Jiwa Ksatria Jilid 13

Mode Malam
  
Walaupun ia tidak mempunyai keyakinan dapat menjatuhkannya, tetapi Khong-khong Jie yang sudah bertempur lama, ia yakin tidak sampai dikalahkan olehnya. Sedang di pihak suteenya, nampaknya bisa merebut kemenangan. Asal ia dapat menahan Khong-khong Jie, setelah sang sute itu menjatuhkan Hoa Ciong Tay, juga mudah untuk menjatuhkan Khong-khong Jie. Oleh karena itu, maka ia segera maju menghadapi Khong-khong Jie

Selagi melancarkan serangannya, di luar dugaan, Khong-khong Jie sudah lompat melesat, sehingga serangan See-bun Ong mengenai tempat kosong.

Khong-khong Jie ternyata sudah melayang turun di tengah-tengah Hoa Ciong Tay dan Su-khong Beng, katanya dengan nada suara dingin:

“Biarlah aku berikan pilihan kau buat yang empuk, makanlah. Hoa laoko mari aku dengan kau tukar lawan, kita sekarang boleh satu lawan satu.”

Khong-khong Jie bergerak dengan cepat, begitu tiba segera menyambut serangan Su-khong Beng. Dengan demikian, sudah tentu Hoa Ciong Tay tidak perlu turun tangan lagi. Ia turut keinginan Khong- khong Jie, maju menghadapi See-bun Ong.

Selagi See-bun Ong hendak mengejek, Khong-khong Jie sudah berkata sambil tertawa terbahak-bahak: “Kalau kalian memilih makananan yang empuk sebaliknya aku memilih makanan yang segar. Kepandaianmu aku sudah tahu, aku tidak mempunyai napsu makan buah yang sudah busuk, sekarang kau harus tukar makanan.”

Su-khong Beng marah sekali, katanya dengan suara keras:

“Baik, biar bagaimana kalian hari ini sudah tidak kabur lagi, siapapun yang menjadi lawanku sama saja!” Tetapi tidak demikianlah kenyataannya.

Kepandaian Khong-khong Jie berlainan dengan Hoa Ciong Tay, terutama ilmunya meringankan tubuh, dalam rimba persilatan sudah tanpa tandingan. Justru dalam hal ini merupakan kelemahan Su-khong Beng.

Sewaktu Su-khong Beng bertanding dengan Toan Khek Gee, yang tersebut belakangan ini sengaja memberikan kesempatan Su-khong Beng menyerang lebih dulu sampai sepuluh kali, sudah menyerang sampai sembilan kali ia masih belum berhasil menyentuh baju Toan Khek Gee. Dan kini lawannya adalah Khong-khong Jie, sudah tentu lebih sukar untuk menghadapinya.

Khong-khong Jie yang sudah bertempur setengah hari, kekuatan tenaganya sudah kehilangan limapuluh persen, kalau dibanding dengan Su-khong Beng memang kalah jauh. Tetapi ia menggunakan ilmu meringankan tubuh, melawan musuhnya dengan taktik kucing-kucingan. Ia melakukan serangan apabila mendapat kesempatan atau mendapat lihat ada lowongan. Tetapi kalau diserang, ia segera menyingkir atau menghindar dengan baik.

Dengan demikian, Su-khong Beng tidak berhasil menyentuh badannya, bahkan beberapa kali ia sendiri yang hampir tertotok jalan darahnya. Ini berarti bahwa ia kini telah dibuat permainan oleh Khong-khong Jie.

Di lain pihak Hoa Ciong Tay yang berhadapan dengan See-bun Ong, juga boleh merasa lega.

Kiranya kepandaian maupun kekuatan See-bun Ong, masih jauh di bawah suteenya, sekalipun kekuatan tenaga Hoa Ciong Tay sudah banyak kurang, tetapi untuk melawan See-bun Ong, masih lebih dari pada cukup.

Hoa Ciong Tay baru mencoba beberapa jurus, segera mengetahui bahwa kekuatan See-bun Ong selisih jauh dengannya, maka ia tidak menggunakan senjatanya lagi dan menggunakan sepasang tangan kosong untuk melawan.

Bertempur kira-kira tigapuluh jurus, See-bun Ong sudah mandi keringat, napasnya memburu.

Su-khong Beng yang harus waspada jangan sampai tertotok oleh Khong-khong Jie, diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, untuk menutup semua jalan darahnya. Tetapi dengan demikian, kekuatan tenaga yang akan digunakan untuk menyerang juga berkurang.

Ia tidak dapat melukai Khong-khong Jie. Khong-khong Jie juga tidak dapat melukainya.

Setelah pertempuran kira-kira limapuluh jurus, Khong-khong Jie sudah tentu sudah payah, akan tetapi Su- khong Beng juga sudah tidak bisa bernapas.

Khong-khong Jie diam-diam berpikir: Bertempur secara demikian, barangkali kedua-duanya akan terluka. Tetapi ia adalah seorang tinggi hati, biar bagaimana tidak mau menghentikan lebih dulu.

Su-khong Beng mengerti apabila kali ini tidak mampu menjatuhkan Khong-khong Jie, selanjutnya sudah tidak mungkin lagi menjatuhkannya.

Keadaan pada waktu itu adalah siapa yang dapat bertahan lama, dialah yang menang.

Selagi kedua pihak sama-sama seperti berada di atas punggung harimau, dari jauh tiba-tiba tampak debu mengepul, seorang penunggang kuda lari mendatangi. Belum lagi tiba orangnya, suaranya terdengar lebih dulu: “Toa-suheng, kau di sini berkelahi dengan siapa?”  Penunggang kuda itu ternyata adalah Toan Khek Gee yang kembali ke Yang-ciu.

Setelah berada dekat, Toan Khek Gee segera mengenali Su-khong Beng, maka lalu tertawa bergelak-

gelak, kemudian berkata:

“Aku kira siapa, kiranya kau! Dulu aku memberi kesempatan kepadamu menyerang lebih dulu sepuluh kali, baru sembilan kali kau sudah kabur, masih satu kali kau belum habiskan. Toa-suheng manusia ini kau berikan kepadaku, untuk membuat perhitungan hutangnya yang masih belum dilunasi.”

Su-khong Beng memang sudah merasa tidak bisa menang, apalagi kedatangan Toan Khek Gee bagaimana berani melanjutkan pertempurannya dengan Khong-khong Jie atau Toan Khek Gee lagi? Maka ia segera meninggalkan lawannya dan kabur.

Toan Khek Gee segera berseru:

“Pertandingan antara kita dahulu masih belum selesai. Apakah kau hendak lari begitu saja?”

Su-khong Beng mengira Toan Khek Gee hendak merintanginya, maka segera melancarkan satu serangan, meskipun sudah hampir kehabisan tenaga tetapi serangan itu masih cukup dahsyat.

Toan Khek Gee berkelit seraya berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

“Aku sudah cukup memberikan kesempatan kepadamu untuk menyerang lebih dulu sepuluh kali, baiklah, kalau kau memang takut kepadaku, pergilah!”

Di lain pihak See-bun Ong juga segera meniru perbuatan suteenya, kabur meninggalkan lawannya.

Khong-khong Jie dan Hoa Ciong Tay yang sudah bertempur terus menerus setengah harian, saat itu juga sudah merasa puas, seolah-olah orang yang sudah kekenyangan makan, ia perlu beristirahat.

Toan Khek Gee, yang menyaksikan suhengnya basah kuyup, sepasang matanya merah membara, bibirnya pucat, keadaan demikian itu belum pernah disaksikannya, maka ia lalu bertanya,

“Suheng, kau kenapa?”

Khong-khong Jie menarik napas, lalu menjawab sambil tertawa terbahak-babak:

“Seumur hidupku, belum pernah aku bertempur begini memuaskan. Pertanyaanmu ini benar-benar gila. Dengan kepandaian seperti suhengmu ini, apakah bisa dikalahkan oleh musuhnya? Sebaiknya kau sendiri yang sudah nanam bibit permusuhan dengan anak siluman dari gunung Soat-san itu, perlu lebih rajin melatih ilmu silatmu.”

Toan Khek Gee dapat kenyataan suhengnya tidak terluka, menarik napas lega. Khong-khong Jie menghampiri Hoa Ciong Tay, sambil menarik tangannya ia berkata:

“Hoa laoko, dalam pertandingan tadi malam, kau mengaku kalah, ini tidak boleh. Dengan sejujurnya, seharusnya aku yang kalah sejurus. Terhadap soal lain aku boleh berlaku cincay, tetapi dalam soal kalah atau menang, aku selalu berlaku sungguh-sungguh!”

Lagak Hoa Ciong Tay sebetulnya juga agak kukoay, sikap terus terang Khong-khong Jie ini, sebaliknya cocok dengan pikirannya, sehingga ganjalan dalam hatinya lenyap seketika. Maka ia segera berkata:

“Tidak, kau tidak ingin menarik keuntungan dariku. Aku juga tidak boleh menarik keuntungan darimu. Sebelum aku tiba, lebih dulu kau sudah mencoba telapak tangan beracun Thay Lok maka paling kita hanya boleh dianggap seri.”

Khong-khong Jie justru ingin ia berkata demikian, maka setelah mendengar jawaban itu, segera menyahut sambil tertawa lebar:

“Bagus, kau memang seorang jantan, jujur dan terus terang. Keteranganmu ini aku anggap adil.” Toan Khek Gee yang mendengarkan pembicaraan mereka, merasa bingung, entah apa yang telah terjadi dengan mereka. Ia sebetulnya ingin memberitahukan apa-apa kepada suhengnya itu, tetapi ketika mendengar suhengnya membicarakan soal kalah menang, ia tidak berani campur mulut.

Dari jauh tiba-tiba terdengar suara serombongan orang yang lari mendatangi. Khong-khong Jie segera berkata:

“Celaka, mereka telah datang!”

“Mereka siapa?” bertanya Toan Khek Gee heran.

“Susomu bersama Chiu Pangcu serta rombongan mereka.” “Oh, kiranya suheng takut kedatangan Suso.”

“Bukan, bukan. Aku hanya takut mereka akan mengganggu aku. Aku paling takut dengan segala peradatan, kalau mereka datang, kita tidak bisa tenang lagi. Hoa Laoko, mari kita mencari tempat yang sunyi, di sana kita sembunyi dua atau tiga hari, supaya kita dapat mempelajari ilmu silat bersama.”

Sementara itu, rombongan orang-orang itu sudah makin dekat. Toan Khek Gee mengawasi ke arah rombongan itu. Benar saja segera terlihat Chiu Tong, Sin Cie Kow, Tiat Ceng, Lam Hee Lui bersama kedua saudaranya dan Can Pek Sin serta lain-lainnya. Toan Khek Gee masih belum tahu bahwa Can Pek Sin dan Tiat Ceng juga sudah tiba di Yang-ciu, maka ketika melihat mereka ia merasa sangat girang.

Khong-khong Jie segera menarik tangan Hoa Ciong Tay untuk diajak pergi. Chiu Tong yang melihatnya segera berseru,

“Khong-khong cianpwee, jangan pergi dulu! Lo-cianpwee sudah berada di Yang-ciu, mengapa tidak mengijinkan aku berlaku sebagai tuan rumah menyambutmu, secara baik-baik?”

Hoa Khiam Hong juga berkata:

“Ayah, kau hendak ke mana?”

Khong-khong Jie berkata sambil tertawa:

“Chiu Pangcu, maksudmu aku sudah mengerti. Kau jangan khawatir, jikalau sudah tiba waktunya kau nanti bertempur dengan Touw Goan, aku Khong-khong Jie tidak usah kau undang pasti akan datang sendiri. Sekarang aku hendak mempelajari ilmu silat dulu dengan sahabat baikku. Cie Kow, kau juga jangan khawatir aku dengan Ciong Tay berkesudahan seri, selanjutnya juga tidak akan berkelahi lagi. Tolong kau awasi muridku. Kalau kita sudah selesai berunding, sudah tentu akan pulang.”

Hoa Ciong Tay berkata sambil tertawa:

“Manusia hidup susah untuk mencari sahabat yang berarti, sahabat benar-benar. Baiklah Khong-khong Jie aku akan mengawani kau beberapa hari. Hong-jie, ayahmu mungkin beberapa hari baru bisa kembali menengok kau. Untung kau juga sudah dapat kenalan beberapa kawan baru, tidak usah khawatir kesepian. Juga tidak usah khawatir tiada orang yang merawat, hingga aku boleh merasa lega hati.”

Setelah mengucapkan kata-kata demikian, bersama-sama dengan Khong-khong Jie pergi meninggal mereka.

Sin Cie Kow berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa, “Mereka sama-sama gila, biarkan saja mereka pergi.”

