Naga dari Selatan BAGIAN 03 : HILANG TAK BERBEKAS

Mode Malam
 
BAGIAN 03 : HILANG TAK BERBEKAS

Mendengar itu, hati Tio Jiang tertarik. „Loocianpwee.....

eh, salah, Sam-thay-ya, bagaimana kau tahu kalau itu jurus ilmu silat 'hong cu may ciu' (orang gila menjual arak)?" tanyanya.

Orang tua kate yang aneh itu tertawa tawar, sahutnya :

„Buyung, kau berani tak memandang mata pada Sam-thay- ya"

Karena sudah ber-kali2 mendengar ucapan  yang melantur dari siorang tua aneh itu, kini Tio Jiang tak kaget lagi. „Kalau Sam-thay-ya tahu, coba katakan kali ini orang itu akan menutuk bagian mana?"

Pada saat itu Kiau To tengah abitkan piannya kearah The Go, siapa tampak miringkan tubuhnya kesebelah kanan. Melihat itu berserulah Sam-thay-ya: „Setelah memutar tubuh, dia (The Go) tentu akan menutuk jalan darah yang-kwan-hiat dipunggung orang itu (Kian To)."

Tio Jiang agak sangsi, karena The Go kala itu bereda disebelah kanan Kiau To, bagaimana dapat menutuk punggungnya? Tapi berbareng dengan ucapan siorang tua aneh itu, tampak tubuh The Go menggeliat condong kemuka, lalu se-konyong2 berputar mengangkat tubuhnya lagi. Dengan rebah bangun cara begitu itu, kini The Go berada disamping lawan, dan apabila dengan sekali rebah- bangun lagi, dia tentu akan tepat berada dibelakang lawan serta dapat menutuk punggung.

„Hai," Tio Jiang mengeluarkan seruan tertahan sambiI mengawasi Kiau To. Rupanya orang she Kiau belum insyaf kalau lawan bisa menutuk punggung, maka begitu mendengar ada samberan angin dari belakang, dengan sibuk dia terus maju dua langkah kemuka untuk menghindar. Ini bukan berarti karena tahu akan ditutuk lawan, melainkan hanya sekedar penjagaan saja atas serangan lawan yang sangat membingungkan itu. Oleh karena inisiatip berada ditangan musuh, diapun tak dapat menguasai permainannya pian lagi.

Buru2 Tio Jiang berpaling. Dilihatnya orang tua aneh itu tengah kerat-kerutkan alisnya sehingga hidungnyapun turut naik turun. „Buyung, percaya tidak omonganku?" tegur orang tua tersebut.

Pepatah mengatakan „didalam keadaan mendesak, orang bisa mengeluarkan pikiran yang cerdas". Tio Jiang bukan seorang yang sama sekali tak berbakat. Soalnya dia itu tak pandai omong. Maka sesaat itu terkilaslah suatu pikiran bagus padanya. „Sam-thay-ya, kalau ber-turut2 10 kali kau bisa menebak jitu, aku benar2 tunduk padamu!"

„Baik," sahut siorang tua sambil mengatupkan kelopak matanya.

Ketika Tio Jiang alihkan pandangannya kegelanggang, dilihatnya Kiau To baru saja dengan susah payah lolos dari dua buah serangan The Go. Ikat kepalanya yang berwarna hitam putih itupun sudah terpapas jatuh oleh rangka kipas The Go. Kini pemimpin no. 2 dari Thian-Tee-Hui itu makin keripuhan, sebaliknya si The Go makin tangkas. Gerak serangannya memang seperti gaya seorang gila, menjorok ketimur tapi ternyata memukul kebarat, berkelebat kearah selatan namun kearah utara yang dihantamnya. Tio Jiang tak dapat mengendalikan diri lagi, serunya: „Kiau susiok, jangan kuatir. Ilmu menutuk orang itu dinamakan 'hong cu may ciu', semuanya aku tahu!"

Mendengar itu, The Go terperanjat sekali. Masakan anak gembala itu tahu akan ilmu perguruannya „hong cu may ciu" yang istimewa itu? Karena pikirannya terpecah, gerakannyapun agak lambat. Kiau To pun bukan seorang jago sembarangan, begitu gerak lawan lamban maka piannya hidup gayanya lagi. „Wut......” dia lancarkan serangan balasan. The Go seperti orang gelagapan, buru- dia tenangkan pikirannya, lalu rubuhkan diri kebelakang. Begitu pian sudah lewat, serentak dia berdiri tegak lagi.

„Sam-thay-ya, dia mau menutuk apa?" buru2 Tio Jiang bertanya, tapi hai, mengapa orang tua aneh itu tak menyahut? Tio Jiang menoleh kebelakang dan dapatkan siorang tua aneh itu unjuk kemarahan. „Sam-thay-ya, mengapa kau diam saja?" tanyanya dengan heran.

„Kau ini seorang bujang yang licin. Suhu dari  anak muda itu adalah sahabatku. Kau hendak memberi kisikan pada orang itu, supaya anak itu kalah?"

Sudah terlanjur diketahui, Tio Jiang tak mau kepalang tanggung, ujarnya: „Sam-thay-ya, kalau sememangnya tak tahu, bilang saja tak tahu dah!"

Kontan saja siorang tua linglung itu menyahut dengan murkanya: „Kau berani memandang remeh pada Sam-thay- ya? Hm, kali ini dia hendak menutuk jalan darah si- tiokgong dipinggir mata!"

Tanpa pedulikan lagi, lekas2 Tio Jiang berpaling kemuka. Tepat pada saat itu, The Go tutukkan kipasnya, dan benar juga yang diarah ialah jalan darah si-tiok-gong yang terletak dipinggir mata. Benar Kiau  To dapat menghindar, tapi karena tak mengerti akan gerak serangan lawan, dia tak berani gegabah balas menyerang, dengan begitu dia tetap dipihak yang diserang.

Setelah mengirim tutukannya tadi, The Go tampak huyung2kan tubuhnya kesamping, sedang Kiau To sambil tegak berdiri, bolang balingkan piannya siap untuk menyambut. „Wi-tiong-hiat!" tiba2 mulut siorang tua aneh berseru pelan2, tanpa ditanya lagi. Jalan darah wi-tiong-hiat itu terletak pada buku-persambungan betis dengan paha, jadi tampaknya mustahil dapat diarah.” Tapi karena sudah bulat kepercayaannya, dengan tak banyak cingcong lagi, buru2 Tio Jiang berseru: „Kiau susiok, kali ini dia hendak menutuk 'wi-tiong-hiat'mu!"

Baru seruan itu keluar, tiba2 The Go melengak, namun karena tangan sudah bergerak maju sukarlah untuk ditarik kembali. Se-konyong2 dia melambung keatas meloncati samberan pian. Dengan tangan dan kaki berserabutan macam orang kelelap disungai, dia meluncur turun dibelakang Kiau To. Begitu hampir ketanah, tiba2 tangannya kiri dicengkalkan kebumi, sedang tangan kanan menutukkan rangka kipas kearah jalan darah wi-tiong-hiat dibetis orang!

Karena mendapat peringatan dari Tio Jiang, kini Kiau  To sudah bersiaga. Tahu musuh melayang turun kebelakangn ya, dia tinggal diam saja. Tapi begitu musuh sudah menyentuh bumi serta belum sempat untuk melancarkan serangannya, Kiau To barengi memutar tubuhnya dengan sebuah hajaran pian yang seru. Sudah tentu The Go tak mau biarkan iganya dilibat cambuk musuh, maka buru2 dia batalkan rencana penyerangannya tadi, diganti dengan jejakkan kedua kakinya ketanah untuk berdiri tegak. Dalam kesibukannya itu, dia sempat juga melirik kearah Tio Jiang, namun anak itu tak  mau hiraukan. Dengan balingkan tangannya kebelakang dia kutik2 tubuh siorang tua linglung lagi. „Jin-tiong-hiat" bisik suara dari belakang, dan kembali Tio Jiang berseru keras lagi: „Kiau susiok, orang itu hendak menutuk jin-tiong-hiat- mu!" Memang setelah berdiri tegak, tiba2 The Go berjongkok dan ber-putar2 kemuka Kisu To lalu secepat kilat angkat tubuhnya keatas. Menurut rencana Kiau To tiara menghalau serangan orang itu ialah putar pian untuk melindungi tubuh bagian muka. Tapi karena sudah mendapat peringatan Tio Jiang, maka sengaja dia biarkan saja lawan menyerang. Sebaliknya dari memutar pian, dia kibaskan pian itu keatas melampaui kepala lawan, kemudian dengan se-konyong2 disentaknya pian itu menurun kebelakang musuh untuk menghantam bagian tengkuknya (leher sebelah belakang). Jadi kalau The Go tetap hendak menutuk jintiong-hiat lawan, tengkuknyapun tentu terhantam pian. Maka buru2 dia menghindari hajaran pian dan dalam penghindarannya itu gerakannyapun tak menurut gaya „hong cu may ciu" lagi.

Tapi menggunakan kelemahan lawan itu, Kiau To segera hajarkan piannya lagi. Wet, wet, wet, ber-turut2 The Go undur sampai 3 langkah, baru dia dapat dengan susah payah menghindar. Jurus2 selanjutnya, Kiau To menang angin. Tiang-pian atau ruyung panjang macam cambuk me- nari2 dengan lincah dan seru, samberan anginnya kedengaran men-deru2. Beberapa kali The Go berganti gaya, baru akhirnya dapat dia balas menyerang. Tapi setiap kali dia hendak lancarkan serangannya jurus „orang gila menjual arak" itu, setiap kali itu pula tentu dipecahkan oleh tereakan Tio Jiang. Dalam beberapa jurus saja, topi-pelajar yang menutupi kepalanya kena dihajar jatuh oleh pian Kiau To. Bahkan kini keadaan The Go tak keruan macamnya. Rambutnya terurai kacau, mukanya bercucuran keringat dan kotor dan gaya gerakannyapun sudah limbung.  Asal dua kali lagi Tio Jiang memberi kisikan kepada Klan To, maka si The Go itu pasti akan rubuh. Dalam saat2 yang genting itu, tiba2 „trang" terdengar bunyi senjata berkeroncangan, dibarengi dengan melesatnya sesosok tubuh kedalam gelanggang, serta seruan melengking: „Cis, tak malu, dua mengerubut satu!"

