Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 06

Mode Malam
 
Dilain saat, sambil memutar selendangnya, Jie Ie menyerang jago-jago itu yang sesudah bertempur beberapa lama, terpaksa mundur karena tak tahan melawan budak Hian Song yang sangat lihay.

Sesudah kabur beberapa lama, Lie It menghentikan tindakannya dan mengawasi kebawah, dimana Sin Ong dan Hian Song sedang bertempur dengan menggunakan pedang.

Dalam sekejap Kok Sin Ong dan Bu Hian Song sudah bertempur lebih dari seratus jurus.

Dengan menggunakan tiga macam kepandaiannya yang paling istimewa, yaitu tinju, pedang dan totokan jari tangan, orang tua itu menyerang bagaikan angin dan hujan.

Tapi si-nonapun tidak kurang lihaynya.

Dengan gerak-gerakan lincah dan mantep, bagaikan naga bermain-main ditengah lautan, ia memutar pedang seperti titiran cepatnya.

Sebagai Beng-cu dari Rimba Persilatan, selama sepuluh tahun Kok Sin Ong tak pernah menggunakan senjata.

Sesudah menjadi Beng-cu, hari ini adalah untuk pertama kali ia bertempur dengan menggunakan pedang dan, yang lebih memalukan lagi, lawannya adalah seorang wanita muda-belia.

Maka itu, sesudah lewat lagi sekian jurus, dengan gusar tiba-tiba ia menyerang dengan menggunakan seantero Lweekangnya.

Sambil mengempos semangat, si-nona menangkis. Bentrokan antara kedua senjata itu mengeluarkan suara nyaring dan kedua lawan melompat mundur untuk memeriksa senjata mereka.

Hian Song kaget karena pedangnya somplak.

"Si-tua benar-benar lihay, Lweekangnya lebih kuat daripada aku," katanya didalam hati.

Sin Ong pun tidak kurang kagetnya.

Waktu menyerang, ia sudah menghitung masak- masak, bahwa pedang lawan pasti akan terbang karena pukulan yang dahsyat itu.

Ia tak nyana, bahwa nona itu masih dapat mempertahankan diri.

Dilain saat, mereka sudah mulai bertempur pula secara lebih hebat daripada tadi.

Selagi pertandingan berlangsung dengan dahsyatnya, tiba-tiba terdengar teriakan luar biasa yang menyerupai aum harimau.

Kok Sin Ong terkesiap.

Dilain saat terdengar suara tertawa berkakakan, disusul dengan suara seorang : "Kok Laotee, sudah sepuluh tahun kita tidak pernah bertemu muka. Bagaimana dengan Kiam-hoatmu ? Aku datang untuk menengok kau."

---o^*dwkz^0^Tah*^o---

BERBARENG dengan perkataan itu, ditengah lapangan berdiri seorang yang mengenakan jubah panjang warna hijau dan mukanyapun bersinar hijau. Ia berusia kira-kira lima puluh tahun dan pada dagunya terdapat beberapa lembar jenggot panjang.

Dilihat dari macamnya, ia masih muda dari pada Kok Sin Ong, tapi mengapa ia memanggil Beng-cu itu dengan panggilan "Laotee" (adik) ?

Semua mata mengawasi orang itu dan entah mengapa, muka si-jubah panjang menimbulkan rasa tidak enak didalam hatinya semua jago itu.

Sementara itu, paras muka Kok Sin Ong segera berubah merah.

Sesudah menonton beberapa saat, orang itu berkata dengan suara nyaring: "Kok Sin Ong selalu membanggakan ilmu pedang Liap-in Kiam-hoat. Tapi aku kuatir, nama itu hanya nama kosong dan ia akan ditertawai oleh segenap orang gagah dalam dunia Kang- ouw !"

Mendengar ejekan itu, muka Kok Beng-cu jadi semakin merah.

Orang itu bernama Hu Put Gie, seorang In-su (orang yang mengundurkan diri dalam pergaulan) yang adatnya aneh.

Dulu, ia bersahabat dengan Kok Sin Ong, tapi karena pada suatu hari ia mencelah ilmu pedang Beng-cu itu, maka persahabatan itu menjadi renggang dan selama sepuluh tahun mereka tak pernah bertemu muka.

Secara kebetulan, hari ini mereka bertemu pada waktu Kok Sin Ong sedang bertempur mati-matian untuk mempertahankan nama baiknya. Diejek begitu rupa, Kok Sin Ong jadi gusar tercampur malu. Dalam pertempuran antara jago dan jago, pantangan paling besar adalah terpecahnya pemusatan pikiran dan semangat. Maka itu, begitu ia bergusar, ilmu silat Kok Sin Ong lantas saja mulai kalut.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, tiba-tiba pedang si-nona menyambar kepala Kok Sin Ong bagaikan kilat cepatnya.

Dengan hati mencelos, buru-buru si-kakek menundukkan kepalanya dengan gerakan Hong-hong- tiam-tauw (Burung-Hong-memanggutkan-kepala) dan pedang lewat hanya dalam jarak setengah dim dari kulit kepala.

Hu Put Gie tertawa terbahak-bahak.

"Aduh ......! Hampir saja kulit kepala si-tua terpapas !" teriaknya.

"Sekarang dia sudah memberi hormat kepada Go-bie dengan menundukkan kepala."

Hian Song tertawa geli.

"Keangkeran Beng-cu musna disapu air, sehingga menggelikan hati Thian-san Hu Put Gie."

Mendengar perkataan si-nona, semua jago jadi kaget.

Sudah lama mereka mendengar nama Hu Put Gie, tapi baru sekarang mereka lihat wajah pendekar aneh itu.

Kok Sin Ong pun tidak kurang kagetnya.

"Celaka....! Mereka berdua ternyata mengenal satu sama lain," ia mengeluh. "Sungguh besar nyali bocah perempuan itu yang sudah berani memanggil namanya." Karena hatinya kalut, Kiam-hoatnya pun jadi semakin kalut dan ia terpaksa berkeIahi, sembari mundur.

Hu Put Gie kembali tertawa nyaring.

"Kok Laotee, kau sudah kalah, perlu apa berkelahi terus ?" katanya dengan suara mengejek.

"Paling baik kita minum arak."

Melihat beberapa pentolan Rimba Persilatan sudah berlalu, bahkan Lie It sendiri sudah menyingkirkan diri, semangat Kok Sin Ong lantas saja runtuh dan hatinya tawar.

Sesaat itu juga, sambil menangkis pedang si-nona, ia melompat keluar dari gelanggang dan lalu lari turun kebawah gunung.

"Hei ! Tunggu !" teriak Hu Put Gie.

"Hai.........! Kau tak mau tunggui aku ? Baiklah. Mari kita adu ilmu mengentengkan badan."

Sambil tertawa haha-hihi, ia segera melompat dan mengejar Kok Sin Ong.

Kedua orang itu memiliki ilmu ringan badan yang sangat tinggi, sehingga dalam sekediap mata, mereka sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi.

Sesudah Beng-cu lama dan Beng-cu baru kabur, keadaan jadi kalut dan jago-jago itu lantas saja bergerak untuk menyingkirkan diri.

"Beng Cu, Jie le!" seru nona Bu. "Musnakan ilmu silat enghiong-enghiong besar itu !" "Baiklah !" kata kedua budak itu yang lantas saja melompat kesana-sini sambil memukul atau menotok jalanan darah jago-jago itu.

Sambil berteriak-teriak, mercka lari lintang-pukang seperti diubar setan.

Hian Song tertawa geli dan beberapa saat kemudian, ia berteriak : "Sudahlah.....! Biarkan mereka pergi. Beng Cu, coba kau tolong Siangkoan Moaycu."

Dengan hati duka, Lie It menyaksikan cara bagaimana Enghiong Tay-hwee telah dihancurkan oleh Bu Hian Song. "Tak salah, dalam pertandingan ini aku kalah," katanya sambil menghcla napas. "Aku bukan dikalahkan oleh wanita itu tapi oleh Bu Cek Thian."

Selagi melamun, sekonyong-konyong ia lihat Bu Hian Song mendaki gunung.

Karena hatinya sudah dingin dan tak punya kegembiraan untuk bertempur lagi, buru-buru ia turun dari lain bagian gunung itu.

---o^dwkz^0^TAH^o---

Sementara itu sesudah diurut oleh Beng Cu, perlahan- lahan Wan Jie tersadar dari pingsannya dan kemudian, karena lelah, terjatuh, ia jatuh pulas.

Ia mendusin pada besok harinya, kira-kira tengah hari.

Sesudah ingatannya pulih, ia membuka kedua matanya dan ternyata, ia berada seorang diri ditengah- tengah lapangan rumput itu. Sambil mengawasi macam-macam senjata yang terserak disekitar lapangan itu, ia menghela napas dan berkata dalam hatinya: "kemana perginya Bu Hian tiong

? Mengapa sesudah menolong, ia tinggalkan aku seorang diri dlitcempat ini?"

Mendadak, secara tidak disengaja, matanya lihat beberapa baris huruf yang ditulis dengan ujung pedang diatas kulit pohon.

Empat baris huruf itu yang merupakan sajak, berbunyi seperti berikut :

Benar dan salah sukar ada perbedaan, Tulen atau palsu akhirnya akan ketahuan, Sekarang untuk sementara kita berpisahan, Dilain hari, kumengharap suatu persatuan.

Wan Jie yang sangat cerdas segera dapat menangkap maksud Bu Hian Song.

Pada jaman itu, rakyat Tiongkok terpecah jadi dua golongan, yang satu menentang dan yang lain mendukung Bu Cek Thian.

Wan Jie berada dalam golongan yang pertama, sedang Hian Song dalam golongan kedua.

