Tusuk Kundai Pusaka Jilid 13

Mode Malam
 
Jilid 13

Sebenarnya kepandaian paderi itu tidak di bawah Bik-hu. Tapi karena tak berhasil menangkap

Sip Hong, sebaliknya kedua sutenya malah menjadi korban, pecahlah nyalinya. Dengan gerak teng- li-ciang-sim ia menghindari tusukan pedang Bik-hu. Tapi secepat itu juga Bik-hu sudah susuli lagi dengan tusukan yang kedua dan ketiga. Dengan mendapat pelajaran ilmu pedang dari dua aliran, begitu mendapat angin, serangan Bik-hu itu seperti air bah melanda. Sekalipun andaikata paderi itu masih mempunyai semangat bertempur, tetap ia tak mampu balas menyerang.

Ternyata kepandaian naik kuda dari si paderi itu hebat sekali. Dengan gerak to-coan-cu-lian, ia dapat lolos dari lubang jarum. Caranya menghindar memang istimewa juga ialah dengan melorot turun dan bersembunyi di bawah perut kudanya. Tapi sekalipun orangnya selamat, kudanya kena termakan pedang di bagian pantat. Kuda paderi itu juga kuda ternama. Begitu terluka, binatang itu lantas mencongklang sekuat-kuatnya. Larinya tak kalah pesat dengan kuda ciau-ya-say-cu kepunyaan Bik-hu.

Jurus itu berlangsung dengan cepat sekali.   Pada saat Bik-hu dapat menghalau si paderi, Sip Hong pun tepat menginjakkan kakinya ke tanah. Karena memikirkan keselamatan jenderal itu, Bik- hu lepaskan si paderi. Buru-buru ia loncat turun dari kudanya dan menanyai keadaan Sip Hong. ”Terima kasih atas pertolonganmu. Beruntung aku tak sampai terluka. Tetapi entah bagaimana dengan kuda tungganganku itu,” kata Sip Hong. Dalam berkata-kata itu, kudanya tampak lari mendatangi. Binatang itu mengusap-usapkan bulu surinya kepada Sip Hong dan meringkik beberapa kali. Seolah-olah ia tahu dan girang bahwa tuannya tak kurang suatu apa. Pun karena mengetahui kudanya tak kena apa-apa, Sip hong girang. Kiranya kuda itu hanya membaui racun saja tetapi tak sampai terkena.

”Paderi jubah merah itu adalah tokoh dari Leng-san-pay. Sayang tadi membiarkan ia lari,” kata Bik-hu. Sip Hong suruh anak muda itu memeriksa kedua paderi yang terluka tadi. Ternyata yang kena tertusuk pedang Bik-hu itu sudah tak bernyawa. Karena tak tega melihati korbannya, Bik-hu segera menguburnya. Yang seorang ialah yang terbungkus jubah merah tadi, setelah dibuka, ternyata hanya terluka ringan.

”Mengapa kalian datang kemari? Mengapa hendak mencelakai aku? Lekas mengaku terus terang, kalau tidak tentu kutabas,” bentak Sip Hong seraya mencabut pedang.

”Ciangkun, ampunilah jiwaku. Ini bukan urusanku, aku hanya disuruh toa-suhengku, terpaksa aku melakukan juga,” sahut si paderi.

”Apakah toa-suhengmu itu si Ceng-bing-cu?” tanya Sip Hong pula.

Si paderi mengiakan: ”Ya, toa-suheng telah menerima undangan Su Tiau-gi dan kepala suku Ki. Anak murid Leng-san-pay dari dua angkatan semua dibawa ke daerah Yu-ciu.”

”Untuk apa toa-suhengmu mengutus kau kemari?”

”Untuk memata-matai keadaan tentara kerajaan.”

Waktu Ceng-bing-cu menyuruh tiga belas sutenya menangkap Su Tiau-ing, di tengah jalan

telah berpapasan dengan Shin Ci-koh. Dari ketiga belas murid Leng-san-pay itu, kecuali seorang ialah si paderi jubah merah yang ternyata murid kedua dari Leng Ciu siangjin, yang dua belas orang semua telah binasa di tangan Shin Ci-koh.

Peristiwa itu telah menimbulkan kemarahan Leng Ciu siangjin. Ia kabulkan permintaan

muridnya pertama yakni Ceng-bing-cu, untuk mengerahkan segenap anak murid Leng-san-pay dari dua angkatan, turun gunung membantu Su Tiau-gi sekalian untuk membalas sakit hati pada Shin Ci- koh. Ceng-bing-cu telah memperhitungkan karena kepentingan muridnya, Shin Ci-koh tentu datang ke Yu-ciu. Untuk itu Ceng-bing-cu telah mempersiapkan barisan pilihan menghadapi wanita itu.

Jika itu masih gagal, barulah Leng Ciu siangjin akan keluar sendiri.

Tetapi Ceng-bing-cu itu ternyata seorang ambisius. Tujuannya tidak melainkan menuntut balas pada Shin Ci-koh, pun ia ingin menjadi Kok-su (penasehat agung) dari Su Tiau-gi. Kelak apabila

Su Tiau-gi berhasil dalam usahanya mendirikan kerajaan, partai Leng-san-pay tentu akan mendapat prioritas untuk merajai dunia persilatan. Maka serta merta ia meluluskan permintaan Su Tiau-gi untuk mengirim tiga orang sutenya menyelidiki keadaan tentara kerajaan. Untuk keperluan itu, Su Tiau-gi tak segan menghadiahkan tiga ekor kuda yang istimewa.

Karena paderi itu mengaku dengan terus terang, Sip Hong dapat mengampuni jiwanya. Tapi untuk sementara waktu, paderi itu harus ditawan dulu sampai nanti setelah pihak Yu-ciu dapat dipukul pecah.

”Apakah adik perempuan dari Su Tiau-gi itu sudah kembali ke Yu-ciu?” tiba-tiba Bik-hu

bertanya. Si paderi menyatakan tidak tahu. Sip Hong heran mengapa Bik-hu memperhatikan sekali kepada adik perempuan Su Tiau-gi.   Sudah tentu ia tak mengerti jalan pikiran Bik-hu. Yang diperhatikan Bik-hu itu bukan Su Tiau-ing, melainkan Se-kiat. Dan lebih lanjut lagi, sebenarnya bukan Se-kiat, tetapi In-nio.

Waktu Sip Hong hendak membawa pulang paderi itu, tiba-tiba Bik-hu meminta supaya

panglima itu mengeluarkan sebuah perintah. Sudah tentu Sip Hong heran dan menanyakan apa yang dimaksud anak muda itu.

”Su Tiau-gi berani mengirim mata-mata untuk menyelidiki keadaan kita, mengapa kita tak

balas mengirimorang untuk menyirapi keadaan mereka? Aku sendiri belum mendirikan pahala apa- apa, maka dengan ini mohon ciangkun sudi memberi ijin padaku pergi ke Yu-ciu,” kata Bik-hu.

Sip Hong menyatakan memang ia juga mengandung pikiran begitu. Tapi karena jaraknya

dengan Yu-ciu masih kira-kira seperjalanan setengah bulan, ia belum bertindak. Nanti saja apabila sudah tinggal delapan atau sepuluh hari, ia baru akan mengirim mata-mata itu.

”Tapi kudaku itu pesat sekali. Walaupun jarak Yu-ciu itu masih ribuan li, namun aku dapat menempuhnya pulang balik selama empat lima hari saja. Lebih lekas mengetahui keadaan musuh, lebih baik,” Bik-hu tetap mendesak.

Sip Hong sebenarnya dapat menyetujui tapi ia masih sangsi karena pemuda itu baru masuk menjadi tentara, pengalamannya kurang.

”Pengalaman? Bagaimana mendapat pengalaman kalau tak menempuhnya? Jika ciangkun mengutus aku, aku tentu akan berhati-hati.”

Karena si anak muda ngotot begitu, akhirnya Sip Hong meluluskan juga.  Besok pagi Bik-hu boleh berangkat. Pada saat itu karena ditungguh sampai sekian lama, panglima tak kembali, Lau congkoan segera membawa beberapa pengawal menyusul.

”Lau congkoan sudah menyusul kemari. Kiranya tak perlu aku yang harus membawa pulang tawanan ini. Kupikir aku akan berangkat sekarang juga,” kata Bik-hu.

”Ai, mengapa begitu terburu-buru?” kata Sip Hong.

”Tugas ketentaraan harus dijalankan dengan cepat. Sekarang hari masih sore, sebelum petang kudaku tentu sudah dapat lari sejauh 100-an li.”

”Ya, baiklah. Sekarang kau boleh berangkat. Tetapi ingatlah, nyali harus besar, pikiran harus cermat, segala apa harus ditanggung diri sendiri,” Sip Hong memberi pesanan.

Setelah menerima ciang-leng (perintah), Bik-hu segera congklangkan kudanya, ia sudah hilang dari pemandangan. Dibawa 'terbang' kuda ciau-ya-say-cu, pikiran Bik-hu melayang-layang: ”Ia berangkat beberapa hari yang lalu. Mungkin sekarang sudah berada di Yu-ciu. Jika di dalam kalbunya hanya terukir Se-kiat seorang, sekalipun dapat kususul, aku dapat berbuat apa?” Kiranya adanya Bik-hu bergegas-gegas menuju ke Yu-ciu itu, menyelidiki keadaan musuh hanyalah untuk alasan saja. Yang penting baginya ialah menyusul jejak In-nio. Sewaktu

mendengar keterangan Sip Hong bahwa nona itu tak beradi di perkemahan tentara, cepat sekali Bik- hu sudah menduga bahwa In-nio tentu pergi ke Yu-ciu menjumpai Se-kiat. Memikir sampai di sini hati Bik-hu rawan juga. Tetapi pada lain kejap ia berpikir lagi: ”Ah, tak peduli ia menaruh hati padaku atau tidak, aku

tetap akan berusaha supaya ia jangan sampai terjeblos dalam pikatan Se-kiat. Dan akupun telah meluluskan Yak-bwe untuk menghibur kedukaan In-nio. Ai, biar ia jemu padaku, namun aku tetap akan menemuinya!”

Dan memang dugaan Bik-hu itu jitu sekali. In-nio hanya mengajukan alasan akan pulang menjenguk mamanya, tapi sebenarnya ia menuju ke Yu-ciu untuk menemui Se-kiat. In-nio berpambek seperti seorang anak lelaki. Kepergiannya ke Yu-chiu itu sekali-kali bukan karena ia tak kunjung padam cintanya kepada Se-kiat, tetapi karena sebagian juga akan menasehati pemuda itu supaya jangan terlalu jauh terbenam dalam kesesatan. In-nio anggap Se-kiat itu juga seorang sahabat, maka ia harus berdaya untuk menasehatinya.

Dalam musim rontok di bulan sembilan, padang rumput di luar perbatasan mulai kering.

Seorang diri berkuda melintasi padang rumput hati In-nio juga terasa rawan. Seluas berpuluh-puluh li, tak tampak barang seorang insan. Untung In-nio membekal ransum kering.

Pada hari itu ia mulai masuk ke perbatasan Yu-ciu. Rumah-rumah penduduk pun mulai

banyak. Dilihatnya di tegal gandum, ada orang sedang menuai gandum. Pada masa seperti saat itu, iklim di padang rumput berubah-rubah. Pagi dan malam dingin sekali, tetapi siang hari panas

sekali. In-nio buru-buru melanjutkan perjalanan. Ia merasa haus dan sekalian perlu untuk bertanya pada penduduk di situ. Ia turun dari kuda dan menghampiri seorang pak tani yang sedang menuai gandum untuk meminta minum.

Pada masa ahala Tong, kaum wanita tidak dikekang dengan peradatan yang keras. Terutama di daerah suku Oh, seorang gadis bepergian seorang diri sudahlah biasa.

Tetapi entah bagaimana, petani-petani itu heran melihat In-nio, hanya karena sifat penduduk di situ jujur-jujur, jadi mereka tetap melayaninya dengan baik.

Dalam percakapan selanjutnya, In-nio menerangkan bahwa ia hendak ke Tho-ko-sim-ki menjenguk seorang bibinya. Tho-ko-sim-ki adalah tempat kediaman suku Ki. Ada juga sejumlah kecil suku Han. Karena percampuran itu, suku Ki paling rapat dengan suku Han.

Perempuan tani suku Ki itu kerutkan dahinya: ”Nona, sekarang ini tidaklah tepat jika kau ke

sana karena di sana sedang diadakan persiapan perang. Sebenarnya tak seharusnya raja kami menerima Su Tiau-gi itu, sekarang tentara kerajaan marah.”

”Justeru sebelum perang meletus, aku hendak mengambil pergi bibiku. Tentara negeri tentu tidak secepat itu datangnya, bukan?” kata In-nio.

Perempuan tani itu mengatakan tak tahu hanya memang dalam beberapa hari ini terdapat beberapa pasukan yang lewat di situ.

”Apakah bendera mereka?” tanya In-nio.

”Tidak membawa bendera apa-apa. Tetapi menilik pakaiannya seperti orang Han. Ada wanitanya juga.”

In-nio heran.   Ia tahu tentara negeri belum mempunyai pasukan wanita. Pun induk pasukan yang dipimpin Li Kong-pik telah berjanji pada Sip Hong kira-kira sepuluh hari lagi baru tiba di situ. ”Entah pasukan manakah mereka itu?” kata In-nio.

”Mudah-mudahan bukan tentara negeri. Kalau mereka itu tentara negeri selanjutnya kami tentu lebih menderita lagi,” kata perempuan itu. Waktu In-nio menanyakan sebabnya, wanita itu meneranginya lebih lanjut: ”Mereka itu lebih tepat disebut perampok. Kemarin waktu lalu di sini, tanaman gandum kami diambil separuh!”

Kini tahulah sebabnya mengapa walaupun belum masanya, tetapi para petani di situ sudah

sama menuai gandumnya. Ia hanya dapat menghela napas. Memang anak tentara yang dipimpin oleh lengkong atau ayahnya masih lumayan disiplinnya. Tapi anak tentara dari Tian Seng-su dan para ciat-to-su itu, mungkin lebih ganas dari bangsa perampok.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda berlarian datang. Petani-petani serempak berteriak gaduh: ”Celaka, kawanan perampok itu datang lagi.”

”Nona, kau muda dan cantik, lekas ikut aku bersembunyi. Ai, kiranya perampok wanita yang datang itu! Tetapi rasanya lebih baik nona menyingkir saja,” kata perempuan tani tadi. Tetapi In- nio menolak. Ia mengatakan hendak bicara dengan mereka. Waktu si perempuan tani hendak menariknya, In-nio sudah loncat ke atas kuda dan mencongklang ke sana. Perempuan tani itu banting-banting kaki. Tapi karena pasukan wanita sudah menerjang ke ladangnya, terpaksa perempuan itu lari.

”Pasukan dari mana ini? Siapa pemimpinmu? Mengapa kalian menginjak-injak ladang rakyat?” tegur In-nio.

Pemimpin mereka tertawa: ”Budak perempuan yang bernyali besar, berani mengurusi nyonya besar. Lihat panah!” - Cepat panglima perempuan itu sudah lepaskan anak panahnya.

In-nio gusar sekali.   Begitu ia miringkan kepala, ia sambar ekor anak panah itu dengan sepasang jarinya. Waktu ia hendak timpukkan kembali, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring: ”Hai, apakah itu bukan nona In-nio?”

Seorang nona yang bermuka jelek dan berambut kuning, hidung besar larikan kudanya menghampiri. In-nio kenal nona itu, serunya: ”Hai, Kay toaci, kiranya kaulah. Mengapa kau memimpin pasukan wanita ke Yu-ciu?”

Kiranya nona jelek itu bernama Kay Thian-sian, adik perempuan dari Kay Thian-hau, tangan kanan yang paling dipercaya Se-kiat. Waktu dalam pertandingan memilih pemimpin beng-cu di gunung Kim-ke-nia dulu, Kay Thian-haulah yang mengusulkan supaya Se-kiat diangkat jadi

bengcu. Se-kiat banyak mendapat bantuannya. Karena hubungannya dengan Se-kiat, In-nio kenal juga dengan kakak beradik she Kay itu. Kay Thian-sian tahu juga tentang hubungan Se-kiat dengan In-nio. Ia masih mengira kedua pemuda itu tentu sepasang kekasih, tidak tahu tentang perubahan hubungan mereka sekarang.

Thian-sian artinya bidadari, tapi rupanya lebih buruk daripada siluman. Ia sedang tertawa menganga sampai gigi-giginya yang berwarna kuning kelihatan: ”Mengapa kau tanyakan aku? Bukankah kau sendiri datang hendak mencari Bo Se-kiat?”

”Benar, kudengar ia berada di Tho-ko-poh maka aku hendak mencarinya. Apakah kau menerima perintahnya untuk membawa pasukan kemari?” tanya In-nio.

”Kiong-hi, kionghi!   Tahukah kau kalau bengcu bakal melakukan gerakan besar? Kalau gerakan itu berhasil, ai, kau tentu bakal menjadi permaisuri. Untuk melaksanakan gerakan itu sudah tentu bengcu memerlukan tenaga kita. Anak buah kakakku, saudara-saudara dari Im-ma-

jwan Peh hou-ce, Hek-long-san dan yang biasanya setia kepada bengcu, telah berturut-turut datang. Tapi mereka yang biasanya setia kepada Thiat-mo-lek, terutama dari pihak Kim-ke-nia, tidak mau datang.”

In-nio terkesiap hatinya. Ia ingat bahwa adanya dulu Thiat-mo-lek menyerahkan kedudukan bengcu kepada Se-kiat itu, adalah karena hendak menghindari perpecahan. Siapa tahu kini timbul tanda-tanda keretakan di dunia loklim.

Cian-hong atau pemimpin barisan wanita tadi segera menghaturkan maaf, tetapi In-nio tertawa: ”Kalian tak bersalah padaku, mengapa meminta maaf? Lebih baik kalian meminta maaf kepada para petani yang rusak ladang gandumnya itu.”

Si cian-hong merah padam mukanya tak berani menyahut. Adalah Kay Thian-sian yang menyelutuk: ”Ai, cici In, mengapa kau begitu bengis seperti hakim saja? Apa halangannya merusakkan sedikit tanaman gandum itu? Bahkan kita memang perlu merampas tanaman mereka semua.”

”Habis mereka disuruh makan apa nanti?” bantak In-nio.

Nona jelek itu kerutkan jidatnya: ”Ai, nonaku manis, tahukah kau bahwa daerah ini jarang penduduknya, sukar mencari ransum. Kalau tidak merampas gandum mereka, kita disuruh makan apa?”