Kiranya itulah sigadis nelayan Ciok Siau-lan. Begitu melesat maju, dia tusukkan hi-jat (garu ikan) kedada Kiau To. Namun pemimpin kedua dari Thian-te-hwe hanya berkelit saja tak mau balas menyerang, karena dia curahkan perhatiannya mendengari seruan Tio Jiang untuk menghadapi serangan The Go. Sampai pada saat itu, siorang tua aneh tadi sudah memberi 8 kali petunjuk yang kesemuanya jitu sekali. Jadi masih kurang 2 kali lagi. Tapi dengan tampilnya sigadis nelayan itu, walaupun menang angin, kiranya masih sukar juga bagi Kiau To untuk mengalahkan The Go. Dalam pada itu sempat pula  Kiau To menyapukan matanya kesekeliling tempat itu. Dilihatnya sigenit Yan-chiu berdiri disebelah sucinya (Bek Lian), memandang dengan penuh keheranan kepadanya (Kiau To) mengapa dapat memecahkan gaya ilmu silat The Go yang luar biasa anehnya itu. Buru2 dia (Kiau To) memberi isyarat tangan kepada gadis lincah itu, siapapun ternyata dapat menangkap maksud orang serta terus ber- kaok2: „Mengapa kau tak tiru2 memberi tahu saja? Apakah karena ilmu tutukanmu terpecahkan, kau marah karena malu? Kalau mau berkelahi, akulah tandingmu." habis berkata begitu, tangannya melepaskan senjatanya bandringan yang terikat dipinggang, begitu melangkah maju, kira2 masih satu tombak jauhnya, ia sudah lontarkan bandringan rantai itu seraya enjot tubuhnya kemuka.

Tadi karena kuatir orang yang dikasihinya (The Go) sampai celaka, Ciok Siau-lan buru2 maju membantu. Tapi seperti dikatakan orang „kalau hati gelisah, orangnyapun kacau". Siau-lan mainkan ilmu permainannya garu „Lamhay cak sat" (laut selatan mendampar ikan tawes) secara rancu sekali. Maka dalam 10-an jurus, ia tak dapat melukai Kiau To. Malah pada saat itu, keburu Yan-chiu sudah menyerang dari belakang, maka buru2 ia putar tubuh dan menangkis dengan hi-jatnya (penusuk ikan).

„Oho, kiranya hanya begini saja!" seru Yan-chiu sambil leletkan lidah demi senjatanya saling beradu. Tapi apakah benar kepandaian sigadis hitam dari laut selatan itu hanya sebegitu saja? Bukan, itulah siasat cerdik dari sigenit Yan- chiu untuk membikin panas hati lawan. Karena pada hakekatnya, gerakan memutar tubuh sembari menusuk dari Siau-lan tadi, terselip jurus dari ilmu tombak Yo-kee-jiang yang termasyhur. Yo-kee-jiang atau ilmu tombak keluarga Yo (Nyoo), adalah buah ciptaan Yo Ci-giap, seorang panglima yang terkenal pada jaman Pak Song (kerajaan Song utara). Salah satu jurusnya yang paling lihay ialah yang disebut „hwee ma jiang" atau memutar kuda dengan menusuk.

Ilmu permainan jat (tusuk garu) dari keluarga Ciok Siau- lan, penuh dengan gaya perobahan. Hampir gaya yang indah dari pelbagai permainan senjata panjang, diambil dan dipersatukan dalam satu permainan jat itu. Sewaktu berada ditengah laut, asal kelihatan ada ikan mengambang, sekali tusuk tentu kena. Saking gapahnya Siau-lan mainkan jat itu, ia telah digelari sebagai Lam-hay hi-li (sigadis nelayan dari laut kidul). Sebenarnya tadi, dengan susah payah baru Yan- chiu dapat menghindar dari tusukan Siau-lan, namun dasarnya genit, mulut Yan-chiupun tetap mengeluarkan ejekannya tadi. Tapi Siau-lan tak mau ambil mumet, melainkan menyerang lagi.

Karena merasa tak ada lagi angin menyambar dibelakangnya, tahulah Kiau To kalau sigadis hitam tadi sudah dilibat oleh Yan-chiu. Tapi pada saat itu justeru The Go sudah menyerangnya, rangka kipasnya dipecah menjadi 3 bagian berbareng maju menutuk.

„Kiau susiok, awas kong-sun-hiat!" kembali Tio Jiang berseru. Kini Kiau To dapat memperhitungkan, meskipun gaya si The Go itu seperti orang ter-huyung2, tapi karena jalan darah kong-sun-hiat itu terletak pada 3 dim dibelakang ibu jari kaki, maka dia duga lawan tentu akan menjorok maju. Maka dia segera gunakan jurus „cu ham to cuan" hajarkan piannya.

Benar juga, The Go se-konyong2 jatuhkan tubuhnya kemuka untuk menutuk jempol kaki orang, tapi ujung tiangpianpun sudah menurun datang. Saking kagetnya, buru2 The Go loncat bangun, sehingga buyarlah kuda2 kakinya. Sekali Kiau To angkat kakinya kiri, dia mendupak se-kuat2nya kebetis The Go. Betapapun anak muda itu coba loncat mundur dengan cepatnya, namun samberan angin dupakan yang keras itu telah membuatnya ter-huyung2 sampai 7 atau 8 langkah kebelakang, baru dia dapat berdiri anteng lagi. Tapi baru sang kaki anteng, laksana bayangan, Kiau To sudah melesat datang terus menghajarkan pian kemukanya. Dalam gugupnya, The Go hendak menangkis dengan lengan kanan, tapi serangan lawan itu adalah jurus dari permainan pian liok-kin-pian-hwat yang penuh dengan variasi gaya. Tiba2 tangkai pian menurun, hendak melibat siku tangan kanan lawan. Hendak The Go menarik mundur siku tangannya itu, tapi ujung pian telah melibat kipasnya.

Melihat tiang-pian berhasil melibat kipas, Kiau To membentak: „Lepas!", dengan kerahkan seluruh tenaganya dia sentakkan pian kebelakang untuk membetot kipas. Tangan The Go segera terasa kesemutan, buru2 diapun kerahkan lweekangnya untuk menarik balik kipasnya. Jadi kini kedua seteru itu saling tarik adu lweekang. Hanya beberapa kejab saja adu tarik itu berlangsung, karena tiba2 terdengar bunyi yang keras „krakkk" dan putuslah rangka kipas yang terbuat daripada baja murni itu. Bagian tangkainya masih terpegang The Go, tapi bagian atasnya kecantol diujung tiang-pian. Sekali Kiau To kibaskan piannya, maka diudara segera tampak beberapa puluh  bintik sinar kemilau dari kutungan batang rangka tertimpa cahaya matahari, dan cet, cet cet, berpuluh kutungan lidi baja itu menyusup masuk ke sebuah puhun siong semua.

Penilaian meskipun orang menganggap The Go telah kalah karena senjatanya patah, namun sebenarnya kepandaiannya setingkat lebih atas dari Kiau To. Kutungnya kipas itu, bukan karena lweekang The Go kurang tinggi, tapi oleh karena rangka kipas itu merupakan lidi2 yang terbuat dari baja, jadi begitu saling ditarik, tentulah putus.

Melihat kipasnya patah, merahlah selebar muka si The Go, siapa lalu mundur beberapa langkah dan dengan tertawa mesam dia berkata: „Kiau loji, aku mengaku kalah!" Kiau To seorang yang berwatak jujur. Tahu kalau kemenangannya itu tak begitu gemilang, dia segera rangkapkan kedua tangan memberi hormat seraya berseru:

„Maafkanlah........" Tapi baru ucapan itu keluar, disana terdengar Yan-chiu berteriak: „Aku tak mau berkelahi lagi dengan kau!"

Ternyata hanya dalam tujuh delapan jurus saja, Siau-lan telah dapat mendesak Yan-chiu sampai kewalahan tak bisa balas menyerang. Tapi sembari bertempur itu, mata Siau- lan senantiasa diarahkan pada The Go. Demi melihat pemuda kesayangannya itu kalah, iapun agak lambat gerakannya. Dan karena memperoleh kesempatan ini, Yan- chiu dapat loncat undur beberapa tindak. Tapi dasar nona genit, ia tetap tak mau akui kekalahannya melainkan keluarkan jengekannya lagi, se-olah2 dia tak mau kotorkan tangannya berkelahi dengan nona lawannya itu.  Dan karena memangnya Siau-lan tak mau terlibat dalam pertempuran dengan Yan-chiu, begitu lawan lari, iapun buru2 menghampiri The Go seraya bertanya dengan cemasnya: „Engkoh Go, bagaimana?"

Dihadapan sekian banyak orang, dirinya telah kena dipecundangi itu, perasaan The Go sukar dilukiskan. Dupakan Kiau To tadi, terasa sakit sekali. Belum  sempat dia empos semangatnya untuk menghilangkan rasa  sakit itu, dia sudah dipaksa untuk adu Iweekang lagi. Ini menyebabkan rasa sakit itu makin menghebat. Kalau bukannya dia itu tergolong orang yang berhati keras, apa lagi dihadapan sekian banyak orang dan teristimewa dihadapan Bek Lian, tentu siang2 dia sudah tak kuat lagi berdiri jejak. Tapi disebabkan terlalu memaksa diri itu, keningnya tampak bercucuran keringat.

