Pendekar Baja Jilid 11

Mode Malam
 
Jilid 11
 
Mungkin sudah terlalu lama dia tidak bicara, kini mendadak bisa bersuara, suaranya menjadi kurang jelas.

Ong Ling-hoa dan Sim Long sama terkejut, Sim Long berpaling dan bertanya, Apa kau bilang, Nona?

Sebetulnya Cu Jit-jit ingin bilang, Lepaskan cawan arak, araknya beracun.

Sungguh tak terpikir olehnya mendadak dirinya bisa bicara. Setelah sekian lama jadi orang bisu, kini dapat bicara lagi, betapa senang hatinya sukar dilukiskan.

Setelah tercetus perkataan lepaskan, ia sendiri pun kaget dan melongo, sampai lama ia tak mampu menyambung ucapannya.

Jelalatan bola mata Ong Ling-hoa, mendadak dia memburu maju dan menepuk hiat-to bisu si nona, maka Jit-jit tidak mampu bersuara lagi, ia cemas dan penasaran hingga keringat dingin bercucuran.

Sim Long mengerut alis, Kenapa Ong-heng tidak membiarkan nona ini bicara?

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, Nona ini terlampau lelah dan mengalami pukulan batin, pikiran belum tenang, setelah dapat bicara dan dapat bergerak, bukan mustahil dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan, tadi hampir saja kulupakan hal ini, kini biarlah dia istirahat dulu.

Sejenak kemudian ia angkat cangkirnya pula, Mari minum!

Sim Long agak bimbang, namun melihat Ling-hoa sudah menghabiskan isi cangkirnya, terpaksa ia pun tenggak araknya. Sudah tentu Cu Jit-jit yang berada di samping jadi gugup dan khawatir setengah mati, air mata pun meleleh.

Ong Ling-hoa mengisi secangkir penuh pula, katanya dengan tertawa, Secangkir ini kudoakan saudara dia memang pandai bicara, tutur katanya ramah dan sopan, tanpa
sadar Sim Long mengiringi dia menghabiskan tiga cangkir.

Sekujur badan Cu Jit-jit berkeringat dingin, kata-kata Ong Ling-hoa di penjara bawah tanah tempo hari kini seperti mengiang kembali di telinganya, Sim Long ... Sim Long Bagus,
ingin kubuktikan orang macam apa dia sebenarnya aku justru akan bikin dia mati di
depanku.

Seolah-olah terbayang oleh Jit-jit darah hitam meleleh dari tujuh lubang indra Sim Long, lalu jatuh berkelejatan meregang jiwa. Sungguh ia ingin minum ketiga cangkir arak beracun tadi dan bukan Sim Long.

*****

Bulan semakin tinggi, kini Si Kucing pun merasa rada heran.

Auyang Hi tetap mengentak kaki, katanya, Kenapa belum lagi keluar?
 
Kini dalam kamar tidak terdengar suara berisik apa pun, tenang dan sepi, hal ini mempertebal rasa curiga mereka, akhirnya Si Kucing menghela napas, katanya, Sungguh terlebih sulit daripada menunggu orang melahirkan anak.

Makan malam sudah disiapkan di atas meja, tapi ketiga orang ini tiada nafsu makan.

Pasti terjadi sesuatu, ya, pasti terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan ... demikian gumam Auyang Hi. Lalu dia melirik Si Kucing, tanyanya, Bagaimana? Perlu tunggu lagi?

Tunggu sebentar lagi ... sebentar lagi, sahut Si Kucing.

Mendadak Kim Bu-bong berkata, Tunggu lagi sebentar, kalau terjadi sesuatu, kau yang harus bertanggung jawab.

Aku yang bertanggung jawab? Si Kucing menegas. Kenapa aku yang harus bertanggung jawab?

Kalau kau tidak berani bertanggung jawab, biar sekarang aku menerjang ke dalam, jengek Kim Bu-bong. Mendadak dia berbangkit, tapi Si Kucing telah mengadang di depan pintu.

Apa pula kehendakmu? tanya Kim Bu-bong dengan gusar.

Umpama ingin masuk juga harus memberi tanda lebih dulu, ujar Si Kucing. Auyang Hi segera mengetuk pintu, serunya, Apa kami boleh masuk?
Terdengar suara Ong Ling-hoa berkumandang dari dalam, Kenapa terburu-buru? Tunggu sebentar lagi, hampir selesai.

Nah, bagaimana? ucap Si Kucing dengan tertawa. Apa salahnya tunggu sebentar lagi.

Mendengar ketukan pintu di luar, hati Cu Jit-jit amat girang, dia ingin berteriak supaya Si Kucing, Kim Bu-bong, dan lain-lain terjang masuk, apa pun juga, pasti masih sempat menolong jiwa Sim Long.

Tapi setelah mendapat jawaban Ong Ling-hoa, keadaan di luar kembali sunyi. Keruan di samping cemas Cu Jit-jit pun amat kecewa dan sedih, dengan sedih ia melihat Sim Long sekejap, sebetulnya dia tidak berani melihatnya lagi, namun tak tertahan dia menoleh ke sana juga.

Tertampak Sim Long masih berdiri tegak di tempatnya, ujung mulutnya masih mengulum senyuman khas yang santai dan gagah, sedikit pun tidak kelihatan keracunan.

Keruan Jit-jit melongo, entah kaget, heran atau gembira, bahwa arak itu tidak beracun, sungguh di luar dugaannya, mimpi pun tak terduga.

Didengarnya Ong Ling-hoa lagi berkata, Tugas terakhir ini aku tidak perlu dibantu lagi, Sim-heng telah bekerja cukup berat, tentunya lelah, silakan duduk dan istirahat saja.
 
Sim Long tertawa, katanya, Kalau demikian, tolong saudara kerjakan sendiri.

Kelihatannya dia memang sangat lelah, begitu duduk lantas memejamkan mata, tubuhnya juga lemas. Senyum di ujung mulutnya juga sirna, badan yang lemas akhirnya terkulai di kursi, entah tertidur pulas atau jatuh pingsan.

Baru saja hati Jit-jit merasa lega, melihat keadaan Sim Long, kembali air matanya meleleh saking cemasnya, sayang dia tidak mampu bersuara dan menangis tergerung-gerung.

Akhirnya Sim Long terperangkap juga oleh muslihat keji Ong Ling-hoa, ternyata dugaannya tadi tidak keliru, ketiga cangkir arak tadi mengandung racun.

Dengan dingin Ong Ling-hoa mengawasi Sim Long, ia tersenyum, senyuman misterius, dengan senyuman ini ia menghampiri Jit-jit, lalu menunduk dan mengawasinya.

Seperti mau menyemburkan bara sorot mata Cu Jit-jit, saking gemasnya ingin rasanya matanya benar-benar bisa menyemburkan api dan membakar mampus manusia keji ini.

Tapi sorot mata Ong Ling-hoa sebaliknya begitu lembut penuh kasih sayang, dengan tangan kiri dia membuka hiat-to di tubuh Cu Jit-jit, tapi tangan kanan tetap menekan hiat-to bisunya.

Dengan demikian, meski Jit-jit bisa bersuara, namun napasnya belum lancar, bersuara juga tidak bisa keras. Jit-jit tahu keadaan sendiri, maka ia pun segan buka suara.

Dengan tersenyum ramah Ong Ling-hoa lantas berkata, Nona Cu, kau ingin bicara, kenapa tidak katakan saja?

Mata Pek Fifi mendadak terbelalak, dia bergerak seperti hendak merangkak bangun, tapi sekali Ong Ling-hoa kebaskan lengan bajunya pada hiat-to penidurnya, seketika gadis itu tertidur pulas.

Jit-jit tambah kaget lagi, dengan suara gemetar katanya, Da ... dari mana kau tahu aku adalah ... adalah ....

Mendengar suara rintihanmu tadi, segera dapat kutebak siapa dirimu, jawab Ong Ling-hoa, karena rintihanmu itu terasa sudah pernah kudengar, pada saat itulah aku jadi menyesal kenapa baru sekarang teringat padamu, kenapa aku menyerahkan dirimu kepada Sim Long, perangkap yang kurencanakan kini malah menjerat diriku sendiri.

Malu tapi juga benci Jit-jit, ia tahu iblis ini pernah mendengar rintihannya itu, adegan tidak senonoh iblis laknat ini di dalam penjara bawah tanah tempo hari sampai mati pun takkan dilupakannya.

Ong Ling-hoa berkata pula dengan tertawa, Sayang Sim-siangkongmu belum pernah mendengar suara keluhanmu yang menggetar sukma itu, maka mimpi pun dia tidak menyangka akan dirimu ....

Kau iblis laknat ... kau damprat Jit-jit dengan suara parau.
 
Ong Ling-hoa tidak menghiraukan caci makinya, dia berkata sendiri, Karena mimpi pun dia tidak menduga akan dirimu, maka umpama tadi kau berteriak sekeras-kerasnya juga belum tentu dia mengenali suaramu, sebaliknya akulah justru mengenal suaramu.

Jit-jit menggereget, Kau ... binatang!

Ong Ling-hoa kelihatan semakin senang, katanya, Betul, aku ini binatang, tapi binatang macamku ini tanggung lebih kuat dan lebih bergairah daripada pahlawan pujaanmu itu, hal ini pernah kukemukakan kepadamu tempo hari, walau waktu itu kau tidak percaya, tapi asal kau mau melihat keadaannya sekarang, tentu kau akan tahu seribu Sim Long juga tak dapat dibandingkan seorang Ong Ling-hoa.

Jit-jit mendesis gemas, Mencelakai orang secara keji dan kotor, masih berani mengagulkan diri di hadapanku? Huh, bikin malu seluruh lelaki di dunia saja ... jika dengan kepandaian sejati kau bunuh dia, aku pun akan menyerah padamu, tapi perbuatanmu yang rendah dan kotor seperti ini, aku ... menjadi setan pun takkan mengampuni jiwamu.

