Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 02

Mode Malam
 
TIBA TIBA The Un membalik badan dan mengeluarkan rintihan perlahan.

Paras muka Tiangsun Kun Liang kelihatan berduka sangat, karena ia tahu, bahwa bergeraknya orang tua itu adalah se-olah2 api lilin yang mendadak terang sebelum padam sama-sekali.

la berpaling kepada Wan Jie dan memerintahkan si- nona untuk membangunkan orang tua itu. Buru2 Wan Jie memasukkan surat Bu Cek Thian kedalam sakunya dan melakukan apa yang diperintah. Per-lahan2 The Un membuka kedua matanya. "Thian- houw Piehee (panggilan untuk seorang kaizar wanita), hambamu telah menyia2kan kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya," katanya dengan suara berbisik.

"Hmm. ! Tempat apa ini ?"

"The-heng, aku berada disini, ber-sama2 kau," kata Tiangsun Kun Liang.

The Un membuka matanya terlebih lebar dan untuk beberapa lama mengawasi tuan rumah.

Tiba2, entah mendapat tenaga dari mana, ia mencekal tangan Kun Liang dan berseru dengan menggunakan sisah tenaganya : "Tiangsun-heng, kita berdua sama2 salah."

Tiba2 The Un membalikkan badan dan mengeluarkan rintihan perlahan. Paras muka Tiangsun Kun Liang kelihatan berduka sangat, karena ia tahu, bergeraknya Orang Tua itu adalah se-olah2 api lilin yang mendadak sebelum padam sama sekali. Kun Liang terkesiap. "Salah apa ?" tanyanya.

The Un melepaskan cekelannya dan dengan kedua tangannya, ia menekan pinggiran ranjang untuk meminjam tenaga.

"Kita tak pantas menentang Thianhouw !" katanya. "Sekarang baru aku tahu, bahwa tugas memerintah

negara yang sangat berat, hanya dapat dipikul oleh seorang sebagai Thian-houw !"

Kun Liang menatap wajah sahabatnya dengan mata membelalak.

Hampir2 ia tak percaya kupingnya sendiri. "Tiangsun-heng,..” kata pula The Un.

"Aku tahu, bahwa ajalku sudah hampir tiba. Aku hanya ingin mengajukan satu permintaan kepadamu."

"The-heng, katakan saja !" jawabnya. "Biarpun mesti masuk kedalam lautan api, aku pasti tak akan menolak. Legakanlah hatimu."

The Un bersenyum, ia kalihatannya puas sekali.

"Kalau begitu kau sudah meluluskan, bukan ?" tanyanya.

Kun Liang mengangguk dengan perasaan terharu. "Permintaanku yalah supaya kau suka datang dikota

raja dan memberi bantuan kepada Thianhouw Piehee,"

kata The Un.

"Thian-houw tak pernah melupakan kau. la mengatakan, bahwa kau adalah seorang pandai, hanya sayang pemandanganmu terlalu sempit. Tapi tak apa. Jika kau sudi berdampingan dengannya, per-lahan2 kau akan tersadar."

Mendadak saja, Tiangsun Kun Liang merasa dadanya sesak.

Jika The Un bukan sahabat lama dan kalau dia bukan seorang yang sudah mendekati ajal-nya, ia tentu sudah mencaci-maki.

la mengawasi wajah sahabat itu yang penuh dengan sorot memohon.

la menggigit bibir untuk menahan napsu dan sesaat kemudian berkata dengan suara sabar : "Tadinya aku duga kau ingin minta supaya membalas sakit hatimu.  Apa kau tahu, siapa yang telah membunuh kau ? Tak lain daripada Thian-houw Pieheemu !"

"Tidak !......... tidak!........." teriak The Un dengan menggunakan seluruh sisa tenaganya.

"Walaupun kau membunuh aku, aku tak percaya. Tiangsun-heng, apa benar2 kau masih kukuh dan menolak permintaanku ? Aku...... aku...... aku akan mati dengan mata melek !........." Napasnya memburu dan ia melepaskan napasnya yang penghabisan dengan kedua mata terbuka lebar !

Kun Liang menghelaa napas. panjang.

"The-heng, kau betul2 mati penasaran!" katanya. "Kau masih tak tahu, siapa sebenarnya musuhmu ! Pada saat mau ber-pulang kealam baka, kau jadi linglung."

Tapi Siangkoan Wan Jie berpendapat lain.

la yakin, bahwa pada saatnya yang terakhir, otak orang tua, itu masih bekerja baik. Dan sekarang, ia sendirilah yang jadi seperti orang linglung.

Barusan saja, teka-teki yang mengeram dalam otaknya selama tujuh tahun, telah dijawab, atau sekarang muncul pula lain cangkeriman yang lebih sulit.

Siapa Bu Cek Thian ?

Dia orang baik atau manusia jahat ?

Mengapa, waktu mau melepaskan napas yang penghabisan, sebaliknya dari memikiri keluarganya sendiri, The Un malah memikiri kepentingan Bu Cek Thian?

Cara bagaimana Bu Cek Thian dapat menaklukkannya sampai begitu rupa ?

Biar bagaimanapun juga, seseorang yang mendapat cintanya seorang lain sampai begitu besar, mesti memiliki apa2 yang bagus.

Tapi, menurut pamannya, Bu Cek Thian adalah memedi perempuan dan terlebih hebat lagi, dia adalah manusia yang telah membunuh kakek dan ayahnya.

Jika Bu Cek Thian seorang baik, apakah kakek dan ayahnya manusia2' jahat ?

Tidak !

Ia ingat paras muka yang welas-asih dari kakek dan ayahnya.

la ingat pujian2 yang pernah dilimpahkan kepada kedua orang tua itu. Mengenai paman Tiangsun, sesudah menumpang tujuh tahun lamanya, ia yakin se-yakin2nya, bahwa sang paman adalah seorang yang sangat mulia hatinya.

Jika ada orang mengatakan, bahwa Tiangscen Kun Liang manusia jahat, sampai mati, ia tak akan percaya.

Demikianlah, macam2 pikiran yang bertentangan satu sama lain ber-kelebat2 dalam otak si-nona.

Sementara itu, sesudah menghela napas ber-ulang2, Tiangsun Kun Liang berkata dengan suara menyesal: "Memang, memang kalau negeri mau musnah, lebih dulu muncul segala siluman.

Hai.......! Sesudah bertempur ditimur, dibarat, diselatan dan diutara, barulah Thaycong Hongtee dapat membasmi delapan belas raja muda dan mendirikan kerajaan Tong. Tak nyanya, kerajaan yang telah didirikan dengan begitu susah-payah, telah dihancurkan dengan begitu saja dalam tangan Bu Cek Thian.

Huh-huh.....! Aku adalah menteri besar dari Siantee (mendiang kaizar), mana boleh aku menekuk lutut dihadapan perempuan siluman ?

Aku sungguh menyesal....., sungguh menyesal untuk sepak-terjang Thaycong Hongtee.

Diwaktu muda begitu arif bijaksana, sudah tua dipengaruhi Bu Cek Thian !"

"Pehpeh. ," kata Wan Jie.

"Aku dengar, Bu Cek Thian pernah menjadi selirnya Thay-cong Hongtee. Apa benar ?"

"Mengapa tak benar ?" kata sang paman. "Waktu baru masuk kekeraton, ia diangkat sebagai Cayjin.

Tak lama kemudian, Thaycong Hongtee wafat dan bersama sejumlah selir lainnya, ia dikirim kekuil Kam-in- sie dan dijadikan Niekouw (pendeta wanita ).

Entah hagaimana, Khocong Hongtee telah melihatnya dan kemudian mengambilnya dari kuil itu. Sekali lagi ia masuk dikeraton dan diangkat sebagai Ciauw-gie.

Khocong adalah puteranya Thaycong.

Bahwa seorang putera mengambil bekas selir ayahandanya, merupakan salah-satu kejadian busuk dalam keraton. Waktu itu aku masih menjabat pangkat dan kejadian itulah yang sudah mendorong aku untuk mengajukan permintaan berhenti dan pulang kekampung halaman sendiri."

la berdiam sejenak dan kemudian berkata pula : "Masih tak apa, jika Khocong Hongtee memperlakukannya sebagai seorang selir biasa. Tapi lancur sungguh, kaizar telah menyerahkan kekuasaan besar kedalam tangan perempuan itu. Chia-kiong Nio-nio (permaisuri kaizar) dipecat dan dia diangkat sebagai gantinya. Sekarang ini, negara kita seolah-olah sudah menjadi miliknya orang she Bu."

"Diwaktu kecil, aku pernah mendengar penuturan thia- thia, bahwa Ong Honghouwlah yang iebih dulu coba mencelakakannya," kata si-nona.

"Benar, sebab Ong Honghouw sudah melihat, bahwa perempuan itu haus akan kekuasaan," jawabnya. "Honghouw berdaya untuk menyingkirkannya, tapi sayang, cara yang digunakan terlalu tolol.

la percaya obrolan beberapa busu dan coba membinasakan lawannya dengan menggunakan guna2.

