Kisah Bangsa Petualang Jilid 18

Mode Malam
 
Jilid 18

Orang bertopeng itu tidak menyahuti, dia mengajak lari terus Yan Ie mengikuti karena la melihat orang lari ke arah ayahnya.

Ong Pek Thong mesti berkelahi mati- matian melayani Sin Thian Hiong kalau tidak ia bisa terluka atau terbekuk jago dari Kim Kee Nia itu sebab ia lagi terdesak sangat Justeru itu tibalah si orang bertopeng. Dia ini segera menangkis serangan kapak dari Thian Hiong. Begitu keras ia menggunai tenaganya, hingga kapak kena tertahan.

Mendadak si orang bertopeng tertawa, dia mendesak Thian Hiong dengan mengebut ngebutkan tangannya. Dia liehay sekali, orang she Sin itu sampai terhuyung setelah mana dia lantas mengajak Pek Thang dan gadisnya kabur ! Ketika Thian Hiong dapat berdiri tetap, tiga orang itu sudah lari menghilang ! Tatkala itu dari pelbagai penjuru tentara Kim Kee Nia sudah merangsak semua. Mereka mendapat perlawan anberat. Tentara- nya Ong Pek Thong itu, telain berjumlah lebih besar, juga terlatih baik dan sudah berpengalaman da lam peperangan, walaupun mereka dibokong, mereka dapat bertahan. Bahkan di beberapa tempat, ada pasukan Kim Cee Nia yang kena terkurung.

Tiat Mo Lek berhasil merampas seekor kuda ia lantas berlari- lari ke segala arah sambil mengangkat tinggi-tinggi sebatang obor yang apinya sedang menyala-nyala. Ia pun beraeru-seru :

„Keluarga Ong sudah bersekongkol dengan bangsa Ouw ! Mereka main melakukan kejahatan, dosa mereka langat besar ! Mana dapat orang semacam Ong Pek Thong menjadi ketua Ikatan Rimba Hijau ? Bukankah kamu semua bangsa laki-laki ? Apakah benar kamu sudi menghamba kepada segala berandal dan pemberontak ? Relakah kamu diperbudak hingga bisa kejadian kamu nanti kehilangan jiwa dengan nama busuk ?”

,,Oh, Tiat Siauwceecu sudah pulaig ?” demikian, ada yang berseru. Itulah bekas orangnya keiuarga Touw.

,,Ya Tiat Siauwceecu benar !” berseru yang lain. , Buat apa kita menjual jiwa untuk kepentingan Keiuarga Ong ? Adakah itu perbuataa orang Rimba Hijau sejati ? Kalau mesti mati, kita mesti mati dengan nama harum.

,,Ya, ya !” seru yang lain lain lagi.

Tiat Siauwceecu di saaa ! Mari kita berontak terhadap Keluarga Ong !”

Maka ramailah suara tentara itu. Ada yang lantas meletakkan senjatanya dan ada juga yang menghajar kawannya sendiri, kawan yang terus mau melawan. Ternyata jumlah yang mau turut Mo Lek lebih banyak, maka itu, pihak yang setia kepada Ong Pek Thoug menjadi tinggal sedikit, mereka terus dirabuh.

Sin Thian Hiong menghampiri Tiat Mo Lek.

,,Saudara Tiat, hari ini kita menyerbu Liong Bia Kok, jasamu lah yang paling besar !” kata dia. .,Cuma sayang bangsat she Ong itu dapat meloloskan diri ! Sebenarnya tadi aku akan berhasil menangkap kura kura itu, entah dari mana datangnya seseorang mendadak menolong dia !’

Mo Lek merendah

„Bagaimaaa kejadian yang sebenarnya?” ia tanya.

Than Hong tuturkan halaya si orang bertopeng yang gagah itu.

..Kalau begitu, dia pasti lebih liehay daripada Khong Khong Jie !” kata Mo Lek heran. „Sungguh tidak disangka Ong Pek Thong mempunyai sebawahan yang demikian liehay ! Cuma dia aneh sekali, dia cuma menolong orang, dia tidak mau melayani berkelahi …”

„Ya, entah apalah maksudnya,” kata Thian Hiong. ,,Karena dia menolongi Ong Pek Thong sudah terang dia bukan manusia baik !”

,,Bangsat she Ong itu lolos karena dia ditolongi orang liehay.” kata Cie Hun. „Aneh pula anak perempuannya dia dapat loloa juga …”

„Oh, diapua dapat lolos ?’ kata Thian Hiong. „Bagaimana dia lolosnya ? ‘

„Di waktu gelap begini, tidak dapat aku melihat tegas.” kata nona itu ,,Coba kau tanya Mo Lek saja.” “Bangsat wanita itu liehay” kata Mo Lek dengan muka bersemu dadu ,,Dasar aku yang tidak punya guna, aku membuatnya dapat lari menyingkir ”

Thian Hiong percaya keterangan itu, la memang tahu Yan Ie liehay.

,Tapi kau telah keras, saudara Tiat,” ia kata. ,,Aku lihat, kegagalan kita ini disebabkan jumlah orang kita kurang banyak Bukankah kita berhasil menumpat kekuatan Liong Bin Kok ? Aku percaya, meski mereka dapat kabur, Ong Pek Thong dan anak anaknya pasti akan tak dapat berbuat apa apa lagi.”

Karena musuh telah kabur semua, Sin Thian Hiong lantas mengumpulkan barisannya, lalu ia mengajak semua orang berkumpul di Yan Bu Thia, ruang latihan dari Liong Bin Kok, yang baru saja habis dikuasai Ong Pek Thong

Toan Kul Ciang lantas memberi selamat kerada Cee In dan Leng Song. Habis itu, nona nee menuturkan pengalamannya, mulai ia dan ibunya diculik. sampai ia di- bawa ke Liong Bin Cok, hingga Yan Ie menolong irtemberiKan o’oat.

Cee In semua masgul niendapat tahu ibu Leng Song masih didalam bahaya Tapi segera ia ingat bisikannya Yan Ia tadi.

Menurut kau, anak perempuan Ong Pek Thong itu tidak jahat, kata ia Dia juga telan membilangi aku untuk mencari orang di lembah Toan Hun Giam dikaki puncak Lian Hoa Hong. Bukankah orang yang dia scbutkan itu dimaksudkan lbumu?”

Oh, benarkah dia membilangi de- mikian? ‘ tanya Leng Song girang. Tidak salah lagi, terang dia sengaja membuka rahasia kepada kau, engko, untuk mengasi tahu dimana ibu di kurung.”

Dapatkah kita percaya habis keterangannya anaknya Ong Pek Thong itu?” tanya Touw Sian Nio Nyonya ini ma sih dipengaruhi kebenciannya kepada ke luarga Ong. Kita harus menjaga supaya kita jangan sampat kena di pedayakan dan dijebak”.

“Bibi, jangan kuatir, kata Leng Song kalau dia mau mencelakai aku, tak usah dia turun tangan, cukup dengan dia tak memberikan obat padaku. Maka itu aku percaya kekasihnya itu

Nona ini menjelaskan sikapnya Yan Ie ketika nona itu menolong ia dengan memberikan obat padanya.

Sian Nio dan Kui Ciang men jadi heran sekali. Sikap Yan Ie tidak dapat dimengerti.

Saudara Lam apakah kau kenal nona itu? Sian Nio tanya Ce In. kenapa dia tolehnya membuka rahasia terhadapmu?