”Bagaimanapun kita tentu lebih dapat berusaha daripada rakyat jelata itu. Tidak punya ransum, dapat juga menyembelih kuda untuk bertahan beberapa hari. Apalagi sekarang sudah tiba di Yu-ciu, perlu apa menyusahkan rakyat? Se-kiat dan engkohmu itu hendak bergerak dengan panji-panji 'keadilan', tetapi kalau sekarang hanya menyebabkan rakyat mati kelaparan, apakah itu sesuai disebut adil? Pada hematku, jika mau merampas carilah orang-orang yang berharta,” bantah In-nio. Walaupun Thian-sian itu buruk mukanya, tapi hatinya masih baik. Ia dapat menerima koreksi

In-nio: ”Ya, memang di sepanjang jalan kami juga merampas orang-orang kaya. Tapi ada kalanya jika tak berhasil mendapat si kaya, si miskin pun kami gasak. Cici In, jangan kira aku ini seorang yang tak kenal adat-kebenaran.”

”Jika aku beranggapan demikian, masakan aku berbahasa taci-adik padamu,” sahut In-nio.

Thian-sian tertawa girang: ”Bagus, demi memandang muka cici In, aku tak mau mengambil sebutirpun gandum mereka. Ayo, semua orang berangkat, nanti di dalam kota kita makan sampai kenyang.”

Memang Thian-sian itu selalu mengindahkan dan menurut nasihat In-nio. Ia segera ajak In-nio bersama-sama. Dalam omong-omong, bertanyalah Thian-sian: ”Apakah ayahmu meluluskan perkawinan mu?  Jika dapat memperoleh bantuan ayahmu, gerakan bengcu tentu dapat berhasil dengan lekas.”

In-nio menerangkan bahwa ayahnya belum mengetahui tentang hubungannya dengan Se-kiat. ”Oh, kalau begitu kau ini diam-diam melarikan diri? Jika bengcu mengetahui, alangkah terima kasihnya kepadamu!” seru Thian-sian.

Hati In-nio terasa rawan, namun ia berusaha untuk menahannya. Pikirnya: ”Mereka telah bertekad hendak membantu Se-kiat. Jika tahu bahwa ayah menjadi wakil panglima dari tentara

kerajaan yang hendak menumpas mereka, bagaimanakah reaksi mereka terhadap diriku? Tetapi aku hendak menjumpai Se-kiat, terpaksa aku harus menyatakan kesediaanku membantunya.

Selanjutnya aku dapat menyesuaikan dengan keadaan lagi.”

”Cici In, apa yang kau pikirkan?” tiba-tiba Kay Thian-sian menegur demi melihat In-nio berdiam diri.

”Aku tengah memikirkan suatu permainan,” jawab In-nio. Karena Thian-sian itu masih seperti kanak-kanak, ia girang sekali mendengar itu dan buru-buru menanyakan.

”Tetapi kau harus membantu aku dulu,” kata In-nio. Serentak Thian-sian pun menyatakan kesediaanya.

”Aku hendak menyaru jadi seorang anak buahmu. Sampai nanti masuk ke kota Tho-ko-poh, jangan sampai memberitahukan pada lain orang.”

”Kepada beng-cu?”

”Juga tidak perlu!”

Thian-sian kerutkan alis: ”Mengapa bengcupun tidak boleh? Ho, tahulah aku.” ”Tahu apa?” tanya In-nio.

”Kau kuatir nanti ia direbut oleh gadis suku Ki, maka diam-diam kau akan menyelidikinya,

bukan? Jangan kuatir, walaupun gadis-gadis itu memang pandai memikat orang lelaki, tapi mana mereka nempil dengan kau, nona cantik yang pandai ilmu silat? Dan bengcu itu seorang yang selalu menjunjung peri-budi, dia bukan pria yang gampang berubah hatinya.”

Hati In-nio pedih namun mulutnya memaksa tertawa: ”Jangan menduga yang tidak-tidak! Aku hanya akan membuatnya kaget dengan kedatanganku secara tiba-tiba ini.”

Akhirnya tanpa banyak rewel lagi, Thian-sian mengiakan. Demikianlah In-nio segera berganti pakaian sebagai serdadu wanita.

Dua hari kemudian tibalah mereka di Tho-ko-poh. Disebut poh (kota jaman kuno yang

berbentuk seperti benteng) memang tepat, karena kota itu dikelilingi oleh gunung. Kotanya dibagi menjadi dua, yang sebelah luar dan sebelah dalam. Su Tiau-gi dan kepala suku Ki berdiam di kota dalam.  Melihat keadaan kota Tho-ko-poh yang strategis itu diam-diam In-nio menimang dalam hati: ”Jika tak dapat menangkap raja di sini, sukarlah kiranya untuk menyerang kota ini.”

Setelah menunggu sebentar di luar pintu kota, akhirnya pintu kota dibuka dan muncullah

seorang yang dandanannya mirip dengan opsir. Orang itu berseru nyaring: ”Sebentar lagi Tay Yan kongcu akan memeriksa barisan, harap kalian berkemah dulu di kaki bukit Hui-ma-san.”

In-nio berdebar hatinya: ”Tay Yan kongcu apakah dia bukan Su Tiau-ing si wanita siluman itu? Ah, jangan sampai diriku ketahuan.”

Ki-pay-koan atau opsir yang menjabat sebagai ordonan (penyampai berita) itu segera membawa pasukan Kay Thian-sian ke tempat yang dimaksudkan itu. Tempat itu bekas ladang

gandum. Rumah-rumah kayu didirikan secara darurat untuk perkemahan tentara. Hanya ada dua buah rumah tembok yang agak baik. Ini untuk tempat tinggal Kay Thian-sian dan senopati pembantunya.

”Mengapa kita tak disuruh tinggal dalam kota?” Kay Thian-sian kerukan dahinya.

”Kota sudah penuh dengan tentara Yan-kok, untuk sementara kalian tinggal saja di sini,” jawab opsir itu. ”Bahwa nanti Tay Yan kongcu akan datang sendiri menjenguk kalian, itu sudah suatu kehormatan besar.

Kay Thian-sian mendengus dengan kurang senang, pikirnya: ”Apa-apaan dengan kongcu (puteri), nio-nio (permaisuri) Toh tidak lain hanya adik perempuannya Su Tiau-gi saja. Sudah melarikan diri di tempat orang, masih orang she Su itu banyak tingkah memakai gelaran agung, huh, sungguh tak tahu diri! Sungguh tak mengerti aku mengapa bengcu mau berserikat dengan dia?”

Tepat pada saat perkemahan selesai didirikan, datanglah sebuah pasukan wanita yang mewartakan bahwa puteri segera akan datang. Kay Thian-sian makin panas hatinya: ”Kurang ajar betul, di hadapanku ia masih main agung-agungan!”

Benar juga, datanglah Su Tiau-ing dengan naik sebuah kereta. Mungkin Tiau-ing itu tak mengerti bagaimana bentuk kereta istana itu, maka model keretanya itu tak keruan bentuknya. Dengan menahan kemengkalan hatinya, Kay Thian-sian terpaksa menyongsongnya.

Tetapi ternyata Su Tiau-ing pandai sekali mengambil hati orang. Begitu turun dari keretanya, serta merta ia lantas mengepal tangan Kay Thian-sian seraya berseru dengan ramahnya: ”Aduh,

menempuh perjalanan yang sedemikian jauh, tentu lelah sekali. Cici Kay, lama sudah kudengar kau ini seorang pendekar wanita yang gagah, sungguh suatu kehormatan kini mau datang kemari!” Dingin-dingin saja Kay Thian-sian menyahut, memujikan kesehatan orang.

”Ai, mengapa cici begitu merendah kepadaku? Toh engkohmu dan Se-kiat itu sudah seperti saudara saja?” seru Tiau-ing.

Nona jelek rupa itu ternyata puntul otaknya. Pikirnya: ”Engkohku baik kepada bengcu itu, ada hubungan apa dengan kau dan aku?”

”Aku juga mempunyai sebuah pasukan kecil serdadu wanita. Kelak kita dapat menggabungkannya menjadi sebuah pasukan wanita tentu tak kalah dengan pasukan orang lelaki. Ha, cici Kay, pasukanmu ini nyata lebih kuat dari pasukanku itu,” kata Tiau-ing pula.

Dengan kata-kata ini terang Tiau-ing hendak memeriksa barisan Kay Thian-sian. In-nio sudah gelisah. Syukur si perawan jelek itu tanpa sungkan-sungkan lagi segera menyatakan bahwa anak buahnya yang habis menempuh perjalanan jauh itu tentu letih, maka ia hendak suruh mereka lekas beristirahat saja. Kemudian ia haturkan terima kasih kepada Tiau-ing yang mengantarkan sekian banyak makanan.

Tiau-ing menyatakan kemenyesalan bahwa ia tak dapat menyediakan tempat yang lebih baik untuk anak buah Kay Thian-sian.

”Kami datang untuk berhamba padamu. Asal mendapat tempat guna berlindung dari hujan dan angin saja, sudahlah cukup. Masakan aku berani mengharap yang tidak-tidak?”

Tiau-ing tertawa. Tiba-tiba ia membisiki Thian-sian: ”Harap cici jangan marah. Kesemuanya

ini bukan aku yang mengatur. Aku dan Se-kiat juga tak tinggal di dalam kota. Untuk sementara harap cici bersabar dulu, beberapa hari aku tentu dapat menyediakan tempat yang lebih enak untuk cici.”

Kiranya kedatangan Se-kiat dan Tiau-ing untuk menggabungkan diri dengan Su Tiau-gi itu, diterima tidak dengan kepercayaan penuh. Hal itu disebabkan karena adanya percekcokan antara Tiau-gi dan Tiau-ing tempo hari. Karena memandang Se-kiat itu seorang bengcu yang luas pengaruhnya, maka Tiau-gi hendak menggunakannya untuk membantu usahanya. Dan dengan sendirinya ia tak dapat meneruskan maksudnya untuk menangkap Tiau-ing. Dengan adanya ketidak-kompakan dalam persekutuan itu, maka masing-masing pihak saling waspada. Itulah sebabnya maka Tiau-gi tak mau menempatkan anak buah Se-kiat di dalam kota. Di samping itu diam-diam iapun melepas mata-mata untuk mengamat-amati gerak-gerik orang-orangnya Se-kiat. ”Oh, jadi kau tidak tinggal bersama engkohmu tetapi bersama bengcu kami?” Kay Thian-sian heran.

”Memang aku senantiasa tinggal dengan Se-kiat.” ”Ha, mengapa bengcu tak tampak?” tiba-tiba Kay Thian-sian mengajukan pertanyaan. Tiau-ing mengatakan bahwa kedatangannya itu adalah sebagai wakil Se-kiat. Ia yang datang, artinya sama dengan Se-kiat yang datang.

”Oh, jadi kau dan bengcu itu berarti seorang?” Thian-sian menegas.

Tiau-ing tidak menyahut melainkan tertawa girang. Melihat ke arah matahari, ia berseru: ”Ai, hari sudah siang, Se-kiat tentu menanti kedatanganku. Besok kita lanjutkan bicara lagi.” Setolol-tololnya Thian-sian, sedikit-sedikit tahu juga apa arti tingkah laku Tiau-ing itu. Begitu

Tiau-ing pergi, Thian-sian hendak mendapatkan In-nio, tapi baru saja masuk ke dalam rumah, tiba- tiba seorang anak buahnya masuk melaporkan bahwa raja Tomulun hendak bertemu.

”Hm, baru seorang puteri pergi, datang lagi seorang raja. Apakah aku harus mengumpulkan pasukan untuk menyambutnya lagi?” Thian-sian muring-muring.”

”Tomulun itu agak aneh. Ia datang seorang diri tanpa membawa pengikut. Waktu kami tegur,

baru ia mengatakan siapa dirinya. Ia ingin bertemu li-ciangkun (jenderal wanita) karena sudah lama mengagumi nama ciangkun yang termasyhur. Orangnya agak ketolol-tololan,” kata serdadu wanita itu.

Kay Thian-sian juga seorang wanita yang ketolol-tololan. Mendengar laporan itu, tiba-tiba timbullah gairahnya, serunya: ”Ha, aneh sekali, namaku mengapa termasyhur sampai di daerah ini, sampai raja suku Ki mendengarnya juga. Baik, karena ia begitu tulus, akupun hendak menjumpainya.”

Keluar di halaman, ia melihat seorang lelaki tinggi besar tengah mondar-mandir dengan membongkok tangan.

”Hai, apakah kau ini raja daerah sini?” tegur Thian-sian.

Lelaki itu berpaling dan berseru: ”Apakah kau ini Kay Thian-sian li-ciangkun?”

Ketika saling berpandangan, keduanya sama-sama berteriak kaget. Kiranya raja Tomulun itu seorang lelaki yang jelek, kulitnya hitam seperti pantat kuali dan matanya menonjol ke atas. ”Ya, aku ini Kay Thian-sian. Perlu apa kau cari aku?” sahut Thian-sian.

Mulut raja itu menguak-uak seperti babi dan kakinya menyurut mundur.

”He, kau ini bagaimana? Kau punya mulut atau tidak, mengapa tak bicara?” kembali si nona 'bidadari' menegurnya.

Sepasang mata Tomulun mendelik. Tiba-tiba ia tertawa keras.

”Kau menertawai apa?” seru Thian-sian.

”Apakah kau ini sungguh Kay Thian-sian?” Tomulun balas bertanya.

”Sejak dilahirkan aku bernama begitu, apakah kau anggap tidak baik?”

”Baik, baik sekali! Meskipun aku tak sekolah bahasa Han, tapi tahu juga aku akan arti nama itu, hi, hi, apakah artinya bukan sangat cantik sekali melebihi dewi Siong-go di rembulan?”

Kay Thian-sian marah sekali. Tidak peduli yang dihadapinya itu raja atau bukan, ia lantas menjiwirnya: ”Kau hendak mengatakan bahwa aku bermuka buruk tidak pantas memakai nama itu, bukan? Hm, kau juga tak mau berkaca, apakah kau ini juga bagus rupamu? Tadi aku hampir saja pingsan melihatmu!”

Tomulun mendorongnya, berkata: ”Hi, tak kunyana tenagamu besar sekali.”

Kena didorong mundur sampai tiga langkah, Kay Thian-sian juga memuji: ”Tenagamupun

hebat juga.” - Ia tertawa riang, ujarnya pula: ”Tahukah kau bagaimana kepandaianku? Menjadi seorang jenderal, yang penting ialah harus bertenaga kuat, dapat berperang. Apakah kau masih berani menertawai aku?”

Tomulun paling gemar adu kekuatan dengan orang. Mendengar itu, timbullah keinginannya: ”Jangan omong besar. Berbicara tentang tenaga ...”

”Apa? Kau kira aku tak dapat menandingi kau?” tukas Thian-sian.

Tomulun garuk-garuk kepala, batinnya: ”Ah, jika ia bukan seorang perempuan, tentu kutantang berkelahi. Ha, ada akal ...”

”Baik, kau ini seorang tetamu dari jauh, aku hendak menghaturkan sebuah bingkisan,” tiba-tiba

ia tertawa. Salah seorang serdadu wanita yang menjaga pintu, mempunyai sebatang tongkat besi, Tomulun menghampiri dan memintanya. Tongkat besi itu lalu diletakkan di atas kepalanya dan dibekuk sehingga menjadi sebuah gelang bundar. ”Nona Kay, kuberikan anting-anting ini kepadamu, sukakah kau?”

Ternyata ada kebiasaan suku Ki itu baik perempuan maupun lelaki, semua suka memakai

anting-anting. ”Anting-anting besar” yang dipersembahkan Tomulun itu bukan dimaksud supaya dipakai Thian-sian, melainkan hanya untuk mengunjuk kehormatan saja, disamping hendak mempamerkan kekuatannya.

Sebaliknya Thian-sian telah salah paham. Ia deliki mata kepada raja hitam itu dan tertawa mengejek: ”Kau memberikan anting-anting besar itu, hanya untuk mengolok-olok telingaku yang besar ini! Hm, akupun hendak memberikan tanda mata padamu juga.”

Memang telinga nona itu, lebih besar dari telinga kebanyakan orang.

”Huh, mengapa hatimu begitu sempit? Baik, kutunggu bingkisan apa yang hendak kau berikan itu.”

Thian-sian menyambuti anting-anting besi tadi, sembari sang tangan menarik, mulutnya menghitung 'satu, dua tiga, empat', dan anting-anting besi lurus kembali menjadi sebatang tongkat lagi. Tiba-tiba Thian-sian berteriak 'putuslah' dan tongkat besi itupun patah menjadi dua lalu diberikan kepada si raja: ”Kuberikan bingkisan ini untuk kau buat sumpit makan!”

Tomulun terkesiap, tiba-tiba ia tertawa gelak-gelak dan ulurkan jempolnya: ”Ah, kau menang! Bukankah kau hendak mengejek mulutku yang lebar sekali ini?”

Dengan spontan Thian-sian unjukkan jempol tangannya:”Benar, kau bukannya goblok sekali.”

- Dan tertawalah nona itu sekeras-kerasnya. Tomulun pun ikut tertawa.

”Sudahlah, sudah. Kita ini setali tiga uang, jangan saling mengejek,” kata Tomulun.

Thian-sian berjingkrak: ”Apa katamu? Kau bilang aku dan kau ini sama-sama jelek rupa?”

”Kukatakan, kau dan aku ini sama kepandaiannya,” sahut Tomulun. ”Hm, begitulah baru perkataan manusia,” kata Thian-sian.

Tiba-tiba mulut Tomulun meluncur kata-kata lagi: ”Yang jelek malah jujur, yang cantik sebaliknya malah plin-plan!”

Mendengar itu Thian-sian berjingkrak lagi, serunya: ”Siapa yang buruk dan siapa yang cantik itu?”

”Ai, manisku, aku hanya sembarangan berkata saja. Jangan kau tanyakanlah,” sahut Tomulun. ”Tidak, tidak, kau bukan omong sembarangan. Kau ini orang yang tak jujur!”

”Aku ini orang yang kelewat jujur sehingga banyak menelan kerugian. Baik, apakah kau sungguh hendak menanyakan?” seru Tomulun.

”Ya, tapi yang jelek tak usah kau katakan. Bilang saja siapa yang cantik itu!” Diam-diam serdadu wanita yang menjaga di situ geli tapi terpaksa ditahan. ”Apakah siluman kecil itu belum pernah datang kemari?” tanya Tomulun. ”Siluman kecil siapa?” Thian-sian melongo.

”Siapa lagi kalau bukan budak perempuan she Su itu!”

