Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 14

Mode Malam
 
IA terus mengikuti jejak orang.

Ia memanjat makin tinggi, sampai disebuah puncak.

Di sini ia melihat sebuah rumah diantara banyak pepohonan bagaikan rimba.

Ia terkejut, hatinya bimbang.

Ia berdiri diam, ia berpikir keras.

Di akhirnya ia dapat membesarkan hati, maka ia menghampirkan rumah itu, ia pergi kepintu dan mengetuknya. Sekian lama, ia tidak memperoleh jawaban.

Ia menjadi heran.

"Kecuali mereka, siapa lagi yang tinggal disini?" pikirnya.

Ia maksudkan Lie It dan Tiangsun Pek. "Mungkinkah mereka tidak sudi menemui aku?" Karena memikir demikian, ia lantas memanggil- manggil.

Pertama ia menyebut nama Tiangsun Pek, lalu nama Lie It.

Tetap ia tidak memperoleh penyahutan. Ia heran dan menjadi bercuriga.

Maka acihr-akhirnya, ia mengertak gigi, ia menolak daun pintu!

Hawa dingin menyamber keluar ketika pintu sudah terpentang.

Rumah itu kosong.

Di situ tidak ada Lie It, juga tidak ada Tiangsun Pek. "Ah......."  kata  si  nona  didalam  hatinya,  ia  sangat

berduka  dan  kecele,  "apakah  benar-benar  kau  tidak

mempunyai lagi sedikit juga rasa persahabatan? Dari jauh-jauh aku datang kemari, kenapa kau tidak mau menemui aku bahkan kau pergi bersembunyi?"

Begitu ia berpikir begitu, begitu ia berpikir pula: "Mungkinkah Tiangsun Pek yang tidak mengijinkan dia menemui aku? Tiangsun Pek, kau sungguh cupat pikiranmu! Kau kira aku orang yang kesudian memperebuti suami?"

Sembari berkata-kata begitu di dalam hatinya, Hian Song melihat kelilingan.

Sinarmatanya lantas bentrok sama dua baris syair ditembok. Ia lantas membaca :

"Sepuluh tahun diimpikan, dipikirkan, Bagaikan pasir meniup angin Barat.

Seperti sepasang burung sama nasib ................

Didalam dunia ini, dimana rumahku?

Suka aku menyiram darahku ditanah asing, Ingin aku menitipkan pesan untuk kawan lama. Mengingat penasaran Tuan Lie atas negaranya,

Biarlah dia mengicipi keindahan gunung salju. "

Syair itu baru saja ditulis. Itulah syairnya Tiangsun Pek.

Hian Song berdiam, hatinya bekerja.

Dengan itu Tiangsun Pek melukis nasibnya sendiri yang telah menikah sama Lie It selama sepuluh tahun, karena berduka maka ia meninggalkan rumahnya, seperti angin Barat "merantau" digurun pasir.

"Inilah nasibnya Tiangsun Pek. Bukankah ini juga nasibku? Bukankah ini ditulis untukku? Aku menyeberangi laut pasir, aku mendaki gunung  Thian San. Bukankah aku pun seperti bermimpi sepuluh tahun? Teranglah, untuk anaknya, Tiangsun Pek meninggalkan rumahnya. Untuk itu, ia tidak takut mati. Ia pun menganggapnya akulah kawan lama Lie It. Maka itu, untukku, ia juga bersedia meninggalkan rumahnya ini. Nyata dia bersedia menyerahkan Lie It padaku dan aku diperingati akan penasarannya Lie It dalam urusan negaranya."

Akhirnya Hian Song menjadi berduka, hingga airmatanya keluar mengalir.

Ia menyesalkan Tiangsun Pek salah mengerti demikian rupa.

Karena ini ia lantas mengambil putusan: "Baiklah, jangan aku merintangi mereka sebagai suami-isteri, biar mereka hidup berbahagia digunung Thian San ini. Untuk selama-lamanya, baiklah aku jangan bertemu pula dengan Lie It. ”

Hampir Hian Song lantas meninggalkan rumah kosong itu ketika matanya melihat khim tua milik Lie It.

Ia menjadi bertambah berduka.

Maka ia berduduk, airmatanya turun menetes, mengenai alat tetabuhan itu.

Tanpa merasa nona ini mengangkat khim itu, untuk mementil-nya.

Ia membunyikan lagu, yang dulu ia pernah memperdengarkannya untuk Lie It.

Setelah memainkan sebuah lagu, ia hendak meletaki alat tetabuhan itu, untuk bangun berdiri, atau kupingnya lantas mendengar suara halus, yang datangnya dari kejauhan, seperti suara salju terinjak-injak.

"Mungkinkah mereka kembali?" ia lantas berpikir. Sebat luar biasa, Hian Song pergi melongok kejendela. Apa yang ia lihat membikinnya terkejut. Yang datang itu yalah Tok Sian Lie diikuti oleh seorang priya dengan baju hijau, muka siapa tidak segera terlihat nyata.

Tidak takut Hian Song, bertemu sama Tok Sian Lie, meskipun ia heran yang mereka bertemu ditempat ini.

Ia menguatirkan priya itu, yang ia menduga Thian Ok Tojin.

Segera juga ia menghela napas lega. Itulah bukan Thian Ok yang ia sangka.

"Baiklah aku lawan diam pada mereka, ingin aku mengetahui, mau apa mereka datang kemari?" pikirnya.

Maka ia lantas duduk didepan meja dan mulai menabuh pula alat tetabuhannya.

Tidak lama, suara tindakan kaki sudah sampai didepan pintu.

Lantas terdengar Tok Sian Lie tertawa dan berkata: "Oh, Lie Kongcu, kau senang sekali! Ada sahabat kekalmu yang datang menjengukmu!"

Hian Song tidak memperdulikannya, ia terus menabuh khimnya.

Tok Sian Lie yang masih tertawa geli, seketika

mendadak tertawanya itu berhenti, disebabkan ia mendengar lagu berirama sedih.

Ia baru tertawa pula tempo lagu itu terputus-putus.

Segera ia berkata nyaring: "Sahabat kekal begini mengabaikan tetamu, apakah tidak keterlaluan? Aku belum pernah bertemu sama isterimu yang baru, mengapa kau tidak mau mengundang aku masuk kedalam rumahmu?"

Lalu terdengar suaranya si priya baju hijau: "Suruhlah dia jangan menabuh khim terlebih jauh, lagunya itu tidak menggembirakan!"

"Benar!" kata si wanita. "Jikalau kau menabuh khim untuk menyambut tetamu, kasi dengarlah lagu yang merdu! Eh, apakah kau tidak mau membukai pintu? Jikalau kau tidak membukai pintu, nanti aku lancang masuk sendiri!"

Kata-kata itu dibarengi sama tertolaknya daun pintu.

Sembari berbuat begitu, Tok Sian Lie berkata kepada priya kawannya itu: "Apakah kau tidak mau masuk untuk menemui tuan rumah?"

Si priya menyahuti dengan jumawa: "Kau gusur saja mereka keluar, aku tidak sudi turun tangan terhadap anak muda!"

Tok Sian Lie lantas bertindak masuk.

"Ah, kiranya Nyonya Lie yang lagi menabuh khim!" katanya.

Ketika itu Hian Song menutup tubuhnya dengan mantel dan lagi menabuh khim sambil tunduk, hingga ia tidak lantas dapat dikenali Tok Sian Lie yang telah berpisah banyak tahun, hingga dia itu menyangka ialah Tiangsun Pek.

Lagi-lagi wanita itu tertawa dan berkata: "Nona yang dulu Nona Tiangsun dan sekarang Nyonya Lie, apakah kau masih mengenali aku? Dikaki gunung Lie San kau telah membunuh suhengku, kejadian itu tentunya kau masih ingat bukan? Kau jangan takut, aku bukan hendak menagih jiwa, aku cuma hendak mengundang kau pergi kesuatu tempat yang bagus! Nah, baik-baiklah kau turut aku"

Hian Song tetap berdiam, ia tidak menoleh, ia terus menabuh khim-nya.

Kali ini Tok Sian Lie tertawa seram.

"Apakah Nyonya Lie tidak suka berangkat? Kalau begitu, baiklah aku sendiri yang mengundang kepadamu!" kata ia seraya menghampirkan dengan perlahan-lahan.

Ketika ia sudah datang dekat, ia mengulur tangannya untuk menarik.

Sembari mengulur tangan itu, ia tertawa dan berkata pula: "Adik yang baik, tanganku ada racunnya! Apakah kau ingin aku mengasi bangun padamu?"

Merdu suaranya wanita ini, tangannya pun putih- halus, maka sebenarnya dia cocok dengan julukannya, Tok Sian-lie, artinya Dewi Beracun.

Mendadak Tok Sian-lie berhenti tertawa.

Baru sekarang ia melihat orang bukannya Tiangsun Pek.

Tak sempat ia menarik pulang tangannya atau lompat mundur, ketika Hian Song mengibaskan tangan, dia lantas roboh terguling dan jumpalitan tiga kali, sehingga tubuhnya tiba diluar pintu.

