar sorot mata mereka.

Hanya Pho Ang-soat seorang tetap menurunkan matanya mengawasi golok di tangannya.

Di sebelah sana terdapat sebuah jatah hidangan pagi di atas meja yang kursinya masih kosong belum dimiliki orang. Yap Kay langsung menuju ke sana dan duduk tanpa sungkan-sungkan dia gerakkan sumpit dan melalap semangkuk bubur dengan sebutir telur. Bubur masih hangat, habis semangkuk dia tambah semangkuk lagi.

Setelah dia kenyang dan meletakkan sumpitnya, barulah Ban-be-tong-cu mulai buka suara dengan kalem, "Sekarang sudah tidak pagi lagi."

"Ehm, ya tidak pagi lagi." "Semalam setelah kentongan keempat, setiap orang berada di dalam kamarnya masing-masing, dan tuan?"

"Aku tiada di kamar." "Dimana?"

"Karena tidak bisa pulas, terpaksa aku keluyuran ke sana kemari, tanpa terasa tahu-tahu hari sudah terang tanah."

"Siapa yang dapat membuktikan keteranganmu ini?" "Kenapa harus ada yang membuktikan?"

"Karena ada orang yang harus menuntut balik tiga belas jiwa orang!" kata Ban-be-tong-cu lantang dengan tatapan mata tajam.

"Tiga belas jiwa orang?"

Ban-be-tong-cu manggut-manggut, katanya, "Tiga belas kali tebasan, tiga belas jiwa, cepat benar golok itu."

"Jadi semalam setelah kentongan keempat, ada tiga belas orang yang terbunuh oleh tabasan golok?"

"Benar," seru Ban-be-tong-cu dengan muka gusar dan sedih, "tiga belas orang, semua mati terpenggal kepalanya."

Yap Kay menghela napas, "Anjing, kuda dan ayam tidak berdosa, manusia tak bersalah, perbuatan orang itu memang rada keterlaluan."

Ban-be-tong-cu menatap matanya katanya beringas, "Memangnya tuan tidak tahu akan kejadian ini?"

"Aku tidak tahu," gampang dan cekak-aos jawaban Yap Kay.

Ban-be-tong-cu tiba-tiba mengangkat sebelah tangannya, baru sekarang Yap Kay melihat jelas, di atas meja di depan orang sebenarnya memang ada sebilah golok. Golok yang kemilau seperti kaca, tajam goloknya tipis runcing. Dengan mengawasi tajam golok di tangannya itu, Ban-be-tong- cu berkata, "Bagaimana golok ini?"

"Golok bagus!" sahut Yap Kay.

"Kalau bukan golok bagus, masakah sekaligus dapat memenggal kepala tiga belas orang?" Mendadak dia mengangkat kepala menatap Yap Kay, suaranya menjadi bengis, "Memangnya tuan belum pernah melihat golok ini?"

"Belum."

"Tuan tahu dimana golok ini ditemukan?" "Tidak tahu."

"Tepat di bawah tanah tempat kejadian pembunuhan." "Di bawah tanah?"

"Setelah membunuh orang, lantas dia pendam golok ini di dalam taman, sayang sekali kerjanya terlalu tergesa-gesa, maka golok ini akhirnya dapat kita temukan."

"Golok sebagus itu kenapa harus dipendam di dalam tanah?"

Ban-be-tong-cu menyeringai dingin, katanya dengan tandas, "Kemungkinan lantaran dia itu seorang yang selamanya tidak pernah menggembol golok."

Sekian saat Yap Kay terlongong, akhirnya tertawa, katanya sambil menggeleng kepala, "Jadi Tongcu beranggapan bahwa golok ini milikku?"

"Jika kau menjadi aku, bagaimana jalan pikiranmu?" "Aku bukan kau."

"Semalam setelah kentongan keempat, Loh-toasiansing, Buyung-kongcu, Pho Ang-soat, dan Hwi-thian-ci-cu ini, semua berada di kamar masing-masing, ada orang bisa membuktikan diri mereka."

"Maka kematian tiga belas orang itu terang bukan hasil karya mereka," ujar Yap Kay.

Membara biji mata Ban-be-tong-cu, serunya bengis, "Dan tuan sendiri? Dimana kau berada setelah kentongan keempat? Siapa bisa membuktikan dirimu?"

"Tiada."

Ban-be-tong-cu tidak bertanya lebih lanjut, sorot matanya menampilkan kegusaran yang memuncak, lapat-lapat timbul keinginan membunuh. Terdengar derap langkah berat mendekati, ternyata Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian sudah berada di belakang Yap Kay.

"Silahkan Yap-heng," kata Hun Cay-thian sinis. "Menyilakan aku untuk apa?" tanya Yap Kay. "Silakan keluar!" kata Hun Cay-thian.

Yap Kay menghela napas, mulutnya mengomel, "Duduk di sini aku sudah merasa nyaman, justru sekarang aku disuruh keluar lagi" Sambil menghela napas, pelan-pelan dia berdiri. Segera Hun Cay-thian membantu menarik mundur kursinya.

