Tusuk Kundai Pusaka Jilid 11

Mode Malam
 
Jilid 11

”Jika Bo toako bilang bukan dia yang menurunkan tangan jahat, itu tentu benar!” kata Thiat-

mo-lek. Pada waktu mengucapkan kata-kata yang terakhir itu, nadanya sudah berubah parau, menandakan bahwa racun telah bekerja. Ia berusaha untuk mempertahankan diri dengan lwekangnya.

Mendengar bahwa Thiat-mo-lek mengatakan bukan dia yang meracuni, wajah Se-kiat agak berseri, pikirnya: ”Ah, tak kira kalau Thiat toako masih mempercayai aku!”

Tiba-tiba terdengar lengking tertawa dan masuklah Tiau-ing ke dalam ruangan.   Dengan tertawa mengikik nona itu berseru: ”Thiat cecu, kau benar-benar pandai melihat orang. Memang bukan Se-kiat tetapi akulah yang menaruh racun itu!”

Kata-kata itu bagaikan halilintar memecah bumi di siang bolong. Khik-sia sampai kaget terlongong-longong.

”Tiau-ing, kau ” seru Se-kiat dengan gemetar.

”Seorang jantan harus mempunyai ketetapan. Jika sekarang tak kau lenyapkan Thiat-mo-lek, kelak tentu bakal merupakan bahaya besar!” sahut Tiau-ing dengan tegas.

”Tutup mulutmu!” bentak Se-kiat.

Tiau-ing tertawa mengejek: ”Menangkap harimau mudah, melepaskannya sukar. Kau mau menjadi raja, mengapa pusingkan urusan persaudaraan? Jika kau tak mendengarkan kataku, menyesal kelak tak berguna!”

Saat itu pikiran Khik-sia sudah sadar. Segera berkobarlah amarahnya. Tapi ketika ia hendak bertindak menyerang Tiau-ing, tiba-tiba didengarnya derap kaki mendatangi. Ia cepat berpaling dan menampak empat orang tak dikenal yang dilihatnya tadi. Kiranya mereka itu adalah pengawal dari Bo Jong-long di pulau Hu-siang-to (ayah Bo Se-kiat). Setelah mendapat kedudukan di Tiong-goan, barulah Bo Se-kiat memanggil keempat orangnya itu.

Terkilas dalam pikiran Khik-sia bahwa saat itu piauko-nya sedang keracunan, maka iapun tak berani bertindak gegabah. Dengan pedang di tangan ia siap mengawal di samping Thiat-mo-lek. Pikirnya: ”Mati atau hidup, semuanya tergantung pada Bo Se-kiat! Hm, jika ia berani bertindak aku tentu akan mengadu jiwa. Lebih dulu akan kubunuh perempuan hina itu!”

Memang dalam hal ilmu silat, Se-kiat lebih tinggi sedikit dari Khik-sia.  Apalagi ditambah dengan keempat pengawalnya itu serta Tiau-ing. Jika Se-kiat benar-benar mau berbalik muka, jangankan hendak melindungi jiwa sang piauko, sedang jiwanya sendiripun sukar dipastikan. Wajah Se-kiat berubah-rubah tak berketentuan. Rupanya terbit pertentangan dalam batinnya. Sementara Khik-sia sambil mecekal pokiamnya dengan tangan yang basah keringat, matanya tak berkesiap memandang ke arah Se-kiat. Lewat beberapa jenak kemudian, tiba-tiba mata Se-kiat terbeliak lalu berseru keras: ”Siapa yang suruh kalian datang kemari, hai! Lekas pergi!”

Keempat pengawal itupun saling berpandangan dan terpaksa ngeloyor pergi.

”Se-kiat apakah kau tak mengetahui bahwa orang yang berhati kecil itu bukan seorang ksatria, yang tak ganas bukan seorang jantan!” seru Tiau-ing.

Sebaliknya mengimbangi, dengan tegas Se-kiat membentaknya: ”Ambil obat penawarnya!” ”Apa?” teriak Tiau-ing.

”Berikan obat penawarnya padaku. Kalau tidak, hubungan kita putus sampai di sini!” sahut Se- kiat.

Tiau-ing menghela napas. Dikeluarkannya obat penawar, ujarnya: ”Se-kiat, tak mengapa kuberikan obat ini, tapi kukuatir kau bakal kehilangan lagi bumi yang sudah berada di tanganmu!”

Se-kiat berseru nyaring: ”Bumi tetap akan kuambil. Tetapi seorang ksatria harus mengambilnya dengan cara gemilang. Aku tak mau mengkhianati saudara angkat!”

Segera ia menyambuti obat dari Tiau-ing terus diberikan kepada Thiat-mo-lek, ujarnya: ”Thiat toako, sejak saat ini kita ambil jalan sendiri-sendiri. Aku akan membawa orang-orangku keluar dan kau jangan mengurusi aku lagi!”

”Apakah kau tetap hendak menyerang istana?” masih Thiat-mo-lek bertanya.

”Dengan memandang mukamu, kubatalkan rencanaku itu. Malam ini aku bersama nona Su hendak tinggalkan kota raja,” sahut Se-kiat. ”Tentang bagaimana kejadiannya besok, biarlah kita masing-masing ambil jalan sendiri. Toako, mengingat tali persaudaraan kita, terimalah hormat perpisahan dari siaute!”

Tahu bahwa orang sudah tetap putusannya, Thiat-mo-lek pun tak mau mencegahnya lagi. Dengan berlinang air mata, ia membalas hormat, sahutnya: ”Se-kiat, harap kau baik-baik menjaga diri!”

Se-kiat berpaling dan berkata kepada Tiau-ing: ”Nona Su, maaf tadi aku tak mau menurut kau. Apakah kau masih suka bersama-sama aku?”

Tiau-ing menghela napas, ujarnya: ”Kita adalah ibarat anai-anai (rayap) di dalam lubang, harus tetap bersama-sama. Baik berhasil maupun gagal, biarlah kita bersama-sama mengenyam kebahagiaan dan kesukaran!”

Tergetar hati Khik-sia tapi tak tahu perasaan apa yang dikandungnya benci atau sayang. Tiau- ing pun segera mengikuti Se-kiat yang dengan pelahan-lahan berjalan lewat di sisi Khik-sia.

Thiat-mo-lek seperti orang yang baru sadar dari impiannya. Beberapa jenak kemudian barulah

ia kedengaran berkata: ”Se-kiat belum hilang nuraninya sama sekali. Sayang dalam kecerdikannya itu, satu waktu ia limbung.”

Habis berkata ia lantas hendak mengambil obat penawar, tapi cepat Khik-sia mencegahnya:

”Toako, apakah kau tak curiga perempuan siluman itu main gila?”

Adalah yang pertama kali itu Khik-sia mengucap kata 'wanita siluman'. Ia sendiri merasa tak enak mendengarnya. Teringat akan kejadian yang lampau, diam-diamia merasa berduka juga. ”Jangan kuatir. Sejak ini nona Su itu akan bersandar pada Se-kiat, sudah tentu ia tak berani

memberi obat palsu padaku,” sahut Thiat-mo-lek yang terus menelan obat itu. Sambil tertawa-tawa, ia berkata pula: ”Kesudahan begini ada baiknya juga. Aku seperti melepaskan beban sebuah batu yang menindih hatiku. Beberapa waktu yang lalu, kudengar kau bergalang-gulung dengan nona Su itu. Kucemas jangan-jangan kau terpikat olehnya. Sayang nona Su itu dilahirkan sebagai wanita, coba tidak, tentu akan menjadi seorang benggolan pengacau negara yang nomor wahid. Se-kiat cocok berpasangan dengannya, tetapi kau tidak sembabat!”

Wajah Khik-sia merah, bisiknya: ”Masakan aku dapat terpikat olehnya?” -- Sekalipun mulut mengatakan begitu, namun dalam hati ia mengakui bahwa syukur dirinya dapat lolos dari lubang jarum rayuan Tiau-ing.

Lwekang Thiat-mo-lek sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Keracunan itu tak nanti dapat membinasakan jiwanya, melainkan hanya memerlukan beristirahat sementara akan sudah sembuh. Apalagi kini ia minum obat penawar. Dalam beberapa detik setelah banyak mengeluarkan keringat, racun itu turut mengalir keluar dan sembuhlah dia.

Kala itu tengah malam. Tib-tiba terdengar derap kaki berlarian datang. Thiat-mo-lek kerutkan alis. Heran ia mengapa pada saat begitu malam ada orang berani datang ke kamar wanita.

Ternyata Kim-kiam-cang-long Toh Pek-ing. Ia mendorong pintu dengan tergopoh-gopoh: ”Thiat cecu, kau tak kena apa-apa?”

”Toh-sioksiok, bukankah aku segar bugar, mengapa kau begitu gelisah? Mari kita keluar omong-omong. Kita berdua melanggar kesopanan,” Thiat-mo-lek tertawa.

Kiranya walaupun mereka itu kaum persilatan, tapi tetap memegang teguh adat peraturan

tentang pria-wanita. Pada petang hari, wanita dan pria itu harus terpisah tempatnya. Tapi sekarang Thiat-mo-lek dan Toh Peh-ing justeru berada di kamar Su Tiau-ing.

”Waktu tiba kemari, kulihat belasan penunggang kuda lari keluar. Kukenal mereka anak buah Bo Se-kiat, tapi anehnya mereka tak menegur-sapa padaku. Kukira tentu terjadi sesuatu, maka tanpa menghiraukan peraturan lagi terus masuk kemari. Mana Se-kiat?” seru Toh Peh-ing.

”Dia pun sudah lari. Mari kita omong-omong di luar,” kata Khik-sia sembari membawa Thiat- mo-lek dan Toh Peh-ing ke kamarnya sendiri.

”Berbahaya, berbahaya!” begitu pintu ditutup, Toh Peh-ing menghela napas.

”Toh-sioksiok, Se-kiat tidak seburuk yang kau duga.  Apalagi kejadian sudah lewat. Khik-sia, kaupun jangan memakinya lagi,” kata Thiat-mo-lek.

Melirik sejenak pada Thiat-mo-lek, Peh-ing berseru: ”Thiat cecu, bukankah bangsat Se-kiat telah meracuni kau?”

”Toh-sioksiok, tak kecewa kau mendapat gelaran Kim-kiam-ceng-long. Ilmu ketabibanmu sungguh mengagumkan orang! Kau dapat melihat aku kena keracunan tapi masakan tak dapat melihat bahwa aku sudah sembuh?”

Toh Peh-ing heran, mengapa Se-kiat meracuni dan memberi obat penawar pula? Thiat-mo-lek segera menuturkan apa yang terjadi tadi.

”Aku tak mengatakan kalau Bo Se-kiat sudah tak punya nurani lagi. Dia sebagai pemimpin

Lok-lim, tapi galang-gulung dengan seorang wanita siluman, tentu akan mendatangkan bahaya bagi saudara-saudara Lok-lim. Thiat ce-cu, masih ingatkah ketika pertandingan di gunung Kim-ke-nia tempo hari? Kunasehatkan jangan kau mengalah pada Se-kiat, sayang kau tak mendengar kata.” Thiat-mo-lek terdiam beberapa saat. Akhirnya ia menghela napas: ”Dalam hal kecerdikan, Se-

kiat sepuluh kali lebih pintar dari aku. Sayang dia ambisius dan angkara murka.”

Karena di luar jendela hari sudah mulai terang, maka Toh Peh-ing berkata: ”Hari sudah terang tanah. Thiat-cecu, kau jadi datang ke pertandingan atau tidak?”

”Mengapa Toh-sioksiok bertanya begitu?” ”Aku merasa sedikit cemas.”

Waktu Thiat-mo-lek menanyakan apa yang dicemaskan. Toh Peh-ing menjawab: ”Thiat-cecu, walaupun kau murah hati kepada Se-kiat, tetapi dikuatirkan hatinya tak serupa hatimu. Apalagi kini ia bersama anak perempuan Su Su-bing. Apa yang disungkani lagi? Aku tak percaya pada mereka. Walaupun Bo Se-kiat sudah membatalkan rencananya menyerbu istana, tetapi bukan berarti mereka tak dapat membuat lain kekacauan.  Dan dirimu masih menjadi buronan negara ”

”Justeru kalau aku datang, akan lebih baik. Karena kukuatir mereka akan mengacau dan merembet Cin Siang. Dan lagi Cin Siang serta Ut-ti Pak itu adalah sahabatku yang sudah seperti

saudara. Walaupun dalam tempat yang tak memungkinkan aku bicara kepada mereka, tetapi biarlah asal dapat melihat mereka saja, karena kita sudah lama tak berjumpa.”

Toh Peh-ing cukup kenal pribadi Thiat-mo-lek yang menjunjung tinggi kejujuran dan

kesetiaan. Tahu kalau tak mungkin dapat mencegah niat orang, Toh Peh-ing pun tak dapat berbuat apa-apa kecuali meminta agar Thiat-mo-lek berlaku hati-hati.

Thiat-mo-lek tertawa dan menyatakan dalam pertandingan orang gagah itu nanti ia akan berlaku sebagai penonton saja tak mau turun gelanggang.

Yang datang  ke pertandingan Eng-hiong-tay-hwe di Pakkhia itu, anak buah Bo Se-kiat kurang lebih 18-an orang. Sedang dari Kim-ke-nia, boleh dikata hanya Thiat-mo-lek dan Toh Peh-ing saja. Karena anak buah Kim-ke-nia dan pembantu Thiat-mo-lek yang dahulu berasal dari anak buah ayahnya (Thiat-kun-lun), semua pindah ke gunung Hok-gu-san. Shin Thian-hiong dan kedua saudara Ma memimpin penjagaan gunung itu.

Karena Bo Se-kiat kemarin sudah memisahkan diri dengan membawa anak buahnya, maka anak buah yang ikut Thiat-mo-lek hanya tinggal belasan orang saja. Dan itupun hanya golongan begal-begal kecil. Dalam perjalanan, mereka heran mengapa Se-kiat dan beberapa kawan, tak

kelihatan. Memang tahu mereka bahwa kemarin malam Se-kiat keluar dengan beberapa anak buah, tapi karena Thiat-mo-lek diam saja tak mau memberi keterangan, maka orang-orang itupun tak berani bertanya.

Gelanggang yang akan dijadikan medan pertempuran para orang gagah itu terletak di kaki bukit Li-san. Biasanya tempat itu dipakai upacara inspeksi ketentaraan yang dilakukan oleh

baginda. Luasnya beberapa ratus bau, dapat menampung beberapa puluh ribu orang. Lapangan itu mempunyai enam buah pintu gerbang yang terbuka.

Ketika Thiat-mo-lek dan pengikutnya ikut menggabungkan diri dengan rombongan orang yang masuk ke dalam gelanggang dilihatnya di sekitar lapangan itu dijaga oleh tentara. Sebagian dari tentara Gi-lim-kun, sebagian dari pasukan Kiu-seng-kun atau barisan penjaga kota raja, yang langsung di bawah pimpinan Kiu-seng-su-ma (pembesar tinggi yang bertanggung jawab keamanan ibu kota).

Lapangan seolah-olah dipagari senjata tajam. Ujung tombak berjajar-jajar menyilaukan mata. Suasana di situ tampak seram seperti di medan perang.

Thiat-mo-lek menganggap sudahlah wajar kalau penjagaan di lapangan situ dilakukan sedemikian kuatnya karena boleh dikata seluruh orang gagah dari segenap penjuru berkumpul di situ. Iapun tak menaruh kecurigaan apa-apa.

Karena berebut memilih tempat yang enak, maka tata tertib agak kacau. Karena desak-desakan itu maka anak buah Thiat-mo-lek pun terpencar. Waktu Khik-sia hendak mengejar Thiat-mo-lek, tiba-tiba ia dibentur oleh seorang pemuda berpakaian bagus. Khik-sia ingat-ingat lupa pada orang itu.

”Toan siauhiap, masih ingat padaku?” pemuda itu sudah mendahului menegur dengan tertawa. Mendengar nada suara orang, seketika teringatlah Khik-sia: ”Kau kemarin yang jual, jual ” -

- Teringat nona penjual silat itu kini menyaru jadi lelaki, Khik-sia buru-buru hentikan kata-katanya. Tak mau buka rahasia orang.

”Benar, kau tak lupa padaku. Terima kasih atas bantuanmu kemarin. Kemarin aku belum sempat menghaturkan terima kasih,” kata nona itu.

Nona itu adalah suci dari Su Tiau-ing. Karena Khik-sia masih mendongkol dengan Tiau-ing,

maka sikapnya kepada nona itupun agak lain. Katanya dengan tawar: ”Itu hanya urusan kecil, perlu apa diingat-ingat.” -- Habis berkata ia terus pergi.

”Toan siangkong, harap ikut aku. Aku hendak bicara padamu,” nona itu buru-buru mencekal lengan Khik-sia.

Kalau mau sebenarnya Khik-sia dapat melepaskan tangannya, tapi ia merasa tak enak berbuat begitu di hadapan orang banyak. Terpaksa ia berlaku sabar dan membiarkan dirinya ditarik ke samping.

”Aku adalah sucinya Tiau-ing. Bukankah kau datang bersama Tiau-ing?” bisik nona itu. Tapi Khik-sia menyangkal dengan kurang senang. Mendapat jawaban tak bersahabat begitu, nona itu terkesiap. Memang ia tak tahu akan peristiwa yang terjadi semalam.

Khik-sia hendak pergi lagi tapi cepat dicekal si nona. Marahlah Khik-sia: ”Aku tak

mempunyai hubungan dengan sumoaymu. Aku tak tahu tentang urusannya. Sudah, jangan tanya lagi!”

Nona itu tersenyum.  Diam-diam ia membatin.  Khik-sia itu seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya tapi pemaluan. Ia kira Khik-sia tentu malu mengaku berhubungan dengan Tiau-ing. Maka iapun tak mau lepaskan cekalannya. Khik-sia diam-diam sudah akan bertindak kasar. Untung nona itu keburu berkata pula: ”Toan siangkong, ini soal penting sekali. Kau harus lekas memberi tahu padanya.” Menduga Tiau-ing tentu sedang merencanakan sesuatu, maka dengan tahankan sabar, Khik-sia terpaksa bertanya: ”Baik, lekas katakanlah!”

Para penonton terus berbondong maju. Tetapi Khik-sia dan nona itu berada di sudut di sekitarnya tiada orangnya. Namun dengan hati-hati sekali, nona itu tempelkan mulut ke dekat telinga Khik-sia dan berbisik: ”Suruh Tiau-ing lekas-lekas tinggalkan tempat ini. Atau mungkin jiwanya terancam nanti.”

Walaupun sudah putus hubungan dengan Tiau-ing tapi mau tak mau terkejut juga Khik-sia. Serunya: ”Mengapa ”

”Dan kau pun harus segera tinggalkan tempat ini bersama Tiau-ing. Jangan ayal atau nanti terlambat,” nona itu putuskan omongan Khik-sia.

”Kemarin kau ”

”Kemarin aku tak tahu kalau kau, mengerti? Lain-lain omongan besok kita bicarakan lagi.

Lekas, lekaslah pergi!” nona itu kembali mendesak dan habis itu ia lepaskan cekalannya terus pergi.

Khik-sia tercengang. Apa yang dimaksudkan nona itu? Siapa musuhnya? Tapi jelaslah bahwa ada orang yang hendak mencelakai Tiau-ing. Malah ia (Khik-sia) pun ikut-ikutan terancam.

Waktunya akan dilaksanakan sekarang. Tempatnya di sini.

Rupanya hal itu banyak benar dari tidaknya. Rupanya bukan tak ada maksudnya nona itu mengembara ke dunia persilatan dengan menyaru sebagai penjual silat. Ia membuka pertandingan cari jodoh untuk memanggil sumoaynya. Setelah bertemu ia hendak menyampaikan berita penting itu. Sayang ia tak tahu kalau sumoaynya semalam telah pergi dari kotaraja bersama Se-kiat,” demikian Khik-sia menimang dalam hati. Kemarahannya terhadap Tiau-ing mulai reda. Memang Khik-sia itu terlalu gampang perasa. Walaupun sudah putus hubungan, tapi demi mendengar berita itu, iapun masih mencemaskan keadaan Tiau-ing. Bahwa dirinya juga terancam, malah tak dihiraukannya.

Ia lanjutkan langkahnya menuju ke bagian tengah. Ia celingukan kian kemari tapi dalam sekian banyak orang itu, Thiat-mo-lek dan Toh Peh-ing tak kelihatan. Tiba-tiba Khik-sia tersadar: ”Ah, mengapa aku hanya  memikirkan kepentingan diri sendiri? Benar aku tak gentar menghadapi bahaya, tapi bagaimana dengan piau-ko dan paman Toh? Kalau sampai terjadi apa-apa pada diriku, mereka tentu takkan tinggal diam. Tetapi diri piauko dan paman Toh itu lebih berat dari aku. Jika orang dapat mencelakai diriku, mereka tentu lebih dapat mencelakai piauko dan Paman Toh!” Memikir sampai di situ, ia gelisah sekali dan ubek-ubekan mencari Thiat-mo-lek berdua.

Belum mendapatkan piaukonya, tiba-tiba ia terperanjat melihat tiga bayangan yang rasanya tak asing.   Mereka berupa tiga orang perwira. Cepat Khik-sia segera mengenal mereka. Dua yang berjalan di depan, terang perwira palsu Su Yak-bwe dan Sip In-nio. Yang mengikuti di belakang mereka adalah Pui Bik-hu, pemuda yang pernah bertempur dengan Khik-sia di hotel tempo hari. Kejut dan girang Khik-sia bukan kepalang.  Memang kedatangannya ke Eng-hiong-tay-hwe itu tak lain karena untuk menjumpai Yak-bwe. Kalau saat itu tak teringat berada di tengah lautan manusia, tentu ia sudah meneriakinya.