Tapi dia tidak terluka, begitu dia bangun berdiri, tangannya pun terayun, menyamberkan jarumnya yang beracun, jarum Touw-hiat-ciam. Bu Hian Song sudah lantas menghunus pedangnya, yang ia putar dengan keras, hingga nampak cahaya putih perak seperti bianglala, hingga jarum jahat itu kena terhajar jatuh dan hancur.

Ketika ia tunduk, akan melihat lengannya, ia mendapatkan pada tangan bajunya yang putih ada tapak tangan yang hitam.

Tangannya Tok Sian-lie putih-halus seperti batu kemala tetapi tapak tangannya itu hitam beracun, maka itu menandakan hatinya yang buruk dan kejam.

Ia kaget dan kata didalam hatinya: "Kepandaiannya hantu wanita ini tambah banyak, syukur aku tidak memandang tak mata kepadanya!"

Lantas ia melompat keluar, untuk membentak: "Tok Sian-lie, untuk apa kau datang kemari? Masihkah kau tidak mau omong biar benar?"

Selagi Hian Song menanya itu, belum lagi Tok Sian-lie menjawab ia, priya berbaju hijau itu mendahului turun tangan.

Dia mengebut dengan tangan bajunya yang panjang, tubuh Tok Sian-lie lantas tergulung dan tertarik, lalu punggungnya ditekan, ditolak dengan perlahan, sampai tubuh itu berkisar kepinggir.

Tadinya muka Tok Sian-lie pucat seperti muka mayat, segera sejenak itu, lantas menjadi merah, segar seperti semula.

Maka setelah membuang napas, dia tertawa dan memberikan penyahutannya: "Bu Hian Song, hari ini tidak dapat kau bertingkah lagi! Perlu apa kau datang kemari? Masihkah kau tidak mau omong biar benar?"

Dengan berani dia mengulangi pertanyaan orang.

Teranglah dia mengandal sangat pada priya berbaju hijau itu.

Bu Hian Song pun terkejut melihat gerak-gerik priya itu.

Ia menyerang Tok Sian-lie dengan jurus dari ilmu silat Tiat Siu Sin-kang, atau Tangan-baju Besi, ia menduga Tok Sian-lie tidak bakal dapat pertahankan dirinya, siapa tahu si priya dengan gampang saja telah memberikan pertolongannya.

Kepandaian priya itu nyata ada terlebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.

Priya itu melirik kepada Nona Bu, lantas dia tertawa terbahak.

"Kaukah si wanita yang pada delapan tahun dulu telah mengacau rapat orang-orang gagah di puncak Khim Teng dari gunung Ngo Bie San? Benar, kepandaianmu tidak dapat dicela, kau berbakat baik! Lebih baik kau mengangkat aku sebagai gurumu!"

Biarnya orang liehay, Bu Hian Song toh murka, maka tanpa menjawab, ia menyerang dengan tikamannya.

"Ai...!" berseru si baju hijau itu. "Siapakah sudah ajarkan kau ilmu pedang ini?"

Hian Song tidak menggubris, kembali ia menikam.

Tepat ketika ujung pedang hampir mengenai hidungnya, si hijau itu melenggak dengan sebelah kakinya, sedang kakinya yang lain diangkat diteruskan untuk dipakai mendupak ketangan si nona.

Hian Song terkejut, hampir tangannya kena ditendang, syukur ia dapat lekas menarik pulang.

Ini pun membuatnya terkejut, sebab ia mengerti tikamannya itu sangat berbahaya.

Karena penasaran, tanpa mensia-siakan ketika, kembali ia menyerang, bahkan sekarang saling-susul, hingga pedangnya berkeredepan berkilaukilau.

Walaupun dia didesak hebat, priya itu tertawa berkakak.

"Meski juga ilmu pedangmu liehay, apa kau bisa bikin atas diriku?" katanya jiimawa.

Lalu, tanpa menanti sampai tubuhnya diputar, tangannya yang sebelah lantas diayun, dipakai menyerang kebelakang.

Seperti juga dia mempunyai mata dipunggungnya, tangannya itu menotok ketangan si nona, kejalandarah kiok-tiehiat dilengan kanan.

Bu Hian Song melihat bahaya mengancam, dengan terpaksa ia menggeser tubuh, dengan begitu ia berkelit, hanya setelah berkelit, ia kembali menyerang.

Ia menikam kejalan darah yan-kwan-hiat dipinggang lawan.

Secara demikian bertempurlah mereka berdua, cepat lewatnya jurus-jurus, dari sepuluh lantas naik kedua puluh. Menyaksikan itu Tok Sian-lie, yang liehay, berkunang- kunang matanya.

Ia menjadi kagum.

Tetapi dia manusia licin, lantas dia mengasi dengar ejekannya.

"Bagus, ya, Sin-Kun, kau menghina aku!" demikian suaranya nyaring. "Baik aku tidak sudi bersama pula denganmu, aku hendak pulang untuk mengadu kepada suhu!"

Si baju hijau itu, yang dipanggi! Sin-kun, tertawa. "Cara bagaimana aku menghina kau?" dia bertanya. "Sebab kau tidak mau membalas penasaranku, kau

sebaliknya membilang hendak mengambil dia sebagai muridmu! Baiklah, karena kau menghendaki dia, aku tidak mau turut padamu”

Mendengar demikian, merah mukanya si baju hijau ini.

Dialah Biat Touw Sin-Kun, seorang yang biasa bertindak menuruti kehendak hatinya sendiri.

Dia pandai ilmu obat-obatan, maka selama sepuluh tahun yang belakangan ini, dia biasa mengidar didalam dan diluar kota untuk mencari daun atau rumput obat yang langka.

Ini pun sebabnya mengapa diwaktu diadakan pertemuan di Khim Teng, Puncak Emas, digunung Ngo Bie San, dia tidak berkesempatan hadir.

Didalam kalangan Rimba Persilatan, dialah dan Khim Ciam Kok-ciu Hee-houw Kian yang pandai ilmu tabib, yang namanya sama terkenalnya. Hanya yang beda diantara mereka berdua: Hee-houw Kian menggunai kepandaiannya untuk menolong sesamanya yang sakit, Biat Touw kadang-kadang menolong dan kadang-kadang mencelakai orang, mencelakai selagi mencoba obatnya yang beracun.

Karena tabiatnya yang berandalan ini, dia menyebut dirinya Biat Touw SinKun, Malaikat Luar Garis.

---o^Kupay^0^DewiKZ^o---

Dia bertemu sama Tok Sian-lie karena kejadian yang berikut:

Guru dari Tok Sian-lie, yaitu Thian Ok Tojin, karena mencoba tangannya yang beracun, sudah kena dikalahkan Hee-houw Kian.

Dia lantas pulang, untuk menutup diri, guna belajar lebih jauh sampai sepuluh tahun.

Justeru itu Biat Touw Sin-Kun pulang dari See Hek, Wilayah Barat, habis mencari bahan obat-obatan.

Biat Touw menuju langsung ke Seng Siu Hay, di Kun Lun San, mencari Thian Ok.

Sebab Thian Ok lagi menyekap diri, dia tidak dapat menemui, dia menjadi menyesal.

Tapi, tidak bertemu sama Thian Ok, dia bertemu sama murid orang, yalah Tok Sian-lie.

Cepat sekali mereka menjadi bersahabat kekal.

Masing-masing mereka mempunyai maksudnya sendiri. Biat Touw mau mendapatkan racunnya Thian Ok, ia perlu membaiki Tok Sian-lie.

Sebaliknya Tok Sianlie, karena kematiannya Ok Heng Cia, ingin memperoleh kawan yang dapat diandalkan. Ia pun lagi kesepian, maka ia menerima persahabatannya Biat Touw.

Begitulah, erat perhubungan mereka.

Tok Sian-lie yang licin mendapat kabar hal pernikahan diantara Lie It dengan Tiangsun Pek, bahwa suami-isteri itu tinggal bersembunyi digunung Thian San dia lantas mengajak Biat Touw pergi, guna ia menuntut balas.

Buat pergi seorang diri, ia tidak berani. Ia jeri untuk ilmu pedangnya Lie It.

Dilain pihak, ia ingin dapat menguasai Lie It itu, supaya ia bisa mempermainkan Tiangsun Pek.

Terhadap Tiangsun Pek sendiri, ia tidak takut. Kebetulan untuknya, ia ia bersahabat sama Biat Touw

Sin-Kun.

Diluar dugaannya, bukan ia bertemu Lie It dan Tiangsun Pek, atau Tiangsun Pek seorang diri, ia justeru bertemu sama Bu Hian Song.

Tentu sekali ia tidak dapat melawan Nona Bu. Karenanya ia mendongkol mendengar Biat Touw Sin-

Kun bukan lekas-lekas turun tangan tetapi berniat mengambil Hian Song sebagai muridnya.

Maka sengaja ia mengambul, untuk membikin gusar kawan itu. Biat Touw Sin-Kun jengah mendengar kata-kata Tok Sianlie.

