Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 18

Mode Malam
 
"KHAN AGUNG DARI POHAI telah menghadiahkan kita beberapa ekor harimau asal gunung Tiang Pek San, maka itu sekarang selagi hadirnya banyak orang gagah, baik kita mengadakan pertunjukan orang gagah menaklukkan harimau."

Negara Pohai yalah sebuah negara besar di Timur- daya dan harimau dari gunungnya, gunung Tiang Pek San, kesohor galak dan ganasnya. Raja negara itu bersekutu sama Khan Turki, dia mendapat tahu, Turki bakal melakukan peperangan, maka dia menghadiahkan beberapa ekor harimau sebagai tanda menghormat, sebagai pujian untuk Turki menang perang.

Khan setuju dengan usulnya baturu itu.

"Bagus, bagus!" katanya, girang. "Tidak usah dipilih lain orang, kau saja yang maju untuk menaklukkan harimau itu!"

Khan tahu pengawalnya itu gagah, ia pikir baiklah ia menggunai ketika ini untuk membikin para tetamu menyaksikan kegagahan pahlawan-pahlawannya.

Kakdu menerima baik putusan junjungannya itu. Ia lantas memerintahkan perawat binatang untuk mengeluarkan seekor harimau. Untuk itu telah disediakan sebuah tanah-lapang, yang sudah dikurung pagar kawat, guna mencegah harimau nerobos keluar dan mencelakai orang banyak. Segera juga orang melihat seekor harimau  dengan pita putih dijidatnya. Benar-benar raja hutan itu besar dan bengis romannya. Ketika Kakdu muncul didepannya dan membentaknya lantas dia menjadi gusar dia menderum nyaring, ekornya digoyang-goyang, terus dia melompat, menubruk kepada Kakdu.

Para hadirin pada mengerti ilmu silat tetapi melihat raja hutan demikian garang, ada yang hatinya gentar. Tidak demikian dengan si baturu. Begitu ditubruk, begitu ia berkelit, ketika raja hutan itu lewat disampingnya, ia menghajar punggungnya binatang itu.

Harimau itu berkulit tebal dan tubuhnya kuat, ketika dia kena dihajar, dia menjadi gusar, sambil mengaung keras dia menongkrong, matanya memandang tajam, lantas dia menggoyang ekor, terus dia melompat pula, menubruk untuk ke-dua kalinya.

Kembali Kakdu berkelit, habis itu dia menyerang ke kempungan si raja hutan. Tapi binatang ini melawan, dia memutar tubuh, untuk menyingkur. Maka tubuh baturu itu terangkat naik dan terlempar.

Orang rata-rata terkejut. Tidak demikian dengan Kakdu sendiri. Selagi tersingkur itu, ia meneruskan meminjam tenaga, untuk berjumpalitan, lalu sedang tubuhnya turun, dengan kedua kakinya, ia menjejak kepalanya harimau itu. Hebat jejakan itu, si raja hutan roboh, sedang ia sendiri, terus lompat turun ketanah.

Harimau itu bergulingan, dia berderum gusar, lantas dia bangun, untuk mendekam, bersiap untuk menyerang. Akan tetapi, dia tidak lantas menerkam pula. Kakdu mengawasi tajam, ia maju perlahan-lahan, untuk mendekati, sembari maju, ia terasa, tangannya pun menggapai-gapai.

Harimau itu menjadi gusar sekali, dia menderum bagaikan guntur, lantas dia berlompat bangun, untuk menerjang, mulutnya dipentang lebar, untuk menggigit, kedua kakinya mementang kukuh, guna menyengkeram.

Kakdu berlaku tabah, tenang tetapi gesit. Ketika diterkam itu, dia berkelit kesamping, dan ketika si raja hutan menginjak tanah, menubruk tempat kosong, dia berbalik, untuk memberikan beberapa bogem-mentah.

Sesudah menerkam tak berhasil, sedang barusan dia mengerahkan seluruh tenaganya, harimau itu menjadi lelah. Ketika ini digunai Kakdu. Dia menjambak kulit kepala raja hutan itu, dia menekan keras, sambil berbuat begitu, dia membentak: "Binatang, kau menyerah atau tidak?"

Sia-sia harimau itu menderum dan keempat kakinya meronta-ronta, hingga tanah kena terbongkar dan tergali cukup dalam, ketika tenaganya habis, dia lantas berdiam saja ditekan si baturu.

Kakdu tertawa lebar, ia lompat naik kepunggung harimau itu, sebelah tangannya terus mencekal kulit kepalanya, sebelah tangan yang lain menepuk-nepuk perlahan kelehernya seraya berkata: "Kau mengalah kasi aku duduk di-atas punggungmu!"

Bagaikan seekor binatang yang jinak, harimau itu menurut, tanpa melawan dia berjalan perlahan mengitari lapangan.

Maka gemuruhlah tampik-sorok semua hadirin. Kakdu puas, ia terlihat bangga sekali. Ketika ia turun dari punggung harimau, binatang itu dia tolak masuk kedalam kerangkengnya.

Khan girang menyaksikan pahlawannya itu menang, ia memberi selamat dengan tiga cawan araknya. Sekalian ia memberi gelaran pada pahlawan itu, menjadi "Jendral Penakluk Harimau." Kemudian sembari tertawa, ia tanya Thian Ok Tojin: "Orang gagah sebagai Kakdu ini, didalam kalangan busu Tiongkok, dia termasuk yang keberapa?"

Thian Ok tertawa, tetapi ketika ia menjawab, ia hening dulu sejenak. Sahutnya: "Dia dapat dihitung kelas satu." Nada suaranya nada menghormat, tetapi terhadap hadap Kakdu sendiri, tidak terlihat kekagumannya.

Kakdu tahu ia tidak dilihat mata, ia menjadi  tidak puas.

"Silahkan totiang juga menakluki seekor harimau, untuk kita membuka mata kita!" katanya.

Thian Ok Tojin bersenyum, lalu ia memanggil Yang Thay Hoa, katanya: "Hiantit, pergi kau main-main sama beberapa ekor binatang itu!"

Sikapnya imam ini menunjuk nyata sekali, ia sendiri tidak mempunyai kegembiraan untuk bertempur sama raja hutan.

Yang Thay Hoa menerima baik perintahnya paman guru itu, lantas ia menghadap Khan, untuk berkata dengan hormat: "Aku mohon bertanya, Khan yang mulia masih mempunyai beberapa ekor harimau?"

"Sama sekali Khan dari Pohai mengirim enam ekor," menyahut raja Turki. "Barusan pengawal Baginda telah menakluki seekor," kata Yang Thay Hoa, "binatang itu baik tidak dimasuki hitungan, maka itu, silahkan Baginda mengeluarkan yang lima lagi untuk aku menaklukinya."

Yang Thay Hoa itu jangkung kurus, romannya tidak luar biasa, maka itu, mendengar perkataan orang, Kakdu berpikir: "Ini setan berpenyakitan berani mementang mulut begini besar?" Lantas ia kata pada orang she Yang itu: "Jikalau kau dapat menakluki lima ekor, aku suka menjadi tukang memegangi les kudamu!"

Khan juga heran. Ia ingin menyaksikan kepandaian orang.

"Baiklah!" katanya. Terus ia menitahkan lepas lima ekor sekaligus.

Yang Thay Hoa tidak berlaku ayal-ayalan untuk masuk kedalam gelanggang. Ia lantas duduk bersila.

Lima ekor raja hutan gusar melihat orang, kelimanya menderum, lantas mereka maju, untuk berlompat menerkam dari empat penjuru.

Justeru binatang liar itu menunjuk kemurkaannya dan menyerang, Yang Thay Hoa berseru nyaring sekali, bagaikan guntur, hingga cawan arak diatas meja pada berlompat sendiri, hingga deruman kelima harimau itu kalah pengaruh!

Kakdu kaget.

"Aku tidak sangka orang berpenyakitan ini mempunyai suara begini keras!" katanya didalam hati. la merasakan telinganya ketulian. Sedang para hadirin lain, banyak yang menutupi kuping. Kelima raja hutan pun kaget hingga mereka batal menerkam, ekor mereka pada turun, mulut mereka dengan gigi-gigi kasar dan tajam dirapatkan.

Raja Turki berdiam. Dia juga ketulian, hanya dia tidak sampai menutup kuping, cuma dia mengerutkan alis. Sebagai raja, dia mesti memegang derajat. Dia lantas berpaling kepada Thian Ok Tojin.

"Totiang, tolong kau mewakilkan kami memberitahukan keponakan muridmu agar dia jangan lagi berseru nyaring itu;" katanya.

Thian Ok bersenyum. la lantas berbangkit.

"Thay Hoa, kau taklukilah harimau itu!" katanya. "Jangan kau membikin kaget pada tetamu-tetamu mulia dari Khan yang agung."

Kelihatannya imam ini bicara-bicara saja akan tetapi kata-kata itu terdengar tegas sekali hingga kedalam gelanggang, sedang Khan yang agung itu mulanya menyangka orang akan pergi menghampirkan sang keponakan murid itu. Ia tidak ketahui, Thian Ok telah mahir tenaga-dalamnya dan pandai menggunai ilmu- kepandaian "Coan Im jip bit" atau menyalurkan suara.

Hu Put Gie mengetuk meja dengan sumpitnya, perlahan.

"Sungguh kepandaian yang liehay! Sungguh kepandaian yang liehay!" pujinya.

Orang banyak menganggap pujian itu pantas, tetapi Thian Ok, mendengar itu hatinya terkesiap. Ketukan sumpit dan nada pujian itu terdengarnya tajam untuk telinganya. Ketika itu seruan Thay Hoa dan deruman si raja hutan sudah sirap. Kelima harimau mendekam mengurung Thay Hoa, tidak ada yang berani lompat menerkam, tidak ada juga yang mau mundur, cuma sikap mereka tetap mengancam.

Selang sekian lama, seekor harimau menderum pula, tubuhnya mencelat, menubruk kearah si manusia. Cepat menubruknya dia, tetapi lebih sebat Thay Hoa. Ia ini berkelit kesamping, sambil herkelit, sebelah tangannya melayang kearah leher sambil ia membentak: "Binatang tidak tahu mampus, kau rebahlah baik-baik...!"

Serangan itu tepat dilakukan ketika sang harimau menubruk tempat kosong dan keempat kakinya turun ditanah, lalu bagaikan kucing jinak, dia terus menekuk kan rebah. Dia telah dihajar dengan tipu silat Hun-kin Co- kut-ciu, ilmu "Memisah-otot Membagi Tulang," hingga seluruh tubuhnya menjadi lemas.

Terkaman harimau itu ditelad oleh empat kawannya, mereka melompat saling-susul, maka Thay Hoa lantas bekerja terus, ia berkelit dan menghajar setiap ekor, hingga semua kelima raja hutan itu diam mendekam disisinya, tidak ada yang berkutik.

"Ha... ha... ha...!" Thay Hoa tertawa. "Kau pun menjadi binatang tungganganku!" Yang lain-lainnya mengikuti!" Ia naik atas punggungnya harimau yang terbesar.

Semua orang heran dan kagum, lantas mereka bertempik-sorak riuh sekali.

Lie It pun heran. Ia berpikir: "Muridnya saja sudah begini liehay, bisa dimengerti liehaynya Pek Yu Siangjin. Aku dibantu Kok Sin Ong, tetapi mungkin kita bukanlah lawan dia ..."

Kakdu seorang laki-laki, setelah kekagumannya, dia menghampirkan Thay Hoa, yang telah kembali kekursinya.

"Aku kalah dari kau, gelaranku ini aku serahkan padamu!" dia kata.

Mendengar begitu, Khan lantas berkata: "Kamu berdua sama-sama gagah! Kakdu, tidak usah kau menyerahkan gelaranmu, nanti aku memberikan orang gagah ini lain gelaran, yalah Jenderal Sakti Penakluk Harimau!"

Thay Hoa puas sekali, dengan bangga ia menerima gelaran itu.

Justeru itu waktu, dari antara meja utama terdengar tertawa dingin.

Thay Hoa sudah lantas menoleh, maka tahulah ia, orang itu yalah Guru Budi dari mesjid Tujuh Mustika.

