Kisah Bangsa Petualang Jilid 25

Mode Malam
 
Jilid 25

Didalam hatinya Oe-tie Pak mencaci ,Dasar muka tebal ! Mengapa kau tidak mau menyebut bahwa kau menderita bersama tentara?.’ Sebenarnya ia hendak mengatakan lainnya yang lebih tajam akan tetapi Cin Siang mengedipi mata.

„Aku justeru hendak menanyakan Siang- ya,” kata orang she Cin ini, yang sabar dan pandangannya jauh. „Siangya mengundang Tiat Touw-ut, ada urusan penting apakah yang hendak dibicarakan ?”

„Tidak, tidak apa-apa!’ sahut Kok Tiong cepat. ,.Dia berjasa sudah melindungi Sri Baginda lohu belum pernah bertemu dengannya, dari itu lohu mengundang dia untuk duduk dan beromong-omong.

Berkata begitu perdana menteri ini melirik Tiat Mo Lek. la kuatir orang nanti menceritakan segala apa hingga ia bakal menjadi hilang muka. Syukur untuknya si anak muda bungkam.

Berkata Cin Siang pula : „Kalau tidak ada urusan yang penting, kami justeru hendak bicara dengan Tiat Touw-ut. „Nah ijinkan kami mengundurkan diri !’

Hatinya Kok Tiong berdebaran, dia justeru menyesal tak dapat menyuruh orang pergi, maka perkataannya Cin Siang sangat menggirangkan padanya, akan tetapi walaupun demikian, dia masih berpura menahan, buat bicara lagi beberapa patah kata, habis mana dia mengantarkan mereka itu bertiga keluar.

Tiat Mo Lek membuka tindakan lebar, memperdengarkan tertawa dingin. Diwaktu berlalu, ia tidak membuka suaia apa- apa dan juga tidak memberi hormat lagi kepada perdana menteri itu, hingga ia membuatnya Kok Tiong mendongkol bukan buatan, Baru sesudah berada didalam rimba ia membuka mulutnya, buat bernapas guna melegakan dadanya yang pepat.

Bagaimana kamu ketahui aku berada ditempatnya Yo Kok Tiong ?” demikian pertanyannya yang pertama.

Oe-tie Pak tertawa.

,,Tiang Lok Kongcu kuatir kau nanti dapat susah ia  menyuruh kami pergi untuk melindungimu !’ sahutnya, la tertawa ada artinya.

Memang Tiang Lok Kongcu tidak segera kembali ke kamarnya, la bersembunyi di dalam rimba Hugga ia mendapat dengar pembicaiaannya Oe-ban Thong dengan Tiat Ceng. Ia menjadi kaget dan bingung mendapat tahu si anak muda

..diundang Yo kok Tiong Mulanya ia tidak tahu mesti berbuat apa, syukur ia lantas mendapat pikiran, maka lantas ia menyuruh seorang ke biri memanggil Oet-tie Pak dan Cin Siang buat menitahkan mereka berdua pergi melihat. Ia mengajari akal bagaimana mereka itu harus menemui si perdana menteri.

Oe-tie Pak tertawa pula.

Kongcu kuatir kau nanti dicelakai Yo Kok Tiong, ia kuatir bukan main hingga ia duduk salah berdiri salah !’ kata ia lagi.

Kelihatannya ia mengandung sesuatu maksud terhadap dirimu !”

Mukanya Mo Lek merah hingga telinganya panas. „Oh Oe-tie Toako, tak dapat kau berkelakar secara begini!” katanya, mencegah.

Simuka hitam tertawa pula.

“Kenapa tak dapat’ katanya. „Aku pun tidak berkelakar ! Kongcu menjadi seorang puteri yang harus menikah, kalau ia menikah denganmu, apakah halangannya ? Eh. adik Tiat, jikalau ia menjadi tuan pueri yang lainnya tidak berani aku menganjurkan kau menikah dengannya. Tiang Lok Kongcu adalah lain. Dia puteri yang cerdas yang mengerti segala apa, sedang juga dia mengerti silat dan surat. Untuk kaum wanita, dia lah seorang gagah ! Beruntunglah kau jikalau kau menikah dengannya”.

Terhadap Yo Kok Tiong. dapat Mo Lek mengumbar hawa amarahnya. Terhadap Oet-tie Pak, tidak, Oet-de Pak juga bermaksud sungguh-sungguh. Maka terhadap sahabat ini mau ia bicara tenia terang.

.,Toako tidak tahu, aku telah mempunyai tunangan,’ katanya.

Oet-tie Pak melongo, terus ia tertawa. “Dasar kau sembrono

! ‘ katanya. „Siapa tidak tahu, dia tidak bersalah ! Saudara Tiat. harap kau maafkan aku si Lao Hek yang telah salah omong ! ‘

Cin Siang sebaliknya menanya. “Saudara Tiat, siapakah tunanganmu itu ?.

Ialah anaknya Locianpwe Han Tam,’ Mo Lek memberitahukan.

Dua-dua Cin Siang dan Oet-tie Pak ter tawa terbahak.

..Kiranya orang yang dikenal baik !’ seru mereka berbareng.

„Memang nona itu menang banyak apabila dia dibandingkan dengan Tiang Lok Kongcu !” Kemudian Oe-tie Pak meneruskan : ,Aku tidak percaya Yo Kok Tiong demikian baik hati. Tak perlunya tanpa maksud dia mengundang kau datang duduk memasang omong disini ! Sebenarnya dia mempunyai arusan apakaft?”

Mo Lek mendongkol sekali, tapi ia beri keterangan.

„Dia menghendaki aku menjadi gundalnya‘ katanya sengit. Lalu ia menjelaskan maksudnya dorna itu, yang telah membujuk dan mengancam padanya. Ia hanya tidak se but halnya Kok Tiong mau jadi comblang, untuk jodohnya. ,,Yo Kok Tiong menjadi dorna Thian dan raky.it gusar palanya.”kata Jm Siang, ,,kalau dia tidak insaf dan berobah kelakuannya, entah bagaimana n nti jadinya. Jangan jangan negara pun bakal lenyap di- tangannya …

,,Tadi ada dua orang utusan dari Oui-gour datang mohon bertemu dengan Yo- Kok Tiong toako atau tidak ?” kemudian Mo Lek tanya Cin Siang.

,,Aku telah mendengarnya.” sahut orang yang ditanya. ,. Sebenarnya mereka bukan diminta untuk datang oleh Yo Kok- Tiong”

Kaisar Hian Cong terdesak oleh pem- berontakkan, ia tidak berdaya, ia hendak minta bangsa asing untuk menindas pemberontakkan itu. Dalam hal ini, dia tidak memikir panjang. Begitulah ia minta bantu an bangsa Ouigour,maka bangsa itu mengirim perutusannya yang terdiri dari dua orang anggauta itu.

Syarat yang diajukan bangsa Ouigour itu berat, kota atau daeiah yang dia dapat dudukan wanita dan barang berharga semua harui menjadi miliknya. Kaisar lantas bermupakatan dengan Tan Goan Lee Wie dian So Gui Hong Cin dan lainnya, semua menteri dan panglima itu menolak. Melainkan Yo Kok Tiong seorang menyatakan setuju. Alasannya ialah. Janganlah karena urusan kecil, kita menggagalkan urusan besar. Artinya, biarkan bangsa asing itu merampas orang-orang perempuan dan barang berharga kita, asal negara ketolongan.

Beberapa orang lantas mengikuti angin berobah haluan, menyetujui pikiran Yo Kok Tiong itu, karenanya, kedua pihak menjadi memperebut alasan, hingga urusan menjadi gantung

„Kalau begitu rupanya perutusan Oui-gour itu telah melihat jalannya maka mereka mengambil jalan menghubungi Yo Kok- Tiong,” Cin Siang mengutarakan dugaannya. Tentulah mereka mau minta bantuannya Yo Kok Tiong dan Yo Kui-Hui guna membujuki Seri Bag’nda. Hin, dengan demikian, pastilah sudah Yo Kok Tiang bakal menerima banyak uang dan permara.

