Naga dari Selatan BAGIAN 02 : CENG BO SIANGJIN

Mode Malam
 
BAGIAN 02 : CENG BO SIANGJIN

Melihat kelakuan yang aneh dari sihweshio gemuk itu, semua orang menjadi heran. Mata sihweshio itu ber-api2 mengawasi tanpa berkesiap kepada sibongkok. Tapi sibongkok itu acuh tak acuh, seperti tidak kejadian apa2, membalas isyarat tangan, lalu pergi dengan pe-lahan2. Setelah mengantarkan bayangan sibongkok sampai lenyap, barulah sihweshio itu bertanya kepada Tio Jiang: „Maaf, siauko, siapakah sibongkok tadi?"

„Dia adalah imam pelayan dari biara ini. Seorang yang tuli dan gagu. Sejak aku datang kemari, dia sudah disini. Tadi karena kupanggil dia membuatkan teh untuk tetamu, baru dia masuk keruangan ini," sahut Tio Jiang.

Sihweshio kedengaran ber-sungut2 tak jelas suaranya. Setelah sekian saat berdiam diri, The Go tertawa bertanya:

„Mengapa mendadak toasuhu tanyakan hal itu?"

Karena sihweshio tengah merenung, tanpa hiraukan siapa yang bertanya itu, dia segera menyahut dengan semaunya saja: „Jangan turut campur !"

Serentak The Go berbangkit. Sembari kibaskan lengan bajunya, dia menegas dengan sinisnya: „Toasuhu, apa katamu tadi?" Sepasang matanya yang ber-api2 me-mancar2 kearah Ti Gong hweshio. Rupanya Ti Gong terkesiap atas kegarangan simahasiswa, mulutnya ber-gerak2 tapi tak dapat mengucapkan sesuatu. Chi Sim, itu salah seorang dari orang yang bermuka brewok, karena tak akur  dengan sihweshio, buru2 menambahi minyak: „The toako, tadi diapun mengatakan bahwa kau cepat kaki, cepat pula menyelamatkan jiwa!"

“Ha, ha!" The Go dongakkan kepala lalu menegas dengan keras: „Apa?" Begitu nyaring dan tangkas bentakan itu sehingga membuat semua orang tersentak kaget. Yan- chiu membelalakkan matanya, heran atas tingkah laku tetamu2nya itu. Dihadapan sekian banyak orang, sudah tentu Ti Gong tak mau mundur, sahutnya dengan tak kurang garang: „Ya, lalu bagaimana.?" Diapun segera berbangkit. Dari sikapnya berdiri, terang dia seperti tengah menghadapi. musuh besar. Kedua kakinya tegak dengan kokohnya, tangannyapun tak bergerak, hanya jubahnya yang kelihatan berguncangan. Melihat dia berdiri, The Go segera menghampiri. Ini membuat Ti Gong menjadi tegang.

Bek Lian diam2 kuatirkan The Go. Dalam percakapan tadi, walaupun  semuda itu usianya, ternyata The Go bukan saja cakap wajahnya, pun juga cakap dalam segala pengetahuan. Hanya dalam ilmu silat orang itu agak merendah. Dari sikapnya terang kalau orang muda itu hendak cari setori dengan sihweshio yang telah memperolokann ya itu. Dibanding dengan dia, hweshio itu seorang yang bertubuh gemuk besar, jadi kalau berkelahi terang bukan tandingannya. Memikir sampai disini Bek Lian jengah sendiri. Mengapa ia begitu menaruh perhatian atas diri The Go? Namun tak tahu dia mencari jawaban dari pertanyaan dalam hatinya itu. Yang menguasai pikirannya pada saat itu ialah, hendak dia nantikan dulu perkembangannya, kalau ternyata nanti The Go mengalami kerugian, ia akan turun tangan membantunya.

Bahwa sekalipun sedang sibuk menyambut sekian banyak tamu, namun perhatian Tio Jiang tak pernah lepas kepada Bek Lian, sucinya itu. Demi tampak bagaimana pandangan mata dari sang suci itu tertumpah dengan penuh arti kepada The Go, diam2 Tio Jiang mendongkol. Dia harap hweshio itu dapat memberi hajaran yang setimpal pada si The Go itu.

Lain2 anggauta dari rombongan tetamu, tampak The Go tengah pe-lahan2 menghampiri Ti Gong, pun tak berdaya untuk mencegahnya. Ciok Jiso melengos, pura2 seperti tak melihat. Ketiga persaudaraan Chi, tegang wajahnya. Hanya Ciok Siau-lan yang mengawasi dengan sorot mata yang mengandung seribu arti kepada The Go. Begitu maju 3 tindak kemuka, orang she The itu segera berhenti, lalu tenang2 berkata: „Aku yang rendah ini kepingin melihat, adalah toasuhu ini bisa cepat tidak menyelamatkan jiwa?"

Kata2 itu ditutup dengan mengibaskan lengan kanannya. Berbareng dengan deru samberan angin lengan baju itti. tinjunya melayang kemuka. Cepat dan seru hantaman itu datangnya, sehingga diluar dugaan orang2. Juga pukulan itu luar biasa dahsyatnya. Tapi ternyata Ti Gong sudah siap sedia. Begitu The Go melancarkan pukulannya, sebat sekali dia menghindarkan mundur. „krak...." karena sihweshio sudah menyingkir kedekat pintu, maka kursi yang didudukinya tadi menjadi sasaran pukulan The Go, hingga sungsal sumbal. Dengan sabar The Go menarik tangannya lalu tersenyum berkata: „Oho, kiranya toasuhu juga tangkas sekali menyelamatkan jiwa!" Dan sehabis berkata itu, dengan gaya tindakan seorang pelajar, dia kembali  ketempat duduknya semula. Sewaktu lalu dihadapan Bek Lian, dia unjuk senyuman.

Makin kagum dan mengindahkanlah Bek Lian kepada orang muda itu, yang ternyata mempunyai kepandaian yang sedemikian hebatnya. Dengan menyungging sarinya madu, dia balas bersenyum. Melihat itu Tio Jiang makin mendedek hatinya. Tanpa dapat dikendalikan.lagi dia segera ikut menimbrung berseru: „The .... The. toako,

kalau hendak berkelahi, mengapa tak berkelahi diluar saja? Tuan rumah dari biara ini sedang tidak dirumah, mengapa kau berani merusakkan alat2 perabot disini?"

Mengetahui sang sute merah padam mukanya, tahulah Bek Lian bahwa sute itu tak senang kalau ia, terlalu rapat pada The Go. Ia, lebih tua setahun dari Tio Jiang. Pada umumnya, anak perempuan lebih dahulu masak pikirannya dari anak lelaki. Rasa kasih Tio Jiang yang ditujukan kepadanya itu, bukan ia tak mengetahuinya. Tapi karena ia merasa 3 hal yang terutama," „rupa, kepandaian ilmu silat dan ilmu surat", mana ia dapat menyambut kasih seorang macam Tio Jiang itu? Dalam perkenalan yang singkat dengan The Go yang orangnya cakap, pandai ilmu surat dan tinggi ilmunya silat, diam2  bersemilah bibit asmara dalam hatinya. Maka atas ucapan sang sute tadi, buru2 ia membentak: „Sute, terhadap tetamu mengapa kau berlaku begitu?"

Sebaliknya The Go segera berpaling kearah Tio Jiang, serunya: „Sedari tadi, engkoh ini selalu mencekal pedangnya saja. Telah lama kudengar.ilmu pedang Ceng Bo siangjin itu sangat menjagoi, sukakah kiranya memberi sedikit pelajaran padaku?"

Tak sangka Tio Jiang kalau orang she The itu sedemikian sombongnya. Memang sejak tadi dia tak menyukai gerak- gerik orang itu. Sebagai seorang jujur yang tak bisa mendendam, serentak berbangkitlah Tio Jiang: „Kalau The toako ingin aku mempertundukkan permainan yang jelek, akupun tak berani membantahnya." Dengan berkata itu, dia terus melangkah keluar.

The Go ganda bersenyum. Dari  atas mejanya dia memungut kipasnya, terus dibukanya. Sepasang matanya sebaliknya dari melihat Tio Jiang, mengawasi terus kepada Bek Lian. Maksudnya dia hendak melihat bagaimana perobahan Bek Lian. Sijelita ini memangnya tak mempunyai rasa apa2 terhadap Tio Jiang. Tapi sebagai kakak seperguruan, diapun tak ingin melihat sutenya dicelakai lain orang. Tadi demi diketahuinya bagaimana sekali pukul The Go telah dapat menghancurkan kursi sihweshio, ia yakin kalau Tio Jiang tentu bukan tandingannya. „Sute, jangan berlaku kurang adat!" katanya kemudian.

Sekalipun masih penasaran, namun karena Bek Lian yang melarang, Tio Jiang terpaksa menurut. Memang terhadap sang suci itu, Tio Jiang tak pernah berani membantahnya. Selagi dia hendak kembali ketempat duduknya, sibongkok dengan membawa senampan teh masuk keruangan situ. Setelah menyingkir dari hantaman The Go tadi, sihweeshio gemuk mengambil tempat duduk pada sebuah kursi dipinggir pintu. Begitu nampak dibongkok, kembali dia menjadi beringas dan menatapnya dengan tajam2. Tapi tetap sibongkok itu tak menghiraukannya. Dia ambil cawan2 teh itu untuk dihidangkan pada tetamu. Ketika berada disebelah Tio Jiang, tiba2 anak itu mendapatkan bahwa kawannya bongkok itu mengicup-ngicapkan mata kepadanya, sikapnya agak aneh.