Meja utama itu berada paling dekat dengan meja Khan, duduk disitu ada delapan hadirin yang paling dihormati, kecuali Guru Besar Matu, tujuh yang lainnya tetamu-tetamu terkenal dari pelbagai negara. Thian Ok Tojin, Biat Tow Sin-Kun, Kok Sin Ong dan Hu Put Gie ada diantaranya. Yang dua lagi yaitu, yang satu yalah busu dari Tuyuhun, Maican namanya, yang lainnya Ihama dari Tibet, Chang Chin Lhama. Guru Budi itu jago nomor satu diantara jago-jago Turki, mulanya Khan hendak mengangkat dia menjadi Guru Negara, berhubung dengan datangnya Pek Yu Siangjin, keangkatan itu dibatalkan. Sebabnya yalah nama Pek Yu lebih termashur. Tentang itu, dia sudah berdamai dengannya. Maksudnya Khan bukan hendak merendahkan jago sendiri, ia hanya hendak mengambil hati, jago lain negara, orang sendiri boleh mengalah. Budi tidak bilang apa-apa tetapi hatinya tidak puas. Ia malu ketika mendapat kenyataan Kakdu kalah dari Thay Hoa, saking penasaran, ia mengasi dengar tertawa mengejeknya itu.

Thay Hoa tidak puas, akan tetapi ia diam saja.

Khan heran, ia menanya kenapa jagonya itu tertawa. "Hambamu mentertawakan harimau itu," sahut orang

yang  ditanya.  "Semuanya  yalah  kucing-kucing  hutan

yang bagus dipandang tetapi tidak ada gunanya!"

"Sebenarnya semua galak dan kuat!" kata Kakdu tidak puas.

Ia merasa tersinggung.

Guru Budi tidak memperlukan jago itu, ia hanya menanya rajanya: "Seri Baginda, jikalau dipadu, mana lebih tangguh, harimau ini atau burung garuda kita?"

Ditanya begitu, Khan berpikir.

"Mungkin burung kita," sahutnya kemudian. "Tidak ada halangannya untuk mencoba."

Maka perintah dikeluarkan akan pegawai tukang piara burung garuda mengeluarkan burungnya, untuk burung itu diadu dengan harimau-harimau itu.

Burung itu burung gunung Thian San, dipelihara sejak masih kecil, oleh Khan biasa dipakai berburu, sering dia menempur singa, harimau dan lainnya binatang liar, hanya menghadapi harimau pitak dari gunung Tiang Pek San barulah kali ini. Tubuh burung besar, sayapnya lebar, kalau kedua sayap itu dikibasi, pasir dan batu beterbangan.

Kelima ekor harimau melihat musuh datang, semua lantas melompat, maka dilain saat, pertempuran yang dahsyat telah terjadi. Binatang kaki empat itu main menerkam, binatang bersayap itu main terbang menyambar dan menyengkeram.

Satu kali kedua pihak bentrok, Khan terkejut. Bulu burungnya pada rontok. Tapi seorang pengawal, yang matanya tajam, berkata: "Tidak apa, burung itupun telah kena menyambar matanya dua ekor harimau!"

Itulah benar. Hati Khan menjadi lega.

Burung garuda itu terbang berputaran, mendadak dia menyambar pula. Dia berhasil. Lagi dua raja hutan rusak matanya. Tinggal yang seekor, yang masih utuh.

Ketika burung itu menyambar untuk ke-tiga kalinya, tubuh harimau itu kena terangkat tinggi, maka ketika tubuhnya itu dilepaskan, dia jatuh terbanting terus mati!

Keempat harimau, yang matanya buta, cuma bisa tabrak-tubruk tak keruan, ketika mereka diserang, tidak bisa mereka berkelit, maka belum terlalu lama, satu demi satu, tubuh mereka diangkat dan dijatuhkan. Demikian matilah semuanya.

Khan girang hingga ia tertawa lebar. Ia perintah memotong daging harimau, untuk dikasi makan kepada burungnya itu. Kemudian ia berkata pada Guru Budi bahwa benar burung garuda itu lebih liehay !

Guru Budi menggapai kepada Kakdu dan berkata: "Kau telah melihat garuda menempur harimau, nyatanya semua harimau itu tidak berarti apa-apa. Sekarang, beranikah kau melawan garuda itu?"

Kata-kata itu ditujukan kepada Thay Hoa. Thay Hoa mengerti itu, maka ia berkata didalam hatinya: "Sulit untuk melawan burung itu. Mungkin aku tidak dapat dilukakannya tetapi juga sulit untuk aku mengalahkannya

..."

Kakdu, yang jujur, berkata: "Guru main-main! Manusia boleh pandai tetapi dia tidak dapat terbang, mana bisa dia melawan burung?"

Guru Budi bersenyum, lantas ia berpaling kearah Kok Sin Ong.

"Aku mendengar katanya kamu bangsa Tionghoa mengutamakan Ong-to, sekarang dengan Ong-to akan mencoba menaklukkan burung itu," katanya.

Kata-kata ini pun diarahkan kepada Thay Hoa. Dengan menyebut-nyebut Ong-to, jalan kebijaksanaan raja yang adil, tegasnya, kehalusan, Guru Budi mengertikan bahwa iparnya Thay Hoa menaklukkan harimau barusan adalah cara Pa-to, jalan raja sewenang-wenang yang galak, yalah kekerasan. Thay Hoa mengetahui itu, ia menjadi kurang senang.

Kok Sin Ong pun tidak percaya kata-kata orang itu. Maka ia kata: "Silakan guru besar menggunai ong-to menakluki burung itu, supaya kami orang-orang gunung dapat membuka mata kami!”

Khan girang Guru Budi mau menempur burung garuda, hal itu dapat mengangkat derajat bangsa Turki, tetapi toh ia kuatir, maka ia kata : "Guru Budi gagah- perkasa, inilah kami ketahui, akan tetapi burung itu kosen sekali, syukur jikalau guru berhasil, kalau tidak, janganlah dipaksakan."

"Harap Seri Baginda melegakan hati," kata Guru Budi. "Telah hambamu mengatakan hendak menggunai Ong- to, maka itu, biarnya burung itu galak, tidak nanti hambamu membuatnya celaka."

Mendengar itu, hati Khan lega, hanya dilain pihak, ia berkuatir untuk keselamatan burungnya itu. Ia percaya, tanpa kepastian Guru Budi tidak nanti berani melawan burung garuda.

Guru Budi sudah lantas masuk kedalam gelanggang. Disitu ia duduk bersila. Setelah itu Khan menitahkan melepaskan burungnya.

Tukang merawat burdng bersiul, terus ia melepaskan tiga batang anak panah, yang dibikin jatuh tepat disisi Guru Budi, setelah mana ia melepaskan burungnya.

Tiga batang anak panah itu berarti tanda untuk burung itu. Memang biasa, diwaktu berburu, Khan melepas anak panah, guna burung garuda menyambar bakal mangsanya. Demikianlah, burung itu lantas terbang kearah Guru Budi.

Biar bagaimana, banyak hadirin berkuatir juga. Mereka telah ketahui baik kegalakan dan liehaynya burung itu. Barusan pun terbukti, lima ekor harimau telah dijadikan kurbannya. Mereka lebih berkuatir melihat Guru Budi melawan dengan duduk bersila. Dilain pihak, perhatian mereka pun tertarik. Mereka ingin menyaksikan bagaimana nanti Guru Budi melawannya.

Burung garuda terbang berputar-putar diatas kepala Guru Budi, yang tetap bercokol saja, tak bergeming, tak berkutik. Hati penonton ada yang berdenyutan. Celaka kalau kepalanya guru itu kena dicengkeram. Maka ada orang yang hatinya kecil, yang lantas memejamkan matanya.

Setelah terbang berputaran, untuk mengincar mangsanya, burung garuda terbang turun, menyambar! Tetapi heran, mendadak kedua sayapnya menjadi tertutup rapat, lalu digeraki, seperti yang meronta, tapi akhirnya dia jatuh ketanah. Masih dia berlompatan, tapi sekarang dia tidak dapat terbang lagi.

Semua orang heran. Tahu-tahu burung itu sudah berada ditelapakan tangannya Guru Budi, yang mengulur tangan dengan telapakannya dipentang terlentang. Tak dapat burung itu terbang pergi, meski dia masih mencoba meronta. Kedua kakinya, dengan kuku-kuku yang tajam, tidak ada gunanya lagi.

Guru Budi itu telah menggunai tenaga dari ilmu tenaga-dalamnya yang mahir sekali.

Menampak itu, Lie It terperanjat. Maka mengertilah ia, tidak dapat ia memandang enteng kepada orang Turki itu.

Burung itu berbunyi berulang-ulang, seperti orang yang meminta dikasihani.

"Kasihan kau," kata Guru Budi, tertawa. "Baiklah, aku lepas padamu!" Lantas tangannya diapungkan. Lantas, bagaikan bebas dari belenggu, burung itu terbang pergi!

Habis itu Guru Budi kembali kekursinya. "Bagaimana?" ia tanya Kakdu. Ia tertawa. "Guru besar, kau benar sakti!" Kakdu berkata, takluk. "Aku tidak mengerti, kenapa burung itu tidak dapat terbang?"

Sementara itu, Kak Sin Ong dan Yang Thay Hoa ketahui sebabnya itu. Yang Thay Hoa pun berkata dalam hatinya: "Aku kira cuma guruku yang dapat menandingi Guru Budi ini..."

Kok Sin Ong sebaliknya memandang kearah Hu Put Gie.

Orang she Hu itu tertawa, dia berkata: "Bagus! Yang satu melebihkan ramainya daripada yang lain! Kelihatannya, makin dilihat jadi makin menarik hati." Dia membawa sikapnya sebagai penonton yang kebanyakan, sedikitpun seperti tidak ada minatnya untuk turut mempertontonkan kepandaiannya.

Khan yang agung girang luar biasa, kecuali ia memberi selamat dengan tiga cawan arak, ia pun menyuruh Kakdu pergi kegudang istana untuk mengambil sebuah jubah suci untuk Guru Budi.

"Aku mengharap mendapat pengajaran dari sekalian tuan2!" kemudian kata Guru Budi pada orang banyak, sikapnya merendah. Tentu sekali itu hanyalah pura2 belaka, karena suaranya bernada menantang.

---o^DewiKZ^0^Kupay^o--- CHANG CHIN LHAMA DAN MAICAN ada orang dipihak Guru Budi, tidak dapat mereka menyambut tantangan itu. Kok Sin Ong dan Biat Touw Sin-Kun pun tidak, mereka merasa tidak dapat menandingi ilmu si guru itu. Sedang Hu Put Gie, dia cuma tertawa saja, dia acuh tak acuh. Melainkan Thian Ok Tojin seorang, yang menjadi tidak puas. Dia biasanya cuma takluk terhadap Yu Tam Sin Nie, si bhikshuni tua, dan Pek Yu Siangjin berdua. Tapi dia masih berpikir dulu ketika dia tersenyum dan tangannya menunjuk pada sebuah pohon besar diluar taman, untuk berkata: "Meskipun burung itu bertenaga besar luar biasa, tidak nanti dia dapat merusak pohon besar itu!"

Pohon yang ditunjuk itu sebuah pohon istimewa untuk negara Turki itu, orang menamakannya pohon "kuku naga." Besarnya pohon sepelukan dua orang. Bongkot dan akarnya tampak melilit bagaikan naga melingkar - maka itu didapatlah namanya itu.

"Totiang mengatakan demikian, tentunya totiang dapat merusaknya," kata Guru Budi. "Bagaimana caranya itu? Ingin sekali aku membuka mataku."

Khan mengerutkan alisnya ketika ia mendengar perkataannya Thian Ok, akan tetapi karena Guru Budi sudah berkata demikian, ia diam saja, sedang sebenarnya ingin ia berbicara.

Thian Ok Tojin tertawa tawar.

"Nanti pinto mencoba," katanya. "Jikalau pinto gagal, harap tuan-tuan sekalian tidak mentertawakannya." Lantas dia turun dari undakan tangga, untuk bertindak pergi kebawah pohon besar itu. Dia lantas menaruh kedua tangannya kepada pohon, untuk menekan. Terlihatlah romannya yang sungguh2. Dari atasan embun-embunannya, lantas nampak keluarnya hawa bagaikan uap putih, menyusul mana, peluh keluar berketel-ketel dimukanya, menetes jatuh. Teranglah ia tengah mengerahkan tenaga dalamnya. Selama itu pohon tak bergerak, daunnya tidak ada yang rontok.