Mendadak Ban-be-tong-cu berseru pula, "Kalau golok ini memang milikmu, boleh kau bawa pergi, nah sambutlah!" begitu mengayun tangan, golok itu melesat terbang melengkung dengan sinar peraknya, langsung terbang ke depan Yap Kay.

Yap Kay diam saja tidak menyambuti. Sinar golok menyerempet lengan bajunya, "Trap!", ujungnya menancap di meja sedalam tujuh dim.

Yap Kay menghela napas pula, katanya menggerundel, "Memang sebatang golok bagus, sayang sekali bukan milikku."

Akhirnya Yap Kay melangkah keluar. Hoa Boa-thian dan Hun Cay-thian seperti bayangan yang mengikuti gerak tubuhnya, dengan ketat mengintil di belakangnya. Siapa pun tahu, setelah Yap Kay beranjak keluar, maka selamanya dia tidak akan pernah kembali. Semua hadirin mengawasinya, sorot mata mereka menampilkan rasa kasihan dan ikut berduka cita, tapi tiada seorang pun yang berdiri tampil bicara.

Sampai pun Pho Ang-soat pun diam saja. Sikapnya tetap dingin seperti segala kejadian di sekitarnya tidak pernah menarik perhatiannya, seolah terhadap segala persoalan dia memandang enteng, memandang hina.

Segera Ban-be-tong-cu menyapu pandang, katanya dengan suara berat, "Terhadap persoalan ini, apa pendapat para hadirin?"

"Hanya sepatah kata," mendadak Pho Ang-soat bersuara. "Silakan berkata."

"Bagaimana kalau Kongcu salah membunuh orang?"

"Salah bunuh, boleh bunuh lagi," sahut Ban-be-tong-cu lantang dengan menarik muka. Pelan-pelan Pho Ang-soat manggut-manggut, katanya, "Ya, aku mengerti."

"Tuan masih ingin bicara?" "Tidak perlu."

Pelan-pelan Ban-be-tong-cu mengangkat cangkir araknya, serunya, "Silakan, silakan makan hidangan-hidangan itu."

Sinar surya cerlang-cemerlang, menyinari bendera besar yang berkibar tertiup angin. Yap Kay langsung berjalan ke bawah sinar matahari, menengadah sambil menghirup napas dalam-dalam, katanya tersenyum, "Cuaca hari ini sungguh amat baik."

"Ya, cuaca sebaik ini, kukira tiada orang yang ingin mati.” "Dalam cuaca sebaik ini, kukira tiada orang yang ingin mati.”

"Sayang sekali, peduli cuaca baik atau buruk, setiap hari pasti ada orang mampus." "Benar, memang harus dibuat sayang."

"Kentongan keempat semalam," tiba-tiba Hoa Boan-thian bersuara "sebenarnya dimana tuan berada?"

"Di suatu tempat yang tiada manusia."

Hoa Bian-thian menghirup hawa segar, katanya, "Sayang, sayang, sungguh sayang!" Berkedip mata Yap Kay, katanya, "Apanya yang dibuat sayang?"

"Tuan masih berusia begini muda sudah harus mati, bukankah amat disayangkan?" "Siapa bilang aku akan mati?" ujar Yap Kay tersenyum, "Sedikit pun aku tidak ingin mati"

Hoa Boan-thian menarik muka, katanya, "Aku pun tidak ingin kau mati, sayang sekali ada sesuatu benda yang tidak setuju."

"Benda apa?"

Tangan Hoa Boan-thian tiba-tiba diluruskan ke bawah, tiba-tiba telapak tangannya menepuk di atas sabuk kulit selebar telapak tangan yang melingkar di pinggangnya.

"Sreng", sebatang pedang lemas yang terbuat dari baja murni tiba-tiba tercabut dari sarungnya, sekali gentak menyongsong datangnya hembusan angin menjadi kaku dan lurus.

"Pedang bagus!" tak tertahan Yap Kay berseru memuji. “Bagaimana dibanding golok itu."

"Tergantung di tangan siapa golok itu." "Jika di tangan tuan?"

"Selamanya tanganku tidak pernah menggunakan golok, juga tidak perlu memakai golok." " Tidak perlu pakai golok?"

"Membunuh orang aku lebih suka menggunakan tangan, karena aku paling senang menikmati suara tulang teremas hancur oleh jari-jari orang."

Berubah air muka Hoa Boan-thian, katanya, "Pernahkah kau mendengar suara ujung pedang menusuk amblas ke dalam kulit daging manusia?"

"Belum pernah."

"Suara itupun amat nikmat kedengarannya."

"Kapan bila ada kesempatan, berilah kesempatan supaya aku bisa mendengar." "Sebentar juga kau segera mendengarnya," kata Hoa Boan-thian, pelan-pelan pedangnya

sudah terayun ujung pedang teracung miring menyongsong sinar surya memancarkan cahaya kemilau yang menyilaukan mata.

Dalam pada itu, Hun Cay-thian pun tidak tinggal diam, sebat sekali dia sudah menggeser ke belakang Yap Kay.

