Kisah Bangsa Petualang Jilid 19

Mode Malam
 
Jilid 19

Goan Siu seperti dapat menerka kecurigaan orang ia tertawa dan kata : „Guruku tinggal beriama-sama aku Sekarang ini dirumahku kebetulan ada orang yang lagi mendapat sakit, karena mana guruku menyuruh aku pergi ke kota mengundang tabib . . .

Keterangan itu menambah kecurigaan si tetamu.

,,Kalau begitu, saudara Tian, tidakkah karena urusanku kau menjadi terlambat mengundang tabib ‘ katanya.

„Guruku sudah lama tinggal di dalam gunung, dia tidak tahu urusan diluar, ‘ Goan Siu menerangkan pula. „Coba pikir disaat kacau seperti ini, mana didalam kota dimana ada tabib? Saudara Tiat, aku minta kau tak menjadi kecil hati. Mari masuk aku juga kebetulan hendak bicara denganmu.”

„Aku sudah datang, baik aku turut pada nya, ‘ pikir Mo Lek.

,,Coba aku lihat dia mau memberikan pertunjukan macam apa…’

Goan Siu memimpin tetamunya masuk, liba didalam, ia lantas mengundang duduk. Mo Lek lantas minta ketemu dengan gurunya tuan rumah itu.

,Untuk menemui,guruku, sebentar pan boleh,” berkata Goan Siu. „Tentang sakit kudamu, aku taggung guruku dapat mengobatinya. Saudara aku mempunyai satu urusan buat mana aku hendak memohon bantuanmu.

„Saling membantu itu yalah soal yang layak,” kata Mo Lek.

„Saudara Tian silah-kan kau menerangkan urusan itu, sebisa- bisanya akan aku bantu kau.

Goan Siu mengangguk.

„Barusan budakku bicara dari hal orang sakit,” kata. ia. ,,Itu benar Tapi disini kuda terselip salah faham. Memanglah niatku mengundang tabib, saudara Tiat Duduknya hal yaitu, aku mau minta saudara mengobati penyakitnya adik seperguruanku.”

Mo Lek tercengang. Dengan ,.adik seperguruan” itu, Goan Siu menyebut „sumoay’ yalah adik seperguruan wanita. la mau menyangka su heng atau su-tee, kakak atau adik seperguan pria

„Bagaimana saudara?’ katanya. „Aku tidak kenal ilmu tabib .

. .”

„Penyakit lainnya mungkin saudara tak dapat, tetapi sakitnya saudara seperguruanku ini mesti dapat,” kata. Goan siu. .Kalau tidak, tak nanti aku mengundang saudara. ‘

Dalam herannya, Mo Lek menduga bahwa si sakit itu kena terlukakan musuh. Maka ia kata didalam hati : „Kalau ia ter luka aku ada membekal obatnya …”„Saudara Tiat,” berkata Goan Siu pula „untuk dapat memastikan kau dapat mengobati atau tidak, baiklah kau tengok dulu adik seperguruanku itu ”

Mo Lek berpikir sejenak. „Baiklah !” ia menjawab , Hanya kalau itu luka didalam benar benar aku tidak sanggup menolong.”

Goan Siu berjalan didepan, untuk me-mimpia tetamunya. Mo Lek mengikuti, hingga ia ja’an dilorong yang banyak tikungannya. Tak lama tibalah mereka didepan kamar. Goan Siu menolak daun pintu dengan perlahan.

„Saudara Tiat, silahkan kau masuk perlahan lahan,” kata dia.

Mo Lek melongok dulu dari daun pintu yang baru dibuka “separuh, begitu ia melihat, ia menjadi kaget saking herannya. Ia melihat seorang nona rebah diatas pembaringan yang berukiran, nona itu madap keluar hingga terlihat mukanya. Dia memejamkan mata, dia nampak benar lagi sakit. Nona itu yalah

. . . Ong Yan Ie adanya !”

Dalam kagetnya, pemuda ini lantas memutar tubuhnya, niatnya mengangkat kaki, tapi segeraia merasa pundaknya ditekan orang serta telinganya lantas mendengar suaranya Goan Siu : „Saudara Tiat, tak dapat kau pergi !”

Mo Lek berkelit dengan tipu silat me-rengkatkan tubuh, yaitu

,,Pa Ong Gie Kah” atau „Couw Pa Ong meloloskan jubah perang,” lantas dia kata keras : „Cau memancing aku kemari, mau apakah kau ?”

Tian Goan Siu lompat mengejar Ia kenal baik rumah itu, dapat ia mendahului tiba dipintu tengah dimana ia berdiri menghadang.

„Benar, aku memancing kau datang kemari !” katanya terus terang. „Tetapi, saudara Tiat, tidak ada maksud jahat dari aku, dengan setulusnya mengundang kau untuk Mengobati adik seperguruanku itu !”

Mo Lek menyampok dengan sebelah tangannya. „Kau ngaco,” bentaknya. „Teranglah kau kawannya Ong Pek Thong ! Terang kau hendak mencelakai aku ! Hm ! Walaupun aku telah terperangkap, untuk kau mem bekuk aku, tak mudah.! ‘

Tian Goin Siu menangkis dengan tipu-silat ,,Sian Ciang* atau Tangau Lunak,” begitu seterusnya sampai tiga kali ketika Mo Lek menyerang dia saling susul kemudian dia lompat mundur sambil berkata : ..Saudara, bukankah kau telah melihat adik seperguruanku itu ? Apakah kau tidak melihat bahwa dia benar- benar lagi sakit ? Kenapa kau tidak percaya aku ?”

Sementara ‘itu, sebagai kemudahannya bentrokan beberapa jurus itu, Mo Lek ingat sesuatu.

,,Tunggu dulu ! ‘ kata ia. „Bukankah kau si orang bertopeng yang kemarin ini didalam lembah Liong Bin Kok sudah menolongi meloloskan sibangsat tua she Ong?”

Mo Lek ingat baik sekali ilmu silat lihay dari si orang bertopeng itu.

„Bagus !” berkata Tian Goan Siu. , Karena kau telah mengenali aku, sekarang kau harus percaya aku ! Aku bukan kawan mereka !”

,,Kau aneh ! ‘ kata Mo Lek. ,,Kau bicara putarbalik! Itu hari kau berlaku mati-matian menolongi Ong Pek Thong, kenapa sekarang menyangkal menjadi kawannya ? ”

,,Baiklah aku omong terus terang!” kata Goan Siu. ,.Nona Ong itu menjadi adik seperguruanku. Aku tidak suka dia  campur legala berandil, maka itu aku tarik dia dari samping ayahnya. Bahwa aku menolongi iyah dari adik seperguruanku itu, melulu umtuk diaaya, sama sekali bukan karena aku setuju sepak terjangnya Ong Pek Thong ! Bukankah hari itu kau telah melihat caranya aku menolongi mereka? Memang ! Hari itu aku membela mati matian mereka ayah dan anak, akan tetapi untuk itu, tak pernah aku membunuh atau ‘melukai orang pihakmu ! Jikalau aku kawannya Ong Pek Thong apakah kau sangka Sio Thian Hiong dapat hidup terus? Sekalipun Nona Han kamu sedikitnya dia bakal terluka

Mo Lek dapat membayangi pertempuran hari itu. Memang itu hari Goan Siu cuma bertindak menolongi orang. Ia pun melihat liehaynya orang she Tian ini. Karena ini, ia tidak membenci seperti semula.

„Baik, aku suka percaya kau.” ia menyahut. „Aku percaya kau bukan kawannya Ong Pek Thong. Sekarang aku tanya kau, bukankah Ong Pek Thong si bangsat tua itu berada disini ?”

„Tidak !” Goan Siu menjawab. „Ong Pek Thong terlalu dipengaruhi harta besar dan kedudukan tinggi, untuk itu dia sampai meminjam tenaga bangsa asing, dia ingin menjadi jago dan raja, tak dapat aku mem-bujuki dia, karena itu, aku membiarkan dia pergi. Disini aku cuma menahan anak perempuannya, yang sekarang lagi beristirahat.”

