Kisah Bangsa Petualang Jilid 23

Mode Malam
 
Jilid 23

Oet-tie Pak berjalan terus, ia tidak memperdulikannya. Tidak demikian dengan Mo Lek. Mereka berdua justeru saling memandang hingga sinar mata mereka bentrok. Mo Lek heran. Ia seperti mengenali dayang itu. Maka ia menatap. „Oh!” berseru anak muda ini. Ia mengenali Ong Yan Ie„ Hanya berbareng dengan suaranya itu, si dayang sudah lantas berlompat pergi, gerakannya sangat pesat.

Mo Lek tak sudi menjadi pahlawan raja tetap dialah orang yang paling memegang kata-katanya. Dia sudah memberikan janjinya pada Lam Cee In dan Cin Siang untuk bekerja dengan setia, tentu sekali, tak dapat dia merebahnya dan. Hanya ia mau ber laku waspada. Terkejut mengenali Yan Ie itu, dia lantas berpikir Ia menjadi anaknya Ong Pek Thong, tidak dapat aku mempercayainya sepenuhnya. Mau apa ia tengah malam bjta rata ini menyelundup kedalam keraton? Taruh kata ia tidak berniat melakukan serangan gelap terhadap raja, aku toh mesti melihatnya,” Maka dia lompat untuk lari mengejar.

Oet-tie Pak pun telah melihat ada orang lari, ia lantas berseru-: “Ada pembunuh ! Ada pembunuh’ Ia terus turut mengejar.”

Ilmu silat orang she Oet-tie ini lebih unggul daripada ilmu silatnya Mo Lek akan tetapi dalam ilmu ringan tubuh, ia ketinggalan maka itu, justeru Mo Lek sudah berlompat lebih dahulu, tak dapat ia menyandak.

Mo Lek lari keras sekali. Didalam tempo pendek, ia sudah mendekati Yan Ie.

“Nona Ong mau apa kau datang kemari?’ ia tanya.

Yan Ia tidak menjawab, dia hauya mengulapkan tangannya kebelakang lalu dia lari semakin cepat.

Ulapan tangan sinona menjadi tanda memanggil, tanda supaya pemuda itu mengikuti. Itulah tak perlu. Didalam keadaan seperti itu, walaupun tidak dipanggil, hendak Mo Lek menyusul dan menyandaknya. Ilmu ringan tubuh dari Nona Ong menang setingkat daripada Mo Lek, karena itu mereka terus berlari lari saling susul. Mereka telah lompat melintasi tembok taman dan menembusi lorong panjang didepan keraton Ban Siu Kiong. Didepan situ ada sebuah lauwteng yang mengeluarkan cahaya emas yang berkilauan itu hanya suara beradunya senjata dari arah lauwteng itu!

Mo Lek kaget sekali.

Menyusul itu maka terdengar seruan keras dan panjang dari Yan Ie yang juga telah meaghentikan larinya. Segera juga dari arah lauwteng terdengar suara sambutan: „Nona Ong, lekas! Siraja tua ada di-sini!”

Mo Lek mendengar itu dia gusar bukan main, lantai dia menghunus pedangnya dan menikam sinona.

„Anak tolol!” Yan Ie berseru perlahan sambil berkelit. ”Siorang jahat justeru berada diatas lauwteng ! Kenapa kau tidak lekas pergi melindungi raja?”

Mo Lek melengak. Hanya sejenak lantas ia mengeluarkan seruan tertahan lantas ia meninggalkan sinona untuk lari kelauwteng Maka dilain saat ia telah lantas melihat satu pertempuran yang hebat.

Seorang pendeta bersama Seorang imam, juga seorang tua bermuka merah tengah bertarung dangan rombongan siewie. Mereka lagi mencoba menyerang naik keatas. Kawanan siewie berjumlah lebih besar akan tetapi mereka bukanlah penghadang-penghadang yang tepat, bahkan diantara mereka riuh terdengar jeritan-jeritan dari kesakitan bukti bahwa diantaranya telah banyak yang terluka. Beberapa siewie tampak jatuh bergulingan ditangga lauwteng. Suara berisik itu memekakkan telinga. Tiat Mo Lek sudah lantas mengenali si orang tua muka merah, ialah Tie Swie yang menjadi tangan kanannya Ong Pek Thong. Sipendeta dan siimam, atau toosu tidak ia kenal. Tentu sekali, ia menduga mereka itulah orang – orangnya Ong Pek Thong Disaat itu, ia kuatir sekali sudah ada penjahat lainnya diatas lauwteng. Tidak bersangsi pula, ia berlompatan „lt Ho Ciang Thian,” atau ,Seekor burung jenjang menyerbu langit.” Selain menjejak jubin, ia juga menekan loneng, maka bagaikan jem-paring tubunnya melesat naik keatas lauwteng.

Dimuka pintu tangga lauwteng itu ada sejumlah siewie, mereka menyangka kepada musuh, mereka menyambar kekaki sianak muda. Mo Lek tidak pedulikan mereka, dengan pedangnya ia menangkis, membabat setap senjata mereka itu Ia naik terus. Ia pun main menendang membikin beberapa siewie terbang senjatanya dan terpental tubuhnya.

Tiba diatas lauwteng, yang terhias indah, Mo Lek melihat  tiga orang lagi berkumpul menjadi satu. Orang yang Satu, seorang tua, mengenakan jubah tersulam naga-nagaan, tangan kirinya memegang sebuah kemala bundar yang Cahayanya terang menyilaukan mata, dan tangan kanannya memegang lengannya seorang wanita muda dari cantik. Orang yang ketiga seorang nona. Terang mereka bertiga ketakutan sebab tubuh mereka bagaikan menggigil, Cuma si nona nampak sedikit lebih tenang. Ia menduga raja bersama Yo Kui Hui, hanya entah siapa nona itu.

Di atas lauwteng juga ada sejumlah siwie, mereka sudah mengurung raja bertiga. Mereka itu terkejut melihat munculnya Tiat Mo Lek lantas mereka berseru-seru. Beberapa diantaranya maju untuk menyerang.

„Tahan!” berseru Mo Lek. „Aku bukannya orang jahat! Aku datang buat melindungi Seri Baginda!” Justeru tengah kekacauan berlangsung diantara mereka terdengar suara tertawa yang tajam, yang sangat menusuk telinga. Itulah tertawanya Ceng Ceng Jie yang terus berkata nyaring, ”Raja tua bangka kau sudah mencicipi kesenangan beberapa puluh tahun kau harus merasa cukup! Maka itu pada takhtamu mesti ditukar satu orang untuk menundukinya!’”

Berbareng dengan suara itu„ bekelebat juga bayangan Orangnya, menyambar kearah raja. Terus terdengar dua kali suara senjata beradu, terus dua orang siewie terguling roboh berbareng dengan jeritannya. Bayangan itu menyambar terus pedang pendeknya berkilau kebiru-biruan, meluncur kedada raja.

Mo Lek kaget bukan main Ia terhalang beberapa siwie, tidak dapat ia menghadang penyerang itu, ialah Ceng Ceng Jie. Saking kaget dan menyesal, ia memperdengarkan keluhannya.

Akan tetapi Kaisar Hian Cong belum saatnya mesti wafat secara hebat dan kecewa selagi jiwanya terancam itu, disitu terdengar bentakan halus tetapi tajam menyusul mana sebatang pedang bergerak, memukul baliK pedangnya Ceng Ceng Jie!

Itulah gerakan sinona yans berada didamping raja. Dialah Tiang Los Kongcu, puteri bungsu dari kaisar.

Selama tahun Thian-po Hian Ceng pernah mengundang ahli pedang wanita yang bernama Kong-sun Tay Nio datang keistana untuk mengajari ilmu pedang kepada para dayang. Permainan pedang ahli itu kesohor dan telah telah menggemparkan kotaraja.

Raja mengundangnya untuk ia dapat menyaksikan permainan pedang itu sebagai macam tarian belaka tidak tahunya, ia memperoleh hasil yang diluar dugaan, yaitu putrinya itu berjodoh dengan siguru silat, Tiang Lok bukan melainkan dapat tariannya saja tetapi juga sarinya ilmu pedang. Kaisar ketahui itu, ia menjadi sangat menyayangi puterinya, karena mana biasa ia meminta si puteri senantiasa memandanginya.

