Naga dari Selatan BAGIAN 33 : LOLOS DARI LUBANG JARUM

Mode Malam
 
BAGIAN 33 : LOLOS DARI LUBANG JARUM

Sudah tentu The Go tak mau biarkan dirinya dibabat seperti batang pisang. Dengan sekali dua langkah, dia sudah melejit kebelakang sinona, sembari pelintir-tangan orang. Yan-chiu meringis kesakitan, hendak ia membacok kebelakang, tapi Tho Go berlincah kian-kemari, jadi sia2 saja.

Dalam keputusan daya itu, Yan-chiu mengambil putusan nekad. Daripada kena ditawan hidup2an dan menerima, lebih baik ia mati ber-sama2 dengan musuh. Begitu pedang diangkat kemuka, ia terus hendak membabat dirinya sendiri. Pikirnya biar tubuhnya terkutung, tapi musuhpun pasti kena juga. Tapi rencananya itu, dapat diketahui The Go, siapa menjadi terperanjat sekali. Hanya karena  mentaati pesanan sang sucou supaya menangkap hidup2an nona itu, maka dia tak mau mencelakai Yan-chiu. Andaikata tidak begitu, dari tadi2 dia, sudah dapat mempelintir putus lengan sinona.

Buru2 The Go melejit kehadapan sinona lagi. Belum Yan-chiu sempat merobah gerakannya, sebat luar biasa The Go ulur tangan hendak merebut. Tapi tak kalah sebatnya, Yanchiu sudah lantas membabat kearah pinggang orang. Saking gugupnya, gerakan Yan-chiu itu sudah tak menurut gerakan ilmu pedang lagi. Dalam keadaan begitu, mau tak mau The Go terpaksa loncat kebelakang dan lepaslah cengkeramannya itu.

Terlepas dari cengkeram besi, Yan-chiu pulih semangatnya. Cepat ia memburu dengan serangan it-wi-tok- kiang. Saking kuncup nyalinya, The Go terus hendak panjangkan langkah, tapi tiba2 Ang Hwat cinjin kedengaran berseru „Go-ji, apa sudah selesai?"

Dapat dibayangkan betapa bingung The Go pada saat itu. Bukannya dapat meringkus, tapi pedangnya malah dapat direbut sinona. Dia tahu watak Ang Hwat itu sangat aneh sekali, yalah mengindahkan sekali pada bangsa orang gagah. Kalau keadaannya itu sampai ketahuan Ang Hwat, dia tentu akan dipandang hina. Maka dengan keraskan hati, dia menyahut: „Ya, sudah hampir!", seraya menerjang pada Yan-chiu. Kini tangannya itu sudah tambah dengan sebuah kipas yang hendak digunakan menutuk jalan darah ing- hiang-hiat.

Bermula Yan-chiu tertegun mendengar suara Ang Hwat tadi. Tapi begitu melihat The Go maju menyerang, ia tabaskan pedang, terus melarikan diri. Tapi pada saat itu, The Go sudah lancarkan ilmusilat hong-cu-may-ciu. Dia rangsang sinona rapat sekali. Beberapa, kali Yan-chiu berusaha hendak lolos, tapi selalu gagal untuk menembus serangan lawan yang begitu gencar itu. Lama2 Yan-chiu murka, pedang dipindah ketangan kiri, lalu dengan jurus Pah-ong-oh-kiang, ia menusuk tenggorokan orang.

Munculnya serangan ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat itu telah merobah situasi pertempuran. Dari menyerang, kini The Go beralih diserang, malah untuk menghindar dari serangan itu, dia nampaknya sangat susah payah sekali. Sebaliknya Yan-chiu makin dapat hati. Melihat serangannya berhasil, ia susuli lagi dengan lain jurus dari ilmu pedang itu yang disebut kiang-cui-kiu-jiok. Saat itu, betul2 The Go mati kutu. Dari satu kelain tempat main menghindar, tak terasa dia sudah mundur sampai satu tombak lebih jauhnya.

Yan-chiu maju dua langkah lagi. Pedang diangkat, terus hendak dibacokkan lagi. Tapi baru pedang itu melayang, orangnya sudah loncat keluar. Maksudnya hendak lari membiluk ditikungan lorong. Tapi se-konyong2 ada sesosok tubuh, melayang kearahnya dan tahu2 sudah mencengkeram bahu sinona. Kiranya orang itu bukan lain Ang Hwat sendiri adanya.

Karena keliwat lama, dia menjadi tak sabaran lagi. Apalagi didengarnya diluar ruangan situ agaknya seperti ada suara pertempuran, dia segera keluar menjenguk. Astagafirullah, bukannya murid kesayangannya itu meringkus sinona, 'tapi' sebaliknya dia pontang panting didesak oleh ceceran pedang sinona yang bermain dalam jurus kiang-cui-kiujiok tadi.

