Kisah Bangsa Petualang Jilid 17

Mode Malam
 
Jilid 17

Lantas si nona bertindak cepat. Tiba di depan, ia berhenti di belakang pintu angin. Segera juga ia menjadi tercengang.

Tetamu yang datang terdiri dari dua orang. Merekalah orang-orang yang si nona kenal. Hanya mereka orang-orang yang kedatangannya tidak disangka-sangka. Merekalah Toan Kui Ciang serta isteri!

Toan Kui Ciang menjadi menantu Keluarga Touw, ketika pihak Ong menghancurkan benteng Hui Houw Ce di gunung  Hui Houw San, hingga lima saudara Touw itu menemui ajalnya secara hebat, pihak Ong telah menerka bahwa nanti satu waktu dia bakal datang mencari balas.

Hanya setelah berselang tujuh tahun, Ong Pek Thong dan keluarganya mau percaya dia tak bakal datang. Siapa tahu, sekarang dia muncul di waktu malam! Baru sekarang Yan Ie mengerti. Kata dia di dalam hati, "Pantas ayah menyuruh aku keluar! Kiranya merekalah si tetamu! Ini sulit! Kalau sampai terjadi bentrokan, bagaimana dengan aku?"

Toan Kui Ciang mempunyai hubungan sangat erat dengan Tiat Mo Lek. Inilah Yan Ie ketahui baik sekali. Kalau sekarang Kui Ciang datang untuk menuntut balas, sukar untuknya tidak menghadapi tetamu itu. Inilah sulitnya. Maka ia lantas berdiam saja di belakang pintu angin itu, matanya mengawasi, telinganya mendengari.

Selama itu terlihat sikap tawar dari Ong Pek Thong.

"Aku numpang bertanya, Toan Tayhiap," kata tuan rumah itu, "Sekarang ini tayhiap berdua datang ke mari, adalah ini disebabkan tayhiap mampir karena kebetulan lewat di sini atau dengan maksud sengaja?"

"Tanpa urusan tidak nanti aku datang menjenguk," Kui- Ciang menjawab. "Dengan sebenarnya kami datang  karena satu maksud. Kami mempunyai urusan."

Ong Pek Thong tertawa dingin.

"Kalau seorang Kuncu berkata-kata, itulah seumpama dicambuknya seekor kuda yang larinya pesat!" kata dia. "Tayhiap, sekarang ingin aku tanya kau, apakah tayhiap masih ingat akan kata-katamu yang dikeluarkan dahulu hari di atas gunung Hui Houw San?"

"Apakah yang itu waktu aku katakan?" Kui Ciang tanya. "Dahulu hari itu di atas gunung Hui Houw San aku tengah

berbicara dengan Touw Lo-toa," menyahut Ong Pek Thong. "Ketika itu kau, Toan Tayhiap, sebagai orang bukan orang Rimba Hijau, kau telah mengatakan bahwa kau tidak mau campur tahu urusan kedua keluarga Ong dan Touw. Kemudian kau berdua isterimu telah mengadu silat dengan Khong Khong Jie dengan membuat perjanjian. Hal itu telah diketahui dan diterima baik oleh isterimu juga. Janji itu ialah, siapa menang dan siapa kalah, urusan ialah urusan kamu dengan Khong Khong Jie seorang, kamu tidak bakal memusuhkan Keluarga Ong. Bukankah demikian kata-katamu sewaktu itu?"

Kui Ciang bersikap keren.

"Ong Cecu," ia kata, tawar, "Mengapa tanpa menanya tegas lagi kau lantas menyangka kami datang ke mari guna menuntut balas untuk Keluarga Touw itu? Mustahilkah kecuali urusan itu aku Toan Kui Ciang tidak dapat datang kemari?"

Pek Thong tercengang. Tapi dialah seorang yang berpengalaman dan licik. Hanya sejenak, lantas dia tertawa terbahak.

"Maaf!" katanya. "Kalau begitu teranglah aku si orang tua keliru mengerti! Aku bersyukur yang tayhiap sudi menganggap aku si orang tua sebagai sahabat, sehingga kau sudi datang menjenguk aku! Sungguh, bagaimana aku beruntung! Anak Liong, lekas menyuguhkan teh!"

"Tahan dulu!" berkata Kui Ciang, tawar. "Teh tak diminum tak apa, itulah urusan tak berarti! Ong Cecu, kembali kau keliru!"

Pek Thong melengak pula. "Bagaimana, eh?" tanyanya.

"Malam ini kami berdua datang ke mari, kesatu bukan untuk menuntut balas, kedua bukan untuk mengunjungi sahabat! Mana berharga aku untuk menjadi sahabat dari cecu!"

Tuan rumah mengawasi. "Jikalau begitu, untuk urusan apakah Toan Tayhiap datang ke mari?" dia menanya.

Toan Kui Ciang melirik tajam kepada Ong Liong Kek.

"Aku mempunyai seorang sahabat kekal yang mempunyai anak perempuan," ia menjawab. "Aku datang untuk anak perempuan itu! Anak itu telah diculik oleh siauw-cecu kamu, dibawa ke sini! Sekarang aku minta supaya anak itu dimerdekakan!"

Liong Kek melengak, tetapi segera dia membuka mulutnya, "Ngaco belo! Kapannya aku menculik seorang anak perempuan?"

Parasnya Kui Ciang merah padam, tangannya meraba gagang pedangnya. y

"Anak Liong!" Pek Thong membentak puteranya. "Di depan Toan Tayhiap tak dapat kau berlaku kurang ajar!"

Kemudian lantas ia menoleh kepada tetamunya, untuk meneruskan sambil tertawa manis, "Anakku ini selalu berada di sampingku. Taruh kata benar satu waktu dia berlalu dari sampingku, tidak nanti dia sampai menculik anak perempuan orang! Itulah perbuatan yang merusak martabat! Toan Tayhiap, mungkin tayhiap telah keliru mendengar kata-kata orang..."

Pek Thong berkata demikian dengan hatinya berpikir keras. Jadi orang datang untuk Hee Leng Song. Ia bingung juga. Sebisanya ingin ia menyangkal. Paling dulu ia ingin supaya Kui Ciang tak tahu jelas akan tuduhannya itu...

Alis sang tetamu bangun berdiri.

"Aku Toan Kui Ciang, jikalau aku tidak tahu pasti, tidak nanti aku berani datang ke lembah Liong Bin Kok ini!" katanya nyaring. "Nona itu bernama Hee Leng Song! Sekarang kau boleh tanya anak mustikamu ini, benar atau tidak dia kenal Nona Hee itu?"

"Tidak salah!" Liong Kek berkata cepat. "Aku memang kenal Nona Hee itu! Dia juga sahabatku! Kau mempunyai bukti apa berani menuduh aku menculiknya?"

"Memang benar!" Pek Thong membenarkan anaknya itu. Ia tidak menjadi gusar yang si anak mendahului ia menjawab. "Memang merek.» berdua bersahabat satu dengan lain! Seorang yang tidak dikenal barulah dapat diculik, tetapi  seorang sahabat, bagaimana dapat dia dibawa lari? Sahabat seharusnya diundang!"

Kui Ciang tertawa dingin.

