Pendekar Baja Jilid 36

Mode Malam
 
Jilid 36

Benua hijau (oasis) itu baru saja ditemukan, biarpun Liong-kui-hong mengetahui setiap jengkal tanah hijau di gurun pasir ini, tempat kita ini pasti takkan diketahui olehnya, tutur si nomor satu dengan penuh keyakinan.

Berani kau jamin? bentak Koay-lok-ong.

Oasis itu sudah Tecu tutup dengan berbagai alingan buatan, pasti takkan ketahuan. Sudah berapa banyak kuda yang dipelihara? tanya Koay-lok-ong pula.

Lantaran tanah hijau itu tidak terlalu subur, maka sampai sekarang baru terawat 12 ekor, namun semuanya kuda pilihan satu di antara seribu.

Dengan kecepatan lari unta, dari sini ke sana diperlukan waktu berapa lama? Dalam waktu dua jam akan sampai di sana, jawab si nomor satu.

Kecuali dirimu sendiri, siapa lagi yang kenal jalannya? Hanya Samte (adik ketiga) saja.

Akhirnya Koay-lok-ong tertawa cerah, Bagus Dengan bakatmu sebenarnya sudah

mampu berdiri sendiri, maka dapatlah kuserahkan pasukan ini di bawah pimpinanmu. Sim Long dan lain-lain juga kuserahkan padamu.

Lantas Ongya sendiri ....

Hendaknya kau suruh Losam memilih sembilan orang ikut dalam rombonganmu, segera aku pun akan berangkat, lebih dulu menuju tempat perawatan kuda, kata Koay-lok-ong.

Si nomor satu tidak berani tanya lagi, ia mengiakan dengan hormat, lalu mengundurkan diri.

Koay-lok-ong lantas menarik bangun Pek Fifi, katanya, Marilah kau pun ikut pergi bersamaku.

Ongya hendak pergi ke mana? tanya Fifi dengan senyum memikat.

Koay-lok-ong tertawa keras, Kita akan pulang dulu, akan mematahkan tangan yang menjemukan itu.

Dalam waktu singkat rombongan Koay-lok-ong lantas dalam perjalanan, gerak cepat mereka sungguh harus dipuji, hampir tidak pernah membuang waktu percuma.

Jit-jit berkata dengan gegetun, Tampaknya Hok-siu-sucia itu selain gagal total usaha balas dendamnya, bahkan ingin pulang dengan selamat pun sukar.

Meski pertarungan ini dilakukan terlampau tergesa-gesa sehingga gagal, tapi bila Koay- lok-ong ingin menumpasnya rasanya juga tidak gampang, ujar Sim Long dengan tersenyum.

Aku pun berharap dia dan Koay-lok-ong ....

Mendadak terputus ucapan Jit-jit, sebab dilihatnya si nomor satu sedang mendekat dengan langkah lebar.

Dengan tersenyum ia berkata kepada Sim Long, Ongya telah menyerahkan tugas berat ini di atas bahuku, meski tenagaku terbatas terpaksa harus kupikul. Bilamana sepanjang jalan Kongcu sudi sering memberi petunjuk, tentu aku akan sangat berterima kasih.

Ah, bicaramu terlalu sungkan, kata Sim Long tertawa.

Tapi dengan serius si nomor satu menjawab, Apa yang kukatakan adalah sesungguh hati, terhadap Sim-kongcu sungguh aku kagum tak terkatakan. Sepanjang jalan jika Kongcu suka bekerja sama segala permintaanmu pasti akan kupenuhi.

Sungguh Koay-lok-ong sangat beruntung mempunyai murid serupa dirimu, ujar Sim Long. Seorang yang dapat bersikap merendah diri terhadap tawanannya, kelak pasti akan mencapai sukses yang tak terhingga. Terima kasih atas pujian Kongcu, sahut si nomor satu sambil hormat. Bolehkah kuketahui namamu?

Sesudah masuk perguruan Ongya, nama kami sudah lama terlupakan semua, jawab si nomor satu. Cuma, karena Kongcu ingin tahu, biarlah kukatakan Tecu bernama Pui

Sim-ki.

Pui Sim-ki? Sungguh nama yang indah, kata Sim Long. Bolehkah kutanya, kita akan menuju ke mana?

Lebih dulu menuju ke Kuwat untuk menambah perbekalan, lalu memutar ke barat laut. Barat laut? mendadak Ong Ling-hoa menukas. Memangnya hendak ke tempat macam apa?

Menuju ke daerah Robor, tutur Pui-Sim-ki dengan tersenyum.

Tergerak hati Ling-hoa, Robor? Apakah daerah rawa-rawa yang menurut kabar di dunia

Kangouw suatu tempat yang sukar dilintasi burung itu? Betul, memang itulah tempat yang akan kita tuju.

Wah, jika di sana burung dan binatang pun tidak dapat hidup, cara bagaimana manusia akan dapat hidup di sana? timbrung Jit-jit.

Sudah tentu ada manusia yang sanggup hidup di sana, ucap si nomor satu alias Pui Sim- ki.

Orang lain mungkin sanggup, tapi selamanya Koay-lok-ong mengutamakan hidup nikmat, kafilahnya pun menggunakan kemah yang megah, semuanya serbamewah, masa di tempat hantu begitu juga ada tempat tinggal?

Koay-lok-ong adalah manusia luar biasa, orang luar biasa tentu juga mempunyai tempat kediaman yang luar biasa, ujar Sim Long.

Aha, pantas Ongya sering bilang Sim-kongcu adalah orang yang paling kenal pribadi beliau, tampaknya memang tidak salah pandangan beliau, seru Pui Sim-ki sambil berkeplok.

Kuwat adalah sebuah oasis atau tanah hijau yang subur yang paling luas di tengah gurun Pek-liong-tui, sekian tahun terakhir tempat ini sudah berubah menjadi sebuah pasar atau tempat dagang, kaum gembala dan kaum saudagar sering melakukan macam-macam jual

beli di sini. Kafilah yang berlalu-lalang juga sama berhenti di sini. Soalnya ratusan li di sekitar tempat ini hanya tempat inilah satusatunya tanah hijau yang terdapat sumber air.

Begitulah kafilah yang dipimpin Pui Sim-ki juga singgah di sini dan menambah air minum dengan harga yang mahal.

Habis itu kafilah mereka lantas mulai memasuki daerah rawa-rawa Robor yang saking luasnya sukar dilintasi burung terbang.

Perjalanan ini tentu saja sangat sulit, kalau saja Pui Sim-ki tidak paham seluk-beluk daerah ini, sungguh sukar dibayangkan cara bagaimana mereka akan melintasi daerah hantu ini. Sekalipun di tengah keadaan sulit, kafilah mereka masih tetap mempertahankan disiplin yang ketat, barisan tetap rajin dan beriring-iring menuju ke daerah kering bekas sungai Kuruk. Sekarang, akhirnya Cu Jit-jit dapat menumpang satu unta bersama Sim Long. Meski perjalanan sangat sulit, namun hatinya selalu dirasakan manis dan bahagia.

Dia tidak pernah berdekapan sekian lama dengan Sim Long, sungguh dirasakan perjalanan ini tidak sia-sia. Ia tidak tahu bahwa makin maju selangkah ke depan, jarak mereka dengan kematian juga tambah dekat selangkah.

Inilah perjalanan kematian dan sekarang mereka sudah mendekati titik akhir. Sesudah memasuki daerah rawa-rawa, angin pasir menjadi kecil.

Suasana terasa sunyi, hanya suara keleningan unta yang nyaring terkadang berkelinting memecah perjalanan yang gersang ini.

Mengapa Koay-lok-ong tinggal di tempat semacam ini? Apakah dia tidak takut menderita? ujar Jit-jit.

Di tengah gurun, di mana-mana terdapat tempat misterius yang sukar dibayangkan, ujar Sim Long. Kukira di tengah rawa tentu juga ada satu tempat begitu dan Koay-lok-ong tinggal di situ.

Tempat misterius? Masa di tengah gurun juga ada tempat serupa kuburan kuno itu? Keajaiban alam ini siapa yang dapat menduganya? ujar Sim Long.

Jit-jit termenung sejenak, ujung mulutnya menampilkan senyuman manis, katanya kemudian, Masih ingat tidak ketika kita berada di kuburan kuno ....

Ya, untuk pertama kalinya kita bertemu Kim Bu-bong di sana, kata Sim Long.

Kupikirkan urusanmu, engkau justru teringat kepada orang lain, omel si nona.

Engkau berada di sini, buat apa kupikirkan lagi, sebaliknya Kim Bubong kan mendadak

Sim Long menghela napas.