Maka itu, karena tak dapat memaksa Wan Jie untuk menukar pendirian dengan segera, maka Hian Song mengatakan, bahwa biarlah mereka berpisahan untuk sementara waktu, sehingga salah atau benar, tulen atau palsu menjadi terang dan mereka dapat. mencapai pendirian yang bersamaan.

Sesudah membaca sajak itu, pikiran Wan Jie semakin kalut.

"Andaikata Bu Cek Thian bukan manusia jahat, ia juga pasti bukan manusia baik," katanya didalam hati.

"Apakah dia berbuat benar dengan membunuh kakek dan ayahku ? Orang lain boleh mendukung dia, tapi aku, yang mempunyai sakit-hati sedalam lautan, tentu tidak dapat berbuat begitu. Ah.....! Sayang Lie It Koko sudah berlalu, sehingga aku tidak dapat berdamai dengannya."

Tapi baru saja ingat Lie It, ia tertawa sendiri.

Ia yakin, bahwa perundingan dengan pemuda itu tidak akan menghasilkan apapun jua, karena, biarpun mereka sama-sama membenci Bu Cek Thian, sebab-musabab kebencian itu adalah sangat berlainan.

Ia meraba-raba pisau belati yang berada dalam kantong senjata rahasia.

Segera juga, ia ingat pesan Tiangsun Kun Liang. "Ah....., perlu apa aku menarik-narik tangan orang lain

?" katanya didalam hati.

"Aku harus berusaha dengan tenaga sendiri. Jika dilindungi oleh Tuhan, dengan sekali menikam, aku dapat membalas sakit hati orang tuaku."

Memikir begitu, dengan tekad yang lebih teguh, ia scgera meneruskan perjalanan kekota Tiang-an.

---o^dwkz^0^TAH^o--- SESUDAH berjalan kira-kira dua puluh hari, pada suatu magrib ia tiba dikota Cu-tong.

Kota itu adalah sebuah kota pegunungan dan menurut kebiasaan, begitu cuaca gelap, dijalanan jarang terdapat manusia lagi.

Tapi malam itu lain daripada malam yang lain.

Seluruh kota terang-benderang dan semua jalanan ramai dengan manusia yang berlalu-lintas.

Dengan heran si-nona menanya seorang tua dan jawaban sikakek menggirangkan sangat hatinya.

Mengapa ?

Karena ia diberitahukan, bahwa keramaian itu disebabkan oleh kunjungan Bu Cek Thian kekota Cu-tong

!

"Pada bulan yang lalu, bekas Thaycu Lie Hian telah dibunuh orang jahat di Pa-ciu dan Co-kim-gouw Tay- ciang-kun Khu Sin Sun telah meletakkan jabatannya," menerangkan si-kakek.

"Sampai sekarang, orang yang berdosa masih belum dapat dibekuk. Sepanjang keterangan, kedatangan Thian-houw ke Sucoan pertama adalah untuk menyelidiki pembunuhan itu dan kedua yalah untuk meninjau keadaan rakyat. Belum cukup satu jam beliau tiba disini, sudah ada banyak orang yang minta bertemu untuk mengajukan pengaduan atau untuk melihat mukanya Thian-houw." Mengingat apa yang dilihatnya di Pa-ciu, Wan Jie berkata dalam hatinya : "Hm...........! Dia membinasakan puteranya sendiri dan sekarang berlagak mau menangkap pembunuhnya untuk menutupi mata orang."

Sesudah orang tua itu memberi keterangan, ia segera menanya : "Dimanakah adanya Thian-houw ? akupun ingin bertemu dengan beliau."

"Thian-houw berdiam dalam sebuah sekolahan didekat kantor Tiekoan," jawabnya.

"Aku si-tua pernah hidup dibawah pemerintahan beberapa orang kaizar, tapi belum pernah lohu bertemu dengan seorang kaizar yang begitu mendekati rakyat jelata.

Maka itu, tidaklah heran kalau banyak orang mencacinya, tapi lebih banyak lagi yang menakluk kepadanya."

Sesudah menghaturkan terima kasih dan berpamitan kepada orang tua itu, Wan Jie segera cari sebuah rumah penginapan untuk mengaso.

---o^dwkz^-0-^TAH^o---

Kira-kira tengah malam, ia menukar pakaian jalan malam dan dengan membekal pisau belati, ia pergi kegedung sekolahan untuk coba membunuh Bu Cek Thian.

Begitu tiba didepan gedung, sinona heran bukan main, karena pintu hanya dijaga oleh seorang opas yang tidak bersenjata.

"Nyali Bu Cek Thian sungguh besar," pikirnya. "Apa dia tidak takut dibunuh orang ? Ha........! Inilah kesempatan yang diberikan Tuhan."

Tapi entah mengapa, waktu ia meraba pisau, jari-jari tangannya bergemetaran dan hatinya merasa sangat tidak enak.

Sebagaimana diketahui, Siangkoan Wan Jie memiliki ilmu mengentengkan badan yang cukup tinggi, sehingga dalam tempo tidak terlalu lama, ia sudah menyelidiki belasan kamar dalam gedung itu, yang dijaga oleh beberapa belas Sie-wie, yang sama-sekali tak menduga, bahwa gedung tersebut sedang disatroni oleh seorang calon pembunuh.

Sesudah selesai dengan penyelidikannya, ia lain pergi kesebuah kamar yang terletak ditengah-tengah, dimana ter-lihat sinar lampu dan bayangan beberapa orang.

Dengan menggaetkan kedua kakinya dipayon, badannya menggelantung kebawah dan matanya mengintip kedalam kamar dari sebuah jendela.

Benar saja Bu Cek Thian berada dalam kamar itu.

Ia duduk didepan sebuah meja yang penuh surat dan kertas, dengan diapit thaykam tua, yang lain seorang dayang.

Kaizar itu sedang membaca beberapa surat dengan penuh perhatian.

Melihat sinar mata Bu Cek Thian yang berkilat-kilat, jantung Wan Jie memukul keras.

Itulah sinar mata luar biasa yang seolah-olah dapat menembus kedalam isi-perut orang. Kaizar wanita itu sebenarnya sudah berusia kira-kira enampuluh tuhun, tapi ia kelihatannya banyak masih muda dan masih gagah sekali.

Selang beberapa saat, Bu Cek Thian membalik-balik lembaran laporan dari sebuah perkara.

"Ong Kong-kong, coba panggil koan-leng," katanya. "Thian-how Piehee," kata Thaykam itu, "dalam Dewan

kerajaan, Piehee telah bekerja siang-malam dan sampai ditempat ini, Piehee masih juga tidak mau mengaso. Sebaiknya Piehee harus lebih menjaga kesehatan sendiri."

"Aku tak dapat menyia-nyiakan harapan rakyat," jawabnya.

"Ong Kong-kong, sudahlah kau jangan rewel.

Panggillah Koan-leng."

Thaykam itu menghela napas dan lalu berjalan keluar.

Sesaat itu, didalam kamar hanya ketinggalan sang kaizar dan dayangnya.

Wan Jie mencekal pisau belatinya erat-erat.

Waktu itu, jiwa Bu Cek Thian berada dalam tangannya.

Dengan sekali menimpuk saja, ia dapat membalas sakit hatinya.

Tapi perasaan kepingin tahu caranya kaizar wanita itu memeriksa adalah sedemikian besar, sehingga, sesudah bersangsi beberapa saat, ia menunda keinginannya untuk membinasakan Bu Cek Thian. Selang beberapa saat, Thaykam tua itu sudah kembali dengan mengajak Tie-koan.

Ternyata, semua pembesar setempat mengetahui, bahwa dimana saja kaizar itu singgah, ia selalu memeriksa perkara-perkara yang belum putus, sehingga oleh karenanya, sang Tiekoan tidak berani pulang dan terus menunggu ditempat persinggahan.

Tiekoan itu masuk dengan paras muka pucat-pias dan ia berlutut sambil manggutkan kepalanya berulang-ulang.

"Kau periksa lagi perkara ini !” bentak Bu Cek Thian sambil melemparkan segabung proses-perbal.

"Hamba sangat tolol dan mohon Thianhouw Pichee sudi memberi petunjuk dibagian mana yang kurang benar," jawabnya dengan suara gemetaran.

"Perkara apa itu ?" bentak pula sang Jungjungan.

Sambil memegang proses-perbal itu, Tiekoan membaca : "Pendeta cabul Biauw-giok tidak menjaga kesuciannya dan melakukan perbuatan yang melanggar susila. "

"Tak usah dibaca. !" memotong Bu Cek Thian.

"Ceriterakan saja duduknya perkara secara ringkas" "Perkara ini berdasarkan pengaduan Ong Cian Houw

yang mengatakan, bahwa nie-kouw (pendeta wanita) kuil

Sui-goatam yang bernama Biauw-giok telah memancing puteranya untuk berjinah, sehingga nie-kouw itu menjadi hamil," menerangkan pembesar itu.

"Bagaimana kau memutuskannya ?" tanya Bu Cek Thian. "Hamba memerintahkan supaya kandungan itu digugurkan, mengusir Biauw-giok dari rumah berhala, merangketnya limapuluh kali dan menjatuhkan hukuman supaya dia dijadikan budak negara," jawabnya.

"Tindakan apa kau ambil terhadap anaknya Ong Cian Houw?" tanya pula sang kaizar.

"Hamba memerintahkan supaya Ong Cian How menilik keras dan mengajar anaknya," jawabnya.

Bu Cek Thian mengeluarkan suara dihidung dan menanya pula :

"Dimana letak rumah Ong Cian How ?" "Dipintu kota sebelah barat."

"Nie-kouw itu ?"

"Dikuil Sui-goat-am, pintu kota sebelah timur." "Berapa jauhnya jarak antara kedua itu ?" "Belasan li."

"Apa benar seorang nie-kouw muda berani pergi kerumah Ong Cian How yang jauhnya belasan li, untuk menggoda puteranya ?"