Ong Ling-hoa tertawa, Sayang sekarang kau masih hidup, masih segar bugar, ingin menjadi setan juga tidak bisa.

Teriak Jit-jit dengan suara serak, Jika dia mati, segera aku pun akan menyusulnya ke alam baka.

Dia mati? Siapa bilang dia mati?

Jit-jit melengak, suaranya gemetar, Kau ... kau tidak membunuhnya?

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, Jika aku membunuhnya, bukankah seumur hidup kau akan membenciku? Kau adalah gadis pujaanku satu-satunya selama hidup ini, mana boleh kubikin kau membenciku?

Kejut dan senang hati Jit-jit, katanya, Tapi dia ... dia kini ....

Sekarang dia hanya terbius oleh obatku dan tidur pulas, tidak perlu kau khawatir, daya kerja obatku itu sangat mustajab, sedikit pun tidak menimbulkan efek sampingan yang merugikan, malah bila dia siuman nanti, dia takkan menduga bahwa barusan dia telah terbius olehku, rasanya seperti mengantuk dan pulas sekejap di atas kursi.

Kau, kenapa kau lakukan hal ini ....

Aku berbuat demikian hanya supaya kau tahu betapa pun aku lebih kuat daripada dia, jika dia betul-betul pintar seperti apa yang pernah kau katakan, mana mungkin dia tertipu olehku?

Dia adalah seorang kuncu tulen, seorang lelaki sejati, sudah tentu takkan berpikir dan menjaga diri terhadap muslihat keji seorang siaujin (manusia rendah), kata Jit-jit.

Ong Ling-hoa tertawa keras, katanya, Betul, dia adalah kuncu dan aku ini siaujin, tapi kau ini juga siaujin. Siaujin sama siaujin, kebetulan adalah pasangan setimpal, akan datang suatu ketika kau akan tahu hanya aku saja yang benar-benar setimpal menjadi
 
pasanganmu. Suatu hari kau akan kembali ke sampingku, ini mungkin karena pada hakikatnya engkau memang bukan pasangannya, kenapa kau harus menunggu dan menunggu dengan sia-sia, kuanjurkan lebih baik sekarang kau ikut aku saja, supaya kelak kau tidak berduka dan menangis.

Kentut, kentut busuk! ... maki Jit-jit dengan gusar. Aku lebih suka kawin dengan anjing dan babi, tidak sudi diperistri binatang yang lebih rendah daripada babi seperti dirimu ini.

Sekarang boleh kau benci padaku, boleh kau maki diriku sesuka hatimu, tapi jangan kau lupakan apa yang kukatakan kepadamu barusan ini.

Sudah tentu aku tidak akan lupa, mati pun aku tidak lupa. Jika kau seorang pandai, sekarang juga harus kau bunuh aku dan Sim Long.

Kenapa harus kubunuhmu? Mana aku tega membunuhmu?

Bila kau tidak membunuhku, nanti kalau Sim Long siuman, tentu akan kubongkar muslihatmu, kubongkar rahasiamu. Akan kusuruh Sim Long membunuhmu.

Ong Ling-hoa tertawa, Justru itulah keinginanku, kalau tidak, buat apa aku melepasmu tempo hari? Kalau tidak, untuk apa sekarang aku bicara panjang lebar denganmu?

Melihat betapa senang orang tertawa, mau tak mau Cu Jit-jit menjadi ragu dan heran, serunya, Kau tidak takut?

Setelah kau katakan nanti baru akan tahu apakah aku takut atau tidak ....

Tiba-tiba terdengar Sim Long yang pulas di atas kursi itu mengeluarkan sedikit suara gerakan. Ucapan Ong Ling-hoa seketika terhenti, telapak tangan yang menekan hiat-to di tubuh Cu Jit-jit juga dilepaskan, kembali ia tarik kelopak mata Cu Jit-jit terus diguntingnya. Gerak-geriknya cekatan dan ahli benar.

Walau sekarang Jit-jit mampu berteriak, namun cinta pada kecantikan adalah pembawaan setiap anak perempuan, betapa pun dia khawatir bila dirinya bergembar-gembor, gunting dan pisau di tangan Ong Ling-hoa bukan mustahil bisa mengiris kulit daging mukanya, itu berarti wajahnya yang ayu jelita akan cacat seumur hidup. Terpaksa dia menahan diri sambil mengertak gigi.

Didengarnya Sim Long menarik napas panjang, agaknya telah berbangkit, lalu seperti berdiri melenggong, akhirnya tertawa dan berkata, Apakah saudara belum rampung bekerja? Sungguh menggelikan, aku pulas di atas kursi.

Ong Ling-hoa tidak menghentikan kedua tangannya, jawabnya, Sim-heng hanya mengantuk sekejap Hampir selesai pekerjaanku, boleh saudara kemari melihatnya.

Sim Long tertawa, katanya, Aku memang ingin tahu siapa sebenarnya nona ini?

Jika nona itu begitu cantik molek, nona ini tentu juga bukan gadis sembarangan Nah,
silakan Sim-heng pentang lebar matamu, tunggu dan lihat sendiri.
 
Mulut bicara sementara gunting bekerja, lapisan luar kulit muka Cu Jit-jit telah digunting dan dikupasnya tidak keruan, kini dia tinggal mengusapnya saja dan wajah asli Cu Jit-jit lantas terpampang di depan mata Sim Long.

Betapa pun tabah dan tenang hati Sim Long, tak urung menjerit kaget juga.

Suara kaget ini terdengar di luar, Kim Bu-bong tidak tahan lagi, cepat ia memburu maju, sekali pukul, blang, daun pintu jebol dan orangnya pun menerobos ke dalam. Sudah kasip Si Kucing mau merintangi, lekas ia pun ikut menerobos masuk, setiba di depan ranjang, begitu melihat Cu Jit-jit, tak tahan ia pun menjerit kaget.

Cu Jit-jit ... bagaimana mungkin kau Sim Long tergegap.

Si Kucing juga mematung, gumamnya, Jadi ... kiranya engkau ....

Kedua orang ini memang tidak pernah membayangkan bahwa Cu Jit-jit yang dicarinya ubek-ubekan sekian lamanya, ternyata berada di sampingnya sendiri.

Pada saat itulah mendadak Jit-jit membalik badan, kedua tangan bergerak sekaligus, ia menyerang jian-kin-hiat di dada kiri, dan dua hiat-to mematikan di tubuh Ong Ling-hoa.

Sudah tentu Ong Ling-hoa telah menduga akan serangan ini, mana bisa dia kecundang semudah ini, sedikit berputar, dengan enteng dia menghindarkan diri. Sebaliknya Si Kucing dan Sim Long kaget sekali, keduanya bergerak berbareng, kedua tangan Cu Jit-jit telah dipegang mereka.

Sim Long menggenggam pergelangan tangan kanan si nona, katanya dengan suara tertahan, Jit-jit, apa kau gila? Mana boleh kau serang Ong-kongcu?

Kedua pergelangan tangan Cu Jit-jit seperti terjepit tanggam, mana mampu meronta lepas, dia gugup dan gelisah hingga mukanya merah padam, kedua kakinya mencak-mencak, teriaknya serak, Lepaskan! Kalian berdua babi goblok, kenapa memegangiku? Lekas lepaskan, biar aku mengupas kulit bangsat keparat ini!

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, Coba kalian lihat, susah payah kutolong nona ini hingga bebas diri penderitaan, tapi nona ini malah mau mengupas kulitku Wah, terhitung apa
ini?

Sim Long berkata, Mungkin lantaran pikirannya belum jernih, maka ....

Jit-jit mengentak kaki, makinya, Kentut, kau tahu apa, pikiranku belum pernah sejernih sekarang, kau kau inilah babi goblok.

Ong Ling-hoa tertawa, Kalau Nona berpikiran jernih, kenapa kebaikanku kau balas dengan jahat?

Kau masih berpura-pura? Kalau bukan gara-garamu, mana bisa aku mengalami nasib seperti ini? Aku ... aku apa pun aku akan membuat perhitungan denganmu.
 
Ong Ling-hoa menyengir, ujarnya, Apa yang dikatakan nona ini sungguh aku tidak mengerti. Sim-heng, Auyang-heng, dan Si Kucing manis, apa kalian tahu apa maksudnya?

Aku tidak mengerti, ujar Si Kucing, Nona Cu, kau ....

Tutup mulutmu, bentak Cu Jit-jit.

Sim Long menghela napas, katanya, Kaulah yang harus tutup mulut!

Manusia mampus, kau ini orang mampus, pekik Cu Jit-jit. Masa kau tidak tahu bahwa Ong Ling-hoa inilah iblis yang menculik Thi Hoat-hou, Can Ing-siong, dan lain-lain itu.

Sim Long terperanjat, dengan alis bekernyit dia menoleh ke arah Ong Ling-hoa.

Ong Ling-hoa malah tertawa, katanya, Nona Cu, apa kau perlu makan obat lagi? Selama ini tidak kukenal Nona, kenapa Nona memfitnahku?

Selama ini belum kenal? Aku memfitnahmu? Kau, kau bangsat keparat, binatang, perbuatan yang pernah kau lakukan kenapa tidak berani kau akui?

Aku pernah berbuat apa? ujar Ong Ling-hoa dengan lagak bingung, Aku telah menolongmu, memangnya apa salahku? Sim-heng, tolong kau beri keadilan!

Sim Long menghela napas, katanya, Sudah tentu Ong-heng tidak salah, mungkin dia ....

Hampir gila rasanya Cu Jit-jit, ia memandang kian-kemari tanpa menghiraukan betisnya yang mulus menongol keluar dari balik bajunya.

