Naga dari Selatan BAGIAN 35 : TULISAN DI BATU

Mode Malam
 
BAGIAN 35 : TULISAN DI BATU

„Ya, ada angin berembus saja masa kau begitu kegirangan ?" Bek Lian ber-sungut2,

Tio Jiang menyahut: „Ah, suci tak tahu, si Cian-bin Long-kun The Go itu "

„Dia berada dimana ?" tukas Bek Lian serentak memutus kata2 orang.

Tio Jiang tak mengerti kemana jatuhnya pertanyaan sang suci itu, maka diapun cepat menegas: „Siapa ? "

Bek Lian mendongkol, lalu berteriak nyaring2: „Engkoh Go ! Kecuali dia, siapa lagi yang akan kutanyakan ? !" Diam2 Tio Jiang geli dibuatnya. Kalau beberapa bulan yang lalu, hatinya pasti sakit mendengar ucapan sang suci begitu itu. Tapi setelah dia campur gaul dengan manusia2 jantan macam Kui-ing-cu dan Nyo Kong-lim, dia tawar sudah akan perilaku Bek Lian yang sedemikian rendah martabatnya itu. Macam bidadari menjelma dimayapada pun, Tio Jiang tak tergerak hatinya lagi pada sang suci itu.

Malah dia sesali dirinya sendiri, mengapa tempo hari sampai ter-gila2 membabi buta pada sang suci. „Ah, entahlah kemana dia!" katanya dengan tawar.

„Sute, hayo kita lekas2 keluar dari sini!" akhirnya Bek Lian tampak bergelisah.

Tio Jiang enjot tubuhnya melayang diatas dinding lorong jalan itu. Benar juga disitu, dia rasakan siliran angin menghembus. „Suci, jangan terburu nafsu dulu. Ceritakan dululah dari mana kau. Masuk kemari ini ! ".

Bek Lian terkesiap. Dulu sutenya itu takut2 berbicara dengannya, tapi mengapa kini sikapnya berlainan sekali ?

„Adakah kau ini benar Tio Jiang ?" ia bertanya dengan aneh.

„Sudah tentu, ya. Suci, kau rupanya kedinginan. Kita harus lekas2 keluar dari sini, maka coba, ceritakanlah padaku darimana kau masuk tadi."

Terpaksa Bek Lian menurut dan lalu menutur.

„Sekian banyak jalanan gunung dan gua yang kau lalui tadi, mana2 saja yang terasa ada angin menghembus ?" tanya Tio Jiang.

Atas itu, Bek Lian menerangkan hanya satu  dua  saja, tapi lupalah ia dibagian yang mana. „Lian suci, aku ini disebabkan sibangsat The Go " „Sute!" cepat2 Bek Lian membentak,

Tio Jiang ganda tersenyum, lalu melanjutkan kata2nya:

„Karena dia merampas mustika didalam batu dan disembunyikan entah dimana, maka Kui-ing-cu lo-cianpwe suruh aku mencarinya. "

„Apa itu sih mustika dalam batu ? Apakah mustika yang disebut dalam kitab Pao-bu-cu itu ?" kembali Bek Lian memutus.

„Benar. Karena melihat dia keluar dari sebuah celah batu, maka aku segera masuk dari celah itu. Tapi sampai berhari2, aku tak bisa keluar lagi !"

„Ah, tak berguna mem-buang2 ludah sampai setengah harian ini. Kiranya kau juga tak dapat keluar dari sini!" ujar Bek Lian dengan putus asa.

„Jangan keburu putus asa dulu. Sewaktu kau masuk dari celah yang tembus keluar itu, tentu ada angin berembus, bukan ?" tanya Tio Jiang. Bek Lian mengiakan dengan acuh tak acuh.

„Sewaktu aku gelisah tak dapat keluar dari sini, tiada ter- sangka2 aku telah berhasil menemukan mustika batu itu terletak disebuah gua kecil. The Go tentu yang menyembunyikannya. Dia dapat keluar, sebaliknya aku tidak. Sehari penuh aku mengitari tempat ini, tapi tetap tak berhasil. Sewaktu aku tak habis mengerti, kini dapatlah aku memecahkannya. Ini suatu bukti, bahwa The Go itu mempunyai bakat dan otak yang cerdas, jauh beberapa kali lebih jempol dari aku."

