Tusuk Kundai Pusaka Jilid 18 (Tamat)

Mode Malam
 
Jilid 18 Tamat

Tetapi Se-kiat sendiri juga gentar. Memang Thiat-mo-lek selalu mundur, tetapi tetap memiliki kekuatan untuk balas menyerang. Serangan gencar dari Se-kiat seperti membentur tembok yang tak kelihatan dan tak mungkin diterobos. Rencana Se-kiat sebenarnya hanya akan bertahan saja. Ini untuk mengulur waktu hingga pamannya datang. Tetapi ia rubah rencananya itu setelah melihat Thiat-mo-lek memberi pengobatan lwekang pada Tian Goan-siu tadi. Ia berganti dengan siasat menyerang secara kilat.

Memang setelah bertempur tiga jurus, Se-kiat dapatkan tenaga lawan berkurang sekali. Tetapi masih memiliki tenaga pertahanan yang kuat. Dengan begitu siasatnya menyerang kilat, sukar terlaksana. Tapi Se-kiat sudah terlanjur bergerak menyerang, dia sendiri tak tahu bagaimana nanti jadinya. Kalau pertempuran berjalan lama, dikuatirkan tenaga Thiat-mo-lek akan pulih. Ini berarti kekalahan baginya (Se-kiat). Maka ia tak mempunyai pilihan lagi kecuali melanjutkan siasatnya menyerang secara kilat.

Se-kiat mainkan pedangnya dengan gencar. Thiat-mo-lek selalu main mundur saja. Setiap kali mundur, ia dapat mengurangi kekuatan menyerang dari lawan. Tapi karena Se-kiat masih muda, tenaganyapun tak lekas habis. Oleh karena itu semua hadirin, kecuali ayah mertua Thiat-mo-lek, sama merasa cemas. Mereka tak tahu bahwa sebenarnya pemunduran Thiat-mo-lek mempunyai arti.

Makin lama Se-kiat makin ganas. Jurus-jurus serangannya makin menghebat. Dan Thiat-mo-

lek hanya mainkan goloknya dalam ilmu golok warisan keluarganya. Se-kiat tampak sebagai pihak penyerang tetapi anehnya serangannya yang bagaimana aneh tetap kena ditangkis golok Thiat-mo- lek.

Hadirin yang berada di lapangan situ, kecuali Han Soan (ayah mertua Thiat-mo-lek), yang berilmu tinggi hanya Tian Goan-siu.

Setelah tersadar, ia tak mau pulang mengobati lukanya tetapi tetap berada di situ untuk menyaksikan pertandingan. Ia menghela nafas: ”Aku telah belajar tujuh belas macam ilmu pedang, tapi baru sekarang kuketahui kalau kesemuanya itu hanya ilmu picisan. Luar biasa sekali ilmu pedang Se-kiat itu, namun tak mampu menandingi ketenangan Thiat-mo-lek. Untuk mencapai keistimewaan, asal orang mempunyai otak cerdas tentu dapat. Tapi untuk mencapai ketenangan, orang harus berlatih dengan tekun. Ketenangan dan kemahiran jauh lebih unggul dari kedahsyatan.”

Pada saat Tian Goan-siu membuat penilaian begitu, Thiat-mo-lek sudah mundur lagi sampai 7-8 langkah.  Tampaknya ia terkurung sinar pedang Se-kiat. Keadaannya makin buruk. Malah Ong Yan-ik sudah menyatakan kekuatirannya kepada suaminya: ”Goan-siu, dikuatirkan Thiat toako akan kehabisan tenaga dan tak mampu mempertahankan kemenangannya.”

Memang Goan-siu mengetahui bahwa ketenangan Thiat-mo-lek itu pasti dapat mengatasi lawan. Tapi ia tak mengerti tentang keindahan-keindahan yang tersembunyi dalam permainan Thiat-mo-lek itu. Apa yang dikatakan isterinya, sesuai dengan perasaannya. ”Celaka, kalau Thiat-mo-lek sampai kalah, akulah yang menjadi gara-garanya,” ia mengeluh dalam hati namun tak diutarakan pada isterinya. Ia tetap memperhatikan jalannya pertempuran dengan penuh perhatian.

Han Ci-hun, isteri Thiat-mo-lek, pun berada di situ. Mendengar pembicaraan Tian Goan-siu

suami isteri itu, iapun merasa cemas. Waktu ia hendak menanyakan pendapat ayahnya, tampak saat itu Han Soan menyungging senyuman.

”Eh, Mo-lek mundur terus-terusan, mengapa ayah malah gembira?” ia heran.

Baru saja ia berpikir begitu, di sana Se-kiat kiblatkan pedangnya dengan istimewa. Menyabat

ke kiri dengan jurus Ban-li-hui-soang, memapas ke kanan dengan jurus Cian-sam-lok-yap. Bret, lengan baju Thiat-mo-lek kena terpapas rompal.

”Ayah....” belum Han Ci-hun melanjutkan kata-katanya, ayahnya (Han Soan) sudah menukas tertawa: ”Serangan Se-kiat sudah tamat. Lihatlah, sekarang Thiat-mo-lek berganti giliran yang menyerang!”

Han Ci-hun menengok kemuka. Ah, kiranya benar. Thiat-mo-lek kini merubah pertempuran dari bertahan menjadi penyerang. Meskipun belum dapat memaksa lawan mundur, tapi kini

posisinya sudah kokoh. Kiranya setelah bertempur puluhan jurus itu, tenaga Thiat-mo-lek sudah hampir pulih dan melebihi tenaga lawan.

”Se-kiat, mengaku kalah sajalah,” seru Thiat-mo-lek dengan nada berat.

Sebenarnya sukar bagi seorang ko-chiu untuk mengalah. Seperti tempo dalam pertandingan rapat pemilihan bengcu yang pertama dulu, karena mengalah itu Thiat-mo-lek hampir saja terluka sendiri. Itu saja ilmu pedang Se-kiat tak begitu ganas seperti sekarang. Tidak demikian dengan keadaan sekarang. Kalau Thiat-mo-lek mengalah, Se-kiat tentu tak mau memberi ampun. Oleh karena itu Thiat-mo-lek mencari jalan, mengalahkan Se-kiat tanpa melukainya. Itulah sebabnya ia menyerukan orang supaya menyerah saja.

Dalam keadaan ditentang massa dan dibaliki muka oleh kawan, Se-kiat sudah kehilangan kesadaran pikirannya. Persetan dengan anjuran Thiat-mo-lek. Ia mendengus, menggunai kesempatan selagi Thiat-mo-lek bicara, ia lancarkan tiga buah serangan berturut-turut. 

”Hari sudah begini tinggi, mengapa paman belum kelihatan? Sekalipun dalam babak kedua ini

aku kalah, tapi nanti dalam babak terakhir paman tentu menang. Dengan begitu kedudukan bengcu tetap dapat kupertahankan,” pikirnya. Adalah karena masih mengandung cita-cita itu maka serangan yang dilancarkan Se-kiat itu selalu ganas. Serangan berantai tiga kali itu, luar biasa hebatnya. Yang diarah selalu jalan darah-jalan darah maut.

Thiat-mo-lek menghela napas, ujarnya: ”Untung celaka, diri sendiri yang membuat. Baik, karena kau berkeras hendak menentang kehendak para saudara-saudara loklim dan tetap mau mengangkangi kedudukan bengcu, terpaksa aku bertindak.”

Dalam sehelaan napas, Se-kiat sudah melancarkan 49 jurus. Namun Thiat-mo-lek tegak kokoh laksana gunung. Ia tetap tenang untuk menangkis setiap serangan. Waktu mengakhiri jurusnya, ketika Se-kiat mau berganti jurus lagi, tiba-tiba Thiat-mo-lek bersuit nyaring. Pedang diputar sebagai main golok. Dia keluarkan ilmu pedang ciptaannya sendiri. Dahulu di lapangan kotaraja, ia gunakan ilmu pedang itu untuk membunuh Yo Bok-lo.

”Jika bukan kau akulah yang mati!” bentak Se-kiat dengan nada dalam. Tapi diam-diam, ia mengeluh mengapa pamannya tak muncul juga. Iapun lantas keluarkan ilmu bertempur secara gerilya, yakni ilmu permainan yang sudah disiapkan untuk menghadapi Thiat-mo-lek. Dengan permainan itu ia mengharap dapat mengulur waktu. Tapipun ia mempunyai harapan juga supaya menang.

Tetapi ternyata ilmu pedang ciptaan Thiat-mo-lek itu, luar biasa kerasnya. Betapa aneh jurus- jurus permainan Se-kiat, namun sia-sia saja. Tidak setitik lubang yang bagaimana kecilnyapun terdapat dalam permainan Thiat-mo-lek.

Selagi pertempuran berlangsung seru, sekonyong-konyong anak buah Se-kiat berteriak gempar:

”Tocu datang!”

Thiat-mo-lek yang selalu pasang mata dan telinga, pun mengetahui juga kedatangan Bo Jong- long bersama-sama Gong-gong-ji, Shin Ci-koh dan Mo Kia Lojin. Dia terkesiap kaget-kaget girang. Memang yang paling menjadikan perhatiannya ialah tentang Bo Jong-long yang khilaf pikiran itu. Jika tokoh itu berkeras kepala, tentu akan terjadi pertempuran darah besar-besaran. Dan Gong-gong-ji serta Shin Ci-koh yang berangasan itupun menjadi pemikirannya juga. Bahwa sekarang Bo Jong-long datang bersama-sama Gong-gong-ji dan kawan-kawan, sungguh tak terduga-duga oleh Thiat-mo-lek.

”Menilik gelagatnya, mereka sudah menghapus permusuhan,” pikirnya. Dugaan Thiat-mo-lek

itu sebagian memang tepat. Benar mereka kini sudah bersahabat setelah mengalami pertempuran mati-matian.

Ko-chiu kalau sedang bertempur, tak boleh bercabang pikiran. Girang dengan kedatangan Bo Jong-long beramai-ramai yang tentu dapat mendamaikan urusan itu, penjagaan Thiat-mo-lek

terhadap serangan Se-kiatpun agak kendor. Sebaliknya Se-kiat menggunakan kesempatan itu untuk menyerang dengan tiba-tiba. Pedangnya menusuk dada.

Serangan itu merupakan serangan nekad dimana kedua pihak tentu sama-sama terluka. Thiat- mo-lek miringkan tubuh menghindar tapi tak urung pundaknya termakan pedang.

Masih gerakan Se-kiat itu belum selesai. Ujung pedang diputar mengarah tenggorokan orang. Dalam saat-saat jiwanya terancam itu, Thiat-mo-lek terpaksa mengeluarkan jurus istimewa untuk menyelamatkan jiwanya.  Sekali ayunkan pedangnya, ia menabas pedang Se-kiat. ”Thiat tayhiap, harap memberi kemurahan!” terdengar Bo Jong-long berteriak tertahan.

Trang, pedang Se-kiat kutung menjadi dua terbabat pedang Thiat-mo-lek. Masih gerakan Thiat- mo-lek itu meluncur terus.

Seketika Se-kiat rasakan kulit kepalanya dingin dan diam-diam menjeritlah ia: ”Habis jiwaku sekarang!”

Tapi begitu angin dingin menyambar mukanya, ia tak merasa apa lagi. Ketika memandang kemuka ternyata Thiat-mo-lek sudah berada beberapa langkah di sebelah sana, sedang menyarungkan pedangnya.

Thiat-mo-lek sekali-kali bukan karena mendengar seruan Bo Jong-long tadi, tetapi memang ia tak bermaksud untuk mengambil jiwa Se-kiat. Maka dengan tepat sekali ia mengakhiri

serangannya tanpa menyentuh selembar rambut orang. Karena kalau mendengar seruan Bo Jong- long itu baru menarik pedang, tentu sudah kasip.

Baik Se-kiat maupun Thiat-mo-lek sama-sama memakai pedang biasa. Tetapi setelah terluka Thiat-mo-lek masih dapat mengutungkan pedang Se-kiat, menunjukkan betapa lihay tenaganya. Entah berapa kali lebih unggul dari lawan. Pertandingan itu terang dimenangkan Thiat-mo-lek. Kekalahan yand diderita Se-kiat betul-betul meludaskan mukanya. Tapi diam-diam ia masih bergirang karena pamannya datang. Saat itu tampak Bo Jong-long menghampiri. Se-kiat hendak bicara tapi didahului pamannya: ”Anak jahanam, sampai saat ini apa kau masih tak mau mengaku kalah?”

Karena lukanya belum sembuh sama sekali, nada suara Bo Jong-long tak begitu nyaring. Tapi dalam pendengaran Se-kiat, hal itu seperti halilintar menyambar. Satu-satunya tiang yang diandalkan ternyata suruh dia mengaku kalah!

”Paman, apa katamu?” masih ia tak percaya akan pendengarannya.

Wajah Bo Jong-long membeku, mulutnya mendengus: ”Kusuruh kau minta maaf kepada sekalian orang gagah di sini dan terus ikut aku pulang. Sejak saat ini, kau tak boleh datang ke Tiong-goan lagi!”

Kejut Se-kiat bukan alang-kepalang, serunya: ”Paman, kepandaianmu tiada yang melawan, mengapa gampang-gampang menyerah kalah?”

”Semua gerak-gerikmu telah kuketahui semua. Jangan harap dapat mengelabuhi aku lagi, jangan pula coba memprovokasi aku. Di dunia ini yang mempunyai moral baiklah yang dipuja. Sekali-kali jangan banggakan kepandaian tinggi hendak menundukkan orang. Tentang ilmu kepandaian, sucou kita Cek-si-keh entah berapa puluh kali lebih tinggi dari kita, tetapi toh ia tak menentang Li Si-bin yang sudah diterima rakyat.  Itulah baru perbuatan yang mulia dan perwira. Memang aku bersalah mengutus kau ke Tiong-goan. Ini karena aku kelewat memandang rendah pada golongan kaum gagah di negeri ini. Li Tong memang berhak menjadi raja, tapi tidak orang

seperti kau. Berbicara tentang ilmu kepandaian, kemuliaan hati, coba kau tanya pada dirimu sendiri apakah kau mampu menandingi Thiat tayhiap? Turutlah perintahku, lekas minta maaf pada sekalian orang gagah di sini!”

Sewaktu mengucapkan kata-katanya itu, beberapa kali Bo Jong-long harus berbatuk. Tahulah

Se-kiat kalau pamannya itu terluka dalam yang parah. Sekarang ludaslah semua harapan Se-kiat. Batinnya mengeluh: ”Sedang paman sendiri juga memaksa aku harus minta maaf, ah, Tuhan yang maha murah. Kiranya hanya Tiau-ing seorang yang tahu tentang isi hatiku.”

Tiba-tiba terdengar lari kuda mendatangi.  Yang datang ialah dayang pelayan Tiau-ing.  Buru- buru Se-kiat menanyakan keterangan tentang Tiau-ing. Dengan terbata-bata budak itu menjawab: ”Nyonya telah merampas kudaku. Kukira ia sudah datang kemari, yang kunaiki ini kuda orang lain

....”

”Lekas cari, lekas cari sana ....” Baru Se-kiat gugup menyuruh bujang itu, kembali seorang dayang Tiau-ing muncul. Dayang itu terus berseru: ”Tak usah mencari, aku sudah tahu dimana nyonya.”

Se-kiat buru-buru mendesak bujang itu supaya menerangkan tapi bujang itu mengatakan tak leluasa mengatakan di situ. Ia minta Se-kiat masuk ke dalam kemah.

”Bilang sekarang, dengar tidak?!” bentak Se-kiat dengan murka. Saat itu pikiran Se-kiat sudah kalut. Dia seperti orang kalap. ”Keadaanku toh sudah begini, aku tak peduli segala berita buruk,” pikirnya.

Karena ketakutan, bujang itu terpaksa bilang. ”Aku tadi bertemu dengan nyonya. Ia, ia naik kuda bersama Toan Khik-sia, melarikan diri!”

”Apa? Ia melarikan diri dengan Khik-sia?” Se-kiat menjerit. Ia yang sudah siap menerima

kabar buruk toh terkejut sekali mendengar keterangan itu. Lebih kaget kalau andaikata menerima kabar Tiau-ing meninggal. Silih berganti ia mendapat kegoncangan hati. Dan rupanya berita tentang larinya Tiau-ing itu merupakan pukulan yang maha berat. Seketika ia seperti kehilangan semangat.

Juga sekalian orang terkejut dengar berita itu.  Lebih-lebih Yak-bwe. Hanya kalau Se-kiat menerimanya dengan rasa putus asa, Yak-bwe dengan perasaan cemas. Ia menjerit dan tubuhnya terhuyung-huyung. Untung In-nio dan Bik-hu cepat memapahnya.

”Khik-sia, mengapa dia, dia ”

”Jangan mencurigai Khik-sia, tentulah ia, tentu ” kata In-nio.

”Kutahu, tentu perbuatan siluman perempuan itu. Ah, entah dia diberi obat penyesat pikiran apa?” kata Yak-bwe. Ia tidak percaya bahwa Khik-sia dapat dikalahkan Tiau-ing, kecuali dengan diberi minum obat pemunah tenaga.

Karena hadirin gempar dengan berita itu sampai-sampai diri Se-kiat tak mendapat perhatian. ”Se-kiat, bagus sekali isteri yang kau ambil itu! Hm, seorang isteri demikian tak usah kau pedulikan lagi! Selesaikanlah urusanmu di sini, baru kita nanti membuat pembersihan,” kata Bo Jong-long berkata dengan hati pedih.

Benak Se-kiat kosong melompong. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Kegemparan hadirin dan kata-kata pamannya tadi, tak didengarnya lagi.

”Bo Se-kiat, urusan busuk perempuanmu itu, uruslah sendiri. Itu tak ada sangkut pautnya

dengan kami. Sekarang semua saudara menanti sepatah perkataanmu. Apakah kau masih punya muka menjadi bengcu lagi? Kau mau menghaturkan maaf atau tidak?” tiba-tiba Shin Thian-hiong berseru.

Perlahan-lahan Se-kiat berjalan ke tengah lapangan. Dalam hatinya ia tertawa pahit: ”Seutas benang mengikat dua ekor semut. Melihat akhirnya aku bangkrut, ia lantas minggat dengan lain lelaki.”

Langkah Se-kiat itu diikuti mata segenap hadirin. Mereka kira Se-kiat tentu akan mengakui kesalahan.   Tiba-tiba Se-kiat berhenti. Di sebelah tempat ia berhenti tampak In-nio berdiri di samping Bik-hu. Kedua anak muda itu tengah berbisik-bisik dengan mesranya. Hati Se-kiat seperti diiris sembilu.

”Jika tempo hari aku tak salah langkah, bukantah aku dengan In-nio merupakan pasangan yang ideal dalam dunia persilatan? Hm, aku yang memperalat Tiau-ing atau Tiau-ing yang memperalat diriku? Saat ini mungkin sudah tak ada tempat bagiku di dalam hati In-nio. Hatinya sudah terisi Bik-hu,” keluhnya dalam batin. Ia coba memandang lekat tapi In-nio dan Bik-hu makin merapatkan diri.

Sekonyong-konyong berserulah ia dengan keras: ”Set yang kujalankan ternyata salah. Satu set salah, semua-semuanya hancur. Apalagi yang kuharap!” - Ia cabut pedang dan ditusukkan sekuat- kuatnya ke dadanya sendiri ....

Kejadian itu sungguh tak tersangka-sangka. Bo Jong-long terbeliak kaget, tapi tak keburu mencegah.   Paling-paling ia hanya  menghampiri, menutuk darah Se-kiat supaya berhenti. Tapi untuk menyelamatkan jiwa keponakannya itu terang tak mungkin. Pedang telah masuk separuh ke dalam dadanya. Memang kalau menimbang kesalahannya, Se-kiat pantas menerima hukuman itu. Tapi biar bagaimana, ikatan batin antara paman dengan keponakan itu masih ada. Bo Jong-long sedih sekali. ”Sejak kecil anak ini sudah ditinggal ayah bundanya, untung ia berotak cerdas dan berbakat bagus. Ah, tak nyana ia harus mengakhiri hidupnya secara begini rupa. Kesemuanya itu karena aku tak mampu mendidiknya dengan sempurna,” batinnya berkata sendiri.

Dengan menelan air matanya, Bo Jong-long membisiki ke dekat telinga Se-kiat: ”Apa pesanmu?”

Adalah karena ditutuk oleh pamannya itu, Se-kiat masih dapat bertahan hidup untuk beberapa saat. Ia gunakan saat-saat terakhir itu untuk meninggalkan pesan: ”Begitu anak itu lahir, ambillah anaknya, buang ibunya ... paman, kau ... aduh, aku merasa sakit sekali, tolonglah paman mem ”

”Baik, nak. Aku tahu maksudmu. Berangkatlah dengan tenang,” sekali menutuk jalan darah kematiannya, Bo Jong-long mencabut pedang di dadanya dan seketika itu melayanglah arwah Se- kiat.....

Bo Jong-long menyeka air matanya, kemudian perintahkan anak buahnya supaya jenasah Se- kiat diperabukan. Abunya supaya dibawa pulang ke Hu-song-to.

Pun mengingat persahabatannya di masa lampau, Thiat-mo-lek turut berduka dengan kejadian itu. Tapi tak tahu ia bagaimana hendak menghibur kedukaan Bo Jong-long.

Saat itu muncul dua pengawal baju kuning ke tengah lapangan. Mereka ialah pengawal yang ditugaskan Bo Jong-long untuk membawa Khik-sia dan Ping-gwan. Mereka terkesiap kaget demi melihat kawan-kawannya tengah menggotong jenasah Se-kiat.

”Mengapa kalian tak mengindahkan perintahku? Mana Khik-sia?” tegur Bo Jong-long dengan nada berat.

”Nyonya muda mengatakan kalau ia disuruh tocu membawa kedua tawanan itu. Kami tak tahu kalau nyonya membohong,” kata kedua pengawal itu.

”Kuberi waktu kalian dalam tiga tahun harus menemukan nyonya muda.   Jika ia sudah melahirkan anak, bawalah anak itu saja, tak usah pedulikan nyonya muda lagi. Biar suhunya yang memberi hukuman padanya.”

Kedua pengawal itu heran. Tapi mereka tak berani membantah. Bo Jong-long bersuit rawan. Kepada ke-42 kepala pulau ia berseru tandas: ”Kamu sekalian harus ikut aku pulang dan sejak ini tak boleh datang ke Tiong-goan lagi.”

Thiat-mo-lek dan Gong-gong-ji menghampiri untuk mengantar keberangkatan pemimpin Hu- song-to itu.  Kata Thiat-mo-lek: ”Bo-locianpwe, aku sungguh menyesal sekali ”

”Thiat-tayhiap, kau sudah melakukan segala apa yang kau dapat lakukan terhadap Se-kiat. Aku merasa beruntung mempunyai seorang sahabat seperti kau. Tapi sejak saat ini mungkin aku takkan menginjak tanah Tiong-goan lagi. Gong-gong-ji maafkan. Arak kegirangan kalian berdua, terpaksa aku tak dapat turut minum.”

Bo Jong-long berlalu, ke-42 kepala pulau itupun mengikuti. Hasil dari rapat besar kaum loklim hari itu sungguh tak dinyana-nyana. Sudah dapat dipastikan bahwa Thiat-mo-lek bakal diangkat menjadi bengcu yang baru.

Anehnya sampai saat itu Khik-sia belum kelihatan muncul. Sudah tentu sekalian orang merasa gelisah.

”Hai, bukantah itu Ping-gwan? Dia sudah datang!” Tiba-tiba Goan-siu berseru.

Ping-gwan memang berjalan ke lapangan. Pakaiannya compang-camping, badannya luka-luka dan jalannya sempoyongan. Thiat-mo-lek tergopoh-gopoh membawanya ke dalam kemah dan mengobati lukanya.

”Lukaku ini tak mengapa. Yang penting kejarlah lekas siluman perempuan itu. Ia melarikan Khik-sia!” kata Ping-gwan.

Walaupun ia dan Khik-sia sama-sama ditutuk jalan darahnya oleh Bo Jong-long, tapi caranya mengerjakanpun berbeda. Untuk Khik-sia yang lwekangnya lebih tinggi, Bo Jong-long gunakan cara menutuk Ciong-chiu-hwat (tutukan berat). Kalau digunakan terhadap orang yang lwekangnya lemah, Ciong-chiu-hwat itu akan mengakibatkan luka berat.

Sebenarnya lwekang Ping-gwan berimbang dengan Khik-sia.   Tetapi Bo Jong-long belum pernah mengetahui kepandaiannya. Dan memang Bo Jong-long pun tak bermaksud mencelakai kedua anak muda itu. Kuatir Ping-gwan tak kuat menahan, Bo Jong-long hanya gunakan ilmu tutukan biasa.

Waktu diseret sampai ke kaki puncak Thiat-li-hong oleh kedua pengawal baju kuning, sebenarnya Ping-gwan sudah dapat membuka jalan darahnya yang tertutuk itu. Rupanya si pengawal yang memanggulnya, tinggi kepandaiannya. Mendengar jalannya napas Ping-gwan berbeda, pengawal itu lantas meletakkan tubuh Ping-gwan untuk diperiksannya.

Tapi sekonyong-konyong Ping-gwan menggembor keras. Tali yang mengikat kaki tangannya putus. Ia gunakan ilmu Gong-chiu-jip-peh-jim untuk melawan si pengawal. Sepuluh jurus

kemudian, Ping-gwan rasakan peredaran darahnya tambah enak, tenaganya sudah pulih 5-6 bagian. Ia desak lawannya mundur lalu hendak menyerang pengawal yang membawa Khik-sia.

Pengawal yang menawan Khik-sia itu kelabakan. Tahu kawannya tak mampu melawan Ping- gwan, iapun hendak letakkan angkutannya  (Khik-sia) untuk membantu sang kawan. Tapi pikirannya maju mundur. Kalau meletakkan tawanannya kuatir dirampas orang. Namun tidak meletakkan, ia tentu tak leluasa bertempur dengan lawan.

Selagi Ping-gwan mendesak kedua pengawal dan sudah akan berhasil membebaskan Khik-sia, tiba-tiba terdengar derap kuda mendatangi. Yang datang ialah Tiau-ing.

Melihat Khik-sia tak dapat berkutik, tahulah Tiau-ing bahwa anak muda itu tentu ditutuk dengan Ciong-chiu-hwat oleh Bo Jong-long. Ia girang sekali dan buru-buru minta supaya Khik-sia diserahkan padanya.