Ia telah main gila dengan nona ini, ia takut rahasianya terbuka dan diketahui Thian Ok Tojin.

Ia terhitung orang yang terlebih tua dan terlebih atas tingkatannya dibanding dengan Tok Sian-lie, menjadi tidak pantas ia main gila sama murid orang.

Maka sekarang ia merasa sangsi.

Tapi ialah seorang ulung, dapat ia membawa aksi-nya. Ia tertawa lebar.

"Nona kecil, kau terlalu cemburu!" katanya, "mana bisa aku tidak menghendaki kau? Aku cuma menyayangi kepandaiannya dia ini "

Imam ini mendustakan Tok Sian-lie.

Ia justeru ketarik sama Hian Song, yang  kecantikannya melebihi sepuluh lipat "muridnya" itu.

Ia ingin ambil Hian Song sebagai muridnya, agar kemudian si nona dapat menggantikan Tok Sian-lie.

Sepasang alisnya Hian Song bangun berdiri mendengari pembicaraannya dua orang itu.

"Siluman tidak tahu masa lalu, mari rasai pedangku !" ia berkata nyaring seraya menikam, dan ketika tikaman yang pertama itu gagal, segera ia mengulangi berulang- ulang.

Biat Touw Sin-Kun berkelahi dengan tangan kosong, didesak demikian rupa, ia menjadi repot, sudah begitu, ia mesti melayani Tok Sian-lie bicara, begitulah ketika satu kali ia berayal, "Bret!" maka ujung bajunya kena dirobek ujung pedang si nona, hingga ia terkejut. Berbareng dengan itu, ia seperti mengenali ilmu silatnya si nona.

"Ah, mungkinkah wanita ini murid dia?" ia kata dalam hatinya. "Pantas dia tidak suka menyerah terhadapku. Baiklah aku kasi dia rasa, supaya dia bisa lihat!"

Lantas ia tertawa keras dan panjang, terus ia mencabut semacam senjata yang tergendol dibebokongnya, senjata mana terlihat berkilauan.

"Lekas kau angkat aku menjadi gurumu, aku masih dapat memberi ampun pada selembar jiwamu!" katanya keras.

Hian Song membungkam, ia terus melakukan penyerangannya.

Tapi ia sekarang mendapat perlawanan keras.

Bahkan satu kali, mendadak ia merasakan pedangnya terlibat senjata musuh, tak dapat ia segera menarik pulang.

Ia mengerti ia terancam bahaya akan tetapi ia mendapat akal, sebaliknya daripada menarik, ia justeru meluncurkan itu, untuk meneruskan menikam!

Biat Touw terkejut, terpaksa iu melepaskan libatannya. Ia menyekal senjata yang istimewa.

Sebab senjatanya adalah sebatang pacul pendek, yang ia biasa pakai untuk menggali pohonpohon obat-obatan.

Yang luar hiasa, senjata itu terang mengkilap.

Pedang Ceng-song-kiam dari Hian Song bukan sebangsa pedang mustikanya Lie It tetapi tajamnya luar biasa, ketika kedua senjata itu beradu, selainnya suaranya yang nyaring, pacul itu tidak rusak sedikit juga, pedang si nona sebaliknya sedikit bengkok.

Pula keistimewaannya pacul Biat Touw, pacul itu ada tambahan lima batang yang tajam seperti garu atau kuku peranti menyamber dan melibat senjata lawan serta juga dapat dipakai menotok jalan darah.

Maka juga, mengenai senjata, Biat Touw menang unggul dari Hian Song.

Pertempuran itu berjalan seruh, berselang tigapuluh jurus, Hian Song kena dibikin repot.

Dari mulai menyerang, ia menjadi pihak yang membela diri, karena sulit untuknya melakukan penyerangan pembalasan.

Aneh ilmu silatnya Biat Touw, serangannya kacau, sebentar dia menyamber, sebentar dia menotok, lalu dia memacul.

Syukur untuk si nona, ia mahir ilmunya ringan tubuh, hingga ia bisa bergerak dengan gesit.

Tok Sian-lie tertawa geli ketika ia melihat Hian Song kelabakan.

"Sin-Kun, kau rampas pedangnya, kau berikan padaku!" ia berkata separuh mengejek.

Ia ketarik sama pedangnya Nona Bu dan ingin sekali memilikinya.

Hian Song mengertak gigi.

Ia mengerti, lama-lama ia bisa mendapat susah.

Dengan terpaksa ia mengeluarkan antero kepandaiannya, guna bisa menyerang membalas. Maka itu pedangnya berkilauan mengimbangi cahaya berkeredepan dari paculnya Biat Touw.

Penyerangannya si imam terintang sedikit tetapi dia tertawa.

"Bagus ilmu pedangmu!" katanya. "Hanya dengan begini kau menggunai tenagamu terlalu banyak, kau membuatnya kekalahanmu bakal datang terlebih cepat pula, bahkan diakhirnya, kau bisa mendapat sakit berat! Maka lebih baik kau lekas menyerah, kau mengangkat aku menjadi gurumu!"

Tok Sian-lie tertawa, ia berkata pula: "Aku tidak menghendaki adik seperguruan seperti dia! Aku cuma menginginkan pedangnya!"

Hian Song mendengar semua itu. Ia mengerti Biat Touw bukannya menggertak saja.

Tapi ia mana sudi menjadi muridnya musuh ini? Dengan terpaksa ia berlaku nekat.

Tok Sian-lie benar-benar jail.

Setelah melihat orang berkelahi lama, diam-diam ia menyerang dengan Touw-hiat Sin Ciam, jarumnya yang beracun, yang mengarah jalan darah.

Hian Song mendengar suara menyamber, ia terkejut, ia lantas berkelit.

Ia bebas dari serangan itu tetapi karena itu, ia  menjadi repot.

Melayani dua musuh, perhatiannya menjadi terbagi.

Tepat selagi nona ini terancam bahaya, dari dalam rimba didekatnya terdengar satu suara panjang dan nyaring sekali, suara itu seperti turun dari udara, lalu berkumandang dilembah.

Cabang-cabang pohon pun tergoyang karenanya. Dua-dua Biat Touw Sin-Kun dan Hian Song terkejut. Mereka heran.

Suara orang liehay siapakah itu?

Tengah mereka berpikir keras dan memasang mata, lantas mereka melihat dari dalam rimba keluar dua ekor binatang yang berbulu kuning emas, yang segera ternyata yalah khim-hoat hui-hui atau kera Afrika yang dinamakan "kera kepala anjing." Adalah aneh kera semacam itu didapatkan digunung bersalju ini.

---o^KUPAY^0^DEWIKZ^o---

KERA itu bengis romannya tetapi pun bagus, menarik hati untuk dilihat.

Begitulah, sekalipun Biat Touw Sin-Kun, dia telah tertarik perhatiannya.

Kedua kera itu mendatangi kedua orang yang lagi bertarung itu, mendadak mereka berpekik pula, lalu keduanya lompat, akan menerkam.

Mereka mempunyai tangan dengan kuku yang panjang.

Hian Song kaget, ia berkelit seraya menjaga diri. Selagi ia berkelit itu, ia mendengar jeritan Biat Touw serta pekikannya seekor kera, ketika ia menoleh dengan cepat, ia mendapatkan pundak Biat Touw terluka bekas dicengkeram dan paculnya melukai kaki depan binatang itu.

Lukanya Biat Touw Sin-Kun disebabkan ia memandang enteng kepada kedua kera itu, tidak tahunya sang binatang gesit luar biasa, tak dapat dia berkelit seluruhnya dari sergapannya, maka dia terluka.

Dia lagi mendesak Hian Song, maka ketika disergap, dia berkelit sambil mengibas.

Dia bertenaga besar, sebaliknya dia menyangka kedua kera itu dapat disampok roboh hingga pingsan.

Dia pun memikir untuk menangkap hidup kedua binatang itu, maka dia menggunai tenaga empat atau lima bagian.

Karena lukanya itu, Biat Touw heran dan kaget.

Dia telah meyakinkan ilmu Kim-ciong-tiauw, atau Jala Lonceng Emas, semacam ilmu kebal hingga tubuhnya tidak dapat dilukakan senjata tajam, dia tidak sekali menduga, binatang itu dapat melukakannya.

Tentu sekali, dia menjadi sangat gusar.

"Baiklah, lebih dulu aku bereskan kamu, binatang!" dia membentak.

Dia terus berlompat kepada seekor kera, untuk menjambak.

Seperti seorang ahli silat, kera itu berkelit lincah sekali, setelah mana, dia membalas menyerang. Berbareng dengan itu, Biat Touw merasai angin menyambar dibelakang kepalanya, hingga dia mesti lekas berkelit, berkelit sambil mengibas.

Kera yang satunya yang menyerang itu, tapi ia kena dikibas hingga jatuh.

Hanya sejenak, ia bangun pula, bersama kawannya, kembali ia lompat menyerang.

Hian Song girang berbareng heran.

Ia tidak diserang kedua kera itu, ia bahkan dibantui. Maka ia lantas berpikir: "Tadi mereka menolong aku,

maka tidak dapat aku membiarkan mereka."