"Tanpa penjelasan kamu tentu masih hendak menyangkal!" katanya. "Pada tanggal dua puluh tujuh bulan yang lalu kamu menculik si nona dan ibunya dari dusun See Kong Cun di gunung Giok Liong San! 1 alu pada tanggal empat bulan ini, Nona Hee sendirian telah dibawa ke lembah Liong Bin Kok ini! Ketika itu si nona sudah terkena obat bius yang membuatnya tak berdaya sama sekali! Anakmu itu, dengan menggunai sebuah joli kecil telah membawa nona itu. Jalan yang diambil ialah pintu samping di ujung kanan kebun bunga kamu! Benar atau tidak?"

Pek Thong dan puteranya kaget sekali. Kui Ciang bicara aaperti dia menyaksikan dengan matanya sendiri kejadian itu. Dalam sekelebatan saja timbul pertanyaan di dalam hatinya masing-masing, "Apakah ada mata-mata musuh yang mengeram di dalam Liong Bin Kok?" 

Kui Ciang cuma berhenti sebentar, ia melanjuti pula, kala kalanya tetap nyaring, "Ayahnya Nona Hee itu menajdi saudara angkatku! Si nona juga menjadi tunangan sahabat karibku Lam Ce In! Maka itu urusannya si nona tidak dapat aku tidak  campur tahu!"

Ong Pek Thong masih mau menyangkal, masih dia hendak memohon bukti, akan tetapi Ong Liong Kek yang berani telah habis sabar.

"Toan Kui Ciang kau ngaco belo!" dia berseru. "Nona Hee itu ialah tunanganku! Ada sangkutan apakah aku dengan si orang she Lam? Tidak salah! Memang sekarang si nona berada di dalam lembah kami ini, malah segera kami bakal merayakan pernikahan kami! Kau baiklah berlaku sedikit sungkan, mungkin aku nanti mengundang kau minum arak kegirangan! Jikalau  kau masih tetap ngoceh tidak keruan, awas, nanti aku lemparkan kau pergi!"

"Bagus betul!" kata Kui Ciang dingin. "Menurut kata kau ini, jadinya Nona Hee sendiri yang sudi menikah denganmu, bukan?"

"Pasti!" sahut Liong Kek dengan temberang. Sudah terlanjur, dia membelar. "Dia toh bukan gadismu? Kalau dia suka menikah denganku, hak apa kau punya untuk mencegahnya?"

Touw Sian Nio yang semenjak tadi diam saja menjadi gusar sekali.

"Angin busuk!" bentaknya. "Mana mungkin Nona Hee sudi menikahi kau bangsat cilik tidak keruan?"

"Jangan kau menyangkal!" Kui Ciang pun membentak. "Nona Hee berada di sini, lekas undang dia keluar, kita nanti tanya dia, segala apa lantas menjadi terang!"

"Kurang ajar!" Liong Kek membentak. "Mana dapat tunanganku sembarang menemui kamu?"

Sian Nio habis sabar. "Engko!" kata ia pada suaminya, "Nona Hee benar berada di sini, bukti sudah ada, buat apa melayani dia mengoceh? Buat apa kita mengadu bicara dengan segala bangsat? Dia tidak mau mengasih ijin Nona Hee menemui kita, mustahil kita tidak dapat masuk ke dalam untuk menggeledah?"

Ong Pek Thong melihat suasana buruk itu.

"Akulah ketua Ikatan Rimba Persilatan, aku minta kamu memberi muka padaku!" kata dia nyaring.

Dia habis daya, sengaja dia menyebut-nyebut diri sebagai ketua Ikatan Rimba Persilatan - Lok Lim Beng-cu. Tapi justeru dia menyebut itu, justeru dia menyebabkan Nyonya Kui Ciang naik darah. Nyonya ini menjadi ingat sakit hati kelima saudaranya yang terbinasa di tangan Keluarga Ong ini. Maka ia bagaikan api ditambah minyak.

"Peduli apa kau ketua ikatan atau bukan?" ia berseru. "Kau main gila, hendak aku membuat perhitungan denganmu!"

Ong Pek Thong mengulapkan tangannya. "Baiklah!" dia berseru.

"Baik, lawan padanya! Terang-terang mereka ini menimbulkan urusan yang tidak-tidak! Terang mereka datang untuk pembala'.,in keluarga Touw!"

"Ser!" demikian suara angin menyamber. I'iba-tiba sebuah senjata rahasia yang merupakan buah berduri menyamber ke arah Sian Nio.

Itulah serangannya seorang sebawahannya Ong Pek Thong. Dia memang pandai menggunai senjata rahasia yang dipakaikan racun. Dia tahu Nyonya Toan pandai menggunakan kim-tan, peluru emas, maka dia mendahului turun tangan. Sian Nio dengar suaranya senjata rahasia itu,ia tertawa dingin. "Makhluk apa berani main gila di depanku?" katanya. "Baiklah aku lebih dulu bikin buta matamu!"

Kata-kata itu telah segera dibuktikan. Panah bekerja dan bersuara, peluru melesat! Lantas di sana terdengar jeritan hebat, muka si pembokong lantas saja mandi darah. Sebab dua-dua matanya telah kena dihajar.

Di lain pihak terdengar pula jeritan dari seorang tauwbak yang roboh terguling! Hanya dia roboh terhajar senjata rahasia kawannya, sebab senjata rahasia itu kena disampok si nyonya dan nyasar kepadanya.

Celaka tauwbak itu. Dia menjadi kurbannya racun. Selain dia terluka dan binasa, di dalam tempo yang cepat, darah keluar dari mulut, hidung, mata dan telinganya.

Touw Sian Nio tidak berhenti sampai disitu. Lagi tiga kali ia menarik panahnya yang seperti jepretan itu. Kali ini ia menyerang Ong Pek Thong pada tiga arah - atas, tengah dan bawah.

Ong Pek Thong berkelit ke samping, sedang Ong Liong Kek, puteranya, menolongi menangkis dengan kipasnya.

Beng-cu itu - ketua Ikatan Rimba Hijau - berkelit terlalu cepat. Peluru yang ketiga menyusul ke kepalanya, justeru di saat ia mengangkat kepala habis berkelit itu. Tepat, jidatnya kena terhajar, hingga jidatnya itu mengucurkan darah.

"Kurang ajar!" dia mendamprat saking gusar. "Aku telah memberi muka kepada kamu, kamu justeru main gila! Kalau hari ini aku membuat kamu dapat keluar dari pintuku, Ong Pek Thong tidak ada punya muka untuk hidup lebih lama pula dalam Rimba Hijau!" "Beng-cu, jangan gusar!" berkata seorang pendeta gemuk'' di belakang ketua itu. "Nanti aku bereskan ini perempuan galak!"

Berkata begitu, si pendeta berlompat maju sambil memutar Sian-thung, tongkatnya, yang panjang seperti toya. Begitu ia datang dekat Nyonya Toan, lantas ia menghajar. Hebat sekali tongkat itu turun dari atas ke bawah.

Sian Nio juga gusar, tapi dia berkelit sambil lompat mundur. "Baiklah,   biarlah   kepala   gundulmu   juga   merasai   peluru!" bentaknya. Dan ia mengguna pula panahnya. Si pendeta tertawa berkakak.

"Segala mutiara sebesar beras pun mau bercahaya terang!" ejeknya. "Pelurumu mana dapat mengenai aku si orang suci!"

Benar perkataan pendeta itu. Berulang-ulang terdengar suara beradu atau benturan, dari peluru-peluru melawan tongkat. Semua peluru itu jatuh hancur. Tongkat diputar begitu rupa hingga tubuh si pendeta terlindung rapat sekali.