Kata-katanya itu seolah-olah menyesalkan tindakan suaminya, tetapi dalam hati sebetulnya merasa girang. Karena persoalan yang menjadikannya khawatir selama itu, ialah takut apabila suaminya selalu tidak bisa akur dengan Hoa Ciong Tay, dan yang paling ditakuti ialah apabila mereka luka bersama-sama. Tetapi kini dua orang itu sudah menjadi sahabat baik. Sudah tentu Sin Cie Kow juga merasa lega. Chiu Tong tahu benar sifat Khong-khong Jie yang bisa memegang janji. Karena Khong-khong Jie sudah menyanggupi hendak memberi bantuan kepadanya, maka ia juga tidak perlu khawatir. Apalagi di samping ia masih ada istrinya dan Toan Khek Gee serta beberapa jago dari angkatan muda.

Toan Khek Gee lalu berkumpul dengan mereka, di antara orang-orang angkatan muda, kecuali Thie Po Leng yang sudah lama ia belum pernah bertemu, yang lainnya hampir kenal semuanya.

Tetapi ketika melihat Thie Po Leng berdiri bersama Can Pek Sin, ia segera mengingat siapa adanya gadis itu. Ia tahu urusan antara kedua keluarga itu, tetapi ia tidak tahu pertikaian yang terjadi, antara mereka berdua, maka seketika itu ia lalu berkata sambil tertawa:

“Can Hiantit, akhirnya kau tokh menyembuhkan juga nona Thie. Aku masih belum menanyakan kepada kalian, sebetulnya kalian berdua ada urusan apa? Mengapa masing-masing berjalan sendiri-sendiri? Nona Thie, tahukan kau, karena kau Pek Sin sangat gelisah. Tiga bulan berselang ketika aku bertemu padanya di kota Gui-pok, ia malah memintakan mencari keterangan tentang jejakmu. Untunglah kamu berdua sudah saling bertemu, sehingga tidak perlu aku turut bersusah hati.”

Dalam anggapan Toan Khek Gee, pertikaiannya merupakan penyakit biasa yang sering timbul di antara sepasang kekasih muda, maka ia sengaja menggodanya. Sudah tentu mereka berdua sangat malu, terutama Can Pek Sin lebih tidak enak perasaannya.

Thie Po Leng setelah memberi hormat kepada Toan Khek Gee lalu berkata:

“Paman Toan. Yaya telah meninggal dunia, aku ingin memperbaiki kuburannya, maaf aku tidak bisa, berdiam lama-lama.”

Toan Khek Gee tercengang, ia segera bertanya:

“Mengapa kau sudah akan pergi begitu tergesa-gesa? Memperbaiki kuburan memang penting tetapi juga tak perlu tergesa-gesa, satu minggu atau sepuluh hari lagi juga tak apa.”

Tiat Ceng yang hubungannya sangat baik dengan Can Pek Sin, ia ingin berkumpul dengannya beberapa hari lamanya. Ia khawatir Can Pek Sin akan pergi bersama-sama Thie Po Leng, maka ia juga bantu menasehatinya. Ia masih belum tahu pikiran adiknya terhadap Can Pek Sin, tetapi ia tahu lebih banyak tentang keadaan Can Pek Sin. Ia tahu ada Lauw Bong yang menghalang di antara mereka, dari peristiwa perampasan harta benda peninggalan kakek Can Pek Sin yang dilakukan oleh keluarga Lauw.

Ia juga dapat menduga bahwa hubungan antara Thie Po Leng terhadap Lauw Bong bukanlah hubungan biasa, cintanya Thie Po Leng terhadap Lauw Bong mungkin lebih besar daripada cintanya terhadap Can Pek Sin. Dalam hal ini rasa simpati Tiat Ceng sudah tentu ada di pihaknya Can Pek Sin. Kalau ia tadi bantu membujuk Thie Po Leng juga mengandung maksud untuk mendamaikan mereka berdua.

Tetapi Thie Po Leng tetap hendak berlalu. Can Pek Sin sudah tentu tak dapat membujuknya sendiri. Ia sebetulnya ingin mengantar pulang enci Leng nya itu, tetapi juga merasa berat meninggalkan sahabat- sahabatnya itu, sehingga ia merasa serba salah.

Tiat Ceng mengkerutkan keningnya tiba-tiba ia teringat sesuatu, lalu berkata:

“Nona Thie kau anggap memperbaiki kuburan Yayamu apakah lebih penting daripada menuntut balas kematian Yayamu?”

Thie Po Leng melengak, lama baru menjawab, “Sudah tentu menuntut balas lebih penting.”

“Nah itulah. Apakah tadi kau tidak dengar ucapan Chiu Pangcu? Musuh Yaya mu Touw Goan kini berada di Yang-ciu. Rombongan Chiu Pangcu justru hendak melakukan pertempuran besar dengan rombongan orang-orang Touw Goan. Bukankah ini merupakan kesempatan baik bagimu untuk menuntut balas?”

Thie Po Leng lalu berpikir, dengan kepandaiannya sendiri, sudah tentu tidak mungkin dapat membunuh Touw Goan untuk membalas sakit hati Yaya nya. Diam-diam berkata kepada diri sendiri: Untuk kepentingan urusan besar ini, walaupun aku harus bersama-sama dengan Siao-sin, Lauw Bong tentunya tidak akan menyesalkan perbuatanku. Akh, meskipun kematian Yaya disebabkan oleh tangan ganas Touw Goan, tetapi juga ada hubungannya dengan peristiwa perampasan harta benda dilakukan oleh Lauw Cin ayah dan anak pada malam itu. Meskipun dalam pesan Yaya mengijinkan aku mengambil keputusan sendiri, tetapi bagaimana aku dapat menikah dengan Lauw Bong? Apalagi masih ada nona Liong yang juga masih ada di sini.

Thie Po Leng sangat berduka, ia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

Tiat Ceng dan lain-lainnya hanya mengira ia bersedih karena kematian Yaya nya. Bagaimana mereka dapat menduga pikiran Thie Po Leng yang sudah kalut?

Hanya Can Pek Sin yang samar-samar dapat memahami perasaan enci Leng nya itu, tetapi ia tokh tidak dapat mengatakan dihadapan orang banyak, juga tidak tahu bagaimana harus membujuknya? Tetapi karena melihat enci Leng nya itu, mau berdiam lebih lama, hatinya juga merasa lega.

Liong Seng Hong, yang masih mempunyai keganjilan hati terhadap Thie Po Leng. tidak suka berada bersama-sama dengannya, maka ketika mengetahui Thie Po Leng akan tinggal. ia segera berkata:

“Supoh, sudah lama aku meninggalkan rumah, sekarang aku ingin pergi.” Sin Cie Kow berkata:

“Hem, aku kira kau cuma main-main di luaran saja, sehingga lupa pulang ke rumah. Enci mu, justru mencari kau. Kalau begitu kau lekas pulang, jangan lagi menerbitkan onar di luaran!”

Sin Cie Kow yang pernah diminta oleh Liong Seng Hiang untuk mencari jejak adiknya, sudah tentu ingin supaya Liong Seng Hong lekas pulang.

Ia tidak tahu bahwa ucapan Liong Seng Hong ini sebeetulnya bohong belaka. Tujuan yang sebenar- benarya ialah hendak mencari Lauw Bong. Maka setelah mendengar jawaban Sin Cie Kow ia segera berlalu dengan perasaan girang.

Setelah Liong Seng Hong berlalu, Sin Cie Kow berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala:

“Muridku yang tidak resmi ini, jauh lebih liar hatinya daripada masa mudaku. Aku juga tidak perlu mengendalikannya.”

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, segera bertanya kepada Toan Khek Gee:

“Dimana adik ipar? Mengapa kalian tidak datang bersama-sama?”

Toan Khek Gee suami istri hari itu memang bersama-sama meninggalkan kota Yang-ciu, tetapi kini Toan Khek Gee pulang seorang diri sehingga Chiu Tong merasa heran.

Toan Khek Gee menjawab:

“Yak Bwee telah pergi mengawasi seorang sahabat. Ia sudah pergi dahulu ke pusat Chiu pangcu.”

“Bagus, sahabat yang datang semakin banyak, sehingga semakin ramai, entah sahabat siapa yang diajak datang itu?”

“Aku justru hendak memberitahukan kepada kalian tentang urusan ini. Suso, apakah kau masih ingat Kiong-cu dari negara Su-tho-kok yang bernama U-bun Hong-nie itu? Ia sekarang sudah menjadi ratu negara itu. Tetapi sungguh tidak kusangka ia datang lagi ke daerah Tiong-goan. Sahabat Yak Bwee adalah dia.”

Sin Cie Kow yang mendengar laporan itu, juga sangat girang, katanya:

“Tentang kedatangannya ke daerah Tiong-goan sudah lama aku tahu. Beberapa bulan berselang aku juga pernah berjumpa dengannya di rumah Li Hong Chun. Mengapa dengan cara kebetulan kau juga berjumpa dengannya? Kedatangannya ke kota Yang-ciu mungkin mencari suaminya.” “Memang benar, ia hendak mencari Cho Peng Goan toako. Lima hari berselang ketika aku berdiam di rumah jago tua Tang Cut, si golok mas, meskipun jago tua itu sudah lama cuci tangan tetapi masih banyak mengetahui berita dunia Kang-ouw. Di sana aku mendengar sebuah berita, katanya ada seorang wanita cantik bersama-sama empat orang suku Hwee, muncul dikalangan Kang-ouw. Kebetulan sehari sebelumnya aku datang kekediaman jago tua itu, ia bersama empat orangnya telah lewat jalanan kampung Co-cung, nampaknya hendak menyeberang sungai menuju ke selatan.

“Orang-orang gagah di dunia Kang-ouw, ketika melihat kedatangan orang suku Hwee, sedikit banyak sudah waspada, maka segera ada orang yang mengabarkan kepada jago tua itu. Apakah perlu mengirim orang untuk mengikuti jejak mereka? Aku dan Yak Bwee ketika mendengar kabar itu, segera menduga akan diri U-bun Hong-nie. Maka kami berdua lalu majukan diri, hendak melakukan tugas itu.

“Kemarin kita berjumpa di tepi sungai utara, benar saja dia. Kedatangan kita juga sangat kebetulan, karena justru mereka sedang bertempur dengan serombongan orang suku Hwee yang lain.”

Can Pek Sin lalu bertanya:

“Rombongan orang suku Hwee lain? Rombongan itu pasti Thay Lok bersama-sama dengan tiga orang Hwee-kie itu. Satu di antaranya bukankah seorang yang menggunakan senjata golok yang bentuknya bagaikan bulan sabit?”

“Benar, memang ada seorang macam itu, orang itu wajahnya mirip dengan orang Han, kepandaiannya juga yang paling tinggi, apakah kau kenal dengannya?”

“Orang itu bernama Khu Pit Tay. Aku pernah berjumpa dengannya dua kali. Pertama kali di tengah jalan dalam perjalananku ke kampung Kui-chiu-chung ia bersama Thay Lok berjalan bersama-sama, semuanya ada empat orang. Malam itu Thay Lok seorang diri mencari onar di kampung Kui-chiu-chung. Kemudian adalah Sin lo-cianpwee yang datang memukulnya sehingga kabur.

“Kedua kalinya dalam perjalananku dengan adik Leng ke gunung Kim-kee-nia. Di sebuah rumah penginapan kecil aku terjumpa dengan Khu Pit Tay. Hampir saja kita jatuh di tangannya. Kemudian dengan secara kebetulan paman Cho telah datang, sehingga dihajarnya hingga kabur.”

Toan Khek Gee yang mempunyai hubungan baik dengan Cho Peng Goan, ketika mendengar berita itu, sudah tentu ia merasa girang.

“Kalau begitu Cho toako benar-benar sudah kembali. Sayang ia dengan U-bun Hong-nie keduanya sudah berjumpa dengan Khu Pit Tay, tetapi satu sama lain masih saling mencari, sehingga kini belum bertemu muka.”

“Aku pernah memberitahukan kepada paman Cho, tentang kedatangan bibi U-bun Hong-nie. Ia pasti juga akan datang ke Yang-ciu. Teruskanlah ceritamu, bagaimana kesudahannya pertempuran antara bibi U-bun dengan rombongan orang Hwee-kie tadi!”

“Orang yang bernama Khu Pit Tay itu kepandaiannya boleh juga, dengan U-bun Hong-nie merupakan tandingan setimpal. Dua yang lainnya kepandaiannya agak rendah, tetapi mereka pandai menggunakan senjata rahasia. Di pihaknya U-bun Hong-nie, kepandaian empat anak buahnya juga cukup tinggi, tetapi dua di antaranya telah dibikin terluka oleh senjata rahasia. Untung kita datang pada waktu yang tepat, aku menyambuti senjata rahasia mereka, dan melukai satu di antaranya, dengan demikian mereka lalu kabur.