Engkoh Cee In pernah bertemu dengannya di gunung Hui Houw San, Leng Song mevvakilkannya inemberi jawaban. Syukur aku ketahui baik segala perbuatannya engko In, kalau tidak bisa ke- jadian aku mencurigai dia, Cee In pun lantas ingat kelakuannya Mo Lek tadi terhadap Yan Ie, lantas ia menduga sesuatu. Akan tetapi ia bekep saja dugaan itu, tak mau ia sembarang mengutarakan pada orang banyak.

Manusia itu ada waktunya dapat memikir beibuat benar, kata Kui Ciang kemudian Orang yang sadar demikian itu kita harus beri maaf, kita mesti bantu, maka itu sekarang, setelah nona itu berbuat baik, tak usah kita main duga duga lagi. Sekarang yang penting yalah kita harus mengambil keputusan kita mau percaya atan tidak pembilangannya itu. Nama puncak Lian Hoa Hong itu terdapat di beberupa gunung. Dia maksudkan Lian Hoa Hong yang mana- kah ? ”

“Aku si pengemis tua paling banyak berpergian, kata Wee Wat, “maka itu aku percaya, Lian Hoa Hong itu yalah puncak Lian Hoa Hong di gunung Hoa San, Disana memang ada jurang yang bernama (Toan Hun Giam).”

“Mendengar itu, hati Kui Ciang tergerak.

“Hoa San yalah See Gak Hoa San!” katanya. Bukankah itu gunung tempat kediamannya See Gak Liong-hu Siong?”

Hoa San besar dan dari puncak-puncaknya yang banyak ada lima yang terkenal, ‘ kata pula wee-wat. Turut apa yang aku ketahui Hong-hu Siong tidak tinggal dipuncak Lian Hoa Hong.”

Kui Ciang berpikir.

Ketika ibu Nona Hee diculik, orang yang memegang bernama utama yalah Hong-Hu Siong; ia kata. ‘Maka itu aku percaya sembilan dalam sepuluh, di sini ada tersangkut Hong-hu Siong itu,

Sangkaan kau beralasan, berkata Wee Wat, Baiklah, tak perduli perbuatan itu perbuatan Hong-hu Siong atau bukan, aku sipengemis tua hendak menyelidiknya sampai kita memperoleh kepastian ! Mari kita bereskan segala apa disini, nanti aku temani kamu berangkat ke Hoa San!”

Hal ini menyulitkan Lam Cu In. Ia tengah menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya oleh Kee Cu Gie. Ia mesti membangun pasukan sukarela guna dapat mengekang An Lok San. Dapat- kah ia meninggalkan tugasnya itu ? Gunung Hoa San berada di dalam wila- yah propinsi Siamsay, dibarat kota Tong- ivwan atru di selatannya kecamatan Hoa- im, terpisahnya dari kota Tiang-an beberapa ratus Lie Dapatkah ia membagi temponya ?

Selagi orang berpikir itu, Sin Thian Hong kata: Kita sudah berkelahi semalam an suntuk, kita semua letih dan mengantuk, maka itu, baiklah kita semua beristirahat. Segala apa kita tunda sampai besok, besok baru kita berpikir pula!” Ini benar maka semua orang setuju. JLantas orang orang mengatur tentara pengawas untuk mereka bergilir jaga sampai siang. Kemudian merekapun berpisah, untuk beristirahat.

Besoknya siang ada dibikin pesta, Sin Thian Hiong semua menghadirinya. Semua orang bergirang, kecuali Lam Cee In dan Tian Mo Lek. Mereka berdua ada masing- masing pikirannya.

Tengah pSsta berlanjut, seorang serda- du datang dengan wartanya prihal tibanya seorang dan Kim-kee Nia bersama seorang militer pejabat dari pemerintah, yang kata nya datang secara kilat untuk bertemu dengan Sin Ceecu.

Thian Hiong sudah menerima pengampunan untuk bekerja pada negara dan telah diberi pangkat Ciauw-touw-su meski begitu semua orang sebawahanrya tetap membahasakan dia Ceecuu. Ia heran menerima warta itu, sampai ia melengak.

“Siapakah itu yang datang? ia tanya. ‘ Itulah Touw Sianseng.’

“Lekas undang ! Lekas untung masuk katanya, cepat.

Touw Sianseng itu Touw Pek Eng. Dia mia menjaga Kim Kee Nia dalam keduduk- annya sebagai tetamu yang dihormati. Sekarang dia datang dengan siopsir, mesti itu berkedudukan tinggi. Atau digunungnya itu telah terjadi sesuatu.

Segera juga Pek Eng terlihat muncul. Dia seperti mandi debu. Dia diikuti oleh seorang pengawal yang romannya keren.

“Apakah ada terjadi sesuatu dibenteng kita? tanya Thian Hong belum lagi ia sempat melayani tetamunva itu.

Justeru itu. Lam Cee In dan Toan Kui Ciang berbareng berseru: Lui Sutee! Lui Hiantee!’ Yang satu memanggil sutee adik seperguruan yang lain hiantee adik angkat. Sedang Tiat Mo Lek, yang berpangkat dengan tersipu, berseru Lui su-heng.

Tidak ada urusan apa-apa dibenteng kita Pek Eng menjawab lekas. Ada juga ini Lui Tayhiap yang datang untuk suatu urusan penting untuk mana ia ingin lekas menemui kakak seperguruannya.

Opsir itu memang Lui Ban Cun, muridnya Mo Keng lojin. Dia bekerja di Sui- yang di bawahan Thaysu Thio Sun. Mo Lek belum pernuh bertemu dengannya, maka itu ia segera menghampirkan buat memberi hormatnya sebugai adik seperguruan.

Kamu semua berada disini, bagus!” kata Ban Cun habis mereka bertemu satu dengan yang lain. “Lam Suheng, Tiat Sutee, aku justeru ingin bicara dengan kamu berdua !

Toan tui Ciang sudah berpengalaman ia tahu apa artmya kata-kata orang she Lui itu, karsua kuatir orang tidak dapat bicara dengan merdeka, ia lantas berkata: ‘ Kamu baru bertemu, silahkan kamu pergi duduk dan berbicara diruang belakang! Sebentar, sesudah Lui Tayhiap beristirahat, kita nanti berkumpul pula disini untuk memasang omong. ‘

Ban Cun tidak berlaku sungkan, ia memberi hormat pada orang banyak.

Maaf!” katanya, air mukanya rada kucal.

Touw Pek Eng mengedipi mata pada Sin Thian Hiong kepada siapa ia kata: Sin Toako, tak usah sungkan-sungkan ! Bukankah kita sahabat sahabat kekal ? Untuk minum sendiri, tak usah kau yang melayani! ‘

Thian Hong dapat menangkap isyarat itu. Ia menduga kepada utusan penting. Pek Eng minta ia menemani sendiri pada Ban Cun. Maka ia lantas tertawa dan berkata : “Baiklah, Sin Toako, Lui Jieko baru sampai, sebagai tuan rumah, aku tidak boleh berlaku sembarangan ! Lui– Jieko, silahkan !”

Berkata begitu, Thian Hiong lantas mengajak tetamunya masuk ke dalam, terus ke kamar rahasia.

Sutee, ” Cee In segera menanya, ‘ benarkah telah terjadi sesuatu perebahan?

Ban Cun mengasi lihat roman sungguh-sungguh.

‘ Kota Tongkwan sudah jatuh,’ sahut- nya, “Ko See Han sudah menakluk pada pemberontan. Sekarang ini teatera pemberontak lagi menuju ke Tiang-an!”