Terpaksa Sim Long menutuk hiat-to bagian bawah tubuh si nona, katanya dengan menghela napas, Tenanglah.

Setelah menutuk hiat-tonya, hatinya menjadi tidak enak, segera ia berkata pula, Kau tahu, tindakanku ini demi kebaikanmu.

Kau orang mampus, kenapa Ong Ling-hoa tadi tidak menusukmu mampus saja supaya matamu melek dan biar kau tahu siapa sebetulnya yang salah, siapa pula yang gila.

Ong-heng mana bisa membunuhku, kau Sim Long menyengir.

Masih omong lagi ... babi goblok, ingin kugigitmu, menggigitmu sampai mampus ....
mulutnya segera terbuka dan hendak menggigit Sim Long, sudah ia tentu tak mampu menggigitnya.

Agaknya Auyang Hi tidak tega, katanya, Umpama benar ada persoalan, Nona harus bicara dengan tenang dan secara baik-baik ....

Aku emoh bicara baik-baik, aku ... mau gila kalian bunuh aku saja, aku tidak mau hidup
lagi ....
 
Apa yang dikatakan ada benarnya, kejadian sesungguhnya, orang lain justru menganggap dia gila, keruan ia gugup, mangkel dan penasaran, mana dia kuat menahan perasaannya, akhirnya dia menangis tergerung-gerung.

Orang banyak saling pandang, sesaat lamanya mereka melenggong dan tiada yang bersuara.

Pek Fifi datang menghampiri, katanya dengan lembut, Nona ... Siocia, jangan menangis lagi, kumohon sukalah kau bicara dengan baik-baik. Dengan caramu ini kau sendiri yang rugi ....

Peduli apa dengan kau, aku rugi adalah urusanku, bentak Jit-jit dengan gusar. Kau ...
enyah, aku tak mau melihatmu.

Fifi menunduk, seperti anak kecil yang penasaran dimarahi dia menyingkir ke pinggir.

Sim Long menghela napas, katanya, Dia bermaksud baik, kenapa kau sekasar ini terhadapnya?

Dengan sesenggukan Jit-jit masih ribut, Biar, kau mau apa? Dia orang baik, aku aku
orang gila, pergi kau merawatnya, jangan pedulikan aku.

Akhirnya Pek Fifi juga tidak tahan, dia menjatuhkan diri di lantai dan menangis keras- keras.

Ong Ling-hoa keluarkan sebutir pil, katanya, Kukira keadaan Nona ini kurang sehat, obat ini dapat menenangkan pikirannya, silakan Sim-heng beri minum padanya.

Sim Long menatap Jit-jit, dilihatnya kedua bola matanya merah rambutnya kusut masai, keadaannya memang seperti orang yang kurang waras, terpaksa dia terima pil itu, katanya, Terima kasih ....

Kontan Jit-jit meratap dan berteriak, Aku emoh ... emoh minum obat obat itu pasti obat
bius, bila kumakan obat itu ingin mati pun tak bisa.

Sim Long tidak menghiraukan, pil itu diangsurkan ke depan mulutnya, katanya, Turut omonganku, jangan bandel ... telanlah pil ini ....

Sekuatnya Jit-jit menggeleng kepala, suaranya serak, Tidak mau, tidak mau, mati pun tidak mau. O, tolong tolonglah aku, kumohon jangan kau paksa aku minum obat ini, bila
kumakan obat ini, selamanya tak bisa lagi membongkar rahasianya.

Sim Long bimbang, katanya sambil menghela napas, Kalau kau mau tenang dan bicara dengan baik, aku tidak akan paksa kau, kalau tidak ....

Baiklah, aku akan bicara dengan tenang, asal kau tidak paksa aku minum obat itu. Apa yang kau minta kulakukan tentu akan kulakukan.

Sebenarnyalah dia sudah ngeri, maka menyerah dengan menderita.
 
Apa benar pil ini beracun? kata Ong Ling-hoa. Dia tertawa dingin dan ambil pil itu dari tangan Sim Long terus dimasukkan ke mulut sendiri serta ditelan, sambil mendongak katanya, Kalau pil ini beracun, biar aku yang mati keracunan.

Sim Long menghela napas, katanya sambil menggeleng, Jit-jit, apa pula yang dapat kau katakan?

Bercucuran air mata Jit-jit, katanya, Dengarkan, jangan kau percaya padanya, setiap langkahnya pasti mengandung muslihat keji, dia ... dia manusia paling jahat di dunia ini.

Ong Ling-hoa menyeringai, Nona Cu, sebetulnya ada permusuhan apa antara kau dengan aku, kenapa kau fitnahku?

Sim Long, dengarkan penjelasanku, setelah aku berpisah dengan kau tempo hari, kebetulan aku bertemu dengan rombongan Can Ing-siong, kulihat keadaan mereka seperti orang linglung, gerak-geriknya lamban sambil sesenggukan Jit-jit ceritakan bagaimana
dia memergoki gadis-gadis berbaju putih mengiring kawanan mayat hidup, bagaimana dia sembunyi di bawah kereta hingga ikut terbawa ke dalam taman yang serbaaneh, bagaimana dia kepergok Ong Ling-hoa, lalu ditawan oleh nyonya jelita yang misterius itu, akhirnya dia disekap di penjara bawah tanah, secara ringkas dan jelas diceritakan seluruhnya.

Kisahnya memang nyata, umpama Sim Long kurang yakin akan ceritanya terpaksa juga harus percaya.

Ong Ling-hoa tertawa dingin, katanya, Sungguh kisah yang menarik, apakah Sim-heng percaya?

Walau tidak menjawab, sorot mata Sim Long yang menatap muka orang dengan tajam jelas memancarkan rasa curiga.

Apakah Sim-heng tidak berpikir, jika kisahnya itu benar, urusan begitu penting dan begitu rahasia, mungkinkah kulepaskan harimau pulang ke gunung, membebaskan dia begitu saja?

Auyang Hi ikut menimbrung, Benar, dalam keadaan seperti itu, sudah tentu Ong-heng takut rahasia bocor dari mulut Nona Cu, jelas tidak mungkin membebaskan dia.
Sim Long tetap tidak bersuara, sorot matanya yang masih curiga beralih menatap Jit-jit. Nona itu menunduk, katanya, Dalam hal ini memang ada sebabnya, soalnya walau
watak Jit-jit kasar dan keras, tapi untuk menjelaskan kejadian di dalam penjara bawah tanah itu yang menyangkut kasih yang khusyuk masyuk itu, betapa pun sukar diceritakannya.

Tapi Sim Long justru mendesak lagi, Soal apa, katakanlah.

Jit-jit mengertak gigi, mendadak dia angkat kepala dan berseru, Baik, kukatakan, soalnya orang she Ong ini mencintai aku, tapi aku justru kasmaran terhadap orang she Sim, karena tak tahan pancinganku, dia tantang kubawa Sim Long padanya, maka aku dibebaskannya.
 
Bahwa seorang gadis belia berani bicara soal asmara di hadapan umum secara blakblakan, Auyang Hi dan lain-lain berdiri terkesima, sorot mata Si Kucing pun menampilkan rasa derita dan kecewa.

Ong Ling-hoa malah bergelak tertawa, katanya, Tutur kata Nona Cu sungguh mengasyikkan ... Umpama Nona Cu jelmaan bidadari, masakah perlu aku tergila-gila seperti itu kepadamu.

Masih berani mungkir? teriak Jit-jit serak. Berulang kali kau hendak mencelakai Sim Long, bukankah lantaran soal ini, barusan juga kau bilang kepadaku bahwa aku adalah perempuan satu-satunya yang paling kau cintai ....

Barusan aku bilang begitu? tukas Ong Ling-hoa dengan tertawa lebar. Sim-heng, apakah kau dengar?

Sim Long menghela napas, katanya, Aku tidak mendengar.

Jelas dia bilang begitu, tadi kau tadi terbius pulas oleh arak obatnya, saat itulah dia
bicara padaku.

Ong Ling-hoa gelang-geleng kepala, katanya, Nona bilang tadi aku berulang kali hendak mencelakai Sim-heng, kini kau bilang dia terbius pula hingga tidur pulas Sim-heng, bila
benar aku hendak mencelakai kau, kenapa tidak mumpung kau terbius kubunuhmu ...
Saudara-saudara, coba perhatikan, apa benar ada manusia tolol seperti itu di dunia ini? Hadirin diam saja dan saling pandang.
Jit-jit berteriak, Kau membiusnya untuk berbicara denganku karena waktu itu kau tahu siapa diriku, kau takut selama hidup aku membencimu, maka kau tidak berani membunuhnya.

Waktu itu Sim-heng sendiri pun belum mengenali dirimu, bagaimana aku bisa mengetahui akan dirimu. Apalagi, umpama benar aku sudah mengenalimu, tapi bila kutahu kau bakal membongkar rahasiaku, kenapa aku mau menolongmu, sekarang kuberi pula kesempatan bicara padamu, memangnya aku sudah gila? Mungkinkah aku mencelakai jiwaku sendiri?

Pembelaan masuk di akal, sudah tentu orang banyak tiada yang mau percaya pada cerita Cu Jit-jit.

Melihat sikap ragu orang banyak, saking gugupnya hampir gila Jit-jit, teriaknya dengan kalap, Kau iblis laknat, mana kutahu muslihat yang kau rancang?

Tentu saja kau tidak tahu, karena apa yang kau ceritakan itu kau alami dalam mimpi, omong kosong belaka, namun impian yang menyenangkan juga rupanya, demikian Ong Ling-hoa berolok-olok.

Setiap patah kata Jit-jit adalah kejadian sesungguhnya, peristiwa nyata, namun tiada seorang pun yang mau percaya padanya, betapa rasa penasarannya sungguh sukar
 
dilukiskan. Dengan serak dia berteriak pula, Apakah kalian tiada yang percaya pada perkataanku?

