Kilas Balik Merah Salju Jilid 12

 
Bukan tanpa sebab secara mendadak Yap Kay teringat Siau Cap-it-long, sekalipun lagu gembala yang pilu itu membuat dia teringat akan tokoh besar itu, namun membuatnya teringat juga perkataan seorang bijak: Nun jauh di negeri seberang, konon setiap malam bulan purnama akan muncul makhluk aneh yang suka menggigit tengkuk manusia dan mengisap darahnya, di negeri itu rakyat menyebutnya sebagai manusia serigala.

Kebetulan malam ini bulan purnama.

Yap Kay mendongak memandang rembulan di angkasa, rembulan yang bulat dan besar, apakah setan pengisap darah sama seperti manusia serigala, akan muncul pada malam bulan purnama? Yang satu terjadi di negeri barat sementara yang lain berlangsung di negeri timur yang penuh misteri, biarpun berbeda sebutan, mungkinkah mereka adalah sejenis makhluk yang sama?

Yap Kay masih teringat cerita orang bijak itu: Manusia serigala hanya bisa dibunuh dengan benda yang terbuat dari perak.

Persis seperti setan pengisap darah hanya bisa dibunuh dengan kayu runcing dari bunga Tho.

Korban yang digigit manusia serigala konon akan berubah jadi manusia serigala, bukankah korban yang digigit setan pengisap darah pun akan berubah jadi setan pengisap darah?

Kelihatannya walaupun manusia serigala bukan jenis makhluk yang sama dengan setan pengisap darah, paling tidak mereka pasti punya hubungan famili.

Bulan nampak sangat bulat, bintang bertaburan di angkasa membiaskan cahaya yang sejuk, hanya hembusan angin barat yang terasa dingin membeku.

Ketika angin berhembus menggugurkan dedaunan, tak tahan Yap Kay merapatkan kerah bajunya, entah lantaran hawa yang dingin atau membayangkan kejadian menyeramkan, tubuhnya nyaris meringkuk jadi satu.

Cepat ia mengambil sisa arak setengah poci dan menenggaknya hingga habis, setelah itu tubuhnya baru terasa lebih nyaman. Saat itu tengah malam sudah hampir tiba, andaikata akan terjadi sesuatu, seharusnya peristiwa itu sebentar lagi akan berlangsung.

Berpikir begitu, dia pun menggunakan kesempatan itu untuk menangsal perut agar nanti sedikit lebih bertenaga.

Baru saja pikiran itu melintas dan hendak mengambil rangsum siap digigit, tiba-tiba terdengar suara aneh berkumandang datang.

Suara itu mirip ringkik selaksa kuda yang sedang berlari bersama.

Menyusul bergemanya suara itu, tampak ada segumpal cahaya tajam memancar keluar dari dalam sumur kering dan langsung menyorot ke angkasa.

Sementara suara ringkik aneh itu bergema makin keras, semburan cahaya itu pun makin terang benderang.

Tak tahan Yap Kay segera menutup sepasang telinganya dengan tangan, biarpun dengan segala kemampuan ia berusaha melihat apa gerangan yang telah terjadi, sayang pantulan cahaya itu terlampau kuat, akhirnya mau tak mau terpaksa dia harus memejamkan mata.

Meski mata telah terpejam, namun dia masih dapat merasakan betapa kuatnya pancaran cahaya itu, apalagi gendang telinganya. Coba kalau dia tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna, saat ini niscaya dia sudah jadi gila dibuatnya.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Apakah kejadian ini merupakan irama pembuka sebelum setan pengisap darah itu muncul?

Dalam sekejap mata, cahaya terang yang memancar membuat suasana di halaman belakang berubah jadi terang benderang, dalam waktu singkat pepohonan bergetar tiada hentinya, daun dan ranting pohon pun ikut bergoyang dan menari di udara.

Sejak kapan kumpulan cahaya itu menghilang?

Sejak kapan suara itu berhenti? Yap Kay sama sekali tak tahu, dia hanya tahu seakan-akan sudah lewat lama, lama sekali, seperti sudah lewat seabad lamanya.

Meski telinganya tidak lagi terasa sakit bagaikan ditusuk jarum, namun sisa dengungan suara masih bergema dalam gendang telinganya.

Biarpun sorot cahaya itu sudah tidak kuat tadi, namun matanya yang terpejam masih tersisa bekas sinar yang menusuk pandangan.

Menanti telinganya sekali lagi dapat menangkap suara deru angin barat, menanti matanya terbiasa  dengan pemandangan di saat malam, sekujur tubuh Yap Kay basah kuyup bermandikan keringat dingin.

Apa yang barusan terjadi?

Setelah berhasil menenangkan diri, Yap Kay mulai memeriksa keadaan di seputar sana, semuanya tenang, aman, tak terlihat perubahan apa pun.

Ah, tidak, tidak benar, ada sebuah benda yang telah hilang dari halaman belakang.

Benda apakah itu? Ternyata benda itu tak lain adalah jenazah lelaki tadi.

Mayat yang sebelumnya masih berbaring di tengah halaman, sekarang telah berubah jadi seonggok daun.

Dengan cepat Yap Kay melakukan pemeriksaan di sekeliling halaman belakang, bahkan wilayah beberapa tombak dari sana pun tak luput dari pengamatannya, tapi sekeliling sana tampak sepi, yang ada hanya selapis kabut tipis.

Mayat itu benar-benar hilang.

Benarkah mayat itu telah berubah jadi setan pengisap darah? Apakah raungan suara dan pancaran cahaya kuat merupakan perjalanan yang harus terjadi di saat mayat itu berubah jadi setan pengisap darah?

Kalau benar begitu, mengapa tak nampak setan pengisap darah? Kalau mayat itu benar-benar telah berubah jadi setan pengisap darah, mengapa dia tak datang menggigit Yap Kay? Masa setannya tidak melihat atau tidak merasa?

Atau Jangan-jangan setan itu kabur gara-gara mengendus bau kayu bunga Tho yang terselip di pinggang Yap Kay?

Berbagai pertanyaan itu seolah membelenggu seluruh benaknya, membuat anak muda itu termangu untuk sesaat.

Akhirnya dia mengambil sepoci arak lagi dan menenggaknya, sampai arak mengalir ke dalam perut baru dia menarik napas panjang dan melayang turun ke bawah.

Dia langsung melayang turun ke sisi gundukan daun kering itu, kemudian dari sana perhatiannya dialihkan ke sumur kering, kakinya pun perlahan- lahan melangkah mendekati sumur itu.

Mungkinkah dari sumur kering semacam ini dapat muncul suara dan cahaya yang luar biasa?

Yap Kay memungut sepotong batu, lalu ditimpukkan ke dasar sumur.

"Tuk!", memang tak keliru, suara benturan batu ke atas tanah, dari suara pantulan, tanah di dasar sumur itu pasti sangat keras, tak mungkin terdapat ruang atau lorong rahasia.

Perlahan Yap Kay bangkit, sambil bertopang dagu keningnya berkerut, masa semua yang terlihat olehnya barusan hanya khayalan pribadi atau fatamorgana? Sekalipun suara dan cahaya tajam itu muncul dari khayalan pribadi, lalu bagaimana dengan mayat itu? Bukankah terbukti jenazah itu telah hilang?

Bila orang lain yang bertemu kasus seperti ini, mereka pasti memilih pulang dulu untuk tidur sampai puas, kalau ada masalah lain, besok baru dibicarakan lagi.

Sayang Yap Kay bukan manusia semacam itu.

Bila dia adalah manusia semacam itu, tak mungkin akan muncul banyak kejadian yang penuh kesedihan, kegembiraan, kemurungan dan kepiluan.