Sampai pada saat itu, dalam benak Bek Lian hanya terlukis diri The Go seorang. Maka ketika tadi Tio Jiang memakinya „The Go sibangsat", ia menjadi kurang senang. Kini sewaktu sutenya itu memuji sang kekasih, segera Bek Lian berseru dengan riang gembira :„Itu sudah terang. Kecerdasan engkoh Go, siapa yang bisa menyamai ?"

Tio Jiang seorang anak yang lurus polos. Apa yang hatinya mengatakan, mulutnya segera menyatakan. „Benar, hanya sayang kecerdikannya itu dicerdiki oleh kesalahannya!"

Bek Lian kurang puas, tapi karena tak dapat mencari alasan membantah, maka cepat2 ia alihkan pembicaraan :

„Tadi kau menyatakan sudah bisa memecah rahasia tempat ini, nah bilanglah lekas!"

”Entah benar tidak pemecahanku itu, harap suci yang lebih cerdik dari aku, suka turut menimbangnya. Kupikir jalanan yang terasa ada hembusan angin itu, kalau kita turutkan, tentu akan dapat menuju keluar dari gunung.”

„Benar," seru Bek Lian. Kembali Tio Jiang berkata :

„Kupercaya The Go tentu untuk beberapa saat tersesat disini, tapi dalam sesingkat waktu saja dia sudah dapat memecahkan rahasianya. Sebaliknya aku memerlukan satu setengah hari baru dapat memecahkannya. Dan kau sendiri bagaimana, Lian suci ? !"

Bek Lian ke-malu2an. Ia beradat tinggi. Tak pernah ia memandang mata pada sutenya yang dianggap tolol itu. Sudah tentu ia tak unjuk ketololannya dihadapan sutenya itu.

Dengan beberapa alasan, ia coba mau memintari. Walaupun kini Tio Jiang sudah tawar terhadap sang suci, namun ikatan saudara seperguruan masih melekat. Melihat sang suci masih tetap membawa sikap mau menang dewek, dia hanya ganda tertawa saja.

„Teoriku itu juga belum tentu berbukti kebenarannya, tapi marilah kita coba saja," kata Tio Jiang sembari ajak sang suci menuju kelorong jalan disitu. Tiba diujung penghabisan jalan itu, kembali disana terdapat lagi 7 atau 8 buah persimpangan jalan. Kedelapan simpang jalan itu disusurinya. Akhirnya, pada salah sebuah jalan terasa ada hembusan angin. Kearah saulah mereka menyusur kemuka.

Pada ujung jalan itu kembali terdapat sebuah gua dan sehabis melalui gua itu, kembali terdapat 10 buah persimpangan jalan. Oleh karena sudah menetapkan rencana, jadi merekapun mencari salah sebuah jalan yang terasa ada hembusan anginnya.

Tio Jiang menjunjung batu yang terisi mustika itu diatas kepalanya. Sembari berjalan, diam2 dia me-nimang2:

„Terang sudahlah kalau Lian suci ini menyintai The Go dengan segenap jiwa raganya. Kalau begitu, mana  boleh aku menjadi perintangnya. Peristiwa tukar panjar itu harus kubatalkan saja." Setelah mengambil putusan, segera dia berkata: „Lian suci, aku ada sebuah barang yang hendak kukembalikan padamu!"

„Barang apakah itu ?" tanya Bek Lian keheranan. Tio Jiang merogoh kedalam dada bajunya dan mengambil keluar peniti kupu2an milik Bek Lian. Sampai detik itu Tio Jiang menganggap kalau barang itu adalah pemberian dari Bek Lian sendiri. Ketika dihadapan Kiang Siang Yan, Bek Lian menyangkal keras, Tio Jiang masih tetap mengira sang suci itu waktu sedang marah.

„Sute, sebenarnya darimana kau peroleh peniti itu ?" Bek Lian ulangi pertanyaan yang memang sudah lama ia kepingin mengetahuinya. Kini Tio Jiang baru betul2 keheranan, apakah benar2 sang suci itu tak tahu menahu soal itu. Dengan jelas dituturkan duduk perkaranya dan kemudian menambahkan:

„Sebagai penukaran, aku telah berikan padamu sebuah batu pualam milik suhu yang diberikan padaku !"

