Kilas Balik Merah Salju Jilid 11

 
Di tengah halaman terdapat sebuah akar pohon yang besar, orang pertama tadi langsung duduk di sana, begitu duduk, dari belakang tubuhnya ia mengeluarkan sebuah gunting besar, lalu perlahan-lahan menggunting kuku jarinya.

Pisau gunting itu amat besar, beratnya mencapai tiga puluh lima kati, namun dalam genggamannya benda itu nampak begitu ringan, seringan rambut sang kekasih.

Pho Ang-soat kenal orang ini, panggilannya amat sederhana, orang menyebutnya sebagai Gunting satu kali, Cian It-ji.

Setiap korban yang terjatuh ke tangannya, maka seperti kuku di jari tangannya, sekali, gunting urusan pun beres.

Di antara pembunuh bayaran  tesohor dalam    dunia  persilatan, dialah pembunuh yang  paling banyak menghabisi  nyawa korbannya, setiap kali  membunuh,  dia selalu   melakukan  pembantaian  mendekati gila, begitu melihat darah, dia pun langsung kalap,    kalap melakukan pembunuhan, kalap menjilat darah. Orang kedua perlahan-lahan berjalan masuk, orang ini berwajah hijau tua, hidungnya berbentuk paruh elang, matanya liar bagaikan mata burung pemakan bangkai, dalam tangannya tergenggam sebilah pedang.

Cahaya pedang persis warna mukanya, membiaskan cahaya hijau tua, hijau daun yang mulai membusuk. Sepintas dia memang tak terlihat ganas atau buas, tapi memberi kesan suram dan menggidikkan hati.

Bukankah suram terkadang memberi kesan jauh lebih buas, jauh lebih ganas dan menakutkan?

Di tengah halaman tumbuh sebatang pohon, begitu masuk ke dalam halaman, dia pun langsung merebahkan diri di bawah pepohonan yang rindang itu.

Sesudah berbaring baru ia menghela napas sambil bergumam, "Sebuah tempat yang sangat indah, terhitung hokki juga bila dapat mati di tempat seperti ini."

Pho Ang-soat tidak kenal orang itu, tapi dia cukup mengetahui tabiatnya, orang ini selama hidup paling benci cahaya matahari.

Orang ini berjuluk Im hun kiam (si Pedang sukma suram) Sebun Say.

Tidak banyak orang persilatan mampu mengundangnya, apalagi menyewanya sebagai pembunuh bayaran. Bayaran yang diminta untuk tugasnya sangat tinggi, tentu saja amat tak bernilai. Dia jarang membunuh orang, bahkan jarang sekali turun tangan sendiri, semua korban yang harus dibunuh, kebanyakan sudah tidur abadi dalam peti mati.

Setiap kali membunuh, dia enggan ada orang lain menonton dari samping, karena terkadang dia sendiri pun menganggap cara yang dipakai untuk menghabisi nyawa orang kelewat sadis, kelewat kejam.

"Bila kau ingin membunuh seseorang, lakukanlah dengan cara yang paling hebat, agar korbanmu tak akan berani mencari balas walau telah berubah jadi setan gentayangan pun."

Itulah kata pertama yang sering diucapkan Sebun Say.

Orang ketiga dan orang keempat masuk bersama, siapa pun pasti mengetahui  mereka berdua adalah saudara kembar, bukan saja raut wajahnya mirip, bahkan perawakannya, tinggi pendek kurus gemuk pun tak berbeda, mereka berdua sama-sama memelihara kumis yang rapi.

Setelah masuk ke dalam halaman dan memperhatikan sekejap seputar sana, serentak kedua orang itu pun berseru, "Tempat yang sangat bagus, tempat yang benar-benar bagus, memang sangat hokki bila dapat mati di tempat seperti ini!" Tentu saja Pho Ang-soat kenal mereka berdua, memang jarang umat persilatan yang tidak kenal sepasang saudara kembar itu.

Auwyang Ting, Auwyang Tang, "Ting Tang saudara kembar, makan daging sekaligus tulangnya".

Orang kelima terlihat sangat terpelajar, wajahnya putih bersih, orangnya  halus  dan ramah,  kumis dipelihara sangat bersih dan beratur, dia berjalan masuk sambil menggendong tangan,  bukan saja wajahnya dihiasi  senyuman, sampai  sorot  mata pun menandakan senyuman.

Dia tak bicara, tak nampak menggembol senjata, dandanannya tak beda dengan seseorang yang sedang datang menyambangi sahabat karibnya.

Pho Ang-soat tidak kenal orang ini, tapi begitu melihat gerak-geriknya, tiba-tiba saja terasa hawa dingin yang menggidikkan muncul dari dasar telapak kakinya dan tembus hingga ke hulu hati.

Orang itu hanya berdiri di halaman dengan senyum di kulum, tidak gelisah, tidak terburu- buru, tidak pula berbicara, seakan baginya mau menunggu sampai tiga hari tiga malam pun tidak menjadi masalah.

Seorang pelajar yang begitu halus, lembut dan ramah penuh sopan-santun, mungkinkah dia pun seorang pembunuh? Pho Ang-soat yakin, sekalipun keempat orang pertama bergabung jadi satu pun belum tentu kemampuan mereka mampu mengalahkan orang terpelajar ini.

Mengamati gerak-geriknya yang halus penuh sopan-santun, mendadak Pho Ang-soat teringat akan sesuatu.

"Lembut, sangat lembut, lambat, sangat lambat".

Enam huruf itu melambangkan seseorang, melukiskan tindakan seseorang waktu membunuh korbannya, bukan saja amat lembut bahkan sangat lambat.

Konon sewaktu membunuh orang, dia melakukannya dengan sangat lambat, bahkan lambat sekali.

Menurut berita, suatu ketika ia pernah menghabiskan waktu hampir tiga hari lamanya hanya untuk membunuh seseorang, kabarnya tiga hari kemudian korbannya baru putus nyawa, namun siapa pun tak mengenali bentuk badannya lagi, bahkan orang sempat ragu benarkah dahulu dia adalah manusia.

Tapi semuanya itu hanya kabar burung, tidak banyak orang yang percaya, apalagi yang pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Tapi Pho Ang-soat percaya, bila di dunia persilatan benar-benar terdapat manusia yang "Lembut, sangat lembut, lambat, sangat lambat", maka kemungkinan besar orang itu adalah lelaki lemah lembut yang kini telah berdiri di hadapannya itu.

Sinar matahari semakin terang memancarkan cahayanya.

Kian Tan, si Gunting satu kali masih menggunting kuku dengan tenang, Sebun Say masih berbaring di bawah pepohonan, jangankan bergerak, mendongakkan kepala pun tidak.

Sepasang saudara kembar Ting Tang masih duduk di pinggir pagar, mengawasi bunga liar yang bertebaran di atas tanah lumpur.

Dalam pandangan mereka, Pho Ang-soat sudah dianggapnya sebagai orang mati.

Karena mereka tidak bergerak, tentu saja Pho Ang-soat pun tidak bergerak, apalagi Hong-ling, dia tetap berdiri tenang di pinggir pintu sambil mengawasi gerak-gerik seputar halaman.

Begitulah kedua belah pihak sama-sama tak bergerak, sama-sama tidak melakukan tindakan apa pun.

Entah berapa lama, akhirnya terdengarlah suara orang tertawa tergelak, menyusul tampak dua orang lelaki berjalan masuk.

Mereka adalah Hoa Boan-thian dan Hun Cay- thian.

Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, Hoa Boan-thian baru maju ke depan dan menyapa Pho Ang-soat dengan hangat dan akrab. "Selama dua hari ini kalian tentu sibuk sekali!" "Masih baikan," jawab Pho Ang-soat dingin. "Semalam dapat tidur nyenyak?" "Tidur nyenyak, makan kenyang."

"Siapa bisa makan enak tidur nyenyak, dia memang tergolong orang hokki," kata Hoa Boan- thian sambil tertawa, "sayangnya orang yang banyak hokki seringkah berumur pendek."

"Oya?"

Sambil tertawa, kembali Hoa Boan-thian menatap Pho Ang-soat, ujarnya lebih lanjut, "Aku lihat kau bukan terhitung orang yang berumur pendek, tapi heran, kenapa selalu suka melakukan perbuatan yang cenderung membuat umur sendiri jadi pendek."

Pho Ang-soat tidak menjawab, ia hanya menatap dingin lawannya.

"Inginkah kau menjadi orang yang hokki dan berumur panjang?" tanyanya lagi.

"Oya? Lalu bagaimana dengan dia?" Pho Ang- soat tertawa dingin.

"Dia?" Hoa Boan-thian melirik Hong-ling sekejap,  "kalau dia tergantung dirimu."