”Oh, kiranya kau memakinya! Sungguh besar sekali nyalimu berani memaki seorang puteri!” Tomulun marah sekali, serunya: ”Persetan puteri atau bukan! Bukan saja memakinya, pun aku hendak mencakar dan membeset kulit mukanya, agar ia lebih buruk dari wajahmu!”

”Mengapa kau begitu membencinya?” tanya Thian-sian.

Dengan dada berombak keras, Tomulun menggerang. ”Mengapa aku tak harus membencinya, ia sudah bersedia suka menjadi isteriku tetapi sekarang ia mau jadi isteri lain orang!”

”Jadi isteri siapa?”

”Siapa lagi kalau bukan si budak busuk Bo Se-kiat itu!”

Saking kejutnya Thian-sian sampai loncat berjingkrak: ”Sungguhkah itu?” ”Sedikitpun tidak salah!  Bo Se-kiat si jahanam itu ”

Belum Tomulun menghabiskan makiannya, Thian-sian sudah menyolok hidung raja itu dan membentaknya: ”Kurang ajar! Mengapa kau sembarangan memaki orang?”

”Heh, aku kan hanya memaki Bo Se-kiat, apa sangkut-pautnya dengan kau? Oh, mengertilah aku.  Se-kiat budak itu berparas cakap, jangan-jangan ”

Thian-sian mencengkeram raja itu dan membentaknya: ”Jangan ngaco belo! Bo Se-kiat adalah bengcu kami, tahukah kau?”

Sambil menghindar cenkeraman si nona, Tomulun tetap marah-marah: ”Peduli apa dengan bengcu!  Aku tetap hendak memakinya, jahanam itu ”

Kay Thian-sian loncat menghampiri hendak menyerangnya. Tetapi Tomulun menolak:

”Seorang lelaki jantan tak mau berkelahi dengan seorang perempuan. Akupun tak mau berkelahi padamu. Baiklah, anggap saja aku telah menyalahi kau. Tidak boleh memaki, ya sudah.” - Habis berkata ia lantas berputar hendak berlalu.

”Tidak malu, menyebut diri lelaki jantan,” Thian-sian menggerutu terus enjot tubuhnya loncat melampaui kepala raja itu dan menghadangnya: ”Berhenti!”

”Aku sudah tak memaki, masih hendak mengapa kau ini? Apakah benar-benar hendak menantang aku berkelahi?” seru Tomulun.

”Karena kau belum menceritakan yang sebenarnya. Bagaimana kau tahu bengcu kami itu

hendak mengambil isteri si wanita siluman she Su? Apakah bukan dugaanmu sendiri? Atau apakah bengcu pernah mengatakan padamu?”

”Kau hanya berpendirian hendak membantu bengcu-mu saja, maka perlu apa aku banyak bicara padamu?” sahut Tomulun.

”Asal kau jangan sembarangan memaki, sudah tentu aku tak marah padamu. Baiklah, biar aku haturkan maaf padamu, bilanglah!”

”Tunggu saja nanti tentu akan menerima undangan dari bengcumu. Surat undangannya sudah diedarkan. Karena kau sudah datang, tentu akan dikirimi juga,” kata Tomulun.

Thian-sian terkejut, serunya: ”Apa? Hari pernikahannya sudah ditetapkan?” ”Benar, besok lusa!”

Tiba-tiba mata Thian-sian melotot dan mulutnyapun memaki: ”Jahanam, benar-benar jahanam. ”

”Siapa yang kau maki itu?” tegur Tomulun.

”Aku bukan memaki kau, aku ” tiba-tiba Thian-sian tak dapat bicara, wajahnya merah

padam. Kiranya adanya tadi hendak memukul Tomulun, bukan karena Tomulun telah memaki Se- kiat, tetapi karena ia tengah marah-marah namun tak dapat melampiaskan kemarahannya itu. Siapa yang sedikit saja menyalahi, tentu akan ditimpahi kemarahannya itu. Waktu mendengar  Se-kiat telah menetapkan hari pernikahannya dengan Tiau-ing, tanpa dapat dicegah lagi Thian-sian lantas menirunya Tomulun, memaki 'jahanam' pada Se-kiat.

”Hola, kau juga memaki jahanam itu? Bagus, tepat sekali makianmu itu!” Tomulun tertawa gelak-gelak.

”Hari akan turun hujan, si nona akan menikah dengan orang, apa guna memakinya? Ai ,”

kata Thian-sian yang lantas berpikir hendak mengajak berunding Tomulun tapi tak tahu bagaimana harus memulaikannya.

Tomulun tampak kecewa dan mengulangi kata-kata Thian-sian: ”Ya, memang benar. Hari akan turun hujan, si nona pun hendak menikah dengan orang!” - Ia berputar diri lantas angkat kaki.

Thian-sian pun tak mau mencegahnya lagi.

Ah, ternyata Tomulun itu dirasuk asmara sepihak. Kunjungannya ke perkemahan Kay Thian-

sian itu sebenarnya mengharap dapat berjumpa dengan Tiau-ing. Kalau dapat, ia akan berusaha untuk merebut hati nona itu. Tapi kalau tidak dapat, ia hendak puaskan hati memakinya habis- habisan. Di samping itu, ia ketarik juga dengan nama ”Thian-sian” (bidadari). Menilik namanya orangnya tentu cantik juga. Maka ingin sekali ia melihat, cantik manakah 'bidadari' itu dengan Tiau-ing.

Walaupun kepergiannya dari perkemahan Thian-sian itu, hati Tomulun berduka (karena ditinggal kawin Tiau-ing), tapi kesesakan napasnya sudah berkurang banyak. Pikirnya: ”Meski Thian-sian itu jelek rupa, tapi lebih menarik daripada si ular cantik Su Tiau-ing.”

Pun sekembalinya ke kamar, Thian-sian juga terlongong-longong beberapa saat. Makin memikir, makin mendongkol. Tiba-tiba ia berseru memanggil orangnya suruh menyiapkan kuda

dan seorang penunjuk jalan orang Ki. Baru ia berseru, seorang serdadu wanita menerobos masuk. Thian-sian tertegun, serunya: ”Hai, cici In, kau? Baiklah, urusan ini tak dapat ditutup lagi, nantinya akupun memang hendak mencari kau.”

”Tadi akulah yang menyuruh anak buahmu itu pergi menyiapkan kuda. Tapi perlu apa kau menyuruh begitu?” tanya In-nio.

”Aku hendak mencari, mencari Se-kiat untuk memprotesnya!”

”Jangan, cici, jangan ”

”Apakah kau sudah mengetahui tentang Se-kiat?”

”Apa yang kau bicarakan dengan raja Ki tadi, kudengar semua. Lusa Se-kiat akan menjadi pengantin!” kata In-nio.

”Benar, mengapa kau tak bingung? Mengapa kau tak memperbolehkan aku mencari Se-kiat?” teriak Thian-sian.

In-nio tertawa rawan: ”Urusan Se-kiat dengan wanita siluman itu, aku tahu lebih banyak dari

kau. Cici, terhadap orang yang kau cintai, kau harus memintanya supaya sungguh mencintai kau. Jika dia berubah hatinya, apa artinya lagi? Apakah kau hendak meminta-minta kasihannya, supaya mencintai kau?”

Thian-sian menepuk pahanya berseru: ”Benar! Gagah sekali ucapanmu. Kita kaum wanita jangan mau dipermainkan lelaki!”

Tapi lewat beberapa jenak kemudian, kembali nona kasar itu marah-marah lagi: ”Namun cara begitu saja kau lepaskan Se-kiat? Kau rela, tapi kau tak terima! Cici In dari ribuan li kau datang kemari apakah kau berpeluk tangan saja melihat mereka menikah?”

”Siapa bilang aku berpeluk tangan saja?” sahut In-nio.

”Bagus, bagus! Ambillah pedang dan carilah Se-kiat sana. Jika kau kewalahan, biar kubantu melabraknya. Kalau putus hubungan biar putus sama sekali,” teriak si buruk.

In-nio geli dan mendongkol dibuatnya, namun ia berlaku setenang mungkin: ”Tidak, aku tak mau berkelahi padanya!”

”Oh, apakah kau masih suka padanya?” tanya Thian-sian. ”Tidak, karena ia sudah berbalik hati, akupun tak suka padanya.”

Lagi-lagi Thian-sian menampar pahanya sendiri: ”Ini, aku tak mengerti. Kau tak mau melabraknya, juga tak suka lagi padanya, habis bagaimana kau hendak menyelesaikan?” ”Aku tak suka padanya, tetapi karena aku pernah bersahabat maka aku tak suka ia kawin

dengan wanita siluman itu. Kupikir hendak bicara secara persahabatan dengan dia, menunaikan kewajiban seorang sahabat untuk memberi nasehat. Sekali-kali aku tak mau gunakan kekerasan. Cici, apakah kau suka membantu aku?”

”Kau maksudkan supaya aku memberitahukan bengcu agar kau dapat menemuinya?” tanya Thian-sian.

”Bukan. Siluman wanita itu tinggal bersama Se-kiat. Belum tentu kau dapat menemui bengcu- mu, sebaliknya malah 'menjagakan ular tidur' nanti.”

”Lalu aku disuruh membantu apa?”

”Cukup asal kau suka menyelidiki dan memberi tahu aku di mana tempat tinggalnya. Meskipun siluman wanita itu tinggal bersama, tapi belum tentu tinggal sekamar. Setelah tahu tempat tinggalnya, aku dapat berusaha menemuinya sendiri.”

Thian-sian menepuk tangan: ”Benar, gingkang-mu lihay, malam hari dapat secara diam-diam menemuinya. Ini mudah saja, besok pagi aku tentu dapat menanyakan tempat tinggalnya dan besok malam, ialah malam pertama pernikahannya, kau dapat mendahului ”

”Ngaco belo! Apa kata-kata itu pantas diucapkan seorang anak perempuan?” bentak In-nio. ”Ya, memang aku ini seorang anak perempuan liar,” dengan tertawa cekikikan Thian-sian lantas keluar untuk memberi perintah pada anak buahnya.

Keesokan harinya, Thian-sian mencari keterangan tentang tempat tinggal Se-kiat, yakni berkemah di luar kota sebelah timur. Dengan masih menyaru sebagai serdadu wanita, In-nio naik

kuda untuk mengenal jalanan dulu. Dalam perjalanan itu ia mengambil putusan jika Se-kiat sampai tak mau sadar, ia terpaksa akan membantu ayahnya untuk memukul kota Tho-ko-poh itu.

Tho-ko-poh didirikan di antara gunung-gunung. Anak buah Se-kiat berkemah di pinggiran kota sebelah dalam. Untuk kesana harus melewati sebuah cekungan gunung. Ketika kuda In-nio masuk ke selat lembah, tiba-tiba di cekung gunung itu muncul seorang hoan-ceng (paderi) yang tanpa bicara apa-apa sudah lantas lemparkan tali lasso menjirat kaki kuda In-nio. Kejut In-nio bukan kepalang. Tapi karena ia sudah banyak pengalaman berkelana di dunia persilatan, meskipun gugup tapi tak sampai ia turut jatuh bersama kudanya. Begitu kuda rubuh, ia lantas gunakan ginkangnya melayang ke arah si paderi.

”Hai, aku inginkan hidup, jangan sampai ia terluka berat!” tiba-tiba terdengar lengking suara wanita.

Ketika In-nio mendongak, diam-diam ia mengeluh. Di lereng gunung tampak berdiri seorang wanita. Dia adalah Su Tiau-ing.

”Jangan kuatir, kongcu. Aku cukup berhati-hati. Ha, ha, gagal menangkap Sip Hong, menangkap puterinyapun lumayan juga!” hoan-ceng itu tertawa gelak-gelak.

In-nio segera mengenali paderi itu sebagai paderi jubah merah yang pernah dijumpainya di hotel tempo hari. Dan memang paderi itu bukan lain ialah mata-mata yang dikirim Su Tiau-gi ke

perkemahan Sip Hong, tapi dapat dipergoki. Dua orang sutenya kena dirobohkan Bik-hu, tapi ia masih berhasil melarikan diri.

Dalam marahnya In-nio lantas menusuk dengan pedangnya. Padri itu menanggalkan jubahnya dipakai sebagai senjata. Dimainkan si paderi, jubah itu berubah seperti segumpal awan merah. In- nio gunakan jurus toa-bok-ko-yan untuk menyerang dengan gencar. Tapi bukannya dapat menghancurkan jubah lawan, sebaliknya pedangnya malah kena ditelungkupi jubah dan hendak ditariknya.

Tahu lwekangnya kalah, In-nio cepat menarik pulang pedangnya dan berganti mainkan ilmu pedang Hui-ho-poh-tiap. Sret, sret, sret, ia lancarkan tiga buah tusukan dari tiga jurusan yang berlainan. Ia hendak mencari lubang yang tak dijaga jubah si paderi.

Gagal merebut pedang sebaliknya malah diserang begitu gencar, diam-diam paderi itu terkejut dan memuji kelihayan si nona. Ia lebih lihay dari ayahnya.

Ia putar jubahnya bagai angin lesus sehingga In-nio tak dapat mencari kesempatan. Dan karena tak berani adu lwekang, terpaksa In-nio pun gunakan cara berkelahi dengan berputar-putar.

Dua puluh jurus kemudian, Tiau-ing tampak turun dari bukit dan tertawa: ”Nona In, kemarin aku sudah mengetahui kedatanganmu.   Karena di hadapan barisan terpaksa aku tak dapat

mengundang. Sungguh kebenaran sekali kau suka datang sendiri. Seharusnya kita berhadapan sebagai kakak beradik. Beradu tajamnya golok dan pedang, adalah kurang pantas.”

Tiau-ing memang cerdik.  Ia sudah memperhitungkan bahwa In-nio tentu akan menyelidiki jalanan. Maka sebelumnya ia mengajak si paderi jubah merah untuk menunggu di cekung gunung itu.

”Seorang perempuan siluman bersilat lidah, tak punya malu. Siapakah yang sudi berakuan kakak-adik denganmu?” damprat In-nio.

Tiau-ing tertawa mengejek: ”Dari ribuan li mencari seorang pria, apakah 'tahu malu' namanya?”

In-nio sebenarnya tenang dan tak mudah marah. Tapi demi mendengar ejekan itu, marahnya berkobar: ”Dari mulut anjing tak nanti keluar gadingnya. Lihat pedang!” - Ia mengisar dan kiblatkan pedangnya menabas Tiau-ing. Tetapi si paderi ternyata lebih gesit. Dari bertahan tiba-

tiba ia menyerang. Ia tebarkan jubahnya ke tengah mereka. Pedang In-nio hampir saja kena dilibat. Tiau-ing masih tetap membongkok tangan dan tertawa seenaknya: ”Apakah kata-kataku salah?

Bukankah kau hendak mencari Bo Se-kiat? Sebagai tetamu, kau sudah kuhormati dengan membiarkan kau berlaku kurang adat padaku. Sebagai tuan rumah sebaliknya aku tak dapat berbuat kurang ajar kepadamu. Kau mau menemui Se-kiat, itu mudah. Mari kuantarkan ke sana?”

In-nio hendak memaki lagi tapi tiba-tiba hidungnya mencium bau wangi sampai

tenggorokannya terasa manis. Dan matanya agak gelap. ”Celaka, aku terkena jerat mereka!” diam- diam ia mengeluh dan buru-buru salurkan lwekang untuk menolak bau beracun itu.

Memang Tiau-ing sengaja bikin panas hati In-nio.  Sekali In-nio marah, pikiran kacau dan darah meluap. Saat itulah si paderi segera tebarkan semacam bi-hiang (dupa wangi). Hanya

digunakan bi-hiang untuk membuat orang pingsan, dan tidak menggunakan racun yang lebih keras, adalah karena Tiau-ing menghendaki supaya In-nio dapat ditawan hidup-hidup.

”Rebahlah!” tiba-tiba si paderi berteriak sembari kebutkan jubahnya. Seketika itu In-nio rasakan kepala berputar-putar, pedangnya terlepas dan orangnyapun rubuh. Bagaikan orang bermimpi buruk, tiba-tiba In-nio rasakan tenggorokannya dicekik oleh tangan dingin dan menjeritlah ia. Ketika membuka mata tahu-tahu ia mendengar suara Tiau-ing tertawa: ”Kau

seorang pendekar wanita ternama, masakan punya rasa takut? Jangan takut, akulah. Mengunjukkan kasih sayangku saja belum sempat, mengapa aku harus mencelakaimu?”

Setelah menenangkan pikirannya, barulah In-nio mengetahui dirinya berbaring di sebuah ranjang. Dari hiasan kamar ia duga kamar itu tentu milik Tiau-ing sendiri. Dan dari jendela dapatlah ia mengetahui bahwa saat itu sudah petang hari. Ia hendak menolak Tiau-ing tapi tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Kini sadarlah ia kalau menjadi tawanan. Untuk melampiaskan kemarahannya In-nio menggigit tangan Tiau-ing.

Tiau-ing menarik tangannya dan tertawa: ”Hebat, sungguh hebat, benar-benar nona cantik laksana bidadari! Kalau aku saja merasa suka, apalagi Se-kiat!”

In-nio makin gusar: ”Aku sudah jatuh ke tanganmu, bunuhlah!”

”Ai, macam apa ucapanmu itu? Mengapa aku membunuhmu? Adalah karena kau tak mau

damai dengan aku maka terpaksa kugunakan cara begini. Sekarang apakah kau sudah tak marah dan suka bercakap-cakap dengan aku?”

”Mau apa kau? Apakah kau belum cukup menghina aku?” sahut In-nio.

”Cici, aku bersungguh hati hendak bersahabat, janganlah kau mempunyai rasa bermusuhan.

Kau adalah sahabatnya Se-kiat dan biji mestika dari In tay-ciangkun, masa aku berani kurang adat?” Tiau-ing bersikap sungguh-sungguh.”

”Tak usah bermain sandiwara. Bilanglah terus terang apa maksudmu?”

Tiau-ing tersenyum: ”Kabarnya ayahmu telah menerima tugas pemerintah diangkat menjadi wakil panglima untuk menyerang daerah ini dan beberapa hari lagi akan segera tiba. Biarlah

kuberitahukan sebuah rahasia padamu. Walaupun engkohku itu namanya saja kaisar Tay Yan, tapi pada hakekatnya dia sudah tak punya kekuasaan lagi. Setiap waktu kukehendaki ia jatuh, semudah orang membalikkan telapak tangan. Sekarang ini dia hanya tak lebih seperti bonekanya Se-kiat.

Tetapi mungkin ia belum tahu hal itu.”