"Mensia-siakan tenaga begitu rupa, apakah perlunya?" kata Guru Budi, tertawa.

Kok Sin Ong, yang duduk dekat orang jumawa itu, tengah berpikir: "Rupanya Thian Ok Tojin hendak mempertunjukkan kepandaiannya yang istimewa ..." Tengah ia berpikir itu, Guru Budi sambil tertawa berkata padanya: "Tuan Kok, aku dengar di Tiongkok ada kata2 'Lalat Ephemera menggoyangi pohon,' maka aku melihatnya, pemandangan hari ini mirip dengan pepatah itu!"

Guru Budi mengerti banyak tentang Tiongkok, maka itu dengan menggurai pepatah itu, ia menyindir Thian Ok tidak tahu akan tenaganya sendiri. Ephemera yalah kutu kecil berkepala seperti cecapung, badan kecil dan tirus, sayapnya empat, pada ekornya tumbuh tiga batang mirip bulu panjang - dan hidupnya cuma satu hari.

Kok Sin Ong benci Thian Ok tetapi mendengar ejekan itu, ia tertawa dingin dan kata: "inilah mungkin bukannya lalat ephemera menggoyang pohon. Kau lihatlab lagi biar terang!"

Belum berhenti suaranya Sin Ong, mendadak kesunyian mengarungi semua orang. Tidak lagi ada orang yang tertawa tertahan sebab mendengar ejekan Guru Budi barusan.

Semua mata diarahkan kepada pohon, yang ditempel tangannya Thian Ok Tojin. Sekian lama pohon itu, yang besar dan daunnya gompiok, berdiri tegak dan tenang, kepadanya tidak terlihat perubahan apa juga, tapi sekarang maka tampaklah cabang-cabangnya pada tunduk turun dan semua daunnya menjadi kuning dan layu. Pohon yang demikian besar menjadi kering dalam sekejaban !

Sebenarnya Thian Ok Tojin telah mengerahkan tenaga-dalamnya untuk menyerang pohon besar itu dengan Tok Ciang Sin-Kang, ilmu Tangan Beracun. Ia menggempur hati pohon, hawa beracun dari tangannya tersalurkan, terus hingga kecabang-cabang dan daun.

Lie It kaget sekali, hingga ia berkata didalam hatinya : "Thian Ok telah menggunai tenaga latihannya sepuluh tahun yang belakangan ini, kepandaiannya maju sangat pesat hingga menjadi begini luar biasa. Jikalau dia tidak dapat disingkirkan, sungguh dia sangat berbahaya...!"

Thian Ok sendiri sangat puas, tampak kebanggaannya pada wajahnya, akan tetapi segera juga ia merasa heran disebabkan kesunyian itu, lantaran tidak ada orang yang bertempik-sorak memuji kepadanya. Ia cerdas sekali, segera ia mengerti sebabnya sambutan sepi itu. Yalah besok adalah hari raya "Mencabut Hijau." Negara Turki itu negara peternakan, jadi negara itu sangat mengutamakan tanaman pepohonan dan rumput. Sekarang, menghadapi hari raya itu, ia merusak pohon yang besar dan gompiok ini, ia menjadi telah melakukan perlanggaran kepada pantangan. Mengingat ini, sendirinya ia mengeluarkan peluh dingin. Tapi pohon telah terusak, ia tidak bisa berbuat lain. Ia cuma dapat membatalkan niatnya untuk menggempur roboh pohon itu. Ia kembali kekursinya dengan diantar ribuan mata yang membencinya.

Khan sendiri turut merasa tidak puas. Sebenarnya  tadi, ketika Thian Ok hendak mencoba merusak pohon, ia hendak mencegah, akan tetapi ia tahu, Guru Budi hendak mempersulit imam itu, ia pun tidak percaya Thian Ok dapat merusaknya, ia batal mencegah, siapa tahu, Thian Ok benar2 liehay sekali. Betul pohon itu tidak dirobohkan tapi sudah mati, cabangnya meroyot turun dan daun- daunnya menjadi pada kuning !

Khan menganggap itulah kejadian yang merupakan firasat buruk. Karena ini, ia bersikap demikian tawar, bahkan ia tidak memberi selamat dengan arak !

Adalah Guru Budi, yang tertawa dengan tiba-tiba. "Benar2 totiang liehay!" katanya. "Mari aku

menghaturkan secawan arak!"

"Terima kasih, tidak berani aku menerima!" menampik Thian Ok seraya bangkit.

Tapi Guru Budi berbicara sambil bekerja, ia telah menghaturkan nenampan emas diatas mana ada sebuah cangkir kemala, yang berisi penuh arak. Ditangannya itu, nenampan berputaran, menuju kedepan dada si imam.

Thian Ok liehay, matanya tajam, otaknya cerdas, segera ia dapat membade hati orang.

"Hm, dia masih hendak menguji aku!" pikimya. Maka ia tidak mau berlaku alpa. Dengan tajam ia mengawasi, tangannya diulur untuk menyambuti. la telah mengerahkan tenaganya, untuk menancap kaki, tapi toh, tubuhnya kena juga dibikin bergerak satu kali.

Sudah lama Guru Budi hendak menguji Thian Ok, disebabkan ia tahu orang liehay dan tangannya beracun, ia memikirkan daya untuk mengujinya. Ia merasa caranya yalah memakai perantara, agar ia tidak beradu tangan langsung. Demikian ia meminjam tenaga nenampan dan cawan arak, guna mengadu tenaga dalam mereka.

Jikalau mereka bentrok, dengan tangan beracunnya, tak susah buat Thian Ok merebut kemenangan, tetapi ia masih kalah tenaga-dalamnya, demikian tubuhnya kena dibikin tergerak. Karena ini, ia tidak berani mengambil cawan arak itu.

"Totiang, silakan minum!" kata Guru Budi sambil tertawa hi...hi...hi...hi.

"Ah, aku telah mempersembahkannya, kau tidak sudi menerima, kau tidak memberi muka padaku" dia menambahkan.

Thian Ok menjadi mendongkol sekali. Tahulah ia bahwa orang hendak menjatuhkan ia benar2, untuk membikin ia mati. Dalam panasnya hati, ia menjadi berlaku nekat. Ia menyangga, nenampan emas itu, ia kerahkan semua tenaga-dalamnya. Ia pun memaksa tertawa.

"Sebenarnya aku tidak berani menerima," ia kata. "Tapi biarlah! Sekarang aku ingin menyuguhkan terlebih dulu kepada guru yang agung !" Nenampan emas itu berhenti berputar. Dengan antero tenaganya, Thian Ok menolaknya.

Guru Budi menang tenaga-dalam tetapi ia tidak berani sembarang menyambuti cawan arak itu. Dengan begitu, dengan sendirinya mereka menjadi menjajal tenaga- dalam mereka. Lekas sekali, embun-embunan mereka menghembuskan uap putih.

"Silakan minum! Silakan minum!" kata merekat saling mengundang.

Khan heran menyaksikan orang saling memberi selamat dan saling mengalah itu, ia tidak tahu bahwa orang sebenarnya lagi berkutat nekat. Katanya dalam hatinya: "Kenapa ini dua orang begini ngotot saling mengalah?"

Seorang pegawal disisi Khan menunduki kepala, untuk membisiki: "Mereka berdua lagi bertempur mati-matian, maka itu semoga Seri Baginda mengambil tindakan..."

Khan itu melengak, ia lantas menginsafi bahaya. Ia berpikir. "ini imam menjemukan, dia melakukan perlanggaran, tetapi dialah tetamuku, tenaganya dibutuhkan, kalau dia terlukakan Guru Budi, kejadian ini bisa mendatangkan anggapan jelek pada pihakku."

Ia juga tidak suka Guru Budi mendapat celaka.

Selagi Khan ini bersangsi, sebab kalau ia memisahkan, itu berarti ia membantui diam2 kepada Thian Ok Tojin, tiba-tiba terlihat Hu Put Gie berbangkit dari kursinya, sembari tertawa manis, dia berkata: "Kamu berdua main mengalah saja, sayang ini arak, jikalau kamu tidak mau minum, kasilah aku yang meminumnya!" Lantas ia mengangkat sumpit, dengan itu ia mengetuk nenampan emas sehingga terdengar bunyi "traang!" Mendadak saja, cangkir kemala itu mencelat sendirinya!

Guru Budi dan Thian Ok Tojin, keduanya mereka, tangannya lantas terlepas, maka itu, jatuhlah nenampan emas. Akan tetapi Maican, busu dari Tuyiihun, sebat sekali, dia sudah berlompat, menjemput nenampan itu.

Hu Put Gie sendiri sudah lantas membawa cangkir kemulutnya, untuk menenggak habis isinya.

"Sungguh arak yang bagus!" ia memuji berulang- ulang.

Semua hadirin, yang terdiri dari orang-orang pandai, menjadi terperanjat saking heran dan kagum. Sungguh hebat Thian Ok dan Guru Budi itu. Sekalipun Kok Sin Ong dan Biat Touw Sin Kun, mereka tidak ungkulan dapat memisah mereka itu berdua. Pula, Thian Ok dan Budi sendiri, tidak nanti sanggup melepaskannya. Akan tetapi Hu Put Gie - dia ini telah dapat memisahkan orang dengan caranya itu yang nampaknya sangat sederhana ! Maka bisalah dimengerti kemahirannya tenaga-dalam orang she Hu itu.

Budi dan Thian Ok duduk dengan berdiam saja, roman mereka lesu. Ditempat mereka berdiri tadi, terlihat tapak kaki mereka, suatu bukti bagaimana mereka telah memasang kuda2 mereka, untuk mempertahankan diri. Para busu Khan tidak mengerti kemahiran Hu Put Gie, tetapi melihat tapak kaki itu, mereka kagum dan terkejut.

Akan tetapi, yang kaget paling hebat yalah Guru Budi dan Thian Ok sendiri.

Guru Budi merasakan semua anggauta dalam tubuhnya bergerak keras, menggetar seperti mau terbalik ambruk. Diam-diam ia menenangkan diri dan mengerahkan semangatnya, untuk bertahan.

Berselang seminuman teh, baru ia berhasil memulihkan diri seperti biasa lagi. Ia lantas menoleh kearah Thian Ok Tojin. Ia mendapatkan muka si imam pucat sekali, sinar matanya guram. Maka itu berpikirlah ia : "Kalau begitu Hu Put Gie tidak berat sebelah ! Rupanya lukanya ini si imam hidung kerbau tak terlebih ringan daripada lukaku ..."

Oleh karena pertarungan mereka itu, dua-dua Guru Budi dan Thian Ok bakal lenyap kepandaiannya yang mereka yakinkan selama tiga tahun, coba Hu Put Gie tidak datang sama tengah, mungkin mereka bakal bercelaka dua-duanya, bercelaka lebih hebat daripada kerugian peryakinan tiga tahun itu.

Thian Ok Tojin berdiam untuk memulihkan diri sebagai Guru Budi, setelah itu, ia pun berpikir keras. Ia juga memikirkan sepak terjangnya Hu Put Gie. Ia tidak mengerti kenapa orang tidak membantu padanya, sedang dengan kepandaiannya itu, Put Gie dapat bertindak untuk keuntungan pihaknya. Kenapa Hu Put Gie hanya datang sama tengah, membuat ia dan Guru Budi terluka bersama? Tentu sekali ia, demikian juga Guru Budi, tidak dapat membade maksud orang, yang sengaja menghendaki mereka sama2 terluka sedikit itu.

Orang yang bergirang hati adalah Khan Turki. Senang ia melihat sikapnya Hu Put Gie, yang memisahkan hingga kedua orang yang lagi mengadu kepandaian itu tidak ada yang menang dan yang kalah tidak ada yang hilang muka. Dalam girangnya itu, ia memberi selamat dengan tiga cawan arak kepada mereka itu bertiga. Ia sendiri yang menghaturkan arak pemberian selamat itu.

