Tusuk Kundai Pusaka Jilid 08

Mode Malam
 
Jilid 08

Dilihatnya Su Tiau-ing sudah membuat api dan menyambutnya dengan senyum tertawa:

”Kukira kau tak balik lagi!”

”Hm, jika bukan karena tenagamu masih belum pulih, aku tentu sudah pergi,” demikian Khik- sia membatin.

Tapi Su Tiau-ing rupanya tahu apa yang dibatin anak muda itu, serunya tawar: ”Di dunia tiada perjamuan yang tiada berakhir. Baiklah, kurangkai bunga untuk kupesembahkan Hud. Biarlah kusiapkan hidangan selaku perjamuan perpisahan kita.”

Ia menyambut kedua ekor kelinci itu, menambahi pula unggun api lalu mulai membakar kelinci

itu. Ditingkah oleh cahaya api, wajah nona itu tampak kemerah-merahan, suatu warna yang makin menambah kecantikan wajahnya. Hati Khik-sia berdebar-debar, pikirnya: ”Jika sehabis makan lantas kutinggalkan, apakah tidak kelewat menyolok. Seorang gadis yang lukanya masih belum sembuh, berada seorang diri di tengah hutan belantara, apakah tidak berbahaya? Jangan kata engkohnya akan mengirim orang untuk mencarinya, sedang kalau-kalau sampai berjumpa dengan binatang buas saja, apakah jiwanya tak terancam nanti?  Ai, tetapi .... tetapi apakah malam ini

aku harus menemaninya di sini?”

Rembulan makin naik tinggi. Sinarnya menerobos di sela-sela daun pohon yang rindang membawakan suatu suasana yang rawan. Angin malam berhembus mengantar bau bunga hutan yang wangi. Keindahan suasana malam kala itu diperkaya dengan hadirnya seorang gadis jelita. Pikiran Khik-sia melayang-layang Tiba-tiba ia teringat akan diri Yak-bwe. Pada malam yang

sedemikian indah inilah ia bertemu dengan nona itu. Di taman bunga gedung Sik Ko, untuk pertama kali ia berjumpa dengan calon isterinya itu.

”Ai, wktu itu perjumpaan kita diramaikan dengan pertengkaran. Dan ia malah memaki aku sebagai pencuri. Tapi aku sendiri juga tidak baik, karena sikapku kepadanya juga getas-getas mengejek.”

Lain adegan terbayang lagi dalam lamunan Khik-sia. Adegan yang terjadi pada lain malam di

lain taman bunga pula yaitu di taman bunga Tok-ko U ”Seorang diri ia mondar-mandir di taman

bunga, menunggu kedatangan Tok-ko U...” Teringat sampai di sini, hati Khik-sia merasa pilu. Buru-buru ia putuskan lamunannya itu dan tak mau lagi ia melamun yang tidak-tidak.

Di dahului dengan pecahnya sang mulut karena tertawa, berserulah Su Tiau-ing: ”Apa yang kau pikirkan? Kau tampak asyik sekali. Ini sate kelinci sudah matang.”

Khik-sia gelagapan. Tiba-tiba teringat olehnya:

”Pada malam dua bulan yang lalu, aku juga berjumpa empat mata dengan Su Yak-bwe. Tak nyana kalau malam ini juga menghadapi keadaan seperti itu. Sayangnya meskipun ia juga she Su tapi bukan Su Yak-bwe.  Ah, janganlah mengingat dia lagi. Ia (Yak-bwe) kan sudah mendapat orang yang dipenujuinya.”

Tersipu-sipu Khik-sia menyambuti kelinci bakar itu. Karena tak hati-hati, tangannya terbentur dengan ranting yang dimasukkan ke dalam api oleh Su Tiau-ing tadi. Buru-buru ia tarik pulang tangannya.

”Ai, bagaimana kau ini? Apa yang kau pikirkan?” Su Tiau-ing tertawa.

Cepat Khik-sia bersikap sungguh-sungguh dan bertanya: ”Aku hendak menanya suatu hal padamu.”

”Apa itu hingga kau harus merenungkan sekian lama?” tanya Su Tiau-ing. Ia menatap pemuda itu tajam-tajam.

Khik-sia batuk sebentar baru berkata: ”Kau sudah tinggalkan sarang kaum pemberontak. Sebenarnya aku takkan mengungkat peristiwa lama lagi. Tetapi urusan ini tak dapat terlepas dari itu.”

Su Tiau-ing tersirat hatinya, pikirnya: ”Ia memandang kerajaan Tay Yan sebagai sarang pemberontak. Ia sendiri juga bangsa penyamun, mengapa begitu memandang rendah kepada kaum pemberontak? Apalagi keluargaku itu bukan bangsa pemberontak biasa. Kalau berhasil tentu menjadi raja, kalau gagal menjadi perampok. Masakah hal itu saja ia tak mengerti.”

Ia paksakan tersenyum dan bertanya: ”Bilanglah, tentang hal apa?”

”Ciu Ko, pangcu dari Kay-pang apakah masih kalian tawan?” tanya Khik-sia.

”Oh, kiranya tentang hal itu. Jangan kuatir, bukankah tadi kau melihat di markas engkohku itu terbit kebakaran?” Su Tiau-ing balas bertanya.

”Ha? Jadi kau tahu siapa yang melepas api itu? Apakah hubungan api itu dengan Ciu pangcu?” seru Khik-sia.

Su Tiau-ing tertawa: “Kau begini pintarnya, masakan tak dapat menerka? Api itu aku yang melepaskannya. Tempat yang terbakar itu adalah kamar tahanan Ciu pangcu.” ”Apa? Kau yang membakar? Apakah kau mempunyai ilmu Hun-sin-hwat (membagi diri)?” Khik-sia berseru kaget.

Su Tiau-ing menertawakannya: ”Apakah masih belum jelas? Benar aku tak punya ilmu hun-sin- hwat, tapi toh aku punya budak kepercayaan?”

Si nona masih tetap tertawa: ”Lama sudah kuduga, bahwa lambat atau lekas, engkohku itu tentu bentrok dengan aku. Karena itu siang-siang telah kupesan orang-orang bila terjadi apa-apa harus lekas menyulut api. Pertama, agar Ciu pangcu jangan sampai jatuh ke tangan engkohku. Kedua, juga menguntungkan kita untuk lolos. Masihkah kau tak mengerti?”

“Kalau begitu, Ciu pangcu juga sudah lolos?”

“Sudah tentu. Memang sebenarnya aku tak berniat membunuhnya. Dengan susah payah kutawannya, masakan lantas gampang-gampang mau membakarnya mati?” sahut Su Tiau-ing.

Khik-sia seperti terlepas dari tindihan batu. Namun ia masih belum yakin, pikirnya: ”Agaknya

nona Su ini menjadi otak dari engkohnya di dalam merencanakan sesuatu. Merancang tipu siasat, rupanya ia pandai sekali.  Menawan Ciu pangcu itu, tentu juga ia yang mengatur.   Tak terluput diriku yang ditawan dan dijadikan orang perantara untuk menyampaikan maksudnya kepada Thiat toako tentu juga buah pikirannya. Tapi mengapa mendadak sontak ia merubah haluan, melepaskan Ciu pangcu dan putuskan hubungan dengan engkohnya? Apakah kesemuanya itu untuk diriku semata-mata?”

Su Tiau-ing tertawa: ”Pertanyaanmu telah kujawab. Ciu pangcu tidak binasa. Seharusnya kau tak usah gelisah, tapi mengapa kau masih memikirkan apa-apa lagi?”

“Apakah kau tak menyesal putuskan hubungan dengan engkohmu?” tanya Khik-sia.

Su Tiau-ing tertawa menyahut: “Aku sebenarnya berlainan ibu dengan dia. Ia telah berbuat khianat membunuh ayah kami dan telah menyebabkan ibuku meninggal karena marah. Coba kau pikirkan, apakah aku masih dapat menganggapnya sebagai engkoh lagi?”

”Kalau begitu, sebenarnya kau sudah lama benci kepadanya?  Tetapi, mengapa, mengapa ”

”Kau hendak menanyakan mengapa sebelum aku melarikan diri aku mau membantu engkohku itu, bukan?” Tiau-ing menegas.

”Sebenarnya tak suka aku mengungkat urusanmu yang lama. Jika kau tak suka menceritakan, ya, sudahlah.”

Su Tiau-ing tertawa: ”Kutahu kau ini seorang anak lelaki yang kasar. Siapa nyana agaknya kau juga mengerti soal etiket (tata susila). Padahal sekalipun tak kau tanyakan, aku tentu akan memberitahukan padamu juga. Apa kau kira aku tulus ikhlas membantu engkohku? Hanya karena belum tiba saatnya, aku belum dapat melakukan pembalasan padanya. Kekuasaan engkohku lebih besar, anak buahnya lebih banyak dari anak buahku. Dari itu aku tak dapat sembarangan bergerak?!”

Kini teranglah Khik-sia, katanya: ”Kiranya kau memperalat Uh-bun-jui karena hendak memakai tenaga kaum Kay-pang untuk menghadapi engkohmu?”

Sebenarnya Khik-sia masih menahan sebuah pertanyaan lagi, yakni: ”Kau bersikap begitu juga kepadaku, apakah bukan serupa maksud tindakanmu terhadap Uh-bun Jui?”

Dengan tegas Su Tiau-ing menjawab: ”Benar, jika tak bermaksud menggunakan tenaga kaum Kay-pang, masakan aku sudi berkenalan dengan Uh-bun Jui. Sayang meskipun telah kugunakan bermacam jalan, namun ia tetap gagal menjadi pangcu.”

Dingin-dingin Khik-sia berkata: ”Akulah yang merusak usahamu itu. Kala itu jika aku tak muncul melawan kalian, kemungkinan besar Uh-bun Jui tentu sudah menjadi pangcu.”

Su Tiau-ing tertawa lebar: ”Memang kala itu aku benci benar-benar padamu.  Tapi kemudian tidak lagi. Telah kunilai, meskipun Uh-bun Jui itu memiliki sedikit kepandaian, tapi ia tak dapat digembleng menjadi ’bahan’ yang bagus. Untuk mengangkatnya, juga sukar. Ada apa? Apa kau masih tak mau mengampuni dia?”

”Aku tak punya sangkut paut dengan dia. Diberi ampun atau tidak itu urusan partai Kay-pang,” sahut Khik-sia.

Mata Su Tiau-ing berkeliaran. Dengan tertawa ia menatap Khik-sia, lalu berkata pelahan-lahan: ”Kukira kau masih mengandung permusuhan padanya.” ”Tidak, sebaliknya aku malah agak merasa kasihan padanya,” kata Khik-sia.

Sampai beberapa saat, Su Tiau-ing berdiam saja. Lewat beberapa saat lagi, barulah ia berkata lagi: ”Tentang bentrokanku dengan engkoh itu, memang suatu hal yang sukar dihindari. Hanya aku tak menyangka kalau secepat ini terjadinya. Aku belum siap betul-betul, sudah didesak harus mengadakan pilihan.”

Diam-diam tergetar hati Khik-sia, pikirnya: ”Kiranya kakak beradik itu diam-diam sudah mendendam permusuhan. Nona ini masih muda sekali umurnya, tapi ternyata hatinya amat besar.”

Pikirnya pula: ”Su Su-bing mati memang sudah selayaknya. Tapi tak seharusnya ia mati di

tangan puteranya sendiri. Rupanya nona itu hendak membalas pada engkohnya, bukan semata-mata karena hendak menuntutkan balas kematian ayahnya.”

Katanya kepada Su Tiau-ing: ”Kalau begitu, lagi-lagi akulah yang merusakkan rencanamu itu, bukan?”

”Tapi dengan begitu malah lebih baik. Hm, apakah kau suka membantu aku?” tanya Su Tiau- ing.

”Telah kukatakan dari tadi, kau sudah menolong aku dan akupun juga sudah menolongmu. Kita tak usah merasa saling menerima budi. Besok apabila fajar sudah tiba, kita bakal sudah berpisah. Aku tak dapat membantumu,” jawab Khik-sia. Dalam pada itu ia membatin: ”Kamu saling bunuh dengan keluargamu sendiri dalam hal itu aku tak boleh ikut campur.”

Su Tiau-ing tertawa: ”Aku belum bicara selesai. Bukan saja hanya membantu urusanku, pun bagimu juga ada kebaikannya.”

“Kebaikan apa saja pun aku tak memikirkan,” Khik-sia tetap menolak.

”Apakah setitik saja kau tak mempunyai cita-cita untuk melakukan suatu pekerjaan besar?” tanya Su Tiau-ing.

”Kulihat dulu, pekerjaan apa?” kata Khik-sia.

”Meskipun engkohku itu menderita kekalahan, tapi ia masih punya berpuluh ribu anak buah. Selain itu aku sendiri juga punya tiga ribu pasukan wanita. Mereka hanya mendengar perintahku saja.   Engkohku tak punya kekuasaan untuk memerintah mereka. Tapi jika engkohku itu meninggal, sebaliknya aku dapat menguasai anak buahnya.”

”Jadi kau mau hilangkan dia dan menggantinya? Tetapi hal itu tak ada sangkut pautnya dengan diriku. Telah kukatakan berulang-ulang, bahwa aku tak dapat membantu urusanmu,” kata Khik-sia. ”Tidak, hal itu justeru ada sangkut pautnya padamu. Coba dengarlah. Aku juga tak

menghendaki kau mewakili aku membalas sakit hati karena toh sekarang ini kau sudah 'putus arang' (hubungan yang tak mungkin balik lagi) dengan Ceng-ceng-ji. Kita pulang secara diam-diam.

Pasukanku itu dapat menghadapi anak buah engkohku.  Engkohku itu juga bukan tandinganku. Aku hendak melakukan pemberontakan secara tiba-tiba. Urusan itu tanggung berhasil. Yang kukuatiri ialah beberapa ko-chiu (jago lihay) yang diundangnya itu. Tapi diantara mereka itu, Hoan Gong siang jin terang berdiri netral. Dalam kalangan orang Kay-pang ada Ma-tianglo dan Uh-bun Jui, tapi Uh-bun Jui tak berani berbuat apa-apa terhadap aku. Yang masih perlu dikuatirkan hanya Ceng-ceng-ji seorang. Aku hanya minta padamu, jika Ceng-ceng-ji itu sampai merintangi, harap kau bunuh saja dia itu. Jika urusanku itu selesai, kuangkat kau menjadi raja! Seluruh anak buah engkohku akan kuserahkan padamu.”

Mendengar itu Khik-sia tertawa gelak-gelak.

”Mengapa kau tertawa?” tanya Su Tiau-ing.

Sahut Khik-sia: ”Kau salah memilih orang. Aku bukan manusia yang setimpal menjadi raja.” ”Sejak dulu sampai sekarang, kerajaan mana yang tidak terdiri dari orang yang mempertaruhkan jiwanya, menang jadi raja, kalah jadi perampok? Apa kau kira seorang raja itu memang sudah ditakdirkan?”

Jawab Khik-sia: ”Setiap orang mempunyai cita-citanya sendiri. Karena kau bercita-citakan menjadi raja, nah, jadilah!”

Su Tiau-ing tertawa mengikik: ”Sayang, aku ini seorang anak perempuan.”

Khik-sia bersikap sungguh, katanya: ”Apakah seorang perempuan tak boleh menjadi raja? Apakah Bu Cek-thian itu bukan seorang kaisar wanita? Ia telah mengganti kerajaan Tong menjadi kerajaan Ciu dan bukankah ia berhasil menikmati tahta kerajaan selama 19 tahun lamanya?” Su Tiau-ing kerutkan sepasang alisnya. Biji matanya berseri-seri dan tertawalah ia: ”Kaisar Cek-thian itu seorang wanita yang pandai lagi berani. Kaisar Thay Cong saja tak lebih pintar

daripadanya, mana aku dapat dipersamakan dengannya? Dan lagi jangan dilupakan bahwa kaisar Cek-thian itu juga mempunyai pembantu-pembantu yang jempol seperti Tek Jin-kiat.”

Khik-sia tertawa: ”Sayang aku tak mampu menjadi Tek Jin-kiat. Jika kau mau jadi raja, pilihlah lain Tek Jin-kiat yang dapat membantumu.”

Su Tiau-ing menunduk dengan rasa kecewa, tapi pada lain saat tiba-tiba ia tertawa lagi. ”Ha, kau tertawa lagi?” seru Khik-sia.

”Aku hanya omong guyon kau lantas anggap sesungguhnya. Kau adalah seorang gagah, seorang pendekar, tapi takut berangan-angankan menjadi raja. Coba pikirkan, aku seorang anak perempuan mana berani tak tahu diri? Tadi hanya sekedar guyonan saja jangan kau anggap sungguh-sungguh.”

Pada hal ia mengatakan hal itu dengan tertawa untuk memulas maksudnya yang sesungguhnya. Benar-benar nona itu licin sekali.

Katanya pula: ”Engkohku rasanya juga takkan lama menjadi raja. Tapi ia masih mempunyai

puluhan ribu anak buah. Apabila orang yang pegang kekuasaan itu tidak bijaksana, akibatnya hanya akan membahayakan rakyat saja. Jika kau sendiri tak mau menindaknya, toh bukan suatu hal jelek jika kau suka membantu aku merobohkannya? Dengan begitu berarti bisa basmi perbuatannya yang merugikan kepentingan rakyat, bukan?”

Tergerak juga hati Khik-sia mendengar ucapan nona itu. Tapi segera ia berkata: ”Ini masalah kerajaan, tak perlu aku yang mengurusi.”

Rupanya Khik-sia sungkan untuk mengutarakan selanjutnya, bahwa ”Urusanmu aku tak mau turut campur”.

Su Tiau-ing putus asa, tapi tak mengentarakan. Tak mau ia unjukkan kepada Khik-sia. Lewat beberapa jenak, ia menatap Khik-sia dan tertawa: ”Ai, kau ini tidak itupun tidak. Habis kau mau jadi apa?”

”Aku hanya bercita-cita menjadi orang seperti ayahku,” jawab Khik-sia.

”Oh, kau ingin menjadi pendekar kelana? Yang menjadikan dunia ini rumah tinggalmu, yang akan menuntut keadilan bagi rakyat dunia yang tertindas?”

