Naga dari Selatan BAGIAN 53 : PATUNG HIDUP

Mode Malam
 
BAGIAN 53 : PATUNG HIDUP

"Bukan melainkan mempunyai kepandaian yang tinggi, pun dia seorang yang cermat, seharusnya tak nanti dia sampai lalai. Kalau menilik kejadian2 aneh yang kita, alami tadi, jangan2 dia mendapat kesulitan!" kata Kiau To.

Juga Yan-chiu cemas, katanya: "Kedua suami isteri itu, terutama yang perempuan (Swat  Moay) kecerdasannya tidak dibawah Cian-bin Long-kun. Bukan mustahil kalau suko mengalami kesukaran dari mereka!"

Ciok ji-soh pun sibuk. Pada lain saat ia berbangkit. "Biar kususulnya!" serunya.

"Aku ikut. Siao Chiu, kau tunggu dulu disini  jangan pergi ke-mana2!" serentak Kiau To menunjangnya.

Sebenarnya Yan-chiu tak suka ditinggal, tapi mengingat kalau2 nanti Tio Jiang kembali kesitu dan tiada mendapatkan seorangpun, tentu akan bingung, maka terpaksa ia mengiakan. Tak lama sepeninggal Kiau To dan Ciok ji-soh, Yan-chiu segera merasa kesepian. Dan kesepian itu menimbulkan kerawanan hati yang bukan2. Setiap insan tentu takkan terluput dari kematian. Mereka tiada gelisah karena tak mengetahui apabila saat kematiannya itu tiba. Bahwa mengetahui hari kematian itu adalah suatu siksaan batin yang maha hebat, dirasakan sendiri oleh Yan-chiu.

Terkenang. akan nasibnya yang menyedihkan itu, tanpa terasa air matanya bercucuran. Ketika ia hendak mengusapnya, se-konyong2 matanya tertumbuk akan seorang hweshio yang entah bilamana tahu2 sudah berada dikamar situ.

Mukanya memakai kain kerudung, tak lain yalah hweshio yang memikatnya dari ruang Lo-han-tong tadi. Siang tadi Yan-chiu titip pada salah seorang  hweshio supaya membelikan sebatang pedang. Pedang itu secepat kilat dilolos dan diserangkannya dengan jurus it-wi-tok- kang. Walaupun pedang itu benda "pasaran", tapi jurus yang digunakan itu bukan olah2 hebatnya hingga seketika itu ratusan sinar pagutan pedang memburu ketenggorokan hweshio gadungan itu.

Tapi orang itu hanya ganda tertawa saja. Secepat dia menyambar sebuah ciok-tay (tempat lilin) tring, ditangkisnya pedang Yan-chiu. Sebenarnya jurus it-wi-tok- kang itu dapat diperkembangkan lagi dalam 7 perobahan. Tapi. tekanan ciok-tay itu rasanya ber-puluh2 kati beratnya. Hendak Yan-chiu menggerakkan pedangnya, tapi tak dapat.

"Kau siapa?" bentaknya dengan kaget.

Tangan kiri orang itu pe-lahan2 menyingkap kerudung mukanya dan dengan tertawa menyahutlah dia: "Hampir setahun suntuk berkumpul, masa cepat lupa?"

Ai....., kiranya si Swat Moay. Setan benar wanita itu, untuk mencapai tujuannya, ia rela menggunduli rambut.

"Mengapa kau masih berada disini? Apa mau menunggu mati?!" seru Yan-chiu dengan murka. Swat Moay tertawa mengejek. "Entahlah, siapa yang menunggu kematiannya disini nanti!" sahutnya.

Terpegang kandungan hatinya, Yan-chiu bungkam. "Siao-ah-thau, sebaiknya kau omong terus terang saja,

bukankah rombonganmu belum mengetahui tempatnya juga?"