Pedangnya Tiang Lok pedang Tam Louw Kiam cari istana, sebuah pedang mustika, maka, maka padang itu lebih menang daripada pedang mustikanya Ceng Ceng Jie dengan benterokannya kedua pedang, pedang sipenyerang kena bikin rusak sedikit ujungnya Ceng Ceng Jie menjadi kaget. Tapi dialah ahli pedang, dia bisa melihat ilmu pedang sinona belum mahir, tenaga-nyapun kurang, dari itu, hanya melengak sedetik, kembali dia menyerang, sembari nyerang itu, dia tertawa dan kata: “Anak manis, kau serahkan pedangmu padaku! Nanti aku angkat kau menjadi muridku!”

Ujung pedang Ceng Ceng Jie menikam lengan siputri. Atas itu, Tiang Lok menggeser tangannya untuk menangkis. Ceng Ceng Jie tapinya sudah menduga. Dia mengikuti tangkisan, membuat nona bangsawan itu sedikit condong, lalu ketika ini dipakai buat dia mengulur tangan kirinya, guna menangkap pedang, untuk dirampas!

Berbareng dengan serangan Ceng Ceng Jie kepada putri Tiang Lok, dibelakangnya kaisar ada seorang siewie yang berseru sangat nyaring: ”Raja linglung, apakah kau masih mengharap hidup lebih lama pula?” Seruan itu dibarengi dengan geraknya sebatang gaetan berkepala macan, yang diarahkan kepunggung raja dibetulan jantungnya!

Siewie itu bukan lain daripada Lengho Tat yang berkedudukan sebagai Liong tie Cian Gu, yang sudah berbongkol dengan An Lok San Selama Cian Ceng Jie belum datang, dia tidak berani bergerak, untuk turun tangan Barulah sekarang dia nimbrung sebab dia percaya betul Ceng Ceng Jie tidak bakal ada lawannya. Dia menyerang dengan gaetan Houw Tauw Kauw. Dia percaya bahwa dia bakal berhasil. Tidak tahunya, sebelum gaetannya mengenai sasarannya, ada satu tenaga yang kuat yang membenturnya, berbareng dengan mana telinganya mendengar bentakan laksana guntur: “Jahanam, apakah kau kenali aku?”

Itulah Mo Lek, yang berhasil melewati para siewie, hingga ia datang pada saatnya yang tepat menyelamatkan raja. Pula hebat sekali tangkisannya, ia membuat Lengho terpental mundur dan jatuh terjungkal mirip bola daging, membentur roboh beberapa siewie. Habis itu, tanpa menghiraukan si jahanam, Mo Lak berlompat terus, untuk sembari membentak menyerang Ceng Ceng Jie.

Tangannyu Ceng Ceng Jie hampir menyentuh lengannya Tiang Lok ketika ia merasai angin menyamber serta mendengar bentakan nyaring itu ia terkejut, ia lantas saja menerka Didampingnya raja tua ini ada orang begini gagah ! Adakah dia Cin Siang? Ia menerka tanpa menoleh dahulu. Ketika tadi ia mulai menyerbu, ia tak menghhiraukan para siewie, yang sudah bertempur dengan orang orang pihaknya Ia telah memikir, asal raja dapat tercekuk, pertempuran akan berhenti sendirinya. Ia tidak menyangka sama sekali sesudah ia dirintangi puteri Tiang Lok sekarang ada lain lagi penghadangnya, bahkan penghadang ini Tiat Mo Lek, musuh lamanya

Tiang Lok KongCu mau melindungi ayahnya, tetapi ia tidak berhasil, bahkan ujung bajunya kena terobek pedang musuh, sampai tubuhnya tertolak berputar, dan limbung, hampir ia roboh kedalam rangkulannya Mo Lek yang tengah berlompat maju itu. Mo Lek dapat menahan diri, untuk membatalkan serangannya lebih jauh, sedang dengan tangan kirinya, ia mencegah robohnya situan putri. Hanya sekarang Ceng Ceng Jie mendapat kesempatan buat menyerang pula. Dia tidak takut malah se baliknya, dia tertawa. Dia rupanya merasa pasti bakal berhasil dengan usahanya. Dia tidak memandang mata kepada si anak muda.

Tiang Lok Kongcu memperbaiki diri ia menyerang pula Mo Lek turut menyerang berbareng.

Ceng Ceng Jie berkelit menyelamatkan diri. Dia sekarang melihat tegas kepada si-anak muda, dari heran, dia menjadi sangat gusar hingga dia berteriak: “Kiranya kau, bocah! Kembali kau merusak usaha tuan besarmu! Bangsat cilik, kau mempunyai jasa apa ktu diberikan upah macam apa maka kau mau jual jiwa untuk raja tua bangka?”

Ketika itu Tiang Lok Kongcu juga mendapat kesempatan akan menoleh kepada Mo Lek, hingga ia mendapatkan seorang muda yang beroman tampan dan gagah. Ia menjadi jengah sendirinya hingga mukanya bersemu merah dadu. Tapi tak sempat ia membuka mulut, buat menanya. Ceng Ceng Jie sudah menyerang lagi, maka bersama Mo-Lek, ia bertahan guna melindungi ayahnya.

Barulah itu waktu. Tie Swie bersama sipendeta dan imam berhasil naik ke loteng. Lengho Tat juga merayap bangun tak peduli sebuah tulang iganya telah patah akibat robohnya itu, ia lantas berseru nyaring:

”Takdir-kerajaan Tong sudah tiba. Sebagai gantinya, telah tiba pula seorang raja yang baru yang arif bijaknana! Hayo kamu semua, kamu yang sadar akan waktu, kamu datang kepada pihak kami! Buat apa berlaku tolol melindungi terus pada raja yang bangpak?”

Diantara para siewie itu ada mereka yang nyalinya kecil. Mereka menjadi jeri melihat orang jahat mendapat tambahan konco, hingga mereka mau menyangka mungkin telah datang terlebih banyak musuh Karena ini, diam diam mereka pada mengangkat kaki Ceng Ceng Jie dan Lengho Tat senang  melihat kesudahannya itu, sebaliknya Mo-Lek menjadi berkuatir, maka ia lantas berseru keras: ”Para siewie, jangan takut! Oet tie Ciangkun bakal segera tiba disini ! Jangan kuatir, yang datang cuma ini beberapa bangsat kecil!”

Ceng Ceng Jie bernyali besar. Dia tertawa lebar

“Nanti aku kasi lihat lebih dahulu pada kau, bangsat kecil, tentang kelihayanku, dia membentak. Lantas dia menyerang, bahkan berulang ulang. Dia menikam dengan mencari tubuh dijalandarah!

Mau atau tidak, Mo Lek terdesak mundur ia mesti selalu membela diri.

Ceng Ceng Jie lihay dan licin, habis mendesak itu, mendadak dia lompat mundur akan tertawa terbahak dan berkata: ”Bangsat cilik, tidak ada tempo untuk bergurau dengan kau! Poo Ciang Siancu, aku serahkan bangsat cilik ini padamu!”

Mo Lek kaget sekali. Ia tahu orang hendak mundur untuk membunuh raja Tentu saja, ia lompat maju, guna mengejar, buat merintangi Justru ia maju justru dipegat oleh si pendeta yang bernama Poo Ciang itu Dialah seerang pendeta bangsa asing, bangsa Ouw Ia lantas menyerang. Sipendeta menangkis dengan golok Kaytoo hingga kedua senjata beradu keras. Sipendeta terhuyung, sedangkan Mo Lek merasa tangannya sesemutan. Teranglah, pendeta itu kurang lihay ilmu ringan tubuhnya tetapi kuat tenaga dalamnya, bahkan lebih tangguh daripada Ceng Ceng Jie. Dengan Mo Lek, ia seimbang. Tentu sekali, pemuda ini menjadi bingung. Ia dirintangi sipendeta

Disana terdengar suara tertawanya Ceng Ceng Jie. Dia sudah maju pula. Dia membikin mundur atau terpelanting setiap siewie yang dihadapannya, pedangnya dia dikibaskan berulang- ulang. Didalam tempo yang pendek, dia sudah merobohkan tujuh siewie hingga dia datang dekat pula kepada raja yang dia terus serang.

