Jiwa Ksatria Jilid 16

Mode Malam
  
Oleh karena melihat Siu Gouw terluka, Soa Thiat San terpaksa merobah maksudnya semula. Ia lalu meninggalkan Li Hong Chiu, balik menyerang Tok-kow U.

Sebagai satu jago kenamaan, bagaimana Tok-kow U dapat dibokong olehnya? Selagi tangan Soa Thiat San hendak menyentuh tubuh Tok-kow U, Tok-kow U sudah memutar balik tangannya, kipasnya sudah mengancam tangan Soa Thiat San.

Soa Thiat San terpaksa melompat ke samping, gerakannya dirobah hendak menyambar pundak lawannya.

Tok-kow U membalikkan badannya, dengan mementang lebar kipasnya, ia hendak memapas jari tangan Soa Thiat San.

Soa Thiat San mendapat nama julukan mengejar sukma dalam tujuh langkah, maka setiap langkah berubah gerak tipu serangannya, gerak badannya sangat lincah. Ketika sambaran tangannya itu tidak berhasil, dengan cepat menggeser kakinya dan mengganti gerak tipu serangannya.

Gerak tipu yang digunakan kali ini adalah suatu serangan yang dapat menghancurkan tulang dan urat, digunakan untuk pertempuran jarak pendek, merupakan satu gerak tipu serangan yang sangat ganas.

Tok-kow U, ternyata juga merupakan seorang berkepandaian hebat, ia sedikitpun tidak mau memberi kesempatan bagi lawannya. Diserang demikian, sebaliknya malah maju selangkah, kipasnya mengancam jalan darah di pelipis Soa Thiat San.

Kedua pihak sudah sama-sama berlaku nekad. Apabila serangan mereka masing-masing mengena sasarannya, maka lengan tangan kiri Tok-kow U sudah pasti akan terpuntir patah oleh Soa Thiat San, sebaliknya jalan darah di pelipis Soa Thiat San juga akan tertotok oleh Tok-kow U. Patah lengan tangan hanya mengakibatkan cacad saja, tetapi jalan darah itu, merupaka salah satu jalan darah kematian manusia, sudah tentu Soa Thiat San tidak membiarkan jalan darah itu tertotok.

Dalam keadaan sangat kritis itu, Soa Thiat San masih dapat menolong dirinya. Ia bergerak pula kakinya, dengan satu gerakan memutar, ia melompat menyingkir melalui samping Tok-kow U, sambil melancarkan satu serangan pembalasan.

Serangan itu menggunakan ilmu Bian-ciang. Kalau kekuatan tenaga dalamnya sudah sempurna, serangan itu dapat menghancurkan batu yang bagaimana pun kerasnya.

Tok-kow U yang serangan totokannya mengenakan tempat kosong, ia hanya dapat menggunakan tangan kiri untuk menyambuti serangan itu. Kekuatan tenaga dua pihak sangat berimbang, tetapi kekuatan tenaga tangan kiri Tok-kow U masih kalah dengan kekuatan tenaga tangan kanan Soa Thiat San, maka akhirnya terdorong mundur dua langkah.

Pertempuran dua jago itu, meskipun baru beberapa jurus, tetapi merupakan pertempuran mati-matian. Siu Gouw yang menyaksikan dari samping sampai kesima.

Soa Thiat San yang melihat Siu Gouw berdiri sebagai penonton saja, lalu berteriak suruh orang she Siu itu bantu mengeroyok lawannya.

Siu Gouw seperti baru tersadar dari mimpinya, ia segera bantu Soa Thiat San menyerang Tok-kow U, dengan menggunakan golok di tangan kirinya.

Dengan adanya bantuan Siu Gouw itu, Soa Thiat San menarik banyak keuntungan. Untung Siu Gouw karena tangan kanannya luka, ia yang menggunakan tangan kiri, serangannya agak lemah. Maka meskipun Tok-kouw U agak kewalahan, tetapi masih dapat melawan dengan gagah.

Pao Thay yang terkena senjata keliningan Lie Hong Chiu, melompat keluar dari kalangan untuk menyembuhkan lukanya. Sewaktu tangannya sudah dapat digerakkan lagi, ia pungut lagi senjatanya, tetapi ia tidak berani menghadapi Li Hong Chiu, akhirnya turut mengeroyok Tok-kow U.

Orang she Pao itu sangat licik, dianggapnya dengan tiga orang pasti dapat menjatuhkan lawannya. Andaikata Li Hong Chiu menyerang dengan senjata rahasianya, juga ada kedua saudaranya yang akan menghadapinya.

Li Hong Chiu setelah membimbing bangun Thie Po Leng, melihat gadis itu sedang sakit, ia terkejut, kemudian katanya:

“Nona Thie, apakah kau masih bisa menunggang kuda?” “Kiranya tidak halangan,” jawab Thie Po Leng.

“Baik kalau begitu kau jalan dulu, di depan sana kau menunggu aku. Setelah membereskan kawanan berandal ini aku segera datang.”

Thie Po Leng tahu sudah tidak sanggup bertempur lagi, terpaksa menurut dan berjalan lebih dulu. Sambil mengeluarkan senjata goloknya yang tipis, Li Hong Chiu berkata sambil tertawa dingin;

“Bagus sekali, kalian kawanan berandal yang tidak tahu malu, mau menggunakan tenaga orang banyak untuk mencari kemenangan. Sekarang aku ingin kalian mengetahui dan merasakan golokku ini!”

Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi Li Hong Chiu menggunakan senjata ampuh ialah keliningan.

Ia melontarkan sembilan buah keliningan, kemudian disusul lagi sembilan buah. Sembilan buah itu dibagi tiga kelompok, untuk menyerang tiga orang musuh dari tiga bagian.

Dengan demikian hingga Soa Thiat San bertiga menjadi kalut, mereka sangat repot mengelakkan serangan senjata rahasia itu. Soa Thiat San kepandaiannya lebih tinggi. Dengan menggunakan gerakan badannya yang gesit, ia melompat ke sana kemari untuk menyambut atau mengelakkan serangan senjata rahasia itu, sehingga tiga buah keliningan yang ditujukan kepadanya semua mengenakan tempat yang kosong.

Siu Gouw memutar goloknya bagaikan titiran, juga berhasil lolos dari serangan senjata rahasia itu.

Yang mengenaskan adalah Pao Thay. Ia sebetulnya ingin mengandalkan kedua saudaranya untuk menghadapi senjata rahasia itu. Tak disangka Li Hong Chiu telah menggunakan serangan dengan cara demikian, karena Soa Thiat San dan Siu Gouw repot sendiri, sudah tentu tidak dapat menolong dirinya.

Baru mendengar suara keliningan saja, pikiran Pao Thay sudah kalut. Meskipun ia sudah menggunakan seluruh kepandaiannya, sayang ia hanya melindungi jalan darahnya, tak diduga sebuah keliningan menyambar ke mukanya. Dalam keadaan gugup ia coba mengelakkan serangan itu, tetapi tidak berhasil. Keliningan itu telah bersarang di mulutnya, hingga dua buah giginya rontok dan seketika itu juga ia jatuh jumpalitan.

Siu Gouw sangat marah. Ia segera meninggalkan lawannya dan menyerbu Li Hong Chiu.

Li Hong Chiu menyambut serangannya dengan sikap mengejek. Ia menggunakan senjata golok yang panjangnya tidak cukup tiga kaki, sebaliknya golok Siu Gouw sepanjang tujuh kaki dan seberat tigapuluh enam kati.

Siu Gouw dengan mengandalkan senjatanya yang berat, ia mengira apabila dapat menyentuh senjata Li Hong Chiu, golok yang tipis dan pendek itu pasti terpental jatuh.

Tak disangka golok Li Hong Chiu meskipun pendek dan tipis, tetapi ia mainkan demikian lincah, sehingga Siu Gouw bukan saja tidak berhasil memukul jatuh goloknya, bahkan ia sendiri yang terdesak hebat sampai kerepotan sekali.

Dalam kerepotan itu ujung goloknya Li Hong Chiu tiba-tiba mengancam uluhatinya. Karena golok yang di tangan Siu Gouw itu panjang, ia harus mundur beberapa langkah baru dapat menahan serangan. Tetapi Li Hong Chiu dengan cepat putar goloknya, tujuannya berbalik mengarah bagian bawah, tidak ampun paha Siu Gouw tertikam oleh ujung golok.

Siu Gouw menggeram, ia mundur terhujung-huyung untung ia lekas mundur, hingga ujung golok tidak menancap terlalu dalam. Namun demikian Siu Gouw sudah tidak berani bertempur lagi.

Soa Thiat San yang kepandaiannya berimbang dengan Tok-kow U, karena Pao Thay dan Siu Gouw sudah terluka hanya tinggal ia seorang diri, sudah tentu tidak berani melanjutkan pertempuran.