“U-bun Hong-nie berhasil melukai Khu Pit Tay, tetapi ia sendiri juga terkena golok lawannya. Maka kita tidak sempat lagi mengejar tiga orang itu, buru-buru mengantar U-bun Hong-nie bersama orang-orangnya ke markas Chiu toako untuk diobati lukanya. Ketika aku tiba di markas, baru kutahu bahwa saudara Lam dan Can hiantit, kalian telah datang semua. Aku lalu tinggalkan Yak Bwee merawat U-bun Hong-nie, kemudian datang kemari mencari kalian.”

Sin Cie Kow mendengar kabar U-bun Hong-nie terluka juga terkejut, maka buru-buru bertanya:

“Bagaimana keadaan lukanya? Disini aku membawa obat pel Siao-hoan-tan dari Siao-lim-sie. Lekas kau bawa pulang untuk ia makan!” “Luka U-bun Hong-nie tidak berat, hanya tergores oleh ujung golok. Kemarin sudah diberikan obat pemunahnya, sekarang sudah hampir sembuh. Sebaliknya dua orang bawahannya yang terkena senjata rahasia beracun, lukanya sangat parah. Pel Siao-hoa-tan Suso ini adalah yang paling baik untuk menyembuhkan luka ini.”

Rombongan orang itu ketika tiba di markas, sudah disambut oleh Su Yak Bwee dan U-bun Hong-nie. Benar saja U-bun Hong-nie sudah bisa bergerak seperti biasa, sehingga Sin Cie Kow merasa lega. Dua butir pel Siao-hoa-tan lalu diberikan kepada U-bun Hong-nie untuk mengobati dua anak buahnya yang terluka.

U-bun Hong-nie sebetulnya sudah ingin melanjutkan perjalanannya lagi, tetapi setelah mendengar penuturan Can Pek Sin bahwa Cho Peng Goan juga akan datang, maka ia juga berdiam di markas untuk menantikannya.

Tetapi berita itu selain menggirangkan, juga mengkhawatirkan.

Girang karena dia mendapat kabar Cho Peng Goan dalam keadaan sehat walafiat, dan yang mengkhawatirkan ialah, apabila dihitung perjalanan Can Pek Sin yang satu bulan di muka berjumpa dengan Cho Peng Goan, seharusnya ia tiba di Yang-ciu lebih dahulu. Tetapi kini Can Pek Sin yang harus melakukan perjalanan ke gunung Kim-kee-nia lebih dulu ternyata sudah tiba, sedangkan Cho Peng Goan masih belum kelihatan mata hidungnya. Maka U-bun Hong-nie khawatir terjadi apa-apa di tengah jalan.

Toan Khek Gee segera menghiburnya:

“Cho toako berkepandaian tinggi, dalam rimba persilatan daerah Tiong-goan ia hanya mempunyai sahabat, tidak mempunyai musuh. Sekalipun terhalang, mungkin juga karena berjumpa dengan salah seorang sahabat baiknya sehingga menahannya beberapa hari, tidak nanti bertemu dengan musuh atau terluka.”

U-bun Hong-nie yang mendengar keterangan itu, yang memang masuk diakal, hatinya merasa lega.

<>

Chiu Pangcu juga merasa cemas menantikan kedatangan Khong-khong Jie, yang katanya hanya hendak mempelajari ilmu silat bersama-sama Hoa Ciong Tay. Katanya dua-tiga hari akan kembali. Tetapi ditunggu sampai tiga hari, Khong-khong Jie masih belum kelihatan mata hidungnya, sedangkan Touw Goan dan Soa Thiat San sudah mengutus orangnya untuk mengirim surat perang.

Surat pernyataan perang Touw Goan itu tidak banyak variasi. Setelah membeberkan asal mulanya pertikaian itu, dianggapnya perlu untuk membereskan dengan kekuatan tenaga. Waktunya telah ditetapkan tiga hari kemudian, tempatnya di salah satu pulau kecil di sungai Tiang-kang.

Pertempuran di atas pulau yang sepi, kami dapat menghindarkan gangguan pemerintah, juga dapat menghindarkan jangan sampai menyusahkan rakyat kecil. Sudah tentu tantangan itu segera disetujui oleh Chiu Tong.

Tempat pertandingan itu hanya terpisah sejarak tidak lebih dari seratus pal dari Yang-ciu, paling-paling hanya memerlukan perjalanan satu hari.

Hari kedua setelah menerima surat tanda tangan itu, ternyata Khong-khong Jie masih belum kembali, Chiu Tong terpaksa meninggalkan pesan kepada anak buahnya. Pada hari ketiga pagi-pagi sekali, lalu berangkat menuju ke pulau itu dengan orang banyak.

Dua anak buah U-bun Hong-nie juga sudah sembuh. Sebab Thay Lok dan kawan-kawannya juga berada di pihak Touw Goan, maka U-bun Hong juga bersedia memberi bantuan tenaga.

Tetapi ada syaratnya. Apabila Thay Lok dan orang-orangnya tidak ikut bertempur, ia juga hanya bisa berdiri sebagai penonton. Sebab ia adalah ratu dari negara Su-tho-kok, sudah tentu tidak ingin terlibat dalam persengketaan rimba persilatan daerah Tiong-goan. Negara Su-tho-kok dengan negara Hwee-kie merupakan musuh, maka ia hanya boleh bertempur dengan orang-orang Hwee-kie.

Syarat ini sudah tentu diterima oleh Chiu Tong. Touw Goan dan Soa Thiat San merupakan golongan bajak laut. Hay-ho-pang juga merupakan salah satu perkumpulan besar di daerah sungai Tiang-kang, kedua pihak sampai mempunyai pasukan perahu. Tetapi dalam pertandingan kali ini, sudah diterangkan hanya pertandingan antara orang kuat dari kedua belah pihak, bukan pertempuran frontal. Apalagi di atas pulau yang kecil itu juga tidak mungkin muat terlalu banyak orang, maka kedua belah pihak sudah berjanji lebih dahulu bahwa jumlahnya orang yang turut bertempur tidak boleh lebih dari seratus orang.

Chiu Tong menyediakan tiga buah perahu besar. Pada waktu yang dijanjikan, sebelum terang tanah sudah berangkat. Perjalanan yang hanya tidak lebih dari seratus pal itu, sesudah terang tanah mungkin sudah tiba di pulau tersebut. Pertempuran itu akan dimulai pada waktu tengah hari.

Sebelum berangkat Chiu Tong masih mengharapkan kembalinya Khong-khong Jie tetapi yang didapatkan hanya perasaan kecewa.

Menyaksikan kemurungan Chiu Tong, Toan Khek Gee mencoba menghiburnya dengan kata-kata:

“Toa-suhengku selalu mentaati janji yang sudah diberikan. Ia sudah menjanjikan hendak memberi bantuan kepadamu, pastilah ia akan datang. Tentang pertandingan kalian kali ini, beritanya sudah tersiar luas di kalangan Kang-ouw. Toa-suheng bukanlah sedang mengasingkan diri, bagaimana ia tidak tahu soal itu?”

“Aku hanya khawatir mereka berdua yang sama-sama gemar ilmu silat itu telah lupa daratan merundingkan tentang ilmu silat, sehingga melupakan urusan lainnya,” menyahut Chiu Tong.

“Tidak mungkin. Sekalipun toa-suheng gemar sekali berunding tentang ilmu silat, tetapi ia lebih gemar akan berkelahi. Apalagi ia pernah berkata sendiri: Apabila sudah selesai berunding silat dengan Hoa lo- cianpwee pasti akan datang. Kini mereka sudah lima hari merundingkan ilmu silat mereka tentunya sudah selesai.”

“Semoga demikian halnya!”

Pagi-pagi sekali, tiga buah kapal besar yang memuat rombongan Chiu Tong telah berangkat menuju ke sebuah pulau kecil.

Can Pek Sin dan Thie Po Leng berada bersama dalam satu kapal. Tetapi selama beberapa hari itu, Thie Po Leng selalu menghindarkan diri untuk bertemu muka dengan Can Pek Sin.

Sekalipun berada dalam satu kapal, ia juga tidak suka berada di dalam kamar, untuk berkumpul dengan yang lain-lainnya, melainkan seorang diri, berada di atas dek menikmati pemandangan alam bebas.

Menyaksikan air sungai yang mengalir deras, Thie Po Leng teringat akan nasibnya sendiri. Kakeknya yang pernah menjagoi rimba persilatan, kini sudah rebah di dalam tanah. Dan ia sendiri, selama setahun ini terumbang-ambing di dalam dunia Kang-ouw, entah ke mana tujuannya?

Teringat diri Can Pek Sin dan Lauw Bong, pikirannya kusut seketika. Apakah ia masih ada harapan untuk berjumpa lagi dengan Lauw Bong? Apakah hubungan masih dapat dilanjutkan seperti sedia kala?

Can Pek Sin masih perlakukan dirinya begitu baik, tetapi apakah perasaan ia sendiri masih tetap seperti dulu?

Selagi terbenam dalam lamunannya sendiri, tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk ringan. Ketika ia berpaling ternyata Can Pek Sin yang berdiri di belakangnya.

Dikiranya pemuda itu telah dapat menebak apa yang sedang dipikirkan, maka dengan agak kemalu- maluan ia menegurnya:

“Siao-sin, mengapa kau tidak mengobrol dengan Tiat Ceng, sebaliknya seorang diri datang kemari?”

“Pikiranku agak kusut, aku pikir sebaiknya keluar untuk menghirup angin laut. Emm, enci Leng, bukankah kau juga seorang diri berada di sini? Apakah gerangan yang sedang kau pikirkan?” Demikian Can Pek Sin balik menanya. “Aku sedang memikirkan... dengan cara bagaimana menghadapi Touw Goan? Walaupun pihak kita di sini banyak orang kuat, tetapi aku tokh tidak dapat membiarkan orang lain menuntutkan balas untukku!”

Memang soal ini merupakan salah satu dari demikian banyak persoalan yang ada pada dirinya, namun disamping itu ia masih perlu merahasiakannya terhadap pemuda itu.

Can Pek Sin mendekatinya, seolah-olah teringat sesuatu, setelah berpikir sejenak, lalu berkata:

“Enci Leng, apakah kau masih ingat kejadian waktu kita melakukan latihan terakhir di dalam taman bunga tempo hari?”

Hati Thie Po Leng bergejolak, mukanya merah membara.

“Untuk apa kau menanyakan soal demikian?” demikian ia balik menanya.

Apa yang dimaksudkan oleh Can Pek Sin dengan pertanyaan di atas itu, ialah pada waktu mereka berdua melatih ilmu silat pada waktu itulah Can Pek Sin sama-sama mengutarakan isi hatinya. Dan untuk menjernihkan persoalan antara Thie Po Leng dengan Can Pek Sin, Thie Po Leng juga mengutarakan isi hatinya secara terus terang, tentang cintanya kepada Lauw Bong, bahkan meminta kepada Can Pek Sin supaya membantunya.

“Waktu itu kita sedang melatih ilmu ‘Siao-kin-na-ciu-hoat’ yang diajarkan oleh Yaya, aku terkalahkan olehmu, kemudian aku menggunakan ‘Ngo-khim-ciang-hoat’ memenangkan ilmu itu. Apakah kau masih ingat ilmu itu?” berkata Can Pek Sin yang ternyata bukan seperti apa yang diduga oleh si nona.

“Kalau masih ingat lalu mau apa?” menyahut Thie Po Leng dengan suara agak kurang wajar.

“Selama satu tahun ini, aku telah bertekun mempelajari ilmu Siao-kin-na-ciu-hoat warisan Yaya, aku merasa bahwa gerak tipu serangan yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus itu terlalu ganas. Apabila digunakan pada tempatnya yang tepat, sesungguhnya dapat digunakan untuk melawan pihak yang lebih tangguh. Dan apabila digabungkan dengan ilmuku Ngo-khim-ciang-hoat, pasti akan lebih dahsyat. Enci Leng, selama satu tahun ini, setiap saat aku juga memikirkan persoalan menuntut balas dendam untuk Yaya.

“Sekarang marilah kita bergandengan tangan menghadapi Touw Goan. Aku telah menemukan suatu ilmu pukulan yang paling ganas dan dahsyat, nanti apabila kita berhadapan dengan musuh kita itu, kita hadapi dari muka dan belakang. Dari muka aku akan menggunakan ilmu seranganku Ngo-khim-ciang-hoat menerkam pergelangan tangannya, dan kau mencengkeram tulang pipenya dari belakang sehingga remuk. Sekalipun tidak dapat membinasakan seketika itu juga, tetapi juga cukup untuk memusnahkan seluruh kepandaiannya.”

Thie Po Leng kini baru tahu bahwa pemuda itu ternyata tidak melupakan, bahkan selalu diingatnya bagaimana supaya dapat menuntut balas dendam Yayanya. Ia merasa sangat bersyukur tetapi juga merasa sangat malu terhadap dirinya sendiri.

“Siao-sin, kepandaian Touw Goan terlalu tinggi bagi kita. Tipu serangannya itu dapat menghasilkan seperti apa yang kau harapkan atau tidak, masih merupakan satu pertanyaan. Sekalipun bisa, tetapi kau harus mendekati dirinya, baru bisa menyambar pergelangan tangannya. Perbuatan itu besar sekali bahayanya, bahkan mungkin dapat mengancam jiwamu sendiri.”