Tiang Lok Kongcu berkelahi mati matian membelai ayahnya Syukur dia dibantu beberapa siewie yang setia, dengan begitu, buat sementara dapat menghalang halangi musuh yang lihay ini Biarnya begitu, bahaya maut terus mengancam raja.

Selagi suasana sangat genting itu, diantara mereka terdengar tertawa yang nyaring dan empuk, yang disusul dengan ini pertanyaan yang berada manis: ”Paman, apakah kau sudah berhasil Yang mana siraja tua?

Itulah suaranya Ong Yang Ie, Ceng Ceng Jie sudah lantas menjawab “Nona Ong, mari kau bereskan budak wanita ini! Yang lain lainnya nanti aku sendiri yang membereskannya!”

“Baik, baik!” sahut Yan Ie tertawa.” Hanya, paman, kau dahar sendiri yang lezat. itulah tak adil!”

Dengan kata-katanya ini, Yan Ie menyatakan bahwa ia juga ingin membunuh raja tidak cuma si puteri.

Mo Lek kaget dan gusar.

„Yan Ie, apakah kau sudah sakit gila?” dia menegur. Nona Ong tidak mengambil mumat, dia maju kepada raja.

Ceng Ceng Jie tertawa-tawa pula.

“Baiklah!’ katanya. ‘Baik, aku serahkan jasa ini padamu!’ Berkata  begitu,  sutenya  Khong  Khong  Jie menghampirkan

Tiang Lok Kongcu. Dengan begitu dia jadi berada dekat dengan Ong Yan Ie. Mimpipun Ceng Ceng Jie tidak menyangka sang keponakan akan menikamnya, maka itu, ia kaget bukan main, herannya tak terkira. Walaupun dia lihay ilmu ringan tubuhnya, sukar untuk menolong diri. Maka ia lantas terhuyung dan darah muncrat  dari  punggungnya  itu.  Dasar  dia  lihay,  dia  cepat mendapatkan ketabahan, dengan membalik sebelah tangannya, dia menotok diri, guna menutup jalan darah-nya, hingga darah tidak mengalir terlebih jauh. Seorang siewie maju kepadanya, untuk terus menikam, tetapi dia menyambutnya dengan tendangan sampai orang terdupak mental balik !

Bukan main gusarnya adiknya Khong Kbong Jie ini.

„Bagus, bagus perbuatanmu!” bentaknya pada Yan le. “Bagaimana berani kau turun tangan jahat atas diriku? Oh penghianat!”

Yan Ie tidak gusar sebaliknya tertawa.

”Paman, siapa suruh kau menghina suhengku?” katanya “Aku membalaskan sakit Hatinya suhengku itu!”

Memang juga. belum lama Ceng Ceng-Jie habis bertemu dengan Goan Siu, ia lantas bertemu dengan Yan Ie. Ia mendongkol terhadap Goan Siu, maka ia beritahukan sinona sepak terjang anaknya Tian Toa Nio itu yang katanya sudah membantui Tiat Mo Lek menyetrukannya. Setelah itu, ia menuturkan rencananya guna menyerbu kekota raja, buat membunuh raja.

Yan Ie tertawa mendengar keterangan paman ini.

“Suheng tidak mau membunuh kau paman baiklah, aku yang nanti bantu padamu!” kata ia. ”Memang suhengku itu tidak tahu urusan kita, tak usah dipedulikan, nanti saja didepan guruku, akan aku adukan dia!”

Ong Yan Ie menjadi puterinya Ong Pek Thong. Sedangkan rencananya Ceng Ceng Jie untuk membunuh raja adalah rencana yang telah dibicarakan matang dengan An Lok San beserta ayahnya sinona. Karenanya Ceng Ceng Jie percaya nona ini. Bahkan ia tertawa dan kata; “Kau bukannya membantu aku, kau hanya membantu ayahmu sendiri!’ Demikian, Ceng Ceng Jie mengajak selain kawan-kawannya juga Yan Ie menyelundup masuk kedalam istana raja, untuk malam ini mulai dengan penyerbuannya, tetapi sekarang ternyata. Nona Ong bukan menjadi pembantunya yang penting dia justeru menjadi penghadang dan lawan Ia heran mendengar perkataan sinona sampai ia mengawasi dengan menjublak.

„Kiranya begitu!” katanya. “Hm! Hna! Budak bau. buat guna suhengmu, kau sampai tidak menghendaki lagi ayahmu!”

”Tentang itu,tak usan kau campurtahu!’ bentak Yan Ie. “Kau mau pergi atau, lihat pedangku!” Berkata begitu, ia lantas menyerang!

Tie Sw!e melihat kawan bentrok kawan, dia menjadi bingung.

”Nona! Nona! Jangan!”‘ teriaknya ”Jikalau kau ada bicara, nanti saja kita runcingkan! Sekarang ini urusan penting harus didahulukan!” Dia lantas saja menghampirkan sinona. Dia menjadi sahabat Ong Pek Thong, biasanya dia menyayangi Yan ie. Diapun paham ’Kim Na Ciu.” Ilmu menangkap tangan, maka itu dia berani mengandalkan derajatnya sebagai paman, dia mencoba merampas pedangnya sinona.

Yan Ie sebaliknya menggunai alasan belaka. Ia tidak berani melawan paman ini, maka ia menyerang Ceng Ceng Jie. Tapi Ceng Ceng Jie menjadi gusar sekali. Dia lantas menyerang, sampai dia mengenai pundak sinona, hingga pundak itu terluka tiga dim panjangnya. Syukur buat Yan Ie, Ceng Ceng Jie lagi menutup darahnya, dia tidak dapat menggunai tenaga sekuatnya kalau tidak tulang pipanya bisa tertikam.

Tie Swie menjadi serba salah melihar sinona terluka itu, darahnya mengucur keluar. Ia batal menangkap lengannya nona itu. Dalam bingungnya, ia membanting-banting kaki dan berkata nyaring Aku minta kalian suka memandang padaku jangan kamu saling bunuh Sesama kawan sendiri.

Ketika itu Yan Ie berkelit dari satu tusukan pedang Susulan dari Ceng Ceng Jie la lantas berkata keras pada orang she Tie itu, “Kapan kamu lagi bicara tentang usaha besar ! Usaha besar apakah itu ? Kamu justeru lagi menerbitkan bencana besar untuk keluargaku Berbareng kamu jagalah hendak membikin musna dari kamu sendiri ! Apakah kamu tidak pernah pikir bahwa, An Lok San sibabi asing terokmok mana dapat dia menjadi raja ?”

Mendengar itu Ceng Ceng Jie gusar bukan kepalang. ”Dengarlah” teriaknya, ”lnilah baru kata katanya yang

sebenar-benarnya Maka itu meski aku bakal disesalkan atau ditegur Yian Toa Nio mesti aka bunuh budak perempuan  celaka, ini Usaha benar kita paling berharga, dari itu jangan kau mencegah aku lagi.”

Tie Swie menjadi habis daya, Dia menghela napas.

„Nona Yan kau mencari sesusahmu sendiri” katanya masgul ”Aku tidak berdaya untuk melindungi lagi padamu !” Karena ia tidak sanggup menyaksikan kedua kawan itu saling bunuh, ia lantas memutar tubuh, buat pergi menyerang raja.

Orang she Tie ini menyangka bahwa Yan ke bukan lawannya Ceng Ceng Jie ia tidak ingat bahwa lukanya adik seperguruannya Khong Shong Jie itu jauh terlebih parah daripada lukanya si nona karena mana didalam keadaannya masing-masing itu mereka menjadi berimbang.