Dari itu, ia lantas maju menyerang Biat Touw.

Ia berlaku hati-hati, ia kuatir kedua kera tidak mengenali sahabat dan musuh.

Tapi kekuatiran ini tidak beralasan, kedua binatang itu mengenali padanya, terus mereka menyerang si baju hijau, cara menyerangnya pun rapih, dari kiri dan kanan.

Dikepung bertiga, Biat Touw Sin-kun agak kewalahan.

Lagi satu kali dia telah kena dicengkram, maka dalam murkanya ia menggunai paculnya dengan keras sekali.

Dengan menerbitkan suara nyaring, pedang Hian Song kena ditangkis mental, lalu dengan tangan kirinya dia meninju keras, dua kali saling-susul, dua-dua kalinya mengenai sasarannya.

Tanpa ampun lagi, kedua kera itu terpental roboh, untuk tidak lantas bangun pula.

Hian Song kaget. Ia menyangka kedua kera itu sudah mati.

"Serahkan dua kera itu padaku!" terdengar Tok Sian- lie berkata. "Sin-Kun, kau menghendaki yang mati atau yang hidup?"

"Lebih baik kalau keduanya dapat ditolong!" menyahut Biat Touw. "Kau hati-hati!"

Tok Sian-lie menghampirkan kedua kera itu, untuk memeriksa.

Ia menjadi heran.

"Eh, batok kepalanya tidak pecah!" katanya. "Kenapa keduanya mati?"

Dia memegang bulu dikepalanya, yang berwarna kuning emas, niatnya untuk disingkap.

Kedua kera itu tidak mati, pingsannya juga pingsan berpura-pura.

Keduanya roboh terus berdiam, untuk dapat beristirahat, ketika yang satu bulunya ditarik, dia lompat bangun dengan mendadak sambil tangannya menyamber lengan orang!

Biat Touw pun kaget, tetapi dia tidak menjadi gugup, dia lompat untuk menyerang.

Kedua kera itu berlompat untuk berkelit, habis mana yang satu membalas menyerang, yang lain menyerang Tok Sian-lie.

Dia ini merasakan sakit sampai ke-ulu-hatinya karena luka dilengannya bekas cengkeraman si kera, akan tetapi melihat serangan datang, lekas-lekas dia menyambut dengan jarum beracunnya. Sang kera liehay, ia berkelit, lantas ia menyamber sebatang cabang untuk diputar bagaikan pedang guna menutup diri, setelah itu, ia lompat keatas pohon, menangkel pada sebuah cabang.

Ketika ia terayun balik, ia menyerang pula wanita itu!

Kera yang menyerang Biat Touw Sin-Kun berlaku cerdik, dia tidak mau merapatkan, dia berputaran, saban- saban dia mengancam sama cengkeraman-nya.

Nyata dia sangat gesit dan menang juga tangan panjang.

Sebenarnya dia biasa berjalan dengan kedua tangan dan kedua kaki, tetapi sekarang, dia dapat berdiri seperti manusia dan kedua kaki depannya dapat digunai sebat dan pandai seperti tangan manusia.

Beratnya untuk Biat Touw, Hian Song terus menyerang padanya, hingga dia tetap dikepung berdua.

Justeru itu, dia mendengar jeritannya Tok Sian-lie hingga dia kaget sekali.

"Tolong!" demikian suaranya wanita kawannya itu. Biat  Touw  mengibas,  untuk  mengundurkan  musuh,

habis  mana  dia  berlompat  kearah  Tok  Sian-lie,  buat

membantu kawan itu.

Bu Hian Song melihat gerakan lawannya ini.

"Kemana kau hendak kabur?" ia membentak seraya ia lompat menikam.

Biat Touw seperti telah dapat menduga bahwa dia akan dikejar, maka itu selagi tubuhnya melompat itu, tidak menunggu sampai kakinya menginjak tanah, tubuhnya telah diputar balik sangat cepat, sambil berputar, dia menyerang kebelakangnya.

Hebat kesudahannya saling-serang ini.

Hian Song kaget bukan main, ia tidak dapat menangkis, bahkan berkelit pun tidak keburu, maka dadanya kena tertotok jari tangannya si baju hijau, hingga ia merasakan napasnya seperti berhenti dengan tiba-tiba.

Dilain pihak, ujung pedangnya mengenai mata kaki lawannya itu!

Walaupun terluka, Biat Touw lari terus menyusul Tok Sian-lie, Hian Song sebaliknya, tidak berani menguber.

Disana Tok Sian-lie lagi terancam si kera kepala anjing.

Dari atas pohon, kera itu melompat turun, sebelah tangannya yang panjang diluncurkan kearah si wanita tangan beracun, untuk menyengkeram batok kepalanya.

Biat Touw gesit dan liehay sekali, dia sampai dengan cepat, lantas dia menyerang guna menolong Tok Sian-lie.

Si kera tahu lawan ini berbahaya dengan menarik tangan Tok dia lompat naik pula kecabang pohon.

Biat Touw tidak mengejar, hanya dengan menarik tangan Tok Sian-lie, ia lari pergi, luka dimata kakinya tidak menyebabkan dia tidak dapat lari keras.

Lekas sekali mereka lenyap diantara angin dan salju. Bu Hian Song menghela napas lega.

"Jahanam itu sangat liehay kedua tangannya," pikirnya. "Tanpa bantuannya kedua kera istimewa ini, pastilah hari ini aku kena terhinakan manusia jahat itu."

Ia lantas memikir untuk menghampirkan kedua kera, atau mendadak ia mendengar pula seruan nyaring dan panjang dari dalam rimba.

Kedua kera itu, seperti mendengar panggilan majikannya, lari masuk kedalam rimba itu.

Hian Song menjadi bertambah heran.

"Mestinya mereka binatang piaraan! Karena mereka liehay, majikannya mesti liehay juga!"

Karena memikir demikian, tanpa bersangsi ia lari kearah rimba, guna menyusul kedua kera itu.

Ia lari belum jauh, mendadak ia merasakan dadanya sakit.

Ia lantas menghentikan tindakannya, ia mengempos semangatnya, guna melegakan pernapasannya.

Karena ini, ia memikir untuk berhenti menyusul.

Begitu ia memikir, begitu ia mendengar suaranya si kera.

Hatinya menjadi ketarik pula. Maka ia lari menyusul lagi.

Tiba disatu tikungan, ia menampak sebuah tempat terbuka, dimana ada bukit es tinggi beberapa puluh tombak, duduknya bagaikan sekosol.

Disitu, nempel pada es, terlihat kedua kera itu. "Engko hui-hui, terima kasih!" katanya girang sekali. Kedua kera itu tidak menjawab, sebaliknya, satu suara terdengar menanya si nona: "Nona, kau letihkah?"

Hian Song heran.

Ia lantas berpaling kearah dari mana suara itu datang.

Lantas ia melihat seorang dengan pakaian putih lagi duduk di kaki bukit es itu, sedang kedua kera segera menghampirkan dia itu, untuk lompat naik kepundaknya kiri dan kanan.

Ia menduga kepada majikan kedua binatang itu. Maka mau ia menyahuti.

Tapi orang itu sudah mendaihului bertindak kearahnya.

Ketika ia melihat sinar mata orang, yang tajam sekali dan memutar memain, ia kaget, hingga ia kata didalam hatinya: "Aku mesti berhati-hati! Siapa tahu kalau dia orang jahat! "

Mendadak orang dengan pakaian putih itu berkata: "Lekas kau menoleh kebelakang! Lekas kau loloskan bajumu!"

Nona Bu kaget bukan main. Ia tidak tahu maksud orang.

Sebaliknya, ia mendapatkan orang berlompat kearahnya.

Tidak sempat ia berpikir lagi, ia menabas dengan jurusnya: "Heng cie thian lam," atau, "Menuding melintang kelangit Selatan." Ia bukan berniat menyerang melukai, tetapi ingin mencegah majunya orang, untuk dapat ketika menanyakan keterangan.

"Ah...!" seru orang itu seraya ia menunda majunya, untuk menyamber secabang pohon disampingnya, untuk dipatahkan, hingga itu ia bisa maju terus, tanpa menghiraukan ancaman pedang, dia menusuk kedada si nona dijalandarah leng-tut-hiat.

Hian Song kaget, dalam hatinya ia berkata: "Benarlah dia manusia jahat!" Maka ia lantas berkelit, lalu menyerang dengan jurus "Merabah bintang, memetik bintang."

Itulah salah satu jurusnya yang terliehay.

"Ah...!" orang berpakaian putih itu bersuara pula.

Dia pun tidak berhenti, setelah membebaskan diri, dia menyerang pula dengan cabang kayunya itu.

Nyata, dari gerak-geriknya, dia mengenali ilmusilat si nona.

Herannya Bu Hian Song tidak terkira.

Serangannya itu sangat hebat, dengan itu ia belum pernah gagal.

