Kilas Balik Merah Salju Jilid 08

 
Di tengah udara, di balik senja yang mulai remang, hanya terlihat seekor burung elang terbang mengitar.

Hanya angin yang berhembus datang dari kejauhan, lalu bergerak menjauh lagi.

Tak seorang pun tahu darimana angin berasal? Kemana angin berlalu? Kapan angin berhembus dan kapan baru berhenti?

So Ming-ming membetulkan rambutnya yang terhembus angin, menyeka butiran air yang membasahi pipinya, lalu perlahan dia mendongakkan kepala, memandang Yap Kay.

"Tampaknya sulit bagimu untuk mengetahui siapakah si dia?" katanya, "kini semua titik terang sudah terputus, ketiga sosok mayat itu pun sudah dia periksa, dia pun sudah mengetahui aliran ilmu silatmu.  Bahkan tinggi rendahnya kemampuanmu pun sudah dia ketahui."

"Keliru, kau keliru besar," kata Yap Kay tertawa, "walaupun sekarang aku sudah tak bisa melacak jejaknya lagi, tapi bukankah ekor rasenya sudah kelihatan? Cepat atau lambat si kepala rase pasti akan terlihat juga."

Dia memandang sekejap So Ming-ming, kemudian katanya lagi, "Karena dia sudah memeriksa semua mayat itu, juga sudah mengetahui kemampuan ilmu silatku, tentu dia akan melakukan gerakan kedua."

"Gerakan kedua?"

"Benar, kalau tidak, buat apa dia menggunakan begitu besar tenaga dan pikiran untuk melakukan semua itu?" ujar Yap Kay, "dia mengeluarkan begitu besar tenaga dan pikiran tak lain karena sedang menyiapkan gerakan kedua."

"Percobaan membunuhmu untuk kedua kalinya?"

"Benar, cuma aku berani jamin, yang melakukan kesalahan pada gerakan yang kedua ini pasti dia."

"Bagaimana seandainya kau?" perasaan cemas terlintas di wajah So Ming-ming.

"Aku punya firasat, yang melakukan kesalahan kali ini pastilah dia!"

Di atas bukit terdapat sebuah kuburan baru, rerumputan baru saja tumbuh di atas tanah gundukan, beberapa pohon Pek-yang berdiri tegak menahan hembusan angin barat, di depan kuburan berdiri sebuah batu nisan.

Di atas batu nisan yang besar itu tertera beberapa huruf besar, "Tempat peristirahatan putri kesayanganku Be Hong-ling".

Be Khong-cun memandang nanar kuburan baru itu, sampai lama kemudian baru ia membalikkan badan memandang Pho Ang-soat, kerutan di wajahnya terlihat makin tandas, di balik setiap guratan itu entah sudah tersimpan berapa banyak peristiwa masa lampau yang penuh kepedihan.

Ya, tak seorang pun tahu berapa banyak kepedihan yang tertanam di situ? Berapa dalam dendam kesumat yang terjalin?

Pho Ang-soat berdiri tenang menghadap hembusan angin barat, dia balas menatap tajam Be Khong-cun, memandang dengan sorot tajam.

"Apa yang kau lihat?" tiba-tiba Be Khong-cun bertanya.

"Sebuah kuburan."

"Tahukah kau kuburan siapa?" "Be Hong-ling."

"Sudah tahu, siapakah dia?" "Putri Be Khong-cun."

Pho Ang-soat sengaja tidak mengatakan "putrimu", melainkan "putri Be Khong-cun", sebab hingga kini dia masih belum percaya orang yang berdiri di hadapannya adalah Be Khong-cun asli.

Setahu dia, Be Khong-cun sudah tewas sejak sepuluh tahun lalu, dengan mata kepala sendiri ia saksikan kematian orang itu, meski bukan dia yang membunuh, namun dia sangat mempercayai pandangan mata sendiri.

Di depan tanah perbukitan itu terbentang padang rumput yang luas, begitu luas hingga bersambungan dengan ujung langit. Angin di atas bukit terasa lebih dingin, angin berhembus di atas rerumputan membuatnya bergoyang bagai gulungan ombak di samudra.

Paras muka Be Khong-cun nampak lebih pedih, terdengar ia bergumam, "Putri Be Khong-cun "

Tiba-tiba ia membalikkan badan, memandang ke tempat jauh sana. Entah berapa lama sudah lewat ketika ia berkata lagi, "Sekarang apa yang kau lihat?"

"Padang rumput, tanah dataran yang luas." "Apakah kau dapat melihat tepian dataran luas

ini?"

"Tidak."

"Tanah dataran yang begitu luas tak nampak tepian ini milikku," kata Be Khong-cun agak emosi, "tanah ini adalah seluruh nyawaku, seluruh kekayaan yang ada di sini milikku, akarku tumbuh di tanah dataran ini." Pho Ang-soat mendengarkan, hanya mendengarkan, karena dia memang tidak paham apa maksud Be Khong-cun mengajaknya ke sana hari itu, apa pula maksudnya mengucapkan semua perkataan itu?

"Akarku berada di sini, Be Hong-ling adalah seluruh nyawaku, seluruh kehidupanku," kembali Be Khong-cun berkata, "siapa pun orang yang telah membunuhnya, dia harus membayar dengan harga yang sangat besar."

Mendengar itu, perlahan Pho Ang-soat mengalihkan kembali sorot matanya ke atas kuburan baru.

Benarkah orang yang dikubur di tempat ini adalah Be Hong-ling?

Angin masih berhembus kencang, menggoyangkan rerumputan, tampaknya luapan emosi Be Khong-cun ikut terhembus pergi oleh deru angin  dingin,  lambat-laun paras mukanya berubah tenang kembali, kemudian ia menghela napas panjang.

"Walaupun aku tidak menyaksikan sendiri bagaimana kau membunuh Be Hong-ling, tapi kau pun tak bisa membuktikan dia bukan tewas di tanganmu," kata Be Khong-cun lagi sambil menatap tajam lawannya.

"Benar, aku memang tak bisa."

Kembali Be Khong-cun mengamatinya sekejap, mendadak ia membalikkan badan, memandang lagi padang rumput. "Tidak mudah bagi siapa pun untuk memperoleh sebidang tanah yang begini luas," Be Khong-cun mengalihkan pokok pembicaraan, "tahukah kau dengan cara apa kuperoleh semua itu?"

Kau peroleh semua ini dengan melawan hati nalurimu dan membunuh sahabat karibmu, Pek Thian-ih.

Pho Ang-soat tidak mengucapkan perkataan itu, dia hanya menatap Be Khong-cun dengan pandangan dingin.

"Tanah ini kuperoleh dengan menukar nyawa sahabat karibku serta beberapa orang saudaraku," ujar Be Khong-cun lagi, "kini mereka telah mati, sementara aku masih tetap hidup."

"Aku tahu."

"Oleh karena itu jangan harap siapa pun bisa merebut semua itu dari tanganku," setelah berhenti sejenak, kembali tambahnya, "kecuali Pek Ih-ling!"

Pho Ang-soat tidak mengerti apa maksud perkataannya itu, untung Be Khong-cun segera memberi penjelasan.

"Biarpun Be Hong-ling adalah akar kehidupanku, tapi demi Pek Ih-ling, aku bersedia mengabaikan semua itu."

Kembali dia menengok wajah Pho Ang-soat, lalu tanyanya, "Kau mengerti maksudku?" "Tidak, aku tidak mengerti," Pho Ang-soat memang benar-benar tidak mengerti.

"Dendam terbunuhnya putriku lebih dalam dari lautan, tapi...." Be Khong-cun menggigit bibir, "Pek Ih-ling... ternyata dia menyukai mu. "

Pek Ih-ling?

Lambat-laun Pho Ang-soat mulai mengerti maksudnya.

Semua usaha, semua kekayaan yang ada di Ban be tong adalah hasil perjuangan Pek Thian-ih suami istri, maka demi putri tunggalnya, Be Khong-cun rela berkorban tanpa syarat, inilah yang disebut kesetia kawanan seorang sejati.

Oleh karena itu walaupun Pho Ang-soat telah membunuh Be Hong-ling, namun demi Pek Ih- ling, Be Khong-cun mau tak mau harus membebaskan Pho Ang-soat.

Inilah salah satu sebab mengapa Be Khong-cun mengajak Pho Ang-soat datang kemari hari ini.

Tapi benarkah kenyataan memang begitu?

Benarkah jenazah yang terkubur di sana adalah mayat Be Hong-ling yang asli?

Siapa pula Pek Ih-ling yang berwajah sangat mirip Be Hong-ling? Benarkah dia putri tunggal Pek Thian-ih?