Mo Lek gusar sekali. Kata dia teras: „Jikalau Yo Kok Tiong tidak menghiraukan rakyat, rakyat juga tidak menghendakinya lagi !

„Perlahan, saudara Tiat,” kata Cin-Siang. „Segala apa biarkan Seri Baginda yang memutuskan, kita sendiri tak dapat kita bicara sembarangan. Jikalau ada orang dengar suaramu ini, kau dapat di tuduh sebagai penghianat . . ,

Oet-tie Pak pun gusar.

“Cin Toako, apakah kau pun takut?” tanyanya. .Apakah dapat kita membiarkan Yo Kok Tiong berbuat sesuka-sukanya saja?

Cin biang menyeringai sedih.

„Habis, apakah dapat kau membinasakan Yo Kok Tiong ? ‘ia balik tanya. „Dengan impianmu, kau cuma dapat menggertak dia, apabila sampai terjadi benar benar sampai terjadi kau menghajar dia, aku kuatir Seri Baginda bisa melupai jasa besar leluhurmu ! Pangkat kita cuma Liong Kie Touw oet, tugas kita cuma melindungi keselamatan Seri- Baginda, karenanya urusan negara yang besar bukanlah urusan yang d pat kita campur mengurusnya ”

Oct tie Pak mendongkol sekali. Kata ia “kalau sampai terjadi Yo Kok tiong menyentuh aku, biar aku mesti kehilangan jiwaku, pasti, akan aku hajar dia!’

„Sudah, sudah! Cin Siang kata pula- “Jangan kita. mengumbar saja nafsu-amarah kita ! Marilah kita tidur!

Habis mengumbar kemendongkolan itu, Oet-tia Pak pun dapat menyabarkan diri

Sebaliknya dengan Mo Lek. Malam itu, pikirannya sangat kusut, sampai ia tidak, dapat tidur pulas, la berkata didalam hati: “Raja dengan Yo Kok Tiong menjadi sanak satu dengan lain, maka raja tidak nanti menegur atau menghukum iparnya itu, sedangkam para menteri jeri terhadap pengaruhnya sidorna. Bahkan Cin Toako sungkan membangkitkan  kemarahan dorna itu. Ah, apakah benar sudah tidak ada daya lagi untuk menyingkirkannya.

Masih ada satu hal lain yang membuat anak muda ini  pusing” Itulah Tiang Lok Kongcu, yang pergaulannya dengan ia makin akrab. Tuan putri itu yang selalu men cari jalan merapatmya. Ia sendiri tak sedikit juga ia menaruh hati pada Putri itu. Sampai malam tadi Tiang Lok bicara dengannya dan Yo Kok Tiong menimbulkan soal jodoh mereka… juga kata- katanya Oet- tie Pak. mau atau tidak, ia jadi memikirkannya.

,,Sampaipun Oei-tie Toako telah mendapat lihat,” Pikirnya. “Mungkinkah benar Putri Tiang Lok jatuh hati kepadaku ? Satu Ong Yan Ie sudah membikin aku sangat pusing, bagaimana lagi kalau muncul Tiang Lok Kongcu ini ? Mana aku membebaskan diriku ? Benar-benar malam itu Mo Lek tidak dapat tidur nyenyak, maka mendekati pagi, p kitannya masih kacau, ia bagaikan ling- lung. Mendekati tengahari, selagi ia menantikan pelayannya membawakan barang makanan, tiba-tiba ia mendengar suara berisik diluar kemah Ia lantas pergi keluar untuk melongok. Segera ia mendapat kenyataan be berapa orang lagi dikurung sejumlah serdadu, bahkan lantas dikenali, beberapa orang itu yalah tukang masaknya Yo Kok Tiong.

Beberapa koki itu tengah memotong seekor babi panggang bersama beberapa rupa barang makanan lainnya, yang menyiarkan bau harum sedap. Babi panggang itu yang hendak dirampas.

Beberapa orang koki itu melihat munculnya Mo Lek. Mereka juga melihat sianak muda mengenakan pakaian orang berpang- kat, mereka menganggap bahwa mereka menemui bintang penolong, lantas mereka berteriak teriak: “Tayjin tolong ! Tayjin, tolong tolong !’

Mo Lek sudah lantas menghampirkan.

„Kamu letaki babi panggang itu, selesai sudah urusanmu.” kata ia. “Aku jamin bahwa mereka tidak bakal membunuh ka- mu!”

Kawanan serdadu iiu lantas berseru seru. “Akur ! Kami cuma menghendaki babi panggang itu ! kami tidak memikir untuk makan daging kamu ! Tidak menjadi apa jikalau Yo Kok Tiong makan sedikit kurang ! kami orang sudah makan babakan pohon dan rumput!’

Selagi berisik itu, disana datang sepasukan serdadu pengiring Mereka mendekati, sambil memegang cambuk, dengan itu lantas dengan ?embarangan mereka mencambuk pergi pulang pada rombongan serdadu itu. Mereka jug  mencaci: “Kamu kelaparan sampai menjadi kalap pikiran, ya ! Bagai mana kamu berani hemdak merampas barang hidangan Siangya yang diperuntukan para tamunya?” Masih mereka mencambuk kalang kabutan, bahkan Mo Lek, yang berada dekat, kena cambukan satu kali !

Bukan main gusarnya sianak muda. Ia lantas merampas cambuk pengiring

„Kau cuma tahu Yok Kok Tiong, kau tidak tahu mati hidupnya tentara!’ tegur nya. Segera dengan cambuk ditangannya itu ia menghajar kalang kabutan pada beberapa serdadu pengiring yang berada paling dekat dengannya, hingga mereka itu kaget dan kesakitan, antaranya ada yang terus ber gulingan sambil berkaokan atau merintih.

Suara berisik menjadi hebat sekali. Urusanpun lantas menjadi berubah sifatnya Serombongan serdadu pengiring itu melawan dengan siasia, mereka lantas mendapat bantuan kawan kawan mereka yang baru. Tapi rombongan tentara yang mau merampas babi panggang juga lantas turun tangan, dan merekapun dibantu oleh lain lain kawannya, yang datang dari pelbagri kemah.

Mereka sem.a beuempur, mereka mercaci tak bencinya. Dalam kekacauan tu, tentara jie Tim kue, pasukan pengirmg raja sampai turut mengambil bagian. Beberapa perwira sebawahan datang tetapi mereka itu tidak sanggup mengendalikan kekacauan.

Selagi saat kacau itu, ada orang yang berteriak: ‘Mari kita cari Yo Kok Tiong untuk membuat perhitungan dengannya! Ada pula yang lainnya, menteriakan: Ya, mari kita tanya dia, apakati dia benar hendak membikin kita mati kelaparan ! la seke luarga hidup senang, makan dan pakai cukup ! Dialah yang membikin negara celaka begini rupa! Lalu ada tertekan lain: Yo- Kok Tiong, apakah kau masih ada muka untuk menjadi perdana menteri?”

Teriakan-teriakan itu mendapat sambut an dan empat penjuru, suara berisik menjadi bertambah-tambah. Cacian juga tak berhenti karenanya.

Bagaikan gelombang, orang pergi ke tempat kediamannya Yo Kok Tong, Mo Lek telah terdorong maju dimuka.

Barisan pengiringnya Yo Kok Tiong lantas lari sipatkuping.

Mereka itu tidak berani menentang atau mencegah saja.

Malam tadi Yo Kok Tiong bicara banyak dengan dua orang utusan Ouigour. sam pai jauh malam, baru ia masuk tidur, maka itu diwaktu begitu, baru dia mendusin. Dia hendak menjamu pula sekalian tetamunya. Suara sangat berisik itu membuatnya kagel dan heran. Tanpa merasa, pikirannya men- jadi goncang.