Ia membuat sebuah anak-anakan kayu, yang diandaikan sebagai Bu Cek Thian dan yang kemudian ditempelkan surat jimat serta dibacakan mantera.

Lacur bagi Honghouw, hal itu sudah diketahui Bu Cek Thian yang belakangan berhasil menangkapnya dengan segala bukti2.

Sebagai hasilnya, Khocong dapat dibujuk untuk memecat permaisurinya."

Sesudah berdiam beberapa saat, orang tua itu meneruskan penuturannya: "Kekejaman Bu Cek Thian tak dapat dipersamakan dengan manusia biasa. Karena menentang dia, dia tega untuk meracuni anaknya sendiri. Thaycu yang mati lantaran racun, adalah Lie Hong, puteranya yang sulung. Lie Hian, yang dipecat dari kedudukan Thaycu dan diasingkan di Pa-siok, adalah putera kedua. Putera ketiga, yaitu Lie Tiat hanya beberapa hari menjadi kaizar sebelum dipecat dan dibuang ke Louwciu sebagai raja muda Louw-leng-ong. Anak yang sekarang masih berdampingan dengan dia, adalah Lie Tan, putera keempat. Menurut pendengaranku, Lie Tan telah dianugerahi gelaran raja muda Ek-ong dan untuk bisa menjadi ahliwaris takhta kerajaan, ia harus menukar she menjadi she Bu. Sepak- terjang Bu Cek Thian benar2 kurang ajar ! Semenjak dia memegang kekuasaan, dia telah membunuh tiga-puluh enam menteri besar. Saudara sepupuku, Tiangsun Bu Kie, kakek dan ayahmu semua dibunuh atas perintah iblis perempuan itu."

Sebagian besar kejadian2 itu sebenarnya sudah didengar oleh nona Siangkoan.

Akan tetapi, waktu pamannya menutur, ia mendengari, dengan hati berdebar-debar.

Berdasarkan penuturan itu, tak dapat tidak, ia menarik kesimpulan, bahwa Bu Cek Thian manusia jahat.

Bunyi surat dan kata2 The Un tidak cukup kuat untuk melawan kesimpulan itu.

Maka itulah sambil mengawasi muka sang paman, ia lalu berkata dengan suara tetap : "Sesudah mendengar keterangan Pahpeh, aku pasti akan membalas sakit hati yang sangat besar itu, dengan tangan sendiri."

Sang paman bersenyum seraya berkata dengan suara terharu: "Bagus. ! Kau berangkatlah sekarang !"

Si-nona lalu berlutut empat kali dihadapan orang tua itu dan kemudian, dengan air mata bercucuran, ia keluar dari pintu belakang dan terus turun gunung.

Beberapa kali ia berhenti dan dengan hati seperti di- iris2 ....... ia memandang rumah pamannya, dimana ia pernah menumpang selama tujuh tahun.

Waktu itu, Tiangsun Thay bersama adiknya sedang menggali tanah untuk mengubur jenazah Lie Goan.

Menurut pantas, ia harus berpamitan dengan kedua saudara itu yang telah membuang banyak budi kepadanya. Akan tetapi, ia mengambil keputusan untuk tidak menemui mereka lagi, karena suatu pertemuan untuk berpisahan pasti akan menimbulkan lebih banyak kesedihan.

Dengan menahan rasa dukanya, ia lalu mempercepat tindakannya meninggalkan Kiamkok.

---o~dw;kz^0^Tah~o---

WAKTU itu adalah Shagwee (Bulan ketiga), kapan seluruh gunung ditutup dengan warna hijau yang sangat indah.

Tujuh tahun lamanya si-nona hidup menyembunyikan diri diatas gunung dan belum pernah ia melihat pemandangan alam yang sedemikian permai.

Dengan rasa kagum, ia memandang keadaan diseputarnya dan hatinya yang pepat agak menjadi lega.

la melihat puncak2 yang menjulang kelangit, solokan2 yang airnya bening bagaikan kaca dan sawah yang ber- tingkat2.

Dari sana-sini terdengar suara nyanyian nona2 pemetik daun teh.

Di-sawah2 yang sedang dikerjakan, bocah2 nakal pada bermain lumpur, diantara petani yang tengah memacul atau meluku dengan kerbaunya. Pemandangan itu sungguh memperlihatkan suasana yang tenang-tenteram.

Sesudah berjalan beberapa lama, Wan Jie bertemu dengan sebuah warung teh.

Karena haus, ia berhenti dan minta semangkok teh.

Si-penjual teh adalah seorang tua yang sudah berambut putih, tapi masih sangat bersemangat.

"Nona datang dari kampung apa ?" tanyanya seraya bersenyum.

"Dari Kay-goan," jawabnya.

"Aku ingin pergi ke-Pa-ciu untuk meneagok pamili." "Tak heran aku tidak mengenal nona, tak tahunya

orang dari lain tempat," kata pula si-kakek. "Dalam dua tahun ini memang sangat aman.

Dulu, tak nanti ada seorang wanita yang berani keluar rumah seorang diri."

Hati si-nona tergerak. la turut bersenyum dan berkata

: "Jika aku tidak salah menafsirkan perkataan Lo-tiang, keadaan sekarang sudah banyak lebih baik daripada dulu."

"Terlalu baik juga tidak," kata orang tua itu.

"Tapi untuk menangsal perut dengan nasi dingin atau menghilangkan dahaga dengan air teh kasar, orang  boleh tak usah kuatir lagi. Hm.....! Aku sudah tua, asal bisa makan sehari dua kali, aku sudah merasa puas. Keadaan sekarang memang banyak lebih baik daripada duluan." Si-nona tertawa. "Dengan mengatakan begitu, bukankah Lo-tiang maksudkan, bahwa kaizar wanita yang sekarang ada banyak lebih baik daripada kaizar pria

?" tanyanya.

Si-kakek turut tertawa. "Bukankah memang benar begitu ?" katanya.

"Dikampung kami ada sejumlah sasterawan yang mencaci-maki kaizar sekarang. Tapi para petani siang- malam berdoa supaya Tuhan memperpanjang usia kaizar."

"Mengapa begitu ?" tanya Wan Jie.

"Kami, rakyat jelata, tak menghiraukan siapa yaag menjadi kaizar, lelaki boleh, perempuan pun tak halangan," menerangkan si-tua.

"Apa yang diharapkan rakyat adalah penghidupan yang lebih baik. Kalau bisa makan lebih kenyang dan bisa berpakaian lebih baik, rakyat sudah merasa puas."

Wan Jie mengangguk sebagai tanda setuju terhadap pendapat kakek itu.

"Dulu, untuk seratus kati gabah, orang harus membayar cukai sebanyak tiga gantang," ia melanjutkan penuturannya. "Tapi sekarang, hanya segantang setengah, yang mana berarti kurang separuh. Tapi yang paling menggembirakan adalah dijalankannya peraturan yang melarang si-kaya berbuat se-wenang2. Di-ini waktu, rakyat yang paling miskin masih bisa mendapat pembagian sawah, sehingga seorang yang berani bekerja, sudah pasti tak akan kelaparan." Waktu Tong-thay-cong baru naik diatas takhta, telah diadakan peraturan pembagian sawah. Sebab pada jaman itu tanah sangat luas dan jumlah manusia masih agak sedikit, maka setiap orang lelaki yang berusia diatas delapanbelas tahun, bisa mendapat seratus bauw sawah. Delapanpuluh bauw merupakan "milik sementara", sedang yang duapuluh bauw "milik tetap ". Sesudah si- pemilik meninggal dunia, duapuluh bauw "milik tetap" turun kepada anak cucunya, sedang yang delapanpuluh diambil pulang oleh negara untuk dibagikan kepada yang lain.

Tapi sesudah lewat sekian tahun, peraturan itu tidak dijalankan sebagaimana mestinya dan akhirnya jadi menyeleweng. Belakangan, sebab sawah2 boleh dijual belikan secara merdeka, maka sawah2 "milik tetap" dari para petani miskin banyak sekali yang dibeli secara paksa oleh kaum beruang dan berkuasa.

Begitu lekas memegang tampuk pimpinan negara, Bu Cek Thian segera bertindak dan melarang jual-beli sawah. Disamping peraturan lama, ia menambahkan peraturan baru, yaitu setiap janda bisa mendapat tigapuluh bauw sawah "milik tetap".

Maka itulah, dalam seluruh masa kerajaan Tong, jaman Bu Cek Thian adalah jaman paling makmur bagi kaum petani.

Sementara itu, mendengar penuturan si-kakek, Wan Jie jadi kaget dan duduk bengong tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.

Si-penjual teh tertawa dan berkata pula : "Dengan adanya kaizar wanita, nona2 sekarang boleh merasa girang." "Mengapa begitu ?" tanya Wan Jie. "Apakah karena seorang wanita duduk diatas takhta, seantero orang perempuan turut mendapat keuntungan ?"

"Memang, memang begitu," kata si-tua. "Nona, apa kau belum tahu ? Menurut katanya guru2 sekolah dikampung kami, Thian-houw telah mengeluarkan firman, bahwa wanita yang berkepandaian juga bisa menjadi pembesar negeri. Orang banyak mengatakan, tak lama lagi bakal diadakan ujian untuk kaum wanita. Gadis2 dusun sekarang sudah pada ribut, ingin bersekolah, supaya dihari kemudian bisa turut dalam ujian negeri.