Biar sepintas sumur kering itu tak menunjukkan pertanda yang mencurigakan, namun bila Yap Kay tak turun ke bawah dan melakukan pemeriksaan, selama tiga hari tiga malam ia pasti tak bisa tidur nyenyak.

Karena itu tak lama setelah mengernyitkan alis, pemuda itu sudah meluncur masuk ke dasar sumur.

Dasar sumur kering itu memang keras bagai baja, begitu melayang ke bawah Yap Kay segera tahu di bawah sana tak mungkin terdapat ruang rahasia atau sebangsanya, maka seluruh perhatiannya tertuju ke sekeliling dinding sumur.

Lumut hijau tumbuh subur di dinding sumur, perhatian Yap Kay pun segera dipusatkan pada lumut itu. Bukankah sumur ini kering sepanjang tahun?

Mana mungkin di atas tanah yang kering bisa tumbuh lumut hijau?

Sesudah diperhatikan, sekulum senyuman segera tersungging di bibir Yap Kay. Tangannya pun mulai meraba dinding sumur yang penuh ditumbuhi lumut.

Ketika jari tangannya menyentuh lumut itu, senyuman yang tersungging semakin mengental, tiba-tiba dipegangnya lumut itu, lalu ditarik ke belakang, mendadak lumut yang menempel di dinding sumur itu terobek sebagian.

Mana ada lumut yang bisa dirobek sebagian?

Sudah jelas lumut yang berada dalam genggaman Yap Kay saat ini adalah lumut palsu.

Setelah lumut palsu itu terkelupas dari dinding, kini terlihatlah empat-lima buah lubang bulat kecil, lalu apa kegunaan lubang kecil itu?

Tampaknya lumut palsu itu memang khusus ditempel di dinding untuk menutupi keberadaan lubang-lubang kecil itu.

Mengapa di atas dinding sumur yang kering bisa muncul lubang-lubang kecil? Apa kegunaan lubang kecil itu? Ketika semua lumut palsu dikupas, maka muncul lubang kecil yang lebih banyak.

Yap Kay memasukkan jari tangan ke dalam lubang itu, ternyata tidak tercapai dasarnya, ini menunjukkan lubang kecil itu sangat dalam. Karena gelap gulita, tentu saja ia tak dapat melihat dengan jelas isi di balik gua, mau didengar dengan menempelkan telinga pun tidak terdengar suara apa pun.

Sekali lagi Yap Kay dibuat pusing tujuh keliling, baru saja berhasil mengungkap rahasia lumut tempelan, kini terhadang lagi dengan rahasia lubang kecil.

Mengawasi begitu banyak lubang kecil yang tersebar di dinding sumur, Yap Kay berdiri termangu, dia benar-benar tak habis mengerti apa kegunaan lubang itu?

Untunglah di saat kepalanya terasa semakin pusing, tiba-tiba ia menemukan sesuatu, dilihatnya antara batu di dinding dengan batuan yang lain ternyata tidak berada dalam satu garis lurus, di antara batu dengan batu terlihat ada sebuah celah.

Bebatuan itu ada yang berbentuk besar ada pula yang kecil, sehingga sekilas pandang dinding itu nampak tidak rata dan teratur, tapi pada dinding yang berada satu setengah meter dari dasar sumur terlihat sederet bebatuan yang justru tersusun rata.

Ketika bebatuan itu sampai di situ, semuanya tersusun menjadi satu garis datar, tampaknya tempat itu memang sengaja diatur demikian.

Begitu menjumpai penemuan itu, bukan saja rasa pusing Yap Kay seketika hilang, senyuman yang tersungging di ujung bibirnya juga nampak semakin kental.

Ditatapnya celah yang rata itu beberapa saat, ia dorong dinding itu ke dalam.

Baru saja menggunakan tiga bagian tenaganya, dinding itu tahu-tahu sudah amblas ke bawah, dengan amblasnya dinding sumur, maka terasalah hawa dingin yang menyengat menerpa keluar, bahkan diiringi suara mencicit yang sangat aneh.

Yap Kay tahu, gejala itu merupakan akibat bertemunya udara dari dalam dan dari luar, maka ditunggunya hingga suara aneh itu lenyap baru dia melangkah masuk ke dalam pintu rahasia itu.

Lorong itu sangat gelap, sedemikian gelapnya hingga susah melihat jari tangan sendiri. Apakah jalan itu lurus? Atau ada belokan?

Terpaksa Yap Kay berjalan sambil berpegangan dinding, lebih kurang tujuh-delapan tikungan kemudian secara lamat-lamat baru ia melihat ada cahaya lentera di kejauhan sana.

Berjalan mendekati sumber cahaya, perasaan Yap Kay malah tidak setegang tadi, karena dimana terdapat sumber cahaya di situlah terletak jawaban semua teka-teki ini, tentu saja tempat itu merupakan sumber dari segala mara-bahaya.

"Kalau sudah datang, berusaha melakukan yang terbaik", maksud perkataan itu diketahui Yap Kay melebihi orang lain, maka dengan riang dia melanjutkan langkahnya mendekati sumber cahaya itu.

Cahaya lentera sangat lembut, tapi sepasang mata itu nampak berwarna keabu-abuan.

Begitu tiba di ruangan yang bercahaya, Yap Kay pun menyaksikan sepasang mata berwarna abu-abu.

Bukan saja abu-abu warnanya, bahkan jauh lebih dingin daripada salju abadi di puncak Cu mu lang ma, begitu dingin sehingga membuat aliran darah siapa pun terasa ikut membeku.

Yap Kay menghindari tatapan mata orang itu, dan dia pun melihat tangannya.

Tangan kiri orang itu buntung, warna tangan kanan pun semu abu-abu, seperti tangan mayat yang baru keluar dari balik peti mati.

Ia mengenakan jubah panjang berwarna hijau pupus, rambutnya panjang namun tersisir rapi, kedua alisnya tebal dan rapat, hidungnya mancung, tapi sayang raut mukanya kelewat menunjukkan kesepian dan kesendirian.

Bibirnya amat tipis, tapi sekilas pandang dia seperti orang yang selalu pegang janji. Orang yang telah mati di tangannya juga sangat banyak, kelihatan sekali tangannya lebih banyak dipakai membunuh daripada mulutnya digunakan untuk berbicara.

Sebilah pedang tanpa sarung terselip di pinggang sebelah kiri. Pedang itu berwarna hitam pekat, sepekat alis matanya.

Tegasnya pedang itu tak pantas disebut sebilah pedang, lebih cocok kalau dibilang lempengan besi sepanjang satu meter yang tidak memiliki mata pedang, tak punya ujung pedang, bahkan gagang pedang pun tak ada.

Dia hanya menggunakan dua lembar kayu tipis yang dipantekkan di ujung lempengan besi dan menganggapnya sebagai gagang pedang.

Pedang yang dimilikinya memberi kesan seakan sebuah mainan anak-anak, tapi Yap Kay sadar justru mainan itu berbahaya sekali dan lebih baik jangan mencoba untuk bermain dengannya.

Orang itu duduk di bawah cahaya lentera dengan tenang, tapi punggungnya tetap dibiarkan tegak lurus, tubuhnya seakan terbuat dari besi baja, hawa dingin, keletihan, kepenatan dan rasa lapar tak akan membuatnya takluk dan runtuh.

Di kolong langit seakan tak terdapat kejadian apa pun yang dapat membuatnya takluk.

