Kisah Bangsa Petualang Jilid 07

Mode Malam
 
Jilid 07

Hal ini dia ingat belakangan, maka diam-diam dia mengeluarkan keringat dingin di punggungnya.

Walaupun begitu, keras sekali niatnya merobohkan Ce In, dia sangat bandel dan berani. Tanpa menghiraukan bahwa orang memikir baik untuk dirinya, dia mulai dengan penyerangannya pula, untuk mendesak sekali.

Kembali Ce In menjadi repot. Kipas si pemuda sebentar dibuka sebentar ditutup. Dibuka kipas itu bergerak seperti golok memapas, ditutup seperti alat peranti menotok jalan darah. Kipas itu terbuat dari baja dan tulang-tulangnya dibikin berujung tajam.

Lam Ce In menjadi sengit. Ketika ia sedang diserang, ia berseru dengan bentakannya. Ia diarah lengannya. Sambil berseru itu, ia menolak keras.

Si anak muda terkejut, dia terhuyung tiga tindak, terus dia muntah darah.

Akan tetapi Ce In pun tidak bebas seluruhnya. Ujung kipas mampir juga di lengannya, hingga lengannya itu menjadi borboran darah.

Kawan-kawan si anak muda terkejut mendapatkan tuan mudanya terluka, sambil berseru-seru mereka maju.

"Semua mundur.'" membentak si anak muda, hingga orang- orangnya itu merandek. Ia bertindak dengan tindakan "Naga'melingkar" menghampirkan Ce In, sedang kipasnya dibuka.

Sambil maju itu, ia kata dingin, "Sama-sama kita telah mandi darah, tetapi kita belum kalah atau menang, keduanya tidak rugi, maka itu, mari maju, mari kita bertempur pula!"

Ce In memindahkan goloknya ke tangan kiri.

"Baik!" ia menjawab tantangan. "Kau begini bandel, akan aku membikin kau dapat mencapai cita-citamu! Jikalau didalam batas seratus jurus aku tidak berhasil mengalahkan kau, aku puas, suka aku mengaku kalah! Selama seratus jurus ini, siapa terluka, bercacad atau mati, dia terserah kepada nasibnya!"

Sebagai seorang jago, Ce In mengasih dengar suaranya itu, dengan begitu berarti ia memandang lawan muda itu sebagai lawan seimbang. Habis muntah darah, mukanya si anak muda menjadi pucat, akan tetapi mendengar suara Ce In, mendadak wajahnya bercahaya, dia tertawa lebar dan kata nyaring, "Lam Tayhiap, aku justeru menghendaki kata-katamu ini!"

Lantas dia menyerang.

Ce In menangkis, terus ia menangkis hingga tiga kali. Ia kata, "Bagaimana kalau kau roboh didalam seratus jurus itu?"

Si anak muda dapat menerka hati orang, dia menyahut sambil tertawa, "Paling juga aku menyerahkan nyawaku padamu! Kita berdua bertanding, inilah urusan kita, sedang urusan ayahku mengundang orang, itulah urusan lain, keduanya itu tak dapat dicampur menjadi satu!"

Dia melihat langit, lantas dia teriaki orang-orangnya, "Sang sore bakal tiba, kamu tak usah menantikan lagi pertempuranku ini dengan Lam Tayhiap, jangan menunggui sampai siapa kalah dan siapa menang, lekas kamu menyambut Toan Tayhiap pulang ke benteng!"

Suara itu didengar, maka orang-orangnya itu sambil menyahuti lantas bergerak ke arah kereta.

Lam Ce In menjadi mendongkol dan gusar sekali. Nyatalah orang sangat licik. Itu pula berbahaya untuk Toan Kui Ciang, yang baru mulai segar. Mana dapat Kui Ciang menyambut serangan sedang Tiat Mo Lek bersendirian? Karena gusarnya, ia menyerang hebat, goloknya seperti tak mengenal kasihan. Sayang ia mesti menggunai tangan kiri.

Sebaliknya si anak muda, dia dapat bergerak dengan leluasa dengan kipasnya yang liehay itu. Bahkan dia mendesak seru.

Tiat Mo Lek melihat orang meluruk ke arahnya. Begitu serangan datang, sembari duduk di atas kereta, ia membabat.

Untungnya ia memakai golok mustika dari Ce In. Maka juga dua batang tombak serta sebatang golok lantas lantas terbabat kutung goloknya itu.

"Majulah, siapa tidak takut mampus!" ia berseru. Ia pun mendongkol.

Cio It Liong tertawa. Kata dia, "Saudara Tiat, aku memandang mata pada mendiang Tiat Cecu, tak memikir aku untuk mempersulit kau!

Bukankah kau pun orang Jalan Hitam seperti kami? Tak tahukah kau aturan Rimba Hijau kita, kalau kita mengundang tetamu, apabila tetamu itu tidak datang, itulah suatu pantangan besar? Hari ini Toan Tayhiap menjadi tetamu kami yang utama, kamu berdua ialah tetamu tukang menemani, karena itu, benarkah kau tidak hendak minum arak pemberian selamat hanya menginginkan arak dendaan?"

Tiat Mo Lek tertawa dingin, la menjawab, "Cio Lotoa, tak kusangka kau masih mempunyai kulit muka untuk bicara denganku perihal aturan Rimba Hijau! Kaulah orang Rimba Hijau kelas satu, kenapa kau suka menjadi gundal orang? Ya, itu pun masih tidak apa! Kau sudah mewakilkan majikanmu mengirim surat undangan. Surat undangan sudah ditolak, kalau toh undangan hendak diulangi, si pembawanya mesti lain orang, orang yang baru, kau mesti mengalah!"

Mukanya orang she Cio itu menjadi merah. Tajam perkataannya si bocah. Maksudnya itu membilang, tadi dia kalah oleh Ce In. Karena kalah, dia tak berderajat buat terus mewakilkan majikannya "Mengundang tamu". Sebagai jago Rimba Hijau, yang mengerti aturan kaumnya, tak berani dia maju pula.

Sebaliknya seorang penjahat lain, yang tubuhnya tinggi dan besar, lantas menggantikan dia. Dia ini berkata nyaring, "Baiklah, aku yang menggantikan menjadi wakil untuk mengundang tetamu! Tiat Siauw-cecu, aku minta sudi apakah kau memberi muka padaku!"

Kata-kata itu dibarengi dengan serangannya. Dia menggunai sebuah gembolan tembaga yang berat. Senjata itu menyatakan bahwa dia memiliki tenaga yang besar sekali.

Tiat Mo Lek masih berdiam di atas keretanya, ia tidak merdeka. Tak dapat ia bergerak kesana kemari atau berlompatan. Atas datangnya serangan, terpaksa ia menangkis. Benar ia menggunai golok bnustika tapi golok itu tak dapat menebas gembolan yang tebal. Maka itu tangannya tergetar dan kesemutan, ngilu dan nyeri.

Syukur ia telah memperoleh tak sedikit petunjuk dari Toan Kui Ciang dari itu ia mengerti ilmu "Meminjam tenaga untuk menghajar tenaga" Demikian goloknya meleset ke pinggiran gembolan, terus nyerempet baju lawan, hampir ujungnya mampir di tulang selangka.

Sayang ia masih kurang latihan, kalau tidak, senjata musuh bisa terlepas karena dia terlukakan parah.

Penjahat itu gusar sekali, maka dia mendamprat, "Bocah, kalau begitu benar kau menghendaki arak dendaan! Baiklah, mari'kita tak berlaku sungkan-sungkan lagi!"

Dia lantas mengulangi serangannya, yang hebat.

Dua penjahat lain pun maju guna mengepung, masing- masing menggunai ruyung baja dan roda besi, semua senjata- senjata yang tak mudah terbabat kutung. Dengan begitu Mo Lek lantas menjadi terdesak.

Selagi begitu, Toan Kui Ciang menyingkap tenda kereta, rubuhnya menyender di senderan. Ia melihat jalannya pertempuran, ia kata nyaring, "Tiat Mo Lek, berhenti! Mereka itu datang untukku, biarlah mereka datang padaku!" Penjahat yang mencekal gembolan tertawa.

"Dasar Toan Tayhiap orang yang mengerti suasana!" katanya. "Sebenarnya kami mengundang tayhiap dengan maksud hati yang sungguh-sungguh!"

Ia maju mendekati, sebelah tangannya diulur, maksudnya buat memimpin orang yang terluka parah itu.

