Kilas Balik Merah Salju Jilid 06

 
Belakangan Ban be tong memang seolah terselubung di balik kabut teror yang mengerikan dan menakutkan, banyak orang hilang begitu saja, banyak yang dijumpai telah tewas tanpa sebab yang jelas, bahkan setan pengisap darah yang selama ini hanya muncul dalam dongeng pun ikut bermunculan. Bayangkan saja, siapa yang tidak takut menghadapi ancaman teror seperti ini?

Tak heran mereka yang sedang mendapat giliran ronda akan menjalankan tugasnya dengan beban tekanan batin yang berat, selain hatinya tak tenteram, perasaan ngeri dan seram pun ikut mencekam.

Untung saja hari ini terdapat satu hal yang agak melegakan, yaitu rembulan pada malam ini bersinar lebih terang.

Tempat dimana Lim Cun berdiri adalah sebuah tiang bendera yang besar dan tinggi, di ujung tiang tergantung sebuah lampion yang sangat besar.

Sinar rembulan yang terang ditambah lampion besar, membuat kegelapan sedikit terusir dari sekitar tempat itu, tak heran perasaan Lim Cun sedikit lebih lega.

Sejak dulu, kegelapan memang selalu dianggap sebagai sumber kengerian dan teror.

Hawa dingin menyusup ke balik baju Lim Cun menyertai hembusan angin malam, di tengah cuaca dingin yang begini membeku, bila gerak tidak dipertahankan, tak sampai sepeminuman teh kemudian dijamin tubuhmu akan berubah jadi gumpalan es.

Sambil menggenggam golok panjangnya di tangan kiri, Lim Cun mulai berlari-lari kecil, sementara dalam genggaman tangan kanannya membawa botol arak yang berulang kali diteguk isinya.

Menunggu cairan arak mengalir dalam perutnya, Lim Cun baru merasakan sedikit kehangatan. Padahal menurut aturan, waktu berdinas dilarang minum arak, tapi siapa yang kuat tidak menenggak arak?

Asal tidak sampai membuat gara-gara, asal tidak ketahuan atasan, biasanya orang-orang itu akan menutup mata.

Tatkala isi botol semakin berkurang, perasaan hangat pun semakin menjalar ke seluruh tubuh, Lim Cun menghentikan larinya. Mungkin lantaran pengaruh arak atau mungkin karena malam itu terasa begitu tenang, perasaan ngeri dan horor dalam hatinya lambat-laun semakin memudar.

Baru saja Lim Cun bersandar di tiang bendera karena rasa kantuk, tiba-tiba ia saksikan seseorang muncul dari balik kegelapan, begitu lambat gerakan orang itu seolah sudah menyatu dengan suasana gelap di sekelilingnya.

"Siapa?"

Lim Cun melototkan mata, golok maupun botol araknya tanpa terasa digenggam makin kencang. "Siapa? Kata sandi!"

Orang itu tidak menjawab kecuali memperdengarkan suara tawa yang menyeramkan, kakinya sama sekali tak bergerak, namun tubuhnya justru bergerak makin mendekat.

Lim Cun merasa orang itu seolah melayang di tengah udara, seperti setan penasaran yang sedang bergentayangan, saking takut dan ngerinya, tanpa terasa botol arak terlepas dari genggamannya, sementara golok panjang walaupun masih tergenggam di tangan kanan, namun kelihatan gemetar keras bagai ranting pohon Liu yang meliuk-liuk diterpa angin.

Sepasang mata tikusnya makin kental memancarkan rasa takut dan ngeri, dengan suara gemetar teriak Lim Cun lagi, "Si... siapa... siapa kau?"

"Hehehe " Suara tawanya begitu menyeramkan bagai muncul dari neraka, orang itu bergeser makin dekat.

Akhirnya Lim Cun dapat melihat jelas raut wajah orang itu, ternyata dia bukan lain adalah Hwi thian ci cu yang telah mati.

Lim Cun semakin ketakutan, sekujur tubuhnya menggigil keras, saking takutnya ia terkencing- kencing dalam celana.

Cahaya rembulan yang terang menyinari wajah Hwi thian ci cu yang pucat bagai mayat, noda darah kering masih menempel di ujung bibirnya, sementara sepasang taring yang putih panjang bagai mata pisau mencuat keluar dari balik mulutnya.

Lim Cun yang tersohor paling cepat kabur waktu menghadapi musuh, saat ini merasakan sepasang kakinya seolah tumbuh akar, biar tubuhnya menggigil keras namun dia bingung, tak tahu bagaimana mesti kabur dari situ.

Tahu-tahu sepasang taring putih yang panjang dan tajam itu sudah menempel di atas tengkuknya, menyusul kemudian Lim Cun merasakan sakit yang luar biasa menjalar dari tengkuk hingga ke seluruh tubuh.

Tapi rasa sakit itu tidak berlangsung lama, karena nyawanya keburu melayang meninggalkan raganya.

Belum lagi darah dalam tubuhnya habis terisap, ia sudah mati lebih dulu. Rupanya Lim Cun mati karena ketakutan.

Begitu gigi taring dicabut dari tengkuk, Hwi thian ci cu segera memasukkan dua batang bambu tipis ke bekas gigitannya pada tengkuk Lim Cun, lalu dengan menggunakan sebuah kantung air yang besar dia tampung darah yang mengalir keluar dengan derasnya itu.

Menyaksikan kantong air yang nyaris penuh dengan darah segar, secercah perasaan gembira dan bangga melintas di balik mata si laba-laba terbang ke langit itu.

Tak sampai sepeminuman teh darah sudah berhenti mengalir dari pipa bambu, Hwi thian ci cu segera menutup kantung airnya, kemudian mencabut pipa bambu itu.

Mengawasi Lim Cun yang sudah tergeletak mampus kehabisan darah, Hwi thian ci cu menampilkan senyuman penuh kebanggaan.

Ia senang dan bangga, besok pagi suasana di sekitar sana pasti akan heboh karena mereka menemukan sesosok mayat yang mati karena diisap darahnya oleh setan pengisap darah.

Betapa pun panasnya udara, betapa dinginnya suasana, Pho Ang-soat selalu hanya mengenakan baju kasar hitamnya ditambah sebuah mantel kulit yang sudah luntur warnanya.

Dia seolah macan kumbang yang hidup di tengah belantara luas, mau berubah seburuk apa pun cuaca di situ, mau terjadi peristiwa apa pun, dia selalu dapat menyesuaikan diri, dapat bertahan hidup lebih lanjut.

Pho Ang-soat bukan cuma punya tubuh sekuat macan kumbang, dia pun memiliki kesensitipan indra keenam seekor macan kumbang.

Terhadap hawa membunuh dan ancaman bahaya yang berada di sekelilingnya, dia bisa menghadapi jauh lebih sigap dan sensitip ketimbang macan.

Kegelapan malam belum lagi lewat, sisa lentera makin mengecil dan mendekati padam.

Pho Ang-soat berbaring di tengah kegelapan, berbaring di atas ranjang yang dingin, biarpun angin malam di luar jendera terdengar menderu kencang, namun ia tak peduli, ia mulai merasa kantuk dan lelah.

Di kala Pho Ang-soat hampir terlelap tidur inilah mendadak ia mendengar suara yang sangat lirih, seperti suara lentera yang kehabisan minyak, seperti lampu yang hampir padam, di tengah deru angin malam yang kencang, seharusnya suara itu tak terdengar, apalagi jelas.

Pho Ang-soat tak mendengar suara lain, tiada yang bisa dilihatnya waktu itu.

Tapi setiap bagian tubuhnya yang punya rasa, setiap otot yang bisa merasakan, setiap syaraf perasa yang ada, tiba-tiba mengejang kencang. Karena ia sudah merasakan hawa membunuh yang kuat, hawa membunuh yang tak terdengar, juga tak terlihat....

Hanya manusia yang sudah banyak membunuh dan senjata yang sering menghabisi nyawa manusia yang bisa mengeluarkan hawa membunuh seperti ini.

Hanya manusia semacam Pho Ang-soat yang dapat merasakan hawa membunuh seperti ini, biarpun seluruh otot tubuhnya sedang mengejang, namun sekali meletik, tahu-tahu dia sudah melompat bangun dari atas ranjang kayu yang keras dan dingin itu. Tubuhnya melejit bangun seperti ikan Lehi yang meletik di air, ia saksikan kilatan cahaya pedang yang berkelebat menusuk ke arah ranjang dimana ia sedang berbaring tadi.

Andaikata dia bukan Pho Ang-soat, andaikata dia tidak memiliki indra keenam bagai macan kumbang atau tak punya pengalaman untuk menghadapi kejadian yang menakutkan dan menyeramkan, andaikata ia tak dapat merasakan hawa membunuh yang menakutkan itu ....

Dapat dipastikan sekarang badannya sudah tertembus oleh kilatan cahaya pedang yang menakutkan itu.

Terlihat cahaya pedang berkelebat, lalu terdengar suara benturan keras. Benturan itu bukan berasal dari suara pedang, yang didengar Pho Ang-soat adalah ujung pedang yang menembus alas ranjang.