Itulah hebat, sampai Cee In bangun berdiri.

Ko Sie Han menjadi jenderal yang dipercaya oleh pemerintah agung, dia telah menerima budi negara. Cara bagaimana dia dapat menyerah kepada musuh?’ tanyanya.

‘Didalam hal ini Yo Kok Tiong memegang peranan penting, Ban Cun menerangkan. ‘ Dia memang tiiak aku dengan Ko Sie Han. Kalau Ko Sie Han berdiam tetap di kota Tongkwan, tanpa ia ber- pentang, An Lok San pasti tidak akan dapat berbuat apa-apa, tak dapat dia menyerang pecah kota itu. Yo Kok Tiong kuatir pengaruhnya Ko Sie Han menjadi besar, hingga itu dapat membaha- yakan kedudukannya, lantas dia menggu- nai akal- musJihat, yaitu dia mengajukan usul kepada Seri Baginda Raja supaya Ko Sie Han diperintahkan maju menyerang guna merampas pulang daerak-daerah di Siamsee dan Hoolok. Atas itu Ko Sie Han memberi laporannya kepada Raja, memberitahuan bahwa dalam ke- adaan seperti sekarang ini; kita baik berdiam saja melakukan penjagaan. Ia berkata pemberontak kejam, pemberontak tak dapat kesan baik dari rakyat, tak lama lagi mesti terjadi perlawanan didalamnya, la berkata, sampai itu waktu, barulah kita bergerak menghajarnya, supaya kita berhasil tanpa melakukan peperangan besar la-pun berkata, tak usah kita kesusu, kita bakal memperoleh hasil be’ sar. Disamping itu K.o Sie Han menun- juki belum selesamya pengumpulan tentara baru. Lemudian Ko Sie Han menun- juk kepada siasat yang hendak diambil Kwee Leng-kong, yaitu kalau menyerang kita harus menyerang ke Utara, ke Ho- an-yang, saranj; pemberontan, bah va Tong- kwan harus berjaga-jaga saja. Raja tidak turut pikiran Ko Sie Han itu, Raja telah terpengaruhkan sangat Yo Kok Tiong.

Demikian Raja memerintahkan supaya Ko Sie Han turut perintahnya itu, hingga kejadian dia mesti berbareng juga, Tapi pemberontak sudah mengatur tentara sembunyi. Dia berpura- pura kalah dan lari, waktu tentara Ko Sie Han taengejar dia berbalik melawan pnla dan tentara sembunyinya lantas bekerja. Jalanan ditup dengan kereta-kereta yang berisikan rumput yang tetus dibakar, gedang tentafa pemberontak lainnya menyerbu ke tangsi besar. Kesudahannya runtuhlah duapuluh laksa serdadu Co Sie Han. Ketika ia dapat lari pulang, sisa tentaranya tinggal delapan ribu jiwa» Habislah dayanya saking mendongkol, ia taenyerah pada An Lok San. Ia berkata bahwa ia mau minjam tenaga An Lok San. guna nanti membunuh Yo Kok Tiong.”

Lam Cee In menghela napas panjang.

‘vKo Sie Han meriiang bukan panglima pandai, meski begitu sayang dia telah menjadi korbannya Yo Kok Tiong.” kata ia. Semua-mua kelirunya Pemerintah sendiri yang alpa dalam urusan ke tentaraan. Inilah berbahaya.

Sekarang ini Sri Baginda Raja memikir untuk menyingkir ke See Siok, Ban Cun berkata pula. Raja merenca-nakan mengangkat putera mahkota menjadi Jenderal besar Panglima Thaygoan- swee dengan Kwee Leng-kong sebagai pembantunya.

Cuma hal itu masih belum diumumkan. Sekarang aku datang ke mari dengan mengaburkan kudaku seperti terbang, aku lagi menjalankan titahnya Thio Thaysiu dan Kwee Leng kong untuk mendama-ikan urusan dengan kamu, suheng dan sutee

Urusan apakah itu sutee ? Cee In tanya.

Inilah urusan yang ada sangkutpaut- nya dengan niat mengungsi dan Seri Baginda Raja, menjawab Ban Cun.

Mo Lek heran. Raja mau mengungsi ada hubungannya apakah dia dengan kami ? tanyanya.

Ban Cull tertawa „Hendak aku tanya ” katanya, ,,diantara kamu berdua, suheng dan sutee siapakah yang sudi menjadi pahlawan pehndung Raja menyingkir ke See Siok! Inilah suratnya Kwee Leng kong silahkan kamu lihat!”

Saudara sepcrguruan itu memperlihatkan suratnya Kwee Cu Gie.

Cee In membaca bersama Mo Lek. Dari surat itu mengartilah mereka pentingnya urusan, sampai Lui Ban Cun mesti melaku- kan perjalanan kilat itu.

Berhubung dengan pemberontakan An Lok San itu Thio Sun sebagai thaysiu dari Sui yang telah diangkat menjadi Hong-gie- Su, pembesar yang membelai kota Yong-kiu Selagi tugaSnya itu berat sekali tenteranya berjumlah sedikit, sedang rangsumnya pasti kurang. Maka itu Lui Ban Cun diutus ke Tiang-an, kepada Pemerintih Agnng untuk meminta bantuan tentera dan rangsum itu. Justeru Ban Cun sampai di Tiang-an, juteru kota Tong-wan terjatuh kedalam tangan pemberontak. Hati orang menjadi kacau, tak terkecuali kalangan pemerintahan. Rajater- lalu repot dengan urusan keielamatan diri- nya sendin, tak ada kesempatannya mengu- ruisoal pembelaan diri atau perlawanan. Syukurnya ialah Raja dapat menghargai Kwee Cu Gie dan Thian Bun, yang mempunyai kepandaian untuk menjadi kepala perang, maka itu Ban Cun diterima menghadap.

Itu waktu hadir juga Cin Siang dan Ut- tie Pak, bingga mereka turut mendengari pembicaraan, Raja membeber kesulitannya hingga ia mengambil putusan mengungsi ke See Siok. Kemudian ia menjadikan bantuan nya, artinya ia meluluskan permintaan ban tuan dari Thio Sun. Disampmg ia minta bantuan Kwee Cu Gie dan Thio Sun, untuk mencarikan orang gagah dan setia, yang dapat dijadikan pehndung pnbadmya. Dalam saat kesusu itu, ia tidak ingat siapa juga kecuali halnya Hwee Cu Gie dan Thio Sun mempunyai sebawahan yang dapat diandalkan.

Selama pembicaraan itu, Cin Siang dan Oet-tie Pak tak turut mengutarakan pikir- annya kepada Kaisar Hian Coag tentang usaha melawan pemberontak, yang mesti di tindas.

Sebenarnya Raja mau menahan Ban Cun tidak dapat meninggalkan kota Sui-yang. Maka itu diambil putusan Raja menulia firman untuk Kwee Cu Gie dan Thio Sun minta dicarikan pahlawan yang dimaksud

Firman itu bukan Can yang bawa. Telah dijelaskan kalau sudah sangat terpaksa Ban Cun mesti kembali, untuk menjadi pahlawan itu, untuk menjadi pahlawan pribadi itu. ,Gie Can Sie- wie.

Tatkala itu kota Sui yang seperti dikurung musuh di empat penjuru, keadaannya terancam bahaya. Ban Cu dapat pulang ke Sui-yang guna menyampaikan keputusan Raja.