Kembali Be Khong-cun menatap tajam wajah Pho Ang-soat, ujarnya lagi, "Aku tahu kau adalah seorang lelaki yang punya cita-cita tinggi, punya semangat dan harga diri, pada waktu biasa, mungkin aku akan bersahabat denganmu, bahkan memungut kau menjadi menantuku"

Sekali lagi dia menarik muka, setajam sembilu dia tatap pemuda itu tanpa berkedip, lalu katanya pula, "Tapi sekarang, lebih baik cepat kau tinggalkan tempat ini."

"Pergi dari sini?"

"Betul, pergi dari sini. Bawa serta Pek Ih-ling, pergilah sejauh mungkin, makin jauh makin baik."

"Kenapa aku harus pergi?" tanya Pho Ang-soat. "Karena di sini kelewat banyak masalah dan

kesulitan, siapa pun yang berada di sini rasanya

sulit untuk terhindar dari anyirnya darah," kata Be Khong-cun, "biarpun demi Pek Ih-ling aku rela melepasmu, bukan berarti aku bisa menjamin orang lain bisa memaafkan dirimu yang telah membunuh putriku."

"Aku tidak takut menghadapi masalah, juga tak takut menghadapi anyirnya darah," kata Pho Ang- soat hambar, "terlebih lagi aku tak butuh maaf dari orang lain."

"Tapi kau tidak seharusnya datang kemari, sepantasnya kau segera pulang."

"Pulang? Pulang kemana?"

"Pulang ke kampung halamanmu, di tempat itulah nyawamu baru bisa selamat dan kehidupanmu baru tenang." Pho Ang-soat tidak segera menjawab, dia alihkan pandangan matanya ke arah padang rumput yang luas, lama kemudian baru ia bertanya, "Tahukah kau dimana letak kampung halamanku?"

"Betapa jauhnya letak kampung halamanmu, betapa banyaknya ongkos yang kau butuhkan dan barang apa pun yang ingin kau bawa dari sini, aku pasti akan memenuhi semua permintaanmu itu," janji Be Khong-cun cepat, "akan kukabulkan setiap permintaanmu, asal

kau segera tinggalkan tempat ini bersama Pek Ih-ling."

"Tak perlu dengan tawaranmu itu, karena kampung halamanku tidak terlalu jauh," tukas Pho Ang-soat.

"Tidak jauh? Dimana?"

Di ujung langit terlihat segumpal awan putih, sorot mata Pho Ang-soat berhenti pada gumpalan awan itu.

"Di sinilah kampung halamanku," katanya. "Di sini?" seru Be Khong-cun tertegun.

Pho Ang-soat membalikkan badan, menatap tajam dirinya, tiada mimik aneh di wajahnya.

"Aku dilahirkan di sini, tumbuh dewasa di sini, kau minta aku pergi kemana lagi?" ujar Pho Ang- soat lagi.

Mendengar itu, dada Be Khong-cun langsung bergelombang tak beraturan, napasnya ngos- ngosan, tangannya mengepal kencang, dari tenggorokannya hanya terdengar suara orang mendengkur, tak sepatah kata pun sanggup dia ucapkan.

"Sejak awal sudah kukatakan, aku tak pernah takut menghadapi masalah, juga tak kuatir dengan anyirnya darah, bahkan aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan."

"Jadi kau tetap akan tinggal di sini?" akhirnya dengan sedikit memaksa Be Khong-cun mengucapkan pertanyaan itu.

"Benar!"

Inilah jawaban dari Pho Ang-soat, singkat tapi jelas.

Awan di ujung langit mulai bergerak, menutupi cahaya sang surya. Hembusan angin barat terasa makin kencang, menggoyangkan ranting dan dedaunan, bahkan membuat pohon Pek-yang yang kokoh pun ikut gemetar.

Biarpun Be Khong-cun masih berdiri tegak, namun lambungnya mulai mengkerut dan terasa mual, seakan terdapat sebuah tangan tak berwujud yang sedang menekan dada dan lambungnya, begitu kuat tekanan itu nyaris membuatnya muntah dan berhenti bernapas.

Ia merasakan seluruh mulutnya dipenuhi cairan getir, kecut dan pahit.

Pho Ang-soat telah berlalu dari situ. Be Khong-cun tahu akan hal ini, tapi ia tidak berusaha menghalangi, bahkan berpaling untuk melihat sekejap pun tidak.

Kalau memang tak berniat menghalangi, buat apa mesti ditengok?

Seandainya peristiwa ini terjadi pada sepuluh tahun berselang, dia pasti tak akan membiarkannya pergi.

Seandainya peristiwa ini terjadi pada sepuluh tahun berselang, mungkin saat ini dia sudah terkubur di tanah perbukitan itu.

Pada sepuluh tahun berselang, belum pernah ada orang berani menampik permintaannya, semua perkataan yang dia ucapkan tak pernah ada yang berani membangkang.

Tapi sekarang ada, ada yang berani melawannya.

Ketika mereka sedang berdiri saling berhadapan tadi, sebenarnya Be Khong-cun punya kesempatan untuk merobohkan Pho Ang- soat, kepalannya masih secepat sepuluh tahun yang lalu, dia yakin masih mampu merobohkan setiap orang yang berdiri di hadapannya.

Tapi tadi, dia sama sekali tidak bergerak, sama sekali tidak turun tangan.

Mengapa? Mengapa dia hanya diam saja?

Apakah dia sudah tua? Ataukah ada sesuatu yang membuatnya takut dan ngeri untuk bertindak? Apakah dia adalah Be Khong-cun yang asli?

Apakah dia adalah Be Khong-cun sepuluh tahun berselang?

Semua orang, semua benda yang ada di Ban be tong hari ini benarkah sama seperti yang dulu?

Benarkah mereka semua telah bangkit dari kematiannya?

Biarpun sudah lewat sepuluh tahun, namun otot Be Khong-cun masih nampak kekar dan kencang, bahkan tak nampak daging lebih atau lemak yang tumbuh di seputar lehernya, baik sewaktu duduk atau berdiri, tubuhnya tetap tegak lurus persis seperti keadaannya pada sepuluh tahun berselang.

Tampaknya selama sepuluh tahun terakhir, nyaris tidak terjadi perubahan apa pun pada dirinya.

Padahal perubahan dan menuanya seseorang, memang sulit dilihat dan diketahui orang luar.

Malah terkadang diri sendiri pun tak dapat melihatnya.

Perubahan dan menuanya seseorang, sesungguhnya berlangsung dalam hati

Seseorang baru benar-benar merasa lemah dan tua bila dalam hati merasa dirinya sudah mulai lemah dan tua.

Tiba-tiba Be Khong-cun merasa sangat lelah.

Awan bergerak yang baru saja menutupi cahaya sang surya, entah sejak kapan telah berubah menjadi awan mendung, tak lama kemudian langit pun berangsur gelap, kelihatannya segera akan turun hujan.

Sudah barang tentu Be Khong-cun dapat melihat perubahan itu, pengalamannya selama ini membuat ia pandai melihat perubahan cuaca, tapi agaknya dia enggan untuk pulang.

Dengan tenang ia berdiri di depan kuburan, mengawasi tulisan di atas batu nisan dengan pandangan nanar, "Tempat peristirahatan putri kesayanganku Be Hong-ling".

Benarkah Be Hong-ling dikebumikan di tempat itu?

Kecuali dia seorang, mungkin tidak banyak yang tahu tentang rahasia ini, tak seorang pun tahu kuburan siapakah sebenarnya?

Rahasia ini sudah sepuluh tahun tersimpan dalam hatinya, seperti sebatang duri yang menghujam dalam hatinya, setiap kali teringat akan hal ini, hatinya akan terasa sakit, pedih.

Kini perasaan sakit dan pedih kembali tercermin di wajahnya, entah dikarenakan ia teringat rahasia itu atau lantaran permintaan nya ditolak mentah-mentah oleh Pho Ang-soat?

Angin berhembus semakin kencang, di tempat terpencil seperti ini hanya suara hembusan angin yang terdengar, tiada suara derap kuda, tiada pula suara langkah kaki, tapi sekonyong-konyong Be Khong-cun merasa ada seseorang sedang berjalan naik ke bukit itu. Tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang datang.

Pek Ih-ling! Hanya Pek Ih-ling seorang yang bisa menikmati rahasia itu bersamanya.

Dia amat mempercayai Pek Ih-ling, sama seperti seorang ayah mempercayai putri sendiri.

"Apakah dia tidak mau menerima tawaran itu?" tanya Pek Ih-ling lirih sambil berjalan mendekati Be Khong-cun.

Be Khong-cun menggeleng pelan.