Mendengar bahwa fihak Hwat Siau dan Swat Moay belum berhasil menemukan tempat simpanan harta karun itu, diam2 Yan-chiu girang. Benar ia tinggal dua hari satu malam nyawanya, tapi seketika itu ia tak merasa  cemas lagi.

"Bagus, coba saja siapa nanti yang lebih dahulu menemukannya!" sahutnya.

Tiba2 Swat Moay gontaikan tangannya. Entah senjata rahasia macam apa yang dilepaskan itu, tapi tahu2 Ciu Sim- i yang tengah menggeletak dilantai situ sudah terbuka jalan darahnya dan terus bangkit berdiri. Yan-chiu tak membiarkan Swat Moay menolongi orang itu. Secepat kilat berputar kebelakang, tangkai pedangnya disodokkan kejalan darah orang she Ciu Itu. Cepat dan tepat gerakannya kali ini, hingga Ciu Sim-i yang tak mengira sama sekali akan serangan kilat itu, segera mendeprok lagi kelantai.

Yan-chiu sudah memperhitungkan, begitu ia menutuk jalan darah Ciu Sim-i, Swat Moay pasti akan menolonginya. Maka secepat habis memberesi Ciu Sim-i, secepat itu pula ia sudah berputar kebelakang lagi untuk songsongkan ujung pedangnya kearah Swat Moay.

Melihat gerakan yang lihay dari sinona itu, bukannya turun tangan tapi sebaliknya Swat Moay malah menghamburkan pujian: "Ilmu pedang yang lihay, gerakan yang bagus ! Hanya sayang sekali, walaupun sebelah kakinya melangkah ketingkat kepandaian yang sempurna, sebelah kakinya yang satu lagi sudah masuk kepintu akhirat

!"

Lagi2 hati Yan-chiu tersayat dengan ucapan Swat Moay ftu. Tubuhnya serasa lemas tak bertenaga. Swat Moay bersorak dalam hati. "Siao-ah-thau, kau tak ingin mati bukan?" bujuknya dengan nada merayu.

Sedemikian halus merawan rayuan itu hingga timbullah pertentarigan dalam batin Yan-chiu. Mati  melawan penjajah mati sahib namanya. Kematian yang berharga sekali. Ini ia tiada menyesalkan sedikitpun juga. Tapi dalam hati kecilnya, sesungguhnya ia tak ingin mati. Ya, dara  yang menginjak masa sweet seventeen (17 tahun) adalah ibarat sekuntum bunga yang tengah memperkembang biakkan keharumannya, jadi siapakah yang suka disuruh mati? Dalam dua hari ini, Yan-chiu pun mempunyal perasaan begitu: "Tak rela mati tak suka mati."

Bahwa bujuk rayuan yang sedemikian merawankan Itu telah mencengkeram kalbunya itulah sudah jamak. Maka tanpa diinsyafinya Iagi, menyahutlah ia dengan serta merta

: ”Ah, sudah barang tentu tak suka mati !"

Itu hanya menurutkan suara hatinya. Maka dikala sang pikiran sadar, buru2 ia menyusuli dengan kata2 bengis: "Apa pedulimu?"

Tapi Swat Moay menertawakan, ujarnya: "Kalau tak suka mati, itulah mudah. Tetap kau ikut mereka untuk mencari tempat harta itu, begitu berhasil kau harus membakar tumpukan kayu bakar yang kusediakan ditempat pagoda itu. Dan kala itu, jalan darahmu tentu akan kubuka. Ingat, waktunya hanya tinggal 2 hari satu malam saja, kalau tak berhasil menemukan, kau boleh terima nasib saja. Kalau kau menurut perintahku ini, tentu bakal selamat. Untuk kepercayaan itu, Hwat Siau dan Swat Moay masih suka memberikan !"