Thio Sun tidak nencarikan pahlawan. maka, ia kirim Ban Cu ke Kin goan kesatu buat minta bantuan Kwe Cu Gie ke dua supaya Kwe Cu Gie yang melaksanakan firman Raja itu Kwe Cu Gie menghadapi kesulitan dalam hal mengambil keputusan la memang mempunyai pasukan yang lebih kuat dari pada Thio Sun akan tetapi pasukan itu sangat di- dibutuhkan eleh ia sendiri, Sebabnya ialah tugasnya jauh lebih berat karana luasnya daerah yarg ia mesti lindungi: hingga tak dapat ia memecahkan tentaranya. Ia sendiri, babkan lagi mengumpul terus tentara sukarela di sekitarnya. Di akhirnya ia mengambil keputusan, Lam Cee In haras bekerja mengumpul tentara itu dan Tiat Mo Lek yang pergi ke Tiang an guna melindungi Kaisar Hian- Cong.

Demikianlah kedatangan Lui Ban Cun itu.

Kata Mo Lek keras, Raja mau mengungsi, ada sangkutanya apa dia dengan aku ? Apakah cuma jiwa dia yang berharga ? Ha! Hm ! Aku tidak suka pergi !”

Kata Cee In: ..Kalau begitu, bagaimana, andaikata kan yang pergi ke Tong-kwan ?”

,,Tidak, itu pun aku tidak snka,” kata Mo Lek. Aku tidak mempunyai kepandaian’ antuk jadi jenderal dan juga aku tak suka bergaul dengan segala pembesar tentara.”

,,KLe Tiang an kan tidak suka pergi ka- Tong-kwan kau tidak sanggnp,” kata Ban Cun tidaklah dengan demikian kau menjadi mempersulit Kwe Lang kong dan Thio Taysu.

Mo Lek jadi berpikir

„Kalau dibuat perbandingan tugas lebih ringan ialah menjadi pahlawan’ kata ia kemudian, “sulitnya ialah aku tak setuju menjadi pelindung Raja,”

Cu In tidak mendongkol, sebaliknya, ia tertawa. „Ya memang terhadap Raja kita tidak berkasan baik.” kata dia. “sekarang mari aku tanya kau. kau lebih membenci Raja atau An Lok San ?”

“Mana dapat kedua itu dipadu ?” kite Mo Lek. „Ai Lok San mengepalai tentara Ouw datang menyerbu. dia berontak. dia main rampas dan perkosa, perbuatannya sangat menyiksa rakyat. Dia juga memandang kita, mirip ayam dan anjing, Raja tidak punya guna tetapi dia tetap orang Han dan dia juga tidak melukai rakyat seperti An Lok San itu.

„Bagus kau dapat membedakan itu ” kata Cee In, „Maka itu. kalau sekarang kau pergi. Kalau. An Lok San dapat dilawan dan ditumpas, itu artinya rakyat bebas. Sekarang kau pikir pula ! Andaikata Raja kena terbunuh nanti, bagaimana ? tidakkah urusan jadi tambah sulit, dan mencelakai? Bukanlah rakyat menjadi semakin menderita ? Oleh karena itu. kau harus melihat dari sudut yang luas kau harus mengutamakan kepentingan umum !

Mo Lak berpikir.

,Suheng kau benar” katanya, akhirnya. ,,Baik, aku turut kau

!”

Meski ia mengatakan demikian didalam hatinya. Mo Lek

masih tidak puas. Habis bersantap ia pergi mencari Han Cia Hun. Untuk berdua mereka pergi kehntan bunga bwee.

“Kau nampak tidak gembira.” kata Cie Hun tertawa. ,.Apakah kan tak senang terhadap aku ?”

“Buat apa akn merasa tidak senang terhadapmu?’ kata sipemuda masih mendongkol „Aku hanya mendongkol seorang diri”

Mo Lek lantas mennturkan tugasnya mesti pergi ke kotaraja. Mendengar itu Cia Hun masgul berbareng girang. Masgul karena ia mesti berpisah, pula dari pemuda itu hingga, entah sampai ka pan meraka bakal bertemu pula, Girang karena pemuda itu mengutarakan kemendongkolannya didepannya, Itu lah bukti sipemuda memandangnya sebagai sahabat karib.

Tanpa merasa keduanya saling menjabat tangan dengan erat.

„Sudah kau jangan bersusah hatii” berkata sipemudi menghibur.„Kau menjadi Gie-Cian Sie wie tidak dapat aku turut kau akan tetapi dapat aku menantikan kembalimu. Kita menanti hingga pemberontak dapat ditindas dan negara aman sejahtera, Aku percaya kan tidak bakal menjadi pelindung Raja untuk selama-lamanya-”

Pasti sekali Mo Lek mengerti maksudnya kata kata “menantikan” dari sipemudi maka itu batinnya sangat berbunga.

,.Adik kau baik sekali suka rnenantikan aku!” katanya memegang tangan orang.

Tiba tiba Nona Han mengawasi tajam pemuda didepannya itu, “Masih ada orang yang terlebih baik yang rnenantikan kau.” katanya. ,,Aku kuatir kapan kau melihat dia kan nanti melupakan aku”

Mo Lek balik mengawasi pemudi itu.

„Ah mengapa hatimu tidak tetap ?” tanya dia.

Nona Han menarik tangannya, mukanya bersemu dadu.

Ah, Kalau kau bakaanya sangat bersyukur, terhadap dia. kenapa kau telah melepaskannya ?”

.Jikalau kau tetap membilang begini, benar benar aku akan menjadi gusar.” kata Mo Lek. „Aku cuma melaksanakan aturan kaum Kang Ouw, aku cuma membayar hutang lain tidak! Pernah ada waktnnya yang dia-dapat membunuh aku tetapi dia sudah tidak membunuhnya, maka itu kali ini aku memberi ampun padanya Jikalau lain kali kita ber temu pula, kita bakal jadi musuh benar-benar! Tantang ini sudah beberapa kali aka ucapkan pada kau kenapa kau masih tidak percaya aku ?”

Hati sinona terasa, tidak enak, akan tetapi mendapatkan sipemuda gusar, hatinya menjadi lemah.

„Aku cuma bergurau denganmu !” katanya tertawa. „Kenapa kau jadi bersungguh-sungguh ? Baiklah aku tabu kau pemuda gagah. tak nanti kau tarpengarnhkan gadisnya musuh, kau puas bukan ?”

Meski demikian kata katanya sinona menjadi suatu desakan untuk Mo Lek pada itu tetap masih ada perasaan kurang tenang.

Sianak muda mengerti itu, ia menghela sepas

Kau lihat, bagaimana besar kepercayaannya si Nona Hee terhadap Suhangku ” kata ia. Alangkah baiknya jikalau kau pun mempercayai aku sedemikian rupa.”

Mukanyi Cie Hun menjadi merah. . Kau benar benar ngaco!” katanya. ,.Cara bagaimana kau dapat membandingkan mereka dengan kita? . . .

Belum berhanti suaranya Nona Han itu, itu dipecahkan satu suara teriawa geli, yang datangnya dari rumpun ponon bunga- bwee rumpun mana tersingkap dan Lenj-Song muncul diantaranya !

, He, bocah bocah, kenapa kau memperbincangkan aku dibelakangku” tegurnya tertawa. „Apa itu mereka dan kita ? Ah, sungguh erat sekali pembicaraan kamo ! Kalau begitu tak usahlah aku menjadi lagi orang perantara. Mukanya Cie Hun merah. Mulanya ia terkejut, lalu hatinya menjadi lega:

„Encie Hee apalah kau juga hendak mempermainkan aku ?” tanya dia.