Selama 6 tahun berada digunung situ, belum pernah Tio Jiang mendapatkan sibongkok berlaku begitu aneh. Dalam kagetnya, hampir2 cawan yang tengah dipegangi Tio Jiang itu terlepas dari tangannya. Sebaliknya dengan tenangnya, sibongkok berlalu untuk mengantarkan teh pada Ti Gong. Setelah menaruhkan cawan dimeja sihweeshio, sibongkok terus hendak berlalu dengan membawa menampannya. Tapi tiba2 Ti Gong menggerung keras. Sekali kakin ya diangkat dia tendang penampan itu hingga terbang keatas, seraya membentak: „Thocu (bongkok)! Kiranya kau bersembunyi disini. Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba", berjerih payah mencari tak berhasil, ternyata tanpa disengaja bisa ketemu!"

Kejadian itu menjadikan paniknya suasana. Tiada seorangpun yang tahu apa sebabnya sihweeshio berlaku begitu. Semua orang segera berbangkit dari tempat duduknya. Begitu penampan ditangan kena ditendang keatas, sibongkokpun nampak ter-huyung2 kebelakang sampai beberapa tindak. Wajahnya mengunjuk kecemasan. Malah pada saat itu, Ti Gong segera akan menyusuli dengan sebuah hantaman dan sibongkok yang nampaknya tak bisa ilmu silat, diam saja tak mau menyingkir.

Tio Jiang tak dapat bersabar lagi. Begitu tinggalkan tempat duduk, tanpa berkata ba atau bu, dia segera serang Ti Gong dengan jurus „ceng wi thian hay", salah satu dari jurus ilmu pedang to-hay-kiam-hwat. Kepala sihweeshio tampak ber-goyang2 dan kalung tasbih yang terkulai dilehernya itu tiba2 ber-goyang2, merupakan sebuah lingkaran bundar. Dan ini ternyata dapat menangkis serangan pedang Tio Jiang.

Tanpa bicara lagi segera Tio Jiang segera serang Ti Gong Hwesio gemuk itu. Diluar dugaan kalung tasbih Ti Gong Hwesio menjungkat dan tepat membentur ujung pedang Tio Jiang.

Tio Jiang terkesiap. Masa tanpa menggerakkan tangan, orang telah dapat menangkis serangannya dengan hanya cukup meng-goyang2kan kepalanya saja. Tapi dia benci akan kelakuan sihweshio yang hendak menganiaya kawannya tadi. Tanpa banyak cingcong, dia segera susuli lagi dengan jurus „hay siang tiau go". Jurus ini walaupun baru saja dipelajarinya, tapi karena merupakan salah satu jurus dari to-hay-kiam-hwat, sudah tentu gayanya lain dari yang lain. Begitu ujung pedangnya bergerak, diam2 Tio Jiang menghapalkan kunci rahasia dari ilmu pedang itu: „dalam 49 gerakan, memikat lawan kedalam kait". Ini diambilkan dari dasar nama gerakan itu yang disebut 'hay siang tiau go' diatas laut mengail ikan besar. Dan memangnya jurus itu terdiri dari 49 gerakan.

Karena dengan gerakan leher saja tadi  telah dapat menghalau serangan orang, maka Ti Gong tak memandang mata pada sianak muda yang dianggapnya hanya begitu saja ilmu kepandaiannya. Tapi segera kesombongannya itu berobah menjadi suatu keluhan hebat, ketika menghadapi serangan yang kedua dari Tio Jiang. Bukan saja gayanya jauh berlainan dari serangan pertama tadi, pun tahu2 dihadapannya seperti terkurung dengan ratusan sinar pedang yang me-magut2 seru, sehingga menyebabkan matanya ber-kunang2 dan kewalahan untuk menghindar. Dengan ter-birit2 dia lekas2 menyingkir kesamping.

Tapi sedikitpun sihweeshio itu tak menyangka bahwa sesuai dengan namanya „hay siang tiau go", ilmu pedang  itu betul2 seperti memikat orang supaya kena digait. Ke 49 sinar pedang itu, ternyata serangan kosong. Begitu Ti Gong menyingkir dan hendak dongakkan kepalanya untuk gerakkan kalung tasbihnya, pedang Tio Jiang telah mengikutinya kesamping, „sret" terus menusuk kemuka. Kala itu kaki Ti Gong belum dapat berdiri jejak ditanah, maka mana dia bisa menghadapi serangan kilat itu? Namun hweeshio itu cukup lihay juga, begitu sang tumit dienjot, dia melambung keatas.

Sewaktu serangannya menemui sasaran kosong, karena ilmunya pelajaran masih belum sempurna, buru2 Tio Jiang tarik balik pedangnya. Sebaliknya karena tak mengetahui kelemahan lawan, sewaktu diatas udara dengan gerak „lee hi bak thing" ikan leehi berd yumpalitan, Ti Gong lont yat kebelakang sampai beberapa langkah. Karena tempat duduknya itu dekat pintu, maka dengan loncatan itu tubuh Ti Gongpun sudah berada diluar ruangan. Sesaat itu tak berani Ti Gong masuk kedalam.

Tio Jiang tak ambil peduli akan sihweeshio, terus dia mengangkat bangun sibongkok. Sejak dia belajar silat digunung tersebut, walaupun suhunya amat menyayanginya, tapi diwaktu memberikan pelajaran dia bersikap bengis. Maka dalam kebatinan Tio Jiang, hanya tergores rasa hormat dan jeri pada suhunya itu. Sebaliknya dengan sibongkok yang tuli dan gagu itu, Tio Jiang bersahabat karib sekali. Sibongkok itupun bisa beberapa macam permainan, misalnya memanjat puhun tangkap burung, membuat perangkap untuk menjebak binatang buas dan sebagainya. Karena belum dapat melepaskan sifatnya kanak2, sudah tentu Tio Jiang amat menyukai permainan itu. Sekalipun sibongkok itu tak dapat berbicara, tapi dengan gerak isyarat tangan, dapat juga dia diajak sambung bicara. Begitulah selama 6 tahun, keduanya menjadi sahabat yang akrab sekali. Sudah tentu tadi Tio Jiang tak ijinkan orang menganiaya sahabatnya itu. Dalam dua gebrak saja ternyata dia dapat mengundurkan Ti Gong.

Kecuali terhadap The Go, Bek Lian tak menyukai tetamu2nya itu. Terutama terhadap sigadis hitam yang bernama Ciok Siau-lan itu, siapa terus menerus mengawasi sembarang tingkah laku The Go saja. Hal mana telah membuat Bek Lian heran dan sirik. Tadi sewaktu sihweeshio hendak memukul sibongkok, iapun gusar sekali. Kalau menuruti perangainya, tentu siang2 ia sudah turun tangan. Tapi entah karena apa, hari itu ia harus berlaku istimewa susilanya dihadapan simahasiswa itu. Tak mau ia sampai dicacat dalam pandangan anak muda itu. Maka tadi demi sang sutee turun tangan, iapun tak mau mencegahnya.

Mungkin diantara ketiga saudara seperguruan itu, adalah Yan-chiu  yang  paling  merasa  erat   hubungannya  dengan sibongkok. Tadi iapun sudah serentak berbangkit,  tapi sudah kedahuluan sukonya. Begitu Tio Jiang sudah dapat menghalau sihweeshio, berserulah nona centil itu: „Suko, jangan ijinkan hweeshio biadab itu masuk. Masa mertamu begitu kurang ajar, apa2an itu!" Dara itu ternyata tangkas orangnya, tajam mulutnya. Dia pandai menyindir orang. Bagian yang terakhir dari dampratannya itu, sebenarnya ditujukan pada rombongan tetamu lainnya. Dan setelah puas mendamprat, ia tertawa sendiri.

---oo0-dwkz-TAH-0oo---

Setelah mengangkat bangun sibongkok, Tio Jiang masih mengawasi sihweeshio itu dengan gusarnya. Ti Gong ternyata sedang berpikir keras. Baik masuk atau tetap diluar saja. Kalau tetap diluar, rasanya dia akan kehilangan muka. Namun kalau masuk, tentu akan terjadi onar dan ini berarti akan membikin kapiran urusan besar kedatangannya disitu. Selagi dia mondar mandir dalam kesangsian itu, tiba2 dari arah belakang terdengar orang berkata: „Aha, hweeshio yang telah menjadi pembesar tentara, benar2 cepat kaki. Mengapa tak mau masuk saja?"

Dengan terkejut Ti Gong berpaling kebelakang dan dapatkan disana kelihatan ada 3 sosok bayangan tengah mendatangi. Hendak dia tegur mereka itu, atau salah seorang dari mereka goyangkan lengan bajunya. Sebuah samberan angin yang kuat menyampok datang. Astaga, kakinya serasa digempur dan ter-huyung2lah Ti Gong beberapa tindak hingga kini dia terdorong masuk lagi kedalam ruangan. Mengira kalau hweeshio itu hendak membalas, Tio Jiang lepaskan sibongkok terus menyerang dengan pedangnya. Tapi segera diapun mengetahui bahwa diluar pintu sana tampak ada 3 sosok bayangan ber-gegas2 masuk. Salah seorang dari mereka ternyata adalah suhunya sendiri, Ceng Bo siangjin.

Melihat kedatangan siangjin, Bek Lian dan  Yan-chu tersipu2 berbangkit. Ceng Bo siangjin mengangguk sedikit. Dengan wajah keren, dia tegak berdiri sembari merangkap kedua tangannya. Kiranya siangjin itu seorang tosu (imam setengah tua), mengenakan jubah dan topi keagamaan. Wajahnya terang berseri, sikapnya agung berwibawa, sehingga orang terpaksa tak berani berlaku sembarangan dihadapannya. Dibelakang siangjin itu terdapat dua orang yang masing2 berpakaian aneh. Mereka mengenakan kain kepala pahlawan, yakni yang sebelah warnanya hitam yang sebelah warnanya putih. Bajunya hitam, celananya putih, begitu juga sepatunya pun hitam putih. Yang tepat berada dibelakang Ceng Bo siangjin, usianya hampir  sebaya dengan tosu itu. Sedang kawannya yang dibelakang sendiri, agak mudaan, tapi wajahnya sangat keren, tidak seperti kawannya yang lebih tua tadi siapa berwajah riang peramah.