"Maksudmu?"

"Jika kau tak ingin disusahkan beban lain, kujamin dirimu dapat pergi dari sini dengan bersih dan gembira," kata Hoa Boan-thian sambil tertawa, "bila kau ingin menyimpan cewek cakep, maka kujamin dalam Ban be tong pasti akan kau dapatkan rumah emas." "Benarkah begitu?" "Benar."

Dengan sinar mata sedingin salju Pho Ang-soat menatap sekejap wajah setiap orang yang hadir di situ, akhirnya berhenti di wajah Hoa Boan- thian, katanya, "Jadi kalian bersusah-payah mengerahkan begitu banyak waktu dan tenaga, tujuannya hanya menginginkan aku kembali ke Ban be tong?"

"Sam-lopan kuatir kau kedinginan di luar dan menderita lapar, " ucap Hoa Boan-thian sambil tertawa, "jadi kuharap Pho-heng bisa memaklumi niat baik Sam-lopan."

"Aku tahu."

Begitu selesai berkata, tubuh Pho Ang-soat telah melambung di udara, golok hitam pun telah dilolos dari sarungnya.

Orang yang diserang bukan Hoa Boan-thian, bukan pula orang terpelajar yang lemah lembut, melainkan Kian Tan si Gunting satu kali yang berada paling jauh darinya.

Orang yang wajahnya buas dan galak biasanya memiliki hati yang lemah dan penakut, terutama Kian Tan itu.

Dia memang buas, dia memang galak, senjata andalan pun sebuah gunting besar. Tapi semua itu tak lain untuk menutupi perasaan takut di hati kecilnya. Dari tujuh orang yang hadir sekarang, dapat dipastikan dialah yang memiliki ilmu silat paling lemah.

Dalam hal ini tak disangkal penilaian Pho Ang- soat memang sangat tepat, di saat tubuhnya belum mencapai Kian Tan, ia telah menyaksikan perasaan ngeri dan takut yang terpancar keluar dari balik mata orang itu.

Jeritan ngeri nyaris terjadi berbareng dengan munculnya suara desingan golok, dimana cahaya berkelebat, sebuah mulut luka yang menganga telah muncul di atas kening Kian Tan, menyusul kemudian sinar ngeri yang terpancar dari balik matanya pun lambat-laun semakin membuyar dan hilang.

Ketika berada dalam posisi dimana jumlah musuh lebih banyak dari kekuatan kita, seharusnya sasaran pertama yang harus diserang adalah orang yang dianggap paling tangguh di antara musuh-musuhnya.

"Menangkap ular tangkaplah bagian belakang kepala, meringkus bandit tangkap dulu pentolannya", tentu saja Pho Ang-soat cukup memahami teori itu, tapi mengapa ia justru menyerang bagian yang paling lemah lebih dahulu?

Hong-ling tidak habis mengerti kenapa Pho Ang-soat berbuat begitu? Apalagi Hoa Boan-thian sekalian. Di antara kelompok manusia itu, agaknya hanya orang yang nampak paling halus dan sopan saja yang mengerti kenapa Pho Ang-soat bertindak begitu.

Di saat kita belum tahu dengan pasti kemampuan pihak lawan, menyerang lawan paling tangguh lebih dulu tidak ubahnya hanya mempercepat saat kematian sendiri.

Karena kau sama sekali tidak tahu seberapa besar kekuatan lawan yang sebenarnya? Apakah kau lebih tangguh dari mereka? Atau sesungguhnya mereka hanya musuh yang tak tahan gempuran?

Bila kau mengambil resiko dengan menyerang musuh paling tangguh lebih dahulu, tak ubahnya kau telah membawa dirimu ke sisi jurang yang memat ikan.

Berada dalam kondisi seperti ini, cara terbaik adalah menyerang dulu musuh yang paling lemah, sebab kau tahu, seranganmu pasti dapat menghancurkan orang itu.

Dengan merobohkan seorang lawan, berarti telah melenyapkan sebagian kekuatan musuh, perbandingan kedua belah pihak mendekati berimbang.

Di saat tubuh Pho Ang-soat mulai melambung, tiba-tiba sekulum senyuman tersungging di ujung bibir lelaki terpelajar itu.

Menanti tubuh Pho Ang-soat melayang turun, di kala ayunan goloknya sudah mencapai saat tenaganya habis dan tenaga baru belum muncul, mendadak lelaki terpelajar itu mengayun sepasang tangannya berulang kali, segumpal cahaya tajam berwarna hitam segera meluncur dari tangannya, langsung mengancam punggung lawan.

Pada saat bersamaan, sepasang saudara kembar Ting Tang yang selama ini duduk santai pun tiba-tiba melancarkan serangan.

Dua buah cambuk panjang bagaikan dua ekor ular berbisa tanpa menimbulkan suara meluncur keluar dari tangan Ting tang hengte, kemudian secepat kilat melilit leher Pho Ang-soat.

Belakang punggungnya ditunggu sambitan senjata rahasia yang kuat, dari kiri kanan pun dicegat cambuk panjang bagai ular berbisa, seluruh jalan mundur Pho Ang-soat nyaris tersumbat semua.

Tapi semua itu masih bukan merupakan kekuatan serangan yang paling utama, mereka memang sengaja melancarkan serangan seperti itu tujuannya tak lain agar Im hun kiam Sebun Say yang masih berbaring di bawah pepohonan dapat menusuk perut Pho Ang-soat dengan lancar.

Bila kau tidak menundukkan kepala, jangan harap bisa kau lihat semua gerak-gerik di tanah secara jelas, tapi Pho Ang-soat memang tak malu disebut Pho Ang-soat. Ia telah menggunakan indra keenamnya untuk melihat situasi, dia telah berhasil menganalisa, berada dimanakah mara-bahaya yang sesungguhnya.

Biarpun kekuatan lama telah sampai ke ujungnya, kekuatan baru belum muncul dan tubuhnya juga mustahil melejit secara tiba-tiba, namun ia telah melakukan satu tindakan yang membuat semua orang terperanjat.

Mendadak ia berjongkok, lalu menyongsong datangnya tusukan Im hun kiam.

Melihat Pho Ang-soat berjongkok secara tiba- tiba, Sebun Say tertegun, namun pedang Im hun kiam tetap secepat kilat menusuk ke depan.

Tapi sayang justru karena ia tertegun, hal ini telah memberi sebuah jalan hidup untuk Pho Ang- soat.

Tujuan Pho Ang-soat berjongkok memang berharap Sebun Say tertegun, asal lawannya tertegun, otomatis tusukan pedang Im hun kiam ikutan berhenti sejenak. Maka Pho Ang-soat pun punya kesempatan untuk menggunakan golok hitamnya untuk memangkas ujung pedang lawan.

Tiada suara bentrokan, tiada desingan angin golok, juga tak ada percikan bunga api.

Saat itu hanya muncul dua titik cahaya bintang, kemudian Sebun Say melihat pedangnya terkutung jadi dua disusul suara golok yang membalok tulang. Dalam pertarungan yang terjadi kali ini, tampaknya lagi-lagi Pho Ang-soat berhasil meraih kemenangan.

Namun di saat ujung goloknya berhasil membabat tulang Sebun Say, tiba-tiba paras muka Pho Ang-soat memperlihatkan rasa takut dan ngeri yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Yang kena bacokan bukanlah dia, pertarungan kali ini pun berhasil dia menangkan lagi, kenapa wajahnya menampilkan rasa ngeri dan takut? Apa yang telah terjadi?

Yang ditakuti Pho Ang-soat bukan menang kalahnya pertempuran hari ini, dia pun bukan ngeri karena masalah mati hidupnya. Yang membuatnya ngeri dan takut karena pada akhirnya dia paham maksud tujuan kedatangan orang-orang itu.

Ketika Pho Ang-soat berjongkok, ketika mata golok menyongsong datangnya pedang Im hun kiam Sebun Say, dua cambuk panjang yang semula mengancam lehernya tiba-tiba bergetar di udara lalu menyabet taburan cahaya hitam itu.

"Pletak, pletak!", begitu ujung cambuk menghantam senjata rahasia, kumpulan Am-gi itu berbalik arah mengancam tubuh Hong-ling yang masih berdiri di depan pintu. Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian yang selama ini berdiri tenang di sisi arena pun saat itu bersama-sama mencabut pedangnya, lalu diiringi desingan angin tajam mereka langsung mengancam Hong-ling.

Ujung cambuk berputar di udara sekali lagi memperdengarkan suara nyaring, lalu bagai ular berbisa yang mematuk mangsa langsung membelit sepasang tangan Hong-ling.

Biarpun Hong-ling terperanjat, ia tak kalut, tubuhnya berputar cepat menghindari datangnya sambitan senjata rahasia.