0 Dengan perasaan cemas, Siau-lan keluarkan saputangan untuk mengusap muka The Go yang dicintainya itu.

Melihat itu, hati Siau-lan seperti di-remas2. Buru2 ia keluarkan saputangan putih, niatnya hendak menyeka kening sang kekasih itu. Tapi The Go menghindar kesamping seraya mendamprat: „Menjemukan  sekali, budak yang tak tahu malu!"

Namun gadis nelayan yang hitam manis kulitnya itu sudah dimabuk asmara. Walaupun dimaki, ia tetap mengikuti lagi untuk menyeka kening orang. Kalau sinona begitu ter-gila2, sebaliknya The Go makin jemu. Tadi sewaktu melihat Bek Lian lari masuk dengan menangis karena ucapan Siau-lan, The Go gusar sekali. Maka setelah menghindar dari rangsangan Siau-lan, dia (The Go segera melirik kearah Bek Lian. Demi diketahuinya juwita itupun mengawasi dirinya, terhiburlah hati The Go sehingga untuk sesaat itu dia ter-longong2. Tapi justeru selagi dia ter-  longong2 seperti kehiIangan semangat itu,  tahu2 saputangan Siau-lan sudah menyeka dikeningnya. Seketika itu meluaplah kemarahan The Go, serentak dia ulurkan tangannya kanan, dengan kelima jari yang bagaikan kait besi kerasnya itu, dia cengkeram bahu sinona. Sudah tentu karena tak mengira orang yang dikasihinya itu berbuat begitu, menjeritlah Siau-lan karena kesakitan. Malah saking hebatnya cengkeram itu, muka sinona berobah ke-hijau2an dan bibirnya menjadi pucat lesi. Namun sembari meronta, masih sinona ikhlas menderita, serunya: „Engkoh Go, tumpahkan kemarahanmu itu padaku, aku tak sesalkan kau!"

Empat keluarga The, Ciok, Ma dan Chi dari Laut Selatan itu, sebenarnya akrab sekali hubungannya, lebih dari itu, malah hubungan mereka itu dipererat juga dengan perkawinan. Misalnya Ciok jisoh itu adalah berasal dari keluarga Ma. Bermula karena Ciok Siau-lan jatuh hati padanya. walaupun gadis itu tak secantik bidadari, namun karena dilautan ia tergolong jelita kelas pilihan, maka The Gopun bersikap mengimbangi kasih sinona itu. Tapi sejak dia berjumpa dengan bidadari Lo-hou-san Bek  Lian, lupalah sudah dia akan Siau-lan. Untuk mengunjukkan pada sijuwita bahwa dia tiada sedikitpun mempunyai perasaan apa2 terhadap sigadis nelayan, The Go lupa akan rasa kasihan lagi. Apalagi sememangnya dia itu seorang yang berwatak kejam ganas, seketika itu timbullah rencananya yang jahat. Dengan menyeringai, dia segera mendamprat : „Budak hina yang tak punya malu?"

Demi mengetahui tindakan The Go itu, cemaslah Ciok jisoh. Ia cukup kenal keganasan orang she The itu, yang berani melakukan segala macam perbuatan jahat. „Orang she The. kau berani menghina adikku?" serunya cemas sembari lari menghampiri, namun sudah terlambat. Karena pada saat itu, tampak The Go mengangkat kakinya kanan. Dengan lututnya dia bentur dada sinona, sembari lepaskan cengkeramnya tadi. „Aduh...." hanya sekali mulut Siau-lan merintih tubuhnya sudah segera rubuh terlentang kebelakang..........

Syukur tepat pada saat itu, Ciok jisoh sudah tiba disitu, sehingga terus dapat menyanggah tubuh adik iparnya. Melihat tindakan yang kejam itu, bukan saja Ciok  jisoh, pun Kiau To, Tio Jiang dan Yan-chiu yang berwatak jujur perwira itu, marah sekali. Masa seorang lelaki berbuat semacam begitu terhadap seorang gadis yang menyayanginya. Yan-chiu yang paling tak kuat menahan peraasannya itu, segera memaki: „Kau benar2 seorang yang tak kenal budi! Mengapa kau berbuat sekejam itu?" Sebenarnya The Go masih belum hilang kemarahannya terhadap Siau-lan, tapi demi mendengar dampratan Yan- chiu itu, buru2 dia berganti wajah. Dengan tertawa manis dia menyahut: „Nona Yan, kalau andainya ia itu seorang lelaki dan aku ini perempuan, dia pantas ditampar tidak?"

Yan-chiu terdesak kepojok oleh pertanyaan itu. Kalau mengiakan, terang dia setuju perbuatan anak muda tadi. Namun tidak setuju, berarti dia itu seorang gadis yang rendah nilainya. Sesaat dara yang belum faham akan seluk beluk pergaulan muda mudi itu, menjadi jengah dan ter- longong2 sampai sekian detik.

„Budak perempuan yang tak kenal malu macam begitu, perlu apa diberi hidup?" The Go main unjuk

„keperwiraannya" seraya kerlingkan ekor mata kearah Bek Lian.

---oo0-dwkz-TAH-0oo---

Sebagai seorang gadis, Bek Lian merasa kurang penuju atas perbuatan sianak muda itu terhadap sesama kaumnya. Tapi entah bagaimana, demi mengetahui si The Go benci pada perempuan lain, diam2 ia merasa girang. Dan ketika anakmuda itu mengawasi dirinya, ia menjadi jengah sendiri terhadap orang banyak, maka buru2 dongakkan kepala memandang awan dilangit.

Yan-chiu yang biasanya bermulut tajam itu, kali ini terpukul k.o. oleh kelicinan The Go, namun ia tetap penasaran, serunya: „Ya biar bagaimana juga, tak pantas kau melukai orang, nah sudah tak mau berbantah lagi dengan kau.” Sedang Tio Jiang yang tak pandai ber-kata2 itu hanya menuding kepada The Go seraya berseru dengan gelagapan

: „kau...... kau. ”

„Aku bagaimana?" cepat The Go menukasnya sambil menahan kesakitan.

„Kau seharusnya tahu bahwa ia menaruh hati padamu?" sahut Tio Jiang.

The Go ber-gelak2, ujarnya: „Engkoh kecil, hatimu murni amat. Namun setiap curahan kalbu itu harus berbalas. Misalnya kau sendiri saja, menaruh hati pada seorang nona, dan ia tak membalas cintamu, andainya kau masih menguber2 saja, apakah kau harus memaksanya?" The Go sengaja mengucap dengan nada keras, agar orang2 dapat mendengarnya.

Wajah Tio Jiang merah padam. Sepintas teringatlah perihal dirinya sendiri. Dia telah abdikan panggilan hatinya terhadap sang suci, namun suci itu tak ambil perhatian kepadanya. Dalam hal itu, dia tak dapat sesalkan sikap sucinya itu. Berpikir sampai disitu, dia melangkah maju hendak mengatakan sesuatu. Hai, kalau tadi begitu bergerak siorang tua aneh tentu lekas2 mencengkeramnya, tapi kini tidak lagi. Kemana dia? Buru2 dia berpaling dan dapatkan orang tua aneh itu sudah tiada disitu. Tapi karena saat itu dia sedang mempunyai urusan, maka dia tak mau menyibukinya lagi.

Sebaliknya karena telah dapat membuat Yan-chiu dan Tio Jiang bungkam, The Go merasa girang, dengan dongakkan kepalanya dia tertawa riang. Tiba2 dirasanya ada sebuah sinar berkelebat disusul dengan samberan angin keras menyampok datang. Buru2 dia tundukkan kepalanya, lalu dengan tahankan rasa sakit dia melangkah setindak kesamping. Kiranya itulah Ciok jisoh menyerang dengan kim-kong-lun (senjata roda baja). Kalau tadi dia tak lekas2 menghindar tentu celaka sudah.

„Ciok jisoh, kau juga akan main2 dengan aku?" tanyanya dengan menyeringai.

Tadi sewaktu Kiau To kirim dupakannya, dengan sebatnya The Go mundur kebelakang, maka orang2 sama mengira kalau dia dapat menghindari serangan itu. Dan meskipun sudah terluka, masih dia unjuk senyuman sambil ber-kata2 agar tak kentara sakit. Ternyata Ciok jisohpun dapat dikelabuhinya. Sedikitpun jago perempuan itu tak mengetahui bahwa lutut The Go telah terluka, ya sekalipun tak sampai patah tulangnya, tapi cukup membuat gerakannnya tak leluasa. Maka demi The Go mengeluarkan hardikannya, karena merasa kalah tinggi kepandaiannya, iapun bersangsi. The Gopun tak mau mempedulikannya. Dipungutnya ikat kepalanya yang jatuh ditanah, setelah membereskan rambutnya yang kacau, lalu dipakainya lagi. Kemudian katanya kepada Kiau To dan Tio Jiang berdua:

„Kepandaian jiwi berdua, aku amat kagum. Terutama kepada engkoh kecil ini yang telah dapat mengenal ilmu tutukan darah dari perguruanku yang sangat dirahasiakan itu. Kalau benar2 seorang lelaki, nanti pada hari Peh-cun tahun muka, supaya datang kebio Ang-kun-kiong digunung Ko-to-san!"