Kaum sasterawan menghela napas panjang-pendek dan meng-geleng2kan kepala. Dulu, nabi dan pujangga kita mengatakan, bahwa wanita yang mulia adalah wanita yang bodoh, kata mereka. Tapi sesudah Bu Cek Thian menjadi kaizar, langit dan bumi terbalik. la malahan membalikkan ujar nabi dan pujangga kita. Masih ada lagi. Dulu, suami menggebuk isteri adalah kejadian yang biasa saja. Sekarang.....? Kaum perempuan timbul sombon-nya ! Mereka menganggap, bahwa karena wanita sudah bisa menjadi kaizar, keduciukan wanita sedikitnya sama tinggi dengan pria dan mereka sungkan dihina lagi oleh kaum lelaki. Maka itu, selama dua tahun yang belakangan ini, dikampungku jarang sekali terjadi peristiwa suami menghajar isteri."

Si-nona tertawa geli. "Kalau begitu, kaum terpelajar dikampungmu merasa penasaran sekali, bukan ?" tanyanya.

"Tentu saja" jawabnya. "Bukan saja kaum sasterawan, orang2 yang tidak terpelajar pun merasa tak puas." "Dan bagaimana dengan isterimu sendiri ?" tanya Wan Jie.

Si-kakek tertawa ter-bahak2. "Kawan hidupku sudah tak ada lagi dalam dunia," katanya. Sehabis berkata begitu, paras mukanya bersorot duka. "Disamping itu, selama dia hidup, belum pernah aku berkelahi dengannya."

Si-nona mengirup teh dan sesaat kemudian, ia menanya lagi: "Lo-tiang, apa ada lain hal yang dibuat bahan cacian oleh kaum terpelajar dikampungmu ?"

"Banyak, banyak sekali" jawabnya. "Tapi yang terhebat adalah dua rupa hal, yang pertama Bu Cek Thian dicaci sebagai perempuan cabul. Menurut istilah kaum terpelajar, ia katanya "mengotorkan keraton". Tapi menurut bahasa orang kampung, ia 'piara lelaki'. Yang kedua, dia dikutuk sebagai manusia sangat kejam, yang membunuh sesama manusia secara membabi-buta."

Paras muka Siangkoan Wan Jie lantas saja berubah merah. la mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata.

"Apa Bu Cek Thian piara lelaki atau tidak, aku tak tahu," kata pula si-tua. "Tapi sekarang kaum petani mempunyai lain bahan perundingan."

"Bahan perundingan apa ?" tanya si-nona.

"Dulu, kaizar lelaki mempunyai Sam-kiong Liok-ih (Chiakiong, Tongkiong, Seekiong dan enam selir) dan sejumlah besar dayang'," jawabnya. "Setiap tiga tahun sekali, diadakan pemilihan Siu-lie (Siu-lie berarti wanita cantik yang harus dikirim kekeraton kaizar). Ha ! Setiap kali pemilihan Siu-lie, celaka orang kampung ! Para orang tua buru2 menikahkan putera2nya dan harus merogo saku untuk menyuap pembesar2 rakus. Maka itu, menurut anggapan sebagian orang, keadaan sekarang banyak mendingan daripada dulu. Maka bagaimanapun juga, Bu Cek Thian belum pernah mengadakan pemilihan Siu-lam (lelaki tampan)."

Siangkoan Wan Jie terkejut. Baru sekarang ia tahu, bahwa jalan pikiran rakyat jelata berbeda jauh dengan jalan pikiran kaum terpelajar, antaranya paman Tiangsun dan ia sendiri.

"Mengenai kekejamannya dalam membunuh manusia secara membabi-buta, aku dengar, orang2 yang dibinasakannya yalah anggauta2 keluarga kaizar dan pembesar2 tinggi," kata pula si-kakek.

“Kejadian ditempat lain, kutak tahu. Tapi ambillah contoh dikota kami. Selama beberapa tahun, dikota ini belum pernah terjai perkara2 penasaran, dimana seorang rakyat baik2 dibunuh secara se-wenang2. Hanya pada tiga tahun berselang, seorang pembesar rakus Can Po Pie si-tukang beset kulit, telah dihukum mati oleh Thian- houw.”

Semakin mendengar cerita situa, Wan Jie jadi semakin bingung.

Waktu ia keluar dari kedai teh itu, otaknya pusing karena adanya suau pertanyaan yang tidak terjawab : "Apa Bu Tek Thian manusia baik atau manusia jahat ? "

Akan tetapi, begitu mengingat sakit-hati kedua orang- tuanya, darahnya lantas saja me-luap2 dan sambil mengertak gigi, ia meneruskan perjalanannya.

---o^^dwkz^0^Tah^^o--- DEMIKIANLAH, diatas jalanan gunung yang menghubungkan Kiam-kok dan Pa-ciu, diantara pemandangan alam yang sangat indah, nona Siangkoan jalankan keledainya per-lahan2 dengan kepala menunduk dan acapkali menghela napas. Ia membeli tunggangan itu disebuah kota kecil dan selama tiga hari, perkataan2 si-penjual teh selalu mengganggu pikirannya.

Suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi, yalah, Bu Cek Thian yang dianggap sebagai iblis jahat oleh Tiangsun Pehpeh dan rekan2nya, dipandang sebagai seorang kaizar arif-bijakswa oleh rakyat jelata.

Hari itu, ia berjalan disepanjang tepi sungai Kee-leng dan dipinggir jalan terdapat hutan yang mempunyai pemandangan indah.

Selagi enak jalan, tiba2 ia mendengar suara, kaki kuda dibelakangnya dan tak lama kemudian, dua penunggang kuda sudah melombai dan melawatinya.

Wan Jie melirik dan ternyata, mereka adalah dua orang lelaki yang romannya kasar dan berjenggot tebal.

Ia tidak menghiraukannya dan terus jalankan keledai per-lahan2.

Belum jalan berapa jauh, tiba2 kedua penunggang kuda itu kembali dari sebelah depan.

Jantung si-nona memukul keras dan ia ingat keterangan Tiangsun Kun Liang mengenai caranya kalangan Kang-ouw. "Apakah mereka Cay-phoa-cu dari kalangan Liok-lim ?" tanyanya didalam hati.

Menurut ke-biasaan Liok-lim, atau Rimba Hijau, yang berarti kalangan penjahat, setiap kali kawanan perampok ngin "bekerja", lebih dulu mereka mengirim mata2 untuk menyeliidiki. Dalam dunia Kang-ouw, mata2 itu dikenal sebagai Cay-pho2-cu, atau si-Tukang-injak-piring.

Sekali ini, Wan Jie lebih memperhatikan kedua orang itu.

Selagi berpapasan, se-konyong2 mereka dongak dan terawa terbahak2.

Si-nona mendongkol dan sebenarnya ia mau lantas menegur.

Tapi karena ingat, lebih baik jangan cari setori, se- bisa2 ia menahan sabar.

Dilain saat, kedua penunggang kuda itu sudah tak kelihatan bayangannya lagi.

Sesudah jalan lagi beberapa lama, se-konyong2 disebelah depan kembali muncul dua penunggang kuda yang mendatangi dengan cepat sekali.

"Jika mereka benar mata2, maka yang mau bekerja adalah dua rombongan perampok," kata si-nona dalam hatinya. Waktu berpapasan, dan melihat dipinggang kedua orang itu tergantung golok, busur bersama anak panahnya.

Tak lama kemudian, ia masuk kejalanan gunung yang ber-belit' dan sesudah jalan setengah harian, belum juga ia bertemu dengan manusia. Si-nona heran dan berkata dalam hatinya : "Dua penunggang kuda yang pertama kembali dengan cepat sekali. Jika mereka benar Cay-phoa-cu, dijalanan. ini pasti terdapat saudagar hartawan. Tapi mengapa sampai sekarang aku belum juga bertemu dengan manusia ?"

Tiba2 dari sebelah kejauhah terdengar suara khim yang mengalun dengan nada duka. Mendengar lagu itu, si-nona yang memang sedang bersedih, lantas saja bertambah rasa dukanya. Indap2 ia mendekati dan mendengar nyanyian seperti berikut :

"Didepan tak kelihatan kawan, Dibelakang tak muncul manusia,

Memikiri langit dan bumi dengan kedukaan, Seorang diri kumengucurkan air mata."

Hati si-nona berdebar keras. "Ah.......! Disebelahnya aku, dalam dunia ini ternyata terdapat juga seorang lain yang sedang berduka," katanya didalam hati.

la segera melompat turun dari tunggangannya dan per-lahan2 menuju kesuara khim itu.

Tak berapa jauh la melihat seorang pemuda pelajar, yang memakai topi sasterawan dan mengenakan baju warna putih, sedang memetik khim sambil menghela napas ber-ulang2.

Didekatnya tertambat seekor kuda kurus dan diatas punggung kuda ditaruh sebuah keranjang rusak yang berisi beberapa jilid buku tua. "Kalau benar kawanan perampok mau bekerja, mereka tentu tak akan merampok sasterawan miskin ini," kata si- nona dalam hatinya.