Rombongan tetamu yang berada dalam ruangan itu, walaupun belum pernah mengenal Ceng Bo  siangjin, namun dari sikapnya tahulah mereka kalau tosu itulah tuan rumahnya. Merekapun segera berbangkit. Malah The Go sembari menutup kipasnya terus hendak membuka mulut, tapi orang berpakaian aneh yang agak tuaan umurnya tadi, tiba2 tampil kemuka mengawasi sampai beberapa jenak pada The Go. Kata2 yang sudah siap hendak  diucapkan The Go tadi, terpaksa dibatalkan. Semua hadirin pun tak mengerti sikap orang aneh tadi, siapa pada lain saat kedengaran berseru: ,,Bagus, Cian-bin Long-kun (anak muda seribu wajah) yang telah menjadi cong-peng-kuan (pembesar militer) juga berada disini!" Sehabis berkata begitu, orang itu mengalihkan pandangannya kearah Ciok Jiso, ujarnya: „Bagus juga,  Ciok Jiso, sam-kiat (3 orang gagah) keluarga Chi yang menjadi pembesar2 militer, juga berkumpul disini!"

„Bagus, bagus, kiranya Cian-bin Long-kun yang sudah menjabat Cong-peng-kuan juga berada disini:

" Tiba2 kawan Ceng Bo Siangjin yang agak tuaan Itu menegur The Go.

Kecuali Tio Jiang, Bek Lian dan Yan-chiu yang tak tau apa artinya semua2nya itu, rombongan tetamu cukup menginsyafi ucapan siorang yang berpakaian aneh itu. Seketika itu The Go lalu membentang kipasnya, sembari di- kipas2kan dia tertawa berkata: „Ah, kiranya yang datang ini adalah Ki lotoa. Benar, aku yang rendah ini memang telah menjadi pembesar militer kerajaan. Apabila Ki lotoa berkenan menerima panggilan kerajaan, kurasa akan mendapat kedudukan lebih dari congpeng!"

Orang yang disebut Ki lotoa itu, tertawa dingin. Sedang Ceng Bo siangjin dengan perasaan heran, berkata dengan lelahnya: „Tuan2 ini adalah pembesar2 kerajaan. Pinto (bahasa yang digunakan oleh seorang imam bila membahasakan dirinya) adalah rahayat gunung. Entah tuan2 datang kemari ini hendak mempunyai keperluan apa saja, harap lekas mengatakan!"

Ucapan Ceng Bo siangjin itu mengandung suatu paksaan kepada sang tetamu, ini cukup diketahui oleh semua orang. Bek Lian yang tak mengetahui asal usul romhongan tetamu itu, merasa heran atas sikap sang ayah. Karena biasanya orang tua itu senantiasa membawa sikap yang sabar peramah, masa kali ini begitu keras tak sabaran.

Diluar dugaan, The Go dengan tenangnya menyuruh kawan2nya duduk pula. „Harap saudara2 duduk dulu, kita bicara dengan tenang." Dan setelah semuanya duduk kembali, dengan tertawa The Go menjurah kepada Ceng Bo siangjin, katanya: „Aku yang rendah Cian-bin long-kun The Go, dan ini adalah Ciok Jiso yang dijuluki orang sebagai 'Kim kong song lun', sedang yang ini......", dalam berkata  itu tangannya menunjuk kearah ketiga persaudaraan Chi. Tapi orang berpakaian aneh yang mudaan yang selama tadi masih tutup mulut saja, kini tiba2 menyela dengan bengis:

„Tak usah diperkenalkan, itu sam-kiat dari keluarga Chi, itu Ti Gong hweeshio bekas orang she Ma. The, Ciok, Ma, Chi, adalah golongan2 rendah dalam dunia persilatan. Kini menjadi pembesar kerajaan, hem, apa2an itu!"

Ketiga persaudaraan Chi dan Ciok Jiso merah mendengarnya. Kim-kong-lun atau senjata roda baja ditangan wanita itu, sudah terus hendak diayunkan, tapi dengan tetap menyungging senyum The Go memberi isyarat tangan kepada kedua kawannya itu. Anehnya walaupun orang she The itu masih muda usianya, namun mempunyai wibawa juga. Semua kawan2nya tak berani membangkang. The Go masih ter-senyum2, sembari ber-kipas2 berkata kepada orang tadi: „Hari ini sungguh beruntung sekali  dapat dapat berjumpa dengan Ki lotoa dan Kiau loji dari Thian-te-hwe! Dari lagu ucapan Kiau loji tadi, apakah bukannya sudah berhamba puda Siau Ging?"

Siau Ging adalah kota kerajaan dari baginda Ing-bing- Ong dari ahala Beng didaerah selatan yang sekarang ini. Orang yang disebut Kiau loji itu kedengaran mengelah napas, katanya: „Ah, sungguh tak tahu mati! Induk pasukan Ceng sudah tiba diperbatasan Hokkian, sembarang saat  akan sudah masuk ke Tiau-yang. Sebaliknya, kita orang2 Han, dalam wilayah yang sesempit ini, masih main mendirikan dua orang kaisar dan main gasak2an sendiri. Bukankah ini berarti tak tahu mati namanya? Ki toako, patriot macam kau dan aku ini, apakah tidak merasa sedih berkumpul dengan orang2 macam begini !”

„Ha, ha..." demikian orang yang lebih tua yakni yang dipanggil Ki toako (ketua Ki) itu tertawa, „Kiau jite, benar katamu ini! Baru saja masuk tadi, hidungku telah mencium bau yang busuk, namun tak kukira kalau berasal dari orang2 ini.”

Riang gembira kedua orang itu bertanya jawab dan memaki sembari tertawa-tawa, se-olah2 menganggap sepi akan sekalian tetamu itu. The Go tetap masih tersenyum, Ceng Bo siangjin memandang keatas, seperti tak menghiraukan apa2. Sebaliknya ketiga saudara Chi tadi tak kuat lagi menahan-nahan napasnya. Serempak mereka berseru dengan gusarnya: „Awas, kalau berani ngoceh tak keruan lagi !"

Kiau loji atau yang sebenarnya bernama Kiau To, secepat kilat menoleh. Entah bagaimana dia bergerak tadi, tapi tahu2 orangnya sudah melesat kehadapan ketiga saudara Chi. Dalam penglihatan ketiga saudara Chi, pada saat itu dihadapannya berkelebat sesosok bayangan warna putih hitam. Hendak mereka berbangkit mencabut senjatanya, tapi tiba2 kedengaran suara „plak, plak, plak", dan Kiau To tampak duduk kembali ketempat duduknya semula. Aha, kiranya ketiga saudara Chi itu mukanya masing2 telah mendapat persen sebuah tamparan.

“Kiau jite, mengapa kau tak sayang tanganmu kotor?

Mengapa tak lekas2 keluar cuci sana?" seru Ki lotoa.

Kejadian itu telah membuat Tio Jiang dan kawan2 terperanjat. Pertama atas ketangkasan Kiau To dan kedua karena nyata2 kedua orang berpakaian aneh itu tak memandang sama sekali pada rombongan The Go. Tapi mengapa suhunya tinggal diam saja? Apakah memang benar rombongan tetamu itu orang2 yang rendah? Demikian Tio Jiang, Bek Lian dan Yan-chiu saling mengawasi satu sama lain. Bek Lian alihkan pandangannya kearah The Go. Dilihatnya anak muda itu masih tetap tenang2 saja, hal mana telah menimbulkan rasa kagum atas peribadi orang. Tapi mana Bek Lian tahu sebabnya The Go digelari „Cian bin long kun" atau siorang muda seribu muka? Yang diketahui oleh gadis jelita itu, hanialah kedua orang yang datang bersama ayahnya itu, telah berlaku kurang hormat kepada The Go dan kawan2, dan untuk itu symphatinya tercurah pada siorang muda. Segera ia menghampiri kedekat sang ayah lalu katanya dengan bisik":

„Tia, mereka adalah tamu2 yang datang dari tempat jauh, bukankah tidak seyogyanya disuruh minum dahulu baru nanti diajak bicara?

Ceng Bo siangjin menghela napas, ujarnya: „Lian-ji, Jiang-ji dan Siau-chiu, apakah kalian tahu maksud kedatangan mereka kemari ini?"

Ketiga anak muda itu menggeleng. „Induk pasukan Ceng sudah mendesak ditapal batas, kalian tentu sudah mengetahuinya. Segolongan menteri yang berkuasa, karena untuk kepentingan kedudukan mereka, telah mengangkat seorang kaisar di Siau  Ging. Tapi ada lain golongan yang iri, dan mengangkat pula seorang kaisar berkedudukan di Kwiciu. Dewasa ini  wilayah kita hanya tinggal Kwitang, Kuiciu dan  berapa propinsi lagi, namun kedua kaisar itu saling gasak rebutan takhta sendiri. Kedatangan mereka kemari ini ialah hendak meminta aku turun gunung bantu memukul kaisar di Siau Ging. Ha, ha, mereka adalah orang2 yang rakus akan pangkat, kalau akupun berbuat demikian, apakah gelar yang kalian hendak berikan padaku?"

Kata2 itu diucapkan dengan penuh keperwiraan. Ketiga anak muridnya itu sama bungkam. Malah Yan-chiu yang tangkas itu segera lari kehadapan Kiau  To, terus unjuk jempolnya: „Kiau loji, bagus juga kau telah menghajar mereka tadi!"

Muda usianya, tapi kalau bicara sicentil itu suka meniru lagak orang tua. Tak mau dia ambil pusing Kiau To itu tergolong angkatan apa, tapi demi didengar The Go tadi menyebutnya Kiau loji, iapun lalu tiru2 saja. Dan begitu garang nada suaranya itu sehingga membuat Kiau To ter- kial2 menahan gelaknya. „Bek-heng, anak didikmu ini sungguh hebat!" serunya kepada Ceng Bo siangjin.

Sudah tentu Ceng Bo siangjin ter-sipu2, bentaknya :

„Siao-Chiu, jangan kurang ajar, harus panggil Susiok!"

