Naga dari Selatan BAGIAN 14 : LAWAN LAMA

Mode Malam
 
BAGIAN 14 : LAWAN LAMA

Dengan bergelundungan beberapa tindak, kini Tio Jiang sudah berada diluar tenda. Justeru kabut masih tebal, jadi dia tak dapat melihat apa2. Dengan ter-nnangu2 tak tahu apa yang harus dikerjakan, dia terkenang akan sang suci yang sudah menyintai The Go. Hatinya serasa pilu dan pedih. Lewat berapa saat kemudian, diantara kabut yang sudah agak menipis itu, dilihatnya ada sesosok bayangan berkelebat. Buru2 dia bersiap. Rupanya orang itupun mengetahui dirinya..... Sekali enjot sang kaki, orang itu segera menerjang kearah Tio Jiang. Orang itu bertubuh  kecil kurus, sedang pakaiannya agak kebesaran.

Tio Jiang tak hiraukan lagi siapakah dia itu lalu buru2 berkelit kesamping. Karena masih mempunyai urusan penting, Tio Jiang tak mau layani orang itu. Begitu menghindar dia terus lari. Tapi karena pikirannya sedang dilamun kesedihan, dia seperti orang linglung. Maunya hendak berputar, tapi ternyata malah menuju kearah sipenyerang tadi. Dan karena sudah begitu, tak mau dia kepalang tanggung terus ulurkan tangannya untuk menutuk jalan darah keng-tian-hiat dipundak orang.

Orang itupun tak mau unjuk kelemahan. Begitu miringkan tubuh, dia menyambut sebuah senjata yang bulat datar bentuknya dan ke-hitam2an warnanya, mirip dengan sebuah ayakan (saringan) bakmi. Senjata, itu diserangkan seperti cara orang hendak menutup kepala lawan.  Agak jauh jaraknya, sudah mengeluarkan samberan angin yang keras. Tio Jiangpun tak mau berayal, cepat pedang dilolos terus dimainkan dalam jurus Ho Pek kuan hay untuk menangkis.

Sewaktu kedua senjata itu saling berbenturan, Tio Jiang rasakan suatu tenagaa yang luar biasa kuatnya. Buru2 dia kerahkan ilmunya lwekang "yap ji si heng kang sim ciat", kearah lengan kanan. Begitu tangannya menghantam, plak, benda bundar kepunyaan musuh itu tertindih dibawah tapi Tio Jiang sendiri telah menderita kerugian besar. Pedang, pemberian sang suhu itu, kutung menjadi dua

Kejut Tio Jiang tak terlukiskan. Buru2 dia menyingkir beberapa langkah. Dan karena tebalnya kabut, dapatlah dia, menyingkir serangan musuh. Dia masih kurang pengalaman. Sebenarnya, pedang putus, belum pasti kalau kalah angin. Saling berbentur senjata, sudah tentu senjata yang terbuat dari bahan baja akan menderitaa kerugian.

Ditempat penghindarannya, Tio Jiang masih dapat mendengar angin pukulan men-deru2. Tapi karena musuh tak dapat melihatnya, jadi hanya ngawur saja. Tio Jiangpun tahan napasnya. Berapa saat kemudian, serasa ada lain orang yang muncul kesitu, lalu bertanya: "Apa ada mata2 musuh" "Ya, tapi entah lari kemana karena kabut begini tebal. Bagaimana dengan budak she Lian itu ?" tanya orang yang menyerang Tio Jiang tadi.

"Budak itu bermulut tajam. Kalau tak dicegah cong- peng, tentu siang2 sudah kukirim keakherat!" sahut siorang yang baru datang. Mendengar itu, Tio Jiang mengeluh dalam hati. Ah, jadinya sang sumoay itu sudah kena ditangkap musuh. Tentu karena tak sabaran menunggunya, sumoay itu segera mengaduk ke-mana2. Sebagai seorang suko, mana dia peluk tangan tinggal diam saja? Tanpa banyak bimbang lagi, dia terus melangkah maju. Walaupun kutung, pedang itu masih hampir satu meter panjangnya. Teringat dia, dahulu Sik Losam juga mengajarnya ilmu pedang pendek, ajaran Tay Siang Siansu, itu suhu-dari Kiau To. Ternyata pedang pendek tak kurang lihaynya dari pedang panjang. Selama itu, dia belum  berkesempatan untuk mempraktekkan. Kini baiklah dicobanya.