Selagi semua itu berjalan, satu orang menghampirkan Guru Besar Matu, untuk berbicara dengan berbisik. Dialah koankee, atau pengurus rumah-tangga, dari guru besar itu. Setelah orangnya itu mengundurkan diri, guru besar itu berpaling kepada junjungannya.

"Seri Baginda," katanya, "ada seorang pandai bangsa Tionghoa yang ingin memberi suatu pertunjukan dihadapan seri baginda."

Khan lantas mengerutkan dahi. Ia kuatir nanti terjadi lain onar ...

"Siapakah dia itu?" ia bertanya. "Tahukah kau tentang asal-usul dia itu? Dia hendak memberikan pertunjukan apa?"

"Dialah seorang tabib," sahut sang guru besar. "Dia kata dia dapat menyembuhkan pohon yang barusan kena dibikin sakit itu. Dia pula tabib kenalan hamba, dari itu hamba berani menjamin bahwa dialah bukan orang jahat"

Baru setelah mendengar keterangan itu, hati Khan menjadi lega, bahkan ia girang sekali.

"Baiklah, suruhlah dia mencoba !" perintahnya. Tak lagi ia menanya jelas-jelas pada si guru besar. "Jikalau dia dapat menyembuhkan pohon itu, dia bakal diberi persen besar !"

Begitu lekas telah keluar perintah itu maka disitu muncul seorang tua dengan kumis dan jenggotnya terbagi tiga, romannya sangat sederhana, sikapnya sangat tenang.

Diantara sinar mata para hadirin, ia langsung menuju kepohon kuku naga.

Kapan Thian Ok Tojin melihat orang itu, yang ia kenali, ia kaget bukan main. Orang itu yalah bintang penakluknya. Dialah Kim Ciam Kok-ciu Hee-houw Kian, si Ahli Jarum Emas.

Hee-houw Kian muncul tanpa mengubah wajah atau pakaiannya.

"He, kenapa dia turut hadir ?" tanya Thian Ok Tojin dalam hatinya. "Yang Thay Hoa toh bukannya tidak mengenalnya ? Kenapa dia dapat masuk kedalam sini ?"

Yang Thay Hoa yalah orang yang ditugaskan menyambut dan melayani para tetamu dari Tiongkok, semestinya dia mendapat tahu datangnya orang yang berderajat seperti tabib yang termashur itu, atau taruh kata dia tidak mewartakannya kepada Khan, sedikitnya dia mesti mengisikkan kepada Thian Ok. Tapi kejadiannya tidak demikian, tahu-tahu tabib itu sudah berada diantara mereka. Pasti sekali Thian Ok menjadi kaget.

Sama sekali Thian Ok Tojin tidak ketahui bahwa datangnya Hee-houw Kian yalah atas undangannya Guru Besar Matu sendiri, bahwa pada itu ada suatu sebabnya. Matu mempunyai seorang anak laki-laki tunggal, yang ia sangat sayang, kebetulan anak itu mendapat sakit mengih. Ia sudah mengundang banyak tabib, untuk mengobati puteranya itu, semua tidak dapat menolong. Kebetulan lagi Hee-houw Kian datang kekotaraja Khan Turki itu. Dia lantas diminta pertolongannya. Dia mengobati baru tiga kali, lantas putera itu sembuh. Maka itu, Matu jadi sangat berterima kasih. Hee-houw Kian mendapat tahu bakal diadakannya pertemuan besar itu, ia minta Matu memperkenankannya datang menonton. Matu menerima baik permintaan itu, tetapi karena ia tidak tahu orang mempunyai kepandaian silat juga, ia memberikan tempat diantara tetamu biasa. Karena itu, untuk mengajukan tawarannya itu, Hee-houw Kian minta perantaraannya sipengurus rumahtangga. 

Diantara para hadirin cuma beberapa orang saja yang mengetahui baik Kim Ciam Kokciu, maka itu rata-rata orang heran, perhatian mereka jadi tertarik, ingin mereka melihat bagaimana pohon diobati

Hee-houw Kian berdiri disisi pohon, ia mengamat- amatinya sekian lama, kemudian dari sakunya ia mengeluarkan kim-ciam, yaitu jarum emasnya, terus ia bekerja. Ia menusuk pohon dengan dua belas batang jarumnya. Habis itu ia minta dua tahang air dengan apa ia menyirami pohon itu. Setelah itu, ia berdiam, untuk menanti.

Berselang kira sepasangan hio, maka terlihatlah perubahannya. Daun-daun pohon, yang telah menjadi layu dan kuning warnanya, sekarang menjadi segar pula, warnanya itu pulih menjadi hijau. Pula, cabang-cabang yang tadi sudah meroyot turun, seka rang pada bangun pula menjadi seperti sediakala, memain diantara tiupan sang angin. Tegasnya, pohon yang sudah mati itu, menjadi hidup pula !

Girangnya Khan tidak terkira-kan. Ia lantas memanggil sang tabib datang kemejanya. Lie It duduk dimeja dekat tangga pendopo, ketika Hee-houw Kian lewat didepannya, tabib itu tersenyum terhadapnya. Orang tidak tahu bahwa senyuman itu yalah suatu isyarat, tetapi hatinya Lie It bercekat.

"Mukaku memakai obatnya, pantas saja dia mengenali aku," pikirnya pangeran ini.

Tengah ia berpikir begitu, Lie It merasakan seperti ada kutu berkutik didalam tangan bajunya, ia lantas menggunai tangannya untuk menangkap itu. Tapi ia bukannya mencekuk kutu, hanya memegang sebatang jarum bwee-hoa-ciam, hingga ia menjadi kaget berbareng girang.

Hee-houw Kian berjalan terus. Tengah orang berjalan, diam-diam, tetapi sebat, Lie It melihat jarum itu dimana ada sehelai kertas kecil sekali. Dengan berpura-pura menyeka peluhnya, ia bawa kertas itu kemukanya. Dengan cepat ia membaca. Pada kertas itu ada tulisannya, bunyinya : "Lekas menyingkir dari sini, kalau ayal bakal terjadi perubahan."

---o^Kupay^0^Dewi KZ^o---

BARU sekarang Lie It sadar.

"Ah, kiranya dialah yang menyerang Thia Tat So dengan jarumnya...!" katanya dalam hati. Tapi ia heran. Maka pikirnya pula : "Mengapa dia menyuruh aku mesti lekas menyingkir dari sini ? Mungkinkah rahasiaku sudah terbuka ?" Ia pun menjadi bingung. Dimuka umum itu, cara bagaimana dia dapat mengangkat kaki ? Selagi pangeran ini bimbang hati, Hee-houw Kian sudah didepan Khan.

Khan girang sekali. Dia menanya tabib yang dapat mengobati pohon yang keracunan itu, setelah itu ia memberi persen tiga cangkir arak. Kemudian Guru Besar Matu dititahkan untuk melayani tabib itu.

Matu mendapat tugas mewakilkan rajanya melayani semua tetamu agung, mendengar perintah junjungannya itu, mengertilah ia yang sang junjungan menghendaki tabib itu diundang duduk bersama dimeja kepala. Dimeja itu berkumpul semua ahli silat yang paling kenamaan, kecuali tuan rumah, semua tujuh kursi sudah ada orangnya. Maka berpikirlah ia, akhirnya ia berkata kepada Maican, busu dari Tuyuhun itu : "Tabib Hee-houw ini tetamu agung dari jauh, kau yalah orang sendiri, baiklah kau yang mengalah."

Maican tidak berani membantah, tetapi dia tidak puas, pikirnya : "Biarnya dia pandai ilmu tabibnya, dia tidak lebih daripada tabib pelancongan, mana dia sesuai untuk duduk dimeja kepala ?" Maka itu, meski sekapnya ramah- tamah ketika ia berbangkit dan menarik kursinya, guna mempersilakan tetamu duduk, diam-diam ia menggeraki kakinya, untuk membikin si tabib keserimpat jatuh dan mendapat malu karenanya. Tapi, baru saja ia bekerja, mendadak ia merasakan kakinya lemas, pinggangnya terus membungkuk, kelihatannya seperti ia mau menjalankan adat kehormatan besar terhadap orang yang mau dibikin malu itu.

Hee-houw Kian nampaknya kaget, dengan tergesa- gesa ia membungkuk, untuk memimpin bangun pada busu itu seraya berulang-ulang mengatakan : "Jangan, jangan, aku tidak berani menerima hormatmu !"

Maican terkejut. Ia merasakan tenaga yang kuat mengangkat tubuhnya. Ia telah mencoba mempertahankan diri, dengan membikin berat tubuhnya, tetap ia tidak berhasil. Maka sekarang tahulah ia, kecuali pandai ilmu tabib, orang itu juga liehay ilmu silatnya. Tanpa merasa, ia menjadi takluk. Sambil memberi hormat, ia mengutarakan kekagumannya. Justeru hampir berbareng dengan itu, ia merasakan kakinya yang lemas sembuh dengan mendadak!

Apa yang berlaku itu tidak diketahui Guru Budi, hanya sikapnya Maican mendatangkan rasa heran : dari agak rada bertahan, dia menjadi sangat menghormat.

Thia Tat So, yang berada dimeja sebelah, disebelahnya heran, menjadi bercuriga, hingga ia berkata dalam hati-kecilnya. "Ilmu totok tua-bangka ini sangat liehay ! Malam itu, apakah bukannya dia yang telah menyerang aku dengan jarum bwee-hoa ciam ?"

Guru Besar Matu, setelah dengan hormat mempersilakan Hee- houw Kian mengambil tempat duduk, berkata kepada orang banyak untuk sekalian memperkenalkan : "Ini Tuan Hee-houw, pandai sekali ilmu tabibnya. Anakku telah mendapat sakit mengih yang bandel tetapi telah dapat disembuhkan olehnya. Ah, Tuan Hee-houw, tidak kusangka, selain pandai mengobati orang, kau juga dapat mengobati pohon ! Mari, silakan kau minum tiga cawan arakku ini...!"

Mendengar perkataannya Matu itu, tambahlah jelus dan kebenciannya Thia Tat So terhadap Hee-houw Kian. Inilah sebab : Ketika baru-baru ini ia memerintahkan Lam-kiong Siang membegal dan membinasakan si saudagar dari Khoresmia, ia sebenarnya hendak merampas obat-obatannya saudagar itu untuk dipersembahkan kepada Matu, guna menolong puteranya si Guru Besar, siapa tahu sekarang putera itu telah disembuhkan tabib ini. Dengan begitu, bukankah persembahan obatnya itu menjadi tidak ada artinya ?

Ketika Hee-houw Kian sudah duduk, ia justeru duduk berhadapan dengan Thian Ok Tojin. Imam itu menjadi likat sendirinya. Si tabib, dengan tersenyum, berkata kepadanya : "Semenjak perpisahan kita di gunung Kiong Lay San, sepuluh tahun belum lewat, ternyata sekarang toheng telah berhasil dengan peryakinanmu Hu Kut Sin- Ciang, siauwtee kagum sekali!"

Kedua matanya Thian Ok mencilak. Ia mendongkol karena orang menyebut-nyebut kepandaiannya itu, Hu Kut Sin-Ciang, yang berarti ilmu Tangan Membusukkan Tulang. Pantas dia dapat membinasakan pohon dengan tangannya yang liehay itu. Dalam panasnya hati, ia kata : "Sebentar setelah pesta bubar, aku masih ingin memperoleh pengajaran dari kau, laoheng ...!"

Manis kata-kata mereka itu, terutama kata-kata si imam, tapi sebenarnya, dengan begitu, mulailah sudah bentrokan diantara mereka. Thian Ok tidak berani menempur sendiri tabib itu, ia kuatir kalah, maka ia memikir akan menanti tibanya Pek Yu Siangjin.

Kok Sin Ong dan Hu Put Gie kenal Hee-houw Kian, mereka lantas minum dan berbicara dengan gembira dan asyik, dengan begitu sendirinya Thian Ok seperti terasing, sebab dia tidak dapat memasang omong dengan gembira seperti mcreka itu. Yang lain-lainnya, yang tiada sangkutpautnya, dapat bersikap biasa saja.