Dengan tenaganya pihak penyerbu menjadi terbagi itu terutama mereka dirugikan terlukanya Ceng Ceng Jie yang termasuk sebagai pemimpin, suasana pertempuran lantas berubah menjadi sedikit beda. Cuma Kaisar Hian Cong masih terus terancam bahaya. Inilah sebab majunya Tie Swie Dengan menggunai Kim Na Ciu pemberontak ini maju terus mendekati. Dengan beruntun dan mudahnya dia dapat membikin roboh beberapa siewie yang menghadangnya.

Disana pertempuran diantara si pendeta asing dengan Mo Lek berjalan dahsyat sekali, karena itu, mereka berdua sama- sama tidak dapat memisahkan diri. Sia-sia Mo Lek mencoba merobohkan, atau meninggalkan lawan itu, supaya ia bisa melindungi raja.

Sementara itu si imam, yang menjadi Orang undangannya Ceng Ceng Jie, liehay sekali. Dia bersenjata pedang, dengan ilmu silat „Loan Pie Hong” atau „Angin Mengacau,” dia perlihatkan keliehayannya. Sejumlah siewie telah terbinasa atau terluka, hiigga sisanya menjadi terdesak, nampak tak dapat mereka bertahan terlebih lama pula.

Di saat suasana sangat mengancam itu maka dengan tiba- tiba saja terdengar satu seruan bagaikan guntur : „Kawanan tikus bagaimana kamu berani datang kemari untuk melakukan pembunuhan ?”

Itulah Oet-tie Pak, yang baru saja karena tadi tak dapat dia menyusul Mo Lek. Dia naik ke atas lauwteng sambil berlompatan diundakan tangga. Begitu tiba di atas, dia melihat justru Tie Swie lagi menghampirkan junjungannya. Tidak ayal lagi, dia lompat memburu, setelah datang dekat dia menyerang dengan dua-dua tangannya dibarengi dengan satu tendangan ! Dia juga berseru pula : „Bangsat tua, kau lihatlah Kim Na Ciu ku!”

Kim Na Ciu dari Oet-tie Pak menjadi pelajaran turunan dari Oet-tie Kiong, yang dengan tangan kosong pernah merampas tombaknya Sian Kiong San dari benteng Wa Kong Ce. Dia pandai, juga dia bertenaga besar sekali, maka itu, walaupun Tie Swie pandai Kim Na Ciu yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus, akan tetapi dipadu dengan panglima ini, ia kalah unggul. Demikian ia tidak berdaya ketika ia diserang secara mendadak itu. Toh sebagai jago, ia berbahan sebisa-bisa.

Keduanya lantas saling jambak. Oet-tie Pak dapat memegang kedua tangannya lawan, itu artinya lawan telah kena dibikin mati jalan, maka itu mereka kakinya bekerja, untuk menyerang. Dengan menendang ia mendahului lawan. Tie Swie menjadi bingung, Dia bertahan dengan memasang kuda-kuda, tak tahunya, lawan tak menghiraukannya. Begitulah dia kena terdupak, hingga dia roboh !

“Haha-haha!” tertawa Oet-tie Pak, yang-lompat menyusul, guna mencekuk lawannya untuk menghabiskan jiwa orang. Atau, mendadak tertengar suara nyaring.

„Oet-tie Ciangkuii, tolong ampuni dia!” demikian satu jeritan nyaring dari seorang wanita, ialah Nona Ong Yan Ie, yang telah menyaksikan jiwa pamannya terancam bahaya maut itu.

Oet-tie Pak sudah lantas menoleh ke arah orang yang menteriakinya itu. Yan le lagi menempur Ceng Ceng Jie. Ia lantas mengenali orang, yang mempunyai roman sebagai orang hutan itu. Memang tentang Ceng Ceng Jie, ia pernah mendengar orang membicarakannya. Ia hanya heran atas teriakan si nona, yang ia tidak kenal,

„Eh, siapakah nona ini ?” ia tanya diri nya sendiri. Sebenarnya ia sudah memutar tubuhnya Tie Swie, untuk dilemparkan, tetapi sekarang ia menunda, Mo Lek dengar suaranya kawan itu.

„Dialah sahabatku i” ia menjawab. Didalam keadaan seperti itu, anak muda ini terpaksa mengakui Yan Ie sebagai kawannya. Telah terbukti Yan le berada dipihak nya. sebab si nona berani menentang bahaya melawan Ceng Ceng Jie. „Pergilah kau !” seru Cet-tie Pak, yang terus melemparkan Tie Swie kebawah lauwteng, karena mana Yan Ie segera mendapat dengar teriakan „Aduh’ dari pamannya itu. Ia lega sedikit. Mungkin luka si paman berat tetapi itu belum berarti jiwanya terbang melayang. Ia tahu, dengan begitu Oet-tie Pak telah meluluskan permintaan ampunnya untuk pamannya itu,

Segera setelah melemparkan tubuh lawan, Oet-tie Pak lari kearah Ceng Ceng Jie.

Adiknya Khong Khong Jie memutar pedang pendeknya. Dia meninggalkan Ong Yan Ie, untuk menyambut ini jenderal. Dia lantas menyerang berulang-ulang, mencari jalan darah yang merupakan otot nadi.

Dengan berani Oet-tie Pak melayani musuh liehay ini dengan tangan kosongnya Karena lukanja, tenaganya Ceng Ceng Jie menjadi berkurang banyak, kepandaiannya menjadi seperti tidak berarti. Tak pernah dia berhasil dengan pelbagai tikamannya. Bahkan satu kali, dia mesti merasakan ton- jokannya lawan. Syukur untuknya, dia masih dapat berkelit, hingga terkenanya tidak jitu hingga dia tidak sampai lotoh.

„Bagus!” Oet-tie Pak memuji musuhnya. Ia hendak membekuk lawannya hidup-hidup ia tidak menyangka bahwa usahanya gagal. Karenanya ia menjadi kagum. Ia kata dalam hati „Benar nama Ceng Ceng Jie bukan nama kosong belaka...”

Oet-tie Pak tidak tahu bahwa tenaga orang telah berkurang. Kalau Ceng Ceng Jie belum terluka, walaupun ia sulit untuk merebut kemenangan, tidak mudah untuk dia itu kena terhajar,

„Bagus, Ceng Ceng Jie” ia berseru, “Kau sambut lagi satu tanganku’

Ceng Ceng Jie kaget, dengan lekas ia berbelit dengan tindakan “Poan Liong Jiauw Pon.” Ia mesti berkelit beruntun tiga kali. Hal ini membuatnya mendapat tempo, Karena segera datanglah si imam, yang sudah lantas membantu ia menempur musuhnya yang tangguh ini. Imam itu menggunai ilmu pedangnya.

Serangan Oet-tie Pak menjadi terhalang.

Pertempuran seumumnya berjalan kacau tetapi suasana sekarang sudah berubah, Pihak siewie menjadi mendapat keuntungan Justru begitu kembali terdengar tindakan nyaring ditangga lauwteng disusul dengan seruan sejumlah siewie “Cin Ciangkun datang!-’

Itulah berarti munculnya Cin Siang, siapa sudah lantas menyapu dengan sinar matanya ke empat penjuru, la terutama melihat sipendeta asing tengah berkelahi dengan seruh.

”Saudara Tiat!” berkata panglima ini tertawa: „baik kau serahkan sikeledai gundul padaku! Dan ia berkata sambil bekerja decgan senjatanya, ia mengemplang ke arah kepala si pendeta.

Dengan mengandalkan tenaga dalamnya pendeta itu menjadi berani. Ia menangkis dengan keras dengan tipu silat

„Heng Hee Kim Liang’ atau. „Melintang penglari emas” Tak tahu ia yang Cin Siang menjadi orang kosen nomor satu didalam istana yang tenaganya lebih kuat tiga lipat daripada Cet tie Pak sedangkan senjatanya ruyung Kim gan, beratnya enam puluh empat kati, hingga turunnya bagaikan gunung Tay San me- nimpa-menindih.