Dengan ber-jengket2, dia menghampiri maju. Begitu dekat dia segera terjang kedua lawannya tadi. Ternyata kedua orang itu tak mau menyingkir mundur, sebaliknya segera gerakan senjatanya yang berbentuk bundar tadi  untuk menghadangnya. Baru saat itu Tio Jiang tersadar. Terang kedua orang itu adalah dua  dari ketiga tianglo (paderi tua) gereja Ci Hun Si dari gunung Kun-san selatan yang dahulu pernah bertempur, diluitay Gwat-siu-san. Ya, tak salah lagi, paderi itulah yang tempo hari pernah melukai dirinya dengan pukulan thiat-sat-ciang (pukulan pasir besi). Senjata bundar yang digunakan masing2 itu, tentulah sebuah permadani atau dampar. Dengan pedang kutung, terang takkan menandingi senjata mereka. Maka lagi2 Tio Jiang loncat mundur untuk bersembunyi dalam kabut tebal.

"Tikus, mengapa bersembunyi !" mereka berseru dengan kerasnya. Dan suara itu makin meyakinkan Tio Jiang akan benarnya dugaannya tadi. Anak itu lupa atau mungkin tak sadar, bahwa kini dirinya sudah jauh berlainan dari ketika dia baru turun gunung tempo hari. Sejak digembeleng oleh Sik Lo-sam, dia telah menjadi seorang akhli silat yang tangguh dan memiliki beraneka ilmu pelajaran silat yang sakti. Tambahan pula sejak Sik Lo-sam menurunkan pelajaran ilmu lwekang "cap ji si heng kang sim ciat" yang sakti itu, ilmu lwekangnya maju pesat sekali.

Pada saat itu, dia pikir hendak lolos kembali ke Hoa-san dulu, baru nanti lakukan pembalasan pada To Ceng hweshio (salah seorang dari mereka) yang dahulu melukainya itu. Tapi pada lain saat, dia tampar mulutnya Sendiri sembari memaki dirinya sendiri: "Huh, Tio Jiang, mengapa kau begini tak punya malu? Sumoaymu ditangkap musuh, entah siksaan apa yang dideritanya, mengapa kau tak berusaha menolong ?”

Karena berpikir begitu, terus Tio Jiang hendak menyerbu maju, Tapi ternyata sudah kalah dulu. Kala itu kabut sudah menipis, tadi ketika dia menampar mulutnya sendiri, telah menyebabkan kedua hwesio itu mengetahui tempat persembunyiannya. Jadi sebelum Tio Jiang bergerak, dia, sudah diterjang.

Dengan pedang yang sudah kutung itu, Tio Jiang  tak bisa berdaya. Tapi se-konyong2 dia teringat akan senjata sarung tangan pemberian Nyoo Kong-lim tempo hari. Sambil nienyingkir menghindar, dia keluarkan sarung "cakar garuda" itu. Kedua hweshio itu, yang ternyata  adalah To Ceng dan To Kong, menyerang dari kanan dan kiri. Yang satu menghantam keatas, yang lain menyerang kebawah. Tak tahu bagaimana harus mainkan cakar-garuda itu, terpaksa Tio Jiang gunakan hay-lwe-sip-ciu, salah satu jurus  dari ilmu  pedang  to-hay-kiam-hwat.  Wut....,  wut.  ,

wut......,    tahu2    3    jari    dari    sarung    cakar-garuda  itu menyantol permadani. Tio Jiang buru2 hendak menariknya, tapi permadani itupun mengeluarkan suatu tenaga kuat tertarik kebelakang. Buru2 Tio Jiang mundur sampai 3 langkah. Namun ketika, mengawasi dengan seksama, ternyata keadaan lawan lebih celaka lagi dari dia. Hweshio itu ter-huyung2 hampir jatuh kebelakang.