Li Hong Chiu yang mengingat keselamatan Thie Po Leng, ia juga tidak mengejar lawannya.

Setelah Soa Thiat San bertiga kabur, Li Hong Chiu buru-buru mengajak suaminya menyusul Thie Po Leng.

Thie Po Leng di luar dugaan bertemu dengan Tok-kow U suami istri, sehingga tidak terjatuh di tangan Soa Thiat San. Kala itu ia sedang beristirahat sambil menantikan kedatangannya Li Hong Chiu.

Tidak lama kemudian Tok-kow U suami istri telah tiba. Li Hong Chiu yang menampak dua pipi Thie Po Leng merah membara, ia terkejut.

“None Thie, penyakitmu agaknya tidak ringan,” demikian ia berkata. “Tidak, aku sudah merasa sedikit enakan,” menjawab Thie Po Leng. “Coba aku periksa nadimu,” berkata Tok-kow U.

Tok-kow U yang pandai ilmu tabib setelah memeriksa nadi Thie Po Leng lalu berkata: “Apakah kau merasa pepat pikiranmu?”

Thie Po Leng tidak dapat menyangkal maka ia menganggukkan kepalanya. “Itulah penyakitmu ini disebabkan karena pikiranmu terganggu dan ditambah karena kau terlalu lelah,” kata Tok-kow U, “Penyakit tidak berat, asal pikiranmu lega, beristirahat beberapa hari, bisa sembuh sendiri. Aku di sini ada pel Sioa-hoan-tan buatanku sendiri. Makanlah sebutir, tidak usah makan obat lain lagi.”

Tok-kow U suami istri tahu peristiwa yang menimpah diri gadis itu, dianggapnya karena kematian Yayanya sehingga pikirannya terganggu. Mereka tidak tahu meskipun itu juga merupakan salah satu sebab, tetapi bukanlah yang menjadikan pokok pangkal penyakitnya itu.

Lie Hong Chiu merasa heran, ia bertanya:

“Di sini terpisah dengan kampung keluarga Bok tidak sampai seratus pal, kabarnya kemarin dulu keluarga Bok sedang mengadakan perayaan hari ulang tahun. Tentunya kau habis dari sana? Apakah kau tidak bertemu muka dengan Lauw Bong?”

“Sudah ketemu!” menjawab Thie Po Leng sambil menahan mengalirnya air mata. Li Hong Chiu semakin heran, ia berkata:

“Mengapa Lauw Bong tidak minta kau tinggal di sana? Mengapa pula ia tidak jalan bersamamu? Mari kita pergi bersama-sama ke rumah keluarga Bok, aku hendak menanyakan kepadanya!”

Thie Po Leng berkata:

“Tidak usah pergi, Lauw Bong sudah meninggalkan rumah keluarga Bok.” “Oo, kalau begitu kenapa ia tidak pergi bersamamu?”

“Ia pergi bersama nona Liong. Ia mempunyai tujuannya sendiri, begitupun dengan aku.”

“Oo, kiranya Lauw Bong sudah berubah terhadapmu. Sungguh tidak diduga bahwa bocah itu begitu tipis imannya! Kemana mereka pergi? Lekas beritahukan kepadaku. Aku hendak mencarinya untuk menanyakan persoalan ini.”

“Harap bibi jangan mencampuri urusan ini.”

“Mengapa? Apakah kau boleh suka disakiti hatimu olehnya?”

“Bukan, bukan begitu. Adalah aku sendiri yang tidak suka berjalan dengannya, karena aku hendak pulang ke rumah untuk sembahyang di kuburan yaya.”

Li Hong Chiu tidak mau percaya keterangan itu, ia berkata:

“Nona Thie, kau tidak usah membela Lauw Bong. Kau beritahukan padaku, ke mana mereka pergi?” “Aku dengar Lauw Bong berkata, ia justru ingin pulang ke rumah paman Hee Kauw Ing.”

“Bagus, itu lebih baik. Nona Thie, marilah kau bersama kita pergi ke rumah Hee Kauw Ing.”

“Tidak, aku masih ingin pulang dulu sebentar. Sejak yayaku meninggal, aku masih belum pernah bersembahyang di hadapan kuburannya.”

Thie Po Leng sebetulnya hendak mencari alasan untuk menolak, tetapi ketika ia berkata soal yayanya, timbullah rasa pilunya, sehingga air matanya mengalir keluar.

Li Hong Chiu menghapus air mata di kedua pipi Thie Po Leng, ia berkata sambil menghela napas:

“Kau jangan berduka, aku mengerti perasaanmu, bukankah kau tidak ingin melihat lelaki tidak berbudi itu? Hanya, kau sekarang sedang sakit, aku tidak tega melepaskan kau pulang seorang diri. Kau pergi bersama kita, setiba di rumah Hee Kauw Ing, aku akan sembunyikan kau lebih dulu. Kau suka menjumpai ia atau tidak, terserah kepadamu sendiri. Kalau kesehatanmu sudah pulih kembali, barulah kau pulang.” Pikiran Thie Po Leng sangat kusut, tetapi ia tidak suka menceritakan urusannya kepada Li Hong Chiu. Karena Li Hong Chiu merupakan orang tingkatan tua, undangannya itu sudah tentu tidak dapat ditolak mentah-mentah, maka akhirnya Thie Po Leng menuruti.

Tok-kow U diam-diam merasa geli, ia agak heran istrinya mau turut campur tangan dalam urusan anak- anak.

Tetapi ia selalu menuruti saja kehendak istrinya, apalagi Thie Po Leng sesungguhnya juga membutuhkan perlindungan, maka ia tidak berani menentang kehendak istrinya. Tetapi ia ingat sesuatu, melihat istrinya hendak pergi, ia lalu berkata:

“Di sini tidak jauh dengan rumah keluarga Bok. Kita sudah berada di sini, agaknya harus berkunjung ke sana juga. Di depan ada sebuah kota kecil, malam ini kita boleh menginap di sana, besok tengah hari kita pergi ke rumah keluarga Bok!”

Thie Po Leng yang tidak ingin bertemu lagi dengan Can Pek Sin dan Tiat Leng, buru-buru berkata:

“Jangan pergi ke rumah keluarga Bok lagi, Bok Cengcu bukan seorang baik. Lauw Bong justru karena bentrok dengan pamannya, sehingga pergi dari rumah keluarga Bok!”

“Masa ada kejadian serupa itu?” bertanya Tok-kow U terperanjat.

“Memang benar, Bok Cengcu adalah paman Lauw Bong. Lauw Bong selama itu juga anggap ia sebagai keluarga satu-satunya yang boleh ditumpangi diri. Tetapi tahukah kalian bagaimana Bok Cengcu perlakukan keponakannya sendiri?”

Ia lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi, hanya tidak menceritakan yang ia datang ke keluarga Bok itu bersama-sama dengan Can Pek Sin.

Tok-kow U suami istri setelah mendengar penuturan itu lalu berkata sambil menarik napas:

“Sungguh tidak disangka Bok An yang namanya sangat terkenal di kalangan Kang-ouw, ternyata seorang demikian!”

Li Hong Chiu juga berkata dengan suara gusar: “Apakah kau masih hendak mengunjungi bangsat tua semacam itu?”

“Rumah keluarga Bok sudah tentu kita tidak perlu pergi lagi. Hanya, di dekat sini entah ada tempat untuk kita bermalam atau tidak? Aku pikir sebaiknya ke kota kecil itu untuk menginap satu malam.”

Thie Po Leng pikir, apabila balik ke kota itu, pasti akan bertemu lagi dengan Can Pek Sin dan Tiat Leng, maka lalu berkata:

“Untuk apa kita balik ke kota kecil itu? Bukankah kota Peh-ma-tin terpisah dari sini hanya tigapuluh pal saja. Sebelum petang, kita sudah bisa tiba di sana.”

“Tetapi kota kecil itu lebih dekat. Aku takut kau terlalu lelah, maka baik menginap di tempat yang lebih dekat,” berkata Tok-kow U.

“Paman Tok-kow U, obat pilmu ini sungguh manjur. Aku merasa tenagaku sekarang sudah pulih kembali. Kudaku juga bisa lari pesat, perjalanan tigapuluh pal, tidak memerlukan setengah jam, mustahil aku tidak dapat bertahan setengah jam?”

Setelah berkata demikian, ia bedal kudanya, benar saja sudah lari mendahului kuda Tok-kow U suami istri.

Meskipun Thie Po Leng tidak ingin bertemu lagi dengan Can Pek Sin, tetapi pikirannya masih mengingat dirinya. Semakin jauh ia meninggalkan kota itu semakin memikirkan keselamatan diri pemuda itu.