Bahkan Thian Ok Tojin dan Biat Touw Sinkun mengalahkan ia karena mereka menang tenaga-dalam. Lantas ia melihat seorang dengan pakaian putih lagi duduk di kaki bukit es itu, sedang kedua kera segera menghampirkan dia itu, untuk lompat naik kepundaknya kiri dan kanan.

Tapi dia ini menggunai hanya cabang pohon.

Dia sangat gesit, tenaga-dalamnya pun mahir sekali. Terpaksa ia mengeluarkan seantero kepandaiannya,

guna membela dirinya.

Dengan sebat dan lincah, si pakaian putih memecahkan setiap serangan, atau menghindarkannya, dia membuat si nona di depannya heran bukan buatan.

Dalam herannya, Hian Song hendak menanya, atau segera ia didesak, lalu dengan beruntun ia kena ditusuk tujuh jalandarah dipunggungnya, seperti lengkie, tionghu, dan lainnya.

Lantas tangannya menjadi kaku, lantas pedangnya terlepas, jatuh ditanah.

"Maaf, Nona Bu...!" priya itu berkata cepat. "Maaf untuk perbuatanku yang kurang ajar ini. Lekas kau meluruskan napasmu!"

Hian Song tidak dapat ketika untuk mengucapkan kata-kata, ia merasakan dadanya sesak, ada hawa panas mengalir pada tujuh jalandarahnya.

Lekas-lekas ia bernapas untuk menyalurkan darah, menuruti petunjuk priya pakaian putih itu.

Ia tidak usah menggunai banyak tempo atau lantas ia merasa pernapasannya pulih dan tubuhnya terasa merdeka sekali.

Si baju putih mengawasi, hingga ia melihat muka orang bersemu dadu.

Ia lantas tertawa dan berkata: "Kau telah terkena tangannya Biat Touw Sin-Kun, jikalau kau tidak ditotok seperti ini, tidak dapat kau bebas dari racunnya tangan orang jahat itu!"

Hian Song lantas saja mengerti, hingga ia mau percaya orang ini.

Ia jadinya ditolong dibebaskan dari totokan dipunggungnya.

Pantas orang meminta ia membuka baju sambil membalik belakang.

Jadi ialah yang salah menyangka maksud orang. Ia hanya heran, selagi orang ini jauh terlebih liehay daripadanya, mengapa dia menanti dulu sampai beberapa puluh jurus, baru dia menotok.

Maka maulah ia menduga bahwa orang tengah menguji kepandaiannya. Lalu ia menjumput pedangnya, ia memberi hormat seraya menghaturkan terima kasih.

"Aku mohon bertanya she dan nama inkong yang mulia?" ia tanya kemudian.

Ia memanggil "inkong," tuan penolong.

"Apakah aku pun boleh mendapat tahu siapa guru inkong?"

Orang dengan pakaian putih itu tertawa.

"Mari turut aku, kau nanti mendapat tahu!" sahutnya. Ia lantas memutar tubuh, untuk bertindak pergi.

Kedua kera itu berlompat turun, keduanya berpekik aneh, tetapi melihat sikapnya, nyata keduanya gembira sekali.

Keduanya mengangkat juga tangannya masing- masing, seperti orang yang memberi hormat pada si nona, habis itu mereka berlompatan untuk berjalan didepan, selaku pengunjuk jalan.

Hian Song tetap heran. Ia pun berpikir: "Dia telah mengobati aku, mestinya dia tidak berniat jahat "

Maka ia bertindak mengikuti, pergi lebih jauh kesebelah dalam bukit bersalju itu.

Puncak bukit seperti masuk kedalam awan, air solokan pun bagaikan kaca. Maka pemandangan alam disitu indah sekali. Untuk berjalan diatas salju mengikuti si pakaian putih, Hian Song menggunai ilmu enteng tubuh "Teng peng touw sui," atau "Menyerang dengan menginjak kapu- kapu."

Segera ia menjadi heran pula.

Ia melihat orang seperti jalan dengan tindakan lebar akan tetapi ia tidak dapat melombai orang itu.

Diam-diam ia menjadi kagum.

Sesudah berlari-lari sekian lama, Hian Song merasa hawa mulai hangat, tidak sedingin tadi.

Nyata ia telah tiba disebuah bukit dimana ada banyak pepohonan, yalah rumput dan pohon bunga.

Didepannya terbentang sebuah telaga ketiyl. Anehnya telaga itu berada diatas puncak gunung. Telaga itu permai.

Kupingnya lantas tnendengar kicau hurung-burung dan hidungnya mencium harumnya bunga.

Ia merasa ia seperti berada ditempat dewa

"inilah pengempang Thian Tie yang kesohor," berkata si orang pakaian putih tanpa diminta. "Katanya pengempang ini, dulunya yalah mulut gunung api, setelah apinya padam, lalu berubah menjadi telaga. Itulah sebabnya kenapa hawa disini hangat."

Hian Song kagum.

Selewatnya pengempang itu, mereka tiba disebuah guha batu, yang mulutnya tertutup batu sebagai daun pintu. Si baju putih menolak pintu batu itu.

"Silakan masuk!" ia menggapai kepada Hian Song.

Untuk sejenak, Nona Bu bersangsi, tapi segera ia mengambil keputusan: "Aku sudah tiba disini, tidak dapat aku mundur pula. Dia lebih liehay daripada aku, jikalau dia mau mencelakai aku, tidak usah dia menunggu sampai disini"

Maka ia lantas bertindak maju, masuk kedalam guha.

---o^DewiKZ^0^TAH^o---

DIDALAM ada sinar terang dari sebuah hang angin.

Sinar itu membikin Hian Song dapat melihat segala apa dengan nyata. Lantas ia menjadi heran.

Ia melihat sebuah meja batu diatas mana ada bercokol seorang niekouw atau pendeta wanita, dikitari sekosol batu marmer hingga dia mirip patung dewi atau malaikat.

Yang heran, dia bukan mirip patung tanah liat atau kayu, dia seperti orang hidup!

Untuk sejenak Hian Song berdiri tercengang, akhirnya ia menekuk kedua kakinya, menjatuhkan diri didepan bhiksuni itu, untuk memberi hormat sambil ia berkata separuh berseru: "Suhu...! Kiranya suhu disini...! Suhu, inilah muridmu, Hian Song, datang!"

Niekouw itu berdiam saja.

"Suhu...!" kata sang murid, heran. "Suhu, mengapa kau berdiam saja?" Guru itu terus berdiam.

Orang dengan pakaian putih itu, yang berdiri disamping si nona, berkata dengan perlahan: "Gurumu telah meninggal dunia semenjak tiga tahun yang lampau, aku menantikan sampai sekarang baru aku mendapatkan kau datang”

"Apa...?" berseru Hian Song, heran dan kaget.

Ia tidak percaya mata atau pendengarannya, ia melompat bangun.

Ia lantas menggeser sekosol, untuk mendekati gurunya itu.

Ketika ia merabah, ia kena pegang anggauta tubuh yang dingin seperti es, tubuh guru itu keras dan kaku, bagaikan batu.

Ia kaget hingga ia menjatuhkan diri pula, ia berdiam sekian lama tanpa bisa menangis.

Baru kemudian terdengar tangis isaknya.

Priya dengan pakaian putih itu membiarkan orang menangis hingga sekian lama.

"Suhu menutup mata tanpa sakit lagi," katanya perlahan. "Aku cuma menantikan tibamu, lantas kita dapat memenuhkan keinginannya, yalah kita dapat mengantar pulang tubuh-raganya. Su-moay, tidak usah kau terlalu berduka."

Hian Song berlompat bangun, matanya menatap wajah orang.

"Hian Song, kau telah tidak mengenali aku," kata priya itu. "Ketika kau berumur sepuluh tahun, aku telah melihatmu. Semenjak itu, hingga sekarang sudah lewat enambelas tahun, tidak heran kau tidak ingat aku lagi. Juga aku, jikalau tadi aku tidak menguji dulu ilmu pedangmu, aku tidak berani mengakui kau"

Hian Song menepas airmatanya, ia mengawasi pula. "Ah, kau jadinya Pwee Toako!" katanya.

"Benar, akulah Pwee Siok Touw," menyahut priya itu. "Sampai suhu hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan, aku tetap berada didampingnya."

Siok Touw ini keponakan gurunya Hian Song, karena ia memperoleh ilmusilatnya dari bibinya itu, ia pun memanggil guru pada sang bibi.

Selagi Hian Song masih belajar pada gurunya, Siok Touw sudah keluar dari perguruan, untuk pergi merantau, maka juga kedua saudara seperguruan ini cuma pernah bertemu satu kali.

"Kenapa suhu berada disini?" kemudian Hian Song tanya.

Ia heran.

"Suhu meninggalkan sekumpulan syair," kata Siok Touw, "ia memesan untuk kau membawa pulang buat dihaturkan kepada Thian-houw. Suhu bilang Thian-houw paling mengenal hatinya. Buku syair itu kau boleh baca lebih dulu, habis membaca, lantas kau akan mendapat tahu kenapa suhu datang kemari"

Siok Tow lantas menyerahkan buku syair yang dimaksudkan itu.

