Peristiwa Bulu Merak Bab 14 : Bayar Dulu Bunuh Kemudian

Mode Malam
Bab 14. Bayar Dulu Bunuh Kemudian

Ma Gun berdiri di pinggir pagar berukir di atas loteng, terhadap sesuatunya kelihatan amat puas. Tempat itu adalah gedung megah yang mcnterang dengan panjang dan hiasan yang cukup mewah dan antik. Perabotnya serba kuno dan bernilai tinggi, setiap meja kursi terukir dari k.iyu pilihan, pecah-belah yang dipakai di sini seluruhnya terbuat dari pabrik keramik yang terkenal di kota King-tek-tin.

Tamu-tamu yang makan minum di sini semua adalah pejabat tinggi, hartawan atau orang-orang terkenal yang punya pengaruh. Padahal tarip di restoran ini satu kali lipat lebih mahal dari restoran termahal manapun dalam kota ini, tapi Ma Gun tahu tamu-tamunya itu tidak memikirkan tarip tinggi, karena kemewahan adalah kegemaran mereka, foya-foya adalah kenikmatan hidup bagi mereka yang kantongnya tebal, asal mereka puas oleh service memuaskan, tidak sayang mereka merogoh kantong membayar mahal.

Seperti biasanya dia memang paling suka berdiri di tempat itu, mengawasi orang-orang yang kelihatannya berduit, punya pangkat dan terpandang mondar-mandir di bawah kakinya, sehingga selalu dia merasakan dirinya jauh berada di atas mereka.

Padahal perawakannya tidak genap lima kaki, namun perasaan bangga itu selalu membuatnya mabuk kepayang, beranggapan bahwa dirinya satu kepala lebih tinggi dari orang lain, karena dia suka menikmati perasaannya ini.

Ternyata Ma Gun juga senang melakukan tindakan atau perbuatan yang dipandang luhur dan disegani, seumpama dia amat senang memegang kekuasaan. Tapi satu hal yang membuatnya selalu risau adalah Toh Cap-jit yang tidak mau mampus itu.

Bila Toh Cap-jit sudah minum arak, seperti tidak menghiraukan jiwanya lagi, bila dia berjudi, dia pun seperti tidak peduli akan raganya, apalagi bila berkelahi, jiwa raga pun dipertaruhkan seolah-olah dia punya jiwa rangkap sembilan.

“Umpama betul dia punya jiwa rangkap sembilan, aku tidak akan membiarkannya hidup lewat tanggal tujuh belas,” Ma Gun sudah bertekad bulat, untuk melaksanakan tekadnya ini dia sudah mengatur rencana secara cermat. Cuma sayang dia sendiri tidak punya pegangan bahwa rencana ini yakin pasti berhasil. Bila memikirkan hal ini, selalu hatinya risau, masgul. Untunglah pada saat itu, orang yang dinantikannya sudah datang.

Orang yang ditunggunya ini bernama To Ceng, untuk memanggil To Ceng dari kotaraja dia berani merogoh kantong sebanyak tiga laksa tahil perak, To Ceng diundang untuk membunuh Toh Cap-jit.

Nama To Ceng tidak begitu terkenal di kalangan Kangouw, karena terkenal merupakan pantangan besar bagi tugas dan profesinya. Memang yang dikejarnya bukan terkenal, bukan nama, tapi kekayaan.

To Ceng adalah pembunuh bayaran, imbalan untuk setiap tugas yang harus dia lakukan paling rendah adalah tiga laksa tahil perak. Pembunuh bayaran adalah suatu usaha misterius yang sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala, bagi setiap pembunuh yang berprofesi dalam bidangnya ini, dia pun pantang publikasi atau mengagulkan diri di depan umum.

Maka di dalam kalangan mereka sendiri, To Ceng adalah orang yang ternama, seorang jagoan, maka tuntutan imbalannya jauh lebih tinggi dari orang lain, karena belum pernah dia gagal membunuh orang.

Perawakan To Ceng tujuh kaki, kulitnya hitam kurus, sepasang matanya bercahaya seperti tajamnya mata elang. Baju yang dipakainya selalu dari bahan mahal, bikinan tukang jahit terkenal, namun warnanya tiada yang segar. Sikapnya dingin tabah, tangannya menjinjing sebuah buntalan panjang berwarna kelabu. Jari- jari tangannya kering bersih dan mantap, semua persyaratan ini amat mencocoki profesinya, sehingga orang akan merasa lega dan mantap meski megeluarkan tarip yang tinggi sebagai imbalannya.

Terhadap persoalan ini kelihatan Ma Gun juga amat puas.

To Ceng sudah mencari tempat duduk di sudut sana, jangan kata mengangkat kepala, melirik pun tidak.

Gerak-geriknya selalu dirahasiakan, pantang bagi dirinya bila orang tahu bahwa antara dirinya dengan Ma Gun sudah terikat oleh suatu kerja sama, maka besar pantangannya, supaya tiada orang tahu untuk apa dia datang kemari.

Ma Gun menghela napas lega, namun dengan napasnya yang berat. Baru saja dia mau putar tubuh, pikirnya hendak kembali ke kamar kerjanya untuk minum dua cangkir, mendadak matanya tertumbuk pada bayangan seseorang yang sedang melangkah masuk, seorang yang berwajah pucat, gaya langkahnya amat aneh, jari tangannya menggenggam sebilah golok.

Golok yang hitam, golok masih berada di dalam sarungnya, namun kedatangannya sudah terasa mengancam dada setajam golok yang kemilau. Sorot matanya pun setajam mata golok, sekilas matanya melirik, akhirnya menatap ke arah To Ceng, To Ceng sedang menunduk minum teh.