"Perjanjian itu terjadi di Su-goat-am." "Prak !", Bu Cek Thian menggebrak meja. "Binatang !" bentaknya.

"Kalau begitu, tak boleh dikatakan, bahwa anak Ong Cian How telah dipancing atau dipaksa berjinah oleh nie- kouw itu ! Kau memutar-balikkan duduknya perkara ! Adalah anak Ong Cian How yang sudah menyatroni ke Sui-goat-am dan mengganggu nie-kouw itu. Binatang ! Mengapa kau memutar duduknya perkara ?"

Tiekoan itu menggigil dan ia membenturkan kepalanya berulang-ulang diatas lantai.

"Benar ......... benar........." katanya: "Hamba sangat tolol. Hamba kurang menyelidiki perkara itu ..."

"Disamping itu kedosaan apa yang diperbuat oleh si bayi, sehingga kau memutuskan supaya kandungan itu digugurkan ?" tanya Bu Cek Thian dengan suara gusar.

"Apa kandungan itu sudah digugurkan ?" "Belum ........ belum. '' jawabnya.

Bu Cek Thian tertawa dingin. "Hm !

pembesar.......yang seperti kau bagaimana bisa memegang peranan sebagai ayah dari rakyat jelata ?" bentaknya.

Si-Tiekoan jadi makin ketakutan.

Ia manggut-manggutkan kepala seperti ayam mematok gaba dan berkata : "Hamba pantas mendapat hukuman mati hamba berdosa besar. ''

"Pulangkan proses-perbal itu !" bentak pula sang Jungjungan.

Sambil merangkak, pembesar itu lalu mengembalikan apa yang diminta. Bu Cek Thian segera mengangkat pit dan menulis seperti berikut diatas proses-perbal itu :

"Ong Cian How yang tidak mampu menguasai dan mendidik anaknya, harus diperiksa dan dihukum menurut undang-undang negara. Puteranya Ong Cian Houw yang memperkosa seorang nie-kouw mendapat hukuman penjara tiga tahun dan seratus rangketan. Biauw-giok harus menjadi wanita biasa lagi dan tak seorangpun boleh mengganggu bayinya yang masih berada dalam kandungan."

Sesudah meletakkan pitnya diatas meja, kaizar itu berkata dengan suara perlahan : "Mengenai kau, kau harus segera mencopot topi kebesaranmu dan menggapelok pipimu duapuluh kali. Sesudah itu kau mesti menunggu dikantormu untuk mendapat hukuman yang lebih tepat."

Semangat si-Tiekoan terbang.

Dengan tangan bergemetaran, ia mencopot topinya dan kemudian menggempur muka sendiri.

Bu Cek Thian memerintahkan supaya ia menggapelok duapuluh kali.

Tapi dalam ketakutannya ia menggampar terus- menerus dan masih tidak berani berhenti, walaupun pipinya sudah bengkak dan biru.

Sesudah mengusir Tiekoan itu dengan suara bengis, Bu Cek Thian menghela napas panjang.

"Dari dulu sampai sekarang, orang lelaki memang selalu menumplek segala kesalahan diatas kepala orang perempuan," katanya.

"Memecat pembesar jahat soal mudah, tapi menghilangkan kebiasaan itu bukannya soal gampang."

Sesudah mengirup teh, ia berkata pula kepada si- Thaykam tua : "Kongkong, seorang petani dari Ban- goan-koan ingin mengajukan pengaduan. Panggillah dia masuk." Beberapa saat kemudian, seorang lelaki masuk dengan sikap ketakutan.

Wan Jie segera mengenali, bahwa ia adalah Thio Losam yang pernah ditemuinya dijalanan ke Paciu.

Mimpipun si-tua belum pernah mimpi, bahwa ia bakal dapat bertemu dengan seorang kaizar.

Sesudah ia menjalankan peradatan, Bu Cek Thian segera memerintahkan ia berduduk.

"Berapa usiamu," tanyanya. "Limapuluh delapan tahun," jawabnya.

"Lebih muda tiga tahun daripada kami," kata sang Jungjungan sambil bersenyum. "Bagaimana dengan hasil sawah tahun yang lalu ?"

"Lebih bagus daripada tahun berselang," jawabnya.

"Bagaimana tahun ini ?" tanya pula Bu Cek Thian. "Ketika hamba berangkat kemari, pohon-pohon padi

sudah menghijau," jawabnya: "Jika tidak kekeringan atau diganggu hama, pendapatan tahun ini mungkin akan lebih besar daripada hasil tahun yang lalu."

"Bagus ! Apa kau dan keluargamu cukup makan dan pakai ?"

"Dengan mengandalkan rejeki Thianhouw Piehee, dalam sebulan hamba sekeluarga bisa makan nasi kira- kira duapuluh hari lebih. Hanya beberapa hari harus dibantu dengan makanan lain."

"Kalau begitu, keadaanmu belum begitu baik" "Biar bagaimanapun jua, keadaan sekarang banyak lebih baik daripada dulu. Itu semua sudah terjadi karena kebijaksanaan dan pertolongan Thianhouw Piehee kepada rakyat jelata."

Bu Cek Thian menghela napas.

"Daerah Siok (propinsi Sucoan) dikenal sebagai gudang negara," katanya.

"Bahwa rakyat tidak cukup makan, adalah karena dipungutnya cukai yang terlalu besar. Sesudah keamanan pulih, negara boleh tidak usah mempertahankan tentara yang terlalu besar jumlahnya dan cukai serta pajakpun dapat dikurangi lagi."

Mendengar pembicaraan sang Jungjungan yang ramah tamah, ketakutan Thio Losam berkurang banyak.

Sambil membungkuk ia berkata : "Kami, kaum petani, berdoa supaya Tuhan Yang Maha Kuasa Memberkahi Thianhouw dengan umur panjang agar penghidupan kami makin lama menjadi makin baik."

"Apa benar ?" menegas sang Jungjungan sambil bersenyum.

"Kalau begitu, kami harus berterima kasih kepada kalian semua."

Sehabis berkata begitu, ia membuka surat pengaduan yang berada dihadapannya dan berkata pula : "Sekarang baiklah kita membicarakan pengaduanmu. Kau mendakwa keluarga Ong telah merampas calon menantumu, bukan.....? Secara kebetulan, Tiehu di Paciu telah mengirim orang dengan membawa laporan, yang disertai dengan surat kawin yang ditulis oleh ayah calon menantumu. Laporan Tiehu adalah untuk melawan dakwaanmu."

"Mata Thianhouw Piehee dapat menembus sampai laksaan li," kata Thio Losam.

"Surat kawin itu ditulis oleh besanku karena dipaksa oleh keluarga Ong.”

"Apakah keluarga Ong berpengaruh besar ?"

"Orang yang merampas menantu hamba adalah Ong Kang. Ia mempunyai seorang paman yang pernah menjabat pangkat tinggi."

"Pangkat apa ?"

"Ciu-hu dari kota Paciu."

"Oh begitu ? Kami percaya keteranganmu. Akan  tetapi, dalam memeriksa perkara, orang tak boleh mendengar keterangan sepihak saja. Lie Ciuhu yang sekarang berkuasa dikota Paciu adalah seorang pembesar yang bijaksana. Sekarang kami akan menulis sepucuk surat kepada Lie Ciuhu untuk memerintahkan supaya ia periksa perkaramu sampai seterang-terangnya dan seadil-adilnya. Kau boleh membawa sendiri surat itu dan menyerahkannya kepada pembesar tersebut. Legakanlah hatimu, ia pasti tak akan melindungi okpa (orang jahat yang berpengartih besar) itu. Disamping itu, aku juga memerintahkan supaya isteri Lie Ciuhu menemui calon menantumu dan menanyakan, apa benar ia dipaksa menikah dengan orang lain."

Thio Losam jadi girang bukan main. "Calon menantuku adalah seorang wanita yang putih bersih," katanya, "Sesudah dirampas, ia berkeras menolak kemauan keluarga Ong. Si-orang she Ong juga tahu, bahwa  hamba sedang mengajukan pengaduan dan sebelum perkara ini beres, dia tidak berani terlalu memaksa. Calon menantuku hanya dikurung dalam rumahnya. Baiklah, tindakan Thianhouw Piehee untuk menanya calon menantuku itu, adalah tindakan yang sangat bijaksana."

Sesudah Bu Cek Thian menulis surat, ia segera menyambutnya sambil berlutut dan kemudian berlalu  dari kamar itu.

---o^dwkz^-0-^TAH^o---

SESUDAH mengaso beberapa saat, kaizar wanita itu membalik-balik pula tumpukan surat yang berada diatas meja dan kemudian berkata kepada Thaykam tua itu : "Panggil Tek Jin Kiat."

Mendengar nama itu, Siangkoan Wan Jie terkejut.

Tek Jin Kiat adalah seorang pembesar ternama yang sangat dihormati oleh segenap rakyat dan yang pernah dipuji tinggi oleh Tiangsun Kun Liang.

Pada jaman Kho cong Hongtee, ia pernah menjabat pangkat Tay-lie-sin dan selama satu tahun, ia memeriksa dan membereskan tujuhbelas ribu perkara, antaranya banyak perkara sulit.

Wan Jie kaget tercampur heran, karena seorang yang seperti Tek Jin Kiat sudah rela bekerja dibawah perintahnya Bu Cek Thian. "Biar bagaimanapun jua, tak dapat disangkal dia pandai sekali menggunakan orang," pikirnya,

"Thianhouw Piehee, ada urusan apa memanggil hamba datang kemari ?" tanya Tek Jin Kiat sambil berlutut.

"Duduklah," kata Bu Cek Thian. "Hari ini kami sudah memeriksa beberapa perkara, dengarlah."

Mendengar perkataan sang junjungan, pembesar itu kelihatan kurang senang.

"E-eh, mengapa kau kurang senang ?" tanya Bu Cek Thian.