Saat itu Tio Jiang tengah kelelap dalam pikirannya mengenai perhubungannya dengan sang suci, jadi dia tak mendengarkan apa yang dikatakan The Go itu. Sebaliknya Kiau To yang merasa kalau kemenangannya tadi itu tak layak, hendak menghibur agar lawan itu jangan kehilangan muka. Tapi demi menyaksikan kekejaman orang itu terhadap seorang gadis kawannya, dia berbalik gusar sekali. Maka demi siganas itu mengeluarkan tantangannya, kontan saja dia menyahut: „Kau mau agul2kan nama Ang- hunkiong untuk menggertak orang? Hm, ucapan seorang lelaki. "

„Laksana kuda mencongklang pesat!" buru2 The Go menyambung kata2 Kiau to itu, „nah, siaoseng hendak minta diri!" Dan dengan kata2nya itu The Go  sudah melesat dua tombak jauhnya, justeru tepat disisi Bek Lian. Melihat anak muda itu hendak berlalu, hati Bek Lian seperti terasa kehilangan sesuatu, maka tanpa dapat ditahan lagi, meluncurlah kata2 dari mulutnya: „Kau kau terus pergi

begini saja?"

„Tahun muka, kalau dapat kau turut saja berkunjung ke Ko-to-san, kita pasti akan berjumpa pula," sahut The Go dengan berbisik.

Bek Lian sendiripun tak tahu, mengapa dalam perkenalan sesingkat waktu itu saja, dia sudah mempunyai perasaan begitu terhadap sianak muda itu. Pehcun (Pesta air) masih setengah tahun lagi, baginya waktu itu keliwat lama sekali. „Kecuali Pehcun itu, apakah tiada lain kesempatan lagi?" tanyanya.

Mendengar itu, The Go girang bukan buatan, sahutnya berbisik: „Kalau kau dapat turun gunung, carilah aku ke Kwiciu!"

Bek Lian mengangguk dan setelah melesat lagi beberapa kali. The Gopun lenyap kebawah gunung. Ketiga saudara Chi buru2 mengikut jejaknya. Hweeshio gemuk Ti Gong taysu setelah merandek sejenak lalu menghampiri Ciok jisoh, siapa tengah berjongkok memeriksa luka  adik iparnya. Demi melihat sihweeshio datang, Ciok jisoh segera membentaknya: „Kepala gundul, sejak naik kemari kaulah yang mulai cari perkara, sana enyahlah!"

Dengan tertawa menyengir, hweeshio gemuk itu pamitan lalu ayunkan langkahnya turun gunung. Dan karena berhenti sebentar itu, dia sudah ketinggalan jauh dengan The Go dan ketiga saudara Chi. Sukur jalanan disitu tak keliwat ber-belit2, jadi diapun tak sampai kesasar. Malah kuatir kalau Ciok jisoh yang sedang gusar itu menyuaulnya, dia percepat langkahnya. Kira2 satu li jauhnya, tiba2 dia teringat akan sesuatu, lalu menoleh memandang kepuncak tadi. Sampai sekian saat dia merandek dan merenung. Pada lain saat ketika dia hendak lanjutkan perjalanannya lagi, se- konyong2 dari sebelah samping terdengar orang berkata dengan nada yang  dingin sekali: „Kepala gundul, kau kenapa? Mengenang Liok-ya? Inilah liokya-mu berada disini!"

Mendengar nada yang dikenalnya sejak 10 tahun yang lalu. bagaikan diburu setan Ti Gong segera loncat kemuka. Kebetulan tempat yang diloncatinya itu adalah sebuah semak belukar duri. Biarpun ilmunya mengentengi tubuh cukup baik, begitu turun kesemak terus secepatnya loncat keatas lagi, namun tak urung jubahnya bagian bawah tertusup pecah oleh duri2 disitu, sehingga tak keruan macamnya. 1

Selagi Ti Gong Hwesio ngacir kebawah gunung, tiba2 ia dipapak si Bongkok, Thaysan-sin-tho, seorang musuh buyutan pada 10 tahun yang lalu.

„Ha. ha, mengapa takut, kepala gundul?" kedengaran suara tadi tertawa mengejek, „liok-ya masih belum selesai dahar, belum sempat untuk memberesimu. Kalau kenal aelatan, lekas jongkok memberi hormat. Apabila liok-ya attdah selesai menyantap kaki anjing ini, baru nanti memberi putusan!"

Ti Gong terkejut bercampur marah, cepat dia berpaling kebelakang. Tak jauh dari situ, tampak seorang yang berwajah mesum tengah menggerogoti sepotong paha anjing. Ha, itulah sibongkok dari biara Cin Wan Kwan. Melihat dugaannya tak meleset, lebih dahulu Ti Gong gunakan tangannya kiri melindungi dada, lalu tangannya kanan menuding pada sibongkok, dia balas mendamprat:

„Bagus, Thaysan Sin-tho! Mengapa kau sembunyikan diri menjadi paderi gagu berganti nama Hwat Ji tojin? Ceng Bo siangjin tentu kena kau kelabui!"

Sembari masih menggerogoti kaki anjing, si Bongkok berbangkit dan menyahut dengan pelahan: „Benar, orang she Bek itu telah kukelabui!"

Tegas dilihat oleh Ti Gong, bahwa ketika si Bongkok itu berbangkit, meskipun masih tetap seorang bongkok, tapi jauh bedanya dengan bentuknya ketika berada dibiara Cin Wan Kwan tadi. Kini  sepasang matanya memancarkan sorot ber-api2. Ya, itulah orang she Ih nama Liok bergelar Thaysan sin-tho (si Bongkok sakti dari gunung Thaysan) yang telah dijumpainya 10 tahun berselang dipesisir utara sungai Tiangkang. Itu waktu dia tengah melakukan keganasan membunuh wanita hamil, mengeluarkan kandungannya untuk dibuat ramuan obat. Perbuatannya itu kepergok Thaysan Sin-tho dan dalam pertempuran itu dia kena dijatuhkan oleh sibongkok tersebut.

Dengan kekalahan itu, Ti Gong lalu mencari guru yang pandai, mencukur rambutnya masuk menjadi hweeshio dan meyakinkan ilmu silat lagi  dengan jerih payah. Setelah merasa kepandaiannya cukup, dia cari lagi musuhnya itu guna melakukan pembalasan. Tapi dari selatan menjelajah keutara, orang2 persilatan golongan atas yang dijumpainya sama mengatakan bahwa Ih Liok itu sudah sejak 10 tahun ini menghilang tak berbekas, entah mati atau  hidup. Ti Gong terpaksa hentikan pengejarannya.

Sewaktu melihatnya dibiara Cin Wan Kwan tadi, Ti Gong sudah curiga. Tapi demi mendengar keterangan Tio Jiang bahwa sibongkok itu adalah seorang tuli dan gagu, apalagi setelah dicobanya ternyata benar dia itu tak bisa ilmu silat maka Ti Gongpun lepaskan kecurigaannya itu. Ah, mimpipun tidak dia kalau kini sibongkok yang ternyata benar2 Thaysan Sin-tho itu, sudah menunggunya dibawah gunung situ. Merasa dirinya itu sudah banyak berbuat kejahatan dan keganasan, diam- bercekat hati Ti Gong. Tapi demi merasa bahwa jerih payahnya meyakinkan ilmu silat telah membuat dirinya jauh berlainan dari 10 tahun yang lalu, timbullah nyalinya lagi. „Hm, orang she Ih, Ceng Bo siangjin boleh kau selomoti, tapi aku tidak!"

Ih Liok memberakot lagi segumpal daging paha anjingnya, sembari berkeruyukan mengunyah, dia menyahut dengan suara sember: „Tak dapat mengelabui kau, Liok-yapun tak jeri. Coba kulihat, apakah mulutmu itu masih bisa dipakai berbicara lagi?"

„Celaka!" diam2 Ti Gong mengeluh dalam hati menduga kalau ucapan sibongkok ttu tentu ada apa2-nya. Cepat2 dengan gerak „i-heng huan-poh" dia raba tasbih 108 mutiaranya itu untuk mendahului menyerang musuh. Tapi sudah terlambat. Sesosok bayangan bundar hitam, merangsang datang. Gerakannya lebih cepat dari suara. Baru tangan meraba mutiara, atau serangkum angin keras telah menyampok putus kawat peronce mutiara itu. Insyaflah Ti Gong, bahwa jerih payah peyakinannya selama 10 tahun ini masih tak dapat menandingi kesaktian Thaysan Sin-tho. Rupanya dalam waktu itu, Thaysan Sin-thopun membuat kemajuan yang pesat sekali. Tahu gelagat jelek, buru2 dia hendak kabur, tapi sudah tak keburu lagi. Sesaat itu dirasanya seluruh persendian tulangnya kesemutan dan tubuhnya lemah lunglai. Kiranya dia telah kena dicengkeram oleh Thaysan Sin-tho. Sewaktu berpaling kebelakang, dilihatnya wajah sibongkok itu amat menakutkan sekali walaupun mulutnya masih enak2an menggeragoti santapannya itu. Saking ketakutan, buru2 Ti Gong meratap: „Liok-ya, ampunilah.......", tapi belum sempat dia mengucapkan „jiwaku", atau dadanya serasa sesak, mulut terasa manis dan matanya ber-kunang2 gelap. Sekali Thaysan Sin-tho menepuk kearah dadanya, tubuh Ti Gong segera ngelumpruk, kepalanya terkulai dan putuslah nyawanya.

Begitu tangan Thaysan Sin-tho melepas, sekali dorong tubuh Ti Gong yang gemuk itu segera ber-guling2 kebawah gunung. Setelah itu, tampak Ih Liok menepuk2 tangan, sembari menyembat santapannya kaki anjing tadi, dia segera memanggul tong air. Dalam bentuknya sebagai  imam Bongkok yang tuli gagu dari Cin Wan Kwan, dia mendaki keatas gunung lagi.