Leng Song mencekal tangan Orang, untuk ditarik.

„Aku mau jadi orang perantara dari kamu. cara bagaimana aku jadi mempermainkan kau ‘ tanyanya tertawa ,.Aku bilang terus terang, kalau kamu berdua benar benar telah saling menyinta baik lekas lekas merayakan pennikahanmu ! Bagaimana kalau itu dilakukan berbareng dengan hari pilihan kami ?”

Nona Hee bicara tanpa likat lagi. Mo Lek malu berbareng girang,

„Apakah pernikahanmu dengan Lem Suheng sudah ditetapkan harinya” ia tanya.

„Kenapa kamu tidak memberitahukan aku dari siang-siang?

„Apakah seseorang bukan aku telah memberikannya, Leng Song membaliki. Sekarang aku ingin tahu kepastian kamu !”

..Enso kau berkelakar.” kata Mo Lek tersenyum Ia lantas menukar panggilan. , Mana dapat kami berbuat seperti kamu ? Lam Suheng sangat merdeka, kalau dia bilang nikah dia boleh lantas nikah’”

Noaa Hee tetawa lebar.

,.Baik, baik aku mengerti kamu” katanya,

..Tapi kamu bukankah telah mendapat kecocokan? bukankah kamu tinggal menanti soal tanggal bulannya saja ?”

Mo Lek bungkam nyata ia telah omong kelepasan. Cia Hun mengisi lihat roman mendongkol mulutnya sudah bergerak, tetapi dia batal berbicara

Si pemuda melihat itu ia malu. hingga mau segera menyingkir diri situ.

Selsgi suasana tegang itu tiba tiba terdengar suara orang berdehem, lalu muncal seorang lain.

Mo Lek sudah lantas menoleh. Maka ia melihat Toan Kui Ciang

Mo Lek” kata erang she Toan ito, ..pria kawin wanita menikan ituUh keharusan manusia hidup didalam dnnia dari itu jantan kau mMu malu. Benar apa yan* dibilang No na Hee. Kita sekarang lagi bicara benar-benar. bukan lagi berguran.”

Mo Lek tunduk, Terhadap orang yang terlebih tua itu yang ia hormati tak dapat la bicara seperti terhadap Lang Song.

„Kothio apakah katamu ?’ kata dia tunduk,”

Kui Ciang tidak lantas memberikan penyahutannya ia hanya menanya Leng Song; “Nona sudahkah kaa menanya mereka ?

Nona Hee tertawa

„Apa yang mereka bicarakan, semua telah aku dengar ” sahutnya mereka sudah cocok satu dengan lain maka itu tak usahlab aku menanyakan lagi.

Kui Ciang bersenyum.

.,Mo Lek berkata. Lam Suhengmu dan No ioa Hee isi sudab mengambil ketetapan akan menikah besok, berhubung dengan itu, kami semua memikir, setelah kamu berdua sudah mendapat kecocokan baik kamu pun menikah berbareng Mo Lek tunduk pula,

Ini ……ini katanya sukar ia lantas melirik kepada Ci Hun. Muka Nona Han merah sampai ketelinga nya.

,,Di dalam hal ini aku tidak berkuasa sendiri……?”katanya perlahan’

Ksi Ciang tertawa terbahak.

„Kami justeru telah menerima pesan ayahmu, untuk menjadi orang perantara!” katanya Nona Hee menjadi perantara pihak wanita dan aku dari pihak pria. Kami merangkap menjadi suhu,

Han Tam sudah ketahui hati puterinya. maka itu ia ingin sekali sebelum Mo Lek-pergi kekota raja, joioh anaknya ditetap kan terlebih dahulu.

Cie Hun tunduk, ia diam saja.

Tapi Mo Lek berkata: „Aku berterima kasih untuk kebaikan hati Han Loopee aku pun berterima kasih kepada kau, kothio, cu ma . . . cuma . . .

Leng Song tertawa.

Cuma apa? katanya. ,,Mustahilkah kau tidak setuju?

Mo Lek jujur ia lantas kata; „Aku cuma kuatir bahwa aku tidak setimpal untuk Nona Han. Pada pihaknya tidak ada soal tidak setuju! Cuma aku bakal pergi menjadi Gin Cian Sie-wie, tak tahu aku kapan aku nanti pulang. Maka kalau besok kami menikah, itu rasanya kurang cepat.”

Kui Ciang tertawa pula.

Tentang itu kami telah memikirnya!’ kata ia , Habis menikah, lantas suami isteri berpisahan, itu memang kurang tepat. Tapi kami mempunjai jalan lain. Kami pikir, dapat kamu bertunangan terlebih dahulu, sesudah nanti negara aman, baru mau pulang untuk merayakan pernika han kamu. Tidakkah ini baik?*

Mo Lek mengangguk. Cie Hun berdiam saja.

Maka demikian keputusan di ambil.

Semua orang menjadi girang, terutama sesudah Liong Bin Kok kena dirampas. Semua lantas mengatur dan bekerja. Di sana ada banyak tangan, segala apa pun disiapkan secara sederhana. Maka segala-gala sudah lantas teratur rapih. Malam itu orang bersiap selesai maka besoknya, upacara nikah dan pertunangan dapat dilangsungkan.

Cee In dan Leng Song merasa sangat senang. Mereka menikah sesudah sama-sama sangat menderita. Cuma satu hal tak memuaskan Leng Song. Itulah tak hadir ibunya. Bahkan ibu itu belum ketahuan berada di-mana, dan bagaimana dengan nasibnya. Dengan tidak hadir, Leng Soat Bwee jadi tak dapat memimpin upacara nikah puterinya. Sebenfarnya Leng Song ingin me nikah sehabisnya perang, tetapi ia pun kua-tir nanti terbit perubahan lagi, maka di akhirnya ia menyetujui saran Toan Kui Ci-ang itu.

Pernikahan itu juga kebetulan sekali. Lam Cee In telah mendapat tugas pergi ke Tong-kwan guna mengumpul tentera sukarela. Maka ketikanya itu dapat sekalian di gunai pergi ke gunung Hoa Sang guna mencari ibunya Leng Song. Dan hal itu, Kui Ciang dan isterinya bersama yang lain nya suka pergi sekalian.

Ciat Mo Lek juga gembirra. Hanya tepat selagi upacara dilangsungkan mendadak didepan matanya berkelebat bayangannya. Ong Yan Ie, otaknya memikir Nona she Ong itu. Ia heran sekali. Telah bulat minatnya menikah Cie Hun. Aneh kenapa Ong Yan Ie berpeta? Ia lantas mencoba melupai nona she Ong itu. ia pikir mungkin ingatan itu di sebabkan sinonalah musuh yang membunuh ayah angkatnya serta paman- pamannya pula sinona pernah menolongnya. Lam Cee In masih mempunyai tugas Buat beberapa hari ia perlu berdiam di Liang Bin ok. Tidak demikian dengan Mo Lek. Dihari kedua, dia sudah mesti berangkat ke Tian-an. Maka itu, pesta berjalan ramai hanya selewatan saja.

Sin Tnian Hiong semua ngantar sampai di mu lu t bembah. Han Cie Hun menuntun Kudanya Cin Siang, supaya kuda Oey- piauw-ma itu sekalian di kembalikan pada pemi liknya. Kata sinona: „Kau pakai kuda ini, supaya kau dapat tiba lebih cepat. Dikota-raja kau sekalian membayarnya pulang pada Cin Siang

.”