Kui Ciang kata tawar, "Aku si orang she Toan, aku dapat menerima yang lunak tetapi tidak yang keras! Kau ini menarik tetamu, bukannya mengundang! Maka pergilah kau suruh majikanmu sendiri datang ke mari!"

Penjahat itu tak memandang mata pada Kui Ciang. Orang, lagi sakit. Memang dia memimpin untuk menarik. Dia tak tahu Kui Ciang seorang cerdik Ketika tangannya nempel dengan tangan si sakit itu, dia kaget bukan main!

Kui Ciang berlaku sangat sebat. Ia memutar tangannya dan menangkap, tenaganya berbareng dikerahkan. Segera tangan si penjahat meretek, sebab tulangnya patah seketika, hingga dia menjerit kesakitan keras sekali, gembolannya terlempar mengenai dua kawannya hingga mereka itu terluka.

Kedua kawannya orang itu kaget tetapi mereka lantas menyerang Kui Ciang.

"Pergi kamu!" Kui Ciang membentak sambil kedua biji matanya mencilak sedang tangannya diulur. Ia menyampok roda besi hingga senjata istimewa itu terpental membentur ruyung kawannya!

Perlawanan Kui Ciang ini sebenarnya berbahaya. Ia lagi berkelahi sambil duduk, tak merdeka dia untuk menggeraki kakinya. Hebat bentroknya senjata kedua penjahat itu. Yang tersampok terpental, yang terbentur terpental juga, maka keduanya roboh bersama, tubuh mereka terlentang.

Mo Lek tertawa melihat kesudahan itu. "Bagus! Bagus!" ia memuji.

Semua penjahat mundur sendirinya. Kaget dan jeri mereka menyaksikan Kui Ciang demikian Iiehay.

Sekarang si orang she Toan menghunus pedangnya, sambil terus bersender, ia kata keren, "Tuan siapa lagi yang mau maju menyampaikan surat undangan?"

Setelah makan obat beberapa hari Kui Ciang maju baik, tapi ia perlu beristirahat, siapa tahu sekarang ia justeru menggunai tenaga berlebihan, maka itu setelah melayani ketiga musuh itu, ia merasakan darahnya mendesak naik dan matanya pun berkunang-kunang cuma berkat hati yang kuat, dapat ia mempertahankan diri. Ia berseru untuk menggertak saja.

Penjahat-penjahat lainnya dapat digertak, tidak persaudaraan Cio. Mereka orang Rimba Hijau ulung. Mulanya saja mereka kaget, lantas mata mereka yang tajam dapat melihat tegas wajahnya Kui Ciang. Mereka juga mendengar suara orang kekurangan dorongan tenaga dalam. Itulah tanda luka yang belum sembuh betul.

"Maju!" mereka berteriak seraya bersiul.

Kawanan penjahat lantas maju lagi, mengurung kereta.

Cio It Liong malu untuk maju pula, ia berbisik pada kawannya yang bersenjata ruyung. Penjahat itu kelihatan girang, lantas dia maju ke depan. ^

Kata dia pada Kui Ciang, "Toan Tayhiap, karena kau tak sudi memberi muka kepada kami, harap kau maafkan kami terpaksa berlaku tak sungkan lagi! Kawan-kawan, hayo maju! Pakailah senjata rahasia!"

Hebat anjuran yang berupa perintah itu. Lantas semua penjahat itu mengeluarkan senjata gelap mereka, seperti golok terbang, kim-chie-piauw, panah tangan dan bandring. Semua senjata itu meluruh ke arah si sakit.

Untuk menjaga diri, Kui Ciang putar hebat pedangnya. Tak dapat ia menggeraki tubuh untuk berkelit. Sudah bagus ia cepat sekali dapat menyalurkan napasnya.

Tiat Mo Lek kaget berbareng gusar. Ia maju ke depan Kui Ciang, guna mengalingi. Ia putar goloknya guna menghalau setiap senjata rahasia. Ia kata nyaring, "Oh, kawanan bangsat hina dina! Sungguh kamu membikin ludas muka terang jago- jago Rimba Hijau!"

Penjahat yang memegang ruyung tertawa.

"Tiat Siauw-cecu!" katanya, "Kau sendiri tidak menghormati, mana dapat kau menyesalkan kami? Jangan kau takut! Umpama kata kau terluka, nanti aku obaVi kau...!"

Ketika itu Mo Lek luput dengan penjagaan dirinya. Dua panah tangan mengenakan padanya dan sebutir batu mampir di dahinya hingga dahi itu luka mengeluarkan darah. Syukur kawanan penjahat ingin menangkap hidup padanya, mereka itu tidak menggunai racun.

"Mo Lek, kau masuk ke dalam kereta!" Kui Ciang menitahkan melihat bocah itu terluka.

Si bocah tidak mau masuk, dia tetap bertahan.

Tepat itu waktu terdengar suara larinya kuda, yang mendatangi, tempo kuda telah datang dekat, terlihat penunggangnya, seorang.nona, bahkan dialah Nona He Leng Song.

Nona He lantas melihat pertempuran di antara Lam Ce In dan si anak muda, ia rupanya merasa heran maka ia mengasih dengar suara "Ai!" perlahan.

Si anak muda, yang lagi berkelahi itu, melihat juga si nona, mukanya lantas berubah, ia pun mengasih dengar seruan "Ai!" itu. Tapi ia lagi didesak Ce In, ia repot membela diri, tak sempat ia berpikir lainnya.

Si nona juga melihat kereta lagi dikurung penjahat dan Tiat Mo Lek repot bukan main, maka itu, kalau tadinya ia mau menghampirkan Ce In, sekarang ia merubah haluan, ia larikan kudanya ke arah kereta.

Kawanan penjahat melihat datangnya orang baru, mereka menyangka pada musuh, lantas mereka menyambut dengan pelbagai senjata rahasia mereka.

Leng Song kuatir kudanya terluka dengan satu lompatan "Ikan emas menyerbu gelombang," ia lompat turun dari binatang tunggangan itu, sembari berlompat, ia menghunus Ceng Song Kiam, dari itu dengan pedangnya itu ia membela diri, menangkis serangan, hingga ramailah terdengar suara membentur pelbagai senjata gelap itu.

Semua penjahat heran, mereka terkejut. Justeru begitu si nona maju terus, menghampirkan mereka sampai dekat, hingga selanjutnya tak merdeka mereka menggunai terus senjata rahasia.

Si nona juga bergerak dengan lincah ke segala penjuru, hingga ia membikin musuh menjadi bingung. Setiap pedangnya ditusukkan, atau ditabaskan, tentu-tentu ada musuh yang menjerit kesakitan atau terhuyung dengan senjatanya lepas dari tangannya.

Ilmu silat pedang Nona He liehay dan luar biasa siapa terkena itu tentulah dia terluka dan senjatanya terlepas dari tangannya tapi dia tanpa terluka parah kecuali rasa nyerinya yang mengagetkan dan mengecilkan hati.

Seorang penjahat dengan golok besar menjadi gusar. Dia merangsak maju. Dengan lantas dia membacok si nona. Dia ingin menghajar terlepas pedangnya nona itu.

Leng Song berkelit, terus ia menikam. Tapi lawan itu kosen, dia bisa berkelit juga. Atas itu Nona He maju pula. Ia lantas menggunai tipu silatnya yang liehay. Mulanya ia menggeser ke kiri, guna dapat menyerang dengan tepat.

Penjahat itu melawan dengan baik, ketika ia menangkis, senjata mereka beradu keras. Akan tetapi kali ini, begitu senjata beradu, begitu si penjahat berkaok kesakitan. Diluar kesanggupannya membela diri, dengkulnya kena dipapas, maka robohlah dia, bahkan tubuhnya terguling, terus ke kaki gunung!

Rombongan musuh menjadi takut, mereka lantas lari bubar.

Persaudaraan Cio sudah menukar senjata mereka, ketika mereka melihat suasana buruk itu, dengan terpaksa mereka maju mengepung Nona He.

Nona ini liehay, ia melawan dengan gagah, apamau ia mendapatkan dua saudara itu dapat bersilat bersatu padu, serangannya yang berbahaya dapat dihalau. Mereka itu terus mengurung rapat.