Mo Lek berpikir lekas. „Taruhkata Tian Goan Siu ini bukannya musuh, dia toh bangsa tolol! ‘ Dikirnya. „Dia bertindak sangat sembrono. Kalau dia tidak dapat membujuk Ong Pek Thong. kenapa dia tidak membunuhnya saja?”

Pemuda ini berpikir sepihak’ Tak ia mau ingat Yan Ie menjadi su-moay orang karena mana sudah tentu Goan Siu sebagni suheng, kakak seperguruan tidak dapat membinasakan ayah su moay itu. Ia menghendaki orang polos sebagai ia sendiri yang hanya mengutamakan kejujuran.

Goan Siu melihat orang ragu ragu ia mendesak: „Terang padamu Kau telah melihat kematian lagi mendatangi, apakah benar beaar kau tidak mau menolong mencegahnya?* Mo Lek pun mendongkol ..Kenapa kau mendesak begini rupa padaku? taaya ia. ..Bukankah aku telah bilang bahwa aku tidak mengarti ilinu tabib?”

Goan Siu tertawa dingin.

„Bakankah aku pun telah membilang?” katanya. Penyakitnya lain orang tak dapat kan obati tetapi penyakitnya sumoy ini  kau pasti sanggup! Cukup asal kau menyebut sepatah kata , Aku datang menjengukmu! lantas sakitnya akan sembuh separuhnya

Luar biasa aada suara orang she Tian ini. Disitu ada nada jelus atau irihati.. ..

Muka Mo Lek menjadi merah. Didepan-nya berbareng terbayang wajahnya Yan le dan Cie Hua Biar bagaimana ia merasa berkasihan terhadap nona she Ong itu. Orang selalu baik padanya dan suka menolong ia meskipun pertolongan itu berarti menentang Ong Pek-Thong ayahnya. Nyatalah Yan Ie menyintanya luar biaia. Disapa tapiaya ada Cie Hua memberi pelana?*

,,Apakah kau tidak tabu sumoymu itu musuhku?” tiba tiba ia kata keras. ,,Jangan kata aku tidak mengarti ilmu ketabiban. Turut kata aku mengerti mana dapat aku mengobati dia?”

,,Memang aku tahu dia pernah membutuh ayah aagkatmu, kata Goan Siu, akan tetapi bukaakah dia pun pernah menolongi jiwamu?’*

, Selama di Liong Bin Kok aku telah membinasakan dia, bukaakah dengan begita aku telah balas badinya itu?”

Goan Siu tertawa dingia. „Dapatkah jiwa orang dipaadaag sebagai hutaag?” kata dia. Dapatkah jiwa dibayar hiaopas sebagai orang membayar uaag?”

Hati Mo Lek berdebar.

, Biar bagaimana juga tak dapat aku tidak berlalu dari sini! katanya kemudian, serahkan kudaku!’

„Bicara terus terang! kata Goaa Siu jaga keras. ,,kudamu memang akulah yaag bikia sakit! Jikalau kau tidak sembuhkaa sumoay-ku, kudamu juga tidak bakal sembuh!”

Memang Mo Lek sangat menyayangi kuda itu yang tak tega ia meninggalkannya, akan tetapi dilain pihak ia takut pada Yan Ie, takut menemuinya Ia menjadi tidak senang.

“Kalau begitu kau lah sitelur busuk! katanya sengit, Kalau lain kali aku bertemu pula denganmu, akan aku membuat perhitungan! Han ini. meski aku mesti mengorbankan kudaka, tak dapat aku melayani kau lebih lama pula!”

Goan Siu juga menjadi gusar.

“Bagus benar ya! katanya, sama keratnya. “Aku bermaksud baik oaeagnidm? ka , keaapa kau menkaki aku? Aku bilang teruc terang padamu jikalau bukan aku memandang sumoayku, tidak tanti aku berlaku aungkan begini terhadapmu. “Kau tidak mau menolong orang meskipun sekarang kau mau pergi tidak dapat!”

“Meski kau tidak mengijinkan aku mau pergi juga! “kata Mo Lek.

“Benar-benarkah kau mau pergi tanya Goan Siu tertawa dingin. “Nah kau cobalah. Kata kata itu ditutup dengan tatu srm-beran tangan keras luar biasa Syukur Mo Lek telab bersiap sedi*’ “Bagus!** seru pemuda ini. Ia berkelit dengan berjingkrak, guna rerut mengapungi diri selagi turun ia pun menyerang dengan Chan LioTsg Ciu. atau tipu “Membunuh Naga. Kedua tangannya menghajar berbareng ke batane leher tcan rumah yang muda itu Hebat serangan Goan Siu hebat juga serangan pemuda ini. Goan Siu benar liehay Ia cepat berkelit, sambil berkelit itu tangan nya diulur ke sikut penyerang untuk menangkap. Itulah tipusilat. “Mengulur tangan menuntun kambing.

Mo Lek menyerang hebat sekali tubuh aya sampai terjerunuk maju meski begitu ia masih tempat berkelit cuma saking sebatnya lawan bajunya kena juga kesamber hingga robek. Dengan gesit ia lompat melesat lompat seraya memutar tubuh. Kaiena itu begiitu berbalik begitu ia biia menyerang pula. Ia menghajar kepala dengan gerakan mirip garuda lapar menerkam kelinci.

Goaa Siu terperanjat juga. Benar-benar hebat pemuda lawannya ini. Untuk membela diri. terpaksa in menangkis,

Segera juga terdengar suara bernada keras. Empat tangan bentrok satu dengan lain.

Mo Lek menyerang dar/ atas telinganya dibantu becgan bera: tabuhnya rraka itu, ia menang unggu’ sedikit. Meskipun Tian Goan Sin menggunni pukulan. “Tangan Lunak, ia tob terhuyung mundur tiga tin” dak. Mo Lek terjerunuk juta I ulah habis bentrokan, ia ~haeraiai membentur souatu yang lunak hingga sulit anteknya menahan tubuhnya.

Syukur “Bian Ciang” dari Goan Siu be lum mencapai pnncak kemahirannya, setelah terhujuag itu tak dapat ia segera melakukan peayerangan puJa. Benar Mo Lek terjerunuk tetapi ia pun mundur Maka itu ketika ia maju pula. Mo Lek juga sudah siap sedia lagi. Tapi sekarang ia menyerang secara hebat Ia nyata bisa ber-gerak dengan sangat sebat dan ringan, tubuh nya bergerak gesit, kesegala penjuru, dan serangannya pun beraneka rupa. Inilah sebab mereka menggunai „Bin Ciang. dicampur dengan Kim Na Ciu” yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus! Ia seperti juga bergerak ge rak di delapan penjuru.

Diantara kedua lawan ini ada perbedaannya Mo Lek mengutamakan ilmu silat pedang. Didalam hal tangan kosong, ia melain kan lumayan saja. Sekarang ia menghadap lawan dengan tangan kosong, dengan ilmu silat yang lihay. ia menjadi repot juga. Syukur dari Ci Hun ia pernah mendapat pelajaran ilmu totok, maka untnk menutup kekurangannya itu, ia menggunakan totokan Nona Han setiap datang bahaya ia menyambut dengan totokannya, ke jalan darah. Goan Siu, melihat itu ia tidak berani terlalu merdesak Lain perbedaan lagi, Mo Lek seperti sudah nekad dan Goan Siu maaih ragu ragu.

Demikian kesudahannya, mereka menjadi berimbang.

Tengah dua orang itu bertempur seru, seorang terlihat muncul dari pintu belakang, Dia mengawasi sektaa lama lantas terdengar suaranya. „Anak muda iti sangat bandel dia mirip dengan kudanya Siauwnya. kuda itu, sudah sembuh anteronya, sekarang dia lagi mengadat. dia meronta-ronta mau menerobos ke luar. karena mana aku menutup pintu kandang dengan menghajar dengan batu besar. Siauwnya. kau mau atau tidak aku minta minta …”

Mo Lek bara tahu munculnya orang sete lah ia mendengar suara itu. ia menggunakan kesempatan untuk melirik. Untuk- herannya. ia mengenali situkang perahu yang kemarin. Ia lantas mengerti duduk nya hal. “Kiranya kamu satu komplotan !” Ia mendamprat “Kamu memasang perangkap, kamu memancing aku datang kemari ”

Tian Goan Siu tertawa terbahak.