Tetapi seperti yang dikatakan di atas, pengawal baju kuning dari Hu-song-to hanya menurut perintah dari Bo Jong-long saja. Sekalipun Tiau-ing yang meminta, tetap mereka tak lekas-lekas menyerahkan. Tanyanya: ”Apakah nyonya muda sudah mendapat ijin dari Bo tocu?”

Ping-gwan mempercepat serangannya. Bret, lengan baju pengawal itu kenal dibabatnya. Untung karena kuatir melukai Khik-sia, Ping-gwan tak mau turunkan serangan keras. Coba tidak,

dada pengawal itu tentu sudah terbelah. Tapi adalah karena harus bertempur dengan hati-hati itu, Ping-gwan tak berhasil merampas Khik-sia.

”Sudah tentu paman yang menyuruh aku membawa orang itu. Kau berani banyak tanya lagi? Apakah aku tak menganggap aku sebagai nyonya tuanmu?” Tiau-ing pura-pura marah besar. Pertama, karena tak berani menyangka kalau Tiau-ing berbohong. Kedua, karena rangsangan Ping-gwan, terpaksa ia serahkan Khik-sia pada Tiau-ing. ”Baik, sambutlah!” teriaknya seraya lemparkan tubuh Khik-sia.

”Siluman perempuan, kau masih belum puas mencelakainya?” damprat Ping-gwan dengan murka. Ia loncat menerjang tapi disambut dengan tabasan golok oleh Tiau-ing. Kedua pengawal itupun lantas menyerang Ping-gwan.

Hampir saja Ping-gwan termakan golok Tiau-ing. Pada waktu ia menghindar, Tiau-ing tertawa

gelak-gelak seraya menyambuti tubuh Khik-sia. Seperti mendapat pusaka berharga, Tiau-ing segera keprak kudanya dan membawa kabur Khik-sia.

Karena Khik-sia sudah tak berada di situ, Ping-gwan pun tak bernafsu lagi. Setelah mendesak mundur kedua pengawal baju kuning, iapun lantas tinggalkan tempat itu.

Cerita Ping-gwan itu menggelisahkan hati sekalian orang.

”Keparat! Akulah yang bersalah karena terlalu memanjakan budak perempuan itu,” kata Shin Ci-koh.

”Karena tak dapat berkutik, Khik-sia tentu tak dapat berbuat apa-apa dibawa menurut kemauan siluman wanita itu,” Yak-bwe cemas.

”Ai, jangan kuatir, justeru karena Khik-sia tertutuk jalan darahnya, ia tentu tak kena apa-apa,” In-nio tertawa.

Sebenarnya yang dikuatirkan Yak-bwe ialah kalau tunangannya kena terpikat rayuan Tiau-ing. Karena isi hatinya ditebak In-nio, tersipu-sipulah wajah Yak-bwe.

Wi Gwat menyatakan bahwa harus lekas-lekas dilakukan pengejaran terhadap Tiau-ing. Setelah lukanya diobati, Ping-gwan menyatakan ikut dalam pengejaran itu. Akhirnya mereka berlima membagi diri dalam tiga jurusan. Wi Gwat dan Ping-gwan, karena kepandaiannya tinggi, masing- masing berjalan seorang diri. Sedang Yak-bwe, In-nio dan Bik-hu satu jurusan. Begitulah mereka berangkat ke arah timur, selatan dan barat.

Diceritakan setelah menawan Khik-sia, Tiau-ing larikan kudanya secepat mungkin. Kudanya kuda pilihan hasil rampasan Se-kiat. Kekuatannya tak kalah dengan kuda pemberian Cin Siang kepada Thiat-mo-lek itu. Mendaki gunung melintasi sungai seperti di tanah datar saja.

Luas area gunung Hok-gu-san itu di antara 500-an li. Karena sehari penuh terus lari nonstop, maka menjelang mahgrib Tiau-ing sudah mencapai 300 li. Dari situ memandang ke bawah, tampaklah padang datar di kaki gunung.

”Punya sayap sekalipun tak mungkin piauko-mu Thiat-mo-lek mengejar kemari. Baiklah malam ini kita bermalam di dalam hutan siong sini, besok pagi baru turun gunung.” Tiau-ing

tertawa seraya menjinjing Khik-sia ke dalam hutan pohon siong. Walaupun tak dapat berkutik, tapi pikiran Khik-sia masih sadar. Diam-diam ia mengeluh membayangkan apa tindakan yang akan dilakukan Tiau-ing nanti.

Di dalam hutan masih terdapat gundukan salju yang belum lumer. Ditingkah cahaya rembulan, tampaklah seperti permadani putih bertebar di bumi. Tampak Tiau-ing kerutkan alis. Wajahnya yang tengah merenungkan sesuatu, memancarkan mimik seperti minta dikasihani.

Khik-sia meramkan matanya. Tak mau ia memandang wanita itu. Pikirnya: ”Apa yang hendak dibicarakannya? Sayang seorang wanita yang secantik itu, mempunyai hati yang culas.” Kedengaran Tiau-ing menghela napas dan berkata seorang diri: ”Se-kiat, bukannya aku bermaksud mengkhianatimu, tetapi kau harus mengerti dan memaafkan kegelisahan hatiku.”

Heran Khik-sia dibuatnya. Nyata-nyata Tiau-ing masih merindukan suaminya. Tapi Se-kiat toh sedang menghadapi saat-saat yang menentukan nasibnya. Mengapa bukannya mendampingi sang suami sebaliknya wanita itu menculiknya (Khik-sia) ke tempat jauh?

Terdengar derap kaki makin menjauh. Karena herannya Khik-sia membuka mata. Ai, ternyata Tiau-ing pergi. ”Apa artinya ini? Apakah ia hendak berolol-olok padaku?” ia makin heran.

Khik-sia diam-diam salurkan lwekang untuk membuka jalan darahnya. Tetapi tutukan Bo Jong-

long memang istimewa benar. Walaupun lwekang sudah dapat menyalur tetapi jalan darahnya yang tertutuk masih tetap belum dapat terbuka.

Sampai sekian lama Khik-sia berusaha sekuat-kuatnya. Pada saat ia sudah hampir berhasil, tiba-tiba terdengar derap kaki menghampiri. Tiau-ing muncul dengan menjinjing sebuah kantong kulit. Ujung goloknya berhias dua ekor ayam hutan. Kiranya tadi ia pergi berburu.

”Sayang! Kalau jalan darahku belum terbuka ia tentu tak mau melepaskan,” diam-diam Khik- sia menyumpahi.

”Sehari penuh kau tak minum tak makan, tentu lapar. Minumlah dulu air ini, nanti kupanggangkan ayam hutan untuk makanmu,” kata Tiau-ing dengan nada lembut.

Dalam hati Khik-sia menolak tapi karena jalan darahnya masih tertutuk, terpaksa ia biarkan

saja. Tiau-ing membuka kantong kulit yang ternyata berisi air jernih. Sekali memijat pipi Khik-sia sehingga mulutnya ternganga, Tiau-ing lantas mencurahkan air itu ke dalam mulut si anak muda. Khik-sia gelagapan. Darahnya merangsang keras dan terbukalah jalan darahnya yang

tertutuk itu. Cepat ia gunakan ginkang, lari menghampiri kuda.  Tapi baru beberapa langkah, tiba- tiba kepalanya terasa puyeng, kakinya lentuk dan napasnya terengah-engah. Tiau-ing cepat melesat datang. Sekali mendorong pelahan-lahan saja, rubuhlah Khik-sia ke tanah.

”Beristirahatlah, kau sudah tak dapat bertenaga lagi,” Tiau-ing tertawa.

Khik-sia kaget bercampur marah. Ia berusaha bangkit dan memaki: ”Kau, kau siluman wanita hendak mengapakan diriku?”

Tiau-ing menekan pundak Khik-sia dan terkulailah anak muda itu. ”Tidak apa-apa, aku hanya menaruh Soh-kut-san (obat pelunak tulang) dalam air tadi. Masih ingat tempo hari kau pernah kutawan berkat bantuan Soh-kut-san? Tetapi kali ini aku berjanji tak gampang-gampang memberi obat penawarnya.”

”Su Tiau-ing, mengapa kau selalu hendak mencelakai diriku?” teriak Khik-sia dengan murka. ”Suamiku mati di tanganmu. Apakah tak layak kau menerima sedikit siksaan dariku?” ”Bagaimana kau tahu suamimu sudah mati? Toh sejak pagi-pagi kau sudah melarikan aku. Terang kau tak hadir dalam rapat itu!”

”Terus terang kuberitahukan padamu bahwa pamannya Se-kiat itu sudah tak mau membantunya lagi,” jawab Tiau-ing.

”Tapi toh belum pasti kalau suamimu tentu meninggal. Aku tahu bagaimana rencana piauko-ku Thiat-mo-lek. Dia hanya bermaksud supaya suamimu sadar akan kesalahannya. Sekali-kali tidak menghendaki jiwanya. Andaikata suamimu berkeras kepala, toh paling-paling hanya dicopot dari kedudukannya sebagai bengcu saja. Siapa bilang Thiat piauko mau membunuh suamimu?”

Tiau-ing menghela napas: ”Kau hanya tahu tentang rencana piauko-mu tetapi tak tahu bagaimana watak suamiku. Sebagai seorang yang berhati tinggi mana dia mau menerima hinaan semacam itu? Kurasa saat ini dia tentu sudah bunuh diri! He, he, tahukah kau sekarang apa sebabnya kutawan kau kemari?”

Khik-sia seram dengan nada tertawa Tiau-ing: ”Mau apa kau? Apa mau membunuh aku sebagai balas dendam kematian suamimu?” tanyanya.

Sahut Tiau-ing dingin: ”Sekalipun Se-kiat tidak langsung mati di tanganmu, tapi sebagian besar kaulah yang menjadi gara-gara. Tetapi aku tak mau membunuhmu. Aku menginginkan supaya kau menemani aku!”

”Bunuhlah aku saja!” teriak Khik-sia seperti orang kalap.

Tiau-ing memberi sebuah kicupan mata yang mengasih. Tertawalah ia: ”Khik-sia, apa kau kira karena teringat akan hubungan kita yang lampau, aku lantas tak sampai hati membunuhmu? Tidak! Aku menikah dengan Se-kiat dan akupun berusaha untuk menjadi isterinya yang baik. Tindakanku sekarang ini, kesemuanya demi untuk kepentingan Se-kiat.”

Tak mengerti Khik-sia kemana jatuhnya perkataan nona itu. Tapi diam-diam ia berjanji dalam hati, kalau Tiau-ing benar-benar berbuat untuk kepentingan suaminya, ia bersedia memaafkan wanita itu. Tapi ai sangsi itikad baik Tiau-ing.

”Apa maksudmu, aku masih belum mengerti?” tanyanya.

Wajah Tiau-ing memerah, ujarnya: ”Ya, aku terpaksa tak malu-malu lagi kepadamu. Di dalam perutku sekarang ini terisi anak Se-kiat yang baru berumur tiga bulan. Kutahu kamu semua membenci diriku. Suhuku, suhengmu, Thiat-mo-lek, Hong-git Wi Gwat dan kawan-kawanmu semua ingin membunuh aku ”

”Tidak, jika mereka tahu kau sedang mengandung tentu takkan membunuhmu,” buru-buru Khik-sia menyatakan!

Tiau-ing tertawa tawar: ”Aku tak percaya pada siapa saja. Kau kira sepatah katamu tadi dapat menjamin jiwaku. Dan dengan begitu karena percaya pada ucapanmu aku lantas melepaskanmu? Tidak, bagiku satu-satunya jaminan untuk melindungi jiwaku ialah dengan menawan dirimu!”

Khik-sia mengeluh dalam hati: ”Karena wataknya ganas, ia tentu banyak curiga. Ia mengukur orang lain menurut ukuran hatinya sendiri. Untuk menyakinkan wanita ini, tentu akan makan waktu lama.”

”Khik-sia,” tiba-tiba Tiau-ing berkata pula, ”aku terpaksa meminta pengorbananmu. Kau harus menemani aku. Kau tentu sudah bagaimana kelihayan obat Soh-kut-san itu. Jika tak mendapat obat penawarnya, dalam waktu sebulan kau akan mati secara pelahan. Tetapi dengan ikut padaku, setiap setengah bulan, akan kuberimu separuh pil penawar agar jiwamu lebih panjang. Kau tak bisa gunakan ilmu silatmu lagi tapi kau masih tetap mempunyai tenaga untuk menemani barang kemana aku pergi. Kelak apabila anakku sudah berumur tiga tahun baru akan kuberimu kebebasan penuh untuk pulang menemui tunanganmu nona Su. Kawan-kawanmu tentu tak berani membunuh aku. He, he, jika mereka sampai berbuat yang tidak-tidak, kaulah yang akan kubunuh dulu. Kuberjanji setelah anakku berumur tiga tahu, kau tentu akan kusembuhkan. Pada waktu itu jika kau hendak membunuh aku karena mendendam atas perbuatanku itu, akupun tak keberatan.”

”Ah, tak usah kau berbuat begitu. Jika Se-kiat benar sudah mati, asalkan bertobat dan kembali ke jalan yang benar, mengasuh anakmu dengan baik-baik sebagai seorang ibu yang bijaksana, mereka tentu takkan mendendam padamu,” kata Khik-sia.

”Bagus, jika kau masih simpati dan kasihan padaku. Kuminta kau lakukan sebuah hal bagiku.”

”Apa?”

”Selama dalam perjalanan kau harus menggunakan sebutan suami-isteri padaku,” kata Tiau-ing. ”Kau gila!” teriak Khik-sia.

”Ai, kau memang buta perasaan. Coba pikirlah. Seorang pria dan seorang wanita bersama-

sama dalam perjalanan. Terus terang saja aku tak dapat membiarkan kau berjalan terpisah jauh-jauh dariku. Di waktu bermalam di hotel, kita harus tinggal sekamar. Jika tidak memakai sebutan suami isteri, apakah tidak akan menimbulkan kecurigaan orang?”

Nyata hati Tiau-ing gundah sekali. Memang benar rencana menawan Khik-sia itu untuk

menajmin keselamatan dirinya dan calon bayinya. Tetapi pun rasa cintanya terhadap Khik-sia nyata belum padam. Bahwa mulutnya selalu menekankan kalau perbuatannya diperuntukkan kepentingan Se-kiat, itu hanya untuk menghilangkan kecurigaan Khik-sia saja.

”Jangan, jangan! Bagaimanapun juga, aku tak mau berbahasa suami-isteri dengan kau!” Khik- sia merah mukanya.

Sekonyong-konyong terdengar orang tertawa geli dan berseru: ”Nona Su, kalau budak itu tak mau menjadi suamimu, biarlah aku yang mewakili!”

Sebuah bayangan loncat dari atas pohon. Kepalanya lancip, pipi tirus seperti monyet. Ai, kiranya Ceng-ceng-ji.

”Kunyuk tua, kau berani kurang ajar terhadap aku?” Tiau-ing marah.

”Toh kau mencuri suami? Pura-pura atau suami sesungguhnya, aku bersedia melamar,” sahut Ceng-ceng-ji.

”Begitulah manusia yang mengaku bersahabat baik dengan Se-kiat? Cis, tak tahu malu!” damprat Tiau-ing.

”Ceng-ceng-ji, muka suhu telah kau lumuri kotoran. Mengapa kau berani menghina seorang

wanita yang tengah hamil? Jika toa-suheng tahu, pasti dia akan mencabut tulangmu, dan membeset kulitmu!” Khik-sia turut memaki.

”Huh, jiwamu sekarang berada di tanganku, masih berani membacot!” sahut Ceng-ceng-ji.

Khik-sia tak berdaya. Sekali Ceng-ceng-ji menutuk jalan darah pembisunya, iapun tak dapat bersuara lagi. Sehabis itu Ceng-ceng-ji berpaling dan tertawa meringis: ”Nyonya Bo, sia-sia saja kau paksa budak itu menjadi suamimu. Hm, hm, mengapa begitu jerih payah? Kau bukan wanita terhormat, akupun bukan lelaki baik. Setali tiga uang , cocok!”

Mengkal dan murkan sekali Tiau-ing. Biarpun ia banyak akal, tapi pada saat itu ia belum dapat menemukan akal untuk menghadapi Ceng-ceng-ji.

Ceng-ceng-ji terbahak-bahak: ”Apakah karena budak itu berparas cakap dan aku jelek, kau lantas menampik aku?”

”Jangan ngaco belo! Kutawan dia karena untuk barang tanggungan. Ah, paman Ceng-ceng, peribahasa mengatakan: asal masih ada sinar matahari, kemudian hari tentu dapat bertemu lagi. Harap kau lepaskan tangan, siapa tahu kelak kemudian hari kita masih dapat bekerja sama,” kata Tiau-ing.

”Itulah baru pantas. Baiklah, sekarang kita bicara sungguh-sungguh. Aku tak menjadi suamimu, tak apa. Tetapi budak itu harus diserahkan padaku.”

Tiau-ing terperanjat: ”Apa? Kau mau membawanya? Kiranya kau juga menaruh minat padanya!”

”Benar, memang ucapan budak itu benar. Aku memang takut ancaman Gong-gong-ji dan Shin Ci-koh, maka aku hendak mengambilnya sebagai barang tanggungan.”

”Nanti dulu, paman Ceng-ceng. Mari kita berunding lagi,” buru-buru Tiau-ing menyusuli kata- kata.

”Berunding apa? Apa kau suka pura-pura menajdi suami-isteri dengan aku?”

Tiau-ing tak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya ia menawarkan untuk bersama-sama membawa Khik-sia. Ia insyaf kepandaiannya kalah dengan Ceng-ceng-ji. Walaupun tak senang tetapi ia terpaksa gunakan siasat begitu.

Atas pertanyaan Ceng-ceng-ji kemana rencana Tiau-ing hendak membawa Khik-sia nanti, Tiau- ing mengatakan: ”Aku hendak mencari suhuku yang satunya Hoan Gong hwatsu.”

Hoang Gong hwatsu adalah kepala biara Ogemi di Cenghay. Dahulu waktu tentara Su Su-bing berpangkalan di Cenghay, dia bersekutu dengan paderi itu. Hoan Gong hwatsu suka akan kecerdikan Tiau-ing dan mengambilnya sebagai murid luar biasa. Yaitu tidak seperti hubungan guru dan murid pada umumnya. Walaupun ilmu silat Hoan Gong hwatsu tinggi, tapi karena Tiau- ing masih kecil maka tidak diajari ilmu silat. Seluruh kepandaiannya didapat dari Shin Ci-koh.

Sekalipun demikian Hoan Gong tetap sayang pada Tiau-ing. Beberapa tahun yang lalu,ketika Su Tiau-gi (kakak Tiau-ing) hendak menggerakkan pemberontakan lagi, Hoan Gong pernah datang menjenguk Tiau-ing. Kala itu ketika Tiau-ing menawan Khik-sia hidup-hidup, pun dibantu oleh paderi itu.

Ceng-ceng-ji pun kenal lama dengan Hoan Gon, tetapi hubungan mereka tak rapat. Ia girang dengan keterangan Tiau-ing itu. Pikirnya: ”Kini aku sedang keputusan jalan. Sebenarnya tujuanku hendak menggabung pada Leng Ciu siangjin. Tetapi karena tempo hari ia dikalahkan Shin Ci-koh, ia tentu tak mau menerima aku. Hoan Gong hwatsu lebih sakti, apalagi dia masih mempunyai beberapa suheng dan sute yang tak kalah lihaynya. Jika aku dapat meneduh dalam lindungannya, itulah yang paling tepat. Asal aku dapat menggenggam Khik-sia, biar Tiau-ing banyak muslihat, tapi tak usah kuatir dapat mencelakai diriku.”

Dari air mukanya, Tiau-ing tahu kalau Ceng-ceng-ji setuju. Diam-diam ia muak dengan tampang eng-ceng-ji, namunia tahankan hati. Ujarnya: ”Paman Ceng-ceng, kita bersama-sama mengamat-amati anak muda ini. Tetapi selama dalam perjalanan kau harus menurut sebuah perjanjianku.”

Waktu Ceng-ceng-ji menanyakan, Tiau-ing menjawab: ”Dalam perjalanan kita bertiga harus

pura-pura satu keluarga. Terpaksa agak mencemoohkan paman Ceng-ceng sedikit. Kuminta kau menjadi seperti bujang kami.”

Ceng-ceng-ji memoncat kaget: ”Apa? Aku disuruh jadi bujang? Mengapa tak jadi suami atau sekurang-kurangnya jadi ayah saja?”

”Telah kukatakan aku tak mau bersandiwara menjadi suami isteri denganmu. Kalau jadi ayah, ah, wajahmu terpaut jauh sekali. Cobalah berkaca, bagaimana bentuk wajahmu itu? Maka yang paling tepat, jadi bujang saja,” kata Tiau-ing.

Ceng-ceng-ji menggumam, belum membuka mulut Tiau-ing sudah berkata lagi: ”Budak itu

sudah termakan obat Soh-kut-san, hanya aku yang mmepunyai obat penawarnya. Jika kau coba- coba menculiknya, tak sampai sebulan dia tentu mati tanpa sakit. Paman Ceng-ceng, aku takut hukuman suhuku dan kau takut suhengmu membunuhmu. Jadi kita senasib. Asal kita dapat memiliki anak muda itu sebagai barang tanggungan, ya sekalipun kau harus menerima sedikit cemoohan, tapi kita tentu akan selamat.”

Ceng-ceng-ji tergelak-gelak: ”Baiklah, nyonya Bo. Kau memang cerdik, aku menurut saja. Tetapi akan kau ujikan apa bocah itu? Apakah hendak kau jadikan suami tetiron?” ”Menjadi adikku yang bisu. Setiap kali sebelum menginap di hotel, tutuklah jalan darah

pembisunya. Sebagai bujang kau boleh tidur bersamanya. Bukankah baik pengaturan itu?” sahut Tiau-ing.

Mati hidupnya Khik-sia itu tak berarti apa-apa bagi Ceng-ceng-ji. Yang penting ia sekarang mendapat jalan bonceng Tiau-ing untuk mencari perlindungan pada Hoan Gong hwatsu. Maka dapat menyetujui rencana Tiau-ing itu. Begitulah setelah terdapat persepakatan, Ceng-ceng-ji lantas memanggul Khik-sia. Ia tertawa mengejek: ”Bocah bagus, bukankah ji-suhengmu memperlakukan kau baik-baik? Beberapa kali kau menghina dan memaki aku, tetapi aku teap suka merawatmu.” Khik-sia tak dapat berbuat apa-apa. Tapi diam-diam ia terhibur juga. Dengan ikut sertanya Ceng-ceng-ji jauh lebih baik daripada kalau menempuh perjalanan seorang diri dengan Tiau-ing. Paling tidak ia dapat terhindar dari rayuan wanita itu. Pikiran Khik-sia jadi tenang, ia pasrah pada nasib.

Dengan gunakan gin-kang, Ceng-ceng-ji dapat mengimbangi lari kuda Tiau-ing. Mereka menempuh perjalanan siang malam. Setelah keluar dari daerah Hok-gu-san, mereka menuju ke Ceng-hay.

Sekarang mari kita ikuti rombongan yang mencari jejak Khik-sia. Lebih dulu kita tinjau Coh

Ping-gwan. Kudanya juga kuda istimewa, walaupun masih kalah dengan kuda Tiau-ing. Hanya jurusan yang diambilnya, memang tepat. Sayang jarak mereka makin lama makin terpisah jauh. Hari ketiga Ping-gwan baru keluar dari daerah Hok-gu-san. Di kaki gunung ia berpapasan dengan seorang penebang pohon. Ia mencari keterangan orang itu. Kebetulan pagi harinya ketika Tiau-ing turun gunung, penebang itu melihatnya. Ia heran melihat seorang kunyuk besar memanggul seorang pemuda, berlari mengejar seorang wanita muda yang naik kuda.

Ping-gwan menduga, kunyuk yang dimaksudkan si penebang pohon itu, tentulah Ceng-ceng-ji. Ia makin gelisah dibuatnya.

Hari itu ketika Ping-gwan tiba di tempat pos pemberhtian di kaki gunung, tiba-tiba ada dua penunggang kuda mencongklang datang dengan pesat sekali. Kedua penunggang itu berpakaian seperti orang asing. Ping-gwan buru-buru mengejar. Kini makin jelas. Ia terkejut girang. Kedua orang asing itu bukan lain anak buah U-bun Hong-ni yang dahulu pernah mencuri kudanya (Ping- gwan dan Khik-sia).

Ping-gwan teringat, Tiau-ing pernah coba merapati Hong-ni. Ia kuatir jangan-jangan wanita itu akan menggabung pada Hong-ni. Waktu ia hendak keprak kudanya mengejar, dari belakang kembali datang dua penunggang suku asing lagi. Yang satu seorang berumur 20-an tahun, berpakaian mentereng seperti bangsawan. Yang satu seorang pertengahan umur. Rupanya pengawal pemuda tadi.

Kedua anak buah Hong-ni congklangkan kudanya makin keras. Pemuda mentereng berseru keras: ”Hai, berhentilah!”

Tetapi kedua anak buah Hong-ni itu malah semakin mencongklang pesat. ”Kurang ajar, berani membangkang perintahku!” ia keprak kudanya mengejar.

Kini Ping-gwan baru tahu kalau mereka itu bukan sekawanan. Ia duga pemuda itu tentu bangsawan Hwe-ki yang berpengaruh. Ia pun keprak kudanya membuntuti. Tiba di pinggir hutan, didengarnya di dalam hutan seperti ada orang bertengkar.

”Hai, budak yang tak tahu mati. Di mana nona majikanmu sekarang? Bilang lekas, kalau tidak tentu kucabut jiwamu!” pemuda itu marah-marah.

”Lebih baik kami dipenggal kepala tetapi di mana tempat beradanya nona, tak dapat kukatakan padamu,” sahut kedua bujang itu.

”Budak kurang ajar, kamu hendak berontak!” teriak pemuda itu.

”Ya, memang kami budak tetapi hanya budak dari nona kami, bukan budak bangsamu Hwe-ki!” tiba-tiba kedua bujang itu berseru keras.

”Pemberontak, tangkap kedua budak hina ini!” seru si pemuda. Kedua bujang tadi hendak menerjang, tapi cukup dengan sebuah ingsaran tubuh, mereka menubruk angin. ”Kalian tak berharga bertempur dengan aku,” pemuda itu tertawa menghina.