Sekonyong-konyong sebuah suara bocah berkata, "Sam-ik (bibi ketiga) coba lihat, mereka hendak membunuh orang pula di sini, mari kita ke sana menonton?" Sebuah suara lembut dari perempuan berkata, "Anak bodoh, membunuh orang ada apanya yang patut ditonton?"

"Tontonan baik, paling tidak lebih baik dari menjagal babi."

Mendengar percakapan ini, pedang Hoa Boan-thian kembali diturunkan.

Tak tertahan Yap Kay berpaling ke belakang, dilihatnya seorang nyonya berpakaian serba putih sedang menuntun seorang bocah laki-laki berpakaian merah, mereka muncul dari ujung rumah sebelah belakang sana.

Nyonya ini bertubuh semampai, rambut kepalanya semampai menghitam legam, raut mukanya berbentuk kwaci justru pucat seperti salju Dia bukan perempuan cantik yang dapat menyedot sukma laki-laki, namun setiap gerak-geriknya tampak mengandung kematangan jiwa seorang perempuan.

Peduli laki-laki macam apa pun, begitu berhadapan dengan dia akan lantas tahu, bukan saja kau bisa mendapatkan kepuasan dan hiburan dari dirinya, kau pun akan mendapatkan pengertian mendalam dan belas kasihan yang setimpal.

Bocah laki-laki yang dituntunnya itu berpakaian serba merah, rambut kepalanya diikal tepat di tengah batok kepalanya, lalu diikat dengan pita merah sutra, meskipun perawakannya tinggi kurus, namun sepasang matanya bundar besar, biji matanya hitam bening seperti buah kelengkeng jelilatan, terang bocah yang lincah dan cerdik.

Sudah tentu Yap Kay mengunjuk senyuman lebar menyongsong kedatangan mereka. Setiap berhadapan dengan bocah dan perempuan, senyum mukanya selalu mekar simpatik dan mengasyikkan.

Setelah dekat dan melihat jelas dirinya, bocah itu kelihatan tertegun mendadak dia berjingkrak senang dan berteriak, "Aku kenal orang ini."

Nyonya itu mengerut kening, katanya, "Jangan membual, lekas ikut aku pulang."

Bocah itu meronta lepas dari cekalannya, terus berlompatan lari ke depan Yap Kay, katanya dengan jari kecilnya mengkili-kili ujung hidung, "Malu, malu, malu, memeluk Ciciku tidak mau dilepaskan, coba katakan kau ini tahu malu tidak

Hoa Boan-thian seketika menarik muka, katanya, "Siau-hou-cu, membual apa kau?"

Berputar biji mata bocah ini, katanya, "Aku tidak membual, aku bicara sesungguhnya, semalam aku melihat dia berpelukan dengan Cici, disuruh melepaskan dia tidak mau."

Tergerak hati Hoa Boan-thian, "Semalam, kapan terjadinya?" "Di saat hari hampir terang tanah."

Seketika berubah air muka Hoa Boan-thian

Dari sebelah sana Hun Cay-thian membentak bengis, "Apakah kau sendiri yang melihat kejadian ini? Awas jangan sekali-kali kau berbohong!"

"Sudah tentu aku melihatnya sendiri."

"Cara bagaimana kau bisa melihatnya?" tanya Hun Cay-thian.

"Semalam setelah kentongan berbunyi, Cici bangun, katanya mau keluar melihat-lihat, aku pun minta ikut, tapi tidak boleh, di saat dia tidak memperhatikan aku, aku lantas bersembunyi di bawah perut kuda."

"Selanjutnya bagaimana?"

"Cici tidak tahu, dia mencongklang kudanya ke tengah padang rumput, tak lama kemudian di sana dia bertemu dengan orang ini, lalu mereka Belum habis dia bicara, nyonya itu sudah

menyeretnya pergi, namun mulutnya masih berkaok-kaok, "Aku bicara sesungguhnya dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kenapa aku tidak boleh bicara?" Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian saling beradu pandang, mukanya serba kelabu, mulut terkancing tak bersuara lagi.

Mimik muka Yap Kay juga amat aneh, entah apa yang sedang terpikir dalam benaknya.

Tiba-tiba didengarnya seseorang berkata kereng "Kau ikut aku." Entah kapan Ban-be-tong-cu sudah beranjak keluar, mukanya membesi hijau, tangannya menggapai kepada Yap Kay, dengan langkah lebar dia keluar ke arah pekarangan.

Tatkala itu, di tengah padang rumput nan luas itu, tengah berkumandang dendang lagu gembala yang merdu.

Rombongan kuda sedang berlari kencang di bawah timpaan sinar matahari, seluruh alam semesta diliputi kebesaran jiwa kehidupan nan jaya.

Ban-be-tong-cu duduk tegak lurus, duduk di atas pelana kudanya yang berukir indah, cambuk terayun kuda membedal, seolah-olah dia hendak melampiaskan kedongkolan dan kemarahan hatinya. Untung kuda tunggangan Yap Kay juga seekor kuda pilihan yang baik, terhitung dia bisa mengikuti dengan ketat sehingga tidak ketinggalan jauh

Pucuk bukit di depan sana serba menghijau seperti permadani, kelihatannya tidak begitu tinggi dari kejauhan, tidak begitu jauh pula. Tapi dengan mencongklang kuda seperti dikejar setan ini, mereka harus menghabiskan waktu satu jam lebih baru tiba di bawah lereng bukit.