Selama mendengari kata2 Swat Moay itu, Yan-chiu termangu2 saja. Habis memberi "tekanan" itu, tanpa menunggu jawaban orang Swat Moay segera sudah melesat keluar. Lewat beberapa saat kemudian, barulah Yan-chiu tersadar:

"Jangan kau ........ ngaco belo!" serunya. Dua perkataan yang terdahulu, diucapkan dengan keras, karena mengira Swat Moay masih berada disitu. Tapi dua patah yang dibelakang nadanya sudah lemah, karena sudah diketahui kalau Swat Moay ternyata sudah menghilang. Saking tergetar perasaannya, sampaipun telapak tangan Yan-chiu basah dengan keringat dingin.

Kembali Yan-chiu merasa kesepian. Karena sukonya tetap belum datang, ia segera berjalan keluar dan berhenti dibawah lonceng besar dari gereja itu. Hatinya makin sunyi rawan. Tanpa terasa kakinya mengayun langkah. Tiba2 dilihatnya disebelah muka ada sebuah bayangan hitam. Ketika mendongak mengawasi, kiranya itulah bayangan dari pagoda Hwat-tha (tempat menyimpan rambut Liok- cou). Yakni pagoda yang dijanjikan oleh Swat Moay tadi.

"Ai....., mengapa aku datang kemari?" keluhnya dengan suara tak lampias. Tapi pada lain saat hatinya serasa berbicara sendiri: "Bukantah kau sendiri yang datang kemari?"

Kesedihan dan kecemasan berkecamuk menjadi satu dalam rongga hati Yan-chiu. Begitu hebat rasa itu mencengkeramnya, hingga sesaat kepalanya terasa pening dan matanya ber-kunang2. Karena gemetar tak  dapat berdiri dengan jejak, iapun duduklah ditanah. Dalam kesesakan napas, matanya tertumbuk akan seonggok kayu bakar yang tertumpuk dimuka pagoda itu. Melihat itu, telinganya serasa me-ngiang2 lagi dengan nada  ucapan Swat Moay tadi ....... "begitu berhasil, kau harus lekas2 membakar tumpukan kayu yang kusediakan ditempat pagoda itu ....... untuk kepercayaan itu, Hwat Siau  dan Swat Moay masih tetap suka memberikan" ................

Yan-chiu dekap telinganya, supaya menghilangkan suara itu. Tapi rasanya suara itu tetap mengiang-ngiang dianak telinganya. Saking gusarnya, serentak ia berbangkit dan lari membabi buta menuju kearah timur. Karena tak menghiraukan suatu apa, se-konyong2 kakinya tersandung pada suatu benda dan terpelantinglah ia sampai tiga empat meter jauhnya. Kalau saja ilmunya mengentengi tubuh tak lihay dan tempo hari tak minum mustika batu, tentu jatuhnya itu akan tele2 dan babak belur.

Cepat2 ia bangun dan ketika mengawasi kepada benda yang membentur kakinya tadi, kiranya itulah sebuah benda bulat yang menonjol keatas kira2 seperempat meter tingginya. Ia meringis, tapi dalam kesialannya itu ia mendapatkan kesadarannya lagi. Itulah disebabkan karena rasa kaget, sehingga pikirannya terang kembali. Serta sadar, didapatinya dirinya berada diluar gereja, hal mana membuatnya terperanjat sekali. Bukantah kalau nanti sukonya kembali dan tak mendapatkan dirinya (Yan-chiu), dia pasti akan mencarinya? Dengan begitu, tentu akan saling cari mencari nanti.

Tapi dimanakah kini ia berada itu? Tadi karena lari membabi buta, hingga sampai tersesat. Kini setelah mencari arah dengan seksama, ia mengambil putusan menuju keruang Tay-hiong-tian lebh dahulu. Begitulah segera ia ayunkan langkah kesana. Tapi ketika melalui benda hitam yang membentur kakinya tadi, se-konyong2 is dapatkan benda itu seperti memancarkan sinar cahaya berkilau. Buru2 ia berhenti untuk memeriksa. Astaga, kiranya itulah sebuah mulut perigi (sumur)!