Toan Kui Ciang menyaksikan itu, ia mengerti si pendeta sangat tangguh, tak dapat dia dilawan keras. Tentu sekali tak suka ia melihat isterinya terancam bahaya. Maka sambil berlompat maju, ia berseru, "Lepas tanganmu!"

Pendeta itu bernama A Seng Lu. Dialah orang sesuku bangsa dengan An Lok San - orang suku Ouw. Oleh An Lok San, dia diundang bekerja sama, dia diberi kedudukan sebagai "Tay Hoatsu," atau guru besar. Dia mendapat kepercayaan. Maka itu, setelah An Lok San berserikat dengan Ong Pek Thong, dia dikirim kepada ketua Ikatan Rimba Hijau itu, namanya sebagai pembantu, sebenarnya menjadi pengawas diam-diam. Biar bagaimana juga, An Lok San tidak dapat mempercayai habis pada Pek Thong, ingin ia mengawasinya. Ong Pek Thong bangsa licik, ia tahu hatinya An Lok San itu, ia sengaja berlagak pilon, bahkan sebaliknya, ia perlakukan- si guru besar dengan baik sekali, guna mengambil hati orang.

A Seng Lu melihat Pek Thong seperti jeri terhadap Kui Ciang, dia menjadi tidak senang, karenanya dia lantas maju, guna memberikan bantuannya. Dia juga tidak melihat mata pada Sian Nio dan Kui Ciang, hingga dia percaya tongkatnya bakal menghajar roboh suami isteri itu.

Siapa tahu, begitu dia melayani si orang she Toan, hatinya menjadi bercekat. Nyatanya lawan ini tangguh sekali.

Toan Kui Ciang tidak mau pedang melawan tongkat, ia berkelahi dengan menggunai tipu silat huruf "Gie" atau "Terlepas". Maka pedangnya senantiasa berkelebatan gesit, menyingkir dari setiap gempuran toya. Maka sia-sia saja segala percobaan keras dari si pendeta, yang sendirinya menjadi seperti terkurung pedang.

Kui Ciang melayani sampai sekian lama, lalu mendadak dia berseru, "Lepas tangan!"

Dengan pedangnya ia memapas di sepanjang tongkat, yang dipakai menyodok kepadanya, sedang rubuhnya berkelit ke samping.

Bukan main kagetnya si orang Ouw. Tak sempat dia berkelit, kalau dia tidak melepaskan cekatannya pada toyanya. Mesti habis terpapa s janji jeriji tangannya yang di sebelah depan itu. Tapi dia cerdik, di saat sangat terancam itu, dia melepaskan senjatanya setelah dia menyodorkan itu ke depan, tubuhnya sendiri dibuang ke samping, untuk bergulingan di lantai Maka itu, bebaslah dia dari bahaya.

Sekarang ini Liong Kek telah memperoleh kemajuan, dibanding dengan Kui Ciang atau Ce In, ia melainkan kalah seurat, dengan begitu tak usahlah ia mesti kalah begitu cepat seperti si pendeta yang terkubur itu

A Seng Lu merayap bangun dan basah dengan keringat dingin Dia kaget sekali. Tapi dia lantas maju pula. Dia penasaran sekali. Hanya kali ini dia tidak berani lagi terlalu sembrono. Dengan senjatanya yang panjang dapat dia berkelahi dengan memisahkan diri jauh dari Kui Ciang.

Kali ini sulit juga buat si tetamu. Tak lagi ia dapat menggunai tipu silat seperti tadi. Ia sekarang kena dikepung berdua.

Dua pembantu lainnya dari Pek Thong lompat maju Mcicka meluruk terhadap Sian Nio. Mereka bukan sembarang orang, sebab semuanya orang-orang kenamaan dari Rimba Hijau.

Yang satu bernama Touw Liong, yang lain Touw Swie. Yang belakangan pandai silat "Siauw-kim-na," ilmu menangkap tangan lawan untuk dipatahkan atau sedikitnya salah urat. Touw Liong bersenjatakan pl goat siang-lun, sepasang roda matahari rembulan.

Touw Sian Nio melawan kedua musuhnya itu. la dapat mengimbanginya.

Isterinya Toan Kui Ciang ini, seperti sudah diketahui, mempunyai tiga macam kepandaian. Pertama-tama ialah pelurunya itu, atau sin-tan. Yang kedua "Kim Kiong Sip-pat Ta," ialah busurnya sendiri, yang dapat digunai sebagai senjata. Dan yang ketiga, "Yu-sin Pat-kwa-to," yaitu ilmu golok Pat-kwa-to

Ong Pek Thong menyaksikan pertempuran ganjil itu, ia masih belum puas, bahkan ia menjadi bertambah penasaran karena pihaknya tak juga memperoleh kemenangan.

Dengan satu seruan, ia menitahkan empat tauwbak besar maju untuk membantu, guna mengepung kepada dua musuh itu. Diantaranya ialah dia menyuruh pula orang lekas-lekas memanggil datang anak perempuannya.

Ong Yan Ie terus mengintai. Sampai itu waktu, tak dapat ia berdiam terus di belakang pintu angin itu. Sulit atau tidak, ia mesti maju. Jelek kalau perbuatannya itu diketahui ayahnya.

Begitu ia muncul, ayahnya lantas berkata nyaring, "Anak Yan, kenapa baru sekarang kau datang? Kau lihat, kita kaum Keluarga Ong telah diperhina orang!"

"Jangan bergelisah, ayah!" berkata si puteri, yang tak menghiraukan teguran. "Dua orang ini tentu tidak akan dapat lolos dari sini! Cukup dengan mengasih datang barisan gaetan, mereka pasti bakal kena diringkus!"

Memang Nona Ong ini mempunyai satu pasukan wanita yang diajari ilmu menggunai gaetan. Itulah barisan yang dulu hari membuat Mo Lek mudah tertangkap. Hanya, dengan berkata begitu, sekarang ini si nona menggunai akal memperlambat waktu. Sebabnya ialah ia tak sudi menempur Kui Ciang depan berdepan.

Ong Pek Thong mengangguk.

"Baik," katanya. "Tak usah pergi sendiri memanggil barisanmu itu, nanti aku perintah orang!"

Yan Ie tidak berani memaksa. Terpaksa ia menghampirkan ayahnya, guna berdiri di sisinya, untuk menonton pertempuran dahsyat itu.

Lama-lama Kui Ciang menjadi sengit. Mendadak dia berseru keras sekali. Tubuhnya bergerak disusul pedangnya, yang memperlihatkan sinar berkilau, menerjang kepada Ong Liong Kek. Si anak muda tidak berani menangkis, ia berkelit dengan gesit. Si pendeta jeri. Dia tidak - berani maju hanya memutar tongkatnya guna menjaga diri.

Dua tauwbak yang membantu Liong Kek tidak waspada dan gesit seperti cecu yang muda itu, mereka menjadi korban- korban serangannya Kui Ciang itu. Yang satu kena ditusuk patah tulang iganya, yang lain terbabat kutung dua jeriji tangannya.

Kui Ciang menerobos keluar dari kepungan, hingga dapat ia menghampirkan isterinya.

Sian Nio terdesak dikepung dua saudara Touw serta dua tauwbak pembantu mereka itu, dengan datang suaminya, kedudukan menjadi baik kembali.