”Apakah kami sudah memberi putusan yang keliru ?" "Pandangan Thianhouw Piehee terang bagaikan kaca

dan belum pernah membuat kesalahan," jawabnya.

"Kalau begitu, mengapa Tekkeng (menteriku Tek) mengerutkan alis ?" tanya pula kaizar wanita itu.

"Hamba merasa jengkel karena kuatir akan keselamatan Thian-houw Piehee," jawabnya.

"Perkara-perkara yang seperti itu tidak dapat dihitung berapa banyaknya. Apakah Piehee bisa memeriksa semuanya? Hamba dengar Kaizar Giauw dan Sun yang terkenal arif-bijaksana juga tidak mengurus semua pekerjaan."

"Kami mengerti maksudmu yang sangat baik," kata Bu Cek Thian.

"Kami memang harus mempunyai lebih banyak pembantu yang pandai. Kami memanggil kau justru untuk meminta bantuanmu. Cobalah besok Tek-keng periksa perkara-perkara ini."

Sehabis berkata begitu, ia menjumput tumpukan surat-surat itu yang lalu diserahkan kepada Tek Jin Kiat.

"Tek-keng, dalam mengikuti kami melakukan perjalanan ini, apakah kau mendapatkan pembesar- pembesar yang dapat digunakan didalam jabatan-jabatan penting ?" tanya Bu Cek Thian.

"Orang yang duluan dipujikan oleh hamba, belum diberikan tugas yang penting," kata Tek Jin Kiat.

"Siapa ?"

"Thio Kian Cie, Tiang-sie dari kota Kengciu." "Bukankah kami sudah menaikkan pangkatnya jadi Su-

ma dari kota Louwciu ?"

"Thio Kian Cie mempunyai kepandaian dari seorang perdana menteri. Jika Thianhouw Piehee hanya mengangkatnya sebagai Suma dari kota Louwciu, tidaklah dapat dikatakan, bahwa Piehee sudah memberikan tugas penting kepadanya."

Mendengar perkataan menterinya, Bu Cek Thian berdiam sejenak dan kemudian berkata pula : "Hanya sayang usianya sudah terlalu tua."

"Jabatan perdana menteri bukan jabatan semacam pesuruh yang harus dilakukan dengan menggunakan tenaga muda," kata Tek Jin Kiat.

"Mengapa Piehee mempersoalkan tua atau muda, tampan atau jelek ? Walaupun Thio Kian Cie seorang tua yang beroman jelek, tapi ia lebih menang ribuan kali lipat, laksaan kali lipat, daripada kedua saudara Thio Ek Cie dan Thio Ciang Cong."

Mendengar perkataan itu, bukan main kagetnya Wan Jie.

"Tek Jin Kiat benar-benar berani mati," pikirnya. "Ia sudah berani menyindir sang Jungjungan."

Thio Ek Cie dan Thio Ciang Cong adalah dua saudara yang berusia muda, berparas tampan dan pandai menabuh tabuh-tabuhan.

Mereka telah dipanggil masuk kedalam keraton dan diberi pangkat Kong-hong (pelayan atau pesuruh keraton).

Menurut katanya orang, mereka adalah "gula-gula" kaizar wanita itu.

Hal ini pernah disebutkan juga oleh Tiangsun Kun Liang dan dianggap sebagai salah satu kedosaan Bu Cek Thian yang disiarkan oleh mereka yang menentangnya.

Tapi diluar dugaan nona Siangkoan, Bu Cek Thian tidak menjadi gusar.

Ia bersenyum dan berkata : "Thio Ek Cie dan saudaranya mana bisa dibandingkan dengan Thio Kian Cie? Sebab musabab mengapa kami memberikan pangkat Kong-hong kepada mereka adalah karena mereka mengerti seni musik dan dapat memberi hiburan, jika kami sedang jengkel. Kedudukan mereka tidak lebih dari pada dayang keraton. Sekarang kami berusia enampuluh satu tahun dan sudah tak usah memperdulikan lagi segala omongan yang tidak-tidak." "Walaupun begitu, hamba rasa alangkah baiknya jika Thianhouw Piehee menjauhkan diri dari segala manusia rendah dan lebih mendekati manusia-manusia utama (Kuncu)," kata Tek Jin Kiat.

"Terima kasih atas nasehat Tek-keng," kata sang Jungjungan.

"Mengenai Thio Kian Cie, sesudah pulang kekota raja, kami akan menaikkan pangkatnya satu tingkat lagi dan jika ia ternyata seorang pandai, kami tentu akan memberikan pangkat perdana menteri kepadanya."

Sesudah mendapat jaminan itu, barulah Tek Jin Kiat tidak membuka mulut lagi.

"Malam ini kami masih ingin merundingkan suatu urusan yang sangat penting dengan kau," kata pula Bu Cek Thian. "Kau tunggulah."

Baru habis ia berkata begitu, si-Thaykam tua sudah masuk dengan mengajak seorang wanita muda, yang segera memberi, hormat dengan berlutut.

Wan Jie segera mengenali, dia adalah Jie Ie, budaknya Bu Hian Song.

Dengan jantung memukul keras, ia menahan napas karena kuatir kedatangannya diketahui oleh budak yang lihay itu.

"Apa Hian Song turut datang ?" tanya Bu Tiek Thian. "Siocia telah menitip sepucuk surat untuk Thianhouw

Piehee," jawabnya.

"Urusan di Paciu dan digunung Go-bie-san telah diterangkan sejelas-jelasnya-dalam surat ini." Kira-kira seminuman teh kaizar wanita itu membaca surat Hian Song.

Sehabis membaca, ia tertawa seraya berkata : "Ah Hian Songpun kelihatannya ingin menjadi kaizar wanita !"

Tek Jin Kiat kelihatan kaget.

"Tek-keng tak usah kaget," kata pula sang Jungjungan.

"Hian Song adalah keponakan kami sendiri. Ia bukan mau merebut kedudukan kami, tapi ingin merampas kedudukan kaizar tanpa mahkota didalam Rimba Persilatan.”

"Semangat anak itu tidak kecil! Tapi, untuk menjadi pemimpin besar seseorang tidak boleh hanya mengandalkan ilmu silatnya. Pergilah kau memberitahukan perkataan kami kepadanya."

Jie le meng-ia-kan dan berkata : "Siocia sedang mengubar Lie It dan mungkin sekali ia tidak dapat datang di Tiang-an."

Sekali lagi Wan Jie terkejut.

"Tak heran hari itu Hian Song meninggalkan aku," pikirnya. "Kalau begitu, dia mengejar Lie It Koko. Aku harap saja Tuhan melindunginya supaya ia tak sampai dibekuk."

"Apa kau pernah bertemu, dengan Lie It ?" tanya Bu Cek Thian.

"Bertemu, dipuncak Kim-teng, gunung Go-bie-san," jawabnya. "Siocia telah mengadu pedang dengannya. Waktu itu ia baru saja menjadi Beng-cu dari apa yang dinamakan Eng-hiong Tayhwee. Dalam pertandingan itu, ia telah dikalahkan oleh Siocia."

Bu Cek Thian menghela napas. "Tak dinyana, Lie It juga menentang kami," katanya dengan suara perlahan. "Tadinya kami menganggap, bahwa dalam keluarga Lie, dialah yang berpemandangan paling luas." Ia berdiam sejenak dan berkata pula sambil mengangsurkan surat Hian Song kepada Tek Jin Kiat :

"Surat ini membuka kedok dari persekutuan Cie Keng.

Coba kau baca."

Sesudah itu, ia berpaling kepada Jie Ie seraya berkata

: "Pengacauan Hian Song dan kau dipuncak Kim-teng sangat menggembirakan, bukan ?"

"Benar," jawabnya. "Hamba belum pernah berkelahi begitu hebat. Kami menghajar jago-jago itu, sehingga mereka lari lintang-pukang. Sungguh menggembirakan !"

"Nah.........! Untuk jasamu itu kami menghadiahkan secangkir teh," kata sang Jungjungan sambil tertawa.

"Coba kau ceriterakan jalannya pertempuran."

Jie le mengirup teh yang dihadiahkan itu, kemudian menuturkan jalannya pertempuran dengan bersemangat.

Sesudah budak itu selesai dengan ceriteranya, Bu Cek Thian segera berkata : "Kau sudah capai, pergilah tidur. Sekalian keluar, suruhlah mereka membawa kedua perwira pemberontak itu kepadaku."

"Ilmu silat mereka sudah dimusnahkan oleh Siocia, tapi mereka masih galak sekali," kata Jie Ie,

"Kami mau lihat sampai dimana kegalakannya," kata Bu Cek Thian. "Kau pergilah."

Budak itu tidak berani banyak bicara lagi dan sesudah memberi hormat sambil berlutut, ia segera keluar dari ruangan itu.

---o^dewiKZ^0^TAH^o---

BEBERAPA saat kemudian, dua orang Busu menggusur dua perwira pemberontak itu yang kedua tangannya terborgol.

Wan Jie lantas mengenali, bahwa mereka memang benar adalah orang orang yang sudah membunuh Lie Hian.

Sikap mereka angkuh sekali dan sesudah berhadapan dengan Bu Cek Thian, mereka masih berdiri tegak.

Tanpa bicara lagi, kedua Busu itu menendang dan karena sudah tidak memiliki lagi kepandaian silat, dengan serentak mereka roboh berlutut.

"Tak boleh kau berbuat begitu," menegur Bu Cek Thian. "Sesudah kedosaan mereka terbukti, mereka dapat dihukum menurut undang-undang negara."