„Celaka, Siangya !” tiba-tiba datang se orang tentara kepercayaannya. „Tentara su dah nrenerbitkan kekacauan ! Mereka itu dipimpin Tiat Touw-ut yang baru itu ! Me reka datang kemari, untuk menyerbu ! Harap Siangya lekas menghentikan mereka ‘ Yo Kok Tiong mencoba menenangkan diri”

„Apakah dia itu bocah she Tiat ?” ia. menegaskan. „Apakah ada lainnya perwira? Mana Tan Ciangkun ?”

„Ya, Siangya, cuma dia seorang. Lainnya perwira tidak ada.

Tan Ciaigkun tidak nampak !”

Tan Ciangkun yang ditanyakan Yo Kok Tiong itu ialah Tan Ciangkun Tan Goan Lee yang berpangkat Liong Honw Tay Ci- angkun, jenderal „Naga dan Harimau,” yang memegang  tampuk pimpinan atas angkatan perang. Dia baik dengan Yo Kok Tiong cu ma di mulut, dihati tidak. Yo Kok Tiong menanyakan dia sebab dorna ini menyangka dialah yang menganjurkan perlawanan tentara itu Setelah mendengar jawaban itu, bahwa Tan Ciangkun tidak turut mengambil bagian, bahwa Tiat Ceng cuma bersendirian saja, hatinya menjadi tabah pula. Ia pikir, harus ia sendiri yang keluar untuk menghentikan kekacauan itu. maka ia lantas muncul dengan diiring sejumlah tentara pengiringnya yang ia percaya. Dilain pihak ia menyuruh kedua utusan dari Ouigour menyingkir secara diam-diam dari pintu belakang.

Dorna ini menggunai pengaruhnya sebagai perdana menteri. Ia mencoba menghentikan suara berisik dengan menuduh ten- tara itu menjadi pengkhianat atau pemberontak. Ia menunjuki sikapnya yung keren.

Sejumlah kecil tentara lantas berdiam, bagaikan berhentinya hujan dan badai malam itu. Akan tetapi jumlah yang terlebih besar, masih tetap dengan suara berisik mereka bahkan jadi semakin gusar. Dengan demikian kekacauan tidak dapat cegera di redakan.

Justeru disaat dorna ini tetap mau menunjuki pengaruhnya dengan hendak menitahkan orang membekuk Tiat Mo Lek, sekonyong-konyong semua orang., mendengar satu suara yang mendengung sangat keras, bagaikan suara genta besar.

„Yo Kok Tiong ! Kaulah yang berkomplot dengan utusan bangsa asing ! Kaulah yang mau berontak ! Bagaimana kau berbalik menuduh lain orang ?”

Itulah Oet-tie Pak yang datang secara tiba-tiba.

Mo Lek telah lantas berpikir : ,,Kau menuduh aku berontak, baiklah akan aku berontak, terhadapmu ! Hari ini tidak dapat aku memberi ampun padamu ! ‘ Karena ini, lantas ia kasih dengar suaranya yang nyaring terhadap semua tentara : „Kamu lihat ! Itulah dua oang utusan dari Ouigoar itu ! Mereka mau molos dari dalam !”

Kebetulan saja Mo Lek melihat kedua utusan itu, yang kaget dan takut tidak terkirakan. Mereka kabur ke istana dimana ada beberapa ekor kuda raja, mereka dua orang busu, dengan mudah mereka meroboh kan beberapa orang penjaga istal itu; untuk merampas kuda yang hendak dipakai menyingkirkan diri, dibelakang hengkiong itu tempat terlarang, terdapat rimba  yang men jadi tempat sempurna untuk melarikan diri.

Semua tentara lagi menghadapi Yo Kok Tiong seorang,, sebelum suaranya Oet-tie Pak itu, tidak ada yang perhatikan kedua utusan Ouigour itu, mereka itu berdua juga bergerak dengan sangat cepat tak sempat orang mengejarnya. Walaupun demikian, su aranya Mo Lek membuat mereka menoleh dan melihat perutusan itu. Lantas ada yang berteriak- teriak : Yo Kok Tiong berkong- kol dengan perutusan bangsa asing ! Kenapa kita tidak mau bunuh pada si dorna pem berontak pengkhianat ?”

Kok Tiong takut hingga semangatnya seperti terbang meninggalkan tubuh raganya, ia lantas mementang mulutnya lebar-lebar menteriakan : „Perutusan itu perutusan yang diundang Seri Baginda sendiri ! Mereka tidak sangkut pautnya dengan aku! Oet-tie Ciangkun ! Tiat Touw-ut ! Jangan kamu sembarang menuduh ! ‘

Suara berisik luar biasa, sia-sia belaka teriakannya Yo Kok Tiong itu, tidak ada yang menghiraukan, hingga ketika ia meng ulangi, cuma terlihat mulutnya berkelemak, kelemik. Beberapa tentara mendapat dengar akan tetapi tidak ada gunanya. Inilah sebab kebencian umum terhadapnya sudah mendalam, Sekongkol dengan pihak asing melainkan satu alasan saja. Ada dua orang pahlawannya Yo Kok Tiong, yang setia kepada dorna itu, mereka mau melindungi majikannya itu menyingkir dari tempat yang berbahaya itu, tapi mere ka segera kena dihajar roboh oleh Tiat Mo Lek, yang membacok mereka dengan pedangnya.

Sebagal kesudahan cari itu, meluruklah semua tentara, menyerang kepada Yo Kok Tiong. Di dalam tempo sedetik, habis sudah tubuh si dorna yang berdarah daging itu, yang tercingcang pelbagai senjata tajam.

Oet-tie Pak gagah berani, akan tetapi, menyaksikan peristiwa itu, ia terkejut hingga ia tercengang. Sebenarnya ia masih hendak mengancam Yo Kok Tiong supaya Mo Lek dibebaskan dari tuduhan. Itulah diluar dugaannya.

Mo Lek sendiri tidak menyangka bakal terjadi demikian. Kawanan tentara itu belum puas dengan membinasakan Yo

Kok Tiong seorang, merekapun membunuh Yo Soan, anaknya

si- dorna yang berpangkat Hu Pou Sie-lorg, menteri urusan penghasilan negara dan rakyat. Lalu, dalam kalapnya, mereka juga hendak mencari Yo Kui Hui, guna menumpas keluarga Yo!

Kedua saudaranya Yo Kui Hui, yaitu Han Kok Hujin dan Kok Kok Hujin. ketika mereka mendengar keributan itu, menjadi sangat ketakutan, dengan tersipu-sinu “mereka menyingkirkan diri dengan naik kereta. Akan tetapi tentara tersebar dimana mana, mereka terlihat mereka lantas dikejar. Paling dulu Han Kok Hujin mati dicincang

Kok Kok Hujin kabur terus sampai keretanya terpegal. Disaat mengancam seperti itu, ia lupa akan derajatnya send ri. la me- nyingkap tenda kereta, ia menghadapi semua tentara untuk memohon ampun. Ia berkata. ,Bukankah kamu telah bunuh kakakku Akulah seorang perempuan, tidak campur dan tidak tahu menahu urusan kakakku itu’ Tolong kamu mengasihani aku ibu dan anak, kamu ampunilah aku! Sembari meratap-ratap itu, nyonya itu menyebar emasnya, ia memang tiga lipat lebih cantik daripada Yo Kui Hui, maka juga penyair kesohor di- jaman itu, Chang Ku, pernah menulis syair memujinya.

Kok Kok Hujin menerima budi raja. Diwaktu fajar dapat menunggang kuda memasuki pintu istana.

Ia menampik yancie dan pupur, yang dikuatir merusak parasnya.

Ia cuma menyipat ringan hasilnya, toh ia bukan main agungnya.”

Demikian, saking dicintai raja, sekalipun diwaktu fajar, dia dapat keluar masuk dipintu istana dengan menunggang kuda. Ia menolak untuk makeup, ia berias tanpa pupur dan yancle. Ia kuaatir yan cle dan pupur justeru mengotorkan parasnya. Kalau ia toh menyipat alis, ia menyipatnya tipis sekali. Dengan berias secara sederhana itu; ia tetap dapat „merobohkan negara,” yaitu membuat raja tergila-gila.