Kini timbullah nyali Tio Jiang. Dengan andalkan kelincahan dan ketangkasannya, dia mainkan sepasang sarung tangan cakar-garuda itu. Ya, apapun boleh. Setempo menurut permainan golok, malah bila perlu menurut permainan ilmu silat tangan kosong. Beberapa kali sudah, To Ceng dan To Kong merasa tentu berhasil dalam serangannya, tapi setiap kali sianak muda selalu dapat terlolos karena gunakan jurus permainan hong-cu-may-ciu atau sigila menjual arak. Memang gerakan permainan dari ilmu silat yang luar biasa itu, seringkali diluar dugaan lawan.

Begitulah walaupun dikerubut dua, Tio Jiang main serie. Belasan jurus telah berlangsung, masih belum ketahuan kalah menangnya. Pada saat itu, timbullah suatu kesimpulan pada Tio Jiang. Kiranya kedua hweshio yang namanya begitu disegani sebagai sam-tianglo (tiga tertua) gereja Ci Hun Si, hanya sebegitu sajalah kepandaiannya. Karena mendapat kesan itu, keberaniannya makin menyala. Dan karena hatinya besar, permainannyapun makin bersemangat. Kadang2 dia lancarkan serangan berbahaya. Sebaliknya karena tak dapat menangkan sianak muda, kedua hweshio itupun geram sekali. Mereka mulai buka serangan ganas. Begitu sang kaki menggelincir, To Kong maju merapat Tio Jiang menghantam dengan damparnya (permadani). Karena tak mengetahui siasat orang, Tio Jiang cepat hantam iga sebelah kanan dari To Kong. To Kong perdengarkan ketawa dingin. Dampar dimiringkan menangkis serangan, tangannya kiri menghantam dada Tio Jiang. Tangan kanan ataupun kiri dari ketiga hweshio gereja Ci Hun Si itu terlatih dengan thiat-sat-ciang semua. Jarak keduanya dekat sekali, apalagi karena tadi menyerang jadi kini dada Tio Jiang tak terlindung. Jadi hantamannya tadi, terang akan mendapat hasil.

Karena tak keburu berkelit, terpaksa Tio Jiang turunkan tubuhnya kebawah. Pikirnya, biar kena asal tak dibagian jalan darah yang berbahaia. Selagi memendak turun itu, dilihatnya To Kong hanya pikirkan menyerang, tapi lengah melakukan penjagaan diri, jadi bagian kakinya tak terlindung. Kesempatan itu tak di-sia2kan Tio Jiang. Cepat dia tarik kembali tangannya kanan, lalu secepat kilat diterkamkan pada kaki lawan, dan berhasillah.  Sekali tangan mendorong, maka terlemparlah To Kong keatas. Jadi hantamannya kedada tadi gagal, sebaliknya  dirinya kini terlempar keudara.

Buru2 To Kong gunakan jurus "le hi ta ting" ikan le-hi meletik. Tapi Tio Jiangpun berjumpalitan untuk mengikutinya, terus menghantam. To Kong hendak menangkis dengan damparnya, tapi karena sudah meluncur turun jadi kedudukannya (posisi)pun berlainan seperti kalau berada diatas tanah. Ini sudah disadari To Kong siapa se- konyong2 segera, meronta kesamping. Tapi Tio Jiang tak mau memberi kesempatan lagi. Sekali cakar-garuda dijulurkan, siku tangan To Kong kena tertutuk, sehingga saking kesemutan tak bertenaga lagi, tangan To Kong dipaksa melepaskan senjata damparnya. Tio Jiang memburu kemuka. Sekali tendang, dampar itu terlempar, justeru tepat mengenai dampar yang hendak digunakan menyerang oleh To Ceng.  