Cie In dan Kui Ciang kenal baik orang she Cin itu, mereka mengirim tabe untuk di sampaikan kepada sahabat itu. Cee In menasehati supaya didepan Raja, Mo Lek berlaku tahu diri dan dimana perlu; dapat dia meminta petunjuknya Cin Sian dan Ut- tie Pak. Dilain pihak menghadapi U bun Thong, dia harus waspada, mesti dia bisa menjaga diri.

Cie Hun menghampirkan tunangan itu. Melihat demikian, semua orang tahu diri, semua lantas mundur. Dengan begitu si nona sendirian dapat mengantar lebih jauh.

Bisa di mengarti kemasgulan sepasang tunangan baru itu. Banyak yang mereka hendak katakan, akan tetapi aneh, sekian lama mereka” sama sama bungkam.

„ Adik Hun ada pesan apa lagi dari kau?” tanya Mo Lek setibanya di mulut jalanan.

Cie Hun mengawasi, sinarmatanya sayu. „Mo Lek katanya.” perlahan segera kau bakai sendirian saja, karena itu haruslah kau menjaga diri, selamanya harus berhati-hati . . .

Pemula itu tertawa.

„Aku bukan lagi bocah cilik!” katanya Tentu saja dapat aku menjaga diriku! Tak usah kau kuatkan apa-apa „Biakan melainkan mengenai dirimu sendiri, buat segala urusan lainnya pun kau harus berhati-hati, pesan oula si kekasib. „Tidak dapat aku omong banyak, kau sendiri seorang cerdas, oegitu sudah cukup asal setiap saat kau ingat bahwa disini masih ada aku . . .

Hati Mo Lek bercekat. Ia tahu artinya pesan itu. Nyata hati Cie Hun masih tak senang.

Kau jangan kuatir, “kata ia sambil memegang keras tangan sinona. Di dalam batiku cuma ada kau satu orang.

,Dalam hal yang lainnya, cuma satu yang aku pikirkan …” Nona Han menatap

,,Apakah itu ? ‘ tanyanya.

,,Itulah tugas mencari balas untuk ayah angkatku ! Cie Hun menghela napas lega.

„Baik, kau berangkatlah!” katanya. „Tak peduli berapa lama perang berlanjut, aku pasri menantikan kembalimu !”

Mo Lek lompat naik atas kudanya.

,,Kau jaga dirimu baik-baik!” kata ia yang terus mengulapkan cambuknya membuat kudanya membuka tindakan lebar, ke aka ia menoleh, tubuhnya Cie Hun nampak samar-samar, lalu lenyap, akan tetapi dilain pihak kembali ia membayangi wajah Ong Yan Ie . . . .

Di sepanjang jalan ini Mo Lek senanti asa menyingkirkan dari tempat-tempat di mana ada tentara pemberontak. Berkat keras nya kuda uy piauw ma lari. didalam tempo beberapa hari ia sudah mendekati kota Tong kwan. Dengan begitu ia tiba lebih cepat dari pada rencananya, setibanya dikota ini, ia lantas menghadapi soal sulit. Itulah sebab Tongkwan sudah terjatuh dalam tangan An Lok San. Ia berada di pesisir sungai Hong Hoo, ia hendak pergi ke Tiang-an, kota Tongkwan mesti dilewati. Atau ia mes ti membuang tempo pergi ke lain tempat penyeberangan.

Disaat kacau saperti itu, orang pun sulit mendapatkan perahu eretan. Tukang-tukang perahu dipenyeberangan Hong Hoo itu SMdah mengungsi ke lain tempkt. Maka di tepian, ditengah sungai tak nampak sebuah perahu juga

Dengan terpaksa Mo Lek menjalankan kudanya disepanjang tepian. [a mengharap-harap mendapatkan sebuah perahu, sesudah setengah jam lebih, tiba-tiba hatinya menjadi lega, di tepian di bawah pohon yangliu ia melihat sebuah perahu kecil. Ia segera menghampirkan.

Dari dalam kendaraan air itu muncul seorang laki-laki, tak menanti Mo Lek berkata padanya, ia sudah mendahului, lebih dahulu ia menggoyangi tangan berulang-ulang Ia kata : , Tak mau aku hidup di ujung golok ! Tak mau aku mengerjakan pula pekerjaanku ini. Tuan, silahkan kau mencari lain perahu !"

Mo Lek mengeluarkan sepotong emag.

„Sekarang ini ke mana kau mau suruh aku mencari perahu ' kata ia. ,,Kau bawa aku menyeberang, uang emas ini untukmu

!"

Matanya tukang perahu itu bersinar, ia berdiam, kelihatannya ia berpikir.

.Baiklah." sahutnya kemudian. „Burung mati karena makanan, manusia mati karena uang, dengan memandang, uang emasmu ini suka aku pertaruhkan jiwaku, untuk menyeberangkan kau ! Apakah kau hendak- membawa sekalian kudamu ' „Kuda ini pengganti kakiku, pasti aku mesti bawa nyeberang " sahut Mo Lek yang terus menuntun kudanya, untuk dibawa  na ik ke perahu. Syukur masih ada tempat buat binatang itu.

Si tukang perahu menepuk-nepuk punggung kuda itu, kuda uy-piauw-ma meringkik, terus kaki belakangnya berjingkrak, untuk menendang. Syukur Mo Leksebatdan mencegah dengan cepat.

„Kuda ini keras hatinya," kata si tukang perahu. „Dialah seekor kuda jempolan !"

„Apakah kau pandai melihat kuda ' Mo Lek tanya.

„Sudah banyak kuda ysng diseberangkan disini, belum pernah aku melihat yang sebagus ini, ' kata tukang perahu itu, yang lementara itu sudah melepaskan tambatan dadungnya, maka dilain saat, kendaraan air itu sudah mulai dikayuh.

Inilah yang pertama kali Mo Lek berlayar disungii Hong Hoo Ia melihat bagai mana air keruh bergelombang, dikejauhan air seperti menempel dengan langie. Ia men jadi kagum hingga tanpa merasa ia bersiul nyaring.

,,Tuan." tanya si tukang eretan, , sekarang ini lagi terbit bahaya perang, mengapa tuan membuat perjalanan ? bahkan tuan berjalan seorang diri ? kenapa tuan membahayakan diri dengan menyeberangi sungai Hong Hoo ini?"

Mo Lek mengawasi. Ia me ihat orang sangat memperhatikan kudanya. Ia kata di dalam hati : „Jikalau kau main gila, kau harus tahu rasa ! ' Ia menjawab, secara te-rus-terang : „Akulah seorang prajurit dari pasukan tentara negeri, tetapi aku  terpisah dari induk pasukanku, sekarang aku lagi berjalan pulang, kenapa apakah kau takut?'

„Oh, begitu !' kata tukang perahu itu “Sungguh tayjin setia kepada negara ! Tay jin harus dipuji Sekarang aku ketahui tay jin siapa, jangan kata yang aku sudah di berikan uang emas, walaupun tidak pasti akan atu tolong seberangi tayjin. '

Mo Lek bercuriga. Ia melihat orang wajar sekali. Pikirnya :

„Ditepian ini cuma ada dia seorang diri bersama kendaraannya ini. Tadi pun dia agak jeri menyeberangi atu. Setelah mendapat uang, ia menjadi ta bah, sekarang ia jadi begini berani, satu didalam dua, dia kemaruk, uang atau dia mengandung suatu maksud .