Alis matanya yang tebal pekat, matanya yang besar, bibirnya yang tipis hanya nampak satu garis, hidungnya yang mancung membuat raut muka orang ini kelihatan begitu kurus kering, raut muka itu gampang membuat orang teringat akan sebongkah batu karang, batu karang yang begitu keras, kokoh, dingin, sama sekali tak peduli dengan urusan lain, bahkan terhadap diri sendiri sekalipun. Menyaksikan tampang orang ini, tak terasa Yap Kay teringat A Fei, A Fei yang mempunyai hubungan sehidup semati dengan gurunya.

Ada banyak bagian pada tubuh orang ini yang mirip A Fei, satu-satunya perbedaan hanya terletak pada matanya, kalau sinar mata A Fei selalu memancarkan kehangatan, mata orang ini justru mendatangkan kematian.

Yap Kay percaya, yang selalu didatangkan pedang milik orang ini adalah kematian.

Tidak ada kehidupan di ujung pedangnya, kiri kanan pedang pembunuh ganda.

Yap Kay yakin, orang ini pastilah si pembunuh berwajah dingin Hing Bu-bing, seorang pembunuh yang angkat nama berbareng A Fei. Hing Bu-bing!

Yap Kay yakin dugaannya tak keliru, dia percaya orang yang berada di hadapannya sekarang adalah Hing Bu-bing, pembantu utama Siangkoan Kim-hong.

Sebab hanya Hing Bu-bing yang bisa mendatangkan perasaan kematian bagi siapa pun.

Sekali lagi Yap Kay mengalihkan sorot matanya mengawasi mata orang itu, sekali lagi mengamati cahaya abu-abu yang mendatangkan kesan kematian.

Bila orang ini benar-benar Hing Bu-bing, berarti hari ini Yap Kay bakal menghadapi sebuah pertarungan paling berbahaya yang belum pernah dialaminya sepanjang hidup.

Dia masih teringat pesan gurunya, "Walaupun ilmu silat yang dimiliki Siangkoan Kim-hong jauh lebih tinggi daripada Hing Bu-bing, tapi dia tidak sengeri Hing Bu-bing, sebab dia tidak memiliki hawa kematian yang dimiliki Hing Bu-bing".

"Aku lebih senang bertarung tiga hari tiga malam melawan Siangkoan Kim-hong daripada bertarung sesaat melawan Hing Bu-bing".

Itulah perkataan yang pernah disampaikan Siau-li si pisau terbang tentang Hing Bu-bing. Dia memang seorang yang sangat menakutkan.

Dan kini Yap Kay telah berjumpa dengannya, berhadapan langsung dengan Hing Bu-bing.

Dulu Li Sun-hoan belum sempat bertarung melawan Hing Bu-bing, apakah hari ini Yap Kay harus mundur sebelum bertarung?

Di ujung lorong bawah tanah merupakan sebuah ruangan kosong, selain Hing Bu-bing, di sana hanya terdapat tujuh-delapan buah lentera.

Biarpun cukup banyak lentera yang tersedia, namun cahaya yang terpancar sangat lembut. Suara orang itu pun sangat lambat, tak ada nada suara, juga tak terselip perasaan dan emosi.

Hanya Hing Bu-bing yang bisa mengeluarkan suara semacam ini.

"Jenis manusia di dunia ini sangat banyak, ada sebagian orang yang mudah dibunuh, ada pula sebagian yang susah," mimik mukanya kelihatan begitu suram dan layu, tapi suara maupun sorot matanya terasa begitu dingin menggidikkan, "tangan pun ada banyak jenis, ada yang bisa membunuh, ada pula yang tak mampu."

Yap Kay tidak menanggapi, tidak bicara, hanya mendengarkan, mendengarkan dengan seksama.

"Dulu aku tersohor karena menggunakan tangan kiri, tapi sejak tangan kiriku kutung, banyak orang menyangka aku hanya seorang cacat yang tak berguna."

Tak salah lagi, ternyata orang ini benar-benar Hing Bu-bing.

"Oleh karena itu orang-orang itu mampus di ujung pedang tangan kananmu," Yap Kay membantunya menyelesaikan perkataan itu.

Perlahan-lahan Hing Bu-bing mengangkat tangan kanannya, sambil menatap tangan sendiri, ujarnya, "Sejak usia sebelas tahun aku mulai berlatih pedang, pada usia lima belas sudah mampu memainkan pedang kilat. Tapi aku butuh waktu hampir tujuh tahun lamanya untuk melatih tangan kiriku memainkan pedang, tahukah kau apa sebabnya aku berbuat demikian?" "Katakan!"

"Aku selalu percaya, di antara jagoan yang tangguh pasti terdapat jagoan yang lebih tangguh. Aku melatih tangan kiriku menggunakan pedang karena aku yakin suatu ketika nanti pasti akan bertemu juga dengan musuh yang benar- benar tangguh, saat itulah pedang tangan kiriku akan memperlihatkan kebolehannya."

Sesudah berhenti sejenak, terusnya, "Siapa sangka belum sempat kugunakan kemampuanku, tangan kiriku sudah keburu buntung."

Tangan kirinya bukan ditebas kutung orang, tapi dia sendiri yang memotongnya. Walaupun bahu kirinya terluka lebih dulu karena serangan Siau-li si pisau terbang, tapi kalau bukan dia sendiri yang menghujamkan pisau terbang itu hingga melukai tulang sendinya, tak nanti tangan kirinya bakal cacat.

Tentu saja Yap Kay mengetahui kejadian ini, sekalipun bukan diberitahu Li Sun-hoan, namun berita itu sudah tersebar luas dalam dunia persilatan.

Yap Kay punya telinga, bisa mendengar sendiri, bisa menganalisa dan mengambil kesimpulan, oleh sebab itu selama ini dia sangat mengagumi sepak terjang Hing Bu-bing.

Sepak terjang? Sepak terjang seorang Enghiong? Apa yang disebut Enghiong? Apakah sepak terjang Hing Bu-bing selama ini bisa dianggap sebagai Enghiong? Enghiong melambangkan apa? Bukankah tak lebih hanya kesadisan, kekejaman, kesepian dan tidak berperasaan?

Pernah ada orang menyimpulkan arti Enghiong, membunuh orang bagaikan mencabut rumput, suka judi bagai orang kalap, suka minum bagai orang kehausan, suka main wanita setengah mati!

Tentu saja tidak semua Enghiong berwatak begitu, masih ada sejenis Enghiong yang lain.

Enghiong semacam Li Sun-hoan.

Tapi ada berapa banyak Enghiong macam Li Sun-hoan di dunia ini? Namun terlepas Enghiong macam apakah dia, mungkin hanya satu hal mereka mempunyai kesamaan, mau menjadi Enghiong macam apa pun, jelas bukan suatu perjuangan yang enteng untuk mencapainya.

Hing Bu-bing telah mengalihkan pandangan matanya  dari tangan kanan sendiri ke wajah Yap Kay yang masih berdiri di depan pintu, lalu perlahan-lahan memperkenalkan diri, "Aku bernama Hing Bu-bing!"

"Aku tahu."

"Peristiwa terbesar yang membuatku menyesal sepanjang masa adalah tak sempat bertarung melawan Li Sun-hoan," kata Hing Bu-bing lagi, setelah berhenti sejenak terusnya, "Apakah kau bernama Yap Kay?"

"Benar. Yap daun dan Kay membuka."

"Jadi kaulah satu-satunya murid pewaris ilmu Li Sun-hoan?"

"Sayang aku hanya berhasil menyerap dua- tiga bagian ilmu silat guruku." Sekali lagi Hing Bu-bing menatap tajam Yap Kay. "Mana pisau terbangmu?"

"Ada."

"Dimana?"

"Ditempat seharusnya dia berada," jawaban Yap Kay sangat hambar. Tempat seperti apakah seharusnya dia berada? Bagian mematikan di tubuh lawan?