Baru saja suara mendesir, ujung pedang telah menembus papan pembaringan, tempat dimana pedang itu menusuk tembus tak lain adalah jantung Pho Ang-soat sewaktu berbaring tadi.

Tapi kini mata pedang itu bukan menembus jantung Pho Ang-soat, melainkan hanya menusuk papan kayu.

Terlepas pedang yang digunakan adalah pedang seperti apa, pedang itu pasti berada di tangan seseorang, terlepas macam apakah orang itu, yang pasti orang itu berada di kolong ranjang.

Berada di tengah udara, Pho Ang-soat menggunakan seluruh otot tubuhnya, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berjumpalitan, lalu menerkam ke bawah, langsung menerkam ke arah dimana dia anggap sang penyerang berada.

Ternyata dugaannya tidak keliru.

Di bawah kolong ranjang memang bersembunyi seseorang, ujung pedang ditusukkan dari bawah langsung tembus ke atas papan kayu, gagang pedang malah masih berada dalam genggamannya.

Begitu Pho Ang-soat menerjang ke bawah, orang itu segera melompat bangun, dalam kegelapan Pho Ang-soat seolah melihat ada secercah cahaya golok berkelebat dari tangan orang itu.

Padahal saat tubuh Pho Ang-soat meluncur ke bawah, segenap kekuatan tubuhnya baru saja digunakan habis, di saat melihat datangnya cahaya golok itu, tenaga sudah telanjur habis sedang tenaga baru belum lagi dihimpun.

Tak dapat disangkal orang yang bertugas membunuh Pho Ang-soat ini adalah jago tangguh dari sekian banyak jago tangguh, dia sudah memperhitungkan secara matang Pho Ang-soat pasti dapat lolos dari serangannya yang pertama, dia juga sudah perhitungkan Pho Ang-soat bakal menerjang ke tempat persembunyiannya, tentu saja dia pun dapat memperhitungkan Pho Ang- soat pasti sadar dia tak mungkin bisa mencabut pedangnya yang tertancap di dasar ranjang ketika melihat ia datang menerjang.

Dan yang lebih penting lagi adalah dia sudah memperhitungkan Pho Ang-soat pasti tak akan mengira dia masih mempunyai senjata lain.

Bacokan golok inilah yang sesungguhnya merupakan bacokan yang mematikan.

Jika seseorang masih melambung di udara, pasti sulit baginya untuk menghindarkan diri.

Dimana cahaya golok berkelebat, sang lawan pasti akan mati mengenaskan.

Begitu golok diayun, cahaya golok yang tipis menyinari senyuman sinis yang menghiasi pembunuh itu, dia tahu mustahil Pho Ang-soat dapat menghindari bacokan itu, karena dia tak menyangka.

Bila tak mengira, bisa dipastikan sulit baginya untuk menghindar, bila sulit menghindar maka dia pun bakal mati.

Ketika si pembunuh sudah bersiap menikmati indahnya percikan darah segar, sekonyong- konyong ia mendengar suara, semacam suara yang amat dikenalnya.

Suara yang hanya bisa dihasilkan ketika golok sedang membelah angkasa, suara yang terdengar olehnya adalah suara golok berdesing.

Sewaktu ia mendengar suara golok itu, dia pun dapat merasakan dinginnya tanah, ia dapat melihat Pho Ang-soat berdiri di hadapan nya, berdiri sambil mengawasinya dengan sorot mata setajam bintang timur di atas langit.

Bagaimana mungkin? Bacokan golok itu mematikan, bagaimana mungkin Pho Ang-soat dapat menghindarinya?

Dia masih ingat dengan jelas, seolah mendengar ada suara golok. Lantas suara golok siapa itu?

Mustahil suara golok Pho Ang-soat, karena ia tidak melihatnya mencabut golok, kalau golok saja belum dicabut, bagaimana mungkin bisa terdengar suara golok?

Dia ingin menopang badannya sekuat tenaga, tiba-tiba tangan kanannya seperti hilang rasa, sampai Pho Ang-soat menyulut lentera dalam ruangan, baru ia tahu lengan kanan miliknya telah terkutung.

Apakah waktu dia mendengar suara golok tadi, pergelangan tangan kanannya sudah terbabat kutung? Padahal dia hanya mendengar suara, tidak melihat ada golok, benarkah di dunia ini terdapat babatan golok yang begitu cepat?

Di bawah cahaya lentera yang redup, Pho Ang- soat menjumpai orang yang barusan membokongnya adalah seorang asing, kini dia sedang mengawasi Pho Ang-soat dengan pandangan ngeri dan takut.

"Kau tak percaya babatan golokku dapat mengutungi lenganmu?" tegur Pho Ang-soat hambar.

"Aku hanya mendengar suara... suara golok "

gumam orang itu, "tidak kulihat ada golok tak

ada golok "

Dari wajahnya yang mengejang, hal ini bukan disebabkan rasa sakit dari lukanya, melainkan karena dia ingin berontak dari kenyataan di depan mata. Ia tak percaya di dunia ini terdapat sabetan golok secepat itu, kenyataan justru terpampang di depan mata.

"Siapa kau?" dengan suara dingin Pho Ang-soat menegur.

Dia tidak menjawab, hanya sorot matanya dialihkan ke atas lengan sendiri yang kutung, mengawasi tangannya yang masih menggenggam golok, tiba-tiba perasaan tidak berdaya, pedih dan sedih campur-aduk menjadi satu.

Di balik perasaan campur-aduk itu, tersisip pula keinginan untuk pelepasan.

Tanpa terasa Pho Ang-soat mengalihkan pandangannya ke arah kutungan tangan itu, begitu melihat kutungan tangan, tiba-tiba waj ahnya berubah.

Tiba-tiba saja dia mengerti mengapa si pembunuh menampilkan perasaan campur-aduk begitu melihat kutungan tangan sendiri.

Padahal yang dilihat Pho Ang-soat bukan kutungan tangan itu, melainkan golok yang berada dalam genggaman tangan itu.

Sebilah golok melengkung, bagai bulan sabit, melengkung bagai panc ing.

Biasanya hanya penduduk luar perbatasan yang menggunakan golok lengkung semacam ini, tapi sejak tiga tahun berselang, tiba-tiba di daratan Tionggoan muncul seorang jagoan lihai bersenjatakan golok lengkung.

Dengan mengandalkan golok lengkungnya itu, dalam tiga tahun jagoan lihai itu berhasil membantai lima puluh dua jago lihai dunia persilatan, termasuk para Ciangbunjin perguruan terkenal.

Hingga kini belum pernah dia terkalahkan, walau hanya satu kali. Sekali lagi Pho Ang-soat menatap wajahnya, lama kemudian baru menegur, "Jadi kau adalah si golok lengkung A-jit?"

"Benar, akulah si golok lengkung A-jit." Sekali lagi Pho Ang-soat menatapnya lekat-

lekat, ujarnya hambar, "Kau keliru besar." "Aku keliru?"

"Jika kau datang mencariku secara terang- terangan, mungkin kau dapat melihat golok," ujar Pho Ang-soat perlahan.

"Dapat melihat golok?"

Kalau perkataan itu diucapkan kemarin, mungkin A-jit tak bakal percaya, tapi sekarang, mau tak mau dia harus mempercayainya. Sekali lagi sorot matanya memancarkan perasaan campur-aduk.

Sekali lagi sorot mata Pho Ang-soat menyongsong datangnya sikap pelepasan A-jit, ditatapnya wajah orang itu dengan tenang. Lama kemudian baru dia menghela napas panjang.

A-jit turut menghela napas pula, lambat-laun paras muka yang menampilkan perasaan campur- aduk pun lenyap, yang tersisa hanya kegembiraan dan pelepasan. Lalu dengan tulus dia berbisik, "Terima kasih."

"Tak perlu sungkan," jawaban Pho Ang-soat sangat hambar. Mengapa A-jit mengucapkan terima kasih kepada Pho Ang-soat yang telah membabat kutung lengannya?

Tentu saja Pho Ang-soat memahami maksud A- jit, karena itulah dia menjawab "tak perlu sungkan", sebab dia sendiri pun seorang jago yang mengandalkan golok.

Terkadang orang yang gila akan golok tidak jauh berbeda dengan orang yang tergila-gila karena sang kekasih.

Orang yang sudah terjerumus dalam jaring cinta, orang yang sudah terbelenggu oleh benang-benang cinta, bukan saja sulit baginya

untuk melepaskan diri, bahkan kadang ingin mati pun tidak gampang.

Perasaan pedih yang merasuk hingga ke tulang sumsum, perasaan lebih baik mati daripada hidup, mungkin hanya bisa dipahami dan dirasakan oleh mereka yang tergila-gila pada golok.

Itulah sebabnya terkadang dibutuhkan pedang kecerdasan untuk memotong benang cinta, sementara orang yang gila pada golok hanya bisa memperoleh pelepasan bila sudah mati di ujung golok.