Mendengar perkataan Bu Cek Thian, kedua perwira itu yang sudah menunggu pukulan-pukulan, mengangkat kepala dan hati mereka bergoncang keras karena melihat sorot mata yang tajam bagaikan pisau, sehingga cacian yang sudah disediakan mereka tidak dapat dikeluarkan. Sambil membalik-balik surat-surat diatas media, Bu Cek Thian berkata dengan suara perlahan : "Apakah kamu Thia Bu Ka yang berpangkat Touw-wie dan Han Eng yang berpangkat Sian-heng-khoa, dibawah perintah Khu Sin Sun?"

"Kalau kau mau bunuh, bunuhlah ! Perlu apa rewel- rewel ?" teriak Han Eng.

Bu Cek Thian tidak menggubris, tapi segera menanya pula dengan suara sabar : "Thia Bu Ka, bukankah kau saudaranya Tayciang-kun Thia Bu Teng ?"

"Seorang laki-laki, berani berbuat berani menanggung- jawab," kata Thia Bu Ka tanpa menjawab pertanyaan kaizar wanita itu.

"Benar....., benar aku yang membunuh anak mustikamu. Aku yang melakukan itu dan tiada sangkut- pautnya dengan orang lain. Kalau kau menyeret-nyeret keluargaku, akupun tidak takut. Namamu akan tercatat dalam sejarah sebagai bu-to hun-kun (raja yang menyeleweng)."

"Benarkah ?" menegas Bu Cek Thian.

"Benarkah tiada sangkut-pautnya dengan orang lain? Apa benar kau melakukan perbuatan itu atas kemauan sendiri, tanpa disuruh orang?"

Ia mengulangi pertanyaan itu beberapa kali sambil menatap wajah Thia Bu Ka dengan sorot mata yang sangat berpengaruh.

Tiba-tiba Bu Ka mendongak dan berkata dengan suara menyindir : "Kau perlu tahu juga ? Baiklah. Orang yang menyuruh aku adalah Khu Sin Sun, Cokim-gouw Tay- ciang-kun yang paling dipercaya olehmu !"

Bu Cek Thian tertawa dingin.

Ia berpaling kepada Tek Jin Kiat seraya berkata : "Tek-keng, tolong kau menulis firman untuk menghibur Khu Sin Sun, supaya ia tidak terlalu memikiri kejadian ini. Katakanlah, bahwa kami sudah memeriksa perkara ini dan sudah terbukti, bahwa pembunuhan itu tiada sangkut-pautnya dengan ia."

Tek Jin Kiat meng-ia-kan sambil membungkuk dan sambil tertawa ia berkata kepada Thia Bu Ka : "Thianhouw mempunyai pemandangan yang sangat tajam. Mana dapat kau memfitnah Khu Tay-ciang-kun. Aku menasehati kau, supaya kau mengaku saja seterang- terangnya."

"Baiklah," kata pula Bu Cek Thian. "Kau mengatakan, bahwa perbuatanmu itu tiada sangkut-pautnya dengan orang lain. Sekarang kami ingin menanya, mengapa kau membinasakan putera kami ? Apakah dia telah melakukan perbuatan yang mencelakakan rakyat ?"

"Yang mencelakakan rakyat adalah kau......!" bentak Thia Bu Ka.

"Kau sudah merampas takhta kerajaan dan  membunuh menteri-menteri setia. Kau membunuh  orang, apa orang tidak bisa membunuh anakmu. ?"

"Kami tidak pernah mencelakakan rakyat, tapi hal ini tak usah diributi sekarang," kata kaizar wanita itu dengan suara sabar. "Tapi andaikata kami berdosa, kedosaan itu tiada sangkut-pautnya dengan putera kami.  Mengapa kau membunuh dia ?" Berkata sampai disitu, Bu Cek Thian naik darahnya dan ia melanjutkan perkataannya dengan suara keras dan gemetar : "Kau menuduh kami sebagai seorang kejam yang sudah membunuh banyak menteri besar. Tapi bagaimana dengan perbuatanmu sendiri.      ? Kamu

sudah membunuh putera kami, tapi sudah berbuat begitu rupa, sehingga menerbitkan dugaan, bahwa kamilah yang sudah menyuruh orang untuk melakukan perbuatan itu, supaya rakyat mencaci kami sebagai seorang ibu yang sudah membunuh anaknya sendiri! Kamu bukan saja sudah membinasakan seorang pemuda yang tidak berdosa, tapi juga sudah menghancur-luluhkan hatinya seorang ibu. Apakah itu bukan perbuatan kejam ?  Jawab

! Dikolong langit, apakah ada perbuatan yang lebih beracun daripada itu ? Hayo jawab!"

Mendengar perkataan Bu Cek Thian yang sangat bernapsu, kedua pembunuh itu tidak dapat mengeluarkan sepatah kata dan mereka menundukkan kepala untuk menyingkir dari sorotan mata yang setajam pisau.

"Thianhouw Piehee jangan terlalu berduka," kata Tek Jin Kiat dengan suara membujuk. "Serahkanlah kedua manusia ini kepada hamba, supaya hamba bisa menjatuhkan hukuman setimpal kepada mereka."

"Hukuman apa yang kau ingin jatuhkan ?" tanya sang Jungjungan.

"Menurut undang-undang negara, hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa juga," jawabnya.

"Untuk orang yang membunuh putera kaizar, hukumannya ditambah setingkat dan dia mesti mati dengan hukuman picis." "Tidak," kata Bu Cek Thian sambil menggelengkan kepala. "Sebelum memeriksa terang, kau sudah menarik kesimpulan. Tak dapat kami menyerahkan perkara ini kepada Tek-keng."

Tek Jin Kiat kaget.

"Maaf, Thianhouw Piehee, hamba belum mengerti akan teguran Piehee," katanya. "Hamba mohon Piehee sudi memberi petunjuk yang lebih terang."

"Sebelum memeriksa dengan saksama, Tek-keng sudah menarik kesimpulan, sehingga dengan begitu, kau bisa berbuat keliru dalam menetapkan hukuman," jawabnya.

"Tapi bukankah mereka sudah mengakui kedosaan mereka ?" tanya Tek Jin Kiat.

"Tapi dalam perkara bunuh sering terdapat dua orang yang berdosa, yaitu orang yang menyuruh dan orang yang disuruh melakukan pembunuh itu," jawab Bu Cek Thian. "Sebelum menjatuhkan hukuman, hal ini harus diselidiki dulu seterang-terangnya."

Sehabis berkata begitu, ia mengirup teh dan berkata pula dengan suara perlahan : "Siapa yang memerintahkan kamu ? Bicaralah terus terang."

Han Eng mengangkat kepalanya dan melirik sang Jungjungan, tapi ia lantas menunduk lagi.

"Jika kamu tidak memberitahukan nama orang itu, kamu tentu akan mendapat hukuman picis," kata pula Bu Cek Thian. "Apa ada harganya untuk kau mewakili hukuman orang lain ? Apa kamu rela ?" "Bicara atau tidak, nasib kami adalah sama juga," kata Thia Bu Ka dengan suara keras. "Tak mungkin kau melepaskan kami."

"Hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang disuruh lebih enteng setingkat dari orang yang menyuruh," kata Bu Cek Thian.

"Jika kamu memberitahukan nama pengkhianat itu, kamu berjasa dan dengan melihat besar kecilnya jasa, hukuman kamu dapat dikurangi lagi. Sesudah kamu memberitahu nama si-penyuruh, kamu tetap akan dihukum, tapi mungkin sekali, kamu akan dibebaskan dari hukuman mati."

"Apa kau bicara sungguh-sungguh ?" tanya Thia Bu Ka.

"Seorang kaizar tidak boleh bicara main-main," jawabnya.

Membunuh putera kaizar adalah kedosaan yang tidak dapat diukur bagaimana besarnya.

Kedua perwira itu sudah menganggap, bahwa diri mereka pasti bakal mati dan mimpipun mereka tak pernah mimpi, bahwa mereka masih bisa terluput dari kebinasaan.

Dengan adanya harapan itu, kenekatan mereka lantas saja hilang.

"Kami sudah dipedayai oleh orang yang menyuruh kami," kata Han Eng dengan suara gemetaran. "Dia mengatakan, bahwa Piehee adalah seorang kejam yang mencelakaan ummat manusia. Tapi sekarang kami mendapat kenyataan, bahwa Thianhouw Piehee seorang yang welas-asih dan sangat mulia."

"Lekas beritahukan namanya orang yang menyuruh kau," kata Bu Cek Thian. "Apa Cie Keng ?"

"Bukan," jawab Han Eng. "Biarpun Gouw-kok-kong ingin memberontak, tapi ia bukan manusia rendah. Orang yang menyuruh kami yalah yalah "

"Siapa ?"

"Thianhouw Piehee tak akan dapat menduga," kata Thia Bu Ka. "Dia adalah Tiong-su-leng Pwee Yam!"

Pada jaman kerajaan Tong, pangkat Tiong-su-leng adalah pangkat yang sangat tinggi dan tiada berbeda dengan seorang perdana menteri.

"Ah.....!" kaizar wanita itu mengeluarkan seruan tertahan. "Benar-benar kami tak pernah menduga. Pwee Yam manis mulutnya dan juga pandai bekerja. Kami sungguh tak pernah menduga, bahwa dia pengchianat. Tapi ada baiknya juga. Bisul yang sudah kelihatan diluar kulit lebih baik daripada penyakit didalam perut".

Ia menengok kepada Tek Jin Kiat dan berkata pula : "Belakangan ini, kamipun merasa ada sesuatu yang luar biasa dalam dirinya Pwee Yam. Hanya kami tak pernah mimpi, bahwa dia begitu jahat. Hmh......, Menteri- menteri banyak yang memuji kami sebagai seorang yang pandai menggunakan orang. Tapi dalam hal ini, kami masih kalah jauh dari Thaycong Hongtee (Lie Sie Bin)!"