Jawaban Yap Kay kali ini sangat tepat dan diplomatis, tentu saja Hing Bu-bing sangat memahami artinya, oleh sebab itu dari balik matanya yang keabu-abuan terlintas secercah cahaya tajam, namun hanya sebentar kemudian lenyap kembali.

"Bagus, tak ada guru pandai yang tak memiliki murid hebat," kata Hing Bu-bing hambar, "bila di masa lalu Li Sun-hoan pun memiliki sifat yang bebas tak terikat, tak mungkin dia mengalami nasib yang begitu tragis."

Yap Kay hanya tertawa, menyangkut persoalan ini dia memang tak pernah mau menj awab.

Tentu saja Hing Bu-bing mengerti maksud Yap Kay, maka dengan cepat ia berganti topik.

"Tanggal berapa hari ini?" tiba-tiba ia bertanya. "Bulan delapan tanggal sebelas," lalu Yap Kay

balik bertanya, "apakah hari ini bermakna khusus?". "Betul," dari balik mata Hing Bu-bing tiba-tiba muncul cahaya kabur tak jelas, dengan nada seperti terkenang kembali masa lampau, terusnya, "Hari ini pada sembilan belas tahun berselang Siangkoan Kim-hong tewas di ujung pisau terbang Li Sun-hoan."

Kemudian setelah berhenti sebentar untuk tarik napas, tambahnya, "Hari ini pada sembilan belas tahun berselang, aku pun sedang merayakan ulang tahunku yang kesembilan belas."

Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Hing Bu-bing, berbareng juga hari ulang tahun kematian Siangkoan Kim-hong.

Yap Kay menatap tajam wajah Hing Bu-bing, tampaknya hari ini dia hendak menyelesaikan semua budi dan dendam yang terjalin selama ini.

Hing Bu-bing menarik kembali sinar matanya yang kabur, sekali lagi dia menatap wajah Yap Kay.

"Tahun ini aku baru berusia tiga puluh delapan tahun, namun seandainya aku tidak menyebut usiaku, dapatkah kau sangka usiaku baru tiga puluh delapan tahun?"

Yap Kay mengawasi wajah Hing Bu-bing dengan seksama, bila harus menilai usianya dari raut mukanya sekarang, siapa pun tak akan mengira dia baru berumur tiga puluh delapan tahun.

Biarpun wajahnya memiliki cahaya seorang berusia pertengahan, namun ujung matanya justru telah dipenuhi kerutan seorang lelaki tua, sampai pipinya yang menonjol keluar pun sudah dipenuhi kerutan.

Biarpun rambutnya masih berwarna hitam, namun jenggotnya sudah banyak yang putih, biarpun tubuhnya masih keras,  tapi siapa pun dapat melihat semua itu tertopang oleh penderitaan, siksaan serta rasa dendamnya yang membara.

Kesan yang ditimbulkan atas keseluruhan tubuhnya bukan hanya kusut dan tua saja, bahkan lebih tepat kalau dibilang benar-benar sudah peyot dan rentan.

"Kau memang tidak mirip orang yang baru berusia tiga puluh delapan," Yap Kay berterus terang, "paling tidak wajahmu menunjukkan usiamu sudah mencapai lima puluh delapan tahun."

"Benar, wajahku memang mencerminkan wajah orang yang telah berusia lima puluh delapan," Hing Bu-bing manggut-manggut, "ini disebabkan selama sembilan belas tahun terakhir aku telah menjadi jauh lebih tua dari siapa pun."

Menjadi lebih tua sembilan belas tahun dari orang lain? Memang tak salah, kalau orang lain sedih paling hanya sesaat, tapi selama sembilan belas tahun dia harus menanggung derita karena sedih, pilu dan terbakar api dendam kesumat. Memang ada dua hal di dunia ini yang gampang membuat orang menjadi cepat tua, satu karena cinta, yang lain karena dendam kesumat.

Benih cinta dapat membuat orang sedih hingga membetot sukma, sementara dendam bisa membuat orang pilu hingga ke tulang sumsum, sampai mati pun tak akan reda.

"Sembilan belas tahun sudah lewat," Hing Bu- bing menghela napas panjang, "selama sembilan belas tahun ini hampir setiap saat kunantikan kesempatan berduel melawan Li Sun-hoan, tapi hingga hari ini aku baru dapat bertemu denganmu, dan baru sekarang kusadari akan satu hal, jangan harap dalam kehidupanku bisa mengungguli Li Sun-hoan. Tahukah kau apa sebabnya?"

"Kenapa?"

"Karena dendam kesumat." "Dendam kesumat?"

"Aku hidup demi dendam kesumat, tapi aku pun kalah karena dendam kesumat," Hing Bu- bing menerangkan, "sekalipun aku berlatih tekun sembilan belas tahun lagi juga jangan harap bisa menangkan Li Sun-hoan, sebab hatiku selalu dibakar oleh rasa dendam yang membara, sementara Li Sun-hoan memiliki hati pemaaf dan pengampun."

Yap Kay tidak memahami maksud perkataannya, tentu saja Hing Bu-bing juga tahu dia tak paham, maka segera jelasnya, "Dipandang dari luar, aku memang selalu berusaha mempelajari ilmu silat Li Sun-hoan, berusaha menemukan titik kelemahan jurus silatnya.

Setelah berjuang selama sembilan belas tahun, kuakui memang aku berhasil menemukan titik kelemahannya, tapi sayang aku tetap tak mampu mengunggulinya."

Setelah berhenti sejenak, terangnya lebih jauh, "Sebab selama ini aku hanya berkonsentrasi mencari pemecahan dalam melawan ilmu silatnya, sementara kemampuan silatku sendiri justru terhenti pada posisi sembilan belas tahun berselang. Padahal Li Sun-hoan tak terbeban masalah apa pun, jelas dalam sembilan belas tahun terakhir kungfunya telah mengalami kemajuan yang lebih pesat "

Bila ilmu silat tidak dilatih pasti akan mengalami kemunduran, bila air tidak mengalir pasti terjadi penyumbatan. Teori ini berlaku dari dulu hingga sekarang dan tak pernah berubah.

Tapi sayang kebanyakan orang tak dapat memahami teori ini, tak disangka dalam keadaan seperti ini Hing Bu-bing justru menyadarinya, dari sini dapat disimpulkan kalau kungfu yang dimilikinya saat ini sudah berbeda jauh dengan sembilan belas tahun silam.

Dapat menyelami berarti ada kemajuan. Teori ini pun tak pernah berubah sejak dulu.

"Sekalipun aku tahu sulit mengungguli Li Sun- hoan, namun aku tetap akan bertarung melawannya, karena hal ini menyangkut soal prinsip," kemudian sambil berpaling ke arah Yap Kay, tanyanya, "Kau paham?"

"Aku paham," Yap Kay manggut-manggut, "sama seperti diriku, biarpun tahu dalam pertarungan hari ini aku bukan tandinganmu, namun aku tetap akan bertempur melawanmu, sebab hal ini pun merupakan prinsipku."

Walau sudah tahu bakal mati, tapi tetap juga bertarung. Karena masalahnya sudah bukan menyangkut masalah hidup dan mati.

Masalah ini sudah menyangkut pertarungan antara kaum lurus melawan sesat, kebaikan melawan kejahatan, kehormatan melawan penghinaan.

Sepasang tangan Pho Ang-soat terasa amat dingin, hatinya pun dingin.

Sebuah kesalahan yang selamanya tak mungkin bisa dihilangkan telah terjadi, kedua orang itu tak tahu bagaimana harus berhadapan.

Bila kau jadi Pho Ang-soat, apa yang akan kau perbuat?

Bila kau jadi Hong-ling, apa pula yang akan kau lakukan?