Tampaknya jawaban itu sudah terduga Pek Ih- ling sebelumnya, begitu melihat Be Khong-cun menggeleng, perasaan murung dan sedih segera melintas di wajahnya.

"Sejak awal sudah kubilang, tak mungkin dia akan menyanggupi," kembali Pek Ih-ling berkata lirih, "seandainya dia adalah manusia semacam itu, tak mungkin dia akan pergi pada sepuluh tahun berselang."

Be Khong-cun mengangkat wajah, memandang awan mendung yang bergayut di langit, sesudah menghela napas katanya pula, "Ai, sebetulnya aku sangat berharap dia mau mengajakmu pergi, dengan begitu tak ada lagi yang perlu kurisaukan."

"Bila ia benar-benar mengajakku pergi, bukankah kau pun telah melanggar perintah organisasi?" "Organisasi?" gumam Be Khong-cun, "justru demi organisasi aku berharap kau pergi bersamanya."

Perlahan Be Khong-cun membalikkan badan, ditatapkan Pek Ih-ling dengan penuh kasih sayang, lalu dengan lembut dia belai pipinya, mengawasi wajahnya dengan lembut dan perhatian.

"Setelah aku pergi, dengan cara apa kau akan menghadapi organisasi?" ujar Pek Ih-ling kemudian, "bukannya kau tak paham tentang tindak-tanduk dan sepak-terjang organisasi?"

"Mungkin perkataanmu tak salah, aku memang sudah tua," Be Khong-cun kembali menghela napas, "justru karena aku sudah tua, maka aku berharap kau pun bisa hidup lebih senang, lebih bahagia. Aku berharap kau dapat meninggalkan tempat ini."

Sesudah berhenti sejenak, membiarkan butiran air mata yang mengucur lenyap di atas tanah, kembali terusnya, "Mengenai organisasi... aku sudah tua, apa lagi yang perlu kutakuti?"

Awan gelap masih bergayut, rintik hujan belum juga turun, hembusan angin dingin semakin menusuk tulang, kemudian bergemalah suara guntur yang menggelegar.

Ketika guntur mengguncang bumi, Pho Ang- soat telah sampai di depan pintu kamarnya, langit terlihat makin gelap sedang lentera dalam kamar belum dinyalakan, kegelapan serasa mencekam dimana-mana.

Sejak meninggalkan bukit hingga tiba di depan kamarnya, Pho Ang-soat tak pernah menghentikan langkahnya, saat ini pun dia tak berniat untuk berhenti, tapi baru akan mengayun kaki kanan, mendadak ia batalkan niat itu.

Kakinya seolah terhadang di tengah udara dan tak mampu dilanjutkan.

Dalam sekejap seluruh bulu kuduknya berdiri, ia merasakan hawa dingin yang menusuk serasa menyusup masuk dari dasar telapak kakinya.

Suasana di sekeliling situ sangat hening, tak terdengar suara apa pun, tak terlihat suatu kejadian apa pun, tapi mengapa Pho Ang-soat berubah seperti itu? Berubah secara tiba-tiba?

Kegelapan yang tak bertepian semakin menyelimuti angkasa, suasana terasa sangat hening, sepi, seakan semua kehidupan telah berhenti. Tiada cahaya, tiada suara.

Ketika siap melangkahkan kakinya memasuki pintu kamar, secara tiba-tiba Pho Ang-soat menghentikan seluruh gerakannya, hal ini

disebabkan ia telah mendengar suara yang sangat aneh, suara itu tidak mirip langkah kaki, juga bukan suara dengusan napas, suara itu adalah sejenis irama yang aneh.

Sejenis suara yang tak bisa didengar lewat telinga, semacam suara yang tak bisa ditangkap telinga, sejenis suara yang hanya bisa ditangkap oleh kesensitifan dirinya, semacam insting seekor hewan liar.

Ada seseorang di dalam kamarnya, ya, seseorang!

Bisa jadi orang itu adalah orang yang ingin mencabut nyawanya, orang yang penuh diliputi rasa benci dan dendam.

Pho Ang-soat tak dapat melihat orang itu, jangankan orangnya, bayangan pun tidak terlihat. Namun ia dapat merasakan kehadirannya, ia merasa jarak antara dia dan orang itu makin lama makin dekat.

Jagad raya dingin membeku, hembusan angin yang membeku, golok yang dingin membeku.

Pho Ang-soat menggenggam kencang goloknya, ia tak berani bergerak, tak berani mengeluarkan suara, seluruh tubuhnya seakan sudah membeku.

Seluruh langit dan bumi seolah sudah dicekam keheningan yang luar biasa... saat itulah mendadak bergema suara desingan angin tajam dari balik kamarnya.

Pho Ang-soat sudah mulai berkelana dalam dunia persilatan sejak usia delapan belas, dia sudah mengembara dan hidup bergelandangan bagai seekor serigala liar, ia pernah merasakan jotosan kepalan, pernah merasakan tamparan tangan, pernah ditusuk pedang, dibacok golok, bahkan pernah merasakan berbagai sambitan senjata rahasia. Tentu saja dia pun dapat menangkap suara itu, desingan angin yang ditimbulkan dari sambitan senjata rahasia, semacam Am-gi yang lembut, kecil dan sangat tajam. Biasanya senjata rahasia ini ditembakkan melalui sebuah alat pegas yang kuat dan pada umumnya sangat beracun.

Di saat senjata rahasia membelah udara, semestinya Pho Ang-soat segera mundur, seharusnya dia cepat berkelit, tapi pemuda itu seolah badannya sudah kaku, mengejang, bukan saja tidak berkelit, bergerak pun tidak.

Bila dia bergerak atau berkelit, dapat dipastikan dia akan mati mengenaskan.

"Ting...", senjata rahasia itu sudah menyambar tiba, menghajar di atas lantai ubin, persis di samping Pho Ang-soat.

Tampaknya orang dalam kamar telah memperhitungkan dia pasti akan menghindar, pasti akan bergerak, karena itu sasaran senjata rahasia itu bukan tertuju ke tubuh korban, tapi mengancam jalan mundurnya, mau ke arah mana pun dia menghindar, asal berani bergerak berarti bakal mati.

Sayang dia sama sekali tak bergerak.

Dari desiran angin serangan ia sudah tahu serangan itu bukan langsung tertuju ke tubuhnya, dia pun seakan sudah menduga apa maksud dan tujuan sebenarnya dari serangan itu.

Dugaan itu memang tak seratus persen meyakinkan, menghadapi kejadian seperti ini tak mungkin ada orang yang berani yakin seratus persen.

Dalam situasi yang begini kritis dan bahaya, tak ada cukup waktu baginya untuk mempertimbangkan, oleh karena itu dia harus bertaruh, menggunakan nyawa sendiri sebagai bahan taruhan, menggunakan hasil analisa sendiri sebagai bahan taruhan.

Taruhannya kali ini benar-benar sebuah pertaruhan yang nyaris, kemenangan pun diraih dengan nyaris.

Namun pertaruhan belum lagi selesai, Pho Ang- soat masih harus bertaruh terus, tak nanti lawannya melepaskan dia begitu saja.

Biarpun kali ini dia berhasil meraih kemenangan, kemungkinan besar kali berikutnya akan kalah, setiap saat mungkin akan menderita kekalahan.

Jika kalah maka dia akan kehilangan nyawa, bahkan kemungkinan besar akan menggadaikan nyawanya tanpa sempat melihat jelas wajah lawannya.

Tapi ada satu hal yang dia tahu pasti, orang yang berada dalam kamar adalah seorang lawan tangguh yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Asal orang itu pernah bertemu dengannya, dia yakin pasti dapat mengenalinya. Pho Ang-soat tak menginginkan kematian sebelum mengetahui siapa lawan, maka dari itu tiba-tiba ia mulai batuk.

Orang batuk tentu bersuara, kalau bersuara tentu ada tujuan, dia memang sengaja membocorkan posisi berdirinya kepada pihak lawan.

Tak salah lagi, ia segera mendengar suara desingan angin tajam kembali membelah angkasa, suara desingan yang begitu tajam seolah hendak mencabik tubuhnya.

Begitu mendengar suara desingan, tubuh Pho Ang-soat segera menyusup masuk ke dalam ruangan, menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk menyusup masuk, menyusup lewat desingan angin tajam itu.

Tiba-tiba dari balik kegelapan berkelebat cahaya golok. Sekilas cahaya golok yang sangat dingin, sekilas cahaya golok kematian!

Di saat Pho Ang-soat mulai batuk tadi, secara diam-diam ia telah melolos goloknya, salah satu di antara lima golok tertajam di kolong langit.