Orang asing ini menyeringai dingin, lalu duduk di kursi yang berada di dekatnya. “Pletak”, mendadak kursi yang terbuat kayu pilihan telah patah karena tidak kuat ditindih pantatnya. Dia mengerut alis sambil berdiri, sebelah tangannya meneken meja, mendadak terdengar suara “pletak” pula, meja ukir dari kayu pilihan seharga dua puluh tahil perak itu ternyata merekah tepat di tengah.

Sekarang siapa pun sudah tahu bahwa si timpang ini sengaja membuat gara-gara. Mata Ma Gun mulai mengkerut.

Apakah orang ini jago kosen yang diundang Toh Cap-jit dari tempat lain untuk menghadapi dirinya? Pengawal dan tukang pukul sudah siap bertindak, tapi Ma Gun mencegah aksi mereka dengan ulapan tangannya.

Kalau To Ceng sudah berada di sini, kenapa tidak mencoba berapa tinggi kungfunya?

Sebagai pedagang, apalagi pedagang yang berhasil, pedagang yang pandai berhitung, maka dia selalu berpedoman satu tahil uang perak yang kukeluarkan harus dapat aku mengeruk sepuluh tahil perak.

Apalagi kedatangan orang asing yang timpang ini agaknya bukan melulu dirinya, tapi yang dihadapinya adalah To Ceng.

Orang asing ini sudah tentu adalah Pho Ang-soat. To Ceng masih menunduk menikmati tehnya.

Mendadak Pho Ang-soat menghampirinya, katanya dingin, “Bangun!”

To Ceng tetap tak bergeming, juga tidak bersuara, tapi tamu-tamu yang lain diam-diam sudah kabur dari tempat itu. Pho Ang-soat mengulangi, “Berdiri!”

Akhirnya To Ceng mengangkat kepala, lagaknya seperti baru melihatnya, lalu sahutnya, “Duduk lebih enak daripada berdiri, kenapa aku harus berdiri?”

“Karena aku ingin duduk di kursimu itu.”

To Ceng menatapnya, perlahan dia turunkan cangkirnya, pelan-pelan mengulur tangan mengambil buntalan di atas meja. Sudah jelas di dalam buntalan itulah gamannya.

Jari-jari Ma Gun mengepal, jantungnya berdebar lebih cepat lagi. Dia senang melihat orang membunuh, senang melihat darah orang mengalir. Belakangan ini jarang ada kejadian apa pun yang menarik perhatiannya, perempuan tidak membangkitkan seleranya lagi, hanya membunuh orang yang selalu dapat membangkitkan rasa puas, peristiwa yang mendebarkan hati.

Tapi hari ini dia kecewa, To Ceng sudah berdiri memegangi buntalannya itu, dia menyingkir tanpa  bersuara. Biasanya dia bekerja amat teliti, tdak mau sembarangan turun tangan di hadapan banyak orang.

Mendadak Ma Gun berkata, “Hari ini restoran akan ditutup sebelum waktunya, kecuali yang ada perlu dengan aku, yang lain boleh silakan pergi.”

Mereka yang ingin menonton keramaian juga terpaksa mengundurkan diri, ruang besar itu kini tinggal dua orang saja. To Ceng menunduk minum teh, Pho Ang-soat mengangkat kepalanya, menatap Ma Gun yang berdiri di pinggir lankan berukir naga.

“Ada urusan apa kau mencariku?” tanya Ma Gun. “Kau ini Ma Gun?”

Ma Gun mengangguk, katanya sambil tertawa dingin, “Jika Toh Cap-jit menyuruhmu kemari untuk membunuhku, maka orang yang kau cari betul adalah diriku.”

“Jika kau ingin mencari orang untuk membunuh Toh Cap-jit, kau pun tepat berhadapan dengan orangnya.” “Kau?” seru Ma Gun di luar dugaan.

“Apa aku tidak mirip pembunuh?” tanya Pho Ang-soat. “Kalian bermusuhan?”

“Membunuh orang bukan pasti harus bermusuhan.” “Biasanya kau membunuh lantaran apa?” “Lantaran senang.”

“Cara bagaiamana baru kau bisa senang.”

“Beberapa tahil perak biasanya cukup membuatku senang.” Bercahaya mata Ma Gun, katanya, “Aku bisa membuatmu senang, maukah kau pergi membunuh Toh Cap-jit?”

“Kabarnya kau seorang cukong yang tidak kikir.” “Kau yakin dapat membunuh dia?”

“Aku berani tanggung dia tidak akan hidup lewat tanggal tujuh belas.”

“Dapat membuat para kawan senang, aku sendiri pun ikut riang, sayang kau datang terlambat.” “Kau sudah memilih pembunuh lain?”

Ma Gun melirik ke arah To Ceng, sambil tersenyum dia mengangguk. “Jika orang ini yang kau panggil, maka kau salah pilih orang.”

“O, masa?”

“Orang mati mana bisa membunuh orang.” “Maksudmu dia orang mati?”

“Jika bukan orang mati, sekarang dia sudah membunuhku.” “Kenapa?”

“Karena bila kau tidak bisa membuatku senang, maka aku pasti akan mencari Toh Cap-jit.” “Jika kau mencari Toh Cap-jit maka kau akan suruh dia berhati-hati terhadap orang ini?” “Aku akan membela Toh Cap-jit membunuhnya.”

“Membunuhnya lalu membunuh aku.”

“Selama Toh Cap-jit hidup, maka kau harus mati.” “Karena itu sekarang dia harus membunuhmu?”

“Sayang sekali orang takkan bisa membunuh lagi.” Ma Gun menghela napas, dia berputar ke arah To Ceng, katanya, “Apa yang dikatakannya sudah kau mendengarkan bukan?”

“Aku tidak tuli.”

“Kenapa kau tidak membunuhnya?” “Aku sedang tidak senang.” “Bagaimana supaya kau senang?” “Lima laksa tahil perak.” Ma Gun seperti terkejut, katanya, “Membunuh Toh Cap-jit taripnya hanya tiga laksa tahil, membunuh dia kenapa lima laksa?”