Mayat Ti Gong yang digelundungkan kebawah oleh Thaysan Sin-tho dengan cepatnya telah dapat menyusul perjalanan ketiga saudara Chi. Mendengar dibelakangnya ada suara benda ber-gelundung ketiga orang itu sama menoleh kebelakang dan mengenalnya itu sebagai potongan tubuh Ti Gong. Tapi mengapa bergelundungan, tidak berjalan biasa saja? Karena tak tahu kalau Ti Gong sudah menjadi mayat, mereka sama tertawa geli. Seru Chi Sim:

„Toa-hweeahio, mengapa bergelundungan begitu? Apa kuatir kalau ketinggalan 'sepur'?" Sedang lain saudaranya juga menambahi: „Bukan, rupanya toa-hweeaio hendak meniru Hoa-hweesio Lou Ti-sim dari kawanan Liang-san. Bukankah setelah mencuri arak digunung Siau-pa-ong, lalu menggelundung turun gunung?"

Sewaktu ketiga saudara itu berolok2 dengan riangnya, tubuh Ti Gongpun sudah tiba dihadapan mereka.

„Celaka!" tiba2 Chi Sim menjerit kaget. Ternyata kedua saudaranyapun telah mengetahui perihal Ti Gong itu. Buru2 mereka mengangkatnya untuk diperiksa. Amboi, ternyata dada Ti Gong telah hancur jeroannya, maka sewaktu diangkat itu mereka dapatkan bahwa mayat hweeshio yang gemuk itu sangat ringan sekali, se-olah2 tak bertulang lagi. Saking takutnya ketiga saudara Chi berseru memanggil The Go yang jauh berada dimuka: „The toako, ada peristiwa hebat!"

The Go mendengar juga teriakan itu, tapi mengira kalau yang dimaksudkan dengan „peristiwa" itu adalah Kiau To dan Ceng Bo siangjin melakukan pengejaran, dia agak terkejut. Terang dia tak nanti sanggup melawan kedua tokoh itu, apalagi ketiga saudara Chi Itu orang2 yang tak berguna, maka dari merandek dia malah percepat langkahnya.

Ketiga saudara Chi itu adalah orang2 kasar. Betul biasanya mereka tak takut dengan Ti Gong, tapi karena perhubungan diantara keempat keluarga The, Ciok, Ma dan Chi itu sangat akrab sekali, maka mereka anggap Ti Gong itu juga termasuk orang sendiri. Melihat kematian yang mengenaskan dari sihweeshio, perasaan merekapun tak enak. Diulanginya lagi seruannya memanggil The Go, namun yang tersebut belakang itu berlaga tak mendengar, malah kini lari se-kencang2nya. Melihat itu mereka mengeluh, kenapa tadi tak lekas2 berjalan sehingga kesamplokan dengan mayat Ti Gong. Ah, lebih baik gelundungkan lagi saja mayat itu, dan  mereka mengikutinya dari belakang.

Tepat pada saat tubuh Ti Gong menggelundung dikaki gunung, The Gopun sampai ditempat situ. Melihat ada sesosok tubuh bergelundungan, buru2 dia loncat menghindar, sehingga tubuh itu menggelundung beberapa meter lagi baru berhenti. Kini baru The Go kaget, berbareng pada saat itu ketiga saudara Chi tadipun tiba, terus menuturkan apa yang dialaminya tadi. Wajah The Go hanya mengunjuk senyuman getir, tapi diam2 dia makin mendendam pada orang2 Cin Wan Kwan. Hanya terhadap sijuwita Bek Lian, dia tak dapat melupakannya. Sesaat terbayanglah kecantikan puteri gunung Lo-hou-san yang sangat mempesonakan itu. Pikirnya: „Sungguh tak nyana kalau dipuncak yang sunyi itu, terdapat seorang bidadari. Aku, The Go, seorang bun-bu coan-cay (serba guna), mempunyai hari depan yang gemilang, apapun tentu dapat kucapai. Walaupun aku terikat permusuhan dengan kaumnya, namun hati seorang gadis itu lemah, masakan dia bakal terluput dari tanganku?" Puas melamun, dia segera dupak mayat Ti Gong kedalam sebuah semak belukar, kemudian dengan ketiga saudara Chi, lanjutkan perjalanannya menuju ke Kwiciu.

---oo0-dwkz-TAH-0oo--- Sekarang mari kita tengok keadaan digunung Lo-housan. Sepeninggalnya The Go, Bek  Lian seperti kehilangan sesuatu. Dengan ter-longong2 ia memandang kearah awan yang bertebaran dilangit, pikirannya jauh me-layang2. Sedang disebelah sana Ciok jisoh dan Kiau To sedang asyik memereksa luka Siau-lan. Habis memeriksa,  keduanya sama berkerut alis.

Kata Kiau To: „Ciok jisoh, kini tiada lawan atau kawan, menolong orang adalah yang terpenting. Adikmu terluka parah, baik dibawa masuk kedalam biara dahulu!" Sembari berkata itu dia ulurkan tangannya hendak menutuk jalan darah thian-ti-hiat yang terletak disebelah dada sinona. Maksudnya hendak menolong supaya mengurangkan sakitnya. Tapi teringat kalau yang sakit itu adalah seorang nona, dia batalkan niatnya dan merandek. Tahu akan maksud baik orang she Kiau itu, karena dirinya sendiri tak mengerti ilmu menutuk, buru2 Ciok jisoh mempersilahkan:

„Kisu looji, tutuklah, jangan sungkan!"

Mendapat anjuran itu, baru Kiau To berani. Tapi ketika tangannya menyentuh badan sinona, tiba2 hatinya bergetar. Diam2 dia mengeluh dan lekas2 tenangkan pikirannya. Setelah itu, Ciok jisoh menggendong adik iparnya  itu masuk kedalam biara. Yan-chiu meskipun genit dan nakal, tapi hatinya welas asih. Tadipun dia sudah mendamprat The Go dan kini iapun mengikuti Ciok jisoh masuk kedalam.

Sebaliknya Tio Jiang melihat sucinya menjublek diam, ialu menghamperi dan berkata dengan tertawa: „Suci, tadi Kiau susiok dapat menangkan orang itu, adalah karena kebetulan "

Belum omongan Tio Jiang itu selesai, Bek Lian sudah cepat memotongnya: „Kau menyingkir sana, mau tidak?" Mendapat sambutan dingin itu, tetap Tio Jiang tak marah, katanya pula: „Tetapi orang itu "

Kalau tadi hanya mulutnya saja yang menyemprot, kini tiba2 dengan gusarnya Bek Lian angkat kedua tangannya terus hendak menampar Tio Jiang. Namun Tio Jiang tak mau menghindar. Dia mempunyai cara berpikir sendiri yang aneh: „Suci memukul aku ini karena marah padaku. Bukantah aku harus membiarkan dipukul supaya menghilangkan kemarahannya?" Maka dari menyingkir, sebaliknya Tio Jiang lantas ulurkan kepalanya kemuka.

Bek Lian tahu kalau anak itu bukan seorang tolol. Cuma saja, memang begitu melihat ia, Tio Jiang itu lalu seperti orang gagu dan merah mukanya. Dahulu sebelum berjumpa dan mengetahui bahwa didunia ini ternyata ada seorang lelaki (The Go) yang bagusnya seperti Arjuna itu, ia sih tak begitu jemu terhadap Tio Jiang. Tapi kini setelah berjumpa dengan „Arjuna"nya itu, dia benci melihat kelakuan sang sutee yang tolol itu. Buru2 dia tarik pulang tangannya, terus melangkah maju tak ambil mumet lagi pada Tio Jiang. 

Tio Jiang mengintil anjing, serunya: „Suci aku "

„Kau mengapa, kau menyingkir sana mau tidak?" Bek Lian putuskan omongan orang dengan ketusnya, seraya melangkah maju lagi dua tindak. Justeru disebelah muka itu adalah sebuah karang buntu yang meluncur kebawah curam sekali. Melihat itu Tio Jiang gugup dan berteriak: „Suci, hati2lah!"

Jengkel direcoki sang Sute, Bek Lian timbul kemarahannya lalu hendak me-maki2nya. Tapi tepat pada saat itu Yan-chiu kelihatan muncul dari dalam biara dan ber-lari2 menghampiri. Kira2 masih beberapa meter jauhnya, ia sudah me-lambai2kan tangannya seraya berseru:

„Lekas   kemarilah!   Mengapa   kalian   berdua   omong tak putus2nya itu? Suhu memanggil kita, bertiga!" Sembari berkata itu sinona genit itu masih sempat unjuk „muka setan" pada Tio Jiang, katanya pula: „Suhu memanggil kita itu, apakah bukan hendak mengajarkan jurus ke 5, 6 dan 7 dari To-hay-kiam-hwat? Kau sirik,tidak?"

Namun Tio Jiang tak hiraukan olok2 sumoaynya itu. Begitu Bek Lian ayunkan langkah pulang, diapun terus mengintil saja. Hendak berkata lagi, dia tak berani, namun kalau diam saja dia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjel dalam hatinya. Tiba2 dia rasakan ada orang menarik bajunya, ketika menoleh kebelakang, ha, si Yan- chiu yang menggodanya lagi. Menuding kearah Bek Lian, nona nakal itu mengiwi-iwi (unjuk muka seperti setan) padanya. Sudah tentu Tio Jiang jadi uring2an bentaknya:

„Sumoay, mengapa kau terus2an menggoda orang saja?"

Yan-chiu jebikan bibirnya menyahut: „Huh, terhadap suci sih seperti tikus berhadapan dengan kucing, tapi kalau terhadap aku mau main galak2an ya?"

Sebenarnya terhadap Yan-chiu, Tio Jiang menyayang seperti seorang adik kandungnya sendiri. Ketika dua tahun yang lalu Yan-chiu datang digunung situ, dialah yang merawatnya. Maka atas protes Itu, dia hanya menyengir saja: „Sumoay, kalau kau tak selalu mencari kesalahan dan tak menggoda aku, aku pasti sayang padamu."