Cahaya golok berkelebat dan "Tring!",

bergema suara benturan keras, lalu terdengar suara senjata rahasia yang rontok ke atas tanah.

Selewat suara benturan itu, suasana kembali dicekam dalam keheningan.

Begitu melompat masuk Pho Ang-soat pun tidak bergerak lagi, bahkan dengus napas pun seolah ikut berhenti, satu-satunya yang dapat ia rasakan sekarang adalah keringat dingin yang mengalir melalui ujung hidungnya.

Entah berapa lama sudah lewat, tapi yang pasti suatu jangka waktu yang betul-betul lama... akhirnya Pho Ang-soat dapat menangkap suara lirih.

Dia memang sedang menanti suara itu.

Begitu mendengar suara itu, seluruh tubuhnya yang semula tegang kini makin mengendor dan lepas.

Suara yang didengar Pho Ang-soat adalah semacam suara rintihan yang sangat lirih dan suara dengusan napas yang memburu.

Hanya orang yang benar-benar kesakitan, benar-benar mencapai puncak penderitaan hingga tak mampu mengendalikan diri, baru akan memperdengarkan suara seperti ini.

Pho Ang-soat tahu dalam pertarungan ini lagi- lagi dia berhasil meraih kemenangan.

Biarpun kemenangan itu harus diraih dengan susah payah, dengan penuh penderitaan dan kesengsaraan, namun akhirnya berhasil menang juga-

Dia pernah menang, sering menang, karena itulah dia masih bisa hidup hingga sekarang.

Paling tidak menang dan tetap hidup jauh lebih baik daripada kalah dan mampus. Tapi kali ini nyaris sebelum ia mencicipi bagaimana rasanya meraih kemenangan, dari balik kegelapan di ujung langit sana tiba-tiba berkilat secercah cahaya tajam.

Cahaya, seperti juga kegelapan, selalu datang secara tiba-tiba, siapa pun tak tahu kapan dia akan datang, tapi kau harus percaya diri, harus yakin bahwa cepat atau lambat dia akan datang juga.

Akhirnya Pho Ang-soat dapat melihat wajah orang itu, wajah orang yang membawa kebencian dan dendam kesumat, orang yang ingin menghabisi nyawanya.

Dari balik kegelapan muncul cahaya terang, Pho Ang-soat dapat melihat jelas wajah orang itu. Ternyata dia belum mati.

Ia masih meronta, masih menggeliat, masih bergerak, gerakannya susah dan lamban, seperti seekor ikan sekarat yang terjebak di tengah pasir putih.

Di tangannya menggenggam geretan api, dari geretan api itulah cahaya terang berasal. Kini Pho Ang-soat baru sadar, ternyata orang itu adalah seorang wanita.

Bukan cuma wanita, malah seorang wanita yang cantik molek, biarpun wajahnya nampak layu dan pucat, namun semua itu justru menambah kelembutan dan keindahannya.

Sepasang biji matanya kelihatan agak kabur, tapi dipenuhi dengan kerinduan, kerinduan di tengah penderitaan, putus asa dan permohonan.

Ia memandang Pho Ang-soat dengan matanya yang makin sayu, sebenarnya dia ingin membunuhnya, namun setelah sorot mata mereka saling bertemu, dia seakan lupa akan hal ini.

Ini disebabkan karena dia adalah manusia, bukan hewan, tiba-tiba dia pun merasa bahwa dalam situasi dan keadaan seperti apa pun antara manusia dan hewan tetap terdapat perbedaan yang besar.

Keanggunan seorang, keibaan dan rasa perikemanusiaan tak mungkin bisa dibuang begitu saja.

Lalu siapakah perempuan ini? Mengapa di tengah malam buta dia datang seorang diri, berniat membunuh Pho Ang-soat?

"Siapa kau?" Pho Ang-soat bertanya. "Seseorang yang datang untuk

membunuhmu" jawab perempuan itu, "aku harus membunuhmu." "Mengapa?"

"Karena kalau kau tidak mati, akulah yang mati," di balik suara perempuan itu terselip perasaan dendam yang mendalam, "sebab kalau kau tidak mati, aku selalu merindukan, harus tersiksa batinku oleh kebencian hingga akhir zaman."

"Kerinduan? Tersiksa oleh kebencian?" "Benar, aku merindukan orang yang telah kau

bunuh. Bila aku gagal menghabisi nyawamu, bagaimana mungkin aku bisa menghadapi siksaan batin karena kebencian?"

"Siapa yang kau rindukan?" "A-jit, si golok lengkung A-jit." "A-jit?"

Pho Ang-soat melengak, bukankah A-jit telah ia bebaskan? Kenapa tiba-tiba A-jit mati?

Belum sempat Pho Ang-soat memahami hal ini, perempuan itu sudah berkata, "Kau seharusnya dapat melihat, meski bacokan golokmu membuat aku terluka parah, namun luka itu tak melukai bagian tubuhku yang membahayakan."

Tentu saja Pho Ang-soat tahu, sabetan goloknya tadi dengan tepat menghujam dadanya, hanya selisih dua inci dari letak jantungnya.

"Kau seharusnya dapat melihat juga bahwa sekarang aku tak mampu lagi membunuhmu," kembali perempuan itu berkata dengan nada yakin, "tapi bila ada kesempatan lagi di kemudian hari, aku masih tetap akan berusaha membunuhmu."

Dalam hal ini tentu saja Pho Ang-soat dapat melihatnya, dia tahu perempuan di hadapannya adalah seorang yang berani bicara berani berbuat, apa yang sudah dia putuskan ibarat sebuah paku yang sudah terpantek mati di atas dinding, biar dicabut dengan cara apa pun tak mungkin bisa goyah kembali.

"Oleh karena itu lebih baik bunuhlah aku sekarang," perempuan itu menambahkan.

Membunuhnya? Tanpa terasa sekali lagi Pho Ang-soat mengamati perempuan di hadapannya.

Biarpun ia cantik, namun bukan perempuan cantik pertama yang pernah dilihatnya, tapi anehnya, mengapa tak tersirat sedikit pun niatnya untuk membunuh.

Apakah hal ini lantaran keterus terangan perempuan itu? Atau karena dia memiliki sepasang mata yang kalut? Atau karena dia dan dirinya termasuk orang yang dilanda kerinduan?

Sebenarnya karena alasan apa? Pho Ang-soat sendiri pun tak tahu, dia hanya mengerti akan satu hal, perempuan ini tak boleh dibunuh.

Tak disangkal, agaknya perempuan itu pun dapat melihat hal ini, maka kembali ujarnya, "Bila kau tidak membunuhku, maka kau harus membawa serta diriku."

"Membawamu?" sekali lagi Pho Ang-soat tertegun.

"Betul. Meski luka ini tak mengenai bagian penting tubuhku, namun bila tidak segera ditolong dan diobati, paling aku hanya bisa bertahan dua jam lagi."

Dalam hal ini Pho Ang-soat pun mengerti. "Jika aku mati dalam kondisi begini, biar kau tak menggunakan golokmu lagi, sama artinya kaulah yang telah membunuhku, apakah hati kecilmu dapat menerimanya?" kembali perempuan itu berkata.

Pho Ang-soat tertawa getir, dia memang hanya bisa tertawa getir, jika bertemu perempuan semacam ini, siapa yang tidak tertawa getir?

"Kalau kau tak ingin membunuhku, maka kau harus membawa serta diriku, mengobati lukaku," kembali perempuan itu berkata, "aku tahu kemampuanmu mengobati luka sama hebatnya seperti permainan golokmu."

Orang yang pandai membunuh, biasanya pandai pula mengobati luka.

"Tetapi jangan setelah menyembuhkan lukaku, kau tinggalkan diriku begitu saja," kata perempuan itu lagi, "mulai detik ini, aku akan selalu mengintil di belakangmu, sejengkal pun tak akan kutinggalkan."

Apa pula maksud perkataan itu? "Karena sekarang aku belum mampu

membunuhmu, di kemudian hari pun tak mampu

membunuhmu, maka aku akan selalu mengintil di belakangmu, setiap saat mempelajari segalanya tentang kau, selalu memperhatikan kepandaianmu dan mencari titik kelemahanmu.

Bila suatu ketika aku berhasil memahami tentang kau, itulah waktuku untuk meraih kemenangan. Dalam hal ini kau pasti setuju bukan?" "Aku setuju!"

"Kau sudah memutuskan tak akan membunuhku, namun jangan harap kau akan memperoleh kehidupan yang tenang di kemudian hari," perempuan itu menatap wajahnya lekat- lekat, "setiap saat kau harus selalu mewaspadai aku, siapa tahu begitu kuperoleh kesempatan baik, tanpa sangsi aku bakal menusukmu hingga mampus."