Tak heran A-jit bukan saja tidak mendendam, bahkan merasa berterima kasih kepada Pho Ang- soat kendatipun ia telah mengutungi tangannya.

Sekuat tenaga A-jit merangkak bangun dengan sisa tangannya yang masih utuh untuk menopang, kemudian ujarnya kepada Pho Ang- soat, "Kau tak perlu mengantarku."

"Aku tahu!"

Lama sekali kedua orang itu saling menatap tanpa bicara, tiba-tiba A-jit membalikkan badan dan beranjak pergi.

Tatkala baru melangkah keluar pintu, mendadak Pho Ang-soat buka suara, "Tangan kiri pun bisa dipakai untuk memegang golok, pada zaman Siau-li si pisau terbang, ada jago yang mahir menggunakan pedang dengan tangan kanan, kemudian tangan kanannya putus, namun permainan pedang tangan kirinya di kemudian hari ternyata jauh lebih cepat ketimbang permainan tangan kanannya."

Yang dimaksud Pho Ang-soat adalah Hing Bu- bing, tentu saja A-jit pun tahu, namun dia hanya berpaling dengan hambar, menjawab dengan tak bersemangat, "Sudah tiga tahun aku meninggalkan rumah, di dusun masih ada orang yang selalu menanti kedatanganku dengan penuh perasaan cinta, mungkin aku bisa menyiapkan beberapa hidangan dengan tangan kiri atau menemaninya meneguk beberapa cawan arak dengan tangan kiri."

"Bila ada kesempatan, aku pasti akan mencicipi hidangan hasil masakanmu," janji Pho Ang-soat.

"Aku pasti akan menunggu. Rumahku berada di luar kota Lhasa, sebuah tempat yang disebut Hong-ling."

Cahaya bintang bertaburan di langit kota Lhasa, tak jauh berbeda dengan suasana di wilayah Kanglam.

Nyonya muda itu masih duduk di bawah keliningan, di bawah pantulan cahaya lentera sambil memandang ke tempat jauh.

Tempat apakah yang sedang dia lamunkan?

Atau siapa yang sedang dia pikirkan?

Biarpun udara di kota Lhasa pada malam ini terasa dingin, namun hembusan angin malam tidak sedingin perbatasan, bahkan masih terasa hangatnya lelaki kekar dari kota Lhasa.

Angin malam berhembus, menggoyangkan keliningan pada pohon Siong tua, menggoyangkan juga keliningan di emperan rumah.

Suara keliningan terdengar sendu dan pedih di tengah kegelapan malam, bagaikan pengembara merindukan kampung halamannya.

Padahal cahaya bintang lebih jauh letaknya daripada kampung halaman, tapi cahaya bintang terlihat jelas, bagaimana dengan kampung halaman?

Beberapa orang bocah duduk mengelilingi sebuah meja, setiap orang sedang bersantap dengan lahapnya, dalam usia semuda bocah- bocah itu, mereka tak akan mengerti suka dukanya kehidupan, bagi mereka asal ada makanan dan kesempatan bermain, biarpun langit ambruk pun mereka tak peduli.

Dulu Yap Kay pun pernah melewati masa seperti ini, tapi dengan usianya sekarang, ia sangat memahami arti dan berharganya sebuah kehidupan.

Memang aneh, mengapa manusia selalu baru mengerti akan sisi kebaikan bila ia sudah kehilangan?

Nyonya muda itu masih memandang kejauhan, Yap Kay sedang memandang nyonya muda itu, sementara So Ming-ming mengawasi Yap Kay.

Hanya Kim-hi saja yang berkumpul dengan Siau- hoa sekalian.

Kalau sorot mata nyonya muda itu bagai orang yang sedang bermimpi, sorot mata Yap Kay bagaikan pedagang yang sedang meneliti kwalitas barang, sedang sorot mata So Ming-ming lebih jeli dari pantulan cahaya bintang.

"He, mau tidak mendengar sebuah cerita?" tiba-tiba So Ming-ming menegur.

"Sebuah cerita?" seolah baru tersadar dari lamunannya, Yap Kay berpaling, "cerita tentang apa?"

"Cerita tentang dia," sahut So Ming-ming sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah nyonya muda di bawah keliningan. "Mau!"

"Kalau begitu mari ikut aku!"

Untuk menceritakan tentang si dia, tentu saja kurang leluasa bila diceritakan di hadapannya, maka So Ming-ming pun mengajak Yap Kay menuju ke tepi sebuah air terjun.

Malam ini langit di kota Lhasa terasa jernih dan indah, ada rembulan, ada pula bintang yang bertaburan di langit.

Bagaimana suasana di wilayah Kanglam saat ini?

Di bawah cahaya bintang dan rembulan, semburan air terjun yang menggelegar tampak bagaikan seutas tali pinggang warna perak yang memanj ang.

Di samping air terjun terdapat sebuah batu cadas yang sangat besar, So Ming-ming duduk di atasnya, tentu saja Yap Kay pun duduk di sampingnya, di samping So Ming-ming.

Dalam suasana yang begitu nyaman dan indah, di bawah cahaya rembulan yang terang, dilatar belakangi pemandangan alam yang indah dan suara air terjun yang lembut, dunia serasa begitu tenteram, coba kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih, betapa romantisnya suasana saat itu.

"Dia bernama Nava," ujar So Ming-ming perlahan. Tentu saja Yap Kay tahu, yang dimaksud si dia adalah nyonya muda di bawah keliningan. "Nava?"

"Benar," wajah So Ming-ming tiba-tiba berubah sangat sedih, "bila ingin memahami Nava, kau harus mendengar dulu sebuah cerita."

Kisah yang dia ceritakan adalah sebuah cerita yang memilukan hati.

Nava dilahirkan di tebing sebelah utara gunung Cu mu lang ma, dia adalah seorang wanita paling hebat dan suci dalam suku Gurkha.

Suatu saat, tatkala dusun suku Gurkha diserang suku Niko yang ganas dan buas, suku mereka menderita kekalahan, kekasihnya ditawan musuh sementara dia sendiri ditangkap oleh kepala suku Niko.

Lambang suku Niko adalah "merah", "merah" yang membawa anyir darah, mereka memang menyukai anyirnya darah dan ceceran darah.

Setelah ditawan, kepala suku Niko ingin memperkosa Nava, tapi sampai mati perempuan itu tetap memberikan perlawanan.

Akhirnya kepala suku Niko pun mengancam akan membunuh kekasihnya bila Nava enggan menuruti kemauannya.

Nava harus menahan siksaan dan digagahi kepala suku Niko, karena perkosaan inilah dia bertekad melakukan balas dendam. Dengan gigitan dibalas gigitan, dengan darah dibayar darah, akhirnya ia menemukan kesempatan baik menyelamatkan sukunya serta kekasih hatinya yang tertawan.

Tapi sayang dia sendiri harus mengorbankan nyawanya.

Menanti sang kekasih membawa pasukan Gurkha melakukan penyerbuan ke markas besar suku Niko, Nava ditemukan telah wafat.

Biarpun sudah meninggal, namun dia masih memperlihatkan kesetiaannya.

Di dalam genggaman tangannya dia masih memegang selembar kertas yang ditulisnya menjelang ajal untuk sang kekasih, sebuah bait lagu berjudul "Kokang".

"Kokang yang kucinta, kau harus hidup terus, Kau harus hidup, harus waspada, Setiap saat harus waspada,

Selalu teringat orang-orang yang suka anyirnya darah,

Mereka gemar membunuh. Jangan kau ampuni bila bertemu, Usir mereka semua.

Usir sampai ujung samudra, Usir sampai ujung gurun,

Bangunlah kembali negerimu tercinta, Biarpun negeri sudah tenggelam, biar sawah ladang telantar. Asal kau rajin berjuang, negeri kami pasti berjaya, Sawah ladang kita pasti subur sentosa".

Kekasihnya memang tak pernah mengecewakan harapannya itu, suku Gurkha pada umumnya juga tak pernah mengecewakan dirinya.

Negeri tercintanya kembali berjaya, sawah ladang mereka pun kembali subur sentosa.

Untuk memperingati perjuangan dan pengorbanannya yang gagah perkasa, jenazah serta bait syairnya dikubur di bawah pagoda kuil yang khusus dibangun untuknya, dia telah menjadi pujaan dan sanjungan setiap orang dari suku Gurkha.

Kisah ini selain penuh heroik, terselip pula kisah dramatis yang memedihkan hati.

Yap Kay tidak mengucurkan air mata, bila dalam dada seseorang telah bergelora darah yang mendidih, bagaimana mungkin air mata bisa mengucur?

"Kalau memang jenazahnya telah terkubur di bawah pagoda, lantas apa pula hubungannya dengan Nava yang ini?"

"Nava yang ini mesti tidak berada di bawah tekanan suku bengis yang haus darah, tapi ada semacam barang yang berbau anyirnya darah sedang menghimpit dia serta kekasih hatinya," kata So Ming-ming sedih. "Barang apakah itu?"

"Ternama! Kekasih hatinya sengaja pergi meninggalkan dia karena dia ingin ternama."