8

Tio Jiang kewalahan dikeroyok To Cing dan To Kong, dua diantara tiga Tianglo atau tetua dari Cu-hun-si. Dalam gugupnya cepat ia keluarkan sarung tangan bercakar yang diperolehnya dari Nyo Kong-lim, ketika pemiliknya, Kok Kui meninggal, dengan sarung tangan bercakar ini segera ia balas merangsak.

Dalam kesibukannya, Tio Jiang sudah keluarkan seluruh kebisaannya. Dan hasilnya ternyata boleh dibanggakan. Tubuh memendak turun dan berjumpalitan ditanah tadi, adalah diambil dari jurus hong-cu-may-ciu, sedang tendangan kearah dampar tadi, adalah jurus thiat-bun-tui (tendangan nyamuk), ajaran dari Sik Lo-sam. Kemudian tutukan pada siku tangan musuh tadi, diambil dari jurus hay-siang-tiauto, salah atau jurus permainan ilmu pedang to-hay-kiam-hoat.

Karena heran atas hasil yang didapatnya, Tio Jiang terlongong2 kesima. To Kong tak mau sia2kan ketika sebagus itu, lalu hendak balas menyerang. Tio Jiang sudah lantas menyambutinya dengan gaya mirip orang  mabuk dari ilmu silat hong-cu-may-ciu. Karena lengannya kanan terluka, gerakan To Kong terhambat. Dalam dua jurus saja, betisnya, kena ditutuk oleh Tio Jiang lagi. Kali ini Tio Jiang gunakan tenaga penuh untuk menutuk, jadi sekali kena, rubuhlah To Kong. Dan karena geram, Tio Jiang susuli lagi dengan tebasan kearah jalan darah lo-tong-hiat dipinggan orang. Seketika To Kong roboh knock-out.

To Ceng murka dan menyerang dengan kalap. Tio Jiang menjadi sibuk. Kabut sudah tipis, dan para anak tangsi tentara Ceng ber-bondong2 keluar dengan berisik sekali. Tapi anehnya, disekeliling tempat pertempuran itu tiada tampak barang seorang serdadupun. Adakah dia sudah keliru memasuki, kubu markas panglima musuh, maka tiada sembarang serdadu berani masuk disitu?

Sekalipun demikian, Tio Jiang tetap gelisah. Bentar hari akan terang tanah. Seorang gagah tetap akan kewalahan kalau dikeroyok musuh yang berjumlah besar. Untuk lolos, lebih dulu dia harus dapat merobohkan To Ceng hweshio. Begitulah dia lalu perhebat serangannya cakar-garuda, tangan menghantam kaki menendang, namun To Ceng hanya bertahan saja, tak mau balas menyerang.

Beberapa serangan Tio Jiang telah macet ditangkis dampar. Lama kelamaan jengkel juga, dia. Dengan menggerung keras, dia enjot tubuhnya sampai satu tombak tingginya. Kemudian dengan cian-kin-tui (tindihan 1000 kati) dia meluncur turun kearah lawan. Dengan jurus pedang hay-lwe-sip-ciu, dia menusuk punggung sihweshio. Karena tak keburu berjaga, To Ceng kibaskan tangan kirinya kebelakang untuk menangkis. Tapi dia sudah menaksir salah. Hay-lwe-sip-ciu adalah jurus penghabisan dari ilmu pedang to-hay-kiam-hoat. Jurus itu mengandung 7 serangan kosong 7 serangan isi. Gerak perobahannya amat luar biasa sekali. Tambahan lagi, Tio Jiang telah salurkan lwekangnya kearah sang tangan, hingga kelima jari sarung tangan cakar-garuda itu merupakan 5 batang  pedang pendek yang tajam. Begitu tampak To Ceng gerakkan tangannya kiri menangkis kebelakang, sambil miringkan tubuh Tio Jiang segera mendesakkan serangannya. Terang serangan itu akan memperoleh hasil.