Dia mengikuti dirinya karena bermaksud ingin membunuhnya, tentu saja dalam hal ini Pho Ang- soat mengetahui dengan jelas.

"Sekarang kau boleh mulai mengobati lukaku, lalu mengajakku pergi meninggalkan tempat ini."

"Mengajakmu pergi?" tanya Pho Ang-soat, "kemana?"

"Bila kita tetap tinggal di sini, memang kau sangka Be Khong-cun itu orang mampus, memangnya dia tak bakal bertanya? Begitu ia mulai bertanya, lalu bagaimana caramu menjawab?" perempuan itu tertawa, "untung aku tahu kau pasti akan mengajakku menuju ke suatu tempat dan tinggal di sana."

"Aku mempunyai tempat?"

Tentu saja Pho Ang-soat mempunyai tempat untuk ditinggali perempuan itu, sepuluh tahun lalu ia pergi meninggalkan kota kecil itu dengan membawa luka dan kepedihan, orang lain pasti menyangka dia bakal pergi meninggalkan dunia yang ramai ini, meninggalkan tempat yang membuatnya sedih dan terluka.

Padahal dia tak pernah pergi jauh, karena kondisi tubuhnya dan luka hatinya tak sanggup menopangnya pergi jauh, maka dia hanya meninggalkan kota kecil itu dan menetap di atas bukit tak jauh dari situ.

Biarpun tempat itu agak dekat dengan kota kecil, tapi di sana dia bisa lepas dari semua keruwetan duniawi, maka begitu menetap hampir sepuluh tahun lamanya, dia tak pernah meninggalkan tempat itu.

Kalau memang sudah hampir sepuluh tahun ia berdiam di situ, mengapa secara tiba-tiba ingin meninggalkan tempat itu?

Orang lain pasti tak dapat menebak apa sebabnya Pho Ang-soat mengabulkan satu permintaan tak masuk akal, yang diajukan seorang wanita asing kepadanya, bahkan Pho Ang-soat pribadi pun tak tahu kenapa dia menyanggupi permintaan itu?

Bahkan dia pun belum tahu perempuan macam apakah orang itu, namanya pun tak jelas. Dia tak habis mengerti apa sebabnya secara bodoh dan sembrono dia bawa perempuan itu pergi bersamanya.

Untung sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, pada akhirnya perempuan itu memperkenalkan namanya.

"Aku bernama Hong-ling, si Keliningan." Selesai bersantap, Yap Kay pun mendatangi rumah So Ming-ming untuk beristirahat. Menanti So Ming-ming selesai mengatur bocah-bocah asuhnya, dia pun ikut keluar menuju ke halaman dan duduk di samping pemuda itu.

Ketika bersantap malam tadi, Kim-hi menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu dengan alasan lelah dan ingin cepat beristirahat, dia balik lebih dulu ke kamarnya.

Selama beberapa hari belakangan ini dia memang selalu mencari alasan untuk saling berjumpa dengan So Ming-ming maupun Yap Kay, tak jelas apa sebabnya ia bersikap begitu.

Tentu saja So Ming-ming tak menaruh perhatian atas sikapnya yang aneh itu, apalagi Yap Kay baru beberapa hari berkenalan dengan Kim-hi, tentu saja dia lebih tak mungkin memperhatikan urusan tetek-bengek.

Tatkala ia sadar akan hal itu, keadaan sudah berkembang ke arah tak tertolong lagi.

Duduk santai di tanah berumput sembari mendongakkan kepala menikmati taburan bintang di langit dan ditemani seorang nona yang cantik menawan, benar-benar hal yang indah dan tak terlupakan.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya So Ming-ming sambil berpaling.

"Aku sedang membayangkan hubungan antara kebun monyet dan Ban be tong," sahut Yap Kay sambil menatap wajah gadis itu, "mengapa ada begitu banyak bocah yang hilang di seputar kebun monyet dan tak ada yang pergi menjumpai pemilik kebun monyet untuk menemukan anaknya? Apakah orang tua bocah-bocah yang lenyap itu tak pernah menguatirkan keselamatan anaknya?"

So Ming-ming tak langsung menjawab, dia menundukkan kepala, mengawasi rerumputan hijau yang terhampar di hadapannya, baru ia menjawab, "Sebab yang hilang rata-rata adalah anak yatim piatu."

Sebuah jawaban yang memelas dan membuat hati terasa kecut.

Anak yatim piatu? Tak heran ada begitu banyak anak telah lenyap, namun belum ada orang tua di kota Lhasa yang peduli atau menaruh perhatian atas kasus ini.

Kalau urusan tidak menyangkut diri sendiri, siapa pula yang mau mencampuri urusan orang lain?

Yap Kay menghela napas sedih, sesaat kemudian baru ia berkata lagi, "Bagaimana pun anak yatim piatu kan tetap manusia, mengapa tak seorang pun yang berani tampil mengatasi masalah ini?"

"Setiap orang hanya mau mengurusi masalah sendiri dan peduli amat dengan urusan orang lain, masa kau belum pernah mendengar kata-kata ini?" Sesungguhnya ucapan itu memang ada benarnya, sejak zaman dulu hingga kini, banyak orang memang patuh dan memegang teguh perkataan itu. Buat apa mesti mencampuri urusan orang?

Kembali Yap Kay termenung, sesaat kemudian baru ujarnya, "Asal terbukti hilangnya bocah- bocah itu ada hubungannya dengan kebun monyet, aku pasti akan menuntut keadilan kepada pemilik kebun itu."

Bukan hanya So Ming-ming yang mendengar janji itu, Kim-hi pun ikut mendengar.

Biarpun sejak awal dia sudah balik ke kamar, bukan berarti ia sudah terlelap, secara diam-diam ia bersembunyi di pinggir jendela, mengamati setiap gerak-gerik Yap Kay yang berada di halaman dan mencuri dengar setiap pembicaraan yang berlangsung, karena itulah ucapan Yap Kay terakhir terdengar juga olehnya.

Sayang dia hanya mendengar sampai di situ, jika gadis itu mencuri dengar kata-kata selanjutnya, mungkin di kemudian hari tak sampai terjadi peristiwa yang amat tragis.

Niat dan keputusan seseorang terkadang muncul hanya sesaat, siapa pula yang bisa menduga perbuatan apa yang bakal dilakukannya di kemudian hari? Siapa pula yang bisa menebak tindakan apa yang sebentar lagi akan dilakukan?

Semestinya Kim-hi dapat melihat So Ming-ming amat menyukai Yap Kay, biarpun dia sendiri pun menyukai pemuda itu, lalu apa gunanya dia mencintainya? Seharusnya dia pun sudah dapat merasakan bahwa dalam pandangan Yap Kay, hanya ada So Ming-ming seorang?

Itulah sebabnya selama dua hari ini dia berusaha menghindari perjumpaannya dengan mereka berdua, namun apa daya, dia pun tak tahan menghadapi kesepian dan kesendirian, itulah sebabnya secara diam-diam dia ikut memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu.

Tak heran semua pembicaraan yang berlangsung pada malam ini dapat didengarnya dengan jelas, dia pun sangat memahami maksud perkataan itu, maka secara diam-diam ia memutuskan untuk melakukan satu perbuatan besar, agar pandangan Yap Kay terhadap dirinya dapat berubah.

Dia putuskan untuk menyambangi kebun monyet pada malam ini, asal berhasil melacak sesuatu rahasia dan memberitahukan kepada Yap Kay, dia pasti akan bersikap beda terhadapnya, dia pasti akan gembira atas perbuatannya.

Betapa kekanak-kanakannya pemikiran semacam ini, sayang ia sudah terhanyut ke dalam lautan cinta, orang yang sudah terlanda penyakit itu biasanya gampang timbul pemikiran kekanak- kanakan.

"Asal peristiwa hilangnya anak-anak itu berhubungan langsung dengan kebun monyet, aku pasti akan menuntut keadilan buat mereka," kembali Yap Kay berjanji dengan wajah gusar.

Betapa gembira So Ming-ming mendengar itu, cepat dipegangnya bahu pemuda itu dan bisiknya, "Kalau memang kau sudah memutuskan untuk melakukan penyelidikan di kebun monyet, ayo, sekarang juga kita berangkat."

Setelah mengatur napas, ia menambahkan, "Kalau tidak berangkat sekarang, aku kuatir malam ini akan muncul banyak impian. Kuatirnya mereka melenyapkan semua bukti."

"Berangkat sekarang juga?"

"Ehm," So Ming-ming mengangguk, "saat ini malam sangat gelap, biasanya penjagaan mereka agak kendor, dengan cepat kita pasti akan berhasil melacak rahasianya."