“Yayamu juga merupakan Yayaku, lebih suka aku hancur lebur, biar bagaimana aku harus menuntut balas dendam sakit hati ini.”

Thie Po Leng merasa pilu, airmata mengalir bercucuran.

“Aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu, Siao-sin, tetapi aku tidak ingin kau mengantarkan jiwa untukku. Sebaiknya gerak tipu seranganmu itu kau pelajarkan kepadaku, supaya aku sendiri yang melakukan.”

“Tidak, Yaya adalah Yaya kita berdua, tindakanku ini bukan semata-mata untukmu. Untuk menghadapi Touw Goan, tidak cukup seorang diri saja, maka kita harus bekerja sama. Apalagi sekalipun ada bahaya, juga belum tentu membahayakan jiwaku. Enci Leng, hari ini merupakan suatu kesempatan yang paling baik bagi kita. Marilah kita ulangi lagi pelajaran ilmu silat yang diajarkan oleh Yaya itu.”

Thie Po Leng yang sedang kusut pikirannya, bagaimana dapat mempelajari pelajarannya secara tenang?

Ia yang dibesarkan bersama-sama dengan Can Pek Sin, kenal baik sifat pemuda itu, apa yang sudah dipikirkan olehnya, tidak mudah dirobah nya. Hanya satu hal yang belum diketahui dengan pasti, benarkah pengorbanan Can Pek Sin itu semata-mata untuk menuntut balas Yayanya, seperti apa yang dikatakan olehnya, ataukah mengandung maksud lain?

Thie Po Leng melirik, ia dapat melihat pemuda itu sedang menantikan jawabannya dengan sikap sungguh- sungguh.

Dengan menahan mengalirnya airmata, ia menjawab:

“Pelajaran gerak tipu Siao-kin-na-chiu-hoat, yang diberikan oleh Yaya, aku belum pernah melupakan, tidak perlu melatih lagi. Jikalau saatnya nanti tiba, aku bersedia bekerja sama denganmu, seperti dahulu kita pernah melatih bersama-sama.”

Selagi bicara sampai di situ, Tiat Ceng telah keluar dari kamarnya untuk mencari mereka, maka ketika melihat mereka berada di atas dek, lalu berkata sambil tertawa:

“Can toako, kiranya kau bersama nona Thie bersembunyi di sini. Kalau begitu aku tidak mengganggu kalian lagi.”

Can Pek Sin merasa malu, buru-buru menjawabnya:

“Aku sedang keluar mencari angin, kebetulan di sini berjumpa dengan enci Leng, maka aku lalu merundingkan suatu siasat untuk menghadapi Touw Goan. Baiklah mari kita bicara dalam kamar.”

“Kalian masuk dahulu, aku masih ingin mencari angin. Karena aku tidak biasa dengan hawa udara dalam kamar yang pengap itu,” berkata Thie Po Leng sambil memutar tubuhnya dan menghapus airmatanya.

Tiat Ceng tertawa menyeringai. Can Pek Sin khawatir Tiat Ceng akan menggoda Thie Po Leng lagi, maka buru-buru menarik tangan pemuda itu dan diajaknya masuk ke kamar.

Setelah Can Pek Sin dan Tiat Ceng berlalu, tinggal Thie Po Leng seorang diri, pikirannya semakin kusut. Ia selalu mengira bahwa kekasih yang dicintainya itu adalah Lauw Bong. Ia juga belum pernah menyangsikan cinta Lauw Bong terhadap dirinya.

Tetapi sekarang, dengan tanpa disadari ia telah mempertimbangkan Lauw Bong dengan Can Pek Sin, “Apakah Lauw Bong bisa berlaku sedemikian baik seperti Can Pek Sin terhadap aku?” demikian satu pertanyaan dalam benaknya.

Sewaktu kapal mendadak memperlahan berlayarnya, Thie Po Leng baru tersadar dari lamunannya, ternyata kapal itu sudah sampai di pulau yang dituju.

Semua orang lalu mendarat dengan dipimpin Chiu Tong. Orang-orang pihak Touw Goan sudah menantikan kedatangan mereka di atas sebidang tanah lapang yang nampaknya baru dibersihkan oleh orang-orang Touw Goan.

Chiu Tong memperhatikan orang-orang di pihak Touw Goan. Di samping Touw Goan, masih ada Soa Thiat San, Pao Thay, Thay Lok, Khu Pit Tay, Pok Sui Thian, Say Ban Hiong dan lain-lainnya orang-orang kuat dari golongan hitam.

Kecuali mereka, masih terdapat dua tokoh paling tangguh. Mereka itu adalah murid kepala Soat-san Lo- koay, See-bun Ong dan anak jago tua, Su-khong Beng itu.

Kedatangan mereka itu disambut sebagaimana mestinya oleh Touw Goan. Chiu Tong lalu berkata sambil mengangkat tangan memberi hormat, “Dalam pertandingan hari ini, Touw Tocu sebagai tuan rumah, silahkan menyebutkan caranya!”

“Dalam pertandingan hari ini, siapa yang kuat akan hidup dan yang lemah biarlah mati. Kecuali jika ada ialah satu pihak yang menyerah tanpa syarat, jikalau tidak, pertandingan tidak akan berhenti sebelum ada yang mati. Chiu Tocu, bagaimana pikiranmu?”

Chiu Tong sudah tentu tidak suka menunjukkan kelemahannya, sambil tersenyum ia menjawab,

“Kalau memang Touw Tocu menghendaki demikian, sudah tentu aku menurut saja. Pendeknya aku bersedia mengiringi semua kehendakmu.”

“Bagus, bagus! Tetapi kita kedua pihak semua ada kawan-kawan yang akan turut membantu tenaga. Di antara kawan-kawan kedua pihak ini, mungkin ada permusuhan satu sama lain. Kalau mereka hendak bertempur mati-matian atau hanya hendak mendapat keputusan siapa yang kuat dan siapa yang lemah, aku sebagai tuan rumah, sudah tentu menuruti kehendak mereka. Maka maksudku biarlah pihak tetamu yang turun lebih dulu, supaya mereka dapat menyelesaikan permusuhan atau dendam sakit hati masing- masing. Sesudah itu, barulah dilakukan pertandingan antara kita.”

“Baik semua terserah kepadamu. Sekarang boleh kita mulai!” Thie Po Leng diam-diam menarik lengan baju Can Pek Sin. Pemuda itu segera mengerti maksud si nona, lalu berkata:

“Jangan terburu napsu, biar orang-orang angkatan tua yang mulai lebih dulu.”

Can Pek Sin tidak suka berlaku lancang, sungguh tidak disangka bahwa di pihak musuh telah keluar seorang yang menantang dirinya. Orang itu bukan lain daripada Pok Sui Thian.

Pok Sui Thian sambil menghunus sepasang senjatanya yang berupa alat tulis dan menunjuk Can Pek Sin dengan suara lantang berkata:

“Buat orang lain memang tidak suka menpropogandakan keburukannya sendiri, tetapi buat aku tidaklah demikian. Di dalam perjalanan yang menuju ke kota Gui-pok, aku pernah mengalami kekalahan hebat. Kala itu aku hendak merampas harta kekayaan keluarga Ong tetapi akhirnya terjungkal di tangan Hoa Ciong Tay.

“Hari ini Hoa Ciong Tay tidak datang, tetapi dua bocah yang hari itu mengangkut harta kekayaan itu sekarang berada di sini. Dua bocah itu adalah Can Pek Sin dan Tiat Ceng. Selain dari pada mereka, anak perempuan Hoa Ciong Tay juga ada. Maka aku sekarang hendak menantang bertanding mereka bertiga.

“Memang benar, mereka adalah orang-orang tingkatan muda, tetapi mereka semua adalah keturunan orang-orang terkemuka dalam rimba persilatan. Aku mempersilahkan mereka bertiga maju serentak. Kiranya tidak bisa dianggap sebagai orang tingkatan tua menghina orang tingkatan muda, bukan? Seandainya tindakanku ini tidak dibenarkan, tidak apalah. Barang siapa yang menganggap sebagai angkatan tua mereka bertiga yang sekarang ada di sini, yang ingin menggantikan mereka, aku juga bersedia melayani.”

Pok Sui Thian termasuk orang-orang golongan kelas satu dalam rimba persilatan. Ia sudah memperhitungkan kekuatan pihak musuhnya, hanya Sin Cie Kow, Toan Khek Gee dan Su Yak Bwee bertiga yang bisa mengalahkannya. Apabila kalah di tangan tiga orang itu, kekalahannya masih boleh dibuat bangga.

Selain dari pada itu, ia juga sudah perhitungkan bahwa di pihak musuh tidak terdapat banyak tenaga kuat. Mereka tentunya harus menyediakan tenaga untuk menghadapi lawan-lawan tangguh dari pihaknya sendiri seperti Su-khong Beng dan lain-lainnya. Dengan demikian belum tentu mereka sudi turun tangan menghadapinya.

Dugaan orang she Pok itu memang tepat, setelah ia berkata demikian, terdengarlah jawaban dari Sin Cie Kow:

“Orang ini tidak pantas aku hadapi.” Dan Toan Khek Gee mengawasi Su-khong Beng sejenak, karena ia menduga orang she Su-khong itu tentu akan menantang dirinya, maka diam-diam hatinya juga merasa bimbang.

Walaupun Pok Sui Thian tidak menantang Can Pek Sin bertempur perseorangan, tetapi biar bagaimana termasuk salah satu orang yang ditantang. Dan ia sedianya hendak menghadapi Touw Goan bersama Thie Po Leng. Bagaimana boleh menghadapi Pok Sui Thian sehingga menggagalkan rencananya yang semula?

Su Yak Bwee yang menyaksikan sikap Can Pek Sin agak keberatan, dianggapnya takut menghadapi musuh tangguh itu. Selagi hendak keluar menggantikan kedudukannya, ternyata telah didahului oleh Tiat Ceng.

Tiat Ceng yang berdiri berdampingan dengan Hoa Khiam Hong, ketika Tiat Ceng keluar dari rombongannya, ia juga turut keluar.

Langsung Tiat Ceng berhadapan dangan Pok Sui Thian sambil tertawa dingin ia berkata:

“Kau manusia macam apa? Apakah kau kira ada harganya bagi kita sampai perlu tiga orang untuk menghadapimu? Dengan aku seorang diri saja sudah cukup. Kau menghendaki pertempuran mati-matian atau untuk menetapkan siapa yang menang dan yang kalah, terserah padamu sendiri!”

Tiba-tiba Hoa Khiam Hong menyeletuk:

“Batal, batal!”

Orang banyak mengira bahwa pertempuran satu lawan satu itu akan dibatalkan. Sebelum semua orang tahu benar apa yang dimaksudkan oleh ucapan nona itu, Hoa Khiam Hong sudah berkata,

“Orang ini adalah pecundang ayahku, sekarang ayah tidak berada di sini. Dia hendak menuntut balas, sudah tentu aku yang harus menggantikan kedudukan ayah. Orang lain tidak boleh berebut denganku!”

Kini semua orang baru tahu bahwa nona itu juga ingin bertempur sendirian melawan Pok Sui Thian.

Sebagai seorang yang sudah mendapat nama di kalangan rimba persilatan, sekalipun Pok Sui Thian pada saat itu sangat mendongkol, tetapi di luarnya masih menunjukkan sikap tidak mengambil pusing terhadap ucapan dua ‘bocah’ itu, bahkan dengan sombongnya ia berkata:

“Masih ada satu lagi, lekas keluar!”

Ia mengarahkan senjatanya ke arah Can Pek Sin.

“Selewatnya hari ini, setiap waktu kau boleh menantangku lagi,” berkata Can Pek Sin.

Maksud ucapannya itu sebetulnya hendak mengatakan karena hari itu ia hendak menghadapi Touw Goan. Karena ia anggap tidak perlu memberitahukan secara terus terang, maka ia memberi jawaban secara tidak langsung.

Siapa tahu bahwa ucapannya itu dalam telinga lain orang atau termasuk Pok Sui Thian, telah berubah menjadi perkataan yang mengandung sikap memandang rendah diri Pok Sui Thian, karena untuk menghadapi Tiat Ceng atau Hoa Khiam Hong saja belum tentu dapat memenangkan, apalagi terhadap dirinya?

Tiat Ceng lalu berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

“Memang benar. Kalau kau dapat mengalahkan aku, belum terlambat bagimu untuk mencoba kepandaianmu kepada Can toako. Apakah kau kira sudah dapat mengalahkan diriku?”

Hoa Khiam Hong segera nyeletuk pula: “Tidak bisa, maksud orang she Pok ini ditujukan kepada ayah. Engko Ceng, kau seharusnya memberi kesempatan kepadaku untuk bertempur dengannya lebih dulu. Kalau aku kalah, barulah kau maju. Tetapi juga belum tentu aku dikalahkan olehnya!”

