Kisah Bangsa Petualang Jilid 09

Mode Malam
 
Jilid 09

"Meski demikian, tak selayaknya mereka terbinasa di tangannya si bangsat tua Ong Pek Thong ayah dan anak!" berkata Mo Lek sengit. "Kau lihat kekejaman mereka hari ini! Jikalau mereka menjadi kepala Rimba Hijau, pasti mereka bakal jauh terlebih kejam daripada ayah angkatku itu!" Ce In menghela napas.

"Di dalam Rimba Hijau itu, ada berapa banyak orang yang dapat dibilang hiap-too?" ia tanya.

Ia menyebut "Hiap-Too" atau penjahat budiman.

"Ayahmu terhitung satu di antaranya, juga Koay Ma Yauw dari kota Thong-ciu. Yang lain-lainnya sulit untuk membilangnya. Aku beri ingat kepada kau baiklah peristiwa hari ini kau anggap sebagai satu impian jahat saja, setelah kau sadar, habislah sudah. Dan sejak hari ini kau juga baik jangan hidup pula di dalam Rimba Hijau!"

"Ayah angkatku melepas budi merawat dan mendidik, aku sepuluh tahun lamanya," jawab Mo Lek, "Dapatkah karenanya sakit hati ini tak usah dibalas?"

Ce In tahu orang masih panas hati, mengertilah ia nasehat lebih jauh tak ada faedahnya, maka ia kata, "Jikalau kau  berniat mencari balas maka sudah selayaknya kau lebih-lebih menyayangi dirimu! Barusan Ong Pek Thong melepaskan kau bukan karena hatinya yang baik, dari itu baiklah kau lekas-lekas menyingkir jauh dari sini."

Mo Lek, yang tadinya berduduk, berjingkrak bangun. Ia menepas kering air matanya. "Paman Lam, banyak yang kau ucapkan barusan, cuma ada beberapa kata-kata yang masuk dalam otakku!" kata ia. "Aku biasa omong terus terang, kau tidak gusar padaku, bukan?"

Mendengar itu, di dalam hatinya Ce In menghela napas dan pikir, "Ini macam sakit hati dan balas membalas dunia Rimba Hijau, sampai kapan sampai diakhirnya?"

Ia menjawab, "Kau berhati besar dan keras, itulah sifatnya seorang gagah! Tapi keras itu mudah patah, dari itu, kekerasan mesti dipakai pada tempatnya. Ah...! Aku tahu, kata-kataku ini sekarang ini pasti kau tak dapat terima, dari itu baiklah kita tunggu sampai beberapa tahun lagi, umpama kata kita dapat bertemu pula, itu waktu barulah aku mau bicara secara perlahan-lahan dengan kau. Sekarang mari kita cari dulu  Paman Touw-mu itu!"

Mo Lek menurut, ia mengikut.

Jalan selintasan, mereka berpapasan dengan satu pasukan liauwlo yang mengibarkan bendera dengan sulaman huruf "Ong" dan di muka barisan itu nampak puteranya Ong Pek Thong duduk di atas kudanya dengan romannya sangat puas, cuma mukanya bengkak bengap, rupanya dia bekas habis berkelahi.

Sebenarnya pemuda itu datang bersama barisannya guna merampas Touw Ke Ce, barusan di tengah jalan dia bertemu Toan Kui Ciang suami isteri, oleh Touw Sian Nio dia diberi persen sebutir peluru panah, siapa tahu sekarang ini dia berpapasan pula dengan Lam Ce In dan Tiat Mo Lek.

Dia menjadi terperanjat. Dalam herannya dia berpikir, "Bagaimana Khong Khong Jie? Kenapa mereka semua dibiarkan lolos?" Tauwbak yang berada paling depan melihat Mo Lek, yang dia kenali, dia majukan kudanya untuk menghampirkan, guna menangkap anak muda itu.

Mo Lek gusar, ia pun maju sambil membentak. "Jangan!" teriak Ce In, yang hendak mencegah.

Tapi si tauwbak sudah tiba dan sudah lantas menyerang dengan tombaknya, atas mana Mo Lek tangkap senjatanya itu, terus ditarik, maka robohlah dia. Terus Mo Lek mengayun tombak orang, yang ia dapat rampas itu, kalau tidak ada cegahan Ce In, mungkin tubuhnya sudah tertancap di tanah tertusuk tombaknya itu sendiri.

Ce In segera menyerukan si pemimpin pasukan berandal itu, "Ong Siauw-cecu, kau mau apa? Apakah kau ingin bertanding pula dengan aku si orang she Lam?"

Anak muda itu, yang berseragam kuning, melihat Ce In berdua,

lantas tertawa lebar. ^ Mo Lek gusar.

"Jangan jumawa!" dia membentak. "Kamu juga cuma mengandal pada Khong Khong Jie!"

Anak muda itu tidak meladeni bicara.

"Bukankah ayahku yang melepaskan kamu?" dia tanya.

Dia menanya begitu karena dia melihat dandanan Ce In dan Mo Lek berdua rapih dan bersih, tak ada tanda-tandanya mereka terluka. Kalau mereka itu menempur Khong Khong Jie, tidak nanti mereka dapat mundur dengan tubuh utuh.

Mukanya Ce In merah. - "Kalau benar, bagaimana?" ia tanya. "Apakah kau tidak puas dan hendak menahan kami?"

Pemuda berbaju kuning itu tertawa.

"Aku panglima pecundang, tak dapat aku bicara dari hal kegagahan," sahutnya terus terang, tetapi nada kejumawaan. "Tapi kamu juga jangan berlagak gagah di depanku! Karena ayahku sudah melepaskan, membiarkan kamu turun gunung, maka kamu silahkan pergilah!" 

Pemuda itu menggeraki leng-kie, bendera titahnya, maka barisannya lantas bergerak membuka jalan ke kiri dan kanan.

Lam Ce In benci anak muda ini. Rasa benci itu mulai sejak pertama kali ia menemuinya. Sekarang ia mendengar suara orang, ia menyaksikan lagak tengiknya itu, ia gusar sekali. Hampir ia umbar amarahnya tatkala ia ingat, "Baru saja aku nasehati Mo Lek jangan sembrono, kenapa kau melupai itu?"

Maka ia lantas mengendalikan diri. Dengan menuntun tangan Mo Lek, ia lantas berjalan pergi.

Mereka terus berjalan cepat. Selang belasan lie, mata Ce In yang tajam melihat dua orang di bawahnya sebuah pohon besar. Bahkan ia mengenali Toan Kui Ciang beserta isteri.

"Toako! Toako!" ia lantas memanggil. "Siauwte bersama Mo Lek

di sini!"

Kui Ciang menyahuti, suaranya tapi dalam.

Touw Sian Nio berdiam saja, sinar matanya guram. Ia baru seperti orang mendusin ketika Mo Lek, yang lari ke arahnya, sudah lantas menangis. Tubuhnya terus menggigil, bergemetar keras. "Bagaimana?" tanya dia. "Mereka... mereka..." Mo Lek menangis pula.

"Gie-hu telah menutup mata!" ia memberitahukan kematian ayah angkatnya. "Kempat paman juga mati semuanya...! Kouw- kouw, kau... kau..."

Tubuh Sian Nio menggigil pula. Ia tahu Mo Lek minta ia menuntut

balas.

"Apakah Khong Khong Jie yang menurunkan tangan jahat?"

ia

tanya.

"Bukan," sahut si bocah cepat. "Dialah anak perempuannya

Ong Pek Thong! Budak celaka itu jauh terlebih ganas dari Khong Khong Jie! Kouw-kouw, kau..."

Mata Sian Nio berdiam, sinarnya dingin. Mo Lek melihat itu, dia

berdiam.

Diluar dugaan, Sian Nio tidak menangis. Tapi sikapnya itu membuktikan bahwa hatinya karam, bahwa ia berduka melebihi daripada ia menangis menggerung-gerung.

Hanya lewat sekian lama, dia ngoceh sendiri, "Bagaimana dapat aku bertemu sekalian kakakku itu di alam baka...? Kui Ciang... Kui Ciang..."

"Sian Nio," menyahut sang suami, berduka bukan main, "Didalam lain urusan aku selalu bersedia untukmu, hanya didalam ini urusan, tak dapat aku berbuat apa-apa."

Sepasang suami isteri ini telah mengenal baik diri masing- masing. Kui Ciang tahu apa yang dipikir dan dikehendaki isterinya, tetapi Sian Nio juga insaf, buat guna janjinya dengan Khong Khong Jie, tidak dapat suami itu menuntut balas guna kelima saudaranya itu.