Diam-diam pemuda ini merogo sepotong uang tembaga, untuk digenggam. Sedikit saja orang bergerak, hendak ia menghajarnya dengan uang itu.

Tukang perahu itu pandai mengayuh. Perahunya itu dapat laju dengan pesat sekali, diwaktu magrib, tibalah mereka diseberang.

„Silahkan mendarat, tay-jin. berkata dia. ,,Tayjin sudah memberi lebih, tak usahlah tayjin menambahkan "

Kata kata itu dapat diartikan bahwa dia telah ketahui ditangan sipemuda ada tergenggam uang.

Muka Mo Lek merah sendirinva. Ia pikir: „Mungkinkab dia orang Kang Ouw juga? Kalau benar, aku salah maka aku bercuriga berlebihan...

Didalam hari-hari biasa, pasti Mo Lek suka mengajak orang bicara terlebih jauh. Sekarang ini ia mementingkan perjalanannya. Maka itu habis mengucap terima kasih ia lantas berangkat. Ia maiih mendengar tukang perahu itu memuji kagum: ,.Sungguh seekor kuda jempolan!"

Manggunai saat gelap dari sang sore. Mo Lek berjalan mutar. mengitari kota Tong kwan, untuk melintasinya. Dengan begitu tibalah ia dalam oaerah yang di keasai tentera negeri. Disini ia berhenti juna melewati sarg roaUtn Brosnya pagi-pagi ia sod ah berjilan pula. Ketika sore

mendatangi, ia tiba di Hoa im.

Gunung Hoa Sio terletak diselatan kota Hoa im setibanya dikecamatan itu Mo Lek ingat akan reticanaaya Lnra Cee lu yang mau pergi kegurung itu guna mencari dan menolongi orang jalah ibunya Leng Soog. Ingat hal itu ia ingat juga halnya sendiri Ia tiba dua hari leoih cepat dari selayaknya. Jarak diantara Hoa-Im dan Tiang an duaratus lie lebih, dengan rnenuaggang kudanya yang jempolan ini kalau besok pagi ia berangkat ia bisa mencapai dikotaraja dalam tempo setengah harian yaitu lewat tengah hari. Karena mempunyai kelebihan tempo ini ia memikir untuk pergi ke Hoa San guna melakukan penyelidikan: Lalu ia bersangsi. maka ia pikirkan pula niatnya itu. Sesudah memikir masak masak, ia membatalkannya Ia memikir sebaliknya, Yalah ia bersendirian saja apabila ia gagal bukankah ia menggagalkan juga urusan besar? Ia mesti pergi kepada Raja yang harus di lindunginya

Malam itu Mo Lek sinigah dalam sebuah hotel didalam kota. Mendekati fajar mendadak ia mendengar ringkik kuda. Ia kanali suara uy-piauw-ma yang nyaring sekali. Ia kaget, maka ia lari keluar dari kamarnya terus pergi ke istal Ia menyalakan api. Ia melihat kudanya tidak kurang suatu apa Ia berlaku teliti. Ia memeriksa tanah disitu dan sekitarnya. Ia tidak melihat tapak kaki. Ia menjadi heran.

..Nampaknya tidak ada pencuri kuda tetapi Kenapa binatang ini meringkik keras? ]a berpikir.

Disebelab timur sudah mulai berbayang cahaya patih. Melibat itu hati Mo Lek menjadi lega. Ia tidak memikir buat membuat  penyelidikannya lebih jauh Kudanya ada dan selamat. Maka ia lantas berkemas dan menaiki kudanya itu guna melanjuti per jalanannya.

Baru jalan seuntaian. tiba tiba Mo Lek menjadi heran Kudanya memperlihatkan tanda tanda luar biasa. Kuda ita mengorong kecapaian, jalannya makin lama makin perlahan Ia menghentikannya ia lompit turun guna memeriksa. Kedua matanya kuda ita juga tak bersinar lagi mulutnya mengeluarkan ilar putih, berbuih. Lalu kuda itu menggoyang goyang kepalanya dan meringkik perlahan saaranya menyedihkan.

Heran! Kuda ini gagah, tadi malam dia makan banyak kenapa sekarang baru jalan sepuluh lie lebih dia jadi begini? Kenapa dia jadi kecapaian dan tidak kuat jalan? Mungkinkah dia sakit mendadak?

Selagi bingung itu anak muda ini melihat seorang jalan mendataagi dari arah dapan. Tiba didepan ia orang itu meaghentikan tindakannya.

„Sayang! Sayang!” kata dia seorang diri setelah dia mengawasi kuda uy piauw-ma.

Mo Lek lihat orang muda bertubuh jangkung romannya bukan seperti orang ke banyakan. Anehnya, ia seperti pernah melihat orang ini, hanya ia lupa di mana mereka parnah bertemu.

,.Maaf. tuan’* ia menyapa sambil mem beri hormat.

,.Dapatkah aku mengetahui she dan nama tuan mengatakan sayang7″

„Aku Tian Goan Siu menyahut pemuda itu. „Aku menyayangi kuda kau tuan!”

„Kenapakah?” Mo Lek tanya. , Kuda tuan ini mestinya kuda jempolan sayang dia dapat sakit. Aku kuatir kuda ini tak dapat hidup melewati hari ini… sahut orang itu.

Mo Lek heran.

,.Tuan, katanya, kalau taan bisa lihat kuda ini sakit, tentu tuan mengetahui juga cara pengobatannya. Apakah tuan dapat menolong aku? Kalau tuan dapat menolong, tidak nanti aku lupakan kebaikan kau ini” Mata orang ganda itu terbalik. Dia agak kurang tenang.

„Tuan kau memandang terlalu rendah padaku!” katanya.

,,Kalau tuan bicara pula dari hal kebaikan akan aku segera mengangkat kaki dari sini”

Paras Mo Lek merah. , Maaf, tuan, kata ia seraya memberi kormat. ,,Aka tidak sangka tuan seorang cagah. Baiklah! Sekarang dengan melihat kuda ini kuda jemholan, aku minta tuan suka tolong mengobatinya.” Tian Goan Su tertawa.

..Nah, begitu baru benar!*’ katanya. Akn tidak kenal apa yang dinamakan orang gagah, Ak u hanya sangat menggemari kuda jempolan. Sebenarnya, tak suka aku melibat kuda ini mati ”

Habis berkata begitu, ia mendekati kuda, ia merabah tubuhnya dan memasang telinga diperutnya, guna mendengari.

Dua kali kuda itu meringkik keras, meski dia lemas, dia mengangkat kakinya, menjentil orang tidak dikenal ini.

,Hus, jangan!” kata Mo Lek pada kudanya tu. „Orang lagi memeriksa untuk mengobati kau, kenapa kau galak tidak keruan?” Kuda itu, entah karena mendengar kata, atau karena tenaganya sudah habis, lantas berdiam, dia tidak menendang pula. Dia lantas mendekam, membiarkan orang memeriksanya.

,,Berat sekali sabitnya kuda ini, kata Goan Siu kemudian, alisnya berkerut. ,,Akn sangsi dapat mengobati atau tidak, tetapi nanti aku coba.” Ia lantas mengeluarkan sebatang jarum dalam mana ada barang cairnya warna hijau. Ia lantas menyuntik perut kuda itu. Ia menahan jarum itu beberapa detik, ketika ia mencabutnya, ia membarengi menepuk kuda seraya berseru: „Kau bangunlah’”

Aneh! Obat itu sangat manjur! Kuda itu meringkik, terus dia berjingkrak bangun. Tapi terhadap Tian Goan Siu, dan nampak jeri berbareng gusar. Dia mundur, keempat kakinya lantas menoker-noker, hingga pasir dan debu perhamburan.