Tengah pesta berlangsung itu, tiba-tiba terdengar pengumuman oleh seorang abdidalam : "Yang mulia selir yang baru tiba datang untuk memberi selamat kepada para tetamu yang terhormat !"

Serentak, dalam sedetik, sunyilah seluruh ruangan pesta. Umumnya semua busu mengetahui, selir yang baru dari Khan yang agung ini yalah wanita tercantik dalam negara mereka. Semua orang diam, semua mata diarahkan kearah perdalaman.

Lantas terlihat munculnya serombongan dayang, yang memimpin selir yang baru itu, yang keluarnya dari pintu model rembulan. Benar-benar selir itu cantik sekali!

Lie It tidak tertarik perhatiannya seperti para hadirin lainnya, akan tetapi karena selir itu datang, ia pun turut menoleh, untuk melihat. Begitu ia sudah memandang, maka tercenganglah ia. Ia lantas merasa bahwa ia pernah lihat selir itu, bahwa ia seperti mengenalnya, terutama alis orang, yang mirip dengan alisnya seorang lain. Ia lantas berpikir keras : "Dia ...dia... siapakah ia ?"

Raja Turki berbangkit menyambut selirnya itu.

"Karosi !" ia berkata, "hari ini hari baik kita, kau dan aku, maka hari ini secara istimewa, aku mengundang orang-orang gagah dari kolong langit ini uniuk mcreka datang dan iuzut merayakan upacara pernikahan kita, untuk mereka dapat memberi selamat. Inilah pesta terbesar yang sebelum ini belum pernah diadakan ! Sekarang silakan kau menghaturkan selamat kepada hadirin!" "Terima kasih kepada Khan yang agung yang telah mengadakan pesta besar ini untukku," berkata selir dengan perlahan, setelah mana lantas ia mengulur lengannya untuk dengan jari-jari tangannya yang lentik menjemput cangkir kemala yang berisikan arak, sembari mengangkat itu, dengan tertawa manis, ia berkata : "Tuan-tuan, silakan minum ...!"

Ketika Lie It mendengar suara si cantik itu, tanpa merasa cangkirnya terlepas dari tangannya, jatuh kebawah. Syukur Lam-kiong Siang berada didekatnya dan kawan ini tabah dan sebat, dengan cepat dia menyambarnya, hingga cangkir itu tak usah jatuh hancur. Dia lekas memulangi cangkir itu sambil berkata dengan perlahan: "Benar-benar selir itu cantik sekali: Thian-hee, silakan minum ...!"

Lam-kiong Siang berkata demikian karena ia menyangka Lie It tersengsam selir itu, jadi ia mau memberi ingat untuk jangan pangeran ini menjadi berlaku kurang hormat.

Lie It menyambuti cangkirnya, sedang dalam hati kecilnya, ia kata: "Bukan saja wajahnya mirip, suaranya pun sama! Dia ... dia... mestinya Bu Hian Song!"

Memang benar selir itu si nona she Bu. Sebab Karosi telah mewujudkan rencananya untuk menyingkir dengan Hian Song menggantikan dia. Dengan menyamar  menjadi budak pelayan, dengan membawa pakaian kemantinnya, dia sudah pulang dengan naik juga kereta asalnya. Itulah adat kebiasaan dan meskipun Khan cerdas, ia tidak curiga apa-apa. Siapa dapat menyangka ada orang berani menyamar jadi selir, sedang si selir sendiri kabur pulang? Pula Hian Song sangat cantik, tidak kalah dengan Karosi.

Hanyalah, Hian Song sendiri tidak pernah menduga bahwa Lie It hadir dalam pesta itu. Benar ia telah berdandan dan bicara dalam bahasa Uighur, dan mukanya pun memakai obat, untuk menyalin warna kulitnya, tetapi potongan wajahnya tidak  berubah, seperti suaranya tidak berubah juga, dari itu, Lie It menjadi mengenali padanya. Bukankah dengan Lie It ia pernah melakukan perjalanan bersama untuk ribuan lie? Perpisahan delapan tahun juga tidak menyebabkan si pangeran melupakannya.

Lie It memandang dan memandang lagi, untuk menegasi. Ia bagaikan terjerumus didalam kabut. Ia sudah mengenali tetapi ia masih sangsi, ia heran bukan main. Cara bagaimana Bu Hian Song dapat menjadi selir Khan Turki? Inilah dalam impianpun ia tidak berani mengharapnya. Di akhirnya, ia menggigit jari tangannya sendiri! Dan ia merasakan sakit! Jadinya ia bukan lagi bermimpi!

Maka itu, terbayanglah segala pengalamannya selama delapan tahun itu: Adu pedang di Ngo Bie San, pembicaraan tentang syair, perjalanan bersama-sama, dan perpisahan digunung Lie San. Semua itu bagaikan impian, bagaikan kejadian kemarin

Lie it menjadi ngelamun. Mendadak ia merasa Bu Hian Song berubah menjadi isterinya. Ia melihat sinarmata Tiangsun Pek, sinar yang tajam mengawasi padanya. Lalu ia sadar pula. "Semoga dia bukannya Bu Hian Song!" katanya kemudian dalam hatinya. "Taruhkata dia benar, kau pun tidak seleyaknya berpikir begini macam mengenai dia!"

Kejadian ini membuat Lie It melupai pesan Hee-houw Kian, yang menyuruh ia lekas mengangkat kaki. Ia sudah sadar, ia sudah menegur dirinya sendiri, toh matanya - matanya masih tetap diarahkan kepada Hian Song.

Hian Song sendiri tidak mendapat lihat pangeran itu. Tetamu terlalu banyak, semua mata tetamu itu diarahkan terhadapnya. Ini pula sebabnya mengapa kecuali Lamkiong Siang lainnya tetamu tidak ada yang memperhatikan orang yang lagi kesengsam dan terbenam dalam keheranan itu.

Habis selirnya menghormat para tetamu, Khan mengajaknya kemeja kepala. Ia kata: "Semua tetamu ini yalah tetamu-tetamu kita yang paling dihormati, silakan kau memberi selamat juga kepada mereka!"

Karosi menurut.

"Terima kasih, terima kasih ...!" kata Hu Put Gie, tertawa. "Aku tidak sanggup menerima kehormatan ini!"

Ketika tiba gilirannya Thian Ok Tojin, imam ini mengangkat cawannya sambil matanya memandang tajam selir itu, dari atas kebawah, dan dari bawah keatas. Ketika selir sudah mengeringi cawannya, baru ia ingat untuk menceguk araknya sendiri.

Khan melihat sikap si imam, ia menjadi tidak senang.

"Imam bau ini tidak tahu adat!" katanya didalam hati.

Paras Bu Hian Song pun berubah, akan tetapi dengan lekas ia dapat menyabarkan diri, meski begitu, dua-dua Khan dan Thian Ok telah dapat melihat perubahan airmukanya itu. Khan menganggap selirnya itu jemu terhadap si imam. Thian Ok sebaliknya kaget, sebab dari sinarmata orang, ia menduga wanita cantik ini mengerti ilmusilat sempurna sekali.

Pula, samar-samar, ia mengingat seperti pernah bertemu si nona, hanya biar bagaimana juga - tidak berani ia menerka Hian Song!

Habis memberi selamat, selir mengambil tempat duduknya.

Khan pun duduk, untuk terus menitahkan seorang pengiringnya: "Pergi kau undang kedua utusan dari Kerajaan Tong!"

Ketika itu kerajaan di Tiongkok sudah bertukar dari ahala Tong menjadi ahala Ciu akan tetapi negara-negara asing masih biasa menyebutnya ahala Tong.

Hian Song heran mendengar titahnya Khan itu.

"Tidak pernah aku mendengar bibi hendak mengirim utusan kesini ..." pikirnya.

Segera juga pengiring tadi sudah kembali bersama dua utusan Tiongkok yang disebutkan. Melihat mereka itu, Bu Hian Song lantas mengenalinya. Merekalah dua orang yang ia pernah menemukannya digunung Thian San. Hong Bok Ya dan Ciok Kian Ciang.

Kedua utusan itu memberi hormat kepada Khan. Mereka tak lupa memberi selamat juga kepada selirnya raja itu.

Khan tertawa girang.

"Silakan duduk!" ia mempersilakan. Bu Hian Song mendongkol bukan main.

"Dua binatang ini - mereka menyamar jadi utusan!. Sungguh mereka memalukan negara!" katanya dalam hati. Ia belum tahu bahwa orang yalah utusannya Bu Sin Su, kakak sepupunya.

"Karosi," kata Khan, tertawa, "sehabisnya pesta besar ini, kami bakal memimpin angkatan perang kita menyerbu ke Tiongkok! Kota Tiang-an besar dan indah dan makmur, itu waktu kau boleh memasukinya, masuk keistana kaisar! Disana kau bakal mendapatkan apa juga kau kehendaki. Ini dua utusan yalah utusan keponakannya raja wanita dari Tiongkok. Raja wanita itu tidak mendapat simpati rakyat, sekalipun keponakannya berkhianat terhadapnya, keponakan itu setuju untuk bekerja sama kita, untuk nanti menyambut penyerbuanku. Haha! Bukankah itu berarti yang Tuhan membantu kita? Besok mereka ini mau pulang kenegerinya, maka itu kami mengundang mereka datang kemari, silakan kau mewakilkan memberi selamat kepada mereka!"

Hian Song ketahui Bu Sin Su berkonco hendak merebut kekuasaan pemerintahan, untuk nanti menggantikan Bu Cek Thian, bibinya itu, menjadi kaisar, hahya ia tidak menduga, kakak sepupu itu sedemikian buruk, sampai dia tak segan berkongkol dan meminjam tenaga asing untuk merobohkan sang bibi. Itulah sepakterjang sangat sembrono dan berbahaya juga. Sepakterjang itu dapat memusnahkan negara. Maka itu, bukan main gusar dan panas hatinya, hingga, meski ia mencoba menguasai diri, airmukanya berubah juga sedikit. Kebetulan sekali, Hong Bok Ya dan Ciok Man Ciang mengangkat kepalanya, memandang sang selir, mata mereka bentrok sinarnya. Mereka itu kaget melihat sinarmata yang tajam mengancam, yang seperti bermusuhan.

"Aku tidak pernah membuatnya selir gusar, kenapa dia tidak senang ?" mereka masing-masing berpikir.

Selagi mereka berpikir itu, Hian Song sudah mengangsurkan dua cawan arak.

"Silakan minum ! Tuan-tuan telah melakukan perjalanan laksaan lie, pasti tuan-tuan letih !" katanya tertawa.

Hong Bok Ya dan Ciok Kian Ciang menyambuti arak itu. Lega hati mereka melihat nyonya agung itu lantas berubah sikapnya menjadi manis. Mereka menegur diri kenapa mereka berpikir tidak keruan. Keduanya lantas mengeringi cawan mereka.

Habis minum, kedua utusan ini mengangguk kepada Khan dan selirnya, untuk menghaturkan terima kasih.

---o^Kupay^0^Dewi-KZ^o---

"ADA SATU urusan penting yang aku ingin menyampaikan kepada Khan yang agung !" kata Hong Bok Ya. Ia bicara secara tiba-tiba.

Khan heran.

"Silakan bicara !" katanya seraya ia mendekati, matanya menatap. "Orang yang hendak dicari Seri Baginda," kata Hong Bok Ya, "yalah Lie It – dia.." dia... telah tiba disini..."

Khan terkejut.

"Dia sudah tiba disini ?" dia tanya. "Dimana dia sekarang ?"

Belum berhenti suaranya ini raja, atau ia melihat tubuhnya Hong Bok Ya dan Ciok Kian Ciang terhuyung sendirinya, lalu Hong Bok Ya, dengan roman pucat, berseru tajam : "Kau... kau... kau Bu Cek Thian punya... Oh, kau kejam sekali...! Aduh ! Celaka...!"

Ciok Kian Ciang pun turut berseru : "Kau... kau... kaulah Bu Cek Thian punya ... "

Belum habis mereka itu berbicara, lantas tubuh mereka roboh terguling, jiwa mereka melayang, dari kuping, mata, hidung dan mulut mereka meleleh keluar darah hidup ...