„Tidak salah ‘ sahutnya. „Baru sekacang kau mengerti busas. Memang dialah yang memberi kabar padaku, maka aku membikia kudamu sakit! kau sudah ketahui duduknya hal. Itulah bagus ! Sekarang kau «centers bagaimana susah payah kami bekerja roe ngundaagmu datang kemari ! Coba pikir karena itu. dapatkah kami membiarkan kau ngeloyor pergi ?”

Mo Lek menjadi panas hati, ia menyerang dengan hebat.

Goan Siu berlaka sabar, dengan tenang, ia pecahkan serangan itu. Ia terus berdiri tegak. Kemudian ia tertawa daa kata kepada kawannya si tukang oerahu,” „Kau lihat bu kaa ? Meskipun bocah ini galak aku rasa aku mempunyai kepand»ian uatuc menahanaya!” Tak usah kau campurtahu ,,Ya, y»” menyahui si tukang perahu. „Aku cuma pikir . . . sebenarnya tak usah Siauwnya, berkuat kuar mengeluarkan banyak tenaga, “Bakaukah lebih baik kita ”

Tapi Goan Siu menyela membentak: „Aku bilang kau jangan campur tahu ! Lekas-mundor!”

Mo Lek dapat menangkap artinya pembicaraan dua orang itu, Situkang perahu ternyata menjadi hambanya tuan rumah ini. Dia. mengusulkan iriata bala bantuan tapi ditolak. Ia terkejut, Lantas ia pikir. , Aku berada didalam bahaya Rumah ini rumah mereka Sulit aku mengalahkan pemuda ini, kalau dia mendapat bala bantuan benar benar aku sukar lolos dari sini . .

. Ah, buat apakah aku berlaku sungkan-sungkan lagi ?”

Karena ia mendapat pikirannya ini, ia lantas mengaabil keputusan Begitulah ketika Tian Goan Siu ruaju, menyerang, ia mem buang diri kebelakang, Cerika inidiguaai ia menghunus pedangnya, Setelah itu ia berseru:

„Jikalau kau tetap tidak sudi membuka jalan maka pedangku ini tidak akan kenal orang!”

Goan Siu tertawa.

„Apakah kau hendak mengadu senjata?, katanya. , Baiklah sebagai tuan rumah aku mengiringi kehendak tetamu, pasti akan aku melayani kau tuan biar bagaiman hendak aku menahanmu

Disitu ada pepohonan dengan berlompat Tian Goan Siu menyambar sebatang cabang, untuk dipatahkan maka dilain saat, dengan cabang itu sebagai gegamannya ia sudah maju pula untuk menikam.

Mo Lek kaget Ia heran orang menggukan cabasg kayu, Ia pun gusar. Dengan begitu, berarti ia dipeihina, Maka. ia membabat kearah cabang kayu iiu. Ia berkata didalam hati, , Kau berani memandang tak mata padaku nanti aku beri rasa !”

Cabang pohon Goan Siu, bergerak bagaikan ular gesit melihat atau melolos dari setiap tab&s&n pedang aabaii sabaa ujungnya mengancam kedua taa’anya Mo Lek Maks-anak muda ini meijadi terkejut. Uutuk membela diri saban saban ia mendapat bantuan juga dari kebutan tangan bajunya.

Sekarang Mo Lek tidak lagi memandang ringan kepada musuh Berbareng dengan itu, hatinya menjadi tabah Ia berlaku tenang te tapi waspada dan gesit. Selain menyerang ia jusa berhasil menghalau serangan musuh. Maka juga Goan Siu yang sekarang terperanjat Ia mendapat kenyataan si anak muda benar benar Hhay. Cobalah ia menggunakan pedang tulen, belum .tentu ia kena terdesak. Sesudah lewat tiga puluh jurus Mo Lek menyerang dengan pedangnya mirip gelombangnya sungai Tiaag K.aag. Dengan begitu, ia membikin lawannya, mesti saban – saban berkelit dengan berlompatan, hingga dia menj jadi repot sekali.

Pertempuran itu berjalan terus atan tiba-tiba keduanya mendengar ini suara da jam dari seorang tua : „Adakah ini bocah ysng anak Yaa sampai menyebut-nyebut da lam mimpinya?” Menyusul itu terlihatlah orangnya, yang baru muncul dari balik pin tu tamaa. Dialah seorang perempuan tua de agan rambut ubanan seluruhnya. Tengah dia bertindak masuk maka terdengarlah satu suara dari putusnya cabang kayu yaag terpapas pedang

Itulah terkutungnya pedang cabang dan Goan Siu menyusul mana dia lompat meninggalkan kalangan, guna lantas berdiri di sisi nyonya tua sambil ia berkata : „Ibu, dia benarlah si bocah !”

Nyonya itu mengasi dengar suaranya yang keren : „Berhenti

!”

Mo Lek hendak kabur maka juga ia di serukan bentakm iiu.

Ia lantas kata: „Maaf, aku per’u lekas-lekas melakukan perjalananku !”

Tapi si nyonya tua bergerak laksana kilat.

„Kau rebahlah baik-baik !” bentaknya pula.

Mo Lek melihat orang bertangan kosong ia lantas trenikam. Ia menggunai tenaga hanya tiga bagian, maksudnya cuma mengancam tenggorokan si nyonya.

Tapi nyonya itu liehay. Dia tertawa di agin dan membentak :

„Kau berani meman dang enteng padaku ?” lantas tangan bajunya yang panjang, menyampok. Mo Lek kaget sekali. Ia merasa sampok an angin hebat. Mendadak terasa pedangnya terlibat daa tertarik, terus terlepas dari cekalannya, melesat ke batu dan nancap dengan memuncratkan lelatu api ! Dalam kaget, serta heran, tapi ia tak melupakan di rinya. Maka ingin ia menyingkir, begitulah segera ia menjajak tanah, untuk berlompat jauh. -

Pemuda ini mempunyai tubuh ringan dan gerakmnya sangat gesit akan tetapi menghadapi si nyonya tua, ia tidak berdaya baru tubuhnya terapung naik atau kakinya sudah terlibat ujung baju nyonya itu hingga la kena diangkat berbareng dengan itu, ia mendengar si nyona kata : „Jikalau aku tidak mengingat bahwa kau masih menaruh hormat kepada orang yang sudah berusia lanjut pasti akan aku beri rasa kepahitan padamu !

Kata kata itu disusul dengan satu gen-takan keras atas mana tubuh Mo Lek kena dibikin terpental keatas, lalu jumpalitan tiga kali. Selama itu Mo Lek merasai kepala nya pusing hingga ia seperti tak sadarkan diri, ketika tubuhnya turun, akan jatuh ke tanah, Goan Siu berlompat kepadanya, untuk menanggapi, hitgga ia lantas kena di pegang, ditawan. Ia pun lantas ditotok, di bikin tak berdaya lagi.

Nyonya tua itu tertawa dingin, ia mengawaki kepada orang tawanannya iiu, kemudian ia kata : „Dia ganteng, ilmu silat nya pun baik sekali tidak heran anak Yan jatuh hati kepadanya ! Anak Goan, bukankah kau rela kalah dari padanya?”

„Memang ilmu pedangnya melebihkan ilmu pedangku,’ sahut Goan Siu.

Orang tua itu menentang lebar ke dua matanya.

„Kau benar benar tidak mengarti atau berpura-pura ?” tanyanya. „Aku bukan bicara dari hal ilmu silat !”

Goan Siu tunduk. „Adik Yan menyukai dia, taruh kata aku tidak rela kalah, aku toh tidak berdaya … ” sahutnya perlahan.