Terang2 si-pelajar melihat kedatangan Wan Jie, tapi ia sedikitpun tidak menghiraukannya dan terus memetik khim yang suaranya semakin lama jadi semakin menyayatkan hati.

Karena dipengaruhi dengan lagu yang sangat mendukakan itu, tanpa merasa Wan Jie menyambut dengan dua baris syair :

"Musim semi sudah kembali, bunga laksana sulaman, Tapi mengapa tuan masih saja diliputi kedukaan ?"

Tanpa menjawab, jari2nya sipelajar mulai memetik lagi tali2 khim, di-iringi dengan nyanyian.

Kali ini ia memperdengarkan sebuah lagu riang- gembira dan suara tabuh2an itu bagaikan nyanyian burung2 dimusim semi, laksana suara jatuhnya mutiara diatas piring batu giok dan se-olah2 suara mengalirnya air kelembah yang rendah.

Siangkoan Wan Jie terkejut bukan main, karena syair yang dinyanyikannya adalah syair gubahan Siangkoan Gie, kakeknya sendiri.

Syair, itu yang dikenal sebagai Kiong-sie, atau Syair- keraton, mempunyai sebuah sejarah pendek.

Dulu, pada waktu kaizar Tong-thay-cong masih hidup, pada suatu hari dimusim semi, ia telah menjamu  menter2 besarnya. Selagi makan-minum dengan gembira, kaizar itu telah memerintahkan Siangkoan Gie menggubah sebuah syair yang sesuai dengan perjamuan itu.

Maka itu, syair tersebut dinamakan syair "Cocun Kui- lim-thian Eng-ciauw", atau Syair musim semi dikeraton Kui-lim-thian.

Dalam syair itu, Siangkoan Gie melukiskan keindahan musim semi ditaman kaizar tersebut. Tong-thay-cong jadi sangat girang dan lalu menghadiahkannya serenceng mutiara. Demikian sejarah syair itu.

Si-nona jadi bimbang.

"Aku memuji pemandangan musim cun (semi) didalam hutan, tapi dia segera nyanyikan lagu keindahan, semi dikeraton kaizar," katanya didalam hati.

"Disamping itu, syair tersebut adalah gubahan kakekku. Apa ia sudah tahu siapa adanya aku ?"

Tapi dilain saat, ia mendapat lain pikiran.

Kakeknya adalah seorang penyair besar dan pada jaman permulaan kerajaan Tong, gaya syairnya banyak ditiru oleh kaum sasterawan, sehingga syair Siangkoan Gie dikenal sebagai "Siangkoantee".

Maka itu, tidaklah heran jika seorang pemuda pelajar secara kebetulan menyanyikan syair kakeknya.

Sesudah selesai, si-pelajar menabuh tabuhannya diatas tanah dan lalu bengun berdiri sambil tertawa ter- bahak2 dan dalam tertawa itu, terdapat nada kedukaan.

"Mengapa kau sebentar bersedih dan sebentar bergirang ?" tanya si-nona. "Jika Kouwnio ingin mendengar lagu gembira, aku tentu akan menurut perintah," kata pemuda itu.

Sinona bersenyum.

"Kalau begitu, syair Siangkoantee sengaja diperdengarkan untuk kupingku," katanya.

"Tapi, maaf, untuk kebaikanmu itu, aku terpaksa harus menegur kau."

"Mengapa ?" tanya si-pelajar.

"Tadi, kau pertama memperdengarkan lagu Teng-yu- ciu-tay-ko (Lagu Naik dipendopo Yu-ciu) gubahan Tan Cu Gang," jawabnya.

"Suara khim yang menyayat hati sangat mengharukan orang yang mendengarnya.

Aku mendapat kenyataan, bahwa manusia dan tabuhan telah menjadi satu dan dengan semangat serta perasaan yang bersatu, barulah kau bisa mendengarkan lagu yang sangat mendukakan itu.

Tapi belakangan kau mendengarkan lagu gembira. Biarpun tak dapat dicela, tapi untuk berterus-terang,

suara khim kedengarannya sangat tak wajar."

Sasterawan itu mengangkat kepala dan menatap wajah si-nona dengan paras kagum.

Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata dengan suara perlahan : "Maaf...., maaf Aku tak tahu, bahwa

nona adalah seorang yang mempunyai pengetahuan tinggi dalam ilmu syair dan memetik khim. Aku bukan seorang yang beruntung.” “Memang....! Mana kubisa memperdengarkan lagu yang riang gembira”

Sesaat itu, dua pasang mata kebentrok dan jantung si- nona memukul keras!

Muka pemuda itu seperti juga tak asing lagi baginya. Tapi dimana ia pernah bertemu dengannya ?

Ia coba meng-ingat2 semua kawan2 diwaktu masih kecil, tapi tak seorang pun yang menyerupai pemuda itu.

Sementara itu, sambil mengangsurkan khimnya, si- pelajar berkwata dengan sikap menghormat: "Jika mungkin aku ingin memohon nona memperdengarkan sebuah lagu."

Wan Jie menyambut dan karena dalam hatinya penuh dengan niatan membalas sakit hati, tanpa merasa ia memetik sebuah lagu perang.

Paras muka si-sasterawan lantas saja berubah, dari lesu jadi bersemangat.

Lagu itu adalah Ciong-keen-heng (Mars Mengikut- tenara), gubahan Yo Ciong, seorang penyair kenamaan pada jaman itu.

Suara khim yang bergelora se-olah2 suara menerjangnya ribuan tentara berkuda dan suara beradunya berbagai macam senjata..

Dengan semangat ber-kobar2 sinona lalu menyanyikan lagu itu yang berakhir dengan kata2 begini: "Lebih baik jadi Pek-hu-thio (nama pangkat militer), daripada jadi sasterawan."

Tiba2 si-sasterawan dongak dan tertawa berkakakan. "Benar.    ! Benar.    !" teriaknya dengan nyaring.

"Lebih baik jadi Pek-hu-thio daripada jadi sasterawan. Pada jaman ini, seorang laki2 memang juga harus mengangkat senjata dan dengan menunggang kuda, malang-melintang dikolong langit. Perlu apa jadi pelajar yang tidak gunanya !"

"Aku bukan sengaja maksudkan kau," kata Wan Jie dengan nada memohon maaf.

Si-pemuda melirik dengan sorot mata bersangsi.

Sambil menyambuti khim, ia berkata dengan suara tawar: "Yang bicara tidak sengaja bicara, yang mendengar memang sengaja mendengar. Aku mempunyai perasaanku sendiri, kau tak usah buat pikiran." Sehabis berkata begitu, ia melompat keatas punggung kuda kurus dan segera berlalu tanpa pamitan lagi.

"Orang itu kelihatannya otak2an dan aneh sekali," pikir Wan Jie.

"Apa dia seorang yang terluka hatinya ?''

Memikir begitu, buru2 ia menunggang keledainya dan mengubar.

"Siangkong (tuan)......!" teriaknya....... "Mau kemana kau ?"

"Mau ke-Pa-ciu," jawabnya.

"Sungguh kebetulan! Aku pun mau ke-Pa-ciu," seru si- nona dengan suara girang.

la menduga, bahwa sasterawan itu akan segera mengajaknya berjalan sama2. Tapi tidak dinyana, ia hanya berkata dengan suara dingin: "Oh, begitu. ?"

Tanpa menengok, ia mencambuk kudanya. Wan Jie jadi mendongkol.

"Kau tidak meladeni, tapi aku akan terus menguntitmu," katanya didalam hati.

Ia segera menepuk keledainya dan membuntuti dari belakang.

Pemuda itu berjalan terus, se-olah2 tidak merasa dirinya sedang dikuntit orang.

Sesudah berjalan kurang-lebih setengah harian, sepatah pun merekak tak pernah bicara.

"Aneh........! Mengapa begitu lekas aku memetik lagu Ciong-kun-heng, sikapnya laatas berubah ?" tanya si- nona dalam hatinya.

"Menurut keterangan sikakek penjual teh, Bu Cek Thian sangat pandai memakai orang, sehingga sampai gadis2 dusun pada ber-lomba2 belajar surat. Mengapa dia mengatakan, bahwa seorang sasterawan tiada gunanya! Aku memperdengarkan lagu itu, karena keinginanku untuk membalas sakit hati sedang me-luap2. Apakah ia mempunyai dendaman yang sama sepertiku ?"

la terus meagikuti dan semakin lama, ia semakin merasa, bahwa pemuda itu bukan sembarang orang.

Sesudah berjalan lagi beberapa lama, tiba2 disebelah depan mendatangi dua penunggang kuda, yaitu orang2 lelaki yang beroman kasar. "Apa mereka Cay-phoa-cu ?" tanya si-nona dalam hatinya.

"Dengan yang tadi, sudah muncul tiga pasang manusia."

Sesaat itu, mereka tengah memasuki sebuah selat diantara dua gunung.

Jalanan diselat itu, yang ber-libat2 bagaikan usus kambing, hanya bisa muat dua penunggang kuda yang jalan berendeng.