Atas pertanyaan itu, Khik-sia hanya ganda tertawa saja. Sikap itu dapat diartikan, secara diam- diam ia mengakuinya.

Su Tiau-ing diam-diam menghela napas, katanya: ”Telah kukoreksi diriku sendiri, hati ingin memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Aku ingin juga menjadi tokoh semacam itu, tapi kepandaianku tak mencapai. Tapi mungkin aku tetap tak dapat membiarkan engkoh berbuat kejahatan. Aku tentu harus membereskan urusan keluargaku dulu, baru dapat menurutkan cita- citaku, bebas berkelana seperti burung yang bebas terbang di udara.”

”Setiap orang mempunyai cita-cita sendiri, tak dapat dipaksa. Kau senang menjadi apa, tak usah kiranya berunding padaku,” kata Khik-sia.

Su Tiau-ing tertawa: ”Sedikitpun kau tak menaruh perhatian pada urusanku.”

”Bukan, aku justeru hendak bertanya padamu. Apakah semangatmu sudah pulih? Apakah luka

di kakimu itu sudah sembuh? Apa besok sudah dapat lari? Baiklah sekarang kau beristirahat saja,” kata Khik-sia.

Su Tiau-ing bersungut-sungut: ”Inikah yang disebut 'perhatian'? Kau kuatir aku merepotimu saja. Baiklah, biar aku mati atau hidup tak perlu kau hiraukan. Bisa berjalan atau tidak, tak perlu

kau pedulikan. Aku hendak tidur sekarang! - Ia lantas meramkan mata, tak mengacuhkan Khik-sia lagi.

Meskipun Khik-sia tak punya kesan baik terhadap nona itu, namun tak tega juga hatinya untuk meninggalkannya seorang diri di dalam hutan dalam keadaan seperti saat itu. Diam-diam ia menghela napas, pikirnya: ”Perangai anak perempuan itu, memang sukar diraba. Jika menyalahi, tentu runyam. Untung kerunyaman itu hanya untuk satu malam ini saja. Besok pagi-pagi, kita sudah akan berpisah.   Kelak belum tentu kita akan berjumpa lagi. Bencilah sepuas-puasmu, biarlah.”

Karena kuatir kalau ada binatang buas datang, bukan saja Khik-sia tak menyingkir, malah iapun tak dapat tidur. Ia tak mau dekat, tapipun tak terpisah jauh dari nona itu. Ia mondar-mandir di

bawah pohon, menjadi penjaga malamnya Su Tiau-ing. Berulang kali ia berpaling mengawasi nona itu.

Beberapa saat kemudian rembulan makin tinggi, bintang-bintang bergemerlapan dan malam pun makin dingin.  Su Tiau-ing pun rupanya sudah tidur pulas.   Khik-sia berindap-indap menghampirinya. Lapat-lapat ia mendengar suara napas nona itu, bagaikan sekuntum bunga teratai yang tidur di bawah sinar rembulan, menyebarkan hawa nan harum.

Serangkum angin berembus, tubuh si nona agak gemetar. Hati Khik-sia terkesiap, pikirnya: ”Dalam angin malam yang dingin, ia hanya memakai pakaian tipis, apakah tidak masuk angin nanti.” - Tanpa terasa ia melolos bajunya lalu ditutupkan ke tubuh nona itu.

Su Tiau-ing agak menggeliat, buru-buru Khik-sia menyingkir. Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang halus tapi cukup jelas dalam telinga Khik-sia. Berbareng itu, tanpa ada angin sebuah biji siong jatuh mengenai jidatnya. Kejut Khik-sia bukan kepalang. Cepat ia melolos pokiamnya dan gunakan ginkang it-ho-jong-thian (burung bangau menerobos langit), ia loncat ke atas pohon dan menusuknya.

Memang ternyata di atas pohon itu bersembunyi seseorang. Hanya saja ketika Khik-sia menusuk, orang itu sudah menyelinap loncat ke lain pohon. Gerakannya luar biasa tangkasnya. Khik-sia hanya melihat sesosok bayangan saja, tapi siapa orangnya ia tak tahu sama sekali.

Kejutnya makin menjadi-jadi.   Pikirnya: ”Ginkangnya jauh lebih hebat dari aku. Jika orang itu suruhan engkohnya, sukarlah untuk menghadapinya.”

Setelah mengejar sampai tiga batang pohon, barulah orang itu melayang turun ke bumi dan melambaikan tangannya kepada Khik-sia. Serunya sambil tertawa: ”Turunlah, kita boleh omong- omong di sini.”

Khik-sia terkesiap, keluhnya dalam hati: ”Ah, tolol benar aku ini. Seharusnya siang-siang aku ingat kepada suheng. Selain ia, siapa orangnya lagi yang memiliki ginkang sedemikian hebatnya itu?”

Kiranya orang yang muncul itu bukan lain adalah suheng dari Khik-sia sendiri, yakni Gong- gong-ji.   Walaupun sudah mengerti, namun pada saat itu Khik-sia tak enak hatinya. Mengapa suhengnya membawa ia jauh dari tempat Su Tiau-ing seolah-olah takut pembicaraannya nanti

didengar nona itu? - ”Apa yang akan dikatakan sehingga tak mau didengar orang lain itu?” pikirnya. Sudah beberapa tahun lamanya  Khik-sia tak berjumpa dengan suhengnya itu. Sejak ayah bundanya meninggal, kecuali dengan Thiat-mo-lek, hanya dengan suhengnya itulah ia paling baik hubungannya. Sudah tentu pertemuan yang tak terduga-duga itu, ia merasa girang-girang terkejut. Walaupun mempunyai perasaan tak enak hati, namun ia tak mau mengurangkan kegirangannya itu. ”Suheng, mengapa tiba-tiba kau kemari?” serunya dengan girang.

”Apalagi kalau bukan karena hendak menengok kalian. Sute, peruntunganmu sungguh besar!” Gong-gong-ji tertawa.

Selebar muka Khik-sia merah padam. Baru ia hendak membantah, Gong-gong-ji segera berkata dengan nada tegas: ”Memang paras cantik itu mudah memikat hati. Dalam hal ini tak dapat mempersalahkan kau. Hanya saja di kolong dunia itu banyak sekali gadis-gadis molek, tetapi mengapa pilihanmu jatuh kepada nona itu? Sute, dengar nasehatku, lebih baik jangan berhubungan dengan nona itu!”

Khik-sia gelagapan dan goyang-goyangkan tangannya, tapi mulutnya sukar untuk mencari permulaan pembelaannya. Akhirnya, ia hanya berteriak seperti orang kepedasan: ”Tidak! Tidak! Suheng, kau, kau salah paham!”

Gong-gong-ji gelengkan kepala: ”Ketika Ceng-ceng-ji mengatakan, bermula memang aku tak percaya. Tapi tadi aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Apakah aku tak mempercayai mataku sendiri?”

Khik-sia kaget dan berseru: ”Ceng-ceng-ji membual apa di hadapanmu?”

Seketika wajah Gong-gong-ji tampak kurang senang, katanya: ”Ceng-ceng-ji tinggalkan perguruan dan galang-gulung dengan kaum penjahat, memang tidak senonoh perbuatannya itu. Tetapi bagaimanapun dia adalah suhengmu, mengapa kau tak mengindahkan lagi padanya? Sampai panggilan 'ji-suheng' saja, kau sudah tak sudi menyebutkannya? Dan begitu bertanya kau lantas menuduh ia membual?”

”Ceng-ceng-ji mau membunuh aku. Mengapa aku harus mengakuinya sebagai suheng lagi?” bantah Khik-sia.

”Dia mau membunuhmu? Oh, kumengertilah. Tentulah karena kau tak mau mendengar nasihatnya maka ia lantas menggertakmu.”

Dada Khik-sia seperti mau meledak bahna marahnya, serunya: ”Suheng, tahukah kau tentang perbuatannya yang belakangan ini? Apa yang dia katakan padamu?”

”Karena mendengar bahwa ia berada dengan Su Tiau-gi, maka baru aku datang menyelidiki. Ia sudah berjumpa padaku, tetapi ia mengatakan ia berbuat begitu karena terpaksa untuk kepentingan dirimu.”

Geli-geli jengkel Khik-sia dibuatnya, segera katanya: ”Mengapa karena diriku?”

”Karena ia tahu kalau kau kena terpikat oleh nona siluman itu, setelah berulang kali gagal menasihati kau, barulah ia terpaksa menerima undangan Su Tiau-gi. Maksudnya tak lain karena hendak mengawas-awasi kau saja, agar jangan sampai melakukan perbuatan-perbuatan yang tak senonoh. Siapa tahu ternyata kau benar-benar melakukan hal itu. Kabarnya nona Su itu telah melarikan diri dengan kau, dicegah engkohnya tapi malah engkohnya itu ditusuk sampai terluka.

Benarkah itu?”

”Segala obrolan Ceng-ceng-ji itu bohong belaka. Suheng, mengapa kau percaya padanya?” bantah Khik-sia.

Gong-gong-ji kerutkan alisnya: ”Jadi kau katakan dia membohong? Tapi diam-diam aku telah menyelundup ke kamar Su Tiau-gi dan melihat dia memang betul-betul terluka.”

”Benar, memang Su Tiau-gi dilukai adiknya itu, tapi sekali-kali bukan karena hendak melarikan

diri dengan aku. Suheng, sayang siang-siang kau tak datang. Kalau tidak, tentu kau menyaksikan bagaimana aku bertempur dengan Ceng-ceng-ji.”

Kata Gong-gong-ji: ”Tidak melarikan diri? Mengapa kalian berdua bisa berada di sini pada malam begini? Hm, sebenarnya kau ini seorang anak baik, tapi karena persoalan seorang nona

siluman kau lantas berubah begini jelek. Kau tak mau mendengar nasihat ji-suhengmu itulah sudah, tapi mengapa kau berkelahi padanya?”

”Suheng, maukah kau juga mendengarkan keteranganku?” saking bingungnya Khik-sia berteriak keras.

”Baik, bilanglah. Sejak kecil kau belum pernah berbohong kepadaku. Kini kau sudah dewasa, kuharap kau tetap seperti masa kecilmu itu,” kata Gong-gong-ji yang dengan kata-kata itu seolah- olah ia sudah tak begitu menaruh kepercayaan pada Khik-sia lagi.

Tak enak sekali hati Khik-sia. Tapi teringat bagaimana pada saat itu ia berduaan dengan seorang nona dan pada saat ia menutupkan bajunya ke tubuh si nona, suhengnya itu kebenaran sekali telah melihatnya. Kalau Gong-gong-ji menganggapnya berbuat serong, itulah mudah dimengerti.

”Apakah aku atau Ceng-ceng-ji yang bohong, silahkan nanti suheng menilainya. Dan asal suheng suka menyelidiki tentu tak sukar untuk mendapat jawaban. Karena urusan Ciu pangcu, maka beberapa hari yang lalu partai itu mengadakan rapat besar. Entah apakah suheng sudah mendengar tentang hal itu,” kata Khik-sia.

”Di tengah perjalanan, banyak aku berjumpa dengan kaum pengemis. Tentang rapat besar kaum Kay-pang, sudah lama kudengarnya. Tapi aku tak berminat mengurusi mereka. Tentang peristiwa apa yang menimpa Ciu pangcu mereka, apa hubungannya denganmu?”

”Dengan mengandalkan pengaruh keluarga Su kakak-beradik, Uh-bun Jui melakukan pengkhianatan terhadap partainya. Ceng-ceng-ji menulang-punggungi Uh-bun Jui. Kala itu mereka telah melakukan sandiwara yang bagus. Pada saat itu kebetulan aku juga hadir. Aku tak setuju akan tindakan Ceng-ceng-ji sehingga terpaksa turun tangan membantu pihak Wi locianpwe.” Demikian Khik-sia segera menuturkan semua kejadian, mulai dari peristiwa di Kay-pang, kemudian sampai ia ditawan oleh Ceng-ceng-ji dengan obat bius, bagaimana Su Tiau-ing bentrok dengan Su Tiau-gi lalu lolos dari kepungan.

Akhirnya ia berkata: ”Bukankah Ceng-ceng-ji mengatakan pada suheng bahwa ia terpaksa mau menerima undangan Su Tiau-gi karena hendak memata-matai perbuatanku dengan nona Su? Pada waktu Kay-pang mengadakan rapat besar, aku sama sekali tak kenal dengan Su Tiau-ing. Tapi Ceng-ceng-ji pada waktu itu sudah membantu pada Su Tiau-gi kakak-beradik.  Peristiwa dalam rapat Kay-pang pada saat itu, disaksikan oleh ribuan anggotanya. Adakah aku yang bohong atau Ceng-ceng-ji yang dusta, mudahlah diketahui.”

”Jadi kalau menurut keteranganmu, dalam rapat itu anak murid Kay-pang belum mengetahui bahwa Ciu pangcu mereka ditawan oleh kakak-beradik Su?” kata Gong-gong-ji.

”Benar, mungkin begitulah, maka Ceng-ceng-ji baru berani berbohong padamu. Tetapi pada kala itu selain bertempur dengan Ceng-ceng-ji akupun berkelahi juga dengan nona Su itu. Jika

siang-siang aku sudah ada hubungan baik dengan nona itu, mengapa aku merusakkan rencananya?” bantah Khik-sia.

Kini mulailah Gong-gong-ji tergerak kepercayaannya.

”Ah, tak kira kalau Ceng-ceng-ji sedemikian kurang ajarnya. Jika siang-siang sudah kutahu,

tentu sudah kutangkapnya dan kuhukum dia suruh menghadap tembok sampai tiga tahun!” akhirnya meluncurlah pengakuan Gong-gong-ji.

”Apakah ia sudah melarikan diri?” tanya Khik-sia.

”Sebenarnya kuajaknya ia datang kemari untuk mencari kau. Tapi ia menolak dengan alasan tak enak meninggalkan Su Tiau-gi yang sedang terluka, karena ia sudah menerima penghormatan besar dari Su Tiau-gi itu. Nanti setelah Su Tiau-gi sembuh, barulah ia dapat pergi.  Sekalipun begitu, karena ia merasa telah berdusta padaku dan takut kalau kutangkapnya, maka ia tentu sudah meloloskan diri,” menerangkan Gong-gong-ji.

Sebenarnya Gong-gong-ji itu masih ada setitik kecurigaan terhadap Khik-sia. Ia percaya bahwa Ceng-ceng-ji yang berbohong, tapi ia tetap belum percaya penuh kalau Khik-sia sama sekali tak ada hubungan apa-apa dengan Su Tiau-ing. Pikirnya: ”Kau benar pernah bertempur dengan dia (Su Tiau-ing) dalam rapat Kay-pang, tapi itu bukan suatu jaminan bahwa selanjutnya kau tak kena terpikat olehnya. Jika kau tak sayang padanya, mengapa kau begitu tekun menjadi penjaga malam dan menutupi tubuhnya dengan bajumu?”

Maka katanya kemudian: ”Kau tak terjerumus ke jalan sesat, itulah baik sekali. Bagaimanapun halnya, dara she Su itu jangan rapat-rapat didekat. Lebih baik kau lekas menyingkir dari dia, makin jauh makin baik.”

Khik-sia merasa agak jengkel tapipun agak geli juga. Pikirnya: ”Nona itukan bukan seekor ular berbisa, asal aku tak dekat toh sudah cukup. Mengapa harus begitu ditakuti?”

Namun sekalipun hatinya membantah, tapi Khik-sia tak mau adu bicara dengan suhengnya lagi. Katanya: ”Harap suheng jangan kuatir. Besok pagi-pagi aku tentu berpisah dengan dia. Akupun tak mau memperdulikan urusannya lagi.”

Gong-gong-ji mengangguk, tetapi ia bertanya pula: ”Kau hendak pergi kemana nanti?”

”Lebih dulu aku hendak kembali melapor pada Kay-pang, setelah itu baru menuju ke Tiang-an,” kata Khik-sia.

Khik-sia mengiakan: ”Benar, yang melepas api ialah anak buah dari nona Su itu. Api berkobar besar sekali, apakah di tengah jalan kau tak melihat cahayanya?”

”Ketika tiba, api baru mulai merangsang. Cahaya api sudah tentu kulihatnya tapi, huh, tapi sedikit aneh,” kata Gong-gong-ji.

”Apanya yang aneh?” tanya Khik-sia.

Kata Gong-gong-ji: ”Ciu pangcu, Ma tianglo, Uh-bun Jui dan lain-lain orang Kay-pang, aku kenal semua. Tapi ” -- Sampai disitu Gong-gong-ji hentikan kata-katanya.

Baru Khik-sia hendak menanyakan mengapa suhengnya itu mendadak berhenti bicara, begitu ia mendongak, dilihatnya Su Tiau-ing tengah berjalan menghampiri mereka.

Dingin-dingin nona itu menegurnya: ”Gong-gong-ji, bilakah kau datang? Mengapa tak

memberi tahu padaku? Apa yang kalian suheng dan sute berdua omongkan secara bersembunyi di belakangku itu? Bolehkan aku mendengarinya?”

Pikir Khik-sia bahwa suhengnya tentu akan marah, ternyata meleset. Dengan ramahnya Gong- gong-ji menyahut: ”Jangan curiga, nona Su. Karena kau tidur, maka aku tak berani mengganggumu. Karena sudah beberapa tahun tak berjumpa dengan suteku ini, maka kami saling menuturkan pengalaman masing-masing, sekali-sekali tidak ngerasani kau di belakangmu.” Dengan tawar Su Tiau-ing berkata: ”Benarkah? Tapi, Gong-gong-ji, aku tak terlalu percaya padamu. Khik-sia bilanglah, bukankah suhengmu mengatakan sesuatu tentang diriku?”

Khik-sia tak biasa berbohong. Tapi karena Su Tiau-ing bertanya begitu, iapun tak mau menjawabnya. Pikirnya: ”Suheng mengatakan kau ini seorang perempuan siluman, tapi tak mau kuberitahukan padamu.”