Dengan lincah Ban-be-tong-cu terus melompat turun dari punggung kudanya, tanpa berhenti melepaskan lelah langsung dia berlari-lari mendaki bukit. Terpaksa Yap Kay terus mengikuti jejaknya.

Di lereng bukit menempati sebidang tanah yang cukup luas terdapat sebuah pusara besar, rumput liar sudah tumbuh subur di atas pusara ini, beberapa batang pohon cemara tersebar tumbuh di sekitarnya menahan hembusan angin barat.

Tepat di depan pusara ini, berdiri tegak sebingkai papan batu besar warna hijau tinggi sembilan kaki. Tepat di tengah papan batu ini ada terukir huruf-huruf yang berbunyi: "Pusara para pahlawan Sin-to-tong". Di sampingnya masih terdapat beberapa nama orang, berbunyi: "Pek Thian-ih suami istri, Pek Thian-yong suami isteri bersemayam di sini".

Ban-be-tong-cu langsung mendatangi pekuburan ini dan berhenti di depan papan batu besar itu, keringat sudah membasahi seluruh badan sehingga pakaiannya lengket dengan kulit badannya.

Hembusan angin lalu di atas bukit terasa lebih dingin. Dia langsung berlutut di depan batu nisan besar ini, lama juga dia seperti berdoa dan bersembahyang, akhirnya berdiri pelan-pelan, waktu dia putar badan lagi, tampak kerut keriput yang memenuhi mukanya kelihatan semakin tajam, di tengah lekuk keriput kulit mukanya itu, entah mengandung kenangan masa lalu yang betapa memilukan dan mengenaskan. Entah betapa pula dendam sakit hati dan kebencian yang terpendam di dalamnya.

Yap Kay berdiri diam tak bersuara menantang hembusan angin barat, terasa hatinya ikut mendelu dingin seperti melayang-layang, entah betapa perasaan hatinya saat itu, dia sendiri pun tidak bisa mengatakan.

Dengan menatap mukanya, Ban-be-tong-cu tiba-tiba bertanya, "Apa yang sudah kau lihat?" "Sebuah kuburan."

"Kau tahu kuburan siapa?"

"Pek Thian ih, Pek Thian-yong "

"Kau tahu siapa meraka?"

Yap Kay geleng-geleng kepala. Sikap Ban-be-tong-cu kelihatan lebih rawan, katanya prihatin, "Mereka adalah saudara tuaku, seperti saudara sepupuku sendiri."

Yap Kay manggut-manggut, baru sekarang dia mengerti kenapa orang-orang di sini memanggil Ban-be-tong-cu sebagai Sam-lopan (majikan ketiga).

Ban-be-tong-cu bertanya pula, "Tahukah kau kenapa aku harus mengubur mereka di dalam satu liang lahat di sini?"

Kembali Yap Kay geleng-geleng kepala.

Ban-be-tong-cu mengertak gigi, kedua jari-jari tangannya terkepal kencang, mulutnya mendesis, "Karena waktu aku menemukan mereka, darah daging mereka sudah digares habis oleh kawanan serigala di padang rumput ini yang kelaparan tinggal setumpukan tulang belulang melulu, siapa pun sulit membedakan mereka lagi."

Tanpa sadar kedua tangan Yap Kay ikut mengepal kencang, telapak tangannya malah basah oleh keringat dingin.

Padang rumput terbentang luas di hadapan bukit rendah ini, pada ujung yang paling jauh sana bertemu dan berdampingan dengan langit nan membiru. Hembusan angin melambaikan rumput- rumput liar yang tumbuh tinggi seperti tarian seorang penari yang gemulai dari kejauhan laksana gelombang samudra yang mengalun lambat-lambat.

Ban-be-tong-cu putar badan menghadapi padang rumput nan luas ini, pandangannya lepas lurus ke tempat nan jauh di depan sana, lama juga baru dia membuka suara pula, "Sekarang apa pula yang kau lihat?"

"Padang rumput, alam semesta," sahut Yap Kay cekak-aos. "Dapatkah kau melihat ujung tanah nan luas ini?"

"Tidak terlihat dari sini."

"Tanah perdikan nan luas, seluas padang rumput yang tak berujung pangkal ini adalah milikku." Kelihatannya dia mulai terpengaruh oleh emosinya, katanya pula dengan suara lantang, "Semua kehidupan di tanah perdikan nan luas ini, seluruh harta benda di sini, semuanya termasuk milikku! Darah dagingku laksana akar yang kokoh kuat sudah tertanam dan berseri di dalam bumi ini."

Yap Kay pasang kuping, dia mandah mendengarkan saja. Sungguh dia tidak bisa menyelami orang ini, dia pun tak bisa memahami apa makna semua kata-katanya ini.