Tiada yang menjawab, namun sikap hadirin sudah memberi jawaban. Bola mata Cu Jit-jit menyapu pandang wajah mereka satu per satu, akhirnya dia tak tahan isak tangisnya pula, walau tangisnya amat sedih, namun tiada seorang pun yang mau menghiburnya.

Tiba-tiba Si Kucing berkata, Untuk membuktikan kebenaran kisah Nona Cu, kurasa ada satu cara dapat kita tempuh.

Kau kucing ini ada akal aneh apa? tanya Auyang Hi.

Bila kisah Nona Cu benar, pasti dia bisa membawa kita ke tempat yang diceritakan ....

Jit-jit berhenti menangis, serunya dengan terbelalak girang, Betul, itulah cara yang tepat! Tadi sudah kukatakan, aku akan bawa kalian ke tempat itu, orang she Ong jangan boleh pergi, setiba di tempat itu, coba apa yang bisa dia katakan.

Sim Long menghela napas, katanya, Sebetulnya soal ini tidak perlu dibuktikan, namun supaya dia tidak membuat ribut terpaksa kita gunakan cara ini, entah Ong-heng sudi tidak menyertai kami?

Tak perlu Sim-heng omong pasti juga kuikut, aku pun ingin tahu, cara bagaimana Nona Cu hendak membuktikan kisahnya. Kalau tak terbukti coba apa yang akan diucapkannya.

*****

Waktu itu sudah tengah hari, Lokyang termasuk kota besar di Tionggoan, sudah tentu amat ramai, jalan raya penuh orang berlalu-lalang.

Rombongan Cu Jit-jit sudah tentu menarik perhatian orang.

Air mata Jit-jit sudah kering, matanya masih merah, dia berjalan paling depan, liku-liku jalan di kota besar ini sudah tentu dia belum hafal, setelah putar kayun sekian lama, belum juga dia menemukan tempat tujuannya.

Auyang Hi boleh dikatakan adalah rajanya kota Lokyang, orang paling berkuasa di kota kuno ini, ada Auyang Hi di dalam rombongan ini, siapa berani bertingkah, bahkan melirik pun tidak berani kepada mereka.

Sim Long dan Si Kucing berjalan di kanan-kiri mengapit Jit-jit, ternyata Pek Fifi juga mengintil di belakang, berjalan sambil menunduk, sikapnya yang lembut dan jinak sungguh harus dikasihani.

Setelah putar kayun setengah hari, Auyang Hi mengerut kening, katanya, Agaknya Nona Cu tidak hafal jalan di sini, coba katakan saja di mana atau apa nama tempat itu, aku ini penduduk tua di kota ini, biar aku menunjukkan jalannya.

Jit-jit cemberut, katanya, Tak perlu kau menunjukkan jalan, juga tak perlu kau beri komentar.
 
Setelah putar satu lingkaran pula, mendadak mereka membelok ke sebuah jalan panjang, di kanan-kiri jalan terdapat lima-enam buah warung kecil, bau makanan yang harum merangsang hidung.

Perut Jit-jit sudah kelaparan, mencium bau masakan lezat, seketika tergerak hatinya, mendadak dia teringat waktu dirinya melarikan diri dari toko peti mati, perutnya juga sedang kelaparan, saat itu ia pun mencium bau masakan yang lezat seperti ini.

Waktu dia mendongak dan celingukan, merek toko dan nama warung sekitar tempat ini rasanya seperti pernah dikenalnya.

Jit-jit terbelalak girang, mendadak dia berlari ke depan, begitu angkat kepala, terlihatlah tiga huruf ONG SOM KI yang besar di sebuah pigura. Pigura berwarna dasar hitam dengan tulisan huruf emas ini betapa pun tidak salah lagi, apalagi di kedua pintu samping tergantung juga dua papan panjang yang berukir syair yang hafal baginya.

Waktu dia melongok ke dalam, di belakang pintu terdapat sebuah panggung tinggi, di atas lemari terdapat dua timbangan, dua kuli, seorang sumbing bibirnya, yang lain burik, sedang menimbang uang perak. Keadaan toko ini masih persis seperti waktu dirinya melarikan diri tempo hari.

Tak tertahan Jit-jit berteriak girang, Nah, ini dia di sini! Di toko peti ini? Sim Long mengerut kening.
Ya, dalam toko peti mati ini, tanggung tidak salah.

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, Toko peti mati ini memang milikku, bila anggota keluarga Nona Cu ada yang meninggal dan mau pakai peti mati, ukuran apa dan kualitas terbaik juga dapat kusumbang beberapa buah.

Jit-jit diam saja tidak menanggapi, langsung dia menerjang masuk lebih dulu.

Kedua pegawai itu hendak mengadang, begitu melihat Ong Ling-hoa, segera mereka menjura dan munduk-munduk, sapanya dengar cengar-cengir, Siauya, kau telah datang, tumben Siauya datang kemari, biarlah hamba menyeduhkan teh wangi.

Ong Ling-hoa mempersilakan para tamunya masuk, Sim Long bersama Si Kucing ikut menerjang masuk di belakang Cu Jit-jit.

Toko peti mati ini memiliki ruang pamer yang amat besar, peti-peti mati yang sudah siap dipasarkan dan yang belum jadi atau belum dipelitur tersebar di mana-mana, di sebelah belakang tukang-tukang kayu yang bertelanjang dada sedang sibuk bekerja, makan siang telah usai, banyak di antaranya sedang duduk di atas peti mati dan mengobrol sambil menikmati teh panas, mengisap pipa tembakau, melihat Ong Ling-hoa masuk membawa tamu, serempak mereka berdiri menyambut.

Pasah, gergaji, pahat, dan segala macam peralatan tukang kayu berserakan, serbuk gergaji bertumpuk, pasahan kayu berserakan, tapi Cu Jit-jit tidak pedulikan kotoran di
 
sekelilingnya, dia maju ke samping kiri, dia memeriksa lantai di sekitarnya, maka ditemukan sebuah papan batu di sebelah kiri ada tanda-tanda pernah dijugil. Seketika wajahnya tersenyum senang, inilah senyuman pertama selama beberapa hari ini, khawatir Ong Ling-hoa mencegah atau merintangi tindakannya, dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, langsung dia mendekat beberapa langkah, akhirnya dia tidak kuat menahan sabar, mendadak dia melompat ke atas papan batu itu, ia berpaling kepada Ong Ling-hoa dan berkata, Nah, sekarang apa pula yang hendak kau katakan?

Ong Ling-hoa seperti bingung, katanya sambil mengerut alis, Ada apa?

Jit-jit tertawa, katanya, Masih pura-pura pikun? Jelas kau tahu di bawah batu ini adalah mulut gua di bawah tanah yang terahasia itu, dari lubang inilah hari itu aku melarikan diri.

Urusan sudah sejauh ini, mau tak mau orang setenang dan sedingin Kim Bu-bong pun ikut terbeliak, sorot matanya tampak beringas menatap Ong Ling-hoa, tak tahunya Ong Ling- hoa malah tertawa, katanya, Bagus, bagus sekali!

Apanya yang bagus? jengek Jit-jit. Masa kau masih bisa tertawa?

Kalau di bawah batu ada lubang gua, kenapa Nona tidak membongkar papan batu itu? Sudah tentu harus kubongkar untuk bukti.
Biar aku? seru Si Kucing sambil melompat maju.

Jit-jit mendelik, katanya, Akulah yang menemukan tempat ini, siapa pun dilarang menggangguku.

Di sana terdapat palu besar, linggis dan sekop, Jit-jit mengambil sekop terus menggali tanah di pinggir papan batu, lalu menjugil batu itu perlahan.

Kejap lain batu itu sudah terangkat ke atas dan terbalik ke sebelah samping, tapi semua orang saling pandang dengan air muka berubah, Jit-jit juga menjerit kaget sambil menyurut mundur. Di bawah papan batu ternyata adalah tanah padat, mana ada lubang gua segala.

Mendadak Ong Ling-hoa tertawa terkial-kial, suaranya terdengar puas dan gembira.

Dengan kening bekernyit Sim Long awasi Jit-jit, sementara Si Kucing, Auyang Hi menggeleng kepala, hanya Kim Bu-bong yang berdiri diam tanpa menunjukkan reaksi apa- apa, Pek Fifi mencucurkan air mata.

Lama Jit-jit berdiri kesima, mendadak seperti gila dia ambil sekop dan membongkar jubin sekitarnya, orang banyak menyingkir jauh, menonton dengan berpeluk tangan, tiada yang membantu atau mencegah, jubin seluas dua tombak hampir terjugil semua oleh sekop Jit- jit, tapi di bawah jubin jelas adalah tanah yang rata dan padat, tiada tanda-tanda pernah digali atau ditimbun.

Nona Cu, ujar Ong Ling-hoa penuh kemenangan, apa abamu sekarang?
 
Cu Jit-jit basah kuyup keringat, pakaiannya berlumpur, kaki tangan pun kotor, makinya sengit, Kau bangsat keparat, kau ... pasti sebelumnya kau tahu kami akan kemari, maka siang-siang kau sumbat lubang gua itu.

Sim Long tertawa getir, timbrungnya, Tanah yang kau bongkar tiada tanda pernah digali atau ditimbun, orang awam pun tahu tempat ini tidak pernah dibongkar ... Jit-jit, Nona Cu, kuminta jangan membual lagi, sia-sia kita semua berputar kayun dan membuang tenaga belaka.

Jit-jit geregetan, teriaknya dengan air mata bercucuran, Sim Long, aku bicara sebenarnya, semua kejadian nyata, kumohon padamu, percayalah kepadaku, selama hidupku kapan pernah kudustaimu?