"Mo Lek, kau bantui nona itu!" kata Kui Ciang, yang menyaksikan pertempuran main keroyok itu. Kawanan penjahat tak lari semua, masih ada yang dari jauh menyerang dengan senjata rahasia mereka, tetapi sekarang Kui Ciang bisa membela dirinya. Senjata rahasia itu tak sebanyak tadi dan dipakai menyerang dari jarak jauh, ancaman bahayanya kurang.

Haji Mo Lek panas, maka itu, mendengar perintahnya Kui Ciang, ia lantas lompat turun dari kereta, guna menceburkan diri dalam pertempuran. Tiga lukanya tidak menyebabkan dia letih.

Dua saudara Cio bukannya lawan Leng Song, cuma kalau Mo Lek tidak datang, mereka masih dapat bertahan sekian lama, sekarang dengan munculnya si bocah liehay, mereka lantas keteter. Mo Lek juga memakai golok mustikanya Ce In.

Mulanya golok sebatang dari Cio It Houw tertabas golok si bocah. It Houw kaget. It Liong melihat gelagat, dia lantas tarik tangan saudaranya itu, buat diajak menyingkir dari gelanggang. Mo Lek mau menghajar, tetapi si nona mencegah ia.

"Musuh kabur tak usah dikejar!" kata nona itu, tertawa. "Adik kecil, kau ampuni mereka itu!"

Si nona lantas menoleh, akan memandang pertempuran Ce In dengan si anak muda.

Pertempuran berjalan tetap seru, hanya semenjak munculnya si nona, si pemuda nampak gelisah. Rupanya dia ingin lekas menghentikan pertempuran, dia mencoba mendesak hebat pada musuhnya. Berulang kali dia menggunai jurus yang membahayakan.

Ce In gagah, dia berpengalaman, dia dapat melihat keadaan lawan. Dia senang mendapatkan dia diserang hebat itu. Dia melayani dengan sabar, sembari dia mencari ketika. Dengan lincah dia mengeluarkan ilmu golok "Yu Sin Toan Bun Too". Dia bergerak mundur, agaknya dia terdesak.

Si anak muda mendapat lihat orang-orangnya kena dipukul mundur, ia jadi tambah gelisah. Satu kali mendadak ia berseru, "Akan aku adu jiwaku denganmu!" dan terus ia menyerang keras berulang kali.

Meski didesak hebat, selang enam atau tujuh jurus, Lam Ce In justeru tertawa nyaring dan kata, "Bagus!" Dengan begitu mulailah serangan membalasnya. Maka lekas juga si anak muda berbalik terdesak.

"Lam Tayhiap, tahan...! Tahan...!" seru Leng Song akhirnya.

Justeru itu ujung golok si orang she Lam telah mampir di pundak si anak muda, melukai panjang lima dim, hingga darahnya mengucur. Syukur ada seruan si nona, kalau tidak, tak dapat golok itu ditahan. Ce In jadi membenci pemuda itu, hingga ingin ia menghajarnya hingga bercacad.

Walaupun ia menang, di dalam hatinya Ce In mengeluh sendirinya. Kemenangannya itu didapat di dalam jurus yang ke lima puluh satu. Inilah diluar dugaannya.

Pikirnya, "Kalau dia tak bergelisah, mungkin sampai seratus jurus belum bisa aku merobohkannya..."

Anak muda itu lompat keluar gelanggang, mukanya merah. Dia memegang kipasnya sembari menjura dan berkata, "Ilmu silat golokmu ilmu silat yang bagus sekali! Aku berterima kasih dapat menerima pengajaran kau ini! Karena gunung hijau dan air biru itu kekal adanya, sampai lain kali kita bertemu pula!"

Kata-kata yang pertama ditujukan kepada Lam Ce In, akan tetapi di waktu mengakhirinya, pemuda itu memandang Nona He, atas mana bibir si nona bergerak, hanya batal ia mengucapkan sesuatu, sebab si anak muda sendiri sudah  lantas lari kabur. Ia nampak bingung...

Lam Ce In menyerahkan goloknya kepada Tiat Mo Lek, untuk ditukar dengan goloknya sendiri. Ia sebenarnya heran tetapi ia kata pada si nona, "Nona, terima kasih banyak untuk bantuanmu!"

Mo Lek heran, tak dapat ia menahan diri.

"Nona He, apa nona kenal penjahat itu?" dia tanya.

Muka si nona merah, ia menjawab likat, "Pernah aku bertemu dia satu kali, kita bukannya sahabat satu dengan lain..."

Ce In heran tetapi ia tidak berani menanyakan. Sampai disitu, ketiganya bertindak ke kereta.

Toan Kui Ciang sudah menanti, begitu orang tiba, ia menanya, "Inikah Nona He?"

Leng Song menyahuti, "Ya," lalu ia memberi horrhat dengan merangkap kedua tangannya kepada Kui Ciang. Ia pun lantas rrienanyakan kewarasannya Kui Ciang kepada siapa ia memanggil pehu, paman tua.

Melihat nona itu, Kui Ciang teringat kepada Pek Ma Liehiap Leng Soat Bwe, Jago Wanita Kuda Putih. Sekarang ia dipanggil pehu, kesangsiannya lantas lenyap.

"Bukankah ibumu she Leng dan namanya Soat Bwe?" ia tanya terus terang, tanpa ragu-ragu.

Leng Song kembali menyahuti, "Ya," lalu ia tertawa dan kata, "Setiap orang membilang bahwa aku mirip ibuku, ternyata Toan Pehu melihatnya sama!" Kui Ciang berdiam sejenak. Ia terganggu kesangsian lainnya. Tapi akhirnya ia menanya juga, "Aku belum menanyakan tentang ayahmu..."

"Ayahku she He asal dari Louw-liong," sahut si nona, "Namanya ialah Seng To. Ketika aku dilahirkan, ayah sudah menutup mata..."

Kui Ciang heran hingga ia berpikir, "Ketika itu malam mereka menikah, baru saja He Seng To masuk dalam kamarnya, dia lantas nampak bencana, kenapa sekarang bisa terlahir anak dara ini? Merekalah pemuda gagah perkasa dan nona gagah putih bersih, tidak nanti sebelumnya pernikahannya dilangsungkan, mereka sudah terlebih dahulu main gila... tidak nanti!"

Masih ada satu lagi, yang menambah keheranannya Kui Ciang. Menyebut-nyebut ayahnya itu, Leng Song tak berduka luar biasa. Kalau dia tahu bencana yang merampas jiwa ayahnya itu, tak nanti dia tak minta bantuannya untuk mencari balas untuk ayahnya itu.

"Mungkinkah ibunya belum menuturkan pada dia tentang nasib ayahnya itu?" ia berpikir terlebih jauh. "Dia telah menjadi dewasa begini, kenapa ibunya masih merahasiakannya?"

Tak dapat Kui Ciang memecahkan keragu-raguannya itu, bahkan sebaliknya, ia menjadi semakin heran.

Leng Song pun heran melihat sikap diam dari Kui Ciang itu, hanya selagi ia hendak berbicara, orang telah mendahuluinya.

"Sekarang ini ibumu berada di mana?" tanya Toan Tayhiap. Nona itu tidak segera menjawab, ia agak bersangsi. "Dulu hari itu aku sering ada bersama ayah dan ibumu," Kui Ciang kata pula. "Kitalah sahabat-sahabat kekal." "Ibu memang pernah membicarakan urusan persahabatannya dengan pehu," si nona kata akhirnya. "Hanya sekarang ini setelah hidup menyembunyi banyak tahun, ibu tak memikir pula untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Ibu meminta aku menyampaikan hormatnya kepada pehu serta mohon sukalah pehu memaafkannya."

Kui Ciang heran sekali. Maka bertambahlah keheranannya. Katanya di dalam hati, "Kenapa Soat Bwe tak mau menemui sekalipun aku? Mungkinkah karena kecelakaannya dulu itu dia menjadi tawar, hati, sampai pun sakit hati suaminya dia tak memikir untuk membalasnya?"

Kui Ciang tahu tak perlu dia menanyakan terlebih jauh tentang ibu orang. Hanya sebentar, ia menukar haluan. Ia tanya, "Katanya kau berniat membinasakan Se-gak Sin Liong Hong-hu Siong, entah buat urusan apakah itu?"

"Ibu membilangi aku dialah hantu kepala yang tak ada kejahatan yang tak diperbuatnya!" menjawab si nona. "Maka  itu aku dipesan untuk membinasakannya guna menyingkirkan satu bencana dunia Kang Ouw!"