Hian Song menyambuti, lantas ia membalik lembaran pertama. Ia membaca syair yang berarti:

Ingin memesan kata-kata tetapi sukar Mengikuti rembulan terang tiba di Thian San Selama tigapuluh tahun segala apa berubah Kut Goan yang kesasar belum lagi kembali

Hati Hian Song tergerak.

Ia mengetahui juga sedikit hal ikhwal gurunya, dan syair ini memberikan penjelasan kepadanya.

Nyata selama beberapa puluh tahun sang guru senantiasa ingat "itu orang," yalah Ut-tie Ciong, gurunya Lie It.

Ia menjadi terharu, ia berduka, tanpa merasa airmatanya menetes jatuh.

---o^DewiKZ^0^Kupay^o---

Guru Hian Song itu, sebelum dia menjadi pendeta, yalah Pwee Keng Hiang, dan ayahnya, Pwee Bun Keng, dijaman Kaisar Tong Thay Cong, menjabat Pok-sia, menjadi menteri yang berkenamaan.

Ketika itu ada suatu kebiasaan, putera atau puterinya seorang berpangkat dikirim kebiara, untuk menjadi murid pendeta tanpa menjadi paderi, yalah tanda mencukur gundul rambutnya, untuk beberapa tahun lamanya, katanya guna memohon perlindungan Sang Buddha agar si putera atau puteri panjang umur.

Tempo Keng lliang baru dilahirkan, ibunya telah minta peruntungannya diramalkan, katanya ia bakal menghadapi banyak kesukaran, maka itu sedari umur delapan tahun ia sudah dikirim ke Kam In Sie, sebuah kuil yang istimewa menerima murid-murid keluarga orang.

Kepala dari Kam In Sie bernama Biauw Giok, janda dari seorang Gie-cian Sie-wie, pengawal Kaisar Tong Thay Cong. Sie-wie ini gagah, liehay ilmu pedangnya, tetapi ia terbinasa dimedan perang Korea selama tahun Ceng-koan ke-18, karena ia tidak mempunyai anak baik laki-laki maupun perempuan, isterinya lantas mensucikan diri dibiara itu.

Biauw Giok pun memahamkan ilmu pedang, tidak ada orang yang mengetahui kepandaiannya itu, baru setelah berusia lanjut dan karena cocok sama tabiatnya Keng Hiang, ia mengajari ilmu pedangnya itu pada muridnya ini.

Ini juga ia lakukan diluar tahunya orang lain.

Tatkala Biauw Giok meninggal dunia dan Kaisar Lie Sie Bin wafat, Bu Cek Thian, yang diusir dari keraton, memasuki Kam In Sie menjadi bhikshuni.

Disini ia berkenalan sama Keng Hiang, yang melihatnya dia seorang wanita luar biasa, mereka mendapat kecocokan satu dengan lain, keduanya lantas menjadi sahabat-sahabat erat, hingga pernah terjadi, tempo ada datang orang jahat, yang hendak membinasakan Bu Cek Thian, Keng Hiang yang menolongi mengusir calon pembunuh itu.

Belakangan, nasib Bu Cek Thian berubah menjadi baik.

Oleh Kaisar Kho Cong (yalah Lie Tie puteranya Lie Sin Bin, Thay Cong), dia disambut masuk kedalam keraton, dari selir 'Ciauw-gie (sebawahan dari Kuihui), dia manjat menjadi Honghouw, permaisuri.

Pui Keng Hiang turut masuk kekeraton sesudah habis temponya berdiam didalam biara, dia diangkat menjadi pembesar dalam keraton (lie-khoa).

Lalu datang saatnya Bu Cek Thian merampas kekuasaan atas pemerintahan, ia main pecat banyak pangeran atau orang bangsawan, hingga banyak menteri mengetahui pemerintahan bakal jadi pemerintahannya Keluarga Bu.

Beberapa menteri lantas berserikat, diam-diam mereka menentang permaisuri itu.

Ut-tie Ciong menjadi salah satu penentang itu.

Ketika itu ia menjabat Liong Kie Touw-ut dari tangsi Sin Bu Eng, bahkan ialah satu satu penentang hebat.

Sikapnya ini menyulitkan Pwee Keng Hiang, sebab ia dan Keng Hiang, sebagai saudara-saudara misan, sudah ditunangkan satu pada lain semenjak masih kecil.

Ut-tie Ciong ketahui Keng Hiang dipercaya Bo Cek Thian, ia mencari ketika membikin pertemuan rahasia sama tunangannya itu, untuk minta si tunangan membantui ia.

Keng Hiang terkejut. Baru sekarang ia ketahui Bu Cek Thian hendak digulingkan.

Seberpisahnya dari Ut-tie Ciong, pikirannya menjadi kacau.

Satu hari dan satu malam ia berpikir keras. Akhirnya ia membuka rahasia pada Bu Cek Thian.

Bu Cek Thian cerdik sekali, tanpa memberi kentara sesuatu, ia mengatur tipu daya, ia memasang perangkap, untuk turun tangan terlebih dulu dan secara mendadak juga.

Yang pertama dibekuk dan dibunuh yalah dua orang penting, yaitu Kok-kiu atau ipar kaisar Tiangsun Bu Kie, serta seorang menteri, See-tay Sie-long Siangkoan Gie, menyusul mana dibunuhlah tigapuluh-enam anggauta keluarga bangsawan lainnya.

Ut-tie Ciong liehay, ia dapat kabur dari kotaraja. Dengan begitu hampir ludas jumlah penentang.

Pwee Keng Hiang tidak menjadi menyesal akan tindakannya itu.

Ia tahu, kalau Bu Cek Thian sampai menjadi raja (Ratu), kaum wanita bakal naik derajatnya, dan rakyat juga bakal memperoleh keuntungan.

Hanyalah, walaupun ia tidak menyesal, ia toh berduka, karena dengan memihak dan membelai Bu Cek Thian, ia menjadi kehilangan tunangannya yang ia cintai.

Ia berjasa terhadap Bu Cek Thian tetapi ia tidak suka menerima anugerah, maka kemudian, ia meninggalkan ratu itu. Bu Cek Thian ketahui sebabnya kedukaan Keng Hiang, ia menyuruh Keng Hiang membujuki Ut-tie Ciong kembali, tetapi Ut-tie Ciong sangat membenci ratu, segan dia kembali, tak sudi dia menemui tunangannya.

Maka akhirnya, Keng Hiang masuk menjadi bhikshuni, ia pulang kekampung halamannya, ia meyakinkan terus ilmusilatnya, antaranya ia mewariskan kepandaiannya kepada Siok Touw, sang keponakan.

Selama itu Bu Cek Thian telah pergi kepelbagai tempat, untuk menyelidiki penghidupan rakyat, untuk ditolong.

Beberapa kali ia mampir pada Keng Hiang, yang ia harapkan kembalinya kesisinya, akan tetapi Keng Hiang tidak dapat meluluskannya.

Meski demikian, hubungan mereka tetap erat, maka itu, mengingat Bu Cek Thian tidak mempunyai pengawal wanita yang gagah, ia menjanjikannya satu, yang pintar dan gagah.

Inilah sebabnya kenapa kemudian dia menerima Bo Hian Song sebagai murid.

Begitu lekas Bu Hian Song memperoleh kepandaian, Pwee Keng Hiang meninggalkan kampung halamannya.

Ia tidak bisa melupai Ut-tie Ciong, ia lantas pergi merantau untuk mencari.

Diakhirnya, ia mendengar kabar Ut-tie Ciong tinggal bersembunyi digunung Thian San, ia lantas meninggalkan Tionggoan, ia menuju kewilayah gurun Utara. Tatkala itu Bo Cek Thian sudah mendiadi Ratu dan Keng Hiang sendiri telah berusia mendekati enampuluh tahun.

Keng Hiang kuatir kepandaiannya lenyap tanpa akhliwaris, maka itu, ia pergi ke Thian San dengan mengajak Pwee Siok Tow.

Inilah sebab kenapa mereka berdua berada digunung itu.

Hian Song masih terus meneteskan airmatanya meski ia telah membaca syair guru itu.

Ia menjadi sangat berduka kalau ia ingat nasibnya mirip sama nasib gurunya.

Guru itu mencari Ut-tie Ciong dan ia mencari Lie It.

Sekarang ini tulang-belulang Ut-tie Ciong sudah menjadi abu dan gurunya pun telah menutup mata.

Benar Lie It masih hidup tetapi untuknya, Lie It mirip dengan Ut-tie Ciong.

Lie It pastilah tak sudi menemui ia pula. Bukankah diantara mereka ada Tiangsun Pek?

Bukankah Tiangsun Pek sangat jelus dan cemburu?

Pula, mana ia tega mengganggu Tiangsun Pek? maka ia menguatkan hati.

Ia menyusut airmatanya.

Kemudian ia tanya Siok Touw kalau-kalau gurunya berhasil menemui Ut-tie Ciong.

"Mungkin," sahut Siok Touw. "Kenapa mungkin? Kenapa kau tidak tahu?" tanya si nona.