"Betul, kita pasti akan mati lebih cepat di kebun monyet," tiba-tiba Yap Kay menyambung sambil tertawa, "bila di dalam kebun monyet benar- benar terdapat rahasia yang tak boleh diketahui orang, saat ini mereka pasti sudah menyiapkan jebakan yang menakutkan menanti kedatangan kita. Biasanya orang akan beranggapan makin malam makin cocok untuk melakukan penyelidikan."

"Padahal justru kebalikannya," So Ming-ming menambahkan.

"Benar," sahut Yap Kay sambil tertawa, "semakin banyak rahasia yang tersimpan di suatu tempat, makin ketat penjagaan mereka waktu malam, sebab mereka pun pasti berpendapat, semakin malam semakin tepat saat orang melakukan penyelidikan, oleh karena itulah tempat yang menyimpan rahasia akan menjadi tempat yang sangat berbahaya di waktu malam."

Perasaan murung dan sedih tiba-tiba menghiasi wajah So Ming-ming, tanyanya kemudian, "Jadi menurut kau, kapan saat yang paling tepat untuk berkunjung ke sana?"

"Pagi hari."

"Pagi hari? Kenapa harus pagi hari?" "Sebab saat itu penjaga mereka sudah

mencapai saat yang paling meletihkan, saat untuk berganti regu," kata Yap Kay sambil tertawa, "bila seseorang telah melakukan penjagaan semalam suntuk, saat itu mereka pasti mulai lelah, konsentrasi pun mulai mengendor, sebaliknya regu baru yang akan menggantikan mereka adalah orang-orang yang baru bangun dari balik kehangatan selimut, konsentrasi mereka pun belum terpusat, paling tidak, kondisi mereka masih terganggu oleh rasa kantuk. Nah, saat seperti inilah saat yang paling tepat untuk melakukan penyelidikan."

Penjelasan ini amat jelas dan terperinci, sayang Kim-hi sudah tak sempat mendengar, karena waktu itu dia sudah keburu berangkat ke kebun monyet.

Biarpun belum pernah berkunjung ke kebun monyet, namun Kim-hi sangat menguasai keadaan sekitar sana, tanpa kesulitan ia sudah melewati pagar pekarangan dan menyusup masuk ke kebun bunga dalam kebun monyet.

Perkiraannya, tempat yang paling banyak menyimpan rahasia pasti lah tempat tinggal sang empunya, dan tempat tinggal sang pemilik seringkah berada di kebun bagian belakang.

Analisa seperti ini sebetulnya sangat tepat dan masuk akal, karena tempat dimana ia berada sekarang, meski bukan tempat, tinggal sang pemilik tapi di situlah tersimpan seluruh rahasia penting.

Setelah melewati pagar pekarangan, Kim-hi membiarkan matanya terbiasa dulu dengan kegelapan, kemudian baru ia mulai melacak tempat yang diduga ruang tinggal sang pemilik.

Semua ruangan yang berada di kebun belakang dalam keadaan gelap-gulita, hanya dari sebuah jendela yang agak besar lamat-lamat terbancar secercah cahaya terang.

Ruangan itu pasti tempat tinggal sang pemilik, setelah yakin dengan pikirannya, Kim-hi mulai bergerak maju dengan sangat hati-hati, selangkah demi selangkah menghampiri jendela dimana cahaya terang itu berasal.

Dengan ibu jari dia robek kertas jendela, lalu mengintip ke dalam melalui lubang kecil itu, mula-mula Kim-hi melihat sebuah meja, di atas meja terletak sebuah lentera, dia pun melihat sebuah pembaringan, di atas pembaringan kelihatan seseorang sedang tertidur nyenyak.

Dilihat dari caranya tidur, semestinya orang itu adalah seorang kecil pendek, tapi Kim-hi tak dapat melihat berapa usia orang itu, karena kebetulan wajah, orang itu terhadang oleh lidah api lentera.

Peduli berapa usia orang itu, dari postur badannya Kim-hi yakin masih mampu menguasainya.

Setelah mengambil keputusan, Kim-hi pun membuka jendela dengan sangat hati-hati, lalu melompat masuk ke dalam, kelihatannya orang yang sedang tidur di pembaringan itu belum merasakan ada orang yang menyusup ke dalam, dia masih tidak bergerak, masih tidur dengan lelapnya.

Setelah berada di dalam ruangan, perlahan Kim-hi merapatkan kembali daun jendela dan berjalan menghampiri pembaringan.

Menanti dia melewati meja dan melihat jelas wajah orang yang sedang tidur itu, tiba-tiba saja Kim-hi berdiri tertegun.

Rupanya dia sudah melihat dengan jelas siapa orang yang sedang tertidur nyenyak itu.

Ternyata dia tak lain adalah Giok-seng, bocah yang membuat mereka sempat menguatirkan keselamatannya selama dua hari ini, gara-gara lenyapnya bocah itu, semua orang sempat risau dan tak tenang, siapa tahu bocah yang dicari justru menikmati hidup di situ.

Tidur dalam kamar yang begitu indah, pembaringan yang begitu besar dan tampaknya nyaman sekali, kalau bukan menikmati hidup, lalu apa namanya?

Membayangkan ini, hawa amarah Kim-hi memuncak, sekali lompat dia menghampiri pembaringan, lalu menggoyang tubuh Giok seng yang sedang tertidur dan serunya, "Giok-seng, Giok-seng, bangun!"

Merasa ada orang menggoyang tubuhnya lalu mendengar ada orang memanggilnya, Giok-seng segera terbangun dari tidurnya. Tapi begitu tahu siapa yang datang, perasaan ngeri dan takut segera terpancar dari waj ahnya.

Bukan hanya itu, bocah itu masih berusaha menyembunyikan diri ke balik selimut.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya Kim-hi, mana mungkin ia biarkan bocah itu menyembunyikan diri?

Dengan sekali cengkeraman ia tarik selimut itu dari tubuh si bocah, dengan penuh amarah tegurnya, "Kau masih ingin bersembunyi?"

Mungkin lantaran panik, bocah itu tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, dengan wajah ketakutan ia gelengkan kepala berulang kali, sementara mulutnya mengeluarkan suara mencicit yang tidak diketahui apa maksudnya. "Kurangajar!" Kim-hi mengumpat, "kau enak- enakan menikmati hidup di sini, sementara kita yang berada di luar menguatirkan nasibmu... masa kau sama sekali tak punya perasaan?"

Makin mengumpat, Kim-hi semakin sewot.

Tampaknya Giok-seng dibuat amat sedih oleh kata-katanya itu, tampak air mata mulai bercucuran membasahi pipinya, namun mimik mukanya masih menampilkan perasaan takut, ngeri dan seram.

Sebenarnya apa yang membuat dia ketakutan? Kim-hi tak sanggup berpikir lebih jauh, melihat

Giok-seng masih berusaha menyembunyikan diri di balik selimut, amarahnya semakin meluap, umpatnya, "Sialan, kau masih ingin bersembunyi di balik selimut? Bagus, akan kubuang selimutmu itu, akan kulihat kemana lagi kau akan bersembunyi?"

Mendengar ancaman itu, Giok-seng bertambah panik, mati-matian dia mempertahankan selimutnya, menggeleng kepala sementara suara mencicitnya makin keras.

Semakin dia mempertahankan selimutnya, Kim-hi semakin naik darah, sekuat tenaga ia betot selimut itu hingga akhirnya robek.

Bila seseorang menyaksikan suatu peristiwa yang mustahil, apa reaksinya yang pertama? Jatuh pingsan? Atau menjerit keras? Atau sama sekali tak bergerak? Bagaimana pula dengan reaksi orang lain?

Mungkin saja Giok-seng tak bisa menjawab pertanyaan itu, tapi ia dapat melihat dengan jelas reaksi pertama yang diperlihatkan Kim-hi.

Waktu itu Kim-hi sedang menarik selimut dengan penuh amarah, tapi begitu selimut terbetot robek dan ia menyaksikan pemandangan aneh di balik selimut, reaksi pertamanya adalah terperangah.

Sesudah terperangah dan berdiri melongo beberapa saat, gadis itu baru mengucek mata berulang kali, mengawasi pembaringan itu dengan pandangan ragu dan tak percaya.

Lambat-laun wajah kagetnya berubah jadi perasaan ngeri dan horor, akhirnya ia menjerit, mundur sempoyongan dan terduduk di atas bangku.