Bentrokan Kim-gan dengan golok Kay-to terdengar nyaring, sampai ujung golok sedikit melengkung. Sedangkan begitu, Kim gan kiri dari Cin Siang menyamber menyusuli yang kanan. Tidak ada tempo untuk si pendeta berkelit, terpaksa ia menangkis pula. Ia menangkis dengan belakang golok sebab tak keburu untuknya memutar tangannya . Kembali satu bentrokan. Kali ini, di samping nyaringnya suara kimgar dan kay-to, terdengar juga jeritan si pendeta, yang merasa sakit sekali pada telapakan tangannya, yang telah patah !

Cin Siang tertawa.

„Nah, kau sambut lagi senjataku” serunya. „Jikalau kau sanggup, akan ku beri ampun padamu supaja kau tidak mampus!

Benar-benar, hajaran yang tiga kali sudah meluncur, akan tetapi, sebelum kim-gan mengenai sasarannya, si pendeta sudah terhuyung dua kali, terus dia roboh terguling, darah hidup menyembur dari mulutnya Itulah sebab ia tidak sanggup bertahan dari dua hajaran yang menggempur anggauta- anggauta dalam tubuhnya hingga rusaklah anggauta-anggauta dalam itu dan tenaganya habis. Memang jarang orang dapat bertahan sampai tiga kemplangan panglima she Cin itu.

Berbareng dengan itu, dilain rombongan, Oet-tie Pak telah berhasil merampas pedangnya si imam, yang ia terus lawan de ngan tangan kosong, hingga ia membikin imam itu kaget sekali dan ketakutan, maka dia lompat menabrak ke jendela, hingga daun jendela terbuka, dan tubuhnya dapat lompat turun.

Menyaksikan demikian, Oet-tie Pak berseru : „Hai, imam, kau masih memikir buat kabur ? Lihatlah !” menyusul itu, ia menimpuk dengan pedang rampasannya

„Aduh !” berteriak si imam, yang tubuhnya terus roboh terkulai. Tepat sekali pedang nancap dipunggungnya sebelum dia sempat menginjak lantai untuk kabur. Maka dengan rubuhnya rebah dilantai, pergilah arwahnya kelain dunia . . .

„Hahaha !” Oet-tie Pak tertawa terbahak. „Ceng Ceng Jie, sekarang tiba giliranmu ! ‘ Ceng Ceng Jie kaget, tetapi dia gusar. Dan dia menumpahkan kemarahannya itu terhadap Ong Yan Ie, dia berseru : „Siluman perempuan ! Aku akan mati menjadi setan, tidak akan aku ampuni kau” dia lantas menyerang hebat si nona sampai Yan Ie terdesak mundur,

Mo Lek melihat si nona terancam bahaya, hendak ia membantui, akan tetapi, sebelum ia sempat maju mendadak ia mendapathan Ceng Ceng Jie memutar pedang mustikanya itu, bukan dipakai menyerang kepada Yan le, hanya ditikamkan pada dadanya sendiri ! Inilah sebab, sebagai seorang laki-laki yang tabiatnya keras, Ceng Jie tak mau tertawan atau terbinasa ditangan musuh lebih suka ia mengorbankan diri, dari pada terhina. Hanya ketika ia menikam diri, ia masih ragu-ragu, hingga pedangnya tak meluncur cepat.

Juseteru itu dari kejauhan terdengar satu seruan yang nyaring. Ceng Ceng Jie dengar itu, mendadak ia mendapat harapan, lantas dia berseru menyambut seruah itu : „Suheng lekas ! Tolongi aku l

Mo Lek terkejut, ia berseru : “ltulah Khong Khong Jie !”

Khong Khong Jie datang cepat, sedangkan seruannya terdengar pula. kali ini sampai mendengung-dengung di telinga orang.

Cin Siang dan Oet-tie Pak mengarti ancaman bahaya, tak sempat mereka menghadapi terus pada Ceng Ccig Jie, dengan lantas mereka lari kepada raja untuk melindunginya. Akan tetapi yang belakangan ini kena dirintangi musuh.

Sambil berseru nyaring Oetie Pak menyerang musuh dengan satu jambretan Ia menggunai tipu silat “Hun Kii Ciu” atau

„Membagi otot, memecah tulang.” Khong Khong Jie tertawa. „Oet-tie Ciangkun. selamat bertemu ?’ katanya, sedang tubuhnya berkelebat.

Oet-tie Pak menjambak sasaran kosong Tubuh lawan lenyap bagaikan bayangan ! Tentu sekali, ia menjadi terkejut.

Tetapi itu masih belum semua. Segera tertampak bayangan Khong Khong Jie berkelebatan disekitar raja dan Yo Kui Rui, Dia seperti juga tercipta menjadi banyak Khong Khong Jie, hingga mata orang menjadi kabur.

Cin Siang siap dengan senjatanya, ia tidak berani sembarang menyerang, ia melainkan memasang mata. Para siewie pun heran, hingga mereka semua mengawasi saja dengan mendelong.

Khong Khong Jie berkelebatan terus. Segera terdengar tertawanya yang keras dan kata-katanya ini : „Cin Ciangkun ! Oet-tie Ciangkun ! sekalian tuan-tuan ! Maafkan aku yang telah membuat kamu terkejut ! Aku menyesal sekali ! Tapi aku telah datang ke istana, tidak dapat aku pulang dengan tangan kosong, dari itu ingin aku mendapat suatu hadiah . !

Menyusuli kata-kata itu yang belum lagi sirap, sudah lantas terdengar jeritannya Yo Kui Hui, lalu tampak tubuh Khong Khong Jie melesat mundur, hingga di lain ’saat, dia melihat berdiri disisinya Ceng Ceng Jie. sedang ditangannya berkilauan sebuah mutiara yang besar serta jeriji manisnya menjepit sebatang tusuk kundai !

„Aku tidak tamak !” kata jago itu sambil tertawa. ,Kamu semua lihatlah biar tegas ! Aku cuma mengambil ini dua macam barang !”

Khong Khong Jie menyamber tusuk kundai dirambutnya Kui Hui serta mutiara dari kopiahnya Kaisar Tong Tian Cong. Semua orang menjadi heran dan kagum berbareng dengan itu, hati mereka, pun lega. Ternyata junjungan mereka tidak kurang suatu apa. Mereka semua berdiam sambil mengawasi. Tak mau mereka sembarang membuka mulut.

„Suheng !” berkata Ceng Ceng Jie yang baru membuka mulut pula: „Kenapa suheng tidak ambil jiwanya si kaisar lalim”

Matanya Khong Khong Jie mendadak bengis. Lalu, “Plak!” terdengarlah satu suara karena ia mengayun sebelah tangannya dengan apa ia menggaplok sute itu. Terus ia mendamprat : „Anak celaka ! Kita toh penjahat budiman, yang tahu aturan ! Mana dapat kita dijadikan anjingnya lain orang dan diperintah-perintah untuk menggigit orang.? Lebih-lebih An Lok San si babi asing terokmok itu, aku paling tak melihat matanya padanya ! Apakah kau tidak merasa dirimu terhina ? Aku malu untukmu ! Jikalau kau bukan sudah terluka, tentu aku hajar kau terlebih keras ! Hayo pulang ke gunung, aku hukum kau duduk menumprah tiga tahun menghadapi tembok ! ”

Berkata, suheng ini menjambret tubuh suteenya, buat diangkat untuk terus dibawa pergi sebagai juga adik seperguruan itu seekor ayam.

Ceng Ceng Jie bungkam tak berani ia bersuara atau berkutik.

Khong Khong Jie tidak lantas pergi dia menoleh kepada Tiat Mo Lek dan tertawa manis, katanya „Saudara Tiat, Jikalau kau bertemu dengan Toan Tayhiap, tolong kau sampaikan padanya bahwa puteranya tidak kurang suatu apa, agar dia melegakan hatinya!’

Mo Lek heran. Hendak ia minta keterangan. Akan tetapi ia tidak memperoleh kesempatan. Dengan membawa adik seperguruannya itu thong Khong Jie sudah lantas lompat melewati jendela hingga didalam sekejap dia sudah lenyap, cuma terdengar tertawanya yang nyaring dan kata-katanya ini „Para ciangkun, maaf tak dapat aku menemani kamu lama lama!”"