Hm !” orang tua itu mengasi dengar ejeknya. „Aku sendiri pun dahulu tidak menyintai ayahmu, diakhirnya aku toh telah menikah dengannya …” Ia berheati sejenak, kemudian ia tanya pula : „Kabarnya ayah angkatnya bocah ini telah dibunuh anak Yan, kau tahu atau tidak ?”

„Itulah justeru sebnbnya kenapa bocah ini menganggap adik Yan sebagai musuh besarnya yang dia sangat benci, hingga dia tak sudi mengobatinya !”

Nyonya itu tertawa dingin, ‘kenapakah dikolong langit ini ada kamu dua orang bocah tolol’ katanya. Yang satu tergila-gila kepada musuhnya ! Yang lain justeru mengundang datang musuhnya nya itu untuk mengobati orang yang dia cintai ! Aku beri ingat kepada kau supaya kau jangan berlaku tolol begini macam ! Paling benar kau bikin habis jiwanya bocah ini supaya kau dapat membikin putus harapannya orang yang kau cintai itu ! Bukankah itu paliag beres?” berkata begitu, ia mengangkat tangannya perlahan-lahan, terus ia tambahkan : „Bocah she Tiat, kau terimalah nasibmu !” segera ia mengasi turun tangannya itu, guna menepuk embun-embunan orang.

Goan Siu menjadi sangat kaget, dengan cepat ia menahan lengan ibunya.

„Jangan !” katanya, suaranya mengetar. Nyonya itu mengawasi pula tajam.

„Kecuali ini, kau ada punya jalan apakah lagi ?” tanyanya, tawar.

Aku tak tahu,” sahutnya duka. ,,biar bagaimana telah dapat, tidak dapat aku membuat hati adik Yaa terluka Nyonya itu kara dengan lagu suaranya tak senang : „Kalau seorang laki-laki bertindak, dia tak usah takut ini dan takut itu ! kau seperti juga bukan puteranya Tian Liong Hui ! dimasa hidupnya, ayahmu membunuh orang seperti dia membabat rumput, bukan seperti kau sekarang dengan cara seperti nenek-nenek mi !”

Mo Lek ditotok dan tidak berdaya, akan tetapi ia sadar, ia mendapat dengar pembicaraan diantara itu ibu dan aaak, maka ta hulah ia sekarang bahwa nyonya tua yang kosen ini isterinya Tian Liong Hui si han tu besar.

Tian Liong Hui itu sudah lama menutup mata.. Dia telah dikepung oleh pelbagai jago kaum lurus, karena luka-lukanya yang parah, tak dapat dia hidup lebih lama pula dimasa peristiwa itu. Mo Lek masih di dalam asuhan, akan tetapi mendiang ayahnya yaitu Tiat Kun Lun, dan Mo Keng Lojin, gurunya, menjadi dua di antara para pe-ngepung itu, karena itu ia tahu bahwa juga isteri si hantu besar ini adalah hantu waniita yang kejam. Hanya, setelah Liong Hui mati, nyonya ini hidup di dalam tempat persembunyian, buat banyak tahun kaum Kang Ouw tak pernah melihat atau mendengarnya, hingga orang menyangka dia sudah menutup mata. Siapa tahu, dia justeru mengeram diri di tempat ini !

Mengetahui siapa nyonya ini. Mo Lek berkuatir biakan main, kata ia di dalam hati : „Aku telah terjatuh dalam tangannya iblis’wanita ini, pastilah aku leb h banyak terancam bahaya mint dari pada keselamatan …

Justeru Mo Lek berpikir begitu, justeru ia dengar si nyonya kata keras pada putera nya : „Pergi kau jauh jauh ! Hendak aku berundak buat membereskan urusan kau ini! Ah, kau masih hendak mencegah afcu ! kau mengarti atau tidak, aku membunuh bocah ini untuk kebaikanmu T’

Nyonya itu menolak tubuh anaknya, kembali ia mengangkat tangannya. Tepat disaat sangat mengancam itu, mendadak terdengar satu suara yang tajam tetapi halus: “Suhu, kau bunuh sekalian saja padaku……”

Itulah suaranya Ong Yan Ie, yang berlari-lari menghampirkan, mukanya sangat pucat kaiena ketakutan dan larinya limbung. Diwaktu sakit dia nampak kucai sekali, siapa yang melihat, pa>ti akan merasa berkasihan terhadapnya.

“Ah, anak Yan,’.’ berkata nyonya tua itu: “Benarkah kau begini mencintai bocah ini ? Benarkah hendak, memintakan ke- ampunannya dari aku?”

“Aku tidak berani memohonkan dia ke ampunan dari suhu,” sahut murid itu, ”aku hanya mau minta sekalian saja suhu membunuh aku.*….. *-

Teranglah sinyonya sangat menyayangi muridnya itu. Ia sudah lantas mengasi turun pulatangannya. Sermbari berbuat begitu,ia berpikir, lalu ia berkata: Baik, akan a-ku luluskan permintaanmu ! Ta°i tnnsgu sebentar, hendak aku tanya dulu bocah ini.”

“Tian Toa-nio menarik Mo Lek, untuk menotok membebaskannya, setelah mana dengan bengis ia berkata: ‘ Anak Yan berjodoh denganmu, buat guna kau, dia tidak menyayangi lagi jiwanya sendiri; dia telah memintakan keampunan jiwanya sendiri! K.au mau atau tidak menikah dengannya ? Jikalau kau suka, ini hari juga akan aku menikahkan kamu ! Bilang, bilanglah, bagaimana kepntusanmu

! Bilang:”

Mo Lek menjadi terbenam dalam kesulitan, pikirannya menjadi kacau. Bagaimana ia harus menjawab? Ia bukannya takut mati, tetapi aneh, asal ia melihat sinar mata Yan Ie, tubuhnya menggigil sendirinya goncang keras. Dapatkah ia menganggap nona demikian cantik dan manis, yang sangat mercintai ia, sehingga musuhnya? Dapatkah dia mear.biarkan sinema-mn 1 ma ti meroyan karena iany«? Ia mengarti baik sekali, asal ia menampik, nona itu bakal jadi bunga yang layu dan rontok di-antara hujan dan badai…..

Dibalik itu, selama beberapa tahun, pe muda ini tidak pernah melupakan sakit hati ayah angkatnya. Ia telah berkeputusan untuk membalaskan sakithati dan ia akan membunuh musuh dengan tangannya sendiri. Musuhnya itu yalah keluarga Ong, ayah dan anak. Sejak pertemuannya dengan Yan le karena cintanya -sinona, Mo Lek telah mengalihkan £ekencu nnya kepada Ong Pek Thong seorang, akan tetapi mesti demikian, si nona sendiri tak dapat ia melupakan seluruhnya.

Mungkin ia dapat tak usah membunuh nona itu, tetapi, buat mengubah permusuhan menjadi persahabatan, bahkan menjadi ikatan suami isteri, sungguh itu tak cerpikirkannya. Toh sekarang timbui soal itu ! Biarnya ia berhati besi, hatinya goncang juga……

Tengah ia menghadapi kesukaran itu, yang membuatnya bingung, tiba-tiba dide-pan matanya Mo Lek muncul bayangannya seorang nona lain, yalah Nona Han Ciu

Hun ! Lantas ia ingat pesannya Nona Han disaat mereka mau berpisah ! Iapun dapat membayangi bagaimana sinar mata Nona Han pada waktu itu ! Dapatkah ia berlaku tak berbudi terhadap tunangannya itu? Tidak ! Inilah hebat dan ruwet sekali……

Tapi puteranya almarhum Tiat Hun Lun ini mesti mengambil keputusan. Siwanita hantu telah menanyai ! Maka ia menguatkan hatti. Ia menyingkir dari tatapan sinona sembari menggeleng kepala, ia berkata : “Noia Ong, aku bersyukur untuk tuk segala kebaikan hatimu, tembali aku berhutang budi kepadamu. Tapi di sana aku telah mempunyai seorang lain. Dia sama seperti kau seorang nona yang ma-nis dan harus dikasihani dan aicu tidak capat menyia-nyiakan. Nona baik kau lu pakan saja padaku……

Yan Ie mendengari dengan membungkam. Dia bagaikan orang hilang ingatannya cuma parasnya sangat pucat’ Ia bersenyum waktu dia mendengar kata-kata si-pemuda bahwa ialah seorang nona yang ma nis. Kata-kata itu toh keluar dari mulutnya sipemuda yang ia cintai. Mukanya menjadi pias sekali akan mengetahui pemuda ini tidak dapat meluoakan Cie Hun. Ia tahu, Cie Hun yalah sinona lain yang dimaksudkan pemuda ini.