Rombongan tentara itu tidak menghirau kan harta yang dihamburkan, mereka sebaliknya tercengang menandang wajah siselir yang cantik itu, sedang ketika itu, dengan ratapannya. siselir terlihat lemah dan mengharukan, mendatangkan rasa ka«ihaii siapa juga. Tidak ada orang yang mau turun tangan, walaupun tangan merskan siap sedia dengan senjatanya masing-masing. Maka kusirnya si nyonya menggunakan ketika itu mengaburkan kudanya, menyingkir dari kurungan. Tapi selir ini bebas buat sementara waktu saja. Sekeluarganya dari batas perhentian Ma Gui Ek, ia tidak dapat barang makanan, ia kelaparan selama beberapa hari hingga tubuhnya jadi kurus kering, dan tempo akhirnya ia lari sampai d Tin- chong disana ia Kena ditangkap Camat Sie Keng Sian yang mengejarnya bersama-iama rakyat negeri, terus ii dibunuh mati, hingga tamatlah riwayatnya.

Tentara yang disebelan belakang mencari kawan-kawannya yang didepan yang membiarkan <ok Kok Hujin lolos itu. Di- antara mereka ini ada yang berteiiak-teriak: „Membabat rumput harus berikut akarnya! Rase sudah lolos biarlah! Sekarang kita mesti cari rase lainnya! Yu Kui Bui! Dia itu tidak dapat lolos lagi!”

Teriakan itu lantas mendapat sambutan riuh.

Sekarang ini tak usah tentara itu mendapat pimpinan lagi. Mereka sudah anta mengurung Heng Kiong, .kuil tua dan bob- rok itu. Mereka berkaok kaok meminta supaya Seri Baginda Hian Cong lantas menghukum mati pada Yo Kui Hui!

Raja ketahui pemberontakan tentaranya itu, tak berani ia muncul, ia cuma menitahkan Liong Houw Tay Ciangkun Tan Goan Lee yarg pergi menemui untuk membujuki mereka supava tentara itu kembali ketangsinya masing-masing

Fan Goan Lee menurut, ia menghadapi tentaranya. Ia berkata: „Kamu sudah membinasakan Yo Kok Tiong, kenapa kamu masih belum mau mengundurkan diri7 Bukankah dengan begini kamu jadi membikin kaget pada Seri Baginda? ‘

Entah siapa yang membuat syair, atas teguran panglima perang itu, tentara menyambut dengan nyanyiannya ini.

“Walaupun dorna sudah dibunuh. Akarnya masih tetap tumbuh! Jikalau akar tak disingkirkan. Mana hati dapat ditenangkan?” Dengan terpaksa Tan Ciangkun kembali kedalam,  untuk  memberi  laporan.  Kata  ia,  menambahkan:

„Maksudnya  tentara  itu,  meski  juga  Yo  Kok  Cong  sudah disingkirkan. tetapi mereka tak menghendaki Yo Kui Hui terus berkuasa’ Maka itu hamba mohon keputusun Seri Baginda.” Paras raja menjadi pucat. Ia menangis waktu ia berkata : Kui Hui berdiam didalam keraton, Kok Tiong telah di binasakan apa sangkut pautnya dia dengan Kui-Hui” Sekarang ini kami sudah terlunta-lunta, di sampingku tinggal Kui-Hui satu orang- tinggal dia yang dapat meng libur hatiku karena itu, mana tega kami menyingkirkan dia ?”

Tan Goan Lee berdiam, tetapi matanya di pentang lebar. la melirik kepada Kho Lek Su yang berdiri disisi raia Dialah orang ke biri yang paling di sayang hingga pengaruhnya menjadi besar, sedang&an terhadap Yo Kui-Hui, dialah yang paling pandai mengambil hati. Sekarang dia lagi ketakutan sangat, takut sekali dia nanti dituduh sebagai konco Yo Kui Hui, telinganya terus mendengar hiruk-pikuknya tentara diluar kuil. Mereka itu masih tetap berteriak an. Ketika dia melihat lirikannya Tan Goan Lee, hatinya mencelos. Dia takut bukan main. Tapi toh dia mendapat pikiran. Maka lantas dia berlutut didepan junjungan nya, akan berkata: „Benar Kui-Hui tidak bersalah dan tentara sudah membunuh Kok Tiong, akan tetapi Kui- Hui tetap berada di sisi Seri Baginda, mana dapat hati tentara itu ditenteramkan? Maka itu hamba mohon Seri Baginda sudi memikirkannya. Jikalau hati tentara tenang maka Seri Baginda pun akan selamat.

Wio Giok, yang berpangkat Keng tiauw Su-lok. berlutut dan berkata: „Kemarahan umum sulit untuk di tentang, maka itu keselamatan dan kecelakaan kita tinggal bergantung pada saat sedetik ini . – . Jikalau Seri Baginda tidak tega melepaskan Kui- Hui maka dikuatir mungkin tentara pun tega terhadap Seri Baginda sendiri oleh karena itu hamba mohon Seri Baginda - suka menguatkan hati. menahan sabar dan membuang rasa cinta. Ini semua untuk membikin negara aman-sentosa.’ Kaisar berdiam akhirnya ia mengangguk belum lagi ia membuka mulutnya maka di belakang tirai telah terdengar ratap tangisnya Yo Kui-Hui.

.,Aku telah dengar semua pembicaraan kamu! berkata selir itu. ,,Seri Baginda, haraplah Seri Baginda merawat diri baik-baik jangan Seri Haglnda pikirkan pula padaku…

Paras raja pucat sekali. Ia mengulapkan tangannya tanpa besuara.

Tan Goan Lee dan yang lainnya mengarti mengundurkan diri.

Segera juga raja berhadapan dengan selirnya. Ia masih tak dapat mengucapkan se iuatu.

Yo Kui Hui masih mempunyai harapan kata ia sambil menangis: “Sam-long, masih ingatkah kau kejadian pada tanggal tujuh bulan tujuh tahun dahulu itu, disaat mala- man tidak ada lain orag? Bukankah ketika jtu telah berbicara dipendopo Tiang Seng Tian? Apakan kata kata kita waktu itu?”

Kaisar menjadi putera yang ketiga maka itu ia dipanggil sam- long.

Sahut raja ,.Kata kata malam itu ialah dilangit kita akan jadi burung pie ek, didunia menjadi pohon lian-lie-kie Selirku Kami ingin semuanya kita menjadi suami isteri tetapi . .

,,Pie-ek ialah burung yang mempunyai cuma satu (sebelah) sayap, maka untuk terbang, dua ekor mesti terbang berendeng bersama. „Lian-lie-kie ialah pohon yang cabangnya nempel satu dengan lain. Itulah perumpamaan untuk suami dan isteri.

Baru raja berkata sampai disitu ia telah mendengar gemuruh lebih hebat dari tentara diluar kuil, ia kaget hingga parasnya menjadi jangat pucat, air matanya lantas mengalir deras, la tidak sanggup meneruskan kata-katanya itu. Yo Kui Hui tahu bahwa ia sudah habis pengharapannya, maka sembari menangis se dih, ia kata: ,,Buat guna keselamatan negara dan Seri Baginda hamba rela untuk dihukum mati, cuma hamba mohon supaya hamba nanti mati utuh . . . .

Kaisar pun menangis. Kata ia: .Semoga dengan pengaruh Sang Budaha kelak kau akan dapat menitis pula dengan baik.” Terus ia menoleh kepada Kho Lek Su, untuk memanggil: ,,Kho Lek Su mari!” Sambil me manggil ia mengambil sekayu sutera putih, yang mana dilemparkan kepada orang kebiri itu sambil ia menambahkan: „Kau bawa Kui Hui kabelakang Sang Buddha, kau mewakilkan kami mengantarkan Kui-Hui naik ke wilayah dewa dewa.”