Sebaliknya Yak-bwe dan In-nio tak tahu pada Khik-sia. Walaupun jarak mereka tak berapa

jauh tapi dikarenakan begitu banyak orang, Khik-sia tak mudah untuk menghampiri. Tiba-tiba ada seorang pemuda dan pemudi meneriaki Yak-bwe. Kiranya sepasang muda-mudi itu adalah Tok-ko U kakak beradik.

Semangat Khik-sia menurun beberapa derajat. ”Entah apakah mereka itu sudah lama berjanji, tapi yang nyata mereka itu sedan g bercakap-cakap, tak enak kalau aku menimbrung,” pikir Khik- sia. Malah ketika Khik-sia memandang lagi, dilihatnya Yak-bwe terkejut girang bertemu dengan kedua saudara Tok-ko itu. Hati Khik-sia makin kecut. Ia meragu dan tak berani maju.

”Aya, mengapa aku lupa pada piauko? Mencari piauko, lebih penting,” tiba-tiba ia tersadar.

Namun anehnya, walaupun pikirannya begitu namun kakinya serasa berat dan matanya tak lepasnya memandang Yak-bwe.

Tiba-tiba terdengar genderang dan tambur dipalu. Keenam pintu besi segera ditutup. Ternyata pertandingan akan dimulai. Di tengah lapangan itu didirikan sebuah pangung tinggi untuk pertandingan. Khik-sia memandang ke muka dan tampak Cin Siang sudah muncul di atas panggung. Ia berdiri di apit Utti Pak dan Kiu-seng-su-ma Toh Hok-wi.

Cin Siang mulai mengucapkan kata-kata pembukaan. Ia mengucapkan terima kasih atas kedatangan para orang gagah dan menguraikan tentang maksud didirikannya panggung pertempuran adu silat itu, yakni karena pemerintah membutuhkan jago-jago pilihan untuk diharapkan suka menyumbangkan tenaga pada negara. Mengenai acara pertandingan, mengingat jumlahnya peserta banyak sekali, maka akan dibagi dalam beberapa regu. Waktu pertandingan pun akan diadakan sampai beberapa hari. Kepada setiap orang gagah yang hadir pada saat itu, akan diberi sebuah tong-pay (lencana tembaga). Menurut urutan nomor tiap sepuluh orang merupakan sebuah regu. Tiap hari akan dilangsungkan sepuluh partai pertandingan. Kalau diduga yang ikut dalam pertandingan itu lebih kurang seribu orang, maka pertandingan itu baru selesai dalam sepuluh hari.

Dalam babak kedua yang akan dilakukan pada hari yang kesebelas, diantara seratus pemenang babak pertama itu akan diadu dan dipilih sepuluh orang pemenangnya. Yang lima orang akan nanti akan diberi jabatan sebagai Sam-bin-keng-ki-towi (perwira kavaleri). Sedang yang lima akan diangkat menjadi Su-bin-ki-ki-to-wi (perwira bagian kendaraan).  Sisanya yang sembilan puluh orang itu akan diangkat menjadi anggota pasukan Gi-lim-kun.

Habis pengumuman itu Cin Siang memberi penjelasan lagi: ”Yang tak mau menjabat pangkat ketentaraan, tak dipaksa. Mereka akan diberi hadiah berharga seekor kuda, sebatang golok pusaka dan kain sutera seratus blok.”

Di antara para hadirin itu, sebagian besar memang ingin mendapat pangkat dan hadiah-hadiah yang menarik itu. Hanya sebagian kecil yang tak begitu menghiraukan hal itu. Pidato Cin Siang itu mendapat sambutan gegap gempita dari para penonton.

Ternyata pada saat itu Thiat-mo-lek berada di samping lapangan dan berhasil menempatkan diri di deretan muka dekat panggung. Ia merasa Cin Siang telah melihat dirinya. Karena Thiat-mo-lek tak ingin pangkat dan hadiah, maka iapun tak berminat ikut dalam pertandingan. Adalah setelah melihat kedua sahabatnya, Cin Siang dan Utti Pak, tak kurang suatu, iapun lega. Terutama yang

melonggarkan perasaannya ialah tak didapatinya Bo Se-kiat di lapangan situ. Ia duga Se-kiat tentu pegang janji dan tinggalkan Tiang-an.

”Pertemuan besar ini telah dibuka dengan lancar. Hari ini kebanyakan tentu takkan terjadi

peristiwa apa-apa. Sebaiknya tak kuterima tong-pay dan cepat-cepat pulang saja. Malah nanti akan kusuruh Khik-sia mengantarkan surat kepada Cin toako minta dia berhati-hati. Besok pagi segera akan kuajak Khik-sia tinggalkan Tiang-an,” diam-diam ia mengambil putusan.

Karena berada di barisan depan, Thiat-mo-lek tak mengetahui kalau keenam pintu gerbang sudah ditutup. Ketika berpaling dan tak melihat Khik-sia, diam-diam ia marah. ”Hm, anak itu benar-benar sembrono. Entah kemana dia? Di tempat semacam ini, mengapa pencar?”

Belum tong-pay diedarkan sampai padanya, tiba-tiba ada seorang penunggang kuda larikan kudanya di sepanjang jalur jalanan tanah kuning terus langsung ke muka panggung dan berhenti. Thiat-mo-lek tahu bahwa hanya goanswe (marsekal), ciangkun (jenderal), atau tiong-su (utusan kaisar, misalnya thaykam) baru boleh naik kuda di jalur kuning itu.

Cin Siang lebih terkejut lagi. Ternyata yang datang itu adalah Liong-ki-to-wi Bu Wi-yang,

kepala pasukan penjaga istana yang disebut Kiong-tiong-siu-wi. Ketika An Lok-san memberontak, kaisar yang sekarang yakni Li Heng, masih menjadi putera mahkota. Bu Wi-yang adalah jenderal yang mengawal Li Heng ketika lolos ke kota Lin-bu. Kemudian setelah Li Heng memproklamirkan diri menjadi raja, Bu Wi-yang makin mendapat kekuasaan. Kemudian setelah An Lok-san ditindas, barulah Li Heng kembali lagi ke kota raja Tiang-an.

Atas jasanya itu Bu Wi-yang diangkat menjadi Liong-ki-to-wi atau kepala barisan berkuda. Tingkatannya sama dengan Cin Siang. Sebenarnya jabatan Kiong-tiong-su-wi itu dipimpin Utti Pak. Li Heng menggesernya jadi Hu-thong-leng atau wakil komandan pasukan Gi-lim-kun.

Kedudukan komandan Kiong-tiong-su-wi diberikan pada Bu Wi-yang.

Sebenarnya Bu Wi-yang kepingin menjadi komandan pasukan Gi-lim-kun. Tetapi karena Cin

Siang besar pahalanya sebagai menteri inti yang membangun negara dan besar pengaruhnya, maka Li Heng pun sungkan untuk mengutik-utiknya dan terpaksa memindah Utti Pak saja. Sekalipun begitu, dalam soal kepercayaan Bu Wi-yang itu lebih dipercaya kaisar daripada Cin Siang.

Eng-hiong-tay-hwe yang diselenggarakan Cin Siang kali ini, Bu Wi-yang tak ambil peduli

sama sekali. Pun Li Heng merencanakan, nanti pada hari penutupan baru hadir. Maka kedatangan Bu Wi-yang secara tak terduga-duga itu telah membuat Cin Siang terperanjat. Apakah kaisar yang mengutusnya?

Sebelum Cin Siang menyongsong, Bu Wi-yang sudah loncat ke atas panggung.

”Mengapa Bu congkoan tinggalkan istana?” tanya Cin Siang dengan terkejut. Ia duga di istana tentu terjadi sesuatu.

”Baginda ada perintah untukmu!” seru Bu Wi-yang.

Menurut adat kebiasaan, setiap kali datang surat perintah raja, raja lebih dulu tentu mengutus orang untuk memberitahukan agar orang yang akan menerima surat amanat itu menyiapkan meja sembahyang. Kemudian orang itu harus mendengarkan surat amanat itu dengan bertekuk lutut.

Karena datangnya surat amanat yang dibawa Bu Wi-yang itu mendadak sekali, Cin Siang sudah tak keburu menyediakan penyambutan. Tersipu-sipu ia jatuhkan diri bertekuk lutut.

”Urusan ini penting sekali. Baginda menitahkan, tak usah Cin tayjin sibuk menyiapkan

upacara penyambutan. Setelah menerima surat amanat ini, harus lekas-lekas melaksanakannya. Dan tak perlu kubacakan isinya,” seru Bu Wi-yang.

Dengan kedua tangan Cin Siang menyambuti surat amanat itu. Ketika dibuka, pucatlah wajahnya seketika. Tak dapat ia membaca lagi.

”Cin tayjin, kau berani membangkang titah baginda?” bentak Bu Wi-yang.

Amanat yang berupa secarik kertas itu, dirasakan Cin Siang laksana benda seribu kati beratnya. Tangannya gemetar keras dan jatuhkan surat itu. Cin Siang menjerit keras, tiba-tiba ia benturkan kepalanya ke tiang.

Seluruh hadirin geger. Untung dengan sigapnya Utti Pak loncat memeluknya: ”Cin toako, kau kesalahan apa? Mari kita menghadap baginda.”

”Lepaskan! Apa kau akan membiarkan aku jadi manusia yang tak berbudi tak setia?” bentak Cin Siang.

”Mengapa?” tanya Utti Pak.

”Kalau tak menurut surat amanat, aku dianggap tak setia. Tapi kalau menurut perintah, aku menjadi manusia tak berbudi! Kalau Budi dan Setia tak dapat dilakukan bersama, lebih baik Cin Siang mati saja, demi untuk sahabat!” sahut Cin Siang.

Walaupun belum jelas, tapi sedikit-sedikit Utti Pak mengerti juga bahwa Cin Siang tak mau menjalankan perintah itu. Yang jelas perintah raja itu bukan ditujukan untuk menghukum Cin Siang.   Utti Pak makin tak mau lepaskan sang sahabat. Kepandaian mereka hampir berimbang. Dalam ilmu kepandaian memang Cin Siang lebih unggul. Tapi dalam soal tenaga, Utti Pak lebih kuat. Cin Siang tak kuasa meronta dari pelukan Utti Pak yang keras.

”Cin Siang membangkang perintah baginda, lekas tangkap!” tiba-tiba Bu Wi-yang berseru. Baru perintah itu diserukan, dari belakang panggung loncat seorang tua yang tinggi besar.

Orang itu perawakannya agak bungkuk.   Secepat kilat ia menutuk lambung Cin Siang. Seketika Cin Siang jatuh ngelupruk.

Kejut Thiat-mo-lek bukan kepalang. Si bungkuk tua itu bukan lain adalah Chit-poh-tui-hun Yo Bok-lo! Memang atas perintah Bu Wi-yang dan Toh Hok-wi, pagi-pagi ia sudah mengumpet di

belakang panggung. Sebenarnya jika bertempur secara berhadapan, belum tentu Yo Bok-lo dapat mengalahkan Cin Siang. Tapi karena jenderal itu disekap kencang oleh Utti Pak dan ditutuk jalan darahnya dari belakang oleh Yo Bok-lo, maka iapun tak berdaya menghindar lagi.

Yo Bok-lo tak mau kepalang tanggung. Ia menutuk Utti Pak juga.

”Kurang ajar! Siapa berani menangkap toako-ku?!” bentak utti Pak. Ilmunya kin-na-chiu atau dengan tangan kosong merampas senjata lawan, adalah ilmu warisan keluarganya. Di dunia persilatan tiada tandingannya.

Jarak Yo Bok-lo amat dekat sekali dengan Utti Pak. Belum jari orang she Yo itu menyentuh sasarannya, tahu-tahu lengannya sudah kena dipelintir. Dengan gerak ki-kian-si, tubuh Yo Bok-lo yang tinggi besar itu dibanting ke lantai panggung. Untung dengan gerak le-hi-ta-ting, Yo Bok-lo cepat-cepat dapat loncat bangun. Tapi bagian lengannya yang dipelintir sakitnya bukan alang kepalang.

Pada saat itu Cin Siang sudah diikat oleh pengikut Toh Hok-wi. Dengan mata berapi-api Utti

Pak hendak menghajar kawanan bu-su itu, tapi Cin Siang cepat mencegahnya: ”Utti-heng, jangan. Mengapa kau berani melanggar sengci (amanat) kaisar? Kita berdua turunan menteri setia. Kita hanya boleh menyerah pada keputusan kerajaan, tak boleh menjadi manusia yang tak setia tak berbakti!”

Demi mendengar tentang kesetiaan dan kebaktian itu, kemarahan Utti Pak sirap seperti diguyur air. ”Baik, biar kubawa kim-pian (cemeti emas) bersama-sama menghadap baginda. Siapa yang berani mengganggu padamu, tentu kuhajar!” sahut Utti Pak yang berangasan itu. Kemudian ia menghardik Bu Wi-yang: ”Hai, Bu Wi-yang, apakah kau yang menangkap Cin toako-ku?”

Ternyata Utti Pak itu adalah anak keturunan dari Utti Kiong yang besar sekali jasanya kepada

Li Si-bin, pendiri kerajaan Tong. Karena jasanya itu Utti Kiong dihadiahi sebatang kim-pian oleh raja. Dengan kim-pian itu ia boleh memukul menteri-menteri kerajaan sampaipun keluarga raja, urusan belakang. Maka walaupun tak menduduki jabatan tinggi, namun Utti Kiong mempunyai kedudukan istimewa yang ditakuti orang.

Tiba-tiba Bu Wi-yang dan Toh Hok-wi serentak menyerang dari belakang. Dengan ilmu hou-

jiau-chio (cakar macan), Toh Hok-wi mencengkeram tulang pundak dan secepat itupun Bu Wi-yang hendak memborgol tangan Utti Pak. Utti Pak menggerung keras, sekali ia gerakkan kedua tangannya, Bu Wi-yang dan Toh Hok-wi terhuyung-huyung sampai sepuluhan langkah ke belakang. Hampir saja mereka jatuh. Tapi sebuah tulang pundak Utti Pak patah dan tangannyapun kena diborgol. Yo Bok-lo yang masih kuatir, loncat maju dan menutuk jalan darahnya.

”Ha, ha, bukan melainkan Cin Siang pun kau juga harus ditangkap!” seru Bu Wi-yang. Marah Utti Pak bukan alang-kepalang. Ia menjerit keras: ”Ambilkan kim-pianku!” ”Baik, baik tuan,” Toh Hok-wi tertawa mengejeknya.

Seorang bu-su menerobos keluar dari belakang panggung. Sepasang tangannya mengangkat sebatang kim-pian. Tapi bukan diserahkan kepada Utti Pak, melainkan kepada Toh Hok-wi: ”Inilah kim-pian Utti tayjin yang hamba ambil!”

Utti Pak terkejut dan memaki kalang-kabut: ”Toh Hok-wi, kau berani melanggar undang-

undang? Kau minta dihukum potong kepala seluruh keluargamu? Mengapa kau berani merampas kim-pian pemberian baginda kaisar?”

Menyambut kim-pian, Toh Hok-wi tertawa gelak-gelak: ”Baginda memang bijaksana. Siang- siang sudah menduga kau akan membangkang karena mengandalkan kim-pian. Baginda telah menitahkan padaku supaya merampas kim-pianmu. Ha, ha, ini lihatlah seng-ci dari baginda!”

Orang she Toh itu mengeluarkan sepucuk kertas dan dibentang di muka Utti Pak. Memang

tulisan di atas kertas itu tulisan baginda yang memberi wewenang kepada Toh Hok-wi. Apabila Utti Pak membangkang, boleh dirampas kim-piannya. Utti Pak tak mengira sama sekali bahwa kaisar mau mengeluarkan amanat rahasia sedemikian rupa. Seketika murkalah Utti Pak: ”Kim-pian adalah pemberian dari baginda Thay Cong, Baginda yang sekarang tak boleh merampasnya!”

”Ho, silahkan protes pada baginda saja!” Toh Hok-wi tertawa mengejek. Utti Pak tak dapat bicara lagi. Ia biarkan dirinya digusur.

”Cin Siang membangkang perintah raja. Toh tayjin, Eng-hiong-tay-hwe ini, kaulah yang memimpin. Harap kau terima amanat ini dan segera mengumumkannya! Laksanakanlah perintah itu!” kata Bu Wi-yang.

Sejak Bu Wi-yang muncul, terjadilah sandiwara yang menarik. Lebih dulu Cin Siang

ditangkap, kemudian Utti Pak dirampas kim-piannya. Semua-semuanya itu tercantum dalam surat perintah raja yang dibawanya. Suasana di bawah panggung geger tak keruan. Tapi begitu Toh Hok- wi menerima surat perintah, suasana gempar itu sirap seketika. Sekalian orang sama mendengari dengan khidmat.

Jago-jago dari lima penjuru yang hadir dalam Eng-hiong-tay-hwe itu sebagian besar orang- orang kasar yang buta huruf. Toh Hok-wi tahu akan hal itu. Ia tak perlu membacakan isi surat

perintah itu lagi. Supaya sekalian orang mengerti, ia maju kemuka panggung dan berseru dengan kata-katanya sendiri: ”Yang Mulia Baginda Kaisar memberi perintah. Eng-hiong-tay-hwe sebenarnya bertujuan untuk memilih ksatria-ksatria gagah yang suka mengabdi kepada baginda. Maka asal bukan golongan pemberontak, orang-orang yang pernah melanggar undang-undang asal ia setia kepada raja, akan diberi kebebasan. Harap sekalian saudara tenang, tak perlu gelisah.”

Ia berhenti sejenak. Kemudian dengan berganti nada, ia meneruskan lagi: ”Yang tak diberi pengampunan hanya kaum pemberontak yang pernah melawan raja. Baginda sudah tentu tak berani memakainya!”

Rupanya sekalian penonton bingung dengan kata-kata Toh Hok-wi itu. Di sana-sini timbul

hiruk-pikuk orang bertanya: ”Apakah yang dinamakan golongan pemberontak itu? Hm, apakah dia hendak menjebak kita? -- Kita datang kemari karena percaya akan omongan Cin Siang. Hm, tetapi rupanya kaisar tak mau menganggap omongan Cin Siang!”

Demikian pertanyaan yang timbul dari para hadirin. Malah ada beberapa orang yang berangasan, sudah serentak mencabut senjata siap hendak menghadapi segala kemungkinan. Suasana menjadi tegang.

Melihat itu Toh Hok-wi buru-buru berteriak keras: ”Hai, harap saudara-saudara mendengar dengan tenang! Di dalam surat perintah baginda telah ditulis dengan jelas. Orang-orang yang dianggap sebagai kaum pemberontak itu hanya sepuluh orang. Kesepuluh orang itu adalah

benggolan-benggolan yang menerbitkan keonaran besar dan memberontak terhadap kekuasaan raja. Yang lain-lainnya sekalipun sahabat atau anak buah mereka, tiada diapa-apakan. Surat perintah itu lebih jauh mengatakan, barang siapa membantu tentara negeri untuk menangkap pemberontak- pemberontak itu, akan memperoleh jasa. Dapat menangkap seorang pemberontak, akan diangkat menjadi perwira To-wi dari Se-kip-ki-ki (barisan kavaleri) dan diberi hadiah sejumlah besar uang.

Yang akan ditangkap pemerintah itu hanya sepuluh orang, maka harap kalian semua jangan gelisah!”

”Siapakah mereka itu? Lekas umumkan!” suara teriakan menyambut dari bawah panggung. Meskipun mereka masih berdebar-debar, namun tak gelisah seperti tadi lagi.

Toh hok-wi mempesut keringatnya lalu berseru pula: ”Kesepuluh orang itu, kita ketahui jelas,

sudah tiba di kotaraja sini. Saat ini kebanyakan tentu juga hadir di lapangan ini. Jika kalian hendak mendirikan pahala untuk negara, inilah saatnya! Paling baik dapat membekuk mereka hidup-hidup, tapi kalau terpaksa, boleh dibunuh saja.  Mati atau hidup, hadiahnya sama.  Sepuluh orang itu ialah

.... (para penonton sama menahan napas)       Thiat-mo-lek, Bo Se-kiat, Toan Khik-sia, Su Tiau-ing,

Kay Thian-hou, Toh Peh-ing, Li Thiat-ceng, Liong Theng, Ui Kiam dan Coh Ping-gwan!”

Thiat-mo-lek dan Tok Peh-ing adalah pemimpin begal gunung Kim-ke-nia. Toan Khik-sia

karena mempunyai hubungan dengan orang Kim-ke-nia, boleh digolongkan orang Kim-ke-nia. Bo Se-kiat adalah pemimpin loklim. Kay Thian-hou, tangan kanan Se-kiat yang paling dipercayai, Su Tiau-ing dianggap pemberontak karena ia adiknya Su Tiau-gi.  Sebenarnya ia bukan orang lok-lim. Li Thiat-ceng dan Liong Theng, keduanya adalah cecu dari suatu gerombolan penyamun. Mereka memimpin anak buahnya sendiri untuk mengganggu keamanan. Ui Kiam bekas benggol penjahat tunggal yang sudah cuci tangan. Tapi tetap dicap sebagai pemberontak. Dan masih ada seorang Coh Ping-gwan. Sebagian jago-jago yang berada di lapangan situ tak tahu akan asal-usul orang itu. Setiap kali Toh hok-wi habis mengumumkan sebuah nama, di bawah panggung tentu gempar.

Ada yang berteriak kaget, ada yang bersorak-sorak menunjang tindakan Toh Hok-wi. Kini semua hadirin baru mengetahui mengapa Cin Siang hendak bunuh diri tadi.   Ternyata dia kecewa dan putus asa. Tak mau menolak perintah kaisar tapi tak mau bermusuhan dengan sahabat-sahabatnya.