<>

Kalau Thie Po Leng di dalam perjalanan memikirkan diri Siao-sin nya, sedangkan Tiat Leng yang berada di dalam rumah penginapan hatinya juga gelisah menantikan pulangnya Can toakonya. Tiat Leng ingin menunggu pulangnya Can Pek Sin, baru pergi mencari Thie Po Leng. Tetapi hingga hari hampir gelap belum nampak Can Pek Sin kembali. Maka ia lalu mengambil keputusan hendak pergi mencari Can Pek Sin lebih dulu.

Selagi hendak pergi, tiba-tiba terdengar suara kaki kuda. Ia girang dianggapnya Can Pek Sin pulang, tetapi ia heran, mengapa suara kaki kuda itu seperti banyak jumlahnya.

Selagi masih dalam keadaan terheran-heran, pelayan rumah penginapan tiba-tiba berseru kaget, kemudian berkata dengan suara gemetar:

“Celaka! Mereka benar-benar telah datang!”

Tidak lama kemudian, tiga penunggang kuda berhenti di depan pintu, yang berjalan di muka adalah seorang laki-laki berewokan, diikuti oleh dua laki-laki berbadan tegap, namun tidak nampak Can Pek Sin. Tiga orang itu adalah Soa Thiat San, Siu Gouw dan Pao Thay.

Begitu berada di dalam, Soa Thiat San segera menanyakan kepada pengurus tentang kamar yang dipesan.

Pengurus rumah penginapan itu ternyata sangat licin meskipun hatinya kebat kebit, tetapi mukanya dan sikapnya tidak mengunjukkan perasaan kagetnya. Ia dengan laku sangat menghormat dan muka yang berseri-seri, menjawab:

“Toaya bertiga silakan duduk dulu, kamar sudah sedia. Hei, Siao-sam, mengapa kau duduk bingung di sini? Bukan lekas pergi tuang teh? Toaya habis melakukan perjalanan jauh, harap minum teh dulu. Hamba akan pergi membereskan kamar.”

Sepasang mata bangsat Pao Thay terus berputaran mengincar Tiat Leng, kemudian sambil tertawa lebar ia bertanya pada pengurus:

“Hei pengurus, gadis cilik ini apakah anakmu?”

“Mana ada rejeki begitu besar? Ia adalah tetamuku di sini,” menjawab si pengurus sambil tertawa.

“Ya, aku lihat juga tidak mirip denganmu. Mukamu meskipun tidak terhitung jelek, tetapi nona cilik ini sesungguhnya cantik sekali. Rasanya kau juga tidak mampu memelihara anak gadis secantik itu. Hem, nona cilik siapa namamu? Kau datang dari mana?” berkata Pao Thay sambil tertawa.

“Siapa suruh kau mengurusi orang lain?” menjawab Tiat Leng gusar, selagi hendak bertindak, pengurus rumah penginapan itu memberi isyarat dengan mata, supaya ia masuk.

Tiat Leng menampak sikap pengurus itu seperti orang minta-minta, ia terpaksa ikut masuk ke dalam. Pao Thay mengira Tiat Leng takut kepada dirinya, lalu berkata tertawa terbahak-bahak:

“Aku tokh bukan harimau, tidak akan makan kau. Mengapa kau takut?” Tiat Leng menghentikan tindakan kakinya dan berkata kepada pengurus:

“Pengurus, kau hendak bicara apa, lekas katakan!”

“St! Pelahan sedikit, nonaku yang baik, aku ingin minta pertolonganmu,” berkata pengurus itu dengan suara perlahan.

Tiat Leng sudah dapat menduga sebahagian, tetapi ia pura-pura menanya:

“Ada urusan apa?”

Pengurus rumah penginapan itu mengeluarkan sepotong uang perak yang tadi malam diberikan oleh Tiat Leng, ia berkata dengan muka sedih: “Nona berbuatlah sedikit kebaikan, harap kau mencari lain rumah penginapan. Orang-orang itu tidak dapat diganggu.”

Tiat Leng sudah tahu bahwa orang-orang itu tamunya orang-orang yang oleh pelayan dikatakan orang dari golongan mengejar sukma, tetapi ia belum tahu kelihaian Soa Thiat San.

Tiat Leng yang bercita-cita hendak melakukan perbuatan luhur dan membasmi kawanan penjahat, walaupun Soa Thiat San tidak mengganggunya, ia juga akan mencari mereka. Maka setelah mendengar perkataan pengurus itu, ia malah bicara dengan suara semakin nyaring lagi.

“Ini sangat lucu! Kau tidak berani menghadapi semua orang jahat lalu menghina aku. Kuberitahukan padamu, akupun bukan orang yang dapat atau boleh kau permainkan. Kau menerima uangku bagaimana kau dapat memaksaku kembalikan kamar?”

Dengan muka pucat dan suara ketakutan si pengurus itu berkata:

“Harap jangan bicara terlalu keras!”

Ia segera lari terbirit-birit supaya Tiat Leng tidak semakin marah.

Tetapi Soa Thiat San yang mendengar perkataan Tiat Leng, sudah timbul rasa curiganya. Begitu melihat pengurus itu keluar, segera disambarnya, lalu bertanya dengan suara keras:

“Kau main gila, apakah kamar yang kupesan sudah kau serahkan kepada lain orang?”

“Bukan! Dua kamar yang toaya pesan sudah tersedia. Setelah minun teh, toaya boleh masuk,” berkata pengurus itu dengan ketakutan.

“Mengapa kau sekarang tidak mengajak kita masuk?”

“Tokh harus dibereskan dulu! Siao-sam kau dengar atau tidak, mengapa tidak bersihkan kamar yang dipesan oleh Soa Pangcu itu?

Sang pelayan tidak mengerti maksud pengurusnya itu ia bertanya dengan sikap bingung: “Dua kamar yang mana?”

“Goblok, bukankah aku sudah beritahukan kepadamu, itu tu, dua kamar yang dekat pekarangan,” berkata si pengurus gusar.

Ternyata pengurus itu dalam kebingungannya, teringatlah kamar yang disewa oleh Can Pek Sin dan Thie Po Leng. Karena dua tetamu itu semua sudah pergi, maka kamarnya hendak diberikan kepada Soa Thiat San. Apabila Can Pek Sin dan Thie Po Leng nanti kembali akan dirundingkan lagi. Tetapi dalam kamar masih ada barang dan pakaian mereka, maka ia harus suruh pelayan membereskan lebih dulu.

Tak disangka Tiat Leng saat itu sudah ikut keluar, maka ia segera menghalangi pelayan itu seraya berkata: “Kau hendak berbuat apa?”

Pelayan itu menjawab:

“Ini bukan urusanku, pengurus yang suruh aku membersihkan dua kamar itu.”

“Dua kamar itu sudah disewa oleh sahabatku, mereka akan segera kembali. Tetamu masih belum pergi, kau paksa hendak membersihkan kamarnya. Ini peraturan dari mana?” berkata Tiat Leng sambil tertawa dingin.

Soa Thiat San marah, ia menampar pengurus rumah penginapan dan membentak dengan suara keras: “Kau kurang ajar berani membohongi aku! Kumampusi kau nanti.”

Tiat Leng berpikir: Pengurus ini mata duitan, seharusnya diberi tamparan, tetapi tokh tidak boleh dibinasakan. Ia lalu membentak dengan suara keras: 

“Tahan!”

Soa Thiat San tahu bahwa Tiat Leng bukan gadis sembarangan, ia segera berkata sambil mengerlingkan matanya:

“Nona kecil, apakah kau juga hendak mencampuri urusan orang lain?”

“Manusia di dalam dunia dapat mengurusi perkara di dalam dunia, sepak terjangmu sangat keterlaluan, maka aku hendak campur tangan! Terus terang kuberitahukan kepadamu. Benar yang disediakan oleh pengurus untuk kalian, adalah aku yang minta ia sewakan kepadaku. Kalau kau ingin memukul orang, pukullah aku! Asal kau dapat memukul aku, aku segera pergi dari sini.”

“Nona kecil, tahukah kau siapa aku ini?” bertanya Soa Thiat San sambil tertawa terbahak-bahak.

“Aku tahu kau adalah Pangcu dari perkumpulan orang jahat apa yang dinamakan golongan mengejar sukma. Nama perkumpulan itu cukup untuk menggertak orang, tetapi aku tidak takut! Aku justru ingin melihat kau sebetulnya mempunyai kepandaian apa? Betulkah kau dapat mengejar sukma orang?”

“Budak hina yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Sekalipun kau berlatih sepuluh tahun, juga masih belum sanggup melawan aku. Sam-tee tangkaplah dia! Tetapi jangan kau bunuh, lemparkan saja sudah cukup!”