"Oh, maksudmu kekasih hatinya pergi meninggalkan dia karena ia ingin terjun ke dunia Kangouw dan mencari nama?"

"Benar," jawaban So Ming-ming seperti orang sedang mengigau, "itulah sebabnya dia terkurung di dalam tenda milik kepala suku "nama dan pahala', membiarkan kesepian dan kesendirian menyiksa hidupnya, membiarkan waktu dan usia menteror hidupnya, setiap hari dia harus menunggu kedatangan kekasih hatinya untuk menyelamatkan dia dari penderitaan ini."

"Sudah berapa lama? Berapa lama dia terhimpit dalam kesepian dan kesendirian?"

"Tiga tahun!  Si Keliningan menanti kedatangannya sudah tiga tahun di bawah pohon siong tua itu."

"Siapa nama kekasihnya?" "A-jit!" "A-jit?"

Bayangan tubuh seseorang segera terlintas dalam benak Yap Kay, seorang pemuda dengan golok lengkung dalam genggamannya, golok bulan sabit.

"Golok lengkung A-jit? Mungkinkah dia?" gumam Yap Kay tanpa terasa

"Apa kau bilang?" "Oh, tidak apa-apa," agaknya Yap Kay tak ingin So Ming-ming tahu tentang orang yang bernama Golok lengkung A-jit, karena itu segera tanyanya lagi, "Apakah dia tahu A-jit telah berhasil meraih nama dan kedudukan dalam dunia persilatan?"

"Ia pernah berkata padaku, sekalipun A-jit telah mendapat nama besar dalam dunia persilatan pun, dia tak mungkin balik kemari," kata So Ming-ming, "sebab semakin dia ternama semakin tak berdaya untuk melepaskan semua itu."

"Betul juga perkataannya," Yap Kay tergelak, "bila kau telah terjun ke dalam dunia persilatan, berarti selama hidup kau akan terkekang dan tak bebas, apalagi bila kau sudah ternama, seringkah masalah akan bermunculan tanpa disangka, yang membuat kau tak berdaya untuk menghindarinya."

"Bila seseorang telah ternama, seringkah muncuh orang lain yang ingin ternama datang menantangmu berduel, setelah muncul orang pertama akan menyusul orang kedua, ketiga dan seterusnya hingga suatu ketika kau berhasil dikalahkan. Bila kalah bertarung dalam dunia persilatan sama artinya kau bakal mati."

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya perlahan, "Oleh sebab itu Nava berkata pula, bila A-jit benar-benar kembali, dia pasti akan muncul menjelang kematiannya." "Kalau dia sudah tahu begitu akhirnya, mengapa pula harus menunggu terus?" tanya Yap Kay.

"Sebab dia tergila-gila kepada cintanya," suara So Ming-ming sumbang, "biarpun tahu bagaimana akhirnya, namun dia tetap akan menunggu terus. Orang yang tergila-gila karena cinta seperti orang yang tergila-gila pada golok, biarpun sudah tahu pada akhirnya bakal tewas di ujung senjata orang, dia tetap nekat untuk melakukannya."

"Orang yang hidup dalam dunia persilatan tak akan punya kebebasan memilih", perkataan itu memang tepat.

Cahaya rembulan menyinari jeram, menyinari riak di permukaan air dan memantulkan cahaya bintang yang seolah sedang berkedip.

So Ming-ming duduk termangu, dengan biji matanya yang sayu dia mengawasi Yap Kay tanpa berkedip.

"Bagaimana dengan kau sendiri?' tanya So Ming-ming, "apakah kau pun sedang menanti pertempuran yang tak pernah berakhir? Kenapa kau tidak mengundurkan diri dari pertikaian dunia persilatan?"

Yap Kay tidak memandang gadis itu, sorot matanya dialihkan ke riak air terjun.

"Biarpun orangnya sudah mundur dari dunia persilatan, akan tetapi namanya masih bergaung di dunia Kangouw," kata Yap Kay sambil tertawa getir, "orang yang ingin mencari nama tetap akan datang mencarimu, biar kau sudah kabur sampai ke ujung dunia pun, jangan harap bisa melewati kehidupanmu dengan damai"

So Ming-ming tidak bicara lagi, pikirannya segera terjerumus dalam lamunan, dia seakan mencoba mencerna perkataan Yap Kay, sementara sorot matanya dialihkan ke dasar kolam yang jernih.

Karena dia tidak bicara, Yap Kay pun tidak bicara pula, dalam suasana tenang yang begitu indah buat apa mesti memikirkan masalah budi dan dendam yang hanya akan merusak suasana?

Sementara Yap Kay masih melamun, terdengar So Ming-ming berseru, "Coba lihat, benda apa yang terapung di permukaan sungai?"

Cepat Yap Kay berpaling ke arah sungai.

Setelah diamati sesaat, segera diketahui benda yang terapung itu adalah sebuah sepatu, sepatu yang kecil sekali, seperti sepatu seorang bocah cilik.

"Sepatu, seperti sepatu anak-anak," seru Yap Kay.

"Cepat, cepat pungut.”

Belum selesai So Ming-ming berteriak, Yap Kay sudah melesat ke depan, menutul berulang kali di permukaan sungai dan tahu-tahu sudah balik kembali ke atas batu. Tangannya menenteng sepatu kecil itu. Kalau tadi So Ming-ming ingin secepatnya memungut sepatu itu, sekarang dia sama sekali tak berminat menerimanya, hanya mengawasi sepatu basah yang berada di tangan Yap Kay dengan sorot mata ngeri, seram dan penuh horor.

Kenapa gadis itu menunjukkan mimik muka seperti ini? Bukankah sepatu itu hanya sepatu yang umum dan biasa, mengapa dia harus menunjukkan mimik takut dan ngeri?

Yap Kay tidak bertanya, bukan berarti dia enggan mencari tahu, tapi dia yakin So Ming- ming pasti akan menjelaskan.

Benar saja, So Ming-ming segera memberi penjelasan. Setelah mengamati sepatu itu beberapa saat gadis itu pun berkata, "Baru tiga bulan berselang aku buatkan sepatu itu untuk Giok-seng."

Ternyata sepatu itu milik Giok-seng, sementara bocah itu sudah lenyap sejak semalam, kini hanya sebelah sepatu yang ditemukan di situ, berarti telah terjadi sesuatu dengan si bocah.

Yap Kay segera berpaling memandang puncak tebing darimana air terjun itu berasal, tanyanya kemudian, "Tempat manakah atas sana?"

"Konon air yang mengalir di sini melewati kebun monyet," bisik So Ming-ming dengan perasaan ngeri.

"Kebun monyet?" bisik Yap Kay agak tertegun, "jadi kebun monyet berada di atas tebing?" "Benar."

Sepatu itu terjun ke bawah jeram dengan mengikuti aliran air, kebetulan di atas tebing terletak kebun monyet, padahal Giok-seng hilang justru karena pergi mengunjungi kebun monyet, jelas di balik kebun monyet terdapat rahasia besar yang tak diketahui orang.

Cahaya pertama sinar fajar baru saja menembus awan gelap dan menyinari Sumbatan leher, walaupun langit berangsur mulai terang, namun permukaan bumi masih remang-remang.

Sumbatan leher di balik keremangan tampak bagai sebuah lukisan tinta bak, tapi jauh lebih misterius, aneh dan menakutkan dari kegelapan.

Biarpun mulut luka masih terasa sakit, namun rasa sakit telah tertutup oleh perasaan gembira dalam hatinya, sambil mengawasi Sumbatan leher di balik keremangan, A-jit mulai menampilkan sekulum senyuman gembira.

Setelah melewati Sumbatan leher dia akan tiba di Lhasa, sudah tiga tahun ia tinggalkan kota itu, entah bagaimana keadaannya sekarang?

Apakah puncak atap istana Potala masih berbentuk bulat? Apakah para pengikut setia Buddha hidup masih melakukan ritual dengan sujud dan khusuk? Apakah mereka masih berdatangan dari tempat jauh, melakukan penyembahan setiap tiga langkah, bersujud setiap lima langkah, menggunakan cara yang paling berat dan penuh derita untuk memperlihatkan rasa hormat dan ketulusan mereka?

Apakah udara sepanjang jalan dalam kota masih dipenuhi bau susu ragi yang menyengat hidung?

Bagaimana dengan keliningan yang tergantung di emper rumah? Apakah masih mendendangkan suara denting yang merdu? Apakah di bawah keliningan masih duduk seorang yang menanti kedatangannya?

Teringat akan perempuan di bawah keliningan, A-jit ingin sekali memiliki sayap hingga dapat segera terbang ke sisinya.

Dia masih teringat dengan jelas saat hendak berpisah dengan dirinya waktu itu, ia tidak ribut, tidak menangis, tidak protes.

Dia pun tidak menahan kepergiannya, hanya ucapnya dengan hambar, "Ingatlah, dalam kota Lhasa masih terdapat keliningan."

"Akan selalu kuingat," A-jit menjawab dengan penuh keyakinan, "asal impianku terwujud, aku pasti akan kembali."