“Toh Cap-jit tidak kenal aku, dia tahu aku.”

“Karena itu kau bisa membokong Toh Cap-jit, namun harus berhadapan langsung dengan dia.” “Dan lagi dia membawa golok, bahaya yang kuhadapi lebih besar.”

“Tapi kau tetap punya keyakinan dapat membunuhnya.” Dingin suara To Ceng, “Selamanya aku membunuh orang belum pernah gagal.”

Ma Gun menghamburkan napasnya, katanya, “Baik, bunuhlah dia, kubayar lima laksa!” “Bayar kontan sebelum membunuh.”

Itulah lembaran uang kertas yang masih baru, setiap lembar bernilai seribu tahil, seluruhnya berjumlah lima puluh lembar.

Dua kali To Ceng menghitung lima puluh lembar uang baru itu, seperti ini lazimnya para penagih hutang, dua kali dia basahi jarinya dengan ludah, menghitung dua kali, lalu membungkusnya rapi, dia simpan buntalan uang itu ke dalam dompet uang di sabuk kulitnya.

Uang yang diperoleh dari jerih-payah mengucurkan keringat umumnya dipandang amat berharga, lain halnya dengan To Ceng, mencari uang biasanya dia jarang mengucurkan keringat, namun sering mengalirkan darah. Sudah tentu darah jauh lebih berharga daripada keringat.

Pho Ang-soat memandangnya dingin, mukanya tidak menampilkan perasaan apa-apa, namun Ma Gun sedang tersenyum, katanya, “Kau pasti sudah mempunyai banyak uang.”

To Ceng tidak menyangkal.

“Kau sudah menikah?” tanya Ma Gun. To Ceng menggeleng.

Makin ramah dan bersahabat senyum Ma Gun, katanya, “Kenapa tidak kau titipkan uangmu kepadaku, kuberi bunga, setiap bulan tiga persen.”

To Ceng geleng-geleng kepala.

“Kau tidak mau? Memangnya kau tidak percaya kepadaku?”

Dingin To ceng, “Yang kupercaya hanya diriku sendiri.” Lalu dia tepuk dompet uangnya, “Seluruh harta milikku ada di sini, hanya ada satu cara untuk mengambilnya.”

Sudah tentu ma Gun tidak berani bertanya, namun sorot matanya seperti sedang menunggu penjelasan, “Dengan cara apa?”

“Bunuhlah aku,” desis To Ceng, lalu dia menatap Ma Gun, “Siapa bisa membunuhku, dompet ini akan menjadi miliknya, karena itu kau pun boleh mencobanya.”

Ma Gun tertawa, tawa yang dipaksakan, ujarnya, “Kau tahu aku takkan bisa mencoba, karena

“Karena kau tidak punya keberanian, nyalimu kecil,” jengek To Ceng. “Dan kau?” Mendadak dia berputar menghadap Pho Ang-soat, jengeknya pula, “Jika aku membunuhmu, apa yang kau tinggalkan untukku?”

“Hanya satu pelajaran.” “Pelajaran apa?”

“Jangan kau bungkus alatmu untuk membunuh dalam buntalan, seorang akan membunuh dan orang yang menjadi korban biasanya tidak sabar lagi menunggu, orang tidak akan memberi kesempatan kepadamu untuk membuka buntalan.”

“Pelajaran yang bagus sekali, selanjutnya aku pasti akan selalu mengingatnya,” ucap To Ceng, mendadak dia tertawa, “Sebetulnya aku sendiri pun tidak sabar membunuh orang, pasti hatiku juga gelisah setengah mati.”

Akhirnya dia bekerja, mulai membuka bungkusan. Gaman apakah yang dia sembunyikan dalam buntalannya itu? Ma Gun ingin sekali melihat gaman apa yang dipakainya untuk membunuh, maka matanya menatap buntalan itu. Siapa tahu sebelum buntalan terbuka, To Ceng sudah turun tangan. Cuma gaman untuk membunuh orang ternyata tidak tersimpan di dalam buntalan, setiap anggota badannya ternyata merupakan gaman untuk membunuh orang.

Terdengar “Tak” sekali, dari sabuk kulit dan dari lengan bajunya berbareng melesat tujuh titik sinar dingin, dari kerah baju di belakang lehernya juga meluncur tiga batang panah bergantol, sepasang tangannya menimpukkan dua genggam biji teratai besi, ujung kakinya juga menendang keluar dua bilah pisau runcing.

Begitu Am-gi ditimpukkan, orangnya pun melompat ke atas, kedua kakinya menendang beruntun dengan gaya bebek berenang, hanya dalam sekejap, sekaligus dia menyerang dengan empat macam senjata rahasia berbeda yang mematikan. Sementara buntalan yang menarik perhatian itu masih berada di atas meja.

Aksinya itu memang di luar dugaan, Ma Gun pun terkejut dibuatnya, dalam hati dia mengakui, dengan bekal kepandaian orang ini, dia rela membayar lima laksa perak. Dia percaya kali ini To Ceng pasti berhasil, dia pun bilang tidak pernah gagal.

Tapi dugaannya keliru, karena dia tidak tahu orang asing yang bermuka pucat ini adalah Pho ang-soat.  Pho Ang-soat sudah mencabut goloknya, golok yang tiada keduanya di kolong langit, permainan golok yang luar biasa.

Betapapun banyak dan jahat serta keji senjata rahasia musuh, muslihat dan perangkap lihai macam apa pun bila berhadapan dengan golok yang satu ini, pasti lumer seperti salju atau es di bawah terik matahari.

Dimana sinar golok berkelebat, terdengarlah dering nyaring, senjata rahasia yang berhamburan di udara satu per satu rontok berjatuhan, setiap Am-gi terkurung menjadi dua, tepat tertabas di tengah, umpama seorang tukang pahat juga tidak akan mampu memotong menjadi dua persis seperti itu, apalagi sedemikian rajin dan rapi.