Itu justru yang diharapkan oleh Pao Thay, maka ia segera berkata sambil tertawa cengar-cengir:

“Aku mengerti. Nona kecil, kau telah berlaku salah terhadap toako kita. Mari kumintakan ampun kepadanya. Aku si orang she Pao selalu merasa kasihan terhadap perempuan lemah. Aku juga tidak tega melemparkan kau keluar dari sini.”

Selagi mulut Pao Thay masih mengoceh, Tiat Leng sudah bergerak. Untung Soa Thiat San memberi peringatan kepada saudaranya ketiga itu. Tetapi ternyata sudah terlambat, tangan Tiat Leng sudah mampir di pipi Pao Thay, sehingga orang she Pao itu matanya berkunang-kunang kepalanya dirasakan pening.

Pao Thay terkejut dan mukanya merah seketika. Ia baru tahu bahwa gadis cilik itu tidak boleh dianggap ringan, maka segera menyerbu sambil membentang dua tangannya. Ia ingin mendesak Tiat Leng ke satu sudut, supaya mudah ditangkapnya.

Gerakan Pao Thay itu sangat ganas, tetapi Tiat Leng dengan gerak badannya yang sangat lincah berhasil mempermainkan Pao Thay, sehingga sedikitpun tidak berdaya.

Seandainya Pao Thay berlaku tenang, mungkin masih dapat mengimbangi kepandaian Tiat Leng. Tetapi karena ia sudah ditampar lebih dahulu, rasa malu membuat ia marah, sehingga ia ingin segera menangkapnya untuk membalas kehinaan itu. Ketika ia melihat Tiat Leng bergerak ke sana kemari mengelakkan serangannya, dianggapnya takut padanya, hingga ia semakin nafsu mau terus menangkapnya.

Soa Thiat San yang menyaksikan kejadian itu segera berseru:

“Sam-tee, kembali!”

Tetapi seruan itu sudah terlambat. Ia mendengar suara seruan Tiat Leng:

“Pergi!”

Di lain saat badan Pao Thay yang besar bagaikan kerbau sudah diangkat dan dilempar keluar. “Lihat kau atau aku yang melemparkan kau?” berkata Tiat Leng sambil tertawa.

Siu Gouw dengan cepat sudah bertindak, ia telah berhasil menyambuti Pao Thay yang dilempar keluar itu oleh Tiat Leng, sehingga orang she Pao itu tidak sampai terjatuh di tanah. Setelah itu Siu Gouw berkata kepada Tiat Leng sambil tertawa terbahak-bahak:

“Nona kecil, sungguh tidak disangka kau mempunyai kepandaian yang berarti! Kau nampaknya membekal senjata pedang lemas, aku ingin melihat bagaimana ilmu pedangmu? Sukakah kau mengadu senjata denganku?”

Siu Gouw dapat melihat pedang lemas di badan Tiat Leng, diam-diam Tiat Leng juga sangat mengagumi ketajaman mata orang itu.

Bertempur dengan menggunakan senjata memang justru yang dikehendaki oleh Tiat Leng, maka segera ia mengeluarkan senjatanya dan melancarkan serangan lebih dahulu.

Siu Gouw menangkis dengan goloknya, ia ingin menjatuhkan pedang dari tangan lawannya. Tetapi gerak tipu serangan Tiat Leng beda dengan biasanya. Tikaman yang dilakukan baru setengah jalan, tiba-tiba berobah gerak tipunya balik menyerang ke arah yang tidak diduga-duga oleh Siu Gouw.

Siu Gouw ternyata cukup tinggi kepandaiannya, meskipun dikejutkan oleh gerakan itu tetapi ia tidak kalut, ia lompat mundur, kemudian putar goloknya demikian rapat.

Tiat Leng yang menghadapi ilmu golok Siu Gouw yang cukup hebat itu, kembali merubah siasatnya itu dengan menggunakan kelincahan badannya. Ia melompat tinggi ke atas, kemudian melayang turun ke belakang diri Siu Gouw. Kali ini pedangnya membabat kaki Siu Gouw.

Siu Gouw yang memutar goloknya demikian rapat, sehingga tidak dapat ditembus oleh pedang Tiat Leng tetapi bagian kaki merupakan bagian yang terlemah. Mau tidak mau Siu Gouw harus berusaha melompat tinggi menjejakkan kakinya.

Gerakan Siu Gouw itu juga merupakan gerakan yang ganas. Apabila gerakannya itu berhasil pasti dapat membinasakan Tiat Leng. Dalam pikirannya dengan menggunakan tindakan sangat ganas itu, Tiat Leng pasti menyingkir, tidak berani mengadu jiwa dengannya.

Di luar dugaan Tiat Leng tidak menyingkir, pedangnya tetap melanjutkan serangannya.

Pedang itu akhirnya tertendang oleh Siu Gouw, sehingga terlepas dari tangannya, tetapi badannya tidak kena tertendang. Dalam keadaan sangat berbahaya itu Tiat Leng sudah berhasil menyingkir dan molos dari samping Siu Gouw. Pedang yang terlepas dari tangan sebelum jatuh ke tanah sudah disambarnya lagi

Bersamaan dengan itu Siu Gouw mendadak mengeluarkan suara jeritan ngeri. Ia melompat berjingkrak- jingkrak dengan satu kaki, kaki yang lain tidak berani menginjak tanah. Ternyata kaki itu sudah berlumuran dengan darah.

Ternyata Tiat Leng tadi sudah berhasil menabas sepatu Siu Gouw dan menikam telapakan kakinya. Untung bagian bawah sepatu Siu Gouw dilapisi besi, sehingga cuma menimbulkan luka sedikit.

Siu Gouw yang berjingkrak-jingkrak dengan satu kaki sambil berputaran, sudah tidak berhasil mengimbangi badannya sendiri. Golok di tangannya menyambar pada tembok, dengan demikian ia baru berhenti.

Soa Thiat San dengan wajah pucat pasi berkata sambil tertawa dingin:

“Kau anak siapa? Murid siapa? Lekas kau terangkan, supaya jangan menyusahkan dirimu sendiri.” Tiat Leng sudah menjatuhkan dua lawannya, keberaniannya semakin bertambah, ia menjawab:

“Kalian kawanan berandal beginian, masih belum pantas bersahabat dengan ayahku, apalagi kalau aku sebut nama guruku, kau pasti akan ketakutan setengah mati. Aku tidak takut kalian mengeroyok aku, sekarang juga boleh maju, tidak perlu banyak bicara!”

Soa Thiat San memelototkan mata, lalu katanya: “Kau tidak mau menerangkan, apakah kau kira dapat mengelabui mataku? Bukankah Khong-khong Jie itu adalah gurumu? Apakah Tiat Mo Lek itu ialah ayahmu?”

Soa Thiat San dari ilmu meringankan tubuh Tiat Leng segera menduga murid Khong-khong Jie, karena dia pernah kalah di tangan Khong-khong jie. Hanya ilmu pedangnya ia tidak mengenali. Karena murid Khong- khong Jie adalah anak Tiat Mo Lek, ialah Tiat Ceng sedangkan Tiat Leng mirip dengan kakaknya, maka ia menduga sekenanya, menganggap Tiat Leng anak perempuannya Tiat Mo Lek. Dugaannya itu sebagian tepat tetapi sebagian salah, karena guru Tiat Leng adalah Sin Cie Kow.

Soa Thiat San yang masih takut dicari oleh Khong-khong Jie maka ia gunakan pertanyaan itu untuk memancing dan ingin tahu dari mulut Tiat Leng.

Tiat Leng tidak tahu maksud Soa Thiat San. Asal ia mengaku murid Khong-khong Jie, Soa Thiat San pasti kabur meninggalkannya.

Tetapi Tiat Leng tidak suka mengandalkan nama ayah dan Khong-khong Jie. Ia juga tidak tahu kelihaian Soa Thiat San, maka ia segera berkata:

“Betul ayahku adalah pemimpin golongan rimba hijau yang mengandalkan kawanan berandal seperti kau ini. Khong-khong Jie juga su-kongku. Tetapi kawanan berandal kecil seperti kamu ini, ayahku dengan su- kongku tidak sudi mengurus! Jikalau kau takut, kau boleh minta ampun kepadaku. Jikalau tidak terpaksa aku nanti yang akan menghajar kalian.”

“Oo, kau kiranya adalah murid Sin Cie Kow. Dimana sekarang suhu dan suniomu?” “Hem, kau masih belum pantas berhadapan dengan mereka, untuk apa kau menanya?”

“Kaulah yang masih belum pantas bartanding dengan aku. Hari ini aku ampuni jiwamu, pulanglah minta suhumu yang datang kemari. Jikalau tidak ayahmu pun boleh juga. Katakan saja padanya bahwa pangcu golongan menyabut sukma Soa Thiat San menunggu akan kedatangannya!”