Lama juga baru emosi Ban-be-tong-cu mulai reda, katanya kemudian dengan menghela napas, "Siapa pun untuk dapat memiliki bumi sebesar ini bukan suatu hal atau perjuangan yang sepele."

Tak tahan Yap Kay pun menghela napas, katanya, "Ya, memang tidak gampang." "Tahukah kau, cara bagaimana aku bisa memiliki semua ini?"

"Tidak tahu "

Mendadak Ban-be-tong-cu menarik sobek baju di depan dadanya maka tertampaklah dadanya yang bidang kekar laksana baja, katanya, "Kau lihat lagi apakah ini?"

Mengawasi dada orang, serasa hampir berhenti napas Yap Kay Selama hidupnya belum pernah dia melihat dada seorang dihiasi luka-luka bekas bacokan senjata tajam yang begitu banyak.

Perasaan Ban-be-tong-cu kembali bergolak, sorot matanya pun berkilat, katanya keras penuh emosi, "Inilah imbalan yang harus kupertaruhkan, jadi segala ini harus kutukar dengan darah, keringatku, dengan jiwa para saudaraku yang gugur"

"Aku tahu."

"Oleh karena itu," suara Ban-be-tong-cu semakin beringas, "siapa pun jangan harap bisa merebut semua ini dari kedua tanganku, siapa pun tidak akan kudiamkan." "Ya, aku maklum!"

Ban-be-tong-cu terengah-engah, orang tua yang sudah gemblengan di medan laga meski dadanya masih begitu kokoh kuat laksana baja, tapi kondisi badannya sekarang, jelas sekali sudah tidak memadai dibanding dulu. Apa memang demikiankah tragedi yang harus menimpa setiap Enghiong yang mulai menanjak usianya.

Setelah napasnya teratur kembali, baru dia membalik badan, pundak Yap Kay ditepuknya, sikapnya berubah menjadi lemah lembut dan penuh kasih sayang, ujarnya pelan-pelan, "Aku tahu kau seorang pemuda yang punya pambek, meski diri sendiri berkorban, kau pun takkan mau merugikan dan merusak nama orang lain, memang jarang pemuda seperti kau di dunia ini."

"Apa yang kulakukan, hanyalah karena aku merasa aku patut melakukannya, tidak perlu ditaruh dalam hati."

"Apa yang kau lakukan memang tidak salah, aku ingin kau menjadi sahabatku, malah menjadi menantuku kalau mungkin sampai di sini kembali dia menarik muka, sorot matanya setajam golok menatap Yap Kay, katanya tegas, "Akan tetapi lebih baik kuanjurkan lekas kau berlalu saja dari sini."

"Pergi maksudmu?"

"Benar, pergi, lekaslah pergi, lebih cepat jauh lebih baik." "Kenapa aku harus pergi?"

"Karena banyak kesulitan di sini, siapa pun bila dia berada di sini maka dia takkan terhindar dari lepotan amisnya darah segar."

"Aku tidak takut kesukaran, aku pun tidak takut bau amisnya darah."

"Tapi tidak pantas kau berada di tempat seperti ini kau harus segera pulang." "Pulang kemana?"

"Kembali ke kampung halamanmu, di sanalah tempatmu berpijak dan tumbuh sampai hari tua."

Sekarang Yap Kay pun bergerak pelan-pelan membalik menghadapi padang rumput nan luas, lama juga baru dia buka suara pelan-pelan, "Apa kau tahu dimana kampung halamanku?"

"Betapapun jauh letak kampung halamanmu, berapa banyak pula bekal yang ingin kau bawa, aku bisa memberi kepadamu secukupnya."

"Kukira tidak perlulah, kampung halamanku tidak jauh." "Tidak jauh? Dimana?"

Yap Kay mengawasi sekuntum mega di ujung langit sana, katanya, "Di sinilah kampung halamanku."

Ban-be-tong-cu tertegun.

Yap Kay membalik badan pula, dengan nanar ia balik mengawasi orang, mimik mukanya menampilkan perasaan yang aneh, katanya serius, "Aku tumbuh di sini, dewasa di sini, lalu kemana kau suruh aku harus pergi?"

Turun naik dada Ban-be-tong-cu, kedua tangannya terkepal pula, tenggorokannya berbunyi, namun sepatah kata pun tak kuasa diucapkannya.

"Tadi sudah kukatakan," kata Yap Kay lebih lanjut. "Aku hanya melakukan sesuatu yang pantas kulakukan, dan lagi selamanya aku tidak gentar menghadapi segala kesulitan, aku pun tidak takut bau darah."

"Maka kau harus tetap tinggal di sini," bentak Ban-be-tong-cu bengis. Jawaban Yap Kay tegas, jawabannya hanya sepatah kata, "Ya!" Angin barat bergulung-gulung, pohon cemara bersuit-suit bergoyang. Segumpal mega terhembus datang, menutupi sinar matahari, cuaca menjadi gelap.