Rencana melarikan diri dari Yan-chiu itu siang2 sudah diketahui oleh Ang Hwat, siapa segera mendongak keatas ketawa yang tiada terdengar suaranya itu. Tahu2 bagaikan segumpal awan merah, dia sudah melayang menyerang sinona yang segera dicengkeram bahunya itu. 1

Tahu2 Yan-chiu merasa segumpal awan merah menimpah dari udara, tiba2 Ang Hwat Cinjin menubruk, kearahnya, segera pundaknya terasa kesakitan dan pedangpun terjatuh

......................

Merasa, bahunya keliwat, sakit seperti dijepit oleh kait besi, Yan-chiu berpaling kebelakang. Demi tampak rambut gimbal merah, hidung pisek mulut lebar menghias muka Ang Hwat yang sedemikian jeleknya itu, Yan-chiu serasa terbang semangatnya. Trang....... jatuhlah pedang kuan-wi kelantai dari tangannya yang lemas seperti tak berurat lagi itu. Sekali tangan Ang Hwat bergerak, Yan-chiu terhuyung2 sampai beberapa meter kemuka. Untung Ang Hwat masih ingat kedudukannya sebagai tokoh ternama. Kalau tidak, dia tentu sudah gunakan 8 bagian kekuatannya untuk mendorong tadi. Dengan kepandaian yang dipunyai Yan- chiu pada waktu itu, kalau tidak terbanting hancur tentu remuk bubuk tulang belulangnya.

Seperti telah diterangkan dibagian atas, Ang Hwat mempunyai watak aneh, menaruh perindahan pada orang gagah, Dia tak percaya kalau sinona itu dapat merebut pedang The Go. Maka tadi dia hanya mendorong sedikit, karena hendak menanyai lebih jelas. Maka walaupun jatuh tersungkur, namun Yan-chiu tak sampai terluka berat. Sebaliknya, The Go segera cepat2 memungut pedang itu. Mukanya ber-seri2 girang sekali.

Mengira kalau dirinya bakal tak dapat lolos dari bahaya, Yan-chiu tak mau unjuk rasa takut. Setelah bangkit, ia berdiri dengan bertolak pinggang. „Go-ji, mengapa pedangmu dapat direbut oleh budak perempuan itu ?" tanya An-g Hwat sembari bergantian memandang kepada The Go dan Yan-chiu.

The Go mengeluh. Kalau terus terang, tentu bakal terima makian. Maka dia sengaja mengarang cerita, katanya:

„Ketika cucu murid agak lengah, budak itu segera menyambar pedang yang kutaruh diujung tembok!"

„Itu masuk akal!" nada suara Ang Hwat berobah tenang tak sebengis pertanyaannya tadi. Kini dapatlah Yan-chiu menarik kesimpulan mengenai diri kepala gereja Ang- hunkiong itu. Dengan tak mau membanting se-keras2nya, terang kalau imam kepala itu sangat menjunjung kehormatan nama. Apalagi dari kesimpulan pembicaraannya dengan The Go tadi, cinjin itu sangat menganggap dirinya sebagai tokoh persilatan yang mempunyai kedudukan tinggi, maka diapun menempatkan cucu muridnya itu sebagai jago kelas tinggi juga.

“Orang she The, apa kau mempunyai rahi gedek (bermuka tebal)? Kalau tak kurampas dari tanganmu, apa pedang itu kurebut dari cengkeram binatang kura2 ?" dampratnya nyaring2 agar didengar Ang Hwat.

Wajah The Go berubah pucat, sedang sepasang mata Ang Hwat menjadi beringas sekali. „Sucou, jangan percaya ocehan budak itu. la hendak membikin provokasi supaya kau marah. Budak macam dia, mana bisa merebut pedang didalam tanganku!" buru2 The Go menyanggapi.

Yan-chiu tertawa gelak2. Nada ketawanya bening dan congkak sekali. Dengan tak mengunjukkan perobahan air muka, Ang Hwat berseru: „Budak perempuan, dari perguruan manakah kau ini, malam2 berani mengadu biru digereja sini? "

Pertanyaan kepala gereja itu, memberi kesempatan pada Yan-chiu untuk merangkai siasat. Serta merta ia memberi hormat pada Ang Hwat lalu menghaturkan keterangan:

„Hopwe (aku) adalah murid dari Ceng Bo siangjin, kepala gereja Cin-wan-kuan dipuncak Giok-li-nia gunung Lo- husan! Aku dititahkan suhu untuk menghadap pada cianpwe disini guna menetapkan waktu dari pertempuran dihari pehcun itu."

„Dua negara yang bermusuhan, tak boleh membunuh seorang utusan". Berpegang pada dalil itulah maka Yan- chiu menyatakan dirinya sebagai seorang duta. Kedengaran Ang Hwat mendenguskan suara hidung. Untung tadi The Go tak jadi meringkusnya, kalau tidak, tentu akan menjadi buah tertawaan orang persilatan. Tapi diapun tak gampang2 mempercayai keterangan itu. „Adakah kau membawa surat dari suhumu?" tanyanya.