Tiba-tiba Sian Nio mengangkat kepalanya.

"Engko!" ia memanggil suaminya. "Seumurku ini sekarang aku cuma mau minta satu hal kepadamu. Inilah hal yang kau pasti dapat lakukan."

"Apakah itu, adikku?"

"Selama di desa kau membuka rumah perguruan silat, kau sebenarnya belum pernah menerima seorang murid yang sah," berkata isteri itu, "Maka sekarang aku mau minta kau  menerima dan mengarlgkat Mo Lek menjadi ahli warismu. Mo Lek, apakah kau suka mengangkat kouwthio sebagai gurumu?"

Pertanyaan yang belakangan ini ditujukan kepada si bocah she Tiat.

Dua-dua Kui Ciang dan Mo Lek melengak. Hanya sebentar, keduanya lantas dapat menerka hatinya Sian Nio.

Mo Lek sudah lantas menjatuhkan diri, berlutut di depan Kui Ciang, untuk mengangguk-angguk. Ia mau menjalankan aturan besar mengangkat guru. Untuk itu, ia mesti berlutut tiga kali dan mengangguk sembilan kali.

Ia baru mengangguk satu kali ketika tiba-tiba; "Tahan dulu!" kata Kui Ciang, yang terus mengasih bangun bocah itu.

"Bagaimana?" tanya Sian Nio heran. "Apakah kau tak sudi terima dia menjadi muridmu?"

"Aku memikir untuk kebaikannya," menjawab Kui Ciang. "Seharusnya dia mencari seorang guru yang jauh terlebih liehay daripada aku." "Kouwthio," berkata Mo Lek, "Kalau aku dapat mewariskan ilmu pedangmu, aku sudah merasa puas." Kui Ciang tertawa sedih.

"Meski kau dapat mewariskan semua kepandaianku, kau masih tidak dapat melawan Khong Khong Jie," ia kata. "Buat apakah itu?"

"Tetapi," berkata Mo Lek, "Kalau itu dipakai melawan Keluarga Ong ayah dan anak masih berlebihan. Aku percaya Khong Khong Jie tidak bakal selamanya menjadi pelindung keluarga itu!"

Kui Ciang dan isterinya sudah berjanji kepada Khong Khong Jie untuk selanjutnya tidak campur lagi urusan kedua keluarga Touw dan Ong, karena itu Sian Nio menghendaki Kui Ciang menerima Mo Lek sebagai murid.

Ia mengharap bocah ini guna pembalasan sakit hati keluarganya itu. Kui Ciang tidak mau campur urusan itu tetapi di satu pihak ia berat terhadap isterinya, kedua ia pun menyayangi si bocah yang bakatnya baik sekali. Maka ia mau memikirkan suatu jalan sama tengah.

Sembari memegangi si bocah, Kui Ciang kata pada Ce In, "Saudara Lam, kau ingin minta kau membawa Mo Lek ke Sui Yang supaya dia dapat berguru kepada gurumu. Aku pun minta kau sampaikan kepada gurumu itu supaya ia membuat kecualian dengan menerima bocah ini."

"Semasa hidupnya Tiat Cecu, ia bersahabat rapat dengan guruku," kata Ce In. "Guruku juga pernah memesan aku mendengar-dengar kabar perihal Mo Lek. Maka itu, aku percaya, permintaan kau ini bakal kesampaian."

Kui Ciang lantas kata pada Mo Lek, "Mo Lek, kita sudah berdiam bersama sekian lama, kali ini kita bakal berpisahan, benar atau tidak dapat menerima kau sebagai murid, akan tetapi dapat aku menghadiahkan kau suatu persenan yang tidak berarti, ini hanya cukup buat menandakan hati kami suami isteri."

Berkata begitu, tayhiap ini menyerahkan kitab ilmu pedangnya seraya ia menambahkan, "Inilah kitab pedang warisan keluargaku yang aku tambahkan dengan ilmu pedang lainnya yang aku telah kumpul selama dua puluh tahun, kau ambillah. Telah aku ajarkan kau pelbagai keterangan penting mengenai ilmu pedang, maka asal memahamkannya lebih jauh, kau bakal memperoleh kemajuan pesat. Kau berbakat baik, kau tidak akan nampak kesulitan."

Bocah itu kaget.

"Kouwthio!" katanya. "Ini... ini... mana dapat! Mana bisa aku menerima warisan ilmu pedang keluargamu?"

"Tidak apa!" Kui Ciang mengasih keterangan. "Untukku, aku sudah hafal di luar kepala isinya kitab ini, sedang sekarang ini anakku masih terlalu kecil. Sekarang kau bawalah kitabku ini. Di belakang hari, apabila anakku berhasil lolos dari bahaya dan dia dapat berumur dewasa, kau dapat cari dia untuk memulanginya. Untuk itu, tempomu masih banyak..."

"Anak tolol..." Sian Nio membujuk, "Di saat seperti ini buat apa kau berkukuh pula? Kouwthio tidak mau terima kau sebagai murid karena dia mau mengatur terlebih sempurna. Kau terimalah, kalau nanti kau dapat belajar dengan baik, aku pun sangat berterima kasih padamu."

Matanya Mo Lek menjadi basah dan merah, ia menyambuti kitab itu, habis mana ia paykui terus hingga tiga kali. Itulah tanda ia diterima sebagai separuh murid. "Jangan kuatir, kouthio," kata ia, yang memberi janjinya, "Tidak nanti Mo Lek mensia-siakan harapan kouwthio dan kouw-kouw!"

Baru sekarang, Sian Nio mengasih lihat wajah yang se'dikit terang, hingga ia dapat bersenyum. Katanya, "Kalau dia berhasil mendapatkan pelajaran ilmu dalam dari Mo Keng Lojin dan dia berhasil juga meyakinkan kitab ilmu pedang ini, taruh kata belum tentu dia dapat mengalahkan Khong Khong Jie, sedikitnya dia dapat adu jiwanya!"

"Saudara Lam," kemudian kata Kui Ciang pada Ce In, "Selanjutnya aku serahkan Mo Lek kepadamu, aku harap kau suka terus membantunya. Kau telah membatu aku, budimu sangat besar, tak dapat aku lupakan itu. Di sini kita berpisahan sekarang, aku harap kau baik-baik di jalan!"

Lam Ce In terharu, apapula ketika mereka berempat, dalam dua rombongan, saling memberi hormat dan berpisahan. Kui Ciang dan isterinya menuju ke Giok Sie San, Liang Ciu, buat meminta pulang anak mereka.

IX

'T je Tn berdua Mo Lek tetap melakukan perjalanan cepat. Orang she Lam itu kuatir Ong Pek Thong nanti merubah pikiran dan mengirim orang untuk menyusul Mo Lek, itulah berbahaya.

Selang belasan lie, setelah cuaca mulai sore, mereka mampir di sebuah warung teh di tepi jalanan, untuk dahar dan minum sambil sekalian beristirahat.

Warung teh itu warung merangkap rumah makan. Ketika masuk, mereka melihat di situ sudah ada dua orang yang bertubuh besar, sedang di depan pekarangan ditambat dua ekor kuda.

"Kuda itu bukan sembarang kuda!" Mo Lek kata perlahan. Meski begitu, dua orang itu dapat mendengar, keduanya lantas menoleh. Lantas dua-duanya menjadi kaget, bahkan yang satu sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Mo Lek dan Ce In pun heran.

Dua orang itu dua opsirnya An Lok San hanya sekarang mereka dandan sebagai rakyat jelata. Ce In kenali yang berseru itu sebagai Thio Tiong Cie, satu di antara empat jagonya An Lok San. Ia tidak kenal temannya, malam itu ia telah menempurnya.

Dalam pertempuran di istananya An Lok San dimana dengan golok mustikanya ia melukai belasan Busu, Ce In telah membuatnya dua orang ini seperti "pecah nyali," tidak heran kalau sekarang, bertemu di sini, mereka itu kaget tidak terkira.

Thio Tiong Cie lantas berbangkit, untuk menghampirkan. "Oh, Lam Tayhiap!" dia menyapa seraya membWri

hotmat.

"Tayhiap baik?"

"Tak terluka tak terbinasa, kenapa aku tidak baik?" sahut Ce In.

"Kamu berdua juga baik, bukan?"

Kawannya Tiong Cie itu, pada malam itu, telah kena dilukakan, sekarang ini lukanya itu baru saja sembuh, maka itu dia likat sendirinya. Dia paksa bangun, untuk memberi hormat.