Ong Pek Thong habis sabar, ia pun bergelisah. "Tak dapat kita menantikan barisan penggaet!" ia berseru. "Anak Yan, pergi kau bantu kakakmu!"

Kembali Yan Ie menjadi terpaksa. Mau atau tidak, ia maju sambil memutar pedangnya.

Justeru itu terdengar satu seruan, "Nona Hee, lihat! Bukankah itu Toan Tayhiap? Bukankah aku si pengemis tua bangka tidak memperdaya kau?"

Ong Liong Kek adalah orang yang paling dulu terkejut, la kaget berbareng heran. Segera juga ia melihat yang berseru itu We Wat si pengemis dan Hee Leng Song, nona yang ia sangka tengah rebah lak berdaya di dalam kamar!

Bukanlah secara kebetulan datangnya pengemis itu. Ketika itu han dia berpisah dari Lam Ce In, dia lantas pulang untuk menanya muridnya yang menjadi pembawa suratnya. Si murid memberi kepastian kepadanya bahwa surat itu diberikan kepada Hong-hu Siong sendiri serta ketika itu di antara mereka tidak ada orang yang ketiga. Jadi di sana tidak ada Khong Khong Jie.

Ia menjadi tidak mengerti sekali, sia-sia saja ia menerka- nerka Maka akhirnya ia berangkat ke Kiu-goan, untuk memenuhkan janjinya dengan Ce In. Hanya sebelum ia tiba di Kiu-goan, Ce In sudah berangkat terlebih dahulu.

Orang she Lam itu berangkat dengan suatu tugas rahasia. Di dalam kantor Thaysiu, kecuali Kwe Cu Gie, tidak ada lain orang yang mengetahui tugas itu tugas apa.

We Wat berpikir keras karena ia tak tahu kemana perginya si sahabat. Ia lantas menduga, mestinya lenyapnya Leng Song disebabkan si nona diculik Keluarga Ong, karenanya tentunya Ce In berangkat ke Liong Bin Kok, yang menjadi sarangnya Keluarga Ong itu. Ia mau membantu Ce In, ia mesti memberikan bantuannya tak kepalang tanggung. Maka itu ia mengambil keputusan, "Baiklah, aku pergi ke lembah itu.'"

Pengemis itu tidak dapat menerka semua tetapi ia tak gagal seluruhnya.

Diluar dugaan, selagi We Wat tidak bertemu dengan Lam Ce In, ia sebaliknya bertemu dengan Toan Kui Ciang dan Touw Sian Nio, sepasang suami isteri jago itu.

Kui Ciang berdua isterinya mencari Ce In karena sudah lama mereka bertiga tak pernah bertemu - sudah tahunan. Justeru itu negara lagi tidak aman, maka mereka lantas berangkat ke Kiu-goan. Mereka berniat memberikan bantuan mereka. Tidak mereka sangka, mereka menubruk tempat kosong. Maka kebetulan sekali, mereka bertemu dengan We Wat. Kui Ciang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Leng Soat Bwe dan Hee Leng Song, pasti sekali ia menjadi kaget dan bingung mendengar kabar lenyapnya itu ibu dan anak diculik orang, oleh karena itu tanpa ayal lagi ia berangkat bersama We Wat ke Liong Bin Kok, guna mencari nyonya dan nona itu.

We Wat menjadi tianglo ketua dari Kay Pang, Partai Pengemis dan pengemis terdapat dimana-mana, karena itu, mudah untuknya mencari keterangan. Bahkan di dalam Liong Bin Kok juga ada anggautanya. Maka itu, begitu ia sampai di lembah itu, ia lantas mendapat keterangan jelas perihal sepak terjangnya Keluarga Ong, hingga diketahui pasti adanya Leng Song di dalam lembah itu.

Untuk bertindak, We Wat berdamai dengan Kui Ciang suami isteri. Kesudahan mereka menggunai akal. Ialah Kui Ciang dan Sian Nio berkunjung secara terang-terangan, sedang We Wat masuk dari belakang secara diam-diam untuk mencari tahu di mana Nona Hee dikurung.

Kebetulan sekali bagi We Wat, Leng Song sudah makan obat dari Yan le dan dengan lekas dia pulih kesehatannya, ia menemui si nona tengah si nona keluar dari kamar dengan niat mencari Liong Kek.

Leng Song tidak takut, bukannya dia lari menyingkir, justeru dia mau membuat perhitungannya dengan pemuda yang licik itu. Maka bersama-sama mereka pergi keluar, di saat Kui Ciang dan Sian Nio menempur musuh-musuh yang mengurungnya.

"Nona Hee - kau!" seru Liong Kek, heran bukan kepalang. "Aku kenapa?" balik tanya si nona. "Bukankah aku telah tidak diracuni hingga mati olehmu?" "Bret!" begitu terdengar dan ujung bajunya Liong Kek kena dirobek ujung pedangnya si nona, yang menyahutinya sambil menerjang.

Dalam kaget dan juga mendongkol. Liong Kek membuat perlawanan dengan kipasnya. Ini membuat si nona bertambah sengit, hingga ia menyerang bertubi-tubi tanpa menghiraukan di dalam ilmu silat ia sebenarnya menang unggul sedikit sekali.

Liong Kek terdesak. Kembali bajunya kena dirobek, bahkan ujung pedang mampir di dadanya. Syukur ia masih sempat melenggakkan diri dengan tipu silat "Tiat-poan-kio," atau "Jembatan besi", hingga dadanya dapat dibikin lempang ke belakang. Lantas darahnya muncrat keluar membasahkan dadanya itu.

Leng Song penasaran, dengan alis berdiri, dia berkata nyaring, "Bangsat rendah tidak tahu malu! Hari ini ialah hari lubernya takaran kejahatanmu! Apakah kau masih memikir untuk kabur? Hm!"

Kata-kata itu disusuli dengan tikaman "Pek-hong Koan-jit," atau "Bianglala putih menghalangi matahari". Ujung pedang meluncur ke arah kerongkongan.

Di saat Liong Kek bakal menerima kematiannya, tiba-tiba pedang Leng Song ada yang tangkis, waktu Nona Hee mengawasi, ia melihat Yan Ie yang menjadi pembela cecu muda itu. Ia pun melihat alisnya si nona turun dan matanya mengembeng air. Itulah bukti si nona sangat berduka dan menyesal, dia seperti memohon maaf.

Ketika itu digunai Liong Kek buat segera menyingkirkan diri, dalam hal mana ia berhasil karena Nona Hee tidak mengejarnya. Ong Pek Thong mengenali We Wat, lantas dia berseru, "We Lotiang! Kita ada bagaikan air sungai dan air kali yang tidak saling mengganggu, kenapa sekarang kau memusuhkan aku?"

Si pengemis menjawab dengan tertawanya yang nyaring. "Ong Pek Thong!" katanya, "Baru sekarang kau tahu takut,

ya? Tapi kau benar! Sudah banyak tahun kau menjadi Lok Lim

Beng-cu, aku si pengemis tua belum pernah mencari kau untuk mengangguk-angguk kepala di hadapanmu!"

Kata-kata "mengangguk-angguk kepala" itu ialah istilah dalam dunia Rimba Hijau atau kaum Sungai Telaga, artinya "mencari gara-gara".