Diam-diam Ping-gwan terkejut melihat gerakan si pemuda.

”Rubuh!” sebelum kedua bujang yang terhuyung-huyung itu sempat berdiri tegak, kaki kiri si pemuda mengait dan tangan kanannya menghantam. Yang kena terkait, terjerembab jatuh. Yang kena kepukul, mendekap pinggangnya sambil berjongkok.

”Tahu rasa, sekarang? Jika kalian kepingin mati, nanti tentu kukirim.   Ruyung kiau-pian ini  dapat memecahkan dagingmu sampai busuk, coba saja kalau kalian tetap tak mau memberitahu,” pemuda asing itu tertawa sinis.

Bermula Ping-gwan tak mau campur tangan. Tapi demi mendengar percakapan mereka, ia tak kuat menahan kemarahannya lagi. Segera ia lari menghampiri dan berseru: ”Hak apa kau hendak menghina orang?” Pemuda bangsawan itu terkesiap melihat ada orang muncul dari dalam hutan. ”Siapa? Kau berani turut campur urusanku!” bentaknya seraya ayunkan ruyung.

”Enyah!” Ping-gwan menyambut dengan tangan kiri hendak merampas ruyung. Tetapi di luar dugaan, permainan ruyung pemuda bangsawan itu aneh sekali. Ruyung melingkar seperti naga melilit dan dari arah yang tak diduga Ping-gwan, ruyung itu menghantamnya. Terpaksa Ping-gwan gunakan gerak Poan-hong-yan-poh (naga melingkar langkah) dalam detik-detik yang berbahaya, ia rubah pukulannya menjadi gaya menutuk. Pluk, ruyung kena dipentalkan. Tapi sekalipun begitu, tak urung ujung bajunya tersabat pecah.

Si pengawal maju: ”Siau-ong-ya, mengapa perlu meladeni bedebah itu. Biarlah hamba yang memberesinya!”

Siau-ong-ya artinya anak raja. Jadi pemuda itu memang benar seorang pangeran atau anak raja dari Hwe-ki.   Ia mengikan dan pesan Ih-sin, pengawalnya itu supaya berhati-hati. Rupanya pangeran itu tahu Ping-gwan seorang 'berisi'.

Ih-sin memang panglima kenamaan dari suku Hwe-ki. Tapi sebenarnya ia tak begitu tinggi ilmu silatnya. Melihat Ping-gwan dalam sekali gebrak saja kena disabat hancur lengan bajunya oleh junjungannya (pangeran), Ih-sin tak memandang mata padanya.

Ping-gwan pura-pura mengunjukkan sebuah lubang kelemahan. Begitu Ih-sin maju, ia biarkan saja. Ih-sin seorang jago gumul (semacam judo). Begitu tangan kirinya disusupkan ke bawah siku Ping-gwan, sekali sentak tubuh Ping-gwan terangkat ke atas.

”Ha, ha, bedebah ini hanya.... aduh!” Ih-sin mengganti ketawanya dengan jeritan mengaduh. Ternyata dengan gerak kilat, Ping-gwan mencengkeram pergelangan tangan lawan, sebelum si pangeran sempat menolong, dengan kecepatan luar biasa Ping-gwan memelintir lengan orang terus di balik tubuhnya dan dilemparkan sampai beberapa tombak jauhnya. ”Aduh ...!” kembali Ih-sin menjerit karena tempat jatuhnya kebetulan dalam sebuah semak-semak berduri. Kaki dan tangannya dimakan duri, ia tak dapat berkutik lagi.

”Hai, kau orang Han, sungguh besar sekali nyalimu! Tahukah kau siapa aku? Sekalipun rajamu kalau bertemu aku tentu akan memberi hormat dengan khidmat. Tetapi kau berani melawan aku? Heh, heh, jika kau ingin merampas uang, aku suka memberimu beberapa tail perak. Dan kalau kau suka ikut padaku, itu yang paling baik lagi,” kata si pangeran. Ia tak kenal siapa Ping-gwan.

Dikiranya pemuda itu bangsa penyamun. Tapi diam-diam ia jeri juga akan kepandaian Ping-gwan. Ia pamerkan dirinya agar orang takut. Kemudian coba membujuknya.

”Aku tak peduli siapa kau ini. Mungkin lain orang takut padamu, tetapi aku tidak. Kalau kau andalkan pengaruhmu untuk menghina orang, aku tak dapat tinggal diam,” sahut Ping-gwan. Pangeran itu menggumam. Dengan mimik memandang rendah ia berkata pula: ”Negeri Su-tho adalah negeri jajahan kami. Kedua bujang itu, orang sebawahan dari rakyat taklukanku. Hidup matinya terletak di tanganku. Mengapa kau salahkan aku menghina mereka? He, he, lucu benar.” ”Tutup mulutmu! Aku tak kenal kalian ini tuan atau budak. Yang kuketahui, mereka berdua itu adalah sahabatku. Jika kau berani menghinanya, aku terpaksa membuatmu tak bisa tertawa nanti. Pergilah, dengar tidak?”

Masih pangeran itu tertawa menghina: ”Kau bersahabat dengan mereka? He, he, itu namanya membikin merosot hargamu sendiri. Hm, tahulah aku, mungkin nona U-bun itulah yang sebenarnya menjadi sahabatmu.”

”Kalau benar, mau apa? Sudah jangan banyak omong, pergilah!”

Rupanya pangeran itu merasa cemburu, ia tertawa sinis: ”Oh, makanya ia selalu menyingkir dari aku. Hm, budak, aku ingin jiwamu!”

Dirangsang oleh rasa cemburu, rasa jeri terhadap Ping-gwan hilang seketika. Ia tak menghiraukan segala apa dan menyerang Ping-gwan dengan ruyungnya.

Kali ini Ping-gwan sudah siap. Memutar tumit kakinya, ia berputar. Tapi sang pengeran mengirim lagi tiga buah hantaman ruyung. Melihat lawan pandai ilmu silat, Ping-gwan tak berani meremehkan. Iapun segera mencabut golok pusakanya.

”Kau iniraja atau budak, tetapi tanah orang Han sini tak mengijinkan kau berbuat sewenang- wenang. Unjuk kegaranganmu di negerimu sendiri sana. Lihat golok!” serunya. Ping-gwan keluarkan permainan golok yang terdiri dari 36 jurus. Ruyung dan golok bermain

dengan cepat. Di sela-sela sambaran angin, terdengar beberapa kali suara menggeletar. Punggung Ping-gwan termakan dua buah cambukan tapi ruyung si pangeranpun kena terpapas kutung tiga kali.

Tiap bagian dari permainan golok Ping-gwan terdiri dari 36 jurus. Setelah selesai, lalu bagian yang kedua yang juga terdiri dari 36 jurus. Kini ruyung pangeran Hwe-ki tak mampu mengenai lawan, sebaliknya Ping-gwan berhasil memapas lagi empat kali. Dengan begitu ujung ruyug itu hilang satu meteran.

Ping-gwan lanjutkan dengan bagian yang ketiga yang juga berisi 36 jurus. Dalam babak ini, dia menang angin. Si pangeran terkurung dalam sinar golok. Ruyung makin pendek makin mudah terbentur golok. Boleh dikata setiap dua jurus, Ping-gwan tentu dapat memapas beberapa inci. Waktu bagian ketiga selesai, ruyung si pangeran tinggal seperempat meter.

”Apa kau tetap tak mau melepaskan ruyungmu?” bentak Ping-gwan seraya gunakan gigir golok menyodik siku si pangeran. Sodokan itu membuat si pangeran terpaksa lepaskan ruyungnya. Untung Ping-gwan tak mau membikin onar. Coba ia pakai mata golok, lengan si pangeran tentu sudah terpisah dari tubuhnya.

Ping-gwan sarungkan goloknya dan berseru: ”Apa masih mau berkelahi terus?”

Wajah si pangeran berubah membesi.   Matanya melotot memandang Ping-gwan. Tanpa menyahut ia putar tubuh dan berlalu. Saat itu Ih-sin bru berhasil keluar dari semak berduri. Ia menyongsong tuannya: ”Siau-ong-ya, mengapa tak memberi hukuman pada kedua bujang itu?” Plak, si pangeran memberi sebuah tamparan ke pipi Ih-sin dan membentaknya: ”Lekas naik kuda!”

Kuda kedua orang Hwe-ki itu, kuda perang yang terlatih mahir. Begitu tuannya naik di punggungnya, binatang itu segera lari sepesat angin.

”Pangeran itu patah sebuah tulang tangannya, paling tidak dalam satu bulan ia baru dapat menggunakan ruyung lagi. Biarlah dia pergi dan kalian perlu kuberi obat,” kata Ping-gwan. Tubuh kedua bujang itu berlumuran luka, untung hanya luka luar. Tampaknya mengerikan tapi sebenarnya tak berbahaya. Setelah dilumuri obat oleh Ping-gwan, luka itupun berhenti mengucurkan darah.

”Coh tayhiap, nona kami hendak membunuhmu. Pun kami mendapat perintah nona untuk mengepungmu. Mengapa kau balas kejahatan dengan kebaikan?” kedua bujang itu terheran-heran. Ping-gwan tertawa: ”Sebenarnya aku tak mempunyai dendam apa-apa dengan nonamu.

Peristiwa dahulu, kalian tentu mengetahui juga. Jika mencari biang keladinya, yang membunuh ayah nonamu itu adalah bangsa Hwe-ki.”

Kedua bujang itu entah berapa kenyangnya menerima hinaan orang Hwe-ki. Mereka mengiakan: ”Benar, karena tak mengerti duduk perkaranya, nona melimpahkan kesalahan padanya.”

”Rupanya siau-ong-ya itu hendak paksa menikah dengan nonamu. Bagaimana duduk perkaranya?” tanya Ping-gwan.

Kedua bujang itu menghela napas: ”Adalah nona sendiri yang nasibnya sial, Ayah dari anjing pangeran tadi adalah paman dari raja Hwe-ki. Namanya Topace, menjabat sebagai tay-goanswe (jenderal besar) angkatan perang Hwe-ki. Dia merupakan orang yang paling berkuasa di negeri Hwe-ki.  Anjing pangeran itu bernama Topayan. Dua tahun berselang ketika berburu nona telah berpapasan dengan dia. Setelah itu dia terus-terusan merayu, hendak mengambil nona jadi isterinya. Dengan alasan bahwa menurut adat istiadat Su-tho sebelum membalas dendam ayah tak dapat menikah, nona main mengulur waktu. Tahun ini ketika kerajaan Tay Tong minta bantuan pemerintah Hwe-ki untuk menindas pemberontakan, Topayan mengusahakan pamannya nona itu dapat kesempatan untuk membalaskan sakit hati ayah nona. Kemudian ia mendesak nona tinggal dalam rumahnya. Setelah sakit hati terbalas, segera lepaskan pakaian berkabung dan melangsungkan perkawinan. Nona tak sudi menerima anjuran itu. Ia menyatakan hendak melakukan permbalasan sendiri. Ia ajak kami lari ke Tay Tong.”

”Oh, kiranya ia mencari balas padaku itu karena ada sebabnya,” kata Ping-gwan. Kedua bujang itu melanjutkan keterangannya: ”Tak tersangka-sangka anjing pangeran itu juga menyusul langkah kami. Ia bertekad hendak membawa pulang nona. Mendengar berita itu, nona tak berani pulang dan tak berani menemui pamannya di Tiang-an. Ia membagi rombongan pengikutnya menjadi beberapa kelompok agar anjing itu bingung mencarinya. Kami berdua sejalan tapi lacur bertemu dengan anak pangeran itu. Coh tayhiap, kali ini banyak membikin repot padamu.”

”Kemana nonamu lari, aku perlu menemuinya,” kata Ping-gwan.

Kedua budak itu saling berpandangan. Beberapa jenak kemudian, baru mereka berkata: ”Coh tayhiap, kami berhutang jiwa padamu. Kami percaya kau tentu tak bermaksud jelek terhadap nona. Baik-, kami akan memberitahukan. Nona pergi ke tempat kepala daerah In-ge-sau-meng yang bernama Popa ong-kong (raja suku). Dia menjadi saudara angkat dari raja kita dahulu. Dia mempunyai seorang anak perempuan yang sebaya dengan nona. Keduanya amat baik sekali seperti saudara. Ketika tanah kami diduduki bangsa Hwe-ki, Popa dan puterinya pernah sekali datang membawanya pulang. Tetapi kala itu si anak pangeran belum memaksa nona untuk menikah. Dan pemerintah Hwe-ki sedang memerlukan tenaga paman nona. Karena itu nona berat meninggalkan rumah dan terpaksa menolak. Ah, jika tahu sekrang bakal begini, itu waktu lebih baik turut Popa

ong-kong saja.”

”Tapi apakah ong-kong itu tak takut kepada pangeran Hwe-ki?” tanya Ping-gwan.

Waktu kecil Ping-gwan pernah ikut ayahnya ke Su-tho. Dalam perjalanan melalui daerah In-ge- sau-beng juga. Samar-samar ia masih ingat tempat itu.

”Sekalipun belum mendapat berita Khik-sia, tak apalah kalau menjenguk Siau-ni dulu. Ia

sungguh kasihan sekali nasibnya, mungkin aku dapat membantu memberi penjelasan dendam sakit hati yang tak keruan ini,” pikirnya.

Ia ambil selamat berpisah dengan kedua bujang Hong-ni dan seorang diri menuju ke barat.

In-ge-sau-meng itu terletak di sebelah barat gunung Ki-lian-san, merupakan seubah padang rumput seluas seribu li. Setelah sebulan menempuh perjalanan akhirnya tibalah Ping-gwan di daerah itu.

In-ge-sau-meng ternyata merupakan desa penggembala yang primitif. Rakyat penggembala itu tiada mempunyai tempat tertentu, pun rajanya (ong-kong) juga tak punya istana tertentu, melainkan perkemahan yang selalu berpindah-pindah. Setiap perintah dibawa oleh seorang petugas berkuda. Di daerah padang rumput itu untuk beberapa hari jarang berjumpa dengan orang. Dan kalau berjumpa, orang itupun tak tahu di mana perkemahan kepala mereka.

Ping-gwan tak hiraukan rintangan-rintangan itu. Dia menjelajahi padang rumput mencari Popa ong-kong. Hari itu ketika sedang berkuda, tiba-tiba ia berpapasan dengan segerombolang

penunggang kuda. Ping-gwan hendak mencari keterangan tetapi beberapa penunggang kuda yang berada di bagian depan saling kejar-kejaran. Dua orang penunggang kuda lari menghampiri Ping- gwan. Tiba-tiba penunggang kuda yang belakang mencambuk yang di muka. Tetapi orang yang dicambuk itu ternyata pandai sekali berkuda.   Ia keprak kudanya lewat di sisi Ping-gwan. Tar, cambuk mengenai Ping-gwan.

Kawan-kawannya yang berada di belakang terdiri dari pemuda dan pemudi. Mereka tertawa riuh. Seorang pemuda menyanyi: ”Kuda si anak laki cepat larinya, cambuk si nona keras

pukulannya. Jatuh di badan sang kekasih, sakitkah hatimu? Aduh, cambukannya tak keras, tetapi kukuatir dia akan lari secepat angin.”

Kini baru Ping-gwan mengetahui bahwa yang mencambuknya tadi seorang gadis cantik. Gadis itu merah mukanya: ”Ai engkoh, aku tak sengaja mencambukmu.” - Kemudian berpaling

mendamprat kawan-kawannya yang beryanyi tadi: ”Cis, menjemukan. Sekarang toh belum saatnya bermain Kambing-liar? Simpanlah nyanyianmu nanti malam untuk Keke.”

Kawannya yang menyanyi itu tertawa: ”Kau tak suka mendengar nyanyianku, masakan aku berani menyanyikan di hadapan Pekeke?”

Thiau-yo atau Kambing liar, adalah permainan rakyat padang rumput. Semacam permainan menunjukkan kepandaian naik kuda dan meminang gadis. Setiap tahun baru atau malam Purnama- sidhi (tanggal 15 bulan delapan) tentu diadakan permainan itu. Pemuda dan pemudi sama naik kuda. Yang laki di depan, yang perempuan di belakang. Jika si pemuda kena dikejar, si gadis boleh mencambuk sesukanya. Memang tak adil, tapi anak muda-muda itu memang lebih senang kalau dicambuki anak gadis. Karena gadis itu tak sembarang mencambuk. Hanya pemuda pujaan hatinya yang dicambuk.

”Oh, apakah malam itu malam perayaan Purnama-siddhi?” kata Ping-gwan. Sudah sebulan ia menempuh perjalanan sampai-sampai lupa sudah ia akan tanggal. Tapi ia ingat permainan Kambing-liar itu hanya dilakukan pada tahun baru dan pertengahan bulan delapan.

”Eh, engkoh ini, menilik dandananmu kau tentu bukan suku kami? Dari mana kau?” tanya pemuda yang menyanyi tadi.

”Aku orang Han dari selatan,” sahut Ping-gwan. Ia tahu bahwa rakyat In-ge-sau-meng itu ramah tamah terhadap tetamu asing.

”Oh, makanya kau tak tahu. Malam ini Papo ong-kong menyelenggarakan perayaan Kambing- liar. Dia suruh anak-anak muda datang. Kabarnya ia hendak mencari menantu untuk puterinya Pekeke.”

Kuatir Ping-gwan tak mengerti, salah seorang anak muda menjelaskan lagi: ”Kami menyebut puteri ong-kong dengan panggilan Keke. Namanya Yangpe, puteri tunggal dari ong-kong.” Rupanya anak perempuan yang mencambuk Ping-gwan tadi masih tak enak hati, ujarnya: ”Engkoh orang Han, sukalah menjadi tetamu kita. Dapatkah kau menyanyi lagu-lagu kami? Biarlah kuajari kau menyanyi.”

Gadis-gadis padang rumput memang lebih supel dan ramah. Dia tahu kalau kawan-kawannya menertawakan, tapi tak dipedulikan.

Ping-gwan tertawa: ”Malam nanti aku hanya melihat-lihat keramaian Kambing-liar saja, tak turut main. Tetapi nyanyian kalian merdu benar, jika kau suka mengajari, sungguh menggembirakan sekali.”

Di dalam kawanan anak muda itu sebenarnya ada seorang yang diam-diam menaruh hati pada gadis itu. Mendengar Ping-gwan tak mau ikut main, legalah hatinya. Maka iapun ikut juga mengajar Ping-gwan bernyanyi. Demikianlah perjalanan mereka amat menggembirakan sekali. Di sepanjang jalan menyanyi riang gembira.

Menjelang petang, bulanpun mulai memancarkan cahyanya. Ping-gwan mengikuti rombongan anak-anak muda itu masuk ke dalam sebuah lembah. Lembah itu penuh direntangi rumput halus dan ditaburi dengan bunga-bunga terompet warna putih. Selayang pandang, bagaikan permadani yang bertaburan mutiara.

Dekat gunung sana, terdapat rumput penuh dengan pemuda pemudi yang berkuda. Malah ada sementara yang memetik alat tetabuhan, menyanyi dan menari-nari.

”Kita datang tepat waktunya. Terlambat sedikit saja tentu tak keburu nonton pertunjukan gumul,” kata gadis yang mencambuk Ping-gwan tadi.

Tari – nyanyian-nyanyian, gumul dan thian-yo, adalah acara pokok dalam keramaian Purnama- siddhi itu.

Setelah mengikat kudanya, Ping-gwan ikut kawanan anak muda itu memasuki lingkungan keramaian. Nona tadi membisiki: ”Tuh, lihatlah, cantik tidak Yangpe keke kami? Tuh, di sana. Ya, benar, memang itu. Orang tua itu adalah ong-kong suku kami.”

Di depan kemah yang di tengah-tengah, duduk Papo ong-kong dan puterinya. Waktu Ping-gwan memandang dengan seksama, dilihatnya puteri itu mengenakan selendang tipis dan berpakaian warna putih. Kecantikannya sungguh sukar dicari tandingannya.

”Engkoh orang Han, kau terpesona dengan keke kami? Tapi sayang, keke kami tak dapat menikah dengan orang Han,” kata nona tadi demi melihat Ping-gwan terpikat.

Padahal Ping-gwan hanya mencari-cari U-bun Hong-ni. Di antara beberapa dayang yang mengelilingi Yangpe, pun tak terdapat U-bun Hong-ni.

oooooOOOOOooooo

Ping-gwan putus asa, pikirnya: ”Jika Siau-ni berada di sini, tentu bersama puteri itu. Mengapa ia tak kelihatan, apakah sudah pergi ke lain tempat?”

”Jangan melamun, mari kita cari makanan,” nona itu tertawa.

Kiranya dalam keramaian itu selain ketiga acara pokok tadi, pun merupakan pesta ria. Di

pohon-pohon digantungkan kambing-kambing kecil yang sudah dibakar dan kantong-kantong kulit berisi arak. Siapa saja boleh makan dan minum.

Ping-gwan mencabut golok dan menirukan si nona mengiris daging kambing. Si nona mengambil kantong kulit, meminum seteguk lalu diberikan kepada Ping-gwan: ”Arak ini agak masam, apakah kau suka minum?”

Ping-gwan meneguk beberapa kali dan memuji enak. Tiba-tiba ia mendengar orang mendengus lirih. Ping-gwan tersirap, ia tak asing dengan nada suara itu. Buru-buru ia mendongak dan memandang ke empat penjuru. Karena kantong kulit tak disongsongkan ke atas, maka tumpahlah araknya.

Buru-buru nona tadi mencekal kantong kulit, tegurnya: ”Kau bagaimana, kehilangan semangat?”

”Aku, aku hendak melihat-lihat kesana,” sahut Ping-gwan. Kiranya yang didengarnya tadi ialah nada suara U-bun Hong-ni. Tetapi anehnya ia tak melihat orangnya.

”Mau lihat apa? Jangan kemana-mana, pertandingan gumul akan segera dimulai!” kata nona itu. Memang suara mudik di lapangan berhenti. Sekawanan anak muda maju ke tengah lapangan. Pertandingan gumul dimulai, semua hadirin sama menaruh perhatian. Terpaksa Ping-gwan sungkan untuk pergi.

”Pertandingan gumul nanti direncanakan dalam delapan pasangan. Semua jago-jago pilihan dari suku kami. Orang menduga mungkin ong-kong akan memilih sang juara untuk menjadi menantunya,” kata si nona.

Pertandingan dimulai. Cengkam mencangkam, banting membanting, sodok menyodik berlangsung ramai. Cara bergumul berjalan dalam gaya bebas. Namun Ping-gwan tak ada minat menontonnya.

Di tempat tambatan kuda, datang sekawan kuda terdiri dari empat orang. Orang-orang tak mempedulikan siapa-siapa yang datang itu karena perhatian mereka tengah dicurahkan pada jalannya pertandingan. Pertandingan berlangsung cepat. Pada saat keempat penunggang kuda itu datang, hanya tinggal dua pasang yang bertanding. Sebaliknya Ping-gwan terperanjat sekali melihat pendatang baru-baru itu.

Kiranya keempat pendatang itu adalah si pangeran Topayan, pengawalnya Ih-sin, seorang pemuda yang lebih muda dari Topayan dan seorang lelaki yang sebaya dan serupa dandanannya dengan Ih-sin. Pemuda itu sikapnya angkuh. Dia berjalan di sebelah muka bersama Topayan, sedang Ih-sin dan orang itu menggiring di belakangnya.

”Apakah dia juga mendengar berita dan hendak menawan Hong-ni? Biarlah, lihat saja bagaimana tindakannya nanti,” Ping-gwan menimang dalam hati.

Kedatangan Topayan berempat itu tak mengejutkan para hadirin. Setelah menambatkan kuda merekapun menggabung dalam kalangan penonton.

Saat itu pertandingan sudah mencapai final. Dua jago pemenang sedang bergulat seru. Mereka saling mencengkau dan menjegal. Yang seorang bernama Pasan yang satu Luse. Waktu Pasan berhasil memelintir lengan lawan, Lusepun dapat mengait kaki Pasan hingga tubuhnya menjorok ke muka. Dengan begitu merek terpencar lagi. Beberapa jurus, pertandingan tetap seri. Penonton memberi tepuk sorak pujian.

Entah bagaimana tahu-tahu Luse dapat menyengkelit tubuh Pasan terus dibanting ke tanah. Gerakannya mengagumkan, bantingannya menyakinkan. Sorak-sorai penonton memecah angkasa. Selagi penonton menyangka kemenangan tentu di pihak Luse, tiba-tiba terjadi adegan yang luar biasa. Ketika kepala Pasan hampir mengenai tanah, secepat kilat kepalanya menyusup ke selakang dan mencekal kaki lawan. Dengan sebuah gemboran keras, Pasan meronta sekuat-kuatnya dan tahu-tahu Luse dijumpalitkan ke atas. Luse tak mampu berkutik lagi dan terpaksa mengaku kalah. ”Kejadian itu membuat penonton melongo. Lain kejab terdengar sorak gegap gempita.

”Bagus, bagus, akupun juga ingin turut ramai-ramai ini,” sekonyong-konyong sebuah seruan melengking nyaring.

Semua mata tertuju pada orang itu. Kiranya yang bersuara itu ialah pemuda kawan Topayan tadi. Ketiga kawannya mengikuti di belakangnya. Melihat pendatang itu, seketika berubahlah

wajah Papo. Tersipu-sipu ia berdiri menyambut. Tengah para penonton tercengang-cengang, Papo berseru: ”Pangeran Topahiong berkenan datang. Maaf, hamba terlambat menyambut.”

Kiranya pemuda itu adik dari putera mahkota hwe-ki. Namanya Topahiong.  Ayah Topayan adalah pernah pamannya. Topahiong lebih muda dua tahun dari Topayan tapi kedudukannya lebih tinggi. Maka dialah yang mempelopori maju menemui Papo ong-kong.

Walaupun daerah In-ge-sau-meng itu tak diduduki pasukan kuda Hwe-ki, tapi pernah diobrak- abrik. Maka walaupun para rakyat In-ge-sau-meng menghormat kedatangan anak raja itu, tetapi dalam hati mereka tak senang. Diam-diam Papo ong-kong cemas.

”Malam ini malam keramaian Purnama-siddi. Kudengar kau mengadakan keramaian Kambing- liar, maka aku sengaja datang kemari. Jago-jagomu tadi hebat benar sampai aku tertarik untuk bermain-main dengannya,” kata Topahiong.