"Terima kasih tayhiap, aku baik-baik saja!" katanya.

"Malam itu 'kami bekerja karena kami menjalankan titah," kata pula Thio Tiong Cie, "Karena itu harap tayhiap suka memaafkan kami!"

Ce In bersenyum, ia mengulapkan tangannya.. "Tidak apa!" sahutnya. "Silahkan duduk dan dahar terus!"

Mo Lek sebaliknya memandang mendelik kepada dua orang itu.

"Eh, kamu telah menyalin pakaian!" tegurnya. "Kamu tentu hendak bekerja diam-diam untuk melakukan lagi suatu kebusukan!"

"Saudara kecil bergurau!" kata Thio Tiong Cie tertawa, sedang air mukanya berubah saking kaget. "Kami dapat tugas baru untuk melakukan penyelidikan, maka itu kami dandan begini rupa. Ah, sudah bukan siang " lagi, kami perlu lekas berangkat! Maaf, maaf, tak dapat kami menemani lebih lama pula...!"

"Tunggu sebentar!" kata Mo Lek. "Perkara apakah itu?" "Perkara kecil, tak berarti," Tiong Cie menjawab, cepat. "Cuma perkara dua dusun bertempur satu pada lain..."

"Sudah, Mo Lek," kata Ce In. "Kita jangan usilan! Biarkan mereka

pergi!"

Ketika itu, kedua orang itu sudah keluar dan naik atas kuda mereka, kata-katanya Ce In seperti pengampunan besar, maka segera mereka mengaburkan kuda mereka masing-masing.

"Hm!" kata Mo Lek, masih penasaran. "Lagak mereka mencurigai, pasti mereka bakal melakukan suatu yang busuk. Mustahil perkara perkelahian desa dengan desa menyebabkan merekalah yang diutus mengurusnya?"

"Kau benar, urusan memang mencurigai," kata Ce In. "Tapi kita mana kebanyakan tempo untuk segala urusan di luaran itu?" Mo Lek berdiam. Ketika itu tukang warung, yang usianya sudah lanjut, menghampirkan Ce In berdua. Dia memberi hormat. Dia kaget mendengar orang menyebut "Lam Tayhiap".

Ce In minta arak dan daging.

"Apakah warungmu ini maju?" dia tanya.

"Terima kasih!" sahut tuan rumah. "Syukurlah dalam beberapa hari ini banyak sekali tetamu yang berlalu lintas di sini!" Mendengar itu, hati Ce In tergerak. "Tetamu-tetamu macam apakah itu?" Mo Lek tanya.

Kembali tuan rumah tertawa.

"Kalau tidak salah, tuan-tuan juga orang-orang Kang Ouw!" sahutnya. "Maaf, tuan-tuan, kami cuma berdagang," kami tidak memperdulikan hal ihwalnya para tetamu. Hanya dekat di sana ada bukit Hui Houw San serta para pemimpinnya sering  singgah di sini..."

Selagi tuan rumah ini bicara itu ada datang lagi dua penunggang kuda, mereka itu tidak turun, mereka cuma melemparkan uang, buat minta dua cangkir teh, yang mereka minum sambil duduk terus di atas kuda mereka, setelah mana mereka berlalu dengan cepat.

"Dua orang itu seperti aku kenali rupanya," kata Mo Lek perlahan, "Sayang aku tak ingat lagi dimana pernah aku melihat mereka."

Touw Ke Ce banyak menerima kunjungan tetamu, dari itu Mo Lek sering melihat banyak orang, cuma karena ia masih terlalu kecil, ia tak ingat semua, ia melainkan memperhatikan orang-orang yang menjadi sahabat kekal. Kalau yang datang orang biasa saja, Leng Ciok tidak memanggil ia keluar buat menemui. Tak lama datang pula beberapa rombongan tetamu, kebanyakan yang membekal golok dan menunggang kuda, tandanya merekalah orang-orang Rimba Hijau. Sebagai dua yang tadi, mereka minum sebentar, lantas mereka pergi pula. Hingga tuan rumah cuma melayani di muka pintu.

Akhirnya Ce In menjadi berpikir juga. Ia tanya dirinya sendiri, kenapa muncul demikian banyak orang, waktu toh sudah sore, dan mereka itu mau apa...

Lalu ada tetamu yang sikapnya ragu-ragu. Dia berhenti di depan pintu, dengan bahasa rahasia, dia kata pada kawannya, "Di depan itu jalan cagak dua! Bagaimana, kita pergi ke gunung Hui Houw Wan atau ke selat Liong Bin Kok? Kedudukan Touw Lo-toa sudah tak kokoh lagi, kalau kita tidak terima undangannya pihak Ong, dibelakang hari kita; bisa dapat susah..."

Muka Mo Lek berubah sendirinya. Ce In melihat itu, ia menekan tangan orang dan kata, "Dijaman ini ada banyak sekali tukang jilat! Disaat ini, buat apa kau turuti hatimu?"

Mo Lek menurut, tetapi dia panggil tuan rumah untuk tanya dimana pernahnya Liong Bin Kok.

"Liong Bin Kok?" tuan rumah baliki. "Buat apakah?" "Ada sahabatku di sana," jawab si anak muda.

"Oh, begitu! Selat itu terpisah dua puluh lie di barat sini.

Lewat sedikit saja ialah Sam Yang Kong."

Sam Yang Kong yaitu tanjakan di mana Ce In pertama, kali bertemu si pemuda berpakaian kuning.

Mo Lek mengerutkan alis. Selagi ia mau bicara pula, telinganya mendengar ringkik kuda di luar warung. Lagi dua orang tetamu baru tiba. Mereka tidak kesusu seperti kebanyakan yang tadi, mereka masuk untuk memesan barang hidangan.

Dengan memandang matanya lebar-lebar, Mo Lek mengawasi mereka itu. Mendadak ia bangun dari kursinya, ia memapaki mereka, untuk lantas maju merangkul!

Orang itu kaget sekali, akan tetapi setelah ia melihat siapa yang merangkul padanya, ia menjadi heran.

"Oh, kiranya Tiat Siauw-cecu!" serunya. "Kenapa siauw-cecu berada di sini?"

"Su Toasiok, aku justeru hendak menanya kau!" kata Mo Lek. "Kenapa kau berada di sini? Apakah kau mau pergi ke Liong Bin Kok guna menjumpai dan menghormati pemimpin yang baru?"

Orang yang dipanggil toasiok itu, paman, bernama Su Ciang. Dialah sahabat dan kawan sekerja Keluarga Touw. Dialah congkoan, atau pengurus dari pelbagai markas cabang  Keluarga Touw di wilayah kota Yu Ciu. Orang yang kedua ialah kawannya, yang bernama Thia Thong,. yang menjadi orang kepercayaannya Touw Leng Ciok.

"Ah, siauw-cecu, mengapa kau menanya begini?" kata Su Ciang, masgul. "Mana dapat aku pergi ke Liong Bin Kok? Itu namanya menyerah dan menakluk! Kami justeru mau pulang ke Hui Houw San guna menyerep-nyerepi kabar! Siauw-cecu, kau berada di sini, mungkin, mungkinkah urusan telah jadi rusak?"

Mo Lek berduka dan hatinya panas, tetapi dia kata, "Sekarang ini benteng Hui Houw Ce telah dimusnahkan Keluarga Ong! Ayah angkatku bersama kempat paman, semuanya sudah tidak ada di dalam dunia...!"

Su Ciang kaget hingga ia menjublak. "Sekarang bukan saatnya berduka!" kata Mo Lek. "Su Toasiok, jikalau kau tidak sudi menakluk, tidak dapat kau pulang ke Hui Houw Ce, sebaliknya kau lekas kembali, untuk memberitahukan semua markas cabang supaya mereka membubarkan diri masing-masing! Bilangi mereka, selama

Ki\nh lUmi'Mi /'i luitlutf

gunung-gunung masih hijau, maka tak usahlah kita takut kehabisan kayu bakar! Toasiok mengerti sekarang?"

Su Ciang sadar.

"Ya, aku mengerti," sahutnya.

Lam Ce In mengagumi bocah itu. Pikirnya, "Mo Lek masih sangat muda tetapi tindakannya ini tepat sekali, dia dapat melihat jauh! Teranglah dia mengandung cita-cita untuk satu kali membangun pula usaha Keluarga Touw. Dengan begini celakalah dunia Rimba Hijau, dunia itu tak bakal mengalami hari-hari yang tenang..."