Kiranya rencana pembasmian itu diatur oleh Yo Bok-lo, Bu Wi-yang dan Toh Hok-wi. Dalam hal

ini Bu Wi-yang dan Toh Hok-wi mempunyai kepentingan besar. Kedua, Yo Bok-lo dapat membalas dendam kepada Thiat-mo-lek, supaya Thiat-mo-lek dan Toan Khik-sia dihukum mati. Ketiga, dapat membasmi benggolan-benggolan ternama dari loklim. Mereka kebanyakan menetap di daerah kekuasaan Tian Seng-su dan Sik Ko. Dengan lenyapnya benggolan loklim itu, Tian dan Sik serta para Ciat-to-su di perbatasan akan mendapat manfaat besar. Karena yang banyak diganggu oleh kawanan loklim itu bukan pemerintah pusat melainkan panglima-panglima di daerah perbatasan tersebut. Rencana Yo Bok-lo itu ditunjang oleh Tian dan Sik berdua. Malah Tian Seng-su sudah memberi Yo Bok-lo dana sebesar seribu tail emas untuk biaya pergerakan itu. Karena Yo Bok-lo kenal baik dengan Bu Wi-yang dan Toh Hok-wi, maka tanpa mengeluarkan uang sepeser, rencananya itu segera diterima. Ya, hal itu disebabkan karena kebetulan mereka mempunyai kepentingan sama. Dengan begitu, uang dana dari Tiang Seng-su tadi semuanya masuk kantong Yo Bok-lo sendiri.

Tentang Su Tiau-ing, sebenarnya nona itu tak mempunyai dendam permusuhan dengan Yo Bok-lo.   Pun pribadi nona itu sebenarnya tak begitu penting. Tapi karena Li Heng, kaisar yang

sekarang ini benci sekali pada Su Tiau-gi, maka Bu Wi-yang dan Toh Hok-wi menghendaki nama nona itu dicantumkan dalam daftar pemberontak. Sebagaimana diketahui, ayah Su Tiau-gi, dengan An Lok-san pernah mengadakan pemberontakan hebat sampai-sampai Li Heng hampir kehilangan tahta kerajaannya.

Orang yang menjadi raja tentu takut pada benggolan-benggolan pemberontak dari kalangan loklim. Maka begitu mendengar usul Bu Wi-yang dan Toh Hok-wi yang antaranya mencantum nama Su Tiau-ing dalam daftar pemberontak, kaisar Siau Cong (Li Heng) segera menyetujui rencana itu. Kaisar itu tak ambil peduli bagaimana nasib Cin Siang yang tentu bakal kehilangan muka pada orang-orang gagah di seluruh negeri. Bahkan mati hidupnya Cin Siang, kaisar tiada menaruh keberatan apa-apa.

Tepat pada saat Toh Hok-wi selesai mengumumkan nama-nama pemberontak, di antara hiruk- pikuk suara hadirin, tiba-tiba terdengar suara teriakan menggeledek. Thiat-mo-lek enjot tubuhnya melayang ke atas panggung.

oooooOOOOOooooo

”Thiat-mo-lek di sini, siapa yang ada kepandaian boleh menangkapnya!” teriak ksatria itu.

Sekalian wi-su tak menyangka sama sekali bahwa Thiat-mo-lek yang dicap sebagai

pemberontak nomor satu, berani unjukkan diri di muka umum. Saking kejutnya, kawanan wisu itu sampai terlongong-longong. Malah ada dua orang wi-su yang berdiri di tepi panggung, dari kagetnya mendengar suara menggeledek Thiat-mo-lek itu, sampai menggigil dan tergelincir jatuh ke bawah panggung.

Sebelum kaki Thiat-mo-lek sempat menginjak lantai panggung, Yo Bok-lo sudah

menyambutnya dengan sebuah hantaman. Tapi sambil berseru 'bagus', di atas udara Thiat-mo-lek sudah mencabut pedangnya. Dengan gerak ing-ki-tiang-gong atau burung elang menghantam udara, ia tusuk tenggorokan Yo Bok-lo. Yo Bok-lo miringkan tubuhnya, tangan kirinya cepat diulurkan untuk merampas pedang orang.

Jika dinilai dalam ilmu silat, Thiat-mo-lek kini sudah lebih unggul dari Yo Bok-lo. Tapi karena

saat itu ia tengah melambung di udara, jadi tak dapat ia menggunakan seluruh tenaganya. Ketika tusukannya luput sebelum sempat berganti jurus, Yo Bok-lo sudah berhasil mencengkeram tangkai pedangnya dan jari tengahnya menutuk pergelangan tangan. Karena memastikan bahwa kali ini Thiat-mo-lek tentu akan menderita kekalahan, maka banyak hadirin yang kenal padanya, serempak berteriak kaget.

Thiat-mo-lek nekad. Ia gunakan gerak Thay-san-ya-ting atau gunung Thay-san menindih wuwungan rumah. Tubuhnya meluncur turun. Benar Yo Bok-lo akan berhasil merampas pedangnya tapi dia nanti tentu akan tertunjang jatuh. Adalah karena di udara tak dapat leluasa bergerak maka Thiat-mo-lek terpaksa gunakan gerakan itu untuk 'jibaku' atau sama-sama terluka. Cara bertempur semacam itu memang berbahaya sekali. Dada Thiat-mo-lek terbuka dan sebenarnya Yo Bok-lo dapat menghantamnya. Thiat-mo-lek bersedia mengadu jiwa, Yo Bok-lo tidak. Ia tahu lwekang Thiat-mo-lek tinggi, pukulannya belum tentu dapat melukai. Jika sampai tergentus Thiat-mo-lek, celakalah.

Di dalam bertempur, selain mengandal kepandaian pun juga keberanian. Karena jeri, Yo Bok-

lo menyurut mundur. Dan secepat itu juga Thiat-mo-lek tabaskan pedangnya lagi. Begitu Yo Bok- lo mundur lagi, Thiat-mo-lek dapat berdiri tegak di lantai panggung. Tapi karena cepatnya tabasan Thiat-mo-lek, rambut kepala Yo Bok-lo kena terpapas. Begitu memperoleh posisi, Thiat-mo-lek menyerang lagi dengan tiga kali tabasan. Yo Bok-lo terdesak dan sudah berniat lari ke belakang panggung.

”Amuk, amuk!” teriak Bu Wi-yang dengan murka. Karena tak sempat mencabut senjatanya sendiri, ia mencambuk dengan kim-pian kepunyaan Utti Pak tadi. Sebagai to-wi dari pasukan Liong-ki, sebenarnya kepandaian Bu Wi-yang itu juga hebat. Ia mahir menggunakan delapan macam senjata. Sabatannya dengan jurus hwe-hong-soh-liu itu juga hebat sekali.

Thiat-mo-lek menangkis dengan pokiamnya. Tring, bunga api meletik. Bu Wi-yang terkejut.

Ia tak kira Thiat-mo-lek berani menabas dengan pedangnya. Buru-buru ia tarik pulang kim-pian. Untung cambuk itu cukup berat dan hanya  terpapas sedikit tak sampai putus. Suatu hal yang membuat Bu Wi-yang lega.

Pada saat itu Toh Hok-wi pun menyerang.  Kepandaiannya masih di bawah Bu Wi-yang, tapi golok gan-leng-to yang digunakan itu adalah pusaka anugerah kaisar. Walaupun ketika Thiat-mo- lek menangkis ia (Toh Hok-wi) harus meringis karena tangannya kesakitan, namun goloknya tak kena apa-apa.

”Thiat-mo-lek, sekalipun kau punya tiga kepala enam lengan, jangan harap kau mampu lolos!” teriak Yo Bok-lo. Dengan gunakan gerak chit-poh-tui-hun, ia hantam punggung Thiat-mo-lek. Thiat-mo-lek gunakan jurus ngo-ting-gui-san, balikkan tangan menghantam ke belakang.

Plak, Yo Bok-lo tergetar tubuhnya. Thiat-mo-lek terhuyung-huyung hampir jatuh. Untung

buru-buru ia gunakan gerak cian-kin-tui untuk mempertahankan keseimbangan badannya. Dalam pada itu ia masih dapat menangkis serangan gan-leng-to Toh Hok-wi dan sabatan kim-pian Bu Wi- yang.

Diam-diam Yo Bok-lo terperanjat. Thiat-mo-lek hanya menangkis dengan sebelah tangan sedang tadi ia menghantam dengan kedua tangan. Tapi ternyata tak dapat menang, paling-paling

dapat membuat Thiat-mo-lek terhuyung-huyung saja. Ini menyatakan bahwa lwekang Thiat-mo-lek itu jauh lebih tinggi dari dia.

”Kalau kesempatan bagus seperti saat ini tak dapat menangkapnya, kelak tentu merupakan

bahaya besar,” diam-diam Yo Bok-lo membatin. Dan ia pun segera menyerang dengan pukulan tui- hun-chit-ciang.

Sepasang tangan tak dapat melawan tiga pasang tangan. Walaupun dalam beberapa saat Thiat- mo-lek tak sampai kalah tapi toh keadaannya berbahaya sekali.

Sekonyong-konyong terdengar sebuah suitan panjang. Sesosok tubuh melayang dari tengah- tengah penonton: ”Harap sekalian enghiong menyisih, Toan Khik-sia datang!”

Karena sebagian besar jago-jago yang hadir dalam pertandingan itu sama mengindahkan Thiat- mo-lek, merekapun segera memberi jalan untuk Toan Khik-sia. Tapi di antara mereka ada juga beberapa orang yang bernafsu untuk mendapat hadiah kaisar. Apalagi mereka anggap Toan Khik- sia yang masih muda itu tentu mudah ditindas. Mereka melolos senjata dan menghadang si anak muda.

Tapi Khik-sia berdiri tak jauh dari Yak-bwe. Begitu anak muda itu melambung ke udara, Yak- bwe pun segera melihatnya. Girang si nona bukan kepalang. ”Ci In, lekas bantu dia!” serunya

sambil menerobos maju. Kebetulan yang berada di sampingnya adalah Tok-ko U dan Tok-ko Ing. Malah karena Tok-ko Ing berdiri di dekat Yak-bwe, hampir saja ia terdampar jatuh. Kedua kakak- adik itu sama tercengang.

Mereka mengenali Khik-sia sebagai pemuda yang mencuri masuk ke dalam rumah mereka dan bertempur dengan Yak-bwe. Dan juga pemuda yang dijumpai mereka beberapa hari yang lalu di tengah jalan serta membantu si nona siluman she Su ketika bertempur dengan mereka.

”Ya, dia benar Toan Khik-sia! Tapi mengapa tempo hari Su toako memakinya sebagai penjahat kecil? Dan mengapa sekarang ia (Su toako) bingung hendak membantunya?” Tok-ko Ing bingung melihat kejadian itu. Tetap sampai pada saat itu, ia masih menaruh hati pada Yak-bwe karena mengira nona itu seorang pemuda.

Tidak demikian dengan Tok-ko U. Memang sudah lama ia menaruh kecurigaan terhadap diri 'pemuda' she Su itu. Ketika mendengar pada saat itu Yak-bwe memanggil 'ci In' pada In-nio, terbukalah ingatan Tok-ko U. ”Oh, kiranya perwira yang satunya itu adalah Sip In-nio li-hiap yang termasyhur. Karena ia memanggil Sip lihiap 'ci In', tentulah ia sendiri juga seorang nona yang menyaru. Ah, kasihan adikku yang sudah merindukan seorang pemuda gadungan,” katanya dalam hati.

”Ing-moay, janga kesima saja. Lekas bantu citpi Su!” segera ia menyuruh Tok-ko Ing.

”Koko, apa katamu?  Su toako itu, itu !” teriak Tok-ko Ing dengan kagetnya hingga tak dapat

melampiaskan kata-katanya. Untung suasana di situ hiruk tak keruan hingga orang-orang tak memperhatikan Tok-ko Ing.

”Apa kau masih belum mengerti? Dia bukan Su toako-mu, tetapi tunangan Toan Khik-sia yang bernama Su Yak-bwe!” sahut Tok-ko U.

Tok-ko Ing menjerit kaget dan tertegun seperti patung.

”Meskipun ia bukan lagi Su toako-mu, tapi karena ia menjadi sahabat kita dan sedang mendapat kesukaran, apakah kita tega berpeluk tangan melihat saja?” seru Tok-ko U.

Tok-ko Ing gelagapan. Dengan menindas kepedihan hatinya, ia menyahut: ”Benar, entah ia Su toako atau Su cici, aku telah mengikat kasih padanya.”

Begitulah kedua saudara Tok-ko itu mencabut senjata dan menerobos ke muka. ”Apakah kalian bukan kakak adik she Tok-ko?” tiba-tiba terdengar teriakan.

Ketika berpaling mengawasi, Tok-ko U melihat Lu Hong-jiu dan kakaknya Lu Hong-jun menghampiri datang. Diam-diam Tok-ko U girang, pikirnya: ”Setelah kecele dengan Su toako-nya, adik Ing tentu akan beralih perhatiannya kepada Lu Hong-jun. Kedua saudara Lu itu ternyata juga berhati ksatria tapi dikuatirkan mereka akan terseret dalam peristiwa ini.”

Seorang opsir yang bersenjata tok-kak-tong-jin (besi yang berbentuk macam orang-orangan berkaki satu), menghantam Tok-ko Ing dengan jurus Thay-san-ya-ting. Sebenarnya Tok-ko Ing mahir dalam ilmu pedang. Hanya karena tadi ia menderita kegoncangan hati yang hebat, maka permainannya pun rancu. Ketika pedangnya hampir terhantam tok-kang-tong-jin, tiba-tiba terdengar suara busur mengatup. Ternyata Lu Hong-jun lepaskan anak panah ke arah opsir itu.

Anak panah masuk ke punggung si opsir menembus sampai ke dada. Opsir itu terjungkal, gada tok- kak-tong-jinnya menghantam tanah sampai muncrat kemana-mana.

Tok-ko Ing tersentak dan tersadar dari lamunannya. Lu Hong-jun lari menghampiri. Masih jauh sudah berseru: ”Apakah nona Ing terluka?”

Tok-ko Ing merah wajahnya dan menghaturkan terima kasih kepada pemuda itu. Demikianlah dua pasang kakak adik, maju membuka jalan.

Sebelum Yak-bwe dan In-nio dapat mengejar Khik-sia, tiba-tiba mereka mendengar lengking suara yang menusuk telinga. ”Suhengmu di sini, apa kau masih berani kurang ajar!?”

Seorang yang wajahnya mirip kunyuk, melesat keluar dari tengah penonton. Itulah Ceng-ceng-

ji. Ternyata Ceng-ceng-ji memang sudah bersekongkol dengan Yo Bok-lo. Hanya ia yang bertugas untuk menyelinap di antara penonton. Begitu Toh Hok-wi mengumumkan nama kesepuluh pemberontak, iapun segera siap bertindak.

Kuatir kalau tak keburu menghadang Khik-sia hingga anak muda itu nanti sempat membantu Thiat-mo-lek, maka dalam bingungnya tanpa minta permisi pada orang-orang lagi, Ceng-ceng-ji sudah enjot tubuhnya melayang melampaui kepala para penonton yang menghadang jalannya.

Dengan gunakan lwekang isitmewa, ia injak kepala orang untuk melambung ke udara. Tapi injakan itu sedemikian rupa hingga  tak sampai membuat sakit orang. Namun sekalipun begitu, karena orang-orang yang datang di pertemuan itu kebanyakan adalah jago-jago silat, jangankan sampai dipijak kepalanya, sedang dilampaui kepalanya saja mereka sudah merasa dihina. Seketika terbitlah hujan makian.  Kalau tadi mereka hanya tak simpati kepada Ceng-ceng-ji, kini rasa itu meningkat jadi rasa kebencian.

Saat itu Khik-sia sedang dihadang oleh beberapa orang. Melihat Ceng-ceng-ji muncul,

marahlah anak muda itu. Sebaliknya orang-orang yang mengeroyoknya itu, tambah bersemangat. Sebenarnya mudah sekali Khik-sia membunuh mereka, tapi mengingat mereka itu juga sesama kaum persilatan, bagaimanapun Khik-sia tak tega juga.

”Bagus, kebetulan Ceng-ceng-ji datang. Biarkan dia berhantam dengan kawan-kawannya sendiri!” secepat mendapat akal secepat itu Khik-sia menyambar seorang pengeroyoknya yang bersenjata kapak, terus dilemparkan ke arah Ceng-ceng-ji.

Lemparan Khik-sia itu hebat sekali. Kalau Ceng-ceng-ji tak mau menyambuti orang itu tentu mati, paling tidak kepalanya tentu bebodoran darah. Ketika mengawasi, dilihatnya orang yang dilempar Khik-sia itu adalah masih pamannya Ki Ping-hwat. Ki Ping-hwat seorang benggolan

penjahat yang sudah seperti saudara dengan Ceng-ceng-ji. Di antara kaum ya-pay yang diundang Ceng-ceng-ji supaya  datang ke pertemuan itu, antaranya juga Ki Ping-hwat. Sudah tentu Ceng- ceng-ji terpaksa harus menyambut pamannya Ki Ping-hwat itu.

Dalam melayang, orang itu masih mencekal kapaknya. Dan lemparan Khik-sia itu

membuatnya pusing tujuh keliling. Begitu kakinya dicekal Ceng-ceng-ji, tanpa melihat lagi orang itu sudah lantas ayunkan kapaknya menghantam iblis, ia menerjang.

”Goblok, inilah aku!” bentak Ceng-ceng-ji menutuk kapak orang dengan sebuah jarinya. Dan sekali ringkus, ia turunkan orang itu. Dia dapat diselamatkan tapi tangan Ceng-ceng-ji merasa

kesemutan karena harus menyambuti sebuah 'daging' dari 100-an kati yang dilempar sekuat-kuatnya oleh Khik-sia.

”Ha, Ceng-ceng-ji, kau memang goblok!” Khik-sia tertawa mengejek dan terus menyambar seorang lagi untuk dilemparkan pada Ceng-ceng-ji.

Orang ini adalah murid kepala dari Pok Yang-kau, seorang sahabat baik Ceng-ceng-ji. Karena

itu terpaksa Ceng-ceng-ji harus menyambutinya lagi. Tapi sekarang ia sudah punya pengalaman. Lebih dulu ia gunakan ilmu tutukand ari jauh kek-gong-tiam-hiat, kemudian baru disanggupi dan dibuka jalan darahnya. Tapi orang yang kedua ini jauh lebih gemuk dari yang ke satu. Maka waktu menyambuti pun Ceng-ceng-ji 'hos' napasnya.

Demi melihat kegagahan Khik-sia, orang-orang yang hendak mengeroyoknya tadi kuncup nyalinya dan sama menyingkir. Khik-sia tertawa, terus menerobos ke muka. Dengan tersengal- sengal, Ceng-ceng-ji mengejar.  Tiba-tiba terdengar suara orang tua memakinya: ”Kunyuk kecil, gantilah buli-buliku!”

Yang memaki itu ternyata Hong-kay Wi Gwat. Seperti diketahui, buli-buli arak yang amat

disayangi pengemis gila itu, ketika dalam rapat besar Kay-pang telah dipecahkan oleh Ceng-ceng-ji. Wi Gwat benci setengah mati pada Ceng-ceng-ji.

”Pengemis tua, jangan ngaco! Kita hendak menangkap pemberontak. Kau toh bukan termasuk pemberontak, mengapa ikut-ikutan campur?” Ceng-ceng-ji marah.

”Aku tak peduli pemberontak atau bukan, pendek kata kau harus segera mengganti buli-buli

yang persis seperti kepunyaanku tempo hari. Kalau tidak, mereka menangkap pemberontak, aku menangkap kau!”

Saking gusarnya Ceng-ceng-ji sampai meringis. Ia balas memaki: ”Kau benar-benar orang gila!”

Sekonyong-konyong Wi Gwat ngangakan mulut dan meluncurlah bianglala arak di udara, serunya: ”Coba cicipilah arak ini. Karena kutaruhkan dalam buli-buli baru, rasanya kurang enak. Kuminta ganti, itu sudah maha adil. Mengapa kau berani memaki aku orang gila?”

Ginkang Ceng-ceng-ji lebih unggul dari Wi Gwat. Tapi karena tadi dua kali ia menyambuti

lemparan orang, tenaganya agak berkurang, ginkangnyapun terganggu. Semburan arak Wi Gwat itu tak diduga-duga, sehingga ia tak sempat menghindar lagi. Kepala dan mukanya tili-tili kena hujan arak. Panasnya bukan kepalang!

Ceng-ceng-ji katupkan matanya. Tahu-tahu Wi Gwat sudah loncat dan memukul punggungnya. Mendengar sambaran anginnya, Ceng-ceng-ji sabatkan pedangnya ke belakang. Pedangnya itu tajam bukan buatan, di samping itu dilumuri racun juga. Wi Gwat juga jeri. Cepat-cepat ia tarik pulang tinjunya tapi berbareng itu ia kirim jotosan tangan kiri. Ceng-ceng-ji menghindar, namun slentikan jari Wi Gwat tak dapa dielakkan. Tring, pedang kena ditutuk. Karena sakitnya hampir saja tangan Ceng-ceng-ji tak kuat mencekal pedangnya lagi.

Wi Gwat tertawa gelak-gelak. ”Kunyuk kecil, boleh tak usah ganti buli-buliku, asal kau

berlutut mengangguk kepala padaku!” -- Dalam berkata-kata itu, Wi Gwat sudah lancarkan tujuh buah pukulan.