Yan-chiu goyang2kan tangannya berseru: „Apa2an sih itu! Kau sayang saja pada suci, kan ia nanti tak mau menghiraukanmu!"

Sambil bicara itu, mereka sudah melangkah kedalam pintu biara. Didengarnya Ceng Bo siangjin batuk2 diruangan samping, maka merekapun tak berani bicara keras2, terus masuk kedalam. Begitu masuk, dilihatnya sang suhu itu duduk disebuah kursi, wajahnya keren sekali. Memang Ceng Bo siangjin itu tak suka banyak omong. Diantara ketiga saudara seperguruan itu, kecuali Bek Lian yang karana dimanjakan oleh kecintaan sang ayah, kalau berhadapan dengan ayahnya itu tetap berani berbicara. dengan keras. Tapi sutee dan sumoaynya itu karena merasa sebagai anak yatim piatu yang ditolong oleh Ceng Bo siangjin, merekapun tahu diri. Disamping itu, keduanya  pun agak jeri terhadap sang suhu yang dihormatinya itu.

Demi nampak wajah suhunya luar dari biasanya, begitu masuk Tio Jiang dan Yan-chiu terus tegak berdiri dengan khidmatnya. Adalah Bek Lian seorang saja yang berani maju dan menghampiri kearah meja disisi ayahnya untuk melihat sebuah peta yang terbentang disitu. Sementara Ki Cee-tiong, itu toa-ah-ko Thian Tee Hui, tetap riang berseri wajahnya. Memang dengan wajahnya yang selalu ber-seri2 itu, kalau sedang menghadapi ketegangan, tampak makin lucu kelihatannya.

Setelah ketiga muridnya datang. Ceng Bo siangjin segera suruh mereka melihat peta bumi itu. Menunjuk kearah tapal batas Tiau-yang, berkatalah Ceng Bo siangjin: „Coba kalian lihat, tentara Ceng sudah tiba disini! Turut katanya Ki susiokmu ini, kaisar Siau Bu yang bertakhta di Kwiciu itu, mempunyai dua orang menteri yang bernama Ko Tiau-cian dan Hongo-ciu. Kedua orang itu berlainan muka dengan hatinya (palsu). Salah seorang akan bersekongkol dengan tentara Ceng, agar memperoleh pangkat. Ah, anjing2 Boan- ciu terkenal ganas sekali. Misalnya peristiwa pengganasan dan pembunuhan besar2an di Yangciu dan Ka-ting, entah berapa banyak jiwa bangsa Han yang melayang! Kita akan segera turun gunung menggabungkan diri ber-sama2 dengan saudara2 dari Thian-Tee-Hui guna berusaha mengusir tentara musuh dari perbatasan Kwitang. Ini adalah urusan besar. Kepandaian kalian bertiga sebenarnya masih belum seberapa, seharusnya belum waktunya turun gunung, tapi apa boleh buat!"

Ketiga anak muda itu mendengarinya dengan penuh perhatian. Tiba2 Bek Lian kedengaran membuka mulut:

„Ayah, aku dan Yan-chiu sumoay masih belum belajar ilmu pedang dengan sempurna!"

Ceng Bo siangjin menghela napas, ujarnya: „Ah, terus terang saja lebih baik jangan harapkan hal itu. Sebenarnya To-hay-kiam-hwat itu walaupun satu jurusnya saja, kalian berdua tak boleh belajar. Telah kuajarkan 4 jurus pada kamu berdua itu, sudah berarti mencelakai. Lian-ji, kau harus belajar ilmu pedang 'hoan kang kiam hwat' seperti ibumu itu, tetapi ah. "

Sejak Bek Lian berangkat besar, setiap kali mendengar sang ayah membicarakan ibunya, tentu disusul dengan helaan napas yang panjang. Entah tak tahulah Bek Lian apa sebabnya dan lama sudah ia ingin mengetahui sebab itu. Maka menggunai kesempatan kala itu, ia beranikan diri bertanya: „Ayah, dimanakah ibu?"

Ceng Bo siangjin ter-mangu2 sampai sekian lama, lalu tiba2 dia berkata: „Lekas siapkan senjatamu ikut Ki dan Kiau kedua susiokmu pergi ke Kwiciu. Aku segera akan menyusul!"

Walaupun kurang puas atas jawaban yang bukan  jawaban itu, namun Bek Lian tak berani membantah sang ayah. Tiba2 Tio Jiang teringat akan halnya siorang tua aneh (Sam-thay-ya) itu, hendak dia tuturkan pada suhunya, atau tiba2  dari  arah  luar  Ciok  jisoh  kedengaran  berseru keras:

„Kiau loji, pil istimewa buatan suhumu Tay Siang Siansu itu, sungguh mujijat sekali. Siau-lan sudah sadarkan diri, rasanya   sudah   tak   apa2  lagi.   Biar   gunung   dan sungai menyaksikan, kami keluarga Ciok telah berhutang budi padamu!"

„Ciok jisoh," sahut Kiau To seraya tertawa, „apa2an kau omong begitu. Itulah sudah jamaknya orang persilatan saling tolong menolong. Kau hendak membalas budi untuk sebuah pil buatan suhuku, ah susahlah rasanya! Hati2lah setelah kau turun gunung. Sadarkan adikmu bahwa orang itu seorang ganas, tak usah memikirkan padanya!"

Tapi berbareng pada saat itu, kedengaran suara Siau-lan mengajak taci iparnya: „Soso, hayo kita lekas pergi, kalau terlambat tentu takkan dapat berjumpa dengan engkoh Go!"

Mendengar itu Ki Cee-tiong yang berada disebelah dalam segera bertanya pada Tio Jiang: „Hai, mengapa loji begitu murah hati mengobral pil sam-kong-tan? Siapakah yang terluka dan mengapa?" Atas pertanyaan itu Tio Jiang - segera tuturkan duduk perkaranya. Dan baru saja selesai menutur, Kiau To yang habis mengantar Ciok jisoh dan Ciok Siau-lan berangkat, sudah balik dan masuk kedalam ruangan lagi.

„Sisu-ko, kau sungguh hebat," seru Kiau To mengalem Tio Jiang, „tapi mengapa kau kenal akan ilmu tutuk "hong cu may ciu" orang itu?"

„Ah, mana aku tahu! Itulah seorang tua aneh berjanggul panjang bernama Sam-thay-ya yang memberitahu padaku!" sahut Tio Jiang, tapi berbareng saat itu se-konyong2 Ceng Bo siangjin berbangkit dan tangannya memijat meja, krak, krak, rompallah ujung meja ltu. 

Melihat kelakuan aneh dari Ceng Bo siangjin itu, orang2 sana terkejut sekali. Malah dengan tak terkesiap, Yan-chiu menatap sang suhu. sesaat teringatlah Ceng Bo siangjin bahwa tadi dia telah kehilangan penguasaan dirinya, maka dengan tertawa tawar dia bertanya pada Tio Jiang: „Sik loo-sam itu mengatakan apa lagi?"

„Sik Loo-sam," Tio Jiang mengulangi pertanyaan suhunya dengan keheranan.

„Itulah siorang tua kate tadi!" buru2 Ki Ce-tiong menanggapi.

„Oh," seru Tio Jiang, „dia bilang, dia bukannya takut menemui suhu, melainkan tak ingin bertemu saja. Dan kemudian bilang, dia hanya tahu makan tak tahu berpikir."

Ceng Bo siangjin tundukkan kepala merenung sejenak Ialu berkata: „Sudah jangan hiraukan dia, kalian ikut saja pada saudara Ki dan Kiau menggabungkan diri  dalam Thian-Hui di Kwiciu. Tak berapa hari kemudian, aku tentu menyusul kesana !"

Bagi kaum persilatan, selain senjatanya tak ada lain benda perbekalannya lagi. Begitulah mereka bertiga lalu menuju kekamarnya masing2 untuk berkemas membawa sedikit barang yang perlu. Mendengar dapat pergi ke Kwiciu, bukan kepalang girangnya Yan-chiu. Tak berapa lama kemudian, Ki Ce-tiong, Kiau To, Bek Lian, Tio Jiang dan Yan-chiu berangkat turun gunung. Meskipun ilmu silatnya sudah punah, tapi sedikit2 Ki Ce-tiong masih bisa menggunakan ilmu mengentengi tubuh, jadi kini mereka berlima dapat berjalan berendeng.

Berada sendirian didalam kamarnya, Ceng Bo siangjin tampak mondar-mandir, lalu mengambil pedangnya yang tergantung pada dinding. Pedang itu sebuah tiang-kiam (pedang panjang), bentuknya sangat istimewa jauh berlainan dari pedang biasa, karena lebih panjang beberapa dim. Sarung pedang itu yang sebelah berbentuk bundar, yang sebelah terepes. Tangkai pedang itu yang sebelah kanan panjang yang sebelah kiri pendek. Lebih dahulu Ceng Bo meniup sarung pedang itu, lalu membersihkannya dengan lengan baju. Rupanya dia begitu sayang sekali akan pedangnya itu. Setelah itu, dengan pe-lahan2 dia lolos keluar.

Dibarengi dengan suara bergemuruh samar2, batang pedang itu tertarik keluar ke-biru2an warnanya. Anehnya, pedang itu seperti tak mempunyai ujung. Jadi batang pedang itu tampaknya bundar panjang seperti sebuah berambang panjang. Ceng Bo siangjin ketuk2kan dua buah jarinya kebatang pedang, dan terdengarlah suara bening macam suara batu pualam. Ditariknya pula batang pedang itu sedikit keatas lagi, lalu dengan ter-longong2 dia mengawasi dua huruf „yap kun" yang terukir disitu. Mendadak dia menghela napas, wajahnya mengunjuk kedukaan yang sangat.