Setelah sinar golok lenyap, baru kelihatan darah. Darah yang mengalir di muka, muka To Ceng. Sebuah jalur luka berdarah dimulai dari tengah kedua alisnya, menggores turun lewat hidung dan berakhir di atas bibirnya, bila tabasan golok itu sedikit maju dan ditambah tiga bagian tenaganya, batok kepalanya jelas pasti akan terbelah menjadi dua juga.

Golok sudah kembali ke dalam sarungnya, darah segar menetes dari ujung hidungnya, mengalir ke dalam mulut, panas, getir dan asam. Kulit daging di muka To Ceng berkerut-merut saking menahan sakit, namun badannya tidak bergeming sedikitpun.

Dia tahu modalnya untuk membunuh orang sudah bangkrut, kehidupannya sebagai pembunuh bayaran selanjutnya sudah berakhir. Usaha yang serba rahasia, membunuh tanpa bersuara dan pantang dibuat ramai-ramai, kini tanpa bersuara pula telah berakhir, lenyap tanpa bekas.

Siapa pun bila mukanya sudah dihiasi bekas luka yang jelas dan nyata begitu, pasti tidak sesuai lagi melakukan usaha di bidang itu.

Mengawasi buah karyanya di muka orang, mendadak Pho Ang-soat mengulap tangan, katanya, “Pergilah kau.”

Gemetar bibir To Ceng, tanyanya, “Kemana?”

“Asal bukan pergi membunuh orang, terserah kemana saja boleh.” “Kau ... kenapa tidak kau bunuh aku saja?”

“Kau menuntut imbalan lima laksa tahil baru membunuhku, kalau aku harus membunuhmu, sedikitnya aku pun menuntut lima laksa,” lalu dengan nada lebih dingin dia menyambung, “biasanya aku tidak pernah membunuh orang secara gratis.”

“Tapi milikku yang terbawa di dalam dompet ini nilainya lebih dari lima laksa, bila kau membunuhku, semua milikku menjadi milikmu.”

“Itu lain soal, prinsip kerjaku juga harus bayar dulu baru pergi membunuh.”

Prinsip adalah aturan, tata tertib kerja. Dalam segala bidang, setiap usahawan yang berhasil pasti punya prinsip kerja yang ketat dan disiplin.

To Ceng tidak bicara lagi, perlahan dia keluarkan dua tumpuk uang kertas dari dalam dompetnya, satu tumpuk lima puluh lembar. Dengan teliti dia menghitung dua kali, lalu menaruh di atas meja, lalu angkat kepala menoleh ke arah Ma Gun, katanya, “Ini tetap milikmu.” Ma Gun sedang berbatuk.

To Ceng berkata, “Boleh kau membayar kontan lima laksa, suruh dia membunuhku.”

Akhirnya Ma Gun menghentikan batuknya, tanyanya, “Masih berapa banyak yang kau simpan?” To Ceng tutup mulut.

Ma Gun menatapnya, lambat-laun sorot matanya bercahaya.

To Ceng sudah menjinjing buntalan yang ditaruh di meja, perlahan dia melangkah keluar. Mendadak Ma Gun berteriak, “Bunuh dia, aku bayar lima laksa.”

Dingin jawaban Pho Ang-soat, “Mau membunuh orang ini, boleh kau turun tangan sendiri.” “Kenapa?” teriak Ma Gun.

“Karena dia sudah terluka, sudah tidak mampu melawan.”

Kedua tangan Ma Gun menggenggam kencang lankan di kedua sampingnya, mendadak didengarnya “Trap”, tiga batang pisau terbang menancap di lankan. Pisau terbang melesat keluar dari dalam buntalan,  di dalam buntalan itu juga tersimpan gaman untuk membunuh.

Dingin suara To Ceng, “Belum pernah aku membunuh secara gratis, demi kau, aku boleh melanggar kebiasaanku, kau ingin mencoba?”

Wajah Ma Gun sudah pucat lesi, sungguh susah dia membayangkan ada berapa banyak gaman tersimpan di dalam buntalan itu, masih berapa banyak pula yang berada di badan To Ceng, tapi dia ragu, gaman macam apa saja, satu di antaranya sudah cukup menamatkan jiwanya.

Akhirnya To Ceng melangkah keluar, tiba di ambang pintu mendadak dia menoleh menatap Pho Ang-soat, menatap golok di tangan Pho Ang-soat, seolah-olah belum pernah dia melihat orang ini, belum pernah melihat golok itu, mendadak dia bertanya, “Kau she apa?”

“She Pho,” sahut Pho Ang-soat tegas. “Pho Ang-soat?” To Ceng menegas. “Betul.”

To Ceng menghela napas, katanya, “Seharusnya sejak mula aku sudah menduga siapa kau.” “Tapi kau tidak menduganya?”

“Aku tidak berani menduga.” “Tidak berani?”

“Seorang bila memikirkan banyak persoalan, maka dia tidak akan bisa membunuh orang.”

Malam sudah pekat di luar, tiada bintang tiada rembulan, begitu To Ceng melangkah keluar, dia lenyap ditelan tabir malam.

Ma Gun menghela napas panjang, perlahan mulutnya menggumam, “Kenapa tidak kau bunuh dia? Apa kau tidak takut dia membocorkan rahasiamu.”

“Aku tidak punya rahasia.”

“Memangnya kau tidak ingin membunuh Toh Cap-jit?” “Membunuh orang bagiku bukan rahasia.”

Ma Gun menghela napas, katanya, “Di atas meja ada delapan laksa tahil, setelah kau bunuh Toh Cap-jit, semua itu milikmu.”

“Bayar dulu baru membunuh,” tegas suara Pho Ang-soat.

Ma Gun tertawa menyengir, katanya, “Sekarang boleh kau mengambilnya.”

Pho Ang-soat mengambil uang kertas itu, dia pun menghitung dua kali, lalu bertanya dengan kalem, “Kau tahu dimana Toh Cap-jit sekarang?”