A-jit saat itu masih merupakan pemuda dengan cita-cita setinggi langit, dia sangka mudah berkelana dalam Bu-lim dan menjadi ternama, dia begitu yakin impian dan harapannya dapat segera terwujud.

Biarpun akhirnya impian itu benar-benar terwujud, tapi orangnya telah berubah. Bukan perasaan hatinya yang berubah, bukan berubah jadi jahat, tapi berubah jadi takut urusan, berubah jadi takut pulang, karena setiap saat dia harus berjaga-jaga menghadapi orang yang membawa niat sama seperti dirinya dahulu, datang menantangnya berduel.

Dia kuatir sekembalinya ke rumah, kehadirannya justru akan menyulitkan kekasih hatinya.

Sekali tak berani pulang, dua kali tak berani pulang, tiga kali... empat kali... lama kelamaan dia semakin tak berani pulang.

"Semakin berkelana dalam dunia persilatan semakin ketakutan", biarpun ucapan ini tidak tepat seratus persen, namun maknanya sangat j elas.

A-jit sadar, kemungkinan besar selama hidup ia tak berani pulang, sebab kekalahan dalam dunia persilatan berarti kematian.

Bagi orang mati, pulang atau tidak sebetulnya tak masalah.

Benar tak bermasalah? Biarpun kau adalah seorang Tayhiap, seorang Enghiong, mereka tetap adalah manusia, tak mungkin mereka mandra guna dan super sakti seperti sering diceritakan orang, mereka tetap manusia biasa yang butuh uang untuk hidup, makan dan membeli kebutuhan.

Tanpa pemasukan, mana mungkin punya duit?

Sebagai Tayhiap dan Enghiong Hohan, jelas mereka tak bisa mencuri, apalagi merampok, maka muncullah pikiran mereka untuk mencari pekerjaan rangkap.

Tapi pekerjaan rangkap apa yang paling cocok dan pas? Tentu saja yang paling mudah dicari adalah sebagai seorang pembunuh bayaran.

Dalam hal pekerjaan, sebetulnya pekerjaan yang terhitung paling kuno, paling purba bagi seorang lelaki adalah pekerjaan sebagai seorang pembunuh.

Bahkan ada orang mengatakan kalau pekerjaan ini jauh lebih tua dari seorang wanita yang melahirkan anak.

Penghasilan sebagai seorang pembunuh bayaran memang sangat besar, tapi pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang tragis, sebab di saat mereka sedang menjalankan tugas, setiap saat kemungkinan nyawa sendiri bakal melayang, semisal berhasil pun mereka harus hidup dalam pengasingan, harus merahasiakan identitas dan tempat tinggal.

Malah terkadang sasaran pembunuhan yang diterima adalah sanak sendiri, bila menghadapi situasi seperti ini bukan saja mereka tak boleh ragu menerimanya, alis mata pun tak boleh berkerut.

Sebagai pembunuh bukan saja harus tak mengenal sanak keluarga, bahkan dia harus kejam tak berperasaan, tak boleh ada perasaan iba, tak boleh memiliki perasaan kasih, juga tak mengenal arti peri kemanusiaan.

Syarat utama sebagai seorang pembunuh bayaran yang berhasil adalah kejam, telengas dan berdarah dingin. Yang lebih utama lagi adalah tidak mengenal lingkungan, tidak punya pribadi.

Tak ada waktu pribadi, tak ada keuntungan pribadi, tak ada budi dendam pribadi, tak ada keluarga, tak ada kasih sayang. Semua hal yang berkaitan dengan pribadi harus disingkirkan jauh- jauh.

Yang lebih penting lagi adalah tiada jalan mundur bagi seorang pembunuh, satu kali melangkah masuk ke dalam lingkungan pekerjaan itu, sampai mati pun kau tak dapat pensiun.

Jangan harap kau bisa mengundurkan diri di saat kau berhasil meraup untung besar, sekalipun musuh belum tentu bisa menghabisi nyawamu, bisa jadi teman sejawatmu yang akan datang membereskan kehidupanmu, mengejarmu hingga kau tak bisa membocorkan semua rahasiamu lagi.

Hanya semacam manusia yang tak bakal membocorkan rahasia, yaitu orang mati.

Masih ada satu kemungkinan lagi, yakni bila orang menganggap kau sudah tidak mendatangkan ancaman lagi bagi mereka, bila orang lain sudah menganggapmu cacat dan tak berguna, mungkin saja mereka akan melepas dirimu.

Persis seperti keadaan A-jit sekarang. Tangan kanannya sudah kutung, dia sudah cacat berat, meski masih menyimpan banyak rahasia besar, namun demi menyelamatkan nyawa sendiri, tak mungkin dia mau membocorkan rahasia itu, malah terkadang berusaha membuang jauh-jauh rahasia itu.

Oleh sebab itulah nasib seperti yang dialami A- jit sekarang ini beruntung sekali bagi seorang pembunuh, karena ia pernah mati satu kali.

Orang lain pasti mengira dia sudah tewas di ujung golok Pho Ang-soat, takkan menyangka Pho Ang-soat bakal membebaskan dirinya.

Pho Ang-soat memang telah mengutungi tangannya, tapi dia pun telah mengampuni nyawanya.

Sejak detik itu, dalam dunia persilatan sudah tidak terdapat lagi manusia yang bernama si golok lengkung A-jit.

Matahari makin meninggi dan memancarkan sinarnya ke seluruh jagad, mengusir sisa-sisa hawa dingin dan kegelapan yang semula mencekam.

Kini Sumbatan leher terlihat semakin jelas, bentuknya yang curam dan berbahaya pun nampak semakin kentara, tapi A-jit tidak takut, dia memang dibesarkan di Lhasa, sudah berapa ratus kali bermain di seputar wilayah Sumbatan leher, jangankan merasa takut, bahkan dia tidak percaya akan adanya dongeng tentang setan iblis. Tiga tahun sudah ia pergi berkelana, menyaksikan Sumbatan leher yang sudah lama ditinggalkan, tiba-tiba muncul perasaan manis di hati kecilnya, baginya melihat Sumbatan leher sama seperti melihat rumah kediamannya, tanpa terasa dia pun mempercepat langkah kakinya.

Tebing tinggi curam menghadang masuknya cahaya matahari, kini A-jit sudah melewati bayangan gelap Sumbatan leher, sebentar lagi dia akan tiba di kota Lhasa.

Saat itulah dia saksikan ada seorang kakek bungkuk sedang berjalan menelusuri Sumbatan leher.

Kakek itu tua sekali, pada punggungnya yang bongkok dia menggendong sebuah keranjang bambu, sementara tangan kanannya membawa sebuah japitan yang terbuat dari dua bilah bambu, japitan yang digunakan untuk memungut sampah dan barang rongsok di sepanjang jalan.

Ternyata kakek itu adalah seorang pengumpul barang rongsok, seorang pemulung.

Ketika melihat kakek pemulung itu, timbul perasaan hormat dalam hati kecil A-jit, biar sudah tua reyot ternyata dia masih pantang menyerah untuk berjuang mempertahankan hidup, biar usia telah menggerogoti tubuhnya tapi semangatnya tetap tinggi.

Kakek pemulung itu berjalan dengan kepala tegak, punggungnya bongkok dan gerak-geriknya kurang leluasa, namun dia masih tetap mencari nafkah dengan mengandal kekuatan sendiri.

Apakah dia tak punya anak? Pasti tak punya, kalau tidak, siapa yang tega membiarkan orang setua ini bekerja keras mencari nafkah?

Orang tua yang tak sampai dijatuhkan oleh kenyataan hidup ini pasti memiliki harga diri yang tinggi, semisal kau bersimpatik padanya dengan memberi derma, dapat diduga dia bakal marah.

Masih untung A-jit mendapat cara lain, di samping bisa membantu orang tua itu meringankan deritanya, dia pun tak sampai membuat orang itu tersinggung harga dirinya.

Dari dalam saku A-jit mengeluarkan setumpuk uang kertas, lalu cepat dibuangnya ke tanah, setelah itu dengan langkah cepat ia berjalan melewati si orang tua.

Sepasang mata kakek pemulung itu selalu mengawasi jalanan, tentu saja dia menemukan tumpukan uang yang dibuang A-jit.

Menemukan uang yang terjatuh di jalanan tak bakal menyinggung harga diri dan gengsi si kakek, tak heran perasaan A-jit merasa lega bercampur gembira.

Biarpun membantu kebutuhan seorang kakek bukan terhitung perbuatan yang sangat mulia, paling tidak bisa membuat perasaan hatinya riang dan gembira. Hembusan angin di pagi hari terasa segar dan penuh kehangatan, bukan saja membawa bau harumnya bunga lembabnya dedaunan, terendus pula bau kecutnya susu ragi dari kota Lhasa.

A-jit menarik napas dalam-dalam, betapa dikenalnya udara seperti ini.

Setiap kali setelah minum arak atau terbangun dari tidur di tengah malam buta, dia selalu mendambakan bau seperti ini.

Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar seorang berseru, "He, anak muda!"

Suara yang tua, serak dan berat, pasti si kakek pemulung telah menemukan duit yang dijatuhkan. A-jit berpaling, benar saja, si kakek sedang berjalan menghampirinya.

"Dasar anak muda, tak tahu berharganya uang," omel kakek pemulung itu sambil memperlihatkan tumpukan duit yang ditemukan itu, "kenapa kau tidak hati-hati? Coba kalau duit itu sampai dipungut orang, bukankah kau bakal sedih?"

"Ah, bukan milikku," sahut A-jit sambil menggoyangkan sisa tangan kirinya.

"Bukan milikmu7"

"Bukan," A-jit mengeluarkan setumpuk uang dari sakunya, "coba lihat, duitku ada di sini. Uang itu bukan milikku." "Oh...." kakek pemulung itu mengamati uang itu sejenak, lalu menghela napas, "aai...!

Ternyata uang sebanyak ini tiada pemiliknya."

"Kau yang menemukan, berarti duit itu milikmu," seru A-jit cepat, "maaf aku harus pergi dulu!"

Belum beberapa langkah A-jit berjalan, mendadak terdengar kakek pemulung itu mengucapkan perkataan yang sangat aneh.

"Biarpun bayaranku untuk membunuh orang sangat tinggi, tapi biasanya hanya orang hidup yang memberi aku uang, tak nyana ternyata kali ini ada orang mati memberi uang kepadaku."

Bayaran untuk membunuh? Jangan-jangan kakek pemulung ini pun seorang pembunuh bayaran?

Dengan sigap A-jit berpaling, menatap tajam kakek pemulung itu, tapi bagaimana pun ia memperhatikan, kakek pemulung itu sama sekali tak mirip seorang pembunuh bayaran.

"Kakek tua, apa yang barusan kau katakan?

Bisa diulang sekali lagi?" serunya.

"Boleh saja," jawab kakek pemulung itu sambil menyeringai, "selama ini hanya orang hidup yang membayarku untuk membunuh orang, tak disangka kali ini ada orang mati yang membayar kepadaku." "Orang mati yang membayar? Siapa orang mati itu? Siapa pula yang hendak kau bunuh? Siapa yang suruh kau membunuh?"

"Kaulah orang mati itu," kakek pemulung tertawa tergelak, "tadi secara diam-diam kau buang uang itu ke tanah, takut menyinggung harga diriku bukan?"

Akhirnya masalah yang paling dikuatirkan A-jit muncul juga.

Tak disangka walaupun Pho Ang-soat membebaskan dirinya, namun organisasi rahasia enggan melepas dirinya begitu saja.

"Jadi organisasi yang mengutusmu?" dengan kewaspadaan penuh A-jit mengawasi kakek pemulung itu, "bukankah aku sudah menjadi orang cacat, mau kabur pun susah, mana mungkin kubocorkan rahasia organisasi? Kenapa organisasi enggan melepas diriku?"

"Demi Hong-ling (keliningan)." "Keliningan? Demi biniku?" A-jit semakin

tertegun.

"Benar," kembali kakek pemulung itu tertawa, "jika kau tidak mati, mana mungkin Pho Ang- soat bisa mati?"

Kuatir A-jit tidak mengerti perkataannya itu, maka si kakek pemulung menjelaskan, "Biarpun sudah tiga tahun kau meninggalkan rumah, tapi binimu masih menanti kedatanganmu di rumah keliningan, biar menunggu sepuluh tahun lagi pun dia masih tetap akan menanti lebih lanjut, tapi jika kau sudah mati, maka keadaannya pasti akan berbeda, binimu pasti akan mengurus layonmu, lalu berusaha balas dendam atas kematianmu."

Sesudah tertawa senang, kembali kakek pemulung itu berkata lebih lanjut, "Tentunya kau pun sangat jelas bukan akan kemampuan binimu, terlepas siapa orang yang telah membunuhmu, dia pasti akan mengejarnya hingga ketemu dan berusaha membunuhnya. Mau sehebat apa pun jagoan itu, dia tetap mempunyai cara untuk membunuhnya."

"Kalau kalian sudah tahu keinginan si Keliningan membalas dendam sangat besar dan kuat, semakin tak beralasan bagi kalian untuk membunuhku," seru A-jit.

"Kami yang membunuhmu?" kakek pemulung menyeringai seram, memperlihatkan suara tawanya yang sangat aneh, "kau mati di ujung golok Pho Ang-soat, kamilah yang berusaha sepenuh tenaga membalas dendam kesumatmu."

Walaupun langit terasa makin lama semakin panas, namun A-jit justru merasakan hawa dingin yang mencekam merasuk dari alas kakinya menyusup hingga ke ubun-ubun, sekarang dia sudah mengerti tujuan organisasi gelap itu, rupanya mereka berusaha memfitnah Pho Ang- soat, menjerumuskannya ke dalam lembah hitam ini. Mereka pasti punya cara agar si Keliningan mengira dia benar-benar tewas di ujung golok Pho Ang-soat, asal perempuan itu tahu dia mati di tangan Pho Ang-soat, dapat dipastikan kehidupan Pho Ang-soat di masa mendatang tak bakal tenang.

Tak ada orang lain lebih memahami cara melacak serta cara balas dendam si Keliningan ketimbang A-jit, biar kau seorang kaisar pun dia punya cara untuk menyusup ke dalam istana dan menyeretmu keluar, lalu membantaimu di tengah hutan belantara.

Dengan pandangan mata yang lembut dan penuh keramahan kakek pemulung itu memandang A-jit, tentu saja dengan nada suara yang lembut pula dia berkata, "Tahukah kau, senjata apa yang akan kugunakan untuk membunuhmu?"

"Golok," jawab A-jit, "kau hanya bisa menggunakan golok."

"Karena Pho Ang-soat menggunakan golok", kata-kata ini memang tak perlu diucapkan karena mereka berdua sama-sama paham, sama-sama mengerti.

"Tahukah kau golok macam apa yang akan kugunakan  untuk membunuhmu?" lagi- lagi kakek pemulung bertanya. "Golok macam apa?" "Sebilah golok panjang," sambil tertawa kakek itu menjelaskan, "bobot senjata itu pun tak boleh melebihi tujuh belas kati."

Walaupun A-jit belum pernah menyaksikan golok milik Pho Ang-soat, namun dia pernah "menangkis" golok itu, karena itu dia pun tahu ukuran golok yang disebut kakek pemulung pastilah ukuran serta bobot golok milik Pho Ang- soat, hanya satu hal yang membuatnya tidak menyangka, kakek pemulung benar-benar melolos golok itu.

Golok dengan gagang berwarna hitam, golok dengan mata senjata berwarna hitam, bahkan seluruh golok itu berwarna hitam pekat.

Begitu hitam warnanya seolah warna jagad setelah turun hujan di musim dingin, selain gelap terselip pula semacam cahaya yang aneh, misteri dan sulit dilukiskan dengan perkataan.

Namun bentuk golok itu sangat biasa, sangat bersahaja.

Benarkah golok semacam ini justru merupakan golok iblis yang mampu menggidikkan hati orang? Mengawasi golok dalam genggaman kakek pemulung itu, selain perasaan ngeri dan seram, terlintas juga perasaan hormat di wajah A-jit.

Ngeri dan takut, karena ia sadar nyawanya bakal berakhir pada hari ini.

Mana mungkin ada manusia di dunia ini yang benar-benar tak takut mati? Tentu saja rasa hormatnya dikarenakan golok yang berada dalam genggaman kakek pemulung itu, sebab bentuk maupun warna senjata itu tak beda jauh dengan senjata milik Pho Ang-soat.

Bukan golok itu yang dia hormati, tapi dia sangat kagum dan menghormati Pho Ang-soat.

Menyongsong sinar sang surya, tiba-tiba dari balik mata golok berwarna hitam yang aneh dan penuh misteri itu melintas secercah cahaya tajam.

Begitu golok diayun, desingan angin tajam segera membelah bumi.

Belum habis desingan angin golok bergema, batok kepala A-jit telah berpisah untuk selamanya dari tengkuknya.

Dengan lembut dan halus Kakek itu mengeluarkan selembar kain putih dari dalam keranjang bambu di punggungnya, dengan lembut menggosok kering noda darah pada mata golok, begitu lembut seakan seorang kakek yang sedang membersihkan mulut cucu kesayangannya.

Batok kepala A-jit menggelinding di atas tanah berpasir yang panas, sepasang matanya terbuka, juga tidak menunjukkan kesakitan maupun penderitaan, malahan pandangan mata itu masih terselip senyuman, senyuman terhadap kakek pemulung itu.

Karena sedetik menjelang ajalnya dia berhasil mengetahui satu hal, dia tidak melihat golok Pho Ang-soat, hanya mendengar suara golok, tapi dia melihat kakek pemulung itu memungut goloknya, namun sama sekali tidak mendengar suara golok.

Yang satu hanya mendengar suara golok, yang lain hanya melihat golok, adakah perbedaan di balik itu?