Ong Pek Thong melengak, atas mana si pengemis melanjuti kata-katanya, "Kau tahu, sekarang kau lain daripada dulu! Sekarang kau membantu An Lok San yang melakukan pemberontakan, yang membuat rakyat jelata menjadi bersengsara! Maka sekarang aku tak mau memandang mata lagi kepadamu! Tapi baiklah kau mengerti, musuh ialah musuh, dari itu aku si pengemis tua, tak sudi aku membunuh kau, jadi kau jangan kuatirkan aku! Untuk membunuhmu, ada orang lainnya!"

Mulut We Wat bekerja, tangannya bekerja juga. Dua orang tauwbak menghadang di depannya ia samber mereka itu, sembari mencekuk, ia tertawa dan kata, "Aku tidak membunuh si bangsat tua, tetapi ada gantinya dua bangsat muda ini untuk aku melampiaskan hatiku!"

Kedua tauwbak itu tercengkeram tulang-tulang sepundaknya, mereka merasakan sakit bukan main, mereka berkaok-kaok bagaikan babi disembelih, memohon ampun, tetapi si pengemis mengangkat rubuhnya, untuk diputar di atasan kepala. Mendadak pengemis itu tertawa nyaring dan kata, "Baiklah, mengingat kamu cuma menganut biang, suka aku memberi ampun kepadamu!"

Lantas mereka dilemparkan keluar pintu, hingga mereka roboh menggabruk. Mereka dapat tak mati tetapi semenjak itu, habis sudah tenaga mereka, tak dapat mereka bersilat pula disebabkan remuknya tulang-tulang pundaknya itu.

Dengan tibanya We Wat dan Leng Song, pihak Liong Bin Kok menjadi kacau.

Sian Nio mendapat hati, sambil berseru nyaring ia menyerang Touw Liong dengan goloknya, golok bian-to yang tajam, sedang dengan busur Kim Kiong di tangan kiri, ia menyampok Touw Swie.

Ketika itu Touw Swie justeru menyerang dengan tipu silat "Hoat-in Kian-jit" atau "Membalik mega, melihat matahari". Ia hendak menghajar lengan si nyonya. Si nyonya juga lagi menggunai tipu, sebab penyerangannya kepada Touw Liong itu gertakan belaka.

Tak ampun lagi, jari-jari tangannya Touw Swie kena terhajar busur si nyonya, kontan dia menjerit kesakitan. Dia merasa sakit sampai di ulu hatinya.

Sian Nio tidalc melihat Liong Kek, sebaliknya, ia mendapatkan Yan Ie, hatinya menjadi sangat panas. Ia ingat kebinasaannya sekalian kakaknya. Maka ia lompat kepada nona itu. Justeru itu, Leng Song menteriaki Nyonya Toan ini, "Bibi, serahkan bangsat wanita kecil itu padaku!" Dan dia lompat mendahului, guna menghampirkan Nona Ong.

Ong Pek Thong gusar, sambil mencaci, ia tanya siapa di antara orang-orangnya yang mau membekuk Sian Nio. Dia menyebut-nyebut "si nyonya jahat". Ia menjanjikan upah besar kepada orangnya yang berhasil membekuk nyonya jahat itu.

Sian Nio murka sekali.

"Kau tidak mencari, akulah yang mencari kau!" bentaknya. "Hendak aku membuat perhitungan denganmu!"

Nyonya Kui Ciang membentak demikian karena ia ingat, "Yang membunuh kakak-kakakku ialah si bangsat wanita cilik tetapi biang kejahatannya ialah ini tua bangka jahat!"

Justeru Leng Song lari pada Yan Ie, ia lantas lari pada Lok Lim Beng-cu itu.

Leng Song berkata demikian dan memburu kepada Yan Ie dengan ada maksudnya. Ia ingat budi si nona sudah memberikan obat padanya, biar ia membenci Liong Kek, ia hendak membalas budi nona itu. Maka ia mencegah Sian Nio menyerang si nona.

Begitu ia menghampirkan Nona Ong, ia kata perlahan, "Nona Ong, lekas kau lari menyingkir!"

Di pihak lain, beberapa orangnya Ong Pek Thong maju ke depan guna menghadang Sian Nio. Yan Ie pun melihat majunya Nyonya Kui Ciang itu. Mendadak ia berlompat.

Leng Song menyangka nona itu mau menyingkir, tak tahunya dia justeru lompat lari guna menghampirkan Sian Nio. Dia rupanya tidak dapat membiarkan ayahnya diserang musuh.

Menampak demikian, Leng Song mengerutkan alisnya. Tapi ia kata di dalam hati, "Tak dapat karena urusan kau seorang aku membiarkan terlolosnya si bangsat tua!"

Maka ia lompat memburu, bahkan ia berhasil melombai Yan Ie, hingga ia dapat memutar tubuh guna menghalang!

"Nona Hee, kau memaksa aku!" katanya, menyesal. Lantas ia menyerang dengan pedangnya. Hebat serangannya itu. Walaupun demikian, adalah maksudnya guna mencegah Nona Hee merintangi terus padanya, maka itu sekalipun hebat, setiap serangannya gertakan belaka.

Leng Song melawan dengan keras tetapi dengan serupa maksud.

Di dalam tempo yang pendek, kedua pihak sudah saling menyerang dengan hebat, sampai pedang mereka beradu berulang-ulang. Untungnya untuk Leng Song, ia menang tenaga dalam hingga ia dapat terus menghalang-halangi Nona Ong itu.

Di sana masih terdengar tertawanya We Wat, yang agaknya sangat gembira.

"Biar aku melemparkan lagi beberapa bangsat cilik!" demikian suaranya. "Ha, ha! Sungguh menggembirakan!"

Maka suruplah gelarannya ketua pengemis ini, "Hong Kay,"  si Pengemis Edan. Ia lantas menyerbu, ia menangkap setiap tauwbak di dekatnya, untuk ditampar atau digaplok, atau  ditarik rambutnya, setelah puas, ia melemparkannya keluar!

Si pendeta asing panas hati melihat lagaknya We Wat. Ia pikir, main lempar orang itu tentulah sebab orang bertenaga besar luar biasa. Ia menyangsikan kepandaian silat si pengemis, maka ingin ia ? maju. Ia mengharap dengan demikian ia bisa merebut muka terangnya, yang tadi dibikin guram oleh Kui Ciang.

We Wat baru habis melemparkan korbannya yang ketujuh ketika mendadak ia mendengar samberan angin keras ke arahnya, lantas ia melihat d liangnya tongkat panjang.

Ia tertawa berkakak dan berkata, "Inilah seekor kerbau dungkul!" Ia bukan berkelit atau menangkis, ia justeru mengulur kedua tangannya memapaki tongkat!

Si pendeta kaget sekali. Tongkatnya kena ditangkap tanpa ia berdaya menariknya pulang untuk dibikin terlepas! Ia menjadi tercengang.

"Bagus!" kata We Wat tertawa. "Kiranya kau bertenaga besar juga! Hayo, lepas tanganmu!"

Lantas ia menggunai tenaganya yang dinamakan "Kek-but Toan-kang," atau "Mengalihkan tenaga dengan meminjam benda perantaraan" Tegasnya ia menggunai tenaga dengan meminjam tongkat lawan.

Si pendeta menjadi sangat kaget. Mendadak ia merasakan tenaga menolak yang keras sekali. Tak sanggup ia mempertahankan diri, terpaksa ia mesti mundur dengan melepaskan tongkatnya.