“Kau berani memandang rendah aku? Nama Soa Thiat San aku belum pernah dengar. Mungkin hanya seorang yang tidak berarti. Ukurlah dulu kepandaianmu, apakah kau masih pantas menantang ayahku? Hem, ini barangkali akal bangsatmu untuk melarikan diri. Jangan banyak bicara, kalau kau mempunyai keberanian hadapilah aku sendiri!” berkata Tiat Leng gusar.

“Kau seorang nona cilik dengan seorang diri, bagaimana aku boleh menghinamu?” berkata Soa Thiat San sambil tertawa.

“Seorang diri bagaimana? Kalau kau memang mempunyai kepandaian, bunuhlah aku!”

Sampai di sini, Soa Thiat San sudah tahu bahwa sesungguhnya Tiat Leng datang seorang diri saja, maka segera timbullah nafsunya untuk membunuh gadis itu.

“Budak hina, ini berarti kau hendak mengantarkan jiwamu sendiri. Baiklah, aku mengiringi kehendakmu! Dalam sepuluh jurus apabila aku tidak dapat membunuhmu, aku akan membiarkan kau tinggal hidup. Dengan begini, kau boleh mati dengan tidak penasaran!”

Tiat Leng marah mendengar perkataan sombong itu, pedangnya segera membuka serangannya.

Soa Thiat San tertawa dingin, tangan kanannya bergerak, lima jari tangannya tiba-tiba menyambar pada pergelangan tangan Tiat Leng.

Di luar dugaan ilmu pedang Tiat Leng itu sangat berlainan dengan ilmu pedang golongan lainnya. Soa Thiat San yang masih belum mengenal ilmu pedang itu, maka sambaran tangannya itu tidak berhasil, bahkan perutnya sendiri terancam oleh ujung pedang Tiat Leng.

Tetapi kepandaiannya memang tinggi, dalam keadaan sangat berbahaya itu, dengan cepat ia mengeluarkan ilmu menggeser tubuh, ia tarik kembali serangannya. Dengan demikian serangan Tiat Leng mengenakan tempat kosong. Ia juga terkejut atas kepandaiannya orang she Soa itu. Selagi hendak melakukan serangan lagi, Soa Thiat San sudah menghujani serangan padanya dari berbagai jurusan dengan bertubi-tubi.

Tiat Leng harus menggunakan seluruh kepandaiannya untuk mengelakkan serangan itu. Soa Thiat San penasaran, ia membentak dengan suara keras:

“Baik, aku lihat kau hendak sembunyi kemana?”

Ia melancarkan serangannya lagi. Kali ini ia menggunakan ilmu yang dinamakan Bian-ciang. Serangan itu tanpa mengeluarkan suara, tetapi mengandung kekuatan tenaga sangat hebat.

Ujung pedang Tiat Leng terdorong oleh kekuatan tenaga itu, sehingga ia harus mundur ke belakang.

Soa Thiat San menambah kekuatan serangannya, menyerang dari berbagai jurusan, dengan demikian telah mempengaruhi ilmu meringankan tubuh Tiat Leng.

Soa Thiat San justru ingin mendesak Tiat Leng sampai tidak berdaya, baru menangkapnya.

Tiat Leng diam-diam mengeluh, tetapi Soa Thiat San mendesak terus, bahkan hendak turun tangan kejam.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang membentak: “Tahan, kau menghina seorang nona kecil, apakah masih terhitung seorang gagah?”

Tiat Leng agaknya mengenali suara itu, tetapi ia sudah lupa siapa orangnya, selagi masih memikir, ia terdengar pula suara orang itu: “Aha, adik Leng, kiranya adalah kau!”

Orang itu adalah Can Pek Sin yang baru pulang.

Ia datang bersama-sama seorang tua kurus. Orang tua itu membawa kantong obat-obatan, dari situ dapat diketahui bahwa orang tua itu adalah tabib yang diundangnya.

Siu Gouw dan Pao Thay yang menjaga pintu telah berkata dengan suara keras:

“Di sini yang ada hanya orang mati, tidak ada orang sakit. Kau tabib tua bangka ini lekas minggir. Bocah she Can kau majulah!”

Siu Gouw karena menganggap orang itu sebagai tabib sudah tentu tidak mempunyai kepandaian ilmu silat, maka ia mengusirnya dan menantang Can Pek Sin.

Di luar duaaannya orang tua itu bukannya minggir, malah mengeluarkan perkataan, “Minggir!”

Dengan nada suara dingin, kemudian terdengar suara beleduk. Siu Gouw sudah jatuh terjengkang di jalanan.

Ia baru tahu kalau berhadapan dengan orang berkepandaian tinggi, maka buru-buru merayap bangun dan lari terbirit-birit, tanpa mempedulikan toako dan sam-teenya lagi.

Tabib tua itu melangkah masuk dan berkata kepada Can Pek Sin:

“Can hian-tit, kutinggalkan seorang, kau boleh bereskan. Urusan dalam rumah kau tidak perlu campur tangan.”

Orang tua itu ternyata juga merupakan seorang ahli silat. Begitu melihat gerakan Soa Thiat San ia sudah tahu bahwa pemimpin golongan mengejar sukma itu berkepandaian tinggi, yang tidak dapat dihadapi oleh Can Pek Sin.

Soa Thiat San yang sedang bertempur juga menyaksikan bagaimana orang tua itu dalam satu gerakan saja sudah melemparkan Siu Gouw ke tengah jalan raya. Sekalipun ia berkepandaian tinggi, tetapi juga dikejutkan oleh kepandaian itu, sehingga maksudnya hendak membunuh Tiat Leng dibatalkan, dan ia siap- siap menghadapi serangan tiba-tiba orang tua itu.

Orang tua itu maju menghampiri dan berkata kepadanya:

“Kau manusia keparat, mengapa kau menghina satu nona kecil? Jawablah apa sebabnya!”

“Budak ini adalah musuh saudara angkatku Touw Goan. Aku adalah pemimpin golongan mengejar sukma. Aku nasehati kau, sebaiknya jangan campur tangan!”

Ia mengira dengan menyebut nama Touw Goan, ditambah dengan pengaruhnya mengejar sukma, orang tua itu tentunya merasa jeri.

Tak disangka orang tua itu hanya mengeluarkan suara di hidung, lalu berkata:

“Tidak perduli kau siapa, kau menghina seorang nona kecil itu sudah tidak patut! Hem, sekarang kau boleh pilih, kau minta maaf kepada nona ini ataukah aku yang melempar kau keluar dari sini?”

Tiat Leng pada saat itu tiba-tiba ingat siapa adanya orang tua itu, maka segera berseru: “Kam yaya, aku adalah Tiat Leng, apakah kau masih ingat?”

Orang tua itu baru menatapnya, kemudian berkata dengan suara girang:

“O, kiranya kau adalah Tiat Leng, kau sudah begini besar? Bagus, bagus! Bangsat ini ternyata telah buta semua matanya! Berani menghina anak perempuannya Tiat Mo Lek? Kalau begitu sekarang aku tidak dapat mengampuni kau lagi!”

Soa Thiat San tahu bahwa pertempuran sudah tak dapat dihindarkan lagi. Dari pada menerima gebuk lebih baik turun tangan duluan. Begitulah, selagi si orang tua masih bicara-bicara dengan Tiat Leng dengan tiba- tiba ia menyerang sambil berseru,

“Tua bangka! Kau suka campuri urusan orang lain, rasakan sekarang tanganku!”

Soa Thiat San mengeluarkan serangan dengan dua tangannya berbareng, tangan kiri menotok mata dan tangan kanan mengarah bagian lutut.

Orang tua itu dengan gerak reflek menyambar pergelangan tangan kiri Soa Thiat San, menggunakan gerak tipu yang luar biasa hebatnya. Apabila Soa Thiat San tidak lekas-lekas tarik pulang tangannya niscaya akan terputir patahlah tangan itu.

Soa Thiat San dengan cepat memutar tubuhnya, sekali ini ia mengeluarkan serangan tangan yang dinamakan Bian-ciang.

Orang tua itu agaknya telah menduga akan datangnya serangan demikian, ia maju selangkah, dengan gerakan satu tangan yang aneh, ujung jarinya itu hendak menotok urat nadi Soa Thiat San.

Soa Thiat San adalah seorang jago kenamaan, yang tidak rendah ilmunya. Ia tahu serangan orang tua itu berbahaya maka segera kerutkan badannya untuk mengelakkan serangan itu. Ia merasa heran mendapat serangan totokan demikian, pikirnya entah dari golongan mana orang tua itu.