"Dari jaman purba sampai sekarang, Thianhouw Piehee adalah Seng-bo (nabi wanita) pertama yang memegang kendali pemerintahan," kata Tek Jin Kiat. "Piehee adalah seorang luar biasa yang mempunyai tanggungjawab yang luar biasa pula. Orang-orang yang menentang Piehee tentu saja lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang yang menentang Thaycong Hongtee. Diantara mereka, ada yang menentang terang- terangan dan ada pula yang masih gelap-gelapan. Maka itu, menurut pendapat hamba, bukan Piehee kalah dari Thaycong Hongtee, tapi karena kedudukan Piehee adalah banyak lebih sukar daripada kedudukan Thaycong Hongtee !"

Sang Jungjungan menghela napas. "Hmh .......! orang yang mengenal kami hanyalah Tek-keng seorang," katanya dengan suara perlahan.

"Hanya sayang Tek-keng seorang she Tek dan bukan she Lie."

Ia berpaling kepada kedua perwira itu seraya berkata pula : "Sesudah membuka rahasia Pwee Yam, kamu berdua membuat pahala yang sangat besar, sehingga oleh karenanya, kami membebaskan kamu dari hukuman mati.........! Ha.......... ! Mengapa Pwee Yam begitu jahat

?"

"Gouw-kok-kong telah bersekutu dengan Pwee Yam yang sudah menyanggupi untuk memberi bantuan dari dalam," kata Thia Bu Ka. "Sesudah tercapainya persekutuan itu, Pwee Yam memerintahkan hamba berdua membunuh Thay-cu, dengan berbuat begitu, pertama Thianhouw Piehee akan dicaci orang, kedua Piehee akan menaruh curiga terhadap Khu Tay-ciang-kun dan ketiga, Piehee akan tidak bisa mengurus negara karena berduka."

Bu Cek Thian tertawa dingin. "Hmh. ! Sekali menepuk dapat tiga lalat" katanya. "Otak Pwee Yam sungguh lihay ! Jika kehilangan anak,

mana ada ibu yang tidak berduka? Tapi kalau Pwee Yam dan Cie Keng berhasil dengan maksud mereka, bakal lebih banyak ibu yang kehilangan anak, lebih banyak rakyat yang akan berduka! Kami tidak dapat menuruti kemauan musuh-musuh kami. Biar bagaimanapun jua, kami akan terus mengurus negara ini. !"

Ia mengucapkan kata-kata itu dengan tegas dan dengan semangat yang bergolak-golak.

Melihat begitu, Siangkoan Wan Jie jadi makin bingung.

"Jika aku membinasakannya, bukankah negara akan diurus oleh orang-orang semacam Pwee Yam?" tanyanya didalam hati. "Apa dia lebih pandai daripada Bu Cek Thian.”

Sementara itu, Bu Cek Thian sudah berkata pula kepada si Thaykam tua : "Bawalah kedua orang itu. Apa yang kau dengar, tak boleh dibocorkan kepada siapapun jua."

Thia Bu Ka dan Han Eng merasa terharu dan malu bukan main.

Dengan bercucuran air mata, mereka manggut- manggut sehingga kepala mereka membentur lantai.

Tiba-tiba Thia Bo Ka berkata dengan suara berkuatir : "Thianhouw Piehee !"

"Ada apa ? Apa kau mau bicara lagi ?" tanyanya. "Harap Piehee suka berhati-hati dengan pembunuh

gelap !" jawabnya. "Apa ? Pwee Yam menyuruh orang untuk membunuh kami ?" tanya pula kaizar wanita itu.

"Bukan, hamba kuatir pembunuh gelap itu sudah berada digedung ini," jawabnya.

"Omong kosong......! Yang berada dalam gedung ini adalah orang-orang kepercayaan kami," kata Bu Cek Thian.

"Biarpun sudah tidak memiliki lagi ilmu silat, hamba masih bisa mendengar, bahwa digedung ini ada seseorang yang bersembunyi," menerangkan Thia Bu Ka.

"Entah dia pengawal Piehee sendiri, entah dia orang jahat. Karena menanggung budi yang sangat besar, maka hamba tidak dapat tidak memperingati Piehee."

"Apa pada waktu masuk kesini, kau sudah merasakan adanya orang itu ?" tanya pula Bu Cek Thian.

"Ya."

"Kalau begitu, dia salah seorang pengawal kami. Jika benar pembunuh, siang-siang dia tentu sudah turun tangan, apapula tadi, kami hanya dikawani oleh seorang dayang. Sudahlah, kau boleh berlalu."

Thia Bo Ka tidak berani banyak bicara lagi dan sesudah memberi hormat, ia dan Han Eng segera mengikuti si-Thaykam tua.

Tak usah dikatakan lagi, bahwa pada waktu Thia Bu Ka memberi laporan, Siangkun Wan Jie ketakutan bukan main.

Sesudah kedua perwira itu berlalu, barulah hatinya jadi lebih lega. ---o^DwKz^0^TAH^o---

DILAIN saat, kaizar wanita itu mengangkat sebuah kaca muka dan mengawasinya mukanya sendiri.

"Ha.....! aku sudah tua," katanya dengan perlahan, sambil mengusap-ngusap rambutnya yang sudah putih separuh.

Sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula : "Tek-keng, bagaimana pendapatmu dengan putusan kami yang barusan. ?"

"Hamba merasa sangat takluk akan pemandangan Piehee yang sangat luas," jawabnya. "Tapi, untuk bicara terus terang, kelonggaran yang tadi diberikan sungguh- sungguh diluar dugaan hamba."

"Kau salah, kami bukan seorang yang selalu longgar," kata sang Jungjungan. "Kami hanya berusaha untuk berlaku seadil-adilnya, tanpa mengingat soal pribadi. Jika yang dihadapi kami adalah soal keselamatan negara dan rakyat, kami dapat berlaku terlebih keras daripada kau. Kami adalah seorang yang satu tangan mencekal kaca muka dan lain tangan memegang cambuk."

Tek Jin Kiat manggut-manggutkan kepalanya. "Memang, dalam mengurus negara, seseorang harus

memegang kaca muka dan cambuk dengan berbareng," katanya.

Bu Cek Thian menghela napas panjang. "Hanya sayang, kami sudah terlalu tua dan orang jahat berjumlah terlalu besar, sehingga kami kuatir kami tak akan dapat melayani mereka," katanya dengan suara berduka.

"Piehee terlalu capai karena bekerja terlalu keras," kata Tek Jin Kiat. "Hamba mengharap Piehee suka menyayang diri sendiri."

"Ya, itulah sebabnya mengapa kami ingin mendapat bantuanmu," kata sang Jungjungan.

"Sekarang kami ingin menyerahkan satu cambuk kepada Tek-keng."

Sehabis berkata begitu, ia segera memerintahkan dayangnya mengambil cambuk itu.

Cambuk itu, yang panjang bentuknya, mengeluarkan sinar emas yang berkilauan.

Sambil berdiri dan mengangkatnya dengan kedua tangan, ia menyerahkannya kepada Tek Jin Kiat.

"Apakah maksud Piehee dengan menyerahkan cambuk ini ?" tanya menteri itu.

"Cambuk emas ini adalah pemberian dari Thaycong Hongtee," menerangkan Bu Cek Thian. "Siapapun jua yang berhadapan dengan cambuk ini seperti berhadapan dengan kami sendiri. Jika ada orang melanggar undang- undang negara, tak perduli dia itu menteri besar atau keluarga-kaizar, Tek-keng boleh menghukumnya dengan menggunakan senjata ini."

Sesudah mendengar penjelasan itu, barulah Tek Jin Kiat berani menerima hadiah itu sambil berlutut. "Biarpun badan hancur dan tulang berserakan, tak dapat hamba membalas budi Piehee yang sangat besar," katanya dengan suara terharu dan berterima kasih.

Kentongan berbunyi beberapa kali, sebagai tanda, bahwa waktu itu sudah lewat tengah malam.

"Apakah Piehee masih ingin memberi pesanan apa-apa kepada hamba ?" tanya Tek Jin Kiat.

"Masih ada suatu hal penting yang kami ingin damaikan dengan Tek-keng," kata sang Jungjungan. "Tek-keng,   malam   ini   aku   merasa   sangat   berduka "

Tek Jin Kiat menghela napas, ia merasa kasihan akan kaizar wanita itu.

Sesudah menghela napas, ia berkata dengan suara perlahan : "Itulah hamba sangat mengerti. Baik juga, Piehee sekarang sudah tahu siapa yang berdiri dibelakang layar"

"Kedukaan kami bukan hanya karena kematian Thaycu," memutus Bu Cek Thian.

"Kami berduka sebab sepak-terjang Lie It. Kami sungguh tak nyana, dia bersekutu dengan Cie Keng dan menentang kami."

"Waktu masih berada di Tiangan, Piehee telah mengangkat Lie Hauw It Ciangkun sebagai Toacong-koan jalanan Yang-ciu dan sekarang panglima perang itu akan segera turun keselatan dengan membawa tigapuluh laksa serdadu," kata Tek Jin Kiat.

"Menurut pendapat hamba, biarpun ditambah dengan satu Lie It, Cie Keng tidak akan bisa berbuat banyak." Bu Cek Thian kelihatan berduka sekali dan ia berkata parau: "Kami bukan kuatir Lie It merampas negara. Apa yang kami kuatirkan yalah, sesudah kami meninggal dunia, kedalam tangan siapa negara ini harus diberikan?"

"Piehee, mengapa mengeluarkan perkataan begitu?" kata Tek Jin Kiat dengan terkejut. "Baik kesehatan, maupun kekuatan otak, Piehee masih sama kuatnya seperti diwaktu muda."

Bu Cek Thian bersenyum dan kemudian berkata : "Tiada manusia yang bisa hidup untuk selama-lamanya. Pada akhirnya, seorang kaisarpun harus berpulang kealam baka. Kita tak usah mempedayai diri sendiri.”