„Huh, kau mimpi bertemu setan barangkali. Itu waktu aku sedang dalam perjalanan dan bertemu dengan engkoh Go......" berkata sampai disini, wajah Bek Lian berseri girang terkenang akan peristiwa yang romantis itu.

„Lian suci, apakah benar2 pada malam itu kau tak berada di Gwat-siu-san ?" Tio Jiang meminta penegasan lagi.

Sudah tentu hal itu membuat Bek Lian mendongkol dan serunya dengan uring2an :„Perlu apa aku membohongimu!"

„Jika bermimpi, mengapa tanganku mencekal peniti itu ?

Kalau tidak bermimpi, siapa yang ber-olok2 dengan aku itu ?"

Tio Jiang menggerutu seorang diri.

„Huh, selain Siao Chiu, siapa lagi !" kata Bek Lian, yang membuat Tio Jiang terkesiap dan mengakui memang benar begitu. Tio Jiang tak mau bertanya Iagi kepada suci-nya. Kira2 dua jam kemudian, mereka tiba disebuah jalan sempit yang terasa banyak hembusan anginnya.

„Inilah dianya!" seru Tio Jiang kegirangan. Benar juga setelah melalui jalan sempit itu, mereka dapat keluar dari perut gunung tadi. Kala itu rembulan sudah menampakkan diri dilangit. Karena keliwat lelah ber-putar2 didalam perut, gunung yang mempunyai ber-puluh2 jalanan kecil itu. mereka lalu duduk beristirahat disebuah batu. Dahulu kalau berada berduaan dengan sang suci, Tio Jiang tentu menjadi seperti orang pekok, yaitu orang yang tak dapat bicara lancar. Setiap kali Bek  Lian tentu menertawai kelakuannya itu. Kini berlainan halnya. Walaupun hanya berdua orang, tapi rasanya Tio Jiang tak mempunyai kata yang hendak diucapkan. Baru berselang beberapa jenak kemudian, dia kedengaran bertanya: „Lian suci, kau hendak menuju kemana ?"

Sebenarnya Bek Lian hendak mencari The Go, tapi kalau mengatakan hal itu - dihadapan sang sute, seperti  sang ayah, sute itu tentu membencinya. „Kau tak usah mengurus diriku!" akhirnya ia menyahut. Dan benarlah, setelah pulang semangatnya, Bek Lian tampak berbangkit terus hendak angkat kaki.

„Suci, nanti dulu!" seru Tio Jiang.

„Apa kemauanmu ?" Bek Lian berpaling sembari kerutkan sepasang alisnya.

„Kau seorang diri melakukan perjalanan, dikuatirkan nanti berjumpa dengan orang jahat " sebenarnya Tio Jiang bermaksud baik, tapi oleh Bek Lian telah diartikan lain. Ia anggap sutenya itu menghina kalau ilmunya rendah, maka dengan tertawa dingin ia menukas kata2 orang :

„Terima kasih atas perhatianmu. Bertemu dengan penjahat apapun, biarlah kuhadapinya sendiri, tak usah kau mengurusi !"

Mendapat semprotan yang begitu ketus, Tio Jiang ter- mangu2 diam. Sebaliknya, Bek Lian makin gusar, berputar diri terus angkat kaki. Apa boleh buat Tio Jiang terpaksa tak dapat berbuat apa2.

--oodwkzOTAHoo-- Setelah berlatih sebentar, dia loncat keatas sebatang puhun untuk tidur disitu.

Keesokan harinya, dia segera ber-gegas2 berangkat ke Ko-to-san. Dia juga memikirkan bagaimana akhir pertempuran antara Kui-ing-cu dengan Kiang Siang  Yan itu. Karena pegunungan Si-ban-tay-san itu  tiada mempunyai jalanan sama sekali, jadi Tio Jiang hanya menentukan arah barat daya sebagai tujuan langkahnya. Menjelang tengah hari, tibalah dia pada sebuah puncak gunung. Disitu dilihatnya ada sebuah batu bercat hitam.