Dibawah lauwteng ada berkumpul banyak siewie, mereka bersiap-siap untuk memanah melihat mana, Cin Siang berseru:

„Jangan bergerak! seri Baginda tidak kurang suatu apa, semua penjahat sudah terbinasakan! ‘

Tapi panglima ini mendapat sambutan nyaring: ”Di sini masih ada satu penghianat yang lolos! Hm, Lengho Tat! Kaulah manusia dengan hati binatang! Bagaimana berani kau menghina junjunganmu! Kau tak dapat ampun!”

Memang melihai gelagat buruk Lengho Tat menyingkirkan diri apa belaka, sampai di pintu lauwteng dia bersomplokan dengan Oebun Thong, yang sambil berseru itu menekuk padanya.

Bukan main kagetnya pengkhianat ini, Oebun Thong toh konconya.

”Oe-bun Ciangkun!’ serunya mukanya pucat. ”Kau . . . kau..”

Oe-bu Thong tidak memberikan ketika orang lebih banyak, ia membabat dengan goloknya, merampas jiwa sekongkolnya itu. Oet tie Pak terkejut hingga ia berseru; “Hai, kau lebih  sembrono dari pada! Aku Kenapa kau tidak mau meninggalkan satu mulut yang hidup?” 

,Dia!ah orang sebawahku!” sahut Oebun Thong. “Kenapa dia berani berkhianat? Tak dapat aku menahan hawa amarahku, hingga aku lupa membiarkan dia hidup, supaya pengakuannya bisa di korek dari mulutnya.”

Berkata begitu. Oe-bun Thong menyusut bersih goloknya yang berlepotan darah, terus ia naik kelauwteng, untuk segera berlutut didepan raja buat memberi hormat sam bil mengaku salah dan memohon ampun. Kata ia: „Oe-bun Thong terlambat melindungi Seri Eaginda dan juga penilikanku kurang keras, sampai ada sebawahanku yang berkhianat, hingga Seri Baginda mendapat kaget. Biarlah hamba dihukum turun pangkat! ‘

Kaisar Hian Cong berkata, ,’Kamulah menteri-menteri yang setia! Entah berapa banyak sudah menteriku yang tadinya setia yang menakluk kepada pemberontak dari itu Lengho Tat tidak berarti seberapa. Oe-bun CiangKun jangan kau berkecil hati.”

Raja ini gemar arak dan kemaruk paras elok tetapi ia belum menjadi demikian dogol, hingga disaat seperti ini . . . saat perlunya tenaga-tenaga setia . . . tahulah ia bahwa tidak dapat ia bicara sembarangan saja

Oe-bun Thong mengucap terima kasih, lantas ia bangun berdiri, untuk menempat kan diri disisi junjungannya itu.

Raja telah menetapkan hatinya, ia dapat membawa sikap agung seperti biasa. Tidak demikian dengan Yo Kai Hui, yang tubuhnya masih bergemeteran. Sampai sekian lama, baru dapat ia mengatakan: „Aku bisa mati kaget! Aku bisa mati kaget’”

Raja memanggil seorang dayang untuk menemani selirnya itu.

Kekasihku, persilahkan kau beristirahat, katanya dengan sangat menyinta. ”Kita sudah selamat, kau boleh tidur. Besok pagi kita berangkat.

Menurut keinginatnya, raja hendak mengantarkan sendiri selirnya itu. tetapi ia ingat tugasnya sebagai raja. setelah kekecauan itu perlu ia memuji orang-orangnya yang setia dan berjasa, untuk merrberi anugerah atau hadiah kepada mereka itu.

Menurut pertimbangan, Ong Yan Ie yang dianggap paling berjasa. Raja dan semua sie wie melihat sendiri nona itu melukai Ceng Ceng Jie. hingga suasana menjadi berudah dari berbahaya menjadi reda Yang nomor dua ialah Tiat Mo Lek, yang paling dulu melindungi junjungan itu, dia telah menentang Ceng Ceng Jie dan menolongi tuan puteri. Yang lainnya ialah Oet tie Pak dan Cin Siang.

Yan le bersama Mo Lek menghadap raja, untuk memberi hormat.

Cin Siang lantas mengajar kenal, katanya: “Pemuda gagah ini ialah orang yang dipujikan Kwee Lu Gie.”

Raja mengangguk, la kata: ,kau setia dan gagah, kau harus dipuji. Kami sudah mengangkat Kau menjadi San Lie Cian Gu sekarang kau membangun jasa besar, akan kami tambah pangkatmu. Kau tunggulah di samping, nanti kami berdamai dahulu dengan Cin Ciangkun dan Oe-bun Ciargkun” Lantas raja menanya Yan Ie. Nyonya itu berlutut sambil menyerukan tiga kali: „Banswee!” , ‘Hiduplah Raja!

”Tak usah pakai adat peradatan!” kata raja. „Kau bangunlah’”

Habis itu Yan Ie diperintah mengangkat mukanya Melihat roman orang raja kagum.

.Sungguh cantik!” katanya didalam hati. , Dia mirip Cay Pin disaat Cay Pin baru memasuki istana! ‘

Cay Pin itu salah seorang selirnya Hi-an Cong, yang cantik dan manis sekali, karena dia menyukai bunga Bwee, dia diberi nama Bwee Hui. Sebelum datangnya Yo Kui Hui dialah yang paling dikasihi raja; maka dengan sendirinya dia dipandang Yo Kui-Hui bagaikan paku didepan matanya. Setelah dicintainya, Yo Kui-Hui melarang raja mendekati pula Selirnya itu, bahkan untuk menyingkir ke See Siok ini dia dilarang di ajak bersama tentu sekali, raja masih selalu ingat selirnya itu maka itu girang ia melihat Yan Ie mirip dengan Cay Pin „Encie, bagus ilmu pedangmu,” kata Tiang Lok Kongcu pada Yan Ie. , Syukur ada kau”

“Terima kasih untuk pujian tongcu” kata Nona Ong. “Kau sudah bertunangan atau belum?’ Tiang Lok tanya.

Mukanya Yan Ie menjadi merah secara tiba-tiba. Itulah pertanyaan yang ia tidak Sangka, Tapi ia mesti menyahut, maka ia menjawab bahwa ia masih merdeka.

Tiang Lok kongcu tertawa la kata pula “Kalau begitu, baiklah kau menemani aku, Kau setuju bukan? . … Bu Hong, tolong berikan dia suatu gelaran, supaya dia dapat menjadi pembesar dayangku”

Adalah aturan dalam istana kerajaan Tong, selama seorang puteri belum menikah untuk menjedi dayangnya, sidayang harus seorang gadis yang masih merdeka. Mengenai Yan Ie puteri ini juga ada maksud yang lainnya.

”Syukur kau menyukai dial” berkata raja, tertawa „Baiklah, kami angkat dia menjadi Cu-pouw. Eh, apakah suka menemani kongcu?”

”Terima kasih!” sahut Yan le Kata kata yang belakangan itu ditujukan pada si nona. ”Hanyalah hamba berasal seorang hutan, tak berani hamba menemani tuan puteri.”

Mendengar kata-kata „Orang hutan’ itu atau , cauw bong, – raja terkejut Kata-kata itu berarti mirip seperti, Lok Lim atau Rimba Hijau. Sebaliknya Tiang Lok kongcu belum tahu artinya itu. Raja berpikir cepat, terus ia kata: ”Sekarang ini Pemerintah Agung mengadakan aturan luar biasa Siapa pun yang berjasa, dia tak akan ditanyakan asal usulnya. Jikalau tidak suka bekerja di dalam istana, dapat kami berikan hadiah lain kepadamu.” ”Habis berkata, ia berpikir. „Sayang sekali, dia begini cantik, kenapa dia berasal dari keluarga penjahat?” Karena ini mesti ia menyukai si nona, tak berani ia mencoba menahannya.

Yan Ie berkata: „Hamba tidak berani meminta terlalu banyak, namba cuma memikir seri Baginda sudi menghadiahkan serupa barang . . .”

„Kau bilanglah’ kata raja cepat „Kau minta batu permata apa? Di dalam istana kami, semua ada tersedia !”