Dia menggeleng kepala berulang kali, gumamnya terus menerus, "Mana mungkin bisa terjadi.. . ? Mana mungkin bisa terjadi. . . ? Mana mungkin

Ketika selimut belum tersingkap, paras muka Giok-seng diliputi perasaan takut dan ngeri luar biasa, namun setelah selimut tersingkap, perasaan takut dan ngerinya hilang, sebagai gantinya perasaan sedih, tak berdaya dan penderitaan yang hebat menghiasi raut mukanya.

Dia duduk meringkuk di sudut ranjang, berusaha menutupi tubuh dengan kedua tangan, sedang ujung mata mengerling berulang kali ke arah Kim-hi yang duduk di bangku.

Peristiwa apa yang membuat Kim-hi begitu ngeri seakan diteror kejadian horor yang menakutkan?

Masih mengawasi Giok-seng yang meringkuk di sudut ranjang, Kim-hi bergumam terus tiada habisnya

"Ai! Mengapa orang selalu tak percaya dengan kenyataan yang semulah terpampang di depan mata?"

Tiba-tiba dari belakang Kim-hi berkumandang suara teguran lembut dan halus, belum sempat dia berpaling, ia sudah menangkap sorot mata Giok-seng yang semula dibanjiri air mata, kini telah berubah jadi pandangan benci, dendam dan amarah yang meluap, pandangan mata yang tertuju ke belakang tubuhnya.

Dengan cepat gadis itu berpaling, dia pun melihat seorang kakek berwajah saleh telah berdiri di depan pintu, seorang kakek dengan pandangan lembut dan memperlihatkan sinar kecerdasan.

"Apakah kau tak percaya dengan semua yang telah kau saksikan?" dengan suara lembut kembali kakek itu menegur.

Tak tahan, sekali lagi Kim-hi berpaling mengawasi Giok-seng yang berada di ranjang, gumamnya, "Bagaimana... bagaimana mungkin aku bisa percaya?" Sambil tertawa kakek itu berjalan menuju tepi ranjang, katanya lagi, "Apakah kau tidak percaya lantaran Giok-seng bertubuh monyet? Atau tidak percaya kalau tubuh monyet ini mempunyai kepala Giok-seng?"

Bertubuh monyet berkepala Giok-seng?

Ternyata apa yang dilihat Kim-hi adalah makhluk aneh, manusia bertubuh monyet yang menjadi penghuni kebun monyet.

Berarti dongeng tentang manusia bertubuh monyet yang pandai berbicara itu adalah kenyataan? Apalagi makhluk aneh yang dijumpai Kim-hi saat ini tak lain adalah Giok-seng yang sangat dikenalnya, tak heran dia begitu terperangah, begitu ngeri dan seram.

Hal ini bisa dimaklumi, jangankan Kim-hi yang sudah kenal orang itu, semisal orang lain pun tak mungkin bisa menerima munculnya makhluk seaneh itu.

Untuk menghilangkan perasaan kaget yang luar biasa, satu-satunya jalan adalah meneguk secawan arak, karena itu si kakek yang berwajah ramah itu mengajak Kim-hi menuju ke rumah yang terbuat dari kristal dan menuangkan secawan arak anggur Persia untuknya.

Menanti Kim-hi menghabiskan isi cawannya dan pulih kembali ketenangannya, kakek berwajah ramah itu memperkenalkan diri, "Aku dari marga Ong, semua memanggilku Ong-losiansing!" Jadi diakah Ong-losiansing? Ternyata kakek berwajah ramah ini tak lain adalah Ong- losiansing, pemilik kebun monyet yang menakutkan itu. Tapi benarkah dia?

Kembali Kim-hi mengawasi wajah kakek itu seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Jangan ragu dengan pandangan matamu, apa yang kau saksikan semuanya memang kenyataan," kembali Ong-losiansing berkata sambil memperlihatkan senyuman ramahnya.

"Kenapa Giok-seng,... kenapa dia bisa berubah jadi begini?" bisik Kim-hi sambil membayangkan kembali bentuk tubuh Giok-seng yang aneh.

"Kenapa   tidak mungkin?"  sahut Ong- losiansing  sambil  tertawa, "Thian menciptakan sepasang tangan untuk kita,  memberi kecerdasan otak kepada kita, semuanya ini dikarenakan Thian berharap kita bisa menciptakan keajaiban di dunia ini."

"Dengan cara apa kau mengubah tubuh Giok- seng jadi tubuh seekor monyet?" kembali Kim-hi bertanya.

"Mengandalkan sepasang tanganku dan kecerdasan otakku," sahut Ong-losiansing sambil menuding kepala sendiri, "biasanya, kalau bukan kuubah badannya menjadi badan kera, akan kupindah kepala mereka ke tubuh monyet."

"Dicangkok?" "Betul," Ong-losiansing manggut-manggut dan tertawa, "dengan semacam ilmu bedah tubuh yang canggih, disebut bedah cangkok." "Ilmu bedah cangkok?"

"Betul. Dengan pembedahan aku potong kepala orang, kemudian dicangkokkan ke tengkuk monyet, selanjutnya digabung menjadi satu."

"Tapi... dia... mana mungkin dia bisa hidup dengan tubuh seekor kera?" Kim-hi masih juga tak percaya.

"Ketika pertama kali melakukan pembedahan, memang beberapa kali aku mengalami kegagalan, untunglah keberhasilan selalu tumbuh dari kegagalan," Ong-losiansing menerangkan dengan penuh bangga, "kini aku hanya belum berhasil memindahkan tali suara di tenggorokan manusia ke tubuh monyet, sehingga dia hanya bisa mengeluarkan suara jeritan monyet."

Sekarang Kim-hi baru mengerti apa sebabnya Giok-seng hanya bisa mencicit, rupanya dia sudah tak sanggup berbicara lagi.

Ong-losiansing meneguk secawan arak anggur, menunggu cairan arak mengalir di tenggorokannya baru ia berkata lagi, "Tapi aku percaya, lain kali pasti akan berhasil."

"Lain kali? Masih ada lain kali?" seru Kim-hi sambil membelalak mata.

"Tentu masih ada. Tak bakal berhenti sebelum berhasil. Apalagi dalam hal ilmu pengetahuan secanggih ini." "Kau... kau tidak kuatir dengan hukum?"

"Hukum?" Ong-losiansing tertawa terbahak- bahak, "selama aku berada di dunia ini, akulah hukum."

"Apakah hati kecilmu bisa menerima semua perbuatan busukmu itu?" Kim-hi benar-benar kehabisan kata untuk menegur kakek itu, "apakah kau tidak takut setan-setan penasaran yang tewas di tanganmu akan berdatangan dan menuntut balas kepadamu?"

"Setan penasaran?" suara tawa Ong-losiansing semakin nyaring, "kalau di dunia ini benar-benar terdapat setan atau arwah gentayangan, sejak dulu tak ada lagi orang jahat di sini."

Ditatapnya wajah Kim-hi dengan senyuman licik, katanya lagi, "Bocah perempuan, masa teori semacam ini pun tidak kau pahami?"

"Kau... manusia semacam kau pasti akan mampus secara mengenaskan."

"Kini aku sedang mencari cara untuk memperpanjang hidup manusia, jika berhasil, inilah keuntungan bagi seluruh umat manusia."

"Terima kasih," jerit Kim-hi, "kelahiran dan kematian manusia sudah ditentukan oleh takdir, bila saatnya mati sudah tiba, biar ingin menghindar atau bersembunyi pun jangan harap bisa kau lakukan." Tiba-tiba Ong-losiansing tidak bicara lagi, dengan pandangan mata aneh dia mengawasi Kim-hi tanpa berkedip.

Dipandang seperti ini, lama kelamaan Kim-hi merasa ngeri juga, bulu kuduknya berdiri.

Setelah termenung sejenak, kembali Ong- losiansing berkata, "Apa kau tak percaya bahwa aku bisa menghindarkan manusia dari kematian? Apakah kau tak percaya aku bisa menghidupkan kembali orang yang baru saja mati?"

"Aku "

Sebetulnya Kim-hi ingin menjawab "aku tak percaya", tapi entah mengapa ia tak sanggup mengucapkannya, terpaksa nona itu menelan kembali air liurnya.

"Baiklah," tiba-tiba Ong-losiansing bangkit berdiri, "ayo, ikuti aku!"

Di dalam rumah yang terbuat dari batu kristal itu terdapat sebuah lemari yang juga terbuat dari batu kristal, ketika lemari itu dibuka, lalu sebuah tombol rahasia ditekan, segera muncullah sebuah pintu rahasia. .

Setelah memasuki pintu rahasia itu, mereka tiba di sebuah dunia lain.

Sebuah dunia kristal yang sangat artistik dan indah.