”Kau sungguh pintar sekali, tepat menjadi pembantu Se-kiat. Tetapi mengapa kau memberitahukan hal itu kepadaku?”

”Masakan kau tak ingin Se-kiat menjadi raja? Sekarang ayahmu datang hendak menumpas pemberontak, apakah bukan serupa hendak menumpas Se-kiat?” seru In-nio.

”Akan mengundang bantuanmu,” Tiau-ing tertawa.

”Bagaimana caranya?”

”Harap dengan memandang muka Se-kiat, kau sudi menulis sepucuk surat kepada ayahmu.” ”Isinya?”

”Ah, cici, kau toh pintar, masakan perlu kujelaskan,” kata Tiau-ing. ”Aku kepingin mendengar pendapatmu,” kata In-nio.

”Paling bagus ialah datang mengundang ayahmu menggabung pada Se-kiat, bersama-sama melaksanakan gerakan besar. Jalan kedua ialah saling membantu. Ayahmu dapat menggunakan tentara untuk berdikari sebagai raja. Jalan lain, jika ia tak mau berkhianat pada kerajaan Tong, baiklah gunakan siasat 'ngulur kambang' saja, jangan jual jiwa sungguh-sungguh untuk memerangi Se-kiat. Sebagai puteri yang mengenal jelas pribadi ayahnya, cici tentu mengerti jalan mana yang terbaik untuk menasihati ayahmu.”

”Emoh semuanya!” In-nio menolak dengan tegas.

”Aku tak percaya ayahmu sungguh-sungguh setia kepada kerajaan. Sekalipun andaikata ia benar-benar hendak menjadi menteri setia, toh ia harus memikirkan bahwa ia hanya mempunyai seorang puteri tunggal kau ini!” kata Tiau-ing yang secara halus memberi ancaman.

”Ayah tak nanti menurut anjuran itu dan akupun takkan menulis surat semacam itu!” teriak In- nio.

Wajah Tiau-ing mengerut marah: ”Ha, kiranya kau yang tak mau menulis!” - Tiba-tiba ia tertawa mengikik: ”Urusan kita mudah dirunding. Bila Se-kiat menjadi kaisar, ia tentu memerlukan dua tiga istana. Aku rela menyerahkan kedudukan Ceng-kiong-nio-nio kepadamu.”

”Kau kira setiap orang tak punya malu seperti kau, temaha harta silau kedudukan?” In-nio menyahut enggan tapi jelas bernada mendamprat.

Tiau-ing kewalahan dan tertawa mengejek: ”Nona In jangan lupa, kau sekarang bukan berada di perkemahan tentara ayahmu, tetapi di tangan Su Tiau-ing.”

”Oh, kiranya yang kau katakan 'bersahabat' itu begitu maksudnya! Jika aku bukan anaknya Sip Hong tentu sudah kau bunuh, bukan?”

”Asal sudah mengerti, sudah cukup. Sekarang tiba giliranmu, kau bersedia menulis surat itu atau tidak?”

”Telah kukatakan tadi, tak perlu diulangi lagi. Meskipun aku benar anaknya Sip Hong tapi tak ada gunanya bagi kepentingan kalian. Tak usah kau membuat rencana pada diriku!”

Tiau-ing marah benar. Seketika ia hendak membunuh nona itu saja tapi pada lain kilas, ia

masih mengharapkan perubahan sikap In-nio. Tiba-tiba ia tertawa dingin: ”Kedatanganmu kemari, apa bukan karena Se-kiat?”

”Kau bebas menerka dan itu urusanmu sendiri,” tukas In-nio. Dalam hati ia menandaskan bahwa sekalipun benar ia hendak menemui Se-kiat, tapi sekali-kali bukan bermaksud hendak merebut suami.

Tiau-ing yang cerdas tahu apa isi hati In-nio. Maka tertawalah ia: ”Kau salah kira. Aku

bukannya kuatir kau hendak merebut Se-kiat. Tetapi karena kau kemari hendak menemui Se-kiat, janganlah kau putuskan hubunganmu dengan dia secara begitu getas!”

”Tutup mulutmu!” bentak In-nio.

”Silahkan memaki sepuas-puasmu, aku merasa simpati padamu. Tak mudah mengharap kedatanganmu kemari. Se-kiat tentu gembira sekali melihatmu. Jangan menuduh aku seorang wanita berhati sempit. Tahukah kau apa yang kupikirkan saat ini?”

”Siapa sudi membuang waktu menerka pikiranmu!”

”Aku tengah memikir untuk mengundang Se-kiat kemari agar kalian dapat bertemu.  Aku tahu apa yang kukatan tentu kau terima dengan purbasangka yang jelek. Sedikitpun kau tak mau memberi kesempatan padaku. Maka biarlah Se-kiat yang mengatakan padamu. Coba lihat saja

apakah ucapannya itu sama dengan aku atau tidak! Dan hendak kupertunjukkan padamu, apakah aku yang merayu Se-kiat atau Se-kiat yang membutuhkan aku!”

Baru Tiau-ing hendak memanggil seorang bujang, tiba-tiba di luar terdengar orang mendatangi. Tertawalah Tiau-ing: ”Ha, itu dia sudah datang, tak usah diundang lagi. Cici In, kau ingin bertemu sekarang atau tidak?”

Memang In-nio mendengar derap kaki itu. Hatinya berdebar keras. Ia palingkan muka tak mau menghiraukan lagi. Tiau-ing tertawa dan membisikinya: ”Eh, lebih baik kau sembunyi dulu, biar kubilang padanya agar jangan kelewat mengagetkannya.” - Tiau-ing menutup kelambu dan tepat pada saat itu Se-kiat pun masuk.

”Apa kau baru bangun? Mengapa kelihatan begitu girang?” tegur Se-kiat.

”Aku mendapat sebuah berita penting yang perlu kubicarakan dengan kau,” kata Tiau-ing.

Atas pertanyaan Se-kiat, Tiau-ing menerangkan: ”Kerajaan telah mengirim seorang jenderal

besar membawa lima puluh ribu tentara menggabungkan diri dengan Li Kong-pik untuk menyerang kemari. Kira-kira dalam 10-an hari tentu datang. Coba terka siapakah jenderal itu?”

”Kalau menjadi pembantunya Li Kong-pik, terang bukan Kwe Cu-gi. Asal bukan Kwe Cu-gi, takut apa?” kata Se-kiat.

”Masakan pihak kerajaan selain Kwe Cu-gi tiada lain panglima yang lihay lagi? Jangan kelewat meremehkan kekuatan lawan!”

”Apa Cin Siang? Tetapi ia menjabat kepala Gi-lim-kun, mana raja mengijinkan dia tinggalkan kotaraja?”

”Coba tebak lagi!” seru Tiau-ing. Tetap Se-kiat meminta nona itu lekas memberitahukan saja. Tiau-ing tertawa: ”Cari sana sini mengapa kau tak teringat akan seseorang yang hampir saja bakal menjadi mertuamu?” ”Oh, Sip Hong?”

Tiau-ing mengiakan: ”Benar, Sip Hong. Seharusnya kau bergirang, bukan?”

”Ah, kau menduga yang bukan-bukan lagi. Sip Hong membawa tentara kemari, itulah musuh. Apanya yang kau girangkan?”

Tiau-ing mengikik, ujarnya: ”Jika sebelumnya hatimu tak luka, mengapa perih? Padahal kau merasa gembira, itulah sudah sewajarnya. Meskipun Sip Hong sekarang menjadi musuh, puterinya dahulu adalah kawan baikmu!”

”Urusan yang lampau, mengapa dibangkitkan?” mulut Se-kiat mengatakan begitu tetapi hati tak urung berdebar juga.

Tetapi Tiau-ing yang tajam mata, dapat meneropong isi hati Se-kiat. Kembali ia tersenyum: ”Baiklah, tak usah mengungkat hal lama, hal yang baru saja. Dalam memimpin pasukannya itu, puteri Sip Hong ternyata ikut serta. Apakah kau tidak mengharapkan dapat berjumpa dengan kawan baikmu itu?”

Se-kiat menatap wajah Tiau-ing dan berkata dengan berbisik: ”Masih ingat apa yang kukatakan dahulu?”

”Yang mana?”

”Kita adalah dua ekor belalang yang terikat pada seutas tali, senasib dan sependeritaan, tak boleh meninggalkan kawan. Apakah kau masih kuatir?”

”Kukuatir begitu berjumpa puteri Sip tayciang, kau lantas melupakan aku.”

”Jangan memikirkan yang tidak-tidak! Dan lagi belum tentu ia ikut ayahnya seperti yang kau kira itu.”

”Kalau benar seperti yang kukira, bagaimana reaksimu berjumpa padanya?” ”Jika kukatakan akan kubunuhnya, kau tentu tak percaya,” sahut Se-kiat. ”Kuingin mendengar apa yang terkandung dalam hatimu.”

Se-kiat merenung sejenak dan berkata: ”Karena kenal, aku pernah mempunyai perhatian padanya. Tetapi kini, dalam keadaan sebagai musuh, akupun tak mau bergoyah hati. Dan lagi apabila aku benar-benar meningkatkan perhatian kepadanya, toh tak perlu tunggu sampai sekarang.”

”Dalam hal paras dan perangai, ia jauh lebih baik dari aku. Dalam ilmu sastra dan ilmu silatpun lebih tinggi dari aku. Mengapa kau tak suka padanya?”

Se-kiat tertawa gelak-gelak dan memeluknya: ”Ini, mengapa kau masih pura-pura bertanya

lagi. Sekalipun ia mempunyai seratus macam kelebihan, tapi tak punya cita-cita tinggi. Mana dapat dibandingkan dengan kau puteri cantik yang berpambek jantan?”

Tiau-ing lepaskan diri dan tertawa: ”Kau suka padaku karena aku dapat membantu usahamu menguasai negeri.   Tetapi katakanlah sejujurnya. Apakah dalam hatimu kau tak mengenangkannya?”

”Kau sudah tahu aku selalu memikirkan perjuangan, mana aku mempunyai waktu mengenangkannya?” Se-kiat balas bertanya.

Tampaknya Tiau-ing puas dan tertawalah ia: ”Kau dan aku satu hati. Sebenarnya aku tak cemburu dan gembira kau hendak menjumpainya.”

”Oh, kau merencanakan pada dirinya, merencanakan, merencanakan siasat mengundurkan musuh. Ai, masakan ada hal yang begitu kebetulan sekali!”

”Benarkah? Maka kukatakan kalau kau sebenarnya hendak menemuinya.  Se-kiat, setiap kali kau hendak memikirkan apa aku tentu dapat menjalankan untukmu lebih dahulu. Kali ini juga tak terkecuali. Aku telah mengundang nona Sip kemari.”

Se-kiat berjingkrak kaget: ”Kau mau berolok-olok?”

”Silahkan menyingkap kelambu, siapakah yang  berbaring di situ? Ai, orang telah

menunggumu sekian lamanya! Agar kalian bebas mengadakan pertemuan empat mata, baiklah aku menyingkir dari sini,” dengan tertawa cekikikan Tiau-ing benar-benar berlalu.

In-nio mendongkol sekali sampai mulutnya serasa terkancing. Pun ketika mendengar papan ranjang berbunyi keretakan, dengan penuh keheranan Se-kiat menghampiri dan menyingkap kelambu .... Saat itu terasa tegang sekali. In-nio dan Se-kiat termangu seperti patung. Beberapa saat kemudian baru dapat menenangkan pikiran, ujarnya: ”In-nio, bagaimana kau datang kemari?” ”Tanyakan pengantinmu!” sahut In-nio dengan getas.

Pada saat itu Se-kiatpun mengetahui bahwa In-nio telah terkena obat bius pelemas tulang sehingga tak punya tenaga. Tentu Tiau-ing yang membuatnya, maka pertanyaannya tadipun tolol sekali. ”Ah, dengan menempuh bahaya ia datang kemari ini, apakah bukan karena aku,” pikirnya. Diam-diam ia menyesal. Memang sebenarnya perhatian Se-kiat kepada In-nio bukannya sama sekali sudah lenyap. Adalah karena ia dihadapi dengan dua pilihan, terpaksa ia memilih Tiau-ing.

Malam itu adalah malam widodari dari pernikahannya. Pada saat-saat begitu di dalam kamar mempelai perempuan, bertemu dengan bekas kekasihnya, telah menimbulkan perasaan yang tidak- tidak di dalam kalbu Se-kiat.

Beberapa jenak kemudian, Se-kiat baru berani dongakkan muka namun tetap menghindari sorot mata In-nio. Katanya dengan pelahan: ”Terima kasih atas kunjunganmu menengok aku. Apa yang hendak kau katakan kepadaku?”

Bahwa ia bakal bertemu dengan Se-kiat di tempat dan dalam keadaan seperti itu, kata-kata lembut yang sedianya hendak dikatakan kepada Se-kiat, dibuang lenyap dan diganti dengan kata- kata yang dingin: ”Urusan sudah sampai sekian, apa yang perlu dikatakan. Sekarang aku menjadi tawananmu, aku hanya bertanya, bagaimana kau hendak menghukum aku?”

Se-kiat telah keliru menangkap kata-kata In-nio. Ia kira nona itu masih mengandung setitik

kasih kepadanya. Ini membuatnya terkenang juga. Tiba-tiba ia tersenyum: ”In-nio, aku bercita-cita tinggi, kau tentu sudah memaklumi. Karenanya kau tentu dapat mengerti kesulitanku dan suka mensukseskan cita-citaku itu. Kuharap kau dapat hidup rukun dengan nona Su, tak nanti aku menelantarkan dirimu.”

Kasarnya, kata-kata itu berarti suatu permintaan agar In-nio suka membagi cintanya kepada Tiau-ing atau lebih jelas lagi, In-nio dan Tiau-ing itu akan diperisteri Se-kiat.

Saking gusarnya In-nio hampir pingsan. ”Se-kiat, sekarang aku baru benar-benar mengenal kau, tutup mulutmu!” dampratnya.

Se-kiat terkejut sampai menyurut selangkah.  Tetapi ia masih mengira In-nio itu cemburu, tak mau membagi cintanya kepada Tiau-ing. Setelah tertegun beberapa saat, ia menghampiri lagi maksudnya hendak mengangkat In-nio duduk. Tapi In-nio sudah berusaha sendiri menggeliat duduk. Sambil bersandar pada tepi ranjang, ia mengancam: ”Jika kau sampai berani menyentuh

tubuhku, aku tentu bunuh diri di hadapanmu. Aku dapat membuktikan ancamanku itu dengan cara menggigit putus lidahku.”

Se-kiat hampir tak dapat menguasai diri. Ia memang masih mencintai In-nio. Tapi pada lain kejab, hatinya berontak: ”Aku justeru membutuhkan bantuan Tiau-ing. Tak boleh karena perasaanku terhadap In-nio, aku lantas meninggalkan Tiau-ing!”

Ia gelengkan kepala tertawa getir: 'In-nio, kita pernah bergaul dengan akrab, sayang baru sekarang aku tahu isi hatimu. Kau, kau tak dapat menderita sedikit untuk membantu aku?” In-nio tertawa dingin: ”Aku hanya seorang anak perempuan yang tak punya cita-cita tinggi,

bagaimana dapat dibandingkan dengan seorang ratu pendekar yang perwira? Kau salah alamat hendak mencari bantuanku!”

Kata-kata itu adalah ucapan Se-kiat untuk menyanjung Tiau-ing tadi. Sudah tentu Se-kiat

merah padam dan tundukkan kepala. Walaupun suara hatinya berontak, tetapi ia seorang pemuda yang kuat batin tinggi cita-cita. Ia lebih mementingkan usahanya dari segala apa. Untuk merebut Tiong-goan, ia harus berani menghadapi segala apa. Diam-diam ia ambil ketetapan. Ujarnya: ”In- nio, kau adalah seorang puteri panglima yang gagah dan pandai. Akupun tak meminta pengorbananmu lagi. Meskipun membuatmu menderita. Jangan kuatir, aku tentu akan mengambil obat penawar. Kemudian terserah padamu, mau tinggal di sini atau mau pulang. Tetapi maukah kau ulurkan bantuan padaku?”

In-nio tertawa mengejek: ”Sekarang aku menjadi tawananmu. Menurut peraturan kaum Hek-to (jahat), tentu harus menyerahkan tebusan. Baik, sekarang kau mau minta tebusan apa padaku?” Kembali muka Se-kiat merah padam. Buru-buru ia berkata: ”In-nio, jangan berkata begitulah! Dalam kedudukan sebagai seorang kawan aku hendak meminta bantuanmu. Jika kau menolak juga tak apa.”

”Secara membantu juga boleh, secara memberi tebusan juga boleh. Meskipun hanya soal enak didengar atau tidak, tapi pada hakekatnya artinya sama. Baiklah, Bo bengcu, kau akan meminta bantuan apa kepadaku, silahkan bilang!”

”Kau seorang nona yang pintar, tentu dapat menduganya. Kabarnya ayahmu memimpin tentara kerajaan dan akan tiba di sini dalam beberapa hari lagi?”

”Oh, kiranya kau hendak menggunakan diriku untuk melakukan rencana mengundurkan musuh?” seru In-nio.

Kembali In-nio menirukan apa yang dibicarakan Se-kiat dengan Tiau-ing tadi. Untuk kesekian kalinya, Se-kiat harus menelan malu. Ia kuatir jangan-jangan noan itu akan menghamburkan sindiran-sindiran yang lebih tajam lagi.

”Tentang rencana mengundurkan musuh itu, akupun sudah memikirkan lebih dulu. Aku mempunyai tiga macam rencana yang hendak kurundingkan padamu,” tiba-tiba In-nio membuka suara.

”Bagaimana ketiga macam rencana itu, harap hian-moay suka memberi petunjuk,” sudah tentu Se-kiat girang bukan kepalang. Dan malah untuk merayu hati In-nio, ia memanggilnya dengan sebutan ”hianmoay” atau dinda yang bijak.

”Pertama, ialah menasihati supaya ayahku suka menggabungkan diri menjadi pembantumu mendirikan kerajaan baru.”

”Ah, dikuatirkan ayahmu menolak,” kata Se-kiat.

”Dia tak mau toh aku masih punya dua rencana lagi. Rencana kedua, ialah menganjurkan

supaya ia berdikari mengangkat diri jadi raja, mengadakan perjanjian ko-eksistensi (hidup bersama dengan rukun) dengan kau. Setelah dapat merebut negara, siapa yang bakal menjadi kaisar, pada saatnya baru dibicarakan lagi. Jika ayah enggan mengkhianati kerajaan Tong, masih ada rencana yang ketiga. Ialah menasihatinya supaya netral, jangan bersungguh-sungguh membantu pihak kerajaan memerangi kau!”