Di saat batok kepala A-jit menggelinding di tanah, keliningan di emper rumah si Keliningan, jauh di luar kota Lhasa, tiba-tiba berdenting tiada henti.

Bangunan itu terbuat dari batu kristal, dinding bangunan terdiri dari susunan batu kristal, bahkan atap rumah pun terbuat dari kristal yang tembus pandang, di tengah kegelapan malam yang tak berawan dan tak berangin, dapat terlihat rembulan yang indah dan kedipan cahaya bintang dari balik rumah.

Hampir semua benda yang ada dalam bangunan ini terbuat dari kristal, termasuk meja dan bangku.

Karena pemilik rumah ini sangat menyukai batu kristal.

Setiap orang menyukai batu kristal, tapi teramat jarang ada orang yang tahan hidup dalam rumah seperti ini. Biar indah menarik namun kristal kelewat dingin, keras dan tak berperasaan, khususnya bangku yang terbuat dari batu kristal.

Kebanyakan orang lebih suka duduk di atas bangku beralas kain sutera sambil menikmati arak anggur dari Persia dalam sebuah gelas kristal.

Pemilik rumah ini sangat menyukai barang kristal, jumlah benda kristal yang dimilikinya mungkin tak terkalahkan di kolong langit.

Dia adalah kakek berambut putih, orang yang mengenalnya lebih suka menyebut dia sebagai Ong-losiansing.

Biarpun setiap orang tahu Ong-losiansing adalah seorang tua, namun tak seorang pun yang tahu seberapa tua sebenarnya?

Biarpun rambutnya telah beruban bagai perak berwarna putih, namun masih lebat bagai rambut pemuda, meski wajahnya dipenuhi keriput namun masih terpancar kepolosan dan keluguan seorang anak-anak.

Sorot matanya meski dipenuhi cahaya kecerdasan, namun masih terselip kehangatan seorang pemuda.

Dari raut mukanya dia tulen seorang kakek yang ramah dan lembut, sikapnya pun ramah dan penuh kasih sayang, hanya 'anak buah rahasianya' yang tahu seberapa ramah dan kasih sayangnya lelaki tua ini. Bangku yang terbuat dari batu kristal meski dingin dan keras, Ong-losiansing justru duduk dengan begitu nyaman dan santai. Seorang diri duduk dalam rumah itu, berhadapan dengan barang- barang yang terbuat dari kristal, mengamati cahaya pantulan yang gemerlapan, saat seperti itu merupakan saat paling menyenangkan bagi dirinya.

Dia senang berada dalam rumah itu seorang diri, karena dia tak ingin orang lain ikut menikmati kegembiraannya, seperti dia pun tak ingin orang lain ikut menikmati keindahan barang-barang kristalnya.

Oleh karena itulah jarang sekali ada orang berani memasuki rumahnya, termasuk orang terdekatnya sekalipun.

Tapi hari ini terjadi pengecualian.

Kadar kemurnian batu kristal sudah jelas lebih murni ketimbang arak kental dalam cawan kristalnya, Ong-losiansing selain sangat memandang tinggi soal minuman, pakaian dan dandanannya pun sangat diperhatikan. Bahan bajunya selalu terbuat dari bahan berkualitas nomor satu, kukunya selalu digunting rapi, dia paling senang meletakkan sepasang kakinya yang telanjang dan bersih di atas sebuah meja pendek yang terbuat dari kristal, saat-saat seperti ini merupakan saatnya yang paling santai.

Dia hanya minum arak di tempat ini, karena hanya orang yang paling dipercaya baru mengetahui tempat itu, khususnya di saat ia sedang menikmati arak, semakin tiada yang berani datang mengusiknya.

Namun hari ini, di saat dia siap menikmati arak cawan ketiga, tiba-tiba terdengar orang mengetuk pintu, bahkan sebelum ia memberi izin, orang itu sudah membuka pintu sambil menerjang masuk ke dalam.

Ong-losiansing sangat tak suka, tapi perasaan itu sama sekali tidak diperlihatkan di wajahnya, senyuman ramah masih menghiasi ujung bibirnya.

Hal ini bukan dikarenakan orang yang menerjang masuk adalah bawahannya yang paling dipercaya, Hok-supek.

Hok-supek dari marga Thio dan aslinya bernama Thio Hok, orang yang kenal padanya sering memanggil Hok-supek atau Hok-congkoan karena tugasnya di rumah Ong-losiansing memang sebagai Congkoan atau pengurus rumah tangga.

Melihat Thio Hok yang setia kepadanya masuk ke dalam ruangan, Ong-losiansing meneguk dulu araknya kemudian baru menegur, "Bagaimana kalau duduk sebentar menemani aku minum secawan?"

"Tidak, terima kasih."

Dia memang berbeda dengan majikannya, apa yang dipikir dalam hati segera tercermin di wajah, dan kini mimik mukanya nampak begitu jelek, seperti baru saja rumahnya kebakaran.

"Aku tak ingin minum arak dan tak mau minum," sahut Thio Hok, "kedatanganku bukan lantaran ingin minum arak."

Sekali lagi Ong-losiansing tertawa, dia suka pada orang yang suka berterus terang, sekalipun dia sendiri bukan termasuk jenis manusia seperti itu, tapi dia amat mengagumi dan menyukai orang semacam ini, sebab dia beranggapan orang semacam ini paling mudah dikendalikan.

Oleh karena dia sendiri bukan manusia semacam ini maka baru dia menjadikan Thio Hok orang kepercayaannya. Kembali ujarnya, "Lalu apa tujuan kedatanganmu?"

"Karena satu masalah besar, orang yang bernama Yap Kay."

"Oya... ?" Ong-losiansing masih saja tertawa tergelak.

"Yap Kay telah tiba di kota Lhasa," kembali Thio Hok melanjutkan laporannya, "bila dugaanku tidak salah, dalam satu dua hari mendatang dia pasti akan berkunjung ke kebun monyet."

"Wah... wah, ternyata memang sebuah urusan besar," kata Ong-losiansing, lalu sambil menuding bangku di hadapannya ia melanjutkan, "duduklah dulu, mari kita bahas masalah ini perlahan- lahan." Kali ini Thio Hok tidak menuruti permintaannya, dia sama sekali tidak duduk.

"Setibanya di kota Lhasa, Yap Kay pasti mulai menaruh curiga terhadap kebun monyet," ujar Thio Hok lebih jauh, "orang ini suka mencampuri urusan orang, setiap ada masalah yang menarik perhatian, dia pasti akan melakukan penyelidikan hingga tuntas."

"Dia memang manusia semacam itu," sekali lagi Ong-losiansing meneguk secawan araknya, "menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Sekarang juga kita harus memanggil balik semua jago terbaik yang kita miliki dalam organisasi," sahut Thio Hok tanpa pikir panj ang.

"Oya?"

"Biarpun Yap Kay susah diladeni, namun organisasi kita pun memiliki tak sedikit jago tangguh, jika kita dapat mengundang datang semua jago yang kita miliki, kemudian menggempurnya, aku percaya kali ini Yap Kay pun pasti akan mampus."

Ketika bicara sampai di situ, tak tahan perasaan bangga terlintas di wajahnya, karena dia anggap idenya sangat bagus dan dia percaya ide itu akan mendatangkan hasil yang luar biasa.

Kebanyakan orang pun pasti akan mempunyai jalan pikiran yang sama dengannya, akan menerima usul itu, namun Ong-losiansing sama sekali tidak bereaksi. Pantulan cahaya kristal gemerlapan, arak dalam cawan pun berkilauan, mengawasi arak yang harum itu lama sekali Ong-losiansing membungkam, tiba-tiba ia mengucapkan satu perkataan aneh.

"Sudah berapa lama kau bekerja ikut padaku?" tanyanya.

"Dua puluh tahun," meski tidak mengerti kenapa secara tiba-tiba majikannya mengajukan pertanyaan itu, Thio Hok menjawab juga dengan sejujurnya, "Ya, tepat dua puluh tahun."

Tiba-tiba Ong-losiansing mendongakkan kepala, mengawasi wajah Thio Hok yang jelek namun polos dan jujur itu, setelah memandang cukup lama baru dia berkata lagi, "Tidak benar."

"Tidak benar?" Thio Hok melengak, "bagian mana yang tidak benar?"

"Bukan dua puluh tahun, seharusnya sembilan belas tahun sebelas bulan, harus menunggu sampai tanggal dua puluh satu bulan depan baru genap dua puluh tahun."

Thio Hok menarik napas panjang, timbul perasaan kagum di wajahnya, dia tahu daya ingat Ong-losiansing memang sangat bagus, tapi dia tak mengira kehebatannya sedemikian mengejutkan.

Ong-losiansing menggoyang pelan arak dalam cawan, cahaya yang terpantul keluar semakin menyilaukan mata. "Bagaimana pun juga waktumu bekerja denganku sudah terhitung sangat lama," ujar Ong-losiansing lagi, "tentunya kau pun sudah dapat melihat manusia macam apakah diriku ini."

"Benar."