Tapi baru saja ia memutar badan, sepasang pedang Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian sudah menusuk tiba.

Sepasang lengan Hong-ling telah bertambah dengan dua mulut luka memanj ang.

Belum lagi darah segar mengucur, kedua batang cambuk panjang itu sudah melilit sepasang lengan Hong-ling dengan kuatnya.

Sementara itu bacokan golok Pho Ang-soat telah menghajar telak tulang kening Sebun Say.

Dia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada dirinya untuk berganti napas, mengikuti gerakan tubuhnya yang menjorok ke depan, mata goloknya segera membentuk gerakan setengah lingkaran busur, lalu menghajar pedang Hun Cay- thian. Belum lagi goloknya tiba, hawa serangan telah menghimpit tubuh lawan. Dalam keadaan begini, Hun Cay-thian tak berani mengurusi Hong-ling lagi, segera dia tarik kembali pedangnya untuk menangkis datangnya ancaman.

"Trang", berbareng terjadinya benturan, lagi- lagi pelajar sopan itu mengayun tangan berulang kali, senjata rahasia segera meluncur ke udara.

Semua Am-gi itu bukan tertuju ke tubuh Pho Ang-soat yang masih di tengah udara, melainkan diarahkan ke bawah kakinya, asal dia meluncur turun, niscaya badannya akan terhajar.

Tiba-tiba Pho Ang-soat melakukan gerakan aneh, dia melepaskan bacokan dengan gerakan aneh, yang dibacok bukan orang melainkan dahan yang tumbuh di tengah halaman.

Dengan tertancapnya mata golok di atas dahan, Pho Ang-soat pun menggunakan kekuatan tertahan itu untuk melejit kembali di udara, lalu secepat kilat menyambar tubuh Ting tang hengte.

Hong-ling yang sepasang tangannya terlilit cambuk berusaha melepaskan diri, siapa sangka semakin dia meronta, lilitan itu semakin mengencang, bukan saja gagal melepaskan diri, guratan berdarah malah muncul di kedua lengannya.

Di pihak lain, Pho Ang-soat yang sedang meluncur ke arah Ting tang hengte mendadak melihat tubuhnya sudah dihadang seseorang, ternyata orang itu adalah pemuda terpelajar itu. Tampak ia mengayunkan sepasang tangan berulang kali, pukulan demi pukulan ditujukan ke tubuh Pho Ang-soat yang masih melambung di udara.

Karena sekali lagi terhadang, mau tak mau Pho Ang-soat harus membuyarkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, lalu merosot ke bawah, menghindari ancaman serangan pemuda pelajar itu.

Karena ada hadangan ini, Ting tang hengte segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tubuh Hong-ling ke atap rumah, lalu dalam beberapa kali lompatan mereka sudah meluncur ke arah hutan.

Sadar tiada harapan untuk menyelamatkan perempuan itu, sikap Pho Ang-soat malah jauh lebih tenang, ditatapnya ketiga orang yang masih tersisa dengan pandangan dingin.

Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian menarik kembali pedangnya dan memandang Pho Ang- soat dengan senyum di kulum, sementara pemuda terpelajar itu pun masih tetap berdiri tenang.

Sesaat kemudian tampak Hoa Boan-thian berjalan menghampiri pemuda itu, lalu kepada Pho Ang-soat katanya, "Pho-heng, lantaran tadi didesak oleh waktu, maka aku lupa memperkenalkan nama Kongcu ini kepadamu" "Lembut, sangat lembut, lambat, sangat lambat," perlahan Pho Ang-soat bergumam, "dia bernama Un Ji-giok"

Hoa Boan-thian agak tertegun, tapi segera serunya sambil tertawa tergelak, "Sungguh tak kusangka pengetahuan Pho-heng begitu luas, sampai Un-kongcu yang sudah sekian lama tak pernah terjun ke dalam dunia persilatan pun kau ketahui dengan jelas."

Pho Ang-soat tertawa dingin.

"Jadi kedatangan kalian hari ini hanya bertujuan membawanya pergi?"

"Benar."

"Apakah kalian bermusuhan dengannya?" "Tidak," Hoa Boan-thian menggeleng kepala,

"Sam-lopan kuatir kehadirannya malah

mengganggu ketenangan hidup Pho-heng, maka beliau sengaja mengutus kami membawanya pergi, agar Pho-heng dapat menikmati hidup dengan tenang."

"Keliru besar!"

Ucapan Pho Ang-soat yang mendadak dan membingungkan ini kontan membuat semua orang tertegun, termasuk Un Ji-giok pun ikut menarik senyumannya.

"Keliru? Apanya yang keliru? Kau bilang Sam- lopan telah salah mengartikan niat baiknya?" Pho Ang-soat tak langsung menjawab, perlahan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Un Ji- giok, kemudian baru ujarnya, "Kau keliru."

"Aku keliru?" Un Ji-giok tertegun, "dimana letak kesalahanku?"

"Kau sangka sewaktu sepasang tanganmu bersilang di udara, aku tak berhasil melihat titik kelemahanmu atau kau sangka biarpun tahu pun aku tak akan mampu menjebolnya?"

Tentu Un Ji-giok mengetahui letak kelemahan jurus serangannya, namun dia pun tahu baik Pho Ang-soat atau siapa pun tak mungkin mampu melancarkan serangan mematikan setelah mengetahui titik kelemahan itu, maka terhadap ucapan Pho Ang-soat dia hanya tertawa hambar.

Belum selesai ia tersenyum, sekonyong- konyong terlihat cahaya golok berkelebat, kemudian terdengarlah jeritan ngeri yang memilukan.

Rupanya secara tiba-tiba Pho Ang-soat mencabut golok, lalu membacok dari sudut yang sangat aneh, yang dibabat bukan Un Ji-giok melainnya Hun Cay-thian yang berada di sisi lain.

Menanti jerit kesakitan Hun Cay-thian bergema, Pho Ang-soat telah menyarungkan kembali goloknya.

Paras muka Un Ji-giok seketika berubah hebat, berubah jadi putih pucat bagai bunga salju. Pho Ang-soat memandang dingin Un Ji-giok sambil menegur, "Bukankah kau keliru?"

Cahaya golok yang barusan berkilat, ayunan golok yang barusan membacok, meski Hun Cay- thian yang menjadi sasaran, namun Un Ji-giok dapat melihat gerakan yang digunakan  tak lain adalah satu-satunya gerakan yang bisa menjebol titik kelemahan jurus serangannya tadi. "Ya, aku salah," akhirnya Un Ji-giok mengakui.

"Tadi aku tak menggunakan jurus itu bukan lantaran aku tak bisa atau tak mendapat waktu," perlahan Pho Ang-soat berkata lagi, "aku tak menggunakan sebab saatnya tidak tepat, bila aku nekat melakukannya juga, justru yang aku kuatirkan adalah kegugupan Ting tang hengte bisa berakibat terbunuhnya Hong-ling."

Dalam pada itu peluh dingin telah membasahi tubuh Un Ji-giok, untuk sesaat dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Tiba-tiba Hoa Boan-thian melangkah maju ke depan, teriaknya, "Sekalipun kau tidak menggunakan jurus serangan itu, Hong-ling tetap sudah terjatuh ke tangan kami."

Jawaban Pho Ang-soat sama sekali tidak ditujukan kepada Hoa Boan-thian, melainkan kepada Un Ji-giok, ujarnya, "Ada semacam orang sejak lahir sudah memiliki bakat melacak seperti binatang, aku percaya kau pun tahu."

"Ya, aku tahu," jawab Un Ji-giok.

"Bagus, kalau begitu kau sudah boleh mati." Ketika mata golok mulai membelah angkasa, tubuh Un Ji-giok telah melayang ke atas atap rumah, Ginkang yang dimilikinya memang terhitung kelas satu dalam Kangouw, tapi sayang yang dijumpainya justru Pho Ang-soat.

Baru saja ujung kakinya menempel atap rumah dan bersiap meminjam tenaga untuk melejit ke arah lain, ia sudah mendengar suara desiran angin golok yang amat tajam, kemudian terasa sepasang kakinya dingin sekali.

Menanti ia berhasil bersalto di udara dan meluncur ke arah lain, secara kebetulan ia saksikan sepasang kaki sendiri masih tertinggal di atap rumah.

Belum pernah Hoa Boan-thian menyaksikan ilmu golok seaneh itu, dia hanya melihat cahaya golok berkilat, sebuah kebasan dari Pho Ang-soat yang dilakukan begitu ringan dan sederhana, namun tahu-tahu sepasang kaki Un Ji-giok yang sudah sempat kabur sejauh enam- tujuh depa tertabas kutung dan ketinggalan di atas atap.