Se-konyong2 terdengarlah letusan dahsyat, berbareng pada saat itu dilamping gunung Hoasan sana tampak api berkobar. Bum..., bum...., bum..., bum..., kembali terdengar dentuman meriam ber-turut2. Digunung sanapun lagi2 tampak 4 gulung api besar me-nyala2.

Tio Jiang kaget sampai kucurkan keringat dingin. Kesepuluh meriam musuh sudah dihancurkan, mengapa masih bisa menembak? Ah....., syukurlah bom yang ditembakkan itu tak jatuh di-markas2, demikian dia menghibur diri sendiri. Tapi baru dia berpikir begitu, diatas gunung terbit kebakaran besar. Menurut letaknya, terang itulah markas pertama yang merupakan tulang punggung Hoa-san.

Pertama kali terdengar dentuman meriam tadi, Tio Jiang sudah lambat gerakannya. Maka dalam pada itu, To Ceng sudah keburu putar tubuhnya. Selagi hati Tio Jiang kacau balau, tahu2 sebuah benda bundar hitam menutup mukanya. Sesaat matanya ber-kunang2, dia tak kuasa berdiri tegak lagi lalu rubuh ketanah tak ingat orang. Entah sudah berapa lama dia berada dalam keadaan pingsan tadi, ketika ingat kembali, kepalanya serasa sakit seperti mau pecah. Dadanyapun terasa sesak dan sakit. Diapun tak mengetahui tempat apa disitu itu. Dia hendak menghela napas, tapi astaga, tak dapat! Hai........, kiranya mulutnya telah disumbat orang dengan sebiji buah tho  besar. Ketika pikirannya makin sadar, didapati tangan dan kakinya diikat pada sebuah tiang kayu.

9

Ketika Tio Jiang sadar kembali, ia merasa kepala sakit, dada jarem, waktu ia pentang matanya, sekeliling gelap gelita, ia hendak menghela napas, tapi tenggorokan se-akan2  buntu, kiranya mulutnya telah disumbat musuh. Ketika ia meronta, tapi lantas insaf dirinya terikat pada suatu tiang kayu. Malahan samar2 dalam dilihatnya tidak jauh disebelahnya juga ada suatu bayangan orang yang mungkin juga kena, diringkus musuh. Tio Jiang goyang2kan kepalanya, untuk coba mengerahkan lwekang, tapi tangannya malah terasa makin sakit, tali pengikatnya tetap tak bisa putus. Tio Jiang coba gali ingatannya. Sampai sekian lama barulah dia teringat bahwa letusan meriam tadilah yang menyebabkan dia berayal, hingga dapat dirubuhkan sihweshio. Dia coba salurkan iImu lwekang "cap ji si heng kang sim ciat", tapi yang paling menjengkelkan yalah buah tho yang menyumpal mulutnya itu. Kini dia mendapat akal. Dia beringsut menghampiri ranjang yang terdapat disitu. Begitu tempelkan mulutnya keranjang, dengan sekuat tenaga dia menggigit buah itu. Kalau dia tak berbuat begitu, paling2 hanya tak dapat bersuara saja. Tapi begitu menggigit se- keras2nya ..... dan menimbulkan rasa sakit bukan kepalang hingga matanya sampai kucurkan air mata, alias .....

mewek.