Sambil memegangi tongkat orang, We Wat berkata pula sambil tetap tertawa, "Ha, tongkat ini tidak enteng! Hanya sayang, tongkat bagus dilihat tetapi tidak ada faedahnya! Kalau ini dipakai untuk mengemplang anjing, sebaliknya terlalu berat!"

Mendadak ia membantingnya lempang ke tanah, hingga toya itu nancap melesak ke dalam tanah hampir terpendam seluruhnya.

Si pendeta asing mundur terhuyung. Syukur ia tidak sampai jatuh terguling. Melihat ketangguhan musuh, ia kata di dalam hati, "Sekarang aku mendapatkan bukti dari liehaynya ilmu silat Tionggoan! Pengemis ini jauh terlebih liehay daripada lawanku tadi! Ah, sudahlah, sudahlah! Buat apa aku berdiam lebih lama pula di sini?" Maka ia membuka jalan untuk kabur keluar, buat terus lari pulang ke Hoan-yang.

Sian Nio mau menghampirkan terus pada Ong Pek Thong, ia menyingkirkan setiap orang yang menghadangnya. Justeru itu ia mendengar bunyinya terompet nyaring, disusul dengan seruan-seruan berisik. Ia lantas saja memasang mata.

Ong Pek Thong ingin merayakan pesta pernikahan puteranya, ia mengundang banyak tetamu. Telah tiba tidak sedikit tetamu orang-orang Rimba Hijau.

Siapa tahu, mendadak Kui Ciang dan nyonya datang berkunjung hingga terjadilah pertempuran hebat itu. Liong Kek kabur keluar, ia perintah orang-orangnya membunyikan alaman ada bahaya. Dengan itu ia mau mengumpulkan orang, guna mendapat bala bantuan.

Berbafeng dengan itu tiba juga barisan wanita dari Yan Ie, yaitu barisan yang terlatih dengan gaetan. Maka dilain saat, Sian Nio sudah kena dirintangi bala bantuan itu.

Berbahaya adalah barisan penggaet itu. Dengan gaetan mereka bisa menyerang dari jauh-jauh. Dengan jumlah mereka yang banyak, gaetan mereka menjadi serabutan. Mereka memang telah berlatih, mereka senantiasa mengancam kaki lawan.

We Wat jadi mengerutkan alis.

"Aku justeru paling tak sudi melayani wanita!" katanya di dalam hati.

Maka lekas-lekas ia mencekuk dua orang tauwbak, untuk memakai tubuh mereka sebagai senjata setiap kali gaetan menyamber, ia menangkis, ia membela diri dengan senjata manusia itu, hingga tukang-tukang gaet batal menggaetnya. Kui Ciang dan isterinya kembali kena terkurung. Mereka itu jadi mendongkol. Tiba-tiba Kui Ciang berseru keras membarengi satu serangan. Ia justeru menghadapi Touw Liong yang senjatanya jit goat siang-lun, menjadi senjata istimewa untuk mengekang pedang, hanyalah orang she Touw itu kalah liehay.

Ketika Touw Liong menangkis, roda-rodanya kena dibikin putus! Dia menjadi sangat kaget, hatinya menjadi dingin. Dengan ketakutan dia melemparkan senjatanya dan lari kabur.

Sampai disitu, Kui Ciang membulang-balingkan pedangnya, guna melawan pelbagai gaetan. Beruntung untuknya, ia memegang pedang mustika, maka setiap gaetan yang membenturnya lantas terbabat kutung.

Kemudian ia berseru dengan bengis, "Kamu semua lekas mundur! Aku tidak sudi membinasakan orang perempuan! Kamu juga janganlah membantu orang jahat!"

Sian Nio turut menyerang hebat mengikuti suaminya itu. Barisan gaetan itu lantas juga kena didobolkan.

Ong Pek Thong menjadi bergelisah. Ia serba salah. Mengikuti rasa jeri, ingin ia lantas mengangkat kaki. Tapi ialah kepala Ikatan Rimba Hijau, kalau ia kabur, ia pasti akan mendapat malu. Kalau ia tidak menyingkir, bahaya maut nampak lagi mendekatinya...

Sekonyong-konyong, terdengarlah riuhnya genta alamat bahaya, datangnya dari empat penjuru, suaranya menulikan telinga.

Liong Bin Kok berkedudukan bagus dan kuat, karenanya di sana tidak ada dibangun panggung-panggung atau menara pengawas untuk orang dapat melihat jauh arah luar, sebagai gantinya, diadakan persiapan genta itu, untuk memberi tanda apabila ada ancaman bahaya.

Sekarang datang suara genta ramai itu, itulah tanda dari datangnya bahaya hebat. Maka kagetnya Pek Thong tidak terkirakan. Selagi mengawasi keempat penjuru, lantas ia melihat lari datangnya seorang tauwbak yang tangannya membawa sehelai bendera merah.

"Cecu, ada bahaya besar!" tauwbak itu berseru dengan pemberitahuannya. "Musuh sudah melewati tanjakan Liong Bin Kang!"

Liong Bin Kang atau Tanggul Naga Tidur, menjadi pusatnya lembah Liong Bin Kok. Sarang itu terpisah hanya beberapa lie dari tempat di mana sekarang Pek Thong berada. Tentu sekali Pek Thong menjadi kaget sekali. Hanya dengan memaksakan diri, dapat ia bersikap tenang.

"Musuh dari mana itu?" ia tanya. "Berapa besar jumlahnya mereka?"

"Entahlah," menjawab si tauwbak. "Diwaktu gelap seperti ini, sukar kami mengenali. Mereka datang secara tiba-tiba dari empat penjuru, setahu berapa banyak jumlahnya!"

"Celaka betul!" Beng-cu berseru. "Liong Bin Kok dikurung dengan delapan belas lapis penjagaan, kenapa musuh bisa dengan tiba-tiba saja sampai di Liong Bin Kong? Mungkinkah musuh mengirim jumlah yang kecil dahulu untuk mengacau? Kalau begitu, tentu jumlah itu tidak berarti! Kenapa kau sekarang membawa ini kabar celaka untuk mengacau?"

Kata-kata Beng-cu ini diakhirkan dengan tabasan pedangnya kepada tauwbak itu, yang lantas menjadi mati konyol, karena dia tak menyangka bakal disambut secara bengis demikian macam, sedang dia membawa berita yang benar. Dia tidak tahu ketua itu berlaku kejam demikian untuk monu- gali kekacauan, supaya orang-orangnya yang lagi bertempur itu tidak menjadi kalut.

"Jangan takut"! Pek Thong berseru. "Berkelahilah sambil mundur! Mari kita pergi keluar! Kita menggabung diri dengan rombongan besar, guna nanti membasmi semua musuh ini!"

Pek Thong tidak cuma menyerukan, ia memberi bukti juga. Ia pegang pimpinan buat mulai mundur. Maka itu, semua orangnya lantas menurut, semua mundur sambil membela diri.

Kui Ciang dan Sian Nio mendesak Pek Thong, mereka terus dirintangi barisan pengiring dari ketua ikatan itu. Leng Song dilain pihak mendesak Yan Ie. Ia berbuat begitu guna mencegah Sian Nio nanti datang membantu padanya.

Selagi pertarungan berjalan terus itu, mendadak dua orang terlihat lari masuk. Satu diantaranya lantas saja berseru-seru, "Leng Song, Leng Song! Kaukah di sana? Ce In di sini!"

Bukan main girangnya Nona Hee. Itulah suaranya Lam Ce In.