Menyusul datangnya sinar fajar, kabut malam  berangsur hilang, sinar  matahari pagi mulai menembus daun jendela, menyinari wajah Hong-ling.

Ia sedang mementang mata lebar-lebar, mengawasi Pho Ang-soat yang masih berbaring di sisinya tanpa berkedip.

Pho Ang-soat tak berani balas menatap wajahnya, dia hanya berharap apa yang terjadi semalam hanya impian.

Benarkah kejadian semalam hanya impian?

Sekalipun memang impian lalu bagaimana?

Di atas ranjang masih tersisa bau harum yang tertinggal karena gejolak birahi semalam, bau harum itu tiada hentinya menyusup masuk ke lubang hidung Pho Ang-soat, timbul perasaan yang tak terlukis dengan kata dalam hati kecilnya.

Jendela berada dalam keadaan terbuka, langit di luar sana pun sudah semakin terang. Langit, lembah dan pagi hari yang tenang, langit dan bumi seolah tercekam dalam keheningan.

Namun perasaan Pho Ang-soat justru tak tenang, pikirannya terasa amat kalut.

Sebentarnya dia adalah seorang yang suka kebebasan, berkelana seorang diri, berbuat semau hati, tapi sekarang terjebak dalam keadaan serba salah, dia tak tahu bagaimana harus bersikap terhadap Hong-ling.

Sikap Hong-ling sendiri masih seperti sedia kala, sambil bangun dan duduk dia benahi rambutnya yang kusut, lalu sambil tersenyum tanyanya kepada Pho Ang-soat, "Pagi ini kau ingin makan apa?"

Dalam situasi dan keadaan seperti sekarang, setelah mereka melakukan hubungan yang begitu bergairah, ternyata wanita itu masih bisa bertanya kepadanya dengan nada lembut, ingin makan apa?

Pho Ang-soat berdiri bodoh, dia betul-betul tak tahu bagaimana harus menj awab.

Hong-ling mendelik, tegurnya, "He, sejak kapan kau berubah jadi bisu?"

"Aku... tidak... tidak "

Kontan Hong-ling tertawa cekikikan. "Ah, ternyata kau bukan berubah jadi bisu, tapi rada mirip orang bloon," ejeknya.

Sikapnya terhadap Pho Ang-soat masih seperti sedia kala, sama sekali tidak berubah, atas kejadian semalam pun dia sama sekali tak menyinggung.

Dari lagaknya, seakan-akan dia tidak menganggap peristiwa yang terjadi semalam sebagai satu masalah serius, dia masih tetap bersikap sebagai Hong-ling yang dulu.

Mungkinkah peristiwa berasyik-masyuk yang terjadi di antara mereka semalam dianggapnya sebagai sebuah impian saja?

Pho Ang-soat tak kuasa menahan diri lagi, serunya, "Kau..... Agaknya Hong-ling  dapat  menebak apa yang hendak dia ucapkan, segera tukasnya, "Kenapa denganku? Masa kau pun ingin mengatakan kalau aku pun orang bloon? Kau tidak kuatir kujitak kepalamu sampai bocor?"

Kini Pho Ang-soat sudah mengerti niat Hong- ling, tampaknya dia sudah bertekad tak akan menyinggung lagi peristiwa semalam, hal ini dikarenakan dia tak ingin kedua belah pihak sama-sama menderita dan tersiksa gara-gara kejadian itu.

Pho Ang-soat menatapnya lembut, tiba-tiba muncul perasaan haru yang tak terlukiskan dengan kata, sekalipun dirinya dapat melupakan kejadian semalam, namun perasaan haru dan terima kasihnya tak pernah akan terlupakan untuk selamanya.

"Kau tak ingin bangun?" kembali Hong-ling menegur sambil memperlihatkan senyumannya yang khas, "masa kau ingin berbaring terus di atas ranjang?"

"Aku tak ingin," akhirnya Pho Ang-soat ikut tertawa, "biarpun aku seorang bloon, paling tidak masih belum segoblok seekor babi."

Selama hidup mungkin Pho Ang-soat belum pernah menikmati sarapan selezat hari ini.

Tentu saja hal ini menurut anggapannya. Paling tidak sarapan hari ini dilahap dalam suasana hati yang amat riang dan gembira. Riang pasti ada, tapi mengapa harus gembira? Dia sendiri pun tak sanggup memberi penjelasan.

Dia hanya merasa dadar telur hari ini sangat harum, ca rebungnya amat manis, ca sayurannya amat lezat, bahkan nasi yang mengepul pun terasa nikmat.

Sehabis sarapan pagi, Pho Ang-soat membuat sepoci air teh dan duduk di halaman depan sambil menikmati indahnya sinar matahari pagi.

Seusai bebenah dalam dapur, Hong-ling ikut muncul di halaman muka sambil tersenyum, kepada Pho Ang-soat katanya, "Hari ini aku hendak turun gunung sejenak."

"Turun gunung? Mau apa?" tanya Pho Ang-soat tertegun.

"Aku ingin membeli barang di dusun terdekat." "Membeli barang? Apakah kau butuh barang di

sini?" kata Pho Ang-soat terperanjat.

"Tidak, hanya secara tiba-tiba aku ingin membeli sedikit barang," sahut Hong-ling sambil tersenyum, "bukankah membeli barang adalah sebuah kenikmatan, apalagi untuk seorang wanita."

Pho Ang-soat manggut-manggut, menghamburkan uang memang termasuk salah satu kenikmatan, tentu saja dia mengerti akan teori itu.

"Membeli barang memang merupakan suatu pekerjaan yang menyenangkan, terlepas barang yang kau beli berguna atau tidak, namun sewaktu membeli kau akan merasakan satu kenikmatan," Hong-ling menerangkan, "padahal wanita sendiri juga tahu, terkadang barang yang dibeli belum tentu berguna, tapi setelah melihatnya mereka tetap tak tahan untuk membeli. Tahukah kau apa sebabnya begitu?"

Pho Ang-soat tidak tahu.

"Hal ini dikarenakan mereka suka dengan sikap jilat pantat yang dilakukan pelayan toko," ujar Hong-ling lagi sambil tertawa, "sudah lama aku tak menikmati perasaan semacam itu, maka hari ini aku berniat menikmati lagi bagaimana enaknya jilat pantat."

Pagi ini udara memang terasa lembut, sampai hembusan angin pun terasa indah. Pho Ang-soat duduk tak bergerak di tengah halaman, hari ini ia benar-benar menikmati kehidupan yang indah.

Hong-ling sudah setengah jam meninggalkan rumah, sebelum pergi dia berjanji akan pulang sebelum tengah hari.

Kini jarak dengan tengah hari masih satu jam lebih, Pho Ang-soat mulai merasa sedikit lapar, dia berharap tengah hari segera tiba.

Perasaannya saat ini sungguh aneh, dia bukan lapar karena ingin makan, tapi dia amat menyukai suasana rumah ketika bersantap.

Biarpun Hong-ling baru setengah jam meninggalkan rumah, namun dia merasa seolah sudah ditinggal setengah tahun lamanya, hatinya begitu gundah dan tak tenang, seperti seorang perjaka yang untuk pertama kalinya jatuh cinta, selalu berharap datangnya waktu untuk berjumpa.

Mirip juga seorang bocah yang mencuri makan gula-gula, lalu bersembunyi di balik selimut sambil menikmatinya, selain senang, dia pun kuatir ketahuan orang.

Seorang lelaki yang telah berusia tiga puluh tahunan ternyata masih malu-malu macam perjaka, membayangkan keadaan dirinya, tanpa terasa Pho Ang-soat tertawa getir.

Andaikata Yap Kay mengetahui kejadian ini, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak saking gelinya.