Dibelakang Ruang Buddha itu ada sebuah pohon, kesana Yo Kui-Hui dibawa. Pada pohon itu dia menggantung diri hingga mati, dalam usia tiga puluh delapan tahun,

Kematian Yo Kui-Hui ini kemudian di buatkan syair oieh Po Chu I. syair mana memakai kalimat , Chang Hen Ko yaitu nyanyian penjelasan yang panjang. Syair itu mengambil dasar peristiwa diperhatikan Ma Gui Ek ini, Kaisar sendiri jalan mordar mandir di- samping ruang Buddha itu, Tidak ada orang disisinya karena orang pada menjauhkan diri. Ia tidak berani melihat Yo kui Hui saat kematiannya selir itu, tapi ia tak tega hati untuk meninggalkannya jauh jauh. Ti dak lama maka ia mendengar suara rontoknya daun-daun, Ia menduga daun rontok itu disebabkan tubuo Yo Kui Hui meronta- ronta atau berkelajatan. Suara itu disusul dengan suara nyaring dari jatuhnya serupa barang mungkin itulah tusuk kondainya se lir itu. Ia lantas menutupi mukanya ia menarik’napas panjang, Didalam kesedihannya yang sangat itu tiba-tiba ia pun merasa hatinya lega. Rupanya tentara diluar kuil sudah mendapat tahu apa yang terjadi didalam kuil suara berisik mereka sirap dengan perlanan-lahan.

Memang selir raja yang paling disayang sudah mati, tapi sekarang raja pun bebas dari ancaman bahaya Ia menjadi tidak tahu ia harus berduka atau mesti bergirang.

Dalam keadaannya raja. seperti itu, tiba tiba ada bayangan yang menghampirkan nya. Bayangan itu muncul dari pojokan. Be gitu sampai didepan raja dia monj ituhkan diri untuk berlutut Dia pun berkata dengan perlahan sekali „Harap Seri Baginda jangan berduka hamba hendak melaporkan sesuatu.”

„Minggir,”berseru raja mengusir. Ia gu sar sekala. „Aku tidak pedulikan lagi urusan apa juga!’ Ia menyangka kepada seorang kebiri. Akan tetapi setelan ia menoleh, ia melihat seorang perwira yang menggantung kan pedang dininggangnya.. Ia menjadi kaget sekali. Segera ia menegur: , Kau . . kau datang kemari buat apa‘

Habis menegur, baru saja mengenali Oe bun Thong ia tadinya menyancka panglima nya itu turut dalam kawanan tentara yang berontak’ itu. Lantas ia bertanya: „Kami sudah menghukum mati pada Kui Hui mustahilkah tentara masih tidak suka memberi ampun kepada kami? ‘

Tapi jawabnya Oe-bun T h on f adalah: „Apakah Seri Bagainda memikir untuk mem balaskan sakit hatinya Kui Hui?”

Kian Cong menggoyangkan tangannya berulang-ulanj?. atau mendadak ia mendapat pikiran: , Jikalau Oe-bun Thong berontak, tidak nanti dia masih menjalankan kehormatan sebagai menteri kepada rajanya. Ma ka ia lantas merobah sikapnya: , Kata ia kau bangunlah! Kau hendak bicara apa ? Bicara dengan perlahan !” Ia sendiri bicara perlahan sekali. ,,Pemberontakan tentara ini dsebabkan ada yang anjurkan” kata Oe-bun Thong. „Siangnya dan Lu i Hui tidak harusnya mati semua-mua sebab orang itu “

„Siapakah dia ?” raja menyela. Oe-bun Thong mau menyebut nama orang, atau ia membatalkannya dengan tiba tiba. Selagi ia mau membuka mulutnya, Ia mendengar suara tindakan kaki. Bersama sama raja, ia lantas berpaling,

Yang datang itu ialah Tan ciangkun Tan Goan Lee bersama Tiang lok kongcu, Si puteri dengan niat menghibur ayahnya dan si kepala perang guna memberi laporan seraya bermohon raja menghiburi tentara.

Melihat tuan puteri hati Oe bun Thong berdebar, batal bicara dengan raja, ia terus berkata dengan panglima perang besar itu: ,,Aku kuatir tentara yang mengamuk itu nanti menerobos masuk kemari, dari itu aku datang untuk melindungi Seri Baginda”

Tan Goan Lee tidak menanya perwira ini pertanyaannya itu menjadi berlebihan, karenanya Tiang Lok Kongcu menjadi he- ran dan bercuriga.

Tan Goan Lee lantas berkata: „Semua perwira dan tentara setia kepada Seri Bagin da, karena itu Seri Baginda jangan berkua- tir, dan berduka. Sekarang silahkan Seri Baginda mengeluarkan firman untuk menghibur mereka itu. supaya hati mereka menjadi tenteram.

Kaisar menerima baik usul itu, bahkan ia lantas mengeluarkan firmannya ia menitahkan panglima perang ini yang menyampaikan firman itu didalam mana antaranya diterangkan: Yo Kok Tioig berdosa. dia pantas menerima hukumannya itu, Raja ma lah memberikan pujian kepada tentara bah wa sama sekali tidak ada niatnya untuk menarik panjang peristiwa itu. Ditambahkan: bahwa Yo Kui Hui juga telah bmfsa karena ia dijatuhkan hukuman Ketentaraan Dia akhirnva diharapkan semua perwira dan tens tara bertenang hati.

Walaupun ada pemberitahuan itu, tentara maaih belum percaya kematian Yo Kui Hui maka itu raja menitahkan Kho lek Su membawa mayat selirnya untuk dipertonton kan. Mayat itu diletakkan diatas gotongan, pembaringan dengan ditutupi sutera, Baru setelah menyaksikan itu, tentara memperde- ngarkan teriakan mereka. ,,Hidup Raja!” dan bubarlah.

Roja kemudian menitahkan Kho Lek Su merawat mayatnva Yo Kui Hui, buat dikubur dengan baik.

Selagi begitu dari kejauhan, terlihat dua orang penunggang kuda lagi mendatangi dengan cepat. Mereka itu lantas dipegat dengan tentara, untuk dinyatakan dahulu keterangannya. Ternyata merekalah pesuruh dari Tuysiu di Kong-goan yang membawakan buah lee-cie.

Yo Kui Hui sangat menyukai buah itu Ia asal orang tanah Siok dan ditanah Siok itu tumbuh pohon buah tersebut. Sebenarnya buah lee-cie dari tanah Siok kalah lezad dengan keluaran dari Leng lam. Semenjak menjadi selir dari raja, tak peraah Yo Kui Hui makan pula lee-cie dari kampung halamannya, sebaliknya ia menghendaki cie su pembesar dari Leng lam. mengatur pesuruh istimewa, untuk saban-saban mengirimkan buah lee-cie Leng-lam itu. mengenai ini Tu Mu sampai membat syairnya.

„Seorang penunggang kuda dengan debu merahnya maka tertawalah Kui Hui !

Tak ada yang ketahui bahwa sebenar- n ya buah lee-cie sudah datang!” Taysiu dari Kong goan itu telah mendapat pemberitahuan halnya raja dan selirnya, bakal datang ketanah Siok, ia pikir:

„Disaat Kui Hui lagi mengungsi ini dia tentu tidak bakal makan lagi buah lee eie asal kampung halamannya supaya dia senang. Dia tahu atau dia tidak menyangka selagi buah tiba jenazah siselir tengah dimasuki kedalam tanah.

Tentara tertawa melihat buah lee-cie itu, yang dimuatkan dengan dua keranjang besar: Hanya sebentar habis sudah dipesta- porakan mereka sebuah juga tidak ketinggalan.

Sementara itu raja telah memerintahkan Tan Goan Lee menertibkan pasukan perangnya untuk mereka meianjut an perjalanan, Ketiga itu selain keadaan sudah reda betul, gangguan hujan dan banjir juga telah hilang, lalu lintas sudah pulih. Orang juga lega hatinya. Hanya ketika penertiban dilakukan, masih ada satu soal sebuah gelombang kecil . . .