Kiranya buah tho itu bukan buah sesungguhnya, melainkan sebuah besi yang dibuat macam bentuk  buah tho. Sudah tentu dia meng-erang2 kesakitan. Tiba2 didengarnya tak jauh dari situ ada juga suara orang meng- erang2 (se-sambat) seperti merintih-rintih. Dari nada suaranya, terang orang itupun mengalami nasib serupa dengannya, yakni mulutnya tersumpal dengan buah besi. Orang itu ternyata berada dekat sekali, tapi karena suasana disitu teramat gelapnya, jadi tadi dia tak dapat melihatnya. Oleh sebab senasib sependeritaan, tentu orang itu bukan musuh. Maka kali ini dia kerahkan kekuatan besar untuk mengeluarkan suara, lebih keras agar dapat didengar orang. Dan ini ternyata, berhasil. Orang disisi sana mengauk juga, dan ini telah membuat Tio Jiang girang setengah mati.  "Siao Chiu!" hendak mulutnya berteriak, tapi buah besi dimulutnya itu..... keliwat besar, hingga tak mampu dia mengeluarkan suara kecuali a-u .... a-u. saja. Tapi itu sudah cukup bagi Tio Jiang. Terang orang yang disebelah sana itu adalah Yan-chiu, yang mengalami nasib serupa dengannya. Dan untuk kegirangannya, kini setelah berteriak keras2 tadi buah besi didalam mulut itu agak  terasa Ionggar sedikit. Jadi kalau diusahakan, tentu dapat keluar. Maka dicobanya sekali lagi. Mulutnya dingangakan se-lebar2nya, lidahnya bantu men-dorong2, dan ber- gerak2lah buah besi itu. Begitu mengempos semangat, dia menyembur se-kuat2nya, huh........bluk......! Buah tho besi itu jatuh keluar.

"Yan-chiu sumoay! Bagaimana kau?" serunya dengan segeraa setelah--berhasil mengeluarkan sumpal mulutnya. Tapi Yan-chiu hanya "a-u .... a-u.... " tak dapat menjawab. Terang nona itupun tersumbat mulutnya.

"Sumoay,........ngangakanlah mulutmu lebar2 lalu muntahlah se-kuat2nya!" Yan-chiu turut apa yang diperentahkan, tapi walaupun hidungnya beberapa kali mendengus keras, tapi tetap tak mampu mengeluarkan sumpalnya itu. "Sumoay, jangan takut, tunggu kulepaskan ikatan tanganku ini, nanti segera kubantu!" seru Tio Jiang sembari   kerahkan  tenaganya  meronta.   Krek.....,  krek.   ,

akhirnya putuslah tiang kayu dengan mana dia diikat itu. Karena tiangnya putus, maka Tio Jiangpun jatuh tertelungkup. Hendak dia segera bangun tapi tak bisa, karena kakinya masih terikat. Jadi hanya bergelundung kesana kesini saja. Tiba2 dia menyentuh sebuah benda lunak dan  berbareng itu didengarnya suara "a-u  .... a-u.    "

dari atas. Tahulah kini Tio Jiang, bahwa yang disentuhnya itu yalah kaki Yan-chiu. Buru2 dia menggigiti tali pengikat kaki sang sumoay. Kala mulutnya menyentuh tali itu, barulah dia tahu tali itu terbuat dari urat kerbau maka tak heranlah kalau tadi dia sudah tak berhasil untuk memutuskannya. Begitu tali tergigit putus, saking girangnya kaki Yan-chiu lantas menendang kalang kabut hingga hampir menendang kepala Tio Jiang. Sudah tentu Tio Jiang ber-kaok2 memperingatkannya.

Kini dia hendak coba bangun. Begitu kerahkan seluruh kekuatan, dia, loncat bangun dan karena kaki tangan terikat lagi2 dia terjerungup kemuka. Ini sudah diperhitungkannya, maka dia menjatuhi tubuh Yan-chiu, dan astaga tepat benar jatuhnya itu, muka menempel dengan muka. Bagi Tio Jiang yang kalbunya hanya ada seorang Bek Lian saja, hal itu tak berarti apa2. Tapi tidak demikian dengan Yan-chiu. Walaupun, rapat sekali hubungan dengan sang suko, tapi selamanya belum pernah ia berapat-rapatan pipi dengan Tio Jiang seperti pada saat itu. Serasa darahnya berdenyut keras dan jantungnya berdetak hebat. Kini Tio Jiang segera meng- hampus2kan mulutnya ketubuh Yan-chiu untuk mencari bagian tangan. Sudah tentu sinona merasa geli tapi nyaman juga.