Se-kiat berteriak girang: ”In-nio, kau benar-benar cemerlang. Apa yang kau katakan itu tepat

sekali dengan rencana yang kurancang! Ai, kukira kau tak mau membantu aku, kiranya siang-siang kau sudah memikirkan kepentinganmu.”

Berhenti sejenak, Se-kiat berkata pula: ”Kurasa rencana kedua itu yang banyak harapannya dapat diterima ayahmu. Harap kau gunakan rencana yang itu untuk menasihatinyalah!” Tiba-tiba In-nio tertawa mengejek, nadanya bercampur amarah dan kedukaan. Se-kiat tercengang, tanyanya: ”Apa yang kau tertawakan?”

”Yang cerdas cemerlang itu bukan aku, melainkan pengantinmu. Ketiga rencana itu dialah yang memikirkan. Aku hanya mengulangi mengatakan saja. Hm,k alian berdua benar-benar

sepaham dan sehati. B0 Se-kiat, sekarang baru aku dapat meneropong dirimu!” In-nio tertawa hina. Sekonyong-konyong di luar pintu terdengar orang tertawa gelak-gelak. Tiau-ing muncul lagi.

Dengan berhias senyum simpul, Tiau-ing melirik In-nio: ”Benar, benar, memang akulah yang membuat ketiga rencana itu. Dengan pikiran Se-kiat, ternyata senapas! Nona Sip, sekarang biarlah kau mengetahui. Apa yang kukatakan kepadamu tadi, adalah serupa dengan apa yang hendak diucapkan Se-kiat kepadamu. Kau enggan melihat paderi sebab ia memandang Buddha, apanya yang berbeda?”

Dengan tindakan yang dilakukan itu, Tiau-ing telah membuat tiga macam perhitungan atau

sekali tepuk tiga lalat. Jika Se-kiat berhasil menasihati In-nio supaya menurut, itulah yang terbaik. Apabila Sip Hong sudah meninggalkan pihak kerajaan, mudahlah besok dibereskan berikut In-nio juga. Tapi Tiau-ing telah memperhitungkan, In-nio tentu membandel. Maka sengaja ia hendak memperlihatkan kepada nona itu bahwa ia (Tiau-ing) dan Se-kiat itu sudah sehati-senyawa. Jangan harap orang ketiga dapat menyela di tengah mereka. Di samping itu, apabila In-nio sampai marah dan bentrok dengan Se-kiat, Se-kiat tentu putus sama sekali hubungannya dengan In-nio.

Tampaknya Tiau-ing terbuka tangan menyuruh mereka bertemu empat mata, tapi sebenarnya ia telah mengatur segala-galanya. Tahu gelagat tak baik, masih Se-kiat berusaha untuk menolong In-nio. Katanya dengan lemah lembut: ”Sebenarnya ketiga rencana yang dibuat Tiau-ing itu, adalah untuk kepentinganmu dan ayahmu.  Pemerintah kerajaan sudah bertindak sewenang-wenang, para panglima di daerah sama berebut wilayah. Umur kerajaan Tong rasanya takkan panjang lagi. Misalnya seperti ayahmu sendiri. Sudah berkali-kali ia membuat jasa, tapi toh sampai sekarang belum diangkat menjadi Ciat-to-su. Mengapa nasib suka mati-matian mengabdi kepada kerajaan? Daripada hanya menjadi wakil panglima, kan lebih baik berdiri menjadi raja sendiri? Apalagi dengan begitu hubungan kita tetap terpelihara.  Untuk kepentingan umum dan kepentingan pribadi, kedua-duanya dapat terlaksana dengan baik. Bagaimana kehendakmu?”

”Kehendakku, telah kukatakan kepada pengantinmu tadi. Apakah masih suruh aku bicara lagi?” sahut In-nio.

”Nona Sip menyayang cinta lebih daripada emas. Ia tak mau menulis surat itu. Ai, ciciku In

yang baik, kau bersikap getas kepadaku, tak apa. Tetapi mengapa kau tak punya budi dan kecintaan kepada Se-kiat?” Tiau-ing menyeletuk.

”Tutup mulutmu!” bentak In-nio. Sepasang matanya berkilat-kilat membuat orang gentar juga. Kemudian berkata pula: ”Se-kiat, kedatanganku ini memang untuk Budi dan Kecintaan!” Menghadapi sinar mata si nona yang begitu berwibawa gentarlah hati Se-kiat. Tetapi demi mendengar ucapan In-nio, ia berbalik girang sekali dan buru-buru menyatakan dirinya bukan manusia yang lupa budi lupa kecintaan.

Tiau-ing mendengarkan dengan tertawa dingin.

Dengan tenang, berkatalah In-nio sepatah demi sepatah: ”Jangan kalian keliru menafsirkan.

Apa yang kukatakan Kecintaan itu adalah kecintaan sahabat. Dan yang kusebut Budi itu ialah Budi Kebajikan yang sejati! Se-kiat, memang benar, aku dan kau pernah mengikat persahabatan. Adalah karena itu maka aku tak mau membiarkan seorang sahabat menjurus ke jalan yang sesat! Se-kiat, kau yang selalu membanggakan dirimu berhati perwira, mengapa sekarang gelap pikiran tak mau mendengar nasihat sahabat-sahabatmu?”

”Dalam hal apa aku mata gelap? Hanya yang menjalankan Kebenaran yang dapat hidup di dunia. Ketika Li Yan dan puteranya mulai bergerak di Thay-gwan, apakah juga tidak sebagai menteri kerajaan yang merebut kekuasaan junjungannya? Apalagi aku bukan menteri kerajaan Tong, mengapa lebih tidak boleh?” bantah Se-kiat.

”Jika kau bertujuan menolong penderitaan rakyat, itu baru benar-benar jantan perwira. Tapi bagaimana dengan tindakanmu sekarang? Kau bersekutu dengan anak keturunan haram dari An dan Su.   Kau sepaham dan sehina martabatnya. Kau hendak meminjam tentara asing untuk menyerang negaramu sendiri. Taruh kata kau berhasil, pun tentu akan dinista orang. Apalagi rakyat masih mendendam kebencian terhadap pemberontak An dan Su. Bagaimana kau dapat mengambil hati rakyat?”

Dimakin oleh In-nio, Tiau-ing spontan balas mendamprat: 'Bagus, akupun mendapat hinaanmu. Kalau diriku ini dikata keturunan haram dari kawanan pemberontak An dan Su, apakah ayahmu itu? Bukankah pada masa itu ia juga berhamba pada An Lok-san?”

”Tetapi siang-siang ayahku sudah insyaf dan kembali ke jalan yang benar,” sahut In-nio.

”Oho, raja keturunan she Li itu, juga bukan raja yang genah!” Tiau-ing mengejek.

”Tetapi tetap jauh lebih baik dari pemberontak An Lok-san yang buas kejam itu,” jawab In-nio.

”Asal aku tidak bertindak kejam sewenang-wenang, toh tak apa,” Se-kiat menyeletuk.

”Tetapi langkahmu pertama sudah salah. Mana rakyat mau percaya padamu?” bantah In-nio.

”Habis kalau menurut anggapanmu, bagaimana?” tanya Se-kiat.

”Bawalah anak buahmu itu untuk segera tinggalkan tempat ini. Hendak mengadakan revolusi tidak boleh mengandalkan orang luar!” In-nio menyatakan dengan tegas.

Se-kiat tergelak-gelak, serunya: ”Ini omongan anak kecil. Kalau menurut cara itu, entah berapa banyak rintangan yang akan kujumpai nanti.”

”Ya, memang kutahu kau hendak mengambil jalan singkat. Tetapi kau lupa bahwa makin mengambil jalan singkat, rintangannya makin banyak.”

Su Tiau-ing tertawa mengejeknya: ”Maksudmu tak lain tak bukan hanya akan memisahkan aku dan Se-kiat saja. Baiklah, Se-kiat, rupanya ia lebih pintar, angkatlah dia menjadi kun-su (penasihat militer)!”

In-nio tahan kemarahannya dan berkata lagi: ”Aku hanya menunaikan kewajibanku sebagai seorang sahabat. Kata telah kuucapkan, menerima atau tidak terserah padamu. Karena kalian menyangka aku begitu, maka tak perlu aku bicara lebih lanjut.”

”Tetapi teorimu itu juga bukan baru. Tempo hari Thiat-mo-lek juga sudah mengatakan begitu,” kata Se-kiat.

”Aku selalu mengagumi pandangan Thiat toako. Jadi ia juga pernah mengatakan begitu? Kalau begitu, kau anggap Thiat toako itu juga seorang anak kecil?” tukas In-nio.

”Berlainan arah tujuan, tentu tak dapat seperjalanan. Aku sudah putus dengan Thiat-mo-lek. Seorang ksatria, apabila sudah putus hubungan, tak mau memfitnah. Aku tak mau membicarakan pendapat Thiat-mo-lek itu.”

In-nio tertawa kecewa, hatinya berduka sekali. Dan berkatalah ia dengan tawar: ”Karena berlainan arah tujuan tentu tak dapat seperjalanan, maka persahabatan kita berdua inipun putus

sampai di sini. Ah, aku masih kesalahan mengomong lagi. Aku sekarang menjadi tawananmu, mau dibunuh mau digantung, aku harus menurut. 'Putus hubungan' perkataan itu, tak perlu kukatakan lagi.”

Wajah Se-kiat sebentar gelap sebentar merah. Berpaling kepada Tiau-ing, berserulah ia: ”Tiau- ing kau berikan ia ”

Belum kata yang terakhir 'obat penawar' diserukan, Tiau-ing sudah menukasnya: ”Lupakah kau bahwa ia puterinya Sip Hong? Lepaskan ia pulang, karena ia sudah tahu keadaan kita, tentu akan membantu ayahnya menghantam kota ini. Kalau pada waktu itu kau dan aku menjadi tawanan Sip Hong, belum tentu mereka ayah dan puteri itu mau melepaskan.”

Se-kiat terbeliak kaget, pikirnya: ”Ya, perkataan Tiau-ing itu memang benar. Mana aku berani memastikan In-nio tak membantu ayahnya?”

Tetapi untuk mencelakai In-nio, ia tetap tak sampai hati. Selagi ia masih bersangsi belum dapat mengambil keputusan, tiba-tiba seorang serdadu masuk dan melaporkan bahwa ada seorang utusan dari Im-ma-jwan datang menghadap.

Se-kiat mempunyai dua pembantu yang paling boleh diandalkan. Satu Kay Thian-hau dan lainnya Nyo Tay-lui, pemimpin begal Im-ma-jwan. Orang itu bertubuh tinggi sekali hingga digelari sebagai Nyo Toa-koji atau Nyo si orang besar. Kay Thian-hau dan Nyo Besar itu merupakan jago yang dimalui di kalangan loklim. Dahulu yang mendukung pencalonan Se-kiat sebagai lok-lim- beng-cu juga kedua orang itu. Waktu Se-kiat menggabungkan diri dengan Su Tiau-gi, ia telah mengirim Lok-lim-cian (panah lokim atau tanda maklumat), supaya semua kepala-kepala penyamun berkumpul di Yu-ciu. Anak buah Kay Thian-hau sudah datang lebih dulu sedang Nyo Besar masih belum tiba.

Waktu mendengar pihak yang diharap-harapkan itu mengirim utusan, Se-kiat girang sekali. Ia segera minta Tiau-ing membujuk In-nio, sedang ia lalu keluar menyambut utusan itu.

Yang datang ternyata seorang kerucuk. Umurnya baru 20-an tahun, berwajah jujur dan

sikapnya seperti pemuda desa. Hanya sepasang matanya yang bersorot tajam itu, sepintas pandang Se-kiat mengetahui kalau orang itu cukup tinggi ilmu lwekangnya. Diam-diam Se-kiat heran mengapa Nyo Besar mempunyai seorang bawahan semacam itu.

”Siapakah nama saudara dan sudah berapa lama ikut pada Im-ma-jwan? Apakah sebelum masuk Im-ma-jwan pernah berguru pada orang pandai? Di dalam pesanggrahan Im-ma-jwan, menjabat tugas apa?” demikian Se-kiat mengajukan beberapa pertanyaan.

Anak muda itu memberi hormat lalu menjawab: ”Aku orang she Wan, nama Hun. Mendiang ayahku dulu menjadi guru rumah-persilatan. Aku mendapat beberapa macam pelajaran ilmu

pedang. Masuk ke Im-ma-jwan baru satu tahun. Hanya karena kemurahan hati Nyo-cecu, aku telah diangkat menjadi siau-thaubak (kepala regu).”

Setahun yang lalu, meskipun Se-kiat pernah datang ke Im-ma-jwan, tapi hanya tinggal selama

10-an hari saja. Diantara ratusan thaubak yang berada di Im-ma-jwan itu, sudah tentu ia tak dapat mengenali semua.   Apalagi pemuda itu baru masuk saja. Sekalipun begitu Se-kiat tetap heran, mengapa Nyo Besar tak mengirim thaubak yang ia kenal. ”Ah, mungkin karena anak muda ini berkepandaian tinggi maka Nyo cecu mempercayakan tugas ini kepadanya. Ini tak dapat mempersalahkannya,” pikirnya.

Ketika se-kiat memandang keluar, matanya tertumbuk akan seekor kuda putih yang tengah makan rumput. Kembali Se-kiat tersirap dan memuji: ”Kuda ciau-ya-say-cu yang bagus sekali! Apakah itu tungganganmu?”

Anak muda yang menyebut dirinya bernama Wan Hun itu mengiakan: ”Kuda itu milik tentara negeri yang dirampas Nyo cecu. Untuk sementara diberikan padaku supaya dipakai.” ”Dimana Nyo cecu dan sekalian anak buahnya? Mengapa ia begitu perlu mengirim kau?

Berita penting apa yang hendak dilaporkan itu?” tanya Se-kiat.

”Nyo cecu dan saudara-saudara semua, sudah mulai berangkat. Ketika aku berpisah, mereka baru tiba di lembah Ko-in-ko di Siam-pak. Mungkin dalam waktu 10-an hari tentu dapat tiba kemari. Adanya Nyo cecu mengirim aku kemari, karena hendak melaporkan suatu berita yang penting sekali.”

Atas pertanyaan Se-kiat, pemuda itu menerangkan: ”Pengangkatan Sip Hong menjadi wakil panglima untuk memerangi kita ini, adalah atas usul Kwe Cu-gi. Kwe Cu-gi telah memberikan lima puluh ribu serdadu pilihan kepadanya, suruh ia menggabung dengan Li Kong-pik.

Kemungkinan dalam setengah bulan lagi mereka tentu sudah tiba di Yu-ciu. Harap bengcu suka bersiap-siap.”

”Soal ini aku sudah tahu. Dan apa lagi?” kata Se-kiat.

Dengan terkerat-kerat kerucuk itu menyahut: ”Masih ada berita rahasia entah harus dikatakan atau tidak?”

”He, apa maksudmu? Soal apa yang tak harus dikatakan?” tegur Se-kiat. ”Karena mungkin bengcu tak senang.”

”Bilanglah! Berita yang senang harus didengar, yang tidak senang lebih harus didengarkan! Apakah Thiat-mo-lek hendak memusuhi aku?”

”Bukan,” sahut si kerucuk, ”berita yang kami dengar itu ialah bahwa puteri Sip Hong yang bernama Sip In-nio ikut pada ayahnya tetapi pada suatu hari tiba-tiba lenyap. Turut laporan mata-

mata kami nona itu menuju ke Yu-ciu. Nyo cecu kuatir kalau nona itu menyelundup ke Tho-ko-poh menjumpai bengcu.  Nyo cecu mengatakan ”

”Ai, sudahlah, aku sudah tahu. Memang Nyo toako itu setia padaku. Karena tahu bagaimana hubunganku dengan nona itu tempo hari, maka ia kuatir aku kena terpikat, benar?”  ”Sekarang siapa kawan siapa lawan, sudah jelas. Apalagi kabarnya bengcu hendak

melangsungkan pernikahan dengan Tay Yan kongcu. Dikuatirkan nona Sip itu akan membunuh secara menggelap. Maka Nyo cecu meminta bengcu supaya lebih waspada. Jika mengetahui jejak nona itu, supaya ditangkap saja, jangan dilepaskan. Tetapipun jangan buru-buru dibunuh, karena dapat dijadikan tanggungan untuk menekan Sip Hong.”

Se-kiat tertawa girang: ”Ai, tak kira Nyo toako pintar juga. Ha, ha, ha apa yang dapat dibayangkan Nyo toako, masakan aku tak dapat memikirkan? Harap kalian jangan kuatir. Tetapi akupun merasa berterima kasih atas kesetiaan Nyo toako itu. Masih ada apa lagi?”

”Apakah bengcu sudah mengetahui jejak puteri Sip Hong itu? Apakah sudah dapat menangkapnya?” tanya pemuda itu.

”Itu urusanku, tak perlu kau turut campur. Karena menempuh perjalanan jauh, beristirahatlah dulu,” kata Se-kiat yang dalam pada itu menganggap utusan itu terlalu usil tetapi sikapnya ketolol- tololan seperti Nyo Besar.

Entah kapan keluarnya, tahu-tahu Tiau-ing menghampiri ke muka utusan tadi. Setelah mengawasi sejenak, ia berkata: ”Wajahmu seperti tak asing, entah di mana kau pernah berjumpa dengan aku?”

”Kongcu tentu salah lihat. Aku hanya seorang kerucuk baru dari Im-ma-jwan, masakan mempunyai kehormatan besar berjumpa dengan kongcu?” sahut si pemuda itu.

Mendengar itu serempak timbullah kecurigaan Se-kiat: ”Nanti dulu, kau mengaku belum pernah melihat ia, mengapa tahu kalau ia seorang kong-cu?” In-nio pun mendengar pembicaraan di luar kamar tadi. Makin mendengar makin merasa tak

asing dengan nada suara utusan itu. Tiba-tiba ia teringat seseorang dan girangnya bukan kepalang. Meskipun tenaganya masih lumpuh, tapi karena lwekangnya kuat, ia segera berusaha menyalurkan pernapasannya. Beberapa saat kemudian, dengan paksakan diri ia dapat juga berjalan keluar. Pada saat itu tepat Se-kiat mendesak si utusan dengan pertanyaan yang terakhir tadi. In-nio merayap tembok dan tiba di pinggir pintu.

Utusan dari Nyo Besar tadi tengah terpukau menghadapi pertanyaan Se-kiat. Tiba-tiba ia mendengar suara In-nio berseru: ”Aku di sini, lekas bekuk perempuan siluman itu!”