Sedang orang yang lainnya lagi ialah Tiat Mo Lek.

Han Tam kenal baik Liong Bin Kok, ia mengambil jalan kecil yang terahasia untuk Ce In dan Mo Lek dapat nyelundup masuk dan tibanya mereka ini di saat yang tepat itu.

Mulanya Han Tam mengatur serangan dari dua jurusan, dari depan dan dari jalanan rahasia itu, setelah itu kedua rombongan itu memisah diri lagi dalam beberapa rombongan kecil, guna menyerang dari empat penjuru hingga musuh menjadi kaget dan repot.

Rombongannya Ce In justeru terdiri dari orang-orang yang bertubuh ringan, ialah tauwbak-tauwbak pilihan dari Kim Kee Nia, Bukit Ayam Emas. Hanya tiba di dalam, Ce In mengajak Mo Lek meninggalkan rombongannya itu untuk mendahului menyerbu.

"Oh, kau datang!" seru Leng Song girang tak kepalang, sampai ia melupakan kepada Nona Ong.

"Aku tak datang semdirian saja!" Ce In memberitahukan. "Semua orang dari Kim Kee Nia turut datang ke mari!"

Segera mereka datang dekat satu dengan lain, segera mereka saling menjabat tangan dengan keras sekali. Tak dapat dipertahankan, air matanya Leng Song meleleh turun mengalir di kedua belah pipinya yang halus. Ketika itu digunai Yan Ie untuk mengangkat kaki. Lekas juga Leng Song sadar.

"Ce In, Toan Tayhiap suami isteri berada di sana!" katanya. "Lekas kau bantui mereka!"

Ketika itu Kui Ciang lagi menyerang hebat sekali, dia berseru kepada isterinya, "Sian Nio, jangan biarkan si bangsat tua lolos!"

Karena serbuan suaminya itu, Sian Nio menjadi bebas, maka menyambut seruan itu, ia lompat ke arah Pek Tong, guna menyerang musuh besar itu. Ia melihat musuh lari, ia menggunai panahnya untuk menyerang dengan pelurunya. Dengan peluru ia bisa menyerang dari jarak jauh.

Suara tingting-tongtong segera terdengar berulang-ulang. Untuk herannya Sian Nio, ia mendapatkan pelbagai pelurunya kena orang runtuhkan. Ia pun terkejut. Menurut pendengarannya, semua pelurunya diruntuhkan dengan jarum bwe-hoa-ciam atau paku Touw Kut Teng, untuk mana musuh mesti pandai ilmu menimpuk "Thian-lie San Hoa," atau "Puteri khayangan menyebar bunga". Maka itu, siapakah perintang itu?

Di dalam gelap, sulit untuk melihat tegas. Maka sia-sia si nyonya menerka-nerka. Ong Pek Thong juga berlaku cerdik, sambil lari terus, ia memecah dua barisan pengiringnya, yang satu tetap mengiring ia, yang lain terus merintangi lawan.

"Mo Lek, lekas!" berseru Sian Nio akhirnya. Ia telah dapat lihat Ce In dan pemuda she Tiat itu. "Si bangsat tua ada di sana!"

Mo Lek mendengar suara si nyonya. Ia memang berniat mencari musuh besarnya. Tanpa bersangsi lagi, ia lari ke arah Pek Thong. Ia lantas menerjang hebat barisan pengiring Beng- cu itu, yang ia dapat candak. "Bayar pulang jiwa ayahku!" Mo Lek berseru nyaring. Lantas ia menyerang musuh besar itu dengan tipu silat "Lie Kong Shia Cio," atau "Lie Kong memanah batu," ujung pedangnya meluncur ke tenggorokan orang.

Ong Pek Thong tidak takuti pemuda itu. Dia pun gusar sekali. "Bangsat kecil, jangan temberang!" bentaknya. Ia menangkis dengan goloknya, hingga kedua senjata beradu, suaranya membuat telinga seperti pekak.

Mo Lek gusar, ia maju terus, ia menyerang pula. Ia menggunai semua tenaganya.

Pek Thong tahu diri, ia menangkis pula, terus ia mundur.

Gagal Mo Lek dengan serangan yang kedua itu, maka ia berlompat guna menyerang buat ketiga kalinya. Inilah tikaman "Go Eng Pok Touw," atau "Garuda lapar menerkam kelinci". Karena ia berlompat, pedangnya turun dari atas ke bawah, mengarah batok kepala musuh.

Ong Pek Thong menjadi jago Rimba Hijau, sayang tenaganya sudah berkurang. Tak dapat ia melayani Mo Lek yang muda belia itu. Dua kali ia menangkis, ia merasai lengannya bergemetar dan sesemutan, maka itu, sulit untuk menangkis serangan yang ketiga itu, hingga ia mengeluh di dalam hati, "Aku menyesal sudah mendengar perkataan Khong Khong Jie hingga aku sudah membiarkan bangsat kecil ini hidup sampai sekarang ini..."

Disaat bahaya maut mengancam Beng-cu itu, datanglah seruan, "Jangan celakai ayahku!"

Seruan itu datang berbareng dengan orangnya bersama pedangnya juga. Dialah Ong Yan le, puterinya Pek Thong.

Serangannya Mo Lek kena tertangkis. Kedua senjata bentrok. Mo Lek tertahan lajunya, dan si nona terpental. Ketika yang baik itu digunai Pek Thong untuk lompat lari.

Yan Ie terguling tetapi dia dapat berlompat bangun dengan cepat dengan gerakan "Lee Hie Ta Teng," atau "Tambra emas meletik". Ia lantas menghadang di depan si anak muda, di saat anak muda itu menikam pula Pek Thong. Ia bukan cuma menghadang, ia bahkan memasang dadanya untuk ditikam, sama sekali ia tidak menggunai pedangnya guna menangkis atau melindungi diri.

Sembari memasang diri itu, ia berseru, "Orang kejam, kau ambillah jiwaku!"

Mo Lek terkejut. Inilah diluar sangkaannya. Syukur ia mahir sekali memainkan pedangnya. Di dalam keadaan seperti itu, ia masih sempat menahan lajunya pedangnya itu. Hampir-hampir ia mencoblos dada si nona!

"Nona Ong ini dia satu jiwa ditukar dengan satu jiwa!" ia berkata, suaranya dalam. "Dengan ini aku telah membayar hutang jiwaku kepadamu! Tinggal hutang jiwa ayahmu terhadapku! Hutang itu tidak ada sangkutannya dengan kau! Silahkan kau menyingkir, jangan kau merindangi aku, atau kau jangan nanti mengatakan aku tidak mengenal budi!" Di dalam keadaan seperti itu, Tiat Mo Lek masih sempat berbicara secara kaum Kang Ouw atau Jalan Hitam. Ia tidak mau melupai aturan kaum itu. Yan Ie pernah menolong jiwanya, sekarang ia membayar hutang. Karena ia sudah tidak punya hutang lagi, ia bebas. Maka ia kata, nona itu lain daripada Pek Thong, ayah si nona.

Akan tetapi Yan Ie berpikir lain. Pek Thong itu ayahnya. Ia menyayangi ayah itu, hendak ia membelanya. Mana dapat ia membiarkan ayahnya dibunuh anak muda ini? Maka itu, kata- kata tandas dari Mo Lek membuatnya sangat berduka.

Dilain pihak, ia mendongkol juga. Ia mau menganggap pemuda itu keterlaluan...