Sembari berlincahan menghindar, Ceng-ceng-ji mempesut arak pada mukanya. Setelah dapat membuka mata, barulah ia balas menyerang. Karena dibuat mainan itu, Ceng-ceng-ji marah sekali. Kalau dapat ia hendak meremuk-remuk pengemis tua itu, namun tenaganya tak mampu.

Kecuali hanya kalah dalam ilmu ginkang, lain-lain kepandaian Wi Gwat lebih lihay dari Ceng- ceng-ji. Apalagi dalam hal kedahsyatan tenaga pukulan, benar-benar Ceng-ceng-ji ketinggalan jauh. Betapapun Ceng-ceng-ji mati-matian melawannya, tapi pedangnya tak mampu mendekati tubuh Wi Gwat, paling banyak masih terpisah tiga dim dari tubuh pengemis itu, sudah kena disisihkan oleh angin pukulannya.

Sepuluh jurus kemudian, pukulan Wi Gwat makin gencar sehingga Ceng-ceng-ji seperti

dipagari dengan tembok pukulan. Sekalipun Ceng-ceng-ji hendak gunakan ginkang, rasanya tetap tak mampu keluar dari kepungan itu.

Tangan kanan dan tangan kiri Ceng-ceng-ji, yakni Ki Ping-hwat dan Po Yang-kau, buru-buru datang menolong. Long-ya-pang atau toya gigi serigala yang digunakan Ki Ping-hwat, termasuk senjata yang lihay. Dan Ki Ping-hwat itu dalam kalangan ya-pay (jahat), termasuk sepuluh tokoh yang menonjol. Ilmu lwekang khun-gwan-it-bu-kang dari Pok Yang-kau, termasuk ilmu istimewa dalam dunia persilatan. Memang tenaganya tak sehebat Wi Gwat, tapi andaikata ia bertempur sendirian dengan pengemis tua itu, ia masih dapat bertahan sampai dua-tiga puluh jurus.

Karena dikerubuti oleh tokoh-tokoh begitu, dari menyerang sekarang Wi Gwat berbalik bertahan.   Ciok Ceng-yang, murid keponakan Wi Gwat, memburu datang. Ciok Ceng-yang merupakan murid angkatan kedua dari Kay-pang yang paling tinggi kepandaiannya. Dengan gunakan hang-mo-ciang-hwat atau ilmu tongkat menundukkan iblis, ia menerjang. Dengan masuknya tokoh Kay-pang itu, pertandingan menjadi berimbang.

Kalau di bawah panggung pertempuran berlangsung hebat, pun di atas panggung tak kurang tegangnya. Menghadapi tiga musuh, Thiat-mo-lek bertempur dengan mati-matian. Munculnya Khik-sia, sungguh tepat sekali waktunya.

”Bangsat tua, lihat pedangku!” teriak jago muda itu sembari menerjang Yo Bok-lo. Yo Bok-lo hantamkan sepasang tangannya, anginnya laksana prahara di lautan. Namun dengan menggeliat Khik-sia tetap merangsangnya dengan serangan pedang bertubi-tubi, sehingga tak dapat Yo Bok-lo menggunakan tenaga. Andaikata dapatpun tetap tak kuasa menahan arus serangan si anak muda. Akhirnya ia ambil putusan, lepaskan Thiat-mo-lek dan melayani Khik-sia dengan sepenuh tenaganya.

Berkurang seorang lawan, ringanlah Thiat-mo-lek. Seketika bangkitlah semangatnya: ”Kalian mau menyingkir tidak?” -- Ia putar pedangnya seperti orang membacok dengan golok. Itulah ilmu pedang yang diciptakannya sendiri. Hebatnya bukan kepalang.

Toh Hok-wi yang kepandaiannya agak rendah, telah digetarkan hatinya oleh bentakan Thiat- mo-lek tadi. Sebelum ia sadar pedang Thiat-mo-lek sudah menyambar ke arah kepalanya.

Tergopoh-gopoh Toh Hok-wi menangkis dengan goloknya. Tring, Toh Hok-wi rasakan tangannya seperti pecah dan goloknyapun jatuh ke lantai. Tanpa malu-malu lagi dirinya sebagai pemimpin pasukan pengawal kota, Toh Hok-wi bergelundungan di atas panggung untuk menghindari pedang orang.

Untung Thiat-mo-lek memang tak bermaksud hendak membunuhnya. Setelah dapat membobol kepungan, ia menyerukan Khik-sia supaya  tinggalkan lawan dan ikut padanya. Khik-sia tahu maksud piaukonya ialah hendak menolong Cin Siang lebih dulu. Maka walaupun ia menang angin, tapi terpaksa tinggalkan Yo Bok-lo juga.

Sebenarnya Yo Bok-lo sendiri juga kuatir terlibat dalam pertempuran. Namun ketika ia menghindar dari tusukan Khik-sia dan tampak anak muda itu loncat lari, ia masih pura-pura membentaknya: ”Bangsat kecil, jangan lari!”

”Kalau berani, kejarlah aku!” Khik-sia tertawa mengejeknya sambil ikut Thiat-mo-lek loncat turun panggung.

”Celaka, mereka hendak merampas Cin Siang!” teriak Bu Wi-yang. Tapi tiba-tiba Yo Bok-lo mendapat pikiran, serunya: ”Toh tayjin, pimpinlah pasukan Theng-pay-kun meringkus pengemis tua itu. Biarkan Ceng-ceng-ji dapat membantu aku. Biar bagaimanapun, hari ini jangan sampai Thiat- mo-lek dan Toan Khik-sia bisa lolos!” Dengan kekalahan tadi, Toh Hok-wi kehilangan muka benar-benar. Pikirnya: asal jangan disuruh berhadapan lagi dengan Thiat-mo-lek, ia tentu dapat menebus malu. Setitikpun ia tak mimpi bahwa Wi Gwat itu tak kalah lihay dengan Thiat-mo-lek.

Suasana di lapangan ketentaraan itu, kacau balau. Walaupun yang akan ditangkap itu hanya sepuluh pemberontak, tapi mereka itu, kecuali Su Tiau-ing dan Coh Ping-gwan yang tak dikenal orang itu, semua adalah tokoh-tokoh persilatan yang ternama. Teristimewa Thiat-mo-lek dan Bo Se-kiat. Yang satu pemimpin loklim. Dengan sendirinya banyaklah orang gagah yang sedia membantunya. (Sekalian hadirin tak mengetahui bahwa Bo Se-kiat tak berada di situ). Tapi disamping itu tak kurang jumlahnya jago-jago yang karena temaha akan hadiah besar, telah membantu pada pihak tentara. Antara golongan pro dan kontra itu telah terbit pertempuran sendiri yang seru.

Pasukan Gi-lim-kun dan pasukan penjaga kota dari Toh Hok-wi, itu waktu berada di samping gelanggang, segera siapkan senjata dan panah. Karena pertempuran kacau balau tak dapat mengetahui mana lawan mana kawan, maka pasukan-pasukan itu tak berani melepaskan anak panahnya. Mereka hanya mengepung rapat, supaya jangan ada orang yang bisa lolos. Tetapi terdapat perbedaan sikap antara kedua pasukan Gi-lim-kun dan Seng-hong-kun itu. Gi-lim-kun penasaran karena pemimpin mereka (Cin Siang) ditangkap. Hanya karena tak berani membangkang perintah raja, maka mereka tak berani melawan.

Toh Hok-wi segera perintahkan Cin Siang dan Utti Pak yang sudah diborgol itu supaya lekas digusur pergi agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Tapi karena di gelanggang

situ penuh sesak dengan orang yang bertempur, jadi mereka tak dapat membawa kedua tahanan itu. ”Khik-sia, lindungi aku dari belakang!” seru Thiat-mo-lek. Ia sendiri lantas membuka jalan

darah. Siapa yang menghalangi tentu dihajarnya. Entah sudah berapa banyak golok, tombak dan pedang yang kena dibabat kutung olehnya. Sudah tentu kawanan pasukan pemerintah itu tak berani menghadapi kegagahan Thiat-mo-lek.

Tiba-tiba Thiat-mo-lek menggembor keras dan karena kejutnya kawanan tentara itu menyiak minggir. Thiat-mo-lek menerobos maju mengejar Cin Siang. Serunya: ”Cin toako, orang kuno mengatakan 'mengabdi raja seperti mengawani harimau'. Kerajaan tak mau memakaimu, mengapa kau tak mau ceburkan diri dalam dunia persilatan saja? Marilah ikut siaute!”

Ia hantam perwira yang memegangi Cin Siang dan memutuskan tali-tali yang mengikat tubuh

Cin Siang. Tapi waktu ia hendak menghancurkan borgo, tiba-tiba Cin Siang membentaknya dengan murka: ”Berhenti!”

Belum tangan Thiat-mo-lek menyentuh borgolan, benda itu sudah putus sendiri. Thiat-mo-lek tertegun, serunya: ”Toako, harap suka mendengar kata-kata siaute ”

Belum sempat Thiat-mo-lek menyelesaikan kata-katanya, Cin Siang sudah mendorongnya:

”Mo-lek, kau hendak menjerumuskan aku menjadi manusia yang tak setia dan tak berbudi? Jika aku mau melarikan diri, tak perlu harus kau tolong! Harap kau tinggalkan tempat ini dan persahabatan kita tetap. Tapi jika kau berani maju selangkah lagi, akan kuanggap kau sebagai musuhku!”

Kiranya sejak tadi Cin siang sudah menyalurkan lwekang untuk membuka jalan darahnya yang ditutuk Yo Bok-lo. Cin Siang seorang gagah perkasa. Jika mau melarikan diri semudah orang balikkan telapak tangan. Tapi dia adalah keturunan dari menteri negara yang setia. Ajaran bahwa 'jika raja menghendaki menteri supaya mati, ia harus mati. Ayah suruh puteranya mati, pun putera itu harus mati', rupanya sudah berakar dalam sanubarinya. Sudah tentu ia tak mau berdosa kepada raja.

Setelah dapat mendorong Thiat-mo-lek, ia berseru: ”Mari, ambil borgol lagi untuk aku!” Perwira yang membawanya tadi baru saja merangkak bangun. Tubuhnya gemetar, kakinya lemas lunglai.

”Sebenarnya tak usah pakai borgol juga sama. Tapi karena peraturan kaisar harus begitu, maka harus diturut. Biarlah kupasangnya sendiri lagi,” Cin Siang tertawa lalu memungut alat borgol yang jatuh di tanah tadi terus dipasang di tangannya sendiri. Alat borgol itu sudah putus karena kekuatan lwekangnya. Tapi sekalipun sudah tak kokoh, masih dapat dipakai lagi. ”Asal sudah menurut perintah baginda, hatiku sudah tenang. Mari kita jalan!” serunya. Melihat Cin siang memasang sendiri borgolannya lagi, girang si perwira tak terperikan. Kuatir akan timbul lain kejadian, buru-buru ia membawa Cin Siang pergi.

Kepandaian Cin Siang dan Thiat-mo-lek itu berimbang, pun tenaganya sama kuat. Hanya tadi karena hendak membuka borgolan Cin Siang, Thiat-mo-lek sudah tak mengira kalau Cin Siang hendak mendorongnya. Karena Cin Siang menggunakan tenaga cukup, maka walaupun Thiat-mo- lek tak sampai terlempar jatuh, pun tak urung ia terhuyung-huyung ke belakang sampai satu tombak lebih jauhnya. Waktu Thiat-mo-lek dapat berdiri tegak, rupanya Cin Siang tak mau diganggu lagi, maka dorongannya tadi disertai dengan tenaga lipat yang istimewa. Habis mendorong masih ada segelombang tenaga yang menyusul. Ilmu dorongan istimewa itu disebut Liong-bun-tiap-long, yakni ilmu warisan keluarga Cin yang termasyhur.

Walaupun menjadi sahabat baik tapi Thiat-mo-lek belum pernah menyaksikan kepandaian Cin Siang. Tenaga susulan dari dorongan tadi telah membuat Thiat-mo-lek yang baru saja dapat berdiri tegak itu harus menyurut mundur tiga langkah lagi. Terpaksa Thiat-mo-lek harus berputar-putar tubuh dulu baru dapat menghapus arus tenaga Cin Siang.

”Ah, Cin toako, mengapa kau rela menderita!” teriak Thiat-mo-lek.

Tapi pada saat itu Bu Wi-yang sudah muncul. Melihat kesempatan sebagus itu, Bu Wi-yang

terus menyabet Thiat-mo-lek dengan cambuk. Karena kakinya belum tegak, Thiat-mo-lek tak dapat menghindar. Tar, punggungnya berhias dengan guratan darah yang panjang. Bu Wi-yang lantas mencambuk lagi tapi dengan menggerung keras, Thiat-mo-lek menyambar tangkai cambuk. Sekali menyentak, Bu Wi-yang terseret hampir jatuh. Namun karena cambuk kim-pian, iapun mempertahankan mati-matian tak mau melepaskannya. Celaka, karena tergosok kim-pian, telapak tangannya pecah mengeluarkan darah.

Utti Pak yang berjalan di muka Cin Siang, demi mendengar suara sabetan cambuk, cepat berpaling ke belakang. Matanya melotot dan mulutnya berseru menggeledek: ”Bu Wi-yang, kau berani menggunakan kim-pianku? Kalau baginda yang mengambil, aku tak berani membantah. Tapi jika kau hendak mempergunakan menghajar orang, aku tak dapat membiarkan!”

Sekali kerahkan tenaga, borgolannyapun lantas putus berantakan.  Kiranya diapun tadi-tadi sudah mengerahkan lwekang untuk membuka jalan darahnya yang tertutuk. Dalam hal tenaga, ia lebih kuat dari Cin Siang. Apalagi sedang marah besar.

Melihat itu, Bu Wi-yang pun tersentak kaget. Buru-buru ia tarik kim-piannya dan berseru:

”Utti ciangkun, kau, kau ” -- Baru ia hendak memperlihatkan surat perintah raja, Cin Siang sudah

melangkah maju dan membentak Utti Pak: ”Jite, jangan sembrono! Apa kau masih mau memupuk kedosaan lagi? Kita harus menyerah pada keputusan baginda, jangan sekali-kali bertindak sendiri. Lekas pasang lagi borgolanmu!”

Dalam hidupnya Utti Pak hanya menurut pada Cin Siang seorang. Apa boleh buat, ia terpaksa minta alat pemborgol baru pada si perwira tadi. Setelah memasangkan borgolannya sendiri, ia berseru: ”Toako, jika tak memandang kau, dia tentu sudah kurobek-robek tulangnya! Thiat hiante, tolong kau wakilkan aku menghajarnya!”

Cin Siang kerutkan alisnya: ”Thiat hiante, jika dapat pergi lekaslah pergi, jangan menerjang bahaya besar!”

Sambil berkata itu ia mendorong Utti Pak supaya jalan.

”Tak usah mendorong-dorong, aku toh menurut apa perintahmu. Urusan kerajaan toh aku

bakal tak melihat lagi, terserah keputusan mereka,” si berangasan Utti Pak mengomel. Ia kecewa. Dengan menyeret rantai borgolan ia terus berjalan. Begitu cepat jalannya hingga opsir yang membawanya itu sampai ketinggalan.

Dalam pada itu karena kim-piannya terampas, Bu Wi-yang cepat mengeluarkan sepasang kait hou-thau-kau, terus menyerang: ”Thiat-mo-lek, kau berani merampas kim-pian dari baginda Thay Cong?”

Sebenarnya ia jeri juga menghadapi Thiat-mo-lek, tapi apa boleh buat karena menjalankan perintah raja. Jika kim-pian itu sampai hilang, tentu celaka ia. Ya, mungkin karena disayang raja, ia tak sampai dihukum mati, tetapi bagaimanapun juga kedudukannya pasti hilang. Kalau sampai begitu, cita-citanya untuk menjadi pemimpin Gi-lim-kun tentu amblas. Maka dengan mati-matian ia berusaha merebut kim-pian lagi.

Menggenggam kim-pian, hati Thiat-mo-lek merasa sayu. Dia yang dahulu begitu setia

menjaga baginda Hiang Cong lolos dari bahaya, toh akhirnya difitnah oleh kawanan dorna hingga hampir saja jiwanya hilang. Utti Pak lebih menggenaskan lagi nasibnya. Padahal dia itu keturunan Utti Kiong, seorang menteri yang berjasa besar pada baginda Li Si-bin, pendiri ahala Tong.

Dalam kesayuan itu, tiba-tiba Thiat-mo-lek tertawa sinis.  Kim-pian diputarnya: ”Persetan dengan segala pitutur emas. Hm, hm, kiranya apa yang dikatakan kaisar itu tak boleh diganggu gugat! Utti toako, kim-pian ini kau anggap sebagai pelindungmu, tapi ternyata raja sudah tak menganggap lagi kepada leluhurnya. Ha, ha, meskipun kim-pian emas ini beratnya lebih dari sepuluh kati, tapi bagiku tak berharga sepeser buta. Kubawa tewas mengotori tanganku saja.

Persetan dengan kim-pian, enyahlah!”

Sekali putar ia lepaskan kim-pian itu dan tertawa sinis pula: ”Bu Wi-yang, terimalah benda yang kau kehendaki ini!”

Kim-pian melayang, anginnya menderu-deru. Bu Wi-yang tak berani menyambuti. Buru-buru

ia tundukkan kepala. Plak, opsir yang di belakangnya termakan perutnya. Dua buah tulangnya patah seketika. Setelah itu baru Bu Wi-yang berani loncat memungutnya. Takut kalau dirampas Thiat-mo-lek lagi, ia tak berani memakainya.

Habis melampiaskan kemarahannya, Thiat-mo-lek mendongak tertawa keras. Nadanya penuh dengan kerawanan. Ketika memandang ke muka, dilihatnya Cin Siang dan Utti Pak sudah berjalan jauh. Betapa keras dan tegas biasanya dia itu, tetapi menyaksikan pemandangan yang menggenaskan itu, tak urung hatinya pedih juga. Sampai sekian saat ia termenung-menung.

”Cin toako berkeras ingin menjadi menteri yang setia. Dia relah mengorbankan jiwanya untuk aku, tetapi aku tak dapat menolongnya. Ah, bagaimana ini?” demikian hatinya gundah.

Sirapnya ketawa Thiat-mo-lek telah diganti dengan timbulnya suara ketawa sinis dari Yo Bok- lo: ”Thiat-mo-lek, jiwamu sendiri sukar dipertanggung-jawabkan, mengapa melamun hendak

menolong sahabatmu? Bagimu seorang pemberontak memang harus menerima hukuman cincang, tapi mengapa kau merembet Cin Siang dan Utti Pak juga? Kau membanggakan dirimu sebagai seorang ksatria, apakah kau tak malu dengan perbuatanmu itu? Jika aku menjadi kau, tentu segera membunuh diri!”

Yo Bok-lo telah mengetahui isi hati Thiat-mo-lek dari nada ketawanya yang rawan tadi. Ia

coba menggunakan kata-kata tajam untuk menusuk hati orang agar Thiat-mo-lek bunuh diri saja.

Saat itu karena sedihnya Thiat-mo-lek sampai berlinang-linang air mata. Kesempatan itu tak

disia-siakan Yo Bok-lo. Cepat ia gunakan gerakan chit-poh-tui-hun menyelinap ke belakang Thiat- mo-lek. Maksudnya hendak membokongnya.

”Kentut! Kentut!” dari jauh Khik-sia berteriak membentak. ”Kau sendiri hai bangsat tua, yang seharusnya bunuh diri. Lupakah bahwa dulu kau pernah menjadi anteknya An Lok-san? Hm, hm, mengapa kau berkulit muka tebal berani memaki-makin orang sebagai pemberontak!”

Karena ia sedang melindungi Thiat-mo-lek dari belakang, itu waktu ia sedang menggasak beberapa tay-hwe-wi-su, maka ia masih belum sempat menghampiri piaukonya.

Thiat-mo-lek tersentak dan sadarlah pikirannya yang gelap tadi. Secepat merasa ada angin menyambar dari belakang, dengan menggerung keras ia balikkan tangannya menghantam ke belakang, bentaknya: ”Benar! Sebelum aku mati, harus membunuhmu seorang bangsat yang tak punya malu!”

Benturan pukulan itu telah menerbitkan suara keras. Dua-duanya menggunakan tenaga penuh. Tapi kesudahannya, Yo Bok-lo tersurut mundur beberapa langkah.

Meskipun jeri tapi karena jumlahnya lebih banyak, maka setelah menyerahkan kim-pian pada orang kepercayaannya, Bu Ti-yang pun lantas menyerang Thiat-mo-lek dengan sepasang kaitan. Yob Bok-lo lebih-lebih tak mau lepaskan Thiat-mo-lek. Apalagi karena dilihatnya Ceng-ceng-ji sudah terlepas dari gangguan Wi Gwat dan tengah lari mendatangi. Cepat ia maju untuk mengeroyok Thiat-mo-lek.

Sebenarnya kepandaian Yo Bok-lo itu terpaut tak banyak dengan Thiat-mo-lek. Ditambah dengan Bu Wi-yang, dapatlah mereka mengimbangi Thiat-mo-lek. Sepasang kait hou-thau-kau atau kepala macan dari Bu Wi-yang itu sebenarnya khusus untuk menundukkan golok dan pedang.

Karena Thiat-mo-lek harus menumpahkan sebagian besar perhatiannya kepada Yo Bok-lo, maka ia belum sempat menghancurkan kaitan Bu Wi-yang. Jika Bu Wi-yang belum patah nyalinya, mereka tentu menang angin.

Khik-sia cepat mengundurkan kawanan opsir, tapi ketika ia hendak menghampiri piaukonya, Ceng-ceng-ji sudah mencegatnya: ”Budak kecil, hm, kau berani tak menurut pada suhengmu?