Setelah memandang sampai sekian saat, dia segera sarungkan lagi pedangnya, lalu menuju keluar. Saat itu keadaan disekeliling puncak situ lelap sekali. Hanya ada sementara burung berkicau keluar dari dalam hutan puhun siong dan Hwat Ji tojin itu tojin gagu tuli yang nampak memikul tong air mendaki keatas, untuk diisikan kedalam gentong. Karena sudah biasa jadi Ceng Bo pun tak merasa heran.

Se-konyong2 Ceng Bo siangjin bersuit pelahan, tapi nadanya ternyata melengking bening sekali. Thaysan Sin- tho Ih Liok, itu sibongkok yang pura2 menyaru jadi orang tuli gagu, sambil menuang air sambil memperhatikan gerak- gerik Ceng Bo itu. Tadi sewaktu dilihatnya siangjin itu keluar sendirian dengan membawa pedang pusakanya yang sama sekali tak boleh disentuh orang itu, diapun sudah terperanjat heran. Dan begitu mendengar siangjin itu bersuit, tahulah dia kalau kepala Cin Wan Kuan itu tengah menyampaikan tantangan. Apakah penyaruannya itu sudah diketahuinya? Demikian pikir Ih Liok dengan gelisah dan oleh karena kegelisahannya itu dia telah keliru menuangkan setengah tong air itu keluar gentong. Tapi ternyata suitan Ceng Bo itu makin lama makin tinggi nadanya, baru dia (sibongkok) lega hatinya karena terang itu bukan ditujukan dirinya.

Tak antara lama, kumandang suitan itu sudah jauh menyusup keseluruh pelosok. Tapi orangnya sendiri sudah menggendong tangan dengan mencekali pedang, tampak mondar-mandir kian-kemari. Hanya kini sikapnya sudah tenang lagi. Diam2 Ih Liok merasa kagum. Tapi dia tetap heran, siapakah yang hendak diundang berkelahi oleh siangjin itu? Tengah dia me-mikir2 itu, tiba2 didengarnya ada seseorang berteriak: „Hay-te-kau, jangan bersuit setan lagi, jantung Sam-thay-ya kau tusuk2 rasanya!" Berbareng dengan teriakan itu, dari sebelah bawah sana melesat sesosok tubuh dan entah bagaimana caranya, dalam  dua kali loncatan saja orang itu sudah berada satu tombak jauhnya dihadapan Ceng Bo siangjin. Demi melihat siapa orang itu, sibongkok bukan main terkejutnya terus ber- gegas2 masuk kedalam bio. Tapi disitu dia mengintip keluar dari sela2 lubang pintu. Oleh karena bio itu sudah kosong, jadi perbuatannya itu tiada seorangpun yang tahu.

Begitu nampak munculnya orang itu, Ceng Bo siangjin segera berhenti bersuit serta lalu membentak: „Sik Lo-sam, tidak nyana setelah berpisah 10 tahun bisa berjumpa lagi bukan?"

Batok kepala siorang tua yang besar itu tampak mengangguk beberapa kali, lalu menyahut: „Benar, benar, Hayte-kau, sungguh tak nyana. Tapi mana Kang-siang-yan? mengapa ia tak tampak ? Kau mempunyai murid yang baik ya? Makanya sampai tak kenal suhunya itu siapa, ha, ha!"

Sambil mendengari ocehan si Sam-thay-ya atau Sik Losam itu, tangan Ceng Bo siangjin yang digendong dibelakang tadi ditarik dan dialihkan kemuka dada, lalu balas bertanya: „Sik Lo-sam, ia berada dimana?"

„Siapa? Siapa yang kau maksudkan berada dimana itu?" tanya siorang tua kukway dengan heran.

Ceng Bo siangjin tetap berlaku sabar, katanya: „Yang pada 10 tahun berselang ketika sedang beristirahat sakit dikaki gunung ini, malam2 kau ......... tutuk jalan darahnya itulah!" Ketika mengucapkan kata2nya yang terakhir itu nadanya berat tenggorokannya gemetar, seperti menderita suatu kesakitan. Sebaliknya siorang tua kate aneh itu seperti tak kejadian apa2, ia menepuk batok kepalanya sendiri berseru: „O, itulah Kang-siang-yan !"

„Benar, dimanakah dia?" hardik Ceng Bo dengan nada keras.

„Sret", se-konyong2 orang tua aneh itu melesat 3 tindak kebelakang. Ceng Bo siangjin melangkah maju setindak mengikutinya.

„Entah, aku tak tahu!" Sik Lo-sam gelengkan kepalanya.

„Sring", Ceng Bo siangjin melolos pedangnya.

„Bagus, Hay-te-kau! Kau mau berkelahi lagi? Mari, mari, mari!" seru Sik Lo-sam seraya silangkan kedua tangannya, maju kemuka terus menghantam Ceng Bo siangjin. Tapi dengan kibaskan baju pertapaannya, Ceng Bo telah dapat menghalau serangan itu, seraya berseru: „Sik Lo-sam, kau mau tidak menerangkan duduk perkara yang sebenarnya dari peristiwa dahulu itu?"  

2

„Bagus, Hay-te-kau! Kau mau berkelahi lagi? Mari, mari, mari!" seru Sik Lo-sam seraya silangkan kedua tangannya, maju kemuka terus menghantam Ceng Bo siangjin.

Tapi dengan kibaskan baju pertapaannya, Ceng Bo telah dapat menghalau serangan itu, seraya berseru: „Sik Lo-sam, kau mau tidak menerangkan duduk perkara yang sebenarnya dari peristiwa dahulu itu?"

„Bukan aku. Tapi siapa yang menutuk pingsan Kangsiang-yan, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Tapi kau tetap tak mempercayai keteranganku, habis aku harus mengatakan bagaimana? Pedangmu itu, kau curi kepunyaan Kang-siang-yan !"

Melihat caranya siorang tua aneh itu berkata secara berputar balik sukar dirasakan, setelah berpikir sejenak, berkatalah Ceng Bo: „Sik Lo-sam, pedang ini merupakan sepasang lelaki dan perempuan. Ketika itu Kang-siang-yan sedang sakit, aku kegunung mencari obat. Ketika pulang kudapati hanya kau seorang yang berada disitu, itu waktu........ ya kau tentu mengetahui sendiri keadaan itu waktu. Setelah kututuk-sembuhkan jalan darahnya, ia tak mau bicara apa, tahu2 pergi entah kemana. Adakah kau pernah bertemu padanya?"

„Haya, kalau tak kau sebut2 hal itu tentu aku lupa. Nyonya itu keliwat bengis, kalau aku tak cepat2 menyingkir, tentu sudah tak bernyawa lagi."

„Dimana kau menjumpainya?" tanya Ceng Bo siangjin dengan gugup.

Sik Loo-sam gelengkan kepala, menyahut: „Entahlah, aku lupa. Otak Sam-thay-ya ini, tak bisa muat barang."

Kini Ceng Bo hilang sabarnya. „Sik Loo-sam, kau juga tergolong tokoh kenamaan dalam dunia persilatan. Menghina isteri orang, harus menerima hukuman apa, kau bilanglah!"

Mata istimewa dari siorang tua aneh  itu berkicup membalik, sahutnya: „He, siapa yang menghina isterimu?"

Ceng Bo siangjin perdengarkan ketawa tawar, terus siapkan pedangnya. Tanpa kelihatan bergoyang tubuh,

„sret" tahu2 Sik Loo-sam melesat kesamping pintu bio dan terus miringkan kepalanya untuk mendengari, lalu mendorong pintu terus masuk. Sibongkok Ih Liok yang berada dibelakang pintu tak dapat lari mengumpat.

---oo0-dwkz-TAH-0oo---

„Bagus, Hay-tee-kau, kau sembunyikan seorang pembantu?" Sik Loo-sam menjerit seraya mencengkeram lengan kanan sibongkok. Thaysan Sin-tho Ih Liok bukan seorang yang lemah, sebenarnya dia dapat menghindar dari cengkeram itu. Tapi tiba2 dia memperoleh pikiran, maka mandah diam saja. Gerakan Sik Lo-sam itu luar  biasa cepatnya, begitu mencengkeram terus dia lemparkan sibongkok itu keluar. Sewaktu melayang diatas, tangan dan kakinya berserabutan dan mulutnya ber-kuik2 men-jerit2. Melihat itu buru2 Ceng Bo siangjin maju untuk menyanggapi, lalu pelan2 ditaruhkan diatas tanah.

Tadi Sik Loo-san tak mau memperdatakan siapa yang disergapnya itu. Begitu sibongkok disambuti Ceng Bo, diapun terus ikut memburunya serta membolak-balikkan si- bongkok, kepalanya (sibongkok) ditundukkan lalu didongakkan dan dipereksanya sampai sekian saat.

„Sik Loo-sam, kau apakan dia?" tanya Ceng Bo siangjin dengan heran.

„Sibongkok ini! Yang malam itu masuk kedalam pondok hendak mencuri pedang, adalah sibongkok ini!" sahut Sik Loo-sam.

Tengah Ceng Bo siangjin melengak tak tahu apa yang harus diperbuat, se-konyongr sibongkok itu meronta terus enjot tubuhnya keatas. Gerakannya yang luar biasa tangkasnya itu, sungguh diluar dugaan orang. Sik Lo-sam pun cepat mundur selangkah, dan baru Ceng Bo siangjin sadar apa sebenarnya, yang telah terjadi, sibongkok itu sudah melakukan suatu gerakan yang istimewa. Selagi melayang diudara, kakinya kiri diinjakkan kekaki kanan, sekali enjot terus melambung lagi makin tinggi. Itulah suatu gerak ilmu mengentengi tubuh yang sakti. Saat itu dia  sudah berada diluar karang buntu tadi, dan sembari melayang turun kelembah, mulutnya berseru: „Malam itu benar aku berada di dalam pondok, tapi belum sempat mendapatkan pedang itu. Yang menutuk jalan darah hun- hiat pun bukan aku!" Dan berbareng dengan seruannya itu, orangnya pun sudah menobros kedalam halimun tebal.