Yo kok Tiong berasal dari tanah Siok sebawahannya, juga banyak orang berasal dari wilayah itu; Diantara mereka itu ada bagian yang tidak sudi berjalan terus kebarat, sebaliknya mereka minta diijinkan pergi ke Hoo-liong, atau ke Taygoan atau pun dipulangkan ke kotaraja,

Oleh karena lalu lintas sudah pulih, raja pun disamout oleh Lu Hu pembesar da ri Ho hong yang datang bersema sejumlah penduduk kotanya yang ingin menghadap junjungannya. Dialah pembesar yang berani kepada raja dia mengusulkan untuk raja kembali saja ke Tiang-an. Katanya mereka ber ramai bersedia melindungi sang junjungan

Hati raja belum tenteram tak dapat ia menerima usul ini, Tak berani ia kembali ke Tiang-tn. Pasukan dari An Lok San justeru lagi menuju kekotaraja: ia lebih suka, tinggal di tanah Siok. Tanah yang indah yang jauh terlebih baik daripada wilayah lainnya. Ia merasa ditanah Siok ia bakal hidup senang buat banyak tahun lagi. Tapi sulit buat ia lantas mengambil keputusan. Sudah ada soal sisa tentara Yo Kok liong, timbul pula usul ini.

Putera mahkota yang bernama Lie Keng besar hatinya, Dia justeru telah memikirkan untuk memperoleh kekuasaan besar Dia hendak perkuat kedudukannya untuk nanti dia naik atas tahta kerajaan. Melihat keragu-raguan raja dia berkata: „Pem- berontak lagi melakukan penyerangan negara kacau, kalau kita tidak mendapatkan hati rakyat, mana kita bisa bangun kembali

? sekarang ayah mau pergi ke tanah Siok, jikalau pemberontak memutuskan jalan Cian too pastilah wilayah Tiong- goan akan terjatuh kedalim tangannya. Sementara itu sebagai orang agung, ayah tidak dapat menempuh bahaya. Oien karena itu, baiklah sekarang Sin-jie yang pergi mengumpulkan tentara dibarat daya, untuk memanggil Kwe Cu Gie dan Lee Kong Pek diutara, supaya mereka bekerja sama, membasmi pemberontak guna merampas pulang kedua kotaraja. Setelah aman diluaran, barulah kita menyapu suasana buruk didalam istana untuk menyambut ayah pulang.

Raja cocok sekali dengan kata-kata puteranya itu. la senang melihat sang putera mengajukan dirinya. Maka lenyaplah kesangsiannya. Lantas ia mengangkat Tayciu Lie Heng menjadi Thian Hee Peng Ma Tay goaniwee, panglima besar dengan Kwee Cu- Gie sebagai pembantunya Ku Goanswee dan Kwee Cu Gie diperintah bersatu hati menumpas pemberontak. Hanya kemudian putera mahkota ini tanpa menanti ayihnya. wafat telah mengangkat diri meniadi raja di Leng bu dengan menyebut difinya, Kiasar Siok Cong.

Habis badai tentara itu Mo Lek mengambil keputusan buat meninggalkan pang katnya akan tetapi melihat pengumuman Kaisar yang tidak menarik panjang peristiwa itu, ia berpikir lain.

Katanya   didalam   hati:   ,,Siraja   tua   tidak   dapat   hilang kepercayaannya dari rakyat ! Didalarn pengumu mannya terang sekali ditulis bahwa perkara tidak akan ditarik panjang, sedangkan Yo kui Hui sudah dihadiahkan kematiannya. Apakah yang ku kuatirkan, pula ? Seorang laki-laki dia mesti bekerja sebagai jantan juga, dia mesti bertanggung jawab dari  mulanya sampai diakirnya ! Aku telah memberikan janjiku kepada suheng untuk melindungi si raja tua kalau aku buron di- tengah jalan, apa kata perbuatanku itu. Tidak bisa lain, kalau orang mengantarkan sang Buddha dia mesti mengantarkan terus sampai dilangit Barat ? Batal mengangkat kaki Mo Lek tetap turut didalam rombongan kerajaan ini Dite ngah jalan itu, tiba-tiba Oe-bun Thong datang padanya, untuk berkata: ,,Tiat Touw- ut, Seri Baginda menitahkan kau membawa beberapa puluh tentara San tie untuk ber jalan dibelakang, guna melindungi barang barang berat, tak usahlah kau mengiringi lagi keretanya tuan puteri!”

Mo let percaya kata-kata itu. ia menerima baik. ia memang hendak menjauhkan diri dari Tiang Lok Kong Cu. Lantas ia peigi kebelakang.

Perjalanan dilanjuti terus menuju ke Barat. Jalanan ditanah Siok sudah kesohor sukarnya, maka itu setiap Jiari ada saja ter dengai’ keluhan tentara Syukur selanjutnya, rangsum cukup Karena Yo Kok Tiong yang benci sudah mati, tentara itu bersemangat berani mereka melawan kesukaran itu. Girang mengeluh buat jalanan yang sukar tetapi tidak ada yang penasaran atau menggerutu.

Pada suatu hari tibalah orang di Kong goan. Daerah itu sudah termasuk dalam daerah Siok. Raja mengingat penderitaan tentaranya ia memberi cuti tiga hari

Malam itu Mo Lek bersama Cin Siang dan Oe tie Pak berkumpul minum arak sam bil memasang omong Tengah asyiknya mereka mendadak ada seorang thaykam yang becara tergesa-gesa datang kepada mereka.

,,Kong kong ada apakah ?”tanya Oe-tie heran.

,,Seri Baginia menitahkan memanggil Tiat Touw-ut menghadap sekarang juga sahut orang kebiri itu.

„Oh, kiranya ada panggilan ‘” kata Oet- tie Pak „Saudara Tiat, aku justru lagi luang tempo, mari aku temani kau !’

Oet-tie Pak bertugas melindungi keluarga raja ia dapat masuk ke istana tanpa menanti panggilan, benar sekarang mereka berada ditengah jalanan tetapi aturan berjalan terus. Itulah sebabnya mengapa ia mengatakan demikian.

Tapi orang kebiri itu segera berkata: “Seri Baginda cuma memanggil Tiat Touw- ut. Sekarang ini para penjaga di Heng- so telah berganti orang, karena itu. Oet-tie Ciang kun silakanlah minum terus saja!’

Heng-so itu ialah tempat kediaman raja Oet tie Pak dapat keluar masuk didalam istana, akan tetapi, buat menghadap raja, ia perlu melaporkan dahulu atau menerima panggilan sekarang ia mendengar suaranya siorang kebiri, yang terang tidak menghendaki ia turut bersama, ia tidak memaksa. Ia tertawa. dan kata: .,K.arena di Heng-so tidak ada kerjaan, suka aku melewatvan tempo menganggurku disaini ‘ Saudara Tiat. akan kami tunggu pulangmu, untuk kita m’inum pula !

Adalah biasa yang raja memanggil ham banya, maka itu Oct tie Pak tidak curiga apa apa. Mo Lek sebaliknya. Ia heran, hmg ga timbul kesangsiannya Pikirnya: Didalam peristiwa di Ma Gui Ek itu akulah biangkeladinya walau pun Seri Baginda sudah mengumum kau siapa juga tak akan di

tarik panjang, toh aneh sikapnya raja. Kenapa ia tak menghendaki aku mengiringi tuan puteri? Bukankah itu bukti bahwa dia mencurigai aku, bahwa aku tak dipercaya penuh seperti tadi tadinya? Laginya, mau apa sekarang aku di panggil datang sendirian saja ? Ah mustahilkah ini ada kehendaknya tuan puteri ?”

Dasar dia jujur, walau pun dia bercuriga. Mo Lek akhirnya dapat melegakan hatinya. Ia ingat poribasaha yang membilangi: ,,Raja tak pernah bicara main main. “Ia tidak menduga bahwa raja hendak menceia kai dia, ia hanya menyangka kepada Tiang Lok Kongcu, bahwa itu di sebabkan tuan puteri tidak dapat melupan ia, hingga puteri itu bermanja dan meminta pertolongan ayahnya memanggil dia.

Dengan pikiran itu, meski ia merasa se dikit kurang enak hati, Mo Lek ikut orang kebiri itu.