Akhirnya berhasillah Tio Jiang mendapatkan tali pengikat tangan Yan-chiu. Setelah beberapa kali mengerjakan sang gigi, talipun dapat digigitnya putus. Saking tak tahan kerinya, begitu bebas Yan-chiu terus jorokkan sang suko. Lupa ia kalau sang suko itu masih terikat kaki dan tangannya hingga sekali jorok, bluk .........

jatuhlah Tio Jiang. "Siao-chiu, kenapa?" seru Tio Jiang dengan heran.

Pada saat itu Yan-chiupun sudah mengeluarkan sumpal besi dimulutnya. Tahu kalau tadi ia yang salah, namun masih tak mau ia mengaku. "Kau sendiri, mengapa meng- hembus2 tubuhku!" sahut Yan-chiu dengan ke-merah2an mukanya. Kemudian ia loloskan semua tali yang masih mengikat dikaki tangannya. Karena sekian lama diikat, darahnya serasa berhenti. Untuk melancarkan, lebih dahulu nona itu berlatih silat sekali dua jurus

"Siao-chiu, lekas bukakan tali pengikatku ini!" seru Tio Jiang dengan mendongkol karena masih menggeletak ditanah. Yan-chiu lakukan permintaan itu dengan segera. Tapi betapapun ia meregangnya, tali yang terbuat dari gulungan urat2 kerbau itu, tak dapat diputuskan. Tio Jiang menyuruhnya menggigiti. Tapi sampai beberapa jam, Yan- chiu baru berhasil menggigit putus 3 utas, pada hal tali terbuat dari 8 utas urat digulung menjadi satu.

"Sumoay kau menyingkir dulu!" seru Tio Jiang lalu ia kerahkan lwekang sakti "cap ji si heng kang sim  ciat". Begitu ber-gerak2, sisa tali urat kerbau yang belum terputus tadi menjadi berkeretekan putus. Bukan kepalang girangnya Tio Jiang. Setelah membuka tali pengikat kakinya, dia segera tarik tangan Yan-chiu untuk diajak pergi. Sinonapun amat girang. Sebagai seorang anak yatim piatu, ia sudah anggap suhu dan suci serta sukonya itu sebagai ayah dan kakak2nya. Maka sembari tempelkan tubuhnya pada bahu sang suko, ia terus hendak loncat.

”Hai, dimanakah kita sekarang ini? Bagaimana kita dapat keluar dari sini ?" tiba2 ia berseru memperingatkan Tio Jiang.

Memang tempat disitu, gelap sekali hingga tak tampak apa2. Mereka lari kian kemari dan dapatkan bahwa tempat itu hanya lebih kurang 5 tombak luasnya tapi  dikelilingi oleh tembok yang licin penuh lumut. Hendak loncat keatas pun tak mampu karena tak kelihatan tepi atasnya.

"Sumoay, bagaimana kau bisa sampai kemari?" akhirnya dia keputusan akal beritanya.

Mendengar itu, se-konyong2 Yan-chiu marah besar dan mendamprat: "Lian suci kutu busuk !" Tio Jiang terperanjat dan menegas kenapa?

"Kukatakan kutu busuk, tak peduli siapa dia tetap kutu busuk!" sahut sinona genit, siapa setelah mengeluarkan hawa kemarahannya lalu tertawa lagi.

Tio Jiang tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang sumoay itu. Tapi dia menduga, tentu sumoaynya itu  ketemu dengan sang suci. Dan begitu teringat akan orang yang dikenang itu, dengan kontan dia segera menanyakan: "Surnoay, adakah kau berjumpa dengan Lian suci ?"

"Kalau berjumpa lalu bagaimana? Orang toh sudah tak ingat akan cinta persaudaraan lagi!" sahut Yan-chiu dengan dada berkembang kempis. Tahu ada apa2 yang kurang beres, hati. Tio Jiang berdebur keras. Dengan tangannya yang sedingin es dia pijat lengan sang sumoay dengan keras dan menyuruhnya bicara yang jelas.