Yan le melirik dulu kepada Mo Lek. baru ia menjawab

„Hamba tidak menginginkan baran permata, hamba cuma memikir . . .memikir mau meminta .”

Hati Mo Lek berdebar. Lirikan sinona berarti banyak.  Ia kuatir dirinya yang diminta . . ”

„Lekas bilang !’ Hian Cong mendesak „Asal yang kami dapat sediakan, pasti kami akan berikan l’

„Kamba cuma ingin meminta Seri Baginda memberikan sebuah Bian Su Kim Pay” kata Yan Ie akhirnya.

Raja terkejut saking heran. “Bian Su-Kim Pay berarti”lencana kebebasan dari hukuman mati. maka ia lantas tanya. „Kau mempunyai dosa besar apa saja maka kau menghendaki bian su kim pay ?”

“Hamba meminta itu buat guna ayah hamba.”sahut Yan le.

„Siapa itu ayahmu?”

„Ayah hamba ialah Ong Pek Thong kepala ikatan kaum Rimba Hijau di dalam lima propinsi Utara,” Yan Ie menyelaskan.

Raja kaget sekali.

“Kau anaknya Ong Pek Thong ?” tanya nya. „Bukankah ayahmu membantu An Lok San berontak melawan pemerintah”. ”Justru karena itu hamba mohon biansu kim pay.” sahut pula Yan Ie.

Raja berdiam. Ia serba salah. Tapi ia tidak berpikir lama. la Tanya, “Dapatkah kau membujuki ayahmu kembali buat meng hamba kepada kami ? Dengan begitu, dia bukan saja bebas dan hukuman mati, dia juga bakal kami angkat menjadi satu ciat-iu ow -su.”

„Ayah hamba bertabiat keras mungkin Sukar untuk memberi nasehat padanya,” kata Yan Ie, ”tetapi orang orang sebawahannya sudah dilabrak berantakan oleh Lam Tayhiap, maka sekarang dia terpaksa berlindung kepada orang lain, sekarang dia sudah tak dapat menjadi ancaman bahaya lagi.”

„Siapa itu Lam Tayhiap ?”

“Dialah Lam Cee In yang menjadi Jiauw tie Ciang kun dibawah perintahnya Kwee Cu Gie,’ Yan Ie menerangkan ‘Sekarang ini ayah hamba tidak lagi terlalu dihargakan An Lok San cuma sulit untuk membujuki dia datang menakluk, sebab biar bagaimana, dialah ketua ikatan Rimba Hijau, satu kali dia menyerah kepada pemerintah, lantas dia melanggar aturan atau pantangan besar kaumnya itu. Hamba berjanji akan sebaiknya-baiknya nanti menasehati atau membujuki supaya ayahku suka mencuci tangan uniuk dia menutup pintu membungkus goloknya, agarnya dia tidak lagi hidup didalam dunia Rimba Hijau.”

„Apakah itu artinya mencaci tangan di paso emas dan menutup pinta membungkus golok?” raja tanya.

„Itulah kata kata rahasia didalam kalangan Rimba Hijau.”Mo Lek mendahului si nona menjawab .’Arti singkatnya yaitu selanjutnya dia tidak lagi bekerja sebagai orang jahat, dia akan pergi kerempat sunyi gunung atau rimba, buat menyembunyikan diri, buat tidak campur tahu lagi urusan apa juga di luaran.”

Hian Cong menoleh pada sianak muda ia mengangguk.

„Mengingat bahwa kau berjasah telah menolong kami dapat kami juga bertindak diluar kebiasaann. “katanya „Jikalau kau berhasil membujuk ayahmu mencaci tangan dipaso emas dan menutup dari membungkus goloknya, akan kami hadiahkan kau bian su kim pay yang kau minta itu, kalau dibelakang kali ada pembesar kami, sipil atau militer yang menangkap ayahmu, supaya mereka jangan lancang menghukum mati padanya. Sebaiknya jikalau dia kedapatan didalam tangsi pemberontak atau di-medan perang, dia harus dihukum mati tanpa ampun lagi’

Lantas raja menyuruh seoraug kebiri mengambil sebuah bian su kim pay ia menulis sendiri diatas lencana itu, yang terus ia serahkan pada si nona.

Melihat Yan Ie berhasil! meminta kim pay itu. Mio Lek girang berbareng berduka Girang sebab ia mendapat bukti yang sinona sudah merobah dirinya dari sesat menjadi sadar. Berduka lantaran Ong Pek Thong mempunyai kimpay sedangkan ia sendiri telah menjadi hamba negara. Bagaimana nanti ia dapat membalas sakithati ayahangkatnya itu !”

Ya Ie menerima kimpay sambil menghaturkan terima kasih tegas tampak sinar matanya sinarmata kegirangan. Hanya ke tika ia melirik pada Mo Lek sinar girang itu mendadak lenyap terganti oleh sinar kedukaan. Ia menatap anak muda itu, terus ia kata perlahan pada raja sekarang “Terrma kasih untuk budi kebaikan Seri Baginda! Terima kasih buat kebaikan hati Kongcu! Terima kasih kepada ciangcun semua! Sekarang hamba hendak mengundurkan diri, mungkin lain kali kita bakal padat berjumpa muka pula’ Begitu habis berkata, nona ini lari ke jendela untuk lompat turun !

Mendengar itu, semua orang heran, cuma Mo Lek yang mengerti. Kata-kata sinona terang ditunju.kan kepadanya. Selanjutnya si nona tak suka menemui ia lagi. Itu berarti perpisahan yang menyedihkan. Tanpa merasa, ia menjadi masgul, maka ia bengong mengawasi ke jendela.

Justru orang berdiam, Oe bun Thong mendadak menanya:

„Tiat Ceng apakah kau kenal anak perempuan itu ?”.

Nama Mo Lek sangat terkenal, maka ia menukar nama menjadi Ceng, yang berarti suara nyaring dari besi beradu, atau kemampuan melebihkan yang lainnya. Kwee Cu Gie memakai nama itu dalam surat pujiannya.

Mendengar pertanyaan Oe bun Thong itu, raja menjadi ingat suatu apa.

”Ya,’ katanya, ”kami ingat kau pernah mengatakan nona itu sahabatmu. Nah bagaimana caranya kamu berkenalan satu dengan lain?”

Mo Lek merakasan kesulitan. Di satu pihak isi tak suka bicara dari hal yang benar, dilain pihak, tak biasanya ia mendus-ta Tapi ia harus menjawab, terpaksa ia kata. “Hamba mengenalnya di waktu hamba mengembara . …

“Oh.” seru raja “Kami menyangka kau asal serdadu Kwee Cu Gie, kiranya kau juga seorang gagah kaum Kang Ouw!”

Cin Sian dan Oet-tie Pak mengeluarkan peluh dingin. Mereka sangat kuatir raja menanya melit tentang penghidupan anak muda ini.

Syukurlah itu waktu Tiang Lok turut campur bicara. “Hu hong tentu masih ingat Ceng Lian Haksu bukan?” tanyanya memotong pembicaraan ayahbunda raja Itu “Penyair yang berkenamaan itu juga pada masa mudanya menjadi seorang gagah yang gemar mengembara dan syair-syairnya demikian menonjol itu rupanya disebabkan hasil pengembaraan nya itu. Tiat Congsu apakah kau dapat membuat syair ?”

Mo Lek tertawa.

„Aku cuma dapat menggunai golok atau tombak, aku tidak mengerti syair!”sahutnya,

„Jikalau begitu, tentulah banyak yang kau telah lihat dan dengar dalam dunia Kang Ouw’ kata pula si tuan putri. „Apa bila nanti ada waktu yang luang, aku ingin kau menuturkan semua itu kepada kami, untuk menyegarkan pikiran yang pepat.”

Maksudnya Tiong Lok menyelak itu ia lah ia kuatir ayahnya mencurigai Mo Lek. Ia sengaja menyebut-nyebut Lie Pak buat menjuluki bahwa orang Kang Ouw tak harusnya diceritakan.

Benar-benar Hian Ceng tertawa.