Wajah Jit-jit juga menampilkan rasa haru, ucapnya, Kim Bu-bong memang tidak diketahui bagaimana nasibnya, tapi adikku sendiri (si Anak Merah) sejak itu juga juga hilang dan

entah ke mana perginya.

Sim Long tertawa cerah, katanya, Adikmu itu pintar dan lincah, siapa pun tidak tega membikin susah dia, siapa yang menemukan dia pasti akan menjaganya dengan baik.

Tapi bila jatuh di tangan orang jahat, kan bisa Jit-jit menjadi sedih.

Mendadak bergema suara keleningan unta, terdengar seruan Pui Sim-ki, Sim-kongcu ....

Ada apa, jawab Sim Long.

Pui Sim-ki menyingkap tabir tenda kecil dan berkata, Maaf jika kuganggu kalian, terpaksa harus kuperlakukan kasar kepada kalian.

Perlakuan kasar? Jit-jit tidak mengerti.

Pui Sim-ki memperlihatkan dua potong kain hitam, katanya dengan tertawa, Tempat tujuan sudah hampir sampai, terpaksa harus kututup mata kalian.

Ai, toh di sini juga kami tidak dapat melihat apa-apa dan mata kami masih perlu ditutup? ujar Jit-jit.

Maaf, atas perintah Ongya, terpaksa harus kulaksanakan, jawab Pui Sim-ki dengan menyesal. Maka Sim-Long dan Jit-jit kemudian tidak dapat melihat apa-apa lagi. Meski kain hitam itu tidak terlalu erat menutupi mata mereka namun cukup rapat.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba dari jauh ada suara teriakan lantang, seorang berseru, Ban- tiang-ko-lau (gedung setinggi selaksa tombak).

Lalu pihak sana menjawab, Jim-kok-yu-lan (anggrek indah di lembah gunung)! Habis itu langkah unta tambah cepat, derap langkah tambah keras.

Apakah mungkin kedua kalimat itu kata sandi Koay-lok-ong? tanya Jit-jit. Jika begitu tampaknya di sinilah sarang Koay-lok-ong?

Dari suara kaki unta, agaknya sudah sampai di tanah yang keras, ujar Sim Long. Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar suara orang ramai, terdapat pula suara orang perempuan dan ngikik tawa anak kecil.

Masa di sini ada sebuah kota? ucap Jit-jit heran.

Secara logika mestinya tidak ada, dari suara kaki unta yang menyentuh tanah, tempat seperti ini tidak mungkin dapat dibangun perumahan, bisa jadi ... bisa jadi tempat ini cuma berkumpulkan rakyat gembala dan cuma dikelilingi perkemahan saja di sekitar sini.

Tapi mengapa Koay-lok-ong bisa tinggal di sini? Aku sendiri tidak dapat menerkanya.

Tengah bicara, suara berisik dan tertawa orang tadi sudah mulai jauh lagi.

Rupanya kafilah mereka telah melalui dusun itu. Menyusul rasanya seperti menurun ke bawah. Jit-jit tambah heran, Aneh, di sini kan tanah datar, kenapa bisa menuju ke bawah?

Sim Long termenung tanpa bersuara. Dalam pada itu derap kaki unta tambah keras, dari kedua samping seperti berkumandang suara yang menggema, mereka seperti memasuki sebuah lorong batu yang sempit dan panjang.

Terdengar suara Pui Sim-ki lagi berkata, Losam, apakah Ongya sudah pulang? Dengan sendirinya sudah pulang, suara si nomor tiga menjawab. Ongya menyuruhmu membawa dulu Sim Long dan lain-lain ke sana.

Perlahan langkah unta lantas berhenti, Sim Long dipindahkan ke dalam sebuah tandu lunak.

Tandu terus digotong menuju ke depan. Jit-jit Sim Long coba memanggil.

Tapi yang menjawab adalah suara Pui Sim-ki dengan tertawa, Cu Jit-jit berada di tandu yang lain.

O, tempat apakah ini? Jangan-jangan di bawah tanah? tanya Sim Long. Setelah Kongcu bertemu dengan Ongya tentu akan tahu dengan sendirinya. Terpaksa Sim Long tutup mulut.

Jika dikatakan tempat ini di bawah tanah, masa di tanah gurun yang lunak ini dapat dibangun sebuah istana di bawah tanah?

Bila bukan di bawah tanah, lantas tempat apakah ini? Akhirnya kain hitam penutup mata dibuka. Pandangan Sim Long terbeliak, dari kegelapan dia telah memasuki sebuah dunia lain, memasuki suatu tempat yang gilang-gemilang, sungguh suatu keajaiban.

Inilah sebuah istana yang megah, pilarnya sangat besar dengan ukiran yang indah dan antik, dinding sekeliling gemerlap memancarkan cahaya aneh. Mimpi pun Sim Long tidak menyangka di tengah gurun pasir terdapat bangunan semegah ini, bilamana benar istana ini terletak di bawah tanah, maka hal ini sungguh suatu keajaiban.

Permadani menghampar pada undakan batu pualam putih memanjang ke atas. Dari atas sana berkumandang suara tertawa senang Koay-lok-ong, Aha, Sim Long, coba lihat bagaimana tempatku ini?

Sim Long memuji, Sungguh megah dan ajaib, sungguh tidak ada taranya, seumpama di permukaan bumi pun jarang ada, jika di bawah tanah ....

Memang betul di bawah tanah, kata Koay-lok-ong tertawa.

Engkau dapat membangun istana megah ini di bawah tanah, selain memuji, sungguh sukar untuk dipercaya kalau tidak menyaksikan sendiri.

Meski tempat ini telah kuperbaiki, tapi bukan aku yang membangunnya, kata Koay-lok-ong dengan bangga. Bangunan ini semula terletak di permukaan bumi, maka engkau pun tidak perlu terlalu kaget.

Semula berada di permukaan bumi, mengapa bisa pindah ke bawah tanah?

Tempat ini tadinya adalah sebuah kota, pada zaman dinasti Ciu sudah ditinggalkan dan lama-lama pun teruruk oleh batu dan pasir, sesudah kutemukan, dengan susah payah kuperbaiki selama sepuluh tahun dengan biaya berjuta laksa tahil emas dan akhirnya dapatlah pulih kemegahannya seperti sediakala.

Wah, ceritamu ini serupa dongeng saja.

Ini bukan dongeng, menurut catatan sejarah memang terdapat tempat ini. Apakah pernah kau dengar istilah Lau-lan?

Lau-lan Sim Long bergumam, mendadak ia berseru, Aha, betul, kuingat.

Coba jelaskan, kata Koay-lok-ong.

Lau-lan adalah nama sebuah kerajaan di daerah barat sini pada zaman dinasti Han. Untuk berhubungan dengan beberapa negeri barat, utusan kaisar Han-bu-te sering lalu di negeri ini dan sering diganggu. Pada waktu Han-ciu-te naik takhta, dikirimnya panglima perang Po Kay-cu untuk menyerbu negeri ini dan membunuh rajanya, tempat ini pun berganti nama menjadi Sisian. Janganjangan tempat inilah bekas istana raja Lau-lan dulu?

Haha, Sim Long memang berpengetahuan luas, tempat ini memang betul bekas kota-raja Lau-lan, seru Koay-lok-ong dengan tertawa gembira. Sesudah kutemukan, lalu kubangun kembali seperti sekarang.

Sim Long menatap lekat-lekat Koay-lok-ong yang tertawa senang itu, katanya dengan gegetun, Meski tempat ini bukan dibangun olehmu, tapi caramu menemukan dia pasti tidak kurang sulitnya daripada waktu membangunnya.

Haha, betapa pun cuma Sim Long saja yang kenal pribadiku, Koay-lok-ong berkeplok senang.

Tapi aku tidak tahu saat ini Him Miau-ji berada di mana? Haha, sungguh Sim Long yang berbudi luhur! Engkau tidak tanya Jit-jit dulu melainkan tanya Him Miau-ji. Namun jangan kau khawatir, jika engkau masih hidup, tentu mereka pun takkan mati. Dan bagaimana dengan sebuah tangan itu? tanya Sim Long pula.

Seketika berhenti tertawa Koay-lok-ong, teriaknya sambil menggebrak meja,Hok-siu-sucia itu ternyata selicin rase, sekali serangan tidak berhasil terus mengundurkan diri, akhirnya lolos juga.

Ia berhenti sejenak, lalu berucap pula dengan tertawa, Tapi kukira dia masih akan datang lagi. Bila dia berani datang pula, tempat inilah akan menjadi kuburannya. Tatkala mana akan kulihat sebenarnya dia itu penyamaran siapa?

Tiba-tiba bergema suara tertawa merdu, Pek Fifi muncul dengan lemah gemulai.