"Aduh!" teriak Yan-chiu karena kesakitan, ”bilang ya bilang, masa lenganku kaupijat se-mau2nya. Ketika aku berjaga diluar tenda, tiba2 disebelah muka sana tampak ada sesosok bayangan mondar-mandir ”

"Lian suci ?" Tio Jiang buru2 memutus

"Ha, ketika kulihat orang itu berkuncir, kemarahanku timbul seketika. Begitu menghampiri segera kutendangnya dan rubuhlah dia!" tutur sigadis tak menjawab.

"Sumoay, kusuruh kau berjaga diluar tenda, mengapa pergi ke-mana2?" Tio Jiang sesali sang sumoay.

Padahal kalau sang sumoay masuk kedalam tenda, bukankah malah berbahaya? Tapi Yan-chiu yang lincah itu tak mau disalahkan, sahutnya dengan tangkas: "Kalau aku tak kesana, mungkin tak nanti dapat berjumpa dengan Lian sucimu itu !" Dalam setiap perdebatan memang Tio Jiang selalu tak menang dengan sumoaynya yang genit nakal itu. Kali itu, diapun terpaksa bungkam saja. Melihat itu, Yan-chiupun merobah lagunya. Dengan nada girang ia lanjutkan pula ceritanya: ”Setelah kuberesi serdadu itu, tiba2 kudengar ada orang menghela napas. Dari nada suaranya, terang seorang wanita. Dan akupun kesanalah !"

Sampai disini lagi2 Tio Jiang hendak menyela. Tapi baru bibirnya bergerak, teringatlah akan watak dara genit itu, jangan2 nanti membikin kurang senang hatinya. Apa boleh buat, dia batalkan saja niatnya itu. Kata Yan-chiu pula : "Tapi ketika aku tiba kesana, ternyata tiada seorangpun juga. Suara itu begitu dekat kedengarannya, tapi sampai sekian lama ku-ubek2an tetap tak dapat menemukannya. Karena jengkel kumemaki : 'Siapa yang main setan2an disitu?' Baru kukeluarkan makian itu, segera kurasa ada angin menyamber dari sebelah belakang! Dan ketika kumenoleh kebelakang, ai, kiranya pecundangku, kedua keledai gundul dari Ci Hun Si! Keduanya masing2 membawa damparnya. Huh, wajahnya itu ngeri kumelihatnya, pucat lesi seperti mayat hidup. Melihat aku, mereka tak berani terus menyerang."

Memang apa yang dikatakan Yan-chiu tak dusta. Sejak salah seorang dari ketiga hweshio Ci Hun Si itu kena dirobohkan oleh Yan-chiu, mereka agak jeri juga.  Bukan jeri terhadap sinona, tapi terhadap orang dibelakang layar yang diam2 memberi bantuan pada sinona itu. Tapi dasar nakal, tahu orang tak berani menyerang, Yan-chiu malah memain dengan bandringannya seraya berseru: „Hai, dua ekor keledai gundul. Tadi nonamu mendengar suara helaan napas dari seorang wanita, adakah kalian yang berbuat tak senonoh ? "  

........ Ketika aku mendadak menoleh, wah, celaka, ternyata dibelakangku sudah berdiri dua kepala gundul, yaitu pecundangku dahulu, To Kong dan To Bu Hwesio, demikian tutur Yan-chiu kepada Tio Jiang.

Memang kedua hweshio bukan lain yalah To Ceng dan To Kong, siapa sudah tentu menjadi murka tak terkira. Tapi mereka cukup ber-hati2. Mengapa sinona begitu garang, tentulah dibelakangnya mempunyai andalan yang lihay.

---oodw0tahoo---
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Naga dari Selatan BAGIAN 14 : LAWAN LAMA"

Post a Comment

close