Maka sahutnya: ”Kau sudah tahu dia adalah suhengku, sudah tentu kami suheng dan sute banyak sekali yang dibicarakan.  Tentang apa yang kita bicarakan, itu bukan urusanmu.” ”Baik, rupanya kamu berdua suheng dan sute itu sudah saling bersepakat. Aku orang luar, tak

boleh ikut campur. Tetapi, Gong-gong-ji, akan ada seseorang yang hendak mengurus dirimu. Dan orang itu segera akan tiba kemari. Memang kebetulan sekali kita berjumpa di sini, jangan kau ngacir dulu, lho!” demikian Su Tiau-ing mencerocos.

”Nona Su, jangan membikin susah padaku. Aku masih ada lain urusan, ai, benar-benar ada urusan. Maaf, terpaksa harus pergi.” -- Habis berkata, Gong-gong-ji pun segera melesat pergi, tanpa meninggalkan sepatah kata kepada Khik-sia. Pada lain kejap ia sudah lenyap dari pemandangan.

Su Tiau-ing cibirkan bibirnya dan ketawa riang.

Muncul dan perginya Gong-gong-ji itu sungguh di luar dugaan Khik-sia. Tapi cara ia pergi

secara begitu mendadak, lebih mengherankan Khik-sia daripada ketika ia muncul tadi. Gong-gong- ji itu seorang manusia yang tak takut segala apa. Seumur hidupnya, kecuali terhadap suhu dan subonya, ia tak pernah tunduk kepada siapapun jua. Dahulu karena peristiwa diri Ceng-ceng-ji, ia pernah bertempur dengan Hong-kay Wi Wat, itu tokoh dari Kay-pang. Tapi heran, manusia yang tak punya takut itu kini ternyata lari terbirit-birit oleh beberapa patah kata Su Tiau-ing saja.

Sungguh mengherankan sekali!

Dengan penuh tanda tanya, diam-diam Khik-sia menimang dalam hati: ”Siapakah yang

dikatakan oleh Su Tiau-ing itu? Pada masa ini tokoh-tokoh yang dapat mengalahkan suheng, hanya dapat dihitung dengan jari saja. Selain Bok Jong-long dari pulau Ho-siang-to di laut Tang-hay yang begitu jauhnya, mungkin hanya Kim Lun hwat-ong yang dapat menundukkan suheng.   Lain- lainnya, seperti Wi Wat, Mo Keng lojin dan Biau Hui sin-ni dan lain-lain, paling banyak hanya berimbang dengan dia. Sedangkan terhadap Kim Lun hwat-ong, suheng tak takut, masakan orang yang disebut Su Tiau-ing itu jauh lebih sakti dari Kim Lun hwat-ong itu?”

Su Tiau-ing tertawa: ”Suhengmu sudah lari jauh. Kukira ia tentu tak berani datang lagi.

Mengapa kau masih mengawasi terlongong-longong saja? Bahwa tadi aku telah mengganggu pembicaraan kalian berdua suheng dan sute, sungguh aku merasa menyesal. Ha, aku sendiripun tak menyangka sama sekali bahwa Biau-chiu Gong-gong-ji begitu berjumpa padaku lantas lari terbirit- birit begitu rupa.”

Khik-sia tak dapat tiada berpikir: ”Sudah lama sekali suhengku termasyhur namanya, maka pambeknyapun tinggi. Ia muncul pergi tanpa terduga. Terhadap kaum rendahan, bagaimana ia mau meladeni? Nona Su ini masih muda umurnya, pun puteri dari Su Su-bing yang paling dibenci oleh suheng. Tapi mengapa ia kenal pada suheng?”

Dan keheranan hatiya itu segera disalurkan dalam sebuah pertanyaan: ”Nona Su, bilakah kau kenal pada suhengku itu? Mengapa suheng tak pernah mengatakan padaku?”

”Amboi, belum pernah mengatakan?” sahut Su Tiau-ing, ”Bukankah tadi di belakangku ia mengomongkan tentang diriku?”

Tergerak hati Khik-sia.  Teringat tadi sikap suhengnya kala menasehatinya supaya  jangan bergaul rapat dengan Su Tiau-ing. Ditilik naga-naganya, agaknya Gong-gong-ji itu memang sudah kenal dengan nona itu. Hanya saja mengapa ia begitu ketakutan terhadap nona itu?

Kata Su Tiau-ing pula: ”Aku tak peduli apa yang kalian berdua bicarakan tadi. Kaupun tak usah menghiraukan bagaimana aku kenal padanya. Pokoknya, kau takut pada suhengmu, tetapi aku tak takut sama sekali kepadanya.”

Sejak dulu Khik-sia selalu mengindahkan kepada suhengnya. Mendengar kata-kata Su Tiau-ing begitu, ia tak enak hatinya.

”Bagus, memang sebenarnya kita bukan sekaum maka tak perlu menghiraukan urusan masing- masing. Aku cukup akan bertanya padamu, apakah sekarang kau sudah sembuh sama sekali? Dapatkan kau berjalan seperti biasa lagi?”

Su Tiau-ing kerutkan alis dan menyahut: ”Ya, terima kasih atas pertolonganmu tadi. Aku sudah sembuh.”

Kala itu rembulan sudah remang di ufuk barat. Fajar segera akan menerangi bumi. Kata Khik- sia: ”Baik, sekarang kita akan berpisah.” -- Ia terus ayunkan langkah pergi.

”Hai, mau kemana kau? Apakah bukan hendak melapor pada kaum Kay-pang?” tiba-tiba Su Tiau-ing meneriakinya.

”Hm, bukankah telah kita katakan, kita tak boleh mengurusi urusan masing-masing? Aku hendak pergi kemana, perlu apa kau ingin tahu?” sahut Khik-sia yang tanpa berpaling kepala lagi terus melangkah maju.

Dari belakang kedengaran Su Tiau-ing tertawa: ”Sebenarnya aku malas untuk bertanya urusanmu itu. Aku hanya kuatirkan apabila orang Kay-pang bertanya tentang diri Ciu pangcu, bagaimana jawabmu?”

Dari ucapan Su Tiau-ing yang mencurigakan itu, teringatlah Khik-sia akan sesuatu.  Tadi ketika ia menceritakan kepada suhengnya bahwa Ciu pangcu sudah lolos, sikap suhengnya agak aneh, malah mengatakan 'aneh' juga. Sayang suhengnya belum sempat menerangkan hal itu karena keburu Su Tiau-ing datang.

Bahwa sekarang Su Tiau-ing mengungkat lagi hal itu, kecurigaan Khik-sia makin besar. Tanpa terasa ia hentikan langkah dan berpaling bertanya: ”Nona Su, bagaimana maksudmu? Bukankah tadi kau mengatakan Ciu pangcu sudah lolos?”

”Tentang hal itu? Boleh dikatakan ya, boleh dikatakan tidak,” sahut Su Tiau-ing dengan nada yang tawar.

”Ya bilang ya, tidak bilang tidak, mengapa tak tegas begitu? Permainan apa yang kau lakukan ini, ha?” tegur Khik-sia yang sudah mulai sengit.

”Tempat tahanan Ciu pangcu sudah musnah terbakar api. Engkohku tak mengetahui di mana

Ciu pangcu itu sekarang berada. Dengan begitu ia tak dapat mencelakainya lagi,” kata Su Tiau-ing.

”Tidakkah hal itu berarti ia sudah lolos?”

”Benar,” jawab Su Tiau-ing sambil tertawa, ”memang kau tak usah menguatirkan keselamatan jiwanya lagi. Tapi ..... ia masih berada dalam cengkeramanku! Bahaya sih sudah tidak, namun 'lolos' tetap belum. Maka untuk pertanyaanmu tentang lolosnya atau tidak, aku hanya dapat menjawab secara dualistis (dua-duanya). Jadi sekali lagi kuulangi, boleh dikata ya boleh dikata tidak.”

”Bukankah kau sudah mengatakan kalau sudah melepaskannya? Jadi kalau begitu kau hendak menipu aku?” teriak Khik-sia dengan marahnya.

Tapi dingin-dingin saja Su Tiau-ing menjawab: ”Pikirlah yang terang sedikit. Bilakah kuberkata

aku sudah melepaskannya? Aku kan hanya mengatakan padamu tentang kusuruh budakku melepas api? Menuduh aku sudah melepaskan dia, itulah anggapanmu sendiri.”

Khik-sia ingat-ingat kembali dan benar juga ia tak mendengar kalau Su Tiau-ing itu mengatakan sudah melepas Ciu pangcu. Kejut Khik-sia bukan kepalang. Buru-buru ia bertanya: ”Bagaimana kejadian ini yang sebenarnya? Tapi aku ingat, kau mengatakan kalau tak membakar Ciu pangcu!” ”Memang tidak membinasakannya. Dan mengapa aku harus membinasakan? Membiarkan ia hidup, gunanya jauh lebih besar. Dengarlah, aku hanya memindahkan tempat tahanannya saja ke lain tempat. Tempat itu, kecuali aku dan dua orang budak kepercayaanku, siapapun tak tahu.” Khik-sia menghela napas, serunya: ”Oh, kiranya begitu. Tapi meskipun ia tak berbahaya, mengapa masih ditahan lagi? Untuk itu aku tetap kuatir. Kay-pang mempunyai hubungan dengan aku, harap kau suka memberitahukan tempat tahanannya itu dan tolong berikan obat penyembuh untuknya agar segera dapat menolongnya.”

Su Tiau-ing tertawa dingin: ”Bukankah kau sudah mengatakan kalau kita masing-masing tak usah saling minta pertolongan? Sejak saat ini, kau ke timur aku ke barat, kau tak pedulikan aku, aku juga tak menghiraukan kau?”

Khik-sia terlongong-longong, serunya: ”Ini ... ini ... janganlah kau begitu kelewatan sekali.” ”Kay-pang mempunyai hubungan padamu, tapi tak punya hubungan apa-apa dengan aku.

Karena kau menganggap diriku orang asing, mengapa sekarang kau hendak minta pertolonganku supaya bebaskan Ciu pangcu? Bukankah ini juga kelewatan sekali?” dengan lidahnya yang tajam, Tiau-ing dapat membalas serangan Khik-sia.

Debatan itu membuat Khik-sia tersipu-sipu merah mukanya. Sampai sekian lama ia tak dapat bicara.

”Sudahlah, bicaraku sudah habis. Bukankah kau hendak pergi? Mengapa tak jadi?” Su Tiau- ing menertawakannya.

Khik-sia tegak seperti patung. Ia tak dapat berkutik sama sekali.

”Baik, demi memandang dirimu, jika mau menjenguk Ciu pangcu, mari ikut aku ke Tiang-an,” kembali Su Tiau-ing berkata dengan tenang.

Khik-sia terkesiap, serunya: ”Menemui Ciu pangcu ke Tiang-an?”

”Benar, telah kupesan kepada budak kepercayaanku, kalau terjadi sesuatu perubahan harus lekas-lekas bawa Ciu pangcu ke Tiang-an,” sahut nona itu.

Teringat bahwa hari pembukaan dari Eng-hiong-tay-hwe di Tiang-an itu sudah dekat, karena toh ia juga memang hendak kesana, akhirnya ia menerima baik tawaran nona itu.

Demikian mereka berdua lalu menuju ke Tiang-an. Belum lama berjalan, tiba-tiba dari sebelah muka tampak ada dua ekor kuda mencongklang datang. Ketika dekat, ternyata penunggangnya seorang laki dan seorang wanita. Khik-sia terkesiap kaget. Kiranya kedua penunggang kuda itu bukan lain adalah Tok-ko U dan Tok-ko Ing.

Memandang dengan terlongong-longong ke arah kedua pemuda itu, hati Khik-sia serasa seperti diinjak-injak oleh kuda mereka. Namun ia tak dapat menahan keheranannya juga: ”Ai, mana Yak- bwe? Mengapa ia tak kelihatan bersama kedua kakak adik itu?”

Timbul pikiran semacam itu pada Khik-sia karena ia menuduh Yak-bwe itu sudah jatuh hati pada Tok-ko U.   Kalau begitu tentulah kemana-mana selalu ikut. Siapa tahu, karena Yak-bwe lenyap, maka kedua kakak beradik itu menjadi sibuk tak keruan. Kepergian mereka kali ini tujuannya ialah hendak mecncari jejak Yak-bwe.

Kepergian Yak-bwe malam itu meskipun sudah meninggalkan surat, tapi suratnya itu tak jelas maksudnya alias samar-samar. Yak-bwe hanya menulis 'urusan ini kelak tentu jelas sendiri, sekarang masih sukar untuk memberitahukan'. Kata-kata dalam surat Yak-bwe itu, makin menambah kebingungan hati kedua kakak adik tersebut. Sebagaimana diketahui, Tok-ko Ing tetap belum tahu bahwa Yak-bwe itu sebenarnya seorang gadis. Untuh jangan membuat sedih hati sang adik, dan karena ia sendiri juga kepingin mengetahui persoalannya, maka Tok-ko U mau menemani adiknya pergi ke Tiang-an.  Mereka duga Yak-bwe tentu hadir dalam pertemuan besar para enghiong yang sudah makin dekat waktunya itu. Jika Yak-bwe tak datang, pun mereka akan dapat bertanya kepada orang-orang gagah yang hadir dalam pertemuan besar itu. Dengan begitu, mereka yakin tentu akan berhasil menemukan jejak Yak-bwe.

Saat itu kedua kakab adik she Tok-ko itupun juga melihat Khik-sia. Merekapun terkesiap dan serempak sama meraba pedangnya. Pikirnya: ”Ah, sungguh sial, mungkin akan bertempur dengan dia!”

Jarak kedua pihak makin lama makin dekat. Rupanya Tok-ko U lebih berpengalaman.   Ia melihat Khik-sia tak bersikap bermusuhan. Tapi Tok-ko Ing yang melihat Khik-sia tetap berjalan di tengah jalan seperti tak mau menyingkir ke pinggir, diam-diam merasa kuatir juga. Pikirnya: ”Entah siapakah bangsat itu. Hm, ditilik ia berjalan dengan seorang nona cantik, rupanya ia bukan kaki tangan pemerintah. Kebanyakan tentulah bangsa pengganggu wanita.”

Sebaliknya Su Tiau-ing tak kenal dengan kedua kakak beradik itu. Kala melihat mata Khik-sia tak terkesiap memandang ke arah nona itu (padahal sebenarnya Khik-sia hanya curahkan perhatiannya ke arah Tok-ko U saja) dan nona itupun terus menerus memandang pada Khik-sia juga (sudah tentu ini hanya menurut anggapan Su Tiau-ing sendiri), diam-diam marahlah Su Tiau-ing. ”Siapakah budak perempuan yang berani jual lagak di tengah jalan itu? Baik, biarkan kuolok- oloknya, suruh ia menelan pil pahit,” demikian pikirnya.

Dalam pada Su Tiau-ing berpikir itu, kedua penunggang kuda itupun sudah tiba di sebelahnya. Rupanya ilmu menunggang kuda dari Tok-ko U masih belum mahir, hingga tak dapat menguasai congklang kudanya yang menerjang maju. Begitupun Tok-ko Ing yang sudah tak dapat menguasai kudanya menjadi gelisah.  Buru-buru ia meneriaki Khik-sia: ”Hai, minggirlah!  Kau hendak mengapa itu?”

Khik-sia gelagapan dan buru-buru berseru: ”Maaf, aku sampai lupa memberi jalan.” -- Ia segera menyingkir ke pinggir untuk memberi jalan pada kuda Tok-ko Ing.

Tapi tidak demikian dengan Su Tiau-ing. Tiba-tiba ia tamparkan tangannya. Dua batang jarum bwe-hwa-ciam telah menyusup ke dalam paha kuda Tok-ko Ing.  Sekali meringkik keras, kaki depan kuda itu segera menekuk ke bawah. Hampir saja Tok-ko Ing dilemparkan ke bumi. Memang sebenarnya Tok-ko Ing sudah berjaga-jaga kalau diserang senjata rahasia. Tapi tak menyangka sama sekali bahwa serangan itu datangnya dari Su Tiau-ing.

Adalah karena sudah siap sedia sebelumnya, maka dengan cepatnya Tok-ko Ing sudah lantas mencelat ke udara. Dalam melayang turun, ia sudah gunakan jurus kim-eng-tian-ki atau burung garuda pentang sayap. Pedangnya dikembangkan di udara kemudian meluncur turun menusuk Su Tiau-ing.

Tok-ko Ing adalah anak murid dari Kong-sun toanio. Ilmu pedang Kong-sun toanio itu tiada lawannya di dunia persilatan. Meskipun sucinya, ialah Li Sip-ji-nio yang memberi pelajaran padanya, tapi Tok-ko Ing sudah dapat menyakinkan dengan sempurna.

Keruan Su Tiau-ing kaget. Nona yang tak dipandang mata itu ternyata memiliki ilmu pedang

yang luar biasa hebatnya. Kalau ia agak ayal menyingkir tentu sudah dimakan pedang Tok-ko Ing. Sekalipun dapat menghindar, tapi karena diserang secara cepat oleh lawan, Su Tiau-ing tak sempat lagi mencabut goloknya.

Tok-ko Ing menyerang secara kilat. Sekaligus ia sudah lancarkan tiga serangan. Setiap serangannya tentu mengarah jalan darah Su Tiau-ing yang berbahaya. Su Tiau-ing menjadi keripuhan dan terdesak dalam bahaya.

Sebenarnya Khik-sia mendongkol kepada Su Tiau-ing yang cari gara-gara itu. Tapi demi melihat Tok-ko Ing menyerang dengan jurus-jurus yang hebat, ia kerutkan dahi. Kalau terus

berlangsung begitu, terang Su Tiau-ing takkan sempat mencabut senjatanya dan kemungkinan besar tentu binasa di ujung pedang Tok-ko Ing. apa boleh buat, terpaksa ia akan turun tangan untuk memberi kesempatan Su Tiau-ing bernapas.

Pada saat Khik-sia menengahi, Tok-ko Ing justeru sedang lancarkan jurus yang keempat yakni giok-li-tho-soh atau bidadari melempar tali. Tampaknya Su Tiau-ing sukar menghindar lagi. Tapi sekali jari tengah Khik-sia menjentik, cring pedang Tok-ko Ing kena dipentalkan ke samping.

Kaget dan marah Tok-ko Ing bukan kepalang, dampratnya: ”Bangsat jahanam, aku mengadu jiwa padamu!”