,,Saudara, kau pandai sekali” ia memuji. „Tidak dapat aku membalas budi, maka itu aku cuma dapat mengucap terima kasih! Terima kasih saudara’”

„Masih terlalu siang kalau sekarang kau menghaturkan terima kasihmu,” kata orang she Tian itu. „Kalau tetap kau menunggang kuda ini, kalau setelah berjalan sepuluh lie lebih kuda ini tidak kumat penyakitnya, itu tandanya dia sudah sembuh benar, tapi andaikata dia sakit lagi, lekaslah kau kem- bali, akan aku nantikan kau disini, aaati aku dayakan menolongnya pula.”

Mo Lek melihat kudanya sudah segar sekali.

„Dia sudah sembuh seperti biasai” katanya. „Aku rasa sakitnya tak bakal kambuh!” Ia memberi hormat, ia mengucap terima kasih, lantas ia lompat naik atas kudanya ito, yang terus ia kasi laii. Ketika ia menoleh, ia melihat orang lagi berdiri mengawasi padanya. Baru lari sepuluh lie lebih, mendadak Mo Lek menjadi kaget lagi. Untuk herannya, ia mendapatkan oey-piauw-ma berjalan lambat, napasnya mengorong, mulutnya me ngeluarkan liar berbusah seperti tadi. Ia menjadi bingung. Karena ia percaya sianak muda, dengan terpaksa ia turun dari kudanya, ia tuntun binatang itu berjalan balik.

Belum sampai ditempat tadi, Goan Sitf sudah terlihat berlari- lari mendatangi.

„Benar-benar kuda itu kambuh?” kata-nya. „Syukur aku belum pergi!”

Mo Lek menyahuti akan tetapi ia menjadi heran.

, Kalau dia tahu kekuatan kuda cuma buat belasan lie, mengapa dia suruh aku mencoba juga menunggangnya ?” demikian pikirnya. „Mungkinkah karena dia kuaur aku menyangsikannya, dia sengaja menguji aku untuk menguji aku, untuk membikin aku tunduk akan kepandaiannya? ‘

Memikir demikian, anak muda ini menjadi curiga. Tapi ialah seorang Kang Ouw yang berpengalaman, meski ia masih muda ia dapat mengunai otak. Tak mau ia memberi kenyataan apa- apa. Dilain pihak, tak mau ia meninggalkan kudanya itu.

„Tak perduli apa juga, biarlah aku menaruh kepercayaan padanya,” pikir pula. Maka ia bawa kudanya kedepan pemuda tidak dikenal itu. Ia berkata: „Saudara benar katamu tadi, kuda initak sanggup jalan lebih auh dari pada sepuluh lie lebih. Aku minta sukalah saudara menolong jiwanya.

„Sekarang ini sakitnya kuda ini bukan lagi aku yang dapat mensobatinya,” berkata Tian Goan Siu. „Tapi aku mempunyai guru, yang kepandaiannya sepuluh lipat le* bih liehay daripadaku…Ah, aku masih belum menanya she dan nama mulia dari kau, saudara!” „Tiat Mo Lek memberitahukan namanya nama yarg palsu.

..Saudara Tiat.” berkata Goan Siu kemu dian, „jikalau kau tidak mempunyai urusan yang terlalu penting, silahkan kau tuntun kudamu ini turut aku menemui guruku. Mau kah kau?”

Mo Lek perlu lekas pergi ke Tiang-an, dilain pihak ia menyayangi kudanya itu.

„Aku telah mempunyai kelebihan tempo dua hari, mungkin tak apa apabila aku terlambat satu atau dua hari …” pikirnya. “Tanpa kuda, bagaimana sesampainya di Tiang an aku mesti bicara dengan Cin Siang?”

Masih ia bersangsi. Ia berpikir pula : Orang ini mencurigai. Kita tidak kenal satu dengan lain, mustahilkah dia mau men celakai aku? Taruh kata benar dia berniat jahat, apakah aku mesti takut terhadapnya? Kalau aku tidak turut mesti kuda ini mati, dari itu baiklah aku ikut dia untuk sekalian menguji hati…”

Lantas ia mengambil kepastian. Ia berkata: „Syukur jikalau gurumu dapat menolong kudaku ini. Nah baiklah mari aku turut kau!”

Goan Siu memberikan pula satu kali inyeksi, yang membikin kuda itu menjadi sedikit lebih segar. Hanya aneh kuda itu, teperti jeri terhadap tabib kuda itu, dia saban-saban meringkik tak seperti biasanya.

Mereka lantas berangkat. Selang sekian lama, Mo Lek merasa heran.

,,Tuan apakah gurumu tinggal didalam gunung Hoa San?” ja tanya,

„Benar,” Goan Siu menyahut. „Guruku jemu dengan umum, ia tinggal menyendiri didalam gunung mi sudah sepuluh tahun lebih.” Mengawasi gunung Hoa San, Mo Lek lantas ingat See Gak Sin Liong Hong-hu Siong. si Naga. Sakit dari Hoa San, lantas  dia ingat bisiknya Ong Yan Ie kepada Lam Cee In. Mungkinkah benar ibunya Leng Song berada didalam gunung itu?  Karenanya ia rada bersangsi, hingga ia merandak.

„Guruku itu membangun gubuk didalam lembah.” Goan Siau kata, „karena itu tak usah kita mendaki gunung.”

Mo Lek berpikir pula: „Keterangan dia ini cocok dengan keterangannya Yan Ie. No na itu menyebut jurang Toan Hun Giam dikaki puncak Lian Hoa Hang. Bukankah jurang itu lembah juga?”

Sambil terus menuntun kudanya, pemuda ini berjalan mengikuti orang she Tian itu.

Mereka mulai memasuki lembah, yang terapit dua buah puncak hingga meskipun di-sianghari dan matahari bersinar merah, didalam lembah tidak ada sinar terang dan hawanya pun lembab

Tak lama Mo Lek sudah mendapat lihat sebuah rumah berdiri ditepian tanjakan, temboknya merah gentingnya hijau, dibagian depannya ada kebun bunga, disitu seorang nona mirip budak tengah mengurus cabang-cabang bunga. Ketika nona itu melesat tetamu dia lari untuk menyambut sambil dia menanya .

,,Oh, siauwya sudah pulang: „Adakah ini tabib yang diundang !

,,Ah sungguh tidak tahu aturan!” kata Goan Siu Didepan tetamu yang terhormat kau membuat berisik tidak keruan! Buat apa kau usilan? Lekas tuntun kuda ini ke-kandang dan kasi makan baik-baik! Kau mengarti tidak?”

Melihat dan mendengar semua itu, kecurigaannya Mo Lek menjadi bertambah. Katanya didalam hati: „Menurut budak ini, Tian Goan Siu ini tuan muda dari rumah ini, maka itu orang didalam rumah itu mesti ayahnya. Kenapa tadi dia menyebut-nyebut gurunya? Mungkinkah gurunya ialah ayahnya?”

Sudah umum bahwa ayah mewariskan kepandaiannya kepala sang anak, tetapi tak umum akan menyebut ayah sebagai guru. Pula aneh: „Goan Siu mau mengundang tabib, karena ia justeru diajak untuk mengobati kudanya?

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 18"

Post a Comment

close