Keterangan ini bersamaan saja dengan keterangannya ketika baru-baru ini si nona berikan kepada Lam Ce In, cuma sekarang dia tidak membawa-bawa urusan yang menyangkut dirinya sendiri.

Kui Ciang berpikir.

"Apa yang ibumu bilang tidak salah, Hong-hu Siong memang orang busuk," kata ia, "Maka kalau kita menyingkirkan dia untuk keselamatan dunia Kang Ouw, itulah tugas kita kaum pembela keadilan. Tapi Hong-hu Siong itu gagah luar biasa, ilmu silatnya tinggi sekali, kau seorang diri, aku kuatir kau bukanlah lawan setimpal dari dia. Jikalau ada tempat untuk bantuanku, suka sekali aku membantu padamu, hanya sekarang belum dapat. Sekarang ini di hadapanku ada suatu urusan sangat penting, yang harus diselesaikan. Apakah tak lebih baik kau sekarang turut aku pergi ke Touw Ke Ce? Kau tunggu sampai kesehatanku sudah pulih seluruhnya dan aku juga telah selesai dengan urusan yang aku sebutkan ini, nanti aku temani kau mencari Hong-hu Siong!"

"Terima kasih atas kebaikan pehu," berkata si nona. "Hanya ibu memesan aku bahwa lebih baik aku menyingkirkan dia dengan tenagaku sendiri, tak usah aku mohon bantuan lain orang. Pehu, urusan yang kau hendak selesaikan itu telah aku ketahui. Nyonya Su telalj memesan beberapa kata-katanya untuk disampaikan kepada pehu..."

Kui Ciang terkejut.

"Jadi malam itu kau benar-benar telah menyateroni istana An Lok San?" ia tanya.

He Leng Song tertawa.

"Tidak!" sahurnya. "Aku hanya pergi ke gedungnya Sie Siong. Bangsat she Sie itu tergila-gila dengan kecantikan Nyonya Su, untuk itu dia telah minta si nyonya dari An Lok San!"

Kui Ciang gusar sekali hingga ia mengayun tangannya menghajar

kereta.

"Kurang ajar!" teriaknya. "Jikalau aku tidak dapat membalas sakit hatinya Su Toako dan Su Toaso, aku sumpah tak mau menjadi orang!"

Habis mengumbar napsu amarahnya itu, Kui Ciang menjadi reda sendirinya. Ia berbalik menjadi berduka. "Su Toaso dari keluarga sastrawan yang terhormat, mana dapat dia menerima kehidupan semacam itu?" katanya.

"Perihal itu pehu tak usah buat kuatir," Leng Song memberi penjelasan. "Ie Tiap-ku itu sudah ketahui Sie Siong berniat jahat terhadap * dirinya, dia mendahului merusak mukanya. Maka itu meski benar dia sekarang berada di tempat berbahaya, kesucian dirinya dapat terjamin."

Lebih jelas Leng Song tuturkan apa yang terjadi malam itu di gedung Sie Siong sebagaimana yang ia saksikan sendiri.

Kui Ciang, Ce In dan Mo Lek menggoyang-goyang kepala dan menarik napas, masgul, berduka dan kagum. Bahkan Ce In sambil menunjuki jempolnya, memuji, "Pasangan gagah dan terhormat itu membuatnya orang kagum!"

"Nona He, barusan kau memanggil apa pada Nyonya Su?" Kui Ciang menegasi.

"Ie-ie," menerangkan Nona He. "Ibuku ialah kakak misannya.

Namanya Tiap, maka itu aku memanggilnya Ie Tiap."

"Dengan begitu kamu jadinya bersanak dekat," kata Kui Ciang. "Dulu-dulu aku tidak mengetahuinya. Karena ini kau tentunya telah menerima pesan ibumu untuk menolongi ie- iemu itu bukan?"

"Bukan," sahut Leng Song. "Sudah lama ibu hidup menyendiri, telah putus segala hubungannya dengan pihak luar, hanya benar sekalian keluar, aku dipesan untuk menyerepi kabar tentang Ie-ie Tiap itu. Aku telah tiba di dusun dimana pehu tinggal bersama-sama Su Cinsu, setelah menyelidiki barulah aku ketahui peristiwa yang sebenarnya. Memang, setelah bertemu dengan ie-ie, aku hendak menolongnya menyingkir dari tempat berbahaya itu. Sayangnya ie-ie tidak mau ditolongi." Kui Ciang heran hingga ia tercengang.

"Bagaimana, dia tak sudi pergi dari tempat berbahaya itu?" tanyanya.

"Benar! Bagaimana juga aku bicara, ie-ie tak dapat dibujuk!" Kui Ciang heran tak kepalang.

"Sungguh gelap pikiran!" ia ngoceh seorang diri. Ia mengerutkan alisnya. Lalu ia kata, "Su Toaso wanita sejati, dia mengambil keputusan begitu, pasti dia telah mempunyai rencananya! Apakah ada lain pesannya lagi kepada kau untuk disampaikan padaku?"

"Ie-ie ada menyebut urusan kamu berdua keluarga yang telah berjanji berbesan satu dengan lain," kata Leng Song. "Ie- ie membilangi aku, karena kedudukannya itu, ia tak tahu bagaimana nanti jadinya kelak di kemudian hari, maka itu ie-ie kata, umpama kata putera pehu sudah dewasa, apabila ada jodohnya yang cocok, ie-ie menganjurkan pehu bolehlah menikahkannya."

Kui Ciang menghela napas.

"Dalam kedudukannya sebagai itu, dia masih memperhatikan anakku," katanya, berduka. "Sungguh dia baik sekali. Tapi tak perduli apa jadinya dengan dia dan puterinya itu, jodohnya anak-anak kita itu tak nanti aku putuskan!"

Ia berdiam sebentar, lantas ia menambahkan, "Nona He, jikalau kau tidak mempunyai lain urusan, marilah kita berangkat bersama! Hari akan lekas sore, kita harus berangkat sekarang, supaya sebentar kita tak gagal mendapatkan pondokan."

Leng Song berdiam, ia nampak bersangsi.

"Terima kasih, pehu," katanya sesaat kemudian. "Aku masih mempunyai sedikit urusan lagi, tak dapat aku berangkat bersama. Touw Ke Ce cuma kira duaratus lie dari sini, baiklah lagi beberapa hari aku berkunjung ke sana."

Mendengar begitu, Kui Ciang tidak berani memaksa. Maka kedua pihak lantas berpisahan.

Kui Ciang mengawasi orang berlalu dengan menunggang kudanya, di dalam hatinya timbul pelbagai ingatan, halnya diilu hari ia bersahabat dengan orang tuanya nona gagah ini...

********* VIII

JLje In mengendarai kereta keledai melakukan perjalanannya, selang dua hari tiba sudah ia di kaki gunung Hui Houw San di wilayah kota Yu-ciu. Hui Houw San berarti Gunung Harimau Terbang, nama gunung itu cocok dengan gelaran kelima saudara Touw, yaitu Touw-ke Ngo Houw, atau Lima Harimau Keluarga Touw. Macamnya gunung mirip lima ekor . harimau lagi menongkrong, keletakannya berbahaya seperti biasanya gunung lainnya.

Sampai itu waktu, Toan Kui Ciang telah sembuh seluruhnya. Itulah berkat setiap hari tiga kali ia makan obat pulung. Ketika itu sudah lewat tujuh hari. Bahkan sekarang tenaganya bertambah melebihkan sebelum ia terluka itu.

Ia menyangka Ce In memberikan ia makan obatnya Mo Keng Lojin, karena tidak diberitahukan, tak tahu ia bahwa obat ialah obatnya Se-gak Sin Liong Hong-hu Siong, si Naga Sakti dari Se- gak, gunung Hoa San.

Selagi kereta memasuki jalan gunung, di mulut gunung mereka sudah dipapak Touw Leng Ciok, yang dari siang-siang telah memperoleh kabar. Sembari tertawa nyaring ketua Hui Houw Sein itu kata, "Kau menantu dari Keluarga Touw, sekarangkau dapat diminta datang! Sudah sepuluh tahun kau pergi, tak pernah kau memberi warta sedikit jua!"

Toan Kui Ciang datang membantui Keluarga Touw bukan disebabkan keinginannya sendiri, sekarang dia telah datang, mau atau tidak ia mesti bicara ramah dengan sang toaku, iparnya yang paling tua itu, begitu pun dengan Leng Hu.