Semua orang menjadi kaget dan heran. Itulah kejadian sangat hebat. Beberapa pengiring dan busu lantas berteriak-teriak: "Perutusan Tiongkok keracunan ! Perutusan Tiongkok keracunan !" disusul dengan seruan

: "Tangkap sipembunuh ! Tangkap sipembunuh !"

Tapi Kakdu segera berseru : "Jangan berisik ! Jangan bingung ! Mereka bukan dibunuh ! Mereka terkena racun!"

Bu Hian Song pun turut menjadi heran. Ia benci dua orang ini, ingin ia membinasakan mereka, tetapi tidak sekarang. Ia sudah memikir, kalau sebentar atau besok ia sudah menyingkir dari istana Khan, hendak ia menyusul mereka itu, untuk membunuhnya ditengah jalan. Sebagai selir raja, tidak dapat ia membunuh orang dimedan pesta ini. Ia tercengang, sebab orang terbinasa didepannya tanpa ia mengetahui siapa sipembunuhnya.

Khan menyambar sebuah tempat arak, dia menegur Kakdu : "Kau alpa menjaga, kau minum ini arak...!"

Kakdu kaget, mukanya menjadi pucat sekali. la sangat setia, meski ia dihadiahkan kematian, ia tidak mau memolion ampun. Ia mengangguk satu kali seraya berkata : "Hamba ialah kepala pasukan pengawal Seri Baginda, ada orang meracuni utusan, hamba tidak mendapat tahu, maka dosaku, ialah dosa kematian. Hamba cuma memohon Seri Baginda sukalah mengurus rumahtanggaku..."

Habis berkata, pengawal setia ini menenggak arak yang tiangal separuh poci, terus ia berdiam, menanti kematiannya. Sia-sia saja ia menunggu, sampai sekian lama, ia masih tidak kurang suatu apa.

"Seri Baginda, inilah bukan arak beracun !" kata ia kepada rajanya.

"Jikalau benar bukannya arak beracun, kau tidak sangkut-pautnya lagi...!" kata Khan. Tapi ia tetap heran. Poci arak itu ialah poci yang araknya barusan dikasihkan minum pada kedua utusan Bu Sin Su itu. Kedua utusan mati, kenapa Kakdu tidak ? Mungkinkah selirnya yang mencampuri racun itu ? Inilah tidak bisa jadi ... !

Kecurigaan, Khan terhadap Hian Song cuma sedetik, lantas itu hilang lagi. Tidak ada alasan selirnya meracuni. Juga ia mendampingi, ia melihat tegas ketika sang selir menuang arak. Kalau selir itu menuang racun, ia pasti memergokinya. Habis, siapa situkang meracuni itu ?

Selagi suasana kacau itu, terdengar Hu Put Gie  tertawa lebar.

"Ha... ha... ! sangat liehay kepandaiannya orang yang melepas racun ini! Dia terlebih liehay daripada ini tuan imam yang tadi meracuni pohon kuku naga !"

Matanya Thian Ok Tojin mendelik.

"Hai, tabib rudin, kau ngoceh apa ?" dia membentak. "Aku bilang orang yang meracuni ini lebih liehay

daripada kepandaianmu!" jawab Put Gie. "Apakah kau tidak senang hati ?"

Belum lagi Thian Ok menyahuti, Guru Budi sudah bangkit.

"Aku melihat satu orang !" katanya nyaring, dingin.

Kepandaian melepaskan racunnia Thian Ok Tojin telah dilihat orang banyak, maka itu semua busu Turki lantas menyangka dia, akan tetapi mereka tidak berani bilang suatu apa, sekarang terdengar suaranya Guru Budi itu, lantas beberapa orang diantaranya, dengan suara sama dinginnya, menanya imam itu.

Thian Ok menjadi sangat gusar. Dia menyerang Guru Budi.

"Kau melepas angin busuk !" bentaknya. Guru Budi tertawa.

"Dikolong langit ini kaulah nomor satu tukang melepas racun, kecuali kau, siapa lagi ?" katanya dingin; Thian Ok jeri terhadap Hu Put Gie, ketika barusan orang she Hu itu mengasi dengar suaranya, ia menguasai diri untuk mengendalikan mulut, sekarang ia menghadapi Guru Budi, ia tidak takut sama sekali. Pula Put Gie tadi bicara secara menyimpang, sedang orang ini berterang menuduh padanya. Mukanya menjadi guram. Ia lantas menyambar Guru Budi.

"Kau mempunyai bukti apa ?" dia berteriak. "Jikalau kau tidak dapat membuktikan, kau mesti berlutut meminta ampun padaku!”

Guru Budi jeri untuk tangan beracun imam itu, ia berkelit, setelah mana, sebat luar biasa, ia meloloskan jubahnya, ia pakai itu untuk menungkrap si imam. Ia pun berseru : "Bukti apa kau mau ? Didalam ruangan ini, kecuali kau, siapa lagi yang mengerti ilmu racun? Jikalau bukannya kau ketakutan, perlu apa kau gusar kelabakan?"

Kata-katanya Guru Budi ditutup dengan suara memberebet nyaring, dari robeknya jubahnya, sebab Thian Ok berontak, sedang tubuhnya si imam, terhuyung beberapa tindak.

Bukan main gusarnya Guru Budi karena jubahnya itu robek, dia lupa siapa tuan rumah siapa tetamu, dengan lantas dia menungkrap pula dengan jubahnya kepada imam itu. Kali ini dia mengerahkan tenaga-dalamnya, hingga jubahnya yang lunak itu menjadi kaku seperti lempengan besi, anginnya pun menderu.

Thian Ok lantas terdesak. Dalam tenaga-dalam, ia memang kalah unggul. Tidak bisa ia lekas membebaskan diri dari rangsakan lawannya. Tapi ini justru membuatnya makin gusar dan panas hati. Dengan mata mendelik dan gigi digertak, dia berseru : "Apakah kau menyangka aku takut padamu ? Kau mau berlutut dan mengangguk atau tidak kepadaku ? Jikalau tidak, jangan kau sesalkan aku tidak kenal kasihan!"

Kata-kata itu berupa ancaman, tersusul kulit mukanya yang berobah menjadi bersemu gelap, sedang kedua tangannya terus diajukan kedepan, hingga disitu juga di rasakan bau bacin yang terbawa gerakan tangan itu.

Guru Budi terkejut. Ia mendapat cium bau itu, lantas kepalanya terasa pusing dan matanya berkunang- kunang, dadanya pun menjadi sesak. Ia tidak sangka tangan Thian Ok demikian beracun, hingga belum lagi tangan itu mengenai tubuhnya, hawanya sudah demikian berbahaya. Dengan lantas ia melompat mundur.

Pengawalnya Khan melihat suasana buruk, ia mengutarakan itu kepada junjungannya seraya mohon petunjuk.

"Kau tutuplah semua pintu, larang siapa pun keluar dari sini!" raja itu memerintahkan.

Khan lantas ingat akan pesan Hong Bok Ya halnya Lie It telah datang dan berada diantara mereka, ia menjadi kuatir, selagi kekacauan berjalan, pangeran itu nanti kabur meloloskan diri. Setelah itu dengan tawar ia berkata : "Kamu perintahkan orang mengundang Thian Ok Tojin pergi kebelakang untuk beristirahat !"

Titah ini ada mengandung maksud tersembunyi tetapi sekalian pengawal mengetahui itu. Itulah titah rahasia untuk mereka membantui Guru Budi mengalahkan Thian Ok, untuk imam itu digiring kebelakang menanti Khan memeriksanya. Hanya Khan tidak berani omong terus- terang, dia menyebutnya "mengundang."

Maican bersama Kakdu sudah lantas melompat maju, untuk turun tangan membantui Guru Budi.

Didalam gelanggang, Thian Ok dan Guru Budi bertempur terus. Mereka sama-sama liehay, mereka mengeluarkan kepandaian masing-masing.

Sesuatunya ingin memperoleh kemenangan, dari itu, setiap serangan mereka sangat berbahaya. Oleh karenanya mereka tidak mendapat dengar perintah Khan itu, hingga mereka tidak tahu dua orang itu maju untuk membantui pihak yang satu.

Dengan ilmu kepandaiannya "Hu Kut Tok-Ciang", Thian Ok hendak merobohkan Guru Budi, selagi orang mundur itu, Ia merangsak. Justeru itu waktu, mendadak ia mendengar suara angin menyambar. Ia lantas menduga kepada penyerangan gelap.

"Fui, tidak tahu malu!" dia membentak. Tanpa memutar tubuh, ia memutar tangannya, menyerang kebelakang.

"Buk !" demikian satu suara yang keras, lalu tubuh besar bagaikan kerbau dari Kakdu terpental balik dan jatuh jauhnya setombak lebih.

Selagi Kakdu terhajar itu, Maican maju terus. Dialah busu nomor satu bangsa Tuyulaun, dia pandai ilmu gulat bangsanya, maka itu, sambil berdongko, kakinya terus menyambar kaki Thian Ok, sedang tangannya mencoba mencekal tangan si imam. Thian Ok melihat aksinya penyerang gelap itu, dengan lantas ia menancap kuda-kudanya dengan tipusilat "Jatuh seribu kati”, hingga tubuhnya jadi tak bergeming, hingga Maican gagal dengan sengkilitannya itu. Hanyalah, karena si busu memegang tangan orang erat-erat, dia membuatnya tangan baju si imam memberebet robek!

Masih Maican berdaya, untuk membekuk imam itu, atau mendadak dia merasakan menyedot hawa yang seketika juga membuatnya kepala pusing dan mata kabur serta dadanya sesak, disusul sama lenyapnya seluruh tenaganya, hingga tubuhnya menjadi lemas. Maka ketika Thian Ok mendupak, tubuhnya yang jangkung-kurus roboh terbanting bagaikan sepotong balok!

Baru sesudah itu, Thian Ok Tojin melihat tegas siapa kedua penyerang gelap itu. Maican masih tidak apa, tetapi Kakdu, dialah pemimpin pasukan pengawal pribadi dari Khan Turki. Maka ia kaget tidak kepalang.

Justeru begitu, Guru Budi sudah maju pula untuk menyerang, tetapi sekarang dia maju sambil berseru: "Siapa juga jangan membantui aku! Tidak dapat tidak, akan aku bekuk ini imam hidung kerbau!"

Budi tidak tahu orang datang untuk memisah atau membantui dia, orang dengan derajat sebagai dia tidak menghendaki orang membantu padanya. Tadi pun, ketika Thian Ok mengatakan, dia mau main keroyok, dia sudah merasa malu sekali. Dia juga tidak ingin orang memisahkan. Begitulah, dia telah mengasi dengar seruannya itu.

Thian Ok sebaliknya sudah lantas timbul kecurigaannya. "Kakdu pun turut menyerang, mungkinkah Khan mencurigai aku?" ia pikir.

Karena Guru Budi sudah menyerang pula padanya, tidak sempat ia berpikir lama-lama, mesti ia melayani musuhnya.

Khan menjadi gusar sekali. Ia melihat Kakdu roboh dengan tidak bisa bangun pula. Pahlawan itu rebah dengan merintih, mukanya bengkak-bengap.

Tidak demikian dengan Maican, yang terkulai bagaikan mayat, mukanya hitam, darah keluar dari mata, hidung, mulut dan telinganya, terang dia telah terkena racun dan tak bakal hidup pula. Memangnya ia sudah membenci imam itu, yang meracuni pohonnya, sekarang ia tidak bersabar lagi. Tapi, selagi ia hendak mengeluarkan titahnya, untuk melakukan penangkapan, diambang pintu terdengar suaranya si pengawal: "Pek Yu Siangjin datang menghadap!"

Lantas terlihat seorang pendeta, yang tubuhnya tinggi dan besar dan jubah sucinya yang mentereng mencolok mata, muncul diantara banyak orang, seperti juga tidak nampak gerakannya, dia bertindak dengan orang-orang yang berada didepannya pada terhuyung mundur kekedua pinggiran, beberapa diantaranya bahkan roboh memegang tanah, rupanya disebabkan mereka tidak keburu menyingkir atau tak dapat mempertahankan diri. Orang umumnya tidak ketahui, si pendeta sudah menggunai ilmu silatnya yang diberi nama "Ciam Ie Sip- pat Tiat," tenaga-dalam yang dapat membuat orang roboh "delapanbelas kali" hanya cuma karena bajunya terlanggar. Sampaipun Kok Sin Ong dan Hee-houw Kian, melihat ketangguhan orang beribadat itu, menjadi terperanjat.