Dilain saat, bagaikan angin puyuh, kedua penunggang kuda itu mendatangi.

Mendadak, salah seekor kuda berbenger keras dan berdiri diatas kedua kakinya.

Rupa2nya binatang itu menginjak batu dan terpeleset. "Binatang. !” bentak penunggangnya.

"Apa kau mau cari mampus ?" Sambil mencaci, ia mencambuk.

Entah disengaja atau tidak, se-konyong2 kuda itu melompat kedepan dan cambuk menyambar badan sisasterawan!

Bagaikan kilat, Siangkoan Wan Jie juga mencambuk. Kedua cambuk itu melibat satu sama lain dan mereka  lalu membetot dengan berbareng. Si-nona kaget, sebab ia merasa lelaki itu bertenaga sangat besar, sehingga hampir2 cambuknya terlepas.

Masih untung, Wan Jie sangat cerdas.

Buru2 ia menggunakan siasat meminjam tenaga. la mengulur tangannya, tapi sebelum sempat membetot, orang itu mendadak berubah sikap dan dengan paras ketakutan, dan menghaturkan maaf.

"Maaf....., maaf.....! Hampir2 aku mencambuk nona," katanya sambil menyoja.

Sehabis berkata begitu, bersama kawannya, ia berlalu se-cepat2nya.

Si-sasterawan sendiri pucat mukanya. Se'sudah kedua orang itu berlalu, barulah ia bisa berkata : "Aduh ! Sungguh berbahaya I"

"Tak ada bahaya lagi," kata si-nona sambil tertawa. "Mari kita jalan terus."

"Benar...., benar....! Tak ada bahaya lagi..... Mari jalan terus," kata sipemuda seperti orang linglung seraya mencambuk kuda kurusnya yang lantas saja lari congklang.

Wan Jie jadi geli. "Bener2 sasterawan tolol," pikirnya. Tapi   dilain   saat,   ia   ingat   suatu   kenyataan lain.

"Terang2an  orang  itu  memukul  dia,"  katanya didalam

hati. "Apa dia membawa barang berharga ?"

la melirik dan selain beberapa jilid buku tua dan sebuah khim, sasterawan itu tak punya lain harta-benda. Apa penjahat itu mau merampok khim ?

Tapi ia lantas saja tertawa sendiri, sebab khim tua itu tidak cukup berharga untuk dirampok.

---o^^dwkz^0^Tah^^o--- WAKTU magrib, mereka tiba disebuah kota. Dengan diikuti oleh Wan Jie, si-pemuda masuk disebuah penginapan yang paling besar dalam kota itu.

"Apa kalian datang ber-sama2?" tanya seorang pelayan.

Muka si-nona lantas saja berubah merah.

"Bukan," jawabnya. "Aku minta sebuah kamar lain, jika ada, yang menghadap keselatan."

"Ada...., ada.    ," jawab si-pelayan.

la rupanya seorang yang suka bicara, sebab, sesudah menyanggupi, ia berkata pula : "Untung sekali kalian datang hari ini. Kalau kemarin, sampai istal kuda penuh semuanya."

"Mengapa begitu ?" tanya Wan Jie.

"Kemarin Co-kim-gouw Khu Tay-ciang-kun (jenderal) lewat disini dan mereka semua menginap dalam penginapan kami," jawabnya.

"Lihatlah. Kotoran kuda belum disapu bersih."

Wan Jie menengok dan dipekarangan depan terdapat beberapa orang yang sedang menyapu.

"Apa Khu Ciangkun itu bernama Khu Sin Sun ?" tanya si-sasterawan.

"Benar," jawabnya. "Apa Siangkong kenal Khu Tayciangkun ?"

"Seorang pelajar miskin bagaimana bisa mengenal seorang jenderal ?" sahutnya.

Wan Jie tertawa, "Kau tak usah heran," katanya kepada sipelayan.  "Co-kim-gouw adalah pangkat yang sangat tinggi. Dikolong langit, hanya ada satu Co-kim-gouw.

Orang kata, seorang sasterawan tidak keluar pintu,

tapi ia tahu segala kejadian didunia, Maka itu, jangan heran jika Siangkong ini tahu she dan nama Co-kim- gouw."

Tapi biarpun mulutnya mengatakan begitu, si-nona jadi semakin bercuriga.

"Mengapa ia menyebut nama jenderal itu dengan suara dan sikapnya se-olah2 ia berkedudukan lebih tinggi daripada sang jenderal ?" tanyanya didalam hati.

"Benar, benar," kata si-pelayan sambil mengangguk. "Memang orang terpelajar lebih banyak

pengetahuannya daripada kita."

la berdiam sejenak seperti ingin membanggakan pengetahuannya, ia berkata : "Aku dengar Khu Tay- ciang-kun menerima perintah Thian-houw untuk pergi ke Pa-ciu, guna menengok Thaycu."

Si-nona agak terkejut.

Bu Cek Thian baru saja memerintahkan The Un pergi menyambangi puteranya dan sekarang ia kembali memerintahkan Khu Sin Sun.

Dilihat begitu, hubungan antara ibu dan anak kelihatannya cukup erat.

Tapi si-pemuda kelihatannya tidak merasa ketarik. "Oh, begitu ?" katanya sambil bertindak masuk

kekamarnya untuk mengaso. Wan Jie pun segera pergi mengaso dalam kamarnya. Berselang tak lama, selagi ia mau minta makanan,

diluar tiba2 terdengar suara berbengernya kuda dan suara banyak orang bicara.

"Apa kawanan perampok ?" tanya si-nona didalam hati.

la menyingkap tirai dan melihat kedatangannya tiga penunggang kuda.

Dua orang yang jalan belakangan adalah opas, sedang yang jalan duluan seorang lelaki yang pakaiannya compang-camping.

Wan Jie jadi heran bukan main. Jika mau dikatakan, lelaki itu seorang tangkapan, bukan saja tangannya tidak terborgol, tapi kuda yang ditunggangnya pun lebih besar dan lebih gagah daripada kuda kedua opas itu.

Setibanya didepan pintu hotel, mereka segera melompat turun.

"Berikan kamar kelas satu kepada Thao Toaya," kata salah seorang opas.

"Baik....., baik.......," kata si-pelayan yang dengan ter- sipu2 lalu masuk kedalam untuk membereskan kamar.

Sesudah si-pelayan menyelesaikan tugasnya, Wan Jie lalu memanggilnya dan bertanya dengan suara perlahan

: "Siapa Thio Toaya itu ?"

"Dia orang sekampung denganku," jawabnya sambil tertawa. "Ia seorang petani, tapi selama beberapa hari ia dapat menikmati enaknya kedudukan Ngo-pin-khoa (pembesar negeri dari tingkatan kelima)."

Wan Jie jadi semakin heran. "Bagaimana sebenarnya

?" dia mendesak.

"Apa nona tak tahu ?" kata sipelayan.

"Thian-houw Pie-hee telah mengeluarkan firman yang menetapkan, bahwa siapapun juga yang ingin pergi kekota raja untuk mengajukan pengaduan atau melaporkan suatu rahasia, disepanjang jalan harus mendapat perlakuan sebagal seorang Ngo-pin-khoa."

"Pengaduan apa ?" tanya pula si-nona. "Apapun boleh,'' jawabnya.

"Misalnya, mengadukan pembesar rakus, perkara penasaran, persekutuan pemberontakan dan sebagainya. Setiap rakyat mempunyai hak yang sama. Mengenal pengaduan yang ingin disampaikan Thio Lo-sam, aku tahu juga sedikit'."

"Coba ceritakan," kata Wan Jie sambil melemparkan sepotong perak diatas meja.

Si-pelayan jadi girang bukan main dan dengan paras ber-seri2, ia berkata: "Baik...., baik...... Tapi nona jangan beritahukan kepada orang lain.

Thio Lo-sam ingin mengadukan seorang ok-pa (seorang hartawan jahat yang sering berbuat se- wenang2 kepada rakyat).

Paman ok-pa itu pernah menjabat pangkat tinggi, Thio Lo-sam mempunyai seorang calon menantu perempuan, yang telah dirampas oleh si-jahat. Belakangan, dengan menggunakan pengaruh, dia memaksa ayah wanita itu membatalkan pernikahan.

Dengan membawa surat kawin, Thio Lo-sam meminta keadilan dari Tie-hu, tapi ia dikalahkan. la jadi nekat dan lalu mengajukan permohonan untuk pergi kekota raja guna melaporkan satu rahasia, katanya. Tapi se- benar2nya ia ingin mengadukan orang jahat itu."

"Tapi apa ok-pa itu bisa membiarkannya pergi kekota raja ?" tanya pula Wan Jie.

"Si-jahat memang sudah tahu, bahwa Thio Lo-sam pergi keibu kota untuk mengadukan perbuatannya," jawabnya.

"Tapi Thian-houw telah menetapkan, bahwa siapapun juga yang mau kekota raja untuk melaporkan rahasia, harus dilindungi oleh petugas2 negara.

Pembesar negeri tentu saja tak tahu, apa yang sebenarnya hendak dilaporkan olehnya. Mungkin juga rahasia yang mengenai keselamatan negara atau rahasia ketentaraan, bukan ? Maka itu, tak ada orang yang berani merintangi perjalanan Thio Lo-sam.