Begitulah atas penyambutan Leng Ciok itu, ia menghaturkan maafnya, karena ia sudah datang terlambat. Kemudian ia menanyakan jelas duduknya pertempuran sekalian ipar itu melawan Ceng Ceng Jie.

Leng Ciok mengasih lihat tangan kirinya.

"Syukur semua jerijiku ini tidak terpapas habis!" katanya tertawa. "Meski begitu, kami toh kena dirobohkan!"

Yang hilang ialah dua jeriji. Melihat itu, hati Kui Ciang berdenyut.

"Kebetulan kau datang sekarang, moayhu!" kata Leng Hu. "Janji waktu yang diberikan Ong Pek Thong bersama Ceng Ceng Jie tinggal empat hari lagi. Sebenarnya adik Sian dan yang lainnya berkuatir menantikanmu, kuatir terjadi sesuatu di tengah jalan, syukur kau telah tiba dengan tidak kurang suatu apa!"

"Justeru di tengah jalan telah terjadi sesuatu!" berkata Kui Ciang, tertawa. "Syukur ada saudara Lam Pat ini yang menolong melindungi, jikalau tidak, tak dapat aku nanti menemui Ceng Ceng Jie..."

Ia lantas mengajar kenal Ce In dengan sekalian iparnya.

Baru sekarang Touw Leng Ciok semua ketahui, kawan iparnya itu ialah Lam Ce In atau Lam Pat yang tersohor, maka itu, mereka menjadi sangat girang. Kata Leng Hu, "Dengan adanya kamu berdua suami isteri dan dibantu  Lam Tayhiap, kita tak usah kuatirkan lagi Ceng Ceng Jie!"

Lam Ce In tertawa.

"Aku datang untuk menonton keramaian saja, aku tak berarti apa-apa!" katanya.

Selagi bicara itu tibalah mereka di muka perbentengan dimana mereka lantas disambut oleh Touw Sian Nio dan tiga saudara lainnya.

Belum sebulan Kui Ciang berpisah dari isterinya tetapi pertemuan ini membuat mereka girang berbareng terharu. Itulah sebab ia seperti sudah mati hidup pula.

Sian Nio juga berduka mendengar kebinasaannya Su It Jie, sang besan, serta Nyonya Su dan anaknya tak dapat ditolongi. Tanpa merasa, ia mengucurkan airmata.

"Sekarang ini kamu bantulah dulu kami," berkata Touw Leng Ciong. "Setelah kita berhasil mengalahkan Ceng Ceng Jie, kami semua nanti turut kamu pergi mencari An Lok San serta Sie Siong semua, guna membuat perhitungan! Kita sudah berkumpul sekarang, baik kita tidak omong lagi hal yang mendatangkan kedukaan!" -.

"Moayhu," tanya Leng Hu, "Kau bilang di tengah jalan kau bertemu begal, apakah di antaranya ada satu begal muda yang bersenjatakan kipas besi peranti menotok jalan darah?"

Kui Ciang heran.

"Bagaimana kau ketahui itu?" ia balik menanya.

"Kami pun telah bertemu dengannya di tengah jalan!" sahut Leng Hu tertawa. "Bocah itu liehay sekali, jikalau bukan Liok- moay ada beserta, aku bukan tandiangan dia itu!" Kui Ciang lantas menoleh kepada isterihya. Dari sinar matanya, nyata ia seperti menyesali dan merasa berkasihan. Ia seperti mau membilang, "Bukankah kau baru habis melahirkan anak? Bukankah tak selayaknya kau menggunai terlalu banyak tenaga? Mana dapat kau melakukan pertempuran?"

Meski begitu, suami ini ketahui baik sekali untuk membantu saudaranya, isteri itu tidak dapat tidak turun tangan. Dengan sinar matanya itu ia menunjuki-berapa besar ia menyintai sang isteri.

Touw Leng Hu dapat membade hati iparnya itu. Dia tertawa lebar.

"Liok-moay, suamimu begini menyayangi kau, pantas juga kau hampir melupai rumah orang tuamu!" katanya. Kemudian ia berpaling pada iparnya, untuk menambahkan, "Moayhu, kau jangan kuatir. Sama sekali adikku tidak menempur musuh itu, bahkan ia pun tak berkisar dari keretanya. Ia cuma mengandalkan panahnya dengan apa ia memukul mundur kepada musuh! Anak muda itu liehay sekali, sesudah dihajar tiga kali, baru dia mundur!"

Ilmu panah pelurunya Touw Sian Nio belum pernah dipertunjuki semenjak ia menikah dengan Toan Kui Ciang, sampai Kui Ciang sendiri belum tahu sampai dimana liehaynya, maka itu mendengar keterangan iparnya itu, suami ini kaget berbareng girang, ia girang sekali.

Touw Leng Hu tertawa.

"Semasa hidupnya ayah dahulu," ia kata, "Ayah sudah berlaku berat sebelah! Semua kepandaian yang berarti dari ayah telah diwariskan kepada Liok-moay! Dialah si burung Hong-hong Keluarga Touw, dan kami kelima Harimau tak dapat melawan sekor Hong-hong!" "Koko, kau berlelucon terhadapku!" kata Sian nio tertawa "Bagaimana dengan ilmu tameng Kun Goan Pay kau yang terdiri dari liga puluh enam jurus itu? Ilmu itu tak dapat aku pelajarkan!"

"Sudah! Sudah!" Leng Ciok menyela sama tengah. "Kalau kamu bicara terus-terusan, tak lebih tak kurang, kamu main memuji satu pada lain! Apakah itu tak akan membikin orang tertawa sampai giginya copot f"

"Memang juga begal muda itu liehay sekali!" Lam Ce In turut bicara. "Dia dapat menyambuti tiga buah peluru dari enso, aku juga kagum terhadapnya!"

Demikian orang memuji ilmu panah peluru Sian Nio, akan tetapi Nyonya Kui Ciang sendiri tidak girang karenanya, bahkan ia nampak berduka, akan tetapi orang menyangka ia merendahkan diri.

Cuma Kui Ciang yang mengenal baik hati isterinya, ia tahu isterinya berduka benar-benar. Rupanya ada sesuatu yang membuat isteri itu bersusah hati. Ia melainkan belum tahu, urusan apa itu. Karena itu, hatinya menjadi tidak tenang.

"Tahukah kamu siapa pembegal muda itu?" kemudian Leng Ciok tanya. "Baru dua hari yang lalu aku mendapat tahu tentangnya."

"Apakah dia sebawahannya Ong Pek Thong?" Kui Ciang tanya.

"Bukan melainkan orang sebawahan, bahkan puteranya!" sahut Leng Hu.

"Kabarnya Ong Pek Thong mempunyai cuma seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan," kata Leng Ciok, "Dan katanya pula semenjak masih kecil mereka itu sudah diperintah berguru pada lain orang. Anak laki-lakinya itu baru saja pulang dari perguruan."

Mendengar itu, hati Kui Ciang bercekat. Kalau si pemuda sudah liehay, setahu bagaimana keliehayan dari guru anak muda itu.

"Jangan-jangan bentrokan ini bakal jadi meluas," pikirnya. "Bagaimana nanti akhirnya? Kapankah aku bakal dapat menjauhkan diriku?"

Kui Ciang lantas disambut dengan sebuah jamuan. Ce In dan Mo Lek turut hadir bersama. Habis bersantap, baru ia dapat bertemu dengan leluasa dengan isterinya di dalam kamar mereka.

"Engko Ciang," kata Sian Nio sambil menarik napas, "Kau datang untuk membantu saudara-saudaraku, buat itu aku sangat faersyukur, hanya aku kuatir, urusan keluargaku ini bakal merembet-rembet kau..."

"Mulanya memang aku tidak niat datang ke mari," Kui Ciang bilang, "Akan tetapi aku telah berjanji dengan kakakmu, maka urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau sendiri. Kita menjadi suami isteri, mengapa kau bicara begini?"

"Engko, coba kau lihat dulu surat ini," kata Sian Nio, perlahan sekali. Dan ia menyerahkan sepucuk surat.

Kui Ciang menyambuti, untuk dibuka dan dibeber. Surat itu ditujukan kepada Touw Sian Nio sendiri. Nyonya itu diberi nasehat untuk membujuki suaminya jangan campur urusan Keluarga Touw itu.