Pek Yu Siangjin tidak bertindak dengan cepat, tetapi toh lekas sekali dia telah tiba digelanggang, disaat Thian Ok menggunai jurusnya yang berbahaya untuk menyerang hebat kepada Guru Budi.

Dua-dua Guru Budi dan Thian Ok tidak melihat datangnya pendeta itu, inilah disebabkan mereka lagi memperhatikan lawan masing-masing, sedang juga, datangnya si imam sangat cepat dan tanpa sesuatu tanda.

Guru Budi mengertak gigi disebabkan ia merasakan dadanya sesak. Ia tahu betul, kalau pertempuran berlangsung terus secara demikian, ia bakal kena dikalahkan si imam. Maka ia mengerahkan seluruh tenaganya, untuk menyerang hebat.

Disaat kedua musuh itu menghadapi detik-detik yang sangat berbahaya itu, yang akan menyudahi pertempuran mereka dengan dua-duanya bercelaka, sekonyong-konyong mereka merasa tubuh mereka menjadi tidak bertenaga, hingga keduanya kaget. Baru sekarang mereka melihat datangnya Pek Yu Siangjin, yang sebelah tangannya diajukan, untuk dikibaskan.

Thian Ok mengerti bahaya, dengan lantas dia melompat mundur. Tidak demikian dengan Guru Budi, yang terhuyung mundur, sampai tujuh tindak baru dia dapat mempertahankan diri!

Semua orang menjadi kagum.

"Bagus...! Bagus...!" Hu Put Gie berseru seraya tangannya menggunai sumpit untuk mengetuk meja. "Pendeta tua ini kesohor namanya bukan kesohor kosong!"

"Diantara orang sendiri, buat apa mengadu jiwa?" demikian terdengar suaranya Pek Yu, yang baharu itu waktu membuka mulutnya.

Thian Ok jago tetapi ada dua orang yang ia takuti, ialah yang satu Yu Tan Sin-Nie, yang lainnya Pek Yu Siangjin ini, maka itu, meskipun ia diperlakukan demikian, ia tidak berani menunjuki kemurkaan, hanya karena ia mendongkol, ia membuka juga mulutnya, untuk mendumal membela dirinya: "Dia... dia menuduh aku meracuni hingga binasa kepada utusannya Gui Ong!"

Gui Ong, atau Pangeran Gui, ialah gelarnya Bu Sin Su.

Mata yang tajam dari Pek Yu Siangjin menyapu kepada mayatnya Hong tsok Ya dan Ciok Kian Ciang.

"Adakah mereka perutusannya Bu Sin Su itu?" ia menanya.

"Ya, benar, mereka terbinasa oleh racun! - Eh, racun ini rada aneh...!" ia menambahkan.

Guru Budi tidak puas terhadap Pek Yu Siangjin disebabkan Khan menghendaki ia mengalah dan gelaran Guru Negara harus diserahkan pada pendeta itu. Ia menurut dimulut, dihati tidak. Akan tetapi sekarang, menyaksikan ketangguhan Pek Yu, ia menyerah, ia takluk betul-betul. Maka itu, walaupun ia tidak senang seperti Thian Ok, ia tidak berani mengutarakan itu, bahkan ia kata: "Benar, Siangjin, kau pun telah melihatnya. Tidakkah kedua utusan ini mati secara aneh sekali? Dikolong langit ini, ada berapakah orang yang pandai menggunai racun? Maka itu, bagaimana aku tidak mencurigai dia?"

"Sudah, kau jangan rewel!" Pek Yu berkata. "Nanti aku periksa dulu! - Thian Ok, lekas kau keluarkan obat pemunahmu, kau tolongi Maican!"

Kemudian Bhikku ini menghampirkan Khan, untuk memberi hormat, setelah mana, Khan menuturkan cara kematiannya Hong Bok Ya dan Ciok Kian Ciang barusan. Lalu ia periksa kedua mayat, berulang kali, air mukanya menunjuki herannya. Habis itu, ia menyapu dengan sinar matanya kepada para hadirin, mulutnya mengasi dengar kata-katanya yang dingin: "Siapakah yang menurunkan tangan jahat ini? Dengan mempunyai kepandaian begini luar biasa, kenapa kau tidak mau bangkit berdiri memunculkan diri?"

Semua orang berdiam, semua mata mengawasi pendeta itu.

---o^TAH~0~DewiKZ^o---

HU PUT GIE tertawa ”ha... ha... hi... hi.." tangannya memencet tangan Hee-houw Kian.

Justeru itu terlihat satu orang, bangun untuk berdiri.

Melihat dia, orang heran.

Pek Yu sendiri tidak terkecuali, karena dialah murid kepalanya.

"Apa? Kaukah yang membuatnya?" guru itu tanya. "Bukan...!" sahut sang murid, ialah Yang Thay Hoa.

"Hanya aku tahu, didalam ruangan ini ada satu orang yang mesti tahu perbuatan ini perbuatan siapa dan aku hendak melaporkannya secara rahasia kepada Khan yang agung."

"Mari" kata guru itu, yang mengajak muridnya menghadap Khan.

"Orang yang bernama Siang Koan Bin yang datang bersama Thia Tat So itu ialah Lie It yang menyamar," Thay Hoa lantas berkata. "Dia tidak menerima undangan tetapi dia datang kemari secara diam-diam, dengan mengubah warna kulit mukanya, maka teranglah dia mengandung pikiran menentang Khan yang agung. Kedua utusan ini bukannya dia yang membunuhnya sendiri tetapi sudah tentu perbuatan konconya. Oleh karena itu, terserah kepada Khan yang agung, bagaimana hendak mengambil tindakannya."

Thia Tat So dan Yang Thay Hoa sudah mencurigai Lie It, hanya mereka belum mendapatkan buktinya, tidak demikian dengan Hong Bok Ya dan Ciok Kian Ciang, yang lantas mengenali, tetapi mereka ini berdua hendak membuka rahasia langsung kepada Khan sendiri supaya mereka memperoleh jasa, untuk mendapat presen atau anugerah, karena itu, mereka menutup mulut terhadap Tiat So dan Thay Hoa. Siapa tahu, baru Hong Bok Ya menyebut nama Lie It, atau dia lantas terkena racun dan menerima kebinasaannya demikian juga kawannya. Keterangannya itu, yang kepalang tanggung, memberi keuntungan kepada Tat So dan Thay Hoa, yang sekarang menjadi merasa pasti, maka juga Thay Hoa muncul setibanya gurunya itu:

Khan kaget dan heran. "Sungguh besar nyalinya Lie It!" pikirnya. Tanpa ayal lagi, ia memberikan titahnya: "Tangkap Lie It! Tangkap hidup, jangan tangkap mati!"

Yang Thay Hod seeera memberi isyarat kepada Thia Tat So, dan Tat So, dengan hun-cwenya dimulut, lantas bangkit.

Para hadirin semua heran, kecuali mereka yang berada dekat dengan Khan. Inilah sebab mereka tidak dengar pembicaraannya Thay Hoa dengan Khan itu, atau tiba-tiba tampak air mukanya Khan berubah menjadi bengis.

Lie It juga tidak mendengar suaranya Thay Hoa, tengah ia bingung itu, ia melihat Tat So bertindak kearahnya. Ia menjadi curiga tetapi dengan menabahkan diri, ia bangkit, untuk menyambut seraya menanya: "Thia Pangcu, ada titah apakah?"

Tat So membawa sikap biasa, ia mengangkat secawan arak.

"Mataku si orang tua tidak ada bijinya, aku telah tidak mengenali thian-hee!" ia menyahut. "Maka itu aku hendak menghaturkan maaf. Lie It terkejut karena dipanggil thian-hee atau tuan pangeran.”

"Apakah pangcu sudah mabuk?" dia tanya. Tat So tertawa terbahak.

"Hari ini aku sangat girang berkenalan dengan thian- hee!" katanya. "Mana aku mabuk ? Mari, mari, aku memberi selamat secawan kepada thian-hee."

Sembari berkata begitu, Tat So minum araknya itu, akan tetapi bukannya ia menelannya, ia justeru memuntahkannya, menyemprot kemuka Lie It, sedang dengan cawan araknya, ia menimpuk kelengan si pangeran, dibagian jalan darah kiok-te-hiat disebelah dalam sikut.

Tat So sangat liehay ilmu totoknya, ia sekarang menyerang dengan membokong, maka Lie It tidak dapat meluputkan diri. Dia tersembur dan tertotok jalan darahnya itu, tubuhnya lantas terhuyung, terus roboh.

Lam-kiong Siang duduk didekat Lie It, dia terkejut atas perbuatannya Tat So ini, meski begitu, ia sempat untuk berkata: "Toako, kau keliru! Dia memang Lie It tetapi dia sengaja datang kemari dengan menyamar! Dia datang dengan ada maksudnya! Dia mau menghamba kepada Khan yang agung!"

"Makhluk tolol!" Tat So membentak ketua mudanya itu. "Kau tahu apa? Dia datang untuk mengacau ! Kau sendiri bakal kerembet, dan kau masih berani membelai dia?"

Lantas ketua itu menolak pembantunya itu, terus ia membungkuk, guna menyambar tubuh Lie It, untuk dibekuk.

Belum lagi jari tangan orang she Thia ini dapat merabah tubuh pangeran itu, mendadak orang yang dirobohkan itu mencelat bagaikan ikan gabus meletik, sembari dia mencelat, satu sinar pun berkelebat. Dan itulah sinarnya pedang!

Tat So boleh gagah perkasa, akan tetapi diserang secara demikian mendadak dan diluar dugaannya, sia-sia belaka ia berkelit, walaupun ia sangat gesit. Jari telunjuk dari tangan kanannya telah terbabat kutung pedangnya si pangeran! Maka kagetlah ia disamping tangannya terasa sakit sekali.

Lie It kalah dari Tat So akan tetapi ilmu silatnya, ialah ilmu tenaga-dalamnya, ada dari kalangan lurus, meskipun ia roboh, selagi Lam-kiong Siang berbicara dengan pangcu itu, ia sudah bisa mengerahkan tenaga- dalamnya, maka itu lekas sekali ia bebas dari totokan, disaat ia mau dibekuk, ia melompat bangun sambil menyerang.

Bukan kepalang murkanya Tat So. Dengan huncwenya, ia segera menyerang kekepala si pangeran. Tentu sekali, gerakannya sangat cepat dan tenaganya dikerahkan.

Lie It tidak berkelit, ia hanya menangkis.

Keras kedua senjata beradu, sampai suaranya menulikan telinga. Senjata istimewa dari Tat So tidak terpapas kutung sebab bahannya dari baja dan besi terpilih dan digunakannya juga dengan bantuan tenaga dalam yang mahir.

Lam-kiong Siang gelisah sekali tetapi dia tidak berani maju sama tengah, untuk memisahkan, sedang para hadirin bingung, tak mengerti mereka kenapa dua orang itu bertarung tidak keruan-ruan, hingga mereka juga tidak berani lancang turun tangan. Semua mundur sambil menonton ...

Pertempuran menjadi hebat sekali. Yang satu jeri dan hendak membela diri, yang lain gusar dan sengit dan hendak membekuk lawannya.

Bu Hian Song tidak menyangka Lie it turut hadir dalam pertemuan ini, ketika ia mendengar keterangannya Yang Thay Hoa, ia heran dan kaget, mulanya ia tidak mempercayainya, baru setelah menyaksikan aksinya Thia Tat So, hingga keduanya menjadi bertarung, lenyap kesangsiannya. Paling dulu ia mengenali pedangnya Lie It, lalu ilmu silat si pangeran, ilmu pedang Ngo Bie Pay, baru ia menegas orangnya, tak perduli warna kulit muka orang tidak wajar! Akhirnya, disini ia bertemu pangeran itu. Setelah itu, ia menjadi bingung, ia menguatirkan keselamatannya si pangeran.