Jawab Popa ong-kong: ”Ini, mungkin kurang baik. Keselamatan ongcu amat berharga, kalau sampai ”

Topahiong terbahak-bahak: ”Jangan kuatir, ong-kong. Malah aku yang kuatir dia tak mampu membanting aku. Jika dia dapat membanting aku satu kali saja, akan kuhadiahinya seratus tail emas!”

Habis berkata ia menghampiri ke muka Yangpe keke, memberi hormat: ”Telah lama kudengar kecantikan keke laksana bidadari. Setelah menyaksikan sendiri, benar-benar memang melebihi bidadari. Apabila aku beruntung menang, harap kau sudi memberi hadiah padaku.”

Para penonton marah melihat tingkah laku pangeran yang kurang ajar itu. ”Nanti kalau ongcu menang, kita bicara lagi,” sahut Yangpe.

”Bagus, bagus, bagus! Kalau begitu segera dimulai saja, ayo kemarilah!” pangeran Hwe-ki itu melagak tertawa.

”Biar dimarahi ong-kong, tapi aku takkan membiarkan bedebah Hwe-ki ini menghina pepe

kami,” diam-diam Pasan membulatkan tekad. Lalu berkata: ”Ongcu adalah tetamu yang terhormat, silahkan!”

Pasan mengira pangeran itu tentu mudah dibanting. Tapi di luar dugaan ternyata lihay sekali. Pangeran itu maju menyambar siku tangan orang. Jika kena, lengan Pasan tentu akan patah tulangnya. Pasan pentang kedua tangannya untuk mengacip lengan pangeran itu licin seperti diminyaki. Gebrak pertama tiada yang berhasil. Tapi diam-diam Pasan terperanjat.

Begitulah keduanya segera mulai bergumul lagi. Ada kalanya merapat, ada kalanya terpencar. Belasan jurus, pun keduanya masih sama kuatnya. Beberapa kali tampaknya Pasan menang angin, tapi dalam detik-detik yang berbahaya Topahiong selalu dapat memecahkan ancaman lawan. Para penonton terheran-heran dan gelisah.   Pasan sendiripun bingung memikirkan. Hanya Ping-gwan yang tahu rahasianya.

Kiranya pangeran Hwe-ki itu memiliki ilmu silat tinggi. Pada saat menangkis serangan Pasan, Topahiong selalu gunakan lwekang melekat untuk menghapus tenaga orang dan diselingi juga dengan ilmu Kin-na-chiu (menangkap). Tapi pangeran itu juga mahir dalam ilmu gumul. Orang yang tak mengeri ilmu silat, tentu takkan mengetahui rahasia kelihayan Topahiong.

Diam-diam Ping-gwan menilai. Dalam ilmu gumul terang pangeran itu tak menang dengan Pasan. Tapi ilmu silatnya lebih tinggi. Jika bertanding terus, Pasanlah yang akan kalah. Tapi pangeran itu menjadi tetamu agung dari Popa ong-kong, kalau ia (Ping-gwan) sampai menyalahinya, Popa ong-kong tentu mendapat kesukaran.

Tiba-tiba Pasan mengeluarkan ilmu simpanannya. Ia turunkan tubuhnya menunggu si pangeran menyerang terus hendak disambar tumit kakinya. Tetapi ternyata kaki Topahiong itu seperti tumbuh akarnya. Pasan menindih sekuat-kuatnya tetap tak dapat menggoyangkan tubuh si pangeran. Tiba- tiba Topahiong balikkan tangan menyambar lengan lawan. Dengan gunakan ilmu Hun-kin-jo-kut (memelintir tulang), ia berhasil mematahkan sebuah tulang tangan Pasan. Pasan menjerit ngeri.

Tahu-tahu tubuhnya diangkat Topahiong terus dibanting..... Suku In-ge-sau-meng sama terbeliak dan buru-buru lari menolong Pasan. Mata jago itu merah, mulutnya mengeluh: ”Dia, dia tidak. ” - Sebenarnya ia hendak mengatakan kalau Topahiong tidak

menurut peraturan gumul. Tapi karena tak kuat, ia sudah pingsan.

Orang-orang segera menggotongkan ke dalam kemah. Beberapa jago gumul merasa curiga tapi karena Topahiong tadi membanting dengan gaya gumul apalagi dia seorang pangeran Hwe-ki, maka merekapun tak berani membuka suara.

Dengan kebanggaan, Topahiong menghadap ke muka Yangpe, ujarnya: ”Keke, aku berhasil menang. Sekarang hendak minta hadiah darimu.”

Pangeran itu ulurkan tangan terus hendak menarik Yangpe. ”Ongcu, berlakulah sopan sedikit!” wajah Yangpe mengerut keren.

Topahiong cekikikan: ”Keke, aku hanya akan minta kepadamu untuk menari dengan aku. Menurut peraturan kami, sehabis menang bergumul, siapa yang diminta menari dengannya, tidak boleh menolak. Bukankah adat rakyatmu juga begitu?”

Sekonyong-konyong Ping-gwan berbangkit, berjalan ke muka. Si nona yang pernah mencambuknya tersentak kaget: ”Hai, mau apa kau?”

Tetapi sudah kasip.   Ping-gwan sudah tiba di hadapan Yangpe keke dan memberi hormat menurut adat rakyat In-ge-sau-meng. Puteri itu dongakkan kepala. Ping-gwan mengira tentu akan terkejut. Siapa tahu Yangpe tenang sekali wajahnya malah mengulum senyum dan berkata: ”Kau seorang Han? Apa keperluanmu?”

”Aku akan mohon tanya kepadamu, keke. Apakah aku juga diperbolehkan ikut dalam pertandigan gumul?”

”Siapa kau? Apakah seorang katak busuk seperti kau juga ingin makan daging angsa?” bentak Topahiong serta terus menjotos punggung Ping-gwan.

Ping-gwan melangkah maju selangkah hingga tinju Topahiong menemui angin. Hampir saja pangeran itu terjorok ke muka. Ping-gwan gunakan gerak langkah Su-giong-poh-hwat (langkah empat gajah) untuk menghindari. Topahiong belum menyadari kalau pemuda itu berilmu tinggi, ia kira hanya secara kebetulan saja.

Setelah berdiri jejak, pangeran itu berputar tubuh hendak mnyerang lagi tapi Yangpe berkata dengan serius: ”Yang datang padaku, baik kaya atau hina, semua adalah tetamuku. Aku

menghendaki para tetamuku sama-sama memegang peraturan, sama-sama menikmati kegembiraan pesta malam ini.”

Merah wajah Topahiong. Terpaksa ia telan kemarahannya.

Yangpe berpaling dan berkata dengan nada riang kepada Ping-gwan: ”Apakah kau juga mengerti bergumul? Kau ingin bertanding dengan ongcu?”

Ping-gwan mengiakan: ”Benar, jika keke mengijinkan, aku ingin menyumbangkan tenagaku, harap keke jangan menertawakan. Aku tak meminta hadiah apa, apa, juga takkan meminta keke supaya menari dengan aku. Jika beruntung menang, aku hanya ingin bicara beberapa patah perkataan dengan keke.”

”Kalian adalah tetamuku yang terhormat. Ongcu boleh ikut ambil bagian dalam pertandingan gumul, kaupun boleh juga. Siapa yang menang nanti, aku bersedia meluluskan permintaannya. Tapi entah apakah ongcu sudi bertanding dengan kau atau tidak? Jika ongcu tak mau, hal ini kuanggap tidak ada semua.”

Topahiong tersengsem dengan kecantikan Yangpe. Sudah tentu dia tak mau melepaskan kesempatan untuk menari bersama si cantik itu. Dia benci benar kepada Ping-gwan. Ingin sekali ia menghajarnya. Maka ia segera menerima: ”Baik, kau budak yang tak tahu diri, mari!”

Tetapi Topayan yang kenal pada Ping-gwan, buru-buru meneriaki: ”Bagus, kau juga menyelundup kemari budak! Aku justeru hendak membikin perhitungan padamu.” ”Bagus, kalau begitu kalian berdua boleh maju bareng!” sahut Ping-gwan.

”Kau berani menghina aku? A-yan, menyingkirlah. Carilah pacarmu sana, jangan mengganggu aku,” Topahiong berseru murka.

Begitu Topayan menyingkir, Topahiong segera mengerjakan Ping-gwan dengan sebuah kaitan tangan dan sodokan siku.   Ping-gwan gunakan lwekang menghapus. Sebuah dorongan tangan untuk membuyarkan kaitan lawan dan lututnya diangkat untuk menumbuk perut orang. Topahiong terkejut. Buru-buru ia kempiskan dada dan papaskan tangannya ke lutut orang. Ping-gwan putar kakinya menghindar. Dua-duanya sama tak memperoleh hasil.

Dari gebrak pertama itu, kedua pihak sama tak berani memandang rendah lawannya. Setelah mundur, Topahiong maju pula. Kedua lengan dipentang setengah melingkar untuk mengancam lengan lawan. Ping-gwan tahu kalau gerakan itu disebut jurus Jong-eng-can-ki (rajawali pentang sayap). Sebuah jurus dari ilmu Toa-kin-na-chiu. Tapi gerakan itu dimainkan begitu rupa oleh Topahiong hingga tak ubah dengan gaya orang bergumul.

Langkah kaki Ping-gwan lincah sekali. Tiba-tiba ia berputar tubuh dan gunakan jurus Siat-koa- tan-pian (menggantung miring ruyung) untuk mengancam pergelangan tangan lawan.

”Hai, gerakan apa yang kau lakukan ini?” Topahiong menggumam. Ia tekuk siku lengannya sambil condongkan tubuh ke kiri. Menghindar sambil menyerang. Jari Ping-gan meluncur di sisi, tangannya hanya terpaut setengah dim dari pergelangan tangannya.

”Dan kau gunakan gerak apa itu?” Ping-gwan mendengus. Setelah saling merapat keduanya berpencar lagi.

Jurus Siat-koa-tan-pian itu sebenarnya termasuk jurus maut dari ilmu pukulan Thian-kong-ciang dari partai Siau-lim-pay. Tapi karena dimainkan Ping-gwan secara cepat sekali, maka tampaknya seperti gaya bergumul saja.

Sekalian penonton termasuk Yangpe sendiri, sama mengharap agar pangeran Hwe-ki itu dapat dirubuhkan. Jangan lagi mereka tak mengetahui bahwa gaya permainan Ping-gwan itu sebenarnya bukan ilmu bergumul, sekalipun tahu, mereka tetap menjagoi Ping-gwan.

Seperti telah diterangkan di atas, Topahiong menyakinkan dengan serius ilmu bergumul. Sekalipun bukan termasuk jago kelas satu namun permainannya cukup lihay juga. Sedang Ping- gwan hanya pernah belajar setengah tahun ketika ia masih kecil ikut ayahnya di Su-tho. Sudah tentu kalah mahir dengan Topahiong. Sekalipun dia juga menyusupkan ilmu lwekang dalam permainan gumulnya, tapi karena ia tak berani terlalu menonjolkan gerakan-gerakan yang bukan termasuk gumul, maka dalam pertandingan itu Topahiong-lah yang menang angin.

Selagi dia mencari daya untuk merebut kemenangan tak terduga-duga tangan si pangeran dapat mendorong dan menekannya. Ping-gwan terputar hampir jatuh.

Banyak di antara penonton yang berteriak tertahan. Di antaranya terdengar sebuah nada yang melengking tinggi seperti suara anak perempuan.

”Tak salah, memang Siau-ni!” pikir Ping-gwan. Saat itu kakinya belum berdiri tegak. Mendengar lengking suara itu, otomatis ia memandang ke jurusan suara tersebut untuk mencari

Hong-ni. Dengan begitu perhatiannya terpencar dan ini suatu kesempatan bagus bagi sang lawan. Topahiong cepat kaitkan ujung kakinya. Begitu Ping-gwan sempoyongan mau jatuh, ia barengi menyambar lengannya dengan ilmu Hun-kin-jo-kut. Tetapi sayang, Ping-gwan bukan Pasan, maklum Pasan tak mengerti lwekang, maka mudah diremukkan tulangnya. Sebaliknya Ping-gwan hanya merasa kesemutan lengannya tapi tak sampai terluka.

Keduanya bergerak cepat sekali. Sebelumpenonton tahu apa yang terjadi, tahu-tahu Ping-gwan beerseru 'rubuh' dan entah dengan gerakan bagaimana, si pangeran Hwe-ki sudah terpelanting ke tanah.

Kiranya walaupun pikirannya terpencar tadi, tapi Ping-gwan masih dapat menguasai permainannya.  Begitu si pangeran maju, cepat ia menutuk jalan darah di bagian rusuk pinggangnya. Benar lwekang Topahiong cukup tinggi, tapi dalam sekejab mata mana ia dapat menyalurkan lwekang membuka jalan darahnya itu.

Sebelumnya rakyat In-ge-sau-meng mengharap-harap agar pangeran Hwe-ki itu terbanting. Mereka siap dengan sorak sorai bergembira. Tapi demi pangeran itu menggeletak di tanah tak berkutik, penonton sama menjerit dan pucat wajahnya. Kalau pangeran itu sampai mati, celakalah rakyat In-ge-sau-meng nanti!

Topayan juga terkejut sekali. Pikirnya setelah pertandingan selesai, ia segera mencari Hong-ni. Tapi kini terpaksa ia harus menolongi saudara sepupunya itu dulu. Sebagai seorang yang mengerti silat, tahulah ia kalau Topahiong kena tertutuk jalan darahnya. Ia segera memijat jalan darah pembukanya. Berbareng itu Topahiongpun kerahkan lwekangnya.

”Ai ” Topahiong berteriak lega. Tapi karena tutukan Ping-gwan tadi menggunakan Ciong-

chiu-tiam-hiat (tutukan keras), sekalipun jalan darahnya sudah terbuka namun peredaran darahnya masih belum lancar. Untuk sesaat pengeran itu masih belum dapat bicara.

Tetapi karena nyata pangeran itu masih hidup, kini hilanglah kegelisahan rakyat In-ge-sau- meng.   Sebaliknya mereka tengah memberi pernyataan dukungan kepada Ping-gwan. ”Dalam

bertanding gumul, sudah tentu ada yang menang ada yang kalah. Yang kalah harus menyalahkan dirinya sendiri mengapa tak becus. Jangan menyalahkan siapa-siapa! - Dalam gelanggang pertandingan, tak ada perbedaan diapa kaya siapa hina. Mana boleh mengandalkan pengaruh untuk menghukum lawan!”

Demikian sana sini terdengar ucapan-ucapan yang membela Ping-gwan, sebaliknya menyalahkan dan mengejek Topahiong.

Tiba-tiba Yangpe berbangkit: ”Tetamu agung tak kena apa-apa, tak usah saudara hadirin gelisah. Sekarang permainan thiau-yo dimulai!”

Seekor kuda lari keluar dari sebuah kemah. Setelah memberi pengumuman, Yangpe pun loncat ke kudanya dan mengejar penunggang kuda itu.

Melihat Yangpe mengejar seorang pemuda sambil membawa cambuk, sekalian orang menjadi terkesiap. Beberapa pemuda diam-diam putus asa. ”Ah, kiranya keke sudah punya pilihan!” Tetapi mata Ping-gwan yang celi segera mengetahui bahwa pemuda yang dikejar Yangpe itu bukan lain U-bun Hong-ni dalam penyaruan sebagai seorang pemuda.

Kawanan gadis sama naik kuda mengejar pemuda yang disetujuinya. Dalam kekacauan itu Ping-gwan pun juga loncat ke atas kudanya dan mencongklang keluar lembah menuju ke padang rumput.

Rakyat In-ge-sau-meng segan mengganggu keke mereka yang tengah mengadakan rendervouz (pertemuan) dengan sang kekasih. Mereka sama bubaran mencari tempat sendiri-sendiri. Kini tinggal Ping-gwan seorang diri yang larikan kudanya mengejar Yangpe.

”Perlu apa kau mengejar kemari?” tegur Hong-ni dengan alis mengerut.

”Aku hendak menyampaikan berita padamu. Urusanmu, aku sudah tahu semua. Tempo hari aku berpapasan dengan dua bujangmu ”

”Akupun tahu tindakanmu menghalau Topayang, menolong bujangku itu,” tukas Hong-ni. ”Aku hendak menyampaikan berita, siapa tahu mereka sudah datang kemari. Siau-ni, bagaimana rencanamu hendak menghadapi hal itu?”

”Urusanku, tak perlu kau urus. Kau sudah menyampaikan berita, silahkan pergi.”

Ping-gwan tak menyangka kalau nona itu sedemikian dingin kepadanya. Letikan api asmara yang baru mulai timbul hatinya, telah disiram air dingin oleh nona itu, Ping-gwan tegak seperti patung tak tahu apa yang harus dilakukan.

”Siau-ni, kau yang salah. Orang datang dari ribuan li jauhnya dengan membawa itikad baik. Sebaliknya tanpa mengucapkan sepatah terima kasih kau malah mengusirnya. Mana ada aturan begitu macam? Coh tayhiap, atas pertolonganmu kepadaku tadi, terimalah pernyataan terima kasihku,” kata Yangpe.

Hati Ping-gwan menjadi tawar, ujarnya: ”Siau-ni, aku sudah berterima kasih kalau kau sudah batalkan niatmu membunuh aku. Mana aku berani mengharap lebih banyak untuk menjadi kawanmu? Baik, selamat tinggal Siau-ni!”

Air mata mulai mengembang di sudut pelaput Hong-ni. Pada lain saat pecahlah tangisnya. Ping-gwan tertegun dan buru-buru berputar diri. ”Siau-ni, jangan menangis. Kalau ada omongan silahkan mengatakan!”

Hong-ni menghapus air matanya. Dengan terisak-isak ia bertanya: ”Coh toako, mengapa kau begitu baik kepadaku?”

”Bukankah kita berkawan sejak kecil? Kalau kau mendapat hinaan orang, bagaimana aku bisa tinggal diam saja?”

Berkata Hong-ni dengan nada rawan: ”Coh toako, kau balas kejahatan dengan kebaikan. Dari tempat ribuan li jauhnya kau perlu menyampaikan berita padaku. Sebenarnya akupun merasa berterima kasih.  Tapi apa daya aku telah minum arak darah di hadapan arwah ayahku ”

”Ai, lagi-lagi kau begitu, Siau-ni,” buru-buru Yangpe menyelutuk, ”Bukankah sudah berkali-

kali kukatakan kepadamu? Mengapa kau tetap limbung saja? Ayahmu belum tentu terbunuh oleh ayahnya. Taruh kata dalam kekacauan pertempuran kala itu, tak sengaja ayahmu terluka, keterangan Coh siangkong ini benar sekali. Pada hakekatnya, orang Hwe-kilah yang menjadi gara- garanya!”

Yangpe seperti saudara dengan Hong-ni. Hong-ni telah menceritakan apa kata Ping-gwan kepadanya.

Hong-ni diam saja.   Kata Yangpe pula: ”Dan aku masih menaruh kecurigaan. Jangan-jangan ayahmu itu telah dicelakai sendiri oleh orang Hwe-ki. Pertempuran itu dilakukan pada malam yang gelap. Pasukan berkuda Hwe-ki membantu ayahmu. Dalam rencana orang Hwe-ki untuk melenyapkan negerimu, ayahmu dianggap sebagai perintangnya yang besar. Maka dengan menggunakan kesempatan itu, dengan sebuah anak panah saja, bukankah cukup untuk membinasakan ayahmu?”

”Ai, benar!   Mengapa aku tak memikir sampai di situ? Itu namanya siasat 'sekali tepuk dua lalat'. Mereka dapat menghilangkan perintang, pula dapat menyuruh rakyat Su-tho benci kepada orang Han,” seru Ping-gwan.

”Kuharap mudah-mudahan begitu. Tetapi sekalipun tidak begitu sejak ini aku takkan menganggapmu sebagai musuh. Ai, aku tak hiraukan segala bisak-bisik orang lagi. Terima kasih, Coh toako,” akhirnya Hong-ni memberi pernyataan dan berjabatan tangan.

Lama nian tangan mereka saling merapat, hati berdebar. Yangpe menutupi mulutnya yang tertawa seraya menyingkir ke samping.

”Siau-ni, bagaimana rencanamu menghadapi siau-ong-ya?” tanya Ping-gwan.

”Aku dikejar-kejarnya sampai bingung lari kemana? Entah tak tahu bagaimana untuk menghadapi dia. Coh toako, maukah kau memberi petunjuk?”

”Memang, bersembunyi bukan cara yang baik. Cara yang manjur ialah mengenyahkan orang Hwe-ki dari negerimu,” sahut Ping-gwan.

”Ini.... hem, tidakkah kau mengetahui bahwa negeriku Su-tho itu kecil? Bagaimana dapat melawan Hwe-ki?”

”Berapa jumlah tentara Hwe-ki yang menduduki Su-tho?” tanya Ping-gwan.

”Tiga ribu pasukan berkuda!”

”Berapa banyak orang lelaki rakyatmu yang dapat berperang?” tanya Ping-gwan pula.

”Hanya 30-an ribu. Wanita kamipun bisa berperang tetapi total jenderal semua hanya berjumlah 50-an ribu.”

”Hanya 50-an ribu? Hm, bukankah itu sudah hampir dua puluh kali lipat dari tentara musuh?” Ping-gwan tertawa.

”Tetapi Hwe-ki dapat mendatangkan bala bantuan dari Se-gak. Jika pasukan berkuda mereka melanda dari negeri tetangga, kita pasti hancur!”

Ping-gwan membuat beberapa puluh lingkaran di tanah, ujarnya: ”Sekalipun tentara berkuda

Hwe-ki itu pandai berperang tapi mereka terpencar di beberapa negara. Berarti kekuatan mereka tersebar di mana-mana. Jika negeri-negeri di daerah Se-gak mau bersatu padu, apa susahnya menghancurkan musuh?” kata Ping-gwan.

”Dikuatirkan tak mudah untuk mempersatukan mereka,” sahut Hong-ni.

”Tetapi rakyat daerah Se-gak mana yang sudi negerinya dijajah orang! Asalkan kalian mempelopori perlawanan itu, masing-masing negeri tentu akan memberi reaksi. Kirimlah utusan untuk menghubungi negeri-negeri itu,” Ping-gwan memberi usul positif.

Hong-ni menghela napas: ”Memang bagus sekali usulmu itu. Tetapi, ai, dengan kekuatan apa kita mengadakan perlawanan?”

”Bukankah pamanmu sekarang sedang menjabat panglima pendudukan di Tiang-an? Jika kau dapat mempengaruhinya supaya memberontak terhadap Hwe-ki, membangun negara Su-tho. Kurasa hal itu mengontungkan Tay Tong dan Hwe-ki.”

Hong-ni membelalakan matanya, kemudian berkata dengan rawan: ”Ah, pamanku itu sudah seperti dikenakan tahanan oleh orang Hwe-ki. Panglima besar Topace adalah ayahnya Topayan si bangsat itu. Kemarin lusa bujangku datang memberi laporan, Topace telah memberi perintah supaya kau pulang dan menikah dengan anaknya. Kalau aku menurut, barulah pamanku dibebaskan.”

”Baik, marilah kita sekarang pulang,” tiba-tiba Ping-gwan berkata. ”Pulang kemana?”

”Kepada Popa ong-kong sana. Kita tawan Topahiong dan Topayan untuk ditukarkan dengan pamanmu,” sahut Ping-gwan.

Yangpe keke segera menyatakan hendak memanggil pemuda-pemuda yang turut dalam

keramaian Thiau-yo itu supaya membantu tangkap kedua pangeran itu. Tetapi Ping-gwan menolak: ”Lebih baik jangan ramai-ramai. Mereka toh hanya berjumlah empat orang, tak usah pakai sekian banyak tenaga.”

Waktu mereka hendak naik kuda, tiba-tiba dari kejauhan terdengar derap kaki kuda riuh mendatangi dan di sana Topahiong berseru sekeras-kerasnya: ”Jangan kasih mereka lolos!” Menurut perhitungan paling tidak satu jam anak raja Topahiong itu baru dapat sembuh dari tutukan tadi. Tak nyana ternyata lwekang dari Topahiong yang berasal dari aliran Tibet itu, hebat

sekali. Walaupun tak sesakti dengan lwekang persilatan Tiong-goan, tapi dalam hal membuka jalan darah memang mempunyai kegunaan yang khas. Apalagi dibantu diurut-urut oleh Topayan. Belum setengah jam pangeran itu sudah pulih dan segera melakukan pengejaran.

Kalau menurut rencana Yangpe yang hendak mengerahkan rakyatnya untuk menangkap

pangeran-pangrean itu, tentulah mudah terlaksana. Tapi sekarang situasinya berubah. Yang hendak ditangkap malah mau menangkap. Kekuatan mereka pun lebih besar.

Namun Ping-gwan tak jeri. Ia membisiki Hong-ni supaya melindungi keke. Kemudian ia cabut gan-ling-to dan maju menyongsong musuh.

Kuda tunggangan Topahiong paling hebat. Dialah yang lebih dahulu datang menyerang. Dengan menggerung keras Ping-gwan putar goloknya membabat kaki kuda lawan. Tetapi kuda yang terlatih baik itu melonjak ke atas melampaui kepala Ping-gwan. Ping-gwan luput membabat kaki terus tusukkan ujung goloknya ke perut kuda. Kuda rubuh, penunggangnyapun terbanting. Pengawalnya yang bernama Utotong berteriak: ”Jangan melukai junjunganku!” - Ia loncat dari kudanya terus menombak Ping-gwan.

Dia adalah ko-chiu nomor dua di negeri Hwe-ki. Tombaknya laksana naga keluar dari laut atau harimau tinggalkan sarang. Permainan ilmu golok Ping-gwan yang terdiri dari 36 jurus, dapat ditangkis dengan baik oleh tombak Utotong. Keduanya sama menahan kesakitan dari tangannya yang linu.

Topahiong loncat bangun, tertawa keras: ”Hai, kalian berdua nona, kawinlah dengan kami

berdua saudara! Yangpe keke, tak usah kau pulang. Nanti pada hari perkawinan kita baru kusuruh menjemput ayahmu.”

Alis keke mengerut naik saking murkanya. Ia memaki: ”Bangsat kecil, kau berani menghina aku di daerahku sini!”

Kembali Topahiong tertawa: ”Biar kau puteri ong-kong, tapi akupun akan raja Hwe-ki. Kau jadi isteriku, sudah sepantasnya, masakan kau anggap menghina?”

”Jangan menghina taciku!” bentak Hong-ni yang terus menusuk punggung putera raja itu. Topayan yang sudah tiba, ayunkan cambuknya untuk menghalangi Hong-ni.