Tapi kali ini? Kali ini ....

Mendadak Ong Ling-hoa menyela, Jika Nona Cu masih penasaran, boleh kusuruh orang membongkar tanah sekitar supaya dia periksa dengan teliti hingga persoalan menjadi jelas.

Kenapa Ong-heng berbuat demikian ujar Sim Long.

Tidak apa, kalau urusan tidak dibikin beres, aku pun malu lalu dia memanggil tukang-
tukang kayu itu dan berkata, lekas kalian gali tanah di sekitar sini.

Sebelum magrib, tanah di dalam ruang itu sudah digali sedalam beberapa kaki hingga menjadi sebuah kolam, bagian bawah tanah adalah fondasi yang keras, setiap orang yang bermata dapat melihat dengan jelas. Maka Sim Long dan lain-lain hanya menggeleng kepala dan menghela napas.

Bagaimana Nona Cu? tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.

Bluk, akhirnya Jit-jit jatuh terduduk dengan lemas, mukanya pucat, matanya mendelong seperti orang linglung.

Ong Ling-hoa hanya memiliki toko peti mati satu ini di kota Lokyang, jadi tiada cabang lain, jika kalian tidak percaya, boleh silakan mencari tahu kepada penduduk dalam kota.

Urusan sudah telanjur sejauh ini, siapa pula yang tidak percaya kepadanya? Umpama sekarang dia bilang peti mati buatan tokonya semua bulat, mungkin tiada orang yang berani bilang tidak percaya.

Sim Long berkata, Kecuali minta maaf, terus terang tidak tahu apa yang harus kukatakan, semoga Ong-heng mengingat dia adalah seorang gadis hijau, jangan pikirkan persoalan ini dalam hatimu.

Mendengar pernyataan Sim-heng, umpama seluruh tokoku ini harus dibongkar juga kurela, kata Ong Ling-hoa. Bagaimana kalau Sim-heng mampir dulu di kediamanku?

Mana berani aku mengganggu lagi, lebih baik ....
 
Mendadak Cu Jit-jit melompat bangun, serunya, Kau tidak mau, biar aku ikut pergi. Kau mau ke mana? tanya Sim Long.
Jit-jit mengucek mata, katanya, Ke rumahnya. Kapan Ong-kongcu mengundang kau ke rumahnya?
Dia mengundang kau, maka aku ikut, aku ... aku harus memeriksa rumahnya.

Betul, ucap Ong Ling-hoa dengan tertawa, betapa pun aku pasti juga mengundang Nona Cu, apa pun Nona Cu harus memeriksa persoalan ini secara tuntas.

*****

Kekayaan Ong Ling-hoa merajai kota Lokyang, rumahnya megah pekarangan luas, bentuk bangunannya sudah tentu sangat hebat. Begitu masuk pintu, bola mata Cu Jit-jit lantas jelalatan, celingukan ke sana-sini.

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, Walau rumahku ini agak sempit, tapi di belakang terdapat taman yang indah permai, sayang Siaute tidak pandai mengatur tanaman dan bangunan sehingga keadaan morat-marit, mohon Sim-heng nanti memeriksa ke sana dan sudilah memberi petunjuk.

Sebelum Sim Long buka suara, Jit-jit menjengek, Kita memang harus memeriksa ke taman di belakang.

Sim Long tertawa getir, katanya, Ong-heng memang ingin kau periksa ke sana supaya selanjutnya tidak ribut lagi ....

Hanya manusia yang licin suka bicara secara terbalik, meski kutahu ucapannya juga sengaja pura-pura tidak tahu.

Segera dia mendahului melangkah ke dalam.

Jit-jit berjalan tanpa menentukan arah, melihat jalan lantas menerobos, sedikit pun tidak sungkan, serupa masuk ke rumah sendiri saja.

Sim Long mengikut di belakangnya, sering tertawa sambil menggeleng kepala.

Pepohonan di sini serbahijau dan tumbuh subur terpelihara baik, di sana loteng, di sini gerai pemandangan, letaknya diperhitungkan dengan tepat, jelas hasil tangan seorang yang ahli bangunan dan tata taman, berada di taman ini rasanya seperti di surga.

Taman seluas ini keadaan sepi lengang, tiada suara atau bayangan orang, kicau burung juga tidak terdengar, hanya jangkrik atau sebangsa serangga saja yang bernyanyi di tempat gelap.

Bergejolak perasaan Cu Jit-jit, batinnya, Ke mana laki-laki kekar berbaju hitam serta kawanan gadis penggiring mayat hidup itu?
 
Meski binal dan galak, betapa pun dia sungkan main geledah di rumah orang.

Di ujung taman terdapat beberapa rumah berloteng kecil, di samping sana terdapat istal kuda, suara ringkik kuda terdengar terbawa embusan angin. Semua ini jelas bukan pemandangan yang pernah dilihat Jit-jit hari itu. Akhirnya dia menghentikan langkahnya dan berkata, Rumahmu bukan di sini.

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, Masa rumahku sendiri tidak kukenal lagi dan Nona Cu lebih mengenalnya malah? Kalau benar omonganmu, bukankah aku ini orang pikun?

Jelas ini bukan rumahmu, teriak Jit-jit, hendak kau tipu diriku?

Auyang Hi tidak tahan, dia menyela, Sudah puluhan tahun Ong-kongcu tinggal di sini, aku berani menjadi saksi dan pasti tidak salah, jika Nona Cu tetap tidak percaya, Nona boleh tanya pula kepada orang lain ....

Kalau demikian dia pasti punya rumah yang lain.

Cayhe belum menikah, kurasa tidak perlu rumah lain untuk menyimpan si cantik. Keparat, mendadak Jit-jit menjerit, bisa mati gemas aku!
Mendadak dia berjingkrak, tangannya meraih secomot salju di atap gardu terus dijejal ke mulut serta dikunyahnya dengan bernafsu, giginya sampai berkeriut, orang lain menyaksikan dengan merinding, muka Jit-jit tampak merah padam seperti membara, saking gugup, gelisah dan gusar, badannya seakan terbakar, ingin rasanya bergulingan di atas salju.

Sim Long menyengir, katanya, Buat apa kau menyiksa diri ....

Jangan kau urus aku, bentak Jit-jit, pergi mendadak dia menerjang ke depan Ong Ling-
hoa, aku ingin tanya, bukankah kau punya seorang ibu?

Kalau Cayhe tidak punya ibu, memangnya aku dilahirkan dari celah-celah batu? Kenapa Nona tanya hal ini, apa kau sendiri tidak punya ibu?

Jit-jit anggap tidak mendengar ocehannya, bentaknya, Di mana sekarang ibumu? Jadi Nona ingin bertemu dengan ibuku?
Betul, bawa aku kepadanya.

Baiklah, memang aku ingin memperkenalkan Sim-heng kepada ibuku ....

Ong-heng, jangan kau turuti kehendaknya, mana berani aku mengganggu ketenangan ibumu, kata Sim Long.

Tidak apa, walau sudah lanjut usia, tapi ibuku paling suka menerima tamu muda yang gagah, jika Sim-heng tidak percaya, ini, Auyang-heng boleh menjadi saksi.
 
Ya, betul, ujar Auyang Hi. Bukan, saja aku sering bertemu dengan ibunya, pernah pula Siaute disuguh kuah jinsom masakan beliau sendiri, sungguh seorang tua yang welas asih.

*****

Waktu itu Ong-lohujin baru saja bangun tidur siang, rambutnya sudah ubanan seluruhnya, namun tersisir rapi dan berduduk di tengah ruang besar, dengan tertawa dia sambut kedatangan putranya yang membawa beberapa tamu. Raut wajahnya yang penuh keriput tampak berseri tawa, sambil bicara dan berkelakar dia berpesan kepada putranya supaya lekas menyiapkan perjamuan, jangan kurang adat terhadap tamu.

Orang banyak saling pandang sekejap, dalam hati sama berpikir, Memang seorang tua yang welas asih.

Tapi setelah berhadapan dengan nyonya tua welas asih ini, Jit-jit justru tambah gelisah dan hampir gila. Sebetulnya dia hendak membentak gusar, Dia bukan ibumu! Syukur dia belum gila benar-benar, dia tidak berani melontarkan kata demikian, dalam keadaan seperti ini, dia insaf dirinya terpaksa harus menahan emosi, maka dia hanya berpeluk tangan dan melancarkan gerakan tutup mulut.

Benaknya rasanya seperti butek dan pening, apa yang dipercakapkan orang lain sepatah pun tidak didengarnya, apa yang dilakukan orang lain juga tidak dilihatnya.

Untunglah hidangan sudah disuguhkan, setelah makan, Ong-hujin pamit masuk kamar, perjamuan usai, Sim Long mohon diri.

Dengan tertawa Ong Ling-hoa berkata, Nona Cu ....

Ada apa berteriak-teriak? bentak Jit-jit.

Pintu rumahku selalu terbuka menyambut kedatangan Nona Cu, kalau dalam hati masih curiga atau ada sesuatu yang kurang jelas, sembarang waktu boleh kau datang kemari.

Jit-jit hanya melotot saja dengan mendongkol tanpa balas berolok.

Ong Ling-hoa lantas berkata lebih lanjut, Kenapa Nona Cu tidak bicara lagi? Cu Jit-jit mengentak kaki terus menerobos keluar lebih dulu.
Sim Long tertawa getir, katanya, Begini sikap Ong-heng padanya, apa yang bisa dia katakan pula.

*****

Malam dingin, salju berhamburan. Sim Long tidak lagi minta meninggalkan kota, maka rombongan kembali ke rumah Auyang Hi, hingga malam ketika perjamuan diadakan pula, Cu Jit-jit tetap tutup mulut. Alisnya terkerut, kepala tertunduk, entah apa yang sedang dipikirkan. Siapa pun mengajak bicara juga tidak dipedulikan, seperti tidak mendengar.
 