Setelah memasuki pintu rahasia, di hadapannya terbentang sebuah lorong kristal yang panjang, di kedua sisi lorong penuh bergantungan lampu lentera.

Disoroti cahaya lentera yang terang benderang, lorong kristal itu memantulkan cahaya yang indah, bahkan ada yang membiaskan cahaya tujuh warna.

Berada dalam lorong seindah ini, membuat orang serasa berada dalam dunia maya.

Walaupun Kim-hi sendiri sedikit terbuai, namun dia tidak lupa bertanya kepada kakek itu, "Kau hendak mengajakku kemana?"

"Aku tahu kau bernama Kim-hi, sedang sahabat karibmu bernama So Ming-ming," kata Ong- losiansing sambil melanjutkan perjalanan, "tahukah kau bahwa sobat baru So Ming-ming yang bernama Yap Kay, pagi tadi telah bertemu dengan tiga orang pembunuh bayaran?"

"Darimana kau bisa tahu?"

"Tentu saja aku tahu, karena akulah yang mengirim pembunuh itu. "

"Mengapa kau ingin membunuh Yap Kay?"

Tiba-tiba Kim-hi teringat cerita Yap Kay, bahwa ketiga pembunuh itu bukan menyerang secara bersama, melainkan maju satu per satu.

Karena itu dia segera bertanya lagi, "Mengapa kau perintahkan ketiga pembunuh itu menyerang Yap Kay secara terpisah?" "Hahaha, tak kusangka kau pun menaruh perhatian atas hal ini," puji Ong-losiansing sambil menatapnya dengan pandangan kagum, "aku memang sengaja menyuruh mereka bertiga menyerang Yap Kay secara terpisah, bukan lantaran ingin mereka pergi membunuh Yap Kay, tapi berharap mereka bisa mati di tangan Yap Kay."

"Suruh mereka mati?" Kim-hi melengak, "kenapa?"

"Karena ada seseorang ingin melihat bekas luka yang mematikan di tubuh mereka bertiga."

"Siapa? Siapakah orang itu? Kenapa dia ingin melihat bekas luka mematikan di tubuh mereka?"

"Dia dikenal oleh Yap Kay namun belum pernah dijumpainya," sahut Ong-losiansing sambil tertawa, "seorang yang ingin memahami aliran silat Yap Kay!"

"Siapa orang itu? Siapa namanya?" "Orang itu bernama Hing Bu bing."

Di ujung lorong kristal terdapat pula sebuah ruangan yang seluruhnya terbuat dari batu kristal.

Dalam ruangan itu terdapat tiga orang, seorang masih muda, seorang lagi berusia agak lanjut dan seorang lagi berusia per tengahan yang rambutnya sudah memutih.

Yang muda berperawakan tinggi semampai, baju dan dandanan necis, bukan saja tampak sangat tampan, bahkan kelihatan angguh.

Orang yang berusia agak lanjut berdandan sopan, dia pasti seorang terpelajar.

Sementara orang pertengahan umur tidak jauh berbeda dengan lelaki paroh baya yang sering dijumpai di kota atau tengah jalan, hanya bedanya perawakan orang ini jauh lebih berisi, berotot dan tidak tampak ada kelebihan lemak di tubuhnya.

Ketiga orang itu mempunyai perawakan tubuh berbeda, hanya satu kesamaan yang mereka miliki, yakni ketiganya membawa pedang.

Mengapa ketiga orang yang membawa pedang itu berada di situ? Sedang apa mereka di ruangan ini?

Belum sempat Kim-hi bertanya, Ong-losiansing menerangkan lebih dulu.

"Mereka adalah pembantu utamaku, terhitung jago-jago pedang nomor satu. Sayang berada di sini mereka tak bernama, yang ada hanya kode angka."

"Kode angka? Maksudnya?"

"Mereka mewakili angka lima, lima belas dan dua puluh lima, semuanya selisih satu angka dari angka enam, enam belas dan dua puluh enam yang kukirim untuk membunuh Yap Kay."

"Kenapa mereka selisih satu angka?"

"Karena mereka mempunyai banyak kemiripan dan kesamaan tindakan, ketiga pembunuh yang kukirim untuk menghabisi nyawa Yap Kay, bukan saja wataknya sama, asal-usulnya sama bahkan ilmu pedang yang dimiliki pun sama."

"Kau suruh mereka berbuat apa di sini?" "Aku suruh mereka menanti perintahku di sini, karena  aku hendak menitahkan mereka membunuh seseorang."

"Membunuh siapa?"

Ong-losiansing tidak langsung menjawab, kembali dia menekan sebuah tombol rahasia dan sebuah pintu rahasia lagi-lagi terbuka, di belakang pintu rahasia itu terbentang pula sebuah lorong panjang yang terbuat dari batu kristal.

Setelah itu kepada jagoan nomor lima perintahnya, "Kau berjalan lurus ke depan, sampai di ujung lorong akan muncul sebuah pintu lagi, pintu itu tidak terkunci, seseorang duduk di belakang pintu itu, asal kau buka pintu itu maka akan kau jumpai orang itu," kata Ong-losiansing.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya, "Aku perintahkan kepadamu untuk membunuhnya!"

Sama seperti anak buah Ong-losiansing lainnya, si nomor lima hanya tahu melaksanakan perintah, tak pernah menanyakan alasan, apalagi bertanya siapa korban yang harus dibunuhnya.

"Baik," jawab orang itu, "sekarang juga kulaksanakan."

Sehabis mengucapkan perkataan itu, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya dia menerobos masuk ke dalam lorong panjang batu kristal itu.

Gerak-geriknya kuat dan cekatan, hanya wataknya agak sedikit temperamen. Lantaran gejolak emosinya yang besar, paras mukanya yang semula pucat kini muncul cahaya kemerahan, dengus napasnya pun berubah sedikit memburu.

Semenjak memasuki lorong panjang terbuat dari kristal, dia tak pernah muncul kembali.

Dia tak akan muncul kembali dalam keadaan hidup, termasuk Kim-hi pun berpendapat begitu, karena ia sudah pergi terlalu lama.

Biasanya manusia macam mereka, peduli sedang membunuh atau terbunuh, tak akan membutuhkan waktu selama itu.

Dalam jangka waktu yang begitu panjang, melakukan perbuatan apa pun seharusnya sudah muncul jawaban.

Kematian.

Inilah satu-satunya jawaban. Tak seorang pun yang buka mulut, juga tak seorang pun yang menunjukkan wajah sedih, pedih dan terluka.

Bukan dikarenakan mereka tak punya perasaan, melainkan karena persoalan seperti ini sesungguhnya bukan satu peristiwa yang patut disedihkan.

Setiap orang pasti mati, apalagi mereka yang melakukan pekerjaan seperti ini.

Bagi mereka, kematian ibarat seorang wanita, seorang wanita yang sudah terlalu lama digauli hingga timbul perasaan jemu, bosan dan muak, namun mustahil bisa ditinggalkan. Oleh karena itu setiap hari mereka menanti kedatangannya, di saat ia benar-benar tiba, tentu saja mereka tak perlu merasa terkejut, apalagi merasa ngeri dan takut.

Karena mereka semua tahu, cepat atau lambat dia pasti akan datang juga.

Menghadapi persoalan semacam ini, mereka nyaris sudah kebal, sudah mati rasa.

Ong-losiansing pun tidak beranjak dari tempat duduknya, kembali ia menunggu beberapa saat.

Entah dikarenakan rasa ibanya terhadap nyawa seseorang atau dikarenakan dia sendiri memang menaruh rasa jeri dan hormat terhadap kematian, paras muka Ong-losiansing justru terlihat lebih serius, jauh lebih serius daripada Kim-hi maupun kedua orang pembunuh. Dia bahkan mulai cuci tangan di dalam baskom kristal untuk membasuh sepasang tangannya yang sudah bersih, kemudian menyulut sebatang hio yang ditancapkan di atas tempat dupa kristal dan akhirnya berpaling ke arah si nomor lima belas.

"Apa yang kuinginkan harus dapat diselesaikan dengan tuntas," kata Ong-losiansing, "karena nomor lima gagal, terpaksa sekarang kau yang harus menyelesaikan."

"Baik."

Nomor lima belas segera menerima perintah itu, selama ini dia selalu dapat mengendalikan diri dengan baik, tapi setelah menerima perintah itu, tubuhnya maupun paras mukanya terlihat sedikit berubah, karena goncangan hatinya.

Sebuah perubahan yang tak mudah diketahui orang bila tidak diamati dengan seksama, lalu dia pun mulai bergerak.

Mula-mula gerak tubuhnya sangat hati-hati dan lamban, dia mulai memeriksa dulu diri sendiri.