“Anak Yan. kau dengar atau tidak?’” kata Tian Toa-nio begitu ia mendengar suaranya Mo Lek. Ia tidak menantf lagi muridnya bicara terlebih dahulu, untuk menjawab sianak muda. “Kau mendengar tegag sekali, bukan? Kau ingin menikah dengannya, dia sebaliknya tak sudi nikah kau! Dia telah mempunyai  seorang jantunghati lain!

Goan ciu tidak setujui sikap keras ibunya itu. “Mama……mama……kau……kau…….”katanya terputus-putus.

Sedang sebenarnya ia ingin minta ibunya jangan mengucapkan kata-kata tajam itu. Hanya tidak dapat ia mengajukan permintaannya itu.

Hampir berbareng dengan kata-kata orang she Tian ini, belum lagi ibunya memberikan jawabannya diantara mereka telah, terdengar jeritan tajam tetapi halus, menyusul maga tubuhnya Yan Ie roboh sendirinya.

Goan Siu kaget bukan kepalang. Ia lompat untuk mengasi bangun nona itu.

Tian Toa-nio mengawasi dengan sikapnya yang dingin. “Dia cuma pingsan,” katanya, tenang. “Kau lelaki dia, sebentar lagi, dia akan men-dusin sendirinya. Kau kemarilah!” “Ibu mau apa?” tanya si anak.

Goan Siu heran tetapi ia turut perintah itu.

“Inilah bukan pedang mustika,” kata ia. “Mau apa ibu  dengan senjata ini?”

“Memangnya siapa yang menghendaki pedangnya ini?” kata ibu itu tawar. “Aku hanya ingin dia mampus diujung pedangnya sendiri!…….Anak Goan, kau bunuhlah dia!”

Goan Siu kaget bukan kepalang. Tanpa merasa pedang lepas dari tangannya, hingga pedang itu jatuh berkontrang ditaflah.

“Tidak punya guna!’ kata siibu sengit, “Kecewa kau menjadi putranya Tian Liong Hui’ Benarkah kau tidak punya nyali untuk membunuh orang?’

“Ibu!” kata anak itu. ‘Dapat kau menyuruh aku membunuh lain orang tetapi tidak dia ini…..

“Adik Yan-mu mencintai bocah ini, sebaliknya bocah ini tak sudi menikah dengan adikmu itu,” kata sang ibu, “oleh karena itu, kau harus bertindak guna membikin putus pikirarannya mengenai sibocah. Buat apa kah bocah ini terus hidup didalam dunia ini? Baiklah jikalau kau tidak suka membunuh dia, aku yang membunuhnya!”

Begitu keluar kata “bunuh” itu, begitu Tian Tao-nio bertindak mendekati Mo Lek. Untuk ketiga kalinya, dia mengangkat pula tangannya, mengarah batok kepalanya si-anak muda.

“Jangan! Jangan bunnh dia! mendadak Goan Siu berteriak. Diapun segera menghalang didepan Mo Lek, dengan kedua tangannya, pegangi lengan ibunya. Nyonya Tian menggeraki tangannya, maka anaknya itu terpelanting hingga roboh terguling» Lantas ia menunda tangannya sembari ia menanya: “Kenapa dia tak dapat dibunuh?”

“ibu tak dapatkah ibu memikir sesuatu untuk anakmu ?” tanyanya.

Tian Toa-nio menjadi heran.

“Aku mau membinasakan bocah ini Justeru untuk kebaikanmu!” katanya. Kau ingin anak Yan menjadi istrimu, bukan?” “Benar,” sahut Goan Siu. “Itulah keinginanku.”

“Nah, kalau begitu, buat apa bocah ini dikasi tinggal hidup lebih lama lagi? Bukankah kalau dia dibunuh itu berarti seperti membabat rumput sekalian mencabut akarnya ?”

“Tapi ibu lihatlah adik Yan. Dia sekarang telah menjadi begini bersusah-hati, kalau bocah ini dibinasakan, tidakkah keadaannya bakal menjadi bertambah buruk ? Bagaimana apabila itu sampai terjadi?”

“Toh ini tidak menyintai atau menga-sihaninya, ia” kata nyonya itu. “Kalau dia kubunuh, ia mungkin bersusah-hati, akan te tapi selewatnya itu, ia tentu akan mengatakan bahwa tindakan kita ini tepat!”

“Ibu. itu toh bukannya tidak tahu hati nya adik Yan?” Goan Siu berkata pula. “talau dapat, biarlah kita menyuruh dia sendiri yang membinasakannya. Kalau kita yang membunuh orang yang ia cintai itu,Spakah nanti segama hidupaya ini, ia akan pedulikan lagi kepada kita?”

“Habis, bagaimana pikiranmu ?” siibu tanya. “Apakah dia harus dimerdekakan?” “Jikalau kita merdekakan dia ini pun sulit,” kata Goan Siu, ‘ Bagaimana kalau adik Yan ingin melihat dia tetapi dia tidak ada? Ada kemungkinan adik Yan nanti men curigai kita dan telah membunuhnya.’

‘Jikalau begitu, baiklah, buat sementara kita kurung dulu padanya!” kata Tian Toa-nio. “Kita tunggu sampai anak Yan suka berjanji akan menikah denganmu, baru kita lepas padanya!”

Mukanya sianak menjadi – merah. Dia likat.

“Ibu janganlah bertindak sedemikian rupa!” katanya. “Ibu bakal membuat sulit padaku.”

Tian Toa-nio cuma tertawa dingin.

Segera ia menotok pada Mo Lek. Ia mengarah jalan darah hun-hiat, karena mana, anak muda itu menjadi tak sadarkan diri.

“Anak tolol!” katanya kemudim: “Apakah kau sangka ibumu benar-benar mau me lepaskannya? Sekarang ini aku cuma memikir supaya anak Yan menikah denganmu. Asal anak Yan bersedia menjadi istrimu, tahu aku caranya untuk menghukum dia!”

Tubuh Goan Siu bergidik sendirinya.

“Ibu hendak menghukum bagaimana kepadanya ?” Ia tanya.

“Didepannya anak Yan, akan aku merdekakan dia,” sahut ibu itu. “Diam-diam akan aku menaruhkan racun Pay Hiat San dalam barang makanannya, yaitu racun yang dapan merusak darahnya. Dengan kena makan racun itu, dia bakal mendapat sakit yang berat, belum lagi dia tiba di kota Tiang-an, dia bakal mati ditengah jalan.” Kembali hati Goan Siu menggigil. Memang ia bercemburu dan bahkan membenci Mu Lek, akan tetapi disebelah itu, ia miliki keangkuhannya.

Tidak ada keinginan untuk nikah Yan-Ie dengan cara paksa Apa yang ia kehendaki ialah cinta si nona, hatinya sinona itu, bakan melainkan tubuh orang. Tak dapat ia menyetujui sikap telengas dari ibunya itu. Tian Toa-nio sebaliknya salah menerka hati araknya dia tak dapat menyelami kalbu, sianak . . .

Lantas Nyonya Tian mengulapkan tangannya.

„Nah. berilah keputusan kita” katanya. „Biarlah bocah ini hidup pula lagi beberapa hari”

Goan Siu bersangsi sekian lama Akhirnya dapat juga membuka mulutnya.

„Ibu.” kataaya ..aku hendak berbicara,” „Apa yang kau hendak katakan, tanya siibu „Bukankah kau cuma memikir untuk nikah anak Yan ? Apakah kau benar benar tak tega membinasakaa bocah ini ?