Tapi karena ok-pa itu memegang surat kawin dari ayah siwanita, belum tentu Thio Lo-sam bisa menang perkara. Dalam hal ini terserah kepada kebijaksanaan Thian-houw."

Wan Jie merasa kecewa.

Semula la menduga bakal mendengar rahasia besar, tak tahunya hanya satu kejadian biasa. Tapi karena penuturan itu, ia melihat satu kenyataan lain. "Dulu", seorang ok-pa merampas wanita adalah perbuatan lumrah dan sama-sekali tidak perlu banyak berabe mencari surat kawin," katanya didalam hati.

"Dengan mempermisikan rakyat datang dikota raja untuk melaporkan segala rahasia, Bu Cek Thian memang membuka kesempatan akan datangnya macam2 fitnah oleh orang nakal. Tapi biar bagaimanapun juga, peraturan itu sangat menguntungkan rakyat jelata."

Selama berdiam dirumah Tiang-sun Kun Liang, ia selalu menganggap Bu Cek Thian sebagai memedi perempuan. Diluar dugaan, dalam perjalanan itu ia lebih banyak mendengar perbuatan baik daripada perbuatan jahat kaizar wanita itu.

Selagi ter-menung2 dengan pikiran tertindih, tiba2 ia mendengar hela napas si-sasterawan yang berada dikamar sebelah.

"Mengapa ia menghela napas ?" tanyanya didalam hati.

Sesudah ia selesai bersantap, pelayan hotel lalu membereskan perabot makan.

"Nona mengasolah," katanya sambil menutup pintu, "Jika ada kejadian2 menarik, aku tentu segera memberitahukan."

Tapi Wan Jie tak bisa pulas.

Gerak-gerik si-sasterawan yang aneh selalu mengganggu pikirannya.

Suara kentongan mengunjukan tengah malam, tapi kedua matanya masih tetap segar. la jadi uring2an dan sesudah mengenakan baju luar, ia segera keluar jalan2 dalam pekarangan hotel. la melihat lampu  masih menyala terang dikamar sebelah dan dari tirai jendela, terlihat bayangan sasterawan itu.

Sesudah mengenakan baju luar, ia segera keluar jalan2 dalam pekarangan hotel. la melihat lampu masih menyala terang dikamar dan dari tirai jendela, terlihat bayangan sasterawan itu.

Per-lahan2 ia mendekati jendela dan lalu mengintip. Beberapa saat kemudian, pemuda itu kembali menghela napas dan lalu bangun berdiri, sambil membuka kancing2 thungsanya, sebagai tanda ia mau lantas tidur.

Wan Jie segera bergerak untuk menyingkir, tapi mendadak, hatinya melonjak

Pemuda itu telah membuka topinya yang ditaruh telentang diatas meja.

Apa yang mengejutkan si-nona, yalah didalam topi melekat belasan butir Ya-beng-cu (mutiara yang memencarkan sinar terang ditempat gelap), yang sinarnya melebihi sinar lampu minyak diatas meja. "Ah....! Kalau begitu kawanan perampok memang mengincar dia," katanya didalam hati.

---o^^dwkz^0^Tah^^o---

SE-KONYONG2 diluar tembok terdengar suara kresekan yang sangat perlahan. Hati Wan Jie ber-debar2, Dengan sekali menotol tanah dengan ujung kakinya, tubuhnya melesat keatas satu pohon gouw-tong yang tumbuh dalam pekarangan itu. Biarpun ilmu silatnya tidak seberapa tinggi, tapi sebab semenjak kecil ia biasa berlatih diatas Can-to, ilmu mengentengkan badannya sudah maju jauh.

Tapi si-sasterawan kelihatannya sama-sekali tidak merasa adanya bahaya.

Lampu segera dipadamkan dan sinar Ya-beng-cu jadi semakin terang.

"Kau enak2 tidur, aku yang jadi centeng," pikir sinona.

Tak lama kemudian, berbareng dengan suara kesiuran angin, dua orang hinggap diatas tembok.

Wan Jie mengawasi dan mengenali, bahwa mereka itu adalah perampok dari rombongan pertama. Mereka lantas saja mendekam diatas tembok yang berhadapan dengan kamar si-sasterawan.

Wan Jie mencekel pisaunya erat2, siap-sedia untuk lantas menimpuk, jika mereka menerjang masuk kekamar.

Tapi kedua orang itu tidak turun kebawah. Mereka terus mendekam diatas tembok sambil bicara bisik2. Sebagai seorang yang lama berlatih untuk mendengar sambaran senjata rahasia, sinona mempunyai kuping yang lebih tajam dari manusia biasa dan oleh karenanya, ia dapat menangkap sebagian pembicaraan kedua perampok itu.

"Liong Ngo-ya perintah kita menyambut orang, tapi apa mungkin orang yang mau di sambut adalah manusia tolol2 an itu ?" tanya yang satu.

Se-konyong2 diluar tembok terdengar suara kresekan yang sangat perlahan. Hati Wan Jie ber-debar2, Dengan sekali menotol tanah dengan ujung kakinya, tubuhnya melesat keatas satu pohon gouw-tong yang tumbuh dalam pekarangan itu.

"Roman orang itu agak luar biasa, tapi gerak-geriknya memang tolol2an," sahut yang lain.

"Tapi biar bagaimanapun juga, kedatangan kita tidak cuma2," kata pula yang pertama.

"Aku dengar si orang desa yang mau pergi kekota raja untuk melaporkan rahasia besar, malam ini juga menginap disini." "Aku sudah menyelidiki, dia menyewa kamar ketiga disebelah timur," kata kawannya.

"Urusan apa yang mau dilaporkannya ?" "Tak perduli," kata pula orang yang pertama. "Tak ada salahnya kalau kita kerjakan dia."

Mereka segera bergerak dan menuju kekamar Thio-Lo- sam dengan merangkak.

Wan Jie jadi sangat bimbang. Semula ia menduga, bahwa kedua orang itu adalah perampok yang ingin merampas harta benda si-sasterawan, tapi ternyata taksirannya tidak benar.

Apa tak mungkin mereka dikirim oleh si ok-pa untuk membunuh Thio Lo-sam ?

Tapi didengar dari pembicaraannya, mereka bukan orang suruhan ok-pa itu.

Ia sebenarnya sudah hendak melompat turun dari pohon dan kembali kekamarnya, tapi mendadak lain pikiran berkelebat kedalam otaknya. "Thio-Lo-sam sudah banyak menderita," pikirnya.

"Sesudah kutahu urusan ini, mana bisa aku berpeluk tangan ?"

Memikir begitu, ia lantas saja melompat keatas tembok dan membuntuti kedua orang itu.

Tepat selagi kedua orang itu melompat turun, Wan Jie menimpuk dengan dua bilah pisau. Sesudah berlatih beberapa tahun, si-nona memiliki kepandaian tinggi dalam ilmu melempar hui-to (pisau terbang), sehingga jangankan manusia, sedangkan seekor elang masih tak bisa lolos dari timpukannya. Maka itu, ia percaya, bahwa kedua pisaunya pasti akan dapat merobohkan kedua penjahat itu.

la terkesiap, karena sedang badan kedua orang itu masih berada di-tengah udara, dengan sekali memutar badan, mereka berhasil menangkap kedua hui-to, se- olah2 punggung mereka mempunyai mata.

Kedua penjahat itu juga kaget. Seraya mengeluarkan seruan tertahan, mereka melompat naik lagi keatas tembok dan mengawasi keseputarnya.

Sambil menahan napas, si-nona memperhatikan gerak-gerik merekit.

Tiba2 tangan mereka terayun dan kedua hui-to menyambar kepohon gouw-tong.

Sesaat itu, Wan Jie sedang menyembunyikan diri diantara dua cabang yang bercagak, sehingga ia tak bisa berkelit kesamping atau kebelakang.

Jalan satu2nya adalah menyambut pisau itu, tapi, mendengar sambarannya yang disertai kesiuran angin dahsyat, ia tak berani menyambutnya.

Dilain detik, kedua pisau itu sudah tiba didepannya. "Celaka !" ia mengeluh dengan hati mencelos.

Pada sesaat yang sangat berhahaya, tiba2 sambaran pisau miring kekiri, seperti juga terpukul dengan serupa benda, dan kemudian menancap dicabang pohon, dalam jarak kurang-lebih lima dim dari kupingnya !

Sedang semangatnya masih belum kumpul, ia mendengar dua suara "tuk-tuk" dan kedua orang itu ambruk dari atas tembok ! Wan Jie kesima, untuk beberapa saat ia berdiri bengong dengan mulut ternganga.

Tiba2 ia mendengar suara bicaranya pelayan yang keluar karena suara ribut2.

la melongok kebawah dan melihat si-sasterawan sedang menyender dipintu kamar dengan mengenakan pakaian tidur. Begitu si-pelayan muncul, pemuda itu lantas saja berkata :

"Eh, mengapa dalam penginapanmu terdapat begitu banyak tikus ? Mereka berkelahi, sehingga aku tak bisa pulas."