Kemudian Mo Lek tanya orang she Su itu, "Keluarga Ong mengundang pemimpin-pemimpin Rimba Hijau datang ke Liong Bin Kok, apakah maksudnya? Tahukah kau, toasiok?"

"Sebenarnya juga, aku telah menerima surat undangannya," Su Ciang menjawab. "Tadinya Keluarga Ong berkuatir kita nanti menyateroni benteng mereka, maka itu mereka membangun benteng yang dapat bergerak, hingga tak tentu markasnya yang tetap. Baru paling belakang mereka mengambil kedudukan di lembah Liong Bin Kok itu. Di dalam surat undangannya itu Keluarga Ong menyebutkan bahwa Hui Houw Ce telah termusnahkan, maka mereka mengundang orang datang menghadirkan pesta kemenangan. Pasti sekali semua orang mengerti, namanya saja undangan, sebenarnya keluarga itu menghendaki semua orang tunduk di bawah perintahnya!" "Hm!" Mo Lek mengasih dengar ejekannya.

Dia mendongkol sekali. Dia mengerti sekarang apa perlunya pihak Ong berpusat di Liong Bin Kok, yaitu untuk memudahkan aksinya menumpas Hui Houw Ce, bahwa sekarang Ong Pek Thong lagi berdaya menghapus pelbagai cabang Hui Houw Ce itu.

Tatkala itu matahari sudah doyong ke barat. Su Ciang, dan Thia Thong tak dahar lama, mereka tidak mempunyai kegembiraan, maka itu mereka lantas pamitan dari Mo Lek, untuk berangkat pergi.

Tuan rumah terkejut mendapat tahu bocah itu sebenarnya siauw-cecu, ketua muda, dari Hui Houw Ce. Dia lantas menghampiri dan kata, "Oh, oh, kiranya siauw-cecu! Kalau begitu siauw-cecu, suka aku memberi nasehat supaya lekas- lekas siauw-cecu berlalu dari sini! Tempat ini terpisah dekat sekali dengan lembah Liong Bin Kok!"

"Kau jangan berkuatir untukku!" kata Mo Lek, dingin. "Aku memang mau segera berangkat! Tidak nanti aku bikin kau kena terembet-rembet!"

Ketika itu ada datang lagi dua penunggang kuda, masing- masing datangnya dari timur dan barat jalan besar. Mereka itu berbareng tiba di depan warung. Orang yang satu bertubuh besar dan kekar, yang lainnya orang usia pertengahan, tak berkumis dan mukanya putih.

Si orang bertubuh besar memberi hormat sambil menyapa terlebih dulu, "Saudara Thouw, apakah kau hendak pergi ke Liong Bin Kok?"

Orang usia pertengahan itu tertawa. Dia menjawab, "Oh, tidak! * Akulah seorang bu beng siauw cut, Ong Pek Thong mana kenal aku! Aku mau pergi ke dusun Han-chung." "Saudara Thouw, kau pandai sekali membawa dirimu!" kata si orang bertubuh besar dan kekar itu.

Inilah sebab si orang she Thouw menyebut dirinya "Bu Beng Siauw Cut," yang berarti "Serdadu kecil yang tak mempunyai nama".

"Kau sangat berbahagia sebab kau merdeka, seorang diri kau dapat pergi kemana kau suka, sama sekali tak ada rintangannya. Sungguh aku kagum terhadapmu! Seharusnya aku pun pergi ke Han-chung, guna menghaturkan selamat panjang umur, akan tetapi aku telah membangun pusatku dalam wilayah Yu Ciu tak dapat lagi aku tidak pergi ke Liong Bin Kok."

Mereka itu bicara dalam bahasa kaum Kang Ouw, Mo Lek mengerti itu, maka tahulah ia yang si orang bertubuh besar dan kekar itu seorang cecu, pemimpin rombongan, sedang si muka putih ialah seorang Yu Hiap, petualang kaum Kang Ouw.

Orang usia pertengahan itu tertawa.

"Kalau begitu, baiklah kita masing-masing membawa diri kita sendiri!" katanya. "Cuma, saudara Ciu, aku minta sukalah kau tidak menyebut-nyebut namaku serta Han-chung, untuk tak menerbitkan sesuatu gara-gara!"

"Aku mengerti!" sahut orang she Ciu itu, yang cuma singgah untuk mencegluk secangkir teh, lantas dia berangkat pula dengan cepat.

Si orang she Touw dengan sabar menambat kudanya, baru ia bertindak masuk ke dalam warung. Ia minta arak, untuk terus diminum.

Lam Ce In sudah mau berangkat ketika ia melihat orang she Touw itu. Ia membatalkan niatnya, terus ia mengawasi. Ketika itu, orang itu juga menoleh ke arahnya, hingga sinar mata mereka bentrok.

"Oh, sungguh kebetulan!" kata keduanya hampir berbareng. "Eh, saudara Lam Pat, mengapa kau berada di sini?" si orang

she Touw tanya.

"Thouw Shako, kenapa kau pun berada di sini?" tanya Ce In.

Demikian mereka saling menanya.

Habis itu Ce In kata pada kawannya, "Mo Lek, mari! Kau kasih hormat pada ini Paman Thouw! Inilah paman yang dunia Kang Ouw menyebutnya Kim-kiam Che-long Thouw Pek Eng!"

Memang Pek Eng seorang petualang yang pandai ilmu pedang serta mengerti ilmu obat-obatan, maka juga dia mendapat julukannya itu si Pedang Emas (Kim Kiam) dan Kantung Hijau (Che-long). Yang belakangan ini julukannya sebagai tabib.

Dia merdeka bebas, kegemarannya ialah pesiar atau merantau. Tak suka dia memamerkan nama. Sebaliknya dia suka sekali melakukan segala apa yang baik, untuk mana dia biasa bekerja secara diam-diam. Dia datang atau pergi kemana dia suka, tak ketentuan, maka itu dia muncul atau menghilang secara tiba-tiba. Karena ini juga mengenai nama, dia kalah terkenalnya dengan Lam Pat.

Pertama kali Ce In menemukan Touw Pek Eng yaitu pada tujuh tahun yang lampau, ketika ia baru mulai muncul dalam dunia Kang Ouw, maka itu, ia memandang si petualang dan tabib sebagai cianpwe, orang yang terlebih tua dan tinggi tingkatnya.

Kemudian, sesudah mereka bicara satu dengan lain, ternyata mereka ada dari tingkat dan derajat yang sama, dari itu, mereka saling membahasakan saudara. Ce In berkata pula, memperkenalkan Mo Lek, "Aku baru turun dari gunung Hui Houw San. Saudara kecil ini ialah puteranya mendiang Cecu Tiat Kun Lun dari Yan San."

Thouw Pek Eng berdiam, dia berpikir.

"Di sini bukannya tempat kita bicara," kata ia kemudian. "Mari kita bicara sambil berjalan."

Ia lantas membayar uang araknya, terus ia keluar, untuk meloloskan tambatan kudanya, guna sambil menuntun  binatang itu berjalan bersama-sama Ce In dan Mo Lek.

Tadi itu, Mo Lek telah memberi hormat pada jago she Thouw ini.

"Sekarang ini sudah malam, saudara Lam, kamu berdua hendak singgah dimana?" Pek Eng tanya.

"Untuk kita, dimana saja kita sampai," sahut Ce In. Pek Eng mengangguk.

"Saudara Lam, apakah kau pernah dengar namanya Han Tam?" tanya dia kemudian.

Ditanya begitu, Ce In terperanjat.

"Apakah saudara Thouw maksudkan Han Lo-cianpwe si ahli totok yang namanya sangat tersohor?" dia menegaskan.

"Benar! Hari ini hari ulang tahunnya yang ke enam puluh." "Apa?" tanya Ce In heran. "Apakah ia tinggal di sini?"

"Ya, di tempat terpisah tiga puluh lie," sahut Pek Eng. "Setujukah kau kalau kita sama-sama pergi memberi selamat kepadanya?"

"Sebenarnya aku belum pernah bertemu dengan Han Lo- cianpwe," Ce In menerangkan. "Yang benar ialah dia dan guruku kenal baik satu dengan lain." "Sebetulnya, ada sedikit sekali orang yang ketahui tempat kediamannya Han Lo-cianpwe itu," Pek Eng menjelaskan. "Aku tahu sudah banyak tahun dia tidak pernah muncul, tak mau dia menemui sembarang orang, tetapi kau ini lain, saudara Lam. Dia pernah memberitahukan aku tentang persahabatannya dengan gurumu dan dia pernah memuji kau. Karena itulah maka aku berani mengajak kau mengunjungi dia."