Yan-chiu tertegun sejenak, tapi dengan tangkasnya ia segera menyahut: „Kaum gagah dari dunia persilatan, mulutnya berharga seperti emas. Mengapa mesti pakai surat!"

Suatu jawaban yang tangkas dan tepat. Tapi sejenak ia tertegun tadi, telah dipegang oleh The Go, siapa dengan tertawa dingin lalu memberi bantahan pada sucounya:

„Sucou, jangan kena diakali. Memang benar ia adalah murid dari Ceng Bo siangjin. Sampai pada malam ini, siangjin itu bersama rombongannya belum tiba dikaki gunung, bagaimana bisa menyuruh budak itu memberitahukan kemari? Apalagi pertempuran hari pehcun itu, sudah jelas dijanjikan secara lisan. Perlu  apa diterangkan lagi? Kuyakin, disitu tentu terselip rencana keji. Ceng Bo siangjin dan kawan2nya itu, tentu mengiri akan kebesaran nama dari su-cou. Kedatangan mereka kegunung ini, rasanya tentu dengan maksud lain lagi. Bukan mustahil mereka hendak merebut gereja Ang-hun-kiong yang sedemikian bagusnya ini!" Mendengar uraian The Go, rambut Ang Hwat sama menjigrak semua. Tapi  Yan-chiu masih coba berlaku tenang, katanya dengan tertawa tawar: „Orang she The, oleh karena takut kau digegeri sucoumu karena pedangmu dapat kurampas, maka sengaja kau karang cerita itu, supaya cianpwe menumpahkan kemarahannya padaku, bukan?"

Diam2 The Go mencaci maki Yan-chiu. Dia cukup faham akan watak perangai sucounya itu. Dan kekuatirannya itu ternyata benar. Rupanya Ang Hwat terpengaruh oleh kata,2 sinona, katanya kepada The Go:

„Go-ji, tak peduli dengan maksud apa ia datang kemari ini, tapi kata2nya yang menekankan bahwa ia telah berhasil merebut pedangmu itu tadi, sungguh keliwatan. Sekarang coba kau main2 beberapa jurus dengan dia, apa ia mampu merebut pedangmu itu tidak!”

Mendengar keputusan sucounya itu, legalah hati The Go.

Tapi karena Yan-chiu sudah tak berdaya, maka dia agak lengah. Akibatnya sinona telah dapat merebut pedang kuan- wi. Kini biar bagaimana, sinona tentu tak mampu melakukan hal itu. Maka begitu mulutnya mengiakan, pedangnya sudah segera menusuk keulu hati Yan-chiu, hingga sinona genit tak sempat ber-kata2 lagi. Gerak serangan The Go itu diambil dari salah satu jurus ilmupedang Chit-sat-kiam-hwat yang baru saja dipelajari itu.

Ilmu pedang yang kebanyakan, jurus pembukaan tentu bergaya menyerang musuh. Tapi ilmupedang chit-sat- kiahwat itu, berlainan halnya. Bukan saja jurus pembukaannya, tapipun seluruh permainan yang terdiri dari

49 jurus itu, semuanya merupakan jurus serangan yang berantai ber-tubi2 susul menyusul. Sebagai achli penutuk jalan  darah,  Chit-sat-kiam-hwat  buah  ciptaan  Ang  Hwat cinjin itu selalu mengarah jalan darah lawan. Merupakan ilmupedang yang serba guna. Maka, Ang Hwat belum mau menurunkan ilmu pedang sakti itu, sebelum The  Go berhasil mendapatkan pedang pusaka.

The Go berotak cerdas. Setelah mendengarkan penjelas Ang Hwat dan kemudian melakukan satu kali gerakannya, dapatlah sudah dia mainkan ilmupedang sakti itu dengan baiknya. „Jurus pertama „hiong mia ce hian" (nasib jelek bintang mengunjuk) nampaknya menjuju kedada Yan-chiu, tapi begitu melayang tiba, ujung pedang sudah mengarah juga jalan darah thian-tho-hiat ditenggorokan orang.

Yan-chiu masih belum jelas akan maksud Ang Hwat menyuruh The Go bertempur dengan ia lagi itu. Tapi turut kesimpulan yang layak, kalau ia dapat merebut pedang si The Go, tentulah akan diberi kebebasan. Dengan membawa harapan itu, Yan-chiu tumplak seluruh perhatiannya untuk menghadapi serangan lawan. Untuk ujung pedang yang hendak menusuk tenggorokan itu, Yan-chiu segera miringkan kepalanya menghindar. Hanya 3 dim saja ujung pedang itu lalu disisi leher Yan-chiu, dan dengan girangnya The Go jungkatkan pedang untuk menutuk jalan darah hong-tihiat dibelakang batok kepala sinona. Untuk itu, terpaksa Yan-chiu turunkan tubuhnya kebawah dan lagi2 dapatlah ia menghindar.