Meskipun jelas dilihatnya bahwa tadi Khik-sia tak mengandung maksud bermusuhan sungguh- sungguh, namun untuk menjaga kemungkinan yang tak diharapkan, Tok-ko U cepat putar kudanya. Tepat pada saat itu Khik-sia menjentik pedang Tok-ko Ing. Anak muda itu berdiri berhadap- hadapan dengan adiknya, jaraknya amat dekat sekali, dapat menyerang apabila Khik-sia mau.

Sudah tentu Tok-ko U terperanjat. Kuatir kalau anak muda itu akan berbuat jahat terhadap adiknya, tanpa banyak pikir lagi, Tok-ko U juga ikut-ikutan memaki: ”Bangsat, lihatlah passerku!”

Khik-sia hendak memberi penjelasan, tapi dua batang passer Tok-ko U sudah menyambarnya. Cepat Khik-sia ulurkan tangan untuk menyambutinya. Pada saat ia berhasil menjepit passer itu, pedang Tok-ko Ing pun sudah tiba. Khik-sia segera gunakan passer itu untuk menangkis. Tring ....

passer terpapas kutung, tangan Khik-sia hampir turut terluka juga.

Karena Khik-sia berdiri menghadapi Tok-ko Ing, jadi Su Tiau-ing berada di belakangnya. Tok-

ko Ing mencekal sebatang pedang pusaka, sedang Khik-sia hanya bertangan kosong saja. Makin dekat jarak mereka, makin berbahaya bagi Khik-sia harus tumplek seluruh perhatian kepada pedang pusaka si nona itu. Dengan begitu ia tak sempat memperhatikan Su Tiau-ing lagi.

Tadi telah dikatakan bahwa Tok-ko U telah timpukkan dua batang passer. Yang sebatang dapat disambuti Khik-sia, tapi yang sebatang lagi yang memang diarahkan oleh Tok-ko U untuk Su Tiau- ing dan tak mampu disambuti oleh gadis itu. Memang lain Khik-sia lain Su Tiau-ing, karena kalah lihay daripada pemuda itu, jalan satu-satunya bagi Su Tiau-ing ialah menghindar. Tapi meski ia sebat sekali dapat menghindar, toh tak urung tusuk kondainya yang terbuat dari batu kumala kena dihantam jatuh oleh passer itu.

Inilah yang dinamakan 'jangan suka mengganggu anjing tidur', atau jangan suka cari perkara yang berarti mengundang bahaya.

Kejut dan marahlah Su Tiau-ing. Cepat ia sudah siapkan jarum bwe-hoa-ciamnya. Ia bermaksud hendak gunakan siasat seperti menghadapi Tok-ko Ing tadi, yaitu merobohkan kuda tunggangan Tok-ko U. Tapi tiba-tiba Khik-sia putar tubuhnya dan dengan pukulan biat-gong-ciang ia hantam jarum Su Tiau-ing itu sampai tercerai berai. Setelah deliki mata, Khik-sia lantas

menyikut dan aduh begitu sang mulut mengaduh, tubuh Su Tiau-ing pun sudah terlempar sampai

tiga tombak jauhnya.

Padahal sikutan Khik-sia itu hanya dengan gunakan tenaga kaiu-kin atau ketangkasan. Sebenarnya Su Tiau-ing tak menderita kesakitan apa-apa. Ia menjerit tadi, karena sama sekali tak menduga akan tindakan Khik-sia.

Tapi pukuan biat-gong-ciang yang dilepas Khik-sia tadi, memang menggunakan lwekang penuh. Ia pernah bertempur dengan Tok-ko U dan tahu kalau Tok-ko U tak boleh dibuat main-main.

Apalagi anak muda she Tok-ko itu jaraknya masih 6-7 tombak jauhnya. Taruh kata Su Tiau-ing benar lepaskan bwe-hoa-ciam, pun Tok-ko U tentu dapat mengatasinya. Jalan pikiran Khik-sia ialah mencegah Su Tiau-ing memperbesar perkara. Itulah sebabnya ia hantam jarum bwe-hoa- ciamnya sampai berceceran.

Sayang dalam kesibukannya itu Khik-sia tak sempat memikir jauh. Ia bermaksud baik terhadap Tok-ko U, tapi karena tak memperhitungkan akibatnya, malah menjadikan salah pahamnya.

Pukulan biat-gong-ciangnya tadi tak berarti bagi Tok-ko U, tapi kudanya, ya, kudanyalah yang tak kuat. Bukan saja kuda Tok-ko U yang tengah lari itu berhenti dengan tiba-tiba, pun bahkan tersurut mundur sampai beberapa langkah. Kuda menjadi kaget dan melonjak-lonjak sehingga Tok-ko U hampir dilemparkan ke tanah.

Maksud baik dari Khik-sia, menjadi percuma saja. Bahkan hal itu diartikan sebaliknya oleh Tok-ko U.   Dengan murkan anak muda itu loncat turun dari kudanya. Sekali ia rangsangkan kipasnya, jalan darah yang mematikan di tubuh Khik-sia segera diserangnya.

Ilmu tutukan kipas dari Tok-ko U, sebenarnya merupakan ilmu sakti dalam dunia persilatan.

Tapi ia kebentur dengan Khik-sia yang memiliki ginkang jempol. Tanpa menghiraukan Su Tiau-ing lagi, Khik-sia segera kembangkan ginkangnya untuk berlincahan kian kemari, naik turun

menghindari tujuh buah serangan Tok-ko U. Jangankan kena, sedang menyentuh bajunya saja kipas Tok-ko U itu sudah tak mampu.

Insyaf bahwa kepandaian lawan lebih tinggi dari dirinya, kini Tok-ko U menjadi kalap. Asal

dapat menutuk saja, tak peduli apakah itu jalan darah yang fatal (mematikan) atau jalan darah yang tak berbahaya. Jadi ia menutuk asal menutuk saja.

Kebencian Tok-ko Ing terhadap Khik-sia, jauh lebih besar dari engkohnya. Seperti engkohnya, sekali gebrak iapun sudah lancarkan serangan-serangan yang berbahaya. Selain itu mulutnya terus nericis memaki-maki Khik-sia sebagai maling jahat.

Menghadapi keroyokan kakak beradik itu, terpaksa Khik-sia keluarkan seluruh kebisaannya. Dalam pada itu, diam-diam ia mulai marah juga. Pikirnya: ”Taruh kata pihakku yang bersalah karena mengganggu kuda kalian, toh juga tak seharusnya kalian lantas menyerang secara begitu ganas.”

Sampai sekian saat, Khik-sia belum berhasil untuk membebaskan diri dari rangsangan kedua saudara itu. Akhirnya setelah berkutetan sekian lama, barulah ia memperoleh kesempatan itu. Ia menyelinap keluar dari samping Tok-ko Ing, sembari membentaknya: ”Berhenti!” Namun Tok-ko Ing sudah seperti orang kerangsekan setan. Ia terus menguber maju dan menusuk lagi: ”Bangsat, mau lari?”

Khik-sia tertawa dingin: ”Jika aku seorang bangsat, tentu tadi-tadi sudah kucabut nyawamu. Bukannya aku takut pada kalian, aku hanya memandang pada diri nona Su ”

”Siapa yang suruh kau memandang mukaku? Kedua bangsat kecil itu kurang ajar sekali, hajar sajalah mereka itu habis-habisan. Sedikitpun aku tak kasihan pada mereka!” dengan serempak Su Tiau-ing sudah lantas menyahuti kata Khik-sia.

Yang dimaksud oleh Khik-sia diri ' nona Su' itu, adalah Su Yak-bwe. Dalam mengucapkan kata- katanya itu, hati Khik-sia amat ramah sekali. Siapa tahu, Su Tiau-ing sudah salah duga, mengira kalau dirinya yang dimaksudkan si anak muda itu. Sudah tentu Khik-sia menjadi meringis seperti monyet tertawa.

Adalah Tok-ko Ing yang hampir mau meledak dadanya. Dengan lantang ia memaki: ”Kurang

ajar, siapa yang minta kasihanmu?” -- Pedang ceng-kong-kiamnya kembali merabu Khik-sia dalam hujan serangan sin-liong-jut-hay, leng-wan-hoan-ci, hian-niau-hwat-sat dan beng-ke-toh-li.

Sekaligus ia lancarkan empat buah jurus yang semuanya mengarah jalan darah mematikan.

Khik-sia tak mempunyai kesempatan untuk memberi penjelasan lagi dan lagi ia sendiripun tak

tahu bagaimana harus menjelaskannya. Dalam penjelasan itu, tak urung ia harus mengatakan: ”Su Yak-bwe adalah calon isteriku yang batal. Kini ia tak mau padaku, tapi dengan masih memandang mukanya, aku tetap memberi ampun pada kalian.” -- Ini runyam ....

Tok-ko U lebih tenang dari adiknya, dalam pengalamannya iapun lebih banyak dari sang adik. Setelah mendengar kata-kata Khik-sia tadi, ia duga di situ tentu tersembunyi sesuatu. Belum lagi ia sempat merangkai dugaannya lebih jauh, Su Tiau-ing sudah menyelutuk tadi. Diam-diam Tok-ko U berpikir: ”Ah, kiranya nona siluman itu juga orang she Su. Kukira ucapan anak muda itu menyangkut diri Su hiante (Yak-bwe). Hm, lucu benar.”

Namun kecurigaan Tok-ko U masih tetap belum hilang sama sekali. Pikirnya pula: ”Dengan tanpa alasan, nona jahat itu menyerang Tok-ko Ing secara tiba-tiba. Anehnya mengapa bangsat

kecil itu (Khik-sia) tak mengatakan karena 'memandang mukanya'?” Dan rupanya bangsat kecil itu masih belum mau mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk bertempur.”

Setelah menutukkan kipasnya ke punggung Khik-sia, Tok-ko U tiba-tiba hentikan serangannya

dan berseru: ”Siapakah kau ini? Kami tiada bermusuhan padamu, mengapa kau hendak memusuhi kami?”

Apa yang diucapkan Tok-ko U itu, hanya separuh bagian yang dimengerti Su Tiau-ing. Kiranya bukan saja Tok-ko U itu menganggap Khik-sia dan ia (Su Tiau-ing) itu sekawan, pun memandang serangan yang dilakukannya (Su Tiau-ing) itu juga berarti perbuatan Khik-sia. Lebih lanjut, Tok-ko U tetap mengira kalau perbuatan Khik-sia dulu menyelundup ke dalam rumahnya itu, tentu bermaksud jahat. Tapi Su Tiau-ing hanya tahu akan peristiwa saat itu. Sama sekali ia tak tahu menahu tentang peristiwa Khik-sia menyelundup ke gedung keluarga Tok-ko tempo hari.

Sebenarnya Khik-sia hendak memberi penjelasan. Tapi karena ia tak tahu bagaimana harus memulai, maka walaupun mulutnya komat-kamit tapi tak keluar suaranya. Adalah Su Tiau-ing yang bermulut lancar, dengan sikap mengejek sudah lantas buka suara: ”Apakah kalian itu anak

ayam yang baru pertama kali ini keluar dari kandang? Masakan pendekar muda Toan Khik-sia yang cemerlang namanya, kalian sudah tak mengetahui? Hm, apakah sekarang kalian masih berani kurang ajar padaku lagi?”

”Apa? Benarkah kau Toan Khik-sia?” teriak Tok-ko U dengan kaget.

Saat itu Khik-sia merasa jengah dan mendongkol. Selagi Tok-ko U dan adiknya terkesiap, ia lantas gunakan gerak it-ho-jong-thian atau burung bangau menyusup ke udara, loncat keluar dari kepungan mereka. Di sana Khik-sia rangkap kedua tangannya memberi hormat: ”Urusan hari ini, adalah pihak kami yang bersalah, dengan ini kuhaturkan maaf.”

Habis berkata ia lantas berputar tubuh dan terus menggelandang tangan Su Tiau-ing diajak pergi. Tindakan Khik-sia itu membuat Su Tiau-ing melonjak kaget, serunya: ”Hai, bagaimana kau ini? Tidak menghajar mereka, sebaliknya kau malah minta maaf?”

Dengan wajah keren Khik-sia mendengus dan berkata: ”Jangan membikin onar lagi!” -- Ditariknya tangan si nona terus dibawa lari. Dicekal oleh Khik-sia erat-erat, mana Su Tiau-ing mampu berkutik.

Kedua saudara Tok-ko saling berpandangan satu sama lain. Kemengkalan hati Tok-ko Ing masih belum reda, namun ia tak mau memaki-maki ”bangsat” lagi kepada Khik-sia.

Tok-ko Ing amat menyayang sekali akan kudanya itu. Walaupun kuda kesayangannya itu kena sebatang jarum bwe-hoa-ciam, ia duga tentu tak jadi halangan. Asal jarum itu lekas-lekas dikeluarkan dan kuda diberi obat seperlunya, tentulah akan sembuh. Apalagi ia selalu membawa batu sembrani untuk alat penyedot jarum bwe-hoa-ciam. Tapi alangkah kejutnya ketika ia menghampiri kuda itu ternyata binatang itu mulutnya mengeluarkan busa putih. Dan kalau dulunya kuda itu seekor kuda putih yang tegar, kini berubah menjadi seekor kuda hitam. Waktu sudah dekat, Tok-ko Ing tercium bau yang busuk.

”Itulah akibat dari kena jarum bwe-hoa-ciam yang beracun!” seru Tok-ko U demi turut menghampiri.

Kemarahan Tok-ko Ing tadi masih belum reda. Waktu mendengar keterangan engkohnya itu, berkobarlah lagi amarahnya itu. ”Betul-betul seorang wanita siluman yang ganas! Kurang ajar sekali, tanpa suatu alasan apa-apa ia sudah membunuh kuda kesayanganku dengan jarum beracun. Hm, Toan Khik-sia itu juga bukan orang baik. Tak peduli dia itu seorang pendekat kecil atau besar, pokok dengan galang-gulung bersama seorang perempuan jahat, ia tentu juga bukan manusia baik!” nona itu memaki-maki untuk melampiaskan kemarahannya.

”Urusan ini memang agak aneh,” kata Tok-ko U.

”Apanya yang aneh?” tanya sang adik.

”Masih ingatkah kau kepada Sin-ciam-chiu Lu Hong-jun?” tanya Tok-ko U.

Tok-ko Ing merah mukanya dan bersungut: ”Perlu apa kau sebut-sebut namanya? Apa hubungannya dengan dia?”

”Ah, jangan marah-marah dulu, toh aku belum selesai mengatakannya. Coba jawab, apakah kau masih ingat akan beberapa hal yang dikatakannya tempo hari itu?” tanya Tok-ko U pula. ”Tentang apa?”

”Bukankah ia pernah mengatakan tentang diri Toan Khik-sia yang katanya sudah mempunyai seorang tunangan, yaitu puteri angkat dari Sik Ko, ciat-to-su dari Lu-ciu. Dulu nona itu bernama Sik Hong-jun pula, bahwa nona Su itu juga seorang pendekar wanita. Tapi entah bagaimana, ia telah cekcok dengan Khik-sia terus lolos tak ketahuan tempat tinggalnya lagi. Kini Toan Khik-sia itu ubek-ubekan mencarinya kemana-mana.”

”Benar, Lu Hong-jun memang pernah mengatakan begitu. Ai, kalau begitu, apakah nona jahat yang melepas bwe-hoa-ciam pada kudaku itu Su Yak-bwe?”

”Lha, itulah makanya kukatakan kalau urusan ini agak aneh,” kata Tok-ko U, ”Khik-sia berjalan bersama nona itu. Karena Khik-sia memanggilnya 'nona Su', teranglah kalau ia itu tentu Su Yak- bwe. Jika mereka berdua sudah rukun kembali, biarlah, kita tak usah pedulikan. Tapi Su Yak-bwe itu seorang pendekar wanita dan seorang nona dari keluarga ternama. Mengapa tanpa suatu sebab ia membunuh kudamu dengan bwe-hoa-ciam? Ya, mengapa begitu melihat kami berdua, ia lantas bersikap memusuhi? Tidakkan hal ini aneh?”

Tok-ko Ing cibirkan bibirnya: ”Apa yang disohorkan orang tentang pendekar besar, pendekar

kecil dan pendekar wanita itu, memang tak dapat dipercaya penuh. Siapa tahu kalau Toan Khik-sia dan Yak-bwe itu juga orang macam golongan begitu?”

Tok-ko U gelengkan kepala: ”Siapa yang tak tahu akan kemasyhuran nama Toan Khik-sia

sebagai pendekar utama? Tentang Su Yak-bwe, walaupun tak setenar Toan Khik-sia, tapi Lu Hong- jun pun mengatakan kalau ia itu seorang pendekar wanita, tentunya ia takkan berbuat hal-hal macam tingkah seorang perempuan siluman begitu.”

Tok-ko Ing tertawa menghina: ”Yang didengung-dengungkan orang itu adalah palsu, apa yang kita saksikan sendiri barulah tulen. Kalau mereka memang ternyata jahat, apakah kita tak mau percaya?”

”Tapi masih ada lain hal yang mencurigakan. Jika dipikirkan, sampai sekarang aku masih belum mendapat jawabannya,” kata Tok-ko U. ”Apakah mengenai peristiwa malam itu?” tanya Tok-ko Ing.

”Ya, benar. Tengah malam buta Toan Khik-sia menyelundup ke dalam rumah kita. Su toakolah yang pertama-tama mengetahuinya di dalam taman lalu menyerangnya. Itu waktu kita masih belum tahu kalau orang itu ternyata Toan Khik-sia. Kita hanya menduganya tentulah kaki tangan kerajaan yang mendapat tugas menangkap Su toako,” kata Tok-ko U.

Mendengar itu, mulailah timbul tanda tanya dalam hati Tok-ko Ing.  Dengan seksama ia mendengari penuturan engkohnya. Setelah berhenti sejenak, Tok-ko U melanjutkan pula: ”Dalam hal itu ada tiga buah hal yang mencurigakan. Pertama, Su toako dan Toan Khik-sia itu sama-sama tinggal di markas Kim-ke-nia.   Su toako sendiri pernah mengatakan bahwa sekalipun tak kenal baik, namun ia sudah kenal dengan Toan Khik-sia ketika berada di markas Kim-ke-nia. Tapi anehnya mengapa ia menyerang Toan Khik-sia dan memakinya? Kedua, sesuai dengan pribadi seorang pendekar seperti Toan Khik-sia, seharusnya ia menggunakan aturan untuk menjumpai kita. Anehnya lagi, mengapa ia harus menyelundup masuk pada tengah malam buta? Ketiga, setelah Toan Khik-sia pergi, mengapa Su toakopun lantas tinggalkan kita tanpa pamit? Entah kepergiannya itu dengan Toan Khik-sia, ada hubungan apa?”