“Aku justeru ingin sekali membinasakan dia dengan tanganku sendiri!” kata si anak. “.Aku ingin melampiaskan penasaranku Ibu kau serahkan racun Pay Hiat San itu padaku. nanti tiba harinya bakal dimerdekakan akan aku pakai itu. Hendak aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana dia menelan racun itu P

Tian Toa-nio tertawa lebar. , Dengan begiiu, barulah tidak kecewa kau menjadi anakku” katanya girang luar biasa .Baiklah kau boleh ambil racun itu ! Sekarang bocah ini kau kurung dulu. dalam kamar didalam tanah, aku sendiri hendak aku menolongi anak Yan Lihat dia sangat penasaran dia menderita masih dia belum mendusin , . . ” Goan Siu lantas memondong tubuh Mo- Lek. Baru dia jalan beberapa tindak ia sudah menoleh,

“Mama” pesannya kalau sebentar adik Yaa mendusin, jangan kau omong dulu tentang rencana kita ini. biar aku yang nanti bicara sendiri padanya. ‘

Sang ibu tertawa.

,Anak Yan cerdas sekali kalau dia mendapat tahu aku mengurung bocah ini mustahil dia tak mengerti apa maksudku

? ‘ katanya „Sekalipun kau, tak usah sampai kau bicara dengannya, jikalau kau bicara terlalu jelas itu mungkin kurang baik untuk kita semua. , . .

Berat batinya Goan Siu mendengar kata ibuaya itu. pikirnya.

„Pantaslah kalau kaum Kang Ouw mendengar nama ayah dan ibuku tidak ada yaag tidak mencacinya! Tak tahu aku apa yang ayah dan ibu lakukan dahulu hari akan tetapi melihat dari perbuatan dan sikapnya ibu hari ini, sungguh iiu tak dapat dipikirkan – .

Disaat Goan Siu berusia dewasa, atas perintah ibunya ia pergi merantau untuk men rantau untuk mencari pengalaman. Ketika itu. ia menggunakan nama palsu. Ia mempunyai rasa ingin tahu. maka juga setiap ada-ketikaaya ia suka mencari keterangan perihal sepak terjang ayahnya. Apa yang ia peroleh membuatnya malu sendirinya, Ia hanya mendengar celaan atau cacian. Tentu sekali tidak berani ia menyampaikan semua cacian itu kepada ibunya. Sebaliknya siibu yang sudah banyak pengalamanaya, telah lantas merasa, habis merantau itu, kelakuan puteranya itu bada dari pada biasanya cuma ia belum tahu apa yang menyebabkan itu ia melainkan menduga duga.

Sementara ita, Mo Lek telah sadar. Ia mendapatkan dirinya berada ditambat gelap, gulita hingga ia guna merabah rabah. Diempat penjuru ia memegang tembok yang kuat dan dingin. Dengan lantas ia mendapat taha bahwa ia sudah menjadi orang kurungan. Bukan main masgul dan gusarnya, sambil mengepal ia berkata keras: „Telah kamu tipa aku sampai disini kenapa kamu tidak mau lantas membinasakan saja ?” Hoa! Dikolong, langit ini ada banyak orang jahat tetapi tidak ada yang selicik dan serendah kamu ini!”

Saking sengit Mo Lek menghajar tembok dengan kepalannya. Tidak dapat ia menggempur tembok itu sebaliknya. it merasai sakit sendirinya tubuhnya «umpti mental mundur Itulah habis ditoto* Nyonya Tita ia menjadi kehabisan teiaga. Syukur untuknya. ia lekas disedarka» jikalau lama-lama, akibat totokan itu dapat membikin in terluka dalam.

Seindah mencaci tanpa hasil Mo Lek du duk numprah ditanah. Ia tahu sia sia belaka a mencaci kalang kabutan. ia akan tetap ter kurung disitu. Disebelah hu ada kcmungkin an ia bakal tersiksa kedahagaan dan kelapar an. Ia duduk sambil beraeraedhi. guna me-sgeudalikaa diri. bua* mengumpnl teaaganya Ia memerlukan icaagaaya supayalekas pulih Setahu berapa lama pemuda ini sudah berduduk diam dengan pikiran ditenangkan ntaa tiba tiba teiingaaya mendengar suara, yang datangnya dari atasan kepalanya. Dt-agan laatai ia mengangkat kepalanya buat

dongak melihat.Maka ia nreodepatksn sebuih lobang yang niernberi seditit sinar terang Dari atas itu telah dikasi turun sebuah rantang kecil yan* dalamnya terisi nasi serta laukpauknva Setelah rantang sampai d.tanah lobang itu lantas tertutup pala.

“Orang she Tian!” ia berseru: “Jikalau kau benar seorang laki laki sejati kau bebaskan aku untuk kita bertempur pula sampai salah satu mati terbinasa!” Dari atas itu terdengar jawaban ini. “Aku dengan kau tidak bermusuhan buat apa kita berkelahi mati-matian? Kau baik-lah berdiam dengaa tenang buat beberapa hari lamanya!*

Itulah suaranya Tian Goan Siu.

Mo Lek masih ingin bicara atau ia mesti batalkan itu, sebab ia terus mendengar tindakan kaki yaag berat yang  berlalu pergi. Rupanya orasg sengaja berjalan dengan bersuara guna membikin ia ketahui kepergiannya itu.

Selagi ia sangat mendongkol itu hiduag-nya sianak muda mendengar bau harum dari barang hidangan. Segera juga seleranya terbangun. Maka ia lantas pikir: ,,Akn roboh kedalam akal muslihat busuk dari kamu taruhkata kamu meracuni aku tak usah aku ambil mumat! Sekarang -baiklah aku dahar sepuasnya!”

Maka bersantaplah ia sampai kenyang hingga dilain saat, pulihlah kesegarannya. Sekarang dapat ia menggunai otaknya- ia mercoba berlaku sabar.

‘Orang! she Tian itu menjebak aku kemari dia pasti bukan laki lak sejati demi kian piKiraya walaupun demikiaa dibandingkan dengan ibunya dia maaih terlebih baik. Kenapa dia berlaku baik padaku? bukankah ini disebabkan dia menyintai Yan Ie? Akan tetapi Yan Ie sebaliknya tidak menyintai dia ….

Mengingat ini kebencian Mo Lek kepada Goan Siu menjadi berkurang sendirinya bahkan sebaliknya ada sedikit rasa simpatinya

Biar bagaimana Mo Lek tak tenang hati: Ia mempunyai tugas. Ia mesti pergi ke Tiangan tetapi sekarang ia terkurung disini. Kalau umpama kata ia mati pasti tidak ada orang yang mengetahuinya. Inilah hebat! Ia juga jangan mengharap nanti ada orang yang datang menolongi padanya.

Dalam bingung atau putusasa itu kemudian Mo Let menghibur diri dengan berkata didalam batinnya. “Memangnya aku tidak berniat membantu raja jikalau karena tertahannya aku disini, tugasku gagal, aku percaya Lam Toako tidak bakal meayesalkaa atau menegur aku. Ah, aku totol sekalipun jiwaku bakal lenyap, aku masih belu« tahu kenapa aku mesti pikirkan halnya Tiaa Toako bakal meayesali atau menegur aku atau tidak?..:..

Walaupua ia dapat menghibur diri demikian rupa hati Mo Lek belum kebas atau ringan seluruhnya. Ialah seorang yang mempunyai rasa tanggung jawab. Sebelum ia menyelesaikan tugasnya berat rasanya ia kalau nanti berhadapan dengan Lam Cie In yang kakak seperguruan.

Satu hal lain dengan sendirinya menyulitkan padanya. Itulah Ong Yan Ie yang tergila-gila terhadapnya. Luar biasa sikap nona Ong, maka juga walaupun ia tidak mau pikiran aona iiu saban saban ia mengingatnya. Semua ini terjadi gara gara sinona. Ruwet pikirannya setiap kali ia ingat Yan Ie, Ia menjadi masgul sekali.