Akhirnya Auyang Hi menghela napas, katanya, Ong Ling-hoa memang bukan seorang kuncu, tapi kuyakin dia juga bukan lelaki seperti apa yang dikisahkan oleh Nona Cu, kurasa dalam persoalan ini pasti ada salah paham, Sim-heng, kau ....

Tanpa kau katakan juga kutahu, tukas Sim Long.

Apa lagi, meski dia bun-bu-siang-coan (serbamahir ilmu silat dan sastra), tapi belum pernah dia pamer di depan umum, kecuali dua-tiga orang tua seangkatanku, penduduk Lokyang hanya tahu dia seorang pemuda kaya yang suka pelesir, siapa pun tidak tahu dia pandai kungfu, terhadap seluk-beluk dunia Kangouw dia lebih-lebih tidak pernah ikut campur.

Hal itu juga sudah kuketahui, kata Sim Long dengan tertawa. Mendadak Cu Jit-jit menggebrak meja, teriaknya, Kau tahu kentut!
Sim Long mengerut kening, katanya, Urusan sudah sejauh ini, kau masih ingin membuat ribut, kau memfitnah orang, jika Ong-kongcu kurang bijaksana dan ramah tamah, mana dia mau mengampuni kau.

Dia tidak mengampuni aku? jengek Jit-jit penuh kebencian. Hm, justru aku yang tidak akan mengampuni dia.

Apa pula yang hendak kau lakukan? tanya Sim Long.

Turun-naik dada Jit-jit saking gemas, akhirnya dia menghela napas dan berkata, Aku mau tidur.

Sim Long tertawa, katanya, Memangnya sejak tadi kau perlu tidur ....

Sejak tadi Pek Fifi duduk di samping Cu Jit-jit, segera ia berdiri, katanya, Biar kulayani Nona beristirahat!

Sambil menunduk dia ikut maju melangkah ke sana.

Mendadak Jit-jit membalik dan membentak, Siapa minta dilayani? Enyahlah yang jauh. Suara Fifi gemetar, katanya, Tapi ... tapi budi pertolongan Nona ....
Orang she Sim itu yang menolong kau dan bukan aku, boleh kau ladeni dia saja, sambil mendorong ke belakang Jit-jit lantas berlalu.

Sudah tentu Fifi tidak kuat menahan tolakan itu, tubuh yang lemah itu terhuyung dan air mata bercucuran.

Cepat Sim Long memapahnya, katanya, Begitulah tabiatnya, jangan kau berkecil hati, sebenarnya ... sebenarnya Ai, lahirnya dia kelihatan galak, padahal hatinya tidak
demikian.
 
Berlinang air mata Fifi, ia mengangguk, suaranya masih gemetar, Budi kebaikan Nona Cu terhadapku setinggi gunung, selama hidupku ini sudah menjadi miliknya, bagaimanapun sikapnya terhadapku adalah pantas ....

Lama Sim Long menatapnya, wajahnya yang tenang mendadak memperlihatkan perasaan haru, sesaat baru dia menghela napas, ujarnya, Cuma terlalu menyusahkan kau.

Fifi tertawa pedih, katanya, Aku memang bernasib jelek, derita apa pun sudah biasa kualami, apa lagi ... apalagi para Kongcu bersikap sedemikian baik kepadaku ... inilah ...
inilah hari-hari kehidupanku yang paling bahagia ....

Tangannya tidak berhenti menyeka air mata, tapi air mata justru tidak berhenti mengalir. Agak lama Sim Long termenung, akhirnya dia menghela napas, Pergilah tidur.
Terima kasih, Kongcu, ucap Fifi, lalu dia memberi hormat dan melangkah pergi.

Auyang Hi menghela napas, katanya, Perempuan seperti dia baru terhitung perempuan tulen, lelaki mana bila dapat mempersunting gadis seperti dia, sungguh bahagia selama hidupnya.

Si Kucing mendebat, Kau berkata demikian, memangnya Nona Cu itu bukan perempuan tulen dan gadis idaman?

Nona Cu? ... Kurasa ... oh Auyang Hi terbatuk-batuk untuk menghilangkan rasa
canggungnya.

Rase tua, tidak mau bicara, buat apa pura-pura batuk? berolok Si Kucing. Yang benar, meski Nona Pek sehalus sutra, secantik bunga, tapi Nona Cu juga tidak kalah dibandingkan dia.

Nona Cu memang sangat cantik, cuma tabiatnya ....

Kau tahu apa? Dia mengumbar nafsu karena dalam hati sedang dirangsang emosi, lelaki mana yang membuatnya kasmaran baru benar-benar bahagia hidupnya.

Auyang Hi tertawa, katanya, Apakah betul bahagia, untuk ini kurasa harus tanya Sim-heng.

Sim Long tertawa tanpa memberi jawaban. Saat mana hujan salju makin lebat di luar, hawa dalam kamar justru masih hangat. Sim Long menatap keluar jendela, mendadak dia bergumam, Malam sedingin ini, mengapa ada juga orang yang keluar di bawah hujan lebat?

Auyang Hi tidak jelas, dia tanya, Apa yang kau katakan, Sim-heng? O, tidak apa-apa marilah, Him-heng, temani aku minum secangkir.
 
Setelah beberapa cangkir arak masuk ke perut, mendadak Si Kucing mendorong cangkir dan katanya dengan tertawa lebar, Siaute sudah tidak kuat minum lagi, aku mau tidur ... haha.

Di tengah gelak tertawanya, blang, dia menumbuk kursi hingga terbalik terus melangkah dengan sempoyongan keluar pintu.

Sim Long berkata, Pertemuan meriah begini kenapa kau pergi lebih dulu?

Biarkan kucing itu pergi, mari kita minum tiga ratus cangkir, agaknya Auyang Hi mulai sinting.

*****

Setelah berada di luar, mata Si Kucing menjelajah sekitarnya, setelah yakin tiada bayangan orang lain, dengan langkah sempoyongan dia berjalan beberapa langkah lagi, tapi mendadak dia melompat ke balik pohon sana, gerak-geriknya tampak lincah, cekatan dan mantap, sorot matanya yang semula seperti mabuk kini berkilat terang.

Dia meluncur seperti bermain ski saja, meluncur ke samping sana dan melewati serambi, ia melayang ke sana di bawah hujan salju, lalu melompat ke wuwungan yang tertimbun salju.

Hujan salju yang hebat, suasana remang-remang. Sedikit merandek, setelah menentukan arah, Si Kucing melesat kencang ke depan. Embusan angin mengiris muka setajam pisau, dinginnya meresap tulang sumsum, namun dia tidak mengerut kening, dada baju malah disingkap terlebih lebar.

Beruntun dia melompat naik-turun delapan kali, kini dia sudah berada puluhan tombak jauhnya, dari kejauhan sempat dia melihat sesosok bayangan orang yang bergerak di wuwungan rumah di sebelah depan, segera ia berjongkok, menentukan arah dan meneliti sekitarnya. Tanpa mengeluarkan suara Si Kucing merunduk maju ke sana, langkahnya ternyata tidak meninggalkan jejak dan tanpa mengeluarkan suara. Dalam sekejap dia sudah melejit turun di belakang orang itu dan berdiri tegak dengan diam.

Didengarnya orang itu sedang bergumam sendiri, Menyebalkan, kenapa turun hujan selebat ini? Pantas kebanyakan maling yang berpengalaman suka bilang mencuri jangan pada waktu hujan salju, agaknya beroperasi pada saat seperti ini memang tidak leluasa.

Si Kucing tertawa, katanya tiba-tiba, Apa yang kau curi?

Orang itu berjingkat kaget dan membalik tubuh seraya mengayun tangga dan memukul dada Si Kucing, tanpa peduli siapa lawannya, dia menyerang secara keji.

Wah, celaka! seru Si Kucing. Belum lenyap suaranya, orangnya sudah roboh.

Orang itu berpakaian ketat dan berkerudung kepala, setelah merobohkan orang, dia berdiri bingung malah, bentaknya, Siapa kau?

Si Kucing telentang kaku sambil merintih-rintih.
 
Orang itu bergumam, Ginkang orang ini tidak rendah, kenapa kungfunya tidak becus ....
karena ingin tahu, segera dia melompat maju serta jongkok untuk memeriksa siapa gerangan korbannya ini.

Di bawah refleksi cahaya salju, dilihatnya mata Si Kucing terpejam, mukanya pucat.

Begitu melihat wajah Si Kucing, orang itu mendadak berseru kaget, gumamnya pula, Kiranya dia ... Wah, ba bagaimana baiknya?

Agaknya dia gugup dan juga menyesal hingga suaranya gemetar, akhirnya dia raih tubuh Si Kucing dan berkata, He, kau kenapa? ... Ayo bicara ... kau ... kau kenapa tak
berguna, sekali pukul lantas sekarat begini.

Dia tidak tahu bahwa Si Kucing sedang memicingkan mata dan mengintip kelakuannya, ujung mulut malah menyungging senyum geli. Mendadak tangannya bergerak menarik kain kerudung yang menutupi muka orang itu.

Orang itu kaget, saking gugupnya berlinang air matanya, siapa lagi dia kalau bukan Cu Jit- jit.

Si Kucing tertawa, katanya, Ternyata kau, memang sudah kuduga akan dirimu. Terangkat alis Cu Jit-jit, namun segera ia pun tertawa, Oo, apa benar?
Tapi tak kuduga sebelumnya, melihat aku roboh terpukul, kau kelihatan khawatir, aku ...
aku ....

Kau senang sekali, begitu? tukas Jit-jit.