Sudah tentu Ma Gun tahu, “Untuk mencari jejaknya, aku sudah menghabiskan lima belas ribu tahil.” Tawar suara Pho Ang-soat, “Membunuh orang memang termasuk kerja yang mewah.”

Ma Gun menghela napas, mengawasi Pho Ang-soat menghitung uang, lalu menyimpannya ke dalam kantong, tiba-tiba dia bertanya, “Membunuh orang bukan rahasia bagimu?”

“Bukan.”

“Kau berani membunuh orang di hadapan orang banyak?”

“Dimana pun aku bisa dan berani membunuh orang.” Ma Gun tertawa, sekarang tawa yang segar, “Kalau demikian, sekarang juga boleh kau pergi mencarinya.”

“Dimana dia?”

“Dia sedang mengadu nasib.” “Mengadu nasib?”

“Dia sedang berjudi, sedang minum sepuas-puasnya, aku hanya mengharap belum ludes uang dan seluruh miliknya, juga belum mampus karena mabuk.”

Bukan saja Toh Cap-jit menang, malah dia segar bugar. Seorang di kala menang, otaknya pasti tetap jernih dan dingin, hanya pihak yang kalah saja yang butek pikiran dan luluh semangatnya.

Sekarang dia sedang mengocok kartu Pay-kiu yang terbuat dari kayu hitam, seluruhnya berjumlah tiga puluh dua keping, setiap keping seperti dapat dia kuasai sesenang hati, sampai pun dadu yang dilemparkan juga seperti patuh kepadanya.

Dalam berjudi dia tidak menggunakan akal, tidak nakal atau pat¬gulipat, seorang bila mujur di meja judi, hakikatnya dia tidak perlu pura-pura atau curang.

Tadi dia memegang sepasang kartu Tiang-sam, makan seluruhnya, sekarang sudah hampir dua laksa tahil uang yang digaruknya, sebetulnya dia masih bisa menang lebih banyak Sayang orang-orang yang bertaruh makin sedikit, taruhannya juga makin kecil, kantong para penjudi lawannya boleh dikata sudah hampir kosong.

Dia harap ada pendatang baru yang berkantong padat ikut terjun ke arena, pada saat itulah dia melihat seorang asing berwajah pucat melangkah masuk dengan gayanya yang lucu.

Pho Ang-soat berdiri diam, mengawasi dia mengocok kartu, jari-jari tangannya yang besar dan kuat.

Kembali Toh Cap-jit membagikan kartu, kali ini dia garuk pula seluruh pasangan uang, tapi yang ditarik hanya tiga ratus tahil saja.

Orang-orang yang pasang sudah kelihatan lesu. Di dalam sarang judi, uang adalah darah, orang yang tidak punya darah, siapa takkan menjadi lesu?

Entah orang asing yang pucat mukanya ini sakunya tebal tidak? Tiba-tiba Toh Cap-jit mengangkat kepala, tertawa kepadanya dan katanya, “Saudara ini apakah ingin main juga?”

“Boleh, bertaruh sekali saja,” ucap Pho Ang-soat dingin. “Sekali taruhan? Taruhan menentukan kalah menang?” “Begitulah.”

“Baik,” ucap Toh Cap-jit. “Berjudi cara demikian baru benar-benar menyenangkan.”

Tiba-tiba dia meluruskan badan hingga bersuara keretekan, badannya yang kekar dengan daging yang merongkol tampak bergerak turun naik di balik bajunya, itulah hasil latihan selama delapan belas tahun.

Perawakannya tinggi tujuh kaki dua dim, pundak lebar, pinggang kecil, kabarnya dengan sebelah tangan dia pernah memelentir putus kepala kerbau. Siapa saja yang melihat dirinya, pasti menampilkan rasa kagum dan hormat, seperti para menteri mengawasi sang raja.

Delapan puluh lembar uang kertas sudah dikeluarkan, uang kertas baru, dengan jari-jari yang pucat memutih.

“Berapa duitmu?” tanya Toh Cap-jit. “Delapan puluh ribu tahil.” Toh Cap-jit bersiul sekali, sorot matanya mencorong seperti lampu senter, “Delapan puluh ribu tahil sekali taruhan?”

“Kalah menang hanya sekali taruhan.” “Sayang aku tidak punya uang sebanyak itu.” “Tidak jadi soal.”

“Tidak jadi soal artinya aku boleh bertaruh sebanyak uang yang kumiliki sekarang?” Pho Ang-soat mengangguk.

“Memangnya uangmu ini hasil cucuian? Maka kau tidak merasa sayang.” “Bukan hasil curian, tapi untuk membeli nyawa.”

“Membeli nyawa siapa?” “Nyawamu.”

Tawa Toh Cap-jit seketika kaku, jari-jari tangan orang-orang di sekitarnya mulai mengepal, ada yang mengacungkan tinju, ada yang menggenggam senjata.

Pho Ang-soat ternyata tidak peduli, katanya, “Kalau aku kalah, delapan laksa tahil ini milikmu, kalau kau kalah, kau ikut padaku.”

“Kenapa aku harus ikut kau?”

“Karena aku tidak ingin membunuhmu di sini.”

Toh Cap-jit tertawa pula, tawanya dipaksakan, “Kalau kau kalah, kau juga akan membunuhku?” “Menang atau kalah aku harus membunuhmu.”

“Maksudmu jika bukan aku membunuhmu, pasti kau yang membunuhku, peduli siapa kalah atau menang, yang pasti aku harus berani mempertaruhkan nyawa, di sini terlalu banyak orang, mereka adalah orang- orangku, maka kau tidak ingin turun tangan di sini.”

“Aku tidak ingin membunuh satu orang lebih banyak.” “Agaknya kau punya keyakinan membunuhku?” “Kalau tidak yakin, kenapa aku kemari?”

Toh Cap-jit tertawa lebar.