Katanya itulah untuk melindungi nama baik dari Kui Ciang, supaya kedua pihak tidak sampai bentrok hingga ada kemungkinan dua dua roboh dan celaka. Surat itu tidak memakai nama dari si pengirim. "Dari mana datangnya ini?" tanya Kui Ciang setelah ia berdiam

sejenak.

"Diantarnya kemari kira-kira jam tiga semalam," sahut Sian nio. "Ketika itu aku lagi tidur nyenyak. Mendadak aku mendengar satu suara di dalam kamar. 'Aku berlompat bangun. Nyata orang sudah berlalu,hanya di bantal kepalaku, aku mendapatkan surat ini. Kau lihat di belakangnya <ida lagi tulisannya."

Kui Ciang menurut. Ia membalik surat itu. Ia melihat huruf- huruf yang ditulis cepat, suatu tanda surat itu baru ditulis setibanya orang di dalam kamar.

Bunyinya ialah, "Aku mengambil tusuk kundai sebagai peringat.m saja! Besok suamimu bakal tiba di sini, maka itu, bakal terjadi mara bahaya atau keberuntungan, semua itu terserah kepada kamu suami isteri berdua1 Baik-baiklah kamu menimbangnya!"

Kui Ciang terperanjat.

"Apa. apakah kau kehilangan tusuk kundai kemala itu?" ia

tanya isterinya.

"Bukannya tusuk kundai kemala naga-nagaan yang menjadi landa mata," sahut sang isteri. "Itulah tusuk kundai kemala yang aku biasa pakai setiap hari."

Kui Ciang menghela napas.

"Bagus!" katanya. "Kalau yang lenyap ialah tusuk kundai naga nagaan itu, malu kita terhadap Su Toako. Apakah kakak- kakakmu ketahui urusan surat dan tusuk kundai kemala itu?"

"Aku belum memberitahukan mereka. Mereka sangat mengharap harap kedatanganmu, engko, mereka sebagai mengharapi mendung di waktu musim kering, jikalau mereka mendapat tahu, pasti mereka bakal bersusah hati. Pasti sulit untuk mereka, mereka menahan kau atau tidak..."

Sian Nio berhenti sebentar, baru ia menambahkan, "Surat ini membilang kau bakal tiba hari ini, mulanya aku ragu-ragu mempercayainya

Maka itu aku terus berdiam saja menunggui kau. Aku pikir untuk nanti berdamai dengan kau, engko. Sekarang, bagaimana pikiranmu?"

Diluar dugaan, Kui Ciang berkata gagah, "Kita suami isteri, mana dapat kita digertak orang? Seperti aku sudah bilang, sebenarnya aku tidak ingin terlibat dalam urusan Jalan Hitam ini, akan tetapi dengan adanya surat ini, sekarang aku mengambil keputusan untuk berdiam di sini, aku bersedia menempur Ceng Ceng Jie dan Khong Khong Jie!"

"Kalau begitu, kau benar!" berkata isteri itu. "Aku duga inilah suratnya Khong Khong Jie! Katanya dia menjadi kakak seperguruan dari Ceng Ceng Jie dan sangat kesohor kepandaiannya sebagai pencuri, di kolong langit ini tanpa lawan..."

"Aku juga pernah dengar perihal dia. Sekarang terbukti liehaynya itu. Meski begitu, kita jangan takut, cukup asal kita berlaku waspada."

Sian Nio berani seperti suaminya itu.

"Dengan kau berada di sisiku, walaupun ada musuh yang terlebih liehay, aku tidak takut," katanya, perlahan tapi tetap. "Kau belum lihat anak kita, pergilah kau melihatnya! Tahukah kau hari ini hari apa? Hari ini justeru hari ulangnya satu bulan!"

Kamarnya Sian Nio ini bertetangga dengan sebuah kamar lain yang dipakai untuk bayinya. Leng Ciok pun menyediakan dua orang bujang perempuan guna mengurus anak itu. Maka juga, buat melihat anaknya, Kui Ciang mesti pergi ke kamar yang satunya itu. Kebetulan anaknya lagi tidur nyenyak.

"Anak kita sehat sekali," kata Sian Nio. "Selama satu bulan ini, belum pernah ada alamatnya dia menderita penyakit sesuatu. Aku tidak tahu bagaimana wajah tunangannya..."

Menyebut tunangan anaknya, Sian Nio dan suaminya ingat Keluarga Su, dengan lantas mereka jadi berduka.

Malam itu, suami isteri itu bicara lebih banyak pula. Masing- masing menjelaskan pengalamannya sendiri sejak mereka berpisah kira satu bulan itu. Sampai jam lima masih mereka belum tidur. Justeru itu mendadak mereka mendengar satu suara dan melihat sesuatu yang putih menyambar masuk dari mulut jendela!

Suami isteri itu selamanya waspada. Dengan sebat sekali Sian nio sudah menyerang dengan seraup jarum rahasianya, sedang Kui Ciang dengan pedang terhunus menyusul berlompat keluar, terus naik ke atas genteng.

Sian Nio pandai menggunai senjata rahasia, lebih-lebih jarum rahasia bwe-hoa-ciam dan panah peluru kim kong sin-tan, maka sungguh diluar dugaannya, jarum rahasianya itu tidak memberi hasil apa-apa, tak ada suaranya sama sekali, suatu tanda orang tak terlukakan sekalipun dengan sebatang jarumnya.

Di atas genteng, Kui Ciang tidak melihat apa-apa. Ketika memandang ke sekitarnya, ia mendapatkan suasana sunyi, benteng Touw Ke Ce sedang tidur pulas, kecuali di depan dan di belakang dengan tentu-* tentu terdengar suara si orang- orang ronda. Ia heran, ia menjadi penasaran. Ia lantas mengempos tenaga dalamnya, guna mengasih dengar suara dengan "Toan Im Jip Bit," ilmu meminjam suara halus tetapi jauh terdengarnya.

Ia tanya, "Kalau kau mempunyai nyali untuk datang ke mari, kenapa kau tidak mempunyai nyali untuk membuat pertemuan?"

Suara itu tidak mendapat penyahutan, ada juga selang sejenak, dari jauh terdengar suara "Hm!" beberapa kali, suara tertawa dingin, yang disusuli dengan ini kata-kata, "Tak usahlah kau terlalu keburu napsu...!" Suara itu pun halus, tetapi orangnya tak nampak. Menurut dugaan Kui Ciang, orang yang berbicara itu sudah meninggalkan benteng Touw Ke Ce kira satu lie jauhnya!

Dengan cepat Sian Nio menyusul suaminya, berdiri di belakang suaminya itu.

"Dia tak dapat disusul lagi!" kata suami itu, menyeringai. "Ilmu ringan tubuh dia jauh melebihkan kepandaian kita berdua!"

"Dia bukan cuma liehay ilmu ringan rubuhnya," kata sang isteri. "Coba kau lihat..."

"Apa?" tanya Kui Ciang, heran.

"Kau lihat!" kata sang isteri, "Apakah kau mendapatkan sebatang jarum juga di tanah atau di atas genteng ini? Teranglah dia telah menyambuti seraup jarum rahasiaku itu! Entah ilmu apa itu yang dia telah gunakan..."

Kui Ciang menginsafi kata-kata isterinya itu. "Karena kita tidak dapat menyusul dia, mari kita kembali ke dalam," ia mengajak. "Kita lihat dia mengantar apa lagi untuk kita. "

Sian Nio menurut, maka keduanya lompat turun dari genteng, terus masuk ke kamar mereka.

Benar-benar mereka memperoleh sesuatu.

Di meja kecil di kepala pembaringan ada tertancap sebatang golok liu-yap-too, ujungnya golok menusuk sehelai kertas. Karena lemasnya golok, ujungnya masih terus bergoyang perlahan. Itulah benda tadi yang berwarna putih mengkilap.

"Inilah permainan mengirim surat dengan perantaraan golok!" kata Kui Ciang tertawa. Ia tidak takut atau berkecil hati. "Dia menyangka dengan begini dia dapat menggertak mundur padaku. Dia salah lihat!"

"Coba lihat dulu apa dia tulis!" sang isteri menganjuri.

Kui Ciang mencabut golok itu, mengambil kertasnya. Ia membaca, "Lebih dahulu adat kehormatan, kemudian baru mengangkat senjata! Dengan mengirim surat golok ini, aku memberi tempo tiga hari kepadamu, supaya kau lekas meninggalkan gunung ini!"