"Sebagaimana keng tahu kami mempunyai empat orang putera. Putera sulung, Lie Hong, telah meninggal dunia karena kesalahan minum racun. Putera kedua, Lie Hian, telah dibinasakan orang. Tapi, andai-kata, ia panjang umur, kami rasa ia tak akan dapat mengendalikan pemerintahan, sebab ia hanya seorang kutu buku yang otaknya tumpul. Putera kami yang ketiga, Lie Tiat, juga bukan pemuda bijaksana dan kami sudah menganugerahkan pangkat Louw-leng-ong kepadanya. Putera yang paling kecil, Lie Tan, masih berusia terlalu muda dan jika dilihat dari sekarang iapun bukan seorang yang mempunyai kepandaian untuk menjadi jungjungan.”

"Menurut pandanganku, diantara keluarga kaizar, hanyalah Lie It seorang yang paling pandai. Aku pernah memikir untuk menyerahkan takhta kerajaan kepadanya dihari kemudian. Tapi, sungguh mengecewakan, bahwa dari sepak-terjangnya yang sekarang, sudah terbukti, bahwa dia dan kawan-kawannya hanya mementingkan diri sendiri, hanya bertujuan untuk merampas negara guna kepentingan pribadi.”

"Hai........! Malam ini aku sungguh berduka. Tek-keng, coba kau bantu memikir, kepada siapa kami harus menyerahkan takhta kerajaan ?"

Mendengar perkataan itu, tak kepalang kagetnya Siangkoan Wan Jie.

Ia tak nyana, bahwa Bu Cek Thian yang dipandang Lie It sebagai musuh terbesar, pernah memikir untuk menyerahkan takhta kerajaan kepadanya. !

Sementara itu, Bu Cek Thian sudah melanjutkan perkataannya: "Keponakan kami, Bu Sam Su, kelihatannya lebih pandai daripada-putera kami yang tolol, biarpun dia bukan seorang yang benar-benar tepat untuk menjadi kaizar. Bagaimana pendapatmu, jika dibelakang hari kami menyerahkan takhta kerajaan kepada keponakan itu ?"

"Keputusan Piehee untuk mengangkat ahliwaris sebenar-benarnya tidak dapat dicampuri oleh hamba," kata Tek Jin Kiat dengan jantung memukul keras.

"Akan tetapi, dalam soal ini hamba mohon Piehee suka memikiri lagi secara lebih saksama. Semenjak jaman purba sampai se-karang, jika putera menjadi kaizar, barulah sang ibu bisa dipuja didalam Thaybio (kuil keluarga kaizar). Sebegitu jauh hamba pernah dengar, keponakan menjadi kaizar, sang bibi mendapat kedudukan didalam Thaybio."

"Tek-keng, dengan mengutarakan pendapat kami itu, kami hanya mementingkan kepentingan negara dan sama-sekali tidak memperdulikan soal keagungan pribadi," kata sang Jungjungan.

"Tapi sedalam-dalamnya Bu Sam Su-pun bukan orang yang tepat. Jika kami dapat bertindak secara bebas, kami sebenarnya ingin mengangkat orang dari lain she ?"

Sambil berkata begitu, ia mengawasi Tek Jin Kiat dengan sorot mata yang berkilat.

Menteri itu terkesiap, buru-buru ia berlutut seraya berkata: "Thianhouw Piehee, hal itu biar bagaimanapun jua tidak dapat dilakukan."

"Mengapa tidak ?"

"Jaman sekarang bukan jaman Kaizar Giauw dan Sun. Pada waktu ini, kebiasaan, bahwa seorang putera harus mewarisi takhta kerajaan dari orang tuanya sudah melekat didalam hati segenap rakyat. Kaizar Giauw boleh menyerahkan takhta kepada Kaizar Sun, tapi Thianhouw Piehee tidak dapat berbuat begitu. Jika Piehee menyerahkan kerajaan Tong kepada yang berlainan she, maka hamba berani memastikan, bahwa didalam negeri kita bakal terjadi peperangan hebat!"

Bu Cek Thian tidak menjawab.

Untuk beberapa lama ia duduk bengong dan kemudian, sesudah menghela napas panjang, ia berkata dengan suara perlahan: "Kami kalah. !"

Sehabis berkata begitu, paras mukanya mendadak berubah, seolah-olah ia menjadi lebih tua sepuluh tahun.

Sebagai seorang yang pintar luar biasa, Tek Jin Kiat mengerti apa maksudnya sang Jungjungan. Ia tahu, bahwa Bu Cek Thian ingin menyerahkan takhta kerajaan kepada dirinya sendiri, tapi dengan beberapa perkataan, ia telah membatalkan keinginan itu. Selama hidupnya, Bu Cek Thian telah mengalami banyak gelombang hebat, tapi ia selalu dapat mengatasinya dan selalu memperoleh kemenangan yang terakhir.

Tapi kali ini, ia tak dapat tidak mengaku kalah.

Ia tak dapat membentantas kebiasaan yang sudah melekat selama ribuan tahun!

Dalam rasa terima kasihnya, didalam hati Tek Jin Kiat terdapat juga perasaan takut.

Ia mengerti maksud Bu Cek Thian, tapi ia berlagak tidak mengerti.

"Thianhouw Piehee, apakah merasa jengkel karena pemberontakan Cie Keng ?" tanyanya.

Sang Jungjungan tertawa terbahak-bahak.

"Cie Keng adalah penyakit dikulit yang tidak cukup berharga untuk dihiraukan," katanya dengan suara dingin.

"Sudah tentu kami harus membendung gerakannya dan siang-siang kami sudah mengambil tindakan yang seperlunya."

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula : "Gerakan Cie Keng tidak dipandang sebelah mata oleh kami, tapi kami dengar Lok Pin Ong juga telah menyatukan diri kedalam gerakan itu. Si-orang she Lok adalah sasterawan yang kenamaan dan kami agak merasa menyesal. Nanti, pada waktu Cie Keng mau menggerakan tentara, surat selebaran yang disiarkan mereka, untuk menghukum kami tentulah juga dikarang oleh Lok Pin Ong. Kami ingin sekali membaca karangannya dan kau harus menyerahkan surat selabaran itu kepada kami."

Sesudah meng-ia-kan, Tek Jin Kiat bertanya : "Apa lagi yang mau dipesan Piehee?"

Biji mata Bu Cek Thian bergerak, seperti d yuga ia mau bicara lagi, tapi ia mengurungkan niatannya. "Tidak ada apa-apa lagi, kau boleh mengaso," katanya. Tek Jin Kiat segera memberi hormat dengan berlutut dan kemudian berlalu dari ruangan itu.

Sesudah Tek Jin Kiat berlalu, si-dayang yang berdiri dibelakangnya segera berkata : ,Thianhouw Piehee, sekarang sudah jauh malam. Mohon Piehee juga mengaso."

"Baiklah," jawabnya. "Pergi bereskan kamar. Sesudah memeriksa sebuah laporan lagi, kami akan segera tidur."

---o^Dw-KZ^0^TAH^o---

DALAM ruangan tersebut, hanya ketinggalan Bu Cek Thian seorang.

Sesudah membaca, ia mengangkat pit dan menulis beberapa huruf diatas surat laporan itu.

Tiba-tiba, ia menghela napas dan melemparkan pit, akan kemudian bangun berdiri dan jalan mundar-mandir diserambi depan. Ia dongak mengawasi rembulan dan berkata dengan suara perlahan : "Hai. ! Sukar sungguh seorang wanita

menjadi kaizar!"

Dengan jantung memukul keras, Siangkoan Wan Jie mencekel sebatang pisau belati.

Ia yakin, bahwa dengan sekali menimpuk, ia sudah bisa membalas sakit hati kakek dan ayahnya.

Jeriji-jeriji tangannya bergemetar dan dalam tempo sekejapan mata, dua macam pikiran yang bertentangan berkelebat-kelebat kali dalam otaknya.

Beberapa kali, sambil menggertak gigi, ia coba mengangkat tangan, tapi tangannya berat luar biasa.

Mendadak terdengar suara Bu Cek Thian yang berkata-kata pada dirinya sendiri : "Hai! Orang yang mengenal kami, merasa kasihan, yang tidak mengenal, membenci kami. Malam ini indah dan sunyi. Kami sungguh ingin mempunyai seorang kawan untuk diajak beromong-omong. E-eh ...........! Siapa itu. ?"

Ternyata, dalam suasana yang sunyi-senyap, suara bernapasnya Wan Jie yang agak tersengal-sengal sudah didengar oleh kaizar itu yang mempunyai kuping sangat tajam !

"Trang.......!", sebatang pisau jatuh dilantai, diikuti dengan melayang turunnya si-nona, yang sudah mencekel pula pisau yang kedua.

"Ah.......! Benar-benar ada pembunuh ..........!" seru Bu Cek Thian dengan suara kaget. Tapi sebagai seorang yang berhati tabah, paras mukanya sedikitpun tidak berubah dan ia menatap wajah Wan Jie dengan sorot mata tajam.

"Apa kau mau membunuh kami ?" tanyanya.

Wan Jie maju setindak dan mengangkat tangannya, tapi tangan itu bergemetar keras dan "trang !",

pisaunya kembali jatuh dilantai.

Bu Cek Thian bersenyum dan berkata dengan suara sabar : "Kau tak usah takut. Mari kita bicara baik-baik. lh..........! Apa kau bukan Siangkoan Wan Jie. ?

Aduh. ! Sudah begitu besar !"

Si-nona kaget bukan main.

Ia ingat, bahwa dulu, diwaktu masih kecil, ia pernah bertemu sekali saja dengan kaizar wanita itu.

Tak dinyana, ia masih mengenalinya.

Sesudah mengawasi muka orang beberapa saat lagi, Bu Cek Thian berkata pula dengan suara girang: "Tak salah.......! Kau memang Siangkoan Wan Jie, yang tangannya mencekel timbangan untuk menimbang ummat manusia dikolong langit. !"