"Jikalau begitu, layak aku pergi memberi selamat padanya" Ce In bilang. "Tempat tinggalnya itu terpisah berapa jauh dari Liong Bin Kok?"

"Terpisahnya ialah yang satu di barat, yang lain di selatan," Pek Kng mengasih keterangan. "Tempat ini ialah Hoay Sie Chung, maka ketiga tempat merupakan seperti perapian kaki tiga. Jaraknya tempat masing-masing kira tiga puluh lie. Saudara Lam, kau jangan kuatir, meski keletakan dekat, halangannya tidak ada sama sekali. Han Lo-cianpwe tinggal menyendiri di sini, sampai pun Keluarga Touw tidak mendapat tahu, dari itu. Keluarga Ong yang baru datang, tidak nanti dia mendapat tahu juga."

"Aku bukan jeri terhadap Keluarga Ong," Ce In terangkan, "Aku hanya tidak ingin nanti merembet-rembet Han Lo- cianpwe, hingga dia mendapat pusing tidak keruan."

Thouw Pek Eng tertawa.

"Sebaliknya Han Lo-cianpwe bukannya orang takut segala kepusingan!" katanya. "Sikapnya lo-cianpwe yaitu, kalau tidak terpaksa, tak sudi dia berurusan dengan orang. Kamu baru turun dari Hui Houw Ce, mungkin sekali lo-cianpwe ingin bertemu dengan kamu."

Hati Ce In tergerak. Perkataannya orang she Thouw ini mesti mengandung arti. Maka ia menerima baik ajakan tanpa bersangsi lagi. Bahkan ia melekaskan tindakannya. Dengan begitu, selang setengah jam, tibalah mereka di sebuah dusun kecil yang berdampingan dengan satu gunung.

Tatkala itu asap telah muncul dari setiap rumah. Thouw Pek Eng menuju langsung ke rumah Han Tam. Ia menarik gelang pintu beberapa kali, ia memanggil-manggil tuan rumah sambil ia perkenalkan dirinya. Ketika kemudian pintu dibuka, yang membukai Han Tam sendiri, si jago tua.

"Pek Eng, kau datang terlambat!" kata tuan rumah tertawa. Pek Eng tidak membilang apa-apa, hanya ia berkata, "Han Lo- cianpwe, aku telah mengundang untukmu ini dua tuan-tuan!"

Ce In sudah lantas memandang tuan rumah, yang umurnya sudah enam puluh lebih akan tetapi orangnya masih segar dan matanya tajam, tak ada tanda-tandanya bahwa dia telah berusia lanjut. Dia memelihara kumis dan jenggot, yang terbagi menjadi tiga dan bajunya hijau, hingga dia mirip seorang cerdik pandai di dalam gambar lukisan.

Ia lantas memberi hormat seraya berkata, "Lam Ce Iri muridnya Mo Keng Lojin menghaturkan selamat kepada lo- jinke!" Han Tam tercengang, lalu dia tertawa terbahak. "Kiranya kau, Lam Sieheng!" kata dia, girang. "Aku dan gurumu adalah sahabat-sahabat kekal untuk beberapa puluh tahun, baru hari ini aku dapat melihat wajahnya murid sahabatku itu, inilah diluar dugaan! Aku girang sekali! Kau telah sampai di sini, sieheng, kau anggaplah bahwa kau telah pulang ke rumahmu sendiri, maka itu, jangan kau menjadi likat atau tak leluasa. Ha, ha! Sebenarnya angin apakah yang meniup kau hingga di

sini r

Mo Lek pun lantas memberi hormatnya sampai dia berlutut dan mengangguk-angguk. Tuan rumah memimpin bangun bocah itu. "Saudara kecil ini toh..." katanya.

"Dialah putera Cecu Tiat Kun Lun dari Yan San," Ce In memotong, memperkenalkan.

"Dengan Tiat Cecu, aku pun pernah bertemu muka," kata Han Tam. "Di dalam dunia Rimba Hijau, dialah orang satu- satunya yang aku paling kagumi, maka itu, kamu semua bukanlah orang-orang luar!"

"Setelah Tiat Cecu meninggal dunia," Ce In mengasih keterangan, "Touw Leng Ciok mengambil anak ini sebagai anak pungut, tapi sekarang Keluarga Touw telah musnah, aku mengajaknya untuk menyingkirkan diri. Kebetulan saja tadi kita bertemu saudara Thouw, maka itu kami jadi mendapat tahu hari ini ada hari ulang tahun lo-cianpwe."

Han Tam mendengar keterangan itu tanpa menjadi kaget, cuma alisnya mengkerut sedikit, suatu tanda ia seperti telah menduganya.

"Kamu datang kebetulan sekali," katanya kemudian. "Kebetulan sekali di sini pun ada beberapa sahabat. Baru saja mereka itu bercerita perkara di antara kedua keluarga Ong dan Touw itu. Nah, mari masuk, kita bicara di dalam."

Han Tam merayakan pesta shejit, yang datang hanya beberapa sahabat yang pergaulannya paling rapat dengannya, kecuali Thouw Pek Eng, ada empat lainnya yaitu Sat-sie Siang- eng, dua jago she Sat dari Ceng Hay (Laut Hijau), Liong Chong Siangjin dari Bek Cek San, serta Sin Cecu dari Kim Ke San. Tiga yang pertama itu tetamu-tetamu dari tempat yang jauh, dan satu yang belakang itu asal wilayah Yu Ciu dan dia jago Rimba Hijau. Semua orang lantas saling memberi hormat, untuk berkenalan, habis itu masing-masing mengambil tempat duduknya. Setelah itu, Lam Ce In menuturkan jalannya pertempuran di antara kedua keluarga Ong dan Touw dengan kesudahan runtuh dan tumpasnya Keluarga Touw itu.

Orang heran mendengar kabar Toan Kui Ciang dengan isteri pun roboh di tangannya Khong Khong Jie, sampai mereka mendelong saling mengawasi.

Lalu terdengar Han Tam menghela napas seraya terus berkata, romannya berduka, "Khong Khong Jie seorang yang cerdas luar biasa, kalau begitu sepak terjangnya, kali ini dia berlaku sembrono sekali..."

"Saudara Han, apakah maksudmu ini?" tanya Liong Chong Siangjin heran.

"Dia digunai sebagai alat oleh Keluarga Ong, dia tak sadar," kata tuan rumah. "Dia menganggap perbuatannya itu tepat sekali! Bukankah itu namanya sembrono?"

Liong Chong mengerutkan alis, agaknya dia tak puas, dia berniat menanya pula, atau menentang anggapan tuan rumahnya itu, tetapi waktu dia melihat matanya Lam Ce In dan Tiat Mo Lek, dia membatalkan niatnya itu. Dia ingat Tiat Mo Lek menjadi anak angkat Touw Leng Ciok, tak baik dia bicara terus urusan Keluarga Touw itu.

Pendeta ini tidak puas terhadap dua-dua Keluarga Ong dan Keluarga Touw, bahkan kalau dibandingkan, dia lebih tak puas lagi terhadap Keluarga Touw. Karena itu, dia berpendapat, "Khong Khong Jie membantu pihak Ong, paling banyak itulah sikap si kuat membantu si kuat. Semua itu bentrokan di antara kaum Rimba Hijau, di dalam hal itu, tak dapat orang dari hal siapa benar dan siapa salah, maka juga tak dapat dibilang soal sembrono atau tidak..." "Han Lo-cianpwe," Ce In tanya, "Rupa-rupanya lo-cianpwe kenal Khong Khong Jie. Benarkah?"

"Bukan melainkan aku kenal padanya," menjawab tuan rumah. "Ketika dia masih kecil, pernah aku mengempo-empo padanya!"

Sat-sie Siang-eng dan lainnya menjadi heran.

Bahkan Thouw Pek Eng berkata, "Selama beberapa tahun  ini, kaum Kang Ouw telah digemparkan Khong Khong Jie seperti juga langit ambruk dan bumi gempa, siapa juga tidak tahu asal-usul dia, siapa sangka Han Lope dan dia justeru mempunyai hubungan sebagai paman dan keponakan! Dia demikian liehay, entah siapakah gurunya?"

"Guru dia ialah seorang liehay yang tabiatnya aneh," Han Tam menerangkan. "Gurunya itu seperti aku, she dan namanya tak ingin lain orang mendapat tahu. Aku bersahabat dengannya, itu, maafkan aku, terpaksa kau tak dapat memberitahukan she dan namanya itu." 