”Siau-ni, kali ini kau tak nanti mampu lari. Mari, ikut aku saja pulang,” kata pangeran itu.

Gerakan cambuk pangeran itu membuat lingkaran seluas beberapa tombak. Hong-ni gunakan gin- kang untuk berlincahan menghindar kian kemari. Yang satu naik kuda, yang lain jalan kaki.

Cambuk lawan pedang. Memang cambuk si pangeran tak mungkin dapat melibat pedang Hong-ni, tapi Hong-ni pun tak berdaya untuk menolong Yangpe.

Pada saat Topahiong akan berhasil mengudak Yangpe, tiba-tiba Ping-gwan tinggalkan Utotong terus lari memburu si anak raja. Karena kalah dalam ilmu gin-kang, Utotong tak dapat mengejar Ping-gwan. Ia lontarkan saja sebatang hui-ja (garu terbang).

”Bagus!” tanpa berpaling, Ping-gwan balikkan tangan menyambuti hui-ja itu terus dilemparkan ke arah Topayan.

Topayan sudah pernah merasakan kelihayan Ping-gwan. Ia tak berani menyambuti lemparan itu. Buru-buru ia gunakan gerak Teng-li-ciang-sim, berjumpalitan ke bawah perut kuda. Hui-ja

melayang di atas punggung kuda, sedang Topayanpun jatuh ke tanah. Hong-ni cepat menghampiri dengan sebuah tabasan. Karena tak sempat loncat bangun, terpaksa Topayan gerakkan cambuknya untuk menangkis.

Saat itu jika Ping-gwan memburu dengan mudah ia tentu dapat menghabisi jiwa pangeran itu. Tapi kala itu Topahiong sudah dekat sekali dengan Yangpe keke. Apa boleh buat, terpaksa Ping- gwan harus menolong keke itu lebih dulu.

”Siau-ni, hadapilah dia dulu!” mulutnya berseru, kakinya sudah bergerak dalam Pat-poh-kam-

sian (delapan langkah memburu tenggoret). Belum habis kumandang ucapannya, Ping-gwan sudah melesat di belakang Topahiong.

Topahiong tersipu-sipu menangkis serangan Ping-gwan. Benar dia kalah lihay tapi kepandaiannya tak terpaut jauh dari Ping-gwan. Dalam beberapa kejab saja Ping-gwan sudah melancarkan 18 kali tabasan dan memaksa Topahiong mundur terus-menerus. Cuma dia masih dapat menghindari tabasan. Utotong berlari-lari menghampiri dan menyerang dengan tombaknya. Dengan begitu kini Ping-gwan diserang dari muka dan belakang.

Saat itu Topayanpun sudah loncat bangun dan bertempur dengan Hong-ni. Keduanya sama- sama tak naik kuda. Topayan lihay ilmu ruyungnya, kuat dan gagah perkasa. Hong-ni lincah permainan pedang dan gerakan tubuhnya. Kekuatan mereka berimbang.

”Cici, lekas larilah!” dalam bertempur itu Hong-ni sempat meneriaki Yangpe. Yangpe loncat ke atas kudanya dan segera meniup terompet.

Topahiong menertawakan: ”Pada saat orang-orangmu datang, kau tentu sudah menjadi tawananku,” - Ia lempar hui-ja untuk menghantam jatuh terompet Yangpe, setelah itu mengeroyok Ping-gwan lagi.

Tombak Utotong itu dapat mencapai beberapa tombak. Sedang Topahiong selalu siap memberi pukulan maka satu-satunya jalan bagi Ping-gwan ialah harus mengundurkan anak raja itu dulu baru nanti mengganyang Utotong. Sebenarnya mudah untuk merobohkan Topahiong, tapi tombak Utotong itu selalu mengancam saja.

Ping-gwan menyempatkan diri untuk memandang ke sekeliling. Dilihatnya Yangpe keke

berlari-larian mencari jalan lolos. Rupanya tenganya sudah lelah. Pun karena bertempur lama, tenaga Hong-ni pun makin lemah. Kini nona itu hanya dapat bertahan diri, tak mampu balas menyerang Topayan lagi. Ping-gwan makin gelisah karena ia sendiri sukar untuk lolos dari kepungan kedua lawannya.

Dalam kegelisahan itu tiba-tiba terdengar lengking ketawa yang menusuk telinga. Tahu-tahu si kunyuk Ceng-ceng-ji muncul. Dengan ginkangnya yang hebat, dalam bebrapa loncatan saja ia sudah dapat menyambar Yangpe untuk diserahkan pada Ih-sin.

”Orang she Coh, tempo hari kau beruntung lolos.  Coba saja sekarang kau mampu lolos lagi atau tidak? Pangeran Topa, beruntung aku dapat memberikan jasaku. Untuk itu aku tak berani mengharap apa-apa kecuali minta perlindungan,” seru Ceng-ceng-ji.

”Baik, jika kau dapat membunuh budak itu, akan kuangkat kau jadi pemimpin pelatih pasukan raja,” sahut Topahiang.

Diam-diam Ping-gwan mengeluh. Sebenarnya ia hendak mencari jejak Ceng-ceng-ji dan Tiau- ing, sungguh tak terduga dapat bertemu di situ. Tapi munculnya pada saat dan tempat seperti itu, sungguh tak menguntungkan Ping-gwan. Dia ambil putusan mengadu jiwa.

Dengan berani ia merangsek. Setelah berhasil menghalau tombak, tiba-tiba ia balikkan tangan menyambar golok pangeran itu. Karena tak menduga sama sekali golok Topahiong kena direbut. Dan sebelum sempat menurunkan kepala, tahu-tahu pundaknya termakan ujung golok. Itu saja untung tak mengenai tenggorokannya. Sekalipun begitu, luka di pundaknya itu berat sekali.

Tulangnya sampai retak. Waktu Ping-gwan hendak menyusuli tabasan lagi, Ceng-ceng-ji keburu menolong. Sekali tabas, golok Ping-gwan kutung jadi dua.

Ih-sin bergegas-gegas mengangkat Topahiong yang sudah berlumuran darah, kemudian memberinya obat penghenti darah. Anak raja itu masih muda dan sebat serta memiliki lwekang tinggi. Setelah tak ingat diri beberapa saat, iapun tersadar lagi.

”Kalian harus mencincang bangsat itu, aduh, aduh ” anak raja itu mengerang kesakitan.

”Ong-cu, jangan kuatir, tentu kubalaskan!” seru Ceng-ceng-ji.

Mengapa mendadak sontak Ceng-ceng-ji muncul dan minta perlindungan pada Hwe-ki?

Kiranya dia telah tertipu Tiau-ing. Setelah tiba di Ogemi, dia tetap berhati-hati. Dia selalu tinggal sekamar dengan Khik-sia. Setiap makanan yang diantarkan Tiau-ing, lebih dulu ia suruh Khik-sia mencicipi baru kemudian dimakannya. Ini untuk menjaga kemungkinan Tiau-ing meracuninya.

Tapi obat yang diberikan Tiau-ing kepada Khik-sia setiap bulannya, sudah tentu Ceng-ceng-ji tak dapat turut mencicipi.  Justeru dalam obat itulah Tiau-ing menjalankan siasatnya. Kali itu ia

mencampurkan obat penawar dari obat pembius. Begitu minum, Khik-sia tentu akan segera pulih tenaganya. Tapi lewat sepenyulut dupa tentu akan kembali pingsan.

Tiau-ing tahu kepandaian mereka berimbang. Dalam waktu yang singkat itu terang Khik-sia tak mampu mengalahkan Ceng-ceng-ji. Untuk itu Tiau-ing telah mengadakan persiapan seperlunya. Ia dapat menghasut Hoan Gong hwatsu untuk turut mengganyang Ceng-ceng-ji. 

Rencana Tiau-ing telah berjalan semerstinya. Ceng-ceng-ji menerima obat dari Tiau-ing tapi tak mengijinkan nona itu masuk ke kamar.  Begitu Khik-sia minum, tiba-tiba ia rasakan tenaganya pulih kembali. Segera ia menempur Ceng-ceng-ji. Tiau-ing dan Hoan Gong yang bersembunyi di luar kamar segera turut melabraknya. Ceng-ceng-ji terpaksa melarikan diri. Hanya berselang beberapa detik Ceng-ceng-ji kabur, Khik-siapun kembali pening dan pingsan. Dia tetap jatuh di tangan Tiau-ing.

Ceng-ceng-ji muring-muring dengan pengkhianatan itu. Namun apa daya. Sekarang yang menjadi pemikirannya ialah kemana ia harus mencari tempat berlindung. Tiba-tiba ia teringat U- bun Hong-ni. Ia belum mengetahui urusan Topayan dengan Hong-ni. Ia memutuskan pergi kepada Hwe-ki dengan mengatakan kalau kenal pada U-bun Hong-ni. Ia mengharap mudah-mudahan panglima Hwe-ki menerimanya.

Panglima Hwe-ki ialah Topace, ayah dari Topayan. Justeru ayah dan anak itu sedang mencari Hong-ni untuk dipaksa kawin. Mendengar pengakuan Ceng-ceng-ji kalau kenal dengan si nona, Topace segera memerintahkan supaya orang itu ditangkap. Ceng-ceng-ji lari tunggang langgang.

Setelah menyelidiki ke sana-sini, barulah ia tahu apa sebabnya. Maka pada suatu malam

kembali ia menemui Topace dan menyatakan keinginannya. Ia sanggup mencapai dan menangkap U-bun Hong-ni.

Melihat Ceng-ceng-ji berkepandaian tinggi, Topace menerimanya tetapi dengan syarat harus dapat menangkap U-bun Hong-ni. Setelah hal itu berhasil, ia akan membantu Ceng-ceng-ji untuk menangkap Tiau-ing dan Khik-sia. Begitu pula Ceng-ceng-ji diperbolehkan tinggal di istana Hwe- ki.

Girang Ceng-ceng-ji tak kepalang. Dia bakal memiliki Khik-sia sebagai tanggungan dan dilindungi raja Hwe-ki. Ancaman Gong-gong-ji tak perlu dikuatirkan lagi.

Kala itu Topayan dan pangeran Topahiong sudah menuju ke daerah In-ge-sau-meng. Ceng-

ceng-ji siang malam menempuh perjalanan ke daerah itu. Dan secara kebetulan ia datang tepat pada waktu kedua pangeran itu memerlukan bantuan.

Ceng-ceng-ji punya pandangan dendaman dengan Ping-gwan. Mendengar perintah anak raja Hwe-ki supaya membunuh Ping-gwan, Ceng-ceng-ji girang sekali. Setelah sekian lama bertempur, tenaga Ping-gwan mulai berkurang. Sebenarnya kepandaiannya berimbang dengan Ceng-ceng-ji, tapi karena sudah lelah, ia tak dapat mengimbangi. Apalagi ketambahan seorang seperti Utotong yang bertenaga kuat. Dalam waktu yang singkat, Ping-gwan berbahaya sekali keadaannya!

Dengan ginkangnya yang hebat, Ceng-ceng-ji mainkan ilmu pedang Wan-kong-kiam. Dalam sejurus saja, ia dapat menusuk tujuh buah jalan darah orang. Ilmu golok Ping-gwan juga serba cepat. Tring, tring, dalam sekejab saja terdengar suara dering senjata beradu sampai tujuh kali. Golok pusaka beradu dengan pedang pusaka.

Utotong putar tombaknya menusuk dada Ping-gwan. Karena tak sempat menangkis, Ping-gwan ayunkan kakinya menendang tombak lawan. Tapi tombak Utotong berat sekali. Benar Ping-gwan dapat menendangnya terpental tapi tak urung kakinya terhuyung-huyung. Dan kesempatan itu tak dilewatkan Ceng-ceng-ji. ”Kena!” pedang berkelebat dan punggung Ping-gwan berhias selarik luka.

”Kau atau aku yang mati!” teriak Ping-gwan. Luka itu membuatnya kalap. Dan karena kalap ia makin gagah.

Bangsa Hwe-ki paling menghormati orang gagah. Diam-diam Utotong menimang dalam hati:

”Anak muda ini sungguh gagah perkasa. Sayang ia melukai junjunganku, sukar untuk mengampuni jiwanya. Toh dia takkan lolos, baik kubiarkan si kunyuk itu saja yang membunuhnya.”

Utotongpun rubah permainannya, dari menyerang jadi bertahan. Sebaliknya karena Ping-gwan kalap hendak mengadu jiwa, Ceng-ceng-ji pun segan. Ia tahu ginkangnya lebih unggul dari lawan. Maka ia merubah gaya permainannya menjadi berputar-putar untuk menghabiskan tenaga orang. Dan siasatnya itu berhasil. Karena terlalu bernapfsu menyerang, mata Ping-gwan mulai berkunang- kunang, kepalanya pening.....

”Coh toako, kita mati berdua!” Hong-ni berteriak dan mendesak Topayan terus hendak menggabung pada Ping-gwan.

”Oh, makanya kau tak mau menikah dengan aku, kiranya kau suka dengan budak itu!” Topayan iri hati dan menghadang nona itu.

Tenaga Hong-ni kalah dengan lawan. Beberapa kali ia hendak menerobos tapi paling banyak

hanya beberapa belas tindak saja. Jaraknya masih jauh dengan Ping-gwan. Untung Topayan hanya akan menawannya hidup-hidup, maka terpaksa ia main mundur.

Adalah Ping-gwan, tergugah semangatnya demi mendengar pernyataan Hong-ni tadi. ”Siau-ni, kalau kau dapat lolos, lekaslah lolos!” serunya. Sebenarnya ia sudah groggy, tapi mendadak kakinya tegak kembali. Dalam serangkai serangan ia dapat memaksa Ceng-ceng-ji mundur. ”Boleh saja kau bertingkah beberapa saat, toh tak nanti mampu lolos!” Ceng-ceng-ji tertawa mengejek.

Baru dia berkata begitu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda.  Tiga penunggang kuda mencongklang datang dengan pesat. Yang di sebelah muka, seorang nona berseru: ”Bukankah itu Coh toako? Ai, nona U-bun juga berada di situ!”

Yang datang itu bukan lain adalah Su Yak-bwe, In-nio dan Bik-hu. Merekapun hendak mencari keterangan tentang diri Hong-ni ke daerah Su-tho. Waktu lewat di situ, mereka mendengar bunyi pertandaan terompet. Ketika menghampiri ternyata berjumpa dengan orang yang dicarinya.

”Oh, kalian sudah saling mengenal? Bagus, bagus, lekas tolongi dia!” Yangpe girang sekali. Tar, begitu keprak kudanya maju, Bik-hu sudah ayunkan cambuknya. Kuat sekalipun tenaga Ih-

sin, tapi mana mampu menghadapi kelihayan Bik-hu. Bik-hu gunakan gerakan pinjam tenaga orang untuk menghantamnya. Tampaknya hanya perlahan-lahan saja ia menarik cambuknya, tapi Ih-sin sudah tertarik jatuh dari kudanya. Disusuli dengan gerakan tangkai cambuk, jalan darah Ih-sin pun tertutuk. Sekali gebrak, Bik-hu dapat membebaskan Yangpe keke.

Setelah suruh Yak-bwe membantu Hong-ni, Bik-hu dan In-nio loncat turun dari kudanya dan berseru: ”Bagus, kunyuk tua. Kau berani umbar kebiadaban lagi di sini? Kami justeru hendak menangkapmu!” - Sepasang pemuda itu segera menyerang Ceng-ceng-ji.

”Dengan kepandaianmu berdua hendak menangkap aku?” Ceng-ceng-ji mengejek. Ia tak tahu kepandaian In-nio dan Bik-hu sudah maju pesat sekali. In-nio sudah berhasil menyakinkan ilmu pedang warisan suhunya. Bik-hu adalah keponakan Biau Hui sin-ni dan juga terhitung murid dari Mo Kia lojin. Paling akhir ini dia telah menggabungkan ilmu pedang dari kedua tokoh itu menjadi satu. Dan lagi selama dalam perjalanan dengan In-nio itu, tak putus-putusnya mereka saling merundingkan pelajaran ilmu pedang. Karena berasal dari sesama perguruan, maka ilmu pedang merekapun sesuai sekali.

Memang kalau satu lawan satu, terang mereka bukan tandingan Ceng-ceng-ji.  Tetapi dengan maju berbarengm kekuatan mereka dapat mengatasi Ceng-ceng-ji. Ceng-ceng-ji memandang rendah In-nio yang dianggap hanya seorang anak perempuan. Ia hendak gunakan jurus menusuk jalan darah untuk membuat In-nio tak berkutik.  Tapi In-nio juga mahir ilmu pedang Hui-hoa-po- tiap (bunga bertebar menangkap kupu-kupu). Ceng-ceng-ji menemui tempat kosong. Waktu ia hendak merubah serangannya, Bik-hu sudah menghalaunya dengan sebuah jurus Heng-hun-toan-hong. Dan In-niopun kembali kembangkan permainannya untuk menimpali serangan sang kawan. Sepasang pedang bergabung, timbullah selingkar bianglala perak yang mengurung diri Ceng-ceng-ji.

Ceng-ceng-ji keluarkan ilmunya berlincahan. Tapi tak urung ia lebih banyak bertahan daripada menyerang alias kalah angin. Dan karena mendapat bantuan, semangat Ping-gwan timbul seketika. Meskipun terluka, ia masih dapat menghadapi Utotong dengan berimbang.

Pun karena mendapat bantuan Yak-bwe, Hong-ni dapat mendesak Topayan. Untuk pertama kali sejak mendapat pelajaran ginkang dari tunangannya, baru kali itu Yak-bwe menggunakan untuk menghadapi seorang musuh. Permainan pedang disertai gin-kang, memang hidup sekali. Gerakan pedang makin lama makin cepat. Diam-diam Topayan mengeluh dan merencanakan lari. Tapi Yak- bwe tak memberi hati lagi. Dalam sebuah serangan ia dapat melukai pangeran itu sampai tiga kali. Hong-ni yang benci sekali kepada pangeran itu, kembali menambahinya dengan sebuah tusukan yang tepat mengenai lutut. Topayan menjerit terus rubuh tak dapat berkutik lagi.

”Jika tak berguna, tentu sekarang juga kuhabisi jiwamu,” kata Hong-ni.

Kini kedua nona itu berputar tubuh. Yak-bwe membantu In-nio dan Bik-hu, Hong-ni membantu Ping-gwan.

Utotong meremehkan kekuatan Hong-ni.   Ia menyambut kedatangan itu dengan tombaknya. Tetapi walaupun tenaganya lemah, Hong-ni lincah sekali. Sekali melesat ia dapat menghindar. Karena tusukannya luput, tubuh Utotongpun menjorok ke muka. Ping-gwan balikkan golok, dengan sebuah hantaman yang indah ia dapat memukul jatuh tombak lawan. Sedang Hong-ni pun tak mau kalah. Sekali melesat ia tusuk jalan darah jago Hwe-ki itu.

”Uto ciangkun, kutahu kau seorang lelaki perkasa. Tapi karena kau hendak unjuk kesetiaanmu kepada junjunganmu, aku terpaksa menyakitimu!” seru Hong-ni. Tapi ia masih kasihan.

Tusukannya hanya pelahan saja tak sampai membikin orang luka.

”Bagus, sekarang tinggal kunyuk tua itu. Jangan biarkan dia lari!” teriak Ping-gwan.

Menghadapi tiga anak muda saja Ceng-ceng-ji sudah kewalahan, apalagi ketambahan dua jago muda lagi. Kini dia hanya dapat bertahan saja. Dikeroyok lima jago muda, dia sukar meloloskan diri. Tiba-tiba terdengar bunyi pertandaan terompet. Pada lain saat terdengar gemuruh derap kaki kuda. Di padang rumput muncul beratus-ratus kuda.

”Celaka, jika tak lekas lari aku tentu bakal celaka di sini,” pikir Ceng-ceng-ji.

”Hai, kalian kepingin mendengar berita tentang Khik-sia atau tidak?” ia coba-coba memancing perhatian anak-anak muda itu.

Tapi In-nio dan Bik-hu tak menghiraukan. Mereka tetap menyerang dari kanan-kiri. Untung gingkang Ceng-ceng-ji hebat. Dengan sebuah gerakan yang istimewa, ia dapat melejit keluar dari kacipan kedua pedang anak muda itu. Setelah menghalau pedang Hong-ni, kembali ia berseru: ”Su Tiau-ing, si wanita busuk itu, menipu aku. Aku ingin bersungguh hati membawa kalian utnuk menghajarnya. Sungguh, tidak bohong! Kalau kalian tak percaya, tentu menyesal!”

”Baik, bohong atau tidak, biarkan dia bicara dulu,” akhirnya Yak-bwe lambatkan serangannya. ”Dengarkan baik-baik! Khik-sia berada di biara Ogemi!” kata Ceng-ceng-ji.

Orang yang paling memperhatikan diri Khik-sia, adalah Yak-bwe. Ia mendengarkan dengan

penuh perhatian sampai lupa melakukan serangan. Tahu-tahu ujung pedang Ceng-ceng-ji menusuk ke tenggorokannya. Untung Bik-hu dan Ping-gwan cepat melindungi Yak-bwe. Ceng-ceng-ji mengamuk. Tiba-tiba ia rubah jurus permainannya. Ia ancamkan ujung pedangnya ke tenggorokan In-nio, begitu In-nio mundur, secepat kilat Ceng-ceng-ji enjot tubuhnya melayang melampaui

kepala nona itu.

Beberapa pemuda In-ge-sau-meng yang datang atas panggilan terompet Yangpe tadi, begitu melihat ada orang yang wajahnya seperti kunyuk, melayang di padang rumput, mereka segera turun tangan. Ada yang menimpuk hui-to, ada yang melemparkan jaring penangkap binatang. Ceng- ceng-ji putar pedang untuk melindungi dirinya. Berpuluh-puluh batang hui-to kena dipukulnya

jatuh. Dalam beberapa kejap Ceng-ceng-ji sudah lenyap dari pemandangan.

Sebagai gantinya kini kawanan pemuda itu melihat pangeran dan anak raja Hwe-ki menggeletak di tanah dengan mandi darah. Kejut mereka lebih hebat daripada melihat manusia seperti kunyuk tadi.

”Mereka menghina aku. Ringkus mereka, segala apa akulah yang tanggung,” perintah Yangpe. Dengan suara parau si anak raja Topahiong mengancam: ”Awas, kalau berani mengikat aku.

Begitu aku pulang ke Hwe-ki tentu kukerahkan pasukan berkuda untuk meratakan perkemahan kalian. Dan kalian seorangpun takkan kubiarkan hidup.”

Di luar dugaan, rakyat padang rumput itu paling benci kalau menerima ancaman. Ancaman Topahiong menimbulkan kemarahan pemuda-pemuda itu.

”Kami memperlakukan kau sebagai tetamu agung. Sebaliknya kau berani menghina keke kami, berarti tak memandang mata kepada kami. Baik, terserah kau mau pulang mengerahkan pasukan berkuda, pokok sekarang ini kami akan membongkokmu dulu.”

Topahiong, Topayan dan kedua pengawalnya segera diikat.

Hong-ni berseri-seri girang. Waktu ia hendak menghaturkan terima kasih kepada Yak-bwe, tiba- tiba Ping-gwan muntah darah terhuyung-huyung mau jatuh. Rupanya pemuda yang terluka itu tadi bertahan diri sekuat-kuatnya. Kini setelah pertempuran selesai, dia tak kuat lagi.

”Coh, toako, bagaimana kau?” buru-buru Hong-ni memapahnya.

”Hanya terluka ringan, tak apa-apa,” sahut Ping-gwan. Tetapi nyata sekali wajahnya pucat, keringat dinginnya mengucur deras.

Bik-hu yang sedikit-sedikit mengerti ilmu pengobatan segera memeriksa. Ia dapatkan pemuda itu kehabisan tenaga. Untung lwekangnya tinggi hingga tak sampai terluka dalam. Ia segera memberi minum pil pada Ping-gwan.

Sekalian orang lega hatinya. Kawanan pemuda itu menghormat sekali pada Ping-gwan yang

telah menolong keke mereka. Mereka membuat semacam tandu dari dahan pohon dan mengangkut Ping-gwan pulang ke perkemahan Popa ong-kong. Saat itu hari pun sudah fajar.

Popa ong-kong menyatakan kekuatirannya tentang peristiwa itu. Hong-ni minta maaf padanya karena ia merasa yang menjadi gara-garanya.

”Anak raja itupun hendak menculik diriku. Kita tak bertindak, diapun akan mengganggu kita,” Yangpe memberi keterangan.

Berkata Popa ong-kong dengan nada sungguh-sungguh: ”Ajaran yang dianut suku kita ialah, jika orang mengantar seekor kambing kepada kita, kita balas memberinya dua ekor kuda. Jika orang menendang kita satu kali, kita harus membayarnya paling sedikit dengan dua pukulan.

Adanya selama ini aku bersikap mengalah terhadap orang Hwe-ki, karena aku tak menginginkan pertumpahan darah, sekali-kali bukan karena takut pada mereka. Jangan kuatir anak-anakku. Karena urusan sudah begini rupa, kita bersama-sama senasib. Tak nanti kubiarkan kalian dihina orang Hwe-ki!”

Sebenarnya Yangpe dan Hong-ni akan menggunakan segala daya untuk mempengaruhi kepala suku itu. Siapa tahu ternyata Popa ong-kong sudah mengadakan musyawarah dengan rakyatnya dan memutuskan untuk melawan bangsa Hwe-ki. Jago-jago muda itu girang sekali dengan peristiwa itu. Yangpe menjelaskan pada ayahnya bahwa rakyat In-ge-sau-meng tidak berdiri sendiri. Ia menuturkan usul Ping-gwan tadi.

”Bersekutu dengan negeri-negeri di Se-gak untuk bersama-sama menentang Hwe-ki, memang suatu rencana yang tepat. Sekarang ini juga kesempatan itu harus kita laksanakan. Hong-ni, tadi petugas penyelidik pulang melaporkan sebuah berita.”

Atas pertanyaan Hong-ni, Popa menerangkan: ”Rakyat Tho-ko-hun yang tak puas terhadap pendudukan Hwe-ki, tahun ini sudah hentikan pengiriman upetinya. Kini kedua negeri tengah mempersiapkan perang.”