Dia sudah berganti pakaian sutra tipis, di bawah cahaya lampu tampaknya serupa bidadari dari kahyangan dan tidak mirip lagi badan halus dari neraka.

Ia pandang Sim Long dengan tertawa, lalu berkata, Sim Long, apakah kau mau tahu suatu berita baik?

Kabar yang menyenangkan selalu kusiap mendengarkan, jawab Sim Long.

Ongya dan aku sudah memutuskan akan menikah tujuh hari lagi, tutur Fifi sekata demi sekata.

Hah, ka ... kalian benar akan kaget juga Sim Long.

Makanya sedikitnya kalian dapat hidup lebih lama beberapa hari lagi, tukas Fifi dengan tertawa manis. Dalam masa bahagia kan tidak boleh membunuh orang?

Tujuh hari ... tujuh hari kemudian Sim Long jadi gelagapan. Koay-lok-ong bergelak

tertawa, Tempat ini terletak jauh dan sepi, untuk meramaikan suasana tentu akan kuundang kalian sebagai tamu agung

Fifi tertawa senang, Sebelum mati engkau dapat menyaksikan pernikahan kesatria paling besar di zaman ini dengan perempuan paling cantik, hidupmu kan juga tidak percuma.

*****

Sekarang Sim Long berbaring di suatu tempat tidur, dinding sekeliling kamar ini penuh macam-macam ukiran aneh dan antik, ada ukiran manusia berkepala binatang, ada binatang berkepala manusia, bentuknya buruk, namun seni lukisnya bernilai tinggi.

Namun perabotan di dalam kamar tampak mewah dan baru, meja besar dengan kursi yang lunak, tempat tidur berukir dengan kelambu bersulam. Jelas ini perlengkapan yang ditambah Koay-lok-ong sendiri, sebab pada zaman dinasti Ciu umumnya orang duduk di lantai dan belum kenal kursi.

Di kamar inilah terbentuk perpaduan seni antik dan zaman baru, berbaring di tempat tidur dan menikmati seni zaman kuno memang juga semacam kenikmatan yang sukar dicari.

Namun pandangan Sim Long justru tertuju ukiran di dinding itu, sejak mendengar ucapan Pek Fifi, hatinya lantas bergejolak.

Perjodohan yang mahabesar, kesatria mahabesar menikah dengan perempuan paling cantik zaman ini sungguh Sim Long tidak tahu harus menangis atau kudu tertawa. Setahunya kejadian ini adalah tragedi yang paling konyol, dilihatnya tragedi ini segera akan terjadi, tapi dia tidak dapat mencegahnya. Apalagi dalam hatinya tentu juga masih ada banyak urusan lain yang perlu dipikirkan.

Keadaan sunyi senyap, tidak ada suara apa pun, serupa di dalam kuburan. Apakah benar dia juga akan terkubur di sini?

Tiba-tiba terdengar suara pintu batu bergeser. Tercium olehnya bau harum bunga yang biasa terdapat pada tubuh Pek Fifi itu.

Memang betul Fifi telah muncul, setiba di depan ranjang, ia menunduk untuk memeriksa Sim Long.

Seorang mengantarkan satu talam makanan, lalu mengundurkan diri.

Dengan gemulai Fifi berjalan sekeliling di dalam kamar, lalu berkata dengan tertawa, Apakah kau tahu siapa yang mendiami kamar ini pada zaman kerajaan Lau-lan?

Siapa? tanya Sim Long.

Thay ... Thaykam (dayang kebiri) Perlahan Fifi membalik ke sana dan meraba ukiran

dinding, lalu menyambung, Apakah kau tahu ukiran ini melambangkan apa?

Aku tidak ingin mempelajari sejarah, aku cuma ingin tanya ....

Jangan kau tanya padaku, potong Fifi. Aku yang tanya padamu lebih dulu Ukiran ini

melambangkan apa?

Sim Long menghela napas dan menjawab, Entah, aku tidak tahu.

Ukiran ini adalah sebagian dari agama yang dipuja kerajaan Laulan, tutur Fifi. Ukiran ini melambangkan nafsu berahi, melambangkan nafsu berahi seorang yang tidak mendapatkan kepuasan.

Meski Sim Long pernah mendengar uraian orang tentang hal-hal yang mengejutkan, tapi seorang gadis bicara secara blakblakan di depan seorang lelaki mengenai seks, hal ini membuatnya melongo juga. Terpaksa ia menjawab dengan menyengir, Luas juga pengetahuanmu.

Fifi tertawa merdu, Apakah kau heran? Kau kaget? Kau pikir aku tidak pantas bicara demikian? Setiap orang menganggap pembicaraan urusan ini adalah semacam dosa? Tapi tidak ada yang mau tahu bahwa justru urusan inilah mahapenting untuk dibicarakan.

Sim Long hanya dapat berdehem saja.

Fifi berucap pula, Tidak perlu engkau berlagak berdehem, ini memang urusan serius, coba kau lihat ia menuding ukiran berbentuk setengah manusia dan setengah binatang itu,

lalu menyambung, Jika nafsu berahi seorang tidak mendapatkan kepuasan, lahirnya mungkin terlihat manusia, tapi hatinya sudah ada sebagian berubah menjadi binatang.

Oo?! Sim Long melenggong.

Misalnya seorang Thaykam Jiwa seorang Thaykam pasti tidak normal, sering juga

berbuat hal-hal yang tidak normal, maka kebanyakan Thaykam suka melakukan hal-hal kejam dan keji, umpama memperlakukan sadis orang lain untuk kesenangan sendiri. Coba katakan, apa sebabnya?

Entah, aku tidak pernah menjadi Thaykam, jawab Sim Long. Ini disebabkan nafsu mereka tidak mendapatkan penyaluran secara wajar, sebab itulah mereka sering berebut kuasa dan keuntungan, membikin heboh, memperlakukan orang lain secara sadis sebagai jalan pelepasan nafsunya yang terkekang. Suatu keluarga yang normal, seorang yang mempunyai anak istri pasti takkan melakukan hal-hal kejam seperti perbuatan mereka itu.

Ia berhenti dan tersenyum, lalu bertanya, Coba katakan, betul tidak? Rasanya uraianmu juga ada yang betul, jawab Sim Long.

Meski mulutmu tidak mau mengaku, tapi di dalam hatimu tentu setuju sepenuhnya atas pendapatku, kuberani mengatakan di dunia ini tidak banyak orang yang mempelajari masalah ini setuntas diriku ini.

Ya, memang tidak banyak, ujar Sim Long dengan tersenyum.

Fifi mengitar sekali lagi, lalu berdiri di depan Sim Long dan berkata pula, Apakah kau tahu sebab apa kutaruh dirimu di kamar bekas tempat tinggal Thaykam ini?

Kembali Sim Long menyengir, Siapa yang dapat menerka jalan pikiranmu? Soalnya kehidupanmu juga tidak banyak berbeda dengan kaum Thaykam, kata Fifi.

Sim Long melengak bingung, Aku ... aku tidak banyak berbeda dengan Thaykam? Selama hidupku banyak juga caci maki orang padaku, tapi ucapan seperti ini baru sekali ini kudengar.

Engkau tidak terima? Memangnya engkau tidak mirip Thaykam yang sekuatnya mengekang nafsu? Jika kau bilang engkau tidak punya nafsu berahi, maka jelas engkau ini penipu.

Aku ... aku ....

Makanya hatimu sesungguhnya sudah mendekati binatang, jelas sesuatu yang tidak pantas kau lakukan justru kau kerjakan, sesuatu yang seharusnya tidak perlu kau urus justru kau urus, tingkahmu ini juga tidak berbeda dengan kaum Thaykam.

Ai, ucapan janggal ini sungguh baru sekarang kudengar selama hidup.

Masa engkau tidak mengaku? Coba kutanya padamu, mengapa engkau tidak berani mendekati orang perempuan?

Soalnya aku bukan anjing, kata Sim Long. Jika anjing tentu nafsu berahimu akan tersalur, sebab mereka sangat normal, bilakah pernah kau lihat anjing membunuh anjing, tapi manusia membunuh manusia kan terlihat di mana-mana?

Seketika Sim Long menjadi bungkam.

Ia tahu uraian Fifi itu hanya mau menang sendiri saja, tapi ia justru tidak dapat membantah.

Fifi tertawa ngikik, ia melangkah lebih maju mendekat, katanya, Makanya kubilang manusia itu makhluk yang paling bodoh, pada waktu lapar mereka berani makan, tapi ketika nafsu berkobar, justru tidak berani mengutarakannya.

Aku tidak paham sesungguhnya apa artinya kau bicara hal-hal ini?