Toan Khek Gee tahu benar tabiat Tiat Ceng, yang mirip dengan ayahnya, adalah seorang yang bernyali besar, tetapi berpikiran cermat. Jikalau ia belum yakin benar akan kekuatan sendiri, tidak berani menantang Pok Sui Thian seorang diri. Maka ia lalu berkata:

“Pok Tocu dengan seorang diri hendak melawan mereka bertiga, sesungguhnya juga tidak mengukur tenaga sendiri. Tetapi Pok Tocu biar bagaimana juga terhitung salah seorang yang sudah mendapat nama di kalangan rimba persilatan. Jikalau bertempur satu lawan satu dengan seorang tingkatan muda, juga tidak adil. Sekarang begini saja, Ceng-tit dan nona Hoa boleh maju bersama menghadapi Pok Tocu. Dengan demikian, kedua pihak tidak ada yang dirugikan, juga sudah memberi muka kepada Pok Tocu.”

Ucapan Toan Khek Gee ini sesungguhnya sudah merendahkan kedudukan dan nama Pok Sui Thian. Jika ucapan itu keluar dari mulut orang lain, Pok Sui Thian pasti akan marah. Tetapi terhadap Toan Khek Gee ia tidak berani menunjukkan kemarahannya, maka kemarahannya itu dilampiaskan kepada diri Tiat Ceng dan Hoa Khiam Hong. Sambil mengacungkan kedua senjatanya ia berkata:

“Baiklah, aku akan membereskan kalian dua orang lebih dulu. Aku ingin melihat siapa yang tidak mengukur tenaga diri sendiri!”

Secepat kilat ia sudah membuka serangannya, kedua senjatanya menotok jalan darah ‘Khie-bun-hiat’ kedua anak muda itu.

Sigap sekali Tiat Ceng pendekkan badannya, kemudian dengan satu gaya luar biasa ia memutar dan melompat melesat sambil memutar pedangnya yang memancarkan sinar bagaikan bunga mekar, sekaligus ia menotok tujuh jalan darah lawannya.

Ilmu pedang yang digunakan itu adalah ilmu pedang ‘Wan-kong-kiam-hoat’ pelajaran Khong-khong Jie. Jikalau sudah mahir benar-benar, sekaligus dapat menotok sembilan jalan darah lawannya.

Tetapi Tiat Ceng yang usianya masih baru delapanbelasan, sudah mencapai taraf demikian tinggi, juga sudah mengejutkan semua orang yang menyaksikan sehingga pada saat itu terdengarlah suara tepuk tangan dan pujian yang sangat riuh.

Biar bagaimana Pok Sui Thian adalah seorang Kang-ouw kawakan, kekuatan tenaga dalamnya juga masih di atas Tiat Ceng, maka serangan hebat Tiat Ceng itu dapat ditangkisnya dengan baik, bahkan masih dapat menggunakan senjata di tangan kanannya, mengancam jalan darah Khie-bun-hiat Hoa Khiam Hong.

Hoa Khiam Hong yang diancam dengan serangan itu bukannya gemetar, sebaliknya malah berkata sambil tertawa dingin:

“Sepasang senjatamu yang mengarah empat jalan darah ini, sesungguhnya masih belum masuk hitungan, benar-benar sangat menggelikan!”

Sambil memperdengarkan suara tertawa dingin, pedangnya membabat dengan satu gerak tipu yang luar biasa anehnya.

Sekalipun pada saat itu dalam medan pertempuran itu terdapat banyak ahli pedang, tetapi ternyata tiada satupun yang mengetahui gerak tipu ilmu pedang yang digunakan oleh Hoa Khiam Hong itu dari golongan mana.

Pok Sui Thian yang merupakan salah satu ahli dalam sepasang senjata yang berupa alat tulis itu, ketika menghadapi serangan nona itu, diam-diam terperanjat. Kiranya gerak tipu yang digunakan nona itu bukanlah ilmu pedang biasa, melainkan ilmu pedang dari gabungan dengan ilmu senjata alat tulis itu. Justru merupakan gerak tipu sunglapan yang diciptakan oleh Hoa Ciong Tay, seorang ahli senjata alat tulis yang tidak ada tandingannya di dalam rimba persilatan.

Pok Sui Thian baru menghadapi serangan pertama Hoa Khiam Hong, hatinya sudah merasa gentar. Namun ia masih merasa beruntung karena kekuatan tenaga dalam Hoa Khiam Hong masih belum cukup sempurna, lagi pula ia hanya menggunakan sebilah pedang saja, sehingga tidak sedahsyat serangan ayahnya.

Tetapi sebelum rasa jerihnya itu lenyap, pedang Tiat Ceng sudah mengancam dirinya lagi. Kali ini mereka bekerja sama dengan sepasang pedang, bahkan ujung pedang mereka selalu ditujukan kepada setiap jalan darah anggota badan terpenting, sehingga kali ini Pok Sui Thian benar-benar merasa khawatir dengan jiwanya sendiri.

Kiranya selama beberapa bulan Tiat Ceng tinggal bersama-sama Hoa Ciong Tay, telah mendapat pelajaran ilmu serangan senjata sepasang alat tulis Hoa Ciong Tay yang termasyhur tanpa tandingan itu. Hampir setiap hari ia berlatih bersama-sama dengan Hoa Khiam Hong, sehingga kedua muda mudi itu dapat bekerja sama dengan baik sekali. Mereka menggunakan sepasang pedang sebagai gantinya sepasang senjata yang merupakan alat tulis, digabungkan terciptalah ilmu senjatanya Hoa Ciong Tay yang termashur itu!

Pok Sui Thian cuma dapat menggunakan sepasang senjatanya untuk menotok empat jalan darah dengan sekaligus. Berbicara tentang kemahiran, ia masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan kedua muda mudi itu. Hanya mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya yang lebih kuat, baru dapat mempertahankan dirinya. Namun demikian, ia juga sudah tidak berdaya sama sekali menghadapi kedua lawannya yang masih muda belia itu.

Pertempuran berlangsung kira-kira tigapuluh jurus, tiba-tiba terdengar suara Tiat Ceng yang berseru: “Kena!”

Dalam serangannya bersama-sama Hoa Khiam Hong, dengan secara tiba-tiba ia menggunakan gerak tipu serangan ilmu pedang Wan-kong-kiam-hoat.

Pok Sui Thian yang melawan dengan susah payah, sekalipun gerak badannya masih cukup lincah gesit, karena tidak menduga Tiat Ceng akan menyerang dirinya dengan menggunakan gerak tipu lain. Ia sudah tidak keburu mengelak, sehingga ujung pedang Tiat Ceng mengenakan pengelengan tangannya, yang membuat senjata di tangan Pok Sui Thian terpental jatuh di tanah.

Jatuhnya Pok Sui Thian itu merupakan suatu kekalahan yang sangat menyedihkan bagi seorang yang sudah lama mendapat nama di kalangan rimba persilatan seperti ia itu, maka dibawah suara tertawa orang banyak, orang she Pok itu lalu kabur meninggalkan rombongannya. Ia merasa kehilangan muka.

Touw Goan di samping terkejut, juga merasa gusar. Ia tujukan pandangan matanya ke arah See-bun Ong, Su-khong Beng dan Thay Lok bertiga, yang dibuat andalan olehnya. Ia mengharap tiga jago itu akan bertindak untuk membela Pok Sui Thian.

See-bun Ong dan Thay Lok nampaknya bersangsi, karena dengan kedudukan seperti mereka, seharusnya mencari lawan yang sederajat kedudukannya dengan diri sendiri. Orang-orang kelas satu dari rombongan lawan hanya Toan Khek Gee dan Sin Cie Kow berdua, sedangkan Thay Lok sendiri sudah pernah roboh di tangan Sin Cie Kow, sehingga See-bun Ong anggap tidak bisa berbuat apa-apa terhadap salah satu di antara dua orang itu. Karena tidak yakin akan menang, maka tidak ada perlunya harus turun tangan.

Hanya Su-khong Beng yang nampaknya masih penasaran, ketika melihat dua orang itu tidak menyatakan apa-apa, ia lalu berkata:

“Sayang Khong-khong Jie tidak datang, sehingga sulit bagiku untuk mencari lawan yang setimpal!”

Toan Khek Gee sangat marah mendengar ucapan sombong itu, ketika hendak bertindak keluar, telah di dahului oleh Sin Cie Kow, yang segera berkata sambil tertawa dingin:

“Suamiku tidak ada disini, aku tokh boleh menggantikan kedudukannya.”

Su-khong Beng pikir masih sanggup menangkan Toan Khek Gee atau Sin Cie Kow, tetapi karena ia sudah pernah berhadapan dengan Toan Khek Gee, dan ilmu kepandaian meringankan tubuh pemuda she Toan itu pernah menyulitkan dirinya, maka ia marasa agak berat untuk menghadapinya. Kini setelah berhasil membuat panas hati Sin Cie Kow, diam-diam merasa girang, tetapi ia masih pura-pura berlaku sombong. “Melawan orang golongan wanita, sekalipun menang juga tak dapat dibuat bangga,” demikian orang she Su-khong itu berkata.

“Pedangku ini masih belum hendak kugunakan untuk melukai kau seorang prajurit kecil yang tidak ternama ini, sebaiknya kau pulang saja untuk memanggil Soat-san Lo-koay datang sendiri kemari.” Demikian Sin Cie Kow berkata dengan nada ejekannya yang sangat tajam dan mengandung maksud menghina lawannya.

Tentu saja perkataan tajam itu membuat gusar Su-khong Beng, sambil berjingkrak-jingkrak ia membentak dengan suara keras:

“Hem, kau perempuan busuk, jikalau kau bisa melukai diriku, aku nanti akan berlutut di mukamu!” Setelah berkata demikian, Su-khong Beng pentang kedua tangannya menerkam lawannya.

Sin Cie Kow dengan suatu gerak tipu yang luar biasa, pedangnya menyambar lengan tangan Su-khong Beng.

Serangan pedang itu dilakukan pada waktu yang sangat tepat selagi lima jari tangan Su-khong Beng hendak mencengkram dadanya. Su-khong Beng semula masih tidak menghiraukan serangan itu, ia ingin menggunakan kekuatan jari tangannya untuk menyentil jatuh pedang Sin Cie Kow, bersamaan dengan itu tangan kirinya bergerak menyengkram tulang pi-pe-kut di pundak kanan Sin Cie Kow,

Apabila serangan pedang Sin Cie Kow tadi dilanjutkan menurut gerak tipu yang semula maka kekuatan dari jari tangan Su-khong Beng itu, memang benar bisa membuat terlepas pedang dari tangannya itu. Akan tetapi ilmu pedang Sin Cie Kow sangat luar biasa anehnya, bahkan kadang-kadang tidak menurut peraturan tertentu. Iapun agaknya sudah menduga lawannya itu hendak menghadapi serangannya dengan cara demikian dengan secara mendadak ia merobah gerak tipu serangannya.

Pedang itu digunakan untuk menyerang ke bahagian yang tidak terduga oleh lawannya. Serangan itu sekaligus mengarah dua bagian, satu ditujukan ke arah pinggang dan yang lain ditujukan kepada sepasang matanya.

Su-khong Beng terkejut, ia sudah tidak keburu merobah gerak tipunya, dalam keadaan demikian, ia terpaksa berlaku nekat. Dengan cepat ia menundukkan kepalanya, sepasang tangannya digunakan sebagai tinju untuk menggempur lawannya. Dengan serangannya itu ia telah bersedia menerima luka dari serangan pedang lawannya, tetapi ia hendak menggunakan tenaganya yang jauh lebih besar dari pada Sin Cie Kow untuk melebihinya.

Sambil berkelit dan meludah Sin Cie Kow berkata:

“Pui, siapa sudi berkelahi secara rendah ini?”

Pedangnya terpaksa ditarik kembali dan digunakan untuk menikam samping pinggang Su-khong Beng.

Sin Cie Kow mengira bahwa dengan cara nekad Su-khong Beng itu, pasti membuat Su-khong Beng sulit untuk mempertahankan kedudukan dirinya, maka pedangnya itu yang menyerang selagi lawannya masih belum dapat mengimbangi kedudukannya, pasti akan berhasil.

Di luar dugaannya kepandaian Su-khong Beng ternyata demikian tingginya. Dalam keadaan sangat sulit baginya, masih berhasil mempertahankan kedudukannya. Dengan jalan memutar ia dapat mengelakkan serangan Sin Cie Kow tadi, bahkan menggunakan kekuatan tenaga dalam tangannya menyampok pedang Sin Cie Kow.

Pertempuran itu dilakukan sangat cepat, orang lain hampir tidak tahu dengan cara bagaimana mereka bergerak. Namun demikian kedua pihak sama-sama sudah mengerahkan tenaga dan kepandaian sepenuhnya.