Dua buah serangan The Go itu teramat lihainya. Semuanya merupakan serangan maut. Dan Yan-chiupun mengetahui akan hal itu. Begitu tubuh menurun, ia segera melangkah satu tindak kesamping. Sebelum The Go sempat mengirim serangan baru, ia sudah lancarkan jurus kiang- cui-kiu-jiok, kiang-cui-kui-tang, yakni 2 jurus terakhir dari ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat. Oleh karena ilmupedang itu dimainkan dengan tangan kiri, jadi sukarlah lawan menduga arah yang hendak diserang. Ya, memang permainan pedang dengan tangan kiri sangat membingungkan orang.

Serangan yang istimewa gairahnya itu, telah membuat The, Go gugup kebingungan. Tapi pada lain saat, dia menertawai, kebodohannya sendiri. Dia mencekal pedang pusaka, mengapa jeri menghadapi pedang lawan yang terbuat dari besi, baja biasa? Dengan kelebihan itu, The Go tak mau berbanyak hati lagi. Begitu menghindar, dia terus angkat pedangnya menabas pedang Yan-chiu, siapa baru tersadar atas maksud The Go ketika keadaan sudah kasip. Tiba2 Yan-chiu mendapat sebuah siasat bagus. „Trang

........ sengaja ia angkat pedangnya supaya ditabas musuh, tapi pada, lain saat berbareng dengan kutungnya pedang itu, The Go kedengaran menggerung keras dan ketika keduanya saling loncat kebelakang, pedang kuan-wi sudah berada didalam tangan Yan-chiu.

”Ang Hwat locianpwe, sudah jelas bukan?" tanya sinona dengan garang.

The Go hendak maju menyerang lagi, tapi telah didesak, mundur oleh tabasan pedang Yan-ciu. Sementara Ang Hwatt cinjin sendiri juga kedengaran berseru: „Go-ji, berhentilah! "

Tampak wajah sang sucou menjadi bengis, The Go bercekat dan tak berani bergerak lagi. Apa yang telah  terjadi, dalam pertempuran itu, telah dilihat jelas oleh Ang Hwat. Ketika Yan-chiu sengaja umpankan pedangnya supaya ditabas The Go, Ang Hwat sudah mengetahui apa yang bakal terjadi. Namun sebagai seorang cianpwe dunia persilatan, sudah tentu dia tak mau merosotkan gengsinya untuk membantu sang cucu murid. Maka terpaksa dia melihati saja dengan hati mendelu. Tatkala pedang Yan-chiu tertabas kutung, cepat bagai, kilat, Yan-chiu timpukkan kutungan tangkai pedangnya keperut lawan. Jarak keduanya sangat dekat sekali, timpukan Yan-chiu cepat dan keras. The Go buru2 miringkan tubuhnya kesamping dan dari situ dia sudah merencanakan hendak menghabisi jiwa sinona dengan sebuah tusukan. Tapi adalah pada saat tubuhnya miring kesamping itu, Yan-chiu sudah julurkan tangan kiri untuk mencengkeram siku lengan The Go.

Gerakan Yan-chiu itu disebut „long tiong co biat" dalam kantong tangkap kura2. Salah satu jurus dari ilmu gong- chiu-to-peh-jim (dengan tangan kosong merebut senjata) ciptaan Tay Siang Siansu. Seperti telah kami  paparkan terlebih dahulu, ilmu gong-chiu-to-peh-jim itu sengaja diciptakan oleh Tay Siang Siansu chusus untuk merebut pedang pusaka yap-kun dan kuan-wi dari sepasang suami isteri Hayte-kau dan Kiang Siang Yan itu.  Mengingat betapa tajamnya kedua pedang itu, maka setiap gerakan dari ilmu silat itu harus menurut timing dan arah sasaran yang tepat.

Sewaktu kelima jari Yan-chiu memijat siku lengan The Go, The Go segera merasa kesemutan. Dan secepat tangannya merangsang maju dan mencekal tangkai pedang kuan-wi, terus dibetotnya kebelakang. The Go hanya melongo saja ketika pedang kuan-wi itu pindah ditangan sinona. Ang Hwat melihatnya dengan jelas. Tentang ilmu kepandaian silat, sinona itu biasa saja. Meskipun memiliki ilmupedang yang luar biasa, belumlah dapat digolongkan lihay. Tapi ilmu merebut senjata tadi itulah yang luar biasa. Karena kagum dia larang The Go bertempur lagi.

Yan-chiu girang sekali. la cukup tahu tak mungkin dapat membawa pergi pedang pusaka itu, maka ditancapkannya pedang itu ditanah, lalu berkata: „Rasanya persoalan hopwe masuk kegereja sini, sudah selesai. Maka hendak Mohon diri!" Dengan sebuah bungkukan badan memberi hormat, Yan-chiu telah membuat Ang Hwat tak dapat berbuat apa2. Malah untuk mengunjukkan gengsinya sebagai seorang cianpwe yang terhormat, dia perentah The Go antarkan sinona keluar.