“Delapan puluh ribu tahil perak cukup untuk melakukan banyak urusan, setelah kau mati, kawan dan para saudaramu masih bisa menggunakannya.”

Mendadak sebatang golok membacok tiba dari belakang, membelah belakang lehernya. Ternyata Pho Ang-soat tidak bergerak, tahu-tahu Toh Cap-jit sudah menarik tangan orang yang memegang gook.

“Ting”, golok runcing itu jatuh, “Cras”, ujung golok terpelintir putus.

Toh Cap-jit menarik muka, bentaknya beringas, “Soal ini tiada sangkut-pautnya dengan kau, kalian hanya boleh melihat tidak boleh turun tangan.”

Tiada seorang pun yang berani bergerak.

Toh Cap-jit tertawa, katanya, “Kalian adalah saudaraku yang baik, kalian boleh saksikan, biar aku rebut kemenangan dan memiliki delapan laksa tahil ini.” Lalu dia membuka bajunya, hingga dadanya yang kekar bidang berotot terpampang di hadapan orang banyak, lalu katanya, “Bagaimana kita akan bertaruh?”

“Katakan saja.”

“Main kecil-kecilan saja, sekali terbalik mata melotot menentukan kalah menang, begitu paling menyenangkan.”

“Boleh.”

“Menggunakan kartu ini?” Pho Ang-soat mengangguk.

Berkedip mata Toh Cap-jit, katanya, “Kau tahu berapa kali aku menang dengan kartu ini?” Pho Ang-soat menggeleng kepala.

“Aku sudah menang enam belas kali beruntun, main dengan kartu ini rezekiku selalu mujur.” “Betapapun mujur seseorang ada kalanya akan bernasib sial.”

“Membunuh orang kau yakin akan berhasil, berjudi apa kau juga yakin akan menang?” “Kalau tidak yakin, mana berani berjudi?”

“Kali ini kau salah, berjudi berbeda dengan permainan lain, malaikat pun belum tentu yakin pasti menang, dahulu pernah aku melihat seorang yang punya keyakinan seperti dirimu, tapi karena kalah, akhirnya dia mati gantung diri.”

Tiga puluh dua kartu dijajar menjadi empat baris, satu baris delapan lembar.

Toh Cap-jit mendorong satu baris, katanya, “Kita berjudi satu lawan satu, maka kiri kanan menjadi kosong.” “Aku mengerti.”

“Karena itu lebih baik kita mengadu empat lembar.” “Boleh.” -

Dengan dua jarinya Toh Cap-jit mendorong empat kartunya, katanya, “Hasil lemparan dadu adalah tunggal, kau boleh ambil yang pertama.”

“Kartu kau yang mengocok, dadu ini biar aku yang melempar.” “Boleh,” sahut Toh Cap-jit.

Pho Ang-soat jemput dadu, lalu dibuang seenaknya. Angka tujuh, tunggal.

“Bagus, sekarang aku ambil yang kedua.”

Dua lembar Pay-kiu warna hitam, “Plak”, diketukkan lalu didorong perlahan.

Mata Toh Cap-jit memancarkan cahaya terang, ujung mulut menyungging senyum, saudara-saudaranya juga menghela napas lega. Hadirin tahu bahwa kartu yang dipegangnya menunjukkan angka yang cukup baik.

Tapi Pho Ang-soat berkata dingin, “Kau kalah.”

“Bagaimana kau tahu bila aku kalah?” protes Toh Cap-jit, “kau tahu kartu apa yang kupegang?” “Satu langit, satu lagi orang dan yang ketiga timbangan.”

Toh Cap-jit menatapnya kaget dengan terbelalak, katanya, “Kau sudah memeriksa kartu yang kau pegang belum?”

Pho Ang-soat geleng-geleng kepala, katanya, “Tak usah kulihat, kartuku campur lima.”

Toh Cap-jit seperti tidak terima, segera dia membalik kartu orang, ternyata memang betul campur lima. Campur lima kebetulan lebih unggul dari timbangan.

Toh Cap-jit melongo, hadirin pun menjublek, lalu terjadi keributan.

“Bocah ini membawa setan, bocah ini pasti mengenal kartu.” Pho Ang-soat menyeringai dingin, jengeknya, “Ini kartu siapa?”

“Kartuku.”

“Aku pernah menyentuh kartu ini?” “Tidak.”

“Kenapa dikatakan aku punya setan?”

Toh Cap-jit menghela napas, katanya tertawa getir, “Kau tidak membawa setan, aku ikut kau saja.”

Hadirin gempar, yang memegang golok atau pedang sudah siap bertindak, yang mengepal tinju juga sudah siap menghajar. Toh Cap-jit membentak bengis, “Bertaruh uang aku kalah, adu jiwa aku belum tentu kalah, kenapa kalian ribut?”

Suasana kembali hening, tiada orang berani bersuara.

Maka Toh Cap-jit tertawa pula, tawanya tetap riang, katanya, “Sebetulnya kalian harus tahu, adu jiwa pasti tidak akan kalah.”

“Kau yakin?”

“Umpama aku tidak yakin, aku punya sembilan jiwa, sebaliknya kau hanya punya satu.” Tiada bintang, tiada bulan, tiada lampu.

Lorong panjang sempit itu gelap gulita, malam ini hawa memang agak dingin.

Mendadak Toh Cap-jit menghela napas, katanya, “Sebetulnya aku tidak punya sembilan jiwa, bahwasanya satu jiwa pun aku sudah tidak punya. Karena jiwa ragaku ini sekarang milik Yan Lam-hwi.”

“Kau tahu aku siapa?”

Toh Cap-jit mengangguk, ujarnya, “Aku hutang satu jiwa padanya, dia hutang jiwa pula kepadamu, maka aku boleh menebus jiwanya kepadamu.” Setelah berhenti, wajahnya masih dihiasi senyuman. “Kuharap kau bisa membuatku paham satu hal.”