Thia Tat So liehay, dia mendesak. Tidak terlalu lama, Lie It nampak kewalahan. Pangeran ini mesti membela diri saja, hingga tidak sempat ia membalas menyerang seperti bermula. Ia membuat Hian Song putus daya. Sebagai selir Khan, si nona membantui pangeran itu. Maka tidak dapat bertindak untuk dia melainkan bisa bersikap tenang, agar dia tidak membangkitkan kecurigaannya raja Turki itu. Biar bagaimana, dia toh terlihat tegang.

Khan heran, ia mengawasi.

"Karosi, kau kenapa?" tanyanya. "Ada apakah? Jangan takut, tidak nanti mereka bertempur sampai disini! Aku cuma hendak melihat kepandaian mereka itu. Jikalau kau takut, nanti aku perintahkan Guru Budi membekuk Lie It itu, untuk mengakhirkan pertarungan ini."

"Tidak apa-apa," jawab Hian Song. "Aku bukannya takut, aku hanya sedikit curiga ..."

"Bagaimana?"

"Entah apa katanya si utusan Tiongkok barusan? Bukankah dia membilang Lie It ini ada pernahnya dengan Bu Cek Thian? Bukankah Bu Cek Thian itu raja wanita dari Tiongkok?"

"Benar."

"Bukankah Seri Baginda mengatakannya Lie It ini turunan raja Tong? Kalau benar maka dialah musuhnya Bu Cek Thian. Kenapa utusan Tiongkok itu membilang dia orangnya Bu Cek Thian?"

Hian Song membalik hal. Sebenarnya Hong Bok Ya hendak mengatakan ia, bukannya Lie It, tetapi karena dia mati mendadak, Hong Bok Ya tidak keburu omong jelas.

Kebetulan untuk Hian Song, ketika ini menggunakan kecerdikannya.

Khan tidak mencurigai selirnya ini, tidak demikian dengan Thian Ok Tojin.

"Meskipun benar Lie It ini turunan raja Tong," kata Khan, "akan tetapi karena dia tidak sudi menghamba padaku, ada kemungkinan dia benar orangnya Bu Cek Thian. Untuk menetapkan sesuatu adalah sulit. Lihat Bu Sin Su. Bukankah dia keponakannya Bu Cek Thian? Bukankah dia telah mengutus wakilnya meminta bantuanku, supaya aku mengangkat dia menjadi raja?"

Lega hati Hian Song mendapatkan Khan tidak curiga. Maka lantas ia memikir lain.

Ia memikir daya untuk menolong Lie It. Sembari berpikir itu, ia melihat kesekitarnya. Tiba-tiba hatinya bercekat.

Diluar tahunya, Thian Ok mengawasi ia dengan tajam. Imam itu makin lama makin keras curiganya. Ia merasa pasti Hian Song - sebagai selir mempunyai kepandaian silat yang tinggi. Ia melihatnya dari sinar mata orang yang tajam sekali. Sudah begitu, ia mendengar suara si nona, suara yang ia rasa kenal, entah dimana pernah ia mendengarnya, ia lupa.

"Terang-terang tadi Hong Bok. Ya menunjuk dia," pikir Thian Ok. "Sayang kata2nya itu terhenti setengah jalan. Tidak bisa jadi kalau dengan kata-kata 'dia' dimaksudkan Lie It! Pernah apakah dia dengan Bu Cek Thian? Apakah dia mata-mata Bu Cek Thian atau orang yang cuma ada hubungannya? Toh dialah puterinya seorang suku raja dan dia sekarang menjadi selir Khan? Tak mungkin dia bersanak dengan Bu Cek Thian"

Bagaimana keras curiganya, Thian Ok Tojin tidak dapat membuktikan kecurigaannya itu dan ia pun tidak berani bertindak sembrono, guna membuka kedok si nona.

Bu Hian Song dapat menduga si imam lagi berpikir keras, maka ia lantas bertindak, untuk mendahului turun tangan. Ia berbisik ditelinga Khan : "Matanya imam itu seperti mata bangsat, dia selalu mengawasi tajam padaku, aku takut..."

Khan memandang kearah Thian Ok. Ia memang benci imam itu, yang merusak pohonnya, sekarang ia mendengar perkataan sang selir, hatinya menjadi panas. Tapi ialah raja, ia juga tengah membutuhkan tenaga orang, terhadap tetamunya itu, tidak dapat ia bertindak sembrono. Ia mengawasi dengan sinar mata tawar. "Guru Besar, dapatkah kau melihat siapa yang sudah meracuni utusan Tiongko'k itu?" ia tanya Pek Yu Siangjin. "Hebat racun itu! Hari ini si jahat itu mesti dapat dicari!"

Kembali ia mengawasi Thian Ok.

Ia kuatir Thian Ok ini sahabatnya Pek Yu Siangjin, dengan begitu ada harapan Pek Yu nanti melindunginya.

Pek Yu Siangjin mengerutkan dahi. Baru saja ia memeriksa mayatnya Hong Bok Ya ber-dua. la telah mencium bau darah dari kedua utusan itu.

"Benar, Seri Baginda," ia menjawab. "Turut pemeriksaanku, kedua utusan itu bukannya mati disebabkan obat beracun ..."

"Apa? Kau dapat melihat itu?" raja tanya. "Siapakah si jahat?"

"Mereka bukannya terkea obat racun?" Kakdu pun tanya, heran.

"Kenapa mereka mengeluarkan darah dan mati lantas?"

Pek Yu Siangjin mengasi lihat roman sungguh- sungguh, ia kelihatan bengis.

"Nanti, aku periksa dulu senjatanya si jahat itu," bilang nya.

Mendadak dia membalikkan tubuhnya Hong Bok Ya, untuk menekan jalan darah tay-twie-hiat dipunggung, terus dengan kedua jari tangannya, ia mencabut sesuatu, ialah jarum Bwe hoa-ciam panjang tiga dim. Setelah itu, dengan sebat ia berbuat demikian juga pada tubuh Ciok Kian Ciang serta berhasil pula mengeluarkan semacam jarum rahasia.

Khan dan para hadirin dimeja utama menjadi kaget.

Khan heran untuk liehaynya si "penjahat," yang perbuatannya demikian sebat dan terahasia, hingga tidak orang yang melihatnya.

Kalau ialah yang diserang jarum itu, bukankah ia tidak berdaya dan bakal bercelaka?

Dilain pihak, orang kagum untuk Pek Yu, yang demikian liehay.

Tidak saja dia mengetahui duduknya hal bahkan lantas dia menunjukkan buktinya.

"Jarum bwe-hoa-ciam ini bukan miliknya Thian Ok Tojin," kata Pek Yu kemudian. "Dia mempunyai jarum Touw-kut Sin-ciam dan aku kenal baik jarumnya itu."

Habis berkata, orang liehay ini meletakkan jarum ditelapakan tangannya, lalu ia bertindak menghampirkan Hee-houw Kian, mendadak ia berkata: "Bukankah kau Kim Ciam Kok-Ciu Hee-houw Kian? Telah lama aku si pendeta tua mengagumimu!"

"Nama Siangjin besar hingga bagaikan guntur yang menulikan telinga, aku si orang tua  juga mengaguminya!" menyahut Hee-houw Kian.

Pak Yu Siangjin tertawa.

"Hari ini kita dapat bertemu, sungguh beruntung!" katanya puIa. "Kita berdua, mari kita mengikat persahabatan!" Kata-kata itu dengan mendadak disusul dengan angsuran tangan, untuk mencekal tangan si tabib, nampaknya untuk berjabatan, sedang sebenarnya itulah serangan yang sangat berbahaya, serangan untuk menangkap tangan. Serangan itu lunak diluar, keras didalam hingga tidak sembarang mata dapat mengenalnya.

Sekonyong-konyong Hu Put Gie bangkit, sembari tertawa hi...hi-hi...hi, ia berkata: "Aku si Hu yang tua bangka tak mempunyakan nama, maka itu, Siang-jin, apakah kau juga tidak mengagumi aku? mari, mari! Kita pun mengikat persahabatan!" Lalu dengan menggoyang- goyangkan kipasnya, ia menyodorkan tangannya diantara tangan mereka itu berdua, tepat ia membentur tangannya Pek Yu.

Bentrokan kipas dengan tangan itu menerbitkan suara niaring serta muncratnya lelatu api. Sebagai akibatnya, dua tulang kipas, yang terbuat dari baja pilihan, telah kena disambar patah, itulah bukti hebatnya jeriji tangan dari Pek Yu Siangjin, yang telah mahir sekali ilmunya, ilmu Tiat Cie Sin-Kang atau Jeriji Besi.

"Bagus betul!" Hu Put Gie berseru, gusar. "Aku hendak mengikat persahabatan dengan kau tetapi kau merusak kipasku, kau kurang ajar sekali! Belum pernah aku menemui orang tak sopan semacam kau!"

Orang she Hu ini tidak melainkan mengutarakan kemurkaannya, dengan kipasnya yang dirangkap, dia lantas menyodok. Ia pula beraksi bagus sekali, ialah sekali berkata-kata itu, tubuhnya menggigil, sebagai juga ia tengah sangat gusar, hingga karena tangannya turut bergemetar, ujung kipasnya pun bergoyang-goyang. Hingga ujung kipas itu seperti menjadi belasan buah! Pek Yu Siangjin kaget tidak terkira. Sodokan itu, ia tahu, ialah sodokan kejalan darah. Tengah ia kaget itu, tahu-tahu dua kali ia telah kena tertotok satu dijalan darah kie-liauw dipinggang kanan, dan satunya lagi dijalan darah yang-leng dibetis. Saking murka,  ia berseru, tangan kirinya pun melayang!

Hu Put Gie terkejut. Totokannya itu ialah totokan2 yang liehay, tidak tahunya, semua totokan itu tidak mempan terhadap ini Guru Negara, yang seperti mempunyai tubuh Kimkong atau arhat, yang tak dapat rusak. Kedua totokan itu melainkan hanya membikin Pek Yu merasa kesemutan saja.

Disambar tangannya Pek Yu itu tidak keburu Put Gie berkelit, maka ia mengangkat kipasnya, untuk menangkis. Maka sekali lagi mereka bentrok. Kali ini hebat luar biasa bentrokan itu. Dengan lantas tubuh Put Gie terhuyung enam tindak, sedang Pek Yu bergoyang dua kali, kakinya tidak berkisar. Adalah jubah merahnya yang berkibar bagaikan diserang angin keras!

"Tuan-tuan, berhenti, jangan bertempur!" Khan berseru. "Guru Besar, apakah artinya ini? Siapakah sebenarnya yang menggunai jarum membinasakan kedua utusan itu ?"

Pek Yu Siangjin menuding Hee-houw Kian.

"Dialah si tua-bangka ini!" ia menjawab, seraya terus menuding Hu Put Gie dan menambahkan: "Dan dia ini konconya! Silahkan Seri Baginda mengeluaran perintah membekuk mereka!" "Seri Baginda!" Hee-houw Kian berkata, "hamba si orang tua, hamba cuma bisa mengobati, tidak bisa hamba meracuni!"

Khan bersangsi. Ia telah melihat sendiri tabib itu mengobati pohonnya, sedang Maha Guru Matu membilangi dia hanya si tabib sudah menyembuhkan puteranya, hingga sejak semula, ia berkesan baik terhadapnya. Dengan setengah pertiaya dan setengah curiga, ia kata pada Pek Yu Siangjin: "Cara bagaimana Maha Guru ketahui dianya?"

"Dia bergelar Kim Ciam Kok Ciu," jawab Pek Yu, "dia dapat menolong orang dengan jarumnya, dia juga dapat membunuh! Hamba berani pastikan, dialah si pembunuh, tidak salah lagi!"

Ketika itu Bu Hian Song berbisik pula: "Ketika kedua utusan itu mati, Pek Yu Siangjin masih belum datang!"

Mendengar itu, hati Khan bercekat.

"Benar!" katanya. "Dia tidak melihat dengan matanya sendiri, jangan kita menuduh orang baik hingga dia menjadi penasaran!"

Meski ia mengatakan demikian, Khan ini pun masih bersangsi. Kali ini ia bersangsi untuk menegur Pek Yu Siangjin.

Tepat itu waktu, orang mendengar jeritan yang menyayatkan hati.

---o^TAH~0~DewiKZ^o--- 
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 18"

Post a Comment

close