Tho-ko-hun adalah sebuah negeri besar di daerah Se-gak. Daerahnya meliputi sebagian besar Ceng-hay dan sebagian kecil tanah Tibet. Negeri itu banyak menghasilkan kuda yang bagus. Pasukan berkuda yang menjadi kebanggaan kerajaan Hwe-ki, sebagian besar adalah kuda persembahan upeti dari Tho-ko-hun. Tiga tahun yang lalu Tho-ko-hun mengangkat raja baru. Di bawah pimpinan raja itu, negerinya makin bertambah kuat. Mereka tidak mau tunduk pada Hwe-ki lagi. ”Berita itu tepat pada waktunya. Karena menguatirkan Tho-ko-hun, pihak Hwe-ki tentu tak berani sembarangan menggempur Su-tho,” kata Popa.

Ping-gwan yang selama tadi berbaring di tanah mendengari, kini tiba-tiba berbangkit, ujarnya: ”Berita itu bukan saja berita girang bagi nona U-bun, pun juga bagi kalian semua.” - Kata-katanya itu ditujukan pada Yak-bwe bertiga.

”Mengapa?” tanya Yak-bwe.

”Biara Ogemi itu terletak di daerah Tho-ko-hun. Tho-ko-hun sudah bermusuhan dengan Hwe-

ki. Itu berarti Hoan Gong tak nanti berani menyerahkan Khik-sia kepada Hwe-ki,” kata Ping-gwan. ”Kalau begitu kau percaya omongan Ceng-ceng-ji bahwa Khik-sia berada di biara Ogemi?”

tanya Yak-bwe.

”Menurut pengetahuanku, dahulu Su Su-bing pernah menduduki Tho-ko-hun dan bersahabat dengan Hoan Gong. Malah dua tahun yang lalu Hoan Gong masih datang menjenguk Su Su-ging di Tho-ko-hun. Kalau Ceng-ceng-ji mengatakan bahwa hwatsu itu menjadi gurunya Tiau-ing, tentulah bukan membohong,” sahut Ping-gwan.

Akhirnya Bik-hu mengusulkan karena sudah tak ada lain-lain urusan baik bersama menuju ke Ogemi saja.

”Paderi dari biara Ogemi berkepandaian tinggi. Aku menyesal sekali tak dapat membantu kalian. Harap kalian berhati-hati,” kata Ping-gwan.

”Nona U-bun, tolong kau sampaikan berita ini kepada Thiat cecu di Hok-gu-san,” In-nio meninggalkan pesanan. Memang cerdik sekali nona itu. Ia melakukan dua buah rencana. Sembari menuju ke Ogemi sembari memberitahu pada Thiat-mo-lek.

Keesokan harinya berangkatlah Bik-hu bertiga menuju Tho-ko-hun. Negeri itu ribuan li

jauhnya. Harus melalui padang rumput, payau-payau dan padang pasir yang berbahaya. Sekalipun mereka naik kuda pilihan tapi toh memerlukan waktu satu bulan untuk tiba di negeri itu. Kalau dihitung mulai berangkat dari Hok-gu-san, dalam mencari jejak Khik-sia itu mereka sudah menghabiskan waktu tujuh bulan lamanya.

Hari itu turun badai salju yang hebat. Kabut menyelubungi bumi. Pada jarak sepuluh langkah tak dapat melihat apa-apa. Ketiga anak muda itu mengerudung mukanya dan tetap menempuh perjalanan.

”Telah kutanyakan pada penduduk daerah ini. Daerah Ogemi hanya kurang seratus li lagi. Besok kita tentu sudah tiba di sana,” kata Bik-hu.

Bahwa besok pagi bakal bisa berjumpa dengan sang kekasih, Yak-bwe girang tapi gelisah juga. Ia bertanya pada In-nio apa yang akan dilakukan bila tiba di tempat itu.

”Bukankah kita sudah sepakat malam harinya baru melakukan penyelidikan?” In-nio mengembalikan pertanyaan orang.

”Ah, hatiku tak tenteram,” kata Yak-bwe.

”Eh, tinggal sehari saja masakan kau tak sabar lagi? Kalau yang kucemaskan ialah badai salju yang kita hadapi ini,” sahut Bik-hu.

”Kucemaskan kalau mengetahui kedatangan kita, siluman perempuan itu segera akan melekatkan pedangnya ke leher Khik-sia. Saat itu ”

”Apa katamu? Khik-sia ” dalam kabut badai salju yang lebat kuda mereka terpencar maka

berteriaklah In-nio menegas.

Kutakut siluman perempuan itu akan membunuh Khik-sia,” seru Yak-bwe. Pertama karena tak dapat menahan luapan hatinya dan kedua karena kuatir In-nio tak mendengar, maka Yak-bwe berseru sekuat-kuatnya.

Tiba-tiba terdengar suara benda mengaum. Sebatang hui-jui melayang ke arah Yak-bwe. Buru- buru Yak-bwe gunakan gerakan Teng-li-ciang-sim untuk menghindar. Senjata rahasia tepat lewat menyusup di bawah kendali yang dicekalnya.

Dengan gunakan gin-kangnya yang lihay, Yak-bwe berjumpalitan di udara dan melayang ke

tanah. Tetapi penyerangnya itu juga tak kalah cepat. Sebelum Yak-bwe sempat mencabut pedang, orang itupun sudah loncat dari kudanya terus menyerangnya dengan golok.

”Kurang ajar! Siapa kau? Menyerang orang secara gelap bukan laku seorang ksatria!” damprat Yak-bwe yang dalam pada itu sudah menghindari 18 kali serangan golok. Jika ia belum mendapat pelajaran ginkang dari Khik-sia terang ia tentu binasa.

Dalam lingkungan kabut dan salju tebal, tadi Yak-bwe tak tahu siapa penyerangnya itu. Tetapi kini setelah bertempur barulah ia melihat jelas.   Diam-diam ia terkejut. Kiranya seorang bocah

lelaki berumur empat lima belas tahun, lebih pendek dari Yak-bwe. Belum dewasa tetapi mengapa ilmu goloknya sedemikian hebat?

”Huh, kau berani menghina aku bukan laki-laki ksatria? Membasmi dorna menghancurkan kejahatan, adalah perbuatan seorang ksatria. Hatimu jahat, perlu apa aku bicara manis dengan kau?” sahut bocah lelaki itu. Ucapannya memang seperti orang persilatan yang berpengalaman tapi nadanya tetap seperti anak-anak.

Yak-bwe geli-geli mendongkol.   Ia tak kenal siapa pemuda tanggung itu. Ia tak mengerti kenapa bocah itu mengata-ngatainya begitu. Tapi ia tak berani berlaku ayal untuk menjaga

serangannya yang hebat. Akhirnya karena kewalahan Yak-bwe terpaksa mencabut pedang untuk menangkisnya. Pedang Yak-bwe kena terpapas kutung. Buru-buru Yak-bwe gunakan lwekang lekat untuk mendorong golok lawan ke samping. Setelah itu ia baru sempat berkata: ”Kau siapa? Tahukah kau aku siapa? Mengapa kau memaki-maki aku?”

Bocah itu menggumam: ”Kutahu kau seorang jahat!”

”Bagaimana kau tahu aku jahat?”

”Bukankah kau orang she Su?” tanya bocah itu. ”Benar, apa salahnya aku she Su?” balas Yak-bwe.

”Itu sudah jelas. Kau jahat, jahat sekali! Lihat golok!” teriak bocah itu sembari terus menyerang. Dalam sekejap saja ia sudah lancarkan 18 kali tabasan.

Saat itu badai salju sudah mulai reda. Bik-hu dan In-nio pun menghampiri. Karena lihat hanya seorang bocah, mereka tak mau membantu. Heran juga mereka, siapa anak itu. Sebaliknya tahu kalau Yak-bwe mempunyai dua orang kawan, anak itu tetap congkak, tetap menyerang Yak-bwe. Tiba-tiba Yak-bwe teringat sesuatu, pikirnya: ”Apakah kejadian lama terulang lagi? Jangan- jangan bocah ini mengira kau si wanita siluman itu? Tetapi dia masih kanak-kanak, mengapa bisa bermusuhan dengan Tiau-ing?”

Permainan golok pemuda tanggungitu hebat dan cepat. Yak-bwe belum pernah melihat permainan golok yang lihay. Iapun masih suka berhati kanak-kanak. Ilmu golok lawan istimewa,

iapun lalu keluarkan seluruh kepandaiannya. Maka meskipun ia menduga telah terjadi salah paham, tapi ia tak mau mencari penjelasan.

”Siluman perempuan, kau main apa ini? Mengapa tak berani bertanding sungguh-sungguh dengan aku? Ayo, keluarkan seluruh kepandaianmu!” marah anak itu karena merasa dipermainkan Yak-bwe.

Yak-bwe tertawa mengikik. Waktu ia hendak hentikan pertempuran, tiba-tiba anak itu berteriak: ”Mah, lekas datang! Ini dia si perempuan siluman itu!”

Seekor kuda melesat datang. Penunggangnya seorang wanita pertengahan umur yang cantik. Sekali loncat turun ia sudah mencabut pedang dan menyerang dengan jurus Giok-li-tho-ih. Ujung pedangnya mengarah ke tenggorokan Yak-bwe.

Kejut Yak-bwe bukan kepalang. Untung ia sudah mahir dalam ilmu ginkang ajaran Khik-sia. Dalam keadaan kepepet, ia gunakan gerak Si-hiong-hia-hoan-hun untuk menghindar. Pedang nyonya cantik itu terpaut seujung rambut melalui muka Yak-bwe.

Belum Yak-bwe berdiri tegak, nyonya itu sudah menyerangnya lagi. Cepat dan ganas sekali, melebihi dari serangan puteranya tadi. Terpaksa Yak-bwe kerahkan seluruh kepandaiannya. Ilmu pedangnya Coan-hoa-kiam termasuk jenis permainan lunak. Hanya dua kali menangkis ia sudah tak tahan lagi. Cret, pedang nyonya itu berkelebat menusuk lengan baju Yak-bwe. Untung Yak- bwe cepat menghindar. Terlambat sedikit perutnya tentu pecah.

Kini Yak-bwe keluarkan ilmu pedang Hui-hong-kiam (naga terbang) ajaran Khik-sia.

Permainan ini termasuk jenis keras. Trang, ketika saling berbentur, Yak-bwe rasakan tangannya sakit sekali. Namun serangan yang amat ganas dari wanita itu dapat ditangkisnya.

Mulut wanita itu menggumam, wajahnya mengerut heran dan permainan pedangnya tiba-tiba lambat. Pada kesempatan itu dengan terengah-engah Yak-bwe berseru: ”Aku Su Yak-bwe, entah membuat kesalahan apa kepada cianpwe, tolong dijelaskan!”

Wanita itu tertegun, serunya: ”Kau ini Su Yak-bwe? Bukan Su Tiau-ing?”

”Memang mereka berdua she Su, tetapi yang satu hendak mencelakai Khik-sia, yang ini adalah tunangan Khik-sia,” In-nio menyelutuk tertawa.

”Astaga....” tiba-tiba anak tadi menjerit: ”Apa? Kau tunangan dari engkohku Khik-sia?” Merah selembar wajah Yak-bwe, sahutnya: ”Engkoh kecil, engkau memanggil engkoh pada Khik-sia, apakah kau ”

Wanita cantik itu menyimpan pedangnya, berkata: ”Kiranya kau ini tunangannya Khik-sia,

makanya kau dapat memainkan ilmu pedang keluarga Toan. Akulah yang merawat Khik-sia sampai dewasa.”

Girang dan kejut Yak-bwe tak terhingga, serunya: ”Oh, jadi kau Bibi Lam!”

Wanita cantik itu mengiakan. Serta merta Yak-bwe berlutut memberi hormat. Wanita itu mengangkat Yak-bwe, ujarnya: ”Nanti dulu, perlihatkan tusuk kundai kumala di kepalamu itu!” Yak-bwe segera memberikan benda itu. Berlinang-linanglah air mata wanita itu setelah memeriksa tusuk kundai burung Hong dari keluarga Toan. ”Kau benar menantu keponakanku” - dan Yak-bwe segera dipeluknya dengan mesra.

Wanita pertengahan umur itu adalah He Leng-soang, isteri dari Lam Ce-hun. Lam Ce-hun adalah saudara angkat dari Toan Kui-ciang (ayah Khik-sia). Sewaktu muda mereka bedua berkelana dalam dunia persilatan dan digelari sepasang pendekar budiman. Kemudian ikut bertempur melawan pemberontak An Lok-san dan gugur.

Waktu berumur 10 tahun, Khik-sia sudah kehilangan ayah-bundanya. Yang merawatnya adalah He Leng-soang sampai dewasa. Ketika umur 16 tahun, barulah He Leng-soang memberitahukan tentang soal pertunangannya dengan Yak-bwe. Sesuai dengan pesan mendiang ayah-bundanya, Khik-sia disuruh turun gunung mencari tunangannya itu. Tusuk kundai Liong yang menjadi tanda pengikat pertunangan Khik-sia dan Yak-bwe masih disimpan bibi He Leng-soang yang baik budi itu. Waktu Khik-sia turun gunung, barulah diberikan kepadanya. ”Liong Hong Po Cha” sepasang

tusuk kundai Naga dan burung Hong, merupakan sepasang pusaka yang serasi dan serupa satu sama lain.  Bentuknya sama hanya lukisan ukir-ukirannya yang berbeda.  Maka dengan cepat He Leng- song segera mengenali tusuk kundai burung Hong dari Yak-bwe itu.

”Bibi, engkoh Khik-sia telah menerima budi bibi sedalam lautan, tapi entah kelak dia dapat membalas budi itu atau tidak.  Dia sekarang diculik perempuan siluman itu, mungkin ”

”Hal itu sudah kuketahui semua. Justeru sekarang aku hendak mencarinya. Bagaimana? Apa sampai sekarang kau belum mengetahui jejaknya?” sahut He Leng-soang.

He Leng-soang sayang Khik-sia seperti puteranya sendiri. Pun ia sudah kangen pada Thiat-mo- lek suami isteri yang sudah 10-an tahun tak bertemu. Sayang karena puteranya masih kecil jadi sampai sekarang ia baru melaksanakan niatnya itu.

He Leng-soang mempunyai tiga orang anak laki dan seorang anak perempuan. Puteranya yang sulung sekarang sudah berumur 15 tahun. Untuk mengenangkan Lui Ban-jun, sute Lam Ce-hun yang gugur bersama-sama dalam membela negara, maka He Leng-soang memakaikan she Lui untuk nama anak-anaknya. Puteranya yang kesatu diberi nama Lam He-lui. Yang kedua Lam Jun- lui, yang ketiga (perempuan) Lam Jiu-lui dan yang keempat Lam Tong-lui.  Kata-kata Lui itu dari she Lui (Lui Ban-jun). Lam Tong-lui, puteranya yang keempat itu, ditinggalkan ayahnya sewaktu masih dalam kandungan. Sekarang anak itu sudah berumur 10 tahun.

Dalam umur 15 tahun, Lam He-lui sudah dapat menyakinkan seluruh ilmu silat keluarga Lam. Maka He Leng-soang segera mengajaknya keluar untuk cari pengalaman. Lam Jun-lui yang berumur 14 tahun, Lam Jiu-lui yang berumur 12 tahun, meskipun kepandaian silatnya belum

sempurna tapi dapat mengalahkan 20-an orang biasa yang berani mengeroyoknya. Oleh karena itu He Leng-soang berani tinggalkan mereka di rumah untuk menjaga adiknya Tong-lui yang baru berumur 10 tahun itu.

He Leng-soang dalam perjumpaannya dengan Thiat-mo-lek, diberitahukan tentang peristiwa Khik-sia diculik Tiau-ing. Ia segera ajak puteranya pergi lagi untuk mencari jejak Khik-sia. ”Sungguh kebetulan sekali kedatanganmu ini, Bibi Lam. Kini kami sudah mengetahui jejak

Khik-sia. Dia ditawan siluman perempuan itu di biara Ogemi. Kira-kira 100-an li dari sini. Paderi- paderi dari biara itu berilmu tinggi. Kami justeru gelisah menghadapi mereka. Bibi Lam, dengan adanya bibi, nyali kami menjadi besar,” kata In-nio.

”Sayang, sayang! Tempo hari aku berjumpa dengan Gong-gong-ji dan Shin Ci-koh yang juga mencari Khik-sia. Kalau begini, suruh Gong-gong-ji mencuri Khik-sia saja, tak perlu membikin kaget kawanan paderi Ogemi. Ah, sudahlah. Tak perlu tunggu Gong-gong-ji, kita sekarang berangkat ke biara itu,” demikian He Leng-soang.

Badai saljupun sudah berhenti. Mereka berlima segera menuju ke biara Ogemi. Mendapat bantuan He Leng-soang, harapan Yak-bwe untuk mendapatkan Khik-sia menjadi besar sekali. Sekarang mari kita tengok keadaan Khik-sia di biara Ogemi. Tanpa terasa sudah hampir tujuh bulan ia ditahan di situ. Selama itu ia bergaul baik dengan Hoan Gong hwatsu.

Setelah Ceng-ceng-ji kabur, Khik-sia kuatir kalau Tiau-ing akan merayunya. Tapi ternyata walaupun peraturan tak terlalu bengis, biara Ogemi itu merupakan pusat penyebaran agama Buddha di daerah Se-gak. Paderi-paderinya pun bukan golongan jahat.

Sebagai murid angkat dari Hoan Gong, Tiau-ing bebas mengutarakan kesukarannya. Ia pun memberi sejumlah besar uang guna memperbaiki biara itu. Karena dua alasan itu maka barulah Tiau-ing diterima tinggal di biara situ.

Dalam pergaulan pria wanita, rakyat Se-gak lebih bebas dari rakyat Tiong-tho. Tiau-ing diberi sebuah kamar dan seorang bujang wanita. Tapi tidak bercampur dengan Khik-sia. Pemuda itu diserahkan di bawah pengawasan Hoan Gong. Hoan Gong mencukur rambut Khik-sia untuk dijadikan seorang paderi muda. Karena terkena obat Soh-kut-san, tenaga Khik-sia hilang lenyap. Maka Hoan Gong memberi keleluasaan padanya untuk berjalan-jalan di dalam biara. Ia tak takut anak muda itu dapat kabur.

….....(tulisan kabur) bergaul dan sama-sama suka ilmu silat. Meskipun tenaganya lunglai tapi Khik-sia dapat juga membicarakan ilmu silat dengan Hoan Gong. Keduanya sama memperoleh manfaat.

Setiap hari lahir Buddha, di biara Ogemi diadakan perayaan besar-besaran. Segenap paderi harus melakukan sembahyangan di tiga ruangan. Pada hari itu kembali diadakan perayaan sembahyangan besar untuk menghormat hari lahir sang Buddha. Khik-sia senang dengan keramaian. Ia minta diperbolehkan untuk hadir. Karena dia sudah memakai pakaian paderi, Hoan Gongpun mengijinkan.

Selama tujuh bulan itu, Khik-sia belum pernah menginjak ruangan besar. Dia memang tak berminat menyembah Hud. Dia hanya berkeliaran melihat-lihat ukir-ukiran lukisan di tembok. Waktu Hoan Gong hendak menegurnya, tiba-tiba Ti-khek-ceng 9paderi yang menyambut tetamu) masuk melaporkan bahwa murid dari Kong Tik hwat-ong, kepala biara Putala telah datang hendak turut dalam upacara sembahyangan.

Istana Putala adalah sebuah biara agung di daerah Tibet. Biara itu didirikan oleh puteri Bun Song, anak perempuan baginda Li Si-bin yang diambil permaisuri oleh Raja Tibet. Walaupun

kemudian hari pengaruh kerajaan Tong makin lemah, tapi berdasarkan sejarahnya, Istana Putala itu tetap menduduki tempat yang teratas di kalangan biara-biara daerah Se-gak. Kepala biara bergelar Hwat-ong, lebih tinggi dan mulia dari semua kepala-kepala di biara lain.

Sebenarnya biara Ogemi itu tiada hubungan dengan Potala. Tapi demi mendengar biara agung

itu mengirim rombongan anak muridnya untuk turut hadir dalam upacara sembahyangan, Hoan Biat hwatsu, hong-tiang (pemimpin) dari biara Ogemi, tersipu-sipu menyuruh Ti-khek-ceng mempersilahkan rombongan tetamu itu masuk.

Tetapi Hoan Siok hwatsu, sute dari Hoan Biat hwatsu, seorang yang cermat. Ia sedikit menaruh kecurigaan, ujarnya: ”Mengapa mendadak sontak Istana Potala mengirim utusan kemari? Suheng, kau harus menanyakan yang jelas!”

”Siapa sih yang berani memalsu sebagai utusan dari Potala? Biara kita ini biara terbesar di negeri Tho-ko-hun. Kalau Kong Tik hwatsu mengirim utusan untuk mengadakan hubungan baik, itulah sudah sepantasnya,” sahut Hoan Biat. ”Tetapi aku tetap curiga. Tho-ko-hun sedang bentrok dengan Hwe-ki, kedua belah pihak sedang bersiap-siap perang. Mengapa mendadak pihak Potala mengirim utusan kemari? Apakah hal itu tidak mencurigakan?” bantah Hoan Siok.

”Lalu lintas amat jauh, hubungan beritapun terhambat. Mungkin pemerintah Hwe-ki belum mengetahui tentang istana Potala mengirim utusan. Betapapun ganasnya pemerintah Hwe-ki itu, mereka tentu tak berani mengganggu urusan anak murid dari Potala. Sudah sute, jangan banyak curiga. Terhadap gengsi Potala yang sedemikian agungnya, kita harus menaruh kepercayaan penuh.

Jika kita mengajukan pertanyaan dan dijawab memang mereka itu betul rombongan anak murid yang diutus dari Potala, bukankah kita akan malu?”

Karena suhengnya berkeras begitu rupa, Hoan Siok pun tak berani banyak omong lagi.  Tak berapa lama, paderi Ti-khek-ceng datang dengan rombongan utusan istana Potala. Semua hanya berjumlah 4 orang. Salah seorang dari tetamu itu, kepalanya lancip, bentuknya lucu. Begitu masuk ke ruangan besar, matanya jelalatan kian kemari.

Khik-sia terkejut. Ia seperti sudah kenal dengan tetamu itu. Dan setelah merenung, ia teringat akan seseorang. Namun ia masih belum berani memastikan.

Hoan Biat hwatsu menghaturkan selamat datang pada rombongan utusan itu dan minta maaf atas penyambutannya yang kurang memuaskan.

”Ah, hong-tiang kelewat merendah. Kita toh sama-sama anak murid Buddha, tak perlu

sungkan-sungkan. Aku membawa sebuah hwat-ci (amanat agama) dari Kong Tik hwat-ong, harap hong-tiang terima,” kata pemimpin paderi Lama dari Potala itu.

Hoan Biat terkesiap. Walaupun kedudukan Biara Potala itu yang tertinggi sendiri, tapi biara Ogemi tidak dibawahinya. Mengapa Kong Tik hwat-ong mengirim Hwat-ci? Dan lebih curiga lagi Hoan Biat ketika mendengar ucapan tetamunya itu tidak seperti paderi yang taat.

Kalau Biat melayani kepala rombongan Lama Potala, Hoan Gong, hoan Siok dan beberapa paderi yang berkedudukan tinggi dari Ogemi, sama menyambut ketiga utusan yang lainnya itu.

Justeru yang disambut oleh Hoan Gong itu ialah paderi kepala lancip yang tak sedap dipandang itu. Walaupun tak senang, namun Hoan Gong tetap menyambutnya dengan hormat.

Tiba-tiba terdengar orang berteraiak melengking: ”Itulah Ceng-ceng-ji. Awas, jangan kena ditipunya!”

Yang melucuti kedok Ceng-ceng-ji itu bukan lain ialah Khik-sia. Memang selain bentuk wajahnya, pun tingkah laku Ceng-ceng-ji itu mirip dengan kunyuk. Sebagai sutenya yang sudah bertahun-tahun bergaul, sudah tentu Khik-sia paham benar dengan diri suhengnya itu. Ia menaruh curiga dan makin curiga, tapi ia merasa aneh juga mengapa wajah bekas suhengnya itu berubah megitu macam?

Ceng-ceng-ji turun tangan secara kilat, saat itu tulang bahu Hoan Gong hendak dicengkeramnya.  Tapi untung Khik-sia berteriak memperingatkan. Dalam gusarnya Hoan Gong gunakan gerak Tho-poh-ciat-ka, turunkan kedua pundaknya dan berputar tubuh dengan gerakan tumit kaki. Dengan tepat ia dapat menghindari.

Ceng-ceng-ji mengusap wajahnya dan mengunjukkan roman mukanya yang asli. Kemudian tertawa gelak-gelak: ”Bagus, budak, matamu celi benar dapat mengenali suhengmu. Ayo, ikutlah aku, jangan lari, ya?”

Kiranya Ceng-ceng-ji mengenakan topeng kulit. Dalam pada berkata-kata itu, tubuhnya sudah melesat ke tempat Khik-sia. Tetapi rombongan paderi Ogemi banyak jumlahnya, untuk beberapa saat Ceng-ceng-ji tak berhasil menangkap Khik-sia. Ceng-ceng-ji mengamuk. Setiap paderi yang menghalang tentu dipukul atau ditutuk jalan darahnya. Dalam beberapa kejap saja, sudah belasan paderi yang rubuh.

Melihat itu Hoan Gong marah. Ia menyambar sebatang tongkat terus dihantamkan ke punggung Ceng-ceng-ji. Karena ruangan itu penuh dengan orang, Ceng-ceng-ji tak leluasa mengeluarkan gin- kang. Terpaksa ia cabut pedang untuk menangkis. Diam-diam ia heran kemana gerangan Khik-sia bersembunyi. Bukankah tadi terang kalau bersuara?

Tiba-tiba rombongan paderi berteriak kaget. Waktu Hoan Gong berpaling, darahnyapun terkesiap. Paderi yang mengepalai Kay-le-tong (bagian menjatuhkan hukuman biara) dan Hoan Biat hwatsu, kena diringkus lawan.

Ketiga kawan Ceng-ceng-ji yang menyaru jadi paderi lhama dari Potala itu adalah jago-jago

pilihan dari Hwe-ki. Yang dua orang memang juga kaum paderi. Tetapi yang seorang, hanya secara darurat mencukur rambut dan menyaru jadi paderi. Kedua paderi itu termasuk golongan partai agama Bi-cong dari Tibet. Namanya Bu Ong dan Bu Ci. Mereka berhambat pada Hwe-ki tapi tak punya hubungan apa-apa dengan Biara Agung Potala.