“Satu hal apa?”

“Bagaimana kau bisa mengenal kartu-kartu itu?”

Pho Ang-soat tidak menjawab, malah balas bertanya, “Tahukah kau, setiap manusia pasti punya sidik jari?” “Aku tahu, jari setiap orang pasti ada sidik jarinya.”

“Tahukah kau, tiada manusia di dunia ini yang mempunyai sidik jari sama?” Toh Cap-jit tidak tahu.

Perihal sidik jari pada zaman dulu memang tidak dikenal orang, maka dia hanya tertawa getir, “Aku jarang melihat tangan orang, terutama tangan laki-laki.”

“Umpama setiap hari kau melihat tangan orang juga takkan bisa membedakan, karena perbedaan sidik jari satu dengan yang lain kecil sekali.”

“Tapi kau dapat membedakan?”

“Umpama dua kerat roti yang keluar bersama dari satu cetakan, selintas pandang aku tahu perbedaannya.” “Agaknya kau berbakat.”

“Betul, ini memang bakat, cuma bakat yang kumiliki ini harus kulatih di dalam kamar yang gelap gulita.” “Berapa lama kau latihan?”

“Tidak lama, cuma tujuh belas tahun, setiap hari hanya latihan tiga sampai lima jam saja.” “Mencabut golokmu itu juga kau latih secara demikian?”

“Di waktu kau berlatih ketajaman mata, latihan mencabut golok harus berhenti, kalau tidak, kau akan tidur.” “Sekarang baru kusadari apa arti bakat itu.”

Arti bakat adalah tekun belajar, berlatih secara rajin, menggembleng diri.

“Kartu Pay-kiu itu terbikin dari kayu, kayu ada seratnya, serat setiap kartu berbeda, aku sudah saksikan  kau mengocok kartu dua kali, tiada satu pun dari tiga puluh dua kartu hitam itu tidak kukenal.”

“Bila dadu tadi menunjuk angka genap, bukankah kau pun akan kalah?” “Lemparan dadu itu pasti tidak mungkin angka genap.”

“Ah, masa bisa begitu?”

Tawar suara Pho Ang-soat, “Karena melempar dadu aku pun berbakat.”

Akhirnya mereka tiba di ujung lorong, jalan raya di sebelah luar ternyata lebih luas, lebih gelap lagi. Sekarang malam telah larut. Mendadak Pho Ang-soat melompat naik ke wuwungan, wuwungan yang paling tinggi, setiap pelosok gelap di sekitarnya tidak lepas dari pengawasannya. Memang untuk membunuh dia tidak ingin ditonton orang, maka kali ini siapa pun pantang menyaksikan.

Ternyata Toh Cap-jit juga mengikutinya. “Sebetulnya apa kehendakmu akan diriku?” tanya Toh Cap-jit. “Kau harus mati.”

“Apa betul aku harus mati?” “Sekarang juga kau harus mati.” Toh Cap-jit tidak mengerti.

“Sejak sekarang, paling sedikit kau harus mati setahun.”

Toh Cap-jit berpikir sejenak, agaknya dia mulai mengerti, namun belum jelas seluruhnya. “Layonmu juga sudah kusediakan, sekarang kusimpan di tanah pekuburan di luar kota sana.”

Toh Cap-jit mengedipkan mata, katanya, “Apakah di dalam peti mati masih terdapat barang-barang lain?” “Masih ada tiga orang.”

“Orang hidup?”

“Tapi banyak orang tidak ingin mereka hidup.” “Apakah kau ingin supaya mereka tetap hidup.”

Pho Ang-soat mengangguk, katanya, “Oleh karena itu harus dicarikan suatu tempat rahasia yang menjamin keselamatan mereka, siapa pun tidak boleh menemukan mereka.”

Makin bercahaya mata Toh Cap-jit, katanya, “Lalu aku harus menggotong peti mati itu, dan mengatur segala keperluannya?”

“Kau harus mati, karena siapa pun takkan berpikir mencari orang yang sudah mati, untuk mencari tahu jejak mereka.”

“Apalagi aku mati di tanganmu, orang pasti menduga itulah hasil pertukaran syaratmu dengan Ma Gun, kau membunuh aku lantaran mendapat bayaran, lalu dia membantu kau menyembunyikan tiga orang.”  Akhirnya dia mengerti, sebetulnya persoalan ini amat sederhana, namun di dalam melaksanakan rencana kerjanya Pho Ang-soat sengaja membuatnya ruwet.

“Tidak bisa tidak aku harus hati-hati, soalnya cara kerja mereka terlalu kejam.” “Siapakah mereka sebenarnya?”

“Nyo Bu-ki, Siau Si-bu, Kongsun To dan Thian-ong-cam-kui-to,” Pho Ang-soat tidak menyebut nama Kongcu Gi, dia tidak ingin Toh Cap-jit kaget. Tapi nama keempat orang itu sudah cukup membuat seorang yang punya delapan nyali kaget.

Toh Cap-jit menatapnya, katanya, “Mereka hendak mengeroyok kau, maka kau pun tidak akan memberi ampun kepada mereka.”

Pho Ang-soat tidak menyangkal.

Mendadak Toh Cap-jit menghela napas, katanya, “Bukan aku takut terhadap mereka, karena aku  kini sudah mati, orang mati tidak pernah takut terhadap siapa pun, tapi kau

Pho Ang-soat tidak memberi tanggapan.

Setelah kau beres mengatur tugasmu di sini, apakah kau hendak mencari mereka?” dia mengawasi Pho Ang-soat, lalu mengawasi pula golok hitam itu, akhirnya tertawa lebar, “Yang harus kuatir mungkin bukan kau, tapi mereka, setahun yang akan datang mungkin sudah menjadi orang mati.”