"Setibanya kita di Thian San, kita mendapatkan guha ini," Siok Touw memberi keterangan.

"Disini kita lantas tinggal menetap.”

"Ketika itu aku masih belum ketahui bibiku lagi mencari tunangannya dan aku tak tahu juga Ut-tie Ciong tinggal disebelah bawah kita.”

"Pada suatu malam, habis turun salju, bibi memberitahukan aku bahwa ia mau pergi menjenguk seorang sahabatnya dan ia menyuruh aku menjaga rumah, aku dilarang pergi kemana-mana.”

"Aku heran. Dipuncak bersalju ini, dari mana bibi mendapatkan sahabat? Lalu aku mendengar seruan bibi dintas puncak. Itulah seruan panjang yang dikeluarkan dengan emposan tenaga-dalam. Tidak lama, dari sebelah bawah puncak terdengar seruan serupa, yang menyambut seruan bibi itu. Biarnya aku heran tetapi karena aku mentaati pesan bibi, aku terus berdiam didalam guha. Kemudian seruan itu sirap. Malam itu bibi tidak pulang. Ia pulang besoknya, lantas ia jatuh sakit."

Hian Song menjadi heran sekali.

"Tenaga-dalam suhu demikian sempurna, kenapa ia bisa dapat sakit demikian mendadak?" ia bertanya.

"Bibi pulang dengan lesu sekali, kelihatan bibi tidak menggunai tenaga-dalamnya untuk mengobati sakitnya itu. Setelah jatuh sakit, bibi bagaikan hilang ingatannya. Tak berhentinya ia merintih kedinginan. Aku menyalakan api, untuk menghangatkan tubuhnya. Aku pun membujuki, setelah ia sembuh, kita nanti pulang ke Selatan. Bibi menatap aku, seperti ia tidak mengenalnya. Mendadak dia kata tajam, 'Engko Ut-tie, jikalau kau tidak pulang, aku pun tidak mau pulang!' Baru aku tahu, sahabat yang ia tengok itu yalah Ut-tie Ciong, tunangannya. Tentang jodoh bibi, aku dengar dari orang- orang tua. Tidak dapat aku menghibur bibi kecuali aku menyesali Ut-tie Ciong tak berbudi.”

"Besoknya aku pergi keluar, untuk mencari kayu, aku melihat tapak-tapak kaki, yang satu besar, yang lain kecil. Yang besar itu kaki priya. Tapak kaki itu kedapatan disekitar sini, maka aku menduga bagaimana kacau atau ruwetnya pikiran bibi dan tunangannya itu."

---o^DewiKZ^0^Kupay^o---

HIAN SONG menghela napas.

Ia pikir: "Ut-tie Ciong tidak mau pulang tetapi ia suka berbicara lama sama suhu, mungkin kebencian dan kemenyesalannya terhadap suhu sudah hilang. Lie It barangkali tidak demikian, mungkin ia tidak dapat mempercayai aku dan suka bersamaku bicara seantero malam "

"Sakitnya bibi tambah berat kian hari," Siok Tow melanjuti keterangannya.

"Pada suatu hari, selagi mendampingi bibi, aku membaca kitab ilmu pedangnya, sampai pada bagian yang aku tidak mengerti, mendadak aku ingat bagaimana andaikata bibi tidak panjang umur, kepada siapa aku bisa minta penjelasan ............ Justeru aku memikir begitu, selagi airmataku turun tanpa aku merasa, bibi membuka matanya, ia melihat aku menangis.”

"Ia menghela napas dan berkata: 'Kitab ilmu  pedangku ini belum ditulis rampung. Tidak ada jalan lain, biarlah aku hidup lagi beberapa tahun'

"Lalu semenjak hari itu, sakit bibi berubah menjadi baik setiap hari. Lewat satu bulan, bibi mengajak aku pergi mencari bunga bunga hutan, ia membuatnya dua buah karangan bunga.”

"Aku mengikuti dibelakangnya. Tiba dikaki puncak, disebuah tikungan, aku melihat sebuah kuburan baru, pada nisannya terdapat huruf-huruf: 'Kuburan Thian San Kiam-kek Ut-tie Ciong.' Dibawah itu ada catatan orang yang membuat batu nisan itu, yalah Lie It dan isterinya, Tiangsun Pek.”

"Bibi menaruh bunga itu diatas kuburan tersebut, tanpa mengucap apa-apa, ia menjura tiga kali. Baru hari itu aku ketahui Ut-tie Ciong telah meninggal dunia. Tiba- tiba bibi menangis, sembari menangis, ia berkata: Hian Song...., Hian Song..., kau pun harus sangat dikasihani? "

Hati Hian Song berdebaran.

Ia ingat kata-kata gurunya ketika ia keluar dari rumah perguruan, ketika ia mau berpisahan dari gurunya itu.

Kata gurunya itu: "Didalam Keluarga Lie dari Kerajaan Tong ada seorang anggauta bernama It yang ilmu silat dan sifatnya tidak dapat dicela, dia cuma keras menentang bibimu, maka kalau kau bertemu dengannya dan dapat membujuki dia untuk bertindak sejalan denganmu, itulah baik sekali, kalau tidak, terhadapnya kau harus menaruh belas kasihan." "Ia pikir, mungkin gurunya ketahui hal-ichwal ia dengan Lie It dan guru itu mengharap ia jangan berperuntungan malang seperti si guru dan Ut-tie Ciong. Kalau tidak, tidak nanti guru itu mengucap demikian dihadapan kuburan tunangannya itu.

"Bibiku sering mengingat kau," kata Siok Touw pula setelah mengawasi si nona sejenak.

"Rupanya bibi mengingat sesuatu maka ia ingat padamu."

Siok Touw tidak tahu bahwa Hian Song pun mempunyai lelakon asmara yang mirip lelakon bibinya itu.

"Kemudian bagaimana dengan suhu?" tanya si nona sesudah ia dapat menenteramkan hati.

"Sejak itu hari bibi menyambangi kuburan, ia pulang untuk terus menutup diri didalam guha," menyahut Siok Tow.

"Terus bibi menyakinkan ilmu pedangnya. Berselang hampir lima tahun, baru selesai bibi merampungkan kitabnya.”

"Pada suatu malam bibi memanggil aku. Ia memesan dua rupa urusan. Yang pertania yaitu, nanti sesudah bibi menutup mata, aku mesti secara sembunyi melindungi Lie It dan isterinya, tetapi aku dilarang bergaul dengan mereka. Yang ke-dua yakni: Aku mesti berdiam disini menantikan kau. Katanya, cepat atau lambat, kau bakal datang, bahwa sedatangnya kau, aku  mesti menyerahkan kitab syair dan kitab ilmu pedangnya kepada kau. Bibi pun membilangi aku, apabila aku mendapat tahu kau datang, paling baik aku segera memimpin kau kemari, jangan membiarkan kau lewat dipuncak Lok To Hong dibawah itu. Aku tahu, tempat kediamannya Ut-tie Ciong yalah dipuncak itu. Rupanya bibi juga tidak menghendaki kau bertemu sama suami- isteri itu. Sebenarnya aku heran memikirkan pesan itu. Mengapa aku mesti langsung mengajak kau mari dan mengapa ia tidak ingin kau menemui mereka itu?"

Hian Song menyingkir dari tatapan matanya orang dihadapannya itu.

"Aku juga tidak tahu," sahutnya perlahan, berdusta. Ia menangis terisak, hatinya sangat bersedih.

Biar bagaimana, Siok Touw melihat sikap orang rada aneh.

"Ketika itu aku sudah merasakan alamat kurang baik," ia melanjuti.

"Diluar dugaanku, besoknya bibi menutup mata tanpa sakit lagi. Dengan mengikuti pesan bibi, aku lantas rawat tubuhnya, yang aku pakaikan obat, guna dapat menantikan tibamu ini, supaya kaulah yang mengurus penguburannya. Gunung Thian San. ini begini luas, aku kuatir selagi kau datang, aku tidak mendapat tahu, maka itu aku menyuruh kedua kera ini setiap hari pergi membuat penyelidikan, guna menantikanmu. Inilah dua kera yang bibiku dapat menaklukkan dirimba Sishuangpana di Sinkiang Selatan. Binatang ini sangat cerdas, gampang dikasi mengerti. Bibi masih menyimpan sepotong bajumu, baju itu aku kasi dua kera itu cium, untuk mereka mengenalmu. Aku pesan mereka untuk mengantarkan kau kemari.” Mendengar keterangan ini barulah Hian Song mengerti kenapa kedua kera itu tidak menyerang padanya bahkan membantui.

Sebaliknya, ia berkata : "Suhu, suheng, walaupun kamu memikir jauh dan berjaga-jaga, aku toh telah bertemu dengan Tiangsun Pek dan telah tiba dirumahnya Ut-tie Ciong dipuncak Lok To Hong "

Habis bercerita, Siok Tow berdiam sejenak.

"Su-moay apakah kau tadinya mengenal Lie It suami- isteri ?" tiba-tiba dia menanya.