Perigi itu memang aneh, tingginya dipermukaan tanah hanya kurang lebih seperempat meter saja. Tapi ketika ia menjenguk kedalamnya, ternyata lubangnya sangat dalam sekali, airnya berkilauan memantulkan hawa dingin. Yan- chiu lalu tinggalkan tempat itu tapi baru saja sang kaki melangkah, tiba2 ia merasa dalam pantulan cahaya  perigi itu amatlah anehnya. Permukaan air yang ditimpah oleh cahaya bintang telah menimbulkan pancaran-balik (refleksi) mengkilap bagaikan perak, tercampur biru gelap dan sedikit ke-hijau2an. Yan-chiu coba mengisar kesamping sedikit dan cahaya itupun tak kelihatan lagi. Mengawasi ke cakrawala, tampak rembulan masih dalam bentuknya sisir (tanggal muda).

"Mungkinkah harta karun itu berada disini?" tiba2 ter- kilas suatu pikiran olehnya. Tapi pada lain saat ia menertawai pikirannya itu sendiri. Desas desus tentang kim- jianggiok-toh yang sudah ber-tahun2 tersiar itu, tentunya berada didalam patung sehingga sukar diketemukan. Kalau berada, didalam sumur, cukup dengan menguras (mengambil) airnya, sumur itu pasti kering dan harta karunpun mudah diketemukan.

Memikirkan soal harta karun teringatlah ia akan ancaman Swat Moay tadi. Seketika timbullah khayalannya: apabila benar2 ia nanti dapat menemukan harta itu, adakah ia hendak menyulut kayu bakar Itu? Ah, pening kepalanya memikirkan hal itu. Tadi karena ia bingung memecahkan persoalan Itu, ia sampai lari tak karuan dan tersesat disitu. Memang soal "kebenaran" itu tak semudah seperti yang diucapkan oleh mulut anak kecil. Kalau nanti dirinya dihadapkan dengan kenyataan, belum tentu dia akan dapat mengambil keputusan yang tepat! Sampai sekian saat Yan-chiu ter-mangu2 disisi perigi itu. Setelah itu ia menuju keruangan besar. Ditengah jalan dilihatnya diatas atap ada orang ber-lari2an. Mata Yan-chiu yang tajam segera dapat mengenalinya itu sebagai Hwat Siau dan iapun tak menghiraukan lagi terus kembali kekamarnya. Disitu Kiau To dan Ciok ji-soh sudah menunggu, tapi Tio Jiang tetap belum kelihatan.

”Kemana Tio Jiang? Kau tadi kemana saja? Jangan2 dia tadi sudah datang dan pergi lagi! Dan Ciu Sim-i ini mengapa sudah mampus ?" ber-tubi2 Kiau To menyambutnya dengan pertanyaan.

Yan-chiu menelan ludahnya dan menyahut dengan ter- bata2 "Aku ...... akupun bingung juga, baru aku hendak keluar dia (Ciu Sim-i) telah berhasil membuka jalan darahnya dan hendak melarikan diri, maka terus kubunuhnya!"

Entah apa sebabnya ia sendiri tak tahu, mengapa ia tak mau menceritakan kedatangan Swat Moay tadi. Turut adat perangainya, mulut amat tangkas bicara, lebih2 terhadap orang sendiri tak pernah ia menyimpan rahasia. Heran, mengapa kali ini ia sampai ter-putus2 bicaranya apalagi mau berbohong.

Kiau To tak memperhatikan ciri2 itu dan hanya menuturkan rencananya: "Siao Chiu, untuk mencari Ang Hwat cin jin, sukarlah rasanya. Tapi menurut pendapatku, apabila bisa mendapatkan suhuku, itu sudah cukup, Kuingat dahulu Thian Te Hui memelihara berpuluh ekor merpati pos untuk mengirim berita. Burung itu luar biasa pintarnya. Kupikir untuk melepaskan mereka lagi keempat penjuru. Siapa tahu, suhu tentu akan dapat menerima berita, itu!" Girang Yan-chiu mendengar itu, tapi pada lain saat tawar pula hatinya karena walaupun harapan itu ada namun tipis sekali kemungkinannya.