Mengingat kau masih muda tak mengerti pengalaman, maka lepaskan senjatamu, biar kumintakan ampun pada Bu tayjin, mungkin kau dapat dibebaskan dari hukuman mati,” seru Ceng-ceng-ji. ”Cis, tak tahu malu! Kau masih pantas menjadi suhengku? Untung tadi aku tak mati kau tipu.

Lihat pedangku!” Khik-sia murka. Ceng-ceng-ji melancarkan tujuh rangkai serangan, tapi Khik-sia membalasnya dengan delapan buah tabasan.

Menurut penilaian, kepandaian Khik-sia sekarang lebih unggul setingkat dari Ceng-ceng-ji.

Tapi karena sumbernya sama-sama dari satu perguruan apalagi Ceng-ceng-ji lebih menang dalam hal pedang (pusaka), maka sukar juga bagi Khik-sia untuk memenangkannya.

Selagi pertempuran berlangsung seru, tiba-tiba terdengar suara teriakan gempar dari kawanan tentara. Begitu hiruk pikuk sampai suara beradunya senjata jago-jago yang bertempur itu tak kedengaran. Kiranya ketika si opsir berhasil membawa Cin Siang dan Utti Pak ke samping gelanggang, baru mereka hendak suruh pasukan penjaga membuka pintu, telah diketahui oleh sebagian anak buah Gi-lim-kun. Pasukan Gi-lim-kun sebenarnya tak bertugas menjaga pintu, tapi melihat pemimpinnya (Cin Siang dan Utti Pak) diborgol, mereka berbondong-bondong menghampiri dan mengepung opsir itu.

”Siapa yang berani menggusur Cin tayjin, akan kuremukkan kepalanya!” -- ”Cin tayjin, kami takkan membiarkan tayjin dicelakai kawanan dorna. Jika mereka hendak membawa tayjin, kami akan mengawal juga!” -- ”Lebih baik kami mengantar tayjin menghadap kaisar. Seluruh pasukan Gi-lim-kun akan menghadap dan minta baginda memberi penjelasan!”

Demikian suara hiruk pikuk yang menggemparkan tadi. Sana sini sama berteriak-teriak hendak membela Cin Siang. Yang satu lebih keras dari yang lain. Opsir yang membawa kedua jenderal itu sampai pucat dan mandi keringat dingin.

Malah beberapa anak buah Gi-lim-kun yang menjadi pengikut lama dari Cin Siang sudah lantas mencabut senjata dan berseru: ”Bunuh dulu kedua jahanam ini!”

Kedua opsir itu terbang semangatnya. Mereka tersipu-sipu berlutut di hadapan Cin Siang dan merintih: ”Cin tayjin, tolonglah jiwa kami!”

Cin Siang gentakkan rantai borgolannya untuk menangkis senjata orangnya tadi, bentaknya: ”Mereka tak bersalah. Jangan saudara-saudara berbuat begitu. Dengarlah perintahku!” Beberapa pengikutnya setia itu dipanggil maju lalu diberi penjelasan: ”Kalian semua telah ikut aku bertahun-tahun, apakah masih tak tahu akan watakku? Aku hanya menjunjung peraturan

negara, tidak mementingkan kepentingan pribadi. Jika aku membangkang, masakan mereka dapat membawa aku? Apakah keputusan yang dijatuhkan pada diriku nanti adil atau tidak, terserah atas kebijaksanaan baginda. Kalian semua ribut-ribut begini berarti menyalahi peraturan negara. Bahwa kalian membela aku, aku amat berterima kasih sekali. Tapi apabila pembelaan kalian itu sampai menyalahi peraturan negara, aku tak mengijinkan! Siapa di antara kalian yang berani turun tangan, tentu kubunuh dulu baru kemudian aku bunuh diri selaku menghaturkan terima kasih atas budinya!”

Mendengar kata-kata pemimpinnya, anak buah Gi-lim-kun itu saling berpandangan satu sama

lain. Suara hiruk pikuk, sirap seketika. Dan diam-diam mereka sama memberi jalan. Penjaga pintu adalah orangnya Toh Hok-wi. Mereka sudah siap dengan kereta pesakitan. Mereka segera mendorong keluar. Cin Siang menarik Utti Pak masuk ke dalam kereta itu. Sebelumnya ia memberi isyarat tangan kepada anak buahnya tadi: ”Di mana kalian ditugaskan tadi, lekas kembali ke posmu. Karena sekarang statusku menjadi orang tahanan, kekuasaanku pun gugur. Kalian selanjutnya harus mendengar perintah Bu dan Toh tayjin, tak boleh membangkang!”

Belasan anak buah Gi-lim-kun yang sudah bertahun-tahun mengikut Cin Siang itu, menangis terisak-isak. Dalam suasana yang merawankan itu, kereta pesakitanpun didorong keluar pintu gerbang.

Belum lagi pintu gerbang ditutup, sekonyon-konyong sesosok tubuh melesat ke arah kereta pesakitan. Orang itu longokkan kepalanya melihat ke dalam.

”Wanita siluman dari mana ini, enyahlah!” Cin Siang membentaknya. Bum, laksana anak panah orang itu melayang ke dalam pintu, bergelundungan seperti bola.

Kawanan serdadu yang menjaga pintu menjerit kaget. Kiranya orang itu adalah seorang wanita. Kedengaran wanita itu memaki seorang diri: ”Penasaran, sungguh penasaran sekali! Kukira muridku perempuan, kiranya pesakitan yang bertenaga besar!”

Anak buah Gi-lim-kun yang memberi jalan pada Cin Sian tadi masih belum sempat merapat lagi. Gerakan wanita itu tangkas sekali. Secepat kilat ia sudah menerobos di tengah-tengah

mereka.   Tahu-tahu beberapa opsir telah mandi darah. Kuatir kalau di luar masih ada kawan si wanita luar biasa lagi, maka kawanan penjaga buru-buru menutup pintu. Wanita aneh itu menyusup ke dalam gelanggang. Karena di gelanggang masih berlangsung pertempuran seru, maka sekejap saja wanita itu sudah tak kelihatan bayangannya.

Kiranya wanita aneh itu bukan lain ialah suhu dari Su Tiau-ing yaitu Shin Ci-koh. Kiranya ia telah mendapat keterangan dari muridnya ke satu Liong Seng-hiang (nona penjual silat yang

berhasil keluar sebelum pintu besi ditutup). Shin Ci-koh masuk ke dalam lapangan karena hendak menolong Su Tiau-ing yang dikiranya tentu berada di dalam.

Shin Ci-koh mempunyai tiga anak murid. Di antara mereka yang paling disayang adalah Su

Tiau-ing, muridnya yang nomor tiga. Begitu mendapat laporan dari Liong Seng-hiang, ia tergopoh- gopoh menuju ke lapangan. Tapi saat itu, keenam pintu besar dan sembilan pintu samping sudah ditutup. Pada waktu ia mencari akal untuk masuk, tiba-tiba pintu terbuka dan sebuah kereta pesakitan didorong keluar. Mengira Su Tiau-ing berada di dalamnya, Shin Ci-koh terus memeriksanya. Tapi alangkah kagetnya ketika disambut dengan pukulan oleh Cin Siang.

Celakanya, untuk melampiaskan kemarahan, beberapa opsir yang menjaga pintu itu sudah dihajarnya. Hanya dalam sedetik gerakan kawanan opsir itu kena dilukainya dengan pedang. Selama ini Shin Ci-koh belum pernah ada yang menandingi karena itu ia menjadi angkuh.

Bahwa hari itu ia kena dipukul Cin Siang, barulah yang pertama kali dalam sejarah hidupnya. Walaupun berkat lwekangnya yang tinggi, ia tak sampai terluka namun ia terkejut juga. Pikirnya: ”Kutahu kawanan opsir kerajaan itu bangsa guci arak kantong nasi semua, siapa tahu seorang opsir yang menjadi pesakitan ternyata begitu lihay sekali. Jangan-jangan Su Tiau-ing mendapat bahaya. Hm, jika berhasil menolong Su Tiau-ing, pertama yang akan kulakukan ialah mencari pesakitan itu untuk membikin perhitungan. Tapi entah dia melanggar kesalahan apa saja? Kuharap raja jangan buru-buru menghukumnya mati dulu, agar aku sempat membalas dendam padanya!”

Sebenarnya kepandaian Shin Ci-koh itu tak kalah dengan Cin Siang. Hanya dalam tenaga, Cin Siang lebih unggul sedikit. Karena tak menyangka bakal menerima pukulan, Shin Ci-koh yang tak bersiap ,telah menderita kerugian.

Di antara gundukan manusia yang tengah bertempur itu, berulang kali Shin Ci-koh meneriaki

Tiau-ing sambil mencari kian kemari. Ia tak menghiraukan orang-orang itu dan orang-orang itupun tak mempedulikan ia.

Di antara yang bertempur itu, partai Thiat-mo-lek lah yang paling dahsyat. Dengan gagah perkasa Thiat-mo-lek mainkan pedangnya. Suaranya sampai menimbulkan angin menderu-deru. Dalam lingkaran beberapa tombak, pasir dan batu sama beterbangan. Dalam keadaan begitu,

jangan lagi orang hendak coba memasuki lingkaran itu, sedangkan untuk berdiri tegak saja rasanya sukar.

Menghadapi dua lawan berat, memang beberapa kali pedang Thiat-mo-lek tersiak oleh pukulan Yo Bok-lo, tapi Thiat-mo-lek menggerakkan seluruh anggota badannya. Tangan kiri untuk menghantam, menutuk, menebas. Kakinya menendang, mengait dan sikunya untuk menyodok.

Kesemua gerakan itu untuk mengimbangi permainan pedangnya. Walaupun beberapa kali dapat menyiakkan pedang Thiat-mo-lek, namun Yo Bok-lo tetap tak berani gunakan tangan kosong untuk merampas pedang orang. Karena itu, begitu tersiak, begitu pula dengan cepat Thiat-mo-lek dapat merapatkan pedangnya lagi. Sepasang kait hou-thau-kau dari Bu Wi-yang pun beberapa kali hampir terpapas kutung oleh pedang Thiat-mo-lek, untung karena Yo Bok-lo buru-buru menghantam, Thiat-mo-lek terpaksa tak dapat mengembangkan permainan pedangnya. Akhirnya, kedua belah pihak bermain dengan cepat. Beberapa kali senjata mereka beradu, tapi secepatnya lantas terpental lagi. Thiat-mo-lek tak dapat memapas kutung hou-thau-kau. Bu Wi-yang tak mampun menindas pedang. Pertempuran satu lawan dua itu berimbang, tiada yang kalah tiada yang menang.

Shin Ci-koh ketarik dengan pertandingan itu. Tanpa disadari ia memasuki lingkaran mereka. Setelah menyaksikan sebentar, ia makin heran: ”Kukira Eng-hiong-tay-hwe ini tak berharga dilihat, ternyata ada beberapa orng yang berisi. Orang tua berwajah merah ini rupanya tentu Chit-poh-tui- hun Yo Bok-lo. Orang tinggi besar ini entah siapa. Kepandaiannya lebih tinggi dari Yo Bok-lo.

Ha, ha, iblis tua yang selalu membanggakan diri itu sekarang ketemu batunya. Dia tentu kehilangan muka nanti.”

Kiranya Yo Bok-lo itu sudah lebih dahulu termasyhur dari Shin Ci-koh. Daerah operasi iblis

tua itu di bagian Se-pak. Shin Ci-koh memang ada ingatan hendak menjajal kepandaian si iblis, tapi mereka belum pernah berjumpa. Tapi karena Yo Bok-lo mempunyai potongan muka yang istimewa, pun ilmu gerakannya chit-poh-tui-hun itu juga jarang terdapat di dunia persilatan maka sekali lihat dapatlah Shin Ci-koh mengenalnya. ”Walaupun iblis itu tua itu hebat juga kepandaiannya, tapi aku tetap dapat mengatasinya. Tetapi dengan orang gagah yang menjadi lawannya itu, barangkali aku sukar mengalahkannya,” pikirnya.

Memang seseorang yang berkepandaian tinggi, bila melihat ada orang lain yang kepandaiannya seimbang dengannya tentu timbul niatan untuk menguji kepandaian. Pun Shin Ci-koh gatal tangannya. Ingin sekali ia menjajal orang gagah itu (Thiat-mo-lek), tapi sesaat ia teringat tujuannya mencari Tiau-ing. Tak mau ia cari perkara, namun tak mau ia tinggalkan tempat itu juga.

Thiat-mo-lek, Bu Wi-yang dan Yo Bok-lo mengetahui juga kalau ada seorang wanita yang mendekati mereka. Mereka heran juga. Tetapi dalam saat-saat mengadu jiwa itu, mereka tak mau mempedulikan wanita itu.

Tiba-tiba Shin Ci-koh melangkah maju dan menepuk bahu Yo Bok-lo pelahan: ”Ha, kau tentu Yo Bok-lo, bukan? Mengapa kau berani menghina muridku?”

Gerakan Yo Bok-lo gesit sekali.  Namun ia tak mampu menghindar.  Buru-buru ia balas menghantam. Dengan tertawa mengikik Shin Ci-koh sudah menyurut sampai tiga tombak lebih. Serunya: ”Aku bukan bangsa manusia yang suka membokong orang. Aku hanya minta kau menjawab pertanyaanku. Kau belum kenal aku, seharusnya kau mengetahui namaku. Ya, mengapa kau mencelakai muridku?”

Yo Bok-lo tergetar nyalinya. Buru-buru ia menyahut: ”Ho, kiranya Bu-ceng-kiam Shin Ci-koh. Maaf-maaf!”

”Tak usah kau jual keramahan padaku.  Apakah muridku kau tangkap? Bilang lekas!” seru Shin Ci-koh.

”Apakah muridmu itu Su Tiau-ing?” Yo Bok-lo balas bertanya.

”Benar. Ia dianggap pemberontak oleh pemerintah. Karena kau bersatu haluan dengan

kawanan opsir, tentu kau hendak cari pangkat memburu harta dan tentu berdiri di pihak kaisar. Apa kau masih menyangkal tidak mencelakai muridku?”

”Kau salah paham. Ya, memang.  Karena pemerintah mengetahui muridmu itu adik perempuan Su Tiau-gi, terpaksa dimasukkan dalam golongan pemberontak. Tetapi takkan dianggap sebagai

tawanan penting. Tawangan penting lain orang lagi. Telah kumintakan keringanan untuk muridmu. Jika kawanan tentara itu bertemu dengan muridmu, hanya boleh menggertak tak boleh menangkapnya sungguh-sungguh. Dan ini adalah Bu tayjin yang melaksanakan perintah kaisar.

Jika tak percaya, boleh tanya padanya,” sahut Yo Bok-lo.

Bu Wi-yangpun buru-buru menerangkan: ”Benar! Telah kuperintahkan kepada anak buahku.

Tak boleh menangkap muridmu itu. Diantara kesepuluh pemberontak yang dimasukkan daftar itu, hanya muridmu saja seorang wanita.”

”Yang bertempur dengan kami berdua ini adalah pemimpin Lok-lim, Thiat-mo-lek. Hari ini

yang hendak kita tangkap sebagai tawanan utama ialah dia. Dia banyak kawan di dunia persilatan dan piauko dari Toan Khik-sia pula. Kuketahui, Khik-sia itu selalu bersama dengan muridmu. Jika mau tahu kabar muridmu, tanya saja pada Thiat-mo-lek atau Toan Khik-sia.  Kurasa adanya muridmu sampai terlibat bahaya seperti sekarang, antara lain sebabnya ialah karena ia keliru bergaul dengan bangsa penjahat,” kata Yo bok-lo pula. Ia tahu bahwa Shin Ci-koh itu aneh perangainya. Sok baik sok jahat menurut sekehendak hatinya sendiri. Maka ia hendak memprovokasi Shin Ci-koh supaya memusuhi Thiat-mo-lek. Tapi karena dengan bicara itu, perhatiannya bercabang, pada waktu mengatakan sampai 'penjahat' tadi, pedang Thiat-mo-lek dapat memapas rompal lengan bajunya. Untung tak sampai memapas tulangnya. Namun dagingnya kena juga. Darah muncrat dibawa sambaran pedang.

Pikir Shin Ci-koh: ”Lama kudengar Thiat-mo-lek itu sebagai jago nomor satu nomor dua di dunia persilatan. Kiranya orang inilah. Memang tak bernama kosong.”

Sekali bergerak, ia sudah berada di sebelah Thiat-mo-lek, ujarnya: ”Thiat cecu, di manakah muridku?”

Sejak peristiwa Su Tiau-ing meracuni dirinya, Thiat-mo-lek benci kepada nona itu. Apalagi

tadi didengarnya Yo Bok-lo bicara begitu ramah kepada Shin Ci-koh. Seketika timbullah kesan tak baik terhadap wanita itu. Pikirnya: ”Suhu dari nona siluman itu tentu bukan orang baik-baik.” ”Siapa yang punya tempo mengurusi muridmu?” sahutnya dingin.

”Bagus, kau memandang rendah padaku, bukan? Kau tak mengurus muridku tapi aku mau mengurus kau!” seru Shin Ci-koh sembari menusuk dengan pedang.

Saat itu Thiat-mo-lek tengah menangkis kaitan Bu Wi-yang. Untuk serangan Shin Ci-koh itu,

ia sambut dengan hantaman tangan kiri. Melihat itu Yo Bok-lo girang sekali. Ia segera memasuki kekosongan itu dengan sebuah serangan.

Brat, lengan baju Thiat-mo-lek juga kena terpapas oleh pedang Shin Ci-koh, tapi Shin Ci-koh pun terpental oleh angin pukulan Thiat-mo-lek. Buru-buru ia gunakan gerak hi-hiong-jiau-hoan- hun untuk loncat ke belakang sampai beberapa tombak. Di sana ia berseru dingin: ”Yo Bok-lo,

karena kau bicara padaku, tadi kau kehilangan lengan bajumu. Sekarang telah kubalaskan, kau tak boleh menyesali aku. Thiat-mo-lek, kelak kita bertanding lagi satu lawan satu. Jangan kuatir, aku bukan manusia rendah seperti Yo Bok-lo!”

Habis itu Shin Ci-koh lantas ngacir. Tapi belum jauh matanya tertumbuk pada Khik-sia. Saat

itu Khik-sia masih terlibat pertempuran dengan Ceng-ceng-ji. Karena keduanya bermain dengan cepat, maka mereka sudah bertempur sampai beberapa ratus jurus. Ceng-ceng-ji mulai kehabisan tenaga, pikirnya: ”Jika sampai kalah pada seorang sute, mana aku ada muka muncul di dunia persilatan!”

Kegelisahan itu telah menimbulkan pikiran jahat. Tiba-tiba ia lancarkan serangan berbahaya. Sebenarnya Khik-sia juga jeri kepada pedang beracun bekas suhengnya itu. Maka ia tak mau bernafsu menyerang, hanya mematahkan setiap serangan lawan saja. Tapi sekali Khik-sia mainkan pedangnya, Ceng-ceng-ji segera terkurung.

Sekonyong-konyong Ceng-ceng-ji  jungkirkan ujung pedangnya  untuk menusuk tenggorokannya sendiri!   Suatu hal yang tak diduga Khik-sia. Sekilas, Khik-sia menganggap karena tahu bakal kalah, Ceng-ceng-ji malu dan hendak bunuh diri. Tanpa disadari, ia tertegun. Dan tanpa terasa ia ulurkan tangannya untuk merampas pedang Ceng-ceng-ji.

Kalau lain orang, apabila melihat lawannya membunuh diri tentu girang. Malah yang berhati

ganas, akan menambahi lagi dengan tusukan, baik lawan itu akan bunuh diri sungguh-sungguh atau hanya pura-pura saja. Paling perlu tusuk dulu, bicara belakang.

Tapi Khik-sia itu memang berhati welas asih. Meskipun ia benci kepada Ceng-ceng-ji dan sudah putuskan hubungannya sebagai suheng. Namun melihat adegan yang mendadak itu, tergetarlah hatinya. Bukan saja hanya hentikan serangannya pun malah hendak mencegah. Inilah yang dinanti-nantikan Ceng-ceng-ji. Ia cukup paham akan budi pekerti Khik-sia maka ia berani memainkan sandiwara tadi. Baru jari Khik-sia menyentuh tangkai pedang, secepat kilat Ceng-ceng-ji balikkan pedangnya memapas siku lengan Khik-sia.

Dalam saat-saat dimana lengan Khik-sia pasti akan terpapas kutung, tiba-tiba ada angin menyambar dan tahu-tahu Shin Ci-koh sudah berada di sebelah mereka. Ia kebutkan lengan bajunya ke tengah. Trang, lengan baju Shin Ci-koh terpapas, tapi pedang Ceng-ceng-ji pun terpental.

Shin Ci-koh terhuyung sedang Khik-sia loncat mundur sampai beberapa tombak. Ia memaki dengan gusar sekali: ”Ceng-ceng-ji, kau ganas sekali!”

Ceng-ceng-ji juga marah besar.   Mulutnya menghamburkan makian. Tetapi bukan kepada

Khik-sia, melainkan Shin Ci-koh: ”Wanita jalang dari mana berani mengganggu? Kau tahu, siapa aku ini?”

Shin Ci-koh enggan menyahut. Ia gunakan ilmu tutukan jari tan-ci-sin-kang untuk menutuk

lagi. Malah kali ini kekuatannya lebih besar. Sekalipun tak sampai melepaskan pedang, namun tangan Ceng-ceng-ji sakit sekali.   Ia terkejut dan buru-buru mundur beberapa langkah. Sembari siapkan pedang di tangan, ia memandang Shin Ci-koh dengan mata melotot. Tapi untuk beberapa saat tak berani ia menyerang.