Ia hening sejenak, lalu ia menambahkan, "Sayang aku menerima warta ini terlambat, dan aku pun tak ketahui dimana tempat beradanya

Khong Khong Jie, karenanya aku menjadi tidak dapat kesempatan guna mencegah sepak terjangnya itu..."

Lam Ce In hendak membuka mulutnya ketika ia batal. Ia mendapat dengar satu suara yang perlahan sekali di luar rumah, seperti ada orang yang datang. Ia sampai melengak.

Tapi suaranya tuan rumah lantas terdengar, "Anak Hun, apakah kau sudah pulang? Di sini ada beberapa paman, semuanya bukan orang luar, maka marilah masuk, supaya kau menemuinya." Atas perkataan Han Tam itu, di ambang pintu terlihat masuknya seorang anak perempuan yang baru mulai besar, umurnya ditaksir baru empat atau lima belas tahun, rambutnya terjalin menjadi dua buah kuncir, yang ditekuk dan diikat mirip sepasang kupu-kupu. Roman dia masih kekanak-kanakan.

Ketika dia bertindak masuk, dia lari berjingkrakan. Sembari tertawa, dia kata, "Ayah, tugas yang kau berikan ini bukan tugas yang bagus! Hampir aku kepergok, hingga hampir aku tak dapat meloloskan diri...!"

"Inilah anakku, Cie Hun namanya!" kata Han Tam pada sekalian tetamunya tanpa ia menghiraukan perkataannya bocah itu. "Dia baru saja kembali dari lembah Liong Bin Kok."

Ce In heran, di dalam hati ia terkejut.

Setelah itu, tuan rumah kata pada puterinya, "Mari, kau lebih dulu memberi hormat pada sekalian pamanmu ini!"

Cie Hun, si nona cilik, tidak lantas menjalankan perintah ayahnya itu. Lebih dulu dia menghadapi Mo Lek, sembari menunjuk si anak muda, dia tanya ayahnya, "Umur dia sama dengan umurku, apa aku mesti panggil paman juga padanya?"

"Ha, dasar bocah!" kata Han Tam tertawa. "Inilah salahku yang tidak lantas memberikan keterangan! Begini, anak! Dua tetamu ini kau boleh panggil kakak saja. Ini Lam Ce In, murid kepala dari Mo Keng Lojin. Dan ini Tiat Mo Lek, puteranya mendiang cecu dari benteng Yan San." Cie Hun nampak girang.

"Lam Toako!" kata dia gembira, "Dunia Kang Ouw menyebut kau Lam Tayhiap! Sudah lama aku mengagumi nama  besarmu!"

Kemudian dia menoleh pada Tiat Mo Lek, untuk meneruskan berkata, "Juga namamu pernah aku dengar orang menyebutnya! Kaulah si bintang cilik Siauw Che Kun di dalam Rimba Hijau, kalau kau bekerja, kau berandalan dan sedikit telengas! Ya, kau pun telah aku mengaguminya!"

Mukanya Tiat Mo Lek menjadi merah. Dia memang sedang ruwet pikirannya dan berduka. Maka perkataan bocah wanita itu membikin dia serba salah, menangis tak dapat, tertawa tak dapat juga. Dia menjadi sangat jengah.

"Hai, bocah banyak mulut!" Han Tam menegur puterinya itu. "Kau tidak tahu aturan sekali! Aku lihat, di kolong langit ini tak ada bocah yang melebihkan kau nakalnya! Hayo lekas, kau menghaturkan maaf kepada kakakmu ini!"

Lantas si nona, dengan lagak tua bangka, memberi hormat pada semua tetamunya. Dia kata, "Aku yang kecil tidak tahu apa-apa, aku telah mengucapkan kata-kata yang salah, aku mohon supaya kakak memberi maaf padaku!"

Mendengar itu, melihat tingkah orang, semua orang tertawa, tak

terkecuali Mo Lek.

"Nah, kau sudah bergurau cukup atau belum?" tanya Han Tam pada anaknya. "Sekarang kau boleh bicara dari urusan tugasmu. Kau dengan Khong Khong Jie atau tidak?"

"Bicara sebenarnya, aku tidak bertemu dengannya," sahut Cie Hun. "Apa yang aku lihat ialah sekor kera yang besar!"

"Nona Hun," Lam Ce In menyelak, "Apakah nona bukan maksudkan Ceng Ceng Jie adik seperguruan dari Khong Khong Jie?"

Nona itu tertawa geli.

"Dasar Lam Toako yang sangat pintar!" kata dia, tak likat- likat. Wajar sekali dia memanggil toako atau kakak kepada Ce In sekalipun mereka berdua baru berkenalan di detik ini. "Begitu mendengar aku, Lam Toako lantas saja dapat mengetahui siapa si kera yang aku maksudkan itu! Tidak salah! Manusia yang romannya aneh luar biasa itu benarlah Ceng Ceng Jie!"

Mau atau tidak, semua orang bersenyum. "Bicara terus!" sang ayah menitah.

"Aku masuk ke dalam lembah Liong Bin Kok kira jam dua," Cie Hun melanjuti keterangannya. "Ketika itu di dalam lembah ramai sekali keadaannya. Semua liauw-Io besar dan kecil, tengah menenggak arak kegirangan! Ong Pek Thong sendiri berpesta bersama empat orang lain di

dalam sebuah kamar, mereka terpisah dari orang-orangnya. Di luar tembok pekarangan tumbuh beberapa pohon hoay, yang besar dan tinggi melewati tembok, banyak cabangnya, lebat daunnya, maka aku mendekam di tempat yang lebat itu, mengintai mereka dengan terang sekali. Aku tidak lihat Khong Khong Jie di situ, maka itu aku tidak menggunai isyarat rahasia yang ayah ajari."

"Selainnya Ceng Ceng Jie, siapa itu tiga orang lainnya?" Han Tam

tanya.

"Yang satu ialah seorang muda umur lebih kurang dua puluh tahun, yang romannya sangat mirip dengan Ong Pek Thong," sahut si anak. " "Jidat dia itu bengkak dan biru, rupanya dia bekas orang hajar."

"Oh, dialah Ong Liong Kek, puteranya Ong Pek Thong!" kata Han Tam.

"Lukanya itu bekas dihajar pelurunya kouw-kouwku," Mo Lek beritahu. "Kouw-kouwmu?" kata Cie Hun. "Oh, tentulah dia Nyonya Touw Sian Nio isteri dari Toan Tayhiap! Kalau begitu ketika Keluarga Ong ayah dan anak serta Khong Khong Jie memukul pecah Hui Houw Ce, kau hadir di sana. Benar, bukan?"

"Jangan nyimpang!" kata Han Tam kepada puterinya, "Sebentar kau boleh minta Lam Toako-mu itu memberikan keterangannya. Sekarang lanjuti dulu penuturanmu. Siapa itu dua orang lainnya lagi?"

"Merekalah orang asih karena mereka bicara dengan lidah penduduk lain tempat," Cie Hun melanjuti pula. "Orang yang satu tangan kirinya dikasih turun, dia rupanya bekas terluka dan belum sembuh..."

Lam Ce In terperanjat.

"Aku tahu dua orang itu!" katanya. "Merekalah Busu-nya An Lok San. Yang terluka itu tak tahu aku namanya, tetapi luka di tangan kirinya itu bekas bacokanku. Yang tak terluka itu Thio Tiong Cie, satu di antara empat jagonya An Lok San."

"Pantas kalau begitu!" kata si nona. "Aku saban-saban mendengar mereka menyebut-nyebut Thaysu! Ayah, terkaan ayah tidak meleset. Benarlah Ong Pek Thong si rase tua mempunyai hubungan erat dengan An Lok San."

Ia berhenti sebentar, untuk sedetik kemudian menambahkan, "Begitu aku tiba lantas aku melihat Ong Pek Thong memberi selamat secawan arak kepada si kera gede, ialah Ceng Ceng Jie, katanya, 'Hari ini kita telah melabrak Hui Houw Ce, inilah kejadian yang paling membuat aku girang, sayang kakak seperguruanmu sudah lantas pulang, tak dapat aku mencegahnya. Maka besok, harian pesta kita, kita kekurangan dia seorang. Aku menyesal...' 'Begitu memang tabiatnya kakak seperguruanku itu/ kata Ceng Ceng Jie. 'Dia nampak gemar mencampuri urusan lain orang hanya setelah urusan selesai, lantas dia mengangkat kaki, selamanya dia tak menghiraukan jasanya'

Lantas orang yang terluka tangan kirinya itu berkata, 'Thaysu kami juga sudah lama mengagumi nama besar kakak seperguruanmu itu. Thaysu ingin mengundangnya, sayang belum didapat orang perantaraan yang cocok. Entah  bagaimana dengan tuan sendiri, apakah tuan suka membantu?'