Kalau Soa Thiat San sama sekali belum tahu dari golongan mana ilmu orang tua itu, tidaklah demikian dengan si orang tua yang segera dapat menduga siapa adanya lawan yang sedang di hadapinya. Sambil tertawa dingin berkatalah orang tua itu:

“Kukira kau mempunyai kepandaian hebat, sampai begitu berani omong besar! Kiranya kau adalah muridnya Yo Mo Lao yang tak ada gunanya. Ilmu mengejar nyawa dalam tujuh langkahmu, masih belum cukup matang, apa artinya? Sekarang hayo kita bertaruh. Kalau kau dapat melawanku sampai sepuluh jurus, aku akan manggut-manggut dihadapanmu. Tapi kalau kau kalah, kau harus berlutut dan minta ampun kepada nona cilik ini. Bagaimana, setuju?”

Tiat Leng girang sekali mendengar perkataan itu, lalu ia berkata sambil tertawa: “Usul ini benar-benar adil. Kam yaya tahukah kau bangsat ini tadi juga memberi batas aku sepuluh jurus. Sekarang aku akan duduk di sini untuk menantikan ia berlutut dihadapanku.”

Di luar, Siu Gouw sudah kabur. Sedangkan Pao Thay yang terluka sudah dihajar dan kemudian tertangkap oleh Can Pek Sin.

Tiat Leng menampak Pao Thay tertangkap hidup berkata dengan suara girang:

“Bangsat ini paling jahat, nanti kita bereskan. Sekarang kau lekas lihat bagaimana Kam yaya hendak mengejar sukmanya pemimpin golongan mengejar sukma! Aku bahkan masih menunggu ia berlutut di depanku.”

“Jadi kau sudah kenal dengan Kam lo-cianpwee?” berkata Can Pek Sin. Ia meskipun sudah berhasil mengundang tabib tua itu, tetapi belum tahu asal-usulnya.

“Di waktu masih anak-anak Kam yaya ini pernah menggendong aku. Ia dengan kakek luarku masih merupakan saudara seperguruan. Satu kali ia pernah datang ke markas kita, sayang waktu itu kau dengan Thie Kong-kong belum berdiam di gunung Hok-gu-san,” berkata Tiat Leng sambil tertawa.

Kiranya tabib tua itu bernama Kam Coan, masih pernah sutee kakek luar Tiat Leng. Suhu mereka bukan saja tinggi ilmu silatnya, tetapi juga ilmu tabibnya sangat kenamaan pada masa itu.

Kakek Tiat Leng mendapat warisan seluruh kepandaian ilmu silatnya, tetapi Kam Coan sebaliknya mewarisi ilmu tabibnya disamping ilmu silatnya, sehingga menjadi seorang tabib kenamaan pada dewasa itu. Tetapi walaupun namanya sangat terkenal, ia tidak sembarangan mengobati orang sakit. Selama sepuluh tahun ini ia berdiam di rumahnya, jarang muncul di dunia Kang-ouw.

Meskipun kepandaian ilmu silatnya tidak sehebat ilmu tabibnya, tetapi untuk menghadapi Soa Thiat San sudah lebih dari cukup.

Sementara Can Pek Sin bicara dengan Tiat Leng, Soa Thiat San sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Namun demikian ia tidak berdaya sama sekali.

Tiat Leng lalu berkata sambil tertawa:

“Bangsat, sebaiknya kau menyerah saja.”

Tetapi baru saja menutup mulutnya, Soa Thiat San sudah dihajar oleh Kam Coan sehingga pundaknya terluka dan mengeluarkan darah.

Soa Thiat San yang sudah terluka, bagaikan harimau terluka, badannya menerjang tembok dan lari keluar.

Serangan Kam Coan tadi sebetulnya hendak menghancurkan tulang pi-pe-kut di pundak Soa Thiat San. Berkat kegesitan Soa Thiat San, serangan itu meleset sedikit. Jikalau tidak seluruh kepandaian orang itu akan musnah.

Namun demikian, luka itu juga tidak ringan, maka buru-buru dia kabur.

Kam Coan tidak mau berlaku keterlaluan, ia membiarkan orang she Soa itu kabur. Tiat Leng berkata, sambil tertawa:

“Kam yaya, mengapa kau membiarkan ia lari? Sehingga aku tidak ada orang yang berlutut minta ampun?” Can Pek Sin berkata sama-sama tertawa:

“Soa Thiat San sudah dihajar sampai semangatnya hendak terbang oleh Kam lo-cianpwee, tetapi apakah itu belum cukup memuaskan kau? Adik Leng kapan kau datang? Tahukah kau encie Leng juga tinggal di sini? Apakah kau sudah bertemu muka dengannya?”

Tiat Leng merasa sedih, ia juga tidak tahu kesedihan itu untuk Thie Po Leng ataukah untuk dia sendiri. “Kau pergi mengundang tabib untuk encie Leng, tidak diduga begitu kebetulan telah mengundang Kam yaya. Tabib yang kau undang memang tepat, sayang kedatanganmu sudah terlambat,” demikian ia berkata.

Can Pek Sin terkejut, ia mencekal tangan Tiat Leng dan berkata dengan suara gemetar: “Mengapa, apakah ia sudah meninggal?”

“Kau jangan bingung, bukannya meninggal melainkan sudah pergi.” Can Pek Sin tercengang, ia bertanya:

“Apa, apakah enci Leng sudah pergi? Mengapa ia tidak menunggu aku?” “Ia meninggalkan surat untukmu, bacalah sendiri.”

Karena pada saat itu cuaca sudah gelap, maka Can Pek Sin minta pelayan supaya menyalahkan lampu, ia buru-buru membuka surat Thie Po Leng.

Surat Thie Po Leng itu tidak menjelaskan sebab-sebab ia pergi, tetapi Can Pek Sin yang membaca dalam hati sudah mengerti, karena perginya Thie Po Leng justru Tiat Leng datang kesitu, sudah tentu timbul kesalah pahaman. Tetapi karena badannya masih sakit, hal itulah yang membuat Can Pek Sin merasa tidak tega. Walaupun ia sendiri tidak mempunyai maksud apa-apa terhadap enci Lengnya itu, tetapi dalam hati gadis itu mungkin masih belum dapat melepaskan diri kepada Can Pek Sin. Jikalau tidak mengapa ia harus menyingkir?

Memikirkan itu Can Pek Sin merasa bingung sendiri ia memberikan surat itu kepada Tiat Leng dan berkata:

“Kemana encie Leng pergi?”

“Bagaimana aku tahu? Tetapi ia berlalu belum ada satu jam. Kuda kita bisa lari pesat, mari kita cari berpencaran, mungkin dapat menyusul,” menjawab Tiat Leng.

“Oh, jadi ia berlalu belum ada satu jam?” berkata Can Pek Sin. Tiba-tiba ia ingat dirinya Pao Thay, maka segera diangkatnya dan dibuka totokannya, kemudian ditanya:

“Ketika kalian datang kemari, adakah melihat seorang gadis berpakaian merah yang menunggang kuda merah atau tidak? Lekas jawab terus terang. Jikalau tidak aku akan mengambil jiwamu!”

Pao Thay yang melihat mendapat harapan hidup, segera menjawab:

“Kalau aku berkata terus terang, apakah kau suka membebaskan aku?” “Baik, jikalau kau bicara terus terang, aku akan bebaskan kau!”

“Dengan sejujurnya, kita memang pernah berjumpa dengan nona Thie. Toako hendak menangkapnya. Kalian jangan persalahkan aku, ini bukan urusanku.”

“Sudah tertangkap atau belum?”

“Belum. Ia telah ditolong oleh ssepasang suami istri yang kebetulan lewat di situ.” Ia segera menceritakan apa yang telah terjadi dengan Thie Po Leng.

Can Pek Sin sangat girang mendengar keterangan itu, kemudian katanya:

“Sepasang suani istri itu, apakah sang suami menggunakan kipas sebagai senjata dan sang istri menggunakan keliningan kecil sebagai senjata rahasia?”

“Betul. Aku dengar Soa toako berkata, yang lelaki itu mempunyai nama julukan pelajar kipas besi, namanya entah apa Tok... U?” “Baik, kau tak usah kata lagi, pergilah!”

Tiat Leng masih benci kepada Pao Thay yang tadi berlaku ceriwis terhadapnya, maka dia lalu menendang dan berkata:

“Can toako suka mengampuni jiwamu, maka kali ini aku juga tidak akan membunuhmu. Tetapi berhati- hatilah! Jikalau kau masih berbuat tidak keruan, lain kali apabila kuketemukan, aku tidak akan melepaskan kau lagi.”

Pao Thay yang sudah babak belur sudah tentu cuma bisa menerima baik, barulah berlalu. Can Pek Sin berkata:

“Enci Po Leng sudah ditolong oleh Tok-kow U suami istri, kita tidak perlu mencarinya lagi.” Tiat Leng tercengang, tetapi kemudian ia sadar, maka juga merasa girang katanya:

“Benar, enci Leng sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi, maka kita juga tidak perlu mencarinya lagi.”