Kiau To mengawasi dara nakal itu dengan seksama, lalu ujarnya: „Bek-heng, usah sungkan. Sikap nona kecil itu cukup garang, tentu memiliki dasar ilmu silat yang kokoh. Adakah ilmu pedang kesayangan Bek-heng itu sudah diajarkan padanya?" Ceng Bo siangjin menghela napas, tak menyahut. Adalah siorang yang disebut Ki lotoa yang umurnya agak tuaan, rupanya mengerti tentu ada persoalannya, buru2 dia menyela : “Loji, bukankah maksudmu hendak menguji kepandaian orang, karena hendak memberi bingkisan lagi?"

Yan-chiu yang cerdas tangkas itu, segera merasa ada sesuatu dalam ucapan orang she Ki itu. Jelas tadi diketahuinya bagaimana sebat orang she Kiau itu memberi tamparan pada ketiga orang brewok she Chi itu. Ter-sipu2 Yan-chiu berjongkok ketanah untuk memberi hormat sampai 3 kali. Begitu berbangkit ia terus mengatur kata2:

„Kiau susiok, ajarkan aku ilmu gerakan menampar ketiga kantong-nasi tadi !"

Melihat kelakuan dara jenaka itu, kembali Kiau To tertawa gelak2. Demikianlah dengan asyik dan gembira rombongan tuan rumah itu ber-cakap2 sendiri, sehingga rombongan The Go seperti tak dihiraukan lagi. Muka ketiga saudara Chi tadi biru telur, Ciok Jiso tertawa urung, sedang Ti Gong dengan uring2an tampak hendak turun tangan, tapi lagi2 dicegah oleh The Go. Dalam pada Yan-chiu bertukar pembicaraan begitu asyik gembira dengan  Kiau To, sikap The Go itu tenang2 saja. Dengan ber-kipas2, dia se-akan2 tak menghiraukan kesemuanya itu. Hanya sebentar2 ekor matanya dikerlingkan kearah Bek Lian. Tapi kini setelah mendengar keterangan ayahnya tadi, Bek Lianpun mendongkol. Dalam keadaan negara sudah separoh bagian terjajah itu, masa orang masih bersitegang leher saling jegal2-an sendiri.

Benar Bek Lian mempunyai pendirian yang begitu mulia, namun kesannya terhadap The Go tetap tak berobah. Dalam pandangannya, The Go itu seorang muda yang cakap, pandai berkelakar dan sangat menarik. Sampaipun gelaran anak muda itu „Cian bin long kun", juga merdu kedengarannya. Ah, memang begitu kalau orang suka, segala apa kelihatannya bagus semua. Maka tatkala The Go menatap kearahnya, sebagai tersedot besi-semberani, Bek Lianpun balas memandangnya. Ketika pandangan matanya tertumbuk dengan sinar mata sianak muda, hati sinona serasa mendebur keras.

---oo0-dwkz-TAH-0oo---

Catatan: - Ketika pemerintah Beng telah didesak oleh tentara Ceng hingga mengungsi kedaerah Kwitang, ternyata disitu dalam kalangan kerajaan Beng timbul pertentancan sendiri. Pada tahun ketiga dari pemerintahan Ceng kaisar Sun Ti, pangeran Ing-bing-ong Cu Yu-Iong telah angkat dirinya menjadi kaisar Beng dengan gelar Liong Bu dan berkedudukan di Siau Ging. Tapi pada bulan 11 tahun itu Tong-ong-tee Cu Gi-yap pun diangkat oleh menteri2nya menjadi kaisar Siau Bu berkedudukan di Kwiciu. Dipanggilnya empat bajak laut kesohor yakni The Go, Ciok Jiso, Ti Gong dan ketiga saudara Chi, untuk menjabat sebagai cong-peng (jenderal perang) guna menggempur Siau Ging. Demikian menurut catatan dalam kitab „Ikhtisar sejarah ahala Beng didaerah selatan."

---oo0-dwkz-TAH-0oo---

Ketika The Go mengetahui bahwa Kiau To telah mengabulkan permintaan Yan-chiu untuk mengajarkan ilmu silat, dengan batuk2 The Go melangkah kemuka, sembari membentang kipasnya untuk dibuat kipas2 beberapa kali. Kini tahulah sekalian orang, bahwa kipas orang muda itu ternyata diberi lukisan, yakni 3 larik gelombang laut. Corak lukisan itu kuat tandas, warnanya ke-hitam2an. Sehabis ber-kipas2 sementara saat, kipasnya itu kembali dilipat. Tingkah lakunya itu, kecuali Bek Lian, tiada seorangpun yang menghiraukan. Namun baginya, Bek Lian seorang sudah cukup daripada sekian banyak manusia.

„Kalau begitu, siauseng pun hendak belajar ilmu silat pada Kiau locianpwe!" serunya kepada Kiau To.

Kumandang getaran suara The Go itu ternyata sekali kedengarannya. Biara Cin Wan Kuan yang begitu kasar bangunannya itu, se-olah2 tergetar oleh kumandang suaranya itu. Ada beberapa tempat, dimana temboknya kurang kokoh, telah berhamburan kapurnya. Ini menandakan, sekalipun masih berusia begitu muda, tapi ilmu lweekang dari The Go itu telah mencapai tingkat yang tinggi.

„Kau ingin belajar apa pada Kiau loji?" tanya Kiau To dengan serentak.

„Ingin belajar memukul, untuk membalas serangan orang!" sahut The Go dengan tertawa.

Orang2 sama terkejut, terang kalau pernyataan The Go itu berarti suatu tantangan. Malah Bek Lian yang selalu perhatikan diri anak muda itu, diam2 telah kucurkan keringat dingin. Tapi disana, dengan tertawa dingin Kiau To menyahut: „Siapakah orang persilatan yang tak mengetahui bahwa walaupun namanya saja kau ini adalah cucu murid dari Ang Hwat cinjin di Ko-to-san, tapi sebenarnya karena ibu dan anak sama2 belajar pada sesama guru, jadi tergolong anak murid cinjin tersebut. Mau belajar apa lagi sih?”

Sejak tadi The Go selalu unjuk senyuman saja, tapi demi dikatakan Ibu dan anak sama2 belajar pada seorang guru," berobahlah warna wajahnya dengan seketika. Sewaktu kata2 Kiau To itu selesai, tampak wajah The Go sedemikian rupa bengianya. „Mau belajar ilmu memukul orang secara membokong, agar bisa mendapat kemenangan yang mudah!" ujarnya dengan nada sedingin es. Dan ucapan itu telah ditutup dengan merangkap kearah  Kiau To.

Kiau To geser kakinya sembari mendakkan tubuh, karena dia kira kalau The Go hendak menyerangnya. Tapi tak tahunya begitu samberan angin menyampok, ternyata The Go melejit disampingnya. Maka dengan ter-sipu2 dia julurkan kedua tangan untuk mencengkeram anak  muda itu. Tapi astaga, „plak, plak", berbareng dengan cengkeramannya terdengar suara tamparan sampai dua kali. Buru2 Kiau To berpaling kebelakang dan, ai, kurang ajar betul! Orang she Ki, toa-ah-ko dari Thian-tee-hwee, yang tak tahu apa2, ternyata kedua belah pipinya telah benjol merah, dua buah giginya rontok mulutnya berdarah!

Gerakan si The Go itu laksana kilat cepatnya, lebih hebat dan pesat dari Kiau To. Kalau tadi walaupun keras suaranya, namun ketiga saudara Chi itu hanya ber-kunang2 matanya. Tapi kini orang she Ki itu telah mendapat tamparan yang digerakkan dengan lweekang,  hingga giginya sampai ada yang rontok. Orang diruang situ terkejut dan keheranan. Terkejut, mengapa The Go bukan memukul Kiau To melainkan menampar orang she Ki. Heran, karena hasil dari pembokongan itu hebat dan tepat sekali. Bukankah orang she Ki toa-ah-ko (ketua) dari sebuah perkumpulan yang berpengaruh macam Thian-tee-hwee? Mustahil kalau tak memiliki kepandaian yang hebat bisa diangkat menjadi toa-ah-ko dari perkumpulan semacam itu, yang anggautanya saja pasti terdiri dari orang- gagah yang berkepandaian tinggi. Heran bukan?

Diantara orang2 yang tak mengerti kejadian itu, hanya Kiau To dan Ceng Bo siangjin yang mengetahui sebab2nya. Malah yang tersebut belakangan itu segera menghela napas. Diam2 dia kagum atas kecelian si The Go yang sepintas pandang segera dapat mengetahui bahwa ketua dari Thian- tee-hwee itu telah punah ilmu kepandaian alias menjadi seorang tanpaguna lagi!.

Begitu habis membokong, The Go sudah dengan segera balik ketempat duduknya lagi. Kejadian itu hanya berlangsung dalam beberapa kejab saja. Kecuali perdengarkan suara mengaduh „ah" dan disusul dengan muntahan dua buah gigi, orang she Ki itu segera tenang kembali, se-olah2 tak kejadian suatu apa. Katanya dengan tertawa: „Cian-bin long-kun, hebat nian gerakanmu tadi! Aku Ki Cee-tiong, rela mengaku kalah. Dua buah gigi ini untuk sementara biar terlepas dulu, apabila sampai temponya pasti akan kembali padamu!"