Selanjutnya engkau akan paham dengan sendirinya, ucap Fifi lembut. Ia angkat talam makanan itu dan berkata pula, Sekarang coba katakan padaku, kau lapar tidak? Hal ini tentu kau berani menjawab. Dengan sendirinya Sim Long sangat lapar. Makanan itu sangat lezat, ia perlu menambah kekuatan fisik, supaya nanti bila ada kesempatan ia sanggup bekerja dengan baik.

Fifi pun tidak banyak bicara lagi, ia menyuapi Sim Long hingga habis.

Selesai Sim Long makan segera Fifi berdiri, tanyanya sambil menatapnya, Sekarang kau perlu apa lagi?

Tidak ada, jawab Sim Long.

Sekalipun ada juga tak berani kau katakan, ujar Fifi dengan tertawa lalu tinggal pergi dengan langkah gemulai.

*****

Suasana kembali sunyi senyap, kesunyian yang konyol, kesunyian yang menakutkan. Sampai sekian lama Sim Long memikirkan gadis yang sangat aneh itu, lalu gumamnya, Apa betul aku tidak ada keperluan lain lagi? Mengapa tidak kukatakan ....

Tiba-tiba ia merasakan dalam tubuh sendiri timbul semacam perasaan aneh, semacam suhu panas yang khas dan mulai tersebar di badannya, ia merasa tubuh sendiri seperti mau meledak. Tapi ia tidak mampu mengerahkan tenaga untuk melawan, tubuh juga tidak dapat bergerak.

Terpaksa ia menahannya, semacam siksaan yang aneh dan baru pertama kali ini dirasakan. Mulutnya mulai kering, tapi tubuh justru basah oleh keringat.

Di bawah siksaan itu, entah berselang berapa lama pula, tahu-tahu diketahuinya Pek Fifi berdiri lagi di depan tempat tidurnya.

Haus tidak? tanya si nona, tangannya membawa secangkir air minum. Haus haus sekali, jawab Sim Long dengan parau.

Kutahu jawaban ini berani kau katakan, Fifi tersenyum.

Ia mengangkat Sim Long dan memberinya minum. Meski tubuh Sim Long tidak dapat bergerak, tapi setiap organ dalam tubuhnya seakan-akan lagi bergerak dengan keras. Bau harumnya ... tangannya yang halus ... tubuhnya yang hangat dan menggiurkan ....

Fifi menatapnya dan berucap pula sekata demi sekata, Sekarang, kau perlu apa lagi? Memandangi dada si nona yang gempal, Sim Long berkata, Aku ... aku ....

Omong saja bila menghendaki apa-apa, ucap Fifi lembut.

Mengapa engkau menyiksaku cara begini? Bilakah kusiksamu? Asalkan kau katakan kehendakmu, semuanya dapat kupenuhi, tapi engkau tidak berani omong, ini sama dengan engkau menyiksa diri sendiri.

Aku ... aku tidak keringat memenuhi kepala Sim Long, entah memerlukan betapa besar

tenaga untuk bicara aku tidak itu.

Kutahu engkau tidak berani omong, Fifi tertawa pula, tertawa mengejek, lalu ia mendekat, bajunya yang tipis akhirnya jatuh ke lantai.

Di bawah cahaya lampu yang remang-remang tubuhnya yang putih mulus seakan-akan bersinar, dadanya yang montok seperti bergelombang, kakinya yang panjang Dan dia terus merebahkan diri di samping Sim Long, seperti mengigau ia mendesis, Kutahu apa kehendakmu ....

*****

Sekarang Hiat-to Sim-Long sudah terbuka, tapi dia masih menggeletak di tempat tidur dengan lemas lunglai.

Hal ini bukan lantaran keletihan sesudah terlampau bergairah melainkan karena sisa obat bius itu. Dengan hampa ia memandangi langit-langit kelambu yang berwarna lembayung muda itu Dan Fifi justru mendekam di atas dadanya untuk menunggu meredanya napas

yang memburu.

Habis itu, perlahan ia menggelitik telinga Sim Long, ucapnya lembut, Apa yang kau pikirkan?

Sim Long tidak segera menjawabnya, terhadap ucapan yang sederhana ini tampaknya ia tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. Selang sekian lama barulah ia menghela napas dan berkata, Seharusnya banyak urusan yang kupikirkan, tapi sekarang aku tidak memikirkan apa-apa.

Fifi tertawa genit, Tadi jika kutinggal pergi, apakah engkau takkan gila? Aku cuma tidak mengerti mengapa engkau bertindak demikian?

Sungguh engkau tidak mengerti? Masa engkau tidak tahu aku mencintaimu? Hidupku

ini hampa belaka, aku memerlukan kehidupanmu mengisi jiwaku.

Ia tersenyum, lalu menyambung, Selain itu, aku ingin melahirkan anak bagimu. Hah apa katamu? seru Sim Long.

Melahirkan dan mendidik anak, ini kan urusan biasa, mengapa engkau terkejut? Tapi kita ... kita ....

Betul, kita tidak dapat terikat menjadi satu, sebab engkau sudah hampir mati, namun melahirkan anak adalah soalnya lain, betul tidak?

Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.

Fifi memejamkan mata dan berucap, Sungguh ingin kulihat anak

yang kita lahirkan ini orang macam apa, sungguh sangat kuharapkan ....

Ia tertawa terkikik, Bayangkan, lelaki paling pintar, paling gagah bersama perempuan paling keji dan juga paling cerdas, anak yang dilahirkan mereka akan menjadi orang macam apa?

Senang sekali tertawanya, sambil bertopang dagu ia menyambung lagi, Ya, sampai aku pun tidak berani membayangkan akan merupakan orang macam apa anak ini, tidak perlu disangsikan lagi dia akan jauh lebih pintar daripada siapa pun. Tapi apakah dia akan jujur, atau jahat? Apakah hatinya penuh cinta kasih terhadap sesamanya seperti ayahnya, atau akan menuruni ibunya yang penuh rasa benci dan dendam?

Sim Long melongo bingung. Wah, ini ... ini sungguh ia tidak tahu apa yang harus

diucapkannya. Fifi berucap pula dengan tertawa, Kuyakin apa pun anak ini pasti akan menjadi orang yang sangat menonjol, bila dia perempuan, dia tentu akan membuat setiap lelaki di dunia ini tergila-gila dan bertekuk lutut di bawah kakinya. Jika dia lelaki, maka dunia ini pasti akan berubah sama sekali lantaran dia. Engkau setuju tidak?

Sim Long menghela napas, sungguh dia tidak berani membayangkan hal ini. Jika kita mempunyai anak semacam ini, masa engkau tidak senang?

Memangnya apa yang harus kukatakan?

Jika betul kita mempunyai anak sehebat itu, mati pun engkau tentu akan puas, ucap Fifi pula. Sedangkan aku, setelah punya anak demikian, biarpun kau mati juga aku takkan kesepian lagi ....

Lalu ia memejamkan mata pula, sambungnya, Bilamana aku teringat padamu asal melihat dia, rasanya tentu akan terhibur.

Sim Long tersenyum getir, Dari uraianmu ini, rasanya orang yang menghendaki kematianku bukanlah dirimu. Jika seorang ingin mengenangkan diriku, tapi juga ingin membunuhku, dalil ini sungguh sukar kupahami.

Mengenangkan dirimu kelak dan membunuhmu sekarang, semua ini adalah dua urusan yang berbeda, ujar Fifi dengan tertawa.

Kecuali dirimu, di dunia ini mungkin tidak ada yang menganggap urusan ini adalah dua hal yang berlainan.

Kan sudah kau katakan sendiri, aku tidak sama dengan orang lain?

Betul, memang pernah kukatakan demikian, engkau memang berbeda dengan orang lain. Engkau juga tidak sama dengan orang lain, ucap Fifi dengan lembut. Engkau adalah lelaki yang tidak dapat kulupakan, dua hari lagi bila engkau hadir dalam upacara nikahku, bisa jadi akan kutersenyum padamu.

Upacara nikah? Engkau tetap akan menikah dengan Koay-lokong?

Tentu saja.

Tentu saja? Urusan yang paling tidak wajar, tidak masuk akal, tapi kau anggap lumrah? Memangnya tidak betul?

Telah kau serahkan tubuhmu kepadaku, juga ingin melahirkan anak bagiku, tapi engkau masih akan menikah dengan orang lain, masa ini pantas?

Melahirkan anak dan menikah dengan orang kan dua urusan yang tidak sama. Tapi jangan kau lupakan, engkau adalah anak perempuannya.

Jika aku bukan anak perempuan, mana bisa kunikah dengan dia ucap Fifi sekata demi

sekata.

Hah, terhitung dalil apa ini? Sungguh aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Tidak sedikit orang gila yang pernah kulihat, tapi tiada seorang lebih gila daripadamu.