Si-pelayan tertawa, "Oh......, kalau begitu Siangkong (tuan) yang menghajar tikus ?" katanya.

"Benar, sayang tak kena," jawabnya.

"Tadinya kukira kau digerayangi penjahat kecil," kata lagi si-pelayan sambil bersenyum. "Maaf......, maaflah. "

Sehabis berkata begitu, ia segera berlalu.

Si-sasterawan dengan mengawasi langit dan kemuddan mengucapkan dua baris syair : "Ditengah malam tikus gerayangan, menyadarkan aku dari dunia impian. Kurang ajar....! Sungguh kurang ajar....!" la masuk kekamar dan menutup pintu.

Wan Jie geli tercampur mendongkol. "Celaka......! Aku melindungi kau, tapi kau berbalik mencaci aku," katanya didalam hati.

Tapi, dilain detik, satu pertanyaan berkelebat dalam otaknya : "Apa tak mungkin dia yang menolong aku ? Tidak ....! Tak bisa jadi. Dia sedang tidur dalam kamarnya dan jika benar dia yang merobohkan kedua perampok itu, kepandadannya tak bisa diukur bagaimana tingginya." Memikir bulak-balik, ia tak juga berhasil memecahkan teka-teki itu.

---o^^dwkz^0^Tah^^o---

PADA ke esokan paginya, pemuda itu bersikap tenang, seperti juga tidak terjadi apa2 yang luar biasa. Waktu bertemu dengan Wan Jie, ia tidak membuka suara dan sesudah membayar uang sewah kamar, ia segera berangkat.

Si-nona jadi semakin penasaran. "Biarlah aku membuntuti terus manusia aneh itu," katanya didalam hati. Buru2 ia menunggang keledainya dan menguntit dari belakang.

Seperti kemarin, mereka berjalan dengan membungkam.

Selang satu-dua jam, mereka kembali masuk dijalanan gunung yang penuh bahaya. Sambil menekan topi dikepalanya, si-sasterawan berkata seorang diri : "Diempat penjuru tak ada manusia dan jalanan begini berbahaya.

Kalau disini muncul perampok, celakalah aku."

Baru saja ia mengucapkan 'kata' itu, didalam hutan pohon siong terdengar suara ribut2 dan beberapa saat kemudian, sejumlah peajahat menghadang ditengah jalan.

Wan Jie mengenali, bahwa yang mengepalai gerombolan adalah itu dua orang dari rombongan kedua yang ia bertemu kemarin. Ia menahan keledainya dan berkata didalam hati : "Aku mau lihat dulu bagaimana kau menghadapi kawanan bandit ini.

Tapi apa yang terjadi lagi2 mengejutkan dan mengherankan.

Sesudah mengawasi si-sasterawan beberapa lama, se- konyong2 kedua kepala perampok itu menekuk lututnya.

"Kemarin kedua mataku tak bisa melihat besarnya gunung Thay-san dan tak tahu kedatangan Kongcu," kata yang satu dengan suara menghormat.

"Untuk kekurang-ajaran itu, kami memohon-Kongcu sudi memaafkan."

"Eh-eh mengapa kau berlutut ?" tanya si-pemuda.

"Didalam dunia, manusia hanya menghormati orang yang beruang. Aku tidak membawa barang berharga, perlu apa kau berlutut ?"

Mereka saling mengawasi dan kemudian yang satu berkata pula :

"Kongcu, jangan kau berkata begitu. Kami adalah orang2 dari Im-ma-cee, Liong Ngo-ya telah memerintahkan kami untuk menyambut Kongcu."

"Dari mana ?" menegas sisasterawan. "Celaka.....! Apa kau perampok ?"

Kedua perampok itu saling mengawasi. Mereka tak tahu, apa pemuda itu guyon2 atau sebenaraya ketakutan. Selagi mereka bimbang, tiba2 terdengar pula suara kaki kuda dan dua orang mendatangi dengan cepat sekali. Wan Jie segera kenali, bahwa mereka itu adalah perampok rombongan ketiqa yang ia bertemu kemarin. Begitu tiba, mereka melompat turun dari tunggangan mereka.

"Cee Sam-ko, Lie Cit-ko, kau sudah salah kenali orang

!" teriak yang satu.

Perampok yang dipanggil "Cee sam-ko" dan "Lie Cit- ko" jadi semakin bingung.

"Apa.....? Apa dia bukan. " menegas antaranya.

"Tentu saja bukan dia," jawabnya.

"Coba kau pikir, kalau dia adalah orang yang harus disambut atas perintah Liong Ngoya, tak mungkin dia melukakan kedua Ceecu (kepala kawanan perampok) Liok-ciang-san dirumah penginapan."

Wan Jie kaget tercampur girang.

"Apa benar dia yang membantu aku semalam?" tanyanya dudalam hati.

"Apa benar dia berkepandaiaa begitu tinggi ?"

Sementara itu, si-sasterawan sendiri berdiri dipinggir jalan dengan sikap acuh tak acuh dan mendengari pembicaraan beberapa perampok itu dengan sikap tenang.

"Mungkin sekali ia tak tahu" kata orang yang dipanggil "Cee Sam-ko".

"Tahu atau tak tahu tiada banyak bedanya," kata perampok yang datang belakangan.

"Andaikata benar ia tak tahu, bahwa mereka adalah Coa Ceecu dan Ho Ceecce dari Liok-ciang-san, tapi ia pasti tahu, bahwa yang mau dibunuh adalah si-lelaki yang mau melaporkan rahasia kekota raja.

Diam2 ia sudah menolong lelaki itu.

Dengan demikian, ia berdiri dipihak kaizar dan tak bisa jadi ia termasuk dalam kalaagan kawan kita."

Wan Jie jadi bingung. Siapa sebenarnya pemuda Itu ? la girang karena pertanyaan yang dikandung dalam

hatinya, sudah lantas diajukan oleh "Lie Cit-ko".

"Lauw Sie-ko, siapa sebenarnya setan miskin itu l" tanyanya.

"Lauw Sie-ko" adalah orang yang kemarin mencambuk muka si-nona.

la tertawa ter-bahak2 seraya berkata : "Cit-ko, lagi2 kau salah mata ! Siapa orang itu, akupun tak tahu. Tapi apa yang kutahu, dia bukan setan miskin. Didalam badannya terdapat harta yang paling sedikit berharga sepuluh laksa tahil perak."

Paras muka "Cee Sam-ko" dan "Lie Cit-ko" berubah dengan mendadak.

Diam2 Wan Jie memuji.

"Lauw Sie-ko" yang kenal barang: "Dalam  topi pemuda itu terdapat sembilan belas butir Yabeng-cu dan setiap butir paling sedikit berharga selaksa tahil perak," katanya didalam hati.

Dilain saat, sambil tertawa berkakakan dan menuding dengan cambuknya, "Lauw Sie-ko" berkata dengan suara dingin: "Jika kau kenal bahaya, keluarkanlah.... ! Jangan tunggu sampai tuan besarmu turun tangan sendiri." Hampir berbareng, kawannya melompat dan mendekati pemuda itu.

Cee Sam dan Lie Cit saling mengawasi.

Cee Sam kelihatannya masih bersangsi, tapi Lie Cit lantas maju setindak dan berkata : "Biarpun kami salah melihat orang, tapi menurut peraturan, kami harus mendapat bagian."

Apa yang dikatakannya memang tak salah.

Menurut kebiasaan dalam Rimba Hijau (kalangan perampok), semua orang yang turut campur tangan dalam setiap perampokan, harus mendapat bagian.

Tapi heran sungguh, si-sasterawan kelihatannya tenang2 saja.

Sebaliknya dari ketakutan, ia dongak dan tertawa ter- bahak2. "Aku tak punya apa2," katanya.

"Beberapa jilid buku tua ini tak bisa dibaca olehmu dan Khim kuno ini tak bisa dimadakan oleh mu. Apa kau maui topiku yang butut ?"

Wan Jie terkejut karena pemuda itu seperti juga sengaja menonjolkan topinya yang berisi harta besar.

"Kalau dia bukan seorang yang punya kepandaian tinggi, tentulah dia seorang otak miring," katanya didalam hati.

Si-nona yang masih belum tahu apa pemuda itu benar berkepandaian tinggi atau tidak, jadi kaget bukan main.

Dalam kagetnya, tanpa memikir lagi, ia menghunus pedang dan melompat dari punggung keledai seraya membentak : "Bangsat....! Besar benar nyalimu ! Ditengah hari bolong mau merampok."

Dengan beberapa suara kerontrangan, golok dan toya terpapas somplak dan hanya Lauw Sie yang dapat menyelamatkan cambuknya.

"Perempuan kurang ajar......! Lagi2 kau....... !" teriak Lauw Sie sambil menghantam Wan Jie dengan cambuknya.

la menengok kepada kawannya dan berkata: "Perempuan itu hanya lihay pedangnya, ilmu silatnya tidak seberapa. Jangan takut !"