Pertempuran dalam babak pertama itu telah mengejutkan kedua pihak, Su-khong Beng sangat kagum melihat ilmu pedang Sin Cie Kow yang luar biasa, dan Sin Cie Kow sendiri juga kagum pada kemahiran Su-khong Beng. Setelah kedua pihak mengetahui kepandaian masing-masing, maka waktu bertempur lagi sama-sama menggunakan seluruh kepandaiannya. Su-khong Beng hanya menggunakan sepasang tangan kosong dengan mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna. Ia menggunakan kepalan tangan dan jari untuk menghadapi senjata pedang lawannya. Setiap serangan merupakan serangan yang mematikan, karena serangan yang diberikuti dengan kekuatan tenaga dalam, sehingga menyebabkan Sin Cie Kow merasa seperti terkurung oleh kekuatan tenaga dari berbagai penjuru.

Tetapi Sin Cie Kow juga bukan seorang lemah. Beberapa jurus kemudian, ia segera melakukan serangan pembalasan. Satu tangan memegang pedang, tangan yang lain memegang senjata kebutan, dengan dua rupa senjata yang berlainan sifatnya itu ia gunakan mau melawan musuhnya.

Semula ia hanya melawan dengan senjata pedang, tetapi kemudian ia tambah dengan senjata kebutannya, senjata itu yang satu bersipat keras dan yang lain bersifat lunak. Senjata kebutannya digunakan untuk menjaga diri, sedangkan pedangnya digunakan untuk menyerang, dengan demikian masing-masing mempunyai tugasnya sendiri-sendiri.

Kedua pihak sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, sehingga pertempuran itu kian lama kian hebat. Siapa saja yang kurang hati-hati, akan terancam jiwanya.

Dalam pertempuran yang amat dahsyat seperti itu, bukan saja mengagumkan dan mengejutkan pihak yang menonton tetapi dua orang yang bertempur itu dalam hati masing-masing diam-diam juga mengeluh. Mereka takut bilamana pertempuran tersebut berlangsung lebih lama lagi maka kedua belah pihak tentu akan mengetahui betapa sulitnya untuk dapat merebut kemenangan bagi pihaknya masing-masing tetapi untuk dapat keluar dari kekuatan musuh juga tidak mudah.

Demikianlah akhirnya Sin Cie Kow membuat sedikit kekeliruan. Su-khong Beng yang melihat kesempatan baik segera menyerang dengan telapakan tangannya. Serangan hebat itu masih dapat dielakkan oleh Sin Cie Kow, akan tetapi sebuah tusuk kondenya terpental oleh serangan jari tangan Su-khong Beng sehingga patah menjadi dua potong.

Semua orang yang menyaksikan terkejut, akan tetapi Su-khong Beng yang sudah berhasil dengan serangannya itu bukan saja tidak melanjutkan serangannya, bahkan sebaliknya ia mundur terhuyung- huyung. Pada saat itulah semua baru tahu bahwa lengan tangannya sudah terluka dan mengucurkan darah. Sekalipun luka itu tidak parah, tetapi biar bagaimana tokh terluka.

Lam Chiu Lui yang menyaksikan Su-khong Beng terluka, lalu tepuk tangan dan berkata sambil tertawa: “Hei, orang she Su-khong, kau kini sudah terluka, mengapa tidak berlutut dihadapan Sin lo-cianpwee?”

Su-khong Beng hanya memperdengarkan suara di hidung, ia berpaling menunjuk Sin Cie Kow, agaknya hendak mengatakan apa-apa, tetapi akhirnya dibatalkan. Yang mengherankan adalah sikapnya Sin Cie Kow yang saat itu juga tidak berkata apa-apa.

U-bun Hong-nie telah menyaksikan sikap aneh Sin Cie Kow. Ia buru-buru maju menghampiri. Ia baru tahu bahwa di ujung bibir Sin Cie Kow terdapat tanda darah. Kiranya waktu tusuk kondenya terjatuh oleh serangan Su-khong Beng, kepalanya juga dapat terluka, ia hanya tidak mau menunjukkan kelemahannya. Darah yang hendak keluar dari mulutnya ditelannya kembali, maka orang lain tidak tahu bahwa ia sebetulnya juga terluka bagian dalamnya.

Sin Cie Kow tidak mau dibimbing oleh U-bun Hong-nie ia balik sendiri ke tempatnya. Di lain pihak Su-khong Beng juga disambut oleh See-bun Ong.

Su-khong Beng meskipun terluka lengannya, tetapi luka itu jauh lebih ringan kalau dibandingkan dengan luka Sin Cie Kow. Hanya oleh karena ia sudah mengeluarkan perkataan sombong lebih dulu, maka waktu dirinya terluka, ia juga merasa sangat malu, maka tidak berani berkata apa-apa.

Touw Goan yang merupakan seorang ahli silat kenamaan, maka hanya ia seorang mengetahui Sin Cie Kow juga terluka. Ia hanya tidak tahu luka itu ringan ataukah berat. Ia berunding dengan See-bun Ong dan Thay Lok sebentar, kemudian bangkit dengan suara lantang: “Pada pertempuran ini kedua pihak telah terluka, yang satu patah tusuk kondenya, yang lain robek bajunya, maka kesudahannya dihitung seri.”

Chiu Tong yang melihat Sin Cie Kow tidak berkata apa-apa, maka ia juga terima baik keputusan orang she Touw itu.

Touw Goan kemudian mengusulkan, supaya pertandingan yang akan berlangsung nanti dilakukan olehnya sendiri melawan Chiu Tong, dan yang lainnya boleh mencari lawan sendiri-sendiri.

Usul yang diajukan itu sebetulnya merupakan suatu pertandingan total hanya ia sendiri yang bertanding satu lawan satu, karena Touw Goan yang sangat licin itu sudah memperhitungkan dengan baik kekuatan kedua pihak. Apabila pertandingan itu dilakukan satu persatu, Toan Khek Gee suami istri boleh dikata tidak akan terkalahkan, apalagi jikalau Khong-khong Jie juga nanti datang, di pihaknya sendiri tiada seorang pun yang dapat melawan orang itu. Karena di pihaknya sendiri jumlah orangnya lebih banyak, apabila dilakukan pertandingan total sudah tentu tidak akan mengalami kerugian. Dan ia sendiri, ia telah yakin benar dapat mengalahkan Chiu Tong.

Chiu Tong juga tahu belum tentu ia dapat mengalahkan Touw Goan, tetapi sebagai satu pemimpin sudah tentu tidak mau menunjukkan kelemahannya, maka ia segera terima baik usul itu. Namun ia minta supaya pertandingan itu dilakukan lebih dahulu, supaya dapat menghindarkan jatuhnya banyak korban.

Chiu Tong berani mengusulkan demikian, karena ia sendiri juga mempunyai suatu kepandaian yang  sangat ampuh. Ia telah bertekad hendak mati bersama-sama Touw Goan untuk menghindarkan kematian lebih banyak pula.

Touw Goan tidak mengerti maksud Chiu Tong, maka ia juga terima baik usul itu.

Selagi mereka berdua hendak turun ke medan pertempuran Can Pek Sin dan Thie Po Leng tiba-tiba melompat keluar dari rombongan dan berseru:

“Tunggu dulu! Orang she Touw, ucapan yang kau sudah keluarkan itu masih berlaku atau tidak?” Touw Goan tercengang, ia berkata dengan suara gusar:

“Kau dua setan cilik ini apakah sengaja hendak mengacau? Ucapan apa yang pernah keluar dari mulutku yang tidak berlaku?”

“Bukankah tadi kau pernah kata bahwa hari ini supaya orang kedua pihak dapat menggunakan kesempatan ini untuk memilih lawannya sendiri-sendiri atau menggunakan kesempatan untuk membalas dendam? Maka itu aku sekarang hendak mencari kau untuk menuntut balas bagi kematian ayah bundaku,” demikian Can Pek Sin berkata.

“Kala itu aku sebetulnya hendak membunuh seluruh rumah tanggamu. Waktu itu kalau aku masih mengampuni jiwa kecilmu berarti aku masih tidak berlaku terlalu kejam. Dan apakah kau masih ingat apa kata ibumu waktu itu kepadamu?”

“Waktu itu, kau telah terkana senjata rahasia ibu. Kau ingin minta obat pemunahnya untuk menukar jiwamu dengan jiwaku. Dengan demikian barulah kau tidak menghabiskan jiwaku maka aku tidak perlu menerima budimu itu. Memang benar, ibu pernah berkata kepadaku supaya di kemudian hari aku tidak menuntut balas, tetapi ia juga pesan kepadamu dengan jelas bahwa selanjutnya kau tidak boleh menganiaya diriku. Dan apakah perbuatanmu selanjutnya? Di lembah Phoan-liong-kok kau telah melukai kakekku, juga hendak membunuh aku. Hemm, apakah hanya kau boleh membunuh aku, tetapi aku tidak boleh menuntut balas kepadamu?”

Thie Po Leng juga berkata:

“Kakekku telah kau bokong, sehingga menemukan kematiannya, permusuhan antara aku dengan kau, juga besar sekali!”

Thie Po Leng setelah berkata demikian, lalu bersama-sama Can Pek Sin menghadap dan berkata kepada Chiu Tong: “Chiu Tocu, permusuhan keluarga kita yang sangat dalam ini mau tidak mau kita harus menuntut balas, terpaksa kita minta kau maafkan tindakan kita ini. Kita lebih suka mati di tangan orang she Touw ini, biar bagaimana kita minta supaya pertandingan kali ini kita yang menghadapinya. Jikalau tidak demikian, apabila kau nanti berhasil membunuh orang she Touw ini, maka kepada siapa kita harus menuntut balas?”

Chiu Tong sebetulnya sudah bertekad hendak korbankan jiwa untuk mati bersama-sama dengan Touw Goan, tetapi melihat kemauan keras dua anak muda itu, menurut peraturan dalam rimba persilatan orang yang hendak menuntut balas sakit hati ayah bundanya, orang lain juga tidak dapat mencegahnya, maka sekalipun Chiu Tong mengkhawatirkan jiwa mereka ia terpaksa mengalah juga.

Touw Goan sebetulnya juga sudah melihat bahwa Can Pek Sin dan Thie Po Leng berada dalam rombongan Chiu Tong, tetapi Touw Goan selama itu tidak memandang mata kepada mereka. Dan ia juga sudah pikir setelah membasmi Chiu Tong, barulah hendak turun tangan membereskan mereka. Tetapi di luar dugaannya dua muda mudi itu lebih dulu sudah menantang dirinya hendak membuat perhitungan, dengan demikian, maka buyarlah rencananya semula.

Karena saat itu Chiu Tong sudah mundur, dalam keadaan demikian, sudah tentu Touw Goan tidak berkukuh untuk bertempur dulu dengan Chiu Tong, dan menerima baik tantangan Can Pek Sin dan Thie Po Leng.

“Baiklah, kalau kalian pasti ingin menyerahkan jiwa, aku terpaksa mengiringi kehendak kalian! Tuan-tuan sekalian, kalian semua sudah dengar bahwa dua bocah ini yang tidak tahu diri telah memaksaku turun tangan. Dari itu janganlah tuan-tuan nanti sesalkan aku berlaku kejam!” demikian Touw Goan berkata.

Ucapan Touw Goan ada mengandung dua maksud. Selain tidak mengijinkan orang lain campur tangan, ia juga menjelaskan maksudnya hendak membunuh dua anak muda itu.

Orang di pihaknya Chiu Tong tidak bisa berbuat apa-apa, semua diam-diam mengkhawatirkan keselamatan mereka. Can Pek Sin berdiri berdampingan dengan Thie Po Leng, ia berbisik-bisik di telinganya:

“Enci Leng, maafkan bahwa aku tidak memberikan keterangan mengenai urusanku kepadamu. Sekarang kau tentunya sudah mengerti bahwa tindakanku ini bukan hanya untuk Yayamu sendiri. Permusuhanku dengan Touw Goan lebih darimu. Hari ini aku sudah bertekad biar bagaimana aku akan membunuh padanya. Ingat gerak tipu serangan itu, jangan kau coba berebut terus denganku!”

Thie Po Leng sudah tentu mengerti maksud perkataannya itu.

Memang benar, Can Pek Sin dahulu perlu merahasiakan urusannya, sebab kala itu belum tinggi kepandaiannya, ia masih perlu menyingkir dari incaran musuhnya. Tetapi ia tidak tahu bahwa Thie Po Leng sudah mencuri dengar pembicaraannya dengan Yayanya, dan oleh karena itu maka Thie Po Leng kala itu juga tidak merasa tidak senang.

Tetapi kini, selagi menghadapi pertempuran antara hidup dengan mati, Can Pek Sin masih menggunakan sedikit waktu untuk mengucapkan perkataan demikian sudah tentu lain pula maksudnya. Ia telah menegaskan bahwa permusuhannya dengan Touw Goan ada lebih besar, oleh karenanya maka ia sedia mengorbankan jiwanya untuk membunuh Touw Goan, dengan demikian juga dapat melindungi jiwa Thie Po Leng.