Muka The Go merah padam, namun tak dapat berbuat apa2 kecuali mengiakan. Terpaksa dia iringkan Yan-chiu keluar. Yan-chiu tak mau lewatkan kesempatan untuk meng-olok2, ujarnya: „Cian-bin long-kun, maafkan, hari ini aku berlaku kurang sopan padamu!"

Biasanya selalu The Go yang mengocok orang, tapi berhadapan dengan sigenit lincah dari Lo-hu-san, dia meringis seperti monyet kena terasi. Setelah keluar dari pintu, Yan-chiu tak mau berayal lagi terus ber-gegas2 turun gunung, dan mencari sebuah penginapan. Teringat akan avontuurnya (petualangan) tadi, dimana jiwanya hampir saja melayang, ia bergidik sendiri. Keesokan harinya, belum juga Ceng Bo siangjin dan rombongannya kelihatan datang. Memang hari pehcun masih kurang seminggu. Syukur ia masih mempunyai uang cukup, jadi tidak sampai kerepotan.

--oodwkzOTAHoo—

Kini marilah kita tengok keadaan Ceng Bo siangjin yang sudah lama kami tinggalkan. Setelah berpisah dengan Nyo Kong-lim, Ki Ce-tiong serta Kiauto, dia menuju ke Hud- kong tempat kediaman ayah dari Ko Kui, itu Cecu dari markas no. 1 gunung Hoa-san yang telah gugur ditangan The Go. Mendengar kisah kematian sang putera yang mengenaskan itu, Sin-eng (garuda sakti) Ko Thay seperti disambar petir. Malam itu juga dia ajak Ceng Bo siangjin menuju ke Ko-to-san. Sebenarnya kedua tokoh itu belum kenal mengenal, tapi karena keduanya adalah orang2 gagah yang berwatak ksatrya, maka dalam sekejab saja mereka sudah menjadi seperti kenalan lama.

Gelar dari Ko Thay adalah „sin eng". Ilmunya mengentengi tubuh luar biasa hebatnya. Senjatanya juga luar biasa, sepasang eng-jiao-thau (sarung cakar garuda), dapat dibuat menutuk 80 buah jalan darah orang. Hebatnya bukan, terkira. Begitulah setelah tiba di Kwiciu, lebih dahulu Ceng Bo ajak Ko Thay singgah kegereja Liok-yong- si. Tapi disitu baik Tay Siang Siansu maupun Kiau To, sudah tak tampak. Kini mereka lanjutan perjalanannya dengan perahu.

Menjelang petang hari, tibalah mereka, dikota Sun-tik. Ko Thay yang sedang dirangsang oleh hawa kemarahan karena kematian puteranya, tampak berdiri dihaluan perahu sambil memandapg alun riak gelombang sungai. Begitu bernafsu rupanya jago tua itu, hingga seandainya bisa, saat itu ingin dia sudah berada di Koto-san untuk mengadu jiwa dengan Ang Hwat cinjin, kemudian mencincang Cian-bin Long-kun. Tahu akan perasaan hati orang, Ceng Bopun tak mau menggerecok. Begitulah diatas geladak, kedua orang itu sama2 diam tak ber-kata2. Se-konyong2 dari hulu sungai disebelah muka sana tampak meluncur sebuah perahu kecil. Tapi walaupun hanya kecil, perahu itu dapat meluncur dengan pesatnya. Siorang yang mengemudikan perahu itu, mencekal sebatang galah bambu. Rupanya dia galak sekali. Setiap ada lain perahu yang menghadang jalanannya, sekali congkel dapat diterbalikkan semua.  

2

Sedang Ceng Bo Siangjin dan Ko Thay mengawasi suasana sungai itu dihaluan perahu, tiba2 dilihatnya di depan sana lagi mendatangi sebuah perahu lebih kecil, seorang dengan galah panjang tampak membikin perahu2 nelayan disampingnya menjadi pontang-panting.

Ceng Bo dan Ko Thay marah atas perbuatan orang itu, yang dari dandanannya agaknya adalah bangsa paderi. Tubuhnya kecil kurus tapi pakaiannya besar. Galah itu hampir satu tombak panjangnya, namun dia dapat memainkannya dengan leluasa sekali, jadi terang kalau memiliki kepandaian yang berarti juga. Dengan cepatnya, perahu itu telah meluncur kearah perahu Ceng Bo. Kembali tampak galah diangkat keatas dan beberapa perahu mayang (tangkap ikan) terbalik. Beberapa nelayan men-jerit2 kalang kabut kecebur dalam air.