Kau bersikap sebaik ini kepadaku, tak sia-sia aku memerhatikan dirimu. Memang selama ini aku amat baik terhadapmu, masa kau tidak tahu?
Aku ... aku tahu, kau ....

Aku menghendaki kau kau mampus, mendadak Jit-jit ayun tangan menggampar
beberapa kali muka Si Kucing, ditambah sekali tendangan pula hingga Si Kucing jatuh terjungkal.

Si Kucing tertegun ketika mukanya digampar, bluk, dengan keras dia jatuh terbanting pula di atas salju, pantat seperti mau pecah, kepala pusing dan mata berkunang-kunang.

Dilihatnya Cu Jit-jit bertolak pinggang, memaki sambil membungkuk badan ke arahnya, Kau kucing mampus, kucing malas, kucing busuk, memangnya nonamu sudah buta, kau sendiri yang mabuk kepayang, kau kau lekas mampus saja.

Sambil memaki dia mencomot salju terus ditimpukkan ke badan Si Kucing, lalu berlari pergi tanpa menoleh lagi.
 
Sekujur badan Si Kucing bertaburan salju, baru saja dia hendak memanggil, ternyata penghuni rumah terjaga bangun karena keributan ini, beberapa orang tampak lari keluar sambil membawa pentung dan menerjang ke arahnya, tanpa bicara terus menghajar Si Kucing dengan bernafsu.

Si Kucing tidak membalas, tapi berteriak-teriak, Tahan, berhenti ....

Tapi beberapa orang itu mencaci dengan gusar, Maling keparat, ganyang saja, ayo dibunuh!

Setelah terkena beberapa kali gebukan pentung baru Si Kucing berhasil menerjang keluar terus melompat ke atas genting dan melarikan diri, hatinya dongkol tapi juga geli.

Sejak dia berkecimpung di dunia Kangouw, kapan pernah digebuk orang, apalagi harus melarikan diri dalam keadaan runyam, waktu dia celingukan, bayangan Cu Jit-jit sudah tidak kelihatan. Setelah mengejar beberapa saat lamanya, tak tahan dia mengentak kaki dan mengomel, Budak busuk, budak setan, seorang diri berkeliaran, entah apa yang dilakukannya, bikin orang lain khawatir bagimu.

Mendadak didengarnya cekikik tawa geli di tempat gelap, katanya, Untuk siapa kau bergelisah begini?

Sambil membetulkan sanggulnya, Cu Jit-jit tampak muncul dari tempat gelap, tubuhnya yang semampai dan menggiurkan menambah cemerlang cahaya salju yang putih perak.

Si Kucing terpesona mengawasinya, katanya tergegap, Untukmu tentu saja demi kau.

Jit-jit tertawa, Jadi budak setan juga memaki diriku?

Selangkah demi selangkah dia menghampiri, Si Kucing juga menyurut mundur, dengan tertawa merdu Jit-jit berkata lembut, Jangan khawatir, walau kau memakiku, aku tidak marah.

Baiklah ... bagus sekali padahal jawaban yang tidak genah, di mana letak baiknya dan
mana yang bagus dia tidak tahu, akhirnya Si Kucing tertawa geli sendiri.

Coba lihat, sekujur badanmu berlepotan salju, mukamu juga bengep seperti dipukul orang, bocah segede ini, memangnya kau tidak tahu menjaga dirimu sendiri? tutur kata Jit-jit lembut penuh kasih sayang, kejadian yang baru menimpa Si Kucing seperti tiada sangkut pautnya dengan dirinya.

Si Kucing jadi menyengir, katanya, Nona ....

Jit-jit keluarkan saputangan sutra, katanya, Lekas kemari, biar kubersihkan wajahmu ....

Si Kucing malah mundur sambil menggoyang tangan, katanya, Terima kasih, terima kasih, maksud baik Nona tak berani kuterima, selanjutnya asal Nona tidak main kaki dan tangan, Cayhe akan berterima kasih kepadamu.

Tadi aku hanya berkelakar denganmu, apakah kau sesalkan perbuatanku?
 
Aku ....

Kau ini memang masih bocah, kukira lebih baik kau anggap aku sebagai taci saja,
supaya kelak Taci bisa selalu membela dirimu. Mendadak Si Kucing terbahak-bahak.
Jit-jit melotot, Kenapa tertawa?

Dengan tertawa Si Kucing bertanya, Sebetulnya ada urusan apa yang perlu kukerjakan, lekas katakan saja, tak perlu bermuka-muka, jika aku punya taci seperti dirimu, dalam tiga hari saja tulang badanku bisa terhajar remuk.

Merah muka Jit-jit, mendadak tinjunya menjotos secepat kilat.

Tapi kali ini Si Kucing sudah siaga, mana mampu dia memukulnya.

Jit-jit mengertak gigi, makinya dengar geregetan, Kucing mampus, kucing keparat, kau ...
kau.

Si Kucing berkata, Jangan khawatir, apa saja boleh kau katakan, pasti kukerjakan. Dia bicara sambil tertawa, namun sorot matanya menunjukkan ketulusan hatinya. Jit-jit tak mampu memakinya lagi, katanya, Apa kau bicara setulus hati?
Aku tidak suka ngecap, ucapanku pasti dapat dipercaya. Tapi tapi kenapa kau bersikap demikian?
Aku ... aku mendadak Si Kucing mengentak kaki, katanya, jangan peduli kenapa aku
bersikap demikian, pendek kata apa yang pernah kuucapkan pasti takkan kujilat
kembali, ada persoalan apa yang kau minta kulakukan, katakan saja. Jit-jit menghela napas, Apakah kau hafal jalan di kota Lokyang ini?
Jika kau ingin cari penunjuk jalan, tepat sekali kau cari diriku, jalan raya dan gang sempit di seluruh pelosok kota Lokyang ini serupa rumahku sendiri, dengan mata tertutup juga aku bisa menemukan tempatnya.

Baiklah, bawalah aku ke pasar bunga kota ini.

*****

Tengah malam musim dingin, pasar bunga kota Lokyang yang biasanya ramai sekarang jadi sepi lengang, penjual kembang yang rajin bekerja sama datang pagi-pagi, tapi tengah malam tak mungkin mereka berada di pasar. Cu Jit-jit keluyuran ke sana kemari, Si Kucing mengintil di belakangnya.
 
Jit-jit bergumam, Apakah kota Lokyang hanya ada pasar kembang satu ini?

Ya, hanya ada di sini, tiada cabang di tempat lain, kalau Nona ingin membeli bunga, sekarang masih teramat pagi.

Aku bukan ingin beli bunga.

Tidak ingin beli bunga, tapi berkeluyuran di pasar bunga, memangnya kau ingin makan angin malam yang dingin?

Pandangan Jit-jit menatap ke tempat jauh, mulutnya berkata lirih, Dalam hal ini ada rahasianya.

Rahasia apa?

Kalau kau ingin tahu, boleh kuceritakan kepadamu, tapi ... mendadak dia menoleh dan mengawasi Si Kucing, katanya pula dengan serius, sebelum kubeberkan rahasia ini, ingin kutanya padamu.

Si Kucing tertawa, Sejak kapan kau sungkan padaku? ... Tanya saja. Ceritaku ini menyangkut Ong Ling-hoa, kau percaya tidak?
Berkedip mata Si Kucing, gumamnya, Ong Ling-hoa keparat itu adakalanya memang tampak plinplan, kalau orang tanya asal usul ilmu silatnya, sepatah kata pun dia tak mau memberi keterangan. Coba katakan apa saja yang pernah dilakukannya, aku tidak akan kaget atau heran.

Ya, pasti tidak salah lagi. Hari itu aku sembunyi di bawah kereta, waktu masuk kota Lokyang pernah lewat dan mampir di pasar bunga ini, gadis-gadis di atas kereta turun sejenak membeli bunga segar.

Maka sekarang kau ingin menelusuri kejadian hari itu mulai dari pasar bunga ini untuk menemukan tempat di mana kau pernah disekap, begitu?

Kau memang pintar, puji Jit-jit tertawa.

Syukurlah kalau tidak bodoh, ujar Si Kucing dengan jenaka. Bagus, orang pintar, pergilah cari sebuah kereta dan bawa kemari. Mata Si Kucing terbelalak, tanyanya heran, Cari kereta untuk apa?
Jit-jit menggeleng, katanya, Baru saja bilang kau pandai, kenapa berubah bodoh pula. Hari itu aku sembunyi di bawah kereta, tiada yang bisa kulihat, terpaksa diam-diam aku mengingat arah kereta berjalan, maka sekarang aku harus mengulang dengan sebuah kereta ....

Betul, kali ini memang akulah yang bodoh, kenapa hal sepele begini tidak kupahami. Tapi tengah malam buta begini, ke mana dapat kucari kereta?
 
Laki-laki macam dirimu, persoalan apa yang pernah menyulitkan kau? Jangankan hanya sebuah kereta, sepuluh kereta juga dapat kau bawa kemari, betul tidak?

Si Kucing garuk-garuk kepala, Tapi ... tapi ....

Aku minta tolong, ya aku minta tolong, usahakan! pinta Jit-jit.

Si Kucing menghela napas. Baiklah, aku akan berusaha.

Jit-jit tertawa lebar, katanya, Nah, memang kau anak penurut, lekas pergi dan lekas pulang, aku menunggumu lalu dirabanya wajah orang dan berbisik di pinggir telinganya,
harus berhasil dan lekas bawa kemari, jangan membuatku kecewa.

Si Kucing bersungut-sungut, menggeleng kepala dan melangkah pergi.

Kira-kira sepemasakan air, terdengar derap kuda lari di bawah embusan angin dan taburan salju, tampak Si Kucing membawa datang sebuah kereta besar, wajahnya tampak puas dan bangga.