Shin Ci-koh tertawa menghina: ”Tak peduli  kau siapa, sekarang aku perlu bicara dengan Khik-  sia. Siapa berani mengganggu tentu akan kupotong lidahnya dan kukorek biji matanya. Kalau kau tak terima, nanti boleh bertempur dengan aku, lihat saja aku dapat melakukan ancamanku itu atau tidak?”

Tanpa menghiraukan orang lagi, Shin Ci-koh lantas berpaling menghadapi Khik-sia, serunya:

”Hai, mengapa Tiau-ing tidak bersamamu? Kemana saja ia? Mengapa dalam saat-saat begitu kau tinggalkan ia?”

Dalam bicaranya, wanita itu seperti menyalahkan Khik-sia. Khik-sia yang sedang marah, demi mendengar nama Su Tiau-ing makin mendongkol. Tapi karena Shin Ci-koh tadi telah menolongnya, terpaksa Khik-sia tak mau berlaku sekasar Thiat-mo-lek. Batinnya: ”Baik, biar kuberitahukan keadaan yang sebenarnya, agar ia jangan mengira aku selalu bersama muridnya saja.”

”Shin lo-cianpwe, jika hendak bertanyakan muridmu, silahkan tanya pada Bo Se-kiat,” akhirnya ia berkata.

”Ho, Bo Se-kiat? Bo Se-kiat pemimpin lok-lim baru itu?” Shin Ci-koh menegas. Ia tinggal di daerah barat yang sepi, tapi karena nama Bo Se-kiat amat tenar, iapun tahu juga.

”Benar, memang Bo Se-kiat itu.” sahut Khik-sia. ”Kenapa bertanya padanya?” tanya Shin Ci-koh. ”Semalam ia sudah ikut pergi pada Bo Se-kiat.”

Shin Ci-koh terkesiap. Dengan kurang senang ia bertanya lagi: ”Mengapa ia lari dengan Bo Se-kiat? Apa kau menyalahinya?”

Khik-sia kerutkan wajahnya: ”Aku tak mau di hadapan seorang guru mengatakan keburukan muridnya.”

Shin Ci-koh salah terima. Ia kira Khik-sia penasaran kepada Tiau-ing karena Tiau-ing meninggalkannya. Tertawalah wanita aneh itu: ”Memang Tiau-ing itu berhati tinggi, sukar dilayani. Tapi ribut-ribut di dalam kalangan muda-mudi itu, sudah jamak. Kalau sudah hilang kemarahannya ia tentu baik lagi kepadamu.”

Khik-sia tertawa dingin: ”Aku tak mengharapkan hal itu, Bo Se-kiat baru setimpal betul dengan ia.”

Kesalahan paham Shin Ci-koh makin dalam. Ia agak sesalkan muridnya sendiri. Pikirnya: ”Apakah benar-benar Tiau-ing berbalik hati? Atau karena terpikat Bo Se-kiat? Hm, setelah bertemu baru aku dapat menanyakan padanya, siapakah sebenarnya yang dicintai?” ”Sudahlah, jangan marah.   Jika muridku betul yang salah, akan kuberinya hajaran. Tapi kemana saja mereka pergi itu?” kata Shin Ci-koh.

”Mana aku tahu? Mereka sudah keluar dari kota Tiang-an ini,” sahut Khik-sia.

Hati Shin Ci-koh seperti terlepas dari ganjalan batu, ujarnya: ”Baik, minggirlah ke samping, jangan membantu aku. Biar kuhajarnya si kunyuk ini. Setelah itu baru kucarikan Tiau-ing.” Ceng-ceng-ji tak kenal pada Shin Ci-koh. Tapi mendengar bahwa ia itu suhu dari Tiau-ing, diam-diam Ceng-ceng-ji terkejut juga. Tapi ia sudah biasa bersikap congkak. Tak mau ia unjuk kelemahan. Segera ia menantang: ”Bagus, sebagai suhu Su Tiau-ing kau tentu bukan orang sembarangan. Omonganmu yang tak keruan itu, merendahkan dirimu sendiri. Aku tak mau bertempur melainkan hendak menguji kepandaianmu saja!”

Shin Ci-koh tertawa: ”Kau tak tahu siapa aku, tetapi aku tahu siapa kau. Menilik rupamu yang 'bagus' ini, kau tentulah Ceng-ceng-ji.”

Memang wajah Ceng-ceng-ji itu mirip dengan seekor kera. Disindir oleh Shin Ci-koh,

marahnya bukan main: ”Aku toh tak sudi mengambil isteri kau, peduli apa dengan mukaku bagus atau jelek!”

Shin Ci-koh berkata seorang diri: ”Pernah kudengar dari Gong-gong-ji bahwa ia mempunyai seorang sute bernama Ceng-ceng-ji yang tak keruan tingkah lakunya. Ternyata memang benar. Hm, sudah berani menggunakan tipu keji untuk mencelakai sutenya, masih berani banyak tingkah di hadapanku. Sebenarnya hendak kupotong lidahnya dan kukorek biji matanya, tapi mengingat Gong-gong-ji, biarlah hanya kuberi dua kali tamparan saja!”

Ceng-ceng-ji berjingkrak-jingkrak marah, teriaknya: ”Kurang ajar! Coba saja bagaimana kau hendak menampar mukaku!”

Begitu mencabut pedang ia mendahului menusuk. Shin Ci-koh seperti tak mengacuhkan. Enak saja ia menyambut dengan pukulan.

Ceng-ceng-ji tahu kalau berhadapan dengan tokoh lihay. Maka biarpun marah tapi ia tetap bersikap 'sebelum mendapat kemenangan, harus menjaga kekalahan'. Di tengah jalan ia rubah gerakan pedang dan orangnyapun mengisar pindah. Tapi ternyata pukulan Shin Ci-koh itu

mengandung tiga buah perubahan. Sebenarnya tadi kalau tangannya sampai ditabas pedang Ceng- ceng-ji, ia akan bergerak untuk merebut senjatanya dan tangan kiri memberi tamparan. Karena Ceng-ceng-ji beralih ke samping dan menusukkan pedangnya, Shin Ci-koh pun segera mainkan perubahan yang kedua. Tangannya memagut merampas pedang, sedang jari kirinya menyusup ke bawah lengan untuk menutuk iga Ceng-ceng-ji.

”Menerima tanpa membalas tidaklah sopan,” seru Ceng-ceng-ji sembari memutar ujung pedangnya untuk menusuk dada Shin Ci-koh.

Tapi ternyata Shin Ci-koh masih punya perubahan yang ketiga. Plak, tahu-tahu muka Ceng- ceng-ji tertampar angin pukulan sampai merah biru. Sakitnya bukan kepalang masih untung tidak kena tangannya.

Dalam pertukaran serangan itu, Ceng-ceng-ji memberi dua buah serangan pedang, Shin Ci-koh sebuah tamparan. Kalau menurut penilaian, seharusnya Ceng-ceng-ji mengaku kalah. Tapi mana ia mau berbuat begitu. Shin Ci-koh marah sekali karena orang telah menyerangnya dengan tak sopan (di bagian dada).

”Jika dalam 50 jurus aku tak dapat menampar mukamu biarlah dunia persilatan tak ada nama Shin Ci-koh lagi!” serunya.

Ceng-ceng-ji tak kenal pada Shin Ci-koh, hanya pernah mendengar namanya saja. Kini ia baru terperanjat, pikirnya: ”Kiranya wanita siluman ini Bu-ceng-kiam Shin Ci-koh, maka begitu lihay! Kabarnya ia mempunyai hubungan baik dengan suheng. Agaknya memang benar.”

Tapi dalam jerinya, diam-diam Ceng-ceng-ji girang juga batinnya: ”Kalau 100 jurus, aku tak berani memastikan. Tapi kalau hanya 50 jurus saja, hm, hm, belum tentu ia dapat menampar

mukaku. Asal aku dapat menghindari lima puluh jurus itu coba saja bagaimana nanti ia menolong mukanya? Tokoh seperti ia, tentu tak dapat menjilat ludahnya. Dalam kesempatan itu, akan kupaksa ia tinggalkan dunia persilatan dan namaku Ceng-ceng-ji tentu lebih termasyhur lagi.” Ginkang Ceng-ceng-ji memang jempol. Gerakannya cepat sekali. Ia segera gunakan siasat gerilya (berlincahan) untuk menghadapi kelima puluh jurus serangan.

Sebenarnya lima puluh jurus itu akan berlangsung cepat sekali. Tapi Khik-sia tak sabar lagi menantinya. Ia masih ada tugas. Pertama, menolong Thiat-mo-lek. Dan kedua, mencari Yak-bwe. Ketika memandang ke sana, tampak Thiat-mo-lek menang angin. Hanya belum sempat keluar dari kepungan saja, tapi sudah tak berbahaya keadaannya. Saat itu, dari kejauhan terdengar seruan Yak- bwe: ”Khik-sia, Khik-sia!”

Memang di dalam lapangan situ riuh rendah suaranya. Dari berisiknya senjata beradu dan teriakan orang-orang yang bertempur. Tapi karena seluruh perhatian Khik-sia memang ditujukan untuk mencari Yak-bwe, maka suara panggilan Yak-bwe tadipun cepat didengarnya. Khik-sia segera menuju ke sana.

Melihat Khik-sia pergi, longgarlah hati Ceng-ceng-ji. Ada kalanya ia balas menyerang juga.

Dalam beberapa kejap saja 40-an jurus sudah berlalu. Sampai di sini, Ceng-ceng-ji pun mulai menghitung: ”41, 42, ..... 44, 45, hi hi.  Bagaimana kau akan menampar mukaku nanti? 47, 48 ”

Tiba-tiba Shin Ci-koh berputar tubuh dan pergi. Suatu hal yang tak disangka-sangka oleh Ceng-ceng-ji. Ia terkejut dan girang: ”Ha, karena mendapat kesukaran, ia lantas mundur!”

Ia hendak memburu untuk mengejeknya tapi merasa jeri sehingga detik-detik itu ia bersangsi. Tiba-tiba ada angin menyambar. Ternyata sekonyong-konyong Shin Ci-koh balik kembali.

Cepatnya seperti kilat. Dalam sejarah pertempuran tak ada jago silat yang menempur lawan dengan membelakanginya. Maka Ceng-ceng-ji tak menyangka sama sekali bahwa Shin Ci-koh akan berbuat begitu. Malah caranya balik itu jauh lebih cepat dan lebih tak terduga-duga dari waktu perginya.

Tergopoh-gopoh Ceng-ceng-ji pentang pedangnya. ”Kena!” bentak Shin Ci-koh. Plak, muka Ceng-ceng-ji kena tertampar. Dan untuk tusukan Ceng-ceng-ji, Shin Ci-koh turunkan pundaknya. Pundak bajunya robek tapi tak sampai terluka.

Kiranya karena merasa tak ada harapan mengalahkan orang dalam lima puluh jurus maka untuk menebus kata-katanya yang sudah terlanjur diucapkan itu, terpaksa Shin Ci-koh gunakan cara istimewa. Ia memang mahir dalam ilmu thing-thong-pian-ki (dengarkan angin dapat mengetahui arah senjata).   Habis menghindari tusukan Ceng-ceng-ji, ia cepat maju menampar lagi. Tapi tamparan itu dapat dikelit Ceng-ceng-ji.

Tamparan Shin Ci-koh yang pertama membuat separuh muka Ceng-ceng-ji begap matang biru. Giginya sakit sekali. Pecahlah nyalinya dan cepat-cepat ia menyusup ke dalam gerombolan orang. Karena pundak bajunya terlubangi, Shin Ci-koh merasa kemenangan yang diperolehnya itu tak begitu brilian (cemerlang0. Benar Ceng-ceng-ji sudah lari terbirit-birit, tetapi Shin Ci-koh masih penasaran. Ia menjerit-jerit: ”Aku hendak memberimu hadiah dua tamparan. Baru satu kali, mengapa mau lari?”

Seumur hidup Ceng-ceng-ji tak pernah mendapat hinaan begitu macam. Apalagi di hadapan jago-jago silat di seluruh negeri. Kalau ada, ia akan menyusup ke dalam liang saja. Ia takut dan benci kepada Shin Ci-koh. Tapi karena merasa kalah, terpaksa ia lari mati-matian.

Beberapa orang yang tadi marah karena kepalanya dilompati Ceng-ceng-ji, sama bertepuk tangan kegirangan, mereka bersorak-sorak melihat Ceng-ceng-ji lari seperti tikus dikejar kucing.

Waktu Shin Ci-koh mengejar, merekapun memberi jalan. Malah ada orang yang berseru mengejek: ”Tadi aku tak sempat melihat kunyuk ditampar. Kali ini aku harus melihat sampai puas!”

Orang itu sengaja berseru begitu karena kuatir Shin Ci-koh tak mau menghajar Ceng-ceng-ji lagi. Ternyata Shin Ci-koh kena terpancing. ”Baik, kalian boleh menyaksikan.”

Dalam ilmu ginkang sebenarnya Ceng-ceng-ji lebih unggul sedikit dari Shin Ci-koh. Tapi

karena orang-orang sama memberi jalan kepada Shin Ci-koh, teapi merintangi dia (Ceng-ceng-ji), padahal Ceng-ceng-ji sekarang tak berani menyalahi mereka lagi, maka ia terpaksa berlincahan menyusup di mana lubang yang tak ada orangnya. Dengan begitu, makin lama jaraknya makin dekat dengan Shin Ci-koh.

Lapangan yang luasnya beberapa li itu, dimana-mana terdapat orang bertempur. Khik-sia tak mau memperdulikan Shin Ci-koh main godak dengan Ceng-ceng-ji lagi. Karena pada saat itu ia

dapat mengetahui tempat beradanya Yak-bwe, In-nio dan Bik-hu bertiga, tengah berusah menerobos dari kepungan.

”Cici In, Su nona Su, siaute datang!” teriak Khik-sia. Sebenarnya ia hendak memanggil 'Su

moaymoay' (adik Su), tapi di depan sekian banyak orang ia merasa sungkan.

Tertawalah In-nio: ”Adik bwe, tadi kau memanggilnya. Mengapa sekarang kau diam saja? Kami di sini, Toan hiante, lekas kemari!”

Khik-sia tak mau mengucurkan banyak darah. Ia hanya berusaha untuk memapas kutung senjata kawanan tentara itu saja. Tiap kali pedangnya berkiblat, tentu terdengar dering senjata kutung.   Kutungan pedang, golok, tombak dan lain-lain senjata menumpuk bukit. Melihat kegagahan pemuda itu, kawanan tentara berteriak-teriak dan sama menyingkir. Yak-bwe bertigapun dengan mudah dapat menerobos keluar.

Setelah mengalami badai kesalahan paham, akhirnya bertemulah kedua sejoli Khik-sia – Yak-

bwe. Hanya tempat pertemuan mereka itu di medan pertempuran. Sesaat kedua anak muda itu tak tahu bagaimana akan bicara.

”Khik-sia, apa kau sudah tahu kesalahanmu?” In-nio menembus kemacetan.

Khik-sia tak dapat menyatakan apa-apa. Ia tak peduli apakah In-nio hanya bergurau atau sungguh-sungguh, tapi ia turut saja apa yang diajarkan nona itu kepadanya. Ia maju ke hadapan Yak-bwe, lalu menjura, ujarnya: ”Nona Su, aku memang sembrono hingga beberapa kali berdosa padamu. Harap kau jangan marah lagi!”

Yak-bwe tak mengira sama sekali bahwa anak muda itu akan mau minta maaf padanya di hadapan umum. Iapun kemerah-merahan wajahnya dan terpaksa membalas hormat, sahutnya: ”Mungkin aku juga bersalah. Urusan yang lampau, tak perlu dipikirkan lagi.”

”Kalian boleh lanjutkan omong-omong. Aku dan Pui-sute akan membuka jalan, tak perlu kalian memikirkan serangan musuh lagi,” kata In-nio dengan tertawa.

Meskipun di mulut Yak-bwe minta jangan membicarakan peristiwa yang telah lalu, namun

dalam hati nona itu masih gatal. Tanpa disadari, ia bertanya: ”Temanmu nona Su itu, mengapa tak kelihatan?”

”Kau menanyakan gadis siluman itu? Gagal mencelakai Thiat piauko, ia lantas lari dengan lain orang!” sahut Khik-sia.

”Lari dengan siapa?” Yak-bwe tersentak kaget.

Melihat In-nio berada di situ, Khik-sia tak mau menyebut nama Bo Se-kiat. Tapi agar jangan dicurigai Yak-bwe, maka sekenanya saja ia menjawab: ”Adik Bwe, sedikitpun aku tak punya perhatian pada gadis siluman itu.  Biarlah aku bersumpah, jika ”

Selebar wajah Yak-bwe merah padam. Buru-buru ia mencegah: ”Aku tak peduli kau punya hubungan atau tidak dengan dia. Mengapa kau sembarangan mengangkat sumpah? Ah, jangan menjadi buah tertawaan orang!”

Walaupun nadanya agak sengit, tapi nyata kalau Yak-bwe bersikap lain kepada Khik-sia. Sebodoh-bodoh Khik-sia, mengetahui juga bahwa tunangannya itu menaruh kepercayaan padanya dan tak menghendaki ia bersumpah lagi.

”Yang hendak kutanyakan, dengan siapa ia lari itu? Mengapa kau menjawab yang bukan- bukan?” kembali Yak-bwe mendesak.

Saat itu In-nio tengah lepaskan sebuah senjata rahasia. Seorang opsir yang naik kuda di sebelah muka, terjungkal jatuh.

Khik-sia menghela napas pelahan, ujarnya: ”Ceritanya panjang sekali. Biarlah nanti setelah lolos dari bahaya, kuberi tahu padamu sendiri.”

Yak-bwe heran, pikirnya: ”Mengapa hanya aku yang akan diberitahu? Ada hubungan apa dengan ci In? Rupanya ia tak ingin ceritanya didengar ci In. Hm, dari kerut wajahnya terang kalau

ia hendak bicara sendirian dengan aku. Ia tak tahu bahwa aku dengan ci In itu sudah seperti saudara kandung sendiri. Sebenarnya tak ada halangannya mengatakan di depan ci In.”

Setelah merubuhkan si opsir, In-nio berpaling dan tertawa: ”Silahkan kalian bicara sepuas- puasnya. Aku tak nanti mendengarkan.”

Yak-bwe tertawa: ”Ah, sungguh heran mengapa kau memaki nona Su itu sebagai gadis siluman? Bukankah kalian seperjalanan dan sepenginapan?”

Sekarang giliran Khik-sia yang merah padam mukanya. Mengangkat tangan, kembali ia hendak bersumpah. Tiba-tiba Yak-bwe tertawa geli dan menarik turun tangan Khik-sia. ”Sekarang rasanya kau tentu sudah mengerti. Sebelum tahu fakta yang sebenarnya, jangan

suka menuduh yang bukan-bukan. Aku hanya berkata sepatah, tapi mengapa kau sibuk tak keruan? Coba pikirkan, begitu mesra hubunganmu dengan nona siluman itu, bagaimana pandangan orang lain? Benar, kau seorang lelaki ksatria. Tapi apakah di dunia ini tiada lain ksatria kecuali kau?”

Yak-bwe membawakan dampratannya itu dengan halus, sehingga Khik-sia seperti dikemplang kepalanya. Tapi kemplangan itu telah dapat menghilangkan keraguan hatinya. Sehijau-hijau Khik- sia namun mengerti juga kemana jatuhnya kata-kata Yak-bwe itu. Pikirnya: ”Kukira ia berubah hati, mencintai Tok-Ko U. Ternyata tidak! Ya, memang gerak-gerikku selama ini dengan Su Tiau- ing jauh lebih menimbulkan kecurigaan orang daripada ia dengan Tok-Ko U. Persoalan hanya kupandang dari segi pandanganku sendiri. Ternyata aku sendiri juga mempunyai kesalahan.” Khik-sia menyesal dan merasa bahagia. Serentak ia mencekal tangan Yak-bwe dan berbisik: ”Memang akulah yang bersalah. Aku membuatmu penasaran.”

”Tidak, akupun juga bersalah. Tak seharusnya aku membikin panas hatimu,” jawab Yak-bwe. Keduanya saling mengakui kesalahannya. Dan apa yang dikatakan selanjutnya adalah seperti tadi lagi.   Tapi sekalipun begitu ulangan itu lebih berarti dan lebih meresap. Keduanya sama membuang tuduhannya yang tidak-tidak memperbaharui kasih.

”Hai, mengapa kalian hanya rebutan mengaku salah saja? Bosan aku mendengarnya!” In-nio berpaling dan tertawa.

”Kau bilang tidak mau mendengarkan tetapi ternyata mencuri dengar. Sekarang urusan kita

sudah beres, kalau kau hendak bertanya apa-apa kepada Khik-sia, lekaslah!” sahut Yak-bwe sambil mendorong Khik-sia maju dua langkah.

”Cici In, jangan bingung, tanyalah!” seru Yak-bwe.

Memang In-nio ingin menanyakan tentang diri Se-kiat.  Tapi digoda oleh Yak-bwe, mulutnya sudah hendak menyebut nama Se-kiat, terpaksa diganti dengan pertanyaan lain: ”Ya, ya, Khik-sia, memang aku hendak bertanya padamu. Bukankah kau datang bersama Thiat-mo-lek?”

”Benar, sekarang Thiat toako sedang bertempur dengan Yo Bok-lo. Mari kita menggabungkan diri,” seru Khik-sia.

”Masih ada siapa lagi?” kembali In-nio bertanya.

”Masih ada Kim-kiam-ceng-long Toh Pek-ing. Celaka, aku tadi mengikuti Thiat toako, tapi entah sekarang bagaimana keadaannya? Bagaimana cici In, kita harus mencari siapa dulu?”