Ceng Bo tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekali enjot, dia loncat kearah tali temali perahunya. Dengan  sekali sentak, putuslah tali temali tiang besar dari perahu itu, hingga kini, perahu itu berputar membujur ditengah sungai. Tepat pada saat itu, perahu kecil tadipun sudah tiba. Kiranya siorang ganas tadi adalah seorang hweshio yang Ceng Bo dengan segera dapat mengenalinya sebagai To Kong hwatsu, itu salah seorang dad sam-tianglo gereja Ci- hunsi dari gunung Lam-kun-san. Sebaliknya To Kong belum mengetahui siapakah Ceng Bo dan Ko Thay itu. Yang diketahuinya, ada sebuah perahu besar menghadang ditengah jalan, maka galah segera diturunkan kedalam air lalu disentakkan keatas mencongkel haluan perahu penghadang itu.

Belum Ceng Bo bertindak, Sin-eng Ko Thay sudah tertawa dingin seraya enjot tubuhnya melayang jatuh diatas galah. Sekali gunakan tenaga menginjak, maka tangan sihweshio yang memegangi, itu menjadi terkulai. „Bangsat gundul, orang katakan kaum  pertapaan itu menjunjung welas-asih mengagungkan peri-kebajikan. Tapi ternyata kau adalah kebalikannya, apa artinya itu ?" seru Ko Thay seraya perdengarkan suara ketawa yang dingin.

To Kong terbeliak kaget. Masa seorang tua yang bertubuh kate dan nampaknya tak punya kepandaian apa2 itu, dapat membuat tangannya terkulai lemas. „Ho....!, tua bangka yang tak tahu diri, besar nyalimu berani mengusik tuanmu ini!" seru To Kong sembari kibaskan tangannya. Jangan pandang kalau ketiga hweshio Ci-hun-si bertubuh kurus2, tapi tenaga mereka luar biasa mengagumkan. Sekali gerakkan tangannya tadi, galah berikut Ko Thay yang menginjak diatasnya, sama terlempar setombak tingginya.

Air disungai situ deras sekali arusnya, kala itu perahu sihweshio sudah merapat, kedekat perahu Ceng Bo. Ceng Bo yakin bahwa Ko Thay cukup dapat mengatasi sihweshio, maka diapun tak menaruh kekuatiran melihat kejadian tadi. Sebaliknya dia malah lemparkan sauh untuk mengait perahu sihweshio. Suara gerodakan yang keras dari sauh itu, telah membuat dua orang hweshio muncul diatas geladak. Mereka bukan lain adalah To Ceng dan To Bu.

Berbareng pada saat itu, dipermukaan air terdengar suara keras dari, benda yang kecemplung. Kiranya itulah suara galah dan Ko Thay yang jatuh kedalam air. Tapi tak kecewalah Ko Thay mendapat julukan si Garuda Sakti (Sin- eng). Kira2 terpisah beberapa inci dari permukaan air, dia goyangkan tubuhnya dalam gerak hui-yan-liap-bo (burung walet menobros ombak), melesat naik setombak tingginya, kemudian disambung dengan gerak ko-cu-boan-sim (burung merpati membalik diri) dia sudah injakkan kaki diatas haluan perahu. „Bek-heng, ketiga bangsat gundul itu  keliwat jahat! "

Tapi belum Ceng Bo membuka mulut, diperahu sana To Ceng sudah berseru dengan mengejek: „Ceng Bo siangjin, apakah kau hendak cari perkara dengan pinceng bertiga ini?

Kiranya ketiga hweshio itu mempunyai urusan penting hendak ber-glegasi! menuju kegereja Ang-hun-si di Ko-to- san. Sedikitpun mereka tak menyangka, kalau ditengah perjalanan itu kesamplokan dengan Ceng Bo dan Ko Thay.

Atas pertanyaan sihweshio tadi, Ceng Bo tak ambil perhatian, Ko Thay mengawasi tajam2 kearah ketiga hweshio itu.

”Bek-heng, siapakah ketiga bangsat gundul itu?" tanyanya. „Oh, mereka adalah sam-tianglo dari Ci-hun-si!" sahut Ceng Bo.

„Bukankah mereka sudah berhamba pada tentara Ceng? Ah, kebenaran sekali, jangan lepaskan mereka!" kata Ko Thay. „Ha, macam kau mau unjuk tingkah!" To Kong perdengarkan ketawa menghina. Mereka rupanya tak mau lama2 tertahan disitu. Sembari ber-kata2 tadi, To Kong sudah angkat tanganya yang berwarna ke-hitam2an untuk menabas rantai sauh yang menahan perahunya. Ko Thay tertawa meringkik. Sekali mengayun tubuh, dia, injak rantai itu dengan sebelah kakinya, yakni dalam sikap Kim-kee-tok- lip (ayam emas berdiri dengan sebelah kaki). Tanpa jeri2 akan riak arus sungai yang begitu derasnya, dia tendang tangan To Kong tadi.