"Tahukah kau dimana kelebihan yang kumiliki?" Sementara Thio Hok masih berpikir, Ong- losiansing telah berkata lebih lanjut, "Kelebihanku yang utama adalah adil dan jujur."

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lagi, "Aku harus bersikap dan bertindak secara adil dan jujur, paling tidak ada tujuh-delapan ratus orang yang bekerja padaku, bila aku tak adil dan jujur, bagaimana mungkin orang akan takluk dan menurut kepadaku?"

Mau tak mau Thio Hok harus mengakui hal ini, Ong-losiansing memang orang yang adil dan jujur dalam menghadapi setiap masalah, bahkan dia amat jelas membedakan mana yang harus dihukum dan mana yang harus menerima pahala.

Kembali Ong-losiansing bertanya, "Masih ingat apa yang pernah kukatakan sewaktu kau masuk ke dalam ruangan tadi?"

Tentu saja Thio Hok masih ingat, "Masih, kau bilang siapa pun dilarang memasuki pintu ruangan ini, terlepas siapa pun dirimu."

"Apakah kau terhitung manusia?" "Ya, aku manusia."

"Sekarang, apakah kau telah masuk kemari?" "Tapi aku berbeda," sahut Thio Hok mulai panik, "aku masuk kemari karena ada urusan penting."

"Aku hanya bertanya kepadamu, apakah sekarang kau sudah masuk kemari?" Ong- losiansing tetap bertanya dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang.

"Benar," biarpun dalam hati kecilnya Thio Hok tidak puas, namun dia tak berani menyangkal.

"Apakah tadi aku menyuruh kau duduk dan menemani aku minum arak?" kembali Ong- losiansing bertanya.

"Ya, sudah."

"Apakah kau sudah duduk?" "Belum."

"Kau telah menemani aku minum arak?" "Tidak."

"Kau masih ingat, aku selalu berkata bahwa apa yang kuucapkan adalah perintah?"

"Ya, aku masih ingat."

"Tentunya kau masih ingat bukan apa yang bakal dialami mereka yang berusaha melawan perintahku?"

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu,

Ong-losiansing sudah tidak memandang lagi wajah jelek yang polos dan jujur itu, seolah dalam ruangan itu sudah tak ada lagi manusia yang bernama Thio Hok. Paras muka Thio Hok saat ini telah berubah pucat-pias seperti selembar kertas putih, kepalannya digenggam kencang hingga otot hijau merongkol, seolah ingin sekali mengayunkan tinjunya menghajar batang hidung Ong- losiansing.

Tentu saja ia tidak melakukan perbuatan itu, dia tak berani.

Dia tak berani bukan lantaran dia takut mati, dia tak berani karena sejak empat tahun berselang dia telah berbini dan sekarang bininya telah melahirkan seorang putra untuknya.

Seorang putra yang putih, gemuk dan menyenangkan, bahkan pagi kemarin baru saja belajar memanggil "ayah" kepadanya.

Thio Hok yang di saat usia senja baru memperoleh keturunan, kini berdiri dengan keringat dingin sebesar kedelai membasahi jidatnya, dengan menggunakan sepasang tangannya yang berotot dia cabut sebilah pisau belati dari sakunya, mata pisau itu tipis tajam, kemudian menghujamkan langsung ke jantungnya.

Bila peristiwa ini terjadi pada empat tahun berselang, dia pasti akan menggunakan pisau tajam itu untuk menusuk hulu hati Ong- losiansing, terlepas akan berhasil atau tidak, paling tidak pasti akan dicobanya.

Tapi sekarang dia tak berani melakukan hal itu, bahkan berpikir ke sana pun tak berani. Putranya yang menarik, senyumannya yang menawan, terutama sewaktu memanggil "ayah", suaranya begitu merdu, lucu dan menarik hati.

Tiba-tiba Thio Hok menghujamkan pisau belatinya, menusuk jantung sendiri, sewaktu badannya roboh ke tanah, dalam pandangan matanya seolah-olah muncul sebuah lukisan yang sangat indah.

Dia seolah melihat putranya telah tumbuh dewasa, menjadi seorang pemuda yang sehat dan kekar.

Dia pun seolah-olah menyaksikan istrinya yang meski tidak terlalu cantik namun lembut dan penuh kasih sayang sedang memilih calon pengantin bagi putranya.

Biarpun dia tahu gambaran yang disaksikan sekarang hanya ilusi menjelang ajal, namun dia amat yakin dan percaya bahwa di kemudian hari semua ini pasti akan terwujud.

Karena dia percaya Ong-losiansing yang jujur dan adil pasti akan merawat anak bininya dengan sebaik-baiknya, dia pun percaya bahwa kematiannya pasti akan mendapat imbalan yang setimpal.

Ong-losiansing masih menikmati arak anggur dari cawan kristalnya dengan santai, jangankan menolong, melirik sekejap ke arah anak buahnya yang setia itu pun tidak, menanti cucuran darah Thio Hok mulai membeku, baru dia berteriak perlahan, "Go Thian!" Lewat beberapa saat kemudian terdengar seorang menyahut, "Go Thian siap."

Biarpun jawabannya tidak cepat, juga tidak terhitung lambat, meski pintu ruangan berada dalam keadaan terbuka, tapi dia sama sekali tidak melangkah masuk.

Sebab dia memang bukan Thio Hok.

Dibanding Thio Hok, dia sangat berbeda, setiap perkataan yang pernah diucapkan Ong-losiansing, tak ada satu pun yang pernah dia lupakan, tak sepatah kata pun yang dia lupakan.

Sebelum Ong-losiansing memerintahkan dia untuk masuk, tak nanti dia memasuki ruangan itu.

Setiap orang beranggapan bahwa ilmu silatnya tak mampu menandingi Thio Hok, dia pun tak nampak lebih cerdas dari Thio Hok, bahkan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan apa pun dia tidak lebih setia dan hangat ketimbang rekannya, tapi dia percaya dan yakin, kehidupan dirinya akan jauh lebih panjang dari kehidupan temannya itu.

Tahun ini Go Thian berusia empat puluh enam tahun, bertubuh kurus kecil dan wajahnya sangat biasa, jangankan ternama, punya nama dalam dunia persilatan pun tidak, sebab dia memang tak ingin mencari nama kosong, selama ini dia selalu beranggapan nama besar hanya akan mendatangkan kerepotan dan kemurungan. Dalam hal ini pandangannya memang sangat tepat.

Dia tidak minum arak, tidak main judi, pola hidupnya sangat sederhana, pakaian yang dikenakan pun sederhana, tapi tabungannya di rumah uang Su toa che cung sudah mencapai angka lima puluh laksa tahil perak.

Hingga kini dia masih membujang, karena dia selalu beranggapan tiap hari orang tentu makan telur ayam, karena itu dia pun memelihara ayam sendiri di rumahnya.

Tidak jelas apakah dalam hal ini pandangannya bisa dibilang tepat?

Dengan tenang dia berdiri menanti di luar pintu, hingga Ong-losiansing memberi perintah barulah Go Thian memasuki rumah kristal itu, dia berjalan tidak terlalu cepat tapi tak bisa dikatakan terlalu lambat.

Menyaksikan cara Go Thian memasuki ruangan, pandangan puas terlintas di balik mata Ong- losiansing, mimik mukanya pun nampak jauh lebih lembut dan penuh kasih sayang.

Siapa pun itu orangnya, dia pasti akan merasa sangat puas bila memiliki anak buah semacam ini.

Tentu saja Go Thian pun melihat jenazah Thio Hok yang tergeletak di tanah, namun dia tidak menyinggung, berlagak seolah-olah tidak melihat. Ong-losiansing sendiri pun tak mungkin mengungkit masalah itu, dia hanya bertanya, "Tahukah kau Yap Kay telah tiba di Lhasa?"

"Aku tahu."

"Tahukah kau apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Tidak."

Apa yang seharusnya dia ketahui, tentu Go Thian tak mungkin tidak tahu, tapi apa yang tidak seharusnya dia ketahui, tak nanti dia mau tahu.

Berada di hadapan tokoh macam Ong- losiansing, bukan saja ia tak boleh menampilkan sikap kelewat bodoh, juga tak boleh menunjukkan sikap yang terlalu pintar.

Orang pintar akhirnya bakal termakan oleh kepintaran sendiri, teori itu dari dulu hingga sekarang tak pernah berubah.

"Sekarang perlukah kita mengumpulkan semua anggota untuk berkumpul di sini?" tanya Ong- losiansing lagi.

"Tidak!"

"Kenapa?"

"Sebab Yap Kay masih belum mengetahui rahasia kebun monyet," sahut Go Thian pasti, "siapa tahu kedatangannya ke Lhasa hanya bermaksud jalan-jalan, mungkin saja timbul rasa ingin tahunya terhadap kebun monyet, tapi itu pun hanya sebatas rasa ingin tahu. Bila kita sampai melakukan perbuatan seperti ini, hal itu seolah memberitahu kepadanya bahwa dalam kebun monyet benar-benar terdapat rahasia besar."