Yak-bwe serasa pecah mulutnya karena geli: ”Khik-sia, kau tolol benar!  Yang ditanyakan ci In itu, bukan Thiat toakomu atau Coh sioksiokmu, melainkan seorang lain lagi. Mengapa kau lupa?” ”Siapa?” Khik-sia menegas.

”Yak-bwe mengetuk dahi Khik-sia dengan jarinya dan berkata: ”Kau benar-benar membikin perutku keras. Dia ” -- tiba-tiba berhenti lalu tertawa: ”Baiklah, kalau ci In tidak menanyakan,

kau pun tak perlu bilang!”

In-nio lebih lapang hati. Pun ia benar-benar sudah tak sabar lagi. Maka berserulah ia dengan terang-terangan: ”Aku hendak menanyakan seorang kawan, perlu apa plintat-plintut. Bo Se-kiat, ya, dia datang tidak?”

Khik-sia memang sudah menduga In-nio bakal mengajukan pertanyaan begitu. Diam-diam ia merasa pilu. Terpaksa menerangkan dengan kata tak lampias bahwa Se-kiat tidak datang. ”Tidak datang? Tetapi kabarnya jauh-jauh hari ia sudah tiba di Tiang-an,” ujar In-nio. ”Semalam ia sudah tinggalkan kota raja ini,” sahut Khik-sia.

Heran In-nio memikirkan: ”Se-kiat tentu datang bersama Thiat-mo-lek. Mengapa ia pergi sendirian?”

In-nio cerdas dan banyak pengalaman. Demi melihat kerut wajah Khik-sia agak lain, terbitlah kecurigaannya. Cepat-cepat ia bertanya pula: ”Khik-sia, kau tak perlu mengelabuhi aku. Apakah terjadi sesuatu dengan dia?”

”Tidak, dia tak mendapat bahaya apa-apa. Melainkan ”

”Melainkan apa?” tukas In-nio.

”Dia tak terluka, melainkan, melainkan, dia sudah berlainan haluan dengan kita,” sahut Khik- sia.

”Benarkah omonganmu ini?” wajah In-nio berubah seketika.

”Setelah aku dan Thiat toako tiba di sini, ia bersama lain orang pergi ke lain tempat. Ih,

lihatlah, apa itu bukan kedua saudara Tok-ko? Mari kita lepaskan mereka dari kepungan musuh dulu, baru nanti kita bicara lagi. Ci In, jangan gelisah, aku tentu akan menerangkan soal itu sampai jelas kepadamu.”

In-nio yang penuh diliputi dengan kecurigaan itu membatin: ”Selamanya Khik-sia ini tak pandai bicara. Mungkin karena ada urusan Se-kiat lantas tinggalkan Tiang-an, sekali-kali tidak karena pecah dengan Thiat-mo-lek.”

Tapi ia merasa sikap Khik-sia memang lain dari biasanya, kata-katanya pun tak lampias. Ia gelisah. Tapi sesaat terlintaslah dalam pikirannya: ”Asal dia tak terluka saja, legalah sudah hatiku. Ya, lebih baik sekarang menolong kedua saudara Tok-ko itu dulu. Nanti perlahan-lahan aku dapat menanyakan lagi pada Khik-sia.”

Muda. Tapi selama itu Bik-hu hanya memendam asmaranya, ma-

Ia memandang kemuka, tertawa: ”Kakak-beradik Tok-ko sudah berjumpa dengan kedua saudara Lu. Yak-bwe, persoalanmu dengan sendirinya beres, dah.”

Pada saat itu mereka masih di tengah gelanggang pertempuran. Hanya karena kawanan tentara tak berani mendekati mereka, maka mereka dapat bicara dengan leluasa walaupun tak henti- hentinya mereka harus menangkis anak panah yang menyambarnya. Perhatian mereka tetap tak lengah.

”Ah, Pui-heng, kau mengapa?” tiba-tiba Yak-bwe berseru.

Kiranya sebatang anak panah menyambar Bik-hu, tetapi pemuda itu hanya tundukkan kepala seperti tak mengacuhkan. Untung Khik-sia segera lontarkan pukulan lwekang biat-gong-ciang menghantamnya.

Bik-hu dongakkan muka. Matanya agak merah. ”Tak apa-apa, mataku kelilipan pasir,” katanya dengan tersipu-sipu. Pemuda itu ternyata diam-diam telah cintai In-nio. Alangkah pilu

hatinya demi mengetahui nona itu sudah mempunyai pandangan lain pemuda. Tapi selama itu Bik- hu hanya memendam asmaranya maka baik Yak-bwe maupun In-nio sampai tak mengetahuinya.

Sepasang kakak beradik Tok-ko dan Lu dikepung oleh sepasukan kecil.   Sebagian memang tentara pemerintah, sebagian anak buah Ceng-ceng-ji. Mereka dipimpin oleh Ki Ping-hwat, seorang jagoan penjahat kelas satu. Ia menggunakan sepasang jit-gwat-lun (senjata yang bentuknya seperti roda, satu besar seperti matahari, satu kecil seperti rembulan). Jit-gwat-lun khusus untuk menggempur golok dan pedang.   Memang kepandaian Ki Ping-hwat lihay juga. Sebenarnya ia dapat menghadapi kedua saudara Tok-ko tapi ia masih merangkap juga untuk menyerang kedua saudara Lu. Sebentar menyerang kesana, sebentar kesini. Sepasang kakak adik itu beberapa kali hendak menerobos keluar, tapi tetap gagal. Ceng-kong-kiam Tok-ko Ing beberapa kali hampir saja kena dirampas oleh jit-gwat-lun.

Diantara rombongan Yak-bwe, adalah Khik-sia yang paling cepat tibanya. Secepat menerobos masuk, ia segera mainkan pedangnya. Terhadap kawanan tentara, ia membabat senjata mereka. Terhadap anak buah Ceng-ceng-ji, ia gunakan ujung pedang menutuk jalan darah mereka. Dalam sekejap saja, sudah ada tujuh delapan orang yang rubuh.

Ki Ping-hwat yang sudah pernah merasakan kelihayan Khik-sia, terperanjat sekali melihat anak muda itu datang. Tak berani ia bertempur lama-lama terus melarikan diri. Pada lain saat Yak-bwe pun masuk. Bahu membahu dengan Khik-sia, ia mengganyang musuh.

”Nona Ing, apa masih kenal dengan Su-toakomu?” dalam lain kesempatan Yak-bwe bertanya pada Tok-ko Ing.

”Cici Su, kau mengelabuhi aku sampai menderita sekali!” Tok-ko Ing melengking. Sesaat teringat bagaimana ia begitu tolol tak dapat membedakan seorang gadis yang menyaru pemuda, tertawalah ia dengan getir, wajahnya merah padam.

Yak-bwe tetap membanyol dengan gaya dan nada seperti seorang lelaki. Yak-bwe menghampiri dan menjura di hadapan Tok-ko Ing: “Harap nona jangan marah. Biarlah toako menghaturkan maaf padamu!”

Tok-ko Ing terpingkal-pingkal sampai hampir jatuh, serunya: “Cis, tak malu, masih ingin jadi

lelaki lagi? Sungguh mati, aku tetap ingin menganggapmu sebagai toako, tapi sayang ada orang yang tak memperbolehkan.”

Ia berpaling dan berseru kepada Khik-sia: “Sebenarnya aku harus meminta maaf padamu, karena aku begitu naif tak mengetahui bahwa kau ini bakal suaminya Su-toako.”

Karena biasa memanggil toako, maka saat itu tanpa disengaja kembali Tok-ko Ing menyebut ‘toako’ lagi. Mendengar kata-kata yang lucu ’bakal suaminya Su toako’ itu, kawan-kawannya tertawa gelak-gelak.

”Akupun harus meminta maaf kepada kalian berdua saudara,” kata Khik-sia.

”Toan siauhiap, sudahlah, jangan main maaf saja. Cukup asal selanjutnya kau baik-baik memperlakukan cici Su saja. Dan ingat, kau hanya boleh mempunyai seorang nona Su, jangan beberapa nona Su lagi,” sahut Tok-ko Ing. Ia teringat tempo hari dalam perjalanan telah berjumpa dengan Khik-sia bersama seorang nona Su lainnya (Su Tiau-ing).

”Mendapat seorang adik baru seperti kau, masakan aku berani kurang ajar terhadap Yak-bwe,” kata Khik-sia tertawa.

Lu Hong-jun dan Hong-jiu pun maju menemui Khik-sia. Tok-ko U sengaja mendekati Hong-

jin dan berdiri jajar dengan nona itu. Katanya: ”Hong-jin, kurasa salah pahammu dengan nona Su tentu sudah hilang sekarang. Adik Ing, tahukah kau bahwa bukan melainkan kau sendiri, pun nona Lu ini juga kena dikelabuhi oleh Su toako-mu.”

”Oh, begitu? Mengapa cici Lu tak mengatakan padaku?” seru Tok-ko Ing.

Hong-jiu tertawa: ”Besaok akan kuceritakan padamu, kejadian-kejadian lucu yang kualami di Kim-ke-nia. Nona Su, apakah kau masih marah padaku?”

Dalam sikap dan bicaranya selama ini Tok-ko U mesra sekali kepada Hong-jiu. Kini baru nona

itu mengetahui bahwa Tok-ko U ada hati kepadanya. Memang ia sendiri juga ada apa-apa kepada pemuda itu, maka diam-diam ia merasa girang.

Sebenarnya Yak-bwe tak begitu senang kepada Hong-jiu, tapi karena nona itu menghaturkan maaf, iapun balas memberi hormat. ”Memang watakkulah yang jelek. Urusan yang lalu, bukan kesalahan cici.”

Setelah kedelapan pendekar muda mudi itu bersatu, mereka segera menerjang keluar dari kepungan. Ketika mengisarkan pandangan Khik-sia lihat Wi Gwat dan Ciok Ceng-yang masih terkepung. Kata Khik-sia kepada teman-temannya: ”Opsir yang bertempur dengan Wi lo-cianpwe itu adalah pemimpin Kiu-seng-su-ma Toh Hok-wi. Mungkin karena berhadapan dengan pembesar

kerajaan maka Wi lo-cianpwe agak sungkan. Tetapi orang she Toh itulah yang mencelakai Cin sian, sahabat karib Thiat toako. Wi lo-cianpwe dapat memberi ampun, tapi aku tak dapat memberinya kemurahan. Biar kuberinya sedikit hajaran.”

Memang yang diduga anak muda itu benar. Mengingat kedudukan Toh Hok-wi, Wi Gwat tak mau berlaku ganas.   Tetapi Wi Gwat bukannya untuk kepentingan pribadinya. Ia kuatir bentrok

dengan pemerintah adalah karena mengingat kepentingan partai Kay-pang. Anak buah Kay-pang tersebar di seluruh negeri jumlahnya besar sekali. Benar mereka tak sudi berhamba pada kerajaan, tetapi pun tak mau menyalahi undang-undang negara. Biarpun Wi Gwat itu seorang yang tak kenal takut pada siapa saja, tapi demi mengingat kedudukan Kay-pang di kota raja dan di lain daerah maka ia terpaksa berlaku sungkan.

Karena dibatasi dengan hal itu posisi Wi Gwat sukar. Ia tak mau ditangkap tapi pun tak mau mengalahkan lawan. Ia hanya mengharap agar Toh Hok-wi tahu diri dan mundur sendiri. Tetapi ternyata karena hendak mengembalikan muka dan lagi dikipasi Ceng-ceng-ji, walaupun tahu bukan lawannya Toh Hok-wi tetap tak mau mundur, bahkan ia memberi perintah kepada pasukan Theng- pay-kun untuk bantu mengepung Wi Gwat dan Ciok Ceng-yang. Rombongan anak buah Kay-pang yang maju menghadang kena dihalau oleh Theng-pay-kun.

Wi Gwat sambil putusan gunakan toa-kin-na-chiu (menangkap dengan tangan kosong) untuk menangkap Toh Hok-wi. Ia anggap Toh Hok-wi tentu tak terluka dan pemerintahpun tentu takkan marah. Tetapi ternyata walaupun tak selihat Wi Gwat, Toh Hok-wi itu juga bukan jago sembarangan. Apalagi ia mendapat bantuan dari Pok Yang-kau yang kepandaiannya tak kalah dengan Ceng-ceng-ji. Dulu orang she Pok itu pernah dipersen pukulan oleh Wi Gwat ketika dalam rapat besar Kay-pang. Maka dalam kesempatan sekarang ini, Pok-kun hendak membalas dendam. Kesemuanya itu mempengaruhi gerak-gerik Wi Gwat di dalam usahanya menangkap Toh Hok-

wi. Ia hendak melemparkan Toh Hok-wi keluar gelanggan, tapi belum mendapat kesempatan. Bahkan hampir saja beberapa kali ia terancam bahaya dari kedua pengeroyokannya Toh Hok-wi dan Pok Yang-kau itu. Namun kedua orang itupun tak mampu juga untuk menangkap Wi Gwat.

Sebelum Khik-sia datang, Wi Gwat dan kedua lawannya itu sudah bertempur ratusan jurus. Wi Gwat sungkan sebaliknya kedua lawannya bernafsu sekali. Lama-kelamaan panaslah hati pengemis itu. Penyakitnya gila angot lagi. Pada saat ia hendak mengganas, Khik-sia menerobos masuk.

Anak muda itu tak mau kucurkan banyak darah. Terhadap ”benteng” pasukan berlapis rotan (Theng-pay-kau) yang merintanginya dengan tombak ia hanya ganda tertawa: “Aku tak mau melukai kalian. Sekarang hendak kulucuti ’bungkusan’ kalian dulu!”

Khik-sia mainkan pedangnya dengan indah sekali. Terdengar beberapa bunyi krak-krak.

Setiap pedang Khik-sia berkiblat tentu ada sebuah theng-pay pecah. Dalam beberpa kejap saja, berpuluh-puluh Theng-pay pecah. Anak buah Kay-pang yang mengikuti Khik-sia dari belakang,

pun turut menerobos masuk kepungan. Karena alat pelindung diri sudah pecah, pasukan Then-pay- kun itu kacau balau.

”Jangan membunuh jiwa orang. Jika anjing menggigit orang, cukup gebuk saja kaki binatang itu!” buru-buru Wi Gwat meneriaki anak buahnya.

Anak buah Kay-pang siapkan senjatanya yang terkenal ialah Bak-kau-ciang atau pentung pengecut anjing. Anak buah Theng-pay-kun yang lari dibiarkan lari, tapi yang coba-coba merintangi, tentu digebuk kakinya. Kaum Kay-pang termasyhur dengan ilmu tongkatnya. Anak buah Theng-pay-kun yang sudah pecah alat pelindung dirinya, dihajar kocar-kacir oleh anak-anak Kay-pang.

Melihat Khik-sia datang, pecahlah nyali Pok Yang-kau. Setelah mengirim serangan kosong kepada Wi Gwat, ia lantas melarikan diri. Khik-sia menusuknya, tapi ujung pedangnya kena disisihkan oleh pukulan biat-gong-cang Pok Yang-kau.

”Bagus, aku ingin mencoba pukulan lwekangmu Khun-goan-ciang!” seru Khik-sia. Ia menyerang dengan pedang dan pukulan.

”Blak,” terdengar suara pukulan berbenturan keras. Keduanya sama-sama tergetar. Tadi Khik-

sia menyerang juga dengan pedang. Begitu tenaga pukulannya lenyap, ujung pedangnyapun masih menusuk Pok Yang-kau tak berdaya. Ia percepat larinya. Tetapi Khik-sia lebih cepat lagi.

Pedangnya dapat menabas lutut Pok Yang-kau.

To Hok-wi tetap bertempur gigih untuk mempertahankan namanya sebagai tay-ciangkun. Ia

tak menyangka bahwa Pok Yang-kau bakal melarikan diri. Pada saat Pok Yang-kau berputar tubuh lari, Toh Hok-wi masih menyerang Wi Gwat dengan hebat. Hanya celakanya, kali ini Wi Gwat sudah tak kuat lagi menahan kesabarannya. Dibarengi dengan menggerung keras, ia dapat menjepit gigir golok Toh Hok-wi terus ditariknya.

”Tay-ciangkun, ambillah lagi golok pusaka dan mari main-main dengan aku si pengemis tua ini!” Wi Gwat tertawa gelak-gelak. Ia lemmparkan golok orang ke udara.

Wajah Toh Hok-wi pucat seperti kertas. Tanpa menghirauka martabat jenderal atau bukan jenderal (tay-ciangkun) lagi, ia lantas lari terbirit-birit.

Sementara karena terbacok lututnya, Pok Yang-kau lari mati-matian dengan kaki pincang. Jika

mau sebenarnya Khik-sia dapat mengejar, tapi pada saat itu matanya tertumbuk akan bayangan Toh Hok-wi yang belum berapa jauh. Tiba-tiba Khik-sia mendapat akal, pikirnya: ”Untuk lolos dari bahaya saat ini, harus meminjam tenaganya.”

Cepat ia tinggalkan Pok Yang-kau dan lari mengejar Toh Hok-wi. Baru Toh Hok-wi hendak menghampiri goloknya yang meluncur turun dari udara, tiba-tiba seorang opsir loncat mendahului menyambarnya. Toh Hok-wi mengira kalau opsir itu tentu orang sebawahannya. Baru ia hendak memanggil, Khik-sia sudah menusuk punggungnya.

Khik-sia telah memperhitungkan bahwa orang tentu tak mungkin menghindar dari tusukannya. Tusukan itu ditujukan ke arah jalan darah, maka tak boleh terlalu keras. Tapi tiba-tiba si opsir yang sudah menyambuti golok Toh Hok-wi tadi membacaok pedang Khik-sia hingga sampai terdorong ke sisi. Tangan Khik-siapun terasa sakit. Usahanya yang sudah hampir berhasil digagalkan orang, murkalah Khik-sia. Secepat kilat ia babatkan pedangnya sampai tiga kali beruntun-runtun. Tapi tak kalah cepatnya si opsir itu juga membalas dengan dua buah bacokan. Benar gerakannya itu tak selincah Khik-sia. Namun karena permainan goloknya begitu rapat dan keras, Khik-sia pun tak dapat berbuat apa-apa.

”Hai, mengapa opsir ini sedemikian lihaynya. Rasanya Toh Hok-wi dan Bu Wi-yang sendiri tak menang dengan dia!” diam-diam Khik-sia heran.

Telah dikatakan, gerakan opsir itu tak selincah Khik-sia, tapi rupanya dalam hal tenaga lwekang ia lebih unggul sedikit dari Khik-sia. Apalagi golok Gan-leng-to milik Toh Hok-wi itu

juga golok pusaka, maka tak takut beradu dengan pedang pusaka Khik-sia. Setelah pertukaran tiga babatan pedang dengan dua bacokan golok tadi, opsir itu lontarkan hoan-chiu-to atau membacok dengan membalik golok. Begitu Khik-sia terpaksa mundur selangkah opsir itupun putar tubuh terus pergi.

Bermula Khik-sia menduga orang tentu akan gunakan tipu siasat, tapi ternyata opsir itu angkat kaki tanpa menoleh lagi. ”Hai, belum ketahuan menang kalahnya, mengapa sudah lari?” teriak Khik-sia.   Sekali loncat ia memburunya. Tapi ia tak mau menyerang secara gelap, maka sebelumnya ia sudah meneriakinya dulu.

Toh Hok-wi ternyata tak kenal dengan opsir itu. Tapi karena melihat kepandaian orang begitu lihay, diam-diam Toh Hok-wi girang sekali. Serunya: ”Bagus, lindungi aku dari belakang dan lekas menggabungkan diri dengan induk pasukan, kemudian kepung lagi kawanan pemberontak itu.

Akan kucatat jasamu, kelak tentu akan kunaikkan pangkat.”

”Terima kasih atas budi tayjin,” sahut opsir itu seraya maju menghampiri. Sekonyong-konyong

ia gunakan kin-na-chiu menangkap pergelangan tangan Toh Hok-wi. Seketika lemaslah Toh Hok- wi tak dapat berkutik lagi.

”Kau, kau mau berbuat apa ini?” serunya dengan cemas.

Khik-sia yang memburu datang, terperanjat juga melihat kejadian itu. Buru-buru ia simpan pedangnya. Opsir itu tertawa: ”Jika kita mau lolos, jalan satu-satunya hanya dengan meminjam orang ini. Kenapa kau hendak membunuhnya?”

Sekarang barulah Khik-sia tahu bahwa opsir itu kawan seperjuangannya. Bahkan rencananya pun sama. Hanya karena salah mengerti saja maka opsir itu mengira tadi Khik-sia hendak membunuh Toh Hok-wi. Padahal ia hanya mau menusuk jalan darah orang saja.

”Siapakah saudara ini? Mengapa membantu aku?” dalam girangnya Khik-sia buru-buru meminta penjelasan.

Kembali opsir itu tertawa: ”Membantu kau berarti membantu diriku sendiri juga. Aku yang

rendah ini mendapat kehormatan menduduki kursi terakhir dari Sepuluh Pemberontak, namaku Co Ping-gwan dari Keng-ciu. Menilik usiamu yang masih begitu muda, tentulah kau ini Toan Khik-sia siauhiap yang termasyhur!”

Mimpipun tidak Khik-sia bahwa pemberontak nomor sepuluh yang hendak ditangkap oleh pemerintah itu, ternyata muncul di gelanggang situ dalam pakaian sebagai seorang opsir kerajaan. Khik-sia menjawab memberi hormat: “Tadi telah salah paham, mohon dimaafkan. Co toako memiliki kecerdasan dan keberanian, aku sungguh kagum sekali.”

Co Ping-gwan tertawa: “Toh tayjin ini kuserahkan padamu, supaya kau lega.”