Hoa Boan-thian ingin kabur, apa lacur sepasang kakinya sudah tak mau menuruti perkataannya lagi, bahkan ia sempat mendengar gigi sendiri sedang gemerutukan karena gemetar.

Perlahan-lahan Pho Ang-soat membalikkan badan, menatap wajah Hoa Boan-thian dengan sinar tajam. "Hari ini aku tak akan membunuhmu," katanya ketus, "tapi kau harus membawa pesanku."

"Pe... pesan apa?"

"Beritahu Sam-lopan, peduli siapa pun dia, aku pasti akan pergi mencarinya, jadi lebih baik suruh dia menemuiku dengan wajah aslinya."

"Aku... pasti akan kusampaikan."

Di antara binatang buas, serigala termasuk binatang yang paling pintar melacak, serigala pula yang paling pandai menghindari pelacakan.

Kalau Pho Ang-soat diibaratkan serigala, maka tak disangka Ting tang hengte terhitung serigala juga.

Tak ada jejak, tak ada petunjuk, tak ada saksi mata.

Sementara itu langit bertambah gelap, dari balik remangnya cuaca terlihat bintang mulai bertaburan di angkasa.

Pho Ang-soat tidak berhasil menemukan Hong- ling, dia pun gagal menemukan Ting-tang-hengte, sudah seharian melakukan pengejaran, jangankan bersantap, minum seteguk air pun belum.

Seluruh bibirnya telah mengering, sol sepatunya sudah robek terantuk batu tajam, betisnya pun terasa linu dan amat sakit.

Namun ia belum juga menemukan jejak mereka. Berhenti di tengah jalan? Tidak mungkin! Tentu saja harus dicari terus, bagaimana pun juga dia harus tetap mencari, sekalipun harus mencari sampai ke surga atau menelusuri hingga neraka, baik mendaki bukit golok atau menelusuri minyak mendidih, ia tetap akan mencari.

Tapi kemanakah dia harus mencari?

Dengan cara apa harus melakukan pencarian?

Persis Go Kang di istana rembulan yang ingin menebang pohon Kui yang tak mungkin bisa tumbang, meski sudah tahu mustahil, dia tetap menebang terus tiada hentinya.

Apakah akhirnya pohon itu berhasil ditebang? Pohon yang tak mungkin ditebang,

manusia yang tak mungkin ditemukan. Di dunia ini memang banyak kejadian seperti ini. Mengapa dia harus menemukan perempuan itu?

Bukankah dia bukan miliknya? Dia pun bukan sanak keluarganya, atau sahabat? Mengapa ia begitu ingin menemukannya?

Bukankah perempuan itu hendak membunuhnya, orang yang datang untuk mencari balas? Sekalipun berhasil ditemukan, berhasil menolongnya, lalu apa pula yang bisa ia lakukan?

Ketika lukanya telah sembuh, di saat ia mendapatkan kesempatan lagi, bukankah perempuan itu bakal membunuhnya?

Di tengah jagad raya muncul taburan bintang seperti semalam. Dari tempat dimana Pho Ang-soat berdiri sekarang, dengan mudah ia dapat melihat rumah kayu kecil yang ditempatinya selama ini. Rumah kayu itu penuh diliputi kehangatan, tapi sekarang? Setelah melakukan pencarian seharian penuh, Pho Ang-soat betul-betul merasa sangat lelah, dia pun tak punya tempat tinggal lain sehingga terpaksa harus balik ke rumah kecil itu.

Yang paling penting dia berharap Hong-ling dapat meloloskan diri dari tangan musuh dan lari balik ke rumah kayu itu.

Tapi mungkinkah?

Tak tahan Pho Ang-soat tertawa getir, harapan yang mustahil bisa terjadi.

Baru saja senyuman getir tersungging di ujung bibir, mendadak ia lihat dari rumah kecil itu memancar keluar cahaya lentera.

Dia masih ingat dengan jelas, ketika keluar dari rumah pagi tadi, ia sama sekali tidak menyulut lentera, mengapa sekarang bisa muncul cahaya lampu dari balik ruangan?

Apakah Hong-ling sudah terlepas dari sandera dan kabur balik?

Pho Ang-soat menggunakan kecepatan paling tinggi menerobos ke sana, ketika tiba di depan rumah, ia sudah mendengar bergemanya suara dari balik ruangan. Semacam suara yang membuat siapa pun, asal mendengar satu kali saja maka selamanya tak pernah akan melupakannya.

Suara gabungan isak tangis, tertawa, dengusan napas dan rintihan, suara yang dipenuhi nada iblis dan luapan napsu.

Suara yang membuat orang paling tenang pun tidak kuasa meluapkan hawa amarahnya.

Kembali Pho Ang-soat menerjang ke muka, sekali tendang ia dobrak pintu ruangan.

Begitu pintu terbuka, perasaannya pun tenggelam, api amarah langsung meluap hingga ke ujung kepala.

Ternyata rumah kayu yang sederhana itu telah berubah menjadi neraka.

Neraka dunia.

Hong-ling sedang tersiksa dan menderita dalam neraka dunia.

Ting tang hengte, seorang bagai hewan buas menindih tubuh perempuan itu, sementara yang lain berbaring di samping tubuhnya sambil membuka mulut perempuan itu dan melolohkan arak.

Cairan arak yang merah bagai darah, meleleh dan membasahi seluruh tubuh bugilnya yang putih mulus.

Sewaktu Ting tang hengte yang sedang kerasukan napsu birahi sadar akan kedatangan Pho Ang-soat, secepat anak panah terlepas dari busur, pemuda itu menerobos masuk ke dalam, golok kematiannya yang berwarna hitam pun langsung membabat ke bawah.

Gempuran itu mematikan, Pho Ang-soat yang sudah terbakar oleh amarah telah mengerahkan segenap tenaganya, hingga Ting tang hengte menggelinding jatuh ke lantai bagai karung goni, hawa amarahnya baru sedikit mereda.

Dari dua orang bersaudara itu, yang seorang langsung tewas di tempat sementara seorang yang lain dengan menggunakan sisa napas yang terakhir memperlihatkan sekulum senyumannya yang tak sedap dilihat, lalu dengan menggunakan suara yang menyeramkan seolah berasal dari neraka serunya, "Kau bakal menyesal!"

Bakal menyesal? Apa yang perlu disesali?

Selama hidup Pho Ang-soat tak pernah kenal kata menyesal.

Dengan sekuat tenaga ia lempar mayat Ting tang hengte keluar ruangan, lalu dengan sekuat tenaga menutup pintu.

Pintu dalam keadaan tertutup, jendela dibiarkan tetap terbuka, sebab dalam ruangan penuh dengan bau arak yang menyengat.

Bukan bau pedas bercampur kecut seperti bau golok yang dibakar, melainkan bau minyak dan bedak yang tak sedap. Hong-ling masih berbaring di atas ranjang besar yang beralas kulit binatang, ia dalam keadaan telanjang bulat.

Seluruh pakaiannya telah dilucuti, dari atas hingga ke bawah, tubuhnya benar-benar seratus persen bugil.

Sepasang matanya membalik ke atas, mulutnya mengeluarkan buih putih, seluruh ototnya tiada hentinya mengejang dan gemetar, bahkan setiap inci kulitnya pun tampak gemetar tiada hentinya.

Dia bukan Cui long, bukan kekasih Pho Ang- soat, dia pun bukan temannya, ia datang untuk menuntut balas kepadanya.

Namun setelah menyaksikan keadaannya, perasaan Pho Ang-soat tetap sakit bagai ditusuk jarum.

Dalam waktu sekejap dia seolah lupa bahwa dia adalah seorang wanita, lupa kalau ia berada dalam keadaan bugil.

Dalam pikiran dan ingatan Pho Ang-soat dia adalah seorang perempuan yang patut dikasihani, seorang wanita yang telah disiksa dan didera oleh ketidak adilan.

Sebaskom air,  selembar handuk.

Pho Ang-soat menggunakan handuk yang dibasahi air hangat menyeka wajahnya, menyeka buih putih yang menodai bibirnya, lalu menyeka air mata di ujung kelopak matanya. Pada saat itulah dari tenggorokannya menggema suara rintihan aneh yang membetot sukma, tubuhnya mulai menggeliat, pinggangnya yang ramping mulai meliuk-liuk bagai seekor ular, pahanya yang putih mulus pun mulai bergeser ke kiri kanan.

Tidak banyak lelaki yang bisa bertahan menghadapi rangsangan napsu seperti ini, untung Pho Ang-soat termasuk salah satu di antara mereka yang tak gampang terangsang.