Kota Kong goan berada digaris belakang yang berpisah jauh dari medan perang sedangkan thay Jin kota konggoan telan menyediakan junjungannya sebuah heng so a tau pesanggerahan-yang oesar dan indah hingga mirip istana Tentu sekali heng so ini sanggat jauh bedanya dengan kuil obrok di Mi Guj Ek. Disini pula segala persediaan, atau perjalanan lengkap dan sempurna.

Mo Lek mengikuti siorang kebiri melintasi sebuah lorong yang panjang. Morang kebiri memakai aturan seperti biasa, dia berjalan dimuka. selewatnya lorong, dia berseru: ,,Tiat Touw-ut yang menerima perin- tak panggilan dari Seri Baginda sudah sampai ! ‘

Justru itu waktu seorang dayang yang romannya sangat bingung, -sambil menyender didinding, melempar sebuah benda ke arah Mo Lek, kebetulan sekali, Mo Lek tengah menghadapi nona pelayan itu, maka ia lantas mengenali dialah dayangnya Tiang Lok Kongci. Dengan sebat ia menyambut benda itu ialah segumpal kertas. Tentu saja ia menjadi heran, hingga ia terperanjat. Lekas lekas tetapi diam diam, ia buka kertas yang tergumpal itu Sementara itu, ia berjalan terus. Baru saja ia melihat tulisannya, dua huruf yang besar, ia justeru mendengar suaranya orang kebiri pengawal pintu. , Panggillah Tiat Touw-ut menghadap Seri Baginda! Atas itu siorang kebiri pengantarnya menoleh sambil berkata. „Tiat Touw-ut sekarang dapat kau masuk ke dalam ! ‘

Tatkala itu sidayang sudah menghilang di pintu pojok.

Mo Lek menenangkan hatinya, la menggertak gigi untuk bersikap wajar, seperti ju ga ia tak baru mengalami sesuatu yang mengherankannya. Ia bertindak mengikuti orang kebiri pengawal pintu itu. yang disebut hong-bun-kho. Ia melintasi lorong, untuk memasuki sebuah ruang didalam sun. kecuali raja ada juga Oe bun Thong seorang, sebagaimana layaknya seorang menteri Mo Le menjalankan kehormatan sambil menyerukan tiga kali “Ban-swee!”

„Berbangkitlah, ay-keng!’ kata raja sabar. “Duduklah!”

Kata kata ‘ ay keng” itu berarti “menteri yang dikasihi.’ Itulah sebutan raja untuk menterinya.

Hati Mo Lek tetap tidak tenteram. Ia mengucap terima kasih baru ia duduk.

Segera juga raja tertanya: “Kabarnya dalam peristiwa di Ma Oui Ek itu, kaulah yang memimpinnya. Benarkah itu?”

„Nah, inilah dia!”‘ kata Mo Lek didalam hati. Didalam hal itu, ia sudah berpikir karenanya, ? tidak takut. Ia menjawab dengan cepat: “Harap Seri Baginda maklum. Ketika itu kemarahan tentara sedang meluap . a,, h air b a teh h ditunjerg mereka itu, hamba tidak bisa berDuat lainnya “‘

Kata raja pula: “kalau begitu, nyalimu sungguh tidak keci ! ‘ Mo Lek berlaku tenang, ia menjawab pula: ‘Hamba cuma memikirkan dorna untuk kebaikan Sen Baginda, karena itu baik keselamatan maupun bencana, hamba tidak pernah hiraukan! Jikalau seri Baginda menganggap perbuatan hamba itu tidak selayaknya, hamba bersedia akan menerima hukuman walaupun mesti tidak nanti hamba menampik!”

Tenang hamba ini tetapi suaranya tetap dan gagah.

Baginda “Hian Cong menggeleng kepala, „Ay-keng menafsirkan keliru maksuk kami,:‘ katanya. “Orang bernyali besar dan setia sebagai ay keng, untuk mencarinyapun kami tak bisa mendapatkannya aarena itu mana kami ingin menghukummu ? Oidalam maklumat juga kami sudah tegaskan bahwa perkara itu kami tidak tarik panjang bahwa orang yang menyingkirkan dorna justru kami puji tinggi akan dihadiahkan.

Sekarang

kami memanggil kau datangpun karena ka- mi hendak memberi anugerah kepadamu. Tiat Ceng, dengar!”

Didalam hatinya Mo Lek kaca: “Sebe narnya raja tua ini lagi main sandirawa apa?” Tetapi ia lantas beriutut, untuk men- dengar anugerahnya.

Raja terdengar berkata: ‘ Kami angkat kau menjadi Liong Kie Touw-ut untuk turun temurun serta mendapat hadiah setangkai bunga kiong boa dan arak istana tiga cawan!”‘

Menurut- aturan dijaman Ahala Tong itu, cuma seorang yang lulus sebagai Cong- goan….lulusan nomor satu dalam ujian dida lam istana., .yang mendapat hadiah kiong- hoa….Bunga istana, maka itu, kehormatan ini menjadi satu kehormatan yang luar biasa besarnya. Inipun berada diluar sangkaan Mo Lek. Ia lantas menyambuti kionghoa, untuk ditancap diujung bajunya, kemudian ia menyambuti arak dari tangaa raja sendiri. Cepat didetik itu, Mo Lek ingat bunyi nya surat yang kertasnya dilemparkat kepadanya oleh dayangan Tiang Lok Kongcu. Itulah cuma dua huruf, yang huruf hurufnya sangat besar Dan bunyinya dua huruf itu yalah “Lekas Pergi.” Tentu saja, mengingat surat itu ia jadi berpikir: Itulah pem berian dari Tiang Lok fcongcu ! Pemberian itu mestinya bukan tidak ada alasannya ! Tuan Pdteri menyuruh aku lekas pergi dia tentu ketahui raja hendak membikin celaka padaku, sebaliknya sekarang raja menganugerahkan aku pangkat serta menghadiahkan bunga istana dan arak! .. Ah, mungkinkah arak ini ada keanehannya”’”

Mengingat begini, Mo Lek berlaku waspada. ta tidak lantas mencegluk arak itu, ia bukan bawa uu kemulutnya untuk ditem- pel pada bibirnya, hanya kedepan hidung nya untuk ia membaunya, seteiah itu mendadak ia me’emparkan cawan berikut isi araknya itu kelantai!

Segeralah terdengar suara mengpomprang keras, cawan itu hancur berarakan, dan araknya melulahan ! Yang aneh yalah arak itu yang terus muncrat dalam rupa lelatu api !

Maka terangkah akak itu beracun!

Disaat itu, bukan buaian gusarnya Mo Lek. Diapun kaget ekali. Mimpipun tidak ia bahwa raja dapat menggunai itu macam akal hina dina untuk meracuni orang yang melindungi keselamatannya !

Justeru itu, rajapun berseru: “Tiat Ceng menghina junjungannya ! Hadiahkan kamatian kepadanya!

Berbareng dengan seruan raja, Oe bun Thong berlompat kepada Mo Lek untuk menyerang dengan jeriji jeriji tangannya yang kuat bagaikan ujung tombak, buat menotok jalandarah kematian anak muda itu! Mo Lek mendapat lihat gerakan sepnya itu, sedang telinganya mendengar perintahnya raja. Walaupun Keadaan sangat sekuiut ia suah bersedia.

Atas datangnya serangan itu, ia memutar tangannya, untuk menyampok dengan hebat. Itulah serangan untuk celaka ber- sama!

Oe-bun Thong sudah pernah berkenalan dengan cara penangkisan berbareng penyerangan itu, ia tidak berani mengadu tangan. Keras lawan keras berarti kerugian buat pihaknya. Maka ia menarik pulang tangannya sampai ia menggeser tubuhnya, buat memindahkan tubuh kebelakang orang, untuk dari situ meneruskan monotok pula ke- punggung, ke jalan darah hong-hu.