Waktu Khik-sia hendak menyahut, Co Ping-gwan sudah mendorong pembesar itu hingga Khik- sia terpaksa menyambutnya. Sebenarnya ketika tangan Co Ping-gwan dilepas tadi, Toh Hok-wi hendak meronta, tapi Khik-sia cepat sudah menerkam punggungnya. “Jika berani sembarangan bergerak, urat nadimu tentu kuputus. Celaka kau nanti!”

Wi Gwat, Tok-ko U dan kawan-kawan berdatangan menghampiri. Dengan menggusur Toh

Hok-wi, mereka menerjang keluar dari kepungan. Barisan tentara kerajaan tak mampu menjaga pertahanannya lagi. Dalam beberapa kejap, rombongan Wi Gwat sudah tiba di pinggir lapangan.

Ternyata di dalam lapangan ketentaraan itu, terdapat 3000 tentara Gi-lim-kun dan 2000 anak

buah Toh Hok-wi. Mereka menjaga keras pintu besar, orang tak boleh sembarangan masuk keluar. Lima ribu tentara pilihan itu, siap dengan busur dan senjata. Benar Thiat-mo-lek dan Khik-sia serta jago-jago itu berkepandaian tinggi, tapi jika hendak berkeras menerjang tentara pemerintah tentu tak mungkin.

Dalam menggusur Toh Hok-wi itu, Co Ping-gwan dengan tegas mengancam: ”Toh tayjin, jika kau ingin menyelamatkan kantong nasimu, lekas perintah orangmu membuka pintu!” Pucatlah wajah Toh Hok-wi, batinya: “Membuka pintu lepaskan tawanan, mereka tak membunuh aku, tetapi akupun tetap dijatuhi hukuman mati oleh raja. Membuka mati, tidak membuka pun mati. Ah, lebih baik aku mati sebagai menteri setia saja.”

Baru ia berpikir begitu, Khik-sia sudah menekan punggungnya dan seketika ia rasakan

tubuhnya seperti digigiti ribuan ular kecil. Benar-benar siksaan yang paling hebat di dunia. ”Hoha, lepaskanlah. Biar kuturut perintahmu!” akhirnya ia meratap.

Khik-sia tertawa dingin: ”Terserah saja kepadamu. Tapi, jika kau membangkang, aku masih mempunyai ilmu pijat istimewa untuk kau coba.”

Toh Hok-wi digusur kira-kira terpisah beberapa tombak dari pasukan pemerintah.  Ketika memandang ke muka, Toh Hok-wi dapatkan yang di sebelah depan adalah anak buahnya sendiri dan yang di bagian belakang adalah pasukan Gi-lim-kun. Ia kuatir anak buah Gi-lim-kun tak mau mendengar perintahnya. Tapi ia tak mempunyai lain pilihan lagi.  Begitu Khik-sia hendak memijatnya lagi, Toh Hok-wi buru-buru berteriak: ”Lekas buka pintu, lekas buka pintu!”

Anak tentara jelas melihat bahwa pemimpinnya itu sedang ditekan musuh. Karena perintah itu menyangkut urusan besar, sekalian anak buah pun tak berani mengambil putusan menurut atau menolak.

Pasukan Gi-lim-kun yang bertugas menjaga pintu besar, terbagi menjadi dua golongan. Satu golongan menyatakan: ”Cin thong-leng membuka Eng-hiong-tay-hwe ini sebenarnya sudah mengatakan kepada orang gagah di seluruh negeri bahwa mereka takkan mendapat gangguan. Tapi karena Kaisar mendengarkan anjuran Bu Wi-yang dan Toh Hok-wi, maka mengeluarkan perintah menangkap sepuluh ’pemberontak’ tadi. Ini menyebabkan Cin thong-leng kehilangan muka pada seluruh orang gagah. Maka lebih baik kita buka pintu saja.”

Golongan kedua menentang: ”Jangan, jangan! Menangkap pemberontak adalah perintah dari raja. Kalau kita bukakan pintu dan lepaskan mereka, bukan saja kita semua anak buah Gi-lim-kun akan dihukum kaisar bahkan Cin tayjin pun tentu tambah berat dosanya. Orang she Toh itu memang sudah beberapa kali hendak mencelakai Cin tayjin. Biarkan sekarang dia mati disiksa kawanan pemberontak itu!”

Kedua pihak sama-sama ada alasan namun sampai sekian saat tiada keputusannya. Pada waktu biasa, Toh Hok-wi bersikap angker terhadap anak buahnya. Dia sering memberi putusan yang tak adil, kebanyakan tentu mengeloni orang-orang yang menjilatnya. Kewibawaan Toh Hok-wi di kalangan tentara kalah jauh dengan Cin Siang. Memang beberapa anak buah yang setia pada Toh Hok-wi, saat itu mau memberi jalan.

Sementara partai Thiat-mo-lek lawan Bu Wi-yang dan Yo Bok-lo, ternyata sampai saat itu

masih belum ada kesudahannya. Hanya sekarang kedua orang itu gunakan siasat sambil bertempur sambil mundur. Sampai akhirnya datanglah pasukan Theng-pay-kun. Mereka bergabung dengan barisan Giau-kau-chiu membentuk suatu garis pertahanan untuk menghadang Thiat-mo-lek. Di saat itu barulah Bu Wi-yang dapat menyusup ke dalam barisan anak buahnya untuk beristirahat. Pada saat itu juga ia mengetahui tentang tindakan Khik-sia terhadap Toh Hok-wi. Cepat-cepat ia lari menghampiri dan meneriaki anak buah Toh Hok-wi: ”Toh tayjin telah ditawan pemberontak.

Kalian sekarang harus mendengar perintahku. Lepaskan anak panah!” Anak buah Toh Hok-wi bersangsi.

”Pasukan Gi-lim-kun, dengarlah!   Kalian ingin tidak menolong Cin thong-leng kalian?” kembali Bu Wi-yang berseru. Lwekang yang tinggi menimbulkan suara nyaring sekali hingga pasukan Gi-lim-kun yang tengah berisik itu diam seketika.

”Untuk menolong Cin tayjin, hanya harus menurut surat perintah baginda. Basmi kaum pemberontak itu dan mendirikan jasa untuk meringankan kedosaan Cin tayjin. Untuk itu aku bersedia memberi kesaksian kepada baginda. Tetapi jika kalian berani membukakan pintu, baginda tentu menuduh Cin tayjin menyuruh kalian berontak. Dengan demikian bukankah Cin tayjin akan lebih berat dosanya?” Bu Wi-yang berseru dengan lantang sekali.

Sebagian besar anak buah Gi-lim-kun memang mempunyai pendirian demikian.  Maka anjuran Bu Wi-yang cepat diterima. Ribuan batang anak panah mengauk ke arah Toh Hok-wi. Jago-jago kelas satu seperti Khik-sia, Co Ping-gwan, Wi Gwat, Tok-ko U, dan lain-lain sibuk juga melindungi

Toh Hok-wi. Memang pasukan Gi-lim-kun itu merupakan pasukan pilihan. Setiap calon harus diuji merentang busur berat, baru dapat diterima. Oleh karenanya mereka kuat dan gagah sekali memanah.

Begitu Gi-lim-kun bergerak, pasukan Hou-bin-kun pun mengikuti. Sebenarnya mereka adalah anak buah Toh Hok-wi sendiri. Tapi karena biasanya Toh Hok-wi memperlakukan mereka keras dan tak adil, banyak yang sakit hati. Dan kesempatan ini digunakan baik-baik oleh mereka. ”Mundur, lekas mundur ke lapangan lagi!” teriak Co Ping-gwan. Toh Hok-wi kaget dan marah dengan pengkhianatan itu.

”Aku adalah pembesarmu, kamu tak menurut perintahku, tak apa. Tapi mengapa berani membidik aku?” teriaknya dengan kalap. Namun dalam hujan anak panah yang sedemikian riuhnya, mana anak buah Hou-bin-kun menghiraukannya.

Bu Wi-yang loncat ke atas kuda. Sembari pentang busur, berseru nyaring: ”Toh Hok-wi,

karena kau mau menyerah pada pemberontak, jangan salahkan aku!” – Sret, sret, sret, ia lepaskan tiga batang anak panah berturut-turut. Tenaganya besar, apalabi dalam keadaan yang kacau, maka sukar untuk menjaganya. Terpaksa Khik-sia putar pedang dan berhasil menyampok dua batang.

Anak panah yang ketiga ditampar dengan kipas oleh Tok-ko U.  Sayang karena tenaganya kalah kuat dengan Bu Wi-yang, maka anak panah dapat menembus kipas, terus menyusup ke tenggorokan Toh Hok-wi. Seketika matilah pembesar itu.

Bu Wi-yang tertawa gelak-gelak. Sekarang ia mengarah Khik-sia, Tok-ko U dan lain-lain. Melihat itu marahlah Hong-jun, teriaknyanya: ”Datang tidak disambut, tidak menghormat. Lihat panahku!” – Sret, sret, sret, ia pun lepaskan tiga batang anak panah berturut-turut.

Lu Hong-jun adalah ahli panah yang digelari orang sebagai Sin-cian-chiu. Anak panah pertama mengenai kuda dan anak panah kedua mengarah tenggorokan Bu Wi-yang. Orang she Bu itu ternyata lihay juga.   Ia cepat loncat turun dari kudanya yang sudah terjungkal tak bernyawa itu. Dan secepat itu ia menangkis dengan busurnya. Trang, busurnya pecah terhantam anak panah Hong-jun. Dan pada lain saat, anak panah yang ketiga sudah menyambar datang. Bu Wi-yang tak sempat menghindar lagi. Terpaksa ia ngangakan mulutnya dan menggigit. Kre, ujung anak panah dapat digigitnya dan tertolonglah jiwanya. Tapi dua buah gigi muka rompal. Bu Wi-yang lari terbirit-birit. Waktu Hong-jun menyusuli anak panah yang keempat, sudah tak keburu mengejarnya.

Rombongan Khik-sia kembali lagi ke gelanggang. Karena disitu masih berlangsung pertempuran kacau, pasukan Gi-lim-kun pun tak berani melepaskan panah lagi.

Di gelanggang situ, Shin Ci-koh masih main udak dengan Ceng-ceng-ji. Sambil mengejar,

wanita aneh itu berteriak-teriak: ”Kunyuk kecil, kau masih hutang sebuah tamparan. Jangan ngimpi kau dapat melarikan diri! Kalau kenal selamat, baik kai menyerah saja daripada nanti kalau kecandak tentu kutampar lebih dari satu kali.”

Ceng-ceng-ji tak dapat melawan Shin Ci-koh dan tak berani balas memaki.  Untung ia lebih unggul ginkangnya. Ia menyelinap masuk ke dalam kerumunan yang sedikit orangnya. Untuk beberapa saat Shin Ci-koh belum dapat menyandaknya. Tetapi karena banyak orang yang benci Ceng-ceng-ji, mereka memberi jalan pada Shin Di-koh dan sengaja merintangi Ceng-ceng-ji.

Orang-orang itu sebenarnya tak berani pada Ceng-ceng-ji. Tapi karena Ceng-ceng-ji sedang diuber ’setan’, iapun tak berani cari permusuhan lagi. Setiap ada orang merintangi, dengan menahan kemarahan, ia terpaksa mengitari dari samping. Karena dirintangi begitu, jarak Ceng-ceng-ji makin lama makin dekat dengan Shin Ci-koh.

Pada saat Wi Gwat tiba di gelanggang, kebetulan Ceng-ceng-ji sedang berlarian mendatangi. Melihat congor Ceng-ceng-ji, meluaplah amarah Wi Gwat. Ia hadangkan kedua tangannya dan berseru: ”Bagus, kau masih di sini, kunyuk kecil? Lekas ganti buli-buliku!”

Saking gugupnya Ceng-ceng-ji enjot kakinya hendak melampaui Wi Gwat. Tapi tiba-tiba

mulut Wi Gwat menyembur arak dan tangannya menghantam dengan biat-gong-ciang. Aduh ....

diam-diam Ceng-ceng-ji berteriak tertahan. Muka dan tubuhnya kena kesemprot. Sakitnya seperti disiram air panas.   Dan di samping itu, ia masih menerima lagi pukulan biat-gong-ciang. Hek, nafasnya serasa berhenti, untung ia cukup lihay dan tak sampai terluka dalam.

Dengan ginkangnya yang jempol, dalam saat-saat yang berbahaya di mana Shin Ci-koh sudah hampir datang, ia gunakan gerak kek-cu-hoan-sim atau burung merpati balikkan tubuh, berjumpalitan di udara. Begitu tiba di tanah, kaki kiri diinjakkan ke kaki kanan terus loncat ke samping sampai beberapa tombak jauhnya. Tapi alangkah kejutnya ketika berdiri jejak, ia lihat Khik-sia sudah berada di hadapannya.

”Toan sute, meskipun kita bermusuhan, tapi kita adalah saudara seperguruan. Apakah kau tega melihat aku dihina orang luar?” tersipu-sipu ia mainkan diplomasi.

”Aku masih punya hubungan apalagi dengan kau?” sahut Khik-sia. Habis itu ia lantas menyerang. Tapi lain mulut lain hati. Ternyata serangannya itu hanya kosong dan diatur sedemikian rupa untuk memberi jalan lolos pada Ceng-ceng-ji.

”Bawa kemari!” tiba-tiba Co Ping-gwan membentak.

“Apa yang kauminta?” tanya Ceng-ceng-ji. Ia terus menyelinap dari samping tapi golok Co Ping-gwan yang dimainkan dalam jurus liong-toh-liok-hap, memaksa Ceng-ceng-ji berhenti. “Apa kau pura-pura tak tahu? Pedang pusaka kim-ceng-kiam yang kau pegang itu, adalah milik keluargaku. Lekas berikan padaku!” bentak Co Ping-gwan.

“Oh, kiranya Co kongcu. Kau sudah merampas golok gan-leng-to kepunyaan Toh Hok-wi, mengapa masih meminta kim-ceng-toan-kiam lagi?”

“Kurang ajar! Pedang pusaka warisan keluargaku, mana boleh kau gasak!” damprat Co Ping- gwan sembari mainkan golok dengan gencar.

Sebenarnya kepandaian Ceng-ceng-ji tak kalah dengan Co Ping-gwan. Tapi karena ia letih bertempur sejak tadi, maka ia tak mampu membobolkan rintangan Co ping-gwan itu.

”Ha, ha, kunyuk kecil, coba sekarang kau mau lari kemana?” Shin Ci-koh tertawa gelak-gelak.

“Co ping-gwan, harap berhenti sebentar. Biar kutamparnya dulu kunyuk itu satu kali baru nanti kau boleh selesaikan perhitunganmu lagi!”

Dalam saat dimana Ceng-ceng-ji sudah seperti tikus yang dicegat oleh dua ekor kucing, tiba-

tiba barisan tentara negeri menjadi gempar dan panik. Sesosok tubuh melayang melampaui kepala mereka dan pada lain kejab sudah tiba di tengah gelangang. Orang itu bukan lain ialah Gong-gong- ji.

“Gong-gong-ji, apa sekarang kau masih mau menyingkiri aku lagi?” cepat-cepat Shin Ci-koh tinggalkan Ceng-ceng-ji dan lari menghampiri Gong-gong-ji.

oooooOOOOOooooo

Dilepas Shin Ci-koh, Ceng-ceng-ji agak longgar. Tapi kelonggarannya hanya sekejab mata saja. karena pada lain kejab semangatnya seperti terbang, demi melihat Gong-gong-ji datang. ”Pedang pusaka ini benar kepunyaan keluargamu, tapi yang memberikan kepadaku ialah

suhengku. Sekarang suhengku sudah datang, jika hendak meminta kembali pedang ini, silahkan bilang padanya!” serunya kepada Co Ping-gwan seraya menyerang. Dan ketika Co Ping-gwan menghindar, Ceng-ceng-ji lantas putar tubuh dan melarikan diri.

Co Ping-gwan tak dapat mengejarnya. Pikirnya: ”Ya, Gong-gong-ji sudah datang. Aku harus menemuinya.”

Dua puluh tahun berselang pedang pusaka yang terbuat dari emas milik keluarga Co itu telah dicuri Gong-gong-ji. Karena sayang kepada Ceng-ceng-ji, pedang itu diberikan kepadanya. Setelah dewasa dan matang dalam gemblengan ilmu silat, Co Ping-gwan hendak mencari Gong- gong-ji untuk meminta kembali pedangnya itu. Untung pada saat itu Gong-gong-ji sudah tersadar dari pengaruh Yu-pay  dan kembali ke jalan yang  lurus. Walaupun ia menang, tapi ia tak mau melayani tantangan Co Ping-gwan bahkan sebaliknya malah minta maaf dan berjanji akan

mengembalikan pedang Co Ping-gwan. Dan sejak itu selama berkelana di dunia persilatan, banyak kali secara diam-diam Co Ping-gwan mendapat bantuan dari Gong-gong-ji. Akhirnya kedua orang itu bersahabat baik.

Ceng-ceng-ji tahu tentang riwayat pedang pusaka itu. Maka kali ini adanya Co Ping-gwan dimasukkan dalam golongan ’pemberontak’, adalah dari usulnya. Latar belakangnya karena Ceng- ceng-ji hendak memiliki terus pedang itu.

Karena bernafsu untuk menjumpai Gong-gong-ji, maka Shin Ci-koh tak menghiraukan

siapapun. Yang menghadang jalannya, tak perduli dia itu anak tentara atau orang persilatan, tentu disikat dengan kebut hud-timnya. Tapi karena lapisan tentara negeri itu banyak sekali, sudah tentu tak mudah baginya untuk menyapu bersih.

Co Ping-gwan yang juga hendak menemui Gong-gong-ji dan kebetulan berada di belakang Shin Ci-koh, tiba-tiba mendapat pikiran: ”Aku hendak minta Gong-gong-ji mengembalikan

pedangku, untuk itu akupun harus membantu kerepotannya. Dia tak senang menjumpai wanita ini. Biarlah kuhadangnya saja.”

Ia percepat larinya dan berseru: ”Shin lo-cianpwe, sungguh beruntung dapat berjumpa, terimalah hormatku!”

Shin Ci-koh tak senang kalau orang membahasakan dirinya sebagai ’locianpwe’. Karena dengan begitu ia dianggap sebagai orang tua. Tapi mengingat ayah Co Ping-gwan, ia tak mau memukul anak muda itu. Ia deliki mata dan menyahut dingin: ”Tak usah banyak tingkah, aku tak punya waktu!”

Tapi Co Ping-gwan malah loncat kemuka dan berhadapan dengan wanita aneh itu, ujarnya:

”Jika membicarakan tentang ilmu pedang, ayah selalu menyatakan kekagumannya terhadap ilmu pedang lo-cianpwe. Sayang pada waktu lo-cianpwe lalu di rumahku, aku masih kecil tak mengerti apa-apa. Sekarang aku beruntung berjumpa, sudilah lo-cianpwe memberi petunjuk barang satu dua jurus locianpwe, mengapa hari ini kau memakai hud-tim bukan pedang?”

Marah Shin Ci-koh bukan kepalang dengusnya: ”Apa kau hendak menguji aku?”

Buru-buru Co Ping-gwan menjura: ”Tidak, lo-cianpwe. Aku hanya mohon pelajaran ilmu pedang, sekali-kali tak berani menguji lo-cianpwe.”

”Tadi kau bertanya mengapa aku tak pakai pedang? Tahukah kau bahwa begitu bu-ceng-kiam itu keluar, tentu akan minta jiwa orang?”

”Tahum tahu!  Justeru ilmu pedang sakti itulah yang hendak kumohon,” sahut Ping-gwan. Shin Ci-koh tertawa dingin: ”Untuk belajar ilmu pedangku tak boleh secara lisan. Kalau benar- benar kau ingin belajar, nah, lihatlah pedang ini! Ho, kau tak mau menyingkir?”

Co Ping-gwan gunakan jurus tiang-ho-lok-ji, atau sungai ho di senjakala, ia putar pedangnya. Trang, pedang Shin Ci-koh kena didorong ke sisi. Dan tertawalah ia: “Ilmu pedang lo-cianpwe sungguh hebat. Apakah caraku menangkis tadi benar?”

Karena memandang muka ayahnya, maka Shin Ci-koh tak mau menyerang sungguh-sungguh.

Tapi sebaliknya karena tahu wanita itu selalu bertindak ganas, maka Co Ping-gwan telah menangkis dengan sekuat tenaganya hingga tangan Shin Ci-koh menjadi kesakitan.

Akhirnya marah juga Shin Ci-koh. Ia ambil putusan hendak memberi hajaran pada anak muda itu tak peduli ia itu putera siapa. “Bagus, kalau tak kukeluarkan sungguh-sungguh kau tentu mengira ilmu pedangku Bu-ceng-kiam itu hanya bernama kosong,” akhirnya ia tertawa dingin sembari kiblatkan pedangnya. Tampaknya berkiblat di kanan tahu-tahu sudah di kiri. Sungguh suatu ilmu pedang yang luar biasa, sukar diduga gerak perubahannya.

Dalam beberapa jurus saja, Co Ping-gwan tak mampu berbuat apa-apa, kecuali hanya sibuk menangkis. Diam-diam ia jeri juga, batinnya: ”Ah, nyata-nyata Bu-ceng-kiam itu tak bernama kosong. Untung aku dapat merampas golok pusaka Gan-leng-to ini biarpun mati-matian, tapi dapat melayaninya.”

Shin Ci-koh juga terkejut melihat anak muda itu dapat melayani ilmu pedang Bu-ceng-kiam.

Diam-diam ia kuatir jangan-jangan kemasyhuran Bu-ceng-kiam itu akan jatuh di tangan Ping-gwan.
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Tusuk Kundai Pusaka Jilid 11"

Post a Comment

close