,,Hai, apakah ini bukan puncak Thiat-nia ?" tanyanya seorang diri. Tapi dia heran mengapa keadaan tempat itu berlainan dengan Thiat-nia yang pernah didatangi tempo hari.

Kiranya Tio Jiang tiba disebelah belakang dari puncak Thiat-nia. Sebaliknya Tio Jiang merasa kini sudah mendapatkan jalan keluar dari pegunungan raya itu, maka dengan girang sekali, dia berlari cepat2 turun gunung. Begitu tiba dikaki gunung, tahu2 sebatang anak panah telah menyambarnya.

Teringat Tio Jiang akan pembilangan Kui-ing-cu bahwa suku Thiat-theng-biau itu paling gemar menggunakan senjata panah yang. dicelup dengan racun istimewa. Maka buru2 dia menghindar saja seraya berseru :

„Mengapa tanpa bertanya hitam putihnya, lalu main membokong orang saja ?" .

Empat orang suku Thiat-theng-biau muncul keluar. Mereka bercuwat-cuwit mulutnya, tapi Tio Jiang tak mengerti. „Lekas menyingkir, aku mempunyai urusan penting, hendak lekas2 melanjutkan perjalanan!" serunya.

Berkat lwekangnya makin tinggi, maka seruan. Tio Jiang itu terdengar menggeledek bunyinya, hingga karena telinganya sakit keempat suku Biau itu berjingkrak kaget. Mereka berpencar, lalu masing2 melepaskan anak panah. Tio Jiang mendongkol geli. Dipotesnya sebatang dahan pohon, lalu dengan memainkan jurus hay-li-long-huan dia hantam jatuh anak panah itu, kemudian sekali melesat maju, ia segera mainkan dahannya untuk menutuk jalan darah wi-tiong-hiat dari keempat orang itu.

Tapi tutukan Tio Jiang itu hanya menerbitkan suara tuk..., tuk..., tuk..., tuk saja, yakni macam membentur kayu. Pakaian rotan yang dikenakan oleh keempat suku Biau itu, senjata tajampun tak dapat menembusinya, jangan lagi hanya tutukan dahan. Lain halnya kalau yang menutukkan itu tokoh sakti macam Tay Siang Siansu, Kui-ing-cu atau Kang Siang Yan dan lain2. Namun walaupun tak selihay mereka, Iwekang Tio Jiang yang sudah bertambah maju itu, dapat membuat keempat orang itu meringis kesakitan juga.

Saking murkanya, keempat orang Biau itu segera cabut golok dan serempak maju menyerang. Golok mereka itu aneh bentuknya, yaitu seperti bintang sabit, melengkung panjang sampai setengahan meter. Tio Jiang tak mau melukai mereka, cukup asal memberi sedikit hajaran saja.

Baru dia hendak maju menyambut, salah seorang dari mereka yang bertubuh agak tinggi, sudah maju menabas dengan goloknya. Tio Jiang angkat dahannya untuk menangkis, tapi se-konyong2 orang Biau itu robah gerakannya. Begitu siku tangan diturunkan, secepat kilat golok-sabitnya telah masuk menyerang sepasang betis Tio Jiang. Dengan bentuk goloknya yang istimewa, jurus serangan itu sangat surup sekali. Saking gugupnya terpaksa Tio Jiang tekankan dahan ketanah, lalu loncat menyingkir jauh. Diam2 dia heran memikirkan serangan orang Biau yang istimewa itu. Ilmu pedang to-hay-kiam-hwat yang sudah berpuluh tahun menggetarkan dunia persilatan itu, kiranya hanya begitu saja. Sebaliknya serangan ilmu golok dari orang Biau liar tadi sedemikian luar biasanya, entah dari mana mereka mempelajarinya ?

5

Dengan aksi, Tio Jiang melambung keatas hendak menangkap golok2 melengkung ke-empat lawannya

Kala dia lagi merenung, orang Biau tadi kembali sudah datang dengan sebuah tabasan lagi. Kali ini Tio Jiang sudah bersiaga. Dia miringkan tubuh menghindar, dan nantikan bagaimana tindakan lawan itu lebih jauh. Setelah tabasannya luput, orang Biau itu berseru keras2, se- konyong2 goloknya diturunkan dan wut....., tahu2 membabat kaki Tio Jiang, gayanya seperti tadi juga!