Can Pek Sin tahu benar bahwa gerak tipu serangan yang akan digunakan itu sangat berbahaya. Sekalipun bisa berhasil, ia sendiri juga akan mati bersama-sama dengan Touw Goan. Maka ia berpesan wanti-wanti, apabila saatnya telah tiba harus menggunakan serangan itu, ia hanya mengijinkan Thie Po Leng mengimbangi gerakannya, tapi tidak mengijinkan merebut tugasnya.

Karena telah menyelami maksud hati Can Pek Sin, maka Thie Po Leng yang mendengarkan merasa sangat pilu, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.

“Siao-sin, urusanmu itu sudah lama aku tahu, tidak perduli bagaimana, selama hidupku ini aku akan merasa bersyukur kepadamu!” demikian Thie Po Leng berkata sambil menahan keluarnya air mata.

Touw Goan yang menyaksikan hal itu lalu membentak:  “Kalian sebetulnya ingin bertempur atau tidak?”

Can Pek Sin setelah mendengar ucapan Thie Po Leng lenyaplah keragu-raguannya, maka segera ia

menjawab: “Orang she Touw, apakah kau sudah ingin lekas-lekas berjumpa dengan raja akhirat? Baiklah, sambuti seranganku!”

Dua bilah pedang dengan cepat sudah menyerang diri Touw Goan.

Serangan Can Pek Sin ditujukan kepada hulu hati musuh besarnya, tetapi dalam serangannya itu ada mengandung dua perobahan, yang khusus untuk menggagalkan balasan serangan senjata musuhnya yang berupa gaitan.

Touw Goan menggunakan gaitan dan perisai, meskipun Can Pek Sin tahu bahwa kepandaian musuhnya itu tinggi sekali. Ia juga tahu bahwa serangannya itu belum tentu berhasil, tetapi ia mengharap dapat mengurangi keganasan musuhnya, sehingga menguntungkan Thie Po Leng yang membantu dirinya. Di luar dugaannya bahwa serangan yang dilakukannya sangat cepat itu, dapat ditangkis oleh Touw Goan dengan secepat itu pula bahkan pedangnya sendiri hampir terkait oleh senjata musuhnya.

Touw Goan menggunakan kesempatan itu melakukan serangan pembalasan.

Can Pek Sin karena sudah bertekad bulat dengan niatnya, maka meskipun agak terkejut diserang secara demikian, namun pikirannya tidak menjadi kalut. Secepat kilat pula ia sudah merobah gerak tipunya, dengan jalan memutar ujung pedangnya menikam musuhnya dengan satu gerakan yang dapat mengakibatkan jatuhnya musuh tetapi juga sangat berbahaya bagi dirinya sendiri.

Touw Goan mengetahui maksud Can Pek Sin, ia berkata sambil tertawa dingin: “Bocah, apakah kau benar-benar hendak mengadu jiwa?”

Perisai di tangan kanannya digunakan untuk menindih kepala Can Pek Sin. Ia sudah memperhitungkan bahwa Can Pek Sin pasti akan menangkis dengan pedangnya, dengan demikian maka senjata gaitan di tangan kirinya boleh langsung membuat lobang badannya.

Perhitungannya orang she Touw itu hanya separuh yang jitu, Can Pek Sin benar saja menangkis dengan pedangnya, tetapi pada saat itu pedang Thie Po Leng sudah meluncur menyambuti serangan senjata gaitan Touw Goan.

Ilmu pedang Thie Po Leng sebetulnya ada suatu ilmu dari perobahan ilmu golok Ngo-houw-toan-bun-to Thie Sui yang terkenal keganasannya.

Sekalipun orang yang sudah mempunyai banyak pengetahuan sebagai Touw Goan, juga baru pertama kali ini menjumpai ilmu pedang yang sangat aneh itu, apalagi serangan Thie Po Leng itu juga mengandung maksud hancur bersama-sama. Touw Goan yang masih belum ingin mati, sangat terperanjat menghadapi serangan itu. Terpaksa ia membatalkan serangannya dan geser kakinya melangkah ke kiri, dengan demikian, maka perisai yang mengancam Can Pek Sin juga dapat disingkirkan.

Can Pek Sin yang melihat Thie Po Leng menyerang musuhnya dengan secara nekad demikian, alisnya dikerutkan, ia lalu berkata kepadanya:

“Enci Leng, jangan kau merebut tugasku!”

Ia takut Thie Po Leng tidak mau mendengar perkataannya, maka segera menyerbu lagi dengan secara lebih nekad lagi!

Touw Goan terpaksa menggunakan perisainya untuk menangkis setiap serangan Can Pek Sin. Walaupun ia lebih kuat tetapi hendak menjatuhkan mereka berdua juga tidak mudah.

Serangan yang mematikan yang sudah direncanakan oleh Can Pek Sin, harus dilakukan bila mendapat kesempatan baik. Di bawah penjagaan yang rapat demikian rupa, biar pun pertempuran sudah berlangsung cukup lama, tetapi Can Pek Sin masih belum berhasil menemukan kesempatan baik, maka selama itu ia juga belum dapat menggunakan gerak tipu serangannya yang mematikan itu. Pertempuran itu meskipun bukan dilakukan oleh jago-jago kuat, tetapi dengan cara nekad Can Pek Sin dan Thie Po Leng, pertempuran itu nampaknya lebih seru dan lebih berbahaya dari pada pertempuran- pertempuran antara jago kelas satu. Orang-orang dari rombongan Chiu Tong sudah tentu diam-diam merasa khawatir akan keselamatan dua anak muda itu, sedangkan orang-orang dari rombongan Touw Goan sangat dikejutkan oleh kepandaian dua anak muda itu.

Semula orang-orang ini semua menganggap Touw Goan akan dapat mengalahkan lawannya dengan mudah. Siapa menduga apa yang ditunjukkan oleh Can Pek Sin dan Thie Po Leng ternyata di luar dugaan mereka semua.

Pada saat itu matahari sudah naik tinggi, dengan tanpa disadari orang-orang dari kedua rombongan sudah menggeser lebih dekat ke medan pertempuran. Chiu Tong sebagai kepala rombongan, bertindak lebih hati-hati. Selain memperhatikan jalannya pertempuran, ia masih perlu membagi perhatiannya pada keadaan di luar sekitarnya tempat itu.

Pertempuran itu dilakukan di atas sebuah pulau kecil, suara terdamparnya gelombang air laut tidak pernah berhenti. Kalau semua orang tidak memperhatikan suara-suara gelombang air laut itu, tetapi Chiu Tong pada saat itu, tiba-tiba dapat menangkap suara aneh. Suara gelombang air laut itu samar-samar tercampur suara tambur.

Dari atas gunung bisa dapat dilihat, di permukaan air laut yang agak jauh samar-samar tertampak bergeraknya banyak layar kapal. Sedangkan kapal-kapal kedua pihak orang yang bertempur sudah dijanjikan tidak boleh mendekati pulau itu, kecuali kapal-kapal besar yang mengangkut orang-orang yang akan bertanding yang diperbolehkan mendarat di pulau itu, yang lainnya harus berada sedikitnya sepuluh pal dari pulau tersebut.

Melihat adanya layar-layar kapal itu, Chiu Tong segera menduga bahwa rombongan Touw Goan tidak menepati janjinya, dan kini telah menggerakkan kapal-kapalnya untuk melakukan serangan total.

Karena hatinya merasa curiga, maka ia lalu bertanya kepada Soa Thiat San:

“Soa tocu kapal-kapal kalian berlabuh di mana? Apakah kalian masih menepati perjanjian kita atau tidak?” Soa Thiat San agaknya juga merasa keadaan agak aneh, maka ia segera balas menanya:

“Kalian sebetulnya sedang main sandiwara apa?”

Pertanyaan itu bernada sangat tajam bahkan mengandung maksud mengejek. Chiu Tong yang sudah banyak pengalaman segera mengerti bahwa orang she Soa itu ternyata juga mencurigai pihaknya sendiri, maka lalu berkata:

“Kita jangan bertengkar dulu. Marilah masing-masing mengirim sebuah perahu untuk mengadakan pemeriksaan, kau pikir bagaimana?”

Sebelum Soa Thiat San menjawab, tiba-tiba Touw Goan berkata sambil tertawa dingin:

“Saudara Soa, jikalau mereka bercuriga terhadap kita, sebaiknya kita semua segera turun tangan. Waktu sudah tidak mengijinkan lagi, mana ada kesempatan untuk mengadakan pemeriksaan.”

Soa Thiat San paling takut apabila Khong-khong Jie datang membantu rombongan Chiu Tong, maka sebelum orang yang ditakuti itu tiba, memang lebih baik apabila semua tokoh-tokoh kuat yang ada di rombongan Chiu Tong sekarang dibasmi lebih dulu. Maka perintah Touw Goan itu tepat dengan keinginannya.

Setelah Soa Thiat San mengeluarkan perintah, lalu terjadilah pertempuran total, tokoh-tokoh dari kedua pihak, masing-masing mencari lawannya sendiri-sendiri.

Toan Khek Gee untuk kedua kalinya berhadapan dengan See-bun Ong lagi, Lam Hee Lui dan Lam Chun Lui berdua saudara melawan Su-khong Beng. Karena lengan tangan Su-khong Beng terluka, hal itu sudah tentu mempengaruhi kekuatan dan kepandaiannya, sehingga dua saudara Lam itu masih dapat mengimbangi. Sin Cie Kow yang lukanya lebih parah, setelah makan obat dan beristirahat sebentar, karena kekuatannya belum pulih kembali, maka ia hanya membantu U-bun Hong-nie, yang bersama rombongannya bertempur melawan Thay Lok dan Khu Pit Tay.

Soa Thiat San yang takut kepada Sin Cie Kow dan Toan Khek Gee, menantang Chiu Tong.

“Chiu Tocu, Touw toako ini tidak sempat. Kau dengan aku sama-sama merupakan pemimpin satu perkumpulan, marilah kita berdua bertanding untuk menentukan nasib kita!”

Chiu Tong yang belum lenyap kecurigaannya lantas menjawab:

“Soa Pangcu, kau tidak perlu tergesa-gesa, urusan hari ini, agaknya ada sedikit tidak beres...”

Chiu Tong curiga ada pertempuran di atas sungai maka ia ingin mencari keterangan kepada Soa Thiat San, tetapi Soa Thiat San salah mengerti. Ia mengira Chiu Tong pandang rendah dirinya maka belum dengar habis ucapannya, sudah naik darah dan berkata dengan nada suara gusar:

“Untuk memotong ayam tidak perlu menggunakan golok besar. Aku Soa Thiat San selamanya tidak suka bertanding dengan orang yang tidak ternama, dengan kau bertanding satu lawan satu, ini masih berarti memandang muka dan menghargai dirimu.”

Dengan secara kalap ia segera menyerang kepada Chiu Tong.

Chiu Tong masih ingin memberi keterangan, tetapi dalam keadaan demikian sudah tentu tidak mungkin lagi, karena menyaksikan, sikapnya yang begitu biadab, maka ia juga naik pitam. Sewaktu Soa Thiat San menyerang dirinya, ia segera balas menyerang secara hebat.

Soa Thiat San dapat merasakan pukulan Chiu Tong demikian keras, diam-diam juga terkejut, ia segera mengeluarkan ilmu kepandaiannya yang dibuat andalan, Cit-pou-tui-hun-ciang.

Chiu Tong yang menyerang dengan kekuatan penuh, tiba-tiba dielakkan oleh lawannya. Dalam keadaan kehilangan imbangan badannya, ia sebetulnya akan jatuh mengusruk di tanah, untung Chiu Tong sudah cukup mahir. Ketika merasakan gelagat tidak baik ia masih dapat menahan dirinya tidak sampai jatuh, sedangkan tangan kirinya melakukan secara membalikkan badan untuk menarik perhatian Soa Thiat San, kemudian dengan jari tangannya menyerang tenggorokan.

Karena tenggorokan merupakan bahagian yang paling mudah dilukai, maka mau tidak mau Soa Thiat San harus lekas menyingkir, sehingga tidak sempat untuk melakukan serangan.

Dengan demikian Chiu Tong juga tidak dapat mengimbangi dirinya sendiri, maka ia juga mundur tiga langkah.

Dalam jurus pertama itu kedua pihak sama-sama mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Setelah masing- masing gagal dalam usahanya barulah masing-masing mengetahui ketangguhan lawannya.

Waktu pertempuran dilanjutkan lagi, Soat Thiat San menggunakan siasat berputaran, sedangkan Chiu Tong menggunakan kekuatan, tangannya yang hebat membuat lawannya tidak dapat mendekati dirinya.

Pertandingan berlangsung sudah sepuluh jurus lebih, keadaan masih berimbang.