Kerucuk utusan itu bukan lain adalah Pui Bik-hu. Dalam perjalanan ke Yu-ciu di tengah jalan

ia bertemu dengan regu pelopor dari kawanan Im-ma-jwan. Mereka coba merebut kuda Bik-hu, tetapi malah dihajar Bik-hu. Bik-hu dapat menyambar seorang siau-thaubak (pemimpin regu), terus dilarikan.

Bik-hu memang masih hijau dalam pengalaman, tapi ia punya otak juga. Ia paksa siau-thaubak memberi keterangan tentang keadaan Im-ma-jwan. Kemudian setelah menutuk si thaubak, ia lantas melucuti pakaiannya dan dengan menyaru sebagai siau-thaubak Im-ma-jwan, dapatlah ia menyelundup ke Tho-ko-poh.

Benar Tiau-ing pernah bertemu dengan Bik-hu di hotel tempo hari, tapi karena di waktu malam jadi ia tak melihat jelas wajah anak muda itu. Apalagi saat itu Bik-hu menyaru maka Tiau-ing pun tak berani memastikan. Waktu ia hendak menanyai lebih jauh In-nio muncul dan meneriaki Bik-hu

supaya menindak nona itu. Dan memang Bik-hu sudah siap-siap. Dengan berseru keras, secepat kilat ia sudah maju dan menutuk jalan darahnya.

Se-kiat kaget sekali dan cepat ayunkan pukulannya tapi Bik-hu segera gunakan tubuh Tiau-ing untuk perisai. Untung Se-kiat dapat lekas-lekas menarik pulang tangannya diganti dengan sebuah tendangan dan rangsangan tangan kiri untuk mencengkeram lambung Bik-hu yang terbuka.

Bik-hu mundur tiga langkah. Bret, baju lambung kanannya kena dirobek jari Se-kiat. Bik-hu tertawa dingin, dan mencabut pedangnya: ”Bo Se-kiat, selangkah lagi kau berani maju, siluman wanita ini tentu kubunuh!”

Saking marahnya mata Se-kiat sampai mendelik tapi ia tak berani maju lagi.

”Se-kiat sekarang kita dapat melakukan barter cara kaum Hek-to. Jika kau menghendaki pengamanmu berilah obat penawar padaku,” seru In-nio.

”Memangnya aku bermaksud hendak memberikan obat penawar padamu, mengapa kau perlu gunakan akalan begitu?” sahut Se-kiat.

”Suci, kau terkena racun mereka?” Bik-hu berseru kaget.

”Tak mengapa. Obat bo-kut-san itu tak begitu ganas, hati wanita siluman itu lebih ganas dari racunya,” sahut In-nio.

Se-kiat masuk ke kamar mengambil obat. Ketika keluar dilihatnya In-nio berdiri di samping Bik-hu.   Bik-hu tampak girang sekali.   Melihat itu Se-kiat dapat menduga. Meskipun ia telah

mengalihkan cintanya kepada lain nona, tapi masih ada setitik bekas kasihnya kepada In-nio. Dan tanpa terasa ia merasa cemburu juga.

”In-nio, sungguh mengagumkan sekali sutemu mau mati-matian menyusul kau kemari! Kudoakan kalian berbahagia,” katanya dengan rawan.

”Berikan obat penawar itu dan kita lakukan barter secara adil. Siapa sudi menerima kemurahan hatimu. Sudah, jangan banyak kata yang tiada guna lagi,” sahut In-nio, waktu ia sudah menerima obat dari Se-kiat, Se-kiatpun segera menanyakan tentang pembebasan Tiau-ing. Tetapi Bik-hu mengatakan belum bisa.

”Bagaimana maksudmu?” Se-kiat marah.

Bik-hu tak menghiraukan. Beberapa saat kemudian baru ia menanyakan In-nio tentang obat

yang telah diminumnya itu. In-nio tertawa dan menerangkan bahwa obat itu memang mustajab. Ia sudah dapat berangkat.

Kini tahu Se-kiat kemauan mereka: ”Kurang ajar! Kau anggap aku Bo Se-kiat ini orang

macam apa? Masakan akan mengambil obat palsu untuk menipu kalian? Dan apakah sekarang kau sudah dapat melepaskan Tiau-ing?” ”Masih belum,” lagi-lagi Bik-hu menyahut.

”In-nio sutemu mungkin baru pertama kali bertemu aku, tapi kau tentulah sudah kenal

pribadiku. Apakah aku pernah menarik kembali ucapanku? Apakah kau masih belum mempercayai aku?” Se-kiat marah-marah.

”Bo toa-bengcu, jangan naik pitam. Pengantinmu tentu akan kami kembalikan. Hanya terpaksa kuminta ia mengantar perjalanan sebentar. Sute, begitukah maksudmu?” kata In-nio. Bik-hu mengiakan: 'Ya, begitulah. Bo toa-bengcu, bukan aku tak percaya pdamu melainkan tak percaya pada perempuan siluman ini!”

In-nio minta supaya Tiau-ing diberikan kepadanya saja supaya jangan menimbulkan kecurigaan orang. Bik-hupun menurut. Saat itu tenaga In-nio sudah pulih sebagian besar. Sambil mencengkeram jalan darah di punggung Tiau-ing, In-nio meminta Se-kiat supaya mengambilkan kuda. Walaupun mendongkol, namun toa-bengcu (pemimpin besar) itu terpaksa menjadi tukang kuda. In-nio dan Tiau-ing naik kuda Ngo-hoa-ma. Bik-hu pun segera mendapatkan kudanya Ciau- ya-say-cu yang tengah makan rumput. Setelah memberi hormat kepada Se-kiat, berkatalah ia: ”Bo toa-bengcu, jika kau kuatir, silahkan ikut.”

Sudah tentu Se-kiat kuatir dan iapun mengendarai kudanya. Kuda Se-kiat itu juga hebat, tapi tetap kalah dengan kuda In-nio dan Bik-hu. Karenanya ia ketinggalan jauh di belakang. Terpaksa In-nio suruh Bik-hu lambatkan kudanya agar jangan diduga Se-kiat hendak melarikan Tiau-ing.

Mereka menuju keluar kota. Di situ merupakan daerah perkemahan anak buah Se-kiat. Di sepanjang jalan tampak tentara pribumi. Dengan sebelah tangan memegang kendali kuda dan sebelah tangan menekan punggung Tiua-ing, In-nio mengisiki: ”Nona Su, harap kau unjukkan muka riang, jangan mengerut masam, atau nanti terpaksa aku bertindak keras.”

Tiau-ing kerenyotkan gerahamnya namun mau tak mau ia terpaksa menuruti permintaan itu juga. Anak buah Se-kiat karena melihat kedua nona itu begitu akrab sekali pun tak menaruh kecurigaan apa-apa.

Tak lama kemudian tibalah mereka di pintu dari kota luar. Melihat Tiau-ing dan Se-kiat,

penjaga pintu buru-buru membukakan pintu dan bertanya dengan hormat sekali: ”Bengcu, rupanya hari ini kongcu tampak gembira sekali. Apakah hendak ke padang rumput mencoba kuda?” Dengan enggan Se-kiat menyahut: ”Tak usah mengurusi urusan lain. Selanjutnya siapa saja yang datang kemari, meskipun membawa tanda keterangan, tapi harus dilaporkan dulu padaku.

Setelah kusuruh orang kemari, barulah tetamu itu diperbolehkan masuk.”

Begitu keluar, In-nio dan Bik-hu segera congklangkan kudanya. Kembali Se-kiat ketinggalan

di belakang. Sudah tentu ia cemas sekali. Tetapi kecemasannya itu segera lenyap ketika setengah li di sebelah muka sana, In-nio tampak turunkan Tiau-ing dengan hati-hati.

”Pengantin perempuan kembali padamu. Kau dapat membuka jalan darahnya. Sekarang kami akan pergi,” seru In-nio.

”In-nio, apakah tiada lain jalan bagi kita kecuali berjumpa di medan pertempuran?” tanya Se- kiat.

”Apa yang hendak kukatakan, telah kukatakan. Sejak saat ini tergantung padamu. Tetapi mudah-mudahan kau mau menimbang semasak-masaknya lagi. Memang paling baik jangan bertemu di medan pertempuran,” sahut In-nio.

Tiba-tiba Se-kiat merasa pilu. Memandang kepergian In-nio dengan Bik-hu itu, ia merasa seperti kehilangan sesuatu. Walaupun pendiriannya bertentangan tapi mau tak mau ia merasa kagum juga terhadap In-nio. Ya, memang begitulah perasaan manusia. Di kala ia kehilangan seorang sahabat, barulah ia merasakan sifat-sifat yang baik dari sahabatnya itu.

Bayangan In-nio makin lama makin kecil. Tetapi dalam pandangan mata Se-kiat, bayangan itu bukan makin kecil sebaliknya malah makin besar, ya semakin besar hingga menutupi bayangan Tiau-ing. Se-kiat termangu-mangu, pikirannya melayang. Dan timbullah kesangsiannya: apakah ia tak keliru menetapkan pilihannya?

Detik-detik kekosongan hati Se-kiat yang terisi dengan renungan indah, hanya berlangsung beberapa kejab. Karena pada saat itu kedengaran Tiau-ing meneriakinya supaya datang membuka jalan darahnya yang tertutuk. Se-kiat gelagapan dan buyarlah semua kenangannya tadi. Tiba-tiba terngiang apa yang pernah diucapkan Tiau-ing: kau dan aku adalah seperti sepasang belalang yang terikat seutas tali. Ya, benar. Untuk menguasai Tiong-goan, menduduki kota raja Tiang-an, tak ada lain jalan kecuali harus semua suara hatinya. Bayangan In-nio pun buyar bagai awan tertiup angin. Buru-buru ia menghampiri Tiau-ing.

Saat itu In-nio dan Bik-hu masih belum lari jauh. Tiba-tiba dari muka tampak seorang wanita yang menyanggul hud-tim (kebut pertapaan) dan pedang. Larinya cepat sekali, lebih cepat dari kuda lari. Diam-diam Bik-hu terkejut melihat ilmu gin-kang si wanita yang sedemikian ampuhnya itu.

Pun wanita itu berseru memuji kedua ekor kuda yang dinaiki In-nio dan Bik-hu. Sekonyong- konyong Tiau-ing berteriak: ”Suhu, lekas tangkap kedua orang itu. Mereka telah menghina aku!” Ternyata wanita yang dandanannya aneh itu bukan lain ialah Shin ci-koh, suhunya Tiau-ing.

Gong-gong-ji sudah berjanji hendak menikah dengannya, tetapi karena Gong-gong-ji bersama Coh Ping-gwan hendak mengejar Ceng-ceng-ji, ia merasa tak leluasa kalau berjalan dengan seorang wanita. Maka ia pun suruh tunangannya itu menunggu di daerah Tho-ko-poh.

Shin Ci-koh digelari orang sebagai Bu-ceng-kiam atau Pedang tak kenal cinta.  Tetapi sebenarnya ia bukan seorang wanita yang tak kenal cinta, bahkan sebaliknya ia seorang yang sentimentil sekali.   Segala tindakannya didasarkan atas pertimbangan hatinya sendiri. Dalam hidupnya, satu-satunya pria yang dicintai ialah Gong-gong-ji, dan yang paling disayangi ialah muridnya Su Tiau-ing itu. Maka waktu mendengar teriakan Su Tiau-ing tadi, ia merasa kebetulan sekali. Memang sebenarnya ia hendak merampas kuda kedua anak muda itu, tapi sayang belum mendapat alasan.

”Jangan kuatir, Ing-ji, akan kuringkus kedua bangsat cilik itu,” serunya sembari kebutkan hud- timnya.

Jarak In-nio dan Bik-hu dengan Shin ci-koh itu masih 10-an tombak jauhnya. Tapi ternyata

kuda mereka meringkik keras dan kaki depannya tekluk ke muka terus menjorok jatuh. Ternyata kebutan hud-tim Shin Ci-koh dilakukan dengan lwekang tinggi.  Beberapa lembar bulu dari kebut itu, meluncur seperti senjata rahasia.  Jauh lebih lihay dari jarum bwe-hoa-ciam.  Empat lembar bulu tepat sekali mengenai kuku kaki depan kedua kuda. Memang tak membahayakan, kelak dapat diobati lagi. Tapi karena buku kakinya disusupi bulu, kedua kuda itupun tak dapat berlari lagi.

Walaupun kudanya jatuh, tapi In-nio dan Bik-hu tetap dapat bertahan duduknya. Dengan gusarnya, Bik-hu loncat ke udara untuk menyerang Shin Ci-koh. Shin Ci-koh perkencang hud- timnya hingga lurus seperti sebatang pena pit. Trang, ia tutuk pedang Bik-hu hingga tangan pemuda itu terasa sakit sekali. Memang pedang Bik-hu terkisar ke samping tapi tak sampai jatuh. Hal ini membuat Shin Ci-koh terkejut. Dan pada saat itu In-nio pun memburu datang dengan mainkan ilmu pedang Hui-hoa-boh-tiap. Begitu pedang diputar segera berubah menjadi tujuh sinar bunga yang mengarah tujuh jalan darah orang.

Shin Ci-koh pun tebarkan hud-tim menjadi ribuan sinar. Dan cukup dengan satu gerakan itu, patahlah serangan In-nio. Malah sehabis itu, bulu dari kebud Hud-tim itu mengencang lurus ke muka akan menutuk jalan darah In-nio. Bik-hu berseru keras dan mainkan pedangnya seperti orang bermain golok. Itulah ilmu pedang istimewa ciptaan bersama dari Mo Kia-lojin dan Thiat-mo-lek.

Shin Ci-koh keder juga dan terpaksa alihkan hud-tim untuk menghalau Bik-hu.

Beberapa jurus kemudian, Shin Ci-koh makin terkejut. Bukan karena kepandaian kedua anak muda itu hebat, tetapi karena makin tahu jelas akan sumber ilmu permainan mereka. Dengan gunakan jurus hong-cong-jan-hun, Shin Ci-koh menyingkirkan pedang In-nio dan Bik-hu, kemudian berseru: ”Biau Hui sinni dan Mo Kia Lojin itu pernah apa dengan kalian?”

In-nio pun sudah mengenali Shin Ci-koh itu sebagai wanita yang bersama Gong-gong-ji telah membikin ribut di lapangan Eng-hiong-tay-hwe. Sebagai seorang nona yang cerdik walaupun tak tahu sampai dimana hubungan antara wanita itu dengan Gong-gong-ji, namun ia sedikit-sedikit dapat menduganya juga.

Sebaliknya Bik-hu hanya berniat hendak menggempur saja, maka ia tak menghiraukan pertanyaan Shin Ci-koh dan masih tetap menyerangnya. In-nio buru-buru berseru: ”Biau Hui sin-ni adalah suhuku dan juga menjadi bibinya. Dia murid kesayangan Mo Kia lojin. Thiat-mo-lek adalah suhengnya. Apakah kau ini bukan Shin lo-cianpwe? Bukantah kita pernah bertemu di lapangan Eng-hiong-tay-hwe?”

Seganas-ganas Shin Ci-koh namun ia masih gentar juga terhadap Biau Hui sin-ni dan Mo Kia lojin. Selain itu, iapun tahu juga sampai di mana hubungan antara Thiat-mo-lek dengan Gong- gong-ji. Oleh karena ketika berada di tempat kediaman Cin Siang. Shin Ci-koh segera mengikut Gong-gong-ji pergi, maka ia tak tahu tentang Cin Siang memberi kuda kepada In-nio dan Bik-hu itu. Waktu In-nio mengingatkan tentang Eng-hiong-tay-hwe, Shin Ci-koh pun segera mengenalinya.

”Ah, kiranya budak itu sute dari Thiat-mo-lek. Jika sampai kulukai, mungkin Gong-gong-ji tentu kurang senang,” pikirnya. Sampai beberapa saat ia tak dapat mengambil keputusan.

Karena tak tahu tentang peristiwa di Eng-hiong-tay-hwe, maka Tiau-ing pun segera tertawa mengejek: ”Huh, apakah dengan mengatakan nama suhumu dan Thiat-mo-lek itu, kau kira dapat menggertak suhuku?”

”Bah, siapa yang hendak mengambil muka? Suhumulah yang bertanya dulu, bukan aku hendak membanggakan suhuku,” teriak Bik-hu,

Shin Ci-koh berhati tinggi. Ia mau selalu minta menang. Walaupun gentar tapi kuatir orang mengira ia takut kepada Biau Hui, Mo Kia dan Thiat-mo-lek. Justeru Tiau-ing mengerti akan sifat perangai suhunya itu, maka ia sengaja mengatakan begitu agar suhunya jangan mundur.

Ketambahan pula kata-kata Bik-hu tadi menyakitkan telinga. Shin Ci-koh kerutkan dahi, berpikir: ”Kalau kulepaskan, dia tentu mengira aku benar-benar takut pada suhu dan suhengnya. Baiklah, asal aku tak melukainya, tak apa. Dia memang perlu diberi sedikit hajaran.”

Tetapi untuk meringkus kedua anak muda itu pun tidak mudah. Pertama, kedua anak muda itu memang lihay. Kedua, karena ia tak mau melukai mereka dan ketiga, karena terhadap orang muda ia tak mau gunakan pedang. Dengan adanya tiga faktor itu pertempuran berlangsung seri.

Cepat sekali 30 jurus telah berlangsung. Tiba-tiba Tiau-ing berseru meminta Se-kiat membantu Shin Ci-koh untuk membekuk In-nio dan Bik-hu. Se-kiat merasa sulit. Terhadap In-nio ia menaruh perindahan, terhadap Bik-hu ia mempunyai rasa cemburu terhadap Tiau-ing ia merasa agak jeri. Ia segan mencelakai In-nio, sebaliknya malah menginginkan supaya nona itu tak pergi.

Tiau-ing yang bermata tajam segera mengetahui apa yang terkandung dalam hati Se-kiat. Ia tertawa ewah: ”Se-kiat, kau hanya teringat akan kenanganmu yang lampau tapi lupa bahwa ia adalah puteri Sip Hong!”

Se-kiat terkesiap dan tersipu-sipu menyahut: ”Benar, jangan sampai ia lepas.” -- Dengan hati berat, ia maju ke muka.

Sebenarnya permintaan Tiau-ing tadi hanya untuk membikin panas hati suhunya saja. Tetapi

demi melihat sikap Se-kiat kebimbang-bimbangan ia tak puas. Permintaan yang hanya buat alasan saja itu, akhirnya didesakkan sungguh-sungguh kepada Se-kiat.