Tio Jiang sudah memperhitungkan lebih dahulu. Baru orang gerakkan tangan dia sudah melambung keatas, begitu golok melayang dibawah kakinya, dengan gunakan cian- kin-tui (tindihan seribu kati) dia menurun dan tepat menginjak golok orang Biau itu ditanah. Ternyata orang Biau itu juga fanatik sekali. Terang dia tak dapat menarik golok yang dipijak kaki sianak muda itu, namun tangannya tetap tak mau melepaskannya.

Melihat kawannya dipecundangi, ketiga orang Biau lainnya segera maju berbareng. Tapi cukup  dengan mainkan dahannya, Tio Jiang telah dapat menghalau mereka, kemudian dengan gerak liok-ting-gui-san, disusuli menghantam bahu siorang Biau yang tinggi besar tubuhnya tadi. Tio Jiang gunakan 3 bagian tenaganya, maka kali ini orang Biau itu terpaksa lepaskan cekalannya, ter-huyung2 jatuh. kebelakang. Tio Jiang pungut golok-sabit orang, lalu menyerang ketiga orang Biau tadi dengan tiga buah serangan ajaran Sik Lo-sam. Trang..., trang..., trang..., ketiga orang Biau itu coba menangkis, tapi golok mereka telah terpental jatuh.

Tio Jiang mau unjuk demonstrasi. Batu yang terisi mustika, dikempit dalam ketiak kanan. Sekali enjot tubuhnya dia loncat keatas. Kedua tangannya dijulurkan kemuka untuk mencekal 4 batang golok tadi. Selagi melayang turun, tangannya kiri timpukkan dua  batang golok kearah sebuah puhun besar yang berada didekat situ. Dua batang golok itu tepat menancap masuk kedalam batang puhun, hingga sampai separoh bagian. Sedang separoh bagian tangkainya, tampak ber-goncang2. Keempat orang Biau itu ter-longong2 heran, tapi sebaliknya Tio Jiang sendiripun merasa aneh.

(Oo-dwkz-TAH-oO)

Tadi dia melihat siorang Biau tinggi besar itu mainkan goloknya dalam gaya menyerang yang luar biasa. Begitu pula ketiga orang Biau lainnya itu, pun memainkan jurus pertahanan yang luar biasa juga. Inilah yang membuatnya heran. Segala ilmu pedang apa saja! sampaipun itu to-hay- kiam-hwat, tentu terdapat ciri2 cacadnya (mempunyai kelemahan). Tapi ilmu golok dari orang Biau itu, dapat digunakan untuk menyerang dan bertahan secara mengagumkan sekali. Dia ambil putusan hendak menjumpai Kit-bong-to, kepala suku mereka, untuk meminta penjelasan lebih jauh mengenai ilmu itu. Maka dia segera memberi isyarat gerakan tangan supaya diantar kepuncak gunung, tapi rupanya keempat orang Biau itu menolak.

„Aku mau bertemu dengan Kit-bong-to!" akhirnya terpaksa Tio Jiang berseru mendongkol. Tanpa disangka, begitu mendengar orang menyebut nama ,Kit-bong-to", sikap keempat orang Biau itu berobah ramah dan tertawa. Salah kedua diantara mereka menuding kearah golok yang dicekal Tio Jiang, siapa rupanya mengerti kehendak orang dan lalu memberikannya, Sedang kedua kawan mereka yang lain, menghampiri batang puhun tadi untuk mencabut golok mereka. Tapi bagainianapun mereka berdua gunakan seluruh tenaganya untuk mencabut, namun tetap tak mampu. Separoh bagian dari golok itu telah menyusup kedalam batang puhun tua yang keras sekali kayunya, hingga wajah mereka sampai merah padam.

„Mari kutolong!" seru Tio Jiang seraya menghampiri.

Tanpa pedulikan wajah mereka yang mengunjuk kesangsian dan, sekali kerahkan Iwe.karig Tio Jiang segera mencabutnya keluar. Setelah itu, dia cabut lagi golok yang lainnya. Kini keempat orang Biau itu tunduk betul2 pada sianak muda. Dengan hormat sekali, mereka segera membawa Tio Jiang kepuncak Thiat-nia.