Tok-kow U masih pernah paman dengan Lauw Bong, hal ini sudah diketahui oleh Can Pek Sin, maka ia juga dapat menduganya bahwa Tok-kow U suami istri akan membawa Thie Po Leng ke rumah Hee Kauw Ing, supaya bertemu lagi dengan Lauw Bong.

Karena Can Pek Sin mengharap supaya dua kekasih itu akur lagi, maka ketika mendengar Thie Po Leng pergi bersama Tok-kow U suami istri, sudah tentu tidak khawatir lagi.

Kam Coan yang tahu bahwa orang yang akan diobati sudah pergi, lalu berkata:

“Tok-kow U mempunyai obat pel siao-hoan-tan dari resep turunan keluarganya, obat itu sangat manjur sekali untuk menambah kekuatan tenaga. Can hian-tit, orang sakit yang kau suruh aku obati itu, apakah nona Thie yang sudah pergi itu?”

“Benar. Aku tidak sangka ia akan pergi,” berkata Can Pek Sin dengan muka merah.

“Tentang ini aku tidak sesalkan kau. Kau undang tabib untuk periksa penyakit, sudah tentu kau menggambarkan bagaimana keras penyakitnya. Tetapi, nona Thie itu masih bisa bertempur dengan kawanan berandal itu, mungkin penyakitnya tidak berat. Kini ia sudah berjumpa dengan Tok-kow U, dengan obat pel siao-hoan-tan, kita tidak usah khawatirkan lagi. Karena orang yang sakit sudah pergi, maka aku juga harus pulang, mengobati pasienku lagi.”

Can Pek Sin baru tersadar, maka ia buru-buru berkata:

“O ya, aku sudah menghambat banyak waktumu. Mari kita pulang. Adik Leng, apakah kau masih ada urusan lain? Jikalau tidak ada, sukakah jalan bersama-sama kita?”

Can Pek Sin dan Tiat Leng lalu membenahi barang-barangnya, meninggalkan rumah penginapan dan jalan bersama-sama Kam Coan.

Di tengah perjalanan Tiat Leng bertanya:

“Kam yaya, siapakah pasienmu yang kau tinggalkan di rumah?”

“Ia adalah sahabat baik ayahmu, juga seorang pendekar kenamaan. Coba kau tebak siapa?” berkata Kam Coan sambil tertawa.

Tiat Leng terperanjat, ia bertanya: “Apakah pamanku Toan Khek Gee?” “Bukan.” “Apakah susiokku Pui Pek Hu?” “Juga bukan.”

“Kalau begitu apakah sukongku Khong-khong Jie?”

“Bukan, bukan. Khong-khong Jie bagaikan siluman, siapa yang dapat melukainya?”

“Sahabat baik ayah, dan pendekar kenamaan, kecuali beberapa orang ini, masih ada siapa lagi?” “Kau tidak dapat menebak, sebentar kalau kau berada di rumahku, kau nanti akan tahu sendiri.” Tiat Leng karena ingin tahu, siapa orang itu, ia terpaksa minta keterangan Can Pek Sin:

“Kam yaya tidak mau memberitahukan kepadaku, Can toako, kau beritahukanlah padaku. O ya, aku tadi masih belum menanya padamu, dengan cara bagaimana kau dapat mengundang Kam yaya? Aku dengar kata ibu mengenai peraturan Kam yaya pergi periksa orang sakit, ia setiap hari hanya memeriksa satu orang, bahkan tidak sembarangan keluar pintu pergi memeriksa. Kau dengannya dahulu belum kenal, ia tidak mengusir kau pergi, aku sebetulnya merasa heran.”

“O ya? Dua soal ini bukan saja di luar dugaanmu, juga diluar dugaanku. Memang betul Kam Yaya telah usir aku pergi, untung pasien Kam yaya itu membantu aku minta kepada Kam yaya,” berkata Can Pek Sin sambil tertawa.

“Siapakah sebetulnya pasien itu?”

Can Pek Sin lalu menceritakan pengalamannya waktu ia mengundang tabib itu.

Ia berhasil menemukan rumah Kam Coan. Semula Kam Coan tidak menerima. Can Pek Sin mengetok pintu hampir setengah hari, tidak ada orang menjawab, terpaksa ia masuk dengan melompat melalui pagar rumah.

Berada di dalam pekarangan, ia mulai pasang telinga, dari dalam sebuah kamar samar-samar terdengar suara orang bicara. Karena kamar itu tertutup, ia melongok dari lobang jendela. Ia melihat seorang tua duduk di depan pembaringan, di atas pembaringan rebah seorang yang sedang sakit, orang tua itu sedang mengurut-urut si sakit. Karena pasien itu mukanya menghadap ke dalam, sehingga tidak diketahui siapa orangnya.

Namun Can Pek Sin sudah dapat memastikan bahwa orang tua itu pasti adalah tabib kenamaan itu. Karena sedang mengobati orang sakit, ia tidak berani mengganggu. Di luar jendela ia menunggu beberapa lama. Setelah selesai tabib itu mengobati pasiennya, selagi Can Pek Sin hendak membuka suara, orang tua itu tiba-tiba membentaknya:

“Bangsat kecil, kau sungguh berani mati mengintip orang, apakah maksudmu? Hm, apa kau kira aku tidak tahu? Lekas berlutut!”

Saat itu tiba-tiba angin dingin menyambar dari lobang jendela, terus menyambar ke lutut Can Pek Sin.

Can Pek Sin merasa dingin, tanpa ampun lagi lututnya kesemutan, hingga hampir saja jatuh berlutut, masih untung kekuatan tenaga dalamnya sudah mempunyai dasar baik hingga dapat bertahan.

Ia terkejut, ia tahu bahwa itulah ilmu totokan jalan darah tertinggi yang tidak mudah dipelajari.

Kam Coan yang berada di dalam kamar juga terkejut, karena Can Pek Sin yang diilihatnya baru berusia belum duapuluh tahun ternyata sanggup bertahan oleh serangannya itu, hal ini sesungguhnya di luar dugaannya.

Kam Coan segera keluar hendak menangkap Can Pek Sin. Can Pek Sin buru-buru berkata:

“Aku bukan maling, kedatanganku hendak mengundang lopek memeriksa orang sakit.” “Pergi, pergilah! Aku tidak periksa orang sakit!” membentak Kam Coan. “Bukankah kau sedang memeriksa orang sakit?”

“Aku suka memeriksa siapa, itu adalah urusanku sendiri. Perlu apa kau campur mulut? Kau di sini mengintip orang, aku masih belum menghukum kau. Kalau kau ribut-ribut lagi, akan kuhajar dulu, baru mengusirmu.”

Can Pek Sin yang sudah bertekad hendak mengundang tabib untuk enci Lengnya, buru-buru berkata: “Kau pukul aku tidak apa, asal kau suka pergi memeriksa orang sakit itu.”

Perkataan Can Pek Sin yang sungguh-sungguh itu, sebaliknya menarik perasaan simpati Kam Coan, amarahnya juga reda. Ia berkata:

“Baiklah, kau tinggalkan alamatmu, besok kalau ada waktu aku akan ke sana.”

“Apakah hari ini kau tidak bisa pergi? Kudaku bisa lari pesat, kita pergi dengan naik kuda tidak memerlukan banyak waktu.”

“Kau bocah ini terlalu cerewet, kalau kau ribut lagi, aku nanti benar-benar akan lemparkan keluar dari tempat ini.”

Pada saat itu tiba-tiba dari dalam kamar terdengar suara pasien itu berkata: “Apakah Siao-sin di luar? Kam locianpwee, jangan lemparkan dia!”

Menutur sampai di situ Can Pek Sin berkata kepada Tiat Leng sambil tertawa: “Adik Leng, tahukah kau siapa pasien itu?”

“Memanggil kau Siao-sin, apakah paman Cho Peng Goan?”

Di antara sahabat ayah Tiat Leng, hanya Cho Peng Goan yang sejak kecil kenal Can Pek Sin dan suka panggil ia Siao-sin, maka ia segera mengetahuinya.

“Betul, kali ini jitu tebakanmu, pasien itu memang benar Cho tayhiap.” Tiat Leng juga terkejut dan terheran-heran, katanya:

“Paman Cho bukankah hendak pulang ke negeri Su-tho-kok bersama-sama bibi U-bun? Bagaimana ia bisa datang kemari? Kepandaian paman Cho tinggi sekali, siapa yang dapat melukainya?”

“Waktu itu ia baru sadar, aku tidak berani bicara banyak dengannya. Baiknya kita sudah akan sampai, sebentar kau boleh menanyakan sendiri... Paman Cho panggil aku masuk, ia menceritakan tentang diriku pada Kam locianpwae. Untung ada paman Cho yang bantu bicarakan, barulah aku dapat mengundang pada Kam Yaya.”