Pho Ang-soat menatap ke tempat jauh, orangnya juga sudah di ujung langit. Di ujung langit hanya ada kegelapan melulu. Dia menggenggam goloknya. Agak lama baru dia berkata perlahan, “Ada kalanya aku pun ingin punya sembilan jiwa, untuk menghadapi orang-orang seperti mereka, satu nyawa memang tidak cukup.”

Lembah yang belukar, tanah nan subur. Dusun di atas gunung itu hanya dihuni belasan keluarga, di bawah kaki bukit sana terdapat sebuah gubuk yang berdinding gedek beratap alang-alang, di samping rumah tumbuh beberapa rumpun kembang kuning.

Dari kejauhan Toh Cap-jit mengawasi kembang-kembang kuning di bawah pagar bambu sana, sorot matanya menampilkan kelembutan hatinya. Di sini tiada bedanya dengan orang-orang dusun lainnya, dia pun berubah menjadi orang desa yang hidup sederhana dan bersahaja.

Agaknya hati Pho Ang-soat juga dirundung berbagai perasaan. Dia baru saja keluar dari gubuk kecil itu, waktu dia keluar, Co Giok-cin dan anak-anaknya sudah pulas.

“Kalian boleh menetap di sini dengan tenteram, tiada orang mencari ke sini.” “Dan kau? Kau mau pergi?”

“Sekarang aku tidak akan pergi, aku akan menetap di sini beberapa hari.”

Jarang dia berbohong, tapi kali ini dia terpaksa harus berbohong. Tidak bisa tidak dia harus berbohong, karena tidak bisa tidak dia harus pergi, kalau mau pergi, kenapa harus meninggalkan banyak kedukaan.

Pho Ang-soat menghela napas, katanya, “Inilah tempat yang baik, bisa hidup aman dan tenteram selama hidup di sini, pasti dia seorang yang bahagia.”

Toh Cap-jit tertawa menyengir, katanya, “Di sinilah aku tumbuh dewasa, sebetulnya tenteram dan hidup bahagia.”

“Lalu kenapa kau harus pergi?”

Lama Toh Cap-jit membungkam, akhirnya berkata, “Apa kau tidak melihat kembang kuning di bawah bambu itu?” Pho Ang-soat mengangguk.

“Kembang itu ditanam seorang gadis cilik, gadis berkuncir panjang, bermata besar, bundar dan jeli.” “Dimana dia sekarang?”

Toh Cap-jit tidak menjawab juga tidak perlu menjawab, air mata yang berlinang akhirnya menetes di pipinya, air matanya itu sudah menjelaskan segalanya.

Kembang kuning itu masih tumbuh subur, namun penanam kembang sudah tiada. Berselang lama baru dia berkata perlahan, “Sebetulnya sejak dulu aku sudah harus menemaninya di sini, beberapa tahun ini dia pasti amat kesepian.” Seorang setelah mati, apakah juga akan merasa kesepian?

Pho Ang-soat mengeluarkan lempitan uang kertas itu, dia serahkan kepada Toh Cap-jit, katanya, “Inilah uang untuk membeli jiwamu yang kuterima dari Ma Gun, terserah bagaimana kau akan menggunakannya, tak perlu kau merasa rikuh atau menyesal.”

“Kenapa tidak langsung kau serahkan kepadanya? Apakah sekarang juga kau mau pergi?” Pho Ang-soat mengangguk.

“Jadi kau tidak pamitan kepadanya?”

“Kalau memang mau pergi, kenapa harus pamitan segala.”

“Untuknya kau banyak melakukan tugas mulia, maka sudah pasti dia adalah orang yang amat dekat dengan kau, sedikitnya kau harus

“Kau banyak membantu kesulitanku, tapi kau bukan sanak-kadangku,” tukas Pho Ang-soat. “Tapi kita kan sahabat,” ujar Toh Cap-jit.

“Aku tidak punya sanak-kadang, aku pun tidak pernah punya teman.”

Mentari sudah mendoyong ke barat, pada saat matahari merambat ke barat, Pho Ang-soat beranjak di bawah sinar mentari yang menguning, langkahnya tidak berhenti, tapi lebih lambat, seolah-olah kali ini pundaknya dibebani pikulan yang berat. Apa benar dia tidak punya sanak-kadang? Tidak punya teman?”

Toh Cap-jit menatap bayangan yang manunggal semakin jauh, mendadak dia berseru lantang, “Hampir  aku lupa memberitahu kepadamu, Ma Gun sudah mati, ia mati digantung orang dengan seutas tali di atas Teng-sian-lau.”

“Siapa yang membunuhnya?” tanya Pho Ang-soat tidak menoleh. “Tidak tahu, tiada orang tahu, aku hanya tahu orang yang membunuhnya meninggalkan dua patah kata, dua kalimat yang ditulis dengan darah segar, 'Inilah pertama kali aku membunuh orang secara gratis, mungkin juga terakhir kali'.”

Magrib sudah menjelang, cuaca makin gelap, sorot mata Pho Ang-soat ternyata mencorong terang malah. Sudah tentu dia tahu siapa pembunuh Ma Gun, hanya dia saja yang tahu.

Karena dua kalimat itu sengaja ditinggalkan untuk dirinya. Akhirnya To Ceng meletakkan goloknya, golok penjagal manusia.

Orang sejenis dirinya bila sudah bertekad dan keputusan, maka selama hayat pasti tidak akan berubah, tapi bagaimana dengan aku? Bukankah golok di tanganku inipun golok jagal? Sampai kapan aku harus menunggu untuk meletakkan golok ini?

Pho Ang-soat menggenggam kencang goloknya, sinar terang di kedua matanya mulai guram. Sekarang dia belum bisa meletakkan goloknya, bila di dunia ini masih ada manusia sejenis Kongsun To yang masih hidup, maka dia pantang meletakkan golok. Apa pun yang akan terjadi, dia tidak akan meletakkan goloknya…..

*******************
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Bulu Merak Bab 14 : Bayar Dulu Bunuh Kemudian"

Post a Comment

close