Fifi tertawa terkikik, Hihi, akhirnya Sim Long marah juga lantaran diriku, sungguh aku harus merasa bangga.

Perlahan ia meraba dada Sim Long dan menyambung pula, Tapi engkau juga jangan marah, apa pun aku tetap cinta padamu, hanya engkau seorang yang kucintai di dunia ini, cinta sampai tergila-gila .... Ia pandang Sim Long dengan terkesima dan bicara dengan lembut. Pada saat yang sama tangannya yang meraba Sim Long sekaligus menutuk beberapa Hiat-to kelumpuhannya dan membuatnya tak bisa berkutik pula.

Apa pula yang ingin kau katakan padaku? bisik Fifi di tepi telinga Sim Long.

Dapat kukatakan apa lagi? ujar Sim Long dengan gegetun. Seorang anak perempuan berbaring dalam pelukanku dan bilang mencintaiku, berbareng juga menutuk Hiat-toku ....

Ia tersenyum kecut, lalu menyambung, Terhadap anak perempuan begini, apa lagi yang dapat kukatakan.

Tapi anak perempuan begini juga tidak dapat ditemui setiap orang, betul tidak? Maka

seharusnya engkau merasa beruntung ....

Fifi tertawa sambil turun dan berdiri di depan tempat tidur, perlahan ia mengenakan pakaiannya, sorot matanya tidak pernah meninggalkan wajah Sim Long, lalu berkata pula, Engkau boleh tidurlah, aku mau pergi.

Sim Long tertawa getir, Terima kasih atas perhatianmu.

Dalam keadaan begini, lelaki yang masih dapat bicara serupa dirimu rasanya tidak ada keduanya di dunia ini, pantas juga aku sedemikian cinta kepayang padamu.

Mendadak ia berjongkok dan mencium pipi Sim Long, ucapnya lembut, Sungguh aku sangat cinta padamu, kelak bila kubunuhmu tentu akan kuperlakukan dengan mesra.

*****

Keadaan Cu Jit-jit, Ong Ling-hoa dan Him Miau-ji tentu saja tidak romantis serupa Sim Long, dengan sendirinya juga tidak tersiksa seperti Sim Long. Mereka terkurung di dalam sebuah kamar batu. Hari pertama mereka tidak mau bicara.

Hari kedua, mereka ingin bicara, tapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Akhirnya muncul Pek Fifi. Dia kelihatan bercahaya, jauh lebih cantik daripada biasanya. Segera Jit-jit memejamkan mata dan tidak mau memandangnya. Sebaliknya Fifi sengaja menuju ke depannya, tegurnya dengan tertawa manis, Eh, nona Cu, Cu-siocia, baik- baikkah engkau?

Langsung Jit-jit menjawab dengan berteriak, Pek-kiongcu, Pekpermaisuri, aku tidak baik, sedikit pun tidak baik.

Mengapa engkau tidak gembira ria? tanya Fifi pula. Hm, apakah engkau yang gembira ria? jengek Jit-jit.

Dengan sendirinya aku sangat gembira, selama hidupku tidak pernah gembira ria seperti ini, sebab sekarang aku sudah mempunyai sesuatu, sebaliknya engkau tidak punya, ujar Fifi dengan tertawa.

Aku memang tidak mempunyai hati sekeji hatimu, teriak Jit-jit.

Fifi tidak menghiraukannya, sambungnya dengan tenang, Barang yang kumiliki ini meski sangat kuidam-idamkan, tapi selama hidupmu jangan harap akan kau punyai.

Apa pun kau punyai tidak kuinginkan, teriak Jit-jit.

Tapi bila engkau mengetahui barang yang kumaksudkan, saking kagumnya mungkin engkau akan menitikkan air mata. Barang apa itu? Coba katakan! Sekarang tidak dapat kuberi tahukan, jawab Fifi dengan terkikik senang.

Saking geregetan sungguh Jit-jit ingin menggigitnya. Sampai sekian lama ia melotot, mendadak ia berteriak pula, Di mana Sim Long?

Dia sangat baik, justru ingin kukatakan padamu sekarang, dia juga sangat gembira ria. Sebab ... sebab apa dia gembira?

Sebab barang yang kumiliki ini adalah hasil buatanku dengan dia, jawab Fifi dengan kerlingan mata yang bahagia.

Memandang sinar mata Fifi yang mencorong dan wajahnya yang pucat bersemu kemerah- merahan itu, mendadak tubuh Jit-jit bergemetar, teriaknya, Hasil ... hasil perbuatan

antara ... antara dia denganmu?

Ai, adik yang baik, boleh kau pikirkan saja dengan lebih cermat, namun semoga engkau tidak dapat memahaminya, kalau tidak Fifi mencolek pipi Jit-jit sekali, lalu tinggal pergi

dengan tertawa genit.

Jangan menangis. Jit-jit, jika engkau menangis tentu dia akan tambah senang, kata Miau- ji.

Tapi dia ... dia dan Sim Long jangan-jangan sudah ... sudah ....

Memangnya ada apa antara dia dan Sim Long? Masakah engkau tidak percaya kepada Sim Long?

Namun perempuan keji seperti dia apa pun dapat diperbuatnya, sambat Jit-jit dengan sedih.

Ai, anak bodoh, dia bicara begitu tiada lain karena sengaja hendak membikin keki padamu, mengapa kau mau percaya Tapi bukan mustahil memang sungguh terjadi, jengek Ong

Linghoa.

Tidak, tidak sungguh terjadi, tidak mungkin terjadi, seru Jit-jit parau.

Jika kau yakin tidak terjadi sungguh mengapa engkau menangis? ejek Ling-hoa.

Ong Ling-hoa, bentak Miau-ji, untuk apa kau bicara demikian? Mengapa kau bikin dia berduka?

Aku hanya bicara apa yang terjadi sesungguhnya, sahut Ling-hoa.

Hm, kalian kakak beradik memang serupa, setiap saat selalu mengharapkan orang lain berduka Agaknya bila melihat orang lain berduka barulah hati kalian sendiri merasa

senang, teriak Miauji dengan gusar.

Betul, aku dan dia memang banyak persamaan, kecuali satu hal. Hal apa? tanya si Kucing.

Dia suka kepada Sim Long, sedangkan aku tidak, jengek Ling-hoa.

Miau-ji memandang sekejap Cu Jit-jit yang masih menangis, teriaknya, Kentut busuk! Jika dia suka kepada Sim Long, mengapa hendak dibunuhnya pula?

Soalnya dia tidak boleh tidak mesti membunuhnya. Sebab apa? tanya Miau-ji.

Ada dua alasan. Pertama, demi Koay-lok-ong, dia ingin menuntut balas dan terpaksa menikah dengan Koay-lok-ong. Dan bila dia menikah dengan Koay-lok-ong tentu tak dapat menjadi istri Sim Long Ling-hoa tertawa, lalu menyambung, kutahu orang semacam dia, sesuatu yang tak dapat diperolehnya terpaksa akan dimusnahkannya. Dan karena dia tidak dapat menjadi istri Sim Long, maka dia ingin membunuhnya.

Huh, ini bukan sifat manusia lagi, jengek Miau-ji.

Apalagi, seumpama dia tidak jadi menikah dengan Koay-lok-ong kan sakit hatinya sudah terbalas juga. Ia tahu takkan mendapatkan Sim Long, sebab ia tahu yang ingin diperistri Sim Long ialah Cu Jit-jit dan bukan dia.

Jika begitu, mengapa tidak, dia bunuh diriku saja, teriak Jit-jit parau. Asalkan Sim Long tetap hidup, mati juga aku rela.

Alangkah luhurnya cinta kasih, sungguh mengagumkan, jengek Ling-hoa. Tapi nona Cu yang berjiwa luhur, seumpama dia membunuhmu lebih dulu toh dia tetap akan membunuh Sim Long juga.

Sebab apa? tanya Jit-jit.

Bila dia membunuhmu dan seumpama jadi menikah dengan Sim Long, pasti juga Sim Long akan tambah terkenang kepadamu. Dan semakin Sim Long terkenang padamu, dengan sendirinya juga tambah benci padanya.

Betul juga, ujar Miau-ji.

Tapi biarpun dia mendapatkan Sim Long tetap takkan mendapatkan hatinya, sambung Ling-hoa pula. Dan jika dia tidak mendapatkan hati Sim Long, lebih baik kan

membunuhnya. Sebab itu, bicara kian kemari toh dia tidak bisa tidak harus membunuh Sim Long. Rupanya Thian telah mengatur secara begitu, tidak ada pilihan lain baginya.