Adalah karena mengunjungi kepala suku Thiat-theng- biau itu, maka Tio Jiang agak terlambat datangnya ke Koto- san. Coba dia tak pergi kegunung itu, tentu siang2 sudah sampai kesana dan Yan-chiupun tak nanti keisengan coba2 memasuki gereja Ang-hun-kiong.

Setengah jam kemudian, tibalah Tio Jiang ditempat kediaman suku Thiat-theng-biau. Keempat orang pengantarnya tadi segera lari lebih dahulu  untuk menghadap Kit-bong-to yang tampak sedang duduk bersila ditempatnya. Dengan meng-gerak2kan golok, rupanya keempat orang Biau tadi tengah menceritakan tentang demonstrasi kepandaian yang diunjuk oleh Tio Jiang tadi. Kit-bong-to masih ingat bahwa Tio Jiang itu adalah salah seorang dari rombongan yang membebaskan calon mempelainya (Bek Lian). Sudah tentu dia tak menyukai anak muda itu. Dengan membentak keras2, dia suruh keempat orangnya tadi mundur, kemudian bertanya pada Tio Jiang: „Apa maksudmu datang kemari lagi ini ?"

Sesaat Tie Jiang tersentak kaget. Memang dia tak mempunyai kepentingan istimewa datang kesitu itu. Hanyalah karena melihat ilmu permainan golok keempat orang Biau tadi, dia merasa ketarik dan  hendak menanyakan lebih lanjut kepada kepala suku itu. Apa boleh buat, Tio Jiang menceritakan maksudnya. Wajah Kit-bong- to berobah seketika, tapi pada lain saat air mukanya berseri lagi, serunya dengan ramah: „Maaf tak dapat memberi sambutan apa2 kepada tetamu jauh. Hanya teh keluaran gunung ini, tentu dapat menghilangkan rasa dahaga!"

Tanpa sungkan2 lagi Tio Jiang segera menyambuti cawan teh terus hendak diminumnya. Tiba2 dibaunya teh itu luar biasa wanginya, tapi dalam keharuman itu seperti ada bau lain yang istimewa, maka dia, tak jadi meminumnya lalu melirik kearah kepala suku itu.

„Apakah hohan kuatir kalau teh itu dicampuri racun?" tanya Kit-bong-to yang rupanya mengerti akan kesangsian orang. Malah tanpa tanya jawaban lagi, dia segera rebut cawan yang dipegang Tio Jiang itu terus diminumnya. Setelah meneguk habis separo cawan, lalu diberikan pada Tio Jiang, katanya: „Lekas minumlah, asal usul ilmu golok itu memang aneh sekali. Setelah minum, segera kubawamu kesana."

Sebagai lelaki jujur, sudah tentu Tio Jiang menjadi sungkan. Disambutinya cawan itu, dan demi dilihat isinya memang hanya tinggal sedikit, dia terus hendak meminumnya. Adalah pada saat cairan itu sudah menempel dibibirnya, dia mencuri lihat sikepala suku, yang ternyata dengan mata mendelik tengah mengawasi dirinya dengan wajah yang beringas, se-olah2 tak sabar lagi supaya Tio Jiang lekas2 meminumnya.

Tio Jiang bersangsi lagi. Jangan2 kepala suku itu hendak main gila. Tapi karena sudah menyatakan hendak meminum, jadi Tio Jiang mencari akal. Cepat dia mengambil keputusan. Diam2 dia kerahkan ilmu lwekang ajaran Sik Lo-sam yakni „cap ji si hang kang  sim  ciat", hawa murni disalurkan kearah tenggorokan, kemudian, sekali teguk dia habiskan isi cawan itu. Teh itu benar masuk kedalam mulut, tapi hanya berhenti ditenggorokan, tidak masuk keperut.

„Mari ikut padaku!" seru Kit-bong-to dengan girangnya, demi dilketahui sang tetamu sudah meminumnya. Dia kedengaran menjerit beberapa kali dan kawanan orang Biau itu lalu me-nari2 dengan hiruk pikuknya. Adalah sewaktu mendapat kesempatan, Tio Jiang segera muntahkan teh. tadi keluar. Tenggorokannya dirasakan gatal, manis2 serak. Dia ikut Kit-bong-to naik kepuncak gunung.  