Chiu Tong yang berkelahi memasang mata dan telinga. Ia dapat menangkap suara gemuruhnya gelombang air laut yang agaknya sedang dikarungi oleh pasukan laut yang berjumlah besar. Ia diam-diam terkejut. Karena pikirannya tidak tenang, hampir saja ia terkena serangan lawannya, maka terpaksa memusatkan perhatiannya, sehingga tidak sempat untuk memperhatikan suara gemuruh itu lagi.

Selagi pertempuran yang terdiri beberapa kelompok itu berlangsung, tiba-tiba terdengar suara bunyi tambur dan terompet, dan tidak lama lagi beberapa buah kapal pasukan laut tentara kerajaan telah menyerbu ke pulau itu.

Chiu Tong lalu berkata dengan suara gusar: “Bagus sekali! Touw Goan, Soa Thiat San, kalian ternyata tidak menjunjung tinggi derajat sendiri. Kalian ternyata sudah berserikat dengan tentara kerajaan, apakah itu perbuatan orang-orang gagah?”

Touw Goan juga merasa heran, selagi hendak membantah, See-bun Ong tiba-tiba berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

“Touw toako jangan terkejut, yang datang itu adalah orang-orang sendiri!”

Pada saat itu, pasukan laut kerajaan itu sudah mendarat, yang bertindak sebagai pemimpin bukan lain dari pada Pak-kiong Hong, yang masih pernah sutee dan suheng dengan See-bun Ong dan Su-khong Beng.

Kiranya pembesar kota Gui-pok Tian Sin Cie masih pernah famili dengan pembesar kota Yang-ciu. Dan See-bun Ong yang menjadi suhengnya Pak-kiong Hong, dengan mudah menjadi penghubung antara kedua pembesar negeri itu. Karena ia sendiri menjadi orang yang membantu pihak Touw Goan, maka hal pertandingan antara kedua pihak itu diketahui baik olehnya. Demikianlah berita itu diam-diam disampaikan kepada Tian Sin Cie, tetapi semua itu di luar pengetahuan Touw Goan.

Tatkala Pak-kiong Hong tiba di medan pertempuran, lalu berkata kepada Touw Goan:

“Touw tocu, hari ini kita datang dengan tekad bulat hendak membasmi kawanan bajak laut Hay-ho-pang yang dipimpin oleh Chiu Tong. Kau suka menjadi kawan ataukah lawan bagi kita? Harap segera memberikan keputusan!”

Pikiran Touw Goan sangat kalut, saat itu ia sedang bertempur mati-matian dengan Can Pek Sin dan Thie Po Leng. Meskipun dalam hati juga merasa sangat malu apabila takluk kepada tentara negeri, tetapi di dalam keadaan demikian sudah tidak ada jalan lain baginya kecuali berdiri di pihak tentara negeri, maka ia segera berkata:

“Baiklah, Pak-kiong Ciangkun, karena kau sudi menganggap aku sebagai orang sendiri, apa katamu kita menurut saja! Tetapi dua bocah ini tidak usah kalian turun tangan, aku hendak membereskan sendiri.”

Touw Goan menyerah kepada tentara negeri, ia sendiri juga merasa sangat malu. Untuk menutupi rasa malu itu ia coba mengeluarkan omong besar, dianggapnya dia sendiri dapat menjatuhkan Can Pek Sin dan Thie Po Leng.

Pak-kiong Hong tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata:

“Baik, sahabat-sahabat Touw toako yang ada di sini, apabila ketemu dengan orang-orang kita harap memberitahukan supaya jangan terbit salah paham.”

Setelah itu ia lalu memutar senjatanya yang berupa anak-anakan yang terbuat dari kuningan, segera menyerbu dan menyerang orang-orang rombongan Chiu Tong. Setelah merobohkan beberapa lawannya ia baru dapat melihat bahwa toa-suhengnya sedang bertempur sengit dengan Toan Khek Gee, maka ia segera memburu ke arah Toan Khek Gee.

Pak-kiong Hong yang merupakan murid kedua dari Soat-san Lo-koay, meskipun kepandaiannya masih di bawah suteenya, tetapi jauh lebih tinggi daripada suhengnya.

Toan Khek Gee yang dikeroyok oleh See-bun Ong dan Pak-kiong Hong, meskipun kepandaian meringankan tubuh mahir sekali, juga kewalahan menghadapi dua lawan kuat, sehingga keadaannya sangat berbahaya.

Sin Cie Kow yang menyaksikan itu gusar sekali, ia menyuruh Tiat Ceng dan Hoa Khiam Hong menggantikan kedudukannya untuk melawan Thay Lok dan ia sendiri pergi membantu Toan Khek Gee. Tanpa banyak bicara pedangnya segera menikam punggung Pak-kiong Hong.

Pak-kiong Hong yang mendengar suara sambaran angin di belakangnya terperanjat, segera ia memutar balik senjatanya. Tetapi serangan Sin Cie Kow luar biasa anehnya. Sebelum senjata Pak-kiong Hong berhasil menyentuh pedangnya, ia sudah merobah gerak tipu, serangannya ditujukan ke arah yang tidak dapat diduga oleh lawannya. Karena beberapa kali Pak-kiong Hong dalam keadaan berbahaya, terpaksa ia memutar tubuhnya menghadapi Sin Cie Kow. Dengan demikian Toan Khek Gee baru bisa bernapas lega. Meskipun senjata Pak-kiong Hong merupakan senjata berat, tetapi Sin Cie Kow dengan gerak tipunya yang aneh-aneh dapat menghindarkan pedangnya jangan sampai dibentur oleh senjata lawannya, sedangkan senjata kebutan di tangan kirinya, sewaktu-waktu dapat digunakan untuk melindungi dirinya. Bahkan kadang-kadang apabila mendapat kesempatan juga digunakan untuk menyerang, dengan demikian Pak-kiong Hong menjadi tidak berdaya.

Kalau Sin Cie Kow berhasil menahan Pak-kiong Hong, tetapi Tiat Ceng dan Hoa Khiam Hong yang melawan Thay Lok, merasa sangat berat. Karena kepandaian dan kekuatan Thay Lok hanya kalah setingkat dengan Khong-khong Jie, Hoa Ciong Tay, dan Su-khong Beng.

Meskipun belum dapat digolongkan dengan mereka, tetapi di dalam rimba persilatan juga jarang menemukan tandingan. Yang paling berbahaya adalah ilmu serangan tangannya Hu-kut-ciang yang mengandung bisa itu, maka Tiat Ceng dan Hoa Khiam Hong harus berhati-hati untuk menjaga diri.

U-bun Hong-nie dengan Khu Pit Tay sebetulnya berimbang kepandaiannya, tetapi karena ia baru sembuh dari lukanya, lama kelamaan merasa agak kewalahan menghadapi lawannya.

Pada saat pasukan tentara negeri sudah mulai mengurung orang-orang Chiu Tong, dalam keadaan sangat gawat demikian, hanya Can Pek Sin dan Thie Po Leng berdua yang agaknya tidak mau menghiraukan. Mereka memusatkan seluruh tenaganya dan perhatiannya untuk menghadapi Touw Goan.

Senjata perisai Touw Goan diputar demikian rupa sehingga merupakan tembok kokoh untuk menahan serangan dua anak muda itu. Ia sudah bertekad hendak membinasakan Can Pek Sin dan Thie Po Leng untuk menyingkirkan bahaya di kemudian hari. Perisai di tangan kirinya digunakan untuk melindungi dirinya, sedangkan senjata gaitan di tangan kanannya digunakan untuk menyerang lawannya.

Can Pek Sin dan Thie Po Leng telah menggunakan berbagai akal, tetapi masih belum berhasil menembus pertahanan musuhnya, terpaksa melawannya dengan sangat hati-hati, sedangkan serangan mematikan yang telah disediakan oleh Can Pek Sin, karena tidak dapat kesempatan sehingga saat itu belum bisa digunakan.

Dalam keadaan sangat gawat itu, tiba-tiba terdengar suara orang berkata dan dibarengi dengan suara tertawanya yang aneh:

“Ahaa, bagus sekali, sungguh ramai! Akhirnya aku keburu tiba! He, he, ha, ha! Kalian bertarung sendiri, apakah hendak meninggalkan aku Khong-khong Jie harus berlaku sebagai penonton?”

Touw Goan yang mendengar suara Khong-khong Jie, bukan kepalang terkejutnya. Apalagi ketika ia dapat melihat Khong-khong Jie bukan hanya datang seorang diri saja, di sampingnya masih ada Cho Peng Goan dan Kay Thian Hoa serta Ciok Kam Tong dari Hay-ho-pang. 

Kedatangan Khong-khong Jie dan kawan-kawannya itu, meskipun belum tentu dapat merobah keadaan, tetapi yang nyata ialah sudah cukup membuat mereka merasa ngeri!

Di antara mereka yang merasa paling takut adalah Soa Thiat San dan Touw Goan. Yang tersebut duluan itu takut Khong-khong Jie membuat perhitungan dengannya, dan yang tersebut belakangan takut atas perbuatannya yang melanggar pantangan rimba persilatan.

Karena terkejut dan kekhawatiran Touw Goan itu, Can Pek Sin lalu mendapat suatu kesempatan baik, diam-diam ia merasa girang. Dengan sangat berani ia segera melancarkan gerak tipu serangannya yang mematikan. Pedangnya digunakan untuk menahan perisai kemudian secara tiba-tiba mamutar ke belakang Touw Goan, lalu mengulur tangan kirinya menyambar tulang pi-pe pundak Touw Goan.

Jikalau tulang pi-pe itu kena dicengkram, betapapun tinggi kepandaiannya orang itu juga tidak akan berdaya memberi perlawanan, dan Thie Po Leng yang berbalik berada dihadapan Touw Goan, akan dengan mudah dapat membinasakan jiwanya itu.

Can Pek Sin menggunakan serangan secara demikian, sebetulnya sangat berbahaya sekali. Apa yang dikhawatirkan oleh Thie Po Leng juga takut apabila Can Pek Sin tidak menghiraukan jiwanya sendiri, maka ketika mengetahui pemuda itu benar-benar telah melaksanakan rencananya yang sangat berbahaya itu, juga terkejut. Meskipun ia segera ingat harus bekerja sama dengan Can Pek Sin, tetapi karena pikirannya terpengaruh oleh kekhawatiran jiwa pemuda itu, sehingga tangannya gemetar. Dengan demikian maka tikaman pedang itu meleset sedikit, tidak mengenai tempat yang berbahaya yang diarahkan. Ujung pedangnya hanya menimbulkan luka di daging saja.

Touw Goan sebagai seorang kuat yang sudah banyak pengalaman, segera merasakan firasat tidak baik, tiba-tiba ia menggeram, tangan kanan yang memegang senjata gaitan membalik balas menikam Can Pek Sin.

Pada saat itu apabila serangan kedua pihak diteruskan, tulang pi-pe Touw Goan akan hancur dicengkram oleh Can Pek Sin, tetapi Can Pek Sin sendiri juga akan binasa di ujung senjata Touw Goan. Namun demikian sebelum ia binasa tidak nanti ia melepaskan korbannya, maka walaupun serangan Thie Po Leng yang pertama tidak mengenai tepat kepada sasarannya, tetapi serangan yang kedua sudah pasti akan membinasakan Touw Goan, hingga kesudahannya Can Pek Sin dan Touw Goan akan mati bersama- sama.

Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan Khong-khong Jie yang segera diberengi oleh gerakan lengan bajunya menarik senjata Touw Goan, dan tangan yang lain digunakan untuk mendorong Can Pek Sin.

Tindakan itu dilakukan sangat tepat pada waktunya, sehingga dua orang itu sama-sama lolos dari bahaya maut.

Masih belum hilang rasa ketakutannya Touw Goan, tiba-tiba terdengar suara Khong-khong Jie:

“Aku hanya tidak ingin menyaksikan kalian sama-sama pergi menghadap kepada raja akherat. Aku tidak membantu pihak yang manapun juga. Permusuhan antara keluarga kalian berdua tidak mudah diselesaikan begitu saja. Untuk selanjutnya kalian hendak berbuat apa, aku tidak perduli, tetapi hari ini selama aku masih ada di sini, aku tidak mengijinkan kalian berkelahi lagi.”

Setelah berkata demikian, ia mengembalikan senjata gaitan yang ditariknya tadi kepada Touw Goan.

Khong-khong Jie yang doyan berkelahi, baru pertama ini selama hidupnya ia bertindak menjadi orang pertengahan memisahkan orang yang sedang bertempur mati-matian. Apakah sebabnya ia berbuat demikian?

Mengenai permusuhan antara keluarga Touw Goan dan keluarga Can Pek Sin, apabila diusut dari semula Khong-khong Jie juga besar sekali sangkut pautnya. Kalau ia tadi berbuat demikian, karena ia sayang akan jiwa Can Pek Sin, disamping itu ia juga merasa menyesal akan perbuatan sendiri di masa mudanya.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jiwa Ksatria Jilid 13"

Post a Comment

close