Dia berusaha sedapat mungkin tidak memandang tubuhnya yang bugil, dia ingin mencari sesuatu benda untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling vital.

Tetapi sebelum ia menemukan sesuatu, mendadak Hong-ling menangkap tangannya, kemudian memeluk tubuh Pho Ang-soat erat-erat.

Pelukannya begitu kencang dan kuat, seperti seorang kalap di air yang sekuat tenaga memeluk sebatang batok kayu.

Pho Ang-soat tak tega mendorong tubuhnya, namun dia pun tak bisa membiarkan badannya dipeluk terus.

Beberapa kali dia ingin mendorong, tapi dengan cepat tangannya ditarik kembali.

Bila kau dapat mendorong seorang wanita dalam keadaan seperti ini, maka kau pasti akan tahu mengapa dia menarik kembali tangannya. Sebab biarpun bagian tubuh wanita yang tak boleh tersentuh oleh kaum lelaki tak banyak jumlahnya, namun berada dalam situasi seperti ini, bagian tubuh itu juga yang akan kau dorong.

Tubuh Hong-ling panas bagaikan air mendidih, detak jantungnya pun cepat sekali.

Dengus napasnya juga tercium bau arak yang sangat kental, bau itu terus menerus terhembus keluar dari mulutnya dan masuk ke dalam pernapasan Pho Ang-soat.

Tiba-tiba saja pemuda itu jadi paham.

Dia tahu sekarang apa sebabnya Ting tang hengte yang berjiwa bagai binatang itu menggunakan arak untuk melolohnya. Rupanya arak itu telah dicampur obat perangsang.

Sayangnya di saat dia mulai mengerti akan hal ini, dia sendiri pun ikut terpengaruh oleh obat itu.

Tiba-tiba saja ia menjumpai bagian tubuh tertentunya mengalami perubahan yang sulit lagi untuk dikendalikan.

Semua pikiran dan kesadarannya telah berantakan.

Sementara itu Hong-ling telah menindih badannya menggunakan tubuhnya yang bugil, gadis itu mulai merangsangnya, menggunakan tubuhnya yang telanjang menggiring dia melakukan perbuatan dosa.

Perbuatan dosa yang paling kuno, perbuatan dosa yang paling purba. Arak bercampur obat perangsang telah membangkitkan napsu birahi mereka berdua, napsu birahi paling kuno yang tak mungkin bisa dilawan siapa pun.

Semenjak ada manusia, napsu birahi pun mulai menguasai jagad.

Menciptakan kesalahan memang banyak penyebabnya, napsu birahi hanya salah satu di antaranya.

Kini kesalahan telah dilakukan, nasi sudah jadi bubur, tidak mungkin semuanya bisa diubah lagi.

Seorang biasa, jika dalam keadaan yang tak bisa dilawan telah melakukan sebuah kesalahan, kesalahan semacam ini dapatkah disebut sebagai sebuah kesalahan fatal? Mungkinkah kesalahan seperti ini dapat dimaafkan?

Kesalahan telah dibuat, gejolak hati telah tenang, napsu birahi pun telah mencapai puncaknya, kini malam yang gelap pun sudah mendekat i akhir.

Saat itu merupakan saat yang paling gelap sepanjang hari. Saat itu pula merupakan saat pertarungan antara kepedihan dan rasa gembira.

Saat itu juga merupakan detik tumbuhnya rasa penyesalan. Saat itu Pho Ang-soat telah sadar.

Lelehan lilin telah mengering, lampu pun telah padam, dari balik kertas jendela yang buram lamat-lamat muncullah cahaya putih yang terang. Putih pucat, sepucat wajah Pho Ang-soat, sepucat perasaannya. Hong-ling adalah seorang wanita, wanita yang datang mencari balas.

Meskipun selama beberapa hari mereka pernah hidup bersama, namun tujuan perempuan itu hanya menanti saat yang tepat untuk membunuh nya.

Tapi kini dia berada di sisinya, berbaring di samping tubuhnya.

Ia dapat merasakan detak jantungnya, kehangatan badannya serta dengus napasnya, di samping ketenangan, kelembutan dan kepuasan setelah dipermainkan rangsangan birahi.

Semacam ketenangan dan kegembiraan yang membuat seorang lelaki tak segan mengorbankan segalanya demi menggapainya.

Kini Pho Ang-soat hanya berharap bisa memusnahkan semuanya itu.

Kini baru dia paham maksud ucapan Ting tang hengte menjelang ajalnya.

"Kau bakal menyesal." Menyesal? Apakah dia menyesal? Mungkinkah ia dapat memusnahkan semua peristiwa yang baru saja berlangsung?

Tidak mungkin! Dia tak mungkin bisa!

Dialah yang telah menciptakan semua ini, tak mungkin lagi baginya untuk menghindar, tak mungkin pula untuk dilawan. Karena dia yang menciptakan, dia juga yang harus menanggung akibatnya.

Terlepas akibat macam apa yang bakal menimpanya.

Jagad raya terasa dingin, kabut pagi pun dingin sekali.

Sepasang tangan Pho Ang-soat telah kaku lantaran dingin, hatinya ikut dingin, sedingin mata golok.

Kejadian telah berlangsung, suatu kesalahan yang selamanya tak mungkin bisa dihindari.

Bila kau menjadi Pho Ang-soat, apa yang akan kau lakukan? Menghindar?

Setiap orang ada saatnya berusaha menghindar dari orang lain, tapi tak seorang pun yang bisa menghindari diri sendiri, selamanya. Pho Ang-soat pun tak sanggup.

Perlahan ia berpaling, memandang Hong-ling yang masih terbuai dalam alam impian.

Apa yang terjadi setelah ia mendusin nanti?

Membayangkan kembali peristiwa yang terjadi semalam, gejolak napsu yang tak berbendung, luapan birahi yang tak tertahan. . . Pho Ang-soat sadar, sepanjang hidup berikutnya tak nanti dia bisa melupakan adegan itu.

Lalu bagaimana dengan dia? Setelah mendusin, bagaimana caranya berhadapan dengan Hong- ling? Dua orang yang sama sekali tak berakar, tiba- tiba melakukan hubungan yang tak akan terlupakan.

Setelah kejadian ini, apakah mereka berdua harus bersatu terus? Atau lebih baik mengambil jalan sendiri-sendiri? Membiarkan kedua belah pihak sama-sama menerima penderitaan dan penyesalan karena kesalahan yang telah dilakukannya?

Pertanyaan yang pelik, siapa yang sanggup menjawabnya?

Siapa pula yang tahu, tindakan apa yang seharusnya dilakukan?

Jendela masih terbuka lebar, sinar terang mulai menerobos masuk ke dalam ruangan.

Langit terasa hening, lembah bukit terasa sepi, suasana pagi pun amat tenang. Semuanya tenang dan sepi.

Tiba-tiba Hong-ling mendusin, tiba-tiba membuka matanya, ia memandang Pho Ang-soat yang masih berbaring di samping tubuhnya.

Sorot matanya mulai bereaksi.

Apa reaksinya? Penderitaan? Kebingungan?

Permintaan maaf? Penyesalan? Atau amarah yang meluap?

Pho Ang-soat tak dapat menghindari pandangan matanya, dia pun tak sanggup menghindar. Ia balas menatap wanita itu, menantikan reaksinya.

***

Belum melangkah masuk ke rumah yang memiliki kepribadian itu, dari kejauhan Yap Kay telah mendengar ada orang sedang menangis.

Biarpun suara tangisan seorang wanita, tapi Yap Kay dapat mengenalinya, bukan So Ming- ming yang sedang menangis, melainkan isak tangis seorang nyonya setengah baya.

Begitu masuk ke dalam, ia jumpai seorang wanita setengah umur yang bertubuh gemuk dan subur sedang duduk di tepi pembaringan, sementara So Ming-ming berada di sampingnya sembari menghibur.

"Apa yang telah terjadi?" Yap Kay bertanya, "kenapa nyonya ini menangis begitu sedih?"

"Semalam suaminya telah bertemu setan pengisap darah," So Ming-ming menerangkan.

"Setan pengisap darah? Di sini pun terdapat setan pengisap darah?" seru Yap Kay agak tertegun. "Bukan hanya ada, bahkan sudah lama ada, namun setelah mereda cukup lama, semalam baru muncul lagi."

"Lalu suaminya "

"Tentu saja darahnya sudah terisap kering."

Yap Kay berpikir sejenak, kemudian tanyanya lagi, "Lantas dimana suaminya sekarang?"

"Masih di tempat kejadian, ada di halaman belakang rumahnya." "Mari kita ke sana."

Selesai berkata Yap Kay segera beranjak meninggalkan tempat itu.