6

Tio Jiang dihantar oleh kepala suku Biauw itu kepuncak gunung yang tandus gilap itu untuk melihat rahasia ilmu golok satu jurus yang lihay itu.

Dinamakan Thiat-nia atau puncak besi, karena memang keadaan gunung itu aneh sekali. Makin keatas, makin tiada terdapat tumbuhan apa2. Batu2 disitu sama ke-hitam2an warnanya. Tak berapa lama, sampailah mereka dipuncak. Kecuali gundul, puncak itu tiada. Lain keistimewaannya, tapi anehnya sikap Kit-bong-to sedemikian hormatnya seperti berhadapan dengan malaekat yang dipujanya. Dengan berlutut ditanah, dia kedengaran berdoa. Diam2 Tio Jiang merasa geli juga.

Se-konyong2 Kit-bong-to loncat bangun, dari pinggangnya dia cabut sebatang golok-sabit terus dibuat menabas dan tiba2 dirobah dengan hantaman kebawah. Melihat demontrasi itu, Tio Jiang bertanya: „Dapatkah kau memberitahukan asal usulnya ilmu golok itu?" „Siaoko, kau harus bersumpah dulu bahwa didalam 10 hari kau takkan mengatakan pada lain orang tentang apa yang kau lihat hari ini!"

Tio Jiang heran. Dia tak mengerti Kit-bong-to hendak menunjukinya rahasia apa saja, maka dia harus bersumpah begitu. Didalam 10 hari tak boleh memberitahukan lain orang, tapi bagaimana setelah lewat waktu itu? Dia tak tahu bagaimana jawabannya, tapi oleh karena kepala suku itu telah menaruh kepercayaan padanya, sebagai orang yang berhati jujur, diapun segera mengikrarkan sumpah itu. Dengan berseri girang, Kit-bong-to segera ajak dia maju. beberapa tindak lagi. „Lihatlah!" tiba2 dia berseru sembari menunjuk kearah sebuah batu besar yang kelimis halus tiada ditumbuhi apa"

„Ada apanya?" tanya Tio Jiang dengan keheranan demi mengawasi batu itu tiada ada apa2nya. Kit-bong-to segera menabas bagian atas dari batu hitam itu. Kiranya bagian atas dari batu itu dilumuri dengan tanah liat, maka sekali papas dapatlah Kit-bong-to menghilangkan lapisan tanah itu. Dan ketika permukaan batu itu kelihatan, Tio Jiang menjadi, terkejut. Kiranya disitu terdapat lukisan-ukir dari sebatang golok yang macamnya mirip dengan golok-sabit Kit-bong-to itu, Dibawah lukisan itu terdapat guratan2 huruf yang ternyata merupakan keterangan dari sebuah ilmu golok. Tulisan disitu, menerangkan menyerang badan bagian atas lalu setengah jalan dirobah menyerang kaki orang. Serangan itu dapat dirobah menjadi pertahanan yang indah. Tio Jiang ulangi memeriksa tulisan itu. Dia dapatkan sari keindahan dari ilmu golok itu, sukar dilukiskan.

„Kit-bongto, lekas bersihkan lapisan tanah liat itu semua. Ilmu golok ini, tiada ternilai saktinya" buru2 Tio Jiang meminta. Namun Kit-bong-to tertawa menyahut: ,Hanya ada satu jurus itu saja! "

Tio Jiang memeriksanya, kiranya benar yang dikatakan kepala suku itu.