Di belakang itu ada tambahannya lagi, yang berbunyi, "Jikalau kau memandang ringan pemberian ingat ini, maka aku akan mengambil sesuatu yang kamu paling hargakan! Setelah itu nanti kau bakal berduka dan menyesal seumur hidup kamu!"

Kui Ciang tertawa.

"Yang kami paling hargakan ialah jiwa kami!" katanya, memandang enteng. "Kelihatannya dia orang liehay dan terhormat, kenapa dia menggunai cara hina ini untuk menggertak orang?" "Ya, inilah aneh!" kata Sian Nio. "Inilah yang membuat aku heran!"

Tiba-tiba Kui Ciang pun sadar. Memang aneh perbuatan orang itu. Bukankah dia liehay? Buat apa dia berbuat begini? Kenapa dia seperti jeri terhadap keluarga Touw? Bukankah, kalau mereka bertempur, belum tahu siapa yang bakal menang atau kalah? Kenapa kau terus-terusan dfberi ingat dan digertak itu?

Ketika itu terdengar suara tindakan ramai mendatangi. Tempo Kui Ciang membuka pintu kamar, buat melihat, ia mendapatkan Touw Leng Ciok datang bersama-sama Leng Hu dan Leng Cek serta Lam Ce In dan Tiat Mo Lek. Mereka datangnya tanpa janji terlebih dulu. Itulah sebab mereka telah mendapat dengar suara dan gerak-geriknya Kui Ciang dan isterinya.

Kui Ciang lantas memberi lihat surat ancaman itu.

Muka Leng Ciok lantas berubah, terus ia berkata seorang diri, "Inilah pasti perbuatan Khong Khong Jie. Kabarnya dialah kakak seperguruan Ceng Ceng Jie dan sekarang dia datang guna mendukung adik seperguruannya itu!"

Touw Leng Hu menjadi pemimpin Rimba Hijau di wilayah Utara tetapi mendengar disebutnya nama Khong Khong Jie, air mukanya lantas menjadi berubah. Itu menandakan bahwa Khong Khong Jie benar-benar bukan sembarang orang. Sebenarnya Khong Khong Jie muncul dalam dunia Sungai Telaga baru beberapa tahun saja.

Toan Kui Ciang tertawa. Dia kata, "Toako, aku telah memberikan . janjiku kepadamu, meski mesti mati, aku tidak bakal menyesal. Aku tidak ambil mumat dia Ceng Ceng Jie atau Khong Khong Jie, akan aku tempur mereka itu! Aku mau lihat Khong Khong Jie orang macam apa di dalam tempo tiga hari dia bisa mengambil kepala di batang leherku ini!"

Kui Ciang menganggap kata-kata surat ancaman itu mengenai "barang yang paling dihargakan" adalah batok kepalanya.

Dengan perlahan Touw Leng Hu mendapat pulang ketenangan

dirinya.

"Kui Ciang!" katanya tertawa pada iparnya itu, "Setelah menyembunyikan diri sepuluh tahun, semangatmu gagah tak kurang daripada dulu hari itu! Baiklah! Kau tidak takut, apapula kami Touw Ke Ngo Houw, kami bukan bangsa takut mampus! Segera aku menitahkan semua tauwbak membikin penjagaan keras selama tiga hari ini! Siang dan malam kita mesti waspada! Kita berjumlah besar, di sini juga ada Lam Tayhiap, kenapa kita mesti takut pada Khong Khong Jie?"

Kata-kata jago Touw Ke Ce Ini dibuktikan dengan titahnya yang diberikan kepada orang-orangnya, untuk semua melakukan penjagaan dengan berhati-hati.

Toan Kui Ciang dan isterinya tidak berdiam saja, mereka juga bergantian membantu melakukan pengawasan. Dalam suasana tegang itu mereka berhasil tiga hari dan dua malam tanpa terjadi sesuatu. Maka di malam ketiga, malam terakhir, orang membuat penjagaan istimewa. Di mana-mana api dipasang terang-terang dan semua orang seperti lupa tidur. Sekalipun yang tidak bertugas, matanya turut tak dipejamkan.

Pada kira jam tiga maka di ujung barat laut perbentengan telah terdengar satu suara nyaring jelas, "Khong Khong Jie datang!" Toan Kui Ciang bersama isterinya berada di dalam kamar ketika mereka mendapat dengar seruan itu. Touw Sian Nio lantas menyambar busurnya, untuk pergi keluar, tetapi suaminya mencegah.

Segera juga terdengar seruan serupa, yang datangnya dari ujung timur laut.

"Khong Khong Jie datang!"

Beruntun empat kali suara itu mendengung, setiap kalinya di ujung penjuru perbentengan.

Toan Kui Ciang terkejut juga. Hebat pihak lawan itu.

"Hm! Hm! Hm!" demikian ia lantas mendengar suara, yang datangnya dari luar kamarnya. Ia mengenali baik, itulah suara yang ia dengar pada beberapa malam yang lalu. Ia lantas beseru dengan pedang di tangan, ia lompat keluar.

Justeru itu terdengar teriakannya Touw Sian Nio, "Celaka!," disusul dengan jeritan bayi yang menangis kaget, disusul pula dengan teriakan bujang dan babu pengasuh yang berisik dan kacau.

Satu bayangan tubuh yang hitam pun mencelat naik ke atas genteng di belakang kamar, terus kabur ke arah barat. Saking pesatnya, dalam sekejapan bayangan itu sudah melalui belasan rumah.

Kui Ciang mimpi pun tidak bahwa Khong Khong Jie mengarah bayinya, ia kaget bukan main, ia lantas lari mengejar sekeras bisa, hingga dengan cepat ia telah meninggalkan orang-orang di sebelah belakangnya.

Bagaikan angin, ia lari terus sampai di tepian gunung. Di depan matanya ia melihat sesosok tubuh yang hitam, hanya di lain saat, benda hitam itu lenyap walaupun rembulan bercahaya guram hingga mestinya ia masih bisa mendapat lihat!

Touw Sian Nio, yang menyusul, heran melihat sikap suaminya itu, tanpa menanya lagi, ia dapat menduga kepada hal buruk. Setelah menikah sepuluh tahun lebih, baru sekarang mereka memperoleh putera, bisa dimengerti bahwa luar biasa kesayangan mereka terhadap anak mereka.

Maka itu, ia berdiam mengawasi suaminya, yang pun menjublak mengawasi padanya. Keduanya ruwet pikirannya hingga mereka tak tahu harus mengucapkan apa.

Baru selang sejenak, Toan Kui Ciang dapat juga menguasai harinya. Sang isteri sebaliknya tak dapat menahan keluarnya airmatanya.

Tak lama tibalah Touw Leng Ciok beramai. Melihat saudaranya sekalian, tak sanggup Sian Nio bertahan lagi, ia lantas menangis, sembari menangis, ia kata, "Toako, keponakanmu hilang...!"

Mukanya Leng Ciok menjadi merah. Ia jengah sekali.

"Liok-moay, kau sabar," kata ia, membujuk adik yang nomor enam itu. "Mari kita pulang dulu untuk berdamai terlebih jauh..."

Kui Ciang setuju, maka pulanglah mereka ke benteng.

Leng Ciok memanggil kumpul semua saudaranya, bersama- sama mereka berapat di dalam kamar rahasia.

Keluarga Touw menjadi keluarga Rimba Hijau yang berkenamaan selama puluhan tahun, kali ini walaupun mereka berjaga-jaga keras, benteng mereka masih dapat didatangi Khong Khong Jie, yang dapat masuk dengan merdeka, yang merdeka juga mengambil barang apa yang disukainya, tentu sekali mereka gusar dan malu sekali. Itulah hinaan besar untuk mereka!

Baru-baru ini mereka dipermainkan Ceng Ceng Jie, sekarang lebih hebat lagi! Mana dapat mereka diam saja?

Lima saudara Touw itu gusar semua, dalam murkanya, pikiran mereka pun kacau. Lantas ada yang menyarankan surat tantangan terhadap Khong Khong Jie atau menyerbu ke rumah Ong Pek Thong, guna membekuk semua anggauta keluarganya, supaya orang-orang tawanan itu dapat dipakai sebagai bahan pertukaran.

"Khong Khong Jie tak ketahuan tempat kediamannya, kemana kita menyampaikan surat tantangan untuknya?" kata Leng Ciok. "Kalau kita minta perantaraannya Ong Pek Thong atau Ceng Ceng Jie, pasti itu bakal mendatangkan tertawaan orang!"