„Sekarang, bukan saatnya berbicara tentang “syair,” ujarnya.

„Aku lebih suka mendapat lebih banyak orang sebagai orang gagah ini, itu menang berlipat ganda dari pada Ceng Lian Haksu yang menemani padaku”

”Benar begitu !” Oe bun Thong turut bicara ”Orang gagah kebanyakkan asal pengembaraan Tiat Congsu. tentulah luas pergaulanmu dalam dunia Kang Ouw. Orang tadi itu suhengnva si orang beroman seperti kunyuk aku tahu dialah Sin Touw Khong Khong Jie si Malaikat pencuri. Mendengar pembicaraan Kamu tadi rupanya kau kenal baik sekali sedangkan diwaktu dia mau berlalu dia telah memesan padamu untuk mengatakan sesuatu, kepada Toan Tayhiap’ “Pada beberapa tahun yang lampau pernah aku bertempur dengan Khong Khong Jie.” sahut Mo Lek, “Kita kenal satu pada lain karena pertempuran itu, karena itu kita bukankah sahabat- sahabat kenal.”

„Aku tahu Thoan Thayhiap yang disebutkan Khong -Khong Jie itu ‘ Cin Siang menimbrung “Dia bernama Toan Kui Ciang. Dia memang benar seorang gagah mulia, orang sebangsa Ceng Lian haksu. kabarnya dia bekerja untuk Kwee Cu Gie ”

Sementara itu’ Baginda Fian Ctng heran hingga timbul sedikit kesangsian atau kecurigaannya. Namanya thong Khong Jie terlalu besar hingga ia pernah mendengar, orang menyebutnya. Barusan saja ia menyaksikan kepandaian Khong Khorg Jie itu sebagaimana mutiara pada mahkotanya telah kena diambil secara mudah sekali, mengingat itu hati raja kurang tenteram. Ia berkata didalam hatinya. “Pergaulannya bocah she Tiat ini terlalu campur aduk ! ‘ Karena ini, mendengar suaranya, Oe- bun Thong ia jadi ragu-ragu mengangkat Mo Lek menjadi Liong Kie touw-oet hal mana ia telah pikirkan sejak tadi. Dengan menjadi touw-oet itu, setiap saat Mo Lek akan mendampinginya. la berdiam sekian lama, lalu ia tanya Cin Siang dan Oe-bun Thong: ,Kamu lihat pangkat apakah yang kamu cocok untuk pemuda gagah ini ‘

Cin Siang tidak mau lantas menyatakan pikirannya, Mo Lek menjadi sebawahannya Oe-bun itu yang bicara lebih dahulu.

Oe-bun Thong licik ia menjawab: „Tiat Ceng berilmu silat tinggi dia juga kenal batk sekali orang-orang Kang Ouw maka di saat kalut seperti ini dia cocok sekali untuk diberi tugas. Hanya mengenai pangkat untuk nya hamba tidak berani lancang mengusulkan, silahkan Seri Baginda, sendiri yang menganugerahkannya !” Sekilas lalu kata-kata Oe-bun Thong terdengar menghargai Mo Lek. akan tetapi, maksudnya yang sebenarnya telah membangkitkan kesangsiannya raja. Dia berhasil Raja diam untuk berpikir.

„Huhong.” berkata Tiang Lok tongcu sesudah orang berdiam sesaat. “Aku lihat dia setia dan jujur, dia juga dipujikan Kwee Cu Gie aku rasa dia tak salah lagi. Baiklah hu-heng menegaskan dia menjadi pelindung dan kereta keluarga kerajaan !”

Hian Cong berpikir. Dalam perjalanan. kebarat ini, ia tidak dapat, mengajak banyak selirnya, tetapi selain siputeri ada juga isteri atau selirnya sekalian puteranya berikut sejumlah dayang pribadi dan pelayan. Ia sendiri telah mengambil ketetapan, akan duduk sebuah kereta bersama Yo tut Hui dengan dilindungi Cin Siang serta barisan Liong Kie Touw-utnya. sedangkan keretanya para putera diserahkan kepada Oe-tie Pak bersama barisan istana. Oe-bun Thong serta pasukannya, pasukan San Kie Siewie, telah ditegaskan mengiring lain-lain kereta, jumlah San Kie Siewie tidak banyak jadi keretanya Tiang Lok Kuncu belum ada pelindungnya. Hal ini membikin ia melirik Mo Lek hingga akhirnya, setelah hening sejenak ia berkata:

„Baiklah Tiat Ceng kau keangkatanku !”

Mo Lek memandang raja, ia berdiam tetapi Cin Siang menolak tubuhnya maka ia lantas mengerti, dengan cepat ia berlutut. Segera juga ia mendengar suaranya junjungannya itu:

„Tiat Ceng sudah berjasa menolongi raja, dia diangkat menjadi Houw Gie Touw-ut ! Selama dalam perjalanan ketanah Siok ini, dia diharuskan melindungi keretanya tuan puteri. Dia mesti mendengar segala perintahnya Tiang Lok kongcu. Berbareng dengan ini, dia masuk menjadi anggauta pasukan San Kie dari Oe Bun Thong maka dia dapat pangkat merangkap sebagai San Kie Hu Tiong-long-ciang. Untuk jasanya itu juga dia dihadiahkan uang emas seratus tahil dan cita sepuluh kayu.” Pangkat Houw Gee Touw-ut lebih rendah setingkat dari pada San Kie Touw-ut, akan tetapi Mo Lek mendapat tambahan pangkat merangkap itu, San Kie Hu Tiong-long ciang, dengan begitu, sendirinya, ia jadi berkedudukan sama seperti pembantu dari Oe-bun thong hanya selama dalam perjalanan ini, ia ditaruh dibawah perintah, langsung Tiang Lok Kongcu. Itu berarti seperti ada dua orang pembesar San Kie. Di-hari-hari biasa dijaman aman, didalam istana tidak ada aturan serupa ini. Hian Cong mengambil keputusannya ini ke satu buat guna keamanan disepanjang jalan, ke dua, untuk-mengiring kehendak puterinya, dan ketiga, sebagai tanda bahwa ia menghargai Kwe Cu Gie yang telah mengusulkan pemuda gagah itu. Pemerintah atau Kerajaan Tong, justeru memerlukan tunjangannya orang she Kwee itu, maka itu walaupun orang pujiannya diragu-ragukan, orang itu toh diterima dan diberi kepercayaan sepenuhnya. Mo Lek sendiri tetap tidak merasa puas. Dengan beruntun ia telah memperoleh kenaikan pangkat tiga tingkat tetapi toh tetap berada di bawahnya Oe-bun thong, tapi keputusan telah dikeluarkan, tidak dapat ia menentang maka ia mengangguk sambil meng haturkan terima kasih .

Oe-bun Thong juga tidak puas Panglima ini sakit hati, Tapi dihadapan raja air mukanya tidak mengentarakan sesuatu sikap nya seperti biasa saja. Bahkan begitu lekas Mo Lek sudah menghaturkan terima kasih, kepada raja. dialah yang paling dulu memberi selamat pada sebawahannya itu.

Habis itu, kaisar Hian Cong menitahkan para siewie bubar untuk mereka mengurus tugasnya masing-masing untuk siap sedia buat besok pagi mulai berangkat melakukan perjalanan,

Seturunnya dari lauwteng Beng Hong lauw Mo Lek memikirkan buat pulang dengan-mengikut Cin siang tetapi lantas berkata padanya , Sekarang ini sudah jam tiga, aku pikir semua orang ingin beristirahat maka itu, Tiat Touw-ut, selagi semua San Kie Siwie berkumpul diistana Yang Keng Kion mari kita pergi mari kita pergi menemui para rekan itu, supaya keduabelah pihak dapat saling berkenalan !”

Kata-kata itu beralasan terpaksa Mo Lek mengambil selamat berpisah dari Ci Siang dan Oet-tie Pak.

Tapi panglima she Oet-tie itu berkata “Oe bun Ciang kun saudara Tiat ini menjadi sahabat-karibku aku minta kau sukalah memperlakukannya baik-baik.”

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 23"

Post a Comment

close