Sebetulnya So Ming-ming ingin ikut, tapi melihat nyonya setengah umur itu masih menangis sedih, terpaksa dia tetap tinggal untuk melanjutkan menghiburnya.

Menyongsong datangnya kabut pagi, menerobos lapisan kabut yang tebal, Yap Kay memasuki halaman belakang rumah nyonya setengah umur itu, dari jauh ia sudah melihat sesosok mayat terkapar di tanah.

Noda darah dari bekas lukanya di tengkuk sudah membeku, mimik mukanya masih memperlihatkan rasa takut bercampur ngeri, sepasang matanya melotot besar.

Yap Kay segera berjongkok, membantu menutup mata mayat, kemudian diawasinya bekas luka di tengkuknya sambil berpikir keras. Setan pengisap darah yang biasanya hanya muncul dalam cerita ternyata muncul secara nyata di tempat ini, sejujurnya Yap Kay merasa amat sangsi bercampur heran.

Sekalipun ia belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kemunculan setan pengisap darah, namun sudah dua kali ia melihat mayat bekas digigit setan pengisap darah itu, sekali ketika masih di Ban be tong dan hari ini kedua kalinya.

Benarkah korban yang digigit setan pengisap darah keesokan harinya akan berubah jadi setan pengisap darah juga?

Yap Kay berkerut kening, ia putuskan untuk berjaga semalaman di sana nanti, dia ingin melihat apakah mayat bekas digigit setan pengisap darah itu benar-benar dapat berubah pula menjadi setan pengisap darah. Konon setan pengisap darah hanya bisa mati bila jantungnya ditusuk kayu yang terbuat dari pohon bunga Tho, lalu apakah malam nanti Yap Kay pun akan menyiapkan sebatang kayu pohon Tho?

Tak kuasa lagi dia tertawa getir, banyak benar peristiwa aneh yang terjadi tahun ini, khususnya sekarang.

Mula-mula semua orang yang sudah mati semenjak sepuluh tahun lalu berbondong bangkit dari liang kubur dan hidup kembali, dan kini muncul pula setan pengisap darah. Seandainya semalam ia tak berkunjung ke kebun monyet serta melihat sendiri apa yang disebut makhluk berkepala manusia bertubuh monyet, ia pasti akan menambahkan kasus aneh ini ke dalam benaknya.

Perlahan Yap Kay bangkit, pikirannya melayang, tinggalkan kota Lhasa dan kembali ke Ban be tong, entah bagaimana keadaan Pho Ang- soat kini?

Yap Kay benar-benar kuatir rekannya itu mengumbar watak dengan melakukan tindakan bodoh yang justru merugikan dirinya.

Bila malam ini dia berhasil mengungkap kasus setan pengisap darah itu, ia berencana besok pagi akan meninggalkan Lhasa dan segera kembali ke Ban be tong.

Matahari pagi sudah semakin meninggi, bumi pun terasa semakin panas, sembari menyeka peluhnya, Yap Kay berjalan keluar halaman belakang.

Tiba di dalam ruangan, ia lihat So Ming-ming telah menunggunya di sana. Begitu bertemu, nona itu segera bertanya, "Bagaimana urusanmu dengan kebun monyet? Kemana kau pergi sehari semalam?"

"Aku melihat monyet berkepala manusia," Yap Kay menerangkan.

"Jadi benar? Benar-benar terdapat monyet jenis begitu?" seru So Ming-ming sambil membelalakkan mata. Yap Kay tertawa tergelak.

"Padahal hanya monyet yang bulu mukanya telah dicukur hingga kelimis," jelasnya.

"Monyet yang dicukur gundul?"

"Benar, karena mukanya kelimis maka dari kejauhan mirip kepala manusia."

"Kenapa ia cukur gundul bulu-bulu di kepala monyet?"

"Siapa tahu? Mungkin Ong-losiansing menganggap keisengannya menarik," sahut Yap Kay, "siapa tahu juga kawanan monyet itu terjangkit penyakit botak?"

Mendengar penjelasan itu, So Ming-ming ikut tertawa. Menanti suara tawanya mulai mereda baru ia berkata lagi, "Lalu mengapa kau berada di sana hingga sehari semalam?"

"Siang harinya aku menonton orang bermain catur dan malamnya kunikmati hidangan mewah sambil mendengarkan permainan musik yang indah dan menonton permainan akrobatik beberapa ekor monyet lucu."

"Jadi kau tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan? Tidak kau tanyakan masalah Giok- seng?"

"Sudah kutanyakan, tapi jawabannya tak ada." "Tak ada? Tak ada apa?" tanya So Ming-ming

keheranan. "Dia bilang tak ditemukan hal-hal yang mencurigakan, tak ada pula berita tentang Giok- seng," Yap Kay menjelaskan, "aku pun tak berhasil melacak berita tentang Kim-hi."

"Mana mungkin bisa begitu?" gumam So Ming- ming, "padahal semua petunjuk mengarah ke sana, tapi kini kau justru mengatakan bahwa di dalam kebun monyet  tiada  yang  patut dicurigai "

"Ada seorang kenamaan pernah mengucapkan sepatah kata, pernahkah kau mendengarnya?" kembali Yap Kay tertawa.

"Apa yang dia katakan?"

"Tempat yang tak patut dicurigai seringkah justru merupakan tempat yang paling mencurigakan," Yap Kay menerangkan.

"Sungguh? Jadi maksudmu kebun monyet adalah tempat yang amat mencurigakan?"

"Waktu sampai di dalam kebun monyet, kulihat segala sesuatunya seperti normal dan biasa."

"Kalau memang normal dan biasa, apa lagi yang patut dicurigai?"

"Justru lantaran kelewat normal dan biasa, maka timbul kesan amat mencurigakan," kata Yap Kay, "coba bayangkan saja, kebun monyet itu sangat besar dan luas, seperti juga orang yang bernama Ong-losiansing itu, seharusnya dia memiliki watak yang aneh dan nyentrik, tapi dia berusaha tampil dengan sikap normal dan wajar, sikap yang bisa kau jumpai di rumah dan keluarga mana pun."

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya, "Hal ini membuktikan dia memang sengaja mengatur semuanya itu agar kita saksikan."

"Bila ia tidak berniat busuk, buat apa mesti mengatur segalanya untuk dipertontonkan kepada kita?"

"Benar, oleh sebab itu sekarang juga aku akan mengunjungi kebun monyet sekali lagi."

"Sekarang?" seru So Ming-ming, "apakah kali ini pun kau akan masuk melalui pintu gerbang secara terang-terangan atau menyelundup secara diam-diam?"

"Tentu saja kali ini aku akan masuk secara diam-diam," sahut Yap Kay sambil tertawa. "Cuma sebelum pergi aku ingin merepotkan dirimu untuk melakukan dua hal."

"Melakukan apa?"

"Pertama, jangan biarkan nyonya setengah umur itu kembali ke rumahnya, biarkan saja jenazah suaminya tergeletak di kebun belakang. Dan kedua, tolong carikan sebatang kayu pohon Tho untukku."

"Kayu pohon Tho? Untuk apa?" "Tentu saja untuk membunuh setan." "Membunuh setan?" "Benar," Yap Kay membenarkan, "konon korban yang mati karena gigitan setan pengisap darah, setelah lewat sehari akan berubah pula menjadi setan pengisap darah. Aku dengar setan pengisap darah seperti itu baru bisa mati bila jantungnya ditusuk dengan kayu bunga Tho

"Oh, jadi kau ingin membuktikan apakah malam nanti mayat itu akan berubah pula menjadi setan pengisap darah?"

"Tepat sekali, jawabanmu memang benar," kembali Yap Kay tertawa.

Biarpun dinding pekarangan sangat tinggi, namun bagi Yap Kay hadangan itu bagaikan seorang anak sedang bermain lompat tali, dengan mudah dia melampaui dinding tinggi tadi dan melayang turun di halaman belakang kebun monyet.

Saat itu waktu menunjukkan mendekati tengah hari, suasana dalam kebun monyet terasa begitu hening seperti berada di tengah malam saja, Yap Kay mencoba mengawasi seputar sana, kemudian dengan cepat menghampiri sebuah ruangan yang jendelanya terbuka.

Begitu dekat dinding ruangan, mula-mula Yap Kay menempelkan telinga di atas dinding, setelah yakin tak ada suara yang mencurigakan, baru ia mendorong daun jendela semakin lebar.

Di dalam kamar itu hanya terdapat sebuah ranjang, tak ada meja, tak ada kursi. Di atas ranjang pun hanya tersedia sebuah selimut, sementara pada dinding dekat ranjang tergantung sebuah rantai besi. Saat itu ruangan dalam keadaan kosong.