Kalau orang biasa saja yang loncat turun tadi, tentu tak sedemikian lincahnya. Ceng Bo siangjin dan Sik Lo-sam adalah tokoh akhli. Tahu mereka bahwa sibongkok tadi telah gunakan gerak cian-kin-tui (tindihan seribu kati) agar secepatnya dapat turun kebawah serta dapat selekasnya lolos dari tangan kedua akhli kenamaan itu.

3

Se-konyong2 si Bongkok itu meronta terus enjot tubuh meloncat keatas, terus melesat kebawah gunung melarikan diri.

„Itulah Thaysan Sin-tho!" tiba2 Ceng Bo siangjin teringat akan seorang tokoh persilatan yang lihay.

Karena tak tahu bahwa sibongkok itu telah menyaru sebagai Hwat Ji tojin yang gagu untuk bekerja dibiara situ, dengan delikkan mata, Sik Lo-sam menegur: „Mengapa? Apa kau tak tahu?" Dengan terjadinya peristiwa itu, tahulah Ceng Bo bahwa peristiwa 10 tahun yang lalu itu makin ruwet jalannya. Thaysan Sin-tho diutara dan dia sendiri didaerah selatan, jangankan berkenalan, sedang melihat wajahnya pun belum pernah. Apalagi Thaysan Sin-tho itu juga seorang tokoh yang namanya sangat berkumandang didunia persilatan. Tapi mengapa pada waktu itu (peristiwa 10  tahun berselang) orang bisa kedapatan berada dipondoknya juga? Dan yang paling tak dibuat mengerti, mengapa sibongkok itu rela kerja berat selama 6 tahun dibiara situ? Lagi, mengapa begitu terbuka kedoknya lalu buru2 mengambil langkah seribu? Adakah sesungguhnya dia itu tahu akan keadaan yang sebenarnya? Orang yang dapat menundukkan isterinya, boleh dihitung dengan jari. Kalau bukannya sibongkok, mungkinkah Tay Siang Siansu dari gereja Liokyong-si di Kwiciu? Benar sebabnya sang isteri yang sangat dikasihi itu sampai jatuh sakit adalah karena perbuatan Tay Siang Siansu. Tapi ia adalah seorang imam kelas tinggi yang telah menuntut penghidupan suci, masakan dia mau melakukan perbuatan yang serendah itu? Ketika dia balik kepondok, hanya Sik Lo-sam yang ada disitu, tapi dia menyangkal keras. Juga tadi sibongkokpun membantah tuduhan itu. Tapi kenyataannya, begitu dipulihkan jalan darahnya yang tertutuk tadi, tanpa berkata suatu apa Kang Siangyan sang isteri itu, telah menghilang dan sejak itu sampai kini tak pernah muncul kembali. Oleh karena kala itu dia sibuk berkelahi dengan Sik Lo-sam yang dicurigainya, jadi dia tak sempat untuk menguntit sang isteri. Dilihat dari perkembangannya, rahasia itu takkan terpecahkan selama dia belum berhasil menjumpai sang isteri sendiri. Namun tiga tahun lamanya dia berkeliaran mencarinya, tapi tetap sia2. Akhirnya karena putus asa, dia ambil keputusan menjadi pertapa (imam). Tapi setiap kali teringat nasib dari sang isteri yang tak ketahuan rimbanya itu, hatinya perih seperti di-sayat2.

Begitulah pada saat itu, lubuk pikiran Ceng Bo penuh dikarungi oleh seribu satu pertanyaan, yang tak terpecahkan olehnya. Dengan helaan napas panjang, dia memberi isyarat tangan: „Sik Lo-sam, kau enyahlah !"

„Suruh aku pergi sih mudah, tapi harus mengajari aku 3 jurus ilmu pedang!"

Ceng Bo siangjin tahu kalau orang tua itu seorang yang linglung, tapi sangat suka sekali belajar ilmu silat. Adakah ilmu orang lain itu baik atau buruk, dia selalu meminta diajari beberapa jurus. Mengingat bahwa ilmu pedangnya

„to hay kiam hwat" itu tak boleh diturunkan pada orang luar, maka Ceng Bo siangjin mendapat akal, katanya: „Sik Lo-sam, kalau kau dapat mencarikan isteriku, ilmu pedangku akan kuturunkan padamu seluruhnya!"

Mendengar itu, hidung Sik Lo-sam berkembang kempis saking girangnya. „Baik, baik", serunya seraya memutar tubuh terus lari kebawah gunung. Ceng Bo siangjin menghela napas lagi, setelah menyarungkan pedangnya dia kedengaran berkata seorang diri; „Ang-moay, Ang-moay, kemanakah kau ini? Kalau benar2 kau mempunyai dendam, biarlah seluruh sisa hidupku ini kugunakan untuk mencari musuhmu itu!"

Habis mengikrarkan isi hatinya itu, dengan pe-lahan2 dia menuju kedalam biara. Rupanya dia mendendam kemarahan besar, maka tanah yang dilaluinya itu hingga sampai kemuka pintu, tampak ada bekas telapak kakinya yang mendalam.

Malam itu tak kejadian apa2. Pada besoknya sore, baru kelihatan Ceng Bo siangjin muncul keluar dari biara. Dari sikapnya yang sangat lesu itu, terang kalau tadi malam dia kurang tidur. Dengan menyelipkan pedang dipinggang, dia gunakan ilmunya lari cepat untuk turun gunung.

Kerajaan Beng yang berhijrah kedaerah selatan itu, terpecah menjadi dua, masing2 dikepalai oleh seorang kaisar. Kaisar2 itu saling bertempur sendiri, tapi sedikitpun tak menghiraukan akan serbuan tentara Ceng yang sudah tiba ditapal batas. Kaisar Siau Bu yang berkedudukan di Kwiciu, telah mengirim tentara untuk menindas kaisar Liong Bu yang berkedudukan di Siao Ging. Terang kalau pasukan penyerbu dari kaisar di Kwiciu itu telah dapat dibasmi habis2an, tapi Kaisar Liong Bu di Siau Ging telah keliru menyangka kalau tentaranya yang kalah, maka dengan ter-sipu2 dia melarikan diri. Baru setelah tiba di Ngociu propinsi Kwisay dan mendapat laporan resmi tentang jalannya pertempuran yang sebenarnya, kaisar Liong Bu pulang kembali kekota raja Siau Ging. Seorang junjungan yang setolol itu mana dapat memimpin pemerintahannya untuk menggempur tentara penjajah Ceng!

Sejak isterinya menghilang secara aneh itu, semangat Ceng Bo siangjin sudah padam, hatinya tawar akan urusan dunia. Tapi kali ini setelah mendapat surat undangan dari perkumpulan Thian Te Hui, hatinya tergugah lagi. Bahwa tanah tumpah darahnya akan dijajah oleh tentara asing, itulah suatu hinaan besar. Maka dengan melupakan kedukaannya, dia segera berangkat ke Kwiciu memenuhi undangan lcetua Thian Te Hui tersebut. Tapi setibanya disana, didengarnya kalau keempat bajak laut dari Laut Selatan yakni The, Ciok, Ma dan Chi berkunjung ke Lo- hou-san untuk mencarinya. Maka dengan ber-gegas2 pulanglah dia kegummg. Walaupun, mondar-mandir dalam perjalanan sejauh itu, namun dia tak merasa lelah. Sewaktu turun gunung untuk yang kedua kalinya ini, Ceng Bo siangjin berlaku hati2 dalam perjalanan. Siang hari dia tak berani gunakan ilmu berjalan cepat, karena kuatir menimbulkan kecurigaan orang. Kalau malam hari, dia tak mau menginap dihotel tapi mencari tempat dibiara yang rusak. Menjelang siang hari pada hari kedua, barulah dia tiba dipintu kota sebelah timur.

Markas perkumpulan Thian Te Hui yang sangat dirahasiakan itu, karena sudah pernah datang kesitu, maka dengan mudah Ceng Bo dapat langsung menuju kesana. Tapi baru melangkah kedalam, dia segera mendapat ada sesuatu perobahan. Biasanya, anggauta2 perkumpulan itu banyak sekali jumlahnya, sehingga keadaan markas itu selalu ramai. Tapi saat itu, sepi2 saja keadaannya. Juga dalam perjalanan kesitu tadi, dia tak menjumpai barang seorang anggautanya.

Diam2 Ceng Bo siangjin terperanjat dalam hatinya. Setelah melalui beberapa rumah dan sebuah gedung hesar, baru didengarnya ada suara orang sedang ber-cakap2. Tapi dari nada percakapan mereka yang tak keruan juntrungannya itu, terang kalau keliwat banyak minum arak. Setelah menurut arah suara itu, ternyata disitu terdapat dua orang lelaki tengah bermain domino (terbuat dari bahan tulang), dan dihadapannya ada seguci arak. Dari dandanannya, mereka itu adalah anggauta Thian-Te-Hui. Baru Ceng Bo siangjin hendak membuka mulut, atau salah seorang dari mereka telah melihatnya dan meng- goyang2kan tangannya: „Lo-to (imam tua), kali ini kau sial. Orang2 sudah sama berangkat, kau susullah!".

Ceng Bo siangjin tak kenal dengan orang itu, sembari tertawa kecil dia bertanya: „Mana toa-ah-ko?"

„Semuanya sudah pergi kegunung Gwat-siu-san, pergilah!" sahut yang seorang lagi dengan tak sabaran. ---oo0-dwkz-TAH-0oo---
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Naga dari Selatan BAGIAN 03 : HILANG TAK BERBEKAS"

Post a Comment

close