„Tiga tamparan dibayar dengan dua, sudah selayaknya lebih keras sedikit. Gigimu sendiri yang tumbuhnya tak kuat, kalau hendak mengembalikan, kapan saja pun boleh!" sahut The Go dengan garangnya. Namun dibalik kegarangannya itu, tak urung hatinya diliputi dengan rasa kegelisahan. Dia cukup kenal siapakah toa-ahko dari Thian- tee-hwee itu. Setiap orang persilatan pasti mengenal siapa Ki Cee-tiong yang dijuluki „Thong thian pa" (Penjelajah langit) itu. Baik ilmunya gwakang (luar) maupun lweekang, telah mencapai kesempurnaan. Lebih2 sepasang tun-kong- kian (semacam tongkat pesegi terbuat dari bahan baja murni), lihaynya bukan olah2. Kalau tiada memiliki kepandaian yang sehebat itu, masakan dia dapat diangkat menjadi ketua Thian-tee-hwee? Tapi mata The Go yang celi, segera mengetahui, bahwa sewaktu masuk kedalam ruangan tadi langkah kaki dari orang she Ki tersebut enteng mengambang bagai orang yang tak mengerti ilmu silat saja. Bagi seorang akhli, itu saja sudah cukup memberitahukan, kalau orang telah punah kepandaiannya. Untuk membuktikannya, dia telah menyelonong menamparnya, dan ternyata dugaannya itu tak meleset.

Karena tak dapat menghalangi gerakan The Go itu, Kiau To menyala kemarahannya, bentaknya: „Bagus, aku Kiau lojin, juga akan meminta pengajaran barang sejurus!"

Mulut mengucap, tangan menjulur dan tubuhnya sudah segera melesat kebelakang The Go, wut, wut wut, kelima jarinya bagaikan deru angin menyambar siku lengan The Go. Tapi orang she The ini, begitu melihat orang melesat kebelakangnya, pun segera ikut berputar. Untuk ancaman cengkeram itu, tak mau dia menyingkir, melainkan membalikkan kipasnya, gunakan tangkai kipas untuk menutuk lengan belakang lawan. Yang diarah adalah „yang ti", „yang ko" dan „yang kee", 3 buah jalan darah.

Dengan tertawa dingin, Kiau To turunkan lengannya, diteruskan untuk mencengkeram perut orang. The Go cukup insyaf akan kelihayan cengkeram itu. Sekali kena dicengkeram, isi perutnya pasti akan merocot keluar. Cengkeram itu disebut „toh beng cap jit jiau" atau 17 cakar perampas jiwa. Salah satu kepandaian istimewa dari orang she Kiau itu.

Sewaktu tegas melihat bahwa setiap kali menyerang  tentu terdiri dari 3 buah cengkeraman, The Go tak mau berlaku terburu-buru. Dengan tenang dinantikannya kelima jari orang menyentuh pakaiannya, baru miringkan kipasnya. Sebat luar biasa, kipas itu di-kebut2-kan 3 kali, dan 3 kebutan itu ternyata untuk menutuk jalan darah

„siang yang", „tiong tiong" dan „kwat tiong". Ketiga jalan darah itu masing2 dibawah kuku dari jari telunjuk, tengah dan manis. Gerak serangan Kiau To tadi, bukan saja amat cepat, pun isi kosongnya sukar diduga. Bahwasanya The Go dapat tepat menduga jatuhnya serangan orang dengan suatu tutukan yang tepat, telah memaksa Kiau To buru2 menarik kembali cengkeramannya. Begitulah dalam sekejab saja, kedua orang itu telah bertempur sampai 6 jurus, dan selama itu masih belum ketahuan menang kalahnya. Tapi dalam penilaian seorang akhli, sudah dapat menaksir siapa yang lebih unggul: Kiau To menyerang dulu, tapi dapat dipaksa mundur oleh The Go.

Ceng Bo siangjin yang selama itu mengawasi disamping, diam2 mengalem The Go yang dalam usia semuda itu telah dapat memiliki kepandaian yang sedemikian tingginya. Walaupun didengarnya cerita2 tentang keganasan orang she The itu, namun selama itu belum pernah dia menyaksikan sendiri. Pada saat itu dia masih mempunyai urusan penting, kiranya lebih baik menghindari bentrokan2 yang tiada gunanya, maka berserulah dia: „Kiau-heng silahkan mundur. The-heng, jika tiada urusan lain, harap tinggalkan tempat ini!"

Ramah tamah nadanya, namun dalam ucapan itu tergenggam suatu perbawa yang memaksa orang mengindahkan. Ketiga saudara Chi dan Ti Gong hweeshio sudah terus hendak ayunkan langkah pergi, sebaliknya Ciok Jiso perdengarkan suara ketawa dingin acuh tak acuh. Sedang The Go bibirnya ber-gerak2 seperti hendak mengucap apa2, tapi tiba2 terdengar gemeroncangnya senjata dan Ciok Siaulan, itu nona yang sejak masuk kedalam biara tadi tak bicara apa2, kini dengan hi-jat (garu ikan), tampil kehadapan The Go. Dari gerakannya, terang nona itu tak lemah kepandaiann ya. Tapi demi sudah berhadapan dengan The Go, mukanya menjadi merah dan dengan tundukkan kepala ke-malu2an ia berkata dengan suara sember: „Engko Go, turutlah kata2 totiang itu, mari kita tinggalkan tempat ini!"

Kalau semua orang tak menghiraukan hal itu,  adalah Bek Lian yang menjadi sibuk sendiri. Sejak diketahui sikap sinona tersebut yang begitu memperhatikan sekali akan The Go, hati Bek Lian sudah kurang senang. Kini demi didengar mulut sinona memanggil „engko" pada The Go, Bek Lian tak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Memang dalam biara Cin Wan Kuan itu, selain sang ayah, se-olah2 dialah yang menjadi ratunya. Segala perentahnya tak boleh dibantah. Perangainya keliwat angkuh karena dimanjakan. „Hai, kau mau apa?" bentaknya kepada Siau- lan sigadis hitam manis itu.

Ciok Siau-lan berpaling. Demi tampak Bek  Lian itu bagaikan seorang puteri kahyangan cantiknya dan dari sikapnya kentara menaruh perhatian pada engkoh Go-nya itu, merahlah mata sinona. Ciok Siau-lan itu hanya berkulit agak hitam saja, karena sebenarnya iapun cantik juga. Dalam sikapnya yang begitu minta, dikasihani, ia tambah kelihatan menarik. Katanya dengan ter-iba2: „Taci, kau sungguh cantik sekali! Engkoh Go adalah kepunyaanku, jangan kau tega merebutnya! Kalau kau hendak merebut, karena kalah cantik, aku pasti kalah!”

Sedikitpun Bek Lian tak mengira, kalau dihadapan sekian banyak orang, gadis hitam Itu berani mengatainya secara begitu. Memang ia sendiri sudah merasa tak pada tempatnya menanyai orang begitu tadi. Maka dari malu, ia berobah menjadi gusar. „Budak hina, apa katamu itu?" dampratnya, terus ulurkan tangan merebut senjata sinona.

Tapi dengan hanya goyangkan sedikit senjatanya itu, tangan Bek Lian sudah menangkap angin. Gelang besi yang dipasang pada ketiga ujung garu penusuk ikan itu, menjadi berkerontangan, namun Ciok Sian-lan tak mau balas menyerang. Malah dengan tertawa sedih ia berkata. „Taci, kalau kau tak merebut engkoh Go-ku kau sungguh taciku yang berbudi." Rawan dan lembut kata2nya itu diucapkan, sehingga meluluhkan perasaan orang.

Bek Lian kesima seperti terpaku ditanah. Tetap menyerang, salah berhentipun malu. Sebenarnya perasaan itu hanyalah suara hatinya sendiri, karena selain The Go, semua orang ternyata tak menghiraukan hal itu. Kini tahulah orang she The tersebut, bahwa sijelita yang berhati tinggi itu, ternyata menaruh hati padanya.

Begitu penuh rasa hati Bek Lian yang mengira bahwa sekalian orang diruangan situ se-akan2 mencemohkan kelakuannya. Saking malu dan gusarnya terdengarlah suara

„hu, hu" dan pecahlah tangisnya. Sekali memutar tubuh, ia terus lari keluar menuju kekamarnya. Tio Jiang yang sangat open terhadap sucinya itu, sambil delikkan matanya kepada The Go terus ber-gegas2 mengikuti Bek Lian.

Setelah sijelita pergi, legahlah hati Ciok Siau-lan, lalu mengajak lagi kepada The Go: „Engkoh Go, mari kita lekas turun gunung. Hidup ditengah laut, kan lebih berbahagia! Peduli apa sih dengan tentara Ceng atau Beng?!"

Sebaliknya demi mengetahui sinona itu mengganggu kesenangannya, The Go tumpahkan kemarahannya padanya. ,,Budak hina, jangan ngaco belo!"

Didamprat begitu, ternyata Siau-lan tak marah, malah dengan mengucur beberapa butir air mata, ia tampak meratap: „Engkoh Go, makilah sesukamu, aku takkan marah. Sekalipun kau pukul, akupun tetap tak marah. Pukullah!"

Untuk membuktikan kata2nya itu, sinona angsurkan senjatanya, siapa oleh The Go ternyata juga disambutinya. Senjata hi-jat itu berbentuk seperti garu berujung tiga yang tajam. Setiap ujung, dipasangi sebuah gelangan besar. Begitu gerak, tentu mengeluarkan bunyi berkerontangan. Begitu menyambuti dengan wajah bengis, The Go undur selangkah terus menusuk ulu hati sinona. Sebaliknya sinona, malah meramkan kedua matanya, dengan wajah ikhlas, ia nantikan sang ajal. Baginya binasa ditangan orang yang dicintainya, adalah suatu kebahagian besar.

Tapi secepat kilat, begitu ujung hi-jat menusuk, sekonyong2 Ciok Jiso menyampok dengan kim-kong- lunnya. Karena memang tak gunakan kekuatan, begitu disampok, The Go segera undur lagi.

„Cian-bin long-kun, jangan keliwat menghina keluarga Ciok!" bentak wanita itu. Sembari tertawa dingin, The Go lemparkan hi-jat, dan menyahut: „Kan adikmu sendiri yang memintanya, mengapa kau sesalkan orang!"

Terang kalau Ciok jisoh, atau kakak iparnya telah membantunya, namun Ciok Siau-lan malah membantahnya: „Ensoh, sudahlah. Biarkan dia menghina, aku rela saja!"

Ciok jisoh menghela napas. „Adikku, dikolong langit ini banyak nian orang yang melebihi dia, mengapa kau mantep padanya saja?"