Shin Ci-koh tertawa gelak-gelak: ”Ing-ji sudah berapa tahun ikut aku mengapa kau belum

percaya pada kepandaianku? Apa kau kira aku benar-benar tak dapat meringkus kedua bocah ini?” Berhentilah tertawa, berserulah ia dengan serius: ”Begitu pedangku Bu-ceng-kiam keluar tentu  akan meminum darah. Tapi dengan memandang muka Biau Hui sin-ni dan Mo Kia lojin, kali ini kuadakan kecualian.”

Bik-hu berteriak marah: ”Apa Bu-ceng-kiam itu? Mengapa dibuat ,” belum Bik-hu

menghabiskan kata-katanya, pedang Bu-ceng-kiam sudah menyambarnya.

Melihat gerak serangan orang sedemikian saktinya, Bik-hu segera menutup diri dengan tembok sinar pedang. Tapi ilmu pedang Shin Ci-koh itu mempunyai ciri yang khas.

”Kena!” tiba-tiba Shin Ci-koh berseru. Pedangnya berhamburan memenuhi delapan penjuru. Bik-hu mati-matian mengadu jiwa, tetapi justeru itulah yang dikehendaki Shin Ci-koh. Hanya pelahan sekali Bu-ceng-kiam itu dilekatkan ke batang pedang Bik-hu, dengan meminjam tenaga Bik-hu sendiri, sekali tarik Shin Ci-koh dapat membuat tubuh Bik-hu menjorok ke muka. Dan meminjam pula tenaga Bik-hu, sekali gelincirkan Bu-ceng-kiam Shin Ci-koh dapat memaksa si

anak muda lepaskan pedangnya karena separuh tubuhnya tak dapat berkutik lagi. Kiranya Shin Ci- koh telah gunakan ujung pedang untuk menutuk jalan darah anak muda itu. Caranya ia menggunakan tenaga tepat dan luar biasa. Bik-hu hanya rasakan pergelangan tangannya sakit seperti digigit nyamuk, sedikit bintik merah tetapi tak sampai mengeluarkan darah.

In-nio terkejut dan buru-buru gunakan jurus giok-li-tho-soh untuk menusuk jalan darah Shin

Ci-koh. In-nio berusaha mengacaukan lawan, agar sutenya tertolong. Tapi sayang, selihay-lihay ilmu pedang In-nio, tetap masih kalah jauh dengan kepandaian Shin Ci-koh. Pada saat Shin Ci-koh tutukkan pedang ke tangan Bik-hu, hud-tim yang dicekal di tangan kirinyapun sudah berhasil melibat tangkai pedang In-nio.

”Lepas!” teriak Shin Ci-koh dan pedang In-nio pun terpental melayang ke udara. Dan dengan tangkai hud-tim, Shin Ci-koh menutuk jalan darah In-nio. Dengan demikian dapatlah Shin Ci-koh mengakhiri pertandingan itu. Tetapi walaupun menang, ia rasakan tangannya pegal juga karena lelah menghadapi Bik-hu dan In-nio. Diam-diam ia merasa kagum juga kepada kedua anak muda itu. Ia membatin: ”Tak nyana dalam beberapa tahun ini, di dunia persilatan telah muncul tunas- tunas muda yang cemerlang. Walaupun kedua anak muda itu tak dapat menyamai kelihayan Toan Khik-sia, tetapi aku baru dapat mengalahkan mereka setelah memakai Bu-ceng-kiam, sudahlah boleh dianggap lihay sekali mereka.”

Waktu Se-kiat hendak menghampiri untuk menghaturkan terima kasih, Shin Ci-koh berpaling pada Tiau-ing dan menanyakan: ”Siapakah ini?”

”Aku yang rendah Bo Se-kiat menyampaikan hormat kepada locianpwe?” kata Se-kiat.

Tiau-ing tertawa: ”Suhu, maaf karena sebelumnya aku tak memberitahukan. Tetapi rasanya

suhu tentu sudah dapat mengetahui persoalannya. Se-kiat bergaul dengan aku dan bersikap begitu mesra kepada muridmu ini, tentulah suhu mengerti.”

”Oh, kiranya dia bakal suamimu,” seru Shin Ci-koh.

Wajah Tiau-ing kemerah-merahan, ujarnya: ”Besok lusa kami akan langsungkan 'hari baik'. Sebetulnya aku memang hendak mengundang suhu supaya memberi restu.”

”Oh, kiranya kau ini Bo Se-kiat, pemimpin baru dari loklim yang namanya menggetarkan

seluruh dunia persilatan itu. Dengan begitu, tidak akan mengacaukan soal 'angkatan' lagi,” Shin Ci- koh tertawa.

Se-kiat tercengang, tak tahu apa yang diartikan Shin Ci-koh itu. Hanya Tiau-ing yang merah padam mukanya dan diam-diam menggerutu: ”Ah, suhu memang kelewatan, mengapa di hadapan Se-kiat mengatakan begitu? Bukankah it berarti membuka borokku? Untung Se-kiat rupanya masih belum mengerti. Tetapi dengan ucapannya itu apakah suhu sendiri sudah rujuk kembali dengan Gong-gong-ji? Gong-gong-ji baik sekali dengan Thiat-mo-lek. Aku harus mencari akal untuk menghadapi soal ini. Meskipun nanti tak dapat menarik tenaga suhu untuk membujuk Gong- gong-ji, tapi setidak-tidaknya harus mengusahakan supaya Gong-gong-ji jangan sampai mengacau gerakan kami.”

Kiranya Shin Ci-koh itu memang berhasrat hendak menikah dengan Gong-gong-ji. Toan Khik- sia adalah sute Gong-gong-ji. Apabila Tiau-ing sampai dapat Khik-sia, bukantah itu berarti suhu dan murid (Shin Ci-koh dan Tiau-ing) akan menikah dengan suheng dan sute (Gong-gong-ji dan Khik-sia)?

Ia merasa tak enak dengan 'angkatan' atau urut-urutan tingkatan hubungan tersebut. Demi tahu Tiau-ing berganti suka pada Se-kiat, bukannya memarahi sang murid yang begitu gampang berubah hati sebaliknya Shin Ci-koh malah gembira. Itulah sebabnya tadi ia mengungkat tentang 'angkatan' (sebutan).

Karena dipermainkan tadi, Se-kiat masih marah. Wut, ia terus mencambuk Bik-hu yang sudah tak dapat berkutik karena tertutuk jalan darahnya itu.

”Oh, sungguh garang, sungguh gagah sekali kau lok-lim-beng-cu!” In-nio mengejeknya dengan hina.

Mendengar itu tiba-tiba Se-kiat tersadar, ia sebagai seorang bengcu yang ternama, mana boleh ia memukul seorang anak muda yang sudah tak berdaya. Buru-buru ia hendak tarik pulang

cambuknya tapi sekonyong-konyong Ci-koh kebutkan hud-timnya hendak melibat cambuk Se-kiat. Se-kiat terkejut, buru-buru ia menggelincir ke samping untuk menghindari libatan itu.

”Bagus, kiranya memang lihay, pantas menjadi bengcu. Daripada Toan ” ”Suhu, kiranya kau hendak menjajal kepandaian Se-kiat? Ah, aku terkejut setengah mati,” seru Tiau-ing, padahal sebenarnya Shin Ci-koh tak mau turun tangan sungguh-sungguh karena mengingat Thiat-mo-lek.

Tiau-ing menghampiri In-nio dan tertawa mengejek: ”Nona Sip, sayang, sayang sekali. Bagaimanapun kau tetap tak dapat lolos dari genggamanku.'

Ia hanya menyindir In-nio itu, karena masih ada rasa 'sungkan'. Tidak demikian terhadap Bik-

hu. Ia mendampratnya dengan sengit: ”Hm, budak busuk, kau sungguh kurang ajar sekali terhadap aku!” -- Ia terus hendak memukul tapi Shin Ci-koh cepat memeluknya: ”Ing-ji, mengapa kau semarah itu? Ai, jangan kelewat mengumbar nafsu nanti menganggu kesehatanmu. Bilanglah bagaimana cara mereka menghinamu tadi?”

Waktu Tiau-ing menuturkan peristiwa tadi, Shin Ci-koh bertanya: ”Mengapa ia menutuk jalan darahmu?”

”Apalagi kalau bukan karena nona Sip itu?” sahut Tiau-ing. ”Nona Sip mengapa berani datang kemari?”

”Ia puterinya Sip Hong. Sip Hong memimpin tentara hendak menyerang kemari, ia diam-diam hendak menemui Se-kiat.”

Shin Ci-koh deliki mata kepada Se-kiat, serunya: ”Aneh, mengapa nona itu hendak menemui Se-kiat? Ing-ji, apakah ia (Se-kiat) bersungguh hati kepadamu?”

Tiau-ing tahu bahwa suhunya itu paling benci kepada lelaki yang tak dapat dipecaya. Kuatir

kalau Se-kiat akan mendapat kesulitan, maka ia cepat-cepat memberi alasan: ”Suhu, mengapa kau memikir begitu jauh? Nona Sip itu datang sebagai utusan ayahnya.”

”Oh, kiranya begitu. Dua negeri yang berperang tak boleh membunuh utusan. Kau tak boleh begitu.”

”Tetapi ia sudah menyelidiki keadaan tempat kita. Kalau dilepas pulang tentu membahayakan pihak kita,” bantah Tiau-ing.

”Kalau begitu tahan sajalah!” kata Shin Ci-koh.

”Memang akupun takkan membunuhnya. Hm, sekalipun ia sengaja memancing supaya aku membunuhnya, namun aku tetap tak mau.  Tetapi, budak lelaki liar itu ”

”Budak itu membela mati-matian kepada suci-nya. Rupanya mereka sepasang keksaih?” tanya Shin Ci-koh.

Tiau-ing tertawa ewah: ”Hati nona Sip itu sukar diraba. Budak liar itu, kebanyakan tentu tergila-gila seorang diri!”

Tiba-tiba Shin Ci-koh tergelak-gelak: ”Aku paling menghargakan seorang lelaki yang berbudi

dan berperasaan. Bahwa budak itu karena hendak membela sucinya sampai berani malandai kau, itu dapat dimaafkan. Hukumannya ringan. Lebih baik kau masukkan mereka ke dalam tahanan saja.”

Kiranya selama 20 tahun ini Shin Ci-koh telah mengandung asmara sepihak terhadap Gong- gong-ji. Maka spontan ia merasa sependeritaan dengan Bik-hu.

Tiau-ing menganggap keputusan itu kelewat murah, tapi pada lain kilas ia mengetahui bahwa ternyata Se-kiat masih mempunyai setitik perhatian terhadap In-nio. Maka jika Bik-hu ditahan di situ, Se-kiat tentu cemburu dan tak mau memikirkan In-nio lagi. Maka ia pun segera menurut apa yang dikatakan suhunya itu.

Setelah dibawa balik ke dalam kota, In-nio dan Bik-hu diborgol tangannya dan dibwa Tiau-ing sendiri ke dalam sebuah penjara air. Penjara air itu didirikan di bawah tanah, berdinding batu tebal. Konstruksinya dibagi dua, atas dan bawah. Bagian atas merupakan waduk air. Begitu perkakas dibuka, airpun segera menggenangi ruangan bawah.

”Kuberi waktu kalian hidup gembira sampai beberapa hari. Tetapi jangan kalian coba

melarikan diri. Sekali kupijat perkakas, kalian tentu akan menjadi kura-kura di laut,” kata Tiau-ing.

Ketika pintu ditutup, In-nio dan Bik-hu berada dalam kegelapan. Ruangan itu memakai

dinding batu, tapi ada sebagian yang menggunakan batu asli. Dari celah-celah batu asli itu sinar matahari dapat menyorot masuk. In-nio dan Bik-hu sejak kecil berlatih melepaskan senjata rahasia, maka matanya pun lebih tajam dari orang biasa. Cepat mereka sudah biasa dengan kegelapan itu. Hanya dengan sinar dari celah batu itu mereka sudah dapat melihat wajah masing-masing. Tampak mata Bik-hu berkilat-kilat, wajah kemerah-merahan.   Kiranya  ia merasa likat sekali ketika isi hatinya – yang ia sendiri tak berani mengutarakan – telah dibuka oleh Shin Ci-koh. Kemudian diejek lagi oleh Tiau-ing. Meskipun Bik-hu mendongkol, tapi diam-diam ia merasa lega. Ia malu tapi girang juga.

Sebenarnya In-nio pun sudah mengetahui sikap sutenya itu terhadap dirinya. Apalagi pada saat itu. Dengan melihat sorot matanya, dapatlah ia mengetahui bagaimana gelora hati sutenya itu. In- nio menghela napas, ujarnya: ”Pui sute, sungguh merepotkan kau saja. Perempuan siluman itu hendak menggunakan aku untuk mempengaruhi ayah. Aku tetap tak mau. Bahwa kau menemani aku menyongsong kematian, aku sungguh berterima kasih sekali.”

”Ah, tak apalah. Kita hidup bersama hidup, mati berdua mati. Bagiku sudah puas tak

menyesal. Hanya aku merasa kecewa mengapa kepandaianku begitu cetek, sehingga tak mampu menolongmu.”

Sederhana sekali kata-kata Bik-hu itu namun penuh dengan nada jeritan kalbunya. Sedingin- dingin hati In-nio, terpaksa tergerak juga mendengar pernyataan itu. Tanpa tersadar mereka makin merapat dan saling berjabat tangan: ”Sute, terima kasih atas kebaikanmu. Sayang jiwa kita berada di ujung rambut. Mungkin aku tak sempat membalas budimu itu.”

”Suci, dnegan pernyataanmu itu sekalipun wanita siluman itu membunuh aku saat ini, akupun akan mati dengan meram,” kata Bik-hu.

In-nio merah mukanya dan berbisik: ”Aj, janganlah berkata begitu sute. Hatiku makin pilu.”

”Ah, suci, sekarang baru aku terlepas dari tindihan batu berat,” tiba-tiba Bik-hu berseru. In-nio terkesiap: ”Apa yang menyiksa itu?”

”Ah, apakah aku harus mengatakan?”

”Kita hanya hidup beberapa hari saja. Kalau hendak menyatakan apa-apa, silahkan bilang,”

kata In-nio dengan lapang dada, tetapi sebenarnya hatinyapun berdebar keras juga. Ia mengeluh dalam batin: ”Aku tak mau membohong mengatakan cinta padanya. Tapi akupun tak mau membuatnya kecewa. Ai, bagaimana ini?”

”Kutahu kau denganBo Se-kiat itu bersahabat baik, baik sekali. Terus terang, suci, ketika kutahu hal itu, hatiku merasa sedih sekali. Bo Se-kiat, dia seorang bengcu, kepandaiannya tinggi

orangnya cakap. Ya, dalam segala apa saja, aku memang kalah dengan dia. Dalam kedudukanku itu, kumengharap agar kau berbahagia. Maka walaupun sedih, tetapi aku bergirang untuk keberuntunganmu. Kuanggap kau dan Se-kiat betul-betul merupakan sejoli pasangan yang tepat sekali. Aku tak berhak cemburu atau iri hati lagi!”

”Kemudian setelah tiba di Tiang-an,b aru aku mengetahui lebih banyak tentang pribadi Se-kiat.

Dia pisahkan diri dengan Thiat suheng. Karena hendak mendapatkan perempuan siluman itu ia tak sayang meninggalkan sahabat, bahkan tak sayang sebagaimana dulunya kukira. Dia tak setimpal menjadi pasanganmu.”

”kemudian ketika kau tinggalkan perkemahan, cepat dapat kuduga kau tentu menuju ke Tho-

ko-poh mencarinya. Tetapi aku tak tahu tujuanmu yang sebenarnya. Maka aku selalu gelisah saja, kuatir kau akan jatuh ke dalam pikatannya lagi.  Takut kau akan, akan maaf atas dugaanku yang

bukan-bukan ini. Ya, aku sungguh kuatir kau akan terbakar lagi hatimu kepadanya.” ”Setelah kudengar nasihatmu kepada Se-kiat, barulah kutahu tindakanmu itu sangat utama.

Aku terkejut, girang dan kagum kepadamu! Suci, kau benar-benar seorang gadis perwira, berani dan pandai. Begitu lama aku bergaul padamu, baru sekarang kutahu jelas pribadimu. Bahwa tadinya kau menguatirkan dirimu, nyata-nyata pikiran seorang siaujin!”

In-nio tenang-tenang saja mendengar pernyataan Bik-hu.   Diam-diam iapun tergerak hatinya dan gembira. Dalam pernyataan yang begitu panjang lebar, sepatahpun Bik-hu tak menyatakan

kata-kata 'cinta'. Namun setiap patah katanya, merupakan luapan suara hatinya. Dan yang paling mengagumkan, Bik-hu dapat memahami maksud kunjungan In-nio kepada Se-kait. Tanpa tersadar, In-nio mengepal tangan Bik-hu erat-erat, ujarnya: ”Su-te, kau terlalu menyanjung aku. Sebenarnya tidak sebaik seperti yang kau kira itu. Kau berhati jujur, setia dan perwira. Ternyata lebih hebat

dari persangkaanku semula.  Tetapi kau mempunyai sebuah cacad ” Bik-hu tersirap kaget dan meminta keterangan.

”Kekuranganmu itu ialah kau terlalu tak mengerti sifat-sifatnya yang baik sendiri. Kau memandang rendah dirimu sendiri, selalu menganggap dirimu tak menang dengan lain orang. Sebenarnya, kecuali untuk sementara ini kepandaian silat kalah dengan Se-kiat, lain-lainnya kau lebih menang dari dia. Manusia hidup yang terutama ialah nilai pribadinya. Se-kiat tak dapat menyamai kau,” kata In-nio.

Demikian setelah melalui pernyataan-pernyataan itu, keduanya makin intim. Walaupun Bik-hu

tak berani mengucapkan namun hati mereka sudah saling mengisi. Dan setelah mengetahui isi hati masing-masing, mereka pun segan untuk membicarakan diri Se-kiat lagi.

Dalam penjara tanah yang segelap itu, mereka merundingkan tentang ilmu pedang dan pengalaman di dunia persilatan.   Mereka tak merasa kesepian. Pada waktu-waktu tertentu, tentu ada orang mengantarkan makanan. In-nio memperhitungkan karena masih membutuhkan tenaganya, Tiau-ing tentu tak mau memberi racun dalam makanan itu. Dari jumlah antaran

makanan, diperkirakan sudah dua hari mereka berada dalam penjara tanah itu. Pada saat itu mereka tengah bercakap-cakap. Lapat-lapat In-nio mendengar suara genderang.

Setelah menempelkan telinganya ke tembok, Bik-hu tertawa getir: ”Itu bunyi musik menyambut temanten!”