Tok-ko Ing berdiam sambil berpikir. Beberapa saat kemudian barulah ia berkata: ”Hal-hal aneh yang kau katakan itu memang sukar dipecahkan. Mungkin sebelumnya Su toako sudah tahu kalau Toan Khik-sia itu bukan orang baik-baik, maka ia tak mau mengenalnya.”

Tapi Tok-ko U gelengkan kepala: ”Belum tentu begitu. Jika benar ia tak mau kenal pada Toan Khik-sia, seharusnya ia mengatakan pada kita.”

”Urusan ini hanya setelah kita bertemu dengan Su toako baru dapat dijelaskan,” akhirnya hanya begitulah komentar Tok-ko Ing.

Kata Tok-ko U lebih lanjut: ”Su toako orang she Su. Noan kawan Toan Khik-sia tadi juga she Su ”

”Wanita jahat macam Su Yak-bwe mana dapat disejajarkan dengan Su toako? Orang she Su, banyak jumlahnya. Sudah tentu ada yang baik ada yang jahat. Hm, aku sungguh tak puas, mengapa perempuan jahat tadi menyamai she Su toako,” menyelutuk Tok-ko Ing dengan uring- uringan.

Di kala Tok-ko Ing mengucapkan kata-kata 'Su toako' itu, nadanya penuh dengan kemesraan. Mimpipun tidak kiranya ia, bahwa 'Su toakonya' itu ternyata seorang wanita. Dan makin jauh dari alam pikirannya bahwa 'Su toakonya' yang disanjung puji itu, bukan lain adalah 'si perempuan jahat Su Yak-bwe' itu sendiri .....

Sebenarnya Tok-ko U masih belum hilang kesangsiannya. Tapi karena Toan Khik-sia tadi tegas menyebut nona kawannya itu dengan panggilan 'nona Su', maka iapun keliru menduga Su Tiau-ing itu Su Yak-bwe. Karena itu, analisanya yang sudah hampir mendekati kebenarannya itu menjadi kalang kabut tak keruan lagi.

”ah, koko, sudahlah jangan dipikirkan lagi.  Ayo, kita lekas-lekas ke kota membeli seekor kuda lagi, agar jangan sampai terlambat tiba di Tiang-an. Asal sudah bertemu dengan Su toako, segala

apa tentu jelas,” akhirnya Tok-ko Ing meneriaki sang engkoh yang termangu-mangu dalam dugaan itu.

Pikir Tok-ko U: ”Jika Su Yak-bwe itu seorang lain lagi, dugaanku semula itu keliru semua. Su toako itu tentulah bukan seorang nona yang menyamar lelaki. Ah, semoga ia itu benar-benar seorang lelaki perwira, agar idam-idaman adikku itu terkabul.”

Walaupun bermula Tok-ko U menyangsikan bahwa Su toako itu seorang lelaki benar-benar, tapi selama itu belum pernah ia mengutarakannya kepada Tok-ko Ing. Tapi setelah terjadi peristiwa tadi, ia mulai menyangsikan 'kesangsiannya' tempo hari itu. Hal itu lebih-lebih ia tak berani mengatakan kepada adiknya karena kuatir ditertawainya.

”Ya, benar, hanya setelah bertemu dengan Su toako, kita baru mengetahui jelas persoalan ini,” akhirnya ia menyetujui pendapat adiknya.

Sekarang marilah kita tinggalkan kakak beradik she Tok-ko itu untuk mengikuti perjalanan Toan Khik-sia dengan Su Tiau-ing. Dalam beberapa kejap saja, mereka sudah lari sejauh 6-7 li. Selama itu mereka tak saling bicara apa-apa. ”Hai, apa kau hendak mematahkan tulang kakiku? Lepaskan tanganku, lepaskan tanganku!” Su Tiau-ing menjerit-jerit.

Khik-sia hentikan larinya dan lepaskan cekalannya. Tapi kembali Su Tiau-ing menjerit kesakitan, tubuhnya terhuyung hampir merubuhi dada Khik-sia. Hal itu bukan karena ia memang sengaja. Seperti diketahui, ia diseret lari oleh Khik-sia. Begitu tenaga penyeret itu dilepaskan, tubuhnya tentu kehilangan keseimbangannya dan lalu mau menjorok ke muak. Walaupun

mendongkol namun tak tega juga Khik-sia mengawasi nona itu jatuh tersungkur. Cepat ia jambret nona itu supaya berdiri tegak. Setelah itu baru ia lepaskan tangannya lagi.

”Mengapa kau begini kasarnya? Coba lihat ini, lenganku sampai biru kau pijat!” Su Tiau-ing mengomel.

Dengan mendongkol Khik-sia menjawab: ”Siapa suruh kau tadi cari perkara? Hm, kalau lain kali begitu ”

Su Tiau-ing kerutkan alisnya, menukas: ”Apa?”

”Bukan saja hendak kuremas tulang lenganmu, pun akan kupatahkan kedua tanganmu nanti,” kata Khik-sia.

Sengaja Khik-sia berkata keras, agar cekcok dengan nona itu. Siapa tahu melihat ia marah sungguh-sungguh, Su Tiau-ing tak berani unjuk kekerasan kepala dan malah menghaturkan maaf: ”Baiklah, kali ini anggaplah aku yang kurang ajar berani menyalahi kawan-kawanmu hingga membikin kau marah. Kau marah-marah sebengis ini, lain kali aku tentu tak berani berbuat lagi.”

Karena sudah mengakui salah, kemarahan Khik-sia pun reda. Katanya: ”Memang kau yang

salah, mengapa harus suruh 'menganggap salah'. Sekalipun aku tak kenal dengan mereka, tapi tak seharusnya kau berbuat begitu.”

Tiba-tiba mulut Su Tiau-ing tertawa mengikik: ”Sebenarnya akuun bukan tanpa alasan berbuat begitu.”

”Huh, jadi kau mempunyai alasan? Orang berjalan baik-baik, apa mengganggu kau? Mengapa kau lepaskan bwe-hoa-ciam ke kuda mereka?” Khik-sia mendengus.

”Sudah tentu aku mempunyai alasanku sendiri. Apakah kau mau mendengarnya?”

”Bilanglah!” kata Khik-sia dengan ketus.

Su Tiau-ing jebikan mulutnya tertawa: ”Mengapa kau memandang tak berkesiap pada anak perempuan orang? Dan mengapa budak hina itu juga memandang terus menerus padamu? Aku tak senang melihat perbuatannya itu!”

Merah padam selebar muka Khik-sia mendengar kata-kata itu. Ia kerupukan, marah tak bisa, membantah tak dapat. Akhirnya ia hanya dapat membentak-bentak saja: ”Ngaco, ngaco belo!” ”Sayang tadi aku lupa memberimu sebuah kaca cermin supaya kau dapat melihat,” kata Su Tiau-ing.

”Huh, peduli apa kau? Aku memandanginya sekali atau dua kali, peduli apa kau?”

Su Tiau-ing tertawa: ”Ha, kiranya kau ini tak kenal susila. Aku ini kaum wanita, bukan?”

”Kalau wanita lalu bagaimana?”

”Kau berjalan bersama aku, tetapi mengincar gadis lain. Ini dikata tidak punya susila. Berarti kau menghina aku, tahu? Aku tak dapat menamparmu, maka mencari sasaran nona itu untuk melampiaskan kemengkalan hatiku,” kata Su Tiau-ing.

Pemutarbalikan Su Tiau-ing itu telah membuat Khik-sia bungkam. Pikirnya: ”Anak perempuan memang aneh. Sudahlah, sudahlah, aku tak mau adu mulut padamu.”

Khik-sia tak mau meladeninya lebih lanjut, tapi Su Tiau-ing tetap tak mau melepaskannya.

Setelah berjalan beberapa langkah, ia bertanya pula: ”Siapa kakak beradik tadi? Kau katakan kenal, tapi mengapa mereka menanyakan siapa kau? Dan mengapa budak perempuan itu terus menerus memaki-maki kau sebagai pencuri? Mengapa ia begitu geram hendak membunuh kau? Bermula ia memandangku tanpa kesiap, kemudian tak henti-hentinya memakimu, hm, kau tentu pernah berbuat sesuatu yang menyalahi ia?”

Pertanyaan Su Tiau-ing menyebabkan hati Khik-sia merasa pilu lagi. Pikirnya: ”Ya, mengapa kakak beradik she Tok-ko itu benci sekali kepadaku? Sebelum kejadian tadi, mereka tak kenal aku

ini siapa. Kalau mereka memaki-maki dan membenci aku, itulah disebabkan karena urusan Su Yak- bwe. Yak-bwe memaki aku 'bangsat', mereka pun lantas ikut-ikutan memaki begitu. Ah, Yak-bwe, walau pun aku Toan Khik-sia mempunyai seribu satu kesalahan padamu, tapi kita toh pernah terikat dalam perjodohan sepasang tusuk kondai kumala. Mengapa kau begitu membenci padaku?” Melihat si anak muda merenung diam.   Su Tiau-ing tertawa kegirangan: ”Bagaimana? Kata- kataku itu tepat, bukan? Kau telah berbuat kesalahan apa kepadanya?”

Dirundung oleh kepiluan hatinya, sudah tentu Khik-sia tak bernafsu untuk banyak bicara.

Apalagi ia anggap Su Tiau-ing itu bukan orang yang patut ia curahi perasaan hatinya. Maka iapun diam saja dan hanya menghela napas. Lewat beberapa saat kemudian, barulah ia dapat menjawab: ”Entahlah, aku sendiri tak tahu. Mungkin aku pernah berbuat salah kepada lain orang.  Terserah saja bagaimana kau hendak mengatakan.”

Lagi-lagi mulut Su Tiau-ing mengikik tertawa: ”Apakah kau suka kepada nona itu?”

”Jangan mengurusi perkara orang,” bentak Khik-sia, ”Biar kukasih tahu padamu, aku tak suka kepada siapapun juga!”

”Sungguh? Ah, sayang sekali! Sedikitpun kau tak mengerti hati anak perempuan,” Su Tiau-ing menertawakan.

”Huh, jangan berkata yang tidak-tidak. Apanya yang disayangkan?” kata Khik-sia.

”Nona itu mulutnya memaki kau bangsat, tapi hatinya suka padamu, mengerti?” kata Su Tiau- ing.

Khik-sia terkesiap dan membentak: ”Omonganmu makin lama makin melantur. Aku sama sekali tak kenal dengan nona itu. Ia begitu membenci aku, mengapa kau katakan suka?”

Su Tiau-ing tertawa: ”Kalau ia tak suka padamu, mengapa ia benci padamu? Makin ia benci, itu berarti ia makin merindukan kau. Apakah ini bukan menandakan ia suka padamu? Sedikitpun kau tak mengerti sehingga mengecewakan rasa kasih orang. Apakah itu tidak sayang sekali?”

Pikiran hati Khik-sia seperti terbuka. Ia kira kalau Su Yak-bwe itu sungguh sudah membencinya. Kiranya apa yang dikatakan Su Tiau-ing jauh sekali bedanya dengan jalan

pikirannya. Diam-diam ia membatin: ”Benarkah hati seorang gadis itu begitu? Apakah kebencian Yak-bwe itu karena ia tak dapat melupakan aku?” -- Pikirannya melayang-layang pada peristiwa yang lampau dan wajah calon isterinya itu terbayang-bayang di mukanya ....

Sudah tentu Su Tiau-ing tak mengerti isi hati Khik-sia. Khik-sia berdebat tentang Tok-ko Ing,

tapi ternyata hatinya mengenangkan Yak-bwe. Maka dugaan Su Tiau-ing pun tentulah kalau Khik- sia itu mempunyai hubungan yang amat mesra dengan Tok-ko Ing. Demi melihat anak muda itu termenung-menung, diam-diam Su Tiau-ing pun merasa rawan. Kiranya rangkaian kata-katanya yang dibuat berdebat dengan Khik-sia itu, adalah untuk menjajaki apakah anak muda itu tahu akan perasaannya (Su Tiau-ing) kepadanya?

Karena melamun, tanpa terasa Khik-siapun hentikan langkahnya. Tiba-tiba Su Tiau-ing berseru pelahan di dekat telinganya: ”Dan nona Su itu? Siapakah dia?”

Khik-sia terkesiap, serunya: ”Apa katamu?”

Su Tiau-ing tertawa: ”Kutanyakan siapakah nona Su itu?”

”Apa? Jadi kau sebenarnya sudah tahu? Sudah tahu bahwa yang kusebut nona Su itu bukan kumaksudkan kau?”

Su Tiau-ing menyahut dengan tenang: ”Sudah tentu tahulah. Apakah kau kira aku tolol? Mana kau sudi memandang perasaan hatiku? Sudah tentu nona Su itu seorang lain lagi!”

Khik-sia mendongkol dan tersipu-sipu: ”Kalau sudah tahu, mengapa kau masih bingung dan mengira kalau dirimu?”

Su Tiau-ing tertawa getir: ”Kau memberatkan hubunganmu dengan nona Su, maka kau lantas bercidera dengan kakak beradik tadi. Tapi aku tak ada sangkut pautnya dengan mereka, maka memperolok-olokkannya. Mengapa?  Apa kau tak suka hati? Mereka berdua hampir menghilangkan nyawaku, masakah aku tak boleh membalas?”

Diam-diam Khik-sia marah, namun tak mau ia menceritakan urusannya dengan Yak-bwe kepada Su Tiau-ing.

”Ho, sebenarnya kau suka yang mana?” kembali Su Tiau-ing menggoda, ”Nona Su apa nona tadi? Hm, kulihat kau ini tak setia pada cinta, maka tak heran kalau orang marah-marah padamu.” ”Kau ngaco belo!” bentak Khik-sia.

”Ngaco belo apa? Kau sendiri mengatakan kau tak punya kesetiaan hati?” bantah Su Tiau-ing. ”Aku hanya mengatakan siapapun aku tak suka. Jangan tanya panjang lebar lagi. Hm, hm, jika masih ribut saja, aku aku ”

”Kau mau apa?” tukas Su Tiau-ing.

”Aku takkan peduli lagi padamu,” kata Khik-sia.

Su Tiau-ing tertawa mengejek: ”Huh, siapa yang minta kau mengurusi diriku? Kau mau pergi, silahkan pergilah. Bukankah untuk kepentinganmu maka kau baru mau bersama aku ke Tiang-an ini? Pertama, kau tentu mempunyai kesempatan bertemu dengan kedua kakak beradik tadi.

Kedua, karena kau tak mengerti isi hati seorang gadis, jika aku berada di sampingmu, tentu dapat memberi advis.”

Khik-sia tertawa meringis lalu memutus pembicaraan itu: ”Baik, aku tak mau bicara lagi padamu. Ayo, kita lekas berjalan. Sejak ini jangan membicarakan hal itu lagi.”

Walaupun mulut Khik-sia mengatakan begitu, tapi dalam hatinya ia masih tetap mengenangkan urusannya dengan Yak-bwe. Sebentar ia merasa heran 'mengapa Yak-bwe tak bersama-sama dengan Tok-ko U?' -- Sebentar lagi ia bertanya pada diri sendiri 'apakah karena terkenang padaku maka Yak-bwe benci padaku?'  Kemudian sebentar lagi ia berpikir, 'Kepergian kedua engkoh adik ke Tiang-an itu, tentulah hendak hadir dalam rapat Eng-hiong-tay-hwe. Ya, memang aku mempunyai kesempatan berjumpa dengan mereka nanti. Meskipun sekarang Yak-bwe tak ikut, tapi tentulah ia sudah berjanji dengan kedua saudara itu untuk bertemu di Tiang-an.' -- Pikiran itu telah menyebabkan hatinya ingin lekas-lekas mencapai Tiang-an.

Sekarang mari kita meninjau keadaan Yak-bwe. Seperginya dari rumah keluarga Tok-ko, hatinya merasa kecil. Tak tahu kemana harus mencari jejak Khik-sia. Akhirnya dalam kegelapan pikiran itu, ia teringat akan Sip In-nio. Pikirnya: ”Cici in itu lebih banyak pengalaman dari aku.

Baik aku kesana minta advisnya, mungkin ia dapat memberi petunjuk.”

Demikian ia bergegas-gegas ayunkan langkah menuju ke tempat Sip In-nio. Pada hari itu ia tiba di sebuah kota kecil. Dari tempat kediaman In-nio, kota itu hanya terpisah kira-kira setengah hari perjalanan. Yak-bwe merasa lapar lalu singgah di sebuah warung yang letaknya di tepi sungai. Sebenarnya ia tak biasa minum arak, tapi karena pikirannya pepat ia hendak minum arak untuk melepaskan keruwetan hatinya itu. Sebelumnya ia periksa dulu isi kantongnya, setelah itu baru ia berani pesan ini itu.

Seorang tetamu yang duduk di pinggir, rupanya memperhatikan gerak-gerik Yak-bwe. Ia meliriknya tajam-tajam. Ketika Yak-bwe berpaling, dilihatnya orang itu seorang pemuda desa yang berbaju kain kasar. Dari sikapnya, menandakan ia itu seorang tolol, sama sekali bukan bangsa kaum persilatan. Yak-bwe tak pernah menaruh persangkaan apa-apa. Hanya ketika Yak-bwe berpaling tadi, buru-buru pemuda desa itu alihkan pandangannya.

Teringat Yak-bwe akan pengalamannya ketika tempo hari di warung arak ia membayar dengan mas kim-to.  Diam-diam ia merasa geli sendiri, pikirnya: ”Ah, sekali pernah digigit ular, lain kali kalau bertemu semak belukar tentu harus berhati-hati. Setiap kali aku masuk warung, tentu lebih dulu kuperiksa kantongku ada uangnya tidak. Ini memang lucu, tapi apa boleh buat. Pemuda desa itu tentulah bukan bangsa orang jahat.”