Sesudah sabetannya yang pertama tidak berhasil, ia segera mengirim serangan berantai dengan pukulan2 Lian-hoan-sampian (Tiga-cambukan-berantai) dan Hui- hong-sauw-liu (Angin puyuh-menyapu-pohon-liu). Hampir berbareng, Lie Cit pun segera menerjang pula dengan goloknya, sedang yang lain, yang bersenjata toya, menyabet lutut si-nona.

Meskipun dalam ilmu silat Siangkoan Wan Jie tidak begitu lihay, tapi ilmu mengentengkan badannya sudah cukup tinggi.

la memutar badan dengan mengikuti gerakan cambuk dan kemudian, dengan sekali menotol tanah dengan ujung kakinya, tubuhnya melesat keatas dalam gerakan Yancu-coan-in (Anak-walet-menembus-awan).

Selagi badannya melayang kebawah, pedangnya menyabet bagaikan, kilat dan mengenakan jitu di pundak Lie Cit yang tidak keburu berkelit atau menangkis lagi. Begitu hinggap dibumi, satu kakinya menendang dan kena tepat dilutut penjahat yang bersenjata toya.

Biarpun tenaganya tidak cukup berat, tendangan itu cukup keras untuk membuat si-perampok ber-teriak2 kesakitan.

Si-sasterawan tertawa ter-bahak2 sambil me-nepuk2 tangan.

"Bagus. !" serunya.

"Gesit bagaikan naga, hebat seperti gelombang.

Bagus........! Sungguh bagus !"

Dalam repotnya si-nona melirik pemuda itu yang tetap berdiri dengan sikap adem, diawasi oleh "Cee Sam-ko" yang mencekel senjata Long-gee-pang (Toya-gigi- serigala).

Si-orang she Cee adalah seorang kepala penjahat yang sudah kawakan dalam dunia Kang-ouw.

Sebelum tahu jelas asal-usul sasterawan itu, ia masih belum berani turun tangan.

Kawanan penjahat yang berada disitu adalah orang2 dari Im-ma-cee dan melihat pemimpinnya tidak bergerak, mereka pun tidak menyerang dan hanya mengurung pemuda itu dari empat penjuru.

Antara dua perampok dalam rombongan yang lain, Lauw Sie lah yang berkepandaian paling tinggi.

Melihat kawannya dilukakan oleh si-nona, ia jadi gusar bukaa main.

"Hai....! Gila betul. !" teriaknya. "Masakah kau tidak bisa bereskan satu perempuan cilik ? Kalau begini, kita tak bisa cari makan dijalanan ini lagi. Jangan perdulikan dia me-lompat2 ! Jaga saja pedangnya...! Ikuti gerakan cambukku dan  serang bagian yang kosong."

Sehabis mengomel, ia segera menyabet pinggang si- nona dengan pukulan Sin-liong-jip-hay (Naga-malaikat- masuk-kelaut).

Wan Jie buru2 melompat kekiri, tapi dengan sekali mengedut, cambuknya sudah turut menyambar kekiri.

Sementara itu, hampir berbareng, penjahat yang bersenjata golok dan toya lalu menerjang kesebelah kanan, kebagian yang kosong.

Si-nona jadi bingung dan hanya dengan kegesitannya barulah ia bisa menyelamatkan jiwanya.

Dengan melompat kian-kemari, ia meloloskan diri dari beberapa serangan hebat.

Wan Jie jadi kuatir bercampur mendongkol. "Kurang ajar dia !" gerutunya.

"Aku berkelahi mati2an karena gara2nya, tapi dia sendiri enak2an."

Sesaat itu golok Lie Cit menyambar dan karena perhatian-nya terpecah, hampir2 ia terbacok.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, dengan mengandalkan kegesitannya, si-nona masih tetap bisa mempertahankan diri.

Ketiga penjahat itu jadi semakin mendongkol. Sesudah mengirim dua serangan dengan beruntun, sehingga Wan Jie terpaksa melompat mundur beberapa tindak, Lauw Sie tertawa dingin seraya berkata : "Dalam Liok-lim, orang paling mengutamakan Gie-khie (rasa persahabatan). Untuk persahabatan, orang rela mengorbankan jiwa. Sungguh sayang, sifat yang mulia itu sekarang sudah berubah. !”

Perkataan iitu terang2an ditujukan kepada siperampok yang dipanggil "Cee Sam-ko", yang tetap mengawasi si- sasterawan tanpa bergerak.

Lie Cit adalah pembantunya.

Sesudah kena tikaman pedang Wan Jie, si-orang she Lie tentu saja merasa sangat tidak puas dengan sikap kawannya.

Maka itu, ia lantas saja menyambungi: "Benar. ,

Seorang laki2 selalu bekerja tak kepalang tanggung. Kalau dia kata berani, dia berani sugguhan. Tidak seperti caranya nenek pengecut, mulut berani, kaki lari."

Mendengar ejekan kawan sendiri, paras muka Cee Sam lantas saja berubah merah. Tapi ia tetap sungkan membentur si-sasterawan. Sambil membentak, ia mengangkat senjatanya dan menerjang Siangkoan Wan Jie.

Ilmu silat Cee Sam tidak berada disebelah bawah Lauw Sie dan disamping itu, toyanya yang sangat kasar dan berat (beratnya empatpuluh dua kati) tak takuti pedang.

Maka itulah, begitu ia menerjun kedalam gelanggang, Siangkoan Wan Jie lantas saja berada dalam bahaya. Sekali lagi ia melirik si-sasterawan dan hatinya jadi semakin mendongkol.

"Kalangan Lhok-lim masih memperhatikan Gie-kie," teriaknya.

"Hai.....! Orang terpelajar ketinggalan jauh dari kawanan kecu."

Pada detik perhatiannya terpecah karena mengomel, pedangnya terpukul miring dengan toya Cee Sam dan dengan berbareng, cambuk Lauw Sie menyabet pinggang-nya.

la tak dapat menangkis atau berkelit lagi !

Pada sesaat yang sangat genting, tiba2 saja si- sasterawan  membentak:  "Penjahat  tak  tahu  malu.    !

Empat lelaki mengeroyok satu perempuan.    ! Betul2 aku

tak bisa melihatnya."

Sedang mulutnya bicara, tangannya bekerja.

Dengan sekali bergerak, ia sudah merebut toya Long- gee-pang dan sekali mengebas, golok Lie CIt terbang keudara.

Lauw Sie kaget tak kepalang.

Sambil melompat, ia menyabet dengan pukulan Ka-tin- liok-liong (Menunggang-enam-naga).

"Kau paling menyebalkan.......I" bentak sisasterawan dan tangannya menyambar.

Sambaran itu cepat bagaikan kilat dan tahu2 penjahat itu terpental tiga tombak jauhnya. Dilain saat, seraya memutar badan, ia mengirim satu tendangan dan perampok yang bersenjata toya jatuh ngusruk.

Kawanan penjahat terkejut, tapi sesudah kagetnya hilang, mereka lantas saja meluruk dan mengepung sasterawan itu.

Melihat dirinya mau dikeroyok, ia tertawa nyaring dan mencaci: "Bangsat. !"

“Cara2mu sungguh2 memalukan orang2 gagah dalam Rimba Hijau.”

"Lepaskan senjatamu !"

la melompat tinggi dan kaki-tangannya menyambari bagaikan angin puyuh.

Suara berkerontrangannya senjata terdengar tak henti2nya.

Begitu tersentuh tangan atau kakinya, senjata apapun juga terpental atau terbang ketengah udara. Beberapa saat kemudian, diatas tanah sudah penuh dengan golok, tombak, pedang dan sebagainya.

Kawanan penjahat lantas saja lari tunggang-langgang dan dalam sekejap mereka sudah tak kelihatan bayangan2nya lagi.

Siangkoan Wan Jie berdiri terpaku bahna kaget dan girang-nya.

la mengawasi pemuda itu dengan mata membelalak, tanpa mengeluarkan sepatah kata. Sementara itu si-sasterawan sendiri tertawa berkakakan, tapi, sesaat kemudian, ia menangis tersedu?. ! Lagi2 si-nona terkesiap.

Kejadian itu benar2 aneh.

Sebentar tertawa, sebentar menangis. Apa pemuda itu gila ?

Sesudah tangisan mereda dan hatinya agak tenteram, Wan Jie mendekati dan menanya dengan suara halus: "Hari ini kau telah mendapat kemenangan besar dan seorang diri, kau telah memukul mundur kawanan penjahat yang berjumlah besar.

Tapi mengapa, sehabis tertawa, kau menangis ?" "Karena kawanan kecu itu terlalu tolol," jawabnya.

Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata pula sambil menghela napas : "Hai.....! Apa yang dilakukan Hok Cu Beng dan Cu-hie-houw tak bisa terulang lagi dalam dunia. Aku merasa sedih sedih karena tak tega melihat kerajaan jatuh kedalam tangan lain keluarga."

Hok Cu Beng adalah seorang jenderal ternama pada permulaan kerajaan Han.

Dengan kesetiaannya, ia telah memimpin-kaizar yang muda naik ketakhta dan dengan segenap tenaga, melindungi kerajaan Han.

Cu-hie-houw adalah gelaran raja muda yang diberikan kepada Lauw Ciang, seorang turunan dari kaizar Han.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 02"

Post a Comment

close