Walau pinggang Ban-be-tong-cu masih tegak, namun perutnya sudah mengkeret, seperti sebuah tangan yang tak kelihatan sedang menindih dan meremas-remas perutnya, begitu keras dan sakitnya sampai rasanya hampir muntah-muntah. Terasa tenggorokan dan mulutnya kecut getir.

Yap Kay tinggal pergi. Dia tahu, namun dia tidak merintangi, malahan melirik atau berpaling pun tidak ke arahnya. Kalau toh dia tidak bisa merintangi, buat apa dia harus mengawasi kepergian orang?

Kalau kejadian ini berlangsung lima tahun yang lalu, dia pasti tidak akan membiarkan pemuda ini pergi. Kalau lima tahun yang lalu, mungkin dia sudah mengubur si pemuda di tanah bukit ini. Selamanya belum pernah ada orang yang berani menolak segala omongannya, apa pun yang pernah dia ucapkan, selamanya takkan ada orang yang berani menentang. Tapi sekarang tibalah saatnya, kenyataan dirinya sudah ditentang.

Tadi waktu mereka berhadapan, sebetulnya ada kesempatan dia melontarkan pukulan tangannya menghajar hidung si pemuda. Kecepatan jotosan tangan ini, boleh dikata secepat sambaran kilat, kalau hal ini terjadi lima tahun yang lalu, dia yakin dirinya pasti dapat memukul roboh siapa saja yang berdiri di hadapannya.

Itulah yang dinamakan It-kun-hong-bun (sekali pukul menutup pintu)! Sebetulnya dia amat yakin akan pukulannya ini malah boleh dikata selama ini dirinya belum pernah gagal. Akan tetapi kali ini dia sia-siakan kesempatan ini, dia tidak turun tangan.

Beberapa tahun belakangan ini meski daging otot badannya masih kekar, keras dan kenyal, sampai pun perutnya pun tidak tumbuh lemak yang berlebihan, walau sedang duduk atau sedang berdiri, badannya tetap tegak lurus seperti tonggak kayu kokohnya selama banyak tahun ini, lahiriahnya masih kelihatan gagah belum pernah terjadi sesuatu perubahan. Akan tetapi memangnya kelemahan badaniah seseorang sukar dilihat dari lahiriahnya. Ada kalanya, sampai pun diri sendiri tak melihat dan menyadari.

Bukan lantaran perutnya sudah tidak kuat lagi dibakar oleh panasnya arak, bukan lantaran keisengannya terhadap perempuan terlalu sering, tidak sekuat dan segagah seperti dulu-dulu di masa mudanya. Dan yang benar-benar berubah adalah hatinya sendiri.

Tiba-tiba disadarinya segala sesuatu yang dikuatirkan semakin bertumpuk-tumpuk, terhadap persoalan apa pun, keyakinan dirinya sudah tidak setebal dulu.

Sampai pun di atas pembaringan, di saat dia sedang bergumul dengan perempuan yang paling dia cintai, dia pun sudah tidak bisa seperti dulu dapat mengendalikan diri sesuka hati, beberapa kali belakangan ini malah dia sendiri mulai curiga apakah permainannya benar-benar masih dapat memuaskan orang lain.

Apakah segala ini sudah melambangkan ketuaan jiwanya, bila seseorang di dalam hatinya sudah merasakan kelemahan badaniahnya, baru dia benar-benar terhitung sudah jempol, sudah tua dan tak kuat lagi.

Lima tahun ... mungkin hanya tiga tahun ... tiga tahun yang lalu, siapa pun yang berani menolak permintaannya, jangan harap orang dapat menyingkir dari hadapannya dengan langkah berdiri. Sekarang umpama dia rela mempertaruhkan segala kekayaan dan kekuasaan yang dia miliki, jangan harap dia bisa menebus masa-masa lalu yang sudah berselang selama tiga tahun ini. Lalu berapa banyak lagi tiga tahun yang masih ketinggalan? Dia tidak mau memikirkan, sekarang dia hanya bisa merebahkan diri dengan diam-diam. Sekonyong-konyong dia merasa badannya amat letih.

Cuaca gelap, mega mendung, sebentar agaknya bakal hujan deras.

Sudah tentu Ban-be-tong-cu tahu akan cuaca yang buruk seperti ini, pengalaman hidup selama bertahun-tahun, membuat dia sudah dapat melihat adanya perubahan pikiran orang lain. Akan tetapi dia merasa malas, malas untuk berdiri, malas pulang. Diam-diam dia berbaring di depan batu nisan, matanya mendelong mengawasi huruf-huruf yang terukir di depan batu nisan: "Pek-thian-ih suami istri, Pek Thian-yong suami istri. Sebetulnya mereka adalah saudara angkatnya, memangnya mereka mati dengan mengenaskan. Akan tetapi dirinya tak mungkin menuntut balas bagi kematian mereka.

Kenapa?

Kecuali dirinya dan orang-orang yang sudah ajal ini, orang-orang yang tahu rahasia ini tidak banyak. Rahasia ini sudah terbenam delapan belas tahun lamanya di dalam sanubarinya, seolah- olah sebatang duri runcing yang menusuk hulu hatinya, setiap kali dia teringat akan peristiwa itu, seketika terasa hatinya sakit dan tersiksa.