"Kalau memangnya sudah suratan nasibku, biarlah aku binasa. Usah membuat sibuk Tay Siang Siansu dan lain2 orang," ujarnya dengan tersenyum pahit.

Brak......, tiba2 Kiau To meninju meja hingga hancur, "Kau tak nanti kami biarkan mati, apakah kau tak mengerti akan perasaan orang?"

Yan-chiu terbeliak kaget dan menatap Kiau To.

"Ai....., Siao Chiu," Kiau To menghela napas, "bagaimana sampai hati kami membiarkan kau meninggal ? Ai..... , memang perangaiku ini berangasan harap kau jangan marah!"

"Bagus, itulah sifat ksatrya namanya! Barang siapa yang marah, aku tentu menentangnya!" seru Ciok ji-soh sambil tunjukkan jempolnya.

Berhadapan dengan dua tokoh yang berwatak lurus terus terang, hati Yan-chiu terhibur juga. Kiau To segera menuju kedusun Cek-wi-hong untuk mengambil merpati2 pos itu. Setelah diikat dengan surat untuk Tay Siang siansu, maka ber-puluh2 burung itu dilepaskannya. Ketika burung2 itu meluncur keangkasa, mendoalah Kiau To: "Merpati, merpati! Jiwa Yan-chiu, tergantung padamu!"

Pada masa Thian Te Hui masih jaya, merpati2 itu dilatih untuk mengirim surat keberbagai penjuru. Jadi apabila Tay Siang siansu masih berada diwilayah Kwicu, tentulah akan diketemukan.

Sepeninggal Kiau To, tiba2 pintu kamar digereja itu didebur keras dan masuklah Tio Jiang dengan wajah pucat. Serta masuk, mulutnya segera berhamburan dengan kata2 aneh: "Huh, aneh, aneh sekali! Masakan didunia ini terdapat peristiwa segaib itu, kalau tak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, biar dibunuh mati tak nanti aku mau mempercayai !"

"Keanehan apa, lekas katakan!" seru Ciok ji-soh. Tapi sebaliknya melihat sukonya ter-sengal2, Yan-chiu menyuruhnya beristirahat dulu sebentar. Setelah memulangkan napas, barulah Tio Jiang mulai menutur: "Posat dari Kong Hau Si ini dapat mengeluarkan kesaktian. Percaya atau tidak itu terserah padamu !" .

Ciok ji-soh tertawa geli, ujarnya: "Siao-ko-ji (engkoh kecil), seperti aku, kau tentu berpapasan dengan Hwat Siau!"

Ciok ji-soh lalu tuturkan pengalamannya sendiri diruang Liok-cou-tian. Tapi untuk keherannya, Tio Jiang menggeleng, sahutnya: "Bukan, bukan begitu. Hwat Siau seorang yang bertubuh kurus kering. Tapi yang kulihat diruang Sui-hud-kek itu, adalah sebuah patung Bi-lek-hud yang perutnya gendut dan tubuhnya pendek. Masakan aku tak dapat membedakannya?"

Ciok ji-soh cepat2 mendesaknya supaya menceritakan kejadian itu.

"Sekeluarnya dari sini, asal ketemu patung atau arca, baik kecil maupun besar, tentu kuamat-amati dengan perdata. Tapi kesemuanya itu tak mengunjukkan tanda apa2," Tio Jiang mulai menutur, "tiba diruang Sui-hud-kek, disitu penerangannya terang benderang. Kukira hal Itu adalah perintah dari pengurus gereja, tapi anehnya disitu tiada terdapat barang seorang hweshiopun yang tengah membaca kitab. Dengan loncat dari jendela kumasuk dari belakang ruangan itu. Disitu aku sudah dikejutkan oleh sebuah patung setinggi orang, yang tampaknya tengah deliki mata kepadaku. Kemudian setelah masuk kedalam ruangan, kembali semangatku terbang demi melihat patung Bi-lek-hud yang berada disitu, nampaknya sedang menyeringai tertawa kepadaku !"