„Ya, memang hatiku tertampak padanya seorang," sahut Sian-lan dengan rawan. Mendengar itu, The Go tertawa dingin.

Kini tahulah sekalian orang disitu, bahwa Ciok Siau-lan telah ter-gila2 pada The Go, tapi sebaliknya anak muda itu tak menghiraukannya. Bagi seorang macam Ceng Bo siangjin yang telah merasakan pahit getirnya gelombang asmara sehingga rela menjadi seorang sahit, kedengaran menghela napas. Sebaliknya tidak demikian dengan Kiau To dan Ki Cee-tiong. Kedua orang ini bermula meyakinkan ilmu gwakang (tenaga luar) kemudian baru lweekang. Untuk memelihara peyakinan gwakang itu, orang harus tetap membujang, menjauhkan diri dari paras cantik. Kata2

„asmara" tak terdapat dalam kamus hatinya. Begitu melihat kelakuan The Go terhadap sinona Siau-lan, karena sudah menjadi seorang tanpa guna Ki Cee-tiong sih hanya menggeram saja dalam hati, tapi Kiau To mana mau sudah. Dengan suara keras dia segera berseru: „Orang she The, pergilah sana bereskan urusan gelapmu dengan wanita itu. Jangan unjuk kemesuman di Giok-li-nia sini!"

Sedari dikatakan „ibu dan anak belajar sama seorang guru" tadi, The Go benci sekali kepada Kiau To. Maka dengan delikkan matanya dia segera menyahut: „Adakah Giokli-nia ini milikmu orang she Kiau? Memang harini aku The Go hendak bikin ramai disini, habis kau mau apa?"

Ucapan dan sikap Cian-bin long-kun itu memang keliwat kurang ajar sekali, sehingga sampai2 seorang sabar macam Ceng Bo siangjin membeliakkan mata, kearahnya serta diam2 memaki „biadab". Tapi Ceng Bo orangnya keliwat menjaga nama, sekalipun hati mendongkol namun mulutnya tak mau mendamprat. Sebaliknya Kiau To dengan tertawa dingin segera menyahut: „Siapa bilang Giok-li-nia ini tiada bertuan, hanya saja pemiliknya itu tak sudi kotorkan tangan untuk menghajar adat padamu. Maka biarlah Kiau jiya ini yang akan mewakili tuan rumah untuk memberi hajaran padamu!"

Cepat The Go pentang kipasnya. „Kiau loji, lama nian kudengar bahwa sebatang tiang-pian dan sepasang kepalanmu itu tiada lawannya didunia persilatan. Maka hari ini aku hendak mohon pengajaran ilmumu ke 36 jurus 'liok kin pian hwat' serta 'toh beng cap jit jiao' itu!"

„Liok kin plan hwat" ilmu pian (cambuk 6 indera itu, adalah kepandaian istimewa yang diwarisi dari guru Kiau To, Tay Siang Siansu. Yang dimaksud dengan „liok kin" yakni berdasarkan keenam indera yang termaktub dalam kitab keagamaannya, yakni „mata, telinga, hidung, tubuh, mulut dan perasaan." Kesemuanya itu diciptakan dalam sebuah ilmu pian yang disebut „liok kin pian hwat". Setiap baglan terdiri dari 6 jurus, jadi sama sekali berjumlah 36 jurus. Terutama ke 6 jurus yang terakhir yang disesuaikan dengan bunyi kitab itu: „Perasaan, adalah akar (sumber) dari keinginan."

Karena keinginan itu tiada batasnya, maka ke 6 jurus itupun penuh dengan gerak-perobahan yang sukar diduga. Lemah gemulai tampaknya namun hebat keliwat2, tangkas cepat tiada terkira. Kiranya sukar untuk melukiskan dengan kata2, cukup kalau dikatakan „datangnya tanpa bayangan, perginyapun tanpa bekas."

Berkat ilmupiannya itu, dapatlah Tay Siang Siansu malang melintang selama lebih dari 20 tahun didunia persilatan dengan tanpa tandingan. Tapi kemudian, karena salah paham kena diadu domba oleh siaojin (orang yang bermartabat rendah), dia telah bentrok dengan sepasang suami isteri yang terkenal gagah dan perwira budinya, dan berakhir Siansu itu telah kena dijatuhkan oleh pasangan suami isteri yang memiliki dua macam ilmu pedang sejodoh, saling mengisi dan saling bantu membantu. Buru2 Tay Siang Siansu pulang kebiara Liok-yong-si di Kwiciu, kemudian kepada murid tunggalnya, Kiau To, ia meninggalkan pesan: „Luasnya dunia, dalamnya ilmu silat, sungguh tiada dapat diukur. Kali ini aku hendak berkelana lagi. Kalau dalam 10 tahun nanti tak kembali, anggaplah aku sudah meninggal 10 tahun. Kalau 20 tahun, anggap 20 tahun yang meninggal." Setelah meninggalkan kata2 itu, berangkatlah Tay Siang Siansu pergi berkelana. Pada ketika itu, Kiau To baru berumur 20-an. Dia baru saja mendapat pelajaran ilmu pian. Dia asalnya memang seorang kacung biara Liok-yong-si situ. Ketika Tay Siang Siansu mengetahui anak itu mempunyai tulang yang bagus, Tay Siang berkeras menyuruh anak itu menjadi orang biasa lagi, karena masih belum temponya untuk menjadi orang pertapaan, tapi disamping itu dia menurunkan pelajaran ilmu silat pada anak itu. Orang yang meyakinkan ilmu pian

„liok kin pian hwat", harus menjaga betul2 ke 6 inderanya itu supaya jangan sampai ternoda oleh nafsu2 selera. Memang pada hakekatnya, itulah intisari  daripada pelajaran Buddha.

Dalam kebatinan, Kiau To penasaran dirinya dianggap belum berjodoh masuk ke lapangan agama itu. Begitu suhunya pergi, diapun tak lama kemudian juga tinggalkan biara Liok-yong-si untuk berkelana didunia persilatan, kemudian masuk dalam Thian-tee-hwee. Dengan kepandaiannya silat yang tinggi, tak berapa tahun kemudian, dia segera menduduki kursi kedua dalam pimpinan Thian-tee-hwee tersebut.

Ber-tahun2 dalam pertempuran, paling banyak dia hanya gunakan sampai jurus ke 28 saja dari „liok kin pian hwat", dan lawan pasti akan sudah keok. Tapi orang yang dapat bertahan sampai jurus ke 28 itupun sudah tergolong jago yang sukar dicari. Maka selama itu, ke 6 jurus penghabisan itu belum pernah digunakannya.

Bahwa kini The Go telah menantang „liok kin pian hwat"nya itu, diapun tak berani memandang ringan pada lawan itu. Karena dari beberapa gerakannya tadi, cukup diketahuinya bahwa orang she The itu telah dapat mewarisi kepandaian dari suhunya, Ang Hwat cinjin, yang sangat terkenal sebagai akhli tutuk jempolan. Kalau tidak demikian, masa anak itu sedemikian temberangnya? „Kalau Cian-bin long-kun menghendaki begitu, akupun mengiringkan saja. Bagaimana kalau kita ambil tempat dilapangan luar sana?" sahutnya.

Tanpa mengucap apa2 The Go ber-kipas2 seraya melangkah keluar. Dengan memungut senjata hi-jat, Ciok Siaulanpun mengikutinya. Tapi baru The Go melangkah beberapa tindak, dari luar pintu se-konyong2 menobros masuk seseorang, yang begitu menampak The Go terus menusuk dengan pedangnya. Sebat sekali The  Go mengegos kesamping dan karena tak keburu menarik serangannya ujung pedang orang itu Iangsung menusuk kepada Ciok Siau-lan. Nona yang berada dibelakang The Go itupun dengan gugup segera hadangkan hi-jatnya untuk menangkis. Kini tahulah sekalian orang, bahwa sipenyerang itu bukan lain adalah Tio Jiang.

„Siau-ko, dia cukup keras, biarkan aku yang membereskan!" seru Kiau To, namun Tio Jiang tak mau menghiraukan. Begitu pedang dibalikkan, dengan jurus „Ho peh kuan hay", ujung pedangnya diguratkan keatas menyerang The Go. Tapi kini The Go sudah siaga. Dengan tenang, dia ulurkan kipas. Begitu ujung pedang tiba, kipas dipalangkan dan laksana besi sembrani telah menempel lekat2 dibatang pedang. Sekali tangannya kanan mengibas, mulutnyapun membentak: „Enyahlah!" 

Baru saja The Go melangkah keluar, tahu2 ia dipapak sekali tusukan oleh Tio Jiang, cepat ia mengegos hingga serangan itu menuju Ciok Siau-lan yang berada dibelakangnya.

Tio Jiang merasa seperti dari ujung pedangnya mengalir suatu tenaga kuat yang menggempur siku tangannya. Begitu keras tenaga gempuran itu, hingga terasa tangannya kesemutan dan „kerontang", lepaslah pedang itu jatuh ketanah. The Go bergelak tawa, tapi tak mau balas menyerang. Namun sekalipun tahu bukan tandingannya, Tio Jiang tak mau mengalah. Dia pungut lagi pedang terus menyerang kembali dengan jurus „hay li long huan". Jurus ini, baru saja kemaren siang dia pelajari, sehingga baru saja 2 kali berlatih. Sampai dimana kebagusan ilmu pedang itu, entahlah. Yang diketahuinya hanialah kunci aba2 jalannya, terdiri dari 8 kata: „4 datar 8 tenang, mulut, hidung, mata, telinga." Begitulah tangan kanan mencekal tangkai pedang dengan agak kendor, selekas diangkat naik terus dikibaskan keatas, tengah dan bawah. Kemudian selagi sinar pedang berkelebatan, tiba2 ujungnya ditusukkan kearah kepala dan muka The Go.