Kupingnya yang tajam tidak mendengar adanya derap kuda yang berlari datang, tapi nalarnya merasakan adanya seseorang yang sedang beranjak mendaki bukit. Langkah kaki orang ini tidak ringan, namun langkahnya lebar, besar dan cepat sekali. Dari langkah lebar dan berat ini dia tahu bahwa Kongsun Toanlah yang tengah mendatangi.

Hanya Kongsun Toan seorang saja yang bisa sama-sama menikmati dan menyembunyikan rahasia itu. Dia percaya penuh kepada Kongsun Toan, umpama seorang ibunda mempercayai puteranya.

Derap langkah kaki seperti suara orang bicara, setiap langkah orang pasti mempunyai derap kaki yang berlainan. Oleh karena itu cukup asal mendengar langkah kaki ini, seorang buta lantas dapat membedakan siapa dan orang macam apa yang sedang berjalan itu.

Langkah Kongsun Toan memang serasi dengan perawakannya, gagah kasar, berangasan, begitu mulai bergerak tak mungkin dia mau berhenti sebelum maksudnya terlaksana. Tanpa ganti napas langsung dia beranjak naik ke lamping gunung, setelah melihat Ban-be-tong-cu baru dia berhenti, begitu berhenti mulutnya segera bertanya, "Mana dia?"

"Sudah pergi," pendek jawaban Ban-be-tong-cu. "Kau biarkan saja dia pergi?" tanya Kongsun Toan.

Ban-be-tong-cu menghela napas, "Mungkin ucapanmu tidak salah aku sudah tua, sudah mulai gentar menghadapi urusan."

"Takut menghadapi urusan?"

"Takut urusan, maksudnya tidak mau melibatkan diri pula di dalam persoalan yang tidak penting dan menyulitkan diri sendiri."

"Kau beranggapan bukan dia?"

"Bagaimana pun juga, paling tidak peristiwa semalam bukan perbuatannya, ada orang yang bisa membuktikan alibinya."

"Kenapa dia sendiri tidak mau menerangkan alibinya?"

"Mungkin karena dia masih terlalu muda, terlalu muda waktu mengucapkan "muda" terasa ludah di mulutnya amat getir. Getir dan kecut

Kongsun Toan menunduk, dilihatnya huruf-huruf yang terukir di batu nisan, kepalannya tergenggam kencang, mimik muka dan sorot matanya pun seketika berubah entah sedang dirundung kepedihan, ketakutan atau dibakar oleh dendam kesumat. Lama juga baru dia bersuara dengan berat, "Apa kau bisa memastikan bila Pek-lotoa benar-benar punya anak?"

"Ehm!" Ban-be-tong-cu hanya bersuara dalam mulut.

"Darimana pula kau bisa tahu bila anak yatimnya yang datang menuntut balas?"

Ban-be-tong-cu memejamkan mata, katanya sepatah demi sepatah, "Tapi kami bekerja amat rahasia, kecuali mereka yang sudah meninggal, memangnya siapa pula yang mengetahui?" "Rahasia apa pun, cepat atau lambat pasti akan diketahui oleh orang, jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali jangan kau lakukan, pameo ini kau harus selalu mengukirnya dalam sanubarimu."

Dengan mendelik Kongsun Toan menatap huruf di atas batu nisan, rasa ketakutan yang terbayang dalam sorot matanya kelihatan semakin tebal, katanya mendesis sambil mengertak gigi, "Jika anak yatim itu sudah tumbuh dewasa, tentunya usianya sudah sebaya dengan Yap Kay."

"Kira-kira sebaya pula dengan Pho Ang-soat."

Bergegas Kongsun Toan memutar tubuh, katanya sambil membungkuk badan mengawasinya, "Menurut pendapatmu, kecurigaan siapa lebih besar di antara mereka?"

"Menurut situasi sekarang, kurasa Pho Ang-soat harus lebih dicurigai." "Kenapa dia?"

"Lahirnya kelihatan pemuda ini amat tenang dingin, seorang yang amat sabar, hakikatnya sabubarinya lebih bergolak dan emosi dari orang lain."

Kongsun Toan menyeringai dingin, katanya, "Tapi dia lebih suka merangkak lewat pagar untuk masuk pintu seperti anjing daripada membunuh orang-orang tidak becus itu."

"Soalnya orang-orang itu tiada yang setimpal dia bunuh, bukan mereka yang harus dia bunuh." Seketika berubah air muka Kongsun Toan.

Berkata Ban-be-tong-cu pelan-pelan, "Seorang laki-laki yang menyerupai watak berangasan, keras dan selalu emosi, mendadak bisa berubah rendah diri dan terima dihina orang, hanya lantaran satu sebab saja."

"Sebab apa?" "Dendam kesumat!"

Bergetar badan Koangsun Toan, “Dendam kesumat!"