Mengapa Thian mengatur begini? Mengapa? seru Jit-jit menangis. Huh, jangan kau percaya kepada ocehannya, apa yang dipikir Pek Fifi mustahil diketahuinya, kata Miau-ji dengan gusar.

Masa aku tidak tahu isi hati Pek Fifi? ujar Ling-hoa dengan tertawa. Kan dalam tubuh kami mengalir jenis darah yang sama, dengan sendirinya aku jauh lebih paham akan isi hatinya daripada orang lain.

Sungguh aku tidak mengerti, mengapa Thian melahirkan dua manusia serupa kalian ini, ucap Miau-ji dengan geregetan.

Sebab Thian yang Mahakuasa juga ingin melihat sandiwara menarik ini, ucap Ling-hoa dengan gelak tertawa.

Kejadian ini memang sandiwara yang menarik. Cuma siapa pun tidak tahu tragedi atau komedi?

Biasanya tragedi di dunia ini selalu lebih banyak daripada komedi.

*****

Suasana terasa semarak, semuanya serbabaru, macam-macam warna cemerlang, berbagai jenis kain sutra, semuanya gemilang dan tertumpuk di kamar batu yang tua ini, teruruk di depan Cu Jit-jit.

Dua babu kekar membentang setiap bahan pakaian itu dan diperlihatkan kepada mereka, di antaranya cuma Him Miau-ji saja yang tidak sudi memandangnya barang sekejap pun. Pui Sim-ki berdiri di samping dengan berpangku tangan, ucapnya dengan tertawa, Kain ini dibeli dari toko Sui-hu-siang yang terkenal di Sohciu, harap kalian masing-masing memilih sepotong, nanti akan kusuruh ahli jahit mengukur badan kalian.

Mengapa Koay-lok-ong sebaik ini kepada kami? tanya Ong Linghoa dengan tertawa. Kiranya kalian belum tahu ....

Tahu apa? tanya Ling-hoa.

Besok adalah hari nikah Ongya dan nona Fifi, maka Ongya mengundang kalian memakai baju baru untuk ikut hadir pada upacara nikah beliau.

Hah, mereka akan menikah benar-benar? seru Jit-jit.

Urusan penting begini masakah boleh dibuat berkelakar? ujar Pui Sim-ki.

Jit-jit menghela napas panjang, entah duka entah girang, gumamnya, Besok sungguh

cepat mereka ....

Baik, kupilih kain berwarna jambon itu, warna merah kan tanda bahagia bagi Koay-lok-ong, kata Ling-hoa dengan tertawa.

Terima kasih atas pujian Kongcu Dan Him-kongcu memilih warna apa? tanya Pui Sim-

ki.

Aku bukan Kongcu segala, selama hidup juga takkan memakai baju persetan seperti ini, aku lebih suka telanjang daripada pakai baju begini, teriak si Kucing.

Pui Sim-ki tersenyum, katanya, Jika Ongya sudah memberi perintah demikian, betapa pun Him-kongcu tidak boleh membantah, karena Him-kongcu tidak mau memilih, biarlah kau pakai warna merah tua ini saja. Dan nona Cu memilih kain warna apa?

Aku ingin tahu Sim Long memilih warna apa? tanya Jit-jit.

Entah, aku tidak tahu, urusan Sim-kongcu biasanya diselesaikan oleh nona Pek sendiri. Jit-jit menggigit bibir, ucapnya, Besok lewat besok dia masih akan mengurusi dia?

Dan lewat besok, bagaimana pula dengan kita? tukas Ong Linghoa.

Terbayang akan hubungan Pek Fifi dengan Koay-lok-ong dan macam-macam akibat yang mengerikan sesudah mereka menikah, lalu terpikir pula keadaan sendiri, diam-diam Him Miau-ji merasa sedih.

*****

Saat itu Pek Fifi lagi bersandar di ujung tempat tidur dan sedang memandang Sim Long, katanya santai, Besok juga aku akan menikah.

Sim Long mengiakan dengan tak acuh. Apakah yang kau rasakan? tanya Fifi pula. Tidak ada, jawab Sim Long.

Fifi menggigit bibir, Masa tidak kau rasakan sesuatu? Apakah kau tahu selewatnya besok akan bagaimana jadinya dirimu?

Urusan ini baru akan kupikirkan setelah lewat besok, kata Sim Long.

Mendadak Fifi bergelak tertawa, Kau tahu betapa bahagia, betapa menyenangkan besok, pada malam sebelum hari besar ini, masa sedikit pun engkau tidak merasakan sesuatu?

Sedikit pun tidak ada, jawab Sim Long.

Apakah engkau sudah beku? Sudah mati rasa? teriak Fifi mendongkol. Orang yang sudah mati rasa tentu takkan merasa tersiksa, orang yang mati rasa juga ada faedahnya.

Dengan gemas Fifi berteriak pula, Sebenarnya akal setan apa yang lagi berkecamuk dalam benakmu?

Orang yang sudah mati rasa mana punya akal segala? Jangan kau bohong, kutahu orang semacam dirimu tak nanti rela mati begitu saja, sebelum engkau mengembus napas terakhir tidak nanti putus harapan.

Mungkin ....

Tapi akal setan apa pun yang kau rancang tetap tidak ada gunanya, ucap Fifi sekata demi sekata.

Oo, apa betul? kata Sim Long tak acuh.

Kembali Fifi tertawa keras, katanya, Besok, upacara nikah yang paling aneh, paling bahagia, dan juga paling tragis akan berlangsung, apa yang akan terjadi besok pasti akan dijadikan bahan cerita di dunia persilatan secara abadi. Besok adalah hari yang paling menarik, paling tegang dan paling merangsang yang pernah terjadi di dunia Kangouw.

Dengan penuh emosi ia pegang tangan Sim Long dan berteriak pula, Semua ini adalah perencanaanku secara cermat, semuanya akan berlangsung menurut rencana, betapa pun takkan kuinginkan diganggu oleh siapa pun, di dunia ini juga tidak ada seorang pun mampu mengacau dan merusaknya.

*****

Dan hari yang luar biasa ini akhirnya tiba juga.

Segala sesuatu berlangsung menurut rencana secara ketat dan rapi, sedikit pun tidak kacau, tidak ada titik lemah segala, akibat yang menakutkan dan tragis sudah dapat dibayangkan.

Him Miau-ji memakai baju merah tua, berdandan secara rapi, mukanya bercahaya, namun kelihatan gusar, mata melotot.

Ong Ling-hoa memandangnya dengan tersenyum, katanya, Miauheng, tak kusangka engkau sedemikian tampan, belum pernah kulihat ketampananmu ini, hari ini engkau sendiri kelihatan seperti pengantin barunya.

Dan kau sendiri serupa cucuku, jawab Miau-ji dengan gemas.

Dia sangat gusar sehingga makian yang lucu juga dilontarkan, habis berucap, ia merasa geli sendiri. Tapi dalam keadaan demikian mana dia dapat tertawa.

Sekarang mereka serupa boneka saja duduk di atas kursi, di luar terdengar berondongan mercon, menyusul beberapa lelaki kekar lantas menggotong keluar mereka.

Ruangan pendopo dipajang dengan sangat meriah, ruangan yang antik itu tampak semarak dengan hiasan warna-warni. Namun ketika masuk ke situ, mau tak mau timbul juga semacam rasa seram, ruang pendopo yang luas di mana-mana serasa tersembunyi alamat tidak enak.

Di sini memang tempat yang beralamat tidak baik. Dahulu, kerajaan Lau-lan yang pernah jaya justru musnah di sini.

Di depan undak-undakan batu pualam sudah dibentang permadani merah, pada ujung sana terdapat sebuah meja besar dengan dua kursi berlapis kain satin, mungkin di sinilah tempat duduk Koay-lokong dan permaisurinya nanti.

Seterusnya di kanan-kiri juga ada meja panjang, di atas meja tersedia empat pasang sumpit dan cangkir, semuanya benda berharga yang sukar dinilai.

Ruangan pendopo sudah ramai orang berlalu-lalang, semuanya berbaju baru dan wajah berseri-seri, namun di balik wajah yang berseri itu seperti juga membawa semacam bayangan alamat yang tidak baik. Mereka seperti sudah merasakan akan terjadi hal yang tidak enak.

Tapi sesungguhnya urusan apa yang akan terjadi? Sejauh ini tidak diketahui siapa pun.

*****

Pada waktu Jit-jit digotong masuk, Sim Long sudah duduk di balik meja panjang sebelah kiri.

Meski Jit-jit sudah bertemu dengan Sim Long entah berapa puluh atau ratus kali, tapi demi melihatnya sekarang, napasnya serasa mau berhenti seluruhnya, mukanya menjadi panas rasanya.