Ceng Ceng Jie menggeleng kepala. Tapi dia tertawa.

'Sukar, sukar!' katanya. 'Demikian rupa tabiatnya kakak seperguruanku itu, maka juga dia tak dapat terkekang hingga hilang kemerdekaannya. Jangan kata baru Thaysu kamu, biar pun raja sendiri, tak nanti dia dapat diundang/

Lantas orang, orang she Thio itu, Thio..., Thio..." "Thio Tiong Cie!" Ce In tambahkan.

"Ya. Lantas Thio Tiong Cie kata pada Ong Pek Thong, 'Dengan begini jadi ternyata Ong Cecu bermuka terang sekali! Sungguh beruntung Cecu dapat mengundangnya!'

Ong Pek Thong tertawa. Dia kata, 'Aku bersahabat kekal dengan mendiang ayahnya. Di samping itu pada kira sepuluh tahun yang lalu Touw Lotoa sudah melakukan suatu perbuatan tak bagus, ialah dia hitam makan hitam, dia telah membinasakan Se Chungcu sekeluarga di kecamatan Tiauw- koan. Kebetulan sekali, Se Chungcu itu menjadi sanak tingkat tertua dari Khong Khong Jie, maka juga begitu aku omong hendak menyerbu Hui Houw Ce, dia lantas menyatakan suka memberikan bantuannya!' Thio Tiong Cie tertawa bergelak. Dia kata memuji, 'Ini pun bukti dari Ong Cecu bakal berhasil! Di belakang hari pastilah Thaysu kami bakal mengharap banyak bantuanmu, cecu!'

'Terima kasih, terima kasih,' kata Ong Pek Thong. 'Dalam hal ini, kita bekerja sama dengan masing-masing memperoleh untungnya. Aku si orang tua juga pasti bakal mengandal banyak kepada thaysu kamu itu!'

Kemudian Ong Pek Thong menambahkan kepada Ceng Ceng Jie, 'Mengenai ini, tak apa kakak seperguruanmu tidak hadir bersama. Aku pun kuatir dia nanti kurang setuju dengan tindakan kita ini. Ini pula sebabnya aku tak dari siang-siang membicarakah dengannya.'

'Tapi Ong Cecu jangan kuatir/ berkata Ceng Ceng Jie, 'Nanti aku bicara dengannya. Akan aku bicara dengan sabar. Umpama kata kakak seperguruanku itu tidak setuju, tidak nanti dia sampai menentang/

Atas itu, Ong Pek Thong mengucap terima kasih. Lagi sekali dia memberi selamat dengan secawan arak. Lagi-lagi dia mengutarakan pengharapannya Ceng Ceng Jie nanti berhasil bicara dan membujuk kakak seperguruannya itu."

Menutur sampai disitu, Han Cie Hun berhenti, untuk menghirup air tehnya.

Han Tam berpikir, lalu dia kata, perlahan.

"Bukankah barusan aku menyayangkan Khong Khong Jie?" katanya. "Aku kuatir dia kena orang pergunakan. Inilah sebabnya kekuatiranku itu. Sudah terang An Lok San mengandung niat menjadi raja, untuk satu pihak dia membaiki semua panglima orang suku Ouw di perbatasan, di lain pihak dia mau berkongkol dengan Ong Pek Thong. Kalau Ong Pek Thong berhasil menjadi kepala Ikatan Rimba Hijau, dia hendak dibujuk atau dipancing bekerja sama, untuk digunakan sebagai alat!"

"Oh, begitu pikiran toako!" kata Liong Chong Siangjin. "Aku tadinya menyangka toako berat sebelah. Sekarang ternyata Ong Pek Thong itu terlebih busuk dan terlebih jahat dari Touw Leng Ciok!"

Baru saja ia mengucap begitu, si pendeta sudah lantas menjadi menyesal. Dengan begitu dia menganggap Keluarga Touw busuk sekali. Bukankah di situ ada Lam Ce In, orang yang berpihak kepada Keluarga Touw? Bukankah di situ ada Tiat Mo Lek, anak angkat salah satu anggauta keluarga itu?

Tapi, Lam Ce In lantas berkata, "Taysu, pertimbanganmu adil sekali! Sayang yaitu Toan Toako-ku masih belum ketahui perkara ini. Mengenai perjalanannya ke Hui Houw Ce ini, Toan Toako menyesal bukan main."

"Anak Hun, bagus sekali penyelidikan kau ini!" kata Han Tam pada puterinya. "Bagaimana kemudiannya? Ada apa lagi yang kau dengar?"

"Belakangan?" sahut si anak. "Aku mendengar satu hal yang sangat diluar dugaan!"

"Bagaimana?" tanya si ayah cepat, "Apakah Ceng Ceng Jie memergoki kau?"

"Aku tidak tahu siapa yang dia pergoki itu...!" sahut si nona. "Bagaimana?" Pek Eng tanya, heran. Dia memotong.

"Apakah benar ada orang lain yang nyalinya begitu besar hingga dia berani menyateroni Liong Bin Kok?"

Sementara itu, Cie Hun sudah bicara terus, "Ketika itu hatiku berdebaran. Aku mendapatkan cabang pohon bergoyang- goyang, mengasih dengar suara yang halus. Ceng Ceng Jie benar liehay. Dia sudah lantas berlompat bangun, sambil melemparkan cawan araknya, dia berseru, 'Di luar ada orang!'"

"Ceng Ceng Jie memang liehay!" kata Han Tam kaget juga. "Bagaimana kau bisa meloloskan dirimu? Apakah kau menyebut nama atau julukanku?"

Anak itu tertawa.

"Ceng Ceng Jie tidak muncul," katanya. "Aku juga tidak menyebut nama ayah. Peruntunganku bagus sekali, dalam ancaman bencana itu, aku mendapat keselamatan. Aku ketemu bintang penolong!"

"Siapa yang telah menolongi kau?" si ayah tanya. Dia menduga, untuk di dalam lembah Liong Bin Kok, cuma seorang tua yang liehay yang dapat menolong puterinya itu.

Tetapi Cie Hun, si anak, tertawa.

"Ayah menerka keliru!" kata anak itu. "Bintang penolongku itu seorang nona yang cantik, dibanding dengan aku, dia tak lebih tua seberapa."

"Aneh! Siapakah nona itu?" i

"Sabar, ayah! Ayah sabar mendengar ceritaku." Lantas; anak ini berlagak beraksi seperti tukang cerita yang ulung. "Maka di itu waktu," dia melanjuti, "Mendadak puteranya Ong Pek Thong menggoyang-goyangi tangannya. Kata dia perlahan/Itulah seorang sahabatku! Jangan kuatir. Nanti aku undang dia masuk!' Aku heran, hingga aku menduga-duga. Aku tanya diriku, kenapa pemuda itu kenal aku... Aku menduga akulah yang kena kepergok. Habis berkata, dia sudah lantas lompat ke atas tembok pekarangan. Justeru itu di sebuah pohon Hoay muncul si nona cantik. Rupanya dia, sudah bersembunyi di pohon itu, hanya aku tidak mendapat tahu. Melihat Ong Liong Kek, nona itu berkata dingin, 'Ong Kongcu, kiranya kaulah Ong Siauw-cecu! Sungguh aku kurang hormat, kurang hormat!'

Aku melihat Ong Liong Kek menjadi likat.

'Nona He, bukannya aku mendustakan kau/ katanya. 'Ini... ini...' Baru aku ketahui nona itu she He.

Dia  memotong   perkataannya  Ong  Liong   Kek,   'Siapa kau sebenarnya, tidak ada sangkutannya denganku!' suaranya dingin. 'Aku cuma hendak menanya kau, apa yang kamu bikin atas dirinya Toan Pehu-* ku?'

'Yang mana itu Toan Pehu kau?' Liong Kek tanya. 'Dialah Toan Tayhiap, Toan Kui Ciang!' si nona beritahu." Mendengar itu, Ce In terperanjat.

"Jikalau begitu nona itu bukan lain daripada He Leng Song..." katanya di dalam hati. "Ah, benar-benar dia ada hubungan dengan anaknya Ong Pek Thong itu!"