Rencana itu Ceng-ceng-ji dan panglima Hwe-ki Topace yang mengatur. Pada upacara sembahyangan hari lahir sang Buddha, biara Ogemi tentu menerima tetamu. Saat itulah mereka akan meyelundup masuk dan meringkus kepala biara untuk menyerahkan Khik-sia. Rencana itu mempunyai dua pertimbangan. Pertama, karena paderi-paderi biara Ogemi itu pandai ilmu silat. Tho-ko-hun sedang bentrok dengan Hwe-ki. Kalau terjadi perang, dikuatirkan paderi-paderi Ogemi itu akan digunakan oleh pemerintah Tho-ko-hun. Kedua, karena Topace memerlukan tenaga Ceng- ceng-ji maka ia turuti saja keinginan orang untuk menculik Khik-sia.

Dalam melaksanakan rencana itu, Ceng-ceng-ji minta bantuan dari seorang jago Hwe-ki. Dan demi suksenya rencana itu, mereka berdua rela menuckur rambut menjadi paderi gadungan. Yang disambut Hoan Biat hwatsu adalah si jago Hwe-ki yang menyaru jadi paderi lhama.

Namanya Chili, bu-su (senopati) nomor satu dari negeri Hwe-ki. Kepandaiannya tak kalah dengan Ceng-ceng-ji.

Sebenarnya Hoan Biat juga tinggi ilmu silatnya. Tetapi karena mengira benar-benar berhadapan dengan utusan dari Potala, maka ia tak bersiap-siap. Tutukan jalan darah yang dilancarkan secara kilat oleh Chili, menyebabkan Hoan Biat hwatsu tak berdaya.

Pun tertangkapnya paderi kepala Ka-le-tong itu juga karena tak bersiap-siap. Hanya sekali gerak, dia sudah dibikin tak berdaya oleh Bu Ong. Di kalangan empat paderi kepala dari biara

Ogemi, hanya Hoan Siok hwatsu yang sudah menaruh kecurigaan. Karena itu ia sudah bersiap-siap dan tak sampai kena diringkus. Kini ia bertempur seru dengan paderi Tibet si Bu Ci.

Chili mengangkat tubuh Hoan Biat tinggi ke atas dan tertawa gelak-gelak: ”Jiwa hong-tiang kalian berada di tanganku. Siapa yang berani bergerak?”

Kawanan paderi yang sedianya hendak bergerak menyerang, terpaksa berhenti.

Ceng-ceng-ji tertawa bangga, serunya: ”Hai, dengarlah sekalian paderi Ogemi. Hal yang pertama harus kalian lakukan, serahkanlah budak Khik-sia itu padaku!”

Khik-sia tak enak karena telah membikin susah hong-tiang Ogemi. Baru ia hendak tampil ke muka, tiba-tiba Chili berteriak keras dan lemparkan tubuh Hoan Biat sampai beberapa tombak jauhnya.  Kiranya Hoan Biat diam-diam kerahkan lwekang untuk membuka jalan darahnya yang tertutuk. Karena dicengkeram, tangannya tak dapat bergerak, tapi ia dapat tekuk lututnya untuk membentur ubun-ubun kepala orang.

Chili adalah jago nomor satu dari Hwe-ki, kepandaiannya pun luar biasa. Jika lain orang, tentu sudah pecah kepalanya dengan gerakan Hoan Biat yang tak terduga-duga itu. Tapi dia dapat menghindar dengan sebat. Cepat-cepat ia mendak sambil menarik tubuh orang. Lutut Hoan Biat luput mengenai kepala tapi kena pundak Chili. Sakitnya bukan kepalang. Dalam marahnya ia lemparkan tubuh Hoan Biat sekuat-kuatnya.

Dua orang paderi coba hendak menyambuti tubuh pemimpinnya. Tapi akibatnya menggenaskan. Mereka tak kuat menyambuti tenaga lontaran yang begitu hebat sehingga terhantam jatuh di tanah bergelundungan. Mulut menjeri ngeri, tubuh berkelojotan dan nyawa melayang.....

Untung karena ditahan oleh kedua paderi tadi, daya bantingan Chili berkurang tenaganya.

Begitu tiba di tanah, Hoan Biat dapat berjumpalitan bangun. Dia tak sampai terluka berat. Namun karena hebatnya kegoncangan yang dideritanya, ia pun muntahkan segumpal darah.

Gelombang yang satu belum reda, gelombang lain timbul. Ci-hwat-ceng (paderi yang menguasai peraturan biara) yang diringkus Bu Kiu siangjin, pada saat itupun menjerit ngeri. Kiranya ia tak sudi dijadikan barang tanggungan untuk menekan kawan-kawannya. Tahu bahwa kepandaiannya kalah dengan lawan, ia putuskan urat nadinya sendiri dan binasa....

Hoan Biat hwatsu murka. Menyambuti sebuah senjata Hong-ciang-jan dari seorang muridnya, ia berseru dengan bengis: ”Delapan murid dari tingkat lwe-sam-wan supaya tetap tinggal di ruangan, yang lain-lain supaya keluar semua. Biara Ogemi tak dapat menerima hinaan sebesar ini!” Mengetahui bahwa musuh yang datang pada saat itu termasuk jago-jago kelas satu, maka Hoan Biat segera meminta kedelapan murid kepala Lwe-sam-wan tinggal.   Yang lain-lain karena dianggap masih belum cukup kepandaiannya, disuruh keluar agar jangan sampai jatuh korban banyak. Hoan Biat bertiga saudara (Hoan Gong dan Hoan Siok) dengan kedelapan murid kepala itu akan bertempur mati-matian dengan pengacau-pengacau itu.

”Jangan lagi hanya delapan murid kepala, sekalipun semua paderi-paderimu disuruh maju, aku

tak takut!” Chili tertawa mengejek. Ia cabut golok pusakanya dan menyambut serangan Hoan Biat. Trang setelah terluka parah tenga Hoan Biat berkurang, ta tak kuat menahan gempuran golok.

Senjatanya rompal dan dia sendiri tersurut mundur sampai tiga langkah!

Hoan Gong dan Hoan Siok yang mempimpin sayap kanan dan kiri dari barisan paderi, segera maju menahan serangan Chili dan Bu Ong. Barisan bergerak memencar dan merapat kembali. Hoan Biat mundur ke dalam barisan. Ceng-ceng-ji beberapa kali hendak menerobos tapi tak berhasil. Tapi sayang Hoan Biat yang paling tinggi kepandaiannya telah menderita luka dan di antara delapan murid kepala itu sudah ada dua orang yang terluka ringan. Di bawah tekanan dari empat jago kelas satu, rupanya barisan paderi itu mulai tak kuat bertahan.

Diam-diam Khik-sia menyesali dirinya karena sudah tak punya tenaga lagi. Coba tidak, tentu ia dapat melayani Ceng-ceng-ji. Tiba-tiba ia teringat bahwa Ceng-ceng-ji itu bukan melainkan hendak menangkap dirinya saja, pun termasuk Tiau-ing juga. Jika pihak Ogemi sampai kalah, Tiau-ing tentu takkan lolos. ”Ah, mengapa aku tak coba-coba membujuknya supaya memberi obat penawar?” tanyanya sendiri.

Buru-buru ia keluar dari ruangan pertempuran. Pada waktu Hoan Gong menerima kedatangan Tiau-ing dan Khik-sia, hanya beberapa paderi yang berkedudukan tinggi, tahu urusan itu. Yang lain-lainnya hanya mengira Khik-sia itu sebagai calon paderi baru. Apalagi kala itu sedang dalam kekacauan maka tak ada orang yang memperhatikan gerak-geriknya (Khik-sia) sama sekali. Tetapi ia tak tahu di mana ruangan yang ditempati Tiau-ing. Yang didengarnya dari Hoan Gong ialah bahwa hong-tiang telah menyediakan sebuah kamar istimewa untuk Tiau-ing dan melarangnya keluar. Ah, kemana ia hendak mencari kamar itu? Ia coba-coba pergi ke taman belakang.

Di dalam taman itu terdapat belasan pondokan untuk paderi-paderi. Ketika ia hendak mencari keterangan, tiba-tiba seorang wanita muncul berlari-larian sampai hampir menubruknya. Wanita itu seorang perempuan tani. Karena sudah tak punya kekuatan, Khik-sia terpelanting jatuh terlanggar. Wanita itu berhenti, menolongnya dan mengucapkan beberapa patah bahasa daerah yang tak dimengerti Khik-sia.

”Apa kau yang melayani nona Su?” tanya Khik-sia.

Namun perempuan itu juga tak mengerti bahasanya Khik-sia. Setelah menatap Khik-sia dari ujung kaki sampai ke kepala, ia mengunjuk wajah girang lalu mengeluarkan sebuah lukisan. Kini

giliran Khik-sia yang terheran-heran. Tapi yang nyata, lukisan itu merupakan seorang pemuda yang bukan lain Khik-sia sendiri.

Perempuan itu mulutnya nyerocos sambil menggerak-gerakkan tangan. Akhirnya Khik-sia

dapat menangkap juga artinya. Lukisan itu Su Tiau-ing yang membuat. Ia suruh wanita itu mencari Khik-sia. Khik-sia menunjuk diri, lalu menuding perempuan itu, ujarnya: ”Apakah nona Su memanggil aku?”

Rupanya perempuan itu juga mengerti bahasa isyarat Khik-sia. Ia angguk-anggukan kepalanya, lalu menarik Khik-sia diajak lari. Taman itu dibuat di muka gunung. Tiba di tepi gunung, jalananpun putus. Wanita itu melintasi sebuah gua. Di luar gua terdapat lagi sebuah perumahan. Puncak gunung itu merupakan sebuah pintu yang memisah taman menjadi dua bagian.

Diam-diam Khik-sia bersyukur dapat bertemu dengan wanita itu.  Tiba di sebuah ruang, terdengar Tiau-ing merintih-rintih dan memanggil-manggil namanya (Khik-sia). Khik-sia terkejut. Dengan lari terhuyung-huyung ia masuk dan mendorong daun pintu. Tampak Tiau-ing rebah di pembaringan, wajahnya pucat kekuning-kuningan. Melihat Khik-sia, Tiau-ing tersentak kaget tapi cepat mengusirnya: ”Keluar!” ”Tapi bukankah kau sendiri yang memanggil aku?” Khik-sia tercengang.

Tiau-ing tak menghiraukannya lagi, rintihannya makin hebat. Perempuan desa tadi segera mendorong Khik-sia keluar. Setelah memberi isyarat dengan menepuk-nepuk perutnya sendiri, pintu terus ditutupnya lagi.

Merahlah wajah Khik-sia. Kini ia baru mengerti bahwa Tiau-ing akan melahirkan anak. Khik-

sia makin bingung. Ia hendak minta obat penawar, siapa tahu Tiau-ing sedang akan melahirkan....

Saat itu kawanan paderi Ogemi sedang menghadapi pertempuran (tulisan kabur, tak

terbaca) Ceng-ceng-ji putar pedangnya seperti angin puyuh dan berhasil membobolkan pertahanan tuan rumah. Dua orang murid kepala Ogemi terbunuh olehnya. Satu-satunya yang masih dapat memberikan perlawanan berarti hanyalah Hoan Biat seorang.

Tapi demi melihat pihaknya menderita kekalahan, Hoan Biat menghela napas dalam. Dia tak sudi menerima hinaan dan terus hendak bunuh diri saja. Tapi tiba-tiba ada serombongan orang

menerobos masuk ke ruangan situ. Mereka adalah He Leng-soang dan puteranya serta Bik-hu dan kawan-kawan.

He Leng-soang kesima dengan pemandangan yang dijumpainya ruangan besar itu. Adalah In- nio yang dapat mengambil putusan cepat: ”Bantu pihak Ogemi basmi kawanan durjana itu!” ”Benar!” sahut He Leng-soang yang segera melesat memasukkan pedangnya ke punggung Ceng-ceng-ji.

Pedang Ceng-ceng-ji tak mampu mengutungkan pedang nyonya itu, sebaliknya malah hampir terlepas jatuh. ”Huh, entah di mana wanita ini bersembunyi tahu-tahu kepandaiannya begini hebat,” diam-diam Ceng-ceng-ji terkejut.

Buru-buru ia cabut pedangnya dan memainkannya dalam ilmu pedang Wan-kong-kiam. Dulu Ceng-ceng-ji lebih unggul setingkat dari He Leng-soang. Tapi karena dalam sepuluh tahun ini dia

umbar kesenangan saja, kepandaiannya pun tak mendapat kemajuan yang berarti. Kini berbalik He Leng-soang yang lebih unggul setingkat. Ilmu pedang nyonya itu dapat digunakan untuk bertahan dan menyerang dengan dahysat. Biar Ceng-ceng-ji mati-matian memainkan pedangnya, tetap tak dapat menemukan lubang kelemahan lawan.

Tapi sayangnya hanya He Leng-soang saja yang unggul. Anak-anak muda dalam

rombongannya itu payah-payah keadaannya. Yak-bwe mendapat lawan Chili. Bermula jago Hwe- ki ini memandang rendah, pikirnya hendak menangkap Yak-bwe hidup-hidup. Tapi ia segera dikejutkan oleh serangan kilat dari pedang Yak-bwe. Untung ia cepat turunkan tubuh, coba tidak tentu tulang pe-peh-kutnya tertusuk. Ia pun bersyukur hanya bajunya yang berlubang.

”Bagus, budak perempuan. Ternyata kau punya kepandaian yang berarti juga,” Chili tertawa mengejek sambil putar senjatanya Gwat-yu-wan-to (golok yang bengkok seperti bulan sabit). Trang, pedang Yak-bwe hampir saja kena terhantam jatuh. Berbareng itu Chili ulurkan tangan kirinya untuk menangkap si nona.

”Budak anjing, jangan kurang ajar!” In-nio melesat menyabat tangan Chili. Kepandaian nona itu lebih tinggi dari Yak-bwe. Ilmu pedangnya  pun lebih lihay. Chili tergetar juga hatinya. Ia terpaksa menarik pulang tangannya tadi.

Tetapi bagaimanapun juga Chili itu tetap lebih unggul dari kedua nona. Ia tak mau menangkap hidup-hidup lagi dan mainkan goloknya dengan keras. Anginnya sampai menderu-deru. Untung karena seperguruan, ilmu pedang Yak-bwe dan In-nio itu dapat dimainkan bersama. Dan Yak-bwe sudah mendapat ajaran ginkang dari Khik-sia. Dengan lincahnya, kedua nona itu berputar-putar menyerang Chili. Meskipun harapan menang tipis, tapi sekurang-kurangnya dapat bertahan diri.

Waktu Bik-hu hendak membantu, dia dihadang oleh si paderi Tibet, Bu Ong. Ilmu Toa-chiu-in (lekatkan tangan besar) dari Bu Ong siangjin merupakan ilmu pukulan lwekang istimewa dari aliran Se-gak. Kedahsyatannya dapat dibandingkan dengan pukulan Kim-kong-ciang dari partai Siu-lim- pay. Dalam sepuluh jurus, Bik-hu sudah terengah-engah dan mandi keringat. Untung ia memiliki kepandaian dari Biau Hui sin-ni dan Mo Kia lojin. Bagaimanapun juga Bu Ong siangjin jeri juga menghadapi pedang pemuda itu. Situasi Bik-hu memang sulit tapi belum sampai menghadapi kekalahan.

Di dalam pihak tuan rumah, Hoan Biat dan ketiga sutenya yang paling menggenaskan. Hoan Biat terluka berat, ketiga sutenya itupun terluka juga. Dia tak mau berpeluk tangan melihat lain orang mati-matian membelanya. Maka ia pimpin anak muridnya untuk mengganyang si paderi Tibet Bu Ci yang belum dapat tandingan.

He Leng-soang yang selalu pasang mata memperhatikan situasi pertempuran, menjadi resah juga hatinya. Benar ia menang angin, tapi untuk tinggalkan libatan Ceng-ceng-ji dan membantu rombongannya, juga tak mudah.

Pada saat situasi tegang-meregang tiba-tiba terdengar suara suitan panjang. Bermula dari kejauhan, tapi dalam sekejab saja sudah mengiang di telinga sekalian orang. Ceng-ceng-ji terperanjat, setelah merangsang lawan, tiba-tiba ia loncat terus melarikan diri.

”Hai, Gong-gong-ji, kau datang?” teriak He Leng-soang dengan girang sekali.

Memang yang datang itu Gong-gong-ji. Ceng-ceng-ji cepat meloloskan diri, tapi Gong-gong-ji

lebih cepat lagi datangnya. Baru kaki Ceng-ceng-ji melangkah pintu, ia sudah kesampokan dengan Gong-gong-ji.

”Binatang, masih mau lari?” bentak Gong-gong-ji yang sekaligus merebut pedang Ceng-ceng-ji dan meringkusnya.

Sebenarnya kepandaian Ceng-ceng-ji masih mampu melayani sang suheng sampai dua-tiga puluh jurus. Tapi dikarenakan ia paling takut kepada Gong-gong-ji, maka begitu melihat sang suheng, pecahlah semangatnya.

”Suheng, sukalah mengingat hubungan persaudaraan, mengampuni ”

Shin Ci-koh cepat menukas rintihan Ceng-ceng-ji itu dengan tertawa dingin: ”Sekalipun suhengmu mengampuni, tetapi aku tidak bisa!” - Plak, ia menampar muka Ceng-ceng-ji. Separuh mukanya begap biru, sebuah giginya rontok.

”Dia berhutang sebuah tamparan padaku, aku sudah menagihnya. Sekarang terserah padamu, dia itu sutemu,” katanya kepada Gong-gong-ji.

Gong-gong-ji menghela napas: ”Ceng-ceng-ji, adalah perbuatanmu sendiri yang tak memperbolehkan kau hidup di dunia! Akan kuserahkan kepada Sunio, mati atau hidup tergantung nasibmu.” - Sekali menutuk dengan ciong-chiu-hwat, tubuh Ceng-ceng-ji yang terkulai itu segera dilemparkan ke sudut ruangan.

”Kawanan kepala gundul itu hendak merampas Khik-sia. Kita bantu dulu pihak Ogemi,” katanya kepada Shin Ci-koh.

Sekali kedua calon suami-isteri itu turun tangan, dalam beberapa kejab saja, Chili, Bu Ci dan Bu Ong sudah dirubuhkan.

”Mereka diutus oleh pemerintah Hwee-ki. Harap Gong-gong sicu ijinkan kubawa mereka ke kota raja, biar raja kami yang menghukumnya,” kata Hoan Biat hwatsu.

”Ceng-ceng-ji itu suteku. Kecuali dia yang lain-lain terserah hong-tiang,” jawab Gong-gong-ji. Karena lwekangnya yang tinggi, Hoan Biat yang terluka berat masih dapat menghampiri Gong- gong-ji untuk menghaturkan terima kasih.

”Aku tak meminta terima kasih, tetapi akan meminta suteku Toan Khik-sia. Dia berada di sini, bukan?” sahut Gong-gong-ji.

Hoan Biat mengiakan. Ia segera suruh beberapa muridnya yang kenal Khik-sia supaya memanggilnya keluar. Lewat beberapa saat kemudian, murid-murid itu datang dengan laporan bahwa Khik-sia tak dapat diketemukan.

P E N U T U P

Memang saat itu Khik-sia tengah mondar-mandir di muka kamar Tiau-ing. Tiba-tiba ia mendengar tangis orok melengking....

”Oh, kiranya ia sudah melahirkan. Mengapa aku menunggu di sini?” Khik-sia merasa malu dan hendak kembali keluar. Tapi ia bersangsi. Selama tenaganya masih punah bagaimana ia dapat membantu pertempuran itu.

Selagi ia maju mundur, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncullah si perempuan desa tadi. Ia memberi isyarat supaya Khik-sia masuk. Khik-sia merah mukanya dan membantah dengan terbata- bata.  Tapi perempuan itu tak mengerti omongannya. Ia memberi isyarat lagi bahwa kamar itu sudah dibersihkan. Malah setelah itu, Khik-sia diseretnya masuk. Khik-sia meronta-ronta. ”Khik-sia, masuklah.   Aku hendak bicara padamu. Tak usah kau malu-malu. Maukah kau masuk kemari? Akan kutolongmu!” tiba-tiba Tiau-ing berseru dengan nada lemah dan gemetar. Iba juga hati Khik-sia. Tak lagi ia meronta dan biarkan dirinya ditarik masuk oleh si perempuan tani. Tampak dengan wajah masih pucat kuning, Tiau-ing duduk setengah tidur di ranjang.

Kepalanya disandarkan pada dinding ranjang. Di atas ranjang terdapat seorang orok yang dibungkus dengan selimut merah. Sebuah perapian memancarkan bau ratus wangi. Lantai ruangan bersih mengkilap.

”Kuucapkan selamat padamu ibu dan anak, Nyonya Bo. Kau, kau hendak bilang apa padaku?” kata Khik-sia.

Tiau-ing tak menyahuti ucapan itu, sebaliknya menunjuk pada orok di sebelahnya: ”Pondonglah dia, biar kulihatnya.”

Khik-sia menurut. Bayi dipondongnya ke muka Tiau-ing.

”Montok benar, ya? Bagaimana, mungil tidak? Miripkan dengan aku,” kata Tiau-ing.

”Mungil sekali, sangat mirip dengan kau,” sahut Khik-sia. Padahal bayi itu lebih mirip dengan

Se-kiat. Sebenarnya Khik-sia gelisah sekali hatinya. Ia ingin Tiau-ing lekas-lekas selesai berkata, agar ia dapat mengatakan maksudnya. Maka sembarangan saja ia menyahut menuruti apa yang dikehendaki Tiau-ing.

Wajah Tiau-ing yang pucat mengerut cahaya riang, ujarnya: ”Benarkah mirip aku? Kau suka dengan anak itu atau tidak?”

”Suka, suka!” tersipu-sipu Khik-sia mengiakan. Baru pertama dalam hidupnya ia memondong seorang bayi. Dia berdebar-debar takut kalau-kalau jatuh atau terlalu kencang pondongannya. Ngeeekk ... tiba-tiba orok itu menangis, tangannya yang kecil mencakar muka Khik-sia.

”Segala apa bisa dikerjakan orang lelaki, kecuali hanya dalam soal merawat bayi,” kata Tiau-ing yang lantas suruh perempuan tani tadi menyambuti si orok. Setalah diminumi susu kambing bayi itupun berhenti menangis.

Setelah terlepas dari beban yang menghimpit perasaannya, Khik-sia terus hendak membuka mulut. Tetapi didahului Tiau-ing: ”Khik-sia, kaupun harus lekas menikah. Ai, entah apakah kekasihmu nona Su itu masih membenci aku?”

”Sudah tentu ia telah membencimu karena kau menculik aku,” batin Khik-sia. Tapi melihat keadaan Tiau-ing saat itu, ia merasa kasihan dan terpaksa menghiburnya: ”Jika aku bisa keluar dengan tak kurang suatu apa, aku tentu dapat memberi penjelasan padanya. Meskipun ia seorang nona yang keras perangainya tapi suka memberi maaf orang.”

Tiau-ing memandang Khik-sia sejenak, seperti ada sesuatu yang direnungkan. Sampai beberapa saat ia tak bicara.

”Nyonya Bo, jika kau tak ada lain-lain hal yang hendak dibicarakan, aku hendak memohon sebuah hal padamu.”

Tiba-tiba Tiau-ing dongakkan kepala dan bertanya: ”Apa yang terjadi di luar itu? Aku seperti mendengar suara orang bertempur!” - Setengah jam setelah melahirkan, kini semangat Tiau-ing berangsur-angsur pulih. Pendengarannya mulai tajam.

”Ceng-ceng-ji dan beberapa jago lihay menyerbu ke biara ini. Dia hendak menangkap kau dan aku. Hoan Biat hong-tiang, Hoan Gong hwatsu dan lain-lain tengah bertempur dengan mereka. Untuk hal itulah maka aku datang kemari ”

”Disini merupakan tempat rahasia. Hong-tiang telah berjanji takkan membocorkan tempat ini. Tak mungkin kunyuk tua itu dapat mencari kemari, jangan kuatir,” Tiau-ing tenang-tenang saja. ”Ah, mengapa kau hanya memikirkan kepentingan dirimu saja? Mereka lihay sekali, kukuatir hong-tiang bukan tandingannya. Berikanlah obat penawar padaku, aku hendak membantu tuan

rumah. Kalau tidak, jika biara ini sampai hancur, toh kita juga akan jatuh ke tangan musuh,” Khik- sia agak jengkel.

Tiau-ing tertawa tawar: ”Kau memaki aku dengan tepat. Memang aku terlalu memikirkan keuntungan diriku saja. Bahkan saat inipun aku masih memerlukan bantuanmu untuk kepentinganku. Tetapi permintaanku ini mungkin yang terakhir. Maukah kau mendengar omonganku dengan sabar? Takkan makan banyak waktu!”

Saat itu suara pertempuran sudah tak kedengaran lagi. Khik-sia makin cemas. ”Apakah pihak Ogemi sudah kalah? Hoan Biat dan kawan-kawan sudah ditawan musuh?” pikirnya. Namun tanpa obat penawar, ia tak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya ia terpaksa minta Tiau-ing supaya mengatakan permintaannya itu.

Lebih dulu Tiau-ing menghela napas, baru berkata: ”Kutahu bahwa selama ini aku selalu mencelakaimu. Tetapi kini aku sudah sebatang kara. Kau anggap aku sebagai musuh atau sahabat, aku tetap menganggapmu sebagai kawan.”

”Apa yang kau kehendaki supaya kukerjakan? Silahkan, bilang. Tentu akan kukerjakan sedapat mungkin,” kata Khik-sia.

Tiau-ing menatap dengan bola matanya: ”Jadi kau memaafkan diriku?”

Supaya orang lekas bilang dan juga karena kasihan, Khik-sia mengangguk: ”Aku bukan orang yang suka mendendam. Ya, kumaafkan kau.”

Wajah Tiau-ing berseri tawa: ”Baik, kalau begitu kuminta kelak kau supaya merawat anakku itu. Maukah?”

Sayup-sayup Khik-sia seperti mendapat firasat yang tak baik, ujarnya: ”Nyonya Bo, mengapa kau ucapkan perkataan itu? Benar aku pernah mempunyai ganjalan dengan kalian suami isteri,

tetapi kini Se-kiat sudah meninggal. Segala dendam kesumat itu pun gugur sudah. Anakmu adalah seperti keponakanku sendiri. Atas kepercayaanmu yang begitu besar, sudah tentu akan kurawat anak itu. Harap kau mengaso untuk merawat kesehatanmu dengan tenang.” 