Sim Long sedang memandangnya dengan tersenyum simpul. Syukurlah, akhirnya Cu Jit-jit didudukkan di sebelah Sim Long.

Dengan suara lembut Sim Long bertanya padanya, Selama beberapa hari ini apakah engkau baik-baik saja?

Jit-jit menggigit bibir dan tidak bersuara.

Memang beginilah hati anak gadis bila lagi ngambek. Kenapa engkau tidak menggubris diriku?

Mata Jit-jit menjadi merah, seperti mau mencucurkan air mata. Meng ... mengapa engkau berduka?

Tentu saja aku tidak gembira seperti kau, jawab Jit-jit dengan dongkol. Aku gembira? Sim Long merasa bingung.

Kan ada orang menggantikan baju bagimu, ada orang meladenimu, masa engkau tidak gembira?

Bicara punya bicara, air mata pun berlinang.

Ah, kembali engkau berpikir yang tidak-tidak lagi, ujar Sim Long dengan tertawa.

Ingin kutanya, ada orang bilang dia denganmu sudah memiliki sesuatu bersama, barang apakah yang dimaksudkan?

Ai, kenapa engkau selalu percaya ocehan orang? ujar Sim Long tertawa.

Jit-jit tidak dapat menatap orang secara lurus, ia hanya dapat meliriknya, dilihatnya ujung mulut Sim Long masih membawa senyumnya yang khas itu, senyum yang menggemaskan dan juga memikat.

Engkau tidak gembira, kenapa masih dapat tertawa? ujar Jit-jit dengan gemas.

Aku memang rada gembira, tapi sama sekali bukan menyangkut urusan yang kau katakan itu.

Habis mengenai urusan apa?

Sekarang engkau jangan tanya dulu, tidak lama tentu kau tahu sendiri, desis Sim Long. Sinar matanya tampak gemerdep dengan cerdiknya, sinar mata yang sukar diraba apa artinya.

Setelah meliriknya lagi, akhirnya Jit-jit menghela napas dan tidak tanya pula.

Dalam pada itu di balik kedua baris meja panjang sudah penuh diduduki lelaki kekar berbaju satin, tampaknya mereka adalah anak buah Koay-lok-ong, biarpun duduk sebagai tamu, namun mereka duduk dengan prihatin.

Di serambi kedua sisi ruangan pendopo dialingi oleh tabir sutra itu kelihatan bayangan orang berseliweran, dari perawakannya yang ramping jelas mereka adalah anak perempuan, tentunya mereka inilah penari dan penyanyi yang akan meriahkan pesta nikah ini. Tapi sekarang suara musik belum lagi terdengar, ruangan pendopo sunyi senyap, suara napas masing-masing pun hampir terdengar. Anehnya di ruangan yang penuh hadirin ini tidak terasa panas, sebaliknya malah terasa seram sejuk.

Pada saat itulah Pui Sim-ki yang kelihatan berjubah satin dan berkopiah kebesaran melangkah masuk dari luar, pedang yang selalu disandangnya sudah ditanggalkan. Sekilas pandang langsung ia menuju ke tempat duduk Sim Long.

Dia bersikap sangat riang, langkahnya juga enteng.

Hari ini mungkin engkau yang paling sibuk, sapa Sim Long.

Kesibukan kerja, bagiku malah terasa senang, ujar Pui Sim-ki dengan hormat. Bagaimana keadaan di luar? tanya Sim Long.

Hari cerah, langit bersih, hawa sejuk, suasana aman tenteram membuat orang lupa pada persoalan pertempuran dan bunuhmembunuh.

Apakah betul takkan terjadi bunuh-membunuh? Sim Long tersenyum.

Beberapa ratus tombak di sekitar sini keadaan aman tenteram, sedikit pun tidak ada tanda memerlukan kewaspadaan, maka SimKongcu boleh silakan minum arak sepuasnya, pasti takkan terjadi sesuatu yang mengganggu kesenanganmu.

Wah, jika begitu, tampaknya hari ini aku benar-benar bisa mabuk, seru Sim Long tertawa. Sim-Kongcu dan nona Cu, Ong-kongcu serta Him-kongcu memang merupakan tamu agung khusus Ongya kami, bila kalian tidak makanminum sepuasnya, kan bisa menyesal nanti, ujar Pui Sim-ki.

Eh, tamunya apa cuma kami berempat saja? tanya Jit-jit. Di dunia persilatan sekarang, kecuali kalian berempat, siapa pula yang berharga menjadi tamu agung Ongya? ujar Sim- ki dengan tertawa.

Hm, jika begitu, rasanya kami harus merasa beruntung, jengek Jitjit.

Mendadak seorang anggota pasukan Angin Puyuh datang melapor, Toako diharapkan lekas siap, upacara sudah hampir dibuka.

Maka terdengarlah suara musik mulai bergema, iramanya perlahan dan meriah. Enam belas pasang muda-mudi muncul, ada yang membawa karangan bunga, ada yang membawa benda antik, muncul dari ujung permadani sana dan melangkah maju menurut irama musik.

Pada saat itu juga ada empat gadis berbaju apik diam-diam mendatangi belakang Sim Long berempat, keempat gadis sama membawa poci arak perak dan menuangkan arak bagi mereka. Terima kasih, ucap Sim Long tersenyum.

Seorang gadis lantas mendesis di tepi telinga, Nionio (permaisuri)

memberi perintah, apabila Kongcu mengucapkan sepatah kata yang merusak suasana riang ini, segera belati yang kubawa akan kutikam punggung Kongcu.

Sekilas melirik Sim Long melihat air muka Cu Jit-jit dan lain-lain juga sama berubah, agaknya mereka pun diancam dengan cara yang sama oleh gadis yang menuangkan arak.

Benar juga, segera terasa benda dingin menembus sandaran kursi dan mengancam punggung Sim Long.

Ai, nona kalian agak terlalu khawatir, masakan kami ini orang yang suka merusak suasana? ujar Sim Long dengan tertawa. Jika Kongcu tidak bicara apa-apa, dengan sendirinya itulah yang diharapkan, kata gadis itu tanpa menarik kembali belatinya.

Rupanya yang ditakuti Pek Fifi adalah Sim Long membeberkan hubungan darahnya dengan Koay-lok-ong, perencanaannya memang rapi, ternyata semua kemungkinan telah dipikirkan dengan baik.

Walaupun wajah Sim Long tetap mengulum senyum, di dalam hati merasa gegetun. Sementara itu barisan muda-mudi tadi sudah lewat ke sana. Menyusul ada lagi 16 pasang gadis jelita berbaju sutra. Irama musik pun tambah lambat.

Di tengah ruang pendopo, kecuali Sim Long berempat, orang lain sudah sama berbangkit dengan khidmat.

Lalu muncul Koay-lok-ong dengan jubah warna lembayung, kopiah raja yang megah, di bawah iringan Pui Sim-ki dan tiga pemuda tampan lain terus menelusuri permadani merah.

Jenggotnya yang panjang sudah dipotong dengan rajin hingga gemerlapan di bawah cahaya lampu, codet di dahinya seakan-akan juga bercahaya.

Ia bertindak dengan langkah lebar, tidak mengikuti irama musik, ia memandang kian kemari, lagaknya gagah dan angkuh.

Si Kucing tertawa, katanya, Meski menjadi pengantin baru, lagak Koay-lok-ong serupa hendak mencari seteru untuk berkelahi ....

Meski perlahan ucapannya, tapi baru berucap begini, segera sorot mata Koay-lok-ong yang tajam itu menyapu ke arahnya.

Jika orang lain tentu sudah ketakutan dan tidak berani bersuara lagi. Namun Him Miau-ji berlagak tidak tahu, ia berbalik tertawa dan berseru, Wahai Koay-lok-ong, terimalah ucapan selamatku! Jika hari ini adalah hari bahagiamu, kenapa engkau tidak bersikap ramah sedikit agar tidak membuat pengantin perempuannya ketakutan. Karena ucapan dan olok-oloknya ini, semua hadirin sama melengak.

Kening Koay-lok-ong tampak bekernyit, tapi segera ia pun tertawa, katanya, Jangan khawatir, pengantin perempuanku ini tidak nanti dapat ditakut-takuti siapa pun.

Ya, kata-kata ini memang benar juga, tukas Ong Ling-hoa dengan gegetun. Di tengah gelak tertawanya Koay-lok-ong sudah menaiki undakundakan, lalu duduk di kursinya.

Suara musik masih terus bergema, semua orang sama memandang ke pintu masuk, menantikan munculnya pengantin perempuan. Tapi meski sudah ditunggu sampai sekian lama bayangan pengantin perempuan tetap tidak kelihatan.

Tentu saja para hadirin saling pandang dan menampilkan rasa heran.