Teringat akan Yap Kay, tanpa terasa timbul lagi perasaan kuatir di hati kecil Pho Ang-soat, kemana saja dia telah pergi? Apakah telah balik ke Ban be tong? Ataukah melanjutkan penyelidikannya atas kehidupan Be Khong-cun?

Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah bertemu ancaman bahaya maut?

Begitu teringat Yap Kay, Pho Ang-soat merasa malu sendiri, ternyata demi seorang wanita dia telah belasan hari bersembunyi di situ, ternyata demi seorang wanita dia telah meninggalkan sahabat, tidak menggubris keselamatan temannya lagi. Ai! Kalau dahulu, biar dihajar sampai mampus pun tak bakal dia lakukan, tapi sekarang ... dia telah melakukan semua itu.

Ah, tidak bisa begini terus! Kalau ingin kehidupan di kemudian hari dilewatkan dengan tenang, kau harus segera kembali ke Ban be tong untuk membantu Yap Kay, kalau tidak hati nuranimu pasti tak bakal tenang.

Pho Ang-soat memutuskan akan memberitahukan rencananya pada Hong-ling setelah ia kembali nanti, besok dia harus meninggalkan tempat itu selama beberapa hari, bagaimana pun dia tak boleh berpeluk tangan membiarkan rekannya menderita.

Ia yakin Hong-ling pasti mengerti dan memakluminya.

Di saat penantian, waktu selalu terasa seolah berjalan sangat lambat.

Dengan susah payah akhirnya tiba juga saat tengah hari, tiba-tiba Pho Ang-soat merasa hatinya semakin tegang, matanya mengawasi terus jalanan setapak di luar pintu tanpa berkedip.

Matahari tepat di tengah langit, hawa panas yang menyengat membuat kening Pho Ang-soat dibasahi oleh keringat, bukan berkeringat karena hawa yang kelewat panas, ia berkeringat karena hingga sekarang Hong-ling belum juga kembali.

Setelah tiba saatnya, waktu pun seolah berubah jadi amat cepat, Pho Ang-soat berusaha menghibur diri sendiri, sebentar lagi dia pasti akan kembali, buat apa dirinya panik? Kan belum benar-benar lewat tengah hari.

Entah berapa lama telah lewat, kini matahari telah bergeser ke langit barat.

Hembusan angin masih tetap seperti hembusan angin pagi, awan pun masih sama seperti pagi tadi.

Namun dalam perasaan Pho Ang-soat, seluruh dunia seakan telah berubah, berubah total, berubah jadi hampa.

Hingga kini dia masih tetap duduk di ruang tengah, cahaya matahari senja yang memancar di wajahnya membuat parasnya yang pucat berubah jadi kuning keemas-emasan.

Magrib sudah menjelang tiba.

Hingga kini Hong-ling belum juga terlihat kembali, bayangan pun tak nampak.

Perasaan gelisah Pho Ang-soat kini telah berubah jadi perasaan kuatir, dia kuatir Hong-ling telah menjumpai masalah, apakah ia sudah dihadang seseorang? Atau suatu peristiwa telah menimpanya? Jangan-jangan Be Khong-cun telah mengirim orang lagi dan mencegatnya di tengah jalan?

Sekarang ia mulai menyesal, mengapa pagi tadi ia memberi izin kepadanya untuk pergi seorang diri? Mengapa bukan pergi bersama dirinya? Kalau kemarin jagoan yang dikirim Be Khong- cun bisa melakukan pembokongan di tempat itu, besar kemungkinan hari ini mereka akan menghadang di tengah jalan.

Berpikir sampai di situ, Pho Ang-soat makin panik, kalau bisa dia ingin segera menyusul ke dusun terdekat.

Tapi baru saja melangkah keluar pintu, kembali pemuda itu ragu, kalau sekarang ia menyusul ke kota sementara  Hong-ling kebetulan kembali, bukankah mereka berdua bakal bersimpangan jalan?

Ketika Hong-ling tiba di rumah dan tidak melihatnya, ia pasti mengira dirinya telah pergi, dia pasti mengira dirinya sudah tak sudi melihatnya lagi, khususnya sesudah peristiwa yang terjadi semalam.

Walaupun langkahnya telah terhenti, namun perasaannya tetap tak menentu, sulit baginya untuk mengambil keputusan. Pergi? Atau tidak pergi?

Kalau tidak pergi, dia pun kuatir wanita itu menjumpai masalah di dusun terdekat.

Kalau pergi, dia pun kuatir mereka bersimpangan jalan hingga tercipta salah paham yang mendalam.

Sepanjang hidup belum pernah Pho Ang-soat menjumpai masa pelik seperti ini, sulit mengambil keputusan. Magrib telah menjelang tiba.

Bau bunga liar di atas bukit terbawa angin dan terendus hingga ke dalam ruangan.

Suasana dalam rumah kayu terasa hening, sepi.

Jalan setapak yang tak merata di tanah perbukitan tampak bagaikan seutas ikat pinggang emas di bawah timpaan cahaya senja, meliuk-liuk di antara pepohonan nan hijau.

Pho Ang-soat betul-betul gelisah setengah mati, dia benar-benar habis daya dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Seluruh pakaiannya telah basah kuyup bermandikan keringat.

Taburan bintang di langit masih seperti keadaan semalam, angin malam berhembus membawa bau harumnya nasi dari kejauhan, Pho Ang-soat baru teringat sekarang, sudah seharian ia belum mengisi perut.

Cahaya lentera di rumah penduduk di kaki bukit telah menerangi langit yang gelap, tapi kegelapan malam justru serasa menyelimuti Pho Ang-soat yang panik.

Gelisah, panik, tak tenang dan kini ditambah ngeri bercampur takut membuat Pho Ang-soat balik kembali ke dalam rumah tanpa daya, bagaimana pun dia harus menyalakan lentera lebih dahulu. Setelah menyalakan geretan dan menyulut sumbu lentera, cahaya terang pun menyinari seluruh ruangan.

Mendadak Pho Ang-soat menyaksikan sesuatu, sepucuk surat, ya, sepucuk surat terpampang di depan mata.

Surat? Apakah ia meninggalkan pesan? Apakah pesan yang ditinggalkan Hong-ling?

Dengan tangan gemetar Pho Ang-soat mengambil surat itu, membuka sampulnya dan membaca isinya.

Tulisan pertama yang melompat masuk ke dalam pandangan matanya adalah "Pho Ang- soat", nama dirinya.

Tak salah lagi, surat itu memang peninggalan Hong-ling. Ternyata dia telah menyiapkan semua itu, sementara dirinya sendiri masih mencemaskan keselamatannya bagai seorang tolol.

Isi surat amat singkat, tapi cukup membuat hati Pho Ang-soat seperti terjerumus dalam kubangan salju.

Pho Ang-soat,

Aku tahu, dalam hidupku selanjutnya tak mungkin lagi bisa membunuhmu, tapi kau telah membunuh seorang sanakku, dendam ini harus kubalas. Maka akan kubawa pergi benih anak yang tertinggal dalam rahimku sekarang, paling tidak aku pun dapat memusnahkan seorang sanakmu. Tertanda, Hong-ling.

Bukan saja perasaan Pho Ang-soat saat ini berubah jadi dingin, seluruh tubuhnya serasa kaku, dalam benaknya berulang kali mengulang kata-kata dalam surat itu, "Kubawa pergi benih anak yang tertinggal dalam rahimku". Benih anak? Benih anak yang mana?

Apa maksud perkataannya itu?

Benih anak? Darimana datangnya benih anak?

Masa baru saja mereka lakukan semalam... lalu sudah berbentuk benih anak?