Mo Lek tidak bergerak tanggung-tanggung. Ia menyampok pula. Setelah itu, ia balas menyerang. Oleh karena ia terus ber- sikap keras, ia membuat lawan terpaksa mun dur tiga tindak. Ketika itu ia berseru nyaring: ,,Raja tua! Jikalau kau dapat mengemukakan alasan yang tepat jikalau kau menghukum mati padaku dengan cara terus terang akan aku menerima hukumanku, tidak nanti aku menolak! Sekarang, tak se- layaknya kau mengeluarkan kata-kata tetapi taspa bukti kepercayaannya Kenapa kau hendak membikin celaka menteri yang setia? Maafkan, aku tidak dapat menjadi budakmu lagi!’

Kata-kata ini ditutup dengan gerakan menghunus pedangnya, dengan membawa pedang, anak muda ini bertindak cepat kearah pintu, guna menerobos keluar.

Hian Cong kaget bukan main takutnya bukan buatan, akan tetapi, melihat orang tidak menghampirkan padanya, hatinya menjadi lega. Justeru itu timbullah niatnya membalaskan sakit hatinya Yo Kui Hui siselir tercinta. Maka ia berseru pula. „Raja menghendaki menterinya mati, tak dapat tidak, si menteri mesti mati! Ayah meng hendaki anaknya mati, tak dapat tidak, si- anak mesti mati! Kau tidak memandang jun junganmu, kau mesti mati! Buat apakah kau meranyakan lagi dosamu? Para siewie tangkap dia, cincang padanya!

Oe-bun Thong tidak menanti perintahnya raja ia sudah mencabut poankoanpit, ialah senjantanya yang mirip alat tulis, gegaman peranti menotok jalan darah, sambil membawa itu, ia lari keluar untuk memburu.

Sementara itu diiur pintu telah terdengar bentakan-bentakan para siewie yang bersikap hendak memegat.

Mo Lek membentak juga „Siapa menentang aku, dia mampus! Siapa menyingkir, dia salamat!” Dan ia putar pedangnya hingga menderu deru Ia menerobos terus keluar

„istana.”

Para siewie yang bertugas menjaga di- situ menjadi orang orang sebawanannya Oet-tie Pak. mereka beraksi untuk memecat tetapi mereka tidak merintangi, begitu mereka maju sambil berteriak-teriak, lantas meresa mundjr pula. Mereka semua kenal Mo Lek. Pertama-tama mereka mereka. Kedua mereka juga kenal baik sekali liehaynya sianak muda. Dan ketiga inilah orang yang gagah yang mula pertama bertindak membelai kepuasan mereka. Demikian mereka membawa aksinya, mereka maju dan mundur tapi selekasnya si anak muda lewat, mereka maju pula berikut teriakan-teriakan mereka. Dengan begitu tanpa disengaja mereka justeru seperti menghalang-halangi Oe bun Thong.

Dengan merdeka Mo Lek dapat keluar dari heng-so. Disitu ia merampas seekor kuda istana, dengan duduk diatas punggung binatang itu, sambil menggunakan cambuknya, ia kabur lebih jauh, terus keluar kota. Penjaga pintu kota ialah tentara dibawah perintahnya Cin Siang mereka itu kenal anak muda ini, mereka memegat untuk menanyakan orang mau pergi keluar kota buat urusan apa.

Mo Lek menjawab ia lagi menjalankan firman raja, untuk pergi keluar kota. Atas itu dengan lantas pintu kota dipentang.

Tepat itu waktu terdengar teriakannya Oe bun Thong yang lagi mendatang.

.Jangan buka pintu kota! Dialah pemberontak!”

Oe-bun Thong juga menunggang seekof kuda karenanya dia hampir dapat menyan- dak Mo Lek terlambat sebab ia mesti menghentikan kudanya untuk melayani tentara- tentara penjaga pintu kota itu. Jarak di- antara mereka jadi tinggal hampir seratus tinaak.

Tentara-tentara penjaga kota menjadi kaget, mereka pada berseru: „Oh!’ Semuanya tercengang saking heran. Justeru itu, Mo Le4 menggeprak kudanya, buat dikaburkan melewati pintu kota. Justeru Setelah itu tentara-tentara itu repot hendak menutup pintu.

„Setan alas berteriak Oe-bun Thong dengan gusar sekali.

„Apakah kamu sudah lewat, buat apa kamu menutup pintu?”

Talam gusarnya, saking sengitnya, Oe- bun Thong menyerbu, bual mengejar terus.

Ia mendupak roboh serdadu yang berada palirg dekat padanya!

Dua ekor kuda lantas berlari-lari keras keduanya saling susul. Dua-duanya memang kuda istana pilihan. Mereka berada diluar kota. Oe-bun Thong penasaran, dengan poankoanpit, ia menusuk punggung kudanya. Binatang itu kesakitan dia lari luar biasa cepat bagaikan kalap. Didalam tempo yang pendek, Mo Lek tersusul semakin dekat.

Jarak mereka sekarang tinggal beberapa puluh tindak saja. Sekonyong konyong terdengar ngaumnya anak panah! Itulah

Oe-bun Thong yang melepaskan anak panahi Bahkan dia menggunai panah beruntun Sasarannya ialah kudanya Mo Lek

Sianak muda mendengar suara anak panah, ia putar pedangnya, untuk menangkis. -Lengan lekas ia menjadi repot sebab disamping mesti membela diri, ia harus melindungi kudanya sedanrkan anak anak panah datang saling susul dengan cepat sekali.

Diperlakukan begitu adik seperguruan dari Lam Cee In menjadi gusar sekali. Di- dalam panas bati, ia berkata nyaring:

„Jikalau ada kunjungan tidak dibalas, itulah bukan aturan?” Sembari berkata begitu, ia menggunakan kesempatan merogo sakunya, untuk mengeluarkan thiecie-lian, ialah sen jata rahasianya yang berupa seperti biji teratai. Hanya sajang senjatanya ini ringan tak dapat ditimpuki terlalu jauh seperti melesatnya anak panah. Beberapa biji mengenai kudanya Oe- bun Thong, kenanya cuma seperti menempel, kuda itu tidak terlukakan.

„Selama itu maka Oe-bun Thong dapat mengejar lebih cepat mereka datang semakin dekat satu pada lain. Kesempatan ini digunai untuk memanah perut kuda sianak muda. Serangan itu tidak dapat ditangkis atau dielakaii celaka kuda apes itu, dia terpanah jitu dan roboh terguling!

Mo Lek tidak dapat bercokol terus diatas kuaanya, ia mencelat ketanah dengan berjumpalitan!

Oe bun Thong tertawa terbahak-bahak. „Tiat Mo Lek kau hendak lari kemana? ‘ tegurnya, hatinya puas sekali. Bangsat cilik, bagaimana kau berani menyelundup kedalam istana? Sungguh nyalimu besar! Ha- haha! Pada sepuluh tahun dulu kau dapat lolos, kali ini tidak! Aku tidak sangka sekali bahwa kali ini kita bertemu pula! ‘

Puas Oe-bun Thong bisa membongkar rahasianya Mo Lek rahasia asal-usulnya sedang sekian lama dia bersangsi dia cuma dapar menyangka sija. Dia seperti sudah merasa bahwa dia bakal dapat membekuk orang buronan ini.

Diwakili biasa Mo Lek jeri terhadap orang she Oe bun ini. Orang menjadi panglima perang dan sepnya juga, Tetapi sekarang, ia telah dipandang sebagai „pemberontak” dan iapun lagi „buron” ia tidak ada lagi yang harus dilihat mata. Maka de- ngan gusar. ia menjawab. ,Tidak salah ! Aku memang Tiat Mo Lek! Kau mau apa? Apakah kau sangka aku takut padamu? Hm! ‘

„Bagus!”‘ teriak Oe-bun Thong. „Pemberontak, masih berani kau membangkang untuk dibekuk? Kau harus ketahui, hari ini tidak ada lagi segala Toan Tayhiap atau Lam Tayhiap yang bakal melindungimu!”

Mendongkol Mo Lek orang mengungkat- ungkat urusan lama tetapi ia berlaku tenang. Ia tertawa dingin.

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 25"

Post a Comment

close