"Jika hatinya dihayati dendam kesumat yang harus dia tuntut, maka sedapat mungkin dia harus berusaha mengekang diri sendiri, maka dia terima merendah diri, dihina dan dipermainkan, karena tujuannya hanya ingin menuntut balas," matanya terbuka, seolah-olah matanya menyorotkan rasa takut, katanya, "Pernahkah kau mendengar kisah Kou Jan menuntut balas? Justru karena dendam yang bersemayam di dalam relung hatinya amat mendalam, maka segala sesuatu yang orang lain tidak kuat menahan dirinya, ia justru dapat mengendalikan seluruhnya."

Terangkat kepalan tangan Kongsun Toan, katanya serak gemetar, "Kalau demikian, kenapa tidak kau biarkan aku membunuhnya?"

Pandangan Ban-be-tong-cu tertuju ke ufuk langit nan jauh kelam itu, lama dia tidak bersuara. Suara Kongsun Toan semakin berapi-api, "Sekarang kita sudah berkorban tiga belas jiwa orang,

memangnya kau masih takut salah membunuh orang?" "Kau salah!" tukas Ban-be-tong-cu pendek

"Kau kira dia masih punya komplotan?"

"Yang terang, persoalan ini tidak mungkin dilakukan hanya oleh tenaga seorang." "Bukankah keluarga Pek sudah terbabat habis ke akar-akarnya?"

Badan Ban-be-tong-cu yang rebah itu tiba-tiba melenting bangun, bentaknya bengis, "Jikalau benar sudah terbabat habis seakar-akarnya, lalu darimana pula datangnya anak yatim itu? Jika tiada seseorang yang membantunya secara diam-diam, memangnya bocah sekecil itu masih bisa hidup sampai sekarang? Jikalau orang itu bukan seorang tokoh kosen dan lihai, darimana pula dia bisa tahu akan perbuatan kita? Masakah dia bisa menyembunyikan diri dari kejaran dan razia kita?"

Tertunduk kepala Kongsun Toan, mulutnya terbungkam. Semakin kencang jari-jari Ban-be-tong-cu terkepal, desisnya lebih tegas, "Oleh karena itu, bila kali ini kita harus bergerak, maka kita harus punya pegangan dan yakin benar pasti dapat menjaring mereka seluruhnya, sekali-kali tidak boleh meninggalkan bibit bencana pula di kelak kemudian hari."

Kongsun Toan mengertak gigi, katanya, "Tapi kalau kita harus menunggu demikian saja, sampai kapan kita harus menunggu?"

"Betapapun lamanya kita harus menunggu, kita harus tetap menunggunya dengan sabar." "Kini sudah tiga belas jiwa orang-orang kita amblas, kalau menunggu pula, entah berapa pula

jiwa yang harus berkorban?"

"Asal toh jiwa orang lain, umpama harus mengorbankan tiga ratus jiwa apa pula halangannya?" "Kau kuatir dia turun tangan lebih dulu?"

"Kau tak usah kuatir, dia pasti tidak akan turun tangan secepat itu terhadap kami." "Kenapa?"

"Karena dia pasti tidak akan membuat kami mati terlalu cepat, terlalu gampang."

Menghijau kaku raut muka Kongsun Toan, telapak tangannya yang besar itu sudah menggenggam gagang goloknya.

"Satu hal yang paling penting, sampai detik ini dia belum berhasil mendapatkan suatu bukti yang nyata, bukti bahwa kitalah yang turun tangan, maka.....

"Maka bagaimana?"

"Maka dia sengaja akan membuat kita takut, karena siapa pun bila hatinya dirundung ketakutan, gampang sekali akan melakukan tindakan yang salah, di saat kita melakukan kesalahan itulah baru dia bisa berkesempatan menangkap kelemahan kita."

"Oleh karena itu sekarang kita lebih baik tidak bertindak di luar garis?"

"Oleh karena itu satu-satunya jalan yang harus kita lakukan hanya menunggu, menunggu sampai dia berbuat kesalahan lebih dulu." Sikap Ban-be-tong-cu mulai sabar, katanya kalem, "Hanya menunggu, selamanya tidak akan salah!"

Memang menunggu dengan sabar selamanya tidak akan salah.

Bila seseorang bisa bersabar, dapat menunggu, cepat atau lambat pasti akan mendapat peluang, mendapat kesempatan yang paling baik.

Tapi jika kau hendak menunggu, bukan mustahil pula kau harus mempertaruhkan imbalannya, justru imbalan inilah yang lebih menakutkan.

Dengan kencang Kongsun Toan menggenggam goloknya, mendadak golok tercabut, sekali ayun dia bacok batu nisan di hadapannya, kembang api muncrat. Tepat pada saat itu pula udara dengan mega mendung kebetulan memancarkan kilat dan geledek pun menggelegar dengan dahsyatnya kilauan golok Kongsun Toan seolah-olah menjadi pudar dan kehilangan cahayanya

di tengah sambaran kilat itu.

Tetesan air hujan sebesar kedelai bertetesan membasahi batu nisan itu, lalu mengalir melalui celah-celah retakan yang terbacok golok barusan. Seolah-olah batu nisan inipun sedang mengucurkan air mata menangisi nasibnya yang jelek.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Merah Salju Jilid 02"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close