Didalam tempat yang gelap gulita itu tak tahu Mo Lek akan jalannya sang waktu. Ia pun melainkan ketahui setiap hari tiga kali rantang kecil dikasi turun membawakan barang makanan untuknya Dari datangnya barang makanan itu ia menghitung hari. Maka ia ketahui yang ia sudah tersekap selama tiga hari, Dihari ketiga itu tengah hari selagi ia berdiam dengan masgul tiba tiba pintu batu terbuka separuh daa separuh dan seorang terlihat bertindak masuk.

Mendadak saja timbul marahnya pema-da isi. Ia lantas lompat bangun seraya terus mengirim satu sampokan sambil oaulit-nya memperdengarkan suara bengis. „Bangsat perempuan kau masih punya ketelengasan macam apa lagi? Baiklah aku……aku.

Atau mendadak ia bungkam sendirinya mulutnya tinggal celangap. Sampokaonya itu ternyata mengenakan sasarannya sebagai akibat dari itu ia menjadi kaget dan melengak saking heran. Ia mengenakan sasaran yang empuk bagaikan kapuk. Syukur ia sudah dapat mengusai tangannya begitu ia merasa membatalkan serangannya itu.

Orang yang di serang itu terlihat terbayang, lalu terdengar suaranya perlahan sekali, “Mo Lek beginikah kau masih membenci aku?”

Itulah Ong Yan le, dengan suaranya yang halus, yang nadanya menyesalkan.

Sesudah terkurang beberapa hari tak dapat Mo Lek malihat tegas ia juga sedang terpengaruhkan hawa anearahnya, tidak he ran. begitu ia melihat orang dataag dan orang itu terlihat samar-samar sebagai wanita ia lantas menduga kepada Nyonya Tian yang tua maka menuruti suara hatinya ia menyambut dengan dampratan dan serangan nya itu Tak pernah ia berpikir kepada si-nona, Tentu secari ia menjadi terperanjat menyesal dan bingung, hingga ia berdiam saja.

“Oh, kau?” katanya kemudian. “Aku menyangka kepada gurumu yang kejam itu!”

“Pantas’ah kau membenci aku, Yan te menjawab. “Sebenarnya daripada kau membenci. Keluarga Tian lebih  nepat kau membenci aku. Penderitaanmu ini dan bahaya yaag masih terus mengancam jiwamu…;

Mendengar kata kata Yan Ie yang terakhir itu mendadak hawa amarah sianak muda. la lantas ingat kebinasaan ayah angkatnya Segera telinganya seperti mendengar kumandang: Mo Lek, inilah saatnya buat kau membalaskan sakit hatiku!”

Memang, kalau sekarang ia membalaskan sakit hati itu, mudah saja ia melakukannya. Jangan kata sinona belum sembuh seluruhnya dari sakitnya, taruh kata dia sudah sehat seperti sediakala, dengan sikapnya sekarang ini, dia pasti tak dapat membuat perlawanan. 

Tapi mana dapat Mo Lek silaki-laki sejati membunuh seorang wanita yang tidak mau melawannya? Nona itu juga lagi terganggu kesehatannya.

Kedua pihak berdiam sekian lama. Selama itu mata Mo Lekpun menjadi biasa lagi Didalam gelap itu, dapat ia melihat wajah sinona, walaupun dengan samar-samar. Ia bisa melihat paras orang lesu dan mestinya sinona kerduka bukan main. Karena mereka berdiri dekat dan berhadapan, ia pula mendengar suara napas membaru dari nona itu. Bahkan kemudian ia melihat juga menetes jatuhnya butir-butir air mata!

Hati bagaikan batu dari sianak muda lumer diantara air mata itu, bahkan bayangan ayah angkatnya turut menjadi buyar. Didepannya sekarang terlihat sebuah tubuh manusia yang berdarah dan sinona cantik. Tiba-tiba ia melengoskan mukanya untuk lantas bertata dengan kata-kata patah demi patah:

,,Sejak hari ini, permusuhanku denganmu habis sudah! Aku hidup atau aku mati, tak akan aku membenci pula kau! Suara itu dalam dan tergetar. Itulah bukti dari tegangnya perasaan hatinya.

,,Oh. Mo Lek, Mo Lek!” seru sinona ter tahan. Cuma dua kali ia menyebut lehernya lantas bagaikan terkancing, tak dapat ia bersuara lebih jauh. Tanpa merasa, menyamber tangan sianak muda, untuk menyekalnya dengan keras. Dengan perlahan Mo Lek memutar kepalanya, akan tetapi ia tetap tidak berani menatap sinona, supaya sinar mata mereka tidak bentrok satu dengan lain. Ia memikir buat meronta, buat melepaskan tangannya, ia melainkan bisa berpikir, tak sanggup ia melakukannya. Hingga akhirnya ia membiarkan lengannya itu terus dipegangi sinona. .

Bukan main sulitnya anak muda ini. Ia malu sendirinya, ia bersusah hati. Disatu pihak, hatinya menjadi lega, dilain pihak, ia tetap merasa berat.- Ia dengan kapan ia ingat pesan Cie Hun. Memang sejak lama ia telah tenggelam dalam keragu- raguan: „Membalas sakit hati ternadap Yan Ie atau jangan?”- Niatnya membalas keras, kesangsi-annya tak kurang hebatnya. Baru sekarang ia bisa membuka mulut menyatakan kepada sinona bahwa ia melepaskan dendamnya. Inilah yang membutnya lega. Yang membikin ia masih merasa berat ialah  ia jadi ak dapat membalaskan sakit hati ayah angkatnya kepada sinona sendiri walaupun besar musuh besarnya musuh yang langsung, ialah Ong Fek Thong.

Sekian lama mereka berdua berdiam saja selama itu hati keduanya goncang keras.

Masih lewat sekian lama, baru terdengar Yan le mengeluarkun napas lega.

, Mo Lek, kau baik sekali! ‘ katanya kemudian. ,,Tak peduli kau sangat tidak menyukai aku, aku tetap akan mengingat baik baik kebaikan hatimu ini!”

Tak enak hati sianak muda. Dengan perlahan, ia singkirkan tangannya.

„Nona Ong, sudahlah, apa yang telah lewat, jangan disebut sebut pula,” kata ia, perlahan. Iapun menyebut nona. Mulai hari ini, kau lupakanlah aku. Aku lihat di samping gurumu yang telengas sekali, suheng-mu sebaliknya bukan orang yang terhitung buruk.”

,Kau benar’ sahut Yan Ie. ,,Juga, terhadap aku, suheng berlaku baik sekali. Aku telah berjanji kepada guruku bahwa aku ber sedia untuk menjadi nona mantunya, maka itu kau, kau tenangkanlah batinmu.”

Mo Lek girang berbareng daka. Ia girang karena dengan begitu, tentang si nona telah ada kepastiannya. Yang membuatnya berduka yalah, dari lagu suara orang, nona ini, mau menikah dengan Goan Siu karena terpaksa, bukan karena cinta.

Didalam tempat segelap itu. tak dapat Yaa Ia melihat parasnya Mo Lek, akan tetapi Mo Lek sendiri merasa pipinya panas.

, Baik” katanya sambil tunduk. , Aku beri selamat padamu!”

„Sebaliknya aku belum mengasi selamat padamu berhubung dengan perjodohanmu diagan Nona Han !’ kata Yan Ie yang tertawa bukan seperti tertawa karena hatinya sakit. Ia juga menangis bukannya menangis….

Mo Lek mengarti itu. ia menyesal dan masgul.

,Nona Ong’ katanya pula, menyimpangi urusan, ,aka mengucap terima kasih yang kau telah datang menjenguk aku. Sekarang kita sudah bicara jelas, karenanya silahkan kau pulang supaya suhengmu tidak buat pikiran atas dirimu.”

“Memang, aku memang harus pulang.’ sahut si nona. ,.Aku belum memberitahukan suheng bahwa aku bersedia menikah dengan nya.”