"Ai, mungkin pandanganmu kabur!" tukas Ciok-ji-soh. "Memang orang tentu  menganggap mataku  kabur.  Tapi

demi   kumendekati  untuk  memeriksanya,  tiba2  dari  arah

belakang terdengar suatu suara dan cepat2 kuberputar si, celaka.......... kiranya hanya seekor kucing loncat dari jendela. Baru kuhendak berpaling kemuka lagi, punggungku terasa ditiup oleh hawa panas! Saat itu aku sudah berdiri didekat. patung Bi-lek-hud dan disitu tiada barang seorangpun kecuali patung itu. Saking kaget ketakutan, aku segera loncat keluar dari jendela lagi dan sekali enjot kaki aku melayang keatas wuwungan. Dari situ dengan mengaitkan kaki pada tepian wuwungan, kuayunkan tubuhku untuk melongok kebawah. Ah, benar juga diruangan situ tiada barang seorang manusiapun kecuali patung Bi-lek-hud yang masih tetap tertawa berseri itu !

7 "...... saking kagetnya cepat aku melompat keluar dan mengaitkan kakiku keatas emperan dan tubuhku menggantung kebawah untuk melongok kedalam .......... " demikian Tio Jiang bercerita.

”Kuberanikan diri lagi untuk masuk dan menghampiri patung hud itu.

”Kumengangguk kepada Bi-lek-hud itu dan astaga, Bi- lek-hud yang hanya sebuah patung ternyata dapat mengeluarkan suara seperti kayu berkereyotan !"

"Hai, sudahlah! Teranglah patung itu penyaruan dari manusia!" tukas Ciok ji-soh dengan serentak.

"Benar, memang lwekang Hwat Siau itu bukan olah2 saktinya. Kalau dia mengempos dada, tubuhnya dapat berobah menjadi gemuk. Ya, aku sudah pernah menyaksikannya sendiri!" Yan-chiu turut menimbrung.

Tio Jiang lanjutkan pula ceritanya dengan kurang bernapsu: "Ah, dia telah menghambat pekerjaan kita. Memang kala itu siapa yang tak ketakutan menampak ada patung dapat tertawa, dapat meniup hawa? Begitulah aku segera tinggalkan ruangan itu dan menuju keruang Lo-han- tong. Tapi begitu masuk, disitu gelap sekali hi, aneh, kalau benar Hwat Siau adanya, mengapa dia tak mencelakai aku?"

"Perlu apa mereka hendak mencelakaimu sekarang? Bukantah lebih banyak orang yang mencari harta itu, lebih baik baginya. Nanti apabila sudah diketemukan rasanya belum terlambat untuk membunuhmu!" kata Yan-chiu.

"Ah, masa ada orang sekejam itu hatinya! Siao Chiu, kau tentu mengalami penderitaan selama setahun ikut mereka." Yan-chiu berpaling ketempat yang agak gelap untuk menghapus air matanya. Sedang Ciok ji-soh lalu memberitahukan Tio Jiang tentang kepergian Kiau To tadi. Oleh karena mereka bertiga tak mempunyai lain rencana yang bagus, terpaksa mereka hanya duduk diam disitu menunggu kedatangan Kiau To, siapa syukurlah tak lama sudah muncul.

"Usaha kita pada malam ini, rasanya sudah cukup sampai disini dulu. Mengingat hubungan antara suhu dengan Yan-chiu, rasanya beliau tentu takkan membiarkan begitu saja!" kata Kiau To.

Begitulah mereka lalu beristirahat dan malam itupun tiada kejadian apa2 yang penting.

---oo-dwkz0tah-oo---
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Naga dari Selatan BAGIAN 53 : PATUNG HIDUP"

Post a Comment

close