Pengalamannya di warung arak itu: karena membayar dengan kim-to ia telah kesamplokan dengan dua orang benggolan penjahat. Dan karena peristiwa itu kenallah ia dengan Tok-ko U. Terkenang akan peristiwa itu, ia geli tapi kemudian merasa berduka juga. Bayangan Khik-sia kembali terbayang-bayang di kalbunya. Dari Tok-ko U, ia kembali terkenang pada Khik-sia.

Pertemuannya dengan Khik-sia di taman keluarga Tok-ko, terlintas lagi dalam kenangannya.

Kata-kata Khik-sia yang meminta maaf kepadanya secara sungguh-sungguh itu, kembali mengiang- ngiang dalam telinganya. Bagaimana dengan rasa putus asa Khik-sia pergi, pun tak luput dari kenangannya. Diam-diam Yak-bwe menghela napas. Hatinya gundah dan menyesali dirinya sendiri: ”Ia begitu sungguh-sungguh kepadaku tetapi kuperlakukan ia begitu getas. Ai, seharusnya aku tak boleh bersikap demikian keterlaluan. Ah, Khik-sia, Khik-sia, tahukah kau bagaimana getaran hasratku untuk minta maaf padamu?” Karena kepekatan hatinya itu, tahu-tahu tanpa merasa ia sudah meneguk 5-6 cawan arak.  Ia mulai mabuk. Ketika pikirannya melayang-layang dibuai oleh bekerjanya arak itu, tiba-tiba ada dua orang lelaki masuk ke dalam warung situ. Begitu berat langkah kaki kedua orang itu, hingga papan lantai sampai tergetar dan Yak-bwepun kaget dan tersadar.

Bukan saja Yak-bwe, pun lain tetamu juga sama memandang ke arah kedua orang itu. Ternyata mereka itu, seorang hweshio dan seorang tosu. Orang pertapaan masuk ke dalam warung arak, itulah aneh. Begitu duduk, keduanya lantas pesan arak dan makanan barang berjiwa (daging) secara royal sekali.

Diam-diam Yak-bwe mendamprat: ”Huh, memuakkan betul. Hweshio yang gemar makan daging minum arak, tentu bukan golongan baik.”

Habis itu ia lantas alihkan pandangan matanya, tak mau melihat mereka lagi. Tapi di luar dugaan, tanpa disengaja Yak-bwe telah mendengar pembicaraan mereka yang dilakukan dalam

bahasa kang-ouw. Dulu memang ia tak mengerti, tapi setelah diajar oleh In-nio, Tok-ko U dan lain- lain, kini ia sudah dapat menangkap walaupun belum seratus persen. Bermula ia tak begitu mengacuhkan tapi tiba-tiba terdengar hweshio itu berkata: ”Kalau bertemu dengan budak perempuan she Su itu, apakah to-heng bisa mengenalinya?”

Yak-bwe terkesiap, pikirnya: ”Siapakah yang dimaksudkan itu?”

”Waktu masih kecilnya, aku pernah melihatnya. Tapi kebanyakan anak perempuan itu kalau

sudah besar tentu berubah. Kalau sekarang bertemu muka, entahlah aku dapat mengenalinya tidak. Hanya saja, wanita yang lihay amat sedikit jumlahnya di dunia persilatan. Walaupun bagaimana juga, tentulah ia mempunyai ciri-ciri yang dapat kita gunakan sebagai tanda pengenal.” sahut si imam (tosu).

”Berapakah umurnya sekarang?” tanya si hweshio pula.

”Di antara 17-18 tahunan,” jawab si imam, ”waktu kecilnya cantik, konon kabarnya ia sekarang lebih hebat lagi.”

Hweshio itu tertawa gelak-gelak, serunya: ”Aku tak peduli ia cantik atau tidak. Aku seorang pertapaan, tak ingin merusak kaum wanita. Cuma apa yang kau katakan bahwa ia berkepandaian tinggi itu, entah sampai dimana kelihayannya?”

”Itu sih tak mengherankan, karena ia anak murid dari seorang tokoh kenamaan. Tentang siapa suhunya itu, meskipun belum pernah ketemu tapi rasanya kau tentu pernah mendengar namanya. Wanita tua itu benar-benar seorang tokoh yang jarang terdapat tandingannya. Oleh karena itu, sebaiknya kita harus berhati-hati dalam urusan ini,” kata si imam.

Tampak si hweshio itu kurang senang, katanya: ”Kau ternyata bersikap seperti anjing bercawat ekor (ketakutan). Terhadap seorang nona kecil saja kau ketakutan setengah mati. Apa peduli dengan suhunya yang lihay, apakah kita tak mampu mengatasi?”

Si imam tertawa: ”Jangan toheng marah-marah. Aku hanya bilang supaya kita berhati-hati dan sama sekali bukan jeri padanya. Dengan keangkeran nama partaimu Leng-san-pay itu, sekalipun suhunya keluar juga belum tentu dapat menang. Tapi daripada tambah sebuah urusan, kan lebih baik berkurang satu urusan. Bisa membuat supaya suhunya tak tahu, itulah lebih baik.”

Si hweshio menghirup secawan besar arak dan berkata: ”Nah, itu dapat diterima. Memang kita hanya diminta tolong menangkap nona itu saja. Jika dapat mengurangi urusan, sudah tentu itu lebih baik sekali.”

Tiba-tiba hweshio itu lirihkan (perlahankan) suaranya: ”Kabarnya nona itu bertengkar dengan keluarganya karena seorang anak lelaki she Toan. Benarkah itu?”

”Benar, justeru karena bertengkar itu, kukuatir apakah ia ikut melarikan diri dengan pemuda she Toan itu?” kata si imam.

Kembali si hweshio mengerut kurang senang, katanya: ”Tak usah kiranya kau banyak

kekuatiran. Cukup kalau ada orang yang patut kau sangsikan kau terus bilang, tentu nanti aku yang turun tangan. Budak she Toan itu entah baik atau jahat, pokok akan kuringkusnya dulu, urusan belakang.”

Imam itu tertawa: ”Toheng, kau juga memandang rendah padaku. Meskipun anak she Toan itu lebih lihay dari budak tersebut, tapi sedikitpun aku tak gentar. Kukira anak she Toan itu belum tentu bersama-sama dengan budak itu. Aku melainkan hanya mempertinggi kewaspadaan saja.” ”Mengapa? Bukankah kau katakan budak itu bertengkar dengan keluarganya karena seorang pemuda she Toan. Kemudian kalau budah itu melarikan diri, mengapa tak mungkin ikut pada pemuda itu?” tanya si hweshio.

”Toheng, kau tahu satu tak tahu dua. Kabarnya budak laki itu sudah punya pacar lain,” sahut si imam.

Hweshio itu tertawa keras, serunya: ”Kalau begitu tindakan budak itu meninggalkan

kenikmatan kedudukan, ternyata hanya memburu bayangan kosong saja. Ha, mendiang ayahnya yang sudah menjadi setan itu ”

”Toheng, minum, minumlah. Jangan sembarangan menyebut nama ayahnya itu, sekarang suasananya sedang genting,” cepat-cepat si imam menukasnya dan kata-katanya yang terakhir itu diucapkan dengan berbisik-bisik. Sekalipun begitu, Yak-bwe tetap dapat mendengarnya dengan jelas.

Makin mendengari, Yak-bwe makin terperanjat heran. Pembicaraan kedua orang pertapaan itu seolah-olahnya ditujukan kepadanya. 'Budak perempuan she Su' dan 'budak lelaki she Toan' yang dijadikan pokok pembicaraan mereka itu, siapa lagi kalau bukan ia dan Toan Khik-sia. Tapi Yak- bwe merasa aneh akan beberapa hal yang diucapkan mereka itu tadi. Salah satu kalimat yang paling menusuk telinga, ialah tentang 'budak laki she Toan itu sudah punya pacar lain.'

”Entah benar entah tidak ucapan itu. Kalau benar, mengapa malam itu ia menumpahkan perasaan hatinya kepadaku? Ya, begitu sungguh-sungguh ia mengucapkan kata-katanya itu. Masakan dalam beberapa hari saja sekarang ia sudah mendapat lain gadis? Hal itu tak sesuai dengan keterangan si imam 'sudah lama'. Ah, urusan ini tentu salah urus,” pikirnya.

Tapi pada lain saat pikirannya membantah sendiri: ”Ada api tentu ada asap. Jika urusan ini hanya isapan jempol belaka, mengapa tersiar santer di dunia persilatan? Sampai pun kalangan penjahat juga mengetahui hal itu.”

Di samping hal-hal yang menyangsikan itu, masih ada lain hal yang menambah kesangsiannya menjadi makin kuat. Pertama, imam itu mengatakan kalau pernah melihatnya ketika ia masih kecil. Tapi betapapun Yak-bwe gali lubuk ingatanya, tetapi ia yakin kalau seumur hidup belum pernah bertemu dengan imam tersebut. Di tempat gedung kediaman ciat-to-su Sik-ko, tak pernah ada bangsa imam dan hweshio. Kedua, tadi si hweshio menyebut-nyebut 'mendiang ayahnya yang sudah menjadi setan'. Ini tentu menunjuk ayahnya (Yak-bwe) yang sudah meninggal dunia itu.

Tentang asal-usul dirinya itu, kecuali hanya beberapa orang yang tahu, semua orang mengira kalau puterinya Sik-ko. Mengapa hweshio itu tahu kalau ayah sudah meninggal?

”Dan ayah itu seorang cin-su dari kerajaan Tay-tong. Beliau meninggal karena dicelakai An

Lok-san. Pada masa An Lok-san jaya, memang tak boleh sembarangan menyebut-nyebut nama ayah. Tapi toh kini An Lok-san sudah hancur, mengapa tak boleh mengatakan nama ayah? Dan apakah yang dimaksud si imam bahwa suasana sekarang ini genting?”

Sebenarnya Yak-bwe itu seorang nona yang cerdas. Tapi terhadap soal-soal yang berbelit-belit, sepintas benar sepintas tidak itu, betapapun ia peras otaknya namun tetap tak dapat menemukan pemecahan yang memuaskan.

Ya, memang dapat dimengerti kalau ia sampai bingung begitu. Karena yang dimaksud dalam pembicaraan kedua orang pertapaan itu bukan lain ialah Su Tiau-ing. Adalah karena Su Yak-bwe yang sudah mempunyai prasangka, maka 'budak perempuan she Su' itu dianggapnya tentu dirinya. Kebalikannya dikatakan oleh si imam dengan 'pacar budak she Toan' itu, dianggapnya lain gadis.

Padahal, adalah dirinya itulah.

Karena asyik mendengari, tanpa terasa Yak-bwe sampai hentikan sumpitnya, letakkan cawan araknya dan matanya terus diarahkan kepada kedua orang pertapaan itu. Sudah tentu sikapnya itu lekas menarik perhatian orang. Walaupun kala itu Yak-bwe berdandan sebagai seorang pelajar, tapi sebagai seorang kangouw yang berpengalaman, sepintas pandang tahulah mata si hweshio yang tajam siapa diri Yak-bwe yang sebenarnya itu.

Kedua kaum agama itu saling memberi kicupan mata dan masing-masing saling berpikir dalam hati: ”Jangan-jangan budak perempuan ini sendiri, atau sekurang-kurangnya, ia tentu mempunyai hubungan. Kalau tidak, tak nanti ia mendengari pembicaraan kita sedemikian asyiknya.” Serempak hweshio dan imam itu berbangkit terus menghampiri ke tempat duduk Yak-bwe. Setelah memberi hormat si imam berkata: ”Siapa she siangkong yang mulia. Sukakah memberitahukan?”

Kalau si imam masih pakai aturan, adalah si hweshio lebih kasar lagi. Serentah ia menegur Yak-bwe: ”Hai, engkoh kecil, apakah kau she Su?”

Sudah tentu marahlah Yak-bwe. Bentaknya dengan keras: ”Aku tak kenal kalian, perlu apa tanya siapa she-ku?”

Hweshio itu terkesiap tapi pada lain saat ia lantas tertawa dingin: ”Kau tak sudi berkenalan

dengan kami, baik. Sekarang jawablah, mengapa kau terus menerus mengawasi kami berdua saja? Mengapa kau mencuri dengar pembicaraan kami?”

”Bagaimana kau tahu aku mengawasi kau? Di dalam rumah makan apakah orang dilarang melihat kau? Kau benar-benar tak tahu adat!” bentak Yak-bwe.

Tiba-tiba si pemuda desa yang duduk di dekat situ mengomel seorang diri: ”Hweshio yang minum arak makan daging, memang jarang ada. Tak heran kalau orang sama melihatinya.” ”Kentut! Peduli apa dengan hweshio minum arak makan daging? Kau berani mengurusi Hud- ya, hai, babi kecil!” si hweshio berseru marah.

Buru-buru pemuda desa itu surutkan kepala dan mengoceh sendiri: ”Aku hanya mengatakan

'jarang ada' saja, apakah orang omong tidak boleh? Bagus, bagus, baguslah. Karena kau larang aku bicara, akupun takkan bicara lagi.”

”Ah, mengapa suheng ladeni anak desa.  Sebaiknya kita bicarakan urusan penting dengan si-cu ini dulu,” buru-buru si imam mencegah. Kemudian ia berkata kepada Yak-bwe: ”Karena kedatangan kami, maka sicu sampai berhenti minum. Sekarang biarlah kupersembahkan arak padamu.” -- Habis berkata ia lantas angkat poci arak dan terus hendak dituangkan pada Yak-bwe. Gerakan menyorong poci arak itu, termasuk sebuah jurus ilmu silat yang mengandung lwekang.

Dengan itu ia hendak menjajaki adakah Yak-bwe itu mengerti silat. Kalau Yak-bwe pintar, seharusnya ia pura-pura kaget dan jangan menghiraukan. Dengan begitu, tentulah imam itu tak berani sembarangan melukainya. Tapi memang sejak tadi Yak-bwe sudah benci dengan tingkah laku kedua orang itu. Bahwa tiba-tiba dirinya hendak diguyur arak, sudah tentu ia marah sekali. ”Imam bangsat, jangan kurang ajar!” bentaknya dan tutukkan sumpitnya ke arah jalan darah di tangan si imam.

Sebenarnya imam itu lwekangnya lebih tinggi daripada Yak-bwe. Tapi karena gerakan Yak-bwe itu dilakukan amat cepat sekali, terpaksa imam itu tarik pulang tangannya. Namun tak urung tangannya terasa kesemutan dan terlepaslah poci itu dari cekalannya.

Si hweshio kebetulan berada di sampingnya dan poci itu tepat sekali melayang ke arahnya. Meskipun tak tepat mengenai, tak urung ia meringis kesakitan juga karena kecipratan arak. Dengan murkanya ia menghantam. Kini poci itu terbang balik melayang ke arah Yak-bwe.

Yak-bwe agak terkesiap, batinnya: ”Kedua hweshio jahat itu bermulut besar, tapi ternyata memang mempunyai kepandaian berisi.”

Takut tak kuat menyambuti hingga nanti menjadi buah tertawaan, buru-buru Yak-bwe

menghindar saja. Brak, poci itu menghantam kaca jendela, terus melayang jatuh ke dalam sungai. Tapi araknya berhamburan kemana-mana, sampai Yak-bwe pun turut basah kuyub dengan percikannya.

”Sayang, sayang, poci arak baik-baik, terbuang dalam sungai,” kedengaran si pemuda desa mengoceh sendirian.

Si hweshio menggerung keras terus hendak mencengkeram Yak-bwe, tapi Yak-bwe cepat menyambutnya dengan tutukan sumpit.   Krek, sumpit patah menjadi dua. Kiranya hweshio itu memiliki ilmu kim-ciong-oh dan thiat-po-san atau ilmu lindung yang kebal senjata. Sekalipun begitu karena tutukan sumpit Yak-bwe tadi tepat mengenai jalan darah tangannya, meskipun tak sampai rubuh, hweshio itu juga merasa sakit seperti ditusuk jarum. Saking sakitnya ia sampai loncat ke atas.

Si imam biasanya selalu tenang. Karena tadi menderita kerugian kecil, untuk sementara waktu ia hanya diam mengawasi di samping. Setelah menyaksikan Yak-bwe bertempur dengan kawannya (si hweshio), diam-diam ia merasa heran.

Apakah yang menjadi keheranannya itu? Kiranya tutukan sumpit Yak-bwe tadi, belum

mengenai lengannya. Ujung sumpit hanya baru menyentuh ujung bajunya, tapi anehnya ia rasakan lengannya sudah kesemutan sehingga tak kuat mencekal poci arak lagi. Dalam ilmu tutukan, yang paling lihay sendiri ialah apa yang disebut kek-gong-tiam-hiat atau menutuk jalan darah dari kejauhan. Hanya orang yang sempurna lwekangnya, baru dapat menggunakan ilmu tutukan itu.

Selain itu, masih ada pula lain macam ilmu tutukan yang tak kurang lihay, yakni tak usah menutuk tepat tapi dengan gunakan lwekang dapat menutup jalan darah orang. Ia duga Yak-bwe tentu memiliki salah satu dari dua macam ilmu tutuk yang hebat itu. Jarak ujung sumpit Yak-bwe dengan jalan darah di lengan si imam, hanya terpisah selembar kertas tebalnya. Jadi terang bukan termasuk ilmu tutukan kek-gong-tiam-hiat.

Suatu keuntungan bagi Yak-bwe bahwa imam itu telah keliru menyangka kalau Yak-bwe memiliki kedua macam ilmu tutuk jalan darah yang lihay: kek-gong-tiam-hiat dan lwe-lat-pit-hiat (lwekang untuk menutup jalan darah). Karena persangkaan itu, si imam sudah tak berani sembarangan turun tangan dan mundur ke samping.

Selama mengawasi permainan Yak-bwe tadi, ia telah melihat suatu lubang kelemahannya. Tapi tak urung ia makin keheranan. Jika Yak-bwe memiliki ilmu tutuk seperti yang diduganya itu, sekalipun hweshio memiliki ilmu lindung kim-ciong-toh, pun tak nanti kuat bertahan. Tapi ternyata hweshio itu tak kena apa-apa, melainkan loncat berjingkrak-jingkrak, pula sumpit Yak-bwe pun patah dibuatnya. Jelas dilihatnya gerakan menutuk dari Yak-bwe tadi, meskipun hebat tapi kurang mahir, menandakan Yak-bwe itu masih trondol.