Menampak tendangan orang itu mengarah jalan darah yang-ko-hiat, tahulah To Kong bahwa dia berhadapan dengan seorang achli tutuk yang jempol. Tarik tangannya kebelakang, dia berganti menghantam betis orang. Ketika diinjak tadi, rantai ber-goyang2 kian kemari. Dengan meminjam gerak ayunan rantai itu, Ko Thay  enjot tubuhnya keatas sampai satu tombak tingginya. Sudah tentu hantaman To Kong tadi mengenai angin.

Buru2 hweshio itu surut kebelakang, tapi diatas umbun2 kepalanya terasa ada angin menyambar. Selagi melayang diatas, jari tengah Ko Thay menjulur kebawah untuk menutuk jalan darah peh-hui-hiat sihweshio. To Ceng dan To Bu terperanjat, serempak mereka maju menolong dengan menghantam pada Ko Thay. Turut situasinya, karena berada diatas udara, Ko Thay tentu sukar untuk menghindar, Tapi Garuda Sakti itu hebat sekali ilmumengentengi tubuhnya. Hanya sedikit dia menyurut kebelakang, lalu melayang turun. Kedudukan tubuhnya tetap, berada diatas kepala kedua orang tadi, siapa buru2 menyingkir kesamping.

„Bangsat gundul, sepasang hay-kim-eng-jiao-thau itu, mengapa bisa berada padamu?!" tiba2 Ko Thay berseru dengan bengis demi dilihatnya senjata marhum puteranya terselip dipinggang To Ceng hweshio. Sebagaimana diketahui, setelah Ko Kui meninggal, maka sepasang cakar garuda itu telah diberikan Nyo Kong-lim kepada Tio Jiang.

„Tanya saja pada Ceng Bo siangjin," sahut To Ceng dengan dingin.

„Apakah senjata itu kau dapat rampas dari Tio Jiang?

Dimana anak itu ?" Ceng Bo bertanya dengan kaget.

To Ceng ter-kekeh2, sahutnya: „Dimana anak  itu, sebagai suhunya kau tak mengetahui, bagaimana suruh kami mengetahui? Apakah dia tidak menjadi orang hutan dipegunungan Sip-ban-tay-san sana?"

Memang pada jaman itu, pegunungan Sip-ban-tay-san masih merupakan daerah yang belum terbuka.  Adalah suatu hal yang kebenaran saja, kata2 mengejek dari  To Ceng itu, memang tepat dengan kenyataannya. Karena kala itu Tio Jiang sedang ikut pada Kui-ing-cu menjelajah digunung tersebut guna menolong Bek Lian.

„Mengapa dia berada di Sip-ban-tay-san? Kau apakan dia?" tanya Ceng Bo pula. Sebagai orang alim, dia tak mengerti jatuhnya kata2 sihweshio yang sebenarnya hanyalah suatu kiasan saja.

--oodwkzOTAHoo—

Sebaliknya Ko Thay yang begitu mendukai kematian puteranya itu, tak dapat bersabar lagi. Dia tumpahkan seluruh kemarahannya pada diri ketiga hweshio  itu. Dengan menggerung laksana seekor harimau kelaparan, se- konyong2 dia loncat keatas udara. Sejenak berputar-putar, tangannya sudah pakai sepasang sarung cakar garuda atau eng-jiao-thau. Sret...., sret...., sret...., senjata itu sudah berkelebat mengarah jalan darah peh-hui-hiat di-umbun2 ketiga hweshio.

Terperanjat ketiga hweshio itu, bukan alang-kepalang. Perahu  sedemikian  kecilnya,  sukar  untuk  menghindar.

Mereka mempunyai urusan penting, tak mau tertahan lama2. Apalagi demi ditilik dari gerak-geriknya yang sedemikian lihaynya, mereka menduga, orang-tua itu tentulah Sin-eng Ko Thay, maka tanpa ajak2an lagi, mereka segera  buang  dirinya  kebelakang,  dan  blung....,  blung    ,

blung. ketiganya sama mencebur kedalam sungai.

„Hendak lari kemana, kau bangsat gundul?" seru Ko Thay sembari menyusul terjun kedalam air. Dengan gunakan ilmu mengentengi tubuh sakti „li hi thian liong bun" (ikan le-hi loncat kepintu naga), dia melesat dipermnukaan air dan menyamber punggung To Ceng yang hendak menyelam kedalam. To Ceng hendak kerahkan lwekangnya untuk melawan, tapi Ko Thay cepat sudah membuatnya tak berdaya, dengan menutuk jalan darah sin- to-hiat di punggungnya. Sekali melempar, tubuh To Ceng melayang jatuh diatas geladak perahu, kepalanya pusing tujuh keliling.

3 „Bangsat gundul, jangan lari !" bentak Ko Thay sambil meloncat keatas dan memakai sepasang sarung tangannya „Eng- jiau-thiau" atau sarung cakar elang, terus menyerang ketiga Hweshio itu.