Surat itu sudah terjatuh ke tanah, Pho Ang-soat mengertak gigi, tangan menggenggam golok. Dia merasa sedih sekali, hatinya serasa diremas hingga hancur-lantak, diremas sangat kuat.

Cahaya lentera sangat keruh.

Lentera yang menyinari warung arak seakan selalu mendatangkan perasaan pilu yang mendalam. Arak pun tampak keruh.

Lampu dan arak yang keruh, kini semuanya terpampang di hadapan Pho Ang-soat.

Sepuluh tahun berselang ia pernah mabuk, dia tahu mabuk sama sekali tak dapat melupakan segalanya, tapi sekarang dia ingin sekali mabuk.

Sepuluh tahun berselang ia pernah merasakan derita karena cinta, dalam anggapannya kini ia sudah sanggup bertahan atas penderitaan semacam itu, tapi kini, secara tiba-tiba ia membuktikan penderitaan semacam itu memang susah ditahan dan dihadapi.

Arak yang keruh telah memenuhi cawan kasarnya, ia putuskan untuk meneguk habis arak kegetiran ini.

Arak getir suatu kehidupan.

Tapi sebelum tangannya meraih mangkuk arak itu, sebuah tangan yang muncul dari sisinya telah merampas mangkuk arak itu. "Kau tak boleh meneguk arak semacam ini."

Tangan itu sangat besar, kuat dan kering, sekuat dan sekering nada suaranya.

Pho Ang-soat tak mendongakkan kepala, dia kenal pemilik tangan itu, dia pun kenal suara itu .

. . Siau Piat-li memang seorang yang kuat tapi kering.

"Kenapa aku tak boleh meneguknya?" "Kau boleh minum, tapi bukan minum arak

semacam ini," jawab Siau Piat-li hambar.

Dari kursi rodanya Siau Piat-li mengeluarkan sepoci arak dan meletakkannya ke atas meja, selesai membuang isi mangkuk tadi, dia tuang lagi dengan arak lain.

Sepuluh tahun berselang kau pernah mabuk satu kali.

Mimik muka Siau Piat-li tidak menampilkan rasa simpati, juga tiada perasaan iba, dia hanya menuang arak ke dalam mangkuk Pho Ang-soat dan mendorong ke hadapannya.

Minumlah! Pho Ang-soat memang hanya ingin mabuk.

Arak yang getir dan pedas bagai segumpal bara api langsung menyambar tenggorokan Pho Ang- soat.

Sambil mengertak gigi ia teguk habis isi cawan, memaksakan diri untuk bertahan, agar tak sampai batuk.

Namun air matanya nyaris mengucur keluar. Siapa bilang arak itu manis?

"Itulah arak Siau to cu!"

Kembali Siau Piat-li menuang untuk mangkuk kedua.

Ketika arak mangkuk kedua mengalir masuk tenggorokannya, ia merasa arak itu jauh lebih nikmat, ketika mangkuk ketiga ditenggak, mendadak dari hati kecil Pho Ang-soat timbul semacam perasaan yang sangat aneh.

Sepuluh tahun berselang dia pun pernah merasakan keadaan seperti ini.

Lampu di meja yang redup seakan menjadi terang kembali, tubuh yang semula kaku dan hampa, tiba-tiba terasa berubah, kini dipenuhi tenaga kehidupan yang aneh. Dia seakan telah melupakan semua kepiluan dan kepedihan hatinya, namun jarum yang menusuk serasa masih tertinggal dalam hati.

Siau Piat-li menatap  tajam  wajahnya, tiba-tiba   ia berkata, "Sepuluh tahun berselang   kau  pernah berusaha menghancurkan   diri sendiri karena seorang wanita,  sepuluh  tahun   kemudian apakah kau akan mengulang kembali  sejarahmu?

Hancur hanya dikarenakan seorang wanita?"

"Dari... darimana kau tahu?" cepat Pho Ang- soat mendongakkan kepala balas menatap Siau Piat-li.

"Ketika seorang menderita dan tersiksa karena cinta, keadaannya tak jauh berbeda seperti sebatang pohon yang semula hijau segar tiba-tiba menjadi layu," kata Siau Piat-li hambar, "bukan saja Hong-ling tak pantas untuk kau kenang, pada hakikatnya tak pantas kau tangisi karena kepergiannya."

"Kau. . . kau pun tahu. . . tahu tentang persoalan ini. ..." suara Pho Ang-soat terdengar mulai gemetar.

"Aku tahu," Siau Piat-li manggut-manggut, "tentu saja aku tahu."

"Dari... darimana kau bisa tahu," penderitaan yang terpancar dari mata Pho Ang-soat semakin mengental, "tahukah kau, penderitaanku bukan... bukan disebabkan dia pergi meninggalkan aku, tapi... tapi dikarenakan... karena.... "Karena dia hendak membunuh darah dagingmu bukan?" Siau Piat-li bantu menyelesaikan perkataan itu.

Setiap saat, entah berapa banyak kenangan yang melintas?

Ada penderitaan tentu ada pula kegembiraan.

Ada saat kikuk, tentu ada pula saat mesra.

Pelukan penuh birahi yang terjadi semalam, cumbu rayu yang penuh kemesraan, kini telah berlalu, semuanya tinggal kenangan.

Desahan napas, cucuran keringat, luapan birahi yang telah terukir hingga ke lubuk hati, apakah kini harus dilupakan semuanya?

Bagaimana kalau selamanya tak terlupakan? Bagaimana pula kalau selalu teringat?

Dua orang yang tidak seharusnya menjadi satu, dua orang yang seharusnya terikat dendam, bagaimana mungkin bisa terikat dalam satu kesatuan?

Kehidupan, kehidupan macam apakah ini? "Aku telah mendapatkan bibit darah

dagingmu."

"Aku akan memusnahkan seorang sanakmu."

Sanak? Darah daging? Kalau memang darah dagingku, apakah bukan darah dagingmu juga? Tegakah kau melakukannya? Tegakah kau bunuh darah dagingmu sendiri? Benarkah ada kejadian seperti ini di dunia yang fana?

Bekas air mata telah muncul di wajah Pho Ang- soat, serat darah telah muncul di bibirnya yang kering, tangannya digenggam kencang kini berubah jadi putih pucat.

Mabuklah, dalam keadaan seperti ini lebih baik mabuklah.

Yang bisa dia lakukan kini hanya meloloh diri dengan arak wangi, agar dirinya mabuk, agar sakit hatinya terlupakan untuk sesaat.

Jarum tajam telah menghujam hatinya, jarum tajam yang dingin.

Tak ada yang bisa membayangkan betapa dalam penderitaannya saat ini, betapa tersiksanya dia sekarang.

Kecuali benci dan dendam, untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa di dunia masih terdapat sebuah siksaan lain yang jauh lebih, menakutkan daripada rasa benci dan dendam.

Yang dihasilkan rasa benci tak lebih hanya ingin memusnahkan musuh besarnya, tapi siksaan karena cinta justru dapat memusnahkan diri sendiri, dapat memusnahkan seluruh dunia.

Baru sekarang ia sadar, ternyata tanpa disadari dirinya benar-benar sudah jatuh cinta kepada Hong-ling, itulah sebabnya ia sangat menderita.

Kau telah membunuh kerabatku, maka aku pun akan membunuh kerabatmu. Inikah yang disebut pembalasan?

Dia tak berani percaya bahwa di dunia terdapat cara pembalasan seperti ini, namun kenyataan telah tertera di depan mata, dapatkah kau tidak mempercayainya?

Malam di musim panas.

Bintang masih bertaburan di angkasa, angin malam pun masih berhembus sepoi menggoyang dedaunan.