Sudah tentu imam itu bingung memikirkannya. Pikirnya: ”Bagaimana ini? Apakah memang ia sengaja tak mau keluarkan kepandaiannya sungguh-sungguh? Tapi mengapa tadi sekali turun tangan kepadaku ia lantas gunakan ilmu tutuk yang hebat?”

Mari kita tengok kembali si hweshio. Ketika melambung di udara, dengan menggerung keras ia lantas menghantam dengan ilmu pukulan boh-pay-chiu. Dengan tangkasnya Yak-bwe berputar- putar menghindar. Brak, bukan Yak-bwe yang kena melainkan meja yang terhantam jungkir balik. Melihat warung araknya dibuat medan perkelahian, si pemilik berkaok-kaok. Pun tetamu-

tetamu lain, buru-buru menyingkir. Pukulan hweshio itu dahsyat sekali. Setiap kali ia memukul, anginnya menderu-deru, mangkuk piring pecah berantakan kemana-mana. Tring-tring, prang, prang

....”

Yak-bwe tetap gunakan ilmu kelincahan. Sebentar loncat ke atas meja, sebentar ke atas

dingklik, mengusup ke bawah meja, menyelinap kesana memberosot kesini. Betapapun hweshio itu hendak umbar kemarahannya, namun tak dapat mengapa-apakan Yak-bwe. Yang nyata, pukulannya itu selalu mendapat sasaran meja, kursi atau mangkuk piring saja.

Setelah mengikuti bagaimana selama bertempur itu Yak-bwe selalu menghindar dan sudah beberapa kali hampir saja termakan pukulan si hweshio, si imam mulai menarik kesimpulan bahwa memang Yak-bwe itu tidak pura-pura dan benar-benar bukan jago keras. Kini hilang kekuatirannya dan dengan tertawa ia berseru: ”Nona Su, berkelahi di dalam rumah makan sini, sungguh tak sedap dipandang. Lebih baik kita pergi ke lain tempat untuk berunding.”

Ternyata si hweshio dan si imam saat itu sudah yakin bahwa Yak-bwe tentulah Su Tiau-ing yang hendak dicarinya itu.

Yak-bwe malu dan gusar sekali. Malah sehabis berkata imam itu sudah menerjangnya. Buru- buru ia jumpalitkan sebuah meja untuk menahannya, kemudian segera mencabut pedangnya dan membentak: ”Berani maju selangkah lagi, pokiam-ku ini tak punya mata!”

Si imam tertawa: ”Pokiam-mu tak bermata, tapi aku punya mata.”

Habis berkata ia lantas kebutkan lengan jubahnya untuk menampar pokiam Yak-bwe.

Berbareng itu si hweshio dengan menggembor keras sudah pentang kedua tangannya hendak merebut pedang Yak-bwe. Yak-bwe tusukkan pokiamnya ke tenggorokan si hweshio. Meskipun si hweshio punya ilmu lindung kim-ciong-toh, tapi tenggorokan adalah bagian yang dapat mematikan. Buru-buru ia sambar sebuah dingklik untuk menangkisnya. Ternyata tusukan Yak-bwepun tak dilancarkan dengan sepenuh tenaga. Begitu membentur dingklik, ia lantas putar arah menusuk si imam. Melihat gerakan ganti jurus itu dilakukan sedemikian cepatnya, diam-diam si imam merasa kagum. Pikirnya: ”Ilmu pedang budak ini jauh lebih hebat dari ilmu tutuknya. Sayang tenaganya masih belum memadai.”

Iapun tetap gunakan lengan bajunya untuk menampar, tapipun tak berani terlalu bernafsu hendak merebut pokiam Yak-bwe.

Dengan ilmu kelincahannya dan dibantu oleh meja kursi yang malang melintang, ia mainkan pedangnya kian kemari. Dengan cara itu dapatlah ia melawan sampai 10-an jurus.

Hweshio itu bertubuh gemuk. Meskipun ia memiliki ilmu gwakang yang hebat, namun ilmu lindungnya masih belum sempurna betul. Beberapa kali hampir saja ia termakan pedang Yak-bwe. Akhirnya marahlah hweshio itu. Ia lepaskan jubahnya dan berseru: ”To-heng, ayo, kita tangkap ikan.”

Ia mainkan jubahnya. Jubah itu berubah menjadi semacam awan merah yang mencangkup kepala Yak-bwe. Si imam tetap gunakan sepasang lengan bajunya untuk menampar. Setiap ada kesempatan tentu ia pergunakan sebaik-baiknya untuk melibat pedang Yak-bwe. Kepungan kedua orang itu makin lama makin rapat. Permainan pedang Yak-bwe pun mulai berkurang gayanya.

Sekalian tetamu sudah sama ngacir pergi. Si pemilikpun juga sudah bersembunyi di kolong mejanya. Mangkuk piring pecah berantakan. Meja kursi sungsang sumbal, gederobkan tak henti- hentinya.

”Ho, hendak lolos kemana kau?” teriak si hweshio. Ia tetap perkeras permainan jubahnya yang mengancam kepala Yak-bwe.

Tiba-tiba terdengar jeritan mengaduh dan ada seorang mendekap paha si hweshio: ”Aduh, mati aku dipijaknya!” teriak orang itu.

Kiranya di ruangan situ masih ada seorang tetamu yang belum menyingkir. Orang itu bukan

lain yakni si pemuda desa tadi. Marahlah si hweshio. Ia sepak pemuda desa itu sekuat-kuatnya sampai jungkir balik. Tapi pemuda itu sudah menggigit pahanya. Meskipun si hweshio punya ilmu lindung kim-ciong-toh, tapi tak urung pahanya kena digigit sampai berlumuran darah.

Yak-bwe menghindari jaringan jubah si hweshio terus balas menusuk. Tusukannya itu tepat mengenai jalan darah ih-gi-hiat di perut si hweshio. Karena tusukan itu memakai tenaga penuh, maka akibatnya juga lebih hebat dari ilmu tutukan dengan jari. Betapapun hweshio itu seorang otot kawat tulang besi, namun tetap ia tak kuat menahan tusukan itu. Sekali menjerit, rubuhlah ia di lantai.

Sewaktu ditendang jungkir balik tadi, si pemuda desa bergelundungan di lantai. Jatuhnya tepat menggelundung di samping si imam. Si imam segera angkat kakinya hendak memberi sebuah tendangan, tapi cepat pemuda desa itu mendekapnya sambil berteriak-teriak: ”Tolong, tolong!” Karena dipeluk sekencang-kencangnya oleh si pemuda, hampir saja imam itu terjerembab jatuh. Sebenarnya kepandaian imam itu lebih tinggi dari si hweshio. Sekali kakinya diputar, pemuda desa itupun tak kuat mempertahankan dekapannya lagi, terpaksa ia lepaskan. Berbareng itu si imam cepat menendangnya.

”Pembunuhan, tolong, tolong!” teriak pemuda itu. Tiba-tiba ia jungkir balik dan terlempar keluar dari jendela.

Sebenarnya tendangan si imam itu belum mengenai. Tapi entah mengapa, si pemuda desa sudah jumpalitan. Pada lain saat terdengar suara gedebuk yang keras. Rupanya pemuda desa itu terbanting jatuh sekeras-kerasnya.

Masih Yak-bwe belum menginsyafi bahwa pemuda desa itu sebenarnya diam-diam telah memberi bantuan padanya. Ketika si pemuda menjerit-jerit minta tolong tadi, Yak-bwe menjadi gugup hendak menolongnya. Cepat ia tusuk si imam.

Tadi beberapa kali pedang Yak-bwe kena disampok terpental oleh kebutan jubah si imam. Tapi kali itu sungguh aneh. Bret, lengan jubah si imam kena dipapas kutung. Dan ketika ujung pedang

terus meluncur maju, lengan si imam tergurat luka sepanjang lima dim. Mengapa mendadak sontak si imam tak selihay tadi.  Kiranya gigitan si pemuda desa yang menyebabkannya. Karena ujung kakinya digigit sampai terluka, bukan saja gerakan si imam itu tak setangkas tadi, pun tenaganya menjadi berkurang. Jika saat itu Yak-bwe terus menyerang lagi, imam itu pasti binasa atau sekurang-kurangnya tentu terluka berat.

Tapi Yak-bwe tak mau berbuat ganas. Ia hanya bermaksud memberi sedikit hajaran saja. Demi melihat kedua orang agama itu sudah pontang panting tak keruan, diam-diam ia sudah merasa senang. Kedua kalinya, ia tetap menguatirkan keadaan si pemuda yang terlempar keluar jendela itu. Maka setelah dapat melukai si imam, ia lantas tarik pulang pedangnya.

”Katamu kau punya mata. Tapi kulihat kau benar punya mata tapi tidak punya biji matanya.

Jika lain kali berani kurang ajar lagi, apabila bertemu aku, tentu akan kukorek keluar biji matamu,” kata Yak-bwe.

Imam itu tahu kalau kepandaian lawan tak menang dengan dia. Tapi entah apa sebabnya, ternyata ia menderita kekalahan. Saking marahnya, dari tujuh lubang inderanya sampai

mengeluarkan asap. Namun ia tak berani bercuwit lagi. Celaka adalah si hweshio gemuk. Ternyata ia menderita luka lebih parah. Ia tengah mengerang-erang menyalurkan jalan darahnya, sehingga tak dapat berkata-kata lagi.

Baru Yak-bwe hendak melangkah keluar, tiba-tiba si pemilik warung menerobos keluar dari kolong mejanya dan menangis gerung-gerung. Kiranya ia sedi karena menderita kerugian besar, tapi ia tak berani minta ganti kerugian pada Yak-bwe.

”Ciang-kui sudahlah, jangan menangis. Nih, kuganti uang,” kata Yak-bwe sembari mengeluarkan uang tembaga dan pecahan perak.

Mendengar itu buru-buru si pemilik warung mengusap air matanya. Tapi serta dilihatnya Yak- bwe hanya menyodorkan sejumlah uang tembaga dan pecahan perak, kecewalah ia. Serunya dengan terputus-putus: ”Tuan, ini, ini ”

Setelah mengatakan 'ini, ini', akhirnya ia beranikan juga untuk menerangkan bahwa uang Yak- bwe itu masih belum cukup untuk mengganti kerusakan barang-barangnya.

Diam-diam Yak-bwe geli sendiri: ”Ah, aku ini benar-benar limbung. Kali ini aku hampir

merusakkan sebuah rumah makan, masakan hanya membayar dengan jumlah rekening makananku tadi.”

Akhirnya ia mengambil uang mas kim-tonya terus dilemparkan ke lantai, serunya: ”Ini emas murni, jangan kuatir kutipu. Cukuplah kiranya!”

Habis berkata ia lantas loncat keluar jendela. Melihat keroyalan Yak-bwe, imam dan hweshio tadi makin yakin kalau Yak-bwe itu tentulah Su Tiau-ing.

Tampak pemuda desa tadi tengah berjalan di tepi sungai dengan langkah pincang. Hati Yak-bwe serasa longgar dibuatnya. Ia meneriaki pemuda desa itu: ”Hai bung, aku hendak menghaturkan maaf padamu. Dalam perkelahian tadi, aku telah membikin susah kau. Apakah kau terluka?” ”Tidak, tidak apa-apa. Syukur Tuhan masih adil, tidak suruh aku menjadi makan ikan sungai.

Hanya melecet sedikit saja dan terluka di bagian tumit kaki. Apa kau menang? Kiong-hi, kiong- hi,” sahut si pemuda memberi selamat.

Karena dapat berjalan, Yak-bwe menduga pemuda desa itu hanya terluka sedikit saja. Ia tak

mau meladeni bicara lagi, terus mengeluarkan perak dan selembar sapu tangan serta obat. Katanya: ”Ini adalah obat kim-jong-yok yang jempolan, bubuhkanlah pada lukamu. Dalam dua hari saja

tentu sudah baik. Dan perak ini, terimalah untuk ongkos keperluanmu.”

Mengingat selama dua hari nanti si pemuda tentu tak dapat bekerja, maka Yak-bwe memberinya sedikit ongkos. Ia duga pemuda itu tentu mau menerimanya dengan girang. Tapi di luar dugaan, tiba-tiba wajah pemuda desa itu berubah. Serunya: ”Apa maksudmu ini? Apakah aku ini dianggap sebagai pengemis?”

Kemerah-merahanlah wajah Yak-bwe. Ia merasa serba salah apa mesti menyimpan kembali perak itu atau tidak. Kebetulan sekali saat itu ada seorang pengemis berjalan lalu di situ. Tiba-tiba si pemuda desa itu tertawa: ”Ya, sudahlah, mana perakmu itu, biar kuwakilkan kau memberi sedekah padanya.”

Diberi sekian banyak perak, pengemis itu melongo. Setelah tersadar, ia tersipu-sipu menyambutinya dan tak henti-hentinya menghaturkan terima kasih.

”Perak itu kepunyaan tuan ini. Kau berterima kasihlah kepadanya. Ai, tubuhmu juga penuh dengan luka-luka, ini, obat untukmu. Juga dari tuan itu,” kata si pemuda desa.

Yak-bwe tak dapat berbuat apa-apa kecuali tertawa meringis. Tanpa berkata apa-apa ia lantas pergi. Lewat beberapa jenak, keadaan menjadi hening. Tiba-tiba Yak-bwe teringat sesuatu: ”Hai, gerak gerik pemuda desa tadi sungguh luar biasa, pun wataknya juga aneh!”

Makin teringat akan pemuda desa itu, makin timbul kecurigaan. Tapi ketika ia berpaling ke belakang, ternyata pemuda desa itu sudah tak tampak bayangannya lagi. Sudah tentu Yak-bwe terbeliak kaget. Pikirnya: ”Kuejek imam tadi punya mata tapi tak punya biji mata. Ternyata aku sendiri juga salah lihat pada orang. Jika pemuda desa itu tak punya kepandaian tinggi, masakan ia tak sampai terluka parah dilempar keluar jendela begitu rupa? Ah, tak nyana aku kembali tak sengaja berbuat salah pada orang.”

Memang apa yang disesalkan Yak-bwe itu tepat sekali.  Tapi iapun tetap masih belum insyaf bahwa adanya ia dapat memenangkan imam dan hweshio tadi adalah berkat bantuan secara diam- diam dari pemuda desa itu.

Tengah hari lewat sedikit, tibalah sudah Yak-bwe di muka pintu gedung Sip Hong. Penjaga

pintu yang sudah tua dengan keheranan mengawasi Yak-bwe, tegurnya: ”Kau hendak cari siapa?” Yak-bwe tertawa mengikik, sahutnya: ”Ong tua, apakah kau tak kenal lagi padaku?”

”Ai, kiranya nona Sik. Dalam dandanan begitu, apabila tak kau katakan, sudah tentu aku tak mengenal kau lagi,” seru si penjaga pintu.

Dahulu keluarga Sip dan Sik itu tinggal berdekatan. Sewaktu kecilnya, boleh dikata saban hari Yak-bwe tentu main-main dengan In-nio. Penjaga pintu tua itu sudah bekerja selama berpuluh- puluh tahun pada keluarga Sip. Ia mengikuti kedua nona itu dari kecil sampai berangkat dewasa. Maka sekali Yak-bwe buka suara, cepat ia sudah mengenalinya.

”Lo-ya sedang bepergian, tapi nona ada di rumah, sedang berlatih ilmu pedang di dalam taman. Mari kuantar kau ke sana,” kata si penjaga.

”Tak usah, aku dapat kesana sendiri,” sahut Yak-bwe.

”Ai, nona Sik, dalam dandanan sebagai pemuda, kau benar-benar tampak cakap sekali. Aku sampai tak mengenal kau sama sekali. Ah, sayang kau bukan pemuda sesungguhnya. Jika sungguh, tentu merupakan pasangan yang setimpal dengan nona majikanku,” kata penjaga tua itu dengan bergurau.

Yak-bwe girang karena penyaruannya itu telah dapat mengelabuhi mata pak tua itu, sahutnya:

”Jangan kuatir, nonamu itu sudah ada yang punya.”

”Nona sudah mendapat jodoh? Mengapa aku tak tahu sama sekali?”

”Sabarlah, nanti sedikit waktu tentu kau bakal tahu sendiri. Sekarang ini aku justeru hendak menjadi comblangnya,” jawab Yak-bwe terus melangkah masuk.

Tiba di taman, benar juga In-nio sedang asyik berlatih pedang. Dilihatnya sinar pedang In-nio itu berkelebatan pergi datang dengan cepatnya. Setiap kali pedang itu berkelebat, tentu

meninggalkan percikan pedang berbentuk seperti taburan bunga. Ternyata In-nio tengah mainkan jurus hui-hoa-cui-yap atau bunga bertebaran memburu sang kupu-kupu. Jurus itu sebuah permainan dari ilmu pedang Hian-li-kiam-hwat. Apabila dilatih sampai tingkat sempurna, dapatlah dibuat memapas bunga tanpa merusak tangkainya sedikitpun juga. Dapat memapas sayap seekor kupu- kupu tapi tanpa menyebabkan kematiannya. In-nio belum dapat mencapai tingkatan itu, tapi sudah tak banyak terpautnya.

”Permainan pedang yang bagus!” Yak-bwe memuji sembari menghampiri.

Sebat sekali In-nio sudah tarik pulang pedangnya. Tapi iapun mengawasi Yak-bwe dengan pandangan yang lain dari biasanya.

”Hai,kau melihat apa saja? Apa kau juga tak mengenali aku?” tegur Yak-bwe sambil tertawa. ”Lihatlah sendiri keadaanmu itu. Apakah kau barusan habis berkelahi dengan orang?” seru In- nio.

Yak-bwe cepat menghampiri ke tepi empang teratai. Begitu melongok ke permukaan air,

barulah ia tersadar. Katanya: ”Ah, makanya tadi pak tua penjaga pintu itu pentang mata lebar-lebar memandang aku.”