Bermula The Go anggap kepandaian Tio Jiang  itu, hanya biasa saja. Buktinya, tadi dengan hanya gunakan sedikit lweekang, dia telah berhasil membikin terpental pedang anak itu. Nah karena anak itu tetap membandel, biar dia unjuk sedikit kepandaian untuk menghajarnya.  Tapi sedikitpun dia tak menduga, kalau ilmu pedang „to hay kiam hwat" dari Ceng Bo siangjin itu, hebatnya bukan kepalang. Sampai jurus ke 4 „Ho Peh kuan hay" tadi, sudah mulai nampak keindahannya. Jurus „hay li long huan" itu adalah jurus yang ke 6, istimewa diperuntukkan menyerang kepala dan muka orang.

Sewaktu, Tio Jiang membolang balingkan pedangnya dalam 3 kiblat tadi, masih The Go tak mengacuhkan. Tapi se-konyong2 ujung pedang dalam gaya yang luar  biasa dapat menusuk kemuka, telah membuat The Go serasa terbang semangatnya. Gaya serangan macam itu, betul2 belum pernah dilihatnya selama ini. Dengan sibuknya, segera dia gunakan jurus „tiat pan kiau" (jembatan besi gantung) badannya membalik kebelakang terus melengkung kebawah. Dengan tiara itu, barulah dia dapat terhiiidar dari tusukan pedang. Tapi ketika mata pedang berkelebat lewat disamping mukan ya, muka teraaa seperti disambar deru angin yang dingin. Diam2 dia mengeluh „celaka", dia perkokoh kuda2 kakinya. Kakinya tetap tegak terpaku, tapi tubuhnya tiba2 menggeliat kesamping. Itulah ilmu „i heng huan wi" (memindah bayangan, mengganti kedudukan), suatu ilmu mengentengi tubuh tingkat tinggi.

Sayang Tio Jiang bukan Ceng Bo siangjin. Ilmunya pedang itu baru saja kemaren dipelajari, jadi masih belum sempurna. Coba pada saat itu, dia terus susuli lagi dengan jurus yang ke 7„hay Iwee sip ciu", kalau tidak binasa se- kurang2nya The Go pasti akan terluka berat. Malah hal yang harus disayangkan itu tak cukup begitu saja, karena setelah mendapat pengalaman pahit itu, The Go telah dapat menarik pelajaran berharga dari ilmupedang „to hay kiam hwat" tersebut. Dikelak kemudian hari walaupun ilmu pedang Tio Jiang telah sempurna, namun tak mudah lagilah kiranya untuk mengalahkan The Go. Dan memang hal itu telah terjadi dikemudian harinya, hanya saja lebih baik kita jangan melantur kekejadian yang belum datang.

Sewaktu The Go dengan cara-geliatannya yang luar  biasa itu dapat menggelincir keluar pintu, dengan bernapsu sekali Tio Jiang terus akan mengejarnya, tapi Ceng Bo siangjin yang tahu  akan kekuatan mereka tadi, buru2 mencegahnya: „Jiang-ji, Kiau susiok hendak bertanding dengan dia, mengapa kau turut2an menimbrung?"

Tio Jiang menurut tapi mulutnya menyomel: „Bangsat itu telah membuat marah suci, sehingga suci menangis tak mau sudahnya!"

Orang2 bermula mengira kalau anak itu tentu mempunyai dendam besar sehingga hendak mengadu jiwa dengan The Go, siapa kira hanya lantaran soal Bek Lian menangis saja. Sudah tentu orang2 sama geli melihatnya. Tapi bagi Tio Jiang hal itu merupakan soal penting. Bek Lian tertawa, dia juga merasa berbahagia. Bek Lian menangis, diapun turut bersedih. Ya, segala apa yang dirasakan oleh sijelita itu, se-olah2 seperti dirasakannya juga. Tadi dia coba hiburi sang suci, tapi sebaliknya dari menerima kasih Bek Lian malah menumpahkan kemendongkolan hatinya pada Tio Jiang. Anak itu sudah kenyang menerima gegeran (dampratan) sang suci, jadi dianggapnya biasa saja. Tapi apa yang paling menyakitkan hatinya ialah rasa sedih yang dikandung oleh Bek Lian itu. Mengapa sang suci sampai sedemikian berdukanya? Ah, tak lain tak bukan, The Go lah biang keladinya. Maka tanpa banyak cingcong lagi, tadi dia telah serang si Cian-bin long- kun itu. Walaupun akhirnya ditegur oleh Ceng Bo siangjin, namun hati Tio Jiang tetap puss, karena dengan perbuatannya tadi dia merasa seperti telah Tio Jiang tetap puas, karena dengan perbuatannya tadi dia merasa seperti telah menunaikan panggilan hatinya untuk membela Bek Lian.

„Jiang-ji jangan sembarangan mengomong!" lagi2 sang suhu membentaknya. Dan Tio Jiangpun tak berani bercuit lagi. ---oo0-dwkz-TAH-0oo---

Setelah sekalian orang sama keluar untuk menyaksikan pertempuran, Ceng Bo siangjin segera mengajak Ki Cee- tiong: „Ki-heng, mari kita masuk kedalam saja untuk merundingkan masalah yang peting."

Dengan ucapan itu, Ceng Bo telah mengira, betapa lihaynya The Go namun rasanya Kiau To cukup dapat mengatasi. Dan kalau orang she The itu sudah dipecundangi, kiranya yang lain2pun takkan berani mengadu biru. Adanya Ceng Bo ber-gegas2 balik kegunung lagi, kiranya memang mempunyai suatu urusan yang penting. Oleh karena Ceng Bo mengatakan „masalah penting," maka Ki Cee-tiong segera mengikutnya.

Sudah sejak menyaksikan ramai2 tadi, Yan-chiu ketarik sekali hatinya. Hanya lantaran suhunya berada disitu, jadi tak beranilah ia ini itu. Tapi begitu sang suhu sudah berlalu, segera ia loncat mencekal tangan Tio Jiang: „Suko. hayo kita lihat Kiau susiok menghajar sikurang ajar itu!"

Dengan tersenyum tawar, Tio Jiang menurut. Tapi baru saja dia melangkah keluar pintu, disana dilihatnya Kiau To sudah saling berhadapan dengan The Go. Jarak keduanya hanya terpisah 2 meter saja. Ber-gegas2 Tio Jiang menuju kedekat tanah lapang itu. Dengan tempelkan badannya pada suatu batu karang yang menonjol, dia tegak berdiri mengawasi jalannya pertandingan. Tahu orang tak begitu mempedulikan, Yan-chiu mendongkol. Iapun menyingkir agak jauh dari sukonya itu.

Tak berapa lama kemudian, Kiau To dan The Go masing2 bertukar salam, setelah itu mereka lalu sama mundur sampai satu tombak jauhnya. Dengan mata saling mengawasi, mereka segera bergerak ber-putar2. Sekalipun Tio Jiang bukan tergolong jago kelas satu, namun 6 tahun diasuh oleh seorang akhli kenamaan macam Ceng Bo siangjin, diapun cukup mengetahui arti gerakan  kedua orang itu. Betul nampaknya saja mereka main  ayal2an, yang satu ber-kipas2 yang lain menggendong tangan, namun sebenarnya mereka itu sedang ber-siap2 untuk suatu pertempuran dahsyat.

Gerak kaki The Go merupakan sebuah lingkaran kecil. Sewaktu ber-gerak2 itu sikapnya tenang sekali. Pula gerakannya itu agak aneh, sehingga tiada seorangpun yang mengetahui gerakan-kaki ilmu silat apakah itu. Sebaliknya kaki Kiau To ber-putar2 dalam formasi lingkar besar, malah mengitari daerah The Go sana. Langkah kakinya sangat anteng, kokoh bagai gunung Thay-san. Nyata ilmu silat keduanya itu berlainan, namun dua2nya adalah akhli semua. Kini perhatian semua orang ditumpahkan kesitu.

Sejenak kemudian, tiba2 Kiau To tertawa keras. Ilmunya lweekang adalah pelajaran dari kaum agama. Dalam beberapa kitaran saja, dia telah dapat mengalurkan tenaga dalamnya keseluruh tubuh. Tertawanya tadi, pertanda dari sudah mengalirkan tenaga itu dan begitu keras suara ketawa itu hingga orang yang belum tinggi ilmu silatnya, pasti akan terpelanting kaget. „Cian-bin long-kun, silahkan menyerang dulu!" serunya kemudian,  

Dengan sengit Kiau To tempur The Go yang telah membokong kawannya.

Tapi The Go tak menyahut. IImunya lweekang adalah ad yaran dari Ang Hwat cind yin gunung Ko-to-san, yang berpokok pada ketenangan. Menghadapi musuh lihay, harus makin tenang dan se-kali2 tak mau menyerang lebih dahulu. Memang hal itu sudah diketahui Kiau To, siapa telah sengaja bertanya untuk menggodanya. Tapi diluar dugaan The Go telah menyahut: “Baik!" seraya menghampiri maju, sembari melipat kipas terus gunakan tangkainya untuk menutuk kedua pundak lawan.

Cepat dan berbahaya adalah serangan The Go itu, sehingga Kiau To tak menyangka barang serambutpun juga. Cepat2 dia pendakkan tubuh, begitu membalik siku lengannya, kelima jari yang laksana kulit besi itu, segera mencengkeram siku tangan orang. Atas ancaman itu, The Go mundur kebelakang seraya tertawa, karena serangannya tadi itu ternyata hanya gertakan kosong saja. „Jangan lari!" bentak Kiau To dengan marah ketika tahu dirinya dipermainkan begitu. Berbareng dengan memburu maju, kini dia gunakan dua tangannya untuk mencengkeram. Begitu hampir mengenai, kedua tangannya itu dipentang. Yang kiri untuk mencengkeram pinggang orang, sedang yang kanan untuk mencengkeram kearah dada. Dengan bersuit nyaring, tiba2 The Go melambung keatas, melayang keatas kepala lawan. Dan ketika berada diatas kepala, dia segera tutukkan kipasnya kearah jalan darah ,,peh hap hiat" di-umbun2 kepala.