Mendengar ucapan Khik-sia yang dibawakan dengan nada bersungguh, wajah Tiau-ing menggambarkan kelegaan. Ujarnya: ”Terima kasih atas kelapangan hatimu menghapuskan kesalahan lama. Aku sungguh merasa lega sekali.”

Ia mengambil sebuah kotak emas dari bajunya dan berkata: ”Obat penawar di dalam kotak ini, ambillah sendiri. Minumlah dengan air, sejemput saja sudah cukup.”

Girang sekali Khik-sia waktu menyambuti kotak itu. Waktu hendak meminumnya, Tiau-ing kembali berkata: ”Pokiam-mu juga harus kukembalikan.”

Seperti diketahui, pedang pusaka Khik-sia itu telah dirampas Tiau-ing sejak pertama kali pemuda itu ditawannya dahulu. Sewaktu Khik-sia hendak berputar tubuh menyambuti, tiba-tiba terdengar suara ”ces”. Tiau-ing telah menusukkan ke dadanya sendiri.

”Ada kau yang merawat anakku, aku tak merasa kuatir lagi dengan nasib anak itu!” katanya dengan sayu.

Kejut Khik-sia tak terhingga, ”Nyonya Bo, mengapa kau perlu berbuat begitu?” Ia menjerit dan maju hendak mencegahnya tapi sudah kasip. Ketika Khik-sia menjamah tubuh Tiau-ing,

ternyata pedang pusaka itu sudah masuk separuh ke dadanya. Tiau-ing sukar ditolong jiwanya lagi

......

”Se-kiat, telah kukatakan aku tentu akan menyusul kau. Sekarang aku akan berjumpa padamu. Kau tentu memaafkan diriku, bukan? Tidakkah kau mendengar Khik-sia memanggil aku Nyonya Bo? Memang, aku tetap isterimu!”

Kalau pedang itu dicabut, Tiau-ing tentu mati seketika. Khik-sia tak berani melakukannya. Ia hanya memapah tubuhnya, tak tahu apa yang harus dilakukan. Suara Tiau-ing makin lama makin lemah. Tiba-tiba terdengar derap orang berlari mendatangi. Dan pecahlah dua buah teriakan. ”Khik-sia! Ing-ji!” Yang pertama nada suara Yak-bwe, yang belakangan suara Shin Ci-koh.

Adalah Shin Ci-koh yang  menduga Khik-sia tentu berada di kamar Tiau-ing. Dan setelah mendapat keterangan dari Hoan Biat, ia bersama In-nio dan Yak-bwe segera menuju ke sana. Gong-gong-ji dan Bik-hu karena tak leluasa ikut, hanya menunggu di luar. Sayang kedatangan mereka itu terlambat setindak.

Sepasang mata Tiau-ing sudah mengatup. Tapi demi mendengar suara suhunya, semangatnya menyala dan membuka mata lagi. Ujarnya: ”Khik-sia, berjanjilah padaku bahwa kau harus lekas- lekas menikah dengan nona Su. Hm, sekarang aku telah menyatakan terima kasihku dengan kematian. Hanya masih ada suatu hal yang telah menjadi penyesalanku. Yakni tanggung jawabku terhadap suhuku. Suhu, apakah pada detik-detik kematianku ini kau sudi menerima diriku kembali ke dalam haribaanmu?”

Tepat pada saat ia mengucapkan kata-katanya itu, Shin Ci-koh melangkah masuk, menjerit dan memeluk muridnya itu.

”Suhu, sudikah kau memaafkan muridmu ini?” kata Tiau-ing.

Dengan berlinang-linang Shin Ci-koh menjawab: ”Sebagai suhu akupun bersalah juga. Ing-ji, kau legakanlah hatimu. Anakmu akan kuwakili merawatnya. Kelak kalau sudah besar akan kusuruh ikut Khik-sia agar dia jangan sampai terjerumus ke jalan yang sesat.”

Tiau-ing tersenyum rawan: ”Kini legalah hatiku. Ai, kalian memperlakukan aku dengan baik. Sayang, sayang, aku yang tak dapat menjalankan kebaikan ”

Berkata sampai disini, suara Tiau-ing makin hilang.  ”Ing-ji!” Shin Ci-koh menjerit. Tetapi tubuh muridnya itu mulai dingin. Ketika dirabah hidungnya, ternyata nafasnya sudah berhenti.

Shin Ci-koh mencabut pedang di dada Tiau-ing. Setelah menghapus bekas darahnya lalu diserahkan pada Khik-sia. Kemudian ia menutupi tubuh Tiau-ing dengan selimut lalu menurunkan kain kelambu.

Rupanya bayi itu merasa akan apa yang telah menimpa sang ibu. Ia menangis. Shin Ci-koh mengemponya sambil menimang-nimang. ”Jangan nangis, buyung. Kelak kalau besar janganlah seperti ayah bundamu. Kau harus menjadi seorang lelaki yang jantan perwira. Khik-sia, kelak kalau dia sudah besar akan kuserahkan padamu, kau setuju tidak?”

Khik-sia yang bermula kuatir tak dapat merawat bayi, girang sekali ketika Shin Ci-koh bersedia menggantikannya. Sudah tentu ia setuju dengan pernyataan bakal susohnya itu.

Sewaktu Shin Ci-koh keluar dengan mengempo bayi, didapatinya Gong-gong-ji dan para paderi biara Ogemi masih bercakap-cakap di ruangan besar. Ketika mendengar penuturan tentang tindakan Tiau-ing, sekalian orang sama menaruh simpati karena Tiau-ing telah berlaku ksatria. Menebus kesalahan dengan kematiannya.

Begitulah, setelah urusan selesai, Gong-gong-ji dan rombongannya segera minta diri. Atas nama Biara Ogemi, sekali lagi Hoan Biat menghaturkan terima kasihnya.

Dalam perjalanan Gong-gong-ji menyatakan hendak bersama Shin Ci-koh pulang ke gunung. Ia hendak menyerahkan Ceng-ceng-ji kepada su-nio (isteri suhunya) dan menyerahkan bayi itu. ”Nanti kita bertemu lagi di tempat Thiat-mo-lek. Khik-sia, kukira aku tentu masih keburu minum arak kebahagiaanmu.”

Khik-sia menyatakan yang tepat suhengnya itulah yang harus menikah dulu baru sutenya. Gong-gong-ji mengambil pedang yang dipakai Ceng-ceng-ji untuk diberikan kepada Khik-sia:

”Pedang pusaka ini sebenarnya, milik keluarga Coh. Adalah karena kenakalanku sewaktu muda maka kucuri pedang ini. Aku merasa bersalah pada keluarga Coh karena telah memberikan pedang ini kepada Ceng-ceng-ji. Ping-gwan berusaha dengan susah payah untuk mendapatkan kembali pedangnya ini.  Kudengar ia sedang merawat lukanya di In-ge-sau-meng.  Kembalikanlah pedang itu kepadanya!”

Yak-bwe membenarkan tentang beradanya Ping-gwan di daerah itu. Dan ia agak menyalahkan Khik-sia karena dianggap menjadi gara-garanya. Sudah tentu Khik-sia tercengang dan buru-buru minta penjelasan. Setelah mendengar cerita Yak-bwe, Khik-sia menyatakan: ”Adalah karena diriku maka sampai membikin repot sekian banyak saudara. Dan Coh toako sampai terluka berat. Aku merasa tak enak hati dan harus lekas-lekas menjenguk keadaannya.”

Karena He Leng-song tak kenal dengan Ping-gwan maka ia menyatakan tak ikut tetapi akan kembali ke tempat Thiat-mo-lek saja. Begitulah rombongan mereka terpecah. Keempat anak muda yakni Khik-sia, Yak-bwe, In-nio dan Bik-hu meneruskan perjalanan mereka ke daerah In-ge-sau-

meng. Selama dalam perjalanan mereka tak mau cari perkara dan sebulan kemudian barulah tiba di negeri itu.

Beberapa militasi kenal pada Bik-hu dan In-nio. Buru-buru mereka melapor pada Popa ong- kong. Popa ong-kong dan Yangpe Keke memerlukan keluar untuk menyambut. Begitu masuk ke dalam kemah Khik-sia lantas menanyakan tentang keadaan Ping-gwan.

”Luka Coh tayhiap sudah sembuh tapi sekarang dia tak berada di sini,” kata Popa ong-kong. ”Apa sudah pergi?” Khik-sia terkejut.

”Bukannya pergi. Kemarin penyelidik kami melaporkan pasukan berkuda Hwe-ki melanggar

tapal batas. Coh tayhiap bersama beberapa pejuang kami menyerang mereka. Mungkin besok pagi tentu sudah kembali,” kata raja itu.

Khik-sia menyatakan kalau ia hendak menyusul untuk memberi bantuan. Tapi ong-kong mencegahnya. ”Sekarang posisi pemerintah Hwe-ki tidak baik. Menurut penyelidik itu, jumlah pasukan berkuda Hwe-ki itu tak berapa banyak. Mungkin hanya untuk menyelidiki keadaan daerah kami saja. Paling-paling hanya menimbulkan insiden kecil-kecilan saja.   Pemuda-pemuda kami yang gagah berani sudah siap-siap di tapal batas apalagi mendapat bantuan Coh tayhiap, tentu dapat mengundurkan musuh. Kurasa tak perlu merepotkan kalian.”

Karena orang begitu yakin terpaksa Khik-sia menurut.   Dalam pada itu In-nio meminta keterangan tentang ucapan Popa yang menyatakan bahwa posisi Hwe-ki sekarang buruk sekali. ”Sekarang Tho-ko-hun sudah berperang dengan Hwe-ki. Tentara yang dipergunakan Hwe-ki untuk menduduki Tiang-an pun kini sudah berontak. Mereka mengusir tentara Hwe-ki yang menduduki Su-tho. Beberapa negeri di Se-gak pun sudah mengadakan persekutuan. Meskipun belum memerangi tapi sudah tak mau taat pada perintah Hwe-ki lagi,” menerangkan Popa ong- kong.

”Oh, kalau begitu rencana nona U-bun sudah dilaksanakan,” kata In-nio.

”Kesemuanya itu berkat bantuan kalian yang telah dapat menawan si pangeran dan anak raja Hwe-ki,” sahut Yangpe.

”Eh, kami hanya membantu sedikit tenaga. Yang utama ialah karena jasa Coh tayhiap menyusun rencana itu,” In-nio merendah.

Malamnya Popa ong-kong telah mengadakan perjamuan untuk menghormat para tetamunya.

Selagi perjamuan masih berlangsung, pengawal melaporkan tentang datangnya Coh Ping-gwan dan Lu ciangkun.   Popa ong-kong dan sekalian hadirin beramai-ramai keluar menyambut. Ternyata yang dipanggil Lu ciangkun itu bukan lain ialah Luse, jago gumul nomor dua dari In-ge-sau-meng.

Yang paling terkejut adalah Ping-gwan ketika mendapatkan Khik-sia bersama Yak-bwe berada di situ.

”Tentang urusanku nanti saja, sekarang harap tuturkan pengalamanmu dulu,” kata Khik-sia. Pun Popa ong-kong juga meminta Ping-gwan: ”Ya, benar. Mengapa selekas ini kalian pulang? Kukira kembali besok pagi. Apakah memperoleh kemenangan?”

”Memangnya tak berperang karena kedatangan pasukan Hwe-ki itu hendak mengantarkan barang hadiah padamu!” jawab Ping-gwan.

”Hadiah? Sungguh aneh,” pemimpin In-ge–sau-meng itu tercengang.

”Memang benar, hadiah selaku permintaan maaf kepada kita.  Tiga puluh ekor kuda tegar, sungguh bukan hadiah yang kecil. Karena kuatir kita marah karena perbuatan anak raja Hwe-ki tempo hari sehingga kita bersepakat dengan Su-tho untuk menyerang mereka maka raja Hwe-ki itu perlukan memberi barang antaran itu. Ha, ha, mereka yang biasanya malang melintang melakukan keganasan, sekarang harus mengambil hati kita,” kata Luse.

Popa ong-kong tertawa gelak-gelak: ”Memang demikianlah watak bangsa Hwe-ki yang

menginjak pada yang lemah tapi takut terhadap yang melawannya. Dulu kita takut, mereka selalu menghina kita. Setelah kini kita unjuk kekerasan, dia terus menyatakan maaf. Di mana orang mereka itu?”

”Sedang dikawal oleh Pasan ciangkun. Karena kuatir ong-kong mengharap-harap kami lebih dulu pulang memberi kabar,” kata Luse.

Pasan adalah si jago gumul nomor satu dari In-ge san-meng. Dialah yang memimpin pemuda- pemuda negerinya untuk mempersiapkan perlawanan pada Hwe-ki.

Setelah urusan Hwe-ki selesai dibicarakan, barulah Khik-sia sempat berbicara dengan Ping-

gwan. Mereka saling berterima kasih atas pengorbanan-pengorbanan yang mereka saling berikan. Tali persaudaraan mereka terasa makin erat.

Atas pertanyaan Khik-sia, Ping-gwan menyatakan mau ikut pulang karena lukanya sudah sembuh dan keadaan negara In-ge-sau-meng tak perlu dikuatirkan lagi. Waktu Khik-sia menyatakan bahwa besok pagi akan kembali, Popa ong-kong mencegahnya.

”Oh, ong-kong tak tahu. Saudaraku ini akan melangsungkan perkawinan, maka ia harus buru- buru pulang,” demikian Ping-gwan berolok-olok.

”Ai, kiranya begitu. Sudah tentu aku tak berani menahannya lagi,” Popa tertawa gembira. ”Coh-tayhiap, apakah kau tak mau menunggu berita Hong-ni di sini? Kau ingin minum arak temanten sahabatmu, akupun juga ingin minum arakmu.”

”Soal itu baik besok saja dibicarakan. Sekarang peperangan antara Hwe-ki dan Tho-ko-hun belum selesai, negeri kecil di daerah Se-gak menderita akibatnya juga. Kelak kalau sudah aman

saja, barulah aku datang lagi berkunjung kemari. Aku sudah kelewat lama berpisah dengan sahabat- sahabatku di selatan, aku kepingin menyambangi mereka.”

Karena Ping-gwan bersungguh-sungguh, Popa ong-kong pun tak berani menghalangi. Perjamuan berlangsung dengan gembira. Yangpe Keke mengajak hadirin minum arak guna memujikan keberuntungan Khik-sia dan Yak-bwe. Setelah bubaran, Popa ong-kong mengatur

tempat untuk para tetamunya bermalam. Ping-gwan dan Khik-sia tidur dalam satu kemah. Dalam kesempatan itu Ping-gwan mengajak Khik-sia berjalan-jalan keluar.

”Langit nan biru, alam nan raya. Angin berhembus, rumput membungkuk diendus kambing. Hanya di tempat seperti padang rumput begini, baru kita dapat merasakan kebesaran jagad raya. Coh toako, kalau aku menjadi kau, aku tentu tak mau pulang,” kata Khik-sia.

”Aku sebaliknya ingin pulang. Tapi sungguh menyesal, mungkin aku tak keburu datang minum arak pengantinmu,” jawab Ping-gwan.

”Ai, bukankah besok pagi kau ikut kami pulang?” Khik-sia heran.

”Urusan ini tak ingin diketahui orang banyak. Terus terang saja, sebenarnya aku ingin pergi ke Su-tho. Besok pagi setelah tinggalkan lembah ini, akupun hendak memisahkan diri dengan rombonganmu,” sahut Ping-gwan.

”Ho, kiranya kau hendak menemui Siau-nimu itu? Takut diketahui orang? Sungguh lucu benar. Justeru kami ingin menghaturkan selamat padamu,” Khik-sia mengolok.

”Bukannya aku hendak menjumpainya. Hanya kemarin ia mengutus orang untuk

menyampaikan surat padaku. Dalam surat ia mengatakan hendak bertemu padaku. Tetapi tak boleh bilang pada lain orang, sekalipun Popa ong-kong. Hal ini memang aneh, tapi aku tak dapat tidak pergi. Toan-hengte, jika aku sampai tak dapat menghadiri pesta perkawinanmu, haraplah memaafkan.”

”Aku juga meminta maaf karena tak dapat minum arak kebahagiaanmu, Coh toako. Apanya yang aneh jika ia ingin bertemu padamu, apalagi kalau bukan menunggu kau meminangnya?” ”Tetapi dia sudah seperti saudara dengan Yangpe keke. Jika begitu kehendaknya kan dia mestinya bisa minta tolong pada keke. Tetapi justeru sekarang ia minta jangan memberitahukan keke,” bantah Ping-gwan.

”Bagaimana ia tak malu minta tolong pada Yangpe keke? Tapi sebenarnya keke juga sudah mengetahui isi hatinya. Tidakkah kau memperhatikan ucapan keke tadi?” kata Khik-sia. Rupanya setelah mengalami gelombang pasang surut dalam love-affair dengan Yak-bwe, kini Khik-sia sudah mempunyai pengalaman tentang perangai anak gadis.

Sebaliknya Ping-gwan tetap tak percaya. Namun karena toh sudah mengambil keputusan memenuhi undangan si nona, ia tak mau banyak pikiran lagi.

Keesokan harinya rombongan anak muda itu meminta diri pada Popa ong-kong. Setelah keluar dari lembah, seperti yang direncanakan semalam, Ping-gwan pun memisah diri menuju Su-tho. Singkatnya saja, Khik-sia dan kawan-kawan telah tiba dengan selamat di gunung Hok-gu-san. Thiat-mo-lek beramai-ramai menyambut keluar. Diantaranya terdapat He Leng-soang, Gong-gong- ji, Shin Ci-koh dan lain-lain. Setelah memberi hormat, Khik-sia tertawa: ”Suheng, cepat sekali kau sudah datang.”

”Suheng dan susohmu itu bergegas-gegas datang untuk menghadiri pernikahanmu. Mereka

sudah tiba tiga hari yang lalu. Tetapi mereka tak mau memberikan arak kebahagiaannya kepadamu. Sekarang aku hendak denda mereka supaya membayar kerugianmu itu,” Thiat-mo-lek tertawa.

”Oh, jadi suheng sudah, sudah menikah?” Khik-sia terkejut girang. Seorang tokoh ugal-ugalan seperti Gong-gong-ji saat itu tampaknya kemalu-maluan juga.

Buru-buru ia memberi penjelasan: ”Ibu guru sudah berusia lanjut. Beliau tak ingin turun gunung. Untuk menyenangkan hati beliau, terpaksa kulangsungkan pernikahan di gunung. Tak seorangpun yang kuundang.”

Sebenarnya si jejaka tua Gong-gong-ji yang sudah berumur 40-an tahun itu, lebih pemaluan dari anakmuda. Kuatir kalau pernikahannya dilangsungkan bersama-sama dengan Khik-sia, ia tentu bakal digoda dan diolok-olok oleh para tetamu, maka setelah mendapat persetujuan Shin Ci-koh, ia lalu melangsungkan pernikahan dengan secara diam-diam.

”Apakah ibu guru dalam keadaan sehat?” tanya Khik-sia.

”Sehat tak kurang suatu apa. Berhubung karena pernikahanku itu beliau agak reda kemarahannya terhadap Ceng-ceng-ji. Coba tidak, Ceng-ceng-ji tentu sudah habis riwayatnya,” kata Gong-gong-ji.

”Lalu Ceng-ceng-ji mendapat hukuman apa?” tanya Khik-sia.

”Ia dibikin hilang kepandaiannya dan tiap hari harus memikul air. Sunio tahu juga bahwa kau akan menikah. Beliau pesan supaya kau ajak mempelaimu menghadap padanya.”

Khik-sia mengiakan.

Diantara mereka hanya Bik-hu seorang yang kesepian karena tak punya sanak famili. Tiba-tiba terdengar suara orang tua tertawa gelak-gelak: ”In-niio, Bik-hu, kalian tentu tak mengira aku juga datang kemari?”

Girang In-nio bukan kepalang: ”Yah, mengapa kau berada di sini?” teriaknya. Kiranya orang tua itu bukan lain ialah Sip Hong.

”Kerajaan menganggap aku tak berdaya menghadapi kawanan penyamun. Tapi mengingat jasa- jasaku sewaktu menumpas pemberontak Su Tiau-gi, maka baginda hanya membebaskan tugasku saja. Ini sesuai dengan keinginanku untuk pulang ke kampung halaman,” kata Sip Hong.

”Kalau tidak begitu, mana ayahmu berani datang berkunjung ke sarang penyamun sini?” Thiat- mo-lek tertawa.

Sip Hong menghela napas: ”Semasa muda aku bercita-cita menjadi pendekar kelana.  Sayang aku kesasar jalan, ikut pada Sik Ko mengabdi kerajaan. Sekian banyak tahun menjadi panglima, walaupun merasa bersyukur kepalaku tak sampai dihukum penggal, tapi kedosaanku juga tak sedikit.   Kuharap kalian dapat memperbaiki kesalahanku itu. In-nio, kupikir setelah menghadiri pernikahan Toan hiantit aku segera akan mengajakmu pulang. Pernikahanmu dengan Bik-hu juga harus segera dilaksanakan.”

In-nio dan Bik-hu merah mukanya. Mereka tundukkan kepala tapi diam-diam bergirang. ”Ah, mengapa harus dilangsungkan di dua tempat. Toh lebih baik sekalian dirayakan di sini saja?” tanya Gong-gong-ji.

”Handai taulanku berada di kampung semua. Aku hanya mempunyai seorang anak perempuan

ini. Rasanya biarlah mereka melangsungkan pernikahan di kampung halamannya saja. Kelak kalau mereka hendak berkelana di dunia persilatan, terserah saja.”

Thiat-mo-lek menengahi dengan mengatakan bahwa kalau memang begitu yang dikehendaki Sip Hong, tak baik kalau dirubah lagi. Thiat-mo-lek lebih tajam perasaannya dan lebih luas

pengalamannya dari Gong-gong-ji. Ia tahu Sip Hong itu bekas seorang jenderal ternama. Kalau puterinya sampai merayakan perkawinan di sarang penyamun, tentu akan merosotkan nama baiknya.

Berita pernikahan Khik-sia dengan Yak-bwe itu telah menggemparkan dunia persilatan. Orang gagah dari 4 penjuru negeri, baik yang kenal maupun tidak kenal, bahkan yang tak menerima surat undanganpun, berbondong-bondong datang memberi selamat. Mo Kia lojin (suhu Thiat-mo-lek), Biau Hui sin-ni (suhu Yak-bwe), Hong-git Wi Gwat dan beberapa lo-cianpwe yang jarang turun gunung, sama hadir dalam perayaan itu. Gunung Hong-gu-san seolah-olah sedang menyelenggarakan sebuah rapat Eng-hiong-tay-hwe lagi.

Setelah melakukan upacara sembahyangan pada langit dan bumi, Khik-sia memimpin isterinya untuk mengunjuk hormat pada bibi He Leng-soang, kemudian pada Gong-gong-ji dan Thiat-mo- lek. Tokoh-tokoh inilah yang menerima pesan dari mendiang Toan Kui-ciang (ayah Khik-sia). Kini setelah Khik-sia dan Yak-bwe terangkap jadi suami isteri, mereka merasa telah menunaikan tugasnya. Rasa haru telah membuat mereka berlinang-linang.

Setelah upacara selesai, tiba-tiba seorang thaubak melapor paa Thiat-mo-lek tentang kedatangan seorang paderi. Ketika diundang masuk ternyata Hoan Gong hwatsu dari biara Ogemi. Hwatsu itu disambut dengan penuh kehormatan dan kegirangan oleh kedua mempelai.

Menjawab pertanyaan tentang keadaan peperangan di negeri Tho-ko-hun, kepala biara Ogemi

itu menerangkan: ”Karena beberapa negeri kecil di daerah Se-gak sama bersekutu menentang Hwe- ki, Hwe-ki pun tak berani gegabah melakukan serangan pada Tho-ko-hun. Mereka telah dikalahkan oleh pasukan negeri kami. Kedatanganku kemari ini pertama untuk memberi selamat. Kedua, pun hendak menyampaikan sebuah berita girang.”

Khik-sia masih terkenang akan sahabatnya, Coh Ping-gwan. Ia menanyakan bagaimana keadaan negeri Su-tho pada Hoan Gong.

”Yang kuketahui sekarang, Su-tho sudah berdiri merdeka lagi dan mengangkat seorang ratu,” kata Hoan Gong.

Memang di beberapa negeri di daerah Se-gak, anak laki dan perempuan dipandang sama derajat. Penobatan seorang raja perempuan, bukanlah hal yang mengherankan.

”Ratu itu tentu U-bun Hong-ni. Coh-toako tentu juga menikmati perkawinan yang bahagia di negeri Su-tho,” pikir Khik-sia.

Perjamuan berlangsung dengan meriah dan gembira sekali. Malamnya, setelah mengalami godaan dan olok-olok dari para tamu, akhirnya bertemulah sepasang temanten itu di kamarnya. Khik-sia mengleuarkan tusuk kundai Liong dan tertawa: ”Ayahanda kita telah menetapkan pernikahan kita sebelum kita dilahirkan. Sungguh menggembirakan sekali setelah mengalami berbagai liku-liku kesalahan paham, akhirnya baru hari ini sepasang tusuk kundai pusaka ini dapat bertemu.”

Yak-bwe merah pipinya. Ia girang dan sedih. Ujarnya: ”Sayang, sejak lahir aku sudah tak punya ayah lagi.”

”Nama kita berdua ini adalah ayahmu yang memberi. Beliau menghendaki aku menjadi pendekar keadilan dan kebenaran untuk membasmi kejahatan dan kemunafikan. Beliau menghendaki kau menjadi pendekar wanita yang tak gentar menghadapi badai salju serta lebih

cantik dari bunga Bwe. Jika kita tak dapat melaksanakan harapan mereka, bukankah kita berdosa terhadap arwah-arwah beliau di alam baka?”

”Ya, sejak saat ini aku akan mengikuti kau berkelana di dunia persilatan menjalankan dharma kebaikan agar dapat meneruskan cita-cita mendiang ayahmu!” Yak-bwe memberi pernyataan. Sepasang tusuk kundai pusaka Liong dan Hong saling bertemu di bawah pandangan mesra dari empat mata, diiringi senyum tawa dan doa, muda-mudi sejoli yang menyanjung kebahagiaan .....

T A M A T
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Tusuk Kundai Pusaka Jilid 18 (Tamat)"

Post a Comment

close