Hendak Ko Thay menangkap dua, hweshio lainnya, tapi mereka ternyata sudah menghilang lenyap didalam arus. Apa boleh buat ....... Ko Thay loncat kembaii  keatas perahu. Begtu mencabut eng-jiao-thau yang terselip dipinggang To Ceng, dia mendupak dengan ujung kakinya, kepunggung orang, hingga walaupun jalan darahnya tadi dapat dibebaskan namun orangnya bergelundungan diatas geladak. Ko Thay susuli lagi dengan sebuah tendangan dan blung ....... tubuh To Ceng terlempar kedalam sungai. Begitu jatuh kedalam air, To Ceng terus menyelam. Untunglah ketika itu tepat ada sebuah perahu berjalan disitu. Cepat2 dia menggelandoti bagian bawahnya untuk lolos.

Ko Thay rupanya sudah puas menumpahkan hawa kemarahannya. Dia tak mau mengejar lagi. „Bek-heng, kau mengapa ?" malah dia segera menegur Ceng Bo demi dilihatnya siangjin itu diam ter-longong2 saja.,

„Senjata itu berada pada muridku, entah  bagaima mereka telah dapat merampasnya. Tadi mereka mengatakan, muridku itu berada di Sip-bon-tay-san, kukuatir jangan2 dia mendapat bahaya" sahut Ceng Bo. Ko Thay dapat mengerti perasaan orang, Oleh karena hari pehcun masih agak lama, dia usulkan pergi dulu kepegunungan itu.

Sudah tentu ajakan itu disambut dengan gembira oleh Ceng Bo, siapa ternyata hanya lahirnya saja berlaku bengis tetapi dalam batinnya dia sangat menyayang akan muridnya yang jujur dan berbudi itu. Begitulah mereka segera mendarat. Kurang lebih 4 hari saja, tibalah sudah mereka dipegunungan Sip-ban-tay-san. Kala itu, tepat saatnya Yan-chiu ambil selamat berpisah dengan Kui-ing-cu dan Sik Lo-sam. Andaikata ia berangkat 2 jam kemudian, tentulah dapat ber-junipa dengan Suhunya.

Melihat keadaan pegunungan Sip-ban-tay-san  yang hutan belantaranya sedemikian luas itu, Ceng Bo sudah setengah putus asa. Untuk mencari seseorang dalam tempat macam begitu, adalah laksana hendak mencari sebatang jarum ditengah laut. Tapi suatu kejadian yang tak di- sangka2 muncul. Tengah kedua orang itu tertumbuk fahainmnya (tak tahu harus berbuat bagaimana), secara kebenaran mereka bersua dengan dua orang pemburu, seorang tua dan seorang masih muda. Ceng Bo menyakan hal itu kepada sipemburu tua.

„Ada..., ada...! Rupa2nya dalam beberapa hari terakhir ini Sip-ban-tay-san mendapat kunjungan beberapa orang asing. Beberapa hari yang lalu, ada seorang pemuda bersama seorang nona yang cantik sekali naik keatas. Menyusul ada 4 orang lagi, seorang nona, seorang pemuda, seorang lelaki tinggi besar dan seorang lelaki setengah tua, menuju kelembah pegunungan ini," menerangkan sipemburu tua itu.

Ceng Bo hanya dapat menduga kalau seorang tinggi besar itu tentulah Nyo Kong-lim, sipemuda dalam rombongann kedua itu tentulah Tio Jiang sedang sinona itu tentu Yan-chiu. Tapi yang Iain2nya, dia tak dapat mengira- ngirakan siapa adanya. Tapi dia yakin orang2 itu tentu ada suatu urusan penting digunung situ. Maka setelah menanyakan jalanan dan mengucapkan terima kasih, Ceng Bo dan Ko Thay minta diri dari sipemburu tua yang makin tak habis mengerti. --oodwkzOTAHoo--

Menjelang tengah hari, keduanya sudah berada di- tengah2 hutan pegunungan situ. Tiba2 dilihatnya ada sesosok bayangan berkelebat. Dari potongan tubuh, terang orang itu seorang wanita. „Hai....., siapa', itu?!" seru Ko Thay. Ceng Bo lebih terperanjat lagi. Dari potongan tubuhnya yang langsing dan dandanannya, tahulah dia kalau wanita itu adalah puterinya sendiri, si Bek Lian. Apa yang disebut oleh sipemburu tua tentang seorang nona cantik, tentulah Bek Lian.

Dan pemuda cakap yang datang bersama dengan Bek Lian itu, siapa lagi kalau bukan The Go.

„Tahan!" tiba2 dia berseru nyaring hingga menggemparkan suasana pegunungan yang sedemikian lelapnya itu.

Wanita yang berkelebat disebelah depan tadi, memang Bek Lian adanya.

(Oo-dwkz-TAH-oO)
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Naga dari Selatan BAGIAN 33 : LOLOS DARI LUBANG JARUM"

Post a Comment

close