Bintang masih tampak, rembulan pun masih terlihat, tapi kemana perginya si dia?

Tiga belas hari, mereka telah hidup bersama tiga belas hari.

Tiga belas siang dan tiga belas malam, waktu berlalu sedemikian cepat, dalam sekejap semua kenangan bermunculan dalam benaknya.

"Kau... darimana kau bisa mengetahui persoalanku?" seru Pho Ang-soat agak terkejut.

"Tentu saja aku tahu. Bahkan aku pun mengetahui rahasia yang tidak kau ketahui."

"Rahasia apa?"

"A-jit datang untuk membunuhmu, Hong-ling datang untuk membalas dendam, pengepungan di rumah kayu, Ting-tong bersaudara meloloh perempuan itu dengan arak perangsang, kemudian kalian pun berhubungan badan... padahal semuanya itu sudah tersusun rapi dalam sebuah rencana, rencana besar yang sudah dirancang untuk sebuah intrik j ahat."

"Intrik jahat? Maksudmu kejadian semalam aku dan dia... semuanya merupakan hasil rancangan, sebuah rencana besar?" "Benar."

"Aku... aku tak percaya."

"Sayang kau harus mempercayainya."

"Apa... apa tujuan mereka berbuat demikian?" "Mereka memang sengaja berbuat begitu agar

kau menghancurkan dirimu sendiri, agar kau

menderita," Siau Piat-li menjelaskan, "sebab mereka tahu, bukan pekerjaan gampang untuk membunuh manusia macam kau. Tapi satu- satunya titik kelemahan yang kau miliki adalah masalah cinta, bila ingin membunuhmu, satu- satunya cara adalah membuat kau patah hati, biar kau menderita, biar kau tersiksa hingga akhirnya menghancurkan diri sendiri."

Dia tatap wajah Pho Ang-soat sekejap, kemudian ujarnya lebih lanjut, "Itulah sebabnya mereka mengatur rencana ini, serangkaian siasat berantai, untuk menjebakmu dan menghancurkan kehidupanmu."

Lambat-laun gejolak emosi dalam dada Pho Ang-soat mulai reda, memandang cawan arak di tangan, beberapa saat kemudian baru ia bertanya, "Siapa mereka? Kalau dilihat sepintas, seharusnya Be Khong-cun." Sebelum orang lain menanggapi, kembali dia menambahkan sendiri, "Padahal bukan."

"Benar."

Pho Ang-soat menatap Siau Piat-li lekat-lekat, mengawasi dengan pandangan dingin, kemudian tegurnya, "Darimana kau bisa tahu tentang rencana busuk ini?"

Siau Piat-li tidak langsung menjawab, ditatapnya dulu wajah Pho Ang-soat dengan tenang, setelah termenung sesaat, dia penuhi cawan sendiri dan meneguknya hingga habis, setelah itu dengan suara yang hambar ujarnya, "Karena semua rencana itu adalah hasil rancanganku."

"Hasil rancanganmu?" "Benar."

"Tidak salah?" tegas Pho Ang-soat agak emosi. "Tidak salah."

Tentu saja Siau Piat-li dapat melihat otot-otot hijau merongkol di tangan Pho Ang-soat, tangan yang menggenggam golok, tentu dia pun telah melihat hawa membunuh yang terpancar dari balik matanya, akan tetapi dia tetap acuh, tak ambil peduli, dia tetap duduk tenang di kursi rodanya. "Jadi semua rencana busuk ini hasil rancanganmu?" sekali lagi Pho Ang-soat bertanya.

"Benar," jawab Siau Piat-li hambar, "namun hal itu terjadi pada sepuluh tahun berselang."

"Sepuluh tahun berselang?" sekali lagi Pho Ang-soat terkesiap, "sejak sepuluh tahun berselang kau telah merancang intrik busuk itu dan menunggu sepuluh tahun kemudian baru dilaksanakan?"

"Tidak, rencana ini telah dijalankan sejak sepuluh tahun lalu," tiba-tiba Siau Piat-li tertawa, "hanya saja sepuluh tahun kemudian, ternyata ada orang lain yang mencoba mengulangi semua rencanaku ini. "

Karena Pho Ang-soat tak mengerti, maka Siau Piat-li menjelaskan lebih jauh, "Sepuluh tahun berselang, ketika aku belum mengetahui dengan jelas wajah Be Khong-cun yang sebenarnya, saat itu aku memang membantunya menghadapimu, maka aku pun merancang siasat yang khusus tertuju pada titik kelemahanmu, yaitu mengatur pertemuanmu dengan Cui long. Tujuanku adalah membiarkan kau menaruh cinta kepadanya, lalu perempuan itu mencampakkan dirimu agar kau patah hati dan menghancurkan diri sendiri, saat itulah kau jadi lemah dan kami pun dapat dengan mudah membereskan nyawamu."

Setelah tertawa ringan, kembali lanjutnya, "Sungguh tak disangka sepuluh tahun kemudian ternyata kelompok Be Khong-cun kembali mengulangi siasat itu dengan mengirim seorang wanita macam Hong-ling."

Berbicara  sampai  di  situ,  ia   menatap Pho Ang-soat sekejap, kemudian terusnya, "Tak nyana ternyata kau lagi-lagi

terjebak, dengan cara yang sama kau ingin menggunakan arak untuk melarikan diri dari kenyataan."

Hembusan angin di kota kecil itu sama dinginnya dengan hembusan angin di atas bukit, tapi Pho Ang-soat merasakan munculnya hawa panas dalam tubuhnya, karena ia sudah mulai tertarik dengan ucapan Siau Piat-li.

"Maksudmu kemunculan Hong-ling ini pun merupakan bagian dari rencana busuk mereka? Ingin menggunakan dia seperti Cui long sepuluh tahun berselang?" tanya Pho Ang-soat.

"Benar."

Pho Ang-soat berpikir sejenak, kemudian secara ringkas dia pun bercerita bagaimana si Golok lengkung A-jit muncul mencarinya, lalu Hong-ling ingin balas dendam, kemudian ia membawanya ke rumah kayu untuk merawat lukanya, bagaimana Ting tang hengte melolohnya dengan obat perangsang dan akhirnya terjadi hubungan badan dengan dirinya.

Dia pun bercerita apa yang terjadi hari ini, bagaimana Hong-ling meninggalkan surat dalam rumah dan pergi meninggalkan dirinya. Dengan seksama Siau Piat-li mendengarkan cerita ini, kemudian sambil tertawa ujarnya, "Kau benar-benar dibuat linglung. Hubungan badan baru terjadi semalam, tidak menjamin dia pasti akan mengandung bibit darah dagingmu, semisalnya di kemudian hari dia memang hamil....Ditatapnya Pho Ang-soat sekejap, kemudian melanjutkan,

"Cinta seorang ayah berbeda dengan cinta seorang ibu, seorang ayah baru mencintai anaknya sejak si jabang bayi lahir dari rahim ibunya. Sejak pandangan pertama itulah seorang ayah baru belajar mencintai anaknya.

Pho Ang-soat bungkam, dia hanya mendengarkan.

"Berbeda dengan cinta ibu, cintanya alami, sejak dia mulai hamil, sejak sang jabang bayi mulai terbentuk dalam rahimnya, si ibu sudah mulai tumbuh rasa cintanya, cinta pada calon bayi yang berada dalam rahimnya."

"Biarpun sang bayi belum lahir, namun sang ibu sudah menaruh perhatian khusus kepadanya. Jadi kesimpulannya, cinta ibu adalah alami sedang cinta ayah baru terbentuk secara perlahan-lahan."

Baru pertama kali ini Pho Ang-soat mendengar ada orang menjelaskan perbedaan antara cinta seorang ibu dan ayah.