"Semua aku kenal," sahut si nona, tunduk, sedang mukanya merah. Ia likat.

"Aku pun pernah mencuri lihat mereka berlatih pedang," Siok Touw memberitahu.

"Ilmu pedang Tiangsun Pek seperti ilmu pedang Ngo Bie Pay."

"Benar. Dialah gadisnya Tiangsun Kun Liang."

"Jikalau begitu, suami-isteri ini ahli-ahli waris ahli pedang kenamaan, merekalah jodoh sembabat !"

Didalam hatinya, Hian Song sangat berduka.

"Silat pedangnya Tiangsun Pek belum mahir, tetapi buat kalangan Rimba Persilatan, dia sudah cukup," kata pula Siok Touw.

"Yang liehay adalah suaminya. Beberapa kali aku pernah lihat suami itu bersilat, setiap kalinya dia maju pesat. Mungkin dia telah berhasil mewariskan kepandaian guru dan mertuanya."

Senang Hian Song mendengar kemajuannya Lie It itu. "Hanya sayang," kata Siok Touw, "bibi melarang aku bergaul dengan mereka, hingga aku tidak berkesempatan untuk saling berlatih dengan Lie It. Aku kuatir, lewat lagi beberapa tahun, aku bakal terkalahkan dia, hingga tak ada perlunya lagi untuk aku melindungi mereka .........

Mereka pun tinggal digunung Thian San, apa mungkin nanti ada datang orang yang memusuhkannya ?"

Kata-kata kakak seperguruan ini membuat Hian Song mengerti kenapa barusan ia ditanya kenal Lie It dan isterinya itu atau tidak.

Kata-kata itu ada seperti pertanyaan kalau-kalau ia tahu Lie It mempunyai musuh yang hendak mencelakakannya.

"Suhu memesan demikian, mesti ada maksudnya," ia kata.

"Barangkali suheng belum ketahui, Lie It yalah cucu dari Kerajaan Tong."

"Oh, begitu. ?”

"Tapi, aku pikir, jikalau dia tidak menentang Thian- houw, tidak nanti Thianhouw memerintahkan orang menyingkirkan dia. Kaulah kepona kan Thian-houw, mengenai Thian-houw, kau pasti tahu lebih banyak daripada aku."

"Sebenarnya," sahut Hian Song, "aku diutus Thian- houw untuk mencari dia. Adalah niat Thian-houw mewariskan takhta kepada puteranya, Louw-leng-ong Lie Hian, dan Lie It mau diundang untuk membantu Lie Hian. Karena suhu tidak menginginkan aku bertemu dengan mereka itu, tolong suheng saja yang menyampaikan tugasku ini." "Jikalau aku tidak melihat kedatanganmu, mungkin aku sudah turun gunung," Siok Tow memberitahu.

"Suhu menyuruh aku melindungi mereka, maka itu saban-saban aku memperhatikan gerak-geriknya. Kemarin aku mendapatkan suami-isteri bergantian turun gunung. Itulah hal yang tidak pernah terjadi selama beberapa tahun ini. Maka aku berniat pergi menyelidiki." 

"Tak usah suheng mencari tahu lagi," Hian Song kata. "Mereka itu pergi untuk mencari khan Turki."

Siok Tow heran.

"Untuk apakah ?" ia tanya.

Hian Song menuturkan kejadian yang ia ketahui mengenai Lie It yang keras cemburunya itu.

"Oh, jadi anak mereka diculik khan itu !" kata Siok Tow, tambah heran.

"Karena masih ada batas waktu satu bulan, baiklah, mari kita urus dulu jenazah suhu, nanti baru aku pergi membantu mereka.”

"Sumoay, kau duduklah, suhu masih mempunyai serupa barang untukmu. Nanti aku ambil "

Hian Song duduk seorang diri, pikirannya kacau. Ia berduka, ia pun girang.

"Suheng suka pergi membantu mereka, aku boleh melegakan hati," pikirnya.

"Tapi, benar-benarkah untuk selanjutnya aku tidak dapat menemui pula dianya ?”

Ia maksudkan Lie It. Matanya bentrok pula dengan syair gurunya barusan. "Ah, syair itu seperti juga ditulis untukku. Semasa  aku

di Tiang-an, pernah disaat-saat rembulan bundar-permai, aku bermimpi menuruti hati pergi kegunung Thian San. Sekarang aku telah tiba disini, apa mungkin aku kembali

?"

Lantas Hian Song ingat Siangkoan Wan Jie dengan siapa ia untuk beberapa tahun hidup seperti kakak- beradik, segala apa dibicarakannya, kecuali satu hal, yalah urusan ia menyintai Lie It, sebab ia dapat merabah-rabah, juga Nona Siangkoan menaruh hati pada pemuda bangsawan itu, mungkin cintanya tak kalah daripada cintanya sendiri.

Ia ingat sebuah syairnya Siangkoan Wan Jie, yang artinya mirip syair gurunya ini. Siair pernah dimasuki kedalam khim kuno dan budak perempuan yang menyampaikannya kepada Lie It, hingga tentulah si pemuda pernah melihatnya.

Sekarang ini, Lie It pun lenyap.

Berpikir lebih jauh, Hian Song ingat ketika ia mau berangkat dari kotaraja, Siangkoan Wan Jie pernah memesan kata-kata untuk disampaikan kepada Lie It, sekarang ia tidak mau menemui Lie It, habis bagaimana pesan itu harus disampaikannya?

Tidak dapat pesan itu diminta Pwee Siok Touw yang mewakilkan ia menyampaikan.

Sebaliknya, berat ia menyia-nyiakan pesan Wan Jie  itu. Tengah hati nona ini kusut dan berkutat itu, Siok Tow sudah kembali.

"Syair tadi suhu minta kau sampaikan kepada Thian- houw," kata suheng ini.

"Dan ini kitab ilmu pedang untuk kau sendiri. Kau lebih cerdas berlipatganda dari pada aku, maka dibelakang hari pastilah kau bakal dapat mengembangkan ilmu kepandaian suhu. Aku mengandal sangat padamu."

Hian Song menyambuti kitab itu, lalu ia paykui tiga kali kepada gurunya. Mengingat kebaikan dan budi gurunya, kembali ia mengucurkan airmata.

"Habis mengubur suhu, apakah kau berniat pulang, sumoay ?" Siok Tow tanya.

"Ya," sahut si nona perlahan, sedikit bersangsi. "Mengenai urusan Lie It, aku mengandal kepada kau,

suheng."

"Jikalau kau mau pulang, itu pun baik," Siok Touw kata. "Aku hendak minta tolong untuk satu hal."

"Apakah itu, suheng ?"

"Apakah su-moay kenal Kim Ciam Kok-ciu Hee-houw Kian?"

Ditanya begitu, hati si nona bercekat.

"Pernah aku bertemu dengannya pada delapan tahun yang lampau," sahutnya. "Dia pun pernah menanyakan tentang guru kita."

"Habis, bagaimana kau menjawabnya ?" "Pernah suhu melarang aku bicara tentangnya, maka itu aku menyahut saja bahwa aku tak dapat mengatakannya."

Siok Touw menghela napas.

Ia kata : "Setelah gagalnya urusan jodohnya itu, suhu pernah bertemu sama Hee-houw Kian. Ketika itu Hee- houw Kian belum tahu hati suhu sedang terluka, ia sangat menaruh hati. Tentu sekali, karena suhu cuma ingat Ut-tie Ciong, suhu tidak dapat menerima lamarannya. Meski begitu, mereka berdua dapat menjadi sahabat-sahabat kekal. Selama beberapa tahun berdiam di Thian San, suhu telah mendapatkan beberapa biji soat-lian serta juga obat-obatan yang diambilnya dibeberapa gunung lain, maka diwaktu mau menutup mata, suhu telah menyiapkannya dalam sebuah kotak kecil, yang mana ia menyuruh aku menyerahkannya pada Hee-houw Kian. Sekarang sumoay hendak pulang ke Tionggoan, kau saja yang tolong bawa dan mewakilkan aku menyampaikannya."

Ketika itu Hian Song merasai hatinya berat, tetapi hendak ia menjawab kakak seperguruan itu, atau mendadak mereka melihat kedua kera yang berdiam dimulut guha, berbangkit dengan tiba-tiba, seperti mereka itu mendengar sesuatu, menyusul keduanya mengasi dengar pekik yang luar biasa.

"Rupanya ada orang asing !" kata Siok Touw tertawa. "Baiklah, kamu boleh pergi melihat, tetapi jangan kau mengacau...!"

Menerima titah majikannya itu, bagaikan terbang, kedua kera itu berlari pergi. "Kupingnya kedua binatang itu sangat tajam," kata Siok Touw. "Kalau ada orang asing datang kemari, dari jauh-jauh mereka sudah mendapat cium baunya."

Hian Song heran.

Ia menduga-duga, siapa itu yang mendaki puncak gunung ini ?

Dia mesti seorang liehay.

Adakah dia si priya baju hijau ataukah Lie it ?

---o^Kupay^0^DWKZ^o---
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 14"

Post a Comment

close