Kam Coan berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

“Kali ini dengan melanggar kebiasaanku, aku pergi keluar periksa orang sakit, bukan semata-mata memandang muka Cho tayhiap. Kau tidak tahu bahwa yayamu pada empatpuluh tahun berselang pernah mengadu kepandaian denganku, tetapi ayahmu sebaliknya merupakan salah satu sahabat karibku. Kalau sejak tadi kau mengatakan Can Goan Siu, aku juga tidak mengusirmu.”

“Luka paman Cho berat atau tidak?” tanya Tiat Leng.

“Ia terkena serangan tangan beracun dari golongan sesat, lukanya tidak ringan. Racun semacam itu aku juga belum pernah mengobatinya. Tetapi aku sudah mengeluarkan banyak darah racunnya, juga sudah kutusuk dengan jarum mas untuk membuka jalan darahnya, rasanya tidak halangan. Sementara bagaimana ia mendapat luka itu, aku masih belum menanyakan kepadanya.” Mereka bertiga tiba di rumah Kam Coan, cuaca sudah gelap. Kam Coan berkata sambil tertawa:

”Waktu aku keluar, hari masih belum gelap, sehingga lupa memasang lampu untuk Cho tayhiap.” Ia lalu memasang lampu dan membuka pintu kamar seraya berkata:

“Cho tayhiap, kau lihat siapa ini yang datang?”

Tak disangka dalam kamar itu sudah kosong tidak ada orangnya. Kam Coan terkejut, pikirnya Cho Peng Goan dibawa lari oleh musuhnya, maka buru-buru memanggil:

“Cho tayhiap! Cho tayhiap!”

Dari lain ruangan terdengar suara Cho Peng Goan menyahut. “Ya, aku datang!”

Mendengar itu Kam Coan baru lega hatinya. Ia lihat Cho Peng Goan berjalan keluar dari ruangan belakang, dengan jalan berpegangan di dinding tembok.

“Bagaimana kau sudah turun dari pembaringan?” bertanya Kam Coan.

“Ilmu tabibmu sesungguhnya seperti ilmu dewa. Aku merasa sudah banyak baik, hingga coba berjalan lagi,” menjawab Cho Peng Goan.

Ketika ia melihat Tiat Leng, nampaknya terperanjat, maka lalu berkata:

“Siao-sin, tadi bukankah kau berkata bahwa yang sedang sakit itu adalah Po Leng? Bagaimana sekarang Tiat Leng yang datang bersamamu? Tiat Leng, kau sudah ketemu dengan ayahmu atau belum? Apakah kali ini dari gunung?”

“Panjang ceritanya, aku ingin dengar ceritamu dulu. Paman Cho, bagaimana kesehatanmu?” berkata Tiat Leng sambil tertawa, lalu bersama Can Pek Sin membimbing Cho Peng Goan masuk ke kamar.

Saat itu Kam Coan melihat tanda hitam di muka Cho Peng Goan sudah hampir lenyap, kalau tidak diperiksa dengan teliti, hampir tidak kelihatan.

“Ia memang sudah banyak baik,” demikian ia berkata, segera memeriksa nadinya, kemudian berkata:

“Dengan mengandalkan kekuatan tenaga dalam Cho tayhiap yang sudah sempurna, maka obat yang kuberikan hanya merupakan bantuan sedikit saja.”

“Kira-kira masih berapa hari lagi baru pulih kesehatanku.”

“Aku semula menghitung kira-kira satu bulan kau baru bisa sembuh seluruhnya, tetapi sekarang, nampaknya setengah bulan juga sudah sembuh.”

“Masih setengah bulan, bagaimana aku harus menunggu sekian lama?” berkata Cho Peng Goan, nampaknya sangat cemas.

“Cho tayhiap ada urusan penting apa yang harus dilakukan? Bolehkah kau ceritakan supaya kita dapat merundingkan bersama-sama?”

“Tiat Leng, aku sebetulnya hendak ke gunung Kim-kee-nia mencari ayahmu, tak disangka aku harus merawat lukaku di sini. Kedatanganmu sangat kebetulan. Apakah kau hendak pulang ke gunung? Bolehkah sekalian menyampaikan kabar pada ayahmu?” berkata Cho Peng Goan.

“Paman Cho, kau mencari ayahku ada keperluan apa? Kepandaianmu demikian tinggi, siapa lagi orangnya yang telah melukaimu?” berkata Tiat Leng. Cho Peng Goan lalu menceritakan bagaimana ia mendapat luka itu.

“Ketika ia pulang ke negeri Su-tho-kok bersama U-bun Hong-nie, istrinya, karena ia sendiri ada suku Han, beberapa orang di kalangan orang yang berkuasa di negeri Su-tho-kok menentang kembalinya dengan berbagai dalih. Orang-orang itu sebetulnya sedang merencanakan hendak menjatuhkan U-bun Hong-nie dengan jalan bersekongkol dengan negeri Hwee-kie.

Cho Peng Goan yang semula berusaha hendak menghindarkan pertumpahan darah di negeri istrinya, tidak ingin kembali, tetapi U-bun Hong-nie memaksanya ia pulang. Jikalau tidak ia lebih suka meletakkan kedudukannya sebagai ratu.

Sebelum mereka tiba di negerinya, salah seorang kepercayaan U-bun Hong-nie, yang berhasil keluar dari Su-tho-kok, telah menyampaikan kabar buruk kepada ratunya. Menurut keterangannya, selagi U-bun Hong-nie keluar dari negerinya pergi mencari suaminya, orang-orang yang bermaksud hendak melakukan coup, telah menggunakan kesempatan itu, melaksanakan maksudnya, dengan terang-terangan memasukkan tentara negeri Hwee-kie ke negeri Su-tho-kok. Kemudian kepala perang Hwee-kie yang berada di Su-tho-kok telah mengambil alih pemerintahan negeri Su-tho-kok.

Berkata sampai di situ, Cho Peng Goan lalu menghela napas kemudian berkata pula:

“Kini aku baru tahu bahwa tindakanku itu keliru. Jikalau musuh sudah bermaksud hendak menjajah, sekalipun kita sembunyi juga tidak ada gunanya. Jikalau aku tetap berdiam di negeri Su-tho-kok, bersama- sama Hong-nie memimpin rakyat negeri Su-tho-kok melawan musuh, setidak-tidaknya tentara Hwee-kie tidak demikian mudah merampas negeri Su-tho-kok.

Tiat Leng yang mendengar penuturan itu merasa panas, katanya:

“Kalau begitu mengapa kau tidak pulang bersama-sama dengan bibi U-bun?”

“Sekarang negeri Su-tho-kok sudah diduduki oleh tentara Hwee-kie, hendak mengusir mereka sudah tidak mudah lagi. Maka aku dengan Hong-nie terpaksa bekerja berpencaran. Ia pulang dulu untuk membentuk tentara rakyat, sedang aku hendak mengundang dan mencari bantuan beberapa sahabatku yang suka membantu.”

“Oo, jadi paman Cho ingin minta bantuan kepada ayah!”

“Benar. Aku tahu ayahmu sebagai pemimpin golongan rimba hidjau, sekarang sedang membangun kekuatannya lagi di gunung Kim-kee-nia, barangkali tidak dapat meninggalkan posnya. Tetapi kenalannya sangat banyak. Di dalam markasnya juga terdapat banyak orang kuat, pasti dapat mengirim orang membantu negeri Su-tho-kok melawan agresor.”

“Dua hari sebelum aku turun gunung aku masih dengar ayah membicarakan tentang diri paman. Keadaan di negeri Su-tho sedikit banyak ayah juga tahu. Ayah kata negeri Hwee-kie dengan mengandalkan kekuatannya telah menindas negeri yang lemah, bukan saja merupakan musuhnya rakyat negeri Su-tho tetapi juga menjadi musuh besar kita semua. Ayah memikirkan paman, juga khawatirkan keselamatan negeri Su-tho yang kecil itu. Paman Cho, kau benar, ayah pasti akan membantu kalian.”

“Sayang aku harus menunggu setengah bulan baru bisa berangkat, sampai aku bertemu dengan ayahmu barangkali juga satu bulan kemudian. Rakyat negeri Su-tho, di bawah kekuasaan kaum penjajah, nasibnya seperti dalam neraka. Aku dapat menunggu tetapi bagaimana dengan nasib mereka?”

“Paman tidak usah khawatir, usia kita meskipun masih muda, tetapi biar bagaimana tokh masih bisa memberi sedikit bantuan. Aku hanya ingin tahu entah siapa orangnya yang melukai paman?”

“Thay Lok dan Touw Goan.”
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jiwa Ksatria Jilid 16"

Post a Comment

close