Berkata begitu. Nona Ong memutar tabuh buat berjalan pergi atau baru dua tindak ia sudah merandak. „Mo Lek . . . Mo Lek . . ” katanya, perlahan. Hati si anak muda goncang.

„Nona Oog, silahkan pergi ! ‘ kata anak muda ini.

„Aku pulang?” tanyanya. “Aku pulang kemaaa ?”

„Kau pulang kepada Nona Han mu boleh kepada Lam Suheng mu boleh juga.” sahut si nona. ,.Itu toh urusanmu ! Mengapa kau ‘ tanya aku ?

Mo Lek heran, ia sampai terperanjat, la , dapat menerka.

„Apakah kau headak memerdekan aku?” tanyanya.

,,Kau toh tak dapat berdiam seumur hi dupmu di dalam kurungan ini” si nona membaliki.

Mo lek tetap heran.

„Apakah kau tak takut dipersilahkan gurumu’ Mo Lek tegaskan.

.,Biar bagaimana, ia toh harus memberi muka kepada bakal menantunya …”

kembali Mo Lek terbenam dalam kesulitan. Apa baik ia  terima budi nona ini atau jangan, kalau ia terima baik, ia bebas, kalau ia menampik, ia tetap terkurung dan entah bagaimana nasibnya, kalau ia menerima baik, itu artinya budi ….

Selagi pemuda ini bersangsi, jauh di luar terdengar suaranya Tian Toa-nio : ,,A-nak Yan ! Anak Yan ! ‘

Nona itu tidak menjawab gurunya, hanya ia kata pada si anak muda : „Lekas kau pergi ! lambat sedikit, kau bisa celaka! Nanti sudah kasip !” ia pun lantas bertindak kepintu, untuk membukanya. Deagan sama cepatnya ia tarik tangan si anak muda. Tiba-tiba terdengar satu suara perlahan didekat mereka Suara itu sedikit menggetar-

Mo Lek terperanjat, apa pala tempo ia lantas melihat Tiai Go n Siu berdiri disamping pintu. ketika itu. ia masih dipegangi Yan le. Ia menjadi jengah sekali, mukanya menjadi merah sendirinya.

Goan Siu mengasi dengar suara heran. Ia telah melihat semua. Mukanya lantas berkerut.

,Baik kamu semua pergilah,” katanya sesaat, kemudian sedang dengan tangannya ia memberi tanda kebebasan.

,,Aku yang pergi sendiri! ‘ kata Mo Lek cepat, untuk membantah „Kau . . – jangan kau salah mengarti !

Goan Siu memandang pemuda didepan-nya itu ia tidak menghiraukan kata-kata orang terus ia berpaling kepada Yan le, un tuk berkata dengan perlahan : . Adik Yan, kau juga lekas pergi ! Sipengemis tua telah datang kemari ! Dia . dia mencari kau!” Hati Mo Lek tergerak mendengar kata-kata „pengemis tua” itu.

,,Pengemis tua yang tinggal di gunung Hoa San tidak ada lain orang lain, dia ten tulah See Gak Sin Liong hong hu Siong ! ‘ pikirnya.

„Telah aku menduga dari siang-siang bahwa dia pasti bakal datang sendiri mencari aku ! ‘ katanya tawar. ,,Apa yang aku lakukan akan aku pikul sendiri tanggung jawabnya ! Apa yang harus dibuat takut?”

„Aku pun percaya ibu tidak bakal mem biarkan kau diperhina orang,” kata Goan Siu, ,.akan tetapi kau tabu sendiri, tabiat j ibu sangat luar biasa, dia dapat bergirang dan bergusar tanpa ketentuan maka itu aku pikir lebih baik kau menyingkir dari pengemis tua itu ! Laginya, pengemis tua itu tentunya kenal saudara Tiat apabila dia me lihat saudara Tiat berada disini, aku kuatir nanti terbit lain gara-gara !’

,Begini saja,” kata si nona singkat : „Lebih dulu aku antar dia turun gunung, habis itu, akan aku kembali !”

Goan Siu nampak heran sekali, hingga ia menatap si nona.

Hanya sekarang ini parasnya terlihat sedikit tenang.

Begitu pun baik,” sahutnya. „Sebentar didepan itu, akan aku kilungi kamu. Pergi kamu ambil jalan dari depan sana, asal kamu berhati-hati sekali !”

Ketika itu, kembali terdengar suara tajam dari Tian Toa Nio :

„Anak Goan ! Anak Goan !”

Mendengar itu, Goan Siu lekas menya huti. Dia mengasi dengar suara yang tinggi „Ya ibu ! Ya ! Aku akan lantas datang

!” Dia lantas berlari-lari pergi.

Yan Ie memegang pula tangannya Mo Lek, yang ia tarik, buat diajak meninggalkan penjara batu itu. Dengan lekas mereka melintast pekarangan depan.

Tepat di itu waktu, terdengar suaranya Tian Toa Nio :

„Sakitnya anak Yan sudah baik kan atau belum ? kenapa dia tidak ke luar sendiri ? ‘

Nyonya tua itu bicara didalam rumah, diluar situ. Yan Ie dan Mo Lek harus lewat Itulah sebabnya kenapa Goan Siu memesan mereka itu berhati hati.

Yan Ie menarik tangan Mo Lek, buat diajak bersembunyi dibelakang batu gunung gunungan. Dari situ mereka mendengar suaranya Goan Siu : .,Tadi malam adik Yan banyak baik, hanya hari ini keadaannya jadi berubah memburuk pula. sampai dia tak dapat bangun dari pembaringannya. Sementara itu, dari tempatnya bersembunyi, Mo Lek dapat memandang ke dalam ruang atau kamar dimana Tian Toa Nio berada, disana nyonya tua itu berada bersama seorang lain yang menjadi tetamunya. Benar dialah See Gak Sin Liong Hong- hu Siong, si Naga Sakti dari Gunung Barat (Hoa San) atau si pengemis tua seperti disebut Gun Siu hanya sekarang ini dia bukan mengenakan pakaian butut atau rubat-rabit hanya pakaian baru dan mentereng, hingga dia tak nampak setua seperti biasanya dalam pakaian rombeng tidak keruan.

Segera terdengar suaranya si nyonya tua:

Liong Hong-hu dengan sebenarnya muridku lagi sakit dan mesti rebah saja di atas pembaringanya hingga tidak dapat dia keluar dari kamarnya ”

Hong hu Siong duduk menghadap ke luar, ke dua matanya yaag berjelilatan bersinar tajam.

,.Tian Toa nio aku minta kau suka maafkan aku yang aku berlaku sedikit kurang ajar’ kata dia ..Dalam hal ini aku perlu memeriksa dengan teliti, karena muridmu sakit seperti katamu, perlu aku pergi kepadanya untuk melihat sendiri ! *

Bagaimana berani aku menyusahkan kau, tuan ‘ kata Tian Toa Nio.

„Tetapi! kata si pengemis liehay: ,,Bentengnya keluarga Ong dilembah Liong Bin Kok sudah diubrak abrik rombongannya Toan Kui Ciang dan Lam Cee In jikalau mereka itu mendapat tahu aku berada disini Sudah pasti sekali mereka bakal datang menyusul guna mencari gara-gara ! Hm ! Sampai itu waktu aku percaya keadaan pasti akan jadi buruk buatmu ! Oleh karena itu aku lihat lebih baik kau lekas menanya jelas kepada muirdmu itu !”

Tian Toa Nio menjadi tidak puas ,,Muridku itu.” katanya “meski dia masih berusia sangat muda, hinggga dia tidak dapat membedakan berat dari enteng, kendati dia bisa berbuat sesukanya aku percaya tidak nanti dia sampai berpihak kepada orang luar hingga dia rela membantu orang memusuhkan ayahnya sendiri ! Tapi karena Tuan Hong- hu tidak percaya dia hingga kau ingin mendengar sendiri keterangannya baiklah mari aku temani kau menemuinya. Disana kau nanti dapat. menanya jelas hingga batinmu menjadi lega !”

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)
*****

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 19"

Post a Comment

close