Sesudah melompat masuk lewat jendela, Yap Kay menghampiri pembaringan itu, dipegangnya rantai yang tergantung di atas dinding, lalu diperiksa sejenak.

Ternyata rantai dihubungkan dengan borgol, tampaknya borgol itu memang disiapkan untuk memborgol seseorang di situ.

Tapi siapa yang hendak diborgol di sana?

Sambil berpikir Yap Kay meletakkan kembali rantai borgol itu, menyingkap seprei dan memeriksa seluruh ranjang dengan seksama.

Padahal ia tak perlu melakukan pemeriksaan dengan seksama, sebab begitu selimut disingkap, segera terlihat sejumlah bulu bertebaran di atas ranjang.

Bulu-bulu pendek berwarna kuning emas.

Diambilnya beberapa lembar bulu itu dan dirabanya dengan seksama, bulu itu terasa sangat kasar, waktu diendus, tersiar bau busuk yang aneh.

Bau khas seekor monyet!

Mungkinkah kamar itu digunakan untuk memborgol seekor monyet?

Tapi mengapa monyet itu diborgol di sini? Kalau susah dilatih, bukankah bisa dikurung dalam sangkar? Mengapa harus diborgol dalam ruang kamar yang begini besar?

Seingatnya, monyet berjongkok waktu tidur, mengapa disediakan ranjang di tempat ini?

Atau mungkin monyet itu sangat besar? Bahkan jauh lebih tinggi dari manusia?

Menurut analisanya berdasarkan fakta yang ada, rasanya memang hanya kemungkinan itu yang masuk akal, Yap Kay pun tertawa, dia masukkan beberapa lembar bulu itu ke sakunya, lalu berjalan menuju ke pintu kamar, membukanya perlahan-lahan dan melongok keluar. 

Di luar pintu ada sebuah serambi panjang, suasana di serambi itu pun hening, di ujungnya terdapat lagi sebuah pintu.

Dengan kecepatan luar biasa ia segera menerobos ke sana, sekali berkelebat Yap Kay telah tiba di sisi pintu di ujung serambi.

Berdasarkan pantauan indra keenamnya, Yap Kay tahu ruangan itu pasti kosong, maka dia pun mendorong pintu, tapi tak berhasil.

Rupanya kamar itu terkunci? Tidak mungkin, bukankah dalam ruangan tak ada penghuninya? Mengapa justru kamar itu terkunci rapat?

Yap Kay coba memperhatikan bentuk pintu itu dan mengetuknya beberapa kali, walaupun pintu itu sepintas mirip pintu kayu, namun kenyataan merupakan sebuah pintu besi yang dibungkus kulit kayu, tak heran susah dibuka.

Sebuah pintu besi memang tak gampang untuk dibuka dengan sekali dorongan.

Dia pun mengerahkan tenaga dalamnya sambil mendorong kuat-kuat, kali ini pintu besi bergeser ke dalam hingga terbuka, segulung hawa dingin tiba-tiba berhembus keluar.

Yap Kay bersin, aneh, di udara yang begini panas, mengapa dari dalam ruangan justru berhembus hawa dingin bagai bongkahan es?

Setelah pintu terbuka, kamar itu memang tak ada penghuninya.

Bukan saja tak ada penghuninya, bahkan dalam ruangan tidak nampak perabot apa pun, jangankan meja rias atau meja kursi, sebuah ranjang yang sederhana pun tak nampak.

Walau begitu, bukan berarti ruangan itu kosong melompong.

Setelah menyaksikan pemandangan dalam ruangan itu, Yap Kay segera mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tak tahan muncul hawa dingin yang menggidikkan di hati kecilnya.

Persis di tengah ruangan terdapat sebuah meja altar panjang, di atasnya tersedia berderet bongkahan es beku.

Ternyata hawa dingin itu berasal dari bongkahan es batu yang memenuhi altar panjang. Di sekeliling altar tersedia lemari tinggi, lemari itu terbuat dari batu kristal hingga semua benda yang berada di dalamnya bisa terlihat jelas, namun Yap Kay tak bisa mengenali barang apa saja yang ada di sana.

Lemari itu dipenuhi kotak-kotak bulat, isi kotak itu adalah cairan seperti arak anggur dari Persia, hanya warnanya agak sedikit tua dan kental.

Jangan-jangan tempat ini adalah gudang es untuk menyimpan arak anggur?

Setelah mendekati lemari itu Yap Kay baru tahu bahwa semua rak lemari diberi label nomor, semuanya ada empat buah.

"Jenis kesatu", "Jenis kedua", "Jenis ketiga" dan "Jenis keempat". Jenis apa itu? Masa arak pun mempunyai jenis?

Sampai hari ini Yap Kay belum pernah mendengar hal semacam ini, dibukanya lemari sebelah  kanan dan diambilnya sebuah kotak, lalu dibuka penutupnya.

Tapi begitu diendus baunya, kontan keningnya berkerut kencang.

Darah, bau darah!

Ternyata isi kotak-kotak bulat itu adalah darah.

Darah sesegar bunga mawar.

Ternyata kotak bulat yang berada dalam lemari kristal berisikan darah, lalu apa gunanya begitu banyak darah tersimpan di sana? Dalam empat buah lemari tersimpan empat jenis darah, akhirnya Yap Kay tahu kalau jenis darah pun terbagi jadi empat jenis. Sekarang baru dia teringat perkataan gurunya bahwa darah  yang

mengalir dalam tubuh manusia secara garis besar terbagi dalam empat jenis darah yang berbeda.

Tak mungkin jenis darah yang berbeda dicampur-aduk menjadi satu, artinya orang yang mempunyai darah jenis kesatu hanya bisa di transfusi dengan darah dari jenis kesatu.

Tentu saja dia pun masih ingat perkataan gurunya, bahwa untuk menjaga kesegaran darah, maka harus disimpan dalam suhu yang rendah dan dingin.

Ditinjau dari semua perlengkapan yang tersedia di sini, dapat disimpulkan bahwa Ong-losiansing bukan saja mengetahui pembagian jenis darah manusia, dia pun sangat mengerti cara menyimpan darah segar.

Tapi untuk apa dia menyimpan begitu banyak jenis darah?

Kalau dibilang dia adalah seorang tabib sakti yang suka menolong orang, bisa jadi persediaan darahnya akan digunakan untuk menolong nyawa orang, tapi kenyataan dia tak lebih hanya seorang kakek yang mempunyai banyak uang, untuk apa persediaan darah itu? Mungkinkah persediaan darah segar itu ada sangkut-pautnya dengan berbagai misteri yang terjadi dalam kebun monyet? Ataukah mungkin darah itu bukan darah manusia, melainkan darah monyet?

Menyaksikan ruang penyimpan darah yang dingin membekukan itu, Yap Kay segera merasa dalam kebun monyet telah bertambah lagi dengan selapis misteri yang mencurigakan.

Sementara Yap Kay masih termenung, mendadak dari luar pintu berkumandang suara langkah manusia, dalam kagetnya ia sudah tak sempat lagi menerjang keluar ruangan, padahal sekeliling tempat itu tak tersedia tempat untuk menyembunyikan diri, apa yang harus dilakukan sekarang?

Dalam pada itu suara langkah manusia terdengar makin lama semakin dekat.

Pintu besi telah terbuka, tampak dua orang pemuda berbaju kuning berjalan masuk ke dalam ruangan. Seorang di antaranya yang berperawakan agak tinggi membawa dua buah tabung bambu.

Mereka langsung menuju ke rak lemari bertuliskan "jenis kedua", pemuda yang berperawakan agak pendek segera mengeluarkan kotak darah yang isinya paling sedikit dan membuka penutupnya.

Pemuda agak tinggi itu pun menuang isi kedua tabung bambu itu ke dalam kotak bulat tadi. Tentu saja cairan yang mengalir keluar dari tabung bambu adalah darah segar.

Menanti semua cairan dalam tabung bambu telah tertuang dan kotak bulat itu sudah ditutup kembali, pemuda agak pendek itu meletakkan kembali ke dalam laci sambil katanya, "Heran juga, aku masih ingat ketika masuk kemari tempo hari, setiap kotak 'jenis kedua' masih terisi penuh semua, kenapa sekarang lagi-lagi berkurang banyak?"

"Lagi-lagi? Apa maksudmu lagi-lagi?" tanya pemuda yang agak tinggi.

"Lagi-lagi maksudnya kejadian seperti ini sudah terjadi berulang kali, setiap kali masuk kemari, aku selalu menemukan kotak yang semula sudah kuisi penuh ternyata telah berkurang banyak."

Pemuda yang agak tinggi itu memandang sekali lagi kotak darah dalam laci, kemudian gumamnya sambil menggeleng, "Aku benar-benar tak habis mengerti, buat apa si tua itu membutuhkan begitu banyak darah?"