Cu Jit-jit sengaja berseru, Eh, mengapa jadi begini? Di manakah pengantin perempuan? Ya, jangan-jangan kabur di garis depan! Haha! tukas si Kucing dengan tertawa.

Meski mereka tahu Pek Fifi tidak mungkin tidak muncul, apa yang mereka ucapkan tidak lain hanya untuk membikin marah Koay-lokong saja. Maklumlah, dalam keadaan demikian mereka pun tidak gentar lagi. Bilamana seorang toh akan mati, apa pula yang ditakuti?

Muka Koay-lok-ong tampak masam juga, tanyanya dengan suara tertahan, Ke mana dia pergi?

Cepat Pui Sim-ki membisikinya, Setengah jam yang lalu Tecu melihat Nionio sedang bersolek di Pek-hoa-kiong.

Siapa saja yang berada di sana? Kecuali kedua mak tua juru rias dan ahli tata rambut paling terkenal merangkap penjual bedak, selebihnya yang berada di situ adalah pelayan pribadi Nionio.

Ahli tata rambut? kening Koay-lok-ong bekernyit pula.

Kakek Thio itu sudah 50 tahun bekerja begitu, di daerah utara sini, setiap anak perawan keluarga mampu yang kawin pasti dia yang memborong bedak yang diperlukan dan sekaligus menata rambut pengantin perempuannya.

Apakah sudah kau selidiki dengan cermat asal-usulnya? tanya Koay-lok-ong.

Sudah, selain seluk-beluk pribadinya, waktu datang juga sudah kami periksa dengan teliti, setelah jelas dia bukan samaran orang lain dan membawa sesuatu benda berbahaya barulah diperbolehkan masuk kemari.

Koay-lok-ong tersenyum puas, katanya, Selama dua hari ini rasanya aku hanya memerhatikan urusan pernikahan sehingga melupakan urusan lain, hendaknya kau kerja dengan lebih hati-hati.

Pui Sim-ki mengiakan dengan hormat.

Koay-lok-ong mengangguk-angguk, tapi bergumam lagi, Tapi mengapa dia belum lagi muncul.

Tecu sudah mengirim orang untuk mendesaknya, tutur Pui Sim-ki.

Coba kau pergi melihatnya lagi, apakah mungkin ada belum lanjut ucapannya, dengan

tertawa cerah ia menyambung, Aha, itu dia sudah datang!

Mereka bicara dengan perlahan sehingga orang lain tidak tahu apa yang diperbincangkan mereka, cuma ketika Koay-lok-ong tertawa cerah, serentak semua orang lantas memandang juga ke luar pintu. Benar juga, pengantin baru, calon permaisuri Koay-lok- ong, si cantik Pek Fifi memang sudah muncul di depan pintu.

Di bawah irama musik yang merdu ia melangkah masuk dengan lemah gemulai. Dia memakai baju sutra tipis yang berwarna-warni berhias pita yang cerlang-cemerlang dan terseret di lantai dan menelusuri permadani merah sehingga tampaknya serupa bidadari penyebar bunga.

Ia memakai kopiah indah dengan tutup muka tabir mutiara, samarsamar kelihatan senyumnya yang menggiurkan serupa dewi kahyangan.

Meski dia berjalan selangkah demi selangkah, yang dilalui hanya hamparan permadani merah, tapi setiap langkahnya serupa berjalan di atas surga, sikap anggun memesona.

Yang duduk di ruangan ini semuanya orang lelaki, setiap orang sama mengeluarkan suara takjub dan gegetun, Ai, sungguh beruntung orang yang dapat mempersunting gadis semolek ini.

Hanya Sim Long dan lain-lain saja yang tahu, barang siapa memperistrikan dia, maka orang itu pasti akan konyol, terlebih Koaylok-ong yang menjadi calon pengantin lelaki itu.

Sesuai gelarnya, Koay-lok-ong alias Raja Maha senang, mungkin dia memang hidup senang, tapi tampaknya dia akan segera berubah menjadi manusia yang paling malang dan paling tragis, selama hidup ini jangan harap lagi akan senang pula.

Setiap orang sama mengagumi kemegahan upacara nikah ini, hanya Sim Long dan lain- lain tahu yang berlangsung ini tidak lain hanya adegan tragedi yang paling memilukan.

Perlahan Pek Fifi mendaki undak-undakan pualam.

Koay-lok-ong tertawa senang sambil menggosok-gosok tiga buah cincinnya yang berbatu permata.

Mendadak Miau-ji berseru pula, dengan tertawa, Haha, pengantin perempuan sudah datang, masa pengantin lelaki tidak berdiri menyambutnya?

Memang harus begitu, Koay-lok-ong berkata. Silakan hadirin minum arak sepuasnya! Hei, masa hanya begini saja upacara lantas selesai? seru Miau-ji.

Koay-lok-ong tertawa, Ah, memangnya aku pun harus melakukan upacara tetek bengek serupa orang-orang udik itu? Bagiku upacara ini asalkan khidmat dan tidak perlu banyak adat. Cukup diketahui umum bahwa hari ini aku sudah menikah dengan istri yang tidak ada bandingannya di dunia ini.

Fifi tampaknya menjadi malu, dengan menunduk ia mendesis, Terima kasih Ongya. Kembali Koay-lok-ong terbahak dan hadirin pun bersorak.

Keempat tamu agung kita perlu dilayani khusus, pesan Koay-lokong.

Tapi Him Miau-ji lantas berteriak, Aku tidak sudi dicekoki pelayanmu yang busuk, bisa kusemburkan dan mungkin juga tumpah.

Koay-lok-ong berpikir sejenak, lalu memberi perintah, Sim-ki, boleh buka Koh-cing-hiat mereka, pesta ria ini harus berlangsung tanpa terganggu.

Jika cuma Koh-cing-hiat yang dibuka, tangan dapat bergerak, tapi karena Hiat-to lain masih tertutuk, maka belum lagi mampu menggunakan tenaga, jadi tangan hanya dapat digunakan untuk makan-minum saja. Maka pesta pun dimulai. Koay-lok-ong kelihatan sangat senang. Maklumlah, inilah puncak kesuksesan selama hidupnya, meski citacitanya belum seluruhnya terlaksana, tapi keadaannya sekarang sudah memungkinkannya untuk merajai dunia persilatan daerah Tionggoan, dengan sendirinya ia tertawa gembira.

Koay-lok-ong melirik Sim Long sekejap, lalu berkata dengan tertawa, Sim Long, coba lihat selama ini adakah seorang dunia persilatan mencapai sukses melebihiku, dalam keadaan demikian siapa pula bisa lebih gembira daripadaku.

Sesuatu yang sudah mencapai puncaknya segera pula akan menurun, kegembiraan yang melampaui batas pasti tidak kekal jengek Sim Long.

Air muka Koay-lok-ong berubah masam, katanya dengan gusar, Sim Long, jangan kau lupa saat ini engkau adalah tawananku Aha, kutahu, tentu lantaran engkau iri padaku

bukan? Kau iri akan kesuksesanku, cemburu padaku karena aku mempersunting istri secantik bunga ini, makanya kau bicara demikian.

Dan engkau tidak marah lagi? tukas Ling-hoa.

Bisa dicemburui orang semacam Sim Long kan harus dibuat bangga, kenapa aku perlu marah? ujar Koay-lok-ong tertawa, lalu

ia angkat cawan tinggi-tinggi dan berseru, Nah, apakah kalian tidak merasa pantas habiskan tiga cawan bagi kesuksesanku yang tidak ada bandingannya sepanjang zaman ini.

Seketika bergemuruh orang bersorak-sorai, semua orang berdiri dan menghabiskan isi cawan masing-masing.

Melihat keadaan bertele-tele begitu, Ong Ling-hoa menjengek, Tampaknya mereka sudah hampir masuk kamar pengantin dan kepala kita selekasnya akan dipenggal, masa engkau belum lagi berdaya, Sim Long?

Kesempatan belum ada, apa dayaku? sahut Sim Long. Bilakah kesempatan akan tiba? Menunggu setelah kepala kita terpenggal? jengek Ling-hoa pula.

Umpama begitu juga apa boleh buat? kata Sim Long.

Biarpun mati juga tidak menjadi soal, biarlah kuminum 300 cawan lebih dulu, ujar Miau-ji dengan tertawa.

Bagiku mati sekarang juga mendingan, Sim Long masih duduk di sampingku, tukas Jit-jit. Haha, bagus Sim Long, biar kusuguh tiga cawan padamu, rasanya tidak sia-sia persahabatanku denganmu ini, seru Miau-ji dengan tertawa, meski lantang suaranya terasa memilukan juga.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Baja Jilid 36"

Post a Comment

close