Ia berkata begitu, karena pada malaman Wan Jie mau dilahirkan, ibunya mimpi dihadiahkan sebuah timbangan oleh satu malaikat, yang mengatakan, bahwa anak yang akan dilahirkan itu dihari kemudian akan menjadi penimbang ummat manusia.

Hal itu telah tersiar luas dalam istana, sehingga sampai sekarang Bu Cek Thian masih mengingatnya.

"Tak usah kau tanya, mengapa aku mau membunuh kau !" kata Wan Jie dengan suara gusar. "Baiklah, mari kita duduk dan omong-omong sedikit," mengundang Bu Cek Thian.

Wan Jie tidak bergerak, kedua matanya menatap wajah Bu Cek Thian.

"Ah......! Hatimu tidak tenteram, bukan....?" tanya Bu Cek Thian.

"Kalau kau ingin berdiri terus, berdirilah.......! Kami membunuh kakekmu dan membunuh juga ayahmu, sehingga kau menganggap kami sebagai musuh besar, bukan ?"

Nona Siangkoan maju setindak dan berkata dengan suara menyeramkan : "Kau coba memperpanjang waktu untuk memanggil pengawalmu. Aku mengerti segala siasatmu. Aku bicara terang-terang, dengan sekali menggerakkan tangan aku dapat membunuh kau."

"Kau begitu takut ?" tanya Bu Cek Thian dengan suara tawar.

"Aku ingin ajukan sebuah usul. Tutup dan kuncilah pintu. Untuk sementara waktu, kami rela menjadi persakitan dan kau boleh mengadili kami."

Wan Jie lantas saja menghampiri pintu dan selagi menutupnya, kedua matanya tetap mengawasi kaizar itu.

Bu Cek Thian bersenyum seraya berkata: "Kami menunggu kedatangan-mu !"

"Baiklah," kata si-nona. "Sekarang aku mau tanya. Aku tahu, bahwa kakekku seorang putih-bersih dan iapun seorang penyair yang terkenal. Mengapa kau membunuhnya ?"

"Benar, kakekmu memang pandai bersyair dan diantara penyair-penyair pada jaman ini, ia terhitung salah seorang yang terkemuka," kata kaizar wanita itu. "Sebagai manusia, ia memang bukan manusia rendah, tapi juga bukan manusia baik !"

"Aku tidak mengerti omonganmu !" kata Wan Jie dengan gusar.

"Kau sudah mengakui, ia bukan manusia rendah, tapi mengapa kau kata, ia bukan manusia baik ?"

Bu Cek Thian tertawa.

"Ukuran untuk mengukur baik atau jahat tidak terlalu sederhana," katanya.

"Jika seseorang melakukan sesuatu yang baik untuk orang banyak, ia adalah manusia baik. Apa kau tahu, apa yang sudah dilakukan oleh kakekmu?"

"Sebagai seorang yang putih-bersih dan jujur, ia pasti tak akan melakukan sesuatu yang tidak baik," jawab nona Siangkoan.

"Benar...., secara sadar iapun tidak merasa, bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan jahat," kata Bu Cek Thian.

"Tapi pada hakekatnya, perbuatan itu merupakan suatu kejahatan. Ia tidak suka kami mencampuri urusan negara. Ia berusaha untuk mempengaruhi mendiang kaizar supaya kami ditendang, bahkan firmanpun sudah ditulis olehnya. Rencana firman itu yang ditulis olehnya kami dapat memperlihatkan kepadamu. Ia juga menggosok-gosok putera kami supaya melawan kami dan ia malah berani menyembunyikan tentara di Tong- kiong untuk membunuh kami.

Bukti-buktinya nanti bisa dilihat dengan kedua matamu sendiri.

Ia telah membuat sebuah persekutuan untuk merubuhkan kami.

Ia mencaci kami dan mengatakan, bahwa kami tidak boleh mengurus negara.

Kami tahu sebab-musabab yang sebenarnya dari perlawanan orang-orang semacam kakekmu.

Sebab musababnya yalah tindakan-tindakan kami mementingkan kepentingan rakyat dan tidak mengutamakan kepentingan golongan mereka.

Kami telah menghapus hak-hak luar biasa dari kaum bangsawan, kami telah mengubah segala peraturan kolot, kami tidak mengakui, bahwa negara ini adalah milik satu keluarga atau orang dari satu she !"

Makin bicara Bu Cek Thian jadi makin bernapsu dan suaranya jadi makin keras dan tajam.

"Mereka mengatakan kami tidak boleh mengurus negara," katanya pula.

"Tapi rakyat tidak menentang kami dan kami terus mengurus sampai tigapuluh tahun lebih. Kami tak berani mengatakan, bahwa pengurusan kami sudah cukup baik, tapi sedikitnya kami tak usah kalah dengan orang lelaki.

Kakekmu adalah seorang penyair yang dipiara didalam keraton.

Syairnya cukup baik, hanya pandangannya terlalu sempit.

Apa dia tahu bagaimana rakyat hidup sehari-hari? Apa dia tahu apa yang dipikir rakyat ?

Kau baru saja berkelana diluaran.

Coba katakan, apakah rakyat menentang atau menunjang kami ?"

Siangkoan Wan Jie tak dapat menjawab.

Bayangan si-penjual teh, bayangan Thio Losam dan bayangan orang-orang yang pernah ditemuinya, berkelebat-kelebat didepan matanya.

Itu semua bukan khayal, tapi kenyataan yang sesungguhnya.

Kupingnya seolah olah mendengar pula perkataan si- penjual teh dan Thio Losam: "Kami hanya mengharap Thianhouw Piehee berumur panjang!"

Sementara itu. Bu Cek Thian sudah berkata pula : "Kami tak suka main tedeng-tedeng. Kami mengakui,

bahwa kami adalah dari keluarga miskin. Ayah kami adalah seorang pedagang kecil, seorang penjual kayu. Kami pernah jadi dayang dalam keraton, pernah jadi pendeta dan pernah jadi selir dari ayah dan anak. Mungkin sekali didalam hati, kau tengah mencaci kami sebagai perempuan yang tak tahu malu. Tapi apakah ini kesalahan kami ? Apakah penindasan terhadap kaum wanita yang sudah berjalan ribuan tahun, masih belum cukup ? Tapi kami alot sekali. Biarpun dicaci dan disumpahi, kami tidak mati-mati. Kami berhasil merampas kekuasaan dan menjadi kaizar wanita pertama dibenua Tiongkok ! Semula kami hanya ingin melampiaskan penasaran kaum wanita, tapi belakangan kami merasa, bahwa yang penasaran bukan hanya kaum wanita, tapi juga kaum pria, yaitu rakyat jelata yang telah di-ilas-ilas selama berabad-abad. Kami telah mengadakan peraturan pembagian sawah dan membuka ujian-ujian untuk orang-orang yang pandai, supaya rakyat jelata yang memiliki kemampuan bisa memperoleh juga kesempatan untuk menjadi pembesar negeri. Kami menghapus kebiasaan kolot, kapan jabatan pembesar negeri diborong oleh kaum bangsawan dan kaum yang beruang. Kami malah mempermisikan rakyat datang dikota raja untuk meng-adu langsung kepada kami, jika mereka dipersakiti. Apakah kau bisa memberitahukan kami, tindakan-tindakan kami yang mana, yang tidak baik ?"

Siangkoan Wan Jie jadi bingung sekali.

Ia harus mengakui, bahwa apa yang dikatakan Bu Cek Thian adalah hal yang sebenarnya.

Ia harus mengakui, bahwa semua tindakan itu adalah tindakan yang tepat.

Tapi, tapi Bu Cek Thian adalah musuh besar yang sudah membunuh kakek dan ayahnya.

Mana bisa sakit hati yang begitu hebat disudahi dengan begitu saja ? Jantungnya memukul keras, keringat dingin mengucur dari badannya dan ia tetap membungkam.

Sesudah mengaso sebentar, Bu Cek Thian melanjutkan perkataan-nya :

"Pandangan kakekmu terlalu sempit, angan-angannya terlalu besar. Ayahmu adalah kutu-buku yang tolol. Ia ingin menjadi seorang yang 'tiong' (setia kepada raja) dan 'hauw' (berbakti kepada orang tua) secara tolol. Ia menuruti saja perkataan kakekmu secara membabi-buta. Ia menganggap, bahwa jika berhasil membinasakan aku, ia akan menjadi menteri setia dan jempolan dari kerajaan Tong. Maka itu, ayah dan anak bersekutu untuk merobohkan kami. Pemimpin mereka seorang menteri besar yang bernama Tiangsun Bu Kie. Mereka katanya ingin membangunkan kembali Kerajaan Tong, tapi tujuan mereka yang sebenar-benarnya yalah, tanpa memperdulikan nasib rakyat, mereka ingin mengubah dunia menjadi dunia mereka. Kami tidak dapat mengijinkan mereka berbuat begitu dan dengan terpaksa, kami sudah membinasakan mereka. Sekarang kami sudah memberi penjelasan seterang-terangnya, sehingga, jika kau masih berpendapat, bahwa kami bersalah, jemputlah pisaumu dan tancapkan didada kami!"

Wan Jie berdiri terpaku, paras mukanya pucat-pias. "Pikiranmu sangat kalut, bukan ?" tanya kaizar wanita

itu dengan suara sabar.

"Kau belum dapat mengambil keputusan, bukan ? Baiklah, aku memberi lain kesempatan kepadamu. Kau berdiamlah disini, mengawani kami. Kami akan menghadiahkan kau dengan sebatang pisau yang sangat tajam. !"

Sehabis berkata, ia mencabut sebatang pisau yang sinarnya berkilauan. !

Wan Jie terkejut dan melompat mundur.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 06"

Post a Comment

close