Menampak lawan telah gunakan jurus yang berbahaya, Kiau To segera putar tubuhnya untuk mencengkeram paha belakang lawan, tapi si The Go dengan lincahnya sudah melorot turun ketanah lagi. Kini dengan tangkai kipas, dia merangsang seru sekali, menghujani lawan dengan tutukan2 yang berbahaya. Mau tak mau terpaksa Kiau To harus mengakui kalau lawan itu betul2 seorang berisi.  Dalam pada itu berpikirlah dia, kalau kali ini sampai tak dapat mengatasi lawan, mungkin dikemudian hari sukar untuknya mendapat kedudukan layak didunia persilatan, akibatnya, Thiantee-hweepun akan merosot namanya. Dengan ketetapan itu, dia segera berlaku hati2 sekali gunakan ilmu cengkeram „toh beng cap jit jiao".

Begitulah dalam beberapa kejab saja, kedua rival itu telah bertempur lebih dari 30 jurus. Makin lama, makin seru. Sesaat saling merapat, sesaat saling berpencar, gerakannya kian pesat. Orang2 yang menyaksikan, sama berpudar penglihatannya. Selama itu sudah beberapa kali Ciok Siau- lan hendak tampil membantu, tapi selalu dicegah oleh Ciok jisoh. Pada saat itu Tio Jiang menampak Bek Lian muncul dan berdiri ditempat agak berjauhan, sedang  Yanchiu malah sudah lari memapaki sang suci. Seperti terkena stroom, Tio Jiang segera hendak menghamperi sang suci juga, tapi baru hendak mengangkat kaki, tiba2 merasa ada suatu tenaga yang luar biasa kuatnya telah mencekik tengkuknya (leher belakang). Dalam kagetnya, dia terus hendak berpaling kebelakang, tapi oleh begitu kuat cekikan itu sehingga tak dapatlah dia gerakkan lehernya. Malah sesaat itu kedengaran sipencekik itu berseru: „Buyung, jangan lari. Kalau kau pergi, Sam-thay-ya pasti takkan bisa melihat pertunjukan bagus. Mereka berdua telah bertempur dengan seru, ya tidak?"

Dari nada suaranya, tahulah Tio Jiang kalau orang itu adalah siorang tua kate yang dijumpainya digunung tempo hari. „Sam-thay-ya!" serunya dengan kaget. Tapi baru mulutnya bertereak, atau lehernya dirasakan seperti dicekik keras sehingga  sampai  hampir  tak dapat bernapas rasanya.

„Buyung, kalau berani bertereak lagi, awas! Jangan sampai orang2 itu tahu aku berada disini!" siorang tua aneh itu mendampratnya.  Dengan  terengah2 Tio  Jiang mengiakan:

„Sam-thay-ya, tapi kendorkan sedikit cengkerammu itu ah!"

„Bagus, buyung, kau berani mempermainkan Sam- thayya?!" kembali orang tua aneh itu mendamprat. Tio Jiang  meringis,  namun  tak   berdaya  untuk  lepaskan  diri.

„Masa aku berani mempermainkan kau?" dia memperotes dengan berjengit. Sam-thay-ya ketawa ter-besit2, rupanya saking gembiranya, ujarnya: „Kalau Sam-thay-ya kendorkan tangan, kau tentu akan ngacir pergi bukan?"

Pikir Tio Jiang, orang tua itu memang benar2 seorang aneh yang linglung, sahutnya: „Aku tak pergi dan membayangimu, kau mau tidak melepas aku?"

Kini agaknya siorang tua linglung itu puas, lalu kendorkan cengkeramannya. Beberapa kali Tio Jiang usap2 batang lehernya, dan coba gerak2kan kepalanya supaya kendor, setelah itu lalu menghela napas. Ketika dia mengawasi lagi kegelanggang pertempuran, kiranya kini cara bertempur dari Kiau To dan The Go itu sudah berobah sifatnya. Kalau tadi keduanya adu kegesitan, kini ternyata lambat2 saja gerakannya, sehingga Tio Jiang dapat melihatnya dengan jelas.

Tapi Itu bukan berarti keduanya sudah kepayahan, malah pada kebalikannya kini telah menginjak dalam phase (tingkatan) yang berbahaya. Tak lagi The Go jual obral tertawanya, tapi dengan delikkan sepasang matanya dia menatap tajam2 kearah Kiau To, siapa sebaliknyapun berlaku demikian juga. Keduanya sama  ber-putar2 kian kemari, kemudian pada lain saat, dengan menggerung keras terus saling menerjang. Anehnya, hanya sebentar saja saling terjang itu berlangsung, karena pada lain saat mereka sudah saling pencar dan kembali ber-putar2 lagi. Bagi orang yang belum tinggi ilmunya silat, tentu tak  tahu  apa artinya itu. Ini berlaku juga pada Tio Jiang. Tapi Sam-thay-ya yang bersembunyi dibelakangn ya selalu kedengaran mericis sendirian. Sesaat mengatakan „ah, sudah 6 jurus, kipas  anak itu meleset, kalau tidak tentu dapat menutuk jalan darah thian-tee-hiat lawan"! Tapi pada lain saat kedengaran dia berbisik „ah, 3 jurus yang hebat, cengkeram orang itu luput, sayang, sayang!"

Bermula Tio Jiang mengira kalau orang tua linglung itu ngaco belo tak keruan. Tapi begitu dia memperhatikan dengan seksama, ialah ketika kedua orang itu saling terjang lagi, ternyata memang benar seperti yang diocehkan oleh silinglung tadi, kedua orang Itu telah saling lancarkan serangan dengan gerak yang luar biasa cepatnya. Mengetahui itu, diam2 Tio Jiang kagum atas kelihayan siorang tua aneh. Demikianlah kedua orang itu telah bertempur hampir 200 jurus, tapt tetap belum ketahuan menang kalahn ya. Cian-bin long-kun The Go berpuluh kali melancarkan tutukannya, tapi tak dapat menemui sasarannya, aebaliknya ilmu „toh beng cap jit jiao" yang bergaya 3 kali serangan kosong satu kali serangan iai dari Kiau Topun tak banyak gunanya. Masing2 saling mengagumi kepandaian lawan.

Tapi se-konyong2 The Go merobah gayanya. Kakinya dimiringkan, sebentar kekanan sebentar kekiri, aehingga sukar lawan untuk menerjangnya. Sedang kipasnya tiba2 dikibaskan, sehingga kain lipatannya terlepas jatuh. Kiranya rangka kipas itu terdiri dari 14 batang lidi baja. Begitu dipentang untuk dibuat menyerang, dapat menusuk jalan darah lawan sampai 14 buah banyaknya. „cret, cret!" pakaian Kiau To telah dapat dilubanginya beberapa buah. Sudah tentu buru2 Kiau To lancarkan pukulannya, terus loncat mundur, serunya: „Orang she The, Kiau jiyapun hendak gunakan senjata!"

„Silahkan!" sahut The Go.

Begitu tangannya merogoh pinggang, Kiau To telah menarik keluar sebatang pian sebesar lengan anak bayi, panjangnya hampir dua meteran. Pian itu lemas sekali, 'warnanya kuning ke-merah2an, terbuat dari anyaman urat2 kerbau. Dengan mencekal pecut, Kiau To makin bertambah garang. Sekali mengibas, dia menghajar lawan. Namun dari menyingkir, sebaliknya The Go tetap berdiam diri, malah maju menerjang sekali. Benar ujung pian itu melayang kepunggung The Go, tapi 14 batang lidi baja dari rangka kipas itu maju menusuk. Sudah tentu karena tak mau tertusuk, Kiau To menggeliat kebelakang dan karena tubuhnya mundur kebelakang, tangannyapun turut tersentak kebelakang, jadi piannya pun makin keras jalannya. Namun bagaikan seekor belut, The Go miringkan tubuhnya kesamping sampai hampir seperti jatuh ketanah dan berhasil menghindar dari hajaran pian yang sebaliknya kini terus langsung menghajar tuannya sendiri. Cepat2 Kiau To memutar tubuh agar piannya melibat lawan lagi. Tapi The Go tak kurang sebatnya dorongkan kipasnya kemuka sehingga terserak 7 batang dikiri dan 7 batang dikanan, dengan dijepit oleh kedua jari ditusukkan kearah jalan  darah hong-si dan hok-tho, sekali gus dua. Dan dalam pada itu, dia loncat keatas untuk menghindari hajaran pian, lalu maju menerjang.

Dua buah serangan itu, aneh dan cepat sekali. Hajaran pian tadi, telah dilancarkan se-kuat2n ya oleh Kiau To yang ingin lekas2 merebut kemenangan. Dirangsang begitu aneh sehingga hampir sad ya jalan darah hong-si-hiatn ya kena ditutuk, telah membuatnya terperanjat dan ter-sipu2 buang dirinya ketanah untuk bergelundungan. Dengan berbuat begitu, barulah dia dapat menghindar dari serangan musuh.

Kalau akhli silat bertempur, jurus2nya memang aneh  luar biasa. Cara Kiau To menolong diri  itu memang istimewa, tapi lebih istimewa lagi  adalah serangan yang berikutnya dari The Go. Dengan miring2 seperti orang mabuk yang sukar diduga arah langkahnya, tiba2 dia merangsang dengan cepatnya. Lagi2 Kiau To terpaksa menyingkir mundur. Saking bingung akan gaya serangan orang, dan sibuk menyingkir kesana sini, terpaksa Kiau To tak dapat gunakan pisaunya.

Melihat Kiau susioknya terdesak, Tio Jiang ber-ulang2 membanting kaki. Tlba2 orang tua linglung yang bersembunyi dibelakangnya tadi berkata: „Gerakan anak itu disebut 'hong cu may ciu', ilmu istimewa Ang Hwat cinjin dari gunung Ko-to-san!"

---oo0-dwkz-TAH-0oo--- 
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Naga dari Selatan BAGIAN 02 : CENG BO SIANGJIN"

Post a Comment

close