Di dalam Rimba Persilatan ada aturan, surat tantangan mesti disampaikan langsung kepada orang yang tersangkut sendiri, kalau orang memakai perantara, itu menyatakan si penantang tidak punya guna, lebih lagi kalau si perantara justeru sahabatnya musuh. Keluarga Touw pemimpin Rimba Hijau, tak dapat keluarga itu berbuat demikian.

Kata Leng Ciok kemudian, "Kalau begitu tidak ada lain jalan daripada kita serbu Keluarga Ong untuk membekuk semua anggautanya."

Toan Kui Ciang bangun berdiri.

"Seorang laki-laki mesti berbuat secara laki-laki juga!" kata dia nyaring. "Khong Khong Jie menggunai cara rendah yang busuk sekali, mana dapat kita menelad perbuatan buruknya itu?"

Touw Leng Ciok menghela napas. "Begini tak dapat, begitu tak dapat, paling baik kita mengaku kalah saja..." kata dia lesu. "Liok-moay, baiklah besok kamu suami isteri pergi turun gunung, tak usah kau turut pula kami di dalam air keruh ini... Kami hendak menyatakan kepada Ong  Pek Thong dan Ceng Ceng Jie bahwa kami sudah kalah dan suka menyerah, lalu kami akan menyerahkan benteng kami ini kepada mereka! Teranglah Khong Khong Jie menculik puteramu sebab dia menghendaki kamu suami isteri mengundurkan diri, jangan kamu campur urusan kami di sini. Jikalau kamu sudah mundur, buat apa dia dengan anak kamu? Maka itu, tentu dia bakal menyerahkannya pulang..."

Ketika itu Toan Kui Ciang mendapat satu pikiran. Ia ingat besok ada hari perjanjian pertemuan di antara Ceng Ceng Jie dan Touw Leng Ciok, itu artinya, besok Ceng Ceng Jie bakal datang.

Maka ia lantas kata nyaring, "Toaku, kau keliru! Dengan kau berbuat demikian bukan cuma nama Keluarga Touw menjadi runtuh, aku si orang she Toan sendiri bakal tidak mempunyai muka lagi untuk ditaruh dalam dunia Kang Ouw! Besok Ceng Ceng Jie bakal datang, nanti aku tempur dia. Mungkin aku bukan tandingannya tetapi aku mengharapi kemenangan, andai kata aku berhasil, Khong Khong Jie tentulah bakal muncul sendirinya. Maka itu waktu kami berdua saudara akan menempur mati-matian kepadanya!"

Inilah yang diharap Leng Ciok dengan kata-katanya barusan. Ia ingin kata-kata itu keluar sendiri dari mulutnya sang ipar. Karena itu, ia lantas kata, "Moayhu termashur sekali, maaf, aku kesalahan omong! Memang benar, seorang laki-laki lebih baik terbinasa daripada terhina! Perkara telah menjadi begini rupa, baik, mari kita mengadu }iwa kita! Mungkin sekali besok Khong Khong Jie datang bersama adik seperguruannya!" Sampai disitu rapat mereka, semua lantas keluar untuk masing-masing beristirahat.

Toan Kui Ciang dan isterinya mencoba menyingkirkan kedukaan mereka. Besok mereka akan menghadapi lawan tangguh, maka keduanya lantas duduk bersemedhi, guna mengumpul tenaga.

Kapan sang besok muncul, dari masih pagi sekali orang sudah bangun tidur. Semua lantas merasa hati masing-masing tegang sendirinya. Mereka sudah lantas siap sedia menanti tibanya rombongan Ceng Ceng Jie.

Sampai siang, Ceng Ceng Jie belum juga datang. Orang heran, orang membicarakannya, menduga-duga! Lawan datang atau tidak? Kenapa lawan terlambat?

Tepat tengah hari, selagi orang menanti-nanti, mereka mendengar tiga kali suara panah nyaring. Itulah tanda tangan Rimba Hijau. Benar saja, habis itu terlihat masuknya seorang tauwbak, yang terus berkata, "Ceng Ceng Jie sudah datang! Dia minta bicara kepada cecu semua! Sekarang dia lagi menantikan di depan gunung!"

Lima saudara Touw sudah lantas menjemput senjatanya masing-masing, dengan cepat mereka bertindak keluar.

Kui Ciang mengikuti bersama isterinya dan Ce In serta Mo Lek. Sebagai tetamu, atau setengah tetamu, mereka mesti berjalan belakangan. Sampai di lapangan di luar, di sana cuma nampak satu orang yang romannya mirip kunyuk.

"Dialah Ceng Ceng Jie..." Tiat Mo Lek membisiki Kui Ciang. Janji kali ini janji di antara Ong Pek Thong dan Touw Leng Ciok, guna suatu keputusan orang bertempur atau menakluk, benar pihak Ong Pek Thong mengajukan surat yang terbubuhkan tanda tangannya berdua Ceng Ceng Jie, sebenarnya dialah orang yang bersangkutan.

Seharusnya Ong Pek Thong muncul bersama sejumlah orangnya. Maka itu aneh sekarang cuma Ceng Ceng Jie  seorang yang nampak. Karena orang heran, kembali hati mereka dibikin tambah tegang.

Touw Leng Ciok dongkol sekali. Segera ia maju menghampirkan. "Mana Ong Cecu?" dia tanya singkat, suaranya kaku. Ceng Ceng Jie menjawab sambil tertawa, "Apakah kau sudah rampung menulis surat pernyataan taklukmu atau belum? Kalau sudah, mari serahkan padaku, untuk aku bawa pulang, buat diserahkan lebih jauh pada Ong Cecu! Setelah Ong Cecu menerima surat menaklukmu itu, pasti dia akan datang sendiri kemari!"

Leng Ciok gusar bukan main. Dialah pemimpin suatu rombongan Rimba Hijau, dia mendongkol sekali, hatinya panas. Tapi dia dapat tertawa bergelak.

"Sekarang kau bicara urusan itu, apakah itu bukan masih terlalu pagi?" dia tanya, sabar. "Kalau Ong Cecu tidak datang, baiklah, urusan kedua pihak boleh ditunda dulu! Di sini ada seorang sahabat yang ingin membuat perhitungan denganmu!"

Tanpa menanti lagi, Toan Kui Ciang bertindak ke depan. Ia menghadapi Ceng Ceng Jie, untuk terus berkata dengan tawar, "Bukankah kejadian semalam itu perbuatan kakak seperguruanmu?"

Ceng Ceng Jie tertawa. "Kejadian apakah itu?" ia tanya.

"Hm! Apakah kau tak takut menjadi malu kalau aku menyebutkannya?" tanya Kui Ciang. "Jikalau kamu hendak mencoba aku si orang she Toan, aku bersedia meluluskannya! Kenapa kamu mesti menculik anakku yang baru berumur satu bulan? Perbuatan itu perbuatan orang gagah dari golongan manakah?"

Ceng Ceng Jie tertawa terbahak.

"Kiranya kau bicara dari kejadian tersebut itu?" dia mengulangi. "Benar! Itulah perbuatan kakak seperguruanku! Kakak seperguruanku menyayangi namamu yang besar, tak ingin ia narnamu itu rusak hingga dirimu turut bercelaka, dari itu dengan maksud baiknya, dia sudah berulang kali memberi nasehat padamu, tetapi siapa suruh kau tidak mau mendengar kata?"

"Fui!" Kui Ciang berludah. "Maksud baik demikian macam ini cuma dapat diucapkan oleh seorang manusia hina dina! Baiklah, kita jangan bicara saja! Mana saudaramu itu, suruh dia datang menemui aku!"

"Awas!" kata Ceng Ceng Jie, suaranya dalam. "Kalau lagi sekali kau caci kakak seperguruanku itu, nanti aku tidak mau berlaku sungkan lagi kepadamu! Jangan kau berjumawa dengan namamu yang terkenal sebagai tayhiap, seorang jago besar, sebenarnya kakakku tak melihat, barang sebelah mata juga! Masih terlalu pagi untuk kau menemui kakak seperguruanku itu! Sebelum menemui dia, baik kau ketemukan dulu pedangku ini! Bagaimana, kau maju seorang diri atau kamu semua maju berbareng?"

---ooo0dw0ooo---
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 07"

Post a Comment

close