Kiranya rambut Yak-bwe kusut masai, pakaiannya kacau risau, banyak debu yang melekat. Wajahnya tak keruan warnanya, banyak bekas-bekas noda arak, air kuah, kecap dan lain-lain. Yak- bwe mendongkol tapi geli juga.

”Hm, pak tua itu memperolok-olok aku. Katanya aku ini seorang pemuda tampan,” katanya. In-nio ambil sapu tangan, setelah dicelup air, ia lantas mengusapi noda-noda kotoran di wajah

Yak-bwe. Ujarnya: ”Jangan buru-buru tukar pakaian dulu. Tuturkan ceritamu itu. Mengapa kau begitu nakal, sebelum datang kemari berkelahi dulu dengan orang?”

”Ho, kau juga hendak memperolok-olok aku, ya? Bukan cerita yang baik, tapi menjengkelkan hati,” sahut Yak-bwe.  Ia lantas menuturkan kejadian yang dialaminya di warung arak itu. ”Aku tak kenal pada imam hidung kerbau dan si hweshio busuk itu, tapi entah bagaimana

mereka itu hendak cari perkara padaku. Coba kau timbang, apakah itu tidak menjengkelkan?” katanya.

In-nio heran dibuatnya, tanyanya: ”Masa ada kejadian begitu, apakah kau tak salah dengar? Atau mungkin mereka mengatakan tentang lain orang?”

”Meskipun aku tak paham seluruhnya akan bahasa kangouw, tapi aku dapat mendengarkannya dengan jelas. Coba pikirkan, mana di atas dunia ini ada seorang budak perempuan she Su yang galang-gulung dengan budak laki-laki she Toan itu?” bantah Yak-bwe yang lantas menceritakan omongan si imam. Dalam bercerita itu, wajahnya menjadi kemerah-merahan.

”Ah, hal itu benar-benar aneh. Siapakah yang membocorkan keluar? Mengapa dalam kalangan orang luar yang tak ada hubungannya sama sekali mengetahui bahwa kau tinggalkan rumahmu karena urusan Toan Khik-sia?” In-nio tertawa.

”Malah mereka tahu juga akan sumber perguruanku dan tingkat kepandaianku. Tapi memang ada beberapa bagian yang tidak benar,” kata Yak-bwe.

Iapun menerangkan tentang hal-hal yang menimbulkan kecurigaannya kepada In-nio. In-nio memang lebih berpengalaman. Memang ia anggap dalam urusan itu tentu terselip sesuatu, tapi seperti halnya dengan Yak-bwe, iapun juga tak mengetahui tentang adanya seorang nona yang bernama Su Tiau-ing itu. Maka dugaannyapun, sama dengan Yak-bwe, yakni yang dimaksud si imam dengan 'budak perempuan she Su' itu, siapa lagi kalau bukan Yak-bwe.

Dalam penuturannya itu, Yak-bwe sudah lupa menyebut tentang diri si pemuda desa. ”Ai, kau toh sudah memberi hajaran pada mereka, ini sudah cukup melonggarkan

kemendongkolan hatimu. Rupanya mereka itu hanya bangsa jagoan kelas 2-3 saja. Masakan mereka berani mencari kau lagi. Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi. Sekarang mari kita bicarakan soal Khik-sia. Sebetulnya kalian berdua ini bagaimana, ya?”

Dengan suara berbisik, Yak-bwe menyahut: ”Justeru aku hendak minta advismu ”

Baru ia berkata begitu, tiba-tiba si penjaga pintu tadi bergegas-gegas mendatangi, serunya:

”Nona Sip, ada tetamu hendak minta bertemu loya. Waktu kuberitahukan kalau loya sedang pergi, ia lantas keluarkan karcis nama suruh aku berikan pada nona. Ia minta keterangan, apakah nona mau menjumpainyakah?”

Waktu menyambuti dan membaca karcis nama itu, In-nio berseru: ”Oh, kiranya Sin-cian-chiu Lu Hong-jun. Baik, silahkan dia duduk di ruangan tetamu. Sebentar aku ganti pakaian dulu.” Yak-bwe tertawa mengikik.

”Hai, mengapa kau tertawa itu?” tegur In-nio.

”Tahukah kau apa maksud kedatangan Lu Hong-jun kemari?” Yak-bwe balas bertanya.

”Bagaimana aku mengetahui? Kalau begitu, rupanya kau tentu sudah tahu, bukan?”

”Dia hendak menjadi comblang untukmu. Comblang datang, calon yang akan dipinang itu harus menyembunyikan diri tapi sebaliknya kau hendak menjumpainya. Lucu tidak ini?” ”Kau memang pandai menggerakkan lidahmu. Masakan seorang pendekar muda dituduh

menjadi comblang.  Biar kutemuinya. Kebanyakan ia datang kemari karena kau. Kau telah menghina adiknya, ia tentu hendak mencarimu,” sahut In-nio yang tak percaya akan keterangan Yak-bwe.

”Tidak, aku sungguh tak membohongimu. Lu Hong-jun dimintai tolong Thiat-mo-lek untuk melamar bagi Bo Se-kiat. Jika kau tak percaya, dengarkan saja bagaimana omongannya nanti.” ”Sudahlah, jangan berolok-olok lagi. Lekas ganti pakaian dan ikut aku menemui tetamu itu, tukas In-nio.

”Ah, aku bukan tuan rumah dan kedua kalinya, jika ada aku, ia tentu tak leluasa bicara,” bantah Yak-bwe.

”Apa kau kuatir kalau ia sebenarnya hendak mencarimu? Baik, jika kau takut, biarlah aku sendiri yang menyambutnya. Aku tak mau terpengaruh oleh olok-olokmu tadi hingga sampai menelantarkan tetamu,” kata In-nio.

Yak-bwe tertawa: ”Ya! Memang, memang! Jauh-jauh orang datang hendak menjadi comblang, masakan tak disambut baik-baik.”

”Lekas ganti pakaian dan tunggu di sini. Nanti aku hendak bikin perhitungan padamu,” bentak In-nio.

Setelah pesan seorang budak untuk melayani keperluan Yak-bwe, ia lantas ganti pakaian dan keluar menyambut sang tetamu. Yak-bwe pun lantas mandi dan berganti pakaian In-nio. Ternyata Yak-bwe itu lebih pendek dari In-nio. Bujang segera menyediakan pakaian In-nio yang dibuat pada dua tahun yang lalu. Ternyata ukurannya pas dengan Yak-bwe.

Yak-bwe menunggu di dalam taman. Tak berapa lama kemudian, datanglah In-nio.  Wajah nona itu agak berbeda dengan tadi. Kiranya benar apa yang dikatakan Yak-bwe kepadanya tadi. Hong- jun telah membicarakan tentang diri Bo Se-kiat. Benar secara terang-terangan Hong-jun tidak

menyatakan jadi comblang, tapi ia menuturkan tentang pertemuan dengan Bo Se-kiat dan Thiat-mo- lek. Kemudian ia sampaikan salam Se-kiat kepada In-nio. Dalam pembicaraan selama itu, secara samar-samar Hong-jun menyatakan sudah mengetahui tentang hubungan Se-kiat dengan In-nio.

Pun tahu juga dia (Hong-jun) akan kemungkinan bahwa Sip Hong tak suka kepada Se-kiat. Selanjutnya Hong-jun menyatakan kesediaannya hendak membicarakan hal diri Se-kiat itu kepada Sip Hong.

”Nah, bagaimana? Kan aku tidak omong kosong doang?” tegur Yak-bwe sambil tertawa. ”Heran, bilakah kau berjumpa dengan Lu Hong-jun itu? Mengapa tadi ia tak mengatakan sebaliknya malah menanyakan tentang dirimu?” kata In-nio.

Yak-bwe tetap tertawa saja: ”Aku bertemu padanya, tapi ia tak tahu kalau aku. Kejadian itu memang lucu sekali, nanti akan kuceriterakan juga padamu. Coba kau tuturkan dulu, apa saja yang ia tanyakan tentang diriku tadi?”

Kini ganti giliran In-nio yang tertawa: ”Dia juga membantu Thiat-mo-lek mencari jejakmu

untuk kepentingan Khik-sia. Thiat-mo-lek dan Bo Se-kiat juga sangat perihatin akan urusan kamu berdua itu. Kukatakan pada Lu Hong-jun bahwa kau sudah berada di sini dengan aku. Mendengar itu girangnya bukan kepalang. Ia mengatakan hendak lekas-lekas menyampaikan hal itu kepada Khik-sia dan Thiat-mo-lek, agar mereka terbebas dari kecemasan selama ini. Tadi sebenarnya aku berniat hendak memanggilmu keluar ”

”Aku sih tak suka menemuinya,” sahut Yak-bwe.

”Itulah!   Kutahu sudah bagaimana perangaimu. Menduga kau tentu tak suka menemuinya, akupun tak mengatakan hal itu juga,” kata In-nio.

Tiba-tiba Yak-bwe bertanya: ”Apakah ia tahu kalau baru hari ini aku tiba di sini?”

”Tentang itu tak kuutarakan. Dengan Lu Hong-jun baru pertama kali ini aku bertemu muka. Waktu ia menanyakan dirimu, segera kuberitahukan kau berada di sini. Lain-lain hal aku tak mau mengatakan lagi.”

”Mendinganlah. Kalau ia tahu baru hari ini aku tiba di sini, tentu ia menaruh kecurigaan. Diriku yang sebenarnya, tentu akan ketahuan olehnya,” kata Yak-bwe.

”Ai, kau mainkan sandiwara apa saja? Mengapa kau takut dirimu ketahuan dia?” tanya In-nio. ”Tentang diriku menyaru jadi pemuda itu, lho,” kata Yak-bwe. ”Belum lama ini, aku berjumpa dengan Lu Hong-jun. Kuperhatikan kala itu ia sudah mencurigai diriku, tapi rupanya ia pun masih belum yakin betul bahwa aku ini seorang anak perempuan.”

Ia lalu menuturkan pengalamannya selama berpisah dengan In-nio. Bagaimana di tengah jalan terluka panah, bagaimana perkenalannya dengan Tok-ko U serta bagaimana pada suatu hari Lu Hong-jun datang berkunjung ke rumah Tok-ko U, diceritakan semua.

”Aku memakai nama palsu Su Ceng-to, berbohong mengaku salah seorang gagah dari Kim-ke- nia. Tak kusangkah bahwa sebelum datang kesitu, Lu Hong-jun berjumpa dulu dengan Thiat-mo- lek. Mungkin ia tentu merasa keteranganku itu sedikit mencurigakan. Tapi syukur, aku dapat mengatasi kesemuanya itu. Jika tadi ia tahu kalau baru hari ini aku datang kemari, mungkin ia tentu akan menghubungkan diri 'pemuda Su Ceng-to' itu. Dan diriku tentu bakal ketahuan.”

Habis mendengar, In-nio tampak kerutkan alisnya. Tegurnya: ”Perbuatanmu itu kurasa tidak tepat. Mengelabuhi mata Lu Hong-jun, itu sih tak mengapa. Tapi masakan kau juga mau menyelomoti Khik-sia juga?”

”Tidak, siang-siang Khik-sia sudah tahu. Setelah Lu Hong-jun pergi, malamnya Khik-sia juga datang ke rumah Tok-ko U dan bertemu dengan aku,” kata Yak-bwe.

”Bagus, bagus! Khik-sia tentu tahu dan apakah kau memberitahukan siapa dirimu itu kepadanya? Kupercaya ia tentu tak mencemburui kau. Kalian sudah berbaik, bukan?” ”Celaka, karena kubikin marah, ia pergi dengan putus asa. Memang kala itu aku masih marah kepadanya, maka akupun tak mau berkata padanya.”

Waktu mendengar cerita Yak-bwe tentang pertemuannya dengan Khik-sia, In-nio banting- banting kaki: ”Ai, mengapa kau berlaku kelewatan begitu?”

Yak-bwe menyatakan penyesalannya: ”Ya, sekarang aku sudah tahu kesalahanku. Jika nanti bertemu lagi, aku akan menghaturkan maaf padanya. Tapi entah sekarang ini dia berada di mana. Enci In, bagaimana adpismu? Apa sebaiknya cari dulu dianya, lalu kau katakan kepadanya.”

In-nio tertawa: ”Ya, enak saja kau mengomong.  Dengan begitu tak perlulah kiranya kau minta maaf lagi kepadanya, bukan? Hanya saja, kau sudah membuat urusan itu kacau balau, dikuatirkan tak cukup dengan sepatah dua patah penjelasan dapat membuatnya mengerti.”

Mendengar itu angot pula perangai kaum siocia (gadis orang hartawan atau berpangkat) pada

Yak-bwe. Ujarnya: ”Ya, aku memang berlaku kelewatan kepadanya. Tapi iapun juga berulang kali tanpa suatu alasan, menghina padaku. Kalau ditimbang-timbang, dua-duanya mempunyai kesalahan. Jika setelah kau nasehati, ia tetap tak mau menerima penjelasanku, akupun tak mengharap padanya lagi.”

In-nio tertawa: ”Ah, bukan begitulah. Tapi jawablah pertanyaanku ini. Apakah Tok-ko U pernah curiga padamu?”

”Curiga apa? Curiga kalau aku ini seorang anak perempuankah?”

”Kau tinggal hampir setengah bulan di rumahnya itu, tentunya setiap hari kau berjumpa

padanya. Sebagai seorang yang suka berkelana dan banyak pengalaman, masakan ia tak melihat sedikitpun tanda-tanda yang mencurigakan pada dirimu?”

Dengan bangga, Yak-bwe menerangkan: ”Kepandaianku menyaru jadi pemuda, meskipun tak seperti kau, tapi rasanya lebih dari cukup untuk mengelabuhi mata kedua kakak beradik itu. Bukan saja kuberhasil mengelabuhi mereka, malah adiknya yang bernama Tok-koI Ing itu sudah jatuh hati padaku.”

Yak-bwe segera menceritakan tentang sikap Tok-ko Ing yang menyintainya itu. Sudah tentu dalam ceritanya itu, ia tambahi dengan bumbu secukupnya hingga In-nio tak kuat lagi menahan gelinya.

Puas tertawa, berkatalah In-nio: ”Janganlah kau kelewat melanggar susila. Tidakkah perbuatanmu itu menyebabkan penderitaan seorang gadis?”

”Nanti apabila sudah tiba saatnya, aku tentu akan memberi penjelasan padanya. Tapi pada waktu itupun aku hendak mengolok-olok Lu Hong-jun juga. Tahukah kau bahwa Lu Hong-jun itu sebenarnya juga akan meminang nona Tok-ko?”

”Itu kan tak ada jeleknya, mengapa kau hendak mengolok-oloknya?”

”Aku tak suka dengan adik perempuan dari Lu Hong-jun. Karena aku sayang akan Tok-ko Ing, maka aku tak suka kalau sampai ia mendapat ipar perempuan semacam itu.”

”Gila, bila benar kau ini. Ia kan menikah dengan Lu Hong-jun, bukan dengan adik

perempuannya. Sekalipun taruh kata kedua ipar itu tak rukun, toh tak ada sangkut pautnya dengan kau? Apalagi Lu Hong-jun itu seorang lelaki yang lapang dada, sekali-kali bukan orang busuk.” ”Tak usah kau damprat, belakangan akupun tahu kesalahanku itu juga. Tadi kan telah

kukatakan padamu, lambat atau laun aku tentu akan menjelaskan pada Tok-ko Ing. Hanya sekarang ini belum tiba saatnya,” ujar Yak-bwe tertawa.

Sejak kecil In-nio sudah bergaul dengan Yak-bwe, jadi ia cukup kenal perangainya. Tertawalah

ia: ”Saat yang kau pilih itu, terus terang saja tentulah setelah kau berbaik lagi dengan Khik-sia, agar jangan belum-belum apabila sampai ketahuan dirimu seorang anak perempuan, Tok-ko Ing akan mengutuk kau.”

Yak-bwe tertawa: ”Terhadap kau aku tak dapat menutup isi hatiku. Itulah makanya aku lekas- lekas kemari, perlu minta adpismu.”

Dengan sungguh-sungguh In-nio berkata: ”Untunglah karena tak melihat penyaruanmu, Tok-ko U tak sampai merayu kau. Tapi halitu tak mengurangkan cemburunya Khik-sia. Apakah kau tak memikir sampai di situ?”

Yak-bwe terkesiap, serunya: ”Kau maksudkan Khik-sia akan mencemburui aku, aku ”

”Benar, ia mencemburui kau punya hubungan istimewa dengan Tok-ko U,” tukas In-nio. ”Kurang ajar! Kalau ia benar mempunyai pikiran begitu, tandanya ia berhati serong sendiri,” Yak-bwe menyeletuk sengit.

Sebagai puteri dari pembesar tinggi, Yak-bwe biasa memandang segala hal secara subyektif atau menurut anggapannya sendiri. Itulah sebabnya maka ia tak memikirkan kemungkinan Khik-sia akan menaruh persangkaan jelek terhadap tindakannya di rumah keluarga Tok-ko.

”Mengapa menyalahkan Khik-sia? Andaikata aku, pun juga akan menaruh persangkaan begitu. Ketahuilah bahwa Tok-ko U itu termasuk golongan anak muda seperti kita. Dia jauh berlainan dengan 'putera manis' dari Tian peh-peh,” bantah In-nio.

”Hm, kau masih mengungkat hal itu. Apakah tidak karena Tian-pepeh hendak memaksa kau menjadi menantunya, maka Khik-sia sampai marah-marah dan menghina habis-habisan padaku? Baik, jika karena peristiwa di rumah Tok-ko U itu ia sampai marah-marah lagi, biarkan sajalah,” Yak-bwe makin sengit.

In-nio menggeleng kepala, ujarnya: ”Apakah kau benar-benar hendak membikin dia marah? Kalau begitu, aku tak dapat mengurusi urusan kalian lagi.”

Wajah Yak-bwe berubah agak gelisah, katanya: ”Kelihatannya ketika ia tinggalkan aku, sikapnya amat sedih sekali. Maka, maka kemarahankupun berkuranglah separuh.”

Dengan menirukan gaya bicara Yak-bwe itu, In-nio berkata: ”Maka, maka kau pun lantas minta aku menjadi orang perantaranya.”
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Tusuk Kundai Pusaka Jilid 08"

Post a Comment

close