"Si tua? Siapa si tua?" "Dia adalah.....

Tapi sebelum dia melanjutkan kata-katanya, pemuda yang lebih pendek telah menyumbat mulutnya sambil berbisik, "Memangnya kau sudah bosan hidup?"

"Aku..... "Tak seorang pun berani menyebutnya si tua," bisik pemuda itu lagi, baru ia lepaskan bekapannya setelah memeriksa pintu sekejap, "hari ini kau berani bicara begitu keras, memangnya sudah bosan hidup?"

"Dia tak ada di sini, darimana bisa tahu?" biarpun pemuda agak tinggi itu masih keras ucapannya, namun ia sudah merendahkan nada suaranya.

"Banyak orang yang suka menyampaikan laporan demi meraih pahala."

"Tapi di sini hanya ada kau dan aku, tak ada. "

Sebenarnya dia hendak mengatakan "di sini tak ada orang lain, siapa yang bakal melaporkan hal ini", tiba-tiba ia teringat kalau rekannya bukankah seorang juga?

Sambil tertawa paksa ia menepuk bahu rekannya, katanya pula, "Lauko, dalam kamarku tersimpan dua guci arak Li ji-ang berusia tiga puluh tahun, malam ini kita bisa berpesta-pora."

Setelah berhenti sejenak, kembali tambahnya, "Tentu saja Laute akan menyediakan hidangan juga."

"Bukankah kedua guci arak itu adalah barang mestikamu, mana aku berani meneguknya?"

"Lauko, kau kan bukan orang luar, asal Lauko melupakan apa yang Siaute katakan tadi, apa pun yang kau kehendaki tentu akan Laute penuhi." "Tahu rahasia tapi tidak melapor, dosanya bisa berlipat ganda," kata pemuda agak pendek berlagak jual mahal.

"Kakakku yang baik, tolong ampunilah aku sekali ini saja!"

"Hm, kalau bukan melihat hubungan kita selama ini, aku "Terima kasih Lauko."

Setelah pemuda yang agak tinggi itu mengajak rekannya keluar ruangan dan baru saja merapatkan kembali pintu besi, terlihat seseorang melayang turun dari atas wuwungan rumah

Begitu hinggap di lantai, Yap Kay segera menggerakkan jari tangan dan kakinya, karena harus bersembunyi di wuwungan rumah tadi tanpa bergerak, kini tangan dan kakinya sudah mulai membeku.

Selesai menghangatkan badan, Yap Kay baru termenung sambil mengulang kembali semua pembicaraan yang barusan terdengar.

Berdasar pembicaraan kedua orang itu, Yap Kay menyimpulkan tiga hal. Pertama, cairan merah yang berada dalam kotak bulat itu adalah darah manusia. Kedua, semua anak buah Ong- losiansing tak ada yang tahu apa kegunaan darah itu dan ketiga, Ong-losiansing membutuhkan darah dalam jumlah banyak sehingga setiap berapa hari anak buahnya harus mengisi kembali kotak-kotak itu. Kini dalam benak Yap Kay bertambah satu pertanyaan, darimana mereka memperoleh darah itu?

Jangan-jangan... ? Tapi... rasanya tak mungkin.

Mana mungkin persoalan ini disatukan dengan masalah setan pengisap darah?

Tak tahan Yap Kay tertawa geli.

Sebetulnya dia ingin melakukan penyelidikan lebih lanjut, tapi sayang  waktu  sudah menunjukkan 'bukan waktu yang tepat untuk melakukan pelacakan'. Kini penjagaan dalam kebun monyet pasti sudah kembali seperti sedia kala.

Berarti dia harus segera mengundurkan diri dari situ dan selesai menyelidiki kasus setan pengisap darah malam nanti, besok dia akan menyatroni kebun monyet lagi.

Taburan bintang semalam belum lagi muncul, sinar senja hari ini telah tenggelam di langit barat.

Yap Kay segera mencari sebuah tempat yang strategis dan mulai menyembunyikan diri.

Di halaman belakang rumah nyonya setengah umur itu terdapat sebuah sumur, tepat di depan sumur berdiri sebuah pohon tua yang amat besar.

Pohon itu sangat besar dan berdaun lebat, di situlah Yap Kay menyembunyikan diri, sebab dari atas pohon bukan saja ia dapat melihat jelas situasi di sekeliling halaman belakang, bahkan radius seluas tujuh tombak pun tak akan lolos dari pengamatannya.

Dengan berbekal dua poci arak dan sejumlah rangsum ia menanti di atas pohon dengan tenang, coba kalau bukan sedang menunggu kasus aneh, menikmati arak di atas pohon pasti sangat mengasyikkan.

Ketika bintang utara pertama baru muncul di angkasa, Yap Kay telah menghabiskan separoh poci arak dan mengusir sebagian hawa dingin yang merongrong tubuhnya.

Posisi mayat masih sama seperti pagi tadi, berbaring di tengah halaman. Di bawah sinar rembulan yang baru muncul, terlihat jelas bekas noda darah pada luka di tengkuk mayat itu telah membeku dan berubah warna jadi kehitam- hitaman.

Bila berita angin yang selama ini beredar benar, malam ini mayat itu akan berubah jadi mayat hidup, akan berubah jadi setan pengisap darah.

Benarkah setan pengisap darah tak bisa dibunuh dengan senjata apa pun? Benarkah makhluk itu baru terbunuh bila jantungnya ditusuk kayu runcing dari pohon bunga Tho?

Omong kosong semacam itu biasanya hanya muncul dalam cerita, tapi sekarang telah muncul dalam kehidupannya, bayangkan saja apa yang dilakukan Yap Kay sekarang? Dia hanya tertawa getir, ya, dia hanya bisa tertawa getir.

Bila malam ini mayat itu benar-benar bisa hidup kembali, Yap Kay ingin membuktikan, apa benar setan pengisap darah tak dapat dibunuh dengan senjata lain, bilamana perlu dia akan menggunakan kayu runcing dari dahan bunga Tho untuk menghadapinya.

Sekarang kayu runcing bunga Tho sudah terselip di pinggangnya.

Andaikata teman-temannya mengetahui ulahnya itu, bisa jadi mereka akan tertawa hingga terlepas giginya.

Kalau bukan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang bakal mempercayainya?

Bagaimana pula dengan Yap Kay?

Bila ia benar-benar berjumpa setan pengisap darah malam ini, apakah dia akan percaya?

Yap Kay tak tahu, ia tak sanggup menjawab pertanyaan itu.

Ada sementara kejadian, walau sudah kau saksikan dengan mata kepala sendiri pun belum tentu akan percaya, apalagi omong kosong yang tak ada kepastian seperti ini.

Hawa dingin yang terbawa angin barat membawa serta bau harumnya hidangan kota Lhasa, teriring juga lagu gembala yang pilu dan penuh kesedihan. Ketika mendengar lagu yang memilukan itu, tiba-tiba Yap Kay teringat akan seseorang.

"Bulan tiga di musim semi, kawanan domba berpesta rerumputan. Musim salju yang beku,

siapa yang akan memberi makan serigala?

Hati lembut bagai domba, hati keras bagai serigala.

Hati manusia sukar diterka, perasaan manusia beku bagai salju "

Siau Cap-it-long!

Di kolong langit hanya Siau Cap-it-long yang paling memahami serigala, dia pula yang menaruh simpatik terhadap serigala.

Dia sendiri seolah-olah adalah seekor serigala, seekor serigala yang kesepian, kedinginan dan kelaparan. Berkelana di tanah bersalju, tujuannya tak lain hanya berjuang untuk mempertahankan hidup.

Tak seorang pun di dunia ini yang mau mengulurkan tangan membantunya, setiap orang hanya ingin menendangnya, menginjaknya sampai mampus.

Manusia di dunia ini hanya tahu kasihan dan simpatik kepada domba, jarang ada yang mengetahui penderitaan dan kesepian yang dirasakan serigala. Yang dilihat umat manusia hanya keganasan serigala ketika menerkam domba, tak pernah menggubris bagaimana menderita serigala ketika kelaparan di tanah bersalju, ketika berkelana sendirian di tengah alam yang sepi.

Ketika domba lapar, dia makan rumput.

Bagaimana kalau serigala sedang lapar? Apakah dia harus mati kelaparan?

Yap Kay sangat memahami serigala, oleh sebab itu dia pun sangat memahami Siau Cap-it-long.

Biarpun mereka berdua bukan berasal dari zaman yang sama, namun Yap Kay sangat menguasai cerita tentang Siau Cap it-long, setiap kali teringat akan ceritanya, badannya akan terasa panas dan darah dalam tubuhnya bergolak keras.