Cie Hun melanjuti pula penuturannya, "Aku lihat Ong Liong Kek melengak. Dia kata, 'Oh, kiranya Toan Kui Ciang itu pamanmu! Mereka... mereka berdua suami isteri...'

Si nona memotong, 'Mereka kenapa?'

Ong Liong Kek menjawab, suaranya agak perlahan, "Mereka berdua tak dapat melawan Khong Khong Jie, mereka mengangkat kaki, kabur...'

'Apakah benar begitu?' si nona tegasi.

'Buat apa aku mendustai kau?' Liong Kek jawab. 'Kami bukannya bangsa berandal yang biasa sembrono membunuh orang!'

'Mereka itu menyingkir ke mana?' si nona tanya pula. 'Mana aku tahu? Mungkin mereka lari pulang...'

'Baik!' kata si nona nyaring. 'Jikalau aku tidak berhasil mencari mereka itu, akan aku datang pula kepadamu!'

Habis berkata, nona itu lantas berangkat pergi. Ong Liong Kek pergi menyusul. Aku menggunai ketika itu buat mengangkat kaki juga."

Han Tam mengeluarkan napas lega.

"Jikalau begitu, nona she He itu datang ke Liong Bin Kok untuk mencari Toan Tayhiap," kata ia. "Dia pasti orang sebangsa golongan kita.

Kenapa kau tidak mau undang dia kemari, untuk kita memasang omong? Aku tahu ilmu silatnya anak Ong Pek Thong itu, kalau kau bertempur dengannya, kau tidak akan sanggup melawannya, sebaliknya dalam ilmu ringan tubuh, dia tak dapat menandingi kau. Menurut kau, anak, ilmu ringan tubuh nona itu pasti jauh terlebih mahir daripada kepandaian kau, maka itu pasti sudah anaknya Ong Pek Thong tak bakal dapat menyusul dia. Apa mungkin nona itu tak sudi bertemu dengan kau?"

"Ayah menduga tepat," kata Cie Hun. "Memang juga Ong Liong Kek tidak berhasil menyandaknya. Aku berlalu dari Liong Bin Kok belum lima lie, aku melihat dia kembali dengan lesu. Dia tidak dapat melihat aku, dari itu aku pun tidak mau mengganggunya. Setelah aku berjalan lebih jauh lima atau enam lie, tiba-tiba aku mendengar suara kelenengan kuda, yang datang dari sebelah depan. Kiranya dialah si nona she He, yang sudah kembali. Sekarang dia menunggang sekor kuda putih. Dia kembali untuk mencari aku."

"Apa kata nona itu?"

"Paling dulu dia tanya aku, aku dari pihak Keluarga Touw atau bukan. Aku menjawab bukan. Dia pun tanya aku kenal Toan Tayhiap atau tidak. Aku jawab tidak. Lantas dia tanya pula, 'Habis, buat urusan apakah kau pergi ke Liong Bin Kok?' Aku percaya dialah seorang lurus, maka aku tidak niat mendustakan dia. Begitulah aku menjawab secara terus terang. Aku membilangi aku hendak mencari Khong Khong Jie. Setelah itu aku mengundang dia datang ke rumah kita, untuk sedikitnya tinggal buat satu malam. Aku menjanjikan membantui ia mencari Toan Tayhiap. Mendengar ajakanku itu, aku lihat air mukanya berubah dengan mendadak, lalu ia berkata, 'Hm! Aku tidak sempat!' Dia mengeprak kudanya, dikasih kabur. Aku jadi kebogehan. Melihat romannya itu, dia rupanya sangat membenci Khong Khong Jie." ^

Han Tam tertawa.

"Rupanya dia salah mengerti," kata orang tua ini. "Terang dia rada terburu napsu..."

Sat-sie Siang-eng dan Sin Cecu heran. Mereka orang-orang Kang Ouw dan pergaulan mereka luas, pendengaran mereka banyak, akan tetapi mereka tidak pernah ketahui tentang nona she He itu, karena mana mereka jadi tak dapat menduga si nona orang macam apa.

Mo Lek ingin campur bicara, akan tetapi ketika ia melihat Ce In, kawan itu mengedipi mata padanya, maka ia urung bicara. Tetapi ia heran kenapa paman she Lam itu mencegah ia membeber halnya Leng Song.

"Sekarang kita biarkan dulu hal nona she He itu," berkata Han Tam kemudian. "Mari kita bicarakan hasil penyelidikannya Cie Hun. Terang sudah Ong Pek Thong berkongkol dengan An Lok San. Inilah suatu kepastian. Bagaimana sekarang kita harus bertindak?"

Sin Cecu dari benteng Kim Ke San, yang bernama Thian Hiong, bertabiat keras, dia lantas berkata, "Ong Pek Thong ingin menjadi kepala Ikatan Rimba Hijau, itulah urusannya sendiri, tetapi kalau dengan begitu dengan dia mau kita turut padanya, untuk membantu bangsa Ouw merampas pemerintah, tak dapat!"

"Hanyalah tentang akal muslihatnya itu," berkata kedua saudara Sat, "Semua itu tidak atau belum diketahui saudara- saudara kita dari Rimba Hijau. Aku pikir mesti kita bongkar atau beber akal muslihat itu, supaya saudara-saudara kita tak usah kena diakali hingga mereka dapat dituntun hidungnya..."

"Itu benar, tetapi bagaimana caranya?" Thian Hiong tanya.

Thouw Pek Eng, yang sedari tadi berdiam saja, campur bicara.

"Sin Cecu," ia tanya, "Bukankah Ong Pek Thong ada mengirim surat undangan kepadamu?"

"Benar! Tapi aku tidak takut padanya, aku tidak mau datang untuk menghadiri pestanya itu!" sahut si jago dari gunung Kim Ke San.

"Menurut aku, lebih baik kau pergi!" kata Pek Eng tertawa. "Dengan kau pergi itu, kita dapat menjadi pengikut- pengikutmu. Han Lo-cianpwe, bagaimana pikiran lo-cianpwe?"

"Pikiranmu itu baik," sahut Han Tam, "Cuma Ce In dan Mo Lek, juga dua saudara Sat, sulit pergi ke sana. Mereka semua dikenali Ong Pek Thong. Dia mana bisa dikelabui matanya?"

"Tentang itu lo-cianpwe tak usah kuatir," Pek Eng berkata. "Aku yang muda mengerti juga kepandaian menyalin rupa." Han Tam tertawa.

"Aku cuma tahu laote sebagai tabib pandai, tak tahunya kau pun pandai ilmu menyamar! Hanya aku berusia begini tua, mana dapat aku menyaru jadi pengiringnya Sin Cecu?" Pek Eng tertawa

"Aku dapat membikin lo-cianpwe lebih muda dua puluh tahun!" katanya. "Cuma sulitnya yaitu jenggot lo-cianpwe mesti dipotong sedikit supaya menjadi terlebih pendek. Itulah sayang."

Ia berhenti sebentar, terus ia menambahkan, "Buat yang lainnya, semua mudah, yang paling sukar ialah Liong Chong Siangjin, sudah tubuhnya tinggi besar luar biasa, kepalanya pun gundul."

"Jikalau begitu, tidak ada jalan lain daripada minta sukalah Siangjin merendahkan diri menjagai gubuk reyotku ini sekalian ia menemani anakku," kata Han Tam bersenyum.

"Tidak!" kata Cie Hun. "Aku ingin menyaksikan keramaian itu!"

"Keponakanku, aku lihat, lebih baik kau jangan turut," berkata Pek Eng. "Kau masih terlalu kecil, taruh kata kau salin macammu, umpama kata kau menjadi kacung liauwlo, mungkin Ong Pek Thong yang licin dapat mengenali penyamaranmu. Maka itu lebih baik kau tinggal di rumah."

Cie Hun tidak mau mengerti, dia lantas menunjuk Mo Lek. "Umur dia berimbang dengan umurku, kalau dia dapat pergi,

kenapa aku tidak?" dia membantah.

Han Tam tertawa.

"Coba kau berdiri berendeng dengannya!" kata ayah ini. "Coba kau lihat, bukankah dia lebih tinggi daripada kau? Kalau dia menjadi kacungnya Sin Cecu pasti tak ada yang curigai. Kau lain lagi. Laginya, kalau kau menyamar menjadi laki-laki, kau lebih mudah dikenalinya."

---ooo0dw0ooo---
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 09"

Post a Comment

close