„Entah bilamana ilmu golok itu tertera di atas batu ini," kata Kit-bong-to, „sejak kaum Thiat-thengbiau kami menetap disini, ilmu golok itu sudah ada. Kaum kami gunakan ilmu golok itu untuk menghadapi serangan binatang buas dan hasilnya memuaskan sekali! "

Sampai sekian saat, Tio Jiang ter-longong2 mengawasi huruf2 itu. Mendadak serasa dia seperti pernah melihat huruf itu, ah..... benarlah! Buru2 dia memeriksa batu berisi mustika yang dibawanya itu dan hai....., memang sama gayanya! Siapa lagi yang menciptakan ilmu golok luar biasa itu kalau bukan Tat Mo Cuncia. Tapi anehnya, mengapa hanya terdiri sejurus saja? Dia kini sudah memiliki dasar2 ilmu silat yang dalam, sembari memeriksa dengan perdata akan pelajaran ilmu golok dibatu itu, diam2 dia telah menelaah sari keindahannya. Tak seperti dengan suku Biau yang hanya asal menurutkan gerak2annya saja, tanpa mengerti dimana letak kegunaannya yang sejati.

Akhirnya sampailah Tio Jiang pada suatu kesimpulan, bahwa andaikata adalagi satu jurus, ilmu golok itu pasti merupakan ilmu golok yang tiada taranya didunia. „Kit- bong-to, apakah benar2 hanya ada satu jurus ini saja?" tanyanya menegas.

Saat itu Tio Jiang tengah terbenam dalam renungan yang dalam, jadi sedikitpun dia tak mengetahui akan sikap orang yang berobah aneh pada saat itu. „Ah, ilmu golok ini memang sangat sakti, sayang tiada punya nama," kedengaran Tio Jiang menyatakan perasaannya sendiri. „Ada, disebaliknya," sahut Kit-bong-to, Tio Jiang buru2 mengikutinya kebalik batu itu dan disitu didapatinya ada 3 buah huruf „it to hwat" (ilmu golok tunggal). Tio Jiang, makin tak habis mengerti. Sesuai dengan namanya, ilmu golok itu jadi hanya terdiri dari sejurus saja. Aneh, mengapa sejurus bisa merupakan sebuah ilmu golok yang lengkap ?

„Siaoko, batu bertulisan ini hanya aku seorang yang melihatnya. Kuajak kau kemari ini, adalah karena aku hendak minta bantuanmu menjelaskan ilmu golok itu," demikian Kit-bong-to.

Kiranya berulang kali Kit-bong-to pernah turun gunung mengembara didunia persilatan. Setiap kaum persilatan yang menyaksikan permainan goloknya, tentu sama memuji dan kagum akan kebagusannya. Tapi oleh karena hanya terdiri dari sejurus saja, mereka anggap mungkin kepala suku Biau itu hanya dapat mencuri belajar saja, jadi mereka tak menaruh perhatian lebih lanjut.

Disebabkan karena Kit-bong-to tak mengerti ilmu lwekang, jadi sekalipun ilmunya golok istimewa, tapi tak lebih tak kurang dia hanya setanding dengan kaum persilatan biasa saja. Yang mengherankan, turun menurun suku bangsaThiat-theng-biau itu memiliki suatu kode pelajaran ilmu golok yang disebut „it to hwat, sip-to-hwat, peh-to-hwat, cian-to-hwat dan ban-to-hwat." Tetapi tiada seorangpun yang dapat menjelaskan bagaimana arti kode2 itu. Kit-bong-to yakin, disitu tentu terdapat sesuatu hal yang istimewa, tapi oleh karena dia tak suka orang2 Han main gila, jadi rahasia itu dibiarkan tertutup begitu saja.

Adalah tadi dengan kedatangan Tio Jiang yang dianggapnya sebagai seorang pemuda jujur serta menaruh perhatian akan ilmu golok itu, timbullah suatu ilham dalam perasaannya, mungkin pemuda yang ke-tolol2an inilah  yang dapat menolong menyingkap tabir rahasia itu. Tapi ternyata sampai hampir setengah harian, pemuda itu belum juga dapat menjelaskan.

„Yu-tio (kepala suku) aku juga tak dapat menerangkan!" akhirnya Tio Jiang menyatakan dengan sejujurnya. Melihat sikap dan lagu ucapan anak muda itu menandakan ketulusan hatinya, Kit-bong-to merasa suka dan malah menyuruhnya tinggal disitu dulu untuk sementara hari.

„Siaoko, tinggallah dulu beberapa hari supaya dapat merenungkan dengan tenang !" katanya.

(Oo-dwkz-TAH-oO)
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Naga dari Selatan BAGIAN 35 : TULISAN DI BATU"

Post a Comment

close