Tengah Mo Lek mau lompat lewat di sisinya, Yan Ie memutar balik pedangnya guna menyerang sambil dia berkata, "Hutang itu mesti dibayar oleh si piutang, maka itu, kalau kau hendak mencari balas, kau bunuhlah aku terlebih dahulu!"

Mo Lek menangkis, bahkan ia terus mesti berkelahi sungguh- sungguh. Kepandaian si nona berimbang dengan kepandaiannya dan sekarang si nona menyerang dengan hebat sekali. Ia pernah mengertak gigi tetapi saban-saban ia batal hendak membinasakan atau merobohkan saja nona itu. Karena ini kemudian ia jadi kena terdesak.

Yan Ie berkelahi sampai dua puluh jurus lebih, setelah itu ia mengerti kenapa si pemuda suka mengalah terhadapnya. Biar bagaimana, ia merasa hatinya sedikit lega, ia merasa manis...

Lam Ce In melihat muda-mudi itu bertempur, ia heran Mo Lek terdesak, bahkan beberapa kali kawannya itu terancam bahaya. Tidak dapat ia mengawasi saja, sambil berseru ia berlompat menghampirkan. Tapi ia malu main keroyok, apa pula lawan itu seorang wanita.  "Sutee, pergi kau susul bangsat tua itu untuk membalaskan sakit hatimu!" kata ia pada si adik seperguruan. "Bangsat wanita ini kau serahkan padaku!"

Hati Mo Lek gelisah sendirinya. Ia bersangsi. Apa ia harus meninggalkan si nona? Apa pantas kalau ia tidak segera pergi menyusul Ong Pek Thong si musuh besar? Belum sempat ia mengambil putusan, Ce In sudah menolak tubuh orang untuk dilain saat terus dia menyerang si pemudi.

Yan Ie menangkis saking terpaksa. Hebat kesudahannya itu. Dari Mo Lek ia sudah kalah unggul, apa pula menghadapi Ce In. Ia bisa menangkis tetapi tangannya menggetar keras, telapakannya lantas pecah dan mengucurkan darah, hampir pedangnya terlepas dari cekalannya.

Bentrokan itu menambah herannya Ce In.

"Pemudi ini gagah tetapi sutee Mo Lek tak usah kalah dengannya! Kenapa sebaliknya sutee terdesak?" ia tanya di dalam hati.

Ia berpikir tetapi tangannya tidak berhenti, habis serangannya yang -pertama itu, ia mendesak berulang-ulang.

Yan Ie tidak berani lagi menangkis, ia senantiasa berkelit. Tiga kali ia lolos, lalu ia mesti menangkis bacokan yang keempat. Kesudahannya ini membuat ia menjerit di dalam hati. Ia terhuyung mundur sampai tujuh atau delapan kaki dan ujung pedangnya rusak melawan goloknya Ce In!

"Bangsat perempuan, kau hendak lari ke mana?" Ce In mendamprat, sambil ia lompat maju, guna membarengi menyerang pula sebelum si nona sempat memperbaiki kuda- kudanya.

"Suheng! Suheng!" tiba-tiba terdengar jeritannya Mo Lek. Ce In heran, ia menoleh. Ia mendapatkan sang sutee berdiri diam saja, parasnya gelisah. Saking heran, ia batal maju, ia menjadi melengak. Tak mengerti ia akan sikap adik seperguruan itu.

Ketika itu Leng Song sudah maju mendekati mereka, dia rupanya melihat keadaan, dia lantas berteriak-teriak, "Engko, engko, jangan! Jangan kau lukai nona itu!"

Nona ini agaknya gelisah, dia lari menghampirkan cepat sekali.

Ce In sedang maju membacok pula ketika ia mendengar suaranya Leng Song itu.

Yan Ie masih dapat berkelit, sambil membuang diri itu, ia berkata perlahan, "Terima kasih, Lam Tayhiap! Kalau tayhiap hendak mencari orang, silahkan coba pergi ke lembah Toan Hun Giam di kaki puncak Lian Hoa Hong!"

Ce In heran. Ia mengerti orang mengucap terima kasih padanya sebab bacokannya barusan bacokan yang ditahan olehnya. Ia hanya heran atas petunjuk si nona.

Habis berkata itu, Yan Ie lari pergi, sedang Leng Song tiba di depan tunangannya.

"Adik Song, kenapa kau mencegah aku merobohkan wanita itu?" ia tanya heran.

"Sebab dialah yang menolong memberi obat padaku," Nona Hee menjawab. "Tentang ini nanti aku jelaskan lebih jauh pada kau, engko."

Ce In mengangguk, tetapi ia tetap heran. Ketika ia menoleh kepada Mo Lek, sutee itu masih berdiam, berdiri dengan mukanya merah. Hanya itu waktu, adik seperguruan itu lantas menghampirkan juga padanya.

"Kenapa anaknya Ong Pek Thong fhenolongi Leng Song?" Ce In tanya di dalam hati. "Kenapa Mo Lek ketahui hal Leng Song ditolongi nona itu?"

Ia menyangka Mo Lek tidak mau membunuh Yan Ie disebabkan Leng Song pernah ditolong nona itu.

Pertempuran sementara itu berlangsung terus, sebaliknya Pek Thong dan anak perempuannya sudah tak nampak bayangannya sekalipun.

Ce In tidak sempat banyak bicara lagi, mengajak dua kawannya menerjang guna menyambut pihaknya yang menyerang dari luar itu.

Sebenarnya Yan Ie sudah lari jauh untuk menyandak ayahnya, tiba-tiba ia mendengar seruan yang nyaring, tetapi merdu, "Sungguh, inilah yang dibilang dicari sampai sepatu besi pecah tak kedapatan, sekalinya bertemu mudah sekali! Tidak disangka sekali kita berhadapan di sini. Bagus, mari kita bertarung pula! Kali ini mesti sampai ada yang kalah atau menang!"

Itulah suaranya seorang nona, yang mengepalai serombongan pasukan dari Kim Kee Nia. Nona itu, ialah Han  Cie Hun, ada bersama Sin Thian Hiong, cecu dari Bukit Ayam Emas itu.

Thian Hiong dengan kapaknya sudah lantas menerjang ke arah Ong Pek Thong, sedang Cie Hun memegat Yan Ie yang ia tegur itu. Nona Han bersikap keras, datang-datang ia menerjang dengan hebat.

Kepandaian Yan Ie dan Cie Hun berimbang, hanya kali ini ia kalah hati. Kesatu, sudah sekian lama ia bertempur, kedua, ia sangat menguatirkan keselamatan ayahnya. Ia mesti melindungi ayah itu.

"Eh, encie Ong, mengapa kau nampaknya jeri?" tanya Cie Hun, menggoda, tetapi sambil berkata begitu, ia menyerang dada orang mencari jalan darah hun-bun.

Yan Ie sudah kewalahan sekali. Ia telah terdesak. Ia tentu telah menjadi korban pedang kalau tidak mendadak sekali ada seorang yang menalangi ia menangkis tikaman Nona Han.

Penolong itu memakai topeng, dia bergerak sangat gesit. Dia pun tiba seperti tak diketahui orang. Dengan tangkisan itu dia membuat pedang Cie Hun mental, membarengi mana dia menarik tangannya Yan Ie buat diajak lari.

"Kau siapa?" tanya Nona Ong heran.

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 17"

Post a Comment

close