”Benar, memang kita sudah dua hari berada di sini. Hari pernikahan mereka berlangsung hari ini,” kata In-nio.

”Karena sama-sama berselera busuk biarkan mereka bergabung. Lihat saja mereka dapat mengecap kebahagiaan sampai berapa lama?”

”Memang telah kuduga mereka akan menikah, namun hatiku tetap bersedih juga,” kata In-nio.

”Suci, mengapa ”

”Tiada lain maksud kecuali mengingat persahabatan kita, aku tetap tak sampai hati melihat dia terjerumus semakin dalam. Dengan pernikahan itu, dia taakn terangkat lagi selama-lamanya. Dapatkan kau memaafkan kesedihanku ini?”

Bik-hu menyatakan penyesalannya karena khilaf. Tetapi In-nio pun membenarkan apayang diucapkan Bik-hu tadi.

”Ai, suci, dengarlah! Seperti terjadi sesuatu yang  tak beres!” tiba-tiba Bik-hu berseru.  Dan memang tak berselang berapa lama terdengar kuda meringkik, orang berteriak dan senjata beradu. Di luar seperti terjadi pertempuran.

”Apakah tentara negeri menerjang kemari?” tanya Bik-hu.

”Ayah paling cepat enam tujuh hari lagi baru datang. Li Kong-pik meskipun lebih dekat, tapi karena sudah berjanji ia tentu menunggu kedatangan ayah dulu baru bergerak. Kurasa kemungkinan besar mereka tentu gasak-gasakan sendiri,” kata In-nio.

Bik-hu mengatakan bahwa saat itu adalah kesempatan untuk meloloskan diri. Tepat pada saat

itu terdengar derap kaki mendatangi. Setelah merenung sejenak, In-nio mengambil ketetapan untuk meloloskan diri. Ia suruh Bik-hu gunakan lwekang memutuskan rantai borgolannya. Bik-hu menurut, tapi sampai sekian saat belum berhasil. Ia menghampiri ke dinding batu. Setelah mencari bagian yang tajam, ia hantamkan borgolannya sekuat-kuatnya. Eh, berhasillah ia sekarang. Setelah itu iapun membantu memutuskan borgolan In-nio.

”Wanita siluman itu mengatakan penjara ini ada perkakasnya entah perkakas apa,” kata In-nio. Tiba-tiba terdengar suara air bergemuruh seperti hujan lebat. Cepat sekali ruang tahanan itu digenangi air. Karena gugupnya, In-nio tergelincir. Ia tak pandai berenang dan airpun cepat sekali naiknya. Baru hendak membuka mulut berteriak, mulutnya terminum beberapa teguk air. Dalam saat-saat yang berbahaya itu tiba-tiba ia rasakan tubuhnya terangkat naik. Kiranya Bik-hulah yang mengangkatnya.

Sebagai anak yang dilahirkan di tepi sungai, Bik-hu pandai sekali berenang. Bukannya takut sebaliknya ia malah girang dengan terjangan air itu. Ia merasa mendapat jalan untuk lolos. Asal ia dapat mencapai ruangan atas.

”Suci, peganglah lenganku erat-erat tapi jangan terlalu keras.   Tutuplah dulu napasmu,” serunya. Karena saat itu air sudah setinggi tiga tombak. Ketika berenang, Bik-hu hanya terpisah dua meter dari lantai ruang atas.

”Kongcu menghendaki masih hidup, jangan sampai mereka terendam mati, tiba-tiba di sebelah

atas terdengar suara orang. Ia mengajak kawannya turun. Tapi sang kawan mengusulkan lebih baik kait saja.  Mendengar itu Bik-hu diam-diam girang.  Ia duga orng itu tentu hanya bangsa kerucuk saja.

Beberapa kait dijulurkan turun. Kait itu dibuat secara istimewa, ada yang panjangnya sampai

satu tombak. Bik-hu diam saja, begitu ia mendapat kesempatan, cepat disambarnya sebatang kait terus ditariknya. Blung, seorang penjaga kecemplung. Secepat itu juga dengan menekan kepala si penjaga, Bik-hu apungkan tubuhnya ke atas. Ia sambar kait orang tadi terus dikaitkan ke pintu air. Beberapa penjaga tengah sibuk menolongi kawannya yang jatuh tadi. Demi melihat tubuh Bik-hu sudah menonjol keluar, kejut mereka bukang kepalang: ”Celaka, bangsat itu hendak menerobos keluar!”

Segera ada juga yang meneriaki supaya lekas-lekas menutup lubang air. Tetapi sudah terlambat. Sembari sebelah tangan menarik In-nio, sebelah tangan mencekal kait, Bik-hu melesat

keluar. Seorang penjaga membacok kait Bik-hu tadi dan seorang penjaga sibuk menutup pintu air. Tapi Bik-hu yang sudah berhasil naik, dengan kaitnya yang sudah kutung itu menangkis sserangan orang. Ia terus mainkan kutungan kait itu dan cepat dapat merubuhkan beberpa penjaga itu.

In-nio yang terminum air, masih agak pusing dan lemas kakinya. Seorang lelaki bersenjata thong-jin menghantamnya tapi dengan sebuah gerakan, dapatlah In-nio membuatnya jatuh jungkir balik. Baru In-nio heran mengapa Tiau-ing hanya menempatkan penjaga-penjaga yang

berkepandaian rendah, tiba-tiba dua batang golok menyambarnya dengan dahsyat. In-nio terhuyung mundur, brat, bajunya kena terpapas ujung golok. Ketika mengawasi, ternyata penyerangnya itu adalah dua orang wanita. Rupanya mereka itu orang kepercayaan Tiau-ing. Ilmu goloknya dari ajaran Tiau-ing. Mereka lebih lihay dari kawanan atau thaubak Se-kiat. Karena masih limbung minum air, hampir saja tadi In-nio termakan golok mereka. Tapi karena terkejut itu, semangat In-

nio timbul lagi. Kedua orang kepercayaan Tiau-ing itu sudah tentu bukan tandingan In-nio. Dalam beberapa gebrak saja, mereka terampas goloknya dan tertutuk jalan darahnya.

Pun Bik-hu bersua dengan dua orang lelaki yang lumayan kepandaiannya. Tapi bagaimanapun mereka bukan lawan Bik-hu. Tepat pada saat In-nio merubuhkan kedua wanita tadi, Bik-hupun dapat mencengkeram tengkuk mereka terus dibenturkan dengan kawannya. Kedua orang itupun tak ingat diri lagi.

Mengapa Tiau-ing tak memberi penjagaan kuat? Itulah karena ia yakin akan kelihayan penjara air itu dan kedua kalinya karena pada saat ia melangsungkan pernikahan, ia hendak bergerak

menggempur engkohnya. Itulah maka ia hanya menaruh beberapa penjaga karena semua orang- orangnya yang berkepandaian tinggi dibawa keluar.

Masih Bik-hu mengamuk kawanan penjaga yang berusaha hendak melarikan diri, tetapi dicegah In-nio. Maka Bik-hu hanya menutuk jalan darah mereka saja. Karena melihat sucinya

basah kuyub, maka Bik-hu suruh In-nio berganti dengan pakaian wanita tadi. Dengan mengancam, dapatlah Bik-hu paksa bujang wanita itu tadi membuka alat perkakas.

Begitu keluar dari penjara air itu, ternyata In-nio dan Bik-hu berada di lereng gunung.   Dan ketika mereka melintasi gunung, didengarnya suara senjata beradu. Kiranya di tengah hutan situ

terdapat sepuluh orang paderi tengah mengerubuti seorang wanita. Wanita itu memegang hud-tim dan pedang. Dan dia adalah Shin Ci-koh. Dalam beberapa kejab saja, Shin Ci-koh sudah dapat merubuhkan beberapa paderi. Dua orang yang tersabet hud-timnya berguling-guling di tanah menjerit-jerit.

Tetapi paderi-paderi pantang mundur. Kiranya mereka adalah anak murid Leng-ciu-pay, yang dipimpin oleh Ceng-beng-cu. Sebagai pemimpin yang berkuasa menjatuhkan hukuman dalam partai Leng-ciu-pay, Ceng-beng-cu dapat mengancam mereka supaya bertempur mati-matian. Dan Ceng-beng-cu sendiri walaupun kalah dengan Shin Ci-koh tapi juga lihay. Menghadapi orang yang nekad itu, diam-diam Shin Ci-kohpun mengeluh dalam hati.

Munculnya In-nio dan Bik-hu itu makin membuat keder hati Shin Ci-koh. Ia tahu In-nio dan

Bik-hu itu tak di bawah Ceng-bing-cu, kalau kedua anak muda itu sampai membantu pihak Leng- ciu-pay, celakalah ia.

Sebaliknya pihak Leng-ciu-pay juga mempunyai kekuatiran begitu. Mereka tak kenal In-nio dan Bik-hu. Jika kedua anak muda itu ternyata di pihak Shin Ci-koh, celakalah mereka.

Tetapi terhadap kedua pihak yang bertempur itu, In-nio dan Bik-hu pernah bermusuhan juga.

In-nio dan Bik-hu heran mengapa mereka bertempur. ”Tak usah hiraukan mereka, kita jalan terus. Di sebelah muka lebih ramai lagi,” kata In-nio.

Karena tahu hubungan Shin Ci-koh dengan Gong-gong-ji, maka In-nio mempunyai kesan lebih baik daripada terhadap pihak Leng-ciu-pay. Tapi sekalipun begitu ia tak mau membantu wanita yang menjadi suhu Tiau-ing itu. Dan Bik-hu hanya menurut apa yang dikatakan suci-nya saja. Karena kuatir mereka turut campur, orang-orang Leng-ciu-pay itupun tak mau merintangi kedua anak muda itu.

Melintasi gunung di bawah gunung terbentang sebidang padang rumput. Disitu tampak orang bertempur dengan naik kuda. Dari kejauhan, tampak Se-kiat dan Tiau-ing naik kuda, memberi komando anak buahnya untuk menyerang.

Kepala Tiau-ing bersunting bunga warna merah dan masih mengenakan pakaian pengantin baru.

Apa yang diduga In-nio ternyata tak meleset. Pertempuran itu terjadi antara suami-isteri Se-

kiat lawan Su Tiau-gi. Su Tiau-gi telah merencanakan suatu gerakan razia. Pada waktu Se-kiat menyambut pengantinnya, akan ditangkap kemudian Tiau-ing akan dipaksa untuk menikah dengan putera raja Ki (sebenarnya Tiau-ing tinggal bersama dengan Se-kiat. Tapi pada hari pernikahan itu ia terpaksa pulang ke tempat engkohnya agar Se-kiat datang menyongsong).

Memang tepat sekali perhitungan Su Tiau-gi itu. Tapi ternyata Tiau-ing pun sudah siap menghadapi. Malah lebih lihay dari engkohnya. Ia mempunyai tiga ribu tentara wanita, disamping berkomplot dengan beberapa opsir sebawahan Tiau-gi. Iapun merencakan, begitu Se-kiat datang terus hendak diajak untuk menangkap Su Tiau-gi. Setelah Tiau-gi terbunuh, Tiau-ing segera akan memegang kekuasaan tentara engkohnya itu.

Keduanya sama merancang rencana busuk, sehingga suasana pernikahan yang gembira itu berubah menjadi pertempuran darah yang ganas. Benar juga, persiapan Tiau-ing ternyata lebih unggul. Namun Su Tiau-gi untuk masih mempunyai pengikut-pengikut yang setia. Rencana Su Tiau-ing untuk membunuh engkohnya itu, sukar terlaksana. Paling-paling hanya dapat mengurung Tiau-gi dan tentaranya.

Sedang pihak Leng-ciu-pay itu memang mempunyai rencana sendiri. Selagi kedua saudara itu bertempur, orang Leng-ciu-pay segera mengurung Shin Ci-koh. Karena sedang sibuk, Se-kiat tak dapat mencegah perbuatan mereka.

Dari lima puluh ribu pasukan berkuda kepunyaan Tiau-gi, sudah ada dua pertiga bagian yang memberontak ikut pada Tiau-ing. Keadaan Tiau-gi memang berbahaya, tampaknya ia tak dapat lolos lagi. Tapi selagi Se-kiat bersemangat memberi komando kepada anak buahnya, tiba-tiba kedengaran genderang bertalu riuh dan sebuah pasukan berkuda di bawah pimpinan Tomulun menerjang ke medan pertempuran.

Tomulun memiliki tenaga pembawaan yang kuat sekali. Ia mengamuk dengan sebatang

tombak yang beratnya tak kurang dari 70-an kati sehingga anak buah Se-kiat kocar-kacir. Se-kiat marah dan larikan kudanya untuk menangkap putera raja itu. Tiau-ing buru-buru memperingatkan Se-kiat supaya jangan membunuh Tomulun.

”Ya, kau sudah mengerti. Dia adalah putera tunggal dari raja Ki. Jika dapat ditawan, ayahnyapun tentu menurut perintahku,” sahut Se-kiat.

Pada saat itu Timulunpun menyerang tiba. Tiau-ing meneriakinya: ”Pangeran Tomulun, ini adalah urusan kami berdua saudara. Hubungan kita sudah baik, harap kau jangan turut campur. Mengapa kau hendak membantu engkohku?”

”Heh, sekarang kau baru mengambil hatiku? Sudah kasip. Sekalipun sekarang kau suka menikah dengan aku, aku tak sudi lagi memperisterikan seorang wanita siluman seperti kau!” damprat Tomulun.

Sudah tentu Se-kiat marah sekali. Larikan kudanya menerjang kemuka, ia berseru: ”Tutup mulutmu, pantat kuali! Di hadapanku, jangan jual lagak seperti anak raja!”

”Aku tidak merebut binimu, mengapa kau marah-marah? Lihat serangan tombakku!” teriak Tomulun.

Waktu Se-kiat hendak menangkis tiba-tiba sebatang passer telah melayang mengenai kuda tunggangan Se-kiat. Kuda itu rubuh.

”Aku tak mau mendapat kemurahan, ayo kita turun bertempur!” seru Tomulun sembari loncat turun dari kudanya  dan menyerang dengan tombaknya. Se-kiat girang. Ia anggap dengan bertempur tanpa kuda itu, mudah sekali untuk menawan putera raja itu. Dan ia menertawakan Tomulun yang dianggapnya hanya mengandal kekuatan saja tetapi ilmu silatnya kurang lihay. Ia lingkarkan pedangnya menyerang ke tengah.

”Bagus!” seru Tomulun sembari benturkan tombaknya ke pedang lawan. Dalam soal kepandaian silat, sudah tentu Tomulun itu bukan tandingan Se-kiat. Maka sembari tertawa gelak-

gelak Se-kiat rubah greakan pedangnya lurus-lurus untuk menempel tombak dan terus dipapakan ke muka. Jika tak mau lepaskan tombak, jari Tomulun tentu hilang. Jika lain orang, tentu sudah menyerah. Tapi tidak demikian dengan Tomulun.

”Aku tak sudi lepaskan senjataku!” teriak putera raja itu yang dengan nekad telah sapukan tombaknya. Memang Se-kiat akan dapat memapas kutung jari lawan, tapi ia nanti juga akan termakan tombak. Buru-buru ia tarik pulang pedang dan sambil berputar tubuh ia membentak lagi: ”Apa kau benar-benar tak mau lepaskan tombakmu?!”

Dengan kecepatan seperti kilat Se-kiat gunakan jurus Pek-hong-koan-jit atau bianglala menyongsong matahari, ia menusuk perut lawan. Dengan bersenjata tombak panjang itu, memang Tomulun dapat bertempur dari jarah jauh dengan bagus. Tapi kalau jaraknya dekat, gerakannya terpancang.

Tampaknya Tomulun terancam bahaya tapi justeru karena tak tahu keindahan gerakan musuh, dengan gunakan cara berkelahi orang Ki ia balas menusukkan tombaknya. Sudah tentu Se-kiat kerupyukan sekali. Se-kiat sudah berjanji takkan melukai pangeran itu. Gerakan memapas jari tadi hanya sekedar untuk menggerak supaya Timlun lepaskan tombaknya saja. Apalagi gerakannya menusuk perut orang itu, sudah tentu lebih tidak berani melanjutkan sungguh-sungguh. Karena pancangan itu, betapa lihay ilmu permainannya pedang tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa.

Tomulun memang tak kenal ilmu pedang yang sakti. Melihat Se-kiat tiap kali berganti

permainan dan menghindar, ia mengira Se-kiat itu takut kepadanya, maka tertawalah putera raja itu terbahak-bahak.

Se-kiat mendongkol sekali ditertawai begitu rupa. Namun ia terpaksa menindas kemarahannya juga. Sembari bertempur ia terus putar otak memikirkan cara untuk menangkap hidup-hidup putera raja itu.

Tiau-ing memberi komando kepada pasukan wanitanya untuk memutus pasukan berkuda dari Tomulun. Tiba-tiba muncul lagi sebuah juada (bendera pertandaan) baru. Kay Thian-sian si nona buruk muka memimpin pasukan wanitanya menerjang datang.

Buru-buru Tiau-ing keprak kudanya untuk menyambut: ”Cici Kay, kebetulan sekali kau datang!”

Kay Thian-sian berludah dan berseru: ”Siapakah cici-mu itu?  Kau pengapakan ciciku In-nio itu? Tak peduli kau ini seorang kongcu atau isteri bengcu, kalau berani mengganggu selembar rambut cici In, aku tentu akan mengadu jiwa padamu.”

Engkoh Thian-sian, yakni Kay Thian-hau, saat itupun berada di medan pertempuran. Mendengar kata-kata adiknya itu, ia kaget dan marah. Ia larikan kuda menghampiri dan membentaknya: ”Budak liar, mengapa kau berani ngaco belo? Apa kau hendak berkhianat? Apakah di matamu tiada lagi Bo bengcu dan engkohmu ini?”

”Bo Se-kiat berbudi rendah tidak konsekwen. Dia bukan orang baik. Kalau dia dapat membuang cici In-nio, apakah aku tak dapat berkhianat?” sahut Thian-sian.

Waktu mendongak kepala, Thian-sian melihat Tomulun tengah bertempur seru dengan Se-kiat. Sekali berbuat, tak mau ia kepalang tanggung. Terus saja ia menerjang ke sana: ”Tomulun jangan takut, aku membantumu! Hm, Se-kiat, mengapa kau menghina suamiku?” Kiranya karena saling mencocoki hati, kedua insan buruk muka itu telah mengikat jodoh.

”Budak tak tahu malu, lihat golokku!” dengan marah sekali Thian-hau menyerang adiknya.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Tusuk Kundai Pusaka Jilid 13"

Post a Comment

close