Jit-jit menyambut kedatangannya sambil berkeplok senang, serunya, Bagus, engkau memang pintar, dari mana kau peroleh kereta besar ini? Di mana kusirnya? Apakah kau curi kereta ini?

Mencuri atau merampas sama saja, pendek kata aku sudah menunaikan tugas dengan baik, memangnya kau belum puas? Untuk apa kau tanya asal usul kereta ini?

Jit-jit cekikikan, lalu ia hendak menyelinap ke bawah kereta. He, kau mau apa? tanya Si Kucing.
Goblok, berapa kali kukatakan padamu? Hari itu aku sembunyi di bawah kereta, maka sekarang aku ....

Mendadak Si Kucing bergelak tertawa, Betul, betul, aku memang goblok! Memangnya kau tidak goblok? Apa yang kau tertawakan?
Si Kucing menahan gelinya, katanya, Nona manis, hari itu karena khawatir kepergok orang, maka kau sembunyi di bawah kereta, tapi sekarang untuk apa kau sembunyi di bawah kereta pula? Untuk meneliti arah dan tujuan, apa bedanya duduk saja di depan kereta, kenapa harus meringkal di bawah kereta?

Merah muka Jit-jit, sesaat kemudian dia berkata sambil bersungut, Hm, anggap alasanmu kali ini betul, tapi juga alasan biasa, kenapa bangga? Orang bodoh adakalanya juga bisa pintar.

Si Kucing melongo, gumamnya kemudian, Pantas Sim Long tidak berani bercuit di depanmu, nona segalak dan sebinal ini, orang gelandangan seperti diriku ini juga mati kutu.
 
Apa katamu? bentak Jit-jit mendelik.

Tidak apa-apa, sahut Si Kucing gelagapan, Nona baik, Nona manis, lekas naik kereta. Segera Si Kucing ayun cemeti, tar, kereta berkuda itu segera berlari ke depan.

Jit-jit duduk di sampingnya, memejamkan mata dan mulut mulai menghitung, Satu, dua, tiga ... tiga puluh ... empat puluh ... sampai hitungan empat puluh tujuh mendadak dia membuka mata dan berseru, keliru, keliru!

Apanya yang keliru?

Kereta ini terlalu lambat, dibandingkan laju kereta hari itu jauh lebih lambat, lekas putar balik dan ulangi lagi dari depan pasar bunga.

Si Kucing menghela napas dan mengiakan, kereta diputar balik dan diulang.

Kembali Jit-jit menghitung, Satu, dua, tiga ... waktu hitung sampai empat puluh tujuh, kembali dia membuka mata dan berteriak, salah, salah lagi, kali ini terlalu cepat.

Si Kucing tak sabar, katanya dengan mendongkol, Apakah kau tidak bisa tahu lebih dini bila salah? Kenapa setelah sejauh ini baru ....

Jit-jit mendekap mulut orang, katanya dengan lembut dan tertawa, Hanya sekali lagi, ya, sekali saja, apa kau tidak sudi membantuku?

Sesaat Si Kucing menatapnya dengan kesima, akhirnya dia tertawa getir, katanya, Di hadapanmu, aku benar-benar tak berdaya lagi, jangankan hanya sekali, sepuluh kali juga kulakukan.

Sembari bicara kereta dia putar balik.

Kau memang anak baik, puji Jit-jit dengan tertawa.

Waktu kereta dilarikan lagi, kecepatannya kali ini tepat, Jit-jit terus menghitung sampai 90, lalu berkata, Belok kanan, lalu belok ke kiri.

Si Kucing memang melihat ada simpang jalan ke kanan. Maka kereta lantas dibelokkan ke kanan, di sebelah depan benar juga ada jalan yang membelok ke kanan, bilang belok kiri juga betul ada jalan membelok ke kiri, meski hitungan jaraknya ada sedikit berselisih, tapi kebanyakan tepat, mau tidak mau Si Kucing memuji dalam hati, Daya ingat budak ini memang hebat, apa yang dikatakannya agaknya bukan bualan.

Tengah Si Kucing membatin, mendadak didengarnya Cu Jit-jit berseru dengan tertawa, Sudah sampai, pasti di sini!

Lekas Si Kucing tarik tali kendali dan menghentikan kereta, tanyanya heran, Di sini?

Waktu Jit-jit membuka mata, dilihatnya jalan raya di sini dilapisi balok-balok batu besar, diapit dinding tinggi, di depan sana terdapat sebuah pintu besar bercat merah, undakan
 
batu tampak bersih dan rata, lampion terpasang benderang, di kedua samping undakan terdapat jalan samping yang bisa buat lewat kuda dan kereta, sekilas pandang, seketika dia berseru girang, Ini dia, pintu itulah!

Si Kucing tampak heran dan kaget, katanya, Maksudmu pintu di sana itu? Betul.
Kali ini mungkin kau keliru.

Tidak salah, tidak keliru, pasti tidak keliru.

Aku justru bilang keliru, karena penghuni rumah ini sudah kukenal.

Jit-jit kaget dan terbelalak, katanya, Kau kenal? Apa betul rumah Ong Ling-hoa? Memang Ong Ling-hoa sering kemari, tapi pasti bukan rumahnya.
Lalu ... tempat apakah sebetulnya?

Si Kucing menyengir, katanya sambil menggeleng, Tak dapat kukatakan ....

Kenapa tak dapat kau katakan, aku justru ingin kau bicara Ayo katakan, lekas!

Karena terdesak, Si Kucing ragu-ragu, ucapnya, Baiklah, kukatakan, tapi setelah dengar, jangan merah mukamu.

Mukaku merah? Memangnya begitu gampang? Baiklah, biar kujelaskan, itulah tempat lampu merah.
Tempat lampu merah artinya sarang pelacur, tapi Cu Jit-jit tidak tahu, setelah melenggong sekian saat, lalu diliriknya beberapa kali, katanya, Pintu besar itu diterangi lampion sebesar itu, mana ada lampu merah?

Si Kucing melongo, katanya dengan tertawa getir, Maksudku penghuni di rumah ini adalah kaum bidadari.

Penghuni rumah itu jelas kawanan iblis, kau justru bilang bidadari, memangnya kau juga sehaluan dengan mereka?

Dongkol hati Si Kucing, dengan tawa tertahan dia berkata, Nona manis, apakah benar kau tidak tahu apa-apa?

Apa pun aku tahu, kau ... kau memang sehaluan dengan mereka, kau kalian memang
ingin menggoda aku, akhir katanya suaranya sudah setengah terisak. Nona manis, Nona ayu, jangan menangis ... jangan menangis ....
 
Jit-jit melengos sambil mengentak kaki, Kentut, siapa menangis? ... Lekas katakan, tempat apakah itu, lekas katakan!

Si Kucing menghela napas, Baiklah, kujelaskan, bidadari adalah ... adalah nona-nona yang kerjanya tidak senonoh.

Khawatir Jit-jit curang paham, segera dia menambahkan dengan blakblakan, Tempat itu adalah sarang pelacur, penghuninya semua pelacur.

Sudah tentu malu Jit-jit, ia menunduk dan memainkan ujung baju, mendadak dia membalik tubuh dan melotot kepada Si Kucing, teriaknya, Sarang pelacur? Mana mungkin sarang pelacur? Kau tipu aku.

Kalau tidak percaya, kenapa tidak kau masuk memeriksanya.

Masuk ya masuk, memangnya aku takut? segera dia melompat turun terus berlari ke sana, tangan diangkat dan hendak menggedor pintu.

Tapi tangan yang sudah terangkat itu terhenti di udara, mendadak dia membalik dan lari kembali.

Dengan tertawa Si Kucing mengawasi tingkah lakunya tanpa bicara.

Didengarnya Jit-jit bergumam, Sarang pelacur, ya, mungkin saja tempat ini sarang pelacur. Pek-hun-bok-li itu adalah ... adalah bidadari, sarang pelacur, digunakan sebagai tempat operasi untuk menyembunyikan perbuatan mereka, memang akal yang bagus, siapa yang menduga orang-orang gagah yang biasa malang melintang di dunia persilatan bisa menjadi tawanan kawanan pelacur, lalu digusur dan disekap dalam sarang pelacur?

Si Kucing masih mengawasi tanpa bicara, namun kedua alisnya tampak bekernyit, senyum pun lenyap, kini kelihatan prihatin.

Jit-jit menarik lengan bajunya, katanya perlahan, Bagaimanapun aku sudah berada di sini, apa pun harus kuselidiki hingga jelas duduknya perkara.

Ya, memang harus demikian, lekas Nona masuk saja. Jit-jit melenggong, Kau ... kau suruh aku masuk sendiri?
Si Kucing berkedip-kedip, katanya, Apa Nona minta kutemani masuk?

Jit-jit gigit bibir dengan mendongkol, Hm, memangnya kau ingin kumohon padamu ... Huh, jangan harap, kau kira aku tidak pernah masuk ke sana, memangnya apa yang perlu ditakuti?

Lahirnya bilang tidak takut, padahal dalam hatinya takut sekali, adegan di dalam kamar bawah tanah, betapa tinggi kungfu si nyonya setengah baya yang cantik itu, betapa jahat dan culas hatinya, semua itu cukup membuatnya ngeri dan bergidik. Kejadian itu betul- betul membuatnya takut, seorang diri betapa pun dia tak berani masuk ke sana.
 
Akhirnya Jit-jit bersuara, Kau ...kau ....

Aku kenapa? tanya Si Kucing.

Apa kau tidak ingin masuk ke sana?

Untuk masuk ke tempat ini aku harus menunggu bila hari sudah mulai gelap, kantongku penuh berisi, dengan langkah lebar dan membusung dada kumasuk melalui pintu besar, mana boleh menyelundup masuk di tengah malam buta?
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Baja Jilid 11"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close